Anda di halaman 1dari 16
gerindra Minta Badan Anggaran DPR Dievaluasi g ema u tama >> 04 Gema prabowo subianto

gerindra

Minta Badan Anggaran DPR Dievaluasi

gema utama>>04

Gema

Anggaran DPR Dievaluasi g ema u tama >> 04 Gema prabowo subianto “Gerindra Bukan Tempat Mencari

prabowo subianto

“Gerindra Bukan Tempat Mencari Keuntungan Pribadi”

indonesia >>08

Mencari Keuntungan Pribadi” i ndonesia >> 08 nabila syakieb Harus Tahu Sifat Kuda F igur >>

nabila syakieb

Harus Tahu Sifat Kuda

Figur>>15

terbit 16 Halaman/edisi 06/taHun i/oktober 2011

Indonesia Raya

www.partaigerindra.or.id

gelora

Mafia anggaran

aPaKaH politik itu kotor atau mulia? Itulah pertaruhan yang kini sedang terjadi dalam dunia politik Indonesia di era demokrasi bebas. Kasus mafia anggaran yang tengah disorot publik bisa jadi merupakan kasus korupsi terbesar melibat­ kan institusi­institusi hasil demokrasi. Demokrasi memang tak menjamin pupusnya korupsi. apalagi jika demokrasi itu hanya sekedar prosedur memilih atau dipilih. Rekrutmen politik tanpa komitmen kejujuran, keadilan dan tanggung jawab telah mengakibatkan demo­ krasi terperangkap oleh korupsi. Bahkan korupsi semakin merajalela di tengah demokrasi yang dikuasai kaum mafia. Mafia berasal dari bahasa Italia merupakan sebutan un­

tuk sindikat kejahatan yang terorganisir. Mafioso adalah ang­ gota mafia. Biasanya mafia terikat oleh sistem kekeluargaan yang ketat. Julukan orang­orang yang beroperasi di sekitar pengerukan anggaran dinamai mafia anggaran. Persekong­ kolan jahat ini dilakukan oleh oknum­oknum di eksekutif dan legislatif lalu pengusaha dan calo. Mereka bersama­sama melakukan praktik mafia anggaran. anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (aPBN) merupakan instrumen penting untuk kesejahteraan rak­ yat. aPBN adalah pilar utama penggerak kegiatan ekonomi Indonesia. Melalui aPBN, ada penerimaan negara dan ada pembelanjaan. Belanja dapat dibagi dua yakni konsumsi atau investasi. Belanja konsumsi meliputi belanja pegawai dan belanja barang. Belanja bisa juga merupakan inves­ tasi ketika disalurkan untuk menambah alat­alat produk­

si seperti irigasi baru, pencetakan sawah baru, jalan­jalan

baru, jembatan baru, pabrik­pabrik baru. Investasi artinya mengadakan perluasan terhadap produksi nasional. Sedang­

kan memperbaiki sarana yang sudah ada lebih merupakan pemeliharaan. aPBN menjadi sangat penting karena besarnya jumlah pendapatan dan belanja. tahun 2011 mencapai Rp. 1300

triliun, sedangkan tahun 2012 dialokasikan Rp. 1400 tri­ liun. Jumlah ini besar sekali jika digunakan secara efisien dan tepat sasaran. Namun, semakin besar aPBN kita tak menjamin semakin sejahtera rakyat kita. aPBN tak berban­ ding lurus dengan kemakmuran. Hal ini antara lain karena aPBN telah menjadi sumber korupsi. Korupsi aPBN dimulai dari perencanaan hingga disetu­ juinya anggaran. Mafia anggaran bekerja melalui oknum

di

di

pengaruhnya bagi rakyat. Kebocoran terlalu tinggi. ada jatah anggaran dibagi­bagi dengan alasan setoran untuk par­ tai. tak sepenuhnya benar. Kebanyakan sindikat ini bekerja

memperkaya diri sendiri. Di sinilah politik menjadi kotor. Sistem memberi ruang leluasa bagi praktik korupsi. Po­ litik hanya menjadi mata pencaharian sejumlah petualang. Partai politik seringkali menjadi kendaraan omprengan un­ tuk mencapai tujuan­tujuan pribadi mengeruk dana rakyat. Kita tentu menolak mafia anggaran dan tak akan men­ jadi bagian dari pengkhianatan terhadap rakyat itu. Hanya satu kata bagi mafia anggaran: Basmi! t fadLI Zon

Badan anggaran DPR, pejabat kementrian, dan pejabat

daerah. Karena itulah meskipun belanja banyak tak ada

patuk !
patuk
!

Prabowo Subianto merasa sedih ketika salah satu media terkemuka bilang, kita dipimpin oleh para maling, pemerintahan kleptokrasi. Tapi, bagaimana lagi, itulah kenyataannya.

Prabowo Subianto akan menindak tegas kalau ada kader Partai Gerindra terbukti korupsi Ya, pemimpin harus tegas. Hati-hatilah para kader Gerindra.

foto Bachren L/dok. Gema IndonesIa raya
foto Bachren L/dok. Gema IndonesIa raya

rupsi juga terjadi di Gerindra. “Gerindra tidak luput dari mental­mental seperti ini. Dengan mendadak ada kader­kader kita yang masuk ke partai ini bukan dengan tujuan mulia, tapi coba­coba,” ujarnya. “ada juga dengan tujuan mencari kekayaan. ada yang spekulasi. ada yang ingin meneruskan budaya banditisme. Partai kita tidak luput dari budaya jelek itu,” katanya. Meski demikian, Prabowo yakin sebagian besar kader Partai Gerindra ingin Indonesia Raya yang berdasarkan Pancasila, berbhinneka tunggal ika, dan berkeadilan sosial. “Kita harus yakin, alam akan menyisihkan oknum­oknum yang infiltrasi ke tubuh partai yang ingin menyelewengkan Partai Gerindra, dan ingin membawa budaya korupsi ke Partai Gerindra. Kita harus yakin mereka akan tersisih oleh alam, oleh semangat kerakyatan dan kebangsaan kita. Di mana ada oknum seperti itu marilah kita tendang mereka dari par­ tai ini,” kata Prabowo disambut riuh hadirin. “Saya ingatkan, hai anggota DPR terhormat dari pusat, provinsi, kabu­ paten, saudara adalah kader partai, sau­ dara harus setia pada Partai Gerindra.

kader partai, sau­ dara harus setia pada Partai Gerindra. Maling dan korupsi itu sudah menjadi way

Maling dan korupsi itu sudah menjadi way of life mereka dengan sogok menyogok, dan membeli orang

prabowo subianto

Kader Korupsi Kader ditendang

Saat ini mental korupsi yang meraja­ lela di lingkungan kementerian peme­ rintahan seperti kasus dugaan korupsi yang menghiasi media massa sudah mengarah pada pemerintahan klepto­ krasi. “Bayangkan sedihnya kita bahwa sa­ lah satu media terkemuka bilang kita di­ pimpin oleh para maling. Pemerintahan kleptokrasi,” kata Ketua Dewan Pembi­ na Partai Gerindra Prabowo Subianto, saat menyampaikan pidato di acara ha­ lal bihalal di kantor DPP Gerindra, Jl. Harsono RM, Ragunan, Jakarta, Senin, 12 September 2011.

Pada kesempatan itu, Prabowo me­ negaskan, harus ada perubahan signifi­ kan untuk perbaikan Indonesia. Peme­ rintah harus berdiri atas nama rakyat agar sejahtera dan makmur. “Maling dan korupsi itu sudah menjadi way of life mereka dengan sogok menyogok, dan membeli orang,” kata Prabowo berapi­api. “Kalau jadi bupati segini, kalau dir­ jen segini, kalau jenderal segini. Orang di Indonesia, pemimpin kita sudah di­ takar. Mereka senang dengan keadaan ini,” lanjutnya. Prabowo pun mengakui mental ko­

Partai Gerindra diharapkan oleh rakyat. Partai Gerindra tidak boleh berkhianat pada rakyat,” tegas Prabowo disambut riuh lagi. Dia mengingatkan seluruh kader Partai Gerindra untuk membuka diri dan memimpin menuju perubahan In­ donesia yang bersih. “Kader yang me­ mungut sini, memungut di sana kita pantau. Hidung, telinga, dan mata Prabowo masih tajam, masih mencium sampai ke pulau­pulau yang terjauh. Kalau satu kali sudah diingatkan, dua kali, tiga kali, empat kali, ya apa boleh buat,” ucapnya. t BudI sucahyo

02

: suara rakyat

02 : s u a r a r a k y a t edisi 06/taHun i/oktober
02 : s u a r a r a k y a t edisi 06/taHun i/oktober

edisi 06/taHun i/oktober 2011

Salam Indonesia Raya! Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih

kepada DPP Partai Gerindra

cq Redaksi tabloid Gema

Indonesia Raya atas kiriman

tabloid Gema Indonesia Raya

­­ sebagai media sosialisasi

serta informasi aktivitas per­ kembangan partai di seluruh pelosok tanah air ­­ kepada kami di Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara. Kami telah menerima sejak edisi I sampai edisi IV yang terbaru sebanyak 4 eksemplar setiap terbitan. Sebagai informasi kepada DPP Partai Gerindra cq Re­ daksi tabloid Gema Indone- sia Raya bahwa DPC Partai Gerindra Labuhan Batu terhitung sejak 2 agustus 2008 sampai saat ini, dengan SK DPP Partai Gerindra No. 05 ­ 0414/Kpts/DPP GERINDRa/2011, DPC Partai Gerindra Kab. La­ buhan Batu dipimpin oleh Sdr. Dedy Arfan Sinaga,

S.Sos dengan alamat kan- tor DPC Gerindra Kabu- paten Labuhan Batu di Jl. Perdamean No. 44 Rantau Prapat - Sumatera Utara. Hal ini kami sampaikan karena pengiriman tabloid Gema Indonesia Raya yang kami terima masih atas nama DPC Partai Gerindra Kabu­ paten Labuhan Batu up. Sdr. Dalkot Syahputra Harahap dengan alamat Jl. Glugur no. 37 Rantau Prapat. Sebagai klarifikasi dari kami bahwa Sdr. Dalkot Syahputra Harahap sudah tidak lagi menjabat sebagai Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Labuhan Batu terhitung sejak tanggal 02 agustus 2008, dan alamat Jl. Glugur No. 37 Rantau Prapat bukan sebagai alamat kantor DPC Gerindra Kab. Labuhan Batu. Demikian hal ini kami sampaikan. atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih

DPC PARTAI GERINDRA Kabupaten Labuhan Batu ABDUL KARIM HASIBUAN, SH Sekretaris

Ingin jadi wartawan

Saya yang bertanda

tangan dibawah ini: antony Daganta, a.Md., bertempat tinggal di Palembang, Su­ matera Selatan, merupakan simpatisan Partai Gerindra

di Kota Empek­Empek

Palembang berniat untuk membentuk Biro Redaksi tabloid Gema Indonesia Raya, dan menjadi wartawan resmi dari majalah yang diterbitkan Partai Gerin­ dra. Saya siap berjuang dan menjadi wartawan pejuang untuk Gerindra, dan siap

mengirimkan informasi baik berupa tulisan, artikel, berita ataupun foto­foto tentang politik di Bumi Sriwijaya. Saya merasa terpanggil untuk menjadi wartawan Gema Indonesia Raya dan

ikut menjadi bagian di Partai Gerindra. Semua ini saya be­ rikan untuk Indonesia Raya Merdeka. Mohon bantuan­ nya dan petunjuknya dan saya siap berjuang bersama Prabowo Subianto yang me­ rupakan Presiden Republik Indonesia yang akan datang (periode 2014­2019). tolong sampaikan salam hangat saya sebagai anak bangsa Indonesia kepada beliau dan mudah­mudahan saya dapat diikut sertakan menjadi wartawan Gema Indonesia Raya Biro Sumatra Selatan. Wassalam

ANToNY DAGANTA Palembang

Ketua DPC Gerindra Loteng NTB Dipanggil Ke Istana

terkait dengan keberhasi­ lan Karang taruna (Kt) Eka Warga Desa Ganti Kecama­ tan Praya timur Kabupaten Lombok tengah (Loteng) NtB sebagai Kt binaannya, yang telah berhasil menjadi salah satu Kt terbaik di NtB, setelah berhasil mele­ wati tahap demi tahap. Keberhasilan tersebut, menurut Camat Praya timur Drs. H. Muliardi Yunus, tak terlepas dari kerjasama de­ ngan semua pihak, terutama dengan Ketua DPC Gerin­ dra Lombok tengah NtB H. Muhdan. Di tunjuknya H. Muhdan Rum sebagai salah seorang pembimbing, karena dinilai dialah satu­ satunya orang yang mampu mem­ berikan pembinaan, dan di samping itu bila melihat sederetan prestasi yang telah diukir oleh anak binaannya. “Dari beberapa lembaga yang telah dibinanya umum­ nya semua berhasil, sehingga hal tersebut membuat kami merasa ingin berbagi ilmu,” ujar Camat Muliardi Yunus. Dan, alhasil Kt Eka Warga Desa Ganti mampu menjadi duta terbaik NtB di tingkat nasional. Menanggapi itu, Ketua DPC Partai Gerindra Loteng Muhdan Rum dengan sedi­ kit merendah menyatakan,

semua keberhasilan yang telah diraih oleh Kt Eka Warga itu berkat kerjasama dalam menyatukan satu per­ sepsi. “Kami hanya sekedar membantu, dan kami tidak punya kelebihan apapun,” ungkap Muhdan yang juga Wakil Ketua Kt Kabupaten Loteng.

karikatur :

yang juga Wakil Ketua Kt Kabupaten Loteng. k arikatur : Bukan hanya itu saja, keberhasilannya dalam

Bukan hanya itu saja, keberhasilannya dalam mem­ bina kepemudaaan, pada 2009 lalu Muhdan pernah membawa Kt Kabupa­ ten Sumbawa ke tingkat nasional, sehingga Presiden SBY memanggil Ketua DPC Gerindra Loteng untuk berkunjung ke istana. Pemanggilan tersebut dida­ sari banyaknya prestasi yang telah di raihnya, dan saat ini ia telah mampu membawa Kt Eka Warga Desa Ganti Kecamatan Praya timur Loteng mewakili NtB ke tingkat nasional. terhadap keberhasilan tersebut Muhdan yang juga Wakil Sekretaris Kt NtB ini mengatakan, ke depan ia akan tetap melakukan pem­ binaan, terutama di bidang kepemudaan dan kemasyara­ katan. Mengingat keberhasi­ lan selama ini, telah mampu memicu berbagai macam perkembangan dan kemaju­ an, baik di level kabupaten ataupun provinsi.

DPC Partai Gerindra Lombok Tengah NTB

Pindah Alamat

Diberitahukan dengan hormat bahwa kantor DPC Partai Gerindra Kota tegal pindah alamat, dari alamat lama di Jl. KH. Muklas No. 74, Rt 01 RW 02, Kelurahan Panggung, Kecamatan tegal timur, ke alamat baru di Jl. Gajah Mada No. 40, Rt 06, RW 01, Kelurahan Kraton, Kecamatan tegal Barat. Dengan kepindahan kantor DPC Partai Gerindra Kota tegal ini maka kami

mohon pengiriman tabloid

Gema Indonesia Raya dikirim

ke alamat kantor yang baru

tersebut.

H. HERRY ANGGoRo Ketua DPC Kota Tegal

Harapan Kepada Tabloid GIR

Selamat atas terbitnya tabloid Gema Indonesia Raya (GIR). Kehadiran tabloid ini menunjukkan bahwa Partai Gerindra mempunyai alat komunikasi politik untuk menyuarakan aspirasi rakyat. tabloid ini hendaknya pembawa suara konstituen, yang harus didengar dan diperjuangkan oleh Partai Gerindra. tabloid GIR harus siap untuk tidak popular dalam konteks kekinian. Harus siap melawan arus dan berha­ dapan dengan pihak­pihak yang tidak peduli dan tidak memperjuangkan kepenti­ ngan rakyat. tabloid ini harus mempunyai idealisme partai.

U. AzIS MUSLIM Ketua Departemen DPP Partai Gerindra

Pidato Prabowo Tegas

Saya hadir dalam acara

Halal bihalal Partai Gerindra

di Kantor DPP, Ragunan,

Jakarta Selatan, pada 12 Sep­ tember 2011. Saya terkesan dengan pidato Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto yang tegas terhadap pemberan­ tasan korupsi. Bahkan ia

menyuruh kadernya keluar bila melakukan tindakan korupsi. Sikap seperti inilah yang perlu dikembangkan oleh semua elit partai, yakni tegas terhadap pemberanta­ san korupsi.

ALY RASYID Mahasiswa Universitas Paramadina, Aktivis Bandung Intelektual Circle

Harus Berbobot

Saya melihat tampilan tabloid Gema Indonesia Raya ini lumayan. Namun saya hanya menyarankan, agar tabloid ini tidak hanya memberitakan aktivitas Partai Gerindra, namun juga mengupas masalah­masalah yang terjadi di masyarakat secara luas.

ABDUL KHoLIK Tenaga Ahli DPR RI Fraksi Partai Gerindra

Dukung Prabowo Basmi Korupsi

Saya senang ketika mem­ baca koran yang memberita­ kan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto dalam pidatonya, saat halal bil halal, den­ gan berapi­api menyoroti soal korupsi di Indonesia. Prabowo menyatakan, sangat prihatin dan geram terhadap

maraknya korupsi di kemen­ terian sehingga menyebut pemerintahan saat ini seba­ gai pemerintahan kleptokrasi. Prabowo menghendaki adanya perubahan signifikan guna memperbaikan bangsa ini.

ILustrasI susthanto

Menurut hemat saya, apa yang dikatakan Prabowo itu benar sebab korupsi di Indonesia seolah­olah sudah menjadi budaya. Misalnya saja, untuk menjadi bupati tarifnya segini, menjadi PNS tarifnya segitu, menjadi gubenur tarifnya ada pula. Dalam hal pemberan­ tasan korupsi, saya melihat Prabowo tidak pandang bulu. Bila ada kader partai Gerindra yang melaku­ kan tindakan korupsi dan terbukti ia tak segan­segan untuk menendangnya dari partai. Dengan pidato tersebut menambah keyakinan saya bahwa Prabowo sangat layak menjadi Presiden pada 2014. Hidup Prabowo! Hidup Gerindra!

EDIB SURANA BAGjA Banjarmasin, Kalimantan Selatan

Distribusi Harus Dibenahi

Saya melihat tampilan dari tabloid Gema Indonesia Raya bagus, namun sayang distribusinya tidak maksi­ mal. Untuk bisa membaca tabloid ini saya harus ber­ keliling mencari ke ruang­ ruang anggota lainnya. Jadi saya mengharap distribusi tabloid Gema Indonesia Raya, khususnya di Lt. 17, Gedung Nusantara I, diper­ baiki dan harus merata ke seluruh ruangan yang ada.

PEPEN INDIARTo Staf Pribadi Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra

AlAmAt BAru dewan PImPInan Pusat PartaI GerIndra Jl. Harsono rm No.54 ragunan, Pasar minggu, Jakarta Selatan 12160 telp: 62-21-789 2377, 780 1396 Fax : 62-21-781 9712 Email: info@partaigerindra.or.id

edisi 06/taHun i/oktober 2011 w awancara : 03 anak agung Jelantik sanJaya anggota KoMisi iV
edisi 06/taHun i/oktober 2011 w awancara : 03 anak agung Jelantik sanJaya anggota KoMisi iV

edisi 06/taHun i/oktober 2011

wawancara : 03

anak agung Jelantik sanJaya

anggota KoMisi iV dpr ri fraKsi partai gerindra

Kombinasi Pertanian dan Peternakan

aNGGOta Komisi IV DPR RI Fraksi Par­ tai Gerindra, anak agung Jelantik Sanjaya, mengampanyekan penggunaan pupuk orga­ nik untuk menggantikan pupuk anorganik. Penggunaan pupuk organik selain ramah ling­ kungan, juga membuat bahan pangan sehat, dan memberi multiplayer effect kepada petani. Dengan mengintegrasikan peternakan sapi dan petani, yang diperoleh tidak hanya pupuk organik yang murah dan berkualitas, namun juga mendapat untung dari pemanfaatan ko­ toran dan kecing sapi. Untuk mengupas lebih jelas masalah itu, wartawan Gema Indonesia Raya Ardi Wina- ngun mewawancarai pria asal Kabupaten Karangasem, Bali, itu. Wawancara di ruang kerjanya Lt. 17, Gedung Nusantara I, Kom­ pleks MPR/DPR/DPD beberapa waktu itu. Berikut petikannya:

Bagaimana Anda melihat kondisi petani saat ini?

Mulai bergairah. Inilah saatnya kita ha­ rus memberikan pendampingan yang positif kepada para petani, terutama pada bidang teknologi. Kendala pertanian kita rata­rata kepemilikan lahan yang terbatas, terutama di Pulau Jawa dan Bali, dan ini harus dicari­ kan solusinya. Solusinya, peningkatan tekno­ logi supaya ada intensifikasi. Jadi, bagaima­ na caranya dengan lahan terbatas itu petani dan keluarga bisa memperoleh penghidu­ pan. Dan, itu dapat dilakukan dengan cara mengintegrasikan pertanian dengan sektor peternakan. Dengan memiliki ternak, apakah sapi atau kambing, akan memberikan efektifitas dan efisiensi dalam usaha taninya. apalagi saat ini ada tuntutan pangan sehat, sehingga secara bertahap kita mengurangi pupuk anorganik. Setahu saya, dulu penggunaan pupuk urea maksimal 75 kg/hektar dan 20 kg/hektar. Bayangkan sudah sekian tahun berapa puluh

ton kita menggunakan pupuk urea ini. Peng­ gunaan pupuk anorganik tidak hanya boros, juga merusak struktur tanah.

Lalu apa yang harus dilakukan?

Kita (kader Partai Gerindra) harus mem­ punyai program positif, efektif, dan efisien, se­ suai dengan kebutuhan kita saat ini. Pertanian harus digabung dengan peternakan, sehingga dari situ didapatkan sumber­sumber pupuk organik yang memadai sehingga ada efisiensi.

Model penggabungan peternakan dan pertanian itu bentuknya bagaimana?

Ini kreatifitas yang perlu dikembangkan, yang penting efisien, efektif, dan pendapatan meningkat. Ini harus ada yang memikirkan, harus ada yang mencoba. Kenapa saya kata­ kan begitu? Ini sangat terkait dengan kondisi perpupukan nasional. Di Komisi IV sudah diputuskan, kita mengurangi subsidi pupuk urea, dan akan meningkatkan pemakaian pupuk organik. Beberapa tahun terakhir, pemerintah memberikan bantuan pupuk bersubsidi lang­ sung kepada petani, dan nilainya ratusan miliar bahkan triliun. tetapi tidak ada man­ faatnya. Ini menjadi kajian kita. Bukan pro­ gramnya yang jelek, namun pelaksanaannya tidak bagus. Banyak pupuk yang diproduksi oleh PSO (public service obligation), proses pembuatannya tidak benar. Komposisi dan kandungan N, P, dan K, C organik sudah tidak memadai, tidak sesuai standar. Bahkan kami menemukan ada pupuk yang hanya be­ rupa tanah, sehingga di Jawa tengah dan Jawa timur, pernah terjadi pupuk­pupuk dibakar. Di Bali sudah banyak yang tidak dipakai. Kami mengusulkan agar di setiap provin­ si dan kabupaten ada pabrik pupuk organik. tolong subsidi diberikan langsung kepada kelompok­kelompok pembuat pupuk. Ke­ napa demikian? Karena setelah saya analisa,

kelompok tani dan pembuat pupuk juga bisa belajar teknologi, jangan hanya disuruh me­ nerima pupuk yang kualitasnya tidak karu­ karuan. Kalau kita mau membangun perta­ nian yang berkelanjutan petani harus tahu teknologinya. Di Bali terdapat satu kelompok di Kabu­ paten tabanan yang membuat pupuk orga­ nik. Mereka mendapat program bantuan sapi 25 ekor dari Pemda Bali. Yang terjadi di situ sangat luar biasa, mereka sudah mampu mem­ produksi pupuk organik dari kotoran ternak, 5 ton per hari, dengan kualitas sangat baik. Kencing sapinya diproses menjadi biourine. Selain menggunakan pupuk dan biourine di dalam kelompoknya, mereka juga menjualnya dengan harga yang bersaing. Selama enam bulan mereka melakukan penggemukan sapi, setelah itu dijual. Hasil penjualan sapi itu hampir sama besarnya de­ ngan hasil dari kotoran dan urine. Jadi, mere­ ka mendapatkan hasil dua kali lipat. teknolo­ gi ini harus bisa kita terapkan di masyarakat, termasuk pembuatan mikroba­mikrobanya. Saya dengan teman­teman Gerindra di Bali mengadakan pemberian pelatihan­pelatihan pembuatan kompos. agar petani mampu mandiri.

Bukti pupuk organik bisa meningkatkan produksi dan kualitas?

Harus ada standarisasi yang diharuskan oleh pihak berwenang, terutama kandungan N, P, K, dan C organiknya. Di Bali kami kem­ bangkan, minimal 9 ton per hektar pengguna­ kaan pupuk organik dengan jenis, pupuk dasar dan pupuk semprot. Setelah menggunakan pupuk organik, produksinya meningkat men­ jadi 3 ton. Kalau sebelumnya 7 ton/hektar, lalu setelah menggunakan pupuk organik produk­ sinya menjadi 10 ton/ hektar. Kita mengguna­ kan pupuk organik jenis semprot dengan nama tiras (tani Indonesia Raya Sejahtera).

Bila pupuk organik buatan kelompok tani sukses, apakah pabrik pupuk tidak perlu lagi?

Seharusnya pemerintah membuat pabrik pupuk secukupnya saja, tidak lagi seperti dulu. tetapi bioteknologinya perlu ditingkat­ kan. Memang untuk organik dan anorganik unsur N, P, K dan C organiknya sama, na­ mun organiknya berasal dari alam. Hal ini yang kita inginkan karena Indonesia terkenal dengan kekayaaan alamnya. Menjadi pemikiran bersama, sebagai to­ koh masyarakat dan petani, bagaimana kita mengubah budaya petani yang terbiasa meng­ gunakan pupuk anorganik beralih menjadi pupuk organik dengan memanfaatkan bahan­ bahan dari lingkungan kita.

Berapa dana dibutuhkan untuk memban- gun pupuk organik?

Kalau dibuat secara kelompok, investasi­ nya tidak terlalu besar. Contohnya di Bali, hitungan­hitungannya begini: rata­rata orang Bali memiliki 3 ekor sapi. Setiap hari diper­ oleh kotoran 15 kg per ekor atau 45 kg sehari (untuk 3 ekor sapi). Maka, untuk satu bulan diperoleh 1.350 kg atau 1,35 ton. Nah, kalau kotoran sapi ini dijual dengan harga terendah Rp200/kg, berarti sehari menghasilkan uang Rp9.000 atau Rp270.000 per bulan. Lain halnya kalau kotoran itu difermen­ tasi sendiri atau memproduksi sendiri pu­ puk organik itu, maka harga pupuk organik di pasaran mencapai Rp700/kg. Jadi, kalau mereka memiliki 1,35 ton kotoran sapi yang sudah difermentasi atau telah menjadi pupuk organik, maka pendapatannya hampir Rp1 juta per bulan. Hitungan ini tujuannya un­ tuk mengajak mereka berpikir bahwa kotoran yang selama ini tidak terpakai bisa menjadi uang malah bermanfaat. t

Pembina: Prabowo Subianto Pemimpin umum: Hashim Djojohadikusumo Pemimpin redaksi: Fadli Zon wakil Pemimpin redaksi:
Pembina: Prabowo Subianto Pemimpin umum: Hashim Djojohadikusumo Pemimpin redaksi: Fadli Zon wakil Pemimpin redaksi:

Pembina: Prabowo Subianto Pemimpin umum: Hashim Djojohadikusumo Pemimpin redaksi: Fadli Zon wakil Pemimpin redaksi:

m. Asrian mirza dewan redaksi: Suhardi, Halida Hatta, Widjono Hardjanto, Ahmad muzani, martin Hutabarat, Amran Nasution, Kobalen, redaktur Pelaksana: Syahril Chilli redaktur: Budi Sucahyo, Helvi moraza, Subuh Prabowo, mustafa Kemal (Foto), Yong W Pati (Artistik) staf redaksi: Ardi Winangun, Iman Firdaus, m. Budiono, Wahyu mahardhika sekretaris redaksi: Wendra Wizar sirkulasi dan distribusi:

Juanda Nurhakim Penerbit: Badan Komunikasi Partai Gerindra alamat redaksi dan usaha: Jl. Danau Jempang B II No 13, Bendungan Hilir, Jakarta 10210 telp. : 62-21 5785 3480 Fax. : 62-21 5785 2552 Email: redaksi_gir@partaigerindra.or.id atau redaksi_gir@yahoo.com

Redaksi menerima artikel, berupa berita ataupun kolom serta foto dari anggota, pengurus pusat dan daerah serta simpatisan Partai Gerindra. Khusus untuk kalangan simpatisan diharap menyertakan identitas diri. Tulisan bisa dikirim via email ataupun pos.

Redaksi

04 : gema utama

04 : g ema u tama edisi 06/taHun i/oktober 2011
04 : g ema u tama edisi 06/taHun i/oktober 2011

edisi 06/taHun i/oktober 2011

foto mustafa kemaL

gerindra

Minta Badan Anggaran DPR Dievaluasi

Pembubaran Badan anggaran (Banggar) DPR masih menjadi perdebatan. Partai Gerindra minta Banggar DPR dievaluasi.

oLeh BudI sucahyo

WaCaNa pembubaran Badan anggaran (Banggar) Dewan Perwa­ kilan Rakyat (DPR) masih menjadi perdebatan. Sebagian anggota DPR mendukung dan mendorong pem­ bubaran badan tersebut. Namun, sebagian lainnya memilih untuk memaksimalkan pengawasan di Banggar tanpa harus dibubarkan. Wacana pembubaran Banggar pada awalnya dilontarkan Fraksi PDI Perjuangan pada agustus lalu. Usulan itu dilontarkan Ketua Frak­ si PDI Perjuangan tjahyo Kumolo menyusul adanya dugaan badan ter­ sebut dijadikan ajang praktik per­ caloan anggaran. Sebagai gantinya, hak budgeting diserahkan kepada masing­masing komisi. Belakangan, wacana untuk membubarkan Banggar kembali menyeruak setelah kasus korupsi di Kementerian tenaga Kerja dan transmigrasi (Kemenakertrans). Pasalnya, dalam kasus korupsi ini, Banggar diduga menerima aliran dana korupsi tersebut. Sebelumnya, wacana pembubaran Banggar dido­ rong kasus M. Nazaruddin, mantan bendahara umum Partai Demokrat dalam kasus dugaan korupsi Wisma atlet.

Dalam wacana pembubaran Bangga, Partai Gerindra mengambil sikap untuk meminta keberadaan badan kelengkapan DPR itu die­ valuasi. Sebelum diambil langkah pembubaran, perlu dilakukan eva­

luasi terhadap Banggar. “Kami seka­ rang akan mempelajari manfaatnya (Badan anggaran DPR), kemasla­ hatan untuk kepentingan rakyat, kepentingan yang besar kita akan teliti,” kata Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subian­ to di Jakarta, Senin, 12 September

2011.

Namun, terkait wacana pembu­ baran Badan anggaran DPR, Pra­ bowo mengatakan keberadaan in­ stitusi tersebut masih dibutuhkan. “Kalau memang perlu, setiap badan legislatif kan perlu Badan angga­ ran,” kata Prabowo. Sementara itu, Fary Djemy Francis, anggota Banggar dari Fraksi Partai Gerindra mengatakan bahwa untuk membubarkan Bang­ gar harus melalui mekanisme dan proses yang tidak mudah. “Sebelum membubarkan Banggar, langkah itu memerlukan perubahan dalam

UU MD3 (MPR, DPR, DPD, dan DPRD),” ujarnya.

Sependapat dengan hal itu, anggota Banggar dari Fraksi Par­ tai Gerindra, Budi Heryadi, juga mengemukakan bahwa keberadaan Banggar sebagai alat kelengkapan DPR terkait dengan UU. Karena itu, untuk membubarkan Banggar maka harus pula dengan perubaha­ an UU itu. Bagi Fary, bukan pembubaran Banggar yang perlu dilakukan me­ lainkan bagaimana mengefektifkan dan mengoptimalkan fungsi Bang­ gar. “Yang paling penting adalah bagaimana mengefektifkan Banggar ini agar bekerja sesuatu dengan ta­ tib­nya,” kata anggota Komisi V ini kepada Gema Indonesia Raya. Melihat pada kasus dugaan suap dan korupsi seperti yang terjadi di Kemenegpora dan Kemenakertrans terkait dengan proyek­proyek yang dibahas dalam Badan anggaran, Fary menjelaskan bahwa terjadinya kasus itu bukanlah kesalahan Bang­ gar sebagai sebuah insitusi, melain­ kan kesalahan pribadi atau individu anggota Banggar. Jadi, menurut Farys, bukan insti­ tusinya yang dibubarkan melainkan menjatuhkan sanksi dan tindakan terhadap individu anggota Banggar yang terlibat. “Itu adalah persoalan individu­individu anggota Banggar. tidak ada kebijakan tentang per­ caloan anggaran di Banggar. Jadi, individu­individu anggota Banggar itulah yang seharusnya dievaluasi. Persoalannya kembali kepada in­ dividu masing­masing,” ujarnya

seraya mengibaratkan kalau ingin menangkap tikus jangan membakar lumbungnya. Budi Heryadi berpendapat se­ rupa. Dia menyayangkan apabila pembubaran Banggar ini dilatar­ belakangi oleh beberapa kasus suap dan korupsi yang melibatkan beberapa anggota Banggar. “Ja­ ngan karena ada individu­individu anggota Banggar yang terlibat lalu Banggar­nya dibubarkan. Sebab, keberadaan Banggar ini terkait den­ gan salah satu fungsi DPR, yaitu fungsi budgeting,” katanya kepada Gema Indonesia Raya. Menurut Budi Heryadi, fungsi budgeting ini cukup penting. Oleh karena itu, pembubaran Banggar dan kewenangan anggaran diserah­ kan kepada komisi­komisi di DPR perlu dikaji lebih mendalam. “Per­ soalannya, pembahasan anggaran di komisi akan terjadi tumpang tindih dengan komisi lainnya,” ujar anggo­ ta Komisi IV DPR ini. Dia memberi contoh, Komisi IV akan membahas anggaran untuk pertanian. Mitra kerja Komisi IV di antaranya adalah perusahaan milik negara (BUMN) di bidang pupuk dan benih. Sedangkan BUMN men­ jadi mitra kerja Komisi VI. “Kalau anggaran dibahas masing­masing komisi dikhawatirkan akan terjadi tumpang tindih. Sebaliknya, bila anggaran dibahas di Banggar, tum­ pang tindih itu bisa dihindarkan karena anggota Banggar mewakili komisi­komisi,” jelas Budi Heryadi.

Kesepakatan Fraksi

Untuk meminimalisir calo atau mafia anggaran di Banggar, Budi Heryadi mengatakan, ke depan Banggar harus lebih terbuka, mi­ salnya dengan melibatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan penegak hukum lain. “Sesekali da­ lam pembahasan di Banggar me­ ngundang KPK agar badan penegak hukum ini paham dengan apa yang dibahas di Banggar,” katanya. Baik Fary maupun Budi Her­ yadi berpendapat bahwa Banggar ini perlu dipertahankan. Keberada­ an Banggar merupakan amanat UU dan apa yang dikerjakan Banggar juga sudah sesuai dengan UU. “Ini harus menjadi pertimbangan teman­ teman di DPR yang meminta pem­ bubaran Banggar,” katanya seraya menambahkan bahwa lebih baik membentuk Panja Mafia anggaran ketimbang membubarkan Banggar dan menyerahkan pembahasan ang­ garan kepada komisi­komisi. Namun, Fary dan Budi Heryadi pun tidak bisa berbuat apa­apa bila pembubaran Banggar sudah menja­ di kesepakatan fraksi­fraksi di DPR. Partai Gerindra hanyalah fraksi kecil di DPR. Seandainya fraksi­ fraksi lain menyepakati pembuba­ ran Banggar, Fraksi Partai Gerindra tidak bisa berbuat apa­apa. “Kalau sesuai mekanisme yang ada, kita ikut saja. tidak perlu dibuat susah,” ucap Fary Djemy Francis. t

edisi 06/taHun i/oktober 2011 :05
edisi 06/taHun i/oktober 2011 :05

edisi 06/taHun i/oktober 2011

:05

foto IstImewa

praKtiK Mafia anggaran

Kongkalikong DPR, Pemerintah, dan Pengusaha

Kasus dugaan suap dan korupsi di Kemenegpora dan Kemenakertrans menunjukkan terjadinya kongkalikong melibatkan DPR, pemerintah, dan pengusaha.

oLeh BudI sucahyo

PRaKtIK mafia anggaran terjadi karena adanya kongkalikong antara DPR, pemerintah, dan pengusaha.

“Presiden ini kepala eksekutif dan pemimpin partai politik terbe­ sar. Beliau berkompeten dan berke­

dari pengusaha. Praktik seperti itu sebenarnya sudah lama terjadi di Badan ang­

Seperti kasus dugaan korupsi di Ke­ menterian tenaga Kerja dan trans­ migrasi (Kemenakertrans), pengus­

mampuan untuk memutus semua ini. Kita berharap presiden memi­ liki ketegasan dan keberanian. Ja­

garan (Banggar) DPR dan peme­ rintah. Praktik seperti itu dengan mudah terlihat dari proses tender.

aha

memberikan uang terlebih dulu

ngan lagi kasus ini melalaikan suatu

Karena itu, Martin meminta agar

ke

pemerintah atau DPR, bahkan

kenyataan bahwa permainan angga­

DPR dan pemerintah tidak menu­

keduanya, untuk memuluskan agar proyek pengadaan barang dan jasa yang ada di pemerintah dimenankan oleh perusahaan bersangkutan. Menurut Martin Hutabarat, anggota Komisi III DPR dari Fraksi

ran itu memang ada,” kata Martin Hutabarat. Praktik mafia anggaran tidak mungkin terjadi tanpa adanya ker­ jasama antara DPR, pemerintah, dan pengusaha. Bahkan, disinyalir

tup mata terhadap adanya mafia anggaran itu. “Permainan anggaran itu nyata. Jadi kita tidak boleh seolah­olah me­ nutup mata terhadap fakta ini. ada sesuatu yang harus kita bereskan,”

Partai Gerindra, kasus yang terjadi

pihak pemerintah sangat berpe­

tegasnya. Kasus­kasus dugaan suap

di

Kemenakertrans dan sebelum­

ran mengingat pengguna anggaran

yang terkuat di beberapa kemente­

nya di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenegpora) mem­ buktikan masih buruknya mental birokrasi. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pemimpin pun­ cak di pemerintahan harus bisa mengambil sikap tegas.

adalah pemerintah. Pengusaha bi­ asanya memberikan uang terlebih dulu kepada pejabat berpengaruh di pemerintahan (kementerian), baru kemudian dana mengalir ke DPR. Uang yang diterima mafia anggaran di pemerintah dan DPR biasanya

rian, lanjut Martin, seharusnya me­ nyadarkan bahwa perilaku korupsi itu meluas karena ada permainan anggaran di eksekutif dan DPR. Politisi Partai Gerindra ini ber­ harap, agar rekan­rekan di DPR bisa melakukan perbaikan dan tidak

terjebak dalam permainan anggaran itu. “ada fakta­fakta yang salah da­ lam pengelolaan anggaran. Ini harus menjadi perhatian. Jangan justru di­ balik, DPR yang harus dijaga wiba­ wanya,” ujarnya.

Aturan tidak tertulis

Koordinator advokasi dan In­ vestigasi Sekretariat Nasional Fo­ rum Indonesia untuk transparansi anggaran (Seknas Fitra), Uchok Sky Khadafi mengatakan, gaya hidup anggota Banggar yang bergelimang kemewahan sudah bukan rahasia lagi. Masyarakat sudah mengetahui posisi anggota Banggar yang me­ nentukan mulusnya sebuah proyek. “Kalau anggota Dewan diminta memilih apakah mau di Badan Ke­ hormatan (BK) atau Banggar, pas­ ti memilih Banggar. Karena yang menentukan proyek di Banggar,” katanya. ada aturan tidak tertulis dalam menggolkan sebuah proyek. Yakni, jatah 5% sampai 10% bagi seorang anggota Banggar dan calonya. Bisa dibayangkan, jika seorang anggota Banggar bisa menggolkan sebuah proyek senilai Rp10 miliar, maka jatahnya sekitar Rp500 juta hingga Rp1 miliar. Jika proyeknya men­ capai ratusan miliar rupiah, tentu jatahnya bisa mencapai puluhan miliar juga. Jika sudah demikian, kehidu­ pan mewah anggota Banggar tentu bukanlah hal sulit diraih. Ini bisa disaksikan dengan mata telanjang bagaimana perubahan penampilan seorang anggota Banggar saat per­ tama kali duduk di Banggar dan setelah setahun berada di Banggar. “Umumnya yang duduk di Banggar itu orang yang berada di elit politik. Bendahara umum biasanya sudah

mendapat jatah,” kata Uchok Sky Khadafi. Maka, tidak heran jika tu­ dingan miring dialamatkan kepada anggota Banggar. Uchok setuju bila Banggar di­ bubarkan. “Dari dua kasus, yaitu kasus mantan Bendahara Umum Partai Demokrat M. Nazaruddin dan suap di Kemenakertrans, te­ rungkap bahwa Banggar menerima suap. Kami ingin Banggar dibubar­ kan,” katanya. Dia mengungkapkan, ada tiga alasan mengapa Banggar sebaiknya dibubarkan. Pertama, Banggar DPR hanya dijadikan ajang korupsi oleh anggotanya. Kedua, keberadaan Banggar malah menjadikan komisi yang ada di DPR subordinat Bang­ gar. “Semua rapat menjadi terlam­ bat karena menunggu Banggar,” katanya. Ketiga, selama ini Banggar tidak pernah transparan kepada publik, khususnya dalam menentukan ang­ garan bagi kementerian. “Karena Banggar DPR takut bila dana yang mengalir ke partai dan kantong pri­ badi diketahui publik,” katanya. Menurut Uchok, DPR tidak perlu khawatir jika Banggar dibu­ barkan pengawasan terhadap pe­ ngalokasian aPBN menjadi lemah. Kunci dari persoalan di Banggar, kata Uchok, adalah soal transpa­ ransi. “DPR harus membuka diri kepada publik soal rancangan ang­ garan yang diajukan pihak ekse­ kutif. Publik harus diikutsertakan dalam memberi penilaian terhadap rancangan anggaran tersebut. Draf anggaran harus dibuka kepada pu­ blik,” katanya. Dengan cara seperti itu diha­ rapkan bisa memutus permainan kongkalikong antara DPR, peme­ rintah, dan pengusaha dalam soal anggaran. t

06 : indonesia

06 : i ndonesia edisi 06/taHun i/oktober 2011
06 : i ndonesia edisi 06/taHun i/oktober 2011

edisi 06/taHun i/oktober 2011

apbn

Dana Habis, Program Amburadul

akhir tahun menjadi kebiasaan kementerian dan lembaga memboroskan aPBN. Di desa, kemiskinan dan pengangguran tidak pernah tersentuh dana masyarakat itu.

foto mustafa kemaL

atau 1,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Dengan kata lain, seperdelapan belanja pusat digunakan untuk membayar bunga utang. Beban akan semakin besar kalau ditambah cicilan pokok utang luar negeri dan pembayaran pokok utang domestik. Dalam RaPBN 2012 cicilan pokok utang luar negeri mencapai Rp47,26 triliun. Inilah paradoks aPBN kita, lebih banyak untuk membiayai orang kota yang mampu dibanding­ kan orang miskin di desa. t

poor (berpihak pada orang miskin), pro job (mengentasi pengangguran) dan pro environment (berpihak pada lingkungan). Yang juga sangat mengkhawatir­ kan, jumlah cicilan utang luar ne­ geri kita yang harus dibayar melalui aPBN terus menerus membengkak. Beban bunga utang terus mening­ kat dan sejak 2011 telah menembus Rp100 triliun. Pada 2012 dipro­ yeksikan mencapai Rp123,1 triliun, yang artinya setara dengan 12,9% dari total belanja pemerintah pusat,

oLeh Iman fIrdaus

MEMaSUKI bulan September 2011, sejumlah kementerian dan lembaga sibuk. Sejumlah program dadakan disiapkan agar selesai pada bulan Desember 2011. Bahkan, ada kementerian yang mempersiapkan majalah yang khusus dibuat menje­ lang akhir tahun. Majalah pun dire­ kayasa agar seolah­olah terbit setiap bulan, dalam tempo enam bulan. Padahal hanya dikerjakan dua bu­ lan saja. “Silakan lihat hotel­hotel pada akhir tahun nanti, semua penuh di booking para birokrat di kemente­ rian,” ujar anggota Komisi XI dari Fraksi Partai Gerindra Sadar Subag­ yo mencermati fenomena meng­ hambur­hamburkan uang aPBN (anggaran Pendapat dan Belanja Negara) setiap akhir tahun ini. tradisi memboroskan dana oleh kementerian dan lembaga ini sudah berlangsung lama. Pasalnya, dalam setiap memasuki tahun anggaran baru, kementerian dan lembaga sudah harus mengajukan anggaran baru pula. Nah, Desember adalah batas akhir anggaran tahun sebe­ lumnya dihabiskan. Pada Maret dan april akan turun anggaran baru, hasil persetujuan DPR dan peme­ rintah. Kenapa tidak dikembalikan saja ke negara, bila memang ada angga­ ran yang tersisa? ternyata, peme­ rintah tidak memiliki mekanisme anggaran yang sudah dikeluarkan

bisa ditarik lagi. Bila ada kemente­ rian yang menyisakan dana, berarti kementerian tersebut tidak men­ jalankan program dengan benar. Hasilnya, tahun depan anggarannya akan dipangkas. tidak heran bila se­ tiap birokrat akan berlomba meng­ habiskan dana setiap akhir tahun. Ironisnya, justru banyak pro­ gram pembangunan yang semesti­ nya didanai oleh aPBN terbeng­ kalai. Pembangunan infrastruktur pertanian dan nelayan yang tersebar

di seluruh wilayah tidak tersentuh

roda pembangunan. Padahal, ka­

wasan pertanian dan nelayan sebagi­

an besar berada di kawasan terting­

gal, dan sebagian besar masyarakat miskin. tidak heran bila aPBN kita yang jumlahnya mencapai 1.300 tri­ liun, sebanyak 80% habis untuk be­ lanja pegawai. Sisanya, hanya 20% dialokasikan untuk pembangunan. atau bila dirupiahkan, sekitar 2,6 triliun saja untuk biaya infrastruk­ tur demi kelancaran masyarakat bekerja. Dana ini, tidak ada artinya bila dibandingkan luasan wilayah

yang harus ditangani. Sedangkan biaya rutin pega­ wai negeri yang jumlahnya menca­ pai 4 juta orang menembus angka Rp182 triliun. Biaya untuk penga­ ngguran yang berjumlah 21 juta orang (program ketenagakerjaan, kesehatan, pertanian) hanya Rp66 triliun. “Fraksi Gerindra melihat,

RaPBN 2012 tidak ada perubahan dibandingkan tahun sebelumnya, dan visinya tidak jelas,” kata Fary Djemy Francis saat memberikan pandangan fraksi atas RUU aPBN 2012. Padahal, pemerintah selalu menggembar­gemborkan aPBN pro

pemerintah sependapat

dengan gerindra

CatataN dan kritik yang disampaikan oleh Fraksi Gerindra kepada pemerintah terhadap RUU aPBN 2012 dan nota keuangannya mendapatkan respon po­ sitif. Menteri Keuangan agus Martowardojo di depan Sidang Paripurna DPR awal September lalu mengata­ kan, peningkatan infrastruktur pertanian dan nelayan memang perlu ditingkatkan. Peningkatan infrastruktur nelayan, kata agus, dilaksanakan oleh kementerian, meliputi: pengemba­ ngan infrastruktur pelabuhan perikanan, pelayaran dan angkutan yang bersifat kontainer untuk membawa ba­ rang antarwilayah, sehingga mampu memfasilitasi per­ gerakan barang dan jasa. “Pada 2012 telah dicanangkan beberapa kegiatan pengembangan sarana dan prasarana untuk kehidupan nelayan,” jelasnya. Menurut agus, pemerintah berjanji akan mengem­ bangkan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) di kabupa­ ten/kota melalui pembangunan cold storage/pabrik es, pembangunan SPDN (Solar Packed Dealer Nelayan), pemberian mobil alih teknologi dan informasi. Sedangkan untuk pembangunan infrastruktur per­ tanian, terlihat dari program Kementerian Petanian pada tahun anggaran 2012 yang telah mengalokasikan

anggaran pertanian sebesar Rp1, 712 triliun. Dana tersebut akan digunakan untuk irigasi air permukaan, pengembangan air tanah, pompanisasi sebanyak 486 unit, rehabilitas Jaringan Irigasi Usaha tingkat Usaha tani (JItUt), Jaringan Irigasi Desa (JIDES) dan Pengembangan tata air Mikro untuk 158.553 hektar lahan. Ditambah lagi pengembangan 929 unit irigasi partisipatif, cetak sawah, perluasan lahan kering, per­ luasan lahan hortikultura, areal perkebunan dan peter­ nakan seluas 84.252 hektar. Dan juga Bantuan Rumah Pembuatan Pupuk Organik (RPPO) 14.824 unit dan pembangunan 318 unit rumah kompos. agus menjamin bahwa pembangunan infrastruktur tersebut adalah upaya untuk perbaikan dan peningka­ tan kualitas belanja negara. “Pemerintah telah melaku­ kan upaya pengalihan secara bertahap belanja subsidi ke program yang lebih produktif, meningkatkan keter­ kaitan, dan koordinasi baik di pusat maupun daerah,” jelas agus. Mudah­mudahan, program yang sudah disampai­ kan dalam nota keuangan tersebut, akan terlaksana pada tahun depan. Bukan sekadar basa­basi. t

edisi 06/taHun i/oktober 2011 :07
edisi 06/taHun i/oktober 2011 :07

edisi 06/taHun i/oktober 2011

:07

Lain di bawah, Lain di atas

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak berdampak pada kesejahteraan rakyat. Pemerintah yakin Indonesia tertinggi di asean.

oLeh Iman fIrdaus

dibandingkan perkiraan 2011 yang tumbuh sebesar 3,7%, bahkan lebih tinggi dibandingkan rata­rata tahun terakhir sebesar 3,5%. Pemerintah juga mengaku te­ lah menurunkan angka kemiskin­ an dalam beberapa tahun terakhir. Persentase penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan menurun dari 16,6% pada 2007 menjadi 13,3% pada 2010. Dalam 2012 tingkat kemiskinan diperkirakan terus menurun dari 11,5 ­ 12,5% pada 2011 menjadi 10,5 ­ 11,5%. Sementara untuk tingkat pengang­ guran menurun dari 9,1% pada 2007 menjadi 7,1% pada 2010.

guran menurun dari 9,1% pada 2007 menjadi 7,1% pada 2010. foto IstImewa tahun 2012 tingkat penganggu­

foto IstImewa

tahun 2012 tingkat penganggu­ ran diperkirakan akan turun men­ jadi 6,4 ­ 6,7% dari 6,8% pada Fe­ bruari 2011. “Hasil pembangunan ekonomi dewasa ini sebenarnya juga semakin merata dan bisa dirasakan oleh masyarakat luas,” tambahnya. Namun, hal yang tidak pernah dicermati dari angka pertumbuhan ekonomi itu adalah soal kesejah­ teraan dan pemeratan (growth with equity). atau pertumbuhan yang mengikutsertakan sebanyak mung­ kin masyarakat (inclusive growth). angka pertumbuhan ekonomi 2010, misalnya, ternyata diikuti dengan peningkatan Gini Coeffici- ent dari 0,36 menjadi 0,37. Ini arti­ nya, pertumbuhan ekonomi belum mendorong pemerataan pembagian kue ekonomi. Pertumbuhan juga meningkatan kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin. Simak saja kontribusi pertum­ buhan antarwilayah juga belum ideal, dan perbaikannya juga belum signifikan. Menurut BPS, struktur perekonomian Indonesia secara spasial 2010 masih didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa yang memberikan kontribusi terha­ dap PDB sebesar 58%. Sedangkan sumbangan provinsi di Sumatera sebesar 23,1%, Kalimantan 9,2%, Sulawesi 4,7% dan sisanya 5,2% di provinsi­provinsi lainnya. Jadi, pertumbuhan ekonomi selama ini hanya terjadi di kawasan Jawa. Jadi, dari angka tersebut tam­ pak jelas, tingkat pertumbuhan ini berpotensi menimbulkan kecembu­ ruan antardaerah. Hal ini juga men­ jadi sumber ketimpangan kualitas hidup dan penumpukan masalah sosial pada pusat­pusat pertum­ buhan. Jadi, di tengah slogan soal pertumbuhan ekonomi yang terus diulang, angka pengangguran tetap tinggi dan para pendatang pencari kerja ke Jakarta akan terus mem­ banjir. akankah pemerintah terus menutup mata pada persoalan di bawah? t

LEBaRaN telah usai. Kota­kota besar seperti Jakarta mengalami per­ soalan yang berulang setiap tahun, yakni masuknya orang dari daerah ke Jakarta untuk memperbaiki ta­ raf ekonomi. Padahal Jakarta sen­ diri sudah mengalami persoalan yang cukup berat. Pengangguran dan tingginya angka kemiskinan adalah persoalan yang tak kunjung terselesaikan. Menurut Kepala BPS (Badan Pusat Statistik), kaum pen­ datang itu tidak memberikan kon­ tribusi ekonomi, tetapi malah me­ nyumbangkan kemiskinan. Kedatangan orang dari daerah ke Jakarta tak bisa sepenuhnya di­ salahkan. Di desa mereka mengha­ dapi tekanan hidup yang terlampau berat karena didera kemiskinan. Hasil pertanian tak lagi menjanji­ kan. Luas lahan yang mereka miliki terus menyusut karena alih fungsi lahan. Hasil pertanian tidak bisa menembus pasar karena kalah ber­ saing dengan buah dan beras impor. tak ada pilihan lain, banyak petani yang harus banting stir ke Jakarta menjadi kuli bangunan atau pemu­ lung. tapi inti persoalan urbanisasi ini tidak pernah dituntaskan. Yak­ ni, membangun sektor pertanian dan pedesaan agar orang desa bisa mengembangkan sumber daya yang

mereka miliki. alih­alih memba­ ngun pedesaan, pemerintah sibuk menghimbau orang agar jangan ke Jakarta. arus balik yang berulang setiap tahun ini justru bertolak belakang dengan slogan yang digembar­ gemborkan pemerintah bahwa ang­ ka kemiskinan dan pengangguran berkurang dan pertumbuhan eko­ nomi sangat menjanjikan, yakni 6,4­6,9%. “Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2012 diperkirakan lebih tinggi dibanding pertumbuhan ne­ gara asean lainnya, seperti Malaysia (5,2%), Thailand (4,5%), Filipina (5,0%), Singapura (4,4%),” kata Menteri Keuangan agus Martowar­ dojo. Bahkan untuk menyongsong pertumbuhan itu, pemerintah telah menyiapkan kebijakan fiskal yang bersifat ekspansif pada tahun 2012. “Pemerintah juga terus berupaya dan konsisten mendorong sektor­ sektor tersebut agar terus meningkat melalui berbagai program seperti re­ vitalisasi,” tambah agus. agus menyebutkan bahwa di sektor pertanian sangat besar dalam penyerapan tenaga kerja. Selama be­ berapa tahun terakhir, pertumbuhan sektor pertanian cenderung mening­ kat sejak 2005. Pertumbuhan PDB sektor pertanian 2012 diperkirakan sebesar 3,9% ­ 4,3%, lebih tinggi

otak-atik orang Miskin

PEtaNI dan nelayan adalah dua bidang yang diyakini sebagai sumber kemiskinan di negeri ini. Bukan mereka tak mampu menghasilkan kontribusi, tapi karena tidak ada keberpihakan selama ini kepada petani dan nelayan. Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad mengakui bahwa selama ini kawasan pesisir adalah salah satu kantong kemiskinan. “ada 74 ribu desa di Indonesia, 36 ribu di antaranya berada di kawasan pesisir, dan 10 ribu di antaranya kawasan miskin,“ katanya. Simak juga para petani gurem saat ini yang jumlahya terus membengkak. Menurut data dari BPS (Badan Pusat Statistik), setiap tahun jumlah petani gurem terus meningkat. Pada 1975 jumlah petani gurem sekitar 22,2 juta jiwa, pada 1996 mengalami peningkatan menjadi 27,3 juta jiwa. Data terbaru 2009 menunjukkan jumlah petani gurem ini mencapai 39,4 juta jiwa. Karena itu, kata pengamat ekonomi pertanian HS Dillon, untuk melihat indikator kemiskinan, tidak perlu jauh mengotak­atik angka kemiskinan, tapi lihat saja jumlah petani gurem. “Setiap tahun jumlahnya (petani gurem) makin banyak, sehingga terjadi kemiskinan berkelanjutan,” kata Senior Advisor Centre for Agriculture and Policy Studies HS Dillon dalam acara Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi IV, untuk memberi masukan draf rancangan perubahan atas UU No 7 tahun 1996

tentang Pangan. Fakta lain juga berbicara, setiap tahun dana untuk beras miskin (raskin) tak pernah berkurang. Pada 2009 sebanyak Rp15 triliun, sedangkan untuk 2010 dan 2011 berjumlah Rp17 triliun untuk 17 juta rumah

2010 dan 2011 berjumlah Rp17 triliun untuk 17 juta rumah tangga sasaran (RtS). Jika anggaran untuk
2010 dan 2011 berjumlah Rp17 triliun untuk 17 juta rumah tangga sasaran (RtS). Jika anggaran untuk

tangga sasaran (RtS). Jika anggaran untuk raskin terus meningkat, artinya jumlah orang miskin juga terus membengkak. Peningkatan anggaran untuk raskin ini justru berkebalikan dengan slogan pemerintah tentang pengurangan angka kemiskinan. Menurut Kepala Perum Bulog Soetarto alimoeso, untuk 2011 raskin akan terus digelontorkan untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat miskin. t (IF)

08 : indonesia

08 : i ndonesia edisi 06/taHun i/oktober 2011
08 : i ndonesia edisi 06/taHun i/oktober 2011

edisi 06/taHun i/oktober 2011

Prabowo Subianto:

“Gerindra Bukan Tempat Mencari Keuntungan Pribadi”

foto-foto mustafa kemaL

Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto menginstruksikan seluruh kader Partai Gerindra untuk loyal terhadap partai dan memiliki komitmen kuat untuk membangun bangsa Indonesia menjadi lebih baik.

oLeh ardI wInanGun / BudI sucahyo

penting bagi Partai Gerindra untuk tetap eksis agar bisa terus berjuang untuk bangsa Indonesia. “Kita ha­ rus berjuang untuk lolos verifikasi 2014. Pemilu 2014 sangat strate­ gis,” kata Prabowo Subianto. Prabowo menegaskan seluruh kader Partai Gerindra, terutama pengurus daerah dan pengurus ca­ bang harus berjuang keras untuk membangun partai dan membesar­ kan organisasi. Perjuangan dari Par­ tai Gerindra saat ini, kata Prabowo, akan menentukan apakah Gerindra akan terus eksis dan menjadi sema­ kin besar atau sebaliknya. Pada kesempatan itu, Prabowo juga menginstruksikan seluruh ka­ dernya untuk loyal terhadap partai dan memiliki komitmen kuat un­ tuk membangun bangsa Indonesia menjadi lebih baik. “Kader yang ti­ dak loyal dan hanya mencari keun­ tungan pribadi, sebaiknya mundur dan tidak ikut bergabung bersama Partai Gerindra,” tegasnya. Untuk menyemangati kadernya, dalam pidatonya Prabowo memuji perjuangan kader Partai Gerindra di sejumlah daerah dan cabang yang

telah bekerja keras membesarkan partai di daerahnya. Ia mencontoh­ kan, keberadaan Partai Gerindra di Provinsi Papua Barat yang sudah 89% serta kepengurusan di tingkat cabang di provinsi tersebut yang su­ dah 100%. “Saya minta para kader Partai Gerindra di seluruh daerah untuk terus berjuang dan bekerja keras, membangun dan membesarkan partai,” katanya. Dalam memban­ gun dan membesarkan partai, lan­ jut dia, harus dengan komitmen untuk membangun bangsa dan ne­ gara Indonesia bukan untuk men­ cari keuntungan pribadi. Prabowo menegaskan, kader Partai Gerindra harus bisa menunjukkan bukti bu­ kan sekadar janji. “Rakyat sudah bosan dengan janji­janji. Rakyat sudah bosan de­ ngan politikus yang banyak bicara dan sudah pasti menipu. Rakyat minta alternatif dan kita yang harus berani memberi harapan baru untuk rakyat Indonesia,” tandasnya disam­ but tepuk tangan riuh hadirin. Halal bihalal diakhiri dengan sa­ ling bersalaman. t

LaLU lintas dari arah Kebun Bina­ tang Ragunan menuju Mampang

dan Pasar Minggu pada Senin sore, 12 September 2011, padat dan ter­ sendat. Kemacetan ini disebabkan puluhan mobil diparkir di pinggir jalan, tepatnya di depan Kantor DPP Partai Gerindra, Jl. Harsono RM Jakarta Selatan. Deretan mo­

bil memanjang diparkir di pinggir

jalan, baik di sisi kiri maupun seber­ ang jalan, karena halaman kantor DPP sudah tak lagi bisa menam­ pung jumlah kendaraan roda empat dan roda dua. Penuhnya parkir membuat ken­ daraan para undangan dan warta­ wan yang datang ke Kantor DPP Partai Gerindra kesulitan mencari tempat parkir. Kantor DPP Par­

tai Gerindra sore itu tidak hanya

menjadi lautan kendaraan, tapi juga

manusia. Senin sore itu, DPP Partai Gerindra mengadakan halal bihalal dengan puncak acara pidato poli­

tik Ketua Dewan Pembina Partai

Gerindra Prabowo Subianto.

acara halal bihalal yang digelar

han dengan kantor DPP, tampak ratusan orang. Dalam acara halal bihalal yang sederhana ini tampak para anggota Dewan Pembina, anggota Dewan Penasihat, Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Wakil Ketua Umum, Sekretaris Jenderal, Bendahara Umum, Pengurus DPP, para pimpinan sayap­sayap partai, dan anggota Fraksi Partai Gerindra DPR RI. Sambil menunggu kedatangan Prabowo Subianto, para undangan diperdengarkan lagu­lagu rohani Islam yang dibawakan oleh salah satu kelompok musik. Bersama­ an dengan kedatangan Prabowo Subianto, kelompok musik Islami itu diganti dengan kelompok reba­ na. Saat Prabowo Subianto melang­ kahkan kaki menuju tempat acara, para hadirin berdiri menyambut bahkan berebut untuk bisa berjabat tangan. Kelompok rebana menden­ dangkan sholawat badar. Prabowo Subianto tiba, acara pun dimulai. Dipandu oleh abdul Harris Bobihoe, acara satu per satu

tausiyah Habieb Mahdi alatas yang gaya ceramahnya mirip al­ marhum Zainuddin MZ ini sering mengundang tawa hadirin, sehing­ ga para pendengarnya selain me­ nambah pengetahuan agama juga terhibur.

Berjuang keras

Usai tausiyah, acara dilanjut­ kan dengan pidato Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto. Dalam kesempatan itu, Prabowo Subianto menginstruksi­ kan kepada seluruh kadernya untuk berjuang keras agar Partai Gerindra memenuhi persyaratan sebagai pe­ serta Pemilu 2014. Menurut Prabo­ wo Subianto, Pemilu 2014 sangat

Pemilu 2014. Menurut Prabo­ wo Subianto, Pemilu 2014 sangat di Kantor DPP Partai Gerindra dimulai. Diawali

di

Kantor DPP Partai Gerindra

dimulai. Diawali dengan menya­

ini

menjadi magnet bagi seluruh

nyikan lagu kebangsaan Indonesia

pengurus, kader, dan simpatisan untuk datang berduyun­duyun ke kantor DPP. Mereka datang dari se­ gala penjuru. tampak Ketua DPD Partai Gerindra Papua Barat, ab­ raham atuturi, Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Barat Oo Sutisna, Ketua DPD Partai Gerindra Jawa timur Soepriyatno, Ketua DPD Partai Gerindra Jawa tengah abdul Wachid, dan para simpatisan Partai Gerindra lainnya. Di tempat acara, di sebuah tenda raksasa warna putih yang bersebela­

Raya, kemudian Mars Partai Gerin­ dra, selanjutnya hymne menghe­ ningkan cipta. acara berlanjut dengan siraman rohani dari Ketua Bidang agama DPP Partai Gerindra, Habieb Mahdi alatas. Dalam kesempatan itu Habieb mengingatkan kepada para hadirin agar selalu mengingat allah. Sebab, dengan mengingat allah, maka ma­ nusia akan selalu dilindungi. Dengan mengingat allah, kata Habieb Mahdi alatas, maka hidup manusia menjadi tenang dan tenteram.

edisi 06/taHun i/oktober 2011 k olom : 09
edisi 06/taHun i/oktober 2011 k olom : 09

edisi 06/taHun i/oktober 2011

kolom : 09

edisi 06/taHun i/oktober 2011 k olom : 09 Dari Istana Sampai Karang Taruna ILustrasI yonG w

Dari Istana Sampai Karang Taruna

ILustrasI yonG w PatI
ILustrasI yonG w PatI

oLeh amran nasutIon

(Anggota Dewan Penasihat Partai Gerindra, Anggota Badan Komunikasi Partai Gerindra)

Partai Gerindra, Anggota Badan Komunikasi Partai Gerindra) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) selalu tebang pilih.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) selalu tebang pilih. Mereka hanya mengusut korupsi tanpa beking politik. Tak aneh korupsi kian meluas

Lalu tahun sebelumnya (2009) Indonesia menduduki peringkat 111. artinya, tingkat korupsi Indonesia sama saja dari tahun ke ta­ hun. Padahal negara tetangga seperti Malay­ sia atau Thailand sudah jauh lebih baik dari kita. Jangan bicarakan Singapore. tetangga terdekat itu adalah salah satu negara paling bersih dari korupsi di dunia. Belakangan mulai terbongkar korupsi yang melibatkan orang­orang dekat SBY, keti­ ka bekas Bendahara Umum Partai Demokrat Mohammad Nazaruddin ditangkap dan dita­ han KPK dalam kasus korupsi dan penyuap­ an di lingkungan Kementerian Pemuda dan Olahraga yang dipimpin menteri dari Partai Demokrat, andi alfian Mallarangeng.

Sebagai bendahara umum partai, jelas gerakan Nazaruddin terkait dengan sang ke­ tua umum anas Urbaningrum. Kemudian menjadi jelas bahwa anas, istrinya, dan Naza­ ruddin, memliliki saham di perusahaan sama, yang menguasai proyek pemerintah bernilai Rp6 triliunan. Nazaruddin dengan jelas mengungkap pengiriman uang puluhan milyar rupiah de­ ngan iring­iringan konvoi mobil dari Jakarta ke Bandung semasa Kongres Partai Demokrat, Mei tahun lalu di Padalarang. Uang dibagi­ bagikan ke peserta kongres agar memilih anas Urbaningrum jadi ketua umum. Orang­orang yang terlibat langsung da­ lam pengiriman itu ­­ seperti supir atau pen­

gawal ­­ telah memberi kesaksian terbuka di televisi memperkuat pernyataan Nazaruddin. artinya, saksi untuk perkara ini sudah cu­ kup. tapi sampai sekarang polisi, Kejaksaan agung, maupun KPK tak melakukan apa pun. tak satu pun di antara para supir atau pengawal yang sudah memberi kesaksian ter­ buka tentang konvoi mobil pembawa uang sogok ke kongres Partai Demokrat itu yang dipanggil KPK. Lembaga pemberantas ko­ rupsi itu pura­pura bodoh atau pura­pura tak tahu. Ini memang hanya menambah bukti lagi betapa KPK itu tebang pilih. Mereka ta­ kut mengusut korupsi yang melibatkan Istana dan sekitarnya. t

mengusut korupsi yang melibatkan Istana dan sekitarnya. t KEtIKa pertama menjadi presiden, SBY berjanji akan pimpin

KEtIKa pertama menjadi presiden, SBY berjanji akan pimpin langsung pemberantas­ an korupsi. Kenyataannya setelah 7 tahun memimpin Indonesia, SBY harus mengaku terus­terang bahwa ia gagal dengan janjinya. terbukti korupsi bukan berkurang, malah merebak dari kota sampai desa, dari Istana sampai Karang taruna. Karang taruna? Ya, organisasi pemuda nonpartisan yang dibina para kepala desa dan tersebar di seluruh Indonesia ternyata sudah dicemari korupsi. Di Bekasi, pengurus Karang taruna setempat 12 September lalu, melaporkan ketua mereka ke polisi karena menggelapkan dana bantuan Rp125 juta dari aPBD Kota Bekasi. Bayangkan: korupsi telah sampai Karang taruna. Kegagalan Presiden SBY memberantas korupsi memang sulit dibantah. Paling tidak bila dilihat indeks persepsi korupsi yang di­ buat lembaga pemeringkat korupsi paling ter­ kemuka yang berpusat di Berlin, Transparen- cy International. Untuk tahun 2010, menurut indeks itu Indonesia menempati peringkat 110 (dari 178 negara). artinya, Indonesia termasuk negara dengan tingkat korupsi yang cukup parah.

termasuk negara dengan tingkat korupsi yang cukup parah. Klepto-Mania atau Corrupty-Mania ILustrasI yonG w PatI

Klepto-Mania atau Corrupty-Mania

ILustrasI yonG w PatI SEDEKaDEaN lalu sempat heboh seorang artis terkenal Hollywood, Winona Ryder, yang
ILustrasI yonG w PatI
SEDEKaDEaN lalu sempat heboh seorang
artis terkenal Hollywood, Winona Ryder,
yang tertangkap basah oleh kamera sedang
mencuri (shoplifting) di sebuah departemen
store terkenal di New York. Yang bersangku­
tan kemudian dihukum dengan percobaan
dan melakukan kerja sosial selama 480 jam.
Winona Ryder kemudian diketahui mengid­
ap penyakit kleptomania.
Kleptomania berasal dari bahasa Yunani:
kleptein, “mencuri”, dan μανία, “mania” ada­
lah penyakit jiwa yang membuat penderitanya
tidak bisa menahan diri untuk mencuri. Ben­
da­benda yang dicuri oleh penderita klepto­
Para pencuri uang rakyat tersebut
melakukannya dengan tujuan memperkaya
diri sendiri dan kelompoknya
mania umumnya adalah barang­barang yang
tidak berharga, seperti mencuri gula, permen,
sisir, atau barang­barang lainnya. Sang pende­
rita biasanya merasakan rasa tegang subjektif
sebelum mencuri dan merasakan kelegaan
atau kenikmatan setelah mereka melakukan
tindakan mencuri tersebut. tindakan ini ha­
rus dibedakan dari tindakan mencuri biasa
yang biasanya didorong oleh motivasi keun­
tungan dan telah direncanakan sebelumnya.
Beberapa waktu belakangan ini istilah
klepto mulai ramai dibicarakan lagi. Mulai
dari istilah klepto-krat , klepto-kabinet , klepto-
party, sampai­sampai ada istilah negara klepto-
krasi dan mungkin masih ada lagi istilah­isti­
lah yang dibuat (yang dihubungkan dengan

oLeh sjukrIanto yuLIa

(Ketua DPP Partai Gerindra Bidang Keamanan)

kata ‘’klepto‘’) untuk menggambarkan pe­ rilaku mencuri, yang telah mengidap segala sendi kehidupan berbangsa dan bernegara di republik ini. Namun apakah benar perilaku mencuri yang telah menjangkiti para pejabat dan elite politik di republik ini dapat digolongkan se­ bagai penyakit klepto? Menilik definisi yang telah penulis sam­ paikan di atas, rasanya kurang tepat kalau perilaku mencuri tersebut adalah termasuk golongan pengidap klepto. Yang dicuri oleh para pejabat dan elite politik tersebut bukan barang­barang yang tidak berharga, melain­ kan adalah uang negara atau uang rakyat yang sangat berarti nilainya bagi kehidupan ekono­ mi bangsa. Para pencuri uang rakyat tersebut melaku­ kannya dengan tujuan memperkaya diri sen­ diri dan kelompoknya, bukan untuk kenik­ matan sesaat seperti yang dilakukan pengidap kleptomania. Demikian juga hukuman yang diberikan kepada para koruptor itupun harus berat, tidak seperti hukuman bagi para pengi­ dap kleptomania yang ringan. Efek jera dan malu yang akan dimuncul­ kan dengan menggolongkan perilaku pejabat atau elite politik tersebut sebagai klepto akan terasa kurang efektif atau tidak berarti. akan jauh lebih mengena kalau langsung saja sebut

berarti. akan jauh lebih mengena kalau langsung saja sebut mereka itu sebagai koruptor atau perampok uang

mereka itu sebagai koruptor atau perampok uang negara. atau sebut saja negara ini de­ ngan istilah corrupty-country; corrupty-cracy, corrupty-cabinet ataupun corrupty-party. Sebagai kader partai yang mengusung idio­ logi perubahan, yang selalu berteriak untuk berjuang melawan korupsi dan selalu men­ janjikan untuk membawa rakyat Indonesia ke arah kehidupan berbangsa yang lebih baik, saya sangat tidak ingin penyakit atau perilaku tersebut menjangkiti elite­elite partai ini. Un­ tuk mencegah hal tersebut, maka partai harus membuat suatu aturan dan sanksi yang tegas sehingga para kader ataupun elite partai tidak berani melakukan korupsi tersebut. Sanksi harus diterapkan secara adil dan konsisten dari pemimpin tertinggi partai sampai kader paling rendah. Dengan demikian partai ini tidak hanya sekedar memiliki jargon­jargon semu seperti partai lainnya. Kita sangat menyadari bahwa rakyat telah lelah ditipu dan dibohongi oleh partai­partai politik. Kita berjuang untuk mengambil hati rakyat yang capek itu dengan menawarkan perubahan. Namun ingat bahwa perubahan itu hanya akan terjadi kalau kita bisa memu­ lainya dengan perubahan dari dalam diri kita sendiri. Semoga partai ini tidak digolongkan menjadi corrupty-party. Jayalah Partai Gerin­ dra. t

10 : gema daeraH

10 : g ema d aeraH edisi 06/taHun i/oktober 2011
10 : g ema d aeraH edisi 06/taHun i/oktober 2011

edisi 06/taHun i/oktober 2011

jakarta Pusat foto mustafa kemaL
jakarta Pusat
foto mustafa kemaL

Gerindra Peduli Korban Kebakaran di Benhil

aKIBat terjadi hubungan arus pendek di

rumah kontrakan Nyonya Yayat, sebanyak 90 buah rumah di Rt 5, Rt 6, Rt 7, dan Rt 8,

di RW 1, Kelurahan Bendungan Hilir, Keca­

matan tanah abang, Jakarta Pusat, habis di­ lalap si jago merah (27/9). Dari sekian rumah yang terkena musibah itu, yang paling parah adalah Rt 6 – tempat tinggal Yayat. Di sini, tercatat 50 rumah ludes terbakar dan hanya menyisakan tembok bangunan. Kebakaran yang terjadi sejak pukul 11.00 WIB dan baru dapat dipadamkan sekitar pu­ kul 14.00 WIB dengan mengerahkan 26 mo­ bil pemadam kebakaran. akibatnya, 1.500 orang kehilangan tempat tinggal, dan kini ditampung di dua lokasi, yaitu: Masjid al Falah untuk anak­anak dan usia lanjut, dan pekarangan Gedung Plaza Bendungan Hilir untuk kaum lelaki. Kedua tempat penampun­

gan ini berjarak sekitar 100 meter dari lokasi kebakaran. Kebakaran menimpa 4 Rt yang berada pemukiman penduduk di tengah kota Jakarta itu telah menimbulkan simpati dan kepeduli­

an warga masyarakat, dan juga partai politik

serta lembaga swadaya masyarakat (LSM). Partai Gerindra yang setiap geraknya selalu memperjuangkan nasib rakyat kecil, me­ ngerahkan 4 pengurus anak cabang, yakni:

DPC tanah abang, DPC Menteng, DPC

Kemayoran dan DPC Cempaka Putih untuk membantu meringankan beban para korban bencana kebakangan di Bendungan Hilir tersebut. Untuk memudahkan koordinasi, Partai Gerindra mendiri sebuah Posko yang terletak di Jl. Raya Bendungan Hilir. “Ini menunjuk­ kan bahwa kita tidak hanya aktif menjelang Pemilu, namun setiap saat tetap peduli ma­ syarakat di mana pun,” ujar Ketua PaC Cem­ paka Putih, M. Muchtar. Dan, inilah wujud kepedulian Partai Gerindra kepada masyara­ kat kecil. tugas Posko Gerindra ini adalah me­ ngumpulkan bahan makanan pokok dan pa­ kaian layak pakai. Menurut Muchtar, maka­ nan dan pakaian layak pakai itu dikumpulkan dari sumbangan anggota Partai Gerindra dan masyarakat luas. ternyata kepedulian masya­ rakat terhadap sesama memang luar biasa. “Kebutuhan pokok yang kami melimpah,” kata Muchtar. Dan, semua bantuan telah disalurkan kepada pihak­pihak yang mem­ butuhkan. Kini, menurut Muchtar, pihaknya sedang memikirkan bagaimana mengumpulkan ba­ han bangunan, berupa: seng, asbes, dan bahan bangunan lainnya, agar para korban bisa mem­ bangun kembali rumahnya. “Kebutuhan itulah yang sedang kami pikirkan,” ujarnya. t aw

kaBuPaten BoGor

Gema Sadhana Peduli Rakyat

foto dok. dPc GerIndra kaB. BoGor
foto dok. dPc GerIndra kaB. BoGor

SaBtU, 13 agustus 2011 merupakan hari yang sangat bersejarah bagi masyarakat Desa Pabuaran, Kecamatan Suka Makmur, Citeu­ rep, Kab. Bogor. Sekitar 500 warga miskin dari berbagai umur datang pada acara Gema Sadhana Peduli Rakyat. acara ini di prakarsai oleh a.S Kobalen yang merupakan Penerima Mandat Gema Sadhana, yang dibantu oleh Ketua PaC Pabuaran Endang berserta se­ luruh anggota Partai Gerindra. tampak hadir anggota DPRD Partai Gerindra andi. Gema Sadhana adalah salah satu sayap Partai Gerindra yang diperuntukkan bagi se­ luruh masyarakat untuk mencari kebenaran tanpa melihat suku, agama dan ras. Hal ini se­ suai dengan arti dari Sanathana Dharma yang merupakan kepanjangan dari Gema Sadhana itu sendiri. “Partai Gerindra melalui Gema Sadhana ini hadir untuk berbagi dengan masyarakat dalam konteks ingin membantu mengurangi penderitaan masyarakat saat ini yang disebab­ kan oleh melambungnya harga­harga sembako. Partai Gerindra hanya mementingkan satu hal yaitu kesejahteraan rakyat,” tutur a.S Kobalen yang juga sebagai Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat di DPP Partai Gerindra.

Masyarakat yang mengalami kesulitan air,

walau desa tersebut diapit oleh dua anak su­ ngai yang cukup deras, merasa sangat terban­

tu dengan datangnya orang­orang dari Pusat

Partai Gerindra yang mau turun langsung un­ tuk membantu mereka. “Kami berharap agar kami dapat dibantu dalam hal pengadaan air, infrastruktur yang keras menyebabkan sulitnya warga kami untuk mendapatkan air bersih walau didae­ rah kami terdapat aliran sungai yang cukup deras,” ujar Cecep, Sekretaris Desa Pabuaran. Dalam pidato singkatnya, Kobalen ber­ harap, agar para anggota DPRD dapil Desa Pabuaran sering turun ke lapangan guna me­ nampung aspirasi masyarakat, dan mencari anggaran kesehatan yang ada di pemerintahan untuk kesejahteraan rakyat, sesuai dengan sa­ lah satu program Partai Gerindra, yaitu KE­ SIRa. Pembagian sembako ini untuk ketiga kalinya dilakukan di daerah ini oleh Kobalen selama 3 tahun belakangan. “Kami berharap,

semoga hal­hal seperti ini dapat berlanjut te­ rus sampai adanya kesejahteraan yang merata

di desa kami,” ujar Ibu Ijah seorang nenek be­

rumur 76 tahun. t ts

foto dok. tIdar
foto dok. tIdar

tunas IndonesIa raya

Tidar Rayakan 66 Tahun Kemerdekaan RI

PERINGataN HUt Kemerdekaan RI ke­66 pada Rabu (17/8) yang diselenggarakan Pengurus Pusat tunas Indonesia Raya (PP tidar) di taman Wisata Gunung Pancar, Sentul, Bogor, Jawa Barat, berlang­ sung meriah. Kemeriahan itu terlihat begitu jelas, meskipun acara itu berlangsung bersamaan waktunya dengan ibadah puasa. Berbagai lomba diadakan untuk menambah ke­ hangatan perayaan tersebut, antara lain: tarik tam­ bang dan bentengan, balap karung, balap bakiak, dan memasukan paku ke dalam botol. Kegiatan lain yang berbau keagamaan pun tak ketinggalan, seperti tausiyah, buka bersama dan taraweh berjamaah. Juga sejumlah acara lainnya yang melibatkan masyarakat. Kegiatan pembagian sembako yang dilaksanakan selepas upacara bendera cukup menarik animo ma­ syarakat. tercatat sekitar 150 warga masyarakat dari sekitar Gunung Pancar, seperti Desa Karang tengah Kidul, Ciburial, Gelewer, Cimandala, Cipanas, dan Leuwi Goong turut berburu sembako yang dibagi­ kan. Sebagian dari mereka datang ke sana dengan berjalan kaki. Sementara dari pihak tidar, tak kurang dari 130 anggota, yang terdiri dari unsur Pengurus Pusat, Pe­ ngurus Daerah DKI Jakarta, dan Pengurus Cabang, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta timur, Jakarta Pusat, Bogor, tangerang, Depok, dan Bekasi turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Mereka terli­

hat kompak dan antusias mengikuti seluruh rangkai­ an kegiatan. Buktinya, saat Prof. Dr. armai arif memberikan tausiyah dengan tema: “Merajut Kebersamaan, Mere­ tas Kasih Sayang,” seluruh anggota tidar mengikuti kegiatan tersebut tanpa kecuali, meski diantara me­ reka memiliki keyakinan yang berbeda. tampak di barisan depan, Ketua Umum tidar aryo Djojohadi­ kusumo dan Sekjen Sabam Rajagukguk. Selepas acara, kepada tabloid Gema Indonesia Raya, Ketua Umum tidar aryo Djojohadikusumo mengatakan, semua kegiatan memperingati HUt Kemerdekaan Indonesia itu dilakukan dengan cara­ cara tidar. Yakni, mewadahi dan menyalurkan bera­ gam aspirasi dalam berbagai kegiatan dan aktivitas positif. “apapun yang dilakukan tidar harus dalam rang­ ka membangun generasi muda yang kokoh menuju bangsa yang kokoh,” kata aryo menambahkan. Pemilihan lokasi di Gunung Pancar, menurut aryo, dengan pertimbangan agar peserta mendapat nuansa yang berbeda. Peserta bisa menikmati in­ dahnya alam Indonesia. Dan, yang lebih penting lagi, kata aryo, acara ini diharapkan dapat membentuk kebersamaan, spirit, dan solidaritas diantara anggo­ ta dan masyarakat. “Karena kegiatan ini merupakan Hambalangnya (tempat pendidikan kader Partai Gerindra) tidar,” tutur aryo. t aw

edisi 06/taHun i/oktober 2011 : 11
edisi 06/taHun i/oktober 2011 : 11

edisi 06/taHun i/oktober 2011

: 11

foto dok. dPd GerIndra daerah IstImewa joGjakarta

foto dok. dPd GerIndra daerah IstImewa joGjakarta

daerah IstImewa joGjakarta

 

Gerindra Partai Pejuang

PERaYaaN HUt Kemerdekaan Indonesia ke­66 oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Jogjakarta ditandai dengan upacara dan tabur bunga di taman Makam Pah­ lawan Kusumanegara, Jogjakarta. acara dimulai berte­

dra Provinsi DI Jogjakarta, tabur bunga merupakan re­

fleksi bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia diraih berkat jasa para pejuang. Kemerdekaan merupakan karya nya­

ta,

dengan mengorbankan jiwa dan harta. Karena itu,

patan dengan detik­detik Proklamasi 17 agustus, pukul 11.00 WIB, kemudian diteruskan pembacaan doa dan tabur bunga tepat di atas Pusara Panglima tNI Jende­

menurut Yoserizal, marilah kita menjadi pejuang partai, aktif tanpa pamrih, seperti kata peribahasa: sepi ing pam- rih rame ing gawe, sebagaimana dilakukan para pahlawan bangsa. Partai Gerindra, kata Yoserizal, adalah partai pejuang atau partai yang memperjuangkan cita­cita luhur Panca­ sila dan UUD NRI tahun 1945. Itu tercermin dalam manifesto dan 8 (delapan) program aksi partai. Selain itu, peringatan HUt Proklamasi ke­66 pada bulan puasa lalu, DPD Partai Gerindra Jogjakarta juga mengadakan buka bersama dan diskusi, masing­masing pada 7 dan 14 agustus, dan pada 15 agustus konsolidasi dengan tokoh masyarakat Bantul. Berikutnya, 25 agustus buka bersama dengan DPC dan PaC Partai Gerindra Ka­ bupaten Kulon Progo. t mBo

ral

Besar Soedirman. Selain makam Jenderal Soedirman,

di kompleks pemakaman ini juga dikebumikan Jenderal Oerip Sumodiharjo, mantan Menteri Pemuda Soepeno, dan Ibu Soedirman. acara dihadiri oleh Pengurus DPD dan DPC Par­

tai

Gerindra se­DI Jogjakarta. Kesempatan itu juga di­

gunakan DPD Partai Gerindra untuk meneguhkan komitmen kader partai dalam menyukseskan Pemilu 2014. Dengan menempatkan minimal satu legislator di masing­masing daerah pemilihan, dan mendudukkan H. Prabowo Subianto sebagai Presiden RI. Menurut H. Yoserizal, SH., Ketua DPD Partai Gerin­

kaBuPaten BoGor

 

Gerindra Bogor Gelar Rakorcab

foto dok. dPc GerIndra kaB. BoGor

foto dok. dPc GerIndra kaB. BoGor

UNtUK melihat kesiapan pengurus DPC, PaC dan ran­

gor H. Iwan Setiawan, pihaknya menilai Rakorcab

ting yang ada di bawahnya, Minggu (21/8) DPC Partai Gerindra Kabupaten Bogor melangsungkan Rakorcab II

ini sebagai satu kegiatan penting. Karena memiliki

peran mengevaluasi keberadaan partai hingga diting­ kat massa bawah. Untuk saat ini, kata Iwan, kita ha­ rus mengetahui kondisi yang sebenarnya yang ada di lapangan. Bukan malah terbuai oleh sanjungan lawan po­ litik yang menilai seolah­olah Gerindra merupakan partai yang paling diperhitungkan. Intinya, tandas Iwan, partai lain boleh mengkhawa­ tirkan kebesaran Gerindra, namun para kader tidak boleh terlena. “Kita harus terus bekerja, bahu membahu mem­ bangun dan membesarkan partai,” harap Iwan Setiawan.

II

di

Grand Jaya Raya, Cipayung, Megamendung. acara

diikuti seluruh pengurus DPC, PaC, dan Pengurus

Ranting Partai Gerindra. acara ini dirangkaikan dengan kegiatan diklat dan berbuka puasa bersama. Pelaksanaan Rakorcab II ini mengandung maksud untuk melihat kondisi riil kepengurusan Partai Gerindra yang ada di lapangan. Sekaligus untuk memastikan bahwa tiga bulan ke depan, struktur Partai Gerindra benar­benar harus sudah lengkap hingga keseluruh ranting. Menurut Ketua DPC Gerindra Kabupaten Bo­

ini

t

mBo

nusa tenGGara Barat

Konsolidasi Melalui Halal bi Halal

KEBIaSaaN halal bihalal pada Idul Fitri sudah membudaya di se­ luruh lapisan masyarakat Indonesia, tak terkecuali DPD Partai Gerin­ dra Nusa tenggara Barat (NtB). Pada Rabu (7/9) sore, DPD Partai Gerindra NtB menggelar halal bi halal pengurus DPD dan DPC Gerindra yang juga dihadiri anggota DPRD Fraksi Gerindra se­NtB beserta keluarganya. acara berlangsung di rumah Willgo Zainar, yang juga Bendahara DPD Partai Gerindra NtB. Halal bi halal dilaksanakan untuk mempererat tali silaturrahim antarpengurus, baik di tingkat DPD maupun DPC, serta di kalan­ gan anggota dewan Fraksi Partai Gerindra. Selain itu, menurut Will­ go Zainar selaku ketua panitia, kegiatan ini juga digunakan sebagai ajang konsolidasi partai, menguatkan tekad dan tujuan memenang­ kan Gerindra pada pemilu legislatif dari pusat hingga daerah. Dan, “Yang sangat penting, mengantarkan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto menjadi Presiden secara mandiri,” ujar Willgo Zainar. Selain Willgo Zainar, juga menyampaikan kata sambutan dalam acara itu berturut­turut: Ketua Forum Silaturahmi DPC se­NtB Iwan Panjidinata, SE., dan Ketua DPD Partai Gerindra NtB Muhyi abidin, Ma. Usai sambutan, acara dilanjutkan penyampaian mauk- hidhoh khasanah oleh Ketua Pemuda Muhammadiyah NtB Muhar­ rar Iqbal, Ma. acara diakhiri dengan sesi foto bersama, salat magrib berjamaah serta jamuan makan malam. t mBo

foto dok. dPd GerIndra ntB
foto dok. dPd GerIndra ntB

album :

pergantian

POSISI Ketua Dewan Pembina Gemira (Gerakan Muslim Indonesia Raya) yang kosong setelah meninggalnya KH. Zainuddin MZ pada 5 Juli 2011 kini terisi sudah. adalah Habib Mahdi yang menduduki jabatan itu. Siapa Habib Mahdi? “Saya murid KH. Zainuddin MZ,” ujar Habib Mahdi. Sedang Ketua Gemira tetap dipegang oleh Fikri Haikal, putra kiai Sejuta Umat itu. t

MeninggaL dunia

INNALILLAHI wA INNA ILAIHI RojIUN. telah berpulang ke Rahmatullah Bp. H. Nasrun, SH., Ketua Dewan Penasihat Partai Provinsi Riau, pada hari Sabtu, 17 September 2011, pkl. 15.00 WIB di kediaman almarhum Jl. Melati Pekanbaru, Riau. Semoga amal ibadah almarhum semasa hidupnya diterima di sisi allah SWt., dan keluarga yang ditinggalkan tabah menghadapi cobaan ini. amin. t

MeniKah

foto IstImewa
foto IstImewa

DRG. PUtih SARi, anggota DPR RI Fraksi Partai Gerinda dan putri Bp. Haryanto taslam, melangsungkan pernikahan dengan Muhammad alipudin, St., putra alm. Bp. H. Encu Ruslan. Resepsi pernikahan berlansung pada hari Jumat, 23 September 2011, bertempat di Puri ardhya Garini, Jl. Raya Protokol Halim Perdana Kusuma, Jakarta timur. t

aNGGOta DPR RI Fraksi Partai Gerindra Bp. Sadar Subagyo, pada hari Sabtu, 24 September 2011, menikahkan putrinya anggi Santika Pangastuti dengan lelaki pilihannya Christian Gilbert Puech, putra Bp. Herve Puech. Resepsi pernikahan berlangsung di Rafflesia Grand Ballroom, Balai Kartini, Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 37 Jakarta Selatan. t

12 : ekonomi kerakyatan

12 : e konomi k erakyatan edisi 06/taHun i/oktober 2011
12 : e konomi k erakyatan edisi 06/taHun i/oktober 2011

edisi 06/taHun i/oktober 2011

foto m. BudIono

batiK di jaLur pantura
batiK di jaLur pantura

Simbol Bangkitnya Industri Batik di Pekalongan

ancaman kebangkrutan yang sempat membayangi para pengusaha batik di Pekalongan lambat laun menjauh. Rahasianya, karena mereka bisa mendirikan dan mengelola pasar sendiri, tanpa bergantung orang lain.

oLeh m. BudIono

LEBaRaN telah berlalu, namun suasana Idul Fitri 1432 H masih te­ rasa. Kemacetan dan rebutan sarana transportasi menjadi pernik mera­ yakan lebaran merupakan pengala­ man mengasyikkan. apalagi pemu­

dik yang melawati jalur pantai utara (Pantura) Jawa, sempat singgah dan berbelanja batik di Kota Pekalo­ ngan, lumbungnya batik, menjadi daya tarik tersendiri.

Di Kota Pekalongan ­­ mu­

lai dari wilayah Kecamatan Wira­ desa hingga perbatasan Kabupaten Batang ­­ pengguna jalan disapa puluhan toko dan butik yang me­ nyediakan bermacam motif dan desain batik. Mulai dari baju, ce­ lana, sarung, kerudung, mukena, hingga sprei dan gorden tersedia di sana. andai saja pembeli meng­ inginkan harga lebih murah, di se­ panjang jalan itu juga bisa ditemu­ kan beberapa pasar tradisional yang khusus menyediakan baju dan kain batik. Melihat eksistensi batik di dae­ rah pantura ini, kiranya Pekalongan masih tetap layak menyandang pre­

dikat “Kota Batik.” Kerajinan ba­ tik di Pekalongan memang sempat mengalami ancaman kebangkrutan, namun pelan tapi pasti situasi pahit itu pun kian berlalu. Saat ini, pro­ duk batik semakin mudah ditemu­ kan di kota ini. Para perajin batik bisa menju­ al batiknya sendiri di pasar­pasar tradisional, dan juga melalui pasar grosir Pantura, Setono, MM, Ben­ dan Sari hingga Gamer. Kondisi tersebut membuat pemudik atau mereka yang melakukan perjala­ nan jauh tak perlu bersusah payah mencari pasar batik yang dikehen­ daki. Selama lebaran lalu misalnya, pasar­pasar batik di Pekalongan ini dibanjiri pengunjung, baik mereka yang sekedar beristirahat mau pun sengaja berbelanja. Maka tak heran, bila omset penjualan para pedagang batik Pe­ kalongan ini melonjak tajam. Pada musim lebaran lalu, para pedagang bisa meraup penghasilan mencapai puluhan juta rupiah setiap hari. Menurut alamaul Huda, Ketua Koperasi Pengusaha Batik Setono

(KPBS), angka tersebut mengalami peningkatan yang signifikan diban­ ding hari­hari biasa yang hanya Rp3 juta per hari.

Yayasan Nagari

Keberadaan pasar grosir Setono dan pasar­pasar lain di Pekalongan, menurut Huda, sangat membantu para perajin batik di Pekalongan. Pasar­pasar tersebut membuat in­ dustri batik Pekalongan kembali menggeliat. Situasi ini jauh berbeda dibanding 1990­an, ketika industri batik nyaris gulung tikar. Kala itu, hanya beberapa pengusaha besar yang masih tetap bisa bertahan. Pada saat kondisi kritis seperti itulah, tepatnya sekitar tahun 2000­ an, ada beberapa warga Pekalongan yang berhimpun dalam Yayasan Na­ gari, karena khawatir industri batik mati, memprakarsai berdirinya Pu­ sat Pasar Grosir Setono. Pasar ter­ sebut menggunakan bekas pabrik kain, yang kemudian diubah atau diberi sekat­sekat laiknya pasar. Se­ jak itu, pelan tapi pasti Pusat Pasar

Grosir Setono mampu merangsang bangkitnya industri batik di Pe­ kalongan. Satu persatu pengusaha batik yang sempat kolaps kembali menggeluti usahanya. Mereka turut menyewa kios di Pasar Setono dan menjual produksi batiknya secara langsung. Pesatnya kemajuan yang dicapai Pasar Setono ini tak lepas dari peris­ tiwa bencana kebakaran yang me­ nimpa Pasar tanah abang beberapa waktu silam. Setelah peristiwa itu banyak pembeli dan pedagang, baik pedagang dari Jakarta atau pun dari luar pulau Jawa, datang langsung mencari batik ke Pekalongan, khu­ susnya Pasar Setono. “Kemajuan industri batik Pe­ kalongan juga tak lepas dari andil berbagai instansi, baik pemerintah maupun swasta, yang mewajibkan pegawainya mengenakan baju batik pada hari­hari tertentu. Itulah satu pemacu yang membuat penjualan baju batik meningkat tajam,” kata Huda. Keberhasilan Pasar Setono men­ jaring pembeli juga membuat ma­ syarakat berduyun­duyun menyewa kios di pasar tersebut. Kondisi ini diimbangi oleh kembalinya indus­ tri batik yang sempat berhenti. Namun, tidak semua peminat bisa mendapatkan tenan (kios) yang di­ kehendaki, sementara KPBS selaku

pengelola pasar juga tidak memiliki dana cukup untuk membangun pa­ sar yang baru. Situasi ini meman­ cing berdirinya pasar­pasar batik yang lain. Haji agus anwar, pengelola Pa­ sar Grosir Gamer, mengakui bang­ kitnya industri batik Pekalongan di­ picu oleh berdirinya berbagai pasar batik tersebut. Menurut agus, saat ini para pengusaha batik memiliki semangat untuk menekuni kem­ bali usaha perbatikan yang sempat mati suri. Mereka juga memiliki semangat untuk langsung menju­ al produk batiknya di pasar­pasar yang ada di Pekalongan. Utamanya, pasar­pasar batik yang tumbuh di­ jalur utama Pantura. “Masa libur lebaran seperti ke­ marin, benar­benar memberi ke­ untungan yang sangat lumayan. apalagi bagi sebagian pedagang yang non stop membuka tokonya, seperti yang ada di pasar Gamer ini. Mereka terus melayani pembe­ li sampai larut malam,” ungkap H. agus anwar menambahkan. Posisi pasar­pasar batik di jalur Pantura, kata agus, memberi keun­ tungan tersendiri. Pasar menjadi salah satu tempat persinggahan, sehingga dari semula tidak berniat membeli batik namun setelah meli­ hat­lihat menjadi tertarik dan akhir berbelanja batik. t

edisi 06/taHun i/oktober 2011 : 13
edisi 06/taHun i/oktober 2011 : 13

edisi 06/taHun i/oktober 2011

: 13

induK Koperasi petani

foto-foto mustafa kemaL

Berjuang Sendiri di Tengah Terpaan Liberalisasi

Di tengah “mandegnya” dunia perkoperasian Indonesia, Induk Koperasi Petani dan Nelayan (Inkoptan) malah berdiri tegak memperjuangkan kepentingan petani dan nelayan Indonesia.

oLeh m. BudIono

KOPERaSI merupakan lembaga ekonomi yang secara hukum dia­ kui sebagai sokoguru perekonomian masyarakat. Sudah sewajarnya bila pemerintah memberi prioritas kepa­ da koperasi untuk berkembang. Na­ mun pada kenyataannya pemerin­ tah tak serius membina koperasi. Malah, dengan sadar pemerintah mengadopsi sistem ekonomi libe­ ral, dan memaksa koperasi berjuang sendiri di tengah dominasi perusa­ haan bergelimang modal.

secara masif, sebagai agen pemba­ ngunan di pedesaan. Sayang, situasi itu tidak bertahan lama. Dengan lengsernya Soeharto dari kursi pe­ merintahan, diikuti kemunduran dunia perkoperasian. Banyak kope­ rasi yang di zaman Soeharto yang begitu maju, termasuk KUD, kini hanya tinggal sejarah. Untungnya, masih ada koperasi yang masih tetap bertahan di tengah terpaan sistem ekonomi liberal. Bahkan, semakin bertambah besar

sistem ekonomi liberal. Bahkan, semakin bertambah besar Menikmati Mie Rassa: produk turunan dari Inkoptani Kondisi

Menikmati Mie Rassa: produk turunan dari Inkoptani

Kondisi ini berbeda jauh diban­ ding masa kepemimpinan Presiden Soeharto. Ketika itu, koperasi men­ dapat perhatian yang sangat besar. Pemerintah memanfaatkan koperasi

dan menunjukkan eksistensinya se­ kalipun harus berjuang sendirian. Salah satunya adalah Induk Kope­ rasi Petani dan Nelayan (Inkoptan), yang beralamat di Gedung Gajah

Unit aBC Lantai 3, Jl. Dr. Saharjo No. 111, tebet, Jakarta Selatan. “alhamdulillah kami masih bisa menjaga Inkoptan. Ini semata­ma­ ta karena seluruh jajaran pengurus mau bekerja keras, tahan bantingan dan tidak cengeng. Kami meng­ andalkan kekuatan yang ada pada kami sendiri. tidak berharap belas kasih dan pemberian orang lain,” tutur Winarno tohir, Ketua KtNa (Kontak tani Nelayan andalan) yang juga Ketua Inkoptan. Inkoptan berdiri pada akhir 1998, atau pada masa akhir kepe­ mimpinan Soeharto yang kemudi­ an digantikan oleh Presiden Repu­ blik Indonesia ke­tiga BJ. Habibie. Ketika itu Menteri Koperasi dijabat oleh adi Sasono. Dan, sejak itu pula Inkoptan terus bergerak maju bersa­ ma para petani, dan bertahan hidup hanya untuk membela kepentingan kaum petani dan nelayan.

Tidak Mencari Untung

Inkoptan merupakan koperasi sekunder. artinya, koperasi ini tidak melakukan kegiatan ekonomi, dan tidak mencari keuntungan secara langsung. Wilayah usahanya adalah memfasilitasi dan memperjuangkan kepentingan anggota yang hendak melakukan transaksi ekonomi ber­ skala besar. Juga mengadvokasi per­ soalan yang melilit anggotanya. Secara struktural Inkoptan me­ rupakan kepanjangan tangan dari KtNa Pusat untuk mewadahi ke­

giatan ekonomi yang dilakukan pe­

mal

5 Koptan di kota atau kabupa­

tani dan nelayan. Mulai dari Kope­

ten

tersebut. Untuk memudahkan

rasi Petani dan Nelayan (Koptan) hingga Pusat Koperasi Petani dan Nelayan (Puskoptan). Saat ini Inkoptan memiliki anggota sebanyak 20.056 koperasi primer, terdiri dari: 9.127 Koptan berbadan hukum, dan 10.875 Kop­ tan yang belum berbadan hukum. Serta 54 Puskoptan dari 380 kabu­ paten kota yang ada di Indonesia. angka tersebut relatif masih sangat kecil dibanding jumlah ke­

kinerjanya, Inkoptan mendirikan satu perwakilan Inkoptan di setiap provinsi. Menurut Winarno tohir, ke­ beradaan Inkoptan ini memang merupakan kebutuhan, karena ma­ syarakat merasa memerlukan ada­ nya lembaga yang bisa mewadahi perekonomian petani dan nelayan. Jadi, sifatnya dari bawah ke atas. Jadi, setelah di bawah sudah terta­ ta dengan baik, lalu kemudian ke­

lompok tani yang mencapai 354.662 (tahun 2000). Jika semangat ber­ koperasi kembali digulirkan, kata Winarno, besar kemungkinan jumlah Koptan akan bertambah pesat. Paling tidak jumlahnya se­ banyak kelompok tani yang ada. “Karena Koptan merupakan kope­

butuhan itu mengerucut di tingkat nasional, maka berdirilah Inkoptan. Karena sifatnya sebagai koperasi sekunder maka Inkoptan tidak me­ miliki usaha yang bisa mendapatkan keuntungan secara langsung. Na­ mun, untuk memenuhi kebutuhan operasional harian, Inkoptan tak

rasi yang dibentuk oleh kelompok

luput dari usaha­usaha yang dilaku­

tani dan nelayan. Koptan dibutuh­ kan oleh kelompok tani,” ungkap

kan

oleh unit­unit usahanya. Inkoptan memiliki banyak unit

Winarno tohir.

usaha, antara lain: bisnis nasi dan

Kelompok tani memang mem­

mi

goreng Rassa Indonesia, jus

butuhkan Koptan karena memi­ liki persyaratan legal formal. Jadi, dengan memanfaatkan Koptan,

buah nusantara (Juara), dan usaha­ usaha yang sifatnya makelar atau mempertemukan antara penjual

kelompok tani dan nelayan bisa

dan

pembeli. Dan, karena jasa ter­

melakukan kegiatan ekonomi, te­ rutama dalam berurusan dengan perbankan. Sejauh ini, menurut Winarno, keberadaan Koptan di­ sesuaikan dengan kebutuhan ke­ lompok tani dan nelayan bersang­

sebut maka Inkoptan berhak atas sejumlah komisi. Namun Winarno enggan me­ nyebutkan unit­unit usaha yang di­ miliki Inkoptan sudah relatif besar. Menurutnya, semua unit usaha itu

kutan, bisa ditingkat desa ataupun tingkat kecamatan. tidak tertutup

hanya difungsikan untuk memper­ tahankan dan membiayai kebutuhan

kemungkinan, dalam satu desa terdapat beberapa Koptan, tergan­ tung kebutuhan kelompok taninya sendiri.

operasional Inkoptan. Bukan usaha yang bersifat mencari keuntungan sebesar­besarnya. “Sebagai induk, kami memilih

Untuk mengakomodir kepen­

agar

kuat di bawah, bukan kuat di

tingan Koptan, ditingkat kabupaten

atas

tapi keropos bawah. Jadi kami

kota terdapat sebuah Puskoptan. Se­ cara administrasi, Puskoptan hanya

mau bertahan seperti saat ini, ba­ wahnya kuat atasnya mendukung,”

bisa berdiri setelah terdapat mini­

ujar

Winarno tohir. t

14 : dari lantai 17

14 : d ari l antai 17 edisi 06/taHun i/oktober 2011
14 : d ari l antai 17 edisi 06/taHun i/oktober 2011

edisi 06/taHun i/oktober 2011

Martin hutabarat

Sosialisasi 4 Pilar, Berdialog dengan Tahanan dan Menemui Kader Gerindra

Pilar, Berdialog dengan Tahanan dan Menemui Kader Gerindra Martin Hutabarat (no. 3 dari kiri) MPR (Majelis

Martin Hutabarat (no. 3 dari kiri)

MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) be­ lakangan ini sangat giat melakukan sosialisasi 4 Pilar kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukan hanya ke kota­kota besar saja yang menjadi sasaran, tapi juga ke kota­kota kecil yang jauh. Seperti tgl 17 dan 18 September lalu, Martin Hutabarat sebagai Ketua Fraksi Gerindra di MPR berkunjung ke Kabupa­ ten Soppeng, Sulawesi Selatan, bersama dua orang temannya anggota tim Sosialisasi 4 Pi­ lar MPR. Selama dua hari di Kota Watansoppeng, ibukota Kabupaten Soppeng ­­ yang letaknya 185 km dari Makassar, ibukota Provinsi Sula­

foto-foto sch

wesi Selatan itu, Martin Hutabarat selaku Ketua tim bercemarah di hadapan 300 pe­ serta sosialisasi yang terdiri dari: para kepala sekolah/guru­guru anggota PGRI dan tokoh masyarakat. Dalam ceramahnya yang berlangsung di Ruang Pola Pemda Kabupaten Soppeng ini, Martin Hutabarat tak bosan­bosannya men­ jelaskan mengapa Indonesia yang begitu he­ terogen, begitu luas dan besar jumlah pendu­ duknya harus benar­benar menjaga persatuan. “agar tidak sampai mengulangi pengalaman Uni Soviet, negara adikuasa yang pecah men­ jadi 15 negara, dan Yugoslavia yang pecah

menjadi 9 negara, India yang terbelah men­ jadi dua negara dengan lahirnya negara baru, yaitu Pakistan, yang kemudian pecah lagi dengan terbentuknya negara Bangladesh,” pa­ par Martin Hutabarat. Selama hampir 2 jam berceramah, Martin dengan gaya yang cukup memikat tidak pernah lupa menyelipkan guyonan­guyonannya yang khas, yang me­ ngundang tawa para peserta. Di sela­sela kegiatan utamanya sosialisasi 4 Pilar, Martin Hutabarat yang juga anggota Komisi III DPR RI bidang hukum tak lupa memanfaat waktunya mengunjungi Polsek, Pengadilan Negeri, dan Rumah tahanan. Be­ gitu tiba di Rumah tahanan Watansoppeng, Martin Hutabarat bersama Hj. Himmatul alyah Setiawaty, juga anggota Komisi III, di­ terima oleh petugas rutan, H. Marsidin. Hanya, dengan memperkenalkan diri sebagai anggota DPR RI, Martin bisa langs­ ung masuk ke rutan tersebut. Dari raut wa­ jahnya, ia tampak gembira melihat rutan ini tampak begitu terawat, dan para tahanannya juga tidak terlalu berdesak­desak. Di rutan ini terdapat 84 orang tahanan, lima (5) orang di­ antaranya perempuan yang terjerah kasus nar­ koba, aborsi dan pencurian sapi. “Saya senang bertemu dengan anda. tidak berantam,” sapa Martin pada para tahanan tersebut. Sebelum ke rutan, Martin juga mengun­ jungi DPC Partai Gerindra yang terletak di Jalan Kesatrian, Watansopeng, tak jauh dari tempat menginap anggota tim. Di sini, ia sempat berdialog dengan pengurus DPC. Di wajah para pengurus DPD Gerindra ini tam­ pak ada kebanggaan tersendiri, karena ber­ kesempatan berbicara, bertanya dan berfoto bersama dengan seorang tokoh Gerindra dari pusat. Martin juga kelihatan menikmati suasana

ini. “Inilah salah satu yang membuat saya termotovasi mengunjungi berpuluh­puluh tempat yang jatuh dari ibukota provinsi, ber­ ceramah tentang 4 Pilar sambil berkesempa­ tan berdialog dengan para kader Gerindra di daerah­daerah yang sangat merindukan bisa bertemu dengan pimpinan­pimpinannya dari pusat,” kata Martin Hutabarat. t SCH

dari pusat,” kata Martin Hutabarat. t SCH Menjenguk tahanan wanita di rutan Watansoppeng, Sulawesi

Menjenguk tahanan wanita di rutan Watansoppeng, Sulawesi Selatan

disKusi pubLiK

rapbn 2012

BBM Bersubsidi Dinikmati Orang Kaya

Pembangunan Infrastruktur Mandek

PROGRaM BBM (Bahan Bakar Minyak) bersubsidi pemerintah selama ini ternyata tidak tepat sasaran dan tidak tepat volume. Sebab, kenyataannya, 25% kelompok rumah tangga dengan penghasilan per bulan terting­ gi menerima alokasi subsidi sebesar 77%. Sementara 25% kelompok rumah tangga de­ ngan penghasilan per bulan terendah hanya menerima subsidi sekitar 15%. Menurut Direktur Pembinaan Usaha Hi­ lir Migas Saryono Hadiwidjojo, kelompok masyarakat yang memiliki mobil menerima subsidi 75% (dengan membeli premium). atau bila dihitung dalam rupiah, meneri­ ma subsidi sebesar Rp3.500. “Itu baru satu mobil. Sementara yang berkendaraan motor hanya menerima subsidi Rp1.750. Semakin kaya, semakin menikmati subsidi,” kata Sa­ ryono dalam acara diskusi publik bertajuk:

Sementara itu, usaha Pertamina untuk memenuhi kebutuhan BBM seluruh masyara­ kat ini, sering kali mendapatkan keuntungan yang tidak sepadan. “BBM ini sering dizali­ mi,” kata Harun. Sebab, selama ini keuntung­ an tidak masuk ke Pertamina. Menurut Ha­ run, selama ini Pertamina adalah satu­satunya perusahaan milik negara yang belum dijual. Karena itu, perlu dukungan semua pihak. Namun, anggota komisi XI dari Fraksi Partai Gerindra Sumarjati arjoso menolak bila Pertamina ingin meraih untung dengan cara go pubIic menjadi perusahaan terbuka. “Kalau pertamina go public, maka yang beli adalah perusahaan­perusahaan asing seperti Shell,” katanya. Dan, bila perusahaan asing yang membeli Pertamina maka habis sudah perusahaan negara yang seharusnya memberi­ kan layanan kepada masyarakat. Lebih tepat­ nya, negara harus menjalankan amanat UUD NRI tahun 1945 Pasal 33, yakni bumi, air dan kekayaan seisinya harus dipergunakan sebesar­besarnya bagi kemakmuran rakyat. Menurut Sumarjati, bila memang tidak ada kepedulian dari pemerintah terhadap Per­ tamina dalam hal keuntungan, jajaran direksi harus protes. “Kalau perlu ngambek,” kata­ nya. Dan, presiden harus berani mengambil sikap terhadap ketidakadilan yang diderita oleh perusahaan ini. t IF

RaNCaNGaN anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RaPBN) 2012 yang dibaca­ kan Presiden dalam nota keuangan 16 agus­ tus lalu belum berpihak kepada rakyat. Hal itu disampaikan oleh Fraksi Partai Gerindra dalam pandangan fraksi di sidang paripurna, di Kompleks Parlemen, Selasa (23/8). “Semangat pro-poor dan pro-job yang disampaikan pemerintah belum tampak da­ lam RaPBN 2012,” ujar juru bicara Fraksi Gerindra Fary Djemy Francis. Bahkan, peme­ rintah masih menitikberatkan pada belanja rutin sebanyak 80%, bukan belanja modal. Dalam RaPBN juga pemerintah mengeluar­ kan lebih banyak biaya rutin sebanyak Rp182 triliun untuk 4 juta PNS, sedangkan ada 21 juta penganggur hanya diberi porsi anggaran sebesar Rp66 triliun. “Kami (Fraksi Partai Gerindra) menca­ tat, tidak ada perubahan fundamental dalam RaPBN 2012 dan visinya tidak jelas,” lanjut Fary. Untuk anggaran infrastruktur memang ada peningkatan, namun kata Fary, tidak sigi­ nifikan. Indikasinya, masyarakat di beberapa daerah belum menikmati pembangunan in­ frastruktur. Bahkan masih terjadi kesenjangan antara pembangunan daerah dan pusat. Padahal, pemerintah mengalokasikan belanja modal sebesar Rp168,1 triliun pada aPBN 2012 untuk pembangunan infrastruk­

tur. tapi pembangunan infrastruktur nasional sampai saat ini belum berjalan sesuai harapan, dan kondisinya diperparah dengan tidak opti­ malnya penyerapan anggaran yang ada. Fary menambahkan, jika pada 2012 pe­ merintah merencanakan untuk mengalokasi­ kan anggaran terbesar untuk sektor pekerjaan umum­­sebesar Rp61,2 triliun­­fraksinya me­ minta penjelasan kepada pemerintah, infra­ struktur apa saja yang akan menjadi prioritas pemerintah tahun depan. tidak heran, bila sektor pelayanan publik masih terabaikan. RaPBN 2012 hanya upaya meneruskan dari apa yang sudah terjadi pada 2011, yakni membayar cicilan bunga dan po­ kok utang luar negeri. Karena itu, Partai Gerindra berharap pe­ merintah dapat memanfaatkan secara efektif alokasi belanja modal untuk perbaikan dan pembangunan infrastruktur. Karena, hingga saat ini pemanfaatan anggaran belanja mo­ dal untuk perbaikan dan pembangunan in­ frastruktur tergolong minim, meski pagunya terus meningkat setiap tahun. anggota Komisi V ini berharap kebijakan belanja infrastruktur diprioritaskan untuk membangun local bahkan village connectivity, karena faktanya kesenjangan infrastruktur di desa­desa masih sangat lebar. t IF

“Mengurai Permasalahan Sektor Hilir Migas dan Mencari Format Pengelolaan Hilir Migas agar dapat dipergunakan untuk sebesar­besar Kemakmuran Rakyat, “ yang diadakan oleh Fraksi Partai Gerindra, di ruang sidang Komi­ si VII, Kompleks Parlemen, Jumat (19/08). Karena itu, menurut UU 10/2010 tentang aPBN 2011, diamanatkan agar pemerintah mengatur BBM bersubsidi yang tepat volume dan tepat sasaran secara bertahap. “tapi sam­ pai sekarang belum dilaksanakan,” katanya.

edisi 06/taHun i/oktober 2011 F igur : 15 Nabila Syakieb Harus Tahu Sifat Kuda INI
edisi 06/taHun i/oktober 2011 F igur : 15 Nabila Syakieb Harus Tahu Sifat Kuda INI

edisi 06/taHun i/oktober 2011

Figur : 15

Nabila Syakieb

Harus Tahu Sifat Kuda

INI sisi lain dari pesinetron Nabila Syakieb. Pemeran Nabila dalam sinetron Anugrah yang kini sedang tayang di sebuah televisi swasta nasional ini ternyata penggemar kuda. Gadis ayu kelahiran Bogor, 18 November 1985, mengaku sejak kecil sudah hobi naik kuda, tapi baru tujuh tahun terakhir bisa menekuni olahraga berkuda tersebut. “Menunggang kuda itu nggak gampang juga. Kita mesti kenal betul kuda yang kita naiki. tahu sifatnya. Kuda itu hewan, punya perasaan juga, kadang malas atau tidak mood,” begitu Nabila menjelaskan tentang kiat menunggang kuda. tapi, sepandai­pandai Nabil menunggang kuda pernah jatuh jua. artis sinetron yang pernah membintangi The Real Pocong ini pernah jatuh akibat kudanya yang bernama tascita tiba­tiba berlari kencang, dan Nabila pun hilang keseimbangan dan terjatuh. Kecintaan Nabila pada kuda jangan ditanya. Buktinya, dengan tubuh berbalu jaket biru, ia rela berpanas­panas menyaksikan kejuaraan berkuda world jumping Challenge 2011 di arthayasa Stable, Depok, agustus lalu. Ia ikuti dengan cermat lomba lompat rintangan dari pinggir arena. Kini, Nabila memiliki tiga ekor kuda yang dibeli dari hasil keringat sendiri. Dua ekor kudanya berjenis warmblood dan satu lagi jenis thoroughbred, yang berharga antara Rp 500 juta sampai Rp 750 juta. tak pingin jadi atlet berkuda? “aku tidak bisa menjadi atlet berkuda karena nggak punya waktu latihan secara rutin dan sering,” ujar Nabil seraya menyatakan, “Kalau hanya melompati rintangan 100 cm aku masih berani, tapi kalau 140 cm aku nyerah, deh.” t If

berani, tapi kalau 140 cm aku nyerah, deh.” t I f GM Sudarta foto Iman fIrdaus

GM Sudarta

foto Iman fIrdaus

Corruptio Optimi Pesima

SIaPa tak kenal Gerardus Mayela Sudarta dengan nama singkat GM Sudarta? Ia seorang kartunis sarat kritik, namun dibalut dengan humor yang kental. Pertengahan agustus lalu, lelaki kelahiran Klaten, Jawa tengah, 66 tahun silam itu kembali menyentil dengan karya­karyanya di Bentara Budaya Jakarta. Salah satunya karya instalasi berupa kursi kekuasaan berlambang burung garuda. Namun, yang menduduki kursi itu justru seekor tikus hitam dan di sekelilingnya terdapat 19 tikus lain mengerubuti kursi dan mengendus di karpet merah yang terhampar. Setiap yang menatap binatang pengerat itu akan terperanjat. Bahkan, menurut sang seniman, sopir istrinya sampai muntah­muntah melihatnya. Karya tersebut diberi judul dalam Bahasa Latin, Corruptio optimi Pesima, yang artinya korupsi terbesar dilakukan oleh yang berada di puncak kekuasaan. Kekuasaan memang lahan yang senantiasa jadi bahan kritiknya sejak bergabung sebagai kartunis di Harian Kompas pada 1966. Namun, kritiknya tetap dengan semangat humor. “Sebab kalau sampai menyakiti berarti sudah memaki,“ katanya dengan santun. Karena itu, meski tokoh kartunnya seorang lelaki yang diberi nama om Pasikom selalu menohok kekuasaan, tapi setiap orang tetap akan tersenyum ketika menyaksikannya. “Saya hanya mengingatkan. Bukan saya yang membuat perubahan. Kalau tidak mau berubah juga tidak apa­apa,“ katanya enteng. Dia pun menyebut kasus­kasus korupsi besar seperti Gayus tambunan, Susno Duadji hingga Nazaruddin yang juga tidak menimbulkan perubahan apa­apa pada pemberantasan korupsi. t If

foto IstImewa

Mestariany Habie Bukan Kasus Sederhana KaLaU saja kasus pemalsuan surat MK (Mahkamah Konstitusi) itu tidak
Mestariany Habie
Bukan Kasus Sederhana
KaLaU saja kasus pemalsuan surat
MK (Mahkamah Konstitusi) itu tidak
segera terendus maka nama Mestariany
habie tidak akan masuk dalam barisan
anggota Fraksi Partai Gerindra di DPR
RI. Untung saja praktik kotor dalam
penetapan peraih kursi hasil Pemilu 2009
oleh KPU (Komisi Pemilihan Umum)
itu cepat terbongkar, sehingga Nani ­­
panggilan akrab Mestariany Habie ­­ bisa
melenggang ke Senayan.
“Pemalsuan surat MK ini bukan
kasus sederhana, ini berlangsung melalui
perencanaan (by design) sedemikian rupa,”
kata ahli hukum kelahiran Makassar,
Sulawesi Selatan, 23 Januari 1959. Kasus
ini, menurut perempuan pendiam ini,
telah mencederai proses ketatanegaraan.
Sebagai anggota Panja Mafia Pemilu
yang dibentuk Komisi II DPR yang
bertugas mengusut kasus itu merasa
heran, justru dua orang yang ditetapkan
sebagai tersangka oleh polisi itu perannya
kecil dalam kasus tersebut, sedangkan
aktor intelektualnya masih melenggang.
“Ini menjadi tanda tanya bagi saya dan
juga anggota Panja Mafia Pemilu yang
lain,” jelas Nani.
Meski diliputi keheranan, Nani tetap
memberi dukungan kepada aparatur
untuk mengungkap kasus ini tanpa takut
pada tekanan dan tak perlu melihat latar
belakang siapapun yang terlibat. Meski
Nani pun paham, kasus ini melibatkan
orang­orang dengan sumber keuangan
dan sumberdaya yang kuat.
Karena itu, Nani berharap masyarakat
ikut mengawasi proses pengusutan
kasus ini agar tidak menyimpang atau
diselewengkan oleh berbagai kepentingan.
Kasus yang melibatkan kader partai
berkuasa ini sangat mungkin dibelokkan,
dan hanya menjerat para bawahan saja.
Inilah penyakit sebagian politisi kita: lepas
tanggung jawab dan hanya menimpakan
kesalahan pada orang kecil belaka. t If
foto mustafa kemaL

16 :

profil

16 : p rofil edisi 06/taHun i/oktober 2011 Soepriyatno Loyalitas adalah nadi dalam hidup seorang Soepriyatno.
16 : p rofil edisi 06/taHun i/oktober 2011 Soepriyatno Loyalitas adalah nadi dalam hidup seorang Soepriyatno.

edisi 06/taHun i/oktober 2011

Soepriyatno

16 : p rofil edisi 06/taHun i/oktober 2011 Soepriyatno Loyalitas adalah nadi dalam hidup seorang Soepriyatno.
16 : p rofil edisi 06/taHun i/oktober 2011 Soepriyatno Loyalitas adalah nadi dalam hidup seorang Soepriyatno.

Loyalitas adalah nadi dalam hidup seorang Soepriyatno. Menjaga dan mempertahankan amanat adalah paru­parunya. Sementara nerimo ing pandum adalah jantung kehidupannya.

oLeh m. BudIono

PENDEKaR, itulah sapaan yang kerap di­ pakai Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto untuk Ir. Soepriyatno, anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra yang juga Ketua Dewan Pim­ pinan Daerah (DPD) Gerindra, Jawa timur. Entah sejak kapan persisnya sapaan itu mulai dia dapatkan, Ir. Soepriyatno sendiri sudah tidak ingat lagi. Panggilan pendekar yang diberikan Pra­ bowo kepada Soepriyatno bisa memiliki beberapa makna konotasi. Pertama, boleh jadi karena (maaf) bentuk tubuhnya yang pendek namun kekar. Sehingga dia dipang­ gil pendekar (pendek dan kekar). atau bisa juga karena Soepriyatno memiliki sifat­sifat kependekaran. Berani, pekerja keras, bertang­ gungjawab dan tak mengenal kata menyerah. Sikap­sikap seperti itu ia buktikan dalam mengarungi kehidupannya. tak terkecuali

dalam menjalani karirnya di ranah politik se­ perti sekarang. Menyongsong peristiwa yang bakal terja­

di pada 2014, saat hajatan demokrasi lima ta­

hunan dihelat, Soepriyatno sudah memasang target dengan harga mati. Baginya, pada tahun itu, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto harus jadi Presiden. Kalau tidak, Soepriyatno bertekad, akan turun dari dunia politik, sekalipun ia nantinya terpilih

kembali menjadi anggota DPR. “Ini risiko, dan biaya yang harus saya bayar lunas, bila gagal mengantar Prabowo menjadi Presiden,” ungkap si “pendekar” Soepriyatno. Satu­satunya orang yang bisa menggagal­ kan rencana itu, menurut Soepriyatno, ada­ lah Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra sendiri. Sebagai anak buah, loyalitas kepada pimpinan wajib hukumnya. Karena itu, bila Prabowo memerintahkan agar dirinya tetap bertahan di panggung politik, meski gagal jadi Presiden maka ia akan laksanakan per­ intah tersebut. “Saya berpantang menolak perintah. Saya juga berpantang mundur dari tugas,” tandasnya. Keteguhan sikap seperti itu didasari oleh kekaguman Soepriyatno terhadap Ketua De­ wan Pembina Partai Gerindra tersebut, dan juga keyakinannya akan kualitas seorang Prabowo. Di mata Supri, panggilan Soe­ priyatno, Prabowo adalah tokoh nasional.

Ia memiliki visi dan misi yang jelas tentang

pembangunan negara. Sosok yang cocok dan sanggup mengembalikan kejayaan Indonesia. Sehingga ia tidak hanya layak menjadi direk­

tur utama perusahaan apapun. Karena itu, disaat masih ada kesempatan seperti sekarang, Supri sudah banyak mela­ kukan upaya­upaya dan menyusun strategi

pemenangan Prabowo di Jawa timur dan Madura, tempat yang telah mengantarnya menjadi anggota DPR RI hingga 2014 nan­ ti. Dengan keberaniannya itu, ia tak segan melawan dan memberangus pimpinan Gerin­ dra yang membangkang. Dia juga berani mem­PaW (pergantian antar waktu) anggota DPR di wilayahnya yang tidak loyal pada par­ tai. Juga menghadapi para demonstran yang mencoba mengusik eksistensi partai. Selain itu, Supri juga terus melakukan sosialisasi Partai Gerindra pada umumnya dan Prabowo khususnya disetiap kesempatan bertatap muka dengan masyarakat. Ia juga menggalang simpatisan melalui berbagai kar­ ya nyata. Seperti pembagian ternak kambing, pembuatan sumur masyarakat hingga penyul­ uhan bidang pertanian dan peternakan. Semua itu ia dilakukan semata­mata untuk membesarkan partai. Sehingga, pada saatnya nanti, tepatnya pada 2014, apa yang dicita­ citakannya menjadi kenyataan, yaitu: Prabo­ wo Subianto, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra bisa terpilih menjadi presiden. Meski merasa sudah begitu berusaha ke­ ras dalam membesarkan partainya, Gerindra, namun Supri tetap berpegang teguh dengan keyakinannya. “Kalau semua yang saya la­ kukan dianggap Pak Prabowo masih jauh dari cukup, lalu beliau memerintahkan saya untuk mundur, kapanpun akan saya laku­ kan perintah itu. Inilah totalitas saya kepada Pak Prabowo selaku pimpinan. Dan ini pula yang selayaknya dimiliki setiap kader Partai”, tambah Supri.

Anak Yatim

Kegigihan dan semangat pantang menye­ rah yang ditunjukkan Soepriyatno dalam me­ nyibak kerikil kehidupan, termasuk di ranah politik, merupakan hasil pengkaderan hidup yang sudah dilaluinya semenjak masih berusia belia. Diusia sebelas tahun, Sardjono, yang tak lain adalah ayah kandungnya, meninggal dunia. Untuk selanjutnya, Muslimah, ibun­ danya yang telah menjanda, terpaksa menitip Supri kecil kepada saudaranya. Dan, di sinilah pengkaderan sesungguhnya dalam sejarah hi­ dup Supri dimulai. Disela­sela kesibukannya mengikuti pe­ lajaran di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Ploso 3 Surabaya, Supri terpaksa ikut membantu berdagang. Beras dalam karung dan minyak dalam blek adalah sebagian kecil barang­ba­ rang yang harus dipanggulnya, diangkut dari pasar ke tempat berjualan. Namun, pekerjaan itu tidak membuat prestasi belajarnya jeblok. Buktinya saat lulus SD, pria kelahiran Sura­

baya 19 Oktober 1966 ini, menempati ran­ king dua dan berhak atas beasiswa mengikuti pendidikan di SMP Negeri 15 Surabaya. Pres­ tasi serupa juga diraih oleh suami dr. Karlina ini saat menamatkan SMP, sehingga berhasil melanjutkan ke SMaN 4 Surabaya. Di tengah galaunya pikiran karena tidak tahu harus bagaimana setelah tamat SMa, tanpa diduga Supri bertemu dengan kawan­ nya yang sedang mengisi formulir PMDK (penelusuran minat dan kemampuan). “teman saya itu lalu memberikan satu formu­ lirnya buat saya, dan dia juga membantu saya mengirim formulir itu via pos,” cerita Supri. Singkat cerita, ayah dari tiga anak (Die­ mas Ekakarina Prihandini, Isyam Satrio, dan Namira Salsabila Rahmadewi) ini pun dite­ rima di Institut Pertanian Bogor. Persoalan kemudian, uang saku yang sangat minim membuat Supri tak sanggup membayar uang kos, sehingga harus menumpang di salah satu kamar seniornya. Padahal, jarak antara asra­ ma dan kampus relatif jauh. Sementara uang untuk membayar ongkos transportasi tak di­ milikinya, sehingga Supri terpaksa berjalan kaki selama dua jam agar bisa mengikuti ke­ giatan perkuliahan. agar bisa hidup, begitu cerita Supri se­ lanjutnya, ia rela menerima order fotokopi, jualan kalkulator, dan mengajar anak­anak SMa. Hasilnya lumayan. Selama satu tahun

foto mustafa kemaL

menjalani pekerjaan itu ia sudah bisa mandiri. tidak lagi nebeng di kamar kawan, bahkan bisa membeli motor sendiri. “Saya tidak lagi naik kereta yang berjubel dan terpaksa duduk

di sandaran kursi kereta saat mudik liburan,”

ungkap Supri mengenai masa lalunya. Bukan hanya itu, Supri juga menyerahkan beasiswa Supersemar yang diperolehnya tiap bulan itu kepada kawan­kawannya yang ku­ rang beruntung. Dan, ia pun dapat memban­

tu ibu dan saudara­saudaranya di kampung. Karir Supri menjulang tinggi, ketika ia memagang jabatan direktur di sejumlah pe­ rusahaan. antara lain, President Director Pt. Intidaya agrolestari, President Director Pt. Dayaguna agrolestari, President Director Pt. tanjung Redeb Hutani (timber Esta­ te), dan President Director Pt. Indopangan Mandiri (Fishery). “Saya sudah mengenyam begitu banyak pahitnya hidup, karena itu saya tak khawatir bila harus keluar dari dunia politik bila gagal mengantar Prabowo jadi presiden. tetapi, le­ bih membahagiakan lagi dan mudah­mudah jadi kenyataan, kalau bisa berpartisipasi me­ wujudkan kemakmuran Indonesia bersama Prabowo sebagai presiden,” kata Supri kepa­ da Gema Indonesia Raya saat menyambangi rumahnya, di Pesona Kayangan Depok, akhir Juli silam. t