Anda di halaman 1dari 18

1

The Indication of Moral Hazard in Financing: a Comparative Study between Islamic Bank and Conventional Bank in Indonesia 2003:1 2007:9

MB Hendrie Anto - Desti Setyowati Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Indonesia

Abstract

Moral hazard is built in character of financial contracts, including financing contract in banking. Moral hazard exists when there is asymmetry information and adverse selection among parties. Study on the possibility of moral hazard in Islamic bank often returned to the debates on the effectiveness of debt contract versus equity contract. Unfortunately, there is inconclusive result of this debate but moral and religious foundation of Islamic bank is expected to reduce moral hazard problems. It is hypothesized that the indication of moral hazard in Islamic bank is smaller than in conventional bank. This research is aim to study the indication of moral hazard in financing contract both in Islamic bank and conventional bank in Indonesia during 2003:1 2007:9 period. By implementing Error Correction Model (ECM) developed by Engle-Granger (1987), the result shows that in general Islamic banks indicate moral hazard more than the conventional one. Although its difference is relatively smooth, this finding must draw attention to stakeholders of Islamic bank. Keywords : moral hazard, financing, Islamic and conventional bank

LATAR BELAKANG
Istilah moral hazard kembali populer sejak terjadinya krisis keuangan di Asia tahun 1997. Kebijakan kredit bank dinilai kurang berhati-hati, sementara back up system yang disediakan bank sentral justru membuat bank semakin berani mengambil risiko dalam memberikan pinjaman (Morris, 1998). Program penjaminan IMF di Negara-negara berkembang juga dinilai sebagai faktor yang memperburuk situasi dan justru menyuburkan terjadinya moral hazard di negaranegara tersebut. Menurut Vaubel (1983) moral hazard berkembang ketika provisi dari asuransi memberikan kesempatan kepada pemegang polis asuransi bertindak

2 ceroboh sehingga memungkinkan terjadinya kondisi-kondisi buruk yang tidak diharapkan. Kondisi ini analog dengan sikap IMF yang memberikan bantuan pada negara-negara yang mengalami guncangan perekonomian sehingga justru menurunkan sikap kehati-hatian negara-negara tersebut dalam melawan krisis. Moral hazard juga terjadi sebagai akibat adanya asimetry information dan adverse selection. Kedua hal ini sangat biasa terjadi dalam financing contracts, bahkan merupakan built in character (Miskhin, 2001). Adalah tidak mungkin untuk mendapatkan informasi yang benar-benar simmetry, sebab financing contracts merupakan incomplete contract. Adanya asimmetry information ini pada gilirannya menyebabkan adverse selection yang kemudian melahirkan moral hazard. Berkembangnya moral hazard di perbankan konvensional tidak terlepas dari sistem operasionalnya dimana risiko tidak terdistribusi secara proporsional kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Resiko tidak tersebar secara merata antara pemilik dana, pengguna dana, serta pihak bank (Nasution, 2005). Resiko dibebankan pada salah satu pihak sehingga pihak tersebut akan terkunci dengan kerugian yang tidak proporsional seandainya terjadi resiko. Keberadaan sistem penjaminan pun tidak menjamin keamanan dana nasabah, bahkan sebaliknya (Khan dan Ahmed, 2001). Terdapat dugaan kuat bahwa masalah sebenarnya terletak pada sistem perbankan dan pendistribusian risiko menjadi hal yang penting sebagaimana hasil penelitian Eicengreen dalam Dreher (2004). Dalam pendistribusian risiko, bank syariah menawarkan konsep yang lebih baik dibandingkan dengan konvensional. Perbankan syariah menolak bunga yang merupakan pre-determined return dari uang dan mempromosikan profit and loss sharing (PLS). Secara teoritik, keberadaan PLS berimplikasi kepada risiko serta peluang moral hazard di perbankan sebab resiko menjadi tanggungan kedua pihak. Bank syariah dan nasabah akan dipaksa untuk menyusun suatu desain kontrak yang optimal bagi kedua belah pihak, sebab keduanya akan berbagai resiko maupun hasil (Williamson, 1987). Lebih jauh peran moral dan nilai Islam yang menjadi landasan operasional bank syariah seharusnya berperan penting, melebihi regulasi atau strategi apapun. Adanya moralitas dan nilai transendental ini banyak

3 diharapkan menjadi salah satu keunggulan dalam mengurangi problem moral hazard secara efektif (Mirakhor, 2007; Lewis, 2001). tinggi dibandingkan konvensional. Pengalaman perbankan nasional pada masa menghebatnya krisis ekonomi 1997- 1999 merupakan pelajaran berharga. Bank Muamalah Indonesia (BMI) tidak saja survive, tetapi mampu meningkatkan laba bersih 134 % setahun dengan peningkatan asset 14 % pada tahun 1999 ketika banyak bank konvensional colapse saat krisis moneter memuncak. BMI tidak banyak menghadapi tingginya non performing loan/financing (NPL/F) sebagaimana perbankan konvensional. NPL yang meningkat pada perbankan konvensional tidak saja disebabkan karena kemungkinan moral hazard tetapi juga oleh built in character sistem operasionalnya sendiri. Meskipun demikian, perkembangan empiris perbankan syariah beberapa waktu ini patut diperhatikan. Salah satunya adalah kecenderungan mengucurkan pembiayaan ke sektor yang secara natural dinilai rawan kredit macet (high risk) seperti properti/real estate. Saat ini bisnis properti di Indonesia juga banyak dinilai telah mendekati titik jenuh sehingga potensi NPLnya sangat besar. Padahal, sektor ini telah mulai ditinggalkan perbankan konvensional (Adiwarman, 2004). Banyaknya pembiayaan properti ini berpotensi meningkatkan non performing financing (NPF) perbankan syariah, sehingga seyogyanya dikurangi (Wibowo, 2007). Bahkan, meskipun prinsip syariah dalam perbankan berasal dari nilai-nilai ilahiah, namun ternyata tidak lepas dari masalah korupsi (Gunawan, 2005), Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (a) indikasi moral hazard dalam penyaluran dana pihak ketiga di bank umum konvensional dan bank syariah dalam jangka pendek maupun jangka panjang; serta (b) membandingkan moral hazard di bank syariah danndi bank konvensional dalam penyaluran dana pihak ketiga. Dengan demikian, komitmen untuk mencegah moral hazard pada bank syariah seharunya lebih

KAJIAN PUSTAKA Moral hazard dalam penyaluran dana pihak ketiga perbankan telah menjadi perhatian banyak peneliti. Ding Lu, et al (2001) dalam penelitiannya

4 yang berjudul The Link Between Behavior and Non Performing Loan in China, melihat hubungan antara kebijakan kredit bank dalam menyalurkan dana memiliki hubungan yang erat dengan besaran NPL. Pemberian kredit yang lebih tinggi kepada perusahaan daerah dan juga kebijakan bank untuk memberikan tambahan kredit untuk perusahaan-perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan berkontribusi besar pada non performing loan dan membuka kesempatan terjadinya moral hazard pada pihak debitur. Covitz, et al (2004) dalam penelitiannya yang berjudul Monitoring, Moral Hazard and Market Power: A Model of Bank Lending, melihat hubungan antara kekuatan pasar, suku bunga pinjaman dan sekaligus risiko bank yang tidak memberikan sistem pencegahan yang efektif bagi masalah moral hazard dalam hubungan bank dengan peminjam dan bank dengan jaminan pemerintah. Hasil ini mengindikasikan adanya hubungan ketergantungan berdasarkan intuisi dari parameter masalah moral hazard yang saling tumpang tindih. Dalam suatu kondisi pasar kredit ditemukan justru bank dengan kekuatan pasar yang besar cenderung mengalami masalah moral hazard yang tinggi dengan nasabah dibandingkan sikap moral hazard bank tersebut kepada jaminan pemerintah. Hal ini dikarenakan bank yang memiliki kekuatan pasar mengenakan tingkat bunga yang rendah dibandingkan dengan bank-bank pesaing lainnya. Dalam penelitian ini juga ditemukan tingkat kompetisi diantara bank akan mengakibatkan kondisi makroekonomi yang lebih fluktuatif karena membiarkan dengan mudah terjadinya moral hazard di sisi nasabah. Kittikulsingh (2002) mencoba melihat masalah NPL dari sisi nasabah. Dalam penelitiannya yang berjudul Non Performing Loans (NPLs): The Borrowers Viewpoint ketika tingkat bunga tinggi para pengusaha akan kesulitan untuk mengembalikan kreditnya. Lebih jauh Kittikulsingh melihat bahwa pada pertumbuhan GDP kurang dari 10%, setengah dari pinjaman akan macet dan total ekuitas dari sistem bank akan hilang. Wu, et al (2003) dalam penelitiannya yang berjudul Banking System, Real Estate Markets, and Non Performing Loans mencoba melihat hubungan antara sistem perbankan, pasar real estate dan non performing loan. Dalam penelitian ini mereka menduga adanya hubungan erat antara ketiga hal ini. Non Performing

5 Loan diduga disebabkan oleh tiga hal yaitu kondisi makroekonomi, kondisi pasar real estate dan kebijakan kredit dari bank dalam memberikan kredit. Jika kondisi makroekonomi dan pasar real estate baik, non performing loan semestinya lebih rendah. Namun jika pada kondisi tersebut NPL meningkat, berarti kemacetan disebabkan oleh risky lending behavior, dimana pihak bank tidak cukup hati-hati dalam menyalurkan kredit sehingga timbul moral hazard dikalangan nasabah. Non performing loan setidaknya menimbulkan permasalahan bagi pemilik bank, pemilik deposito dan juga kepada kondisi ekonomi secara keseluruhan. Pertama, untuk pemilik dana dengan semakin tingginya NPL mereka tidak menerima return pasar dari capital mereka. Kedua, untuk pemilik deposito tidak menerima return pasar dari deposito atau tabungan mereka. Bank membagi kegagalan kredit mereka kepada pemilik deposito dengan cara menekan tingkat bunga. Dalam kasus yang lebih buruk, jika bank mengalami kebangkrutan deposan akan kehilangan asset atau dihadapkan dengan penjaminan yang tidak seimbang. Bank juga membagi risiko kerugian mereka kepada debitur lain dengan cara menetapkan tingkat bunga yang lebih tinggi. Tingkat bunga deposito yang rendah dan suku bunga pinjaman yang tinggi akan menekan tabungan dan pasar keuangan, dan menghambat pertumbuhan ekonomi. Non performing loan akan mengakibatkan jatuhnya sistem perbankan, mengkerutnya pasar saham dan bahkan mengakibatkan kontraksi dalam perekonomian. Mustafa Edwin Nasution dan Ranti Wiliasih (2007) dalam penelitiannya yang berjudul Profit Sharing dan Moral hazard dalam Penyaluran Dana Pihak Ketiga Bank Umum Syariah di Indonesia. Berdasarkan Error Correction Model, untuk kasus Bank Syariah Mandiri (BSM) tidak ditemukan adanya indikasi moral hazard. Hal ini dikarenakan pembiayaan BSM lebih difokuskan kepada pembiayaan murabahah sehingga lebih berhati-berhati dalam melakukan maintenance terhadap pembiayaan ini. Sementara untuk BMI rasio alokasi pembiayaan murabahah terhadap pembiayaan profit loss sharing (mudharabah dan musyarakah) mengakibatkan terjadinya peningkatan kredit macet. Hal ini memberikan indikasi moral hazard di BMI, yaitu ketidakhati-hatian dari pihak BMI sehingga mengakibatkan terjadinya moral hazard di sisi debitur. Komposisi yang seimbang antara pembiayaan murabahah dan mudharabah, di duga

6 membuat BMI lebih memberikan pengawasan ekstra ketat untuk debitur pembiayaan musyarakah dan mudharabah, namun kurang waspada terhadap pembiayaan murabahah.

KERANGKA PENELITIAN DAN METODOLOGI Indikasi ada tidaknya moral hazard dalam penelitian ini dilihat dari hubungan antara NPL/NPF dengan beberapa faktor yang mempengaruhinya, yaitu kondisi makroekonomi yang direpresentasikan oleh GDP, kondisi pasar real estate yang direpresentasikan oleh perubahan harga rumah, serta kebijakan kredit bank direpresentasikan oleh rasio return dan rasio alokasi pembiayaan (Wu, Chang dan Selvili, 2003). Indikasi moral hazard terjadi jika NPL/F meningkat pada saat GDP meningkat. Idealnya, ketika GDP meningkat maka NPL/F menurun , sebab saat ekonomi makro meningkat kemampuan nasabah dalam memenuhi kewajibannya (capability to payback) meningkat sehingga NPL menurun. Peningkatan NPL/F pada saat GDP meningkat mengindikasikan kemungkinan moral hazard di mana bank kurang berhati-hati atau melakukan monitoring terhadap pembiayaannya. Indikasi moral hazard lainnya terjadi jika NPL/F meningkat pada saat harga rumah meningkat. Idealnya ketika harga rumah meningkat maka permintaan untuk kredit rumah akan menurun, jumlah penyaluran kredit rumah juga akan turun sehingga NPL/F turun. Indikasi moral hazard yang terakhir dapat dilihat dari kebijakan kredit atau pembiayaan bank yang berhati-hati atau kurang berhatihati sehingga menyebabkan terjadinya peningkatan NPL/NPF. Jika bank meningkatkan pembiayaan dan menyebabkan meningkatnya NPL/F maka dapai diduga terjadi moral hazard. Peningkatan pembiayaan seharusnya diikuti oleh suatu prudential practice sehingga tidak terjadi kenaikan NPL.

Gambar 1 Kerangka Penelitian

Indikasi Moral Hazard

Kredit/Pembiayaan Bermasalah

Faktor Ekstern (GDP)

Faktor Ekstern (Perubahan Harga Rumah)

Faktor Intern (Kebijakan Kredit/Pembiayaan)

NPL

NPL

NPL

NPL

NPL

NPL

Indikasi Moral Hazard

Tidak terdapat Moral Hazard

Indikasi Moral Hazard

Tidak terdapat Moral Hazard

Indikasi Moral Hazard

Tidak terdapat Moral Hazard

Untuk mengetahui

hubungan antara NPL/F dengan variabel-variabel yang

mempengaruhinya tersebut digunakan regresi Error Correction Model (ECM) yang pertama kali diperkenalkan oleh Sargan dan kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Henry dan akhirnya dipopulerkan oleh Engle-Granger (RF Engle and CW Granger, 1987). Model ini memiliki keunggulan dalam mengatasi masalah stasionaritas dan regresi lancung dalam time series data, serta mengukur hubungan jangka pendek dan jangka panjang (Thomas, 1997).

8 Persamaan ECM dalam penelitian ini diformulasikan sebagai berikut: DNPL = 0 + 1 DGDP + 2 D P + 3 DCW + 4 DRC + 5 ECT Dimana : DNPL DGDP DP DCW DRC ECT = NPL NPLt-1 = GDP GDPt-1 = P Pt-1 = CW CWt-1 = RC RCt-1 = Error Correction Term = Koefisien regresi ECM jangka pendek

1, 2, 3, 4, 5
NPL GDP P CW

: Non performing loan/financing : Produk domestik bruto : Harga rumah : Rasio suku bunga kredit konsumsi terhadap suku bunga kredit

modal kerja untuk bank konvensional, atau rasio margin murabahah terhadap profit loss sharing mudharabah untuk bank syariah RC : Rasio jumlah pinjaman real estate terhadap jumlah pinjaman konstruksi untuk bank konvensioal, atau rasio pembiayaan murabahah terhadap pembiayaan mudharabah untuk bank syariah. Penentuan bentuk linear atau non linear dari model mengikuti prosedur yang dikembangkan oleh McKinnon, White dan Davidson (1983) atau MWD test, sementara pengujian stasionaritas mengikuti Dickey-Fuller (DF) dan Augmented Dickey-Fuller (ADF). Pengujian Regression Durbin Watson (CRDW). kointegrasi mengikuti metode yang dikembangkan oleh Durbin-Watson (1991) yang dikenal dengan Cointegrating

HASIL DAN ANALISIS Berdasarkan hasil MWD test dapat disimpulkan bahwa baik model linier maupun nonlinier dapat digunakan. Penelitian ini menggunakan model log linear.

Tabel 1 Uji MWD untuk Bank Konvensional Variabel B. Konvensinal t-hitung Z1 Z2 Prob. -0.442688 0.6599 B. Syariah t-hitung 3.289243 Prob. 0.0018

-1.430338 0.1588 -4.016064 0.0002

Hasil pengujian stasionaritas menunjukkan bahwa data tidak stasioner pada tingkat level, tetapi stasioner pada derajat integrasi pertama. Semua data juga menunjukkan adanya hubungan jangka panjang, sebagaimana ditunjukkan oleh hasil uji kointegrasi. Tabel 2 Hasil Estimasi Uji Tingkat Derajat Integrasi Pertama Bank Konvensional B. Konvensional Nilai kritis Nilai hitung t-statistik Variabel LOG(NPL) LOG(GDP) LOG(P) LOG(CW) LOG(RC) ADF -6.834506 -3.115160 -8.388231 -7.465489 -6.804174 Mackinon = 5% ADF -2.915522 -2.918778 -2.918778 -2.915522 -2.915522 ADF -8.445991 -3.115160 -8.388231 -8.376184 -4.465381 B. Syariah Nilai hitung t-statistik Nilai kritis Mackinon = 5% ADF -2.915522 -2.918778 -2.918778 -2.915522 -2.919952

Sumber : Hasil Eviews Tabel 3 Nilai Regresi Uji Kointegrasi Bank Konvensional Persamaan Kointegrasi B. Konvensional B. Syariah Sumber : hasil EViews CRDW Hitung 0.585614 0.711986 CRDW Tabel : 5% 0,39 0,39

10 Dengan kondisi data seperti di atas maka penggunaan model ECM yang dikembangkan oleh Engle-Granger (1987) adalah tepat. Koefisien ECT dalam hasil juga signifikan (pada =10% (bank konvensional) dan = 5% (bank syariah)) yang berarti model ini cukup sahih untuk menjelaskan hubungan antar variabel dalam jangka panjang maupun pendek (Insukindro, 1993: 12-16). Hasil olah data disajikan dalam table berikut : Tabel 4 Hasil Estimasi Model ECM Bank Konvensional
Dependent Variable: D(LOG(NPL)) Variable C D(LOG(GDP)) D(LOG(P)) D(LOG(CW)) D(LOG(RC)) ECT R-squared Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient -0.016168 0.881382 0.003933 -0.172785 0.046801 -0.160828 0.077214 62.95330 1.736266 Std. Error 0.014667 0.731713 0.025673 0.467601 0.197228 0.094353 t-Statistic -1.102339 1.204545 0.153190 -0.369513 0.237291 -1.704542 Prob. 0.2757 0.2342 0.8789 0.7133 0.8134 0.0946 -0.005784 0.820014 0.541399

Mean dependent var F-statistic Prob(F-statistic)

Sumber: Hasil EViews Tabel 5 Hasil Estimasi Model Dinamis ECM Bank Syariah
Dependent Variable: D(LOG(NPF)) Variable C D(LOG(GDP)) D(LOG(P)) D(LOG(MP)) D(LOG(RF)) ECT R-squared Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient -0.007849 1.086618 -0.028398 0.379796 -0.399025 -0.319971 0.223955 50.17539 2.020048 Std. Error 0.018157 0.912716 0.034492 0.211739 0.398444 0.110188 t-Statistic -0.432304 1.190533 -0.823322 1.793698 -1.001457 -2.903879 Prob. 0.6674 0.2396 0.4143 0.0790 0.3215 0.0055 0.008218 2.828133 0.025412

Mean dependent var F-statistic Prob(F-statistic)

Sumber: Hasil EViews

11 Secara umum hasil regresi cukup fit, terutama untuk jangka panjang. Nilai R2 untuk kedua model agak rendah untuk model jangka pendek, tetapi meningkat untuk model jangka panjang. Rendahnya nilai R2 pada model jangka pendek kemungkinan disebabkan karena kredit atau pembiayaan perbankan sifatnya jangka panjang sehingga kontribusi variabel independen dalam menjelaskan variasi NPL relatif kecil. Tabel 6 Regresi Log Linier Jangka Panjang Bank Konvensional
Dependent Variable: LOG(NPL) Variable C LOG(GDP) LOG(P) LOG(CW) LOG(RC) R-squared Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient -6.461294 0.632382 -0.014053 -2.164192 -0.176958 0.478023 35.83201 0.585614 Std. Error 1.656892 0.127333 0.034288 0.346801 0.157087 t-Statistic -3.899647 4.966365 -0.409848 -6.240436 -1.126495 Prob. 0.0003 0.0000 0.6836 0.0000 0.2652 1.901962 11.67636 0.000001

Mean dependent var F-statistic Prob(F-statistic)

Sumber : hasil Eviews Tabel 7 Regresi Log Linier Jangka Panjang Bank Syariah
Dependent Variable: LOG(NPF) Variable C LOG(GDP) LOG(P) LOG(MP) LOG(RF) R-squared Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient -23.08333 1.735976 -0.026684 0.417958 0.776780 0.763548 30.45729 0.711986 Std. Error 3.485625 0.225877 0.037835 0.172754 0.416640 t-Statistic -6.622435 7.685504 -0.705282 2.419377 1.864393 Prob. 0.0000 0.0000 0.4838 0.0192 0.0680 1.338979 41.17206 0.000000

Mean dependent var F-statistic Prob(F-statistic)

Sumber : hasil EViews Pada bank konvensional, GDP dalam jangka pendek tidak berpengaruh terhadap NPF, tetapi dalam jangka panjang berpengaruh. Hal ini berarti bahwa

12 dalam jangka pendek indikasi moral hazard tidak nampak, tetapi dalam jangka panjang nampak. Hal yang sama juga terlihat dalam bank syariah, di mana koefisiennya lebih tinggi dibandingkan dengan bank konvensional. Peningkatan kegiatan ekonomi kurang diikuti oleh kehati-hatian bank dalam menyalurkan pembiayaan serta monitoring pembiayaan yang berjalan sehingga memberikan kesempatan terjadinya moral hazard. Indikasi moral hazard tidak terlihat dari hubungan antara kondisi pasar real estate dengan NPL dalam jangka pendek maupun jangka panjang untuk kedua bank. Pada umumnya pembiayaan real estate memiliki potensi kredit macetnya besar sehingga banyak bank yang enggan untuk menyalurkan kredit/pembiayaannya ke sektor tersebut. Pembiayaan real estate pada umumnya tidak mendominasi portofolio pembiayaan bank sehingga perubahan harga rumah (kondisi pasar real estate) tidak mempengaruhi NPL/NPF. Perubahan kebijakan kredit yang tercermin dari rasio suku bunga kredit konsumsi terhadap suku bunga kredit modal kerja tidak berpengaruh terhadap NPL di bank konvensional sehingga mengindikasikan tidak adanya moral hazard. Tetapi, dalam jangka panjang variabel ini signifikan sehingga mengindikasikan adanya moral hazard, karena penurunan tingkat bunga kredit konsumsi ternyata menyebabkan kenaikan NPL. Penurunan tingkat bunga seharusnya akan meningkatkan capability to payback nasabah sehingga NPL menurun. Kemungkinan bank melakukan adverse selection pada saat memilih nasabah sehingga penurunan tingkat bunga tidak mampu menaikkan capability to payback sehingga NPL justru naik. Untuk bank syariah rasio margin murabahah terhadap profit loss sharing mudharabah dalam jangka pendek maupun panjang berpengaruh positif terhadap NPL sehingga mengindikasikan moral hazard. Idealnya hubungan keduanya negatif di mana semakin tinggi return yang dihasilkan maka NPF-nya akan semakin menurun, sementara risiko murabahah juga lebih kecil dibandingkan dengan risiko mudharabah. Return dari pembiayaan murabahah relatif terhadap mudharabah semakin tinggi pada tahun 2007 sehingga kemungkinan menyebabkan bank syariah kurang fokus dan berhati-hati dalam mengelola pembiayaan mudharabah dan murabahah..

13

Tabel 8 Return yang dihasilkan Bank Syariah Tahun 2007 Tahun bulan Margin Murabahah Juta Rp 2007 1 2 3 4 5 6 7 8 9 170167.5185 103925.6296 92974.85185 211190.5926 255415.4815 299524.9259 343518.9259 387397.4815 431160.5926 Pendapatan Bagi hasil Mudharabah Juta /Rp 141463.4074 86928.51852 76570.07407 168658.4444 202950.1111 237715.4444 272954.4444 308667.1111 344853.4444

Sumber: Laporan Publikasi Bank Muamalat Indonesia, 2007 Variabel rasio jumlah pinjaman real estate terhadap jumlah pinjaman konstruksi untuk bank konvensional dan rasio pembiayaan murabahah terhadap pembiayaan mudharabah untuk bank syariah dalam jangka pendek tidak berpengaruh terhadap NPL. Dalam jangka panjang variabel ini juga tidak berpengaruh terhadap NPL bank konvensional, sebaliknya berpengaruh positif terhadap NPL bank syariah. Hal ini mengindikasikan adanya moral hazard di bank syariah dalam jangka panjang. Kebijakan kredit tidak berpengaruh terhadap NPL bank konvensional dikarenakan kredit perumahan (real estate dan konstruksi) bersifat jangka panjang serta bukan merupakan kredit yang paling dominan disalurkan oleh bank konvesional. Sementara bank syariah porsi pembiayaan perumahan terhadap portofolio pembiayaannya relatif besar sehingga dalam jangka panjang berpengaruh terhadap NPF. Seharusnya meningkatnya porsi murabahah akan menurunkan NPL, sebab secara natural resiko murabahah lebih rendah dibandingkan dengan mudharabah. Karenanya, kenaikan porsi pembiayaan murabahah yang diikuti oleh naikknya NPL mengindikasikan kemungkinan moral hazard.

14

Tabel 9 Jumlah Penyaluran Pembiayaan di Bank Syariah Tahun 2007 Tahun bulan Pembiayaan Murabahah Juta / Rp
2007 1 2 3 4 5 6 7 8 9 12487025 12645295 12769755 12992588 13340117 13936084 14370147 14768565 15283720

Pembiayaan Mudharabah Juta / Rp


4006756 4000939 4132872 4323222 4432463 4686835 4855228 5029130 5246620

Sumber: Laporan Publikasi Bank Indonesia, 2007 Perbandingan Indikasi Moral Hazard Secara umum indikasi terjadinya moral hazard pada kedua bank dapat diperbandingkan sebagai berikut: Tabel 10 Moral Hazard di Bank Konvensional dan Bank Syariah Variabel Jangka Pendek
D(LOG(GDP)) D(LOG(P)) D(LOG(CW)) /D(LOG(MP)) D(LOG(RC)) / D(LOG(RF)) Jangka Panjang LOG(GDP) LOG(P) LOG(CW)/LOG(MP) LOG(RC) / LOG(RF) Indikasi Moral Hazard Tidak Berpengaruh Tidak Terdapat Indikasi Moral Hazard Tidak Berpengaruh Indikasi Moral Hazard Indikasi Moral Hazard Tidak Berpengaruh Indikasi Moral Hazard Tidak Berpengaruh Tidak Berpengaruh Tidak Berpengaruh Tidak Berpengaruh Tidak Berpengaruh Tidak Berpengaruh Indikasi Moral Hazard Tidak Berpengaruh

Bank Konvensional

Bank Syariah

Indikasi moral hazard

ternyata lebih banyak terjadi di bank syariah

dibandingkan dengan bank konvensional. Hal ini bertentangan dengan hipotesis

15 bahwa bank syariah melakukan moral hazard lebih kecil atau sedikit daripada bank konvensional. Adanya fakta ini kemungkinan disebabkan beberapa hal berikut :Meskipun perbedaannya tidak begitu besar, tetapi hal ini patut menjadi perhatian bersama setidaknya karena beberapa pertimbangan berikut : Bank syariah memiliki keunggulan konsep operasional, terutama melalui sistem LPS (mudharabah, musyarakah) yang merupakan built in system untuk mencegah moral hazard pada sisi bank maupun nasabah. Karenanya, adanya indikasi moral hazard pada perbankan syariah ini menunjukkan bahwa bank syariah belum mampu mengoptimalkan keunggulan konsep operasionalnya. Bank syariah masih terjebak pada praktek operasional sebagaimana bank konvensional untuk berburu fixed income yang pada dasar debt based financing sebagaimana perbankan konvensional. Banyak bank syariah yang kini justru banyak mengembangkan pembiayaan yang secara natural high risk, seperti pembiayaan real estate, yang telah mulai ditinggalkan oleh bank-bank konvensional (Adiwarman, 2004; Wibowo, 2007). Pembiayaan seperti ini kebanyakan dilakukan dengan sistem murabahah yang memang merupakan sistem yang paling mudah diterapkan, sementara real estate murapakan obyek jual beli yang dipandang profitable. Bank syariah juga sangat ekspansif dalam pembiayaan sektor riel sehingga potensi menghadapi NPL/F juga tinggi, sebagaimana ditunjukkan oleh FDR yang relatif tinggi. Tingginya FDR tentu merupakan hal positif sebab menunjukkan kuatnya fungsi intermediasi. Tetapi, hal ini akan menjadi permasalahan seandainya tidak diikuti oleh prudential banking practice (Rangkuti, 2004). Diversifikasi pengelolaam dana tentu saja akan mengurangi resiko secara umum, termasuk NPL/F.

SIMPULAN Penyaluran dana kepada pihak ketiga pada perbankan syariah menunjukkan adanya indikasi moral hazard yang lebih tinggi dibandingkan dengan perbankan konvensional. Meskipun perbedaan keduanya kecil, tetapi perhatian besar harus diberikan karena beberapa pertimbangan berikut :

16 Perbankan syariah di Indonesia adalah infant industry namun banyak diharapkan dapat memberikan berbagai solusi konstruktif untuk pembangunan ekonomi. Mengurangi moral hazard problems merupakan bagian penting pada posisi seperti ini, sebaliknya kejadian moral hazard akan memperburuk citra yang dapat menganggu perkembangan jangka panjang. Ketiadaan sistem penjaminan nasional serta sistem hukum dan regulasi yang memadai, sebagaimana dalam konvensional, dapat menempatkan perbankan syariah pada posisi yang rumit seandainya terjadi moral hazard. Keberadaan sistem penjaminan memang tidak menjamin berkurangnya moral hazard, bahkan sebaliknya (Khan dan Ahmed, 2001). Tetapi, resiko yang dihadapi oleh perbankan syariah akan lebih besar jika moral hazard terjadi. Dengan pertimbangan ini maka berbagai upaya harus dilakukan, baik melalui perbaikan manajemen pembiayaan maupun manajemen resiko. Adanya incentive compatible contract mutlak diperlukan. Peningkatan porsi LPS dalam portofolio pembiayaan sangat penting, sebab sistem LPS ini menuntut standard moral yang tinggi dari bank dan nasabah. Ketiadaan sistem penjaminan nasional seharusnya menjadi insentif bank syariah untuk lebih bagus dalam monitoring kinerjanya dibandingkan bank konvensional (Errico and Farahbasksh, 1998). Selain itu, bank syariah harus mengoptimalkan peranan moral dan nilai Islam. Adanya moralitas dan nilai transendental ini banyak diharapkan menjadi salah satu keunggulan dalam mengurangi problem moral hazard secara efektif (Mirakhor, 2007; Lewis, 2001). Moral dan nilai Islam ini akan menjadi efective built in system dalam mencegah moral hazard dibandingkan regulasi atau sistem apapun.

17

DAFTAR PUSTAKA
Adiwarman. (2004), BI Intensifkan Pengawasan terhadap Perbankan Syariah. Kompas. Internet. Anonim. Laporan Perkembangan Perbankan Syariah Indonesia. Direktorat Perbankan Syariah. Bank Indonesia. ______. Laporan Perbankan Indonesia 2003-2007. www.bi.go.id ______. Laporan Keuangan Publikasi BMI. www.bi.go.id ______. Laporan Statistik www.bi.go.id Perbankan Syariah Indonesia 2003-2007.

______. Peraturan Bank Indonesia No.8/24/PBI/2006. www.bi.go.id Covitz, Daniel and Erick Hetfield. (2004), Monitoring, Moral Hazard and Market Power: A Model of Bank Lending. Internet. Ding Lu, Shandre, Qing Hu. (2001), The Link Between Behavior and Non Performing Loan in China. Internet. Dreher, Axel. (2004), Does the IMF cause Moral Hazard? A Critical review of the evidence. Internet. Errico, Luca and Mitra Farabasksh. (1998), Islamic Banking: Issues in Prudential Regulations and Supervision, IMF Working Paper 30, Washington: IMF Insukindro. (1993), Ekonomi Uang dan Bank. BPFE, UGM, Yogyakarta. Khan, Tariqullah dan Habib Ahmed. (2001), Risk Management an Analysis of Issues in Islamic Financial Industy. Islamic Research and Training Institute, Islamic Development Bank. Kittikulsingh, Suthep. (2002), Non Performing Loans (NPLs): The Borrowers Viewpoint. Internet. Lewis K, Mervyn and Latifa M Algaoud. (2001), Islamic Banking, Cheltenham, UK : Edward Elgar Mirakhor, Abbas. and Zamir Iqbal. (2007), Introduction to Islamic Finance, Singapore: John Willey & Sons.

18 Morris, Goldstein. (1998). The Asian Financial Crisis. Policy Brief 98-1. Institute for International Economics. Internet. Nasution, Mustafa Edwin. (2005), Moral Hazard dalam Perbankan Syariah. Paper. Jakarta. Nasution, Mustafa Edwin dan Ranti Wiliasih, (2007), Profit Sharing dan Moral Hazard dalam Penyaluran Dana Pihak Ketiga Bank Umum Syariah Di Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Vol. VII No. 02, hal 105-129. RF Engle and CWJ Granger. (1987), Cointegrating and Error Correction: Representation, Estimation, and Testing, Econometrica, vol 55 Thomas, RL. (1997), Modern Econometrics: an Introduction, Harlow: Addison Wesley. Setiawan, Azis Budi. (2006), Perbankan Syariah; Challenges and Opportunity untuk Pengembangan di Indonesia. Jurnal Kordinat, Edisi: Vol. VIII No.1. Internet. Wibowo, Drajat. (2007). Biayai Properti, NPF Bank Syariah Naik. Republika. Internet. Williamson, SD. (1987), Recent Development in Modelling Financial Intermediation, in Lewis K, Mervyn and Latifa M Algaoud. (2001),, Islamic Banking, Cheltenham, UK : Edward Elgar Wu, Chang dan Selvili. (2003), Banking System, Real Estate Markets, and Non Performing Loans. Internet.