Anda di halaman 1dari 118

ANALISIS PENDAPATAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI CABANG USAHATANI PADI LADANG DI KABUPATEN KARAWANG

HENDRI METRO PURBA A07498176

FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2005

RINGKASAN

HENDRI METRO PURBA. Analisis Pendapatan dan Faktor- faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Kabupaten Karawang (Di bawah bimbingan NUNUNG KUSNADI). Kebutuhan bahan pangan masyarakat Indonesia masih sangat tergantung pada beras. Produksi beras nasional sebagian besar disumbangkan oleh produksi padi sawah, sementara itu ketersediaan lahan sawah dan efisiensi usahatani padi sawah cenderung mengalami penurunan. Sumbangan padi ladang terhadap produksi padi nasional masih sangat rendah karena produktivitas padi ladang yang jauh lebih rendah daripada produktivitas padi sawah. Jika dibandingkan dari segi laju pertumbuhan produksi, padi ladang juga masih jauh lebih rendah daripada padi sawah. Mengingat ketersediaan lahan kering bagi usahatani padi ladang masih sangat besar, maka pengembangan produktivitas usahatani padi ladang memiliki potensi yang sangat menjanjikan. Oleh karena itu menarik untuk dikaji bagaimana meningkatkan produktivitas cabang usahatani padi ladang. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis penyebab rendahnya produktivitas padi ladang, (2) m enganalisis faktor- faktor yang mempengaruhi produksi padi ladang (3) menganalisis efisiensi ekonomis penggunaan faktor-faktor produksi pada cabang usahatani padi ladang. Pengumpulan data dilakukan dari bulan Mei hingga Juni 2005 di Desa Wanajaya, Kecamatan Teluk Jambe, Kabupaten Karawang. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan melakukan pengamatan dan wawancara langsung dengan petani responden dengan mengajukan pertanyaan yang dibuat dalam bentuk kuesioner yang telah dipersiapkan sebelumnya. Data sekunder diperoleh dengan cara penelusuran kepustakaan buku, laporan penelitian, artikel, majalah, karya ilmiah yang berkaitan dengan masalah penelitian dan melalui internet. Selain itu data

sekunder juga diperoleh dari Biro Pusat Statistik, Departemen Pertanian, Balai Penelitian Tanaman Pangan, Pusat Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, dan Pemerintah Daerah di lokasi penelitian. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan analisis imbangan penerimaan dan biaya (analisis R/C ratio),

pendekatan fungsi produksi Cobb-Douglas, dan analisis efisiensi ekonomi dengan rasio Nilai Produk Marjinal (NPM) dan Biaya Korbanan Marjinal (BKM). Pengolahan data dilakukan dengan me nggunakan program Microsoft Excel dan Minitab 13 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) dengan analisis imbangan penerimaan dan biaya (analisis R/C ratio), diperoleh nilai rasio R/C atas biaya total sebesar 0.76 (lebih kecil dari satu), sehingga dapat disimpulkan bahwa cabang usahatani padi ladang di Desa Wanajaya tidak menguntungkan bagi petani, (2) faktor- faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang adalah tenaga kerja luar keluarga dan tenaga kerja dalam keluarga, yang signifikan pada taraf kepercayaan 99 persen. Sedangkan faktor pupuk, benih, dan pestisida tidak berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan yang ditetapkan, (3) penggunaan faktor-faktor produksi yang efisien secara ekonomis dicapai pada saat penggunaan faktor pupuk sebesar 282.51, faktor tenaga kerja luar keluarga sebesar 146.33 HOK, penggunaan benih yang semula sebesar 60 kilogram harus ditingkatkan menjadi 69.69 kilogram, penggunaan tenaga kerja dalam keluarga harus dikurangi dari yang semula sebesar 237.37 HOK menjadi sebesar 59.94 HOK, faktor produksi pestisida harus ditingkatkan dari sebesar 1.7 liter dalam penggunaan aktualnya menjadi sebesar 2.47 liter. Berdasarkan hasil penelitian di atas maka disarankan agar (1) penggunaan faktor produksi pupuk, benih, pestisida tenaga kerja luar harus ditingkatkan dari penggunaan aktualnya supaya usahatani padi ladang yang dilakukan lebih efisie n dan menguntungkan bagi petani, (2) pemberian bimbingan dan penyuluhan dari instansi terkait mengenai teknik budidaya padi ladang yang tepat seperti kombinasi penggunaan pupuk dan pestisida yang tepat dan pola tanam yang tepat untuk mencapai usahatani padi ladang yang lebih produktif dan menguntungkan.

ANALISIS PENDAPATAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI CABANG USAHATANI PADI LADANG DI KABUPATEN KARAWANG

Oleh

HENDRI METRO PURBA A07498176

Skripsi Sebagai Bagian Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian

pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2005

DEPARTEMEN ILMU-ILMU SOSIAL EKONOMI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh : Nama NRP : : Hendri Metro Purba A07498176 Manajemen Agribisnis Analisis Pendapatan dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Kabupaten Karawang dapat diterima sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Program Studi : Judul Skripsi :

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Nunung Kusnadi.MS NIP. 131 415 082

Mengetahui, Fakultas Pertanian Dekan

Prof. Dr. Ir. H. Supiandi Sabiham, M.Agr NIP. 130 422 698

Tanggal Lulus : 20 Desember 2005

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL ANALISIS PENDAPATAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG

MEMPENGARUHI PRODUKSI CABANG USAHATANI PADI LADANG DI KABUPATEN KARAWANG BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA

PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU LEMBAGA LAIN MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.

Bogor, Desember 2005

Hendri Metro Purba A07498176

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Dolok Sanggul pada tanggal 16 Juli 1980. Penulis adalah anak pertama dari enam bersaudara pasangan Bapak T. Purba dan Ibu H. Situmorang. Penulis memulai pendidikan dasarnya pada tahun 1986 di SD Negeri 3 Dolok Sanggul, dan menyelesaikannya pada tahun 1992. Penulis melanjutkan pendidikan menengah pertama di SMP Negeri 1 Dolok Sanggul, dan lulus tahun 1995. Kemudian, penulis diterima di SMU Katolik Santo Agustinus Jakarta, dan lulus pada tahun 1998. Penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi Manajemen Agrinisnis, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, pada tahun 1998 melalui jalur UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri).

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Allah Yang Maha Kuasa atas berkat dan karunia-Nya yang besar yang memberikan segala hikmat dan kekuatan sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Judul skripsi ini adalah Analisis Pendapatan dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang di Kabupaten Karawang. Sesuai dengan judul tersebut, skripsi ini menganalisis pendapatan yang diperoleh petani dari kegiatan berusahatani padi ladang, mengana lisis faktorfaktor yang mempengaruhi produiksi dalam usahatani padi ladang, dan melakukan analisis efisiensi ekonomis penggunaan faktor produksi pada cabang usahatani padi ladang. Penulis menyadari kekurangan dalam penulisan skripsi ini sehingga diperlukan kritik dan saran untuk perbaikan skripsi ini. Penulis berharap penelitian yang dilakukan dapat diterima dan dimanfaatkan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan pihak lain yang berkepentingan.

Bogor, Desember 2005

Penulis

UCAPAN TERIMA KASIH

Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada : 1. Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS. selaku dosen pembimbing yang dengan kesabaran telah memberikan bimbingan, arahan, kritik dan saran dalam melakukan penelitian dan penyusunan skripsi ini. 2. Ir. Anna Fariyanti, MS. atas kesediaan menjadi dosen penguji utama. 3. Amzul Rifin, SP, MA. atas kesediaannya menjadi dosen penguji komisi pendidikan. 4. Orang Tuaku, Bapa dan Uma dan adik-adikku Duddy, Sartika, Markos, Nita, dan Kardinal atas keberadaan, doa dan dukungannya. 5. Keluarga Tulang Donal, Tulang Suci, dan Tulang Hendra. 6. Ompung Suhut, dan semua keluarga besar di Dolok Sanggul. 7. Keluarga Ompung Berthold di Depok, Ompung Arif di Bandung, dan Ompung Josua di Pekan Baru. 8. Keluarga Amangboru Mario, Namboru Patar, dan Amangboru Sagala di Jakarta. 9. Sahabat-sahabatku yang tak tergantikan di Base One : Cay, Edo, Gaga, Halashon, Victor, Donal, Appara Frenky, John Freddy, Nipar, Ucok, Ogem, John Wisnu, Echa , Rikky Sitorus, Bang Ivan, Bang Tamlin, dan Maria Margareth. 10. Lae Viston, Namboru, dan Chamber yang telah menyediakan fasilitas penginapan, makan gratis, dan dukungan berharga selama turun lapang di Karawang. 11. Ramaijon Purba atas bimbingan dan bantuannya, beserta semua teman-teman di Parmasi. 12. Arif Karya Kusuma, teman satu bimbingan dan seperjuangan selama kuliah dan penulisan skripsi. 13. Pak Enong sebagai penerjemah dan pendamping penulis selama turun lapang. 14. Marta Sundari atas bantuannya selama mengolah data dan penulisan skripsi.

15. Teman-teman di Darmaga, Bray, Tulus, penghuni Perwira 100, beserta semua kawan sesama Himaba. 16. Semua pihak lain yang belum saya sebutkan yang telah membantu saya selama mengikuti perkuliahan dan penulisan skripsi.

DAFTAR ISI

Halaman KATA PENGANTAR ..................................................................................... UCAPAN TERIMA KASIH ........................................................................... DAFTAR ISI ................................................................................................... DAFTAR TABEL ........................................................................................... DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... BAB I. PENDAHULUAN .............................................................................. 1.1. Latar Belakang ................................................................................... 1.2. Perumusan Masalah ........................................................................... 1.3. Tujuan Penelitian ............................................................................... 1.4. Kegunaan Penelitian .......................................................................... BAB II. TINJAUAN PUSTAKA .................................................................... 2.1. Karakteristik Biologis Tanaman Padi Ladang .................................. 2.2. Syarat Tumbuh dan Kelayakan Lahan Tanaman Padi Ladang........... 2.3. Budidaya Padi Ladang ........................................................................ 2.3.1. Pengolahan Tanah ................................................................... 2.3.2. Pemilihan Benih ...................................................................... 2.3.3. Penanaman ............................................................................... 2.3.4. Pemupukan .............................................................................. 2.3.5. Pemeliharaan ........................................................................... 2.3.6. Panen dan Pengolahan Hasil Panen.......................................... 2.3.7. Hama dan Penyakit ................................................................... 2.4. Sistem Perladangan di Indonesia dan Perkembangannya ................... 2.5. Perilaku Ekonomi Petani..................................................................... 2.6. Hasil Penelitian Terdahulu.................................................................. BAB III. KERANGKA PEMIKIRAN ............................................................ 3.1. Konsep Usahatani .............................................................................. 3.2. Pendapatan Usahatani......................................................................... i ii iv vii viii ix 1 1 3 7 8 9 9 9 11 11 12 12 13 15 15 16 16 21 22 29 29 30

3.3. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio) ..................... 3.4. Teori Produksi ................................................................................... 3.5. Efisiensi Ekonomi .............................................................................. BAB IV. METODE PENELITIAN ................................................................ 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................................. 4.2. Metode Pengumpulan Data dan Penentuan Sampel .......................... 4.3. Metode Analisis Data ......................................................................... 4.3.1. Analisis Pendapatan Usahatani ................................................ 4.3.2. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio)............ 4.3.3. Pendugaan Fungsi Produksi...................................................... 4.3.4. Analisis Efisiensi Ekonomi....................................................... 4.4. Definisi Operasional ......................................................................... BAB V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN ........................... 5.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian................................................... 5.2. Karakteristik Petani Responden.......................................................... BAB VI. GAMBARAN USAHATANI PADI LADANG DI DESA WANAJAYA ................................................................... 6.1. Budidaya Padi Ladang ....................................................................... 6.1.1. Persiapan Lahan........................................................................ 6.1.2. Penanaman................................................................................ 6.1.3. Pemupukan............................................................................... 6.1.4. Pengobatan ............................................................................... 6.1.5. Penyiangan ............................................................................... 6.1.6.Pemanenan................................................................................. 6.2. Struktur Biaya ..................................................................................... 6.3. Analisis Pendapatan............................................................................ 6.4. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (Analisis R/C ratio) ........ BAB VII. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI DAN EFISIENSI EKONOMI CABANG USAHATANI PADI LADANG ................ 7.1. Analisis Fungsi Produksi ................................................................... 7.2. Elastisitas Produksi dan Skala Usaha ................................................ 7.3. Analisis Efisiensi Ekonomi ................................................................

32 33 37 40 40 40 41 41 41 43 48 50 54 54 58

66 66 66 68 69 70 71 71 72 73 74

76 76 78 83

BAB VIII. KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................... 8.1. Kesimpulan ........................................................................................ 8.2. Saran .................................................................................................. DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... LAMPIRAN ....................................................................................................

88 88 89 90 93

DAFTAR TABEL

Nomor

Halaman

1.

Volume Beras yang Diperdagangkan di Dunia dan Impor Beras Indonesia Tahun 1990-2001 ............................................................................................ 2 4

2. 3.

Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Padi Indonesia Tahun 2004............ Produksi Gabah Kering Giling di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, dan Indonesia Tahun 2004......................................................................................

6 9 54 55

4. 5. 6. 7.

Klasifikasi Kriteria Lingkungan Tumbuh Tanaman Padi Ladang................... Penggunaan Lahan di desa Wanajaya Tahun 2004 ......................................... Topografi atau Bentang Lahan Desa Wanajaya ............................................ Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2005 ......................................................................................................

56 57 58 58 59 61 62 63

8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15.

Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Mata Pencaharian....... Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Be rdasarkan Tingkat Pendidikan.... Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Umur ....................................... Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan ............... Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Luas Lahan Garapan ............... Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Pengalaman Usahatani ............ Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga ....... Biaya-biaya yang Dikeluarkan Petani Padi Ladang per Hektar per Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005 ......................

73

16.

Analisis Pendapatan Cabang Usahatani Padi Ladang per Hektar per Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005 ...................... 74

17.

Analisis Ragam Produktivitas Cabang Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya ............................................................................................ 76

18.

Hasil Analisis Pendugaan Fungsi Produksi Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya ........................................................................................... 77

19.

Rasio Nilai Produk Marjinal (NPM) dengan Biaya Korbanan Marjinal (BKM) Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya Tahun 2005 .................. 84 86

20.

Kombinasi Optimal Penggunaan Faktor-faktor Produksi ...............................

DAFTAR GAMBAR

Nomor 1. Kurva Fungsi Produksi Total dan Hubungannya Dengan Produk Marjinal

Halaman

dan Produk Rata-rata (Doll dan Orazem, 1984) ...............................................

34

2.

Bagan Prosedur Analisis Pendapatan dan Faktor- faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang ...............................

53

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor 1. Analisis Regresi Faktor- faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas

Halaman

Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya ......................................... 2. Pertumb uhan Produksi, Luas Panen, dan Produktivitas Padi Di Indonesia, Tahun 2001-2005 ....................................................................... 3. Produktivitas Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia, Tahun 2001-2005 (Kwintal/Ha) ....................................................................... 4. Produktivitas Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia, Tahun 2001-2005 (Dalam Ton) ........................................................................ 5. Penggunaan Faktor- faktor Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya, Musim Tanam November-April Tahun 2005 ................................. 6. Pengeluaran Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya Musim Tanam November-April Tahun 2005 ............................................................... 7. Kuesioner Analisis Pendapatan dan Faktor- faktor yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Kabupaten Karawang ................

94

95

96

97

98

99

100

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara konsumen beras terbesar ketiga di dunia setelah China dan India1 . Apabila salah satu dari negara tersebut mengalami penurunan produksi dan harus mengimpor untuk mencukupi kebutuhan domestiknya, maka harga beras dunia akan segera mengalami kenaikan secara signifikan. Impor beras terbesar dialami Indonesia pada tahun 1999 dimana Indonesia mengimpor sekitar 4.7 juta ton beras meskipun harus membayar 280 Dollar AS per ton beras untuk mencukupi kebutuhan beras domestik. Pemerintah karenanya harus mengeluarkan biaya sekitar 1.3 miliar Dollar AS untuk mengimpor 4.7 juta ton beras 1 . Permintaan terhadap beras terus meningkat sejalan dengan pertambahan populasi dan kenaikan tingkat pendapatan penduduk. Sedangkan pertambahan produksi beras senderung lebih kecil dan tidak mampu mengimbangi pertambahan tingkat permintaan beras (Sidik, 2004). Impor beras nasional cenderung meningkat misalnya dari 615 ribu ton pada tahun 1991 menjadi sekitar 3 juta ton pada tahun 1995 dan pada tahun 1996 mencapai sekitar 3 juta ton akibat musim kemarau panjang dan bahkan sempat meningkat drastis hingga sekitar 6 juta ton pada tahun 1998 akibat terjadinya krisis moneter yang mengakibatkan kenaikan secara drastis pada harga input pertanian seperti pupuk dan pestisida yang bahan bakunya sebagian besar diimpor. Laju peningkatan produksi padi cenderung menurun, sedangkan laju permintaan beras akan selalu meningkat seiring peningkatan laju pertumbuhan penduduk.
1

www.faostat.fao.org, 2005

Belum berhasilnya upaya diversifikasi, baik dari sisi produksi maupun konsumsi pangan, menyebabkan sebagian besar masyarakat Indonesia masih sangat tergantung pada satu jenis bahan pangan yaitu beras. Hingga saat ini lebih dari setengah jumlah kalori dan lebih dari 40 persen karbohidrat yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia berasal dari beras. Menurut FAO (2004)1 , rata-rata penduduk Indonesia mengkonsumsi sekitar 200 kilogram beras per kapita per tahun . Oleh karena itu upaya untuk meningkatkan produksi dan produktivitas beras dianggap masih relevan untuk mengatasi masalah peningkatan tingkat permintaan beras dan tingginya impor beras Indonesia. Tabel 1. Volume Beras yang Diperdagangkan di Dunia dan Impor Beras Indonesia Tahun 1991-2000
Perdagangan Beras Dunia (Ton) Impor Beras Indonesia (Ton) Persentase Terhadap Beras Dunia

Tahun

1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000

58.578.212 5.263.940 252.121 4.293.138 6.486.440 15.389.948 5.856.188 28.025.000 25.150.000 22.350.000

615.385 2.615.384 156.846 1.076.924 3.076.924 4.615.304 3.480.750 6.080.000 4.183.000 1.513.000

10,51 49,68 61,02 25,08 47,43 29,99 59,44 21,70 16,50 6,70

Sumber : Situs FAO (http//www.FAO.org/trade/balance), 2000.

Untuk memenuhi kebutuhan beras dalam jangka panjang, pemerintah mulai mengarahkan perhatiannya kepada pengembangan pertanian di daerah lahan kering, mengingat ketersediaan lahannya yang cukup luas (Ruchyat, 1993 dalam Maryono, 1996). Berdasarkan potensi, 80 persen dari luas lahan pertanian

Indonesia adalah lahan kering. Untuk tetap mempertahankan swasembada pangan, maka corak pertanian di masa yang akan datang adalah pertanian lahan kering (Dwijatmiko, 1991 dalam Maryono, 1996). Sutari (1982) dalam Netty (1996) mengatakan bahwa lahan kering y ang diusahakan dengan tepat dapat menghasilkan berbagai komoditas

dengan produktivitas yang lebih besar dibandingkan lahan sawah (basah). Selain itu lahan kering memiliki kedudukan strategis karena : (a) Lahan kering menempati areal terluas dibandingkan dengan lahan jenis air seperti sawah, rawa, dan pasang surut. (b) Lahan kering diperkirakan seluas 123 juta hektar atau 62 persen dari luas total daratan Indonesia. (c) Lahan kering merupakan sumber utama penghasil komoditi pertanian untuk tanaman pangan, sandang, perumahan, dan lain- lain. (d) Pemanfaatan lahan kering yang semakin meningkat merupakan

pertimbangan penting dalam program pemerintah selanjutnya. 1.2. Perumusan Masalah Produksi padi nasional masih didominasi padi sawah sedangkan sumbangan padi ladang masih sangat rendah karena produktivitas dan luas tanam padi ladang yang jauh lebih rendah daripada produktivitas dan luas tanam padi sawah. Produktivitas rata-rata padi ladang pada tahun 2004 baru mencapai 25.68 kwintal per hektar, sementara sumbangan padi ladang terhadap produksi padi nasional pada tahun yang sama hanya sekitar 5.3

persen dengan luas panen sekitar 9.4 persen dari total luas panen padi nasional2 .

Tabel 2. Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Padi Indonesia Tahun 2004 Jenis Padi Sawah Padi Ladang Padi Total Luas Panen (Ha) 10.843.004 1.127.034 11.970.038 Produktivitas* (Ku/Ha) 47,45 25,68 45,40 Produksi* (Ton) 51.446.191 2.895.112 54.341.303

Sumber : Situs Deptan (www.deptan.go.id/ditjentp), 2004 * ) Gabah Kering Giling

Jika dibandingkan dari segi laju pertumbuhan produksi, padi ladang juga masih jauh lebih rendah daripada padi sawah, dimana dari tahun 1969 hingga 1989 produksi padi ladang hanya mengalami peningkatan kira-kira sebesar 45 persen yaitu dari 1.622 ribu ton pada tahun 1969 menjadi 2.345 ribu ton pada tahun 1989, sementara produksi padi sawah mengalami peningkatan kira-kira sebesar 140 persen atau meningkat sebesar 24.6 juta ton. Menurut Ruchyat (1993) dalam Maryono (1996), rendahnya produktivitas padi ladang tidak terlepas dari keterbatasan faktor tanah, topografi dan iklim pada lahan kering. Lahan kering mempunyai karakteristik antara lain : (1) tanah kurang subur, (2) topografi umumnya berlereng sehingga mudah tererosi, (3) curah hujan rendah. Di samping itu kenyataan juga menunjukkan bahwa keterbatasan faktor produksi usahatani (lahan, tenaga kerja dan modal) serta pengetahuan petani di daerah lahan kering menyebabkan pola tanam yang selama ini diusahakan masih bersifat subsisten. Dari kenyataan tersebut adalah hal yang wajar bila produktivitas rata-rata padi ladang jauh lebih rendah daripada produktivitas rata2

www.deptan.go.id/ditjentp, 2004

rata padi sawah dengan tingkat kesuburan tanah yang jauh lebih tinggi, pengairan yang lebih teratur, dan topografi yang lebih baik untuk usahatani padi. Tingkat produktivitas padi ladang yang rendah dan laju perkembangan produksi padi ladang yang relatif lamban juga diakibatkan permasalaha n yang dihadapi usahatani padi ladang relatif lebih kompleks daripada permasalahan padi sawah. Kebijakan pemerintah yang lebih berpihak pada peningkatan produksi dan produktivitas padi sawah dibandingkan padi ladang merupakan salah satu contohnya, meskipun hal ini merupakan sesuatu yang wajar mengingat produktivitas padi sawah yang jauh lebih tinggi dengan kendala peningkatan produktivitas padi sawah yang jauh lebih ringan daripada kendala peningkatan produktivitas padi ladang. Meskipun sumbangan padi ladang terhadap produksi nasional relatif kecil, tetapi padi ladang ditanam hampir di seluruh propinsi di Indonesia. Bahkan sebagian daerah sangat menggantungkan ketersediaan dan kebutuhan berasnya pada produksi padi ladang. Pertanian padi ladang banyak dijumpai di daerah transmigrasi lahan kering dan daerah yang topografi lahannya didominasi perbukitan atau lahan kering dan tidak mendapat fasilitas irigasi (Wana, 2000). Berdasarkan uraian di atas, maka posisi usahatani padi ladang akan semakin penting bagi m depan pertanian Indonesia secara umum dan sangat asa potensial bagi peningkatan ketahanan pangan nasional. Permasalahan usahatani padi ladang relatif lebih kompleks daripada padi sawah. Usahatani padi ladang memerlukan identifikasi lebih rinci dan jelas pada masing- masing daerah produsen padi ladang. Identifikasi yang dimaksud antara lain meliputi penelitian tentang peningkatan teknik budidaya yang ada supaya produktivitas lahan kering

terutama padi ladang dapat ditingkatkan hingga dapat mengimbangi produktivitas padi sawah bahkan mungkin melampauinya. Analisis terhadap aspek produksi merupakan salah satu pendekatan yang penting dalam kebijaksanaan pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan terutama yang menjadi makanan pokok masyarakat. Pendekatan ini dilakukan untuk mengetahui faktor- faktor yang mempengaruhi produktivitas dan efisiensi ekonomi pengusahaan padi ladang. Dengan pendekatan ini akan diketahui alternatif produksi yang paling tepat dalam waktu yang telah ditentukan sehingga nantinya dapat menjadi salah satu informasi yang berguna dalam pembuatan kebijakan pertanian seperti halnya dalam usahatani padi ladang. Penentuan alternatif produksi padi ladang tentu juga harus mempertimbangkan karakteristik agroklimat yang khas atau unik pada masing- masing daerah produksi disamping karakteristik sosial ekonominya. Karawang merupakan salah satu sentra produksi padi di Indonesia. Tabel 5 menunjukkan perbandingan produksi gabah kering giling Kabupaten Karawang dengan Propinsi Jawa Barat dan produksi total keseluruhan di Indonesia. Pada tahun 1992 total produksi Kabupaten Karawang mencapai 1,007 juta ton atau mencapai 8,89 persen total produksi Jawa Barat dan 2,08 persen dari seluruh total produksi di Indonesia. Tabel 3. Produksi Padi Gabah Kering Giling di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, dan Indonesia Tahun 2004 Tahun 1992 1993 1994 1995 1996 Karawang (Ton) 1.007.499 1.007.689 997.796 991.974 997.071 Jawa Barat (Ton) 11.320.445 11.188.421 10.218.744 11.094.735 11.152.628 Indonesia (Ton) 48.240.009 48.181.087 46.641.524 49.744.140 51.101.506

1997 1998 1999 2000

989.304 737.429 917.879 917.951

10.746.730 10.209.499 10.400.411 11.154.267

49.377.000 49.237.000 50.866.000 51.898.852

Sumber : Situs Deptan (www.deptan.go.id/ditjentp), 2004

Pada tahun 2000 produksi Kabupaten Karawang mencapai 917 ribu ton sehingga memberikan kontribusi sebesar 8,22 persen dari produksi Jawa Barat dan 1,76 persen dari seluruh total produksi padi nasional yang mencapai 51,8 juta ton. Dari tabel tersebut juga dapat dilihat mengenai adanya fluktuasi produksi yang terjadi tahun demi tahun yang menggambarkan adanya ketidakstabilan produksi padi yang disebabkan oleh banyak faktor. Beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain2 : a. Semakin berkurangnya lahan pertanian yang ada yang disebabkan oleh berubah fungsinya lahan pertanian menjadi kawasan perumahan dan industri. b. Belum berfungsinya saluran irigasi secara maksimal untuk mengairi lahan sawah dengan merata. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengawasan yang ketat sehingga saluran irigasi banyak dikuasai oleh beberapa orang untuk kepentingan sendiri dan kelompok tertentu. c. Pengaruh faktor cuaca dan iklim yang terus berfluktuasi. Berdasarkan uraian diatas, maka permasalahan yang akan dibahas pada penelitian ini adalah : 1. 2. 3. Mengapa produktivitas padi ladang lebih rendah dari padi sawah ? Faktor-faktor apa yang mempengaruhi produktivitas padi ladang ? Bagaimana mencapai tingkat penggunaan faktor- faktor produksi yang efisien secara ekonomis pada cabang usahatani padi ladang ?

1.3.Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah maka tujuan penelitian ini adalah : 1. 2. 3. Menganalisis penyebab rendahnya produktivitas padi ladang. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas padi ladang. Menganalisis efisiensi ekonomis penggunaan faktor- faktor produksi pada cabang usahatani padi ladang. 1.4. Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi beberapa pihak, sebagai berikut: 1. Sebagai bahan kajian bagi pemerintah dalam merumuskan program dan kebijakan di bidang pertanian dalam usaha penyempurnaan sistem pertanian terutama untuk usahatani padi ladang. 2. Sebagai masukan bagi petani agar dapat mengelola usahataninya secara efektif dan efisien. 3. Sebagai bahan rujukan bagi penelitian yang akan datang agar dapat memperbaiki kesalahan dan kekurangan yang ada.

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Karakteristik Biologis Tanaman Padi Ladang Padi ladang merupakan tanaman yang biasa ditanam di lahan kering. Tanaman ini merupakan tanaman semusim jenis padi (Oryza sativa L.) yang diusahakan di tanah tegalan kering secara menetap dan kebanyakan ditanam di daerah tropika. Jenis tradisional (varietas Genjah) memiliki ciri-ciri : berbatang tinggi, berumur sedang, anakan sedikit, bentuk gabah bulat dan tahan terhadap kekeringan (Chang dan Vergara dalam Setiawan, 2000). Basyir et al., (1995) mengemukakan bahwa siklus hidup tanaman padi ladang berkisar antara 90 hingga 140 hari, tergantung pada varietasnya. Masa pertumbuhan padi ladang terdiri dari tiga fase : (1) fase vegetatif, (2) fase reproduktif, dan (3) fase pemasakan. Fase vegetatif merupakan masa pertumbuhan batang dan daun (55 hari), sejak masa perkecambahan benih sampai pembentukan primordial bunga pada ujung batangnya. Fase reproduktif adalah masa dari tahap munculnya primordia bunga sampai waktu keluar bunga (35 hari). Pada fase ini tanaman padi ladang sangat sensitif terhadap cekaman lingkungan. Fase pemasakan adalah masa keluarnya bunga sampai gabah masak, sementara tahapan yang dilalui adalah masak susu sekitar 92 hingga 110 hari setelah tanam, masak padat sekitar 102 hingga 120 hari setelah tanam, dan masa penuh sekitar 112 hingga 120 hari setelah tanam. 2.2. Syarat Tumbuh dan Kelayakan Lahan Tanaman Padi Ladang Keberhasilan budidaya tanaman padi ladang ditentukan oleh penyesuaian tanaman terhadap lingkungan, iklim, dan cuaca. Jika pertumbuhannya baik, hasil

panen juga akan baik. Menurut Bey dan Las dalam Setiawan (2000), curah hujan merupakan unsur iklim yang besar pengaruhnya terhadap suatu sistem usahatani, terutama pada lahan kering dan tadah hujan. Pada Lahan tersebut padi ladang lebih banyak ditanam pada musim hujan karena kebutuhan air bagi tanaman tergantung sepenuhnya pada curah hujan. Gupta dan OToole (1986) menyatakan bahwa curah hujan merupakan unsur agroklimat berpengaruh dominan terhadap pertumbuhan dan produkisi padi ladang. Kelayakan lahan untuk pertanaman padi ladang menurut Jones dan Garrity dalam Setiawan (2000) didasarkan pada kecukupan dan ketersediaan air. Kecukupan dan ketersediaan air ditentukan oleh empat faktor yaitu : curah hujan, lamanya musim tanam, kemiringan lahan, dan tekstur tanah. Atas dasar keempat faktor tersebut, lahan tanaman padi ladang dikelompokkan menjadi empat kelas yaitu : sesuai, agak sesuai, kering, dan sangat kering. Tabel 4. Klasifikasi Kriteria Lingkungan Tumbuh Tanaman Padi Ladang
Nilai No 1 2 3 4 Kelas Kesesuaian Sangat Sesuai Sesuai Sesuai Agak Sesuai Elevasi (m dpl) < 700 < 700 < 700 < 700 Lereng (%) <5 <5 <5 20 May MT (Bulan) 9 8-May >4 >4 CH (mm/th) 1500-3500 1500-3500 1500-3500 1500-3500 Jenis Tanah Med, Gru, And, Al Med, Gru And, La, Pod, Al Med, Gru, And, La, Pod, Al Med, Gru, And, La, Pod, Al Reg Faktor Pembatas Tidak ada MT pendek Kesuburan tanah rendah-sedang Keterbatasan air Suhu, RH, dan topografi Fisik dan kimia tanah Suhu dan radiasi Kekurangan air

5 6 7 8

Agak Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai

700-900 < 900 > 900 -

< 20 20 > 20 -

>4 >4 <4

> 1500 > 1800 > 3500 < 1500

Sumber Keterangan

: Jones and Garrity dalam Setiawan (2000) : MT = musim tanam, periode saat air tanah cukup bagi pertumbuhan tanaman, Med = mediteran, Gru = grumosol, And = andosol, La = latosol, Pod = podsolik, Al = aluvial, Reg = regosol, CH = curah hujan,

Lingkungan tumbuh akan mendukung pertumbuhan padi ladang apabila memiliki tekstur tanah halus hingga sedang, kemiringan lahan 0 sampai 8 persen, curah hujan tinggi (lebih besar dari 1500 mm per tahun) dan musim tanaman panjang, yaitu 5 hingga 12 bulan per tahun. Ketinggian areal pertanaman padi ladang bervariasi mulai dari dataran rendah sampai dataran dengan ketinggian 1500 meter di atas permukaan laut, bertopografi datar, bergelombang, dan berbukit. Unsur iklim yang berperan dalam keberhasilan budidaya tanaman padi ladang adalah radiasi dan suhu udara (Basyir et al., 1995). Intensitas radiasi matahari yang rendah, menurut Gupta dan OToole (1986) merupakan penyebab rendahnya produksi padi ladang. Sedangkan suhu udara berkorelasi positif dengan produksi padi selama fase vegetatif melalui jumlah tunas yang dihasilkan, tetapi berkorelasi negatif dengan produksi gabah selama fase pengisian gabah hingga masa panen (Murata 1976 dalam Setiawan, 2000). Padi ladang dapat tumbuh hampir pada semua jenis tanah. Menurut Madkar et al., dalam Setiawan (2000), pertumbuhan dan hasil padi ladang dipengaruhi oleh tekstur, struktur, unsur hara, dan pH tanah. Tekstur tanah dengan kemampuan menyimpan air yang tinggi merupakan kondisi yang sesuai bagi tanaman padi ladang. Tanah dengan kemamp uan menyimpan air yang rendah dapat menimbulkan masalah kelembabam yang rendah setelah hujan berhenti. Hal ini dapat menyebabkan ketersediaan unsur hara dalam tanah akan menurun (Gupta dan OToole, 1986). Menurut De Datta dalam Setiawan (2000), perubahan unsur hara dalam tanah merupakan salah satu faktor yang membatasi produktivitas tanaman pada lahan kering. PH tanah yang sesuai untuk pertumbuhan padi ladang

berkisar antara 5.5 hingga 6.5. pada pH yang lebih rendah dari 5.0 padi ladang dapat mengalami gangguan kekahatan unsur P, keracunan Fe dan Al, sedangkan bila lebih dari 7.0 dapat menyebabkan tanaman padi ladang mengalami kekahatan unsur Zn (Gupta dan OToole, 1986). 2.3. Budidaya Padi Ladang 2.3.1. Pengolahan tanah Pengolahan tanah dilakukan pada musim kering sebelum hujan turun, atau segera setelah tanaman yang mendahuluinya dipanen. Teknih pengolahan tanah adalah sebagai berikut : (1) Tanah dibajak atau dicangkul dua kali atau lebih hingga tanah cukup gembur dan bersih dari rerumputan. Pengolahan tanah harus sampai kedalaman sedikitnya 25 sentimeter. Pada tanah yang berat (tanah padat dan keras), dilakukan pengolahan pendahuluan dengan menggunakan garpu. Tanah lapisan bawah sedapat mungkin terangkat dan dibalik ke bagian atas. (2) Pada waktu membajak atau mencangkul yang kedua kali, pupuk organik ditebarkan sebanyak sekitar 20 ton per hektar dengan menggunakan pupuk hijau, pupuk kandang atau kompos. (3) Setelah tanah dibajak, tanah harus dihaluskan dengan garpu atau cangkul satu atau dua kali hingga tanah cukup halus. (4) Dijaga agar tidak terjadi penggenangan air, karena dapat mengancam kehidupan sekeliling petak, dengan cara membuat petakan-petakan berukuran 10 5 meter atau dengan membuat bagian tengah tegalan lebih tinggi daripada pinggirannya.

(5) Tanah dibiarkan saja sambil menunggu benih ditanam pada waktu permulaan musim hujan. 2.3.2. Pemilihan Benih Benih yang bermutu adalah yang murni dengan kandungan air maksimal 14 persen, bersih dari campuran atau kotoran-kotoran, bebas dari hama dan penyakit, segar dan daya berkecambah tinggi (minimal 80 %). Benih yang dipilih adalah benih yang tenggelam apabila benih dimasukkan dalam larutan garam atau larutan abu dapur, yang berat jenisnya sekitar 1.01. Benih yang melayang atau terapung jangan dijadikan benih. 2.3.3. Penanaman a. Waktu tanam Waktu tanam sebaiknya dalam bulan Oktober dan November, tetapi tergantung pada awal musim penghujan, yaitu setelah dua atau tiga kali turun hujan. Jika menanamnya bersamaan periode berlangsungnya hujan yang terus menerus, ada kemungkinan benih tersebut terbawa air atau terdorong lebih jauh masuk ke dalam tanah dan juga dapat berakibat kurang baik untuk tanaman muda karena akan mengakibatkan gangguan hama dan penyakit yang hebat. b. Cara menanam Ada berbagai cara yang dapat digunakan dala m menanam, diantaranya adalah : 1. Disebar merata langsung ke permukaan tanah. Cara ini kurang lazim karena membutuhkan banyak benih yaitu sekitar 50 sampai 100 kilogram per hektar. 2. Membuat aluran dengan kayu berujung runcing yang digariskan di atas tanah atau dengan cangkul atau kored dengan jarak antara aluran sekitar 60

sentimeter sedalam 3 sentimeter. Ke dalam aluran ditaburkan benih kemudian ditutup dengan tanah. Pemakaian benih kurang lebih 30 sampai 40 kilogram per hektar. 3. Dengan tugal. Pada jarak tertentu dibuat lubang dengan tugal, sedalam 3 hingga 5 sentimeter. Untuk tiap lubang ditanam benih sebanyak 5 hingga 7 butir. Jarak tanam pada tanah yang subur 15 20 sentimeter, sedangkan pada tanah yang kurang subur 15 40 sentimeter. jarak tanam yang terbaik adalah 20 20 sentimeter. setelah benih dimasukkan, lubang benih ditutup dengan campuran pupuk P, K, dan pupuk kandang, atau campuran antara pupuk P, K, dan abu (debu atau tanah halus). 4. Tumpangsari dengan tanaman lain dengan pengaturan sebaik-baiknya sehingga tidak merugikan tanaman pokok. Tumpangsari dengan jagung dapat diatur dengan jarak tanam jagung 150 60 sentimeter. Pengaturan jarak tanam yang sebaik-baiknya disamping akan mempertinggi hasil, juga akan memudahkan dalam melakukan kegiatan lain di dalam pertanaman seperti penyiangan, pemberantasan hama, dan lain- lain. 2.3.4. Pemupukan a. Pemupukan dapat dilakukan dengan menggunakan pupuk organik (pupuk hijau, pupuk kandang atau pupuk kompos). Pupuk hijau misalnya dengan menggunakan Crotalaria juncea ditanam 4 hingga 6 bulan sebelum tanah ditanami padi ladang. Pupuk hijau ini ditanam berbaris dengan jarak antar barisan sekitar 90 hingga 120 sentimeter. Di sela-selanya dapat ditanami jagung, ketela, kacang hijau dan sebagainya. Pada permulaan musim hujan pupuk hijau ditebang dan dikuburkan pada waktu pengolahan tanah.

b. Pupuk kandang dan kompos diberikan dengan pengolahan tanah karena pupuk tersebut lama hancurnya. Kebutuhan pupuk kandang atau kompos sekitar 15 hingga 20 ton setiap hektar. c. Pupuk organik ( upuk buatan) pada umumnya diberikan dengan dosis 60 p sampai 90 kilogram N, 30 kilogram P2 O5 , dan 30 kilogram K2 O tiap hektar. Pupuk N (1,5 hingga 2 kwintal urea per hektar) diberikan dua kali, setengah pada saat 3 sampai 4 minggu sesudah benih ditugalkan dan setengah sisanya pada umur 6 sampai 7 minggu, yaitu masing- masing pada saat dilakukan penyiangan (dua bulan sejak benih ditugalkan). Pupuk fosfat (0.75 kwintal TSP) bersama dengan pupuk K (0.5 kwintal KCl) diberikan waktu penanaman sebagai pupuk dasar setelah dicampur dengan pupuk kandang, abu atau debu atau tanah halus. Perbandingan campuran pupuk fosfat, kalium, dan pupuk kandang adalah 0.75 : 1 : 20 (0.75 kwintal TSP + 1 kwintal ZK + 20 kwintal pupuk kandang). Jika abu atau debu halus sebagai campuran digunakan, maka perbandingannya adalah 1 : 1 : 5. Cara pemberiannya adalah dengan membuat garitan sepanjang barisan tanaman, diisi dengan pupuk lalu ditutup lagi dengan tanah. Bila pada pemberian pertama di sisi yang satu dari tanaman, maka pada pemberian kedua hendaklah pada sisi lain yang berlawanan. Pupuk organik meliputi sisa-sisa tanaman atau hewan. Pupuk organik sangat bermanfaat pada tanah-tanah kering untuk memperbaiki struktur tanah. Tanah yang cukup mengandung bahan organik akan lebih remah dan memiliki daya menahan air yang lebih besar. Tanah dengan sifat yang demikian sangat sibutuhkan untuik tanaman padi ladang. Pupuk organik terdiri dari kompos ataupun pupuk kandang. Salah satu kelemahan pupuk organik

adalah kadar haranya yang rendah. Untuk me ncukupi kebutuhan hara bagi tanaman dalam satu hektar, diperlukan sekitar 10 sampai 30 ton bahan organik. Di samping itu pupuk organik sering mengandung biji-biji gulma sehingga dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Kompos disebar pada waktu pembajakan terakhir, dan pupuk buatan disebar pada waktu penggaruan terakhir. 2.3.5. Pemeliharaan a. Penyulaman Sejak tanaman berumur seminggu sampai umur tiga minggu tanaman padi ladang masih boleh disulam, kadang-kadang sesudah umur satu bulan masih disulam, tetapi ya ng digunakan untuk menyulam adalah bibit yang diambil dari rumpun yang besar. b. Penyiangan Penyiangan atau pemberantasan gulma dapat dilakukan dengan cara mekanis atau dengan cara kimiawi. Penyiangan pertama dilakukan pada waktu tanaman berumur tiga sampai empat minggu. Setelah penyiangan, tanah di

sekeliling tanaman padi dibumbun (didangir) atau dihancurkan sedikit agar pembuangan air lebih mudah. Penyiangan kedua pada saat tanaman berumur 60 hari. Tanah di sela-sela tanaman dicangkul supaya renggang dan ge mbur. Kirakira satu hingga dua minggu sebelum malai padi keluar, tanaman sebaiknya dibumbun. 2.3.6. Panen dan Pengolahan Hasil Panen Untuk jenis-jenis yang mudah rontok, panen dilakukan pada stadia masak kuning yaitu apabila seluruh pertanaman nampak kuning, kecuali buku-buku sebelah atas yang masih hijau. Isi gabah sudah mengeras tetapi bila dipijit dengan

tangan isi gabah mudah pecah. Sedangkan untuk jenis-jenis yang tidak mudah rontok, panen dilakukan pada stadia masak penuh. Cara mengetam,

menggabahkan, mengeringkan dan mengolahnya selanjutnya sama dengan caracara pada padi sawah. 2.3.7. Hama dan Penyakit Hama yang sering mendatangkan bahaya pada tanaman padi ladang dan perlu diperhatikan antara lain: lalat bibit yang dapat mengurangi kemampuan bertunas bahkan mematikan tanaman berumur setengah hingga satu setengah bulan, walang sangit yang menyebabkan kosongnya sebagian dari malai, kepik padi hijau, penggerek batang, ulat tentara, tikus, babi hutan, burung, dan lain- lain. Sedangkan penyakit yang umumnya menyerang padi ladang adalah penyakit bercak daun (Pyricularia oryzae), penyakit bercak daun Helminthosporium oryzae, Phytium sp, dan lain- lain. 2.4. Sistem Perladangan di Indonesia dan Perkembangannya Menurut Soekartawi (1986), ladang atau tegalan adalah suatu lahan usahatani pada lahan kering yang biasa dipakai untuk usaha bercocok tanam. Tanaman yang biasa dibudidayakan adalah tanaman yang berumur pendek seperti padi ladang, jagung, tanaman jenis kacang-kacangan dan umbi- umbian. Perladangan merupakan wujud dari peradaban jaman dulu yang berlangsung turun temurun dan masih berkembang hingga sekarang. Praktek perladangan menurut data arkeologi sudah dimulai pada saat manusia pertama kali mengubah jaman berburu dan mengumpulkan tanaman liar ke sistem berproduksi tanaman dan beternak dengan budidaya yang masih primitif.

Demikian pula Pelzer dalam Geertz (1963) mengatakan bahwa perladangan itu ditandai oleh tidak adanya pembajakan, input tenaga-tenaga sedikit dibandingkan dengan bercocok tanam yang lain, tidak menggunakan tenaga hewan ataupun pemupukan dan tidak adanya konsep pemilikan tanah pribadi. Peladang pada umumnya hidup berpencar berjauhan satu dengan yang lain, baik antara tempat tinggal di dalam desa maupun antar desa yang satu dengan lainnya. Hal ini bukan karena sifat peladang yang enggan untuk hidup berdekatan, melainkan merupakan usaha ntuk menyesuaikan antara kepentingan beercocok tanam dengan keadaan alamnya (Soemarwoto, 1978 dalam Hariyanto, 1994). Berdasarkan jangka waktu rotasinya, Dinas Kehutanan Kalimantan Barat (1981) dalam Hariyanto (1994), mengelompokkan pola perladangan menjadi: a. b. c. Berladang berpindah tanpa siklus dan tidak memiliki pemukiman tetap. Berladang dengan siklus panjang, terkadang memiliki pemukiman tetap. Berladang dengan siklus sedang diatas tujuh tahun dan memiliki pemukiman tetap, terkadang memiliki kebun. d. Berladang dengan siklus pendek sekitar lima tahun, memiliki pemukiman tetap dan kebun. e. Berladang setiap tahun. Menurut Ditjen Kehutanan Direktorat Reboisasi dan Rehabilitasi (1981) dalam Hariyanto (1994) beberapa sistem perladangan yang ada di Indonesia adalah : a. Sistem rotasi alami, yang merupakan sistem yang paling sederhana. Lahanlahan bekas perladangan yang sedang menurun produktivitasnya, baik karena

tingkat kesuburannya sudah berkurang atau besarnya gangguan gulma, diserahkan begitu saja kepada kekuatan alam untuk merehabilitasi dirinya melalui suksesi alami. Sistem ini terdapat dipedalaman Kalimantan. b. Sistem tanaman sela, merupakan suatu peningkatan dari sistem rotasi alami. Lahan- lahan perladangan pada saat penggarapan pertama sudah ditanami tanaman sela yang ditanam dalam bentuk larikan sejajar kontur, sehingga dapat berfungsi sebagai pencegah erosi serta penyubur tanah. Tanaman sela itupun dibiarkan tumbuh sehingga suksesi alami berjalan lebih cepat. Sistem ini ditemui di Nusa Tenggara Timur terutama Kupang. c. Sistem tumpang sari. Sejak saat pertama penggarapan ladangnya, para peladang menanam tanaman keras secara bersamaan dengan tanaman pangan. Jenis-jenis tanaman keras yang dipilih adalah yang mempunyai prospek ekonomis baik seperti karet, kelapa, lada, kopi dan cengkeh. Sistem ini terdapat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, Lampung dan Sumatera Selatan. d. Sistem talun, yang merupakan perkembangan dari sistem rotasi alami, sebagai akibat masuknya pertimbangan pemilihan jenis tanaman yang disesuaikan dengan keadaan pasar dan kondisi fisik lahannya. Yang dimaksud dengan talun adalah lapangan yang ditanami dengan berbagai macam pohon, baik kayu-kayuan maupun buah-buahan. Jenis dan susunan pepohonan tersebut dibuat sedemikian sehingga mempunyai prospek ekonomis serta sesuai dengan kebutuhan pemiliknya. Sistem talun ini muncul atau dikenal terdapat di daerah Jawa Barat.

Simon

(1981)

dalam

Hariyanto

(1994),

mengemukakan

bahwa

perladangan hampir selalu dilakukan dengan cara yang sama. Secara kronologis pekerjaan yang dilakukan adalah : a. Pemilihan tempat, dengan urutan prioritas dari yang paling disukai : hutan perawan, hutan sekunder, belukar dan yang terakhir padang alang-alang. b. c. Menebas, yaitu : pemotongan belukar kecil dengan menggunakan parang Menebang, yaitu : memotong pohon berdiameter besar dengan menggunakan kapak (beliung). d. Membakar daun dan ranting yang sudah kering. Pembakaran ini selain ditujukan untuk membersihkan lahan dari sisa-sisa penebasan dan penebangan, juga berguna untuk mengurangi keasaman tanah. e. Menugal dan menanam biji. Menugal adalah membuat lubang- lubang pada permukaan tanah dengan menggunakan ranting atau dahan yang

diruncingkan ujungnya (tuga l) dimana biji-biji padi kemudian dimasukkan. f. Merumput, yaitu : pekerjaan mencabut/membunuh rumput-rmput yang tumbuh diantara tanaman padi, karena bila rumput dibiarkan tumbuh lebat, maka tanaman padi akan tertekan sehingga hasilnya sangat rendah. g. h. Menjaga tanaman dari serangan hama seperti babi hutan. Mengetam atau memanen hasil padi. Selain itu ada kegiatan lain yang menurut Dove (1988) dalam Hariyanto (1994), pada dasarnya tidak berurutan yaitu : (a) memanen hasil tanaman bukan padi, (b) membat pondok diladang, (c) membuat alat-alat untuk bekerja di ladang. Bila ditinjau dari aspek ekonomi peladang berpindah (perladangan) dicirikan oleh produktivitas yang rendah. Rendahnya produksi yang dihasilkan oleh peladang

juga ditunjukkan oleh ketidakpastian hasil ya ng disebabkan tingginya pengaruh iklim, hama dan penyakit. Dengan sifat perladangan yang masih tradisional upaya pengendalian terhadap hama dan penyakit juga dilaksanakan dengan cara yang sederhana. Padahal bila dilihat dari lingkungan sistem perladangan kemungkinan uuntuk terserang hama dan penyakit sangat tinggi dan upaya pengendalian lebih sulit. Produktivitas yang rendah cenderung diikuti pula oleh rendahnya kualitas produksi yang dihasilkan. Akibatnya harga jual produksi yang dihasilkan rendah, ditambah lagi dengan belum adanya prospek pemasaran hasil produksi dan sifat komoditi yang dihasilkan masih bersifat musiman. Keseluruhan faktor- faktor di atas menyebabkan rendahnya tingkat pendapatan usahatani peladang berpindah (Simon, 1981 dalam Hariyanto, 1994). Dari aspek sosial peladang dicirikan oleh rendahnya tingkat pendidikan, tingkat ketrampilan dan pengetahuan yang dimiliki peladang dalam pengelolaan lahan serta tingginya angka kelahiran dan kematian penduduk karena masih rendahnya tingkat kesehatan. Tempat tinggal yang berpencar dan kemungkinan pindah mengikuti rotasi perladangan, menyebabkan anak-anak peladang sangat sulit untuk mengikuti pendidikan formal secara teratur. Bagi pemerintah pun tidak mudah untuk menyelenggarakan fasilitas pendidikan dan fasilitas sosial lainnya, bukan karena biayanya yang menjadi mahal, tetapi juga kegunaannya tidak mencapai tingkat optimal yang diharapkan. Oleh karena itu sebagian dari peladang tidak berpendidikan sama sekali. Masyarakat di Kalimantan Timur, seperti yang dikemukakan Simon (1981) dalam Hariyanto (1994), 61 persen tidak

pernah sekolah, sedang 27 persen hanya pernah sekolah tidak lebih dari kelas tiga sekolah dasar. 2.5. Perilaku Ekonomi Petani Perilaku ekonomi mempunyai tiga hal yang patut diperhatikan (Scott, 1981), yaitu resiko, ketidakpastian, serta keuntungan. Istilah resiko dimaksudkan kepada terjadinya kemungkinan merugi atau possibility of loss, jadi peluang akan terjadinya merugi akan diketahui terlebih dahulu. Sedangkan ketidakpastian adalah sesuatu yang tidak bisa diramalkan sebelumnya, karena peluang terjadinya merugi belum diketahui sebelumnya (Soekartawi et al., dalam Satria, 1995). Dillon et al. dalam Soekartawi (1986) memberikan indikasi bahwa sebagian besar petani subsistem mempunyai keengganan memikul resiko, dengan kecenderungan yang lebih besar pada pemilik lahan sempit dan umumnya dari petani penyakap. Pada petani kecil perolehan pendapatan usahataninya akan lebih banyak digunakan untuk mengembangkan usahataninya. Dalam banyak hal, sering ditemui bahwa semakin kecil petani melakukan capital formation dalam usahataninya, karena kelebihan pendapatan sering digunakan untuk kepentingan lainnya. Scott (1981), menjelaskan adanya perilaku enggan menerima resiko dalam pengambilan keputusan petani disebabkan oleh adanya dilema ekonomi petani sentral yang dihadapi oleh kebanyakan rumah tangga petani. Kehidupan petani di pedesaan begitu dekat dengan batas subsistensi, serta selalu mengalami ketidakpastian cuaca dan tuntutan-tuntutan dari pihak luar, dan karena itu kondisi tersebut menyebabkan rumah tangga petani tidak banyak mempunyai peluang untuk menerapkan keuntungan maksimal dalam berusahatani. Sifat khas yang

senantiasa ada pada diri petani ialah berusaha menghindari kegagalan yang akan menghancurkan kehidupannya dan bukan berusaha memperoleh keuntungan besar dengan mengambil resiko. Dengan kata lain petani berusaha meminimumkan keuntungan subjektif dari kerugian maksimum. Perilaku demikian yang disebut juga perilaku safety first atau mendahulukan keamanan merupakan ciri umum petani. Bukan saja petani miskin yang memiliki perilaku tersebut, tetapi sebagian besar petani menengah juga bertindak serupa.

2.6. Hasil Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu mengenai usahatani padi ladang atau padi gogo dilakukan oleh Susanto (2004). Penelitian ini melakukan analisis tentang pendapatan dan efisiensi penggunaan faktor produksi usahatani padi ladang secara tumpangsari dengan jagung di Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata penerimaan petani dari produksi padi ladang per hektar per musim tanam sebesar Rp.1.348.100,- dengan harga jual rata-rata sebesar Rp.1.700,- per kilogram dan produksi padi ladang per hektar rata-rata sebesar 793 kilogram dalam bentuk gabah kering panen. Sedangkan ratarata jagung yang dihasilkan per hektar sebesar 1.438 kilogram dengan harga jual rata-rata Rp.450,- per kilogram, sehingga penerimaan dari produksi jagung sebesar Rp.647.100,-. Jadi, total penerimaan petani dari usahatani padi ladang yang ditumpangsari dengan jagung sebesar Rp.1.995.200,-. Biaya tunai yang dikeluarkan dalam usahatani padi ladang tumpangsari dengan jagung sebesar Rp.683.091,- sedangkan biaya total sebesar Rp.1.824.575,. Dengan komposisi biaya seperti ini, pendapatan atas biaya tunai yang diperoleh petani adalah sebesar Rp.1.312.109,sedangkan pendapatan atas biaya total

sebesar Rp.170.625,- Jadi rasio R/C atas biaya tunai diperoleh sebesar 2.92, dan rasio R/C atas biaya total sebesar 1.09. Hal ini berarti dari segi analisis pendapatan usahatani padi ladang secara tumpangsari dengan jagung menguntungkan karena penerimaan yang lebih besar dari biaya total yang dikeluarkan. Dari analisis model fungsi produksi Cobb-Douglas yang dilakukan Susanto (2004), diperoleh hasil F-hitung yang nyata pada taraf kepercayaan 95 persen, dan nilai koefisien determinasi (R2 ) sebesar 74.5 dengan nilai koefisien determinasi terkoreksi (R2 -adjusted) sebesar 67.8. Nilai R2 -adjusted sebesar 67.8 berarti bahwa 67.8 persen kergaman pada nilai produksi dapat dijelaskan oleh variabel bebas yang digunakan dalam fungsi produksi yaitu luas lahan, jumlah benih, pupuk Urea, pupuk KCl, pupuk TSP, dan tenaga kerja. Sedangkan 32.2 persen lainnya dari keragaman nilai produksi dipengruhi faktor- faktor lain di luar model regresi. Faktor- faktor lain di luar model yang diduga berpengaruh tersebut adalah tingkat kesuburan lahan, intensitas serangan hama, dan faktor iklim. Berdasarkan hasil uji-t yang dilakukan Susanto (2004), diperoleh hasil bahwa faktor produksi jumlah benih, pupuk Urea, dan pupuk TSP berpengaruh nyata terhadap nilai produksi. Sedangkan faktor produksi luas lahan, puuk KCl dan tenaga kerja tidak berpengaruh nyata terhadap nilai produksi pada taraf kepercayaan yang ditentukan. Berdasarkan analisis efisiensi dengan rasio NPM dan BKM, diperoleh hasil bahwa penggunaan faktor produksi pupuk Urea, KCl, TSP, dan tenaga kerja tidak efisien (berlebihan), yang ditunjukkan oleh rasio NPM dan BKM yang lebih kecil dari satu. Sedangkan penggunaan faktor produksi luas lahan dan jumlah benih masih kurang untuk mencapai level efisien. Penggunaan faktor produksi

yang tidak efisien ini diduga disebabkan oleh pengetahuan petani yang terbatas akibat tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi yang rendah serta status penguasaan lahan. Penelitian lain mengenai padi ladang dilakukan oleh Rahayu (2001) dengan judul Perbandingan Usahatani Padi Ladang Baduy Luar dan Luar Baduy Dilihat Dari Tingkat Efisiensi dan Subsistensi Usahatani di Desa Kanekes dan Desa Jalupang Mulya, Kecamatan Leuwi Damar, Kabupaten Lebak, Banten. Penelitian ini menyimpulkan bahwa teknologi usahatani padi ladang yang digunakan di wilayah Luar Baduy (Jalupang Mulya) lebih maju dibandingkan dengan Baduy Luar. Hal ini dilihat dari : tingkat pendidikan, luas lahan garapan, status penguasaan lahan, pengalaman bertani, jenis alat pengolahan lahan, jenis varietas padi, pupuk, obat dan cara pengobatan hama dan penyakit tanaman, serta alat pengolahan padi. Namun dari segi analisis pendapatan dengan menggunakan analisis rasio R/C, usahatani padi ladang di wilayah Baduy Luar (Kanekes) menghasilkan nilai rasio R/C yang lebih tinggi daripada Luar Baduy (Jalupang Mulya), dimana rasio R/C atas biaya total untuk Baduy Luar sebesar 0.26 sedangkan R/C atas biaya total untuk luar baduy sebesar 0.11. Demikian juga dengan R/C atas biaya tunai untuk wilayah Baduy Luar sebesar 1.22, lebih besar daripada R/C atas biaya tunai untuk Luar Baduy yang sebesar 0.39. Rendahnya nilai rasio R/C untuk usahatani padi ladang di wilayah Luar Baduy diduga disebabkan oleh : (1) Tingkat kesuburan lahan di wilayah Baduy Luar yang lebih subur dibandingkan dengan wilayah Luar Baduy, dilihat dari segi intensitas penggunaan lahan.

(2)

Tingkat upah tenaga kerja luar keluarga di wilayah Luar Baduy lebih tinggi daripada wilayah Baduy Luar.

(3)

Kondisi lingkungan usahatani padi ladang di wilayah Luar Baduy yang sedang terserang hama dan penyakit.

(4)

Penggunaan pupuk dan pestisida yang belum tepat untuk wilayah Luar Baduy, sementara usahatani padi ladang di wilayah Baduy Luar tidak menggunakan pupuk dan pestisida sama sekali. Dilihat dari segi tingkat subsistensi, usahatani padi ladang di wilayah Luar

Baduy tergolong usahatani semi- subsisten mengarah ke komersial (TransisiDinamis), sedangkan usahatani padi ladang untuk wilayah termasuk dalam usahatani semi-subsisten mengarah ke subsisten (Transisi-Statis). Kesimpulan ini diambil berdasarkan analisis terhadap : tujuan produksi, nilai rasio upah tenaga kerja dan rasio faktor input, serta tingkat pendayagunaan lembaga pertanian. Penelitian yang dilakukan Wana (2000) dengan judul Analisis Faktorfaktor Produksi Padi Lahan Kering di Indonesia, melakukan analisis pendugaan model respon areal luas panen dan produktivitas padi lahan kering di seluruh

Indonesia. Wana (2000) mengelompokkan Indonesia menjadi tiga daerah regional yaitu : Regional I meliputi seluruh provinsi Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Regional II meliputi seluruh provinsi di pulau Sumatera dan Kalimantan. Regional III meliputi seluruh provinsi di pulau Sulawesi, NTT, Maluku, Timtim, dan Irian Jaya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor- faktor yang mempengaruhi produksi luas areal panen padi lahan kering (ladang) di seluruh regional adalah :

harga beras, luas lahan kering, harga jagung, harga ubikayu, harga kedelai, dan luas areal panen padi tahun sebelumnya. Sedangkan faktor- faktor yang mempengaruhi produktivitas padi lahan kering (ladang) di seluruh regional adalah harga pupuk urea, curah hujan, varietas unggul, dan harga pupuk TSP. Penelitian ini juga memperoleh kesimpulan bahwa peningkatan produksi dengan

mengupayakan peningkatan luas areal dan produktivitas padi ladang pada umumnya tidak responsif terhadap faktor- faktor yang berpengaruh, yang memberi indikasi bahwa di Indonesia terutama di Jawa peningkatan luas areal panen dan produktivitas sudah hampir mendekati level optimum. Akan tetapi dalam upaya memenuhi kebutuhan beras nasional dan mengurangi impor beras, kegiatan produksi harus tetap ditingkatkan. Yelni (1999) meneliti tentang faktor- faktor yang mempengaruhi produksi dan pendapatan usahatani padi sawah pada jaringan irigasi teknis (Desa Tinggar Jaya, Kecamatan Jatilawang) dan irigasi sederhana (Desa Losari, Kecamatan Rawalo), Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tingkat produksi per hektar di daerah irigasi teknis lebih tinggi daripada daerah irigasi sederhana. Perbedaan tingkat produksi tersebut 24.947 kwintal dalam satu tahun (dua musim tanam). Pendapatan atas biaya tunai dan biaya total yang diperoleh daerah dengan lahan sawah yang menggunakan irigasi teknis juga lebih tinggi daripada lahan sawah beririgasi sederhana. Rasio R/C atas biaya tunai di Desa Tinggar Jaya (irigasi teknis) sebesar 2.7554, sedangkan di Desa Losari (irigasi sederhana) sebesar 2.4193. Rasio R/C atas biaya total di Desa Tinggar Jaya (irigasi teknis) sebesar 1.5574 dan di Desa Losari (irigasi sederhana) sebesar 1.4637. Berdasarkan analisis model fungsi produksi

dengan menggunakan analisis model Cobb-Douglas, diperoleh hasil bahwa untuk usahatani padi sawah di Desa Tinggar Jaya (irigasi teknis), faktor-faktor yang berpengaruh nyata pada a = 0.05 adalah benih dan pupuk, sedangkan faktor- faktor yang berpengaruh nyata pada 0.05 < a = 0.10 adalah penggunaan pestisida dan dummy luas lahan. Sedangkan untuk usahatani padi sawah di Desa Losari (irigasi sederhana), faktor- faktor yang berpengaruh nyata adalah penggunaan tenaga kerja dan dummy luas lahan. Wijaya (2002) melakukan penelitian tentang perbandingan pendapatan dan efisiensi usahatani padi sawah organik (input rendah) dan usahatani padi sawah konvensional di Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa produktivitas padi organik (input rendah) lebih kecil dibandingkan padi konvensional. Produktivitas padi organik sebesar 4.569 kg/ha sedangkan produktivitas padi sawah konvensional sebesar 5.263 kg/ha. Rasio R/C atas biaya tunai dan atas biaya total pada usahatani padi sawah organik didapat sebesar 2.68 dan 1.72, sedangkan rasio R/C atas biaya tunai dan atas biaya total pada usahatani padi sawah konvensional sebesar 2.14 dan 1.63. Berdasarkan analisis fungsi produksi dengan menggunakan model fungsi produksi Cobb-Douglas, disimpulkan bahwa usahatani padi organik berada pada kondisi decreasing return to scale (hasil yang semakin menurun). Faktor- faktor yang berpengaruh nyata terhadap produksi pada usahatani padi sawah organik luas lahan, jumlah pupuk TSP yang digunakan, dan tenaga kerja. Sedangkan faktor- faktor yang berpengaruh nyata terhadap produksi pada usahatani padi sawah konvensional adalah luas lahan, jumlah benih yang digunakan, pupuk urea, pestisida butir, dan penggunaan tenaga kerja.

Berdasarkan analisis efisiensi ekonomi dengan menggunakan rasio Nilai Produk Marjinal dan Biaya Korbanan Marjinal (NPM/BKM) untuk usahatani padi sawah organik, diketahui bahwa penggunaan faktor-faktor produksi belum efisien. Hal ini terbukti dari nilai NPM/BKM semua faktor produksi yang tidak sama dengan satu. Faktor-faktor yang penggunaannya harus ditingkatkan agar dicapai level efisien adalah luas lahan, pupuk organik, pupuk daun, pestisida butir, dan tenaga kerja. Sedangkan faktor- faktor yang penggunaannya berlebihan adalah pupuk urea dan TSP. Untuk faktor benih dan pestisida cair didapat nilai rasio NPM dan BKM yang negatif, artinya syarat keharusan untuk mencapai level efisien tidak teroenuhi sehingga penggunaannya untuk mencapai efisien tidak dapat diramalkan karena rasio NPM dan BKM tidak akan pernah sama dengan satu (NPM/BKM ? 1).

III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.1. Konsep Usahatani Usahatani adalah setiap kombinasi yang tersusun (terorganisasi) dari alam, kerja dan modal yang ditujukan kepada produksi di lapangan pertanian (T.B. Bachtiar Rifai dalam Hernanto, 1988). Berdasarkan pengertian di atas, maka suatu usahatani dapat digambarkan lebih rinci sebagai berikut :

a. Adanya lahan dalam luasan dan produk yang tertentu, unsur ini dalam usahatani mempunyai fungsi sebagai usaha tempat bercocok

diselenggarakannya

tanam, pemeliharaan hewan ternak dan tempat keluarga tani bermukim.


b. Adanya bangunan yang berupa rumah petani, gudang, kandang, lantai jemur, dan lain- lain. c. Adanya alat-alat pertanian seperti cangkul, parang, garpu, linggis, penyemprot, traktor, pompa air dan lain- lain. d. Adanya pencurahan kerja untuk mengolah tanah, menanam, memelihara dan lain- lain.

e. Adanya kegiatan petani yang menetapkan rencana usahataninya, mengawasi jalanya usahatani dan menikmati hasil usahataninya. Soeharjo dan Patong (1973) dalam Soekartawi (1986), mengatakan bahwa ada dua pola usahatani yang sangat pokok yaitu pola usahatani lahan basah dan lahan kering. Sedangkan bentuk usahatani terdapat tiga jenis yang menunjukkan bagaimana suatu kondisi diusahakan yaitu : (1) bentuk khusus dimana petani hanya mengusahakan satu jenis usaha dari sebidang tanah, (2) bentuk tidak khusus yaitu usahatani yang terdiri dari berbagai cabang usaha pada berbagai bidang tanah, dan (3) bentuk campuran yaitu usahatani yang memadukan beberapa cabang usaha secara bercampur, dimana penggunaan faktor- faktor produksi cenderung bersaing dan batas pemisahan antara cabang usahatani kurang jelas. Secara umum dalam setiap rumahtangga usahatani pada hakekatnya terdapat dua kegiatan ekonomi yaitu kegiatan usaha dan kegiatan rumahtangga atau keluarga. Keluarga usaha menghasilkan produksi, baik yang dijual maupun untuk dikonsumsi keluarga atau dipergunakan lagi dalam proses produksi selanjutnya. Untuk kegiatan rumahtangga pada umumnya bersifat konsumtif.

3.2. Pendapatan Usahatani Pemenuhan kebutuhan hidup rumahtangga usahatani dicukupi dari pendapatan usahatani. Soeharjo dan Patong (1973) menyatakan bahwa

pendapatan adalah balas jasa dari kerjasama faktor- faktor produksi lahan, tenaga kerja, modal dan jasa pengelolaan. Pendapatan usahatani tidak hanya berasal dari kegiatan produksi saja tetapi dapat juga diperoleh dari hasil menyewakan atau menjual unsur- unsur produksi, misalnya menjual kelebihan alat-alat produksi, menyewakan lahan dan lain sebagainya.

Berkaitan dengan ukuran pendapatan dan keuntungan, Soekartawi (1986) mengemukakan beberapa definisi : a. Penerimaan tunai usahatani merupakan nilai uang yang diterima dari penjualan b. produk usahatani.

Pengeluaran tunai usahatani adalah jumlah uang yang dibayarkan untuk pembelian barang dan jasa bagi usahatani.

c.

Pendapatan tunai usahatani adalah produk usahatani dalam jangka waktu tertentu, baik yang dijual maupun tidak dijual.

d.

Penerimaan total usahatani merupakan nilai semua yang habis terpakai atau dikeluarkan dalam produksi termasuk biaya yang diperhitungkan.

e.

Pengeluaran total usahatani merupakan selisih antara penerimaan kotor usahatani dan pengeluaran total usahatani. Secara harfiah pendapatan dapat didefenisikan sebagai sisa dari

pengurangan nilai penerimaan yang diperoleh dengan biaya yang dikeluarkan. Pendapatan yang diharapkan tentu saja memiliki nilai positif dan semakin besar nilainya semakin baik, meskipun besar pendapatan tidak selalu mencerminkan efisiensi yang tinggi karena pendapatan yang besar mungkin juga diperoleh dari investasi yang jumlahnya besar pula. Untuk mengukur keberhasilan usahatani biasanya dilakukan dengan melakukan analisis pendapatan usahatani. Dengan melakukan analisis pendapatan usahatani dapat diketahui gambaran keadaan aktual usahatani sehingga dapat melakukan evaluasi dengan perencanaan kegiatan usahatani pada masa yang akan datang.

Untuk menganalisis pendapatan usahatani diperlukan informasi mengenai keadaan penerimaan dan pengeluaran selama jangka waktu yang ditetapkan. Penerimaan usahatani adalah nilai produksi yang diperoleh dalam jangka waktu tertentu dan merupakan hasil perkalian antara jumlah produksi total dengan harga satuan dari hasil produksi tersebut. Sedangkan biaya atau pengeluaran usahatani adalah nilai penggunaan faktor- faktor produksi dalam melakukan proses produksi usahatani. Biaya dalam usahatani dapat dibedakan menjadi biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan. Biaya tunai usahatani merupakan pengeluaran tunai yang dikeluarkan oleh petani. Sedangkan biaya yang diperhitungkan merupakan pengeluaran yang secara tidak tunai dikeluarkan petani, biaya ini dapat berupa faktor produksi yang digunakan petani tanpa mengeluarkan uang tunai seperti sewa lahan yang diperhitungkan atas lahan milik sendiri, penggunaan tenaga kerja dalam keluarga, penggunaan benih dari hasil produksi dan penyusutan dari sarana produksi. Pengeluaran usahatani secara umum meliputi biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost). Biaya tetap adalah biaya yang sifatnya tidak dipengaruhi oleh jumlah produksi yang dihasilkan. Biaya tetap dapat berupa biaya sewa lahan, pajak dan bunga pinjaman. Biaya variabel adalah biaya yang sifatnya dipengaruhi jumlah produksi yag dihasilkan. Biaya variabel dapat berupa biaya yang dikeluarkan unt uk benih, pupuk, pestisida dan upah tenaga kerja. Pendapatan usahatani terbagi atas pendapatan kotor usahatani dan pendapatan bersih usahatani. Pendapatan kotor usahatani mengukur pendapatan kerja petani tanpa memasukkan biaya yang diperhitungkan sebaga i komponen biaya. Pendapatan kotor usahatani merupakan selisih dari penerimaan usahatani

dengan biaya tunai usahatani. Sedangkan pendapatan bersih usahatani mengukur pendapatan kerja petani dari seluruh biaya usahatani yang dikeluarkan. Pendapatan bersih usahatani diperoleh dari selisih penerimaan usahatani dengan biaya total usahatani. 3.3. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio Analysis)

Menurut Soeharjo dan Patong (1973), pendapatan yang besar bukanlah sebagai petunjuk bahwa usahatani efisien. Suatu usahatani dikatakan layak apabila

memiliki tingkat efisiensi penerimaan yang diperoleh atas setiap biaya yang dikeluarkan hingga mencapai

perbandingan tertentu.
Kriteria kelayakan usahatani dapat diukur dengan menggunakan analisis imbangan penerimaan dan biaya (R/C ratio analysis) yang didasarkan pada perhitungan secara finansial. Analisis ini menunjukkan besar penerimaan usahatani yang akan diperoleh petani untuk setiap rupiah biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan usahatani. Semakin besar nilai R/C maka akan semakin besar pula

penerimaan usahatani yang diperoleh untuk setiap rupiah biaya yang dikeluarkan atau usahatani dikatakan menguntungkan. Kegiatan usahatani dikategorikan layak jika memiliki nilai R/C ratio lebih besar dari satu, artinya setiap tambahan biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan tambahan penerimaan yang lebih besar daripada tambahan biaya atau secara sederhana kegiatan usahatani menguntungkan. Sebaliknya kegiatan usahatani dikategorikan tidak layak jika memiliki nilai R/C ratio lebih kecil dari satu, yang artinya untuk setiap tambahan biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan tambahan penerimaan yang lebih kecil daripada tambahan biaya atau kegiatan usahatani merugikan. Sedangkan untuk kegiatan usahatani yang

memiliki nilai R/C ratio sama dengan satu berarti kegiatan usahatani berada pada keuntungan normal. 3.4. Teori Produksi Setiap proses produksi melibatkan suatu hubungan yang erat antara faktorfaktor produksi yang digunakan dengan produk yang dihasilkan . Faktor- faktor produksi seperti lahan, pupuk, tenaga kerja, modal dan sebagainya sangat mempengaruhi terhadap besar kecilnya produksi yang diperoleh. Keputusan penggunaan sumber daya atau input, baik dalam kuantitas maupun kombinasi yang dibutuhkan dalam suatu tingkat produksi ditentukan oleh petani (produsen).
Y (Produksi)

TP

II

III

Keterangan

: TP MP AP

= Total Produksi = Marginal Product (Produk Marjinal) = Average Product (Produk Rata-rata)

Fungsi produksi secara sederhana dapat digambarkan sebagai hubungan fisik atau hubungan teknis antara jumlah faktor produksi yang digunakan dengan jumlah produk yang dihasilkan per satuan waktu tanpa memperhatikan faktor harga.

Seperti ditunjukkan dalam Gambar 1, fungsi produksi didefinisikan sebagai hubungan antara input dengan output yang menunjukkan suatu tingkat dimana sumberdaya dapat diubah sehingga menghasilkan produk tertentu (Doll dan Orazem, 1984). Dengan kata lain fungsi produksi menggambarkan kombinasi penggunaan beberapa faktor produksi untuk menghasilkan suatu tingkat produksi tertentu. Secara matematis, fungsi produksi dapat dinyatakan sebagai berikut (Doll dan Orazem, 1984) : Y = f(X1 , X2 , X3 ,,Xn ) .......................................................... (3.1) Keterangan : Y X1 ,X2 ,..,Xn f : Jumlah produksi yang dihasilkan dalam proses produksi : Faktor- faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi : Bentuk hubungan yang mentransformasikan faktor- faktor produksi ke-n dalam hasil produksi

Menurut Doll dan Orazem (1984), suatu fungsi produksi dapat dibagi ke dalam tiga daerah produksi. dapat Daerah

produksi

tersebut

dibedakan dari

berdasarkan

elastisitas

produksi

faktor-faktor produksi. Pada Gambar 1,

ketiga daerah tersebut adalah daerah dengan elastisitas produksi yang lebih besar dari satu (daerah I), antara nol dan satu (daerah II), dan lebih kecil dari nol (daerah III).
Daerah produksi I yang terletak antara 0 dan X2, mempunyai nilai

elastisitas produksi lebih besar dari satu, yang berarti bahwa penambahan faktor produksi sebesar satu persen akan menyebabkan penambahan produksi yang selalu lebih besar dari satu persen. Keuntungan maksimum belum tercapai, karena produksi masih dapat diperbesar dengan pemakaian faktor produksi yang lebih banyak. Oleh karena itu daerah I disebut sebagai daerah irrasional (irrational region atau irrational stage of production). Syarat keharusan untuk tercapainya keuntungan maksimum adalah tingkat produksi yang terjadi harus berada pada daerah II dalam kurva fungsi produksi. Pada daerah ini yang terletak antara X2 dan X3, elastisitas produksi bernilai antara nol dan satu, artinya setiap penambahan faktor produksi sebesar satu persen akan menyebabkan penambahan produksi paling tinggi satu persen dan paling rendah nol. Daerah ini dicirikan oleh penambahan hasil produksi yang peningkatannya makin berkurang (decreasing return to scale). Pada tingkat tertentu dari penggunaan faktor-faktor produksi di daerah ini akan memberikan keuntungan maksimum. Hal ini berarti bahwa penggunaan faktor- faktor produksi sudah

optimal. Oleh karena itu daerah II disebut sebagai daerah rasional (rational region atau rational stage of production). Daerah Produksi III mempunyai elastisitas produksi lebih kecil dari nol, artinya setiap penambahan faktor- faktor produksi akan menyebabkan penurunan jumlah produksi yang dihasilkan. Daerah produksi ini mencerminkan pemakaian faktor- faktor produksi yang sudah tidak efisien, sehingga daerah ini disebut juga sebagai daerah irrasional.

3.5. Efisiensi Ekonomi Usahatani akan mencapai efisiensi ekonomi jika tercapai keuntungan maksimum. Syarat untuk mencapai keuntungan maksimum adalah turunan pertama dari fungsi keuntungan terhadap masing- masing faktor produksi sama dengan nol (Doll dan Orazem, 1984). Fungsi keuntungan yang diperoleh usahatani dapat dinyatakan sebagai berikut : n = Py .Y Px i .X i + TFC .. (3.2) i =1 Keterangan : = pendapatan usahatani Py = harga per unit produksi i = 1,2,3,.,n Y = hasil produksi Px i = harga pembelian faktor produksi ke i Xi = jumlah faktor produksi ke- i yang digunakan dalam proses produksi TFC = Total Fixed Cost (Biaya Tetap Total) Dengan demikian untuk memenuhi syarat tercapainya keuntungan maksimum, maka turunan pertama dari fungsi keuntungan adalah :
Y = Py Px i = 0 X i X i

Y Px i = 0 X i

Py

Y = Px i .. (3.3) X i

Dari persamaan tersebut dapat diketahui bahwa level penggunaan faktor produksi ke-i yang efisien merupakan fungsi dari harga output, harga faktor produksi ke- i dan jumlah output yang dihasilkan, atau secara matematis dapat dituliskan :

Xi = f (Py , Px i , Y) (3.4)
Dengan mengetahui
Y X i

sebagai Marginal Product (MPxi) faktor

produksi ke-i, maka persamaan diatas menjadi : Py.MPx i = Pxi (3.5)

Sesuai dengan prinsip keseimbangan marjinal (equi-marginal principle), bahwa untuk mencapai keuntungan maksimal, tambahan nilai produksi akibat tambahan penggunaan faktor produksi ke- i (Py.MP x i ) harus lebih besar daripada tambahan biaya yang dikeluarkan untuk pembelian faktor produksi ke- i tersebut (P x i ). Penambahan penggunaan faktor produksi berhenti ketika Py.MP x i = P x i . Pada saat inilah keuntungan maksimal tercapai. Secara matematis keuntungan maksimum dari penggunaan faktor produksi ke-i dinyatakan sebagai berikut :

Py.MPxi = 1 .. Pxi
keterangan : Py.MP x i = Nilai Produk Marjinal (NPM) faktor produksi ke-i P xi = Biaya Korbanan Marjinal (BKM) faktor produksi ke-i

(3.6)

Artinya keuntungan maksimum tercapai pada saat tambahan nilai produksi akibat tambahan penggunaan faktor produksi ke-i harus sama dengan biaya korbanan marjinal atas faktor produksi ke-i tersebut atau rasio keduanya sama dengan satu. Jadi secara umum keuntungan maksimum dari penggunaan n faktor produksi akan diperoleh pada saat :

PyMPx1 PyMPx2 PyMPx3 PyMPxn = = = .... = = 1 . Px1 Px2 Px3 Pxn

(3.7)

Dengan asumsi Py dan P x i merupakan nilai yang konstan, maka hanya


Y yang mengalami perubahan . Ketika Py.MP x i > P x i , maka penggunaan X i

faktor produksi harus ditambah agar tercapai keuntungan maksimum. Sebaliknya, jika Py.MPxi < Pxi maka penggunaan faktor produksi harus dikurangi.

IV. METODE
4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

PENELITIAN

Pengumpulan data dilakukan dari bulan Mei hingga Juni 2005 sekitar satu bulan setelah musim panen padi ladang di lokasi penelitian. Pemilihan lokasi

dilakukan secara purposive yaitu di Desa Wanajaya, Kecamatan Teluk Jambe,

Kabupaten Karawang. Desa Wanajaya

Alasan memilih desa tempat

sebagai

pengambilan data adalah karena desa tersebut memiliki luas lahan padi ladang yang paling besar diantara desa-desa lain di Kecamatan Teluk Jambe.

Pemilihan Kecamatan Teluk Jambe didasarkan pada pertimbangan bahwa kecamatan penghasil ini padi merupakan ladang di salah satu

Kabupaten

Karawang. Penelitian ini didesain untuk mengetahui tingkat pendapatan usahatani padi di lahan kering, selain itu juga untuk mengetahui tingkat efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi agar usahatani

berada pada skala optimal.


4.2. Metode Pengumpulan Data dan Penentuan Sampel Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan sekunder . Data primer yang dikumpulkan dengan melakukan pengamatan dan wawancara langsung dengan petani responden dengan mengajukan pertanyaan yang dibuat dalam bentuk kuesioner yang telah dipersiapkan sebelumnya. Jumlah petani contoh sebanyak 40 orang yang merupakan petani pemilik, petani penggarap dan petani pemilik penggarap. Pemilihan petani contoh

dilakukan secara acak sederhana (simple random) dari suatu daftar petani yang telah dipersiapkan sebelumnya. Di samping wawancara terstruktur, dilaksanakan pula wawancara tidak terstruktur dengan sejumlah perangkat desa, anggota Badan Perwakilan Desa (BPD) serta kelembagaan lain di desa. Data sekunder diperoleh dengan cara penelusuran kepustakaan buku, laporan penelitian, artikel, majalah, karya ilmiah yang berkaitan dengan masalah penelitian dan melalui internet. Selain itu data sekunder juga diperoleh dari Biro Pusat Statistik, Departemen Pertanian, Balai Penelitian Tanaman Pangan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, dan Pemerintah Daerah di lokasi penelitian.

4.3. Metode Analisis Data Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif digunakan untuk mengetahui gambaran umum usahatani padi dan keragaan usahatani padi lahan kering di Desa Wanajaya, Kecamatan Teluk Jambe, Kabupaten Karawang. Sedangkan analisis kuantitatif dilakukan untuk mengetahui faktor- faktor yang mempengaruhi produksi dan tingkat efisiensi usahatani padi ladang dengan menggunakan analisis pendapatan usahatani, analisis fungsi produksi dan analisis efisiensi. Data yang telah terkumpul kemudian mengalami tahapan pengeditan, pengolahan dan penyusunan dalam bentuk tabulasi untuk selanjutnya dianalisis. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program Microsoft Excel dan Minitab 13 for Windows.

4.3.1. Analisis Pendapatan Usahatani

Untuk menganalisis pendapatan usahatani dilakukan pencatatan terhadap seluruh penerimaan dan pengeluaran usahatani dalam satu musim tanam. Data pengeluaran biaya dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan. Kemudian dilakukan penghitungan pendapatan

usahatani atas biaya tunai atau pendapatan kotor usahatani dan penghitungan pendapatan usahatani atas biaya total atau pendapatan bersih. Penghitungan pendapatan usahatani dirumuskan secara matematis seperti pada persamaan berikut : GFI = NP - BT .. NFI = NP - (BT + BD) .
Keterangan : GFI = Gross Farm Income (Pendapatan kotor usahatani) NFI = Net Farm Income (Pendapatan bersih usahatani) NP = Nilai Produksi BT = Biaya Tunai Usahatani BD = Biaya yang Diperhitungkan

(4.1) (4.2)

atau bisa juga ditulis secara singkat sebagai berikut : NFI = GFI BD .. (4.3)

dimana Pendapatan Bersih Usahatani (NFI) merupakan hasil pengurangan biaya diperhitungkan dari Pendapatan Kotor Usahatani (GFI).

4.3.2. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio Analysis) Analisis imbangan penerimaan dan biaya (R/C ratio analysis) digunakan sebagai alat untuk mengukur kriteria kelayakan dari kegiatan usahatani yang dilakukan. Dalam analisis ini data penerimaan usahatani dan pengeluaran

usahatani dibandingkan ke dalam satu rasio. Analisis imbangan penerimaan dan biaya dilakukan berdasarkan jenis biaya yang dikeluarkan, yaitu dibedakan menjadi R/C atas biaya tunai dan R/C atas biaya total.

Secara matematis R/C ratio dapat dirumuskan dalam persamaan sebagai berikut : R/C ratio =
Keterangan : TR = Total Revenue (Total Penerimaan) TC = Total Cost (Total Biaya)

TR TC

(4.4)

4.3.3. Pendugaan Fungsi Produksi Analisis fungsi produksi adalah analisis yang menjelaskan hubungan antara produksi dengan faktor- faktor produksi yang mempengaruhinya. Fungsi produksi yang dipakai untuk menjelaskan parameter Y dan X adalah analisis fungsi Cobb-Douglas. Fungsi produksi Cobb-Douglas dapat dirumuskan sebagai berikut :

Y = bo X 1 X 2 X 3 X 4 ....... X n e u ..........
b1 b2 b3 b4 bn

(4.5)

Keterangan : Y

b0 bi Xi
e u

= produksi = intersep = koefisien regresi penduga variable ke-i = jenis faktor produksi ke-i, dimana i =1,2,3, n = bilangan natural (e = 2,7182) = unsur sisa (galat)

Penggunaan fungsi ini didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut : 1. Penggunaan fungsi Cobb-Douglas adalah dalam keadaan The Law of Diminishing Return untuk masing- masing input sehingga informasi yang diperoleh dapat digunakan untuk melakukan upaya agar setiap penambahan input dapat menghasilkan tambahan output yang lebih besar.

2. Parameter penduga (bi ) dapat langsung menunjukkan elastisitas produksi dari input yang bersangkutan (Xi). 3. Jumlah elastisitas dari masing- masing faktor produksi yang diduga merupakan pendugaan skala usaha (return to scale). Bila jumlah bi < 1, maka proses produksi berada pada skala yang menurun. Bila jumlah bi = 1, maka proses produksi terjadi pada skala yang konstan. Dan bila jumlah bi > 1, maka proses produksi terjadi pada skala yang menaik. 4. Perhitungan fungsi produksi Cobb-Douglas sederhana karena dapat ditransfer dengan mudah ke dalam bentuk linier. 5. Bentuk fungsi Cobb-Douglas dapat mengurangi kemungkinan terjadinya masalah heterokedastisitas. 6. Fungsi produksi Cobb-Douglas merupakan fungsi produksi yang sering digunakan dalam penelitian optimalisasi produksi usahatani. Untuk menganalisis hubungan antara faktor- faktor produksi dan produksi digunakan analisis regresi dengan metode Ordinary Least Square (OLS). Menurut Gujarati (1978), metode ini dapat dipakai jika asumsi-asumsi sebagai berikut : 1. Variasi unsur sisa menyebar normal. 2. Nilai rata-rata dari unsur sisa sama dengan nol. 3. Tidak ada korelasi berangkai/autokorelasi antara nilai- nilai sisa pada setiap pengamatan. 4. Homoskedastisitas atau ragam merupakan bilangan tetap.

5. Tidak ada hubungan linier sempurna antara peubah bebas. 6. Tidak ada korelasi diri (multikolinearitas). Variabel-variabel dugaan yang digunakan dalam menganalisis fungsi produksi dan penggunaan faktor-faktor produksi usahatani padi adalah sebagai berikut :

1. Benih
Penggunaan benih dalam satu musim tanam diukur dalam satuan kilogram (kg). Benih diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi, secara teori bila jumlah benih yang digunakan bertambah sebesar satu persen maka akan meningkatkan produksi padi sebesar nilai elastisitasnya (ceteris paribus).

2. Pupuk
Penggunaan pupuk dalam satu musim tanam diukur dalam satuan kilogram (kg). Pupuk diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi, secara teori bila jumlah pupuk yang digunakan meningkat sebesar satu pesen maka akan meningkatkan produksi padi sebesar nilai elastisitasnya (ceteris paribus).

3. Pestisida
Penggunaan pestisida tidak dibedakan berdasarkan jenisnya seperti insektisida, rodentisida, moluskisida atau herbisida untuk memudahkan

pencacatan satuan pestisida tersebut yang berbeda. Penggunaan pestisida dalam satu musim tanam diukur dalam satuan liter (l). Pestisida diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi, secara teori bila jumlah pestisida yang digunakan

meningkat sebesar satu persen maka akan meningkatan produksi padi sebesar nilai elastisitasnya (ceteris paribus).

4. Tenaga Kerja Dalam Keluarga


Penggunaan tenaga kerja dalam keluarga diukur dalam satuan hari orang kerja (HOK). Tenaga kerja dalam keluarga diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi, secara teori bila jumlah penggunaan tenaga kerja dalam keluarga ditingkatkan sebesar satu persen maka akan meningkatkan produksi padi sebesar elastisitasnya (ceteris paribus).

5. Tenaga Kerja Luar Keluarga


Penggunaan tenaga kerja luar keluarga diukur dalam satuan hari orang kerja (HOK). Tenaga kerja luar keluarga diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi, secara teori bila jumlah penggunaan tenaga kerja luar keluarga ditingkatkan sebesar satu persen maka akan meningkatkan produksi padi sebesar elastisitasnya (ceteris paribus). Analisis fungsi produksi digunakan untuk melihat tingkat penggunaan faktor- faktor produksi optimal. Dalam analisis ini dilakukan analisis fungsi

produksi dan analisis regresi untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor produksi terhadap produksi padi di lahan kering. Adapun langkah- langkah dalam menganalisis fungsi produksi adalah sebagai berikut : 1. Identifikasi variabel bebas dan variabel terikat Identifikasi variabel dilakukan dengan mendaftar faktor- faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi padi di lahan kering. Faktor- faktor

produksi tersebut adalah benih, pupuk, pestisida, tenaga kerja dalam keluarga, dan tenaga kerja luar keluarga. Faktor-faktor produksi ini merupakan variabel bebas yang akan diuji pengaruhnya terhadap variabel terikat yaitu hasil produksi. 2. Pendugaan fungsi produksi Dalam analisis fungsi produksi digunakan pendekatan Cobb-Douglas, yaitu :

Y = b0 X 1 X 2 X 3 X 4 X 5b5
b1 b2 b3 b4

Model fungsi produksi ditransformasikan ke dalam bentuk linier logamatrik untuk menduga fungsi produksi.
LnY = ln b0 + b1 ln X 1 + b2 ln X 2 + b3 ln X 3 + b4 ln X 4 + b5 ln X 5 + u . (4.6)
Keterangan : Y = Hasil produksi padi lahan kering (Kilogram) X 1 = Benih (Kilogram)

X 2 = Pupuk (Kilogram) X 3 = Pestisida (Liter) X 4 = Tenaga Kerja Dalam Keluarga (HOK) X 5 = Tenaga Kerja Luar Keluarga (HOK) b 0 = Variabel intersep
u = Unsur galat

b1 , b 2 , b 3 , b 4 , b 5 , b 6 , b 7 = koefisien regresi masing-masing variabel

3. Analisis regresi Analisis regresi bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel terikat dengan variabel bebas. Dari analisis dengan OLS (Ordinary Least Square) ini diperoleh nilai P (P-value) untuk uji t dan uji F, juga dapat diketahui nilai R 2 . P-value untuk uji t digunakan untuk mengetahui secara statistik apakah masingmasing variabel bebas ( X i ) secara terpisah berpengaruh nyata terhadap variabel terikat (Y). Apabila P-value untuk uji t lebih kecil daripada nilai yang

ditentukan (selang kepercayaan tertentu) maka variabel bebas dugaan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat, tetapi sebaliknya jika P-value untuk uji t lebih besar daripada nilai yang ditentukan maka variabel bebas dugaan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat. P-value untuk uji F digunakan untuk mengetahui kelayakan model dari parameter dan fungsi produksi atau untuk mengetahui apakah variabel bebas ( X i ) secara bersamaan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat. Jika P-value untuk uji F lebih kecil daripada nilai yang ditentukan (selang kepercayaan tertentu) maka variabel bebas dugaan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat, tetapi sebaliknya jika P-value untuk uji F lebih besar daripada nilai yang ditentukan maka variabel bebas dugaan tidak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat. Sedangkan R 2 merupakan koefisien determinasi yang menunjukkan keragaman model produksi dilapangan yang dapat diterangkan oleh model terpilih.

4.3.4. Analisis Efisiensi Ekonomi Usahatani akan mencapai efisiensi ekonomi jika tercapai keuntungan maksimum. Syarat untuk mencapai keuntungan maksimum adalah turunan

pertama dari fungsi keuntungan terhadap masing- masing faktor produksi sama dengan nol (Doll dan Orazem, 1984). Fungsi keuntungan yang diperoleh usahatani dapat dinyatakan sebagai berikut : n = Py.Y Pxi .X i + TFC ..... i=1
Keterangan : = pendapatan usahatani Py = harga per unit produksi Y = hasil produksi i = 1,2,3,.,n

(4.7)

Pxi = harga pembelian faktor produksi ke-i X i = jumlah faktor produksi ke-i yang digunakan dalam proses produksi
TFC = Total Fixed Cost (Biaya Tetap Total)

Dengan demikian untuk memenuhi syarat tercapainya keuntungan maksimum, maka turunan pertama dari fungsi keuntungan adalah :
Y = Py Pxi = 0 X i X i

Y Pxi = 0 X i

Py

Y = Pxi .. (4.8) X i

Dari persamaan tersebut dapat diketahui bahwa level penggunaan faktor produksi ke-i yang efisien merupakan fungsi dari harga output, harga faktor produksi ke-i dan jumlah output yang dihasilkan, atau secara matematis dapat dituliskan : X i = f ( Py, Pxi , Y ) Dengan mengetahui (4.9)

Y sebagai Marginal Product (MP) faktor produksi X i

ke-i, maka persamaan diatas menjadi : Py.MPxi = Pxi (4.10)

Sesuai dengan prinsip keseimbangan marjinal (equi-marginal principle), bahwa untuk mencapai keuntungan maksimal, tambahan nilai produksi akibat tambahan penggunaan faktor produksi ke- i (PyMP xi ) harus lebih besar daripada tambahan biaya yang dikeluarkan untuk pembelian faktor produksi ke-i tersebut (P xi ). Penambahan penggunaan faktor produksi berhenti ketika VMP xi =MFC xi .

Pada saat inilah keuntungan maksimal tercapai. Secara matematis keuntungan maksimum dari penggunaan faktor produksi ke-i dinyatakan sebagai berikut :

PyMPx i = 1 .. Px i
keterangan : PyMP xi = Nilai Produk Marjinal (NPM) faktor produksi ke-i P xi = Biaya Korbanan Marjinal (BKM) faktor produksi ke-i

(4.11)

Artinya keuntungan maksimum tercapai pada saat tambahan nilai produksi akibat tambahan penggunaan faktor produksi ke-i harus sama dengan biaya korbanan marjinal atas faktor produksi ke-i tersebut atau rasio keduanya sama dengan satu. Jadi secara umum keuntungan maksimum dari penggunaan n faktor produksi akan diperoleh pada saat :

PyMPx1 PyMPx2 PyMPx3 PyMPxn = = = .... = = 1 . Px1 Px2 Px3 Pxn

(4.12)

Dengan asumsi Py dan P xi merupakan nilai yang konstan, maka hanya


Y yang mengalami perubahan. Ketika PyMP xi > P xi , maka agar diperoleh X i

tingkat keuntungan maksimum penggunaan faktor produksi harus ditingkatkan. Sebaliknya, jika PyMPx i < Px i maka penggunaan faktor produksi harus dikurangi.

4.4. Definisi Operasional Untuk menghindari ketidaksamaan pandangan dalam pengertian, maka terdapat beberapa hal yang perlu diberi batasan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dari penelitian. Batasan-batasan tersebut meliputi : 1. Petani padi di lahan kering adalah petani yang melaksanakan budidaya pada areal tanam berupa ladang (lahan kering/upland), satuannya orang.

2. Luas lahan garapan areal usahatani padi ladang merupakan lahan yang digunakan untuk menanam padi ladang, satuannya Hektar (ha). 3. Tenaga kerja adalah tenaga kerja yang digunakan dalam proses produksi. Tenaga kerja ini dibedakan menjadi dua, yaitu tenaga kerja dalam keluarga (TKDK) dan tenaga kerja luar keluarga (TKLK). Seluruh tenaga kerja disetarakan dengan ukuran Hari Orang Kerja (HOK). 4. Jumlah produksi adalah jumlah panen padi ladang yang dihasilkan dari luas lahan, satuannya kilogram. 5. Produktivitas adalah hasil bagi antara jumlah panen dengan luas lahan dengan satuannya Ton per Hektar. 6. Pemilik penggarap adalah petani yang menggarap lahan miliknya sendiri. Satuannya orang. 7. Penyakap adalah petani yang menggarap lahan milik orang lain denga n pembayaran sewanya berdasarkan bagi hasil. Satuannya orang. 8. Biaya tunai adalah besarnya nilai uang tunai yang dikeluarkan petani untuk membeli pupuk, benih, pestisida, upah tenaga kerja luar keluarga, sewa traktor/ternak, dan lain- lain. Untuk petani penyakap maka komponen biaya tunainya ditambah dengan biaya sakap. Satuannya Rupiah. 9. Biaya yang diperhitungkan adalah pengeluaran untuk input milik sendiri meliputi tenaga kerja dalam keluarga dan penyusutan. Satuannya adalah Rupiah. 10. Biaya usahatani total adalah merupakan penjumlahan antara biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan . Satuannya adalah Rupiah.

11. Penerimaan (nilai produksi) adalah nilai yang diperoleh dari hasil kali antara jumlah produksi dengan dengan harga jualnya. Satuannya adalah Rupiah. 12. Pendapatan kotor usahatani adalah selisih antara penerimaan usahatani dan biaya tunai usahatani. Satuannya Rupiah. 13. Pendapatan bersih usahatani adalah selisih antara penerimaan usahatani dengan biaya usahatani total (biaya tunai dan diperhitungkan). Satuannya Rupiah.

Produktivitas Padi Ladang

Pupuk Benih Pestisida Tenaga Kerja

dalam Rumah Tangga Rumah Tangga

Tenaga Kerja Luar

Analisis Fungsi Produksi Cobb-Douglas Elastisitas Faktor-faktor Produksi

Analisis Pendapatan

Analisis R/C

Analisis Efisiensi Ekonomis Faktor-faktor Produksi

Kesimpulan

Gambar 2. Bagan Prosedur Analisis Pendapatan dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN


5.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Desa Wanajaya termasuk dalam wilayah Kecamatan Teluk Jambe, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Jarak desa Wanajaya dengan ibukota kecamatan sekitar 11 kilometer dengan waktu tempuh selama kurang lebih satu jam. Sedangkan jarak ke ibukota kabupaten sekitar 13 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih selama satu setengah jam. Batas-batas administrasi Desa Wanajaya adalah Desa Wanakerta di sebelah utara, Desa Taman Mekar di sebelah selatan, Kali Cibeet Bekasi di

sebelah barat, dan Kehutanan di sebelah timur. Secara keseluruhan luas wilayah Desa Wanajaya adalah sekitar 1.065,07 hektar yang terdiri atas 147.07 hektar (13.809 %) lahan yang telah digunakan dan sekitar 918 hektar merupakan (86.19 %) lahan terlantar. Gambaran secara rinci mengenai luas Desa Wanajaya

berdasarkan penggunaan lahan ditunjukkan dalam Tabel 5. Tabel 5. Penggunaan Lahan di Desa Wanajaya Tahun 2004
Penggunaan Lahan Sawah irigasi teknis Sawah irigasi 1/2 teknis Sawah tadah hujan Tegalan/Ladang Pemukiman umum Pasar Tempat ibadah Kuburan/makam Tempat rekreasi dan olahraga Perkantoran pemerintah Sekolah/lainnya Lahan Terlantar Total Sumber : Profil Desa Wanajaya, 2004. Luas (Ha) 18.61 13.80 21.50 38.10 50.00 0.20 0.17 1.78 0.92 0.74 1.23 918.00 1,065.07 Persentase 1.75 1.30 2.02 3.58 4.69 0.02 0.02 0.17 0.09 0.07 0.12 86.19 100.00

Secara umum topografi Desa Wanajaya sebagian besar merupakan daerah perbukitan. Desa Wanajaya terdiri atas daerah dataran seluas sekitar 187.07 hektar dan daerah perbukitan sekitar 878 hektar seperti ditunjukkan dalam Tabel 6 berikut. Tabel 6. Topografi atau Bentang Lahan Desa Wanajaya Tahun 2004
Jenis daratan Dataran Perbukitan/pegunungan Total Sumber : Profil Desa Wanajaya, 2004. Luas (Ha) 187.07 878.00 1065.07 Persentase 17.56 82.44 100.00

Dari kondisi geografis, Desa Wanajaya berada pada ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut dengan kemiringan lahan 30 sampai 40 persen yang merupakan daerah perbukitan. Curah hujan rata-rata sekitar 1454.5 mm per tahun berdasarkan data tahun 2002 dan termasuk dalam kelas iklim B atau daerah beriklim basah dengan vegetasi hujan tropis berdasarkan standar Schmidt dan Ferguson (BAPPEDA Kabupaten Karawang, 2003). Jumlah bulan basah rata-rata tujuh bulan, bulan lembab rata-rata dua bulan, dan jumlah bulan kering rata-rata tiga bulan dengan suhu rata-rata sekitar 27C dan intensitas penyinaran matahari sekitar 66 persen. Tanah di Desa Wanajaya memiliki pH sekitar empat sampai lima, denga n kapasitas tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa (KB) yang tergolong sedang. Berdasarkan ketiga indikator kesuburan tanah tersebut, disimpulkan bahwa tingkat kesuburan tanah di Desa Wanajaya termasuk dalam golongan rendah dan memiliki ciri-ciri bertekstur lempung, struktur gumpal atau keras, dan solum dalam. Jumlah penduduk desa Wanajaya hingga Januari 2005 tercatat sebanyak 4024 jiwa (1237 kepala keluarga) dan komposisi penduduk tergolong merata antara laki- laki dan perempuan dimana penduduk dengan jenis kelamin laki- laki

berjumlah 2033 orang (50.52 %), dan penduduk jenis kelamin perempuan berjumlah 1991 orang (49.48 %). Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 1971 Tarigan JJ. (1997) dalam BAPPEDA Kabupaten Karawang (2003), batas usia 10 tahun ke atas digunakan untuk menentukan apakah seseorang termasuk dalam angkatan kerja atau bukan. Dalam Tabel 7 dapat dilihat bahwa dari seluruh penduduk di Desa Wanajaya terdapat 3114 orang (77.39 %) angkatan kerja sehingga dari segi jumlah angkatan kerja Desa Wanajaya tergolo ng cukup potensial. Tabel 7. Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2005
Kelompok Umur Jumlah (Tahun) (orang) 0-9 910 10 - 19 775 20 29 791 30 39 667 40 49 416 50 59 278 = 59 187 Total 4.024 Sumber : Monogafi Desa Wanajaya, 2004. Persentase 22.61 19.26 19.66 16.58 10.34 6.91 4.65 100.00

Dari segi mata pencahariannya, penduduk Desa Wanajaya cukup beragam tetapi sebagian besar penduduk desa atau sebanyak 2343 orang (58.23 %) masih bekerja di bidang pertanian baik sebagai petani ataupun buruh tani. Penduduk yang bermata pencaharian sebagai buruh tani sebanyak 748 orang (18.59 %) sementara penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani (pemilik) sebanyak 1595 orang (39.64 %) dan sebagian kecil penduduk atau sebanyak 125 orang (3.11 %) bekerja sebagai peternak. Kelompok penduduk lain yang proporsinya tergolong cukup besar adalah kelompok penduduk yang bermata pencaharian sebagai buruh swasta yaitu

sebanyak 879 orang (21.84 %) karena lokasi Desa Wanajaya masih dekat dengan kawasan industri Kabupaten Karawang. Penduduk lainnya bekerja di berbagai bidang diantaranya PNS, TNI/POLRI, Bidan desa, dokter, mantri kesehatan, pedagang, pengrajin, montir, dan kelompok yang tergolo ng berstatus sebagai pengangguran sebanyak 405 orang (10.06 %). Gambaran penduduk Desa

Wanajaya berdasarkan mata pencaharian disajikan dalam Tabel 8. Tabel 8. Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Mata Pencaharian Tahun 2005
Jenis Mata Pencaharian Jumlah (orang) Petani 1595 Buruh Tani 748 Buruh/swasta 879 PNS 75 Pengrajin 8 Pedagang 175 Peternak 125 Montir 3 Dokter 1 Bidan Desa 2 Mantri Kesehatan 2 Polisi 6 Pengangguran 405 Total 4024 Sumber Monografi Desa Wanajaya, 2004. Persentase 39.64 18.59 21.84 1.86 0.20 4.35 3.11 0.07 0.02 0.05 0.05 0.15 10.06 100.00

Dari segi pendidikan Desa Wanajaya tergolong rendah karena sebagia n besar penduduk atau sekitar 80 persen penduduk hanya mengikuti pendidikan formal hingga tamat sekolah dasar. Sisanya sekitar 20 persen dari penduduk menyelesaikan pendidikan hingga tamat sekolah lanjutan pertama atau sederajat dan memenuhi program pendidikan wajib 9 tahun yang digerakkan pemerintah. Gambaran secara rinci tentang penduduk Desa Wanajaya berdasarkan tingkat pendidikan ditunjukkan dalam Tabel 9.

Tabel 9. Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun 2004
Tingkat Pendidikan Belum Sekolah Usia 7-45 thn tidak pernah sekolah Pernah sekolah SD tetapi tidak tamat Tamat SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat D-1 D-2 D-3 S-1 Total Sumber : Monografi desa Wanajaya, 2004. Jumlah (orang) 502 30 905 1785 455 332 2 3 5 5 4024 Persentase 12.48 0.75 22.49 44.36 11.31 8.25 0.05 0.07 0.24 0.25 100.24

5.2. Karakteristik Petani Responden Karakteristik petani responden akan diuraikan berdasarkan umur petani, tingkat pendidikan, status dan luas lahan garapan, pengalaman berusahatani padi gogo atau padi ladang, jumlah anggota keluarga, status usahatani padi ladang, pekerjaan sampingan, keputusan bertani padi ladang, dan kondisi tempat tinggal. Karakteristik petani responden selengkapnya sebagai berikut : 1. Umur Petani Tenaga kerja produktif umumnya berada pada selang 25 hingga 40 tahun, sedangkan jika kurang atau lebih dari selang umur tersebut akan tergolong sebagai tenaga kerja kurang produktif tetapi masih termasuk dalam usia kerja. Karakteristik petani responden berdasarkan umur ditunjukkan pada Tabel 10. Tabel 10. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Umur
Kelompok Umur (tahun) 20-30 31-45 46-50 51-60 > 60 Total Jumlah Responden (orang) 5 13 6 1 15 40 Persentase 12.50 32.50 15.00 2.50 37.50 100.00

Berdasarkan umur, sebagian besar responden terdiri atas petani dari kelompok umur di atas 60 tahun atau yang sudah berusia lanjut yaitu sebanyak 15 orang atau 37.5 persen dari keseluruhan responden. Sedangkan petani responden yang paling sedikit berasal dari kelompok umur antara 51 hingga 60 yaitu hanya sebanyak 1 orang (2.5 %). Petani responden lainnya yang juga jumlahnya tergolong sedikit berasal dari kelompok umur 20 hingga 30 tahun yang berjumlah 5 orang (12.5 %). 2. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan akan berpengaruh terhadap tingkat adopsi teknologi dan inovasi yang sedang berkembang. Pada umumnya, semakin tinggi tingkat pendidikan, maka proses adopsi teknologi akan semakin cepat. Adapun tujuan teknologi dan inovasi adalah untuk memperbaiki usahatani baik dari segi produksi atau produktivitas. Berdasarkan tingkat pendidikan, petani responden lebih banyak

terkonsentrasi pada kelompok tidak tamat SD yaitu sebanyak 18 orang (45 %) dan kelompok yang tidak pernah mengikuti sekolah formal sama sekali yaitu sebanyak 12 orang (30 %). Hanya satu orang diantara petani responden yang menyelesaikan pendidikan SLTP hingga tamat. Karakteristik petani responden berdasarkan

tingkat pendidikan selengkapnya disajikan dalam Tabel 11. Tabel 11. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tingkat Pendidikan Tidak Pernah Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Total Jumlah Responden (Orang) 12 18 9 1 0 40 Persentase 30.00 45.00 22.50 2.50 0.00 100.00

3. Status dan Luas Lahan Garapan Status lahan garapan berpengaruh kepada produktivitas usahatani. Lahan berstatus sewa menyebabkan petani penyewa akan lebih terpacu untuk selalu lebih efisien dalam mengelola lahan agar produktivitas lahan lebih tinggi. Hal ini

disebabkan karena petani penyewa mempunyai kewajiban untuk memperhatikan nilai biaya sewa yang harus dibayar kepada pemilik lahan. Sementara itu lahan yang berstatus milik send iri pada umumnya relatif kurang produktif daripada lahan yang berstatus sewa karena petani pemilik tidak pernah memperhitungkan biaya sewa lahan yang harus dikeluarkan. Petani responden berdasarkan status pemilikan lahan dikelompokkan atas petani pemilik dan petani penggarap. Semua petani responden merupakan petani pemilik karena petani responden menggarap lahan tanpa mengeluarkan biaya sewa lahan. Sementara luas lahan garapan berpengaruh positif terhadap produktivitas usahatani dimana usahatani dengan luas lahan yang lebih besar akan memiliki produktivitas yang relatif lebih tinggi daripada usahatani dengan luas lahan yang lebih kecil. Luas lahan garapan petani responden bervariasi mulai dari petani yang memiliki luas lahan garapan kurang dari 0.5 hektar hingga petani yang memiliki luas lahan garapan lebih dari satu hektar. Sebagian besar petani responden memiliki luas lahan garapan antara 0.5 sampai 1 hektar yaitu sebanyak 25 orang (62.5 %). Sedangkan petani yang memiliki luas lahan garapan lebih dari satu hektar hanya sebanyak 7 orang (17.5 %). Petani responden yang memiliki luas lahan garapan kurang dari 0.5 hektar sebanyak 8 orang (20 %), dan tidak ada diantara petani responden yang memiliki luas lahan garapan lebih dari 2 hektar. Data secara rinci

mengenai karakteristik petani responden berdasarkan luas lahan garapan disajikan dalam Tabel 12. Tabel 12. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Luas Lahan Garapan
Luas Lahan (ha) < 0.5 0.5 - 1 12 >2 Total Jumlah Responden (orang) 8 25 7 0 40 Persentase 20.00 62.50 17.50 0.00 100.00

4. Pengalaman Berusahatani Padi Ladang Petani yang memiliki pengalaman berusahatani lebih lama akan lebih baik dan lebih matang dalam hal perencanaan usahatani karena lebih memahami berbagai aspek teknis dalam berusahatani. Demikian juga dengan berbagai

masalah non teknis yang biasanya dihadapi dalam berusahatani sehingga pada akhirnya produktivitasnya akan lebih tinggi. Kelompok petani responden dengan jumlah yang paling banyak berdasarkan pengalaman berusahatani adalah kelompok petani yang telah berusahatani padi ladang selama lebih dari 20 tahun yaitu sebanyak 15 orang (37.5 %). Hanya sebagian kecil dari petani responden yang memiliki pengalaman

berusahatani padi ladang kurang dari 5 tahun yaitu sebanyak 2 orang (5 %). Sedangkan petani yang lain selebihnya tersebar dalam kelompok dengan pengalaman berusahatani padi ladang antara 5 hingga 10 tahun sebanyak 6 orang (15 %). Kelompok antara 11 hingga 15 tahun sebanyak 9 orang (22.5 %), dan

kelompok antara 16 hingga 20 tahun sebanyak 8 orang (20 %). Gambaran petani berdasarkan pengalaman berusahatani secara rinci disajikan dalam Tabel 13.

Tabel 13. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Pengalaman Usahatani


Pengalaman Berusahatani Padi Ladang (Tahun) <5 5 -10 11-15 16-20 > 20 Total Jumlah Responden (Orang) 2 6 9 8 15 40 Persentase 5.00 15.00 22.50 20.00 37.50 100.00

Seluruh petani responden menyatakan bahwa berusahatani padi ladang merupakan usaha pokok untuk memenuhi kebutuhan beras sehingga rumah tangga petani tidak perlu membeli beras untuk pangan sehari- hari. Selain itu para petani juga berusahatani padi ladang karena tidak memiliki keahlian lain selain bertani dan juga karena kondisi alam seperti ketersediaan air, kesuburan tanah, dan ketersediaan modal yang hanya sesuai dengan komoditas padi ladang. Bertani padi ladang juga dilakukan secara turun temurun juga oleh karena faktor faktor yang telah disebutkan di atas. Petani yang memiliki usaha sampingan selain usahatani padi ladang memiliki usaha sampingan sebagai perangkat desa seperti Ketua RT ataupun sebagai Hansip atau Linmas (Perlindungan Masyarakat). 5. Jumlah Anggota Keluarga Jumlah anggota keluarga akan mempengaruhi tingkat produktivitas kerja dikaitkan dengan jumlah penggunaan (sumbangan) tenaga kerja terhadap kegiatan produksi usahatani. Semakin banyak jumlah anggota keluarga maka semakin

banyak pula tenaga kerja yang dapat digunakan dalam kegiatan produksi usahatani sehingga produktivitas akan lebih tinggi, dan demikian juga sebaliknya. Jumlah anggota keluarga juga akan berpengaruh terhadap jumlah tanggungan keluarga atau tingkat konsumsi rumahtangga.

Sebagian besar responden atau sebanyak 27 rumahtangga (67.5 %) tergolong ke dalam kelompok dengan anggota keluarga antara 3 hingga 5 orang, dan hanya sebanyak 5 rumah tangga (12.5 % ) dari keseluruhan responden yang memiliki anggota keluarga lebih dari 5 orang, sedangkan rata-rata rumah tangga petani responden memiliki sebanyak sekitar 4 orang. Gambaran secara rinci

mengenai karakteristik petani responden berdasarkan jumlah anggita keluarga disajikan dalam Tabel 14. Tabel 14. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga
Kelompok < 3 orang 3 - 5 orang > 5 orang Total Jumlah Anggota RT 8 27 5 40 Persentase 20.00 67.50 12.50 100.00

6. Status Usahatani Padi Ladang Status Usahatani padi ladang, dalam artian apakah usahatani padi ladang merupakan mata pencaharian utama atau sampingan, akan mempengaruhi sikap petani dalam menentukaan komoditi usahatani mana yang akan menjadi prioritas (fokus) yang mendapat perhatian atau alokasi sumberdaya yang relatif lebih besar dan yang lebih kecil. Petani yang bermatapencaharian utama usahatani padi

ladang akan lebih memfokuskan pekerjaan atau sumberdayanya terhadap usahatani padi ladang, sehingga petani akan lebih mengusahakan peningkatan produksi dan produktivitas padi ladang daripada komoditi yang menjadi usahatani sampingan. Seluruh petani yang menjadi responden menyatakan bahwa mereka memilih berusahatani padi ladang sebagai matapencaharian utama sehingga sumberdaya yang dimiliki petani dialokasikan terutama untuk usahatani padi ladang.

7. Pekerjaan Sampingan Jenis pekerjaan sampingan yang dimiliki petani akan berpengaruh terhadap pendapatan tambahan yang diperoleh rumahtangga, sehingga tingkat pendapatan tersebut akan berpengaruh terhadap produktivitas usahatani. Pendapatan dari pekerjaan sampingan akan digunakan sebagai tambahan modal dalam penyediaan sarana produksi yang lebih banyak sehingga hasil produksi yang diperoleh akan lebih besar. Selain bertani, responden pada umumnya tidak memiliki pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatan rumahtangga karena tidak mempunyai keahlian lain selain bertani. Sehingga sumber pendapatan yang menjadi penunjang usahatani padi ladang adalah dengan dengan berkebun tetapi umumnya tidak dikelola secara baik atau tidak diusahakan secara kontinyu. 8. Keputusan Bertani Padi Ladang Keputusan bertani padi ladang dalam menentukan jenis, pola tanam, dan teknik produksi lainnya petani bebas menentukan sendiri atau dipengaruhi adat istiadat setempat yang me ngikat kebebasan petani dalam mengambil keputusan usahatani. Keputusan yang diambil akan berpengaruh terhadap produktivitas dan kemajuan usahatani karena petani yang dinamis akan lebih mampu mengadopsi teknologi usahatani. Teknologi dan inovasi bertujuan untuk meningkatkan

produktivitas padi ladang dan taraf hidup petani. Keseluruhan petani responden menyatakan bahwa keputusan dalam berusahatani diambil sendiri dengan kebebasan berdasarkan pemahaman dan pengalaman petani dan tidak terikat dengan aturan atau adat istiadat setempat. Segala usaha yang bertujuan untuk peningkatan produktivitas usahatani terutama

padi ladang akan dilakukan petani sesuai dengan kemampuan sumberdayanya tanpa dipengaruhi faktor adat istiadat setempat. 9. Kondisi Tempat Tinggal Karakteristik petani responden berdasarkan kondisi tempat tinggal dilihat berdasarkan kondisi atap, dinding, dan lantai rumah. Atap petani responden

seluruhnya masih menggunakan atap rumbia. Dinding atau tembok rumah petani responden dibedakan menjadi dinding permanen, semi permanen, papan/kayu, dan bilik bambu. Semua petani responden mempunyai tempat tinggal dengan dinding yang terbuat dari bilik bambu. Kondisi tempat tinggal petani responden dilihat berdasarkan kondisi lantai dibedakan menjadi lantai keramik, semen atau ubin, kayu atau papan, dan tanah. Semua petani responden memiliki tempat tinggal dengan lantai beralaskan tanah. Dari semua petani responden juga tidak ada yang mempunyai fasilitas kamar mandi atau WC yang tergolong layak.

VI. GAMBARAN USAHATANI PADI LADANG DI DESA WANAJAYA


6.1. Budidaya Padi Ladang Kegiatan berusahatani padi ladang di Desa Wanajaya dilakukan mulai dari kegiatan persiapan lahan dalam dengan mengolah lahan pada saat datangnya musim hujan sekitar bukan Oktober atau November tergantung perkiraan petani berdasarkan pengalamannya sampai dengan masa panen sekitar bulan Maret atau April. Kegiatan berusahatani padi ladang di Desa Wanajaya umumnya dilakukan dengan sistem monokultur dan tanam gilir. Jenis tanaman yang biasanya ditanam setelah padi ladang antara lain kacang tanah, kacang panjang, ubi kayu, dan tanaman palawija lainnya. Varietas padi ladang yang digunakan petani adalah jenis Ciherang yang sebenarnya merupakan varietas padi sawah. Berdasarkan pengalaman petani di Desa Wanajaya varietas padi sawah jenis Ciherang dapat memberikan hasil yang relatif lebih tinggi jika ditanam di lahan kering daripada varietas pai ladang lainnya. Varietas jenis Ciherang juga dianggap sesuai dengan kondisi tanah dan iklim di Desa Wanajaya oleh para petani. 6.1.1. Persiapan Lahan Penentuan waktu yang paling tepat untuk mengolah tanah dilakukan petani berdasarkan pengalaman dari masa tanam sebelumnya. Berdasarkan pengalaman tersebut jika petani memperkirakan bahwa musim hujan akan mulai berlangsung secara merata pada bulan tertentu, maka sekitar dua minggu hingga satu bulan sebelum bulan tersebut merupakan saat yang paling tepat untuk melakukan pengolahan lahan.

Pengolahan tanah dilakukan petani responden dengan cara me ncangkul dengan menggunakan cangkul dan tidak ada petani responden yang menggunakan mesin atau ternak untuk membajak karena biaya penggunaan mesin pembajak (traktor) yang sangat tinggi dan karena tidak ada petani memiliki ternak pembajak sehingga kegiatan mencangkul tanah dilakukan hanya dengan mengandalkan tenaga manusia dari dalam maupun dari luar keluarga. Pada pengolahan pertama, mencangkul dilakukan sedemikian rupa sehingga tanahnya terbalik, yaitu yang semula di atas atau di permukaan menjadi di bagian bawah dan demikian sebaliknya yang semula di bagian bawah menjadi di bagian atas. Pengolahan ini dimaksudkan untuk mematikan dan membusukkan rerumputan yang semula terdapat di permukaan tanah dan kemudian akan terbenam ke bagian bawah tanah. Pembalikan tanah bagian bawah ke atas betujuan untuk menganginkan tanah memberikan kesempatan bagi tanah untuk melepaskan racun-racun yang sangat mungkin terbentuk dalam tanah. Keadaaan ini dibiarkan selama dua minggu hingga rerumputan yang terbenam dianggap sudah membusuk atau melapuk dan racun-racun yang ada sudah menguap ke udara. Pengolahan kedua merupakan penyisiran tanah yaitu mengusahakan agar tanah yang sebelumnya merupakan bongkahan atau gumpalan-gumpalan besar dipecahkan dan diremukkan hingga sekecil-kecilnya. Bagian atas tanah juga diolah sedemikian rupa dengan menggunakan garpu atau garu sehingga lahan yang akan ditanami padi menjadi sedatar mungkin. Kemudian sekitar dua minggu setelah pengolahan kedua, dilakukan pengolahan ketiga yang merupakan kegiatan

mencangkul tanah yang sebelumnya telah diremukkan dan diratakan pada pengolahan pertama dan kedua. Pengolahan ketiga ini dilakukan sedemikian rupa sehingga arah dari pembajakan tanah pertama membentuk siku dengan arah dari pembajakan tanah kedua. Kemudian pada tahap pengolahan ini juga diusahakan sedemikian rupa sehingga bagian tengah dari lahan yang diolah sedikit lebih tinggi daripada bagian pinggir lahan dengan maksud agar bagian tengah lahan tidak tergenang air jika hujan turun secara berlebihan tetapi akan mengalir ke bagian pinggir lahan, sebab walaupun padi ladang sangat tergantung pada air hujan dalam pertumbuhannya namun air yang berlebihan juga akan menyebabkan kerusakan pada padi ladang. Untuk lahan yang permukaannya miring, terutama pada daerah berbukit, lahan dibuat berbentuk terasering untuk mencegah pengendapan air dan membentuk parit-parit untuk mencegah erosi agar kesuburan tanah tetap terjaga. Biaya upah yang berlaku secara umum bagi para buruh tani untuk proses pengolahan tanah adalah Rp. 20 ribu per hari dengan jam kerja selama 6 jam. 6.1.2. Penanaman Penanaman dilakukan dengan menggunakan alat tugal yang terbuat dari kayu untuk membuat lubang- lubang tanam pada kedalaman sekitar 2 hingga 5 cm pada lahan yang sebelumnya sudah diolah terlebih dahulu, kemudian ke dalam lubang dimasukkan sekitar 5 sampai 7 bulir padi jenis Ciherang dengan jarak tanam pada umumnya kira-kira 20 X 20 sentimeter hingga 30 X 30 sentimeter. Setelah bulir ditugalkan ke dalam tiap-tiap lubang tanam kemudian ditutup kembali dengan maksud agar bulir yang ditugalkan tidak diganggu oleh burung atau binatang-binatang perusak atau pemakan bulir lainnya.

Pola tanam yang umumnya digunakan petani responden adalah dengan sistem tanam gilir dan monokultur dengan menanam padi ladang kemudian menanam pisang di sekeliling lahan sebagai tanaman pencegah erosi. Penanaman padi ladang pada umumnya dilakukan dengan sistem padi-palawija atau padi-bera. Pola tanam padi-bera yang dilakukan sebagian petani responden disebabkan modal awal untuk penanaman palawija setelah panen padi yang tidak mencukupi sehingga setelah masa panen padi ladang para petani lebih banyak yang memberakan lahannya untuk kemudian ditanami padi lagi pada musim hujan berikutnya. 6.1.3. Pemupukan Pemupukan sangat perlu dilakukan untuk memperoleh hasil gabah yang maksimal terutama di lahan kering yang memiliki karakteristik marjinal. Pertanaman padi ladang yang ideal yaitu yang mampu menghasilkan padi dalam bentuk gabah kering sebanyak 5 ton per hektar menyerap unsur h dari dalam ara tanah antara lain sebanyak 40 kilogram N yang setara dengan 90 kilogram pupuk Urea, 10 kilogram P yang setara dengan 50 kilogram pupuk TSP, dan 75 kilogram K yang setara dengan 180 kilogram pupuk KCl per hektar per musim tanam, dan agar laha n tetap subur dan hasil gabah tetap tinggi maka jerami juga harus dikembalikan ke lahan dan tanaman harus dipupuk (Hermawan, 2000). Pemupukan pertama dilakukan dengan menggunakan pupuk Urea dan TSP umumnya diberikan dengan cara disebarkan ke dalam lahan secara merata setelah penanaman benih, dan sebagian petani memberikan pupuk Urea dan TSP dalam bentuk campuran dengan cara mencampurkan pupuk dengan benih padi pada saat penanaman. Sementara untuk meningkatkan efisiensi pemupukan pupuk

nitrogen harus diberikan secara split atau terpisah (Puslitbang Tanaman Pangan, 1989). Harga pupuk yang sangat tinggi bagi petani menyebabkan penggunaan pupuk yang tidak optimal karena tidak sesuai dengan dosis pupuk ideal, bahkan sebagian petani tidak menggunakan pupuk sama sekali. Petani di Desa Wanajaya umumnya membeli pupuk dalam bentuk campuran pupuk Urea dan TSP dan tidak ada petani responden yang menggunakan pupuk TSP. Harga pupuk campuran Urea dan TSP rata-rata sekitar Rp 1400 per kilogram dengan cara membeli petani di kios tani yang terletak di ibukota kecamatan dengan uang tunai. 6.1.4. Pengobatan Pengobatan dilakukan untuk mencegah atau membasmi hama dan penyakit yang menyerang tanaman padi ladang. Jenis pestisida yang banyak digunakan petani responden adalah decis untuk mencegah penyakit kungkang atau blast yang sering menyerang tanaman padi ladang di Desa Wanajaya. Jenis penyakit ini menyebakan pembusukan pada batang padi sehingga mematikan tanaman padi. Jenis penyakit lain yang sering menyerang tanaman padi ladang di desa ini adalah wereng, mentul, dan lain- lain. Jenis obat lain yang juga digunakan petani adalah sidametrin, trobos, azodrin, akodan, elsan, dan hanya sebagian kecil petani yang menggunakan furadan. Pestisida jenis decis dibeli petani sekitar Rp. 22 ribu per 100 mililiter di kios tani yang terletak di ibukota kecamatan. Pengobatan dilakukan dengan cara penyemprotan antara sekali hingga dua kali penyemprotan dalam satu masa tanam tergantung kemampuan keuangan petani.

6.1.5. Penyiangan Penyiangan dilakukan untuk membersihkan lahan dari gulma atau tanaman pengganggu tanaman utama (padi ladang). Proses penyiangan dilakukan sekitar sebulan setelah benih ditanamkan atau ditugalkan dengan menggunakan sabit atau kored dan cangkul. Pada periode ini benih mulai bertumbuh sehingga

pertumbuhan tanaman pengganggu seperti rerumputan, semak belukar, akan menjadi saingan berat bagi tanaman utama dalam memperoleh unsur hara dari dalam tanah bahkan dapat mematikan tanaman utama. atau gulma jika tidak segera dimusnahkan. Proses penyiangan sebagian besar dilakukan oleh tenaga kerja wanita baik dari dalam maupuan dari luar keluarga. Petani melakukan penyiangan antara satu kali hingga dua kali berdasarkan intensitas serangan gulma. Upah yang berlaku secara umum untuk proses penyiangan adalah sekitar Rp.6000 untuk setiap tenaga kerja yang umumnya adalah wanita, per hari dengan jam kerja selama 6 jam kerja per hari. 6.1.6. Pemanenan Umur panen untuk varietas Ciherang yang digunakan petani responden rata-rata berumur 120 hingga 150 hari sejak ditanam. Hasil panen padi ladang digunakan untuk kebutuhan makanan pokok dan sebagian disimpan di lumbung padi untuk nantinya digunakan sebagai benih di musim tanam berikutnya jika tidak memiliki uang tunai untuk membeli benih dari kios atau toko dengan resiko kualitas yang jelas lebih rendah. Sebagian padi yang disimpan juga digunakan untuk tujuan berjaga-jaga atau untuk mengantisipasi kebutuhan mendesak rumah

tangga sehari- hari seperti biaya pendidikan anak, biaya pengobatan dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Proses pemanenan dilakukan dengan menggunakan alat-alat yang masih tradisional seperti sabit atau kored, cangkul, dan lain- lain. Pemanenan biasanya dilakukan dengan mengupah buruh tani dengan sistem bawon yaitu dengan menggunakan seperlima dari hasil panen keseluruhan sebagai upah keseluruhan pekerja pemanen dalam bentuk gabah kering panen. Proses pengeringan padi dilakukan pada media tikar atau kuda-kuda bambu atau plastik terval di halaman rumah masing- masing petani. Padi yang sudah kering dan siap untuk digiling dibawa ke tempat penggilingan padi dan diolah hingga dalam bentuk beras dengan biaya pengolahan sebesar 100 kilogram beras untuk setiap satu ton beras yang telah diolah dengan menyesuaikan harga beras pada saat itu atau dalam bentuk uang tunai. 6.2. Struktur Biaya Biaya yang dikeluarkan petani terdiri dari biaya tunai dan biaya diperhitungkan. Biaya tunai didefinisikan sebagai biaya untuk pupuk, pestisida atau obat-obatan pemberantas hama dan penyakit tanaman, tenaga kerja luar keluarga, dan pajak usahatani yang dikeluarkan petani selama proses produksi padi ladang. Pengeluaran usahatani yang termasuk dalam biaya diperhitungkan adalah pengeluaran usahatani yang dikeluarkan petani tetapi tidak secara tunai seperti biaya benih, nilai tenaga kerja dalam keluarga, dan penyusutan alat-alat pertanian. Biaya-biaya yang dikeluarkan petani padi ladang dapat dilihat dalam Tabel 15.

Tabel 15. Biaya-biaya yang Dikeluarkan Petani Padi Ladang per Hektar per Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005
Komponen BIAYA TUNAI Pupuk Pestisida Tenaga Kerja Luar Keluarga Pajak Usahatani Total Biaya Tunai BIAYA DIPERHITUNGKAN Benih Tenaga Kerja Dalam Keluarga Penyusutan Peralatan Total Biaya Diperhitungkan BIAYA TOTAL Satuan Kg Liter HOK Rp Rp Kg HOK Rp Rp Rp Jumlah 110.8 1.7 48.34 Harga/satuan (Rp) 1.454,46.724,6.000,Nilai (Rp) 161.103,79.431,290.040,20.000,550.574,144.420,1.424.220,54.200,1.622.840,2.173.414,Persentase 7.41 3.65 13.34 0.92 25.33 6.64 65.53 2.49 74.67 100.00

60 237.37

2.407,6.000,-

6.3. Analisis Pendapatan Analisis pendapatan dilakukan untuk menentukan nilai yang diperoleh petani dari kegiatan berusahatani padi ladang. Analisis yang dilakukan meliputi analisis pendapatan atas biaya total dan analisis pendapatan atas biaya tunai. Perhitungan pendapatan usahatani padi ladang ini dilakukan untuk rata-rata per satu hektar lahan. Dalam penelitian ini, analisis pendapatan dilakukan untuk satu musim tanam. Karena sifat padi ladang yang menggantungkan pengairan pada curah hujan, dalam satu tahun, seperti di daerah lain pada umumnya, maka kegiatan usahatani padi ladang di Desa Wanajaya dilakukan dalam satu musim tanam. Kegiatan usahatani padi ladang dimulai dari awal musim hujan sekitar bulan Oktober dan November hingga masa panen pada bulan April.

Tabel 16. Analisis Pendapatan Cabang Usahatani Padi Ladang per Hektar per Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005
Komponen TOTAL PENERIMAAN Total Biaya Tunai Total Biaya Diperhitungkan BIAYA TOTAL USAHATANI PENDAPATAN ATAS BIAYA TOTAL PENDAPATAN ATAS BIAYA TUNAI R/C ATAS BIAYA TUNAI R/C ATAS BIAYA TOTAL Nilai (Rupiah) 1.654.900,550.574,1.625.180,2.175.754,-520.854,1.104.326,3.01 0.76

Produksi rata-rata padi ladang yang dihasilkan sebesar 1,273 kilogram per hektar per musim tanam dalam bentuk gabah kering giling. Harga jual gabah kering pada masa panen rata-rata sebesar Rp 1,300 per kilogram, sehingga ratarata penerimaan petani sebesar Rp 1,654,900 per hektar per musim tanam. Biaya total yang dikeluarkan petani dalam proses produksi rata-rata sebesar Rp 2,175,754 per hektar per musim tanam sehingga pendapatan atas biaya totalnya sebesar Rp -520,854. Sedangkan, besar rata-rata biaya tunai yang dikeluarkan petani di daerah penelitian sebesar Rp 550,574 per hektar per musim tanam sehingga pendapatan atas biaya tunai sebesar Rp 1,104,326. Sehingga jika dilihat dari sisi pendapatan atas biaya total, maka usahatani padi ladang tidak menguntungkan bagi petani. 6.4. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (Analisis R/C ratio) Dari hasil analisis pendapatan dan biaya usahatani padi ladang didapat

rasio R/C atas biaya total sebesar 0,76. Artinya bahwa untuk setiap satu rupiah biaya total yang dikeluarkan dalam usahatani padi ladang, maka petani akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 0.76. Sedangkan rasio R/C atas biaya tunai adalah sebesar 3.01 yang berarti bahwa untuk setiap satu rupiah biaya tunai yang

dikeluarkan untuk usahatani padi ladang, maka petani akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 3,01. Berdasarkan nilai rasio R/ C atas biaya total yang lebih kecil dari 1 yaitu sebesar 0.76, maka dapat disimpulkan bahwa usahatani padi ladang di daerah penelitian tidak menguntungkan bagi petani. Syarat suatu usahatani dikatakan menguntungkan jika rasio R/C atas biaya total lebih besar dari 1.

VII. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI DAN EFISIENSI EKONOMI CABANG USAHATANI PADI LADANG

7.1. Analisis Fungsi Produksi Model fungsi produksi yang digunakan untuk menduga fungsi produksi dalam penelitian ini adalah model fungsi produksi Cobb-Douglas. Faktor- faktor produksi yang diduga berpengaruh dalam usahatani padi ladang adalah pupuk, tenaga kerja luar keluarga, tenaga kerja dalam keluarga, benih, dan pestisida. Hasil pendugaan model dan hubungan antara variabel bebas yaitu faktor- faktor produksi dengan variabel dependen yaitu produksi padi ladang dapat dilihat dalam Tabel 17. Tabel 17. Analisis Ragam Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya
Sumber Ragam Regresi Galat Total Derajat Bebas 5 30 35 Jumlah Kuadrat 11.2161 7.6180 18.8341 Kuadrat Tengah 2.2432 0.2539 F - hitung 8.83 Peluang 0.000

Berdasarkan pendugaan model produksi yang diperoleh, seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 17, didapat nilai F- hitung sebesar 8.83 yang signifikan pada taraf kepercayaan 95 persen. Ini berarti bahwa faktor- faktor produksi yang digunakan secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap produksi padi ladang.

Tabel 18. Hasil Analisis Pendugaan Fungsi Produksi Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya
Simpangan Baku Koefisien 0.004 1.989 Konstanta 0.248 0.405 Ln Pupuk 0.530 0.196 Ln Tenaga Kerja Luar RT 0.217 0.068 Ln Tenaga Kerja Dalam RT 0.101 0.209 Ln Benih 0.069 0.065 Ln Pestisida R-Sq = 59.6% R-Sq (adjusted) = 52.8% Variabel Koefisien Regresi T Hitung 0.00 0.61 2.69 3.19 0.48 1.06 Pvalue 0.999 0.545 0.011 0.003 0.632 0.296 VIF 1.3 1.8 1.2 2.3 1.3

Berdasarkan data pada Tabel 18, maka model fungsi produksi padi ladang per hektar dapat diduga dengan persamaan sebagai berikut : Ln Produktivitas = 0.004 + 0.2484 Ln Pupuk + 0.5302 Ln Tenaga Kerja Luar Keluarga + 0.21728 Ln Tenaga Kerja Dalam Keluarga + 0.1013 Ln Benih + 0.06968 Ln Pestisida Dari hasil pendugaan model ditunjukkan juga bahwa nilai koefisien determinasi (R2 ) didapat sebesar 59.6 persen dengan nilai koefisien determinasi terkoreksi (R2 -adjusted) sebesar 52.8 persen. Nilai koefisien determinasi (R2 ) tersebut berarti bahwa sebesar 59.6 persen dari variasi produksi dapat dijelaskan secara bersama-sama oleh faktor pupuk, tenaga kerja luar keluarga, tenaga kerja dalam keluarga, benih, dan pestisida sedangkan sebesar 40.4 persen lagi dipengaruhi oleh faktor- faktor lain di luar model. Berdasarkan pengamatan di lokasi penelitian, faktor- faktor lain di luar model fungsi produksi yang diduga juga berpengaruh terhadap produksi padi ladang adalah tingkat kesuburan lahan, intensitas serangan hama dan penyakit tanaman. Di samping itu faktor iklim, dan ketertarikan petani yang kurang untuk meningkatkan produksi dan produktivitas usahatani padi ladang akibat ketidakjelasan status kepemilikan atas lahan yang diusahakan petani dan karena

cabang usahatani padi ladang tidak menguntungkan turut mempengaruhi produksi padi ladang. Nilai t hitung untuk tenaga kerja dalam keluarga dan tenaga kerja luar keluarga berpengaruh nyata terhadap nilai produksi pada taraf kepercayaan 99 persen (a = 0.05). Sedangkan pengaruh faktor pupuk, benih, dan pestisida tidak signifikan pada taraf kepercayaan yang ditetapkan. 7.2. Elastisitas Produksi dan Skala Usaha Dalam model fungsi produksi Cobb-Douglas nilai koefisien regresi merupakan nilai elastisitas dari masing- masing variabel tersebut. Pengaruh masing- masing variabel terhadap produksi adalah sebagai berikut : Berdasarkan Tabel 18 didapat bahwa jumlah nilai elastisitas faktor-faktor produksi sebesar 1.17. Angka ini merupakan penjumlahan dari koefisien regresi faktor produksi yang dalam hal ini dianggap sebagai nilai elastisitas dari faktor tersebut. Karena jumlah nilai elastisitas faktor produksi lebih besar dari 1, maka dapat disimpulkan bahwa usahatani padi ladang berada dalam daerah produksi increasing return to scale. Dengan nilai elastisitas produksi sebesar 1.17, berarti setiap penambahan faktor produksi secara bersama-sama sebesar 1 persen, maka akan meningkatkan produksi sebesar 1.17 persen. Nilai elastisitas pupuk sebesar 0.2484, berarti jika penggunaan pupuk ditingkatkan sebesar satu persen, maka produksi padi ladang akan meningkat sebesar 0.2484 persen dengan asumsi ceteris paribus. Namun berdasarkan uji t diperoleh bahwa faktor produksi pupuk tidak berpengaruh nyata terhadap produksi padi l dang. Hal ini dikarenakan penggunaan pupuk diantara petani a

cenderung sama, sehingga tidak ditemukan adanya variasi data penggunaan pupuk. Menurut Badan Perencana Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Karawang dalam Laporan Studi Penanganan dan Pemanfaatan Lahan Kritis di Kabupaten Karawang Tahun 2003, tanah di daerah penelitian termasuk jenis latosol. Jenis latosol merah coklat kekuningan, bertekstur lempung, struktur gumpal/keras, dan solum dalam. Kesuburan tanah diukur dengan menggunakan tiga indikator yaitu nilai pH, kapasitas tukar kation (KTK), dan kejenuhan basa (KB). Dengan menggunakan ketiga indikator tersebut, nilai pH di lokasi penelitian adalah 4 sampai 5 sehingga termasuk tanah asam. Sedangkan kapasitas tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa (KB) di lokasi penelitian termasuk dalam kelompok sedang. Sehingga secara keseluruhan disimpulkan bahwa tingkat kesuburan tanah di lokasi penelitian tergolong rendah. Pada tanah-tanah asam banyak ditemukan unsur Aluminium dapat ditukar (Aldd). Unsur Al ini selain bersifat racun bagi tanaman juga bersifat mengikat fosfor (P2 O5 ), sehingga menjadi tidak tersedia atau tidak dapat diserap tanaman. Pada tanah asam biasa dijumpai gejala keracunan unsur Fe yang dicirikan adanya bercak-bercak pada daun berwarna kuning kemerahan. Derajat keasaman (pH) tanah yang rendah dapat ditingkatakan dengan program pengapuran. Tindakan untuk mengatasi masalah KTK (Kapasitas Tukar Kation), KB (Kejenuhan Basa), dan pH (derajat keasaman) yang merupakan tiga indikator kesuburan tanah, cukup dengan tindakan yang sama yaitu dengan pemupukan bahan organik (pupuk kandang). Selain itu dapat juga dilakukan dengan

pengapuran menggunakan jenis kapur tanah CaCO3 sebelum penanaman karena ketiga parameter kesuburan tersebut intinya saling berhubungan. Dosis pemberian kapur adalah 0.4 sampai 0.5 ton per hektar, sedangkan untuk pupuk kandang nilai rata-ratanya adalah tiga kali dari dosis pengapuran, tetapi bila sudah diberi kapur tidak perlu lagi menggunakan pupuk kandang. Sedangkan untuk dosis atau takaran pupuk yang dianjurkan BAPPEDA dalam budidaya padi ladang adalah Urea sebanyak 100 kilogram per hektar dengan tiga kali pemberian, masing- masing sepertiga bagian untuk pupuk dasar, pada stadia vegetatif (umur tanaman 14,35, dan 49 hari setelah tanam). Pupuk TSP sebanyak 100 kilogram per hektar, dan KCl 100 kilogram per hektar yang masing- masing diberikan sekaligus saat tanam. Pupuk yang digunakan di lokasi penelitian rata-rata sebanyak 110.8 kilogram per hektar Urea dan TSP dalam bentuk campuran yang diberikan sekaligus pada saat penanaman, dan tidak ada petani yang menggunakan pupuk KCl. Pemberian pupuk kandang atau pengapuran sebelum penanaman juga tidak dilakukan petani. Hal ini menyebabkan faktor produksi pupuk tidak elastis

terhadap peningkatan hasil produksi padi ladang. Tenaga kerja luar keluarga mempunyai nilai elastisitas sebesar 0.5302, berarti setiap penambahan faktor tenaga kerja luar keluarga (ceteris paribus) sebesar satu persen, maka produksi padi ladang akan meningkat sebesar 0.5302 persen. Berdasarkan uji t diperoleh bahwa faktor tenaga kerja luar keluarga

berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang pada taraf kepercayaan 98 persen. Budaya gotong royong para petani dalam melakukan penanaman di lokasi

penelitian diduga menjadi penyebab elastisnya peningkatan faktor tenaga kerja luar keluarga terhadap peningkatan produksi. Seperti halnya tenaga kerja luar keluarga, tenaga kerja dalam keluarga juga berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang pada taraf kepercayaan 99 persen. Adapun nilai elastisitas tenaga kerja dalam keluarga adalah sebesar 0.21728, yang berarti jika faktor tenaga kerja dalam keluarga ditingkatkan sebesar sepuluh persen, maka produksi padi ladang akan meningkat sebesar 2.1728 persen (ceteris paribus). Dalam melakukan pengolahan mulai dari persiapan lahan, penyiangan, hingga pemanenan petani lebih banyak mengandalkan tenaga kerja dalam keluarga. Namun tidak demikian halnya dengan faktor produksi benih. Faktor ini tidak berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang pada taraf kepercayaan sebesar 90 persen. Penambahan faktor produksi benih sebesar satu persen akan cenderung meningkatkan produksi padi ladang sebesar 0.1013 persen dengan asumsi ceteris paribus. Elastisitas faktor produksi benih yang rendah terhadap

peningkatan produksi diduga disebabkan karena penggunaan varietas benih yang tidak tepat. Petani di lokasi penelitian menggunakan benih jenis Ciherang yang sebenarnya adalah benih yang umumnya digunakan dalam padi sawah. Menurut petani setempat benih jenis ini menghasilkan gabah yang lebih banyak daripada varietas padi yang disarankan untuk padi ladang dalam kondisi normal, tetapi kelembaban yang tinggi dan periode pengembunan yang panjang akan menyebabkan resiko untuk terserang penyakit blast (bercak putih pada akar) menjadi lebih besar. Penyakit blast merupakan jenis penyakit yang paling penting dan paling sering dijumpai dalam budidaya padi ladang pada umumnya, demikian

juga di lokasi penelitian. Penyakit blast dapat menurunkan hasil panen bahkan menggagalkan pertanaman padi ladang. Petani tidak menggunakan varietas padi ladang karena produktivitas yang lebih rendah. Faktor produksi pestisida tidak berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan 90 persen tetapi berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan 70 persen terhadap produksi padi ladang. Elastisitas faktor produksi pestisida adalah sebesar

0.06968, yang berarti setiap kenaikan penggunaan pestisida sebesar satu persen akan cenderung meningkatkan produksi padi ladang sebesar 0.06986 persen dengan asumsi ceteris paribus. Rendahnya elastisitas faktor produksi pestisida terhadap peningkatan produksi menunjukkan bahwa penggunaan pestisida oleh petani tidak berfungsi secara efektif dalam mengurangi atau membasmi hama dan penyakit yang menyerang padi ladang karena jumlah atau jenis pestisida yang belum tepat. Jadi jika dilihat secara keseluruhan, maka faktor yang berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang di Desa Wanajaya adalah faktor tenaga kerja dalam dan luar keluarga. Dan jika dilihat dari besaran nilai elastisitas, maka faktor yang paling responsif terhadap produksi padi ladang adalah tenaga kerja luar keluarga dengan nilai elastisitas sebesar 0.5302. Hal ini disebabkan oleh tenaga kerja luar keluarga akan bekerja lebih optimal dibandingkan dengan tenaga kerja dalam keluarga. Tenaga kerja luar keluarga akan bekerja lebih optimal dibandingkan dengan tenaga kerja dalam keluarga. Tenaga kerja luar keluarga melakukan

pekerjaan dengan jam kerja yang telah ditentukan sebelumnya, upah yang telah disepakati, dan juga target kerja yang ditentukan sebelumnya. Petani yang

menggunakan tenaga kerja luar keluarga akan mengoptimalkan kerja buruh tani agar target kerja yang diinginkan tercapai. 7.3. Analisis Efisiensi Ekonomi Menurut Doll dan Orazem (1984), untuk mencapai keuntungan yang maksimal, suatu usaha tani harus memenuhi dua syarat yaitu syarat keharusan (Necessary Condition) dan syarat kecukupan (Sufficient Condition). Syarat

keharusan (Necessary Condition) dipenuhi pada saat tidak ada lagi kemungkinan lain dalam penggunaan input yang lebih sedikit untuk menghasilkan nilai produksi yang sama, atau ketika elastisitas produksi lebih besar atau sama dengan nol dan lebih lebih kecil atau sama dengan satu ( p 1). Berbeda dengan syarat keharusan yang objektif, syarat kecukupan dapat berbeda pada setiap usahatani atau individu dan merupakan efisiensi yang subjektif. Terpenuhi atau tidaknya kedua syarat tersebut dapat diketahui dengan menggunakan sebuah persamaan yaitu perbandingan antara Value Marginal Product (PyMPxi) atau disebut juga Nilai Produk Marjinal (NPM), dan Marginal Factor Cost (MFC) atau yang sering disebut dengan Biaya Korbanan Marjinal (BKM). Nilai Produk Marjinal merupakan hasil kali antara harga produk dengan Produk Marjinal (PM) sementara Biaya Korbanan Marjinal (BKM) sama dengan harga dari masing- masing faktor produksi itu sendiri. Tingkat efisiensi ekonomis dari penggunaan faktor- faktor produksi dapat dilihat dari besarnya rasio Nilai Produk Marjinal dengan Biaya Korbanan Marjinal per periode produksi. Faktor- faktor produksi yang dapat dianalisis adalah faktorfaktor produksi yang bersifat fisik dan yang dapat dinilai dengan rupiah. Jika

rasio NPM dengan BKM lebih besar dari satu, maka penggunaan faktor- faktor

produksi disebut belum efisien dan perlu ditingkatkan penggunaannya untuk mencapai keuntungan maksimum. Rasio NPM dengan BKM yang lebih kecil dari satu menunjukkan bahwa penggunaan faktor- faktor produksi telah melebihi batas optimal sehingga untuk mencapai keuntungan maksimum maka penggunaannya harus dikurangi. Rasio NPM dengan BKM yang sama dengan satu untuk semua faktorfaktor produksi menunjukkan bahwa penggunaan faktor- faktor produksi dalam usahatani tersebut tepat berada pada kondisi optimal dan telah mencapai keuntungam maksimum sehingga usahatani dapat dikatakan telah efisien secara ekonomis. Rasio NPM dan BKM usahatani padi ladang di Desa Wanajaya

ditunjukkan dalam Tabel 21. Tabel 19. Rasio Nilai Produk Marjinal dengan Biaya Korbanan Marjinal Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya
Penggunaan Koefisien Rata-rata Regresi Aktual Pupuk 110.81 0.2484 Tenaga Kerja Luar RT 48.34 0.5302 Tenaga Kerja Dalam RT 237.37 0.2172 Benih 60.00 0.1013 Pestisida 1.70 0.0696 Produksi Rata-rata (Kg/Ha) 1273.79 Harga Rata -rata/unit Output (Rp/Kg) 1300 Keterangan : NPM = Nilai Produk Marjinal BKM = Biaya Korbanan Marjinal Variabel NPM 3712.05 18162.44 1515.22 2795.75 67873.50 BKM 1454 6000 6000 2407 46724 NPM/ BKM 2.553 3.027 0.252 1.162 1.453

Tabel 19 menunjukkan penggunaan faktor-faktor produksi aktual dan rasio Nilai Produk Marjinal (NPM) dengan Biaya Korbanan Marjinal (BKM) pada usahatani padi ladang di Desa Wanajaya. Rasio-rasio NPM dengan BKM dari setiap faktor produksi menunjukkan bahwa penggunaan faktor- faktor produksi dalam usahatani padi ladang di Desa Wanajaya tidak efisien secara ekonomis, karena nilai- nilai rasio NPM dan BKM tidak ada yang sama dengan satu. Rasio

ini juga berarti bahwa penggunaan faktor- faktor produksi pada usahatani padi ladang belum optimal pada jumlah produksi yang sama. Pada Tabel 19 dapat dilihat bahwa rasio NPM dan BKM untuk faktor produksi pupuk, tenaga kerja luar keluarga, benih, dan pestisida masing- masing lebih besar dari satu. Nilai rasio ini mengandung arti bahwa penggunaan faktor faktor produksi tersebut masih kurang dan masih dapat ditingkatkan lagi agar dicapai tingkat penggunaan yang efisien atau optimal. Penggunaan faktor

produksi pestisida dan pupuk yang rendah ini disebabkan oleh keterbatasan modal yang dimiliki petani untuk membeli pupuk dan pestisida dalam jumlah yang lebih besar yang sesuai dengan kebutuhan usahatani berdasarkan kondisi kesuburan dan kandungan hara tanah, sehingga pupuk dan pestisida hanya digunakan berdasarkan kemampuan finansial petani. Penggunaan benih yang tidak efisien juga disebabkan oleh ketidakmampuan petani secara finansial untuk membeli benih yang memiliki harga beli yang tinggi, sehingga benih yang digunakan petani adalah gabah yang merupakan sisa hasil panen dari musim tanam sebelumnya dengan mutu yang lebih rendah daripada benih komersial. Rasio NPM dan BKM yang paling besar adalah pada faktor tenaga kerja luar keluarga yaitu sebesar 3.027. Berdasarkan nilai rasio ini, maka penggunaan tenaga kerja luar keluarga memerlukan penambahan yang relatif lebih besar agar dicapai tingkat efisien. Rendahnya penggunaan tenaga kerja luar keluarga disebabkan oleh keterbatasan modal petani untuk mengupah tenaga kerja luar keluarga yang lebih besar. Sedangkan untuk faktor tenaga kerja dalam keluarga didapat nilai rasio NPM dan BKM yang lebih kecil dari satu, yang berarti bahwa penggunaan faktor

produksi ini berlebihan atau tidak efisien, sehingga untuk mencapai tingkat efisien, maka penggunaan tenaga kerja dalam keluarga harus dikurangi. Penggunaan yang berlebih ini terjadi karena usahatani padi ladang merupakan usahatani utama dan sumber makanan pokok keluarga petani sehingga alokasi tenaga kerja untuk usahatani padi ladang relatif lebih besar. Rendahnya tingkat pendidikan petani menyebabkan mereka tidak memiliki keahlian atau pekerjaan lain selain berusahatani padi ladang sehingga tenaga kerja dalam keluarga yang digunakan dalam usahatani menjadi relatif lebih besar. Efisiensi penggunaan faktor- faktor produksi dapat dicapai dengan menggunakan kombinasi optimal dari faktor-faktor produksi. Kombinasi optimal dari penggunaan faktor-faktor produksi akan diperoleh jika Nilai Produk Marjinal sama dengan Biaya Korbanan Marjinal atau jika rasio Nilai Produk Marjinal dan Biaya Korbanan Marjinal sama dengan satu. Pada Tabel 20 dapat dilihat

kombinasi faktor- faktor produksi yang menghasilkan penggunaan input yang efisien. Tabel 20. Kombinasi Optimal dari Faktor-Faktor Produksi Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya
Koefisien Regresi Pupuk 0.2484 Tenaga Kerja Luar RT 0.5302 Tenaga Kerja Dalam RT 0.2172 Benih 0.1013 Pestisida 0.0696 Produksi Rata-rata (Kg/Ha) 1273.79 Harga Rata -rata/unit Output (Rp/Kg) 1300 Keterangan : NPM = Nilai Produk Marjinal BKM = Biaya Korbanan Marjinal Variabel Penggunaan Optimal 282.51 146.33 59.94 69.69 2.47 NPM 1454 6000 6000 2407 46724 BKM 1454 6000 6000 2407 46724 NPM/ BKM 1 1 1 1 1

Berdasarkan Tabel 20 di atas diperoleh nilai penggunaan optimal dari faktor pupuk sebesar 282.51. Nilai ini berarti untuk mencapai tingkat efisien,

penggunaan pupuk harus ditingkatkan dari penggunaan aktualnya sebesar 110.81 kilogram menjadi sebesar 282.51 kilogram. Nilai penggunaan optimal dari faktor tenaga kerja luar keluarga adalah sebesar 146.33, yang berarti bahwa penggunaan tenaga kerja luar keluarga yang semula sebesar 48.34 HOK harus ditingkatkan menjadi 146.34 HOK agar dicapai tingkat efisien. Jika dilihat dari segi rasio NPM dan BKM, penggunaan benih yang semula sebesar 60 kilogram harus ditingkatkan menjadi 69.69 kilogram agar dicapai tingkat efisiensi. Sementara nilai penggunaan tenaga kerja dalam keluarga harus dikurangi dari yang semula sebesar 237.37 HOK menjadi sebesar 59.94 HOK agar penggunaan faktor produksi ini efisien. Untuk faktor produksi pestisida, penggunaannya harus ditingkatkan dari sebesar 1.7 liter dalam penggunaan aktualnya menjadi sebesar 2.47 liter agar dicapai tingkat efisiensi.

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN

8.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan dalam penelitian ini, maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu : 1. Pendapatan atas biaya tunai adalah Rp.1.104.326,- sedangkan pendapatan atas biaya total adalah Rp.-520.854,-. Kemudian dengan analisis imbangan

penerimaan dan biaya (analisis R/C ratio), diperoleh nilai rasio R/C atas biaya total sebesar 0.76 (lebih kecil dari satu), sehingga dapat disimpulkan bahwa cabang usahatani padi ladang di Desa Wanajaya tidak menguntungkan bagi petani. 2. Faktor-faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang adalah tenaga kerja luar keluarga dan tenaga kerja dalam keluarga, yang nyata pada taraf kepercayaan 99 persen. Sedangkan faktor pupuk, benih, dan

pestisida tidak berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan yang ditetapkan. 3. Penggunaan faktor-faktor produksi yang efisien secara ekonomis dicapai pada saat penggunaan faktor pupuk sebesar 282.51, faktor tenaga kerja luar keluarga sebesar 146.33 HOK, penggunaan benih yang semula sebesar 60 kilogram harus ditingkatkan menjadi 69.69 kilogram, penggunaan tenaga kerja dalam keluarga harus dikurangi dari yang semula sebesar 237.37 HOK menjadi sebesar 59.94 HOK, faktor produksi pestisida harus ditingkatkan dari sebesar 1.7 liter dalam penggunaan aktualnya menjadi sebesar 2.47 liter.

8.2. Saran Berdasarkan hasil dan pembahasan serta simpulan, maka disarankan untuk: 1. Penggunaan faktor produksi pupuk, benih, pestisida tenaga kerja luar harus ditingkatkan dari penggunaan aktualnya supaya usahatani padi ladang yang dilakukan lebih efisien dan menguntungkan bagi petani. 2. Pemberian bimbingan dan penyuluhan dari instansi terkait mengenai teknik budidaya padi ladang yang tepat seperti kombinasi penggunaan pupuk dan pestisida yang tepat dan pola tanam yang tepat untuk mencapai usahatani padi ladang yang lebih produktif dan menguntungkan.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Tauhid. 2002. Analisis Pendapatan Usahatani Padi dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Marketed Supply Gabah di Kabupaten Magelang dan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Skripsi. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Ariyanti, Diana. 1998. Perkembangan Tingkat Produksi, Produktivitas dan Pendapatan Petani Padi Dihubungkan Dengan Kebijaksanaan Harga Dasar Gabah dan Harga Sarana Produksi (Studi Kasus : Desa Sukatani, Kecamatan Cimalaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat). Skripsi. Fakultas Petanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Badan Perencana Pembangunan Daerah Pemerintah Kabupaten Karawang, 2003. Laporan Draft Final Studi Penanganan dan Pemanfaatan Lahan Kritis Di Kabupaten Karawang Tahun Anggaran 2003. PT. Sadhya Grahacara, Karawang. Basyir, Amir., Punarto S., Suyamto dan Supriyatin. 1995. Padi Gogo. Balai Penelitian Tanaman Pangan Malang, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Malang. Dahlia, Noorsanti Uceu. 1999. Analisis Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Penyimpanan Gabah di Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Karawang, Propinsi Jawa Barat. Skripsi. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Departemen Pertanian Satuan Pengendali Bimas. 1983. Pedoman bercocok tanam padi, palawija, sayur-sayuran. Departemen Pertanian, Jakarta. Direktorat Jenderal Pertanian. 1995-1998. Vademekum Sumberdaya, Jakarta. Doll, P. John dan Frank Orazem. 1984. Production Economic Theory with Aplications. Edisi Kedua. John Wiley and Sons, Kanada. Geertz, C. 1963. Involusi Pertanian : Proses Perubahan Ekologi di Indonesia. Yayasan Obor Bhratara Karya Aksara, Jakarta. Gujarati, Damodar N. 1988. Basic Econometric. Second Edition. Mc.Graw Hill, New York. Gupta PC, OToole JC. 1986. Upland rice : a global perspective. Interna tional Rice Research Institute, Los Banos, Philippines. Hariyanto, A.B. 1994. Pola Adaptasi Peladang Berpindah di Pemukiman (Kasus Peladang Berpindah di Perkebunan HTI, Sumatera Selatan. Tesis. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Harsono,

S. 1995. Sambutan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN. PILMITANAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Ilmu Tanah Nasional). Bogor.

Hernanto, Fadholi. 1988. Ilmu Usahatani. PS. Penebar Swadaya. Cetakan kedua. IKAPI, Jakarta. Maryono, 1996. Pemanfaatan dan Peranan Lahan Kering Dalam Pembangunan Pertanian. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Mubyarto. 1989. Pengantar Ekonomi Pertanian. Penerbit LP3S, Jakarta. Netty, D. 1996. Potensi Lahan Kering Dalam Pembangunan Pertanian di Indonesia. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Rahardjo, M. D. 1993. Politik Pangan dan Industri Pangan di Indonesia. Prisma, (5): 13-12, Jakarta. Rahayu, Yayu Sri. 2001. Perbandingan Usahatani Padi Ladang Baduy Luar dan Luar Baduy Dilihat Dari Tingkat Efisiensi dan Subsistensi Usahatani (Studi Kasus di D Kanekes dan Desa Jalupang Mulya, Kec. Leuwi esa Damar, Kab. Lebak, Jawa Barat). Skripsi. Jurusan Ilmu- ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Satria, Arif. 1995. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Petani Dalam Pemasaran Gabah (Kasus Desa Majosen, Tenggeng Kulon dan Yosorejo, Kecamatan sragi, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah). Skripsi. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Scott, James. 1981. Moral Ekonomi Petani. LP3ES, Jakarta. Setiawan, Chandra Arief. 2000. Analisis Wilayah Rawan Kekeringan Untuk Pengembangan Sistem Usaha Pertanian Padi Gogo di Sulawesi Tenggara. Tesis. Program Studi Agroklimatologi, Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Sidik, Mulyo. 2004. Indonesia Rice Policy In View of Trade Liberalization. FAO Rice Conference. 12-13 February, Rome, Italy. Siregar, Hadrian. 1981. Budidaya Tanaman Padi di Indonesia. Penerbit Sustra Hudaya, Jakarta. Soeharjo, Ahmad dan Dahlan Patong. 1973. Sendi-Sendi Pokok Ilmu Usahatani. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Soekartawi. 1986. Ilmu Usahatani dan Penelitian Untuk Pengembangan Petani Kecil. UI-Press, Jakarta. Susanto, Harry. 2004. Analisis Pendapatan dan Efisiensi Penggunaan Faktor Produksi Usahatani Padi Gogo Secara Tumpangsari Dengan Jagung di Kecamatan Kadipaten Tasikmalaya Propinsi Jawa Barat. Skripsi. Jurusan Ilmu- ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Wana, Hermawan. 2000. Analisis Faktor- faktor Produksi Padi Lahan Kering di Indonesia. Tesis. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Wijaya, Andri. 2002. Analisis Pendapatan dan Efisiensi Usahatani Padi Input Rendah di Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang. Skripsi. Jurusan Ilmu- ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Yanuar, Rahmat. 1999. Analisis Pendapatan dan Produksi Usahatani Padi Lahan Gambut (Studi Kasus : Desa Blang Ramee, Kecamatan Tounom, Kabupaten Aceh Barat). Skripsi. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Yelni. 1999. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi dan Pendapatan Usahatani Padi Sawah Pada Jaringan Irigasi Teknis dan Irigasi Sederhana. Skripsi. Jurusan Ilmu- ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Analisis Regresi Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya
The regression equation is Ln Produktivitas = 0.00 + 0.248 Ln Pupuk + 0.530 Ln TK Luar + 0.217 Ln TK Dalam + 0.101 Ln Benih + 0.0697 Ln Pestisida Predictor Konstanta Ln Pupuk Ln TK Luar Ln TK Dalam Ln Benih Ln Pestisida Coef 0.004 0.2484 0.5302 0.21728 0.1013 0.06968 SE Coef 1.989 0.4056 0.1969 0.06819 0.2092 0.06548 T 0.00 0.61 2.69 3.19 0.48 1.06 P 0.999 0.545 0.011 0.003 0.632 0.296 VIF 1.3 1.8 1.2 2.3 1.3

S = 0.5039 PRESS = 10.3546 Analysis of Variance Source Regression Residual Error Total Source DF Ln Pupuk 1 Ln TK Luar 1 Ln TK Dalam 1 Ln Benih 1 Ln Pestisida 1 DF 5 30 35

R-Sq = 59.6% R-Sq(pred) = 45.02%

R-Sq(adj) = 52.8%

SS 11.2161 7.6180 18.8341 Seq SS 1.8846 5.6600 3.2221 0.1619 0.2875

MS 2.2432 0.2539

F 8.83

P 0.000

Unusual Observations Obs Ln Pupuk Ln Prod Resid 6 4.61 5.3000 2.72R 7 4.61 7.8200 2.11R Durbin-Watson statistic = 1.77

Fit 6.5712 6.8251

SE Fit 0.1876 0.1803

Residual -1.2712 0.9949

St -

Lampiran 2. Pertumbuhan Produksi, Luas Panen, dan Produktivitas Padi di Indonesia, Tahun 2001-2005
No 1 Komoditi Padi Produksi (000 Ton) Luas Panen (000 Ha) Produktivitas (Ku/Ha) Padi Sawah Produksi (000 Ton) Luas Panen (000 Ha) Produktivitas (Ku/Ha) 2001 50.461 11.500 43,88 2002 51.490 11.521 44,69 Tahun 2003 52.138 11.488 45,38 2004 54.088 11.922 45,36 2005 53.008 11.604 45,68 Pertumbuhan (2004-2005) -2,00 -2,67 0,71

47.896 10.419 45,97

48.899 10.457 46,76

49.378 10.395 47,50

51.209 10.799 47,42

50.185 10.498 47,80

-2,00 -2,79 0,80

Padi Ladang Produksi (000 Ton) Luas Panen (000 Ha) Produktivitas (Ku/Ha) Sumber : www.bps.go.id, 2005

2.565 1.081 23,74

2.591 1.064 24,34

2.759 1.094 25,23

2.879 1.123 25,63

2.822 1.105 25,52

-1,95 -1,56 -0,43

Lampiran 3. Produktivitas Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia, Tahun 2001-2005 (Kwintal/Ha)
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Propinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Indonesia 2001 22.45 24.75 22.15 19.66 21.97 20.89 20.21 24.75 20.16 24.8 30.36 31.42 34.21 21.37 16.36 23.13 17.92 17.17 19.32 24.15 22.11 23.19 20.89 21.62 20.85 22.07 18.47 26.82 23.74 2002 21.54 24.75 24.06 19.88 21.85 20.93 20.22 24.78 20 24.66 30.49 31.42 34.33 20.65 22.18 23.8 19.94 20.31 21.56 23.83 22.31 23.21 22.95 20.31 24.06 22.77 18.57 24.85 24.34 Tahun 2003 22.25 25.03 25.65 19.95 22.27 22.22 20.41 26.12 19.86 26.53 31.21 35.16 35.8 28.87 16.61 24.19 20.57 19.53 21.45 23.71 22.55 23.57 23.28 18.41 20.84 29.49 22.52 22.56 26.21 25.23 2004 2005*) 22.02 22.14 25.14 26.33 27.11 27.84 21.32 21.47 23.76 23.99 23.67 23.33 20.66 20.75 26.15 26.27 20.55 17.67 0 0 25.19 26.31 31.82 32.01 37.27 33.9 35.29 35.3 28.86 28.76 18.7 18.6 25.03 26.35 21.12 20.3 19.99 19.89 21.96 20.09 25.53 24.58 23.55 24.03 23.9 24.2 21.59 23.45 23.56 25.5 26.33 23.47 23.18 23.35 21.25 21.84 20.66 20.72 30 29.21 25.63 25.52 Pertumbuhan (2004-2005) 0.54 4.73 2.69 0.70 0.97 -1.44 0.44 0.46 -14.01 4.45 0.60 -9.04 0.03 -0.35 -0.53 5.27 -3.88 -0.50 -8.52 -3.72 2.04 1.26 8.62 8.23 -10.86 0.73 2.78 0.29 -2.63 -0.43

Sumber : www.bps.go.id, 2005 *) Angka ramalan -) Data tidak tersedia

Lampiran 4. Produksi Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia Tahun 2001-2005 (Dalam Ton)
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Propinsi 2001 2002 NAD 4,240 8,763 Sumatera Utara 180,900 171,416 Sumatera Barat 13,497 20,175 Riau 44,621 39,925 Jambi 59,612 59,882 Sumatera Selatan 158,614 139,771 Bengkulu 34,959 41,938 Lampung 252,962 195,556 Bangka Belitung 11,199 6,702 DKI Jakarta Jawa Barat 340,042 295,491 Jawa Tengah 192,725 219,699 DI Yogyakarta 119,723 115,622 Jawa Timur 303,576 304,418 Banten 73,861 56,788 Bali 1,574 1,404 NTB 78,036 86,190 NTT 102,181 113,848 Kalimantan Barat 175,530 200,522 Kalimantan Tengah 111,842 143,386 Kalimantan Selatan 110,190 134,086 Kalimantan Timur 107,169 154,951 Sulawesi Utara 12,365 10,889 Sulawesi Tengah 7,726 16,162 Sulawesi Selatan 29,016 20,203 Sulawesi Tenggara 11,814 16,838 Gorontalo 1,333 995 Maluku 13,910 1,978 Maluku Utara Papua 12,053 13,031 Indonesia 2,565,270 2,590,629 Sumber : www.bps.go.id, 2005 Tahun 2003 2,693 82,908 8,234 16,454 26,892 83,450 17,692 77,970 3,331 132,055 60,773 36,052 94,801 31,778 1,016 40,647 58,375 100,290 80,423 39,291 61,872 5,248 5,177 7,225 9,621 1,465 1,468 1,750 4,567 1,093,518 2004 7,550 204,000 23,957 46,301 59,892 169,945 37,363 183,806 8,308 302,796 198,254 133,717 358,618 107,676 2,560 121,486 137,898 209,978 215,204 116,182 132,903 10,967 14,194 22,615 27,998 2,281 4,844 5,827 11,915 2,879,035 2005 6,882 227,663 25,307 44,407 65,681 167,754 39,333 185,076 6,226 306,578 184,434 121,108 356,136 105,144 1,659 99,878 115,347 231,530 181,500 113,073 128,246 13,917 16,368 28,323 26,414 3,187 4,656 6,288 10,659 2,822,774 Pertumbuhan -8.85 11.60 5.64 -4.09 9.67 -1.29 5.27 0.69 -25.06 1.25 -6.97 -9.43 -0.69 -2.35 -35.20 -17.79 -16.35 10.26 -15.66 -2.68 -3.50 26.90 15.32 25.24 -5.66 39.72 -3.88 7.91 -10.54 -1.95

Lampiran 5. Penggunaan Faktor-faktor Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya, Musim Tanam November-April Tahun 2005
Luas (Ha) 1 Sakam 1.5 0.75 2 Acim 3 Madhari 1 4 Ladi 0.5 5 Kiwan 0.5 6 Walim 1 7 Kamin 1 8 Natong 1 9 Onang 1 10 Rakim 2 11 Bodeh 0.5 12 Ayat 0.4 13 Aman 1 14 Adon 0.75 15 Icis 0.5 16 Cilan 1 17 Hidayat 1 18 Enan 0.5 19 Asmur 1 20 Karsim 0.8 21 Madhawi 0.4 22 Asim 0.5 23 Mamat 0.4 24 Enong 0.4 25 Amud 1 26 Murdi 0.5 27 Hardi 0.1 28 Ganda 0.5 29 Keming 0.6 30 Dulhamid 1 31 Sadum 0.4 32 Kadim 0.4 33 Misjah 0.5 34 Iwan 2 35 Sahir 0.5 36 Walim 0.5 37 Narmin 0.6 38 Neman 0.5 39 Namun 1 40 Samad 0.5 Rata-rata 0.75 Rata-rata per Hektar No Nama Produksi (Kg) 1.500 .500 1.500 400 400 200 2.500 800 1.000 1.300 500 500 800 1.000 900 400 1.000 1.000 900 900 400 1.000 900 500 800 1.500 400 800 500 800 200 500 280 1.000 200 500 150 500 700 200 954.75 1273 TK Dlm (HOK) 186.6 105.8 150.4 172 150 84.8 220.6 196.4 82.8 269.6 125.6 117.2 112 390.4 409.8 146.8 174.2 311.4 155.8 231.6 142 104.6 141.4 155.4 157.2 141.2 141.4 174.2 125.8 192.4 413 162.2 173.8 172.6 109 114.6 195.4 166.2 178.03 237.37 TK Luar (HOK) 44 26 27.4 30.6 28 37 29 38.4 40 31 48 35.6 43.2 26 20.4 33 45.2 26 27.4 46 18.2 36 154 26.4 35 28 17.4 37.6 48 15.2 26 Benih (Kg) 50 25 50 50 50 50 50 25 40 100 40 30 80 50 25 50 50 50 50 50 20 50 30 20 50 60 50 30 80 50 40 50 40 50 30 40 30 30 80 20 45 60 Pestisida (Liter) 1.1 2.1 0.6 2 0.15 0.15 0.08 0.16 0.15 2.2 1.1 2.24 1.1 0.74 0.1 0.15 2.16 0.1 0.5 0.16 0.25 0.24 0.32 0.2 0.24 0.1 5.24 4.1 0.1 1.05 2.15 0.15 0.05 0.2 7 0.1 1.27 1.7 Pupuk (Kg) 100 70 100 100 100 100 100 150

250 25 30 100 100 100 200 40 100 200 30 100 150 50 200 200 30 100 100 200 80 80 80 200

80

36.25 48.34

83.1 110.8

Lampiran 6. Pengeluaran Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya Musim Tanam November-April Tahun 2005
No Nama Luas (ha) Produksi (Kg) 1.500 500 1.500 400 400 200 2.500 800 1.000 1.300 500 500 800 1.000 900 400 1.000 1.000 900 900 400 1.000 900 500 800 1.500 400 800 500 800 200 500 280 1.000 200 500 150 500 700 200 954 1273 Tenaga Dalam RT 1,119,600,634,800,902,400,1,032,000,900,000,508,800,1,323,600,1,178,400,496,800,1,617,600,753,600,703,200,672,000,2,342,400,2,458,800,880,800,1,045,200,1,868,400,934,800,1,389,600,852,000,627,600,848,400,932,400,943,200,847,200,848,400,1,045,200,754,800,1,154,400,2,478,000,973,200,1,042,800,1,035,600,654,000,687,600,1,172,400,997,200,1,016,430,1,355,240,Kerja Luar RT 264,000,156,000,164,400,183,600,168,000,222,000,174,000,230,400,240,000,186,000,288,000,213,600,259,200,156,000,122,400,198,000,271,200,156,000,164,400,276,000,109,200,216,000,924,000,158,400,210,000,168,000,104,400,225,600,288,000,91,200,156,000,Benih 120,000,60,000,120,000,120,000,120,000,120,000,120,000,60,000,56,000,240,000,56,000,72,000,192,000,75,000,60,000,70,000,120,000,120,000,74,000,72,000,48,000,70,000,72,000,48,000,70,000,144,000,70,000,72,000,192,000,120,000,56,000,70,000,112,000,70,000,42,000,56,000,42,000,30,000,112,000,28,000,89,275,119,033,Saprotan Pestisida 46,000,48,000,80,000,69,000,33,000,33,000,15,000,30,000,33,000,74,000,29,500,60,000,55,000,80,000,22,000,30,000,48,000,22,000,108,000,30,000,60,000,45,000,60,000,44,000,40,000,89,000,122,000,22,000,21,000,51,000,33,000,11,000,44,000,315,000,22,000,54,985.73,313,Pupuk 130,000,104,000,140,000,175,000,175,000,150,000,-

1 Sakam 1.5 2 Acim 0.75 3 Madhari 1 4 Ladi 0.5 5 Kiwan 0.5 6 Walim 1 7 Kamin 1 8 Natong 1 9 Onang 1 10 Rakim 2 11 Bodeh 0.5 12 Ayat 0.4 13 Aman 1 14 Adon 0.15 15 Icis 0.5 16 Cilan 1 17 Hidayat 1 18 Enan 0.5 19 Asmur 1 20 Karsim 0.8 21 Madhawi 0.4 22 Asim 0.5 23 Mamat 0.4 24 Enong 0.4 25 Amud 1 26 Murdi 0.5 27 Hardi 0.1 28 Ganda 0.5 29 Keming 0.6 30 Dulhamid 1 31 Sadum 0.4 32 Kadim 0.4 33 Misjah 0.5 34 Iwan 2 35 Sahir 0.5 36 Walim 0.5 37 Narmin 0.6 38 Neman 0.5 39 Namun 1 40 Samad 0.5 Rata-rata 0.75 Rata-rata per Hektar

60,000,60,000,72,000,130,000,150,000,135,000,300,000,140,000,160,000,272,000,60,000,175,000,250,000,7,000,150,000,300,000,72,000,150,000,175,000,130,000,56,000,300,000,-

70,000,-

168,600,224,800,-

146,482,195,309,-