Anda di halaman 1dari 10

EZKA AMALIA

09/283366/SP/23675
Jurusan Ilmu Hubungan Internasional
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Gadjah Mada

Essai Pengganti UAS
Mata Kuliah Politik dan Pemerintahan China

Prospek Perubahan Menuju Negara yang Demokratis
Selama paruh terakhir abad ke-20, dunia menyaksikan perubahan politik yang
luar biasa dan belum pernah terjadi sebelumnya.
1
Demokrasi bisa dikatakan muncul sebagai
pemenang ketika segala musuh demokrasi yang pramodern, seperti monarki terpusat,
aristokrasi turun temurun dan oligarki berdasarkan hak pilih terbatas kehilangan
legitimasinya. Bahkan menurut Dahl, rezim-rezim utama yang anti demokrasi seperti
komunis, Iasis, dan Nazi telah menghilang dalam reruntuhan peperangan yang penuh
bencana atau hancur dari dalam. Mereka yang bertahan biasanya mengambil selubung
demokrasi palsu.
2

Secara umum, demokrasi diidentikkan dengan suatu sistem pemerintahan yang
aspiratiI mengingat arti dari demokrasi sendiri, yaitu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat
dan untuk rakyat. Jika merunut sejarah, demokrasi telah ada sejak 2500 tahun yang lalu di
Yunani dan sekarang telah merambah ke setiap benua dan mencakup cukup besar umat
manusia. Namun, perkembangan dan proses menuju sebuah negara yang demokratis sendiri
bukanlah suatu proses yang mudah, dan seringkali dianggap mustahil bagi negara dengan
sistem otoriter yang telah mengakar kuat, seperti Republik Rakyat China. Tetapi
kemungkinan untuk menuju demokrasi itu tetap ada. Oleh karena itu, dalam tulisan ini
penulis akan membahas prospek demokrasi di China dikaitkan dengan keadaan
perekonomian di China saat ini.



1
R.A. Dahl, On Democracy, edisi bahasa Indonesia Perihal Demokrasi, diterjemahkan oleh A. Rahman
Zainuddin, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2001, hal. 1.
2
Dahl, Perihal Demokrasi, hal. 1.
Sejarah China
Sejarah negara China dapat ditelusuri hingga abad kelima SM.
3
Sejarah China
sendiri melibatkan pergantian beberapa dinasti yang menguasai China sebelum akhirnya
menjadi salah satu negara komunis di dunia. Di bawah kekuasaan beberapa dinasti yang
berbeda, China mengalami berbagai peristiwa yang menarik. China pernah berada di bawah
pemerintahan Dinasti Manchu yang pada kenyataannya bukan asli China. Peristiwa yang
masih berkesan dan diingat sampai saat ini adalah ketika :miliation Era di tahun 1842
1949. Saat itu, untuk pertamakalinya China kalah dari kekuatan asing. Apalagi China kalah
dari Jepang yang dulunya merupakan 'jajahan China pada tahun 1895.
China sendiri menjadi negara modern pada Oktober 1911 dengan corak negara
nasionalis. Hal ini sebagai akibat munculnya kelas borjuis baru dan gerakan intelektual
muda yang menekankan paham nasionalisme China.
4
Namun sayangnya negara nasionalis
tersebut tidak bias menyatukan masyarakat karena masih kuatnya pengaruh militer di dalam
pemerintahan. Kemudian setelah terjadi Perang Saudara China yang dimulai tahun 1927
antara Kuomintang dan Partai Komunis China, pada 1 Oktober 1949, Mao Zedong
memproklamasikan China sebagai negara komunis dengan Mao sebagai pemimpin tertinggi
dan PKC sebagai partai yang dominan dan menjalankan pemerintahan.
Di bawah kepemimpinan Mao Zedong, rakyat China percaya bahwa persatuan
dan kedaulatan China dapat dipastikan terjadi. Bagi mereka yang tidak setuju maupun
melawan Mao, diusir dari China dan melarikan diri ke Pulau Formosa. Para pelarian
tersebut kemudian mendirikan China-Taiwan. Selama berada di bawah Mao, China
mengalami naik turun dalam hal kondisi dalam negeri. Setelah mendapatkan pengakuan
dari dunia internasional melalui Perang Korea, Mao menerapkan kebijakan pembangunan
lima tahun pertama dengan bantuan dari Uni Soviet. Kebijakan ini menyebabkan
pertumbuhan ekonomi naik hingga 7,5 - 9.
Kemudian muncul kebijakan Walk on Two Legs untuk menyeimbangkan
pembangunan baik di kota maupun di desa. Mao juga mengelaurkan kebijakan yang untuk

3
A. Hunter & J. Sexton, Contemporary China, Macmillan Press, Hampshire, 1999, hal. 7.
4
Hunter & Sexton, The istory of Modern China, hal. 10.
pertama kalinya memperbolehkan PKC mendapatkan kritikan dari luar partai maupun
intelektual. Namun, karena tidak menyukai hasilnya, Mao akhirnya membatasi kritik-kritik
dari luar melalui Kampame Pembetulan atau hengfang Y:ndong.
Pada tahun 1958-1960, Mao kembali mengeluarkan kebijakan Da Y:e Jin atau
Gerakan Lompatan Jauh ke Depan yang menekankan pada pembanguna inIrastruktur dan
industrialisasi dengan membentuk Komune atau pengelompokan masyarakat agar mereka
Iokus. Namun, hasil dari kebijakan ini jauh dari harapan. Hal ini dikarenakan tejadinya
bencana alam, kekurangan bahan mentah, kualitas produksi yang jelek, laporan yang sering
dimanipulasi, ditariknya bantuan Uni Soviet. Sebagai akibat dari kebijakan ini, sekitar
20juta warga
5
China tewas. Hal yang hamper sama terjadi dengan adanya kebijakan
Revolusi Kebudayaan. Kebijakan ini mengakibatkan perekonomian China melemah.
Setelah Mao waIat, pemegang tampuk kekuasaan di China diduduk oleh Deng
Xiaoping. Deng yang merupakan golongan moderat menghendaki adanya perubahan di
China dengan memperkenalkan reIormasi ekonomi. ReIormasi pertama kali diberlakukan
di pedesaan dengan menghapus sistem komune dan menggantinya dengan family farming
system. Setelah itu, reIormasi diberlakukan di daerah perkotaan dengan mendorong
berkembangnya pengusaha swasta, desentralisasi administrasi ekonomi ke pemerintahan
lokal, pengenalan daerah percontohan pengembangan industri (SEZ), dan lain-lain.
ReIormasi ekonomi yang digalakkan oleh Deng ini memiliki dampak awal
berupa terjadinya inIlasi, deIisit anggaran, dan korupsi karena adanya kelonggaran dari
pihak pemerintah. Pada tahun 1992, Deng memperoleh dukungan penuh dari kelompok
pemimpin dalam reIormasi ekonomi dan kemudian melakukan So:thern To:r ke daerah
SEZ. Deng juga menggalang dukungan lokal atas kerangkan reIormasi ekonominya.
Namun, ide-ide radikal Deng dalam reIormasi dengan orientasi kapitalis gagal. Program-
program reIormasi baru berhasil di bawah Jiang Zemin dan Zhu Rongji.
6
Beberapa
kebijakan lanjutannya adalah privatisasi BUMN, mempercepat transisi menuju ekonomi

5
History Learning Site, The Great Leap Forward,
http://www.historylearningsite.co.uk/greatleapIorward.htm~, 3 Januari 2011.
6
N.R. Yuliantoro, Reformasi Ekonomi, Kuliah Politik dan Pemerintahan China, 4 Oktober 2010.
(kapitalis) pasar, pencabutan pajak pertanian, dan mengesahkan undang-undang untuk
melindungi hak milik pribadi.
7


Pengalaman Demokrasi di China
Samuel P. Huntington mengemukakan ada tiga gelombang demokrasi yang
melanda dunia.
8
Di setiap selang antara gelombang-gelombang tersebut terjadi gelombang
balik demokrasi. Ketiga gelombang demokrasi dan gelombang balik tersebut juga terjadi di
China walaupun jika melihat sejarah pemerintahan China, China tidak pernah menerapkan
pemerintahan yang demokratis. Sebelum menjadi negara komunis, China berada di bawah
kekuasaan Raja atau Dinasti. Namun, pada kenyataannya, China pernah mengalami masa
penerapan demokrasi dalam kehidupan politiknya.
Menurut klasiIikasi gelombang demokrasi Huntington, gelombang pertama
demokrasi terjadi antara tahun 1820an hingga tahun 1918. Gelombang pertama ini ternyata
juga terjadi di China. Pada akhir tahun 1912 dan awal tahun 1913, setahun setelah
berakhirnya kekuasaan kekaisaran terakhir, sekitar 20 juta warga datang ke tempat
pemungutan suara untuk memilih sebuah pemerintahan nasional.
9
Namun hanya beberapa
tahun sesudahnya, bibit awal adanya demokrasi hancur karena korupsi, kekerasan, dan
masih adanya kendali tinggi oleh militer dalam pemerintahan atau warlordisme.
10
Ditambah
lagi dengan kekalahan yang dialami China pada rentang tahun 1842-1949 dari kekuatan
asing.
Gelombang kedua demokrasi terjadi pada rentang waktu1945-1962, tak lama
sesudah berakhirnya Perang Dunia II. Pada tahun 1949, Mao Zedong memproklamirkan
China sebagai sebuah negara komunis dengan pemerintahan di bawah Partai Komunis
China. Meskipun bercorak komunis, tetapi pada tahun 1954, mereka mengadakan

7
N.R. Yuliantoro, Reformasi Ekonomi, Kuliah Politik dan Pemerintahan China, 4 Oktober 2010.
8
E. Hiariej, Pengantar St:di Demokrasi, Kuliah Pengantar Studi Demokrasi, Februari 2010.
9
B. Gilley, Chinas Democratic F:t:re: ow It Will appen and Where It Will Lead, Colombia UP, New
York, 2004, hal. 3.
10
Gilley, Chinas Democratic F:t:re: ow It Will appen and Where It Will Lead, hal. 3.
pemilihan populer untuk anggota badan legislatiI lokal.
11
Namun, lagi-lagi gelombang balik
demokrasi menerpa China,. Pada pertengahan tahun 1950an, Mao Zedong berbalik arah
menjadi seorang diktator di China karena merasa kontrolnya atas negara telah dijamin.
12

Selain itu, dengan berakhirnya PD II, terjadi perubahan tatanan sistem internasional dari
multilateral ke bipolar yang kemudian menyebabkan ketergantungan negara-negara pada
Amerika Serikat dan Uni Soviet sebagai pemenang PD II. Ketergantungan ini disinyalir
meruntuhkan demokrasi dan memunculkan otoritarianisme.
13
Apalagi dengan peperangan
ideologi yang terjadi antara AS dan US. China menjadi salah satu target penyebaran ide-ide
komunis yang dijalankan oleh Uni Soviet dengan pengaruh ideologi Lenin. China
menerapkan ideologi komunis dengan mencampurkan ide Karl Marx dan Lenin dan
muncullah ideologi Maoisme.
Gelombang ketiga demokrasi Huntington terjadi antara tahun 1974 hingga
sekarang. Gelombang ini dianggap sebagai gelombang terkuat dari demokrasi.
14
Setelah
mempengaruhi 10 negara komunis di Eropa Timur dan Asia Tengah, gelombang ini
melanda China. Pada tahun 1989, terjadi gerakan massa anti pemerintah yang
menginginkan adanya demokrasi di China dan mengakhiri kekuasaan PKC yang tidak
dapat disentuh dan korupsi.
15
Namun, seperti gelombang pertama dan gelombang kedua,
gelombang demokrasi ketiga ini tidak berhasil membuat China berubah menjadi salah satu
negara demokratis karena tindakan keras dari militer China.

Prospek Demokrasi di China
Menurut Anders Uhlin yang meneliti tentang aktor pro demokrasi di Indonesia,
ada empat wacana besar tentang demokrasi yang bisa digunakan untuk memahami gerakan

11
Gilley, Chinas Democratic F:t:re: ow It Will appen and Where It Will Lead, hal. 3.
12
Gilley, Chinas Democratic F:t:re: ow It Will appen and Where It Will Lead, hal. 4.
13
Protus Lanx, Tiga Gelombang Demokrasi, 6 Oktober 2010,
http://protuslanx.Iiles.wordpress.com/2010/10/tiga-gelombang-demokrasi.pdI~, 4 Januari 2010.
14
Gilley, Chinas Democratic F:t:re: ow It Will appen and Where It Will Lead, hal. 4.
15
Gilley, Chinas Democratic F:t:re: ow It Will appen and Where It Will Lead, hal. 4.
pro demokrasi dan kemudian menyebabkan munculnya pemerintahan yang demokratis.
16

Empat wacana milik Uhlin tersebut adalah radikal, liberal, konservatiI dan islam yang
kemudian dipecah lagi menjadi beberapa sub wacana. Salah satunya adalah demokrasi
sosial.
Demokratis sosial merupakan salah satu gerakan pro demokrasi yang menerima
ekonomi pasar tetapi harus dikendalikan secara sosial guna menghindari perbedaan yang
terlalu mencolok.
17
Wacana ini menyerukan kesetaraan ekonomi dan penekanan yang lebih
kuat pada hak individu, dan pada lembaga demokratis sesuai dengan model barat. Selain
itu, sebagai salah satu sub wacana liberal, demokratis sosial mengajukan ekonomi pasar
sebagai prasyarat demokrasi. Di sinilah argumen pertama penulis tentang kemungkinan
demokrasi di China.
Di bawah pemerintahan yang menerapkan sistem otoritarian dan dengan
ideologi komunis, China sampai saat ini masih bertahan di tengah pusaran arus tekanan
untuk menjadi negara yang demokratis. Bahkan saat ini China telah menjadi salah satu
kekuatan dari Asia yang patut untuk diperhitungkan akibat ide reIormasi ekonomi yang
diperkenalkan oleh Deng Xiaoping meski baru terlaksana dengan baik di masa Jiang Zemin
dan Zhu Rongji.
ReIormasi ekonomi yang dilakukan oleh Deng di China mengubah sistem
perekonomian di China yang semula menggunakan sistem ekonomi terencana menjadi
sistem ekonomi pasar yang sosialis. Sistem ekonomi ini bertujuan menyeimbangkan
prinsip-prinsip pasar dan prinsip-prinsip sosial. Dengan sistem yang juga bertujuan untuk
menciptakan dan membangun tatanan ekonomi yang dapat diterima oleh berbagai ideology
sehingga berbagai kekuatan di dalam masyarakat dapat terIokus pada tugas bersama
menjamin kondisi kehidupan dasar dan membangun kembali perekonomian, bukan tidak
mungkin China menjadi negara yang demokratis sosial karena adanya sistem ekonomi
pasar yang telah menjadi bagian dari negara tersebut.

16
A. Uhlin, Oposisi Berserak, Mizan, Jakarta, 1998, hal. 133.
17
Uhlin, Oposisi Berserak, hal. 139.
Apalagi kebijakan lanjutan dari ide reIormasi ekonomi berupa pengakuan
terhadap hak milik pribadi turut mendukung untuk tercapainya demokrasi yang sosial di
China. Hal ini juga berkaitan dengan salah satu kriteria yang ada pada demokratis sosial
yang menekankan pengakuan hak-hak individu. Kebijakan pengakuan hak milik pribadi
dapat dikatakan sebagai usaha China untuk mengakui hak-hak individu warganya.
Selain sub wacana demokratis sosial, Uhlin juga mengemukakan sub wacana
populis kiri yang termasuk wacana radikal. Dalam wacana radikal, kesetaraan baik
antarkelas maupun jenis kelamin dipandang sebagai prasyarat bagi berjalannya
demokrasi.
18
Demokrasi berarti kesetaraan politik. Tapi hal tersebut tidak dapat dicapai
tanpa adanya kesetaraan sosio-ekonomi. Tidak jauh dengan induk wacananya, wacana
populis kiri menekankan pentingnya kesetaraan sosial ekonomi. Namun, bagi wacana ini
keberadaan pembagian kelas tidak akan diakui. Wacana ini menganggap kapitalisme tidak
cocok dengan demokrasi maupun sosialisme. Oleh karena itu, demokrasi harus diperluas ke
ranah ekonomi dan sosial. Selain itu, isi dari keputusan demokratis harus menguntungkan
mayoritas 'rakyat kecil.
19
Keadilan sosial ekonomi yang dijunjung oleh wacana ini
seringkali menjadi landasan terjadinya revolusi. Sub wacana populis kiri inilah yang
menjadi argument kedua penulis.
Semenjak pertama kali diproklamirkan oleh Mao Zedong, China menganut
sistem komunis. Sebuah sistem yang tidak menghendaki adanya pembagian kelas. Sistem
ini masih berlaku hingga sekarang meski semenjak reIormasi ekonomi muncul kelas baru
dalam sistem masyarakat China, yaitu kelas borjuis. Mengesampingkan hal tersebut,
dengan ketiasdaan sistem pembagian kelas di China, sangat dimungkinkan China menjadi
negara yang demokratis jika berdasarkan prasyarat yang diajukan oleh wacana populis kiri
untuk mendirikan sebuah negara yang demokratis.
Ditambah lagi jika melihat sistem ekonomi yang diterapkan di China yaitu
sistem ekonomi berorientasi sosialis, secara tidak langsung cocok untuk diterapkan dengan
berdasarkan wacana populis kiri. Hal ini dikarenakan sistem ekonomi ini merupakan sistem

18
Uhlin, Oposisi Berserak, hal. 137.
19
Uhlin, Opoisis Berserak, hal. 138.
yang berpihak pada rakyat,. Rakyat diperdayagunakan secara bersama-sama demi tujuan
hidup bersama. Selain itu, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah China
juga sebenarnya menguntungkan masyarakat China, terutama yang berkaitan dengan
kebijakan reIormasi ekonomi mereka. Misalnya saja dengan memberikan insentiI kepada
petani. Oleh karena itu, menurut wacana populis kiri China mampu menjadi sebuah negara
yang demokratis mengingat beberapa prasyarat untuk menjadi negara yang demokratis
sesuai wacana ini dapat terpenuhi.
Argumen selanjutnya adalah pengalaman China ketika dilanda oleh tiga
gelombang demokrasi seperti yang tertera di atas. Meski seringkali mengalami kegagalan,
setiap gelombang demokrasi melanda, China mempunyai keinginan kuat untuk menjadi
negara demokratis.
20
Keinginan tersebut terutama berasal dari kalangan rakyat kecil yang
selama 20 tahun lebih berada di bawah kejamnya kediktatoran Mao. Dengan semakin
sadarnya masyarakat atas pentingnya penerapan demokrasi dalam pemerintahannya, China
mampu merubah diri dan berpeluang menjadi negara yang demokratis.
Selain itu, bahkan di zaman kepemimpinan Mao Zedong pun China telah
menunjukkan gelagat mendekat ke poros negara yang demokratis. Hal ini telihat dari
kebijakn Mao yang memperbolehkan kaum intelektual maupun orang di luar PKC untuk
melakukan kritik terhadap partai penguasa China tersebut. Seperti kita tahu, demokrasi
menekankan pentingnya kebebasan, termasuk kebebasan untuk berpendapat. Dengan
kebijakan Biarkan 100 B:nga Berkembang, Biarkan 100 Pemikiran Bersaing, telah
ditunjukkan bahwa China memiliki peluang yang besar untuk menjadi negara yang
demokratis. Apalagi dengan masuknya kaum moderat di tubuh pemerintah China yang saat
itu tengah melemah teruatama perekonomiannya akan semakin membuka jalan menuju
demokrasi. Selain itu, China juga telah menerapkan pemilihan umum meski hanya ditingkat
grassroot.
Terakhir, China saat ini sedang mengalami berbagai macam masalah yang pelik
dan dapat meruntuhkan bangsa dengan kebudayaan yang masih bertahan hingga kini. Salah
satunya adalah korupsi. Korupsi telah menyebar luas di China, hingga ke level rendah

20
Gilley, Chinas Democratic F:t:re: ow It Will appen and Where It Will Lead, hal. 4.
pemerintahan. Saat ini China menempati posisi 78 dengan skor 3,5 menurut persepsi indeks
korupsi Transparency International.
21
Meski telah berusaha keras menyelesaikan
permasalahan ini, permasalahan korupsi masih saja terus bermunculan. Oleh karena itu,
China membutuhkan suatu pemerintahan yang demokratis untuk menghentikan
permasalahan korupsi tersebut. Dikarenakan dengan adanya pemerintahan yang demokratis,
peluang untuk terjadinya korupsi kecil karena adanya akuntabilitas, check and balances,
dan openness atau keterbukaan. Sedangkan sistem pemerintahan yang saat ini dianut oleh
China tidak memungkinkan terjadi keiga hal tersebut dan kemudian menyuburkan tindak
korupsi di negaranya.

Kesimpulan
Dimulai dari kekuasaan Dinasti kurang lebih pada abad 5 SM hingga saat ini
China belum pernah benar-benar menerapkan pemerintahan yang demokratis. Meski
demikian, sejarah mencatat setidaknya dalam setiap gelombang demokrasi yang menyerang
dunia, di China pernah terjadi peristiwa-peristiwa yang sebenarnya dapat mengarahkan
China ke arah yang lebih demokratis. Namun sayangnya gelombang balik juga turut
menyerang China saat itu. Di sisi lain, meski China bersikukuh tetap menerapakan sistem
komunis-sosialis di negara tersebut, masih tetap ada kemungkinan-kemungkinan yang akan
membawa China menjadi sebuah negara yang demokratis meski membutuhkan waktu yang
lama.

Daftar Pustaka
Pustaka Literatur
Dahl, Robert A. 2001. On Democracy. Edisi bahasa Indonesia Perihal Demokrasi.
Diterjemahkan oleh A. Rahman Zainuddin. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Gilley, Bruce. 2004. Chinas Democratic F:t:re: ow It Will appen and Where It Will
Lead. New York: Colombia UP.

21
Transparency International, Transparency International Corr:ption Perceptions Index (online), 2010,
http://transparency.org/policyresearch/surveysindices/cpi~, 30 Oktober 2010.

Hiariej, Eric. 2010. Pengantar St:di Demokrasi. Kuliah Pengantar Studi Demokrasi.
Hunter, Alan dan John Sexton. 1999. Contemporary China. New York: St. Martin Press,
Inc.
Uhlin, Anders. 1998. Oposisi Berserak. Jakarta: Mizan.
Yuliantoro, Nur Rachmat. 2010. Reformasi Ekonomi. Kuliah Politik dan Pemerintah China.

Pustaka Online
History Learning Site. The Great Leap Forward (online). Diunduh dari
http://www.historylearningsite.co.uk/greatleapIorward.htm~ 3 Januari 2011.
Protus Lanx. 2010. Tiga Gelombang Demokrasi (online). Diunduh dari
http://protuslanx.Iiles.wordpress.com/2010/10/tiga-gelombang-demokrasi.pdI~
pada 4 Januari 2010.
Transparency Internationa. 2010. Transparency International Corr:ption Perceptions
Index (online). Diunduh dari
http://transparency.org/policyresearch/surveysindices/cpi~ pada 30 Oktober
2010.