Anda di halaman 1dari 15

Laporan Praktikum Biokimia Kedokteran Blok CHEM II PEMERIKSAAN METHEMOGLOBIN

Disusun Oleh : Nama NIM Kelompok Asisten : : : : Famila G1A009044 XII Ayu Asyifa RF

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KEDOKTERAN PURWOKERTO

2010 LEMBAR PENGESAHAN

Oleh : Famila G1A009044 Kelompok XII

Disusun untuk memenuhi persyaratan mengikuti ujian praktikum biokimia Kedokteran Blok CHEM II pada Program Pendidikan Dokter Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Diterima dan disahkan Purwokerto, Mei 2010

Asisten

Ayu Asyifa RF

NIM. G1A007028 BAB I PENDAHULUAN A. Judul Praktikum Pemeriksaan methemoglobin

B. Tanggal Praktikum Rabu, 19 Mei 2010

C. Tujuan Praktikum 1. Mahasiswa akan dapat mengukur kadar methemoglobin dalam

darah dengan menggunakan spektrofotometer. 2. Mahasiswa akan dapat menyimpulkan hasil pemeriksaan

methemoglobin pada saat praktikum setelah membandingkannya dengan nilai normal.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Hemoglobin adalah protein pengangkut oksigen yang terdapat pada eritrosit. Struktur hemoglobin terdiri dari satu globin yang tersusun atas empat rantai polipeptida. Masing-masing rantai polipeptida terikat dengan satu gugus heme. Setiap gugus heme mengandung besi ferro (fe2+). Setiap ferro dapat mengikat satu atom oksigen. Dengan demikian, satu hemoglobin dapat mengikat empat atom oksigen. (Sherwood, 2001) Methemoglobin merupakan bentuk hemoglobin yang teroksidasi, di mana ferro yang sangat rentan teroksidasi oleh zat-zat oksidator akan berubah menjadi ferri (fe3+). Besi dalam bentuk ferri tidak dapat berikatan dengan oksigen sehingga methemoglobin tidak mampu untuk melaksanakan fungsi utama hemoglobin yaitu mengangkut oksigen dari paru ke jaringan. Kadar methemoglobin dalam darah sangat sedikit. Hal ini disebabkan oleh adanya sistem NADH-sitokrom b5

methemoglobin reduktase yang dapat mengembalikan ferri yang sudah terbentuk menjadi ferro sehingga methemoglobin akan berubah kembali menjadi hemoglobin yang fungsional. (Murray, 2003) Methemoglobin terbentuk ketika besi dalam hemoglobin teroksidasi dari bentuk ferro (Fe2+) menjadi bentuk ferri (Fe3+). Ketika ferro hemoglobin teroksidasi menjadi Fe3+, hemoglobin tersebut kehilangan kemampuannya untuk membawa oksigen. Pada orang dewasa yang sehat jumlah methemoglobin dalam darahnya kurang dari 2% dari total hemoglobin. Tingkat ini dipertahankan terutama oleh transfer elektron dari dinukleotida nicotinamide adenin (NADH) menjadi NADH b5 sitokrom reduktase. (Kwok, 2008)

Pada sistem ini terdapat dua enzim yang berfungsi untuk mereduksi methemoglobin dalam eritrosit. Kedua enzim ini adalah NADH-cytochrome b5 reductase dan NADPH-flavin reductase. Mekanisme kerja enzim ini dalam mereduksi methemoglobin dapat dijelaskan dengan reaksi sebagai berikut : Hb-Fe3+ + Cyt b5 red Hb-Fe2+ + Cyt b5 oks

Lalu, untuk mendapatkan kembali sitokrom b5 yang tereduksi, terjadi reaksi sebagai berikut : Cyt b5 oks + NADH (Murray, 2003) Methemoglobin (MetHb) dapat terbentuk karena berbagai macam zat, salah satu contohnya adalah senyawa nitrit. Senyawa nitrit dapat masuk ke tubuh melalui berbagai jalur, misalnya ingesti. Salah satu contoh makanan yang bisa menjadi sumber nitrit adalah bayam.Nitrat (NO3) pada bayam jika dibiarkan dalam waktu lama atau dipanaskan akan teroksidasi menjadi nitrit (NO2). Nitrit bersifat toksik bagi tubuh manusia. Jika nitrit berikatan dengan hemoglobin dalam eritrosit, akan terjadi reaksi oksidasi yang membentuk metHb. Jika kadar metHb yang terbentuk sudah berlebihan, bisa menimbulkan berbagai macam penyakit. (Dharmawan, 2008) Cyt b5 red + NAD

BAB III METODE PRAKTIKUM A. Alat dan Bahan 1. a. Spuit 3 cc b. Tourniquet c. Plakon d. Tabung reaksi e. Rak tabung reaksi f. Beackerglass g. Mikropipet (10 l -100 l) h. Mikropipet yellow tip i. Kuvet j. Spektrofotometer 2. Bahan a. Sampel darah b. EDTA c. Na nitrit d. Aquadest Probandus Nama Jenis Kelamin Usia : Khafizati Amalina FR : perempuan : 18 tahun Alat

B. Cara Kerja a. a. Penetapan Oksihemoglobin Diambil darah probandus dengan spuit sebanyak 2,5 cc,

kemudian 0,5 cc dimasukkan ke dalam plakon yang telah diberi EDTA 1 tetes (whole blood). b. cc. c. d. Setelah itu, ditambahkan whole blood sebanyak 10 l. Lalu dituang ke dalam kuvet sebanyak 5 cc dan dibaca Disiapkan beackerglass dan diisi aquadest sebanyak 20

absorbansinya pada spektrofotometer dengan panjang gelombang 546 nm dan nilai faktor 100. b. a. Penetapan Deoksihemoglobin Diambil darah probandus dengan spuit sebanyak 2,5 cc,

kemudian 0,5 cc dimasukkan ke dalam plakon yang telah diberi EDTA 1 tetes (whole blood). b. cc. c. d. Setelah itu, ditambahkan whole blood sebanyak 10 l. Lalu dituang ke dalam kuvet sebanyak 5 cc dan Disiapkan beackerglass dan diisi aquadest sebanyak 20

ditambahkan Na nitrit sebanyak 2 tetes sampai berwarna coklat. e. Setelah itu dibaca absorbansinya pada spektrofotometer

dengan panjang gelombang 546 nm dan nilai faktor 100. C. Nilai Normal Kadar metHb dalam darah < 4 %

D. Rumus Perhitungan Kadar metHb = (abs oksi abs deoksi) x 100 %

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Pengamatan Absorbansi oksihemoglobin = 4%

Absorbansi deoksihemoglobin = 4 %

Kadar metHb = (abs oksi abs deoksi) x 100 % = (0,04 0,04) x 100 % =0% Interpretasi hasil B. Pembahasan Praktikum pemeriksaan methemoglobin diawali dengan pengambilan darah dari probandus. Lalu darah tersebut diambil sebanyak 10 l dan dimasukkan ke dalam plakon yang sebelumnya telah diberi EDTA sebanyak 1 tetes. EDTA berfungsi sebagai antikoagulan darah. Campuran darah dengan EDTA ini disebut whole blood. Whole blood tersebut kemudian dicampurkan dengan aquadest sebanyak 20 cc dalam beackerglass. Lalu campuran tersebut dituang ke dalam 2 tabung reaksi yang berbeda masing-masing sebanyak 5 cc. Tabung pertama digunakan untuk oksihemoglobin. Pada tabung ini tidak ditambahkan zat apapun lagi. Tabung kedua digunakan untuk kadar metHb normal

deoksihemoglobin. Pada tabung ini ditambahkan Natrium nitrit sebanyak 2 tetes. Natrium nitrit berfungsi sebagai oksidator hemoglobin sehingga dapat terbentuk methemoglobin. Kemudian absorbansi kedua tabung tersebut dibaca dengan menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 546 nm

dan nilai faktor 100. Hasil yang didapat dari pengukuran absorbansi adalah untuk oksihemoglobin dan deoksihemoglobin dalam hal ini sama yaitu sebanyak 4 %, sehingga kadar metHb yang didapat pun hasilnya adalah 0 %. Kadar metHb yang 0 % seperti ini adalah normal karena posisinya masih berada di bawah nilai normalnya yaitu 4 %. Jika jumlahnya lebih dari 4 % baru dinyatakan bahwa kadar methemoglobin di dalam darah probandus tidak normal dan berbahaya bagi tubuh. Kadar metHb dalam darah bisa meningkat dan menurun. Pembentukan spontan methemoglobin normalnya ditahan oleh sistem enzim proteksi : NADH cytochrome-b5 reductase (jalur besar / major pathway) dan NADPH methemoglobin reductase (jalur kecil / minor pathway). Sistem enzim proteksi normalnya ada dalam sel darah merah untuk menjaga kadar methemoglobin setidaknya kurang dari satu persen jumlah total hemoglobin di dalam tubuh yang sehat. Interaksi dengan zat eksogen yang dapat mengoksidasi dan metabolitnya bisa mempercepat tingkat pembentukan methemoglobin sampai seribu kali lipat, melampaui kecepatan sistem enzim proteksi dan dengan cepat meningkatkan kadar methemoglobin. (Azhar, 2009) C. Aplikasi Klinis 1. Methemoglobinemia Methemoglobinemia adalah kelainan darah yang terjadi karena pembentukan methemoglobin akibat interaksi antara nitrit dengan hemoglobin dalam sel darah merah. Methemoglobin yang terbentuk, tidak seperti hemoglobin, tidak bisa mengangkut oksigen ke jaringan tubuh. Methemoglobinemia bisa terjadi karena keturunan (inherited) dan bisa

10

juga karena obat-obatan, bahan kimia, dan makanan (acquired). Ada 2 jenis methemoglobinemia yang diturunkan. Jenis pertama diturunkan oleh kedua orang tua carrier secara autosomal resesif kepada anaknya. Hal ini terjadi jika ada masalah dengan enzim sitokrom b5 reduktasenya. Jenis kedua disebut penyakit HbM, yaitu hemoglobin abnormal yang sebenarnya jarang menyebabkan methemoglobinemia. Untuk mengobati penderita methemoglobinemia serius dapat diberikan methylene blue. Namun, methylene blue akan menjadi zat yang berbahaya bagi orang dengan defisiensi G6PD sehingga penggunaannya harus selektif. Ascorbic acid juga bisa digunakan untuk mengurangi jumlah metHb. Alternatif lain yang dapat digunakan adalah dengan terapi oksigen hiperbarik dan transfusi tukar. (Vorvick, 2009) 2. Sianosis Sianosis adalah peristiwa berubahnya warna kulit dan mukosa menjadi kebiruan karena pengaruh terjadinya peningkatan kadar methemoglobin dalam eritrosit sehingga kadar oksigen dalam darah pun berkurang. Gejala sianosis biasanya baru tampak jika kadar

methemoglobin dalam darah sudah mencapai lebih dari 10 %. Pada umumnya, sianosis muncul apabila darah pada pembuluh arteri berisi lebih dari 5 gram hemoglobin yang tidak mengandung oksigen dalam setiap desiliter darah. Penderita penyakit anemia hampir tidak pernah mengalami sianosis karena dalam darah arterinya tidak terdapat cukup banyak hemoglobin yang tidak mengandung oksigen. Sebaliknya,

11

pada penderita yang mengalami kelebihan eritrosit dengan Hb yang jumlahnya banyak itu seringkali menyebabkan sianosis (Murray, 2003) 3. Hipoksia Hipoksia adalah kurangnya jumlah oksigen sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan tubuh. Secara tradisional hipoksia dibagi dalam empat jenis. Berbagai klasifikasi lain telah digunakan namun sistem empat jenis ini tetap sangat berguna apabila definisi masing-masing istilah tetap diingat. Keempat jenis hipoksia tersebut yaitu : a. Hipoksia hipoksik, terjadi karena adanya defisiensi

pertukaran oksigen di paru. Hal ini dapat disebabkan oleh penurunan tekanan parsial oksigen (PO2) atau kondisi yang menghambat pertukaran udara di kapiler alveoli (misalnya pneumonia, edema paru, asma, tenggelam). b. Hipoksia anemik, terjadi karena hemoglobin tidak mampu

mengangkut oksigen yang tersedia ke jaringan target.Hal ini disebabkan antara lain oleh anemia, keracunan CO, penggunaan obatobatan (aspirin, sulfonamide, nitrit), methemoglobinemia, dan sickle cell disease. c. Hipoksia stagnan, terjadi karena tidak cukupnya aliran

darah. Hal ini disebabkan antara lain oleh gagal jantung, penurunan volume sirkulasi darah, dan vasodilatasi. d. Hipoksia histotoksik, terjadi karena ketidakmampuan sel

untuk menggunakan oksigen yang telah tersedia. Hal ini dapat

12

disebabkan antara lain oleh keracunan sianida, konsumsi alkohol, dan narkotika. (Joseph, 2004)

13

BAB V KESIMPULAN 1. Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan pada hari Rabu, 19 Mei 2010, dengan probandus perempuan berusia 18 tahun, hasil yang didapat adalah kadar methemoglobin probandus adalah normal, yaitu 0 %. 2. Besi ferro pada hemoglobin rentan teroksidasi. Oksidasi besi ferro hemoglobin menjadi besi ferri akan membentuk methemoglobin yang tidak dapat mengangkut oksigen. 3. Aplikasi klinis yang dapat timbul atau berkaitan dengan kadar methemoglobin dalam darah antara lain adalah : a. b. c. Methemoglobinemia Sianosis Hipoksia

14

DAFTAR PUSTAKA Bayard, M., J. Farrow, and F. Tudiver. 2004. Acute Methemoglobinemia after Endoscopy. The Journal of the American Board of Family Practice.17 : 227-229. Da-Silva, S.S., I.S. Sajan, and J.P. Underwood. 2003. Congenital Methemoglobinemia: A Rare Cause of Cyanosis in The Newborn- A Case Report. Pediatrics. 112 : e158-e161. Joseph, Lynne. 2006. Alaska Air Medical Escort Training Manual. Ed 4. Juneau : Alaska Department of Health and Social Services. pp.72-73. Kwok, S., J.L. Fischer, and J.D. Rogers. 2008. Benzocaine and Lidocaine Induced Methemoglobinemia after Bronchoscopy : A Case Report. Journal of Medical Case Reports. 2 : 16. Murray, R.K., D.K. Granner, P.A. Mayes, V.W. Rodwell. 2003. Biokimia Harper. Edisi 25. Jakarta : EGC. hal 972. Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia : dari Sel ke Sistem. Edisi 2. Jakarta : EGC. hal 346.

15