Anda di halaman 1dari 13

Selasa, 3 Mei 2011

Bussiness and Enabling Environment Development Program (BEDP) I Produk Akar Wangi serta Analisis Pasar dan Persaingannya

Disusun oleh: KELOMPOK 25 Soni Sasono Nunuk Sarah Zaenubia Diyani Fauziyah Picha Mutia Lestari Dewanto Cahya A. L. 150610090011 150610090049 150610090058 150610090071 150610090094

PRORAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2011

I.

LATAR BELAKANG (GAMBARAN UMUM USAHA) Indonesia merupakan negara yang memiliki budaya yang tak terhingga banyaknya,

salah satunya adalah kerajinan. Kerajinan merupakan produk budaya yang dilihat dari berbagai aspek kehidupan yang tumbuh di negara kita. Kerajinan dapat dijumpai di berbagai daerah indonesia, salah satunya adalah di Garut. Adapun salah satu kerajinan yang terkenal disana adalah akar wangi yang tumbuh berkembang di negara beriklim tropis seperti Indonesia. Minyak yang berasal dari akar wangi dapat dijadikan sebagai pengikat wangi dan aromatherapy. Sedangkan produk sampingan yang berasal dari limbah akar wangi yang tak terpakai dapat dimanfaatkan sebagai pupuk kompos, obat nyamuk, ataupun penimbun tanah. Produk sampingan lainnya adalah kerajinan tangan, seperti tas, gorden, hiasan dinding, sarung bantal, taplak meja, penutup kulkas, penutup galon, dan lain sebagainya. II. PRODUK AKAR WANGI Akar wangi adalah bagian dari jenis tanaman minyak yang dapat disuling dan menghasilkan minyak atsiri serta merupakan salah satu komoditi ekspor Indonesia. Akar wangi memiliki pangsa pasar tingkat dunia dengan harga cukup menawan.
A. Karakteristik Akar Wangi

Akar wangi (Vetiveria zizanoides) merupakan rumput menahun yang membentuk rumpun besar, padat dengan arah tumbuh tegak lurus, kompak, beraroma, bercabang-cabang, memiliki rimpang dan sistem akar serabut yang dalam. Rumpun tumbuh hingga mencapai tinggi 1-1,5 m, serta berdiameter 2-8 mm. Daun berbentuk pipih dengan bangun garis, kaku, serta panjang 30-75 cm dan lebar 4-10 mm. Permukaan bawah daun licin. Perbungaannya dengan sistem malai (tandan majemuk) terminal, panjangnya mencapai 15-40 cm, tersusun atas 6-10 lingkaran hingga 20 lingkaran yang lebih ramping. Setiap tandan memiliki panjang mencapai 10 cm, ruas yang terbentuk antara tandan dengan tangkai bunga berbentuk benang, namun di bagian apeksnya tampak menebal. Akar wangi dapat tumbuh baik pada kondisi lingkungan sangat basah atau sangat kering, dengan curah hujan tahunan berkisar pada 1.000-2.000 mm. Rata-rata suhu maksimum yang mendukung pertumbuhannya adalah pada rentang 25-35C, tetapi suhu absolut maksimumnya dapat mencapai 45C.

1) Daerah produksi

Daerah di pulau Jawa yang menghasilkan akar wangi adalah daerah Garut (Jawa Barat) dan daerah Wonosobo (Jawa Tengah). Tanaman tersebut diusahakan oleh rakyat dengan luas tanah sekitar satu hektar atau lebih, dan ada yang mencapai 20 hektar setiap petani. Di samping itu, tanaman akar wangi diusahakan sebagai tanaman sela di perkebunan. 2) Kondisi tanah Akar wangi tetap dapat tumbuh pada kondisi tanah tandus dan pada tipe tanah yang beragam. Vetiveria zizanioides dewasa dapat tumbuh pada tanah yang mengandung garam. Meskipun telah mengalami kebakaran, terinjak-injak, ataupun habis karena dimakan hewan, jenis rumput ini masih dapat tetap tumbuh. Namun, tanah yang cocok untuk pertumbuhan akar wangi adalah tanah yang berpasir, atau tanah abu vulaknik. Pada tanah tersebut, akar dengan mudah dicabut tanpa ada yang tertinggal. Penanamannya kurang baik di atas tanah yang padat, keras dan berlempung karena akarnya sulit dicabut, dan menghasilkan akar dengan rendemen minyak yang rendah. Tanah vulkanik muda terdapat pada lereng-lereng pegunungan, dengan ketinggian sekitar 5000 kaki di atas permukaan laut. 3) Penanaman Tanaman akar wangi termasuk tanaman akar wangi tidak berbunga. Menurut penelitian yang dilakukan di Bogor, vetiver tidak boleh ditanam di tempat yang teduh, karena akan menyebabkan pengaruh yang kurang baik terhadap pertumbuhan sistem akar. Di pulau Jawa, tanaman akar wangi sering ditanam secara tumpangsari dan jarang dilakukan penanaman kembali (peremajaan) pada tempat yang sama. Satu hektar tanaman akar wangi menghasilkan 1000 kg akar kering udara. Jumlah tersebut bervariasi, dan tergantung dari jenis tanah dan kondisi lingkungan, kadan-kadang jenis cendawan tertentu tumbuh dalam akar yang merusak tanaman dan menurunkan produksi akar. 4) Teknologi Budidaya : a. Penyiapan Lahan dan Penanaman Lahan untuk pertanaman akar wangi hendaknya bersih dari gulma. Jika sudah bersih, tanah dibuat lubang tanam (20x20x20)cm. Jarak tanam tergantung

kesuburan dan kemiringan tanah. Pada kemiringan 15-30%, jarak tanam berkisar antara (6020)cm sampai (50100)cm. Dua minggu sebelum tanam, lubang diisi pupuk kandang/kompos sebanyak 2 kg/lubang. Kedalaman tanam tidak lebih dari 4 cm, karena akan mengurangi persentase tumbuh tanaman. b. Pembibitan Bibit akar wangi yang ada di Indonesia, awalnya berasal dari daerah Samarang (Garut). Untuk selanjutnya, bibit tidak perlu dibeli (didapatkan) dari tempat lain. Bibit dapat berasal dari tanaman yang sudah dipanen. Kemudian daun dan akarnya dipotong hingga tersisa sekitar 5 10 cm. Setelah itu, tanaman akar wangi ditanam kembali. c. Pemeliharaan dan Penyulaman Penyulaman dilakukan paling lambat 2 minggu setelah tanam. Tanaman yang tidak tumbuh biasanya terlihat pada umur 1-2 minggu setelah tanam, terutama bila ditanam berupa bibit sobekan dari bonggol yang ditanam langsung atau anakan tanpa akar. Khususnya di Indonesia, akar wangi yang baru dipanen, harus dicuci di sungai atau di pancuran, kemudian dijemur langsung di bawah sinar matahari atau diangin-anginkan pada tempat yang agak teduh. Bila ditujukan pada ekspor, maka akar kering dipres dan diikat sehingga berbentuk bundel dan berat setiap bundel sekitar 100 kg, kemudian dikemas dalam keranjang. Petani penanam menjual akar wangi tersebut kepada pedagang perantara, untuk selanjutnya dijual ke pabrik penyulingan atau eksportir yang berada di Jakarta dan Surabaya. d. Penyiraman Pada musim kemarau, penyiraman diperlukan setiap hari selama 2 minggu, sampai akar-akar baru tumbuh dan menempel ke tanah. e. Pemupukan Petani di Garut umumnya tidak melakukan pemupukan pada tanamannya, kecuali jika ditumpangsarikan dengan sayuran. f. Pemangkasan Sama halnya dengan pemupukan, pemangkasan biasanya dilakukan pada tanaman yang ditumpangsarikan dengan tanaman sayuran. g. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Hama dan penyakit pada akar wangi belum menjadi masalah yang penting sehingga pengendaliannya jarang dilakukan.

h. Panen Tanaman akar wangi biasanya dipanen pada bulan Februari atau Maret (1 kali dalam setahun) sudah dapat dipanen pada umur 8 bulan. Namun, agar mendapatkan akar yang berkualitas baik sebaiknya dipanen setelah berumur 18 bulan. 5) Penanganan Pasca Panen : Waktu pemanenan tergantung pada musim. Bila areal yang sama akan ditanami kembali, maka pemanenan harus dilakukan pada musim hujan, agar dapat tumbuh dengan baik. Akar wangi yang diperoleh dari petani berupa akar kering panen yang masih mengandung bonggol dan tanah yang menempel. Sebelum penyulingan, biasanya akar wangi dikeringkan dan dibersihkan terlebih dahulu untuk meningkatkan rendemen dan mutu minyak akar wangi yang dihasilkan. Ciri-ciri akar yang berkualitas baik (menghasilkan minyak terbanyak) adalah akarnya sudah tua berwarna kuning kemerahan dan biasanya banyak berasal dari tanaman yang tingginya sudah mencapai 2 meter. Tanaman akar wangi yang baik memiliki morfologi fisik yang keras dan berbunga. Sedangkan ciri-ciri minyak akar wangi yang berkualitas baik yaitu berwarna seperti minyak kelapa. a. Pemotongan Bonggol Bonggol dapat dipotong dengan alat pemotong secara manual dengan golok atau dengan menggunakan mesin pemotong (perajang). b. Pencucian Akar Akar tanpa bonggol dicuci dalam air mengalir sambil dikibaskan/dikeprik sampai semua tanah yang menempel terlepas dari akar. Air yang menempel pada akar juga dikibaskan atau ditiriskan hingga siap dijemur. c. Penjemuran Akar Pengeringan dilakukan di atas lantai penjemur yang diberi alas tikar atau bambu anyam dengan ketebalan 20-30 cm. Penjemuran dilakukan dari jam 09.00-14.00 dan dibolak-balik sebanyak 2-3 kali selama kurang lebih 2 hari. Penjemuran telah selesai jika menghasilkan akar wangi kering dengan kadar air 15%. Pengeringan akar membutuhkan waktu lebih singkat sehingga kemungkinan minyak yang menguap selama penjemuran lebih kecil.

d. Penyimpanan Jika tidak segera disuling, akar wangi dikemas dalam karung plastik dan ditutup rapat, kemudian disimpan dengan cara ditumpuk dalam gudang yang tidak tembus cahaya matahari, tidak lembab, suhu 20-30oC, dan letaknya jauh dari ketel suling. Tujuannya adalah untuk mengurangi penguapan minyak selama penyimpanan. e. Perajangan Akar Tujuan perajangan akar adalah untuk mengurangi sifat kamba akar, mempermudah keluarnya minyak dari dalam akar melalui proses hidrodifusi. Merajang dapat dilakukan dengan golok atau dengan mesin khusus perajang akar, dengan panjang sekitar 10-15 cm. Akar setelah dirajang harus segera dimasukkan ke dalam ketel suling untuk menghindari penguapan minyak dari bagian akar yang dipotong. f. Penyulingan Akar Proses penyulingan ini dapat menghabiskan waktu 10 18 jam. Akar wangi langsung direbus di dalam sebuah ketel/tangki yang diameter/panjangnya mencapai 4 meter. Ketel ini disimpan di atas tempat pembakaran dengan bahan bakar minyak tanah (sebelum harga minyak tinggi). Namun, sekarang bahan bakarnya berasal dari potongan kayu (suluh) agar tidak memakan biaya yang tinggi. Sambil direbus, uapnya yang berupa minyak itu dialirkan melalui pipa yang terhubung pada sebuah wadah. B. Tahap Pengolahan dari Produk Akar Wangi
1) Minyak Atsiri

Tanaman akar wangi yang dipanen ratarata berumur antara 12 sampai 14 bulan, karena kalau tanaman tersebut di panen pada umur lebih atau kurang dari umur tersebut, maka akan berpengaruh pada rendemen sehingga berpengaruh pula terhadap kualitas dan kuantitasnya. Untuk memperoleh hasil minyak akar wangi dapat ditempuh dengan melalui 3 (tiga) cara penyulingan (destilasi) yakni: - Destilasi dengan air - Destilasi dengan uap langsung - Destilasi dengan air dan uap (dikukus)

Adapun cara yang akan kami coba adalah destilasi dengan air dan uap atau dikukus. Peralatan yang dibutuhkan adalah: 1. Bejana/Katel dengan ukuran :
- Diameter : 1,5 m - Tinggi

: 4,2 m

- Kapasitas : 1600 kg bahan baku


- Tebal Plat: 6 mm 2. Tanki Bahan Bakar : Kapasitas 400 liter 3. Tangki Air Umpan Ketel : Kapasitas 400 liter

4. Bak Pendingin berukuran :


- Panjang - Lebar : 3,0 m - Tinggi : 0,75 m 5. Bak Penampung : Kapasitas 20 liter

: 3,0 m

Cara pengolahannya, kebutuhan air umpan ketel untuk awal operasi dibutuhkan sebanyak 3,5 m3 yang secara langsung dimasukkan ke dalam ketel untuk selanjutnya air umpan ketel akan ditambah setiap 2 jam sekali sebanyak kurang lebih 0,4 m3 secara otomatis, dimana tekanan yang dibutuhkan untuk mengalirkan air ke ketel diperoleh dari tekanan yang dihasilkan dari ketel. 2) Limbah Salah satu pengolahan limbah dari akar wangi akan kami buat sebagai pupuk kompos. Kami memilih pembuatan pupuk kompos yang ramah lingkungan yaitu pupuk kompos yang berasal dari sisa pengolahan tanaman akar wangi yang tak terpakai. Prosesnya, tanaman ini dipotong kecil-kecil, baik secara manual maupun memakai mesin perajang, tanaman yang terpotong kecil dicampur dedak 1 kg hingga rata. Setelah itu, masukkan 20 mm EM 4 yang merupakan bakteri fermentasi dan dicampur dengan 20 mm Molase dan air tanah. Air tanah mutlak diperlukan karena mempertahankan mikroba yang diperlukan untuk kesuburan tanaman. Campuran bahan kimia tersebut dipercikkan ke dalam sampah yang bercampur dedak. Kelembaban sampah harus dijaga hingga mencapai 40% kandungan air. Setelah selesai, sampah dimasukkan ke dalam karung selama 5 hari dengan kondisi suhu sampah 500 C. Setelah dua hari kemudian sudah terjadi

fermentasi dan pupuk kompos telah siap digunakan. Sampah harus terlindung dari hujan dan sengatan matahari. Jika ditaruh dalam ketinggian maksimal 40 cm maka sampah akan berubah jadi pupuk kompos. 3) Kerajinan Tangan Akar wangi bisa dibuat berbagai macam kerajinan dalam bentuk hewan seperti kura-kura, kuda, naga, gajah serta bentuk lain seperti gantungan kunci. Kegunannya pun bermacam-macam, misalnya sebagai tas, gorden, hiasan dinding, sarung bantal, taplak meja, penutup kulkas, penutup galon, dsb. Langkah pembuatannya, pertama proses pembuatan pola sesuai dengan bentuk yang diinginkan, setelah itu diisikan spon ke dalam pola itu, ditambah pelepah pisang untuk memperkuat letak spon yang akan diikat dengan akar wangi sesuai dengan pola produk kerajinan yang diinginkan untuk dibentuk. Harga yang ditawarkan di pasaran untuk satu jenis kerajinan akar wangi berfariasi tergantung bentuk dan tingkat kesulitan pembuatannya. Semakin besar produk, semakin besar pula harga yang akan ditawarkan. C. Keistimewaan Akar Wangi Akar wangi adalah bagian dari jenis tanaman minyak yang dapat disuling dan menghasilkan minyak atsiri. Akar wangi juga merupakan salah satu komoditi ekspor Indonesia, memiliki pangsa pasar tingkat dunia dengan harga cukup menawan. Tanaman akar wangi boleh dianggap tanaman yang mati tidak hidup pun enggan. Padahal tidak selamanya bertanam akar wangi akan merugikan, bahkan sebaliknya, tanaman akar wangi merupakan salah satu tanaman yang mampu mendukung upaya pelestarian lingkungan (misalnya menahan erosi). Sementara itu, diketahui bahwa nilai ekonomis tanaman akar wangi terletak pada akarnya yaitu sebagai bahan baku penghasil minyak atsiri. Kualitas dan kuantitas minyak akar wangi bergantung dari keadaan tanaman akar wangi itu sendiri dan cara pembudidayaan yang dilakukan oleh petani. Tanaman akar wangi cukup potensial untuk diambil minyaknya, tetapi hingga saat ini belum menarik perhatian pihak pemerintah dan investor. Dengan demikian, perkembangan tanaman akar wangi hanya berada di daerah-daerah tertentu saja. Salah satu daerah sentra produksi tanaman akar wangi adalah di Kabupaten Garut, Jawa Barat terutama di daerah sekitar hulu DAS (Daerah Aliran Sungai)

Cimanuk, tepatnya di sekitar Kecamatan Semarang, Leles, Bayongbong, Cilawe dan Cisurupan. Selain di daerah Garut, tanaman akar wangi pernah coba dikembangkan di sekitar Propinsi Jawa Tengah, seperti di daerah lereng gunung Merapi. Bahkan sebuah perusahaan swasta juga pernah mengembangkan akar wangi di lereng gunung Unggaran, seperti di Kecamatan Ambarawa dan Somowono. Namun karena berbagai sebab, petani kurang berminat sehingga perkembangan tanaman akar wangi di Jawa Tengah mengalami kemacetan. Dengan demikian, Kabupaten Garut tetap menjadi sentra penghasil minyak akar wangi yang mampu memasok 90% lebih dari total produksi minyak akar wangi Indonesia, yaitu sekitar 60-75 ton pertahun. Di daerah Garut, minyak akar wangi merupakan salah satu komoditi hasil perkebunan yang sangat potensial untuk dikembangkan, sehingga saat ini banyak warga setempat mengembangkan usaha ini. Minyak akar wangi ini memiliki aroma yang lembut dan halus, yang disebabkan oleh senyawa kimia disebut Vetiverol. Minyak akar wangi secara luas digunakan untuk pembuatan parfum, bahan kosmetik, pewangi sabun, dan obat-obatan. Selain itu, minyak akar wangi memberikan bau yang menyenangkan dan dapat tahan lama, sekaligus berfungsi sebagai pengikat, karena mempunyai daya fiksasi yang cukup kuat. Selain untuk sumber wangi-wangian, ternyata akar wangi juga dapat berkhasiat sebagai penangkal serangga. Di selatan India, secara tradisional, rumput Vetiver ditanam di sepanjang jalur tertentu sebagai batas permanen antar lahan. D. Hak Istimewa Budidaya Akar Wangi Budidaya akar wangi sendiri di Kabupaten Garut mulai dirintis sejak 1996 dengan pengukuhan keputusan Bupati Kabupaten Garut No. 520/SK.196-HUK/96, yang di antaranya menetapkan luas areal perkebunan akar wangi dan pengembangannya oleh masyarakat seluas 2.400 ha dan tersebar di 4 kecamatan, yaitu Kecamatan Samarang 1.200 ha, Kecamatan Bayongbong seluas 250 ha, Kecamatan Cilawu 200 ha, dan Kecamatan Leles seluas 750 ha. Dari luas areal pengembangan tersebut, luas yang digarap pada setiap tahunnya mencapai rata-rata 1.600 ha dan mampu menghasilkan 19.000 ton akar wangi mentah, beserta hasil olahan berupa minyak akar wangi rata-rata sebanyak 54 ton. Ini merupakan produksi tertinggi dibandingkan kabupaten lain di Indonesia. Saat ini, kegiatan pengembangan akar wangi melibatkan 4.027 orang anggota masyarakat (kepala keluarga) yang terdiri dari 1.964 orang sebagai pemilik dan 2.063

orang sebagai petani atau penggarap. Jumlah ini belum termasuk mereka yang memilih jalur industri (pembuatan minyak), kerajinan, dan perdagangan. E. Manfaat Akar Wangi Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, banyak sekali manfaat tanaman akar wangi, sehingga layak dibudidayakan dan dijadikan salah satu komoditas pertanian unggulan. Pertama, karena mengandung minyak atsiri, maka akar wangi bisa diolah menjadi minyakwangi, atau sebagai bahan dalam industri kosmetika, parfum, dan sabun mandi. Kedua, akar wangi yang sudah dikeringkan bisa dijadikan bahan baku aneka kerajinan. Misalnya tas, taplak meja, tatakan gelas, ikat pinggang, dompet, sepatu/ sandal, penutup (kap) lampu, tikar, boneka, hingga gorden. Selain bisa menjadi hiasan, harum akar wangi dipercaya bisa mengusir rayap. Ketiga, para ahli botani mengelompokkan akar wangi sebagai tumbuhan biopestisida, berarti bisa menjadi pembasmi hama serangga secara alami. Jika ditanam secara tumpangsari dengan tumbuhan lain, maka serangga tak berani mengganggu. Keempat, yang sangat penting di tengah degradasi lingkungan di Indonesia, tanaman akar wangi juga mampu mencegah erosi tanah. Akarnya yang tertanam kuat, bahkan memiliki kekuatan 1/6 dari kekuatan baja di dalam tanah, bisa mencegah tanah longsor di areal perbukitan. Dengan demikian, akar wangi layak dijadikan komoditas unggulan bagi setiap pemerintah daerah. Sebab bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga mampu menghijaukan lahan kritis dan menekan potensi terjadinya longsor. F. Posisi Produk Akar Wangi Akar wangi saat ini mengalami penurunan jumlah produksi karena banyaknya petani yang beralih bekerja pada sektor lain. Hal ini dikarenakan petani merasa dirugikan, pasalnya harga yang ditawarkan pembeli tidak sebanding dengan kerja keras petani dalam mebudidayakan akar wangi. Produk akar wangi ini masuk dalam tahap pendewasaan karena belum maksimalnya produksi akar wangi. Dalam proses pendewasaan ini ada beberapa masalah, salah satunya berupa permasalahan pada harga jual dari on farmnya, kurangnya teknologi yang memadai sehingga minyak dari hasil akar wangi ini masih kalah dengan pesain-pesaing di dunia dalam hal kualitasnya.

III. ANALISIS PASAR DAN PERSAINGAN A. Segmentasi Pasar dan Target Pasar 1) Segmentasi Geografi Dilihat dari segmentasi pasarnya, kita akan mengacu kepada pasar luar negeri. Kita memilih pasar luar negeri karena di Indonesia sendiri produk akar wangi, terutama minyaknya kurang diminati sehingga kita banyak mengekspor ke luar negeri seperti Singapura, Asia, Jepang, Hongkong, dll. 2) Segmentasi Demografi Dilihat dari segmentasi demografisnya, target pasar kami adalah remaja dan dewasa (lebih spesifiknya wanita) karena dilihat dari produk-produk yang kami tawarkan seperti minyak wangi, peralatan tradisional, dll. Kemudian dilihat dari tingkat pendapatan masyarakat, kami dapat menjualnya kepada golongan menengah keatas karena harga yang kami patok cukup beragam sesuai dengan produk yang ditawarkan. 3) Segmentasi Psikografi Dari segmentasi psikografinya, kami melihat dari produk minyak wangi yang secara umum banyak digunakan oleh remaja dan dewasa wanita maka dari itu kami lebih menspesifikasikan produk ini kepada mereka sesuai dengan gaya hidup dan kepribadiannya.

B. Analisis Pasar Sebagai salah satu bahan dasar untuk pembuatan parfum dan kosmetika lain, pemasaran minyak akar wangi sampai saat ini tidak mengalami hambatan berarti. Produksi minyak akar wangi Garut sesuai dengan kapasitas yang dimiliki, semuanya terserap pasar dengan harga memadai. Sampai saat ini sesuai data yang ada, pasar luar negeri yang menyerap produk minyak akar wangi Garut adalah para pengusaha dari kawasan Asia, Eropa dan Amerika, khususnya negara-negara seperti Singapura, India, Jepang, Hongkong, Inggris, Belanda, Jerman, Italia, Swiss, dan Amerika Serikat. Data dari Himpunan Industri Kecil Agro dan Manufaktur mengungkapkan permintaan minyak akar wangi ke Indonesia melalui beberapa trader atau eksportir

bisa mencapai 300 ton per tahun atau senilai Rp 120 miliar. Akan tetapi, menurut Ketua Himpunan Industri Kecil Agro dan Manufaktur (HIKAM), Asep Syarifudin, permintaan pasar dunia tersebut tidak bisa dipenuhi oleh kalangan petani yang selama ini proses pengelolaan dan pengolahan menjadi minyak akar wanginya masih dilakukan secara tradisional. Padahal, pangsa pasar dunia atas produk minyak akar wangi (vertivet oil) cukup tinggi, sementara negara penghasil produk tersebut masih sangat terbatas yaitu Haiti, Borbone, India, Cina, Filipina dan Indonesia. Itu pun untuk Indonesia hanya ada di Kabupaten Garut yang tersebar di empat lokasi. Jika dilihat dari target pasar yang akan kami capai, yaitu kota-kota besar, produk yang kami hasilkan akan cukup untuk kebutuhan dalam negeri saja. Bila akan mengekspor, kita belum sanggup untuk memenuhi permintaan yang ada karena dari segi teknologi dan sumber daya manusia yang berkualitasnya masih kurang. C. Analisis Persaingan Hingga kini pun, peluang ekspor masih terbuka, terutama di Asia Selatan, Asia Timur, Eropa Timur, dan Amerika Selatan. Apalagi tak banyak negara lain yang menjadi kompetitor, yang cukup menonjol hanyalah Haiti dan Borbon. Kualitas minyak akar wangi dari Haiti memang lebih baik dari akar wangi Indonesia karena teknologi yang digunakan lebih canggih daripada yang Indonesia. Untuk itu harga akar wangi di Haiti mencapai Rp 1.800.000/kg. Namun kini Haiti mengalami penurunan jumlah produksi karena terkena dampak dari tsunami Jepang. Sehingga kini fokus dunia beralih pada akar wangi Indonesia. Hal ini juga berdampak pada kenaikan harga akar wangi yang awalnya seharga Rp 800.000/kg kini naik menjadi Rp 1.300.000/kg. Kesempatan ini menjadi peluang yang baik untuk lebih meningkatkan kualitas dari akar wangi tersebut. Sehingga kualitas akan wangi Indonesia bisa menyamai Haiti dan Indonesia dapat menarik fokus dunia terhadap akar wangi di Indonesia. D. Pemasaran Akar Wangi Rencana pemasaran akar wangi kami saat ini: Minyak: SPA, Toko Parfum di sekitar kota Bandung Alasan: Produk utama dari akar wangi kami adalah berupa minyak wangi. Sasaran utama kami adalah toko parum sekitar bandung dan tempat peremajaan diri bagikaum wanita yaitu SPA. Karena,akar wangi ini dari minyaknya dapat digunakan sebagai pengikat wangi yang tahan lama . dan akarnya, bila

dicampurkan dengan aroma theraphy dapat digunakansebagai bahan baku untuk aroma theraphy yang biasanya digunakandisalon-salon atau spa. Limbah: Toko pupuk Alasan:Disamping akar wangi bisa digunakan menjadi minyak wangi, limbah dari hasil produksinya bisa diolah menjadi pupuk kompos. Sasarannya adalah toko pupuk dan perusahaan agribisnis di sekitar Sumedang,dan Bandungdengan cara mengajak bekerjasama dan meyakinkan bahwa pupuk kami berkualitas baik. Dengan cara ini kami bisa menambah relasi bisnis dan saling menguntungkan di keduabelah pihak. Kerajinan tangan : Alasan:Selain itu, akar wangi ini bisa dijadikan kerajinan tangan. Kami akan mencoba bekerjasama dengan toko rumah tangga untuk memasarkan barang kerajinan ini. Alternatif lainnya adalah membuka toko kecil yang menjual barangbarang dari akar wangi ini dan memasarkannya kepada para remaja dan ibu-ibu rumah tanggga disekitar Jatinangor dan Bandung. Cara ini digunakan supaya keuntungan yang kami dapatkan murni hak kami dan tidak terbagi dengan orang lain.