Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang

Mikroorganisme dapat ditumbuhkan dan dikembangkan pada suatu substrat yang disebut medium. Medium yang digunakan untuk mengembangbiakkan mikroorganisme tersebut harus sesuai susunanya dengan kebutuhan dari jenis-jenis mikroorganisme yang bersangkutan. Beberapa mikroorganisme dapat hidup baik pada medium yang sangat sederhana yang hanya mengandung garam anargonik di tambah sumber karbon organik seperti gula. Sedangkan mikroorganime lainnya memerlukan suatu medium yang sangat kompleks yaitu berupa medium ditambahkan darah atau bahan-bahan kompleks lainnya yang sesuai. (Volk, dan Wheeler,1993 . Mikrobiologi Dasar Jilid 1). PDA (potato Destrose Agar) merupakan media yang biasa digunakan untuk menumbuhkan jasad renik. PDA termasuk media buatan karena komposisi serta kandungan unsur-unsur di dalamnya tidak diketahui secara pasti. Ada 2 jenis media lainnya yaitu media 1/2 buatan dan media buatan murni. Karena media ini digunakan untuk menumbuhkan jasad renik maka kandungan bahan-bahan di atas mesti mencukupi nutrisi bagi jasad renik tersebut untuk tumbuh dan berkembang biak. Kentang yang diambil adalah ekstraknya dan berfungsi sebagai mineral. Sedang gula berfungsi sebagai sumber energi, dan agar sebagai lingkungan. (Rio, 2008).
Vitamin dalam media biakan berfungsi membentuk substansi yang mengaktivasi enzim. Mikroorganisme memperlihatkan gejala yang berlainan dala pola pengambilan nutrisi. Meskipun semua Mikroorganisme membutuhkan vitamin dalam proses metaboliknya, namun beberapa jenis

Mikroorganisme nampu mensintesis kebutuhan vitaminnya sendiri dari senyawa-senyawa lain di dalam medium (Hadioetomo, 1986). Vitamin-vitamin yang sering ditambahkan dalam medium biakan adalah : Niasin, Glisin, Piridoksin, HCl, Tiamin, Asam folat, dan lain-lain (Soeryowinoto, 1985) Zat pengatur tumbuh pada tanaman adalah senyawa organik bukan hara, yang dalam jumlah sedikit namun dapat mendukung, menghambat dan merubah proses fisiologi tumbuhan. Zat pengatur tumbuh sangat diperlukan sebagai komponen medium bagi pertumbuhan dan diferensiasi, tanpa penambahan zat pengatur tumbuh dalam medium, pertumbuhan Mikroorganisme sangat terhambat bahkan mungkin tidak dapat tumbuh sama sekali (Gardener, 1993).

Media biakan ada yang berbentuk padat, cair dan semi padat . Media padat adalah media biakan yang dipadatkan dengan agar, ada yang bersifat reversible (dapat dibalik) seperti agar nutrien dan ada yang bersifat ireversible (tidak dapat dibalik) seperti serum darah terkoagulasi. Dalam kedokteran, media padat yang bersifat irreversible paling sering digunakan. Sedang agar nutrient banyak digunakan dalam media lain. Bentuk media lain berupa cair adalah campuran komponen-komponen zat kimia tertentu dengan air suling, sedang media yang secara fisik merupakan intermediate antara media cair dan padat, seperti agar lunak. Media ada yang bersifat kompleks dan sintetik. Media sintetik adalah media yang semua komponennya merupakan bahan kimia yang semua komponennya merupakan bahan kimia yang nyata dan spesifik dari segi kandungannya kurang jelas atau tidak dapat dipastikan, sering diistilahkan dengan medium kompleks (Soryowinoto, 1985).

Penggunaan agens hayati kini mulai dikembangkan guna mengurangi penggunaan fungisida sintetik dalam mengendalikan patogen yang memiliki banyak kelemahan. Pengertian agens hayati menurut FAO (1988) adalah mikroorganisme, baik yang terjadi secara alami seperti bakteri, cendawan, virus dan protozoa, maupun hasil rekayasa genetik (genetically modified microorganisms) yang digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang kemudian dilengkapi lagi dengan kriteria yaitu organisme yang dapat berkembang biak sendiri seperti parasitoid, predator, parasit, artropoda pemakan tumbuhan dan patogen (FAO, 1988: FAO, 1997, dalam Supriadi 2006). Potensi utama dari Trichoderma spp. adalah sebagai agens pengendali hayati jamur patogen pada tanaman. Jamur ini secara alami merupakan parasit yang menyerang banyak jenis jamur penyebab penyakit tanaman (spektrum pengendalian luas). Jamur Trichoderma sp. dapat menjadi hiperparasit pada beberapa jenis jamur penyebab penyakit tanaman, pertumbuhannya sangat cepat dan tidak menjadi penyakit untuk tanaman tingkat tinggi (Purwantisari dan Hastuti, 2009). Jamur Trichoderma spp. dapat menghasilkan enzim kitinase. Menurut Habazar dan Yaherwandi (2006), Trichoderma harzianum menghasilkan enzim kitinase yang mengkatalisatori hidrolisis kitin dari dinding hifa jamur patogen sehingga menyebabkan lisis. Enzim ini terdiri dari eksokitinase, endokitinase dan chitobiosidase. Rogis et al (2007) juga menyatakan bahwa kitinase merupakan enzim yang penting dalam pengendalian patogen karena aktifitas enzim ini dapat menyebabkan terurainya dinding sel hifa serta perubahan komposisi sitoplasma sel jamur patogenik yang menginfeksi tanaman dan

meransang respon resistensi dari tanaman. Enzim kitinase produksi genus Trichoderma spp. lebih efektif dari enzim kitinase yang dihasilkan oleh organisme lain untuk menghambat berbagai fungi patogen tanaman (Nugroho et al, 2003). Elfina et al (2001) mengemukakan bahwa aplikasi isolat-isolat Trichoderma spp. dapat memperlambat masa inkubasi Sclerotium rolfsii pada bibit cabai dibandingkan control (tanpa aplikasi isolat Trichoderma spp.). Menurut Nugroho et al (2001), Trichoderma sp. Juga berpotensi untuk mengendalikan jamur patogen Ustulina zonata, penyebab penyakit charcoal base rot pada tanaman kelapa sawit. Jamur Trichoderma viride memiliki pertumbuhan yang agresif, dapat menutupi koloni jamur lain, menghambat pertumbuhan jamur Fusarium moniliforme, bahkan dapat melisis dinding hifanya dengan enzim yang dihasilkannya, cell wall degrading enzymes/CWDE (Gholib dan Kusumaningtyas, 2006). Menurut Purwantisari dan Hastuti (2009), Trichoderma spp. selain mampu mengkoloni rhizosfer dengan cepat dan melindungi akar dari serangan jamur patogen, jamur ini juga dapat mempercepat pertumbuhan tanaman dan meningkatkan hasil produksi tanaman yang menjadi keunggulan lain sebagai agen pengendali hayati. Selain itu, menurut Natawigena (1994) penggunaan agen hayati ini relatif aman karena tidak menimbulkan efek samping, baik bagi organisme bukan sasaran maupun lingkungan, tidak menimbulkan resistensi pada patogen dan lebih ekonomis. Potensi lain yang dimiliki Trichoderma spp ini adalah dalam keadaan lingkungan yang kurang baik, miskin hara atau kekeringan, jamur ini akan tetap dapat bertahan dengan membentuk klamidospora. Propagul tersebut akan tumbuh dan berkembang kembali apabila lingkungan kembali normal. Hal itu berarti dengan sekali aplikasi saja, Trichoderma akan tetap tinggal dalam tanah untuk selamanya. 1.2 tujuan tujuan praktikum pembuatn starter adalah untuk mengetahui

BAB II BAHAN DAN METODE 2.1. Waktu dan Tempat Praktikum pembuatan starter ini dilaksanakan di laboratorium penyakit tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Riau, pada tanggal 18 Oktober 2011 pukul 10.00 Wib. 2.2. Alat dan Bahan Alat yang digunakan yaitu Cawan petri, jarum ose, panci, alat pengaduk nasi, kompor, lampu Bunsen, sprayer, spidol dan hekter. Bahan yang dibutuhkan yaitu biakan murni Trichoderma sp, bahan pembawa (biji jagung tumbuk kasar), air, sepiritus, dan kantong plastik transparan ukuran kg. 2.3. 1. 2. 3. 4. Cara Kerja Bahan pembawa (biji jagung tumbuk kasar) dikukus sampai matang. Diamkan selama 15 menit dengan tujuan untuk pendinginan. Masukkan bahan pembawa kedalam kantong plastic transparan ukuran kg. Siapkan sumber inokulum agen antagonis Trichoderma sp (yang sudah dibiakkan dalam media agar di cawan petri). 5. 6. 7. 8. 9. Satu cawan petri agen antagonis di bagi menjadi 8 bagian. Masukkan 1/8 bagian ke dalam kantong yang telah berisi bahan pembawa. Tutup plastik dengan hekter/direkat membentuk kerucut. Simpan di tempat yang sejuk dengan kelembaban yang terjaga. Cara kerja pembuatan starter ini dilakukan secara steril, pekerja harus menyeterilkan terlebih dahulu kedua tangannya dengan menyemprotkan sepiritus. 10. Tangan harus bersih dari aksesoris seperti cincin, gelang, dan jam tangan karena boleh jadi akan menjadi sumber kontaminan yang menyebabkan tidak berhasilnya perbanyakan agen antagonis Trichoderma sp. 11. Untuk penyimpanan, simpan ditempat yang tidak terkena cahaya matahari secara langsung. Alas dan tutup dengan kertas Koran yang telah dilembabkan. Jaga kelembaban dengan menyemprotkan air ke Koran yang berfungsi sebagai alas dan penutup. 12. Amati pertumbuahn dan perkembangan Trichoderma sp pada bahan pembawa pada hari ke7 dan ke-14.

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil

Gambar perkembangan Trichoderma sp selama 14 hari

Bentuk dan warna Koloni terlihat transparan sampai dengan putih, Hasil pengamatan secara makroskopis
Trichoderma spp mempunyai bentuk koloni menjari dengan warna hijau tua pada bagian yang

mempunyai hifa tebal dan hijau muda pada hifa tidak terlalu tebal. Pada hifa tipis (hifa yang masih berkembang) berwarna hijau transparan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Haryono Sumangun (2001), bahwa Trichoderma spp. mempunyai kelompok konidium berwarna hijau biru. Koloni cendawan

trichoderma spp. berwarna hijau tua sampai dengan hitam pekat dan tidak berbau busuk, pada beberapa species dapat diproduksi semacam bau seperti permen atau kacang. 3.2 Pembahasan
Trichoderma spp. merupakan jamur antagonis yang sangat penting untuk pengendalian hayati Mekanisme pengendalian Trichoderma spp. yang bersifat spesifik target, mengoloni rhizosfer dengan cepat dan melindungi akar dari serangan jamur patogen, mempercepat pertumbuhan tanaman dan meningkatkan hasil produksi tanaman, menjadi keunggulan lain sebagai agen pengendali hayati. Aplikasi dapat dilakukan melalui tanah secara langsung. Selain itu Trichoderma spp sebagai jasad antagonis mudah dibiakkan secara massal dan mudah disimpan dalam waktu lama (Arwiyanto, 2003). Diketahui bahwa beberapa spesies Trichoderma mampu menghasilkan metabolit gliotoksin dan viridin sebagai antibiotik dan beberapa spesies juga diketahui dapat mengeluarkan enzim b1,3-glukanase dan kitinase yang menyebabkan eksolisis pada hifa inangnya, namun proses yang terpenting yaitu kemampuan mikoparasit dan persaingannya yang kuat dengan patogen (Chet, 1987). Beberapa penelitian yang telah dilakukan, Trichoderma Sp memiliki peran antagonisme terhdap beberapa patogen tular tanah yang berperan sebagai mikoparasit terhadap beberapa tanaman inang. Chet (1987), berpendapat bahwa bahwa mikoparasitisme dari Trichoderma Sp. merupakan suatu proses yang kompleks dan terdiri dari beberapa tahap dalam menyerang inangnya. Interaksi awal dari Trichoderma Sp. yaitu dengan cara hifanya membelok ke arah jamur inang yang diserangnya, Ini menunjukkan adanya fenomena respon kemotropik pada Trichoderma Sp. karena adanya rangsangan dari hyfa inang ataupun senyawa kimia yang dikeluarkan oleh jamur inang. Ketika mikoparasit itu mencapai inangnya, hifanya kemudian membelit atau menghimpit hifa inang tersebut dengan membentuk struktur seperti kait (hook-like structure), mikoparasit ini juka terkadang mempenetrasi miselium inang dengan mendegradasi sebagian dinding sel inang.

Mikroorganisme ini adalah jamur penghuni tanah yang dapat diisolasi dari perakaran tanaman lapangan. Spesies Trichoderma disamping sebagai organisme pengurai, dapat pula berfungsi sebagai agen hayati dan stimulator pertumbuhan tanaman. Beberapa spesies Trichoderma telah dilaporkan sebagai agensia hayati seperti T. Harzianum, T. Viridae, dan T.

Konigii yang berspektrum luas pada berbagai tanaman pertanian. Biakan jamur Trichoderma dalam media aplikatif seperti dedak dapat diberikan ke areal pertanaman dan berlaku sebagai biodekomposer, mendekomposisi limbah organik (rontokan dedaunan dan ranting tua) menjadi kompos yang bermutu. Serta dapat berlaku sebagai biofungisida. Trichoderma sp dapat menghambat pertumbuhan beberapa jamur penyebab penyakit pada tanaman antara lain Rigidiforus lignosus, Fusarium oxysporum, Rizoctonia solani, Sclerotium rolfsii, dll. Sifat antagonis Trichoderma meliputi tiga tipe : 1. Trichoderma menghasilkan sejumlah enzim ekstraseluler beta (1,3) glukonase dan kitinase yang dapat melarutkan dinding sel patogen 2. Beberapa anggota trichoderma sp menghasilkan toksin trichodermin. Toksin tersebut dapat menyerang dan menghancurkan propagul yang berisi spora-spora patogen disekitarnya 3. Jenis Trichoderma viridae menghasilkan antibiotik gliotoksin dan viridin yang dapat melindungi bibit tanaman dari serangan penyakit rebah kecambah Warna Koloni cendawan trichoderma spp. berwarna hijau tua sampai dengan hitam pekat dan tidak berbau busuk. Pada awal pertumbuhan bentuk dari media yang telah diiinokulasi dengan trichoderma sp masih utuh, yaitu jagung belum mengalami perubahan bentuk dan perubahan warna. Terjadinya perubahan warna ini terjadi pada umur 7 s/d 14 hari, dan pada umur 14 hari ini media yang telah diinokulasi dengan trichoderma sp telah matang dan mengalami perubahan warana, yang semula warnanya putih berubah warna menjadi hijau tua kehitaman. Perubahan warna ini terjadi karena pertumbuhan dari media yang diinokulsi dengan trichoderma berjalan dengan baik. Pada awal pertumbuhan media tersebut mengeluarkan miselium dan setelah beberapa hari miselium tersebut tumbuh dan mengeluarkan spora, hal inilah yang menyebabkan perubahan warna dari putih sampai dengan warna hijau tua kehitaman pada media yang telah diinokulasi dengan trichoderma sp. Kondisi optimum atau suhu optimum untuk pertumbuhan trichoderma sp pada temperatur rendah, ada pula yang tumbuh pada temperatur yang sangat tinggi.

Trichoderma yang dikulturkan dapat tumbuh cepat pada suhu 25-300 C, namun pada suhu 350 C cendawan ini tidak dapat tumbuh. Perbedaan suhu mempengaruhu produksi beberapa enzim seperti karboksimetilselulase dan xilanase. Kemampuan merespon kondisi pH pada

kandungan CO2 juga bervariasi. Namun secara umum apabila kandungan CO2 meningkat maka kondisi pH untuk pertumbuhan akan bergeser menjadi semakin basa. Diudara faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan trichoderma adalah kelembababn, sedangkan kandungan garam tidak terlalu mempengaruhi trichoderma. Sukrosa dan glukosa merupakan sumber karbon utama bagi trichoderma, sedangkan pada species lain trichoderma sumber nitrogenya berasal dari ekstrak khamir dan tripton. Pada trichoderma yang dikultur, morfologi koloninya tergantung pada media tempat bertumbuh. Pada media yang niyrisinya terbatas, koloni tampak transparan, sedangkan pada media yang nutrisinya lebih banyak, koloni dapat terlihat lebih putih. Konidia dapat terbentuk dalam satu minggu, warnanya dapat hijau, kuninga atau putih. Reproduksi aseksual trichoderma menggunakan konidia, konidia terdapat pada struktur konidiofor. Konidiofor ini memiliki banyak cabang. Cabang utama akan membentuk cabang, ada yang berpasangan ada yang tidak. Cabang tersebut kemudian akan bercabang lagi, pada ujung cabang terdapat fialid. Fialid dapat berbentuk silindris, lebarnya dapat sama dengan batang utama maupun lebih kecil.

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Mikroorganisme dapat ditumbuhkan dan dikembangkan pada suatu substrat yang disebut medium. Medium yang digunakan untuk mengembangbiakkan mikroorganisme tersebut harus sesuai susunanya dengan kebutuhan dari jenis-jenis mikroorganisme yang bersangkutan. PDA (potato Destrose Agar) merupakan media yang biasa digunakan untuk menumbuhkan jasad renik. PDA termasuk media buatan karena komposisi serta kandungan unsur-unsur di dalamnya tidak diketahui secara pasti. Ada 2 jenis media lainnya yaitu media 1/2 buatan dan media buatan murni. Karena media ini digunakan untuk menumbuhkan jasad renik maka kandungan bahan-bahan di atas mesti mencukupi nutrisi bagi jasad renik tersebut untuk tumbuh dan berkembang biak. Kentang yang diambil adalah ekstraknya dan berfungsi sebagai mineral. Sedang gula berfungsi sebagai sumber energi, dan agar sebagai lingkungan. (Rio, 2008).
Vitamin-vitamin yang sering ditambahkan dalam medium biakan adalah : Niasin, Glisin, Piridoksin, HCl, Tiamin, Asam folat, dan lain-lain (Soeryowinoto, 1985)

Jamur Trichoderma spp. dapat menghasilkan enzim kitinase. Menurut Habazar dan Yaherwandi (2006), Trichoderma harzianum menghasilkan enzim kitinase yang mengkatalisatori hidrolisis kitin dari dinding hifa jamur patogen sehingga menyebabkan lisis. Enzim ini terdiri dari eksokitinase, endokitinase dan chitobiosidase.
Trichoderma spp. merupakan jamur antagonis yang sangat penting untuk pengendalian hayati Mekanisme pengendalian Trichoderma spp. yang bersifat spesifik target, mengoloni rhizosfer dengan cepat dan melindungi akar dari serangan jamur patogen, mempercepat pertumbuhan tanaman dan meningkatkan hasil produksi tanaman, menjadi keunggulan lain sebagai agen pengendali hayati.

Warna Koloni cendawan trichoderma spp. berwarna hijau tua sampai dengan hitam pekat dan tidak berbau busuk. Pada awal pertumbuhan bentuk dari media yang telah diiinokulasi dengan trichoderma sp masih utuh, yaitu jagung belum mengalami perubahan bentuk dan perubahan warna. Terjadinya perubahan warna ini terjadi pada umur 7 s/d 14 hari, dan pada umur 14 hari ini media yang telah diinokulasi dengan trichoderma sp telah matang dan

mengalami perubahan warana, yang semula warnanya putih berubah warna menjadi hijau tua kehitaman. Trichoderma yang dikulturkan dapat tumbuh cepat pada suhu 25-300 C, namun pada suhu 350 C cendawan ini tidak dapat tumbuh. 4.2 Saran Sebaiknya di dalam pelaksanaan praktikum ada koordinasi yang lenih baik lagi dari asisten ke praktikan sehingga apa yang dilaksanakan dalam praktikum dapat diterima dan dimengerti oleh praktikan, serta keseriusan praktikan juga sangat dituntut agar praktikum dapat mencapai tujuannya.

DAFTAR PUSTAKA http://bemfapertaunri.blogspot.com/2011/09/potensi-trichoderma-spp-sebagai-agens.html diakses tanggal 30 Oktober 2011 http://hamasyahri.blogspot.com/2011/01/trichoderma-spp.html diakses tanggal 30 Oktober 2011 http://klanapujangga.wordpress.com/2010/12/13/pengendalian_hayati/ Oktober 2011 http://penyuluhthl.wordpress.com/2011/10/01/peranan-trichoderma-sp/ November 2011 http://putrautama1412.blogspot.com/ diakses tanggal 11 November 2011 http://www.sehatcommunity.com/2011/06/agens-hayati-trichoderma-sp.html#axzz1dySYkRB4 diakses tanggal 9 November 2011 diakses tanggal 30

diakses

tanggal

LAPORAN PRAKTIKUM PENGENDALIAN HAYATI DAN PENGELOLAAN HABITAT (C) PEMBUATAN STARTER (BIAKAN INDUK)

INDAH FEBRIANTI SURYANA 0906121487

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU 2011

KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan kepada Allah SWT, Rabb semesta alam, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan praktikum mata kuliah pengendalian hayati dan pengelolaan habitat yang berjudul pembuatan starter (biakan induk). Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Asisten yang telah memberi bimbingan, arahan, saran, dan sumbangan pikiran yang sangat berarti bagi penulis dalam mengerjakan laporan praktikum ini. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan baik dari segi penyajian maupun penulisan laporan ini, untuk itu kritik dan saran yang sifatnya membangun dari semua pihak sangat penulis harapkan demi kesempurnaan laporan ini.

Pekanbaru, November 2011

Penulis