Anda di halaman 1dari 5

Nama : Tamhid Amri

NIM : 092111125
Tugas Rangkuman Sosiologi Hukum : Teori Hukum Kritis

'Beban Masa Lalu Dalam Teori Sosial
Sudah menjadi rahasia umum bahwa tokoh-tokoh besar meninggalkan beban bagi
generasi sesudah mereka. Akibatnya, generasi penerus seakan menghadapi dilema:
menjadi sekedar pelestari karya-karya agung yang diwariskan tokoh-tokoh besar, ataukah
berbekal hasrat akan kemandirian. Dalam sejarah pemikiran spekulatiI, bentuk dilema ini
memang khas. Di satu sisi, para peniru (epigone) dapat menjadi peneliti dan penaIsir
teks-teks klasik. Sebagai alternatiI agar terhindar dari pembandingan dengan para
pendahulu, mereka menekuni spesialisasi dengan resiko terjerumus ke dalam semacam
minoritas intelektual permanen.
Teori Sosial dan FilsaIat Politik
Teori sosial adalah kajian tentang masyarakat yang ciri-ciri khasnya mulai muncul
dalam tulisan-tulisan Montesquieu, tokoh-tokoh sezamannya, tokoh-tokoh sesudahnya,
dan mencapai semacam puncak pada karya Marx, Durkheim, dan Weber.
Kesatuan dan Krisis dalam Teori Sosial
Ada dua pandangan yang sering dikemukakan dalam pemikiran kontemporer
tentang ilmu-ilmu sosial, dan keduanya saling melengkapi. Pandangan pertama
menyatakan, kajian-kajian kita di masa sekarang tentang masyarakat, yang dilakukan
dicabang-cabang khusus ilmu sosial, berpijak pada konsep, metode, teori, dan asumsi
tersirat yang diwariskan kepada kita oleh teoritisi-teoritisi sosial terkemuka dari akhir
abad ke-19 dan awal abad ke-20.


Masalah Metode
Pendekatan teoritisi sosial terhadap masalah metode yang senantiasa kita hadapi
itu sebagian besar ditentukan oleh sangat terbatasnya ketersediaan pola-pola dasar
penjelasan yang ada bagi pemikiran Barat Modern. Bahkan, boleh dibilang semua
prosedur yang ada merupakan variasi dari dua jenis prosedur dasar: analisis logika dan
penjelasan kausal (sebab-akibat). Masing-masing prosedur memberikan penaIsiran
mengenai apa yang dimaksud dengan menjelaskan sesuatu, baik dalam arti
memberitahukan seperti apakah sesuatu itu-deskripsi-atau dalam arti membuktikan alasan
sesuatu itu harus berlangsung mengikuti sesuatu yang lain-penjelasan dalam arti setepat-
tepatnya.
Baik logika maupun kausalitas tidak mencapai maknanya yang sekarang ini
secara bersama-sama. Sebaliknya, keduanya mengalami sejarah yang panjang dan
berliku-liku; keduanya muncul di saat-saat tertentu, dan keduanya mengalami berbagai
perubahan.
Ada tiga keterbatasan metodologis dalam tradisi teori sosial klasik. Pertama,
sejauh ini belum ada deIinisi yang tepat dan rinci untuk metode nonkausal dan nonlogika.
Kedua, sebagian karena alasan inilah maka, hubungan antara jenis uraian yang ketiga dan
kausalitas tetap tidak jelas. Ketiga, perlu dibuktikan bahwa pernyataan-pernyataan
subjektivitas ataupun objektivitas sama-sama dapat dipertimbangkan untuk memahami
tindakan manusia.
Masalah Tatanan Sosial (Social Order)
Tahap perbincangan masalah tatanan sosial dalam teori sosial klasik tercetus dari
persaingan antara dua tradisi pemikiran. Kedua tradisi pemikiran tersebut adalah doktrin
instrumentalisme atau kepentingan pribadi dan doktrin legitimasi atau konsensus.
Terdapat dua alasan rasional mengenai hubungan umum antara gagasan-gagasan
kepentingan pribadi dengan instrumentalisme, yakni:
a. Makin luas ruang lingkupnya, makin terperinci pula muatan kepentingan-kepentingan
kolektiI; dan makin besar otoritas untuk menentukan apa yang harus diperbuat
individu, maka makin sedikit peranan yang tersisa bagi pertimbangan-pertimbangan
eIisiensi pribadi. Individu akan lebih mudah menata ulang tujuannya sendiri
berdasarkan pengetahuan akan sarana-sarana yang dimilikinya daripada
mempengaruhi tujuan-tujuan bersama milik kelompok.
b. Gagasan untuk memanipulasi alam, yang dicontohkan oleh instrumentalisme, juga
menyatakan gagasan untuk memanipulasi manusia lain. Alam maupun manusia lain
itu merupakan dunia eksternal yang berbeda dengan dunia individu.

Masalah Kemodernan
Bagi semua teoritisi sosial klasik, upaya untuk menetapkan pandangan yang
komprehensiI tentang manusia dan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari minat untuk
memahami kondisi dan prospek-prospek zaman mereka. Hal ini yang kemudian
mengantarkan mereka pada perbedaan cara pendekatan terhadap masyarakat, hingga
sampai pada masalah perumusan konsepsi kemodernan. Hubungan antara ideologi dan
aktualitas dalam kehidupan modern membutuhkan kejelian tersendiri. Sikap para teoritisi
sosial klasik terhadap hubungan ini tercermin pada reaksi mereka terhadap garis
pemikiran doktrin kontrak sosial.
Watak Dasar Manusia dan Sejarah
Teori tentang watak dasar manusia tidak boleh langsung membatasi diri pada
deskripsi. Gambaran umum tentang manusia yang mencirikan keadaannya di dunia
menyiratkan manusia bisa menjadi apa dan seharusnya menjadi apa. Sebaliknya, pilihan
di antara pandangan-pandangan yang mungkin tentang kemanusiaan cenderung
terpengaruh perspektiI moral dan politik yang tidak mungkin seluruhnya didukung oleh
pandangan yang dipilih seseorang.


Hukum
a. Hukum terlibat dalam masalah metode.
b. Kajian terhadap hukum berhubungan erat dengan masalah tatanan sosial.
c. Resolusi untuk masalah kemodernan mengharuskan kita menemukan hubungan antara
Hukum Dan Bentuk-Bentuk Masyarakat
Tiga Konsep Hukum
1. Hukum Adat (hukum sebagai interaksi)
2. Hukum Birokratis
3. Tatanan Hukum

KASUS CHINA : SEBUAH ANALISIS KOMPARATIF


Hipotesis
Peradaban China, terutama pada era yang berlangsung sejak awal periode Musim
Semi dan Musim Gugur sampai penyatuan di zaman Ch`in dan berdirinya Negara kaisar
pada 221 SM. Masyarakat disini tumbuh dan mengandalkan peraturan publik dan
peraturan positiI sebagai alat kontrol politik. Pembandingan dengan China sebagai kasus
yang bertolak belakang, menjanjikan akan memperdalam wawasan kita tentang hubungan
kompleks antara cara-cara pengaturan social, jenis-jenis kesadaran, dan bentuk-bentuk
tatanan normatiI.
Batas-Batas Perbandingan Dengan Cina : Pengalaman Peradaban-Peradaban Yang Lain
Ada dua jenis situasi utama yang dalam hal-hal tertentu mendekati rule oI law,
sementara dalam hal-hal lainnya tidak teralalu mendekati. situasi pertama meliputi
hukum agama di India kuno, Islam, dan Yudaisme. Dan yang kedua adalah sejarah
hukum Yunani-Romawi.
Hukum Sebagai Respon Terhadap Merosotnya Ketertiban
Situasi yang digambarkan oleh pandangan konsensus terhadap tatanan sosial
merupakan dasar bagi hukum interaksional. Adat istiadat tumbuh subur sampai mencapai
tahap ada kesatuan pemahaman dan ideal yang berpadu erat, menyebar luas, saling
berkaitan secara koheren, dengan norma-norma yang konkret dan dipegang teguh. Dalam
situasi yang memunculkan hukum birokratis, penguasa atau kelompok yang berkuasa
bisa melihat masyarakat dari sudut pandang doktrin instrumentalis.
Hukum publik dan hukum positiI menjadi sarana untuk memanipulasi relasi
sosial atas nama kebijakan-kebijakan yang sengaja dipilih oleh kelompok yang berkuasa.
Pemisahan Negara dari masyarakat menciptakan wahana institusional untuk kontrol
tersebut. Selama ribuan tahun manusia memandang alam dan masyarakat sebagai
perlambang tatanan suci yang siIatnya hidup sendiri. Bentuk eksistensi dan kesadaran
yang benar-benar berbeda hanya muncul di dalam lingkup sejarah yang relative modern.
Setiap upaya solusi terhadap krisis tatanan tersebut terbatas kemampuannya dalam
mengesahkan kesepakatan sosial.