Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI PENYAKIT TUMBUHAN ACARA 1 PENGARUH LINGKUNGAN ABIOTIK DAN BIOTIK TERHADAP PERKEMBANGAN JAMUR FUSARIUM SP

Nama NIM Hari/Tanggal Asisten

: Tatag Agung S.W : 11658 : Selasa, 18 Oktober 2011 : 1. Asista Fatma 2. Bahru Rohmah 3. A. Rahman Alboneh 4. Putri Rahayu

INTEGRATED LAB OF PLANT DISEASE JURUSAN PERLINDUNGAN TANAMAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2011

ACARA I PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP PERTUMBUHAN VEGETATIF DAN INFEKSI JAMUR PATOGEN I. TUJUAN

1. Mengetahui pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan jamur Fusarium sp. 2. Mengetahui pengaruh suhu terhadap pertumbuhan jamur Fusarium sp. 3. Mengetahui pengaruh persaingan biotik (Tricodherma sp) terhadap pertumbuhan

jamur Fusarium sp. II. TINJAUAN PUSTAKA Fusarium merupakan salah satu genus jamur berfilamen terbesar yang ada didalam tanah dan erat kaitannya dengan tanaman. Sebagian besar jamur Fusarium sp tidak berbahaya atau bersifat saprobes, namun beberapa diantaranya merupakan patogen terbesar bagi pertanaman pertanian. Contohnya adalah Fusarium graminearum yang merupakan patogen bagi tanaman graminae seperti gandun dan jagung.(Anonim, 2010) Jamur adalah organisme yang sel-selnya berinti sejati (eukaryotic), biasanya berbentuk benang, bercabang-cabang, tidak berklorofil, dinding selnya mengandung kitin, selulosa atau keduanya. Jamur adalah organisme heterotrof, absortif, dan membentuk beberapa macam spora. Dalam klasifikasi yang baru semua jamur dikelompokkan ke dalam dunia jamur (fungi) atau mycetae jamur umumnya memiliki bagian vegetatif berupa benangbenang halus memanjang, bersekat maupun tidak yang dikenal sebagai hifa. Hifa terdiri dari sel-sel yang masing-masing memiliki satu atau dua inti. (Sastrahidayat, 1990). Setiap spesies mempunyai bentuk yang khas, namun sekalipun dalam biakan murni terdapat variasi yang luas dalam hal ukuran dan bentuk sel-sel individu, tergantung kepada umur dan lingkungannya. Khamir tidak dilengkapi flagellum atau organ-organ penggerak lainnya (Pelczar dan Chan, 1986). Jika jamur patogen terdapat di dalam tanah bersama dengan bermacam-macam jasad renik, untuk memisahkannya dapat dilakukan teknik umpan. Dengan meletakkan sepotong

kecil bahan tersebut diatas media agar-agar, patogen akan tumbuh diatas media ini (Semangun, 1996). Karakteristik penting yang digunakan dalam identifikasi spesies Fusarium adalah sebagai berikut.
1. Sebuah kultur murni, jika mungkin diperoleh dari conidium tunggal atau isolasi

ujung hifa.
2. Koloni akan tumbuh pada PDA atau PSA setelah diinkubasi dalam gelap selama 4

hari pada suhu 25 0C.


3. Budaya pigmentasi PDA atau PSA setelah inkubasi selama 10-14 hari dibawah

cahaya matahari setiap hari. III. METODOLOGI

Praktikum Ekologi Penyakit Tumbuhan acara I Pengaruh Lingkungan terhadap Pertumbuhan Vegetatif dan Infeksi Jamur Patogen dilasanakan pada hari Selasa, 18 Oktober 2011 bertempat di Integrated Lab of Plant Disease, Jurusan Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah cawan petri, penggaris, marker, sedangkan bahan yang digunakan antara lain PDA ( Potatoes Dectrose Agar) dan jamur Fusarium sp dan Tricodherma sp . Pada praktikum kali ini dilakukan 3 perlakuan untuk mengamati perkembangan jamur akibat pengaruh lingkungan, antara lain :
a. Pengaruh intensitas cahaya terhadap pertumbuhan jamur Fusarium sp

Pertama, PDA dituangkan secukupnya pada cawan petri sebanyak dua buah, kemudian didinginkan agar PDA membeku. Kemudian inokulum jamur Fusarium sp diletakkan pada bagian tengah cawan petri. Kemudian, biakan tersebut diinkubasikan dengan dua macam perlakuan yaitu pada tempat terang atau intensitas cahaya tinggi, dan tempat gelap atau intensitas cahaya rendah. Pengamatan dilakukan setiap hari.
b. Pengaruh suhu pada perkembangan jamur Fusarium sp

PDA dituangkan kedalam tiga buah cawan petri, dan didinginkan agar PDA membeku. Kemudian inokulum jamur Fusarium sp diletakkan pada bagian tengah cawan petri, perlakuan untuk suhu ada pada suhu kamar, dibawah suhu kamar, dan diatas suhu kamar. Pengamatan dilakukan setiap hari.
c. Pengaruh lingkungan biotik terhadap perkembangan jamur Fusarium sp

PDA dituangkan pada satu buah cawan petri dan kemudian didinginkan agar membeku. Setelah beku inokulum jamur Fusarium sp diletakkan pada salah satu sisi cawan petri, disisi lainnya diletakkan inokulum jamur Tricodherma sp. Dilakukan pengamatan setiap hari.

IV. HASIL PENGAMATAN Data Akhir acara 1 praktikum ekologi penyakit tumbuhan (diameter) dalam cm Perlakuan Rabu Kamis Jum'at Minggu Senin Selasa Suhu kamar 0,02 0,79 1,87 3,40 4,89 6,14 Suhu diatas kamar 0,02 0,92 0,99 1,86 2,55 3,18 Suhu dibawah kamar 0,00 0,62 1,02 2,50 3,59 4,83 gelap 0,00 0,91 2,25 2,93 3,65 5,68 terang 0,00 0,83 1,66 1,82 3,80 5,55 trichoderma 0,00 0,36 1,08 3,14 3,74 4,66 fusarium 0,00 1,42 2,96 4,53 4,30 5,61

V. PEMBAHASAN Jamur merupakan suatu organisme eukariotik dengan ciri-ciri biasanya berbentuk benang, bercabang-cabang, tidak berklorofil, dinding selnya mengandung kitin, selulosa atau keduanya. Pada praktikum kali ini digunakan 2 jenis jamur yakni Fusarium sp dan Tricodherma sp, peran utama berada pada jamur Fusarium sp. Jamur Fusarium sp merupakan salah satu jamur patogen terbesar yang berpengaruh pada tanaman. Oleh sebab itu para praktikum ini kita akan mencoba membiakkan jamur Fusarium dengan berbagai macam kondisi, agar kita mengetahui kondisi optimal bagi pertumbuhan jamur ini, selain pengaruh lingkungan abiotik berupa cahaya dan suhu dilakukan juga percobaan persaingan biotik dengan jamur Tricodherma sp. Menurut teori kondisi optimal bagi jamur Fusarium sp yakni lingkungan pada suhu kamar dengan intensitas cahaya matahari lebih dari 8 jam sehari, pada kondisi ini jamur Fusarium sp akan berkembang dengan cepat.

1. Grafik Pengaruh Suhu Terhadap Pertumbuhan Jamur Fusarium sp

Berdasarkan grafik diatas diketahui bahwa pertumbuhan jamur optimal pada suhu kamar yakni berkisar antara 22-26 0C, sedangkan pada suhu diatas dan dibawah kamar jamur tetap tumbuh tetapi tidak optimal. Hal tersebut disebabkan oleh spora Fusarium sp yang tidak menyebar karena suhu yang tidak cocok. Spora Fusarium sp akan memencar pada suhu 22260C.

2. Grafik Pengaruh Intensitas Cahaya Terhadap Pertumbuhan Jamur Fusarium

sp

Pada grafik diatas terlihat perbedaan pertumbuhan yang mencolok pada hari ke 3 dan ke 4, dengan kondisi jamur pada kondisi intensitas cahaya yang lebih tinggi tumbuh lebih cepat, namun pada hari ke 5 dan 6 jamur pada kondisi gelap mampu mengimbangi pertumbuhan, hal ini disebabkan kondisi ruang tidak cukup gelap sehingga pertumbuhan jamur masih dapat menyentuh optimal. 3. Histogram Pertumbuhan Tricodherma sp VS Fusarium sp

Histogram diatas menunjukkan laju pertumbuhan Fusarium sp VS Tricodherma sp. Pertumbuhan Fusarium meskipun tertahan Tricodherma dapat dibilang optimal karena setara dengan laju pertumbuhan Fusarium sp tanpa Tricodherma di cawan yang lain. Hal ini

disebabkan karena nutrisi dan kondisi yang cukup bagi kedua jamur, sehingga persaingan antar keduanya tidak terlalu tinggi. Sebagai suatu makhluk hidup jamur tentu saja memiliki berbagai kondisi optimal atau faktor yang mempengaruhi pertumbuhannya, faktor-faktor tersebut antara lain 1. Suhu optimal bagi pembentukan spora berkisar antara 20-230C, sedangkan penyebaran spora optimal pada suhu 22-270C 2. pH optimal perkembangan jamur adalah 5-7 3. Minimal intensitas penyinaran adalah 6-8 jam perhari VI. KESIMPULAN

1. Lama penyinaran dan suhu mempengaruhi pertumbuhan jamur Fusarium sp 2. Jamur Fusarium sp berkembang optimal pada suhu kamar (22-270C). 3. Jamur Fusarium sp berkembang dengan cepat pada kondisi terkena cahaya matahari

secara terus-menerus
4. Di luar kondisi optimal, jamur Fusarium sp mampu tumbuh.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2010. http://en.wikipedia.org/wiki/Fusarium akses pada 24 Oktober 2011 Burgess, L.W., and C.M. Liddell. 1983. Laboratory manual for Fusarium research. Fusarium Research Laboratory, Department of Plant Pathology and Agricultural Entomology. The University of Sydney, Australia. Pelzcar, J.M., dan E.S.C. Chan. 1986. Elements of Mikrobiology (Dasar-dasar Mikrobiologi, Terjemahan: R.S. Hadioetomo, T. Imas, S.S. Tjitrosomo, dan S.L Angka). Universitas Indonesia. Jakarta. Sastrahidayat, Ika R. 1990. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Usaha Nasional. Surabaya. Semangun, H. 1996. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

LAMPIRAN Gambar Pengaruh lingkungan abiotik pada pertumbuhan jamur Kelompok 3

1. Pertumbuhan jamur dibawah suhu kamar (kontam)

2. Pertumbuhan jamur pada suhu kamar (kontam)

3. Pertumbuhan jamur diatas suhu kamar (kontam)

4. Pertumbuhan Jamur pada perlakuan Biotik (tidak kontam, Trichoderma menekan

Fusarium).

5. Pertumbuhan jamur di cahaya terang (tidak kontam)

6. Pertumbuhan jamur di cahaya gelap (kontam)