Anda di halaman 1dari 6

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Definisi Sementum Sementum adalah suatu jaringan mesenchymal terkalsifikasi yang membentuk lapisan luar akar gigi anatomis, yang berfungsi sebagai tempat perlekatan ligamentum periodontal ke gigi (Hiraya, dkk, 2010). Sementum merupakan jaringan terminal yang menutupi akar gigi yang strukturnya mempunyai beberapa kesamaan dengan tulang kompakta dengan perbedaan sementum bersifat avaskuler. Sementum membentuk lapisan yang sangat tipis pada daerah servikal akar dan tebalnya bertambah pada daerah apikal. Sementum terdiri dari serabut kolagen yang tertanam di dalam matriks organic yang terkalsifikasi. Komposisi kimia sementum ialah 45%-50% zat anorganik dan 50%-55% zat organik (Wolf, 2005).

Gambar. Gigi dan jaringan pendukungnya, termasuk sementum. 2.2. Struktur Sementum

Sementum merupakan jaringan yang terkalsifikasi. Secara umum dibagi menjadi dua, yaitu sementum aseluler (primer) dan sementum seluler (sekunder). Keduanya mengandung matrix alcified interfibrilar dan fibril kolagen. Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai sementum seluler, aseluler, dan intermediet: a. Sementum seluler Tipe sementum yang ditemukan di daerah apikal dan region furkasi gigi. Mengandung sementosit yang berada dalam lakuna, berhubungan melalui suatu sistem anastomosis kanalikuli. Terdapat dua sumber serat kolagen, yaitu Sharpey`s fiber dan kelompok serat yang merupakan bagian matriks sementum yang dibentuk sementoblast. b. Sementum aseluler Tipe sementum ini menutupi semua bagian dari permukaan akar gigi yang berupa lapisan hyaline tipis. Mempunyai garis incremental yang berjalan paralel pada permukaan akar gigi. Terdiri atas Sharpey`s fiber yang terkalsifikasi. c. Sementum intermediate Tipe ini ditemukan pada bagian sementodentinal junction. Dapat bersifat sebagai sementum maupun dentin. (Manson dana Eley, 1993) Menurut Newman, et al (2006), terdapat suatu klasifikasi yang jauh lebih rumit dari sementum. Klasifikasi ini diberikan oleh Schroeder : a. Acellular afibrillar cementum (AAC) ACC merupakan produksi dari sementoblas dan ditemukan pada daerah coronal sementum dengan ketebalan 1 sampai 15 mikron. Tidak mengandung serabut kolagen intrinsik maupun ekstrinsik. Hanya mengandung substansi dasar yang termineralisasi. b. Acellular Extrinsic Fiber Cementum (AEFC) AEFC merupakan produk dari fibroblas dan sementoblas. Hampir seluruhnya terdiri atas gulungan padat serabut Sharpey dan sedikit sel. Dapat ditemukan pada sepertiga akar. Ketebalannya antara 30 sampai 230 mikron. c. Cellular Mixed Stratified Cementum (CMSC)

Terdiri atas serabut Sharpey (ekstrinsik) dan serabut intrinsik serta kemungkinan mengandung sel. Merupakan produk bersama fibroblas dan sementoblas. Ditemukan pada bagian sepertiga apikal dan furkasio. Ketebalan antara 100 sampai 1000 mikron. d. Cellular Intrinsic Fiber Cementum (CIFC) Mengandung sel, namun tidak mengandung serabut kolagen ekstrinsik. Dibentuk oleh sementoblas. e. Intermediete Cementum Zona yang susah didefinisikan, terletak pada bagian cementoenamel junction. Mengandung komponen seluler Hertwig's sheath di dalam substansi dasar yang termineralisasi. (Newman, et al, 2006) Sementum memiliki ketebalan bervariasi tergantung lokasinya. Ketebalan pada setengah koronal sebesar 10-60 mikron, pada sepertiga apikal ketebalan 150-200 mikron. Ketebalan terbesar terdapat pada daerah apeks dan daerah furkasi. Dengan meningkatnya usia, ketebalan sementum juga meningkat (Dalimunthe, 2005). Secara makroskopis, ada tiga kemungkinan hubungan antara sementum dan email pada pertautan sementoemail, yaitu :
a. sementum menutupi permukaan email (Overlap). b. ujung sementum dan ujung email bertemu satu sama lain (Edge to edge). c. sementum dan email tidak bertemu (Gap).

Keadaan pertautan sementoenamel (sering disebut dengan cemento-enamel junction atau CEJ) yang berjenis overlap lebih sering ditemui, yaitu pada sekitar 60-65%. Pada jenis lain, yaitu edge to edge dan tidak bertemu memiliki prosentase yang lebih kecil, yaitu 30% dan 5-10%. Pada individu dengan CEJ edge to edge atau gap, maka kemungkinan terjadinya fenomena gigi sensitif semakin meningkat. Hal tersebut dikarenakan ketika lapisan email tipis terkena resesi, dentin yang tidak terlindungi oleh sementum akan mudah terkena rangsangan dari luar sehingga akan menyebabkan cairan pada tubulus dentinalis akan

bergerak lebih cepat dan merangsang akson di sekitar gigi. Pada pasien keadaan tersebut akan menimbulkan sensasi ngilu atau nyeri. Hal ini juga menggambarkan fungsi samping dari sementum. (Newman, et al, 2006)

2.3. Sementogenesis Sementogenesis merupakan proses pembentukan sementum. Selama pembentukan email, korona gigi di tutupi oleh epithelium dental, bagian basal epithelium ini merupakan kantong epithelial hertwig. Sebelum sementoblas terbentuk, sel-sel jaringan pengikat yang berkontak dengan permukaan gigi berdeferensiasi menjadi sementoblas. Sementoblas inilah yang akan berdiferensiasi menjadi sementum. Pada proses deposisi sementum yang baru, maka akan terbentuk suatu batas yang disebut reversal line, antara sementum yang baru dan lama. (Newman, et al, 2006) 2.4. Fungsi Sementum Fungsi dari sementum adalah sebagai berikut: a. Melekatkan gigi pada periodontal b. Tempat perlekatan collagen fibers dari periodontal membran c. Pelindung dentin pada akar gigi (Newman, et al, 2006) 2.5. Kelainan Sementum Di bawah ini merupakan contoh dari kelainan sementum: a. Hipersementosis Hipersementosis merupakan penebalan dari sementum. Hipersementosis ini terlokalisasi pada satu gigi atau pada seluruh gigi geligi. b. Sementoma Sementoma merupakan masa sementum yang biasanya terletak dibagian apical gigi, dapat melekat atau tidak melekat sama sekali. Dianggap sebagai salah satu neoplasma odontogenik, ataupun kelainan pembentukan pada waktu perkembangan. Sementoma ini banyak terdapat pada wanita daripada laki-laki dan lebih banyak terdapat di mandibula dari pada maksila. (Newman, et al, 2006)