Anda di halaman 1dari 5

Masalah Seksual

Pada
Pasien dengan Gangguan Ketergantungan Opioida
dalam
Terapi Rumatan Metadon
Untung Sentosa*, Lucky Saputra**

Abstrak
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui masalah seksual pasien PTRM dan apakah
pemberian metadon dapat menjadi penyebab gangguang fungsi seksual tersebut. Subjek
penelitian adalah pasien PTRM yang mengambil dosis harian metadon. Penelitian bersifat
survei, potong-lintang, berupa kuesioner data demografi Zung Self Rating Depression Scale
Zung Self Rating Anxiety Scale, dan Golombok-Rust Inventory Sexual Satisfaction-Male,
GRSS-M, Analisis korelasi menunjukkan bahwa dosis methadon mempunyai korelasi
negatif dengan ejakulasi dini (r=-0,465, p=0,045). Derajat depresi mempunyai korelasi
positif dengan gangguan ereksi (r = 0,514, p=0,024), ejakulasi dini (r=0,506, p=0,027),
masalah sensual (r=0,681, p=0,001), dan nilai total GRSS (r=0,629, p=0,004), Derajat
kecemasan mempunyai korelasi positif dengan gangguan ereksi (r=0,77, p=0,000), ejakulasi
dini (r=0,511, p=0,025), dan nilai total GRSS (r=0,740, p=0,000). Uji independent T-test
hanya terdapat perbedaan yang bermakna derajat kecemasan pada kelompok berdasarkan
masalah frekuensi (df=17, p=0,047). Hasil Uji derajat depresi yang merupakan prediktor
yang bermakna terhadap ejakulasi dini ( = 0,439 p=0,04). Dan derajat cemas merupakan
prediktor bermakna untuk gangguan ereksi (=0,770 p=0,000), dan nilai total GRSS
(=0,740, p=0,000). Kesimpulan : metadon mempunyai hubungan dengan fungsi ejakulasi
dan depresi serta kecemasan merupakan prediktor masalah seksual

Kata Kunci : Metadon, masalah seksual, depresi, cemas
* Residen PPDS lmu Kedokteran Jiwa FK UNPAD/RSHS Bandung
** Staf Pengajar PPDS lmu Kedokteran Jiwa FK UNPAD/RSHS Bandung


2

Latar BeIakang
Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) Adalah kegiatan memberikan metadon cair
dalam bentuk sediaan oral kepada pasien sebagai terapi pengganti adiksi opioida yang
biasa mereka gunakan. PTRM ini sebelumnya dikenal dengan PRM (Program Rumatan
Metadon). Poliklinik PTRM di RSHS mulai berdiri pada tahun 2006, berdasarkan SK
MenKes R No: 494/MENKES/SK/V/2006, Tentang Penetapan Rumah Sakit Dan Satelit Uji
Coba Pelayanan Terapi Rumatan Metadon Serta Pedoman Program Terapi Rumatan
Metadon.
1

Poliklinik ini melayani pemberian metadon bagi pasien dengan ketergantungan opiat. Pada
saat ini, pasien yang aktif sebanyak 71 orang, 28 orang Take home dose dan sisanya
pengambilan setiap hari.
Metadon (l-alpha acetylmethadol [LAAM]) adalah opioida sintetik yang digunakan sebagai
terapi subsitusi ketergantungan opioida karena beberapa kelebihan, yaitu: long acting
(onset: 24 72 jam, kadar puncak dicapai pada 3 8 hari dan durasi sampai beberapa
minggu), selain itu dapat metadon digunakan per-oral.
2

Penelitian Sarasvita menyimpulkan bahwa tingkat retensi 3 bulan pengobatan metadon di
ndonesia sebesar 74,2 % dan retensi 6 bulan sebesar 61,3 %. Selain itu terdapat
penurunan penggunaan heroin dan depresi serta peningkatan self-efficay dan kesehatan
fisik.
3

Gangguan Fungsi seksual merupakan salah satu efek samping pada penggunaan metadon
jangka lama.
2
Penelitian Brown menyimpulkan bahwa dosis metadon beranding lurus
dengan peningkatan gangguan orgasme tertunda.
4
Selain itu, pasien ini seringkali banyak
menghadapi berbagai berbagai permasalahan kehidupan yang dapat mempengaruhi kondisi
psikis pasien. Faktor psikis juga memberi kontribusi timbulnya gangguan fungsi seksual.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui masalah seksual pasien PTRM dan apakah
pemberian metadon dan faktor psikis dapat menjadi penyebab gangguan fungsi seksual
tersebut.
etode
Penelitian dilakukan pada poliklinik PTRM, pada bulan september 2011. Subjek penelitian
adalah pasien PTRM yang mengambil dosis harian metadon. Penelitian bersifat survei,
potong-lintang. Alat ukur berupa kuesioner yang terdiri dari 3 bagian, yaitu : bagian pertama
berisi : data demografi dan masalah seksual dalam persepektif pasien, bagian kedua berisi
Kuesioner 20 pertanyaan Zung Self Rating Depression Scale dan 20 pertanyaan Zung Self
Rating Anxiety Scale, kedua alat ukur tersebut telah diterjemahkan dan divalidasi oleh
wicaksana tahun 1995, pasien mengalami depresi jika nilai ZSRDS 50 atau lebih dan pasien
mengalami cemas jika ZSRAS 24 atau lebih,
5
bagian ketiga adalah Golombok-Rust
Inventory Sexual Satisfaction-Male, GRSS-M, alat ukur terdiri 28 pertanyaan yang
mengukur 7 domain fungsi seksual, seperti gangguan ereksi, gangguan ejakulasi dll, pasien
mengalami permasalahan seksual (masing-masing domain atau secara keseluruhan) jika
rata-rata 5 atau lebih.
6
Alat ukur ini diterjemahkan dan divalidasi sesuai dengan standar
WHO.
7
Semua kuesioner telah diujicoba pada pasien yang tidak diikut-sertakan dalam
penelitian.
Pasien diberikan penjelasan dan inform consent setelah pasien meminum metadon
hariannya. Jika pasien bersedia, pasien diminta mengisi kuesioner pada hari yang sama.
Analisis statistik menggunakan SPSS v.17.
asiI
Pada hari pengumpulan data sebanyak 30 pasien yang mengambil dosis harian, 21 pasien
(70%) yang bersedia mengikuti penelitian. Namun 2 kuesioner tidak dapat disertakan dalam
3

penelitian karena jawaban kuesionernya dinilai dijawab secara sembarang. Usia perserta
antara 28 40 tahun, rata-rata berusia 32,1 tahun, 52,6% pendidikan diploma/sarjana,
73,7% bekerja, walaupun hanya 47,4% menikah namun 94,7% memiliki pasangan tetap.
Sebagian besar pasien menggunakan zat lain, seperti : Alprazolam (57,9%), kopi (63,2%)
dan amitriptillin (26,3%). 52,9% pasien mengikuti program Anti-Retro Virat Therapy (ART).
Dosis metadon rata-rata 75,9 mg (15 200 mg). Tigapuluhenam persen (36,8%) pasien
mengalami depresi ringan, dengan rerata ZSRDS = 43,6, SD = 7,1 dan 31,6% mengalami
kecemasan ringan dengan rerata ZSRAS = 18,1, SD = 8,6.
Empat pasien menyatakan pernah mengalami masalah seksual, mulai dari gangguan
hasrat, gangguan ereksi dan gangguan ejakulasi. Dua orang tidak memberikan uraian
gangguan seksual yang dialaminya. Semua pasien tidak berobat ke dokter/dokter spesialis
dengan alasan malu.
Hasil olahan data GRSS menunjukkan bahwa masalah seksual yang terbanyak dialami
adalah masalah frekuensi hubungan (68,4%), selanjutnya masalah komunikasi (36,8%),
Gangguan ereksi dan gangguan ejakulasi Dini pada urutan ke 3 dan 4. Tabel 1.
Tabel 1. Persentase Masalah Seksual
Masalahsual
Mengalami Masalah
Jumlah %
Masalah Gangguan Ereksi 5 26,3%
Masalah Ejakulasi Dini 4 21,1%
Masalah Frekuensi Hubungan
Seksual
13 68,4%
Masalah "Menghindar
Hubungan Seksual"
3 15,8%
Masalah Sensual 3 15,8%
Masalah dalam Komunikasi
Hubungan Seksual
7 36,8%
Masalah Ketidak-puasan
Seksual
2 10,5%
Masalah Seksual Secara
Umum
1 5,3%

Analisis korelasi menunjukkan bahwa dosis methadon mempunyai korelasi negatif dengan
ejakulasi dini (r=-0,465, p=0,045). Derajat depresi mempunyai korelasi positif dengan
gangguan ereksi (r = 0,514, p=0,024), ejakulasi dini (r=0,506, p=0,027), masalah sensual
(r=0,681, p=0,001), dan nilai total GRSS (r=0,629, p=0,004), Derajat kecemasan
mempunyai korelasi positif dengan gangguan ereksi (r=0,77, p=0,000), ejakulasi dini
(r=0,511, p=0,025), dan nilai total GRSS (r=0,740, p=0,000). Tabel 2.
Tabel 2. Uji Korelasi Pearson

Uji independent T-test tidak terdapat perbedaan bermakna umur dan dosis metadon pada
semua kelompok berdasarkan masalah seksual. Ada perbedaan bermakna derajat depresi
r r r r r r r r
Umur Pasien ,135 ,582 -,006 ,980 ,172 ,482 ,333 ,163 ,157 ,521 ,331 ,166 ,148 ,547 ,337 ,159
Dosis Methadon Saat ni -,134 ,585 -.465
*
,045 -,270 ,263 -,329 ,168 -,100 ,685 ,104 ,672 ,095 ,700 -,264 ,276
Derajat Depresi .514
*
,024 .506
*
,027 ,002 ,993 ,345 ,149 .681
**
,001 ,286 ,235 ,160 ,513 .629
**
,004
Derajat Cemas .770
**
,000 .511
*
,025 ,235 ,332 ,352 ,140 .482
*
,037 ,356 ,134 ,249 ,304 .740
**
,000
Gangguan
Ereksi
Ejakulasi Dini
Masalah
Frekuensi
Masalah
Penolakan
Masalah
sensual
Masalah
Komunikasi
Ketidak-
puasan
Seksual
Nilai Total
GRSS

berdasarkan kelompok masalah gangguan ereksi, gangguan ejakulasi dini, masalah


menghindar hubungan seksual, masalah sensual dan masalah ketidak-puasan seksual dan
ada perbedaan bermakna derajat cemas pada kelompok berdasarkan masalah gangguan
ereksi, masalah frekuensi hubungan seksual, masalah menghindar hubungan seksual dan
masalah ketida-puasan seksual. Tabel 3.
Tabel 3 Uji independent t-test Berdasarkan Kelompok Masalah seksual

* p < 0,05

Hasil Uji regresi dengan ejakulasi dini sebagai variabel terikat dan dosis metadon, derajat
depresi dan derajat cemas sebagai prediktor menunjukkan bahwa hanya derajat depresi
yang merupakan prediktor yang bermakna terhadap ejakulasi dini ( = 0,439 p=0,04). Uji
regresi dengan variabel terikat gangguan ereksi dan nilai total GRSS dengan prediktor yang
sama didapatkan bahwa hanya derajat cemas yang merupakan prediktor bermakna untuk
gangguan ereksi (=0,770 p=0,000), dan nilai total GRSS (=0,740, p=0,000).
!embahasan
Pada penelitian ini, dosis metadon mempunyai hubungan korelasi negatif dengan gangguan
ejakulasi dini yang berarti peningkatan dosis metadon seiring dengan penurunan gangguan
ejakulasi dini. Hasil ini agak berbeda dengan penelitian Brown dkk. yang menyimpulkan
bahwa dosis metadon berhubungan dengan gangguan orgasme.
4
Kedua penelitian ini
menunjukkan bahwa metadon mempunyai pengaruh pada mekanisme ejakulasi, pada
penelitian ini usia relatif lebih muda yang lebih banyak mengalami ejakulasi dini sehingga
metadon memperbaiki gangguan ejakulasi dini dan pada penelitian Brown rata-rata usia
responden lebih tua (41,6 tahun) yang relatif lebih banyak mengalami ejakulasi tertunda dan
rerata dosis metadon lebih besar (100mg) sehingga metadon meningkatkan gangguan
orgasme. Penelitian Al-Gommer menyimpulkan bahwa efek penurunan kemampuan
ejakulasi oleh metadon lebih kuat jika dibanding heroin maupun buprenorphin
8
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor psikis, tingkat depresi dan kecemasan
mempunyai hubungan dengan masalah-masalh seksual, berupa : masalah frekuensi,
gangguan ereksi dan gangguan ejakulasi dini. Penelitian Hallinan menyimpulkan bahwa
selain berhubungan dengan hypogonadisme, gangguan ereksi pada pasien metadon juga
berhubungan dengan depresi.
9
Kelemahan penelitian ini adalah tidak menilai tingkat pengetahuan pasien tentang seksual
yang dapat merupakan prediktor dari masalah kedua terbesar pada penelitian ini, yaitu
masalah komunikasi. Selain itu, kelemahan lain penelitian ini adalah jumlah responden yang
kecil, tidak mengikut-sertakan pasien yang Take Home Dose, dan tidak ada kelompok
kontrol. Hal-hal tersebut merupakan bagian penyempurnaan untuk penelitian yang lebih
lanjut.
esimpuIan
Masalah frekuensi, komunikasi, gangguan ereksi dan gangguan ejakulasi dini merupakan
masalah-masalah terbanyak yang dialami oleh pasien PTRM. Faktor psikis, tingkat depresi
dan tingkat kecemasan merupakan prediktor dari masalah-masalah tersebut
Tidak
ada
Ada
Tidak
ada
Ada
Tidak
ada
Ada
Tidak
ada
Ada
Tidak
ada
Ada
Tidak
ada
Ada
Tidak
ada
Ada
Tidak
ada
Ada
Umur Pasien 31,79 33,00 31,87 33,00 32,17 32,08 31,75 34,00 31,88 33,33 31,50 33,14 32,06 32,50 31,67 40,00
Dosis Methadon
Saat ni
82,68 57,00 81,17 56,25 93,33 67,88 78,91 60,00 79,22 58,33 65,63 93,57 77,21 65,00 77,92 40,00
Derajat Depresi 41,71 49,2* 42,27 49,00* 39,50 45,62 42,44 50,33* 42,50 50,00* 43,08 44,71 43,24 47,5* 43,33 50,00
Derajat Cemas 14,57 28,2* 16,80 23,25 12,50 20,77* 16,63 26,33* 16,81 25,33 16,58 20,86 16,53 32,00* 17,50 30,00
Masalah
Ketidak-puasan
Seksual
Masalah
Seksual Secara
Umum
Masalah
Gangguan
Ereksi
Masalah
Ejakulasi Dini
Masalah
Frekuensi
Hubungan
Seksual
Masalah
"Menghindar
Hubungan
Seksual"
Masalah
Sensual
Masalah dalam
Komunikasi
Hubungan
Seksual

Daftar Pustaka
1. Menteri Kesehatan R, SK MenKes R Nomor 494/MENKES/SK/V/2006, Tentang
Penetapan Rumah Sakit Dan Satelit Uji Coba Pelayanan Terapi Rumatan Metadon
Serta Pedoman Program Terapi Rumatan Metadon.
2. Sadock BJ, & Sadock VA.: Kaplan & Sadock's Comprehensive Textbook of
Psychiatry, 9th Edition Lippincott Williams & Wilkins, 2009
3. Sarasvita R., Treatment Retention in Methadone Maintenance Programs in
ndonesia: towards Evidence-nformed Drug Policy, Thesis Department of Clinical
and Experimental Pharmacology School of Medicine Faculty of Health Science,
University of Adelaide. 2009
4. Brown, R. Balousek, S., Mundt, M dan Fleming M, Methadone Maintenance and
Male Sexual Dysfunction, Journal of Addictive Diseases, 24;2, 2005.
5. Wicaksana . Cocurent Validity and Reability Test of Zung Self-rating
Anxiety Scale on Generalized Anxiety Disorder of Guideline Diagnosis of Mental
Disorders- in ndonesia (PPDGJ-). n Proceeding of the 5
th
Asian Federation for
Psychiatry and Mental Health Congress 9
th
Mean Forum on Child and Adolescent
Psychiatry 3
th
Bienial Meeting on the ndonesian Psychiatry Assosiation vol. 2.
Bandung 1996 dalamTarno, Hubungan Antara Cemas, Depresi Dan Kadar Gula Darah Serta
Reduksi Urin Penderita Diabetes Melitus, Penelitian Akhir Pada Bagian Psikiatri
Fakultas Kedokteran Universitas Dronegoro Semarang 200
6. Rust, J., & Golombok, S. The Golombok-Rust nventory of Sexual Satisfaction
(GRSS). British Journal of Clinical Psychology, 24, 63-64. 1985 dalam Volsky JA,
ntimacy, Marital Satisfaction, and Sexuality in Mature Couples, Thesis in the
Department of Psychology Concordia University, Quebec, Canada
7. WHO, Process of translation and adaptation of instruments
http://www.who.int/substance_abuse/research_tools/translation/en/
8. Al-Gommer O, George S, Haque S, et al Sexual Dysfunctions in Male Opiate Users:
A Comparative Study of Heroin, Methadone, and Buprenorphine, Addict Disord Their
Treatment;6:137143, 2007
9. Hallinan R, Byrne A, Agho K, et al. Erectile Dysfunction in Men Receiving
Methadone and Buprenorphine Maintenance Treatment, J Sex Med;5:684692. 2008