Anda di halaman 1dari 7

Sylvia Diansari/05120100003/Hukum

Hukum Acara Perdata (Tugas) Pembuktian

Pembuktian dalam acara perdata diatur di dalam BW dan HIR. Perihal pembuktian terdapat dalam buku keempat BW, yaitu Pembuktian dan Daluwarsa. Sedangkan, di dalam HIR, diatur di pasal 162 hingga 171 HIR. Berdasarkan pasal 163 HIR dan 1865 BW (isi dari pasal 163 HIR: Barang siapa, yang mengatakan ia mempunyai hak, atau ia menyebutkan suatu perbuatan untuk menguatkan haknya itu, atau untuk membantah hak orang lain, maka orang itu harus membuktikan adanya hak itu atau adanya kejadian itu ); maka dapat disimpulkan bahwa siapa yang mendalilkan memiliki kewajiban untuk membuktikannya. Di dalam pasal 164 HIR (dan 1866 BW); disebutkan macam-macam alat bukti, yaitu: bukti dengan surat, bukti dengan saksi, persangkaan-persangkaan, pengakuan, dan sumpah. Selain itu masih ada alat bukti lain yang tak diatur di dalam pasal 164 HIR, seperti hasil pemeriksaan hakim sendiri atau hasil penyelidikan setempat (pasal 154 HIR), hasil pemeriksaan orang ahli (pasal 155 HIR) dan begitu pula hal-hal yang diakui oleh umum atau yang diakui kebenarannya oleh kedua belah pihak. Dalam tugas kali ini hanya akan dibahas 5 macam alat bukti yang diatur dalam pasa 164 HIR saja. 1. Alat pembuktian surat-surat Menurut UU, surat dibagi dalam surat-surat akta dan surat-surat lain Surat-surat akta: o Akta otentik adalah akta yang dibuat oleh atau di hadapan pejabat yang berwenang. Surat ini memiliki kekuatan bukti yang sempurna. (pasal 165 HIR)

Akta bawah tangan adalah akta yang sengaja dibuat oleh para pihak tanpa bantuan pejabat yang berwenang. Surat ini memiliki kekuatan bukti permulaan. Namun menurut pasal 1875 BW ( suatu tulisan di bawah tangan yang diakui oleh orang terhadap siapa tulisan itu hendak dipakai, atau yang dengan cara menurut undang-undang dianggap diakui, memberikan terhadap orang-orang yang menandatanganinya serta para ahli warisnya dan orang-orang yang mendapat hak dari pada mereka, bukti yang sempurna seperti akta otentik); suatu akta bawah tangan akanmemiliki kekuatan bukti yang sempurna jika tanda tangan atau tulisan yang terdapat dalam surat tersebut diakui oleh para pihak yang berperkara.

Perbedaan kekuatan akta otentik dengan akta bawah tangan: apabila pihak lain mengatakan bahwa isi otentik itu tidak benar, maka pihak yang mengatakan itulah yang harus membuktikanya dan pemakai akta tak perlu membuktikan. Sedangkan jika dalam akta bawah tangan, maka yang membuktikan adalah pihak pemakai akta Surat-surat non akta merupakan surat yang tak memiliki tanda tangan dan merupakan permulaan bukti tertulis.

2. Saksi
Saksi adalah orang yang memberikan keterangan di muka sidang dengan

memenuhi syarat-syarat tertentu tentang suatu peristiwa yang ia lihat, dengar, dan ia alami sendiri sebagai bukti terjadinya peristiwa atau keadaan tersebut Memiliki kekuatan bukti sempurna dan mengikat hakim tetapi terserah hakim untuk mempercayainya atau tidak. Seseorang yang diapnggil untuk menjadi saksi dalam pengadilan harus datang. Apabila tidak datang maka akan dikenai pasal 224 KUHP. Syarat-syarat menjadi saksi:

o Berusia 15 tahun ke atas; menurut pasal 278 poin 1 HIR, anak yang berusia di bawah 15 tahun dapat memberikan keterangan saksi dengan tidak mengangkat sumpah.
o

Sehat akalnya. Hal ini disebabkan karena pasal 171 HIR memberikan aturan bahwa tiap-tiap kesaksian harus berisi segala sebab pengetahuan dan pendapat-pendapat atau persangkaan istimewa yang disusun dengan kata akal, bukan kesaksian. Misalnya: saksi mengatakan bahwa baju itu kotor, maka harus didefinisikan persepsi kotor yang ia maksud seperti apa, misalnya: baju putih itu banyak noda-noda hitam sehingga dikatakan kotor. Oleh karena hal inilah, orang yang sakit jiwa atau hilang ingatan (yang terkadang dapat kembali normal) hanya dapat memberikan keterangan saksi dengan tidak mengangkat sumpah.

Tak ada hubungan sedarah atau semenda kecuali ditentukan lain oleh UU. Perihal ini diatur dalam pasal 274 HIR yang berisi: dengan

memperhatikan apa yang ditentukan dalam pasal berikut di bawah ini, maka tidak dapat didengar sebagai saksi dan dapat meminta mengundurkan diri sebagai saksi: 1. Keluarga sedarah atau keluarga semenda dalam turunan ke atas dan ke bawah dari pesakitan atau dari salah seorang yang turut serta menjadi pesakitan;
2. Suami atau isteri dari pesakitan atau dari salah seorang atau

perempuan dari pesakitan atau dari salah seorang yang turut serta menjadi pesakitan; lagi pula saudara ibu atau saudara bapa baik lakilaki, maupun perempuan, juga yang karena perkawinan, dan anak saudara laki-laki dan anak saudara perempuan.
3. Suami atau isteri dari pesakitan atau dari salah seorang yang turut

serta menjadi pesakitan, biarpun telah bercerai; 4. Budak yang telah dibebaskan oleh pesakitan atau oleh salah seorang yang serta menajdi tertuduh (telah hapus)

Namun, mereka masih dapat menjadi seorang saksi, apabila mereka pihak di atas memang benar-benar mau. Berdasarkan pasal 275 HIR terdapat dua kemungkian terhadap hal ini: a. Apabila jaksa pada pengadilan negeri dan pesakitan bersama-sama dengan tegas mengizinkan, maka mereka dapat member keterangan saksi di bawah sumpah b. Apabila pesakitan tak mengizinkan, maka mereka tetap memperoleh hak untuk memberikan keterangan sekalipun tidak di bawah sumpah.
o

Harus ada alat bukti lain; tak cukup hanya keterangan saksi saja. (pasal 169 HIR) hal ini menganut asas UNUS TESTIS NULLUS TESTIS (satu bukti bukan lah bukti)

Keterangan saksi yang disumpah memiliki kekuatan bukti sempurna dan mengikat hakim.

Selain itu, terdapat orang-orang teentu yang dapat mengundurkan diri untuk memberikan keterangan selain yang diatur dalam pasal 274 HIR. Hal ini diatur dalam pasal 277 HIR yang berisi: (1) orang-orang yang diwajibkan menyimpan rahasia karena kedudukannya, pekerjaannya, atau jabatannya yang sah dapat meminta mengundurkan diri dari memberikan kesaksian; akan tetapi hanya mengenai hal yang diketahui dan dipercayakan kepadanya itu saja. (2) pertimangan apakah permintaan mengundurkan diri itu beralasan atau tidak terserah pada ketua pengadilan negeri.

Contohnya: seorang pastor (Katholik) yang harus menyimpan rahasia dari umatumat yang melakukan pengakuan dosa di hadapannya.

3. Persangkaan-persangkaan Persangkaan adalah suatu kesimpulan yang diambi dari suatu peristiwa yang sudah terang dan nyata

Dalam hukum pembuktian, persangkaan dibagi menjadi 2 macam:


a. persangkaan yang ditetapkan oleh undang-undang (wettelijk vermoeden)

merupakan suatu pembebasan dari kewajiban membuktikan sesuatu hal untuk keuntungan salah satu pihak berperkara. (terdapat dalam pasal 1916 BW). Misalnya: apabila tergugat mampu memberikan bukti bahwa ia telah membayar uang sewa rumah selama 3 bulan berturut-turut, maka hakim dapat membuat persangkaan bahwa hutang-hutang terdahulu telah dibayar lunas. Hal ini tercantum dalam pasal 1394 BW.

b. persangkaan yang ditetapkan oleh hakim (rechtelijk vermoeden).

Persangkaan ini ditetapkan oleh hakim selama pemeriksaan suatu perkara di mana untuk pembuktian suatu peristiwa tak bisa didapatkan saksi-saksi yang melihat dengan mata kepala sendiri pada saat terjadinya suatu peristiwa. Misalnya dalam perbuatan zina, tak ada saksi yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa Anita melakukan zina dengan Boy, namun apabila terdapat seorang saksi yang melihat bahwa Anita dan Boy berdua memasuki hotel dan setelah dicek terdapat penyewaan kamar atas nama Boy. Maka hakim dapat membuat persangkaan bahwa mereka telah melakukan zina.

4. Pengakuan (Bekentenis)

Terdapat 2 macam pengakuan, taitu pengakuan di dalam persidangan dan pengakuan di luar persidangan (pasal 1923 BW)

Suatu pengakuan yang dilakukan di depan hakim merupakan suatu pembuktian yang sempurna tentang kebenaran hal atau peristiwa yang diakui (pasal 1925 BW dan pasal 174 HIR). Dengan demikian, hakim terpaksa untuk menerima dan menganggap bahwa suatu peristiwa yang telah diakui, memang benar-benar terjadi (pasal 176 HIR). (berbeda dengan acara pidana, yang sekalipun terdakwa telah mengakui, hakim

masih harus mencari keterangan-keterangan lain, sampai dipastikan bahwa terdakwa memang benar-benar bersalah.) Sedangkan suatu pengakuan yang di luar sidang merupakan bukti yang bebas, sehingga penentuan harga kekuatan bukti dari pengakuan ini diserahkan kepada pertimbangan dan pendapat hakim (hakim bebas untuk menghargai atau tidak menghargai pengakuan itu) hal ini diatur dalam pasal 175 HIR. Hakim tak boleh memisah-misahkan pengakuan, melainkan harus menerima secara bulat (asas onsplitbaar aveu) agar tak merugikan tergugat yang memberikan keterangan tersebut.

5. Sumpah (pasal 177 HIR)

Berdasarkan pasal 177 HIR yang berisi: kepada seorang, yang dalam satu perkara telah mengangkat sumpah yang ditanggungkan atau ditolak kepadanya oleh lawannya atau yang disuruh sumpah oleh hakim tidak dapat diminta bukti yag lain untuk menguatkan kebenaran yang disumpahkannya itu Menurut pasal ini, maka suatu sumpah merupakan bukti mutlak, artinya setelah pihak yang bersangkutan mengangkat sumpah, maka hakim harus menetapkan keterangan untuk apa pihak itu telah bersumpah telah cukup terbukti, meskipun hakim itu sendiri tidak yakin dengan kebenaran keterangan itu.

Terdapat dua macam sumpah di dalam undang-undang (pasal 1929 BW), yaitu:
a. sumpah yang menentukan (pemutus/decissoir) adalah sumpah yang diperintahkan

oleh salah satu pihak yang berperkara kepada pihak lawan dengan maksud mengakhiri perkara yang sedang diperiksa hakim. (pasal 156 HIR)

Suatu sumpah yang diperintahkan oleh salah satu pihak berperkara kepada pihak lawannya, memiliki suatu kekuatan pembuktian yang memaksa, jika sumpah itu telah diangkat.

Pihak yang meminta sumpah (deferent) dan yang bersumpah (delaat) Pihak delaat dapat:
a. Menolak sumpah dikalahkan b. Melakukan sumpah dimenangkan c. Mengembalikan sumpah kepada deferent, dengan syarat sumpah itu mengenai

perbuatan yang dilakukan kedua belah pihak, apabila perbuatan itu hanya dilakukan oleh delaat sendiri maka tak dapat dikembalikan.

Mengenai sumpah ini diatur oleh BW di pasal 1930-1939.

b. sumpah tambahan (supletoir) adalah suatu sumpah yang diperintahkan oleh hakim

pada salah satu pihak berperkara, apabila hakim itu berpendapat bahwa di dalam suatu perkara sudah terdapat suatau permulaan pembuktian, yang perlu ditambah dengan penyumpahan, karena dipandang kurang memuaskan untuk mejatuhkan putusan atas dasar bukti-bukti yang terdapat itu. (pasal 157 HIR) Mengenai hal ini diatur dalam pasal 1940-1945 BW