Anda di halaman 1dari 10

Control Chart For Variable

Control chart untuk proses dalam keadaan tidak terkendali karena ada nilai-nilai karakteristik kualitas berada di luar batas-batas kontrol (berada di atas UCL atau di bawah LCL). Hal ini berarti bahwa proses berada di luar pengendalian karena adanya variasi yang disebabkan oleh penyebab khusus. Untuk dapat mengendalikan proses, maka perusahaan perlu menghilangkan penyebab khusus itu dan mengambil tindakan yang tepat untuk mencegah munculnya kembali faktor-faktor penyebab khusus tersebut. Hal ini akan membiarkan variasi yang terjadi adalah semata-mata karena adanya penyebab umum saja. Selain itu control chartl disebut juga out control walaupun semua titik karakteristik kualitas yang diperiksa berada di dalam batas kendali tetapi menunjukkan pola tidak natural yang disebabkan oleh penyebab khusus.

Data variabel menunjukkan karakteristik kualitas yang memiliki dimensi kontinu yang dapat mengambil nilai-nilai kontinu dalam kemungkinan yang tidak terbatas, seperti:

panjang, kecepatan, bobot, volume, dan lain-lain. Chontrol chart variabel menggunakan parameter rata-rata dan simpangan baku. Simpangan baku merupakan variasi yang disebabkan oleh penyebab umum. Biasanya control chart variabel yang umum digunakan adalah “control chart 3 sigma”. Akan tetapi di Jepang banyak perusahaan yang menggunakan “control chart 6 sigma” dengan pengendalian kualitas yang sangat ketat dan menggunakan ukuran kecacatan dalam satuan part per million. Perusahaan Jepang yang biasa menggunakannya adalah perusahaan elektronik. Contoh tingkat kerusakan produk adalah 25 ppm, artinya dalam 1 juta unit yang diproduksi hanya ditemui produk cacat sebanyak 25 unit.

Manfaat dari penggunaan control chart variabel adalah :

Peningkatan kualitas.

Menentukan kemampuan proses.

Membuat keputusan dalam menentukan proses produksi.

Membuat keputusan dalam menentukan spesifikasi produk.

Menentukan apakah produk yang dihasilkan sekarangdapat terus dihasilkan oleh proses produksi berikutnya atau tidak.

1

Jenis-jenis Control chart variabel :

1)

Xbar R chart

Pada dasarnya setiap peta kontrol memiliki:

Central line (CL).

Control limit, yang terdiri dari batas kontrol atas (UCL) dan batas kontrol bawah (LCL).

Tebaran nilai karakteriktik kualitas yang menggambarkan keadaan dari proses.

Xbar

R

chart

digunakan

berdimensi kontinu.

untuk

memantau

proses

yang

mempunyai

karakteristik

Control chart X menjelaskan perubahan-perubahan yang terjadi pada ukuran titik pusat

atau rata-rata dari suatu proses. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor-faktor seperti

peralatan yang dipakai, perbedaan metode yang digunakan pada shift kedua, material

baru, tenaga kerja baru yang belum dilatih, dll.

Control chart R menjelaskan mengenai perubahan-perubahan yang terjadi dalam ukuran

variasi, yaitu perubahan homogenitas produk yang dihasilkan melalui suatu produk. Hal

ini mungkin disebabkan oleh faktor-faktor seperti: bagian peralatan yang hilang, minyak

pelumas mesin yang tidak mengalir dengan baik, kelelahan pekerja, dll.

Setelah mendapatkan control chart X dan R yang menunjukkan bahwa proses berada

dalam

pengendalian

statistika,

maka

peta

kontrol

tersebut

dapat

digunakan

untuk

memantau proses yang sedang berlangsung dari waktu ke waktu. Kemudian setelah

ditemukan

adanya

perubahan-perubahan

proses

(orang,

material,

metode

kerja,

lingkungan, dll) maka perubahan tersebut harus dicatat.

Contoh kasus

PT.

Tri

Plywood

adakah

perusahaan

pembuatan

produk

kayu

lapis.

Berdasarkan

permintaan pelanggan ditetapkan spesifikasi ketebalan dari produk kayu lapis itu adalah:

2

2.40 mm ± 0.05 mm. Untuk mengetahui kemampuan proses dan mengendalikan proses

produksi, maka QC Dept. melakukan pengukuran terhadap 20 sampel, masing-masing

berukuran (n) 5 unit. Data yang diperoleh sebagai berikut :

   

Tebal kayu lapis

Sampel

X1

X2

X3

X4

X5

1

2.38

2.45

2.4

2.35

2.42

2

2.39

2.4

2.43

2.34

2.4

3

2.4

2.37

2.36

2.36

2.35

4

2.39

2.35

2.37

2.39

2.38

5

2.38

2.42

2.39

2.35

2.41

6

2.41

2.38

2.37

2.42

2.42

7

2.36

2.38

2.35

2.38

2.37

8

2.39

2.39

2.36

2.41

2.36

9

2.35

2.38

2.37

2.37

2.39

10

2.43

2.39

2.36

2.42

2.37

11

2.39

2.36

2.42

2.39

2.36

12

2.38

2.35

2.35

2.35

2.39

13

2.42

2.37

2.4

2.43

2.41

14

2.36

2.38

2.38

2.36

2.36

15

2.45

2.43

2.41

2.45

2.45

16

2.36

2.42

2.42

2.43

2.37

17

2.38

2.43

2.37

2.39

2.38

18

2.4

2.35

2.39

2.35

2.35

19

2.39

2.45

2.44

2.38

2.37

20

2.35

2.41

2.45

2.47

2.35

Langkah-langkah analisis.

(1)

Klik Analize > Quality Control > Control Charts

(2)

Pilih X-bar R Chart, s klik Define

(3)

Masukkan variabel tebal kayu lapis ke kolom Process Measurement

(4)

Masukkan variabel sampel ke kolom Subgroups define by

(5)

Klik tombol Control Rule, pilih All control rules

(6)

Klik Continue kemudian OK

3

Hasil Output SPSS

Hasil Output SPSS Http://susenobimo.blogspot.com Rule Violations for X-bar Sampel Violations for Points 15
Hasil Output SPSS Http://susenobimo.blogspot.com Rule Violations for X-bar Sampel Violations for Points 15

Rule Violations for X-bar

Sampel

Violations for Points

15

Greater than +3 sigma

1 points violate control rules.

Pada diagram pertama di atas adalah X bar yang menggambarkan rata-rata ketebalan

kayu lapis. Setiap plot dalam X bar adalah variasi antara subgrup atau variasi antara

4

rata-rata ketebalan kayu lapis. Pada diagram kedua adalah range,menggambarkan

proses variasi dalam satu grup. Nlai kontrol limit adalah sebagai berkut :

(1) Control limit X bar adalah LCLx = 2,3543, Center line = 2,3886, UCLx = 2,4229

(2) Control limit Range adalah LCLr = 0,000, Center line = 0,595, UCLr = 0,1258

Tanda “Rule Violation” menunjukan ada kejadian special causes variation terlihat

pada diagram X bar. Special causes ini terjadi pada plot atau sampel 15. Oleh karena

itu proses produksi dihentikan dan mencari penyebab special cause ini.

2) Selanjutnya kita akan mencoba control chart X bar s chart dengan menggunakan data

seperti di atas.

Langkah-langkah :

1)

Klik Analize > Quality Control > Control Charts

2)

Pilih X-bar R Chart, s klik Define

3)

Masukkan variabel tebal kayu lapis ke kolom Process Measurement

4)

Masukkan variabel sampel ke kolom Subgroups define by

5)

Pada kolom charts pilih using X-bar using standartd deviation

6)

Klik tombol Control Rule, pilih All control rules

7)

Klik Continue kemudian OK

5

Hasil Output SPSS

Hasil Output SPSS Http://susenobimo.blogspot.com 6
Hasil Output SPSS Http://susenobimo.blogspot.com 6

6

Rule Violations for X-bar

Sampel

Violations for Points

15

Greater than +3 sigma

1 points violate control rules.

Rule Violations for SD

Sampel

Violations for Points

20

Greater than +3 sigma

1 points violate control rules.

Nilai kontrol limitnya adalah :

(1) Control limit X bar adalah LCLx = 2,3543, Center line = 2,3886, UCLx = 2,4229

(2) Control limit standar deviation adalah LCLs = 0,000, Centerl line = 0,0253, UCLs =

0,0529.

Pola diagram menunjukan adanya out of control atau terjadi special causes terlihat pada

sampel 15 (diagram X bar) dan sampel 20 pada diagram standar deviasi. Oleh karena itu

perlu dilakukan pemberhentian proses produksi dan dicari penyebab-penyebabnya.

3) I-MR Chart (Individual Moving Range)

Kadangkala ukuran sampel yang digunakan perusahaan adalah sebesar 1 (n = 1).

Seringkali terjadi apabila pemeriksaan dilakukan secara otomatis dan juga terjadi pada

tingkat produksi yang sangat lambat. Hal ini mengakibatkan timbulnya kesukaran untuk

mengambil ukuran sampel lebih besar daripada 1. Perusahaan yang mengalami kondisi

seperti ini misalnya pada pabrik kimia.

Pembuatan peta kontrol I-MR diterapkan pada proses yang menghasilkan output relatif

homogen, misalnya dalam cairan kimia, kandungan mineral dari air, makanan, dan lain-

lain. Dapat pula diterapkan pada kasus-kasus di mana inspeksi 100% digunakan untuk

proses produksi yang sangat lama.

Contoh kasus

PT. ABC adalah perusahaan pembuat produk kimia. Untuk mengetahui kemampuan

7

proses, QC Departemen perusahaan melakukan pengukuran sebagai sampel. Didapat

sampel sebagai berikut :

Sampel

Kekentalan (X)

1

33.75

2

33.05

3

34

4

33.81

5

33.46

6

34.02

7

33.68

8

33.27

9

33.49

10

33.2

11

33.62

12

33

13

33.54

14

33.12

15

33.84

Langkah-langkah :

(1)

Klik Analize > Quality Control > Control Charts

(2)

Pilih Individual Moving Range klik Define

(3)

Masukkan variabel kekentalan ke kolom Process Measurement

(4)

Masukkan variabel sampel ke kolom Subgroups define by

(5)

Klik tombol Control Rule, pilih All control rules

(6)

Klik Continue kemudian OK

8

Hasil Output SPSS

Hasil Output SPSS Http://susenobimo.blogspot.com 9
Hasil Output SPSS Http://susenobimo.blogspot.com 9

9

Diagram pertama menggambarkan nilai individual dari kekentalan kimia dan diagram

kedua menggambarkan range antara tiap urutan nilai. Untuk tanda Rule Violation : No

berarti tidak ada out of control atau special cause variation sehingga proses produksi

dapat terus dijalankan karena proses produksi in control.

10