Anda di halaman 1dari 7

Wansus 2:

Nelayan di Ujung Senja


(Indri Tedja Tyasning, Maria Yohana Kristyadewi, Rahadiyan Alvin)
Jejeran perahu berukuran sedang memenuhi dermaga pantai Sadeng yang terletak di
Girisubo, Gunungkidul. Pantai bekas muara sungai Bengawan Solo ini merupakan pelabuhan
perikanan terbesar di Jogjakarta. Senja hari itu, pelabuhan Sadeng tampak sepi tanpa ada
aktivitas dari para nelayan. Hanya bau amis ikan yang menemani sepanjang perjalanan hingga
akhirnya awak Mahkamah bertemu dengan seorang bapak setengah baya.
Pak Ngadimin, yang hari itu mengenakan jaket bercorak militer tengah mengamati kapal-
kapal yang bersandar tenang di tepi dermaga. Awak Mahkamahpun berinisiatiI membuka
percakapan dengan lelaki yang berproIesi sebagai nelayan tersebut. Dari bibirnya, tercetuslah
kisah seputar kehidupan para nelayan di pantai Sadeng.
Mahkamah (M): Selamat sore Pak, bolehkah kami berbincang-bincang dengan Bapak?
Pak Ngadimin (PN): Boleh, Monggo..Monggo..
Mahkamah (M) : Nama Bapak siapa ya? Apakah Bapak nelayan disini?
Pak Ngadimin (P) : Saya Ngadimin, bekerja sebagai nelayan.
Mahkamah (M): Sudah berapa lama Bapak melaut?
Pak Ngadimin (PN) : Saya sudah melaut selama empat tahun, kira-kira dari tahun 2007 awal.
M: Kapan jadwal Bapak berangkat melaut?
PN: Biasanya Saya melihat cuaca lebih dahulu. Tidak ada patokan siang atau malam. Jika
cuaca bersahabat, maka Saya akan berangkat. Lihat arah angin juga. Dalam satu bulan, Saya
paling sedikit satu kali melaut dan paling banyak tiga kali. Bulan Agustus, September dan
Oktober, Saya jarang melaut karena gelombangnya tinggi. Jadi, tidak berani. Untungnya, tiga
bulan ke depan (bulan November, Desember dan Januari -red) musimnya bagus serta banyak
ikan. Jadi, Saya sering melaut.
M: Biasanya Bapak berada di laut selama berapa hari dan membawa apa saja?
PN: Ya, paling sebentar tiga hari, paling lama dua mingguan. Kami selama melaut hanya
membawa logistik selama melaut, alat menangkap ikan,bahan bakar untuk kapal dan kompas
untuk penunjuk arah saja.
M: Bapak melautnya dimana saja? 1araknya sejauh mana?
PN: Saya biasa melaut dari pantai Sadeng ini ke arah selatan mungkin agak ke perairan
Samudera Hindia. Paling dekat 35 Mil paling jauh 170 Mil. Pokoknya masih dalam Wilayah
Pengelolaan Perikanan sebelah selatan Jawa.
M: 1ika melaut, Bapak menggunakan kapal apa?
PN: Wah, Saya menggunakan kapal yang berukuran tanggung. Kapal bermotor dalam yang
ukurannya kira-kira lebih dari 10 7oss Ton (GT).
M: Para nelayan mendapatkan kapal ini sendiri dari mana saja Pak?
PN: Kapalnya ada yang milik pribadi, bantuan dari Angkatan Laut, serta dari pemerintah. Kapal
yang Saya gunakan ini kapal bantuan dari pemerintah. Namanya juga kapal bantuan pemerintah,
tetap saja kapal ini disewakan bukan diberi secara gratis. Sama seperti kapal bantuan lain,
dipinjamkn. Akhirnya juga harus beli. Ya semacam sewa beli begitu. Cicilannya susah, maka
patungan.
. M: Apakah kapal yang berlayar harus mempunyai izin?
PN: Iya kapal harus punya izin. Izinnya Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) dan Surat Izin Kapal
Pengangkutan Ikan ( SIKPI). Diurusnya di kantor perijinan atau syahbandar. Jika tidak punya
surat izin tersebut bisa ditangkap dan ditahan kapalnya. Lagipula, jika ada kapal akan berangkat
melaut, pasti harus melapor ke syahbandar dulu. Lalu diperiksa kelengkapan dokumennya
kemudian dicatat. Begitu pula sebaliknya jika selesai melaut. Jadi tidak bisa sembarangan.
M: Dalam satu kapal, biasanya Anak Buah Kapal (ABK) ada berapa?
PN: Sekali berangkat satu kapal diisi enam orang nelayan atau paling sedikit lima orang.
M: Alat-Alat untuk menangkap ikan apa saja Pak? Bisa didapat dari mana saja?
PN: Alat-alatnya ya Jaring Insang ( Net) sama pancing buat menangkap ikan. Jaring juga ada
ketentuannya. Ukuran kantongnya minimal 10 senti, panjang jaring maksimal 2500 meter dan
kedalamannya maksimal 30 meter. Kadang pemerintah membantu dengan memberi jaring atau
pancing, tapi alat-alat lain seperti bola apung dan jirigen nelayan yang membeli.
M: Apakah pernah menggunakan pukat atau bom ikan?
PN: Sejauh pengamatan Saya, nelayan disini tidak ada yang menggunakan alat semacam itu
karena dilarang oleh petugas. Alat seperti itu lebih mahal dan nanti hasilnya ikan-ikan gampang
mati sehingga tidak segar lagi untuk dijual. Lebih baik menggunakan alat yang tradisional saja.
Lagipula nelayan juga harus memperhatikan lingkungan. Nanti kalau memakai alat berbahaya,
kita juga yang repot. Terumbu karang tempat ikan hidup bisa rusak, tidak ada lagi ikan yang bisa
ditangkap to jadinya. Kasihan juga ikan-ikannya.
M: Biasanya berapa banyak ikan yang didapat sekali melaut? 1enis ikannya apa saja?
PN: Biasanya sekali melaut dapat dua sampai tiga kuintal. Jenis ikan yang didapat biasanya
Tuna, harga pasarannya tinggi. Bobot 50 kg bisa dihargai Rp. 25.000,- sampai Rp.30.000,- per
kilo dan yang berbobot 5 kg bisa dihargai Rp.12.000,- sampai Rp.15.000,- per kilo. Ikan lainnya
Cakalang yang harganya Rp.10.000,- sampai Rp.11.000,- perkilo. Selain ikan-ikanan, paling
keong laut. Untuk lobster sulit ditangkap memakai perahu besar.
M: Mekanisme penjualan dan pengelolaan ikan yang ditangkap nelayan Sadeng?
PN: Ikan yang sudah ditangkap otomatis akan masuk Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Nelayan
sendiri yang menjual hasil tangkapannya di TPI. Pembelinya dari berbagai tempat. Ada yang dari
Surabaya, Jogja, Semarang bahkan banyak yang dari luar pulau Jawa. Di TPI, juga ada
penadahnya yang berIungsi mencari pembeli, penadah dapat bagian sedikit.
M: Apakah ada punggutan atas hasil penangkapan ikan tersebut?
PN: Setahu Saya ada, tetapi bukan nelayan yang mengurusi tapi juragan laut. Jika tidak salah
namanya Pungutan Hasil Perikanan(PHP) termasuk bukan pajak tapi penerimaan dari sektor
perikanan. Untuk perusahaan kecil dipunggut, 1 X produktivitas kapal X harga patokan ikan.
M: Bagaimana pembagian keuntungan hasil penjualan ikan?
PN: Sistem pembagian keuntungannya adalah sistem bagi hasil. Contohnya jika pendapatan 10
juta, maka juragan laut ( pemilik perusahaan) dapat 2 juta. Pemilik perahu dapat 2 juta. Itu juga
masih dipotong untuk perbekalan 3 juta.
Baru sisanya 3 juta dibagi-bagi ke anak buah kapal. Jadi, ya jatuh hasilnya, sedikit untuk
nelayan. Jika ada kerusakan kapal, biaya perbaikannya dibagi dua antara juragan laut dan
pemilik kapal. Hasil jadi dipotong setengah untuk memperbaiki kapal.
Masalah lain yakni biaya solar yang mahal. Sekali melaut nelayan butuh 300 liter solar.
Biaya perbekalan tidak cukup untuk membiayai sehingga dari penghasilan kotor nelayan tersebut
mereka masih harus patungan lagi untuk biaya solar. Alhasil keuntungan nelayan semakin
sedikit.
M: Apakah dengan penghasilan yang minim tersebut, kehidupan nelayan sudah sejahtera?
PN: Ukuran kesejahteraan bagi setiap orang itu berbeda. Ada yang menilai harta yang melimpah
adalah ukuran dari kata sejahtera. Menurut pengamatan Saya, kehidupan nelayan disini baik-baik
saja. Selama penghasilan itu masih bisa untuk makan sehari-hari dan untuk menghidupi keluarga
saja, kami sudah puas. #, pe7: sng neo-neo sng pentng so :7p.
M: Apa yang Bapak lakukan bila sedang tidak melaut?
PN: Biasanya di bulan Juni dan Agustus saat cuaca sedang ganas, Saya lebih memilih bertani
atau ke ladang mencari makan untuk sapi dan kambing karena walau bagaimanapun Saya harus
tetap mencari uang untuk kebutuhan hidup keluarga.
M: Nelayan yang ada di Sadeng ini berasal dari mana saja?
PN: Dari Jogja, Sulawesi, Lombok, Pacitan,dan banyak lagi tapi kebanyakan menetap disini.
M: Bagaimana peran pemerintah kepada nelayan-nelayan di Sadeng? Apakah pemerintah
sudah menunjukkan perhatian khusus?
PN: Selama ini pemerintah sudah menunjukkan perhatian dengan adanya penyuluhan-
penyuluhan dan pelatihan terkait penangkapan ikan, serta ada pertemuan antar gabung nelayan.
Nelayan merasa sangat terbantu, apalagi dengan didirikannya koperasi nelayan dan adanya pom
bensin di tepi pelabuhan.
M: Apakah ada kapal-kapal besar atau kapal lain yang sering berlabuh disini?
PN: Ada banyak. Kadang kapal dari Cilacap atau dari Jakarta datang berlabuh lalu menangkap
ikan dan menjual ikan di TPI sini. Mekanismenya sama. Mereka juga harus membayar retribusi
kapal dan melapor dengan menunjukkan dokumen atau surat izin ke syahbandar pelabuhan
Sadeng.
M: Apakah nelayan disini tidak merasa tersaingi dengan kehadiran kapal-kapal lain yang
turut menjual ikannya di Sadeng?
PN: Ya, namanya juga orang mencari makan, pasti tidak bisa dilarang kan. Lagipula masing-
masing orang punya rezeki sendiri-sendiri. Hak mereka sebagai nelayan kan untuk menjual ikan
dimanapun. Selama ini juga tidak ada perselisihan dengan nelayan dari daerah luar. Malahan
kami sering belajar dari nelayan luar tersebut mengenai teknik penangkapan ikan.
M: Pekerjaan sebagai nelayan pasti penuh resiko,apakah ada jaminan keselamatannya?
PN: Keselamatan nelayan hanya tergantung pada pelampung yang ada di kapal saja. Memang
pantai selatan terkenal ombaknya ganas. Ada juga asuransi dari pemerintah tanpa perlu
membayar premi. Maka dari itu, perlu ada laporan ke syahbandar agar ada kepastian siapa saja
yang pernah melaut.
M: Apakah ada aparat yang bertugas mengawasi dan melindungi para nelayan?
PN: Tentu ada. Ada tim $e,7. ,nd #es.:e (SAR) di pelabuhan, polisi air dan juga syahbandar
yang mengurusi perijinan.
M: Bagaimana pengalaman Bapak selama empat tahun melaut?
PN: Laut itu tidak bisa ditebak. Bisa saja di darat keadaan tenang dan cuaca baik tapi di laut
keadaannya berbeda. Di laut badai atau bahkan sebaliknya. Resiko di laut juga tinggi. Kadang
ada nelayan yang tertimpa musibah. Ada yang selamat tapi ada juga yang meninggal . Contohnya
baru-baru ini ada nelayan yang selama 18 hari tidak pulang ke darat. Ternyata karena ,ss
kapalnya putus. Untung polisi air dan nelayan segera mencarinya. Walau kelaparan dia selamat.

M: Apakah selama ini ada nelayan yang melakukan pelanggaran perizinan?
PN: Dulu ada yang tidak membawa izin menangkap ikannya, ya sama polair ditahan sebentar
lalu diminta mengambil izinnya. Dulu juga, ada yang ditahan di polair karena alat tangkapnya
tidak sesuai, izinnya palsu dan masih banyak lagi.
M: Apakah hambatan utama selama menjadi seorang nelayan?
PN: Harga ikan yang tidak stabil. Jika ikan berlimpah, permintaan sedikit maka harga ikan akan
rendah. Jika ikan sulit didapat, permintaan banyak , harga ikan akan mahal sekali. Hal ini malah
menyulitkan nelayan karena kisaran harga yang berubah-ubah sehingga nelayan jarang mendapat
untung. Harapannya agar kedepannya harga ikan lebih stabil. Hambatan lainnya yakni bahan
bakar solar yang susah dicari.
M: Apakah selama melaut pernah bertemu kapal asing atau kapal ilegal?
PN: Selama ini belum pernah. Lagipula ilegal atau tidak kan tidak langsung terlihat. Kami cuma
berpikir mencari ikan, tidak sempat mikir yang lain-lain.
M: Terkait banyaknya ikan impor dari luar negeri yang lebih murah, bagaimana
pandangan Bapak terhadap persaingan tersebut? Apakah nelayan kita sudah siap
melawan produk tersebut?
PN: Dalam prakteknya tidak seperti itu. Ikan lokal malah lebih murah karena banyak.
Lagipula,peminat ikan lokal juga banyak. Ikan lokal lebih segar, jadi lebih unggul. Setiap orang
punya rezeki masing-masing. Ikan lokal tidak akan kalah dengan ikan impor.
M: Apakah ada paguyuban nelayan di Sadeng Pak?
PN: Ada, koperasi. Sayangnya, koperasi tidak membeli ikan-ikan yang tidak laku seperti di
pantai lain. Koperasi disini hanya mendengarkan masalah tapi tidak membantu saat ada
permasalahan. Sebaiknya koperasi ikut andil dalam kehidupan masyarakat nelayan sebagai
pembangun kesejahteraan masyarakat.
M: Apa harapan bapak terhadap kehidupan para nelayan di Sadeng?
PN: Saya hanya berharap agar harga ikan bisa stabil agar nelayan bisa mendapat keuntungan.
Paling tidak, Saya masih bisa menghidupi keluarga Saya. Semoga Saya masih bisa memberi
rezeki kepada mereka dan mencukupi kebutuhan sehari-hari!

Percakapan kami dengan Pak Ngadimin berakhir saat matahari tenggelam di kaki langit.
Kesederhanaan, hal itulah yang kami dapat dari perbincangan singkat tersebut. Kehidupan
nelayan mengedepankan perjuangan dalam mencari penghidupan yang layak. Jauh dari hingar
bingar materialisme yang diusung kehidupan perkotaan. Usaha nelayan menuju kesejahteraan
hidup dengan kesederhanaannya seharusnya didukung oleh seluruh elemen masyarakat.
Penyediaan Iasilitas serta jaminan keselamatan menjadi salah satu dasar dari usaha tersebut.