Anda di halaman 1dari 10

JALUR PEDESRTIAN: ELEMEN PENTING KAWASAN KOTA TUA JAKARTA YANG TERABAIKAN

Irfandi Staf Pengajar Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Syiah Kula Email: irfandi@gmail.com
Abstrak
Kota Tua Jakarta dengan kesejarahannya, kini terancam kehilangan nilai historisnya. Hal ini terlihat dari keberadaan hampir seluruh kawasan dan bangunan tuanya yang tidak lagi tersentuh perhatian serta perawatan selayaknya. Upaya revitalisasi Kota Tua Jakarta untuk mengangkat kembali citra kawasan ini telah dilakukan sejak awal tahun 1990-an, akan tetapi belum memperlihatkan hasil yang baik. Kota Tua Jakarta terus mengalami degradasi fisik dan non fisik, sehingga secara keseluruhan membentuk citra yang kurang baik dan menjadi tempat yang tidak menarik. Ketidaktertarikan kawasan ini terindikasikan oleh kondisi lingkungan yang tak terawat, tidak memberikan kenyamanan dan keamanan, minimnya minat masyarakat untuk datang dan beraktivitas di sana, serta citra dan persepsi masyarakat yang kumuh terhadap kawasan ini. Kondisi ini perlu ditangani dengan baik melalui upaya revitalisasi yang beranjak dari permasalahan fisik lingkungan kawasan. Revitalisasi fisik lingkungan merupakan hal utama untuk mengangkat kembali citra dan ketertarikan terhadap kawasan ini. Langkah-langkah yang dapat ditempuh berkaitan dengan hal ini adalah dengan penataan jalur pedestrian yang menyeluruh pada kawasan, sehingga dapat menjadi pengikat kawasan ini. Upaya penataan jalur pedestrian dilakukan untuk mendekatkan pejalan kaki dengan bangunan, sehingga tercipta interaksi antara pejalan kaki dengan pengguna bangunan pada kawasan. Jalur pedestrian tidak hanya menjadi sarana transportasi, akan tetapi juga menjadi sarana penting bagi menunjang kehidupan dan kegiatan di Kota Tua Jakarta, seperti untuk aktivitas rekreasi dan interaksi sosial. Keberadaan jalur pedestrian pada kawasan ini tidak saja bermanfaat dari segi keamanan, kenyamanan, keselamatan, keindahan, keuntungan ekonomi, sosial dan lingkungan, melainkan juga bagi upaya pembentukan kawasan Kota Tua Jakarta yang menarik secara keseluruhan, sebagai kawasan tujuan (destination area). Jalur pedestrian dapat dijadiken elemen penting dalam upaya revitalisasi kawasan Kota Tua Jakarta untuk menjadikan kawasan ini sebagai tempat yang menarik (interesting place). Kata Kunci: jalur pedestrian, makna tempat dan interesting place, revitalisasi, Kota Tua Jakarta

I.

PENDAHULUAN

Kota Tua Jakarta merupakan salah satu kawasan yang memiliki nilai kesejarahan di Provinsi DKI Jakarta. Kawasan ini merupakan contoh tipologi kota kolonial yang dapat dilihat dari sisa artefak yang ada berupa peninggalan bangunan-bangunan dan struktur ruang kotanya. Seiring dengan perkembangan zaman, nilai sejarah di kawasan ini pun semakin terancam akibat perkembangan kota secara keseluruhan yang tak terencana dengan baik. Kondisi kawasan mengalami penurunan kinerja baik kondisi fisik ataupun non fisik, sehingga secara keseluruhan membentuk citra yang kurang baik. Telah banyak upaya yang dilakukan untuk melestarikan kawasan ini yang pernah menjadi pusat pemerintahan sekaligus pusat kegiatan ekonomi di Hindia Belanda. Kini selain terkena berbagai permasalahan lingkungan seperti pencemaran air, polusi udara, banjir, pasang air laut, kemacetan lalulintas, keberadaan kawasan dan bangunan

tuanya pun semakin terancam oleh desakan pembangunan yang lebih berorientasi kepada kegiatan ekonomi. Rencana dan kebijakan revitalisasi yang ada seringkali bersifat sektoral, sehingga tidak saling mendukung bagi pengembangan kawasan ini. Kondisi ini mengakibatkan tidak efisiensya pengambilan keputusan bagi tindakan pelestarian dan revitalisasi kawasan ini. Terkait dengan permasalahan-permasalahan di atas dan juga visi Pemda DKI Jakarta yang menjadikan kawasan ini sebagai daerah tujuan wisata budaya, maka perlu adanya usaha revitalisasi kawasan ini yang beranjak pada permasalahan utama yaitu masalah lingkungan. Lingkungan memiliki peranan yang penting untuk menciptakan tempat yang menarik. Revitalisasi kawasan kota tua ini tidak hanya persoalan arsitektur dan persoalan penciptaan beautiful place belaka, akan tetapi lebih kepada persoalan penciptaan interesting place. Tindakan untuk menghadirkan tempat yang

menarik bagi kawasan ini tentunya harus terlihat dari kondisi lingkungan yang aman dan nyaman. Untuk menciptakan lingkungan yang menarik, salah satunya harus didasarkan kepada kepentingan publik, khususnya masyarakat pengguna kawasan ini, karena suatu tempat yang menarik (interesting place) harus mampu memberikan keuntungan (benefit) bagi penggunanya, dalam hal ini adalah pengguna kawasan Kota Tua Jakarta. Salah satu tindakan untuk mendukung upaya revitalisasi kawasan Kota Tua Jakarta yang beranjak pada permasalahan lingkungan dan penciptaan tempat yang menarik (interesting place), dapat dilakukan dengan penataan jalur pedestrian yang menghubungkan semua tempat dan lingkungan pada kawasan ini. Jalur pedestrian ini tidak hanya berfungsi sekedar jalur pergerakan manusia, akan tetapi akan menjadi elemen penting yang memberikan kontribusi positif lainnya bagi masyarakat pengguna kawasan Kota Tua Jakarta. Terkait dengan peran dan kontribusi jalur pedestrian tersebut, maka makalah ini mengkaji keterkaitan dan pengaruh jalur pedestrian dalam menghadirkan dan menciptakan lingkungan kawasan Kota Tua Jakarta yang menarik (interesting place) sehingga kawasan ini menjadi hidup kembali sebagai bagian dari upaya revitalisasi terhadap kawasan ini.

Kota tua ini memiliki sejarah yang panjang, yang mulanya merupakan kawasan pelabuhan bernama Pelabuhan Sunda Kelapa. Pada tahun 1526, kawasan ini diserang oleh pasukan Demak yang dipimpin oleh Fatahillah dan setelah berhasil direbut, namanya pun diganti menjadi Jayakarta pada 22 Juni 1527. Kota tersebut luasnya sekitar 15 Ha dengan pola tata kota tradisional Indonesia. Seiring dengan masuknya kolonial Belanda di Indonesia, Kota Jayakarta juga tidak luput oleh serangan VOC Belanda pada tahun 1619 hingga kota ini hancur. Pada tahun 1620, VOC Belanda membangun kota baru di sisi timur Sungai Ciliwung yang diberi nama Batavia di atas reruntuhan Kota Jayakarta ini. Pusat Kota Batavia ini kini masih terlihat di sekitar Taman Fatahillah sekarang. Kota Batavia pada tahun 1635 diperluas ke sebelah barat Sungai Ciliwung dan dirancang lengkap dengan sistem pertahanannya berupa tembok dan parit di sekeliling kota. Tata ruang kota dibagi ke dalam blok-blok yang dipisahkan oleh kanal dengan pola grid yang tegas. Pembangunan Kota Batavia akhirnya selesai pada tahun 1650. Setelah pendudukan Jepang pada tahun 1942, nama Batavia di ganti menjadi Jakarta. (Sejarah Kota Tua, 2007) Pada tahun 2006, kawasan Kota Tua Jakarta ini dijadikan Kawasan Cagar Budaya Kota Tua Jakarta seperti yang dinyatakan dalam Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 34 Tahun 2006. Luas kawasan budaya ini adalah sekitar 846 Ha yang secara administrasi terletak di Kotamadya Jakarta Utara dan Kotamadya Jakarta Barat. Wilayah tersebut meliputi: paling Utara adalah Luar Batang dan Pelabuhan Sunda Kelapa, paling selatan adalah Jalan Gajahmada pada titik lokasi bangunan Candranaya, sedangkan paling barat dan timur dibatasi oleh sungai. Berdasarkan Rencana Induk Kota Tua Jakarta (DTK, 2007), di tengah-tengah Kawasan Cagar Budaya Kota Tua terdapat zona inti, yaitu area yang memiliki nilai sejarah yang lebih bernilai yang dulunya sebagian besar adalah kota di dalam dinding. Kawasan Cagar Budaya Kota Tua Jakarta dibagi menjadi 5 (lima) zona, yaitu: Kawasan Sunda Kelapa, Kawasan Fatahillah, Kawasan Pecinan, Kawasan Pekojan dan Kawasan Peremajaan. (Sejarah Kota Tua, 2007)

II.

KAWASAN KOTA TUA JAKARTA

Berdasarkan kajian sejarah, sebagian dari kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa adalah cikal bakal Kota Tua Jakarta, yaitu kota yang pada masa kolonial berada di dalam dinding benteng, yang ditinggali/diduduki sebagian besar oleh Bangsa Belanda. Kawasan ini dulunya dibatasi oleh Sungai Ciliwung di sebelah timur, kanal Stadt Buiten Gracht di sebelah barat (sisi kiri Sungai Krukut), kanal Stadt Buiten Gracht di sebelah selatan (kini Jalan Jembatan Batu dan Jalan Asemka), dan berbatasan dengan laut di sisi utara (termasuk pelabuhan Sunda Kelapa). Di luar kawasan inti ini, terdapat permukiman-permukiman lain yang secara bersama-sama kota di dalam benteng dijadikan sebagai Kawasan Cagar Budaya Kota Tua Jakarta pada tahun 2006. (Guidelines Kota Tua, 2007)

(1986), bahwa space5 ZONA dapat menjadi sebuah Zona 1 place jika mempunyai Sunda Kelapa lingkungan yang berasal Zona 2 Fatahillah Zona 3 Pecinan Zona 4 Pekojan dari budaya daerahnya, artinya bahwa sebuah Zona 5 Kawasan Peremajaan space dibentuk menjadi sebuah place jika ZONA INTI memiliki ciri khas dan suasana tertentu bagi lingkungannya. Suasana tersebut terlihat dari benda yang konkrit (bahan, rupa, tekstur, warna) maupun benda yang abstrak, yaitu asosiasi kultural dan regional yang dilakukan oleh manusia di tempatnya. Ruang sebagai wadah aktivitas manusia seharusnya didesain untuk kenyamanan penggunanya. Demikian halnya dengan ruang kota yang biasa disebut sebagai Urban Space juga didesain untuk kenyamanan warganya. Ruang kota sebagai tempat aktivitas manusia, seharusnya tidak hanya sekedar menjadi ruang (space), tetapi menjadi tempat (place) karena telah memiliki makna dan identitas. Matthew Carmona (2003) mengatakan bahwa: It is People who make places and give them meaning. Place sangat berkait dengan aktivitas manusia dan makna serta identitas tempat tersebut.
Gambar 1a dan 1b. Peta Kota Batavia tahun 1650an, memperlihatkan grid-grid ruang yang tegas (ciri kota kolonial Belanda) yang dipisahkan oleh jalur sirkulasi (jalan dan jalur sirkulasi) yang terdefinisi dengan jelas oleh penataan setback bangunan nol dan Kawasan Cagar Budaya Kota Tua Jakarta Berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta Nomor 34 Tahun 2006 Sumber: Sejarah Kota Tua, 2007 dan Rencana Master Plan, 2008

III.

PEMAHAMAN MAKNA TEMPAT DAN INTERESTING PLACE

Hakikat place (tempat) dalam desain spasial terletak pada pemahaman budaya dan karakteristik manusia terhadap tempatnya. Manusia memerlukan suatu sistem places (tempat-tempat tertentu) yang bermakna dan beridentitas untuk mengembangkan kehidupan dan budayanya. Kebutuhan ini timbul, karena adanya kesadaran manusia terhadap suatu tempat yang lebih luas dari pada hanya sekedar masalah fisik saja. Membahas tentang tempat (place), pastilah tidak terlepas dari dimensi ruang (space). Sebuah place adalah sebuah ruang yang memiliki suatu ciri khas tersendiri. Seperti yang dikatakan oleh Roger Trancik

Berkaitan dengan karakter kawasan Kota Tua Jakarta untuk menjadi sebuah tempat dan kawasan yang menarik, pemahaman mendasar terhadap aspek citra kawasan dan bangunan yang ada dalam kawasan ini merupakan atribut yang penting. Makna tempat ini harus terwujud dan dapat dirasakan dalan ruang kawasan ini. Kondisi kawasan Kota Tua Jakarta saat ini sebagai sebuah tempat dan ruang dapat dikatakan tidak menarik karena: 1) Tidak menarik minat orang untuk datang dan beraktivitas disana 2) Tidak memilki batas-batas yang jelas 3) Bagi sebagian besar orang tidak memorable Sehubungan dengan tuntutan peningkatan kualitas kawasan Kota Tua Jakarta sebagai tempat dan kawasan yang menarik, secara ideal dapat diukur melalui beberapa persyaratan mendasar, H. Frey (1999) dalam Martokusumo (2006), yang meliputi: 1) Sebuah kawasan kota yang baik adalah mampu mewadahi kebutuhan fisik warganya, tempat untuk tinggal dan tempat untuk bekerja, membuka peluang untuk mendapatkan nafkah/penghasilan,

2)

3)

4)

5)

serta akses kepada berbagai jasa pelayanan dan fasilitas yang ada. Sebuah kawasan kota yang baik harus mampu memberikan dan menciptakan suatu lingkungan sosial yang kondusif. Menjadi sebuah tempat tumbuh berkembangnya manusia, memungkinkan individu-individu untuk menjadi bagian dari sebuah komunitas, serta menyuguhkan perasaan keterkaitan kepada sebuah tempat dan kawasan. Sebuah kawasan yang baik harus menjamin kenyamanan, keamanan dan perlindungan, pengaturan secara visual, dan fungsional serta kontrol terhadap lingkungan yang bebas polusi, kebisingan, kecelakaan, dan kejahatan. Kawasan kota yang baik juga harus memiliki citra yang baik, reputasi yang bagus dan prestige. Hal ini memberikan warganya rasa percaya diri, kekuatan, status dan kejayaan. Dalam tingkatan yang lebih tinggi lagi, sebuah kawasan kota yang baik memungkinkan warganya untuk dapat menjadi kreatif, membentuk lingkungan pribadinya dan mengekspresikan diri serta mengembangkan lingkungan komunitas sesuai dengan kebutuhan dan aspirasinya.

yang tidak hanya membuat tempat menjadi atraktif tapi juga menyenangkan bagi semua orang dari beragam usia. 4) Sociability, tempat merupakan ruang sosial bagi manusia baik lokal maupun pengunjung untuk melakukan interaksi dengan manusia lainnya.

Selain itu, setidaknya ada 4 hal yang membuat sebuah tempat dikatakan sukses dan menarik, yang disebut sebagai Key Element of Place, yaitu1: 1) Uses and activities, yaitu tempat yang penggunaanya dapat menghadirkan aktivitas-aktivitas bagi manusia tanpa membedakan usia, jenis kelamin dan latar belakang orang pada semua dimensi waktu. 2) Access and linkages, yaitu tempat layak dan mudah ditemukan serta memudahkan akses dan keterkaitan ke tempat tersebut bagi pejalan kaki, pengendara sepeda, dan pengendara transit bagi orang yang menggunakan kendaraan bermotor. 3) Comfort and image, yaitu suatu tempat memberikan kenyamanan, kenikmatan dan keramahan bagi pengguna tempat tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan penempatan tempat informasi yang baik, caf, kios yang merupakan elemen-elemen
1

Gambar 2. Lingkaran terdalam diagram sebagai suatu tempat yang kita kenal yang dapat dievaluasi berdasarkan 4 kriteria yang ada (sociability, uses & activities, acces & lingkage, comfort & image). Lingkaran di sebelah luar kriteria ini menyatakan aspek intuitif or qualitatif yang pakai untuk menilai sebuah tempat (intangibles); sedang lingkaran terluar merupakan alat ukur quantitatif yang dapat diperoleh berdasarkan penelitian dan statistik. Sumber: www.pps.org

Dapat disarikan bahwa guna dari tempat (place) adalah mendukung ekonomi lokal, memelihara dan menggambarkan identitas masyarakat, membantu perkembangan hubungan yang intens dan bermakna, menciptakan peningkatan aksesibilitas, mempromosikan rasa kenyamanan dan menarik beragam populasi. Kondisi-kondisi ideal dari guna tempat inilah yang dapat menghadirkan ketertarikan terhadap suatu tempat atau kawasan (interesting place) dan suatu tempat yang baik juga harus merupakan satu kesatuan dari aspek sosial, visual dan fisik.

IV.

JALUR PEDESTRIAN DALAM UPAYA REVITALISASI KAWASAN KOTA TUA JAKARTA

Lihat www.pps.org

Pedestrian berasal dari kata latin pedos, yang artinya kaki. Pejalan sebagai istilah aktif, adalah orang yang bergerak atau berpindah dari suatu tempat titik tolak ke tempat tujuan tanpa menggunakan alat yang bersifat mekanis (kecuali kursi roda). Jadi jalur pedestrian atau jalur pejalan kaki adalah tempat atau jalur khusus bagi para pejalan kaki yang dapat berupa trotoar, alun-alun dan sebagainya. Jalur pedestrian merupakan elemen yang sangat menentukan struktur lingkungan kota karena dapat membentuk, mengarahkan dan mengontrol pola aktivitas dalam kawasan atau kota. Baik Shirvani (1985) maupun Lynch (1987) mengemukakan bahwa jalur pedestrian adalah bagian dari public space dan merupakan aspek penting sebuah urban space. Begitu juga dengan kawasan Kota Tua Jakarta sebagai sebuah urban space tentunya membutuhkan jalur pedestrian sebagai public space sebagai sebuah elemen pembentuk ruang kota yang tidak boleh dilupakan dalam upaya revitalisasi kawasan ini. Seperti yang dikatakan oleh Ashworth (1991), revitalisasi kawasan merupakan sebuah proses kompleks yang melibatkan perubahan aspek sosial-ekonomi dan memiliki pengaruh yang sangat lokal. Upaya revitalisasi kawasan merupakan tindakan untuk menghidupkan kembali kawasan mati yang pada masa silam pernah hidup, baik dari segi sosio-kultural, sosioekonomi maupun dari segi fisik alam lingkungan. Tindakan revitalisasi ini diharapkan dapat memberikan peningkatan kualitas lingkungan kota yang pada akhirnya berdampak pada kualitas hidup dari penghuninya. Tujuan penataan revitalisasi kawasan diarahkan untuk memberdayakan kawasan dalam usaha menghidupkan kembali aktivitas perkotaan dan vitalitas kawasan untuk mewujudkan kawasan yang layak huni (liveable), mempunyai daya saing pertumbuhan dan stabilitas ekonomi lokal, berkeadilan sosial, berwawasan budaya serta terintegrasi dalam kesatuan sistem kota. Upaya penataan jalur pedestrian sebagai bagian dari upaya revitalisasi harus mampu menjadikan kawasan ini menarik (interesting place). Menjadikan kawasan Kota Tua Jakarta sebagai tempat yang menarik harus terindikasikan dengan kondisi sosial, visual dan fisik kawasan yang baik. Keberadaan jalur pedestrian harus mampu membangkitkan

kualitas kawasan sehingga kawasan ini dapat mewadahi kebutuhan fisik penggunanya untuk tinggal, beraktivitas, bekerja, menciptakan kreatifitas penggunanya dalam mengkespresikan diri, mengembangkan lingkungan komunitas sesuai dengan kebutuhan dan apresiasi serta kemudahan akses kepada berbagai jasa pelayanan dan fasilitas yang ada dalam kawasan. Kehadiran jalur pedestrian juga harus mampu membangkitkan kawasan ini untuk menjadi kawasan yang memberikan rasa kenyamanan, keamanan, perlindungan, visual kawasan yang estetis, interaksi sosial yang kondusif, lingkungan yang berkualitas (bebas polusi, kebisingan, kecelakaan dan kejahatan) dan menghadirkan makna dan citra sebagai kawasan bersejarah yang memiliki prestige dan sense of place. Meski terbatas penerapannya, upaya-upaya yang dilakukan untuk menghadirkan jalur pejalan kaki pada kawasan Kota Tua Jakarta sudah ada, tetapi belum memberikan konstribusi positif bagi kawasan ini. Upaya penataan jalur pedestrian di sepanjang Jalan Pintu Besar Utara tidak efektif, karena tidak memberikan tempat yang nyamam bagi pejalan kaki. Kondisi ini diakibatkan oleh jalurnya yang sempit, tanpa peneduh dan tidak memberikan keselamatan karena rawan terjadinya kecelakaan bagi pejalan kaki. Jalur pedestrian di Jalan Kali Besar Barat (sisi sungainya) telah ditata dengan baik, akan tetapi kondisi jalur pedestrian ini tidak hidup yang diakibatkan oleh tidak adanya aktivitasaktivitas yang mendukung dan membangkitkan pergerakan pada jalur ini, sehingga jalur ini menjadi sepi. Kondisi ini memungkinkan terjadinya tindakan kejahatan pada jalur tersebut. Penataan jalur pedestrian pada lingkungan sekitar Taman Fatahillah dilakukan bersama dengan penataan ruang terbuka publik berupa plaza dan penerapan traffic calming untuk mengurangi arus lalu lintas kendaraan. Ide penataaan ini sebenarnya baik, karena memberikan kenyamanan bagi pejalan kaki dan mampu menghadirkan nuansa dan karakter jaman dulu, akan tetapi belum mampu menghidupkan segmen ini, karena minimnya aktivitas-aktivitas pada gedung-gedung tersebut. Akibatnya, interaksi sosial pada segmen ini tidak terjalin dan menimbulkan rasa tidak aman bagi penggunanya. Penerapan terowongan bawah tanah untuk sirkulasi

pejalan kaki ke dan dari Stasiun Beos juga belum memperlihatkan hasil yang maksimal, karena pejalan kaki masih banyak yang menggunakan badan jalan untuk menyeberang dibandingkan dengan menggunakan terowongan ini. Hal ini mungkin terjadi karena pengerjaan konstruksi terowongan yang belum selesai 100% dan juga penempatan pintu masuk dan keluar terowongan yang tidak tepat sehingga menimbulkan keengganan pejalan kaki untuk menggunakannya. Kondisi-kondisi ini menyebabkan kemacetan kendaraan pada jalan di depan Stasiun Beos. Secara keseluruhan, upaya-upaya yang telah dilakukan berkaitan dengan penataan jalur pejalan kaki ini belum mampu menjadikan kawasan Kota Tua Jakarta sebagai tempat yang menarik. Mengkaji penerapan jalur pedestrian pada kawasan ini juga tidak boleh luput dari nilai sejarah yang ada, karena penataan jalur pedestrian harus mampu menciptakan keutuhan kawasan, memperkuat karakter dan morfologi kota sebagai kawasan bersejarah sehingga menghadirkan citra dan makna tempat sebagai sebuah kawasan kota lama peninggalan kolonial. Kawasan Kota Tua Jakarta pada masa kolonial (abad ke-18) pernah menjadi tempat yang menarik, sehingga dijuluki Koningin van het Oosten atau Ratu dari Timur. Hal ini disebabkan karena kawasan ini memiliki bangunan dan lingkungan kota yang indah bergaya Eropa, beragam aktivitas terjadi di sana dan suasana ruang kota yang terbentuk sangat manusiawi sehingga memberikan kenyamanan. Hal ini tidak terlepas dari tertatanya jalur pedestrian yang baik pada masa itu yang berupa jalur pedestrian terbuka di depan bangunan yang set back bangunannya 0 (garis sempadan 0) dan pedestrian tertutup atau arcade (Sejarah Kota Tua, 2007). Ide penataan seperti ini merupakan upaya untuk mendekatkan manusia (pejalan kaki) dengan bangunan, sehingga tercipta interaksi yang baik dan aktif antara keduanya. Kondisi ini meyebabkan ruang sirkulasi pejalan kaki ini menjadi tempat interaksi sosial antara pejalan kaki dengan pemilik bangunan dan aktivitasaktivitas manusia yang terjadi atau terjalin pada kawasan tersebut dapat berlangsung lebih lama. Hal ini dapat meningkatkan rasa kenyamanan dan keamanan bagi pengguna kawasan yang dilalui jalur pejalan kaki. Rasa aman dan nyaman ini sangat diperlukan oleh

pengguna pada saat itu untuk dapat melakukan aktivitas-aktivitas yang mendukung keberadan mereka pada kawasan tersebut, seperti aktivitas bekerja, berdagang, dan tinggal, yang akhirnya berdampak positif bagi terciptanya suasana yang lebih hidup pada keseluruhan kawasan ini. Kemudian, penerapan arcade yang merupakan jalur pedestrian beratap adalah suatu pendekatan desain yang responsif terhadap kondisi iklim setempat yang tropis. Pada saat panas dan hujan, aktivitas masih dapat berlangsung pada ruang ini dengan nyaman dan menyenangkan tanpa terinterupsi oleh buruknya cuaca. Jalur pedestrian yang menerus dan kontinyu adalah penghubung antara bangunan dengan bangunan dan lingkungannya. Keterhubungan ini menjadi sebuah sistem penghubung (linkage) yang utuh terhadap kawasan ini seperti yang dikatakan oleh Trancik (1986) bahwa sistem penghubung termasuk dalam organisasi dari jalur-jalur yang menghubungkan bagian-bagian dalam kota dan jalur pedestrian sebagai sistem penghubung merupakan salah satu faktor utama yang menentukan bentukan dan karakter kawasan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa jalur pedestrian pada masa itu memiliki peranan yang penting dalam menghadirkan ketertarikan kawasan ini. Dalam kaitannya dengan revitalisasi kawasan, upaya menghadirkan kedua sistem jalur pedestrian ini (jalur pedestrian terbuka dan arcade) dapat menghadirkan kembali makna tempat sebagai kota kolonial dan juga memperkuat karakter/morfologi kota tua ini. Kondisi seperti ini yang sebaiknya harus diciptakan kembali dalam tindakan revitalisasi pada kawasan Kota Tua Jakarta untuk menjadi kawasan yang menarik (interesting place).

Gambar 3a dan 3b. Jalur pergerakan berupa arcade terbuka di depan bangunan yang menerus pada deretan bangunan di Kawasan Kota Batavia (kiri:di kawasan Jl. Kali Besar Timur sekarang) dan jalur pedestrian terbuka dengan setback nol pada deretan bangunan di sekitar Binnen Niewpoort Straat (Jl. Pintu Besar Utara) pada Kota Lama Batavia Sumber: Nieuwenhuys, dalam Sejarah Kota Tua, 2007

Penataan jalur pedestrian pada kawasan Kota Tua Jakarta dari sudut pandang ekonomi dapat merangsang tumbuhnya berbagai kegiatan ekonomi pada kawasan ini. Penataan jalur sirkulasi yang baik dan dengan ide mendekatkan bangunan dengan pejalan kaki akan tercipta interaksi antara pengguna jalur pejalan kaki dan pengguna bangunan. Kondisi ini akan menjadikan lingkungan sekitar jalur pedestrian memiliki aktivitas yang berlangsung lebih lama dan berdampak pada timbulnya kontrol sosial dan rasa aman pada lingkungan tersebut dan kawasan Kota Tua Jakarta secara keseluruhan. Kontrol sosial dan rasa aman pada suatu lingkungan akan mengundang pelaku ekonomi untuk melakukan investasi, karena memberikan jaminan keamanan dan keselamatan terhadap properti yang mereka investasikan. Kondisi yang kondusif ini akan menarik minat investor dari luar kawasan ini untuk mengembangkan bisnisnya pada kawasan Kota Tua Jakarta. Hal ini memberikan peluang besar bagi masyarakat setempat untuk ikut terlibat dalam pengembangan ekonomi kawasan, berupa tindakan kerjasama dengan investor ataupun dengan mengoptimalkan sumber dayanya sendiri untuk lebih berkreasi dalam mengembangkan perekonomiannya.

Kondisi dan potensi ekonomi ini akan membuka kesempatan bagi masyarakat setempat untuk tidak hanya tinggal pada kawasan ini, akan tetapi juga untuk bekerja, membuka peluang usaha untuk mendapatkan penghasilan bagi menghidupi keluarganya. Peluang-peluang ekonomi ini yang juga di dukung dengan misi Pemda DKI Jakarta untuk menjadikan kawasan ini sebagai kawasan wisata tentunya akan membangkitkan kreatifitas masyarakat dalam mengembangkan ekonomi yang sesuai. Kesesuaian aktivitas ekonomi yang akan dikembangkan ini salah satunya dapat disesuaikan dengan kebutuhan publik penguna kawasan dan pengembangan pariwisaata kawasan ini. Aktivitas yang dapat dikembangkan seperti shopping street dengan berbagai ragam kegiatan perdagangan dan jasa pada sisi-sisi jalur pedestrian dan juga dengan pengembangan konsep ekonomi kreatif dari masyarakat setempat. Kondisi ini akan menghidupkan kembali kawasan Kota Tua Jakarta dengan beragam aktivitas komunitas dan terciptanya fungsi-fungsi campuran yang memberikan denyut kehidupan yang lebih lama pada kawasan yang ramah terhadap lingkungan dan berorientasi kepada pejalan kaki. Selain kondisi keamanan yang tercipta dengan adanya jalur pedestrian bagi perkembangan ekonomi kawasan ini, faktor kemudahan akses yang diberikan oleh jalur pedestrian ke fasilitasfasilitas ekonomi tersebut tentu akan mengundang banyak orang untuk datang dan hal ini akan menguntungkan sarana perdagangan yang terdapat di sana. Kondisi ideal ini tentunya harus beranjak dari penataan jalur sirkulasi yang baik dan tepat pada seluruh kawasan Kota Tua Jakarta.

Gambar 4. Bangkitan aktivitas perdagangan di sisi jalur pedestrian yang menghidupkan kawasan, dan kondisi ini harus di kaitkan dengan menghadirkan kegiatan-kegiatan yang mendukung aktivitas publik Sumber: www.flickr.com

shopping. Pada jalur pedestrian ini juga dapat dilangsungkan berbagai kegiatan sosial, rekreasi Kota Tua Jakarta, ajang kegiatan promosi, pameran, kampanye dan lain-lainnya. Kondisi-kondisi seperti ini akan menjadikan jalur pejalan kaki sebagai ruang dengan identitas sosial dan tempat bersosialisasi bagi pengguna kawasan Kota Tua Jakarta. Dalam hal ini aspek kualitas fisik, kenyamanan dan keamanan jalur pedestrian selalu menjadi faktor dominan dalam menentukan keberhasilan beragam aktivitas ini. Aktivitasaktivitas pada ruang pedestrian ini akan membangkitkan interaksi sosial dan menumbuhkan aktivitas yang sehat sehingga mengurangi kerawanan kriminalitas terhadap kawasan Kota Tua Jakarta.

Jan Gehl (1996) mengatakan bahwa terdapat beberapa katagori aktivitas masyarakat urban sebagai pengguna ruang publik kota, salah satunya adalah optional social activities, dimana warga kota pada dasarnya mempunyai hasrat untuk melakukan aktivitas publik atau interaksi sosial secara sukarela pada ruangruang publik, termasuk jalur pedestrian sebagai ruang publik. Hal ini dapat disimpulkan bahwa keberadaan ruang publik seperti jalur pedestrian sangat dibutuhkan pada sebuah kawasan (urban space) untuk mendukung aktivitas sosial masyarakatnya. Begitu juga dengan kawasan Kota Tua Jakarta tentunya juga membutuhkan ruang publik seperti jalur pedestrian untuk mendukung aktivitas pengguna kawasan ini. Penataan jalur pedestrian pada kawasan Kota Tua Jakarta sebagai wadah ruang pejalan kaki memiliki banyak hal untuk ditawarkan untuk berbagai kalangan dan golongan, dari yang muda hingga yang tua, pria maupun wanita, kaya maupun miskin. Ruang publik ini menjadi tempat aktivitas dan terjalinnya interaksi antar manusia pada kawasan yang melahirkan keaktifan sosial yang ramah serta menyenangkan. Ruang ini dapat menjadi tempat bersantai, melakukan aktivitas berjalan pada sore hari sambil menikmati indahnya sudut-sudut kota tua ini, makan siang pada caf-caf yang terdapat di sisi ruang jalur pedestrian, bersepeda santai dan window

Gambar 4a dan 4b. Aktivitas Sosial yang Terjadi Pada Jalur Pedestrian di Kawasan Ramblas, Barcelona dan Interaksi Antar Manusia yang Terjadi Pada Jalur Pedestrian yang Menjadikan Suatu Tempat Menjadi Menarik dan Berkualitas (Sumber: www.barcelona-touristguide.com/en/albums-en/ramblas/ dan www.flickr.com)

Ditinjau dari sudut pandang lingkungan, Shirvani (1985) menyatakan bahwa jalur pedestrian merupakan salah satu alat yang kuat dalam menyusun lingkungan kota. Suatu lingkungan akan menjadi tempat yang menarik jika memiliki jalur pedestrian yang mendatangkan rasa nyaman, aman dan memberikan visualisasi kawasan yang estetis, karena pada jalur pedestrian ini mampu menghadirkan suasana dan lingkungan yang spesifik, unik dan dinamis di lingkungan pusat

kota. Jalur pedestrian yang ditata dan dipadu dengan penghijauan yang baik akan meningkatkan kualitas udara, air dan tanah pada kawasan Kota Tua Jakarta. Kondisi ini juga akan meningkatkan kualitas hidup manusia yang baik, sehat dan berdampak positif terhadap upaya penurunan tingkat pencemaran udara dan suara. Kondisi seperti ini akan memberikan kontribusi yang positif jika diterapkan pada Kawasan Kota Tua Jakarta dan hal ini akan memacu perbaikan lingkungan kawasan Kota Tua Jakarta dengan hadirnya fasilitas ruang pejalan kaki ini.

penataan jalur pedestrian yang baik pada kawasan yang mendekatkan pengguna jalur pedestrian dengan bangunan. Penerapan jalur pedestrian yang didekatkan dengan bangunan akan mampu menciptakan kontrol sosial dan rasa kondusif bagi kawasan. Kriminalitas pun dapat menurun karena aktivitas yang terjadi di jalur pedestrian memberikan pengawasan terhadap apa yang terjadi di lingkungan tersebut. Masyarakat dan pengguna kawasan ini akan merasa aman dalam bekerja, tinggal dan berinteraksi dengan sesamanya. Kenyamanan, keamanan dan kesenangan yang didapat akibat adanya jalur pedestrian yang baik tersebut tentu akan menarik lebih banyak pengunjung untuk datang, roda perekonomian dapat bergulir, secara sosial lebih terjamin dan lingkungan menjadi lebih estetis. Kehidupan sosial yang terjadi pada ruang jalur pedestrian itulah yang menjadi denyut nadi peradaban masyarakat urban kawasan ini dan hal ini sangat tepat diterapkan pada upaya revitalisasi Kawasan Kota Tua Jakarta sebagai upaya menjadikan sebuah tempat yang menarik (interesting place).

DAFTAR PUSTAKA
Ashworth, G. J. 1991. Heritage Planning: Conservation as the Management of Urban Change. Groningen: Geo Pers. Carmona, et all, 2003. Public Places Urban Spaces The Dimention of Urban Design, Architecture Press. Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta, 2007. Sejarah Kota Tua. Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta, 2007. Guidelines Kota Tua. Jan Gehl and Lars Gemzoe, Public Spaces Public Life, The Danish Architectural Press, Copenhagen, 1996. Lynch, Kevin, 1960. The Image of The City, MIT Press, Cambridge, MA. Martokusumo, Widjaja (2006), Revitalisasi dan Rancang Kota: Beberapa Catatan dan Konsep Penataan Kawasan Kota Berkelanjutan, Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota. Volume 17, Nomor 3 Desember 2006. Shirvani, Hamid, 1985. The Urban Design Process, Van Nostrand Reinhold Company Inc.

Gambar 5a dan 5b. Penataan penghijauan pada jalur pedestrian dapat meningkatkan kualitas lingkungan, sehingga memberikan citra yang baik terhadap kawasan tersebut. (Sumber: www.gettyimages.com & www.flickr.com)

V. PENUTUP Upaya revitalisasi kawasan Kota Tua Jakarta tidak hanya upaya untuk menciptakan tempat yang indah (beautiful place) tetapi juga harus mampu menjadikan kawasan ini sebagai tempat yang menarik (interesting place). Ketertarikan tersebut dapat terindikasi dengan adanya beragam aktivitas yang mendukung pengguna kawasan, kondisi lingkungan yang nyaman dan kondusif, dan terciptanya citra kawasan yang baik dan prestige. Hal ini dapat tercapai dengan adanya dukungan dari

Trancik, Roger. 1986. Finding Lost Space, Van Nostrand Reinhold Company Inc.

WEBSITE INTERNET:
www.barcelona-tourist-guide.com/en/albums-en/ramblas/ www.flickr.com www.gettyimages.com www.pps.org