Anda di halaman 1dari 9

Topic: Tri Hita Karana Menjalin Kehidupan Hormonis Bermas Posted: 31 Jan 2010 at 8:24pm A.

Pengertian Tri Hita Karana,berasal dari bahasa sansekerta.Dari kata Tri yang berarti tiga .Hita berarati sejahtera.Karana berarti penyebab.Pengertian Tri Hita Karara adalah tiga hal pokok yang menyebabkan kesejahteraan dan kemakmuran.Konsep ini muncul berkaitan erat dengan keberadaan hidup bermasyarakat di Bali. Berawal dari pola hidup Tri Hita Karana ini muncul berkaitan dengan terwujudnya suatu desa adat di Bali.Bukan saja berakibat terwujudnya persekutuan teritorial dan persekutuan hidup atas kepentingan bersama dalam bermasyarakat, juga merupakan persekutuan dalam kesamaan kepercayaan untuk memuja Tuhan atau Sang Hyang Widhi.Dengan demikian suatu ciri khas desa adat di Bali minimal mempunyai tiga unsur pokok,yakni: wilayah,masyarakat,dan tempat suci untuk memuja Tuhan/Sang Hyang Widhi. Perpaduan tiga unsur itu secara harmonis sebagai landasan untuk terciptanya rasa hidup yang nyaman,tenteram dan damai secara lahiriah maupun bathiniah.Seperti inilah cermin kehidupan desa adat di Bali yang berpolakan Tri Hita Karana. B.Bidang Garapan Tri Hita Karana Adapun bidang garapan Tri Hita Karana dalam kehidupan bermasyarakat ,adalah sebagai berikut: 1.Bhuana atau Karang Desa ,Alam atau wilayah teritorial dari suatu desa adat yang telah ditentukan secra definitif batas kewilayahannya dengan suatu upacara adat keagamaan. 2.Krama Desa Adat,yaitu kelompok manusia yang bermasyarakat dan bertempat tinggal di wilayah desa adat yang dipimpim oleh Bendesa Adat serta dibantu oleh aparatur desa adat lainnya, seperti kelompok Mancagra ,Mancakriya dan Pemangku, bersama-sama masyarakat desa adat membangun keamanan dan kesejahteraan. 3.Tempat Suci adalah tempat untuk menuja Tuhan/Sang Hyang Widhi .Tuhan/Sang Hyang Widhi sebagai pujaan bersama yang diwujudkan dalam tindakan dan tingkah laku seharihari.Tempat pemujaan ini diwujudnyatakan dalam Kahyangan Tiga .Setiap desa adat di Bali wajib memilikinya. Kahyangan Tiga itu adalah : Pura Desa, Pura Puseh,Pura Dalem. Kahyangan Tiga di desa adat di Bali seolah-olah merupakan jiwa dari Karang Desa yang tak terpisahkan dengan seluruh aktifitas dan kehidupan desa. C.Manfaat Tri Hita Karana Dalam Kehidupan Sehari-hari dalam Rangka Melestarikan Lingkungan Hidup. Di dalam kehidupan masysrakat Hindu di Bali ,kesehariannya menganut pola Tri Hita Karana.Tiga unsur ini melekat erat setiap hati sanubari orang Bali. Penerapannya tidak hanya pada pola kehidupan desa adat saja namun tercermin dan berlaku dalam segala bentuk kehidupan berorganisani,seperti organisani pertanian yang bergerak dalam irigari yakni Subak .Sistem Subak di Bali mempunyai masing-masing wilayah subak yang batas-batasnya ditentukan secara pasti dalam awig-awig subak .Awig-awig memuat aturan-aturan umum yang wajib diindahkan dan dilaksanakan,apabila melanggar dari ketentuan itu akan dikenakan sanksi hukum yang berlaku dalam persubakan.Tri Hita Karana persubakan menyangkut adanya ,ada sawah sebagai areal,ada krama subak sebagai memilik sawah, dan ada Pura Subak,atau Ulun Suwi tempat pemujaan kepada Tuhan/Sang Hyang Widi dalam manisfestasi sebagai Ida Batari Sri,penguasa kemakmuran. Desa adat terdiri dari kumpulan kepala keluarga-kepala keluarga,mereka bertanggung jawab atas kelangsungan hidup keluarganya.Setiap keluarga menempati karang desa yang disebut karang

sikut satak,Disinilah setiap keluarga mengatur keluarganya. Kehidupan mereka tak lepas dari pola kehidupan Tri Hita Karana.Di setiap rumah/karang desa yang didiami di Timur Laut pekarangan ada Pemerajan/Sanggah Kemulan(Utama Mandala) tempat pemujaan Sang Hyang Widhi oleh keluarga. Bangunan Bale Delod tempat kegiatan upacara,dapur,rumah ada di madya mandala.Dan Kori Agung,Candi Bentar,Angkul-angkul,sebagai pintu masuk pekarangan terletak di batas luar pekarangan.Di samping itu ada teba letaknya di luar pekarangan sikut satak yakni untuk bercocok tanam seperti pisang,manggis,pepaya dan nangka,dan tempat memelihara hewan seperti ayam,babi,sapi,kambing dan lainnya untuk sarana kelengkapan upacara adat . Setiap unit kehidupan masyarakat Hindu di Bali selalu di atur menurut pola konsepsi Tri Hita Karana. Pola ini telah mencerminkan kehidupan yang harmonis bermasyarakat di Bali. Tidak saja dicermikan dalam kehidupan orang Bali saja,juga kepada mereka yang bukan orang Bali akan diperlakukan sama oleh orang Bali. Banyak para peneliti mancanegara mengadakan penelitian tentang pola kehidupan ini. Sistemnya memang beda dan unik dibandingkan dengan masyarakat lain di Indonesia. Demikian adanya penerapan konsepsi Tri Hita Karana dalam kehidupan masyarakat Hindu khususnya di Bali.Bilamana penerapan Tri Hita Karana ini dapat ditebarkan dalam wilayah yang lebih luas di luar sana ,dan dilaksanakan secara sungguh-sungguh niscaya kesejahteraan,kemakmuran,dan kerahayuan memungkinkan terwujud secara nyata.Hidup rukun sejahtera dirghayu dirgayusa,gemah ripah loh jiwani.

MENINGITIS TBC

1 Votes DEFINISI Meningitis TBC adalah infeksi mycobacterium tuberculosis yang mengenai arachnoid, piameter dan cairan cerebrospinal di dalam sistem ventrikel. Akibatnya akan terjadi infiltrasi sel radang disertai reaksi radang dari jaringan dan pembuluh darah didalamnya. Juga terjadi eksudasi dari fibrinogen yang sesudah beberapa waktu akan menjadi fibrin. Hal diatas yang disebabkan oleh toksin yang dibuat bakteri akan memberikan gejala SINDROMA MENINGITIS yaitu berupa:

Demam Nyeri kepala hebat Gangguan kesadaran Kejang kejang

Dan adanya tanda RANGSANGAN MENINGEAL, berupa :


Kaku kuduk Tes brudzinsky positif Tes kernig yang positif

Meningitis Serosa adalah radang selaput otak arakhnoid dan piamater yang sering disebabkan oleh kuman spesifik seperti Mycobacterium tuberculosa dan Spirochaeta pallida. PATOGENESIS Meningitis tuberkulosis terjadi akibat reaktivasi lambat suatu infeksi pada daerah otak sendiri dan paru paru. Akibat reaktivasi terjadi penjalaran kuman tuberkulosis ke susunan saraf pusat melalui bakteremia. Kuman tuberkulosis yang dorman di dalam paru paru akan aktif kembali jika terdapat infeksi dan imunitas yang menurun. Terbentuk FOKUS RICH oleh kuman tuberkulosis pada ruang subarachnoid di hemisfer serebri. Kuman tuberkulosis menyebar secara hematogen ke Fokus Rich yang berada di ruang subarachnoid. Meningitis tuberkulosis baru terjadi setelah kuman tuberkulosis menyebar langsung dalam ruang subarachnoid akibat ruptur dari fokus rich.

Keadaan dan luas lesi pada meningitis tuberkulosis tergantung dari jumlah dan virulensi kuman serta keadaan kekebalan atau alergi penderita. Bilamana jumlah kuman sedikit dan daya tahan tubuh penderita cukup baik, maka reaksi peradangan terbatas pada daerah sekitar tuberkel perkijuan. Bilamana didapatkan reaksi hipersensitif yang hebat, maka akan terjadi meningitis tuberkulosis yang luas disertai peradangan hebat dan nekrosis. GEJALA KLINIS Gejala klinis meningitis tuberculosa disebabkan 4 macam efek terhadap sistem saraf pusat yaitu : 1. Iritasi mekanik akibat eksudat meningen, menyebabkan gejala perangsangan meningens, gangguan saraf otak dan hidrosefalus. 2. Perluasan infeksi ke dalam parenkim otak, menyebabkan gejala penurunan kesadaran, kejang epileptik serta gejala defisit neurologi fokal. 3. Arteritis dan oklusi pembuluh darah menimbulkan gejala defisit neurologi fokal. 4. Respons alergi atau hipersensitifitas menyebabkan edema otak hebat dan tekanan tinggi intrakranial tanpa disertai hidrosefalus. Gambaran klasik meningitis tuberkulosa terdiri dari : 1. Stadium Prodromal Stadium ini berlangsung selama 1 3 minggu dan terdiri dari keluhan umum seperti :

Kenaikan suhu tubuh yang berkisar antara 38,2 38,90 C Nyeri kepala Mual dan muntah Tidak ada nafsu makan Penurunan berat badan Apati dan malaise Kaku kuduk dengan brudzinsky dan kernig tes positif Defisit neurologi fokal : hemiparesis dan kelumpuhan saraf otak Gejala TTIK seperti edema papil, kejang kejang, penurunan kesadaran sampai koma, posisi dekortikasi atau deserebrasi.

1. Stadium perangsangan meningen 1. Stadium kerusakan otak setempat 1. Stadium akhir atau stadium kerusakan otak difus Pembagian stadium meningitis tuberkulosis menurut Medical Research Council of Great Britain ( 1948 ) :

Stadium I :

Penderita dengan sedikit atau tanpa gejala klinik meningitis. Tidak didapatkan kelumpuhan dan sadar penuh. Penderita tampak tak sehat, suhu subfebris, nyeri kepala.

Stadium II :

Selain gejala diatas bisa didapat gejala defisit neurologi fokal

Stadium III :

Gejala diatas disertai penurunan kesadaran. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Pemeriksaan cairan serebrospinal ( CSS )

Pemeriksaan CSS merupakan kunci diagnostik untuk meningitis tuberkulosis. Pemeriksaan CSS akan memberikan gambaran jernih / opalesen, kekuningan sampai dengan xantokrom, tekanan meninggi. Tes Nonne dan Pandy positif kuat menunjukkan peningkatan kadar protein. Hitung sel meningkat 100 500, terutama limfositik mononuklear. Kadar glukosa menurun < 40mg% tetapi tidak sampai 0 mg%. Pada pengecatan dengan Ziehl Neelsen dan biakan akan ditemukan kuman mycobacterium tuberkulosis. Bila beberapa cc CSS dibiarkan dalam tabung reaksi selama 24 jam akan terbentuk endapan fibrin berupa sarang laba laba.

2. Pemeriksaan darah

Terdapat kenaikan laju endap darah ( LED ) Jumlah leukosit dapat meningkat sampai 20.000

3. Tes tuberkulin

Tes tuberkulin seringkali positif tetapi dapat negatif bila keadaan umum penderita buruk.

4. Foto roentgen thoraks

Umumnya menunjukkan tanda infeksi tuberkulosis aktif (infiltrat terutama di apex paru)

DIAGNOSA Kriteria diagnosis menurut Medical Research Council of Great Britain ( 1984 ) :

1. Penderita dengan pemeriksaan klinik yang sesuai pembagian klinik Medical Research Council ( 1984 ) disertai dengan :

Kelainan CSS seperti pleositosis dengan dominan limposit, peninggian kadar protein dan penurunan kadar gula serta natrium klorida. Pada isolasi dapat ditemukan kuman tuberkulosis. Kontak dengan penderita tuberkulosis positif Tes mountox positif Pada pemeriksaan fundus ditemukan tuberkel koroid.

1. Penderita dengan diagnosis tuberkulosis dan disertai demam, iritabilitas, penurunan kesadaran sampai muntah, maka perlu dipikirkan kearah kemungkinan suatu meningitis tuberkulosis. KOMPLIKASI Komplikasi yang timbul pada meningitis tuberkulosis : 1. 2. 3. 4. Oftalmoplegia Pan arteritis hemiplegia Hidrosefalus Arachnoiditis

PENGOBATAN Diberikan obat obatan spesifik yaitu : INH : Dewasa 10 15 mg / kgBB / hari

Anak 20 mg / kgBB / hari Rifampisin : 450 600mg/ kgBB / hari

Etambutol : 65 mg / kgBB / hari Pirazinamid : 1500 mg / kgBB / hari Streptomisin: 1 gram

Regimen yang diberikan dalam 2 bulan pertama :


INH : 300 mg / hari Rifampisin : 450 mg / hari Etambuthol : 1000 mg / hari Pirazinamid : 1500 mg / hari

Bila terdapat induced hepatitis, pemberian rifampisin dan pirazinamid dihentikan dan diganti dengan streptomisin 1 gram Regimen yang diberikan 10 bulan berikutnya :

Rifampisin 600 mg / hari INH 400 mg / hari

PROGNOSA Angka kematian pada umumnya 50%. Prognosis buruk pada bayi dan orang tua.

MENINGOENSEFALITIS DENGAN PENURUNAN KESADARAN

ABSTRAK Meningoensefalitis adalah peradangan yang terjadi pada meninges, yaitu membrane atau selaput yang melapisi otak (brain) dan syaraf tunjang (spinal cord). Meningitis dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri atau mikroorganisme lain, dan sedikit sekali yang sebabkan oleh obatobatan. Meningitis biasanya disebabkan oleh infeksi virus atau mikroorganisme. Kebanyakan kasus penyakit meningitis disebabkan oleh infeksi virus, infeksi bakteri, jamur, dan parasit menjadi penyebab paling umum berikutnya, juga bisa dari berbagai penyebab non-infeksius, seperti karena obat-obatan misalnya atau bisa juga penyebaran ke meninges (malignant meningitis). Virus yang dapat menyebabkan meningitis termasuk enterovirus, virus tipe 2 (dan kurang umum tipe 1), varicella zoster virus (dikenal sebagai penyebab cacar air dan ruam saraf), virus gondok, HIV, dan LCMV. Pemeriksaan fisik, pemeriksaan labratorium yang meliputi test darah (elektrolite, fungsi hati dan ginjal, serta darah lengkap), dan pemeriksaan X-ray (rontgen) paru akan membantu tim dokter dalam mendiagnosa penyakit. Sedangkan pemeriksaan yang sangat penting apabila penderita telah diduga meningitis adalah pemeriksaan Lumbar puncture (pemeriksaan cairan selaput otak). Jika berdasarkan pemeriksaan penderita didiagnosa sebagai meningitis, maka pemberian antibiotik secara Infus (intravenous) adalah langkah yang baik untuk menjamin kesembuhan serta mengurang atau menghindari resiko komplikasi. Antibiotik yang diberikan kepada penderita tergantung dari jenis bakteri yang ditemukan. Adapun beberapa antibiotik yang sering diresepkan oleh dokter pada kasus meningitis yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae dan Neisseria meningitidis antara lain Cephalosporin (ceftriaxone atau cefotaxime). Sedangkan meningitis yang disebabkan oleh bakteri Listeria monocytogenes akan diberikan Ampicillin, Vancomycin dan Carbapenem (meropenem), Chloramphenicol atau Ceftriaxone. Treatment atau therapy lainnya adalah yang mengarah kepada gejala yang timbul, misalnya sakit kepala dan demam (paracetamol), shock dan kejang (diazepam) dan lain sebagainya.

Keyword : meningoensefalitis, kesadaran

ISI Seorang Perempuan berumur 35 tahun datang dengan keadaan tidak sadar semenjak 2 hari SMRS. Dengan riwayat panas, pusing, dan mual. 4 hari SMRS pasien sudah menjalani rawat inap di puskesmas tapi tidak membaik. Keadaan pasien masuk puskesmas masih sadar, namun 2 hari kemudian pasien menjadi gelisah dan tak sadar. Kejang (-).Riwayat sakit gigi tidak diketahui, riwayat penyakit yang berhubungan dengan telinga, hidung, dan tenggorokan tidak diketahui, riwayat trauma kepala disangkal, riwayat penyakit paru disangkal, riwayat kejang disangkal, riwayat operasi di daerah kepala disangkal, riwayat mondok dengan keluhan serupa disangkal, ada Riwayat panas sebelumnya, ada riwayat nyeri kepala yang kambuh-kambuhan. Kesadaran : somnolen. Kuantitatif GCS (E3 V3 M4) =10. Vital sign, Nadi : 128 X/menit kuat, isi dan tegangan cukup, Tekanan darah : 142/100 mmHg, RR : 30 X/menit reguler, Suhu : 39,8 derajat C, Status gizi : cukup. Meningeal sign : Kaku kuduk (+), Brudzinski I (-), Brudzinski II (-), Kernig (-). Sensibilitas: menurun, Refleks fisiologis: menurun, Tonus: menurun, Trofi : Eutrofi, Klonus: (-), Refleks Patologis : (-). Pemeriksaan laboratorium AL 14.870/l, Hb 13.0 g%, GDS 182 mg/dl. Hasil CT Scan tanpa kontras: Kesan : Oedem cerebri, Hidrocephalus, Iskemik pada substansia Alba. DDx : Leucoenchepalitis, Leucoenchepalopathy.

DISKUSI Diagnosis meningoensefalitis pada pasien dapat ditegakkan berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik serta penunjang yang dilakukan pada pasien. pada pasien didapatkan keluhan demam yang berlangsung selama 5 hari, merupakan salah satu keluhan atau gejala pada meningitis, selain demam juga didapatkan adanya keluhan mual tapi tidak sampai muntah ini menunjukkan adanya peningkatan tekanan intrakranial pada pasien: Agen penyebab reaksi local pada meninges inflamasi meninges pe permiabilitas kapiler kebocoran cairan dari intravaskuler ke interstisial pe volume cairan interstisial edema Postulat Kellie Monroe, kompensasi tidak adekuat pe TIK Pada meningitis jarang ditemukan kejang, kecuali jika infeksi sudah menyebar ke jaringan otak, dimana kejang ini terjadi bila ada kerusakan pada korteks serebri pada bagian premotor.Kaku kuduk pada meningitis bisa ditemukan dengan melakukan pemeriksaan fleksi pada kepala klien yang akan menimbulkan nyeri, disebabkan oleh adanya iritasi meningeal khususnya pada nervus cranial ke XI, yaitu Asesoris yang mempersarafi otot bagian belakang leher, sehingga akan menjadi hipersensitif dan terjadi rigiditas. Sedangan pada pemeriksaan Kernigs sign (+) dan Brudzinsky sign (+) menandakan bahwa infeksi atau iritasi sudah mencapai ke medulla spinalis bagian bawah. Hasil pemeriksaan dan laboratorium yang menunjukkan adanya leukositosis menunjang terjadinya demam pada pasien, hasil pemeriksaan fisik juga menunjukkan adanya infeksi pada

meningen yang belum mencapai medulla spinalis, oleh karena itu gejala yang didapat pada pasien ditunjang dengan pemeriksaan fisik dan penunjang maka sesuai dengan diagnosis meningitis. untuk mengetahui penyebab pastinya dibutuhkan adanya kultur.

KESIMPULAN Komplikasi meningoensefalitis terdiri dari komplikasi akut, intermediet dan kronis. Komplikasi akut meliputi edema otak, hipertensi intrakranial, SIADH (syndrome of Inappropriate Antidiuretic Hormone Release), Kejang, ventrikulitis. meningkatnya tekanan intrakrania (TIK). Patofisiologi dari TIK rumit dan melibatkan banyak peran molekul proinflamatorik. Edema intersisial merupakan akibat sekunder dari obstruksi aliran serebrospinal seperti pada hidrosefalus, edema sitotoksik (pembengkakan elemen selular otak) disebabkan oleh pelepasan toksin bakteri dan neutrofil, dan edema vasogenik (peningkatan permeabilitas sawar darah otak). 4 Komplikasi intermediet terdiri atas efusi subdural, demam, abses otak, hidrosefalus. Sedangkan komplikasi kronik adalah memburuknya fungsi kognitif, ketulian, kecacatan motorik