"Buku ini merupakan penyempurnaan buku “Alokasi Frekuensi dan Satelit di Indonesia” yang diterbitkan tahun 2004 lalu

, dan merupakan dokumen yang sulit ditemui di Indonesia. Buku ini secara komprehensif memberikan gambaran mengenai perencanaan maupun penggunaan alokasi frekuensi radio di Indonesia..."

Ir. Tulus Rahardjo, MSc.

Direktur Pengelolaan Spektrum Frekuensi Radio, Ditjen Postel - Depkominfo

DENNY SETIAWAN yang lahir di Ciamis pada tahun 1971 saat ini bekerja sebagai Kasubdit Penataan Frekuensi, Direktorat Frekuensi, Departemen Komunikasi dan Informatika. Latar belakang pendidikannya adalah Sarjana Teknik Elektro Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung lulus tahun 1994 dan Magister Teknik Telekomunikasi Universitas Indonesia lulus tahun 1999. Bergabung dengan Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi sejak tahun 1995, penulis berpengalaman mengikuti sejumlah konferensi komunikasi radio dunia, koordinasi satelit, koordinasi frekuensi bilateral, maupun sejumlah pertemuan bidang telekomunikasi di tingkat regional maupun internasional lainnya. Di samping itu penulis juga terlibat dalam pendaftaran frekuensi radio ke ITU, pembuatan buku dan peta tabel alokasi frekuensi radio Indonesia, pengembangan master plan frekuensi radio siaran FM/TV. Saat ini penulis bertugas untuk menangani serta merumuskan kebijakan dan regulasi frekuensi di Indonesia secara keseluruhan termasuk sistem komunikasi satelit, broadband wireless access, serta sistem komunikasi bergerak selular, penyiaran, dan sebagainya.

Alokasi Frekuensi

KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM INDONESIA

Diterbitkan oleh: Departemen Komunikasi dan Informatika, Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. Gedung Sapta Pesona, Lt.7, Jl. Medan Merdeka Barat No. 17, Jakarta 10110, INDONESIA

DePARTeMeN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
DIREKTORAT JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI

KATA SAMBUTAN
Perkembangan teknologi yang sangat cepat telah memungkinkan berbagai macam aplikasi berbagai frekuensi radio. Kemampuan dari setiap negara untuk memanfaatkan sepenuhnya sumber daya alam spektrum frekuensi radio sangat tergantung kepada tanggung jawab dan pengaturan sesuai ketentuan dari pengelola spektrum frekuensi radio yang berperan sebagai regulator yang merupakan factor kunci dalam pelaksanaan kebijakan yang berpihak pada masyarakat luas. Kebijakan alokasi frekuensi radio terkait dengan pengembangan regulasi telekomunikasi, karena regulasi secara umum mengikuti kebijakan. Oleh karena itu, perencanaan sering menjadi fungsi utama dari kebijakan untuk menentukan kebutuhan alokasi frekuensi radio saat ini dan masa yang akan datang dari setiap negara. Kami mengucapkan selamat dan penghargaan kepada penulis, Denny Setiawan, yang merupakan salah satu staf Ditjen Postel-Depkominfo, atas ketekunannya dalam menyelesaikan buku kebijakan alokasi frekuensi radio di Indonesia ini. Buku ini merupakan penyempurnaan buku “Alokasi Frekuensi dan Satelit di Indonesia” yang diterbitkan tahun 2004 lalu, dan merupakan dokumen yang sulit ditemui di Indonesia. Buku ini secara komprehensif memberikan gambaran mengenai perencanaan maupun penggunaan alokasi frekuensi radio di Indonesia. Diharapkan dengan buku kebijakan alokasi frekuensi radio di Indonesia, akan memudahkan masyarakat di dalam memahami penggunaan spektrum frekuensi radio secara tertib, efektif dan efisien. Jakarta, Januari 2010

Direktur Pengelolaan Spektrum Frekuensi Radio Ditjen Postel - Depkominfo

Ir. TULUS RAHARDJO, MSEE.

i

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, setelah disibukkan dengan kegiatan rutin, akhirnya rampung juga penulisan buku ini yang merupakan perbaikan dan penyempurnaan edisi pertama buku “Alokasi Spektrum Frekuensi dan Satelit di Indonesia” kompilasi kebijakan alokasi spektrum frekuensi radio di Indonesia ini. Saya mendapat banyak sekali masukan dan permintaan kapan buku tersebut dicetak ulang. Selama empat tahun terakhir, tahun 2005 s.d. 2009, kita melihat berbagai perkembangan dalam hal regulasi serta kebijakan sektor telekomunikasi wireless di Indonesia. Dimulai dengan penyusunan regulasi-regulasi perizinan frekuensi, satelit, serta lelang frekuensi 3G, lelang BWA 2.3 GHz yang merupakan milestone reformasi pengelolaan frekuensi di Indonesia. Berdasarkan hal tersebut, maka penulis membutuhkan waktu untuk melakukan kompilasi berdasarkan proses yang telah, sedang dan akan berjalan. Edisi kedua buku kebijakan alokasi spektrum frekuensi radio Indonesia dibuat berdasarkan kerangka yang ada dalam edisi pertama, dengan penyempurnaan di sana sini. Tujuannya adalah memberikan penjelasan kompehensif mengenai perencanaan maupun penggunaan alokasi frekuensi radio di Indonesia. Penulis menyadari bahwa dalam tulisan ini masih banyak kekurangan, untuk itu saran dan pendapat serta masukan lain yang bermanfaat sangatlah bermanfaat. Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Tulus Rahardjo, Direktur Pengelolaan Spektrum Frekuensi Radio, Ditjen PostelDepkominfo, atas bimbingan, arahan serta kata sambutan pada buku ini. Demikian juga seluruh rekan pejabat dan staf Direktorat Pengelolaan Spektrum Frekuensi Radio, khususnya Subdit Penataan Frekuensi Radio. Ucapan terima kasih dan apresiasi penulis sampaikan kepada Danar Dono yang telah dengan teliti dan tekun melakukan penyempurnaan editorial penulisan buku ini. Demikian pula kepada Ir. Arifin Lubis, MT, Ketua Koperasi Ditjen Postel, atas saran dan prakarsanya untuk penyusunan serta pencetakan revisi Buku Alokasi Spektrum Frekuensi Radio ini sehingga akhirnya bisa hadir di hadapan pembaca. Akhir kata, semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat pada umumnya, serta khususnya bagi penulis sendiri. Jakarta, Januari 2010 Penulis,

DENNY SETIAWAN, ST. MT.

ii

DAFTAR ISI
KATA SAMBUTAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB 1 BAB 2 1 2 2.1 2.2 2.3 2.3.1 2.3.2 3 3.1 3.2 4 BAB 3 1 2 2.1 2.2 2.2.1 2.2.2 2.2.3 2.3 2.3.1 2.3.2 2.4 2.4.1 2.4.2 3 4 PENDAHULUAN MANAJEMEN SPEKTRUM FKEKUENSI RADIO PENDAHULUAN PENGATURAN PENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO WORLD RADIOCOMMUNICATION CONFERENCE RADIO REGULATION KOORDINASI FREKUENSI RADIO DENGAN NEGARA LAIN KOORDINASI FREKUENSI PERBATASAN KOORDINASI SATELIT KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO TABEL ALOKASI SPEKTRUM FREKUENSI RADIO INDONESIA (TASFRI) PENGATURAN TEKNIK SPEKTRUM FREKUENSI RADIO PENGENDALIAN SPEKTRUM DAN MANAJEMEN INTERFERENSI KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM UNTUK JARINGAN TELEKOMUNIKASI SELULAR PENDAHULUAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA PITA FREKUENSI SELULAR 450 MHz PITA FREKUENSI SELULAR CDMA 800 MHz / 1900 MHz LATAR BELAKANG KONDISI AWAL (SEBELUM JULI 2005) MIGRASI PITA FREKUENSI PCS 1900 MHz KE PITA SELULAR 800 MHz PITA FREKUENSI SELULAR GSM-900/1800 MHz DAN UMTS 2.1 GHz LATAR BELAKANG PENYELENGGARA SELULAR GSM/UMTS JARINGAN AKSES LAINNYA LATAR BELAKANG PERENCANAAN DAN KEBIJAKAN PENGGUNAAN FREKUENSI REGULASI TEKNIS SISTEM SELULAR KEBIJAKAN PERIZINAN PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI SELULAR HALAMAN i ii iii 1 3 3 4 5 6 7 8 9 10 13 15 18 19 19 21 28 29 29 30 31 34 34 36 37 37 37 38 39
iii

3 3.2 3.3.1.1 3.4 3.4 3.1 3.3 3.3 2 3 3.2.3 3.3 3.5 3.2 3.2 3.2 KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM PENYIARAN PENDAHULUAN PENYIARAN RADIO PENYIARAN TELEVISI PENYIARAN SATELIT ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA PENGKANALAN FREKUENSI PENYIARAN TERRESTRIAL LATAR BELAKANG DAN KONDISI SAAT INI MASTER PLAN FREKUENSI TV SIARAN UHF ANALOG MASTER PLAN FREKUENSI RADIO SIARAN FM PENGKANALAN FREKUENSI RADIO SIARAN AM PADA PITA FREKUENSI LF/MF PENGKANALAN FREKUENSI RADIO SIARAN AM PADA PITA FREKUENSI HF (HF BROADCASTING) PERENCANAAN FREKUENSI PENYIARAN DIGITAL LATAR BELAKANG PRINSIP-PRINSIP PERENCANAAN FREKUNSI PENYIARAN DIGITAL PERENCANAAN FREKUENSI PENYIARAN DIGITAL KONDISI EKSISTING DAN USULAN PEMECAHAN PERMASALAHAN KONDISI EKSISTING RADIO SIARAN FM DAN SOLUSI PERMASALAHAN KONDISI EKSISTING RADIO SIARAN AM DAN SOLUSI PERMASALAHAN KONDISI EKSISTING VHF BAND III DAN SOLUSI PERMASALAHAN KONDISI EKSISTING UHF BAND IV DAN V DAN SOLUSI PERMASALAHAN PENYELENGGARAAN JARINGAN MULTIPLEKS DIGITAL TERRESTRIAL BROADCASTING (DVB-T DAN DAB) PENGGUNAAN BERSAMA MENARA DAN INFRASTRUKTUR PENYIARAN TERRESTRIAL (INFRASTRUCTURE SHARING) REGULASI TEKNIS SISTEM PENYIARAN PERIZINAN DAN APLIKASI IZIN PERIZINAN PENYIARAN ANALOG PERIZINAN PENYELENGGARA JARINGAN TELEKOMUNIKASI UNTUK PENYELENGGARAAN MULTIPLEKS TV DIGITAL DVB-T DAN DAB HALAMAN 41 41 41 43 44 44 45 45 45 51 56 57 58 58 58 60 65 65 67 69 73 77 79 80 80 82 82 iv .1.3.1 4.1.2 1.BAB 4 1 1.2.1 3.2.4 3.3.1 1.1.6 4 4.1 3.2 3.3.

3 4.1 4.2 4.1 4.1 4.3 3 4 4.3.2 4.1 4.1 2.1.1 2.1.1.3 4.2 BAB 7 1 2 2.3.2 3 4 KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM UNTUK SERVIS KOMUNIKASI RADIO BERGERAK DARAT PENDAHULUAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA REGULASI TEKNIS DAN KONDISI OPERASI KONDISI SAAT INI DAN USULAN PEMECAHAN SISTEM KOMUNIKASI RADIO INSTANSI PEMERINTAH SISTEM TELEKOMUNIKASI INSTANSI PEMERINTAH MENGGUNAKAN JARINGAN TELEKOMUNIKASI PUBLIK SISTEM TELEKOMUNIKASI INSTANSI PEMERINTAH MENGGUNAKAN JARINGAN TELEKOMUNIKASI NON PUBLIK (CLOSED USER GROUP) JARINGAN KOMUNIKASI RADIO PEMERINTAH TERPADU SISTEM KOMUNIKASI RADIO TRUNKING PERIZINAN DAN PERSYARATAN KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM UNTUK SERVIS KOMUNIKASI RADIO TETAP TERRESTRIAL PENDAHULUAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA SISTEM KOMUNIKASI RADIO HF SISTEM KOMUNIKASI RADIO VHF/UHF MICROWAVE LINK REGULASI EKSISTING DAN KONDISI OPERASI PERIZINAN DAN PERSYARATAN SISTEM KOMUNIKASI RADIO HF SISTEM KOMUNIKASI RADIO VHF/UHF SISTEM KOMUNIKASI RADIO MICROWAVE LINK PERMASALAHAN USULAN KEBIJAKAN AMATIR RADIO DAN KOMUNIKASI RADIO ANTAR PENDUDUK (CITIZEN BAND / CB) PENDAHULUAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN AMATIR RADIO ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCAANAN PITA KRAP/CB REGULASI TEKNIS DAN KONDISI OPERASI PERIZINAN DAN PERSYARATAN 85 85 86 87 88 88 88 89 91 93 94 96 96 96 96 97 97 99 100 100 100 101 101 102 104 104 105 105 105 106 106 v .2 5 BAB 6 1 2 2.2 2.HALAMAN BAB 5 1 2 3 4 4.

2 3.1 2.BAB 8 1 2 3 BAB 9 1 2 3 4 5 6 7 BAB 10 1 2 3 3.4 3.17 TAHUN 2005 KONSEP USULAN PERLUASAN IZIN KELAS HALAMAN 107 107 108 111 114 114 115 116 118 118 122 123 124 124 125 128 129 132 132 133 135 137 1 2 2.2 137 137 137 138 vi .5 BAB 11 KOMUNIKASI RADIO MARITIM DAN PENERBANGAN PENDAHULUAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA KOMUNIKASI RADIO MARITIM ALOKASI SPEKRUM DAN PERENCANAAN PITA KOMUNIKASI RADIO PENERBANGAN BROADBAND WIRELESS ACCESS (BWA) PENDAHULUAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA KONDISI EKSISTING PENATAAN FREKUENSI BWA PERIZINAN DAN PERSYARATAN BHP FREKUENSI RADIO REGULASI TERKAIT PENATAAN FREKUENSI BWA PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI SATELIT PENDAHULUAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA PERIZINAN SATELIT KETENTUAN PERIZINAN PENGGUNAAN SATELIT DI INDONESIA IZIN STASIUN ANGKASA IZIN STASIUN BUMI HAK LABUH BHP FREKUENSI RADIO SISTEM SATELIT PERANGKAT BERDAYA PANCAR RENDAH / JANGKAUAN PENDEK (SHORT RANGE DEVICES) DAN ISM-BAND PENDAHULUAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA IZIN KELAS PADA PERMEN KOMINFO NO.1 3.3 3.

5 3 BAB 12 1 2 3 3.2.2.4 2. SAINS DAN MEDIS (INDUSRIAL.1.3 2.2.1 2.1 3.1 3.2.2 4 TERMINAL PELANGGAN UNTUK PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI BERGERAK SELULAR DAN PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL DENGAN MOBILITAS TERBATAS (FIXED WIRELESS ACCESS) PERANGKAT KOMUNIKASI JARAK PENDEK (SHORT RANGE DEVICE) PERANGKAT TERMINAL PELANGGAN UNTUK PENYELENGGARAAN BERGERAK RADIO TRUNKING PERANGKAT TELEPON NIRKABEL (CORDLESS PHONE) PERANGKAT RADIO YANG MENGGUNAKAN GELOMBANG RADIO INFRA MERAH (INFRA RED DEVICES) PITA FREKUENSI INDUSTRI. SCIENCE AND MEDICAL BAND) BIAYA HAK PENGGUNAAN (BHP) FREKUENSI RADIO PENDAHULUAN BHP FREKUENSI DALAM BENTUK IZIN STAISUN RADIO BHP FREKUENSI DALAM BENTUK IZIN PITA FREKUENSI RADIO KETENTUAN PEMBAYARAN BHP PITA FREKUENSI OPERATOR IMT-2000 (3G) UP FRONT FEE BHP PITA TAHUNAN WHITE PAPER PENERAPAN BHP PITA PADA PENYELENGGARA TELEKOMUNIKASI SELULER DAN FWA HALAMAN 138 139 142 143 144 145 148 148 148 156 156 156 157 158 160 204 DAFTAR PUSTAKA CURRICULUM VITAE vii .2 2.2.1.2.

FIXED WIRELESS ACCESS DAN SELULAR DAN PERENCANAAN ALOKASI FREKUENSI DAFTAR PERATURAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI BERBASIS NIRKABEL ALOKASI FREKUENSI SELULAR INDONESIA SEBELUM TAHUN 2005 ALOKASI FREKUENSI SELULAR SAAT INI ALOKASI KANAL FREKUENSI STANDAR CDMA DI INDONESIA ALOKASI FREKUENSI PENYIARAN TERRESTRIAL ANALOG ALOKASI FREKUENSI PENYIARAN SATELIT RENCANA PENGKANALAN TV VHF BAND I DAN III STANDAR PAL-B RENCANA PENGKANALAN TV UHF BAND IV STANDAR PAL-G RENCANA PENGKANALAN TV UHF BAND V STANDAR PAL-G CHANNEL GROUPING TV UHF DI INDONESIA DISTRIBUSI KANAL TV UHF ANALOG DI INDONESIA PENGATURAN TEKNIS RADIO SIARAN FM PENGELOMPOKKAN KELAS RADIO SIARAN FM BERDASARKAN EIRP DAN WILAYAH LAYANAN MAKSIMUM PROTECTION RADIO SIARAN FM RINGKASAN PERENCANAAN FREKUENSI PENYIARAN DIGITAL PARAMETER TEKNIS RADIO SIARAN AM YANG DIGUNAKAN DALAM PERENCANAAN FREKUENSI PERBANDINGAN EFISIENSI FREKUENSI PENYIARAN DIGITAL DI VHF BAND III DISTRIBUSI KANAL TV SIARAN UHF BERDASARKAN KEPMENHUB NO.MENGENAI RENCANA DASAR TEKNIS TV SIARAN ANALOG PENGKANALAN MICROWAVE LINK BERDASARKA REKOMENDASI ITU-R RENCANA PENGKANALAN FREKUENSI MICROWAVE LINK.DAFTAR TABEL TABEL 1 PERATURAN YANG TERKAIT DENGAN PENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO.76/2003. LEBAR PITA DAN JARAK MINIMUM HALAMAN 10 TABEL 2 TABEL 3 TABEL 4 TABEL 5 TABEL 6 TABEL 7 TABEL 8 TABEL 9 TABEL 10 TABEL 11 TABEL 12 TABEL 13 TABEL 14 TABEL 15 TABEL 16 TABEL 17 TABEL 18 TABEL 19 TABEL 20 TABEL 21 15 22 24 33 44 45 47 47 48 49 50 54 55 56 62 68 71 74 98 103 viii .

TABEL 22 TABEL 23 TABEL 24 TABEL 25 TABEL 26 TABEL 27 TABEL 28 TABEL 29 TABEL 30 TABEL 31 TABEL 32 TABEL 33 TABEL 34 TABEL 35 TABEL 36 TABEL 37 TABEL 38 RINCIAN ALOKASI SPEKTRUM DAN BAND PLAN KOMUNIKASI RADIO PENERBANGAN PENJATAHAN KANAL FREKUENSI DAN SLOT ORBIT BSS PLAN INDONESIA BERDASARKAN RR APP.30 DAN APP.30A PENGKANALAN FREKUENSI SERVICE LINK BSS PLANNED BAND PENGKANALAN FREKUENSI FEEDER LINK BSS PLANNED BAND ALOKASI FREKUENSI UNPLANNED BAND SATELIT INDONESIA DAFTAR SATELIT INDONESIA YANG BEROPERASI DAFTAR SATELIT ASINGYANG MEMENUHI KRITERIA BEBAS INTERFERENSI DAFTAR SATELIT ASING YANG MEMENUHI KRITERIA BEBAS INTEFERENSI DENGAN BATASAN TEKNIS RINCI PITA FREKUENSI DAN BATASAN TEKNIS UNTUK APLIKASI-APLIKASI SHORT RANGE DEVICES (SRD) PERSYARATAN SPASI KANAL UNTUK RADIO KOMUNIKASI TRUNKING PITA FREKUENSI DAN EIRP MAKSIMUM UNTUK PERANGKAT CORDLESS PHONE CONTOH APLIKASI UTAMA PERANGKAT ISM BAND PEMBAGIAN PITA FREKUENSI RADIO BERDASARKAN RADIO REGULATION ITU BESARAN HDDP (HARGA DASAR DAYA PANCAR) BESARAN HDLP (HARGA DASAR LEBAR PITA) BESARAN INDEKS IB DAN IP BERDASARKAN JENIS LAYANAN PENGELOMPOKKAN ZONE WILAYAH PEMANCAR UNTUK PERHITUNGAN HDDP DAN HDLP HALAMAN 112 126 126 127 128 130 131 131 140 143 144 146 149 149 150 150 153 ix .

1 GHz PENGKANALAN FREKUENSI DAB/DMB KONSEP DISTRIBUSI KANAL FRKEUENSI BAND III VHF UNTUK DAB FREE-TO-AIR PENATAAN FREKUENSI BWA MASA TRANSISI PENATAAN FREKUENSI BWA HALAMAN 5 15 26 71 72 118 119 x .DAFTAR GAMBAR GAMBAR 1 GAMBAR 2 GAMBAR 3 GAMBAR 4 GAMBAR 5 GAMBAR 6 GAMBAR 7 PEMBAGIAN WILAYAH ITU DIAGRAM ALOKASI FREKUENSI NASIONAL PERENCANAAN PITA FREKUENSI JARINGAN TELEKOMUNIKASI SELULAR 1.9 DAN 2.

DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN 1 LAMPIRAN 2 LAMPIRAN 3 LAMPIRAN 4 LAMPIRAN 5 LAMPIRAN 6 LAMPIRAN 7 LAMPIRAN 8 LAMPIRAN 9 DAFTAR UPT BALAI / LOKA MONITORING DITJEN POSTEL DI SELURUH WILAYAH INDONESIA PERENCANAAN KANAL FREKUENSI. 33 TAHUN 2009 RINCIAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA FREKUENSI UNTUK KOMUNIKASI RADIO ANTAR PENDUDUK (KRAP) RINCIAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN MARITIM RINCIAN PENGATURAN TEKNIS SATELIT BSS PLANNED BAND APP. 30 DAN 30A RINCIAN PENGKANALAN TRANSPONDER SATELIT INDONESIA HALAMAN 162 168 172 181 191 199 202 208 209                     xi . BATAS DAYA PANCAR. TINGGI ANTENNA RADIO SIARAN FM DAFTAR KOTA YANG SUDAH DI NOTIFIKASI DI ITU BERDASARKAN PROSEDUR GE-75 UNTUK STASIUN RADIO SIARAN AM DI INDONESIA PENGKANALAN MICROWAVE LINK BERDASARKAN REKOMENDASI ITU-R BAND FREKUENSI DAN MODA PANCARAN YANG DIIZINKAN SESUAI DENGAN PERATURAN MENKOMINFO NO.

Dalam hal penggunaannya. Nilai strategis dari sumber daya alam terbatas ini bagi kepentingan nasional adalah untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas serta dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat suatu bangsa karena spektrum frekuensi radio bernilai ekonomis tinggi. Direktorat Pengelolaan Spektrum Frekuensi Radio merupakan salah satu Direktorat di lingkungan Ditjen Postel yang bertugas dan berwenang dalam melakukan kegiatan-kegiatan pokok yang diperlukan untuk menjamin pengalokasian dan penggunaan spektrum untuk jasa komunikasi radio secara efektif dan efisien. navigasi radio. Manajemen. adalah hal yang sangat penting bahwa spektrum frekuensi radio dikelola secara efisien dan efektif untuk secara optimal memberikan manfaat kepada masyarakat dan juga manfaat ekonomi bagi Negara. Dewasa ini. penggunaan spektrum frekuensi radio yang merupakan sumber daya alam terbatas -sebagaimana halnya tanah dan air. Departemen Komunikasi dan Informatika (Ditjen Postel-Depkominfo) merupakan Instansi Pemerintah yang bertanggung jawab terhadap Regulasi.harus didayagunakan dan pemanfaatannya harus dilakukanan secara benar. 1 . penyiaran. keselamatan dan marabahaya. Penetapan dan pengelolaan spektrum dalam lingkup nasional. Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi:    Perencanaan dan koordinasi penggunaan frekuensi pada tingkat internasional. regional dan sub-regional. Alokasi dan Penggunaan spektrum frekuensi radio. radio lokasi dan radio amatir.BAB – 1 PENDAHULUAN Spektrum frekuensi radio merupakan sumber daya alam terbatas yang saat ini peminatnya semakin meningkat sementara jumlah ketersediaan spektrum tidak bertambah. spektrum frekuensi radio digunakan untuk bermacam-macam jasa komunikasi radio termasuk diantaranya komunikasi perorangan dan perusahaan. Dua perangkat komunikasi radio yang bekerja pada frekuensi yang sama. Dan seiring dengan semakin luas dan bervariasinya aplikasi wireless (nir-kabel) yang menggunakan spektrum frekuensi. dan Monitoring dan pemecahan permasalahan interferensi frekuensi radio. komunikasi radio penerbangan dan maritim. Oleh karena itu. sehingga tidak terbuang percuma jika tidak digunakan dengan baik. spektrum frekuensi radio perlu dilakukan koordinasi untuk mencegah terjadinya masalah interferensi (gangguan). pada waktu yang sama dan pada lokasi yang sama akan menimbulkan interferensi pada pesawat penerima. Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi.

INDONESIA Fax: +62 21 3529915 E-mail: denny@postel. amatir radio dan komunikasi radio antar penduduk. penyiaran. Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. kriteria penetapan dan prosedur aplikasi untuk jasa-jasa tertentu termasuk jaringan telekomunikasi selular. Bagi calon pengguna spektrum frekuensi yang berminat atau tertarik untuk mengajukan penggunaan frekuensi dapat mengacu babbab tersebut sebagai panduan dalam mengajukan aplikasi maupun dalam hal pemanfaatan spektrum frekuensi yang diminati.go. Manajemen. Dalam hal Regulasi. Jl. Lt. 17. Penulis menyediakan rincian alokasi spektrum frekuensi radio. diberikan gambaran singkat mengenai bermacam kegiatan manajemen spektrum yang dilakukan oleh Ditjen Postel untuk menuju tercapainya visi dan tujuan yaitu alokasi dan penggunaan spektrum frekuensi radio yang efektif dan efisien. telekomunikasi point-to-point atau point-tomultipoint. Ditjen Postel akan terus meninjau kebijakan penetapan frekuensi radio dan prosedur aplikasi secara berkala dan mengundang masukan dari berbagai pihak. broadband wireless access (BWA) dan telekomunikasi satelit.7. komunikasi radio maritim dan penerbangan. Alokasi dan Penggunaan spektrum frekuensi radio.Dalam Bab 2 pada buku ini. Untuk masukan. dapat menghubungi unit kerja berikut ini: Subdit Penataan Frekuensi Radio. Departemen Komunikasi dan Informatika Gedung Sapta Pesona.id 2 . komunikasi radio bergerak darat. permintaan penjelasan ataupun klarifikasi terhadap isi dari buku ini. khususnya dari stakeholder telekomunikasi dan para pengguna spektrum frekuensi pada umumnya. Direktorat Pengelolaan Spektrum Frekuensi Radio. Jakarta 10110. ISM band dan informasi mengenai Biaya Hak Penggunaan spektrum frekuensi radio dapat dilihat pada Bab 11 dan 12. Medan Merdeka Barat No. Kondisi untuk penggunaan perangkat pemancar radio jarak dekat (short range devices). Pada Bab 3 sampai dengan Bab 10 buku ini.

dalam hal pengelolaannya memberikan dampak strategis dan ekonomis bagi kesejahteraan masyarakat Negara tersebut. pertanian. dan sebagainya. Pada kehidupan modern saat ini Spektrum Frekuensi Radio digunakan di hampir semua aspek kehidupan meliputi telekomunikasi. perbankan. Pengelolaan Spektrum Frekuensi Radio bersifat komprehensif. PENDAHULUAN Spektrum Frekuensi Radio sebagai Sumber Daya Alam terbatas (limited natural resources) yang tersedia sama di setiap Negara. penyiaran. termasuk juga Indonesia. Perencanaan penggunaan spektrum frekuensi radio yang bersifat dinamis dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat dan perkembangan teknologi. Pengelolaan spektrum frekuensi radio yang efektif. efisien dan tertib penggunaannya. kemajuan suatu negara terutama di bidang telekomunikasi (ICT) saat ini akan sangat ditentukan oleh pengelolaan spektrum frekuensi radio yang efektif dan efisien. Dikembangkan dalam aturan yang bersifat supra-nasional. yang mengakibatkan “inefisiensi” pembangunan secara keseluruhan. melalui: a. Studi yang dilakukan International Telecommunication Union (ITU) pada tahun 1990-an menyebutkan bahwa 1% kenaikan teledensity. sistemik dan terpadu.BAB – 2 MANAJEMEN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO 1. Berorientasi pada kesejahtaraan masyarakat yang didasarkan pada kebutuhan nasional dan mengikuti perkembangan teknologi (yang selalu berkembang dan berkelanjutan). Pemanfaatan spektrum frekuensi radio tersebut dalam mendukung pertumbuhan Sektor Telekomunikasi memberikan dampak berganda (“multiplier effect”) yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi bangsa. 3 . industri. c. d. pertahanan keamanan. memberikan kontribusi sebesar 3% pada pertumbuhan GNP (Gross National Product). Oleh karena itu. Dengan kata lain. kesehatan. transportasi. Prinsip Pengelolaan Spektrum Frekuensi Radio meliputi antara lain: a. internet. Mampu mengakomodasikan kebutuhan masa depan. pemerintahan. akan memberikan dampak sangat positif bagi pembangunan setiap negara. Penerapan secara nasional mengacu kepada peraturan internasional ITU Radio Regulation (RR). Spektrum Frekuensi Radio sebagai Sumber Daya Alam terbatas harus dikelola secara efektif dan efisien. e. pariwisata. b. pemanfaatan spektrum frekuensi radio yang “tidak efisien” akan menimbulkan efek berganda pula.

PENGATURAN PENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO b. 2. Mengawal pelaksanaan peraturan nasional dalam pengelolaan spektrum frekuensi radio (UU No. Regulasi yang bersifat antisipatif dan memberikan kepastian hukum. didukung oleh Sumber Daya Manusia yang profesional serta prosedur dan sarana pengelolaan spektrum frekuensi radio yang memadai. Menyiapkan materi yang komprehensif untuk bahan kebijakan pengelolaan spektrum frekuensi radio. Menetapkan frekuensi kepada pengguna spektrum frekuensi radio. 4 . c. Oleh karena itu. Pengelolaan spektrum frekuensi radio secara sistematis dan didukung sistem informasi spektrum frekuensi radio yang akurat dan terkini. mewakili negara dalam konferensi internasional dan regional di bidang pengelolaan spektrum frekuensi radio. d. Kelembagaan pengelolaan spektrum frekuensi radio yang kuat. Gelombang radio merambat di ruang angkasa tanpa mengenal batas wilayah teritorial negara. 36 Tahn 1999 tentang telekomunikasi.b. Ditjen Postel merupakan Lembaga Pengelola Spektrum Frekuensi Radio yang diakui ITU sebagai Administrasi Telekomunikasi. e. baik terhadap individu maupun institusi/korporasi. melalui mekanisme lisensi sesuai ketentuan yang berlaku. 53 Tahun 2000 tentang Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit serta Peraturan Teknis lainnya). PP No. Di setiap daerah perbatasan antar dua negara. penggunaan alokasi frekuensi radio untuk teknologi komunikasi radio baru memerlukan suatu koordinasi yang erat antar dua negara tersebut untuk mencegah adanya saling gangguan (harmful interference). Pengelolaan spektrum frekuensi radio dimaksud dilaksanakan meliputi kegiatan-kegiatan antara lain : a. yang merupakan bagian tak terpisahkan dari konstitusi dan konvensi ITU. c. Radio Regulations ITU membentuk suatu kerangka kerja dasar internasional di mana setiap negara anggota mengalokasikan dan melakukan penataan spektrum pada tingkat yang lebih rinci. Pengawasan dan pengendalian penggunaan spektrum frekuensi radio yang konsisten dan efektif. Secara internasional penggunaan spektrum frekuensi radio diatur oleh suatu hukum internasional yang bersifat mengikat (treaty) dalam bentuk Radio Regulations ITU. 52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi dan PP No. Ditjen Postel bertanggung jawab secara kesisteman terhadap penggunaan spektrum frekuensi radio di wilayah Republik Indonesia.

Indonesia telah menjadi anggota ITU sejak tahun 1950.Kerangka umum pengaturan spektrum Frekuensi radio adalah sebagai berikut: i. Peraturan Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informasi. Radio Regulation ITU dan Tabel Alokasi Frekuensi diperbaharui pada sidang komunikasi radio sedunia/World Radiocommunication Conference (WRC) yang diadakan satu kali setiap kurang lebih 3 sampai 4 tahun. c. d. c. 1) World Radiocommunication Conference (WRC). setiap Administrasi yang berada dalam region yang sama berusaha untuk mengharmonisasikan posisinya di dalam region tersebut. b. ASEAN Telecommunication Regulatory Council (ATRC). International Telecommunication Union (ITU). 2. Koordinasi Bilateral antar negara. ITU telah membagi tiga region berbeda seperti terlihat pada gambar berikut ini: GAMBAR 1. Indonesia memiliki kewajiban untuk menjamin bahwa kegiatan pengelolaan spektrum frekuensi radio sesuai dengan Radio Regulations ITU. Sebagai penandatangan Konstitusi dan Konvensi ITU. PEMBAGIAN WILAYAH ITU ii. Peraturan sektor lain yang terkait. Internasional a. Perundang-undangan tingkat Nasional. yaitu International Telecommunication Union (ITU). Nasional a.1 WORLD RADIOCOMMUNICATION CONFERENCE Secara umum. 2) Radio Regulation (RR). 5 . d. Asia Pacific Telecommunity (APT). penggunaan spektrum frekuensi radio diatur oleh badan khusus Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) di bidang telekomunikasi. Di dalam persiapan WRC. b.

6. Ditjen Postel mendiskusikan masalah-masalah yang dibahas di dalam WRC dengan stakeholder dan pihak terkait dalam pertemuan kelompok kerja persiapan WRC. Ketentuan Administrasi. Interferensi. “Maritime Services” (Dinas Maritim). 8. instansi pemerintah terkait (Ditjen Perhubungan Laut. Appendiks. notifikasi dan pencatatan penetapan Frekuensi dan modiifikasi Rencana (Plan). Institusi pertahanan keamanan. 6 . BMG. memiliki 9 “chapter” (bab). 4. Hasil pembahasan dan keputusan dari sidang WRC adalah perubahan dari Radio Regulation.Di dalam wilayah Asia Pasifik (Region-3). Frekuensi (alokasi frekuensi). dsb. Volume I Radio Regulation. seperti penyelenggara jaringan telekomunikasi. meliputi perubahan alokasi frekuensi. 2. 3. serta ketentuan-ketentuan teknis lainnya. 2. 7. yaitu Artikel. Ketentuan untuk “Services” (dinas/layanan) dan “Stations” (stasiun radio). “Distress and Safety Communications” (Komunikasi Marabahaya dan Keselamatan).2 RADIO REGULATION “ITU Radio Regulation” memiliki 4 “volume” (jilid).). ORARI. tata cara dan prosedur koordinasi. Ditjen Perhubungan Udara. Terminologi dan karakteristik teknis. yang terdiri dari Artikel. 5. baik untuk sistem komunikasi radio satelit maupun terrestrial. Asia Pacific Telecommunity (APT) mengorganisasikan pertemuan-pertemuan kelompok persiapan (APG/APT Preparatory Group) untuk menyusun posisi bersama di antara negara-negara anggota sebagai masukan bagi sidang WRC. operator satelit. 9. Anggota tim kelompok kerja tersebut dapat berpartisipasi dalam sidang WRC sebagai Delegasi Indonesia yang dikoordinasikan oleh Ditjen Postel. pengembangan maupun penerapan teknologi “wireless” (nirkabel) di seluruh dunia. meliputi: 1. “Aeronautical Services” (Dinas Penerbangan). LAPAN. pakar. Pada tingkat nasional. maupun notifikasi. yang nantinya memberikan suatu ketentuan hukum internasional serta panduan dan arah bagi industri telekomunikasi di seluruh dunia dalam melakukan investasi dan perencanaan riset. manufaktur/vendor. Koordinasi. dan sebagainya. Rekomendasi dan Resolusi dan Pencantuman berdasarkan Referensi.

Dimana Resolusi adalah kesepakatan dalam konferensi untuk melakukan suatu tindakan dalam cara tertentu. NTT dan Maluku berbatasan dengan Timor Leste. terdapat 142 Resolusi dan 23 Rekomendasi. Bintan dan Tanjung Balai . Pada Radio Regulation edisi terakhir tahun 2008. Volume 4. Koordinasi frekuensi terrestrial meliputi koordinasi frekuensi ”service” (dinas) penyiaran (broadcast). Pada Radio Regulation edisi terakhir tahun 2008. meliputi sejumlah banyak prosedur dalam Radio Regulations yang merujuk kepada Rekomendasi Study Group ITU-R untuk rincian proses. Pencantuman berdasarkan Referensi. Sedangkan. berbatasan dengan Sabah dan Sarawak. Koordinasi frekuensi terrestrial lainnya seperti koordinasi frekuensi HF Broadcast (HFBC) dilakukan melalui forum koordinasi frekuensi yang dikoordinasikan oleh Asia Pacific Broadcasting Union (ABU) di Kuala Lumpur. HF Broadcast maupun HF Fixed dan Mobile. dsb. bergerak darat (sellular). Penerbangan dan Satelit. microwave link (point-to-point). Beberapa wilayah Indonesia yang berbatasan dengan negara lain dan perlu dilakukan koordinasi penggunaan spektrum frekuensi. berbatasan dengan Malaysia dan Singapura. terdapat 38 Referensi. sekitar bulan Agustus setiap tahun. Appendiks juga memuat hasil perencanaan pada Konferensi Dunia untuk Servis Maritim.3 KOORDINASI FREKUENSI RADIO DENGAN NEGARA LAIN Koordinasi dalam penggunaan spektrum frekuensi radio dengan negara lain dapat dibagi menjadi dua macam yaitu koordinasi frekuensi terrestrial dan koordinasi satelit. Rekomendasi adalah masukan atau saran dari suatu konferensi kepada pengguna atau administrasi. Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Papua berbatasan dengan Papua Nugini. Resolusi tidak memiliki kekuatan kecuali terkait dengan Volume 1. Proses ini memungkinkan Radio Regulations menggunakan data dan proses terakhir dengan perubahan pada regulasi yang sesungguhnya. Sangihe-Talaud berbatasan dengan Mindanao-Filipina. meliputi hampir seluruh tugas rinci di dalam Radio Regulations terdapat pada 42 Appendiks. Volume 3.Kepulauan Riau. Appendiks. Hampir semua koordinasi frekuensi terrestrial menyangkut pada wilayah perbatasan antara suatu negara dengan negara lain. antara lain:       Pantai Sumatera Bagian Timur Utara berbatasan dengan Malaysia. terdiri dari Resolusi dan Rekomendasi. Suatu rekomendasi tidak memiliki status regulasi.Volume 2. satelit. Hal ini berdasarkan 7 . Batam. Malaysia. 2.

Pada bulan April 2005. Ditjen Postel. Singapura dan Malaysia yang membahas masalah koordinasi frekuensi perbatasan di daerah Batam. disepakati dibentuk forum pertemuan tiga negara (trilateral meeting) antara Indonesia.ketentuan Artikel 12 Radio Regulation ITU.3. Khusus penggunaan frekuensi LF/MW untuk Radio Siaran AM diatur melalui perjanjian internasional GE-75. terutama koordinasi frekuensi penyiaran dan selular. Pertemuan JCC ini dilakukan minimal sekali tiap tahun secara ditentukan bergiliran. IDA Singapura dan MCMC Malaysia sepakat untuk menjadikan pertemuan ini sebagai agenda rutin di samping forum bilateral yang telah dimiliki masingmasing negara. BCCM merupakan forum untuk koordinasi dan diskusi hal-hal teknik menyangkut masalah frekuensi radio di daerah perbatasan maupun pertukaran kebijakan telekomunikasi dan frekuensi radio antara Indonesia maupun Singapura. Johor dan Singapura. yaitu sub-komite penyiaran dan subkomite non penyiaran dan selular. 2. hendaknya dilakukan koordinasi frekuensi bilateral dengan negara lain yang kemungkinan terganggu sebelum dinotifikasi ke ITU. yang diberlakukan untuk negaranegara Region 1 dan 3. 8 . JCC merupakan forum untuk melakukan koordinasi dan diskusi hal-hal teknik menyangkut masalah frekuensi radio di daerah perbatasan maupun pertukaran kebijakan telekomunikasi dan frekuensi radio antara Indonesia maupun Malaysia. termasuk Indonesia. JCC terdiri dari dua sub-komite. Pertemuan BCCM ini dilakukan sekitar dua kali per tahun secara ditentukan bergiliran.1 KOORDINASI FREKUENSI PERBATASAN Koordinasi frekuensi perbatasan antara Indonesia dengan Singapura dilakukan dalam bentuk forum BCCM (Border Communication Coordination Meeting) antara Ditjen Postel dan IDA (Infocomm Development Authority) yang efektif dimulai tahun 2002. Modifikasi dan penambahan kanal di luar ”allotment plan” (rencana penjatahan) setiap negara. Untuk penggunaan frekuensi HF lainnya. Koordinasi frekuensi perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia secara efektif baru dimulai sejak tahun 2002 dalam bentuk Joint Committee on Communications (JCC) antara Ditjen Postel dan MCMC (Malaysian Communication and Multimedia Commission). maka perlu dilakukan koordinasi frekuensi dengan negara lain dan dilakukan proses notifikasi ke ITU.

antara lain koordinasi frekuensi TV Siaran. Korea. Hongkong. selular GSM. Australia. Demikian pula Koordinasi frekuensi dengan Timor Leste. Koordinasi frekuensi perbatasan antara Indonesia dengan negara lain yang memiliki perbatasan langsung seperti Filipina. Koordinasi untuk perencanaan servis komunikasi radio di masa yang akan datang. Rusia. India. artinya bergiliran yang menjadi tuan rumah. Vietnam. Koordinasi frekuensi dengan Papua Nugini. dsb. melalui forum Joint Border Coordination yang dikoordinasikan oleh Departemen Dalam Negeri. 9 . Pemecahan masalah gangguan interferensi di kedua Negara. 2. Amerika Serikat.3. microwave link. maka filing satelit tersebut perlu dinotifikasi. telah dirintis melalui berbagai forum. berdasarkan Artikel 9 dan 11 Radio Regulation ITU untuk unplanned band dan Appendiks 30. Radio Siaran FM. Registrasi frekuensi bersama.2 KOORDINASI SATELIT Koordinasi satelit dilakukan sebagai salah satu prosedur peraturan radio internasional pada saat pendaftaran filing satelit suatu negara ke ITU. Ditjen Postel melakukan komunikasi melalui forum bilateral. Sedangkan dengan Filipina. Tonga. Koordinasi satelit tersebut seringkali harus dilakukan berulang kali. China. Koordinasi frekuensi radio di daerah perbatasan. Saat ini negara-negara yang perlu dikoordinasikan dengan satelit Indonesia. Untuk mendapatkan suatu proteksi internasional. Korea Selatan. Inggris. regional di tingkat ASEAN seperti ATRC (ASEAN Telecommunicatoin Regulatory Council) maupun forum internasional lainnya. bersama-sama dengan sektor-sektor lainnya. Jepang. Thailand. misalnya sebagai berikut: Malaysia. TimorTimur dan Papua Nugini. 30A dan 30B untuk planned band. Notifikasi baru dapat dilakukan setelah filing satelit tersebut dikoordinasikan dengan seluruh filing satelit negara-negara lain yang memiliki potensi mendapatkan gangguan yang merugikan dari filing satelit tersebut. mengingat pengembangan filing satelit serta perubahan-perubahan filing satelit yang dilakukan negara-negara anggota ITU.Hal-hal yang didiskusikan di dalam koordinasi perbatasan antara lain adalah:      Harmonisasi perencanaan dan penggunaan frekuensi di daerah perbatasan. khususnya masalah frekuensi HF sudah pernah dilakukan. Singapura. Biasanya koordinasi dilakukan secara ”home and away”.

PEMERINTAH DAERAH PROVINSI.KOMINFO/12/2006 TENTANG PENGALOKASIAN KANAL PADA PITA FREKUENSI RADIO 800 MHZ UNTUK PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL 5 6 7 8       10 . DAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN/KOTA PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 7 TAHUN 2009 TENTANG JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK YANG BERLAKU PADA DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA KEPUTUSAN MENKOMINFO NOMOR : 03/KEP/M. KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO Manajemen spektrum yang baik memerlukan banyak sekali perencanaan pita frekuensi untuk mencegah situasi interferensi dan untuk mendorong penggunaan spectrum frekuensi radio yang efektif dan efisien.KOMINFO/01/2006 TENTANG PELUANG USAHA UNTUK PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULAR GENERASI KETIGA DENGAN CAKUPAN NASIONAL KEPUTUSAN MENKOMINFO NOMOR : 29 /KEP/M.3. Tabel berikut ini menjelaskan beberapa peraturan yang terkait dengan Pengaturan Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio. Pengaturan Spektrum Frekuensi Radio Fixed Wireless Access Dan Selular dan Perencanaan Alokasi Frekuensi.KOMINFO/03/2006 TENTANG KETENTUAN PENGALOKASIAN PITA FREKUENSI RADIO DAN PEMBAYARAN TARIF IZIN PENGGUNAAN PITA FREKUENSI RADIO BAGI PENYELENGGARA JARINGAN BERGERAK SELULER IMT-2000 PADA FREKUENSI RADIO 2. Secara khusus. 36 TAHUN 1999 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 1999 TENTANG TELEKOMUNIKASI PERATURAN PEMERINTAH NOMOR PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI 52 TAHUN 2000 TENTANG NO 1 2 3 4 PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 53 TAHUN 2000 TENTANG PENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO DAN ORBIT SATELIT PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 38 TAHUN 2007 TENTANG PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN ANTARA PEMERINTAH. PERATURAN YANG TERKAIT DENGAN PENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO. PENGATURAN FIXED WIRELESS ACCESS DAN SELULAR DAN PERENCANAAN ALOKASI FREKUENSI REGULASI UU NO. TABEL 1. “Fixed Services” (Dinas Tetap) dan “Mobile Service” (Dinas Bergerak) memerlukan perencanaan yang baik.1 GHZ KEPUTUSAN MENKOMINFO NOMOR: 181/KEP/M.

KOMINFO/4/2009 TENTANG PELUANG USAHA PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL BERBASIS PACKET SWITCHED YANG MENGGUNAKAN PITA FREKUENSI RADIO 2.KOMINFO/12/ 2006 TENTANG PENGALOKASIAN KANAL PADA PITA FREKUENSI RADIO 800 MHZ UNTUK PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL TANPA KABEL DENGAN MOBILITAS TERBATAS DAN PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULER KEPUTUSAN MENKOMINFO NOMOR: 114/KEP/M.KOMINFO/1/2006 TENTANG PENATAAN PITA FREKUENSI RADIO 2.KOMINFO/I/2006 TENTANG PENYELENGGARAAN WARUNG TELEKOMUNIKASI PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 07/PER/M.3 GHZ UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 03/P/M.KOMINFO/4/2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI KOMINFO NO.KOMINFO/8/2005 TENTANG PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI YANG MENGGUNAKAN SATELIT PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 17 /PER/M.KOMINFO/1/2009 TENTANG PELUANG USAHA PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL BERBASIS PACKET SWITCHED YANG MENGGUNAKAN PITA FREKUENSI RADIO 2.KOMINFO/2/2006 TENTANG KETENTUAN PENGGUNAAN PITA FREKUENSI RADIO 2.1 GHZ UNTUK PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULER 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20   11 .KOMINFO/9/2005 TENTANG TATA CARA PERIZINAN DAN KETENTUAN OPERASIONAL PENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO PERATURAN MENKOMINFO NOMOR :19/PER.KOMINFO/5/2005 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 40 TAHUN 2002 PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 13/P/M. 4/KEP/M.1 GHZ UNTUK PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULAR IMT-2000 PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 05/PER/M.NO 9 REGULASI KEPUTUSAN MENKOMINFO NOMOR: 162/KEP/M.3 GHZ UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) KEPUTUSAN MENKOMINFO NOMOR: 4/KEP/M.KOMINFO/5/2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR: 181/KEP/M.KOMINFO/5/2005 TENTANG PENYESUAIAN KATA SEBUTAN PADA BEBERAPA KEPUTUSAN/PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN YANG MENGATUR MATERI MUATAN KHUSUS DI BIDANG POS DAN TELEKOMUNIKASI PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 05/P/M.KOMINFO/10/2005 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TARIF ATAS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK DARI BIAYA HAK PENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 01/PER/M.1 GHZ UNTUK PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULER IMT-2000 PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 04 /PER/M.KOMINFO/01/2006 TENTANG TATACARA LELANG PITA SPEKTRUM FREKUENSI RADIO 2.

KOMINFO/10/2005 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TARIF ATAS PNBP DARI BHP SPEKTRUM FREKUENSI RADIO PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 37/P/M.KOMINFO/12/2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR: 13/P/M.3 GHz DAN MIGRASI PENGGUNA FREKUENSI RADIO EKSISTING UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) DARI PITA FREKUENSI RADIO 3.KOMINFO/9/2008 TENTANG TATA CARA DAN PERSYARATAN PERIZINAN PENYELENGGARAAN PENYIARAN PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 39/P/M.4 – 3.KOMINFO/8/2008 TENTANG UJI COBA LAPANGAN PENYELENGGARAAN SIARAN TELEVISI DIGITAL PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 28/P/M.KOMINFO/8/2006 TENTANG PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI YANG MENGGUNAKAN SATELIT PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 8/P/M.3 GHz PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 12/PER/M.KOMINFO/1/2009 TENTANG PENATAAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 8/KEP/M.KOMINFO/12/2008 DAERAH EKONOMI MAJU DAN DAERAH EKONOMI KURANG MAJU DALAM PENYELENGGARAAN PENYIARAN PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 7/KEP/M.KOMINFO/1/2009 TENTANG PENETAPAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) PADA PITA FREKUENSI RADIO 2.KOMINFO/1/2009 TENTANG PENETAPAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) PADA PITA FREKUENSI RADIO 3.6 GHz KE PITA FREKUENSI RADIO 3.3 GHZ PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 9/KEP/M.KOMINFO/3/2008 TENTANG PEDOMAN PEMBANGUNAN DAN PENGGUNAAN MENARA BERSAMA TELEKOMUNIKASI PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 27/P/M.KOMINFO/02/2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS MONITOR SPEKTRUM FREKUENSI RADIO 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32     12 .KOMINFO/2/2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR: KM 76 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA INDUK (MASTER PLAN) FREKUENSI RADIO PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI KHUSUS UNTUK KEPERLUAN TELEVISI SIARAN ANALOG PADA PITA ULTRA HIGH FREQUENCY (UHF) PERATURAN MENKOMINFO NOMOR: 15/PER/M.KOMINFO/3/2007 TENTANG TATA CARA PERIZINAN DAN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 02/PER/M.KOMINFO/9/2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 19/PER.NO 21 REGULASI PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 26/PER.

KOMINFO/10/2009 TENTANG KERANGKA DASAR PENYELENGGARAAN PENYIARAN TELEVISI DIGITAL TERESTRIAL PENERIMAAN TETAP TIDAK BERBAYAR (FREE TO AIR) PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR: 29/PER/M. 3.KOMINFO/6/2009 TENTANG PENETAPAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL PADA PITA FREKUENSI RADIO 5. Frekuensi atau Standardisasi. Dapat dilihat pada Gambar 2.KOMINFO/07/2009 Tentang Tabel Alokasi Spektrum Frekuensi Radio Indonesia (TASFRI). www.id di bagian Regulasi Telekomunikasi. sebagai penyempurnaan dari Keputusan Menteri Perhubungan No.8 GHZ PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 29/PER/M. mendeskripsikan diagram alokasi frekuensi nasional.go.NO 33 REGULASI PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 25/PER. 43/PER/M.KOMINFO/10/2005 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TARIF ATAS PNBP DARI BHP SPEKTRUM FREKUENSI RADIO PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 26/PER/M. 39/PER/M.KOMINFO/6/2009 TENTANG PENETAPAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL PADA PITA FREKUENSI RADIO 2 GHZ PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 27/PER/M. rinci dan bersifat operasional.1 TABEL ALOKASI SPEKTRUM FREKUENSI RADIO INDONESIA (TASFRI) Ditjen Postel telah melakukan pemetaan penggunaan spektrum frekuensi radio saat ini dan perencanaan di masa yang akan datang dalam bentuk tabel alokasi spektrum frekuensi radio Indonesia.KOMINFO/07/2009 TENTANG TABEL ALOKASI SPEKTRUM FREKUENSI RADIO INDONESIA PERATURAN MENTERI KOMINFO NO.KOMINFO/7/2009 TENTANG TABEL ALOKASI SPEKTRUM FREKUENSI RADIO INDONESIA PERATURAN MENKOMINFO NOMOR: TENTANG PENYELENGGARAAN AMATIR RADIO 33/PER/M. TASFRI berisi tentang pengalokasian spektrum frekuensi radio di Indonesia dan menjadi acuan dalam pengelolaan pita frekuensi yang lebih khusus.KOMINFO/8/2009 TENTANG PENYELENGGARAAN RADIO ANTAR PENDUDUK PERATURAN MENKOMINFO NO.KOMINFO/08/2009 34 35 36 37 38 39 PERATURAN MENKOMINFO NOMOR: 34/PER/M. Pada tahun 2009 ini. Pengguna eksisting dan calon 13 .KOMINFO/6/2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 19/PER. telah ditetapkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor: 29/PER/M.postel.KOMINFO/10/2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PENYIARAN MELALUI SISTEM STASIUN JARINGAN OLEH LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN TELEVISI 40 41 Semua regulasi tersebut dapat diakses melalui website Ditjen Postel. 5 tahun 2001.

pengguna spektrum frekuensi. di mana setiap kolom tersebut merupakan pembagian alokasi frekuensi dunia yang dinyatakan sebagai alokasi Wilayah ITU. 14 . Pita frekuensi yang dirujuk pada setiap tabel alokasi spektrum frekuensi radio ITU tersebut berada di sudut atas kiri atas dari setiap bagian kotak pada tabel yang bersangkutan.postel. Untuk TASFRI terdiri dari empat kolom di mana pada kolom ke empat merupakan alokasi spektrum frekuensi untuk Indonesia yang mengacu pada Wilayah 3 dari Tabel alokasi spektrum frekuensi ITU. berlaku untuk seluruh alokasi yang ditetapkan. antara lain: lebar pita (bandwidth). selisih frekuensi antara frekuensi pemancar dan frekuensi penerima (duplex separation). alokasi dan pengkanalan yang terkait di dalamnya. Referensi catatan kaki yang muncul di sebelah kanan nama dinas.KOMINFO/07/2009 Tentang Tabel Alokasi Spektrum Frekuensi Radio Indonesia (TASFRI) dengan lampiran yang berisi tentang TASFRI. Pertimbangan penting lainnya dalam penentuan perencanaan pita dalam TASFRI tersebut adalah perkembangan teknologi dan ketersediaan perangkat komunikasi radio. Terhadap catatan kaki khusus untuk Indonesia pada kolom empat ditandai dengan kode INS. di bawah dinas-dinas yang dialokasikan. dapat diunduh pada www. Tabel alokasi spektrum frekuensi ITU terdiri dari tiga kolom. perencanaan pita dibagi lebih lanjut menjadi beberapa kanal untuk menentukan rencana pengkanalan (channeling plan).go. Untuk referensi catatan kaki (footnote) yang muncul pada Tabel. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor: 29/PER/M. Untuk keperluan penetapan frekuensi. dimana pengalokasian tersebut merupakan uraian perencanaan dan penggunaan pita frekuensi dimaksud berdasarkan kebutuhan dan prioritas nasional. dsb. Alokasi spektrum frekuensi radio di Indonesia yang terdapat di dalam TASFRI mengacu pada alokasi tabel alokasi spektrum frekuensi yang dikeluarkan secara resmi oleh ITU pada Radio Regulations edisi tahun 2008 yang juga menjadi acuan bagi negara-negara lain di dunia.id di bagian Regulasi Frekuensi. hanya berlaku untuk dinas tersebut. Ditjen Postel dalam menentukan perencanaan pita (band plan) untuk diterapkan pada setiap servis dalam TASFRI berdasarkan pertimbangan teknis. dianjurkan untuk mengenali pengalokasian yang telah dilakukan di bidang spektrum frekuensi yang tertuang dalam dokumen TASFRI tersebut terhadap jenis layanan.

1 5 5 . DAFTAR PERATURAN TEKNIS ALAT TELEKOMUNIKASI BERBASIS NIRKABEL NO 1 2 3 REGULASI KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 233/DIRJEN/2002 TENTANG PENGELOMPOKAN ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 007/DIRJEN/1999 TENTANG PEDOMAN ITEM UJI ALAT/PERANGKAT KOMUNIKASI RADIO KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 47/DIRJEN/1998 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS SISTEM TELEKOMUNIKASI BERGERAK SELULAR BERBASIS CODE DEVISION MULTIPLE ACCESS (CDMA) DAN PERANGKAT 15 .0 7 5 7 .5 3 .0 0 5 4 .9 5 4 .7 5 5 .. sebagai bagian dari persyaratan izin.4 8 6 .0 4 9 .3 0 0 k H z ) 3 0 k H z 7 0 7 2 8 4 8 6 9 0 1 1 0 1 1 2 1 1 7 .7 2 5 5 .2 1 3 .0 5 2 V H F (3 0 M H z -3 0 0 M H z ) 3 0 M H z 3 0 .8 3 7 5 1 5 6 .4 5 1 0 .6 1 1 .4 9 .3 5 1 5 .0 5 4 0 3 4 2 0 4 0 2 4 1 0 4 0 1 4 0 6 .9 2 5 7 .8 7 5 .0 6 5 .7 1 0 .8 9 .2 5 .8 1 6 .6 1 7 .0 6 3 4 .2 1 3 .2 5 1 4 .4 3 2 8 .8 5 5 .0 0 3 5 .5 2 5 7 .5 5 .8 7 1 4 .2 5 4 0 .8 5 4 .1 4 0 0 .5 3 8 .2 PENGATURAN TEKNIK SPEKTRUM FREKUENSI RADIO Ditjen Postel akan memformulasikan kriteria penetapan frekuensi radio untuk setiap servis.6 3 8 7 3 2 2 3 9 0 3 1 5 3 9 9 .8 5 5 .5 4 .6 M F (3 0 0 k H z -3 M H z ) 3 0 0 k H z 3 2 5 4 1 5 4 9 5 5 0 5 5 2 6 .2 5 5 .0 1 5 5 0 5 4 6 8 7 4 .2 9 .0 0 5 1 1 .3 1 4 .5 1 4 .7 6 2 5 1 7 4 U H F (3 0 0 M H z -3 G H z ) 3 0 0 M H z 3 3 5 .4 3 .7 4 .3 3 .5 1 0 .1 B E R G E R A K T E T A P -S A T E L IT N A V IG A S I R A D IO R IS E T S .R .6 8 1 0 . standar dan spesifikasi dsb.3 6 1 3 .4 1 3 .9 9 5 4 .9 3 1 2 4 0 0 .2 5 1 3 .4 5 4 .4 8 1 7 .4 7 1 5 .7 1 6 .7 6 5 7 .9 1 5 0 .1 5 5 3 .1 7 5 1 1 .3 5 1 4 . L E G E N D A S IA R A N A M A T IR T E T A P R L B S B S B A O E A E A E D IO P K A S I R G E R T E L IT R G E R T E L IT R G E R E N E N T U A K A K A K / / D A R A T B E R G E R A K P E N E R B A N G A N A N T A R -S A T E L IT B E R G E R A K -S A T E L IT D A L A M P E R E N C A N A A N A S T R O N O M I R A D IO M E T E O R O L O G I E K S P L O R A S I B U M IS A T E L IT K H U S U S B E R G E R A K P E N E R B A N G A N -S A T E L IT F R E K U E N S I D A N T A N D A W A K T U S T A N D A R M A R IT IM M A R IT IM 3.1 7 5 9 9 .4 1 1 .1 1 2 . TABEL 2.9 9 5 1 0 .4 4 .1 7 6 .4 3 8 4 .4 3 .4 1 1 7 .7 3 5 . batasan daya pancar (power).0 1 1 5 .1 8 .3 5 8 .1 1 0 .9 1 8 .6 5 5 .5 1 6 0 6 H F (3 M H z .5 7 1 4 1 3 .1 5 1 0 .2 3 1 3 .7 5 1 2 .5 1 0 1 0 .8 1 5 4 5 1 6 1 0 .2 5 7 .4 5 8 . DIAGRAM ALOKASI FREKUENSI RADIO NASIONAL V L F (3 k H z -3 0 k H z ) T I D A K 3 k H z D I A L O K A S I K A N 9 L F (3 0 k H z .9 7 5 1 3 6 1 3 7 1 3 8 1 4 4 1 4 6 1 4 8 1 4 9 . Khusus untuk ketentuan teknis alat dan perangkat terminal maupun jaringan akses nirkabel sebagai acuan dalam sertifikasi perangkat.3 0 M H z ) 3 M H z 3 .0 0 5 1 5 .5 1 2 .9 8 4 7 4 1 .0 1 3 0 .0 5 3 7 .0 5 1 5 6 .8 1 5 8 .9 9 1 5 .2 1 5 8 .8 1 4 .6 5 5 .5 1 5 5 5 1 6 1 3 .6 1 2 .0 0 3 1 0 .1 3 .3 6 1 7 .7 1 2 .A .1 5 4 0 6 4 3 0 4 7 0 4 6 0 4 5 0 4 4 0 5 8 5 6 1 0 8 9 0 9 4 2 9 6 0 1 2 1 5 1 2 4 0 1 2 6 0 1 3 0 0 1 3 5 0 1 4 0 0 1 4 2 7 1 4 2 9 1 4 5 2 1 4 9 2 1 5 2 5 1 5 3 0 1 5 3 3 1 5 3 5 1 5 5 9 1 6 2 6 .3 9 . yang ringkasannya dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini.9 9 .0 3 1 8 .2 8 7 1 0 0 1 0 8 1 1 7 . telah ditetapkan sejumlah peraturan baik berupa Keputusan maupun Peraturan Dirjen Postel.9 6 .1 9 5 9 .9 4 3 .6 1 6 1 5 4 4 1 6 1 0 1 6 3 1 S H F (3 G H z -3 0 G H z ) 3 G H z 3 .2 3 .7 5 1 4 1 4 .4 1 5 . Ditjen Postel menetapkan regulasi teknis yang harus ditaati seperti kriteria penggunaan bersama (sharing).2 3 .4 1 1 3 .GAMBAR 2.1 1 5 .

  NO 4 REGULASI KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 180/DIRJEN/1998 TENTANG PENETAPAN PERSYARATAN TEKNIS ALAT/PERANGKAT TELEKOMUNIKASI UNTUK PESAWAT TELEPON SELULER NMT-450 KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 181/DIRJEN/1998 TENTANG PENETAPAN PERSYARATAN TEKNIS ALAT/PERANGKAT TELEKOMUNIKASI UNTUK PESAWAT TELEPON SELULER GSM KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 182/DIRJEN/1998 TENTANG PENETAPAN PERSYARATAN TEKNIS ALAT/PERANGKAT TELEKOMUNIKASI UNTUK PESAWAT TELEPON SELULER AMPS KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 80/DIRJEN/1999 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT AMATIR RADIO KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 60/DIRJEN/1999 TENTANG PENETAPAN PERSYARATAN TEKNIS ALAT/PERANGKAT TELEKOMUNIKASI UNTUK PERANGKAT JARLOKAR CDMA IS-95 KEPDIRJEN POSTEL PERSYARATAN TEKNIS HF/VHF/UHF NOMOR : PERANGKAT 84/DIRJEN/1999 TENTANG RADIO KOMUNIKASI SSB- 5 6 7 8 9 10 11 12 KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 85/DIRJEN/1999 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT RADIO SIARAN KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 86/DIRJEN/1999 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT TELEPON TANPA KABEL UMUM KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 207/DIRJEN/2001 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS BASE STATION RADIO DIGITAL ENHANCED CORDLESS TELECOMMUNICATIONS (DECT) KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 167/DIRJEN/2002 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT BROADBAND WIRELESS ACCESS PADA FREKUENSI 10 GHZ KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 169/DIRJEN/2002 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEVISI SIARAN SISTEM ANALOG KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 288/DIRJEN/2004 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS SENTRAL PERANGKAT JARINGAN WIDEBAND CODE DIVISION MULTIPLE ACCESS (WCDMA)-CORE NETWORK KEPDIRJEN POSTEL NOMOR PERSYARATAN TEKNIS BLUETOOTH : 09/DIRJEN/2004 TENTANG 13 14 15 16 17 KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 297/DIRJEN/2004 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS TERMINAL CODE DIVISION MULTIPLE ACCESS (CDMA) 16 .

TDD) PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 265/DIRJEN/2005 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT DIGITAL TERRESTRIAL L-BAND TRASMITTER UNTUK MULTICHANNEL MULTIPOINT DISTRIBUTION SYSTEM (MMDS) PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 266/DIRJEN/2005 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT RADIO MARITIM PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 267/DIRJEN/2005 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT JARINGAN RADIO (RADIO NETWORK) BERBASIS UNIVERSAL MOBILE TELECOMMUNICATION SYSTEM .TIME DIVISION DUPLEXING (UMTS TDD) PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 80/DIRJEN/2006 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI MULTIPLEX SDH (SYNCHRONOUS DIGITAL HIERARCHY) PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 81/DIRJEN/2/2008 TENTANG PENCABUTAN BEBERAPA KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI YANG TERKAIT PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 94/DIRJEN/2008 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI SUBSCRIBER STATION BROADBAND WIRELESS ACCESS (BWA) NOMADIC PADA PITA FREKUENSI 2.TIME DIVISION DUPLEXING (UMTS .NO 18 REGULASI KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 23/DIRJEN/2004 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT JARINGAN GLOBAL SYSTEM FOR MOBILE (GSM) 900 MHz / DIGITAL COMMUNICATION SYSTEM (DCS) 1800 MHz KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 193/DIRJEN/2005 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT KOMUNIKASI RADIO MICROWAVE LINK PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 214/DIRJEN/2005 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT DENGAN DAYA PANCAR DI BAWAH 10 mW PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 264/DIRJEN/2005 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT CUSTOMER PREMISES EQUIPMENT (CPE) UNIVERSAL MOBILE TELECOMMUNICATION SYSTEM .3 GHz 19 20 21 22 23 24 25 26 27 17 .

Ditjen Postel secara rutin melakukan monitoring frekuensi dan mendeteksi pemancaran yang tidak berizin. PENGENDALIAN INTERFERENSI Manajemen spektrum dalam melakukan fungsinya memberikan perlindungan kepada pengguna frekuensi radio (licensed users) bertanggung jawab untuk melakukan investigasi serta menyelesaikan masalah keluhan dari pengguna radio yang mengalami interferensi dalam pengoperasian sistem komunikasi radionya.3 GHz SPEKTRUM DAN MANAJEMEN PENANGANAN 29 4. jika suatu stasiun radio telah diberikan izin. Begitu juga. Ditjen Postel melakukan inspeksi kepada stasiun tersebut untuk menjamin bahwa pemegang izin menaati kondisi operasi izin seperti daya output RF. Daftar lengkap alamat.3 GHz PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 96/DIRJEN/2008 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI ANTENA BROADBAND WIRELESS ACCESS (BWA) NOMADIC PADA PITA FREKUENSI 2.  NO 28 REGULASI PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 95/DIRJEN/2008 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI BASE STATION BROADBAND WIRELESS ACCESS (BWA) NOMADIC PADA PITA FREKUENSI 2. nomor telepon dan fax kantor UPT Balai Monitor dan Loka Monitor di seluruh Indonesia tersebut dapat dilihat pada lampiran 1.  18 . modulasi. Ditjen Postel-Depkominfo memiliki Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Monitor dan Loka Monitor Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit di seluruh wilayah Indonesia. akurasi frekuensi radio dan persyaratan instalasi serta digunakan sesuai peruntukannya.

Penyelenggaraan jaringan tetap nirkabel (FWA) pada mulanya diperlukan di banyak tempat di Indonesia mengingat tingkat kepadatan ketersediaan telepon (teledensity) yang relatif masih rendah (kurang dari 3%). regulasi telekomunikasi di Inodnesia masih membedakan antara penyelenggaraan telekomunikasi tetap (fixed) dan penyelenggaraan telekomunikasi bergerak (mobile). penomoran. besaran BHP (Biaya Hak Penggunaan) Frekuensi Radio. PENDAHULUAN Penggunaan spektrum frekuensi radio pada penyelenggaraan jaringan telekomunikasi selular perlu dibahas tersendiri.1 GHz. meliputi permasalahan perizinan. interkoneksi. terutama di daerah-daerah yang relatif dianggap kurang menguntungkan secara ekonomis. maka pemisahan antara FWA dan selular sudah sulit untuk dibedakan. 850 MHz dan 1900 MHz. Sistem telekomunikasi selular di Indonesia saat ini digunakan oleh :   Penyelenggara Jaringan Tetap Nirkabel (Fixed Wireless Access / FWA) Penyelenggara Jaringan Bergerak Selular. perkembangan telekomunikasi selular berkembang sangat cepat. di pita 900 MHz. Status Kondisi Eksisting dalam Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio untuk Penyelenggara Jaringan FWA dan Jaringan Bergerak Selular di Indonesia. Telah terdapat sejumlah upaya untuk mengkaji penyempurnaan ketentuan regulasi serta teknis. yang terdiri dari: o Penyelenggara selular/ FWA dengan standar teknologi CDMA. o Penyelenggara selular dengan standar teknologi GSM / UMTS. 1800 MHz dan 2. dan kemudahan implementasi jaringan nirkabel (wireless) dibandingkan dengan jaringan kabel. konvergensi antara teknologi fixed dan mobile. yang menjangkau hampir semua wilayah Indonesia dengan jumlah pengguna di atas 100 juta. 19 . Sampai saat ini. antara lain:  Terdapat 11 izin penyelenggara selular / FWA nasional di Indonesia. Dengan berkembangnya teknologi.3 KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM UNTUK JARINGAN TELEKOMUNIKASI SELULAR 1. dsb.BAB . pada pita frekuensi 450 MHz. mengingat penggunaan alokasi pita frekuensi jaringan akses ke pelanggan bersifat eksklusif dalam penguasaan pita frekuensi pada suatu wilayah layanan tertentu. Selain itu.

Besaran Tarif Dan Skema Pembayaran Biaya Hak 20 .  Konsolidasi antara PT.KOMINFO/9/2009 tentang Penetapan Alokasi Tam Bahan Blok Pita Frekuensi Radio.Downlink PCS/CDMA-1900 MHz (BTS ke mobile) dengan Uplink UMTS 2.1 GHz (mobile ke BTS) di pita frekuensi 1950 – 1990 MHz. Sejumlah perubahan regulasi dilakukan yaitu penyusunan kebijakan dan regulasi penataan frekuensi selular 3G. pengenaan tarif BHP pita frekuensi untuk penyelenggara 3G.  Migrasi frekuensi PCS/CDMA-1900 MHz dan 850 MHz tersebut dapat diselesaikan pada akhir tahun 2007.9 dan 2.1 GHz melalui metoda lelang yang pertama kali dilakukan di Indonesia.1 GHz. antara dua sistem selular yang berdekatan.1 GHz dengan melalui:  Migrasi frekuensi PCS/CDMA-1900 MHz bagi sejumlah penyelenggara FWA/Selular yang beroperasi di pita 1950 – 1990 MHz serta penataan ulang penyelenggara FWA/selular CDMA di pita 850 MHz.9 dan 2. Potensi interferensi antara Tx BTS CDMA terhadap Rx BTS GSM. Potensi interferensi antara Tx BTS CDMA terhadap Rx BTS GSM.  Penataan pita frekuensi 1. dilakukan seleksi penyelenggara IMT/3G di pita 1. yaitu: o Downlink CDMA-850 MHz (BTS ke mobile) dengan Uplink GSM-900 MHz (mobile ke BTS) di pita frekuensi 885 – 890 MHz. maka terdapat permasalahan potensi interferensi yang membutuhkan “guard band” yang memadai. serta perencanaan frekuensi yang belum harmonis antara perencanaan frekuensi selular Amerika Serikat yang digunakan untuk CDMA. Primasel.  Akibat penerapan dua standar teknologi yang berbeda antara CDMA dan GSM. seleksi / lelang penyelenggara 3G/IMT-2000 di pita 2. dilakukan penataan frekuensi IMT/3G di pita 1. Melalui Kepmen Kominfo Nomor: 268/KEP/M.  Penyesuaian Izin Penyelenggaraan maupun Izin Frekuensi FWA/selular CDMA untuk Mobile-8 dan Bakrie Telekom. Pada Februari 2006. Pada tahun 2005. serta perencanaan frekuensi selular Eropa untuk GSM. ke pita frekuensi di luar pita IMT core-band (1920 – 1980 MHz).1 GHz tersebut juga sekaligus untuk memberikan kesempatan tambahan alokasi frekuensi bagi layanan selular multimedia global (IMT / 3G) pita frekuensi 1940 – 1955 MHz berpasangan dengan 2130 2145 MHz. Jawa Barat dan Banten dengan standar PCS-1900 MHz dimigrasikan ke pita frekuensi 800 MHz. FWA Telkom dan FWA Indosat di wilayah Jabotabek.9 dan 2. antara lain:  Penambahan alokasi frekuensi IMT-2000 / 3G untuk penyelenggara selular GSM-900/1800 paling cepat pada awal tahun 2008 dari 5 MHz FDD menjadi 10 MHz FDD. Masih terdapat sejumlah kebijakan lanjutan yang telah dan akan diselesaikan. serta pemindahan alokasi frekuensi PCS-1900 yang diberikan izin sebelumnya. WIN dan PT.

Sedangkan Gambar 3 menjelaskan mengenai perencanaan frekuensi selular di pita 1. Sosialisasi konversi BHP ISR menjadi BHP Pita bagi penyelenggara selular telah dilakukan dengan Ditjen Postel menerbitkan white paper penerapan biaya hak penggunaan berdasarkan lebar pita (BHP PITA) pada penyelenggara telekomunikasi seluler dan fixed wireless access (FWA) pada bulan Oktober 2009.1 GHz. Penyesuaian regulasi-regulasi pendukung: Peraturan mengenai Unified Access License (konvergensi Fixed/Mobile).1 GHz (IMT-2000)) CDMA (450/800/1900 MHz) Pola perencanaan frekuensi campuran antara PCS-1900 (CDMA-1900 MHz) dan IMT-2000 (UMTS) menyebabkan terjadinya potensi interferensi dan inefisiensi frekuensi.5G)  EDGE (2.id pada bagian regulasi frekuensi.1 GHz.9 dan 2.  Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio Bagi Penyelenggara Jaringan Bergerak Seluler IMT-2000 Pada Pita Frekuensi Radio 2. Draf white paper tersebut dapat di unduh pada website Ditjen Postel.postel. dsb. Revisi Peraturan Pemerintah mengenai BHP Frekuensi. Pengenaan BHP pita frekuensi untuk penyelenggara IMT-2000 / 3G maupun konversi BHP ISR menjadi BHP pita bagi penyelenggara selular lainnya secara bertahap. www.9/2. Road Map Industri Selular menuju 3G dapat digambarkan sebagai berikut: • • GSM (2G)  GPRS (2. tambahan pita 3G sebesar 5 MHz telah diberikan kepada Telkomsel dan Indosat setelah dilakukan penawaran penambahan Pita 3G kepada kelima penyelenggara tersebut di atas. Tabel 4 menjelaskan alokasi frekuensi selular di Indonesia berdasarkan peraturan yang terbaru.go. ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA 2.5G+) (migrasi)  WCDMA (overlay)  HSPA  LTE cdmaOne (2G)  CDMA2000-1X (2. dengan migrasi penyelenggara PCS-1900 ke luar pita utama IMT-2000. Tabel 3 menjelaskan alokasi frekuensi selular di Indonesia sebelum tahun 2005. Berikut ini adalah diagram alokasi pita frekuensi selular pada sejumlah pita frekuensi. Sistem selular Indonesia berbasis teknologi generasi ke-2 (digital selular) yaitu GSM dan CDMA. 21 . Kedua sistem tersebut memiliki kemampuan untuk menyediakan layanan 2. Ditjen Postel menetapkan untuk menata ulang kembali pita utama IMT-2000 sejak tahun 2005 lalu.5G.5G+) CDMA2000-1xEV-DO/DV (3G LTE Alokasi frekuensi dan standar penyelenggaraan selular di Indonesia dapat digambarkan secara ringkas sebagai berikut: • • GSM/GPRS/EDGE (900/1800 MHz) WCDMA (1.

1980 1980 . Riau.845 880 . Banten Selain DKI.Banten Nasional Nasional Telesera 835 .1900 1900 .890 22 .5 BANDWIDTH (MHZ) 15 10 20 CAKUPAN LISENSI Nasional Nasional Bali. Banten. Maluku Utara.Banten DKI. DKI Jakarta.TABEL 3. Jabar. Sumatera Utara.830 1885 .1910 880 . Jambi. ALOKASI FREKUENSI SELULAR INDONESIA SEBELUM TAHUN 2005 NO 1 PERUSAHAAN Mandara (Mobisel) JENIS LISENSI STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STANDAR CDMA NMT-470 AMPS CDMA AMPS 2.1990 20 20 10 10 10 10 10 20 835 .1965 1975 .890 870 .1970 875 . Bengkulu.875 1965 . Irian Jaya NAD. Maluku.890 20 FREKUENSI UPLINK (MHZ)) 450 . Jabar.467. Jabar. Jateng.457. Sulawesi Nasional DKI.835 825 .845 825 .880 870 . NTT.5 FREKUENSI DOWNLINK (MHZ) 460 . Sumatera Barat. Jabar.845 880 . NTB. Jabar.880 1960 . Lampung dan Kalimantan DI Yogyakarta.1890 830 .835 1880 . Metrosel STBS (Mobile) CDMA AMPS Komselindo 3 4 Bakrie Telecom Telkom (Flexi) STBS (Mobile) FWA FWA FWA 5 Indosat (Starone) FWA FWA 6 7   WIN Primasel Wireless Data STBS (Mobile) CDMA CDMA CDMA CDMA CDMA CDMA CDMA CDMA 835 . Sumsel. Banten Selain DKI.1885 1895 .

1730 1745 .2020 9 Telkomsel 10 11 Excelkomindo Pratama Natrindo Telepon Selular / Lippo Telecom Cyber Access Communications (CAC) FREKUENSI DOWNLINK (MHZ) 935 .5 .1745 1935 .5 1817.5 1730 .5 .900 1717.1840 2125 .5 1845 .1817.1750 1765 .1825 1840 .5 .1845 1860 .5 1722.5 1825 .1812.915 1710 .1717.1722.1870 952.1775 907.1945 2010 .1785 1920 .5 .2125 BANDWIDTH (MHZ) 20 10 30 15 15 10 20 15 15 30 10 5 20 20 5 CAKUPAN LISENSI Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional 12 23 .5 .952.5 .945 1812.1880 2110 .2135 1870 .1860 945 .5 1750 .1935 2015 .1765 900 .NO 8 PERUSAHAAN Indosat JENIS LISENSI STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) TEKNOLOGI GSM GSM GSM GSM GSM GSM GSM GSM GSM GSM UMTS TDD GSM WCDMA TDD FREKUENSI UPLINK (MHZ)) 890 .2015 1775 .960 1805 .907.

78. 78. 119 dan 1019 875 – 880 Kanal 201.1910 FREKUENSI DOWNLINK (MHZ) 460 . 78. 283 830 – 835 Kanal 201. 242.5 .TABEL 4. 283 870 – 875 Kanal 37.WIN FWA STBS (Mobile) CDMA CDMA 15 24 . 119 dan 1019 830 – 835 Kanal 201. 119 dan 1019 835 .845 Kanal 589. DKI. 466.5 835 . Banten Nasional Nasional 3 Bakrie Telecom FWA) CDMA 4 Telkom (Flexi) FWA CDMA 5 6         Indosat (Starone) Sinar Mas Telecom (SMART) d/h Primasel .75 . Banten Jawa Barat. 242. DKI Jakarta dan Banten Daerah selain Jawa Barat. 78. FWA TEKNOLOGI CDMA CDMA FREKUENSI UPLINK (MHZ)) 450 . 283 825 – 830 Kanal 37. 425. 507 870 – 875 Kanal 37. 630 1983.5 880 – 890 Kanal 384. 242. 630 1903. 119 dan 1019 880 – 890 Kanal 589. 507 825 – 830 Kanal 37.467. ALOKASI FREKUENSI SELULAR SAAT INI  NO 1 2 PERUSAHAAN Sampoerna Telekomunikasi Indonesia Mobile-8 JENIS LISENSI STBS (Mobile) STBS (Mobile). 425. 242. DKI Jakarta dan Banten Daerah selain Jawa Barat. DKI.845 Kanal 384.1990 BANDWIDTH (MHZ) 15 7 13 10 10 13 3 CAKUPAN LISENSI Nasional Nasional Jawa Barat. 283 875 – 880 Kanal 201.457. 466.

NO 7

PERUSAHAAN Indosat

JENIS LISENSI STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile)

TEKNOLOGI GSM GSM GSM UMTS UMTS GSM GSM GSM GSM UMTS UMTS GSM GSM UMTS GSM UMTS GSM UMTS

FREKUENSI UPLINK (MHZ)) 890 - 900 1717.5 - 1722.5 1750 - 1765 1950 - 1955 1955 - 1960 900 - 907.5 1722.5 - 1730 1745 - 1750 1765 - 1775 1940 - 1945 1935 - 1940 907.5 - 915 1710 - 1717.5 1945 - 1950 1730 - 1745 1930 - 1935 1775 - 1785 1920 - 1925

8

Telkomsel

9

Excelkomindo Pratama

10 11

NTS Axis Hutchison CPC

FREKUENSI DOWNLINK (MHZ) 935 – 945 1812.5 - 1817.5 1845 - 1860 2140 – 2145 2145 - 2150 945 - 952.5 1817.5 – 1825 1840 – 1845 1860 – 1870 2130 – 2135 2125 - 2130 952.5 – 960 1805 - 1812.5 2135 – 2140 1825 – 1840 2120 – 2125 1870 – 1880 2110 – 2115

BANDWIDTH (MHZ) 20 10 30 10 10 15 15 10 20 10 10 15 15 10 30 10 20 20

CAKUPAN LISENSI Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional

25

Referensi Regulasi: 1. 2. 3. 4. 5. Permen Kominfo No.1 Tahun 2006 tentang Penataan Frekuensi IMT-2000 di pita 1.9 dan 2.1 GHz. Permen Kominfo No.7 Tahun 2006 tentang Penggunaan Frekuensi Pita 1.9 dan 2.1 GHz Permen Kominfo No.181 Tahun 2006 tentang Pengalokasikan Kanal Pita Frekuensi 800 MHz untuk FWA dan Selular Permen Kominfo No.162 Tahun 2007 tentang Revisi Permen No.181 Tahun 2006 Pengalokasikan Kanal Pita Frekuensi 800 MHz untuk FWA dan Selular Kepmen Kominfo No.363/KEP/M.KOMINFO/1O/2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Keputusan Menteri Komunikasi Dan Informatika Nomor: 181/KEP/M.KOMINFO/12/2006 Tentang Pengalokasian Kanal Pada Pita Frekuensi Radio 800 MHz Untuk Penyelenggaraan Jaringan Tetap Lokal Tanpa Kabel Dengan Mobilitas Terbatas Dan Penyelenggaraan Jaringan Bergerak Seluler (tambahan kanal untuk Telkom dan Bakrie Telecom) Kepmen Kominfo No. 268/KEP/M.KOMINFO/9/2009 Tentang Penetapan Alokasi Tam Bahan Blok Pita Frekuensi Radio, Besaran Tarif Dan Skema Pembayaran Biaya Hak Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio Bagi Penyelenggara Jaringan Bergerak Seluler IMT-2000 Pada Pita Frekuensi Radio 2.1 GHz (tambahan 5 MHz pita 3G untuk Indosat dan Telkomsel)

6.

GAMBAR 3. PERENCANAAN PITA FREKUENSI JARINGAN TELEKOMUNIKASI FWA / SELULAR

 

 

26

 

   

 

27

 

2.1 PITA FREKUENSI SELULAR 450 MHz Pada akhir tahun 1980-an, sistem telepon bergerak selular pertama kali dikenalkan adalah sistem NMT di pita frekuensi 470 MHz yang diselenggarakan oleh PT. Mobisel. Sebenarnya standar sistem NMT adalah di pita 450 MHz, yang saat itu tidak bisa diberikan karena dinilai relatif padat pengguna saat itu. Di pita 450 MHz banyak digunakan untuk two way radio, HT, taxi, trunking oleh banyak penyelenggara instansi pemerintah, pertahanan keamanan, maupun radio konsesi (penyelenggara telekomunikasi khusus) untuk memudahkan kepentingan komunikasinya. Pada tahun 2002, Ditjen Postel memberikan izin bagi penyelenggara selular CDMA di pita 450 MHz untuk Mobisel yang akan memigrasikan sistem analog NMT di 470 MHz menjadi sistem digital selular CDMA di 450 MHz. Akan tetapi langkah pemberian izin tersebut tidak dibarengi dengan kebijakan apapun terhadap penyelenggara eksisting pita 450 MHz untuk two way radio, trunking, dan servis land mobile lainnya, sehingga sulit bagi PT. Mobisel untuk mengembangkan infrastruktur CDMA-450. Pada tahun 2005, setelah koordinasi antara Ditjen Postel, Ditjen Kuathan Dephan, dan PT. Mobisel, telah disusun suatu rencana migrasi secara
28

Perkembangan layanan selular AMPS mengalami penurunan s/d akhir tahun 1990-an. 457.5 MHz (FDD 7.2006 diganti nama menjadi PT.5 MHz (FDD 7.5 -470 MHz (17 MHz) dan pita 450 – 457. baik untuk kepentingan pemerintah maupun swasta. Mobisel. 457.1 LATAR BELAKANG Pada awal tahun 1990-an.2 PITA FREKUENSI SELULAR CDMA 850 MHZ/1900 MHZ 2. 29 .5 MHz) untuk kepentigan selular tersebut di atas memerlukan migrasi sejumlah pengguna signifikan eksisting di pita 438 .  Rencana penggunaan pita frekuesi eksklusif untuk kepentingan pertahanan pada pita 438 – 450 MHz. ditandatangani SKB antara Depkominfo dan Dephan mengenai penggunaan frekuensi 450 MHz. 2.5 – 460 MHz.470 MHz.keseluruhan agar pita frekuensi untuk kepentingan pertahanan dan kepentingan selular CDMA 450 secara eksklusif. telah diberikan lisensi penyelenggara telekomunikasi bergerak selular AMPS regional kepada Ratelindo (Bakrie) di pita 800 MHz sub band B (825-835 MHz dan 870 – 880 MHz) di daerah Jabotabek. 467. Pita 438-470 MHz ini digunakan banyak oleh sistem komunikasi dua arah (two way radio) maupun radio trunking. karena munculnya layanan teknologi yang lebih handal. telah diberikan lisensi penyelenggara telekomunikasi bergerak selular AMPS regional kepada Komselindo. Metrosel dan Telesera di pita 800 MHz sub band A (835-845 MHz dan 880 – 890 MHz): Pada pertengahan 1990-an.2.5 MHz dan 460 – 467. dapat dilakukan secara bertahap dengan kompensasi tanggung jawab pemindahan dilaksanakan oleh PT. Mobisel (th.5 -470 MHz (17 MHz) akan dialokasikan kepada kepentingan pertahanan (TNI) Pita 450 – 457. 467.5 MHz dan 460 – 467. Sampurna Telekomunikasi Indonesia (STI) nasional untuk menyelenggarakan jaringan selular CDMA. Pada bulan September 2005.5 – 460 MHz. dengan rincian sebagai berikut:   Pita 438 – 450 MHz.5 MHz) akan digunakan untuk PT.

FWA: Bakrie Telekom. Jabar. semua penyelenggara selular AMPS beralih ke teknologi CDMA secara bertahap. Wireless Data: WIN (2) (3) 30 . untuk persiapan duopoli penyelenggara PSTN lokal. Metrosel (Group Mobile-8) Pita 1. Dalam perkembangannya penyelenggara WLL CDMA tersebut mengembangkan diri menjadi layanan terbatas dalam kota / satu kode area (Fixed Wireless Access). Penyelenggara selular dan wireless data CDMA-1900 (izin nasional. Alokasi frekuensi (di luar DKI. Bergerak Selular : Mobile-8. Primasel c. Banten) 1) 825-835 MHz dan 870 – 880 MHz: Komselindo (Group Mobile-8) 2) 835-845 MHz dan 880 – 890 MHz: Bakrie Telekom b. DKI.2 KONDISI AWAL (SEBELUM JULI 2005) Kondisi awal izin penyelenggaran dan alokasi frekuensi FWA/selular CDMA 800 MHz / 1900 MHz di Indonesia sebelum tahun 2005 adalah sebagai berikut: (1) Pita 800 MHz a. FWA) dan bergerak selular. Jabar. Alokasi frekuensi (DKI. Pada sekitar tahun 2002. 2. Telkom memperoleh izin WLL CDMA di 800 (di luar Jawa Barat. Banten) 1) 825-830 MHz dan 870-875 MHz: Telkom Flexi 2) 830-835 MHz dan 875-880 MHz: Indosat 3) 835-845 MHz dan 880 – 890 MHz: Komselindo. sulit dibedakan lagi antara layanan tetap (WLL. Bahkan dengan perkembangan teknologi selular. belum beroperasi) 1) WIN (1895-1900 MHz dan 1975-1980 MHz) 2) Primasel (1900-1910 MHz dan 1980-1990 MHz) Jenis Lisensi a. Jabar.2. b. Banten.9 GHz (PCS-1900) a. Banten. dengan alasan perlunya menaikkan teledensitas atas persetujuan kenaikan tarif. Telkom. Indosat. Demikian pula Indosat diberikan izin yang sama. Banten 1) Indosat (1880 – 1885 MHz dan 1960 – 1965 MHz) 2) Telkom (1885 – 1890 MHz dan 1965 – 1970 MHz) b. DKI) dan WLL CDMA 1900 di Jabar. Telesera.Pada perkembangannya sejak awal tahun 2000-an. Penyelenggara FWA CDMA-1900 cakupan DKI.

78. 242. 78.3 MIGRASI PITA FREKUENSI PCS 1900 MHz KE PITA SELULAR 800 MHz Pada bulan Juli 2005. 31 . c. Telkom Flexi dan Indosat Starone di Jakarta. kanal 160 ”dipinjamkan” kepada Bakrie Telecom. 119 CDMA 800 MHz di DKI. Jawa Barat dan Banten Kanal 160 CDMA 800 MHz akan diperebutkan antara Bakrie Telecom dan Telkom Flexi berdasarkan evaluasi kinerja pembangunan. Jawa Barat dan Banten Telkom Flexi diberikan alokasi frekuensi FWA CDMA nasional dengan pengaturan sebagai berikut: 1) kanal 37. Jawa Barat dan Banten. Selain itu dilakukan fasilitasi agar WIN dan Primasel dapat bergabung dan pindah ke PCS-1900 di luar core band IMT-2000. Pemerintah memutuskan untuk melakukan penataan ulang pita frekuensi selular di pita 1.9 dan 2. maka Pemerintah memutuskan kebijakan sebagai berikut: a. 283 CDMA 800 MHz di DKI. 2) kanal 37.2. Sedangkan Primasel dan WIN harus ke luar dari pita coreband IMT-2000 (UMTS) Mula-mula Pemerintah memfasilitasi kerjasama bisnis antara Telkom dan Mobile-8 dan Bakrie dengan Indosat dalam rangka memudahkan migrasi PCS-1900 ke selular 800 MHz. untuk keperluan migrasi. untuk memudahkan migrasi layanan CDMA 1900 ke 800 MHz. b. Bakrie Telecom (Esia) diberikan alokasi frekuensi FWA CDMA nasional dengan pengaturan sebagai berikut: 1) kanal 201. 119 CDMA 800 MHz di luar DKI. Sehingga diputuskan untuk dilakukan migrasi penyelenggaaan PCS-1900 ke luar pita coreband IMT-2000 (UMTS). 283 CDMA 800 MHz di luar DKI. Jawa Barat dan Banten. Pemerintah juga menetapkan bahwa akan dilakukan migrasi penyelenggara PCS-1900 ke selular 800 MHz. Setelah selama kurang lebih 1 tahun dilakukan diskusi intensif dengan penyelenggara PCS-1900 dan selular 800 MHz. Sampai dengan tanggal 31 Desember 2007. Banten dan Jawa Barat harus migrasi dari PCS1900 ke selular 800 yang telah diduduki oleh Mobile-8 dan Bakrie Telecom.1 GHz untuk menghindari interferensi antara sistem PCS-1900 dan IMT-2000 (UMTS) serta inefisiensi penggunaan frekuensi. 242. 2) kanal 201. tetapi akhirnya kesepakatan bisnis tidak berjalan mulus.2.

Mobile-8 diberikan alokasi frekuensi selular CDMA nasional dengan kanal Frekuensi 384. 32 .KOMINFO/12/2006 Tentang Pengalokasian Kanal Pada Pita Frekuensi Radio 800 MHz Untuk Penyelenggaraan Jaringan Tetap Lokal Tanpa Kabel Dengan Mobilitas Terbatas Dan Penyelenggaraan Jaringan Bergerak Seluler. Telkom Flexi mendapatkan alokasi kanal tambahan 1019 di luar DKI. e.d.75 – 1910 dan 1983. Proses migrasi selular 800 MHz diberi batas waktu sampai dengan 31 Desember 2007 WIN dan Primasel bergabung pada tahun 2006. Jawa Barat dan Banten dan Bakrie Telecom di luar DKI. h. kanal 548 ”dipinjamkan” kepada Indosat Starone. untuk keperluan migrasi. Kanal 548 CDMA 800 MHz akan diperebutkan antara Mobile—8 dan Indosat Starone berdasarkan evaluasi kinerja pembangunan. Kedua perusahaan tersebut membentuk perusahaan baru yaitu PT. Kanal ini bersebelahan dengan GSM-nya di 890 – 900 MHz sehingga memudahkan koordinasi dan perencanaan serta operasional jaringan dalam satu perusahaan untuk mengurangi dampak interferensi antara CDMA dan GSM di pita frekuensi yang berdekatan.KOMINFO/1O/2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Keputusan Menteri Komunikasi Dan Informatika Nomor: 181/KEP/M. Sinar Mas Telekomunikasi (SMART). Sampai dengan tanggal 31 Desember 2007. 466 dan 507 Indosat diberikan alokasi frekuensi selular CDMA nasional dengan kanal frekuensi 589 dan 630.75 – 1990 MHz. g. tepatnya pada pita 1903. Tabel 5 berikut ini menjelaskan alokasi frekuensi dan kanal standar CDMA untuk seluruh penyelenggara terkait. 425. Melalui Kepmen Kominfo No. f.363/KEP/M. dan diberikan 5 kanal CDMA-1900 di luar IMT-2000 core band. Jawa Barat dan Banten. i.

363/KEP/M. DKI. 242.9 dan 2.23 MHz. 630 548 5 kanal 6 kanal Standar CDMA CDMA CDMA CDMA CDMA CDMA CDMA CDMA MHz CDMA CDMA Wilayah Layanan Jawa Barat. 119. Banten Daerah selain Jawa Barat. Referensi aturan hukum pengaturan frekuensi FWA/selular tersebut di atas adalah sebagai berikut: a.TABEL 5. 1019 201. PM No. karena operator memiliki perencanaan penggelaran jaringan serta penggunaan menara yang tidak sama.162/2007 tentang Penataan Frekuensi 800 MHz d. Kanal Cadangan (guard band) Mobile-8 Indosat Starone Kanal Cadangan (guard band) Sinar Mas Telecom d/h Primasel/WIN Sampoerna Telekomunikasi (STI) Catatan: Berdasarkan kajian teknis.181/2006 tentang Penataan Frekuensi 800 MHz c. 7. Nama Penyelenggara Bakrie Telecom Kanal Frekuensi CDMA 37.KOMINFO/12/2006 Tentang Pengalokasian Kanal Pada Pita Frekuensi Radio 800 MHz Untuk Penyelenggaraan Jaringan Tetap Lokal Tanpa Kabel Dengan Mobilitas Terbatas Dan Penyelenggaraan Jaringan Bergerak Seluler 33 . ALOKASI KANAL INDONESIA FREKUENSI STANDAR CDMA DI No 1. Sehingga kanal cadangan yang diperebutkan praktis tidak bisa digunakan. DKI. 283 37. 1019 201.KOMINFO/1O/2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Keputusan Menteri Komunikasi Dan Informatika No. 466 dan 507 589. 425. 242. 4. DKI.1/2006 tentang Penataan Frekuensi di pita 1. DKI. KM No. 78. 181/KEP/M. 283 160 384. PM No. guard band antar operator CDMA memerlukan lebih dari 1. 6. PM No. Banten Jawa Barat. Banten Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional 2. Banten Daerah selain Jawa Barat. 78. 5.1 GHz b. 8. Telkom Flexi 3. 119.

3 PITA FREKUENSI SELULAR GSM-900/1800 MHz DAN UMTS 2. KM No. bahwa pada izin prinsip PT.e. Dari sejumlah operator yang menang lisensi tersebut. Besaran Tarif Dan Skema Pembayaran Biaya Hak Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio Bagi Penyelenggara Jaringan Bergerak Seluler IMT-2000 Pada Pita Frekuensi Radio 2.1 LATAR BELAKANG Penyelenggaraan telepon bergerak selular (STBS) GSM mulai beroperasi sekitar pertengahan tahun 1990-an. Indosat dan Excelcomindo) diberi tambahan alokasi frekuensi di GSM-1800 MHz. Sinar Mas Telekomunikasi (d/h Primasel/WIN) terdapat persyaratan tidak boleh menimbulkan gangguan terhadap penyelenggara MSS (Mobile Satellite Service) yang akan memberikan layanan ke Indonesia. dengan cara secepatnya mendaftarkan setiap BTS nya ke ITU untuk dinotifikasi. Akhir era 1990-an. ketiga operator GSM utama (Telkomsel. sehingga seluruh jumlah bandwidth GSM-900/1800 menjadi sama FDD 15 MHz. Sinar Mas Telekomunikasi (SMART) ini.3.1 GHz Sebagai catatan. 2. Sehingga perlu dicari solusi teknis pencegahan interferensi terhadap sistem MSS yang belum ada penyelenggara yang beroperasi. sehingga menjadi penyelenggara nasional.1 GHz 2.268/KEP/M. maupun di Indonesia. dengan memperhatikan investasi dan kelangsungan operasional penyelenggara selular PT. yang bisa bertahan hanyalah NTS (Natrindo) di Jawa Timur. Ditjen Postel hendaknya berhati-hati dalam pemberian izin MSS terutama yang bekerja di pita frekuensi 1980 – 2010 MHz. 34 .KOMINFO/9/2009 Tentang Penetapan Alokasi Tambahan Blok Pita Frekuensi Radio. Selain itu. Untuk kasus ini perlu diidentifikasi sistem-sistem satelit MSS (Mobile Satellite Services) yang akan beroperasi di dunia. Satelindo dan Excelkomindo di GSM900 MHz. Dan penyelenggara selular PCS-1900 bersangkutan harus menyiapkan proteksi terhadap sistem satelit MSS tersebut. NTS kemudian mengakuisisi pemegang lisensi lainnya di wilayah lain. Pada sekitar tahun 1996 dilakuakan tender (beauty contest) izin penyelenggaraan DCS/GSM-1800 MHz sebesar 15 MHz FDD(pasangan kanal downlink dan uplink) untuk sejumlah daerah sesuai pembagian wilayah KSO (7 wilayah). Izin nasional diberikan kepada Telkomsel.

Telkomsel) meminta izin kepada Pemerintah terhadap akses frekuensi kepada UMTS yang merupakan layanan masa depan untuk sistem GSM. Sekitar tahun 2002-2003. Pada bulan Februari 2006 dilakukan lelang pita UMTS 5 MHz FDD. Pemerintah memberi lisensi UMTS (IMT-2000 core band) sebesar 2 x 10 MHz FDD dan 5 MHz TDD secara nasional kepada NTS. yang merupakan sejarah pertama kali dilakukan di Indonesia. pemenangnya adalah CAC (Cyber Access Communications) Pada tahun 2004. Telkom kemudian mengalihkannya kepada Telkomsel. Telkomsel. pemerintah memberikan lisensi GSM-1800 terhadap Indosat dan Telkom. Indosat mengembangkan sendiri layanan IM3. Kemudian STI dan Mobile-8 mundur. Sehingga total alokasi GSM-900/1800 antara Indosat dan Telkomsel menjadi sama yaitu 2 x 30 MHz FDD. Pada saat pendaftaran terdapat 7 penyelenggara yang mengikuti yaitu Telkom.Sekitar tahun 2002. Indosat membeli Satelindo termasuk layanan selularnya. ketiga operator utama GSM-900/1800 (Indosat. Excelcomindo. sehingga diperlukan guard band maupun pita frekuensi yang terbuang percuma. Sehingga diputuskan untuk dilakukan migrasi penyelenggaaan PCS-1900 ke luar pita coreband IMT-2000 (UMTS). Pada tahun 2004. diikuti hampir seluruh operator selular dan FWA. dan seleksi diikuti oleh lima penyelenggara lainnya. Pada pertengahan tahun 2005. Pemerintah melakukan tender (beauty contest) untuk penyelenggara GSM-1800 sebesar 2 x 15 MHz FDD dan UMTS (IMT-2000 core band) sebesar 2 x 10 MHz FDD dan 5 MHz TDD secara nasional. NTS dibeli oleh Maxis. Pada tahun 2005. Seleksi tersebut akhirnya dimenangkan oleh PT. Sampoerna Telekomunikasi Indonesia / STI (setelah mengakuisisi Mobisel) dan Kelompok Mobile-8. atas dasar kompensasi terhadap terminasi dini hak eksklusifitas. Bakrie Telecom. Permasalahannya adalah bahwa pita frekuensi tambahan untuk UMTS/IMT-2000 memiliki potensi interferensi dengan sistem PCS-1900. Telkomsel. Excelcomindo Pratama dan 35 . Pemerintah memutuskan untuk melakukan penataan ulang pita frekuensi selular di pita 1. PT.9 dan 2.1 GHz untuk menghindari interferensi antara sistem PCS-1900 dan IMT-2000 (UMTS) serta inefisiensi penggunaan frekuensi. Objek seleksi adalah 1 atau 2 blok FDD 5 MHz IMT-2000 core band dengan wilayah cakupan nasional. Pada bulan Juli 2005. Seleksi dilakukan melalui metoda lelang sampul tertutup dua putaran (2nd round sealed bid auction). Excelcomindo. CAC dibeli oleh Hutchison dan menjadi HCPC (Huchisson CPC). Indosat.

Telkomsel (1722.5 dan 1805 – 1812. Excelkomindo Pratama (1710 – 1717.5 dan 1812.1 GHz (IMT-2000) Penyelenggara jaringan bergerak selular GSM-2100 nasional 1) Hutchison CPT (1920 – 1925 dan 2110 .5 MHz) c.2115 MHz) 2) Natrindo TS (1930 – 1935 dan 2120 – 2125 MHz) 3) Telkomsel (1940 – 1945 dan 2130 . Kepada seluruh penyelenggara selular IMT-2000 yaitu HCPC. 2. Excelcomindo.1860 MHz) c.5–1722. dengan harga blok terendah Rp. NTS dan HCPC mengembalikan lagi pita alokasi 5 MHz FDD dan 5 MHz TDD untuk mengurangi beban biaya BHP frekuensi yang disamakan dengan hasil lelang. NTS.3.5 dan 945 – 952. dengan mendapatkan penundaan pembayaran BHP up front-fee s/d awal tahun 2008.945 MHz) b. maka akan dialokasikan tambahan 5 MHz FDD tanpa seleksi lagi.5 – 915 dan 952.2 PENYELENGGARA SELULAR GSM/UMTS Berikut ini adalah penjelasan rinci mengenai penyelenggara jaringan bergerak selular GSM-900/1800 MHz dan UMTS 2. (1745 – 1750 dan 1840 – 1845 MHz) d.5 MHz) b. 160 Milyar. Excelkomindo Pratama (907. Natrindo Telepon Seluler (1730 – 1745 dan 1825 – 1840 MHz) e.960 MHz) Penyelenggara jaringan bergerak selular GSM-1800 MHz nasional a. Indosat (1717.5 – 1817. Telkomsel (900 – 907.5 – 1730 dan 1817. Hutchison CPT (1775-1785 dan 1870 – 1880 MHz) Pita 2.5 – 1825 MHz).1 GHz di Indonesia.5 MHz). Setelah seleksi IMT-2000 tersebut di atas yang dilaksanakan pada bulan Februari 2006.2135 MHz) 36 (2) (3) . (1750 – 1765 dan 1845 . Indosat masing-masing 1 blok FDD 5 MHz. Harga blok terendah tersebut dijadikan referensi bagi pengenaan BHP up-front fee dan BHP Pita tahunan. dengan metoda pembayaran BHP pita tahunan sesuai dengan standar. Indosat. sesuai dengan ketentuan. Kepada peyelenggara selular yang telah mendapatkan izin alokasi frekuensi selular UMTS di core-band IMT-2000 sebelumnya (NTS dan HCPC) dikenakan perlakuan yang sama yaitu membayar BHP up front-fee dan BHP pita tahunan. apabila migrasi PCS-1900 ke pita selular 800 MHz selesai dilaksanakan.5 . Telkomsel.PT. Indosat (890 – 900 dan 935 . (1) Penyelenggara jaringan bergerak selular GSM-900 MHz nasional a.

karena Pemerintah telah 37 .4.1 MHz.1 – 359.1 – 345. Selain itu terdapat beberapa jaringan akses lain yang pernah diberikan antara lain ”long range cordless” di pita 380 MHz dengan pasangannya di pita 250 MHz-an.KOMINFO/9/2009 tentang Penetapan Alokasi Tambahan Blok Pita Frekuensi Radio. Rencana penyesuaian BHP Frekuensi tahunan berbasis ISR menjadi BHP berbasis pita.go.1 MHz berpasangan dengan 357.4.4) 5) Excelcomindo (1945-1950 dan 2140 – 2145 MHz) Indosat (1950-1955 dan 2145-2150 MHz) Perkembangan terakhir dan permasalahan yang perlu diselesaikan antara lain meliputi sebagai berikut:  Melalui Kepmen Kominfo Nomor: 268/KEP/M. Draft white paper tersebut dapat di unduh pada website Ditjen Postel. www.4 JARINGAN AKSES LAINNYA 2. Pita frekuensi 350 MHz tersebut juga saat ini diperuntukkan untuk alternatif wartel jaringan akses radio sebanyak 2 MHz FDD di pita frekuensi 343.1 GHz.2 PERENCANAAN DAN KEBIJAKAN PENGGUNAAN FREKUENSI Seluruh ISR untuk sistem tersebut WLL DECT dan PHS tersebut di atas tidak akan diperpanjang izinnya lagi. Ditjen Postel telah memberikan izin WLL kepada Telkom untuk sejumlah teknologi antara lain:     WLL DECT dengan alokasi frekuensi 1880-1900 MHz WLL PHS dengan alokasi frekuens 1895 – 1910 MHz STLR di pita frekuensi 450 MHz-an dan 350 MHz-an. 2. Besaran Tarif Dan Skema Pembayaran Biaya Hak Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio Bagi Penyelenggara Jaringan Bergerak Seluler IMT-2000 Pada Pita Frekuensi Radio 2. tambahan pita 3G sebesar 5 MHz telah diberikan kepada Telkomsel dan Indosat setelah dilakukan penawaran penambahan Pita 3G kepada kelima penyelenggara eksisiting.id pada bagian regulasi Frekuensi  2.postel. Sosialisasi konversi BHP ISR menjadi BHP Pita bagi penyelenggara selular telah dilakukan dengan Ditjen Postel menerbitkan white paper penerapan biaya hak penggunaan berdasarkan lebar pita (BHP PITA) pada penyelenggara telekomunikasi seluler dan fixed wireless access (FWA) pada bulan Oktober 2009.1 LATAR BELAKANG Sebelum tahun 2000.

mengalokasikan frekuensi 1903.75-1910 MHz dan 1983.75-1990 MHz telah diberikan lisensi untuk penyelenggara selular Primasel.-WIN (Sinar Mas Telecom) dan Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (450457.5 dan 460-467.5 MHz) Untuk Wartel Akses Radio hanya diberi alokasi frekuensi sebagai berikut (Ref: PM.5/2006 tentang Penyelenggaraan Wartel):   343,1 – 345,1 MHz berpasangan dengan 357,1 – 359,1 MHz atau; 259 – 260 MHz berpasangan dengan 389 – 390 MHz.

Pita frekuensi 1880 – 1900 MHz, 1910 – 1920 MHz, dan 2010-2025 MHz, akan menjadi dapat digunakan untuk sistem TDD IMT-2000 di masa yang akan datang, setelah proses migrasi frekuensi PCS-1900 telah selesai dilakukan. Untuk sistem Fixed Services dan Land Mobile yang masih berada di pita frekuensi selular CDMA 450 dan sistem microwave link yang masih berada di pita frekuensi selular CDMA 800 dan 1900 MHz serta GSM/UMTS 900/1800/2.1 GHz, maka akan diarahkan sebagai berikut: Untuk penggunaan microwave link point-to-point pada pita frekuensi yang dialokasikan untuk penyelenggara selular terutama di pita 1800 MHz dan 2.1 GHz, maka Ditjen Postel tidak akan memperpanjang izin lagi paling lambat tahun 2008. Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, Ditjen Postel telah mengirimkan surat pemberitahuan rencana penghentiann izin selambat-lambatnya 2 tahun sebelum diberlakukan penghentian izin. 3. REGULASI TEKNIS SISTEM SELULAR

Terdapat sejumlah regulasi teknis standar dan spesifikasi perangkat pemancar sistem telekomunikasi bergerak selular yang telah ditetapkan oleh Ditjen Postel, antara lain sebagai berikut:  KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 23/DIRJEN/2004 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT JARINGAN GLOBAL SYSTEM FOR MOBILE (GSM) 900 MHz/DIGITAL COMMUNICATION SYSTEM (DCS) 1800 MHz KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 181/DIRJEN/1998 TENTANG PENETAPAN PERSYARATAN TEKNIS ALAT/PERANGKAT TELEKOMUNIKASI UNTUK PESAWAT TELEPON SELULER GSM KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 47/DIRJEN/1998 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS SISTEM

38

 

TELEKOMUNIKASI BERGERAK SELULAR BERBASIS CODE DEVISION MULTIPLE ACCESS (CDMA) KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 60/DIRJEN/1999 TENTANG PENETAPAN PERSYARATAN TEKNIS ALAT/ PERANGKAT TELEKOMUNIKASI UNTUK PERANGKAT JARLOKAR CDMA IS-95 PERATURAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 264/DIRJEN/2005 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT CUSTOMER PREMISES EQUIPMENT (CPE) UNIVERSAL MOBILE TELECOMMUNICATION SYSTEM – TIME DIVISION DUPLEXING (UMTS – TDD) PERATURAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 267/DIRJEN/2005 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT JARINGAN RADIO (RADIO NETWORK) BERBASIS UNIVERSAL MOBILE TELECOMMUNICATION SYSTEM – TIME DIVISION DUPLEXING (UMTS – TDD)

Semua ketentuan teknis tersebut dapat di ‘download” di website Ditjen Postel dengan URL : http://www.postel.go.id. 4. KEBIJAKAN PERIZINAN PENYELENGGARAN TELEKOMUNIKASI SELULAR

Sebelum tahun 2005, seluruh perizinan pemancar penyelenggaran telekomunikasi selular, menggunakan Izin Stasiun Radio (ISR) yang dikenakan per BTS per kanal. Hal ini seringkali menyulitkan verifikasi di lapangan, karena perubahan pengembangan BTS yang bisa dalam hitungan hari, atau perubahan kanal sangat dinamis berdasarkan trafik, sedangkan perhitungan BHP Frekuensi ISR dikenakan per tahun. Sesudah diberlakukannya Peraturan Menteri No.17 tahun 2005 mengenai Tata Cara Perizinan dan Ketentuan Operasional Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio, maka terdapat alternatif perizinan yaitu Izin Pita Frekuensi Radio dan Izin Kelas. Izin Pita Frekuensi Radio diberlakukan bagi penyelenggara yang mendapatkan alokasi pita frekuensi eksklusif di suatu wilayah layanan yang ditentukan dalam izin. Pemberian izin pita frekuensi radio dilakukan berdasarkan metoda seleksi. Sedangkan BHP Frekuensi Pita Frekuensi Radio akan ditentukan berdasarkan hasil seleksi (lelang). Bagi penyelenggara selular yang mendapatkan alokasi izin frekuensi sebelum tahun 2005, maka masih diberlakukan ISR dengan BHP Frekuensi Radio sesuai ketentuan yang berlaku (PM.19/2005) maksimal sampai dengan tahun 2010. Pada tahun 2010 diharapkan semua penyelenggara akses wireless eksklusif seperti sistem selular ini dikenakan BHP pita frekuensi radio. Konversi BHP ISR menjadi BHP Pita frekuensi radio sedang dikaji Ditjen Postel dan akan diberlakukan secara bertahap. Sosialisasi konversi BHP ISR menjadi BHP Pita bagi penyelenggara selular telah dilakukan dengan Ditjen Postel menerbitkan white paper penerapan biaya hak penggunaan berdasarkan lebar pita (BHP PITA) pada penyelenggara telekomunikasi seluler dan fixed wireless access
39

(FWA) pada bulan Oktober 2009. Draf white paper tersebut dapat di unduh pada website Ditjen Postel, www.postel.go.id pada bagian regulasi Frekuensi. Dalam hal di kemudian hari diidentifikasi terdapat suatu pita frekuensi yang dapat diberikan kepada penyelenggara jaringan bergerak selular, seperti halnya Mobile Broadband Wireless Access dan/atau IMT-Advanced, maka sesuai ketentuan yang berlaku hak penggunaan izin pita frekuensi secara eksklusif pada wilayah cakupan tertentu akan didistribusikan melalui mekanisme seleksi. Untuk terminal / handset dari sistem penyelenggara telekomunikasi selular akan dikenakan izin kelas. Selain itu direncanakan untuk jaringan akses dalam gedung (indoor) diberlakukan izin kelas. Pada saat tulisan ini dibuat, Rancangan Peraturan Direktur Jenderal mengenai Izin Kelas ini telah dilakukan konsultasi publik pada pertengahan tahun 2009, dan tahap ini sedang dalam tahap penyelesaian untuk ditetapkan.
 

40

BAB - 4 KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM UNTUK PENYIARAN
1. PENDAHULUAN

Penggunaan spektrum frekuensi radio untuk keperluan penyiaran mengacu pada definisi Broadcasting Services di Peraturan Radio (Radio Regulation) ITU. Broadcasting services menurut ITU-R, didefinisikan sebagai “a radiocommunication service in which the transmissions are intended for direct reception by the general public. This service may include sound transmissions, television transmissions or other type of transmissions”. Definisi itu bila diterjemahkan menjadi: suatu servis komunikasi radio di mana transmisinya ditujukan untuk penerimaan langsung oleh masyarakat umum. Servis ini dapat mencakup transmisi suara, transmisi televisi atau jenis transmisi lainnya. Penyiaran adalah servis komunikasi satu arah dan memiliki sejarah panjang terhadap penggunaan spektrum frekuensi radio. Penyiaran digunakan untuk penyebaran program kebudayaan dan pendidikan, hiburan, informasi serta berita melalui gelombang udara. Penyiaran dalam banyak aspek mempengaruhi kehidupan masyarakat. Secara singkat, sistem penyiaran yang saat ini diadopsi dikelompokkan berdasarkan jenis pita frekuensi terdiri dari : 1. Penyiaran Terrestrial Nirkabel a. Pita Frekuensi LF/MF/HF 1) Siaran radio AM, Analog b. Pita Frekuensi VHF 1) VHF Band II : Siaran radio FM, Analog 2) VHF Band III : Siaran TV VHF, Analog c. Pita Frekuensi UHF 1) UHF Band IV dan V: Siaran TV UHF, Analog Penyiaran Terrestrial Kabel Penyiaran Satelit a. S-band b. C-band c. Ku-band 1.1 PENYIARAN RADIO Penyiaran radio di Indonesia diawali oleh berdirinya Radio Republik Indonesia (RRI) pada awal kemerdekaan pada tahun 1945. Pada saat itu radio berfungsi sebagai alat perjuangan untuk menyiarkan berita
41

Indonesia

2. 3.

Sampai dengan tahun 1965 penyiaran di Indonesia masih tetap dilaksanakan oleh RRI. Perencanaan frekuensi siaran radio FM di Indonesia yang tertuang dalam Master Plan Frekuensi Radio ditetapkan dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 15 Tahun 2003.5-108 MHz mempunyai spasi antar kanal sebesar 100 kHz. Bandung. Perencanaan frekuensi siaran radio AM di Indonesia mengacu pada ketentuan yang telah ditetapkan oleh ITU yang tertuang di dalam konvensi GE-75 Plan karena siaran radio AM pemancarannya dapat melintasi batas wilayah negara dan memerlukan koordinasi dengan negara lain. dan VHF. lama-kelamaan siaran radio dengan sistem AM mulai ditinggalkan dan hampir semua siaran radio swasta sekarang ini beralih ke sistem FM. yang meliputi wilayah administrasi pemerintah ibu kota provinsi. 42 . Semarang. sebagai satu-satunya penyelenggara siaran radio milik pemerintah. serta menggelorakan semangat perjuangan untuk mengusir penjajah dari wilayah Republik Indonesia. kecuali pada kota-kota besar seperti Jakarta.kemerdekaan Indonesia ke seluruh wilayah Indonesia dan dunia. Peningkatan pertumbuhan ekonomi dan sosial masyarakat dan munculnya teknologi penyiaran FM stereo telah mempengaruhi keinginan untuk memperoleh informasi dan hiburan melalui radio dengan kualitas yang lebih baik. Akibatnya. Oleh karena itu. Pada masa itu siaran radio masih menggunakan sistem pemancaran dengan teknologi AM yang bekerja pada pita frekuensi HF. Pada saat ini pemerintah juga telah mengantisipasi pemekaran wilayah administrasi pemerintah. dan Medan yang hanya memiliki jarak 400 kHz. Frekuensi penyiaran radio terestrial dialokasikan pada pita frekuensi MF. Master Plan itu memetakan kanal frekuensi radio FM pada wilayah layanan. Surabaya. Alokasi pita frekuensi HF hanya diperuntukkan bagi penyelenggaraan penyiaran radio publik. baik berupa pemekaran wilayah kabupaten maupun pemekaran wilayah kecamatan. ibukota kabupaten dan kecamatan. yang belum tercantum dalam Keputusan Menteri Nomor 15 Tahun 2003. kota. setiap perencanaan kanal frekuensi siaran radio AM dan penggunaannya harus mengikuti prosedur yang telah ditetapkan secara internasional tersebut. dalam satu area pelayanan (yang umumnya sekota atau sekabupaten) adalah 800 kHz. HF. Siaran itu berlangsung sampai sekitar tahun 1975 ketika sistem pemancaran radio dengan teknologi FM yang mempunyai kualitas lebih baik dibandingkan dengan sistem AM mulai digunakan oleh beberapa radio swasta. Persyaratan penggunaan jarak minimal antar kanal yang dapat dipakai oleh stasiun radio. Penggunaan frekuensi siaran radio FM eksisting pada saat ini bekerja pada pita frekuensi 87.

yaitu VHF Band I. Pada saat itu frekuensi UHF untuk siaran TV di setiap lokasi direncanakan sebanyak 7 kanal untuk program nasional untuk mengakomodasi kebutuhan TV swasta dan TVRI. Mayoritas pemancar TVRI menggunakan saluran VHF sehingga penggunaan kanal VHF menjadi padat. yaitu 2 kanal frekuensi untuk wilayah layanan yang mencakup ibu kota provinsi dan 1 kanal frekuensi untuk kota-kota lain. Pemerintah telah menyediakan kanal frekuensi untuk keperluan transisi TV digital. UHF Band IV dan UHF Band V. Proteksi rasio co-channel dan kanal bertetangga harus diperhatikan untuk menjaga agar tidak terjadi interferensi. Pada tahun 1990 pemerintah memberikan izin penyelenggaraan siaran TV kepada lima penyelenggara TV swasta.d. Perencanaan frekuensi penyiaran televisi digital terestrial dialokasikan pada pita frekuensi UHF Band IV dan sebagian UHF Band V. Pada tahun 1998 pemerintah kembali memberikan izin kepada lima penyelenggara TV swasta baru sehingga perencanaan frekuensi TV harus dimodifikasi secara berhati-hati untuk mengakomodasi 10 penyelenggara TV swasta dan TVRI di Jabotabek dan ibu kota provinsi. Alokasi frekuensi untuk siaran TV Band I dan TV Band III saat ini sebagian besar digunakan oleh TVRI. baik pada sinyal TV analog maupun pada sinyal TV digital. Sejak saat itu sampai dengan tahun 1990-an TVRI adalah satu-satunya penyelenggara siaran TV di Indonesia yang dapat menjangkau sekitar 80% penduduk Indonesia.2 PENYIARAN TELEVISI Penggunaan frekuensi siaran TV di Indonesia dimulai dengan penggunaan saluran VHF oleh TVRI pada tahun 1962. Asumsi perencanaan 7 kanal frekuensi di wilayah lain tetap digunakan. 2 kanal frekuensi untuk transisi TV analog ke TV digital.1. Dalam rangka persiapan menghadapi implementasi TV digital yang akan datang. Sistem televisi yang digunakan untuk VHF adalah CCIR PAL B dengan lebar band 7 MHz dan UHF menggunakan CCIR PAL G dengan lebar band 8 MHz. VHF Band III. Peraturan yang dikeluarkan tersebut berisi perencanaan frekuensi Siaran TV analog di seluruh ibu kota provinsi serta kota/kabupaten di Indonesia yang menampung kebutuhan TV analog dan menyiapkan 1 s. Rencana induk frekuensi untuk siaran TV analog UHF yang telah dituangkan ke dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 76 Tahun 2003 dan Peraturan Menteri Kominfo Nomor 14 tahun 2007. 43 . Frekuensi siaran televisi dapat dibagi menjadi empat kelompok.

8 87.20 7.3 PENYIARAN SATELIT Penggunaan penerimaan TV melalui satelit berkembang sejak diluncurkannya sistem komunikasi satelit domestik (SKSD) Palapa di pertengahan tahun 1970-an. Demikian pula servis televisi berlangganan via satelit yang ditawarkan oleh satelit Palapa-Telkom maupun Palapa-C1 yang sudah menggunakan standar TV digital DVB-S dengan teknik kompresi MPEG-2.806 Bandwidth (kHz) 9 9 9 9 9 9 300 7000 8000 Siaran radio FM TV VHF TV UHF Pita frekuensi yang digunakan untuk keperluan penyiaran melalui satelit dapat dilihat pada tabel 7 berikut ini.5 . sebetulnya teknologi yang digunakan adalah TV digital via satelit (Digital Video Broadcasting).65 – 12. Dengan memperhatikan luasnya wilayah Indonesia dan masih banyaknya wilayah yang tidak terjangkau layanan siaran TV terrestrial.95 . Penyiaran biasanya memiliki pemancar berdaya pancar tinggi dan cakupan yang relatif luas.1. ABU) dan bilateral. 44 .108 174 .230 470 .6 .1.15. regional (Asia-Pacific Broadcasting Union. 2.9 11.6. ALOKASI FREKUENSI PENYIARAN TERRESTRIAL ANALOG Servis Siaran radio AM (MW) Siaran radio AM (SW) HF Broadcasting Band (MHz) 0.1 .6065 5. maka penggunaan satelit untuk relay TV terrestrial maupun untuk penerimaan siaran TV melalui satelit (TVRO) merupakan hal yang cukup penting.1 . Oleh karena itu penggunaan spektrum memerlukan perencanaan pemetaan distribusi kanal frekuensi radio (master plan) serta koordinasi erat dengan negara tetangga di daerah perbatasan. Sejak diluncurkannya satelit Cakrawarta-1 tahun 1997. Pita frekuensi radio yang digunakan untuk keperluan penyiaran terrestrial dapat dilihat pada tabel 6 berikut ini. TABEL 6. Pada awalnya teknologi yang digunakan masih teknologi TV analog.0 15. ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA Alokasi spektrum frekuensi radio dan perencanaan pita untuk penyiaran (broadcasting services) di Indonesia dilakukan pada tingkat internasional (ITU).9.5625 .3 9.7.

Dengan Master Plan Frekuensi TV UHF yang dibuat saat itu.TPI. secara perlahan Pemerintah c. Pada tahun 1993. TVRI mulai berencana untuk beralih ke saluran UHF. TVRI menjadi sebagai satusatunya penyelenggara Siaran TV di Indonesia dengan jangkauan wilayah siaran hampir mencapai 80% wilayah Indonesia. maka kebutuhan penetapan frekuensi bagi TVRI dan TV Swasta telah terakomodasi.30 Band (MHz) 1467 2520 3440 3700 1492 2670 3640 4200 Bandwidth (kHz) N/A 24000 36000 36000 27000 11700 . Asumsi yang digunakan TVRI saat itu adalah dibutuhkan satu sampai dengan dua saluran UHF untuk menyediakan layanan sejumlah programa nasional di seluruh wilayah Indonesia tersebut. SCTV.1 LATAR BELAKANG DAN KONDISI SAAT INI 3. INDOSIAR. TV dan Film-Departemen Penerangan (Ditjen RTF-Deppen) bekerjasama dengan JICA (Japan Indonesia Cooperation Agency) membuat Master Plan Frekuensi TV UHF untuk 7 programa nasional (5 programa TV swasta nasional dan 2 programa TVRI). Sejak tahun 1987.S Band TVRO ext-C Band (DVB) TVRO C-band (DVB) Direct Broadcasting Satellite BSS Plan App. PENGKANALAN FREKUENSI PENYIARAN TERRESTRIAL 3.q.1 MASTER PLAN FREKUENSI SIARAN TV UHF ANALOG Sejarah penggunaan frekuensi Siaran TV di Indonesia dimulai dengan penggunaan saluran VHF oleh TVRI pada tahun 1962. Artinya untuk setiap lokasi di wilayah Indonesia harus disediakan sejumlah 7 kanal frekuensi UHF untuk kelima penyelenggara TV swasta nasional dan 2 (dua) programa TVRI. Terdapat sekitar 400 pemancar TVRI di seluruh wilayah Indonesia yang menggunakan frekuensi VHF Sehingga penggunaan kanal VHF relatif cukup padat di Indonesia. Pada saat itu Direktorat Jenderal Radio. ANTV). 45 . Pemerintah memberi izin bagi 5 penyelenggara TV swasta nasional (RCTI. Departemen Penerangan memberikan izin penyelenggaraan kepada penyelenggara TV Swasta. melalui SK Menpen no. 04A/KEP/MENPEN/1993. ALOKASI FREKUENSI PENYIARAN SATELIT Servis DAB Satellite .L Band DVB Satellite .12200 3. Sejak saat itu sampai sekitar tahun 1990-an.1.TABEL 7. Dimulai tahun 1990-an.

384/SK/MENPEN/1998. bahwa secara teknis.25 tahun 2000. Sedangkan asumsi 7 programa siaran UHF untuk wilayah lainnya tetap dianut. Sedangkan standar untuk UHF adalah PAL-G. Sedangkan Tabel 9 menjelaskan mengenai tabel frekuensi TV UHF Band IV dan V untuk Standar PALG. Perkembangan otonomi daerah. Departemen Penerangan memberikan ijin kepada 5 penyelenggara TV swasta nasional baru dengan wilayah layanan nasional terbatas. Tabel 8 berikut ini merupakan tabel frekuensi TV VHF band I dan III band I dan III untuk standar PAL-B. memperumit masalah. yaitu (TRANS. sampai saat ini masih digunakan TV analog. memerlukan penyempurnaan kembali master plan frekuensi TV. serta antisipasi perkembangan sistem TV digital. sedangkan Bandwidth UHF (PAL-G) adalah 8 MHz. Bandwidth VHF (PAL-B) adalah 7 MHz. memperburuk permasalahan. Saat itu sebenarnya secara teknis. Kecenderungan bertambahnya minat sejumlah penyelenggara Siaran TV lokal. terdapat desakan kuat permintaan izin sejumlah peminat penyelenggara TV baru di sekitar tahun 1997/1998. Di Indonesia. sudah tidak mungkin lagi untuk menampung sejumlah banyak penyelenggara TV nasional. Master Plan frekuensi TV UHF harus dimodifikasi secara hati-hati. Standar TV analog yang digunakan untuk VHF adalah PAL-B.Dalam perkembangan selanjutnya. Pemerintah c. GLOBAL-TV. dan METROTV) sesuai SK Menpen No.q. Pada tahun 1998. 46 . DVN. LATEVE. Akibatnya. Ditjen Postel telah menyelesaikan Master Plan Frekuensi TV untuk pita frekuensi UHF untuk hampir semua provinsi dan kota-kota besar di Indonesia yang telah dituangkan dalam Keputusan Menteri Perhubungan No.74 tahun 2003. Desakan beberapa Pemerintah Daerah untuk mengeluarkan izin frekuensi Siaran TV Lokal sesuai PP No. untuk mengakomodasi sebanyak 10 penyelenggara TV swasta dan 2 frekuensi UHF untuk TVRI di Jabotabek dan ibu kota propinsi.

75 67.518 518 .486 486 . RANGE (MHz) 47 54 54 61 61 68 174 .195 195 . pita frekuensi 479 – 488.TABEL 8.550 550 . untuk menyelaraskan dengan sistem digital CDMA-450.75 484.75 540.494 494 .542 542 .75 532.5 182.230 FREQ VISION (MHz) 48. Saat ini operator tersebut sedang dalam proses migrasi frekuensi secara bertahap ke frekuensi 450 MHz-an.75 229.25 511.25 567. Tabel berikut ini merupakan tabel frekuensi TV UHF band V untuk standar PAL-G.25 559.534 534 .75 687 187.75 588.25 591.25 543.25 551.75 564.25 503.25 FREQ SOUND (MHz) 53. RANGE (MHz) 470 478 478 .598 FREQ VISION (MHz) 471.25 203.25 FREQ SOUND (MHz) 476.75 194.202 202 .48 MHz dan 489 – 493. 24 tidak bisa digunakan.75 208. 22 s/d Ch.25 479.25 681.75 201. RENCANA PENGKANALAN TV UHF BAND V STANDAR PAL-G BAND UHF IV CHANNEL 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 FREQ.25 519.25 62.75 580.75 500.223 223 .75 516.25 55.75 524.75 215.566 566 . 47 .75 III TABEL 9.181 181 .558 558 .25 583. Jadi artinya di beberapa lokasi Ch.75 556.25 527.75 222.25 210.75 492.25 217.25 495.25 196.75 Sebagai catatan bahwa di beberapa lokasi.216 216 .75 548.75 572.25 575.25 487.25 224.48 MHz masih digunakan operator selular MOBISEL yang menggunakan sistem selular analog NMT-470.502 502 .209 209 .75 60.75 596.574 574 582 582 590 590 .25 189.188 188 .75 508.25 535. RENCANA PENGKANALAN TV VHF BAND I DAN III STANDAR PAL B BAND VHF I CHANNEL 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 FREQ.526 526 .510 510 .

718 718 .75 652.25 695.25 639.75 636.75 660.25 655.75 740.654 654 .25 FREQ SOUND (MHz) 604.622 622 .25 671.774 774 .25 703.25 647. terutama bila akan diatur pemanfaatan tower dan sistem antenna bersama yang sangat menguntungkan bagi broadcaster maupun bagi masyarakat.798 798 .75 700.25 719.75 780.75 708.646 646 .630 630 .25 799.25 727.25 631.75 684. Selain itu karena antena berada di satu lokasi untuk suatu wilayah layanan tertentu.25 607.790 790 .TABEL 10.766 766 .75 748.25 623.742 742 .25 711.75 796.678 678 .75 Pengelompokan kanal (channel grouping) sering dilakukan dalam pengaturan frekuensi UHF yang memiliki lebih banyak kemungkinan kombinasi kanal dibandingkan frekuensi VHF.606 606 .638 638 . seluruh masyarakat mendapat keuntungan karena hanya perlu memasang 1 antena dengan arah tertentu untuk menerima seluruh program siaran TV.25 767. Pengelompokan kanal frekuensi Siaran TV sangat penting.806 FREQ VISION (MHz) 599. dapat menghemat dana untuk membangun tower dan sistem antenna masing-masing.694 694 .75 620.75 732.25 735.75 804.75 628.614 614 .670 670 .75 724. Pada frekuensi VHF sendiri tidak dapat dilakukan channel grouping tersebut.734 734 .75 668.75 716.75 692.25 663.710 710 . Bagi para broadcaster pun akan menguntungkan dari pangsa pasar karena dapat menjangkau lebih banyak lagi pemirsa.25 687. Bagi para broadcaster.25 775.25 743.25 759.25 783.25 791.75 788.75 756. RENCANA PENGKANALAN TV UHF BAND V STANDAR PAL-G BAND UHF V CHANNEL 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 FREQ.25 679.75 676.758 758 .75 612. RANGE (MHz) 598 .75 764.25 615.750 750 .702 702 .662 662 .726 726 .782 782 . 48 .75 772.75 644.25 751.686 686 .

dan diperlukan sistem antenna dan “combiner” serta “filter” khusus.Menggabungkan dua pemancar berdaya tinggi yang berbeda frekuensinya relatif sulit dilakukan. channel grouping dibuat pada saat perencanaan frekuensi untuk 7 program nasional di pita UHF (2 kanal TVRI dan 5 kanal TV swasta) pada awal tahun 1990-an. CHANNEL GROUPING TV UHF DI INDONESIA Channel Group A D B E C F Ch. Berdasarkan rekomendasi ITU-R BT. Hal ini disebabkan wilayah layanan dan lokasi pemancar dari TVRI dan TV swasta seringkali berbeda. Maka selisih kanal minimum yang paling baik untuk channel grouping berdasarkan rekomendasi ITU-R BT. UHF 32 33 46 47 60 61 Ch. Penggabungan dua atau lebih pemancar dalam satu sistem antenna dapat dilakukan. UHF 34 35 48 39 62 - Dalam implementasinya di Indonesia. Untuk kasus di Indonesia.1123. Tetapi pemancar berdaya 10 kW s/d 20 kW mungkin untuk digabung dalam satu sistem tower dan antenna. UHF 28 29 42 43 56 57 Ch. Untuk kanal VHF maksimum 4 kanal genap atau ganjil di suatu wilayah layanan dengan mengabaikan daerah layanan yang bersebelahan. Dengan mempertimbangkan jatah distribusi dan kemungkinan kombinasi kanal untuk daerah layanan yang bersebelahan maka maksimum di suatu wilayah layanan adalah 3 kanal. TABEL 11. UHF 22 23 36 37 50 51 Ch.1123 tersebut adalah 4 kanal. dalam menentukan channel grouping tidak boleh kurang dari selisih 3 kanal. grouping selisih 5 kanal menimbulkan efek interferensi akibat local oscillator IF. Grouping dengan selisih 3 kanal tersebut jarang dilakukan mengingat dapat terjadi kelipatan 9 (image channel interference). Tabel 11 menggambarkan Channel Grouping TV UHF yang diterapkan di Indonesia. Sedangkan. UHF 24 25 38 39 52 53 Ch. UHF 26 27 40 41 54 55 Ch. 49 . UHF 30 31 44 45 58 59 Ch. Masalah yang sering ditanyakan oleh masyarakat adalah mengenai jumlah kanal maksimum di suatu wilayah layanan. Dua kanal TVRI yaitu untuk Program Nasional dan Program Daerah. channel grouping tersebut tidak konsisten dilakukan di dalam wilayah layanan yang sama.

Sehingga pendekatan ini tidak dilakukan. Secara teoritis suatu lokasi wilayah layanan dapat diberikan maksimum 21 kanal genap atau ganjil. DISTRIBUSI KANAL TV UHF ANALOG DI INDONESIA WILAYAH LAYANAN Jabotabek dan Ibu Kota Propinsi Daerah lainnya Jumlah kanal TV swasta 10 5 Jumlah kanal TVRI 1 0 Jumlah kanal TV digital 2 1 Jumlah kanal TV lokal 1 1 50 . berusaha menyediakan sejumlah kanal untuk low power transmitter untuk gap filler ataupun TV komunitas     Asumsi distribusi kanal frekuensi UHF yang diterapkan di Indonesia dapat dijelaskan pada Tabel 12 berikut ini. 23 s/d Ch. maksimum kanal tersedia adalah 21-7 = 14 kanal. Sehingga maksimum di kota besar (ibu kota provinsi). Terdapat sekitar 21 kanal untuk kelompok genap dan 21 kanal untuk kelompok ganjil. Dalam pelaksanaan perencanaan frekuensi TV UHF. maka secara garis besar dapat dibagi 2 kelompok. Resikonya bahwa wilayah layanan di sekitarnya tidak akan mendapat jatah satu kanal pun. Menyediakan sejumlah kanal frekuensi bagi daerah-daerah yang selama ini kurang mendapat kualitas sinyal yang baik (daerah blank spot) dengan daya pancar kecil (gap filler). yaitu kelompok genap dan kelompok ganjil.Pada pita frekuensi UHF dari sekitar 42 kanal tersedia di pita UHF (Ch. prinsip-prinsip yang diambil adalah sebagai berikut:   Berusaha sebisanya untuk tidak mengubah atau mengganti kondisi eksisting. Itu pun dengan asumsi tidak ada jatah untuk kanal frekuensi gap filler. Sepanjang memungkinkan. Planning berusaha mengidentifikasi kanal yang tersedia dengan memperhatikan kondisi eksisting. Channel Grouping dijadikan referensi dengan memberikan fleksibilitas jika diperlukan. TABEL 12. Permasalahannya adalah bahwa berdasarkan kondisi eksisting. Menyiapkan 1 s/d 2 kanal tersisa untuk TV digital. paling tidak sudah dijatahkan 7 kanal di setiap wilayah layanan siaran untuk 7 program TV nasional (5 program TV swasta lama dan 2 program TVRI). Akan lebih baik bila dimungkinkan sharing tower dan sistem antenna. Asumsi lokasi pemancar untuk kanal bebas (yang belum digunakan) dipasang di dekat lokasi pemancar eksisting.62).

akan sangat memboroskan frekuensi yang sangat berharga di pita frekuensi UHF untuk keperluan lainnya seperti TV digital dan layanan masa depan lain. Johor dan Singapura. seperti Singapura dan Malaysia. Penyiaran melalui akses kabel dan akses satelit akan menjadi jauh lebih efisien dan memiliki jumlah program / konten lebih banyak dibandingkan menggunakan 1 kanal TV analog yang hanya bisa menyediakan 1 program saja. maka sangat dianjurkan untuk segera menerapkan teknologi penyiaran digital seperti DVB-T dan DAB di daerah perbatasan. terutama antara Batam. Maka tugas lainnya yang harus segera diselesaikan adalah melakukan persiapan migrasi TV analog ke digital di daerah perbatasan. Untuk menampung kebutuhan distribusi konten yang lebih banyak bagi penyedia program / konten.2 MASTER PLAN FREKUENSI SIARAN RADIO FM Sejarah penggunaan frekuensi Siaran radio FM di Indonesia dimulai sekitar akhir tahun 1960-an sampai dengan awal tahun 1970-an. Ditjen Postel telah melaksanakan koordinasi frekuensi perbatasan dengan Singapura dan Malaysia secara intensif sejak tahun 2002 lalu. Oleh karena itu sangat disarankan agar dalam penyediaan infrastruktur bagi lembaga penyiaran TV komunitas digunakan akses kabel ataupun satelit.1. seperti Batam dan daerah sekitarnya.Untuk kanal frekuensi TV komunitas analog maupun gap filler memang dapat digunakan low power transmitter (10 Watt) dengan memperhatikan juga kondisi eksisting di dalam wilayah layanan daerah bersebelahan. saat ini telah ada kesepakatan tiga Negara mengenai “protection ratio” antar wilayah siaran di daerah perbatasan. Akan tetapi bilamana diterapkan. Setelah menjalani sejumlah putaran perundingan. maka terdapat dua instansi pemerintah yang mengatur frekuensi Siaran radio. yaitu: 51 . distribusi kanal optimal di daerah perbatasan untuk Siaran radio FM dan TV pada pita frekuensi VHF dan UHF. jumlah kanal TV UHF yang tersedia akan tergantung dari hasil koordinasi frekuensi perbatasan dengan negara tetangga. Untuk daerah perbatasan dengan negara lain seperti di Batam. akan tetapi dari sisi teknis akan kehilangan potensi penggunaan frekuensi sebanyak 18 MHz dalam radius kurang lebih 400 kilometer persegi. Singkawang. Nunukan. dan sebagainya. Karena walaupun diberikan dengan daya pancar kecil dan wilayah jangkauan kecil. Dengan dibolehkannya Siaran radio Non Pemerintah / Radio Swasta untuk berdiri sejak tahun 1970 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 1970 tentang Siaran radio Non Pemerintah. 3.

KM. Hal ini untuk menampung semakin banyaknya permintaan Siaran radio FM.22 Tahun 1999 dan PP No. Dengan diberlakukannya UU No. alokasi frekuensi yang diperkenankan adalah 100 – 108 MHz. Pos dan Telekomunikasi No.307/Phb-82. pengkanalan yang baik. Menhub No. Pemberian izin frekuensi siaran radio non pemerintah dilakukan “first come first served”. Hal ini akan menimbulkan banyak kesulitan dalam perkembangan selanjutnya. Pada tahun 1994 berdasarkan Kepmen Pariwisata. Menara dan antenna pemancar pun seringkali dipasang sendiri-sendiri di lokasi yang berlainan. Sedangkan pengaturan teknis untuk RRI tidak pernah dibuat. penggunaan alokasi frekuensi diperluas menjadi 87 – 108 MHz.8 sebanyak 22 kanal.1. Padahal frekuensi yang digunakan adalah sama. Saat itu teknologi yang masih ada adalah FM Mono dengan bandwidth 180 kHz dengan daya pancar maksimum 25 Watt. Tidak ada suatu perencanaan matang yang memperhitungkan daerah cakupan. sehingga tidak dapat diterima dengan baik di tiap lokasi dalam wilayah layanannya. mengatur Siaran radio Non Pemerintah. dst.102/MPPT/94.2 – 107.262/PT. Ditjen Postel-Dephub/Depparpostel. mengatur frekuensi RRI frekuensi Pengaturan teknis untuk siaran radio yang dibuat Ditjen PostelDephub hanya ditujukan kepada Siaran radio Non Pemerintah.73/PT. Hal ini dengan sendirinya menurunkan kualitas penerimaan siaran Radio FM secara keseluruhan. pendekatan yang diambil selama ini kurang optimal. Akibatnya di beberapa kota besar frekuensi FM untuk Siaran radio sudah habis. Dalam perencanaan frekuensi siaran radio. Ditjen RTF-Deppen.K. Koordinasi antara kedua institusi Ditjen Postel dan Ditjen RTFDeppen kurang optimal. Menhub No. Selain itu para penyelenggara Siaran radio FM sering melebihi batas maksimum daya pancar 100 Watt yang ditetapkan sejak tahun 1982.25 Tahun 2000 mengenai kewenangan pemberian izin frekuensi Siaran radio Lokal dan Siaran TV Lokal oleh Pemerintah Daerah sangat 52 . 2. Keputusan Menhub tahun 1982 itu pun menetapkan penggunaan spasi kanal 350 kHz dari 100. frequency reuse. Pada tahun 1971 berdasarkan S. untuk memperluas jangkauan siarannya. indeks modulasi. Pada tahun 1982 diatur mengenai penggunaan FM Stereo dengan bandwidth 250 kHz dengan daya pancar maksimum 100 Watt berdasarkan Kep. seakan-akan frekuensi ini masih banyak tersedia.KM.25/T/1971.

Jakarta. Keputusan regulasi rencana dasar frekuensi siaran radio FM telah dituangkan dalam Keputusan Menteri Perhubungan No. seperti Jabotabek. bekerjasama dengan ITU Regional Office Area. Selain itu kualitas penerimaan akan sulit memenuhi standar rekomendasi ITU-R. Hal ini menimbulkan kesulitan dan dampak yang cukup besar.05 MHz). Surabaya.15 tahun 2003 yang akan direvisi kembali. Yogyakarta dan Medan. Dalam pembuatan master plan siaran radio FM. melakukan penelitian dan pembenahan kembali perencanaan frekuensi FM. Semarang. menyebabkan Ditjen Postel harus bekerja keras untuk melakukan revisi terhadap ketentuan teknis. Ditemukan pula bahwa di kota-kota besar di pulau Jawa dan Sumatera. kebijakan yang diambil adalah sebagai berikut:    Berusaha sedapat mungkin tidak mengurangi pengguna eksisting Penetapan berdasarkan wilayah kota (seluruh kota. pemberian izin frekuensi Siaran radio FM sudah melebihi kapasitas. mengingat rambatan gelombang radio tidak dapat dibatasi batas administratif. sehingga perlu untuk dikurangi. Penggunaan spasi 350 kHz tersebut tidak sesuai dengan rekomendasi ITU-R dan menyulitkan masyarakat pendengar. tekanan dari Pemerintah Daerah yang menuntut kewenangan pemberian izin frekuensi terhadap Siaran radio Lokal. seluruh ibukota kabupaten. sehingga dalam implementasinya memerlukan langkah transisi yang hati-hati. Bandung. Master plan frekuensi FM ini memberikan perencanaan frekuensi FM berdasarkan standard dan rekomendasi ITU-R untuk mengatasi permasalahan FM di Indonesia. beberapa kota kecamatan pada beberapa kabupaten) Kota-kota besar (ibukota propinsi) akan mendapatkan kanal frekuensi yang lebih banyak 53 . serta keinginan untuk memperbaiki kualitas layanan siaran radio FM. karena tidak semua pesawat penerima memiliki kemampuan menagkap frekuensi sampai orde 50 kHz (0. Pada bulan Mei s/d Juni 2002. Pembenahan signifikan adalah perubahan spasi kanal yang dulunya menggunakan spasi 350 kHz. serta Keputusan Dirjen Postel mengenai implementasi rincinya. Desakan RUU Penyiaran yang diprakarsai DPR untuk mengakomodasi radio komunitas.menyulitkan penataan frekuensi secara optimal. Pengaturan frekuensi tidak dapat dibagi-bagi berdasar jumlah Pemerintah Daerah. Ditjen Postel bekerjasama dengan expert ITU.

juga dibatasi radius cakupan. diusulkan agar lebar pita “bandwidth” untuk Siaran radio FM dikurangi menjadi 300 MHz. TABEL 13. tinggi efektif antenna dan radius cakupan. Secara garis besar pengaturan teknis dijelaskan pada tabel 13. tinggi efektif antenna dan daya pancarnya.   Pengelompokan kelas Siaran radio FM berdasarkan daya pancar / emitted radiated power (ERP) dan jarak layanan maksimum siaran radio dijelaskan pada Tabel 14 berikut ini. dan kondisi pengukuran lapangan. Pengelompokkan disesuaikan pula dengan wilayah administratif pemerintahan untuk siaran radio komersial dan siaran radio publik. sesuai dengan standar ITU-R yang berlaku yang juga diterapkan di negara-negara lainnya. 54 .5 – 108 MHz. Untuk siaran radio komunitas selain diberikan kanal frekuensi yang tertentu. Kelipatan 100 kHz ± 75 kHz 2 kHz 60 dB di bawah level mean power 372 kHz Maksimum +/.     Service area ditentukan berdasarkan wilayah pemerintahan kota / kabupaten Untuk wilayah kabupeten diutamakan pada ibukotanya Kecamatan pada suatu kabupaten yang telah memiliki eksisting juga dijadikan service area Kecamatan yang berada cukup jauh dari ibukota kabupaten juga dijadikan service area Luas service area hanya mencakup kota dimana stasiun pemancar berada dengan fieldstrength minimum sesuai rekomendasi ITU-R BS.412 (asumsi urban 66 dBV/m) Pengaturan siaran radio FM dilakukan berdasarkan pengelompokkan kelas-kelas berdasarkan daya pancar. PENGATURAN TEKNIS SIARAN RADIO FM Pita frekuensi Spasi antar kanal Deviasi frekuensi maksimum pada modulasi 100% Toleransi frekuensi pemancar Level spurious emission Bandwidth untuk deviasi maksimum + 75 kHz dan 100% modulasi maksimum Stabilitas frekuensi tengah oscillator 87.200 Hz Dari referensi yang didapat dari beberapa Negara.

412-9 sebagaimana tercantum dalam tabel 15 berikut ini. Effective height above average terrain (EHAAT) adalah ketinggian efektif suatu antena pemancar yang dihitung dari rata-rata permukaan tanah yang berada diantara 3 s/d 15 km dari lokasi pemancar.5 km dari lokasi pemancar SIARAN RADIO FM WILAYAH LAYANAN Kelas A B C D   Peruntukan Siaran radio swasta / publik di DKI Jakarta Siaran radio swasta / publik di DKI Jakarta. Penomoran kanal. 55 .TABEL 14. perencanaan kanal (channeling plan). sepanjang memungkinkan 15 kW – 63 kW 2 kW – 15 kW Maksimum 4 kW Maksimum 50 Watt Asumsi yang digunakan untuk menghitung jarak layanan maksimum bahwa kuat medan (level fieldstrength) pada daerah terluar dari wilayah layanan di atas dibatasi maksimum 66 dBµV/m Sebenarnya dalam pengaturan teknis siaran radio yang menyangkut pembatasan daya pancar juga akan sangat terkait dengan pembatasan tinggi efektif antena (EHAAT). PENGELOMPOKKAN KELAS BERDASARKAN EIRP DAN MAKSIMUM ERP Wilayah layanan maksimum 30 km dari pusat kota 20 km dari pusat kota 12 km dari pusat kota 2. Rasio proteksi (protection ratio) penyelenggaraan siaran radio FM yang digunakan harus sesuai dengan Rekomendasi ITU-R BS. pembatasan daya pancar (ERP) dan tinggi efektif antena (EHAAT) untuk kelas-kelas siaran radio FM tersebut dapat dilihat pada lampiran 2. ibu kota provinsi Siaran radio swasta / publik di kota selain ibukota provinsi Siaran radio komunitas.

Karena rambatan dan jangkauan siaran radio AM (MW) yang dapat menembus batas wilayah negara. ITU telah membuat suatu plan untuk seluruh dunia yang dinamakan GE 75 (Geneva 1975). Kota Surabaya dan Kota Medan melebihi kapasitas maksimum.TABEL 15. Kota Bogor. pada malam hari adalah propagasi ground wave dan skywave. Indonesia mendapatkan jatah sekitar 307 kanal untuk 50 kota (Daftar lengkap dapat dilihat di lampiran 3). Pada dasarnya GE 75 menjatahkan (“allotment”) kanal frekuensi AM untuk sejumlah kota di setiap negara di dunia.I Jakarta. maka kanal frekuensinya mendapatkan proteksi internasional. Artinya jika ada stasiun radio negara lain mengganggu penerimaan stasiun radio 56 . maka untuk masa transisi dapat diberikan jarak spasi antar kanal minimum 400 kHz. Sehingga jika suatu stasiun radio menggunakan kanal frekuensi Plan GE75.K. Mengingat jumlah siaran radio eksisting dalam wilayah layanan D. yaitu:   pada siang hari adalah propagasi ground wave.1.3 PENGKANALAN FREKUENSI SIARAN RADIO AM PADA PITA FREKUENSI LF/MF Propagasi siaran radio AM pada pita frekuensi LF/MF terdiri dari dua macam. sebetulnya pada tahun 1975. Kota Bandung. Kota Semarang. 3. PROTECTION RATIO SIARAN RADIO FM MONOPHONIC (dB) STEADY 36 12 6 -7 -15 -20 TROPOSPHERIC 28 12 6 -7 -15 -20 STEREOPHONIC (dB) STEADY 45 33 7 -7 -15 -20 TROPOSPHERIC 37 25 7 -7 -15 -20 SPASI FREKUENSI (kHz) 0 (co-channel) 100 200 300 350 400 Secara umum bahwa pemetaan kanal frekuensi dalam satu wilayah layanan harus dengan jarak antar kanal minimum 800 kHz. Yang dominan pada malam hari adalah gelombang skywave yang dapat merambat sampai ribuan kilometer.

1. serupa dengan AM (MW). 3. maka penggunaan frekuensi tersebut belum mendapatkan proteksi internasional. seperti Asia Pacific Broadcasting Union (ABU) yang berpusat di Kuala Lumpur Malaysia. ITU menetapkan prosedur koordinasi internasional pada Artikel 12 Radio Regulation. Setiap tahun setiap negara melakukan koordinasi regional untuk mengatur dan mendistribusikan penggunaan kanal HF Broadcasting (HFBC). Saat ini Ditjen Postel telah membenahi sekitar 500-an Siaran radio AM eksisting. Karena rambatan dan jangkauan siaran radio AM (SW) yang dapat menembus batas wilayah negara. Bandung. tetapi juga harus memperhatikan kondisi penggunaan frekuensi eksisting maupun yang direncanakan oleh Negara-negara lain yang berdekatan dengan Indonesia yang terdapat pada Master Register frekuensi ITU (sudah dinotifikasi ke ITU). Jabotabek. Hal ini untuk mencegah kemungkinan terkena interferensi dari atau ke pemancar siaran radio AM negara lain akibat penetapan frekuensi di luar Plan GE75 tersebut. Semarang. dan beberapa daerah).yang terdapat pada plan. Kondisi eksisting pengguna Siaran radio (RRI. Selama ini metoda pemberian izin frekuensi berdasarkan antrian (first come first served). Peraturan pengalokasian kanal AM telah ditetapkan dalam regulasi teknis dan master plan frekuensi siaran radio AM. sehingga dapat merambat sampai ribuan km. 57 . Surabaya. Pelaksanaan koordinasi secara praktis dilakukan melalui tingkat regional. Bila suatu kanal frekuensi ditetapkan di luar Plan GE75. Yogyakarta. Untuk mendapatkan proteksi internasional harus dilakukan proses koordinasi dengan negara lain dan pendaftaran frekuensi ke ITU. Radio Swasta) yang sangat padat dan melebihi kapasitas dan hanya terkonsentrasi di beberapa daerah tertentu (Medan. Kanal-kanal frekuensi radio AM tersebut sudah terdaftar di ITU dan digunakan oleh RRI.4 PENGKANALAN FREKUENSI SIARAN RADIO AM PADA PITA FREKUENSI HF (HF BROADCASTING) Propagasi siaran radio AM (SW) / HF Broadcasting terdiri dari dua macam. Perencanaan frekuensi untuk Siaran radio AM pada pita frekuensi LF/MF (MW) ini sebenarnya cukup rumit dan harus memperhatikan tidak hanya kondisi penggunaan frekuensi eksisting di Indonesia. dengan pengaruh propagasi gelombang skywave yang lebih dominan. maka stasiun negara lain tersebut harus segera mematikan operasinya.

2 PRINSIP-PRINSIP DIGITAL PERENCANAAN FREKUENSI PENYIARAN Teknologi Digital memberikan peningkatan efisiensi berlipat-lipat (pada TV s/d 18 kali lipat) daripada penggunaaan frekuensi oleh TV/Siaran radio Analog. Menuntut Indonesia segera memulai proses migrasi analog ke digital secepatnya (terutama daerah Batam dan sekitarnya). Sedangkan dalam proses koordinasi. rekomendasi KPI/KPI-D. seperti dilakukan melalui konsorsium Digital Radio Mondiale (DRM). salah satu solusi kekacauan frekuensi ini adalah secepatnya mengimplementasikan penyiaran digital di Indonesia. Koordinasi frekuensi perbatasan dengan negara tetangga Singapura dan Malaysia. atau bahkan tidak memiliki izin sama sekali.25/2000 tentang kewenangan pemerintah pusat dan pemda memberikan kepastian hukum bagi industri dengan diberikannya kembali kewenangan pengelolaan spectrum frekuensi kepada instansi yang kompeten yaitu Ditjen Postel-Depkominfo.38/2007 sebagai pengganti PP. yang telah mulai proses digitalisasi lebih cepat. dan bisa meningkat lagi dengan kemajuan teknologi kompresi.2. Karenanya.2.1 LATAR BELAKANG Kekacauan pemberian izin frekuensi penyiaran akibat eforia otonomi daerah dan tumpang tindih kewenangan Pemerintah Pusat (Depkominfo).2 PERENCANAAN FREKUENSI PENYIARAN DIGITAL 3. Ditjen Postel bekerjasama dengan Radio Republik Indonesia (RRI) melaksanakan pendaftaran tersebut. maka sebaiknya Indonesia juga ikut berperan dalam berkoordinasi dalam penggunaan pita frekuensi HF untuk Penyiaran ini di forum ITU. 58 . Dengan disahkannya PP No. 3. selama ini dilakukan oleh RRI sebagai salah satu anggota aktif ABU Dengan dikembangkannya teknologi penyiaran digital pada pita frekuensi HF ini. 3. KPI/KPI-D dan Pemerintah Daerah (Dinas Perhubungan). Hal ini ditambah lagi dengan telah beroperasinya sejumlah Siaran TV analog dan radio siaran AM/FM yang tidak mengikuti master plan frekuensi semisal yang memiliki izin Pemda.Artikel 12 Radio Regulation-ITU mengharuskan setiap negara untuk melakukan pendaftaran frekuensi stasiun radio HFBC ke ITU secara berkala 2 kali setahun.

Receiver DAB diharapkan bisa mencapai harga Rp. jaringan transmisi (fiber optic.000. pendidikan. Di Singapura dan Malaysia sudah mencapai harga US$ 30. Tersedianya “killer content / killer application” yang meliputi layanan program TV siaran nasional. 3. sebagai penyelenggara jaringan tetap tertutup. dan menggunakan potensi industri manufaktur dalam negeri seperti Polytron. Tersedianya “receiver” (pesawat penerima) murah a. TV digital ini merupakan salah satu contoh nyata konvergensi ICT.Tim Nasional merekomendasikan pemisahan yang jelas dan tegas antara penyelenggara infrastruktur (penyelenggara multipleks) dengan lembaga penyiaran eksisting (konten). Dengan potensi pasar Indonesia sangat besar. Pemanfaatan infrastruktur eksisting seperti tower. Sedangkan lembaga penyiaran akan menjadi penyelenggara konten. dsb. dan program tambahan lain dengan kualitas lebih bagus dan kuantitas lebih banyak. Hal ini hanya dapat diterapkan pada dunia penyiaran analog seperti Siaran radio AM/FM dan Siaran TV Analog.000. Oleh karena itu dalam implementasi penyelenggaraan jaringan multipleks Siaran TV digital. harus menggunakan UU Telekomunikasi No. Akan tetapi ketentuan UU Penyiaran No. 200.32 tahun 2002. lokal.36 tahun 1999. Set-Top-Box DVB-T diharapkan dapat mencapai sekitar US$20 = Rp. Idealnya memang perlu dilakukan revisi UU Penyiaran dan Telekomunikasi agar tidak terjadi kesulitan pemahaman regulasi di kemudian hari. 200. 59 . 2. sendiri sebenarnya melarang lembaga penyiaran radio swasta dan jasa penyiaran televisi masing-masing menyelenggarakan lebih dari 1 (satu) siaran dengan 1 (satu) saluran siaran pada 1 (satu) cakupan wilayah siaran. Panasonic Gobel. satelit dan microwave link) sangat penting untuk cepatnya penerapan migrasi penyiaran analog ke digital. Kunci suksesnya migrasi penyiaran analog ke digital antara lain ditentukan oleh faktor-faktor sebagai berikut: 1. diharapkan bisa menurunkan harga pesawat penerima TV Digital dan juga set-top-box DVB-T b.

karena Indonesia menggunakan standar PAL untuk TV Analog. Lembaga Penyiaran Swasta dan Lembaga Penyiaran Komunitas o Potensi Teknologi / Standar Digital : FM RDS. Media-Flo (Qualcomm).2.    Dalam pemilihan standar penyiaran digital.5 – 108 MHz) o Penggunaan teknologi / standar saat ini : Siaran radio FM (Analog) o Saat ini digunakan untuk kanal frekuensi Siaran radio FM Analog bagi Lembaga Penyiaran Publik (RRI). volume produksi massal. serta kondisi adopsi Negara-negara lain yang berdekatan menjadi sangat penting. dsb. AM IBOC Pita Frekuensi VHF Band II (87. Digital Multimedia Broadcast (DMB). o Potensi teknologi / standar digital : DVB-T (Digital Video Broadcasting-Terrestrial). maka lebih menguntungkan dipilih DVB-T sebagai standar TV Digital. FM IBOC Pita Frekuensi VHF Band III (174 .5 kHz) o Penggunaan teknologi / standar saat ini : Siaran radio AM (Analog) o Saat ini digunakan untuk kanal frekuensi Siaran radio AM Analog bagi Lembaga Penyiaran Publik (RRI) dan Lembaga Penyiaran Swasta o Potensi Teknologi / Standar Digital : Digital Radio Mondiale (DRM). serta Negara-negara tetangga yang berdekatan menggunakan standar DVB-T. o Potensi teknologi / standar digital : Digital Audio Broadcast (DAB).3 PERENCANAAN FREKUENSI PENYIARAN DIGITAL Perencanaan frekuensi penyiaran dapat dijelaskan sebagai berikut:  Pita Frekuensi MF (526. o Saat ini sebagian besar digunakan untuk kanal frekuensi TV siaran VHF analog oleh lembaga penyiaran publik (TVRI) dan lembaga penyiaran swasta di beberapa tempat. IMT-Advanced.5 – 1606.3.230 MHz) o Penggunaan teknologi / standar saat ini : TV siaran VHF (analog). Pita Frekuensi UHF Band IV/V (470 – 806 MHZ) o Penggunaan teknologi / standar saat ini : Siaran TV UHF (Analog) o Saat ini digunakan untuk kanal frekuensi Siaran TV UHF Analog oleh lembaga penyiaran publik (TVRI) dan lembaga penyiaran swasta di beberapa tempat. DVB-H. Hal ini telah ditetapkan oleh Depkominfo berdasarkan 60 . WiMax. dsb. DVB-H Digital Video Broadcasting – Handheld). faktor “sejarah”. Dalam kasus TV Digital.

Sehingga untuk standar-standar pada pita frekuensi lainnya sebaiknya dipilih standar yang kompatibel dengan DVB-T seperti DAB pada pita VHF dan DRM pada pita frekuensi LF/MF/HF. 7 Tahun 2007.Permen No. Ringkasan perencanaan frekuensi penyiaran digital dapat dilihat pada tabel 16 berikut ini. 61 .

jumlah program lebih banyak Free-to-air atau layanan berbayar. DVB-H. PC. NO 1 KETERANGAN Free-to-air DAB Receiver audio digital tersendiri atau terintegrasi dengan tape mobil.TABEL 16. dsb DAB+ teknologi kompresi lebih baik. dsb Potensi 80 s/d 100 program audio digital Multimedia Broadcasting DMB. Receiver tersendiri atau terintegrasi dengan telepon genggam. dan DAB+ POTENSI JUMLAH PROGRAM / KONTEN DLM SATU WILAYAH LAYANAN 28 konten audio digital per 7 MHz Disiapkan 3 kanal RF 7 MHz per wilayah. RINGKASAN PERENCANAAN FREKUENSI PENYIARAN DIGITAL PITA FREKUENSI VHF Band III PITA FREKUENSI (MHz) 170 – 230 MHz POTENSI STANDAR TEKNOLOGI PENYIARAN DIGITAL DAB (Digital Audio Broadcasting). PC. dsb TBD 62 . notebook. notebook.

Receiver tersendiri atau terintegrasi dengan telepon genggam. dsb Free-to-air atau layanan berbayar.  PITA FREKUENSI UHF (Pita Bawah. notebook.48) PITA FREKUENSI (MHz) 470 . set-top-box (dekoder) atau terintegrasi dengan PC.806 DVB-T TBD Media-Flo Mobile Broadband 3 L-band 1452 .49 . notebook.1492 Terrestrial DMB Terrestrial DAB TBD TBD TBD TBD   63 . Free-to-air atau layanan berbayar.62) 470 . PC. dsb UHF (Pita Atas. s/d Ch.806 POTENSI STANDAR TEKNOLOGI PENYIARAN DIGITAL DVB-T POTENSI JUMLAH PROGRAM / KONTEN DLM SATU WILAYAH LAYANAN 4-6 konten per 8 MHz RF Standar Digital TV dengan MPEG-2 NO 2 KETERANGAN Free-to-air Receiver TV digital tersendiri. Layanan berbayar Free-to-air atau layanan berbayar. Ch.

dsb Receiver tersendiri atau terintegrasi dengan PC.2670 MHz POTENSI STANDAR TEKNOLOGI PENYIARAN DIGITAL Satellite DVB-S (Indovision) BWA (interactive) 5 Ext-C band 3500 . notebook.3700 MHz Satellite DVB-S (Telkomvision) BWA (interactive) 6 7 Ku-band LF/MF 11/13 GHz 520 .1605 kHz Satellite DVB-S (Directvision) Digital Radio Mondiale POTENSI JUMLAH PROGRAM / KONTEN DLM SATU WILAYAH LAYANAN 5 transponder @ 24 MHz + 100 program SDTV MPEG-2 TBD 3 transponder @ 36 MHz + 100 program SDTV MPEG-2 TBD 2 transponder @ 72 MHz + 100 program SDTV MPEG-2 TBD (lebih efisien dari Analog) Set-top-box (dekoder) Layanan berbayar Receiver tersendiri atau terintegrasi dengan PC. dsb Set-top-box (dekoder) Layanan berbayar KETERANGAN Set-top-box (dekoder) Layanan berbayar 8 HF 3 .  NO 4 PITA FREKUENSI S-band PITA FREKUENSI (MHz) 2520 . notebook.30 MHz (HF Broadcast Band) Digital Radio Mondiale TBD (lebih efisien dari Analog) *TBD : to be determined (akan ditetapkan kemudian) 64 .

diatur dalam Keputusan Dirjen Postel No.32 tahun 2002 tentang Penyiaran. Pada tahun 2002. Hal tersebut dilakukan dalam rangka penataan frekuensi Siaran radio FM se-Indonesia. Ditjen Postel tidak mengeluarkan izin baru untuk siaran radio FM. sehingga menghambat proses perizinan dan tidak memberikan kepastian hukum. Pengkanalan frekuensi masih dilakukan tidak sesuai dengan standar ITU yaitu 350 kHz.3. Akibatnya. Sejak tahun 2002.15A/2004 tentang Peralihan Kanal Frekuensi Siaran radio FM. Ditjen Postel mendapat bantuan expert ITU untuk pembuatan master plan frekuensi siaran TV dan siaran radio FM.15 tahun 2003 tentang Rencana Induk (Master Plan) frekuensi radio penyelenggaraan telekomunikasi khusus untuk keperluan siaran radio FM.3 KONDISI EKSISTING PERMASALAHAN 3. Pemberian Izin Frekuensi Siaran radio FM diberikan tanpa kerangka aturan teknis yang jelas dan benar. Untuk keperluan migrasi frekuensi saat itu dari pengkanalan lama yang berbasis 350 kHz ke pengkanalan baru. Hal tersebut diperparah dengan tuntutan dan eforia otonomi daerah. mengharuskan Ditjen Postel untuk bersama-sama dengan instansi terkait seperti Komisi Penyiaran Indonesia sebelum memberikan izin. Dalam waktu satu tahun. Serta distribusi izin diberikan berdasarkan “first come first served” tanpa perencanaan dan kebijakan perizinan yang jelas. menumpuk di kota-kota besar saja. Akan tetapi selama hampir 5 tahun dari 2002 sampai dengan awal tahun 2007.3. regulasi teknis telah selesai disusun yaitu Kepmenhub No. di mana sejumlah Pemerintah Daerah memberikan izin siaran radio dan Siaran TV lokal berdasarkan 65 . terjadi perselisihan cukup panjang antara Departemen Kominfo dan KPI mengenai kewenangan perizinan penyiaran. distribusi kanal siaran radio FM tidak optimal. Pada peraturan tersebut telah ditentukan rincian distribusi kanal frekuensi siaran radio FM yang disusun dengan mengakomodasi jumlah dan distribusi siaran radio FM eksisting dan kondisi geografis / profil lokasi wilayah siaran di seluruh Indonesia. Migrasi frekuensi siaran radio FM eksisting tersebut dilaksanakan dengan baik pada bulan Agustus 2004.1 KONDISI EKSISTING PERMASALAHAN PERMASALAHAN DAN SIARAN ALTERNATIF RADIO FM PEMECAHAN DAN SOLUSI Sebelum Tahun 2002. Selain itu dengan berlakunya UU No.

mengalami gangguan di beberapa lokasi.25 tahun 2000 yang membolehkan Pemda memberikan izin frekuensi siaran radio dan Siaran TV lokal. ketidakpastian hukum. Pada KM. Distribusi kanal siaran radio FM ini didapat dari sejumlah hasil koordinasi frekuensi perbatasan antara Ditjen Postel-Indonesia dengan MCMC-Malaysia. Dengan semakin baiknya koordinasi antara Depkominfo dan KPI sejak awal tahun ini (2009). maka dalam waktu tidak terlalu lama akan diadakan sejumlah Forum Rapat Bersama di berbagai daerah.ketentuan salah satu ketentuan dalam PP No. Bandung. sehingga perlu kajian teknis dan alternatif pemecahan sebelum pertemuan. akan tetapi revisi tersebut bersifat melengkapi dan menyempurnakan. terjadi kekacauan tumpang tindih kewenangan. 4.15/2003). menyebabkan kualitas penerimaan siaran radio FM di beberapa lokasi seperti Jakarta. seperti Batam. serta banyaknya izin siaran radio FM analog dikeluarkan oleh pemerintah daerah tanpa dikoordinasikan dengan Ditjen Postel. Penentuan batas wilayah cakupan siaran (“service area”) yang lebih rinci dan tegas melalui pemetaan (mapping) wilayah cakupan siaran. 3. Tanjung Pinang yang berbatasan dengan Singapura dan Malaysia serta beberapa wilayah di provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur yang berbatasan dengan Malaysia. Di antara penyempurnaan ketentuan yang direncanakan antara lain: 1. dengan sebisa mungkin tidak mengubah distribusi kanal pada wilayah-wilayah siaran yang telah ditentukan dalam KM.15/2003. IDASingapura yang dimulai tahun 2002 dan dilakukan pertemuan secara berkala. Revisi tersebut bukan dimaksudkan untuk menggantikan distribusi siaran radio FM secara ekstrim. Penyempurnaan ketentuan teknis radio komunitas yang lebih ketat dan rinci.15/2003 batas wilayah cakupan siaran hanya ditetapkan pada jarak dari pusat kota. SOLUSI PERMASALAHAN Saat ini Ditjen Postel sedang melakukan penyusunan revisi rencana dasar teknis frekuensi siaran radio FM (KM. Penentuan distribusi kanal siaran radio FM di daerah perbatasan. sehingga menimbulkan multi tafsir. 66 . Penambahan wilayah layanan baru yang belum tercakup dalam KM. 2.15/2003. Akibatnya. Bahkan beberapa kanal frekuensi ditetapkan tanpa mengikuti ketentuan Master Plan frekuensi.

Akibatnya.3.2 KONDISI EKSISTING PERMASALAHAN PERMASALAHAN Seperti halnya siaran radio FM. sebelum tahun 2002 izin siaran radio AM diberikan berdasarkan “first come first served” tanpa perencanaan dan kebijakan perizinan yang jelas. Selain itu juga harus memperhatikan prosedur notifikasi dan koordinasi yang ditetapkan dalam perjanjian regional Geneva 1975 (GE-75) yang mengatur penggunaan frekuensi siaran radio LF/MF di Region 1 dan 3. tetapi juga harus memperhatikan kondisi penggunaan frekuensi eksisting maupun yang direncanakan oleh negara-negara lain yang berdekatan dengan Indonesia yang terdapat pada Master Register frekuensi ITU (sudah dinotifikasi ke ITU). Langkah Kelima: menyusun strategi pemecahan masalah bilamana kanal frekuensi yang diusulkan. ternyata di lapangan telah diduduki oleh penyelenggara siaran Analog Analisa dan Evaluasi (bila perlu diulang (iterasi) lagi untuk mendapatkan hasil paling optimal) SIARAN RADIO AM DAN SOLUSI 3. menumpuk di kotakota besar saja. parameter teknis siaran radio AM dapat dijelaskan pada tabel 17 berikut ini: 67 .PRINSIP-PRINSIP DISTRIBUSI ALOKASI FREKUENSI SIARAN RADIO FM Berikut ini langkah-langkah yang dilakukan dalam hal distibusi alokasi frekuensi siaran radio FM: • • • • • • Langkah Pertama: Menentukan Matriks Protection Ratio antar Wilayah Layanan Langkah Kedua: menginventarisasi potensi program siaran di wilayah layanan dimaksud dari data pengukuran dan data pendudukan kanal siaran Langkah Ketiga: membandingkan dengan distribusi kanal frekuensi pada regulasi teknis eksisting (KM. Perencanaan frekuensi untuk siaran radio AM pada pita frekuensi LF/MF (MW) ini sebenarnya cukup rumit dan harus memperhatikan tidak hanya kondisi penggunaan frekuensi eksisting di Indonesia.15/2003.76/2003) Langkah Keempat: menyusun distribusi kanal frekuensi yang paling optimal memperhatikan hasil-hasil analisa sebelumnya. Secara ringkas. distribusi kanal siaran radio AM tidak optimal. KM.

Philipina.TABEL 17.      68 . 1st adjacent (selisih 9 kHz). Menghitung jarak minimum untuk kondisi co-channel. Mengidentifikasi data pemancar-pemancar siaran radio AM yang telah dinotifikasi di ITU sesuai ketentuan GE-75 baik yang berlokasi di Indonesia maupun yang berlokasi di negara-negara sekitar Indonesia seperti Australia. Singapura. Memetakan lokasi pemancar-pemancar tersebut di atas pada peta digital. 2nd adjacent (selisih 18 kHz) Melakukan analisis interferensi untuk setiap pemancar terhadap lingkungan pemancar lain di sekitarnya untuk memastikan protection ratio di service area mencukupi. India. Menyusun matriks protection ratio antara setiap wilayah siaran di Indonesia. Papua Nugini. langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:    Menginventarisasi daftar pemancar siaran radio AM yang terdaftar di dalam database Ditjen Postel (yang telah memiliki izin stasiun radio) Menginventarisasi daftar pemancar Siaran radio AM yang beroperasi di lapangan berdasarkan hasil monitoring pendudukan frekuensi di setiap wilayah di Indonesia. Kamboja. Vietnam. PARAMETER TEKNIS SIARAN RADIO AM DIGUNAKAN DALAM PERENCANAAN FREKUENSI Pita Frekuensi : 531 – 1602 kHz Spasi antar kanal : 9 kHz Lebar Pita (Bandwidth) 9 kHz Spasi kanal dalam suatu wilayah : 18 kHz layanan yang sama Daya Pancar (Power) 500 watt (Low Power). Melakukan analisis interferensi baik terhadap kondisi siang hari maupun malam hari. Thailand. Malaysia. China. dsb. (High Power) Konduktivitas (Conductivity) 3 dan 15 mS/m Protection Ratio : : 30 dB  Co–Channel : 9 dB  First Adjacent nd : -24 dB  2 Adjacent Kuat medan minimum (“Minimum : 70 dBuV/m Field Strength”) YANG 10 kW LANGKAH-LANGKAH PERENCANAAN FREKUENSI Dalam membuat perencanaan distribusi frekuensi Siaran radio AM di Indonesia. Timor Leste.

dengan melakukan terlebih dahulu koordinasi dengan negara-negara yang berdekatan yang berpotensi interferensi terhadap stasiun radio yang akan dinotifikasi tersebut. mengoptimalkan penggunaan saluran VHF serta menghindari adanya perubahan yang terlalu banyak pada saluran VHF yang telah digunakan oleh TVRI. tidak sama dengan metode perencanaan frekuensi saluran TV UHF karena beberapa kondisi yang berbeda. Namun demikian. tidak berpedoman kepada suatu pola perencanaan saluran karena belum tersedianya rencana induk atau master plan frekuensi secara nasional. dengan sedapat mungkin tidak mengubah kondisi eksisting. Saat ini jumlah lokasi pemancar TVRI di seluruh Indonesia sudah mencapai lebih kurang 385 buah. Metode yang digunakan dalam membuat perencanaan frekuensi saluran TV VHF yang dilaksanakan TVRI pada masa tahun 1970-an s/d 1990-an. kabupaten sampai kecamatan dengan berbagai jenis kekuatan pemancar dari low power hingga high power.3. Melakukan koordinasi dan notifikasi ke ITU.  Menyusun suatu distribusi alokasi frekuensi optimal berdasarkan protection ratio yang didapat. sebagian besar menggunakan saluran VHF. maka metode yang paling tepat atau memungkinkan dipakai adalah melalui pengkajian wilayah cakupan siaran terhadap peta daerah jangkauan siaran TVRI dan saluran frekuensi VHF yang sudah digunakan serta memperhatikan kondisi topografi di wilayah siaran yang direncanakan. Belum tersedianya master plan frekuensi VHF ini tentunya akan menyulitkan Direktorat Jenderal Postel untuk menetapkan penggunaan saluran televisi VHF di Indonesia bagi para penyelenggara penyiaran televisi lainnya di suatu wilayah siaran. dalam penentukan saluran VHF yang akan digunakan di suatu wilayah siaran masih didasarkan pada hasil survey lapangan dan map survey. VHF BAND III DAN SOLUSI 3. 69 . Untuk memenuhi persyaratan teknis agar tidak terjadi interferensi antar stasiun pemancar.3 KONDISI EKSISTING PERMASALAHAN Pita frekuensi VHF sejak tahun 1962 telah banyak dipergunakan oleh TVRI untuk memancarkan siaran ke seluruh Indonesia dari tingkat provinsi.

maka sebenarnya pengoperasian Siaran TV VHF Band III dapat dihentikan segera. dsb) menjadi standar resmi siaran radio digital di Indonesia pada band III. Sedangkan model bisnis DMB terkait dengan penyelenggaraan telekomunikasi selular. terutama di kota-kota besar. sehingga sulit diharapkan untuk dapat mengatasi permasalahan kepadatan Siaran radio FM di Indonesia. menetapkan bahwa DAB dan derivatifnya (DMB. maka lebih baik konsentrasi perencanaan difokuskan pada transisi penyiaran analog ke penyiaran digital pada band VHF Band III ini. Bila penyelenggaraan multipleks TV digital (di Band UHF) diimplementasikan segera. 70 . 2. Keputusan Menteri Kominfo dikeluarkan. maka perlu dirancang distribusi kanal frekuensi yang bisa mengimplementasikan DAB (Digital Audio Broadcasting) dan DMB (Digital Multimedia Broadcasting) secara proporsional. Dari potensi teknologi penyiaran digital yang potensial di band III (lihat Tabel 16). dapat berupa free-to-air ataupun berbayar. Gambar 4 dan Tabel 18 berikut ini menjelaskan mengenai efisiensi penggunaan frekuensi penyiaran digital di Band III VHF. Ketiga poin tersebut adalah: 1. DMB belum menyediakan aplikasi untuk siaran radio digital secara massal.TRANSISI MIGRASI KE DIGITAL DI BAND VHF BAND III Sehubungan dengan rencana penghentian siaran analog di seluruh dunia. memperhatikan kondisi layanan Siaran TV analog VHF di seluruh wilayah Indonesia. siaran digital akan diatur melalui regulasi yang lebih spesifik yang ditetapkan berdasarkan rencana frekuensi nasional Perlengkapan DAB/DAB+ harus memenuhi standard nasional Indonesia (SNI) yang akan ditentukan kemudian Rencana sosialisasi akan dibuat Penyelenggaran siaran radio digital secara free-to-air melalui DAB sangat dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan kepadatan penggunaan siaran radio FM. 3. Pada 15 April 2009. Pemerintah menetapkan 3 poin utama terkait regulasi dan kondisi teknis yang harus dipenuhi untuk keperluan migrasi ke radio digital. Sambil tentunya dalam implementasi migrasi tersebut. dan terbatas dengan menyediakan empat s/d enam konten digital mobile multimedia. Sampai tulisan ini dibuat (Juli 2009).

Diusulkan untuk digunakan sebanyak 12 kanal DAB @1. PENGKANALAN FREKUENSI DAB/DMB TABEL 18. yang implementasinya menggunakan infrastruktur dan distribusi wilayah siaran yang sama dengan penyelenggaraan multipeks DVB-T. maka diusulkan untuk disediakan 3 s/d 4 kanal RF 7 MHz. Untuk konten / program komunitas di suatu wilayah. direncanakan penggunaan 2 kanal yaitu 13E dan 13F. dengan wilayah layanan yang akan didefinisikan tersendiri.GAMBAR 4. PERBANDINGAN EFISIENSI DIGITAL DI VHF BAND III FREKUENSI PENYIARAN Untuk kualitas audio sedang (minimum acceptable).25 MHz dari 5A s/d 7D untuk penyelenggaraan multipleks free-to-air DAB secara nasional. Gambar 4 menjelaskan mengenai usulan konsep distribusi kanal Band III VHF untuk DAB free-to-air. PERENCANAAN FREKUENSI DIGITAL AUDIO BROADCASTING (DAB) Berdasarkan perbandingan tersebut di atas. sehingga dapat menampung sekitar 84 s/d 112 konten audio digital free-to-air di seluruh wilayah Indonesia. 160 kbps dibutuhkan menggunakan MP2 dan 48 kbps bila menggunakan HE AAC (High efficiency Audio Coding ). 71 .

Secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut:        Minimum Field Strength (MFS) Protection Ratio DAB/DAB: Co-channel Protection Ratio DAB/DAB: Adjacent channel Protection Ratio TV/DAB: Co-channel Protection Ratio TV/DAB: Lower Adjacent Protection Ratio DAB/TV: Co-channel Protection Ratio DAB/TV: Lower Adjacent = = = = = = = 58 dBV/m 8 dB -40 dB 45 dB 24 dB -2 dB -29 dB 72 . Parameter teknis DAB yang digunakan dalam perencanaan kanal DAB diadopsi dari Final Act Maastricth 2002. Sehingga akan sangat efisien. dan jumlah program siaran audio yang cukup berlimpah.GAMBAR 5. Apalagi dengan semakin tingginya teknik kompresi audio digital. KONSEP DISTRIBUSI KANAL FREKUNESI BAND III VHF UNTUK DIGITAL AUDIO BROADCASTING (DAB) FREETO-AIR Untuk DABKomunitas Untuk DAB Multipleks Nantinya penyelenggara siaran radio AM dan FM eksisting hanya perlu menyediakan “konten” audio tanpa membangun infrastruktur sendiri. yang menetapkan pengaturan teknis dan distribusi kanal negara-negara Eropa. maka jumlah konten akan semakin banyak lagi dari waktu ke waktu. Yang menjadi kunci adalah ketersediaan pesawat penerima dengan harga terjangkau.

maka seluruh TV analog dihentikan operasinya. Mengidentifikasi dan menetapkan prioritas stasiun TV analog yang ingin dilindungi pada saat transisi. dan terdapat sejumlah kanal frekuensi yang kosong. maka implementasi multipleks DAB akan dilakukan dua tahap yaitu tahap transisi dan tahap implementasi penuh. maka wilayah siaran digital pita VHF Band III ini mengikuti wilayah siaran penyiaran UHF Band IV dan V. 73 . maka diusulkan tidak ada lagi perizinan baru TV analog di pita frekuensi ini. Tidak bisa digunakan kanal yang berselisih 9. dsb.secara efektif dan efisien dan sekaligus mempercepat implementasi penyiaran digital terrestrial di Indonesia. perencanaan kanal TV Analog UHF memerlukan pembatasan-pembatasan sebagai berikut:   Tidak bisa digunakan kanal yang bersebelahan. Direncanakan penyelenggara mulipleks DAB dan DVB-T menggunakan infrastruktur yang sama dari mulai backbone. Kanal frekuensi kosong itulah yang bisa didistribusikan untuk teknologi penyiaran digital terrestrial lain seperti Digital Multimedia Broadcasting (DMB) baik secara free-to-air maupun berbayar.4 KONDISI EKSISTING UHF BAND IV DAN V DAN SOLUSI PERMASALAHAN Untuk suatu wilayah layanan. PENYIARAN DIGITAL TERRESTRIAL LAINNYA IMPLEMENTASI PENUH MIGRASI ANALOG KE DIGITAL SETELAH Pada saat implementasi penuh penyiaran digital terrestrial di pita VHF Band III. lokasi menara. Menghitung semua kemungkinan interferensi saat pendudukan kanal DAB di suatu wilayah layanan tertentu. Sehingga diharapkan dapat memudahkan implementasi penyelenggaraan multipleks DAB dan DVB. backhaul.Untuk memudahkan implementasi. langkah-langkah dalam perencanaan frekuensi DAB adalah sebagai berikut:    Menentukan alokasi kanal frekuensi DAB untuk kondisi semua stasiun TV analog dianggap sudah tidak ada (kondisi ideal). Pada tahap transisi. 3.3. Untuk mempercepat migrasi penyiaran analog dan digital di Band III VHF ini. Sehubungan dengan masih adanya sejumlah transmisi TV analog di band VHF di seluruh wilayah Indonesia.

Teknologi Digital memberikan peningkatan efisiensi berlipat-lipat (kasus TV s/d 18 kali lipat) daripada penggunaaan frekuensi oleh TV/siaran radio analog. sejumlah Pemerintah Daerah telah memberikan izin kepada TV lokal yang keberadaannya tidak dapat diabaikan dan sejumlah program dan tayangannya sudah diterima masyarakat setempat. jumlah pemohon izin TV analog sesuai dengan ketersediaan kanal dalam Rencana Induk 74 . maka diusulkan pemecahan secara bertahap yang perlu disiapkan sekaligus. DISTRIBUSI KANAL SIARAN TV UHF BERDASARKAN KEPMENHUB NO.76 tahun 2003 tentang Rencana Induk Frekuensi TV siaran UHF (Analog). pada pita frekuensi UHF terdapat 42 kanal dari kanal 22 s/d kanal 61.32 tahun 2002 tentang Penyiaran. 1 TVRI daerah. 5 lembaga penyiaran nasional terbatas. diperlukan sejumlah saluran untuk program / konten lokal. karena harus dididistribusikan kepada daerah-daerah layanan yang bersebelahan. TABEL 19. Kenyataannya dalam era otonomi daerah. maka diusukan kebijakan dan regulasi sebagai berikut:  Bilamana dalam suatu wilayah siaran. 1 TVRI pusat. yang pertama adalah penyelesaian kasus TV analog eksisting dan yang kedua migrasi penyiaran analog ke digital.MENGENAI RENCANA DASAR TEKNIS SIARAN TV ANALOG Jumlah kanal frek maksimum 14 7 Kanal untuk TV swasta 11 5 Kanal untuk TV Publik 1 1 Kanal Transisi TV Digital 2 1 Wilayah Layanan Jabotabek dan Ibu Kota propinsi Kota lainnya Permasalahan dengan kondisi saat ini adalah bahwa jumlah TV nasional terlalu banyak: 5 lembaga penyiaran nasional. TAHAP PERTAMA : PENYELESAIAN KASUS TV ANALOG EKSISTING Berdasarkan identifikasi kemungkinan kasus yang terjadi dan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Berdasarkan hal-hal tersebut. Saat ini berdasarkan Kepmenhub No.76/2003. Sedangkan sesuai dengan semangat UU No. Tabel 19 berikut ini menjelaskan distribusi kanal Siaran TV di pita frekuensi UHF di Indonesia. Tidak bisa digunakan semua. Maka solusi kekacauan frekuensi ini adalah secepatnya mengimplementasikan penyiaran digital di Indonesia.

maka diusulkan kebijakan sebagai berikut: o Secara prinsip pengoperasian lembaga penyiaran bersangkutan di frekuensi dimaksud harus dihentikan. maka alternatif pemecahan permasalahan adalah sebagai berikut: o Para pemohon membentuk konsorsium penyelenggaraan multipleks TV digital pada kanal yang disediakan untuk TV digital (2 kanal). o Setelah penyelenggaraan multipleks TV digital tersedia di wilayah layanan dimaksud. sehingga dapat menampung 8 s/d 12 program / konten lembaga penyiaran di wilayah bersangkutan. o Bila para pemohon hanya menginginkan untuk menjadi TV analog. Bilamana dalam suatu wilayah siaran. frekuensi 518 s. Konsep awal penggunaan kanal frekuensi penyiaran Digital pada band UHF sebagai berikut:  pada band IV dan V bawah. Dalam hal kondisi tertentu. dan menyerahkan frekuensinya kembali kepada Ditjen Postel. maka dilakukan proses seleksi untuk menetapkan penyelenggara sesuai dengan jumlah kanal yang tersedia. jumlah pemohon izin TV analog sesuai dengan ketersediaan kanal dalam Rencana Induk (“Master Plan”) TV UHF. TAHAP KEDUA: TRANSISI MIGRASI KE DIGITAL DI BAND UHF Pada perencanaan kanal televisi digital akan disediakan 6 kanal untuk setiap wilayah layanan. untuk digunakan nantinya bagi penyelenggaraan multipleks TV digital.  (“Master Plan”) TV UHF . tidak boleh mengganggu dan mengklaim proteksi dari penggunaan frekuensi lainnya. Depkominfo dengan KPI. serta bersedia menghentikan operasinya pada masa waktu tertentu (saat penyelenggara multipleks TV digital beroperasi di wilayah tersebut). Lembaga penyiaran bersangkutan dapat menjadi penyedia konten bagi penyelenggaraan multipleks TV Digital di wilayah dimaksud. maka izin dapat diberikan melalui forum rapat bersama Pemerintah c.d 43) akan direncanakan untuk DVB-T 75 .d 624 MHz terdiri 16 kanal (kanal 27 s. di mana kanal yang direncanakan untuk transisi digital di dalam master plan KM.q. o Pada masa transisi sebelum tersedianya penyelenggara multipleks digital di wilayah layanan dimaksud.76/2002 sudah diduduki melalui izin Pemerintah Daerah. lembaga penyiaran bersangkutan masih dapat beroperasi dengan catatan. penyelenggara bersangkutan harus bersedia mematikan operasinya.

Program / konten unggulan yang perlu dibawa antara lain meliputi:   Program siaran TV swasta nasional Program siaran TV publik nasional (TVRI) 76 . Penyelenggara jaringan TV digital (multipleks) dapat membawa 4 sampai dengan 6 program sekaligus dalam 1 kanal TV standar DVB-T 8 MHz. pada band V atas frekuensi 606 s/d 806 MHz terdiri dari 20 kanal (kanal 42 s. agar lebih efisien dalam pengembangan jaringannya. Bilamana migrasi TV analog ke digital telah diselesaikan semuanya.d 62) akan dipersiapkan untuk mobile multimedia dengan bandwidth masing-masing kanal sebesar 8 MHz. maka kasus di Inggris dapat dijadikan contoh paling sukses dalam hal penetrasi Siaran TV digital di dunia. melainkan hanya di dalam satu wilayah layanan. Lembaga penyiaran TV analog agar lebih berkonsentrasi sebagai ”content aggregator”. free-to-air dengan bandwidth masing-masing kanal sebesar 8 MHz. Karena distribusi kanal-kanal TV bervariasi di wilayah layanan. Dari contoh kasus seluruh mplemntasi migrasi penyiaran analog ke digital di negaranegara lain. agar masyarakat dirangsang untuk segera dan merasa perlu untuk membeli set-top-box Digital TV UHF. PENYELENGGARAAN MULTIPLEKS TV DIGITAL UHF Diperlukan suatu model bisnis penyelenggara multipleks TV Digital ”free-to-air” yang tepat dan berkelanjutan. Perlu dipisahkan penyelenggara jaringan TV digital dari lembaga penyiaran Analog saat ini. maka Pemerintah dapat mengatur kembali kanal frekuensi yang telah diberikan untuk TV digital. Konsep SFN di dalam suatu wilayah layanan dilaksanakan dengan satu pemancar induk dengan pemancar berdaya pancar besar dengan antenna pemancar tinggi. Perlu dirancang sedemikian rupa sehingga penyediaan layanan / konten pada multipleks TV digital UHF memiliki konten unggulan. dengan maksud memungkinkan dilaksanakannya SFN seoptimal mungkin. maka tidak bisa diberikan lisensi untuk frekuensi tunggal untuk SFN (Single Frequency Network) secara nasional. serta sejumlah pemancar pendukung (gap filler) yang memberikan penguatan sinyal di daerah-daerah yang kualitas penerimaannya dari pemancar utama belum baik.

maka dikhawatirkan bila izin penyelenggara jaringan multipleks diberikan kepada salah satu lembaga penyiaran eksisting. Masyarakat tinggal membeli ”set-top-box” / dekoder TV digital untuk mendapatkan layanan ”free-to-air” TV digital terrestrial dengan jumlah program yang jauh lebih banyak dan kualitas siaran yang jauh lebih baik dibandingkan TV analog. Apalagi di era kompetisi bebas antara lembaga penyiaran swasta.   Program siaran TV swasta lokal Program siaran TV pendidikan: TV edukasi Depdiknas. 3. Qchannel. maka yang bersangkutan dapat menghalangi kompetitornya menyalurkan program / konten melalui multipleks TV digital dimaksud. Kecenderungan “penjegalan” akses program/konten tersebut sudah terbukti. pada kasus lembaga penyiaran berbayar melalui satelit. Sehingga diharapkan masyarakat akan terjamin mendapatkan akses terhadap program eksisting menggunakan pesawat penerima TV dan antena penerima TV terrestrial eksisting dengan tanpa merubah arah antena. maka simulcast untuk masing-masing lembaga penyiaran TV analog adalah hal yang tidak mungkin dilakukan. satelit dan microwave link). 77 . jaringan transmisi (fiber optic. dan memberikan jaminan akses terbuka dan non diskriminasi terhadap seluruh lembaga penyiaran eksisting maupun yang akan mengisi program / konten pada multipleks penyiaran digital dimaksud. Maka satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan izin kepada penyelenggara multipleks yang terpisah dari lembaga penyiaran eksisting. Penyelenggara multipleks TV digital diharapkan dapat membangun pemancar di menara-menara TV analog eksisting atau menara lainnya yang berdekatan yang lokasinya selama ini menjadi referensi bagi masyarakat untuk mengarahkan antenna TV-nya. maupun terhadap konten-konten unggulan lainnya. di mana terjadi hak ekslusivitas terhadap program-program suatu kelompok usaha tertentu. dsb Program siaran radio Dengan kondisi eksisting di mana terlalu banyak izin frekuensi diberikan kepada penyelenggara Siaran TV analog.4 PENYELENGGARAAN JARINGAN MULTIPLEKS TERRESTRIAL BROADCASTING (DVB-T DAN DAB) DIGITAL Salah satu kunci sukses dari implementasi Digital Terrestrial Broadcasting (Migrasi Penyiaran Analog ke Digital) adalah penggunaan / pemanfaatan infrastruktur eksisting seperti tower.

PGN. Hal ini penting untuk memberikan waktu bagi masyarakat untuk dapat menyiapkan diri beralih 78 . Dengan variasi infrastruktur di Indonesia Barat. satelit dan microwave link paling luas se-Indonesia adalah dioperasikan oleh Telkom.DVB-T dan DAB akan menggunakan asumsi service area yang sama berdasarkan master plan frekuensi TV UHF. Identifikasi kondisi infrastruktur telekomunikasi eksisting paling potensial di Indonesia adalah sebagai berikut: • Distribusi dan lokasi menara TVRI dan/atau RRI dapat mencakup 80% wilayah cakupan di Indonesia. Diharapkan dengan konsep seperti di atas. lembaga penyiaran Siaran TV analog eksisting masih dapat mengoperasikan infrastrukturnya sampai dengan masa izinnya selesai. ICON+. yaitu jaringan infrastruktur serat optik Excelcomindo Pratama. sehingga biaya operasional lembaga penyiaran dari sisi penggunaan infrastruktur akan jauh lebih efisien dan hemat. Indosat. • • Penetapan Penyelenggara Multipleks Digital diusulkan untuk dilakukan melalui mekanisme seleksi dengan kriteria sebagai berikut: • • • • memiliki infrastruktur dasar sebagai penyelenggara multipleks memanfaatkan seoptimal mungkin infrastruktur telekomunikasi memberikan komitmen penggelaran jaringan infrastruktur dan pemasangan pemancar DVB-T dan DAB di seluruh wilayah Indonesia dalam jangka waktu secepat-cepatnya. Sehingga dalam masa transisi ini akan terjadi “simulcast” (simultan broadcast) antara penyiaran analog dan digital. Sehingga. Bali dan juga seluruh kota/kabupaten di Indonesia Jaringan infrastruktur fiber optik. dsb. maka seluruh lembaga penyiaran akan migrasi menjadi hanya penyedia “konten” saja. sehingga masyarakat dapat menerima siaran analog dan digital sekaligus. Tentunya dalam masa transisi migrasi penyiaran analog ke digital. bukit. Sehingga diharapkan lembaga penyiaran dapat lebih fokus pada peningkatan kualitas program siaran. serta hampir kebanyakan lokasi menara sangat baik dengan memperhatikan profil geografis paling optimal (letak menara pemancar di gunung. memberikan komitmen untuk membuka akses kapasitas infrastruktur kepada penyelenggara konten/lembaga penyiaran secara non diskriminasi dan akses terbuka. Sehingga penetrasi jaringan dan servis DVB-T dan DAB akan sangat cepat dan efisien. dsb) Distribusi dan menara Telkom dan Telkomsel mencakup hampir /d seluruh kecamatan di Jawa. pada infrastruktur jaringan yang sama dapat dibangun sistem akses DVB-T dan DAB sekaligus dengan.

di mana bila dalam lingkungan penyiaran digital. Hal ini telah dilakukan di banyak negara di dunia dan mulai diterapkan juga di Indonesia. Surabaya. Bandung. 79 . Singapura. Johor. sebetulnya bisa menggunakan menara dan antena yang sama ditambah penggunaan “combiner” dan “filter” yang tepat dengan biaya tidak terlalu mahal. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dan juga pengalaman pengembangan layanan IMT-2000 (3G). Medan dan Makassar.5 PENGGUNAAN BERSAMA MENARA DAN INFRASTRUKTUR PENYIARAN TERRESTRIAL (INFRASTRUCTURE SHARING) Salah satu kesulitan terbesar dalam penerapan master plan frekuensi TV Siaran dan Radio Siaran FM adalah distribusi lokasi tower yang sangat tersebar bahkan di wilayah layanan yang sama. 3. Bali. catu daya sangat memberikan efisiensi dalam hal pengeluaran operasional (OPEX). Di daerah Batam. Bagi beberapa lembaga penyiaran siaran TV analog dengan spasi lebih dari 2 kanal. Diperkirakan paling tidak “digital switchover” di Indonesia terjadi sekitar tahun 2020. Padahal pemanfaatan bersama menara dan infrastruktur lainnya seperti antenna. bisa sharing menara. demikian pula Malaysia sekitar tahun 2015-an. Daerah-daerah lain akan menyusul dalam jangka waktu tidak terlalu lama. Singapura berharap pada tahun 2012 sudah bisa meninggalkan penyiaran analog. Masa transisi penyiaran analog ke digital sampai dengan implementasi penuh penyiaran digital / “digital switchover) belum ditentukan secara resmi oleh pemerintah. pemancar. diperkirakan Implementasi penyiaran digital nantinya akan dimulai di daerah-daerah sebagai berikut: Jakarta dan daerah sekitarnya (Jabotabek). Diharapkan di kota-kota besar dapat dilakukan jauh lebih cepat lagi. maka Indonesia relatif jauh ketinggalan. Untuk siaran TV analog. sangat dianjurkan penggunaan infrastruktur yang sama. sinkronisasi masa transisi akan menjadi sangat penting. Hubungan antara studio dan pemancar (STL) bisa menggunakan IP based melalui jaringan infrastruktur penyelenggara telekomunikasi eksisting. Bila dibandingkan dengan Negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Sedangkan untuk penyelenggara multipleks DVB-T dan DAB. Batam. distribusi kanal dan program akan menjadi jauh lebih mudah sehingga setiap Negara mendapatkan jatah yang sama secara “fair”. lokasi menara mutlak harus berada di lokasi yang sama. exciter (pemancar) dan antenna. Bahkan sebenarnya untuk radiosiaran FM dari 2 stasiun dengan spasi frekuensi lebih dari 400 kHz.dari penyiaran analog ke penyiaran digital tanpa harus kehilangan layanan / program yang diminatinya.

tinggi antenna. seperti halnya dilakukan di banyak Negara. PERIZINAN DAN APLIKASI IZIN Berdasarkan UU No. dsb. dsb. Kuala Lumpur Tower. setiap penggunaan frekuensi radio harus mendapatkan izin dari menteri yang membidangi sektor telekomunikasi. Sedangkan. spesifikasi teknis alat dan perangkat penyiaran digital terrestrial sedang disusun. wilayah cakupan siaran dan distribusi alokasi kanal frekuensi dalam penyiaran digital terrestrial.15/2003 dan Kepmenhub No. Penerapan hal tersebut dapat disiapkan dan direncanakan dengan berkoordinasi dengan pemda setempat (disesuaikan dengan rencana pengembangan daerah setempat). tinggi antenna. Sebagai catatan bahwa pada saat tulisan ini dibuat. Menara Eiffel. Hal ini berlaku pula untuk proses perizinan siaran radio dan 80 . misalnya: Sydney Tower. gunung. Tokyo Tower.Untuk tiap wilayah layanan. yang dalam hal ini proses pemberian izin dilakukan oleh Ditjen Postel.36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi. akan ditentukan dalam regulasi teknis yang saat ini (Juli 2009) sedang disusun. antara lain sebagai berikut:    KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 85/DIRJEN/1999 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT SIARAN RADIO KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 169 /DIRJEN/2002 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEVISI SIARAN SISTEM ANALOG PERATURAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 268 / DIRJEN / 2005 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT SET TOP BOX SATELIT DIGITAL Semua ketentuan teknis tersebut dapat di ‘download” di website Ditjen Postel pada bagian Regulasi Standardisasi. perlu dicari lokasi-lokasi menara paling optimal seperti gedung pencakar langit.6 REGULASI TEKNIS SISTEM PENYIARAN Terdapat sejumlah regulasi teknis standar dan spesifikasi perangkat pemancar sistem telekomunikasi bergerak selular yang telah ditetapkan oleh Ditjen Postel. 3. Peraturan teknis mengenai batasan daya pancar. 4.76/2003. Penyempurnaan batasan teknis tersebut diperlukan untuk memberikan rincian khususnya terkait masalah topografi wilayah serta pemetaaan wilayah cakupan yang perlu. dapat dijadikan objek pariwisata. bukit. batasan teknis daya pancar. wilayah cakupan siaran untuk siaran radio FM dan siaran TV UHF analog telah ditetapkan dalam Kepmenhub No. Pembangunan menara bersama bila direncanakan dengan baik. lokasi nominal pemancar.

yaitu: • Perizinan Lembaga Penyiaran Analog (siaran radio AM.24 tahun 1997 maupun UU No.38/2007 sebagai pengganti PP. Di sisi lain. Jadi sulit dibedakan kanal frekuensi mana untuk lokal dan non-lokal. Akibatnya muncul beragam bentuk rekomendasi bahkan izin yang dikeluarkan sejumlah Pemerintah Daerah Tingkat I bahkan Pemerintah Daerah Tingkat II di berbagai daerah di Indonesia. Dengan perjuangan tak kenal lelah dan putus asa. maka izin penyelenggaraan siaran dikeluarkan melalui forum bersama antara Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Pemerintah. tidak terjadi situasi kondusif antara kedua lembaga tersebut. hubungan antara Depkominfo dengan KPI mulai menunjukkan hubungan membaik. Secara teknis. BWA. sangat sulit dan tidak efektif dilakukan. dsb) 81 . sebetulnya secara teknis jatah kanal frekuensi untuk siaran radio ataupun siaran TV untuk suatu daerah layanan adalah sama.25/2000 tentang Kewenangan pemerintah pusat dan pemda. di mana izin frekuensi radio untuk siaran radio dan siaran TV diberikan oleh Ditjen Postel-Dephub.25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah daerah dan kewenangan propinsi sebagai daerah otonomi disahkan. karena definisi siaran radio Lokal dan siaran TV Lokal sendiri tidak jelas dan tidak diatur dalam UU Penyiaran No.q. dengan diselenggarakannya sejumlah forum rapat bersama yang memberikan hasil yang kondusif bagi industri penyiaran. Hal ini diperumit dengan konflik panjang antara Pemerintah Pusat (c.32 tahun 2002 mengenai Penyiaran.siaran TV. disahkan PP No. akhirnya pada sekitar bulan Juli 2007. Proses perizinan bagi izin penyelenggaraan penyiaran maupun izin penggunaan frekuensi bagi layanan penyiaran nirkabel dapat dibagi dua kelompok. yang memberikan kepastian hukum bagi industri dengan memberikan kembali kewenangan pengelolaan spektrum kepada instansi yang kompeten yaitu Ditjen PostelDepkominfo. Selain itu. Syukur alhamdulillah. semenjak berlakunya UU No. pembatasan daerah cakupan siaran radio dan siaran TV eksisting berdasarkan batas administratif.36 tahun 1999 tentang telekomunikasi. yang dalam pengeluaran izin tersebut belum dikoordinasikan dengan Ditjen Postel. Depkominfo) dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) di mana selama hampir 5 tahun dari tahun 2002 s/d awal 2007. terjadi tumpang tindih kewenangan pemberian izin antara ditjen postel dengan Pemerintah Daerah baik Pemda Tingkat I dan Pemda Tingkat II. Padahal. Selama hampir 7 tahun. Pay-TV Satelit. FM serta siaran TV Analog) • Perizinan penyelenggara jaringan telekomunikasi tertutup / penyelenggara multipleks (TV Digital. setelah Peraturan Pemerintah No. perlahan-lahan situasi tumpang tindih ini mulai dibenahi.

maka izin penyelenggaraan penyiaran (IPP) dapat langsung diberikan. dan yang bersangkutan harus memperbaiki parameter dan konfigurasi teknis lagi. Bila dalam forum rapat bersama. sesuai peraturan perundang-undangan penyiaran. 82 . Bila tidak. KPI melaksanakan evaluasi dengar pendapat. lembaga penyiaran yang bersangkutan dikenakan kewajiban uji coba selama satu tahun. maka permohonan ditolak.4. Setelah melakukan evaluasi. Sesuai ketentuan yang berlaku. jumlah pemohon yang lolos persyaratan kurang atau sama dengan jumlah kanal frekuensi yang disediakan. sebelum mendapatkan Izin Tetap. menentukan DVB-T sebagai standar nasional Fixed Digital Terrestrial Broadcasting Free-to-Air. maka ISR diberikan setelah yang bersangkutan membayar BHP Frekuensi sesuai ketentuan yang berlaku. Hal ini dimaksudkan agar migrasi penyiaran TV analog ke TV digital dapat berjalan dengan baik. Penyelenggara yang bersangkutan diwajibkan mengisi aplikasi formulir Izin Stasiun Radio (ISR) untuk mengisi data-data administratif dan teknis. maka izin baru untuk TV analog dibatasi dan bahkan dihentikan. serta rencana pembangunan infrastruktur.2 PERIZINAN PENYELENGGARA JARINGAN TELEKOMUNIKASI UNTUK PENYELENGGARA MULTIPLEKS TV DIGITAL DVB-T DAN DAB Tim Nasional Migrasi Penyiaran Analog ke Digital (Timnas) telah menghasilkan Buku Putih. pemohon mengajukan izin melalui KPI atau KPI Daerah. bilamana memenuhi syarat. dari sisi teknis. maka perlu dilakukan proses seleksi. IPP diberikan termasuk dengan kanal frekuensi dan wilayah siaran yang ditentukan. Salah satu butir penting dari Rekomendasi Buku Putih adalah memisahkan antara penyelenggaraan infrastruktur penyiaran digital (multiplex) dengan lembaga penyiaran eksisting (penyelenggara konten). Bilamana hasil evaluasi teknis menunjukkan bahwa prediksi wilayah layanan lembaga penyiaran bersangkutan dengan menggunakan parameter teknis yang diajukan melebihi batasan wilayah layanan sesuai izin. SDM. akan diukur kualitas penerimaan siaran pada wilayah siaran yang ditentukan agar sesuai dengan batasan izin yang ditentukan. studio.1 PERIZINAN PENYIARAN ANALOG Dalam hal perizinan lembaga penyiaran analog. dsb. maka diajukan rekomendasi pada forum rapat bersama antara pemerintah (Depkominfo c. Dalam masa uji coba. Setelah IPP diberikan. Dengan akan dimulainya penyelenggaraan TV Digital.q Ditjen SKDI dan Ditjen Postel) serta KPI. Setelah permohonan dan data teknis dievaluasi. maka lembaga penyiaran bersangkutan dapat segera membangun infrastrukturnya termasuk menyiapkan pemancar. 4.

Penetapan Penyelenggara Jaringan Multipleks Penyiaran Digital Terrestrial (free-to-air) DVB-T dan DAB. Sebelum revisi UU konvergensi terjadi. Pada Pasal 16. Penyiaran Digital memberikan kualitas siaran yang lebih bagus. Pendekatan tersebut di atas dapat dianalogikan seperti penyelesaian permasalahan izin lembaga penyiaran berlangganan melalui satelit pada bulan Mei 2007.Dalam UU No. Padahal pada penyiaran digital untuk satu frekuensi. 1 lembaga penyiaran. 1 wilayah. Indonusa Telemedia. Di antaranya pada pasal 20. serta efisiensi infrastruktur termasuk frekuensi yang sangat signifikan. menggunakan UU Telekomunikasi. 20. Lembaga penyiaran swasta dibatasi 1 frekuensi.2002 terdapat sejumlah ketentuan yang membatasi dan praktis ketentuan tersebut hanya dapat diterapkan untuk Penyiaran Analog. Bagi penyelenggara multipleks TV Digital (DVB-T) maupun DAB. serta Direct Vision. bisa menyediakan banyak program / konten. Hal ini sesuai dengan rekomendasi tim nasional yang jelas dan tegas meminta pemisahan antara penyelenggara infrastruktur (penyelenggara multipleks) dengan lembaga penyiaran eksisting (konten). Telkom ataupun Broadband Multimedia. Solusinya adalah izin yang digunakan bagi penyelenggara infrastruktur (satelit / kabel) adalah penyelenggaraan jaringan tetap tertutup seperti Media Citra Indostar. Kesulitan implementasi UU Penyiaran sudah dirasakan pada saat penerapan perizinan lembaga penyiaran berlangganan yang menggunakan satelit yang dilakukan pada semester pertama tahun 2007. 25. implementasi TV digital untuk izin penyelenggaraan multipleks.32 Penyiaran Th. diusulkan untuk dilakukan melalui mekanisme seleksi beauty contest kepada penyelenggara jaringan tetap tertutup dengan kriteria sebagai berikut: • • memiliki infrastruktur dasar sebagai penyelenggara multipleks memanfaatkan seoptimal mungkin infrastruktur telekomunikasi 83 . lembaga penyiaran disyaratkan bidang usahanya hanya menyelenggarakan jasa penyiaran. Solusinya dari permasalahan ini adalah pemisahan antara penyelenggara jaringan telekomunikasi (multipleks) dengan penyelenggara konten (lembaga penyiaran). jumlah program / konten lebih banyak. maka diberikan izin sebagai penyelenggara jaringan tetap tertutup. satu wilayah layanan. Sedangkan izin lembaga penyiaran berlangganan diberikan kepada entitas yang berbeda yang dalam kasus di atas adalah Matahari Lintas Cakrawala.

Kepadatan frekuensi siaran radio FM dapat diatasi dengan implementasi Digital Audio Broadcasting (DAB). antara lain:    Kepadatan frekuensi siaran TV dapat ditanggulangi dengan implementasi TV Digital DVB-T. Diharapkan agar penggelaran jaringan multipleks DVB-T dan DAB “freeto-air” dapat dilaksanakan secepatnya.• • memberikan komitmen penggelaran jaringan infrastruktur dan pemasangan pemancar DVB-T dan DAB di seluruh wilayah Indonesia dalam jangka waktu secepat-cepatnya. berpotensi dapat dimanfaatkan untuk layanan mobile broadband.             84 . sehingga sejumlah permasalahan dapat diselesaikan. memberikan komitmen untuk membuka akses kapasitas infrastruktur kepada penyelenggara konten / lembaga penyiaran secara non diskriminasi dan akses terbuka. Pita frekuensi yang akan tersedia setelah proses migrasi TV siaran analog ke TV siaran digital yang selama ini tidak bisa digunakan (digital divident).

Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ada. Pada land mobile services yang menggunakan satu frekuensi. Frekuensi pada base stasion ditransmisikan pada daya pancar yang lebih tinggi untuk menyediakan wilayah jangkauan yang lebih luas. 85 . Biasanya.5 kHz dan 25 kHz. stasiun radio portable melakukan transmisi dan penerimaan pada frekuensi yang sama. jarak coverage maksimum base station ke unit mobile/portable maupun sebaliknya. Paragraf berikut ini menyediakan informasi mengenai kebijakan penetapan land mobile services dengan satu atau dua frekuensi di pita VHF dan UHF menggunakan channel spacing 12. transportasi. PENDAHULUAN Penggunaan spektrum frekuensi radio untuk penyelenggaraan komunikasi radio bergerak darat (land mobile services) menyediakan komunikasi dua arah antara titik tetap tertentu (misalkan base station) dan sejumlah unit transceiver bergerak (misalkan stasiun radio pada kendaraan atau stasiun hand-held portable). Sebagai contoh adalah komunikasi radio untuk taxi. melainkan hanya digunakan terbatas untuk kepentingan sendiri. pengamanan. base station melakukan transmisi dan penerimaan pada frekuensi yang berbeda. perminyakan. penggunaan frekuensi radio untuk komunikasi radio bergerak darat dapat digunakan oleh dua macam penyelenggaraan telekomunikasi. Pada land mobile services yang menggunakan dua frekuensi. Penetapan frekuensi dilakukan dengan memperhatikan kondisi penggunaan frekuensi eksisting yaitu parameter spasi kanal dan jarak antara base station. Sedangkan penyelenggara telekomunikasi khusus untuk keperluan sendiri yang menggunakan komunikasi radio bergerak darat pelayanannya tidak dapat dijual untuk umum. yaitu penyelenggara jaringan telekomunikasi bergerak terrestrial dan penyelenggara telekomunikasi khusus untuk keperluan sendiri. pertambangan dan sebagainya. Wilayah cakupan dari land mobile services dapat dibatasi pada wilayah tertentu.BAB – 5 KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM UNTUK SERVIS KOMUNIKASI RADIO BERGERAK DARAT 1. tidak diperlukan base station dan wilayah cakupan terbatas dalam beberapa kilometer. Penyelenggara jaringan bergerak terrestrial yang dimaksud adalah penyelenggara jasa radio paging dan jasa radio trunking yang pelayanannya dapat dijual kepada masyarakat.

Akan tetapi sistem analog terbaru dan/atau sistem digital menggunakan pengkanalan 12.0375 – 143.324 MHz di wilayah Jakarta dan sekitarnya telah dialokasikan untuk layanan Broadband Wireless Access (BWA) Multimedia. 457. remote sensing. 467.9 MHz Frekuensi 406. 156. Terdapat dua kelompok besar. penggunaan frekuensi untuk servis bergerak darat.8375-157.975 MHz dan 161. Pita frekuensi 450 – 457. tracking.5-470 MHz dialokasikan untuk kepentingan pertahanan. sehingga penyelenggara terkait harus mengembangkan produknya sendiri.294 MHz dan 310 .5 MHz dialokasikan untuk penyelenggara bergerak selular. ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA Alokasi spektrum frekuensi radio dan perencanaan pita komunikasi radio bergerak darat (land mobile services) di pita frekuensi VHF/UHF dapat dilihat pada tabel berikut ini :      Pita Pita Pita Pita Pita Frekuensi 137 – 144 MHz Frekuensi 148 – 174 MHz Frekuensi 230 – 328.5 dan 460 – 467. Keterangan rinci dapat dilihat pada Bab . Keterangan rinci bisa dilihat di Bab – 3 dokumen ini. komunikasi data.9 dokumen ini Pita frekuensi 430 – 438 MHz digunakan bersama sekunder untuk amatir radio dan 435-438 MHz untuk amatir satelit.7 dokumen ini Pada pita-pita frekuensi 156-156.05 MHz.8 dokumen ini Pita Frekuensi 287 .2. dsb.5 kHz. sehingga jauh lebih efisien. Pita frekuensi 438 – 450 MHz.6160. Walaupun pada pita frekuensi tersebut juga terdapat sejumlah aplikasi lain seperti radio paging. tiap Administrasi memberi prioritas untuk servis bergerak maritim (Lihat Footnote RR 5. SCADA. Keterangan rinci dapat dilihat pada Bab . dsb.226). Frekuensi dimaksud bukanlah frekuensi standard mass market untuk BWA multimedia. 86 .    Standar pengkanalan untuk sistem bergerak darat analog biasanya menggunakan pengkanalan 25 kHz. TV digital.7625 MHz.6 MHz Frekuensi 335. 160.5 – 460 MHz.575 MHz (2 meteran) diperuntukkan untuk Komunikasi Radio Antar Penduduk / Citizen Band.7 dokumen ini Pita Frekuensi 144 – 148 MHz diperuntukkan untuk Amatir Radio. Keterangan rinci dapat dilihat pada Bab .475-162. yaitu sistem trunking dan sistem two way radio.45 MHz.1 – 470 MHz Catatan:    Pita Frekuensi 142. Keterangan rinci dapat dilihat pada bab .4 – 399.

serta jangkauan layanan yang terbatas. Akan tetapi pada perkembangannya di Indonesia sistem trunking tidak berkembang. teknologi trunking analog mulai berkembang. gas bumi. Sistem trunking dimaksudkan untuk memberikan efisiensi penggunaan frekuensi yang jauh lebih efisien dibandingkan sistem two way radio. HT. maka tidaklah mengherankan industri trunking berada dalam keadaan kritis dalam tahun-tahun terakhir ini. Sejumlah penyelenggara jaringan telekomunikasi bergerak trunking baik publik maupun non publik (closed user group) diberikan izin dengan alokasi frekuensi sebagai berikut : 380 – 399. REGULASI TEKNIS DAN KONDISI OPERASI Terdapat satu regulasi teknis standar dan spesifikasi perangkat pemancar sistem telekomunikasi servis bergerak data yang telah ditetapkan oleh Ditjen Postel. yaitu:  KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 84/DIRJEN/1999 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT RADIO KOMUNIKASI SSB-HF/VHF/UHF Ketentuan teknis tersebut dapat di “download” di website Ditjen Postel pada bagian regulasi standardisasi.9 MHz. Kebanyakan diberikan untuk sistem two way radio baik untuk telekomunikasi antar terminal bergerak (portable. 3. pengguna harus dapat memecahkan masalah interferensi secara baik. 87 .Dari sisi penyelenggaraan telekomunikasi. pemberian izin frekuensi untuk servis bergerak darat ini lebih banyak diberikan kepada penyelenggara telekomunikasi khusus. dsb. Sebagai referensi dapat diambil pengaturan IDA Singapura mengenai kondisi operasi land mobile services sebagai berikut:   Tinggi antenna base station harus tidak melebihi 10 m untuk cakupan terbatas. 406 – 430. Dengan kondisi tersebut. Pengguna stasiun radio mobile pada frekuensi yang digunakan bersama harus menjamin bahwa tidak terjadi interferensi pada penyedia jasa komunikasi radio yang telah ada. Di sisi lain tidak ada kebijakan Ditjen Postel untuk menghentikan atau memberikan kriteria dalam pemberian izin radio konsesi (two way radio) ataupun penyelenggara telekomunikasi khusus terutama badan hukum. bilamana terdapat kebutuhan tertentu seperti bandara. karena harga terminal dan layanan relatif lebih mahal. perusahaan minyak. Dalam hal terjadi interferensi radio. taxi) maupun repeater (base station) untuk memperluas daya jangkauan. 806 – 825. Sekitar 10 tahun lalu. Terlebih kebanyakan model bisnis dari penyelenggara trunking ini baru akan mulai dikembangkan infrastrukturnya. serta 851 – 870 MHz. spesifikasi teknis alat dan perangkat servis bergerak darat sedang disusun. Sebagai catatan bahwa pada saat tulisan ini dibuat (Juli 2009).

1 SISTEM TELEKOMUNIKASI INSTANSI PEMERINTAH MENGGUNAKAN JARINGAN TELEKOMUNIKASI PUBLIK Sistem telekomunikasi instansi pemerintah dapat menggunakan jaringan publik memiliki kelebihan dan kekurangan yang dapat diuraikan sebagai berikut: 88 .   Kanal frekuensi tunggal (single) diberikan untuk land mobile services yang berdaya pancar rendah (contoh: daya pancar 5 Watt ERP atau kurang) untuk komunikasi portable handheld ke handheld di dalam wilayah tertentu. belum ada upaya untuk mengevaluasi perpanjangan izinnya. Biasanya penggunaan frekuensi ini dilakukan secara bersama-sama (shared use). Akhir-akhir ini Dirjen Postel memerintahkan untuk membuat suatu panduan dalam pemberian izin yang membatasi pemberian izin stasiun radio terutama bagi radio konsesi. Selain itu belum ada rencana pengkanalan frekuensi yang terdefinisikan dengan baik. tanpa pertimbangan kebijakan yang jelas. Kanal frekuensi ganda (dua kanal) juga dapat ditetapkan bagi jaringan komunikasi radio taxi dengan minimum 1 base station dan 150 mobile station KONDISI SAAT INI DAN USULAN PEMECAHAN 4. izin frekuensi diberikan tanpa suatu kebijakan perizinan yang jelas dan terdokumentasi dengan baik.: 4.1. penyelenggara telekomunikasi khusus badan hukum. baik untuk kepentingan pertahanan keamanan. Secara umum pengadaan sistem komunikasi (ICT) di instansi pemerintahan dapat dipenuhi dengan dua cara yg mempunyai kelebihan dan kekurangan. ataupun bagi kepentingan instansi pemerintah sipil. Mode operasi repeater dimungkinkan dalam kasus ini. Kondisi saat ini dalam pita frekuensi VHF/UHF untuk servis bergerak darat. Izin-izin lama seperti sistem two way radio dalam pita frekuensi trunking 806 – 821 MHz dan 851 – 869 MHz. Hal ini cukup menyulitkan dalam hal perencanaan frekuensi kembali (spectrum reforming) pita frekuensi servis bergerak darat terrestrial ini agar lebih digunakan dengan optimal. sesuai dengan ketentuan yang berlaku (PM.1 SISTEM KOMUNIKASI RADIO INSTANSI PEMERINTAH Salah satu pengguna signifikan servis bergerak darat adalah sistem komuniksi radio instansi pemerintah. Izin diberikan atas dasar administratif teknis. Biasanya penggunaan frekuensi ini dilakukan secara eksklusif. Kanal frekuensi ganda (dua kanal) biasanya ditetapkan pada daya pancar transmisi tinggi (misalnya maximum 25 Watt ERP) untuk land mobile services untuk wilayah jangkauan yang diinginkan relatif luas. yaitu dengan menyewa jasa / layanan penyelenggara publik atau mengoperasikan sendiri.18/2005). 4.

Hal ini seringkali dikeluhkan oleh sejumlah instansi pemerintah. HSDPA. maka penyelenggara telekomunikasi akan mengenakan tarif telekomunikasi normal dan bila tidak dikendalikan.2 SISTEM TELEKOMUNIKASI PEMERINTAHAN MENGGUNAKAN JARINGAN TELEKOMUNIKASI NON PUBLIK (CLOSED USER GROUP) Sistem telekomunikasi instansi pemerintah dapat menggunakan jaringan tersendiri (closed user group) di luar jaringan publik. tarifnya bisa membebani anggaran.1. Alternatif ini memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai berikut: KELEBIHAN: • • • QoS tidak terganggu kepadatan trafik pengguna jaringan telekomunikasi publik. dan dapat saling terhubung (interkoneksi) Memanfaatkan infrastruktur telekomunikasi yang ada. tidak perlu memikirkan biaya pengadaan dan pemeliharaan. terutama yang menggunakan solusi satelit. mudah. 4. sistem komunikasi publik putus. komunikasi bisa putus Bila infrastruktur rusak karena bencana. VPN (Virtual Private Network). • KELEMAHAN: • • • Pada saat trafik tinggi dalam keadaan darurat. Tanpa suatu pengaturan yang tepat.KELEBIHAN: • • • • Relatif lebih murah. Institusi pemerintah yang relevan. cepat dan efisien. “Redundancy” Multioperator. inefisien 89 . cukup pengadaan sewa jasa saja. MPLS. dan multi jaringan infrastruktur. teknologi GPRS. Push to Talk Over Cellular (PoC) bisa digunakan. lambat dalam implementasi. Tidak tergantung infrastruktur penyelenggara jaringan publik Tidak perlu menyediakan sewa layanan KELEMAHAN: • Relatif lebih mahal. Layanan dapat tercakup di seluruh wilayah Indonesia. Aplikasi teknologi berkembang pesat: QoS serta sekuritas bisa ditentukan.

biaya operasional dan pemeliharaan yang memadai tiap tahun. menggunakan jaringan publik. Dengan dana terbatas. tanpa mengurangi aspek-aspek keamanan maupun kerahasiaan.• • • • • Seringkali pengadaan barang masing-masing instansi berbeda. 90 . maka instansi pemerintah tersebut akan mendapatkan dukungan keahlian serta kompetensi para penyelenggara telekomunikasi publik akan sangat memudahkan instansi terkait untuk fokus di fungsi/konten/program dari sistem informasi dimaksud. dapat terjaga. Akan tetapi. MPLS. Institusi pemerintah yang terkait. seringkali memilih pilihan kedua. apalagi bila terdistribusi di banyak tempat. Push to talk Over Cellular. membuat/ membangun jaringan sendiri. dan juga menyiapkan sumber daya manusia. tanpa pemahaman konsep pengoperasional. Akibatnya pemborosan uang negara. sehingga kelangsungan layanan sistem informasi instansi pemerintah (termasuk pertahanan keamanan). Ini sudah terjadi di sejumlah instansi pemerintah bertahuntahun sampai saat ini. dengan pengadaan jasa. cakupan layanan diperkirakan terbatas. Sehingga instansi pemerintah hanya mengadakan “jasa”. Selain tidak direpotkan kegiatan operasional serta pemeliharaan. bukan “barang”. dengan berbagai alasan dan secara tidak langsung akibat peraturan pengadaan barang dan jasa di KEPPRES 80/2003. bukan pengadaan barang. Public Trunking. kerahasiaan. Seringkali sejumlah instansi pemerintah hanya “membeli barang/pengadaan barang” akan tetapi operasional dan maintenance tidak diperhatikan. dan bisa minta QoS (kualitas layanan) tertentu termasuk sekuritas. dsb. Proses tender yang dilakukan jadinya adalah pengadaan jasa penyediaan sistem komunikasi teknologi informasi. Perlu dipikirkan suatu bentuk kebijakan dan regulasi “public private partnership” antara penyelenggara jaringan publik dengan instansi pemerintah. yang dapat dijamin penyelenggara telekomunikasi publik dimaksud. sejumlah instansi pemerintah (pusat dan daerah). Teknologi sudah tersedia mulai dari VPN. dsb. pada kenyataannya. dibebani biaya pengadaan dan pemeliharaan Inventarisasi aset akan sangat merepotkan. Sebenarnya solusi yang paling efektif dan cepat adalah solusi pertama. organisasi. tidak terhubung satu sama lain Harus membangun infrastruktur telekomunikasi yang baru lagi. pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi yang komprehensif. VSAT.

Diprioritaskan hanya untuk fungsi-fungsi komunikasi yang bersifat mobile (bergerak) di operasional lapangan.3 JARINGAN KOMUNIKASI RADIO PEMERINTAH TERPADU Konsep yang diusulkan adalah konsep Government Radio Network yang terintegrasi. Walaupun demikian. seperti Tentara. sehingga efektif dan efisien dalam penggunaan frekuensi dan pembangunan infrastruktur (backhaul. di mana secara   91 . Termasuk fungsi-fungsi pertahanan. 4 940-4 990 MHz. antara lain:  406. dan menjadi jaringan komunikasi pemerintahan secara nasional dan terpadu.1. Kriteria jaringan radio pemerintah ini harus terpadu. karena menyediakan teknologi yang memberikan QoS dan sekuritas memadai sesuai permintaan. MPLS. Untuk alokasi frekuensi system telekomunikasi khusus bergerak instansi pemerintah GOVERNMENT RADIO NETWORK / PPDR bisa merujuk ketentuan Resolusi 646 WRC-03 sbb: • Public Protection and Disaster Relief (PPDR) – Resolution 646 (WRC-03): Region 3 : 406.1 – 430 MHz: saat ini masih banyak digunakan untuk two way radio dan radio trunking. dan 5 850-5 925 MHz. dsb). dsb). 440470 MHz.4. backbone. Virtual Private Network (VPN). 806 – 824 / 851 – 869 MHz: Public Radio Trunking: dan Private Radio Trunking ada beberapa two way radio. saling terhubung. terbuka bagi sejumlah fungsi instansi pemerintah. dan Keamanan yang meliputi perlindungan publik (polisi) dan penanganan bencana (Public Protection and Disaster Relief) Sedangkan fungsi-fungsi aplikasi komunikasi point-to-point atau point-to-multipoint dari suatu jaringan instansi pemerintah yg bersifat tetap (seperti kantor pusat ke cabang.1-430 MHz. sebaiknya menggunakan jaringan komunikasi publik yang disediakan baik secara leased line. penerapannya konsep GRN/PPDR di Indonesia harus hati-hati karena di pita-pita frekuensi tersebut masih ada pengguna eksisting. dsb. dilengkapi dengan SOP. 440 – 470 MHz: untuk alokasi frekuensi eksklusif pertahanan dan selular CDMA. dan sebagai frekuensi migrasi dari ribuan stasiun radio di 438 – 470 MHz yang tergusur oleh alokasi frekuensi eksklusif pertahanan dan selular CDMA. 806-824/851-869 MHz. yang perencanaan pelaksanaan dan pembiayaannya dilakukan bersama di bawah koordinasi Depkominfo.

Sebagai pelengkap jaringan komunikasi radio pemerintah tersebut. VHF. UHF 400 MHz. 92 . 457. 800 MHz. tidak ada repeater. Sistem komunikasi radio pertahanan dan keamanan. 4940 – 4990 MHz: potensi broadband PPDR. sharing uplink VSAT C-band dan juga sharing dengan microwave link 6 GHz lower band. Two way radio diganti dengan VPN Push to talk over Cellular atau jaringan telekomunikasi trunking publik menggantikan penggunaan radio konsesi two way radio. tidak diperpanjang lagi izinnya setelah masa ISR nya selesai dan diberi surat pemberitahuan 2 tahun sebelum izinnya berakhir.6 – 460 MHz. 467. non proteksi. bandwidth. perlu diidentifikasi infrastruktur yang telah terpasang dan diharapkan dapat diintegrasi satu sama lain.   Usulan kebijakan jangka menengah-panjang:  Akan dikurangi sedikit demi sedikit microwave link di bawah 6 GHz terutama untuk penyelenggaraan telekomunikasi khusus (Telsus) badan hukum dan radio konsesi two way di frekuensi HF. Untuk instansi-instansi pemerintah lainnya. non interferensi) yang akan diterapkan izin kelasnya. adanya microwave link di beberapa lokasi menyebabkan implementasi harus terintegrasi (tidak kasus per kasus) 5850 – 5925 MHz.  Sehingga secara bertahap dan konsisten. jangkauan terbatas. Status saat ini di Indonesia sebagai berikut:  Sistem komunikasi radio pertahanan (frekuensi khusus 438 – 450 MHz. dimungkinkan untuk didapatkan frekuensi-frekuensi baru yang bersih dan siap digunakan untuk berbagai aplikasi baru yang lebih efisien termasuk aplikasi PPDR. maka perlu disediakan sejumlah kanal frekuensi untuk digunakan bersama oleh semua masyarakat sepanjang standar operasionalnya dipatuhi (kanal.KOMINFO/10/2005 tentang pengaturan realokasi pita frekuensi untuk kepentingan komunikasi departemen pertahanan dan TNI.5-470 MHz) sesuai SKB MENHAN NO:81/KEP/M. power dibatasi.  bertahap dan selektif khususnya untuk telekomunikasi badan hukum tidak diperpanjang izin lagi sepanjang substitusi fungsi telah tersedia. termasuk interoperabilitas aplikasi dan standar prosedur pengoperasiannya.

bergantung kepada perkembangan trafik pelanggan penyelenggara dimaksud. dimana Depkominfo dapat memberikan panduan.Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut: 1) 2) Identifikasi semua Izin Frekuensi/Izin Stasiun Radio (ISR) telekomunikasi khusus instansi pemerintah. seperti Bankom (Bantuan Komunikasi. untuk selanjutnya dilakukan monitoring dan penertiban. melainkan kanal frekuensi. mitra komunikasi. Kebijakan penetapan alokasi frekuensi bagi penyelenggara trunking sebelum tahun 2005 adalah berdasarkan blok-blok alokasi frekuensi (misal 2 MHz). standar dalam pemilihan pengadaan jasa layanan telekomunikasi. Melakukan koordinasi dengan Bappenas untuk meninjau ulang Keppres 80/2003 tentang pengadaan barang/jasa khususnya layanan telekomunikasi. norma. khususnya dalam penanganan keamanan publik dan penanganan bencana (PPDR). Dibuat gugus tugas (task force) untuk mengimplementasikan konsep Government Radio Network secara terpadu dari unsur pertahanan. Sehingga pada tahun 2006 dan 2007 ini diputuskan untuk dilakukan penyesuaian “modern licensing” bagi penyelenggara jaringan trunking terutama dalam alokasi frekuensi yang digunakan. tidak mungkin diberikan izin alokasi pita frekuensi. yang telah beroperasi secara ilegal. serta organisasi-organisasi yang mengatasnamakan pertahanan/keamanan. keamanan. 3) 4) 4. agar dapat dibuat suatu perencanaan bersama. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN Berikut ini diuraikan identifikasi permasalahan regulasi teknis dalam servis bergerak darat terrestrial di Indonesia. Jumlah kanal frekuensi yang bisa diberikan. Padahal dalam sistem trunking analog. antara lain meliputi hal-hal sebagai berikut: 93 . maupun seluruh instansi pemerintah yg memiliki sistem jaringan komunikasi radio tersendiri saat ini.2 SISTEM KOMUNIKASI RADIO TRUNKING KONDISI EKSISTING: Alokasi trunking 800 MHz sesuai dengan tabel alokasi frekuensi adalah 806 – 824 MHz dan 852 – 870 MHz. karena tidak dapat digunakan kanal frekuensi yang bersebelahan di lokasi wilayah layanan yang sama. tidak lagi berbentuk blok pita frekuensi. Identifikasi dan monitor pendudukan frekuensi pertahanan keamanan.

Hal ini melanggar ketentuan bahwa Telsus hanya digunakan untuk keperluan sendiri. dengan jangkauan layanan terbatas di kota-kota besar saja ataupun tergantung dari proses tender dari perusahaan-perusahaan tambang/minyak di pedalaman. Terdapat sejumlah penyelenggara trunking yang tidak lagi menggunakan frekuensinya dan ada pula yang sudah habis masa berlaku ISR-nya. sebenarnya izin frekuensi dapat dikurangi secara bertahap khususnya untuk pengguna telekomunikasi khusus dan secara bertahap diarahkan untuk menyewa kepada penyelenggara telekomunikasi publik seperti penyelenggara trunking. Sesuai PM No. serta blok frekuensi tertentu untuk keperluan instansi pemerintah. Handy Talky atau untuk keperluan taxi yang hanya memperhatikan izin stasiun radio saja. 5. PERIZINAN DAN PERSYARATAN Sebelum tahun 1999 pada saat UU No. Banyak pemegang izin eksisting dan pemohon izin frekuensi land mobile services tersebut untuk keperluan kalangan bisnis terhadap sistem komunikasi radio yang menggunakan unit portable. 36 tahun 1999 tentang telekomunikasi. 16 KHz dan 12.5 kHz sehingga tercampur. Berdasarkan UU No. blok Telsus radio konvensional. 94 . Akan dilakukan pengelompokkan blok frekuensi tertentu misalnya blok khusus untuk Penyelenggara Jarintan Bergerak Trunking.     Pada pita alokasi trunking tersebut tidak ada batasan tentang pola pengkanalan frekuensi antara 25 kHz. Kecenderungan bisnis penyelenggara trunking kurang berkembang.18 tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi Khusus Instansi Pemerintah dan Badan Hukum. pemohon izin harus terlebih dahulu memiliki izin penyelenggaraan telekomunikasi khusus untuk keperluan sendiri dan kemudian dilengkapi dengan izin stasiun radio. 36 tentang Telekomunikasi diberlakukan. jaringan selular ataupun penyelenggara lainnya dan diharapkan akan mengembangkan jaringannya. karena seharusnya pengguna Telsus dapat menyewa kepada penyelenggara trunking. Terdapat keluhan dari beberapa penyelenggara jaringan radio trunking yang masih beroperasi agar Ditjen Postel tidak lagi mengeluarkan Izin Telsus (radio konsesi). penggunaan frekuensi radio untuk jaringan bergerak terrestrial bagi kepentingan sendiri hanya memiliki izin stasiun radio berdasarkan ketentuan radio konsesi. Adanya laporan dari penyelenggara trunking bahwa pengguna Telsus (Radio konvensional) ada yang menyewakan frekuensinya kepada pihak lain.

Deskripsi jaringan. Pemohon harus berusaha sebaik mungkin agar informasi yang diserahkan dalam permohonan izin akurat dalam segala aspek. Untuk aplikasi-aplikasi sistem komunikasi radio two way radio jarak pendek. akan diberlakukan izin kelas. Untuk land mobile services yang memerlukan kanal frekuensi tambahan. Rencana implementasi untuk jaringan yang diusulkan khususnya perkiraan tanggal untuk mulai dan penyelesaian konstruksi. termasuk rincian teknis dan operasional. pemohon diminta untuk menyatakan perubahan dari aplikasi awal yang diserahkan ke Ditjen Postel dan menyediakan informasi terkait yang membantu pembenaran alasan kebutuan penambahan kanal frekuensi. Jumlah unit mobile atau portable yang dilayani sejak awal pengoperasian jaringan. misalkan tujuan dari jaringan dan informasi lain yang mendukung kebutuhan jaringan yang diusulkan. Informasi berikut ini dibutuhkan dan dilampirkan pada formulir permohonan izin:      Alasan kebutuhan frekuensi radio untuk sistem land mobile services. Sedangkan khusus untuk terminal pelanggan yang terhubung dengan jaringan telekomunkasi trunking publik.Untuk menghindari kesalahan prosedur. non eksklusif. Frekuensi alternatif atau range frekuensi. 95 . saat ini sedang dikaji penerapan izin kelas pada penggunaan pita frekuensi 470 s/d 478 MHz untuk aplikasi seperti family radio dengan jarak jangkau terbatas. Semua izin pemancar base station ataupun repeater akan diberikan dalam bentuk izin stasiun radio. jika frekuensi yang diinginkan tidak tersedia. Setiap perubahan informasi dalam formulir izin harus segera diberitahukan kepada Ditjen Postel. dioperasikan tanpa proteksi dan tidak boleh menimbulkan interferensi. di masa yang akan datang permohonan izin harus dilengkapi pula dengan izin penyelenggaran jaringan telekomunikasi bergerak terestrial ataupun penyelenggaraan telekomunikasi khusus keperluan sendiri.

Sehingga sebetulnya perlu diatur protection ratio untuk kanal yang bersebelahan dalam suatu wilayah layanan yang sama ataupun yang berdekatan. Diperlukan sejumlah frekuensi yang berbeda untuk sistem komunikasi radio HF yang baik. Sehingga penetapan frekuensinya harus dilakukan secara hati-hati dan mempertimbangkan tidak hanya penggunaan frekuensi eksisting di dalam negeri tetapi juga pengguna frekuensi HF negara-negara lain yang sudah ternotifikasi di ITU. ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA 2.1 SISTEM KOMUNIKASI RADIO HF Pita frekuensi yang digunakan adalah pita frekuensi yang dalam tabel Radio Regulation terdapat alokasi primer Fixed Services. yaitu:    Sistem komunikasi radio HF Sistem komunikasi radio VHF/UHF Sistem komunikasi radio microwave link Paragraf berikut ini akan menyediakan informasi mengenai prosedur aplikasi. PENDAHULUAN Fixed services didefinisikan di dalam Radio Regulation ITU sebagai servis komunikasi radio antara titik-titik tertentu yang tetap yang juga meliputi sistem radio point-to-point serta point-to-multipoint digunakan untuk transmisi suara. 2. waktu ke waktu serta posisi pemancar dan penerima. Di Indonesia penggunaan sistem radio fixed services point-to-point atau pointto-multipoint dapat dibagi menjadi 3 kelompok besar. 96 . Untuk HF alokasi frekuensi berada di pita frekuensi 3 MHz s/d 30 MHz. kriteria penetapan frekuensi dan kondisi pengoperasian sistem radio fixed services point-to-point atau point-to-multipoint. Di mana pada pita frekuensi ini memiliki propagasi skywave yang dapat merambat jarak ribuan kilometer.6 KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM UNTUK SERVIS KOMUNIKASI RADIO TETAP TERRESTRIAL 1.BAB . Komunikasi radio HF menggunakan gelombang langit (skywave) yang bergantung pada kondisi ionosfir yang bervariasi dari siang dan malam. Pengkanalan frekuensi HF yang digunakan di Indonesia agak sedikit unik dan sempit yaitu 2.5 kHz. video dan informasi data.

bergerak maupun satelit (misalnya GSM-1800. Ditjen Postel menggunakan rujukan ITU-R Recommendation seri F sebagai referensi pengkanalan microwave link. Ditjen Postel akan menyediakan kanal frekuensi baru untuk migrasi sistem lama tersebut ke pita frekuensi lain selama memungkinkan. seperti terlihat pada tabel 20 berikut ini. Sebagai tambahan.2. IMT-2000. Dalam penetapan frekuensi microwave link. Penggunaan pita 1-3 GHz untuk microwave link lama yang terkena oleh alokasi sistem-sistem komunikasi radio yang baru seperti GSM-1800. akan sedikit demi sedikit dikurangi dan tidak diperpanjang izinnya lagi. sebelum masa izinnya berakhir tidak dapat dihentikan operasinya. 2. IMT-2000 maupun Satelit Broadcasting Cakrawarta-1. Rincian rencana pengkanalan microwave link (channeling plan) untuk beberapa rekomendasi ITU-R seri F dapat dilihat pada lampiran 4. Di masa yang akan datang.2 SISTEM KOMUNIKASI RADIO VHF/UHF Pita frekuensi yang digunakan mirip dengan pita frekuensi servis bergerak darat (Lihat Bab 5). untuk pita frekuensi yang belum digunakan hal tersebut diusahakan untuk dihindari. Satelit Broadcasting Cakrawarta-1). karena kebanyakan alokasi servis tetap dan bergerak adalah sama. Sejumlah pengguna microwave link yang telah beroperasi sejak awal tahun 1990-an pita 1-3 GHz. Pada beberapa kasus. bahwa pada pita frekuensi 1-3 GHz juga digunakan juga untuk sistem-sistem komunikasi tetap. Bila penyelenggara telekomunikasi sistem baru tersebut ingin segera mengoperasikan dan bersedia mengganti perangkat microwave link tersebut. WLL CDMA-1900. Sebagai konsekuensinya. seringkali Ditjen Postel menggunakan beberapa alternatif Annex untuk Rekomendasi ITU-R seri F tertentu. 97 . terutama di kota-kota besar. Karena itu Ditjen Postel secara umum tidak akan menetapkan izin baru bagi microwave link di pita 1-3 GHz tersebut. pita frekuensi ini sangat padat digunakan. Pita frekuensi di bawah 12 GHz umumnya digunakan untuk aplikasi radio-relay jarak jauh karena karakteristik propagasi yang mendukung.3 MICROWAVE LINK Sistem komunikasi radio microwave link beroperasi pada pita frekuensi radio sekitar 1 s/d 60 GHz.

425-7. 80.3 2. Annex 4 746. 7. PENGKANALAN MICROWAVE REKOMENDASI ITU-R Band (GHz) 1. 2 1098. Annex 1 385. 20 80 7 28 5 28 11. Annexe 4. Annex 3 386 386. 60.425 6.3 1. Annexe 4.7-11.725-8.2 3.5 (patterns) 14 10 1. 2. 60. 1.7-11. 14.725 7.7 10.9-2.4 2 Frequency range (GHz) 1.65 40. Annex 1 747.5 0. Annexes 1 et 2 387.68 10.7-11.18 20 (pattern) 28.75-13. 0.25. 28 0. 1.9-2.75 7. Annex 5 746. 7 28 20.25 (patterns) 40 67 60 80 19.5-10.65 90.5. 1.55-10. § 2 497 497. Annexe 3 387. § 3 746.5 (pattern) 14 29 10 (pattern) 90. Annex 2 383 383. § 1 Channel separation (MHz) 0.7-2.5. 1.6-4.75. 2. 7. Annex 2 387.2-12.85-6.8-4.69 1. 80 40. 5.5 12.5 2.25 12.9 5.5-2.5.11 7.7-2.7 12.7 3. 2.9-2.275 7.5 7. Annex 3 386. 4.25. 2 7. Annexes 1. Annex 1 1099. 30 28 10 (pattern) 40.425 5.7 10. 2.2 3.7-11.3 1.0 4. 3.3-10. Annexe 1 746.7 10.7 11.75-13.725-8.5.9-2.435-7.5 35 25.67 Recommendations ITU-R F Series 1242 701 382 283 1098 1098. Annex 3 747.7-12. Annex 3 746.74 14. Annex 1 384 384. Annexes 4 et 6 387.7-13.3-2. 1. Annex 2 1099 1099. Annex 1 386. 0.5.1.75 8. 12.4-5.3 1.5 7.54-4.11 6.662 29.425-7.53 1.725 7. 2. Annex 2 385.4-5.2 4.427-2.68 10. 60 40.9-8.3 1. 2.275 8.25 283 382 635 635. 3.68 10.5 98 .925-6. Annex 1 1243 LINK BERDASARKAN 4 5 L6 U6 7 8 10 11 12 13 2. 3.0 4.425-7.4-5. 14. Annex 2 386.2-8.25 12. 40.425-7. Annex 1 385 385. Annex 1 746. 3.35-1.0 4.TABEL 20.6-4.275-8.11-7.5 (patterns) 5. Annexe 4.5 (pattern) 29 14 3.29-2.4 10. 20 29.

Annex 2 Channel separation (MHz) 28. 2. 2.6 24.7 17. Annex 2 746.25-14.2-23. Annex 4 595.2 57. 2.5-29. 7.Band (GHz) 14 15 18 23 27 31 38 55 Frequency range (GHz) 14.5 (patterns) 140.7 17.5 3.5 160 220.5 36. 10.25-25.2-58. 56.5-29.7-19. 5.5 220.0-39. 2. Annex 3 595. 3.0-23. Annex 3 1100 1100.5 27. Annex 1 595.2 Recommendations ITU-R F Series 746.5 3. 110. 14. Annex 1 748 748. 28.5 24.5 (patterns) 112 to 3.2-23.5 25.5 50 112 to 3.25-58.25-14. 3. Annex 1 637.5. 7.6 21. 56. Annex 4 637. 3.5.2-23. 2. 2. Annex 3 749.7-19. 20.7-19. 1.35 14. 50 3. Annex 5 637.3 36.35 14. spesifikasi teknis alat dan perangkat servis bergerak darat sedang disusun.5 (patterns) 3.5. Sebagai catatan bahwa pada saat tulisan ini dibuat.5-15. 7.5 (patterns) 112 to 3. 7. Annex 1 749. 14 100 3.6-40.25 25. Annex 7 749 749. 3. Annexe 6 636 636. Annexe 1 636.5 54.5 38. REGULASI TEKNIS DAN KONDISI OPERASI Terdapat satu regulasi teknis standar dan spesifikasi perangkat pemancar sistem telekomunikasi servis bergerak data yang telah ditetapkan oleh Ditjen Postel.0-37. 2. Annex 2 595.5 20 28. Annex 1 1100. 28. Annex 3 637.25-57.5 112 to 3. 1. 27.7 17.5-15.5 27. Annex 2 749.5. 80. Annex 1 748 748 748.5.6 21.5.5-40. Annex 2 637.5 14.5 14.5 50 112 to 3.0 37.5 (patterns) 112 to 3.5 (patterns) 112 to 3.4-15.25-27. Annexe 5 746. 55.7-21.5 27.2 54.5 2.0-40.6 21. 14. 3. 40. 14.0 39.5 140.2 17. Annexe 2 595 595.75.6 21.5-26.5. 13.7-19.35 17. yaitu:   KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 84/DIRJEN/1999 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT RADIO KOMUNIKASI SSB-HF/VHF/UHF KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 193 /DIRJEN/2005 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT KOMUNIKASI RADIO MICROWAVE LINK Ketentuan teknis tersebut dapat di-download di website Ditjen Postel pada bagian regulasi standardisasi. 6 3.6 22. Annex 5 637 637.0-31.25 7.5 (pattern) 2.2-23.5 28.7-19.5 31.5.5.5 3.5. 99 .2-23.6 21.75 3.7 21.7 17.2-23.5 112 to 3.

harus dilakukan terlebih dahulu koordinasi frekuensi dengan negara lain. Untuk hubungan komunikasi radio dengan negara lain. PERIZINAN DAN PERSYARATAN Pemohon jaringan sistem radio fixed services point-to-point atau point-tomultipoint harus merupakan penyelenggara telekomunikasi yang telah memiliki izin di Indonesia dari Ditjen Postel-Depkominfo. Ketersediaan penetapan frekuensi tergantung dari hasil koordinasi tersebut. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. permohonan izin stasiun radio untuk komunikasi point-to-point dengan lingkup terbatas tidak perlu menyertakan izin penyelenggaraan telekomunikasi. Penggunaan data hasil riset propagasi ionosfir yang disediakan LAPAN. Oleh karena itu alokasi frekuensi yang 100 . sehingga dapat menjangkau negara lain.53 tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit pasal 22. 4. Hal ini perlu dilakukan mengingat penggunaan frekuensi HF yang dapat menjangkau ribuan kilometer. Untuk hubungan komunikasi radio yang dapat melintasi batas wilayah negara. perlu terlebih dahulu diadakan koordinasi frekuensi perbatasan dengan negara tetangga. istilah yang sering digunakan adalah radio konsesi. Pada alokasi frekuensi Fixed Services di VHF/UHF ini juga dialokasikan sharing dengan Mobile Services. Sehingga penetapan frekuensinya harus dilakukan secara hati-hati dan mempertimbangkan tidak hanya penggunaan frekuensi eksisting di dalam negeri tetapi juga pengguna frekuensi HF negara-negara lain yang sudah ternotifikasi di ITU. sebaiknya pengguna izin harus memiliki operator radio yang berpengalaman dan memenuhi kecakapan tertentu.4. khususnya penggunaan microwave link antara wilayah di Indonesia dengan negara tetangga seperti Malaysia. Selain itu penggunaan perangkat adaptif HF akan sangat berguna untuk memindahkan frekuensi kerja secara otomatis berdasarkan jadwal propagasi sehingga kualitas hubungan dapat ditingkatkan.2 SISTEM KOMUNIKASI RADIO VHF/UHF Pemanfaatan sistem komunikasi radio VHF/UHF banyak digunakan untuk penyelenggara telekomunikasi khusus untuk keperluan sendiri oleh badan hukum baik BUMN maupun perusahaan swasta. Sebelum UU No. adalah referensi yang berguna untuk pemanfaatan optimal penggunaan frekunsi HF yang berubah dari waktu ke waktu. Singapura.36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi ditetapkan. 4.1 SISTEM KOMUNIKASI RADIO HF Untuk komunikasi radio HF.

748. menyebabkan sangat padatnya penggunaan microwave link. antara lain: • perizinan • •  • Saat ini belum ada kriteria pembatasan permohonan izin microwave link yang terdokumentasi dengan baik. yang sebenarnya bisa dipecahkan dengan pengembangan fiber optic dalam kota dan selektif dalam pemberian izin microwave link. HDLP = 9. b (BW) = 27000 kHz. lembaga penyiaran.08.3 SISTEM KOMUNIKASI RADIO MICROWAVE LINK 4. bahkan untuk aplikasi pemohon telekomunikasi khusus atauyang tidak punya izin prinsip atau untuk kepentingan pemerintah. bahkan di kota-kota besar dan trend semakin meningkat. HDDP = 89. jaringan ataupun telsus. PSTN.655 Akibat pengembangan jaringan yang terpisah dari antar operator selular. Pada beberapa kasus pita frekuensi ini digunakan pula untuk penyelenggaraan telekomunikasi bergerak terrestrial seperti radio trunking dan radio paging yang memiliki wilayah layanan dan alokasi pita frekuensi eksklusif. Tidak akan ada kebutuhan fiber optic signfikan untuk mendukung konsep PALAPA RING maupun penggunaan sarana transmisi eksisting bersama. jika pita frekuensi tersebut sudah diberikan izin bagi penyelenggaraan telekomunikasi radio trunking dan paging. Ip = 0. Ditjen Postel tidak akan memberikan izin baru untuk izin stasiun radio untuk radio konsesi/ telekomunikasi khusus untuk keperluan sendiri tersebut. BHP Frekuensi = 0.digunakan dapat merujuk ke bab 3 dan bab 5 yang membahas komunikasi bergerak.24. Contoh BHP frekuensi Microwave link: Microwave Link 7 GHz (SHF) – Ib = 0. bila tidak ada kebijakan selektif bagi pemberian izin microwave link. p (EIRP) = 70 dBm.5 x ((Ib x HDLP x b) + (Ib x HDDP x p)) = Rp. 8. karena terlalu banyak menara yang didirikan. Tarif BHP frekuensi untuk microwave link relatif sangat murah (<10 juta per tahun untuk STM 1). 4.1 PERMASALAHAN Berikut ini merupakan identifikasi permasalahan microwave link yang perlu diselesaikan. menyebabkan “pemborosan” investasi.681. dsb.3. 101 .364. dapat mengajukan izin Seluruh penyelenggara jaringan (terutama selular) menggunakan microwave link untuk hubungan antara unit jaringannya (sentral-BSC-BTS).

HAPS. sehingga terus menerus diperpanjang. padahal terdapat perubahan teknologi dan alokasi frekuensi terutama di bawah 6 GHz. Kondisi eksisting microwave link untuk penetapan izin lama banyak yang tidak sesuai dengan rencana pengkanalan (channeling plan) yg saat ini diadopsi. untuk mendukung efisiensi pembangunan jaringan. untuk BWA. menyulitkan alokasi servis lain yang potensial seperti BWA. antara lain: • Pemberian prioritas bagi penyelenggara yang dapat diberikan izin microwave link. dsb. Selain itu terdapat sejumlah data teknis (misal lokasi) yang tidak tepat antara database dan kondisi lapangan. tidak sesuai dengan standar pengkanalan frekuensi ataupun tidak mendukung sharing infrastruktur / pembangunan fiber optic. Diusulkan kenaikan tarif BHP Frekuensi signifikan untuk microwave link sebagai faktor disinsentif bagi pengguna microwave link yang tidak sesuai dengan kebijakan perizinan seperti penggunaan frekuensi microwave link di pita frekuensi yang terkena alokasi frekuensi BWA < 6 GHz. Untuk kondisi selain itu. Pembatasan izin baru maupun perpanjangan izin microwave link atau sarana transmisi untuk mendukung kebijakan “infrastructure sharing” ataupun sebagai “redundancy” bagi pembangunan fiber optic pada waktu tertentu. sebagai persyaratan izin. sampai dengan jaringan fiber optic ataupun jaringan transmisi penyelenggara jaringan terdapat di daerah dimaksud.• • • • • Hampir semua alokasi fixed services di pita di atas 1 GHz digunakan microwave link. Kereta Api. • • • 102 . dan potensi terjadi pada kasus-kasus lainnya di masa depan. Umur ISR microwave link jarang dievaluasi. hanya untuk penyelenggara jaringan terutama yang bersedia memberikan kapasitasnya bagi pengguna lain. Selalu terjadi permasalahan migrasi/realokasi microwave link yang terkena realokasi frekuensi untuk teknologi baru seperti selular dan BWA yang sangat menyulitkan seperti kasus dengan PT.2 USULAN KEBIJAKAN Berikut ini disampaikan beberapa usulan kebijakan perizinan microwave link agar penggunaan frekuensi microwave link lebih efisien. 4. dan tidak ada kompensasi. mendukung kebijakan pembangunan fiber optic sebagai “redundancy”. Terdapat sejumlah laporan informal terjadinya interferensi microwave link di frekuensi yang ditetapkan.3. ISR diberikan sementara (bukan 5 tahun atau lebih).

5/55 3.65 20 7 29.7-19. 383 ITU-R F. Bagi ISR lama. 747 ITU-R F. LEBAR PITA DAN JARAK MINIMUM Frequency Range 5925-6425 MHz 6430-7110 MHz 7125-7725 MHz 7725-8500 MHz 10. Bila hasil verifikasi tidak sesuai dengan database.7-11. setelah masa ISR nya selesai secara bertahap.2-12. 636 ITU-R F.4-15.7 GHz 10.75-13. 637 Channel Width (MHz) 29. yang tidak sesuai dengan rencana kebijakan akan diberi masa transisi untuk pindah ke frekuensi lain yg sesuai atau tidak diperpanjang izin dengan menggunakan sarana transmisi alternatif.5/7/14/28 MICROWAVE Min.7 GHz 12. Pembuatan suatu kebijakan minimum distance bagi microwave link agar mendorong penggunaan frekuensi yang efisien. 746 ITU-R F. Misalnya bila ISR lama yang tidak sesuai dengan perencanaan baru ingin ngotot terus beroperasi. 384 ITU-R F. 386 ITU-R F. 387 ITU-R F. RENCANA PENGKANALAN FREKUENSI LINK.7 GHz 21. Path Length 20km 20km 20km 20km 15km 15km 15km 15km 10km 5km 2km 103 .35GHz 17. 595 ITU-R F.• • • Perlu adanya mekanisme quality control dari Balai Monitoring ataupun pihak lainnya untuk memastikan penggunaan microwave link sesuai dengan frekuensi yang ditetapkan. Kebijakan ini berlaku untuk ISR baru dan tidak diberlakukan “retroactive” terhadap ISR lama. dengan status sekunder dan membayar BHP frekuensi jauh lebih mahal (misal 100 x lipat).5-10. 385 ITU-R F. 497 ITU-R F.25 GHz 14. ISR dicabut. Pada tabel berikut ini disampaikan usulan rencana pengkanalan frekuensi microwave link TABEL 21.65 7/14 20 20 28 7/14/28 27. Usulan rencana pengkanalan frekuensi dan jarak minimum minimum distance terdapat pada Tabel 1 (diambil dari Referensi IDA Singapura).6 GHz   Channelling Plan ITU-R F.2-23.7 GHz 12.

Peraturan Menkominfo tersebut dapat di unduh di website Ditjen Postel.77/2003 tentang Komunikasi Radio Antar Penduduk. Organisasi yang merupakan wadah resmi bagi anggota Amatir Radio di Indonesia adalah Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI). di www.49/2002 tentang Amatir Radio dan Kepmenhub No. PENDAHULUAN Dalam istilah perundang-undangan telekomunikasi di Indonesia komunikasi radio amatir dan komunikasi radio antar penduduk (KRAP) dikelompokkan ke dalam penyelenggaraan telekomunikasi khusus untuk keperluan perorangan.postel.BAB .KOMINFO/8/2009 Tentang Penyelenggaraan Radio Antar Penduduk sebagai pengganti Kepmenhub tersebut. Kegiatan radio amatir adalah kegiatan latih diri saling berkomunikasi dan penyelidikan-penyelidikan teknik yang diselenggarakan oleh para amatir radio.38 tahun 2007 tentang pembagian kewenangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Ditjen Postel). karena izin bagi amatir radio dan Komunikasi Radio Antar Penduduk (KRAP) dilakukan oleh Dinas Perhubungan Pemerintah Daerah (Pemda). Organisasi yang merupakan wadah resmi bagi pemiliki izin komunikasi radio antar penduduk adalah Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI). maka seluruh proses perizinan kembali dilaksanakan oleh Ditjen Postel. Setelah melakukan pembahasan antara Ditjen Postel bersama-sama ORARI dan RAPI tentang perubahan Kepmenhub No. Akan tetapi sejak disahkannya PP No. 104 .7 AMATIR RADIO DAN KOMUNIKASI RADIO ANTAR PENDUDUK (CITIZEN BAND / CB) 1. penyelenggaraan telekomunikasi khusus perseorangan tersebut memiliki pengaturan yang unik.go.id di bagian Regulasi Frekuensi. Komunikasi Radio Antar Penduduk (KRAP) adalah Komunikasi Radio yang menggunakan pita frekuensi radio yang telah ditentukan secara khusus untuk penyelenggaraan KRAP dalam wilayah Republik lndonesia. Pelaksanaannya akan dilakukan secara bertahap. KRAP termasuk jenis penyelenggaraan telekomunikasi khusus untuk keperluan sendiri yang dimaksudkan untuk menampung potensi aspirasi masyarakat yang ingin menggunakan komunikasi radio antar penduduk. Sebelum bulan Juli 2007.q. Perkecualian diberikan pada perizinan amatir warga negara asing yang masih dikeluarkan oleh pemerintah pusat (c. maka pada bulan Agustus 2009 telah ditetapkan Peraturan Menkominfo Nomor: 33/PER/M.KOMINFO/08/2009 Tentang Penyelenggaraan Amatir Radio dan Peraturan Menkominfo Nomor: 34/PER/M. sebagai perwujudan asas dekonsentrasi.

Rincian alokasi spektrum komunikasi radio untuk amatir dapat dilihat pada lampiran 5.600 MHz dengan spasi alur 20 KHz.KOMINFO/8/2009 Tentang Penyelenggaraan Radio Antar Penduduk.2 ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA KRAP / CB Pita frekuensi yang digunakan mengambil alokasi untuk Fixed Services. Rincian alokasi spektrum serta pengkanalan untuk Komunikasi Radio antar Penduduk (KRAP) dapat dilihat pada lampiran 6. VHF.000 MHz sampai dengan 143. Usulan ini sulit dikabulkan. Pengaturan lebih rinci dapat dilihat pada Peraturan Menkominfo Nomor: 34/PER/M. LF. Saat ini alokasi UHF tersebut digunakan untuk kanal frekuensi selular NMT-470 di beberapa lokasi dan juga untuk kanal TV-UHF.960 MHz sampai dengan 27. Pada Kepdirjen Postel No. Terdapat usulan RAPI sebagai organisasi induk KRAP untuk menambah alokasi frekuensi HF 11 MHz dan frekuensi 430 MHz. Alokasi frekuensi untuk Amatir sangat luas meliputi frekuensi VLF. Dengan karakateristik amatir radio sebagai kegiatan riset. maka kegiatan amatir radio dapat menjadi landasan kuat bangkitnya industri dalam negeri dengan riset / ujicoba yang dilaksanakan oleh Amatir Radio Indonesia.415 MHz).2. 105 . Di Indonesia.410 MHz yang dibagi menjadi 40 kanal. dan lagi penggunaan frekuensi HF untuk penggunaan banyak orang secara non eksklusif dikhawatirkan dapat menimbulkan gangguan serius ke pengguna negara lain. 2. HF. Berdasarkan keputusan tersebut pada tahun 1998 alokasi frekuensi UHF tersebut dicabut.92 tahun 1994 juga dialokasikan KRAP untuk UHF (476. dan yang diizinkan pada pita VHF (Very High Frequency) untuk pelaksanaan penyelenggaraan KRAP adalah frekuensi radio 142.1 AMATIR RADIO Pita frekuensi yang digunakan adalah pita frekuensi yang dalam tabel Radio Regulation terdapat alokasi Amateur Services. Pengaturan lebih rinci dapat dilihat pada Peraturan Menkominfo Nomor: 33/PER/M. alokasi pita frekuensi yang diizinkan pada pita HF (High Frequency) untuk pelaksanaan penyelenggaraan KRAP adalah frekuensi radio 26. ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN 2.41 – 477.KOMINFO/08/2009 Tentang Penyelenggaraan Amatir Radio. mengingat telah terdapat pengguna eksisting. UHF bahkan SHF.

semua proses perizinan dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah c.3.q. maka semua pelaksanaan perizinan stasiun radio termasuk amatir radio dan Komunikasi Radio Antar Penduduk dilakukan oleh pemerintah pusat. Sedangkan mengenai kesesuaian dengan regulasi teknis. Izin Amatir Radio terdiri dari IAR (Izin Amatir Radio) dan IPPRA (Izin Penguasaan Perangkat Radio Amatir). maka Izin disederhanakan menjadi hanya Izin Amatir Radio (IAR) dan Izin Komunikasi Radio Antar Penduduk (IKRAP).33/2009 dan Permen Kominfo No.38 tahun 2007 sebagai pengganti PP No.q.25 tahun 2000. Pernyataan penguasaan perangkat komunikasi radio untuk Amatir Radio ditentukan melalui sertifikat kecakapan amatir radio (SKAR). Batasan-batasan operasional. 106 . diatur melalui regulasi sertifikasi dan standardisasi alat dan perangkat telekomunikasi yang berlaku. Sedangkan.49/2002 dan Permenhub No. Dengan diberlakukannya PP No. Sebagai catatan bahwa pada saat tulisan ini dibuat (Agustus 2009). Izin Komunikasi Radio Antar Penduduk (KRAP) saat ini terdiri dari IKRAP (Izin Komunikasi Radio Antar Penduduk) dan IPPKRAP (Izin Penguasaan Perangkat Komunikasi Radio Antar Penduduk). REGULASI TEKNIS DAN KONDISI OPERASI Terdapat sejumlah regulasi teknis.KOMINFO/08/2009 Tentang Penyelenggaraan Amatir Radio Peraturan Menkominfo Nomor: 34/PER/M. Permen Kominfo No.34/2009. maka proses perizinan dilakukan oleh Ditjen Postel dan UPT Balai/Loka Monitoring di setiap wilayah di Indonesia. yaitu: • • • Peraturan Menkominfo Nomor: 33/PER/M. PERIZINAN DAN PERSYARATAN Berdasarkan Peraturan yang lama (Permenhub No.33/2009 dan Permen No. Dengan diberlakukannya PP No.77/2003). spesifikasi teknis alat dan perangkat servis bergerak darat sedang disusun. alokasi frekuensi yang disediakan. Dengan berlakunya Peraturan baru.38/2007 dan Permen No. distribusi call sign semuanya terdapat dalam peraturan-peraturan tersebut di atas.KOMINFO/8/2009 Tentang Penyelenggaraan Radio Antar Penduduk Keputusan Dirjen Postel Nomor: 80/DIRJEN/1999 Tentang Persyaratan Teknis Perangkat Amatir Radio Ketentuan teknis tersebut dapat di download di website Ditjen Postel pada bagian regulasi standardisasi. Dinas Perhubungan.34/2009. standar dan spesifikasi perangkat pemancar sistem telekomunikasi amatir radio dan KRAP yang telah ditetapkan oleh Ditjen Postel. Ditjen Postel-Depkominfo. Sebelum Juli 2007. 4. c.

Demikian pula mengenai pengaturan serta penentuan kanal frekuensi untuk komunikasi radio penerbangan dilakukan bersama antara Ditjen Postel dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud). Sebelum izin stasiun radio untuk komunikasi radio maritim diberikan oleh Ditjen Postel. Penggunaan komunikasi radio maritim dan penerbangan untuk kepentingan pertahanan dan keamanan negara dikoordinasikan bersama antara Ditjen Postel. 107 . terlebih dahulu dibutuhkan rekomendasi dari Ditjen Perhubungan Laut-Dephub. Radiodetermination Services. Untuk frekuensi radio stasiun pantai. maupun frekuensi komunikasi radio penerbangan. Di Indonesia pengaturan serta penentuan kanal frekuensi dilakukan bersama antara Ditjen Postel dan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Ditjen Hubla). Radionavigation Services. Ditjen Hubla. terutama yang bekerja di HF yang dapat menembus batas negara. Ditjen Hubud-Departemen Perhubungan dan TNI. alokasi frekuensi untuk kepentingan komunikasi radio maritim dan penerbangan meliputi Aeronautical Mobile Services. Untuk hubungan komunikasi radio maritim internasional dikoordinasikan melalui ITU (International Telecommunication Union). Sebelum izin stasiun radio untuk komunikasi radio maritim diberikan oleh Ditjen Postel. Dalam Radio Regulation (RR) ITU-R. ITU telah memberikan dan menentukan penjatahan (allotment) kanal frekuensi untuk setiap negara. IMO (International Maritime Organization) maupun INMARSAT (Intenational Maritime Satellite). PENDAHULUAN Komunikasi radio untuk kepentingan maritim dan penerbangan merupakan komunikasi radio yang berhubungan dengan keselamatan transportasi melalui laut dan udara.8 KOMUNIKASI RADIO MARITIM DAN PENERBANGAN 1. Maritime Mobile Services. komunikasi GMDSS (Global Maritime Distress and Safety Services). Sedangkan untuk hubungan komunikasi radio penerbangan internasional dikoordinasikan melalui ITU dan ICAO (International Civil Aviation Organization). Departemen Perhubungan. terlebih dahulu dibutuhkan rekomendasi dari Ditjen Perhubungan Udara-Dephub. Radiolocation Service baik servis terrestrial maupun satelit. Departemen Perhubungan.BAB .

ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA KOMUNIKASI RADIO MARITIM Pita frekuensi radio yang digunakan adalah pita frekuensi yang dalam tabel alokasi Radio Regulation terdapat alokasi Maritime Mobile Services. Pengaturan perencanaan maupun penjatahan kanal frekuensi (allotment) diatur dalam Radio Regulation ITU sebagai berikut:         Article 5 .Special rules relating to the use of frequencies in Maritime Services Appendix 13 – Distress and safety communication Non-GMDSS Appendix 15 . Selain itu terbatasnya propagasi komunikasi MF atau VHF. Sistem komunikasi radio non GMDSS yang digunakan adalah:   Telegrafi kode Morse pada 500 kHz MF Radio-telephony pada frekuensi 2182 kHz atau 156. yang membatasi jangkauan dan kemampuan sistem SOLAS tersebut. Sehingga sampai waktu tersebut. maka setiap kapal laut yang akan berlayar ke luar negeri diharuskan dilengkapi dengan persyaratan GMDSS. Kelemahan sistem SOLAS ini adalah ketergantungan dan kebutuhan operator radio yang ahli dan menguasai kode morse. harus dilengkapi pesawat komunikasi radio untuk distress and safety (keselamatan dan marabahaya). setiap kapal laut yang memiliki bobot melebihi ketentuan tertentu (1600 grt).Frequencies and channel arrangement in the high frequency bands for maritime mobile services Appendix 18 – Table of transmitting frequencies in the VHF maritime mobile band Appendix 25 . Radionavigation Services.Frequencies for distress and safety communications for the Global Maritime Distress and Safety System (GMDSS) Appendix 17 . Maritime Mobile Satellite Services.Frequency allocations Article 51 . Berdasarkan kebijakan Ditjen Perhubungan Laut-Dephub.Conditions to be observed in the maritime services Article 52 . Mobile Services.2. untuk kapal laut melayani jalur domestik / dalam negeri diberi kesempatan sampai tahun 2009 sebagai masa transisi untuk melengkapi perangkat GMDSS.Provisions and associated frequency allotment Plan for coast radiotelephone stations operating in the exclusive maritime mobile bands between 4 000 kHz and 27 500 kHz Berdasarkan International Convention for Safety of Life at Sea (SOLAS 74 dan amandemennya). Dengan diberlakukannya persyaratan GMDSS (Global Maritime Distress and Safety System) sejak tahun 1999. 108 . masih dapat menggunakan perangkat yang memenuhi ketentuan SOLAS 74.8 MHz (Channel 16) VHF.

16 MHz.5 kHz) o Digunakan untuk komunikasi kode Morse 500 kHz untuk panggilan dan marabahaya (distress and safety) non-GMDSS o Frekuensi 518 kHz digunakan untuk Narrow Band Direct Printing (NBDP) broadcast ke kapal laut (NAVTEX). Kanal frekuensi dialokasikan dengan bandwidth 3 kHz untuk komunikasi telepon radio. 12579 kHz. Hanya sebagian kecil dari pitapita tersebut yang digunakan untuk komunikasi maritim bergerak. untuk operasi telepon radio (radio-telephony) dan telex baik untuk mode simpleks maupun dupleks untuk jangkauan menengah melalui propagasi groundwave. 6314 kHz.4 kHz untuk Digital Selective Calling (DSC)  4210 kHz. 6312 kHz. faksimili dan data baik untuk mode simpleks maupun dupleks untuk jangkauan jarak jauh melalui propagasi skywave.5 kHz untuk broadcast dari stasiun pantai dengan Narrow Band Direct Printing (NBDP)  3023 kHz. telex.5 kHz.5 kHz.5 kHz untuk Digital Selective Calling (DSC) HF band (3155 kHz s/d 27. 8 MHz. 6 MHz. 4125 kHz dan 5850 kHz untuk komunikasi SAR antara unit maritim dan penerbangan. 8416. Berikut ini adalah alokasi frekuensi yang digunakan untuk komunikasi maritim terrestrial:  MF band (435 kHz s/d 526. search and rescue (SAR) sehingga dapat dikoordinasikan untuk menjamin keselamatan pelayaran. 16804. tetapi dapat memberikan informasi tanda bahaya.8 MHz) o Kanal frekuensi dialokasikan dengan bandwidth 3 kHz. perangkat yang dapat dioperasikan oleh seseorang dengan pengetahuan komunikasi minimum. 12 MHz.5 kHz untuk Narrow Band Direct Printing (NBDP)  2182 kHz untuk radio-telephony  2187. MF band (1606. VHF band (156 s/d 174 MHz) o Kanal frekuensi dialokasikan dengan interval 12.5 kHz s/d 3. o Frekuensi yang digunakan untuk GMDSS adalah sebagai berikut:  2174.5 kHz. 22 MHz dan 25 MHz.Sistem GMDSS merupakan suatu sistem komunikasi yang dikembangkan untuk menyediakan pelaut suatu komunikasi global dan jaringan penentu lokasi. 22376 kHz dan 26100. 19680. 16806.5 kHz.5 kHz. Penomoran kanal dapat dilihat pada tabel berikut ini.577 kHz. 8414.5 kHz. o Frekuensi yang digunakan GMDSS adalah sebagai berikut:  4207.5 MHz) o Pita frekuensi ini dibagi menjadi pita-pita 4 MHz.    109 . 12.

30 156.70 161.35 156.725 156.40 Rx (MHz) 160.375 156.15 157.325 156.65 156.075 157.125 157.825 156.425 156.80 156.75 160.425 Rx (MHz) 160.025 o Catatan:  Ch.Ch 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Tx (MHz) 156.675 156.325 157.875 161.525 156.55 161.775 161.725 160.275 157.225 157.675 160.825 161.60 161.50 156.625 156.85 161.525 (kanal 70) digunakan untuk panggilan dan marabahaya (distress and safety) menggunakan Digital Selective Calling (DSC) 110 .90 156.875 160.50 161.90 161.825 160.175 157.40 156.20 157.  156.925 161.65 156.00 Ch 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 Tx (MHz) 156.95 162.425 156.25 157.025 156.075 156.025 157.25 156.925 156.85 156.60 156.575 161.75 adalah guardband untuk Ch.40 156.05 157.70 secara eksklusif digunakan untuk DSC  Ch.725 161.20 156.05 156.65 161.975 157.875 161.75 161.375 157.675 156.575 156.75 156.625 156.80 161.525 161.125 156.10 156.00 157.3 MHz (kanal 06) digunakan untuk komunikasi antara kapal laut dan pesawat terbang yang terlibat dalam operasi SAR.10 157.475 156.225 156.70 156.80 MHz (kanal 16) digunakan untuk panggilan dan marabahaya (distress and safety) internasional non-GMDSS  156.80 156.625 160.35 157.825 156.16 Frekuensi yang digunakan untuk GMDSS adalah sebagai berikut:  156.85 161.375 156.60 156.975 162.775 160.70 160.65 MHz (kanal 16) digunakan untuk komunikasi antar kapal laut yang terkait masalah keselamatan navigasi pelayaran.75 160.175 156.50 156.575 156.525 156.625 161.875 156.675 161.  156.925 156.55 156.15 156.76 secara eksklusif digunakan untuk NBDP  Ch.55 156.725 156.30 160.80 156.30 157.475 156.05 160.95 156.95 157.45 156.75 156.45 156.275 156.70 156.

uplink komunikasi satelit  9200 – 9500 MHz.Frequency allotment Plan for the aeronautical mobile (R) service and related information Rincian alokasi spektrum dan band plan Komunikasi Radio untuk keperluan Penerbangan dapat dilihat pada tabel 22 berikut ini. Radionavigation Satellite Services. downlink komunikasi satelit  1626. uplink akses satelit EPIRB (Emergency Position Indicating Radiobeacon)s. Mobile Satellite Services. radar maritim termasuk pengoperasian SAR dan transponder SART. Pengaturan perencanaan maupun penjatahan kanal frekuensi (allotment) diatur dalam Radio Regulation ITU sebagai berikut:     Article 5 . Radiolocation Services.1 MHz. Rincian alokasi spektrum dan perencanaan pita komunikasi radio untuk keperluan maritim dapat dilihat pada lampiran 7.Special rules relating to the use of frequencies Appendix 26 .o Pita frekuensi radio GMDSS lainnya  406 – 406. 111 .Provisions and associated Frequency Allotment Plan for the aeronautical mobile (OR) service Appendix 27 . 3.Frequency allocations Article 43 . Radiodetermination Services. ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA KOMUNIKASI RADIO PENERBANGAN Pita frekuensi radio yang digunakan adalah pita frekuensi yang dalam tabel alokasi Radio Regulation terdapat alokasi Aeronautical Mobile Services.  1530 – 1544 MHz.5 – 1645.5 MHz. Aeronautical Mobile (route) services.

TABEL 22. RINCIAN ALOKASI SPEKTRUM DAN BAND PLAN KOMUNIKASI RADIO PENERBANGAN NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 FREKUENSI 9-14 KHz 90-110 KHz 130-535 KHz 130-160 KHz 160-190 KHz 190-535 KHz 190-415 KHz 1800-2000 KHz 2850 – 22000KHz 2850-3025 kHz 3025-3155 kHz 3400 -3500 kHz 3900-3950 kHz 4650-4700 kHz 4700-4750 kHz 5480-5680 kHz 5680-5730 kHz 6525-6685 kHz 6685-6765 kHz 8815-8965 kHz 8965-9040 kHz 10005-10100 kHz 11175-11275 kHz 11275-11400 kHz 13200-13260 kHz 13260-13360 kHz 17900-17970 kHz 17970-18030 kHz 21924-22000 kHz 3023 KHz 5680 KHz 74. Komunikasi data dari ground ke ground . 10 11 12 13 SAR Penerbangan SAR Penerbangan Marker Beacon Pendaratan di bandara VOR (VHF Omni Directional Ring) . Digunakan secara eksklusif . MWARA:Major World Air Route Area. Komunikasi jarak jauh antara tower dan pilot (voice) .8-75. sudah banyak tidak digunakan lagi ***********Untuk Maritim*********** Alat di pasaran sudah tidak ada NDB Loran A      Komunikasi udara/darat .975 MHz SERVIS RNS RNS ARNS RNS ARNS ARNS ARNS RNS AMS AMS ( R ) AMS (OR) AMS AMS AMS ( R ) AMS (OR) AMS ( R ) AMS (OR) AMS ( R ) AMS (OR) AMS ( R ) AMS (OR) AMS ( R ) AMS (OR) AMS ( R ) AMS (OR) AMS ( R ) AMS ( R ) AMS (OR) AMS ( R ) AMS ( R ) AMS ( R ) ARNS ARNS CATATAN Omega: perangkat lama. Komunikasi antara bandara ke bandara seluruh Indonesia . RDARA:Regional and Domestic Air Route Area .2 MHz 108-117. Contoh: Pilot Internasional harus melapor meskipun hanya melintas Indonesia . ILS (Instrument Landing System) 112 . HF suara dan data . sudah banyak tidak digunakan lagi Loran-C: Perangkat lama. sudah banyak tidak digunakan lagi NDB (Radio Non-Directional Beacon) Perangkat lama.

Beacon ILS Glide path SAR satellite DME:Distance Measuring Equipment SSR:Secondary Surveilence Radar .NO 14 FREKUENSI 117. ELT:Emergency Location Transmiter .975-137 MHz SERVIS AMS ( R ) AMS ( R ) /mobile AMS ( R ) /mobile AMS ( R ) /mobile ARNS MSS ARNS ARNS 15 16 17 18 19 20 21 121. APP:Air Approach Control .5 MHz 123.4 MHz 406-406. Komunikasi Pilot ke Tower .5 MHz 2700-3300 MHz 4200-4400 MHz ARNS RLS/RNSS ARNS/RLS MSS MSS ARNS/RNSS/ MSS ARNS/RDS/M SS ARNS/RLS ARNS CATATAN Komunikasi Pilot ke Pilot . ELT:Emergency Location Transmiter . ACAS:Airborne Collision Avoidance System GNSS:Global Navigation Satellite system. Voice Frekuensi emergensi .5-1660. ADC:Air Drome Control (Landing Position) . ACC Frekuensi emergensi .   113 . harus bebas dari interferensi yang merugikan.1 MHz 243 MHz 328.5 MHz 1559-1626. maka akan dilakukan tindakan monitoring dan penertiban secara cepat dan tegas sesuai peraturan nasional dan internasional.6-335. Primer Surveilance Radar Satellite Communication Satellite Communication GNSS (Global Navigation Satellite System) GLONASS Surveilance Radar Radio Altimeter Catatan : AMS ( R ) AMS ( OR ) ARNS MSS RLS RNSS RDS : : : : : : : AERONAUTICAL MOBILE SERVICES (Route) AERONAUTICAL MOBILE SERVICES (Off Route) AERONAUTICAL RADIONAVIGATION SERVICES MOBILE SATELLITE SERVICE RADIOLOCATION SERVICES RADIONAVIGATION SATELLITE SERVICES RADIODETERMINATION SATELLITE SERVICES Penggunaan pita frekuensi untuk kepentingan maritim dan penerbangan terutama yang bersangkutan dengan keselamatan jiwa manusia. Jika ada pelanggaran penggunaan frekuensi radio yang mengganggu frekuensi radio untuk keselamatan penerbangan dan maritim.5 MHz 1610-1626. Voice Frekuensi emergensi .1 MHz 960-1215 MHz 1030 MHz 22 23 24 25 26 27 28 29 30 1090 MHz 1215-1260 MHz 1260-1400 MHz 1525-1559 MHz 1626. ACAS:Airborne Collision Avoidance System SSR:Secondary Surveilence Radar. ELT:Emergency Location Transmiter .

Fiber Optik. W-LAN. Layanan personal meliputi akses internet berkecepatan tinggi (256 kbps dan lebih) dan akses multimedia. Layanan yang dapat disediakan broadband meliputi layanan personal. Ethernet. layanan komersial.9 BROADBAND WIRELESS ACCESS (BWA) 1. Seringkali broadband dikatakan memiliki kemampuan “triple play” bahkan “four play” yaitu mampu menyediakan layanan internet kecepatan tinggi.KOMINFO/01/2009 tentang Penataan Pita Frekuensi Radio Untuk Keperluan Layanan Pita Lebar Nirkabel (Wireless Broadband). dsb. layanan pita lebar nirkabel (wireless broadband) adalah layanan telekomunikasi nirkabel yang kecepatan transmisi datanya sekurangkurangnya 256 kbps. Layanan Komersial di antaranya adalah e-commerce. teleponi. serta online radio. Broadband merupakan faktor teknologi fundamental yang memungkinkan transformasi ekonomi dan sosial serta merupakan faktor kunci (kritikal) bagi tingkat kompetitif suatu bangsa. dengan rincian sebagai berikut:  Infrastruktur Eksisting o DSL melalui jaringan akses tembaga (DSL over Copper loop) o Modem kabel melalui jaringan TV Kabel (Cable Modem over Cable TV network) o Akses Broadband Jalur Listrik (Power Line Broadband Access) Infrastruktur Baru o Fiber To The Home (FTTH) o Hybrid Fiber Coaxial (HFC) Infrastruktur Nirkabel o Wireless Access (FWA) / High speed WLL 114   . Modem Kabel. kapasitas tinggi menggunakan DSL. video on demand. Broadband Wireless Access (BWA) / Wireless Broadband dideskripsikan sebagai komunikasi data yang memiliki kecepatan tinggi. V-SAT.BAB . Mengacu pada Peraturan Menkominfo Nomor: 07/PER/M. interactive gaming. infrastruktur baru ataupun infrastruktur nirkabel. PENDAHULUAN Secara umum. music on demand. Definisi rentang kecepatan layanan broadband bervariasi dari 200 Kbps s/d 100 Mbps. Sedangkan layanan video dan hiburan meliputi tv siaran. layanan publik dari pemerintah. internet bagi perusahaan. layanan publik dari pemerintah terdiri dari antara lain e-governance. serta layanan video dan hiburan. e-education serta tele-medicine. Secara teknologi. implementasi broadband dapat menggunakan infrastruktur eksisting. Wireless Access. serta corporate internet. penyiaran (video dan audio) serta mobile.

c. secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua bagian. 470 – 860 MHz. ditetapkan dalam sidang WRC-2000.4 GHz.. ditetapkan dalam sidang WRC-1992. 2500 -2700 MHz. dan Mempercepat peningkatan teledensitas akses telekomunikasi dan informasi serta penyebaran layanan pita lebar nirkabel (wireless broadband) secara merata ke seluruh wilayah Indonesia.4 GHz.3-2. yang ditetapkan dalam sidang WRC-2007. 3.11). 2. ditetapkan oleh Wimax Forum. 2110 -2170 MHz). b.9 GHz. Pada sidang Radiocommunication Assembly (RA) ITU-R telah berhasil memasukkan standar Wimax supaya diakui menjadi standar IMT. WiMax (802.16). 1710 – 1920 MHz.7 GHz serta 5.20).4 – 3. yaitu:   Perencanaan pita frekuensi yang ditentukan berdasarkan peraturan radio internasional oleh sidang ITU sebagai seperti IMT (International Mobile Telecommunication).o o o Wireless LAN (Wi-Fi) (802. Memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.3-2. maka diperlukan penataan dalam hal penggunaannya yang diatur dalam Peraturan Menkominfo Nomor: 07/PER/M. 115 .7 GHz. Memberikan pedoman dalam penggunaan frekuensi radio untuk keperluan layanan pita lebar nirkabel (wireless broadband). Mendorong pertumbuhan industry telekomunikasi dan informatika nasional. d. ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA 2 Alokasi spektrum untuk Broadband Wireless Access (BWA). 2. Perencanaan pita frekuensi yang ditetapkan melalui standar IEEE maupun pita frekuensi yang non standar (propritary).KOMINFO/01/2009 tentang Penataan Pita Frekuensi Radio Untuk Keperluan Layanan Pita Lebar Nirkabel (Wireless Broadband) yang bertujuan untuk : a. yang belum ditetapkan sebagai standar ITU.4 – 4. I-Burst (802.8 GHz. Pita IMT-2000Advanced: 450 MHz. Beberapa pita frekuensi seperti 2.5 – 2. dsb V-SAT IMT-2000 (3G Mobile): HSDPA/ CDMA-EVDO Menginggat frekuensi wireless broadband merupakan frekuensi yang strategis dan fundamental. Contoh dari Perencanaan pita fekuensi yang didefinisikan secara internasional melalui ITU antara lain :    Pita IMTcore-band (1920 -1980 MHz. Pita IMT extended band ((WRC-2003) : 806 -960 MHz. 3. suatu forum industry penentuan standar Wimax.

Selain itu. maka standar perangkat BWA lama yang digunakan sejumlah penyelenggara belum menggunakan standar terbuka. izin penggunaan frekuensinya berdasarkan izin kelas.go. Akan tetapi pada prakteknya.Dalam Peraturan Menkominfo Nomor: 07/PER/M. 3. Dalam pekembangaannya. 9 Tahun 2009.7 GHz diwajibkan untuk melakukan migrasi ke pita frekuensi 3. 1.postel. Sejumlah penyelenggara yang telah mendapatkan alokasi frekuensi BWA tidak memanfaatkan spektrum frekuensi yang diberikan secara optimal. 7 Tahun 2009.4 GHz dan 5. NAP. Pemerintah c. Dengan diterbitkannya Permenkominfo No. penggunaan bersama/sharing antara operasional BWA eksisting dengan stasiun bumi sistem satelit (V-SAT) tidak dapat berjalan dengan baik.KOMINFO/01/2009 tentang Penataan Pita Frekuensi Radio Untuk Keperluan Layanan Pita Lebar Nirkabel (Wireless Broadband) telah ditetapkan pita frekuensi 300 MHz. kriteria serta komitmen pembangunan yang jelas. sesuai dengan semangat memajukan industri dalam negeri.7 GHz (ext-C band).8 GHz.3 GHz.5 GHz. pemberian izin alokasi frekuensi BWA yang eksklusif akan diberikan melalui proses seleksi. Izin penggunaan frekuensi tersebut berdasarkan izin pita frekuensi radio. artinya sistem BWA tidak boleh mengganggu dan tidak mendapatkan proteksi dari sistem satelit. KONDISI EKSISTING Beberapa permasalahan penggunaan frekuensi BWA di Indonesia yang ditemukan antara lain diakibatkan regulasi dan kebijakan serta pemberian izin sebelum tahun 2005 yang kurang tepat.id di bagian Regulasi Frekuensi.3 GHz dengan syarat dan ketentuan yang berlaku sesuai dengan Permenkominfo tersebut yang pengaturannya dapat diunduh di www.3 GHz dan 10.q Ditjen Postel telah mendorong penyelenggara BWA untuk memenuhi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) sesuai dengan Permenkominfo No. 116 . 2. permohonan izin baru BWA dengan menimbang pada ketersediaan spektrum frekuensi untuk layanan BWA sangat terbatas. penyelenggara jaringan tetap lokal berbasis packet switched & penyelenggara multimedia. Pada pita 3. Dengan telah ditetapkannya kebijakan regulasi dan perizinan. izin BWA diberikan dengan status sekunder terhadap sistem satelit. sehingga menyulitkan dalam implementasi pengembangannya. Izin penggunaan alokasi frekuensi BWA diberikan melalui mekanisme evaluasi kepada sejumlah penyelenggara telekomunikasi seperti kepada ISP. penyelenggara eksisting BWA di pita frekuensi 3.4 – 3. sesuai dengan regulasi yang berlaku.5 GHz. 3. tanpa ada suatu landasan kebijakan. Sedangkan untuk pita frekuensi 2. karena perkembangan teknologi BWA yang belum matang. Yang lebih menyulitkan lagi bahwa beberapa izin alokasi penggunaan frekuensi diberikan tanpa ada batasan yang jelas baik dari sisi wilayah cakupan izin maupun pita frekuensi yang digunakan.4 – 3. 2 GHz.

yaitu wilayah Bali dan Nusa Tenggara.Sejak awal tahun 2006. yaitu wilayah Kalimantan Bagian Timur. Zona 4. Dari masukan konsultasi publik tersebut. Zona 8. Zona 6. yaitu wilayah Papua. Pada bulan November 2006 disusun suatu draft white paper Penataan Frekuensi BWA dan juga dilakukan konsultasi publik. bulan Januari 2009 telah ditetapkan Peraturan Menkominfo yang dapat dilihat melalui website Ditjen Postel. Zona 2. 15 zone wilayah layanan tersebut yaitu:                Zona 1. yaitu wilayah Jawa Bagian Barat kecuali Bogor. Tanggerang dan Bekasi. Zona 12. Zona 11. Zona 13. yaitu wilayah Kepulauan Riau. Tujuan dari penataan frekuensi BWA sendiri secara ringkas dapat digambarkan sebagai berikut :     mempercepat peningkatan teledensitas akses telekomunikasi dan informasi serta penyebaran jasa internet kecepatan tinggi secara merata ke seluruh wilayah Indonesia membangkitkan pertumbuhan industri manufaktur dan riset telekomunikasi dan informatika dalam negeri. Depok. yaitu wilayah Kalimantan Bagian Barat. Ditjen Postel kemudian juga telah melakukan konsultasi publik dengan menerbitkan white paper ke dua tentang penataan pita frekuensi BWA pada medio Oktober 2008. vendor. Pada bulan Mei 2006 dan November 2006 dilakukan konsultasi publik dengan berbagai pihak terkait. Zona 3. yaitu wilayah Banten. Ditjen Postel berusaha menyusun kerangka kebijakan dan regulasi BWA secara komprehensif. Zona 5. yaitu wilayah Sumatera Bagian Utara. dsb.go. manufaktur. yaitu wilayah Maluku dan Maluku Utara. Zona 15. www.postel. yaitu wilayah Jawa Bagian Timur. Jakarta. Zona 9. penyelenggara eksising. pengoptimalan pemanfaatan spektrum frekuensi melalui pemberian izin pita dan pendistribusian wilayah layanan BWA menjadi 15 zone wilayah layanan BWA sehingga dapat mendorong penyebaran jaringan BWA. Bogor. Depok dan Bekasi. Zona 7. yaitu wilayah Jawa Bagian Tengah. mengenai BWA yang dapat memberikan landasan bagi industri telekomunikasi di tanah air. mendorong penggunaan standar BWA yang terbuka sehingga dapat memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat.id. 117 . yaitu wilayah Sulawesi Bagian Utara. yaitu wilayah Sumatera Bagian Tengah. calon pemohon. yaitu wilayah Sumatera Bagian Selatan. Zona 10. yaitu wilayah Sulawesi Bagian Selatan. Zona 14.

8 GHz 2. PERIZINAN DAN PERSYARATAN Pemegang izin alokasi frekuensi eksisting di pita 300 MHz. Selain itu juga akan disesuaikan alokasi pita frekuensi dan wilayah layanan yang diizinkan sesuai dengan standar yang ditetapkan.3 GHz Pita Penetapan Baru Standard Skema Perizinan Wilayah Layanan Frekuensi Izin 15 ZONE 15ZON E Per lokasi Proprietary: 7/8 MHz Bandwidth Netral : BW 5 MHz TDD.5 GHz.5 GHz. 3. PENATAAN FREKUENSI BWA Secara garis besar bahwa dalam penataan frekuensi BWA dibagi menjadi dua bagian besar.5 GHz dan 10. Penataan frekuensi BWA dan masa transisinya terdapat pada gambar 6 dan gambar 7. yaitu :   Penyesuaian perizinan bagi pemegang izin alokasi frekuensi eksisting yang dberikan sebelum Mei 2005. 2. akan diberikan hak pengelolaan frekuensi secara ekslusif di pita frekuensi dan wilayah layanan sesuai dengan Izin Stasiun Radio yang dimilikinya. Hal ini disebabkan karena pita frekuensi 5.3 GHz. PENATAAN FREKUENSI BWA Pita Penetapan Eksisting 300 MHz 1 5 GHz 2 GHz 3.5 GHz. Sedangkan bagi pemegang izin alokasi frekuensi eksisting di 5.0 GHz.5 GHz 5. 2x7 MHz FDD utk Netral :Maks TDD 20 MHz BW Netral : TDD Netral : TDD 5 MHz BW Izin Pita Izin per stasiun Izin Kelas Izin Pita 15ZON E Diperlukan Transisi Penyelenggara Eksisting 5.4. GAMBAR 6.4 GHz 2. 2. 1.3 GHz 10.8 GHz untuk layanan akses point-to-multipoint akan diberi waktu sampai dengan masa izinnya selesai.8 GHz akan diprioritaskan bagi penggunaan backbone / backhaul point-to-point dengan kriteria bahwa permohonan penggunaan frekuensi yang dimaksud akan 118 . Persiapan pemberian izin pita frekuensi BWA di pita frekuensi dan wilayah layanan yang belum diduduki. 3.

3 Penyesuaian Blok Frek/Teknis Penyelenggar a BWA Migrasi Frek Masa Transisi Skema BHP Izin Frek Untuk Izin Pita akan diberlakukan BHP Pita yang besarannya akan ditentukan kemudian (sedang dilakukan studi BHP ISR ke BHP Pita ATAU menyesuaikan dengan hasil lelang/price taker pita terkait di daerah lain dengan prosentase. MASA TRANSISI PENATAAN FREKUENSI BWA Pita BWA 300 MHz 1. backhaul. GAMBAR 7. Ditjen Postel telah melaksanakan Seleksi Penyelenggaraan Telekomunikasi Broadband Wireless Access (BWA) di Pita Frekuensi 2. maupun akses frekuensi itu sendiri. kesanggupan memberikan akses (open access) kepada penyelenggara lain secara non diskriminasi. tahap proses pelaksanaan.5 GHz 3.3 GHz Pengguna frek eksisting Penyelenggar a BWA Penyelenggar a BWA eksisting 3. terhadap fasilitas infrastruktur esensial termasuk di antaranya menara. Proses seleksi telah dilaksanakan secara fair. Persyaratan prakualifikasi standar tersebut meliputi antara lain. 6 bulan Pengguna frekuensi non BWA 2 tahun 1 tahun 2.4 GHz 5.dihubungkan dengan jaringan komunikasi publik pada titik tertentu dengan kapasitas lebih dari 40 Mbps. maka distribusi izinnya akan dilakukan melalui proses seleksi lelang dengan prakualifikasi. rencana pengembangan layanan standar ( roll-out plan ). Hasil dari kegiatan seleksi adalah sebagai berikut: 119 . transparan dan mendapatkan hasil yang memuaskan bagi negara dan masyarakat.5 GHz 2 tahun 1 tahun Masa laku ISR Pengguna frekuensi non BWA 2 tahun Untuk Izin ISR tetap diberlakukan BHP ISR sesuai dengan Untuk pita frekuensi dan wilayah layanan lain yang belum diduduki. Dalam proses pelaksanaan kegiatan tersebut terdiri dari 4 (empat) tahap yaitu tahap persiapan. Calon pemohon seleksi akan diminta untuk menandatangani dokumen prakualifikasi standar yang berisi kewajiban-kewajiban tertentu. tahap hasil lelang dan tahap pasca lelang.3 GHz pada tanggal 14 16 Juli 2009 menggunakan metode seleksi lelang elektronik (E-Auction).3 GHz Penyelenggar a BWA eksisting 3. serta kesanggupan menggunakan perangkat produk industri nasional yang memiliki tingkat komponen dalam negeri sesuai ketentuan.5 GHz 2 GHz 2. backbone.8 GHz 2.

pengembangan dan manufaktur telekomunikasi nasional.3 GHz terkait diwajibkan melakukan sinkronisasi waktu (TDD) dengan penyelenggara yang memiliki alokasi frekuensi bersebelahan o Dalam hal penyelenggara telekomunikasi yang memiliki stasiun radio (BTS) di daerah yang berbatasan dengan wilayan penyelenggara layanan BWA lainnya. diwajibkan menggunakan perangkat yang memiliki tingkat kandungan lokal memenuhi ketentuan Peraturan Menteri Perindustrian yang berlaku.3 GHz dimaksud di atas. 3. Khusus untuk BWA 2. Total Up Front Fee yang diperoleh adalah sebesar Rp 458.    Ditetapkan pemenang dari 2 blok yang dilelang pada 15 zona di seluruh Indonesia yaitu pemenang peringkat 1 dan 2. melalui beberapa metode sebagai berikut: o Dalam hal penyelenggara telekomunikasi yang mendapatkan izin alokasi BWA TDD di 2. dan Biaya Izin Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio Tahunan yang besarannya diambil dari hasil lelang peringkat kedua pada masingmasing zona. maka:  perbatasan zona wilayah layanan BWA didasarkan bukan pada wilayah administrasi saja melainkan wilayah unit standar di perbatasan 120 . Beberapa ketentuan tambahan yang perlu diperhatikan untuk penyelenggara BWA di pita 2 GHz.054. dengan frekuensi yang sama.3 GHz.000.00 (empat ratus tiga puluh empat milyar lima puluh empat juta rupiah) per tahun. 3. (1 derajat x 1 derajat dalam longitude/lattitude) Koordinasi antar penyelenggara BWA diperlukan untuk mencegah interferensi.000. Pemenang seleksi USO tersebut bila ingin menggunakan BWA 2.000. dan dibayarkan selama 10 (sepuluh) tahun masa laku izin. terdapat suatu kebijakan pemberian insentif bagi pemenang seleksi penyelenggara kewajiban layanan universal (USO) yang akan diberikan alokasi frekuensi 7 MHz di rentang 2380 – 2390 MHz di wilayah layanan telepon untuk pedesaan (WTUP) sampai dengan daerah kecamatan yang meliputinya.00 (empat ratus lima puluh delapan milyar empat ratus empat belas juta rupiah). 10.414.000. Hai ini dimaksudkan untuk mendorong bangkitnya industri riset.3 GHz.3 GHz. Wilayah zona BWA ditentukan berdasarkan suatu unit wilayah standar dengan luas sekitar 11 x 11 km2. Biaya Izin Awal (Up Front Fee) yang diperoleh dari masing-masing hasil lelang peringkat pertama dan kedua di masing-masing zona yang dibayarkan hanya pada tahun pertama. Total Biaya Izin Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio Tahunan adalah sebesar Rp 434. 2.5 GHz adalah sebagai berikut:    izin penggunaan frekuensi akan ditentukan pada 15 wilayah zona BWA standar yang ditentukan.3 GHz.

Artinya bahwa pemohon baru di wilayah-wilayah dimaksud harus membuktikan bahwa aplikasi izinnya tidak menimbulkan potensi gangguan terhadap pengguna frekuensi 5. Penerapan izin kelas di 5.   Sedangkan batasan teknis penggunaan frekuensi 2. vendor. Kebijakan Perizinan dan Ketentuan Teknis Wireless Data 5. termasuk manufaktur. Pemohon baru tidak perlu lagi mengajukan izin stasiun radio secara prosedur aplikasi ISR biasa. setelah diskusi cukup banjang dengan berbagai pihak terkait.8 GHz akan ditetapkan menjadi izin kelas secara bertahap.4 GHz dan 5.4 GHz untuk akses internet yang diberlakukan untuk izin kelas (bebas dipakai untuk teknologi tertentu dengan syarat. polarisasi. maka Ditjen Postel akan segera melengkapi regulasi ketentuan teknis dengan mengkaji referensi 121 .8 GHz. tanpa proteksi dan tidak boleh menimbulkan interferensi. serta beroperasi sesuai dengan batasan teknis yang ditetapkan. meliputi antara lain :  Penggunaan frekuensi 5. 2/2005). Pemasangan BTS ditentukan sedemikian rupa sehingga besar kuat medan / level sinyal penerimaan di wilayah yang bersebelahan tidak boleh melewati batas maksimum emisi tertentu Penyelenggara telekomunikasi dimaksud dianjurkan untuk melakukan sedapat mungkin teknik pencegahan interferensi meliputi diskriminasi antena. shielding/blocking. pengaturan antena.8 GHz yang seringkali menjadi polemik. paling lambat bulan Januari 2011.2/2005 ttg penggunaan 2.8 GHz eksisting tetap dapat menggunakan investasi perangkat eksisting dan mengembangkan di wilayah layanan sesuai dengan ketentuan surat persetujuan alokasi frekuensi yang dimilikinya.4 GHz dimaksudkan untuk menyesuaikan persyaratan seperti pada Kepmenhub No. perlengkapan sudah terspesifikasi seperti pada KM No. narasumber / expert maupun berbagai asosiasi industri. Izin kelas berarti bahwa pengguna frekuensi radio 5.8 GHz eksisting mendapatkan prioritas sampai dengan Januari 2011. pemilihan lokasi pemancar atau pengendalian daya pancar. maka diusulkan kebijakan perizinan dan ketentuan teknis untuk kedua penggunaan frekuensi dimaksud.8 GHz digunakan secara bersama-sama.8 GHz eksisting yang telah mendapatkan surat persetujuan alokasi frekuensi. Pengguna frekuensi 5. Untuk pita-pita frekuensi lain yang belum diatur.  Mengenai penggunaan frekuensi 2.8 GHz tersebut tidak berlaku untuk wilayah yang telah ada pemegang surat alokasi frekuensi yang ditetapkan Ditjen Postel sebelumnya. Setelah waktu tersebut penggunaan frekuensi 5. melainkan cukup menggunakan perangkat yang sudah disertifikasi / type approved oleh Ditjen Postel.

sejumlah negara.3 GHz untuk keperluan layanan pita lebar nirkabel (wireless broadband) sebagai berikut : TAHUN PEMBAYARAN Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5 Tahun 6 Tahun 7 Tahun 8 Tahun 9 Tahun 10 PEMBAYARAN IPSFR TAHUNAN TOTAL PEMBAYARAN UP-FRONT FEE 1 X HP 0 X HP 0 X HP 0 X HP 0 X HP 0 X HP 0 X HP 0 X HP 0 X HP 0 X HP 1XHL 1X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1XHP + 1XHL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 122 . Konsisten dengan kebijakan penerapan BHP frekuensi radio di penyelenggara selular. 6. Secara garis besar. maupun rekomendasi Telecommunity) yang terkait. BHP FREKUENSI RADIO ITU serta APT (Asia Pacific Penetapan tarif BHP untuk layanan BWA berbasis per Izin Stasiun Radio (ISR) yang besarannya berbeda-beda antara teknologi yang satu dengan teknologi lainnya cukup menyulitkan untuki dimplementasikan dan juga tidak mendorong penyelenggara untuk mengembangkan jaringannya sesegera mungkin.3 GHz telah ditentukan mekanisme pembayaran BHP spektrum frekuensi radio untuk biaya izin awal (up front fee) dan untuk biaya izin pita spektrum frekuensi radio (IPSFR) tahunan pemenang seleksi penyelenggaraan jaringan tetap lokal berbasis packet switched yang menggunakan pita frekuensi radio 2. proses migrasi dan pengenaan BHP Frekuensi Radio untuk penyelenggara layanan BWA dapat dilihat pada Gambar 5 dan 6 di atas. Untuk sementara. maka akan dikenakan BHP pita frekuensi radio secara bertahap. Khusus untuk BHP Pita penyelenggara 2. maka untuk kasus BWA yang memiliki izin pita frekuensi radio secara eksklusif di suatu wilayah layanan tertentu.8 GHz akan dikenakan BHP Frekuensi ISR sesuai dengan ketentuan yang berlaku. penggunaan frekuensi point-to-point dengan menggunakan frekuensi 5.

123 .postel.3 GHz PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 7/KEP/M.id di bagian Regulasi Telekomunikasi dan/atau Frekuensi.go.KOMINFO/1/2009 TENTANG PENATAAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 167/DIRJEN/2002 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT BROADBAND WIRELESS ACCESS PADA FREKUENSI 10 GHZ PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 94/DIRJEN/2008 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI SUBSCRIBER STATION BROADBAND WIRELESS ACCESS (BWA) NOMADIC PADA PITA FREKUENSI 2.Ditjen Postel.3 GHZ PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 9/KEP/M.8 GHZ PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 8/KEP/M. REGULASI TERKAIT PENATAAN FREKUENSI BWA Terdapat sejumlah regulasi terkait penataan frekuensi BWA yang telah ditetapkan oleh Depkominfo .Keterangan: HP = Harga Penawaran Peserta Pemenang Lelang per blok 1 X 15 MHz HL = Hasil Lelang per blok 1 X 15 MHz (diambil dari harga penawaran pemenang lelang kedua pada setiap Zona Wilayah Layanan) 7.3 GHz PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 96/DIRJEN/2008 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI ANTENA BROADBAND WIRELESS ACCESS (BWA) NOMADIC PADA PITA FREKUENSI 2.3 GHz         Semua regulasi tersebut dapat diakses melalui website Ditjen Postel.6 GHz KE PITA FREKUENSI RADIO 3.KOMINFO/6/2009 TENTANG PENETAPAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL PADA PITA FREKUENSI RADIO 2 GHZ PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 27/PER/M.KOMINFO/1/2009 TENTANG PENETAPAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) PADA PITA FREKUENSI RADIO 3.KOMINFO/6/2009 TENTANG PENETAPAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL PADA PITA FREKUENSI RADIO 5.3 GHz DAN MIGRASI PENGGUNA FREKUENSI RADIO EKSISTING UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) DARI PITA FREKUENSI RADIO 3.4 – 3. antara lain sebagai berikut:    PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 26/PER/M.3 GHz PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 95/DIRJEN/2008 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI BASE STATION BROADBAND WIRELESS ACCESS (BWA) NOMADIC PADA PITA FREKUENSI 2.KOMINFO/1/2009 TENTANG PENETAPAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) PADA PITA FREKUENSI RADIO 2. www.

Satelit ini dioperasikan oleh PT. Indonesia meluncurkan beberapa seri satelit seperti satelit Palapa seri B. Satelit ini merupakan kerjasama dari PSN Indonesia dengan Mabuhay-Philipina. relay TV serta penyiaran DTH (Direct-to-Home). Satelit FSS (Fixed Satellite Services) Palapa Pacific-C/Ku 146E (146E) yang lebih dikenal dengan Mabuhay. Satelit ini memberikan layanan DTH (Direct-to-Home) menggunakan 5 transponder S-band. Saat ini Indonesia memiliki 5 satelit telekomunikasi operasional yang didaftarkan melalui Administrasi Telekomunikasi Indonesia. PENDAHULUAN Sistem komunikasi satelit telah digunakan di Indonesia untuk menyambungkan lebih dari 17 000 pulau di Indonesia sejak September 1969. Satelit ini memberikan layanan telekomunikasi internet serta relay TV. Pada tahun 1976. internet. Satelit ini dioperasikan oleh PT.7E) yang lebih dikenal dengan Cakrawarta. Satelit FSS (Fixed Satellite Services) Palapa C-2 (113E) yang memiliki daerah cakupan Asia Tenggara menyediakan 24 transponder C band. satelit Cakrawarta. dan sebagainya. Garuda. Sejak itu. Satelit ini beroperasi di L-band. Satelit ini dioperasikan oleh PT. PSN. ketika Indonesia pertama kali terhubung dengan satelit Intelsat. 6 transponder ext-C band dan 4 transponder Ku-band. Telkom memberikan layanan telekomunikasi.BAB . satelit Indonesia pertama yaitu Palapa A diluncurkan sebagai sistem komunikasi satelit domestik (SKSD) yang memberi layanan telekomunikasi serta relay TVRI. seri C. yaitu:  Satelit FSS (Fixed Satellite Services) Palapa Telkom-1 (108E) yang memiliki daerah cakupan Asia Tenggara menyediakan 24 transponder C band dan 14 transponder ext-C band.      124 .10 PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI SATELIT 1. Satelit MSS (Mobile Satellite Services) Garuda-1 (123E) yang memiliki daerah cakupan Asia Pasifik menyediakan layanan sistem telekomunikasi bergerak berbasis GSM melalui satelit (ACeS) lewat layanan BYRU serta aplikasi fixed melalui PASTI. Sistem ACeS tersebut dipelopori oleh joint venture dari 3 perusahaan. Telkom memberikan layanan telekomunikasi serta relay TV. PSN memiliki saham minoritas kepemilikan transponder di satelit tersebut. Satelit FSS (Fixed Satellite Services) Palapa Telkom-2 (118E) yang memiliki daerah cakupan Asia Tenggara menyediakan 24 transponder C band. Satelit BSS (Broadcasting Satellite Services) Indostar-1 (107. Satelindo kecuali 6 transponder ext-C band dioperasikan oleh PT. yaitu PSN Indonesia. PLDT-Philipina dan Jasmine-Thailand.

serta adanya perusahaan di Indonesia yang mengajukan izin prinsip sebagai penyelenggara telekomunikasi yang memanfaatkan akses satelit tersebut. Panamsat. Saat ini bisa dipastikan jumlah tersebut telah bertambah. ST-1. Indonesia menyewa sekitar 40 transponder dari satelit asing karena persediaan dalam negeri sudah hampir penuh. Pada tahun 2006. Selain satelit-satelit telekomunikasi. 2. Untuk kebutuhan siaran langsung (live) bagi kebutuhan penyiaran yang menggunakan SNG (Satellite News Gathering). GPS. Satelit-satelit global seperti NOAA. inderaja (penginderaan jauh).Sejumlah satelit asing seperti New Skies Satellites. Asiasat. Landing right sebaiknya diberikan dengan memperhatikan aspek kesamaan perlakukan terhadap satelit Indonesia di negara asal satelit asing tersebut. penyelesaian koordinasi frekuensi dan koordinasi satelit dengan Indonesia. yaitu:   Planned Band Unplanned Band Planned Band yaitu pita frekuensi untuk satelit yang telah diatur sedemikian rupa oleh ITU agar setiap negara mendapatkan jatah slot orbit. seperti satelit Intelsat yang dioperasikan oleh Indosat. Walaupun demikian. kanal frekuensi transponder satelit dengan cakupan dibatasi pada wilayah teritorial 125 . disyaratkan hanya boleh menggunakan akses ke satelit Indonesia atau satelit asing yang telah memiliki landing right di Indonesia. Mabuhay. Dilihat dari aspek regulasi. dan lain sebagainya. ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA Berdasarkan Radio Regulation ITU. juga dapat mencakup Indonesia dan memberi layanan untuk penyelenggaraan internet maupun DTH. kebijakan pemerintah saat ini adalah bahwa setiap penggunaan satelit telekomunikasi asing di Indonesia harus mendapatkan landing right (hak labuh) dari Ditjen Postel. terdapat dua kelompok pita frekuensi untuk satelit. meterologi dan geofisika. penyelenggaraan telekomunikasi satelit dapat dibagi menjadi beberapa kelompok. Penyelenggara jaringan bergerak satelit (Mobile Satellite Services) Penyelenggara jasa Network Access Provider (NAP). Measat. pemetaan. yaitu:    Penyelenggara jaringan tetap tertutup (leased line) baik bagi penyelenggara satelit maupun penyelenggara VSAT atau Stasiun Bumi. Thaicom. GALILEO banyak digunakan unuk kepentingan-kepentingan tersebut. Chinasat. GLONASS. sebenarnya Indonesia pun memanfaatkan satelit-satelit lain untuk kepentingan navigasi.

84 11785. Pengaturan kanal frekuensi BSS Planned untuk service link (Earth-to-space) ditetapkan oleh appendiks 30 Radio Regulation-ITU sebagaimana dijelaskan pada tabel 23 berikut ini. 38. 12.88 12322. PENGKANALAN FREKUENSI SERVICE LINK BSS PLANNED BAND Channel No.82 Channel No.1 GHz.16 12245.2 GHz.2 GHz dapat dilihat pada Tabel 24 berikut ini. 6. 15. 34.20 11823. 13. 17. 8.44 12168. serta slot orbit 104E untuk beam Indonesia Timur mencakup pulau Bali. Indonesia mendapatkan jatah slot orbit 80.3 – 18.30B). Untuk region 3 alokasi pita frekuensi yang digunakan untuk service link adalah 11. 18. 21. 5. 11.24 12360.7 – 12.30 DAN APP.negara tersebut.62 12187.30A) serta FSS Plan (App. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Assigned frequency (MHz) 11727.42 126 . Sulawesi.48 11746. 14.52 12283. Maluku dan Irian Jaya.92 11900.02 11804. TABEL 23.80 12206. 3. 35.30A APP30 Posisi Orbit 80. Sedangkan. 21. 23 2. 20. Pada BSS plan.7 – 12. 39 30. 9. 10. 37.74 11880.26 12149. 5. 32. Sedangkan pengaturan kanal frekuensi feeder link ditetapkan melalui Appendix 30A Radio Regulation.56 11861. 17.2 104 Adm INS INS INS Beam Name Jenis Polarisasi INSA02800 CR INSA03501 CL INSA03502 CR Channel 1. 16. Sumatera dan Kalimantan. 13. 11. 3.70 12302.98 12226. PENJATAHAN KANAL FREKUENSI DAN SLOT ORBIT BSS PLAN INDONESIA BERDASARKAN RR APP.38 11842. 24 TABEL 24.2E untuk beam Indonesia Barat mencakup pulau Jawa. 7. 23 29. 7.08 12130. 15. pengkanalan frekuensi untuk service link BSS Planned Band Appendix 30 Radio Regulation Region-3 di pita frekuensi 11.66 11765.06 12341. 40 Adm Beam Name Jenis Polarisasi INS INSA100 CR INS INSA100 CL Channel 1.64 11976. 33. 31.10 11919. Nusa Tenggara. sedangkan alokasi pita frekuensi feeder link adalah 17. 22. 9. 19.30 dan App. 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 Assigned frequency (MHz) 12111. Terdapat dua macam Planned Band yaitu BSS Plan (App. 4.28 11938. 19. 36.34 12264.46 11957.2 104 104 APP30A Posisi Orbit 80.

92 17 500.84 17 385. 12. TABEL 25.60 17 998.98 17 826.50 Pengkanalan frekuensi untuk feeder link BSS Planned Appendix 30A Radio Regulation untuk Region-3 dapat dilihat pada Tabel 25 berikut ini.45 GHz (downlink).26 17 749.00 17 615.p density satelit maupun stasiun bumi Planned Band Appendix 30B dapat dilihat pada lampiran 8.44 17 768.38 17 442.52 17 883.95 GHz.75 . Pengaturan rinci mengenai beam.4 800 MHz (downlink) dan 6 725 and 7 025 MHz (uplink).24 17 960.62 17 787. Indonesia mendapatkan satu jatah slot orbit yaitu di 115.16 17 845.90 Channel No.46 17 557.78 12417. Ku-band relatif jarang digunakan karena redaman hujan propagasi terlalu tinggi di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara subtropis.r.25 GHz (uplink). Appendix 30B.80 17 806.34 17 864. e.70 .00 12015.20 .10. PENGKANALAN FREKUENSI FEEDER LINK BSS PLANNED BAND Channel No.11.48 17 346.14 12456.18 Channel No.28 17 538.13.70 17 902. 10.10 17 519. 11.64 17 576. 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Assigned frequency (MHz) 17 711.74 17 480.20 17 423. Berikut ini adalah alokasi pita frekuensi planned band Appendix 30B:    4 500 .Channel No.72 12091.56 17 461.96 12437.42 17 979.78 Untuk FSS planned band.54 12072. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Assigned frequency (MHz) 17 327. Untuk unplanned band.02 17 404.06 17 941.18 12034.88 17 922.82 17 596. 35 36 37 38 39 40 Assigned frequency (MHz) 12379. 127 .08 17 730.32 12475. 15 16 17 18 19 20 Assigned frequency (MHz) 11996.60 12398. orbit satelit.66 17 365.i.4E dengan cakupan dibatasi wilayah teritori Indonesia. pita frekuensi yang sering digunakan di Indonesia adalah C-band.36 12053.

11562 11650 . ACeS) LAPAN (Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional) Setiap penyelenggara telekomunikasi yang menggunakan satelit wajib memiliki Izin Stasiun Radio (ISR) dari Ditjen Postel. ukuran antena.p. Asia Cellular Satelit (PT. karena relatif lebih fleksibel parameter teknisnya. Penyelenggara satelit Indonesia saat ini meliputi antara lain:       PT. maupun parameter lainnya. PERIZINAN SATELIT Satelit Indonesia adalah satelit yang didaftarkan ke ITU atas nama administrasi telekomunikasi Indonesia.5 – 1660. baik batasan e. Terdapat dua jenis ISR untuk penggunaan frekuensi satelit yaitu Izin stasiun angkasa dan Izin stasiun bumi.r.11722 Uplink (MHz) 1626. Media Citra Indostar PT. Indosat PT. satelit asing adalah satelit yang didaftarkan ke ITU atas nama administrasi telekomunikasi negara lain. pita frekuensi.11222 11490 . 3.14362 14450 – 14522 Rincian pengkanalan transponder untuk sejumlah satelit Indonesia unplanned band dapat dilihat pada lampiran 9. Telkom PT. 128 . TABEL 26.5 8120 – 8270 6425 – 6725 MHz 5925 – 6425 MHz 13790 – 13862 13950 – 14022 14290 .i. Tabel berikut ini menjelaskan alokasi pita frekuensi unplanned band untuk satelit telekomunikasi maupun satelit broadcasting di Indonesia. Penyelenggara satelit Indonesia adalah Penyelenggara telekomunikasi yang memiliki dan atau menguasai satelit yang didaftarkan ke ITU atas nama Administrasi Telekomunikasi Indonesia. Sedangkan. ALOKASI FREKUENSI UNPLANNED BAND SATELIT INDONESIA Pita Frekuensi L-band S-band X-band Ext-C band C-band Ku-band Downlink (MHz) 1525 – 1559 2520 – 2670 3400 – 3700 MHz 3700 – 4200 MHz 10990 .10662 11150 .Seluruh satelit Indonesia yang operasional dan hampir seluruh satelit telekomunikasi komersial lainnya di dunia cenderung menggunakan unplanned band. Pasifik Satelit Nusantara PT.

Penyelenggara satelit nasional diwajibkan memiliki ISR izin stasiun angkasa. PT. Tabel 27 berikut ini menjelaskan mengenai daftar satelit Indonesia yang dioperasikan.1 KETENTUAN PERIZINAN PENGGUNAAN SATELIT DI INDONESIA Ketentuan perizinan penyelenggara telekomunikasi yang menggunakan satelit.21 tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Jasa Telekomunikasi Permen Kominfo No. 129 .3. Satelit nasional adalah satelit yang didaftarkan ke ITU atas nama Administrasi Telekomunikasi Indonesia. Setiap stasiun bumi wajib didaftarkan ke Ditjen Postel. 35 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Komunikasi Dan Informatika Nomor 13 tahun 2005 Tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi Yang Menggunakan Satelit. diatur secara rinci melalui sejumlah peraturan antara lain:        UU No.52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi PP No. PSN. Proses pendaftaran tersebut dapat melalui operator satelit nasional atau langsung dilakukan pengguna stasiun bumi yang mengarah ke satelit nasional tersebut.17 Tahun 2005 tentang Tata Cara Perizinan Frekuensi Permen Kominfo No. Permen Kominfo No.53 Tahun 2000 tentang Penggunaan Frekuensi dan Orbit Satelit PP No.20 tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Jaringan Telekomunikasi Kepmenhub No. Telkom. Sedangkan satelit asing adalah satelit yang didaftarkan ke ITU bukan atas nama Administrasi Telekomunikasi Indonesia. 268 Tahun 2005 tentang Persyaratan Teknis Alat Dan Perangkat Set Top Box Satelit Digital     Penyelenggaraan telekomunikasi menggunakan satelit dibagi menjadi dua kelompok yaitu penyelenggara satelit nasional dan penyelenggara satelit asing.36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi PP No. PT. PT. ISR stasiun angkasa diurus oleh penyelenggara satelit Indonesia (PT.357 Tahun 2006 tentang Penyelenggaraan Telekomuniikasi Menggunakan Satelit Perdirjen No. Sedangkan. 28 Tahun 2005 mengenai PNBP di lingkungan Depkominfo Kepmenhub No. Indosat. pengguna satelit Indonesia tidak perlu mengurus izin stasiun radio dan tidak membayar BHP Frekuensi. MCI dan LAPAN).19 Tahun 2005 tentang PNBP BHP Frekuensi Radio Perdirjen Postel No.

  Hongkong.  Pakistan  North  North  Pakistan sd  australia.  Australia sd  to  sd China. PNG.  sd   New  PNG  New  PNG  Zealand  Zealand  Satelit Asing yang dapat digunakan di Indonesia adalah satelit yang telah memiliki hak labuh. Australia. Indonesia.‐C  ext‐C  channeling  4 txpd Ku  plan  36 MHz  36 MHz C‐ 36 MHz  200 kHz/  36 MHz  Bandwidth  24 MHz  RF channel  36 MHz  per  ext‐C  Transponders 72 MHz  Ku‐band  L‐band  C band  Frekuensi  S‐band  C‐band.  Asia.  Macau.  C band.  Indonesia.  Australia)  China. Tabel 28 dan 29 berikut ini menjelaskan Daftar Satelit Asing yang memenuhi kriteria bebas interferensi sampai dengan bulan September 2007. 130 .  C‐band  Ext. C band  Ku‐band  ext‐C Band ext‐C band Ku‐band  Coverage  Indonesia  Indonesia.  Australia. Persyaratan Hak labuh meliputi kriteria teknis dan resiprokal sebagai berikut:   Kriteria teknis : Satelit yang digunakan tidak menimbulkan interferensi yang merugikan bagi satelit Indonesia maupun stasiun radio yang berizin Kriteria resiprokal : Terbukanya kesempatan yang sama bagi penyelenggara satelit Indonesia untuk berkompetisi dan beroperasi di negara asal satelit asing tersebut.  Southeast  Asia  (India sd  Asia  Asia  Pacific.7E 108E 113E 118E 123E 146E Operator MCI TELKOM INDOSAT TELKOM PSN/ACES PSN Satelit Nama Satelit  INDOSTAR‐2  TELKOM‐1 PALAPA‐ TELKOM‐2 GARUDA‐1  PALAPA  (PROTOSTAR)  C2  PACIFIC‐  146E  (Mabuhay) Kapasitas  10 txpd S‐ 24 txpd C  24 txpd C  24 txpd C‐ Cellular‐ 48  band  12 txpd  6  txpd  band  like  ext.  Macau.  Southeast  Asia Pasific  Philipinnes. Indonesia .TABEL 27. DAFTAR SATELIT INDONESIA YANG BEROPERASI Slot Orbit 107. China  Pacific.  Indonesia.   Hongkong.

5E DFH-3-OC INTELSAT 902 62E INTELSAT IS 906 64E JCSAT-3 128E JCSAT-3A JCSAT-4A 124E JCSAT-4 MEASAT-1 91.5E ASIASAT-EKX/ ASIASAT-E CHINASTAR-1 87. Singapura. 1 2 3 4 SATELIT ASIASAT 3S ASIASAT-4 MEASAT-2 SINOSAT 1 Slot Orbit 105. negara asal satelit asing yang memenuhi kriteria interferensi adalah China. DAFTAR SATELIT ASING YANG MEMENUHI KRITERIA BEBAS INTERFERENSI NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Slot Nama Satelit ITU Filing Orbit APSTAR 2R / TELSTAR 10 76. USA . Tonga.TABEL 28.5E 122E 148E 110.5E Nama Satelit ITU Filing ASIASAT-1/CK ASIASAT . Malaysia. 131 .5E APSTAR-4 APSTAR V / TELSTAR18 / TONGASAT AP-3/ 138E (Hongkong) TONGASAT-C/KU-3 TONGASAT AP-2/ APSTAR VI (Hongkong) 134E TONGASAT-C/KU-2 ASIASAT 2 100. Inggris. Belanda. DAFTAR SATELIT ASING YANG MEMENUHI KRITERIA BEBAS INTERFERENSI DENGAN BATASAN TEKNIS RINCI NO.AKX/ASIASAT-A MEASAT-2 CHINASAT-6 Negara HONGKONG HONGKONG MALAYSIA CHINA Sampai dengan bulan September 2007. Jepang.5E PANAMSAT 2 169E PAS-2 PANAMSAT 4 72E PANAMSAT 8 166E USASAT-14H PAS 12 45E EUROPE*STAR-1 SES AMERICOM AMC 23 172E USASAT-14K/60A ST-1 88E ST-1A INTELSAT 702 55 INTELSAT 709 85 INTELSAT 904 60 JCSAT 4 127 SATELIT Negara CHINA TONGA TONGA HONGKONG CHINA USA USA JEPANG JEPANG MALAYSIA USA NETHERLAND NETHERLAND USA USA USA USA GERMANY USA SINGAPURA USA USA USA JEPANG TABEL 29. Jerman. Hongkong.5E MEASAT-1 NewSkies (NSS-5 – Inggris) 177E INTELSAT7 177E NSS 6 95E INTELSAT 95E NSS 703 57E INTELSAT 57E PANAMSAT 10 68.

atau Penyelenggara telekomunikasi khusus untuk keperluan instansi pemerintah Persyaratan Izin Stasiun Angkasa adalah sebagai berikut:     Satelit yang digunakan telah memiliki hak labuh Mengajukan surat permohanan izin satsiun angkasa Mengisi formulir permohonan Izin Stasiun Angkasa Membayar BHP ISR Izin Stasiun Angkasa 3. Izin stasiun bumi diberlakukan untuk setiap lokasi stasiun radio. Izin stasiun bumi tidak diberlakukan bagi stasiun radio:   yang berhubungan dengan satelit yang telah memiliki izin stasiun angkasa atau yang melakukan penerimaan bebas (tidak berbayar/ free to air) dari satelit untuk keperluan sendiri dan tidak didistribusikan kembali untuk kepentingan komersil.3 IZIN STASIUN BUMI Izin stasiun bumi adalah izin penggunaan frekuensi untuk stasiun radio di bumi yang melakukan pemancaran gelombang radio ke dan atau penerimaan gelombang radio dari suatu satelit. Dengan adanya izin stasiun angkasa. Izin stasiun angkasa dapat diberikan kepada :    Penyelenggara jaringan telekomunikasi Penyelenggara telekomunikasi khusus untuk keperluan pertahanan dan keamanan negara. maka setiap stasiun radio di bumi yang berhubungan dengan satelit tersebut tidak dikenai izin stasiun radio lagi tapi cukup mendaftarkan keberadaan stasiun radio tsb. Pengguna satelit yang menjadi pelanggan dari pelanggan satelit nasional ataupun menggunakan satelit asing yang telah ada izin angkasa tidak perlu mengurus izin stasiun bumi. Persyaratan mendapatkan izin stasiun bumi adalah sebagai berikut:   Satelit yang digunakan telah memiliki hak labuh Mengajukan surat permohanan izin stasiun bumi 132 .2 IZIN STASIUN ANGKASA Izin stasiun angkasa adalah izin penggunaan frekuensi oleh suatu stasiun angkasa (satelit) untuk melakukan pemancaran gelombang radio ke dan atau penerimaan gelombang radio dari wilayah Indonesia.3.

hak labuh (landing right) diberikan dengan syarat:  satelit asing tersebut telah menyelesaikan koordinasi satelit dan atau tidak menimbulkan interferensi yang merugikan (harmful interference) dengan satelit Indonesia maupun stasiun radio yang telah berizin.  Mekanisme Perizinan Hak Labuh untuk Izin Stasiun Angkasa adalah sebagai berikut:  Hak labuh (landing right) untuk izin stasiun angkasa hanya dapat diberikan kepada: o penyelenggara jaringan telekomunikasi.  Mengisi formulir permohoan Izin Stasiun bumi Membayar BHP ISR Izin Stasiun bumi 3. Permohonan hak labuh (landing right) wajib disertakan bukti tertulis bahwa satelit asing yang akan digunakan: o telah menyelesaikan koordinasi satelit.  Untuk permohonan ISR berupa izin stasiun bumi. dan terbukanya kesempatan yang sama bagi penyelenggara satelit Indonesia untuk berkompetisi dan beroperasi di negara asal penyelenggara satelit asing tersebut. Permohonan hak labuh (landing right) untuk penggunaan satelit asing diajukan oleh penyelenggara telekomunikasi kepada Direktur Jenderal. dan atau   133 .4 HAK LABUH Hak labuh (landing right) adalah hak yang diberikan oleh Direktur Jenderal atas nama menteri kepada penyelenggara telekomunikasi atau lembaga penyiaran berlangganan dalam rangka bekerja sama dengan penyelenggara telekomunikasi asing. Untuk permohonan ISR berupa izin stasiun angkasa. dan terbukanya kesempatan yang sama bagi penyelenggara satelit Indonesia untuk berkompetisi dan beroperasi di negara asal penyelenggara satelit asing tersebut. o penyelenggara jasa interkoneksi internet (Network Access Point/NAP). hak labuh (landing right) diberikan dengan syarat:  satelit asing tersebut tidak menimbulkan interferensi yang merugikan (harmful interference) terhadap satelit Indonesia maupun satelit lain yang telah memiliki izin stasiun angkasa serta terhadap stasiun radio yang telah berizin.

o penyelenggara jasa jual kembali warung internet. Bukti tertulis tersebut berupa: o Surat Pernyataan dari penyelenggara satelit asing tersebut. Direktur Jenderal menerbitkan hak labuh (landing right) setelah semua persyaratan dipenuhi oleh penyelenggara telekomunikasi.o       tidak menimbulkan interferensi yang merugikan (harmful interference) dengan satelit Indonesia maupun stasiun radio yang telah berizin. Pengajuan hak labuh (landing right) juga wajib disertakan bukti tertulis bahwa di negara asal penyelenggara satelit asing tersebut terbuka kesempatan yang sama bagi penyelenggara satelit Indonesia untuk berkompetisi dan beroperasi (reciprocity). o penyelenggara jasa akses internet (internet service provider). kecuali: o penyelenggara telekomunikasi khusus untuk keperluan badan hukum. atau o Kesepakatan Bersama antara administrasi telekomunikasi Indonesia dengan administrasi telekomunikasi satelit asing yang akan digunakan. Setelah hak labuh (landing right) diterbitkan. dan o Dokumen hasil koordinasi satelit (summary record) antara Administrasi Telekomunikasi Indonesia dengan Administrasi Telekomunikasi negara asal satelit asing tersebut. penyelenggara telekomunikasi dapat mengajukan permohonan untuk mendapatkan ISR izin stasiun angkasa. yang ditujukan kepada Administrasi Telekomunikasi Indonesia. 134 . Mekanisme Perizinan Hak Labuh untuk Izin Stasiun Bumi adalah sebagai berikut:  Hak labuh (landing right) untuk izin stasiun bumi dapat diberikan kepada semua penyelenggara telekomunikasi. Mekanisme permohonan untuk mendapatkan ISR izin stasiun angkasa dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal tersendiri dan menggunakan formulir permohonan sebagaimana ditentukan. Direktur Jenderal menerbitkan ISR izin stasiun angkasa setelah pemohon membayar Biaya Hak Penggunaan (BHP) spektrum frekuensi radio yang besarnya sesuai ketentuan perundangundangan yang berlaku. Bukti tertulis dapat berupa: o Surat Keterangan dari Administrasi Telekomunikasi satelit asing yang akan digunakan. o Negara asal penyelenggara satelit asing adalah negara yang mendaftarkan filing satelit dimaksud ke ITU.

serta terhadap stasiun radio yang telah berizin. meliputi BHP Frekuensi Izin Stasiun Angkasa dan/atau Izin Stasiun Bumi. Permohonan hak labuh (landing right) wajib disertakan bukti tertulis bahwa satelit asing yang akan digunakan tidak menimbulkan interferensi yang merugikan (harmful interference) terhadap satelit Indonesia maupun satelit lain yang telah memiliki izin stasiun angkasa. penyelenggara telekomunikasi dapat mengajukan permohonan untuk mendapatkan ISR izin stasiun bumi. dan bilamana gangguan terus menerus terjadi.5 BHP FREKUENSI RADIO SISTEM SATELIT BHP Frekuensi Radio untuk Izin Stasiun Radio yang menggunakan satelit. Bukti tertulis dapat berupa: Surat pernyataan dari penyelenggara satelit asing tersebut. Bukti tertulis dapat berupa: o Surat Keterangan dari administrasi telekomunikasi satelit asing yang akan digunakan. Negara asal penyelenggara satelit asing adalah negara yang mendaftarkan filing satelit dimaksud ke ITU. Mekanisme permohonan untuk mendapatkan ISR izin stasiun bumi dilaksanakan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal tersendiri dan menggunakan formulir permohonan yang ditentukan. Direktur Jenderal menerbitkan hak labuh (landing right) setelah semua persyaratan dipenuhi oleh penyelengara telekomunikasi.        Permohonan hak labuh (landing right) untuk penggunaan satelit asing diajukan oleh penyelenggara telekomunikasi kepada Direktur Jenderal. atau o Kesepakatan bersama antara administrasi telekomunikasi Indonesia dengan administrasi telekomunikasi satelit asing yang akan digunakan. 135 . bersedia menghentikan operasinya tanpa syarat. Pengajuan hak labuh (landing right) juga wajib disertakan bukti tertulis bahwa di negara asal penyelenggara satelit asing tersebut terbuka kesempatan yang sama bagi penyelenggara satelit Indonesia untuk berkompetisi dan beroperasi (reciprocity). 3. yang ditujukan kepada administrasi telekomunikasi Indonesia. o Dokumen hasil koordinasi satelit (summary record) antara Administrasi Telekomunikasi Indonesia dengan Administrasi Telekomunikasi negara asal satelit asing tersebut. Setelah hak labuh (landing right) diterbitkan. dan o Jaminan tertulis dari pemohon ISR izin stasiun bumi bahwa setiap saat (24 jam per hari) menyiapkan sistem dan sumber daya manusia yang dapat mengatasi setiap gangguan terhadap sistem satelit dan terrestrial Indonesia.

Ib = 0.Berikut ini contoh pengenaan biaya BHP Frekuensi Izin Stasiun Angkasa:        Transponder C-band 36 MHz. Zone III Ib = 0. Ip =0 HDLP = 5809. HDDP = 53 618 Rp.24 juta per tahun. C-band ¼ transponder = 9 MHz Power = 47 dBW (ERP) Zone 1. 136 .12 juta BHP uplilnk / downlik = Rp.143.04.18 x 53 618 x 47)) = 2. HDDP = 53 618 BHP = 0. 30 juta per tahun.5 x ((0. Berikut ini contoh pengenaan biaya BHP Frekuensi Izin Stasiun Bumi:       Stasiun bumi. 15 Juta per tahun (downlink) 4 GHz Total = Rp. Ip = 0. 4.04 x 5809 x 9000) + (0. 15 Juta per tahun (uplink) 6 GHz Rp.18 HDLP = 5809.

c. Scientific and Medical/ISM Band).BAB . pengguna perangkat tersebut harus menggunakan frekuensinya bersama-sama dengan aplikasi komunikasi radio lain dan tidak boleh menyebabkan interferensi kepada jaringan komunikasi radio yang telah diberi izin oleh Ditjen Postel. 2. berikut ini adalah jenis perangkat komunikasi radio yang termasuk izin kelas. Penggunaan perangkat tersebut. Perangkat berdaya pancar rendah dengan jangkauan pendek ini dapat digunakan hampir di semua tempat dan dapat beroperasi di sejumlah banyak frekuensi. diizinkan untuk beroperasi dengan prinsip tidak menimbulkan interferensi dan tidak mendapatkan proteksi (noninterference and non-protection basis). Perangkat tersebut termasuk perangkat komunikasi radio seperti wireless microphone. Untuk menjamin bahwa perangkat komunikasi radio tersebut memenuhi kategori berdaya pancar rendah dan memiliki jangkauan pendek yang ditentukan. b. telepon cordless. remote control. Ditjen Postel sedang menyusun suatu draft peraturan Dirjen Postel mengenai penggunaan perangkat komunikasi radio yang termasuk izin kelas. dsb. penggunaan pita frekuensi radio 2400 – 2483.11 PERANGKAT BERDAYA PANCAR RENDAH / JANGKAUAN PENDEK (SHORT RANGE DEVICES) DAN ISM-BAND 1. penggunaan frekuensi radio untuk alat dan perangkat telekomunikasi dengan daya pancar dibawah 10 mW. Sehingga. penggunaan izin kelas meliputi antara lain: a. maka sebelum perangkat tersebut dijual bebas di Indonesia terlebih dahulu harus mendapatkan sertifikasi perangkat dari Ditjen PostelDepkominfo. ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA Pada saat tulisan ini dibuat. 137 .17 TAHUN 2005 Berdasarkan Peraturan Menteri Kominfo No. keperluan industri.1 IZIN KELAS PADA PERMEN KOMINFO NO.5 MHz. 2.17 tahun 2005 tentang tata cara perizinan spektrum frekuensi radio. PENDAHULUAN Istilah “Short Range Devices” dimaksudkan untuk mencakup pemancar radio yang memiliki wilayah operasi sangat terbatas akibat daya pancar yang rendah (pada umumnya 100 mW atau kurang). secara ringkas. ilmu pengetahuan dan kesehatan (Industrial.

perangkat terminal pelanggan untuk penyelenggaraan telekomunikasi bergerak selular dan penyelenggaraan jaringan tetap lokal dengan mobilitas terbatas (fixed wireless access) perangkat komunikasi jarak pendek (short range device) perangkat terminal pelanggan untuk penyelenggaraan bergerak radio trunking perangkat telepon nirkabel (cordless phone) perangkat infra red 2. b.2. d. IZIN KELAS Izin kelas ini meliputi hak setiap orang untuk beroperasi menggunakan terminal pelanggan untuk berkomunikasi dengan suatu BTS penyelenggara selular/FWA dengan syarat bahwa pengoperasian BTS dimaksud telah memperoleh izin stasiun radio (ISR). 138 . e.1 TERMINAL PELANGGAN UNTUK PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI BERGERAK SELULAR DAN PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL DENGAN MOBILITAS TERBATAS (FIXED WIRELESS ACCESS) DEFINISI Terminal pelanggan penyelenggaraan telekomunikasi bergerak selular dan penyelenggaraan jaringan tetap lokal dengan mobilitas terbatas (fixed wireless access /FWA) adalah suatu perangkat yang melakukan komunikasi dengan suatu Base Station (BTS) yang dibangun oleh penyelenggara jaringan telekomunikasi bergerak selular dan penyelenggara jaringan tetap lokal dengan mobilitas terbatas (fixed wireless access /FWA) pada pita-pita frekuensi yang ditetapkan. diusulkan penggunaan perangkat komunikasi radio yang dikategorikan sebagai penggunaan izin kelas sebagai tambahan dari ketentuan peraturan terdahulu. c. maka izin kelas ditetapkan sebagai berikut : a. PITA FREKUENSI Terminal pelanggan penyelenggaraan telekomunikasi bergerak selular dan penyelenggaraan jaringan tetap lokal dengan mobilitas terbatas (Fixed Wireless Access /FWA) hanya dapat menggunakan pita frekuensi yang sama dengan yang ditetapkan kepada penyelenggara jaringan telekomunikasi bergerak selular dan penyelenggara jaringan FWA.2.2 KONSEP USULAN PERLUASAN IZIN KELAS Dalam draft Peraturan Dirjen Postel.

2. PITA FREKUENSI Perangkat komunikasi radio jarak pendek (short range communications device) hanya dapat menggunakan pita frekuensi yang ditentukan dalam kolom kedua pada Tabel A yang ditetapkan untuk izin kelas dan digunakan bersama-sama secara non-ekslusif. PERSYARATAN OPERASIONAL Effective Isotropic Radiated Power (EIRP) Kuat medan maksimum atau EIRP maksimum tidak boleh melewati nilai-nilai sebagaimana ditentukan dalam kolom ketiga Tabel 30. IZIN KELAS Izin kelas ini meliputi hak setiap orang untuk beroperasi menggunakan perangkat komunikasi radio dengan syarat beroperasi sesuai dengan ketentuan batasan daya pancar sebagaimana ditentukan dalam kolom ketiga Tabel A dan menggunakan pita frekuensi pada kolom kedua Tabel A. 139 .2 PERANGKAT KOMUNIKASI JARAK PENDEK (SHORT RANGE DEVICE) DEFINISI Perangkat komunikasi radio jarak pendek (short range communications device) adalah perangkat komunikasi berdaya pancar rendah yang menyediakan komunikasi jarak pendek untuk aplikasi bergerak dan tetap pada pita-pita frekuensi tertentu.2.

00 – 300.30 MHz 300.00 MHz 444.of aircraft and glider models and machine.80 MHz 0.glider. telemetry and alarm systems Remote control of cranes and loading arms 14 26.50 MHz 240.00 – 108. alarm system Wireless microphone Wireless microphone Wireless microphone Wireless microphone Wireless microphone Remote control of aircraft. ≤ 94 dBµV/m pada jarak 3m ≤ 100 mW ERP ≤ 100 mW ERP ≤ 100 mW ERP ≤ 100 mW ERP ≤ 100 mW ERP ≤ 57 dBµV/m pada jarak 3 m ≤ 65 dBµV/m pada jarak 10 m ≤ 60 dBµV/m pada jarak 10 m ≤ 112 dBµV/m pada jarak 10 m ≤ 112 dBµV/m pada jarak 10 m ≤ 65 dBµV/m pada jarak 10 m CONTOH APLIKASI SRD Induction loop system ISM ISM.51 – 1.553 MHz .00 – 200.60 MHz 40.13. PITA FREKUENSI DAN BATASAN TEKNIS UNTUK APLIKASI-APLIKASI SHORT RANGE DEVICES (SRD) NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 PITA FREKUENSI 16 – 150 kHz 6765 kHz .35 – 146. camera and toys Remote control. alarm system Radio detection. telemetry and alarm systems Remote control. garage door.TABEL 30. alarm system Radio detection.275 MHz ≤ 1000 mW ERP 140 .00 MHz 487 – 507 MHz KUAT MEDAN/ERP MAKSIMUM ≤ 100 dBµV/m pada jarak 3 m ≤ 100 mW ERP ≤ 100 mW ERP.40 – 444.15 – 240.7 – 30 MHz ≤ 500 mW ERP 17   170.33 MHz 312. alarm system Radio detection.of aircraft and glider models and machine. alarm system Radio detection.00 MHz 180.96 – 27. boat and car models.6795 kHz 13.7000 MHz 88.567 MHz 146.6600 MHz 40.28 MHz 15 26.28 MHz ≤ 500 mW ERP 16 29. alarm system Radio detection. Radio detection.00 – 315.96 – 27.

data communication system Radio telemetry.875 MHz 158.150 MHz 40.70 MHz 151.080 MHz KUAT MEDAN/ERP MAKSIMUM ≤ 1000 mW ERP ≤ 1000 mW ERP ≤ 1000 mW ERP ≤ 3000 mW ERP ≤ 3000 mW ERP ≤ 3000 mW ERP ≤ 3000 mW ERP ≤ 0.500 – 41.000 MHz 72.925 MHz 923 – 925 MHz 10.50 – 10. data communication system Wireless modem. data communication system Wireless modem.575 MHz 173.96 – 27.575 MHz 173. data communication system Wireless modem.125 MHz 151.66 – 40.325/162.01 mW ERP ≤ 1000 mW ERP 27 72. RFID system Wireless video transmitter dan aplikasi SRD lain 141 .275/162. data communication system Wireless modem.28 MHz 40. telecommand.NO 18 19 20 21 22 23 24 25 26 PITA FREKUENSI 170. data communication system Wireless modem.675 MHz 26.200 MHz ≤ 1000 mW ERP 28 72.55 GHz ≤ 1000 mW ERP 31 ≤ 1000 mW ERP ≤ 500 mW ≤ 117 dBµV/ m pada jarak 10 m 32 34 CONTOH APLIKASI SRD Remote control of cranes and loading arms Remote control of cranes and loading arms Remote control of cranes and loading arms On site radio paging system On site radio paging system On site radio paging system On site radio paging system Medical and biological telemetry Wireless modem.600 MHz ≤ 1000 mW ERP 30 158.400 MHz ≤ 1000 mW ERP 29 72.

PITA FREKUENSI Terminal pelanggan komunikasi radio trunking hanya dapat menggunakan pita frekuensi yang sama dengan yang ditetapkan kepada penyelenggara jaringan bergerak komunikasi radio trunking.3 PERANGKAT TERMINAL PELANGGAN PENYELENGGARAAN BERGERAK RADIO TRUNKING UNTUK DEFINISI Perangkat terminal radio trunking adalah perangkat terminal untuk berkomunikasi stasiun BTS penyelenggara radio trunking dimana pengoperasian BTS dimaksud telah diberi ISR.2.5 dBm EIRP saat kendaraan berhenti CONTOH APLIKASI SRD Bluetooth Wireless video transmitter dan aplikasi SRD lain Short range radar system such as automatic cruise control and collision warning systems for vehicle 37 76-77 GHz 2. IZIN KELAS Izin kelas ini meliputi hak setiap orang untuk beroperasi menggunakan terminal pelanggan trunking untuk berkomunikasi dengan suatu BTS penyelenggara jaringan komunikasi radio trunking dengan syarat bahwa pengoperasian BTS dimaksud telah memperoleh izin stasiun radio (ISR).4000 – 2. terminal radio trunking dapat secara otomatis mengakses kanal-kanal frekuensi dalam suatu sistem radio trunking sesuai dengan kanal yang ditetapkan pada sistem tersebut.  NO 35 36 PITA FREKUENSI 2.4835 GHz 24. PERSYARATAN OPERASIONAL Effective Isotropic Radiated Power (EIRP)maksimum perangkat terminal pelanggan radio komunikasi trunking tidak diperbolehkan melebihi 25 Watt dan beroperasi pada pita-pita frekuensi sebagaimana ditentukan dalam kolom 2 (kedua) dan kolom 3 142 .00 – 24.25 GHz KUAT MEDAN/ERP MAKSIMUM ≤ 100 mW ERP ≤ 100 mW ERP ≤ 37 dBm EIRP saat kendaraan bergerak dan ≤ 23.

5 MHz 412. PERSYARATAN OPERASIONAL Effective Isotropic Radiated Power (EIRP) EIRP maksimum untuk perangkat telepon cordless tidak boleh melebihi batas nilai-nilai sebagaimana ditentukan dalam Tabel 30.5 kHz 12.4 PERANGKAT TELEPON NIRKABEL (CORDLESS PHONE) DEFINISI Perangkat telepon nirkabel (cordless phone) adalah perangkat portable atau bergerak berdaya pancar rendah (low power) untuk komunikasi dua arah dengan suatu base lokal yang telah ditetapkan penggunaan frekuensinya sebagaimana ditentukan dalam Tabel 32. PERSYARATAN SPASI KOMUNIKASI TRUNKING Tipe 1 Trunking 400 MHz Trunking 800 MHz Transmitter 2 380 – 389 MHz 407 – 409 MHz 419 – 422.2.5 – 424 MHz 851 – 866 MHz 2. IZIN KELAS Izin kelas ini meliputi hak setiap orang untuk beroperasi menggunakan perangkat komunikasi radio dengan syarat beroperasi sesuai dengan ketentuan batasan daya pancar dan pita frekuensi sebagaimana ditentukan dalam Tabel 32.5 kHz 12.5 kHz 12.(ketiga) dengan ketentuan memenuhi persyaratan spasi kanal sebagaimana tercantum pada TABEL dibawah ini : TABEL 31. PITA FREKUENSI Perangkat telepon cordless hanya dapat menggunakan pita frekuensi sebagaimana dalam tabel 32 dan digunakan secara bersama-sama secara non ekslusif.75 MHz 422.5 – 429.5 kHz 25 kHz Receiver 3 390 – 399 MHz 417 – 419 MHz 426. 143 .5 – 414 MHz 806 – 821 MHz KANAL UNTUK RADIO Channel Spacing 4 12.

TABEL 30.2. PITA FREKUENSI 46. 3.5000 MHz MAKSIMUM UNTUK EIRP MAKSIMUM 50 milliWatt 50 milliWatt 100 milliWatt 100 milliWatt 2. PERSYARATAN OPERASIONAL Effective Isotropic Radiated Power (EIRP) EIRP maksimum untuk perangkat gelombang infra merah tidak diperbolehkan melebihi 125 mW.0000 MHz to 46. PITA FREKUENSI DAN EIRP PERANGKAT CORDLESS PHONE NO 1.0000 2400.9700 MHz MHz to 49.6100 49. IZIN KELAS Izin kelas ini meliputi hak setiap orang untuk beroperasi menggunakan perangkat gelombang infra merah dengan syarat beroperasi sesuai dengan ketentuan batasan daya pancar.5 THz – 420 THz. 4.5 THz sampai dengan 420 THz.5 PERANGKAT RADIO YANG MENGGUNAKAN GELOMBANG RADIO INFRA MERAH (INFRA RED DEVICES) DEFINISI Perangkat radio menggunakan gelombang radio infra merah adalah perangkat radio yang beroperasi menggunakan gelombang radio pada rentang pita dari 187. 2.9700 MHz MHz to 1900. Pengguna frekuensi dalam pengoperasian perangkat dilarang menimbulkan gangguan interferensi yang merugikan. PITA FREKUENSI Perangkat radio menggunakan gelombang infra merah hanya dapat menggunakan pita frekuensi yang ditetapkan untuk izin kelas dan digunakan bersama-sama secara non-ekslusif yaitu pada rentang pita frekuensi 187. 144 .0000 MHz MHz to 2483. KETENTUAN OPERASIONAL Setiap pengoperasian perangkat komunikasi radio yang dikategorikan ke dalam izin kelas. wajib mengikuti ketentuan sebagai berikut: a.6100 1880.

Pita-pita frekuensi ISM yang diatur dalam Radio Regulation. segera dihentikan pengoperasiannya sampai gangguan tersebut dapat diatasi. Artinya bahwa aplikasi industri. scientific. PITA FREKUENSI INDUSTRI. spesifikasi dan standar teknis.138 Radio Regulation-ITU: o 6 765-6 795 kHz (centre frequency 6 780 kHz). d. 145 . perangkat industri. Berdasarkan definisi Radio Regulation ITU dinyatakan sebagai berikut: Industrial. Penggunaan perangkat wajib sesuai dengan persyaratan. parameter emisi ataupun daerah jangkauan seperti yang telah ditentukan. sains. Pengguna frekuensi dalam penggunaan perangkat dilarang melebihi daya pancar. pengguna frekuensi harus mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengatasi gangguan tersebut. excluding applications in the field of telecommunications. sains dan medikal/kedokteran dari energi frekuensi radio (ISM) adalah pengoperasian dari suatu perangkat yang dirancang untuk menimbulkan dan menggunakan energi frekuensi radio secara lokal untuk kegunaan industri. Pengguna frekuensi harus menjamin bahwa perangkat penyebab interferensi yang merugikan.280 Radio Regulation. 3. DAN MEDIS (INDUSTRIAL. medikal. 5. atau kegunaan yang sejenis. Berdasarkan definisi tersebut jelas bahwa penggunaan ISM bukan untuk bidang telekomunikasi. e. scientific and medical (ISM) applications (of radio frequency energy): Operation of equipment or appliances designed to generate and use locally radio frequency energy for industrial.92 MHz) di Region 1 kecuali negara yang disebut dalam No. Dalam hal terjadi gangguan interferensi yang merugikan.b. c. dan prosedur yang telah ditentukan. perangkat rumah tangga seperti pemanas / microwave oven. Contoh-contoh penggunaan ISM adalah perangkat kedokteran. medical.79 MHz (centre frequency 433. ITU adalah sebagai berikut:  Artikel 5. domestic or similar purposes. Setiap perangkat radio yang dioperasikan untuk penggunaan izin kelas wajib mendapatkan sertifikasi perangkat dari Direktur Jenderal. SCIENCE AND MEDICAL BAND) Pengertian ISM band banyak disalahartikan terutama dalam kasus penggunaan low power spread spectrum untuk penggunaan internet. kecuali aplikasi di bidang telekomunikasi.05-434. SAINS. o 433. perangkat sains dan lain sebagainya.

66-40.68 MHz.15-1 Pemanasan induksi industri(heat treating. 122-123 GHz (centre frequency 122.o o o  61-61. and o 24-24.125 GHz) Tabel 31 Berikut ini contoh aplikasi utama ISM band TABEL 31. and 244-246 GHz (centre frequency 245 GHz) Artikel 5.2 and 6. welding dan melting metal) Diagnostik medis ultrasonik Surgical diathermy (1-10 MHz dampened wave oscillator) Pemrosesan kayu (3. kertas.5-200 kW  6-100 kW  > 200 juta < 1 000 146 . o 902-928 MHz di Region 2 (centre frequency 915 MHz). o 5 725-5 875 MHz (centre frequency 5 800 MHz).5 GHz (centre frequency 61. tetapi banyak yang beroperasi pada frekuensi di luar ISM band) – keramik – pengeringan foundry core – pengeringan tekstil – produk bisnis (buku. o 40. lem dan pengeringan) – makanan (pasca pembakaran kue. pengolahan daging dan ikan) – pengeringan solvent – pengeringan dan pengeleman kayu – pengeringan dielektrik umum – pemanasan plastik Aplikasi kedokteran  – medical diathermy (27 MHz) – magnetic resonance imaging (10-100 MHz di ruangan tertutup) 100-1 000  Pemrosesan makanan (915 MHz) Aplikasi kedokteran (433 MHz) RF plasma generators Vulkanisir karet (915 MHz)  RF plasma generators Microwave oven (2 450 MHz)  Microwave oven komersial (2 450 MHz) Vulkanisir karet (2 450 MHz)  Pengobatan ultraviolet 1-10 100-1 000 W > 100 000 10 kW-1. o 26 957-27 283 kHz (centre frequency 27 120 kHz).5 MW  1-200 kW  2-10 kW  > 1 000 > 10 000 10-100  15-300 kW  15-300 kW  15-200 kW  5-25 kW  10-100 kW  5-400 kW  5-1 000 kW  1-50 kW  (kebanyakan 100-1kW)  W < 5 000 < 200 kW  < 1 000 < 1 000 > 1 000 > 1 000 < 1 000 > 10 000 > 100 000 > 10 000 > 1 000 < 1 000 < 1 000 Di atas 1 000 600-1 500 W 1.68 MHz).25 GHz (centre frequency 24.25 GHz).70 MHz (centre frequency 40. CONTOH APLIKASI UTAMA PERANGKAT YANG BEROPERASI PADA ISM BAND Frekuensii  (MHz) Aplikasi Utama RF power  (umum)  10 kW-10 MW 20-1 000 W  100-1 000 W 1 kW-1 MW 100-1 000 W Perkiraan Jml pengguna > 100 000 > 100 000 > 10 000 > 100 000 > 100 000 Di bawah 0.5 MHz) Valve induction generators produksi materi semi-konduktor Pengelasan listrik (1-10 MHz dampened wave oscillator) Pemanasan dielektris (kebanyakan beroperasi pada frekuensi ISM band pada 13.12 dan 40.56. o 2 400-2 500 MHz (centre frequency 2 450 MHz). package sealing.150 Radio Regulation-ITU o 13 553-13 567 kHz (centre frequency 13 560 kHz). 27.5 GHz).15  Pemanas induksi industrial (pengelasan dan peleburan logam) Pembersihan secara ultrasonik (15-30 kHz) Aplikasi kedokteran (ultrasonic diagnostic imaging) 0.

dan khususnya. setiap Administrasi dari suatu negara harus menyusun pengaturan dan langkah-langkah praktis yang diperlukan untuk menjamin bahwa radiasi dari perangkat yang digunakan untuk aplikasi industri. sains dan medikal adalah seminimal mungkin dan pada pita frekuensi di luar ISM band tidak menimbulkan interferensi yang membahayakan kepada radiocommunication service.Berdasarkan artikel 15. 147 .1056.13 § 9 dari Radio Regulation ITU. Pengaturan tersebut dipandu oleh rekomendasi ITU-R SM. servis komunikasi radio yang berhubungan dengan keselamatan jiwa manusia.

UU No. 2.28 Tahun 2005 tentang PNBP yang berlaku di Departemen Komunikasi dan Informatika Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No.BAB . 7 Tahun 2009.13 Tahun 2005 jo Permen Kominfo No. BHP Frekuensi Radio untuk Izin Stasiun Radio BHP Frekuensi Radio untuk Izin Pita Frekuensi Radio BHP FREKUENSI DALAM BENTUK IZIN STASIUN RADIO Untuk BHP Frekuensi Radio dalam bentuk Izin Stasiun Radio. 2. PP No. yaitu: 1.17 Tahun 2005 tentang Tata Cara Perizinan Frekuensi Radio Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No.28 tahun 2000.q. Terdapat dua kelompok BHP Frekuensi radio berdasar PP No.20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Ditjen Postel) terhadap penggunaan spektrum frekuensi radio oleh pengguna didasarkan kepada perundang-undangan yang berlaku.37/2006 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi yang Menggunakan Satelit Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No.12 BIAYA HAK PENGGUNAAN (BHP) FREKUENSI RADIO 1. PP No. 7 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Departemen Komunikasi dan Informatika Setiap pengguna spektrum frekuensi radio wajib membayar BHP spektrum frekuensi radio yang dibayar di muka untuk masa penggunaan satu tahun.36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi PP No. yaitu sebagai berikut:         UU No. Seluruh penerimaan BHP frekuensi radio tersebut disetor ke kas negara sebagai Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). perhitungan besaran BHP frekuensi radio digunakan berdasarkan formula yang ditetapkan pada PP No. yaitu: BHP Frekuensi Radio (Rupiah) = ((Ib x HDLP x b) + (Ip x HDDP x p))/ 2 148 . PENDAHULUAN Pengenaan biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi radio oleh pemerintah pusat (c.19 Tahun 2005 tentang petunjuk pelaksanaan tarif PNBP dari BHP spektrum frekuensi radio.53 Tahun 2000 tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit.

TABEL 34.513 21.977 76. Sedangkan Tabel 36 menggambarkan besaran HDLP (Harga Dasar Lebar Pita).3 3 30 0.081 135.49 53.799 47.403 112.350 32. PEMBAGIAN PITA REGULATION ITU No.009 0.792 21.665 95.000 FREKUENSI RADIO BERDASARKAN RADIO 300 - 3.212 54.322 84.000 . TABEL 35.745 17.14 tahun 2000 tersebut. BESARAN HDDP (HARGA DASAR DAYA PANCAR) No 1 2 3 4 5 6 7 8 Pita Frekuensi VLF LF MF HF VHF UHF SHF EHF Zone I Zone 2 Zone 3 Zone 4 Zone 5 191.03 0.138 28.275.675 10.844 85.652 38.629 153.161 28.0 30 300 3.866 23. Tabel 34 berikut menjelaskan pembagian pita frekuensi dilakukan berdasarkan Radio Regulation-ITU.dengan :       HDDP adalah Harga Dasar Daya Pancar (HDDP) HDLP adalah Harga Dasar Lebar Pita frekuensi radio (HDLP) p adalah daya pancar keluaran antenna EIRP (dalam dBmWatt) b adalah lebar pita frekuensi yang diduduki (bandwidth occupied) dalam kHz Ib adalah indeks biaya pendudukan lebar pita Ip adalah indeks biaya daya pancar Besarnya HDDP dan HDLP ditentukan berdasarkan pengelompokkan pita frekuensi dan zone lokasi pemancar yang ditetapkan pada PP No.242 56.844 114.030 0.838 149 .618 135.000 .353 108.326 142.282 81.896 89. Besaran HDDP dan HDLP ditentukan oleh jenis pita frekuensi dan lokasi wilayah di mana pemancar stasiun radio itu berada.188 43. Band Frekuensi 1 2 3 4 5 6 7 8 VLF LF MF HF VHF UHF SHF EHF MHz 0.000 Tabel 35 menjelaskan besaran HDDP (Harga Dasar Daya Pancar).707 57.585 65.303 114.30.141 27.933 109.659 140.873 54.364 71.071 119.000 30.688 43.732 71.30 3.481 87.

664 2. indeks biaya daya pancar (Ip) ditentukan berdasarkan jenis servis komunikasi radio dan zone lokasi berdasarkan wilayah Kabupaten/Kotamadya.809 3.578 11. untuk penetapan parameter Ib dan Ip mengambil asumsi jenis pelayanan yang sejenis.19 Tahun 2005. NMT) Jasa Selular TDMA (GSM. Besarnya Ib.192 15.790 3.143 0.230 Ip 0. BESARAN HDLP (HARGA DASAR LEBAR PITA) No 1 2 3 4 5 6 7 8 Pita Frekuensi VLF LF MF HF VHF UHF SHF EHF Zone I Zone 2 Zone 3 Zone 4 Zone 5 20.200 11.888 10.710 0.180 0.310 7.110 0.400 1.630 4.961 16.290 0.180 0.749 5.572 9.060 0.000 0. Secara berkala setiap 2 (dua tahun) sekali.490 Jasa Selular DS-CDMA (IS95) Base + out stasiun Base + remote/out stasiun Base + remote/out stasiun 150 .155 2. nilai Ib dan Ip akan ditinjau dengan memperhatikan komponen-komponen pelayanan komunikasi radio yang baru.220 Penentuan besaran indeks biaya pendudukan lebar pita (Ib).881 3.418 7.936 6.199 9. perkembangan wilayah Kabupaten/Kotamadya serta pertumbuhan ekonomi.665 8.360 0.832 2.772 9.DCS & PCS) Jasa Wireless Local Loop FDMA Jasa Wireless Local Loop TDMA Base/Repeater stasiun Satelit (Space Segment) Stasiun Bumi Tetap Stasiun Bumi Portable Base + out stasiun Base + out stasiun Ib 0.429 6.099 3.143 15. BESARAN INDEKS IB DAN IP BERDASARKAN JENIS LAYANAN JENIS PENGGUNAAN FREKUENSI Jaringan Terrestrial (backbone) Jaringan Satelit Jasa Selular FDMA (AMPS.681 7.384 4.769 12. Ip dan pengelompokkan zone ditentukan dalam Lampiran I Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatikan No.576 8.733 5. Untuk servis komunikasi radio yang tidak tercantum dalam Keputusan tersebut.286 3.149 6.210 8.040 0.101 4.709 2.040 8. TABEL 37.TABEL 36.249 12.745 5.050 14.873 1.440 1.063 4.916 12. Besaran Ib dan Ip untuk setiap kelompok servis dapat dilihat pada Tabel 37 berikut ini.354 9.581 11.715 12.

000 0.143 Portable / Mobile Unit / Handy talky 0.870 24.980 3.280 0.000 0.000 10.390 Talky Telsus Keperluan Sendiri ( Base/Repeater stasiun >= 1 GHz) Telsus Radio Trunking Telsus Radio Paging Telsus Radio Taxi Telsus Riset dan Eksperimen Base + out stasiun Base + out stasiun Base + out stasiun Satelit (space segment) Stasiun Bumi Base/Repeater stasiun Stasiun ground to air Telsus Penerbangan (auronautical band) Stasiun pesawat udara (Portable Unit) Stasiun pesawar udara ( Handy Talky) Stasiun radio pantai Stasiun kapal (Portable Unit) Stasiun kapal (Handy Talky) Radio siaran AM Radio siaran FM Televisi siaran tak berbayar Televisi siaran berlangganan 0.580 0.410 0.890 1 GHz) Portable Unit / Mobile Unit / Handy 0.910 0.230 Telsus Maritim (maritime band) Telsus Penyiaran Terresterial Telsus Penyiaran Satelit 151 .650 0.000 0.020 0.110 0.000 0.930 0.000 Telsus Keperluan Sendiri (< Repeater stasiun 11.000 0.240 2.000 0.640 0.020 0.840 0.020 0.000 0.110 0.130 0.330 0.060 0.000 0.030 0.290 1.490 0.018 0.000 0.790 0.000 0.640 32.000 0.001 14.070 0.  JENIS PENGGUNAAN FREKUENSI Jasa Wireless Local Loop DS-CDMA Jasa Wireless Data (primer) Jasa Wireless Data (secunder) Jasa Telepoint (CT2 & CT2+) Jasa Radio Trunking Jasa Radio Paging Base + remote/out stasiun Base + remote/out stasiun Base + remote/out stasiun Base + out stasiun Base + out stasiun Base/Repeater + out stasiun Base stasiun Ib 0.490 8.930 0.720 Ip 0.430 0.000 0.150 1.240 0.020 0.050 0.060 33.

seperti stasiun ground to air.000 0. penentuan zona diasumsikan mengikuti wilayah administratif Kabupaten/Kota yang lama.000 0. 40 Tahun 2002. Untuk Kabupaten/Kota yang dibentuk setelah Kepmenhub ditentukan. base station/repeater + out station.000 0. seperti base station dan out station. Pengelompokan ini didasarkan pada potensi ekonomi. Untuk BHP frekuensi radio bagi sistem komunikasi yang pada tabel di atas disebutkan dengan outstationnya.000 Dari tabel Ib dan Ip di atas.000 0.000 0. maupun stasiun radio di pesawat udara. serta jumlah penduduk. diketahui bahwa untuk beberapa servis komunikasi radio tidak dikenakan BHP frekuensi radio. Pengelompokan zone ditentukan berdasarkan lokasi wilayah Kabupaten/Kota ditentukan berdasarkan Lampiran II Peraturan No. hub + out station.000 0. Untuk BHP frekuensi radio jaringan satelit ruas angkasa (space segment).000 0. seperti stasiun radio pantai dan stasiun kapal laut.000 Ip 0. yaitu:       Keperluan pertahanan dan keamanan Keperluan perwakilan diplomatik negara asing dengan memperhatikan asas resiprokal (timbal balik) Telekomunikasi khusus untuk keperluan perseorangan seperti Radio Amatir. mengandung arti bahwa yang dihitung hanya base.000 0.000 0. maka zone yang digunakan adalah zone-3 (zone rata-rata). Penggunaan pita frekuensi maritim untuk keperluan komunikasi radio keselamatan pelayaran. pendapatan asli daerah. seperti untuk keperluan navigasi. repeater atau hub station-nya saja tanpa 152 . karena cakupannya dapat menjangkau seluruh Indonesia.000 0. Citizen Band Telekomunikasi khusus untuk dinas khusus. GMDSS maupun non-GMDSS.  JENIS PENGGUNAAN FREKUENSI Stasiun Amatir Telekomunikasi khusus untuk keperluan dinas khusus Stasiun Citizen Band Stasiun Radio Navigasi Stasiun Radio Astronomi Stasiun Radio Meteorologi Telekomunikasi khusus untuk keperluan Hankamneg dan perwakilan negara asing (asas timbal balik) Ib 0. astronomi dan meteorologi. radar. Penggunaan pita frekuensi penerbangan untuk keperluan komunikasi radio navigasi dan keselamatan penerbangan.

ROKAN HILIR. PALALAW AN. KAB. TANJUNG JABUNG BARAT. KAMPAR KAB. ACEH SINGKIL. KOTA PEMATANG SIANTAR. LANGKAT. KAB. KAB. KAB.5 SUMATERA UTARA ZONE . TAPANULI TENGAH KOTA PADANG KAB. INDRAGIRI HULU. MERANGIN. KAB. KAB. INDRAGIRI HILIR. KAB. KAB. SIMEULUE. KAB. MANDAILING NATAL.3 ZONE . KAB. KAB.4 JAMBI ZONE .4 ZONE . Pengelompokan ini disusun berdasarkan pada potensi ekonomi. KAB. ACEH TENGGARA. KAB. KARO. DAIRI. KAB.4 ZONE – 5 153 . KAB. TANJUNG JABUNG TIMUR. SAW AH LUNTO/SIJUNJUNG. KOTA BINJAI. KEPULAUAN RIAU. SOLOK. KOTA BUKITTINGGI. KAB. LABUHAN BATU. DELI SERDANG. KOTA SAW AH LUNTO. KAB. KOTA PADANG PANJANG. & KAB. TAPANULI SELATAN. KAB. AGAM. & KAB. KAB. repeater atau hub station tersebut. Tabel 38 menjelaskan pengelompokan zone wilayah pemancar untuk menghitung HDDP dan HDLP. SIAK. KAB. KAB. KAB. KAB. NIAS. ACEH BARAT. LIMAPULUH KOTA. TOBA SAMOSIR. PADANG PARIAMAN. PESISIR SELATAN. KAB. KOTA SOLOK. KUANTAN SINGINGI.4 ZONE . KOTA TEBING TINGGI. KAB. KAB. KAB. BUNGO. PASAMAN. BIREUEN. KAB. serta jumlah penduduk. & KOTA SABANG KOTA MEDAN KAB. Pengelompokan zone ditentukan berdasarkan lokasi wilayah Kabupaten/Kota ditentukan berdasarkan Lampiran II Permen Kominfo No. pendapatan asli daerah. BATANGHARI. ASAHAN. KAB. ACEH SELATAN. penentuan zona diasumsikan mengikuti wilayah administratif Kabupaten/Kota yang sebelumnya. KARIMUN. KAB. ACEH TENGAH. KAB. KAB.19 Tahun 2005. & KOTA PAYAKUMBUH KOTA PEKAN BARU & KOTA BATAM KAB. KERINCI. KAB. TEBO ZONE ZONE . KOTA TANJUNGBALAI.mempertimbangkan jumlah remote station/ out station yang terhubung pada base. PIDIE. SORALANGUN. Untuk Kabupaten/Kota yang dibentuk setelah Kepmenhub tersebut ditentukan. MUARO JAMBI. KAB.3 ZONE . KAB. KAB. KAB. BENGKALIS. KAB. ACEH TIMUR.4 SUMATERA BARAT RIAU ZONE . TAPANULI UTARA. & KOTA SIBOLGA KAB. KAB. ROKAN HULU. SIMALUNGUN. PENGELOMPOKKAN ZONE WILAYAH PERHITUNGAN HDDP DAN HDLP PROPINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM PEMANCAR UNTUK KOTA / KABUPATEN KOTA BANDA ACEH KAB. TANAH DATAR. ACEH BESAR. KEPULAUAN MENTAW AI. KAB.3 ZONE . KAB. KAB. & KOTA DUMAI KOTA JAMBI KAB. ACEH UTARA.2 ZONE . TABEL 38. KAB. KAB. NATUNA. KAB.

PRO BO LING G O .5 LAMPUNG ZO NE . KAB. KAB. M UARA ENIM . KAB. SLEM AN KO TA SURABAYA KAB. KAB. BANYUM AS.1 ZO NE . KAB.3 ZO NE . O G AN KO M ER ING ULU. LAM O NG AN. KAB. KAB. BANDUNG . KAB. KAB. KAB. SUM ENEP. KAB. KAB.2 ZO NE . KAB. KAB. KAB. KAB. BENG KULU UTARA. TANG G AM US. JO M BANG . LAM PUNG UTARA. KO TA SUKABUM I. & KO TA JAKARTA UTAR A KAB. KO TA PEKALO NG AN. KAB. & KAB. KO TA SALATIG A. KAB. KAB. G RO BO G AN. KAB. TR ENG G ALEK. INDRAM AYU. KAB. KO TA PRO BO LING G O . KAB. KAB. DEM AK. SUKABUM I. KAB. KAB. BO G O R. KAB. LAM PUNG TANG AH. KAB. SUKO HARJO . KEBUM EN. KAB. & KAB. KAB. KAB. G ARUT. KENDAL. KO TA KEDIRI. & KO TA CIREBO N KAB. BANTUL. KUDU S. KUNIN G AN. KO TA M ALANG . BO N DO W O SO . BANG KALAN. LAM PUNG TIM UR .3 BENG KULU ZO NE . BLITAR . SEM ARANG . PURBALING G A. M O JO KER TO . PASURUAN. KAB. KLATEN. KAB. KAB. KO TA PASURUAN. BLO RA. TEM ANG G UNG . KAB. KAB. BATANG . KAB. KAB. BANYUW ANG I. SAM PANG . KAB. REM BANG . SUBANG . KO T A BANDUNG . CIREBO N. M ADIUN . SIDO AR JO .3 ZO NE . KAB. KAB. KO TA JAKARTA BARAT. KAB. KAB.5 ZO NE . M AG ELANG . PAM EKASAN ZO NE ZO NE . KO TA SURAKARTA. KAB. KAB. KAB. KAB. LAHAT. KAB. KAB. W O NO G IRI.2 JAW A TENG AH ZO NE .4 DKI JAKARTA JAW A BARAT ZO NE . REJANG LEBO NG KO TA BANDAR LAM PUNG KAB. PATI. KAB. KAB. CIAM IS. KAB. PACITAN. KAB. KAB. & KAB. KO TA SEM AR ANG . KED IRI. KAB. & KO TA DEPO K KAB. TUBAN. KAB. KAB. KAB. KAB. KULO N PRO G O . KAB. CIANJUR. PURW AKARTA. PEM ALANG KO TA YO G YAKARTA KAB. KO TA BLITAR. KO TA BO G O R. LAM PUNG BARAT. G U NUNG KIDU L. BO YO LALI. SUM EDANG . & KO TA TEG AL KAB. & KO TA M ADIUN KAB. I. PO NO RO G O . YO G YAKARTA JAW A TIMUR ZO NE . KARAW ANG . W AY KANAN. KAB. KAB. TEG AL. BREBES.2 ZO NE . KAB. & KAB. O G AN KO M ER ING ILIR. KARANG ANYAR. SITUBO NDO . KO T A M O JO KERTO . KAB. W O NO SO BO . KAB. M ALANG . KO TA BEKASI.4 ZO NE . CILACAP. KAB. M USI RAW AS. LAM PUNG SELATAN.4 ZO NE . KAB. SRAG EN. TULUN G AG UNG .1 ZO NE . & KAB. KAB. KAB. BEKASI. JEPARA. KAB. KO TA M AG ELANG . KAB. JEM BER. M USI BANYU ASIN KO TA BENG KULU KAB. PURW O REJO . T ULANG BAW ANG . TASIKM ALAYA. KAB. M AJALENG KA. KAB. KAB. NG AW I. & KO TA M ETRO KO TA JAKARTA SELATAN.1 ZO NE . NG ANJUK. BANJARNEG AR A. KAB. KAB. KAB. KAB. G RESIK.3 154 . KAB. PEKALO N G AN. KAB. BENG KULU SELATAN. KAB. M AG ETAN.2 D. BO JO NEG O RO . LU M AJANG . KO TA JAKARTA TIM UR KO TA JAKARTA PUSAT .PRO PINSI SUMATERA SELATAN KO TA / KABUPATEN KO TA PALEM BANG KAB.

KAB. KAB.4 KOTA PONTIANAK KAB. MAROS. BOLAANG MANGONDOW . PANGKAJENE KEPULAUAN. KAB. LOMBOK TENGAH.5 ZONE . KAB.4 ZONE . GOW A. SUMBAW A. & KOTA TARAKAN KOTA BANJARMASIN KALIMANTAN SELATAN KAB.4 ZONE . KAB. & KAB. KAB. KUTAI TIMUR. KAB. MINAHASA.4 ZONE . KAPUAS.5 ZONE . KUTAI. KAB. & KOTA PARE-PARE KOTA PALU SULAW ESI TENGAH KAB. KETAPANG. KAB. KAB. KAB. KOLAKA ZONE . KAB. GIANYAR. KAB. HULU SUNGAI SELATAN. KAB. SIKKA. KAB. KOTABARU. LUW U. PASIR. NUNUKAN. BULUKUMBA.5 ZONE . KAB. KAB. KAB. KAB. MALINAU. & KAB. BARITO UTARA KOTA BALIKPAPAN.5 ZONE . KAB. MAMUJU. KAB. JEMBRANA. & KOTA BONTANG KAB. HULU SUNGAI UTARA. FLORES TIMUR. KAB. SANGIHE TALAUD. KAB. DOMPU. KAB. KAB. KAB. KAB. SUMBA BARAT. TAPIN. KAB.3 ZONE . BARITO KUALA.PROPINSI KALIMANTAN BARAT KOTA / KABUPATEN ZONE ZONE . HULU SUNGAI TENGAH. & KOTA BITUNG KAB.4 ZONE . PONTIANAK. LANDAK. KAB. KAB.3 ZONE . PINRANG. KAB. KAB. BANJAR.4 ZONE . SOPPENG. KOTAW ARINGIN BARAT. KAB. TABALONG. & KOTA SAMARINDA KALIMANTAN TIMUR KAB. BIMA NUSA TENGGARA TIMUR KOTA KUPANG KAB. LEMBATA. NGADA. & KAB. KAB. KAB. KAB. KAB. MAJENE. BUOL KOTA MANADO SULAW ESI UTARA KAB. BARITO SELATAN. BONE.5 155 . BENGKAYANG KAB. KAB. KAB. & KAB. BULELENG NUSA TENGGARA BARAT KOTA MATARAM KAB. BERAU. KAB. KENDARI. KAB. LOMBOK BARAT. KOTAW ARINGIN TIMUR. SELAYAR. & KAB. SANGGAU. BADUNG. SINTANG. POSO. DONGGALA. TABANAN. KAB. KAB. KAB. KLUNGKUNG. KAB.5 ZONE . BULUNGAN. BANTAENG. JENEPONTO.4 ZONE . KAB. TIMOR TENGAH SELATAN.4 ZONE . ENREKANG. KAB. KAB. KAB. SINJAI.5 ZONE . LOMBOK TIMUR. MUNA. KAB. TOLI-TOLI. BELU. BARRU. KAB. SIDENRENG RAPPANG. KAB. KAB. ENDE. TANAH LAUT. KAB.4 ZONE . MANGGARAI KOTA MAKASSAR SULAW ESI SELATAN KAB. BANGGAI KEPULAUAN. KAB. SUMBA TIMUR.5 ZONE . POLEW ALI MAMASA KAB. KAB. KAB. KAB. ALOR. KUTAI BARAT. KAB. KAB.3 ZONE . KAB. BANGLI. KUPANG.4 ZONE . KAPUAS HULU KOTA PALANGKARAYA KALIMANTAN TENGAH KAB. BUTON. TIMOR TENGAH UTARA. KARANGASEM. TAKALAR. LUW U UTARA. KAB. & KAB. & KAB. & KAB. KAB. & KAB.2 ZONE .5 ZONE . KAB. MOROW ALI. TANA TORAJA. W AJO. KAB. KAB. KAB. KAB.3 ZONE . & KOTA BANJARBARU KOTA DENPASAR BALI KAB. SAMBAS. & KOTA KENDARI SULAW ESI TENGGARA KAB. KAB. BANGGAI.4 ZONE .

PROPINSI
MALUKU

KOTA / KABUPATEN
KOTA AMBON KAB. MALUKU TENGGARA, KAB. MALUKU TENGAH, KAB. MALUKU TENGGARA BARAT, & KAB. BURU KAB. MALUKU UTARA, KAB. HALMAHERA TENGAH, & KOTA TERNATE KOTA JAYAPURA KAB. JAYAPURA, KAB. JAYAW IJAYA, KAB. PUNCAK JAYA, KAB. MERAUKE KAB. BIAK NUMFOR, KAB. YAPEN W AROPEN, KAB. NABIRE, KAB. PANIAI, KAB. MIMIKA KAB. SORONG, KAB. MANUKW ARI, KAB. FAK-FAK, & KOTA SORONG KAB. TANGERANG, & KOTA TANGERANG KAB. SERANG, KAB. PANDEGLANG, KAB. LEBAK, & KOTA CILEGON KAB. BANGKA, & KOTA PANGKAL PINANG KAB. BELITUNG KAB. GORONTALO, KAB. BOALEMO, & KOTA GORONTALO

ZONE
ZONE - 4 ZONE - 5

MALUKU UTARA IRIAN JAYA / PAPUA

ZONE - 5 ZONE - 4 ZONE - 5

BANTEN

ZONE - 1 ZONE - 2 ZONE - 3 ZONE - 4 ZONE - 5

KEP. BANGKA BELITUNG GORONTALO

3.

BHP FREKUENSI DALAM BENTUK IZIN PITA FREKUENSI RADIO

Berdasarkan ketentuan PP No.7/2009, terdapat suatu kemungkinan untuk pengenaan BHP Frekuensi dalam bentuk izin pita frekuensi radio. Di mana berbeda dengan pengenaan BHP Frekuensi dalam bentuk ISR, penyelenggara telekomunikasi yang dikenakan izin pita frekuensi radio tidak dikenakan lagi BHP ISR per kanal per stasiun radio. Hal ini sangat memudahkan dan menyederhanakan perhitungan dan verifikasi, serta mendorong penyelenggara untuk membangun jaringannya secepat mungkin. Bentuk BHP Frekuensi Radio ini baru dikenakan untuk penyelenggara selular yang menggunakan pita frekuensi 1920 – 1980 MHz / 2110 – 2170 MHz (UMTS/3G). Besaran BHP Pita frekuensi radio dikenakan berdasarkan lebar pita frekuensi yang diduduki, di mana besarnya biaya per MHz tergantung dari hasil seleksi (lelang). Untuk besaran BHP pita frekuensi penyelenggara selular yang menggunakan pita frekuensi 1920 – 1980 MHz / 2110 – 2170 MHz (UMTS/3G), besarannya ditetapkan berdasarkan hasil pelelangan yang diadakan pada bulan Februari 2006. 3.1 KETENTUAN PEMBAYARAN BHP PITA FREKUENSI OPERATOR IMT2000 3.1.1 UP FRONT FEE

Berdasarkan Permen Kominfo No. 7 Tahun 2006 tentang Ketentuan Penggunaan Pita Frekuensi Radio 2.1 GHz untuk Penyelenggaraan Jaringan Bergerak Seluler adalah sebagai berikut: 1. Telkomsel : a. Rp 218 Milyar X 2 unit hasil lelang = Rp 436 Milyar b. dibayarkan sekaligus Tahun I : Tahun 2006

156

2. 3.

Excelcomindo Pratama : a. Rp 188 Milyar X 2 unit hasil lelang = Rp 376 Milyar b. dibayarkan sekaligus Tahun I : Tahun 2006 Indosat : a. Rp 160 Milyar X 2 unit hasil lelang = Rp 320 Milyar b. dibayarkan sekaligus Tahun I : Tahun 2006

Sesuai Kepmen No. 29 Tahun 2006 tentang kewajiban pembayaran Up Front Fee bagi Hutchison CP Telecom dan Natrindo Telepon Seluler (sebagai operator yang sebelumnya eksisting di frekuensi 2,1 GHz) dengan besaran sebagai berikut : 1. Hutchison CP Telecom : a. Rp 160 Milyar X 2 unit hasil lelang = Rp 320 Milyar b. Paling lambat 31 Januari 2008 yang dibayarkan dengan bunga Natrindo Telepon Seluler : a. Rp 160 Milyar X 2 unit hasil lelang = Rp 320 Milyar b. Paling lambat 31 Januari 2008 yang dibayarkan dengan bunga BHP PITA TAHUNAN

2.

3.1.2

Dasar dari pengenaan BHP Pita Frekuensi Radio tahunan untuk penyelenggara IMT-2000 pada pita 2.1 GHz adalah Permen Kominfo No. 7 Tahun 2006 tentang Ketentuan Penggunaan Pita Frekuensi Radio 2.1 GHz untuk Penyelenggaraan Jaringan Bergerak Seluler. BHP pita tahunan diterapkan sama kepada kelima operator 3G yaitu Telkomsel, Excelcomindo Pratama, Indosat, Hutchison CP Telecom, Natrindo Telepon Seluler untuk 1 blok @ 5 MHz FDD sebagai berikut:   Tahun 1 (2006) : 20% X Rp 160 Milyar = Rp 32 Milyar Tahun 2 (2007) : 40% X (1 + BI rate 2006) X Rp 160 Milyar

Sesuai Kepmen Kominfo No. 58/KEP/M.KOMINFO/02/2007 tentang Penetapan Bank Indonesia Rate untuk Perhitungan Biaya Hak Penggunaan Pita Spektrum Frekuensi Radio 2.1 GHz untuk Penyelenggaraan Jaringan Bergerak Seluler : Nilai BI Rate = 11,83% 40% X (1 + 11,83%) X Rp 160 Milyar = Rp 71,57 Milyar    Tahun 3 (2008) : 60% X (1 + BI rate 2007) X Rp 160 Milyar Tahun 4 (2009) : 100% X (1 + BI rate 2008) X Rp 160 Milyar Tahun 5 (2010) : 130% X (1 + BI rate 2009) X Rp 160 Milyar

157

    

Tahun 6 (2011) : Tahun 7 (2012) : Tahun 8 (2013) : Tahun 9 (2014) : Tahun 10 (2015)

130% X (1 + BI rate 2010) X Rp 160 Milyar 130% X (1 + BI rate 2011) X Rp 160 Milyar 130% X (1 + BI rate 2012) X Rp 160 Milyar 130% X (1 + BI rate 2013) X Rp 160 Milyar :130% X (1 + BI rate 2014) X Rp 160 Milyar

Sesuai Permen No.1 Tahun 2006 tentang Penataan Frekuensi IMT2000, terhitung sejak 1 Januari 2008, Primasel (sekarang menjadi SMART Telecom) dikenakan BHP pita yang sama dengan operator IMT-2000 tersebut yang besarnya disesuaikan dengan Peraturan Menteri tentang Biaya Hak Penggunaan (BHP) Frekuensi pada pita frekuensi 2.1GHz. Sebelumnya, seperti yang diatur pada Permen No.1 Tahun 2006 juga, perusahaan yang bersangkutan membayar BHP untuk izin stasiun radio (ISR). Berdasarkan ketentuan Permen 7/2006, skema pembayaran BHP frekuensi SMART Telecom adalah sebagai berikut: Up Front Fee sebesar: 2 x Rp 160 M x 6,875 MHz/5MHz = Rp 440 M BHP Tahunan untuk tahun pertama: 20% x Rp 160 M x 6,875MHz/5MHz = Rp 44 M 4. WHITE PAPER PENERAPAN BIAYA HAK PENGGUNAAN BERDASARKAN LEBAR PITA (BHP PITA) PADA PENYELENGGARA TELEKOMUNIKASI SELULER DAN FIXED WIRELESS ACCESS (FWA)

Bulan Oktober 2009, Ditjen Postel telah melakukan konsultasi publik dalam bentuk publikasi melalui website Ditjen Postel maupun dengan melakukan Workshop dengan stakeholder telekomunikasi terhadap white paper penerapan biaya hak penggunaan berdasarkan lebar pita pada penyelenggara telekomunikasi seluler dan fixed wireless access. Dokumen white paper tersebut merupakan draft kebijakan pemerintah yang disusun dalam rangka perubahan tarif BHP dari yang sebelumnya berdasarkan ISR menjadi berdasarkan lebar pita frekuensi. BHP Frekuensi merupakan hal terpenting dalam suatu pengelolaan spektrum frekuensi. Tidak ada konsep yang baku dalam penetapannya dan sangat tergantung pada situasi dan kondisi perkembangan ekonomi di setiap negara, meskipun teknologi yang dihadapi sama. Bagi Indonesia, yang bentuk geografi dan jumlah penduduknya menuntut penggunaan komunikasi radio secara optimal dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, BHP frekuesi bisa merupakan ujung tombak yang bermata ganda, sehingga penentuannya harus dilakukan dengan adil dan bisa dimaklumi oleh semua pihak.

158

Perubahan pentarifan BHP frekuensi dari basis ISR ke BHP frekuensi berbasis lebar pita menuntut kesiapan baik dari sisi regulator maupun penyelenggara selama masa transisi perubahan pentarifan BHP frekuensi tersebut. Dengan melihat dinamika industri telekomunikasi yang terjadi saat ini, skema tarif BHP frekuensi yang diharapkan : 1. 2. 3. 4. 5. Mencerminkan biaya pengelolaan spektrum frekuensi yang sebanding dengan manfaat ekonomi bagi penyelenggara. Menerapkan penggunaan spektrum frekuensi secara efektif dan efisien. Memiliki formula tarif BHP yang sederhana, mendorong penyelenggara untuk meningkatkan kualitas layanan melalui optimalisasi jaringannya, netral terhadap teknologi dan mudah dalam pengawasannya. Mendorong pemerataan pertumbuhan usaha sektor telekomunikasi. Memiliki proses transisi skema tarif BHP berbasis ISR ke basis lebar pita yang bertahap dan smooth agar tidak menimbulkan gangguan pada pola bisnis penyelenggara.

White paper penerapan biaya hak penggunaan berdasarkan lebar pita pada penyelenggara telekomunikasi seluler dan fixed wireless access secara lengkap beserta formula perhitungannya dapat di unduh pada website Ditjen Postel di www.postel.go.id.

 

 

159

Bagian Hukum dan Organisasi. Jakarta: Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. 6. September 2007. International Telecommunication Union. Migrasi Analog ke Digital”. 2000. Sistem Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum. Singapore. Jakarta: Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. Koperasi Ditjen Postel. Sistem Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum. Jakarta. 2. 2004. 10. Switzerland. 2001. Ditjen Postel. Bagian Hukum dan Organisasi. 3. 2000. ”Radio Regulation. 7. Jakarta: Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. Edisi ke-3” Jakarta: Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. AM. Bagian Hukum dan Organisasi. 2003. Sistem Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum. ”Alokasi Spektrum Frekuensi dan Satelit di Indonesia”. “Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi”. 8. November 2001. Jakarta. Edition”. 4. “Data Pengguna Frekuensi Broadband Wireless Access”. Kajian Usulan Revisi Master Plan Frekuensi Radio Siaran FM. 9. Infocomm Development Authority (IDA) Singapore. 2003 Presentasi Tim Teknis Ditfrek Ditjen Postel. Jakarta: Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. 2000. Bagian Hukum dan Organisasi. Ditspekfrek & Orsat. Setiawan. Geneva. “Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2000 tentang Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit”. TV Siaran VHF Band III. 2002. “Penataan Frekuensi untuk Keperluan Penyiaran”. ”Radio Spectrum Master Plan”. TV Siaran UHF. Jakarta. Sistem Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum.DAFTAR PUSTAKA 1. Agustus 2007. “Undang-undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi”. Ditjen Postel. “Presentasi Draft RPM Penataan Frekuensi BWA”. Jakarta: Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. 2000. Presentasi Tim Teknis Ditfrek Ditjen Postel. Denny “Tabel Alokasi Frekuensi Radio Indonesia. 11. “Himpunan Peraturan Perundang-undangan Bidang Penerimaan Negara Bukan Pajak”. Subdit Penataan Frekuensi Radio. 5. 160 .

1994. 13. Calcutt.12. Edward Arnold. London. Website Ditjen Postel: www. “Data Penyelenggara Sistem Telekomunikasi Bergerak Selular di Indonesia”. Ditspekfrek & Orsat. Tetley. L. Jakarta: Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. D.postel. ”Understanding GMDSS.go.id 161 . Subdit Penataan Frekuensi Radio. 14. 2002. the Global Maritime Distress and Safety System”.

33 (Samping Kantor BPKP) Banda Aceh 23117 T: (0651) 34433 F: (0651) 638538 (0651) 45755 e-mail : upt_bandaaceh@postel. T.id 4 T: (0761) 65735 F: (0761) 61540 e-mail : upt_pekanbaru@postel.LAMPIRAN I DAFTAR UNIT PELAKSANA TEKNIS (UPT) BALAI / LOKA MONITORING PENGELOLAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO. DI SELURUH INDONESIA NO WILAYAH UPT NOMOR TELEPON/FAX 1 BALMON KELAS II NANGROE ACEH DARUSSALAM Jl. DITJEN POSTEL-DEPKOMINFO. Raya Tangkil No. Willem Iskandar No.10 Medan Sumatra Utara 20221 T: (061) 6630992 (061) 6630985 F: (061) 6621717 e-mail : upt_medan@postel.go.go.id   162 . Riau – 28294 T: (0751) 483722 F: (0751) 483744 (0751) 57021 e-mail : upt_padang@postel.244 Pekan Baru.id 3 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD PADANG Jl Pulai Kel.go. Batang Kabung Ganting Kec.go. Nyak Makam No. 03 RT-1 Jambi – 36373 T: (0741) 570083 F: (0741) 570083 e-mail : upt_jambi@postel. Soekarno Hatta (Arengka Atas) No.id 5 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD JAMBI Jl.go.P.id hercules@postel.id 2 BALMON KELAS II MEDAN Jl. Koto Tangah Padang 25172 jl Khatib Sulaiman No.22 Padang 25137 (kantor lama) BALMON KELAS II PEKANBARU Jl.go.

Kab. DR. Tangerang 12 BALMON KELAS II BANDUNG Jl.50 Palembang Sumatera Selatan – 30137 T: (0711) 444423 F: (0711) 444424 e-mail: upt_palembang@postel. Batam – 29422 T: (0778) 327927 (0778) 327928 :(0778) 310008 F : (0778) 327928 e-mail : upt_batam@postel. Bhakti Husada No.id 11 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD TANGERANG Jl.go.id 10 BALMON KELAS I DKI JAKARTA Jl. Raya Cisoka.go. Kramat Jaya KM-14 No.9 Hajimena Bandar Lampung – 35362 T:(0721) 781212 (0721) 774372. Balaraja.go.6 BALMON KELAS II BATAM Jl.net.89.id balmon. Desa Cangkudu Kec.go.go.go. 41 F: (021) 5950940 e-mail : upt_banten@postel. F:(0721) 774372 (0721) 781212 e-mail : upt_bandarlampung@postel. Macan Kumbang No.id T: (021) 5950940. Cipto Mangunkusumo. 164 Arcamanik Bandung Jawa Barat – 40293 T: (022) 7278484 F: (022) 7278382 e-mail: upt_bandung@postel.id 9 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD LAMPUNG Jl. Skip Ujung No. Pacuan Kuda No.com 8 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD BENGKULU Jl.bdg@centrin.go.id 163 .id 7 BALMON KELAS II PALEMBANG Jl.id balmon_palembang@telkom. Sekupang.1 Utan Kayu Jakarta Timur – 13120 T: (021) 8505624 (021) 8584315 : (021) 8514879 F: (021) 8505635 e-mail : upt_jakarta@postel. Bengkulu – 38225 T: (0736) 20963 F: (0736) 20963 : (0736) 52837 e-mail: upt_bengkulu@postel.

Kamboja.id 15 BALMON KELAS II SURABAYA Jl Ahmad Yani No.242-244 Surabaya Jawa Timur – 60235 T: (031) 8288394 F: (031) 8292365 e-mail: balmonsb@postel.com upt_semarang@postel.go. Desa Kuanheun. Cangkringan-Prambanan Dusun Kledokan.go.id upt_surabaya@postel.go. 3 A Yogyakarta Atau Jl. Yogyakarta 55571 T: (0274) 450150 (0274) 491171 F: (0274) 450151 (0274) 491171 e-mail : upt_jogjakarta@postel. Kec. Desa Den Kayu Kec. Singosari No. Batakte . 4 Mataram Tenggara Barat – 83127 T: (0370) 646411 F: (0370) 648740 – 42 e-mail : upt_mataram@postel.id 17 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD MATARAM Jl.go. Kupang Barat – 85352 PO. Veteran No.go.co.id 14 BALMON KELAS II SEMARANG Komplek Semarang Indah Blok-CIII/1-3 Semarang Jawa Tengah – 50144 T:(024) 7617454 (024) 7618617 F:(024) 7617455 e-mail: suatmaji_mas@yahoo.Bolok.BOX 1137 T: (0380) 828311 (0380) 838206 F: (0380) 828311 : (0380) 428082 e-mail : upt_kupang@postel. Selomartani.go.id balmon_denpasar@yahoo.go.13 BALMON KELAS II YOGYAKARTA Jl. Mengui Kabupaten Badung – 80351 T: (0361) 880835 – 37 F: (0361) 880837 e-mail : upt_denpasar@postel. Kalasan.id     164 .id 18 BALMON KELAS II KUPANG Jl.id 16 BALMON KELAS II DENPASAR Jl.

25961 F: (0536) 3232592.go. 527561 F: (0561) 575979 : (0561) 778160 e-mail : upt_pontianak@postel. 25370.go. Tjilik Riwut KM-7.go. Samarinda Kalimantan Timur -75124 Kotak Pos 1241 Samarinda T: (0541) 241900 (0541) 748696 F: (0541) 241900 : (0541) 748696 e-mail : upt_samarinda@postel. Yani II Km.id 21 BALMON KELAS II PONTIANAK Jl.id     165 .19 BALMON KELAS II SAMARINDA Desa Pulau Atas.go.13 Pontianak Kalimantan Barat T: (0561) 7078679. A.go. Pramuka No. 25670.id 22 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD PALANGKARAYA Jl.go. Mekino I/83 Balikpapan Kalimantan Timur -76121 T: (0542) 423569 F: (0542) 423569 e-mail : upt_balikpapan@postel.8 Pineleng Satu. 25961 e-mail : upt_palangkaraya@postel.22A Banjarmasin Kalimantan Selatan – 70111 T: (0536) 25370.id 23 T: (0511) 3258346 (0511) 416024 (0511) 258346 (0511) 251944 F: (0511) 3251944 e-mail : upt_banjarmasin@postel. 575979 (0561) 778160.Temohon Km. Pineleng Sulawesi Utara – 95361 T: (0431) 826870 (0431) 827538 F: (0431) 827538 (0431) 826870 e-mail : upt_manado@postel. Kec.8 Palangkaraya Kalimantan Tengah – 73112 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD BANJARMASIN Jl.id 20 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD BALIKPAPAN Jl. Raya Manado .id 24 BALMON KELAS II MANADO Jl.

44 Koloncucu Ternate 97726 T: (0921) 3111137. 22502 e-mail : loka@ternate.net.id 30 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD KENDARI Jl. H. 8210001 e-mail: balmon_mks@telkom.Panjaitan Komplek BTN Kehutanan Kendari .go. D. Gowa.25 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD PALU Jl. Dulahlowo – Gorontalo T: (0435) 829780 (0435) 834144 F: (0435) 834144 (0435) 829780 e-mail : upt_gorontalo@postel.Sulawesi Tenggara 93117 T: (0401) 393737 F: (0401) 393737 e-mail : upt_kendari@postel.id 166 .Karang Panjang.id 28 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD GORONTALO jl.I. Raya Malino KM-18 Borongloe Kab. 326726.id loka@ambon. Kamaruddin No.go. Gonsalo Veloso RT. Palu. Agus Salim no.id upt_makasar@postel.go. Ambon 97121 T: (0911) 314385 F: (0911) 314385 (0911) 341033 e-mail : upt_ambon@postel. Sulawesi Selatan – 92172 T: (0411) 8210001 (0411) 861712 (0411) 5040511 (0411) 5058684 F: (0411) 8210088.id bakhtiar@postel.id 29 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD TERNATE Jl. 280 B Kel. Kec.id upt_ternate@postel.go. 326726.net. Sulawesi Tengah .go.go. A.id 27 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD AMBON Jl.M.wasantara.id 26 BALMON KELAS II UJUNG PANDANG Jl. Tabae Jou.net.wasantara.94362 T: (0451) 487761 F: (0451) 487761 (0451) 421623 (0451) 421226 e-mail : upt_palu@postel. Tadulako Desa Binangga.go. 22511 F: (0921) 3111138.002/05 Kopertis . Marawola.

31

LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD BANGKA BELITUNG Jl. Yos Sudarso No.233 Pangkal Pinang 33115 Propinsi Kepulauan Bangka Belitung

T: (0717) 424790 F: (0717) 424790 e-mail : upt_pangkalpinang@postel.go.id

32

BALMON KELAS II JAYAPURA Jl. Raya Sentani no. 21 Padang Bulan, Abepura Jayapura

T: (0967) 571963 F: (0967) 571945 e-mail : upt_jayapura@postel.go.id

33

LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD MERAUKE Jl. Trans Irian KM-15 Kec.Wasur, Merauke Papua   STASIUN MONITORING SORONG Jl. Sungai Maruni Km.10 Masuk Klawuyuk, Sorong Utara, Sorong 98400 Papua Barat

T: (0971) 321701 (0971) 323475 F: (0971) 321701 e-mail : upt_merauke@postel.go.id

34

T: (0951) 325950 F: (0951) 325950 Email : pos_monitor_sorong@yahoo.com

167

LAMPIRAN 2
PERENCANAAN KANAL FREKUENSI, BATAS DAYA PANCAR, TINGGI ANTENNA RADIO SIARAN FM
FREKUENSI (MHz) 87.6 87.7 87.8 87.9 88.0 88.1 88.2 88.3 88.4 88.5 88.6 88.7 88.8 88.9 89.0 89.1 89.2 89.3 89.4 89.5 89.6 89.7 89.8 89.9 90.0 90.1 90.2 90.3 90.4 90.5 90.6 90.7 90.8 NO. KANAL 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 FREKUENSI (MHz) 94.4 94.5 94.6 94.7 94.8 94.9 95.0 95.1 95.2 95.3 95.4 95.5 95.6 95.7 95.8 95.9 96.0 96.1 96.2 96.3 96.4 96.5 96.6 96.7 96.8 96.9 97.0 97.1 97.2 97.3 97.4 97.5 97.6 NO. KANAL 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 FREKUENSI (MHz) 101.2 101.3 101.4 101.5 101.6 101.7 101.8 101.9 102.0 102.1 102.2 102.3 102.4 102.5 102.6 102.7 102.8 102.9 103.0 103.1 103.2 103.3 103.4 103.5 103.6 103.7 103.8 103.9 104.0 104.1 104.2 104.3 104.4 NO. KANAL 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169

168

FREKUENSI (MHz) 90.9 91.0 91.1 91.2 91.3 91.4 91.5 91.6 91.7 91.8 91.9 92.0 92.1 92.2 92.3 92.4 92.5 92.6 92.7 92.8 92.9 93.0 93.1 93.2 93.3 93.4 93.5 93.6 93.7 93.8 93.9 94.0 94.1 94.2 94.3    

NO. KANAL 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68

FREKUENSI (MHz) 97.7 97.8 97.9 98.0 98.1 98.2 98.3 98.4 98.5 98.6 98.7 98.8 98.9 99.0 99.1 99.2 99.3 99.4 99.5 99.6 99.7 99.8 99.9 100.0 100.1 100.2 100.3 100.4 100.5 100.6 100.7 100.8 100.9 101.0 101.1

NO. KANAL 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136

FREKUENSI (MHz) 104.5 104.6 104.7 104.8 104.9 105.0 105.1 105.2 105.3 105.4 105.5 105.6 105.7 105.8 105.9 106.0 106.1 106.2 106.3 106.4 106.5 106.6 106.7 106.8 106.9 107.0 107.1 107.2 107.3 107.4 107.5 107.6 107.7 107.8 107.9

NO. KANAL 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204

169

BATAS DAYA PANCAR RADIO SIARAN FM

KELAS A
 

 

 

KELAS B
 

ERP (kW)

15

KURVA MAKSIMUM ERP vs EHAAT

10

5

50

60

70

80

90

100 EHAAT (m)

     

 

170

KELAS C       KELAS D ERP (Watt) 50 40 30 20 10 5 10 15 20 KURVA MAKSIMUM ERP vs EHAAT EHAAT (m)   171 .

0°30'00'' S 131°17'00'' E .00000 [kHz] 765.00000 [kHz] 783. 2°37'00'' S 124°49'00'' E . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Fragment GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 AssgnFreq 540. 3°41'00'' S 113°45'00'' E .00000 [kHz] GeoCoord 107°34'00'' E .00000 [kHz] 891.00000 [kHz] 909.00000 [kHz] 738. 9°12'00'' S 98°39'00'' E .00000 [kHz] 873. 6°58'00'' S 140°22'00'' E .00000 [kHz] 864.00000 [kHz] 720. 0°50'00'' S 112°45'00'' E . 8°07'00'' S 102°20'00'' E . 6°57'00'' S 132°17'00'' E . 6°23'00'' S 117°09'00'' E . 3°35'00'' N 140°39'00'' E . 7°14'00'' S 119°28'00'' E . 0°50'00'' S 104°45'00'' E .00000 [kHz] 630.00000 [kHz] 873. 7°36'00'' S 131°17'00'' E . 8°30'00'' S 140°22'00'' E . 7°59'00'' S 127°23'00'' E .00000 [kHz] 693. 3°46'00'' S 109°12'00'' E . 2°59'00'' S 124°49'00'' E .00000 [kHz] 693. 0°48'00'' N 106°45'00'' E . 6°57'00'' S 112°45'00'' E .00000 [kHz] 891.00000 [kHz] 585.00000 [kHz] 774.00000 [kHz] 810. 3°22'00'' S 107°34'00'' E .00000 [kHz] 900. 2°55'00'' S 110°50'00'' E .00000 [kHz] 900.00000 [kHz] 693. 5°09'00'' S 111°31'00'' E . 8°30'00'' S 98°39'00'' E . 7°26'00'' S 114°33'00'' E .00000 [kHz] 711. 3°35'00'' N 116°08'00'' E .00000 [kHz] 855.00000 [kHz] 774. 2°55'00'' S 105°18'00'' E . 7°14'00'' S 101°30'00'' E .00000 [kHz] 828. 9°12'00'' S 128°10'00'' E .00000 [kHz] 756.00000 [kHz] 918.00000 [kHz] 801.00000 [kHz] 819. 7°32'00'' S 112°45'00'' E .00000 [kHz] 927.00000 [kHz] 837.LAMPIRAN 3 DAFTAR KOTA YANG SUDAH DINOTIFIKASI DI ITU BERDASARKAN PROSEDUR GE-75 UNTUK STASIUN RADIO SIARAN AM DI INDONESIA No. 0°33'00'' N SiteName BANDUNG SURABAJA UJUNGPANDANG MADIUN SORONG PALEMBANG ATAMBUA AMBON DJEMBER BENGKULU PURWOKERTO BANDJARMASIN BANDUNG FAKFAK TANDJUNGKARANG SEMARANG MERAUKE MERAUKE MEDAN DJAJAPURA ATAMBUA MEDAN MATARAM TJIREBON FAKFAK SURAKARTA MALANG TERNATE DJAKARTA SAMARINDA SORONG SURABAJA PAKANBARU EmiClass A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-- 172 .00000 [kHz] 747. 6°45'00'' S 132°17'00'' E . 8°36'00'' S 108°34'00'' E . 5°22'00'' S 110°29'00'' E .00000 [kHz] 819.00000 [kHz] 855.

No.00000 [kHz] 1098. 6°45'00'' S 113°51'00'' E .00000 [kHz] 1170.00000 [kHz] 1116. 6°36’00’’ S 95°20’00’’ E . 5°30’00’’ N 116°08’00’’ E . 3°41'00'' S 98°48'00'' E . 6°14'00'' S 111°31'00'' E .00000 [kHz] 1206.00000 [kHz] 1125. 3°22'00'' S 122°36'00'' E .00000 [kHz] 1107.00000 [kHz] 1053.00000 [kHz] 1098. 8°40’00’’ S 106°45’00’’ E .00000 [kHz] 1251.00000 [kHz] 1089. 1°42'00'' N 140°39'00'' E .00000 [kHz] 1044.00000 [kHz] 963. 1°36'00'' S 110°24'00'' E .00000 [kHz] 1161.00000 [kHz] 1035.00000 [kHz] 981.00000 [kHz] 1269.00000 [kHz] 1170. 6°58'00'' S 127°23'00'' E . 0°33'00'' N 119°53'00'' E .00000 [kHz] 1089.00000 [kHz] 963.00000 [kHz] 999.00000 [kHz] 1080.00000 [kHz] 1242.00000 [kHz] 1044. 0°48'00'' N 100°25'00'' E . 7°48'00'' S 121°40'00'' E . 10°13'00'' S 119°52'00'' E . 8°06'00'' S 121°40'00'' E . 0°54'00'' S 114°33'00'' E .00000 [kHz] 1287. 8°07'00'' S 110°24'00'' E . 8°51'00'' S 108°34'00'' E . 1°11'00'' S 113°45'00'' E . 3°57'00'' S 110°29'00'' E . 2°59’00’’ S SiteName KENDARI BIAK DJEMBER JOGJAKARTA ENDEH DJAKARTA MADIUN KUPANG PALU TANDJUNGKARANG AMBON SIBOLGA DJAJAPURA SINGARADJA ENDEH TJIREBON SUMENEP DJAMBI JOGJAKARTA KUPANG BIAK PAKANBARU PALU BANDJARMASIN KENDARI SEMARANG TERNATE PADANG MENADO PALENGKARAJA DENPASAR DJAKARTA PONTIANAK BOGOR SEMPLAK BANDA ATJEH MATARAM PONTIANAK PALEMBANG EmiClass A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-- 173 .00000 [kHz] 1008. 7°48'00'' S 123°38'00'' E . 0°05’00’’ S 106°47’00’’ E . 10°13'00'' S 136°04'00'' E . 1°32'00'' N 113°11’00’’ E . 1°00'00'' S 124°55'00'' E . 3°57'00'' S 136°04'00'' E . 7°36'00'' S 123°38'00'' E .00000 [kHz] 1215. 5°22'00'' S 128°10'00'' E . 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 Fragment GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 AssgnFreq 954.00000 [kHz] 1197.00000 [kHz] GeoCoord 122°36'00'' E . 0°05’00’’ S 104°45’00’’ E .00000 [kHz] 1179. 6°23’00’’ S 109°16’00’’ E . 7°01'00'' S 103°39'00'' E .00000 [kHz] 1188.00000 [kHz] 1107.00000 [kHz] 1116.00000 [kHz] 1251. 0°54'00'' S 105°18'00'' E . 8°36’00’’ S 109°16’00’’ E . 1°11'00'' S 101°30'00'' E . 2°37'00'' S 115°04'00'' E . 2°02’00’’ S 115°14’00’’ E . 8°51'00'' S 106°53'00'' E .00000 [kHz] 1233.00000 [kHz] 972.00000 [kHz] 1134.00000 [kHz] 1017.00000 [kHz] 1035.

00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 7°42'00'' S 115°24'00'' E . 0°30’00’’ S 102°20’00’’ E . 6°42'00'' S 112°39'00'' E . 7°30'00'' S 124°55'00'' E . 6°14’00’’ S 106°09’00’’ E . 5°09’00’’ S 113°51’00’’ E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 8°06’00’’ S 117°09’00’’ E .00000 [kHz] 1413.00000 [kHz] 1449.00000 [kHz] 1332.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1323. 7°09'00'' S 110°12'00'' E . 5°24'00'' S 108°34'00'' E . 6°42'00'' S 124°50'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1449.00000 [kHz] 1485. 7°37'00'' S 110°12'00'' E . 6°23’00’’ S 104°28’00’’ E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 6°53'00'' S 104°49'00'' E . 8°10'00'' S 107°45'00'' E .No.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 3°00'00'' S 113°13'00'' E .00000 [kHz] 1485. 3°46’00’’ S 104°28’00’’ E . 7°01’00’’ S 95°20’00’’ E . 2°02’00’’ S 112°45’00’’ E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1476.00000 [kHz] 1485. 7°45'00'' S 106°15'00'' E .00000 [kHz] 1422. 1°32’00’’ N 113°11’00’’ E .00000 [kHz] 1359. 7°59’00’’ S 106°45’00’’ E . 6°55’00’’ S 111°03’00’’ E .00000 [kHz] 1404. 6°55'00'' S 110°36'00'' E .00000 [kHz] GeoCoord 124°55’00’’ E . 7°32’00’’ S 107°36’00’’ E .00000 [kHz] 1395. 1°19'00'' N SiteName MENADO PALENGKARAJA MALANG DJAKARTA TANDJUNGPINANG UJUNGPANDANG SUMENEP BANDA ATJEH DJAKARTA PANGKALPINANG SINGARADJA SAMARINDA BENGKULU TANDJUNGPINANG SURAKARTA BANDUNG BOJONEGORO BUKITTINGGI GARUT GRESIK KENDAL KLATEN KLUNGKUNG MADIUN MAGELANG MENADO PANDJANG PEKALONGAN PLADJU PROBOLINGGO RANGKASBITUNG SERANG DJEMBER SUBANG SUMENEP TANDJUNGKARANG TJIREBON TOMOHON EmiClass A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-- 174 . 2°05’00’’ S 115°04’00’’ E .00000 [kHz] 1485. 0°55’00’’ N 119°28’00’’ E .00000 [kHz] 1377. 0°55’00’’ N 110°50’00’’ E . 6°07'00'' S 113°42'00'' E . 8°32'00'' S 111°31'00'' E . 6°22'00'' S 106°09'00'' E . 0°18'00'' S 107°53'00'' E .00000 [kHz] 1341.00000 [kHz] 1485. 1°32'00'' N 105°22'00'' E . 5°30’00’’ N 106°53’00’’ E . 7°09’00’’ S 100°32'00'' E . 7°00'00'' S 105°15'00'' E . 6°34'00'' S 113°51'00'' E .00000 [kHz] 1485. 5°33'00'' S 109°40'00'' E .00000 [kHz] 1305.00000 [kHz] 1485. 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 Fragment GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 AssgnFreq 1305.00000 [kHz] 1467.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.

00000 [kHz] GeoCoord 109°59'00'' E . 7°38'00'' S 111°02'00'' E . 3°46'00'' S 136°04'00'' E . 5°02'00'' S 98°48'00'' E . 3°22'00'' S 112°46'00'' E .00000 [kHz] 1485. 7°59'00'' S 98°40'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 0°13'00'' S 111°28'00'' E . 7°28'00'' S 115°05'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 6°10'00'' S 115°13'00'' E .00000 [kHz] 1485. 0°54'00'' S 112°54'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 Fragment GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 AssgnFreq 1485. 8°39'00'' S 132°17'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 1°11'00'' S 106°47'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.No.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 7°36'00'' S 114°23'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 2°55'00'' S 110°14'00'' E .00000 [kHz] 1485. 6°50'00'' S 112°37'00'' E . 7°54'00'' S 107°18'00'' E . 7°53'00'' S 107°17'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 0°05'00'' S 109°15'00'' E . 7°21'00'' S 128°10'00'' E .00000 [kHz] 1485. 6°35'00'' S 113°49'00'' E . 6°49'00'' S 107°28'00'' E . 7°26'00'' S 110°30'00'' E . 7°52'00'' S 109°20'00'' E . 7°43'00'' S 117°09'00'' E .00000 [kHz] 1485. 3°41'00'' S 114°33'00'' E .00000 [kHz] 1485. 6°18'00'' S 108°13'00'' E . 6°58'00'' S 119°39'00'' E . 6°57'00'' S 112°02'00'' E . 6°45'00'' S 100°38'00'' E . 8°13'00'' S 102°20'00'' E . 0°30'00'' S 110°25'00'' E . 0°57'00'' S 113°11'00'' E .00000 [kHz] 1485. 1°42'00'' N 112°43'00'' E . 0°50'00'' S SiteName WONOSOBO AMBON BANDJARMASIN BANGIL BANJUWANGI BENGKULU BIAK BOGOR SEMPLAK BONDOWOSO CIANJUR CIKAMPEK DJAKARTA DENPASAR FAKFAK KALIUNGU KEDIRI KRAWANG MAJALENGKA MALANG MEDAN PADANG PALENGKARAJA PALU PASURUAN PATI PAYAHKUMBUH PONOROGO PONTIANAK PURWOKERTO PURWOREJO SAMARINDA SEMARANG SENKANG SIBOLGA SIDOARJO SINGARADJA SOLOK SUMATRA SORONG EmiClass A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-- 175 . 8°06'00'' S 100°39'00'' E . 0°48'00'' S 131°17'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 3°30'00'' N 100°23'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 2°02'00'' S 119°53'00'' E .00000 [kHz] 1485. 6°25'00'' S 106°50'00'' E .00000 [kHz] 1485.

00000 [kHz] 1584. 7°26'00'' S 119°39'00'' E . 3°57'00'' S 103°39'00'' E . 7°54'00'' S 107°18'00'' E . 6°45'00'' S 100°38'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1512. 6°52'00'' S 105°16'00'' E . 7°19'00'' S 109°08'00'' E .No.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1584. 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 Fragment GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 AssgnFreq 1485.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1485. 7°15'00'' S 106°55'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 0°00'00'' N 109°15'00'' E .00000 [kHz] 1530. 6°50'00'' S 112°45'00'' E . 0°48'00'' N 108°20'00'' E .00000 [kHz] 1584. 6°10'00'' S 112°43'00'' E . 6°52'00'' S 110°10'00'' E . 0°17'00'' S 100°25'00'' E .00000 [kHz] 1584. 1°36'00'' S 100°20'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 5°09'00'' S 128°10'00'' E .00000 [kHz] 1584. 7°36'00'' S 113°49'00'' E .00000 [kHz] 1584. 7°19'00'' S 124°45'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 3°30'00'' N 111°02'00'' E .00000 [kHz] 1485. 6°49'00'' S 106°50'00'' E . 7°19'00'' S 127°23'00'' E . 5°27'00'' S 110°10'00'' E . 5°09'00'' S 122°36'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1485. 7°19'00'' S 108°20'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 7°15'00'' S 109°08'00'' E . 1°00'00'' S 112°46'00'' E . 0°13'00'' S 109°20'00'' E .00000 [kHz] 1584. 6°50'00'' S 110°49'00'' E . 6°57'00'' S 108°13'00'' E .00000 [kHz] 1503.00000 [kHz] 1485. 7°19'00'' S 124°45'00'' E .00000 [kHz] 1485. 1°22'00'' N 119°25'00'' E .00000 [kHz] GeoCoord 112°45'00'' E . 6°50'00'' S 112°37'00'' E . 7°59'00'' S 98°40'00'' E .00000 [kHz] 1584. 7°34'00'' S 108°13'00'' E . 1°22'00'' N 119°25'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1485. 3°41'00'' S SiteName SURABAJA SUKABUMI SURAKARTA TASIKMALAJA TEGAL TEMANGGUNG TERNATE TJIAMIS TONDANO UJUNGPANDANG KENDARI DJAMBI BUKITTINGGI PADANG BANGIL BONDOWOSO CIANJUR DJAKARTA SIDOARJO KALIWUNGU MAJALENGKA MALANG MEDAN PATI PAYAHKUMBUH PONTIANAK PURWOKERTO SENKANG SINGARADJA SUKABUMI SURABAJA TEGAL TELUKBETUNG TEMANGGUNG TJIAMIS TONDANO UJUNGPANDANG AMBON EmiClass A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-- 176 . 7°28'00'' S 110°14'00'' E . 5°02'00'' S 115°05'00'' E .00000 [kHz] 1584. 8°06'00'' S 106°55'00'' E .00000 [kHz] 1485.

00000 [kHz] 1584. 7°42'00'' S 115°24'00'' E . 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 Fragment GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 AssgnFreq 1584.00000 [kHz] 1584. 3°46'00'' S 136°04'00'' E . 6°22'00'' S 117°09'00'' E . 8°13'00'' S 102°20'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 7°09'00'' S 112°02'00'' E . 1°11'00'' S 106°47'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 8°39'00'' S 113°42'00'' E .00000 [kHz] 1584. 6°35'00'' S 111°03'00'' E . 6°07'00'' S 98°48'00'' E .No. 1°32'00'' N 104°46'00'' E . 7°38'00'' S 109°40'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 3°00'00'' S 105°22'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 8°32'00'' S 107°17'00'' E . 7°53'00'' S 110°12'00'' E . 2°55'00'' S 107°53'00'' E .00000 [kHz] 1584. 6°18'00'' S 111°31'00'' E . 6°34'00'' S SiteName BANDJARMASIN BANDUNG BANJUWANGI BENGKULU BIAK BOGOR SEMPLAK BOJONEGORO BUKITTINGGI CIKAMPEK DENPASAR DJEMBER FAKFAK GARUT GRESIK KEDIRI KENDAL KENDARI KLATEN KLUNGKUNG KRAWANG MADIUN MAGELANG MENADO PALEMBANG PANDJANG PASURUAN PEKALONGAN PONOROGO PROBOLINGGO PURWOREJO RANGKASBITUNG SAMARINDA SEMARANG SERANG SIBOLGA SOLOK SUMATRA SORONG SUBANG EmiClass A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-- 177 . 7°52'00'' S 113°13'00'' E . 7°45'00'' S 110°30'00'' E .00000 [kHz] 1584. 7°09'00'' S 100°32'00'' E .00000 [kHz] 1584. 0°30'00'' S 110°25'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 3°57'00'' S 110°36'00'' E . 6°58'00'' S 106°09'00'' E . 5°33'00'' S 112°02'00'' E .00000 [kHz] 1584. 7°30'00'' S 124°55'00'' E . 3°22'00'' S 107°36'00'' E . 0°18'00'' S 107°28'00'' E .00000 [kHz] 1584. 0°48'00'' S 131°17'00'' E . 6°25'00'' S 115°13'00'' E .00000 [kHz] 1584. 8°10'00'' S 132°17'00'' E .00000 [kHz] 1584. 0°50'00'' S 107°45'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 7°43'00'' S 106°15'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 7°37'00'' S 110°12'00'' E .00000 [kHz] 1584. 6°55'00'' S 122°36'00'' E . 6°53'00'' S 111°28'00'' E .00000 [kHz] GeoCoord 114°33'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 1°42'00'' N 100°39'00'' E . 6°42'00'' S 112°39'00'' E .00000 [kHz] 1584. 6°55'00'' S 114°23'00'' E .

00000 [kHz] 1602. 7°53'00'' S 107°17'00'' E . 8°13'00'' S 106°47'00'' E . 6°18'00'' S 100°23'00'' E .00000 [kHz] 1602. 5°30'00'' N 113°11'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 3°46'00'' S 136°04'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 7°38'00'' S 111°28'00'' E . 7°34'00'' S 98°50'00'' E .00000 [kHz] 1584. 0°18'00'' S 107°18'00'' E . 0°48'00'' N 114°23'00'' E . 7°52'00'' S 110°30'00'' E . 7°34'00'' S 108°13'00'' E . 6°35'00'' S 107°28'00'' E .00000 [kHz] 1602. 7°09'00'' S 113°49'00'' E .00000 [kHz] 1584. 7°00'00'' S 110°49'00'' E .00000 [kHz] 1602. 7°21'00'' S 95°20'00'' E .00000 [kHz] 1602. 0°54'00'' S 127°23'00'' E .00000 [kHz] 1602. 1°11'00'' S 111°03'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1602. 0°48'00'' S 110°49'00'' E .00000 [kHz] 1602. 1°19'00'' N 109°59'00'' E .00000 [kHz] 1602. 3°22'00'' S 107°36'00'' E . 8°39'00'' S 112°02'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 3°00'00'' S 112°54'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 6°55'00'' S 112°46'00'' E . 2°02'00'' S 119°53'00'' E . 3°41'00'' S 114°33'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 0°57'00'' S 101°26'00'' E . 6°25'00'' S 115°13'00'' E . 3°30'00'' N 108°13'00'' E .00000 [kHz] 1602. 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 Fragment GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 AssgnFreq 1584.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 7°43'00'' S 110°25'00'' E . 6°42'00'' S 124°50'00'' E . 0°32'00'' N 104°46'00'' E .00000 [kHz] 1602. 1°36'00'' S 128°10'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 6°49'00'' S SiteName SUMENEP SURAKARTA TASIKMALAJA TJIREBON TOMOHON WONOSOBO BANDA ATJEH PALENGKARAJA PALU TERNATE BANJUWANGI BOGOR SEMPLAK CIKAMPEK DENPASAR KEDIRI KRAWANG PADANG PAKANBARU PALEMBANG PASURUAN PONOROGO PURWOREJO SEMARANG SOLOK SUMATRA SURAKARTA TANJUNGMORAWA TASIKMALAJA DJAMBI AMBON BANDJARMASIN BANDUNG BANGIL BENGKULU BIAK BOJONEGORO BONDOWOSO BUKITTINGGI CIANJUR EmiClass A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-- 178 .00000 [kHz] 1584. 7°54'00'' S 100°32'00'' E . 7°36'00'' S 102°20'00'' E .00000 [kHz] 1584. 7°19'00'' S 103°39'00'' E .No.00000 [kHz] GeoCoord 113°51'00'' E . 6°58'00'' S 100°39'00'' E .00000 [kHz] 1584. 7°19'00'' S 108°34'00'' E .

00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 8°06'00'' S 131°17'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 6°34'00'' S 106°55'00'' E .00000 [kHz] 1602. 7°59'00'' S 124°55'00'' E . 7°19'00'' S 108°20'00'' E . 7°30'00'' S 108°13'00'' E . 7°09'00'' S 110°14'00'' E . 6°07'00'' S 98°48'00'' E . 7°28'00'' S 115°05'00'' E . 7°37'00'' S 110°12'00'' E .00000 [kHz] 1602. 5°24'00'' S 109°08'00'' E . 6°10'00'' S 113°42'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 6°50'00'' S 112°37'00'' E . 5°33'00'' S 111°02'00'' E .00000 [kHz] 1602. 6°22'00'' S 117°09'00'' E .00000 [kHz] 1602. 6°53'00'' S 109°20'00'' E .00000 [kHz] 1602. 6°42'00'' S 112°39'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 5°02'00'' S 106°09'00'' E . 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 Fragment GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 AssgnFreq 1602. 7°45'00'' S 109°15'00'' E .00000 [kHz] 1602. 7°00'00'' S 112°45'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 0°05'00'' S 113°13'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 6°57'00'' S 110°12'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 6°55'00'' S 110°36'00'' E . 6°45'00'' S 100°38'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.No. 2°55'00'' S 107°53'00'' E . 0°30'00'' S 119°39'00'' E . 7°15'00'' S 105°15'00'' E . 0°13'00'' S 109°40'00'' E .00000 [kHz] 1602. 1°32'00'' N 105°22'00'' E .00000 [kHz] GeoCoord 106°50'00'' E .00000 [kHz] 1602. 6°50'00'' S 113°51'00'' E .00000 [kHz] 1602. 0°50'00'' S 107°45'00'' E .00000 [kHz] 1602. 7°26'00'' S 106°15'00'' E .00000 [kHz] 1602. 8°32'00'' S 111°31'00'' E . 6°52'00'' S 110°10'00'' E .00000 [kHz] 1602. 7°42'00'' S 115°24'00'' E . 7°19'00'' S 108°34'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 6°42'00'' S SiteName DJAKARTA DJEMBER FAKFAK GARUT GRESIK KALIUNGU KENDAL KLATEN KLUNGKUNG MADIUN MAGELANG MAJALENGKA MALANG MENADO PANDJANG PATI PAYAHKUMBUH PEKALONGAN PONTIANAK PROBOLINGGO PURWOKERTO RANGKASBITUNG SAMARINDA SENKANG SERANG SIBOLGA SIDOARJO SINGARADJA SORONG SUBANG SUKABUMI SUMENEP SURABAJA TANDJUNGKARANG TEGAL TEMANGGUNG TJIAMIS TJIREBON EmiClass A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-- 179 .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 1°42'00'' N 112°43'00'' E .00000 [kHz] 1602. 8°10'00'' S 132°17'00'' E .

7°21'00'' S 95°20'00'' E .00000 [kHz] GeoCoord 124°50'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.No. 5°30'00'' N 122°36'00'' E . 1°19'00'' N 119°25'00'' E .00000 [kHz] 1602. 300 301 302 303 304 305 306 307 Fragment GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 AssgnFreq 1602. 0°48'00'' N SiteName TOMOHON UJUNGPANDANG WONOSOBO BANDA ATJEH KENDARI PALENGKARAJA PALU TERNATE EmiClass A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E--   180 .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 0°54'00'' S 127°23'00'' E . 5°09'00'' S 109°59'00'' E . 3°57'00'' S 113°11'00'' E .00000 [kHz] 1602. 2°02'00'' S 119°53'00'' E .00000 [kHz] 1602.

384 Kanal Spasi = 40 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 Frekuensi 7125 – 7425 MHz Rec.LAMPIRAN 4 PENGKANALAN MICROWAVE LINK BERDASARKAN REKOMENDASI ITU-R Frekuensi 4400 – 5000 MHz Rec. ITU-R F. 385 Kanal Spasi = 7 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Fn (MHz) 7128 7135 7142 7149 7156 7163 7170 7177 7184 7191 7198 7205 7212 7219 7226 7233 7240 7247 7254 7261 F'n (MHz) 7289 7296 7303 7310 7317 7324 7331 7338 7345 7352 7359 7366 7373 7380 7387 7394 7401 7408 7415 7422 Fn (MHz) 6460 6500 6540 6580 6620 6660 6700 6740 F'n (MHz) 6800 6840 6880 6920 6960 7000 7040 7080 Kanal Spasi = 14 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Fn (MHz) 7135 7142 7149 7156 7163 7170 7177 7184 7191 7198 7205 7212 7219 7226 7233 7240 7247 7254 F'n (MHz) 7296 7303 7310 7317 7324 7331 7338 7345 7352 7359 7366 7373 7380 7387 7394 7401 7408 7415 Kanal Spasi = 28 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Fn (MHz) 7135 7142 7149 7156 7163 7170 7177 7184 7191 7198 7205 7212 7219 7226 7233 7240 7247 F'n (MHz) 7296 7303 7310 7317 7324 7331 7338 7345 7352 7359 7366 7373 7380 7387 7394 7401 7408 181 . ITU-R F. ITU-R F. 1099 Annex-1 Kanal Spasi = 40 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 Fn (MHz) 4430 4470 4510 4550 4590 4630 4670 F'n (MHz) 4730 4770 4810 4850 4890 4930 4970 Frekuensi 6400 – 7100 MHz Rec.

7 7777.65 7866.25 F'n (MHz) 8059. 385 Kanal Spasi = 7 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Fn (MHz) 7428 7435 7442 7449 7456 7463 7470 7477 7484 7491 7498 7505 7512 7519 7526 7533 7540 7547 7554 7561 F'n (MHz) 7589 7596 7603 7610 7617 7624 7631 7638 7645 7652 7659 7666 7673 7680 7687 7694 7701 7708 7715 7722 Kanal Spasi = 14 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Fn (MHz) 7435 7442 7449 7456 7463 7470 7477 7484 7491 7498 7505 7512 7519 7526 7533 7540 7547 7554 F'n (MHz) 7596 7603 7610 7617 7624 7631 7638 7645 7652 7659 7666 7673 7680 7687 7694 7701 7708 7715 Kanal Spasi = 28 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Fn (MHz) 7442 7449 7456 7463 7470 7477 7484 7491 7498 7505 7512 7519 7526 7533 7540 7547 7554 F'n (MHz) 7603 7610 7617 7624 7631 7638 7645 7652 7659 7666 7673 7680 7687 7694 7701 7708 7715 Frekuensi 7725 – 8275 MHz Rec. ITU-R 386 Annex-3 Kanal Spasi = 28 MHz No 1 2 3 4 5 6 Fn (MHz) 8293 8307 8321 8335 8349 8363 F'n (MHz) 8412 8426 8440 8454 8468 8482 Frekuensi 10.7 – 11.27 8236.65 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 Fn (MHz) 7747.62 8207.8500 MHz Rec.Frekuensi 7425 – 7725 MHz Rec.35 7807 7836.32 8147. ITU-R 386 Annex-1 Kanal Spasi = 29.3 7895.7 GHz Rec.67 8118.6 7955.02 8088.95 7925.97 8177.57 Frekuensi 8275 . ITU-R F. 387 Kanal Spasi = 40 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Fn (MHz) 10715 10755 10795 10835 10875 10915 10955 10995 11035 11075 11115 11155 F'n (MHz) 11245 11285 11325 11365 11405 11445 11485 11525 11565 11605 11645 11685 182 . ITU-R F.92 8266.

75 13162.25 12857.25 12955.25 13053.75 12875.75 12959.25 12934.75 13225.75 13120.75 13183.25 12941.25 13039.75 12805.25 13081.75 13127.25 12969.25 12801.75 13190.25 12892.25 13200.75 12812.75 13218.Frekuensi 12750 – 13250 MHz Rec.75 13211.25 13088.75 13106.25 12948.75 12882.25 13067.75 12833.25 13221.25 13060.75 13134.75 12973.25 12780.25 13025.25 12871.75 13148.25 12927.75 13078.75 13113.75 13197.25 12843.25 12962.25 183 .75 12777.75 13141.25 13158.25 13116.25 13109.25 12920.25 12808.75 13204.25 12766.75 13085.25 12836.25 13074.25 12794.25 12850.75 12791.25 12913.25 13130.25 13193.25 13123.75 12826.25 13228.75 12952.25 13046.75 13022.25 12829.25 13095.25 12773.25 13172.75 12938.75 13239.75 12770.25 13214.25 13151.25 12815.75 13169.ITU-R F.25 13186.75 13036.75 F'n (MHz) 13018.5 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 Fn (MHz) 12752.25 13102.75 13071.75 12924.75 12854.75 13099.25 12759.75 12784.75 12840.75 12819.75 12966.75 13176.25 12899.75 12903. 497 Kanal Spasi = 3.25 12878.25 12787.75 12798.75 No 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 Fn (MHz) 12889.25 13165.75 13057.75 13232.25 12906.75 13043.75 12945.75 12896.75 12931.25 13179.75 13029.25 12864.25 13235.25 12822.75 12763.75 12847.75 12861.25 12885.25 13032.75 12917.25 F'n (MHz) 13155.25 13144.75 12910.75 13064.75 12756.75 13092.25 13207.75 13050.75 12868.25 13137.

5 12957.5 12817.5 13160.5 12950.5 13041.5 12817.5 12943.5 12782.5 13195.5 12971.5 F'n (MHz) 13027.5 12803.5 12943.Frekuensi 12750 – 13250 MHz Rec.5 12824.5 13069.5 13118.5 13048.5 13230.5 12859.5 12838.5 12859.5 12901.5 12887.5 12936.5 12957.5 13167.5 12831.5 12887.5 13188.5 13055.5 12894.5 12929.5 13118.5 12852.5 13216.5 12929.5 13083.5 13076.5 12810.5 12894.5 13202.5 13230.5 13209.ITU-R F.5 12964.5 13202.5 13104.5 12810.5 12915.5 13041.5 13181.5 13125.5 13111.5 13139.5 13160.5 13090.5 13167.5 12768.5 F'n (MHz) 13020.5 13083.5 12866.5 13097.5 12789.5 12845.5 13237.5 13174.5 12873.5 12873.5 12852.5 12901.5 13048.5 12880.5 13181.5 13188.5 13076.5 12775.5 Kanal Spasi = 28 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 Fn (MHz) 12765 12793 12821 12849 12877 12905 12933 12961 F'n (MHz) 13031 13059 13087 13115 13143 13171 13199 13227 184 .5 12950.5 13174.5 12838.5 13146.5 13223.5 12908.5 13223.5 13097.5 13132.5 12789.5 12964.5 12908.5 13153.5 12775.5 13132.5 13104.5 13195.5 12845.5 12796.5 13209.5 12831.5 12880.5 13139.5 13062.5 13062.5 13111.5 12761.5 13069.5 13090.5 12922.5 12866.5 12824.5 12922. 497 Kanal Spasi = 7 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 Fn (MHz) 12754.5 12782.5 13055.5 12796.5 13034.5 13153.5 13216.5 13027.5 13146.5 12915.5 12768.5 Kanal Spasi = 14 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Fn (MHz) 12761.5 12936.5 13034.5 13125.5 12803.

75 14947.75 15073.25 14719.25 14747.75 15059.25 14544.75 14786.25 14432.25 14670.25 15286.25 No 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 Fn (MHz) 14677.75 14681.75 15199.25 14600.25 14649.75 15003.25 14572.25 15251.25 14509.75 15234.25 14460.75 14975.75 14562.75 15206.75 14926.25 15195.75 14464.25 14915.25 14775.25 15279.75 15038.75 14688.75 14674.75 14436.25 14999.75 15024.25 14712.25 14761.25 14698.75 14737.25 14621.25 14740.75 No 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 Fn (MHz) 14541.25 14411.75 14940.75 14968.25 F'n (MHz) 15031.75 15080.75 14569.75 15227.25 14495.25 15013.75 15262.25 14586.75 14590.25 15111.75 14723.25 14754.75 14898.25 14642.25 14684.5 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 Fn (MHz) 14404.75 14667.75 15115.25 14950.75 15136.75 15171.75 14919.75 14422.25 14691.75 14492.75 14653.75 15066.25 15062.25 14656.25 15202.25 14516.75 14730.75 14429.75 14793.75 15255.25 14782.Frekuensi 14.75 14604.25 15020.25 15258.75 14457.25 15174.25 14922.25 14453.25 15048.75 14744.25 15209.25 14481.25 15104.25 15230.75 14618.25 15293.25 14768.75 14408.25 14971.75 14527.75 15178.75 14989.75 14506.75 14765.75 15087.25 14663.75 15045.75 14632.75 14660.35 GHz Rec ITU-R F.75 15143.75 15276.75 14695.25 14418.25 14614.75 14996.75 14485.25 14474.75 14499.75 14534.4 – 15.75 185 .25 14705.75 14905.25 15125.25 15076.25 14593.25 14929.25 14733.75 15094.25 15090.75 14450.25 14635.25 14992.75 15220.25 14523.25 14908.25 14957.75 15108.25 15055.25 15300.25 15265.25 15160.75 14513.25 14978.75 14933.75 15290.75 14751.25 15237.75 14779.75 F'n (MHz) 15167.25 15244.75 14639.75 15101.25 15272.25 14467.25 14901.25 15139.25 15069.25 14502.25 15027.25 14936.75 14961.75 14597.75 14478.75 14912.25 15041.75 15157.75 15164.75 15297.25 14985.75 15192.25 14726.75 15010.75 14611.25 14551.25 14565.75 15248.25 15083.25 14628.25 14439.75 14646.25 15097.25 15223.75 14716.25 15153.25 14446. 636 Kanal Spasi = 3.25 14488.75 15150.75 15241.75 15269.75 14576.25 15034.25 15146.25 14803.25 14607.75 14520.25 14558.75 15017.25 15006.25 14530.25 14796.25 14964.75 14548.25 14537.75 14758.75 14583.25 15188.75 F'n (MHz) 14894.75 14555.75 14443.25 15118.75 14954.75 15129.75 14625.25 15181.75 14471.25 15132.75 14807.75 15122.75 15213.75 14415.75 15283.75 14982.25 15216.75 14709.25 14810.75 14772.75 14800.25 14579.25 14425.25 14943.75 15052.75 15185.25 14789.75 14702.

5 14546.5 14644.25 15314.5 15071.5 14805.5 14714.5 15092.5 15113.4 – 15.5 14455.5 14910.5 14497.5 14658.5 14434.Kanal Spasi = 3.5 14700.5 14742.5 15309.5 14483.5 14462.5 15274.5 14791.5 15043.5 14553.5 No 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 Fn (MHz) 14567.5 14959.5 14721.5 14749.5 15120.5 14427. 636 Kanal Spasi = 7 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Fn (MHz) 14406.5 14973.5 15190.5 15225.35 GHz Rec ITU-R F.5 14924.5 14931.5 14812.25 15335.75 14842.5 14602.5 F'n (MHz) 14896.5 15001.5 14952.5 15029.75 15332.5 14511.25 F'n (MHz) 15304.5 14560.5 14903.5 15267.5 14735.5 15078.5 14574.75 14849.5 15281.75 14835.5 14938.25 14817.5 15288.25 Frekuensi 14.5 14504.5 15302.25 14838.5 14581.5 15183.5 15253.5 14917.75 15325.5 15323.5 15106.5 15008.5 15316.5 F'n (MHz) 15057.5 14539.5 14420.5 15015.5 14672.5 14532.5 15162.5 14637.5 14686.5 14840.5 14609.25 14831.5 14448.5 14707.5 14616.5 14476.5 14525.5 14777.5 15127.25 15321.5 14833.5 15204.5 15141.5 15211.5 15155.5 14595.75 15311.5 14756.5 14588.5 14798.5 15099.5 15036.75 14828.5 15022.5 14987.5 14518.5 14623.5 15197.5 15260.25 14824.5 15134.5 15176.5 15148.5 14784.5 14441.5 14980.5 14651.5 MHz  No 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 Fn (MHz) 14814.75 14821.5 14819.5 15239.25 15328.5 15232.5 14630.5 15050.5 14945.5 14763.5 14826.5 15246.25 14845.75 15339.5 14679.5 15295.5 15330.5 No 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 Fn (MHz) 14728.25 15307.75 15318.5 15337.5 15085.5 15169.5 14770.5 15064.5 14469.5 F'n (MHz) 15218.5 14490.5 14994.5 14665.5 14693.5 14966.5 186 .5 14413.5 14847.

5 15141.5 Kanal Spasi = 28 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Fn (MHz) 14417 14445 14473 14501 14529 14557 14585 14613 14641 14669 14697 14725 14753 14781 14809 14837 F'n (MHz) 14907 14935 14963 14991 15019 15047 15075 15103 15131 15159 15187 15215 15243 15271 15299 15327 187 .5 15309.5 14840.5 14756.5 14707.5 14826.5 14910.5 15232.5 14784.5 15050.5 14539.5 F'n (MHz) 15176.5 15015.4 – 15.5 14819.5 15155.5 14777.5 15302.5 14812.5 15085.5 14581.5 14574.5 14679. 595 Annex 5 Kanal Spasi = 7 MHz No 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 Fn (MHz) 14686.5 14791.5 15323.5 15078.5 14945.Frekuensi 14.5 14665.5 15057.5 14658.5 15274.5 15197.7 .5 14630.5 15211.5 15127.5 15036.5 15064.5 15092.5 14518.5 15267.5 15281.5 14448.5 14644.5 15022.5 14805.5 14434.5 14833.5 14455.5 14609.5 15204.5 14700.5 15246.5 14721.5 15029.5 14602.5 15043.5 14714.5 14553. ITU-R F.5 14441.5 14980.5 14987.5 14462.5 15288.5 14490.5 15106.5 15134.5 14728.5 15113.5 14924.5 15169.35 GHz Rec ITU-R F.5 14588.5 14917.5 14595.5 15260.5 15330.5 15239.5 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Fn (MHz) 17710 17717 17724 17731 17738 17745 17752 17759 17766 F'n (MHz) 18720 18727 18734 18741 18748 18755 18762 18769 18776 Frekuensi 17.5 14532.5 14749.5 14735.5 15295.5 F'n (MHz) 14903.5 15071.5 14546.5 15099.5 15190.5 14616.5 15183.5 14504.5 14567.5 14469.5 14938.5 14952.5 14497.5 14973.5 14560.5 14994.5 14637.5 15218.5 15120.5 14763.5 14742.5 14420.5 14483.5 14525.5 14966.5 14511.19.5 14931.5 15316.5 14693.5 14959.5 15001.5 14770.5 14651.5 15148.5 14623.5 14476.5 14798. 636 Kanal Spasi = 14 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 Fn (MHz) 14413.5 15008.5 15225.5 15253.5 14672.5 15162.5 14427.7 GHz Rec.

5 22309 22312.5 22351 22354.5 23107 23110.5 23352 23355.5 23093 23096.5 23268 23271.5 22029 22032.5 23338 23341.5 22078 22081.5 23086 23089.5 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 Fn (MHz) 22004.5 23177 23180.5 22232 22235.5 23156 23159.5 23191 23194.5 22400 22403.5 22050 22053.5 23387 23390.5 23359 23362.5 22064 22067.5 22260 22263.5 23184 23187.Frekuensi 21.5 22134 22137.5 22344 22347.5 23128 23131.5 23366 23369.5 22302 22305.5 No 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 Fn (MHz) 22141 22144.5 22218 22221.5 23212 23215.5 23282 No 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 Fn (MHz) 22277.5 23016 23019.5 23135 23138.5 23394 23397.5 22008 22011.5 23401 23404.5 22372 22375.5 23247 23250.5 22190 22193.5 22085 22088.5 23303 23306.5 22393 22396.5 22253 22256.5 23100 23103.2 – 23.5 22022 22025.5 22057 22060.5 22183 22186.5 22316 22319.5 22155 22158.5 22204 22207.5 22274 F'n (MHz) 23149 23152.5 22092 22095.5 23044 23047.5 22015 22018.5 22169 22172.5 23142 23145.5 23170 23173.5 22358 22361. ITU-R F.5 22225 22228.5 22246 22249.5 23373 23376.5 23240 23243.5 F'n (MHz) 23012.5 22043 22046.5 22176 22179.5 22267 22270.5 23331 23334.5 23317 23320.5 22407 22410.5 22323 22326.5 23121 23124.5 22113 22116.5 22120 22123.5 22099 22102.5 23198 23201.5 22127 22130.5 23065 23068.6 GHz Rec.5 22337 22340.5 23037 23040.5 23163 23166.5 22071 22074.5 23310 23313.5 23345 23348.5 22281 22284.5 22162 22165.5 F'n (MHz) 23285.5 23058 23061.5 23233 23236.5 22036 22039.5 23051 23054.5 23205 23208.5 23072 23075.5 23254 23257.5 23275 23278.5 22330 22333.5 23219 23222.5 22365 22368.5 22106 22109.5 23380 23383.5 23289 23292.5 22379 22382.5 22148 22151.5 23226 23229.5 22197 22200.5 23079 23082.5 22211 22214.5 23261 23264.5 23296 23299.5 23324 23327.5 23415 23418.5 23408 23411.5 23114 23117.5 22295 22298.5 22288 22291.5 23023 23026.5 188 .5 22239 22242.5 23030 23033.5 22386 22389. 637 Kanal Spasi = 3.

5 22540 22543.5 23054.5 23562 No 159 160 161 162 163 164 165 166 167 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 Fn (MHz) 22557.5 23124.5 22193.5 22158.5 22165.5 22435 22438.5 F'n (MHz) 23565.5 23264.5 23527 23530.5 22547 22550.5 23576 23579.5 23429 23432.5 22284.5 22074.5 22484 22487.5 22214.5 23569 23572.5 22519 22522.5 23201.5 22554 F'n (MHz) 23422 23425.5 23513 23516.5 23047.5 23506 23509.5 23229.5 23299.5 22109.5 22039.5 22263.5 23562 23565.5 23089.5 22242.5 22172.5 23558.5 23464 23467.5 23534 23537.5 22200.5 22228.5 22554 22557.5 23159.5 22032.5 23457 23460.5 23590 23593.5 22256.5 23436 23439.Kanal Spasi = 3.5 23075.5 23061.5 22102.5 23450 23453.5 22463 22466.5 23292.5 23583 23586.5 23152.5 22575 22578.5 22144.5 22449 22452.5 23166.5 22088.5 22512 22515.5 23026.5 23103.5 22053.5 22582 22585.5 23485 23488.5 23285.5 23236.5 23555 23558.5 23131.5 22550.5 22046.5 22060.5 22421 22424.5 22081.5 F'n (MHz) 23019.5 22582 22585.5 23499 23502.5 22235.5 22498 22501.5 23250.5 189 .5 23068.5 23548 23551.5 22470 22473.5 22221.5 23222.5 23576 23579.5 22025.5 22456 22459.5 22067.5 22207.5 23033.5 22291.5 22561 22564.5 23590 23593.5 23173.5 23257.5 23110.5 23478 23481.5 22186.5 22277.5 23443 23446.5 23243.5 22568 22571.5 22018.5 22130.5 22533 22536.5 23471 23474.5 23569 23572.5 22442 22445.5 23040.5 23082.5 Kanal Spasi = 7 MHz  No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 Fn (MHz) 22011.5 22561 22564.5 23194.5 23271.5 22249.5 22428 22431.5 23138.5 23187.5 22575 22578.5 22116.5 23096.5 23208.5 23145.5 MHz No 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 Fn (MHz) 22414 22417.5 22491 22494.5 23278.5 23215.5 22123.5 22095.5 23520 23523.5 23117.5 22477 22480.5 22526 22529.5 23541 23544.5 23180.5 22151.5 22137.5 22568 22571.5 22270.5 22505 22508.5 23583 23586.5 22179.5 23492 23495.

5 22571.5 23495.5 23327.5 23544.5 22431.5 23313.5 22522.5 23397.5 23516.5 22473.5 Kanal Spasi = 14 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 Fn (MHz) 22015 22029 22043 22057 22071 22085 22099 22113 22127 22141 22155 22169 22183 22197 22211 22225 22239 22253 22267 22281 22295 22309 22323 22337 22351 22365 22379 22393 22407 22421 22435 22449 22463 22477 22491 22505 22519 22533 22547 22561 22575 F'n (MHz) 23023 23037 23051 23065 23079 23093 23107 23121 23135 23149 23163 23177 23191 23205 23219 23233 23247 23261 23275 23289 23303 23317 23331 23345 23359 23373 23387 23401 23415 23429 23443 23457 23471 23485 23499 23513 23527 23541 23555 23569 23583 Kanal Spasi = 28 MHz  No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Fn (MHz) 22022 22050 22078 22106 22134 22162 22190 22218 22246 22274 22302 22330 22358 22386 22414 22442 22470 22498 22526 22554 F'n (MHz) 23030 23058 23086 23114 23142 23170 23198 23226 23254 23282 23310 23338 23366 23394 23422 23450 23478 23506 23534 23562 Kanal Spasi = 1128 MHz No 1 2 3 4 5 Fn (MHz) 22078 22190 22302 22414 22526 F'n (MHz) 23086 23198 23310 23422 23534 190 .5 23425.5 22403.5 22480.5 22564.5 22459.5 23439.5 22354.5 23390.5 23565.5 23334.5 23453.5 23418.5 23474.5 22578.5 22501.5 22452.5 F'n (MHz) 23306.5 23502.5 22585.5 22487.5 22438.5 23320.5 23523.5 22389.5 23537.5 22417.5 23376.5 22410.5 23551.5 22550.5 22529.5 23341.5 22333.5 22536.5 22326.5 22361.5 22347.5 22375.5 23404.5 22515.5 23348.5 23558.5 22319.5 23460.5 22508.5 23579.5 22312.5 23369.5 22368.5 23586.Kanal Spasi = 7 MHz No 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 Fn (MHz) 22298.5 22557.5 22494.5 22424.5 23383.5 22340.5 23432.5 23411.5 23530.5 23593.5 23509.5 22382.5 22445.5 23572.5 22466.5 23362.5 23488.5 23481.5 23446.5 23355.5 22396.5 23467.5 22543.5 22305.

0 UHF (MHz) 430 – 438 1240 – 1298 2300 – 2450 SHF (MHz) 5650 – 5850 Catatan : Moda Pancaran Kategori Moda Pancaran Kategori Kode Morse. Data Kode Morse. Suara Suara. Data Kode Morse. Suara. Kode Morse. Data Kode Morse. Tingkat Pemula : Band Frekuensi VHF (MHz) 144.0 – 148.LAMPIRAN 5 BAND FREKUENSI DAN MODA PANCARAN YANG DIIZINKAN SESUAI DENGAN PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR : 33 /PER/M. Suara. Kode Morse.8 146.8 146.0 – 148.0 – 145. Data Data Data Data NB (Narrow Band) Data tidak melebihi lebar band 3 KHz 191 . Suara.0 UHF (MHz) 430 – 438 2300 – 2450 2. Data Data Primer Primer Sekunder Sekunder Kode Morse. Tingkat Siaga : Band Frekuensi HF (kHz) 3500 – 3900 7000 – 7200 21000 – 21200 28000 – 28500 VHF (MHz) 144. Suara. Suara.KOMINFO/8/2009 1.0 – 145. Data Kode Morse. NB Data NB Data NB Data Primer Primer Primer Primer Primer Primer Sekunder Sekunder Sekunder Sekunder Kode Morse. Suara. Kode Morse.

0 – 250.5 – 78. NB Suara.0 136.0 78. Suara. Suara. Data Suara. Data Suara. Morse. Data Suara. Data Suara. Morse.0 – 47. Morse.0 – 136.0 Catatan : Moda Pancaran Kategori Kode Morse. Kode Morse. Morse. Data Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Morse. Data Kode Morse. NB Primer Primer Primer Primer Primer Primer Primer Primer Data Data Data Data Kode Morse. Data Suara. Suara.2 76.0 – 81.3. Morse.0 – 141.5 77. Data Band Frekuensi UHF (MHz) 430 – 438 1240 – 1298 2300 – 2450 SHF (MHz) 3300 – 3500 5650 – 5850 10000 – 10500 24000 – 24050 24050 – 24250 EHF (GHz) 47. Data Kode Morse. Data Suara.25 – 123. Morse.0 – 77. Morse.0 241. Kode Morse.0 – 248. NB Suara. Data Suara. Kode Morse. NB Data Kode Morse. Data Suara.0 h 134. Suara. Data Suara. Data Suara. Data Suara. Suara Suara. Data Kode Morse. Morse. Tingkat Penggalang : Band Frekuensi MF (kHz) 1800 – 2000 HF (kHz) 3500 – 3900 7000 – 7200 14000 – 14150 21000 – 21450 28000 – 29700 VHF (MHz) 50 – 54 144 – 148 Moda Pancaran Kategori Kode Morse. Suara. Data Suara.0 248. Morse. Suara. Morse. Morse. Morse. Kode Morse. Data Suara. Data Sekunder Sekunder Sekunder Sekunder Sekunder Sekunder Primer Sekunder Primer Sekunder Primer Sekunder Sekunder Primer Sekunder Sekunder Primer NB (Narrow Band) Data tidak melebihi lebar band 3 KHz 192 . Suara. NB Suara.0 122. Morse.

Data NB (Narrow Band) Data tidak melebihi lebar band 3 KHz 193 .0 78. Morse. Morse.0a 122. NB Data Kode Morse. Data Suara.0 – 248. Morse. Data Suara. Kode Morse. Kode Morse.0 Catatan : Moda Pancaran Kategori Kode Morse. Suara. NB NB Data Suara. NB Suara. Data Suara. Suara. Suara.0 – 136. NB Primer Primer Primer Sekunder Primer Primer Primer Primer Primer Primer Primer Sekunder Sekunder Sekunder Sekunder Sekunder Sekunder Primer Sekunder Primer Sekunder Primer Sekunder Sekunder Primer Sekunder Sekunder Primer Data Data Data Data Data Data Kode Morse. Suara Suara. Data Kode Morse. Morse. Suara. Kode Morse. Data Kode Morse.0 136.0 248. Tingkat Penegak : Band Frekuensi MF (kHz) 1800 – 2000 HF (kHz) 3500 – 3900 7000 – 7200 10100 – 10150 14000 – 14350 18068 – 18168 21000 – 21450 24890 – 24990 28000 – 29700 VHF (MHz) 50 – 54 144 – 148 UHF (MHz) 430 – 438 1240 – 1298 2300 – 2450 SHF (MHz) 3300 – 3500 5650 – 5850 10000 – 10500 24000 – 24050 24050 – 24250 EHF (GHz) 47. Data Suara. Data Suara.0 – 47. Morse. Data Suara. Suara. Data Suara.5 – 78.4. Suara.0 – 77. NB Suara.02 41. NB Suara. Data Suara. Kode Morse. Data Suara. Morse.0 – 81. Morse. Kode Morse. Morse. Morse.0 134. Data Suara.2 76. Kode Morse. Morse. Morse. Kode Morse. Data Suara. Data Suara. Morse. Data Suara. Data Kode Morse. Data Kode Morse.0 – 250. Morse. Suara. Data Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Morse.25 – 123.0 – 41. NB Suara.5 77.

YF.YF.YD.YF.YD.TZZZ UA – YZ UAA – YZZ UAAA – YZZZ AA .YE. 2.YZ RAA . Sekunder berarti bahwa penggunaan Stasiun Radio Amatir pada band frekuensi yang bersangkutan : a.YD.YF.YZ AAA .YE. Namun pada band tertentu adalah penggunaan utama disamping dinas radio primer lain.YF.YE.YF.YE. b.YH 1 4 JAWA TENGAH YB.YG.YG.YC.PZZ AAAA .Penjelasan Kategori Penggunaan : 1.YG.YZZZ A–Z ZA – ZZ ZAA – ZZZ ZAAA – ZZZZ A–Q ZA – ZQ ZAA – ZQZ ZAAA – ZQZZ R–Y ZR – ZZ ZRA – ZZZ ZRAA – ZZZZ A–T ZA – ZT ZAA – ZTZ ZAAA – ZTZZ U–Y ZU – ZZ ZUA – ZZZ ZUAA – ZZZZ A–Y ZA – ZZ ZAA – ZZZ ZAAA – ZZZZ 1 DKI JAKARTA YB.YZZ RAAA .YC. Primer berarti bahwa penggunaan Stasiun Radio Amatir pada band yang bersangkutan adalah penggunaan utama.YE.YH Ø 2 JAWA BARAT YB.YH 1 3 BANTEN YB.YH 2 6 JAWA TIMUR YB.YC.QZ AAA . SUSUNAN PEMBAGIAN PREFFIX.TZ AAA .YD.PZZ RAA .YC.YC.YH 3   194 .YG.YE.YC.PZZZ RA .YG. Tidak mendapat proteksi dari gangguan yang disebabkan oleh Stasiun Radio lain dengan kategori Primer yang frekuensinya telah ditetapkan atau akan ditetapkan di kemudian hari.YZZZ AA .YG.PZZ RAA . Tidak boleh menyebabkan gangguan terhadap Stasiun Radio lain dengan kategori Primer yang frekuensinya telah ditetapkan atau frekuensi tersebut akan ditetapkan di kemudian hari.YZZZ AA . DAN SUFFIX TANDA PANGGILAN (CALLSIGN) AMATIR RADIO UNTUK TIAP PROVINSI No PROVINSI PREFIKS HURUF ANGKA SUFFIKS IAR IAR KHUSUS AA . YOGYAKARTA YB.YZZ AAAA .YZ AAA .YD.YD.YZZ AAAA .I.YH 2 5 D.PZZ RAA – TZZ AAAA .

YG.YC.IZZZ JA – LZ JAA – LZZ JAAA .YD.YE.YD.YC.YF.No PROVINSI PREFIKS HURUF ANGKA IAR SUFFIKS IAR KHUSUS A–E ZA – ZE ZAA – ZEZ ZAAA – ZEZZ 7 JAMBI YB.YF.YC.YH YB.PZZ RAA .LZZZ 8 SUMATERA SELATAN YB.YG.YC.YH YB.YG.YE.YF.YD.YH 4 11 LAMPUNG YB.LZZZ MA – RZ MAA – RZZ MAAA – RZZZ SA – YZ SAA – YZZ SAAA – YZZZ AA – MZ AAA – MZZ AAAA – MZZZ NA .YF.YD 4 YE.YG.YG.YC.YD.YF.YH 5 M-R ZM – ZR ZMA – ZRZ ZMAZ – ZRZZ S-Y ZS – ZZ ZSA – ZZZ ZSAZ – ZZZZ A-M ZA – ZM ZAA – ZMZ ZAAA – ZMZZ 13 RIAU N–Y ZN – ZY ZNA – ZYZ ZNAA – ZYZZ   195 .YD.IZZZ 9 BANGKA BELITUNG YE.YH 4 12 SUMATERA BARAT YB.RZ NAA .YD 5 SA – YZ SAA – YZZ SAAA .YD.YE.RZZ NAAA .YC.YG FA – IZ FAA – IZZ FAA .YH 4 AA – EZ AAA – EZZ AAAA – EZZZ FA – IZ FAA – IZZ FAA .YH 4 JA – LZ JAA – LZZ JAAA .YC.YF.YC.YZZZ F–L ZF – ZL ZFA – ZLZ ZFAA – ZLZZ F–L ZF – ZL ZFA – ZLZ ZFAA – ZLZZ 10 BENGKULU YB.YE.RZZZ YB.

YC.YG.YG.YE.YH YB.YH 6 17 KALIMANTAN BARAT YB.YF.YD.RZZZ N–Y ZN – ZY ZNA – ZYZ ZNAA – ZYZZ 14 KEPULAUAN RIAU YE.YH 7 18 KALIMANTAN SELATAN YB.PREFIKS No PROVINSI HURUF YE.YC.YF.PZZ RAA .YD.YD 8 EA – HZ EAA – HZZ EAAA .YH 7 A–G ZA – ZG ZAA – ZGZ ZAAA – ZGZZ H-Y ZH – ZY ZHA – ZYZ ZHAA – ZYZZ A–G ZA – ZG ZAA – ZGZ ZAAA – ZGZZ H-N ZH – ZN ZHA – ZNZ ZHAA – ZNZZ O–T ZO – ZT ZOA – ZTZ ZOAA – ZTZZ U –Y ZU – ZZ ZUA – ZZZ ZUAA – ZZZZ 21 SULAWESI SELATAN AAAA .YC.YF.YD.YE.YH 7 19 KALIMANTAN TENGAH YB.YD.YE.YG.YF.YF.YH 6 AA – GZ AAA – GZZ AAAA – GZZZ HA – YZ HAA – YZZ HAAA – YZZZ AA – GZ AAA – GZZ AAAA – GZZZ HA – NZ HAA – NZZ HAAA – NZZZ OA – TZ OAA – TZZ OAAA – TZZZ UA – YZ UAA – YZZ UAAA – YZZZ AA .DZZZ YB.YF.RZ NAA .YG.YD.YE.YC.YD.YG.YG ANGKA SUFFIKS NA .YC.YC.YC.DZ AAA .YH 7 20 KALIMANTAN TIMUR YB.HZZZ A–H ZA – ZH ZAA – ZHZ ZAAA – ZHZZ   196 .YE.YG.YF.YG.RZZ NAAA .DZZ 16 SUMATERA UTARA YB.YF.YH 5 SA – YZ SAA – YZZ SAAA .YZZZ 15 NANGROE ACEH DARUSSALAM YB.YD.YE.YC.

YE.YC.SZZZ YB.UZZZ YE.YG.SZ RAA .YD.YH 8 24 SULAWESI TENGAH YB.YD 8 TA – UZ TAA – UZZ TAAA .No PROVINSI PREFIKS HURUF YE.UZZZ YB.YC.YD 8 XA – YZ XAA – YZZ XAAA .YG.YF.YZZZ 23 YB.SZ RAA .YG QA .YH YB.YD.YC.DZ AAA .WZZ 27 MALUKU VAAA .YC.YD.SZZZ 26 GORONTALO YE.YE.YF.YF.YG.YC.YF.ZLZZ M-P ZM – ZP ZMA – ZPZ ZMAA .WZZZ YB.WZ VAA .HZZZ SULAWESI TENGGARA IA – LZ IAA – LZZ IAAA – LZZZ MA – PZ MAA – PZZ MAAA – PZZZ QA .DZZ AAAA .SZZ 25 SULAWESI UTARA QAAA .YF.ZPZZ Q-U ZQ – ZU ZQA – ZUZ ZQAA – ZUZZ Q-U ZQ – ZU ZQA – ZUZ ZQAA – ZUZZ V-Y ZV – ZY ZVA – ZYZ ZVAA – ZYZZ 197 .YD.YC.YG.SZZ QAAA .DZZZ 22 SULAWESI BARAT YE.YH VA .YH 8 I-L ZI – ZL ZIA – ZLZ ZIAA .YG ANGKA IAR SUFFIKS IAR KHUSUS A-H ZA – ZH ZAA – ZHZ ZAAA – ZHZZ AA .YH 8 TA – UZ TAA – UZZ TAAA .YH 8 EA – HZ EAA – HZZ EAAA .YF.

YF.YE.YF.YZ UAA – YZZ UAAA – YZZZ QA .YH 8 XA – YZ XAA – YZZ XAAA .TZ RAA – TZZ QAAA – TZZZ UA .ZPZZ ZU – ZZ ZUA – ZZZ ZUAA .WZZ VAAA .YD.YF.YD.ZKZZ L-P ZL – ZP ZLA – ZPZ ZLAA .WZ VAA .ZTZZ U-Y ZU – ZZ ZUA – ZZZ ZUAA .YE.YG.ZFZZ G-K ZG – ZK ZGA – ZKZ ZGAA .YH 9 33 PAPUA YB.YG.YH 9 31 NUSA TENGGARA TIMUR YB.YH 9 32 PAPUA BARAT YB.YG.YF.YF.YE.ZZZZ Q-T ZQ – ZT ZQA – ZTZ ZQAA .YF.YF.YH 9 A-F ZA – ZF ZAA – ZFZ ZAAA .YC.YZ UAA – YZZ UAAA – YZZZ 29 BALI YB.YC.YD.YG.YD.YC.YG.YE.No PROVINSI PREFIKS HURUF YE.WZZZ 28 MALUKU UTARA YE.YC.YD.YE.YH 9 30 NUSA TENGGARA BARAT YB.YZZZ AA – FZ AAA – FZZ AAAA – FZZZ GA – KZ GAA – KZZ GAAA – KZZZ LA – PZ LAA – PZZ LAAA – PZZZ UA .YG ANGKA IAR SUFFIKS IAR KHUSUS V-Y ZV – ZY ZVA – ZYZ ZVAA – ZYZZ VA .YG.ZZZZ 198 .YC.

055 27.105 27. b. yaitu : Kanal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14.405 Ketentuan penggunaan pita HF untuk pelaksanaan penyelenggaraan KRAP adalah sebagai berikut : a.175 27.205 Kanal 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 MHz 27.245 27. 355 27. 199 .410 MHz yang dibagi menjadi 40 kanal.295 27.LAMPIRAN 6 RINCIAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PITA FREKUENSI UNTUK KOMUNIKASI RADIO ANTAR PENDUDUK (KRAP) Referensi : Peraturan Menteri Komunikasi Dan Informatika Nomor : 34/PER/M.KOMINFO/8/2009 Tentang Penyelenggaraan Komunikasi Radio Antar Penduduk HF Kanal frekuensi radio yang diizinkan pada pita HF (High Frequency) untuk pelaksanaan penyelenggaraan KRAP adalah frekuensi radio 26.015 27.960 MHz sampai dengan 27.960 MHz sampai dengan 27.155 27. setiap kanal frekuensi radio KRAP dapat digunakan untuk penyampaian berita gawat darurat.255 27.085 27.365 27.025 27.305 27. pita frekuensi radio 26.185 27. 125 27.275 27.395 27.005 27.285 27.225 27. 165 27.065 27.985 27.965 26. 335 27. 15 16 17 18 19 20 MHz 26.325 27.410 MHz merupakan pita frekuensi radio yang digunakan bersama dan tidak khusus diperuntukkan bagi 1 (satu) orang pemegang IKRAP dan tidak pula dilindungi dari gangguan elektromagnetik yang merugikan.975 26. 135 27.385 27.235 27.115 27.265 27.215 27. 345 27.315 27.035 27.075 27.375 27.

065 MHz (kanal 9) hanya digunakan untuk penyampaian berita gawat darurat. Ketentuan penggunaan pita VHF untuk pelaksanaan penyelenggaraan KRAP adalah frekuensi radio 142.600 MHz dengan spasi alur 20 KHz. frekuensi radio sebagaimana dimaksud pada huruf a merupakan frekuensi radio dengan pita sisi tunggal atas (USB = Upper Side Band) dengan gelombang pembawa di tekan (SSB SC = Single Side Band Suppressed Carrier). frekuensi radio sebagaimana dimaksud pada point (2) merupakan frekuensi radio dengan gelombang pembawa modulasi frekuensi radio untuk komunikasi teleponi radio. b. Kanal frekuensi radio yang diizinkan pada pita VHF (Very High Frequency) untuk pelaksanaan penyelenggaraan KRAP adalah frekuensi radio 142. g. kelas emisi yang diizinkan pada pita HF adalah J3E untuk komunikasi telepon radio. h. RX : 142. d. i. 2.550 MHz dan 143. toleransi frekuensi radio maksimum untuk Stasiun Tetap Pita Sisi Tunggal (SSB) adalah sebesar 50 Hz. j. (1) Kanal frekuensi radio yang diizinkan pada pita VHF untuk penyelenggaraan KRAP menggunakan pemancar ulang (Repeater) pada frekuensi radio : a. pancaran tersebar (Spurious emission) dan gelombang harmonis maksimum sebesar 50 decibel di bawah daya pancar. e.000 MHz sampai dengan 143. sedangkan Stasiun Bergerak adalah sebesar 40 Hz.000 MHz dan 142. PEP dalam hal ini ialah daya rata-rata yang dicatukan pada saluran transmisi antena oleh suatu pemancar selama satu periode dari frekuensi radio.000 MHz sampai dengan 143. f.c. daya pancar maksimum sebesar : 1. TX : 143. Penggunaan pemancar ulang (repeater) digunakan untuk keperluan Organisasi. VHF khusus frekuensi radio 27. lebar pita untuk setiap kanal adalah 2. pada puncak selubung modulasi yang terjadi pada kondisi operasi yang normal. daya pancar sebagaimana dimaksud pada huruf g tidak boleh dilampaui dalam semua keadaan operasi dan semua keadaan modulasi karena daya pancar yang berlebihan akan mengakibatkan gangguan pada sistem hubungan lainnya.600 MHz dengan spasi alur 20 KHz adalah sebagai berikut : a.575 MHz.8 KHz (2K80J3E). pita frekuensi dengan kanal sebagaimana dimaksud pada huruf a merupakan pita frekuensi yang digunakan bersama dan tidak khusus (2) (3) 200 . b.025 MHz. 12 Watt Peak Envelope Power (PEP).

sebesar 15 bagian dari 106. Stasiun Tetap pancar ulang (repeater) dengan daya pancar maksimum 50 Watt. 3. e. f. daya pancar maksimum : 1. 2. d. Perangkat Induk : 25 Watt. h. pancaran tersebar maksimum : 1. sebesar 20 bagian dari 106. g.   diperuntukkan bagi satu orang pemegang izin dan tidak pula dilindungi dari gangguan elektromagnetik yang merugikan. Perangkat Genggam : 5 Watt. 2. Stasiun Tetap dan Stasiun Bergerak dengan daya pancar maksimum 25 Watt. untuk perangkat induk dan perangkat genggam : 40 decibel (25 microwatt). Perangkat pancar ulang (repeater) : 50 Watt. lebar pita maksimum 16 kHz. 2. kelas emisi yang diizinkan pada pita VHF adalah F3E untuk komunikasi telepon radio. untuk perangkat pancar ulang (repeater) : 60 dicibel (1 milli Watt).c. toleransi frekuensi maksimum : 1. 201 . setiap kanal frekuensi dapat pula digunakan untuk penyampaian berita gawat darurat.

541-8 Annex 5 See Rec. ITU-R M.4 (4116) kHz 4125 kHz 4129. ITU-R M. 401 for ship stations Ch.5 kHz 2177 kHz 2182 kHz 2187. 411 for ship stations Ch.LAMPIRAN 7 RINCIAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA FREKUENSI UNTUK KEPERLUAN MARITIM NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 FREKUENSI 9 .5 kHz 16063.5 kHz 458.5 kHz 2141. 408 for ship stations Ch.5 – 2498 kHz 2502 – 2578 kHz 2578 – 2850 kHz 3155 – 3200 kHz 3200 – 3340 kHz 3340 – 3400 kHz 3500 – 3600 kHz 3600 – 3800 kHz 4063.4 – 4144.5 kHz 2189.5 – 2160 kHz 2174. 416 for ship stations Ch. NAVTEX MSI by NBDP.4 (4128) kHz SERVIS RNS RNS RNS RNS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS APLIKASI Omega Loran-C Radiobeacon Stations Radio Direction Finding Services Distress Call RTG. 414 for ship stations Ch.5 kHz 2262.4 kHz 4066.541-8 Annex 5 Referensi RR Appendix 15 Referensi RR Appendix 15 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 15 Referensi RR Appendix 17 CATATAN 202 .8 kHz 4066.14 kHz 90 – 110 kHz 285 .4 (4104) kHz 4111.5 – 1625 kHz 1635 – 1800 kHz 1850 – 1950 kHz 1950 – 2045 kHz 2045 – 2141.5 kHz 2194 – 2262.541-8 Annex 5 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Appendix 15 See Rec. 422 for ship stations Referensi RR Article 52 See Rec. ITU-R M.4 (4095) kHz 4105.3 – 4064.323 kHz 405 – 415 kHz 415 – 535 kHz 455.4 (4065) kHz 4087. RTG-COM for general call coast stations by DSC for general call ship stations by DSC for coast stations by NBDP and DSC for coast stations SSB radiotelephony for coast stations SSB radiotelephony for ship stations SSB radiotelephony for ship stations SSB radiotelephony for ship stations by NBDP and DSC for NBDP Distress Traffic Message for intership DSC for distress call radiotelephony for distress call by DSC for general call ship stations by DSC for ship stations SSB radiotelephony for intership SSB radiotelephony for ship stations by NBDP for coast stations by NBDP and DSC for ship stations by NBDP for ship stations SSB radiotelephony for intership SSB radiotelephony for intership SSB radiotelephony for coast stations SSB radiotelephony for ship stations (oceanographic data transmission) For ship stations radio telephony duplex Ch. 418 for ship stations For supplement distress call Ch.4 (4086 kHz 4096.4 (4110) kHz 4117.

416 for coast stations Ch. 604 for ship stations Ch.4 (6212) kHz Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 15 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17   203 .4 6215 kHz 6225.5 kHz 4181.4 6207.5 kHz 6314 – 6330.5 kHz 6331 – 6332 kHz 6332. 601 for ship stations Ch. 408 for coast stations Ch.5-6501 kHz (6200) (6203) (6206) (6209) kHz kHz kHz kHz Referensi RR Appendix 17 Referensi Referensi Referensi Referensi RR RR RR RR Appendix Appendix Appendix Appendix 17 17 17 17 6213.5 – 4220.4 6210. 401 for coast stations Ch.4 4421. 422 for coast stations Ch.4 4379.5 – 4207 kHz 4207.NO 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 FREKUENSI 4132.4 kHz 4154 – 4170 kHz 4172.4 4409.4 – 4150.5 – 4181.4 – 6222. 411 for coast stations Ch.4 kHz 4358.3-6262. 418 for coast stations Ch.4 4397.4 – 4436.4 (4357) kHz (4378) kHz (4387) kHz (4396 ) kHz (4402) kHz (4408) kHz (4420) kHz (4423) kHz SERVIS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS APLIKASI Ch. 605 for ship stations For supplement distress call for ship and coast stations radio telephony simplex For ship stations radio telegraphy for ship stations (oceanographic data transmission) For ship stations NBDP for ship stations radio telegraphy(calling) For ship stations NBDP for ship stations radio telegraphy(working) For ship stations NBDP For ship stations DSC For coast stations NBDP For coast stations DSC For coast stations radio telegraphy CATATAN Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi Referensi Referensi Referensi Referensi Referensi Referensi Referensi RR RR RR RR RR RR RR RR Appendix Appendix Appendix Appendix Appendix Appendix Appendix Appendix 17 17 17 17 17 17 17 17 6201.5 kHz 6275.4 kHz 6235 – 6259 kHz 6261.5 – 4209 kHz 4209. 414 for coast stations Ch.5 kHz 6263 – 6275.4 kHz 6201.4 (4131) kHz 4147.4 6204. 423 for ship stations for ship and coast stations radio telephony simplex For ship stations radio telegraphy For ship stations NBDP for ship stations radio telegraphy(calling) for ship stations radio telegraphy(working) For ship stations NBDP For ship stations DSC For coast stations NBDP For coast stations DSC For coast stations radio telegraphy for coast stations radio telephony duplex Ch.75 – 4186.5 4403.75 kHz 6281 – 6284.75-6280.5 kHz 6312 – 6313.75 kHz 4187 – 4202 kHz 4202.5 kHz 4221 – 4351 kHz 4352.4 4424.5-6311.5 kHz 6285 – 6300 kHz 6300.4 4388. 602 for ship stations Ch. 603 for ship stations Ch. 423 for coast stations for ship stations radio telephony duplex Ch.4 – 6231.5 – 4219 kHz 4219.

830 for coast stations for ship stations radio telephony duplex Ch. 828 for coast stations Ch.4 kHz 8302-8338 kHz 8340. 1209 for ship stations Ch. 826 for coast stations Ch. 814 for coast stations Ch. 1201 for ship stations Ch.4-8298.4 kHz 6502.4 (8240) 8250. 816 for ship stations Ch.5-8396 kHz 8396.4-8292.5-8436 kHz 8436.4 (8282) 8291 kHz kHz kHz kHz kHz kHz kHz kHz kHz Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 15 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi Referensi Referensi Referensi Referensi Referensi Referensi Referensi RR RR RR RR RR RR RR RR Appendix Appendix Appendix Appendix Appendix Appendix Appendix Appendix 17 17 17 17 17 17 17 17 8295.4 (8249) 8271.4 8795.4 (8222) 8229.4 8765. 603 for coast stations Ch.4 (8276) 8283.4kHz 12231. 1210 for ship stations CATATAN Referensi RR Appendix 17 Referensi Referensi Referensi Referensi Referensi RR RR RR RR RR Appendix Appendix Appendix Appendix Appendix 17 17 17 17 17 8196.4 6514.4 8774.4 (6501) (6504) (6507) (6510) (6513) kHz kHz kHz kHz kHz SERVIS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS APLIKASI for coast stations radio telephony duplex Ch.4 6508.4 (12257) kHz Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 204 .4 (8228) 8235. 826 for ship stations Ch.5 kHz 8342-8365.4 kHz 8747. 814 for ship stations Ch. 819 for coast stations Ch.5-8416 kHz 8416.4-6523.5-8437.4-8813.4 8801. 812 for ship stations Ch.4 8759.75kHz 8371-8376 kHz 8376. 602 for coast stations Ch. 830 for ship stations For distress call radiotelephony for ship and coast stations radio telephony simplex For ship stations radio telegraphy for ship stations (oceanographic data transmission) for ship stations radio telegraphy(working) for ship stations radio telegraphy(calling) for ship stations radio telegraphy(calling) For ship stations NBDP For ship stations NBDP For ship stations DSC For coast stations NBDP For coast stations DSC For coast stations radio telegraphy for coast stations radio telephony duplex Ch.NO 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 FREKUENSI 6502. 810 for coast stations Ch.75-8370.5-8414 kHz 8414.4-12351.4 6511. 810 for ship stations Ch. 601 for coast stations Ch. 828 for ship stations Ch.4 (8746) (8752) (8758) (8764) (8773) (8794) (8800) (8806) kHz kHz kHz kHz kHz kHz kHz kHz 12231.4 (8234) 8241. 604 for coast stations Ch.5 kHz 8365. 816 for coast stations Ch.4 8753.4 8807.5 kHz 8438-8707 kHz 8708. 812 for coast stations Ch.4 (12230) kHz 12255.4 kHz 8223.4 (12254) kHz 12258. 605 for coast stations for ship stations radio telephony duplex Ch.3-8341. 819 for ship stations Ch.4 (8270) 8277.4 6505.

4kHz 17270.3-12421.4 (17269) kHz 18781.NO 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 FREKUENSI 12290 kHz 12354.4kHz 16388.75-12544.5kHz 16785-16804kHz 16804.5-16902.5kHz 12577-12578.5-16806kHz 16806.5-17242kHz 17243.4-16526.4 (13101) kHz 13105.4kHz 18848-18868kHz 18870.4 (13077) kHz 13102.4kHz 13078.75kHz 16739-16784.5kHz 12422-12476.4-18823.4-17408.5kHz 16619-16683kHz 16683.4-12366. 1201 for coast stations Ch.4-13198.4 (16387) kHz 16420 kHz 16529.5-16733.75-16738.3-16618.4kHz 18826.5kHz SERVIS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS APLIKASI For distress call radiotelephony for ship and coast stations radio telephony simplex For ship stations radio telegraphy for ship stations (oceanographic data transmission) for ship stations radio telegraphy(working) For ship stations NBDP for ship stations radio telegraphy(calling) For ship stations NBDP For ship stations NBDP For ship stations DSC For coast stations NBDP For coast stations DSC For coast stations radio telegraphy for coast stations radio telephony duplex Ch. 1610 for coast stations For ship stations radio telephony duplex for ship and coast stations radio telephony simplex For ship stations radio telegraphy For ship stations NBDP CATATAN Referensi RR Appendix 15 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 15 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 205 .4kHz 16551-16615kHz 16617.5kHz 16733.5kHz 12477-12549.4-16547.75kHz 12555-12559.5-18892. 1610 for ship stations For distress call radiotelephony for ship and coast stations radio telephony simplex For ship stations radio telegraphy for ship stations (oceanographic data transmission) for ship stations radio telegraphy(working) For ship stations NBDP for ship stations radio telegraphy(calling) For ship stations NBDP For ship stations NBDP For ship stations DSC For coast stations NBDP For coast stations DSC For coast stations radio telegraphy for coast stations radio telephony duplex Ch.5kHz 12549. 1210 for coast stations for ship stations radio telephony duplex Ch.5kHz 12657-12658kHz 12658.5kHz 16903-16904kHz 16904. 1209 for coast stations Ch.5kHz 12560-12576.4 (13104) kHz 16361.5kHz 12579-12656.5-13077kHz 13078.4kHz 12370-12418kHz 12420.4-18844.

4kHz 22100.000MHz 161.1 MHz for AMS and MMS Transmitting Ship stations Transmitting Coast stations Transmitting Coast stations Transmitting Coast stations Transmitting Coast stations AIS(Automatic Identification System) CATATAN Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 15 Referensi RR Appendix 18 Referensi RR Appendix 18 Referensi RR Appendix 18 Referensi RR Appendix 18 Referensi RR Appendix 18 Referensi RR Appendix 18 206 .4-25119.975MHz SERVIS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS APLIKASI For ship stations NBDP For ship stations DSC For coast stations NBDP For coast stations DSC For coast stations radio telegraphy for coast stations radio telephony duplex for ship stations radio telephony duplex Ch.5-18899.4-22157.4-26173.3-22241.4 (22099) kHz 22160.4-19798.5kHz 26121-26122kHz 26122.5kHz 25193-25208kHz 25208.5-25209.5 MHz for AMS and MMS Coordination of SAR Operation RTPCOM on 123.950MHz 162.425MHz 160.5-25171kHz 25173-25192.975-137 MHz 156.950MHz 156. 2234 for ship stations for ship and coast stations radio telephony simplex For ship stations radio telegraphy for ship stations (oceanographic data transmission) for ship stations radio telegraphy(working) for ship stations radio telegraphy(calling) for ship stations NBDP for ship stations NBDP For ship stations DSC for coast stations NBDP for coast stations DSC for coast stations radio telegraphy for coast stations radio telephony duplex Ch.4-22178.5kHz 19680.4kHz 22796.5kHz 26100.5kHz 22352-22374kHz 22374.375-156.5kHz 22444-22445kHz 22445.25-22284.5-26145kHz 26146.5kHz 22242-22279kHz 22279.5-26120.4-22853.025-157.500-161.5kHz 22376-22443.4kHz 25123-25159kHz 25161.5-22351.5-22696kHz 22697.5-19704.5-22375.25kHz 22284.5-19703kHz 19703.4kHz 22182-22238kHz 22240.625-160.4kHz 22001.NO 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 FREKUENSI 18893-18898kHz 18898. 2234 for coast stations for ship stations radio telephony duplex for ship and coast stations radio telephony simplex for ship stations radio telegraphy for ship stations radio telegraphy(working) for ship stations NBDP for ship stations NBDP for ship stations DSC for coast stations NBDP for coast stations DSC for coast stations radio telegraphy for coast stations radio telephony duplex Distress and Urgency RTP-COM on 121.850MHz 161.5kHz 19705-19755kHz 19756.4kHz 25101.4 (22795) kHz 25071.4-25098.4kHz 117.

SART on vessel.025MHz for earth to space (COSPAS SARSAT) SAT-COM INMARSAT(space to earth) Distress relay emission EPIRBs from COSPAS SARSAT to LUT (space to earth) For down link Radionavigation Satellite Service (GPS – GNSS) SAT-COM INMARSAT(earth to space) EPIRBs INMARSAT(earth to space) Radar Beacon (RACON) Stations .9800MHz 14 – 14.5-1645.Radiolink for Distress Traffic from Receiving Station to Transmitting Station Used for the ShipboRNSe Interrogrator Transponder System(SIT) Allocated for Radionavigation Services Allocated for Maritime Radionavigation Services Allocated for radionavigation services Radar Beacon (RACON) Stations.25GHz RNS RNS RNS RNS RNS RNS RNS Perhatikan RR Article 5 Perhatikan RR Article 5 Perhatikan RR Article 5 Perhatikan RR Article 5 Referensi RR Appendix 15 Perhatikan RR Article 5 Perhatikan RR Article 5 Catatan : MMS : MARITIME MOBILE SERVICES MSS : MOBILE SATELLITE SERVICES MS : MOBILE SERVICES RNS : RADIONAVIGATION SERVICES 207 .025MHz 235 – 328.6 MHz 406 – 406.5-1646. VTS in planning Allocated for radionavigation services Allocated for radionavigation services CATATAN Referensi RR Appendix 18 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Perhatikan RR Article 5 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Perhatikan RR Article 5 204 205 206 207 208 209 210 2900 – 3100 MHz 5460 – 5470 MHz 5470 – 5650 MHz 8850 – 900 MHz 9200 .5 MHz 2700 – 2900 MHz SERVIS MMS MMS MMS MSS MSS MSS MSS MSS RNS APLIKASI AIS(Automatic Identification System) Emergency Frequency on 243 MHz for MMS and AMS EPIRBs 406.5 MHz 1645.9500MHz 9500 .NO 195 196 197 198 199 200 201 202 203 FREKUENSI 162.1 MHz 1530 – 1544 MHz 1544 – 1545 MHz 1559 – 1610 MHz 1626.

21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Assigned feeder-link Frequency (MHz ) 17 711. 3. 40 Assigned feeder-link Frequency (MHz ) 17 327. 35.2 104   Adm INS INS Beam Name INSA100 INSA100 Jenis Channel Polarisasi CR 1.60 17 998. 23 CL 29. 13.16 17 845. 32. 33.84 17 385.00 17 615.80 17 806. 5. 11.46 17 557. 34. 23 CL 2. 5.48 17 346. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 APP30 Posisi Orbit 80.56 17 461. 17.74 17 480.38 17 442. 19. 36.10 17 519. 10.20 17 423.34 17 864. 6.02 17 404.26 17 749. 31. 18.52 17 883. 22. 37. 20. 21. 15.62 17 787.28 17 538. 7.78 208 .82 17 596.88 17 922.44 17 768. 38. 39 CR 30.2 104 104 APP30A Posisi Orbit 80. 17. 21.66 17 365. 16. 13.42 17 979.18 Channel No.06 17 941.70 17 902. 3. 15.98 17 826.08 17 730. 24 Adm INS INS INS Beam Name INSA02800 INSA03501 INSA03502 Jenis Channel Polarisasi CR 1. 19.LAMPIRAN 8 RINCIAN PENGATURAN TEKNIS SATELIT BSS PLANNED BAND RADIO REGULATION APPENDIX 30 DAN 30A Channel No. 7. 4. 11. 14. 9.24 17 960.64 17 576.92 17 500. 12. 9. 8.

LAMPIRAN 9 RINCIAN PENGKANALAN TRANSPONDER SATELIT INDONESIA FREQUENCY PLAN TELKOM-1 (108E) DOWNLINK 4199.875 13H 3420 T25 14H 3460 T26 15H 3500 T27 16H 3540 T28 17H 3580 T29 18H 3620 T30 IH 3720 T1 3701.750 2H 3760 T2 3H 3800 T3 4H 3840 T4 5H 3880 T5 6H 3920 T6 7H 3960 T7 8H 4000 T8 9H 4040 T9 10H 4080 T10 11H 4120 T11 12H 4160 T12 12V 4180 T24 13V 3440 T31 14V 3480 T32 15V 3520 T33 16V 3560 T34 17V 3600 T35 18V 3640 3717 1V 3740 T13 2V 3780 T14 3V 3820 T15 4V 3860 T16 5V 3900 T17 6V 3940 T18 7V 3980 T19 8V 4020 T20 9V 4060 T21 10V 4100 T22 11V 4140 T23 T36 UPLINK 6424 1V 5945 T1 5926 2V 5985 T2 3V 6025 T3 4V 6065 T4 5V 6105 T5 6V 6145 T6 7V 6185 T7 8V 6225 T8 9V 6265 T9 10V 6305 T10 11V 6345 T11 12V 6385 T12 12H 6405 T24 13V 6465 T25 14V 6505 T26 15V 6545 T27 16V 6585 T28 17V 6625 T29 18V 6665 T30 18H 6685 T36 5942 IH 5965 T13 2H 6005 T14 3H 6045 T15 4H 6085 T16 5H 6125 T17 6H 6165 T18 7H 6205 T19 8H 6245 T20 9H 6285 T21 10H 6325 T22 11H 6365 T23 13H 6485 T31 14H 6525 T32 15H 6565 T33 16H 6605 T34 17H 6645 T35   FREQUENCY PLAN CAKRAWARTA-1 (107.7E)       209 .

5985 6025 6065 6105 6145 6185 6225 6265 6305 6345 6385 1H 1V 2H 2V 5965 3H 3V 6005 4H 4V 6045 5H 5V 6085 6H 6V 6125 7H 7V 6165 8H 8V 6205 9H 9V 6245 10H 6285 11H 12H 12V 6405 10V 6325 11V 6365 Transfer Orbit CMD Downlink Center Frequency. 3760 3800 3840 3880 3920 3960 4000 4040 4080 4120 4160 1H 1V 2H 2V 3740 3H 3V 3780 4H 4V 3820 5H 5V 3860 6H 6V 3900 7H 7V 3940 8H 8V 3980 9H 9V 4020 10H 4060 11H 12H 12V 4180 10V 4100 11V 4140   Uplink Center Frequency. HORIZONTAL POL.PALAPA C2 (113E) Ext-C FREQUENCY PLAN DOWNLINK 36 MHz 3402 3400 1EH(3420) 3438 3442 2EH(3460) 3478 4MHz 3482 3EH(3500) 3518 3522 4EH(3540) 3558 3562 5EH(3580) 3598 3602 6EH(3620) 3638 HORIZONTAL UPLINK 36 MHz 6427 6425 1EH(6445) 6463 6467 2EH(6485) 6503 4MHz 6507 3EH(6525) 6543 6547 4EH(6565) 6583 6587 5EH(6605) 6623 6627 6EH(6645) 6667 VERTIKAL Uplink Center Frequency. MHz EXTENDED C-BAND STANDARD C-BAND On Station Beacon 3720 HORIZONTAL POL. MHz 13.790 1K 13. MHz STANDARD C-BAND 4MHz 36MHz EXTENDED C-BAND On Station CMD 5945 VERTICAL POL.650 4K 72 MHz 88 MHz 268 MHz   210 .490 3K 11.990 1K 11.450 4K 72 MHz 88 MHz 268 MHz Downlink Center Frequency.150 2K 11. VERTICAL POL. MHz 10.950 2K 14.290 3K 14.

6725MHz. RHCP Downlink: 3400 – 3700 MHz. RHCP Return Link (Handset to Gateway): Uplink: 1626. Vertical Channelization: 200 kHz /RF channel (1 RF channel contains 32 circuit) 211 .5 MHz.5 – 1660.PALAPA PAC-C 146E satellite @ 146E C band frequency plan Beam: C 36 MHz transponders (except #24 with 30 MHz bw) 5927 fc Vertical uplink Horizontal uplink fc 5945 5985 6025 6065 6105 6145 6185 6225 6265 6305 6345 6385 1 2 5965 3 4 6005 5 6 6045 7 8 6085 9 10 6125 11 12 6165 13 14 6205 15 16 6245 17 18 6285 19 20 6325 21 22 6365 23 6403 Cmd1 Cmd2 6587 6422 6424 6605 6645 6685 25 27 29 24 26 28 30 6402 6625 6665 6705 [MHz] 6417 6607 6723 [MHz] 3562 fc Horizontal downlink Vertical downlink fc 3580 3620 3678 3660 3702 3720 3760 3800 3840 3880 3920 3960 4000 4040 4080 4120 4178 4160 Tlm1 Tlm2 [MHz] 4196 4198 25 26 3600 27 28 3640 29 30 3680 1 2 3740 3 4 3780 5 6 3820 7 8 3860 9 10 3900 11 12 3940 13 14 3980 15 16 4020 17 18 4060 19 20 4100 21 22 4140 23 24 4177 3698 3722 4192 [MHz] Ku band frequency plan 36 MHz transponders 14021 14039 Beam: Ku fc Vertical uplink Horizontal uplink fc 14079 14119 14159 14199 14239 14279 14319 14359 14399 14439 14497 14479 [MHz] 13 1 14039 14 2 14079 15 3 14119 16 4 14159 17 5 14199 18 6 14239 19 7 14279 20 8 14319 21 9 14359 22 10 14399 23 11 14439 24 12 14479 fc Horizontal downlink Vertical downlink fc 12203 12221 12261 12301 12341 12381 12421 12461 12501 12541 12581 12621 12679 12661 [MHz] 13 1 12221 14 2 12261 15 3 12301 16 4 12341 17 5 12381 18 6 12421 19 7 12461 20 8 12501 21 9 12541 22 10 12581 23 11 12621 24 12 12661 ACeS satellite Filing name: GARUDA-2 (123o E) Channel plan          Forward link (Gateway to Handset) Uplink: 6425 . Horizontal Downlink: 1525 – 1559 MHz.

Departemen Perhubungan Kepala Seksi Kerjasama Teknik Frekuensi. Teknik Telekomunikasi Magister Teknik – Universitas Indonesia. M. Departemen Perhubungan Kepala Seksi Frekuensi Radio dan Standarisasi Bilateral. “Telecommunications Management”. Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. Jurusan Teknik Elektro. Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. Direktorat Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit.CURRICULUM VITAE Nama Tempat Lahir Tanggal Lahir Agama Pekerjaan Kantor Jabatan Pangkat Golongan ruang PENDIDIKAN 1978 – 1984 1984 – 1987 1987 – 1990 1990 – 1994 1997 – 1999 : : : : : : : : : Denny Setiawan. tahun 2001 Piagam Adikarya Pralabda dari Menteri Komunikasi dan Informatika 212 . Bandung Sarjana Teknik – Institut Teknologi Bandung. Bandung SMP Negeri 5.T. Direktorat Kelembagaan Internasional. Jawa Barat 8 November 1971 Islam Pegawai Negeri Sipil Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. Departemen Perhubungan Plt.2005 2005 . Ciamis. Kasubdit Penataan Frekuensi merangkap Kepala Seksi Alokasi Frekuensi. Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi.2003 2003 .T. Departemen Komunikasi dan Informatika Kasubdit Penataan Frekuensi Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi Pembina IV/a SD Santo Agustinus. Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi Kasubdit Penataan Frekuensi Piagam Penghargaan Pegawai Teladan Sub Unit Ditjen Postel dari pengurus unit KORPRI Departemen Perhubungan Piagam Adikarya Palapa Prawara dari Menteri Perhubungan Salah satu penerima beasiswa the United States Government’s International Visitor Program. Jurusan Teknik Elektro PENDIDIKAN PENJENJANGAN 1995 Pra Jabatan 1999 Adum (PIM IV) 2002 Spama (PIM III) PENGALAMAN KERJA 1995 – 2002 2002 .2006 2006 . S. Bandung SMA Negeri 3.2008 PENGHARGAAN 1999 2000 2001 2006 Staf Direktorat Bina Frekuensi.

DENNY SETIAWAN yang lahir di Ciamis pada tahun 1971 saat ini bekerja sebagai Kasubdit Penataan Frekuensi. pengembangan master plan frekuensi radio siaran FM/TV. Latar belakang pendidikannya adalah Sarjana Teknik Elektro Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung lulus tahun 1994 dan Magister Teknik Telekomunikasi Universitas Indonesia lulus tahun 1999. pembuatan buku dan peta tabel alokasi frekuensi radio Indonesia. koordinasi frekuensi bilateral. penyiaran. Departemen Komunikasi dan Informatika. 213 . serta sistem komunikasi bergerak selular. Saat ini penulis bertugas untuk menangani serta merumuskan kebijakan dan regulasi frekuensi di Indonesia secara keseluruhan termasuk sistem komunikasi satelit. Bergabung dengan Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi sejak tahun 1995. koordinasi satelit. penulis berpengalaman mengikuti sejumlah konferensi komunikasi radio dunia. broadband wireless access. dan sebagainya. Direktorat Frekuensi. maupun sejumlah pertemuan bidang telekomunikasi di tingkat regional maupun internasional lainnya. Di samping itu penulis juga terlibat dalam pendaftaran frekuensi radio ke ITU.