Anda di halaman 1dari 26

SE1ARAH DINASTI BANI UMAYYAH

BAB I
PENDAHULUAN

Dalam sejarah agama-agama dunia, Islam termasuk agama yang sangat
prestius dan luar biasa. Agama yang notabene datang kemudian ini telah mampu
menjadi salah satu agama terbesar dunia dengan jumlah penganut miliaran orang
dan tersebar di seluruh pelosok dunia. Stephen Sulaiman Schwartz menyebut
bahwa Islam datang sebagai agama monoteistik terbesar ketiga setelah Yahudi dan
Kristen.
1

Sejak kelahirannya pada awal abad ke-7 di Mekkah, Islam terus
mengalami perkembangan yang pesat melewati berbagai tantangan yang sangat
berat, sampai akhirnya tersebar ke seluruh dunia.
2

Hal ini menunjukkan bahwa kerja-kerja penyebaran Islam yang dilakukan
dalam setiap generasi muslim di setiap zaman sangat luar biasa dan cukup
menggeliat. Perjuangan dakwah Islamiyah yang dilakukan oleh Rasulullah dan
masa setelahnya yaitu Abu Bakar, Islam telah mencapai seluruh Arabia. Pada
masa Umar, Islam telah meluas ke wilayah-wilayah Byzantium, Palestina, Mesir
dan wilayah-wilayah Sasaniyah Persia dan Irak. Pada masa Ustman dan Ali,
upaya perluasan Islam terhenti akibat konIlik internal umat Islam pada saat itu
yang tidak dapat dihindarkan.
3

Kemajuan dan perkembangan Islam tersebut tentu saja merupakan prestasi
pengembangan Islam yang dilakukan oleh Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali.
Mereka menjadi garda depan pengembangan dan perluasaan Islam, walaupun di
tengah-tengah kekuasaan mereka acapkali muncul berbagai konIlik yang tidak
menguntungkan, seperti konIlik politik yang terjadi pada masa Ustman dan Ali.

1
Stephen Sulaiman Schwartz, Dua Wafah Islam . Modernisme vs Fundamentalisme dalam
Wacana Global, terj. Hodri Ariv (Jakarta, Balantika, 2007), hal. 19
2
H.A.R. Gibb, Islam dalam Lintasan Sedfarah (Jakarta, Yayasan Franklin, 1953), hal. 25
3
SyaIiq A. Mughni, Dinamika Intelektual Islam Pada Abad Kegelapan (Surabaya, LPAM, 2002),
hal. 1

Demikian pula halnya dengan masa-masa kekuasaan pasca keempat


khaliIah tersebut, yaitu Bani Umayyah dan Bani Abbas. Kedua dinasti ini telah
menjadi legenda tersendiri dalam sejarah kekuasaan Islam yang telah melakukan
perubahan drastis terhadap sistem kekuasaan Islam.
Dinasti Umayyah selalu dibadakan menjadi dua: pertama, Dinasti
Umayyah yang dirintis dan didirikan oleh Mu`awiyah Bin Abi SuIyan yang
berpusat di Damaskus (Syiria). Fase ini berlangsung sekitar 1 abad dan mengubah
sistem pemerintahan dari sistem khilaIah kepada sistem mamalakat (kerajaan atau
monarki), dan Iase kedua dinasti Umayyah di Andalusia (spanyol) yanag pada
awalnya merupakan wilayah taklukan Umayyah yang dipimpin oleh gubernur
pada zaman Walid Bin Abd Al malik, kemudian diubah menjadi kerajaan yang
terpisah dari kekuasaan Dinasti Bani Abbas setelah menaklukan Bani Umayah Di
Damaskus.
4

Dinasti Umayyah yang berpusat Di Damaskus mulai terbentuk sejak
terjadinya peristiwa tahkim pada Perang SiIIin. Perang yang dimaksudkan untuk
menuntut balas atas kematian KhaliIah Utsman bin AIIan itu, semula akan
dimenangkan oleh piahak Ali, tetapi melihat dari gelagat kekalahan itu,
Mu`awiyyah segera mengajukan usul kepada pihak Ali untuk kembali kepada
hukum Allah.
5

Dalam peristiwa tahkim itu, Ali telah telah terpedaya oleh taktik dan siasat
Mu`awiyah yang pada akhirnya ia meninggal mengalami kekalahan secara politis.
Sementara itu, Mu`awiyah mendapat kesempatan untuk mengangkat dirinya
sebagai khaliIah sekaligus raja.
6
Peristiwa ini di masa kemudian menjadi awal
munculnya pemahaman yang beragam dalam masalah teologi.
Jatuhnya Ali dan naiknya Muawiyah juga disebabkan keberhasilan pihak
khawarij membunuh khaliIah Ali, meskipun kemudian tampuk kekuasaan
dipegang oleh putranya Hasan, namun tanpa dukungan yang kuat dan kondisi
politik yang kacau akhirnya kepemimpinannya pun hanya bertahan sampai

4
Dedi Supriyadi, Sefarah Peradaban Islam, Pustaka Setia: Bandung, 2008, hal. 103
5
Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam. Melacak Akar-akar Sefarah,
Sosial, Politik, dan Budaya Umat Islam. PT. RajaGraIindo Persada, Jakarta, 2004, hal. 34.
6
Harun Nasution, Islam ditinfau dari berbagai Aspeknya, UI-Press, Jakarta, 1999, J.1 hal. 26

beberapa bulan. Pada akhirnya Hasan menyerahkan kepemimpinan kepada


Muawiyah dengan beberapa perjanjian. Perjanjian tersebut dibuat pada tahun 661
M / 41 H dan dikenal dengan am famaah karena perjanjian ini mempersatukan
ummat Islam menjadi satu kepemimpinan.
Betapapun hebatnya pertikaian yang terjadi di kalangan kaum muslimin,
Muawiyah dan dinastinya yang terdiri dari orang-orang Bani Umayyah ternyata
sanggup mengatasinya dengan berbagai macam cara, termasuk kekerasan dan
perang. Kemudian mendirikan imperium yang amat luas kekuasaannya.
7

Upaya menjelaskan sejarah tentang dinasti Bani Umayyah, dapat ditinjau
dari tiga Iase, yaitu: Iase pembentukan, kejayaan, dan Iase kemunduran. Secara
khusus, makalah ini akan menjelaskan tentang Iase pembentukan dan kejayaan
Bani Umayyah di Syiria (Damaskus).


















7
Ahmad Amin, 'Yaumul Islam, Abu Laila dan M.Tohir (Penerj.), Islam dari Masa ke Masa, PT.
Remajarosda Karya, Bandung, 1993, hal. 99.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Fase Pembentukan Dinasti Umayyah
Pembicaraan tentang pembentukan dinasti Bani Umayyah berkaitan erat
dengan percaturan persaingan antara dua klan dari suku Quraisy, yaitu Bani
Hasyim dan Bani Umayyah sejak dari masa pra-Islam. Dalam persaingan itu Bani
Umayyah lebih berpengaruh di kalangan masyarakat Makkah. Merekalah yang
menguasai pemerintahan dan perdagangan yang banyak bergantung pada para
pengunjung ka`bah, sementara Bani Hasyim adalah orang-orang yang
berkehidupan ekonomi sederhana, tetapi taat menjalankan agama nenek moyang
mereka.
Ketika Islam lahir, dan pada kenyataannya Nabi Muhammad adalah
seorang Hasyimi, Bani Umayyah merasa bahwa kekuasaan dan perekonomiannya
akan terancam. Oleh karena itu mereka menjadi penentang utama kerasulan
Muhammad SAW., tetapi tidak pernah berhasil melumpuhkannya. Bahkan Abu
SuIyan Bin Harb, salah seorang pembesar klan Bani Umayyah sering sekali
menjadi panglima dalam beberapa peperangan melawan Nabi SAW.
Setelah Islam berhasil membentuk pemerintahan yang kuat di Madinah
dan akhirnya dapat merebut Makkah, Abu SuIyan bin Harb bin Umayyah
menyerah, kemudian masuk Islam bersama anggota-anggota Bani Umayyah
lainnya, termasuk istrinya Hindun dan anaknya Mu`awiyah.
8

Di masa khaliIah Abu Bakar Shiddiq, orang-orang Quraisy yang mayoritas
dari klan Bani Umayyah menghadap kepadanya, dan menyatakan bahwa kelas
mereka di bawah kaum muhajirin dan anshar. Abu Bakar berkata bahwa hal itu
disebabkan keterlambatan meraka masuk Islam, dan untuk mengejar
ketertinggalan tersebut mereka harus berjihad membela Islam. Anjuran tersebut
segera mereka wujudkan dengan berpartisipasi aktiI dalam perang riddah.
Ketika Umar bin Khattab menjadi khaliIah, mereka diikut sertakan
memerangi orang-orang Bizantium, kemudian mereka ditempatkan di Syam, dan

8
Jurji Zaidan, %arikh %amaddun al Islami, TT, Dar al Maktabah al Hayat, Beirut, hal 332-334

Yazid bin Abi SuIyan diangkat menjadi gubernur di sana. Setelah Yazid waIat,
Umar mengangkat Mu`awiyah, saudaranya untuk menggantikan kedudukannya.
Di masa khaliIah Utsman bin AIIan yang merupakan salah seorang
anggota klan Bani Umayyah, Mu`awiyah dikukuhkan menjadi Gubernur di Syiria,
sehingga tercapailah kekuasaan Bani Umayyah atas orang-orang quraisy di zaman
Islam, sebagaimana pernah mereka alami pada zaman jahiliyyah.
9

Utsman bin AIIan mati terbunuh dalam satu huru-hara yang dilakukan
oleh pihak yang merasa tidak puas terhadap kebijakan pemerintahnya. Sebagai
penggantinya, Ali bin Abi Thalib naik menjadi khaliIah. Mu`awiyah menolak
untuk mengakui khaliIah Ali, karena Ali tidak memenuhi tuntutan mereka agar
menyerahkan para pembunuh Utsman ke tangan meraka. Jelasnya mereka
menuntut balas darah Utsman kepada Ali dan sekaligus menyatakan sebagai
pewaris jabatannya. Sekali lagi terjadi persaingan antara Bani Hasyim dan Bani
Umayyah.
Mu`awiyah bin Abi Sufyan
Mu`awiyah bin Abi SuIyan adalah pendiri dinasti Bani Umayyah di
Damaskus, Syiria, yang memerintah dunia Islam selama 90 tahun (661-750 M).
dia sebagai khaliIah pertama yang berkuasa pada tahun (661-680 M).
10
dia lahir di
Makkah pada tahun 607 M. atau lima belas tahun sebelum hijrah, meninggal di
Damaskus pada awal bulan rajab tahun 60 H., bertepatan dengan tanggal 7 april
680 M.
Mu`awiyah berasal dari keturunan bangsawan quraisy yang berkuasa
sampai jatuhnya kota Makkah, Abu SuIyan Shahr bin Harb bin Umayyah bin Abd
Syams, ibunya bernama Hindun binti Uqbah bin Rabi`ah bin Abd Syams, yang
dikenal sebagai pemimpin kaum wanita yang ikut mengobarkan semangat tentara
quraisy Makkah pada perang uhud, dan berbuat di luar perikemanusiaan terhadap
para syuhada, terutama terhadap jenazah Hamzah, paman Nabi.
11
Dia mewarisi

9
ibid, hal 338
10
JoesouI Sou`yb, Sefarah Daulah Umawiyah di Damaskus, I, Bulan Bintang, Jakarta, 1997, hal
13
11
Haikal, Sefarah Hidup Muhammad, Tinta Mas, Jakarta, 1984, hal 311-334

kepribadian dan kecerdasan orang tuanya, terlihat dalam usaha-usahanya


mencapai puncak karir kepemimpinannya, walaupun melalui jalan yang kurang
terpuji.
Mu`awiyah memeluk Islam bersama ayahnya Abu SuIyan pada 1athu
Makkah. Pada zaman Rasul pernah ikut perang hunein. Keislamannya terus dibina
oleh Rasulullah sehingga menjadi muslim yang baik, dia termasuk salah seorang
sekretaris rasulullah SAW, al-Sayuthi menyebutkan bahwa Mu`awiyah
meriwayatkan 163 hadits, baik yang diterima langsung dari Nabi maupun dari
sahabat lain yang terkemuka seperti Binu Abbas, Binu Umar, Binu Zubair dan
lain-lain. Serta dari saudara perempuannya Habibah binti Abi SuIyan, Istri
Rasulullah SAW.
Karir militer Mu`awiyah lebih berkembang pada zaman pemerintahan
khaliIah Abu Bakar Shiddiq. Yazid bin Abi SuIyan diangkat menjadi panglima
untuk menaklukkan Syam. Kemudian Abu Bakar Shiddiq mengirimkan pasukan
bantuan yang dipimpin oleh Mu`awiyah untuk membantu pasukan Yazid.
Mu`awiyah bertempur di bawah pimpinan saudaranya, dan ia memimpin tentara
Islam yang menaklukkan kota Sidon, Beirut dan lain-lainnya yang terletak di
pantai Damaskus.
Di zaman khaliIah Umar bin Khattab, Yazid bin Abi SuIyan diangkat
menjadi gubernur di Damaskus, dan Mu`awiyah menjadi gubernur Yordania.
Yazid meninggal karena sakit di kota Amus, kemudian Umar menggabungkan
Damsyik ke dalam wilayah Mu`awiyah.
Pada zaman khaliIah Utsman bin AIIan, semua daerah Syam diserahkan
kepada Mu`awiyah. Dia sendiri yang mengangkat dan memberhentikan pejabat-
pejabat pemerintahannya, masa pemerintahan Utsman cukup panjang (644-656)
ditambah kebijakan nepotisnya memungkinkan Mu`awiyah mempersiapkan
dirinya dan meletakkan dasar-dasar untuk mendirikan kerajaannya, dan untuk
menjadikan Syam menjadi daerah yang mutlak di bawah kekuasaannya.

Usaha Merebut Kekuasaan


Setelah menempuh perjuangan berat di bidang kemiliteran akhirnya klan
Bani Umayyah dapat ikut bersaing kembali dalam percaturan politik dengan Bani
Hasyim. Awal kebangkitan mereka dimulai dari diangkatnya Yazid bin Abi
SuIyan menjadi gubernur Damaskus, kemudian dilanjutkan oleh Mu`awiyah bin
Abi SuIyan. Sejak menjabat gubernur inilah ia mulai menyusun strategi politiknya
untuk mewujudkan ambisinya menjadi penguasa tunggal dari kalangan Bani
Umayyah atas wilayah kekuasaan Islam.
Usaha-usaha yang ditempuh antara lain:
Meman1aatkan Masa Khila1ah Utsman
Enam tahun diakhir periode kekhilaIahan Utsman bin AIIan yang berasal
dari klan Bani Umayyah benar-benar dimanIaatkan oleh Mu`awiyah dengan
dibantu oleh tokoh-tokoh lainnya untuk menggalang dominasi kekuasaan Bani
Umayyah. Bahkan mulai Utsman naik tahta kekhaliIahan Mu`awiyah sudah
merasa menjadi penguasa seperti yang pernah mereka alami terhadap kaum
quraisy dimasa jahiliyyah.
12
Hal inilah yang memacu Mu`awiyah untuk
mewujudkan ambisinya walaupun melalui cara yang tidak Iair dan konIrontatiI.
Barangkali usaha-usaha inilah yang mendorong Utsman bin AIIan
melakukan kebijaksanaan nepotisme dalam pemerintahannya, sehingga dapat
memberikan keluasan wilayah kekuasaan Mu`awiyah, yang semula hanya menjadi
gubernur yang mewilayahi Damsyik dan Yordania, kemudian wilayahnya
meliputi daerah syam (Syiria). Syiria adalah daerah yang subur, karena itu
merupakan potensi pembangunan sektor ekonomi sementara penduduk Syiria
telah berpadu dengan orang-orang Arab, terutama dari kalangan klan Bani
Umayyah, yang bertransmigrasi ke daerah tersebut, menjadi kekuatan militer yang
tangguh yang siap mendukungnya.
Kerusuhan dan huru-hara yang terjadi pada masa akhir pemerintahan
Utsman yang mengakibatkan terbunuhnya khaliIah Utsman diakibatkan oleh
nepotisme tersebut. Dia banyak memberikan kedudukan-kedudukan penting
dalam pemerintahannya kepada keluarga Bani Umayyah, dan memberikan

12
Jurji Zaidan, op cit

Iasilitas-Iasilitas material kepada mereka dengan mempergunakan uang negara.


Hakam ayahnya Marwan memperoleh tanah Fadak, Mu`awiyah mengambil Alih
tanah negara di Syiria dan Abdullah mengambil 1/5 dari harta rampasan perang
Tripoli.
13

Diangkatnya Marwan bin Hakam sebagai sekretaris negara tambah
membuat sakit hati umat Islam terutama kalangan Bani Hasyim, karena Marwan
orang yang mementingkan diri sendiri dan suka intrik. Tujuan pengangkatan
Marwan ternyata untuk meningkatkan dan mengkonsolidasikan kedudukan Bani
Umayyah di dalam kekhaliIahan.
14

Tindakan Marwan bin Hakam yang tidak terpuji itu jelas kalau dilihat dari
kronologi terbunuhnya khaliIah Utsman bin AIIan. Terbunuhnya Utsman bin
AIIan berasal dari rasa tidak puas terhadap nepotismenya, terutama rakyat Mesir
yang mayoritas pengikut-pengikutnya Ali bin Abi Thalib, dan rakyat KuIah dan
Bashrah yang mayoritas pengikut Thalhah dan Zubair. Penduduk Mesir tidak
senang terhadap tindakan-tindakan gubernurnya Abdullah bin Abu Sarah yang
berasal dari Bani Umayyah, dan menuntut kepada khaliIah agar diganti dengan
Muhammad bin Abu Bakar. Setelah mengadakan lobi dengan Ali bin Abi Thalib
akhirnya Utsman mengabulkan tuntutan mereka, mereka merasa puas, kemudian
meninggalkan ibu kota Madinah, bersama Muhammad bin Abu Bakar menuju
Mesir. Setelah tiga hari perjalanan dari Madinah, di tengah perjalanan meraka
mendapatkan seseorang yang mencurigakan. Kemudian ditangkaplah orang itu,
setelah diinterogasi ternyata orang itu adalah pesuruh khaliIah Utsman yang
membawa surat perintah kepada gubernur Mesir Abdullah bin Abi Sarah untuk
membunuh Muhammad bin Abu Bakar dan tokoh-tokoh delegasi lainnya bila
sudah tiba di Mesir. Penulis surat ini setelah dilacak di hadapan Utsman ternyata
adalah Marwan bin Hakam. Akhirnya para pembangkang menuntut penyerahan
Marwan kepada mereka yang ditolak oleh khaliIah, akibatnya mereka menyerbu
ke rumah khaliIah, dan dibunuhlah Utsman bin AIIan ketika dia sedang membaca
al qur`an.

13
Mahmud al Nashir, Islam Konsepsi dan Sefarahnya, terjemah Drs. Adang AIIandi, Rosda,
Bandung, 1988, hal 189
14
ibid, hal 190

Peman1aatan %ragedi Kematian Utsman


Tragedi kematian Utsman bin AIIan, selanjutnya dijadikan dalih untuk
mewujudkan ambisinya, mereka menuntut kepada khaliIah Ali, pengganti Utsman
agar dapat menyerahkan para pembunuh Utsman kepada mereka. KhaliIah Ali bin
Abi Thalib dalam kondisi dan situasi kenegaraan yang belum stabil, tidak
memenuhi tuntutan mereka tersebut. Sedang di pihak Mu`awiyah menjadikannya
sebagai alasan untuk tidak mengakui kekhaliIahan Ali bin Abi Thalib dan
memisahkan diri dari pemerintahan pusat.
Langkah pertama yang diambil oleh khaliIah Ali bin Abi Thalib dalam
menghadapi pembangkangan Mu`awiyah adalah mengutus Abdullah al-Bajali
kepada Mu`awiyah agar bersedia mengakui dan membalasnya seperti yang
dilakukan oleh gubernur-gubernur dan kaum muslimin lainnya dan tidak
memisahkan diri dari pemerintahan pusat. Muawiyah tidak segera menjawab
ajakan tersebut dengan maksud untuk memberi kesan tidak baik. Untuk
menentukan sikap dalam menghadapi himbauan khaliIah tersebut Mu`awiyah
bermusyawarah dengan Amru bin Ash, hasilnya menolak ajakan damai, dan
memilih mengangkat senjata memerangi pemerintah pusat.
15
Hasil putusan
tersebut kemudian dikirimkan melalui jarir kepada khaliIah Ali bin Abi Thalib.
Arbitrase Sebagai %ipu Muslihat Meraih Kemenangan Politik
Dengan jawaban tersebut sudah tidak ada alternatiI lain bagi khaliIah Ali
untuk menghadapi Mu`awiyah kecuali dengan kekerasan. Karena itulah masing-
masing mempersiapkan diri untuk terjun ke medan pertempuran.
Setelah selesai menghadapi pemberontakan Thalhah Zubair dan Aisyah
ummul mu`minin pada perang jamal, pasukan Ali bin Abi Thalib segera bergegas
menghadapi tentara Mu`awiyah. Dua pasukan itu bertemu di SiIIin. Pertempuran
terjadi, tentara Ali dapat mendesak tentara Mu`awiyah sehingga telah bersedia
untuk lari. Tetapi tangan kanan Mu`awiyah, Amr bin al-Ash yang terkenal licik
minta perdamaian dengan mengangkat al-qur`an yang ditancapkan di ujung
lembing ke atas sebagai isyarat bahwa masalah mereka harus diselesaikan sesuai
dengan kitab Allah. Imam-imam di pihak Ali mendesak Ali supaya menerima

15
Binu Atsir, al Kamil 1i al %arikh, IV, Dar Shadir, Beirut, hal. 253

tawaran itu dan dengan demikian dicarilah perdamaian dengan tahkim (arbitrase).
Sebagai perantara diangkat dua orang: Amr bin Ash dari pihak Mu`awiyah dan
Abu Musa al Asy`ari dari pihak Ali.
16

Penunjukan Amr bin Ash sebagai juru runding dari pihak Mu`awiyah
adalah tindakan yang tepat dilakukan olehnya, karena Amr bin Ash adalah orang
yang kecakapan dan kelicikannya sebanding dengan Abu suIyan, karir militer dan
diplomatiknya telah terbukti.
17
Sementara juru runding dari pihak Ali, Abu Musa
al Asy`ari seorang tua yang tawadlu` dan taqwa. Dilihat dari kapasitas dua orang
juru runding tersebut sudah tampak tanda-tanda kemenangan dari pihak
Mu`awiyah.
Al-Maududi mengutip pernyataan bin Atsir sebagai berikut: Amr bin Ash
mengawali perundingannya dengan mengajukan pertanyaan kepada Abu Musa:
bagaimana sebaiknya menurut anda dalam masalah ini? Abu Musa menjawab:
sebaiknya kita pecat dua orang ini, dan urusan pengangkatan khaliIah diserahkan
kepada permusyawaratan kaum muslimin untuk memilih yang mereka sukai. Amr
menjawab: pendapatmu itu baik sekali.
18

Selanjutnya Amr bin Ash mempersilahkan Abu Musa al Asy`ari yang
lebih tua untuk melaksanakan kesepakatan mereka, yakni memecat khaliIah Ali
dan Mu`awiyah sekaligus. Diikuti pidato Amr bin Ash yang menyatakan
pemecatan Mu`awiyah dan Ali, tetapi kemudian dia menambahkan bahwa dirinya
sekaligus membai`at Mu`awiyah bin abi suIyan.
Hal itu tentu saja tidak memuaskan Iihak Ali bin Abi Thalib, namun
apapun yang terjadi arbitrase (tahkim) ini secara de jure telah memberikan
kedudukan Mu`awiyah, gubernur yang memberontak ini sama dengan kedudukan
khaliIah Ali.
Ketidakpuasan terhadap arbitrase ini mengakibatkan munculnya khawarij
yang memusuhi Mu`awiyah dan Ali. Namun bagi Mu`awiyah karena adanya
pengamanan yang ketat terhadap dirinya, kaum khawarij tidak mampu

16
Harun Nasution, p Cit hal. 94
17
W.Montgomeri Watt, Kerafaan Islam, Tiara Wacana, Yogyakarta, 1990, hal. 19
18
Abu al A`la al Maududi, Khila1ah dan Kerafaan, terjemah M. Bagir, Mizan, Bandung, 1984,
hal. 181

membunuhnya, sebaliknya bagi Ali bin Abi Thalib merupakan malapetaka besar
dan mengakibatkan terbunuhnya. Ali dibunuh oleh khawarij pada hari jum`at
tanggal 17 ramadhan tahun 40 H.
19

Hasan bin Ali dibai`at untuk menggantikan kedudukan ayahnya pada
tahun 40 H. orang pertama yang membai`at Hasan adalah Qais bin Sa`ad al
Anshari, kemudian diikuti orang banyak.
20

Hasan bin Ali segera mempersiapkan diri dibantu oleh Qais bin Sa`ad bin
ubadah al Anshari, dan Abdullah bin abbas untuk menghadapi Mu`awiyah di
kuIah. Ketika Hasan tiba di Madain salah seorang anggota pasukannya berteriak
bahwa Qais terbunuh. Teriakan itu mengakibatkan pasukan itu bercerai berai
berlarian. Tiba-tiba sebagian orang-orang yang suka membuat kekacauan itu
menyerbu masuk ke tempat persinggahan Hasan serta melanggar kehormatannya
dan merampok habis harta bendanya, bahkan mereka berani merampas permadani
yang sedang diduduki Hasan.
Menghadapi situasi yang demikian kacau, bagi Hasan bin Ali tidak ada
alternatiI lain kecuali menempuh jalan perdamaian dengan Mu`awiyah, walaupun
adiknya, Husain bin Ali tidak menyetujuinya. Kemudian Hasan mengirim surat
perdamaian kepada Mu`awiyah. Ketidak setujuan Husain ini tergambar pada
komentarnya ketika Hasan menginIormasikan pengiriman surat tersebut kepada
dirinya dan Abdullah bin Ja`Iar: 'apakah engkau menyetujui Mu`awiyah? Hasan
menjawab:diam kau! aku lebih tahu masalah ini dibanding kau.
21
Sebelum surat
tawaran perdamaian itu sampai, Mu`awiyah mengutus Abdullah bin Amir dan
Abd al Rahman bin Samurah bin Habib bin Syams dengan membawa blangko
kosong yang telah ditandatangani dan distempel, dengan pesan singkat: 'ajukan
persyaratan perdamaianmu dalam kertas ini sesuka hatimu, itu hakmu.
Hasan menuliskan persyaratan yang berlipat ganda pada kertas kosong
yang disediakan Mu`awiyah, walaupun yang terahir ini ditolak oleh Mu`awiyah,
katanya: aku telah kabulkan persyaratan yang kau ajukan terdahulu. Adapun

19
Binu Atsir, op cit, hal. 387
20
Ibid, hal. 405
21
ibid, hal. 405

persyaratan yang diajukan Hasan adalah bahwa dia berjanji untuk mengundurkan
diri bila Mu`awiyah menerima sebagai berikut:
1. Agar Mu`awiyah tidak menaruh dendam terhadap siapapun dari pendudukan
Irak.
2. Menjamin keamanan dan memaaIkan kesalahan mereka
3. Agar pajak-pajak tanah negeri Ahwaz diperuntukkan kepadanya dan diberikan
dalam setiap tahun
4. Agar Mu`awiyah membayar kepada saudaranya, yaitu Husen sebesar 2 juta
dirham
5. Pemberian kepada Bani Hashim haruslah lebih banyak dari pemberian kepada
Banu Abdi Syams.
Bagi Mu`awiyah persyaratan-persyaratan itu tidak perlu dipertimbangkan,
asal Hasan bersedia mengundurkan diri.
22

Akhirnya tercapailah perdamaian dan tahun itu disebut tahun persatuan
(amu al famaah), saat yang menentukan bahwa umat Islam hanya mempunyai
satu pemerintahan, setelah Hasan membai`at Mu`awiyah bin Abi SuIyan,
dilanjutkan dengan bai`at massal. Bahkan Hasan selanjutnya mengirim surat
kepada Qais bin Sa`ad yang memimpin 12 ribu tentara untuk tunduk dan
membai`at Mu`awiyah. Ketika itu Qais menyampaikan himbauan Hasan dalam
pidatonya dihadapan tentaranya: 'hai saudaraku, kalian boleh memilih, terus
berperang tanpa imam atau taat kepada pemimpin yang sesat itu. Ternyata
sebagian tentara memilih untuk berbai`at kepada Mu`awiyah.
Tercapailah sudah ambisi Mu`awiyah untuk menjadi pemimpin umat,
walaupun menempuh cara yang licik.
Sistem Pemerintahan
Keberhasilan Mu`awiyah mencapai tampuk pemerintahan karena dalam
dirinya tergabung siIat-siIat penguasa, politikus dan administrator. Dia dalah
seorang peneliti siIat manusia yang tekun dan memiliki wawasan yang tajam
tentang pikiran manusia. Dia berhasil memanIaatkan para pemimpin,

22
A. Salabi, Sefarah dan Kebudayaan Islam Jilid , 2003. Jakarta: Pustaka Al-Husna, hal. 29-30

administrator, dan politikus yang paling ahli pada saat itu. Ia adalah seorang
orator yang ulung.
23

Amru bin al ash seorang politikus ulung mantan gubernur Mesir setelah
dipecat oleh Utsman bin AIIan, segera dia rangkul. Zaid bin abihi yang pada
mulanya termasuk diantara pembela Ali yang setia dapat ia tundukkan dengan
cara menasabkan dirinya kepada Abu SuIyan dan diangkat menjadi gubernur
Bashrah, dan bertugas khusus untuk mengamankan Persia bagian selatan. Al
Mughirah bin Syu`bah diangkat menjadi gubernur di KuIah, setelah dia kenal
ketrampilannya di bidang politik, dengan tujuan mengamankan KuIah yang
mayoritas penduduknya pendukung Ali.
24

Setelah memperhatikan uraian-uraian diatas dapat disimpulkan bahwa
Dinasti Umayyah didirikan atas dasar kekerasan dan kelihaian berpolitik. Dan
bai`ah terhadap khaliIah dilakukan dalam keadaan terpaksa.
Pada masa-masa Awal Mu`awiyah menjadi penguasa kekuasaan masih
berjalan secara demokratis, tetapi setelah berjalan dalam beberapa waktu,
Mu`awiyah mengubah model pemerintahnya dengan model pemerintahan
monarchiheredetis (kerajaan turun temurun).
25

Mu`awiyah yang memiliki rasa kesukuan yang kuat dan Ianatisme klan
yang hebat akhirnya memilih sistem pemerintahan Monarchi untuk
mempertahankan dominasi dan kelangsungannya dalam khilaIah. Hal ini ia
buktikan dengan mengangkat Yazid, anaknya untuk menggantikan kedudukannya
sebelum ia meninggal dunia. Sistem pemerintah dinasti Bani Umayyah sangat
dipengaruhi oleh Persia dan Bizantium, yakni sistem pemerintahan monarchi. Dia
tinggalkan sistem pemerintahan yang dijalankan khaliIah empat, yakni
musyawarah. Penunjukan yazid sebagai penggantinya menunjukkan pelimpahan
kekuasaan secara turun-temurun (pewarisan).




23
Mahmud al Nasir, p Cit, hal. 203
24
W. Montgomeri Watt, p Cit, hal. 19
25
Badri Yatim, Sefarah Peradaban Islam (Jakarta, PT. GraIindo Persada, 1998), hal. 42

DAFTAR PENGUASA DINASTI UMAYAH


NO NAMA MASA BERKUASA
1 Mu`awiyah binu Abi SuIyan 41-60 H / 661-681 M
2 Yazid bin Mu`awiyah 60-64 H / 681-683 M
3 Mua`wiyah binu Yazid 64 H / 683 M
4 Marwan binu Hakam 64-65 H / 684-685 M
5 Abdul Malik bin Marwan 65-86 H / 685-705 M
6 Al-Walid binu Abdul Malik 89-96 H / 705-715 M
7 Sulaiman binu Abdul Malik 92-99 H / 715-717 M
8 Umar binu Abdul Aziz 99-101 H / 717-720 M
9 Yazid binu Abdul Malik 101-105 H / 720-824 M
10 Hisyam binu Abdul Malik 105-125 H / 724-743 M
11 Walid bin Yazid 125-126 H / 734-744 M
12 Yazid bin Walid | Yazid III| 126 H / 744 M
13 Ibrahim bin Malik 126 H / 744 M
14 Marwan bin Muhammad 127-132 H / 745-750 M

B. Fase Kemajuan Dinasti Umayyah
1. Perluasan Wilayah
Perluasan wilayah yang dilakukan pada masa Bani Umayyah itu meliputi
tiga Iront penting, yaitu daerah-daerah yang telah dapat dicapai dan terhenti disitu
gerakan perluasan Islam yang dilakukan sampai masa KhaliIah Utsman bin
AIIan. Ketiga Iront itu adalah:
Pertama, Iront pertempuran melawan bangsa Romawi di Asia Kecil. Di
masa Daulah Bani Umayyah, pertempuran di Iront ini telah meluas, sampai
meliputi pengepungan terhadap kota Konstantinopel, dan penyerangan terhadap
beberapa pulau di Laut Tengah.
Kedua, Iront AIrika Utara. Front ini meluas sampai ke pantai Atlantik,
kemudian menyebrangi Selat Jabal Tarik dan sampai ke Spanyol.

Ketiga, Iront Timur. Ini meluas dan terbagi kepada dua cabang yang satu
menuju ke Utara, ke daerah-daerah di seberang Sungai Jihun (Amu Dariah). Dan
cabang yang kedua menuju ke Selatan, meliputi daerah Sind.
26

Front melawan bangsa Romawi di Asia Kecil
Front ini sangat penting bagi Daulah Umayyah karena Daulah ini
mengambil kota Damaskus sebagai ibu kota Imperium Islam yang luas itu.
Dengan demikian ibu kota tersebut dekat sekali letaknya ke tapal batas kerajaan
Byzantium. Mu`awiyah sebagai penguasa pertama Daulah ini bermaksud
menjatuhkan Imperium Byzantiium ini dengan cara merebut ibu kotanya
'Konstantinopel. Usaha ini, dilakukan Mu`awiyah dengan mengadakan
persiapan-persiapan dan memperbesar armadanya, hingga terdiri dari 1700 kapal,
lengkap dengan perbekalan dan persenjataan. Kemudian melakukan penyerangan
hingga ke Laut Tengah dan berhasil menduduki pulau Rhodes pada tahun 53 H,
dan pulau Kreta pada tahun 54 H. Diserangnya lagi pulau-pulau Sicilia, dan
sebuah pulau yang bernama Arwad, tidak jauh dari kota Konstantinopel. Itu
semua disamping pulau Cyprus yang telah ditaklukkan Mu`awiyah pada masa
KhaliIah Utsman. Penyerangan pulau-pulau tersebut dipimpin oleh Janadah bin
Abi Umayyah.
Setelah berhasil menguasai daerah darat dan laut, Mu`awiyah maju
menuju tujuan utamanya yaitu mengepung ibu kota Konstaantinopel, yang
dipimpin oleh Yazid bin Mu`awiyah anaknya sendiri didampingi oleh pahlawan
Islam kenamaan antara lain: Abu Ayyub al-Anshar, Abdullah bin Zubair,
Abdullah bin Umar, dan Bin Abbas. Namun kota itu sanggup menghadapi
pengepungan yang lama itu, yang berlangsung sekitar tujuh tahun (54 H - 61 H).
Dalam pertempuran ini tewas seorang shahabi yang termasyhur yaitu Abu Ayyub
al-Anshari. Armada ini mengundurkan diri seiring dengan akhir masa
pemerintahan Mu`awiyah.
Penyerangan dilakukan kembali pada masa KhaliIah Abdul Malik setelah
ia berhasil menumpas kekacauan dalam negeri sehingga berhasil menaklukkan

26
A. Salabi, p cit, hal. 115

kembali daerah Armenia. Disusunnya rencana untuk musim dingin dan musim
panas. Pada tahun 84 H, Abdul Malik mengirim pasukan di bawah pimpinan
Abdullah bin Abdul Malik menyerang kekuasaan Romawi dan berhasil
menaklukkan Mashaishah.
Penyerangan dilanjutkan kembali oleh KhaliIah Al-Walid, hingga dia
berhasil melakukan penaklukkan ke daerah-daerah sekitar Konstantinopel
sebelum melakukan penyerangan ke sana walaupun kota ini berhasil melepaskan
diri dari pengepungan.
27

Front Afrika Utara.
Mu`awiyah melakukan perluasan wilayah ke AIrika Utara yang masih
dibawah kekuasaan Romawi, yang dipimpin oleh panglima masyhur -Uqbah bin
NaIi` al Fihri- yang telah menetap di Barqah sejak daerah itu ditaklukkan. Dan
Uqbah merusaha menarik bangsa Barbar untuk masuk Islam. Ia barhasil
menaklukkan daerah Tripoli dan Fazzan, kemudian terus ke Selatan hingga
sampai ke negeri Sudan.
Mu`awiyah mengangkat Mslamah bin Makhlad al-Anshari sebagai
gubernur Maghribi dan berhasil menguasai seluruh daerah Maghribi, Mesir,
Barqah, AIrika dan Tripoli. Dia memecat panglima Uqbah dari kedudukannya di
AIrika dan diangkat kembali oleh KhaliIah Yazid, dan berhasil maju hingga ke
pantai Atlantik.
Pengiriman satuan besar dilakukan kembali pada masa pemerintahan
Abdul Malik dibawah pimpinan Hasan bin Nu`man al-Ghassani. Satuan ini
berhasil menumpas satuan-satuan Romawi dan menghalau mereka dari AIrika
Utara serta menindas perlawanan bangsa Barbar. Dengan demikian kekuasaan
Islam sampai ke Lautan Atlantik.
28

Front Timur.
Front ke daerah Timur ini dilakukan di daerah seberang Sungai Jihun dan
di Sind. Pada masa pemerintahan KhaliIah Al-Walid kaum muslimin telah

27
Ibid, hal. 115-121
28
Ibid, hal 122-126

mendapat kamajuan dan stabilitas di 'Daerah Seberang Sungai Jihun, sehingga


penaklukkan itu sempurna pada masa pemerintahan KhaliIah Sulaiman bin Abdil
Malik, dibawah pimpinan panglima Yazid bin Muhallab.
Front Timur ini sangat erat hubungannya dengan negeri Persia, yang
ditaklukkan pada masa KhaliIah Umar, dan negeri Khurasan yang telah dicapai
oleh KhaliIah Umar dan Utsman namun belum stabil. Pada masa KhaliIah Al
Walid, Iront ini dibagi dua oleh Al Hajjaj bin YusuI yang menunjuk dua orang
panglima yaitu Al Muhallab bin Abi ShuIrah dan Muhammad bin Qasim as
TsaqaIi (menantunya sendiri). Panglima pertama dikirim ke arah Timur Laut
menaklukkan negeri-negeri yang berada di daerah Sungai dan panglima kedua
dikirim ke arah Tenggara menaklukkan negeri Sind.
29

Dengan keberhasilan ekspansi ke beberapa daerah, baik Timur maupun
Barat. Wilayah kekuasaan Islam masa Bani Umayyah ini betul-betul sangat luas.
Daerah-daerah itu meliputi Spanyol, AIrika utara, Syiria, Palestina, Jazirah Arab,
Irak, sebagian Asia kecil, Persia, AIganistan, daerah yang sekarang disebut
Pakistan Purkmenia, Ulbek, dan Kilgis di Asia Tengah.
. Sistem Sosial (Arab dan Mawali)
Meskipun sering kali terjadi pergolakan dan pergumulan politik pada masa
pemerintahan Daulah Bani Umayyah, namun terdapat juga usaha positiI yang
dilakukan daulah ini untuk kesejahteraan rakyatnya.
Diantara usaha positiI yang dilakukan oleh para khilaIah daulah Bani
Umayyah dalam mensejahterakan rakyatnya ialah dengan memperbaiki seluruh
sstem pemerintahan dan menata administrasi antara lain organisasi keuangan ini
bertugas mengurusi masalah keuangan Negara yang dipergunakan untuk:
a. Gaji pegawai dan tentara serta gaya tata usaha Negara.
b. Pembangunan pertanian, termasuk irigasi.
c. Biaya orang-orang hukuman dan tawanan perang
d. Perlengkapan perang

29
Ibid hal. 133-141

Disamping usaha tersebut Daulah Bani Umayyah memberikan hak dan


perlindungan kepada warga Negara yang berada dibawah pengawasan dan
kekuasaannya. Masyarakat mempunyai hak untuk mendapatkan perlindungan
hukum dan kesewenangan.
Oleh karena itu Daulah ini membentuk lembaga kehakiman. Lembaga
kehakiman ini dikepalai oleh seorang ketua Hakim (Qathil Qudhah). Seorang
hakim (Qadli) memutuskan perkara dengan ijtihadnya. Para hakim menggali
hukum berdasarkan Al-Qur`an dan Sunnah Nabi. Disamping itu kehakiman ini
belum terpengaruh atau dipengaruhi politik, sehingga para hakim dengan
kekuasaan penuh berhak memutuskan suatu perkara tanpa mendapat tekanan atau
pengaruh suatu golongan politik tertentu.
. Sistem Militer
Salah satu kemajuan yang paling menonjol pada masa pemerintahan dinasti
Bani Umayyah adalah kemajuan dalam sistem militer. Selama peperangan
melawan kakuatan musuh, pasukan Arab banyak mengambil pelajaran dari cara-
cara teknik bertempur kemudian mereka memadukannya dengan sistem dan
teknik pertahanan yang selama itu mereka miliki, dengan perpaduan sistem
pertahanan ini akhirnya kekuatan pertahanan dan militer Dinasti Bani Umayyah
mengalami perkembangan dan kemajuan yang sangat baik dengan kemajuan-
kemajuan dalam sistem ini akhirnya para penguasa dinasti Bani Umayyah mampu
melebarkan sayap kekuasaannya hingga ke Eropa.
Secara garis besar Iormasi kekuatan tentara Bani Umayyah terdiri dari
pasukan berkuda, pasukan pejalan kaki dan angkatan laut.
. Sistem Ekonomi
Bidang-bidang ekonomi yang terdapat pada jaman Bani Umayyah terbukti
berjaya membawa kemajuan kepada rakyatnya yaitu:
a) Dalam bidang pertanian Umayyah telah memberi tumpuan terhadap
pembangunan sektor pertanian, beliau telah memperkenalkan sistem pengairan
bagi tujuan meningkatkan hasil pertanian.

b) Dalam bidang industri pembuatan khususnya kraItangan telah menjadi nadi


pertumbuhan ekonomi bagi Umayyah.

. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Sastra-Seni
Dinasti Umayah berlangsung selama 90 tahun lamanya dengan 14
khaliIah. Dalam rentang waktu yang sangat panjang tersebut, tentu saja sudah
banyak yang dilakukan oleh dinasti Umayah dalam memajukan Islam, terutama di
sektor pengembangan ilmu pengetahuan. Seperti pada masa-masa khaliIah
sebelumnya, masa Bani Umayah, akal dan ilmu juga berjalan seperti pada masa
itu, walaupun ada beberapa kemajuan yang berhasil dilakukan oleh Dinasti
Umayah, karena pada waktu telah mulai dirintis jalan ilmu naqli ; berupa IilsaIat
dan eksakta.
Pada masa Dinasti Umayah, ilmu pengetahun berkembang dalam tiga
bidang, yaitu bidang diniyah, tarikh, dan IilsaIat. Yuhana al-Dimaski, tokoh
IilsaIat beragama Nashrani yang terkenal dalam agama Kristen. Kota-kota yang
menjadi pusat ilmu pengetahuan selama pemerintahan dinasti Umayah, antara lain
kota Kairawan, Kordoba, Granda dan lain sebagainya.
Pada masa Umayah, ilmu pengetahuan terbagi menjadi dua macam, yaitu :
pertama, Al-Adaabul Hadits (ilmu-ilmu baru), yang meliputi : Al-ulumul
Islamiyah (ilmu al-Qur`an, Hadits, Fiqh, al-Ulumul Lisaniyah, At-%arikh dan al-
Jughra1i), Al-Ulumul Dakhiliyah (ilmu yang diperlukan untuk kemajuan Islam),
yang meliputi : ilmu thib, IilsaIat, ilmu pasti, dan ilmu eksakta lainnya yang
disalin dari Persia dan Romawi ; Al-Adaabul Qadamah (ilmu lama), yaitu ilmu
yang telah ada pasa zaman Jahiliyah dan ilmu di zaman khaliIah yang empat,
seperti ilmu lughah, syair, khitabah dan amtsal.
Selain itu, kekuasaan ini juga melakukan banyak hal, baik prestasi dalam
negeri maupun luar negeri. Prestasi luar negeri misalnya, pada masa Dinasti
Umayyah, gerakan pelebaran sayap kekuasaan terus dilakukan, terutama pada
Mu`awiyah. Ia sangat gencar melakukan ekspansi, setelah sempat tertunda pada
Usman dan Ali, akibat konIlik politik internal. Pada masa Mu`awiyah bahkan
telah mulai mampu menciptakn bebarapa hal yang sangat berarti, terutama

menyangkut melindungi keselamatan Mu`awiyah, antara lain yaitu : Pertama,


Mu`awiyah memerintahkan agar para prajurit mengangkat senjata tembok apabila
mereka berada di hadapannya. Kedua, Mu`awiyah merupakan khaliIah yang
mula-mula menyuruh agar dibuatkan anjung dalam masjid tempat sembahyang.
Ia sangat khwatir akan keselamatan dirinya, karena khaliIah Umar dan Ali,
terbunuh ketika sedang melaksanakan shalat.
30

Kemudian, masa-masa kejayaan Daulah Umayah mencapai puncaknya
pada masa Al-Walid bin Abdul Malik (705-75. Masa ini merupakan masa-masa
kejayaan kekuasaan Bani Umayah, karena ketenteraman, kemakmuran dan
ketertiban. Umat Islam benar-benar mendapatkan kebahagiaan. Pada masa ini,
perluasaan wilayah kekuasaan dari AIrika menuju wilayah Barat Daya, benua
Eropa, bahkan perluasaan ini juga sampai ke Andalusia (Spanyol) di bawah
kepemimpinan panglima Thariq bin Ziyad, yang berhasil menaklukkan Kordova,
Granada, dan Toledo.
Selain gerakan luar negeri, dinasti Umayah juga banyak melakukan karya-
karya yang sangat berarti, misalnya Mu`awiyah sudah merancang pola pengiriman
surat (post), kemudian dimatangkan lagi pada masa Malik bin Marwan. Proyek al-
Barid (pos) ini, semakin ditata dengan baik, sehingga menjadi alat pengiriman
yang baik pada waktu itu.
31
Bahkan pada masa, Sulaiman bin Malik, telah
dibangun pembangunan mega raksasa yang terkenal dengan Jamiul Umawi.
Bahkan pada masa Daulah Umayah, gerakan sastra dan seni juga sempat
muncul dan berkembang, yaitu pada masa khaliIah Abdul Malik, setelah al-Hajjaj
berhasil menundukkan Abdullah bin Zubair di Hijaz. Di negeri itu telah muncul
generasi baru yang bergerak di bidang sastra dan seni. Pada masa itu muncul
tokoh Umar binu Abi Rabi`ah, seorang penyair yang sangat mashur, dan muncul
perkumpulan penyanyi dan ahli musik, seperti Thuwais dan Ibn Suraih serta al-
Gharidl.
32



30
Ibid, hal. 33
31
Hasan Ibrahim, Sefarah dan Kebudayaan Islam (Jakarta : Kalam Mulia, 2003), hal. 328
32
A. Syalabi, p Cit, hal. 70

. Gerakan Penerjemahan dan Arabisasi


Selain itu, gerakan penerjemahan ke dalam bahasa Arab (Arabisasi buku),
juga dilakukan, terutama pada masa khaliIah Marwan. Pada saat itu, ia
memerintahkan penerjemahan sebuah buku kedokteran karya Aaron, seorang
dokter dari Iskandariyah, ke dalam bahasa Siriani, kemudian diterjemahkan lagi
ke dalam bahasa Arab. Demikian pula, KhaliIah memerintahkan menerjemahkan
buku dongeng dalam bahasa sansakerta yang dikenal dengan Kalilah wa Dimnah,
karya Bidpai. Buku ini diterjemahkan oleh Abdullah bin Al-MuqaIIa. Ia juga telah
banyak menerjemahkan banyak buku lain, seperti IilsaIat dan logika, termasuk
karya Aristoteles :Categoris, Hermeneutica, Analityca Posterior serta karya
Porphyrius : Isagoge


Demikian juga, pada masa Dinasti Umayah, sudah mulai dirancang
tentang undang-undang yang bersumber dari al-Qur`an, sehingga menuntut
masyarakat mempelajari tentang taIsir al-Qur`an. Salah seorang ahli taIsir pertama
dan termashur pada masa tersebut adalah Ibn Abbas. Pada waktu itu beliau telah
menaIsirkan al-Qur`an dengan riwayat dan isnad, kemudian kesulitan-kesulitan
dalam mengartikan al-Qur`an dicari dalam al-hadits, yang pada gilirannya
melahirkan ilmu hadits.
Pada saat itulah kitab tentang ilmu hadits sudah mulai dikarang oleh para
ulama muslim. Beberapa ulama hadits yang terkenal pada masa itu, antara lain :
Abu Bakar Muhammad bin Muslim bin Ubaidilah bin Abdullah bin Syihab az-
Zuhri, Ibn Abi Malikah (Abdullah bin Abi Malikah at-Tayammami al-Makky),
Al-Auza`i Abdurrahman bin Amr, Hasan Basri as-Sya`bi.
Dalam bidang hadits ini, Umar bin Abd Aziz secara khusus
memerintahkan Ibn Syihab az-Zuhri untuk mengumpulkan hadits. Oleh karena itu,
Ibn Syihab telah dianggap sangat berjasa dalam menyebarkan hadits hingga
menembus berbagai zaman. Sejak saat itulah perkembangan kitab-kitab hadits
mulai dilakukan.
34


33
C.A. Qadir, Filsa1at Dan ilmu Pengetahuan dalam Islam (Jakarta, Pustaka Obor, 2002), hal. 37
34
Badri Khaeruman, tentisitas Hadits . Studi Kritis Atas Kafian Hadst Kontemporer (Bandung,
Rosda, 2004), hal. 39

Gerakan Arabisasi juga bukan hanya dilakukan pada penerjamahan, tetapi


juga dalam konteks kebijakan pemerintahan. Pada masa Abdul Malik (685-705
M) mulai diperkenalkan bahasa Arab untuk tujuan-tujuan administrasi, mata uang
gaya baru diperkenalkan, dan hal ini memiliki arti yang sangat penting, karena
mata uang merupakan simbol kekuasaan dan identitas.
35
Sebab, mata uang baru
inipun dicetak dengan menggunakan kata-kata semata, memproklmasikan dengan
bahasa Arab keesaan Tuhan dan kebenaran agama Islam.
36

C. Gerakan Oposisi
Meskipun keberhasilan banyak dicapai dinasti ini, namun tidak berarti
bahwa politik dalam negeri dapat dianggap stabil. Muawiyah tidak mentaati isi
perjanjiannya dengan Hasan Bin Ali ketika dia naik tahta yang menyebutkan
bahwa persoalan pergantian pemimpin setelah Muawiyah diserahkan kepada
pemilihan umat Islam. Deklarasi pengangkatan anaknya Yazid sebagai putra
mahkota menyebabkan munculnya gerakan-gerakan oposisi dikalangan rakyat
yang mengakibatkan terjadinya perang saudara beberapa kali dan berkelanjutan.
Perpecahan menjadi beberapa kelompok yang terjadi dalam setiap masa
kekuasaan pada masa khaliIah, merupakan sesuatu yang lumrah. Setiap kelompok
sudah pasti memiliki militansi yang kuat terhadap kelompok mereka masing-
masing. Dalam konteks kekuasaan, setiap kelompok yang berkuasa, sudah pasti
akan berhadapan dengan kelompok lain sebagai pihak oposisi.
Perubahan konsep suksesi kepemimpinan yang dilakukan oleh Mua`wiyah
telah melahirkan penolakan yang kuat dari kubu-kubu yang tidak searah dengan
kubu Mu`awiyah. Deklarasi pergantian kekuasaan kepada Yazid oleh Mu`awiyah,
selain telah menyalahi kebiasaan kekuasaan para penguasa Arab, tetapi telah
melahirkan kekecewaan dari musuh-musuh politik Mu`awiyah, sehingga
menyebabkan munculnya gerakan-gerakan oposisi di kalangan rakyat dan
seringkali melahirkan konIlik perang antar saudara.

35
Albert Hourani, Sefarah Bangsa-Bangsa Muslim (bandung, Mizan, 2004), hal. 82
36
Ibid hal.83

Pada saat Yazid naik tahta menggantikan Mu`awiyah, beberapa tokoh


terkemuka di Madinah tidak mau menyatakan kesetiaannya kepada pengganti
Mu`awiyah tersebut. Namun demikian, Yazid tidak tinggal diam untuk
menundukkan masyarakat Madinah, dengan mengirim surat kepada Gubernur
Madinah, Yazid memerintahkan untuk memaksa penduduk mengambil sumpah
setia untuk patuh kepada pemerintahan Yazid. Semua orang menjadi tunduk,
kecuali satu tokoh Madinah yang tetap istiqamah menolak Yazid, yaitu Abdullah
bin Zubair. Bersamaan dengan itu, kaum Syi`ah (kubu Ali) melakukan konsolidasi
kembali untuk melakukan perlawanan terhadap kekuatan Bani Umayyah.
Demikianlah, oposisi telah menjadi tumbuh subur dalam melawan
kekuasaan Bani Umayah. Mereka berkonsentrasi membangun kekuataan
perlawanan di beberapa daerah oleh beberapa tokoh : pertama, oposisi yang
dipimpin oleh Husen bin Ali dan kaum Syi`ah. Husen dan kaum Syi`ah terus
membangun kekuatan dan melakukan perlawanan terhadap Bani Umayah. Pada
tahun 680 M, ia pindah dari Mekah ke KuIah atas permintaan kaum Syi`ah yang
ada di Irak. Masyarakat di tempat ini sama sekali tidak mengakui Yazid,
kemudian mereka mengangkat Husen sebagai khaliIah. Akhir dari perjalanan
Husen sebagai KhaliIah adalah pada peperangan Karbala melawan tentara Bani
Umayah. Husen terbunuh, kepalanya di penggal dan dikirim ke Damaskus,
sementara tubuhnya dikubur di Karbala.
Terbunuhnya Husen tidak membuat kaum Syi`ah patah semangat. Mereka
terus melakukan perlawanan dan pemberontakan terhadap penguasa Bani
Umayah. Gerakan mereka lebih garang dan tersebar ke beberapa tempat. Banyak
pemberontakan yang terjadi dimotori oleh kaum Syi`ah, salah satunya
pemberontakan yang dilakukan oleh Mukhtar di KuIah pada 685-687 M.
Pemberontakan ini banyak mendapatkan dukungan dari kaum mawali, yaitu umat
Islam yang bukan Arab, mereka berasal dari Persia dan Armenia dan lain-lain
yang oleh Bani Umayah dianggap sebagai warga Negara kelas dua.
Kedua, Abdullah binu Zubair, ia membina kelompok oposisinya di Mekah,
sejak menolak patuh terhadap Yazid, tetapi ia baru menyatakan diri sebagai
khaliIah dengan terbuka setelah Husein terbunuh. Tentara Yazid terus berupaya

memadamkan pemberontakan yang dipelopori Abdullah binu Zubair, sehingga


timbullah peperangan yang berhasil menewaskan Yazid dan membuat tentra
Yazid kembali ke Damaskus. Gerakan oposisi Abdullah binu Zubair baru bisa
dihancurkan pada masa Abd. Malik.


BAB III
PENUTUP
Bani Umayah merupakan salah satu penguasa Islam yang cukup masyhur
seperti yang penguasa-penguasa muslim yang lain. Bahkan pada masa ini,
perubahan demi perubahan dilakukan, setidaknya keberanian Bani Umayah untuk
keluar dari tradisi Arab dalam masalah pergantian kepemimpinan serta
pemindahan pusat kekuasaan dari Jazirah Arab ke Damaskus (luar jazirah Arab)
menjadi bukti sederhana tentang dinamika yang terjadi pada masa Bani Umayah
berkuasa.
Tulisan di atas walaupun sangat singkat telah memberikan gambaran
tentang pergulatan kekuasan Bani Umayah dengan segala dinamikan yang terjadi
selama berkuasa kurang lebih 90 tahun lamanya, di satu sisi telah menorehkan
banyak catatan kemajuan bagi Islam, tetapi pada sisi yang lain tidak jauh beda
dengan penguasa-penguasa sebelumnya, yaitu ketidakmampuan dalam
meminimalisir konIlik politik, yang acapkali melahirkan berbagai tragedi
pertempuran di kalangan umat Islam.
Namun demikian, Bani Umayah tetaplah bagian penting dan menarik
dalam sejarah umat Islam yang harus terus dijadikan sebagai pengalaman sangat
berharga, karena tidak semua yang dilakukan Bani Umayah itu jelek, tetapi juga
memiliki sisi penting yang harus ditiru oleh umat Islam. Kekuasaan Bani Umayah
yang hampir seabad lamanya dalam memimpin umat Islam, tetaplah sebuah
prestasi yang harus diapreasi secara kritis.

DAFTAR PUSTAKA
A. Syalabi, Sefarah dan Kebudayaan Islam, 2003. Jakarta: Pustaka al-
Husna.
Abu al A`la al Maududi, Khila1ah dan Kerafaan, terjemah M. Bagir, 1984.
Bandung: Mizan.
Ahmad Amin, 'Yaumul Islam, Abu Laila dan M.Tohir (Penerj.), Islam
dari Masa ke Masa, 1993. Bandung: PT. Remajarosda Karya, Bandung.
Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam.
Melacak Akar-akar Sefarah, Sosial, Politik, dan Budaya Umat Islam, 2004.
Jakarta: PT. RajaGraIindo Persada.
Albert Hourani, Sefarah Bangsa-Bangsa Muslim, 2004. Bandung: Mizan.
Badri Khaeruman, tentisitas Hadits . Studi Kritis Atas Kafian Hadst
Kontemporer, 2004. Bandung: Rosda.
Badri Yatim, Sefarah Peradaban Islam, 1998. Jakarta: PT. GraIindo
Persada.
C.A. Qadir, Filsa1at Dan ilmu Pengetahuan dalam Islam, 2002. Jakarta:
Pustaka Obor.
Dedi Supriyadi, Sefarah Peradaban Islam, 2008. Pustaka Setia: Bandung.
H.A.R. Gibb, Islam dalam Lintasan Sedfarah, 1953. Jakarta: Yayasan
Franklin.
Haikal, Sefarah Hidup Muhammad, 1984. Jakarta: Tinta Mas.
Harun Nasution, Islam ditinfau dari berbagai Aspeknya Jilid , 1999.
Jakarta: UI-Press.
Hasan Ibrahim, Sefarah dan Kebudayaan Islam, 2003. Jakarta : Kalam
Mulia.
Binu Atsir, al Kamil 1i al %arikh, IV, tt. Beirut: Dar Shadir.
JoesouI Sou`yb, Sefarah Daulah Umawiyah di Damaskus Jilid , 1997.
Jakarta: Bulan Bintang.
Jurji Zaidan, %arikh %amaddun al Islami, tt. Beirut: Dar al Maktabah al
Hayat.

Mahmud al Nashir, Islam Konsepsi dan Sefarahnya, terjemah Drs. Adang


AIIandi, 1989. Bandung: Rosda.
Stephen Sulaiman Schwartz, Dua Wafah Islam . Modernisme vs
Fundamentalisme dalam Wacana Global, terj. Hodri Ariv, 2007 . Jakarta:
Balantika.
SyaIiq A. Mughni, Dinamika Intelektual Islam Pada Abad Kegelapan,
2002. Surabaya: LPAM.
W. Montgomeri Watt, Kerafaan Islam, 1990. Yogyakarta: Tiara Wacana.