Anda di halaman 1dari 102

Best Practice Export-Import

BEST PRACTICES EXPORT IMPORT MANAGEMENT


Professional Instructor: Boniek Adi Syahputra Drs. Hamdani
11-12 Oktober 2011, Hotel Aryaduta Semanggi - Jakarta

SESI 1 :
Pengantar dan Dokumentasi Export-Import

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Ekspor adalah proses transportasi barang atau komoditas dari suatu negara ke negara lain secara legal, umumnya dalam proses perdagangan. Ekspor dalam volume besar umumnya melibatkan Bea Cukai (Custom) di negara pengirim maupun penerima.
Dikutip dari : Wikipedia

Impor adalah proses transportasi barang atau komoditas dari suatu negara ke negara lain secara legal, umumnya dalam proses perdagangan. Proses impor umumnya adalah tindakan memasukkan barang atau komoditas dari negara lain ke dalam negeri. Impor barang skala besar umumnya melibatkan bea cukai di negara pengirim maupun penerima.
Dikutip dari : Wikipedia

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

DOKUMEN YANG DIGUNAKAN DALAM EKSPOR IMPOR :


1. Letter Of Credit 2. Bill Of Exchange 3. Invoice 4. Packing List 5. PEB (Pemberitahuan Ekspor Barang) 6. PIB (Pemberitahuan Impor Barang) 7. PE (Persetujuan Ekspor) 8. SPPB (Surat Persetujuan Pengeluaran Barang) 9. SI (Shipping Instruction) 10. B/L (Bill Of Lading) 11. AWB (Air Way Bill) 12. COO (Certificate Of Origin) 13. Dll

BEBERAPA ISTILAH DALAM EKSPOR IMPOR :


1. Shipper = Eksportir = Beneficiary 2. Consignee = Importir = Applicant 3. POL = Port Of Loading 4. POD = Port Of Destination 5. ETD = Estimated Time Departure 6. ETA = Estimated Time Arrival 7. Freight = Ongkos Angkut 8. FCL = Full Container Load 9. LCL = Less Than Container Load 10. CY = Container Yard 11. CFS = Cargo Freight Station 12. Stuffing = Memuat barang ke dalam container 13. Custom Clearance = Penyelesaian kewajiban pabean 14. Carrier = Shipping Lines , Air Lines, Freight Forwarder, Courier Service

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

SISTEM PEMBAYARAN INTERNASIONAL Cara Pembayaran yang biasa digunakan dalam transaksi Ekspor Impor:
1. Advance Payment (Pembayaran dimuka 100 %) 2. Down Payment (Dengan uang muka sesuai kesepakatan) 3. Open Account (Pembayaran di akhir) 4. Letter Of Credit (L/C)

Advance Payment

Bank A

3. Payment

Bank B

2. Payment 5. Docs

4. Payment

IMPORTIR

1. S/C

EKSPORTIR

5. Goods

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Down Payment
7. Payment 2 3. Payment 1

Bank A

Bank B

6. Payment 2 2. Payment 1 5. Docs

8. Payment 2 4. Payment 1

IMPORTIR

1. S/C

EKSPORTIR

5. Goods

Open Account

Bank A

3. Payment

Bank B

2. Payment 1. Docs

4. Payment

IMPORTIR

S/C

EKSPORTIR

1. Goods

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Letter Of Credit
Letter of credit, atau sering disingkat menjadi L/C, adalah sebuah cara pembayaran internasional yang memungkinkan eksportir menerima pembayaran dari bank setelah barang dan dokumen yang dipersyaratkan dalam L/C terpenuhi. Disini sebagai penjamin adalah pihak Bank.

Fungsi L/C :
Merupakan suatu perjanjian bank-bank dalam menyelesaikan transaksi komersial

internasional
Memberikan pengamanan bagi pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi yang

diadakan
Memastikan adanya pembayaran asalkan persyaratan-persyaratan L/C telah

dipenuhi

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Keuntungan Menggunakan L/C Bagi Eksportir :


Kepastian pembayaran Penguangan dokumen dapat langsung dilakukan Kemungkinan memperoleh kredit lunak

Keuntungan Menggunakan L/C Bagi Importir :


Dapat dianggap sebuah kepercayaan dari bank Merupakan jaminan bahwa dokumen atas barang yang dipesan akan diterima secara lengkap Dapat mencantumkan syarat-syarat untuk pengamanan atas transaksi yang akan dilakukan dengan eksportir

SESI 2 :
Incoterms & Cargo Management

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

INCOTERMS
Incoterms atau International Commercial Terms adalah kumpulan istilah yang dibuat untuk menyamakan pengertian antara penjual dan pembeli dalam perdagangan internasional. Incoterms menjelaskan hak dan kewajiban pembeli dan penjual yang berhubungan dengan pengiriman barang. Hal-hal yang dijelaskan meliputi proses pengiriman barang, penanggung jawab proses ekspor-impor, penanggung biaya yang timbul dan penanggung risiko bila terjadi perubahan kondisi barang yang terjadi akibat proses pengiriman.

Incoterms dikeluarkan oleh Kamar Dagang Internasional atau International Chamber of Commerce (ICC), sampai saat ini Incoterm yang dipakai adalah versi tahun 2000. Pada bulan september 2010 dilakukan revisi terhadap Incoterms 2000 tetapi baru berlaku efektif bulan Januari 2011.

INCOTERM 2000
1. EXW (nama tempat): Ex Works. 2. FCA (nama tempat): Free Carrier. 3. FAS (nama pelabuhan keberangkatan): Free Alongside Ship. 4. FOB (nama pelabuhan keberangkatan): Free On Board. 5. CFR (nama pelabuhan tujuan): Cost and Freight. 6. CIF (nama pelabuhan tujuan): Cost, Insurance and Freight. 7. CPT (nama tempat tujuan): Carriage Paid To. 8. CIP (nama tempat tujuan): Carriage and Insurance Paid to. 9. DAF (nama tempat): Delivered At Frontier. 10. DES (nama pelabuhan tujuan): Delivered Ex Ship. 11. DEQ (nama pelabuhan tujuan): Delivered Ex Quay 12. DDU (nama tempat tujuan): Delivered Duty Unpaid 13. DDP (nama tempat tujuan): Delivered Duty Paid

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

INCOTERM 2010
Applicable for all modes of transport : 1. EXW : Ex Works. 2. FCA : Free Carrier. 3. CPT : Carriage Paid To. 4. CIP : Carriage and Insurance Paid to. 5. DAT : Delivered At Terminal (New) 6. DAP : Delivered At Place. (New) 7. DDP : Delivered Duty Paid Only applicable for Sea and Inland waterway transport : 1. FAS : Free Alongside Ship 2. FOB : Free On Board 3. CFR : Cost and Freight 4. CIF : Cost Insurance and Freight

Pada prakteknya tidak semua incoterm dipakai dalam perdagangan internasional. Berikut incoterm yang paling sering dipakai :

NO

TERM

LOCAL HANDLING ORIGIN

FREIGHT

INSURANCE

LOCAL HANDLING DESTINATION

FOB

EXPORTER

IMPORTER

IMPORTER

IMPORTER

C&F

EXPORTER

EXPORTER

IMPORTER

IMPORTER

CIF

EXPORTER

EXPORTER

EXPORTER

IMPORTER

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

INCOTERM 2000

SHIPPING (AIR & SEA FREIGHT)

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

EMPAT MODE TRANSPORTASI DALAM EKSPOR IMPOR: Darat (Truck, Kereta Api / Railway) Udara (Air Cargo) Laut (Sea Cargo) Kombinasi (Multimoda Transport)

Pada kenyataannya barang ekspor dan impor lebih banyak diangkut menggunakan angkutan laut karena beberapa hal antara lain biaya yang lebih murah dan volume / daya angkut lebih banyak

2 ASPEK PENTING DALAM PENGANGKUTAN EKSPOR IMPOR: Transportasi pemindahan fisik barang Dokumen yang berkaitan dengan pengapalan

CARRIER DALAM PENGANGKUTAN EKSPOR IMPOR YAITU : Shipping Lines / Air Lines Freight Forwarder Courier Service

HAL YANG PERLU DIPERTIMBANGKAN OLEH EKSPORTIR (SHIPPER) DALAM MEMILIH CARRIER: Jadwal yang tetap Kecepatan pengangkutan Biaya transportasi Kepercayaan terhadap pelayanan Status perusahaan pelayaran Penunjukan oleh pembeli

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Air Way Bill (AWB) & Bill Of Lading (B/L)

AIR FREIGHT

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

AIR CARGO MERUPAKAN CARA PENGANGKUTAN MUATAN / CARGO DENGAN MENGGUNAKAN MODA PESAWAT UDARA, BAIK PESAWAT YANG KHUSUS UNTUK MENGANGKUT CARGO MAUPUN PESAWAT PENUMPANG

ALASAN EKSPORTIR / IMPORTIR MENGIRIM BARANG DENGAN MODA PESAWAT UDARA : KEAMANAN (SECURITY)
KECEPATAN (SPEED) KETEPATAN (PUNCTUALLY)

Dokumen Pengangkutannya adalah Air Waybill (AWB)

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

JENIS KARGO UDARA


1. 2.

GENERAL CARGO (BARANG-BARANG UMUM) SPECIAL CARGO (MEMERLUKAN PENANGANAN KHUSUS):


LIVE ANIMAL HUMAN REMAIN (JENAZAH) BARANG MUDAH RUSAK (PERISHABLE GOODS) BARANG BERHARGA (VALUABLE GOODS) STRONGLY SMELLING GOODS WET CARGO LIVE PLANTS DANGEROUS GOODS

KARAKTERISTIK MUATAN PESAWAT UDARA TIDAK SEPERTI KAPAL LAUT, SEHINGGA HARUS DIPERHATIKAN HAL-HAL SBB :

1. 2. 3. 4.

KEMAMPUAN DAYA ANGKUT PESAWAT VOLUME (RUANG) UNTUK CARGO PESAWAT YANG TERSEDIA UKURAN PINTU PESAWAT MAXIMUM FLOOR LOAD CAPACITY YANG DINYATAKAN DALAM KG / M2

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

CONTOH CONTAINER KARGO UDARA :

SEA FREIGHT

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

SAILING SCHEDULE
SINGAPORE

FEEDER VESSEL
SINAR BATAM KOTA BERLIAN

VOY
022 BRL 510

ETD JKT
20-Jan-10 25-Jan-10

ETA SIN
22-Jan-10 27-Jan-10

Kota Berlian Stuf/Clos : Wed 17.00 P.M Sinar Batam Stuf/Clos : Sat 17.00 P.M

HONGKONG

FEEDER VESSEL
HY. VLADIVOSTOK KMTC PUSAN

VOY
131 N 315 N

ETD JKT
19-Jan-10 23-Jan-10

ETA HKG
23-Jan-10 29-Jan-10

Hyundai

Stuf / Clos Fri 17.00 P.M

Kmtc Stuff / Clos Tues 17.00 P.M

SHIPPING INSTRUCTION (INSTRUKSI PENGAPALAN)


Merupakan dokumen permintaan pengapalan barang yang data-datanya tercantum dalam dokumen tersebut. Instruksi pengapalan ini harus dipersiapkan oleh Shipper sebelum membooking kontainer dan ruangan kapal. Dengan instruksi pengapalan ini maka pihak pelayaran akan melaksanakan pengiriman barang dan melakukan penerbitan dokumen. Untuk menghindari kekeliruan dalam penerbitan dokumen pengapalan maka instruksi pengapalan harus dibuat secara jelas dan lengkap

FUNGSI SI:
1.Sebagai dokumen konfirmasi booking space kapal dari Shipper kepada Carrier 2. Sebagai acuan pemasukan data-data kedalam Bill Of Lading (B/L)

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

BILL OF LADING
Merupakan dokumen pengapalan (Shipping Document) yang diterbitkan oleh Carrier (pengangkut) untuk Eksportir. Diserahkan kepada Eksportir setelah kapal berangkat meninggalkan pelabuhan muat (POL)

FUNGSI BILL OF LADING


Sebagai tanda terima barang untuk dikapalkan Sebagai bukti pemilikan barang atau dokumen pemilikan barang (document of tittle Sebagai bukti adanya kontrak pengangkutan Bagi Eksportir dapat digunakan untuk mencairkan L/C, untuk transaksi yang menggunakan L/C Bagi Importir dapat digunakan untuk mengambil barang

PEMAKAIAN KONTAINER BERDASARKAN KOMODITI


No 1 2 Jenis Barang Produk curah Produk biasa (general cargo) Produk yang membutuhkan pendingin Produk yang membutuhkan lubang fentilasi Produk yang over dimension (over wide, over length, over highth) Produk cair / Gas Produk biasa yang memerlukan alat penggantung (hanger) Kapal yang digunakan Container Vessel / Break Bulk Vessel Container vessel Jenis kontainer Bulk Container / Non Container Dry Container / peti kemas biasa Reefer container

Container vessel

Container vessel

Fentilated container

Container vessel atau Non container vessel Container vessel Tanker vessel Container vessel

Flat rack container Open top container Non container Tank container / Non container Hanging container

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

BEBERAPA JENIS CONTAINER KAPAL LAUT

TANK CONTAINER

BULK CONTAINER

REEFER CONTAINER

FLATRACK CONTAINER

METODE (MODE) PENGIRIMAN CARGO DENGAN KONTAINER :

Full Container Load (FCL) : Pengiriman barang ekspor dengan menggunakan 1 kontainer (Full).

Less than Container Load : Pengiriman barang ekspor dengan quantity kurang dari 1 kontainer.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

FCL - FCL

FCL - LCL

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

LCL - FCL

LCL - LCL

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

GENERATOR SET (GENSET)


Digunakan pada container yang membutuhkan daya listrik, ex : Reefer Container

Reefer Generator Set Nose Mount


Description Operating temperature Fuel tank capacity Capacity Weight Spec -40C to 54C 473 liters 25.4 kw 834 kg

Reefer Generator Set Side-Mount


Description Operating temperature Fuel tank capacity Capacity Weight Spec -40C to 54C 283 liters 25.4 kw 685 kg

DESCRIPTION
Cubic Capacity Payload (Weight) Tare Weight Max Gross Weight Internal Length Internal Width Internal Height External Length External Width External Height Door Opening Width

SPECIFICATION
33.200 cubic meters 21,850 kg - 28,160 kg 2,150 kg - 2,220 kg 24,000 kg - 30,480 kg 5.898 m 2.352 m 2.392 m 6.058 m 2.438 m 2.591 m 2.340 m

20 STANDARD

Door Opening Height 2.280 m Lashing Rings Five on each top and bottom rails, capacity 2,000 kg; Three on each corner post, capacity 1,500 kg

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

DESCRIPTION
Cubic Capacity Payload (Weight) Tare Weight Max Gross Weight Internal Length Internal Width Internal Height External Length External Width External Height Door Opening Width Door Opening Height Lashing Rings

SPECIFICATION
67.700 cubic meters 26,760 kg - 28,760 kg 3,720 kg - 3,740 kg 30,480 kg - 32,500 kg 12.032 m 2.352 m 2.392 m 12.192 m 2.438 m 2.591 m 2.340 m 2.280 m Ten on each top and bottom rails, capacity 2,000 kg; Three on each corner post, capacity 1,500 kg

40 STANDARD

DESCRIPTION
Cubic Capacity Payload (Weight) Tare Weight Max Gross Weight Internal Length Internal Width Internal Height External Length External Width External Height

SPECIFICATION
76.400 cubic meters 26,750 kg - 28,550 kg 3,730 kg - 3,950 kg 30,480 kg - 32,500 kg 12.033 m 2.352 m 2.698 m 12.192 m 2.438 m 2.896 m

40 HIGH CUBE

Door Opening Width 2.340 m Door Opening 2.585 m Height Lashing Rings Ten on each top and bottom rails, capacity 2,000 kg; Three on each corner post, capacity 1,500 kg

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

DESCRIPTION
Cubic Capacity Payload (Weight) Tare Weight Max Gross Weight Internal Length Internal Width Internal Height

SPECIFICATION
86.500 cubic meters 28,280 kg 4,740 kg 33,020 kg 13.556 m 2.352 m 2.701 m 13.716 m 2.438 m 2.896 m

45 HIGH CUBE

External Length External Width External Height

Door Opening 2.340 m Width Door Opening 2.588 m Height Lashing Rings Twelve on each top and bottom rails, capacity 2,000 kg; Three on each corner post, capacity 1,500 kg

SESI 3 :
Indonesia National Single Windows (INSW)

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Pengertian umum Indonesia National Single Window (INSW)

Diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2008, yaitu Sistem nasional Indonesia yang memungkinkan dilakukannya suatu penyampaian data dan informasi secara tunggal (single submission of data and information), pemrosesan data dan informasi secara tunggal dan sinkron (single and synchronous processing of data and information), dan pembuatan keputusan secara tunggal untuk pemberian izin kepabeanan dan pengeluaran barang (single decision making for customs clearance and release of cargoes).

Tujuan utama penerapan Sistem NSW di Indonesia :


Penerapan Sistem Nationa Single Window di Indonesia, pada dasarnya mempunyai tujuan utama yang menyangkut dua aspek, yaitu : 1.Untuk meningkatkan kecepatan pelayanan dan efektifitas pengawasan, serta kinerja seluruh kegiatan yang terkait dengan lalulintas barang ekspor-impor 2.Untuk me-minimalisasi waktu dan biaya yang diperlukan dalam seluruh kegiatan penanganan atas lalulintas barang ekspor-impor, terutama yang terkait dengan proses customs clearance and release of cargoes

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Sasaran yang dituju dalam pembangunan, pengembangan dan penerapan Sistem NSW di Indonesia :

1.Peningkatan kecepatan proses layanan yang terkait dengan ekspor-impor di semua Instansi 2.Pemerintah (GA) 3.Minimilisasi waktu dan biaya yang dikeluarkan oleh Pelaku Usaha dalam melakukan pengurusan dan penyelesaian kewajiban ekspor-impor 4.Peningkatan validitas dan akurasi data/ informasi yang terkait dengan ekspor-impor 5.Penyediaan instrumen pengawasan yang efektif untuk mengawasi seluruh kegiatan layanan ekspor-impor 6.Penerapan prinsip-prinsip Good-Governance pada semua layanan publik yang terkait dengan ekspor-impor, di seluruh Instansi Pemerintah

SESI 4 & 5 :
Prosedur Kepabeanan Export dan Import

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

KEPABEANAN
Adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pengawasan atas lalu lintas barang yang masuk atau keluar Daerah Pabean serta pemungutan Bea Masuk dan Bea Keluar

DAERAH PABEAN
Adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat, perairan dan ruang udara diatasnya serta tempattempat tertentu di zona ekonomi eksklusif dan landas kontinen yang didalamnya berlaku undang-undang ini

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

PEMBERITAHUAN PABEAN

Bahwa setiap barang ekspor dan impor wajib menggunakan dokumen pemberitahuan pabean, yaitu PEB (Pemberitahuan Ekspor Barang) untuk ekspor, dan PIB (Pemberitahuan Impor Barang) untuk Impor, yang dapat dibuat dengan mengisi formulir atau dikirim melalui media elektronik

Jika sudah mendapat persetujuan dari Bea Cukai, Respon dari PEB adalah dokumen Persetujuan Ekspor (PE) sedangkan respon untuk PIB adalah dokumen Surat Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB)

PEMBERITAHUAN PABEAN

Jika sudah mendapat persetujuan dari Bea Cukai, Respon dari PEB adalah dokumen Persetujuan Ekspor (PE) sedangkan respon untuk PIB adalah dokumen Surat Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB)

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) & Pemberitahuan Impor Barang (PIB)

Jenis Barang yang dikecualikan dari pembuatan PEB dan PIB :


Barang penumpang dan barang awak sarana pengangkut Barang Pelintas Batas Barang dan atau kendaraan bermotor yang diekspor kembali dg menggunakan dokumen yg diatur dlm ketentuan kepabeanan Internasional Barang kiriman melalui PT. Pos Indonesia

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

HARMONIZED SYSTEM (HS)

Klasifikasi barang adalah suatu daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis dengan tujuan untuk mempermudah pentarifan transaksi perdagangan, pengangkutan dan statistik. Berdasarkan UU Kepabeanan Indonesia No. 17 tahun 2006, penetapan klasifikasi barang diatur lebih lanjut oleh Menteri Keuangan.

Pada saat ini sistem pengklasifikasian barang di Indonesia didasarkan pada Harmonized System dan dituangkan dalam daftar tarif yang kita kenal dengan sebutan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI)

BUKU TARIF BEA MASUK INDONESIA (BTBMI) EDISI 2010

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

FORMAT BTBMI 2010

TUJUAN PENGGUNAAN HS
1. Memberikan keseragaman dalam daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis, untuk penetapan tarif pabean secara mendunia 2. Memudahkan pengumpulan, pembuatan dan analisis statistik perdagangan dunia 3. Memberikan sistem Internasional yang resmi untuk pemberian kode, penjelasan dan penggolongan barang untuk tujuan perdagangan seperti tarif pengangkutan, keperluan pengangkutan, dokumentasi dan sebagainya 4. Memperbaharui sistem klasifikasi barang sebelumnya, untuk mengantisipasi perkembangan teknologi dan industri serta pola perdagangan Internasional

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

FASILITAS KEPABEANAN
TUJUAN DIBERIKANNYA FASILITAS KEPABEANAN :
Memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi pertumbuhan ekonomi nasional

KONTRIBUSI FASILITAS KEPABEANAN TERHADAP PEMBANGUNAN : Memajukan Industri Dalam Negeri


Membuka Lapangan Kerja Pengaruh Terhadap Penerimaan Negara

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

FASILITAS KEPABEANAN

Berkaitan dengan Pelayanan

Kemudahan Pemungutan Bea Masuk & PDRI

MACAM FASILITAS KEPABEANAN :


Pemberitahuan pendahuluan (Pre-Notification) Pelayanan segera Pembongkaran dan penimbunan barang impor ditempat selain Kawasan Pabean dan TPS Pemeriksaan barang impor di gudang / penimbunan importir Pengambilan contoh untuk pembuatan PIB Pengeluaran barang impor terlebih dahulu (Voruitslag) Pemberian pembebasan dan/atau keringanan Bea Masuk dan/atau PDRI (Pajak Dalam Rangka Impor)

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Fasilitas Kepabeanan yang berkaitan dengan kemudahan (Pembebasan / Keringanan) Bea Masuk dan PDRI :

Pembebasan Mutlak

Pembebasan Bersyarat

Pembebasan Mutlak :
1.Barang perwakilan negara asing beserta pejabatnya 2.Barang untuk keperluan badan internasional beserta pejabatnya yang bertugas di Indonesia 3.Barang dan bahan untuk diolah, dirakit atau dipasang pada barang lain untuk tujuan ekspor 4.Buku ilmu pengetahuan 5.Barang kiriman hadiah untuk keperluan ibadah umum, amal, sosial,dan kebudayaan 6.Barang keperluan museum, kebun binatang, dan tempat lain yang semacam itu yang terbuka untuk umum 7.Barang untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan 8.Barang untuk keperluan khusus kaum tuna netra dan penyandang cacat lainnya 9.Persenjataan, amunisi dan perlengkapan militer termasuk suku cadangnya yang diperuntukkan bagi keperluan pertahanan dan keamanan 10.Barang contoh yang tidak diperdagangkan 11.Peti atau kemasan lain yang berisi jenazah 12.Barang pindahan 13.Barang pribadi penumpang, awak sarana pengangkut, pelintas batas dan barang kiriman

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Pembebasan Relatif / Bersyarat :


1. Mesin, barang dan bahan dalam rangka pembangunan 2. Peralatan dan bahan yang digunakan untuk mencegah pencemaran lingkungan 3. Bibit dan benih untuk pembangunan dan pengembangan industri pertanian, peternakan dan perikanan 4. Hasil laut yang ditangkap dengan sarana pengangkut yang telah mendapat izin 5. Impor kembali barang yang diekspor 6. Barang yang mengalami kerusakan, penurunan mutu, kemusnahan, atau penyusutan volume atau berat 7. Bahan terapi manusia, pengelompokan darah dan bahan penjenisan jaringan 8. Barang pemerintah pusat atau pemerintah daerah yang ditujukan untuk kepentingan umum 9. Barang impor untuk tujuan diekspor kembali

PEMERIKSAAN PABEAN
Terhadap Barang Ekspor Impor dilakukan Penelitian Dokumen, dan Dalam hal Tertentu Dilakukan Pemeriksaan Fisik Untuk :
1. Barang yang diimpor kembali (Re-Impor) 2. Barang yang diekspor kembali (Re-Ekspor) 3. Barang yang mendapat fasilitas KITE (Kemudahan Impor Tujuan Ekspor) 4. Barang yang terkena NHI (Nota Hasil Intelejen)

Pemeriksaan Fisik Barang Dilakukan di :


1. Kawasan Pabean 2. Luar Kawasan Pabean (Gudang Eksportir / Importir atau di tempat lain)

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import


CARA MENGHITUNG BEA MASUK (BM) & PDRI (PPn, PPh, PPnBm) :
Mencari besarnya tarif BM pada buku BTBMI (Buku Tarif Bea Masuk Indonesia) Tarif bea masuk berupa persentase dari nilai impor barang dan ditentukan oleh kode HS barang tersebut. Misalnya: 5 %, 10 % dll. Dan dapat pula sesuai ketentuan menggunakan tarif nominal untuk barang-barang tertentu, misalnya Rp. 600 per kg untuk tarif impor beras.

Mencari nilai CIF, Rumus: Harga FOB + Insurance + Freight Mencari besarnya NDPBM (Nilai Dasar Penghitungan Bea Masuk) yaitu nilai kurs valuta asing terhadap rupiah. NDPBM ditetapkan oleh menteri keuangan C.Q: Dir Jen Bea dan Cukai setiap seminggu sekali di hari Senin

Mencari nilai CIF dalam rupiah. Rumus: CIF dalam dollar x NDPBM Nilai CIF dalam rupiah ini di namakan Nilai Impor Menghitung besarnya Bea Masuk (BM) yang harus dibayar, Rumus: Tarif Bea Masuk x Nilai Impor Menghitung Nilai Pabean (NP), Rumus: BM + Nilai Impor Menghitung PPN Impor yang harus dibayar, Rumus: 10 % x Nilai pabean (NP) Menghitung PPh yang harus dibayar. Rumus: 2,5 % x Nilai Pabean (NP) Menghitung PPn Bm yang harus dibayar. Rumus: Tarif PPn Bm x Nilai Pabean (NP) Menghitung keseluruhan pungutan negara dalam rangka impor Rumus: BM + PPN + PPh+PPn Bm

CONTOH PERHITUNGAN
Jika nilai CIF barang impor generator yang di impor dari cina adalah : USD 80.000, sedangkan tarif ocean freight adalah USD 3000, polis asuransi adalah USD 300, maka hitunglah: Bea masuk PPN PPh Total pungutan yang harus dibayar kepada Negara yang tercantum dalam PIB. Jika diketahui : Tarif Bea masuk : 10 %, NDPBM : USD 1 = Rp. 8.900,-

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

TRADE FINANCING
Sesi 6 : Transaksi Ekspor-Impor dengan L/C dan Non L/C Sesi 7 : Manajemen Pembiayaan Ekspor-Impor Sesi 8 : Negosiasi dan kontrak dagang

DEFINISI
Merupakan pembiayaan yang diberikan kepada Eksportir atau Importir dalam rangka mendukung aktivitas perdagangannya.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

1. KARAKTERISTIK :
Karakteristik trade finance antara lain : a. Self Liquidated Basis Suatu fasilitas yang bersifat siklikal dimana penyelesaian dari suatu pemberian fasilitas berasal dari underlying fasilitas itu sendiri. Hal ini menjadikan Fasilitas Trade Finance diminati perbankan atau Kreditur mengingat :

Mencerminkan kemampuan Debitur menyelesaikan

Fasilitas. Pembayaran kembali berasal dari Proceed yang timbul dari penjualan barangnya atau pencairan tagihan atas penjualan barang tersebut.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Contoh Kongkrit : Pembiayaan import, maka penyelesaian atau pembayaran atas Fasilitas import tersebut berasal dari penjualan barang yang diimport. Pembiayaan Diskonto Tagihan Ekspor, maka pembayaran kembali atas Diskonto tersebut berasal dari proceed tagihan ekspor itu sendiri

b. Short Term Financing

Umumnya satu trade cycle industri yang berkaitan trade finance tidak melebihi 1 tahun. Sehingga pembiayaan trade finance umumnya Short term. Hal ini menyebabkan : Kreditur menyenangi karakteristik pembiayaan ini berkaitan probability dan kemampuan untuk memtigasi resiko yang cukup tinggi. Ketersediaan sumber sumber dana jangka pendek yang relatif cukup banyak.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

c. Repetitive Business

Transaksi trade finance biasanya akan terus berulang dan hal ini menyebabkan banyak pihak (khususnya perbankan) menjadikannya sebagai Sumber Fee Base Income yang continue.

d. Self Controlled

Transaksi pembiayaan trade yang tepat dengan dukungan underlying transaction yang proper, menyebabkan transaksi terkontrol dengan sendirinya. Contoh kongkrit dengan Assigment of Proceed Export ke escrow atau Suspend Account Beneficiary yang ditunjuk

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

2. Foreign Trade Contract :


Kesepakatan untuk melakukan transaksi perdagangan internasional biasanya dilakukan secara tertulis yang dituangkan dalam Foreign Trade Contracts yang umum dikenal dengan Sales Contract.

a. Elemen Dasar atas suatu Sales Contract : 1. Adanya penawaran dari suatu pihak dan adanya

akseptasi dari pihak lain. 2. Rencana pelaksanaan pengiriman barang oleh Eksportir dan penerimaan barang oleh Importir 3. Pertimbangan pembayaran untuk penetapan harga barang.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

b. Terms of Sales Contract

Kondisi kondisi yang penting yang harus tercermin dalam suatu Sales Contract antara lain : 1. Kontrak harus secara jelas mencantumkan jenis Credit yang dibutuhkan apakah Sight atau Usance. 2. Periode validity of Credit dan Shipment Date. 3. Biaya biaya yang dibebankan seperti Negotiation atau Discount Charges apakah atas beban Importir atau Eksportir.

4. Tanggal terakhir (dead line) Importir untuk

menyediakan Credit. 5. Jika Eksportir menginginkan Credit diteruskan ke banknya maka Nama dan Alamat Bank Eskportir harus tercantum jelas di dalam kontrak.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

6. Disarankan bagi Eksportir untuk mencantumkan

klausul didalam kontrak yang menyatakan bahwa tanggal terakhir penyerahan barang adalah maksimal sesuai upaya (good faith) yang memungkinkan dilakukan perubahan dalam kondisi kondisi tertentu diluar kontrol Eksportir.

7. Term of Delivery harus dituangkan secara jelas

apakah FOB (Pelabuhan Muat), atau C & F (nama pelabuhan bongkar) atau CIF (nama pelabuhan bongkar), dan sebagainya.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

8. Jika Credit tidak sesuai dengan term dalam Sales

Contract, maka Eksportir harus segera mengkomunikasikan dengan Importir untuk dilakukan amendemen. Jika tidak dilakukan didepan maka akan beresiko tinggi bagi Eksportir dan dokumen kemungkinan ditolak bank.

c. Hal hal prinsip yang harus diperhatikan sebelum

menandatangani Sales Contract. 1. Kepastian Jenis dan Cara Pembayaran Jenis mata uang, jumlah dan dokumen dokumen pembayaran yang dipersyaratkan. Ketentuan timbulnya kewajiban bayar (Contoh 30 days after shipment)

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Cara pembayaran L/C atau Non L/C Ketentuan dimana pembayaran dapat diperoleh atas

pengiriman atau penunjukkan dokumen


Schedule pembayaran

2. Memahami semua biaya yang akan timbul Kesepakatan atas beban siapa biaya biaya yang

timbul atas transaksi trade seperti biaya pengapalan, biaya asuransi, biaya perizinan, dan sebagainya. Biaya biaya yang timbul atas penggunaan Jasa Lembaga Keuangan (bank) atas beban siapa.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

3. Pemahaman tentang Peraturan yang berlaku

Pada Sales Contract para pihaknya Importir dan Eksportir umumnya berada dalam negara yang berbeda. Dalam skala kontrak ini diperlukan keberadaan pilihan hukum demi kepastian hukum. Jika tidak ada pilihan hukum, maka hukum yang berlaku ditentukan oleh hakim berdasarkan prinsip prinsip hukum perdata internasional yang berlaku.

Seperti : Teori tempat kontrak dibuat (lex loci contractus) Teori tempat kontrak dilaksanakan (lex loci solutionis) Teori keterkaitan paling dekat dan paling nyata (the closet and most real connection )

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Beberapa pakar hukum lebih menyetujui teori ke 3 dimana hukum nasional tempat penjual berada, karena ia yang menyediakan bahan baku, memproduksi barang dan mempersipakan pengiriman barang. Semua upaya memiliki keterkaitan paling dekat dan paling nyata dibandingkan dengan pembeli yang hanya mengeluarkan uang.

d. Beberapa Common Disputes dalam Sales Contracts 1. Resiko Barang

Penolakan barang yang dilakukan oleh Importir sehubungan dengan barang tidak sesuai dengan deskripsi pada Sales Contract termasuk metode pengemasan.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

2. Resiko Delivery

Ketidaktepatan Eksportir mengirim barang sehingga melewati batas periode delivery yang disepakati dalam Sales Contract, baik atas kelalaian Eksportir maupun atas kondisi yang tidak dapat dikontrol Eksportir.

3. Resiko Tidak Dibayar/Diaksep

Resiko tidak dibayar atau diaksepnya barang oleh Importir padahal barang telah dikirim sesuai dengan waktu dan persyaratan dalam Sales Kontrak.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Untuk meminimalisir resiko resiko di atas, biasanya setelah Sales Contract sebaiknya diikuti dengan penggunaan L/C.

Jika dalam Sales Contract mensyaratkan pembayaran dengan L/C maka Importir berkewajiban untuk membuka L/C melalui banknya yang ditujukan kepada Eksportir. Hal yang terpenting adalah term dan kondisi L/C harus sejalan dan memasukkan seluruh ketentuan ketentuan yang dipersyaratkan dalam Sales Contract.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

3. L/C Sebagai Instrumen Pembiayaan


L/C secara umum merupakan suatu perikatan yang didalamnya terdapat komitmen dari suatu bank (Issuing Bank) untuk melaksanakan pembayaran kepada pihak lain (Beneficiary) sepanjang syarat yang telah ditentukan dalam L/C yang diwujudkan dalam bentuk dokumen telah dipenuhi.

Penggunaan L/C didalam perdagangan internasional secara prinsip ada 2 : a. L/C sebagai Metode Pembayaran b. L/C sebagai Instrumen Pembiayaan

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Sebagai metode pembayaran L/C adalah salah satu dari berbagai macam metoda pembayaran yang umum dikenal dalam perdagangan internasional seperti Advance Payment, Open Account, Consignment, Collection, Counter Trade dan metode metode lainnya yang disepakati bersama antara Buyer dan Seller.

a. Advance Payment

Importir membayar dimuka kepada Eksportir sebelum barang dikirim. Resiko dihadapi oleh Importir apabila baramg tidak dikirim atau barang tidak sesuai dengan pesanannya.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

b. Open Account

Importir menerima barang sebelum dilakukan pembayaran, atau merupakan kredit dari Eksportir. Resiko dihadapi oleh Eksportir terhadap kepastian pembayaran dari Importir.

c. Consignment

Eksportir menitipkan barang kepada Importir, serta menyetujui pembayaran hanya akan dilakukan oleh Importir setelah barang laku dijual dinegara Importir. Kedudukan Importir sebatas pihak yang dititipkan barang. Resiko yang dihadapi Eksportir adalah tidak ada kepastian pembayaran.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

d. Collection

Adalah penanganan dokumen dokumen oleh bank sesuai dengan instruksi yang diterima untuk mendapatkan pembayaran atau akseptasi. Resiko dari collection adalah belum adanya kepastian pembayaran. Sekalipun fungsi intermediary bank sudah digunakan tetapi hanya sebatas pelayanan jasa dan bukan penjaminan adanya kepastian pembayaran

e. Sistem Pembayaran lainnya

Berbagai macam cara pembayaran lain berdasarkan kesepakatan para pihak, misalnya counter trade atau barter. Sistem counter trade dimana pembayaran impor dilakukan dengan cara mengekspor barang yang nilainya sama.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Dari berbagai metode pembayaran, penggunaan L/C sangat disarankan dengan pertimbangan : Dari sisi Eksportir : - Keyakinan akan menerima pembayaran atas barang yang dijual, sepanjang dapat memenuhi persyaratan dalam L/C

Dari sisi Importir : - Keyakinan akan memperoleh barang sesuai dengan yang diinginkan atau diperjanjikan.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Dari sini jelas bahwa fungsi L/C mengamankan Eksportir dan Importir terhadap resiko resiko perdagangan akibat keraguan kedua belah pihak atas performance Eksportir dan Credibility Importir. Enhancement dari fungsi L/C adalah sebagai Instrumen Pembiayaan dimana L/C dapat dijadikan alat bagi kedua belah pihak untuk memperoleh pembiayaan.

Berikut contoh contoh sederhana penggunaan L/C sebagai sumber pembiayaan : A. L/C available by acceptance (ussance draft) Jenis pembiayaan ini memungkinkan Importir menerima barang dan membayar kemudian. Usance draft dapat ditarik pembayarannya dengan periode tertentu, misalnya 40 hari after sight. Tingkat keamanan dibandingkan Sight L/C sebenarnya sama saja, sebab jika usance draft telah diaksep, maka issuing bank akan mengambil alih pembayaran usance draft pada saat jatuh tempo.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Hal yang perlu diperhatikan Eksportir jika ingin mendapatkan pembayaran didepan adalah kemungkinan dikenakan discount charges bank, komisi akseptasi atau biaya bunga atas diskonto draft usance. Kecuali memang sudah disepakati bahwa usance draft bisa dinegosiasi at sight basis, dan discount charges atau interest dibebankan pada Importir, sebagai contoh : Usance draft under this credit are to be negotiated on a sight basis, and discount charges or interest thereon are for the account of buyer.

B. Red Clause L/C

L/C yang memungkinkan Eksportir mendapatkan pembiayaan berupa uang muka sebelum mengapalkan barang sesuai dengan yang diminta didalam L/C.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Contoh : Red Clause : The Beneficiary is authorized to draw sight draft on the opener up to 40% of the Credit amount and such draft is to be accompanied by a statement that the relative shipping documents will be presented to the negotiating bank within the validity of the credit.

Interest rate atas uang muka tersebut dapat ditanggung oleh Importir yang diperhitungkan ke dalam harga barang, atau ditanggung oleh Eksportir dengan bunga yang berlaku antara bank yang memberikan uang muka dengan Eksportir.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Jika pada akhirnya eksportir mempresentasikan dokumen maka jumlah yang dapat ditarik adalah sisanya. Hal yang perlu diperhatikan bahwa Importir bertanggungjawab penuh terhadap pembayaran kembali atas penarikan dana dimuka oleh Eksportir termasuk semua biaya biaya yang mungkin timbul kepada issuing bank terhadap setiap kejadian default oleh Eksportir dalam mengirimkan barang sesuai persyaratan L/C.

C.Documentary Credit With Defend Payment

Importir akan menerima barang dengan memperoleh penundaan pembayaran selama periode tertentu misal 120 hari setelah tanggal pengapalan barang atau setelah tanggal penyerahan dokumen kepada bank. Umumnya jenis credit ini tidak diperlukan Beneficiary draft.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

D.Revolving Credit.

Karakteristik Revolving Credit adalah jika sejumlah dana sudah ditarik, otomatis Credit kembali pada jumlah semula. Contoh Kongkrit : Jika telah ditarik Sight Draft senilai US$. 5 juta atas Revolving Credit senilai US$. 7 juta, maka Credit akan ditambahkan kembali otomatis senilai US$ 5 juta menjadi US$ 7 juta.

This Credit is a revolving credit, valid until March 20th , 2002. when an amount has been paid the credit is restored automatically to its origin amount. Jenis Credit ini umumnya Revocable, yang berarti setiap saat dapat dibatalkan atau dirubah tanpa persetujuan Eksportir. Credit ini jarang digunakan dalam perdagangan internasional karena ketidakpastian pembayarannya.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Keuntungan Revolving Credit : Umum digunakan oleh partner trading yang telah lama saling mengenal. Memungkinkan Importir membeli barang dari waktu ke waktu jika situasi pasar menguntungkan tanpa harus membuka L/C baru. Eksportir tidak harus menunggu L/C Ekspor baru, cukup dengan L/C yang sama untuk segera mengapalkan barang dan menerima pembayaran.

E.Tranferable Credit

Credit yang memperbolehkan Eksportir mengalihkan (transfer) Credit baik keseluruhan maupun sebagian kepada pihak ketiga. Transfer Credit hanya bisa dialihkan satu kali. Biaya bank yang timbul atas transfer L/C ini biasanya menjadi beban Eksportir (First Beneficiary).

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Latar belakang Eksportir membutuhkan Tranferable L/C antara lain : - Keterbatasan modal - Kapasitas produksi Eksportir yang sudah maksimal sehingga diperlukan pengalihan sebagian order, umum dilakukan dalam industri garment

Hal hal yang perlu dicermati : 1. Eksportir (First Beneficiary) dapat menginstruksikan Advising bank untuk tidak memberitahu Supplier (Second Beneficiary) nama dari Final Importir.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

2. Eksportir (First Beneficiary) dapat memodifikasi

Credit seperti mengurangi nilai Credit, merubah tanggal pengapalan, validity Credit, dan sebagainya. Advising bank akan berperan sebagai Issuing bank dan Supplier (Second Beneficiary) akan berperan sebagai Eksportir.

3. Jika Supplier (Second Beneficiary) mempresentasikan

dokumen kepada bank, Eksportir (First Beneficiary) mempunyai hak untuk mengganti invoice dan draftnya sendiri untuk kepentingannya.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

F. Assignment of Documentary Credit Claim

Eksportir memberitahu (notify) Advising bank bahwa Eksportir telah mengalihkan secara tidak dapat dibatalkan (Irrevocable assigned) kepada Supplier bagian dari proceed ekspor atas Irrevocable Credit yang dibuka untuk kepentingan Eksportir.

Hal ini dilakukan Eksportir karena keterbatasan modal kerja dan digunakan untuk menyakinkan dan membayar Supplier. Advising bank selanjutnya memberitahu Supplier Eksportir bahwa Ybs akan dibayar sejumlah tertentu atas proceeds tagihan ekspor yang akan diperoleh Eksportir.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Hal yang perlu dicermati bahwa metode pembayaran ini tidak selalu menjamin kepastian pembayaran Supplier. Jika negosiasi tidak terjadi akibat discrapancies dokumen ekspor, Supplier mungkin akan terlambat atau bahkan gagal memperoleh pembayaran.

G.Back to back Credit

Seiring dikenal dengan Counter Credit. Memungkinkan bagi Eksportir untuk membeli barang dari Supplier dan menjual kepada Final Buyer. Penyelesaian transaksi ini dengan menggunakan Documentary Credit.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Contoh Kongkrit : Pembeli Jepang di Tokyo menginstruksikan banknya untuk membuka L/C untuk kepentingan Eksportir di Singapura senilai US$. 10 Juta untuk membeli 1000 m3 plywood yang dikapalkan dari Indonesia ke Jepang. Jelas bahwa Eksportir di Singapura harus membeli dari Supplier di Indonesia dan menjualnya ke pembeli di Jepang.

Dalam rangka membayar Supplier di Indonesia dengan mempertimbangkan keterbatasan modal, Eksportir di Singapura membawa L/C Ekspor kepada banknya di Singapura untuk meminta membuka Credit baru untuk kepentingan Supplier di Indonesia. Credit baru ini disebut dengan back to back L/C atau Counter Credit. Untuk mendukung pembukaan L/C baru ini, Issuing bank dapat menahan proceed ekspor sebagai jaminan.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Hal yang perlu diperhatikan : Eksportir (di Singapura) harus yakin bahwa term back to back credit berdasarkan apa yang ada pada Export Credit yang diterbitkan Final Buyer di Tokyo. Pengembangan atas penggunaan L/C sebagai instrumen pembiayaan akan dijelaskan lebih detail pada produk produk trade finance yang akan dibahas kemudian.

a. Credit Risk of L/C

Walaupun fungsi L/C untuk mengamankan pembayaran, tetapi resiko kredit atas L/C tetap ada. Resiko tersebut antara lain : Dari sisi Aktivitas Penjual (Eksportir) :

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Resiko tersebut antara lain : Dari sisi Aktivitas Penjual (Eksportir) : 1. Non Payment Risk Resiko tidak dibayarnya L/C berkaitan Credibility Issuing bank khususnya berkaitan issuing bank risk dan country risk.

2. Documentary Risk

Kegagalan Eksportir memenuhi segala persyaratan document yang dibutuhkan berkaitan pembayaran atau pengambilalihan dokumen against payment atau acceptance.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Resiko tersebut antara lain : Dari sisi Aktivitas Penjual (Eksportir) : 3. Commercial Risk Ketidakmampuan Eksportir mendelivery barang berkaitan performance Eksportir.

Dari sisi Aktivitas Pembeli (Importir) : 1. Payment Risk Ketidakmampuan Importir menyelesaikan kewajiban Importnya berkaitan pengamanan hasil penjualan barang yang diimport. 2. Good Risk Ketidak sesuaian barang yang diperjanjikan dengan barang yang dikirim oleh Eksportir, walaupun seluruh dokumen comply with the term of Credit.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Dari sisi Aktivitas Pembeli (Importir) : 3. Documentary Risk Tidak bersedianya Importir melakukan pembayaran atau mengaksep dokumen berkaitan tidak sesuainya dokumen terhadap Credit yang berdampak non payment bagi issuing bank.

b. Mitigasi Credit Risk of L/C

Penjual (Eksportir) a. Pengamanan atas resiko non payment atas L/C antara lain adalah dengan menjaminkan pada perusahaan asuransi terhadap resiko tidak dibayarnya L/C (Credibility of Issuing bank) dan resiko negara (Country Risk).

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Strategi lain adalah meminta kepada Advising bank (atas persetujuan dan instruksi Applicant yang diteruskan issuing bank) untuk menambahkan konfirmasi atas L/C yang dibuka issuing bank, khususnya akan menambah Credibility (dari Confirming bank) dan Country Risk bergeser menjadi Country Risk dari bank yang melakukan konfirmasi.

b. Bagi Eksportir, resiko tidak dapatnya memenuhi

document yang dipersyaratkan adalah dengan mempelajari dari awal probability melengkapi persyaratan dokumen. Tidak perlu ragu untuk mensegerakan dilakukan amandemen L/C sebelum memulai pembelian bahan baku untuk diproduksi.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

c. Commercial risk dari Eksportir, Bagi bank yang

memberikan pembiayaan Eksport kepada Eksportir untuk meminimalisir resiko ini, maka diperlukan pengamatan yang cermat, credibility dan capacity Eksportir. Beberapa perusahaan asuransi kredit bisa memberikan jaminan atas commercial risk Eksportir terhadap resiko macetnya kredit yang diberikan ke Eksportir.

Pembeli (Importir) a. Risk tidak terbayarnya kewajiban Impor oleh Importir pada issuing bank diatasi dengan analisa yang matang dan penyiapan Fasilitas Kredit (antara lain TR) untuk menyelesaikan kewajiban impor. Untuk barang impor yang diproduksi dan diekspor, bank harus menguasai Proceed Ekspor yang akan diperoleh antara lain dengan Assignment of Proceed Eksport pada Escrow atau Suspend Account Importir.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

b. Pengamanan atas resiko barang yang tidak sesuai dengan

yang dikirim Eksportir. Kita tahu memang bank hanya berhubungan dengan dokumen dan tidak terhadap barang. Untuk itu biasanya dipersyaratkan tambahan dokumen pada L/C antara lain sertifikasi bahwa barang telah sesuai dengan kondisi yang diminta oleh perwakilan Independent Surveyor di negara Eksportir atau pernyataan dari Agent Buyer di negara Eksportir sebelum barang siap dikapalkan.

c. Untuk mengamankan documentary risk bagi issuing

bank adalah dengan menerapkan pemeriksaan dokumen yang seksama dan cermat. Disinilah pentingnya setoran jaminan dan back up collateral bagi issuing bank.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

4. FASILITAS BANK
a. Fasilitas Pembiayaan Impor

Pembiayaan yang diberikan kepada Nasabah untuk pembelian atau pengadaan barang atau jasa dari Luar Negeri (Impor) dalam bentuk penundaan pembayaran. Kebutuhan impor financing tersebut muncul karena adanya cash cycle atas barang yang diimpor; yakni proses sejak membeli barang sampai dengan dilakukan pembayaran tunai atas barang yang diimpor tersebut.

Produk produk Pembiayaan Impor : 1. Fasilitas L/C Usance Merupakan Fasilitas Kredit yang diberikan kepada Importir dari Eksportir berupa kesediaan Eksportir untuk menerima L/C dalam bentuk Usance dari banknya Importir.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Karakteristik : - Relationship yang baik antara Buyer dan Seller - Biasanya barang yang diimpor merupakan Buyers Market - Tenor disesuaikan dengan cash cycle, Jika masih kurang maka dapat diikuti dengan Post Impor Financing - Interest usance biasanya dikapitalisir ke dalam nilai L/C umumnya dengan dasar perhitungan Interest rate di negara Seller (Discount Charges atau Lending Rate)

2. Fasilitas L/C Refinancing

Merupakan pembiayaan yang dilakukan oleh Refinancing Bank melalui Issuing Bank untuk kepentingan Importir atas dasar kredibilitas dari Issuing Bank.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Karakteristik : - Pembayaran kepada Beneficiary dapat dilakukan antara lain secara Sight Basis oleh Refinancing Bank. - Issuing Bank akan melakukan pembayaran kepada Refinancing Bank secara berjangka. - Sebenarnya merupakan Credit dari Issuing Bank kepada Importir dengan sumber dana dari Refinancing Bank.

- Tenor Refinancing disesuaikan dengan Cash Cycle. - Dari sisi Refinancing Bank, Assessment Risk dilakukan terhadap Issuing Bank Risk dan Country Risk Issuing bank - Tingkat bunga yang dikenakan kepada Importir biasanya adalah issuing bank rate yang terdiri dari interest rate refinancing bank ditambah margin issuing bank

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Bagi Bank, Fasilitas ini menguntungkan sebagai sumber pendapatan (Interest/margin dan fee base), memelihara corporate client yang sensitif terhadap interest dan meningkatkan portofolio kredit valas. Bagi Nasabah, Fasilitas pembiayaan ini memberikan tingkat bunga yang kompetitif dan pembiayaan sesuai dengan cash cycle.

3. Fasilitas L/C UPAS

Dalam suatu kondisi dimana likuiditas Importir terbatas, disatu sisi Eksportir membutuhkan dana segar, maka dapat diberikan alternatif Fasilitas UPAS. L/C yang dibuka oleh Importir tetap usance, tetapi pembayaran kepada Eksportir at Sight.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Merupakan Fasilitas Kredit yang diberikan kepada Importir berupa L/C usance, sedangkan pembayaran at sight oleh bank (dapat negotiating bank atau bank lain yang ditunjuk) kepada Eksportir. Tingkat bunga yang dikenakan umumnya adalah Discount Charges atas bank yang melakukan pembayaran at Sight dan dapat dibebankan kepada Importir

4. Fasilitas TR Fasilitas yang diberikan kepada Importir dimana Importir

masih belum mempunyai dana untuk menebus dokumen dokumen untuk memperoleh barang barang impornya. Hal ini disebabkan adanya Time Gap antara kewajiban pembayaran L/C Impor Nasabah dengan Sumber pelunasan yang berasal dari penjualan barang yang diimpor.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Biasanya Nasabah menandatangani Perjanjian TR yang

mengizinkan Importir menerima barang akan tetapi kepemilikan barang masih tetap pada bank. Selanjutnya atas kuasa bank, Importir diperkenankan menjualnya untuk kemudian membayarkan hasilnya kepada bank. Barang dilepaskan secara fisik tetapi kepemilikan tetap pada bank yang bersangkutan.

b. Fasilitas Pembiayan Ekspor

Berdasarkan tenor dan tujuan pembiayaan, Fasilitas Pembiayaan Ekspor terbagi atas 2 (dua) macam : 1. Kredit Modal Kerja Ekspor; merupakan pembiayaan jangka pendek (umumnya maksimal 1 tahun) yang bertujuan untuk membiayai antara lain persedian dan piutang eksportir.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

2. Kredit Investasi Ekspor; merupakan pembiayaan atas

kebutuhan investasi eksportir antara lain pengadaan mesin mesin untuk memproduksi barang atau jasa dalam rangka ekspor.

1. Kredit Modal Kerja Ekspor

Kredit modal kerja ekspor terbagi atas Preshipment Financing dan Postshipment Financing Preshipment Financing : Merupakan pembiayaan yang diberikan kepada Eksportir sejak pembelian bahan baku, proses produksi sampai dengan pengapalan barang dilakukan.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Postshipment Financing: Merupakan pembiayaan yang diberikan kepada Eksportir setelah dilakukan pengapalan barang, dengan tenor sampai dengan diperolehnya pencairan atau pembayaran atas tagihan ekspornya.

Fasilitas Kredit Modal Kerja secara lebih rinci : a. Fasilitas Pembiayaan L/C Impor dalam rangka ekspor Awal kebutuhan Fasilitas ini adalah perbedaan waktu (Time Gap) antara jatuh tempo pembayaran kewajiban Impor dengan saat diperolehnya proceed ekspor dari luar negeri.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Dengan Fasilitas ini, Eksportir yang membutuhkan bahan baku impor memperoleh kesempatan untuk menunda pembayaran atas kewajiban impornya. Umumnya bank akan langsung membayar kewajiban pembayaran L/C Impor Debitur (nasabah Ekspor) yang diterbitkan untuk pembelian bahan baku atau suku cadang untuk satu siklus usaha (trade cycle) dalam rangka kegiatan ekspor.

Hal yang perlu diperhatikan adalah kewajaran nilai import dibandingkan dengan nilai kontrak ekspor atau L/C Ekspor yang diterima, serta kewajaran trade cycle debitur yang berkaitan dengan penetapan tenor pembiayaan.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

b. Fasilitas Kredit Modal Kerja Ekspor

Fasilitas yang diberikan bank kepada nasabah Ekspor atas kebutuhan modal kerja eksportir dalam rangka kegiatan ekspor barang dan jasa. Pola pemberian modal kerja terbagi 2; Transaksional (Documentary Base) dan Non transaksional (Kredit Modal Kerja Tahunan).

Transaksional VS Non Transaksional Pendekatan transaksional disesuaikan dengan kebutuhan modal kerja eksportir dalam satu trade cycle. Pencairan dan pelunasan kredit sesuai dengan sejak diterimanya kontrak ekspor atau L/C Eskpor sampai dengan diperolehnya proceed ekspor

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Contoh Kongkrit : Eksportir memperoleh L/C Ekspor senilai US$. 1 Juta, maka Fasilitas kredit dari bank dapat diberikan persentase tertentu (diluar profit) dari nilai L/C Ekspor yang segera digunakan untuk membeli bahan baku, melakukan aktivitas produksi hingga mengapalkan barang ekspor. Setelah eksportir mendapatkan pembayaran atas L/C Ekspor tersebut segera digunakan untuk melunasi Fasilitas Kredit tersebut.

Pada prakteknya untuk komoditi tertentu dan Eksportir yang sudah memiliki reguler buyer, Sales Kontrak atau L/C Ekspor tidak selalu dapat diperoleh dimuka. Kadangkala beberapa hari sebelum shipment. Sedangkan bahan baku sudah segera harus dibeli. Untuk itu diperlukan Kredit Modal Kerja Tahunan dimana kebutuhan modal kerja berdasarkan historikal ekspor dan proyeksi ekspor satu tahun ke depan dengan memperhatikan trade cycle industri yang bersangkutan.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Contoh Kongkrit : Historikal Ekspor debitur rata rata 3 tahun terakhir US$. 1 Juta Proyeksi Ekspor 1 tahun ke depan (growth 20 %) US$. 1,2 Juta Trade Cycle = 6 bulan COGS = 80 % Kebutuhan Modal Kerja 1 cycle = US$. 1.2 juta X 80% X 6/12 = US$. 480,000 Maksimum Pinjaman bank (asumsi self financing 20%) = 80 % X US$. 480,000 = US$. 384,000.

Fasilitas kredit dapat diberikan sekaligus senilai US$. 384,000 untuk satu tahun dengan target ekspor US$. 1.2 juta untuk satu tahun. Evaluasi akan dilakukan satu tahun kemudian berkaitan tercapai atau tidaknya rencana ekspor yang telah ditetapkan. Tambahan kredit dapat dipertimbangkan jika terdapat peningkatan penjualan, perubahan trade cycle ataupun perubahan cost structure Eksportir.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Fasilitas Kredit Modal Kerja Tahunan diperbankan umum terbagi dalam dua pola. Pola Pinjaman rekening Koran (PRK) dan Pola Reguler (Demand Loan). Pola PRK merupakan kelonggaran tarik yang diberikan kepada Nasabah umumnya untuk satu tahun, dimana penarikan dan pelunasan dapat dilakukan setiap saat dengan media cek atau giro.

Sedangkan pola Reguler, pinajaman sudah ditetapkan untuk satu tahun dan dropping dilakukan sekaligus ke rekening nasabah. Media penarikan adalah surat sanggup debitur dengan tenor tertentu.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

c. Fasilitas Discounting/Negotiating Tagihan Ekspor

Diskonto/Negosiasi Tagihan Ekspor umum dilakukan perbankan dengan hak regreess (with recourse) kepada Eksportir. Yakni hak bank untuk menagih kembali apabila terjadi resiko tidak dibayar, keterlambatan pembayaran atau pengurangan (deduction) dari issuing bank.

Fasilitas ini diperlukan Eksportir yang memerlukan pembayaran segera atas tagihan ekspor agar dapat mempercepat cash cycle untuk kembali membeli bahan baku. Pengambilalihan tagihan ekspor dapat atas dasar Non L/C maupun atas dasar L/C. Bagi bank hal yang perlu dicermati apabila atas dasar tagihan non L/C antara lain : - Commercial Risk; yang berkaitan dengan credibility dan bonafiditas Importir. - Political dan Country Risk.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Biasanya untuk mengamankan atas resiko tidak dibayarnya tagihan ekspor atas dasar Non L/C adalah diasuransikan atas resiko non payment melalui perusahaan asuransi antara lain : ASEI atau tagihan ekspor telah diaksep/diaval oleh bank diluar negeri atau dijamin Bank Garansi atau Standby L/C atau instrumen sejenis lainnya.

Hal hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilalihan tagihan ekspor atas dasar L/C antara lain : Credibility dari Issuing Bank Country and Political risk Dokumen sesuai dengan term dan kondisi L/C (tidak discrepancies).

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Jika terjadi discrepancies maka ada beberapa alternatif yang dapat dilakukan : 1. Payment under reserve, and subject to final payment by Importer Dalam hal kesalahan yang bersifat minor (Correctable) sedangkan perbaikan dokumen tidak mungkin dilakukan karena waktu terbatas, bank dapat mengambil alih dokumen dengan pencadangan. Umumnya Nego bank akan menahan proceed baik sebagian atau seluruhnya pada suspense/escrow account. Pelepasan dana dilakukan setelah ada otorisasi dari issuing bank.

Metode ini sangat tergantung kepercayaan bank. Ekportir harus memiliki kondisi keuangan yang kuat dan dikenal baik oleh bank.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

2. Negotiation under Letter of Indemnity

Secara umum Eksportir bisa meminta kepada banknya untuk menegosiasi dokumen dengan Letter of indemnity dari Eksportir terhadap penyimpangan; yang berisi pernyataan dari Eksportir untuk membebaskan Nego Bank dari segala kemungkinan kerugian dan biaya yang.akan timbul berkaitan dengan pembayaran draft eksportir.

3. Cable the issuing bank for authority to pay

Berikan secara ringkas penyimpangan penyimpangan yang terjadi pada dokumen dan mintakan authorisasi dari issuing bank. Umumnya dibutuhkan beberapa hari untuk memperoleh jawaban dari issuing bank dan ini tergantung sikap Importir. Umumnya biaya cable menjadi beban eksportir.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

4. Send documents to the issuing bank on collection

basis. Instruksi dari Eksportir kepada Nego bank untuk meneruskan dokumen kepada issuing bank dengan collection basis. Eksportir harus menunggu beberapa waktu sampai pembayaran dilakukan.

d. Fortaiting

Merupakan Fasilitas pembelian tagihan ekspor atas penjualan barang ekspor tanpa hak regress (without recource) kepada Eksportir, atau sering dikenal dengan istilah Final Payment. Pada umumnya jangka waktu forfaiting menengah dan jangka panjang dengan underlying transaksi dari ekspor barang barang modal.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Selain fee base income, bagi bank dengan dilakukannya Forfaiting maka Eksposure nasabah ke Eksportir berkurang dan risk beralih ke pihak luar negeri. Bagi Eksportir manfaat selain memperoleh dana segera juga tidak perlu khawatir atas resiko tidak dibayarnya tagihan ekspor tersebut mengingat pembayarannya adalah Final.

e. Factoring

Pada dasarnya serupa dengan Forfaiting dengan underlying factoring biasanya barang barang ekspor pada umumnya di Indonesia seperti Garment, Electronik, Furniture dan sebagainya, dengan jangka waktu dapat lebih pendek.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Eksportir dapat langsung atau melalui bank untuk mengalihkan piutang ekspornya kepada Factoring Company yang diikuti dengan financing dimuka. Umumnya Factoring Company yang selanjutnya akan melakukan penagihan melalui perusahaan Factoring di luar negeri (Impor Factor).

f. Bankers Acceptance

Adalah draft, promissory notes atau debt instrument lainnya yang underlyingnya berasal dari ekspor baik atas dasar L/C maupun non L/C. Debt instrument tersebut diterbitkan oleh bank, atau diaksep/ dijamin pembayarannya oleh bank atau lembaga keuangan non bank, yang risknya acceptable bagi pembeli.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

3. Kredit Investasi Ekspor

Fasilitas pembiayaan yang diberikan atas kebutuhan investasi Eksportir; antara lain pengadaan mesin mesin, bangunan pabrik, peralatan peralatan untuk memproduksi barang atau jasa dalam rangka ekspor

Hal hal yang perlu diperhatikan : Mengingat Fasilitas ini umumnya lebih dari 1 tahun maka perlu dicermati konsistensi Debitur dalam menjual produksinya ke pasar ekspor. Faktor ini sangat dipengaruhi oleh : Historical Debitur dalam merealisasikan ekspor. Loyalitas dan hubungan dengan Buyer

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Fluktuasi harga komoditi ekspor Konsistensi kebijakan pemerintah, antara lain pajak ekspor. Cash Flow Debitur berkaitan dengan kemampuan

membayar pokok dan bunga dari hasil penjualan ekspor. Perlu dilakukan sensitivity analysis; khususnya terhadap perubahan kurs, komposisi penjualan ekspor, perubahan cost structure dan sebagainya.

5. FASILITAS PEMERINTAH
a. Latar Belakang dan Pendirian BEI

Pendirian BEI didasarkan kepada Peraturan Pemerintah No. 37 tahun 1999 tentang Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia untuk Pendirian Perseroan (Persero) dibidang perbankan, dan izin usaha dari Bank Indonesia No. 1/12/KEP. GBI/1999 tanggal 18 Agustus 1999 tentang Pemberian Izin Usaha PT. Bank Ekspor Indonesia (Persero).

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Tujuan Pendirian BEI adalah untuk memberikan Fasilitas Kredit berupa Penjaminan dan Pembiayaan dalam rangka kegiatan ekspor, serta memberikan jasa konsultasi yang berkaitan dengan kegiatan ekspor dan impor.

Secara garis besar terdapat 3 pola pembiayaan BEI saat ini, Refinancing (Pembiayaan kembali yang dilakukan oleh BEI kepada Bank Pelaksana), Confinancing (Pembiayaan yang dilakukan secara bersama sama antara BEI dengan Bank Pelaksana) serta Guarantee (Penjaminan yang diberikan BEI kepada Bank Pelaksana) .

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

b. Produk produk BEI saat ini


Pola Refinancing Produk Penjaminan L/C Impor Pembiayaan L/C Impor atau SKBDN Penjaminan dan Pembiayaan L/C Impor Pembiayaan KMK Ekspor Pembiayaan Diskonto Tagihan Ekspor atau Tagihan dalam rangka ekspor Pembiayaan L/C Impor Pembiayaan KMK Ekspor Pembiayaan Diskonto Tagihan Ekspor atau Tagihan Dalam Rangka Ekspor Penjaminan Kredit Modal Kerja Ekspor US$ US$ / IDR US$ US$ & IDR US$ / IDR Valuta

Confinancing

US$ US$ & IDR US$ & IDR IDR

Guarantee

Fasilitas Penjaminan L/C Impor Merupakan Penjaminan yang diberikan oleh BEI atas L/C yang diterbitkan oleh Bank Pembuka di dalam negeri (Bank Pelaksana) atas permintaan nasabahnya (Eksportir) untuk pengadaan bahan baku atau suku cadang (termasuk mesin) dalam rangka kegiatan ekspor barang maupun jasa. Fasilitas ini sangat bermanfaat untuk kelancaran Eksportir dalam rangka pengadaan bahan baku dan atau suku cadang dari luar negeri

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Fasilitas Pembiayaan L/C Impor atau SKBDN Merupakan Fasilitas Pembiayaan yang diberikan oleh BEI atas kewajiban pembayaran L/C Impor atau SKBDN (Lokal) dalam rangka pembelian bahan baku atau suku cadang (termasuk mesin) dalam rangka ekspor barang maupun jasa. Fasilitas ini bermanfaat untuk membantu kelancaran eksportir dalam rangka pengadaan bahan baku atau suku cadang baik lokal maupun dari luar negeri.

Fasilitas Pembiayaan Kredit Modal Kerja Ekspor Merupakan Fasilitas Pembiayaan yang diberikan oleh BEI berdasarkan kebutuhan Modal Kerja Eksportir dalam rangka kegiatan ekspor barang maupun jasa, yang didasari oleh :

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

a. Kebutuhan Transaksional yakni disesuaikan dengan

kebutuhan Modal Kerja dalam satu trade cycle. b. Kebutuhan Modal Kerja Tahunan yakni disesuaikan dengan kebutuhan modal kerja berdasarkan historikal ekspor dan proyeksi ekspor 1 (satu) tahun kedepan dengan memperhatikan trade cycle industri yang bersangkutan.

Fasilitas ini bermanfaat membantu Eksportir yang memerlukan pembiayaan modal kerja antara lain untuk pengadaan bahan baku baik dan atau suku cadang baik lokal maupun impor dalam rangka kegiatan ekspornya.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Fasilitas Diskonto Tagihan Ekspor atau Tagihan Dalam Rangka Ekspor Merupakan Fasilitas pembiayaan yang diberikan oleh BEI atas pengambilalihan tagihan ekspor barang maupun jasa secara diskonto dengan hak regres (with recources). Fasilitas ini bermanfaat bagi Eksportir yang memerlukan pembayaran segera atas tagihan ekspor atau tagihan dalam rangka kegiatan ekspornya.

Fasilitas Penjaminan Kredit Modal Kerja Ekspor Merupakan Fasilitas penjaminan yang diberikan oleh BEI (sebagai Penjamin) kepada Bank Umum (sebagai Terjamin) atas pembiayaan KMKE kepada Eksportir atau Pemasok Eksportir (sebagai Debitur) terhadap resiko tidak dapat dilunasinya pinjaman beserta bunganya sesuai dengan Perjanjian Kredit yang telah ditandatangani oleh Terjamin dengan Debitur

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Bagi Eksportir, Fasilitas ini bermanfaat untuk memperoleh akses Fasilitas Pembiayaan KMKE dari Bank Umum guna mendorong dan meningkatkan aktivitas ekspornya. Sedangkan bagi Bank Umum, akan mengurangi resiko portfolio kredit serta mengatasi masalah Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (CAR) dan Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR). Portofolio Kredit Bank yang dijamin oleh Penjamin BEI maka bobot resiko ATMR menjadi 20%

c. Produk produk Export Credit Agency (ECA) Negara

negara lain Setiap produk ECA negara lain umumnya disusun sesuai dengan kondisi masing masing negara apakah difokuskan kepada pembiayaan jangka menengah panjang atau pembiayaan modal kerja jangka pendek.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Pola pembiayaan ada yang direct lending dan ada yang refinancing. Pada awal pendirian ECA di Thailand dan India fokus pembiayaan diawali dengan refinancing, yang secara bertahap selama 5 tahun bergeser ke direct lending

Di beberapa negara (Korea dan India), aktivitas asuransi ekspor dilakukan terpisah oleh institusi, sedangkan di Thailand dan China aktivitas asuransi ekspor integrated dengan ECA. Beberapa produk ECA negara lain, yang mungkin potensial dan dapat dipertimbangkan untuk dikembangkan di Indonesia antara lain :

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Forfaiting Melakukan arragment pembelian tagihan ekspor secara without resourse dengan institusi keuangan lain sebagai forfaiter. Export of Service Facility Fasilitas yang ditujukan untuk membantu Perusahaan dalam negeri untuk mengekspor jasa profesional ovearses yang mana dapat dalam bentuk konsultasi, teknikal skill dan keahlian lainnya.

Long Term Credit for Export of Capital Good Pembiayaan jangka panjang atas ekspor barang modal yang dapat diberikan kepada pembeli di luar negeri atau eksportir di dalam negeri.

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting

Best Practice Export-Import

Financial Facility for Ovearseas Contract Fasilitas pembiayaan dibedakan atas : Pembiayaan jangka panjang kepada pihak luar negeri yang mempekerjakan kontraktor lokal dalam rangka suatu kegiatan proyek konstruksi diluar negeri. Pembiayaan modal kerja kepada kontraktor lokal dalam rangka pengerjaan proyek konstruksi diluar negeri. Penerbitan garansi bank untuk kepentingan kontraktor lokal atas pengerjaan konstruksi di luar negeri.

Terima Kasih
Sampai Berjumpa Kembali pada Program Paramudya berikutnya, dan selamat menjalankan praktek bisnis yang sehat

www.paramudya.com

2011 Paramudya Consulting