Anda di halaman 1dari 3

Embit Kartadarma, dkk

VARIA LABORATORIUM
Analisis Kandungan Nipagin dan Nipasol dalam Beberpa Jenis Makanan Secara Kombinasi Kromatografi Lapis Tipis dan Spektrofotometri Ultraviolet
Embit Kartadarma*, Sardjono Kisman dan Nina Abdulah Unit Bidang Ilmu Farmasi Analisis, Departemen Farmasi, FMIPA Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10, Bandung 40132 (Diterima 14 September 2004, disetujui 26 Oktober 2004)

Abstrak Telah dianalisis secara kuantitatif kandungan nipagin dan nipasol dalam beberapa jenis makanan secara kromatografi lapis tipis dan spektrofotometri ultraviolet. Perolehan kembali nipagin dalam sari buah jeruk, selai nanas, saus tomat, kecap dan acar ketimun berturut-turut adalah 90,15 1,6; 81,60 1,32; 83,14 1,76; 75,87 0,70; 90,79 0,53 %b/b dan perolehan kembali nipasol berturut-turut adalah 105,67 3,71; 98,49 1,94; 94,91 2,87; 104,72 2,54; 103,39 1,98; % b/b. Dari dua contoh masing-masing jenis makanan yang diperiksa, hanya satu kecap yang mengandung nipagin dengan kadar 0,02% b/b. Kata kunci : pengawet, ekstraksi, makanan, kuantitatif Abstract Quantitative determination of nipagin and nipasol in some sort of food had been carried out using a combination of thin layer chromatography and ultraviolet spectrophotometry. Results showed that the recovery of nipagin in orange juices, pineapple jams, tomato ketchup, soy sauces and pickled cucumber were 90.15 1.6; 81.60 1.32; 83.14 1.76; 73.87 0.70; 90.79 0.53 % w/w and the recovery of nipasol were 105.67 3.71; 98.49 1.94; 94.91 2.87; 104.72 + 2.54; 103.39 1.98 % w/w respectively. One out of the two samples of soy sauce from the market examined contained nipagin with a concentration of 0.02% w/w Key words : preservative, extraction, foods, quantitative

Pendahuluan
Penggunaan pengawet kimia seperti nipagin dan nipasol masih banyak digunakan di Indonesia Hal ini disebabkan karena daya mengawetkan makanan dari kedua zat ini sangat baik. Namun penggunaannya sering melewati batas maksimun yang dipersyaratkan dalam Permenkes no. 722/1988. Untuk keamanan bagi konsumen (1), perlu dicari cara penentuan kuantitatif yang relatif cepat dan sederhana. Penelitian ini ditujukan untuk mencoba penggunaan cara isolasi dengan kromatografi lapis tipis yang kemudian setelah terpisah kedua zat akhir dan bahan tambahan pangan ini ditentukan dengan spektrofotometri ultraviolet.

eter, natrium bikarbonat, natrium sulfat, anhidrat, metanol, heksan, n-butanol, asam asetat glacial, air suling, sari buah jeruk, selai nenas, saus tomat, kecap dan acar ketimun. Alat Alat gelas yang umum dipakai dalam laboratorium kimia analisis, rotavapor (Buchi 461),lempeng kromatografi lapis tipis silica gel GF 254 pralapis, mikropipet, spektrofotometer (Beckman DU 650i), dan pH meter. Prosedur 1. Pemisahan secara KLT Pemisahan nipagin dn nipasol dilakukan dengan cara kromatografi lapis tipis pada lempeng kieselguhr-silica gel dan dikembangkan dengan pelarut heksan- nbutanol -asam asetat (72:18:10) Bercak yang terbentuk kemudian dikerok, diekstraksi dengan etanol dan diukur serapannya.

Percobaan
Bahan Nipagin, nipasol, etanol absolut, propilen glikol, larutan natrium klorida jenuh, asam sulfat 10%, dietil-

112 Acta Pharmaceutica Indonesia , Vol. XXIX, No. 3, 2004

Embit Kartadarma, dkk

2. Penentuan panjang gelombang maksimum nipagin dan nipasol Dibuat larutan nipagin dan nipasol dalam etanol absolut dengan konsentrasi masing-masing 3,3 Ug/ml. Serapan larutan diukur dengan menggunakan spektrofotometer ultraviolet. Panjang gelombang maksimum masimg-masimg larutan ditentukan. Panjang gelombang maksimum umtuk nipagin dan nipasol adalah sama yaitu 257 nm. 3. Pembuatan kurva kalibrasi Dibuat larutan nipagin dan nipasol dalam etanol absolut dengan berbagai konsentrasi dicampur dan dikromatografi lapis tipis seperti pada prosedur 1. Setiap bercak dikerok dan dilarutkan dalam etanol lalu diukur serapannya pada 257 nm. Persamaan garis untuk nipagin y = 0,108 x + 0,017, dan r = 0,99075, sedangkan untuk nipasol adalah y = 0,109 x 0,043, dan r = 0,992. 4. Penentuan nilai perolehan kembali nipagin dan nipasol dalam makanan simulasi Nilai perolehan kembali pengawet nipagin dan nipasol dalam makanan dilakukan sebagai berikut : dibuat campuran nipagin dan nipasol dengan perbandingan 2 : 1, kemudaian dibuat larutan induk dengan cara melarutkan campuran serbuk nipagin dan nipasol dalam propilenglikol hingga kadar pengawet menjadi 5%b/v. Yang mengandung nipagin 3,33% b/v dan nipasol sebanyak 1,67%b/v . Dibuat lima jenis makanan simulasi yaitu sari buah jeruk, selai nenas, saus tomat, kecap dan acar ketimun. Kemudian dimasukkan larutan induk pengawet sebanyak 0,1%b/b untuk sari buah jeruk, selai nenas dan saus tomat, serta larutan induk pengawet sebanyak 0,025%b/b untuk kecap dan acar ketimun. Sejumlah 10 g cuplikan makanan simulasi dicampur air suling sebanyak 50 mL, kemudian disaring dan dimasukkan ke dalam corong pisah. Ke dalam corong pisah kemudian ditambah 10 mL larutan natrium klorida jenuh. Campuran diasamkan dengan asam sulfat 10% sampai pH 1, dan diekstraksi berturut-turut dengan 75 dan 50 mL, eter. Ekstrak eter dikumpulkan, dicuci tiga kali setiap kali dengan 30 mL larutan natrium bikarbonat 1%. Lapisan eter kemudian dikeringkan dengan menggunakan natrium sulfat anhidrat sebanyak 1 g, dipekatkan dengan penguap rotasi vakum, dan residu yang terdapt dilarutkan dalam 10 mL metanol. Dibuat larutan baku nipagin dan nipasol masing-masing sebanding 0,1% dalam metanol, kemudian larutan baku dan larutan uji ditotolkan masing-masing 40,50 dan 60 uL pada lempeng kromatografi lapis tipis. Bercak senyawa uji yang mempunyai Rf sama dengan bercak baku ditandai dan dikerok, hasil kerokan nipagin dan nipasol dikocok dengan etanol absolut kemudian disaring, dan digenapkan sampai 10 mL. Serapan fitrat diukur pada

panjang gelombang maksimum, kemudian kadar nipagin dan nipasol dalam makanan simulasi ditentukan dengan kurva kalibrasi dan ditentukan nilai perolehan kembalinya. Hasil dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 : Perolehan kembali nipagin dan nipasol dalam cuplikan simulasi Sediaan a) Nipagin Sari buah jeruk Selai Nanas Saos Tomat Kecap Acar Ketimun b) Nipasol Sari Buah Jeruk Selai Nanas Saos Tomat Kecap Acar Ketimun Rataan (%) 90,15 81,60 83,14 75,87 90,79 105,67 98,49 94,91 104,72 103,39 Simpangan baku 1,56 1,32 1,76 0,70 0,53 3,71 1,94 2,27 2,54 1,98 Koefisien variasi (%) 1,73 1,61 2,12 0,92 0,58 3,51 1,96 3,02 2,43 1,91

Tabel 2 : Hasil analisis koantitatif nipagin dan nipasol dalam cuplikan makanan yang beredar di pasaran Cuplikan Kadar Nipagin (%) A B A B A B A B td td td td td td 0,02 td td td Kadar Nipasol (%) td td td td td td td td td td

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Sari buah jeruk Sari buah jeruk Selai Nanas Selai Nanas Saos Tomat Saos Tomat Kecap A Kecap B Acar Ketimun Acar Ketimun

5. Analisis nipagin dan nipasol dalam cuplikan makanan yang beredar di pasaran Diambil sepuluh cuplikan makanan yaitu sari buah jeruk, selai nenas, saus tomat, kecap acar ketimun dan asinan dari pasaran, kemudian dilakukan penetapan kadar seperti penetapan kadar makanan simulasi. Hasil dapat dilihat pada Tabel 2.

Hasil dan pembahasan


Untuk analisis pengawet nipagin dan nipasol dipilih metode spektrofotometri ultraviolet karena alat ini telah dimiliki oleh sebagian besar laboratorium analisis, mudah dalam pengoperasiannya dan memiliki spesifisitas yang cukup tinggi. Hasil penentuan panjang

Acta Pharmaceutica Indonesia, Vol. XXIX, No. 3, 2004 - 113

Embit Kartadarma, dkk

gelombang maksimum nipagin dan nipasol menunjukkan serapan maksimum pada panjang gelombang yang sama yaitu 257 nm., sehingga untuk penentuan kuantitatif kedua zat ini perlu dilakukan pemisahan dengan cara kromatografi lapis tipis terlebih dahulu dengan pra lapisan silikagel GF 254 menggunakan cairan pengembang heksan n-butanol asam asetat (72:18:10), setelah terpisah secara sempurna dan dikerok, kadar masing-masing pengawet ditentukan menggunakan spektrofotometer ultraviolet. Hasil perolehan kembali pada makanan simulasi sari buah jeruk, selai nenas, saus tomat dan acar ketimun memenuhi persyaratan kecermatan yaitu antara 80 120%, tetapi pada sampel kecap tidak memenuhi syarat kecermatan (75,87%). Hal ini dikarenakan pada saat ekstraksi dengan eter terbentuk emulsi yang disebabkan karena adanya protein dalam kecap. Protein yang terbentuk dari asam amino memiliki struktur ampifilik dimana molekul-molekul protein tersebut dapat berikatan dengan pelarut air dan pelarut organic. Adanya protein dalam kecap akan membentuk emulsi pada saat pengocokan dengan eter, sehingga nipagin berada pada fase organik (eter) dan dalam bentuk emulsi, karena hanya fase organik saja yang diambil, maka nipagin dalam emulsi terbuang dan tidak tertentukan. Dari perbandingan perolehan kembali antara nipagin dan nipasol, nipasol cenderung lebih tinggi dari nipagin, kemungkinan dikarenakan nipasol merupakan senyawa yang relatif lebih non polar dibandingkan dengan nipagin, sehingga pada ekstraksi lebih banyak tertarik dalam eter. Hasil analisis kedua pengawet ini dalam cuplikan makanan yang beredar di pasaran diperoleh hanya satu dari sepuluh sampel yaitu sampel kecap dengan kandungan nipagin 0,02%, dan hal ini masih di bawah maksimum yang dipersyaratkan. Dari hasil pengamatan tentang penggunaan kedua pengawet ini ternyata tidak banyak, kemungkinan disebabkan karena harga kedua pengawet ini lebih mahal dibandingkan pengawet lainnya.

Kesimpulan
Penggunaan metode spektrofotometer UV dalam penentuan kandungan pengawet nipagin dan nipasol dalam sampel makanan sari buah jeruk, selai nenas, saus tomat dan acar ketimun memberikan hasil perolehan kembali yang memenuhi persyaratan kecermatan (80-120%) sedangkan pada cuplikan kecap perolehan kembali nipagin tidak memenuhi persyaratan (75,8%).

Daftar pustaka
1. Ditjen POM, Depkes RI, 1988, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonsia No.722/ Menkes/Per/IX/88 Tentang Bahan Tambahan Makanan, Depkes RI, Jakarta, 3-4, 75,81,84. Loo, T.G., 1976, Analisa dan Teknologi Bahan Makanan, Kelompok ilmu dan Teknologi Bahan Makanan, ITB, 133-136. Furia, T.E., 1972, Hanbook of Food Additive, 2nd ed., CRC Press, Cleveland, 122, 126, 128 Bennion, M., 1980, The Science of Food, John Wiley and Sons, New York, 79-83. Branen, A.L., and Davidson, P.M., (Eds.), 1983, Antimicrobial in Foods, Marcel Dekker , Inc., New York, 37-64. Adnan, M., 1997, Teknik Kromatografi untuk analisis bahan makanan, Ed. I , Penerbit Andi, Yogyakarta, 9-10,22. Walton, H.F. and Reyes, J., 1973, Modern Chemical Analysis and Instrumental, Marcel Dekker Inc. New York, 145.

2. 3. 4. 5. 6. 7.

114 Acta Pharmaceutica Indonesia , Vol. XXIX, No. 3, 2004