Anda di halaman 1dari 11

KONTRA MORATORIUM Tanpa Landasan Hukum, Moratorium melanggar UU Terkait Kebijakan moratorium remisi dan penangguhan bebas bersyarat

bagi terpidana kasus korupsi yang diputuskan Menkumham Amir Syamsuddin dan wakilnya, Denny Indrayana, melanggar undang-undang karena dilaksanakan sebelum aturan hukumnya direvisi. Moratorium remisi yang tanpa dasar hukum dinilai banyak pihak telah merusak sistem hukum. Berbagai pendapat itu disampaikan mantan Menteri Hukum dan HAM Yusril Ihza Mahendra, anggota Fraksi Partai Golkar DPR Nudirman Munir, Hakim Agung terpilih Gayus Lumbuun, dan Ketua Komisi III DPR yang juga anggota Fraksi Partai Demokrat Benny K Harman secara terpisah, di Jakarta belum lama ini. "Kebijakan remisi diatur dalam UU No 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan dan lebih teknis diatur dalam Peraturan Pemerintah No 28 Tahun 2006. Sebelum aturan itu direvisi, Menkumham dan wakilnya tidak bisa membuat keputusan tersendiri untuk menangguhkan pemberian remisi. Apalagi, disampaikan dalam bentuk lisan," kata Yusril. Pengacara senior OC Kaligis mengaku telah melayangkan surat kepada Menkumham Amir Syamsuddin soal pelaksanaan pembebasan bersyarat terhadap tiga kliennya, Paskah Suzetta, Bobby Suhardiman, dan Ahmad Hafiz Zawawi. "Kami mengimbau agar Surat Keputusan (SK) Menkumham tentang pembebasan bersyarat supaya dilaksanakan," kata Kaligis di Jakarta, Kamis (3/11) lalu kepada wartawan. Pernyataan Kaligis tersebut terkait kliennya, Paskah Suzetta, Bobby Suhardiman dan Ahmad Hafiz Zawawi, memberikan kuasa dari LP Cipinang, Jakarta Timur, agar menyelesaikan pembebasan bersyarat, namun terhalang adanya keputusan moratorium (penghentian sementara) dari Menkumham Amir Syamsuddin dan wakilnya Denny Indrayana. Kaligis mengatakan, kliennya telah mendapatkan pembebasan bersyarat tertanggal 12 Oktober 2011 karena sudah melaksanakan asimilasi selama dalam penjara. Namun, Amir Syamsuddin dan wakilnya, Denny Indrayana, mengeluarkan kebijakan untuk menerapkan moratorium pemberian remisi (pemotongan hukuman) atas terpidana koruptor pada 31 Oktober 2011. Kaligis mengingatkan, moratorium itu tidak berlaku surut atas dasar asas legalitas. Menurut dia, bahwa demi kepastian hukum, maka Menkumham supaya menghormati keputusan bebas bersyarat tersebut. Dia menambahkan, merupakan preseden buruk apabila nantinya SK Menkumham melawan asas legalitas dan pihaknya meyakini keputusan itu berlaku sejak diputuskan. Yusril menjelaskan, UU tentang Pemasyarakatan menyebutkan bahwa remisi diberikan kepada narapidana yang berperilaku baik selama menjalani hukum penjara dengan persyaratan tertentu, tanpa melihat kasus pidana yang dilakukannya.

Kemudian PP No 28 Tahun 2006, kata dia, menyebutkan, narapidana di lembaga pemasyarakatan diberi pelayanan perlakuan yang sama. "Gagasan Deny Indrayana yang menerapkan moratorium remisi tanpa merevisi undang-undang dan peraturan pemerintah telah melanggar hukum," katanya. Yusril juga mempertanyakan istilah moratorium. Di dalam kamus, kata dia, moratorium itu berarti pembekuan atau penghentian sepenuhnya. Namun, kata Yusril, Denny tidak sependapat dan menyatakan bahwa moratorium itu pengetatan. Yusril juga mengingatkan agar tidak menerapkan kebijakan secara serampangan, apalagi Indonesia adalah negara hukum, sehingga semua kebijakan harus berlandaskan hukum. "Di negara hukum, maka hukumlah yang memerintah, bukan penguasa. Kecuali kalau Indonesia sudah berubah menjadi negara diktator, maka penguasa bisa memerintah dengan kemauannya sendiri," katanya. Dan masih menurut Yusril, moratorium remisi itu juga bisa memberi preseden buruk bagi narapidana karena tidak memiliki harapan meskipun telah berperilaku baik. Nudirman Munir menilai langkah Menkumham dan wakilnya dengan membuat kebijakan moratorium revisi dan pembatalan pembebasan bersyarat sekadar pencitraan, tetapi dengan cara melanggar hukum. "Jika Deny Indrayana ingin melakukan pencitraan silakan saja, tetapi dengan cara yang cerdas dan tidak melanggar hukum," katanya kepada SKO salah satu situs online di Jakarta. Menurut Nudirman, kebijakan moratorium yang dilontarkan Deny Indrayana belum ada landasan hukumnya, tetapi sudah dilaksanakan sehingga melanggar hukum, yakni UU No 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, Peraturan Pemerintah (PP) No 28 Tahun 2006, serta Peraturan Menkum dan HAM. Kalau Denny Indrayana ingin melakukan pencitraan, kata dia, silakan saja tapi hendaknya dengan cara-cara yang cerdas dan tidak melanggar hukum. "Kalau baru sebatas gagasan, jangan langsung dilontarkan ke publik, tetapi diusulkan dulu untuk merevisi UU dan PP. Setelah aturannya hukumnya direvisi, baru kemudian kebijakannya diterapkan," katanya. Anggota Komisi III DPR ini juga mengingatkan, penggunaan istilah moratorium untuk narapidana juga tidak tepat, karena istilah itu terkait dengan efisiensi anggaran. Kalau remisi terhadap narapidana, menurut dia, diberikan bukan didasarkan atas kasus yang dilakukan yakni korupsi atau tindak pidana lainnya, melainkan karena perilakunya dinilai baik saat menjalani hukuman di lembaga pemasyarakatan. Gayus Lumbuun mengatakan, kebijakan moratorium remisi koruptor jangan terlalu tergesa-gesa dilakukan. Menurutnya, jika moratorium tersebut hanya menggunakan

keputusan menteri tanpa ada undang-undang yang mendasarinya, dikhawatirkan gagasan tersebut sengaja dilakukan untuk kepentingan tertentu. "Kebijakan moratorium terhadap remisi dan pembebasan bersyarat terhadap kasus tertentu sebaiknya tidak tergesa-gesa dilaksanakan. Kalau hanya menggunakan mekanisme Keputusan menteri atau dirjen pemasyarakatan, maka itu bisa diindikasikan peraturan yang dibuat hanya menuruti kepentingan sesaat dan kepentingan tertentu," kata Gayus. Mantan anggota Komisi III DPR tersebut juga menambahkan jika kebijakan moratorium tidak memiliki dasar UU tetapi hanya berdasarkan keputusan menteri, maka hal tersebut akan meresahkan masyarakat. Benny K Harman menyambut baik gagasan Menkumham dan wakilnya untuk melakukan moratorium remisi koruptor. Namun, menurut Benny, gagasan tersebut harus dimasukkan dalam undang-undang agar mendapat kejelasan hukum. "Sebagai ide, sebagai rencana, kita memberikan apresiasi untuk mendukung upaya pemberantasan korupsi. Namun, gagasan seperti itu harus dituangkan dalam perundang-undangan supaya payung hukumnya jelas. Ide itu harus dikunci, diuji publik, dan diatur dalam UU," katanya. Benny mengatakan, gagasan moratorium tersebut harus dilindungi dengan hukum untuk mencegah pihak-pihak yang ingin mengajukan tuntutan ke pengadilan. Gagasan tersebut harus diaplikasikan ke dalam bentuk perundang-undangan. Denny Indrayana menegaskan kembali yang dilakukan Kementerian Hukum dan HAM hanya memperketat persyaratan memperoleh remisi bagi narapidana koruptor. Denny Indrayana menegaskan, kebijakan tersebut bukan barang baru karena tercantum dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2006. Hal ini, katanya, sama sekali tidak bisa dikatakan diskriminasi. Justru tidak adil apabila untuk kejahatan umum dan khusus diperlakukan sama. (Ray/SKO/Ant) ***************************8 Indikator Pengetatan Remisi Dinilai Tak Berdasar Kemenkumham memasukkan predikat justice collaborator untuk mengukur apakah seorang terpidana berkelakuan baik atau tidak. Namun, indikator ini dianggap tidak memiliki dasar hukum. Moratorium remisi dan pembebasan bersyarat (PB) bagi terpidana korupsi, terorisme, narkotika, dan kejahatan transnasional mendapatkan penolakan keras dari berbagai kalangan. Bahkan sejumlah fraksi di DPR berencana mengirimkan somasi ke Kementerian Hukum dan HAM melalui kuasa hukumnya, Yusril Ihza Mahendra. Selain itu, anggota DPR dari Fraksi Gerindra Martin Hutabarat dan pakar hukum pidana Ganjar L Bondan juga sempat menyatakan penolakannya terhadap kebijakan yang dinilai

tidak berdasar hukum dan diskriminatif itu. Namun, setelah mendengar penjelasan Denny yang mengklarifikasi istilah moratorium menjadi pengetatan, Martin dan Ganjar berbalik mendukung. Lain halnya dengan Yusril dan sejumlah fraksi di DPR yang memberikan kuasa kepadanya. Penjelasan Denny ini tidak membuat Yusril urung mengirimkan somasi ke Kemenkumham. Mungkin kita kirimkan hari ini. Karena kemarin itu agak terlambat menandatangani surat kuasanya, katanya kepada hukumonline, Senin (7/10). Yusril beralasan Denny tidak konsisten terhadap ucapannya terdahulu. Pasalnya, pengetatan remisi bukanlah barang baru. Sebab, dalam PP No 28 Tahun 2006 sudah diatur syarat khusus bagi terpidana korupsi, terorisme, narkotika, dan kejahatan transnasional untuk mendapatkan remisi dan PB. Dimana, syarat-syaratnya berbeda dengan terpidana lainnya. Ini berbeda dengan ketentuan sebelumnya yang diatur dalam PP No 32 Tahun 1999. Perbedaan persyaratan itu antara lain telah menjalani dua pertiga masa hukuman dan berkelakuan baik. Namun, belakangan pemerintah menilai syarat berkelakuan baik tidak jelas dan membuka peluang terjadinya penyimpangan. Pemerintah lalu memasukan unsur justice collaborator (pelaku tindak pidana yang bekerja sama dengan penegak hukum) sebagai indikator agar lebih dapat terkontrol dan dipertanggungjawabkan. Akan tetapi, Yusril menganggap indikator tersebut tidak ada dasar hukumnya. Itu mengacu ke PP No 28 Tahun 2006 atau PP No.32 Tahun 1999? Dasar hukumnya kan nggak ada, tuturnya. Yusril melanjutkan, tidak boleh ada suatu kebijakan pemerintah yang dilakukan tanpa berdasarkan hukum. Lagipula, istilah whistleblower atau justice collaborator itu sebenarnya tidak ada dalam istilah hukum di Indonesia. Kalau di sistem hukum kita, dia akan tetap dituntut ke pengadilan. Cuma, karena dia dianggap berjasa membongkar kejahatan, hukumannya diberikan lebih ringan dari yang lain. Dengan demikian, pengurangan hukuman bagi justice collaborator diberikan pada saat dijatuhkannya hukuman. Namun, setelahnya, ketika putusan sudah selesai dan inkracht, Yusril berpendapat semua narapidana harus diperlakukan sama. Termasuk haknya untuk mendapatkan remisi, asimilasi, dan PB. Remisi itu tidak ada kaitannya lagi dengan kejahatan yang dia lakukan sebelumnya. Remisi itu terkait dengan kelakuan orang baik atau tidak ketika sudah menjadi narapidana, terang mantan Menteri Kehakiman dan HAM ini. Hal ini juga sejalan dengan sistem pemasyarakatan Indonesia yang menyatakan para terpidana dididik, dibina, direhabilitasi supaya mentalnya menjadi baik dan dapat kembali lagi ke masyarakat.

Lebih dari itu, Yusril juga menampik pendapat Denny yang menganggap syarat berkelakuan baik itu tidak jelas indikatornya. Menurut Yusril, dia sudah 14 tahun mengajar di Akademi Ilmu Pemasyarakatan. Dan penilaian berkelakuan baik itu sudah ada matriks dan daftarnya. Tinggal ditandai saja oleh pengamat perilaku narapidana. Misalnya, seorang narapidana sudah menjalani setengah dari masa hukumannya. Dia akan dinilai, apakah berkelakuan baik atau tidak. Kalau berkelakukan baik, maka dia bisa dapat asimilasi. Kemudian, setelah menjalani dua pertiga masa hukuman, dia bisa mendapat PB. Kan di sana ada syarat-syaratnya, misalnya dia nggak boleh bergaul sama orang jahat, nggak boleh bikin keributan di masyarakat. Nah, kalau salah satu syarat dilanggar, dia akan ditangkap terus dimasukan lagi. Nah, Denny Indrayana tuh nggak ngerti, tukasnya. Demi rasa keadilan Sebelumnya Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana mengatakan kebijakan pengetatan remisi ini telah didiskusikan dan dikaji para ahli hukum. Salah satunya adalah ketidakjelasan syarat kelakuan baik untuk mendapatkan remisi yang diatur dalam PP No 28 Tahun 2006. Pada praktiknya, indikator yang tidak jelas itu membuka ruang terjadinya penyimpangan, seperti jual beli remisi dan PB. Makanya, Kemenkumham menutup peluang itu dengan memberikan indikator yang jelas. Salah satunya, dengan memasukkan predikat justice collaborator sebagai indikatornya. Selain syarat tersebut, tata cara pemberian remisi harus dapat pertimbangan dari Dirjen Pemasyarakatan. Ini yang sering orang lupa. Memperhatikan ketertiban, keamanan, dan rasa keadilan masyarakat. Poin rasa keadilan masyarakat ini yang sangat penting, tuturnya. Bagi saya, tidak hanya hukuman nenek yang mencuri kakao yang hukumannya harus lebih ringan dari pada yang merampok uang rakyat, tetapi syarat untuk mendapatkan remisinya pun harus berbeda, kata Denny. Denny menambahkan, justru tidak adil, tidak fair, kalau syarat pemberian remisi pencuri sandal, pencuri ayam, sama dengan perampok uang rakyat, koruptor. Dengan demikian, diskriminasi yang dilakukan tersebut dianggap sebagai diskriminasi positif yang memberikan keadilan bagi masyarakat. Segera uji materi Denny juga mempersilahkan siapapun yang tidak setuju dengan kebijakan ini untuk mengambil langkah-langkah hukum. Kami hormati. Tapi, kami meyakini kebijakan ini kebijakan yang tepat bagi Indonesia yang anti korupsi.

Dan memang, Yusril mengatakan pihaknya tetap akan mengajukan somasi kepada Kemenkumham. Selain itu, Yusril juga akan mengajukan uji materi terhadap ketentuan dalam PP No 28 Tahun 2006. Karena, ketentuan syarat remisi, PB, dan asimilasi untuk terpidana korupsi, terorisme, narkotika, dan kejahatan transnasional dianggap bertentangan dengan Pasal 5 ayat (1) b UU Pemasyarakatan. Dalam ketentuan Pasal 5 ayat (1) b UU Pemasyarakatan itu dinyatakan pembinaan terhadap narapidana dengan azas persamaan perlakuan dan pelayanan. Itu kan bermakna semua narapidana harus diberikan perlakuan dan pelayanan yang sama, ujarnya. Tapi kalau ada terpidana tertentu yang dibedakan dengan terpidana lain, ini yang akan kami uji ke MA. Apakah PP No 28 Tahun 2006 ini sejalan atau tidak dengan ketentuan undang-undang yang lebih tinggi, pungkasnya.

Jimly: Remisi Bagi Narapidana Sebaiknya Dibatasi 17 Agustus Saja


Jakarta - Pemerintah dinilai terlalu sering mengobral remisi. Ada beberapa kali kesempatan remisi diberikan kepada sejumlah narapidana termasuk koruptor. Pemerintah diminta memperketat prosedur remisi dengan hanya memberikannya saat perayaan kemerdekaan saja. "Momennya hanya dibatasi pada 17 Agustus saja. Remisi itu kan hadiah negara yang diberikan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan karena narapidana berkelakuan baik," kata ahli hukum, Jimly Ashiddiqie saat dihubungi detikcom, Sabtu (3/9/2011). Jimly menilai fungsi remisi harus dikembalikan ke sejarah awal pemberiannya. Dahulu remisi diberikan pemerintah dalam peristiwa kenegaraan, namun baru di kemudian hari di setiap hari besar keagamaan. "Libur remisi kebanyakan. Prosedur harus diperketat dan cukup sekali dalam 1 tahun," terangnya. Jimly menilai, momen pemberian remisi bagi narapidana dikhawatirkan malah jadi proyek rutin tiga bulanan, mengingat saking banyaknya momen pemberian remisi. Narapidana pun yang tidak pantas mendapat remisi malah menikmati panen remisi. "Kita harus kaji ulang pemberian remisi, antara lain syaratnya harus diperketat, tata caranya harus dikaji ulang makna dan maksud pemberian remisi jangan dilihat sebegai proyek otomatis," jelasnya. Moratorium Remisi Langgar UU
Pro dan kontra soal wacana moratorium pemberian remisi dan pembebasan bersyarat (PB) bagi terpidana kasus korupsi masih terus mengemuka. Kebijakan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Hukum dan HAM, dinilai sebagai kebijakan yang sarat dengan kepentingan politik.

Wacana moratorium tersebut dianggap sebagai pemoles pencitraan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bahkan hal itu rentan dijadikan alat untuk menjatuhkan lawan politik bagi partai politik yang tengah berkuasa. Padahal, pemberian remisi dan pembebasan bersyarat bagi narapidana korupsi merupakan kewajiban yang harus diberikan kepada terpidana, sebagaimana diatur dalam undang-undang. "Jadi kalau pemerintah kemudian menolak memberikan pembebasan bersyarat kepada Paskah Suzetta (terpidana kasus dugaan suap cek perjalanan dalam pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia yang dimenangkan Miranda Goeltom tahun 2004 silam), sudah jelas karena kepentingan politik," ujar Ketua Badan Pekerja Setara Institute, Hendardi dalam wawancara khusus dengan wartawan Harian Umum Suara Karya, Sugandi, di kantornya, Jakarta, belum lama ini. Kebijakan moratorim pemberian remisi dan pembebasan bersyarat yang terkesan dipaksakan itu, menurut Hendardi, tidak lain hanya untuk kepentingan politik pemerintah dan parpol pemenang pemilu, Sebab, publik mengetahui bahwa Menkumham Amir Syamsuddin dan Wakil Menkumham Denny Indrayana merupakan orang yang dekat dengan kekuasaan. Pelanggaran seperti apa yang dilakukan pemerintah jika pemberian remisi dan pembebasan bersyarat bagi narapidana korupsi dimoratorium? Di mana letak kelemahan kebijakan itu? Sesungguhnya, secara normatif merupakan hak yang harus diberikan kepada para narapidana. Karena, hal itu sudah diatur dalam Pasal 14 huruf f dan huruf k UU Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. Sayangnya, implementasi tentang hak narapidana itu tidak diatur secara tegas dalam UU tersebut. Di sinilah munculnya permasalahan itu, sehingga teknis pemberian remisi dan pembebasan bersyarat ditentukan semata-mata oleh Dirjen Pemasyarakatan dan Menkumham, sebagaimana diatur dalam Peraturan (PP) Nomor 28 Tahun 2006 tentang Perubahan atas PP Nomor 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tatacara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan. Lalu, di mana letak pelanggarannya? Bila mengacu pada UU Pemasyarakatan, maka PP yang mengatur teknis pelaksanaannya, seharusnya tidak diperkenankan membatasi atau mengurangi hak warga binaan yang secara sah telah memenuhi syarat untuk memperoleh remisi dan pembebasan bersyarat. Karena, remisi dan pembebasan bersyarat itu adalah hak yang harus diberikan pemerintah (Menkumham) terhadap narapidana. Ya, ini adalah soal hak. Jadi, kalau ada yang punya argumen bahwa penolakan pemerintah terhadap pengajuan remisi atau pembebasan bersyarat itu melanggar HAM, ada benarnya juga. Artinya, pemberian remisi dan pembebasan bersyarat itu harus diatur secara khusus? Ya, pembatasan hak kepada narapidana, hanya diperbolehkan melalui UU dengan argumen-argumen yang jelas. Jadi, tidak bisa hanya melalui moratorium dan sebagainya. Harus ada UU yang jelas untuk membatasi hal itu. Karena, ini adalah pembatasan hak dari para narapidana, sehingga tidak bisa sembarangan. Apalagi, kebijakan itu selalu berubah-ubah yang awalnya dikatakan moratorium, kemudian berubah menjadi pengetatan atau pembatasan. Ini kan tidak jelas aturannya seperti apa. Demikian halnya tentang PP. Di sana tidak dijelaskan soal syarat pemberian remisi dan pembebasan bersyarat. Nah, di sinilah sumber masalahnya

sehingga penolakan ajuan pembebasan bersyarat yang disampaikan Paskah Suzetta itu menjadi perdebatan cukup sengit yang terjadi belakangan ini. Konstruksi hukum yang bias seperti itu dengan sendirinya dapat memicu kontroversi terkait kebijakan baru. Persoalan itu yang membuat timbulnya polemik saat ini. Pembebasan harus dilakukan melalui UU, sementara UU-nya sendiri tidak mengatur soal itu. Itu artinya, konstruksi hukum yang menjamin hak narapidana, tidak bisa dikurangi oleh PP. Karena bagaimanapun, UU Pemasyarakatan adalah aturan yang paling tinggi, sehingga tidak bisa dibatalkan begitu saja oleh aturan yang lebih rendah, apalagi hanya peraturan menteri. Kalaupun begitu, moratorium atau pengetatan terhadap pemberian remisi dan pembebasan bersyarat bagi koruptor merupakan domain pemerintah untuk menilai kualifikasi dan terpenuhinya syarat-syarat bagi seorang narapidana memperoleh haknya. Dengan demikian, Menteri Hukum dan HAM dan Wakilnya itu akan dianggap melanggar UU jika menolak pembebasan bersyarat seorang narapidana yang dengan parameter obyektif telah memenuhi syarat memperoleh haknya untuk itu. Bagaimana penilaian , soal banyaknya protes dari masyarakat terkait kebijakan Menkumham itu? Karena tidak ada parameter yang jelas dalam mengukur aturan itu, maka sangat wajar bila kemudian kebijakan Menkumham itu mengundang reaksi dari sejumlah kalangan. Makanya, tanpa parameter yang jelas, saya kira di kemudian hari justru akan semakin membahayakan penegakan hukum di Indonesia. Banyak yang menganggap, wacana pemberlakuan moratorium itu sebagai upaya untuk menaikkan citra pemerintah. Anda juga melihat seperti itu? Ya. Saya khawatir, kebijakan untuk membuat jera para pelaku korupsi justru dimanfaatkan untuk memoles citra pemerintah dan partai politik penguasa sebagaimana dituduhkan sejumlah pihak. Karena, bagaimanapun, kebijakan seperti itu sangat rentan disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk menundukkan lawan hanya untuk kepentingan politiknya. Padahal, orang-orang yang masuk dalam lingkaran kekuasaan yang ditahan karena terlibat korupsi sudah terlebih dahulu mendapatkan remisi dan pembebasan bersyarat. Misalnya, Aulia Tantowi Pohan yang notabene besan Presiden SBY, sudah mendapatkan haknya. Lalu, Arthalita Suryani yang jelasjelas telah melanggar dengan menikmati keistimewaan di dalam tahanan, tapi dia tetap mendapatkan haknya. Tapi, ketika berhadapan dengan lawan politiknya, seperti Paskah Suzetta yang notabene sebagai orang Golkar, pemerintah justru menghambat pemberian hak narapidana. Ini jelas masyarakat menilainya sebagai upaya untuk menggembosi lawan-lawan politik penguasa. Artinya, pemerintah harus mengubah aturan pemberian remisi dan pembebasan bersyarat bagi koruptor? Ya, saya kira pemerintah mesti segera menyusun parameter yang jelas, yang bisa dikontrol oleh pihak lain terkait standar pemberian remisi dan pembebasan bersyarat bagi narapidana korupsi. Dan, seiring dengan itu, harus ada perubahan terhadap UU Pemasyarakatan, di mana variabel rasa keadilan masyarakat yang harus menjadi pertimbangan utama. Terkait gugatan yang dilakukan mantan Menteri Kehakiman Yusril Ihza Mahendra?

Saya mendukung adanya gugatan yang dilancarkan Pak Yusril. Kita tunggu saja mana yang benar. Apakah aturan yang dikeluarkan Menkumham atau UU yang berlaku. Karena, sejak dulu, memang pemasyarakatan kita ini sarat dengan muatan politik. Pemasyarakatan sering kali dijadikan salah satu alat tawar-menawar politik dengan kebijakan-kebijakan yang bisa diatur karena renggangnya aturan yang ada.

Golkar Sebut Moratorium Remisi Koruptor Kebijakan Tanpa Desain


Jakarta - Semula Kemenkum HAM akan menerapkan keputusan moratorium remisi. Namun rupanya moratorium yang dimaksud adalah pengetatan syarat pemberian remisi. Di mata Golkar, kebijakan ini dinilai lahir melalui keputusan tanpa desain perencanaan. "Soal moratorium lalu berubah soal pengetatan persyaratan. Ini kan contoh orang ambil keputusan tidak dengan by design perencanaan. Tetapi kita harus positif thinking juga. Tetapi kalau pejabatnya begitu caranya, jangan bermimpi negara ini baik," kata Sekjen Partai Golkar, Idrus Marham. Hal itu disampaikan dia usai salat Idul Adha di DPP Partai Golkar, Jl Anggrek Neli Murni, Jakarta Barat, Minggu (6/11/2011). Dia mengatakan, remisi merupakan hak azasi para terpidana. Sepanjang UU mengatur, maka hak azasi terpidana harus dilindungi dan dipenuhi. "Bayangkan saja orang yang sudah mendapatkan SK dan ditetapkan hari itu sudah bisa bebas bersyarat. Lalu di hari itu ada saudara Nurlip dari Golkar, Daniel Tandjung dari PPP lalu ada Agus Condro bebas di situ, tapi di tempat yang lain di hari yang sama kok diperlakukan beda. Lalu kemudian muncul pembicaraan soal moratorium lalu berubah soal pengetatan persyaratan," papar Idrus. Menurutnya, karena Indonesia adalah negara hukum, maka harus dilihat dulu aturan hukum yang ada. "Jangan sampai kebijakan menteri menabrak aturan yang ada," sungut Idrus.

ICW:Moratorium Remisi,Peluang Vonis Bebas Koruptor Makin Terbuka


JAKARTA -- Indonesia Corruption Watch (ICW) menghawatirkan, kebijakan moratorium atau penetapan remisi bagi koruptor, memberikan dampak akan semakin banyak vonis bebas bagi para koruptor. "Kami melihat ada kecendrungan banyak vonis bebas di pengadilan Tipikor (Tindak Pidana Korupsi) di daerah-daerah,\" jelas Wakil Koordinator ICW Emerson Juntho dalam dialog Polemik di Warung Daun Jakarta, Sabtu lalu. Kebijakan moratorium ini dikeluarkan Mentri Hukum dan HAM yang baru, Amir

Syamsuddin bersama Wakilnya Denny Indrayana. Kebijakan bagi koruptor dan teroris tersebut merupakan pengetatan syarat pemberian remisi bagi para terpidana korupsi. ICW menganggap moratorium ini mengarah pada penghapusan remisi dan pembebasan bersyarat bagi koruptor. ICW tidak sepakat dengan kebijakan tersebut, sebab, semakin membuka peluang vonis bebas bagi para koruptor yang memanfaatkan mafia peradilan. Sejauh ini, ICW mencatat sebanyak 40 terdakwa kasus korupsi yang dibebaskan pengadilan tipikor. Antara lain, 4 Bandung, 1 Semarang, 14 Samarinda 21 Surabaya. Kalau dulu, kata dia, koruptor tidak apa-apa dihukum, karena ada remisi dan pembebasan bersyarat. Kalau sekarang ia harus diperjuangakn bebas, karena tidak ada remisi pembebasan bersyarat kedepannya. "Mudah-mudahan ini tidak menyurutkan langkah duet ASDI (Amir Syamsuddin-Denny Indrayana). Untuk menyurutkan penetapan remisi pembebasan bersyarat bagi koruptor," lanjut Emerson. ICW juga sempat menyinggung Mahkamah Agung RI. Menurut Emerson, MA masih tertutup dalam memberikan informasi terkait proses rekruitmen hakim Tipikor. Ini setelah ICW tidak diberikan informasi terkait daftar nama dan daftar hakim se Indonesia."Saya menduga bahwa tidak serius Mahkamah Agung dalam hal pengadilan Tipikor dan mereka menutup diri," ujar Emerson. Pembicara lain dalam diskusi Polemik di Warung Daun ini, adalah, pakar hukum pidana Gandjar L Bondan dan Anggota DPR RI Komisi III, Martin Hutabarat serta Wakil Mentri Hukum dan HAM (WamenkumHAM), Denny Indrayana. Denny Indrayana menegaskan, KemenkumHAM tidak menghapus remisi bagi narapidana kasus korupsi, tetapi memperketat syarat pemberian remisi tersebut. Dijelaskan Denny, syarat pemberian remisi bagi narapidana koruptor adalah berkelakuan baik. Kelakuan baik itu, misalnya, mebeberkan informasi guna penuntasan korupsi. "Syarat dan tata cara pemberian hak napi bagi perampok uang rakyat atau koruptor itu harus lebih berat dibandingkan bagi pencuri sandal misalnya, kalau sama justru itu tidak adil," cetusnya. Jika diobral, kata dia, akan terjadi jual beli komoditas dan dapat mendorong kearah penyimpangan. "Kami punya kepentingan mendorong indonesia kedepan lebih bermartabat, lebih anti korupsi," lanjut Denny. Hal tersebut, tambah Denny, berlaku bagi semua napi tidak perduli apa afiliasi politiknya mapun golongannya."Tidak boleh ada pertimbangan lain, apalagi pertimbangan politik," tegasnya. (rul/fmc)

Moratorium Remisi Koruptor Merusak Sistem Hukum


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Keputusan Kementerian Hukum dan HAM mengeluarkan moratorium remisi Koruptor merusak sistem hukum di Indonesia dan memupus kepastian hukum dalam law enforcement. Demikian yang diungkapkan politisi PKS yang juga anggota Komisi III DPR, Aboebakar Alhabsy kepada Tribun terkait rencana moratorium remisi bagi koruptor, Kamis (3/11/2011). "Saya belum melihat adanya itikad untuk pemberian efek jera seperti yang disampaikan, namun hanya sebatas pencitraan belaka. Sebab bila memang benar ingin melakukan moratorium persoalan remisi haruslah dilakukan revisi UU pemasyarakatan," kata Aboebakar. Menurut dia, pemberian instruksi secara lisan yang berdampak pada batalnya beberapa napi merupakan preseden tidak baik dalam proses hukum di Indonesia. Bagaimanapun, sebut Aboebakar, legal standing remisi masih jelas diatur dalam pasal 34 UU No 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, itu merupakan hak narapidana. Jadi, bila ada instruksi yang bertentangan dengan UU tersebut bisa dikatakan ada abuse of power yang dilakukan Menkum HAM. "Karena remisi merupakan hak, maka harus diberikan, bila ini memang ingin dilakukan, mari lakukan dengan konstitusional, jangan acak-acak tata hukum kita." "Bila memang ada itikad baik untuk memperbaiki UU Pemasyarakatan seharusnya pemerintah meminta DPR atau mengajak DPR untuk melakukan perbaikan UU tersebut," tandasnya. Bila tidak, imbuh dia, Presiden seharusnya bikin Perpres untuk pengganti UU. Melakukan secara konstitusional dan rakyat jangan dibodohi dengan model pencitraan seperti ini. Pemberlakuan instruksi lisan secara retroaktif ini merusak sendi-sendi hukum di Indonesia, tidak bisa sebuah produk hukum diberlakukan surut ke belakang. "Dalam konteks ini saya lihat ada pelanggaran HAM dan pendzoliman terhadap para napi yang seharusnya bebas. Seorang yang seharusnya sudah bebas menurut peraturan dan hukum yang berlaku, namun kebebasannya harus dirampas hanya berdasar instruksi lisan Pak Menteri." "Saya harap, Presiden memberikan arahan pada Menkum HAM, mari kita bernegara yang baik dan beradministrasi yang tertib," paparnya

Beri Nilai