Anda di halaman 1dari 1

HUBUNGAN KERJA (Perjanjian Kerja Waktu Tertentu) Hubungan kerja adalah hubungan antara pekerja/buruh dengan pengusaha atau

pemberi kerja berdasarkan perjanjian kerja, yang mempunyai unsur pekerjaan, upah, dan perintah. Perjanjian kerja adalah kesepakatan antara pekerja/buruh dengan pengusaha/pemberi kerja yang memuat syarat-syarat kerja. Hak, dan kewajiban para pihak. Dalam hukum ketenagakerjaan, dikenal 2 jenis perjanjian antara pekerja dan pengusaha. Yaitu Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) dan Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertent (PKWTT). Umumnya, karyawan dengan PKWT disebut dengan karyawan/pekerja kontrak. Sementara karyawan dengan PKWTT dikenal dengan karyawan/pekerja tetap/permanen. Penting untuk diketahui bahwa tidak semua hubungan kerja bisa dibuat dengan PKWT. Secara hukum hal ini bisa merugikan karyawan. Sebagaimana disebutkan dalam pasal 59 UU No.13 th 2003, PKWT hanya dapat dibuat untuk pekerjaan tertentu yang menurut jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaannya akan selesai dalam waktu tertentu, yaitu: 1. pekerjaan yang sekali selesai atau yang sementara sifatnya; 2. pekerjaan yang diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu yang tidak terlalu lama dan paling lama 3 (tiga) tahun; 3. pekerjaan yang bersifat musiman; atau 4. pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru, atau produk tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan. Lebih lanjut disebutkan bahwa PKWT harus dibuat secara tertulis menggunakan bahasa indonesia dan huruf latin. Bila perjanjian kerja dibuat dengan bahasa indonesia dan bahasa asing yang kemudian terjadi perbedaan, maka yang berlaku adalah perjanjian kerja yang dibuat dengan bahsa indonesia. PKWT juga tidak dapat mensyaratkan masa percobaan kerja. Total PKWT setelah ditambah dengan perpanjangan kontrak adalah selama 3 tahun lamanya. PKWT yang tidak sesuai dengan ketentuan diatas batal demi hukum dan statusnya berubah menjadi PKWTT. Banyak kasus dimana perusahaan memperkerjakan karyawannya dengan status kontrak sementara seharusnya dengan perjanjian kerja waktu tidak tertentu (PKWTT) atau status karyawan tetap. Hal ini sangat merugikan karyawan. Selain mengurangi rasa aman secara finansial, ilegalisasi status ini juga hanya memperpanjang upaya pembodohan pengusaha terhadap karyawannya.