Anda di halaman 1dari 8

1.1.

Desain dan konsep keretakan pada pipa



Gambar 4.5.1. Keretakan mode II kombinasi
Pada gambar di atas terlihat bahwa bagian permukaan material menerima tekanan akibat
Iluida. Arah tekanan yang menyebabkan tegangan ini arahnya sejajar dengan arah rambat
retakan sehingga tentunya akan menghasilkan nilai SIF yang berbeda jika dibandingkan
dengan nilai SIF akibat mode II.
Arah tegangan yang berpengaruh dalam perambatan retak adalah tegangan ke arah x dan
ke arah z jika kita berdasar pada gambar 4.5.1, sementara jika berdasar pada gambar
2.2.5.1 maka arah tegangan yang berpengaruh pada perambatan retak adalah yang ke arah
x dan y. Didasarkan pada gambar 4.5.1, maka Iormula yang dipakai untuk menyelesaikan
persoalan retakan adalah :

Formula SIF untuk kondisi seperti gambar 4.5.1. merupakan perpaduan antara SIF mode II
yang dikombinasi dengan arah tegangan. Proses retak rambatnya akan lebih lambat dari
pada SIF mode I. Mode tegangan yang mempengaruhi SIF pada kasus ini adalah seperti
pada gambar di bawah :

'
+

'

'
+

'

'
+

'

=
2
3
sin
2
sin 1
2
cos
2
2
1
x
o
r
K
II
x:

Gambar 4.5.2. Arah tegangan pada material dengan lebar tertentu
Pada gambar di atas dapat dijelaskan bahwa arah tegangan sejarar dengan arah retakan.
Kondisi seperti ini mengakibatkan arah rambat retak menjadi lebih lambat karena arah
tegangan tidak tegak lurus dengan arah rambat retakan seperti pada retakan mode I. Arah
tegangan yang mempengaruhi keretakan adalah perpaduan sumbu x dan z (derajat
diantaranya).

Gambar 4.5.3. Arah tegangan yang mengakibatkan retak pada pipa
Dari gambar di atas bisa dijelaskan bahwa arah tegangan output (

%tergantung padabesar
sudut retakan, semakin besar sudut retakan maka akan semakin besar juga sudut tegangan
yang dihasilkan (semakin mendekati arah tegak lurus retakan). Memperhatikan pada
perumusan mekanika teknik, maka untuk kondisi seperti ini besar tegangan yang
dihasilkan pada sudut tertentu terhadap arah tegak lurus retakan bisa dituliskan dalam
Iormulasi sebagai berikut :

Dimana :


) sin( o o
4
=

o
Tegangan output

i
Tegangan input
0 Sudut arah tegangan terhadap sumbu z (tegak lurus arah retakan)
Dengan mendapatkan harga (
o
) maka kondisi retakan sudah seperti mode I. Retakan mode
I ini dikombinasi dengan arah tegangan sehingga Iormulasi untuk stress 3te3sty fact4r
bisa dituliskan sebagai berikut :

Atau setara dengan

Dimana :
KII SIF mode II
Tegangan
0 Sudut tegangan terhada arah rambat retakan
Panjang retak awal





a Y K
II
x o ) sin( =
a K
II
x o ) sin( 12 . 1 =














































0 lim 2
0
= =

o x

r
I
r
II
II
r K
2
) 2 cos 2 cos 1 ( 2 A K
II II II II
II
- - x + + =
h/2
h
a
w
Melihat pada kondisi plastis yang terjadi maka metode penyelesaian yang paling mendekati
adalah elastc plastc fracture mecha3cs dengan pendekatan energi menggunakan J-
I3tegral. Formulasi intensitas tegangan diawali dengan persamaan dsplaceme3t, yakni
(Leung & Hu, 1997) :
(4.21)
Dengan persamaan penjelasnya adalah sebagai berikut :
(4.22)
Persamaan 4.22. disubtitusikan ke persamaan 4.21 sehingga menjadi :
(4.23)
Dimana :
(4.24)

Dengan mendiskritisasikan persamaan 4.23, maka akan diperoleh persamaan baru yakni :

(4.25)
Dimana :
(4.26)
Sehingga persamaan yang digunakan untuk menghitung stress 3te3sty fact4r adalah :


(4.27)
Dimana :
Modulus geser
k , kondisi pla3e stress
Panjang retak awal
G
II
Jumlah energi yang dilepaskan untuk mode II
Nilai energi didekati persamaan J-integral yakni :
(kondisi plane stress)
) ( - d c

, ) (
, ) (
c s c d r
c c d a
+ =
+ = t
1 0 ;
1 0 ;


s d r c
d a c t
), (
2
) 1 (
) ( ) , ( ) (
) (
1
0
1
1
0
1
s q
k
d g s K c d d
s
g

+
= +

x
t t t t
t
t
) 1 0 ( s

,
1
) (
1
t
t
t

=
II
G
g
) 1 0 ( t
), ( ) (
1
a g g = t ), ( ) ( r q s q = ), , ( ) , ( a r k s K = t

x
t
t
t
x
2
) 1 (
) ( ) , ( ) (
1
) (
1 2
1 1
k
s q s K c d
s
G
3

II
3

+
=

+
+

=
, 0 ) (
1 2
=
+ 3
% t , 0 ) (
2
=
3
s U
) 0 , ( ) ( 2 lim ) ( r c d a K
r
a r
II
t =

) 1 ( 2
1
2
II
G a
k +
=

v
v
+

1
3
,
2

K
J
II
=
Sehingga persamaan baru untuk mencari nilai stress 3te3sty fact4r adalah




(4.28)
Proses perhitungan yang dilakukan adalah untuk kondisi sebagai berikut :
0.1 mm
0.3
k 1.6
Untuk mengetahui besar nilai modulus geser () digunakan tabel perbandingan nilai
tambahan pada komponen kaca murni terhadap besar modulus geser seperti yang terdapat
pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.5. Perbandingan glass c4mp43e3t addt43 terhadap

Sumber : www.glassproperties.com
Sementara untuk menghitung nilai modulus Young`s, maka digunakan tabel perbandingan
nilai molaritas bahan dan besar modulus Young`s. Tabel ini membandingkan komponen
kaca tambahan dengan komponen dasar kaca.

K
a
k
K
II
II
2
2
1
2
+
=

a
k K

II
2
1
2
+
=

a
k
K
II
2 2
) 1 (

+
=
Tabel 4.6. Perbandingan glass c4mp43e3t addt43 terhadap










Sumber : www.glassproperties.com
Pipa jenis API 5L grade x-65 merupakan pipa dengan siIat mekanik yang cukup tinggi, dan
komponen unsur kimianya adalah sebagai berikut :
Tabel 4.7. Komposisi kimia pipa API 5L x-65
omposisi imia
1enis Sampel
API 5L x-65
0.09
Mn 1.6
P 0.015
S 0.005
Si 0.4
Nb 0.055
Ti 0.02
V 0.05
Ni 0.25
r 0.4
Sumber : Agus Solehudin
Dengan memperhatikan komposisi kimia pipa dan tabel 4.5 dan 4.6 maka dapat diketahui
harga modulus geser adalah sebesar 29.3 GPa sedangkan modulus Young`s adalah sebesar
68.4 GPa. Perhitungan nilai stress 3te3sty fact4r mode II kombinasi pada kasus ini adalah
sebagai berikut.

) 1 . 0 ( 2 ) 3 . 29 ( 2
) 6 . 1 1 ( 4 . 68 +
=
II
K


Melihat pada hubungan antara J-integral dan fracture t4ugh3ess (Yoda, 1980), maka dapat
dibuat persamaan sebagai berikut.




(4.30)

Sehingga perhitungan untuk mencari besar nilai fracture t4ugh3ess adalah :










786 . 6 =
II
K mm MPa


= =

;
K G J
IIc II II
3
) 1 ( 4
2
1
2
2

=
) 1 ( 4
3
2
2
2
;

G K
II IIc

=
) 1 ( 4
3
2
2
;

G K
II IIc

=
) 1 ( 4
3
2
2
;

G K
II IIc

=
) 1 ( 4
3
2
2
2
;

K
II
) 1 ( 4
6
2
2
;
K
II

=
) ) 3 . 0 ( 1 ( 4
) 786 . 6 ( 6
2
2

=
712 . 8 = mm MPa