TOHA: PRODUKTIVITAS PADI GOGO DALAM MODEL PTT

Peningkatan Produktivitas Padi Gogo melalui Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu dengan Introduksi Varietas Unggul
Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Jl. Raya 9 Sukamandi, Subang, Jawa Barat

Husin M. Toha

ABSTRACT. Increasing Upland Rice Yield Through Varietal Component on the Application of ICM. The potential for increasing yield of rice in dry land areas as an upland rice is high, to meet the ever increasing national demand for rice. Adapting an Integrated Crop and Resource Management (ICM) for upland rice, mainly by introducing improved varieties, could facilitate the technology adoption by dryland farmers, increase rice yield, and farmers’ income and increase total rice production. Research was conducted during three rice planting seasons in three years at Rama Murti village, Seputih Raman regency, Lampung Province, involving 10-15 farmers on the areas of 5 ha. Results showed that the average rice yields of the ICM in the first year was 4.30 t/ha, ranged from 3.88 t/ha (Situ Bagendit) to 4.69 t/ha (Batu Tegi). Other varieties which produced more than 4.0 t/ha were: Limboto, Way Rarem, Situ Patenggang and BP 1153C-8-60 line. The yield obtained from the traditional practice using Limboto (mix with Sirendah, local variety) was only 3.37 t/ha. In the second year cropping season, Batu Tegi, Limboto and Situ Patenggang rice varieties produced rice yield of 5.93 t/ha ranged from 5.53 to 6.20 t/ha. The highest grain yield was attained by Batu Tegi variety. On the third year cropping season, the highest yield was 5.39 t/ha produced by Batu Tegi, followed by Limboto and Situ Patenggang, each was 5.32 t/ha and 4.77 t/ha, respectively. The grain yields of Batu Tegi and Limboto were not significantly different, but they were different with Situ Patenggang. Based on the 3 year research, the average farmer’s income reached Rp 5,226,000 per season, ranged from Rp 4,807,000 to Rp 5,957,100. Fixed cost and variable cost was Rp 2,783,000 and Rp 651,970, respectively. Production cost ranged from Rp 3,245,000 to Rp 3,650,710 consisted of 44% labor cost, 37% material cost and the other costs were 19%. The net profit ranged Rp 1,506,300 to Rp 2,320,500 or the R/C ratio of 1.60 (ranged from 1.46 to 1.70), suggesting that ICM for upland rice is feasible. Keywords: Dry land, upland rice, improved varieties, ICM ABSTRAK. Peluang peningkatan produksi beras melalui pengembangan tanaman padi di lahan kering (padi gogo) sangat besar, guna memenuhi kebutuhan beras Nasional yang terus meningkat. Dengan menerapkan PTT padi gogo, terutama komponen varietas unggul baru yang sesuai, diharapkan dapat mempercepat adopsi teknologi oleh petani lahan kering, mempercepat kenaikan hasil, dan pendapatan petani. Penelitian dilaksanakan selama tiga musim tanam (3 tahun) di Desa Rama Murti, Kecamatan Seputih Raman, Lampung yang melibatkan 10-15 petani pada lahan seluas 5 ha. Hasil padi gogo dengan penerapan PTT pada tahun pertama berkisar antara 3,88-4,69 t/ha. Varietas yang hasilnya mencapai 4,0 t/ha GKG atau lebih adalah Limboto, Way Rarem, Situ Patenggang, dan galur BP1153C-8-60. Pertanaman petani bukan PTT menggunakan varietas Limboto (campuran dengan varietas Sirendah) hanya menghasilkan 3,37 t/ha. Pada musim kedua varietas Batu Tegi, Limboto, dan Situ Patenggang dengan kisaran hasil 5,53 t-6,20 t/ha. Hasil tertinggi pada musim ketiga diperoleh dari varietas Batu Tegi diikuti oleh Limboto dan Situ Patenggang, masing-masing 5,39 t; 5,32 t; dan 4,77 t/ha. Hasil varietas Batu Tegi dan Limboto tidak berbeda nyata, tetapi keduanya nyata lebih tinggi dibandingkan

dengan hasil Situ Patenggang. Pendapatan usahatani padi gogo menerapkan PTT selama 3 tahun rata-rata Rp 5.226.000/ha, dengan kisaran antara Rp 4.807.000-5.957.100/ha. Biaya tetap dan biaya tidak tetap masing-masing Rp 2.783.000 dan Rp 651.970. Biaya produksi (Rp 3.245.000-3.650.710/ha) terdiri atas biaya tenaga kerja 44%, bahan 37%, dan lain-lain 19%, keuntungan rata-rata mencapai Rp 2.044.730/ha dengan kisaran Rp 1.506.300-2.320.500/ha. Ratarata nisbah R/C adalah 1,60 dengan kisaran 1,46-1,70. Usahatani padi gogo dengan keuntungan sekitar 60% selama 4 bulan dan bunga rata-rata 15%, berarti merupakan usaha yang layak ekonomi.

T

Kata kunci: Lahan kering, padi gogo, varietas, PTT

antangan pengadaan pangan nasional ke depan akan semakin berat mengingat banyaknya lahan irigasi subur yang terkonversi untuk kepentingan nonpertanian, sedangkan jumlah penduduk terus bertambah. Pada pihak lain, laju pertambahan produktivitas lahan sawah juga semakin menurun akibat diterapkannya teknologi yang semakin intensif, tetapi jumlah pupuk yang diberikan tidak seimbang dengan jumlah hara yang terangkut ke luar petakan berupa jerami panen atau hilang terbakar. Luasnya penciutan lahan sawah akibat alih fungsi memerlukan pengembangan pertanian ke lahan-lahan kering secara optimal. Peluang pengembangan pertanian di lahan kering cukup besar, baik dari segi potensi sumber daya lahan maupun peluang peningkatan produktivitas melalui penerapan paket-paket teknologi yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian. Luas lahan kering yang berpotensi untuk pengembangan tanaman pangan khususnya padi gogo diperkirakan 5,1 juta ha yang tersebar di berbagai propinsi (Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat 1998, Hidayat et al. 1997). Secara umum budi daya padi gogo dilakukan petani pada: a) lahan terbuka (ladang/ tradisional) dan sekitar bantaran sungai, b) sekitar perbukitan daerah aliran sungai (DAS), dan c) ditumpangsarikan dengan tanaman perkebunan dan pada hutan tanaman industri yang muda (Toha 2005). Petani padi gogo umumnya miskin dan mempunyai banyak keterbatasan. Karena keterbatasan itu, petani padi gogo umumnya belum mengenal teknologi maju. Karena itu, rata-rata hasil padi gogo secara nasional baru mencapai 2,56 t/ha atau 54% dari rata-rata hasil padi sawah yang telah mencapai 4,74 t/ha (BPS 2005).

180

dikembangkan model PTT padi gogo.0 t/ha lebih tinggi dari hasil padi yang dibudidayakan berdasarkan rekomendasi biasa dan konsisten selama empat musim pertanaman. Pada fase generatif. miskin hara. dan (d) efisiensi pemupukan dengan cara tanam jajar legowo. dan BP6061-6-1-1-2. dan (3) mendapatkan alternatif teknologi yang lebih produktif dan efisien yang dapat disubstitusikan ke dalam pola dasar yang sedang dikembangkan. 2000. 1998). 100 kg SP36. Penurunan produktivitas lahan mendorong petani melakukan perladangan berpindah. 1990). dengan melibatkan petani setempat. Situ Patenggang. Pada tahun kedua dan ketiga dipilih tiga varietas terbaik dari pengujian tahun sebelumnya yaitu Batu Tegi. Way Rarem. Pada DAS Jratunseluna. Lahan kering di kawasan beriklim basah umumnya didominasi oleh jenis tanah Ultisols dan Oksisols masam (pH rendah). pemupukan. Tanam padi gogo hanya dilakukan satu kali setahun pada awal musim hujan. Di tingkat petani di delapan propinsi penghasil beras. 3 2007 Hasil penelitian padi gogo sebagai pertanaman tumpangsari dengan hutan jati muda di KPH Purwakarta pada MH 1997/98 menunjukkan bahwa dengan perlakuan pemupukan dan penggunaan varietas unggul produktivitas padi gogo dapat ditingkatkan sampai 91%. Rendahnya hasil pada tingkat petani disebabkan oleh penerapan teknologi budi daya yang belum optimal. Varietas unggul yang dicoba pada tahun pertama meliputi Batu Tegi. Tanam dilaksanakan secara jajar legowo 2:1 {(20 x 10) x 30 cm}. 26 NO. hasil padi dengan pendekatan PTT konsisten lebih tinggi daripada penerapan paket Bimas (Toha dan Gani 2001). kandungan besi dan mangan tinggi.5-2. 4-5 butir/lubang. (c) pemupukan berimbang berdasarkan status kesuburan tanah. Ketersediaan hara dalam tanah rendah. BP1153C8-60. Penyakit blas merupakan masalah utama pada padi gogo.51 t/ha dan hasil varietas Cirata mencapai 5.7 t/ha (Permadi dan Toha 1996). Pupuk berimbang diberikan sebanyak 210 kg urea (berdasarkan pembacaan skala bagan warna daun/BWD). (b) penambahan bahan organik tanah. varietas Poso memberi hasil 6. Kabupaten Lampung Tengah. dan pengendalian penyakit blas. Berdasarkan karakteristik masalah. pemupukan dalam larikan. Lahan yang ditinggalkan menjadi vegetasi alang-alang yang disebut sebagai lahan tidur atau terlantar. dicerminkan oleh komposisi mineral pasir.0 ha. dan sering mengandung alumunium yang melampaui batas toleransi tanaman. (2) mendapatkan paket teknologi PTT padi gogo. penentuan paket atau model unggulan melalui petak percontohan sampai penentuan komponen teknologi yang masih perlu diuji lebih lanjut. Tanah juga peka erosi.89 t/ha GKG. (3) pemupukan kurang tepat dan kurang berimbang. Towuti. Varietas lokal dengan budi daya cara petani hasilnya hanya 2. Menurut Mulyani et al. kadar bahan organik rendah. dan 100 kg KCl/ ha. Penularan yang berat. dan waktu pemupukan yang tepat. Jamur ini mampu merusak tanaman padi hampir pada semua fase pertumbuhan. namun tidak diamati dalam penelitian ini. Penerapan model pengelolaan tanaman dan sumber daya terpadu (PTT) padi sawah di Sukamandi menghasilkan 8-9 t GKG/ha atau 1. Berdasarkan keberhasilan penerapan model PTT padi sawah.639. penularan penyakit ini dapat menurunkan hasil 9. sedangkan dengan pemupukan yang diperbaiki dan menggunakan varietas Jatiluhur hasilnya 5. Pertanaman berikutnya adalah palawija yang lebih toleran kering. Limboto. (2003) terungkap bahwa (1) petani umumnya menanam varietas lokal dengan kualitas benih rendah. yang tersebar di sembilan propinsi.8 t/ha (Toha dan Hawkins 1990) dan hasil varietas Cirata di Garut pernah mencapai 6. sehingga perlu tindakan konservasi secara dini. Penelitian bertujuan: (1) mengkarakterisasi daerah pengembangan guna mengetahui kendala dan potensi padi gogo di lahan kering. Situ Bagendit. Selain itu. paket teknologi padi gogo disesuaikan dengan permasalahan di lahan kering. Penelitian melibatkan 10-15 petani pemilik lahan pada hamparan sekitar 5. Dari hasil identifikasi Ruskandar et al. yang umumnya miskin cadangan mineral.PENELITIAN PERTANIAN TANAMAN PANGAN VOL. Limboto. sedangkan P akan terfiksasi oleh Fe dan Al. penelitian komponen teknologi dilakukan oleh peneliti di lahan 181 BAHAN DAN METODE . maka komponen utama model PTT padi gogo yang diterapkan adalah (a) penggunaan varietas unggul tahan hama dan penyakit. (2001) terdapat 825. Selain itu. Berbeda dengan paket teknologi yang diterapkan pada lahan sawah. Lahan kering umumnya memiliki produktivitas rendah. dan Situ Patenggang. (2) pengendalian gulma kurang intensif. terutama dalam penggunaan varietas unggul. Pola tanam yang kurang sesuai dengan kondisi lahan akan mempercepat erosi. dan (5) adanya gangguan penyakit blas dan hama tikus.542 ha lahan tidur yang potensial untuk ekstensifikasi tanaman pangan. Model PTT padi gogo di lahan kering dirakit secara in situ di Desa Rama Murti. Petani terlibat sejak kegiatan inventarisasi kendala dan peluang pengembangan. Partohardjono et al. Kecamatan Seputih Raman. (4) kurang modal. terutama pada fase generatif dapat menggagalkan panen (Amir 1995).36 t/ha GKG (Guswara et al. kecuali mineral resisten seperti kuarsa (Hidayat et al.0% (Awoderu 1984). efisiensi pemupukan rendah karena N dan K dari pupuk mudah tercuci.

liat berpasir Masam Masam Rendah Tinggi Tinggi Sedang Sangat rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Sangat rendah Sangat rendah Sangat rendah Rendah Sangat rendah Tinggi Rendah Sedang *) Analisis tanah lengkap dilakukan di laboratorium tanah dan tanaman Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian.5) N total (%) C organik (%) C/N ratio P Bray I (ppm P) Ca (me/100 g) Mg (me/100 g) K (me/100 g) Na (me/100 g) Kapasitas tukar kation (me/100 g) KTKE (me/100 g) Kejenuhan basa (%) Al-tukar (me/100 g) H-tukar (me/100 g) Kejenuhan Al (%) Fe (ppm) Mn (ppm) Cu (ppm) Zn (ppm) Nilai Harkat Secara umum pertumbuhan padi gogo pada tahun pertama (MH 2002/03) cukup baik. Petani dianggap sebagai ulangan dan varietas padi gogo sebagai perlakuan. Data ini menunjukkan bahwa penyakit blas dan ketahanan varietas padi terhadap penyakit tersebut menentukan keberhasilan padi gogo di lokasi penelitian. serangan hama dan penyakit dominan. hasil gabah berdasarkan ubinan. arah dan jarak penyebaran patogen (Agrios 1998).1 4. Na-dd. 8. Lingkungan juga berpengaruh terhadap perkembangan penyakit blas karena menentukan ketersediaan inokulum.92-4. baik secara kimiawi maupun fisik. nisbah hasil gabah kering giling/gabah kering panen. walaupun tidak separah pada galur BP606F-1-1-2.72 t/ha GKP (Tabel 3). nisbah C/N tinggi.007.7 9.6 18. Jumlah petani yang terlibat pada tahun ke-1. Dibandingkan dengan pertanaman petani yang menerapkan PTT.12 13.37 menjadi 4.13 0. adalah 0. Kecamatan Seputih Raman. ke-2. Ciri dan sifat tanah lokasi percobaan model pengembangan PTT padi gogo. Mg-dd.25 0. untuk menentukan teknologi yang dapat dikembangkan dan teknologi yang perlu diganti untuk tahun berikutnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Berbeda dengan lahan sawah yang tingkat kesuburannya relatif tinggi.62 t/ha GKG dengan rata-rata 3. Pada pertanaman ini. namun Corganik tinggi tidak seperti umumnya lahan kering di Lampung. Tahun I (MH 2002/03) Karakteristik Wilayah menerapkan PTT dengan berbeda varietas mencapai 4.2 38.48 0. dan 2004/05). hasil padi dari pertanaman PTT 20% lebih tinggi atau meningkat dari 3. Hasil gabah kering giling (kadar air 14%) rata-rata dari 10 petani yang 182 52. Selama tiga tahun penelitian. jumlah petani yang terlibat dan luas garapannya berubah.75 ha.TOHA: PRODUKTIVITAS PADI GOGO DALAM MODEL PTT petani dan petani terlibat sebagai pelaksana.88 4.09 Lempung. Tabel 1. Lampung Tengah bertopografi relatif datar. dan sulit dipertahankan sehingga produktivitasnya cepat menurun.52 0. dan KTK (kapasitas tukar kation) rendah (Tabel 1).1 18. P tersedia sedang. data curah hujan. berkadar N-total rendah.37 t/ha GKG. K-dd. dan analisis ekonomi.95-3.31 0.25-4.04 t/ha dengan kisaran 1.25 ha. Dengan demikian. Ca-dd sangat rendah. karena bergantung pada curah hujan. tanahnya bereaksi masam. dan petani memilih untuk meninggalkannya menjadi lahan tidur/kritis. kerentanan genetik inang. dan 5. Jenis analisis Tekstur: Pasir (%) Debu (%) Liat (%) pH H2O (1: 2. Hasil padi dari petani non-PTT yang menggunakan varietas Limboto berkisar antara 3.20 4. Desa Rama Murti.0 ha. tetapi masih dalam satu hamparan. Penelitian berlangsung selama tiga musim tanam (MH 2002/03.5) KCl (1: 2. Pada lahan berlereng dan tidak ada tindakan konservasi yang memadai.00 t/ha GKP dengan rata-rata 3. 2003/04.70 0. Lampung*). dan sering tergenang.80 19. Hasil terendah dicapai oleh varietas Towuti dan tertinggi oleh varietas Batu Tegi (Tabel 2). Bogor.41 2. Rama Murti. seragam.02 21.906 + 0. dan 12 orang dengan total luas lahan 4. maka lahan mudah terdegradasi.2 0. dan ke-3 masing-masing adalah 10. 4.7 1. Selain itu suplai air juga tidak konsisten. pertumbuhan dan daya tahan patogen. Pengamatan meliputi kesuburan tanah sebelum penelitian. kebutuhan tenaga kerja. Pada tiap petak varietas untuk setiap petani diambil tiga ubinan. kisaran hasil padi dari petani nonPTT adalah 2. lahan kering umumnya memiliki tingkat kesuburan yang rendah dan beragam. Galur BP606F-6-1-1-2 mengalami gagal panen karena terjangkit penyakit blas leher. dihitung dari Tabel 2.12 1.75 ha.69 t/ha GKG.14 3. . Pada setiap menjelang panen dilakukan evaluasi langsung di lapang melibatkan semua petani peserta penelitian. Pada setiap musim dilakukan evaluasi paket teknologi untuk perbaikan. Petak percontohan disusun mengikuti rancangan acak kelompok tidak lengkap (untuk MT 1) dan acak kelompok lengkap (untuk MT 2 dan 3).25-0. Luas garapan masing-masing petani berkisar antara 0. Rendahnya hasil varietas Towuti juga disebabkan oleh penularan penyakit blas.04 t/ha GKG.12 12. kandungan bahan organik rendah.

Di lokasi penelitian ini.38 b 4. Puslitbangtan 2005).63 d 4.39 def 4. (3) Situ Patenggang. 3 2007 Tabel 2.38 3. Bila dievaluasi lebih lanjut. Varietas Limboto tidak murni.25 0.00 Rata-rata 3. Hasil varietas padi gogo dalam model PTT yang diterapkan petani di Desa Rama Murti. MH 2002/03.25 c 2. sedangkan varietas yang digunakan kurang tahan terhadap penyakit tersebut. Urutan varietas/galur harapan padi gogo terbaik berdasarkan tingkat hasil pada model PTT di Desa Rama Murti. MH 2002/03. pengkajian.25 3.75 de 4. pengaruh varietas terhadap pencapaian hasil lebih menonjol dibandingkan pengelolaan tanaman.88 4. peningkatan hasil padi gogo tersebut masih lebih kecil. Lampung.24 3. sekitar 100 cm.50 0. setelah dua kali penjemuran.92 a 4.50 0.88 3. Varietas Petani terlibat Hasil (t/ha GKG) 4. Hasil padi gogo petani non-PTT (kontrol) yang menggunakan varietas Limboto (campuran) di Desa Rama Murti.29 4. hasil tertinggi dicapai varietas Batu Tegi. 26 NO.18 cd 3.63 d 5.25 g 4. Lampung MH 2002/03.50 3.25 0. berupa gabah kering lumbung.43 4. 27%.80 **) 4. karena tanamannya relatif tinggi walaupun bentuk gabahnya bulat. Bentuk tanaman yang disukai adalah yang tinggi.62 ef Gagal 4. peningkatan hasil di tingkat penelitian. yang menjadi pilihan petani adalah (1) Batu Tegi.37 Batu Tegi BP 1153C-8-60 Limboto Way Rarem Situ Patenggang Situ Bagendit Rata-rata Kontrol (bukan PTT) dengan varietas Limboto*) *) 2 1 3 2 2 1 Bila dibandingkan dengan peningkatan hasil padi sawah dalam model PTT. Hasil (t/ha GKP) Petani Varietas Petani 1 Limboto Petani 2 Limboto Petani 3 Limboto Petani 4 Limboto Rata-rata kontrol Ulangan I 3.25 0.06 b 4. diikuti oleh galur BP1153C-8-60 dan Limboto.75 0. (2) Limboto. 2005.13 a 5.75 3. Hasil terendah diberikan oleh varietas Situ Bagendit (Tabel 4).PENELITIAN PERTANIAN TANAMAN PANGAN VOL.04 Angka selajur yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 0.75 4. yaitu keterlambatan penyemprotan dengan fungisida.24 d 4. Varietas Situ Bagendit kurang diminati 183 . Lampung.25 0. Dari keenam varietas yang dicoba. dan petani masing-masing 37%.25 4.24 d 4. Petani lebih menyukai gabah yang ramping karena harganya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan gabah yang bulat.50 0. Khusus pada petani yang menanam varietas Towuti terjadi perbedaan hasil yang disebabkan oleh adanya perbedaan penanganan terhadap penyakit blas.25 0.69 4.05 DMRT. Hasil (t/ha) Petani kooperator Luas lahan (ha) Varietas GKP Petani 1 Petani 2 Petani 3 Petani 4 Petani 5 Petani 6 Petani 7 Petani 8 Petani 9 Petani 10 Petani 11 Jumlah 0.0 Way Rarem BP1153C-8-60 Towuti Situ Patenggang Batu Tugi Limboto Situ Patenggang Limboto BP6061-6-1-1-2 Limboto Way Rarem Situ Bagendit Towuti Batu Tegi 8 Varietas/galur 4.69 f 4.05 efg 3. Tabel 3.88 c 1. Pada model PTT padi sawah. *) tertular penyakit blas leher **) hasil nyata tanpa ubinan.72 Tabel 4.63 4.46 GKG 4.50 4.63 d 5.88 def 5.30 4. dan (4) galur BP1153C-860.00 3.28 de 4. dan 16% lebih tinggi dari tanpa PTT (Abdulrachman et al.63 4.63 ef 3.37 4 3. Hal ini disebabkan karena pada MT 1 penanggulangan penyakit blas belum ditangani secara optimal.39 def 4.88 def 4.25 0.00 Ulangan II 4.13 fg Gagal **) 4.00 3. bercampur dengan varietas Sirendah (lokal).

29 6.02 bc c bc abc bc bc ab a Situ Patenggang 5.74 6. Bila penularan terjadi lebih awal seperti pada varietas Towuti.93 abc bc bc ab c bc a ab 6. hasil varietas Batu Tegi dan Limboto tidak berbeda nyata. 184 .33 5.72 6.17 5.37 6.08 5.20 p 0. nisbah hasil gabah kering giling/gabah kering panen adalah 0. dan Situ Patenggang masing-masing menghasilkan 5.50 0.24 6. Model PTT yang menggunakan varietas Batu Tegi.67 5.25 5. dapat merusak daun (leaf blast). tetapi nyata lebih tinggi dibandingkan dengan varietas Situ Patenggang. yang biasanya berhubungan dengan letak lahan. Penularan penyakit blas pada varietas Way Rarem terjadi saat menjelang panen.02 t/ha (kesenjangan 1.98 6. Hasil padi pada pertanaman tahun kedua (MH 2003/04) sedikit lebih baik dibandingkan dengan pertanaman pada tahun pertama (MH 2002/03). Limboto. karena tanamannya pendek dan hasilnya tidak seperti Batu Tegi.33 t/ha (kesenjangan 1. Hasil varietas Limboto berkisar antara 5.20 6.71 5. Hasil rata-rata padi gogo dalam model PTT pada tahun kedua mencapai 5. 2005). Hasil (t/ha GKG) Petani kooperator Petani 1 Petani 2 Petani 3 Petani 4 Petani 5 Petani 6 Petani 7 Petani 8 Rata-rata Standar deviasi Luas garapan (ha) 0.86 t/ha) dengan standar deviasi 0.96 a a a a a a a a Limboto 5. ubi kayu. buku (node blast).93 6.50 0. dan atau tanamannya kurang disukai petani karena posturnya pendek (<100 cm). dan Situ Patenggang. Varietas Way Rarem sudah kurang diminati petani karena tidak lagi tahan terhadap penyakit blas walaupun hasilnya cukup tinggi.50 0.01 6. Tahun III (MH 2004/05) Hasil pertanaman pada tahun ketiga (MH 2004/05) sedikit lebih baik dari pertanaman tahun pertama (MH 2002/03).57 KK(a) = 5.31 6. dan Situ Patenggang.8% Angka-angka dalam kolom yang sama dan angka rata-rata varietas (lintas petani) yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 0. dan leher malai (neck blast) (Chen 1993 dan Scardaci et al.06 t.53 t/ha GKG (Tabel 5).77 t/ha) dengan standar deviasi 0. Hasil varietas Situ Patenggang berkisar antara 4.56 5. (2) sejarah penggunaan lahan sebelumnya. atau bera. Tabel 5. Cendawan P.50 0.93 t/ha GKG dengan urutan varietas terbaik adalah Batu Tegi.96-6.20 5. hasil varietas Batu Tegi dan Limboto tidak berbeda nyata.76 5. maka hasilnya akan lebih rendah. maka pada tahun kedua dipilih tiga varietas unggulan. pada bagian atas bukit atau lembah. Limboto.54 ab bc bc ab c bc a ab Rata-rata 5. seperti bekas pertanaman jagung.TOHA: PRODUKTIVITAS PADI GOGO DALAM MODEL PTT walaupun bentuk gabahnya ramping. dan Situ Patenggang masing-masing 6. Tahun II (MH 2003/04) Berdasarkan pengalaman tahun pertama dimana terdapat varietas yang gagal panen akibat tertular penyakit blas. Berdasarkan data tersebut varietas yang paling stabil adalah Batu Tegi.22 5.3%.75 0.15 6.37 t/ha (kesenjangan 0.54 5. KK(b) = 7.54 t/ha GKG.39 t.012. Hasil padi gogo dalam model PTT pada tahun ketiga mencapai 5. Kisaran hasil varietas Batu Tegi adalah 5.53 q 0. Varietas Batu Tegi lebih adaptif (stabil) dibandingkan dengan kedua varietas lainnya.42 t/ha) dan standar deviasi 0.57 t/ha GKG. ada keragaman kemampuan petani dalam mengadopsi teknologi baru.05 DMRT. dan 4.25 5.894 + 0. tetapi dengan varietas Situ Patenggang berbeda nyata.47-6.50 0. Hasil padi gogo dalam model PTT di Desa Rama Murti.77 t/ha GKG (Tabel 6). Limboto.37 6. tetapi lebih rendah dari pertanaman tahun kedua (MH 2003/04). 1997 dalam Reflinur et al.04 4. Limboto. 5. Selain itu. sebagai penyebab peyakit blas. Sebagaimana diketahui. Lampung.30 6.81 5.20 t. (3) perbedaan kesuburan tanah.47 5. dan 5.16 t/ha GKG. Adanya keragaman hasil antarvarietas di tingkat petani disebabkan oleh (1) keragaman kemampuan petani dalam pengelolaan lahan. MH 2003/04. yaitu Batu Tegi. Pada pertanaman kedua ini. Berdasarkan analisis statistik.50 0. akibat terjadinya perubahan ras sumber penyakit blas (Amir 1995).84 6. Secara statistik.52 7.06 p 0.25-7.32 t. Berdasarkan pengalaman ini dikhawatirkan ketahanan suatu varietas akan menurun dari waktu ke waktu. 6. gresia cav.92 5.15 t/ha GKG.50 Batu Tegi 6. lahan kering umumnya bertopografi bergelombang.

75 0.33 MH 2003/04 MH 2004/05 Rata-rata 6.88 t/ha GKG atau beda hasil maksimal antarpetani sebesar 2. Perhitungan biaya dibagi menjadi tiga kelompok. Tingginya curah hujan selama pertanaman MH 2004/05.186 3. Besarnya perbedaan hasil padi gogo dalam model PTT selama 3 tahun (tiga kali tanam) diduga karena perbedaan pola curah hujan.50 0.168 4. tanam.082 4.42 5. Lampung.267 4.69 ab 5.32 t/ha GKG dengan standar deviasi 0.63 t/ha GKG.25 0.442 5.93 5. MH 2004/05. Varietas Petani kooperator Petani 1 Petani 2 Petani 3 Petani 4 Petani 5 Petani 6 Petani 7 Petani 8 Petani 9 Petani 10 Petani 11 Petani 12 Rata-rata Standar deviasi Luas garapan (ha) 0. Berbeda dengan pertanaman MH 2003/04.91 a 5.037 4. diikuti pupuk urea.260.77 5.175 5. yang berarti terdapat kesenjangan hasil 3.459 5. Hasil padi gogo (t/ha GKG) pada penerapan model PTT di Desa Rama Murti.50 0.772 4.316 p 0.39 5. Besarnya senjang hasil varietas Batu Tegi pada tahun ke-3 disebabkan oleh rendahnya hasil yang diperoleh petani kooperator 10.783.927 Situ Patenggang 5.73 t/ha dengan standar deviasi 1. KCl. b) biaya bahan. Analisis Ekonomi Perhitungan biaya produksi merupakan rata-rata dari semua petani kooperator dan mengacu kepada kebiasaan petani setempat.20 6.829 6.000 dan setelah diperhitungkan bawon menjadi 185 .208 5.636 2.421 5. total biaya total/ha pertanaman padi di luar bawon adalah Rp 2.272 4. yaitu 10% dari hasil panen.674 5.63 t/ha.90-6.14 (varietas peka yang diselingi varietas tahan) untuk mengurangi eksplosi penyakit blas (Puslitbangtan 2005).16 5.387 p 1.810 5.75 0. sehingga pupuk susulan kedua banyak yang terlarut dan hilang terbawa aliran permukaan.169 5.513.875 5.747 4. Hasil (t/ha GKG) Varietas MH 2002/03 Batu Tegi 4.69 Limboto 4.50 0.50 0. Hasil varietas Limboto berkisar antara 3. karena kesulitan dalam pengadaan pupuk kandang.632 Rata-rata 5. didominasi oleh biaya bahan organik. 3 2007 Tabel 6.714 6. dan pengendalian gulma.50 0.723 5. Biaya upah kerja rata-rata mencapai Rp 1.79 d 4.04 a 4.791 5. didominasi oleh biaya pengolahan tanah.989 4. Biaya bahan mencapai Rp 1.633 6.39 t/ha GKG antarpetani dengan standar deviasi 0. 26 NO.50 0.88 Rata-rata 4.15 t/ha.676 7.254 4.65-5.82 a 6. Hasil padi gogo pada pertanaman model PTT selama tiga musim tanam di Desa Rama Murti. varietas Situ Patenggang pada pertanaman MH 2004/05 lebih stabil dibandingkan dengan Limboto dan Batu Tegi yang dikelola oleh 12 petani kooperator.387 5.210 5.05 DMRT.37 t/ha atau ada perbedaan maksimal sebesar 3.899 3.32 4. KK(b) = 23.660 6. Hasil varietas Batu Tegi berkisar antara 2.01 bc 6.000/ha.151 Limboto 5. Biaya lain-lain yang menonjol adalah ongkos panen dengan sistem bawon.000. dan SP36. Penyebab lainnya adalah tidak dilakukan pemberian bahan organik pada tahun ketiga. Kebutuhan tenaga kerja umumnya merupakan borongan. Untuk mencapai hasil yang stabil perlu adanya pergiliran varietas dan pada satu musim tanam perlu dilakukan penanaman secara mozaik dan strip planting Tabel 7.11 a 4.63 c 5.766 q 0.50 0.06 5.371 4.43 Situ Patenggang 3. Selama tiga musim (3 tahun) varietas Batu Tegi secara konsisten menunjukkan hasil tertinggi (Tabel 7).60 ab 4.37 cd 5. terutama pada bulan Januari sampai Maret.80 c 3.93 t/ ha GKG.577 3. Hasil varietas Situ Patenggang berkisar antara 3.6% Angka-angka dalam kolom yang sama dan angka rata-rata varietas (lintas petani) yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 0. yaitu a) biaya tenaga kerja.977 5.98-7.25 0.156 KK(a) = 11. menyebabkan tanaman sering tergenang.743 6.652 4. Raman Lampung.377 4.25 Batu Tegi 6. yang menanam padi di bawah naungan pohon kelapa dan ditumpangsarikan dengan jagung dengan jarak tanam (300 x 50) cm. dan c) biaya lain-lain.591 4.49 c 5.PENELITIAN PERTANIAN TANAMAN PANGAN VOL.53 5.7%. bukan kebutuhan riil lintas petani.169 4.

dan Situ Patenggang sesuai dikembangkan dalam model PTT padi gogo di Lampung untuk meningkatkan hasil dan pendapatan petani. Toha.000 dengan kisaran Rp 4. Ramanathan.M. p. Petunjuk teknik pengendalian penyakit blas (Pyricularia grosea) pada padi gogo di Indonesia.000-3.S. 2. dan Ir. Hal ini ditempuh dengan penerapan teknologi yang saling mengisi. I.meningkatkan kandungan bahan organik tanah. p. Integrate crop managemant for enhancing yield.M. 198-235. Ir. IRRI. Bogor.TOHA: PRODUKTIVITAS PADI GOGO DALAM MODEL PTT Rp 3. A. dan Ir. Philippines. Development and dissemination of integrated crop management for productive and efficient rice production in Indonesia.. Sukarman. P.H. V. Ismail. BPS. p. Biaya produksi berkisar antara Rp 3. Widyantoro. dan B. 1988.G. 54:63-72.044. Prayitno (staf peneliti BB-Padi).807.maka keuntungan ratarata mencapai Rp 2.783.60 dengan kisaran 1. Chandrasekaran. 1.. Perbaikan budi daya padi gogo tingkat petani peserta perhutanan sosial. Disease problems in upland rice. UCAPAN TERIMA KASIH DAFTAR PUSTAKA Abdulrachman. Upah mencapai 44%. Perhitungan pendapatan tersebut berdasarkan harga gabah saat panen. yang bertujuan untuk meningkatkan produksi. A. Peningkatan produktivitas lahan kering beriklim basah melalui teknologi sistem usahatani. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan.). 1-20. 3. V.. Rajendran. mengurangi biaya operasional.320. N. Awoderu.G.000/kg dan Rp 900.970 . Peluang pemanfaatan lahan tidur untuk meningkatkan produksi tanaman pangan di Indonesia. Jayaraj.343. Mulyani. Introduksi varietas unggul yang sesuai sebagai komponen model PTT padi gogo dapat meningkatkan hasil dan pendapatan petani pada agroekosistem lahan kering. dan K.506. Balai Penelitian Tanaman Padi. and S. dan I. Los Banos.970/ha. 47-62. Diperlaukan penelitian pengembangan model PTT padi gogo dalam pola tanam setahun. 18:27-39.000-5. 285295.S. Introduksi varietas padi gogo tahan blas diperlukan di daerah pengembangan padi gogo di Lampung untuk penanggulangan penyakit tersebut. 2001. Risalah Lokakarya Penelitian Sistem Usahatani. Varietas Batu Tegi.000 dan biaya tidak tetap Rp 651. S. Ravi. Jurnal Penelitian Pengambangan Wilayah Lahan Kering. Bogor. I Nyoman Gunadi SP (Kepala BPP Seputih Raman. keuntungan sekitar 60% selama 4 bulan pertanaman dan bunga ratarata 15% berarti masih layak menurut perhitungan bank. CipayungBogor.46-1. 1995.kacang tunggak. N. 2005. 1990. Academic Press. 11 p. Rp 1. Dalam: M. Prasetyo. Plant pathology. Amir. mengendalikan gulma. Badan Pusat Statistik. M.226. Abdurachman. Hidayat. In overview of upland rice research. 1998. Dengan pengaturan pola tanam tersebut. dan H. (Eds. J. Karsidi Permadi MS. T. Biaya tetap Rp 2. 1984.710 dan kisaran keuntungan adalah Rp 1. Syam et al. Statistik Indonesia 2004. B. 2005). V. MS (staf peneliti BPTP Lampung). I W.. 4. bahan 37%. Permadi.300-2. 1996. Castro. Soekardi. A. p. Sukamandi.245. Sebagian besar hasil panen disimpan untuk kebutuhan sehari-hari. H. Chellaiah. Rata-rata nisbah pendapatan dan biaya adalah 1. Lampung Tengah) . KESIMPULAN DAN SARAN Balasubramanian. Prosiding Pertemuan Pembahasan dan Komunikasi Hasil Penelitian Tanah dan Agroklimat.. setelah memperhitungan untuk kebutuhan sendiri. dan meningkatkan pendapatan usahatani padi (Balasubramanian et al. Las. dan kepentingan mendadak. Peningkatan produktivitas padi gogo dengan penanaman kultivar unggul dan pemupukan nitrogen. 604 p. Ketersediaan sumber daya lahan dan arahan pemanfaatan untuk beberapa komoditas.957. Agrios. Makalah disampaikan pada Pelatihan Teknis PGUVB bagi Kepala UPPBLN dan Asisten PTP Proyek-proyek Ditjenbun. Laporan penelitian Kelti Ekofisiologi. S.500. R. Limboto. Jurnal Litbang Pertanian. International Rice Commision Newsletter 54:73-82. Adiningsih.650. misalnya padi gogo + jagung + ubi kayu . 20(1):9-16. bayar hutang. facror productivity and profitability in asian rice farms. Jakarta. Ir. Ardjasa (almarhum). University of Florida. Permadi. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 2005. tanah akan tertutup tanaman sepanjang tahun sehingga dapat mengurangi erosi dan sisa tanaman sebagai mulsa berfungsi mengurangi penguapan air. dan biaya lain-lain 19%. Maret 1995. Guswara. Toha.70.. and I.730. International Rice Commision Newsletter. Yuliardi. Berdasarkan nisbah pendapatan/biaya. M.100. Iwan Yuliardi MS (almarhum). dan anggota kelompok tani Desa Rama Murti (Pak Dedi dkk) atas bantuannya sejak perencanaan penelitian sampai berakhirnya penelitian dalam jangka waktu 3 tahun. pendapatan rata-rata mencapai Rp 5.69 t/ha. Hidayat. 186 . Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. E. Perhitungan keuntungan ekonomi didasarkan kepada hasil gabah kering panen dan sistem panen yang berlaku (bawon) karena tidak semua petani menjual hasil panennya. Partahardjono. 2005. dan A. Hasil rata-rata selama tiga musim tanam adalah 5. Sistem Usahatani di Lima Agroekosistem. 2000.kacang tanah . A. Hanya sebagian kecil yang dijual. A.

U. Departemen Pertanian. H. 187 . Evaluasi komponen teknologi spesifik lokasi untuk pengembangan model pengelolaan tanaman dan sumbedaya terpadu (PTT) Lahan Sawah Irigasi. 1998. 48 p. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Gani. Potensi peningkatan produktivitas tanaman pangnan melalui perbaikan variertas dan pemupukan di DAS Jratunseluna bagian hulu. A. Laporan hasil penelitian optimalisasi pemanfaatan sumber daya alam dan teknologi untuk pengembangan sektor pertanian dalam Pelita VII. Jurnal Bioteknologi Pertanian. 103 p. dan H. Padi Gogo dan Pola Pengembangannya. M. dan A. 2005. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan.M.. Toha.M. 27(5):12-14. 386 p. Balai Penelitian Tanaman Padi. Ruskandar. dan H. Puslitbangtan. Peluang menuju swasembada beras berkelanjutan. 3 2007 Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Toha. Toha H. 1990. Reflinur. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Widyastuti. 10(2):5560.M. Sukamandi. Identifikasi potensi dan peluang pengembangan intensifikasi padi gogo dengan participatory rural apraisal/PRA. Toha. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian. A. 2005. H. 2005. Tanah dan Air. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Bogor. 31 p. Keragaan cendawan Pyricularia oryzae berdasarkan primer spesifik gen virulensi.PENELITIAN PERTANIAN TANAMAN PANGAN VOL. Setyono (Ed). 26 NO.M. 2003. 2001. Aswidinnoor. Bustaman. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. dan R. Djatiharti. Hawkins. Balai Penelitian Tanaman Padi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful