Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang
Di negara-negara tropis seperti di Indonesia, iklim sering menjadi masalah.
Kondisi udara yang panas dan kelembaban udara yang tinggi membuat suasana
yang tidak nyaman. Pada dasarnya, manusia cenderung leih senang berada disuatu
tempat yang terasa nyaman untuknya. Kenyamaan bukanlah suatu hal yang bisa di
dapat begitu saja, perlu adanya suatu usaha agar kita mendapatkan kenyamanan
tersebut. Sebagai contoh, apabila kita ingin mendapatkan lingkungan yang
nyaman maka kita harus menjaga kebersihannya atau memelihara kesejukannya
dengan menanam pohon. Untuk menjaga agar lingkungan tetap sejuk terutama
pada suatu kelas atau gedung diperlukan EIIisiensi system tata udara dapat
dilakukan antara lain dengan cara memperkecil beban pendinginan (Cooling
Load) atau pemilihan sistem dan kontrol tata udara yang tepat. Hal ini merupakan
suatu alasan untuk pengkondisian udara dalam sebuah gedung. Pengkondisian
udara adalah jumlah panas yang harus dipindahkan dari ruangan yang
dikondisikan ke tempat lain oleh mesin pendingin. Beban pendinginan (Cooling
Load) dari suatu bangunan gedung yang dikondisikan terdiri dari beban internal
yaitu beban yang ditimbulkan oleh lampu, penghuni serta peralatan lain yang
menimbulkan panas, dan beban external yaitu panas yang masuk dalam bangunan
akibat radiasi matahari dan konduksi melalui selubung bangunan. Untuk
membatasi beban external, selubung bangunan dan bidang atap merupakan
elemen bangunan yang penting yang harus diperhitungkan dalam penggunaan
energi. Terdapat beberapa step yang dilakukan dalam usaha pengkondisian udara
dalam sebuah ruang bangunan seperti pada step pertama adalah menghitung beban
pendinginan (cooling load) pada ruangan yang dikondisikan. Step kedua adalah
menghitung saluran udara. Step ketiga adalah melakukan pemilihan unit mesin
pengondisian udara (AC). Step terakhir adalah melakukan pemilihan alat
pendukung (exhaust Ian, air curtain dan lain-lain). Perhitungan beban pendinginan
merupakan langkah utama dalam perancangan suatu sistem air conditioning.,
karena apabila tidak tepat akan mengakibatkan beban pendinginan tidak dapat
diatasi, dan kenyamanan udara yang direncanakan tidak sesuai. Oleh karena itu air
conditioning memerlukan perhitungan beban pendinginan yang tepat sesuai
dengan beban di ruangan, sehingga pemanIaatannya menjadi eIektiI. Pada laporan
ini pengukuran cooling load dilakukan pda ruang siding teknik Iisika.

1.2 Permasalahan
Dalam laporan ini terdapat beberapa permasalahan antara lain adalah
sebagai berikut :
3

O Bagaimana menentukan besarnya beban pendinginan (cooling load) dan


banyak nya saluran udara dalam ruang sidang Teknik Fisika FTI-ITS
Surabaya.
O Bagaimana merekomendasikan Air Conditioning (AC) dan beberapa
kompenen pendukungnya yang tepat digunakan pada ruang sidang Teknik
Fisika FTI-ITS Surabaya.

1. 3 Tujuan
Laporan penelitian ini dilakukan dengan beberapa tujuan yang akan
dicapai antara lain, sebagai berikut :
O emperoleh kondisi udara nyaman dalam ruang sidang Teknik Fisika
FTI-ITS Surabaya.
O PemanIaatan Air Conditioning (AC) secara eIektiI dan eIisian dengan
perhitungan cooling load pada ruang sidang Teknik Fisika FTI-ITS
Surabaya.

1.4 Batasan Masalah
Dalam laporan ini terdapat beberapa batasan masalah yang diambil dalam
penghitungan beban pendinginan (cooling load) adalah sebagai berikut :
O umlah orang yang terdapat dalam ruangan ruang sidang Teknik Fisika FTI-
ITS Surabaya adalah 50 orang
O Komponen yang diperhitungkan dalam penyumbangan beban panas yang
besar antara lain dinding ruangan, kaca, atap, radiasi matahari, lampu, orang
(asumsi ), dan ventilasi.
O Komponen AC sebelumnya dianggap tidak ada karena akan ditentukan berapa
banyak AC yang diperlukan dalam ruang sidang Teknik Fisika FTI-ITS
Surabaya.













4

BAB II
DASAR TEORI

Sistem Pendingin Air Conditioner (AC) merupakan :suatu komponen/peralatan
yang dipergunakan untuk mengatur suhu, sirkulasi, kelembaban dan kebersihan
udara didalam ruangan. Air Conditioner (AC) mempertahankan kondisi udara
baik suhu dan kelembabannya agar nyaman dengan cara sebagai berikut :
Pada saat suhu ruangan tinggi AC akan mengambil panas dari udara
sehingga suhu ruangan turun, dan sebaliknya ketika suhu ruangan rendah AC
akan memberikan panas ke udara sehingga suhu udara akan naik.
Bersamaan dengan itu kelembaban udara juga dikurangi sehingga
kelembaban udara dipertahankan pada tingkat yang nyaman. Fungsi Sistem
AC Sistem Air Conditioner ( AC ) digunakan untuk membuat temperatur
udara di dalam suatu ruangan menjadi nyaman. Apabila suhu pada suatu
ruangan terasa panas maka udara panas ini diserap sehingga temperaturnya
menurun. Apabila udara dalam ruangan lembab maka kelembaban akan
dikurangi sehingga udara dipertahankan pada tingkat yang menyenangkan.
Udara lembab pada kendaraan menyebabkan kondensasi yang dapat
menghalangi pandangan. Dengan menghidupkan sistem AC maka kondensasi
ini dapat dihilangkan, karena udara yang dikeluarkan dari sistem AC adalah
udara kering. Selain itu udaranya bersih karena sudah melewati sistem
penyaringan.
Suatu AC memiliki beban pendinginan terutama waktu di pakai di suatu
ruangan yaitu beban pendinginan (cooling load) dimana Perhitungan beban
pendinginan merupakan dasar untuk memilih peralatan pengkondisian udara yang
akan digunakan. Berdasarkan hal di atas maka beban pendinginan pada sistem air
conditioning dapat di bagi dua berdasarkan sumber panas, yaitu : beban
pendinginan dari luar ruangan meliputi beban pendinginan melalui dinding,
beban pendinginan melalui atap, dan beban pendinginan melalui lantai serta
beban pendinginan dari dalam ruangan meliputi : beban pendinginan dari
manusia, beban pendinginan dari lampu, beban pendinginan dari ventilasi udara,
beban pendinginan dari inIiltrasi udara dan beban pendinginan dari sumber lain
(benda yang memiliki konduktivitas panas). Faktor-Iaktor yang mempengaruhi
sistem penyejuk udara dalam gedung antara lain:
O Tempat gedung itu berada, beserta keadaan lingkungannya.
O Iklim ditempat gedung berada.
O enis kontruksi bangunan yang dipakai.
O Orientasi gedung yaitu arah sumbu bangunan.
O Panas berasal dari struktur.
O Panas berasal dari peralatan listrik.
3

O Panas dari pengunjung (metabolic heat).


O Panas dari udara ventilasi dan inIiltrasi.

Perhitungan pembebanan energi suatu gedung berdasarkan sumber-sumber kalor
dari luar gedung maupun kalor yang bersumber dari dalam gedung itu sendiri.
Kalor yang berasal dari luar gedung antara lain:
O Konduksi melalui dinding, pintu, atap, dan lantai.
O EIek rumah kaca (green house effect) karena adanya jendela kaca.
O Panas radiasi sinar matahari.
Kalor yang bersumber dari dalam gedung antara lain:
O Panas yang dihasilkan oleh penghuni.
O Panas yang dikeluarkan lampu.
O Panas yang dibangkitkan oleh alat-alat lain.
O Sumber panas lainnya berupa kerugian pada ducting (saluran udara), Ian,
pompa, bocoran udara, dan lain-lain.

2.1 Metode Perhitungan Beban Pendinginan
Perhitungan beban pendingin harus dilakukan dengan menggunakan metode dan
prinsip yang sudah baku dan diakui oleh masyarakat proIesi tata udara.
Penggunaan program atau perangkat lunak komputer sangat dianjurkan untuk
perhitungan beban pada gedung yang besar dan/atau kompleks. Namun program
atau perangkat lunak komputer harus sudah teruji baik oleh masyarakat proIesi
tata udara, atau telah digunakan secara komersial.
2.2.1 Metode Perbedaan Temperatur Ekivalen Total (1otal Equivalent
1emperature Difference Method 1E1D
Prosedur perhitungan dari metode ini terdiri dari dua langkah, yaitu :
Langkah pertama : menghitung besarnya penambahan kalor
Langkah kedua : menghitumg besarnya beban pendinginan
2.2.2 Metode Fungsi Transfer (1ransfer Function Method 1FM
Prosedur perhitungan dari metode ini terdiri dari dua langkah, yaitu :
Langkah pertama : menghitung besarnya penambahan kalor.
Langkah kedua : menentukan konversi dan penambahan kalor menjadi
beban pendinginan.


6

2.2.3 Metode perbedaan temperatur beban pendinginan (ooling Load


1emperature Difference Method L1D)
Prosedur perhitungannya menempuh hanya satu langkah, yaitu menggunakan
metode perbedaan temperatur beban pendinginan (CLTD), Iaktor beban
pendinginan karena matahari ($olar Cooling Load Factor $CL)I dan Iaktor
beban pendinginan internal (Internal Cooling Load Factor CLF).
2.3 Perhitungan ooling Load
Berikut akan di jelaskan secara rinci bagian-bagian yang mempengaruhi tingginya
nilai cooling load pada sebuah gedung.
2.3.1 Beban Panas External
Beban Panas External untuk seluruh gedung akibat konduksi, radiasi dan konveksi
dapat dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:
A. Konduksi
Pada Atap, Dinding dan Kaca
= I
c
(Pers. 2.1)
Dimana:
A : Luas atap, dinding, kaca (It)
U : KoeIisien perpindahan panas pada Atap, Dinding dan Kaca (
1
R1
)
Fc : Iaktor koreksi
RT : Resistansi Termal, (untuk atap pada tabel 3.4.5 hal 23, untuk dinding
pada tabel 3.4.5 hal 23 dan untuk Kaca pada tabel 3.4.5 hal 23 ASHRAE
Fundamental Handbook
CLTD

: Cooling Load Temperatur DiIIerential, dapat dilihat pada tabel 5 hal. 26
ASHRAE Fundamental(CLTD
roof
, CLTD
glass
dan CLTD
wall
)
Pada Partisi, Langit-langit dan Lantai
= A
c
(Pers. 2.2)
Dimana:
A : Luas partisi, langit-langit dan lantai (It).
AT : Temperatur outdoor temperatur indoor (F).


7

B. Radiasi
Untuk ruangan yang banyak menggunakan kaca, radiasi sinar matahari
merupakan beban panas sensibel yang cukup besar. Besar kecilnya panas akibat
radiasi dipengaruhi oleh :
O Letak gedung terhadap mata angin.
O Keadaan disekitar gedung.
O Sudut datang sinar matahari dan lamanya penyinaran
Persamaan yang digunakan :
=
c
E I
c
(Pers. 2.3)
Dimana:
A : Luas Kaca
Sc : Shading CoeIisien (KoeIisien bayangan) dari tabel 26, 33,36, hal
27, ASHRAE Fundamental Handbook
SHGF : Solar Heat Gain Factor (Iaktor tambahan radiasi panas
maksimum) tabel 11, hal 26, ASHRAE Fundamental Handbook
CLF : Cooling Load Factor ( Faktor beban pendingin)dari tabel 13,hal
26 ASHRAE Fundamental Handbook)
. Ventilasi
'entilasi adalah aliran udara luar yang disengaja dimasukkan kedalam
ruangan dengan tujuan memenuhi kebutuhan udara segar untuk penghuni ruangan
dan untuk menghilangkan bau-bau yang terdapat dalam ruangan. InIiltrasi adalah
aliran udara yang tidak dikehendaki masuk kedalam ruangan yang dikondisikan.
InIiltrasi dapat terjadi melalui celah-celah pintu jendela dan melalui pintu dan
jendela yang sering dibuka.
Penambahan Panas Sensible
Persamaan yang digunakan :
Qs 1,232 (L/S) AT (Pers. 2.4)
Dimana:
L/S : umlah udara ventilsi dan inIiltrasi
AT : Perbedaan temperatur

8

Penambahan Panas Laten


Persamaan yang digunakan :
Ql 3012 (L/S) AW (Pers. 2.5)
Dimana:
AW : Perbedaan kelembaban luar/dalam

2.3.2 Beban Panas Internal
Beban Panas Internal untuk seluruh gedung akibat penghuni, lampu dan
peralatan, dapat dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:
A. Penghuni
Panas yang dihasilkan tubuh manusia disebabkan karena proses oksidasi
didalam tubuh ini dikeluarkan secara :
O Radiasi dari permukaan tubuh kepermukaan sekitar
O Konveksi dari pernapasan keudara sekitarnya
O Penambahan panas yang diakibatkan oleh penghuni ruangan ada 2, yaitu :
Penambahan Panas Sensibel
Persamaan yang digunakan :
Qs No . SHG. CLF (Pers. 6)
Dimana:
No :


n : umlah Orang Dalam Ruangan
A : Luas lantai (It
2
)
SHG : Sensible Heat Gain dalam Btu/h
CLF : cooling load factor (untuk orang)
Penambahan Panas Laten
Persamaan yang digunakan :
Ql No. LHG (Pers. 7)
Dimana:
LHG : Laten Heat Gain dalam Btu/h (penambahan panas laten dari
penghuni)
9

B. Lampu
Persamaan yang digunakan :
Q I . CLF (Pers. 2.8)
Q Qi . Fu . Fs . CLF (Pers. 2.9)
Dimana:
I : Total dari watt lampu X Iactor penggunaan X Faktor kelonggaran spesial
Qi : umlah Total Watt Lampu
Fu : Faktor Penggunaan
Fs : Faktor Kelonggaran Spesial (Untuk lampu pijar, Fs 1,0 dan untuk
lampu neon / TL, Fs 1,25)
CLF : Faktor Beban Pendingin dari tabel 17, hal 26, ASHRAE Fundamental
Handbook
. Panas dari Peralatan Tambahan Dalam Ruangan
Penambahan Panas Sensible
Persamaan yang digunakan
Qs SHg . CLF (Pers. 2.10)
Di mana:
SHG : Solar Heat Gain (tabel 20 dan 21 hal 26, ASHRAE Fundamental
Handbook)
CLF : Cooling Loat Factor (tabel 22, 23 hal 26,ASHRAE Fundamental
Handbook)
Penambahan Panas Laten
Persamaan yang digunakan :
Qi 0,32 x Qr (Pers. 2.11)
Dimana Qr : Daya Peralatan (watt)







10

BAB III
METODOLOGI PENGUKURAN

3.1Peralatan dan Bahan
Dalam melakukan pengukuran beban pendinginan ini, adapun peralatan
yang akan digunakan pada pengukuran kali ini antara lain:
O Termometer 1 buah
O eteran
O Ruang Objek Pengukuran Ruang Sidang
O Alat Tulis

3.2Prosedur Percobaan
Prosedur dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:
O engukur ruangan kelas yang meliputi tinggi, lebar pada ruangan
O enghitung peralatan dalam kelas seperti meja, kursi, lampu, lemari,
papan tulis, dll.
O enghitung beban pendinginan atau cooling load.