Anda di halaman 1dari 11

U1I KOMPATIBILITAS 1AMUR

Oleh :
Nama : Efiliyanah
NIM : B11008051
Kelompok : 5
Rombongan : I
Asisten : Ratna Mega Dwi Pangestuti



LAPORAN BIOLOGI 1AMUR MAKROSKOPIS



KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS 1ENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2011
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Jamur merupakan organisme yang tidak berkloroIil sehingga jamur
tidak dapat menyediakan makanan sendiri dengan cara Iotosintesis seperti
padatanaman yang berkloroIil jamur mengambil zat-zat makanan yang sudah
jadi yang dibuat oleh organisme lain untuk kebutuhan hidupnya. Jamur
bersiIat heterotroIik. Jamur tiram hidup sebagai saproIit pada bagian
organisme lain yang sudah mati atau pada sampahnya, seperti pada kotoran.
Jamur terdiri dari bermacam-macam jenis, ada yang merugikan dan adayang
menguntungkan bagi kehidupan manusia. Jamur yang merugikan antara lain
karena bersiIat patogen yaitu dapat menyebabkan penyakit pada manusia,
hewan maupun tumbuhan (Moore dan Landecker, 1982).
Cara perkembangbiakan jamur dapat dibedakan menjadi dua macam,
yaitu secara aseksual (vegetatiI) dan secara seksual (generatiI).
Perkembangbiakan aseksual dengan membentuk spora, bertunas, atau
Iragmentasi hiIa. Jamur memiliki kotak spora yang disebut sporangium. Di
dalam sporangium terdapat spora. Perkembangbiakan seksual terjadi dengan
meleburnya dua hiIa dari jamur (Anonim, 2008).
Secara umum jamur tiram mempunyai tudung yang berdiameter 4-15
cm atau lebih, bentuk seperti tiram, cembung kemudiaan menjadi rata atau
kadang membentuk corong; permukaan licin agak berminyak ketika lembab
tetapi tidak lengket; warna bervariasi dari putih sampai abu-abu, coklat atau
coklat tua (kadang-kadang kekuningan pada jamur dewasa), daging tebal,
bewarna putih, kokoh tidak lunak pada bagian yang berdekatan dengan
tangkai; bau dan rasa tidak merangsang. Tangkai tidak ada atau jika ada
buasanya pendek, kokoh dan tidak dipusat atau lateral, panjang 0.5-4.0 cm,
gemuk, padat, kuat, kering, umumnya berambut atau berbulu kapas. Cadar
tidak ada, jejak spora putih sampai ungu muda atau abu-abu keunguan
berukuran 7-9x3-4 mikron, bentuk lonjong sampai jorong, licin, nanamiliod
(Gunawan, 2004).

B. Tujuan


1. Mengetahui kompatibilitas Pleurotus ostreatus isolat Tawangmangu
dan Medium.
2. Mengetahui kompatibilitas Pleurotus ostreatus isolat Cianjur dan
Madium.


























II. MATERI DAN METODE
A. Alat
Alat yang digunakan dalam acara praktikum ini adalah cawan petri, jarum
ose, Bunsen, pipet tetes, wrapping dan bor gabus.

B. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah media PDA,
kloramIenikol, PO Cianjur dan Medium.

. ara Kerja

Disediakan isolat jamur Pleurotus ostreatusPO Cianjur dan Medium.
solat jamur Pleurotus ostreatus PO Cianjur dan Medium dipotong
menggunakan bor gabus.
Media PDA pada cawa petri diberi larutan kloramIenikol sebanyak 3 tetes.
nokulasi isolat Pleurotus ostreatus PO Cianjur dan Medium yang
dipotong pada Media PDA yang telah diberi larutan kloramIenikol,
kemudian dibuat /ual culture dengan cara menempatkan jamur dalam satu
cawan dengan jarak 2 cm.
Diinkubasi selama 7 X 24 jam.
Diamati titik temu kedua hiIa yang terbentuk dengan mikroskop.













III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.Hasil


Gambar 1. Pleurotus ostreatus Tawangmangu-Madiun

Gambar 2. Miselium Pleurotus ostreatus Cianjur-Madiun



























B.Pembahasan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah jamur Pleurotus
ostreatus. Pleurotus ostreatus merupakan salah satu jenis jamur kayu, yang
termasuk dalam Iamilia Agaricaceae, ordo Agaricales, kelas Basidiomycetes.
Tumbuh secara alami melekat pada pohon yang masih hidup maupun mati di
daerah tropis, sedang dan dingin. Ditinjau dari segi morIologis, tubuh buah jamur
tiram terdiri dari tabung (cup), yang bias berwarna putih (jamur tiram putih/
Pleurotus ostreatus), coklat atau abu-abu (jamur tiram coklat/ Pleurotus abalones)
dan merah (Pleurotus flabellatus). Tubuh buah berukuran sedang dengan diameter
5-20 cm, tumbuh saling tumpang tindih (over lapping), lunak dan mudah
membusuk. Tangkai jamur (stipes) tumbuh eksentris yang berarti tidak tepat di
tengah tudung. Diameter tangkai 3-5 cm, pada permukaan bawah tudung tersusun
insang (lamella/ gills) yang berisi basidiospora. Bentuk perlekatan lamella ini
memanjang sampai ke tangkai disebut deccurent (Ratnaningtyas dkk, 1997).
Secara alamiah jamur dapat berkembang biak dengan dua cara, yaitu
secara aseksual dan seksual. Reproduksi secara aseksual dapat terjadi dengan
beberapa cara yaitu dengan Iragmentasi miselium, pembelahan (fission) dari sel-
sel somatik menjadi sel-sel anakan. Tunas (bu//ing) dari sel-sel somatik atau
spora, tiap tunas membentuk individu baru, pembentukan spora aseksual, tiap
spora akan berkecambah membentuk hiIa yang selanjutnya berkembang menjadi
miselium (Pelczar dan Chan, 1986).
Reproduksi secara seksual melibatkan peleburan dua inti sel yang
kompatibel. Proses reproduksi secara seksual terdiri dari tiga Iase yaitu
plasmogami, kariogami dan meiosis. Plasmogami merupakan proses penyatuan
antara dua protoplasma yang segera diikuti oleh proses kariogami (persatuan
antara dua inti). Fase meiosis menempati Iase terakhir sebelum terbentuk spora.
Pada Iase tersebut dihasilkan masing-masing sel dengan kromosom yang bersiIat
haploid (Alexopoulus dan Mimms, 1979).
Reproduksi aseksual pada jamur lebih penting untuk perbanyakan spesies,
karena menghasilkan sejumlah besar individu dan siklus aseksual terjadi berulang-
ulang dalam satu musim. Metode reproduksi aseksual yang terjadi pada jamur
dapat diringkaskan sebagai berikut:
1. Fragmentasi HiIa: setiap Iragmen tumbuh menjadi individu baru.
2. Pembelahan Sel (Fission) : sel somatic membelah menjadi sel anak .
3. Pertunasan sel somatik/ spora (budding) : setiap tunas menghasilkan
individu baru.
4. Pembentukan Spora: setiap spora berkecambah membentuk tabung
kecambahyang akan berkembang menjadi miselium.

Reproduksi seksual pada jamur memerlukan 2 jenis jamur yang cocok atau
kompatibel, yang ditandai dengan kode atau atau A dan a. Proses reproduksi
seksual ini pada dasarnya melalui 3 Iase, yaitu:
1. Plasmogami: persatuan 2 protoplasma yang membawa inti untuk berdekatan
satu samalainnya dalam sel yang sama.
2. Karyogami: persatuan dua inti, pada kebanyakan jamur sederhana,
3. Miosis: penurunan jumlah kromosom menjadi haploid.

Pada siklus seksual sejati ketiga proses ini terjadi dan biasanya pada tempat
tertentu, jika hanya satu talus baik haploid ataupun diploid dalam siklus hidup
jamur, maka siklus hidup ini dinamakan haplobiontik, akan tetapi bila
talus haploid diselingi dengan talus diploid, maka siklus hidup ini
dinamakan diplobiontik. Sejauh yang diketahui jamur yang mempunyai miselium
diploid adalah Oomycetes. Siklus hidup biontik terjadi pada jamur akuatik
Allomyces, oelomomyces, parasit nyamuk, beberapa ragi dan kemungkinan
Plamodiophoromycota. Metode perkembangbiakan secara seksual antara 2 jamur
yang cocok atau kompatibel dapat melalui beberapa cara, yaitu:
1. Persatuan Planogamet
2. Kontak Gametangium (Gametangi)
3. Persatuan Gametangium (Gametangiogami)
4. Spermatisasie. Somatogami berdasarkan sel kelamin maka jamur dibagi
menjadi 3 kategori, yaitu:
a. Hermprodik (monoesi): setiap talus menghasilkan organ jantan
dan betina yang mungkin kompatibel atau tidak.
b. Diesi: talus hanya menghasilkan organ jantan atau betina saja.
Jarangditemukan.
c. jenis kelamin yang tidak bias dibedakan : bentuk organ jantan dan
betinatidak dapat dibedakan.
Kompatibilitas adalah jamur yang mempunyai hiIa yang sama untuk
proses reproduksi. Berdasarkan pada kompatibilitas jamur dibagi menjadi 2
kelompok yaitu:
1. Jamur Homotalik: setiap talus mampu melakukan perkawinan sendiri.
Contoh Jolvariella volvaceae
2. Jamur Heterotalik: talus steril atau tidak mampu melakukan perkawinan
sendiri, dibagi menjadi 2 kelompok yaitu: dari 2 kelompok matingtype
yang berbeda dalam genetic pembangun Iactor kompatibilitasnya.
a. Heterotalik Bipolar (UniIaktorial). Jamur pada kategori ini terdiri dari 2
kelompok matingtype yang berbeda dalam genetic pembangun Iactor
kompatibilitasnya. Contohnya : uricularia auricula.
b. Heterotalik Tetrapolar (BiIaktorial). Jamur pada kategori ini terdiri dari
4 kelompok dasar mating type. Kompabilitasnya diatur oleh 2
pasang Iactor yang terdapat pada kromosom yang berbeda. Contohnya
Pleurotus ostreatus
3. Jamur homotalik sekunder: pada beberapa jamur heterotalik bipolar terjadi
mekanisme yang menarik sewaktu perkecambahan spora dimana 2 inti dari 2
mating type yang berbeda bersatu.


















IV.KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut:
1. Reproduksi secara aseksual dapat terjadi dengan beberapa cara yaitu
dengan Iragmentasi miselium, pembelahan (fission) dari sel-sel somatik
menjadi sel-sel anakan.
2. Reproduksi secara seksual melibatkan peleburan dua inti sel yang
kompatibel. Proses reproduksi secara seksual terdiri dari tiga Iase yaitu
plasmogami, kariogami dan meiosis.
3. Jamur Homotalik: setiap talus mampu melakukan perkawinan sendiri.
Contoh : Jolvariella volvaceae. Jamur Heterotalik: talus steril atau tidak
mampu melakukan perkawinan sendiri. Contoh : Pleurotus ostreatus.
4. solat Pleurotus ostreatus isolat Cianjur dan Madiun terjadi kompatibiltas
dengan adanya clamp connection.
5. solat Pleurotus ostreatus isolat Tawangmangu dan Madiun terjadi
kompatibiltas


B. Saran
Sebaiknya pengamatan untuk melihat terjadinya kompatibilitas satu
kelompok menggunakan satu mikroskop agar lebih eIektiI.






DAFTAR REFERENSI
Alexopoulus, C.J., C.W. Mims, and M. Blackwell. 1979. ntroductory Mycology.
John Wiley & Sons, C., Singapore.
Gunawan, A. W., 2004. Usaha Pembibitan Jamur. Penebar Swadaya, Jakarta. Hal
13.
Moore, e and Landecker., 1982. Fundamental oI The Iungi. Prentice Hall, nc.
Englewoo CliII, new Jersey. p 275, 337.
Pelezar, M. J dan Chan, E. C. S. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi 2. Universitas
ndonesia, Jakarta.
Ratnaningtyas, . 1997. Biologi Jamur Tiram Diklat Pembuatan Bibit Jamur
Tiram. USOED, Purwokerto.