Anda di halaman 1dari 56

PEK IN THO (Pulau Awan Putih) Oleh: Bu Beng Siaucay Kisah ini adalah lanjutan dari kisah BU KEK

SIANSU (Manusia Setengah Dewa) dari karya suhu Asmaraman Kho Ping Hoo. Kisah ini dimulaipada zaman dinasti Manchu dipangku oleh Kaisar Tao Kuang (1820-1850). Tentang munculnya ilmu-ilmu pusaka Pulau Es dunia Bu-lim. Ilmu-ilmu itu digunakan oleh para datuk sesat untuk mengacau kang-ouw. Bagaimana sepak terkang para datu ksesat dan para pendekarnya? semuanya akan dijelaskan lengkapdi kisah Pel In Tho. Dan apa hubungan Pek In Tho dengan Pulau Es.

PEK IN THO Bab Pertama I- Kabar Mengejutkan! China dalam sejarahnya pernah diperintah oleh dua bangsa non-Han (Bukan Penduduk Asli China), yaitu Bangsa Manchuria dari klan Aisin Gioro yang mendirikan dinasti Manchu atau Qing (Ching) setelah runtuhnya dinasti Ming. Sedangkan bangsa ke dua adalah bangsa Mongolia yang mendirikan dinasti Yuan. Dinasti Manchu memerintah China tahun 1644-1911, begitu lama dan hebat. Dinasti Manchu mulai terlihat pamornya ketika kekuasaan dipegang oleh Kaisar Kang Hsi (1663-1722). Kaisar Kang Hsi mengatur pemerintahannya dengan bijaksana. Bermacam-macam peristiwa seperti pemberontakan, korupsi dan serangan-serangan dari bangsa lain berhasil digagalkan dengan baik pada masanya ini. Hingga China dipimpin oleh Kaisar bijaksana ini mulai terlihat gemilang dari berbagai segi, baik politik, ekonomi, budaya dan keilmuan. Selanjutnya tampu estafet pemerintahan dinasti Manchu dipimpin oleh Kaisar Yong Zheng (1723-1735), pada masa ini ekonomi China maju sangat pesat, karena Kaisar Yong mengatur pemerintahannya dengan ketat dan keras. Kaisar Yong terkenal sebagai Kaisar pekerja keras, maka tidak heran kalau berbagai pergolakan dan penyerangan dari bangsa lain, seperti Mongol, Kazak dan lain-lain bisa dipadamkan dengan baik. Walaupun pergolakan dari dalam masih belum bisa dipadamkan dengan sangat baik. Pada Masa Kaisar Kian Liong (1735-1796) inilah pemerintahan bangsa Manchu benar-benar bisa dibilang sangat cemerlang. Kepandaian mengatur pemerintahan dan kebijaksanaannya bisa dibilang tidak kalah hebatnya dari kakeknya Kaisar Kang Hsi, bahkan melebihi kakeknya. Kaisar terkenal dengan seorang yang sejak muda telah berbaur dengan penduduk pribumi, bahkan pengetahuannya tentang sastra dan budaya China sangat mendalam. Tidak heran jika dikemudian hari ketika ia menjadi Kaisar, ia bisa menggabungkan dan menganjurkan bangsawan dan penduduk Manchu untuk berbaur dengan penduduk asli Han. Pada masa itu kemajuan dicapai lebih hebat dan pesat daripada masa kepemimpinan kakeknya, karena pada masa ini bangsa Manchu telah berhasil berbaur dengan bangsa Han atau penduduk pribumi. Setelah memangku pemerintahan cukup lama, akhirnya pemerintahan diserahkan kepada putranya yang kelima belas Pangeran Cia yang bernama Cia Cing (1796-1820). Pada masa ini, korupsi yang dilakukan oleh para pejabat dan bangsawan Manchu semakin merajalela sehingga sangat melemahkan pemerintahan. Pemerintahan yang dipegang oleh Kaisar Cia Cing terus melemah, walaupun begitu Kaisar Cia Cing berhasil memegang pemerintahannya cukup lama sampai Kaisar meninggal dan digantikan puteranya. Pangeran Tao Kuang berhasil naik tahta setelah berhasil menyingkirkan banyak saudara-saudaranya. Pangeran yang terkenal cakap dan cukup bijaksana ini akhirnya menjadi Kaisar menggantikan ayahnya Kaisar Cia Cing. Kaisar Tao Kuang (1820-1850) memerintah dinasti Manchu dengan sedikit kelelahan, akibat beberapa masalah warisan dari ayahnya, seperti korupsi dan semakin hebatnya para pejuang bangsa Han yang ingin memerdekakan tanah airnya dari jajahan bangsa Manchu. Kisah ini dimulai pada dinasti Manchu yang diperintah oleh Kaisar Tao Kuang. Pada masa ini hubungan pemerintah China dengan bangsa lain sudah sedemikian baiknya, sehingga banyak bangsa lainnya yang datang ke China. Hubungan dengan barat sangat baik, karena hubungan ini adalah hubungan bilateral negara yang waktu itu sudah mulai terkenal. Orang-orang barat banyak yang datang ke China untuk mencari rempah-rempah dan kain sutera yang banyak ditemui di China. Hubungan dengan barat tidaklah sedemikian

mulusnya, karena dibalik kedatangan bangsa barat di China selain untuk berdagang juga mempunyai tujuan lainnya. Tujuan yang terbesit dari hati rakus inilah yang menyebabkan kondisi bangsa China saat itu menjadi semakin lemah dan memperihatinkan. Kedatangan orang barat ke China tidak hanya membawa kemanfaatan bagi rakyat China, bahkan mereka membawa bibit penyakit yang selanjutnya menjadikan sebagian rakyat China terkena getahnya. Candu yang dibawa oleh orang-orang barat sudah mulai terlihat merusak bangsa China pada zaman Kaisar Tao Kuang memegang tali kendali dinasti Manchu. Belum lagi kedatangan orang-orang Jepang yang juga merusak kondisi China yang memang sebelumnya sudah tidak baik. Dua bangsa asing ini adalah dua perkara yang sangat memusingkan bagi pemerintahan Manchu di tangan Kaisar Tao Kuang. Belum lagi geliat pemberotakan rakyat semakin menjadi-jadi, sehingga pukulan hebat bagi dinasti Manchu pada masa itu banyak dari dalam dari pada dari luar. Suasana menjadi semakin ruetnya hingga Kaisar Tao Kuang sudah tidak lagi memperhatikan kondisi dunia kang-ouw. Pemberontakan yang dilakukan oleh bangsa Han untuk merebut kembali tanah airnya semakin hari semakin gencar. Kaisar Tao Kuang sebenarnya termasuk kaisar yang cakap, karena disaat kondisi pemerintahannya yang semakin banyak masalah ia masih mampu memegang kursi kekaisaran dengan kuat. Ia memerintah selama hampir tiga puluh tahun lamanya, lebih lama dari pada mendiang Kaisar Cia Cing yang hanya berhasil memegang pemerintahannya sampai 24 tahun. Pemberontakan dari bangsa Han dan siasat licik dari berbagai negara di luar yang ingin melemahkan dan merusak kondisi bangsa China waktu itu benar-benar sangat ampuh dan menakutkan, apalagi Candu atau Mandat yang dibawa oleh bangsa Eropa ke daratan China sudah banyak merusak para pemudanya. Suasana sulit dikontrol, kaisar Tao Kuang benarbenar harus memeras otaknya untuk menetralisir keadaan bangsanya. PEK IN THO ke 2 Saat itulah, ketika pemerintahan sedang menyelidiki kebenaran keterlibatan dua bangsa asing dengan para pemberontakan dan memerangi beberapa pemberontak. Di dunia kang-ouw tersiar kabar yang sangat mendebarkan. Para pendekar dan penjahat keluar dari sarangnya untuk memastikan bahwa kabar yang mereka dengar benar. Sejenak mereka seperti hampir melupakan pemberontakan yang sudah lama mereka lakukan. Kabar itu seperti sebuah magnet yang dapat menarik para pendekar dan penjahat untuk keluar dari tempat tinggal masing-masing. Terdengar kabar di dunia kang-ouw bahwa di lautan Po-hai sebelah utara muncul pulau baru yang dihuni oleh manusia-manusia aneh dan sakti. Kabar ini mulai tersiar dari mulut ke mulut setelah enam bulan yang lalu terjadi kejadian yang sangat hebat di pesisir pantai Po-hai yang berada di Shan-tung dan Jiang-su. Di pinggiran laut Po-hai di pantai Shan-tung dan Jiang-su bergelimpangan puluhan mayat dari bangsa Jepang dan China. Mereka tewas bukan karena kapal yang mereka tumpangi tenggelam akibat badai seperti biasanya, namun akibat sebuah perkelahian hebat di tengah lautan. Sejak terjadi musibah itu, banyak nelayan di tempat itu melihat belasan perahu kecil yang dinaiki tiga sampai lima orang berkeliaran di tengah lautan lepas. Mereka berputar-putar dengan perahu kecil mengitari ratusan pulau yang ada di tengah lautan lepas. Para penumpang itu melarang para nelayan untuk mencari ikan terlalu jauh di beberapa pulau yang mereka itari, sepertinya mereka sedang melakukan patroli atau sedang mencari sesuatu di salah satu pulau di sana. Orang-orang yang memakai pakaian serba putih dan ikat rambut berwarna emas bergambar naga dengan perahu tanpa layar dan dapat melaju cepat di lautan lepas itu tampaknya adalah orang-orang yang sudah berilmu tinggi. Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang sedang mereka lakukan di lautan lepas seperti itu? dan dari mana orang-orang berperahu itu datang, karena kebanyakan para nelayan tidak pernah melihat mereka datang dan perginya. Para nelayan hanya sering bertemu di tengah lautan sebentar saja dan lalu menghilang dengan cepatnya di antara ratusan pulau di sana laksana setan. Hanya saja para nelayan berhasil menyelamatkan beberapa orang yang masih hidup di pinggiran laut ketika terjadi peristiwa mengegerkan itu. Orang-orang yang dapat hidup itu lalu menceritakan tentang bagaimana terjadinya peristiwa tewasnya kawan-kawan mereka. Hampir semuanya dapat bercerita yang sama, yaitu mereka berasal dari para bajak laut yang diupah oleh sekelompok orang dari Jepang dan China untuk melakukan penyerangan ke sebuah pulau yang ada di tengah-tengah lautan Po-hai sebelah utara. Pulau yang disebut oleh mereka dengan Pek In Tho atau Pulau Awan Putih sebetulnya sudah tidak asing lagi bagi mereka, karena mereka sudah pernah mendengarnya bertahun-tahun, namun tidak ada satu kelompok bajak laut pun yang berani menyatroni atau mendekati pulau itu. Mungkin karena sekitar pulau itu sangat

menyeramkan karena di pinggiran pulau itu tersembunyi banyak pusaran laut yang dapat menenggelamkan perahu mereka, atau udara kabut putih yang mengelilingi pulau itu beracun. Namun setelah mereka mendapatkan upah yang besar untuk membantu sekelompok orang dari Jepang dan China untuk masuk daerah menakutkan itu, bahkan teman-teman seperjuangan mereka sesama bajak laut dari kelompok lain juga ikut. Akhirnya mereka menyanggupi untuk membantu kelompok Jepang dan China itu. Baru saja mereka mendekati pulau bekabut putih itu, mereka sudah dihadang oleh belasan perahu kecil dengan penumpang memakai pakaian serba putih. Hanya terdengar sebentar saja mereka berbicara, kelompok Jepang minta izin untuk masuk ke dalam Pulau Awan Putih untuk mengambil beberapa Swat-lian (Teratai Salju) yang ada di pulau itu. Namun kelompok berbaju putih tidak memberikan izin, bahkan menyuruh mereka kembali ke daratan. Setelah mendengar perintah itu, pemimpin Jepang menyuruh para bajak laut sewaannya untuk menggempur kelompok berbaju putih. Pertempuran di tengah laut pun tidak terelakkan lagi, nyananya kepandaian puluhan orang berbaju putih itu hebat sekali, sehingga dalam sekejap saja di tengah lautan bergelempangan mayat. Sehari penuh mereka melakukan pertempuran dan hanya sedikit dari kelompok Jepang yang bisa meloloskan diri. Mayat-mayat di tengah lautan itu sebagian dimakan oleh ikan-ikan hiu yang memang banyak berkeliaran di sana dan sebagian lainnya terdampar di pesisir China. Kapal-kapal mereka berhasil digulingkan sehingga kehancuran dipihak mereka tidak terelakkan lagi. Orangorang yang dapat menceritakan itu sampai bersumpah tidak akan pergi ke lautan luas lagi. Karena hati mereka benar-benar takut kalau mengingat sepak terjang orang-orang berbaju putih yang seperti para dewa itu. Cerita dari para bajak laut yang masih hidup inilah yang membuat para orang-orang kang-ouw menjadi gempar. Orang-orang kang-ouw menjadi semakin penasaran tentang cerita adanya kehidupan di tengahtengah lautan luas. Banyak sebagian orang kang-ouw yang tiba-tiba teringat dengan sepak terjang para pendekar dari Pulau Es yang selama ratusan tahun menggemparkan dunia kang-ouw. Apakah orang-orang berbaju putih dengan kepandaian tidak terukur itu ada hubungannya dengan para pendekar Pulau Es yang sudah lama hilang?. Tidak ada yang mampu menjawab. Dan kenapa orang-orang Jepang sangat ngotot untuk masuk ke Pulau Awan Putih dan apa hubungannya peristiwa itu dengan Swat-lian yang diminta kelompok orang Jepang?. Sejak itu lautan Po-hai sering didatangi oleh kapal-kapal, baik kecil maupun besar. Mereka adalah sekelompok orang-orang kang-ouw yang datang ingin memastikan kebenaran cerita yang mereka dengar. Ratusan orang kang-ouw datang ke tengah lautan, namun mereka tidak pernah menemukan sebuah pulau dengan ciri-ciri yang pernah dituturkan oleh para bajak laut yang masih hidup. Ada ratusan pulau di tengah lautan maha luas itu, bahkan jaraknya ada yang saling menjauh, sehingga tidak mungkin bagi seseorang mendatangi satu persatu pulau-pulau itu. Juga diantara pulau-pulau itu banyak sekali yang serupa dengan ciri-ciri Pulau Awan Putih. Akhirnya banyak orang kang-ouw yang kecewa karena tidak pernah menemukan pulau yang mereka tuju. Mereka kembali ke darat setelah mengarungi lautan luas berbulan-bulan tanpa hasil. Walaupun begitu, kabar angin ini masih sering dibicarakan oleh orang-orang kang-ouw dan ada yang masih tetap bertempat tinggal di tengah lautan untuk mencari Pulau Awan Putih hingga berbulan-bulan lamanya. Ternyata pulau ini tidak mudah didatangi orang, seperti mimpi saja. PEK IN THO ke 3 Pesisir daerah Shan-tung sebelah timur pagi itu begitu indah. Mentari pagi terlihat seperti bola merah membara di sebelah timur. Matahari sebagai sumber kehidupan saat ini baru mulai naik dan terlihat melayang di atas lautan lepas Po-hai timur. Lautan tampak tenang, ombak yang terlihat saling berkejarkejaran cukup santun. Di tengah-tengah lautan lepas sana terlihat kapal kecil sedang melenggok-lenggok mengikuti arus air. Bulatan matahari yang bersinar merah terang itu berada pas di atas kapal itu. Di atas kapal kecil itu berdiri seorang pemuda memakai jubah berwarna putih. Pemuda dengan umur delapan belas tahun itu mempunyai muka lonjong berkulit putih mulus. Hidungnya Manchung dan dua matanya memancarkan sinar kelembutan dengan dua alis hitam tebal berbentuk golok. Pemuda itu tampak tersenyum ketika dua matanya melihat gundukan tanah yang luas. Rambutnya yang panjang diikat peta emas sehingga tampak begitu gagah. Buntalan yang ada di belakangnya tidak begitu besar. Apakah ini daratan yang sering kubaca dari berbagai literatur kuno? Benar-benar mengagumkan! katanya sendiri mengagumi keindahan daratan yang sepertinya baru dilihatnya.

Akhirnya keinginanku selama ini benar-benar tercapai!? katanya sambil membiaskan senyuman senang. Hatinya benar-benar berbunga karena impiannya untuk dapat melihat daratan telah tercapai. Pemuda itu bernama Kim Liong atau Naga Emas berasal dari sebuah pulau di tengah-tengah lautan Po-hai sebelah utara. Pemuda yang baru datang di daratan China setelah sehari-semalam pelayarannya dari tengah-tengah lautan lepas ini berasal dari Pulau Awan Putih. Kedatangannya ke daratan luas, disamping ingin meluaskan pengalamannya di daratan, juga karena ada beberapa tujuan khusus. Sebenarnya Kim Liong datang ke daratan tanpa perizinan dari keluarganya di Pulau Awan Putih, bisa dikatakan ia melarikan diri dari tempat kelahirannya. Sudah lama sekali ia memendam keinginannya untuk melihat-lihat daratan luas, namun keluarganya mencegahnya. Nenek moyangnya bisa dikatakan sangat jarang keluar Pulau, sehingga mereka adalah orang-orang yang tidak pernah melihat bagaimana daratan luas. Penduduk Pulau Awan Putih yang pernah datang ke daratan bisa dikatakan sedikit sekali, mereka datang ke daratan hanya karena ingin membeli beberapa kebutuhan pokok secara besar-besaran. Pulau Awan Putih adalah pulau yang sangat misterius di zaman saat ini, hampir tidak ada orang yang tahu di mana letak pulau ini. Namanya saja baru terdengar santer di daratan baru-baru ini, setelah terjadi perkelahian besar-besaran di tengah lautan. Sudah ratusan tahun penduduk Pulau Awan Putih dari generasi ke generasi hidup di sana. Hidup jauh dari keramaian dan keruwetan hidup. Selama ini mereka hidup dengan penuh kedamaian tanpa ada gangguan dari orang lain. Sehingga banyak penduduk Pulau Awan Putih yang lebih betah hidup di sana dan tidak mau meninggalkan pulau tempat kelahiran mereka barang sebentar pun. Walaupun mereka hidup di kejahuan, namun jangan dikatakan kehidupan mereka sangat primitif dan tidak tahu apa-apa. Orang yang menduga seperti ini sangat salah, bahkan sebaliknya mereka adalah orang-orang yang maju. Penduduk Pulau Awan Putih tidak hanya diajarkan ilmu-ilmu silat tinggi, akan tetapi juga diajarkan baca tulis dan agama-agama Budha, Hindu dan paham-paham seperti Taoisme dan lain-lain. Hampir semua penduduk Pulau Awan Putih bisa membaca dan menulis, buku-buku yang ada di sana juga sangat banyak. Baik tentang agama, sastra, sejarah dan ilmu silat sangat banyak. Saking banyaknya buku hingga bisa ditemukan ratusan buku kuno yang telah berumur lebih dari 500 tahun. Seorang anak penduduk Pulau Awan Putih tidak akan diajar sekedar untuk bisa membaca bahasa yang digunakan saat ini, namun mereka juga diajarkan untuk dapat memahami bahasa-bahasa yang sudah berumur ratusan tahun itu juga. Bahkan informasi terbaru didaratan seputar dunia kang-ouw bisa mereka dengar dengan cepat, karena ada sebagian penduduk Pulau Awan Putih yang hidup di daratan sebagai penyalur informasi kepada mereka yang ada di tengah lautan. Maka tidak heran jika kemajuan berpikir dan ilmu silat mereka juga sangat hebat. Lebih-lebih sebenarnya hubungan Pulau Awan Putih dengan Pulau Es dahulu sangat dekat. Maka benar apa yang banyak diduga oleh para orang-orang kang-ouw bahwa ada kemungkinan Pulau Awan Putih mempunyai hubungan dengan Pulau Es. Namun sayang Pulau Es sudah hancur sehingga tidak lagi dihuni oleh barang seorang pun. Begitu pun dengan anak murid dari para pendekar Pulau Es sudah tidak lagi terlihat di antara orang-orang kang-ouw. Hanya ilmu-ilmu Pulau Es masih terdengar digunakan oleh beberapa orang-orang kang-ouw, namun sekali lagi sayang karena pengguna ilmu-ilmu itu bukan lagi seorang pendekar seperti para pendekar budiman dari Pulau Es. Malahan ilmu-ilmu itu digunakan oleh beberapa tokoh jahat yang jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan anak murid Pulau Es. Entah mengapa para datuk jahat tiba-tiba banyak yang bisa menggunakan ilmu-ilmu khas Pulau Es, padahal para pendekar atau ilmu-ilmu khas Pulau Es sudah puluhan tahun tidak terdengar lagi kabarnya. Tidak ada satu pendekar budiman pun yang muncul dan mengaku murid dari para pendekar Pulau Es setelah terdengarnya para datuk jahat muncul. Padahal ilmu-ilmu khas Pulau Es sangat hebat sehingga saat ini jarang ada orang kang-ouw bisa menandinginya. Bisa ditebak bagaimana kondisi dunia kang-ouw setelah munculnya para datuk sesat dengan memakai ilmu-ilmu khas Pulau Es?. Kondisi dunia kang-ouw saat ini banyak dipegang oleh tokoh-tokoh jahat. Karena belum ada satu pendekar pun yang bisa menandingi tokohtokoh sesat itu. Dan tiba-tiba di tengah-tengah kegelisahan orang-orang akibat sepak terjang para penjahat muncul sebuah nama pulau baru dengan orang-orang sakti di dalamnya. Sehingga banyak orang-orang kang-ouw seperti terseret dengan lamunan masing-masing, yaitu berharap akan muncul naga hebat yang dapat meredamkan kekhawatiran mereka. Harapan dari para pendekar inilah yang menjadikan nama Pulau Awan Putih semakin hari semakin sering dibicarakan orang. Dan ditambah kekhawatiran sedikit orang-orang hitam setelah

mendengar nama pulau ini. Walaupun hingga kini kondisi dunia kang-ouw masih dipimpin oleh orang-orang jahat, namun harapan mereka selalu ada. Kim Liong meloncat dari atas perahunya dengan ringan. Sambil berdiri di pinggiran lautan, ia mencoba menerawang jauh kemana ia harus memulai perjalanannya kali ini. Pemuda yang mempunyai darah panas ini hanya melihat di depannya membentang hutan yang lebat dan pegunungan yang tinggi. Ia tidak tahu benar dimana ia saat ini berpijak. Sebelah kanan dan kirinya tidak ada sedikit pun tanda-tanda kehidupan atau pedesaan. Semoga di ujung hutan sana aku dapat menemukan pedesaan, sehingga bisa menanyakan perjalanan selanjutnya. Sambil berpikir demikian kakinya sudah dilangkahkan ke depan. Tanah hutan dan pegunungan di depannya segera diinjaknya sebagai awal perjalanannya. <><><><><>0<><><><><> PEK IN THO ke 4 Desa Tai-an sore itu sudah begitu sepi. Memang sangat jarang ada orang yang mendatangi desa yang berada di kaki gunung suci Thai-san. Desa yang setiap harinya hanya mengandalkan pertanian yang subur karena air sungai Wen selalu mengalir setiap harinya. Tanah di daerah ini sangat subur sekali dan tidak perlu jauh-jauh mendapatkan air setiap harinya, karena kebutuhan air sungai Wen sudah lebih dari cukup hanya untuk sekedar mengairi persawahan mereka. Sebelumnya desa ini selalu tentram dan nyaman tidak ada gangguan apa pun dari luar. Namun selama sepekan ini desa Tai-an mulai ramai dengan kedatangan banyak tamu dari luar. Mereka datang dan singgah di desa kecil itu sebelum melanjutkan pendakian ke gunung Thai-san. Pada awal musim semi kali ini desa Tai-an benar-benar ramai. Para pendatang kebanyakan adalah orang-orang kang-ouw yang terlihat memilki kepandaian tinggi-tinggi. Entah apa yang sedang diperbuat oleh orang-orang kang-ouw di pegunungan suci Thai-san?. Kedatangan orang-orang kang-ouw ke desa ini cukup mengkhawatirkan penduduk asli desa Tai-an. Sehingga banyak penduduk yang memilih berdiam di rumah, tidak keluar walaupun sawah mereka sangat butuh kedatangan mereka. Sore yang sepi karena banyak penduduk yang tidak mau keluar. Di satu-satunya warung besar dan penginapan di desa terpencil ini duduk seorang kakek yang sudah amat tua. Pakaiannya berwarna abu-abu dari bahan kasar. Mukanya yang sudah mulai berkeriput dan rambutnya yang hampir sudah putih semuanya masih menyimpan bekas kegagahan. Wajahnya selalu tampak ramah penuh wibawa dan dari mulutnya selalu tersungging senyuman ramah. Kakek yang duduk sendirian di kedai sekaligus merangkap penginapan satu-satunya di desa Thai-an ini dahulunya adalah seorang pendekar kenamaan. Seorang pendekar yang terkenal mempunyai hati welas asih dan paling benci dengan pembunuhan. Dialah mantan ketua dari salah satu perkumpulan orang-orang gagah Thian-li-pang. Perkumpulan yang menghimpun orang-orang gagah untuk mencoba membebaskan tanah air China dari penjajah dinasti Manchu dan perkumpulan yang selalu menentang kejahatan. Namanya Yo Han! Kakek tua mantan pemimpin Thian-li-pang ini diwaktu mudanya mempunyai julukan Pendekar Tangan Sakti atau Sin-ciang Tai-hiap. Pendekar sakti yang terkenal berhati bijaksana dan welas asih ini sangat terkenal di dunia kang-ouw, apalagi kepribadiaannya yang luhur karena pendekar ini mempunyai pantangan membunuh orang. Sehingga namanya sangat menggetarkan orang-orang kang-ouw, baik dari golongan hitam ataupun putih. Setiap orang akan segan jika bertemu dengannya, begitu juga dengan musuh-musuhnya. Ilmunya yang paling hebat adalah Bu-kek Hoat-keng yang bisa mengembalikan segala hawa kebencian lawan. Istrinya yang sudah lama meninggal dunia adalah seorang pendekar wanita yang tidak kalah hebatnya. Mendiang istrinya yang bernama Tan Sian Li, dahulunya, ketika masih muda sudah terkenal sebagai seorang pendekar wanita yang berjuluk Si Bangau Merah. Julukan ini karena pakaian yang dipakainya selalu berwarna merah dan juga karena ilmu silatnya yang khas, yaitu Ang-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Merah). Biarpun tingkat ilmu kepandaiannya tidak sehebat suaminya, namun Tan Sian Li merupakan seorang wanita yang sukar dicari tandingnya. Wanita ini adalah campuran keturunan dari para Pendekar Gurun Pasir dan Pendekar Pulau Es, bahkan juga pernah mempelajari ilmu pedang Liong-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Naga) dan menggunakan sebatang suling yang berselaput emas. Akan tetapi ilmunya yang paling diandalkan adalah Ang-ho Sin-

kun yang ia pelajari dari ayahnya karena ayahnya adalah Pendekar Bangau Putih yang namanya juga amat terkenal di dunia kang-ouw puluhan tahun yang lalu. Selain pandai ilmu silat, Tan Sian Li ini juga pernah mempelajari ilmu pengobatan tusuk jarum dari mendiang Yok-sian Lo-kai (Pengemis Tua Dewa Obat). (Baca; kisah Si Bangau Putih, Si Bangau Merah, Si Tangan Sakti. Pusaka Pulau Es karya Kho Ping Hoo). Kakek Yo Han dan mendiang nenek Tan Sian Li hanya dikaruniai dua anak, yaitu seorang puteri yang bernama Yo Han Li dan putera yang bernama Yo Han Tiong yang sejak berumur lima tahun telah hilang entah kemana, setelah terjadi penyerbuan besar-besaran oleh Pek-lian-pai (Partai Teratai Putih) dan Patkwa-pai (Partai Segi Delapan) di Bukit Naga. Memang sejak puluhan tahun antara pihak Thian-li-pang dengan Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai terjadi permusuhan serius. Pertempuran hebat itu terjadi lima belas tahun yang lalu dimana pihak Pek-lian-pai yang bersekongkol dengan Pat-kwa-pai dapat dikalahkan oleh pihak Thian-li-pang yang dibantu oleh para orang gagah kang-ouw dan beberapa partai dunia persilatan seperti Bu-tong-pai, Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai, dan lain-lainnya. Setelah perang antara dua belah pihak itu selesai, baru kakek Yo Han tahu bahwa puteranya hilang diculik orang. Kemenangan pihak Thian-li-pang ini harus ditebus dengan pengorbanan yang tidak sedikit, karena disamping mereka kehilangan putera pangcu mereka, juga mereka kehilangan istri pangcu mereka. Kakek Yo Han mengalami pukulan batin yang hebat akibat kehilangan puteranya dan istrinya yang meninggal akibat pertempuran melawan orang-orang sakti dari pihak musuh. Selama hampir lima tahun, kakek Yo Han mengurung diri di dalam rumah, sedangkan urusan Thian-li-pang dan mencari puteranya ia serahkan ke murid tunggalnya Cin Ouw Bu dan puterinya Yo Han Li. Akibat pukulan batin itu, sering kali kakek Yo Han juga diam-diam pergi meninggalkan Bukit Naga untuk mencari sendiri puteranya yang hilang. Hilangnya puteranya tanpa jejak sama sekali ini kadang-kadang membuatnya seperti orang gila. Hingga akhirnya ia bisa merelakan puteranya yang ia sayangi dan kakek Yo Han masih tetap berkeliaran di luar hingga saat ini. Saat ini perkumpulan orang-orang patriot dan gagah Thian-li-pang dipimpin oleh mantunya yang bernama Cin Ouw Bu. Cin Ouw Bu adalah murid tunggal dari kakek Yo Han, bisa ditebak bagaimana ilmu yang dimilikinya. Walaupun dia jarang terjun langsung di dunia kang-ouw, tapi namanya akhir-akhir ini sangat terkenal karena beberapa tahun yang lalu dia berhasil menghancurkan sarang perampok di Shan-si seorang diri. Sejak itu, namanya mulai dikenal di dunia kang-ouw sebagai pendekar muda. Hingga saat ini namanya semakin melecit, sejak dia memegang pangcu Thian-li-pang. Untuk mendapatkan jodoh seorang putri pendekar besar tidak lah mudah, pendekar Cin Ouw Bu harus mampu menandingi ilmu silat Yo Han Li yang terkenal kehebatannya itu. Entah berapa laki-laki yang waktu itu sudah dikalahkannya diwaktu dia mengadakan sayembara pemilihan jodoh, akhirnya setelah melakukan pibu (pertandingan silat) dengan murid ayahnya itulah, Yo Han Li harus mengakui keunggulan calon suaminya waktu itu. Dari sini bisa dilihat bagaimana hebatnya ilmu silat yang dimiliki oleh Cin Ouw Bu, padahal istrinya Yo Han Li adalah seorang perempuan dengan segudang ilmu silat, karena dia di waktu muda tidak hanya pernah belajar dan menguras habis ilmu silat ayah dan ibunya saja, tapi dia juga pernah belajar ilmu silat ke guru lainnya. Perkawinannya dengan putri suhunya kakek Yo Han yang bernama Yo Han Li dikaruniai seorang putra bernama Cin Liu Kang yang saat ini baru berumur tujuh belas tahun. Sejak kecil Cin Liu Kang sudah digembleng ilmu bun (sastra) dan (bu (silat) oleh kedua orang tuanya dan tentunya juga kakeknya yang sudah berumur hampir tujuh puluh tahun. Cin Ouw Bu yang saat ini sudah berumur empat puluh lima ini dapat mengendalikan Thian-li-pang dengan baik, dia dikenal sebagai seorang ketua yang sama bijak dan luhurnya dengan mertuanya kakek Yo Han. Maka tidak heran jika kelompok Thian-li-pang saat ini telah bertambah semakin banyak dan maju. Hampir setiap propinsi terdapat cabang Thian-li-pang. Bertambahnya anggota Thian-li-pang ini, membuat pemerintah semakin takut dengan gerakan mereka, karena bagaimana pun juga saat ini sangat sulit memberantas Thian-li-pang yang mempunyai sarang dimana-mana. Itulah sekelumit kondisi tentang diri kakek Yo Han dan keluarganya. Saat ini ia duduk sambil meminum teh hangat. Saat ini hidup kakek Yo Han hanya untuk mengembara dan menebar kebajikan. Ia sudah tidak mau mencampuri urusan Thian-li-pang lagi. Bahkan tujuan kedatangannya di sini adalah ingin mengasingkan diri di pegunungan Thai-san. Ia berpikir bahwa masanya saat ini sudah usai, tidak lagi mau ikut-ikutan dengan orang lain. Sejak ia selesai mengajarkan semua ilmu yang dimilikinya kepada cucu tersayangnya, ia lalu pergi meninggalkan rumahnya tanpa memberitahu kepada anak cucunya kemana ia akan pergi.

Pelayan! Ada kejadian apakah akhir-akhir ini sehingga banyak orang kang-ouw yang mendatangi gunung suci itu? tanya kakek Yo kepada salah satu pelayan. Sejak tadi ia heran, kenapa banyak sekali orang kang-ouw yang akan mendatangi gunung Thai-san. Ah, menurut kabat angin di puncak gunung Thai-san akan muncul seekor musang emas berekor sembilan! Banyak orang kang-ouw yang ingin melihatnya! jawab pelayan itu singkat lalu berlalu dari hadapan kakek Yo. Wajah kakek Yo tidak begitu terlihat kaget hanya kepalanya geleng-geleng mendengar kabar aneh ini. Setahunya di dunia ini hanya pernah ada musang salju berekor sembilan, itupun berwarna putih bukan emas. Benar-benar kabar ini sangat lucu dan aneh. Namun sebagai seorang kang-ouw yang sudah kenyang makan garam, ia memaklumi kebenaran kabar itu. Seandainya kabar itu salah atau tidak mempunyai dasar yang begitu kuat, mana mungkin banyak tokoh kang-ouw yang mendatangi gunung suci itu. Sebentar kemudian kakek Yo sudah keluar kedai makan dan melangkahkan kakinya menuju gunung Thaisan. Baru saja kakek Yo pergi, seorang gadis berumur enam belas tahun masuk ke dalam kedai. Gadis itu mempunyai mata yang jeli memancarkan sinar kecerdikan sekaligus kebengalan. Mukanya bundar telur dengan warna kulit yang putih mulus. Mulutnya selalu meruncing seperti seorang yang selalu cemberut. Rambutnya yang panjang dikepang menjadi dua dengan pita berwarna merah. Buntalan di punggungnya kecil menandakan bahwa ia datang dari jauh. Gadis baru gede ini biasanya dipanggil Yin Yin dengan nama Gak Huang Yin. Puteri dari seorang pendekar dari Bengsan bernama Gak Kong Lee. Keluarga Ga sangat terkenal di dunia kang-ouw, karena keluarga inilah satu-satunya keluarga yang masih mempunyai darah pendekar Pulau Es. Nenek moyang keluarga Gak dari nenek masih dibilang adalah ada mempunyai darah langsung dari keluarga besar Suma dari Pulau Es. Sepak terjang para pendekar dari keluarga Suma dan Gak ini diceritakan di kisah Pendekar Super Sakti sampai Si Bangau Merah karya Kho Ping Hoo. Yin Yin langsung duduk sambil meminta kepada pelayan untuk menyiapkan makanan dan secangkir teh hangat. Matanya yang tampak nakal menyapu semua pengunjung kedai itu. Hanya ada beberapa orang saja, tidak terlalu banyak dan nampaknya semuanya penduduk desa, bukan orang-orang kang-ouw. Lo-peh (Paman Tua), berapa banyak kah orang-orang yang telah naik ke puncak Thai-san? tanya Yin Yin kepada pelayan tua ketika menghidangkan pesanannya. Wah, sudah lama banyak sekali! Sejak seminggu yang lalu sudah ada ratusan orang-orang kang-ouw yang pergi ke puncak. Apakah Siocia (Nona Kecil) mau ikut naik ke puncak juga? jawab pelayan tua. Apa benar kabar angin tentang munculnya seekor musang emas berekor sembilan itu? tanya lagi Yin Yin ingin tahu. Aku juga tidak tahu begitu pasti, nona! Hanya saja menurut pengakuan para pemburu di daerah Thai-san, memang mereka pernah melihat sepasang musang emas berekor sembilan sebulan yang lalu di puncak Thai-san. Jawab lagi pelayan tua lalu pergi cepat-cepat setelah mendengar permintaan pelanggan lainnya. Wah, besok pasti ramai sekali! pikirnya sambil senyum-senyum sendiri. Yin Yin melanjutkan makannya setelah mendengar penuturan pelayan tua. Sebentar kemudian malam sudah mulai menggelapkan semuanya. Sehingga terpaksa Yin Yin menginap di kedai berangkap penginapan itu menunggu pagi. Baru besok ia akan melanjutkan perjalanannya untuk melihat keramaian di puncak Thai-san yang dingin. <><><><><>0<><><><><> PEK IN THO ke 5 Thai-san memang benar-benar gunung indah, tinggi dan suci. Entah sudah berapa orang yang telah mengasingkan diri di puncak-puncaknya yang menjulang ke langit untuk mendapatkan kesucian diri. Menurut dongeng, Thai-san adalah gunung tempat berkumpulnya para dewa mengatur bumi, karena gunung

Thai-san adalah tangga menuju langit. Maka tak heran kalau banyak orang-orang China sangat menghormatinya. Gunung ini tidak hanya terkenal karena kesuciannya, namun keindahannya juga tidak terkalahkan. Pemandangan yang menakjubkan di pegunungan Thai-san di musim seminya memang tidak hanya omong kosong. Keharuman aroma bunga-bunga yang bermacam-macam bermekaran menyambut datangnya tamu besar mereka, musim semi. Bunga yang bermacam-macam bermekaran indah dan menebarkan aroma wewangian khas tertiup angin sehingga terbawa sampai ribuan li jauhnya. Bunga-bunga itu tidak hanya tumbuh dan bermekaran di bawah tanah pegunungan Thai-san, namun juga muncul di permukaanpermukaan batu terjal dan tebing gunung itu. Semuanya tampak indah dan segar membuat setiap orang yang memandangnya tidak akan pernah jemu. Puluhan puncak dan ratusan air terjun mewakili keunikan dan keindahan tersendiri gunung suci ini. Suara gemerisik air terjun membuat suasana benar-benar menyenangkan, apalagi kalau bisa menikmati gerojokan air dingin itu. Puncaknya yang maha tinggi dengan bebatuan terjal dan jurang-jurang yang sangat dalam menambah keangkeran tersendiri bagi pegunungan ini. Tidak sembarang orang yang bisa mencapai puncak Thai-san, hanya orang-orang yang mempunyai ginkang (ilmu peringan tubuh) hebat saja yang akan mampu mencapai puncaknya. Umumnya para pemburu hanya dapat berkeliaran di sekitar kaki gunung tanpa mampu menaiki puncaknya yang menyimpan banyak rahasia. Memang betul apa kabar para pemburu yang pernah melihat musang dengan bulu emas dan berekor sembilan berkeliaran di pegunungan ini. Sebenarnya tidaklah heran kalau pegunungan ini menyimpan hewan yang begitu anehnya, kalau kita mengerti bahwa Thai-san sebenarnya banyak sekali menyimpan misteri yang aneh-aneh. Dari mulai manusianya, tumbuh-tumbuhan, bebatuhan dan hewan-hewannya. Kabar yang dibawa para pemburu yang tanpa sengaja pernah melihat sepasang musang berbulu emas itu membuat para orang kang-ouw berbondong-bondong pergi ka Thai-san. Ini pun tidak heran, karena kebanyakan orang-orang kang-ouw memang suka bekelana mencari pengalaman hidup dan suka dengan hal-hal yang unik. Musang berbulu emas dan berekor sembilan bisa dikatakan sebagai hewan yang sangat unik dan jarang pernah didengar di telinga orang-orang. Kebanyakan orang-orang kang-ouw yang datang ke Thai-san bertujuan untuk sekedar ingin melihat dan bahkan mendapatkan sepasang musang itu untuk dipelihara karena keunikannya. Namun diantara mereka ada beberapa datuk sesat yang mempunyai keinginan lain. Mereka datang tidak sekedar ingin melihat sepasang musang itu, namun ingin mengetahui dimana sarang sepasang musang itu berada. Karena sarang sepasang musang itu konon menunjukkan sebuah tempat dimana disimpan harta karun yang tidak ternilai harganya. Hanya sedikit sekali orang yang mengetahui informasi ini. Informasi ini hanya samar-samar terdengar di dunia kang-ouw baru-baru ini dan kebanyakan orang yang mendapatkan informasi ini adalah para datuk sesat yang mempunyai telinga tajam. Setiap datuk sesat mencoba untuk merahasiakan informasi yang didapat dengan harapan meminimal saingan diantara mereka. Informasi inipun tidak begitu jelas dari mana asal mulanya dan seberapa kebenarannya tidak ada seorang pun yang tahu. Sebenarnya informasi atau kabar ini terdengar sudah setengah tahun yang lalu, namun baru terbukti seminggu yang lalu dengan tersiarnya kabar yang dibawa oleh para pemburu. Maha Besar Tuhan yang menciptakan gunung seindah ini! terdengar kakek Yo berucap memuji sang Pencipta. Sejak tadi pagi kakek Yo berdiri di atas puncak paling rendah di Thai-san sambil memandangi bunga-bunga yang bermekaran indah. Berkali-kali ia mengucapkan kata-kata itu sebagai rasa tahjubnya yang paling dalam atas arsitektur Tuhan. Tampak ia juga menghisap udara dalam-dalam seperti menikmati benar-benar keharuman bunga. Ada apakah sebenarnya orang-orang kang-ouw itu mendatangi tempat sepi ini? tanyanya kembali pada dirinya sendiri. Sudah puluhan kali matanya yang masih awas melihat berkelebetan orang menaiki puncak-puncak Thaisan. Ia sendiri tidak habis pikir, apakah kedatangan mereka hanya karena sepasang musang saja, ataukah ada hal lainnya yang bakal menggemparkan dunia kang-ouw. Ia belum mengerti.

Amitohud...selamat tahun baru dan musim semi , saudara Yo Han! tiba-tiba terdengar suara dari belakang kakek Yo. Kakek Yo membalikkan badannya dan mengangkat kedua tangannya memberi hormat kepada penyapanya. Selamat bertemu kembali saudara Kong Ih Hwesio dan selamat baru juga! Bagaimana kabar sicu (saudara gagah) akhir-akhir ini? kata kakek Yo yang sudah mengenal penyapanya. Seorang hwesio (pendeta Budha) yang berada di depannya adalah sahabatnya hwesio dari Siauw-lim-sie. Pendeta Kong Ih adalah salah satu pendeta tua di Siauw-lim-sie yang akhir-akhir ini berkeliaran untuk melakukan derma baktinya bagi umat manusia. Pendeta Kong Ih terkenal sebagai pendeta yang memiliki kesaktian paling tinggi di Siauw-lim-sie. Ini tidak heran karena pendeta yang memegang sebagai ciangcujin (ketua) Siauw-lim-sie saat ini adalah Sute-nya (adik seperguruannya). Hampir semua ilmu silat Siauw-lim-sie dikuasainya sampai tingkatan sempurna. Namanya juga cukup mentereng di dunia kang-ouw sebagai pendeta sakti dan welas asih. Hahaha... baik sekali keadaanku saudara Yo! Bagaiman sicu bisa sampai kesasar di tempat sepi ini? Apakah kedatangan sicu berkenaan dengan munculnya sepasang musang emas berekor sembilan itu? Sebenarnya kedatanganku kali ini ingin mengasingkan diri di tempat ini, namun tidak kusangka tempat ini muncul hal aneh itu! Bagaimana dengan sicu sendiri? Ah, ini sangat merisaukanku akhir-akhir ini, saudara Yo! Pinceng mendengar bahwa kemunculan sepasang musang aneh itu bukan secara kebetulan. Bukan secara kebetulan, apa maksud sicu? tanya kakek Yo heran dan tidak mengerti. Entah kabar ini bermula dari mana dan bagaimana kejelasannya pinceng (aku) tidak tahu benar! Setengah tahun yang lalu ketika pinceng melakukan perjalanan ke barat, pinceng mendengar desas-desus bahwa pada musim cun (semi) di puncak Thai-san akan muncul sepasang musang berbulu emas dan berekor sembilan. Konon katanya, sepasang musang itu akan dapat menunjukkan sebuah tempat harta karun tidak ternilai harganya. Maka pinceng mencoba pergi ke sini untuk melihat apakah benar adanya kabar angin itu?, setelah mendengar ada beberapa pemburu yang pernah melihat sepasang musang itu seminggu yang lalu. Ah, jadi begitukah ceritanya sampai-sampai Thai-san mengundang orang-orang hebat ke sini! kata kakek Yo sambil geleng-geleng kepala. Menurut sicu siapa sajakah yang datang ke tempat ini? tanya Kong Ih Hwesio. Sejak tadi pagi lohu sudah melihat puluhan bayangan orang-orang berilmu tinggi naik ke puncak sana! Setidaknya sudah ada sekitar lima orang yang memiliki kepandaian tidak dibawahku. Lohu belum tahu benar siapa dua orang itu!? kata kakek Yo. Hebat! Kemungkinan tempat ini akan ramai didatangi para tokoh konsen kang-ouw, baik golongan hitam maupun putih! Pinceng tadi melihat ada beberapa anak murid Kun-lun-pay, Bu-tong-pay, Kay Pang, Siauwlim-pay dan beberapa pendekar muda menuju puncak sini. Tokoh-tokoh hitam seperti Hek-liong Put-si (Naga Hitam Tak Termatikan), Toat-beng-sian (Dewa Pencabut Nyawa), Bu-eng Lo-mo (Iblis Tua Tanpa Bayangan) dan beberapa pihak lainnya sudah berada di puncak sana! Kalau orang seperti Hek-liong Put-si, Toat-beng-sian, Bu-eng Lo-mo sampai ke sini, maka kabar itu tidak bisa dikatakan bohong. Entah harta karun yang bagaimana sehingga dapat membuat tiga manusia itu keluar dari sarangnya? kakek Yo geleng-geleng kepala lagi. Tadi pagi-pagi sekali pinceng juga sudah menemukan lima belas mayat yang bergelempangan di kaki bukit Thai-san. Mereka tewas akibat sebuah pukulan berhawa dingin di dada mereka. Pukulan berhawa dingin dan mengandung racun seperti itu mengingatkan pinceng akan tokoh sesat Swathai Lo-kwi (Iblis Tua Lautan Salju). Pinceng yakin bahwa iblis ini juga datang, atau paling tidak muridnya yang datang dan sama gilanya dengan gurunya. Lalu kita baiknya bagaimana? tanya kakek Yo.

Sebaiknya kita ikuti mereka, siapa tahu kita bisa menggagalkan rencana mereka! Kakek Yo tampak sepakat dengan tujuan mulia temannya. Mereka lalu pergi menuju puncak paling tinggi Thai-san dengan menggunakan ginkang tingkatan tinggi. <><><><><>0<><><><><> Pertarungan Di PuncakThai-san Bab Pertama II- Pertarungan di Puncak Thai-san! Yin Yin pagi itu baru mulai menaiki puncak Thai-san untuk melihat keramaian di atas sana. Tadi malam tidurnya begitu nyenyak sehingga wajahnya saat ini tampak begitu cerah. Gadis kecil ini memang tidak pernah mengenal apa itu sedih selama hidupnya. Pembawaannya selalu ceriah dan menyenangkan. Kaki bukit Thai-san nampak susah sekali dipijak, kecuali bagi orang-orang yang sudah mempunyai ginkang lumayan. Cobaan berupa kesusahan mendaki sudah terlihat di kaki gunung yang licin banyak lumut dan bebatuan yang lumayan terjal. Entah bagaimana keadaan di atas sana?. Thai-san terkenal dengan istilah, Enak dan sedap dipandang namun susah dijama!. Tiba-tiba kakinya berhenti melangkah. Di depannya berdiri seorang pemuda berumur delapan belas tahun sambil mendongakkan kepalanya ke arah puncak Thai-san yang tertutup awan tebal. Pemuda itu bukan lain adalah Kim Liong yang baru sampai di tempat itu. Hatinya begitu kagum dengan keindahan Thai-san dan bergetar melihat puncaknya yang tinggi. Tiba-tiba ia teringat dengan beberapa bacaan yang ada di rumahnya tentang beberapa misteri Thai-san. Telinganya yang sudah terlatih juga mendengar suara langkah seseorang di belakangnya. Langkah kaki itu berhenti di belakangnya. Ia membalikkan badan untuk melihat siapa yang ada di belakangnya. Ketika melihat Yin Yin matanya tiba-tiba memancar aneh. Ia tersenyum kepada Yin Yin. Maaf kalau aku mengganggu perjalaan nona. Silahkan nona melanjutkan perjalanan! kata Kim Liong lembut dan sopan. Mata Yin Yin yang jeli memandang Kim Liong yang ada di depannya. Tanpa dirasakanya sifat nakal yang selalu ingin menggoda orang yang baru ditemuinya hilang. Ia melihat sepertinya dua mata pemuda di depannya begitu menenangkan dan wajahnya yang tampak gagah menyiratkan sinar wibawa yang tinggi. Apakah saudara juga mau naik ke puncak? tanya Yin Yin sambil membalas senyuman Kim Liong. Kalau boleh tahu apakah benar ini Thai-san? Dan apakah nona juga mau naik ke puncak sana? Kim Liong ingin memastikan bahwa gunung di depannya memang benar-benar Thai-san sesuai petunjuk orang-orang yang ditemuinya beberapa hari yang lalu. Sudah lama ia tahu Thai-san, namun belum pernah melihat dan mendakinya sendiri. Pengetahuannya hanya didasarkan oleh beberapa bacaan yang pernah dibacanya. Memang benar gunung ini adalah Thai-san adanya. Apakah twako (kakak) ingin naik bersama-sama? kata Yin Yin mulai tampak melunak. Sejenak Kim Liong berpikir. Kalau begitu, baiklah! lagian aku belum tahu jalannya. Mari! Mereka berjalan berbarengan. Kim Liong hanya mengikuti Yin Yin dari belakang. Yin Yin terus naik tanpa bicara sepatah kata pun, hanya kadang-kadang terdengar suaranya yang merdu kalau sedang bernyanyi atau berpuisi.

Kim Liong masih mengikuti langkah gadis kecil itu, namun pikirannya tidak henti-hentinya bekata tahjub ketika melihat pemandangan di sekitarnya. Matanya berbinar-binar ketika melihat bunga-bungaan yang berwarna-warna. Siapa nama twako dan dari mana asalnya? tanya Yin Yin sambil menghentikan jalannya. Gadis ini selalu blak-blakan tanpa merasa rikuh menanyakan nama seseorang yang baru dikenalnya. Benar-benar gadis yang aneh di zaman itu. Namaku Kim Liong aku berasal di daerah timur. Siapa nama nona dan apakah nona berasal dari daerah sekitar sini? Aku she Gak bernama Huang Yin atau biasa dipanggil Yin Yin oleh orang tuaku. Aku berasal dari Beng-san. Aku sendiri baru pertama kali ini menginjakkan kaki di pegunungan suci ini! Mendengar ini tiba-tiba saja Kim Liong tersenyum senang. Dua matanya kembali bersinar aneh. Aku pernah mendengar nama dua orang pendekar hebat di sana puluhan tahun yang lalu. Entah apakah ada hubungannya dengan adik Yin? Dua pendekar itu mempunyai julukan Beng-san Siang-eng (Dua Rajawali dari Beng-san), dua putera dari pendekar Gak Bun Beng dan puteri Milana! kata Kim Liong sambil tertawa senang. Panggilannya juga sudah berubah lebih akrab. Bagaimana Liong-twako tahu banyak tentang nenek moyangku? tanya Yin Yin penasaran. Itu sudah tidak menjadi rahasia lagi bagi orang-orang, Yin-moi. Kalau begitu engkau masih mempunyai darah dari keluarga Suma pendekar Pulau Es. Bagaimana keadaan keluargamu saat ini, Yin-moi dan bagaimana engkau bisa sampai di sini? Mereka baik-baik saja. Aku sendiri sudah hampir dua bulan meninggalkan mereka untuk meluaskan pengalaman di luar. Sebenarnya apa tujuan Liong-twako ke sini? Aku hanya ingin melihat-lihat keindahan Thai-san yang tersohor saja. Katanya Thai-san adalah pegunungan suci dan penuh misteri yang belum digali. Aku ingin melihatnya dan sekarang impianku untuk bisa menikmati musim semi di Thai-san terlaksana. Katanya sambil berjongkok dan menyentuh salah satu bunga di depannya yang bermekaran berwarna-warni. Indah. Jadi kedatangan Liong-twako bukan ingin melihat keramaian yang bakal terjadi di sini? Keramaian apakah itu, Yin-moi? tanya balik Kim Liong tidak mengerti. Apakah benar twako tidak tahu sama sekali tentang keramaian Thai-san? kata Yin Yin dengan muka nyengir heran. Anggap aku tidak tahu apa-apa, Yin-moi! Kim Liong berharap Yin Yin mau menjawab atau menjelaskan kepadanya, namun sampai lama gadis itu hanya melihat ke arahnya dengan tajam. Belum sempat menegur perbuatan Yin Yin telinganya terlatih mendengar suara seseorang sedang merintih kesakitan. Suara itu terdengar dari atas yang terbawa angin ke bawah. Kim Liong belum sempat berpikir. Yin Yin sudah berlari menuju suara itu dan diikuti dari belakang oleh Kim Liong. Terpaksa perjalanan kali ini ia harus menggunakan ilmu peringan tubuhnya, karena Yin Yin berlari menggunakan ilmu peringan tubuh juga. Pertarungan Di PuncakThai-san Bab Ke Dua Di atas, mereka melihat pemandangan yang mengerikan. Belasan orang bergelimpangan dengan muka pucat. Tampaknya semuanya tewas, hanya seorang saja yang masih hidup, walaupun keadaanya sangat memperihatinkan.

Ada apa ini, Yin-moi? Kenapa banyak sekali mayat di sini?! tanya Kim Liong tidak mengerti. Setelah mendengar pertanyaan ini Yin Yin baru yakin bahwa Kim Liong benar-benar tidak mengerti keadaan di sini. Nanti akan kujelaskan. Bantu dulu orang ini, aku tidak mengerti ilmu pengobatan sama sekali! jawab Yin Yin sambil berjongkok memeriksa orang yang masih hidup. Kim Liong berjongkok memeriksa nadi di tangan laki-laki berumur lima puluh tiga tahun itu. Lalu membuka bajunya untuk melihat luka yang ada di dada laki-laki setengah tua itu. Ah! Pukulan es! Siapa yang melakukan pekerjaan keji ini? kata Kim Liong kaget. Sepertinya aku pernah mendengar dahulu ada satu orang datuk sesat yang pernah menguasai sebuah pukulan es berhawa racun seperti ini. Seorang datuk sesat yang sudah lama tidak muncul di dunia kangouw. Datuk sesat itu mempunyai julukan Swathai Lo-kwi dan pernah kalah oleh pendekar Tao Keng Han!! Kim Liong mendengarkan penuturan Yin Yin, namun tidak begitu berkonsentrasi. Konsentrasinya lebih banyak berpusat pada luka yang diderita laki-laki itu. Di dada sebelah kanannya tampak terlihat cap hitam berupa telapak tangan. Untung bagi laki-laki yang masih mempunyai cadangan lwekang (tenaga dalam) tinggi sehingga dapat menghentikan penyebaran racun untuk sementara. Kim Liong duduk bersila di belakang laki-laki yang pingsan itu. Yin-moi, sebaiknya bantu aku menguburkan mayat-mayat itu. biar aku mencoba mengobati orang ini! pinta Kim Liong yang langsung ditaati oleh Yin Yin. Tangan kanan Kim Liong sudah bergerak menambah totokan pada beberapa tempat di sekitar luka. Lalu kulit yang terkena pukulan digerat sedikit dengan menggunakan pedang yang berada di sampingnya. Darah hitam keluar dari luka pukulan berwarna hitam. Lalu dengan sin-kang-nya (Hawa Saktinya) Kim Liong mencoba untuk membersihkan luka itu dari racun. Wajah Kim Liong tampak berubah merah seperti kepiting rebus ketika mengeluarkan sinkang istimewanya. Sinkang panas dari ilmu Si-pat Jit-yang Sin-ciang (18 Tangan Sakti Inti Matahari) menerobos mendesak hawa dingin yang ada di dalam tubuh laki-laki itu. Sinkang panas yang dimilki oleh Kim Liong menerobos mendesak racun terus-menerus hingga semua racun yang mengeram di tubuh laki-laki itu keluar lewat sodetan pedang. Darah hitam kental keluar membasahi baju putih laki-laki itu. Setengah jam kemudian wajah yang tadi pucat berubah menjadi kemerah-merahan, sedangkan wajah Kim Liong semakin merah membara. Setelah laki-laki itu siuman dari pingsannya dan luka sodetan pedang itu sudah tidak mengalirkan darah hitam. Kim Liong baru menghentikan pengobatannya. Paman, harap minum obat ini! kata Kim Liong sambil menyodorkan sebuah pil sebesar kacang tanah. Laki-laki tampak serius melihat Kim Liong. Ia hampir tidak percaya ada seorang yang masih begitu muda sudah mempunyai sinkang dan lwekang begitu tinggi. Laki-laki itu menerima pil itu dan menelannya. Sebentar kemudian laki-laki itu sudah muntah-muntah darah hitam. Racun yang ada di dalam tubuhnya lenyap begitu saja. Obat yang ditelan ternyata sangat mujarab. Terima kasih atas pertolonganmu, anak muda! Siapakah engkau? Yin Yin datang dan wajahnya tampak berkeringat setelah mengubur belasan mayat. Seandainya di tempat itu tidak ada lubang yang besar, mungkin penggalian tanah untuh mengubur belasan mayat akan membutuhkan waktu yang lama. Yin Yin tidak begitu berat karena mayat-mayat itu segera dimasukkan ke lubang yang sudah ada dan tinggal menutupinya dengan tanah dan bebatuhan. Pekerjaannya walaupun cukup ringan, namun masih membuatnya berkeringat. Akhirnya paman sudah sembuh! Siapakah paman dan dari golongan manakah? Yin Yin bertanya duluan sebelum Kim Liong menjawab pertanyaan laki-laki yang baru ditolongnya.

Namaku Kong Yang, she Sin dari Siauw-lim-pay. Kalau boleh tahu siapakah kalian dan dari perguruan manakah kalian berdua? Ah, benarkah bahwa paman adalah bengcu (pemimpin rakyat) Sin-taihiap? Ternyata laki-laki yang ditolong oleh Kim liong adalah seorang bengcu, pantas lwekang-nya begitu tinggi sehingga dapat menghambat kerja racun. Sin-taihiap menganggukkan kepala sambil tertawa senang melihat Yin Yin yang langsung bisa tahu tentang dirinya. Senang sekali aku dapat bertemu paman Sin. Namaku Yin Yin dan ini Kim Liong. Yin Yin memperkenalkan diri sekaligus nama Kim Liong dengan singkat. Apakah yang terjadi di sini tadi, paman Sin? tanya Kim Liong. Duduklah Yin Yin dan engkau Kim Liong. Aku akan menceritakannya kepada kalian. Lalu Sin-taihiap menceritakan mulai perjalanannya ke Thai-san ketika mendengar desas-desus tentang sepasang musang emas. Baru saja ia naik ke atas puncak Thai-san dan sampai di tempat ini, ia sudah melihat ada belasan orang bertempur. Belasan orang itu hanya melawan satu orang saja yang menyebut dirinya Swat-ciang Lo-kwi (Iblis Tua Pukulan Salju). Hanya sekali pukulan saja iblis itu sudah dapat melukai bahkan menewaskan orang dan hanya dalam hitungan menit saja iblis jahat itu sudah menewaskan belasan orang-orang kang-ouw. Aku marah dan menyerangnya setelah melihat mayat-mayat bergelimpangan begitu banyak. Ternyata ilmu iblis itu memang hebat, hingga aku dapat dibuat mainan olehnya. Aku hanya mampu menandinginya sampai dua puluh jurus dan telapak tangannya sudah bersarang di dadaku. Lalu ia pergi meninggalkanku sendirian di sini. Sin-taihiap menyudahi ceritanya dengan menggigit bibir dan mengepalkan tangannya. Jahat benar iblis itu! Ingin sekali aku bisa menekuk-nekuk batang lehernya, biar dunia tenang! kata Yin Yin marah. Hahaha...! Tidak mudah membunuh iblis itu Yin Yin. Kemungkinan dia datang tidak sendirian, pasti banyak temannya yang ikut datang ke tempat ini. Sin-taihiap senang sekali melihat keberanian Yin Yin. Sebenarnya ia masih penasaran dengan dua anak muda di depannya, lebih-lebih Kim Liong yang mempunyai sinkang tinggi. Ingin sekali ia bertanya sebenarnya mereka murid siapa, namun ia tidak pernah jadi. Sejak tadi Kim Liong diam saja mendengar cerita Sin-taihiap. Pikirannya tiba-tiba melayang-layang entah kemana ketika ia mendengar bahwa kedatangan orang-orang kang-ouw ke tempat ini karena ingin melihat sepasang musang emas. Padahal hakikat tujuan kedatangannya ke daratan salah satunya adalah karena ada hubungannya dengan sepasang musang emas itu. Bisa dikatakan hatinya saat ini terasa senang dan duka, senang karena cerita yang pernah didengarnya di tempat tinggalnya ada kebenarannya dan duka karena ternyata kemunculan sepasang musang itu menimbulkan banyak petaka. Padahal setahunya hanya penduduk Pulau Awan Putih saja yang mengetahui berita atau cerita itu. Entah siapa yang membocorkan kabar ini?. Lebih baik kita segera ke puncak sana untuk mencegah orang-orang jahat itu mendapatkan sepasang musang emas itu! tiba-tiba Kim Liong memecah keheningan. Apakah hanya dengan kemampuan kita bertiga saja mampu mencegah iblis-iblis itu? tanya Sin-taihiap. Kita tidak harus menghadapi iblis-iblis itu, kita hanya mengikuti mereka. Kalau mereka sudah menemukan sepasang musang emas itu, kita hanya perlu membunuhnya supaya keinginan mereka tidak bisa tercapai. Aku tidak mengerti dengan maksudmu, Kim Liong! kata Sin-taihiap bingung. Begini paman, pernahkah paman berpikir kenapa iblis-iblis itu bisa sampai datang kemari, bahkan berani membunuh banyak orang kang-ouw tanpa ada alasan yang jelas.

Bukankah kedatangan iblis-iblis itu ke tempat ini hanya sekedar melihat atau menangkap sepasang musang aneh itu? jawab Yin Yin. Salah! Kalau mereka hanya ingin melihat atau menangkap musang berbulu emas itu, kenapa mereka harus membunuh orang-orang? Kenapa mereka tidak membiarkan orang-orang ikut melihat dan dengan kepandaian mereka aku kira sangat mudah menangkap sepasang musang itu. Apa maksudmu kedatangan dan ulah mereka di sini menunjukkan ada suatu keganjilan? tanya Sin-taihiap. Benar juga. Seandainya mereka berkeinginan untuk melihat atau menangkap sepasang musang itu sangat mudah bagi mereka. Apakah ada sesuatu intrik yang tersembunyi? Yin Yin membenarkan. Ah, pernahkah paman mendengar kabar bahwa di salah satu puncak Thai-san tersimpan harta karun yang tidak ternilai harganya? tanya Kim Liong. Sepertinya belum pernah aku mendengar kabar seperti itu dan apa hubungannya dengan sepasang musang emas berekor sembilan? Apakah maksud Liong-twako munculnya datuk-datuk jahat dan sepasang musang itu berhubungan dengan sebuah harta karun? Yin Yin cepat menyimpulkan isi perkataan Kim Liong. Aku sendiri tidak begitu tahu apa maksud kedatangan orang-orang jahat itu di tempat ini. Namun aku menjadi sedikit sangsi setelah melihat kejahatan mereka di tempat ini. Kalau aku tidak salah duga, kemungkinan kedatangan mereka ingin mencari tempat harta karun di salah satu puncak Thai-san. Satusatunya petunjuk tempat harta karun disimpan adalah melalui dua musang emas itu. Konon katanya sarang sepasang musang itu berada di tempat harta karun itu disimpan. Wajah Sin-taihiap dan Yin Yin tampak kaget. Mereka tidak menyangka bahwa pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh datuk kaum sesat itu ternyata ingin menghilangkan saingan. Dan lebih-lebih mereka tidak menyangka bahwa dua musang yang aneh itu adalah sebuah kunci menuju sebuah tempat harta karun. Mendengar ini mereka menjadi tidak heran lagi kalau para datuk sesat itu sampai bisa berkumpul di tempat ini. Dari mana engkau mendengar kabar ini, Kim Liong? selidik Sin-taihiap. Tidak penting kabar ini kudapat dari mana, karena yang terpenting adalah menggagalkan orang-orang jahat itu mendapatkan harta karun itu! Sin-taihiap dan Yin Yin tampak diam tidak mau memaksa Kim Long. Mereka lalu pergi bersama-sama naik ke atas puncak. Selama perjalan menuju ke puncak yang dilalui dengan susah payah. Mereka menemukan banyak mayat berserakan dalam perjalanan itu. Terpaksa mereka harus berhenti sebentar untuk mengubur mayat-mayat itu atau membuangnya ke bawah jurang kalau sudah tidak sempat lagi menguburkan. Hampir semuanya mengalami pukulan yang sama seperti apa yang dialami oleh Sin-taihiap. Bahkan ada yang mengerikan dari sekedar mati. Mereka menemukan ada dua wanita muda yang tewas dalam keadaan mengenaskan. Dua wanita muda itu tewas dalam keadaan tidak berpakaian sama sekali. Seperti habis diperkosa dan dibunuh dengan sebuah pukulan yang sama. Berkali-kali Kim Liong menggeleng-ngeleng kepala melihat mayat-mayat yang ditemukannya. Betapa kejinya para datuk sesat itu. Gunung yang begitu suci dan dihormati setiap orang ternyata saat dilumuri oleh darah ratusan orang kang-ouw. Sambil menggit bibir saking marahnya tiga orang itu terus menaiki gunung menuju puncak tertinggi. Sebab menurut Kim Liong kemungkinan tempat yang dituju oleh datuk-datuk sesat adalah puncak Thai-san yang diselimuti awan tebal. Semakin naik ke atas, mereka semakin kedinginan. Hanya Kim Liong yang tenang-tenang saja karena ia sudah terbiasa hidup di tempat yang dingin. <><><><><>0<><><><><> Pertarungan Di PuncakTha-san Bab Ke Tiga Apakah kedatangan kalian berlima hanya ingin mengotori kesucian Thai-san saja? terdengar suara teguran yang sangat berwibawa dari mulut kekek Yo.

Di samping kakek Yo berdiri pendeta Kong Ih masih dengan senyumnya dan di belakangnya berdiri anak murid dari Siauw-lim-pay, Bu-tong-pay, Kun-lun-pay, Kay Pang dan beberapa pendekar lainnya dalam keadaan memperihatinkan. Kebanyakan telah mengalami luka-luka akibat sebuah perkelahian. Semuanya hanya tinggal sekitar dua puluh orang, adapun yang lainnya sudah tewas akibat sepak terjang dari para datuk sesat yang tidak menghendaki adanya saingan. Ada belasan mayat berserakan di tempat itu. Seandainya dua orang tua itu tidak datang tepat waktu menghentikan pembantaian yang dilakukan oleh iblis-iblis itu, kemungkinan semua orang yang ada di situ tidak akan hidup. Mereka akan dibantai habis seperti orang-orang kang-ouw yang ada di bawah puncak Thai-san. Di depan kakek Yo dan pendeta Kong Ih berdiri lima orang dengan potongan tubuh yang menyeramkan. Mulai dari sisi kanan ada Hek-liong Put-si yang mempunyai muka hitam seperti pantat penggorengan. Iblis yang selalu berpakaian jubah hitam ini dahulunya adalah tokoh sesat barat yang pernah melakukan adu domba antara para pertapa Himalaya dengan pendeta Lama di Tibet. Adu dombanya ternyata tidak berhasil, bahkan lalu ia menghilang selama sepuluh tahun dan baru saat ini muncul kembali di timur. Tidak ada orang yang tahu kenapa iblis ini melakukan siasat adu domba dan setelah siasatnya tidak berhasil lalu ia menghilang begitu saja. Iblis ke dua adalah Swat-ciang Lo-kwi (Iblis Tua Pukulan Salju) yang mempunyai ilmu pukulan salju berhawa racun mematikan. Dia adalah murid utama dari iblis Swathai Lo-kwi (Iblis Tua Lautan Salju) yang dahulu pernah malang-melintang di dunia kang-ouw. Sepak terjang gurunya dijelaskan di kisah Pusaka Pulau Es karya Kho Ping Hoo. Saat ini gurunya yang sudah sangat tua usianya sedang bertapa di Himalaya untuk menyempurnakan ilmu barunya. Swat-ciang Lo-kwi-lah yang paling banyak membunuh orang-orang kangouw di bawah. Kegemarannya memang membunuh orang, sebagai bahan latihan dari pukulannya yang ampuh. Iblis ke tiga adalah Toat-beng-sian yang mempunyai rupa mirip iblis. Kepalanya yang botak dengan cambang bauk tidak rapi membuat orang yang memandang akan ketakutan. Iblis yang satu ini terkenal dengan kegemarannya memakan daging, darah dan sum-sum manusia. Khususnya lagi anak-anak diumur lima tahun sampai lima belas tahun. Ilmunya yang mengerikan adalah Toat-beng Sin-ciang (Pukulan Sakti Pencabut Nyawa). Selama lima tahun iblis ini menghilang dari dunia kang-ouw dan saat ini muncul kembali. Konon katanya tidak munculnya iblis ini karena sedang menyakinkan sebuah ilmu baru yang sangat dahsyat. Namun namanya masih sangat menggetarkan orang-orang kang-ouw. Apalagi kalau mengingat kegemarannya makan daging, darah dan sum-sum manusia. Iblis ke empat adalah Bu-eng Lo-mo (Iblis Tua Tanpa Bayangan) yang memiliki ginkang paling hebat. Orang tua yang mempunyai postur tubuh sangat kurus ini konon ginkangnya belum ada yang menandingi. Ilmu silatnya juga tinggi. Orang tua kurus ceking ini bisa dibilang tidak begitu jahat sepak terjangnya, namun tetap iblis yang menakutkan. Iblis ke lima adalah Kim-hong Jai-ho-cat (Tawon Emas Pemetik Bunga), seorang penjahat pemerkosa wanita yang malang melintang menakutkan selama ini. Jarang orang melihat wajah aslinya, karena penjahat ini mempunyai keahlian merubah wajah. Keahliannya merubah wajah membuatnya sangat sulit dikenali sebagai seorang penjahat. Kegemarannya adalah melihat gadis-gadis cantik. Iblis ini juga tidak segan-segan membunuh orang demi membungkam orang yang pernah mempergokinya. Sekarang ke lima iblis dari berbagai penjuru sudah hampir berkumpul di tempat ini semuanya. Tinggal satu iblis dari salah satu Pek-lian Sam-kwi (Tiga Iblis Pek-lian-kauw), Swathai Lo-kwi, Lam-hai Koai-jin (Orang Aneh Laut Selatan) dan Ouw-kwi-ong (Raja Iblis Ouw) yang akhir-akhir ini menggemparkan orang-orang kang-ouw. Raja iblis ini pernah melakukan pembantaian para petapa di Himalaya mengunakan ilmu-ilmu khas Pulau Es. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat tampang raja iblis yang satu ini, namun namanya sangat ditakuti oleh setiap orang. Seperti dengan wajahnya, asal muasalnya juga tidak ada orang yang mengetahui. Apakah engkau ingin mencampuri urusan kami seperti belasan tahun yang lalu? balik tanya Hek-liong Putsi tidak senang melihat musuhnya muncul. Kami tidak akan pernah mengurusi urusan peribadi kalian, seandainya kalian tidak melakukan perbuatan keji! Lagian sejak saat ini lohu sudah menjadi bagian dari Thai-san. Jawab kakek Yo tenang. Hahaha... teman-teman! Kakek lemah itu mengatakan mau ikut menjadi setan gentayangan di Thai-san!

Lima iblis itu tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Hek-liong Put-si sebagai pemimpin mereka. Sebaliknya kalianlah yang akan menjadi setan gentayangan hari ini. Pantanganku untuk membunuh saat ini akan kulanggar selagi kalian tidak mau insaf dari jalan kalian! kakek Yo masih tenang meladeni merek berbicara. Insaf? Apakah bukan engkau yang perlu insaf! Teman-teman sebaiknya kita luluskan permintaanya ingin menjadi pemimpin setan-setan gentayangan di sini! Baru saja Hek-liong Put-si selsai berbicara. Kakek Yo dan pendeta Kong Ih sudah dikurung ketat oleh lima iblis. Amitohud! Kalian aneh, dikasih kesempatan untuk memilih yang baik malah mengambil yang buruk! kata pendeta Kong Ih sambil memutar tasbihnya. Senjatanya yang paling diandalkan memang tasbihnya ini. Selesai bicara dua orang kakek tua itu sudah dikeroyok oleh lima iblis. Dua kakek tua yang memiliki ilmu kesaktian sudah sempurna sehingga mampu membendung beberapa serangan dahsyat dari musuhmusuhnya. Dua tangan sakti kakek Yo tiba-tiba bergerak sangat cepat, tangannya seperti berubah menjadi ribuan sehingga membingungkan serangan lawan. Pendeta Kong Ih pun sudah menggunakan ilmu-ilmu pukulannya yang paling hebat seperti Ban-hud-ciang (Selaksa Tapak Budha). Pertahanan dua kakek itu sangat kokoh sehingga serangan yang dilancarkan oleh lima iblis itu menemui kebuntuhan. Gerakan dua tangan kakek Yo Han dan kakiknya sangat istimewa sehingga membuat mereka mandi keringat. Yang paling aneh adalah Bu-eng Lo-mo yang berkelahi dengan menggunakan ginkangnya yang sangat cepat dan istimewa. Gerakannya begitu cepat sehingga hanya terlihat selarik cahaya dan suara gerakannya saja sehingga membuat pertahanan dua kakek itu agak goyah. Serangan yang paling berbahaya adalah serangan yang dilakukan oleh Swat-ciang Lo-kwi dengan pukulan esnya. Hawa pukulannya sangat dingin sehingga membuat kakek Yo dan pendeta Kong Ih menjadi menggigil kedinginan. Lama kelamaan dua kakek sakti itu menjadi kerepotan juga, karena pukulan dingin berhawa racun milik Swat-ciang Lo-kwi membuat merek harus mengerahkan sinkang terlalu banyak. Begitu juga serangan Bu-eng Lo-mo yang begitu cepat laksana angin saja. Tenaga dalam mereka lama kelamaan habis terkuras juga. Payah sekali kali ini dua orang tua ini. Nafasnya sudah tampak memburu bersamaan dengan bertambah dahsyatnya pukulan lima iblis itu. Seandainya mereka mau satu lawan satu, kemungkinan lima iblis itu akan kalah, namun kali ini mereka mengeroyok, sehingga membuat dua orang tua kewalahan. Bangsat! Iblis-iblis curang! tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan berteriak marah dan langsung menyerbu ke tengah gelanggang pertempuran. Perempuan itu adalah Yin Yin dan dua teman lainnya. Mereka lalu masuk ke dalam gelanggang pertempuran mencari lawan masing-masing. Untung sekali mereka datang pada tepat waktunya sehingga dapat membebaskan dua kakek tua dari himpitan lima iblis. Yin Yin sudah langsung berhadapan dengan Kim-hong Jai-ho-cat. Sin-taihiap berhadapan dengan Toat-beng-sian, sedangkan Kim Liong sudah berhadapan dengan Swat-ciang Lo-kwi. Kakek Yo menghadapi Bu-eng Lo-mo yang mempunyai ginkang paling tinggi dan paling sulit dihadapi. Sedangkan pendeta Kong Ih sudah menghadapi Hek-liong Put-si. Yin Yin tampak semangat sekali menghadapi Kim-hong Jai-ho-cat, sebaliknya iblis ini lebih senang karena yang dihadapinya adalah gadis cantik. Akan tetapi setelah bergebrak belasan jurus ia kecelik karena gadis yang masih begitu muda ini ternyata mempunyai ilmu silat yang tinggi. Dari kedua tangannya sering mengelurkan hawa dingin berganti panas. Mukanya tiba-tiba pucat karena ia tahu bahwa gadis perempuan di depannya menggunakan ilmu khas Pulau Es, Swat-im Sin-ciang (Tangan Sakti Inti Salju) dan Hwi-yang Sin-ciang (Tangan Sakti Inti Api). Pertarungan Di PuncakThai-san Bab Ke Empat Pukulan Yin Yin selalu berganti-ganti sehingga membingungkan Kim-hong Jai-ho-cat. Tahu dirinya akan kalah kalau terus menerus bergebrak melawan lawannya akhirnya ia meloncat mundur. Dari tangan kirinya

ia mengeluarkan sapu tangan berwarna keemasan. Lalu dengan sapu tangan itu ia melakukan penyerangan kembali. Beberapa kali sapu tangan yang ada di tangan lawan merosot menyentuh muka Yin Yin dan penciumannya mencium aroma wangi. Baru saja ia mau menghindar tiba-tiba ia merasakan kepalanya sangat pusing ingin tidur. Pengalaman Yin Yin di dunia kang-ouw masih sedikit sehingga ia tidak merasa aneh ketika musuhnya mengeluarkan sapu tangan. Padahal sapu tangan itu sudah dibubuhi dengan obat bius sehingga dalam sekejab saja membuat gerakan Yin Yin sempoyongan. Kali ini bukan dia yang mendesak musuh, malahan musuhnya yang mendesaknya terus menerus. Yin Yin sudah tidak kuat sekali menahan kepalanya yang terasa berdenyut-denyut aneh. Langkahnya semakin sempoyongan dan tiba-tiba tubuhnya merosot tanpa bisa dijegahnya lagi. Kim-hong Jai-ho-cat menyeringai senang melihat musuhnya jatuh tertidur. Lalu ia mengulurkan tangan ingin meraih tubuh musuhnya. Blukkkkkkkk!!! Sebuah pukulan mengenai lengan kirinya. Tubuhnya melayang ambruk. Aihhhhhhh, aduh....aduh...!! Kim-hong Jai-ho-cat menjerit-njerit kesakitan. Tubuhnya terasa menggigil kedinginan. Apa yang terjadi? Ternyata ketika Kim-hong Jai-ho-cat hendak mengulurkan dua tangannya meraih tubuh Yin Yin, secepat kilat tiba-tiba ada sebuah pukulan dahsyat mengenai pundaknya. Belum ia sempat mengelak, pukulan itu sudah bersarang di ketiaknya. Ia tersungkur dengan muka pucat akibat pukulan berhawa dingin dari lawan. Serangan itu dari Kim Liong yang khuwatir melihat keadaan Yin Yin. Namun pukulannya itu juga harus dibalas mahal. Karena kurang konsentrasi, sehingga ia dalam detik itu juga mendapatkan sebuah pukulan dari musuhnya. Pukulan itu walaupun tidak begitu berbahaya akan tetapi sudah cukup melukai Kim Liong. Dadanya terasa sesak akibat pukulan berhawa racun itu. Sejak tadi ia hanya memakai ilmu Si-pat Jit-yang Sin-ciang (18 Tangan Sakti Inti Matahari) dan Si-pat Goatim Sin-ciang (18 Tangan Sakti Inti Bulan) secara bergantian namun tidak mampu mendesak ilmu lawan yang hebat. Sebenarnya dua ilmu Kim Liong itu hebat sekali, namun anak muda ini belum bisa menguasai dengan sempurna. lalu ia merubah ilmu silatnya ke Pek-in Sin-kang (Hawa Sakti Awan Putih) yang telah berhasil dilatihnya sampai pada tingkatan ke dua. Sebuah ilmu tertinggi di Pulau Awan Putih. Kali ini ilmu silatnya begitu dahsyat sehingga dari kepala daN ke dua tangannya keluar uap putih. Hawanya ini saja sangat dingin sehingga membuat lawannya otomatis mundur. Swat-ciang Lo-kwi yang telah menguasai Pukulan Salju saja merasakan kedinginan sehingga membuatnya tidak berani dekat-dekat dengan pemuda ini. Kali ini Kim Liong mampu mendesak lawannya mundur beberapa langkah. Hampir tidak percaya Swat-ciang Lo-kwi melihat kehebatan ilmu silat lawannya yang masih muda. Berkali-kali bertanya pada dirinya siapa sebenarnya pemuda yang mampu mendesaknya terus menerus ini. Jari-jemari Swat-ciang Lo-kwi dirapatkan dan memulai pembalasan kepada Kim Liong. Ketika sebuah pukulan melayang ke arah kepalanya, Kim Liong tidak menjadi gugup. Pukulan yang begitu kuat dan cepat itu tampak jelas di depan matanya. Ia tahu bahwa pukulan seperti itu kemungkinan hanya tipuan saja, sehingga mau tidak mau ia harus memapaki pukulan lawannya dengan pukulan Pek-in Sin-kang yang sudah dipersiapkan. Duk.kk..blanggg......!!! tubuh Swat-ciang Lo-kwi sempoyongan, sedangkan Kim Liong mundur sampai lima tindakan. Badan Swat-ciang Lo-kwi tampak menggigil terdiam. Kesempatan ini digunakan oleh Kim Liong dengan serangan balasan. Walupun dadanya terasa nyeri akibat menahan pukulan lawan, ia tetap menyerang pada titik kekuatan terakhir. Sambil melompat ia melancarkan pukulan ke arah dada lawan. Swat-ciang Lo-kwi yang lagi memejamkan mata merasakan jantungnya tergetar parah tidak merasakan serangan terakhir lawannya. Blukkkkkk...duggggggg...blanggggggg!!! tubuh Kim Liong terpental jauh sekali.

Ternyata dalam detik terakhir Swat-ciang Lo-kwi memapaki pukulan Kim Liong dan dibantu oleh sebuah pukulan dari Toat-beng-sian sehingga dua kali Kim Liong mendapatkan pukulan dahsyat. Tubuhnya terpental jauh hingga terlempar keluar arena masuk ke dalam jurang. Tubuhnya melayang seperti burung dalam keadaan sangat menderita. Tidak hanya dadanya yang terasa bergetar namun semua isi dalamannya seperti terkena listrik. Sakit sekali. Dari mulutnya keluar darah segar dan tubuhnya melayang jatuh. Semua orang berteriak tegang melihat tubuh yang jatuh ke jurang itu. Tubuh Kim Liong melayang dan ia sendiri tidak kuat lagi menahan sakit tubuhnya hingga dirinya pingsan tidak sadarkan diri. Di bawah jurang menganga hutan belantara dan tebing berbatuan yang sangat keras. Entah akan bagaimana tubuh Kim Liong nantinya. Kejam! teriak kakek Yo melihat ulah Toat-beng-sian yang melakukan bopongan belakang. Kali ini kakek Yo mengamuk seperti naga kehilangan anaknya. Kali ini ia sudah menggunakan ilmu simpanannya Bu-kek Hoat-keng. Tubuh Yin Yin dan Sin-taihiap yang sudah pingsan tidak lagi membantu dua orang tua itu. Di pihak lima iblis sudah ada dua orang juga yang luka parah, yaitu Kim-hong Jai-ho-cat dan Swat-ciang Lo-kwi. Toat-beng-sian juga mengalami luka walaupun tidak separah dua orang terkena pukulan dingin Kim Liong. Dua tangan kakek Yo Han berubah seperti dua sayap singa yang membuat dua lawannya Bu-eng Lo-mo dan Toat-beng-sian kewalahan. Lalu dua tangan sakti itu berubah lagi seperti ribuan sayap naga yang tidak hanya membuat dua lawannya kewalahan, akan tetapi juga terkena pukulan itu beberapa kali. Dari kedua kepalan tangannya keluar uap putih yang dapat mengkis semua sifat-sifat jahat dan inilah salah satu keistimewaan ilmu Bu-kek Hoat-keng. Pihak pendeta Kong Ih dengan Hek-liong Put-si juga mengalami serangan yang gencar dan berbahaya. Pukulan seribu Budha membuat Hek-liong Put-si mati kutu. Lalu Hek-liong Put-si membuat siulan keras menandai kepada teman-temannya untuk lari. Mereka segera mundur serempak dan pergi tanpa bicara. Dua kakek tua itu diam saja membiarkan lima iblis itu turun gunung. Sebaiknya kita beristirahat dulu di tempat ini. Besok baru mencari tubuh orang muda itu. semoga Tuhan menyelamtkan jiwanya! kata kakek Yo yang lalu disepakati oleh orang-orang kang-ouw yang ada di belakang mereka. Kakek Yo dan pendeta Kong Ih lalu memondong tubuh Yin Yin dan Sin-taihiap ke sebuah batu untuk memeriksanya. Yin Yin tidak mengalami luka sedikit pun, hanya terkena obat bius saja. Kakek Yo lega sekali melihat gadis ini tidak apa-apa. Sedangkan Sin-taihiap mengalami luka pukulan lagi di dadanya, walaupun tidak begitu parah. Pendeta Kong Ih juga merasa lega melihat cucu muridnya ini tidak mengalami luka begitu parah. Pagi-pagi sekali Yin Yin dan Sin-taihiap sudah terbangun dari pingsannya. Mereka lalu menanyakan diri Kim Liong. Kakek Yo lalu menceritakan dengan detail kondisi Kim Liong yang tidka diketahuinya setelah jatuh ke jurang. Hati Yin Yin dan Sin-taihiap sangat sedih. Lalu kakek Yo bertanya kepada dua orang itu tentang siapa Kim Liong dan dari perguruan mana ia datang. Hakikatnya Yin Yin maupun Sin-taihiap tidak tahu sama sekali tentang diri Kim Liong. Mereka tidak tahu apa-apa dan tidak bisa menjawabnya. Ilmu yang digunakan oleh pemuda itu sangat hebat, baru pertama kali ini lohu melihat ilmu sedahsyat itu! Semoga pemuda itu bisa bertahan diri di bawah sana sebelum kedatangan kita! kata kakek Yo terkagumkagum akan kedahsyatan ilmu Kim Liong. Pinceng juga baru pertama kali ini melihat jurus yang dipakai anak muda itu. Entah perguruan mana yang mampu menciptakan jurus sehandal itu? Pinceng yakin kalau ilmu itu dilatih sampai tingkatan sempurna akan mampu menandingi ilmu-ilmu khas Pulau Es. Kata pendeta Kong Ih juga. Mereka lalu turun ke bawah untuk mencari tubuh Kim Liong. Setelah mencari seharian penuh, ternyata mereka tidak dapat menemukan tubuh Kim Liong. Bekas-bekasnya pun tidak ada. Tubuh Kim Liong menghilang begitu saja. Sore itu juga orang-orang kang-ouw bubar meninggalkan Thai-san. Hanya kakek Yo han, pendeta Kong Ih, Yin Yin dan Sin-taihiap yang masih betempat tinggal di situ hingga sebulan lamanya. Mereka masih mencari tubuh Kim Liong namun tidak pernah menemukannya. Akhirnya Sin-taihiap pergi dari Thai-san bersama pendeta Kong Ih. Sedangkan Yin Yin dan kakek Yo masih bertempat di Thai-san. Yin Yin menemani kakek Yo hidup di puncak Thai-san sambil tetap mencari Kim Liong dan sepasang musang emas. Sambil mendampingi kakek Yo, Yin Yin mendapatkan pengajaran khusus dari kakek Yo Han. Semua ilmu yang dipelajarinya disempurnakan oleh Kakek Yo Han.

<><><><><>0<><><><><> Puncak Gunung Mao-mao! <1> III- Puncak Gunung Mao-mao! Pegunungan Mao-mao-san terletak di sebelah utara propinsi Gan-su dan Mongolia Dalam. Walaupun tidak mempunyai keindahan seperti gunung-gunung lain yang ada di China, namun gunung ini mempunyai keunikan tersendiri. Gunung Mao-mao yang berada dekat dengan perbatasan China dengan Mongolia ini mempunyai tanah yang bisa dikatakan subur. Sungai-sungai Huang-ho yang panjang dan berliku-liku dapat mencapai daerah sekitarnya, sehingga menjadikan tanah di sekitar gunung ini tampak subur. Dari pegunungan Ma-mao-san, tampak pemandangan di sebelah utara begitu mengerikan. Dari puncak Maomao-san bisa dilihat daerah Mongolia yang kering dan berhawa panas. Tanah berpasir atau lautan pasir Mongolia dapat dilihat jelas dari puncak pegunungan ini. Tumbuh-tumbuhan, bunga, dan pepohonan hijau bisa tumbuh lebat di daerah ini, namun kalau melihat ke utara pemandangannya akan nampak terbalik seratus delapan puluh derajat. Pemandangan gurun pasir sangat mencolok mata kalau dibandingkan dengan pemandangan hijau daerah pegunungan ini. Di puncak Mao-mao-san berdiri sebuah pemondokan yang tidak begitu besar. Aneh sekali kalau di pegunungan yang sepi ini ada rumah orang. Pemondokan yang ada di puncak Mao-mao-san telah ada sejak puluhan tahun lamannya. Para pemburu sudah mengenal siapa orang yang menempati pemondokan yang bertengger aneh di puncak sepi itu. Pemondokan kecil di puncak Mao-mao-san itu ditempati oleh seorang kakek berumur enam puluh dan seorang pemuda berumur dua puluh tahun. Seorang kakek berilmu tinggi yang jarang sekali terjun ke dunia kang-ouw ini sangat terkenal di daerah pegunungan Mao-mao-san. Sering kakek ini turun gunung membantu penduduk sekitar dari berbagai masalah, seperti mengusir penjahat atau membantu penduduk jika terjadi wabah penyakit atau lain-lainnya. Penduduk sekitar sangat menghormati kakek tua dengan murid tunggalnya ini. Adanya kakek dan murid tunggalnya di puncak gunung Mao-mao, bisa dikatakan sangat ditakuti oleh penjahat yang ingin membuat kerusuhan di Ma-mao-san atau sekitarnya. Maka tidak heran kalau sejak puluhan tahun, daerah pegununga Mao-mao-san dan sekitarnya sangat aman dan tentram. Para pemburu dan penduduk sekitar daerah pegunungan Mao-mao umumnya hanya berani berburu binatang di kaki gunung saja, jarang ada yang berani naik sampai puncaknya. Memang kakek sakti itu tidak pernah melarang siapa saja untuk naik ke atas puncak, hanya para pemburu dan penduduk daerah itu saja yang merasa segan mengganggu ketenangan penyelamat mereka. Biasanya penduduk memanggil kakek itu dengan Lo-sian (Dewa Tua). Tidak ada seorang pun yang tahu siapa sebenarnya kakek tua sakti itu dan sejak kapan ia tinggal di puncak Mao-mao-san. Mereka hanya mengetahui bahwa kakek itu sangat baik karena sering membantu penduduk sekitar. Murid tunggalnya yang sudah berumur dua puluh tahun biasa dipanggil Tiong-ji (Anak Tiong). Murid tunggalnya ini memiliki penampilan yang gagah dengan kulit putih dan berotot. Saat ini kakek Lo-sian sedang duduk di atas sebuah batu di depan pemondokannya. Batu datar dengan panjang sekitar dua meter itu adalah tempat duduk yang biasa dipakai kakek Lo-sian atau Tiong-ji untuk bermeditasi dan beristirahat sambil memandangi munculnya matahri terbit. Kakek Lo-sian menatap murid tunggalnya yang sedang duduk di sampingnya dengan mata berkaca-kaca. Sudah lama sekali Tiong-ji belajar ilmu silat kepada gurunya yang sudah tua. Kalau dihitung sudah lima belas tahun ia hidup di puncak bersama gurunya melalui kehidupan yang bisa dibilang menyenangkan. Namun hari ini dirinya akan pergi turun gunung mengemban amanah gurunya. Ia akan berpisah dengan gurunya yang sudah mendidiknya selama ini. Liong-ji, sebelum engkau turun gunung, aku akan sedikit bercerita tentang diriku, dirimu dan perguruan kita. Semoga ceritaku ini dapat mengobati rasa penasaranmu selama ini. Sebelum aku bercerita tentang kita, alangkah baiknya engkau mengetahui kondisi dunia kang-ouw saat ini. Kata kakek Lo-sian kepada Tiong-ji sambil menatapnya. Ia tahu bahwa sejak dahulu muridnya ini selalu bertanya apa nama perguruannya atau tentang asal muasal ilmu-ilmunya yang selalu dirahasiakannya.

Apakah benar suhu (guru) akan melepaskan teecu (murid) untuk turun gunung hari ini juga? tanya Tiong-ji yang sepertinya berat meninggalkan gurunya sendirian di puncak yang sepi ini. Ah, ketahuilah Tiong-ji, bahwa saat inilah yang paling cocok untuk turun gunung, karena banyak pendekar yang membutuhkan bantuanmu, lagian setelah ini aku akan menutup diri untuk mensucikan diri di puncak ini. Kondisi kang-ouw saat ini tidak lagi bisa dikontrol, banyak datuk jahat yang keluar dari sarangnya membuat kondisi semakin buruk, apalagi negara saat ini juga sudah begitu lemah dan kacau. Ada banyak datuk sesat yang sudah keluar dari pertapaannya setelah mendengar kabar munculnya harta karun di Thaisan dan munculnya pulau baru di timur. Ketahuilah bahwa diantara datuk-datuk sesat itu ada yang muncul dari perguruan kita. Bisa dikatakan dia masih suheng (kakak laki-laki seperguruan)-mu, walaupun umurnya jauh lebih tua darimu. Ilmunya sangat tinggi namun ilmu-ilmu yang dikuasainya diselewengkan sehingga mengotori nama besar perguruan kita ratusan tahun. Kakek Lo-sian berhenti mengambil nafas. Namanya Sie Hui Kong murid dari suci (kakak seperguruan perempuan) Suma Lian dan suaminya Gu Hong Beng. Sie Hui Kong diangkat sebagai murid tunggal, sekalian anak angkat dari dua orang sakti itu sejak berumur sepuluh tahun. Waktu itu suci Suma Lian dan suheng Gu Hong Beng sudah berumur hampir mendekati umur enam puluh tahun dan belum juga mendapatkan keturunan, hingga mereka terpaksa mengambil anak angkat anak orang lain. Semua ilmu perguruan kita dikuasai oleh Sie Hui Kong sampai sempurna sehingga membuatnya berkepandaian tinggi. Mungkin karena Sie Hui Kong hanya didik ilmu-ilmu tinggi saja tanpa mendidik budi pekertinya, sehingga akhir-akhir ini sepak terjangnya menjadi salah arah, tersesat begitu jauh. Ingatlah selalu bahwa ilmu silat tinggi tidak akan berarti apa-apa, bahkan dapat merugikan diri sendiri dan orang lain mana kala tidak diimbangi dengan kebersihan hati. Makanya selama ini engkau tidak hanya kuajarkan ilmu silat saja, namun ilmu kebatinan juga kuajarkan kepadamu. Semuanya ini agar engkau tidak salah melangkah dikemudian hari seperti saudara seperguruanmu itu. Apakah bibi guru Suma Lian adalah puteri tunggal dari kakek guru Suma Ceng Liong dan nenek guru Kam Bi Eng? tanya Tiong-ji disela-sela berhentinya gurunya. Benar, Tiong-ji! Ketahuilah bahwa kakek gurumu itu adalah cucu langsung dari pendekar Suma Han yang ratusan tahun yang lalu terkenal dengan julukannya Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman. Sedangkan ayah kakek gurumu Suma Ceng Liong bernama Suma Kian Bu yang juga termasuk pendekar besar menggeparkan dunia kang-ouw ratusan tahun yang lalu. Julukannya Siluman Kecil sangat disegani dan ditakuti setiap orang-orang kang-ouw. Perguruan kita yang sudah muncul ratusan tahun sangat dihormati oleh setiap orang kang-ouw. Perguruan kita biasa dikenal sebagai orang-orang kang-ouw sebagai Pulau Es, karena sejak ratusan tahun para murid perguruan kita hidup di sebuah pulau dengan nama Pulau Es. Sayang sekali, sejak meninggalnya kakek gurumu Suma Ceng Liong anak murid Pulau Es sudah tidak lagi terdengar gemanya, karena disamping keturunan langsung keluarga Suma terputus, juga diantara para murid-muridnya tidak ada yang mampu menguasai ilmu-ilmu tinggi Pulau Es. Bisakah suhu menceritakan mulai dari awal kisah asal mula dari perguruan kita ini?!! kata Tiong-ji berharap. Kisahnya cukup panjang, Tiong-ji. Namun akan kusingkat saja dan aku yakin suatu saat engkau akan mengetahui banyak tentang perguruan kita jika engkau sudah turun gunung. Kisah asal mulanya perguruan kita dari seorang manusia setengah dewa yang disebut Bu Kek Siansu. Bu Kek Siansu adalah salah satu murid dari seorang raja kecil di sebuah pulau di lautan Po-hai sebelah utara yang bernama Pulau Es. Pulau ini sangat misterius, karena sangat jarang orang yang mengetahui tempat ini. Pulau Es konon dihuni oleh manusia-manusia super selama ratusan tahun dan hidup dengan tentram dan damai. Mereka hidup dengan tentram sampai suatu hari ada badai menerjang pulau itu sehingga semua penghuninya lenyap tanpa tersisa, hanya Bu Kek Siansu dan sumoi (adik perempuan seperguruan)-nya saja yang selamat dari terjangan badai dahsyat. Konon Bu Kek Siansu bisa hidup selama ratusan tahun lamanya dan kepandaiannya sangat hebat sekali. Bu Kek Siansu selama perjalananya menebar kebajikan hanya menerima tiga murid saja, yaitu Kam Han Ki atau Koai-lojin (Kakek Aneh), Puteri Maya, dan Khu Siauw Bwee. Mereka hidup di Pulau Es bertahun-tahun lamanya sampai meninggalkan tempat itu. Beberapa tahun kemudian Pulau Es dapat dikunjungi oleh Suma Han dengan puteri Lulu tanpa sengaja dan mempelajari ilmu-ilmu silat Pulau Es selama beberapa tahun. Beberapa puluh tahun kemudian Suma Han kembali ke Pulau Es bersama dua istrinya puteri Niharai dan Lulu dan hidup di sana sampai meninggal. Suma Han dan puteri Niharai dikaruniai dua anak yaitu puteri Milana dan Suma Kian Bu, sedangkan dari puteri Lulu mereka dikaruniai seorang putera bernama Suma Kian Lee. Semua anak dan cucu keluarga Suma selalu menjadi pendekar yang selalu menjunjung nilai keadilan dan kesucian, maka tidak heran nama Pulau Es semakin terkenal di dunia kang-ouw.

Ketahuilah, Tiong-ji! Bu Kek Siansu konon adalah manusia paling jenius sehingga mampu menciptakan ilmu-ilmu yang hebat, setiap musim semi ilmu-ilmunya ini akan diajarkan kepada setiap orang yang berjodoh bertemu dengannya, termasuk ilmu-ilmu Pulau Es dan Ilmu-ilmu yang dikuasai oleh Kim-siauw-hiap (Pendekar Suling Emas) ayah dari nenek gurumu Kam Bi Eng. Nama Kim-siauw-hiap juga tidak kalah terkenalnya dengan Pulau Es karena ilmu-ilmunya dari orang suci Bu Kek Siansu. Makanya aku berharap engkau menggunakan semua ilmu yang pernah engkau pelajari dariku di jalan yang benar, karena ilmu-ilmu itu berasal dari manusia suci Bu Kek Siansu. Apakah ilmu seperti Hong-in Bun-hoat (Ilmu Sastra Angin dan Mega), Pat-sian Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Dewa), Lo-hai San-hoat (Ilmu Kipas Kacau Lautan), Hwi-yang Sin-ciang (Tangan Sakti Inti Api), dan Swat-im Sin-ciang (Tangan Sakti Inti Salju) adalah ilmu milik Bu Kek Siansu? tanya Tiong-ji. Bisa dikatkan seperti itu, Tiong-ji. Ilmu Pat-sian Kiam-hoat, Lo-hai San-hoat, Hong-in Bun-hoat, Kim-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Emas), Liong-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Naga), Swat-im Sin-ciang, dan Hwi-yang Sin-ciang dari kakek gurumu Suma Ceng Liong dan nenek gurumu Kam Bi Eng sudah kuajarkan semuanya kepadamu. Kesempurnaan dari semua ilmu-ilmu sakti itu tinggal tergantung dari ketekunanmu beberapa tahun lagi dan bakatmu yang sangat besar sambil meluaskan pengalaman. Semua ilmu itu akan matang dan dapat engkau sempurnakan kelak! Ketahuilah, bahwa dahulu aku pernah berjanji kepada suhu Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng beberapa hal, namun hingga saat ini ada yang belum dapat kujalankan. Janji yang belum dapat kujalankan itu saat ini akan kubebankan kepadamu, Tiong-ji. Pertama dahulu aku pernah berjanji untuk selalu menggunakan ilmuilmu yang kupelajari kepadanya hanya untuk berbuat kebaikan. Ke dua kalau suatu saat engkau menikah dan mempunyai lebih dari dua anak laki-laki, semoga engkau dapat memberikan she (marga) Suma dan Kam sebagai penyambung dua keluarga besar itu supaya tidak putus. Dua janji itu harap engkau camkan baik-baik, khususnya hal yang pertama. Jangan sembrono menggunakan ilmu-ilmu suci itu nanti di luar! Semoga kelak teecu selalu mendapatkan bimbingan Tuhan, sehingga selalu menggunakannya untuk membela keadilan dan bukan mencari permusuhan. Teecu akan selalu mengingat dan melaksanakan dua janji itu, suhu! Semuanya sudah kujelaskan, kecuali tentang dirimu. Ketahuilah bahwa darah yang ada dalam tubuhmu mengalir tiga darah pendekar dan keluarga besar. Darah pendekar pertama dari para pendekar Naga Gurun Pasir keluarga Kao dari nenek Kao Hong Li. Darah pendekar ke dua dan ke tiga adalah keluarga Kam dan Suma yang mewakili para pendekar Pendekar Suling Emas dan Pulau Es. Dua darah keluarga Kam dan Suma engkau dapatkan dari ibu nenekmu Kao Hong Li yang bernama Suma Hui puteri dari pendekar Suma Kian Lee. Wajah Tiong-ji tampak terkejut mendengar perkataan gurunya yang sama sekali belum pernah terlintas dipikirannya. Puncak Pegunungan Mao-mao! <2> Jangan terlalu terkejut mendengarnya dan jangan terlalu sombong atas semua nikmat Tuhan ini, Tiongji! Teecu mohon petunjuk, suhu! Apakah keluarga teecu masih ada di luar? Keluargamu semuanya masih ada, kecuali ibumu yang sudah lama meninggal setelah terjadi pertarungan hebat di Bukit Naga dahulu! Mungkin engkau masih mengingat peristiwa itu, bukan? Tiong-ji menganggugkan kepalanya. Semua perjalanan pahit berpisah dengan ayah-bundanya masih teringat di otaknya, walapun terlihat samar-samar. Ia hanya bisa mengingat ketika dirinya dibawa lari oleh salah satu seorang Pek-lian Sam-kwi (Tiga Iblis Pek-lian-kauw) dan hampir dibunuhnya, kalau tidak diselamatkan gurunya. Ia juga ingat siapa nama ayah ibunya, yaitu Yo Han dan Tan Sian Li yang amat terkenal di dunia kang-ouw. Tiong-ji atau Yo Han Tiong adalah putera dari kakek Yo Han yang selama lima belas tahun hilang tanpa ketahuan rimbanya. Ternyata ia masih hidup, bahkan berhasil mewarisi ilmu-ilmu hebat dari murid penutup kakek Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng. Aku baru-baru ini mendengar bahwa perebutan sepasang musang berbulu emas dan berekor sembilan di Thai-san berhasil digagalkan oleh ayahmu dibantu oleh beberapa pendekar muda. Ayahmu dan beberapa

pendekar tangguh muda itu berhasil mengusir lima iblis yang selama ini membuat dunia kang-ouw tidak tenang. Bolehkah teecu mengetahui siapa sajakah datuk-datuk sesat saat ini dan bagaimanakah keadaan ayah saat ini juga? Engkau jangan mengkhuwatirkan ayahmu, Tiong-ji! Mereka adalah Hek-liong Put-si (Naga Hitam Tak Termatikan), Swat-ciang Lo-kwi (Iblis Tua Pukulan Salju), Toat-beng-sian (Dewa Pencabut Nyawa), Bu-eng Lo-mo (Iblis Tua Tanpa Bayangan), Kim-hong Jai-ho-cat (Tawon Emas Pemetik Bunga) dan masih ada banyak lagi yang lebih hebat kepandaiannya dari mereka, termasuk Sie Hui Kong dan seorang pendatang baru yang mempunyai julukan Ouw-kwi-ong (Raja Iblis Ouw)! Kalau engkau bertemu dengan mereka, maka berilah teguran, namun kalau engkau tidak bisa meluruskan dahan yang bengkok, engkau boleh mematahkannya! Hanya itulah jalan untuk menenangkan kondisi kangouw yang sedang ruwet ini. Sambung kakek Lo-sian. Oh, ya! Jangan lupa titip salam dan pinta maafku kepada ayahmu yang saat ini ada di Thai-san. Sebelum engkau pergi, aku hanya bisa memberikan dua benda ini padamu! Pergunakanlah dua benda ini baik-baik, karena dua benda pusaka ini diwariskan oleh subo (ibu guru) Kam Bi Eng kepadaku dan saat ini kuwariskan kepadamu! Tiba-tiba kedua tangan kakek Lo-sian sudah memegang dua benda, yaitu sebuah suling emas dan sebuah kipas. Dua benda keramat itu adalah dua benda warisan dari nenek Kam Bi Eng yang didapatkan dari ibunya Bu Ci Sian sebelum meninggal dunia di Bukit Nelayan. Dua benda pusaka Pendekar Suling Emas itu diambil dengan hormat oleh Yo Han Tiong. Lalu dimasukkan ke dalam jubahnya. Setelah mengulang pesan-pesannya, kakek Lo-sian memberi doa restu kepada muridnya untuk meninggalkannya. Yo Han Tiong pergi dengan menahan linangan air mata, karena sudah lima belas tahun lamanya ia berdiam diri di puncak sepi bersama gurunya yang sudah tua. Yo Han Tiong tidak hanya diajarkan oleh kakek Lo-sian ilmu silat yang tinggi yang bisa dikatakan sudah hampir musnah di dunia kang-ouw, namun juga diajarkan tentang ilmu kebatinan sehingga hatinya terasa sangat berat meninggalkan gurunya. Han Tiong berjalan menuruni pegunungan Mao-mao-san dengan linangan air mata setelah agak jauh dari puncak. Berkali-kali ia tampak ia menengok ke belakang ke atas puncak seperti keberatan meninggalkan gurunya. Sebentar kemudian ia sudah berada di lerang gunung dan mulai memasuki hutan lebat. Saat itulah hatinya sudah tidak lagi merasakan beban meninggalkan gurunya. Kali ini pikirannya bekerja memikirkan apa yang ahrus dikerjakan pertama kali dalam perjalannanya ini. Ia mulai merangkum semua pembicaraan gurunya dari mulai cerita tentang asal muasal perguruannya sampai kepada tentang keluarganya. Sepertinya aku harus ke Thai-san dulu untuk bertemu dengan ayah, baru mengerjakan perintah guru untuk mencari suheng Sie Hui Kong dan meluaskan pengetahuan melalui pengembaraan sambil mengemban tugas nenek moyangku! akhirnya ia dapat merumuskan tujuan utamanya. Kakinya dilangkahkan kembali dengan ringan. Wajahnya yang tampan tampak lebih menarik ketika ia tersenyum senang. Baru kali ini ia bisa merasakan apa arti kebebasan yang sebenarnya. Langkahnya menjadi semakin ringan menuju ke arah utara. <><><><><>0<><><><><> Sore hari itu desa Tai-an terasa begitu sepi. Lebih sepi dari hari-hari kemarin. Sejak terdengarnya kabar sepasang musang berbulu emas dan berekor sembilan di puncak Thai-san, hari demi hari keadaan desa Tai-an semakin sepi menakutkan. Apalagi sejak para orang kang-ouw turun gunung setelah terjadi pembunuhan besar-besaran sebulan yang lalu. Setelah terjadi pembunuhan yang dilakukan oleh para datuk sesat hitam di puncak Thai-san, orang-orang kang-ouw yang selamat menyebar kabar menakutkan itu di luar. Kabat penyembeliaan puluhan orang kangouw ini terdengar menakutkan di telinga para orang kang-ouw dan penduduk desa Tai-san. Hingga saat ini desa itu semakin sepi karena penduduk desa sudah ketakutan setelah mendengar kabar tentang tragedi di

puncak. Ada beberapa dari sebagian penduduk yang menghubungkan kejadian ini dengan cerita-cerita tahayul seperti para penunggu Thai-san marah karena diganggu oleh para orang kang-ouw. Namun selama sebulan setelah terjadi tragedi itu, ada beberapa penduduk yang ditemukan hilang tanpa jejak. Mereka yang hilang rata-rata masih kanak-kanak. Hilangnya beberapa anak kecil mengakibatkan suasana desa Tai-an semakin memperihatinkan. Selain hilangnya beberapa anak kecil yang berumur sekitar sepuluh tahun, ada juga penduduk yang kehilangan anak gadis mereka. Setidaknya sudah ada lima anak berumur antara tujuh sampai sepuluh tahun dan tiga gadis berumur delapan belas tahun raip tanpa tahu kemana perginya. Hanya saja ada beberapa orang yang mengaku pernah melihat beberapa kelabetan bayangan di malam hari sebelum anak-anak atau gadis-gadis desa hilang. Penduduk menyakini bahwa hilangnya anak-anak mereka karena diambil para penunggu Thai-san yang sedang marah. Namun ada beberapa pendekar yang tidak percaya dengan cerita tahayul itu, mereka menyakini bahwa ada beberapa orang jahat yang sedang menmancing ikan di air keruh. Selama seminggu itu sudah ada banyak pendekar yang membantu penduduk untuk mencari anak-anak mereka. Namun kebanyakan para pendekar tidak kembali ketika mereka memasuki hutan di bawah kaki Thai-san. Hilangnya sebagian para pendekar juga membuat penduduk Tai-an menjadi semakin panik, dari mulai sore hari mereka sudah mengurung diri di rumah sampai pagi hari. Mereka benar-benar ketakutan sampai desa Taian terlihat benar-benar menakutkan, tidak ada satu pun orang yang keluar rumah dari mulai sore hari sampai pagi. Sore itu terlihat seorang gadis berpakaian biru laut sedang berjalan pelan sendirian. Gadis itu terlihat sangat cantik, hidungnya Manchung dengan kulit berwarna putih mulus dan rambutnya yang dibiarkan terurai berwarna hitam legam. Gadis berumur delapan belas tahun itu baru datang dan sedang mencari penginapan. Sudah berhari-hari dirinya berjalan dari kota raja menuju Thai-san untuk mencari informasi tentang tragedi sebulan yang lalu. Gadis itu berjalan dengan hati penuh penasaran karena sejak masuk desa Tai-an ia belum melihat seorang pun, padahal hari ini masih sore. Dua matanya yang bersinar seperti bintang kejora menatap nama penginapan yang ada di depannya dan sambi berhenti di depan penginapan itu ia bergumam sendiri. Kenapa penginapan ini tutup? Padahal masih sore.. Maaf apa di dalam ada orang?! gadis itu berteriak sambil menggedor-ngedor pintu. Tidak ada suara apa-pun yang menyaut. Sepertinya pemilik penginapan memang ketakutan untuk membuka pintu. Lo-pek, tolong buka pintunya! Aku perlu tempat istirahat untuk malam ini! gadis itu masih berteriak. Setelah beberapa kali berteriak sambil menyakinkan akhirnya pemilik penginapan membuka pintu dna mempersilahkan gadis itu untuk masuk. Seorang laki-laki tua itu tampak pucat seperti menanggung rasa takut yang berat. Badannya menggigil seperti orang kedinginan. Ketika gadis itu masuk ternyata di dalam sudah berdiri beberapa anggota keluarganya yang tampak ketakutan. Lo-pek, ada apakah di desa ini hingga aku tidak melihat seorang pun di luar? tanya gadis itu heran sekaligus penasaran. Mereka semua bersembunyi di dalam rumah masing-masing, karena takut penuggu Thai-san akan datang lagi! jawab pemilik penginapan singkat. Penunggu Tha-san? Bisakah lo-pek menceritakan semua kejadian akhir-akhir ini kepadaku, semoga aku bisa membantu kalian! Duduklah dulu, nona! Biar kita berbicara sambil duduk! Sepertinya nona orang kang-ouw yang memilki kepandaian, kalau boleh tahu ada keperluan apa nona datang ke tempat ini dan siapa nama nona, kalau nona tidak berkeberatan memberi tahu kami dulu sebelum aku bercerita! Mereka duduk di tengah ruangan rumah yang biasanya dipakai untuk tempat restoran. Gadis itu melepas bungkusannya dan menarunya di atas meja. Aku datang jauh dari barat sedang merantau untuk meluaskan pengalaman. Lo-pek boleh memanggilku Rong Rong! Kalau boleh tahu ada kejadian apakah di desa ini? kata Rong Rong memperkenalkan diri.

Rong Rong ceritanya sangat panjang sekali. Terus terang, setelah terjadi tragedi pembantaian di puncak Thai-san sebulan yang lalu, kehidupan penduduk Tai-an semakin hari semakin menyedihkan. Beberapa hari ini sudah ada lima anak-anak dan tiga gadis penduduk kami hilang entah dimana, kemungkinan penunggu Thai-san masih belum puas dengan pembantaian di puncak tempo kemarin!. Selama sebulan ini kami hidup dalam ketakutan, terpaksa kami berdiam di rumah saja. Rong Rong tampak diam saja, namun pikirannya bekerja. Ia sudah jelas sekali tentang kejadian tragedi pembantaian di atas puncak seminggu yang lalu, pernah ia mendapatkan cerita langsung dari orang kangouw yang selamat dari pembantaian. Maka ia tidak lagi bertanya bagaimana pembantaian itu terjadi. Ia hanya dia saja ketika pemilik penginapan bercerita juga tentang tahayul-tahayul Thai-san. Di pikirannya hanya memikirkan kemungkinan penculikan itu dilakukan oleh penjahat berkedok iblis atau penjaga Thaisan. Setelah puas mendengarkan cerita dari pemilik penginapan tentang cerita-cerita tahayul yang membuatnya geli, ia lalu meminta sebuah kamar untuk tempat istirahat karena sudah malam. Di dalam kamar Rong Rong diam-diam berpikir untuk mencari tahu tentang siapa sebenarnya penculiknya. Lalu dengan menggunakan kepandaiannya secara diam-diam di tengah malam yang sepi dan gelap tubuhnya sudah mlesat keluar penginapan melalui jendela. Ia sudah tahu juga cerita tentang adanya beberapa pendekar yang hilang setelah mencoba mencari tahu siapa penculik lima anak dan tiga gadis desa Tai-an. <><><><><>0<><><><><> Puncak Gunung Mao-mao! <3> Apa kita tidak menunggu sebentar lagi, baru bergerak ke atas? tanya seorang kakek berpakaian hitam dengan muka sangat buruk. Kenapa engkau tidak begitu sabaran! Apakah hanya engkau saja yang ingin hadiah dari Song-kongcu (Tuan Muda Song)? teriak yang lainnya. Apakah engkau ingin gagal lagi atau takut dengan si tua berbau tanah kuburan itu? tanya seorang kakek bertampang kurus setengah gusar. Bangsat! Siapa bilang aku takut dengan si tua Yo Han itu? Apakah engkau minta kucekik? jawab teman lainnya lebih gusar lagi. Sudah! Jangan bertengkar lagi! Engkau tahu bahwa sepasang musang itu akan baru muncul tiga hari lagi kan, kenapa engkau begitu memaksa untuk naik ke puncak? lerai kakek berbaju hitam itu. Hm, kalian semua memang tolol! Kalau bukan saatnya kita pergi ke atas untuk menguasai puncak Thai-san terlebih dahulu, apakah engkau ingin pekerjaan kita gagal lagi? jengak si kurus. Dua kakek di depannya diam tidak menjawab. Tiga orang kakek yang sedang berbicara ini adalah Hek-liong Put-si, Swat-ciang Lo-kwi dan Bu-eng Lo-mo. Mereka sedang bertengkar karena masalah sepasang musang kemarin. Saat ini mereka sedang duduk di depan sebuah gua di kaki Thai-san. Dua iblis lainnya, Toa-bengsian sedang memperdalam ilmunya di dalam gua dan Kim-hong Jai-ho-cat sedang keluar hutan. Sebenarnya apa maksudmu dengan perkataanmu ini, Bu-eng Lo-mo? tanya Hek-liong Put-si. Sungguh bodoh dan tolol kalian semuanya! Ketahuilah bahwa kemarin kita melakukan kesalahan besar, karena telah gagal pada kesempatan ke dua. Coba seandainya kita kemarin sedikit menggunakan akal, mana bisa kita gagal? Misalnya kita tidak melakukan pembantaian dahulu sebelum mendapatkan petunjuk tempat harta karun itu berada, mana mungkin kita akan gagal. Atau kita lebih dini menguasai puncak Thaisan, mana mungkin kita bisa gagal?! jawab Bu-eng Lo-mo sambil bertolak belakang. Aku bisa memahami siasatmu kali ini, namun semuanya sudah terlambat! Bukankah pembantaian kemarin ada manfaatnya? Lagi pula siapa yang mengira bahwa sepasang musang itu hanya akan muncul pada bulan purnama saja? kata Swat-ciang Lo-kwi.

Hahaha... katamu engkau sudah paham dengan siasatku? Kentut busuk! Kalau si tua Yo Han dan biksu tengik itu tahu tentang rahasia sepasang musang itu, apakah mereka juga tidak tahu tentang rahasia lainnya? jengak lagi Bu-eng Lo-mo. Benar apa kata, Bu-eng Lo-mo! Aku setuju kalau kita bergerak ke atas melakukan pembersihan sebelum sepasang musang itu muncul lagi! kata Hek-liong Put-si. Aha! Itu baru omongan betul! Dasar engkau iblis tidak ada gunanya! kata Bu-eng Lo-mo. Kalau begitu engkau cari Kim-hong Jai-ho-cat dan beri tahu kepadanya rencana kita malam ini dan biar aku ke dalam untuk memberi tahu Toat-beng-sian. Dasar anak kura-kura busuk! Pekerjaannya hanya bersenang-senang saja! kata Bu-eng Lo-mo tidak senang. Siapa yang engkau maki-maki itu? tanya Swat-ciang Lo-kwi. Siapa lagi kalau bukan si kentut busuk Kim-hong Jai-ho-cat? Lebih baik kita tunggu saja ia di sini saja, kalau tidak muncul-muncul tengah malam nanti. Hm, kita tinggal saja biar ia tidak mendapatkan bagian! jawab Bueng Lo-mo kesal. <><><><><>0<><><><><> Jai-ho-cat terkutuk! Berani engkau mempermainkan perempuan di depanku? Rasakan ini! terdengar Rong Rong membentak sambil mengirim pukulan. Eh, ternyata ada bunga melati indah di depanku! Wah... wah... hebat!Hahaha....sungguh bahagia malam ini seandainya bisa memetik madumu sayang! terdengar suara Kim-hong Jai-ho-cat mengoceh tidak karuan melihat kecantikan Rong Rong. Sudah hampir sejam Rong Rong tadi menyusup-nyusup di kegelapan malam di tengah-tengah desa, namun suasana benar-benar sepi. Pencariannya terhadap hantu Thai-san atau penunggu Tha-san sudah dilakukannya cukup lama, namun yang dicari tidak nongol-nongol. Bersabar adalah kuci keberhasilan, itulah salah satu yang dimengertinya ketika ia mengharapkan keberhasilan menangkap pembawa ulah. Sambil mendekap di atas atap salah satu bangunan terbesar dan tertinggi di tengah desa ia menunggu kedatangan penuggu gunung. Baru saja ia mendekap telinganya yang tajam mendengar suara seseorang putus berteriak. Suara itu sudah cukup untuk membuatnya penasaran dan mendekatinya. Baru ia mau melocat turun dari atap untuk melihat dengan jelas apa yang terjadi, matanya yang terlatih sudah melihat sosok hitam meloncat jauh ke atas atap dan menghilang. Sebentar saja ia termangu melihat sosok setan itu pergi. Sejak pertama petualangannya di dunia kang-ouw baru pertama kali ini merasakan suasana yang begitu menakutkan. Melihat sosk yang bisa menghilang begitu cepat, tanpa sengaja bulu kuduknya meremang ketakutan. Namun hati Rong Rong sangat keras dan keinginan tahunya juga tidak sedikit sehingga dengan gin-kang-nya yang tidak rendah ia mengikuti jejak sosok setan itu pergi. Setelah hampir setengah jam mencari sampai ke luar desa Tai-an, akhirnya ia berhasil menemukan jejak sosok setan itu di tengah hutan. Sebuah jeritan ketakutan dan suara tertawa di tengah hutan yang gelap membuatnya dapat menemukan setan itu. Ternyata dugaannya benar, bahwa penunggu Tha-san atau penculik anak-anak dan para gadis desa bukan lain adalah penjahat yang sedang memanfaatkan kondisi. Ketakutannya lenyap seketika ketika matanya melihat seorang laki-laki sedang tertawa-tawa sambil mempermainkan seorang gadis desa. Teriakannya sebenarnya membuat Kim-hong Jai-ho-cat kaget karena ada yang berani membentaknya ketika ia sedang melakukan pekerjaan yang paling disenanginya, namun matanya tiba-tiba terbelak ketika melihat siapa pembentaknya. Seorang gadis yang sangat cantik berdiri di depannya dengan muka murka. Dukkk!!! Ayaaaaa!!!!!!! pekik Kim-hong Jai-ho-cat kesakitan. Ternyata Kim-hong Jai-ho-cat sangat memandang rendah gadis di depannya, sehingga tidak menggunakan banyak tenaga untuk menyambut pukulan lawannya. Tubuhnya menggigil kedinginan dan terlempar ke

belakang sampai lima jengkal sedangkan Rong Rong hanya merasakan tangannya bergetar. Belum selesai kekagetannya Kim-hong Jai-ho-cat sudah diterjang kembali oleh Rong Rong dengan pukulan Swat-im Sinciang yang ampuh. Kali ini Kim-hong Jai-ho-cat sudah tidak berani memandang renda lawannya. Berkali-kali ia hanya bergerak menghindar tanpa dapat membalas serangan lawan yang sangat gencarnya. Gin-kangnya yang lebih tinggi dapat sedikit mengungguli lawannya sehingga ia hanya banyak berharap dari gin-kangnya saja. Gin-kang tinggi milik lawannya yang tanggu membuat Rong Rong lama kelamaan mengeos saja. pukulan-pukulannya hanya mengenai tempat kosong. Lalu sambil menggigit bibirnya ia menerjang dengan lebih hebat lagi. Sudah hampir seratus jurus Rong Rong menjajaki lawannya, namun serangannya mengenai tempat kosong selalu. Nafasnya sudah sedemikian memburunya sehingga lama kelamaan terjangannya mengendor. Di saat inilah tanpa ia tahu tangan kanan Kim-hong Jai-ho-cat sudah memegang selembar kain dengan senyum menyeringai licik. Sebuah pukulan Rong Rong sengaja dibiarkan mendekat ke muka Kim-hong Jai-ho-cat, sengaja ia memberi peluang ke musuhnya untuk mendekat dan menyebarkan bubuk oabta tidurnya ke lawan. Bukkk! Ihhhhhhhh!! Tangan kiri Kim-hong Jai-ho-cat sudah menyapu dua tangan Rong Rong dan menariknya dengan sebuah cengkeraman hebat. Setelah musuhnya tertarik dengan kekuatan dahsyat, baru tangan kanannya menyibakkan sapu tangannya yang menghamburkan obat pembius. Dasar Jai-ho-cat licik! teriak Rong Rong kalap melihat musuhnya bermain curang. Serangannya makin menjadi-jadi, namun tiba-tiba kepalanya erasa pusing sehingga membuat serangannya melemas. Sebelum ia tahu apa yang terjadi sebuah tangan Kim-hong Jai-ho-cat sudah menotoknya dengan gerakan sangat cepat. Nyatanya Kim-hong Jai-ho-cat memang sangat licik. Sebenarnya ilmu kepandaiannya tidak akan kalah melawan Rong Rong, walaupun ia dapat memenangkannya setelah bergebrak mati-matian. Namun otaknya yang licik membawanya ke gerbang iblis yang paling menakutkan. Sambil menyeringai pusa ia menambahi totokan di tubuh Rong Rong yang sudah berada di pelukannya. Lalu ia mengeluarkan sebuah botol kecil dari dalam jubahnya dan mendekatkan ke hidung Rong Rong. Sebentar kemudian Rong Rong sudah siuman kembali dengan mata penuh kebencian. Dua matanya hanya memncarkan api yang membara tanpa bisa berbuat apa-apa lagi, semua organ tubuhnya sudah tidak bisa digerakkan kecuali dua biji matanya. Nona yang cantik, sebaiknya engkau duduk di sini sambil melihat tontonan gratis! Sayang kan kalau susah payah aku mendapatkan bunga molek tapi tidak dihisap madunya? Hahaha... katanya ke Rong Rong sambil mencolek pipinya. Kim-hong Jai-ho-cat berjalan menghampiri gadis desa yang sudah mati kutu dengan tertawa terbahakbahak. Tanpa malu-malu ia lalu membuka bajunya dan mempermainkan gadis desa di depan Rong Rong. Gadis desa itu menjerit-jerit ketakutan sedangkan Kim-hong Jai-ho-cat tertawa senang. Rong Rong memejamkan matanya dan menulikan telinganya supaya tidak melihat dan mendengar suara pekikan menyayat hatinya. Tanpa dirasakan bulu kuduknya berdiri, kali ini ia benar-benar ketakutan melihat kekejian Kim-hong Jai-ho-cat. Setelah sejam berlalu ia sudah membuka matanya ketika ia merasakan ada tangan mengelus pipinya. Ingin rasanya ia berteriak memaki dan berteriak keras, tapi tidak bisa. Ketika ia membuka mata hampir sekejap ia memejamkan kembali matanya. Ternyata ia melihat Kim-hong Jai-ho-cat berdiri di hadapannya tanpa memakai baju sedikit pun. Ia tersenyum penuh birahi. Hahah... jangan khuwatir sejam lagi engkau akan merasakan nikmatnya dicumbu orang! terdengar suara Kim-hong Jai-ho-cat mengobral janji kotor. Rong Rong memejamkan matanya, tidak mau melihat wajah yang menyengir menakutkan itu. Tiba-tiba ia merasakan tubuhnya dibopong pergi oleh Kim-hong Jai-ho-cat.

Aku akan mengajakmu menikmati indahnya malam pertama di pinggiran telaga yang indah! Hahaha..!! katanya sebelum pergi meninggalkan mayat gadis desa yang sudah tidak bernyawa. Begitu kejam hati Kim-hong Jai-ho-cat sehingga dapat membunuh orang tanpa mengedipkan mata sama sekali. Sungguh kasihan gadis desa itu yang setelah dipermalukan lalu dibunuhnya, namun itu juga lebih baik dari pada hidup menanggung beban yang sangat berat. Di ujung tengah hutan sebelah utara terdapat telaga yang tidak begitu besar namun cukup indah. Di pinggiran telaga itu Kim-hong Jai-ho-cat meletakkan tubuh Rong Rong yang tidak bisa bergerak. Tubuh Rong Rong direbahkan di atas permadani rumput hidup dan di bawah cahaya bulan yang belum genap. Di samping tubuhnya sudah tidur Kim-hong Jai-ho-cat sambil menghadap ke langit. Betapa bahagianya malam ini setelah aku berhasil menikmati madu dari seorang pendekar wanita anak murid Pulau Es! katanya sambil mencolek pipi kanan Rong Rong. Ternyata udara yang dingin menusuk tulang tidak membuat tubuhnya yang tertidur tanpa pakaian menggigil kedinginan. Rasa bahagia dan bangganya dapat mengalahkan anak murid Pulau Es membuatnya tidak merasakan apa-apa lagi. Memang itulah hakikat nafsu yang sudah berkobar memanaskan semua darah yang bergerak di dalam tubuh. Puncak Gunung Mao-mao! <4> Siapakah namamu sayang? Apakah engkau tidak mau memberitahu siapa namamu sebelum kita bercinta? tanya Kim-hong Jai-ho-cat sambil melihat jelas wajah Rong Rong yang sudah mulai ketakutan. Aih! Kenapa aku begitu bodoh menanyaimu yang tidak bisa berbicara! katanya lagi lagak pilon. Tangan kananya sudah membebaskan totokan gagau Rong Rong. Bangsat penjahat cabul! Kalau berani lepaskan aku dan mari bertarung sampai ada diantara kita yang mandi darah atau bunuh aku saja! teriak Rong Rong untuk menutupi rasa takutnya. Hahha..!! Sungguh hebat sekali ucapanmu itu, manis! Aku baru akan membebaskanmu setelah puas menikmati tubuhmu yang indah! jawab Kim-hong Jai-ho-cat sambil menyeringai penuh nafsu. Belum Rong Rong berucap kembali sebuah ciuman di bibirnya membuatnya terbungkam. Kali ini sebuah musibah lebih mengerikan dari pada kematian membuatnya sampai menangis. Tidak ada yang bisa dilakukannya kecuali menangisi nasibnya yang menyedihkan. Ia mencoba mematikan semua perasaannya. Kim-hong Jai-ho-cat tertawa terbahak-bahak melihat musuhnya mati kutu. Tangannya bergerak cepat penuh nafsu. Baratttt!!! pakaian sebelah atas tubuh Rong Rong sudah terbuka. Ingin rasanya Rong Rong pingsan namun tetap tidak bisa. Alangkah enaknya seandainya ia bisa pingsan dan tidak merasakan apa-apa lagi. Penjahat cabul dari mana berani merusuhi daerah suci ini! tiba-tiba terdengar suara lantang di belakang Kim-hong Jai-ho-cat. Sungguh tidak kepalang kagetnya Kim-hong Jai-ho-cat mendengar teriakan ini. Telinganya yang sudah terlatih ternyata tidak bisa mendengar adanya pendatang di belakangnya. Hakikatnya ia tidak tahu bahwa orang yang sedang diamuk hawa nafsu sudah kehilangan kewaspadaanya sehingga bahaya apapun tidak akan diketahuinya. Seperti api langsung padam ketika diguyar air es, seperti itulah nafsu birahi Kim-hong Jai-ho-cat yang atdinya menyala hebat tiba-tiba saja padam disiram oleh perkataan di belakangnya. Sambil memakai pakaian sekenanya ia berdiri menghadapi orang yang berdiri di belakangnya.

Di depannya saat ini berdiri dua orang laki-laki, seorang pemuda berumur dua puluh dua tahun dan seorang kakek berambut putih panjang. Dua laki-laki itu memakai pakaian serba putih dengan bersulam gambar naga berwarna emas di dada. Sebagian rambut dua laki-laki yang panjang itu diikat dengan pita berwarna emas dengan gambar naga indah. Siapakah kalian yang berani mati mengganggu kesenanganku? tanya Kim-hong Jai-ho-cat menahan marah. Dua laki-laki tua dan muda itu diam saja, hanya bibir kakek tua itu tampak tersenyum misterius. Tiba-tiba tangan kanannya diangkat dan terjadilah pemandnagan yang sangat mengagumkan. Ada beberapa dedaunan yang melayang menuju tangan kakek tua itu seperti tersedot oleh kekuatan tidak nampak. Dua mata Kim-hong Jai-ho-cat sampai mendelik terkejut melihat atraksi ini. Belum ia menyadari apa yang akan terjadi, tiba-tiba saja beberapa dedaunan yang melayang itu melayang dengan cepat menuju ke tubuh Rong Rong. Hanya dalam hitungan detik semua totokan yanga da di tubuh Rong Rong sudah terbuka. Setelah merasakan dirinnya terbebas dari totokan Rong Rong lalu berdiri sambil membetulkan tubuh atasnya yang terbuka lebar. Matanya menatap Kim-hong Jai-ho-cat dengan memancarkan api membunuh yang sangat hebat. Masih dalam keadaan setengah percaya dan tidak Kim-hong Jai-ho-cat sudah diserang habis-habisan oleh Rong Rong. Kali ini dari kedua tangannya mengeluarkan dua ilmu sekaligus, yaitu ilmu Hwi-yang Sin-ciang dan Swat-im Sin-ciang. Hebat sekali dua ilmu dimainkan oleh Rong Rong dengan marah. Gerakannya begitu hebat seperti naga mengamuk. Kakek berambut putih itu tersenyum melihat kehebatan gerakan gadis itu. Pemuda di sampingnya sampai tahjub oleh gerakan dahsyat Rong Rong. Kim-hong Jai-ho-cat kali ini harus bertanding dengan benar-benar sehingga tampak tidak lagi ia mengandalkan gin-kang semata. Blakkk!! terdengar suara dua tangan beradu. Kaki Kim-hong Jai-ho-cat kali ini hanya bergetar sedangkan tubuh Rong Rong mundur tiga tindak. Ternyata Kim-hong Jai-ho-cat sudah mengeluarkan hampir seluruh tenaganya sehingga membuat pukulan lawannya sebagian membalik. Tidak hanya tubuh Kim-hong Jai-ho-cat saja yang berdiam menggigil kedinginan, namun Rong Rong juga mengalaminya. Nona sebaiknya engkau ke sini beristirahat, biar Liu-ji yang menghadapinya! kakek berambut putih itu berkata dengan suara lembut. Aneh bin ajaib. Suara lembut itu dapat ditaati oleh Rong Rong tanpa banyak bertanya lagi. Sepertinya ia merasakan suara kakek itu begitu mempesona. Pemuda yang dipanggil Liu-ji melangkahkan kakinya ke depan untuk menghadapi Kim-hong Jai-ho-cat. Apakah engkau masih ingin mencampuri urusanku, anak muda? teriak Kim-hong Jai-ho-cat marah melihat pemuda di depannya ikut campur. Selagi urusanmu tidak bersih, aku akan selalu mencampurinya. Siapa pun dia! jawab Liu-ji. Bangsat ! Baik, akan kukirim engkau ke neraka menjad tumbal di pinggir telaga ini! teriak Kim-hong Jai-hocat sambil mengirim serangan. Serangan Kim-hong jai-ho-cat ini makin hebat. Kali ini ilmu silat yang dimainkannya sangat berbeda dengan tadi. Permainanya disamping hebat juga aneh karena kadang-kadang terlihat Kim-hong Jai-ho-cat bergebrak dengan tubuh berjungkir balik. Pukulannya selalu berganti-ganti sehingga membuat bingung Lii-ji. Pukulan dengan menggunakan dua kaki dan dengan berdiri berjungkir balik ini malahan lebih hebat dari pada pukulan dua tangannya. Liu-ji sebaiknya engkau menggunakan ilmu Pek-in Sin-kang (Hawa Sakti Awan Putih)! terdengar suara kakek berambut putih itu memberi bantuan.

Liu-ji mengubah gerakannya memainkan ilmu Pek-in Sin-kang. Uap putih di kedua tangan dan ubunubunnya menguap tebal ketika ia bersilat lebih cepat. Kali ini Kim-hong Jai-ho-cat benar-benar terbentur batu keras karena lawannya tidak begitu lunak. Tiba-tiba ia teringat dengan seorang pemuda yang berhasil melukainya di atas puncak Thai-san sebulan yang lalu. Jurus yang dimainkan oleh Liu-ji serupa benar dengan pemuda itu. Memang benar sekali bahwa ilmu yang dimainkan oleh Liu-ji dengan ilmu yang dimainkan oleh Kim Liong tempo hari memang sama bahkan lebih hebatan apa yang dimainkan oleh Liu-ji. Beberapa kali tubuh Kim-hong Jai-ho-cat kecolongan oleh colekan-colekan liar Liu-ji. Setiap colekan ringan selalu membuatnya seperti kesetrum dua aliran tenaga yang berbeda, dingin dan panas. Sampai keadaan Kim-hong Jai-ho-cat yang tersohor tampak mengenaskan. Pakaiannya tampak berlubang di sana sini terkena hawa panas yang kelaur dari tangan lawannya. Bukkk!!!bellllleeeeengggg!! tubuh Kim-hong Jai-ho-cat melayang seperti daun kering tertiup badai menabrak pepohonan. Dia bangun dengan muka pucat pasi dan memuntahkan darah yang banyak. Lama sekali ia terpaku seperti tidak percaya bahwa pukulannya kalah telak dengan pukulan Liu-ji. Sambil menggigit bibirnya yang berdarah karena menahan rasa sakit ia lari masuk ke dalam hutan. Jangan di kejar nona! teriak Liu-ji ketika melihat Rong Rong berlari ingin mengejar Kim-hong Jai-ho-cat. Kakinya tiba-tiba berhenti bergerak seperti ada sesuatu yang menahannya. Ia menoleh ke arah kakek tua berambut putih yang sudah berada di samping Liu-ji. Sebaiknya musuh yang sudah lari tidak usah dikejar! Kalau ada jodoh suatu saat pasti akan bertemu lagi! kakek tua itu berkata pelan sambil tersenyum. Seperti tadi Rong Rong menjadi menurut. Sambil menggigit bibirnya dua kakinya bergerak menuju ke arah dua orang penolongnya. Sebenarnya di hatinya ada rasa jengkel dan marah karena tidak bisa menghancurkan kepala Kim-hong Jai-ho-cat yang telah menghinanya. Perkataan kakek tua itu sepertinya akan menjadi sumpahnya di kemudian hari kalau bertemu dengan musuhnya akan mengadu nasib. Terima kasih atas pertolongan locianpwe (Orang Tua Gagah) dan saudara Liu! Bolehkah teecu tahu siapa dan dari mana ji-wi (anda berdua)? kata Rong Rong. Duduklah, anak baik! Kita bicara di sini saja! Mereka duduk di atas rumput hijauh di pinggir telaga. Sebelum kami menjawab, bolehkah kami tahu siapa namamu dan gurumu, anak baik?!! kata kakek tua itu setelah duduk. Rong Rong menghela nafas panjang. Sambil menunduk ia menjawab dengan suara rendah. Nama teecu Hong Rong she (marga) Tao atau biasa dipanggil Rong Rong. Guru teecu adalah kedua orang tua teecu sendiri! jawabnya singkat. Hmm, apakah keluargamu masih ada hubungan dengan Pulau Es, sehingga engkau bisa memainkan dua ilmu khas Pulau Es Hwi-yang Sin-ciang dan Swat-im Sin-ciang? tanya kakek tua itu. Sebenarnya ayah teecu yang bernama Tao Keng Han adalah salah satu murid Pulau Es! Kakek tua itu manggut-manggut. Aku pernah mendengar nama ayahmu yang budiman itu beberapa tahun yang lalu! Lalu kakek itu memberi tahu Rong Rong bahwa kakek itu sudah lupa nama aslinya, hanya sering ia dipanggil orang-orang di sampingnya dengan sebutan Sian-eng-cu (Si Bayangan Dewa) atau kakek Sianeng. Sedangkan pemuda yang dipanggilnya Liu-ji bernama Sian Yun she Liu atau Liu Sian Yun. Mereka

datang dari Pulau Awan Putih untuk mencari Kim Liong yang pergi duluan ke daratan. Mereka saling bercerita sehingga hubungan kakek Sian-eng-cu dengan Rong Ron seperti kakek dengan cucunya saja. antara Liu Sian Yun dan Rong Rong juga mulai akrab sehingga tanpa dirasakan rasa sedih dan marah di hatinya sudah hilang. Rong Rong sudah bisa tertawa ceriah. Rong Rong juga bercerita tentang ulah Kimhong Jai-ho-cat yang membuat penduduk desa Tai-an hidup di tengah-tengah rasa ketakutan. <><><><><>0<><><><><> Pertarungan Pertama <1> Pertarungan Pertama Kota Cin-an di propinsi Shan-tung sore hari itu sangat ramai. Kota ini adalah tempat beristirahatnya para pelancong yang baru datang dari kota raja atau dari propinsi sebelah selatan menuju ke kota raja. Puluhan penginapan, restoran dan toko-toko menghiasi kota Cin-an. Banyak orang-orang belalu-lalang di tengah jalan sambil menikmati keramaian pasar dan mencari berbagai benda di toko yang ada di pinggiran jalan tengah toko. Di tengah-tengah membeludaknya orang yang sedang menikmati pemandangan kota, terlihat Han Tiong sedang berjalan pelan menikmati tata kota Cin-an yang indah. Sore itu Han Tiong baru sampai di kota Cinan dari perjalanan jauhnya. Han Tiong yang memang bertutujuan menuju ke Thai-san sempat terbengong tahjub ketika ia tanpa sengaja melewati kota Cin-an yang megah. Berkali-kali ia mengucapkan kata memuji atas karya besar arsiteknya. Maklum selama lima belas tahun dirinya hanya hidup di atas puncak pegunungan yang sepi dan hening, sehingga keindahan tata kota seperti di kota Cin-an belum pernah dilihatnya. Di pinggiran jalan banyak sekali ditemui penjual dengan macammacam barang dagangan dan makanan. Matanya berbinar-binar ketika melihat barang-barang seperti layang-layang, kain sutera, makanan, ikan dan masih banyak lagi barang-barang seperti perhiasan dari emas dan perak. Melihat layang-layang yang berwarna-warni dan bermacam-macam. Hatinya tiba-tiba teringat kembali kepada gurunya yang sudah begitu tua di puncak Mao-mao-san. Dahulu pernah ia diajak gurunya untuk berbelanja di sebuah kota di bawah gunung dan di sanalah ia pernah dibelikan layang-layang oleh gurunya. Senang sekali ia mendapatkan hadiah layang-layang dengan bentuk naga itu. Lalu dua matanya pindah ke arah restoran yang cukup besar di depannya. Tanpa dirasakan perutnya berkeruyuk ketika melihat beberapa orang makan makanan yang sepertinya terlihat lezat sekali itu. Ah, lebih baik aku mengisi perut dulu baru melanjutkan perjalananku! pikirnya matang-matang lalu melangkah pergi. Setelah masuk dan mengambil duduk. Ia lalu meminta disediakan seporsi makanan dan segelas teh. Benarkah kabar angin itu? terdengar suara seorang laki-laki setengah baya bertanya ke temannya. Suara itu terdengar cukup jelas di telinga Han Tiong yang sudah terlatih. Matanya melihat ada seorang lakilaki sedang berbicara serius dengan teman-temannya. Empat orang laki-laki yang ada di samping kanannya itu tampak bukan penduduk biasa. Pakaian mereka sangat ringkas dengan pedang di pinggang tampak gagah perkasa. Seorang yang sedang berbicara itu sepertinya pemimpin tiga temannya. Mukanya yang ditutupi oleh kain hitam tampak aneh dan meninggalkan tanda tanya di kepala Han Tiong, apalagi mereka berbicara sangat pelan. Aku mendengar kabar rahasia ini langsung dari Ong-ciangkun (Jenderal Ong) yang berhasil kuperas! jawab laki-laki bercadar itu. Sebaiknya kalian katakan ke pimpinan kita di Nan-king untuk bersiap-siap! Katakan juga bahwa dalam waktu dekat ini para pejuang Thian-li-pang akan bergabung dengan kita! katanya lagi. Apa benar bahwa Cin-pangcu dari Thian-li-pang sudah sepakat akan bergabung dengan kita? Dan apakah ada kabar lainnya yang bisa kusampaikan lagi kepada pangcu (ketua)! tanya laki-laki lainnya.

Tiga hari yang lalu Cin-pangcu (Ketua Cin) telah menyanggupi permohonan kita untuk bergerak bersamasama dari selatan! Kemungkinan minggu-minggu ini beliau akan mendatangi langsung pangcu kita di Nanking untuk merundingkan siasat selanjutnya! Kalau boleh tahu benarkah bahwa dua partai sesat Pek-lian-pai (Partai Teratai Putih) dan Pat-kwa-pai (Partai Segi Delapan) saat ini mulai bangkit lagi? tanya lagis eorang laki-laki lainnya. Ah, hampir aku lupa dengan kabar yang satu ini! Memang benar, bahkan aku mendengar bahwa dua partai sesat itu dalam waktu dekat ini akan menyerbu ke kota raja. Maka tidak heran kalau kota raja saat ini dijaga ketat oleh ribuan perajurit kerajaan! Kalau begitu malam ini kami akan langsung berangkat ke selatan untuk memberi kabar ke pusat! Oh ya, apakah engkau ke sini tidak diikuti oleh orang lain? Sepertinya ada seorang yang mengikutiku ke sini, tapi belum begitu jelas. Sebaiknya kalian pergi melapor secepat mungkin ke selatan, karena kondisi kita sudah sangat terancam! Sebaiknya engkau berhati-hati! kata teman lainnya mengkhuwatirkan temannya. Jangan khuwatir! Sebelum aku pergi ingat kata-kataku pertama tadi, selidiki siapa mata-mata kerajaan yang ada di dalam pihak kita! Laki-laki bercadar itu lalu pergi meninggalkan tiga temannya. Setelah menghabiskan sisa makanan dan arak yang ada di atas meja. Malam sudah hampir tiba, sebaiknya kita cepat-cepat menemui Li-lopek (Paman Li) di luar Cin-an! kata salah satu dari mereka mengingatkan. Setelah membayar makanan, mereka lalu meninggalkan restoran dengan langkah gagah. Mendengar pembicaraan empat orang ini hati Han Liong sangat tertarik sekali, apalagi mengenai perkumpulan yang dipegang keluarganya. Ia tahu siapa Cin-pangcu itu yang bukan lain adalah murid tunggal ayahnya yang waktu kecil sering mengajaknya bermain. Setelah menghabiskan makanan dan minumannya ia pun beranjak pergi mengikuti tiga orang laki-laki yang sudah terlebih dahulu pergi. Han Tiong mengikuti tiga laki-laki itu pergi keluar kota Cin-an. Keadaan sudah mulai gelap ketika Han Tiong yang berjalan dengan berindap-indap berhasil mengikuti mereka sampai keluar kota Cin-an. Di luar selatan kota Cin-an terdapat kuil yang sudah tidak digunakan lagi. Dari jarak agak jauh Han Tiong melihat tiga lakilaki itu menemui seorang laki-laki sekitar berumur lima puluh tahun dan seorang gadis berumur enam belas tahun. Mereka tampak sedang membicarakan urusan yang tidak kalah seriusnya dengan apa yang dibicarakannya di dalam restoran tadi. Han Tiong tidak bisa mendengar pembicaraan mereka karena jaraknya terlalu jauh. Ia sendiri tidak mau mendekat atau bergerak sedikit pun dari tempatnya karena tadi ia melihat ada beberapa sekelebetan sosok orang di sampingnya. Baru saja ia merasakan ada gelagat tidak enak. Di depan kuil sudah muncul lima orang yang tampaknya mempunyai ilmu silat yang hebat. Hahaha! Ternyata Pek-eng-pang Sam-pek-eng (Tiga Garuda Putih dari Pek-eng-pang) kesasar sampai di sini! Apakah ada maksud tertentu kalian datang kemari? Terdengar suara dari salah satu lima laki-laki yang berdiri berbaris di depan kuil. Dandanan lima laki-laki yang sudah berumur sekitar empat puluhan itu sangat aneh. Pakaian mereka berwarna-warni dari merah, putih, kuning, hijauh dan hitam. Siapakah kalian? tanya seorang laki-laki tua yang dipanggil oleh Sam-pek-eng sebagai paman Li. Engkau tidak perlu tahu siapa kami, namun perlu kalian ketahui tujuan kedatangan kami. Dengar baik-baik! Kedatangan kami untuk mengambil kepala kalian!

Hahaha... apakah kalian mampu dengan hanya mengandalkan kalian berlima? jengak paman Li sambil tertawa walaupun hatinya kebat-kebit. Hahah...Kami datang tidak hanya berlima, apakah engkau ingin melihat pasukan yang kami bawa? jawab laki-laki memakai pakaian kuning sambil memberi aba-aba kepada pasukan terpendamnya. Baru saja ia menggerakkan tangan. Sepuluh orang berpakaian hitam sudah mengepung kuil dengan rapat. Han Tiong yang sudah sejak tadi meloncat ke salah satu pohon di sampingnya dapat melihat jelas. Sebenarnya apa tujuan kalian melakukan pengeroyokan ini? tanya paman Li mencoba menenangkan diri. Sudah kukatakan bahwa kami mendapatkan perintah dari seseorang untuk mencopot kepala kalian! jawab laki-laki dengan pakaian merah. Kalian boleh mencopot kepala kami, tapi apa alasan kalian mau mengambil kepala kami? paman Li masih tetap ngotot. Jangan banyak omong lagi sebaiknya kita gempur saja mereka! teriak laki-laki berpakaian hitam sambil memberi isarat kepada teman-temannya untuk bergerak. Tidak ada kesempatan lain bagi paman Li dan Sam-pek-eng untuk mengelak terjangan mereka. Sambil menggeser tubuhnya ke Sam-pek-eng, paman Li mebisiki sesuatu kepada mereka. Serentak mereka meloncat menerjang ke sepuluh pasukan di belakang lima laki-laki warna-warni itu. Sedangkan paman Li dan gadis di sampingnya sudah mulai terlihat saling gempur dengan lima pasukan warna-warni. Pertarungan Pertama <2> Melihat pertarungan mengadu nyawa seperti ini tiba-tiba saja Han Tiong teringat masa lalunya ketika masih kecil. Waktu itu tempat kelahirannya di Bukit Naga terjadi pertumpahan darah yang mengerikan. Berkali-kali ia geleng-geleng kepala ketika melihat pertarungan tidak seimbang itu. Ingin rasanya dirinya ikut terjun membantu mereka namun hati kecilnya melarangnya. Paman Li dan gadis kecil itu ternyata memilki ilmu yang cukup tinggi sehingga dapat membendung serangan lima pasukan berwarna-warni. Sedangkan di tempat lain Sam-pek-eng sudah berhasil merobohkan beberapa anak buah pasukan warna-warni. Pada pertarungan paman Li terlihat tidak begitu seimbang, karena berkali-kali ia harus mengawasi gadis kecil di sampingnya. Setelah mereka bergebrak sekitar dua puluh jurus lebih Han Tiong baru turun dari pohon. Tadi ia sebenarnya tidak mau mencampuri urusan mereka, namun setelah menimbang-nimbang apalagi melihat paman Li dan gadis kecil itu kewalahan, akhirnya ia menegaskan untuk membantu mereka. Ayaaa!!! Kenapa begitu banyak orang mengikat permusuhan padahal persahabatan adalah jalan kedamaian! katanya mengomel dengan mengerahkan sin-kang dan khi-kang dari dalam tubuhnya. Suaranya menggema membuat pertempuran itu berhenti seketika. Baik dari pihak paman Li maupun lawannya berhenti dan menoleh ke arahnya. Han Tiong ingin menghentikan pertengkaran mereka dengan suaranya dan akalnya berhasil. Sambil tersenyum kakinya tidak pernah berhenti melangkah maju. Bangsat dari mana berani mencampuri urusan orang lain?!! bentak laki-laki memakai baju berwarna hitam sambil menerjang menggunakan pedangnya. Eh...eh.. tunggu dulu! jawab Han Tiong sambil menggeser kakinya menghindari sabetan pedang lawan. Mau apa lagi engkau, bangsat?! teriak si hitam sambil berhenti menyerang. Ketahuilah bahwa berbuat kejahatan akan berbalik kepada diri sendiri! Kalau aku mencampuri urusan kalian setidaknya karena ada dua macam alasan! Apakah kalian ingin tahu dua alasanku? kata Han Tiong sambil tersenyum.

Tidak usah banyak bicara di sini! Lebih baik katakan biar nanti tidak jadi hantu penasaran! jengak si hitam tidak sabaran. Hahaha... lucu sekali kata-kata ini! Apakah kalian sangat yakin bahwa kalian bisa mencabut nyawa orang lain sedemikian mudahnya? Urusan mati ada di tangan Tuhan bukan ada di tangan kalian! Ka... Jangan banyak ngoceh ke sana ke mari! Lekas katakan dua alasanmu dan pergi dari sini atau kuputuskan juga kepalamu! potong si hitam kalap. Baiklah, baiklah! Alasan pertamaku adalah mereka adalah saudara-saudaraku, sehingga aku berhak untuk membantu mereka. Ke dua adalah pengeroyokan adalah perbuatan yang paling hina, apalagi kalian seenaknya mau membunuh orang lain tanpa didasari alasan yang masuk akal. Apakah kalian bisa memberi kehidupan sehingga seenaknya mau mencabut nyawa orang lain dan apakah kalian mempunyai kemampuan untuk mengakhiri umur orang lain padahal kalian juga tidak akan terbebas dari kematian. Apakah kalian pernah berpikir bahwa pekerjaan membunuh orang lain akan bisa kembali kepada diri kalian, kemungkinan kalian tidak akan lepas dari musuh kalian! Kalian juga akan mati seperti apa yang kalian lakukan! Han tiong menasehati mereka dengan menggunakan khi-kang tertingginya sehingga suara itu menggema membuat telinga mereka menjadi gatal dan sakit. Wajah lima orang berbaju warna-warni itu pucat pasi mendengar suara yang menggema-ngema seperti suara gendang dipukul keras-keras. Mereka sadar bahwa pemuda yang sedang berdiri di depan mereka tidak bisa dipandang remeh. Hahahah... semuda ini sudah begitu sombong menasehati kalangan tua! Aku ingin melihat apakah engkau mempunyai kepandaian sehebat mulutmu?! kata si hitam sudah marah karena tersinggung. Kesadaran adalah cahaya tertinggi, sedangkan mengerjakan kesadaran adalah kemuliaan tertinggi! jawab Han Tiong masih dengan senyumannya yang khas. Lekas cabut senjatamu, aku ingin melihat apakah kepandaianmu sehebat omonganmu! kata si hitam sudah menghunus pedangnya bersiap-siap. Ternyata engkau masih punya jiwa yang gagah, namun sayang hatimu terlalu keras sehingga kegagahanmu sedikit demi sedikit terkikis hilang! jawab Han Tiong. Setelah berbicara tiba-tiba tangan kanannya sudah memegang sebuah suling terbuat dari kayu bambu kuning. Mata si hitam terbelalak lebar melihat kecepatan tangan Han Tiong. Ia juga heran dengan senjata Han Tiong yang sederhana itu. Suling terbuat dari bambu kuning itu adalah senjatanya untuk berlatih ketika masih berada di puncak Ma-mao-san. Ia masih belum mau mengeluarkan dua senjata pusakanya karena ia masih sayang dan sangat menghormati pusaka warisan gurunya. Hahaha... apakah dengan mainan anak kecil itu engkau akan mampu melawan pedangku? ejek si hitam. Apakah engkau pernah mendengar seorang Kim-siauw-hiap dengan hanya sebatang suling mampu merajai dunia persilatan puluhan tahun? Walaupun sulingku tidak bisa dikatakan sehebat sulingnya, namun tidak boleh diejek! Seorang yang berjiwa bersih tidak akan menghina sebuah kesederhanaan, karena tidak semua orang mampu hidup dalam kesedarhanaan! Biih! Omongan kentut! Jaga seranganku! teriak si hitam marah karena omongannya dibalik oleh Han Tiong. Han Tiong sudah mengerahkan sin-kangnya ke suling bambu dan tangan kanannya untuk memperkuat daya tahan sulingnya. Bagaimana pun hebatnya sebuah bambu, tanpa dialiri sinkang tetap tidak akan kuat menghadapi sebilah pedang yang tajam dan terbuat dari besi. Si hitam sudah menerjang Han Tiong dengan sabetan melintang dari bahu kirinya ke perut. Sabetan pedang ini sangat cepat dan kuat membuat Han Tiong agak kaget. Namun ketenangannya dapat mengatasi jurus maut itu. Sambil menggeser kakinya ke kiri dan menggunakan sulingnya menyepak sebelah kiri pedang lawan, ia telah mematahkan serangan lawan. Setelah melakukan gerakan yang tidak diduga oleh lawannya, si hitam melakukan gerakan lagi yang lebih dahsyat. Namun belum melakukan gerakan ke duanya suling di tangan Han Tiong sudah melakukan totokan di pergelangan tangan kanan lawan.

Tukk!! tangan si hitam bergetar. Bukkk!! sebuah sodokan ringan Han Tiong mengenai dada lawan. Si hitam tersungkur sedangkan pedangnya sudah terlepas. Mukanya pucat hampir tidak percaya bahwa pemuda di depannya bisa mengalahkannya hanya dalam tiga gebrakan saja. Serentak empat teman lainnya turun dan mengepung Han Tiong setelah melihat kehebatan sepak terjang Han Tiong. Siapakah engkau sebenarnya, anak muda? tanya laki-laki berpakaian kuning menyengir. Kenapa aku harus memberi tahu namaku kalau kalian juga tidak memberi tahu alasan kalian kenapa ingin membunuh paman Li dan saudara Sam-pek-eng? jawab Han Tiong sambil melintangkan sulingnya di depan dadanya. Hmm! Kalau engkau mampu mengalahkan kami berlima, aku akan memberi tahu alasan kami dan sebaliknya jika engkau kalah maka engkau harus menjawab setiap pertanyaan kami, bagaimana pemuda? kata si kuning bermain akal-akalan. Aku tidak mau bertaruh seperti itu dengan kalian karena aku tidak begitu ingin tahu alasan kalian itu? jawab Han Tiong sok menjual tinggi. Lantas kamu ingin bertaruh bagaimana lagi? tanya si kuning heran. Kerbau diikat di hidung dan mulutnya sedangkan manusia diikat dengan janjinya. Aku ingin kalian berjanji satu hal kalau aku menang melawan kalian berlima dan sebaliknya aku akan menjawab semua pertanyaan yang kalian ajukan kalau aku kalah! Bagaimana? Baik! Bahkan kami akan menuruti apa katamu kalau kami kalah melawanmu, anak muda! Janji apakah itu, anak muda? jawab si kuning. Janjinya sudah engkau ucapkan! jawab Han Tiong senang. Maksudmu kami harus menurut padamu? tanya si kuning. Han Tiong hanya mengiyakan dengan anggukan kepala dengan pasti. Baik! Sekarang apakah engkau akan menghadapi kami berlima dengan suling bambumu itu? tanya si kuning lagi. Han Tiong diam sejenak untuk berpikir. Matanya memandang si kuning yang kelihatannya lebih lihai dari pada si hitam. Lalu pindah ke hijau, merah dan putih yang tampak kepandaian mereka tidak di bawah si kuning atau bahkan lebih hebat lagi. Karena ia paham bahwa gentong yang kosong akan nyaring bunyinya sebaliknya kalau ada isinya tidak akan banyak suaranya. Tiga teman lainnya tidak pernah berbicara, ini pun ada dua kemungkinan. Pertama mereka mempunyai kemampuan lebi hebat dari pada si hitam dan si kuning atau karena kemampuan mereka lebih rendah. Ia harus berhati-hati. Tidak mungkin baginya menggunakan suling bambunya lagi. Setelah berpikir seperti ini suling bambunya di masukkan ke jubah dan mengeluarkan suling emas warisan gurunya. Kim-siauw (Suling Emas)!!! pekik lirih si kuning. Mata empat temannya juga terbelalak melihat suling berwarna emas milik Han Tiong. Pertarungan Pertama <3> Paman Li dan Sam-pek-eng juga terbelalak matanya ketika melihat suling emas yang ada di tangan Han Tiong. Mereka ingat dongeng seorang pendekar gagah perkasa dengan suling emas ratusan tahun yang lalu. Mereka tidak menyangka bahwa saat ini ada orang yang memegang suling emas sebagai senjata seperti Pendekar Suling Emas dahulu.

Sebenarnya apa hubunganmu dengan Kim-siauw-hiap, anak muda? tanya si merah agak gemetar. Hahaha... aku akan menjawabnya kalau aku sudah kalah oleh kalian berlima!!!? jawab Han Tiong tidak ada tawaran. Sepertinya kita harus menaklukannya baru bisa mendapatkan jawabannya! kata si putih dengan suara gemetar juga. Jaga serangan kami anak muda! teriak si kuning sambil memberi aba-aba kepada teman-temannya. Han Tiong sudah dikepung rapat. Mereka bergerak sangat rapi tidak seperti ketika mereka bertarung dengan paman Li. Kali ini mereka menggunakan ilmu semcam ilmu barisan lima unsur yang bergerak saling mengisi kekosongan. Ilmu itu diberi nama Ngo-liong-thian-tin (Barisan Lima Naga Langit) sebagai andalan mereka. Menghadapi barisan yang bergerak rapi dan berbahaya seperti ini, semua otot Han Tiong menegang. Maklum ini pertama kalinya ia bertarung benar-benar, bukan latihan lagi seperti di puncak Mao-mao-san. Ilmu Kim-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Emas) yang dimainkannya begitu cepat mengikuti irama gerakan keserasian lima lawanya. Paman Li, gadis cilik dan Sam-pek-eng sampai terbelalak ke dua kalinya melihat pertarungan yang menegangkan ini. Gerakan Han Tiong menjadi sedemikian cepatnya hingga yang terlihat hanya bayangan emas dengan suara mengaung-ngaung tinggi rendah. Lalu gerakannya berubah menjadi lebih aneh dan mengejutkan. Kali ini ia bersilat menggunakan ilmu Hong-in Bun-hoat dengan gerakan menulis huruf di udara. Huruf yang ditulis oleh Han Tiong adalah sebuah serangan dahsyat yang dapat merugikan lima lawannya. Beberapa kali ia berhasil mendesak salah satu dari mereka. Namun gerakan mereka sedemikian hebat dan serasinya. Ilmu Hong-in Bun-hoat hanya bisa mendesak mereka tapi tidak bisa memecahkan barisan lima unsur lawannya. Sekejap kemudian tangan kirinya sudah memegang kipas warisannya. Lalu dengan memeras otak untuk mengingat semua ilmu yang dipelajarinya ia memainkan dua ilmu yang berlainan, yaitu ilmu Lohai San-hoat dimainkan oleh tangan kirinya dan Ilmu Kim-siauw Kiam-sut dimainkan oleh tangan kanannya. Untuk menggunakan dua ilmu sekaligus diperlukan sebuah konsentrasi yang tinggi sehingga membuatnya seperti sedang bersemadhi. Hanya insting bertarungnya yang ia gunakan untuk meraskan seranganserangan selanjutnya dari lawan. Dua ilmu ini dimainkan sedemikian hebatnya hingga membuat lima lawannya menjadi morat-marit. Beberapa kali lima lawannya harus mundur serempak ketika tubuhnya bergerak berputar seperti gangsing sambil memberi tutulan istimewa. Bekk!! Bukkk! Bless!! Tiga serangannya dapat mengenai dada tiga lawannya sampai mundur dengan menahan nyeri. Baru saja ia mengendurkan serangannya karena tidak tega menyerang lagi tiga lawannya yang sudah terluka. Dua lawan lainnya sudah bergerak serempak menyerang punggungnya dari belakang. Dengan merendahkan tubuhnya hingga sampai jongkok ia dapat terbebas dari serangan gelap lawannya. Lalu tubuhnya memutar dengan kecepatan tidak terkira-kira dan melakukan serangan silang ke lutut dua lawannya. Blusss! Plakkk!! dua serangannya mengenai lutut lawannya dan terjengkang ke belakang dengan nafas berat. Hebat! Hebat! Engkau orang pertama yang berhasil mengalahkan Ngo-liong-thian-tin kami, anak muda! Kali ini Ngo-liong-thian (Lima Naga Langit) benar-benar takluk kepadamu! kata si putih dengan susah payah karena dadanya sangat sesak. Han Tiong hanya tersenyum mendengar pujian ini. Lima lawannya atau Ngo-liong-thian sudah berdiri semuanya dengan wajah pucat dan nafas tidak beraturan. Pakaian mereka tampak lecet-lecet terkena beberapa kali pukulan Han Tiong. Untung sejak tadi Han Tiong tidak berlaku keji, sehingga serangannya walaupun sangat dahsyat tetap saja sampai mencederai tubuh mereka.

Boanpwe (Aku yang Rendah) mana berani menerima sanjungan sebesar ini! Ngo-locianpwe (Lima Orang Tua Gagah)-lah yang sudah berlaku murah terhadapku! Han Tiong merendah dengan hati tidak enak. Hahaha... seharusnya kita malu mendengar kata-katamu itu, anak muda! Kali ini kami benar-benar ikhlas takluk kepadamu yang telah mengalahkan kami! kata si hijau yang tadi belum pernah bicara. Ketahuilah bahwa kedatangan kami ke sini sebenarnya atas perintah Ong-ciankun untuk menghabisi para mata-mata pemberontak! Apakah pengakuan kami ini cukup untuk memberi penjelasan kepada kalian semua, terutama engkau anak muda? sambung si kuning. Kalau boleh tahu bagaimana Ngo-locianpwe sampai dapat diperintah oleh orang pihak Manchu? tanya Han Tiong penasaran. Ini... sulit untuk menjelaskan kepadamu karena terlalu panjang ceritanya, anak muda! Singkatnya urusan ini adalah karena kami ingin membalas budi kepada Ong-ciankun! jawab si putih. Itulah yang salah Ngo-locianpwe, kalau orang terlalu mengikat dirinya terhadap hutang budi tanpa memikirkan budi pekerti, keadilan dan kesucian diri! Aku lebih senang seandainya Ngo-locianpwe mau membantu para pejuang untuk membebaskan tanah air dari jajahan bangsa lain, daripada menghambakan diri pada hutang budi yang tidak jelas rimbanya! Maafkan kalau boanpwe banyak berbicara sehingga seperti mengguruhi Ngo-locianpwe! kata Han Tiong lalu meloncat pergi secepat kilat. Semua orang tidak mengira bahwa anak muda yang bersilat menggunakan suling emas akan pergi begitu saja. mereka tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak ada seorang pun yang dapat mencegahnya. Biar boanpwe tidak dikatakan sebagai seorang yang tidak adil, maka Ngo-locianpwe boleh tahu namaku. Boanpwe adalah Yo Han Tiong putera Sin-ciang Tai-hiap Yo Han dari Bukit Naga! Kalau Ngo-locianpwe masih mau memegang janji, boanpwe berharap tidak mempersulit rombongan paman Li dan alangkah senangnya kalau suatu saat boanpwe bisa melihat Ngo-locianpwe membantu para pejuang Han menuntut haknya! tiba-tiba terdengar suara Han Tiong terbawa angin. Lalu terdengar suara suling mengalun gembira membuat semua orang bertambah kagum dengan sosok pemuda yang pernah dilihatnya. Pantas kalau dia bisa mengalahkan kita berlima karena dia adalah putera Sin-ciang Tai-hiap Yo Han! kata si putih. Setelah Han Tiong pergi Ngo-liong-thian dan rombongan paman Li tidak mengalami cekcok lagi, bahkan mereka dapat melewatkan malam dengan saling tukar pikiran dan pengalaman. Sejak saat itu Ngo-liongthian bersumpah untuk tidak lagi mendekati pemerintah dan bergabung dengan para pejuang untuk membantu mereka. Sampai pagi mereka juga tidak henti-hentinya membicarakan sepak terjang Han Tiong yang dianggapnya sama welas asihnya dengan ayahnya. Pagi-pagi sekali Ngo-liong-thian ikut pergi ke selatan dengan rombongan Sam-pek-eng dan tidak mau kembali lagi ke utara. Sedangkan paman Li dan puterinya meneruskan perjalanannya ke utara untuk menyampaikan surat ke Bukit Naga sekaligus bertanya tentang diri Han Tiong. <><><><><>0<><><><><> Pertarungan Pertama (4) Hidup adalah sebentar Anugerah terbesar dari Tuhan Jangan disia-siakan! Melalui pengabdian Saling mengasihi dan persahabatan Hidup akan damai dan tentram! Ada saatnya nafas akan berhenti Disaat itu segala sesuatu tidak berarti lagi Tidak juga pangkat, harta atau kelihaianmu! Hanya perjalanan baik dengan hati suci akan menolongmu Membawa ke alam suci tanpa adanya derita menyentuhmu

Semuanya kosong dan hampa! Kecuali buah kasih sayang yang berharga Belas kasih kepada sesama Hati suci pembersih hati dari segala cela Memaafkan segala yang bersalah Itulah titah Tuhan yang berharga kepada manusia! Petua bijak Lo-sian kepada muridnya! Suara Han Tiong tampak tegas ketika membaca beberapa bait puisi buatan gurunya. Sambil meniup suling bambunya ia membaca puisi itu dengan senang. Hatinya begitu gembira dapat melaksanakan pesan gurunya untuk selalu mengasihi siapa saja yang dihadapinya. Gurunya benar bahwa melawan lawan dengan kekosongan hati dapat membuat gerakannya mengalir sendiri tanpa paksaan walaupun untuk pertamanya ia harus memaksa diri. Sambil meniup suling bambunya dan menikmati hangatnya mentari pagi ia berjalan melewati deretan hutan di timur kota Cin-an. Jarak antara kota Cin-an sudah jauh sekali, karena sejak tadi malam ia tidak pernah berhenti berjalan. Dari sebuah bukit kecil di pegunungan Thai-san ia dapat melihat awan lebat yang menutupi puncak Thai-san. Akhirnya perjalanannya selama ini sudah sampai di kaki bukit pegunungan Thaisan. Tiba-tiba telinganya mendengar suara gerengan menggelegar mengaung-ngaung keras dari jauh. Semakin didengar semakin terasa menusuk telinga dan hatinya. Suara itu membikin tubuhnya menggigil aneh. Sambil menggenjot tubuhnya berlari cepat seperti terbang menuju asal suara. Tanpa dirasa dan diketahui ia berlari menuju puncak Thai-san melupakan mencari ayahnya lagi. Sesampainya di pertengahan Thai-san ia melihat ada beberapa pemburu yang sudah bergelimpangan menjadi mayat. Dua mata, telinga, hidung dan mulut mereka mengeluarkan darah. Suara auman dan pekikan itu masih terdengar memekakkan telinga. Untung bagi Han Tiong sudah mempunyai lwe-kang (tenaga dalam) dan sinkang yang sudah tinggi sehingga ia dapat menahan suara keras itu. Suara apakah ini hingga mampu membuat para pemburu mati? tanyanya dalam hati. Tiba-tiba ia teringat cerita gurunya bahwa di dunia kang-ouw ada sebuah ilmu yang disebut Saicu-ho-kang (Auman Singa) yang pernah digunakan pada zaman ratusan tahun yang lalu. Apakah ini adalah ilmu Saicu-ho-kang (Auman Singa) yang telah ratusan tahun hilang? Bagaimana bisa ilmu ini muncul kembali?! katanya sambil geleng-geleng kepala. Maafkan saudara sekalian, aku tidak bisa mengubur kalian secara layak! katanya lagi ketika memandang mayat-mayat yang bergelimpangan. Lalu dengan tangan kanannya ia mengangkat satu persatu mayat pemburu itu dan dilemparkan ke jurang. Semoga Tuhan mengasihi arwah kalian! doanya setelah selesai melempar mayat terakhir. Lalu ia berlari lagi ke atas lebih cepat. Hatinya tidak tega melihat ada banyak orang lagi yang akan mati akibat tidak tahan auman istimewa itu. Sungguh kejam orang yang melakukan pekikan seperti itu. Semakin ke atas, suara pekikan itu semakin keras melengking-lengking seperti suara iblis. Semakin lama semakin dahsyat mempengaruhi mata batin orang lain. Pekikan itu membuatnya tidak kuat lagi hingga akhirnya ia duduk bersila di atas sebuah batu. Tampak kepalanya mengepul uap putih saking hebatnya daya serang suara itu. Hewan yang ada di Thai-san sampai banyak yang terjatuh mati. Burung-burung yang mengicau di dahan-dahan banyak yang jatuh menggelepar tidak karuan. Tidak sedikit juga burung-burung yang terbang jauh meninggalkan Thai-san yang biasanya damai dan asri. Sambil duduk bersila ia mengeluarkan suling emasnya. Pekikan itu tiba-tiba berubah menjadi suara tawa terbahak-bahak dan kadang-kadang menangis. Suara itu berubah-ubah dari auman, tertawa dan tangisan. Entah iblis yang mana lagi mampu mempunyai lwee-kang, khi-kang dan sin-kang istimewa seperti ini?. Setelah mengeluarkan suling emasnya dan menempelkan di bibirnya ia mulai meniup lagu damai. Sebuah lagu yang paling disenanginya karena disamping enak untuk pendengaran telinga juga jika dilagukan

dengan bait puisinya akan menambah ketenangan hati. Lagu itu sering ditiupnya bersama gurunya di puncak Mao-mao-san dan gurunya kadang-kadang bernyanyi menggunakan bait puisinya. Biarlah semua orang tertawa Karena tertawa adalah lagu jiwa Biarlah orang mengejek Karena ejekan adalah lagu derita Biarlah engkau dipukul Bila sakit, itulah penghargaan untuk kita Biarlah sakit terasa membekas Karena sekali tiup ia terlepas Biarlah orang menghina Karena itulah sanjungan teragung buat kita Biarlah engkau dipukul Kalau engkau memang tidak benar Sekuat apapun pukulan iblis dan lawan Anggap hanya angin segar meniup pegunungan Meski mengenai tubuh Tapi tidak akan meninggalkan luka Karena, sekali tiup dan hirup akan membimbing pada kesegaran Menuju sehat badan dan sehat batin Melalui kerelaan dan pengampunan! Tiupan Han Tiong mengalun naik turun lembut terbawa angin dan melawan angin. Tiupan lagu dengan mengerahkan lwee-kang yang sudah dilatih sedemikian tinggi dan bersih itu membuatnya lebih nyaman dan gembira. Ia menganggap ini adalah latihan untuk mencapai tingkatan lebih tinggi seperti apa yang dikatakan gurunya. Lagu-lagu itu walaupun mempunyai makna yang memusingkan, namun bagi pendengaran orang yang mendengarnya akan terasa menggembirakan. Auman dan tertawa terbahak-bahak itu semakin keras ketika tiupan itu berhasil mencapai puncak Thai-san. Perang jarak jauh seperti ini membuatnya lebih melelahkan dari pada bertarung silat. Di atas kepalanya mengepul uap berwarna putih karena saking kuatnya tenaga lawannya. Auman itu semakin naik meninggi lagi membuat tubuhnya agak bergoyang. Kepalanya bergoyang mencoba menahan kekuatan yang menusuk-nusuk telinganya. Dua matanya ditutup rapat-rapat dan memusatkan panca indranya. Tiupan serulingnya semakin menurun terdesak suara auman lawan yang semakin meninggi. Tiba-tiba telinganya mendengar suara petikan lagu lainnya. Petikan lagu itu terdengar seperti petikan Khim yang berbunyi cring-cring-cring mengalun tinggi rendah. Han Tiong tahu bahwa ada orang ketiga yang sedang mencoba menolongnya. Sambil mengatur nafas dan memusatkan panca indranya, ia mencoba menyelami petikan Khim orang ke tiga. Lalu dengan lwee-kang dan sin-kang yang ada di dalam tubuhnya ia meniup lagi dan mengerahkan semua tenaganya ke tiupan lagunya. Kali ini ia mencoba menyerasikan tiupannya dengan suara Khim dari orang lain. Kali ini gabungan lagu dari suara suling Han Tiong dan khim orang ketiga dapat mendesak auman lawan. Lambat laun auman itu semakin merendah sehingga suara tiupan suling dan petikan khim terdengar indah dan mendebarkan hati. Suara lagu dari dua alat musik ini tidak merusak seperti auman lawannya, namun sebagai obat yang berharga. Setelah lama ia meniup sulingnya tanpa diraskan lagi ia sudah terbebas dari belenggu dan jerat suara auman lawan. Setelah ia tidak mendengar lagi petikan khim orang ketiga dan suara auman lawan baru ia berhenti meniup. Baru saja ia berhenti telinganya yang tajam mendengar suara orang berbatuk-batuk berat. Ia tahu bahwa lawannya telah kalah dan cedera parah karena tiupannya. Sambil memasukkan sulingnya ke dalam jubah ia berdiri dan melangkahkan kakinya menuju puncak. Tubuhnya berkeringat dan nafasnya tampak tersengal-sengal setelah adu sin-kang dan lwee-kang tadi. Dadanya masih terasa sesak dan telinganya sepertinya masih mendengar suara auman lawan. Berkali-kali ia geleng-geleng kepala hampir

tidak percaya ada orang mempunyai lwee-kang dan sin-kang sedemikian tingginya. Ia tidak tahu apakah bisa menang seandainya ia bertarung menggunakan kepandaian ilmu silat dan entah bagaimana dengan dirinya seandainya tidak dibantu oleh orang lain?. <><><><><>0<><><><><> 18. Misterinya Misteri! < 1 > V- Misterinya Misteri! Di puncak Thai-san tampak duduk delapan orang sedang semadhi mengobati diri dengan sin-kang masingmasing. Di atas kepala masing-masing mengepul uap putih. Mereka adalah lima iblis kelompok Hek-liong Put-si dan seorang laki-laki tinggi besar dengan muka penuh rambut seperti singa. Pakaiannya yang berwarna kuning keemas-emasan terbuat dari bahan yang kasar. Kakek yang sudah berumur sekitar enam puluh tahun ini adalah teman dari lima iblis yang baru datang dari barat. Sedangkan di depan mereka sekitar seratus meter duduk kakek Yo Han dan Yin Yin dengan muka pucat. Kakek Yo Han tampak sedang duduk bersila di belakang Yin Yin dengan mata terpejam. Tampaknya kakek Yo sedang mengobati luka dalam Yin Yin akibat auman singa dari orang bercabang bauk itu. Kakek yang memekik menggunakan Saicu-ho-kang (Auman Singa) itu mempunyai muka yang aneh. Wajahnya dipenuhi cabang bauk berwarna emas, sedangkan kepalanya sebagian botak kelimis tanpa rambut seuntai pun. Tidak heran kalau orang-orang menyebut kakek itu dengan Bin-sai Lojin (Orang Tua Bermuka Singa). Ilmu andalannya adalah Saicu-ho-kang, sebuah ilmu menggunakan auman atau pekikan untuk melemaskan atau mengalahkan lawan. Tidak sedikit juga lawan akan segera tewas sebelum bertanding jika mendengar pekikan ini, kalau lwee-kang dan sin-kang lawan rendah. Tadi malam Hek-liong Put-si dan empat iblis lainnya sempat berputar-putar di sekitar telaga untuk mencari kakek Sian-eng-cu, Sian Yun dan Rong Rong. Setelah mendapatkan keadaan Kim-hong Jai-ho-cat yang mengalami luka agak serius, akibat bentrok dengan Sian Yun. Malam itu juga mereka pergi ke telaga untuk menuntut balas, namun mereka tidak menemukan tiga musuh mereka. Setelah mengobrak-abrik daerah telaga, mereka lalu pergi dan di kaki tengah-tengah pegununga Thai-san itulah mereka bertemu Bin-sai Lojin. Bin-sai Lojin datang dari barat khusus untuk membantu mereka mencari harta karun di puncak Thai-san. Lima iblis sudah mengenal Bin-sai Lojin ketika mereka berada di Himalaya. Apalagi Hek-liong Put-si yang bisa dikatakan masih ada hubungan saudara seperguruan dengan Bin-sai Lojin. Adu domba yang dilakukan oleh Hek-liong Put-si di barat pada dasarnya adalah perintah Bin-sai Lojin. Dahulu Bin-sai Lojin pernah menjadi pendeta Lama di Tibet selama dua puluh tahun lamanya untuk mendapatkan ilmu Saicu-ho-kang. Dan saat ini dia sudah menguasai ilmu ini setelah menghilang sepuluh tahun bersembunyi di berbagai tempat karena dikejar-kejar oleh para pendeta Lama Tibet. Kakek Yo Han dan Yin Yin sebenarnya sudah hidup di puncak Thai-san dengan tenang. Pagi itu ketika ia sedang duduk menikmati indahnya pagi bersama Yin Yin tiba-tiba saja telinganya mendengar suara Auman Singa dari Bin-sai Lojin. Dadanya hampir meledak mendengar suara yang datang tiba-tiba dan bergelombang besar ini. Yin Yin yang ada di sampingnya sampai terjatuh menggelepar seperti cacing kepanasan. Saking khuwatirnya sampai ia harus membagi sin-kangnya kepada Yin Yin. Ketika sedang membantu Yin Yin itulah Bin-sai Lojin dan lima iblis datang di depannya. Melihat kakek Yo Han dan Yin Yin duduk tidak kuat menahan aumannya, Bin-sai Lojin menjadi girang dan tertawa terbahak-bahak. Saat itulah Han Tiong meniup sulingnya untuk mengacaukan ilmu Auman Singa Bin-sai Lojin. Bin-sai Lojin bangun dari semadhinya. Bagian dalamnya mengalami luka cukup parah akibat bentrokan dengan Han Tiong. Dia tidak menduga bahwa di sekitar pegunungan ini tersembunyi dua orang yang mampu membendung serangan Auman Singa-nya. Bangsat! Siapakah yang berani mati mengacaukan Saicu-ho-kang-ku? teriak Bin-sai Lojin menggema. Lalu ia meraung-raung kembali berkali-kali dan berhenti menunggu jawaban. Puncak Thai-san terasa hening. Tidak ada lagi suara kicauan burung seperti biasanya. Semua burung telah pergi menjauh dan sebagian lainnya mati. Bin-sai Lojin menanti jawaban namun tidak ada suara orang menjawab.

Apakah itu bisa dikatakan gagah? Berani melakukan namun tidak berani mengakui! Pengecut! Pengecut! Pengecut! Ehkhk! Ehkhk! Ehkhk! teriaknya lagi lebih dahsyat sampai Bin-sai Lojin batuk-batuk. Dadanya semakin terasa sesak. Luka dalamnya kembali kambuh. Sambil menggigit bibirnya ia mencoba menunggu jawaban. Namun tetap tidak ada jawaban. Benar-benar terkutuk! Pengecut! teriaknya lagi sambil menyengir menahan sakit. Tetap hening tidak ada suara. Apakah itu bisa dikatakan gagah? Berani melakukan namun tidak berani mengakui! Pengecut! Pengecut! Pengecut! Ehkhk! Ehkhk! Ehkhk! tiba-tiba terdengar suara halus menirukan perkataan Bin-sai Lojin. Keadaan menjadi lebih mencekam. Ada suara yang begitu jernih tanpa terlihat orangnya. Suara itu terus menerus mengaung seperti ada ribuan lebah sedang beterbangan di dekat telinga. Bangsat! Bin-sai Lojin hanya bisa memaki tidak bisa berbuat. Mukanya merah membara menahan geram. Lima iblis Hek-liong Put-si, Toat-beng-sian, Swat-ciang Lo-kwi, Bu-eng Lo-mo dan Kim-hong Jai-ho-cat terlihat lebih pucat lagi. Apalagi Hek-liong Put-si yang mukanya sudah hitam tampak lebih hitam lagi. Ji-wi locianpwe (Para Orang Tua Gagah) kenapa begitu kejam? Pernakah berpikir bahwa suara itu dapat membunuh banyak makhluk yang tidak berdosa. Ada belasan manusia tewas dan puluhan, bahkan mungkin ratusan binatang mati di Thai-san ini?!! Kemanakah hati nurani, kasih sayang dan kecintaan jiwi-locianpwe? terdengar suara sedih dari balik batu sebesar kerbau bunting yang ada di sebelah kiri Bin-sai Lojin. Han Tiong dengan muka agak sembab berjalan ke arah Bin-sai Lojin dan lima iblis. Matanya sebentar saja melihat ke arah kakek Yo Han dan Yin Yin. Tidak ada rasa terkejut atau kaget melihat kakek Yo Han, walaupun ia mengenal siapa kakek Yo Han. Sebenarnya sudah agak begitu lama ia berdiam sembunyi di balik bebatuan. Sedih dan khuwatir ia melihat raut wajah ayahnya yang terlihat sudah sedemikian tuanya. Dahulu wajah itu masih terlihat begitu segar dan tampak gagah perkasa, namun sekarang wajah itu sudah dijalari keriput tanda ketuaan dan kesedihan masa lalu. 19. Misterinya Misteri! < 2 > Berani engkau menasehati orang tua? Apakah engkau sendiri sudah benar-benar suci setelah pemboponganmu yang licik dan pengecut itu? bentak Bin-sai Lojin marah. Apakah locianpwe ingin semua orang dan biantang di sini mati? Lihat dan dengarlah sekitarmu yang sudah engkau rusak! Mestinya kita bisa melihat bermacam-macam burung yang indah dan mendengar suara kicauan mereka yang merdu, namun kali ini tidak ada lagi burung atau kicauannya sama sekali! Siapa yang salah? Apakah aku atau locianpwe yang sudah tidak punya lagi perasaan dan sifat kasih sayang lagi? jawab Han Tiong dengan hati sedih. Bin-sai Lojin benar-benar terkejut mendengar jawaban Han Tiong yang tidak dikira-kiranya. Sebenarnya ia akan menduga bahwa Han Tiong akan menjawab bahwa pelakunya bukan dirinya. Ternyata dugaannya salah jauh. Ia semakin heran bagaimana mungkin pemuda di depannya dapat mempunyai lwee-kang dan sin-kang yang begitu hebat. Tinggal satu orang lagi yang belum muncul. Ia tahu bahwa orang ke dua inilah yang lebih hebat, bahkan kemungkinan mempunyai kepandaian di atasnya. Apakah orang ke dua adalah guru pemuda ini, tanya Bin-sai Lojin pada dirinya sendiri. Hahaha... engkau benar-benar ajaib anak muda! Seandainya engkau tidak ikut campur, apakah aku tidak akan menghentikan Suara Auman Singa-ku? tanya Bin-sai Lojin dengan nada meninggi. Hahaha... lucu sekali engkau orang tua tengik! Seandainya engkau tidak berteriak dengan suaramu yang jelek dulu, apakah pemuda itu akan mengganggumu? Sudah jelas engkau yang salah, kenapa me-kambing hitamkan orang lain?! Dasar bulus tua mau mampus masih tidak insaf-insaf!! jawab seseorang dengan tertawa halus tanpa memperlihatkan dirinya.

Merah muka Bin-sai Lojin mendengar maki-makian orang itu. Tidak ada pilihan lain bagi Bin-sai Lojin, kecuali menyerang pemuda di depannya untuk memancing orang ke dua supaya memperlihatkan diri. Adu omong sudah kalah, hanya adu kepandaian saja yang belum dicobanya walupun adu suara sudah. Sambil melompat tanpa memberi peringatan kepada Han Tiong Bin-sai Lojin menyerangnya. Lima Jari tangannya dikepalkan rapat sehingga membentuk kepalan. Kepalan tangannya diluruskan ke depan sedangkan lima jari tangan kirinya dilebarkan dan disembunyikan di belakang punggung. Han Tiong benarbenar tidak menyangka bahwa orang tua di depannya begitu kejam dan licik. Tidak ada jalan lain baginya selain memapaki terjangan lawan. Hati-hati dengan tangan kirinya, anak muda! tiba-tiba terdengar bisikan di telinganya. Setelah mendengar bisikan itu ia menganggukkan kepala dan membiarkan pukulan kanan lawan mengenai lengan kiri sebelah atas. Bukkk!!! tubuh Han Tiong terdorong dua langkah. Saat itulah tangan kiri Bin-sai Lojin sudah di arahkan ke umbun-umbunnya. Serangan ini begitu keji dan dahsyat. Dua tangan Han Tiong digerakkan ke atas untuk menangkis serangan keji lawan. Plekkk!!! Bin-sai Lojin mundur sampai tiga langkah. Sedangkan Han Tiong masih berdiri dengan tubuh bergetar. Bin-sai Lojin tidak menyangka bahwa lawannya bisa mematahkan serangannya. Sebelum ia sempat sadar dari keterkejutannya sebuah serangan beruntun mengenai dadanya. Bukkk!!! Bukkk!! Aduhhh!!!! teriak Bin-sai Lojin kesakitan. Tubuhnya terjengkang jatuh di atas tanah. Mulutnya menyumbarkan darah segar dan badannya tampak menggigil kedinginan. Han Tiong hanya merasakan dadanya sesak. Sambil menarik nafas ia mencoba mengobati dirinya. Ia tidak tahu bahwa saat itulah lima iblis sudah menerjang mengirimkan pukulan maut mereka. Kali ini menghindar atau menangkis pukulan maut dari lima iblis konsen kang-ouw pun sudah terlambat. Jarak mereka sudah begitu dekat dan tidak bisa dihindari lagi. Han Tiong pasrah. Pakkk! Pakkk! Paaakkk! Pakkkk! Pakkk!!! Aduhhh!!! Aduhhh! Aduh!!! Aduh!! Aduh!!! Terdengar suara tamparan lima kali dan jeritan menyayat hati. Hampir Han Tiong tidak percaya apa yang barusan dilihatnya. Ia tidak tahu benar apa yang sedang terjadi, hanya dua matanya melihat sekelebat bayangan putih bergerak sangat cepat di depannya. Bayangan putih seperti iblis itu memberi tamparan masing-masing di pipi kiri lima iblis. Hanya sebentar saja hal itu terjadi dan sangat mengejutkan. Bayangan putih itu menghilang di balik pepohonan kecil dan bebatuan di belakangnya. Gerakannya yang cepat sukar dipercaya. Bahkan Bu-eng Lo-mo yang mempunyai gin-kang istimewa pun sampai melongo tidak percaya apa yang barusan dilihatnya. Serentak lima iblis dan Bin-sai Lojin lari tunggang langgang meninggalkan puncak Thai-san. Mereka merasa tidak mampu lagi mengalahkan pendatang baru tadi. Seandainya Bin-sai Lojin dan lima iblis tidak sedang terluka akibat Suara Auman Singanya Bin-sai Lojin, mungkin mereka masih mampu menandingi Han Tiong dan bayang putih itu. Sejenak Han Tiong terbengong masih tidak percaya apa yang barusan dilihatnya. Sambil menghela nafas panjang ia lalu berjalan menghampir kakek Yo Han yang sudah menurunkan tangannya dari atas punggung Yin Yin. Wajah Yin Yin tampak pucat walaupun ia sudah sadar, namun keadaannya seperti orang mati saja. Telan obat ini Yin Yin! perintah kakek Yo Han sambil memasukkan sebuah pil sebesar kacang tanah berwarna emas.

Setelah menelan pil emas itu, sontak wajah Yin Yin berubah-ubah seperti bunglon. Kadang bersemu merah, hijauh, kuning dan normal kembali. Di atas ubun-ubunnya keluar uap putih dan badannya tampak menggigil seperti orang demam. Wajahnya berubah lagi berwarna semu merah dengan keringat membasahi wajah cantik itu. Dua matanya dipejamkan dan pernafasannya sudah mulai normal. Bagaimana keadaanmu Yin Yin? tanya kakek Yo Han khuwatir. Sudah baikan, kek! jawab Yin Yin tersenyum gembira. Gadis ini memang aneh, baru saja melewati jurang maut ia sudah bisa tersenyum begitu rupa. Ah, lega hatiku Yin Yin! Terima kasih atas kemurahan Tuhan dan orang tua sakti itu! kakek Yo Han lega melihat Yin Yin sudah sembuh. Kakek Yo Han membalikkan badan menghadap ke Han Tiong. Han Tiong diam saja melihat kakek Yo Han meperhatikannya. Han Tiong juga sedang melihat wajah ayahnya dengan serius. Tiba-tiba kaki Han Tiong tidak kuat lagi menyanggah badannya. Ia menekuk dua kakinya hingga terjerembab di tanah. A...ayah... maafkan aku yang telah menyusahkanmu.. sulit sekali Han Tiong megeluarkan kata-kata itu. Air matanya sudah meleleh deras. Wajah kakek Yo Han tampak berubah mendengar panggilan itu. Si..siapakah engkau anak muda? tanya kakek Yo Han kaget dan gemetar mendengar seruan itu. Aku anakmu Han Tiong! jawab Han Tiong rada gemetar sambil memeluk erat kaki ayahnya. Benar... benarkah.. engkau anakku yang telah hilang... kakek Yo Han sudah tidak bisa meneruskan perkataannya. Tampak kedua pipi kakek Yo Han sudah basah oleh air mata. Oh! Putera kecilku! kata kakek Yo Han sambil memeluk Han Tiong. Ayah! Ayah! Maafkan Han Tiong! kata Han Tiong sambil memeluk erat ayahnya yang sudah begitu tua. Haha... terima kasih atas limpahan nikmat-Mu ini Tuhan! Tidak percuma aku menyanjung-Mu tiada hentihentinya! Dahulu lohu sangat yakin, bahwa hari seperti ini akan datang! kata kakek Yo Han girang. Lama sekali mereka berpelukan tanpa menghiraukan ada dua mata sedang menatap mereka dengan penuh curahan air mata. Yin Yin senang dan gembira sekali bahwa putera kakek yang dikaguminya sudah kembali. Setelah selesai berpelukan kakek Yo Han memperkenalkan Yin Yin kepada Han Tiong. Sambil duduk di atas rerumputan yang agak lembab Han Tiong menceritakan semua pengalaman hidupnya kepada ayahnya. Mereka saling tukar cerita dan pengalaman. <><><><><>0<><><><><> 20. Misterinya Misteri! < 3 > Apakah ayah mengenal kakek itu? tanya Han Tiong kepada ayahnya yang tampak sedang mengingat sesuatu. Baru kali ini aku melihatnya. Sepertinya umur saudara berpakaian serba putih itu lebih tua dariku berpuluhpuluh tahun dan gin-kang-nya sulit dipercaya oleh mata! jawab kakek Yo Han terkagum-kagum. Mereka masih duduk di puncak Thai-san sambil membicarakan sepak terjang kakek berpakaian putih yang pernah menolong Han Tiong dan memberi pil emas kepada kakek Yo Han. Kakek Yo Han, Han Tiong dan Yin Yin tidak mengenal sama sekali siapa penolong mereka. Selamat bertemu kembali sicu (Saudara Gagah) Sin-ciang Tai-hiap Yo Han! tiba-tiba terdengar suara halus di balik bebatuan di bawah puncak.

Dari balik bebatuan itu muncul tiga orang yang sudah kita kenal yaitu kakek Sian-eng-cu, Sian Yun dan Rong Rong. Sian-eng-cu berjalan di depan dua pemuda-pemudi itu dengan mengulum senyum senang. Ah! Selamat bertemu kembali sicu dan silahkan duduk di tempat suci ini! jawab Yo Han ramah. Hatinya senang karena kakek yang baru saja dibicarakan mau muncul untuk menemuinya sekaligus mengobati rasa penasarannya. Hahaha... maafkan kalau kedatangan kami agak terlambat sehingga membuat hati sicu dan dua saudara cilik ini penasaran!!! kata kakek Sian-eng-cu sambil mengambil tempat duduk. Terima kasih atas semua pertolongan sicu pagi tadi. Kalau boleh tahu siapakah sicu dan datang dari mana? jawab Yo Han santun. Sicu bisa memanggilku Sian-eng Lojin dan ini cucu-cucuku bernama Liu Sian Yun dan Rong Rong! Sebenarnya kami datang jauh dari timur dengan tujuan mencari cucuku yang sudah datang mendahuluiku ke tempat ini. Apakah sicu pernah bertemu seorang pemuda benama Kim Liong? kata kakek Sian-eng. Kakek Yo Han dan Yin Yin tampak terkejut mendengar perkataan sekaligus pertanyaan kakek Sian-eng. Sayang sicu datang terlambat ke tempat ini! jawab kakek Yo Han sambil membayangkan kejadian sebulan yang lalu. Lalu dengan suara agak pelan kakek Yo Han menuturkan kejadian munculnya sepasang musang sampai terjatuhnya Kim Liong dari puncak Thai-san. Muka Sian Yun tampak berubah mendengar penuturan kakek Yo Han, sedangkan kakek Sian-eng tampak manggut-manggut penuh penyesalan. Setiap manusia berjalan sesuai garis nasibnya masing-masing. Takdir Tuhan pasti terjadi. Tidak ada yang dapat merubahnya! mulut kakek Sian-eng tampak kemak-kemik sedih. Kakek Yo Han berkali-kali meminta maaf dan menyesal tidak bisa menolong banyak ketika terjadi petaka itu. Apakah sicu Yo Han mengetahui harta apa yang tersipan di pegunungan Tha-san ini? tanya kakek Sianeng setelah mendengar cerita terjadinya perebutan sepasang musang oleh lima tokoh iblis konsen kangouw. Itulah yang membuatku penasaran hingga saat ini. Lohu hanya tahu bahwa sepasang musang itu konon dapat menunjukkan sebuah tempat harta karun yang tidak ternilai harganya. Lohu sendiri kurang tahu dan mengerti harta karun apakah yang dimaksud sehingga dapat mengundang banyak orang jahat ke tempat ini. Apakah sicu Sian-eng Lojin tahu harta karun apa yang dicari mereka? Hmm, perlu sicu ketahui, sebenarnya kedatangan kami ke tempat ini adalah berhubungan dengan masalah sepasang musang tersebut. Sepasang musang itu memang hakikatnya bisa dikatakan sebagai kunci sebuah harta karun yang tidak ternilai harganya. Selama hampir kurang lebih lima ratus tahun harta karun itu terpendam di sebuah tempat yang hanya diketahui oleh sepasang musang itu. Dan selama itu pula hanya segelintir manusia yang tahu rahasia tentang adanya sebuah tempat harta karun di pegunungan Thai-san ini. Selama ratusan tahun itu, tempat harta karun ini dijaga oleh manusia-manusia dewa yang mempunyai kepandaian tinggi. Hingga dua puluh tahun yang lalu misteri harta karun itu sudah tidak bisa dikatakan sebagai sebuah rahasia lagi di tempat kami. Kakek Sian-eng berhenti bicara dan menatap tajam ke arah tiga lawan bicaranya. Wajah kakek Yo Han masih terlihat seperti biasa, walaupun tidak bisa dikatakan hatinya merasa terkejut dan bertambah rasa penasaran hatinya tentang misteri harta karun di Thai-san. Sebelum kulanjutkan ceritaku, terlebih dahulu sicu Yo Han boleh mengetahui asal tempat tinggal kami di timur. Sebenarnya sudah ratusan tahun lamanya kami hidup damai di sebuah pulau di tengah lautan Po-hai sebelah utara. Pulau itu biasa disebut Pulau Awan Putih. Di sanalah bisa dikatakan asal muasal rahasia Thai-san ini terbongkar. Kakek Sian-eng berhenti berbicara lagi. Wajah kakek Yo Han tampak masih terlihat biasa saja, akan tetapi wajah Han Tiong dan Yin Yin tampak terlihat terkejut mendengar penuturan kakek di depannya.

Selama ratusan tahun lamanya secara berturut-turut yang menjadi penjaga tempat harta karun itu adalah para sesepuh Pulau Awan Putih. Hanya sesepuh Pulau Awan Putih yang telah teruji ilmu kepandaian dan batinnya saja yang hanya bisa mendapatkan penghormatan menjadi penjaga tempat harta karun itu tersimpan. Sedangkan penjaga terakhir saat ini adalah suheng-ku yang sudah menjaga selama lima puluh lima tahun lamannya. Waktu itu suheng sudah berumur lima puluh tahun sehingga kalau ia masih hidup, kemungkinan umurnya sudah mencapai 105 tahun dan sudah sangat tua. Kakek Sian-eng berhenti bertutur karena melihat wajah kakek Yo Han berubah merah. 105 tahun? tanyanya lirih hampir tidak percaya. Kakek Sian-eng tersenyum dan menjawab rasa penasaran kakek Yo Han, Han Tiong dan Yin Yin. Itu kalau beliau masih hidup, kataku tadi! Namun perlu sicu ketahui, kemungkinan beliau bisa mendapatkan umur sampai lebih dari seratus tahun tidaklah tidak mungkin, karena umurku saat ini sudah mencapai 101 tahun dan masih bisa berjalan sampai di tempat ini. Dan twa-suheng (kakak seperguruan tertua) kami pun saat ini masih hidup dan umurnya sudah mencapai 109 tahun lebih beberapa bulan. Kakek Sian-eng berhenti sejenak dan tersenyum melihat reaksi kakek Yo Han. Kakek Yo Han, Yo Han Tiong dan Yin Yin tampaknya masih belum percaya. Apakah sicu tidak percaya atas kehendak Tuhan yang Maha Agung. Kalau Tuhan sudah memberi sesuatu, siapapun tidak akan bisa menolak pemberian-Nya dan semuanya menjadi mungkin adanya! Kakek Yo Han manggut-manggut mengiyakan. Teruskan cerita sicu dan maafkan keherananku! kakek Yo Han berharap. Sebenarnya pergantian penjaga dilakukan setiap lima puluh tahun sekali dan hanya para penjaga dan calon penjaga saja yang tahu rahasia tempat dimana harta karun itu disimpan, bahkan kabar rahasia seperti yang kubicarakan ini pun hanya diketahui oleh dua orang setiap lima puluh tahun sekali. Cara pemilihan penjaga sangat dirahasiakan dan tempat harta karun itu sangat rahasia. Biasanya setiap akhir penjagaan, seorang penjaga terakhir akan datang ke Pulau Awan Putih untuk mencari calon penjaga selanjutnya sekaligus mengantar ke tempat harta karun yang hanya diketahui oleh penjaga terakhir itu. kakek Sian-eng berhenti lagi untuk bernapas. Kalau memang semuanya serba rahasia, bagaimana lima iblis itu dan sicu mengetahui rahasia tersebut? tanya kakek Yo Han. Tentu ada penyebabnya! Dua puluh tahun yang lalu, ada salah satu anak murid Pulau Awan Putih yang tanpa sengaja mendapatkan sebuah catatan kuno. Catatan yang tidak diketahui siapa pemilik dan kapan dibuatnya itu menerangkan tentang rahasia harta karun yang ada di salah satu puncak Thai-san. Untung catatan itu tidak menerangkan dengan detail dimana tempat harta karun itu disimpan. Dan bagaimana tiga iblis dapat mendapatkan kabar rahasia itu, kalau hanya anak murid Pulau Awan Putih saja yang mengetahui rahasia ini? tanya kakek Yo Han agak bingung. Di catatan itu ternyata tidak hanya menceritakan masalah harta karun di Thai-san, namun tertulis juga teori ilmu silat tinggi. Ilmu itu berhasil dipelajari secara diam-diam oleh anak murid Pulau Awan Putih itu dan melakukan pemberontakan terhadap tocu (Ketua/Pemilik Pulau). Orang itu bahkan membunuh tocu dan membawa pergi beberapa pusaka Pulau Awan Putih. Untung lembaran-lembaran kuno dan beberapa pusaka itu dapat dirampas kembali oleh suheng, kalau tidak bencana lebih besar lagi akan dapat memporakporandakan Pulau Awan Putih. Sampai saat ini orang itu masih kami cari karena ada beberapa pusaka Pulau Awan Putih yang masih dibawanya. Kakek Sian-eng berhenti dan tampak wajahnya mengandung kesedihan. 21. Misterinya Misteri! < 4 > Berarti lima iblis itu tahu tentang rahasia besar ini kemungkinan berasal dari orang pelarian dari Pulau Awan Putih itu? tiba-tiba Han Tiong yang tadi diam bertanya.

Hahaha... betapa cocok perkiraanmu itu dengan dugaanku, anak muda! Ternyata tidak hanya kepandaian dan kegagahanmu yang hebat, namun otakmu juga cerdas seperti ayahmu! puji kakek Sian-eng kepada Han Tiong. Wah... wah... pujian kakek Sian-eng Lojin bisa-bisa membuatku terjatuh dari puncak ini kalau diteruskan! kelakar Han Tiong. Semua orang tertawa lucu. Kemungkinan dugaanmu tidak akan meleset, Han Tiong! Karena selain dia seorang, tidak ada orang yang hidup di luar Pulau Awan Putih yang mengetahui rahasia ini! Apalagi mengenai sepasang musang yang dianggapnya sebagai kunci keberadaan harta karun. Mungkin kalian belum mengetahui, bahwa sepasang musang berbulu emas itu, sebenarnya milik suhengku yang sedang menjaga tempat rahasia itu. Dua musang itu mempunyai keanehan dan keunikan tersendiri dari pada musang biasanya. Disamping bulu dan ekornya yang tidak lumrah seperti musang biasanya. Musang itu juga mempunyai kebiasaan keluar tempat tinggalnya hanya ketika sedang kawin dan itu hanya sekali dalam hidupnya, yaitu ketika awal musim semi dan pada setiap bulan purnama. Sepasang musang itupun hanya bisa hidup sampai sepuluh tahun dan beranak sekali saja selama hidupnya. Sepasang musang itu selalu beranak sepasang ketika berumur antara empat sampai enam tahun. Nah, sekarang makanannya. Makanannya pun tidak lumrah dan sembarangan, karena ia hanya mau memakan jamur-jamuran tertentu yang berhawa Yang (Panas) dan beberapa empedu binatang-binatang tertentu yang mempunyai hawa panas seperti ular, kadal, dan katak beracun. Makanannya begitu, tentu gigitannya juga beracun dan sangat panas bahkan bisa membakar organ tubuh orang yang digigitnya. Seaneh dan sehebat itukah musang berbulu emas itu? tanya Yin Yin yang merasa ngeri mendengarnya. Kakek Sian-eng tersenyum sambil memandang Yin Yin yang menundukkan kepalanya. Matanya tadi sebentar bentrok dengan mata kakek Sian-eng dan ia merasa ada sesuatu yang aneh di mata itu. Ada semacam kekuatan yang lembut dapat membuatnya merasa segan untuk menatap wajah keriput itu. Siapa namamu cucuku yang manis? tanya kakek Sian-eng tiba-tiba. Yin Yin mendongakkkan kepalanya dan menjawab lirih. Teecu bernama Huang Yin she Gak atau biasa dipanggil Yin Yin!. Ternyata anggota keluarga Pulau Es! Pantas engkau mempunyai hawa Im (Dingin) dan Yang (Panas) yang cukup tinggi! Apakah engkau sudah diajari oleh ayahmu ilmu Swat-im Sin-ciang dan Hwi-yang Sin-ciang? tanya lagi kakek Sian-eng. Yin Yin hanya menganggukkan kepala pelan dan kakek Sian-eng sudah mengerti. Engkau juga sepertinya telah menguasai dua ilmu khas Pulau Es itu, Han Tiong dan bahkan kalau tidak salah dua senjata di balik jubahmu adalah dua pusaka Kim-siauw-hiap (Pendekar Suling Emas) Kam Bu Song? Apakah engkau sudah menguasai dua macam ilmunya, yaitu Pat-sian Kiam-hoat dan Lo-hai Sanhoat? tanya kakek Sian-eng kepada Han Tiong dengan mata setengah sayu dan senyum mengulum senang. Wajah Han Tiong tiba-tiba berubah ketika mendengar pertanyaan itu. Tidak disangkanya kakek yang ada di hadapannya itu mempunyai mata yang begitu awas. Sungguh awas pandangan kakek Sian-eng! Bukankah Kim-siauw-hiap (Pendekar Suling Emas) bernama Kam Hong atau teecu yang salah mendengar dan mengingat? katanya kagum dan sekaligus bertanya. Hahaha... semuanya benar, Han Tiong! Apakah gurumu tidak pernah bercerita tentang nenek moyangmu? Dan tentang semua ilmu yang engkau pelajari? Hanya itu yang teecu ketahui! Hmm, mengherankan sekali atau memang gurumu hanya mengetahui sekilas saja tentang sejarah gurugurunya?! Ketahuilah Han Tiong bahwa sejarah Kim-siauw-hiap (Pendekar Suling Emas) sangat panjang sekali. Sepengetahuanku sejak ratusan tahun, bahkan sudah ada ribuan tahun yang lalu sudah ada tiga pendekar yang menamai dirinya sebagai Kim-siauw-hiap. Pendekar pertama adalah pembuat asli suling

emas yang engkau pegang itu, tidak ada seorang pun yang mengetahui siapa nama pendekar ini. Hanya aku pernah membaca sebuah catatan kuno, bahwa pendekar itu bernama Keng Ong dari keluarga Cu yang hidup di Lembah Suling Emas di Himalaya. Pendekar ke dua adalah Kim-siauw-hiap Kam Bu Song yang mendapatkan sebagian ilmunya dari manusia setengah dewa Bu Kek Siansu dan terakhir adalah cucu keturunannya yang bernama Kam Hong. Kim Siauw-hiap Kam Hong inilah yang mendapatkan ilmu langsung dari Kim-siauw-hiap pertama melalui sebuah tulisan di tubuh jenazah Kim-saiuw-hiap Cu Keng Ong! Luar biasa...!!! kata Han Tiong terkagum-kagum. Ia tidak menyangka bahwa cerita ilmu dan pendekar suling emas begitu panjang dan berliku-liku. Nanti aku akan menceritakan lagi lebih lengkap, sebaiknya kuteruskan dulu cerita tentang sepasang musang tadi. Sepasang musang itu sejak ratusan tahun sudah hidup di Pulau Awan Putih. Sampai saat ini di Pulau Awan Putih masih ada tiga pasang musang emas dan sepasang di Thai-san. Darah dari musang ini mempunyai banyak keistimewaan diantaranya, bisa menjadi obat sangat mujarab bagi manusia, menambah Yang-sinkang (Hawa Sakti Panas) pada seseorang, membuat peminumnya kebal racun apapun dan masih banyak keistimewaan lainnya. Hampir semua penduduk Pulau Awan Putih pernah merasakan darah musang berbulu emas, karena kabut yang ada di Pulau kami beracun sangat ganas bagi manusia. Hanya melalui mengkonsumsi darah musang berbulu emas dan Swat-lian saja kami bisa hidup di dalamnya tanpa takut awan beracun. Tujuh bulan yang lalu, lohu mendengar kabar bahwa di atas lautan Po-hai terjadi perkelahian. Apakah perkelahian itu mempunyai hubungan dengan Pulau Awan Putih? kakek Yo Han bertanya. 22. Misterinya Misteri! < 5 > Sebenarnya, sebelumnya memang sudah pernah terjadi bentrokan antara pihak Pulau Awan Putih dengan orang-orang Jepang. Mereka sudah berkali-kali mendatangi Pulau Awan Putih untuk meminta Swat-lian, padahal bunga itu hanya tumbuh seratus tahun sekali dan baru bisa diambil manfaatnya kalau sudah terendam di air es minimal seratus tahun. Kami menolak memberikannya dan pertengkaran pun tidak bisa dielakkan karena mereka ingin mengambil dengan paksa. Swat-lian dan sepasang musang emas adalah nyawa kami, karena tanpa dua benda itu anak-anak penduduk kami tidak akan pernah bisa hidup di Pulau Awan Putih. Kemungkinan kabar tentang Swat-lian ini juga disebar luaskan oleh penghianat itu, karena penghianat itu dahulu melarikan diri ke Jepang. Sudah ada puluhan mata-mata kami sebar luaskan untuk mencari penghianat itu, namun hingga saat ini sulit menentukan dimana penghianat ini berada. Sungguh tidak kusangka bahwa sepasang musang emas, Swat-lian dan harta karun adalah sebuah misteri misterinya Pulau Awan Putih! Kalau sicu tidak keberatan, apakah kami boleh tahu harta karun apakah sampai turun temurun sesepuh Pulau Awan Putih menjadi penjaganya dan siapa nama penghianat itu? kata kakek Yo Han ingin tahu. Kakek Sian-eng hanya menjawab dengan menarik nafas panjang seperti orang terbebani sesuatu yang berat. Terus terang saja, bahwa rahasia yang satu ini pun tidak dijelaskan di dalam catatan itu. Catatan itu hanya menerangkan bahwa hanya dua tipe orang saja yang mendapatkan penghormatan mengetahui harta karun apakah yang tersimpan. Tipe pertama adalah penjaga harta karun itu yang hanya dapat mengetahui tempatnya melalui petunjuk penjaga terakhir dan seorang yang berjodoh dengan harta karun itu. Kakek Yo Han diam saja tidak berkata apapun. Semua orang diam tidak berkata atau bergerak sama sekali. Mestinya sudah lima tahun yang lalu terjadi pertukaran penjaga harta karun, namun hingga saat ini suheng belum juga keluar dari tempatnya! Ini sangat membingungkan kalau diperhatikan, entah apa yang terjadi dengan suheng? Apakah beliau sudah meninggal terlebih dahulu sebelum tuganya selesai? Selama ini tidak ada seorang pun yang tahu hingga munculnya kabar sepasang musang itu. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya suheng masih berada di tempatnya, namun entah apa yang dilakukannya! tiba-tiba suara kakek Sian-eng memecahkan keheningan. Kek, sebaiknya kita berdiam di sini untuk menunggu kedatangan penghianat she Yang dan mencari jenazah Liong-te kalau memang dia meninggal dunia! kata Sian Yun dengan suara serak.

Kakek Sian-eng berpaling ke arah Sian Yun sambil tersenyum. Ia tahu bahwa Sian Yun mulai emosi setelah memendam rasa benci dan dendamnya kepada penghianat Pulau Awan Putih. Anak muda, sebaiknya engkau hati-hati dengan perasaanmu itu. Rasa benci dan dendam akan bisa meracuni hati sucimu! kata kakek Yo Han dan kakek Sian-eng manggut-manggut. Sian Yun menengadakan kepalanya sambil memejamkan dua matanya seperti sedang membayangkan sesuatu yang menyakitkan. Memang sepertinya begitu, cucuku! Bisakah sicu Yo Han menunjukkan tempat dimana Kim Liong terjatuh? kata kakek Sian-eng. Mari sicu mengikutiku! jawab kakek Yo Han dengan berdiri. Lalu berturut-turut semua orang mengikuti kakek Yo Han ke pinggir jurang yang ada di puncak tertinggi Thaisan. Sambil menuding ke bawah yang kelihatan gelap karena terhalang awan kakek Yo Han menudingkan telunjuknya. Di tempat inilah Kim Liong terjatuh dan melayang ke bawah sana! Selama satu bulan ini kami sudah mencari di bawah sana namun tidak menemukan jejaknya sama sekali. Kata kakek Yo Han memberi petunjuk. Maukan sicu menemaniku memeriksa ke bawah lagi? tanya kakek Sian-eng sambil melangkah pergi ke arah lain. Yin Yin dan engkau Han Tiong sebaiknya ajak dua saudaramu pergi ke gua dan membuat makanan! Biar kami memeriksa ke bawah jurang dulu! kata kakek Yo Han sambil berlari mengejar bayang putih. Setelah dua kakek sakti itu pergi, baru Yin Yin mengajak tiga teman barunya menuruni puncak menuju sebuah gua. Gua itu ditemukan kakek Yo Han ketika sedang mencari Kim Liong dan dijadikan tempat tinggalnya bersama Yin Yin selama sebulan ini. Tahukah engkau Tiong-twako kalau kita belum mengetahui nama dua saudara kita ini?!! kata Yin Yin yang sudah mulai nakal. Masa engkau lupa dengan nama kami, nama kami kan sudah diperkenalkan oleh kakek Sian-eng? protes Rong Rong tidak mau kalah. Walaupun begitu Sian Yun tetap saja memperkenalkan namanya dan nama Rong Rong. Karena Sian Yuan sudah tahu nama Han Tiong dan Yin Yin maka mereka tidak bertanya nama mereka. Namun Yin Yin yang nakal masih memperkenalkan diri tanpa malu-malu lagi. Begitulah akhirnya mereka bisa akrab lewat canda dan kenakalan Yin Yin. Mereka menuruni puncak Thai-san sambil mendengarkan mulut mungil Yin Yin yang tidak berhenti-henti mencerocos bercerita hal-hal yang lucu, sampai tiga teman barunya tertawa terbahakbahak. Yin Yin memang pandai bercerita yang lucu-lucu dan pembawaannya yang menyenangkan membuat tiga temannya yang lebih tua lebih cepat akrab. <><><><><>0<><><><><> 23. Bab 6 - Sosok Misterius! < 1 > Bolehkah lohu bertanya sesuatu kepada sicu? Kata kakek Yo Han sambil berlari cepat di samping kakek Sian-eng. Mau bertanya tentang apakah sicu Yo Han? jawab Sian-eng sambil tidak mengurangi lacu larinya.

Setidaknya ada dua persoalan yang belum kumengerti, pertama apakah sicu yang menolong Han Tiong ketika terjadi adu suara dan nada dengan Bin-sai Lojin pagi tadi? Dan obat mujarab apakah sebenarnya yang sicu berikan kepada Yin Yin yang dalam sesingkat itu dapat mengobati luka dalamnya? Mendengar dua pertanyaan itu tiba-tiba saja kaki kakek Sian-eng berhenti mengayun. Sambil berdiri melihat tajam kakek Yo Han, ia tetap tersenyum. Sebab itulah aku mengajak sicu sendiri turun ke bawah sini. Waktu terjadi adu Sin-kang dan Khi-kang lewat suara itu aku sendiri sampai terpengaruh, bahkan Sian Yun dan Rong Rong harus kutotok semua panca pendengarnya supaya tidak terluka. Aku hanya melihat sosok orang duduk di puncak tebing sebelah timur sambil bermain Khim. Sulit menduga siapa orang itu, bahkan menentukan apakah orang itu laki-laki atau perempuan, muda atau tua pun sangat sulit. Malahan aku ingin menanyakan hal ini kepada sicu, apakah mengenal sosok itu apa tidak? Tidak nyananya sicu sendiri tidak tahu! jawab kakek Sian-eng lebih penasaran lagi. Berubah wajah kakek Yo Han mendengar penuturan kakek Sian-eng. Sambil menghela napas panjang ia berkata. Kenapa akhir-akhir ini banyak sekali muncul perkara memusingkan seperti ini? Padahal sudah lama lohu ingin mencuci tangan tidak lagi mau berurusan lagi dengan dunia kang-ouw! kata kakek Yo Han menerawang jauh. Inilah takdir! Sepertinya dunia kang-ouw akan terjadi kegemparan lagi dengan munculnya para naga dan serigala yang tidur! kakek Sian-eng tampak merenung juga. Pil emas yang dimakan oleh Yin Yin adalah pil mujarab yang hanya dibuat di Pulau Awan Putih sebagai obat memperkuat sin-kang dan mengobati luka dalam! sambung kakek Sian-eng. Apakah pil itu dibuat dari Swat-lian atau darah musang berbulu emas? kakek Yo Han mencoba mendesak. Pil itu hanya dicampur sedikit dengan bubuk Swat-lian saja! Sebaiknya kita mencari dulu tubuh Kim Liong. Kalau belum ditemukan jasadnya, kemungkinan ia masih hidup! jawab kakek Sian-eng lalu mengayunkan kembali kakinya dan diikuti oleh kakek Yo Han. Setengah jam kemudian mereka baru sampai di bawah tebing puncak Thai-san. Tebing sebagai penyangga puncak Thai-san itu meruncing seperti beratus-ratus pedang ditancapkan di bumi. Awan putih menutupi puncak Thai-san sehingga sangat sulit untuk menentukan berapa tinggi puncak Thai-san sebenarnya. Di sebelah timur tebing puncak tertinggi Thai-san itu juga terdapat tebing dari puncak Thai-san yang lainnya, namun tidak setinggi puncak di depan dua kakek itu. Jarak antara tebing sebelah barat dan timur sungguh jauh dan di tengah-tengah dua tebing itu terdapat jurang yang dipenuhi pepohonan hijau. Diantara dua tebing itulah dua kakek itu memeriksa dengan teliti jasad Kim Liong. Mereka menemukan beberapa gua di bawah dua tebing itu, namun kosong tidak berpenghuni. Gua-gua itu juga sepertinya belum pernah dijamah seorang manusia pun. Puluhan air terjun dan sungai kecil diperiksa juga oleh dua kakek itu. Tanpa merasa lelah bagi kondisi kakek-kakek tua seperti mereka, mereka tetap mencari dan mencari. Setiap yang dirasa mungkin mereka lakukan, bahkan mereka sempat menaiki beberapa gua yang ada di tengah-tengah tebing dan memeriksanya. Semuanya hanya nihil karena gua-gua itu tidak berpenghuni atau ada tanda-tanda pernah dihuni oleh manusia. Sambil menyeka keringatnya dengan lengan bajunya, mata kakek Yo Han tidak henti-hentinya menatapi setiap inci dari dua tebing kanan-kirinya. Tiba-tiba matanya melihat sosok hitam sedang berdiri di atas puncak tebing sebelah timur. Sosok itu adalah sesosok manusia bejubah hitam dan di punggungnya tersembul alat musik Khim. Apakah orang itu yang membantu kita? tanya kakek Yo Han singkat. Kakek Sian-eng juga waktu itu sudah menenggakkan kepalanya ke atas dan melihat sosok tubuh kurus yang dibungkus jubah besar itu. Kakek Sian-eng tampak mengangguk lemas. Sayang wajah orang itu dibungkus kain tipis sehingga tidak bisa menentukan apakah orang itu laki-laki atau perempuan. Muda atau sudah tua. Sepertinya sosok hitam

itu juga sedang melihat ke arah mereka. Terlalu jauh untuk melihat jelas dua matanya. Baru saja kakek Sianeng berketip karena terlalu lama melihat ke atas, sosok hitam itu sudah menghilang. Seperti setan saja orang itu perginya. Kakek Sian-eng yang mempunyai peringan tubuh sudah sedemikian sempurnanya saja merasa kagum apalagi kakek Yo Han. Lama sekali mereka terbengong melihat apa yang barusan mereka lihat. Sampai kakek Yo Han dan Sian-eng menghela napas panjang baru mereka sadar. Sungguh luar biasa gin-kang manusia itu! kata kakek Sian-eng terkagum-kagum. Benar, belum pernah kumelihat gin-kang yang hanya dengan sekedipan mata sudah bisa menghilang begitu cepat. Bagaimana kalau dibandingkan dengan gin-kang sicu? kata kakek Yo Han seperti orang linglung. Gin-kang orang itu lebih tinggi setingkat dariku! Mengingatkan pada manusia-manusia setengah dewa dahulu kala saja! jawabnya sambil termenung. <><><><><>0<><><><><> 24. Bab 6 - Sosok Misterius! < 2 > Kabut putih tipis masih terlihat saling berkejar-kejaran di pegunungan Thai-san. Suara kicau burung mulai ramai lagi, setelah keadaan Thai-san sudah kembali tenang. Tetesan embun tampak cemerlang di pucuk dedaunan dan rerumputan. Butiran-butiran itu menetes ke tanah berbentuk seperti butaran-butaran permata yang indah. Begitu indah dan damai keadaan pegunungan Thai-san seandainya tidak dikotori oleh perilakuperilaku rakus, benci, dan dendam manusia. Suara kicauan burung yang saling bersautan berirama mengikuti alunan angin. Gesekan gemerisik dedaunan ditempa angin pegunungan menambah indahnya lagu kesenangan alam. Belum lagi suara gemercik air terjun yang membuat hati lebih nyaman. Angin yang dingin meremas-remas kulit hingga masuk ke tulang akan terasa nikmat, apabila diselingi suara dawaian alam seperti itu. Bunga-bunga bermekaran liar dan indah, terlihat begitu indah di mata. Sang raja surya baru datang dengan semburat warna keemasannya. Kabut tipis di bawah perbukitan atau kaki pegunungan Thai-san tampak senang hati menerima cahaya matahari. Sebaliknya kabut tebal berwarna putih kehitam-hitaman tampak menyelimuti puncak tertinggi Thai-san. Di atas sana keadaan tetap gelap, walaupun jarak antara matahari dengannya cukup dekat. Munculnya sang matahari menambah suasana di bawah bukit pegunungan Thai-san menjadi lebih indah dan menyenangkan. Berbagai jenis binatang keluar dari sarangnya mencari makanan untuk berlangsungnya hidup. Ada juga sebagian binatang yang keluar dari sarangnya sekedar untuk menghangatkan badan atau sekedar bermain-main saling berkejaran-kejaran. Diantara ratusan binatang atau mungkin ribuan binatang di bawah puncak pegunungan Thai-san, terlihat sepasang musang berbulu emas dan berekor sembilan. Bukan main indahnya sepasang musang yang sedang bercumbu di atas batu itu. Inilah sepasang musang yang sedang diperebutkan oleh banyak orang yang konon dapat menunjukkan sebuah tempat harta karun. Bulunya terlihat tampak lembut dengan warna keemasan mengkilat-kilat indah. Sembilan ekornya yang menjorok searah namun berbeda panjangnya itu tampak lucu. Kalau dilihat sekilas saja, maka yang terlihat hanya dua ekor yang berbulu lebat dan sangat panjang. Sedangkan tujuh ekor lainnya sangat kecil dan sulit dilihat dengan jelas, karena tumbuhnya diantara dua ekor panjangnya. Sepasang musang yang hanya berukuran sedikit lebih besar dari seekor kucing itu sekarang sedang bercumbu mesra. Musang laki-laki tampak sedang menjilat-jilat telinga lawan jenisnya yang bundar dan kecil. Keanehan sepasang musang itu tidak perlu dipertanyakan lagi. Tuhan memang maha sempurna, begitu hebat karya ciptaannya. Itu baru seekor musang yang dibuat entah berapa macam di dunia ini. Seandainya kita mau sedikit berpikir, alangkah tahjubnya dengan ciptaan-Nya itu. DIA dapat menciptakan manusia dengan berbagai jenis, ras, macam, dan keistimewaan-keistimewaan apalagi hanya dengan makhluk-Nya yang lain?. Tentunya tidak perlu dipertanyakan lagi. Tiba-tiba telinga musang jantan yang mempunyai daun telinga lebih panjang sedikit dari pada betinanya itu bergerak-gerak. Daun telinga itu bergerak-gerak, sedang kepala musang jantan itu tampak bergerak juga ke kanan kiri. Dua mata dari si jantan tampak bergerak melirik ke sana-kemari, entah ada apa?. Lalu mulutnya

tiba-tiba mengeluarkan suara mencicit aneh dan tubuhnya dalam sekejab sudah berlari. Musang betina mengikuti si jantan, berkali-kali ia menengok ke kanan dan ke kiri seperti ingin melihat sesuatu. Hidungnya yang agak kecil tampak kempas-kempis seperti mencium bau yang belum pernah dirasakannya. Sambil berlari dan kadang-kadang berhenti tak henti-hetinya si jantan bercicit seperti sedang memberi tahu sesuatu kepada si betina. Kejar....!!! jangan sampai lolos!!! Cepat...! tiba-tiba terdengar suara banyak orang sangat berisik mengejutkan sepasang musang itu. Sepasang musang itu lari terbirit-birit memasuki semak-semak belukar dan kadang-kadang memanjat pepohonan dan meloncat-loncat. Sungguh cepat larinya sepasang musang itu. Cara memanjat dan melompat di dahan-dahan tidak kalah lihainya dengan seekor tupai. Goblog! Jangan keras-keras... nanti mengejutkan sepasang pengantin itu... lah?!... lah benarkan.. lari... cepat kejar... !!! jawab seseorang lainnya tanpa berhenti mengejar. Ada tujuh orang yang mengejar sepasang musang itu. Sepasang musang itu terus berlari ke atas Thai-san. Berkali-kali sepasang musang itu meloncati batu cadas dan menyusup-nyusup di semak belukar sehingga membuat pengejarnya agak kerepotan. Untung juga tujuh orang itu mempunyai gin-kang yang hebat sehingga tidak kehilangan mangsanya. Seandainya tujuan mereka untuk menangkap sepasang musang itu, mungkin saja dengan mudah mereka akan dapat menangkapnya. Akan tetapi kedatangan mereka hanya ingin mengetahui tempat tinggal sepasang musang itu. Tiba-tiba sepasang musang itu berhenti berlari. Cuping hidungnya yang kecil tampak kempas-kempis seperti sedang menemukan sesuatu. Tujuh orang yang bukan lain adalah lima iblis, Bin-sai Lojin dan seorang pemuda berumur dua puluh tahun itu juga berhenti. Sambil mengintip mangsanya mereka berhenti dari jarak kejahuan sekitar sepuluh tombak. Beberapa detik kemudian sepasang musang itu berlari lagi ke atas. Kali ini tanpa dirasakan oleh tujuh pengejarnya, sepasang musang itu berlari ke puncak Thai-san. Larinya tidak lagi secepat di kaki gunung, karena sering kali sepasang musang itu berhenti dan kepalanya bergerak-gerak menoleh ke kanan-kiri. Musang itu terus naik ke puncak Thai-san. Tiba-tiba tanpa disadari oleh pengejarnya sepasang musang itu berhenti lagi. Lalu sambil mencicit aneh sepasang musang itu tampak mengendus-endus dan berjalan pelan. Heran juga para pengejarnya melihat sepasang musang itu. Mereka tadi mengira bahwa sepasang musang itu lari karena ketakutan, akan tetapi dugaan mereka salah. Ternyata sepasang musang itu lari sebab penciumannya mencium sesuatu dari jarak yang begitu jauh. Sukar dipercaya ada hewan mempunyai penciuman dari jarak sejauh itu. Sedang apa sih dua pengantin itu? Aku heran sekali! kata pemuda itu sambil mengernyitkan dahinya. Mungkin sedang mencium betina yang lebih harum aromanya kali..hahah...!! jawab Kim-hong Jai-ho-cat yang ada di samping pemuda itu. Mana bisa dua musang itu disamakan denganmu? jawab pemuda itu sambil tersenyum nakal. Hahah... apakah Song-kongcu tidak akan mengejar seandainya mencium aroma bunga melati liar yang baru mekar-mekarnya? goda Kim-hong Jai-ho-cat yang di otaknya hanya ada bunga-bungaan saja. Dasar! Seleraku jangan engkau samakan denganmu, dong?!! kata pemuda yang dipanggil Song-kongcu oleh Kim-hong Jai-ho-cat. Hahaha... ala !! Pura-pura alim lagi! teriak lirih Kim-hong Jai-ho-cat. Sebelum Song-kongcu menjawab dua matanya yang tiada henti-hentinya melihat dua musang itu menjadi kaget. Karena dua musang itu sudah mulai berlari cepat lagi.

Mereka naik lebih tinggi lagi dan sampailah mereka di puncak Thai-san. Di tengah-tengah puncak itu duduk dua kakek yaitu kakek Sian-eng dan Yo Han yang diapit oleh empat pemuda-pemudi di sampingnya sambil berdiri. Empat pemuda itu berdiri dengan sorot mata tajam, sedangkan kakek Sian-eng tampak mengebutngebutkankan tangannya. Di depan mereka ada sebuah tungku kecil dengan asap putih mengepul di atasnya. Sepasang musang itu tampak mendekati tungku kecil itu dan mengitarinya. 24. Bab 6 - Sosok Misterius! < 3 > Anak baik, ke sini! Ini ada makanan kesukaanmu! kata kakek Sian-eng lemah lembut. Tangan kanannya diluruskan ke depan dan di telapak tangannya telah ada dua potong jamur berwarna merah. Sepasang musang itu mendekat tanpa merasa takut. Lalu mulutnya menggigit jamur itu satu persatu dan memakannya di atas telapak tangan kakek Sian-eng. Kakek Sian-eng tampak tersenyum senang melihat jamurnya dimakan oleh sepasang musang itu. Lalu dengan lembut tangannya telah membelai kepala sepasang musang itu. Sepasang musang tampak menurut saja, bahkan ketika dua tangan kakek Sian-eng mengangkat tubuhnya dan membelainya dengan lembut, sepasang musang itu tampak menurut saja. Bangsat! Berani kalian mengacaukan pekerjaanku. Serahkan sepasang musang itu kepadaku, kalau tidak? Jangan harap bisa hidup lebih lama lagi! teriak Bin-sai Lojin marah ketika melihat sepasang musang itu sudah ada di pangkuan kakek Sian-eng. Kakek Sian-eng diam saja, malahan ia menyerahkan musang betina kepada kakek Yo Han dan dibelainya dengan sayang musang betina itu. Musang itu sudah bunting, sebentar lagi mereka akan menjadi pasangan yang berbahagia! kata kakek Sian-eng kepada kakek Yo Han. Bagaiman sicu bisa mengetahuinya? tanya kakek Yo Han ingin tahu. Bagaimana dia tidak tahu kalau dia sendiri adalah pelakunya! Ha ha ha...!!! tiba-tiba terdengar Kim-hong Jai-ho-cat mendahului kakek Sian-eng. Semua kawannya tertawa terbahak-bahak mendengar olok-olok Kim-hong Jai-ho-cat. Sayang sudah begini tuanya tidak laku-laku hingga seekor musang ditidurinya! Dasar kakek reot cabul! Puihhhh!!! olok Toat-beng-sian juga. Kawan-kawannya tertawa terbahak-bahak. Dua kakek itu diam saja tidak menjawab atau merasa tersindir. Walaupun air muka empat pemuda di sampingnya sudah berubah menjadi merah padam. Mereka marah sekali mendengar olok-olok para iblis yang benar-benar menjijikkan itu. Akan tetapi mereka diam saja tidak bergerak sedikit pun. Sicu bisa melihat warna mukanya yang kemerah-merahan seperti darah dan bulunya menebarkan aroma khas! jawab kakek Sian-eng setelah berhenti agak lama. Memang benar apa yang dikatakan oleh kakek Sian-eng. Muka dua musang itu berbeda, kalau musang jantan mempunyai muka berwarna hitam kecoklat-coklatan, sedangkan musang betina mempunyai warna mereha seperti darah. Dan ada aroma harum yang sangat khas dari bulu-bulunya, khususnya lagi dari ekornya ketika bergerak-gerak. Kakek Yo Han bolehkah aku menyentuhnya? kata Yin Yin yang sejak tadi ingin menyentuh musang di pangkuan kakek Yo Han. Ini! kata kakek Yo Han dan menyerahkan musang itu kepada Yin Yin.

Musang betina itu tampak menurut ketika berpindah tangan kepada Yin Yin. Sambil mengendongnya seperti menggendong bayi, Yin Yin juga mengelus-elus bulunya yang lembut. Rong Rong yang ada di samping Yin Yin juga tidak sabar melihat musang yang lucu itu, akhirnya ia juga ikut mengelus-elus kepala musang betina itu. Hihihi... bulunya begitu halus! Indah yah warnanya?! kata Rong Rong tertawa senang. Buluku juga halus nona, hangat lagi! Lebih baik nona ke sini dan bermain-main denganku sebentar, melanjutkan permainkan kita yang tertunda dahulu! tiba-tiba Kim-hong Jai-ho-cat berkata tidak senonoh. Wajah Rong Rong tiba-tiba menjadi merah membara karena menahan amarah. Sebenarnya sudah sejak tadi ia menahan amarahnya ketika melihat Kim-hong Jai-ho-cat yang pernah menawannya, bahkan hampir memperkosanya dahulu. Kakinya sudah dilangkahkan ke dapan dengan gigi berbunyi bergemurutuk. Tapi kakinya akhirnya berhenti ketika sebuah tangan halus dari kakek Sian-eng menghalanginya. Sebenarnya apa keinginan kalian di sini? tanya kakek Sian-eng ramah sambil mengelus-elus kepala musang jantan. Ha? Apakah telinga dan matamu sudah tidak berfungsi lagi, sehingga tidak lagi dapat mendengar omonganku tadi! bentak Bin-sai Lojin marah. Hohoho! Jadi kalian berdiri di sini masih tetap menginginkan sepasang musang ini? jawab kakek Sian-eng. Bin-sai Lojin mau berkata namun didahului oleh Song-kongcu. Maaf beribu maaf kalau kedatangan kami mengganggu ketenangan para locianpwe. Mohon para locianpwe memberikan sepasang musang itu kepada kami. Kami tidak bermaksud mengganggunya, atau mengganggu para locianpwe! tiba-tiba Siong-kongcu yang sejak tadi diam berkata lembut. Tidak tanggung-tanggung ia juga menjura dihadapan dua kakek sakti di depannya. Sejenak kakek Sian-eng dan Yo Han mencuatkan dua alisnya melihat perkataan pemuda di depannya. Sejak tadi mereka juga heran, bagaimana ada seorang pemuda yang tampak lemah bisa berteman dengan datuk-datuk sesat seperti itu. Siapakah engkau pemuda tampan? kakek Sian-eng bertanya. Song-kongcu sejenak tersenyum dan menebar pandangan. Nama boanpwe (yang muda) Bu Han bermarga Song! Kenapa engkau sangat menginginkan sepasang musang ini? Dan apa hubunganmu dengan para datuk sesat itu? kakek Sian-eng masih mengeluarkan pertanyaanya. Boanpwe hanya penasaran dengan cerita bahwa dua musang itu petunjuk dari sebuah tempat yang menyimpan harta karun. Harta karun yang tidak ternilai harganya. Sedangkan mereka adalah teman-teman seperjuangan jawab Song Bu Han dengan nada mulai datar. Song-kongcu, buat apa banyak bicara dengan kakek-kakek bau tanah itu. Sebaiknya gempur saja mereka, teriak Toat-beng-sian yang sudah tidak sabar menunggu lagi. Bu Han hanya menjawab dengan senyuman sinis yang mempunyai banyak arti. Anak muda, dari mana engkau mendapatkan informasi itu? kakek Sian-eng kembali bertanya. Nadanya masih lembut. Tidak penting informasi itu didapat dari mana locianpwe. Lebih baik sepasang musang itu dilepaskan supaya kita bisa melihat kebenaran cerita itu. jawab Bu Han masih kokoh tidak mau memberi tahu dari mana ia mendapatkan informasi.

Kalau begitu aku juga mempunyai pendapat kokoh untuk tidak memberikan sepasang musang ini kepada kalian. Kata kakek Sian-eng sambil menyentuh bulu musang yang ada di pondongannya. Baik... Bu Han berkata namun terputus. Ah, kek musang itu lari...! teriak Yin Yin melihat musang betina di tangannya melompat. Musang jantan juga meloloskan diri mengikuti si betina. Serentak Song Bu Han dan para datuk sesat melompat mengikuti sepasang musang itu. Dua kakek dan empat pemuda-pemudi di belakang mereka juga serentak mengikuti arah berlarinya sepasang musang itu. sepertinya sepasang musang itu telah mencium aroma peperangan dan persengketaan antara dua kelompok itu, sehingga memilih pergi. Sepasang musang itu berlari dengan cepat melaju mengikuti arah angin. Di belakangnya berlarian dua kelompok yang tidak ingin kehilangan jejaknya. Sepasang musang itu berlari ke bawah puncak menelusuri semak-semak dan meloncati bebetuan. Kadang-kadang juga naik ke pohon dan meloncat-loncat seperti terbang sehingga menyulitkan pengejarnya. Sepasang musang itu begitu cerdik. Sejenak kemudian jarak antara sepasang musang itu dengan pengejarnya sudah jauh. Lalu sepasang musang itu naik ke atas pohon dan berhenti bersembunyi di pucuk dahan, tidak bergerak. Kemana perginya musang sialan itu...!!! umpat marah Bin-sai Lojin ketika kehilangan buruhannya. Apakah kalian tidak melihat kemana perginya sepasang musang itu? tanya Song Bu Han kepada lainnya. Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan pemimpinnya. Mereka kehilangan sepasang musang itu. Saking marahnya Toat-beng-sian sampai mencak-mencak dan membabati semak-semak. Bahkan yang lainnya juga memukul roboh beberapa pohon disamping mereka sebagai pelampiasan kemarahan. Ini kesalahan mereka yang selalu mengganggu urusan kita! kata Hek-liong Put-si yang tadi diam saja. Kalau kutemukan musang itu, akan kumakan hidup-hidup mereka! teriak Toat-beng-sian geram. Kita berpencar mencarinya, aku dan Bin-sai Lojin ke depan, sedangkan Hek-liong Put-si dan Swat-ciang Lokwi mencari ke sebalah kanan. Dan Toat-beng-sian, Bu-eng Lo-mo dan Kim-hong Jai-ho-cat mencari di arah kiri. Cepat sebelum sepasang musang itu masuk ke sarangnya! perintah Song Bu Han kepada yang lainnya. Perintah itu tidak perlu diulang dua kali. Karena mereka sudah mampu menerjemahkan perintah itu dengan baik. Mereka kehilangan sepasang musang itu, kek! kata Sian Yun. Dua kakek di sampingnya tampak manggut-manggut. Mereka tidak akan pernah menemukan sepasang musang itu lagi, bahkan kita pun jangan berharap bisa menjumpainya. Kata kakek Sian-eng sambil menerawang jauh. Apa maksud sicu? tanya kakek Yo Han. Inilah terakhir kali sepasang musang itu menampakkan diri. Selanjutnya mereka akan masuk ke dalam liangnya dan tidak akan keluar lagi. Kalau ingin melihat sepasang musang itu kembali, kita harus menunggu setidaknya empat sampai enam tahun lagi. Kakek Sian-eng menjawab sambil memejamkan matanya. Kalau begitu harta karun itu akan aman setidaknya sampai empat tahun ke depan Rong Rong ikut berbicara. Begitulah seharusnya. Dan sepertinya rahasia tentang harta karun itu akan hilang dengan sendirinya. Inilah takdir! kakek Yo Han berkata juga.

Mereka melihat para datuk sesat itu sudah menjauh dan tidak terlihat batang hidungnya. Sebaiknya kita tetap mengikuti mereka, barangkali mereka dapat menemukan sepasang musang itu kembali! Han Tiong berkata. Sebaiknya memang begitu! jawab kakek Sian-eng sambil melangkahkan kakinya. Setelah mereka menghilang dan meninggalkan keheningan di tempat itu. Tiba-tiba dari atas pohon di tempat itu melompat sepasang musang. Sepasang musang yang sangat cerdik itu tampak berlari melawan arah. Sepasang musang yang sepertinya mengerti bahwa dirinya sedang dicari berlari kembali ke puncak Thaisan. Sambil menelusup-nelusup di antara rerumputan dan bebatuan. Sesampainya di puncak Thai-san, sepasang musang itu lalu berjalan turun menelusuri retakan-retakan bebatuan curam jurang. Sepertinya jalan yang tidak mungkin dilewati manusia itu sudah sangat dikenalnya. Sebentar kemudian sepasang musang itu sudah menghilang di balik kabut yang menutupi jurang puncak Thai-san. Pulanglah anak-anakku, dan jangan muncul lagi supaya kehidupanmu tidak diusik oleh manusia-manusia rakus! Tiba-tiba terdengar seorang berkata dengan nada lembut. Sosok hitam dengan alat musik khim di punggungnya itu berdiri terpaku melihat ke bawah jurang. Di sana sepasang musang itu merambati bebatuan cadas dan menghilang. <><><><><>()<><><><><> 25. Bab 7 - Khim Siau-hun (Harpah Penggetar Sukma)! < 1> Suasana puncak Thai-san begitu sepi. Sian Yun berdiri di pinggiran puncak Thai-san sendirian. Dua matanya mengintai jurang yang mengangah lebar di bawahnya. Sudah berjam-jam ia beridiri di tempat itu. Sepertinya ada sesuatu yang ingin diketahuinya, namun kabut di bawah sana menghalangi indra matanya. Kabut masih menyelimuti puncak Thai-san. Bunga-bunga mulai bermekaran menyambut kehangatan oleh matahari yang baru naik. Sian Yun masih berdiri dengan segudang pikirannya. Hampir setiap pagi dan sore hari ia selalu memandangi jurang Thai-san itu. Jatuhnya Kim Liong menjadikan hatinya selalu tidak nyaman dan resah. Seorang sahabat, bahkan sudah dianggap adiknya sendiri itu tidak diketahui bagaimana keadaanya. Entah bagaimana keadaan Kim Liong yang sebenarnya, ia masih tidak tahu. Kim Liong sepertinya hilang begitu saja ditelan bumi. Sudah berkali-kali usaha ia lakukan, namun tetap tidak bisa menemukan jejak hilangnya Kim Liong. Segerundel kenangan masa kecil bersama Kim Liong tiba-tiba saja terpampang rapi di kepalanya. Masa kanak-kanak ketika ia bermain bersama di Pulau Awan Putih, atau ketika ia sedang berlatih bersama dengannya. Masa itu begitu indah untuk dikenang dan terasa pahit untuk dirasakannya. Seandainya dahulu ia ikut bersamanya ke sini, mungkin musibah itu tidak akan terjadi. Seandainya dahulu ia mau ikut bersamanya, mungkin saja ia bisa menjaga saudaranya itu. Namun semuanya hanya andai-andai saja yang berujung pada penyesalan. Penyesalan yang tidak akan pernah kembali lagi dan diputar ulang. Liong-te, dimanakah engkau saat ini? Apakah aku tidak bisa memberi hormat, walau hanya untuk jasadmu? Dan bagaimana aku berani pulang tanpamu, Liong-te? katanya sendiri begitu pelan. Hari ini adalah hari terakhir Sian Yun. Kalau matahari sudah berada di tengah-tenah, ia akan melakukan perjalanan pulang menuju Pulau Awan Putih. Setidaknya ia harus memberi kabar kepada keluarga Kim Liong di Pulau Awan Putih tentang musibah yang menimpanya. Dua musang aneh itu pun tidak dapat ditemukan dan dijumpai lagi sejak diburu oleh para iblis sebulan yang lalu. Setidaknya dua musang aneh itu tidak akan muncul kembali sampai lima atau enam tahun lagi. Hanya hatinya masih resah atas hilangnya Kim Liong. Tadi sore, ia diberi perintah kakek Sian-eng untuk pulang. Sedangkan kakek Sian-eng sendiri memilih bertempat tinggal di Thai-san, karena tubuhnya sudah begitu lemah untuk melakukan perjalanan jauh. Juga banyak manfaat seandainya ia bertempat di Thai-san. Setidaknya ia masih bisa mencari jejak Kim Liong atau mencegah golongan jahat mencari harta karun itu.

Han Tiong juga akan turun gunung. Tadi malam kakek Yo Han sempat memberi petunjuk terakhir kepada putera laki-lakinya itu. Sejak berdiam di puncak Thai-san, ilmu Han Tiong mengalami kemajuan pesat, semuanya karena keuletan dan petunjuk dari ayahnya yang sudah tua. Saat ini, hampir semua ilmu Han Tiong telah matang dan keadaanya tampak berbeda dengan sebulan yang lalu. Kematanagn ilmunya mempengaruhi benar raut wajahnya yang tampak diliputi sinar halus dan dua matanya yang selalu mencorong terang. Han Tiong akan melakukan perjalanan ke Barat Daya untuk memenuhi pesan ayahnya, yaitu melihat keadaan Bukit Naga. Karena menurut firasat ayah dan kakek Sian-eng, di Barat akan terjadi sesuatu yang heboh. Sedangkan Rong Rong dan Yin Yin masih belum mengambil sikap. Apakah mereka akan tetap tinggal di puncak Thai-san atau ikut turun gunung dengan Sian Yun dan Han Tiong. Kakek Sian-eng dan Yo Han tidak memaksa dua gadis itu untuk pergi, karena sejak bersama dua kakek sakti itu, dua gadis itu juga mendapatkan banyak petunjuk tentang ilmu silat. Ilmu mereka pun menjadi matang. Bahkan Sian Yun dapat meningkatkan level ilmu Pek-in Sin-kang sampai tingkatan ke empat. Dengan begitu ia telah mampu menguasai setengah tingkatan pada ilmu ini. Sedang apa engkau, Yun-ko? tiba-tiba ada suara lembut dari belakang Sian Yun. Rong Rong berjalan pelan-pelan mendekati Sian Yun. Sian Yun menghela napas tanpa menoleh. Dia diam tidak menjawab. Sedangkan Rong Rong mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali. Menurutmu, apakah Liong-te masih hidup, Rong Rong? tanya Sian Yun bukan sebagai jawaban pertanyaan, namun mencari jawaban atas kegelisahannya terhadap Kim Liong. Sejenak Rong Rong diam tidak menjawab. Dua matanya yang bening sedang memperhatikan raut muka Sian Yun yang tampak kusut tanpa cahaya. Apakah Yun-twako meyakini adanya kajaiban? Rong Rong balik bertanya. Sian Yun hanya diam tidak mampu menjawab, namun di dalam hatinya yang paling dalam ia meyakini bahwa di dunia ini ada sesuatu yang disebut keajaiban. Keajaiban itu sendiri apa dan dari mana datangnya ia tidak tahu. Apakah keajaiban itu datang dari manusia itu sendiri, atau datang dari alam, dia pun tidak tahu. Rong Rong masih menunggu jawaban dari Sian Yun. Sampai lama ia berdiam menunggu jawaban itu, namun jawaban itu tidak kunjung meluncur dari mulut Sian Yun. Dia mendesah dan mengambil duduk di sebuah batu yang ada di sampingnya. Sejenak dua matanya mengikuti arah tatapan Sian Yun ke bawah jurang yang tidak kelihatan ujungnya. Terlalu dalam dan terhalang kabut tebal. Ayah pernah bercerita padaku, bahwa ia pernah merasakan sebuah keajaiban. Dahulu ia pernah bertarung mati-matian melawan Swat-hai Lo-kwi di atas Pulau Hnatu dan ayah terkena pukulan dinginnya. Namun keajaiban datang ketika sengaja seekor ular Huo-hiat-coa (ular darah api) menggigitnya. Akibatnya dua sifat hawa panas dan dingin mengeram di tubuhnya. Dan akibat terkena gigitan ular itu, ayah berhasil hidup bahkan tanpa diketahuinya ia telah mendapatkan hawa sakti yang tinggi. Seandainya ayah tidak digigit ular itu, mungkin nyawa ayah akan melayang setelah terkena pukulan iblis tua itu. Keajaiban itu telah menyelamatkan nyawa ayah dan memberi anugerah agung juga... Sejenak Rong Rong berhenti, sedangkan Sian Yun melihatnya dengan seksama. Apakah maksudmu bahwa saudaraku Kim Liong masih hidup? Rong Rong tersenyum dan menganggukkan kepalanya, walaupun hatinya masih masygul. Sebenarnya keyakinannya tentang keajaiban hidupnya Kim Liong hanya tiga puluh persen saja. Hanya saja ia tidak tega melihat Sian Yun begitu sedih sehingga ia berkata seperti itu. Tetapi..., mungkinkah ada orang yang bisa hidup setelah jatuh ke jurang itu? Sian Yun masih meragukan. Tidak ada yang tidak mungkin bagi YANG MEMUNGKINKAN! ada orang lain yang menambahi. Maksud saudara Han Tiong apa? tanya Sian Yun kepada Han Tiong yang sedang berjalan bersama Yin Yin.

Maksudnya adalah bahwa semuanya mungkin kalau Tuhan menjadikannya mungkin. Artinya Liong-te mungkin selamat kalau Tuhan belum mau mencabut nyawanya. Pasti ada saja hal yang menyebebkan Liong-te selamat dari bencana kematian. Seperti halnya nenek moyangku Gak Bun Beng yang hidup setelah berkali-kali terjatuh ke pusaran sungai di masa mudanya. Ia hidup bahkan mendapatkan anugerah terbesar dari Tuhan. Itulah keajaiban! Yin Yin menambahi omongan Han Tiong.