Anda di halaman 1dari 15

KARANTINA KESEHATAN

DI PELABUHAN DAN BANDARA



A. DEFINISI
Karantina adalah kegiatan pembatasan atau pemisahan seseorang dari
sumber penyakit atau dari orang yang terkena penyakit atau bagasi, kontainer, alat
angkut, komoditi yang mempunyai resiko menimbulkan penyakit pada manusia
Karantina kesehatan adalah tindakan karantina dalam upaya pencegahan
dan pemberantasan penyakit serta Iaktor resiko gangguan kesehatan dari dan
atau keluar negeri serta dari suatu area ke area lain dari dalam negeri melalui
pelabuhan bandara dan lintas batas darat

B. SEJARAH KARANTINA
Karantina berasal dan kata 'QUADRAGINTA (latin) yang artinya : 40.
Dulu semua penderita diisolasi selama 40 hari. Pada tahun 1348 lebih dari 60 juta
orang penduduk dunia meninggal karena penyakit 'Pes (Black Death). Pada
tahun 1348 Pelabuhan Venesia sebagai salah satu pelabuhan yang terbesar di
Eropa melakukan upaya KARANTINA dengan cara menolak masuknya kapal
yang datang dari daerah terjangkit Pes serta terhadap kapal yang dicurigai
terjangkit penyakit Pes (Plague). Pada tahun 1377 di Roguasa dibuat suatu
peraturan bahwa penumpang dari daerah terjangkit penyakit pes harus tinggal di
suatu tempat di luar pelabuhan dan tinggal di sana selama 2 bulan supaya bebas
dari penyakit. Itulah sejarah tindakan karantina dalam bentuk isolasi yang pertama
kali dilakukan terhadap manusia.
Pada tahun 1383 di Marseille, Perancis, ditetapkan Undang-Undang
Karantina yang pertama dan didirikan Station Karantina yang pertama. Akan
tetapi, peran dari tikus dan pinjal belum diketahui dalam penularan penyakit Pes.
Kemudian pada kurun waktu 1830 1847, wabah Kolera melanda Eropa. Atas
inisiatiI ahli kesehatan, terlaksana diplomasi penyakit inIeksi secara intensiI dan
kerjasama multilateral kesehatan masyarakat sehingga terselenggara International
Sanitary ConIerence di Paris tahun 1851 yang menghasilkan International
Sanitary Regulations (ISR 1851). Tahun 1951 World Health Organization (WHO)
mengadopsi regulasi yang dihasilkan oleh International Sanitary ConIerence.
Tahun 1969 WHO mengubah ISR yang dihasilkan oleh International Sanitary
ConIerence menjadi INTERNATIONAL HEALTH REGULATIONS dan dikenal
sebagai IHR 1969.
Tujuan IHR adalah untuk menjamin keamanan maksimum terhadap
penyebaran penyakit inIeksi dengan melakukan tindakan yang sekecil mungkin
mempengaruhi lalu lintas dunia. Sehubungan dengan perkembangan situasi dan
kondisi serta adanya revisi ISR antara lain Third Annotated Edition 1966 oI the
ISR 1951, WHO juga melakukan revisi seperlunya terhadap IHR 1969, antara
lain:
1. Pada tahun 1973 WHO melakukan revisi terhadap IHR 1969 dan dikenal
sebagai Additional Regulation 1973.
2. Pada tahun 1981 WHO melakukan Revisi terhadap IHR 1969 dan dikenal
sebagai Additional Regulation 1981.
3. Pada tahun 1983 WHO melakukan revisi terhadap IHR 1969 dan dikenal
sebagai Third Annotated Edition 1983. Sejak ini penyakit karantina yang
dulunya 6 (enam) penyakit berubah menjadi 3 (tiga) penyakit yaitu : Pes
(Plague), Demam Kuning (Yellow Fever) serta Kolera (Cholera). Sedangkan
Undang-Undang Karantina Udara dan Undang-Undang Karantina Laut
hingga saat ini tetap memberlakukan 6 (enam) penyakit yaitu :
a. Pes (Plague) (ICD-9: 020,ICD-10:A 20)
b. Kolera (ICD - 9 : 001,ICD - 10:A 00)
c. Demam Kuning (Yellow Fever) (ICD-9:O6O,ICD-10:A 95)
d. Cacar (Smallpox) (ICD-9:050,ICD-10:B03)
e. Typhus Bercak Wabahi - Thypus Exanthematicus InIectiosa (Louse
Borne Typhus)
I. Demam Bolak-Balik (Louse Borne Relapsing Fever)
Pada tahun 2005 telah dilakukan penyusunan International Health
Regulations sebagai revisi IHR 1969 dan dikenal sebagai International Health
Regulations (IHR) 2005. Revisi yang keempat ini diilhami oleh kejadian Pandemi
SARS dan Bioterorisme pada tahun 2003.
1. 1 s/d 12 November 2004 : Intergovernmental Working Group-1, Kertas
Kerja Proposal World Health Organization merevisi IHR 1969.
2. 24 Januari 2005 : Intergovermental Working Group-2 on The Revision oI
IHR:
a. Menghasilkan IHR 2005 dengan mengusung issue : Public Health
Emergency oI International Concern (PHEIC, dalam Bahasa Indonesia
artinya Kedaruratan Kesehatan yg Meresahkan Dunia).
PHEIC adalah Kejadian Luar Biasa (KLB) yang :
O dapat merupakan ancaman kesehatan bagi negara lain, dan
O kemungkinan membutuhkan koordinasi internasional dalam
penanggulangannya.
b. Terhitung mulai 15 Juni 2007 bagi semua negara anggota WHO, harus
sudah menerapkan IHR 2005 kecuali mereka yang menolak atau
mengajukan keberatan.
c. Penolakan atau keberatan harus diajukan selambat-lambatnya 18 bulan
dari saat diterima oleh WHA ke 58 (Mei 2005)

Tujuan IHR 2005 adalah mencegah, melindungi terhadap dan
menanggulangi penyebaran penyakit antar negara tanpa pembatasan perjalanan
dan perdagangan yang tidak perlu.
Penyakit : yang sudah ada, baru dan yang muncul kembali serta penyakit tidak
menular (contoh: bahan radio-nuklir dan bahan kimia) yang dalam terminologi
lain disebut NUBIKA (Nuklir, Biologi dan Kimia).


Periode HAJEA AR1S (Dokter Pelabuhan)
Pada tahun 1911 DI INDONESIA, Pes masuk melalui Pelabuhan Tanjung
Perak Surabaya, kemudian 1916 Pes masuk melalui Pelabuhan Semarang dan
selanjutnya tahun 1923 Pes masuk melalui Pelabuhan Cirebon. Pada saat itu
Indonesia masih hidup dalam zaman kolonial Belanda. Regulasi yang
diberlakukan adalah Quarantine Ordonanti (Staatsblad Nomor 277 tahun 1911).
Dalam perjalanan sejarahnya Quarantine Ordonanti (Staatsblad Nomor 277 tahun
1911) telah berulang kali dirubah. Penanganan kesehatan di pelabuhan di
laksanakan oleh HAVEN ARTS (Dokter Pelabuhan) dibawah HAVEN MASTER
(Syahbandar). Saat itu di Indonesia hanya ada 2 Haven Arts yaitu di Pulau Rubiah
di Sabang & Pulau Onrust di Teluk Jakarta

Periode Pelabuhan Karantina.
Pada masa Kemerdekaan, sekitar tahun 1949/1950 Pemerintah RI
membentuk 5 Pelabuhan Karantina, yaitu : Pelabuhan Karantina Klas I : Tg. Priok
dan Sabang, Pelabuhan Karantina Klas II : Surabaya dan Semarang serta
Pelabuhan Karantina Klas III : Cilacap. Inilah periode peran resmi pemerintahan
RI dalam kesehatan pelabuhan di mulai.
Pada tahun 1959, Indonesia mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor
53 tahun 1959 tentang Penyakit Karantina. Perkembangan Selanjutnya, untuk
memenuhi amanat Pasal 4 dan 6 sub 3 undang-undang tentang Pokok-pokok
Kesehatan (UU nomor 9 tahun 1960, Lembaran Negara tahun 1960 nomor 131),
terlahirlah undang undang nomor 1 tahun 1962 tentang Karantina Laut dan UU
nomor 2 tahun 1962 tentang Karantina Udara.

Periode DKPL (Dinas Kesehatan Pelabuhan Laut) dan DKPU (Dinas
Kesehatan Pelabuhan Udara)
Pada 1970, terbit SK Menkes No.1025/DD /Menkes, tentang pembentukan
Dinas Kesehatan Pelabuhan Laut (DKPL) sebanyak 60 DKPL & Dinas Kesehatan
Pelabuhan Udara (DKPU) sebanyak 12 DKPU. Baik DKPL maupun DKPU non
eselon. Kegiatan DKPL dan DKPU baik teknis maupun administratiI meski satu
kota, terpisah.

Periode KAA1OR KESEHA1AA PELABUHAA
SK Menkes Nomor 147/Menkes/IV/78, DKPL dan DKPU dilebur menjadi
KANTOR KESEHATAN PELABUHAN dan berada dibawah Bidang Desenban
Kantor Wilayah Depkes dengan eselon III B. Berdasarkan SK Menkes Nomor
147/Menkes/IV/78KKP terdiri atas :
a. 10 KKP Kelas A
b. 34 KKP Kelas B
SK Menkes 630/Menkes/SK/XII/85, menggantikan SK Menkes No.147
(Eselon KKP sama IIIB), jumlah KKP berubah menjadi 46 yang terdiri atas :
a. 10 KKP Kelas A
b. 36 KKP Kelas B (ditambah Dili dan Bengkulu)

Periode KKP sebagai UP1 Dirjen PP & PL Depkes RI.
Sejak penerapan Undang-undang Otonomi Daerah, otoritas kesehatan
ditingkat provinsi yang bernama Kanwil Depkes harus dilebur kedalam struktur
Dinas Kesehatan Provinsi. Peraturan Pemerintah tentang Pembagian Kewenangan
mengamanatkan bahwa Kekarantinaan sebagai wewenang pemerintah pusat.
Tahun 2004 terbit SK Menkes No 265/Menkes/SK/III/2004 tentang Organisasi &
Tata Kerja KKP yang baru. KKP digolongkan menjadi :
a. KKP Kelas I (eselon II B) : 2 KKP
b. KKP Kelas II (eselon III A) : 14 KKP
c. KKP Kelas III (eselon III B) : 29 KKP

Pada tahun 2007 dilakukan revisi terhadap SK Menkes No
265/Menkes/SK/III/2004 tentang Organisasi & Tata Kerja KKP melalui Peraturan
Menteri Kesehatan nomor 167/MENKES/PER/II/2007. Dengan terbitnya
Permenkes ini, maka bertambahlah 3 (tiga) KKP baru Yaitu : KKP Kelas III
Gorontalo, KKP Kelas III Ternate dan KKP Kelas III Sabang
C. LANDASAN HUKUM
1. UUD No. 1 tahun 1962 tentang karantina laut
2. UUD No. 2 tahun 1962 tentang karantina udara
3. UUD No.4 tahun1984 tentang wabah
4. UUD No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan
5. PP No. 40 tahun 1991 tentang penanggulaan penyakit menular
6. PP No.72 tahun 2001 tentang keIarmasian
7. Keppres No. 57 tahun 1996 tentang penyelenggaraan perjalanan umbroh
8. Eputusa menteri kesehatan RI No. 1479/Menkes/SK/X/2003 tentang
pedoman penyelenggaraan sistem suveilans epidemiologi penyakit menular
dan penyakit tidak menular terpadu
9. Keputusan menteri kesehatan No.264 tahun 2004 tentang klasiIikasi kantor
kesehatan pelabuhan
10.Keputusan mentei kesehatan No. 265 tahun 2004 tentang organisasi dan tata
kerja kantor kesehatan pelabuhan
11.Keputusan menteri kesehatan RI No. 1479/Menkes/SK/X/2003 tentang
pedoman penyelenggaraaan sistem suveilans epidemiologi penyakit menular
dan penyakit tidak menular terpadu
12.Peraturan menteri kesehatan RI No. 949/Menkes/SK/VIII/2004 tentang
pedoman penyelengaraan istem kewaspadaan dini kejadian luar biasa (KLB)
13.IHR revisi tahun2005

D. SASARAN KARANTINA
1. Penumpang
2. Barang
3. Alat angkut
4. Kontaoiner


E. IDENTIFIKASI FAKTOR RESIKO PENYAKIT KARANTINA DAN
PENYAKIT MENULAR POTENSIAL WABAH
1. Ruang Lingkup
Secara operasional penyelenggaraan Iaktor resiko penyakit karentina dan
penyakit menular potensial wabah meliputi:
O Alat angkut (kapal laut, pesawat) dan muatannya (termaksut kontainer)
O Manusia (ABK/crew, penumpang)
O Lingkungan pelabuhan dan bandara

2. Jenis-jenis Faktor Resiko enyakit karentina dan penyakit menular potensial
wabah
O Virus yang menginIeksi penumpang maupu creu kapal/pesawat
O Bakteri yang menginIeksi penumpang maupu creu kapal/pesawat
O Protozoa yang menginIeksi penumpang maupu creu kapal/pesawat
O Vektor yang menjadi perantara penyakit karantina dan penyakit menular
wabah

3. Kegiatan identiIikasi
3.1. IdentiIikasi alat angkut
Alat angkut/kapal yang singgah/berlabuh dalam waktu pendek ata panjang
perluh di curigai adanya Iaktor resiko munculnya penyakit menular potensial
wabah, seperti SARS, Ilu burung, inIluenza A (AI). Pengawasan kapal di
lakukan sesaat setelah kapal bersandar di pelabuhan dengan memperhatikan hal-
hal tersebut dibawah ini antara lain :
O Pelabuhan singgah terakhir, dengan tujuan untuk memastikan wabah/ KLB
penyakit menular di wilayah tersebut (aIIected area)
O Asal kapal, dengan tujuan untuk menentukan riwayat penjalanan yang
pernah dilakukan

3.2.IdentiIikasi pada penumpang
Penumpang kapal meliputi ABK/crew, penumpang dari pelabhan asal ke
pelabuhan tujuan dengan menggunakan kapal/pesawat. Penumpang merupakan
Iaktor resiko yang paling rentan untuk menjadi suatu penyakit menular potensial
wabah. Hal-hal yang perluh di perhatikan :
O Ada tidaknya penumpang kapal yang sedang sakit
O Ada tidaknya penumpang yang menderita penyakit menular
O Jumlah penumpang kapal yang sedang sakit menular
O Jenis penyakit menular yang menyerang penumpang kapal
O Ada tidaknya penumpangyang berasal dari wilayah terjangkitnya suatu
penyakit menular

3.3.IdentiIikasi pada barang
Barang yang dibawah penumpang maupun awak kapal yang di letakan
dalam kabin maupun yang di bagasikan juga bisa menjadi Iaktor risiko
munculnya penyakit menular potensial wabah. Hal-hal yang perluh diperhatikan:
O Ada tidaknya bahan berbahaya yang terbawah oleh penumpang di kabin
maupun di bagasi
O Ada tidaknya bahan makanan/minuman yang mudah busuk yang terbawah
penumpang di kabin maupun bagasi
O Ada tidaknya binatang/tumbuhan yang terbawah penumpang di kabin
maupun bagasi




3.4.IdentiIikasi masalah di pelabuhan
Media lingkungan (air, tanah, udara, biota) dengan segala komponen dan
siIatnya merupakan Iaktor resiko yang harus di kendalikan. Adapun kegiatan
identiIikasi di lingkungan yang perluh di perhatikan adalah:
O Ada vektor di lingkungan di pelabuhan yang menjadi perantara penularan
penyakit
O Ada tidaknya pencemaran air, udara, dan tanah yang dapat menimpulkan
masalah kesehatan masyarakat
O Hygienie dan sanitasi makanan dan minuman yang dapat menimbulkan
masalah kesehatan

F. KEGIATAN DAN LANGKAH-LANGKAH
1. Kedatangan Kapal dala Karantina (in clearence)
a. Nakhoda/Owner lewat agent pelayaran membuat permohonan Iree
pratique yang di tujukan kepada kepala kantor kesehatan pelabuhan, baik
datang langsung ke KKP maupun dapat melalui portnet/nasional singel
windows dengan melampirkan inIormasi awal (prearrival inIormation)
yang di sampaikan paling lambat dalam jangkah waktu 1x24 jam.
b. Petugas KKP menerima permohonan Iree pratique dan menilai
permohonan tersebut berserta MDHs (Meritime declaration oI health),
apakah sudah sesuai dengan menjawab 'No pada 9 pertanyaan
c. Petugas KKP memberikan tanda register Iorm Q dan memasukan data
kedalam buku register 'in out clearance
d. Petugas memberikan tanda registrasi Iorm Q kepada agen pelayaran,
sebagai bukti pemohonan dengan mengisi Iorm sebagai berikut :
1. No. Registrasi
2. Jam registrasi
3. Nama kapal
4. Bendera
5. Besar kapal
6. Datang dari negara : bebas PHEIC PHEIC
7. Rencana sandar kapal: tanggal, jam dan negara asal
8. Posisi sandar/labuh
9. Jumlah ABK (dalam negeri, luar negeri)
10.Agent pelayaran
11.No. Telp agent (HP/kantor)
12.Tanda tanggan penerima dan pemberi
e. Petugas koordinator jaga (KJ) mencatat kedalam buku registrasi in
clareance (IC) dengan Iorm yang ada pada buku :
1. No. Registrasi
2. Jam registrasi
3. Nama kapal
4. Bendera
5. Besar kapal
6. Datang dari negara : bebas PHEIC PHEIC
7. Rencana sandar kapal: tanggal, jam dan negara asal
8. Posisi sandar/labuh
9. Jumlah ABK (dalam negeri, luar negeri)
10.Agent pelayaran
I. Petugas manyelesaikan PNBP certiIicate oI pratique
g. Petugas KKP menunggu inIormasi kedatangan kapal dari narkhoda
melalui agent pelayaran melalui telp maupun HP, begitu kapal bersandar
atau berlabuh, maka petugas menginIormasikan kepada agent pelayaran
bahwa :
1. Untuk kapal dengan permohonan dan pre arrival inIormation, salah
satu jawaban 'yes dan kapal datang dari negar/pelabuhan yang
terjangkit maupun kapal dalam kondisi emergency call, maka kapal
tersebut berlabuh di luar DAM aitu zona karantina
2. Sedaangkan kapal dengan permohonan dan pre arrival inIormation,
semua jawaban 'No dan kapal beraal dari negara sehat, maka kapal
tersebut sandar di daerah dermaga/kade.
h. Setelah kapal berlabuh atau bersandar petuga KKP melakukan boarding
ke kapal dengan menggunakan speed boad karantina dengan
membawah peralatan pemeriksaan sesuai dengan tugas dan Iungsinya
i. Di atas kapal petugas KKP melakukan:
1. Pertemuan dengan narkhoda dengan koordinator jaga tentang rencana
pemeriksaan
2. Pemeriksaan/penelitian dokumen kesehatan originan dan dokumen
lain terkait
O MDH
O SSCEC/SSCC/OME SSEC
O Crew list
O Passanger list
O Vaccination list
O ICV/buku kuning (yellow book)
O Buku kesehatan (health book)
O Medicine certiIicate/ sertiIikat P3K
O General nil list
O Voyage memo/port oI call
O Ship oI partucular
O Port clearance
O SertiIikat kesehatan
3. Pemeriksaan Iaktor resiko PHEIC
O Pemeriksaan tanda-tanda kehidupan tikus
O Pemeriksaan kecoa dan serangga penular penyakit menular
lainnya
O Pemeriksaan personal yang hygiene penjamah makanan di kapal
O Pemeriksaan sanitasi dapur, gudang tempat penyimpanan
makanan dan makanan jadi
O Pemeriksaan bahan makanan
O Pemeriksaan air bersih dan air minum
O Pemeriksaan suhu dan kelembapan
O Pemeriksaan pencahayaan
O Pemeriksaankebisingan
O Pemeriksaan limbah air balas
O Pemeriksaan NUBIKA
O Pemeriksaan obat-obatan
4. Pemeriksaan Abk atau penumpang
a. ABK dan penumpang yang datang dari negara/pelabuhan
terjangkit, di lakukan pemeriksaan klinis sebagai usaha
pencegahan tangkal penyakit menular potensial wabah masuk ke
indonesia
b. ABK dan penumpang yang sakit datang dari negara/ pelabuhan
terjangkit, di lakukan pemeriksaan klinis sevara intensiI sebagai
upaya cegah tangkal penyakit menular wabah masuk ke indonesi
c. ABK dan penumpang yang suspek dan mau singgah di NKRI di
lakukan pemeriksaan klinis serta di berikan health alert
cardsebagai upaya cegah tangkal penyakit menular potensial
wabah masuk ke indonesi
d. ABK dan penumpang yang datang dari negara/pelabuhan
terjangkit yellow Iever dan belum memiliki vaksinasi yellow
Iever, maka dilakukan vaksinasi yellow Iever sebagai upayacegah
tangkal penyakit yellow Iever masuk ke indonesia
5. Setelah selesai pemeriksaan dokumen, pemeriksaan Iaktor resiko,
kesehatan penupang, dan hasilnya : tidak ada masalah kesehatan,
maka kapal di berikan izin bebas karantina
a. Bila di temukan tanda-tanda kehidupan tikus, maka di lakukan
tindakan derritisasi/Iumigasi
b. Bila di temukan kecoa atau serangga penular penyakit, maka di
lakukan tindakan disinseksi
c. Bila di temukan agent atau penyakit atau bahan kimia lain di air
atau dalam makanan, maka di lakukan desinIeksi atau di
musnakan
d. Bila di temukan zat radioaktiI, maka di lakukan dikontaminasi
j. Setelah kapal dinyatakan bebas karantina, maka kepada narkhoda di
terbitkan COP dan dipersilakan untuk menurunkan/mematikan isyarat
karantina:
1. Pada siang hari penurunan benderah kuning
2. Pada malam hari matikan lampu merah di atas putih
k. Kapal di izinkan sandar untuk melakukan bongkar muat dan melakukan
aktiIitas lain

2. Keberangkatan Kapal Luar Negeri (out clearance)
1. Narkhoda melalui agent pelayaran melaporkan kepad kepala KKP tentang
rencana keberangkatan kapal keluar negeri
2. Agent pelayaran menyerahkan dokumen kesehatan yang original :
a. Bukti registrasi permohonan Iree pratique
b. Buku kesehatan
c. CertiIicate oI prateque
d. SSLC/SSCC
e. Crew list
I. ICV list
g. General nil list
h. SertiIikat P3K
3. Petugas KKP melakukan
a. Pemriksaan dokumen kesehatan
b. Pengisian buku kesehatan (membubuhkan stempel dan tanda tangan
c. Legalisasi crew list
d. Pemeriksaan sanitasi kapal
4. Petugas KKP melengkpi dan mencatat data yang belum lengkap kedalam
buku registrasi 'in clearance
5. Bila dokumen kesehatan :
a. Lengkap dan berlaku dan hasil pemeriksaan sanitasi kapal baik : maka
kapal melalui agent pembayaran diterbitkan izin berlayar kesehatan
b. Tidak lengkap atau tidak berlaku : agent pelayaran untuk harus segera
melengkapi, setelah lengkap kemudian terbitkan izin berlayar
6. Apabila 1x24 jam tidak berlayar terhadap kapal tersebut dilakukan
pemeriksaan ulang
7. Agen berlayar menyelesaikan pembayaran PNBP PHQC
8. Petugas menyerahkan PHQC kepada agen pelayaran

3. Kedatangan dan Keberangkatan kapal Dalam Negeri
1. Narkhoda melalui agent pelayaran melaporkan kepad kepala KKP
tentang rencana keberangkatan kapal keluar negeri
2. Agent pelayaran menyerahkan dokumen kesehatan yang original :
a. Buku kesehatan
b. SSLC/SSCC
c. Crew list
i. General nil list
j. SertiIikat P3K
3. Agent pelayaran mengisih lembaran disposisi yang di serakan kepada
petugas KKP
4. Petugas KKP melakukan pemeriksaan penelitian:
5. Petugas KKP memasukan dan mencatatat data kedalam buku registrasi
'in out clearence
6. Bila dokumen kesehatan :
a. Lengkap dan berlaku dan hasil pemeriksaan sanitasi kapal baik : maka
kapal melalui agent pembayaran diterbitkan izin berlayar kesehatan
c. Tidak lengkap atau tidak berlaku : agent pelayaran untuk harus segera
melengkapi, setelah lengkap kemudian terbitkan izin berlayar
7. Agen berlayar menyelesaikan pembayaran PNBP PHQC
8. Petugas menyerahkan PHQC berserta kelengkapan dokumen kepada
agen pelayaran


G. ISYARAT KARANTINA
Isyarat karantina biasa di sebut 'isyarat Q merupakan prosedur
internasional untuk untuk menyatakan bahwa sebuah kapal masih belum di
izinkan masuk kepelabuhan dan menjadi pengawasan kantor kesehatan
pelabuhan. Umumnya dinyatakan dalam bentuk pengibaran bendera kuning di
kapal. Bederah yang harus di ketahui :
W Bendera Q (kuning) : siang hari
W Dua lampu putih yang satu ditempatkan di atas yang lain, dengan jarak
dua meter yang tampak dari jarak dua mil : malam hari
W Bendera coklat kuning : tanda kapal terinIeksi
W Bendera segitiga biru kuning : tanda kapal suspek terinIeksi
W Bendera segitiga putih hitam : tanda ada penumpang yang meninggal
W Bendera biru, putih, merah : tanda di butuhkan seorang dokter


H. PENGAWASAN DAN PEMERIKSAAN KEKARANTINAAN DAN
DOKUMEN KESEHATAN PESAWAT
I. PENGAWASAN DAN DOKUMEN PENGANGKUTAN ORANG SAKIT
DAN JENAZAH
J. INVESTIGASI KLB