Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH KELOMPOK

SEMINAR KLINIS

AUTISME





Disusun Oleh:
1. Nama : Anggita Larasaty
NIM : 07320015
2. Nama : Firdausi Rakhmawati
NIM : 07320053

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI


FAKULTAS PSIKOLOGI DAN ILMU SOSIAL BUDAYA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2010
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Autisme adalah salah satu gangguan perkembangan yang disebabkan
kerusakan organis pada otak. umumnya mereka mengalami kesulitan
berkomunikasi baik verbal maupun non verbal, ketika mereka menginginkan
sesuatu, caranya adalah menarik-narik tangan orang lain untuk mendapatkan
perhatian dan selain itu mereka juga sangat kaku dengan kegiatan rutin mereka
seakan-akan sedang menjalani ritual tertentu (Putri, 2003). Sikap tersebut seperti
menarik diri, tidak menjalin komunikasi, berbicara sendiri, menyanyi sendiri
tanpa sebab, berputar-putar tanpa alasan, bahkan dapat menimbulkan
kejengkelan orang disekitarnya. Anak Autisme memiliki kemampuan dan
karakteristik yang berbeda satu sama lain, sehingga hal tersebut menentukan
caranya berinteraksi terhadap diri dan lingkungan serta menjadikan anak Autisme
sebagai pribadi yang unik.
Pravelensi anak autisme mengalami peningkatan yang sangat mengejutkan,
di Pensylvania, Amerika Serikat dalam 5 tahun terakhir meningkat sebesar 500
menjadi 40 dari 100.000 kelahiran (Putri, 2003), akan tetapi belum ada angka
populasi jumlah penderita Autisme di Indonesia mengingat lemahnya sistem
pendataan di Indonesia.
Sebagai sindrom, Autisme dapat disandang oleh seluruh anak dari berbagai
tingkat sosial dan kultur. Hasil survei yang diambil dari beberapa negara
menunjukan bahwa 2 sampai 4 anak per 10.000 anak berpeluang menyandang
autisme dengan rasio perbandingan 3:1 untuk anak laki-laki dan anak perempuan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa anak laki-laki lebih rentan
menyandang sindrom Autisme dibanding anak perempuan (Wijayakusuma,
2008). Diprediksikan oleh para ahli, kuantitas anak Autisme pada tahun 2010
akan mencapai 60 dari keseluruhan populasi anak di seluruh dunia
(Wijayakusuma, 2008).
Walaupun berbeda dengan anak yang normal, anak Autis tetap mempunyai
hak-hak dasar sebagaimana anak normal. Anak Autis perlu bermain, belajar dan
bersosialisasi dalam komunitas di lingkungannya. Anak Autis memerlukan
pengawasan dan perhatian yang lebih besar dari orang tuanya dibanding dengan
anak normal lainnya (Novia, 2007).
Sampai sekarang, anak Autis semakin banyak. Disebutkan bahwa angka
kejadian gangguan perkembangan Autis meningkat beberapa tahun terakhir ini.
Bila di tahun 1990 jumlah anak autisme ialah 15 hingga 20 per 10.000 anak,
maka pada tahun 2000 kasus autisme diperkirakan ada 1 per 150 anak di
Amerika Serikat (www.ditplb.or.id/08.03.08). Sedangkan menurut APA dan Fox,
di tahun 2000 kasus autisme terjadi 2 hingga 20 dari 10.000 orang dalam suatu
populasi (Nevid dkk., 2003).
Di Indonesia, kesan peningkatan juga terlihat di ruang /ay care Psikiatri
Anak RSUD Dr. Soetomo, dimana jumlah pasien yang datang dengan gangguan
perkembangan Autis ini bertambah. Tahun-tahun sebelumnya, tiap tahun hanya
sekitar 2 hingga 3 orang anak. Pada tahun 2000 jumlahnya meningkat dengan
tajam sampai kurang lebih 20 anak. Hal ini juga terjadi pada tahun-tahun
berikutnya (Novia, 2007).
Survei dari data California Department of Develompmental Service,
Amerika Serikat juga melaporkan bahwa hingga Januari 2003, telah terjadi
peningkatan kasus anak yang menderika Autisme di Amerika Serikat hingga
31. Ikatan Dokter Anak dan Pusat Kontrol dan Pencegahan Penyakit Amerika
Serikat bahkan menambahkan bahwa jumlah anak yang didiagnosis menderita
Autisme sekitar 1:166 anak (www.inIo-sehat.com/21.01.08). Hasil penelitian
pada tahun 2008, menunjukan bahwa 1 dari 150 balita di Indonesia kini
menderita Autisme (www.depsos.go.id/08.03.08).
Laporan terakhir Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2005 menyatakan
bahwa perbandingan anak autisme dengan anak normal di seluruh dunia,
termasuk Indonesia telah mencapai 1:100 (www.depsos.go.id/08.03.08). Dan
autime tidak menutup kemungkinan terdapat pada semua lapisan masyarakat,
etnik atau ras, religi, tingkat sosial ekonomi serta geograIi
(www.ditplb.or.id/08.03.08).
Terdapat berbagai deIini tentang austisme. Salah satunya menyebutkan
bahwa autisme merupakan cacat pada perkembangan saraI dan psikis manusia,
baik sejak janin dan seterusnya, yang menyebabkan kelemahan atau perbedaan
dalam berinteraksi sosial, kemampuan berkomunikasi, pola minat, dan tingkah
laku (Suprapto, 2009).
Gejala awal autisme yang nampak diantaranya dapat dilihat dari adanya
gangguan komunikasi verbal dan non verbal, gangguan perasaan dan emosi, serta
gangguan dalam persepsi sensoris (www.inIoibu.com/21.01.08). Gejala-gejala
tersebut dapat beranekaragam sehingga tampak bahwa tidak ada anak autisme
yang benar-benar sama dalam semua tingkah lakunya
(www.ditplb.or.id/08.03.08). Hal inilah yang menarik bagi pemateri untuk
membahas mengenai gangguan autisme.

B. Tujuan Penulisan
Tulisan ini selain dibuat untuk memenuhi tugas Seminar Psikologi Klinis,
juga bertujuan untuk mengeksplorasi secara lebih dalam tentang Autisme.







BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI
Autisme berasal dari kata 'auto yang berarti sendiri (Wardani dkk, 2009).
Penyandang Autisme akan terlihat seperti hidup dalam dunianya sendiri. Autisme
pertama kali ditemukan oleh Kanner pada tahun 1943. Dia mendeskripsikan
gangguan ini sebagai ketidakmampuan untuk berinteraksi dengan orang lain,
gangguan bahasa yang ditunjukan dengan penguasaan yang tertunda, ecolalia,
mutism, membalikan kalimat, adanya aktivitas bermain yang repetitive dan
streotipik, rute ingatan yang kuat, dan keinginan obsesiI untuk mempertahankan
keteraturan di dalam lingkungannya (Wardani dkk, 2009).
Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat
masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau
komunikasi yang normal (http://id.wikipedia.org/ wiki/Autisme). Dawson
mengungkap bahwa Autisme merupakan gangguan perkembangan yang parah
yang meliputi ketidakmampuan dalam membangun hubungan sosial,
ketidaknrmalan dalam berkomunikasi, dan pola perilaku yang terbatas, berulang-
ulang, dan stereotip (Santrock, 2002)
Dari beragam deIinisi tersebut, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa
autisme merupakan gangguan perkembangan yang khususnya terjadi pada masa
kanak-kanak yang membuat anak tidak mampu mengadakan interaksi sosial dan
seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri.

B. SEBAB-SEBAB
Peningkatan kasus autisme selain karena Iaktor kondisi rahim seperti terkena
virus toksoplasmsis, sitomegalovirus, rubella atau herpes, dan Iaktor herediter,
juga diduga karena pengaruh zat beracun seperti timah hitam (Pb) dari polusi
asap pabrik dan knalpot kendaraan, serta kadium (Cd) dari batu baterai (Wardani
dkk, 2009). Logam-logam ini menumpuk pada tubuh orang dewasa dan
tersalurkan ke bayi melalui ASI. Autisme juga dapat disebabkan oleh antibodi
ibu terhadap antigen leukosit anak mereka yang autisme sehingga dapat secara
langsung merusak jaringan saraI otak janin.
Widyawati (dalam Wardani dkk, 2009) mengemukakan beberapa teori
tentang penyebab autisme, yaitu sebagai berikut:
1. Teori Biologis
Gangguan autisme diyakini sebagai sindrom perilaku yang dapat disebabkan
oleh berbagai kondisi yang mempengaruhi sistem saraI pusat. Hal ini diduga
karena adanya disIungsi dari batang otak dan mesolimbic. Namun, dari
penelitian terakhir ditemukan adanya keterlibatan dari serebelum. Berbagai
kondisi biologis yang menjadi penyebab autisme yaitu:
a. Faktor Genetik; Hasil penelitian terhadap keluarga dan anak kembar
menunjukan adanya Iaktor genetik yang berperan dalam autisme. Pada
penelitian terhadap keluarga ditemukan 2,5 3 autisme pada saudara
kandung, yang berarti 50 100 kali lebih tinggi dibanding populasi
normal. Ditemukan juga adanya hubungan antara autisme dengan
sin/rom fragile-X, yaitu suatu keadaan abnormal dari kromosom X.
Diduga, 0 20 sin/rom fragile-X pada autisme.
b. Faktor Pranatal; Hal yang paling sering ditemukan adalah adanya
pendarahan setelah trimester pertama dan adanya kotoran janin pada
cairan amnion, yang merupakan tanda fetal /istress. Penggunaan obat-
obatan tertentu pada ibu, adanya komplikasi waktu bersalin, gangguan
pernapasan, dan anemia pada janin, juga diduga ada hubungan dengan
autisme.
c. Model Neuroanatomi; ada beberapa daerah diotak anak penyandang
autisme yang diduga mengalami disIungsi. Ditemukan adanya kesamaan
perilaku autistik dan perilaku abnormal pada orang dewasa yang
diketahui mempunyai lesi di otak.

Gambaran struktur otak anak penyandang autisme adalah sebagai
berikut:

Dijelaskan oleh Hass dkk. dan Courchesne (dalam Ginanjar, 2007), pada
otak anak autisme ditemukan adanya penurunan jumlah sel Purkinje
pada hemisIer sebelum dan vermi. Courchesne dkk. kemudian
mengemukakan pendapat bahwa pada saat lahir, bayi autistik memiliki
ukuran otak yang normal. Namun setelah mencapai usia dua atau tiga
tahun, ukuran otak mereka membesar melebihi normal, terutama pada
lobus Irontalis dan otak kecil, yang disebabkan oleh pertumbuhan hite
matter dan gray matter yang berlebihan. Sementara sel saraI yang ada
lebih sedikit dibandingkan pada otak normal dan kekuatannya juga lebih
lemah. Kondisi inilah yang tampaknya berkaitan dengan gangguan pada
perkembangan kognitiI, bahasa, emosi dan interaksi sosial.
d. Hipotesis Neurokemistri; Pada tahun 1961, para peneliti menemukan
adanya kenaikan kadar serotonin di dalam darah pada sepertiga anak
autisme.
2. Teori Psikososial
Kanner mempertimbangkan adanya pengaruh psikogenik sebagai penyebab
autisme, yaitu orang tua yang emosional, kaku, dan obsesiI, yang mengasuh
anak mereka dalam suatu atmosIer yang secara emosional kurang hangat,
bahkan dingin. Pendapat lain mengemukakan bahwa adanya trauma pada
anak disebabkan kekerasan yang tidak disadari oleh ibu, yang sebenarnya
tidak menghendaki anak ini. Hal ini mengakibatkan gejala penarikan diri
pada anak autisme.
3. Teori Spiritual
Penyebab autisme berdasarkan Teori Spiritual diungkap oleh Larson (1992)
dan beberapa pakar lainnya dalam berbagai penelitian yang berjudul
Religious Commitment and Health, menyimpulkan bahwa di dalam
memandu kesehatan manusia yang serba kompleks ini dengan segala
keterkaitannya, hendaknya komitmen agama sebagai suatu kekuatan
(spiritual power) jangan diabaikan begitu saja
(http://www.seItcenter.com/printthread.php?t68). Agama dapat berperan
sebagai pelindung lebih dari pada sebagai penyebab masalah. Misalnya saja,
pergaulan yang terlalu bebas antara laki laki dan perempuan bisa
menyebabkan terjadinya kehamilan yang tidak dikehendaki. Apabila hal ini
terjadi, anak yang dikandung biasanya akan digugurkan untuk menjaga nama
baik. Pengguguran kandungan dapat dilakukan dengan obat obatan atau
pengobatan alternatiI lainnya. Apabila penggugguran kandungan ini gagal,
akan berdampak pada mental dan Iisik si anak. Anak dapat lahir dengan
gangguan mental dan Iisik yang parah, misalnya mengalami autisme atau
cacat penglihatan, dan dampak buruk lainnya. Untuk itu, agama sebagai
dasar spiritual perlu dijadikan pedoman yang kuat dalam bertindak dan
berperilaku.


C. PERSPEKTIF ALIRAN-ALIRAN
1. PerspektiI Psikoanalisis
Teori awal yang menjelaskan autisme dari sudut pandang psikologis adalah
teori #efrigerator Mother. Teori ini dikembangkan oleh Bruno Bettelheim,
yang berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh pengasuhan ibu yang
tidak hangat, sehingga anak-anak autistik cenderung menarik diri dan
bersibuk diri dengan dunianya. Menurut Margareth Mahler anak-anak
autistik mengalami kerusakan yang parah pada egonya karena sejak lahir
tidak mampu dan tidak tertarik menjadikan ibu atau orang-orang lain sebagai
patner dalam melakukan eksplorasi terhadap dunia luar dan dunia dalamnya.
Mereka juga mengalami regresi ke arah tahap kehidupan yang paling
primitiI serta menutup diri dari kehidupan yang menuntut respon-respon
emosional dan sosial (Ginanjar, 2007).
2. PerspektiI KognitiI
Salah satu teori psikologi mengenai autisme yang paling terkenal dan
bertahan sampai saat ini adalah %heory of Min/ (ToM) yang dikembangkan
oleh Simon Baron-Cohen, Alan Leslie, dan Uta Frith. Berdasarkan
pengamatan terhadap anak-anak autistik, mereka menetapkan hipotesis
bahwa tiga kelompok gangguan tingkah laku yang tampak pada mereka
(interaksi sosial, komunikasi, dan imajinasi) disebabkan oleh kerusakan pada
kemampuan dasar manusia untuk 'membaca pikiran. Anak-anak autistik
memiliki kesulitan untuk mengetahui pikiran dan perasaan orang lain yang
berakibat mereka tidak mampu memprediksi tingkah laku orang tersebut
(Ginanjar, 2007).
3. PerspektiI KognitiI-Behavioral
Psikolog O. Ivar Lovaas dkk. (1979, dalam Nevid et al, 2003) menawarkan
autisme dari pandangan kognitiI-behavioral. Mereka menyatakan bahwa
anak-anak autisme memiliki deIisit perseptual sehingga mereka hanya dapat
memproses satu stimulus saja pada waktu tertentu. Akibatnya, mereka
lambat belajar secara classical con/itining atau asosiasi terhadap stimuli.
4. PerspektiI Behavioral
Berdasarkan perspektiI behavioral, anak-anak menjadi terikat dengan
pengasuh utama mereka karena diasosiasikan dengan reinforcer primer
seperti makanan dan pelukan. Anak-anak autisme memperhatikan makanan
atau pelukan, tetapi tidak menghubungkannya dengan orang tua. Hal ini
dapat disebabkan oleh sikap orang tua yang mengambil jarak karena
hubungan mereka dengan anak berkali-kali gagal (Nevid et al, 2003).
5. PerspektiI Humanistik
Abnormalitas dilihat sebagai kegagalan untuk mengembangkan humanitas
seseorang secara penuh atau lengkap sebagai adanya blocking atau distorsi
kecenderungan-kecenderungan terhadap pertumbuhan dan kepuasan (Nevid
et al, 2003).
6. PerspektiI Psikologi Islami
Dalam perpektiI Psikologi Islami, dikatakan bahwa apa yang dilakukan oleh
orang tua akan memiliki pengaruh yang sangat signiIikan terhadap anaknya.
Misalnya, orang tua yang makan banyak obat-obatan dan minum minuman
keras dapat menghasilkan anak yang cacat. Cacat ini bisa dalam bentuk Iisik
seperti perkembangan tubuhnya kurang sempurna, atau bisa juga mental
seperti autisme (Nashori, 2005).


D. GE1ALA
Tokoh yang sering disebut sebagai peneliti awal mengenai autisme adalah
Leo Kanner yang mempublikasikan makalah pertamanya pada tahun 1943 di
Amerika (Spensley, 1995; Paradiz, 2004; dalam Ginanjar, 2007). Berdasarkan
pengamatannya terhadap 11 anak autistik, Kanner (dalam Ginanjar, 2007)
menemukan beberapa ciri umum, yaitu: extreme autistic aloneness, keinginan
yang obsesiI untuk mempertahankan kesamaan, kemampuan menghaIal yang
luar biasa, dan terbatasnya jenis aktivitas yang dilakukan secara spontan. Pada
waktu yang hampir bersamaan, yaitu pada tahun 1944, Hans Asperger
mempublikasikan hasil penelitiannya tentang autistic psychopathy` di Wina
(Ginanjar, 2007). Ia melakukan studi kasus terhadap empat anak yang
menunjukkan kesulitan dalam interaksi sosial dan hanya memperlihatkan
ekspresi wajah yang terbatas. Ternyata deskripsinya ini mirip dengan yang
dikemukakan oleh Kanner dan keduanya juga menggunakan istilah autistic untuk
menekankan pada masalah utama anak-anak tersebut, yaitu kecenderungan
menarik diri dari lingkungan sosial, kesulitan dalam reaksi aIektiI, minat yang
sempit, dan keterbatasan penggunaan bahasa secara sosial.
Beberapa atau keseluruhan karakteristik yang disebutkan berikut ini dapat
diamati pada para penyandang autisme beserta spektrumnya baik dengan kondisi
yang teringan hingga terberat sekalipun (http://id.wikipedia.org/wiki/Autisme).
1. Hambatan dalam komunikasi, misal: berbicara dan memahami bahasa
(abling).
2. Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain atau obyek di sekitarnya
serta menghubungkan peristiwa-peristiwa yang terjadi.
3. Bermain dengan mainan atau benda-benda lain secara tidak wajar.
4. Sulit menerima perubahan pada rutinitas dan lingkungan yang dikenali.
5. Gerakkan tubuh yang berulang-ulang atau adanya pola-pola perilaku yang
tertentu.
Terlepas dari berbagai karakteristik di atas, terdapat arahan dan pedoman
bagi para orang tua dan para praktisi untuk lebih waspasa dan peduli terhadap
gejala-gejala yang terlihat. %he National Institute of Chil/ Health an/ Human
Development (NICHD) di Amerika Serikat menyebutkan 5 jenis perilaku yang
harus diwaspadai dan perlunya evaluasi lebih lanjut :
1. Anak tidak bergumam hingga usia 12 bulan.
2. Anak tidak memperlihatkan kemampuan gestural (menunjuk, dada,
menggenggam) hingga usia 12 bulan.
3. Anak tidak mengucapkan sepatah kata pun hingga usia 16 bulan.
4. Anak tidak mampu menggunakan dua kalimat secara spontan di usia 24
bulan.
5. Anak kehilangan kemampuan berbahasa dan interaksi sosial pada usia
tertentu.
Adanya kelima lampu merah` di atas tidak berarti bahwa anak tersebut
menyandang autisme tetapi karena karakteristik gangguan autisme yang sangat
beragam maka seorang anak harus mendapatkan evaluasi secara multidisipliner
yang dapat meliputi; Neurolog, Psikolog, Pediatric, Terapi Wicara, Paedagog dan
proIesi lainnya yang memahami persoalan autisme
(http://id.wikipedia.org/wiki/Autisme).
Seorang anak autisme dapat dilihat perilakunya berdasarkan gambar sebagai
berikut:












Gambar diatas menggambarkan perilaku yang dimunculkan anak autis pada
umumnya. Pada awal tahun 1970, penelitian tentang ciri ciri anak autisme
berhasil menentukan kriteria diagnosis yang selanjutnya digunakan dalam DSM-
III. Gangguan autistik digambarkan sebagai gangguan perkembangan dengan tiga
ciri utama, yaitu gangguan pada interaksi sosial, gangguan pada komunikasi, dan
keterbatasan minat serta kemampuan imajinasi.
Kriteria diagnosis untuk autisme dijelaskan lebih lanjut dalam DSM-IV TR
yang secara singkat disebutkan sebagai berikut:
1. angguan kualitatif /alam interaksi sosial timbal balik.
a. Gangguan yang nyata dalam berbagai tingkah laku non verbal seperti
kontak mata, ekspresi wajah, dan posisi tubuh;
b. Kegagalan dalam mengembangkan hubungan dengan teman sebaya
sesuai dengan tingkat perkembangan;
c. Kurangnya spontanitas dalam berbagi kesenangan, minat atau prestasi
dengan orang lain; dan
d. Kurang mampu melakukan hubungan sosial atau emosional timbal balik.
2. angguan kualitatif /alam komunikasi.
a. Keterlambatan perkembangan bahasa atau tidak bicara sama sekali;
b. Pada individu yang mampu berbicara, terdapat gangguan pada
kemampuan memulai atau mempertahankan percakapan dengan orang
lain;
c. Penggunaan bahasa yang stereotip, repetitiI atau sulit dimengerti; dan
d. Kurangnya kemampuan bermain pura-pura.
3. !ola-pola repetitif /an stereotip yang kaku pa/a tingkah laku, minat /an
aktivitas.
a. Preokupasi pada satu pola minat atau lebih;
b. InIleksibilitas pada rutinitas atau ritual yang spesiIik dan non Iungsional;
c. Gerakan motor yang stereotip dan repetitiI; dan
d. Preokupasi yang menetap pada bagian-bagian obyek.
Seorang anak dapat didiagnosis memiliki gangguan autistik bila simtom
simtom di atas telah tampak sebelum anak mencapai usia 36 bulan.


E. ONSET
Anak dengan autisme dapat tampak normal di tahun pertama maupun tahun
kedua dalam kehidupannya. Secara umum, gejala autisme akan tampak semakin
jelas saat anak memasuki usia 3 tahun (Wardani et al, 2009).
Ada sebagian anak, tanda dan gejala itu sudah ada sejak lahir. Seorang ibu yang
sangat cermat memantau perkembangan anaknya bisa melihat beberapa keganjilan
sebelum anaknya mencapai 1 tahun (http://Iorbetterhealth.wordpress.com
/2009/01/16/autisme/). Yang sangat menonjol adalah tidak adanya bahasa atau sangat
kurangnya tatap mata. Para orang tua seringkali menyadari adanya keterlambatan
kemampuan berbahasa dan cara-cara tertentu yang berbeda ketika bermain serta
berinteraksi dengan orang lain.

F. PREVALENSI
Diperkirakan terdapat 400.000 individu dengan autisme di Amerika Serikat.
Sejak tahun 1980, bayi-bayi yang lahir di CaliIornia, Amerika Serikat, diambil
darahnya dan disimpan di pusat penelitian Autisme. Penelitian dilakukan oleh
Terry Phillips, seorang pakar kedokteran saraI dari Universitas George
Washington. Dari 250 contoh darah yang diambil, ternyata hasilnya
mencengangkan; seperempat dari anak-anak tersebut menunjukkan gejala autis
(http://id.wikipedia.org/wiki/Autisme#Prevalensi Individudenganautisme).
Penelitian Frombonne (Study Frombonne: 2003) menghasilkan prevalensi
dari autisme beserta spektrumnya (Autism Spectrum Disorder/ASD) adalah:
60/10.000 dan terdapat 425.000 penyandang ASD yang berusia dibawah 18
tahun di Amerika Serikat. Di Inggris, data terbaru adalah: 62.6/10.000 ASD
(http://id.wikipedia.org/wiki/Autisme#Prevalensi Individudenganautisme).
Autisme secara umum telah diketahui terjadi empat kali lebih sering pada
anak laki-laki dibandingkan yang terjadi pada anak perempuan. Hingga saat ini
penyebabnya belum diketahui secara pasti (Wijayakusuma, 2008). Saat ini para
ahli terus mengembangkan penelitian mereka untuk mengetahui sebabnya
sehingga mereka pun dapat menemukan obat` yang tepat untuk mengatasi
Ienomena ini. Bidang-bidang yang menjadi Iokus utama dalam penelitian para
ahli, meliputi; kerusakan secara neurologis dan ketidakseimbangan dalam otak
yang bersiIat biokimia
(http://id.wikipedia.org/wiki/Autisme#PrevalensiIndividudenganautisme).
Di Indonesia, belum ditemukan data yang akurat mengenai keadaan yang
sesungguhnya di Indonesia, namun dalam suatu wawancara di Koran Kompas;
Dr. Melly Budhiman, seorang Psikiater Anak dan Ketua dari Yayasan Autisme
Indonesia menyebutkan adanya peningkatan yang luar biasa. Bila sepuluh tahun
yang lalu jumlah penyandang autisme diperkirakan satu per 5.000 anak, sekarang
meningkat menjadi satu per 500 anak (Harian Kompas, 2000). Tahun 2000 yang
lalu, Dr. Ika Widyawati; staI bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia memperkirakan terdapat kurang lebih 6.900 anak penyandang autisme
di Indonesia. Jumlah tersebut menurutnya setiap tahun terus meningkat
(http://id.wikipedia.org/wiki/ Autisme#PrevalensiIndividudenganautisme).


G. TERAPI
Bila ada pertanyaan mengenai terapi apa yang eIektiI bagi anak penderita
autisme, maka jawabannya sangat kompleks, bahkan para orang tua dari anak-
anak dengan autisme pun merasa bingung ketika dihadapkan dengan banyaknya
treatment dan proses pendidikan yang ditawarkan bagi anak mereka. Beberapa
jenis terapi bersiIat tradisional dan telah teruji dari waktu ke waktu sementara
terapi lainnya mungkin baru saja muncul. Tidak seperti gangguan perkembangan
lainnya, tidak banyak petunjuk treatment yang telah dipublikasikan apalagi
prosedur yang standar dalam menangani autisme. Bagaimanapun juga para ahli
sependapat bahwa terapi harus dimulai sejak awal dan harus diarahkan pada
hambatan maupun keterlambatan yang secara umum dimiliki oleh setiap anak
autis, misalnya; komunikasi dan persoalan-persolan perilaku. Treatment yang
komprehensiI umumnya meliputi; Terapi Wicara (Speech %herapy), Okupasi
Terapi (Occupational %herapy) dan Applie/ ehavior Analisis (ABA) untuk
mengubah serta memodiIikasi perilaku (http://id.wikipedia.org/wiki/Autisme).
Dalam salah satu jurnal disebutkan bahwa saudara sekandung memberikan
pengaruh dalam pemberian terapi bagi anak autis. Peran saudara sekandung dari
anak autis akan menunjang keberhasilan terapi bagi saudara autisnya, apabila
mereka berperan secara aktiI dan berkesinambungan dalam memberikan terapi
bagi saudara autis mereka. Peran saudara sekandung dalam membantu anak autis
menguasai keterampilan-keterampilan tertentu tidak hanya pada saat pemberian
terapi di rumah, namun lebih besar apabila dilakukan di dalam kegiatan sehari-
hari ketika mereka saling berinteraksi (Ambarini, 2006).
Jurnal lainnya menyebutkan bahwa art therapy juga dapat berperan dalam
terapi untuk anak autisme. Penggunaan ekspresi nonverbal melalui pengalaman
dalam seni membuat mereka mengekspresikan gambar mewakili pengalaman
mereka. Anak-anak menciptakan karya seni karena
berakar pada kebutuhan untuk berhubungan dengan dunia mereka. Art therapy
ini membantu mereka meningkatkan kesadaran mereka. Seni untuk anak-anak
akan selalu membuktikan untuk menjadi
proses evolusi yang mengarah ke tahap berikutnya. Art %herapy untuk anak
autistik dapat menjadi suatu kegiatan yang penting berbasis
intervensi untuk mendorong pertumbuhan mereka.
Sangat disayangkan masih minim data ilmiah yang mampu mendukung
berbagai jenis terapi yang dapat dipilih orang tua di Indonesia saat ini. Fakta
menyebutkan bahwa sangat sulit membuat suatu penelitian mengenai autisme.
Sangat banyak variabel-variabel yang dimiliki anak, dari tingkat keparahan
gangguannya hingga lingkungan sekitarnya dan belum lagi etika yang ada
didalamnya untuk membuat suatu penelitian itu sungguh-sungguh terkontrol.
Sangat tidak mungkin mengkontrol semua variabel yang ada sehingga data yang
dihasilkan dari penelitian-penelitian sebelumnya mungkin secara statistik tidak
akurat (http://id.wikipedia.org/wiki/Autisme).
Keberhasilan dalam melakukan terapi pada anak autis tentu saja dipengaruhi
oleh banyak hal. Beberapa hal yang mempengaruhi keberhasilan terapi meliputi
berat ringannya gejala, usia, kecerdasan, kemampuan berbicara dan berbahasa,
dan terapi yang intensiI dan terpadu. Beberapa terapi yang harus dijalankan
secara terpadu mencakup terapi medikamentosa, terapi wicara, terapi okupasi,
terapi perilaku dan pendidikan khusus. Terapi Iormal dilakukan antara 4-8 jam
sehari. Seluruh keluarga harus terlibat untuk memacu komunikasi dengan anak
sejak anak bangun tidur pagi hingga mau tidur malam (Budhiman, 1998; dalam
Ambarini, 2006). Dawson dan Osterling (1997, dalam Ambarini, 2006)
mengidentiIikasikan 6 Iaktor yang mempengaruhi keberhasilan terapi pada anak
autis, yaitu: isi kurikulum, lingkungan pengajaran yang sangat mendukung,
dampak pada rutinitas, yaitu bagaimana pengaruh terapi yang dilakukan terhadap
kegiatan yang dilakukan sehari-hari, pendekatan Iungsional pada perilaku yang
bermasalah dan keterlibatan orang tua dalam terapi.
Berdasarkan sejumlah Iaktor yang mempengaruhi keberhasilan terapi
tersebut, Iaktor peran keluarga sangatlah berpengaruh (Ambarini, 2006).
Pemilihan terapi yang dianggap tepat ditunjang dengan terapis yang terlatih,
tidak membuat peran keluarga berkurang dalam mendorong keberhasilan terapi
yang dilakukan. Usaha dari orang tua dan keluarga untuk terus menerus
melakukan pendampingan pada anak sangat diperlukan, sehingga mereka terlibat
secara langsung dalam proses terapi anak. Orang tua sangat menentukan
perkembangan anak dalam setiap aspek. Pengasuhan sehari-hari sangat
memegang peranan penting pada perkembangan anak autis.



H. PREVENSI
Tindakan yang dapat dilakukan untuk menghilangkan atau menurunkan
kondisi yang menyebabkan perkembangan gangguan autisme antara lain
pendidikan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat umum
tentang autisme, usaha terus menerus dari proIesional di bidang kesehatan untuk
menjaga dan memperbarui kebijaksanaan kesehatan masyarakat, serta aturan
untuk memberikan pelayanan kesehatan maternal dan anak yang optimal
(Kapplan et al, 1997).
Anak autisme juga dapat melakukan diet khusus untuk meminimalisir
kesakitan bagi penyandangnya. Tindakan pencegahan adalah yang paling utama
dalam menghindari resiko terjadinya gangguan atau gangguan pada organ tubuh
kita. Banyak gangguan dapat dilakukan strategi pencegahan dengan baik, karena
Iaktor etiologi dan Iaktor resiko dapat diketahui dengan jelas. Berbeda dengan
kelainan autis, karena teori penyebab dan Iaktor resiko belum masih belum jelas
maka strategi pencegahan mungkin tidak bisa dilakukan secara optimal. Dalam
kondisi seperti ini upaya pencegahan tampaknya hanya bertujuan agar gangguan
perilaku yang terjadi tidak semakin parah bukan untuk mencegah terjadinya
autis. Upaya pencegahan tersebut berdasarkan teori penyebab ataupun penelitian
Iaktor resiko autis. Pencegahan ini dapat dilakukan sedini mungkin sejak
merencanakan kehamilan, saat kehamilan, persalinan dan periode usia anak
(http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/02/anak-autis/).
Dengan semakin berkembangnya penelitian-penelitian mengenai autisme,
maka semakin disadari bahwa gangguan autistik adalah unik. Masing-masing
memiliki simptom-simptom dalam kuantitas dan kualitas yang berbeda. Karena
itu, pada beberapa tahun terakhir munculah istilah Gangguan Sprektrum Autistik
(GSA). Dalam penanganannya, orang tua dan proIesional akan melakukan
penangan dini terpadu yang termasuk didalamnya penanganan di bidang medis,
psikologi, dan pendidikan. Hal ini diharapkan dapat membantu anak-anak
tersebut beradaptasi dengan lingkungannya dan belajar berbagai kemampuan
kognitiI.


I. KUALITAS HIDUP
1. Kualitas Hidup
Anak autis pada umumnya juga memiliki kelebihan dibandingkan
dengan anak normal, yaitu lebih tekun dan konsentrasi dalam mengerjakan
sesuatu. Karena itu, mereka cocok mendapat pelajaran keterampilan. ProI.
Rusdi Ismail (dokter spesialis anak di Palembang) menyatakan bahwa tidak
semua anak autis bisa disembuhkan, sekitar dua pertiga anak autis bisa hidup
normal, tetapi sepertiganya butuh pendampingan seumur hidup. Anak-anak
autis jelas berbeda dengan anak normal
(http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/19/02510951/
memberi.asa.kepada.anak.autis). Meskipun berbeda, anak-anak itu
diharapkan bisa hidup mandiri. Mereka perlu diberi asa untuk menghadapi
masa depan.
2. Prognosis
Walaupun kebanyakan anak autisme menunjukkan perbaikan dalam
hubungan sosial dan kemampuan berbahasa seiring dengan meningkatnya
usia, gangguan autisme tetap meninggalkan ketidakmampuan yang menetap.
Mayoritas dari mereka tidak dapat hidup mandiri dan membutuhkan
perawatan di institusi ataupun membutuhkan perawatan di institusi ataupun
membutuhkan supervisi terus
(http://Iorbetterhealth.wordpress.com/2009/01/16/autisme/). Akan tetapi,
prognosis ini tidak selalu buruk. Prognosis akan baik bila anak yang
mengalami autisme ini mampu berbicara sebelum usia 5 tahun
(http://www.akademik.unsri.ac.id/download/journal/Iiles/medhas/03neurop
sychiatricsystemAUTISME.pdI).\
Menurut Budiman (1998, dalam Ambarini, 2006), autisme merupakan
gangguan yang tidak bisa disembuhkan (not curable), namun bisa diterapi
(treatable). Melalui terapi yang dilakukan, kelainan yang ada dalam otak
tidak bisa diperbaiki, namun gejala-gejala yang ada dapat dikurangi
semaksimal mungkin sehingga anak tersebut bisa bersosialisasi dengan anak
lain. Keberhasilan dalam melakukan terapi pada anak autis tentu saja
dipengaruhi oleh banyak hal. Beberapa hal yang mempengaruhi keberhasilan
terapi meliputi berat ringannya gejala, usia, kecerdasan, kemampuan
berbicara dan berbahasa, dan terapi yang intensiI dan terpadu (Ambarini,
2006).


1. DALIL AL-QURAN TENTANG AUTISME
Autisme dalam Al-Quran dijelaskan sebagai berikut.
)f B,1f1. @6Bb [
@=0 6_fV
=@@,; VA0 Cb
Nf CBb Fb_1b,
Fb_1oA, 61Bb 1
0 @A 6_qA
Artinya:
'Sesungguhnya kami %elah menciptakan manusia /alam bentuk yang
sebaik-baiknya. Kemu/ian kami kembalikan /ia ke tempat yang seren/ah-
ren/ahnya (neraka). Kecuali orang-orang yang beriman /an mengerfakan
amal saleh, Maka bagi mereka pahala yang tia/a putus-putusnya. (Q.S.
At` Tiin: 95, ayat 4 6)
Kemudian, dijelaskan lagi dalam Al-Quran bahwa:
CBb @=0 VH LA
=f1 F 0), C1
@6Bb 0
V 0b 0b1 .
0B 0 =V_
|A, =@ ==; F
V, N Bb
@J.Bb, )J.Bb, P
dA@1C B ,PV
Artinya:
'ang membuat segala sesuatu yang /ia ciptakan sebaik-baiknya /an yang
memulai penciptaan manusia /ari tanah. Kemu/ian /ia menfa/ikan
keturunannya /ari saripati air yang hina. Kemu/ian /ia menyempurnakan
/an meniupkan ke /alamnya roh (ciptaan)-Nya /an /ia menfa/ikan bagi
kamu pen/engaran, penglihatan /an hati, (tetapi) kamu se/ikit sekali
bersyukur. (Q.S. As Sajdah: 32, ayat 7 9)
Dari ayat tersebut disebutkan bahwa pada hakekatnya manusia tercipta
dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Namun mengapa di dunia ini ada juga
manusia yang mengalami gangguan dalam proses perkembangannya?
Dari dua ayat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa hal itu mungkin karena
ulah manusia itu sendiri yang tidak dapat menjaga diri. Contohnya ketika hamil
mungkin si ibu lalai menjaga kandungannya misalnya merokok, tidak
menghindarkan dari zat kimia berbahaya yang mungkin akan beresiko terhadap
janinnya. Belum lagi masalah stres psikososial yang berdampak pada emosi
anak. Hal inilah yang mengakibatkan kerusakan mental anak nantinya.


























BAB III
KESIMPULAN

Autisme merupakan cacat pada perkembangan saraI dan psikis manusia, baik
sejak janin dan seterusnya, yang menyebabkan kelemahan atau perbedaan dalam
berinteraksi sosial, kemampuan berkomunikasi, pola minat, dan tingkah laku
(Suprapto, 2009).
Gejala awal autisme yang nampak diantaranya dapat dilihat dari adanya
gangguan komunikasi verbal dan non verbal, gangguan perasaan dan emosi, serta
gangguan dalam persepsi sensoris (www.inIoibu.com/21.01.08). Secara umum, gejala
autisme akan tampak semakin jelas saat anak memasuki usia 3 tahun (Wardani et al,
2009).
Tahun 2000 yang lalu, Dr. Ika Widyawati; staI bagian Psikiatri Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia memperkirakan terdapat kurang lebih 6.900 anak
penyandang autisme di Indonesia. Jumlah tersebut menurutnya setiap tahun terus
meningkat
Widyawati mengemukakan beberapa teori tentang penyebab autisme, yaitu
sebagai berikut (Wardani et al, 2009).
1. Teori Biologis; Gangguan autisme diyakini sebagai sindrom perilaku yang dapat
disebabkan oleh berbagai kondisi yang mempengaruhi sistem saraI pusat. Hal ini
diduga karena adanya disIungsi dari batang otak dan mesolimbic.
2. Teori Psikososial; Kanner mempertimbangkan adanya pengaruh psikogenik
sebagai penyebab autisme, yaitu orang tua yang emosional, kaku, dan obsesiI,
yang mengasuh anak mereka dalam suatu atmosIer yang secara emosional
kurang hangat, bahkan dingin.
3. Teori Spiritual; Larson dan beberapa pakar lainnya menyimpulkan bahwa di
dalam memandu kesehatan manusia yang serba kompleks ini dengan segala
keterkaitannya, hendaknya komitmen agama sebagai suatu kekuatan (spiritual
power) jangan diabaikan begitu saja.
Berikut ini karakteristik penyandang autisme beserta spektrumnya baik dengan
kondisi yang teringan hingga terberat sekalipun (http://id.wikipedia.org/wiki
/Autisme).
6. Hambatan dalam komunikasi.
7. Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain atau obyek di sekitarnya serta
menghubungkan peristiwa-peristiwa yang terjadi.
8. Bermain dengan mainan atau benda-benda lain secara tidak wajar.
9. Sulit menerima perubahan pada rutinitas dan lingkungan yang dikenali.
10. Gerakkan tubuh yang berulang-ulang atau adanya pola-pola perilaku yang
tertentu.
Terapi yang dapat dilakukan adalah Terapi Wicara (Speech %herapy), Okupasi
Terapi (Occupational %herapy) dan Applie/ ehavior Analisis (ABA) untuk
mengubah serta memodiIikasi perilaku (http://id.wikipedia.org/wiki/Autisme).
Tindakan yang dapat dilakukan untuk menghilangkan atau menurunkan kondisi
yang menyebabkan perkembangan gangguan autisme antara lain pendidikan untuk
meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat umum tentang autisme, usaha
terus menerus dari proIesional di bidang kesehatan untuk menjaga dan memperbarui
kebijaksanaan kesehatan masyarakat, serta aturan untuk memberikan pelayanan
kesehatan maternal dan anak yang optimal (Kapplan et al, 1997).
Anak autis pada umumnya juga memiliki kelebihan dibandingkan dengan anak
normal, yaitu lebih tekun dan konsentrasi dalam mengerjakan sesuatu. Walaupun
kebanyakan anak autisme menunjukkan perbaikan dalam hubungan sosial dan
kemampuan berbahasa seiring dengan meningkatnya usia, gangguan autisme tetap
meninggalkan ketidakmampuan yang menetap. Mayoritas dari mereka tidak dapat
hidup mandiri dan membutuhkan perawatan di institusi ataupun membutuhkan
perawatan di institusi ataupun membutuhkan supervisi terus
(http://Iorbetterhealth.wordpress.com/2009/01/16/autisme/).
DAFTAR PUSTAKA

Buku
Kaplan, Harold I., Benjamin J. Sadock, & Jack A. Grebb. (1997). Sinopsis !sikiatri.
Ilmu !engetahuan !erilaku !sikiatri Klinis. Edisi Ketujuh. Jilid II. Jakarta:
Binarupa Aksara.
Nashori, Fuad. (2005). !otensi-potensi Manusia. Seri Psikologi Islami. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Nashrullah, Muhammad dkk. (2008). Ju: Amma. Yogyakarta: Ideal World Kidz.
Nevid, JeIIrey S., Spencer A. Rathus, & Beverly Greene. (2003). !sikologi
Abnormal. Edisi Kelima. Jilid II. Jakarta: Erlangga.
Santrock, John W. (2002). Life Span Development. !erkembangan Masa Hi/up.
Edisi Kelima. Jilid I. Jakarta: Erlangga.
Uyun, Qurotul & Emi ZulaiIah. (2006). MODUL MATERI HIBAH PENGAJARAN:
!embelafaran !sikologi Abnormal erbasis Kasus. Fakultas Psikologi dan Ilmu
Sosial Budaya. Universitas Islam Indonesia. Yogyakarta. Tidak Diterbitkan.
Wardhani, Fauzia Yurike dkk. (2009). Apa /an agaimana Autisme? Jakarta:
Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Wijayakusuma, Hembing. (2008). !sikoterapi Anak Autisma. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia.

Skripsi
Novia. (2007). Hubungan !engetahuan %eoritis /an Intervensi !en/i/ikan bagi
!enyan/ang Autisme. Skripsi. Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya.
Universitas Islam Indonesia. Yogyakarta. Tidak Diterbitkan.
Permatasari, Ravela Dewi. (2009).Keti/akpe/ulian Keluarga yang Memiliki Anak
Autis terha/ap !en/i/ikan #emafa Autis. Stu/i Kasus !a/a Keluarga Dengan
Ayah ang erprofesi uru Di Desa Sumbergirang Kecamatan Lasem
Kabupaten #embang. Fakultas Psikologi. Universitas Negeri Semarang.
Semarang. Tidak Diterbitkan.
Putri, Herlina Martha. (2003). !engetahuan Ibu tentang Autisme /alam Kaitannya
/engan Sikap !enerimaan Diri terha/ap Anaknya. Skripsi. Fakultas Psikologi
dan Ilmu Sosial Budaya. Universitas Islam Indonesia. Yogyakarta. Tidak
Diterbitkan.
Suprapto, Hana Usuwatun Hasanah. (2009). Evaluasi !rogram Sosialisasi bagi Anak
Autisme. Skripsi. Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya. Universitas Islam
Indonesia. Yogyakarta. Tidak Diterbitkan.

Internet
. Autisme. http://Iorbetterhealth.wordpress.com/2009/01/16/autisme/
(akses: 08 Maret 2010, 12:06:58)
. Autisme. www.ditplb.or.id/08.03.08 (akses: 08 Maret 2010, 13:07:30)
. Autism. www.depsos.go.id/08.03.08 (akses: 08 Maret 2010, 13:08:54)
. Mengenal Autisme. www.inIoibu.com/21.01.08 (akses: 07 Maret 2010,
23:35:09)
. !sikoterapi Doa. http://www.seItcenter.com/printthread.
php?t68 (akses: 24 Mei 2010, 20:41:39)
. Sin/rom angguan Autisme. http://www.kesimpulan.com/2009/04/
sindrom-gangguan-autisme-autism.html (akses: 08 Maret 2010, 12:06:36)
Dewabrata, Wisnu Aji. Kompas: Memberi Asa kepa/a Anak Autis. http://cetak.
kompas.com/read/xml/2010/01/19/02510951/memberi.asa.kepada.anak.autis
(akses: 08 Maret 2010, 12:06:15)
Haeriyah. Autisme. http://www.akademik.unsri.ac.id/download/journal/Iiles/med
has/03neuropsychiatricsystemAUTISME.pdI (akses: 05 Maret 2010,
21:11:16)
Judarwanto, Widodo. Anak Autis. http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/02/ anak-
autis/ ( akses: 08 Maret 2010, 12:06:05)
Kristi. Mengenal Autis. http://www.magisterpsikologi.com/?p7 (akses: 08 Maret
2010, 12:07:28)
Muslim. Al-Quran Menenangkan !en/erita Autis. http://answering.wordpress.
com/2009/02/07/al-quran-menenangkan-penderita-autis/#more-711 (akses: 07
Maret 2010, 23:22:35)
Nashori, Fuad. Autism Disor/er. http://www.pikirdong.org/psikologi/psi54aut.php
(akses: 08 Maret 2010, 12:07:24)
Widiantopanca. Autis. http://widiantopanca.blogdetik.com/inIo-penyakit/autis/
(akses: 08 Maret 2010, 12:07:03)
Wikipedia. Autisme. http://id.wikipedia.org/wiki/Autisme (akses: 08 Maret 2010,
12:06:56)

1urnal
Ambarini, Tri Kuniarti. (2006). Sau/ara Sekan/ung /ari Anak Autis /an !eran
Mereka /alam %erapi. INSAN Vol. 8 No. 2. Fakultas Psikologi Universitas
Airlangga. Surabaya. Halaman 112-135.
Emery, Melinda J. (2004). Art %herapy as an Intervention for Autism. Journal oI the
American Art Therapy Association, 21(3). Lake Forest, CaliIornia. Halaman
143-147.
Ginanjar, Adriana Soekandar. (2007). Memahami Spektrum Autistik secara Holistik.
MAKARA, SOSIAL HUMANIORA Vol. 11 No. 2. Fakultas Psikologi
Universitas Indonesia. Jakarta. Halaman 87-99.