P. 1
Alokasi Frekuensi Edisi 2 Januari 2010

Alokasi Frekuensi Edisi 2 Januari 2010

|Views: 3,418|Likes:
Dipublikasikan oleh Agra Gautama

More info:

Published by: Agra Gautama on Nov 22, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/11/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1. PENDAHULUAN
  • 2.1 WORLD RADIOCOMMUNICATION CONFERENCE
  • GAMBAR 1. PEMBAGIAN WILAYAH ITU
  • 2.2 RADIO REGULATION
  • 2.3 KOORDINASI FREKUENSI RADIO DENGAN NEGARA LAIN
  • 2.3.1 KOORDINASI FREKUENSI PERBATASAN
  • 2.3.2 KOORDINASI SATELIT
  • 3.2 PENGATURAN TEKNIK SPEKTRUM FREKUENSI RADIO
  • 1. PENDAHULUAN
  • 2. ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA
  • TABEL 4. ALOKASI FREKUENSI SELULAR SAAT INI
  • 2.1 PITA FREKUENSI SELULAR 450 MHz
  • 2.2 PITA FREKUENSI SELULAR CDMA 850 MHZ/1900 MHZ
  • 2.2.1 LATAR BELAKANG
  • 2.2.2 KONDISI AWAL (SEBELUM JULI 2005)
  • 2.3.1 LATAR BELAKANG
  • 2.3.2 PENYELENGGARA SELULAR GSM/UMTS
  • 2.4 JARINGAN AKSES LAINNYA
  • 2.4.1 LATAR BELAKANG
  • 3. REGULASI TEKNIS SISTEM SELULAR
  • 1. PENDAHULUAN
  • 1.1 PENYIARAN RADIO
  • 1.2 PENYIARAN TELEVISI
  • 1.3 PENYIARAN SATELIT
  • TABEL 7. ALOKASI FREKUENSI PENYIARAN SATELIT
  • 3. PENGKANALAN FREKUENSI PENYIARAN TERRESTRIAL
  • 3.1 LATAR BELAKANG DAN KONDISI SAAT INI
  • 3.1.1 MASTER PLAN FREKUENSI SIARAN TV UHF ANALOG
  • TABEL 11. CHANNEL GROUPING TV UHF DI INDONESIA
  • TABEL 12. DISTRIBUSI KANAL TV UHF ANALOG DI INDONESIA
  • 3.1.2 MASTER PLAN FREKUENSI SIARAN RADIO FM
  • 3.2 PERENCANAAN FREKUENSI PENYIARAN DIGITAL
  • 3.2.1 LATAR BELAKANG
  • 3.2.3 PERENCANAAN FREKUENSI PENYIARAN DIGITAL
  • GAMBAR 4. PENGKANALAN FREKUENSI DAB/DMB
  • 3.6 REGULASI TEKNIS SISTEM PENYIARAN
  • 4. PERIZINAN DAN APLIKASI IZIN
  • 4.1 PERIZINAN PENYIARAN ANALOG
  • 2. ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA
  • 3. REGULASI TEKNIS DAN KONDISI OPERASI
  • 4. KONDISI SAAT INI DAN USULAN PEMECAHAN
  • 4.1 SISTEM KOMUNIKASI RADIO INSTANSI PEMERINTAH
  • 4.1.3 JARINGAN KOMUNIKASI RADIO PEMERINTAH TERPADU
  • 4.2 SISTEM KOMUNIKASI RADIO TRUNKING
  • 5. PERIZINAN DAN PERSYARATAN
  • 2. ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA
  • 2.1 SISTEM KOMUNIKASI RADIO HF
  • 2.2 SISTEM KOMUNIKASI RADIO VHF/UHF
  • 2.3 MICROWAVE LINK
  • 4. PERIZINAN DAN PERSYARATAN
  • 4.1 SISTEM KOMUNIKASI RADIO HF
  • 4.2 SISTEM KOMUNIKASI RADIO VHF/UHF
  • 4.3 SISTEM KOMUNIKASI RADIO MICROWAVE LINK
  • 4.3.1 PERMASALAHAN
  • 4.3.2 USULAN KEBIJAKAN
  • 2. ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN
  • 2.1 AMATIR RADIO
  • 4. PERIZINAN DAN PERSYARATAN
  • BAB - 8 KOMUNIKASI RADIO MARITIM DAN PENERBANGAN
  • 1. PENDAHULUAN
  • BAB - 9 BROADBAND WIRELESS ACCESS (BWA)
  • 2 ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA
  • 3. KONDISI EKSISTING
  • 4. PENATAAN FREKUENSI BWA
  • GAMBAR 6. PENATAAN FREKUENSI BWA
  • 5. PERIZINAN DAN PERSYARATAN
  • GAMBAR 7. MASA TRANSISI PENATAAN FREKUENSI BWA
  • 6. BHP FREKUENSI RADIO
  • 7. REGULASI TERKAIT PENATAAN FREKUENSI BWA
  • BAB - 10 PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI SATELIT
  • 3. PERIZINAN SATELIT
  • TABEL 27. DAFTAR SATELIT INDONESIA YANG BEROPERASI
  • 3.2 IZIN STASIUN ANGKASA
  • 3.3 IZIN STASIUN BUMI
  • 3.4 HAK LABUH
  • 3.5 BHP FREKUENSI RADIO SISTEM SATELIT
  • 2.2 KONSEP USULAN PERLUASAN IZIN KELAS
  • 2.2.4 PERANGKAT TELEPON NIRKABEL (CORDLESS PHONE)
  • BAB - 12 BIAYA HAK PENGGUNAAN (BHP) FREKUENSI RADIO
  • 2. BHP FREKUENSI DALAM BENTUK IZIN STASIUN RADIO
  • TABEL 35. BESARAN HDDP (HARGA DASAR DAYA PANCAR)
  • TABEL 36. BESARAN HDLP (HARGA DASAR LEBAR PITA)
  • DAFTAR PUSTAKA

"Buku ini merupakan penyempurnaan buku “Alokasi Frekuensi dan Satelit di Indonesia” yang diterbitkan tahun 2004 lalu

, dan merupakan dokumen yang sulit ditemui di Indonesia. Buku ini secara komprehensif memberikan gambaran mengenai perencanaan maupun penggunaan alokasi frekuensi radio di Indonesia..."

Ir. Tulus Rahardjo, MSc.

Direktur Pengelolaan Spektrum Frekuensi Radio, Ditjen Postel - Depkominfo

DENNY SETIAWAN yang lahir di Ciamis pada tahun 1971 saat ini bekerja sebagai Kasubdit Penataan Frekuensi, Direktorat Frekuensi, Departemen Komunikasi dan Informatika. Latar belakang pendidikannya adalah Sarjana Teknik Elektro Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung lulus tahun 1994 dan Magister Teknik Telekomunikasi Universitas Indonesia lulus tahun 1999. Bergabung dengan Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi sejak tahun 1995, penulis berpengalaman mengikuti sejumlah konferensi komunikasi radio dunia, koordinasi satelit, koordinasi frekuensi bilateral, maupun sejumlah pertemuan bidang telekomunikasi di tingkat regional maupun internasional lainnya. Di samping itu penulis juga terlibat dalam pendaftaran frekuensi radio ke ITU, pembuatan buku dan peta tabel alokasi frekuensi radio Indonesia, pengembangan master plan frekuensi radio siaran FM/TV. Saat ini penulis bertugas untuk menangani serta merumuskan kebijakan dan regulasi frekuensi di Indonesia secara keseluruhan termasuk sistem komunikasi satelit, broadband wireless access, serta sistem komunikasi bergerak selular, penyiaran, dan sebagainya.

Alokasi Frekuensi

KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM INDONESIA

Diterbitkan oleh: Departemen Komunikasi dan Informatika, Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. Gedung Sapta Pesona, Lt.7, Jl. Medan Merdeka Barat No. 17, Jakarta 10110, INDONESIA

DePARTeMeN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
DIREKTORAT JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI

KATA SAMBUTAN
Perkembangan teknologi yang sangat cepat telah memungkinkan berbagai macam aplikasi berbagai frekuensi radio. Kemampuan dari setiap negara untuk memanfaatkan sepenuhnya sumber daya alam spektrum frekuensi radio sangat tergantung kepada tanggung jawab dan pengaturan sesuai ketentuan dari pengelola spektrum frekuensi radio yang berperan sebagai regulator yang merupakan factor kunci dalam pelaksanaan kebijakan yang berpihak pada masyarakat luas. Kebijakan alokasi frekuensi radio terkait dengan pengembangan regulasi telekomunikasi, karena regulasi secara umum mengikuti kebijakan. Oleh karena itu, perencanaan sering menjadi fungsi utama dari kebijakan untuk menentukan kebutuhan alokasi frekuensi radio saat ini dan masa yang akan datang dari setiap negara. Kami mengucapkan selamat dan penghargaan kepada penulis, Denny Setiawan, yang merupakan salah satu staf Ditjen Postel-Depkominfo, atas ketekunannya dalam menyelesaikan buku kebijakan alokasi frekuensi radio di Indonesia ini. Buku ini merupakan penyempurnaan buku “Alokasi Frekuensi dan Satelit di Indonesia” yang diterbitkan tahun 2004 lalu, dan merupakan dokumen yang sulit ditemui di Indonesia. Buku ini secara komprehensif memberikan gambaran mengenai perencanaan maupun penggunaan alokasi frekuensi radio di Indonesia. Diharapkan dengan buku kebijakan alokasi frekuensi radio di Indonesia, akan memudahkan masyarakat di dalam memahami penggunaan spektrum frekuensi radio secara tertib, efektif dan efisien. Jakarta, Januari 2010

Direktur Pengelolaan Spektrum Frekuensi Radio Ditjen Postel - Depkominfo

Ir. TULUS RAHARDJO, MSEE.

i

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, setelah disibukkan dengan kegiatan rutin, akhirnya rampung juga penulisan buku ini yang merupakan perbaikan dan penyempurnaan edisi pertama buku “Alokasi Spektrum Frekuensi dan Satelit di Indonesia” kompilasi kebijakan alokasi spektrum frekuensi radio di Indonesia ini. Saya mendapat banyak sekali masukan dan permintaan kapan buku tersebut dicetak ulang. Selama empat tahun terakhir, tahun 2005 s.d. 2009, kita melihat berbagai perkembangan dalam hal regulasi serta kebijakan sektor telekomunikasi wireless di Indonesia. Dimulai dengan penyusunan regulasi-regulasi perizinan frekuensi, satelit, serta lelang frekuensi 3G, lelang BWA 2.3 GHz yang merupakan milestone reformasi pengelolaan frekuensi di Indonesia. Berdasarkan hal tersebut, maka penulis membutuhkan waktu untuk melakukan kompilasi berdasarkan proses yang telah, sedang dan akan berjalan. Edisi kedua buku kebijakan alokasi spektrum frekuensi radio Indonesia dibuat berdasarkan kerangka yang ada dalam edisi pertama, dengan penyempurnaan di sana sini. Tujuannya adalah memberikan penjelasan kompehensif mengenai perencanaan maupun penggunaan alokasi frekuensi radio di Indonesia. Penulis menyadari bahwa dalam tulisan ini masih banyak kekurangan, untuk itu saran dan pendapat serta masukan lain yang bermanfaat sangatlah bermanfaat. Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Tulus Rahardjo, Direktur Pengelolaan Spektrum Frekuensi Radio, Ditjen PostelDepkominfo, atas bimbingan, arahan serta kata sambutan pada buku ini. Demikian juga seluruh rekan pejabat dan staf Direktorat Pengelolaan Spektrum Frekuensi Radio, khususnya Subdit Penataan Frekuensi Radio. Ucapan terima kasih dan apresiasi penulis sampaikan kepada Danar Dono yang telah dengan teliti dan tekun melakukan penyempurnaan editorial penulisan buku ini. Demikian pula kepada Ir. Arifin Lubis, MT, Ketua Koperasi Ditjen Postel, atas saran dan prakarsanya untuk penyusunan serta pencetakan revisi Buku Alokasi Spektrum Frekuensi Radio ini sehingga akhirnya bisa hadir di hadapan pembaca. Akhir kata, semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat pada umumnya, serta khususnya bagi penulis sendiri. Jakarta, Januari 2010 Penulis,

DENNY SETIAWAN, ST. MT.

ii

DAFTAR ISI
KATA SAMBUTAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB 1 BAB 2 1 2 2.1 2.2 2.3 2.3.1 2.3.2 3 3.1 3.2 4 BAB 3 1 2 2.1 2.2 2.2.1 2.2.2 2.2.3 2.3 2.3.1 2.3.2 2.4 2.4.1 2.4.2 3 4 PENDAHULUAN MANAJEMEN SPEKTRUM FKEKUENSI RADIO PENDAHULUAN PENGATURAN PENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO WORLD RADIOCOMMUNICATION CONFERENCE RADIO REGULATION KOORDINASI FREKUENSI RADIO DENGAN NEGARA LAIN KOORDINASI FREKUENSI PERBATASAN KOORDINASI SATELIT KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO TABEL ALOKASI SPEKTRUM FREKUENSI RADIO INDONESIA (TASFRI) PENGATURAN TEKNIK SPEKTRUM FREKUENSI RADIO PENGENDALIAN SPEKTRUM DAN MANAJEMEN INTERFERENSI KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM UNTUK JARINGAN TELEKOMUNIKASI SELULAR PENDAHULUAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA PITA FREKUENSI SELULAR 450 MHz PITA FREKUENSI SELULAR CDMA 800 MHz / 1900 MHz LATAR BELAKANG KONDISI AWAL (SEBELUM JULI 2005) MIGRASI PITA FREKUENSI PCS 1900 MHz KE PITA SELULAR 800 MHz PITA FREKUENSI SELULAR GSM-900/1800 MHz DAN UMTS 2.1 GHz LATAR BELAKANG PENYELENGGARA SELULAR GSM/UMTS JARINGAN AKSES LAINNYA LATAR BELAKANG PERENCANAAN DAN KEBIJAKAN PENGGUNAAN FREKUENSI REGULASI TEKNIS SISTEM SELULAR KEBIJAKAN PERIZINAN PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI SELULAR HALAMAN i ii iii 1 3 3 4 5 6 7 8 9 10 13 15 18 19 19 21 28 29 29 30 31 34 34 36 37 37 37 38 39
iii

3 2 3 3.4 3.2.3 3.2 3.3.3.1 3.1.4 3.2 1.3 3.3 3.2 3.2 KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM PENYIARAN PENDAHULUAN PENYIARAN RADIO PENYIARAN TELEVISI PENYIARAN SATELIT ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA PENGKANALAN FREKUENSI PENYIARAN TERRESTRIAL LATAR BELAKANG DAN KONDISI SAAT INI MASTER PLAN FREKUENSI TV SIARAN UHF ANALOG MASTER PLAN FREKUENSI RADIO SIARAN FM PENGKANALAN FREKUENSI RADIO SIARAN AM PADA PITA FREKUENSI LF/MF PENGKANALAN FREKUENSI RADIO SIARAN AM PADA PITA FREKUENSI HF (HF BROADCASTING) PERENCANAAN FREKUENSI PENYIARAN DIGITAL LATAR BELAKANG PRINSIP-PRINSIP PERENCANAAN FREKUNSI PENYIARAN DIGITAL PERENCANAAN FREKUENSI PENYIARAN DIGITAL KONDISI EKSISTING DAN USULAN PEMECAHAN PERMASALAHAN KONDISI EKSISTING RADIO SIARAN FM DAN SOLUSI PERMASALAHAN KONDISI EKSISTING RADIO SIARAN AM DAN SOLUSI PERMASALAHAN KONDISI EKSISTING VHF BAND III DAN SOLUSI PERMASALAHAN KONDISI EKSISTING UHF BAND IV DAN V DAN SOLUSI PERMASALAHAN PENYELENGGARAAN JARINGAN MULTIPLEKS DIGITAL TERRESTRIAL BROADCASTING (DVB-T DAN DAB) PENGGUNAAN BERSAMA MENARA DAN INFRASTRUKTUR PENYIARAN TERRESTRIAL (INFRASTRUCTURE SHARING) REGULASI TEKNIS SISTEM PENYIARAN PERIZINAN DAN APLIKASI IZIN PERIZINAN PENYIARAN ANALOG PERIZINAN PENYELENGGARA JARINGAN TELEKOMUNIKASI UNTUK PENYELENGGARAAN MULTIPLEKS TV DIGITAL DVB-T DAN DAB HALAMAN 41 41 41 43 44 44 45 45 45 51 56 57 58 58 58 60 65 65 67 69 73 77 79 80 80 82 82 iv .2 3.2.4 3.1 4.3 3.1 1.2 3.1 3.1.BAB 4 1 1.6 4 4.2.1.3.1 3.1.5 3.3.1 3.

1.1 4.1.2 4.2 BAB 7 1 2 2.2 5 BAB 6 1 2 2.3 4.1.1 4.3.3 4.1 2.2 3 4 KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM UNTUK SERVIS KOMUNIKASI RADIO BERGERAK DARAT PENDAHULUAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA REGULASI TEKNIS DAN KONDISI OPERASI KONDISI SAAT INI DAN USULAN PEMECAHAN SISTEM KOMUNIKASI RADIO INSTANSI PEMERINTAH SISTEM TELEKOMUNIKASI INSTANSI PEMERINTAH MENGGUNAKAN JARINGAN TELEKOMUNIKASI PUBLIK SISTEM TELEKOMUNIKASI INSTANSI PEMERINTAH MENGGUNAKAN JARINGAN TELEKOMUNIKASI NON PUBLIK (CLOSED USER GROUP) JARINGAN KOMUNIKASI RADIO PEMERINTAH TERPADU SISTEM KOMUNIKASI RADIO TRUNKING PERIZINAN DAN PERSYARATAN KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM UNTUK SERVIS KOMUNIKASI RADIO TETAP TERRESTRIAL PENDAHULUAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA SISTEM KOMUNIKASI RADIO HF SISTEM KOMUNIKASI RADIO VHF/UHF MICROWAVE LINK REGULASI EKSISTING DAN KONDISI OPERASI PERIZINAN DAN PERSYARATAN SISTEM KOMUNIKASI RADIO HF SISTEM KOMUNIKASI RADIO VHF/UHF SISTEM KOMUNIKASI RADIO MICROWAVE LINK PERMASALAHAN USULAN KEBIJAKAN AMATIR RADIO DAN KOMUNIKASI RADIO ANTAR PENDUDUK (CITIZEN BAND / CB) PENDAHULUAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN AMATIR RADIO ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCAANAN PITA KRAP/CB REGULASI TEKNIS DAN KONDISI OPERASI PERIZINAN DAN PERSYARATAN 85 85 86 87 88 88 88 89 91 93 94 96 96 96 96 97 97 99 100 100 100 101 101 102 104 104 105 105 105 106 106 v .1 4.3 3 4 4.2 4.2 2.HALAMAN BAB 5 1 2 3 4 4.3.1 4.1 2.

1 2.2 3.17 TAHUN 2005 KONSEP USULAN PERLUASAN IZIN KELAS HALAMAN 107 107 108 111 114 114 115 116 118 118 122 123 124 124 125 128 129 132 132 133 135 137 1 2 2.1 3.5 BAB 11 KOMUNIKASI RADIO MARITIM DAN PENERBANGAN PENDAHULUAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA KOMUNIKASI RADIO MARITIM ALOKASI SPEKRUM DAN PERENCANAAN PITA KOMUNIKASI RADIO PENERBANGAN BROADBAND WIRELESS ACCESS (BWA) PENDAHULUAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA KONDISI EKSISTING PENATAAN FREKUENSI BWA PERIZINAN DAN PERSYARATAN BHP FREKUENSI RADIO REGULASI TERKAIT PENATAAN FREKUENSI BWA PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI SATELIT PENDAHULUAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA PERIZINAN SATELIT KETENTUAN PERIZINAN PENGGUNAAN SATELIT DI INDONESIA IZIN STASIUN ANGKASA IZIN STASIUN BUMI HAK LABUH BHP FREKUENSI RADIO SISTEM SATELIT PERANGKAT BERDAYA PANCAR RENDAH / JANGKAUAN PENDEK (SHORT RANGE DEVICES) DAN ISM-BAND PENDAHULUAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA IZIN KELAS PADA PERMEN KOMINFO NO.2 137 137 137 138 vi .4 3.3 3.BAB 8 1 2 3 BAB 9 1 2 3 4 5 6 7 BAB 10 1 2 3 3.

1.5 3 BAB 12 1 2 3 3.2.1.2 4 TERMINAL PELANGGAN UNTUK PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI BERGERAK SELULAR DAN PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL DENGAN MOBILITAS TERBATAS (FIXED WIRELESS ACCESS) PERANGKAT KOMUNIKASI JARAK PENDEK (SHORT RANGE DEVICE) PERANGKAT TERMINAL PELANGGAN UNTUK PENYELENGGARAAN BERGERAK RADIO TRUNKING PERANGKAT TELEPON NIRKABEL (CORDLESS PHONE) PERANGKAT RADIO YANG MENGGUNAKAN GELOMBANG RADIO INFRA MERAH (INFRA RED DEVICES) PITA FREKUENSI INDUSTRI.2.2.2.2.3 2.1 3. SAINS DAN MEDIS (INDUSRIAL.2. SCIENCE AND MEDICAL BAND) BIAYA HAK PENGGUNAAN (BHP) FREKUENSI RADIO PENDAHULUAN BHP FREKUENSI DALAM BENTUK IZIN STAISUN RADIO BHP FREKUENSI DALAM BENTUK IZIN PITA FREKUENSI RADIO KETENTUAN PEMBAYARAN BHP PITA FREKUENSI OPERATOR IMT-2000 (3G) UP FRONT FEE BHP PITA TAHUNAN WHITE PAPER PENERAPAN BHP PITA PADA PENYELENGGARA TELEKOMUNIKASI SELULER DAN FWA HALAMAN 138 139 142 143 144 145 148 148 148 156 156 156 157 158 160 204 DAFTAR PUSTAKA CURRICULUM VITAE vii .2 2.1 2.1 3.4 2.

DAFTAR TABEL TABEL 1 PERATURAN YANG TERKAIT DENGAN PENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO.76/2003. LEBAR PITA DAN JARAK MINIMUM HALAMAN 10 TABEL 2 TABEL 3 TABEL 4 TABEL 5 TABEL 6 TABEL 7 TABEL 8 TABEL 9 TABEL 10 TABEL 11 TABEL 12 TABEL 13 TABEL 14 TABEL 15 TABEL 16 TABEL 17 TABEL 18 TABEL 19 TABEL 20 TABEL 21 15 22 24 33 44 45 47 47 48 49 50 54 55 56 62 68 71 74 98 103 viii . FIXED WIRELESS ACCESS DAN SELULAR DAN PERENCANAAN ALOKASI FREKUENSI DAFTAR PERATURAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI BERBASIS NIRKABEL ALOKASI FREKUENSI SELULAR INDONESIA SEBELUM TAHUN 2005 ALOKASI FREKUENSI SELULAR SAAT INI ALOKASI KANAL FREKUENSI STANDAR CDMA DI INDONESIA ALOKASI FREKUENSI PENYIARAN TERRESTRIAL ANALOG ALOKASI FREKUENSI PENYIARAN SATELIT RENCANA PENGKANALAN TV VHF BAND I DAN III STANDAR PAL-B RENCANA PENGKANALAN TV UHF BAND IV STANDAR PAL-G RENCANA PENGKANALAN TV UHF BAND V STANDAR PAL-G CHANNEL GROUPING TV UHF DI INDONESIA DISTRIBUSI KANAL TV UHF ANALOG DI INDONESIA PENGATURAN TEKNIS RADIO SIARAN FM PENGELOMPOKKAN KELAS RADIO SIARAN FM BERDASARKAN EIRP DAN WILAYAH LAYANAN MAKSIMUM PROTECTION RADIO SIARAN FM RINGKASAN PERENCANAAN FREKUENSI PENYIARAN DIGITAL PARAMETER TEKNIS RADIO SIARAN AM YANG DIGUNAKAN DALAM PERENCANAAN FREKUENSI PERBANDINGAN EFISIENSI FREKUENSI PENYIARAN DIGITAL DI VHF BAND III DISTRIBUSI KANAL TV SIARAN UHF BERDASARKAN KEPMENHUB NO.MENGENAI RENCANA DASAR TEKNIS TV SIARAN ANALOG PENGKANALAN MICROWAVE LINK BERDASARKA REKOMENDASI ITU-R RENCANA PENGKANALAN FREKUENSI MICROWAVE LINK.

TABEL 22 TABEL 23 TABEL 24 TABEL 25 TABEL 26 TABEL 27 TABEL 28 TABEL 29 TABEL 30 TABEL 31 TABEL 32 TABEL 33 TABEL 34 TABEL 35 TABEL 36 TABEL 37 TABEL 38 RINCIAN ALOKASI SPEKTRUM DAN BAND PLAN KOMUNIKASI RADIO PENERBANGAN PENJATAHAN KANAL FREKUENSI DAN SLOT ORBIT BSS PLAN INDONESIA BERDASARKAN RR APP.30 DAN APP.30A PENGKANALAN FREKUENSI SERVICE LINK BSS PLANNED BAND PENGKANALAN FREKUENSI FEEDER LINK BSS PLANNED BAND ALOKASI FREKUENSI UNPLANNED BAND SATELIT INDONESIA DAFTAR SATELIT INDONESIA YANG BEROPERASI DAFTAR SATELIT ASINGYANG MEMENUHI KRITERIA BEBAS INTERFERENSI DAFTAR SATELIT ASING YANG MEMENUHI KRITERIA BEBAS INTEFERENSI DENGAN BATASAN TEKNIS RINCI PITA FREKUENSI DAN BATASAN TEKNIS UNTUK APLIKASI-APLIKASI SHORT RANGE DEVICES (SRD) PERSYARATAN SPASI KANAL UNTUK RADIO KOMUNIKASI TRUNKING PITA FREKUENSI DAN EIRP MAKSIMUM UNTUK PERANGKAT CORDLESS PHONE CONTOH APLIKASI UTAMA PERANGKAT ISM BAND PEMBAGIAN PITA FREKUENSI RADIO BERDASARKAN RADIO REGULATION ITU BESARAN HDDP (HARGA DASAR DAYA PANCAR) BESARAN HDLP (HARGA DASAR LEBAR PITA) BESARAN INDEKS IB DAN IP BERDASARKAN JENIS LAYANAN PENGELOMPOKKAN ZONE WILAYAH PEMANCAR UNTUK PERHITUNGAN HDDP DAN HDLP HALAMAN 112 126 126 127 128 130 131 131 140 143 144 146 149 149 150 150 153 ix .

9 DAN 2.1 GHz PENGKANALAN FREKUENSI DAB/DMB KONSEP DISTRIBUSI KANAL FRKEUENSI BAND III VHF UNTUK DAB FREE-TO-AIR PENATAAN FREKUENSI BWA MASA TRANSISI PENATAAN FREKUENSI BWA HALAMAN 5 15 26 71 72 118 119 x .DAFTAR GAMBAR GAMBAR 1 GAMBAR 2 GAMBAR 3 GAMBAR 4 GAMBAR 5 GAMBAR 6 GAMBAR 7 PEMBAGIAN WILAYAH ITU DIAGRAM ALOKASI FREKUENSI NASIONAL PERENCANAAN PITA FREKUENSI JARINGAN TELEKOMUNIKASI SELULAR 1.

BATAS DAYA PANCAR.DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN 1 LAMPIRAN 2 LAMPIRAN 3 LAMPIRAN 4 LAMPIRAN 5 LAMPIRAN 6 LAMPIRAN 7 LAMPIRAN 8 LAMPIRAN 9 DAFTAR UPT BALAI / LOKA MONITORING DITJEN POSTEL DI SELURUH WILAYAH INDONESIA PERENCANAAN KANAL FREKUENSI. 30 DAN 30A RINCIAN PENGKANALAN TRANSPONDER SATELIT INDONESIA HALAMAN 162 168 172 181 191 199 202 208 209                     xi . 33 TAHUN 2009 RINCIAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA FREKUENSI UNTUK KOMUNIKASI RADIO ANTAR PENDUDUK (KRAP) RINCIAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN MARITIM RINCIAN PENGATURAN TEKNIS SATELIT BSS PLANNED BAND APP. TINGGI ANTENNA RADIO SIARAN FM DAFTAR KOTA YANG SUDAH DI NOTIFIKASI DI ITU BERDASARKAN PROSEDUR GE-75 UNTUK STASIUN RADIO SIARAN AM DI INDONESIA PENGKANALAN MICROWAVE LINK BERDASARKAN REKOMENDASI ITU-R BAND FREKUENSI DAN MODA PANCARAN YANG DIIZINKAN SESUAI DENGAN PERATURAN MENKOMINFO NO.

Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi:    Perencanaan dan koordinasi penggunaan frekuensi pada tingkat internasional. Penetapan dan pengelolaan spektrum dalam lingkup nasional. keselamatan dan marabahaya. Nilai strategis dari sumber daya alam terbatas ini bagi kepentingan nasional adalah untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas serta dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat suatu bangsa karena spektrum frekuensi radio bernilai ekonomis tinggi. Direktorat Pengelolaan Spektrum Frekuensi Radio merupakan salah satu Direktorat di lingkungan Ditjen Postel yang bertugas dan berwenang dalam melakukan kegiatan-kegiatan pokok yang diperlukan untuk menjamin pengalokasian dan penggunaan spektrum untuk jasa komunikasi radio secara efektif dan efisien. Alokasi dan Penggunaan spektrum frekuensi radio. spektrum frekuensi radio digunakan untuk bermacam-macam jasa komunikasi radio termasuk diantaranya komunikasi perorangan dan perusahaan. regional dan sub-regional. Manajemen. Dan seiring dengan semakin luas dan bervariasinya aplikasi wireless (nir-kabel) yang menggunakan spektrum frekuensi. 1 . Oleh karena itu. Dewasa ini. adalah hal yang sangat penting bahwa spektrum frekuensi radio dikelola secara efisien dan efektif untuk secara optimal memberikan manfaat kepada masyarakat dan juga manfaat ekonomi bagi Negara. penyiaran. Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. navigasi radio.BAB – 1 PENDAHULUAN Spektrum frekuensi radio merupakan sumber daya alam terbatas yang saat ini peminatnya semakin meningkat sementara jumlah ketersediaan spektrum tidak bertambah. Dalam hal penggunaannya.harus didayagunakan dan pemanfaatannya harus dilakukanan secara benar. dan Monitoring dan pemecahan permasalahan interferensi frekuensi radio. pada waktu yang sama dan pada lokasi yang sama akan menimbulkan interferensi pada pesawat penerima. penggunaan spektrum frekuensi radio yang merupakan sumber daya alam terbatas -sebagaimana halnya tanah dan air. sehingga tidak terbuang percuma jika tidak digunakan dengan baik. Dua perangkat komunikasi radio yang bekerja pada frekuensi yang sama. komunikasi radio penerbangan dan maritim. radio lokasi dan radio amatir. spektrum frekuensi radio perlu dilakukan koordinasi untuk mencegah terjadinya masalah interferensi (gangguan). Departemen Komunikasi dan Informatika (Ditjen Postel-Depkominfo) merupakan Instansi Pemerintah yang bertanggung jawab terhadap Regulasi.

ISM band dan informasi mengenai Biaya Hak Penggunaan spektrum frekuensi radio dapat dilihat pada Bab 11 dan 12. kriteria penetapan dan prosedur aplikasi untuk jasa-jasa tertentu termasuk jaringan telekomunikasi selular. khususnya dari stakeholder telekomunikasi dan para pengguna spektrum frekuensi pada umumnya. Lt. Untuk masukan. Bagi calon pengguna spektrum frekuensi yang berminat atau tertarik untuk mengajukan penggunaan frekuensi dapat mengacu babbab tersebut sebagai panduan dalam mengajukan aplikasi maupun dalam hal pemanfaatan spektrum frekuensi yang diminati. Departemen Komunikasi dan Informatika Gedung Sapta Pesona. penyiaran. Manajemen. telekomunikasi point-to-point atau point-tomultipoint. Pada Bab 3 sampai dengan Bab 10 buku ini. Alokasi dan Penggunaan spektrum frekuensi radio.id 2 . komunikasi radio maritim dan penerbangan.7. diberikan gambaran singkat mengenai bermacam kegiatan manajemen spektrum yang dilakukan oleh Ditjen Postel untuk menuju tercapainya visi dan tujuan yaitu alokasi dan penggunaan spektrum frekuensi radio yang efektif dan efisien. Penulis menyediakan rincian alokasi spektrum frekuensi radio. Direktorat Pengelolaan Spektrum Frekuensi Radio. Jl. Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. Dalam hal Regulasi. 17. amatir radio dan komunikasi radio antar penduduk. INDONESIA Fax: +62 21 3529915 E-mail: denny@postel. Jakarta 10110. Medan Merdeka Barat No. komunikasi radio bergerak darat. Kondisi untuk penggunaan perangkat pemancar radio jarak dekat (short range devices).Dalam Bab 2 pada buku ini. broadband wireless access (BWA) dan telekomunikasi satelit.go. permintaan penjelasan ataupun klarifikasi terhadap isi dari buku ini. Ditjen Postel akan terus meninjau kebijakan penetapan frekuensi radio dan prosedur aplikasi secara berkala dan mengundang masukan dari berbagai pihak. dapat menghubungi unit kerja berikut ini: Subdit Penataan Frekuensi Radio.

Mampu mengakomodasikan kebutuhan masa depan. akan memberikan dampak sangat positif bagi pembangunan setiap negara. dalam hal pengelolaannya memberikan dampak strategis dan ekonomis bagi kesejahteraan masyarakat Negara tersebut. Perencanaan penggunaan spektrum frekuensi radio yang bersifat dinamis dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat dan perkembangan teknologi. Pemanfaatan spektrum frekuensi radio tersebut dalam mendukung pertumbuhan Sektor Telekomunikasi memberikan dampak berganda (“multiplier effect”) yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi bangsa. PENDAHULUAN Spektrum Frekuensi Radio sebagai Sumber Daya Alam terbatas (limited natural resources) yang tersedia sama di setiap Negara. kemajuan suatu negara terutama di bidang telekomunikasi (ICT) saat ini akan sangat ditentukan oleh pengelolaan spektrum frekuensi radio yang efektif dan efisien. e. pertanian. efisien dan tertib penggunaannya. penyiaran. d.BAB – 2 MANAJEMEN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO 1. pertahanan keamanan. termasuk juga Indonesia. 3 . Studi yang dilakukan International Telecommunication Union (ITU) pada tahun 1990-an menyebutkan bahwa 1% kenaikan teledensity. Dengan kata lain. industri. Berorientasi pada kesejahtaraan masyarakat yang didasarkan pada kebutuhan nasional dan mengikuti perkembangan teknologi (yang selalu berkembang dan berkelanjutan). Penerapan secara nasional mengacu kepada peraturan internasional ITU Radio Regulation (RR). yang mengakibatkan “inefisiensi” pembangunan secara keseluruhan. Pada kehidupan modern saat ini Spektrum Frekuensi Radio digunakan di hampir semua aspek kehidupan meliputi telekomunikasi. Pengelolaan Spektrum Frekuensi Radio bersifat komprehensif. c. Prinsip Pengelolaan Spektrum Frekuensi Radio meliputi antara lain: a. pemanfaatan spektrum frekuensi radio yang “tidak efisien” akan menimbulkan efek berganda pula. Oleh karena itu. Spektrum Frekuensi Radio sebagai Sumber Daya Alam terbatas harus dikelola secara efektif dan efisien. b. memberikan kontribusi sebesar 3% pada pertumbuhan GNP (Gross National Product). transportasi. pariwisata. kesehatan. dan sebagainya. Dikembangkan dalam aturan yang bersifat supra-nasional. pemerintahan. sistemik dan terpadu. Pengelolaan spektrum frekuensi radio yang efektif. perbankan. melalui: a. internet.

Mengawal pelaksanaan peraturan nasional dalam pengelolaan spektrum frekuensi radio (UU No. Pengelolaan spektrum frekuensi radio dimaksud dilaksanakan meliputi kegiatan-kegiatan antara lain : a. Secara internasional penggunaan spektrum frekuensi radio diatur oleh suatu hukum internasional yang bersifat mengikat (treaty) dalam bentuk Radio Regulations ITU. Menyiapkan materi yang komprehensif untuk bahan kebijakan pengelolaan spektrum frekuensi radio. Ditjen Postel bertanggung jawab secara kesisteman terhadap penggunaan spektrum frekuensi radio di wilayah Republik Indonesia. c. 36 Tahn 1999 tentang telekomunikasi. baik terhadap individu maupun institusi/korporasi. Ditjen Postel merupakan Lembaga Pengelola Spektrum Frekuensi Radio yang diakui ITU sebagai Administrasi Telekomunikasi. e. Menetapkan frekuensi kepada pengguna spektrum frekuensi radio. PP No. 4 . 52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi dan PP No. Pengawasan dan pengendalian penggunaan spektrum frekuensi radio yang konsisten dan efektif. c. didukung oleh Sumber Daya Manusia yang profesional serta prosedur dan sarana pengelolaan spektrum frekuensi radio yang memadai. Radio Regulations ITU membentuk suatu kerangka kerja dasar internasional di mana setiap negara anggota mengalokasikan dan melakukan penataan spektrum pada tingkat yang lebih rinci. Kelembagaan pengelolaan spektrum frekuensi radio yang kuat. melalui mekanisme lisensi sesuai ketentuan yang berlaku. d. yang merupakan bagian tak terpisahkan dari konstitusi dan konvensi ITU. PENGATURAN PENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO b. mewakili negara dalam konferensi internasional dan regional di bidang pengelolaan spektrum frekuensi radio. 53 Tahun 2000 tentang Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit serta Peraturan Teknis lainnya). Pengelolaan spektrum frekuensi radio secara sistematis dan didukung sistem informasi spektrum frekuensi radio yang akurat dan terkini. Di setiap daerah perbatasan antar dua negara. penggunaan alokasi frekuensi radio untuk teknologi komunikasi radio baru memerlukan suatu koordinasi yang erat antar dua negara tersebut untuk mencegah adanya saling gangguan (harmful interference). Oleh karena itu.b. Regulasi yang bersifat antisipatif dan memberikan kepastian hukum. Gelombang radio merambat di ruang angkasa tanpa mengenal batas wilayah teritorial negara. 2.

yaitu International Telecommunication Union (ITU). 2. Koordinasi Bilateral antar negara. Sebagai penandatangan Konstitusi dan Konvensi ITU. Perundang-undangan tingkat Nasional. Asia Pacific Telecommunity (APT). 2) Radio Regulation (RR). Nasional a. 1) World Radiocommunication Conference (WRC). setiap Administrasi yang berada dalam region yang sama berusaha untuk mengharmonisasikan posisinya di dalam region tersebut. Indonesia memiliki kewajiban untuk menjamin bahwa kegiatan pengelolaan spektrum frekuensi radio sesuai dengan Radio Regulations ITU. penggunaan spektrum frekuensi radio diatur oleh badan khusus Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) di bidang telekomunikasi. c. b. Internasional a. ITU telah membagi tiga region berbeda seperti terlihat pada gambar berikut ini: GAMBAR 1. PEMBAGIAN WILAYAH ITU ii. d. 5 .1 WORLD RADIOCOMMUNICATION CONFERENCE Secara umum. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informasi. Indonesia telah menjadi anggota ITU sejak tahun 1950.Kerangka umum pengaturan spektrum Frekuensi radio adalah sebagai berikut: i. Radio Regulation ITU dan Tabel Alokasi Frekuensi diperbaharui pada sidang komunikasi radio sedunia/World Radiocommunication Conference (WRC) yang diadakan satu kali setiap kurang lebih 3 sampai 4 tahun. International Telecommunication Union (ITU). b. Di dalam persiapan WRC. c. Peraturan sektor lain yang terkait. Peraturan Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. ASEAN Telecommunication Regulatory Council (ATRC). d.

pakar. “Distress and Safety Communications” (Komunikasi Marabahaya dan Keselamatan). pengembangan maupun penerapan teknologi “wireless” (nirkabel) di seluruh dunia. Koordinasi. dan sebagainya. 9. Ketentuan Administrasi. maupun notifikasi. Pada tingkat nasional.Di dalam wilayah Asia Pasifik (Region-3). yang terdiri dari Artikel. Ketentuan untuk “Services” (dinas/layanan) dan “Stations” (stasiun radio). Ditjen Perhubungan Udara. meliputi perubahan alokasi frekuensi. Volume I Radio Regulation. serta ketentuan-ketentuan teknis lainnya. memiliki 9 “chapter” (bab).2 RADIO REGULATION “ITU Radio Regulation” memiliki 4 “volume” (jilid). Frekuensi (alokasi frekuensi). yaitu Artikel. Interferensi. tata cara dan prosedur koordinasi. “Aeronautical Services” (Dinas Penerbangan). “Maritime Services” (Dinas Maritim). manufaktur/vendor. 4. 6. notifikasi dan pencatatan penetapan Frekuensi dan modiifikasi Rencana (Plan). Rekomendasi dan Resolusi dan Pencantuman berdasarkan Referensi. Appendiks. Ditjen Postel mendiskusikan masalah-masalah yang dibahas di dalam WRC dengan stakeholder dan pihak terkait dalam pertemuan kelompok kerja persiapan WRC. Institusi pertahanan keamanan. baik untuk sistem komunikasi radio satelit maupun terrestrial. dsb. BMG. Terminologi dan karakteristik teknis. instansi pemerintah terkait (Ditjen Perhubungan Laut. Anggota tim kelompok kerja tersebut dapat berpartisipasi dalam sidang WRC sebagai Delegasi Indonesia yang dikoordinasikan oleh Ditjen Postel. 7.). yang nantinya memberikan suatu ketentuan hukum internasional serta panduan dan arah bagi industri telekomunikasi di seluruh dunia dalam melakukan investasi dan perencanaan riset. LAPAN. meliputi: 1. seperti penyelenggara jaringan telekomunikasi. ORARI. 8. 3. 5. 2. 6 . operator satelit. Asia Pacific Telecommunity (APT) mengorganisasikan pertemuan-pertemuan kelompok persiapan (APG/APT Preparatory Group) untuk menyusun posisi bersama di antara negara-negara anggota sebagai masukan bagi sidang WRC. Hasil pembahasan dan keputusan dari sidang WRC adalah perubahan dari Radio Regulation. 2.

berbatasan dengan Sabah dan Sarawak. meliputi hampir seluruh tugas rinci di dalam Radio Regulations terdapat pada 42 Appendiks. Penerbangan dan Satelit. dsb. Pencantuman berdasarkan Referensi. Beberapa wilayah Indonesia yang berbatasan dengan negara lain dan perlu dilakukan koordinasi penggunaan spektrum frekuensi. satelit. 2. berbatasan dengan Malaysia dan Singapura. Resolusi tidak memiliki kekuatan kecuali terkait dengan Volume 1.Volume 2. bergerak darat (sellular).Kepulauan Riau. Sedangkan. Koordinasi frekuensi terrestrial lainnya seperti koordinasi frekuensi HF Broadcast (HFBC) dilakukan melalui forum koordinasi frekuensi yang dikoordinasikan oleh Asia Pacific Broadcasting Union (ABU) di Kuala Lumpur. microwave link (point-to-point). Bintan dan Tanjung Balai . terdapat 38 Referensi. Papua berbatasan dengan Papua Nugini. Appendiks. Koordinasi frekuensi terrestrial meliputi koordinasi frekuensi ”service” (dinas) penyiaran (broadcast). Pada Radio Regulation edisi terakhir tahun 2008. Pada Radio Regulation edisi terakhir tahun 2008. Appendiks juga memuat hasil perencanaan pada Konferensi Dunia untuk Servis Maritim. Volume 3. NTT dan Maluku berbatasan dengan Timor Leste. Sangihe-Talaud berbatasan dengan Mindanao-Filipina.3 KOORDINASI FREKUENSI RADIO DENGAN NEGARA LAIN Koordinasi dalam penggunaan spektrum frekuensi radio dengan negara lain dapat dibagi menjadi dua macam yaitu koordinasi frekuensi terrestrial dan koordinasi satelit. Dimana Resolusi adalah kesepakatan dalam konferensi untuk melakukan suatu tindakan dalam cara tertentu. Hal ini berdasarkan 7 . Batam. sekitar bulan Agustus setiap tahun. HF Broadcast maupun HF Fixed dan Mobile. Rekomendasi adalah masukan atau saran dari suatu konferensi kepada pengguna atau administrasi. terdiri dari Resolusi dan Rekomendasi. terdapat 142 Resolusi dan 23 Rekomendasi. Malaysia. Proses ini memungkinkan Radio Regulations menggunakan data dan proses terakhir dengan perubahan pada regulasi yang sesungguhnya. Suatu rekomendasi tidak memiliki status regulasi. Volume 4. meliputi sejumlah banyak prosedur dalam Radio Regulations yang merujuk kepada Rekomendasi Study Group ITU-R untuk rincian proses. Hampir semua koordinasi frekuensi terrestrial menyangkut pada wilayah perbatasan antara suatu negara dengan negara lain. antara lain:       Pantai Sumatera Bagian Timur Utara berbatasan dengan Malaysia. Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.

Untuk penggunaan frekuensi HF lainnya. maka perlu dilakukan koordinasi frekuensi dengan negara lain dan dilakukan proses notifikasi ke ITU. Singapura dan Malaysia yang membahas masalah koordinasi frekuensi perbatasan di daerah Batam. disepakati dibentuk forum pertemuan tiga negara (trilateral meeting) antara Indonesia. Johor dan Singapura. yang diberlakukan untuk negaranegara Region 1 dan 3. 8 .1 KOORDINASI FREKUENSI PERBATASAN Koordinasi frekuensi perbatasan antara Indonesia dengan Singapura dilakukan dalam bentuk forum BCCM (Border Communication Coordination Meeting) antara Ditjen Postel dan IDA (Infocomm Development Authority) yang efektif dimulai tahun 2002. BCCM merupakan forum untuk koordinasi dan diskusi hal-hal teknik menyangkut masalah frekuensi radio di daerah perbatasan maupun pertukaran kebijakan telekomunikasi dan frekuensi radio antara Indonesia maupun Singapura. Pada bulan April 2005.3. Khusus penggunaan frekuensi LF/MW untuk Radio Siaran AM diatur melalui perjanjian internasional GE-75. Ditjen Postel. JCC merupakan forum untuk melakukan koordinasi dan diskusi hal-hal teknik menyangkut masalah frekuensi radio di daerah perbatasan maupun pertukaran kebijakan telekomunikasi dan frekuensi radio antara Indonesia maupun Malaysia. 2. termasuk Indonesia. Pertemuan BCCM ini dilakukan sekitar dua kali per tahun secara ditentukan bergiliran. Modifikasi dan penambahan kanal di luar ”allotment plan” (rencana penjatahan) setiap negara. Pertemuan JCC ini dilakukan minimal sekali tiap tahun secara ditentukan bergiliran. yaitu sub-komite penyiaran dan subkomite non penyiaran dan selular. hendaknya dilakukan koordinasi frekuensi bilateral dengan negara lain yang kemungkinan terganggu sebelum dinotifikasi ke ITU. Koordinasi frekuensi perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia secara efektif baru dimulai sejak tahun 2002 dalam bentuk Joint Committee on Communications (JCC) antara Ditjen Postel dan MCMC (Malaysian Communication and Multimedia Commission). terutama koordinasi frekuensi penyiaran dan selular.ketentuan Artikel 12 Radio Regulation ITU. JCC terdiri dari dua sub-komite. IDA Singapura dan MCMC Malaysia sepakat untuk menjadikan pertemuan ini sebagai agenda rutin di samping forum bilateral yang telah dimiliki masingmasing negara.

Rusia. Koordinasi frekuensi radio di daerah perbatasan. Notifikasi baru dapat dilakukan setelah filing satelit tersebut dikoordinasikan dengan seluruh filing satelit negara-negara lain yang memiliki potensi mendapatkan gangguan yang merugikan dari filing satelit tersebut. misalnya sebagai berikut: Malaysia. berdasarkan Artikel 9 dan 11 Radio Regulation ITU untuk unplanned band dan Appendiks 30. Demikian pula Koordinasi frekuensi dengan Timor Leste. Thailand. mengingat pengembangan filing satelit serta perubahan-perubahan filing satelit yang dilakukan negara-negara anggota ITU. Vietnam. Australia. regional di tingkat ASEAN seperti ATRC (ASEAN Telecommunicatoin Regulatory Council) maupun forum internasional lainnya.2 KOORDINASI SATELIT Koordinasi satelit dilakukan sebagai salah satu prosedur peraturan radio internasional pada saat pendaftaran filing satelit suatu negara ke ITU. antara lain koordinasi frekuensi TV Siaran. dsb. Korea Selatan. Inggris. Koordinasi satelit tersebut seringkali harus dilakukan berulang kali. Hongkong.Hal-hal yang didiskusikan di dalam koordinasi perbatasan antara lain adalah:      Harmonisasi perencanaan dan penggunaan frekuensi di daerah perbatasan. artinya bergiliran yang menjadi tuan rumah. Ditjen Postel melakukan komunikasi melalui forum bilateral. Korea. Sedangkan dengan Filipina. melalui forum Joint Border Coordination yang dikoordinasikan oleh Departemen Dalam Negeri. India. Jepang. 2. bersama-sama dengan sektor-sektor lainnya. Radio Siaran FM. Biasanya koordinasi dilakukan secara ”home and away”. Registrasi frekuensi bersama. 30A dan 30B untuk planned band. khususnya masalah frekuensi HF sudah pernah dilakukan. Amerika Serikat. Koordinasi untuk perencanaan servis komunikasi radio di masa yang akan datang. Saat ini negara-negara yang perlu dikoordinasikan dengan satelit Indonesia. Koordinasi frekuensi dengan Papua Nugini. China.3. telah dirintis melalui berbagai forum. Tonga. TimorTimur dan Papua Nugini. selular GSM. 9 . Koordinasi frekuensi perbatasan antara Indonesia dengan negara lain yang memiliki perbatasan langsung seperti Filipina. Untuk mendapatkan suatu proteksi internasional. Pemecahan masalah gangguan interferensi di kedua Negara. maka filing satelit tersebut perlu dinotifikasi. Singapura. microwave link.

KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO Manajemen spektrum yang baik memerlukan banyak sekali perencanaan pita frekuensi untuk mencegah situasi interferensi dan untuk mendorong penggunaan spectrum frekuensi radio yang efektif dan efisien.1 GHZ KEPUTUSAN MENKOMINFO NOMOR: 181/KEP/M. Pengaturan Spektrum Frekuensi Radio Fixed Wireless Access Dan Selular dan Perencanaan Alokasi Frekuensi. 36 TAHUN 1999 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 1999 TENTANG TELEKOMUNIKASI PERATURAN PEMERINTAH NOMOR PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI 52 TAHUN 2000 TENTANG NO 1 2 3 4 PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 53 TAHUN 2000 TENTANG PENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO DAN ORBIT SATELIT PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 38 TAHUN 2007 TENTANG PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN ANTARA PEMERINTAH. DAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN/KOTA PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 7 TAHUN 2009 TENTANG JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK YANG BERLAKU PADA DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA KEPUTUSAN MENKOMINFO NOMOR : 03/KEP/M.KOMINFO/03/2006 TENTANG KETENTUAN PENGALOKASIAN PITA FREKUENSI RADIO DAN PEMBAYARAN TARIF IZIN PENGGUNAAN PITA FREKUENSI RADIO BAGI PENYELENGGARA JARINGAN BERGERAK SELULER IMT-2000 PADA FREKUENSI RADIO 2.3. PERATURAN YANG TERKAIT DENGAN PENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO. Tabel berikut ini menjelaskan beberapa peraturan yang terkait dengan Pengaturan Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio. PEMERINTAH DAERAH PROVINSI. “Fixed Services” (Dinas Tetap) dan “Mobile Service” (Dinas Bergerak) memerlukan perencanaan yang baik. PENGATURAN FIXED WIRELESS ACCESS DAN SELULAR DAN PERENCANAAN ALOKASI FREKUENSI REGULASI UU NO. TABEL 1.KOMINFO/12/2006 TENTANG PENGALOKASIAN KANAL PADA PITA FREKUENSI RADIO 800 MHZ UNTUK PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL 5 6 7 8       10 .KOMINFO/01/2006 TENTANG PELUANG USAHA UNTUK PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULAR GENERASI KETIGA DENGAN CAKUPAN NASIONAL KEPUTUSAN MENKOMINFO NOMOR : 29 /KEP/M. Secara khusus.

1 GHZ UNTUK PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULAR IMT-2000 PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 05/PER/M.KOMINFO/12/ 2006 TENTANG PENGALOKASIAN KANAL PADA PITA FREKUENSI RADIO 800 MHZ UNTUK PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL TANPA KABEL DENGAN MOBILITAS TERBATAS DAN PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULER KEPUTUSAN MENKOMINFO NOMOR: 114/KEP/M.KOMINFO/5/2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR: 181/KEP/M.KOMINFO/10/2005 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TARIF ATAS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK DARI BIAYA HAK PENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 01/PER/M.3 GHZ UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 03/P/M.KOMINFO/01/2006 TENTANG TATACARA LELANG PITA SPEKTRUM FREKUENSI RADIO 2.KOMINFO/4/2009 TENTANG PELUANG USAHA PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL BERBASIS PACKET SWITCHED YANG MENGGUNAKAN PITA FREKUENSI RADIO 2.KOMINFO/5/2005 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.3 GHZ UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) KEPUTUSAN MENKOMINFO NOMOR: 4/KEP/M.1 GHZ UNTUK PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULER IMT-2000 PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 04 /PER/M.KOMINFO/2/2006 TENTANG KETENTUAN PENGGUNAAN PITA FREKUENSI RADIO 2.NO 9 REGULASI KEPUTUSAN MENKOMINFO NOMOR: 162/KEP/M.KOMINFO/4/2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI KOMINFO NO.KOMINFO/1/2009 TENTANG PELUANG USAHA PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL BERBASIS PACKET SWITCHED YANG MENGGUNAKAN PITA FREKUENSI RADIO 2.1 GHZ UNTUK PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULER 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20   11 .KOMINFO/I/2006 TENTANG PENYELENGGARAAN WARUNG TELEKOMUNIKASI PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 07/PER/M.KOMINFO/8/2005 TENTANG PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI YANG MENGGUNAKAN SATELIT PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 17 /PER/M. 40 TAHUN 2002 PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 13/P/M. 4/KEP/M.KOMINFO/5/2005 TENTANG PENYESUAIAN KATA SEBUTAN PADA BEBERAPA KEPUTUSAN/PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN YANG MENGATUR MATERI MUATAN KHUSUS DI BIDANG POS DAN TELEKOMUNIKASI PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 05/P/M.KOMINFO/9/2005 TENTANG TATA CARA PERIZINAN DAN KETENTUAN OPERASIONAL PENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO PERATURAN MENKOMINFO NOMOR :19/PER.KOMINFO/1/2006 TENTANG PENATAAN PITA FREKUENSI RADIO 2.

NO 21 REGULASI PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 26/PER.KOMINFO/02/2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS MONITOR SPEKTRUM FREKUENSI RADIO 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32     12 .6 GHz KE PITA FREKUENSI RADIO 3.KOMINFO/8/2008 TENTANG UJI COBA LAPANGAN PENYELENGGARAAN SIARAN TELEVISI DIGITAL PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 28/P/M.3 GHz PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 12/PER/M.4 – 3.KOMINFO/12/2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR: 13/P/M.KOMINFO/3/2007 TENTANG TATA CARA PERIZINAN DAN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 02/PER/M.KOMINFO/8/2006 TENTANG PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI YANG MENGGUNAKAN SATELIT PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 8/P/M.3 GHz DAN MIGRASI PENGGUNA FREKUENSI RADIO EKSISTING UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) DARI PITA FREKUENSI RADIO 3.KOMINFO/2/2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR: KM 76 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA INDUK (MASTER PLAN) FREKUENSI RADIO PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI KHUSUS UNTUK KEPERLUAN TELEVISI SIARAN ANALOG PADA PITA ULTRA HIGH FREQUENCY (UHF) PERATURAN MENKOMINFO NOMOR: 15/PER/M.KOMINFO/1/2009 TENTANG PENATAAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 8/KEP/M.KOMINFO/9/2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 19/PER.KOMINFO/10/2005 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TARIF ATAS PNBP DARI BHP SPEKTRUM FREKUENSI RADIO PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 37/P/M.KOMINFO/12/2008 DAERAH EKONOMI MAJU DAN DAERAH EKONOMI KURANG MAJU DALAM PENYELENGGARAAN PENYIARAN PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 7/KEP/M.KOMINFO/1/2009 TENTANG PENETAPAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) PADA PITA FREKUENSI RADIO 3.KOMINFO/9/2008 TENTANG TATA CARA DAN PERSYARATAN PERIZINAN PENYELENGGARAAN PENYIARAN PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 39/P/M.3 GHZ PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 9/KEP/M.KOMINFO/3/2008 TENTANG PEDOMAN PEMBANGUNAN DAN PENGGUNAAN MENARA BERSAMA TELEKOMUNIKASI PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 27/P/M.KOMINFO/1/2009 TENTANG PENETAPAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) PADA PITA FREKUENSI RADIO 2.

KOMINFO/10/2009 TENTANG KERANGKA DASAR PENYELENGGARAAN PENYIARAN TELEVISI DIGITAL TERESTRIAL PENERIMAAN TETAP TIDAK BERBAYAR (FREE TO AIR) PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR: 29/PER/M.8 GHZ PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 29/PER/M.KOMINFO/10/2005 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TARIF ATAS PNBP DARI BHP SPEKTRUM FREKUENSI RADIO PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 26/PER/M. telah ditetapkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor: 29/PER/M.KOMINFO/8/2009 TENTANG PENYELENGGARAAN RADIO ANTAR PENDUDUK PERATURAN MENKOMINFO NO.id di bagian Regulasi Telekomunikasi.1 TABEL ALOKASI SPEKTRUM FREKUENSI RADIO INDONESIA (TASFRI) Ditjen Postel telah melakukan pemetaan penggunaan spektrum frekuensi radio saat ini dan perencanaan di masa yang akan datang dalam bentuk tabel alokasi spektrum frekuensi radio Indonesia. TASFRI berisi tentang pengalokasian spektrum frekuensi radio di Indonesia dan menjadi acuan dalam pengelolaan pita frekuensi yang lebih khusus. Frekuensi atau Standardisasi.postel.NO 33 REGULASI PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 25/PER.go. 39/PER/M. 43/PER/M. Pada tahun 2009 ini.KOMINFO/6/2009 TENTANG PENETAPAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL PADA PITA FREKUENSI RADIO 2 GHZ PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 27/PER/M.KOMINFO/08/2009 34 35 36 37 38 39 PERATURAN MENKOMINFO NOMOR: 34/PER/M.KOMINFO/6/2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 19/PER. mendeskripsikan diagram alokasi frekuensi nasional. rinci dan bersifat operasional.KOMINFO/07/2009 Tentang Tabel Alokasi Spektrum Frekuensi Radio Indonesia (TASFRI). sebagai penyempurnaan dari Keputusan Menteri Perhubungan No. www.KOMINFO/6/2009 TENTANG PENETAPAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL PADA PITA FREKUENSI RADIO 5. Dapat dilihat pada Gambar 2.KOMINFO/07/2009 TENTANG TABEL ALOKASI SPEKTRUM FREKUENSI RADIO INDONESIA PERATURAN MENTERI KOMINFO NO.KOMINFO/7/2009 TENTANG TABEL ALOKASI SPEKTRUM FREKUENSI RADIO INDONESIA PERATURAN MENKOMINFO NOMOR: TENTANG PENYELENGGARAAN AMATIR RADIO 33/PER/M.KOMINFO/10/2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PENYIARAN MELALUI SISTEM STASIUN JARINGAN OLEH LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN TELEVISI 40 41 Semua regulasi tersebut dapat diakses melalui website Ditjen Postel. 5 tahun 2001. 3. Pengguna eksisting dan calon 13 .

dapat diunduh pada www. Referensi catatan kaki yang muncul di sebelah kanan nama dinas. dianjurkan untuk mengenali pengalokasian yang telah dilakukan di bidang spektrum frekuensi yang tertuang dalam dokumen TASFRI tersebut terhadap jenis layanan. alokasi dan pengkanalan yang terkait di dalamnya. selisih frekuensi antara frekuensi pemancar dan frekuensi penerima (duplex separation). Alokasi spektrum frekuensi radio di Indonesia yang terdapat di dalam TASFRI mengacu pada alokasi tabel alokasi spektrum frekuensi yang dikeluarkan secara resmi oleh ITU pada Radio Regulations edisi tahun 2008 yang juga menjadi acuan bagi negara-negara lain di dunia. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor: 29/PER/M. dsb.postel. Untuk keperluan penetapan frekuensi. Terhadap catatan kaki khusus untuk Indonesia pada kolom empat ditandai dengan kode INS. di mana setiap kolom tersebut merupakan pembagian alokasi frekuensi dunia yang dinyatakan sebagai alokasi Wilayah ITU. Untuk TASFRI terdiri dari empat kolom di mana pada kolom ke empat merupakan alokasi spektrum frekuensi untuk Indonesia yang mengacu pada Wilayah 3 dari Tabel alokasi spektrum frekuensi ITU.KOMINFO/07/2009 Tentang Tabel Alokasi Spektrum Frekuensi Radio Indonesia (TASFRI) dengan lampiran yang berisi tentang TASFRI. berlaku untuk seluruh alokasi yang ditetapkan. Tabel alokasi spektrum frekuensi ITU terdiri dari tiga kolom.pengguna spektrum frekuensi. hanya berlaku untuk dinas tersebut. Ditjen Postel dalam menentukan perencanaan pita (band plan) untuk diterapkan pada setiap servis dalam TASFRI berdasarkan pertimbangan teknis. antara lain: lebar pita (bandwidth). Pita frekuensi yang dirujuk pada setiap tabel alokasi spektrum frekuensi radio ITU tersebut berada di sudut atas kiri atas dari setiap bagian kotak pada tabel yang bersangkutan. perencanaan pita dibagi lebih lanjut menjadi beberapa kanal untuk menentukan rencana pengkanalan (channeling plan).id di bagian Regulasi Frekuensi. Untuk referensi catatan kaki (footnote) yang muncul pada Tabel. 14 . dimana pengalokasian tersebut merupakan uraian perencanaan dan penggunaan pita frekuensi dimaksud berdasarkan kebutuhan dan prioritas nasional.go. di bawah dinas-dinas yang dialokasikan. Pertimbangan penting lainnya dalam penentuan perencanaan pita dalam TASFRI tersebut adalah perkembangan teknologi dan ketersediaan perangkat komunikasi radio.

6 1 2 .5 3 .2 5 .7 5 1 2 .0 1 3 0 . sebagai bagian dari persyaratan izin.4 8 6 .8 1 5 4 5 1 6 1 0 .2 PENGATURAN TEKNIK SPEKTRUM FREKUENSI RADIO Ditjen Postel akan memformulasikan kriteria penetapan frekuensi radio untuk setiap servis.5 1 5 5 5 1 6 1 3 .4 3 . Khusus untuk ketentuan teknis alat dan perangkat terminal maupun jaringan akses nirkabel sebagai acuan dalam sertifikasi perangkat.4 9 .4 1 1 7 .5 7 1 4 1 3 .2 8 7 1 0 0 1 0 8 1 1 7 .2 5 1 4 .6 5 5 .GAMBAR 2. yang ringkasannya dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini.2 9 .0 3 1 8 .5 1 0 .9 7 5 1 3 6 1 3 7 1 3 8 1 4 4 1 4 6 1 4 8 1 4 9 .5 3 8 .1 1 2 .1 5 5 3 .4 1 1 .R .2 5 4 0 .4 3 8 4 .2 3 1 3 .3 5 8 .0 6 3 4 .0 5 3 7 .0 1 5 5 0 5 4 6 8 7 4 .3 0 0 k H z ) 3 0 k H z 7 0 7 2 8 4 8 6 9 0 1 1 0 1 1 2 1 1 7 .7 5 5 .5 1 0 1 0 .7 3 5 .5 1 6 0 6 H F (3 M H z .9 3 1 2 4 0 0 .6 1 1 .3 3 .6 M F (3 0 0 k H z -3 M H z ) 3 0 0 k H z 3 2 5 4 1 5 4 9 5 5 0 5 5 2 6 .5 1 2 .9 9 5 1 0 .3 1 4 .1 B E R G E R A K T E T A P -S A T E L IT N A V IG A S I R A D IO R IS E T S . TABEL 2.8 7 5 .0 0 5 1 1 .0 0 5 1 5 .7 5 1 4 1 4 .0 5 2 V H F (3 0 M H z -3 0 0 M H z ) 3 0 M H z 3 0 .2 1 3 .0 1 1 5 .3 6 1 7 .3 5 1 5 .0 4 9 .6 1 7 .2 1 3 .4 3 2 8 .9 9 .9 6 .0 5 4 0 3 4 2 0 4 0 2 4 1 0 4 0 1 4 0 6 .4 1 1 3 .4 1 5 .7 4 .4 8 1 7 .1 1 0 .9 4 3 .4 1 3 .2 3 ..1 5 5 .1 5 4 0 6 4 3 0 4 7 0 4 6 0 4 5 0 4 4 0 5 8 5 6 1 0 8 9 0 9 4 2 9 6 0 1 2 1 5 1 2 4 0 1 2 6 0 1 3 0 0 1 3 5 0 1 4 0 0 1 4 2 7 1 4 2 9 1 4 5 2 1 4 9 2 1 5 2 5 1 5 3 0 1 5 3 3 1 5 3 5 1 5 5 9 1 6 2 6 .4 3 .4 5 4 .2 5 5 .1 4 0 0 .4 5 8 .9 5 4 .3 6 1 3 .5 1 4 .0 0 3 1 0 .0 5 1 5 6 . L E G E N D A S IA R A N A M A T IR T E T A P R L B S B S B A O E A E A E D IO P K A S I R G E R T E L IT R G E R T E L IT R G E R E N E N T U A K A K A K / / D A R A T B E R G E R A K P E N E R B A N G A N A N T A R -S A T E L IT B E R G E R A K -S A T E L IT D A L A M P E R E N C A N A A N A S T R O N O M I R A D IO M E T E O R O L O G I E K S P L O R A S I B U M IS A T E L IT K H U S U S B E R G E R A K P E N E R B A N G A N -S A T E L IT F R E K U E N S I D A N T A N D A W A K T U S T A N D A R M A R IT IM M A R IT IM 3.3 5 1 4 .3 0 M H z ) 3 M H z 3 .8 5 5 .2 1 5 8 .8 9 .9 9 1 5 .7 1 0 .3 9 .9 1 5 0 .8 7 1 4 .2 3 .5 2 5 7 .0 0 5 4 .1 8 .7 1 2 .9 2 5 7 .4 5 1 0 .0 0 3 5 . Ditjen Postel menetapkan regulasi teknis yang harus ditaati seperti kriteria penggunaan bersama (sharing).0 7 5 7 .4 4 .7 6 5 7 .6 1 6 1 5 4 4 1 6 1 0 1 6 3 1 S H F (3 G H z -3 0 G H z ) 3 G H z 3 .1 7 5 1 1 .5 5 .A .4 7 1 5 .1 3 .8 5 5 . batasan daya pancar (power).1 5 1 0 .8 1 4 .1 9 5 9 .8 1 6 .6 3 8 7 3 2 2 3 9 0 3 1 5 3 9 9 . DIAGRAM ALOKASI FREKUENSI RADIO NASIONAL V L F (3 k H z -3 0 k H z ) T I D A K 3 k H z D I A L O K A S I K A N 9 L F (3 0 k H z .2 5 7 .7 1 6 .2 5 1 3 .9 9 5 4 .6 5 5 .1 7 6 . telah ditetapkan sejumlah peraturan baik berupa Keputusan maupun Peraturan Dirjen Postel.7 6 2 5 1 7 4 U H F (3 0 0 M H z -3 G H z ) 3 0 0 M H z 3 3 5 .6 8 1 0 .8 3 7 5 1 5 6 .8 1 5 8 .8 5 4 .9 8 4 7 4 1 .5 4 .0 6 5 . DAFTAR PERATURAN TEKNIS ALAT TELEKOMUNIKASI BERBASIS NIRKABEL NO 1 2 3 REGULASI KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 233/DIRJEN/2002 TENTANG PENGELOMPOKAN ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 007/DIRJEN/1999 TENTANG PEDOMAN ITEM UJI ALAT/PERANGKAT KOMUNIKASI RADIO KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 47/DIRJEN/1998 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS SISTEM TELEKOMUNIKASI BERGERAK SELULAR BERBASIS CODE DEVISION MULTIPLE ACCESS (CDMA) DAN PERANGKAT 15 .9 1 8 . standar dan spesifikasi dsb.1 7 5 9 9 .7 2 5 5 .1 1 5 .

  NO 4 REGULASI KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 180/DIRJEN/1998 TENTANG PENETAPAN PERSYARATAN TEKNIS ALAT/PERANGKAT TELEKOMUNIKASI UNTUK PESAWAT TELEPON SELULER NMT-450 KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 181/DIRJEN/1998 TENTANG PENETAPAN PERSYARATAN TEKNIS ALAT/PERANGKAT TELEKOMUNIKASI UNTUK PESAWAT TELEPON SELULER GSM KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 182/DIRJEN/1998 TENTANG PENETAPAN PERSYARATAN TEKNIS ALAT/PERANGKAT TELEKOMUNIKASI UNTUK PESAWAT TELEPON SELULER AMPS KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 80/DIRJEN/1999 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT AMATIR RADIO KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 60/DIRJEN/1999 TENTANG PENETAPAN PERSYARATAN TEKNIS ALAT/PERANGKAT TELEKOMUNIKASI UNTUK PERANGKAT JARLOKAR CDMA IS-95 KEPDIRJEN POSTEL PERSYARATAN TEKNIS HF/VHF/UHF NOMOR : PERANGKAT 84/DIRJEN/1999 TENTANG RADIO KOMUNIKASI SSB- 5 6 7 8 9 10 11 12 KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 85/DIRJEN/1999 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT RADIO SIARAN KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 86/DIRJEN/1999 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT TELEPON TANPA KABEL UMUM KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 207/DIRJEN/2001 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS BASE STATION RADIO DIGITAL ENHANCED CORDLESS TELECOMMUNICATIONS (DECT) KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 167/DIRJEN/2002 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT BROADBAND WIRELESS ACCESS PADA FREKUENSI 10 GHZ KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 169/DIRJEN/2002 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEVISI SIARAN SISTEM ANALOG KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 288/DIRJEN/2004 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS SENTRAL PERANGKAT JARINGAN WIDEBAND CODE DIVISION MULTIPLE ACCESS (WCDMA)-CORE NETWORK KEPDIRJEN POSTEL NOMOR PERSYARATAN TEKNIS BLUETOOTH : 09/DIRJEN/2004 TENTANG 13 14 15 16 17 KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 297/DIRJEN/2004 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS TERMINAL CODE DIVISION MULTIPLE ACCESS (CDMA) 16 .

3 GHz 19 20 21 22 23 24 25 26 27 17 .NO 18 REGULASI KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 23/DIRJEN/2004 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT JARINGAN GLOBAL SYSTEM FOR MOBILE (GSM) 900 MHz / DIGITAL COMMUNICATION SYSTEM (DCS) 1800 MHz KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 193/DIRJEN/2005 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT KOMUNIKASI RADIO MICROWAVE LINK PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 214/DIRJEN/2005 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT DENGAN DAYA PANCAR DI BAWAH 10 mW PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 264/DIRJEN/2005 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT CUSTOMER PREMISES EQUIPMENT (CPE) UNIVERSAL MOBILE TELECOMMUNICATION SYSTEM .TIME DIVISION DUPLEXING (UMTS .TDD) PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 265/DIRJEN/2005 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT DIGITAL TERRESTRIAL L-BAND TRASMITTER UNTUK MULTICHANNEL MULTIPOINT DISTRIBUTION SYSTEM (MMDS) PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 266/DIRJEN/2005 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT RADIO MARITIM PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 267/DIRJEN/2005 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT JARINGAN RADIO (RADIO NETWORK) BERBASIS UNIVERSAL MOBILE TELECOMMUNICATION SYSTEM .TIME DIVISION DUPLEXING (UMTS TDD) PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 80/DIRJEN/2006 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI MULTIPLEX SDH (SYNCHRONOUS DIGITAL HIERARCHY) PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 81/DIRJEN/2/2008 TENTANG PENCABUTAN BEBERAPA KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI YANG TERKAIT PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 94/DIRJEN/2008 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI SUBSCRIBER STATION BROADBAND WIRELESS ACCESS (BWA) NOMADIC PADA PITA FREKUENSI 2.

Begitu juga.3 GHz PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 96/DIRJEN/2008 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI ANTENA BROADBAND WIRELESS ACCESS (BWA) NOMADIC PADA PITA FREKUENSI 2. jika suatu stasiun radio telah diberikan izin. Ditjen Postel melakukan inspeksi kepada stasiun tersebut untuk menjamin bahwa pemegang izin menaati kondisi operasi izin seperti daya output RF.3 GHz SPEKTRUM DAN MANAJEMEN PENANGANAN 29 4. Ditjen Postel-Depkominfo memiliki Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Monitor dan Loka Monitor Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit di seluruh wilayah Indonesia. Daftar lengkap alamat. modulasi. Ditjen Postel secara rutin melakukan monitoring frekuensi dan mendeteksi pemancaran yang tidak berizin. akurasi frekuensi radio dan persyaratan instalasi serta digunakan sesuai peruntukannya.  18 . nomor telepon dan fax kantor UPT Balai Monitor dan Loka Monitor di seluruh Indonesia tersebut dapat dilihat pada lampiran 1. PENGENDALIAN INTERFERENSI Manajemen spektrum dalam melakukan fungsinya memberikan perlindungan kepada pengguna frekuensi radio (licensed users) bertanggung jawab untuk melakukan investigasi serta menyelesaikan masalah keluhan dari pengguna radio yang mengalami interferensi dalam pengoperasian sistem komunikasi radionya.  NO 28 REGULASI PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 95/DIRJEN/2008 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI BASE STATION BROADBAND WIRELESS ACCESS (BWA) NOMADIC PADA PITA FREKUENSI 2.

yang menjangkau hampir semua wilayah Indonesia dengan jumlah pengguna di atas 100 juta. o Penyelenggara selular dengan standar teknologi GSM / UMTS. mengingat penggunaan alokasi pita frekuensi jaringan akses ke pelanggan bersifat eksklusif dalam penguasaan pita frekuensi pada suatu wilayah layanan tertentu.BAB . Sampai saat ini. di pita 900 MHz. dsb. Dengan berkembangnya teknologi. terutama di daerah-daerah yang relatif dianggap kurang menguntungkan secara ekonomis. besaran BHP (Biaya Hak Penggunaan) Frekuensi Radio. Telah terdapat sejumlah upaya untuk mengkaji penyempurnaan ketentuan regulasi serta teknis. antara lain:  Terdapat 11 izin penyelenggara selular / FWA nasional di Indonesia. Penyelenggaraan jaringan tetap nirkabel (FWA) pada mulanya diperlukan di banyak tempat di Indonesia mengingat tingkat kepadatan ketersediaan telepon (teledensity) yang relatif masih rendah (kurang dari 3%). Status Kondisi Eksisting dalam Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio untuk Penyelenggara Jaringan FWA dan Jaringan Bergerak Selular di Indonesia. yang terdiri dari: o Penyelenggara selular/ FWA dengan standar teknologi CDMA. interkoneksi. dan kemudahan implementasi jaringan nirkabel (wireless) dibandingkan dengan jaringan kabel. meliputi permasalahan perizinan. penomoran. regulasi telekomunikasi di Inodnesia masih membedakan antara penyelenggaraan telekomunikasi tetap (fixed) dan penyelenggaraan telekomunikasi bergerak (mobile). Selain itu. 850 MHz dan 1900 MHz. konvergensi antara teknologi fixed dan mobile. 1800 MHz dan 2. Sistem telekomunikasi selular di Indonesia saat ini digunakan oleh :   Penyelenggara Jaringan Tetap Nirkabel (Fixed Wireless Access / FWA) Penyelenggara Jaringan Bergerak Selular. pada pita frekuensi 450 MHz.1 GHz. PENDAHULUAN Penggunaan spektrum frekuensi radio pada penyelenggaraan jaringan telekomunikasi selular perlu dibahas tersendiri.3 KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM UNTUK JARINGAN TELEKOMUNIKASI SELULAR 1. maka pemisahan antara FWA dan selular sudah sulit untuk dibedakan. perkembangan telekomunikasi selular berkembang sangat cepat. 19 .

 Konsolidasi antara PT.1 GHz (mobile ke BTS) di pita frekuensi 1950 – 1990 MHz. antara dua sistem selular yang berdekatan.9 dan 2. Jawa Barat dan Banten dengan standar PCS-1900 MHz dimigrasikan ke pita frekuensi 800 MHz. WIN dan PT. Pada Februari 2006. Melalui Kepmen Kominfo Nomor: 268/KEP/M.9 dan 2.  Akibat penerapan dua standar teknologi yang berbeda antara CDMA dan GSM.  Penataan pita frekuensi 1.  Migrasi frekuensi PCS/CDMA-1900 MHz dan 850 MHz tersebut dapat diselesaikan pada akhir tahun 2007. seleksi / lelang penyelenggara 3G/IMT-2000 di pita 2.1 GHz. yaitu: o Downlink CDMA-850 MHz (BTS ke mobile) dengan Uplink GSM-900 MHz (mobile ke BTS) di pita frekuensi 885 – 890 MHz.Downlink PCS/CDMA-1900 MHz (BTS ke mobile) dengan Uplink UMTS 2.1 GHz melalui metoda lelang yang pertama kali dilakukan di Indonesia. serta perencanaan frekuensi selular Eropa untuk GSM.1 GHz dengan melalui:  Migrasi frekuensi PCS/CDMA-1900 MHz bagi sejumlah penyelenggara FWA/Selular yang beroperasi di pita 1950 – 1990 MHz serta penataan ulang penyelenggara FWA/selular CDMA di pita 850 MHz. Potensi interferensi antara Tx BTS CDMA terhadap Rx BTS GSM. ke pita frekuensi di luar pita IMT core-band (1920 – 1980 MHz). serta pemindahan alokasi frekuensi PCS-1900 yang diberikan izin sebelumnya.KOMINFO/9/2009 tentang Penetapan Alokasi Tam Bahan Blok Pita Frekuensi Radio.  Penyesuaian Izin Penyelenggaraan maupun Izin Frekuensi FWA/selular CDMA untuk Mobile-8 dan Bakrie Telekom.1 GHz tersebut juga sekaligus untuk memberikan kesempatan tambahan alokasi frekuensi bagi layanan selular multimedia global (IMT / 3G) pita frekuensi 1940 – 1955 MHz berpasangan dengan 2130 2145 MHz. serta perencanaan frekuensi yang belum harmonis antara perencanaan frekuensi selular Amerika Serikat yang digunakan untuk CDMA. FWA Telkom dan FWA Indosat di wilayah Jabotabek. Sejumlah perubahan regulasi dilakukan yaitu penyusunan kebijakan dan regulasi penataan frekuensi selular 3G. dilakukan seleksi penyelenggara IMT/3G di pita 1. Primasel. Masih terdapat sejumlah kebijakan lanjutan yang telah dan akan diselesaikan. Potensi interferensi antara Tx BTS CDMA terhadap Rx BTS GSM. antara lain:  Penambahan alokasi frekuensi IMT-2000 / 3G untuk penyelenggara selular GSM-900/1800 paling cepat pada awal tahun 2008 dari 5 MHz FDD menjadi 10 MHz FDD.9 dan 2. maka terdapat permasalahan potensi interferensi yang membutuhkan “guard band” yang memadai. pengenaan tarif BHP pita frekuensi untuk penyelenggara 3G. dilakukan penataan frekuensi IMT/3G di pita 1. Pada tahun 2005. Besaran Tarif Dan Skema Pembayaran Biaya Hak 20 .

Tabel 3 menjelaskan alokasi frekuensi selular di Indonesia sebelum tahun 2005. 21 .5G)  EDGE (2. dengan migrasi penyelenggara PCS-1900 ke luar pita utama IMT-2000.1 GHz. Road Map Industri Selular menuju 3G dapat digambarkan sebagai berikut: • • GSM (2G)  GPRS (2. tambahan pita 3G sebesar 5 MHz telah diberikan kepada Telkomsel dan Indosat setelah dilakukan penawaran penambahan Pita 3G kepada kelima penyelenggara tersebut di atas. Sistem selular Indonesia berbasis teknologi generasi ke-2 (digital selular) yaitu GSM dan CDMA.5G+) CDMA2000-1xEV-DO/DV (3G LTE Alokasi frekuensi dan standar penyelenggaraan selular di Indonesia dapat digambarkan secara ringkas sebagai berikut: • • GSM/GPRS/EDGE (900/1800 MHz) WCDMA (1.go.1 GHz (IMT-2000)) CDMA (450/800/1900 MHz) Pola perencanaan frekuensi campuran antara PCS-1900 (CDMA-1900 MHz) dan IMT-2000 (UMTS) menyebabkan terjadinya potensi interferensi dan inefisiensi frekuensi.  Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio Bagi Penyelenggara Jaringan Bergerak Seluler IMT-2000 Pada Pita Frekuensi Radio 2. Pengenaan BHP pita frekuensi untuk penyelenggara IMT-2000 / 3G maupun konversi BHP ISR menjadi BHP pita bagi penyelenggara selular lainnya secara bertahap. Tabel 4 menjelaskan alokasi frekuensi selular di Indonesia berdasarkan peraturan yang terbaru. Sedangkan Gambar 3 menjelaskan mengenai perencanaan frekuensi selular di pita 1. ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA 2. Draf white paper tersebut dapat di unduh pada website Ditjen Postel. Ditjen Postel menetapkan untuk menata ulang kembali pita utama IMT-2000 sejak tahun 2005 lalu.9 dan 2.5G. Berikut ini adalah diagram alokasi pita frekuensi selular pada sejumlah pita frekuensi.5G+) (migrasi)  WCDMA (overlay)  HSPA  LTE cdmaOne (2G)  CDMA2000-1X (2. Sosialisasi konversi BHP ISR menjadi BHP Pita bagi penyelenggara selular telah dilakukan dengan Ditjen Postel menerbitkan white paper penerapan biaya hak penggunaan berdasarkan lebar pita (BHP PITA) pada penyelenggara telekomunikasi seluler dan fixed wireless access (FWA) pada bulan Oktober 2009. www. dsb. Penyesuaian regulasi-regulasi pendukung: Peraturan mengenai Unified Access License (konvergensi Fixed/Mobile).id pada bagian regulasi frekuensi. Revisi Peraturan Pemerintah mengenai BHP Frekuensi.1 GHz. Kedua sistem tersebut memiliki kemampuan untuk menyediakan layanan 2.postel.9/2.

Banten Selain DKI. Sumsel.1970 875 .845 880 . Jabar. Lampung dan Kalimantan DI Yogyakarta.1965 1975 .Banten DKI. Jabar.1980 1980 .890 20 FREKUENSI UPLINK (MHZ)) 450 .875 1965 . Maluku Utara.Banten Nasional Nasional Telesera 835 .467. DKI Jakarta. Jabar.1910 880 .1890 830 .1885 1895 . Riau.880 870 . Banten Selain DKI.1900 1900 . Metrosel STBS (Mobile) CDMA AMPS Komselindo 3 4 Bakrie Telecom Telkom (Flexi) STBS (Mobile) FWA FWA FWA 5 Indosat (Starone) FWA FWA 6 7   WIN Primasel Wireless Data STBS (Mobile) CDMA CDMA CDMA CDMA CDMA CDMA CDMA CDMA 835 .830 1885 .1990 20 20 10 10 10 10 10 20 835 .835 825 . NTT.890 870 .5 BANDWIDTH (MHZ) 15 10 20 CAKUPAN LISENSI Nasional Nasional Bali. Jateng. Irian Jaya NAD. Sumatera Barat. Maluku. NTB.TABEL 3.5 FREKUENSI DOWNLINK (MHZ) 460 . ALOKASI FREKUENSI SELULAR INDONESIA SEBELUM TAHUN 2005 NO 1 PERUSAHAAN Mandara (Mobisel) JENIS LISENSI STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STANDAR CDMA NMT-470 AMPS CDMA AMPS 2.457. Bengkulu. Sulawesi Nasional DKI. Jabar. Sumatera Utara.880 1960 .845 825 .835 1880 . Jabar. Jambi.845 880 . Banten.890 22 .

5 .2125 BANDWIDTH (MHZ) 20 10 30 15 15 10 20 15 15 30 10 5 20 20 5 CAKUPAN LISENSI Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional 12 23 .900 1717.1935 2015 .1785 1920 .5 .915 1710 .5 .1845 1860 .2020 9 Telkomsel 10 11 Excelkomindo Pratama Natrindo Telepon Selular / Lippo Telecom Cyber Access Communications (CAC) FREKUENSI DOWNLINK (MHZ) 935 .1750 1765 .1812.1840 2125 .1775 907.5 1825 .1722.945 1812.1870 952.1945 2010 .5 .5 1817.5 .2135 1870 .5 .1825 1840 .1745 1935 .960 1805 .1717.1765 900 .952.907.5 1722.1860 945 .2015 1775 .1817.5 1845 .5 1750 .1880 2110 .NO 8 PERUSAHAAN Indosat JENIS LISENSI STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) TEKNOLOGI GSM GSM GSM GSM GSM GSM GSM GSM GSM GSM UMTS TDD GSM WCDMA TDD FREKUENSI UPLINK (MHZ)) 890 .1730 1745 .5 1730 .

845 Kanal 589.457. 242. 242.1990 BANDWIDTH (MHZ) 15 7 13 10 10 13 3 CAKUPAN LISENSI Nasional Nasional Jawa Barat.WIN FWA STBS (Mobile) CDMA CDMA 15 24 . DKI Jakarta dan Banten Daerah selain Jawa Barat.467. DKI. 283 825 – 830 Kanal 37. 507 870 – 875 Kanal 37.5 880 – 890 Kanal 384. 119 dan 1019 875 – 880 Kanal 201. 283 875 – 880 Kanal 201. 119 dan 1019 835 . 425. 466. 78. 283 870 – 875 Kanal 37. ALOKASI FREKUENSI SELULAR SAAT INI  NO 1 2 PERUSAHAAN Sampoerna Telekomunikasi Indonesia Mobile-8 JENIS LISENSI STBS (Mobile) STBS (Mobile).845 Kanal 384. 630 1983.75 . 78. 78. 119 dan 1019 830 – 835 Kanal 201. 630 1903. Banten Jawa Barat. DKI Jakarta dan Banten Daerah selain Jawa Barat.1910 FREKUENSI DOWNLINK (MHZ) 460 .TABEL 4.5 835 . 242. 425. 466. DKI. Banten Nasional Nasional 3 Bakrie Telecom FWA) CDMA 4 Telkom (Flexi) FWA CDMA 5 6         Indosat (Starone) Sinar Mas Telecom (SMART) d/h Primasel . 507 825 – 830 Kanal 37. 242.5 . 78. 119 dan 1019 880 – 890 Kanal 589. 283 830 – 835 Kanal 201. FWA TEKNOLOGI CDMA CDMA FREKUENSI UPLINK (MHZ)) 450 .

NO 7

PERUSAHAAN Indosat

JENIS LISENSI STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile)

TEKNOLOGI GSM GSM GSM UMTS UMTS GSM GSM GSM GSM UMTS UMTS GSM GSM UMTS GSM UMTS GSM UMTS

FREKUENSI UPLINK (MHZ)) 890 - 900 1717.5 - 1722.5 1750 - 1765 1950 - 1955 1955 - 1960 900 - 907.5 1722.5 - 1730 1745 - 1750 1765 - 1775 1940 - 1945 1935 - 1940 907.5 - 915 1710 - 1717.5 1945 - 1950 1730 - 1745 1930 - 1935 1775 - 1785 1920 - 1925

8

Telkomsel

9

Excelkomindo Pratama

10 11

NTS Axis Hutchison CPC

FREKUENSI DOWNLINK (MHZ) 935 – 945 1812.5 - 1817.5 1845 - 1860 2140 – 2145 2145 - 2150 945 - 952.5 1817.5 – 1825 1840 – 1845 1860 – 1870 2130 – 2135 2125 - 2130 952.5 – 960 1805 - 1812.5 2135 – 2140 1825 – 1840 2120 – 2125 1870 – 1880 2110 – 2115

BANDWIDTH (MHZ) 20 10 30 10 10 15 15 10 20 10 10 15 15 10 30 10 20 20

CAKUPAN LISENSI Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional

25

Referensi Regulasi: 1. 2. 3. 4. 5. Permen Kominfo No.1 Tahun 2006 tentang Penataan Frekuensi IMT-2000 di pita 1.9 dan 2.1 GHz. Permen Kominfo No.7 Tahun 2006 tentang Penggunaan Frekuensi Pita 1.9 dan 2.1 GHz Permen Kominfo No.181 Tahun 2006 tentang Pengalokasikan Kanal Pita Frekuensi 800 MHz untuk FWA dan Selular Permen Kominfo No.162 Tahun 2007 tentang Revisi Permen No.181 Tahun 2006 Pengalokasikan Kanal Pita Frekuensi 800 MHz untuk FWA dan Selular Kepmen Kominfo No.363/KEP/M.KOMINFO/1O/2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Keputusan Menteri Komunikasi Dan Informatika Nomor: 181/KEP/M.KOMINFO/12/2006 Tentang Pengalokasian Kanal Pada Pita Frekuensi Radio 800 MHz Untuk Penyelenggaraan Jaringan Tetap Lokal Tanpa Kabel Dengan Mobilitas Terbatas Dan Penyelenggaraan Jaringan Bergerak Seluler (tambahan kanal untuk Telkom dan Bakrie Telecom) Kepmen Kominfo No. 268/KEP/M.KOMINFO/9/2009 Tentang Penetapan Alokasi Tam Bahan Blok Pita Frekuensi Radio, Besaran Tarif Dan Skema Pembayaran Biaya Hak Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio Bagi Penyelenggara Jaringan Bergerak Seluler IMT-2000 Pada Pita Frekuensi Radio 2.1 GHz (tambahan 5 MHz pita 3G untuk Indosat dan Telkomsel)

6.

GAMBAR 3. PERENCANAAN PITA FREKUENSI JARINGAN TELEKOMUNIKASI FWA / SELULAR

 

 

26

 

   

 

27

 

2.1 PITA FREKUENSI SELULAR 450 MHz Pada akhir tahun 1980-an, sistem telepon bergerak selular pertama kali dikenalkan adalah sistem NMT di pita frekuensi 470 MHz yang diselenggarakan oleh PT. Mobisel. Sebenarnya standar sistem NMT adalah di pita 450 MHz, yang saat itu tidak bisa diberikan karena dinilai relatif padat pengguna saat itu. Di pita 450 MHz banyak digunakan untuk two way radio, HT, taxi, trunking oleh banyak penyelenggara instansi pemerintah, pertahanan keamanan, maupun radio konsesi (penyelenggara telekomunikasi khusus) untuk memudahkan kepentingan komunikasinya. Pada tahun 2002, Ditjen Postel memberikan izin bagi penyelenggara selular CDMA di pita 450 MHz untuk Mobisel yang akan memigrasikan sistem analog NMT di 470 MHz menjadi sistem digital selular CDMA di 450 MHz. Akan tetapi langkah pemberian izin tersebut tidak dibarengi dengan kebijakan apapun terhadap penyelenggara eksisting pita 450 MHz untuk two way radio, trunking, dan servis land mobile lainnya, sehingga sulit bagi PT. Mobisel untuk mengembangkan infrastruktur CDMA-450. Pada tahun 2005, setelah koordinasi antara Ditjen Postel, Ditjen Kuathan Dephan, dan PT. Mobisel, telah disusun suatu rencana migrasi secara
28

467.1 LATAR BELAKANG Pada awal tahun 1990-an. 29 . Metrosel dan Telesera di pita 800 MHz sub band A (835-845 MHz dan 880 – 890 MHz): Pada pertengahan 1990-an. 457. Pita 438-470 MHz ini digunakan banyak oleh sistem komunikasi dua arah (two way radio) maupun radio trunking.470 MHz. 2.2006 diganti nama menjadi PT.2.5 MHz) untuk kepentigan selular tersebut di atas memerlukan migrasi sejumlah pengguna signifikan eksisting di pita 438 . ditandatangani SKB antara Depkominfo dan Dephan mengenai penggunaan frekuensi 450 MHz.keseluruhan agar pita frekuensi untuk kepentingan pertahanan dan kepentingan selular CDMA 450 secara eksklusif. Sampurna Telekomunikasi Indonesia (STI) nasional untuk menyelenggarakan jaringan selular CDMA.2 PITA FREKUENSI SELULAR CDMA 850 MHZ/1900 MHZ 2. Mobisel.5 MHz dan 460 – 467.5 -470 MHz (17 MHz) dan pita 450 – 457. Perkembangan layanan selular AMPS mengalami penurunan s/d akhir tahun 1990-an.5 MHz) akan digunakan untuk PT.5 MHz dan 460 – 467. dapat dilakukan secara bertahap dengan kompensasi tanggung jawab pemindahan dilaksanakan oleh PT.  Rencana penggunaan pita frekuesi eksklusif untuk kepentingan pertahanan pada pita 438 – 450 MHz. telah diberikan lisensi penyelenggara telekomunikasi bergerak selular AMPS regional kepada Ratelindo (Bakrie) di pita 800 MHz sub band B (825-835 MHz dan 870 – 880 MHz) di daerah Jabotabek.5 – 460 MHz.5 MHz (FDD 7.5 -470 MHz (17 MHz) akan dialokasikan kepada kepentingan pertahanan (TNI) Pita 450 – 457. 467.5 MHz (FDD 7. dengan rincian sebagai berikut:   Pita 438 – 450 MHz. Pada bulan September 2005. 457.5 – 460 MHz. telah diberikan lisensi penyelenggara telekomunikasi bergerak selular AMPS regional kepada Komselindo. karena munculnya layanan teknologi yang lebih handal. Mobisel (th. baik untuk kepentingan pemerintah maupun swasta.

b. Jabar. Telkom memperoleh izin WLL CDMA di 800 (di luar Jawa Barat. belum beroperasi) 1) WIN (1895-1900 MHz dan 1975-1980 MHz) 2) Primasel (1900-1910 MHz dan 1980-1990 MHz) Jenis Lisensi a.Pada perkembangannya sejak awal tahun 2000-an. Jabar.2 KONDISI AWAL (SEBELUM JULI 2005) Kondisi awal izin penyelenggaran dan alokasi frekuensi FWA/selular CDMA 800 MHz / 1900 MHz di Indonesia sebelum tahun 2005 adalah sebagai berikut: (1) Pita 800 MHz a. Pada sekitar tahun 2002. Jabar. Dalam perkembangannya penyelenggara WLL CDMA tersebut mengembangkan diri menjadi layanan terbatas dalam kota / satu kode area (Fixed Wireless Access). Alokasi frekuensi (di luar DKI. Telesera. Telkom.9 GHz (PCS-1900) a. Banten. Penyelenggara FWA CDMA-1900 cakupan DKI. Penyelenggara selular dan wireless data CDMA-1900 (izin nasional. sulit dibedakan lagi antara layanan tetap (WLL. Banten 1) Indosat (1880 – 1885 MHz dan 1960 – 1965 MHz) 2) Telkom (1885 – 1890 MHz dan 1965 – 1970 MHz) b. Banten) 1) 825-835 MHz dan 870 – 880 MHz: Komselindo (Group Mobile-8) 2) 835-845 MHz dan 880 – 890 MHz: Bakrie Telekom b. Metrosel (Group Mobile-8) Pita 1. Demikian pula Indosat diberikan izin yang sama. semua penyelenggara selular AMPS beralih ke teknologi CDMA secara bertahap. Banten) 1) 825-830 MHz dan 870-875 MHz: Telkom Flexi 2) 830-835 MHz dan 875-880 MHz: Indosat 3) 835-845 MHz dan 880 – 890 MHz: Komselindo. Bahkan dengan perkembangan teknologi selular. Bergerak Selular : Mobile-8. Indosat. dengan alasan perlunya menaikkan teledensitas atas persetujuan kenaikan tarif. Banten. FWA: Bakrie Telekom. 2. untuk persiapan duopoli penyelenggara PSTN lokal. DKI) dan WLL CDMA 1900 di Jabar.2. Primasel c. DKI. Alokasi frekuensi (DKI. Wireless Data: WIN (2) (3) 30 . FWA) dan bergerak selular.

Setelah selama kurang lebih 1 tahun dilakukan diskusi intensif dengan penyelenggara PCS-1900 dan selular 800 MHz. maka Pemerintah memutuskan kebijakan sebagai berikut: a. 31 . 78. Pemerintah memutuskan untuk melakukan penataan ulang pita frekuensi selular di pita 1. Banten dan Jawa Barat harus migrasi dari PCS1900 ke selular 800 yang telah diduduki oleh Mobile-8 dan Bakrie Telecom. Bakrie Telecom (Esia) diberikan alokasi frekuensi FWA CDMA nasional dengan pengaturan sebagai berikut: 1) kanal 201. 242. Jawa Barat dan Banten Telkom Flexi diberikan alokasi frekuensi FWA CDMA nasional dengan pengaturan sebagai berikut: 1) kanal 37. Jawa Barat dan Banten. Jawa Barat dan Banten Kanal 160 CDMA 800 MHz akan diperebutkan antara Bakrie Telecom dan Telkom Flexi berdasarkan evaluasi kinerja pembangunan. Sampai dengan tanggal 31 Desember 2007. untuk memudahkan migrasi layanan CDMA 1900 ke 800 MHz. 119 CDMA 800 MHz di luar DKI. Sedangkan Primasel dan WIN harus ke luar dari pita coreband IMT-2000 (UMTS) Mula-mula Pemerintah memfasilitasi kerjasama bisnis antara Telkom dan Mobile-8 dan Bakrie dengan Indosat dalam rangka memudahkan migrasi PCS-1900 ke selular 800 MHz. 283 CDMA 800 MHz di DKI. 242.2. 119 CDMA 800 MHz di DKI. tetapi akhirnya kesepakatan bisnis tidak berjalan mulus. 2) kanal 201. b. untuk keperluan migrasi. Jawa Barat dan Banten. Telkom Flexi dan Indosat Starone di Jakarta. Selain itu dilakukan fasilitasi agar WIN dan Primasel dapat bergabung dan pindah ke PCS-1900 di luar core band IMT-2000. c.9 dan 2. Pemerintah juga menetapkan bahwa akan dilakukan migrasi penyelenggara PCS-1900 ke selular 800 MHz. 2) kanal 37.3 MIGRASI PITA FREKUENSI PCS 1900 MHz KE PITA SELULAR 800 MHz Pada bulan Juli 2005. kanal 160 ”dipinjamkan” kepada Bakrie Telecom. Sehingga diputuskan untuk dilakukan migrasi penyelenggaaan PCS-1900 ke luar pita coreband IMT-2000 (UMTS).1 GHz untuk menghindari interferensi antara sistem PCS-1900 dan IMT-2000 (UMTS) serta inefisiensi penggunaan frekuensi. 78.2. 283 CDMA 800 MHz di luar DKI.

425. Kanal ini bersebelahan dengan GSM-nya di 890 – 900 MHz sehingga memudahkan koordinasi dan perencanaan serta operasional jaringan dalam satu perusahaan untuk mengurangi dampak interferensi antara CDMA dan GSM di pita frekuensi yang berdekatan. e. 32 .d.75 – 1910 dan 1983.75 – 1990 MHz. kanal 548 ”dipinjamkan” kepada Indosat Starone. Telkom Flexi mendapatkan alokasi kanal tambahan 1019 di luar DKI. Mobile-8 diberikan alokasi frekuensi selular CDMA nasional dengan kanal Frekuensi 384. Sampai dengan tanggal 31 Desember 2007. Sinar Mas Telekomunikasi (SMART). untuk keperluan migrasi. f. Kanal 548 CDMA 800 MHz akan diperebutkan antara Mobile—8 dan Indosat Starone berdasarkan evaluasi kinerja pembangunan. 466 dan 507 Indosat diberikan alokasi frekuensi selular CDMA nasional dengan kanal frekuensi 589 dan 630. Tabel 5 berikut ini menjelaskan alokasi frekuensi dan kanal standar CDMA untuk seluruh penyelenggara terkait.363/KEP/M. Jawa Barat dan Banten. Melalui Kepmen Kominfo No. Kedua perusahaan tersebut membentuk perusahaan baru yaitu PT. dan diberikan 5 kanal CDMA-1900 di luar IMT-2000 core band.KOMINFO/12/2006 Tentang Pengalokasian Kanal Pada Pita Frekuensi Radio 800 MHz Untuk Penyelenggaraan Jaringan Tetap Lokal Tanpa Kabel Dengan Mobilitas Terbatas Dan Penyelenggaraan Jaringan Bergerak Seluler. Proses migrasi selular 800 MHz diberi batas waktu sampai dengan 31 Desember 2007 WIN dan Primasel bergabung pada tahun 2006. Jawa Barat dan Banten dan Bakrie Telecom di luar DKI. g. tepatnya pada pita 1903.KOMINFO/1O/2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Keputusan Menteri Komunikasi Dan Informatika Nomor: 181/KEP/M. h. i.

Telkom Flexi 3. DKI. 466 dan 507 589.1 GHz b.KOMINFO/12/2006 Tentang Pengalokasian Kanal Pada Pita Frekuensi Radio 800 MHz Untuk Penyelenggaraan Jaringan Tetap Lokal Tanpa Kabel Dengan Mobilitas Terbatas Dan Penyelenggaraan Jaringan Bergerak Seluler 33 . PM No. PM No. PM No. 242. guard band antar operator CDMA memerlukan lebih dari 1. Sehingga kanal cadangan yang diperebutkan praktis tidak bisa digunakan. ALOKASI KANAL INDONESIA FREKUENSI STANDAR CDMA DI No 1. DKI. Kanal Cadangan (guard band) Mobile-8 Indosat Starone Kanal Cadangan (guard band) Sinar Mas Telecom d/h Primasel/WIN Sampoerna Telekomunikasi (STI) Catatan: Berdasarkan kajian teknis. DKI. DKI. 283 37. 7. 78. Banten Jawa Barat.1/2006 tentang Penataan Frekuensi di pita 1. 181/KEP/M. Nama Penyelenggara Bakrie Telecom Kanal Frekuensi CDMA 37. 6. 4. 630 548 5 kanal 6 kanal Standar CDMA CDMA CDMA CDMA CDMA CDMA CDMA CDMA MHz CDMA CDMA Wilayah Layanan Jawa Barat. KM No.9 dan 2.363/KEP/M.23 MHz.181/2006 tentang Penataan Frekuensi 800 MHz c.TABEL 5. 78. Banten Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional 2. 242. 5. 1019 201.162/2007 tentang Penataan Frekuensi 800 MHz d. 1019 201. 119. 8. karena operator memiliki perencanaan penggelaran jaringan serta penggunaan menara yang tidak sama. 283 160 384. 119. Banten Daerah selain Jawa Barat. Referensi aturan hukum pengaturan frekuensi FWA/selular tersebut di atas adalah sebagai berikut: a. 425.KOMINFO/1O/2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Keputusan Menteri Komunikasi Dan Informatika No. Banten Daerah selain Jawa Barat.

268/KEP/M.1 GHz 2. KM No.KOMINFO/9/2009 Tentang Penetapan Alokasi Tambahan Blok Pita Frekuensi Radio. sehingga menjadi penyelenggara nasional. Dan penyelenggara selular PCS-1900 bersangkutan harus menyiapkan proteksi terhadap sistem satelit MSS tersebut. ketiga operator GSM utama (Telkomsel. Indosat dan Excelcomindo) diberi tambahan alokasi frekuensi di GSM-1800 MHz. maupun di Indonesia. Untuk kasus ini perlu diidentifikasi sistem-sistem satelit MSS (Mobile Satellite Services) yang akan beroperasi di dunia. Pada sekitar tahun 1996 dilakuakan tender (beauty contest) izin penyelenggaraan DCS/GSM-1800 MHz sebesar 15 MHz FDD(pasangan kanal downlink dan uplink) untuk sejumlah daerah sesuai pembagian wilayah KSO (7 wilayah).3.3 PITA FREKUENSI SELULAR GSM-900/1800 MHz DAN UMTS 2. Izin nasional diberikan kepada Telkomsel. dengan memperhatikan investasi dan kelangsungan operasional penyelenggara selular PT. 2. Selain itu. Sinar Mas Telekomunikasi (d/h Primasel/WIN) terdapat persyaratan tidak boleh menimbulkan gangguan terhadap penyelenggara MSS (Mobile Satellite Service) yang akan memberikan layanan ke Indonesia. Dari sejumlah operator yang menang lisensi tersebut. Besaran Tarif Dan Skema Pembayaran Biaya Hak Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio Bagi Penyelenggara Jaringan Bergerak Seluler IMT-2000 Pada Pita Frekuensi Radio 2.1 GHz Sebagai catatan.1 LATAR BELAKANG Penyelenggaraan telepon bergerak selular (STBS) GSM mulai beroperasi sekitar pertengahan tahun 1990-an. Ditjen Postel hendaknya berhati-hati dalam pemberian izin MSS terutama yang bekerja di pita frekuensi 1980 – 2010 MHz. Akhir era 1990-an. dengan cara secepatnya mendaftarkan setiap BTS nya ke ITU untuk dinotifikasi. Satelindo dan Excelkomindo di GSM900 MHz. Sinar Mas Telekomunikasi (SMART) ini. sehingga seluruh jumlah bandwidth GSM-900/1800 menjadi sama FDD 15 MHz. yang bisa bertahan hanyalah NTS (Natrindo) di Jawa Timur.e. 34 . bahwa pada izin prinsip PT. NTS kemudian mengakuisisi pemegang lisensi lainnya di wilayah lain. Sehingga perlu dicari solusi teknis pencegahan interferensi terhadap sistem MSS yang belum ada penyelenggara yang beroperasi.

Pada bulan Februari 2006 dilakukan lelang pita UMTS 5 MHz FDD. Pada pertengahan tahun 2005. Bakrie Telecom. Seleksi tersebut akhirnya dimenangkan oleh PT. ketiga operator utama GSM-900/1800 (Indosat. Sekitar tahun 2002-2003. Excelcomindo Pratama dan 35 . dan seleksi diikuti oleh lima penyelenggara lainnya. Pada saat pendaftaran terdapat 7 penyelenggara yang mengikuti yaitu Telkom. Telkomsel) meminta izin kepada Pemerintah terhadap akses frekuensi kepada UMTS yang merupakan layanan masa depan untuk sistem GSM.Sekitar tahun 2002. Telkom kemudian mengalihkannya kepada Telkomsel. Pemerintah memberi lisensi UMTS (IMT-2000 core band) sebesar 2 x 10 MHz FDD dan 5 MHz TDD secara nasional kepada NTS. Pada tahun 2004. pemenangnya adalah CAC (Cyber Access Communications) Pada tahun 2004. Telkomsel. Kemudian STI dan Mobile-8 mundur. sehingga diperlukan guard band maupun pita frekuensi yang terbuang percuma. Indosat. Pada bulan Juli 2005. pemerintah memberikan lisensi GSM-1800 terhadap Indosat dan Telkom. Pemerintah melakukan tender (beauty contest) untuk penyelenggara GSM-1800 sebesar 2 x 15 MHz FDD dan UMTS (IMT-2000 core band) sebesar 2 x 10 MHz FDD dan 5 MHz TDD secara nasional. Sampoerna Telekomunikasi Indonesia / STI (setelah mengakuisisi Mobisel) dan Kelompok Mobile-8. Seleksi dilakukan melalui metoda lelang sampul tertutup dua putaran (2nd round sealed bid auction). diikuti hampir seluruh operator selular dan FWA. Telkomsel. CAC dibeli oleh Hutchison dan menjadi HCPC (Huchisson CPC). yang merupakan sejarah pertama kali dilakukan di Indonesia. PT. Indosat membeli Satelindo termasuk layanan selularnya. Permasalahannya adalah bahwa pita frekuensi tambahan untuk UMTS/IMT-2000 memiliki potensi interferensi dengan sistem PCS-1900. Pada tahun 2005.1 GHz untuk menghindari interferensi antara sistem PCS-1900 dan IMT-2000 (UMTS) serta inefisiensi penggunaan frekuensi. Objek seleksi adalah 1 atau 2 blok FDD 5 MHz IMT-2000 core band dengan wilayah cakupan nasional. Sehingga total alokasi GSM-900/1800 antara Indosat dan Telkomsel menjadi sama yaitu 2 x 30 MHz FDD. Sehingga diputuskan untuk dilakukan migrasi penyelenggaaan PCS-1900 ke luar pita coreband IMT-2000 (UMTS). NTS dibeli oleh Maxis. Pemerintah memutuskan untuk melakukan penataan ulang pita frekuensi selular di pita 1. Indosat mengembangkan sendiri layanan IM3. Excelcomindo. atas dasar kompensasi terhadap terminasi dini hak eksklusifitas. Excelcomindo.9 dan 2.

Indosat (890 – 900 dan 935 .5 dan 1805 – 1812.5 MHz) b. (1745 – 1750 dan 1840 – 1845 MHz) d.5–1722.PT. Harga blok terendah tersebut dijadikan referensi bagi pengenaan BHP up-front fee dan BHP Pita tahunan. Telkomsel (900 – 907.3. (1750 – 1765 dan 1845 . Setelah seleksi IMT-2000 tersebut di atas yang dilaksanakan pada bulan Februari 2006. Kepada peyelenggara selular yang telah mendapatkan izin alokasi frekuensi selular UMTS di core-band IMT-2000 sebelumnya (NTS dan HCPC) dikenakan perlakuan yang sama yaitu membayar BHP up front-fee dan BHP pita tahunan.2135 MHz) 36 (2) (3) . Natrindo Telepon Seluler (1730 – 1745 dan 1825 – 1840 MHz) e.2115 MHz) 2) Natrindo TS (1930 – 1935 dan 2120 – 2125 MHz) 3) Telkomsel (1940 – 1945 dan 2130 . dengan harga blok terendah Rp.5 . (1) Penyelenggara jaringan bergerak selular GSM-900 MHz nasional a. Hutchison CPT (1775-1785 dan 1870 – 1880 MHz) Pita 2. Indosat (1717.5 MHz) c. apabila migrasi PCS-1900 ke pita selular 800 MHz selesai dilaksanakan.5 dan 1812.1 GHz di Indonesia. Indosat.2 PENYELENGGARA SELULAR GSM/UMTS Berikut ini adalah penjelasan rinci mengenai penyelenggara jaringan bergerak selular GSM-900/1800 MHz dan UMTS 2. Excelkomindo Pratama (907. dengan metoda pembayaran BHP pita tahunan sesuai dengan standar.5 MHz). 2. Excelkomindo Pratama (1710 – 1717. Telkomsel.5 – 1825 MHz). NTS dan HCPC mengembalikan lagi pita alokasi 5 MHz FDD dan 5 MHz TDD untuk mengurangi beban biaya BHP frekuensi yang disamakan dengan hasil lelang. Kepada seluruh penyelenggara selular IMT-2000 yaitu HCPC. dengan mendapatkan penundaan pembayaran BHP up front-fee s/d awal tahun 2008. maka akan dialokasikan tambahan 5 MHz FDD tanpa seleksi lagi.1 GHz (IMT-2000) Penyelenggara jaringan bergerak selular GSM-2100 nasional 1) Hutchison CPT (1920 – 1925 dan 2110 . Excelcomindo. 160 Milyar.5 – 915 dan 952. Indosat masing-masing 1 blok FDD 5 MHz.5 – 1817.1860 MHz) c. NTS.5 dan 945 – 952. Telkomsel (1722.5 – 1730 dan 1817. sesuai dengan ketentuan.960 MHz) Penyelenggara jaringan bergerak selular GSM-1800 MHz nasional a.945 MHz) b.

2 PERENCANAAN DAN KEBIJAKAN PENGGUNAAN FREKUENSI Seluruh ISR untuk sistem tersebut WLL DECT dan PHS tersebut di atas tidak akan diperpanjang izinnya lagi.1 GHz. Rencana penyesuaian BHP Frekuensi tahunan berbasis ISR menjadi BHP berbasis pita.1 LATAR BELAKANG Sebelum tahun 2000. Selain itu terdapat beberapa jaringan akses lain yang pernah diberikan antara lain ”long range cordless” di pita 380 MHz dengan pasangannya di pita 250 MHz-an. 2.4.4) 5) Excelcomindo (1945-1950 dan 2140 – 2145 MHz) Indosat (1950-1955 dan 2145-2150 MHz) Perkembangan terakhir dan permasalahan yang perlu diselesaikan antara lain meliputi sebagai berikut:  Melalui Kepmen Kominfo Nomor: 268/KEP/M.go.4 JARINGAN AKSES LAINNYA 2. Draft white paper tersebut dapat di unduh pada website Ditjen Postel. tambahan pita 3G sebesar 5 MHz telah diberikan kepada Telkomsel dan Indosat setelah dilakukan penawaran penambahan Pita 3G kepada kelima penyelenggara eksisiting.1 – 359. Ditjen Postel telah memberikan izin WLL kepada Telkom untuk sejumlah teknologi antara lain:     WLL DECT dengan alokasi frekuensi 1880-1900 MHz WLL PHS dengan alokasi frekuens 1895 – 1910 MHz STLR di pita frekuensi 450 MHz-an dan 350 MHz-an.4.postel. karena Pemerintah telah 37 . Besaran Tarif Dan Skema Pembayaran Biaya Hak Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio Bagi Penyelenggara Jaringan Bergerak Seluler IMT-2000 Pada Pita Frekuensi Radio 2.id pada bagian regulasi Frekuensi  2.1 MHz berpasangan dengan 357.1 MHz. www. Pita frekuensi 350 MHz tersebut juga saat ini diperuntukkan untuk alternatif wartel jaringan akses radio sebanyak 2 MHz FDD di pita frekuensi 343.KOMINFO/9/2009 tentang Penetapan Alokasi Tambahan Blok Pita Frekuensi Radio. Sosialisasi konversi BHP ISR menjadi BHP Pita bagi penyelenggara selular telah dilakukan dengan Ditjen Postel menerbitkan white paper penerapan biaya hak penggunaan berdasarkan lebar pita (BHP PITA) pada penyelenggara telekomunikasi seluler dan fixed wireless access (FWA) pada bulan Oktober 2009.1 – 345.

mengalokasikan frekuensi 1903.75-1910 MHz dan 1983.75-1990 MHz telah diberikan lisensi untuk penyelenggara selular Primasel.-WIN (Sinar Mas Telecom) dan Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (450457.5 dan 460-467.5 MHz) Untuk Wartel Akses Radio hanya diberi alokasi frekuensi sebagai berikut (Ref: PM.5/2006 tentang Penyelenggaraan Wartel):   343,1 – 345,1 MHz berpasangan dengan 357,1 – 359,1 MHz atau; 259 – 260 MHz berpasangan dengan 389 – 390 MHz.

Pita frekuensi 1880 – 1900 MHz, 1910 – 1920 MHz, dan 2010-2025 MHz, akan menjadi dapat digunakan untuk sistem TDD IMT-2000 di masa yang akan datang, setelah proses migrasi frekuensi PCS-1900 telah selesai dilakukan. Untuk sistem Fixed Services dan Land Mobile yang masih berada di pita frekuensi selular CDMA 450 dan sistem microwave link yang masih berada di pita frekuensi selular CDMA 800 dan 1900 MHz serta GSM/UMTS 900/1800/2.1 GHz, maka akan diarahkan sebagai berikut: Untuk penggunaan microwave link point-to-point pada pita frekuensi yang dialokasikan untuk penyelenggara selular terutama di pita 1800 MHz dan 2.1 GHz, maka Ditjen Postel tidak akan memperpanjang izin lagi paling lambat tahun 2008. Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, Ditjen Postel telah mengirimkan surat pemberitahuan rencana penghentiann izin selambat-lambatnya 2 tahun sebelum diberlakukan penghentian izin. 3. REGULASI TEKNIS SISTEM SELULAR

Terdapat sejumlah regulasi teknis standar dan spesifikasi perangkat pemancar sistem telekomunikasi bergerak selular yang telah ditetapkan oleh Ditjen Postel, antara lain sebagai berikut:  KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 23/DIRJEN/2004 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT JARINGAN GLOBAL SYSTEM FOR MOBILE (GSM) 900 MHz/DIGITAL COMMUNICATION SYSTEM (DCS) 1800 MHz KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 181/DIRJEN/1998 TENTANG PENETAPAN PERSYARATAN TEKNIS ALAT/PERANGKAT TELEKOMUNIKASI UNTUK PESAWAT TELEPON SELULER GSM KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 47/DIRJEN/1998 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS SISTEM

38

 

TELEKOMUNIKASI BERGERAK SELULAR BERBASIS CODE DEVISION MULTIPLE ACCESS (CDMA) KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 60/DIRJEN/1999 TENTANG PENETAPAN PERSYARATAN TEKNIS ALAT/ PERANGKAT TELEKOMUNIKASI UNTUK PERANGKAT JARLOKAR CDMA IS-95 PERATURAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 264/DIRJEN/2005 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT CUSTOMER PREMISES EQUIPMENT (CPE) UNIVERSAL MOBILE TELECOMMUNICATION SYSTEM – TIME DIVISION DUPLEXING (UMTS – TDD) PERATURAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 267/DIRJEN/2005 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT JARINGAN RADIO (RADIO NETWORK) BERBASIS UNIVERSAL MOBILE TELECOMMUNICATION SYSTEM – TIME DIVISION DUPLEXING (UMTS – TDD)

Semua ketentuan teknis tersebut dapat di ‘download” di website Ditjen Postel dengan URL : http://www.postel.go.id. 4. KEBIJAKAN PERIZINAN PENYELENGGARAN TELEKOMUNIKASI SELULAR

Sebelum tahun 2005, seluruh perizinan pemancar penyelenggaran telekomunikasi selular, menggunakan Izin Stasiun Radio (ISR) yang dikenakan per BTS per kanal. Hal ini seringkali menyulitkan verifikasi di lapangan, karena perubahan pengembangan BTS yang bisa dalam hitungan hari, atau perubahan kanal sangat dinamis berdasarkan trafik, sedangkan perhitungan BHP Frekuensi ISR dikenakan per tahun. Sesudah diberlakukannya Peraturan Menteri No.17 tahun 2005 mengenai Tata Cara Perizinan dan Ketentuan Operasional Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio, maka terdapat alternatif perizinan yaitu Izin Pita Frekuensi Radio dan Izin Kelas. Izin Pita Frekuensi Radio diberlakukan bagi penyelenggara yang mendapatkan alokasi pita frekuensi eksklusif di suatu wilayah layanan yang ditentukan dalam izin. Pemberian izin pita frekuensi radio dilakukan berdasarkan metoda seleksi. Sedangkan BHP Frekuensi Pita Frekuensi Radio akan ditentukan berdasarkan hasil seleksi (lelang). Bagi penyelenggara selular yang mendapatkan alokasi izin frekuensi sebelum tahun 2005, maka masih diberlakukan ISR dengan BHP Frekuensi Radio sesuai ketentuan yang berlaku (PM.19/2005) maksimal sampai dengan tahun 2010. Pada tahun 2010 diharapkan semua penyelenggara akses wireless eksklusif seperti sistem selular ini dikenakan BHP pita frekuensi radio. Konversi BHP ISR menjadi BHP Pita frekuensi radio sedang dikaji Ditjen Postel dan akan diberlakukan secara bertahap. Sosialisasi konversi BHP ISR menjadi BHP Pita bagi penyelenggara selular telah dilakukan dengan Ditjen Postel menerbitkan white paper penerapan biaya hak penggunaan berdasarkan lebar pita (BHP PITA) pada penyelenggara telekomunikasi seluler dan fixed wireless access
39

(FWA) pada bulan Oktober 2009. Draf white paper tersebut dapat di unduh pada website Ditjen Postel, www.postel.go.id pada bagian regulasi Frekuensi. Dalam hal di kemudian hari diidentifikasi terdapat suatu pita frekuensi yang dapat diberikan kepada penyelenggara jaringan bergerak selular, seperti halnya Mobile Broadband Wireless Access dan/atau IMT-Advanced, maka sesuai ketentuan yang berlaku hak penggunaan izin pita frekuensi secara eksklusif pada wilayah cakupan tertentu akan didistribusikan melalui mekanisme seleksi. Untuk terminal / handset dari sistem penyelenggara telekomunikasi selular akan dikenakan izin kelas. Selain itu direncanakan untuk jaringan akses dalam gedung (indoor) diberlakukan izin kelas. Pada saat tulisan ini dibuat, Rancangan Peraturan Direktur Jenderal mengenai Izin Kelas ini telah dilakukan konsultasi publik pada pertengahan tahun 2009, dan tahap ini sedang dalam tahap penyelesaian untuk ditetapkan.
 

40

BAB - 4 KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM UNTUK PENYIARAN
1. PENDAHULUAN

Penggunaan spektrum frekuensi radio untuk keperluan penyiaran mengacu pada definisi Broadcasting Services di Peraturan Radio (Radio Regulation) ITU. Broadcasting services menurut ITU-R, didefinisikan sebagai “a radiocommunication service in which the transmissions are intended for direct reception by the general public. This service may include sound transmissions, television transmissions or other type of transmissions”. Definisi itu bila diterjemahkan menjadi: suatu servis komunikasi radio di mana transmisinya ditujukan untuk penerimaan langsung oleh masyarakat umum. Servis ini dapat mencakup transmisi suara, transmisi televisi atau jenis transmisi lainnya. Penyiaran adalah servis komunikasi satu arah dan memiliki sejarah panjang terhadap penggunaan spektrum frekuensi radio. Penyiaran digunakan untuk penyebaran program kebudayaan dan pendidikan, hiburan, informasi serta berita melalui gelombang udara. Penyiaran dalam banyak aspek mempengaruhi kehidupan masyarakat. Secara singkat, sistem penyiaran yang saat ini diadopsi dikelompokkan berdasarkan jenis pita frekuensi terdiri dari : 1. Penyiaran Terrestrial Nirkabel a. Pita Frekuensi LF/MF/HF 1) Siaran radio AM, Analog b. Pita Frekuensi VHF 1) VHF Band II : Siaran radio FM, Analog 2) VHF Band III : Siaran TV VHF, Analog c. Pita Frekuensi UHF 1) UHF Band IV dan V: Siaran TV UHF, Analog Penyiaran Terrestrial Kabel Penyiaran Satelit a. S-band b. C-band c. Ku-band 1.1 PENYIARAN RADIO Penyiaran radio di Indonesia diawali oleh berdirinya Radio Republik Indonesia (RRI) pada awal kemerdekaan pada tahun 1945. Pada saat itu radio berfungsi sebagai alat perjuangan untuk menyiarkan berita
41

Indonesia

2. 3.

HF. serta menggelorakan semangat perjuangan untuk mengusir penjajah dari wilayah Republik Indonesia. setiap perencanaan kanal frekuensi siaran radio AM dan penggunaannya harus mengikuti prosedur yang telah ditetapkan secara internasional tersebut. Akibatnya. yang meliputi wilayah administrasi pemerintah ibu kota provinsi. Persyaratan penggunaan jarak minimal antar kanal yang dapat dipakai oleh stasiun radio. Sampai dengan tahun 1965 penyiaran di Indonesia masih tetap dilaksanakan oleh RRI.5-108 MHz mempunyai spasi antar kanal sebesar 100 kHz.kemerdekaan Indonesia ke seluruh wilayah Indonesia dan dunia. dan Medan yang hanya memiliki jarak 400 kHz. ibukota kabupaten dan kecamatan. kota. Alokasi pita frekuensi HF hanya diperuntukkan bagi penyelenggaraan penyiaran radio publik. Pada masa itu siaran radio masih menggunakan sistem pemancaran dengan teknologi AM yang bekerja pada pita frekuensi HF. baik berupa pemekaran wilayah kabupaten maupun pemekaran wilayah kecamatan. Semarang. Peningkatan pertumbuhan ekonomi dan sosial masyarakat dan munculnya teknologi penyiaran FM stereo telah mempengaruhi keinginan untuk memperoleh informasi dan hiburan melalui radio dengan kualitas yang lebih baik. lama-kelamaan siaran radio dengan sistem AM mulai ditinggalkan dan hampir semua siaran radio swasta sekarang ini beralih ke sistem FM. Frekuensi penyiaran radio terestrial dialokasikan pada pita frekuensi MF. dan VHF. dalam satu area pelayanan (yang umumnya sekota atau sekabupaten) adalah 800 kHz. Bandung. Perencanaan frekuensi siaran radio AM di Indonesia mengacu pada ketentuan yang telah ditetapkan oleh ITU yang tertuang di dalam konvensi GE-75 Plan karena siaran radio AM pemancarannya dapat melintasi batas wilayah negara dan memerlukan koordinasi dengan negara lain. sebagai satu-satunya penyelenggara siaran radio milik pemerintah. Oleh karena itu. yang belum tercantum dalam Keputusan Menteri Nomor 15 Tahun 2003. Penggunaan frekuensi siaran radio FM eksisting pada saat ini bekerja pada pita frekuensi 87. Master Plan itu memetakan kanal frekuensi radio FM pada wilayah layanan. 42 . Pada saat ini pemerintah juga telah mengantisipasi pemekaran wilayah administrasi pemerintah. Perencanaan frekuensi siaran radio FM di Indonesia yang tertuang dalam Master Plan Frekuensi Radio ditetapkan dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 15 Tahun 2003. Siaran itu berlangsung sampai sekitar tahun 1975 ketika sistem pemancaran radio dengan teknologi FM yang mempunyai kualitas lebih baik dibandingkan dengan sistem AM mulai digunakan oleh beberapa radio swasta. kecuali pada kota-kota besar seperti Jakarta. Surabaya.

Asumsi perencanaan 7 kanal frekuensi di wilayah lain tetap digunakan. baik pada sinyal TV analog maupun pada sinyal TV digital. Perencanaan frekuensi penyiaran televisi digital terestrial dialokasikan pada pita frekuensi UHF Band IV dan sebagian UHF Band V. Sejak saat itu sampai dengan tahun 1990-an TVRI adalah satu-satunya penyelenggara siaran TV di Indonesia yang dapat menjangkau sekitar 80% penduduk Indonesia.d. 2 kanal frekuensi untuk transisi TV analog ke TV digital. Peraturan yang dikeluarkan tersebut berisi perencanaan frekuensi Siaran TV analog di seluruh ibu kota provinsi serta kota/kabupaten di Indonesia yang menampung kebutuhan TV analog dan menyiapkan 1 s.1.2 PENYIARAN TELEVISI Penggunaan frekuensi siaran TV di Indonesia dimulai dengan penggunaan saluran VHF oleh TVRI pada tahun 1962. UHF Band IV dan UHF Band V. Pada tahun 1998 pemerintah kembali memberikan izin kepada lima penyelenggara TV swasta baru sehingga perencanaan frekuensi TV harus dimodifikasi secara berhati-hati untuk mengakomodasi 10 penyelenggara TV swasta dan TVRI di Jabotabek dan ibu kota provinsi. Pada tahun 1990 pemerintah memberikan izin penyelenggaraan siaran TV kepada lima penyelenggara TV swasta. Mayoritas pemancar TVRI menggunakan saluran VHF sehingga penggunaan kanal VHF menjadi padat. Pada saat itu frekuensi UHF untuk siaran TV di setiap lokasi direncanakan sebanyak 7 kanal untuk program nasional untuk mengakomodasi kebutuhan TV swasta dan TVRI. Frekuensi siaran televisi dapat dibagi menjadi empat kelompok. Pemerintah telah menyediakan kanal frekuensi untuk keperluan transisi TV digital. Sistem televisi yang digunakan untuk VHF adalah CCIR PAL B dengan lebar band 7 MHz dan UHF menggunakan CCIR PAL G dengan lebar band 8 MHz. Alokasi frekuensi untuk siaran TV Band I dan TV Band III saat ini sebagian besar digunakan oleh TVRI. Dalam rangka persiapan menghadapi implementasi TV digital yang akan datang. Proteksi rasio co-channel dan kanal bertetangga harus diperhatikan untuk menjaga agar tidak terjadi interferensi. yaitu 2 kanal frekuensi untuk wilayah layanan yang mencakup ibu kota provinsi dan 1 kanal frekuensi untuk kota-kota lain. yaitu VHF Band I. 43 . Rencana induk frekuensi untuk siaran TV analog UHF yang telah dituangkan ke dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 76 Tahun 2003 dan Peraturan Menteri Kominfo Nomor 14 tahun 2007. VHF Band III.

1 .108 174 .15. TABEL 6.20 7. Pita frekuensi radio yang digunakan untuk keperluan penyiaran terrestrial dapat dilihat pada tabel 6 berikut ini.1.9.8 87.1 . sebetulnya teknologi yang digunakan adalah TV digital via satelit (Digital Video Broadcasting). ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA Alokasi spektrum frekuensi radio dan perencanaan pita untuk penyiaran (broadcasting services) di Indonesia dilakukan pada tingkat internasional (ITU). Demikian pula servis televisi berlangganan via satelit yang ditawarkan oleh satelit Palapa-Telkom maupun Palapa-C1 yang sudah menggunakan standar TV digital DVB-S dengan teknik kompresi MPEG-2.7. ABU) dan bilateral. Oleh karena itu penggunaan spektrum memerlukan perencanaan pemetaan distribusi kanal frekuensi radio (master plan) serta koordinasi erat dengan negara tetangga di daerah perbatasan.9 11.6. Penyiaran biasanya memiliki pemancar berdaya pancar tinggi dan cakupan yang relatif luas.0 15. ALOKASI FREKUENSI PENYIARAN TERRESTRIAL ANALOG Servis Siaran radio AM (MW) Siaran radio AM (SW) HF Broadcasting Band (MHz) 0.6065 5. maka penggunaan satelit untuk relay TV terrestrial maupun untuk penerimaan siaran TV melalui satelit (TVRO) merupakan hal yang cukup penting. 2. regional (Asia-Pacific Broadcasting Union.3 PENYIARAN SATELIT Penggunaan penerimaan TV melalui satelit berkembang sejak diluncurkannya sistem komunikasi satelit domestik (SKSD) Palapa di pertengahan tahun 1970-an.95 . Pada awalnya teknologi yang digunakan masih teknologi TV analog. 44 .1.5625 .65 – 12.3 9. Sejak diluncurkannya satelit Cakrawarta-1 tahun 1997.5 . Dengan memperhatikan luasnya wilayah Indonesia dan masih banyaknya wilayah yang tidak terjangkau layanan siaran TV terrestrial.806 Bandwidth (kHz) 9 9 9 9 9 9 300 7000 8000 Siaran radio FM TV VHF TV UHF Pita frekuensi yang digunakan untuk keperluan penyiaran melalui satelit dapat dilihat pada tabel 7 berikut ini.230 470 .6 .

1 LATAR BELAKANG DAN KONDISI SAAT INI 3. secara perlahan Pemerintah c. ANTV). TVRI menjadi sebagai satusatunya penyelenggara Siaran TV di Indonesia dengan jangkauan wilayah siaran hampir mencapai 80% wilayah Indonesia. Departemen Penerangan memberikan izin penyelenggaraan kepada penyelenggara TV Swasta. Sejak tahun 1987. 04A/KEP/MENPEN/1993. Dimulai tahun 1990-an. 45 . INDOSIAR.12200 3.30 Band (MHz) 1467 2520 3440 3700 1492 2670 3640 4200 Bandwidth (kHz) N/A 24000 36000 36000 27000 11700 .S Band TVRO ext-C Band (DVB) TVRO C-band (DVB) Direct Broadcasting Satellite BSS Plan App. PENGKANALAN FREKUENSI PENYIARAN TERRESTRIAL 3.1 MASTER PLAN FREKUENSI SIARAN TV UHF ANALOG Sejarah penggunaan frekuensi Siaran TV di Indonesia dimulai dengan penggunaan saluran VHF oleh TVRI pada tahun 1962. Pada saat itu Direktorat Jenderal Radio. Pemerintah memberi izin bagi 5 penyelenggara TV swasta nasional (RCTI. Terdapat sekitar 400 pemancar TVRI di seluruh wilayah Indonesia yang menggunakan frekuensi VHF Sehingga penggunaan kanal VHF relatif cukup padat di Indonesia.q. TVRI mulai berencana untuk beralih ke saluran UHF. Pada tahun 1993.L Band DVB Satellite .TABEL 7. melalui SK Menpen no. TV dan Film-Departemen Penerangan (Ditjen RTF-Deppen) bekerjasama dengan JICA (Japan Indonesia Cooperation Agency) membuat Master Plan Frekuensi TV UHF untuk 7 programa nasional (5 programa TV swasta nasional dan 2 programa TVRI). Artinya untuk setiap lokasi di wilayah Indonesia harus disediakan sejumlah 7 kanal frekuensi UHF untuk kelima penyelenggara TV swasta nasional dan 2 (dua) programa TVRI.TPI. Dengan Master Plan Frekuensi TV UHF yang dibuat saat itu. Sejak saat itu sampai sekitar tahun 1990-an. Asumsi yang digunakan TVRI saat itu adalah dibutuhkan satu sampai dengan dua saluran UHF untuk menyediakan layanan sejumlah programa nasional di seluruh wilayah Indonesia tersebut. SCTV. maka kebutuhan penetapan frekuensi bagi TVRI dan TV Swasta telah terakomodasi.1. ALOKASI FREKUENSI PENYIARAN SATELIT Servis DAB Satellite .

sudah tidak mungkin lagi untuk menampung sejumlah banyak penyelenggara TV nasional. 46 .25 tahun 2000. untuk mengakomodasi sebanyak 10 penyelenggara TV swasta dan 2 frekuensi UHF untuk TVRI di Jabotabek dan ibu kota propinsi. DVN. serta antisipasi perkembangan sistem TV digital. Akibatnya.q. Ditjen Postel telah menyelesaikan Master Plan Frekuensi TV untuk pita frekuensi UHF untuk hampir semua provinsi dan kota-kota besar di Indonesia yang telah dituangkan dalam Keputusan Menteri Perhubungan No. Desakan beberapa Pemerintah Daerah untuk mengeluarkan izin frekuensi Siaran TV Lokal sesuai PP No. yaitu (TRANS. Pemerintah c. Bandwidth VHF (PAL-B) adalah 7 MHz. Sedangkan Tabel 9 menjelaskan mengenai tabel frekuensi TV UHF Band IV dan V untuk Standar PALG. Di Indonesia. terdapat desakan kuat permintaan izin sejumlah peminat penyelenggara TV baru di sekitar tahun 1997/1998. sampai saat ini masih digunakan TV analog. Sedangkan standar untuk UHF adalah PAL-G. Standar TV analog yang digunakan untuk VHF adalah PAL-B. Tabel 8 berikut ini merupakan tabel frekuensi TV VHF band I dan III band I dan III untuk standar PAL-B. LATEVE. Sedangkan asumsi 7 programa siaran UHF untuk wilayah lainnya tetap dianut. dan METROTV) sesuai SK Menpen No. Master Plan frekuensi TV UHF harus dimodifikasi secara hati-hati.74 tahun 2003. Perkembangan otonomi daerah. memperumit masalah. Saat itu sebenarnya secara teknis. bahwa secara teknis. Pada tahun 1998. memerlukan penyempurnaan kembali master plan frekuensi TV. Kecenderungan bertambahnya minat sejumlah penyelenggara Siaran TV lokal. 384/SK/MENPEN/1998. sedangkan Bandwidth UHF (PAL-G) adalah 8 MHz.Dalam perkembangan selanjutnya. memperburuk permasalahan. Departemen Penerangan memberikan ijin kepada 5 penyelenggara TV swasta nasional baru dengan wilayah layanan nasional terbatas. GLOBAL-TV.

510 510 .25 217.598 FREQ VISION (MHz) 471.25 583.75 Sebagai catatan bahwa di beberapa lokasi.75 500.25 55.25 519. 22 s/d Ch.25 62.25 543.223 223 .25 551.75 60.75 596.25 487.75 564.25 495.75 508. Jadi artinya di beberapa lokasi Ch.75 229. RANGE (MHz) 47 54 54 61 61 68 174 .518 518 . untuk menyelaraskan dengan sistem digital CDMA-450.75 492.550 550 .75 III TABEL 9.25 681.75 484.494 494 .486 486 .75 556.188 188 .25 FREQ SOUND (MHz) 476.558 558 .25 591.TABEL 8.195 195 . RENCANA PENGKANALAN TV UHF BAND V STANDAR PAL-G BAND UHF IV CHANNEL 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 FREQ.75 201. RENCANA PENGKANALAN TV VHF BAND I DAN III STANDAR PAL B BAND VHF I CHANNEL 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 FREQ.75 215.216 216 .25 559.75 548.75 524.48 MHz masih digunakan operator selular MOBISEL yang menggunakan sistem selular analog NMT-470. Saat ini operator tersebut sedang dalam proses migrasi frekuensi secara bertahap ke frekuensi 450 MHz-an.75 516.534 534 .75 572.25 203.202 202 . Tabel berikut ini merupakan tabel frekuensi TV UHF band V untuk standar PAL-G.181 181 . RANGE (MHz) 470 478 478 .209 209 .25 210.25 535.75 532.25 189.75 194.25 479.75 687 187. 24 tidak bisa digunakan.25 567.25 503. pita frekuensi 479 – 488.230 FREQ VISION (MHz) 48.25 224.25 511.48 MHz dan 489 – 493.25 FREQ SOUND (MHz) 53.75 67.542 542 .574 574 582 582 590 590 .5 182.75 222.75 580.75 588.75 208.502 502 .25 527.75 540.566 566 .25 196.526 526 .25 575. 47 .

758 758 .25 639.25 727.25 663.702 702 . Bagi para broadcaster pun akan menguntungkan dari pangsa pasar karena dapat menjangkau lebih banyak lagi pemirsa.25 799.75 644.742 742 . Bagi para broadcaster.75 732.790 790 .25 767.75 796.638 638 .75 740.646 646 .75 684.606 606 .75 636.75 788.75 660.25 791.726 726 .25 775.25 743.25 FREQ SOUND (MHz) 604. 48 .25 759.694 694 .75 756.630 630 .75 652.686 686 .614 614 .75 748.806 FREQ VISION (MHz) 599.766 766 .782 782 .75 676.678 678 .798 798 .75 772.750 750 .710 710 .75 628.75 692.25 671. Selain itu karena antena berada di satu lokasi untuk suatu wilayah layanan tertentu.25 687. Pada frekuensi VHF sendiri tidak dapat dilakukan channel grouping tersebut.25 783.75 724. terutama bila akan diatur pemanfaatan tower dan sistem antenna bersama yang sangat menguntungkan bagi broadcaster maupun bagi masyarakat.25 631. Pengelompokan kanal frekuensi Siaran TV sangat penting.774 774 .25 751.25 735.622 622 .25 655. RANGE (MHz) 598 .25 695.75 804. seluruh masyarakat mendapat keuntungan karena hanya perlu memasang 1 antena dengan arah tertentu untuk menerima seluruh program siaran TV.718 718 .662 662 .25 719.25 679.654 654 .25 615.670 670 .25 647.25 703.25 607.75 Pengelompokan kanal (channel grouping) sering dilakukan dalam pengaturan frekuensi UHF yang memiliki lebih banyak kemungkinan kombinasi kanal dibandingkan frekuensi VHF.75 716.75 764. dapat menghemat dana untuk membangun tower dan sistem antenna masing-masing.75 620.75 780.75 708.25 623. RENCANA PENGKANALAN TV UHF BAND V STANDAR PAL-G BAND UHF V CHANNEL 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 FREQ.25 711.734 734 .75 668.75 612.75 700.TABEL 10.

UHF 28 29 42 43 56 57 Ch. UHF 24 25 38 39 52 53 Ch. Hal ini disebabkan wilayah layanan dan lokasi pemancar dari TVRI dan TV swasta seringkali berbeda. UHF 26 27 40 41 54 55 Ch. channel grouping tersebut tidak konsisten dilakukan di dalam wilayah layanan yang sama. Dengan mempertimbangkan jatah distribusi dan kemungkinan kombinasi kanal untuk daerah layanan yang bersebelahan maka maksimum di suatu wilayah layanan adalah 3 kanal. Tabel 11 menggambarkan Channel Grouping TV UHF yang diterapkan di Indonesia. Dua kanal TVRI yaitu untuk Program Nasional dan Program Daerah. UHF 32 33 46 47 60 61 Ch. UHF 34 35 48 39 62 - Dalam implementasinya di Indonesia. 49 . Sedangkan. Berdasarkan rekomendasi ITU-R BT. Untuk kasus di Indonesia. UHF 22 23 36 37 50 51 Ch. CHANNEL GROUPING TV UHF DI INDONESIA Channel Group A D B E C F Ch.1123.Menggabungkan dua pemancar berdaya tinggi yang berbeda frekuensinya relatif sulit dilakukan. Untuk kanal VHF maksimum 4 kanal genap atau ganjil di suatu wilayah layanan dengan mengabaikan daerah layanan yang bersebelahan. TABEL 11. channel grouping dibuat pada saat perencanaan frekuensi untuk 7 program nasional di pita UHF (2 kanal TVRI dan 5 kanal TV swasta) pada awal tahun 1990-an.1123 tersebut adalah 4 kanal. Masalah yang sering ditanyakan oleh masyarakat adalah mengenai jumlah kanal maksimum di suatu wilayah layanan. Maka selisih kanal minimum yang paling baik untuk channel grouping berdasarkan rekomendasi ITU-R BT. dan diperlukan sistem antenna dan “combiner” serta “filter” khusus. Tetapi pemancar berdaya 10 kW s/d 20 kW mungkin untuk digabung dalam satu sistem tower dan antenna. Penggabungan dua atau lebih pemancar dalam satu sistem antenna dapat dilakukan. dalam menentukan channel grouping tidak boleh kurang dari selisih 3 kanal. grouping selisih 5 kanal menimbulkan efek interferensi akibat local oscillator IF. UHF 30 31 44 45 58 59 Ch. Grouping dengan selisih 3 kanal tersebut jarang dilakukan mengingat dapat terjadi kelipatan 9 (image channel interference).

Permasalahannya adalah bahwa berdasarkan kondisi eksisting. maka secara garis besar dapat dibagi 2 kelompok.62). TABEL 12. Asumsi lokasi pemancar untuk kanal bebas (yang belum digunakan) dipasang di dekat lokasi pemancar eksisting. maksimum kanal tersedia adalah 21-7 = 14 kanal. Sehingga pendekatan ini tidak dilakukan. Secara teoritis suatu lokasi wilayah layanan dapat diberikan maksimum 21 kanal genap atau ganjil. Sehingga maksimum di kota besar (ibu kota provinsi). Terdapat sekitar 21 kanal untuk kelompok genap dan 21 kanal untuk kelompok ganjil. Menyiapkan 1 s/d 2 kanal tersisa untuk TV digital. paling tidak sudah dijatahkan 7 kanal di setiap wilayah layanan siaran untuk 7 program TV nasional (5 program TV swasta lama dan 2 program TVRI). Sepanjang memungkinkan. Planning berusaha mengidentifikasi kanal yang tersedia dengan memperhatikan kondisi eksisting. Menyediakan sejumlah kanal frekuensi bagi daerah-daerah yang selama ini kurang mendapat kualitas sinyal yang baik (daerah blank spot) dengan daya pancar kecil (gap filler). Itu pun dengan asumsi tidak ada jatah untuk kanal frekuensi gap filler. yaitu kelompok genap dan kelompok ganjil. Channel Grouping dijadikan referensi dengan memberikan fleksibilitas jika diperlukan. Resikonya bahwa wilayah layanan di sekitarnya tidak akan mendapat jatah satu kanal pun. Dalam pelaksanaan perencanaan frekuensi TV UHF. 23 s/d Ch. Akan lebih baik bila dimungkinkan sharing tower dan sistem antenna. DISTRIBUSI KANAL TV UHF ANALOG DI INDONESIA WILAYAH LAYANAN Jabotabek dan Ibu Kota Propinsi Daerah lainnya Jumlah kanal TV swasta 10 5 Jumlah kanal TVRI 1 0 Jumlah kanal TV digital 2 1 Jumlah kanal TV lokal 1 1 50 .Pada pita frekuensi UHF dari sekitar 42 kanal tersedia di pita UHF (Ch. berusaha menyediakan sejumlah kanal untuk low power transmitter untuk gap filler ataupun TV komunitas     Asumsi distribusi kanal frekuensi UHF yang diterapkan di Indonesia dapat dijelaskan pada Tabel 12 berikut ini. prinsip-prinsip yang diambil adalah sebagai berikut:   Berusaha sebisanya untuk tidak mengubah atau mengganti kondisi eksisting.

Dengan dibolehkannya Siaran radio Non Pemerintah / Radio Swasta untuk berdiri sejak tahun 1970 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 1970 tentang Siaran radio Non Pemerintah. Singkawang. terutama antara Batam. yaitu: 51 . Untuk menampung kebutuhan distribusi konten yang lebih banyak bagi penyedia program / konten. dan sebagainya. Ditjen Postel telah melaksanakan koordinasi frekuensi perbatasan dengan Singapura dan Malaysia secara intensif sejak tahun 2002 lalu. Oleh karena itu sangat disarankan agar dalam penyediaan infrastruktur bagi lembaga penyiaran TV komunitas digunakan akses kabel ataupun satelit.Untuk kanal frekuensi TV komunitas analog maupun gap filler memang dapat digunakan low power transmitter (10 Watt) dengan memperhatikan juga kondisi eksisting di dalam wilayah layanan daerah bersebelahan. Karena walaupun diberikan dengan daya pancar kecil dan wilayah jangkauan kecil. seperti Singapura dan Malaysia. seperti Batam dan daerah sekitarnya.2 MASTER PLAN FREKUENSI SIARAN RADIO FM Sejarah penggunaan frekuensi Siaran radio FM di Indonesia dimulai sekitar akhir tahun 1960-an sampai dengan awal tahun 1970-an. akan tetapi dari sisi teknis akan kehilangan potensi penggunaan frekuensi sebanyak 18 MHz dalam radius kurang lebih 400 kilometer persegi. saat ini telah ada kesepakatan tiga Negara mengenai “protection ratio” antar wilayah siaran di daerah perbatasan. Akan tetapi bilamana diterapkan. 3. maka sangat dianjurkan untuk segera menerapkan teknologi penyiaran digital seperti DVB-T dan DAB di daerah perbatasan. distribusi kanal optimal di daerah perbatasan untuk Siaran radio FM dan TV pada pita frekuensi VHF dan UHF. Penyiaran melalui akses kabel dan akses satelit akan menjadi jauh lebih efisien dan memiliki jumlah program / konten lebih banyak dibandingkan menggunakan 1 kanal TV analog yang hanya bisa menyediakan 1 program saja.1. Untuk daerah perbatasan dengan negara lain seperti di Batam. jumlah kanal TV UHF yang tersedia akan tergantung dari hasil koordinasi frekuensi perbatasan dengan negara tetangga. Maka tugas lainnya yang harus segera diselesaikan adalah melakukan persiapan migrasi TV analog ke digital di daerah perbatasan. akan sangat memboroskan frekuensi yang sangat berharga di pita frekuensi UHF untuk keperluan lainnya seperti TV digital dan layanan masa depan lain. Johor dan Singapura. Setelah menjalani sejumlah putaran perundingan. Nunukan. maka terdapat dua instansi pemerintah yang mengatur frekuensi Siaran radio.

2 – 107. Dalam perencanaan frekuensi siaran radio.262/PT. Saat itu teknologi yang masih ada adalah FM Mono dengan bandwidth 180 kHz dengan daya pancar maksimum 25 Watt. Padahal frekuensi yang digunakan adalah sama.1.8 sebanyak 22 kanal. mengatur frekuensi RRI frekuensi Pengaturan teknis untuk siaran radio yang dibuat Ditjen PostelDephub hanya ditujukan kepada Siaran radio Non Pemerintah. mengatur Siaran radio Non Pemerintah. sehingga tidak dapat diterima dengan baik di tiap lokasi dalam wilayah layanannya.K.KM. pendekatan yang diambil selama ini kurang optimal.25/T/1971.73/PT. Menhub No. Pada tahun 1994 berdasarkan Kepmen Pariwisata. indeks modulasi. Selain itu para penyelenggara Siaran radio FM sering melebihi batas maksimum daya pancar 100 Watt yang ditetapkan sejak tahun 1982. Pos dan Telekomunikasi No. 2. untuk memperluas jangkauan siarannya. Keputusan Menhub tahun 1982 itu pun menetapkan penggunaan spasi kanal 350 kHz dari 100. Dengan diberlakukannya UU No. penggunaan alokasi frekuensi diperluas menjadi 87 – 108 MHz. Sedangkan pengaturan teknis untuk RRI tidak pernah dibuat. Tidak ada suatu perencanaan matang yang memperhitungkan daerah cakupan. Akibatnya di beberapa kota besar frekuensi FM untuk Siaran radio sudah habis. Pemberian izin frekuensi siaran radio non pemerintah dilakukan “first come first served”. Koordinasi antara kedua institusi Ditjen Postel dan Ditjen RTFDeppen kurang optimal. frequency reuse. Hal ini akan menimbulkan banyak kesulitan dalam perkembangan selanjutnya. pengkanalan yang baik.KM.307/Phb-82. seakan-akan frekuensi ini masih banyak tersedia. Pada tahun 1971 berdasarkan S. alokasi frekuensi yang diperkenankan adalah 100 – 108 MHz.25 Tahun 2000 mengenai kewenangan pemberian izin frekuensi Siaran radio Lokal dan Siaran TV Lokal oleh Pemerintah Daerah sangat 52 . Ditjen Postel-Dephub/Depparpostel. Ditjen RTF-Deppen. Pada tahun 1982 diatur mengenai penggunaan FM Stereo dengan bandwidth 250 kHz dengan daya pancar maksimum 100 Watt berdasarkan Kep. Hal ini dengan sendirinya menurunkan kualitas penerimaan siaran Radio FM secara keseluruhan.22 Tahun 1999 dan PP No. Menhub No. Menara dan antenna pemancar pun seringkali dipasang sendiri-sendiri di lokasi yang berlainan.102/MPPT/94. dst. Hal ini untuk menampung semakin banyaknya permintaan Siaran radio FM.

Dalam pembuatan master plan siaran radio FM. serta Keputusan Dirjen Postel mengenai implementasi rincinya. sehingga dalam implementasinya memerlukan langkah transisi yang hati-hati. Selain itu kualitas penerimaan akan sulit memenuhi standar rekomendasi ITU-R. kebijakan yang diambil adalah sebagai berikut:    Berusaha sedapat mungkin tidak mengurangi pengguna eksisting Penetapan berdasarkan wilayah kota (seluruh kota. seperti Jabotabek. Penggunaan spasi 350 kHz tersebut tidak sesuai dengan rekomendasi ITU-R dan menyulitkan masyarakat pendengar. Ditemukan pula bahwa di kota-kota besar di pulau Jawa dan Sumatera. Yogyakarta dan Medan. tekanan dari Pemerintah Daerah yang menuntut kewenangan pemberian izin frekuensi terhadap Siaran radio Lokal. Pengaturan frekuensi tidak dapat dibagi-bagi berdasar jumlah Pemerintah Daerah. Pada bulan Mei s/d Juni 2002. Surabaya.menyulitkan penataan frekuensi secara optimal. mengingat rambatan gelombang radio tidak dapat dibatasi batas administratif. melakukan penelitian dan pembenahan kembali perencanaan frekuensi FM. karena tidak semua pesawat penerima memiliki kemampuan menagkap frekuensi sampai orde 50 kHz (0. bekerjasama dengan ITU Regional Office Area. beberapa kota kecamatan pada beberapa kabupaten) Kota-kota besar (ibukota propinsi) akan mendapatkan kanal frekuensi yang lebih banyak 53 . seluruh ibukota kabupaten. Hal ini menimbulkan kesulitan dan dampak yang cukup besar. Pembenahan signifikan adalah perubahan spasi kanal yang dulunya menggunakan spasi 350 kHz. Bandung.05 MHz). Desakan RUU Penyiaran yang diprakarsai DPR untuk mengakomodasi radio komunitas. pemberian izin frekuensi Siaran radio FM sudah melebihi kapasitas. Keputusan regulasi rencana dasar frekuensi siaran radio FM telah dituangkan dalam Keputusan Menteri Perhubungan No. Ditjen Postel bekerjasama dengan expert ITU. Semarang. Jakarta. sehingga perlu untuk dikurangi.15 tahun 2003 yang akan direvisi kembali. Master plan frekuensi FM ini memberikan perencanaan frekuensi FM berdasarkan standard dan rekomendasi ITU-R untuk mengatasi permasalahan FM di Indonesia. menyebabkan Ditjen Postel harus bekerja keras untuk melakukan revisi terhadap ketentuan teknis. serta keinginan untuk memperbaiki kualitas layanan siaran radio FM.

PENGATURAN TEKNIS SIARAN RADIO FM Pita frekuensi Spasi antar kanal Deviasi frekuensi maksimum pada modulasi 100% Toleransi frekuensi pemancar Level spurious emission Bandwidth untuk deviasi maksimum + 75 kHz dan 100% modulasi maksimum Stabilitas frekuensi tengah oscillator 87. Kelipatan 100 kHz ± 75 kHz 2 kHz 60 dB di bawah level mean power 372 kHz Maksimum +/. juga dibatasi radius cakupan. Pengelompokkan disesuaikan pula dengan wilayah administratif pemerintahan untuk siaran radio komersial dan siaran radio publik. Untuk siaran radio komunitas selain diberikan kanal frekuensi yang tertentu. Secara garis besar pengaturan teknis dijelaskan pada tabel 13.   Pengelompokan kelas Siaran radio FM berdasarkan daya pancar / emitted radiated power (ERP) dan jarak layanan maksimum siaran radio dijelaskan pada Tabel 14 berikut ini. 54 . TABEL 13. diusulkan agar lebar pita “bandwidth” untuk Siaran radio FM dikurangi menjadi 300 MHz.200 Hz Dari referensi yang didapat dari beberapa Negara. tinggi efektif antenna dan radius cakupan.412 (asumsi urban 66 dBV/m) Pengaturan siaran radio FM dilakukan berdasarkan pengelompokkan kelas-kelas berdasarkan daya pancar. sesuai dengan standar ITU-R yang berlaku yang juga diterapkan di negara-negara lainnya. tinggi efektif antenna dan daya pancarnya.5 – 108 MHz.     Service area ditentukan berdasarkan wilayah pemerintahan kota / kabupaten Untuk wilayah kabupeten diutamakan pada ibukotanya Kecamatan pada suatu kabupaten yang telah memiliki eksisting juga dijadikan service area Kecamatan yang berada cukup jauh dari ibukota kabupaten juga dijadikan service area Luas service area hanya mencakup kota dimana stasiun pemancar berada dengan fieldstrength minimum sesuai rekomendasi ITU-R BS. dan kondisi pengukuran lapangan.

ibu kota provinsi Siaran radio swasta / publik di kota selain ibukota provinsi Siaran radio komunitas. Penomoran kanal.412-9 sebagaimana tercantum dalam tabel 15 berikut ini.5 km dari lokasi pemancar SIARAN RADIO FM WILAYAH LAYANAN Kelas A B C D   Peruntukan Siaran radio swasta / publik di DKI Jakarta Siaran radio swasta / publik di DKI Jakarta.TABEL 14. Effective height above average terrain (EHAAT) adalah ketinggian efektif suatu antena pemancar yang dihitung dari rata-rata permukaan tanah yang berada diantara 3 s/d 15 km dari lokasi pemancar. sepanjang memungkinkan 15 kW – 63 kW 2 kW – 15 kW Maksimum 4 kW Maksimum 50 Watt Asumsi yang digunakan untuk menghitung jarak layanan maksimum bahwa kuat medan (level fieldstrength) pada daerah terluar dari wilayah layanan di atas dibatasi maksimum 66 dBµV/m Sebenarnya dalam pengaturan teknis siaran radio yang menyangkut pembatasan daya pancar juga akan sangat terkait dengan pembatasan tinggi efektif antena (EHAAT). Rasio proteksi (protection ratio) penyelenggaraan siaran radio FM yang digunakan harus sesuai dengan Rekomendasi ITU-R BS. pembatasan daya pancar (ERP) dan tinggi efektif antena (EHAAT) untuk kelas-kelas siaran radio FM tersebut dapat dilihat pada lampiran 2. PENGELOMPOKKAN KELAS BERDASARKAN EIRP DAN MAKSIMUM ERP Wilayah layanan maksimum 30 km dari pusat kota 20 km dari pusat kota 12 km dari pusat kota 2. 55 . perencanaan kanal (channeling plan).

Mengingat jumlah siaran radio eksisting dalam wilayah layanan D. pada malam hari adalah propagasi ground wave dan skywave. Karena rambatan dan jangkauan siaran radio AM (MW) yang dapat menembus batas wilayah negara. Kota Semarang. Sehingga jika suatu stasiun radio menggunakan kanal frekuensi Plan GE75.3 PENGKANALAN FREKUENSI SIARAN RADIO AM PADA PITA FREKUENSI LF/MF Propagasi siaran radio AM pada pita frekuensi LF/MF terdiri dari dua macam. yaitu:   pada siang hari adalah propagasi ground wave.TABEL 15. maka kanal frekuensinya mendapatkan proteksi internasional.1. PROTECTION RATIO SIARAN RADIO FM MONOPHONIC (dB) STEADY 36 12 6 -7 -15 -20 TROPOSPHERIC 28 12 6 -7 -15 -20 STEREOPHONIC (dB) STEADY 45 33 7 -7 -15 -20 TROPOSPHERIC 37 25 7 -7 -15 -20 SPASI FREKUENSI (kHz) 0 (co-channel) 100 200 300 350 400 Secara umum bahwa pemetaan kanal frekuensi dalam satu wilayah layanan harus dengan jarak antar kanal minimum 800 kHz. ITU telah membuat suatu plan untuk seluruh dunia yang dinamakan GE 75 (Geneva 1975). Kota Surabaya dan Kota Medan melebihi kapasitas maksimum. sebetulnya pada tahun 1975. Pada dasarnya GE 75 menjatahkan (“allotment”) kanal frekuensi AM untuk sejumlah kota di setiap negara di dunia. Kota Bogor. Indonesia mendapatkan jatah sekitar 307 kanal untuk 50 kota (Daftar lengkap dapat dilihat di lampiran 3).I Jakarta.K. Kota Bandung. Yang dominan pada malam hari adalah gelombang skywave yang dapat merambat sampai ribuan kilometer. Artinya jika ada stasiun radio negara lain mengganggu penerimaan stasiun radio 56 . maka untuk masa transisi dapat diberikan jarak spasi antar kanal minimum 400 kHz. 3.

yang terdapat pada plan. Semarang. Untuk mendapatkan proteksi internasional harus dilakukan proses koordinasi dengan negara lain dan pendaftaran frekuensi ke ITU. sehingga dapat merambat sampai ribuan km. Perencanaan frekuensi untuk Siaran radio AM pada pita frekuensi LF/MF (MW) ini sebenarnya cukup rumit dan harus memperhatikan tidak hanya kondisi penggunaan frekuensi eksisting di Indonesia. seperti Asia Pacific Broadcasting Union (ABU) yang berpusat di Kuala Lumpur Malaysia. Kanal-kanal frekuensi radio AM tersebut sudah terdaftar di ITU dan digunakan oleh RRI. dengan pengaruh propagasi gelombang skywave yang lebih dominan. Setiap tahun setiap negara melakukan koordinasi regional untuk mengatur dan mendistribusikan penggunaan kanal HF Broadcasting (HFBC). maka stasiun negara lain tersebut harus segera mematikan operasinya. Peraturan pengalokasian kanal AM telah ditetapkan dalam regulasi teknis dan master plan frekuensi siaran radio AM. dan beberapa daerah). Selama ini metoda pemberian izin frekuensi berdasarkan antrian (first come first served). Karena rambatan dan jangkauan siaran radio AM (SW) yang dapat menembus batas wilayah negara. Radio Swasta) yang sangat padat dan melebihi kapasitas dan hanya terkonsentrasi di beberapa daerah tertentu (Medan. serupa dengan AM (MW). Kondisi eksisting pengguna Siaran radio (RRI. Bila suatu kanal frekuensi ditetapkan di luar Plan GE75. Hal ini untuk mencegah kemungkinan terkena interferensi dari atau ke pemancar siaran radio AM negara lain akibat penetapan frekuensi di luar Plan GE75 tersebut. Saat ini Ditjen Postel telah membenahi sekitar 500-an Siaran radio AM eksisting. tetapi juga harus memperhatikan kondisi penggunaan frekuensi eksisting maupun yang direncanakan oleh Negara-negara lain yang berdekatan dengan Indonesia yang terdapat pada Master Register frekuensi ITU (sudah dinotifikasi ke ITU). Bandung. Pelaksanaan koordinasi secara praktis dilakukan melalui tingkat regional. 57 . Yogyakarta. Jabotabek. 3.1.4 PENGKANALAN FREKUENSI SIARAN RADIO AM PADA PITA FREKUENSI HF (HF BROADCASTING) Propagasi siaran radio AM (SW) / HF Broadcasting terdiri dari dua macam. Surabaya. maka penggunaan frekuensi tersebut belum mendapatkan proteksi internasional. ITU menetapkan prosedur koordinasi internasional pada Artikel 12 Radio Regulation.

Karenanya.1 LATAR BELAKANG Kekacauan pemberian izin frekuensi penyiaran akibat eforia otonomi daerah dan tumpang tindih kewenangan Pemerintah Pusat (Depkominfo).2 PERENCANAAN FREKUENSI PENYIARAN DIGITAL 3. Sedangkan dalam proses koordinasi. selama ini dilakukan oleh RRI sebagai salah satu anggota aktif ABU Dengan dikembangkannya teknologi penyiaran digital pada pita frekuensi HF ini.38/2007 sebagai pengganti PP.Artikel 12 Radio Regulation-ITU mengharuskan setiap negara untuk melakukan pendaftaran frekuensi stasiun radio HFBC ke ITU secara berkala 2 kali setahun. Hal ini ditambah lagi dengan telah beroperasinya sejumlah Siaran TV analog dan radio siaran AM/FM yang tidak mengikuti master plan frekuensi semisal yang memiliki izin Pemda. atau bahkan tidak memiliki izin sama sekali. 58 . 3. Menuntut Indonesia segera memulai proses migrasi analog ke digital secepatnya (terutama daerah Batam dan sekitarnya). KPI/KPI-D dan Pemerintah Daerah (Dinas Perhubungan). Ditjen Postel bekerjasama dengan Radio Republik Indonesia (RRI) melaksanakan pendaftaran tersebut.2. rekomendasi KPI/KPI-D. yang telah mulai proses digitalisasi lebih cepat. seperti dilakukan melalui konsorsium Digital Radio Mondiale (DRM). Dengan disahkannya PP No.2 PRINSIP-PRINSIP DIGITAL PERENCANAAN FREKUENSI PENYIARAN Teknologi Digital memberikan peningkatan efisiensi berlipat-lipat (pada TV s/d 18 kali lipat) daripada penggunaaan frekuensi oleh TV/Siaran radio Analog.25/2000 tentang kewenangan pemerintah pusat dan pemda memberikan kepastian hukum bagi industri dengan diberikannya kembali kewenangan pengelolaan spectrum frekuensi kepada instansi yang kompeten yaitu Ditjen Postel-Depkominfo. dan bisa meningkat lagi dengan kemajuan teknologi kompresi. maka sebaiknya Indonesia juga ikut berperan dalam berkoordinasi dalam penggunaan pita frekuensi HF untuk Penyiaran ini di forum ITU.2. Koordinasi frekuensi perbatasan dengan negara tetangga Singapura dan Malaysia. 3. salah satu solusi kekacauan frekuensi ini adalah secepatnya mengimplementasikan penyiaran digital di Indonesia.

dan menggunakan potensi industri manufaktur dalam negeri seperti Polytron. dan program tambahan lain dengan kualitas lebih bagus dan kuantitas lebih banyak. diharapkan bisa menurunkan harga pesawat penerima TV Digital dan juga set-top-box DVB-T b. harus menggunakan UU Telekomunikasi No. Akan tetapi ketentuan UU Penyiaran No. 3. sebagai penyelenggara jaringan tetap tertutup.32 tahun 2002. satelit dan microwave link) sangat penting untuk cepatnya penerapan migrasi penyiaran analog ke digital.36 tahun 1999.000. 2. TV digital ini merupakan salah satu contoh nyata konvergensi ICT. lokal. pendidikan. Tersedianya “receiver” (pesawat penerima) murah a. 59 . Tersedianya “killer content / killer application” yang meliputi layanan program TV siaran nasional. Idealnya memang perlu dilakukan revisi UU Penyiaran dan Telekomunikasi agar tidak terjadi kesulitan pemahaman regulasi di kemudian hari.000. 200. Set-Top-Box DVB-T diharapkan dapat mencapai sekitar US$20 = Rp. Di Singapura dan Malaysia sudah mencapai harga US$ 30. Oleh karena itu dalam implementasi penyelenggaraan jaringan multipleks Siaran TV digital. 200.Tim Nasional merekomendasikan pemisahan yang jelas dan tegas antara penyelenggara infrastruktur (penyelenggara multipleks) dengan lembaga penyiaran eksisting (konten). Sedangkan lembaga penyiaran akan menjadi penyelenggara konten. Pemanfaatan infrastruktur eksisting seperti tower. jaringan transmisi (fiber optic. dsb. Panasonic Gobel. Dengan potensi pasar Indonesia sangat besar. Receiver DAB diharapkan bisa mencapai harga Rp. Hal ini hanya dapat diterapkan pada dunia penyiaran analog seperti Siaran radio AM/FM dan Siaran TV Analog. sendiri sebenarnya melarang lembaga penyiaran radio swasta dan jasa penyiaran televisi masing-masing menyelenggarakan lebih dari 1 (satu) siaran dengan 1 (satu) saluran siaran pada 1 (satu) cakupan wilayah siaran. Kunci suksesnya migrasi penyiaran analog ke digital antara lain ditentukan oleh faktor-faktor sebagai berikut: 1.

IMT-Advanced. serta kondisi adopsi Negara-negara lain yang berdekatan menjadi sangat penting.5 – 108 MHz) o Penggunaan teknologi / standar saat ini : Siaran radio FM (Analog) o Saat ini digunakan untuk kanal frekuensi Siaran radio FM Analog bagi Lembaga Penyiaran Publik (RRI). DVB-H. dsb.2. Media-Flo (Qualcomm). o Potensi teknologi / standar digital : Digital Audio Broadcast (DAB). DVB-H Digital Video Broadcasting – Handheld). Lembaga Penyiaran Swasta dan Lembaga Penyiaran Komunitas o Potensi Teknologi / Standar Digital : FM RDS. o Saat ini sebagian besar digunakan untuk kanal frekuensi TV siaran VHF analog oleh lembaga penyiaran publik (TVRI) dan lembaga penyiaran swasta di beberapa tempat. WiMax.5 – 1606. dsb.3 PERENCANAAN FREKUENSI PENYIARAN DIGITAL Perencanaan frekuensi penyiaran dapat dijelaskan sebagai berikut:  Pita Frekuensi MF (526. FM IBOC Pita Frekuensi VHF Band III (174 . karena Indonesia menggunakan standar PAL untuk TV Analog.3. serta Negara-negara tetangga yang berdekatan menggunakan standar DVB-T. Pita Frekuensi UHF Band IV/V (470 – 806 MHZ) o Penggunaan teknologi / standar saat ini : Siaran TV UHF (Analog) o Saat ini digunakan untuk kanal frekuensi Siaran TV UHF Analog oleh lembaga penyiaran publik (TVRI) dan lembaga penyiaran swasta di beberapa tempat. maka lebih menguntungkan dipilih DVB-T sebagai standar TV Digital. Digital Multimedia Broadcast (DMB). volume produksi massal.5 kHz) o Penggunaan teknologi / standar saat ini : Siaran radio AM (Analog) o Saat ini digunakan untuk kanal frekuensi Siaran radio AM Analog bagi Lembaga Penyiaran Publik (RRI) dan Lembaga Penyiaran Swasta o Potensi Teknologi / Standar Digital : Digital Radio Mondiale (DRM). o Potensi teknologi / standar digital : DVB-T (Digital Video Broadcasting-Terrestrial). AM IBOC Pita Frekuensi VHF Band II (87. Dalam kasus TV Digital.230 MHz) o Penggunaan teknologi / standar saat ini : TV siaran VHF (analog).    Dalam pemilihan standar penyiaran digital. Hal ini telah ditetapkan oleh Depkominfo berdasarkan 60 . faktor “sejarah”.

61 . Ringkasan perencanaan frekuensi penyiaran digital dapat dilihat pada tabel 16 berikut ini. 7 Tahun 2007.Permen No. Sehingga untuk standar-standar pada pita frekuensi lainnya sebaiknya dipilih standar yang kompatibel dengan DVB-T seperti DAB pada pita VHF dan DRM pada pita frekuensi LF/MF/HF.

DVB-H. PC. dsb DAB+ teknologi kompresi lebih baik. RINGKASAN PERENCANAAN FREKUENSI PENYIARAN DIGITAL PITA FREKUENSI VHF Band III PITA FREKUENSI (MHz) 170 – 230 MHz POTENSI STANDAR TEKNOLOGI PENYIARAN DIGITAL DAB (Digital Audio Broadcasting). PC. dan DAB+ POTENSI JUMLAH PROGRAM / KONTEN DLM SATU WILAYAH LAYANAN 28 konten audio digital per 7 MHz Disiapkan 3 kanal RF 7 MHz per wilayah. NO 1 KETERANGAN Free-to-air DAB Receiver audio digital tersendiri atau terintegrasi dengan tape mobil. Receiver tersendiri atau terintegrasi dengan telepon genggam. notebook. dsb Potensi 80 s/d 100 program audio digital Multimedia Broadcasting DMB. dsb TBD 62 . notebook.TABEL 16. jumlah program lebih banyak Free-to-air atau layanan berbayar.

48) PITA FREKUENSI (MHz) 470 .  PITA FREKUENSI UHF (Pita Bawah. PC. Receiver tersendiri atau terintegrasi dengan telepon genggam. notebook. Layanan berbayar Free-to-air atau layanan berbayar.806 DVB-T TBD Media-Flo Mobile Broadband 3 L-band 1452 . set-top-box (dekoder) atau terintegrasi dengan PC. Ch.806 POTENSI STANDAR TEKNOLOGI PENYIARAN DIGITAL DVB-T POTENSI JUMLAH PROGRAM / KONTEN DLM SATU WILAYAH LAYANAN 4-6 konten per 8 MHz RF Standar Digital TV dengan MPEG-2 NO 2 KETERANGAN Free-to-air Receiver TV digital tersendiri.1492 Terrestrial DMB Terrestrial DAB TBD TBD TBD TBD   63 . dsb Free-to-air atau layanan berbayar. s/d Ch.62) 470 .49 . dsb UHF (Pita Atas. notebook. Free-to-air atau layanan berbayar.

notebook. dsb Receiver tersendiri atau terintegrasi dengan PC.1605 kHz Satellite DVB-S (Directvision) Digital Radio Mondiale POTENSI JUMLAH PROGRAM / KONTEN DLM SATU WILAYAH LAYANAN 5 transponder @ 24 MHz + 100 program SDTV MPEG-2 TBD 3 transponder @ 36 MHz + 100 program SDTV MPEG-2 TBD 2 transponder @ 72 MHz + 100 program SDTV MPEG-2 TBD (lebih efisien dari Analog) Set-top-box (dekoder) Layanan berbayar Receiver tersendiri atau terintegrasi dengan PC. notebook.30 MHz (HF Broadcast Band) Digital Radio Mondiale TBD (lebih efisien dari Analog) *TBD : to be determined (akan ditetapkan kemudian) 64 .2670 MHz POTENSI STANDAR TEKNOLOGI PENYIARAN DIGITAL Satellite DVB-S (Indovision) BWA (interactive) 5 Ext-C band 3500 .3700 MHz Satellite DVB-S (Telkomvision) BWA (interactive) 6 7 Ku-band LF/MF 11/13 GHz 520 . dsb Set-top-box (dekoder) Layanan berbayar KETERANGAN Set-top-box (dekoder) Layanan berbayar 8 HF 3 .  NO 4 PITA FREKUENSI S-band PITA FREKUENSI (MHz) 2520 .

Akan tetapi selama hampir 5 tahun dari 2002 sampai dengan awal tahun 2007.32 tahun 2002 tentang Penyiaran. Untuk keperluan migrasi frekuensi saat itu dari pengkanalan lama yang berbasis 350 kHz ke pengkanalan baru. di mana sejumlah Pemerintah Daerah memberikan izin siaran radio dan Siaran TV lokal berdasarkan 65 . distribusi kanal siaran radio FM tidak optimal.15 tahun 2003 tentang Rencana Induk (Master Plan) frekuensi radio penyelenggaraan telekomunikasi khusus untuk keperluan siaran radio FM. sehingga menghambat proses perizinan dan tidak memberikan kepastian hukum. Akibatnya. Hal tersebut diperparah dengan tuntutan dan eforia otonomi daerah. Ditjen Postel mendapat bantuan expert ITU untuk pembuatan master plan frekuensi siaran TV dan siaran radio FM. Sejak tahun 2002. Hal tersebut dilakukan dalam rangka penataan frekuensi Siaran radio FM se-Indonesia. regulasi teknis telah selesai disusun yaitu Kepmenhub No.3. Selain itu dengan berlakunya UU No. Ditjen Postel tidak mengeluarkan izin baru untuk siaran radio FM. Migrasi frekuensi siaran radio FM eksisting tersebut dilaksanakan dengan baik pada bulan Agustus 2004.3 KONDISI EKSISTING PERMASALAHAN 3. Pemberian Izin Frekuensi Siaran radio FM diberikan tanpa kerangka aturan teknis yang jelas dan benar.3.15A/2004 tentang Peralihan Kanal Frekuensi Siaran radio FM. menumpuk di kota-kota besar saja. Serta distribusi izin diberikan berdasarkan “first come first served” tanpa perencanaan dan kebijakan perizinan yang jelas.1 KONDISI EKSISTING PERMASALAHAN PERMASALAHAN DAN SIARAN ALTERNATIF RADIO FM PEMECAHAN DAN SOLUSI Sebelum Tahun 2002. diatur dalam Keputusan Dirjen Postel No. terjadi perselisihan cukup panjang antara Departemen Kominfo dan KPI mengenai kewenangan perizinan penyiaran. Pada peraturan tersebut telah ditentukan rincian distribusi kanal frekuensi siaran radio FM yang disusun dengan mengakomodasi jumlah dan distribusi siaran radio FM eksisting dan kondisi geografis / profil lokasi wilayah siaran di seluruh Indonesia. Dalam waktu satu tahun. Pengkanalan frekuensi masih dilakukan tidak sesuai dengan standar ITU yaitu 350 kHz. Pada tahun 2002. mengharuskan Ditjen Postel untuk bersama-sama dengan instansi terkait seperti Komisi Penyiaran Indonesia sebelum memberikan izin.

akan tetapi revisi tersebut bersifat melengkapi dan menyempurnakan. Revisi tersebut bukan dimaksudkan untuk menggantikan distribusi siaran radio FM secara ekstrim. Di antara penyempurnaan ketentuan yang direncanakan antara lain: 1.15/2003). 2.ketentuan salah satu ketentuan dalam PP No. seperti Batam. menyebabkan kualitas penerimaan siaran radio FM di beberapa lokasi seperti Jakarta. Penentuan distribusi kanal siaran radio FM di daerah perbatasan. dengan sebisa mungkin tidak mengubah distribusi kanal pada wilayah-wilayah siaran yang telah ditentukan dalam KM.15/2003. sehingga perlu kajian teknis dan alternatif pemecahan sebelum pertemuan. Pada KM. Tanjung Pinang yang berbatasan dengan Singapura dan Malaysia serta beberapa wilayah di provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur yang berbatasan dengan Malaysia. 3. SOLUSI PERMASALAHAN Saat ini Ditjen Postel sedang melakukan penyusunan revisi rencana dasar teknis frekuensi siaran radio FM (KM. Dengan semakin baiknya koordinasi antara Depkominfo dan KPI sejak awal tahun ini (2009). Bandung.15/2003 batas wilayah cakupan siaran hanya ditetapkan pada jarak dari pusat kota. 66 . Akibatnya. sehingga menimbulkan multi tafsir. Penentuan batas wilayah cakupan siaran (“service area”) yang lebih rinci dan tegas melalui pemetaan (mapping) wilayah cakupan siaran.25 tahun 2000 yang membolehkan Pemda memberikan izin frekuensi siaran radio dan Siaran TV lokal. terjadi kekacauan tumpang tindih kewenangan. IDASingapura yang dimulai tahun 2002 dan dilakukan pertemuan secara berkala. Penyempurnaan ketentuan teknis radio komunitas yang lebih ketat dan rinci. serta banyaknya izin siaran radio FM analog dikeluarkan oleh pemerintah daerah tanpa dikoordinasikan dengan Ditjen Postel. Penambahan wilayah layanan baru yang belum tercakup dalam KM. Bahkan beberapa kanal frekuensi ditetapkan tanpa mengikuti ketentuan Master Plan frekuensi. 4. maka dalam waktu tidak terlalu lama akan diadakan sejumlah Forum Rapat Bersama di berbagai daerah. ketidakpastian hukum.15/2003. mengalami gangguan di beberapa lokasi. Distribusi kanal siaran radio FM ini didapat dari sejumlah hasil koordinasi frekuensi perbatasan antara Ditjen Postel-Indonesia dengan MCMC-Malaysia.

Selain itu juga harus memperhatikan prosedur notifikasi dan koordinasi yang ditetapkan dalam perjanjian regional Geneva 1975 (GE-75) yang mengatur penggunaan frekuensi siaran radio LF/MF di Region 1 dan 3. Langkah Kelima: menyusun strategi pemecahan masalah bilamana kanal frekuensi yang diusulkan. sebelum tahun 2002 izin siaran radio AM diberikan berdasarkan “first come first served” tanpa perencanaan dan kebijakan perizinan yang jelas.3. distribusi kanal siaran radio AM tidak optimal. ternyata di lapangan telah diduduki oleh penyelenggara siaran Analog Analisa dan Evaluasi (bila perlu diulang (iterasi) lagi untuk mendapatkan hasil paling optimal) SIARAN RADIO AM DAN SOLUSI 3. Perencanaan frekuensi untuk siaran radio AM pada pita frekuensi LF/MF (MW) ini sebenarnya cukup rumit dan harus memperhatikan tidak hanya kondisi penggunaan frekuensi eksisting di Indonesia. Akibatnya. tetapi juga harus memperhatikan kondisi penggunaan frekuensi eksisting maupun yang direncanakan oleh negara-negara lain yang berdekatan dengan Indonesia yang terdapat pada Master Register frekuensi ITU (sudah dinotifikasi ke ITU). Secara ringkas.76/2003) Langkah Keempat: menyusun distribusi kanal frekuensi yang paling optimal memperhatikan hasil-hasil analisa sebelumnya. KM. menumpuk di kotakota besar saja.PRINSIP-PRINSIP DISTRIBUSI ALOKASI FREKUENSI SIARAN RADIO FM Berikut ini langkah-langkah yang dilakukan dalam hal distibusi alokasi frekuensi siaran radio FM: • • • • • • Langkah Pertama: Menentukan Matriks Protection Ratio antar Wilayah Layanan Langkah Kedua: menginventarisasi potensi program siaran di wilayah layanan dimaksud dari data pengukuran dan data pendudukan kanal siaran Langkah Ketiga: membandingkan dengan distribusi kanal frekuensi pada regulasi teknis eksisting (KM.2 KONDISI EKSISTING PERMASALAHAN PERMASALAHAN Seperti halnya siaran radio FM.15/2003. parameter teknis siaran radio AM dapat dijelaskan pada tabel 17 berikut ini: 67 .

Philipina. Kamboja. Mengidentifikasi data pemancar-pemancar siaran radio AM yang telah dinotifikasi di ITU sesuai ketentuan GE-75 baik yang berlokasi di Indonesia maupun yang berlokasi di negara-negara sekitar Indonesia seperti Australia. Timor Leste. Papua Nugini. Melakukan analisis interferensi baik terhadap kondisi siang hari maupun malam hari. Malaysia. Menyusun matriks protection ratio antara setiap wilayah siaran di Indonesia. India. dsb. 1st adjacent (selisih 9 kHz). Memetakan lokasi pemancar-pemancar tersebut di atas pada peta digital. Menghitung jarak minimum untuk kondisi co-channel.TABEL 17. (High Power) Konduktivitas (Conductivity) 3 dan 15 mS/m Protection Ratio : : 30 dB  Co–Channel : 9 dB  First Adjacent nd : -24 dB  2 Adjacent Kuat medan minimum (“Minimum : 70 dBuV/m Field Strength”) YANG 10 kW LANGKAH-LANGKAH PERENCANAAN FREKUENSI Dalam membuat perencanaan distribusi frekuensi Siaran radio AM di Indonesia. Vietnam.      68 . 2nd adjacent (selisih 18 kHz) Melakukan analisis interferensi untuk setiap pemancar terhadap lingkungan pemancar lain di sekitarnya untuk memastikan protection ratio di service area mencukupi. China. Thailand. Singapura. PARAMETER TEKNIS SIARAN RADIO AM DIGUNAKAN DALAM PERENCANAAN FREKUENSI Pita Frekuensi : 531 – 1602 kHz Spasi antar kanal : 9 kHz Lebar Pita (Bandwidth) 9 kHz Spasi kanal dalam suatu wilayah : 18 kHz layanan yang sama Daya Pancar (Power) 500 watt (Low Power). langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:    Menginventarisasi daftar pemancar siaran radio AM yang terdaftar di dalam database Ditjen Postel (yang telah memiliki izin stasiun radio) Menginventarisasi daftar pemancar Siaran radio AM yang beroperasi di lapangan berdasarkan hasil monitoring pendudukan frekuensi di setiap wilayah di Indonesia.

Melakukan koordinasi dan notifikasi ke ITU.3 KONDISI EKSISTING PERMASALAHAN Pita frekuensi VHF sejak tahun 1962 telah banyak dipergunakan oleh TVRI untuk memancarkan siaran ke seluruh Indonesia dari tingkat provinsi. sebagian besar menggunakan saluran VHF. mengoptimalkan penggunaan saluran VHF serta menghindari adanya perubahan yang terlalu banyak pada saluran VHF yang telah digunakan oleh TVRI. tidak berpedoman kepada suatu pola perencanaan saluran karena belum tersedianya rencana induk atau master plan frekuensi secara nasional. dengan sedapat mungkin tidak mengubah kondisi eksisting. Untuk memenuhi persyaratan teknis agar tidak terjadi interferensi antar stasiun pemancar. kabupaten sampai kecamatan dengan berbagai jenis kekuatan pemancar dari low power hingga high power.3. 69 . tidak sama dengan metode perencanaan frekuensi saluran TV UHF karena beberapa kondisi yang berbeda. VHF BAND III DAN SOLUSI 3. Belum tersedianya master plan frekuensi VHF ini tentunya akan menyulitkan Direktorat Jenderal Postel untuk menetapkan penggunaan saluran televisi VHF di Indonesia bagi para penyelenggara penyiaran televisi lainnya di suatu wilayah siaran. maka metode yang paling tepat atau memungkinkan dipakai adalah melalui pengkajian wilayah cakupan siaran terhadap peta daerah jangkauan siaran TVRI dan saluran frekuensi VHF yang sudah digunakan serta memperhatikan kondisi topografi di wilayah siaran yang direncanakan. Namun demikian.  Menyusun suatu distribusi alokasi frekuensi optimal berdasarkan protection ratio yang didapat. dalam penentukan saluran VHF yang akan digunakan di suatu wilayah siaran masih didasarkan pada hasil survey lapangan dan map survey. dengan melakukan terlebih dahulu koordinasi dengan negara-negara yang berdekatan yang berpotensi interferensi terhadap stasiun radio yang akan dinotifikasi tersebut. Saat ini jumlah lokasi pemancar TVRI di seluruh Indonesia sudah mencapai lebih kurang 385 buah. Metode yang digunakan dalam membuat perencanaan frekuensi saluran TV VHF yang dilaksanakan TVRI pada masa tahun 1970-an s/d 1990-an.

maka sebenarnya pengoperasian Siaran TV VHF Band III dapat dihentikan segera. Pemerintah menetapkan 3 poin utama terkait regulasi dan kondisi teknis yang harus dipenuhi untuk keperluan migrasi ke radio digital. siaran digital akan diatur melalui regulasi yang lebih spesifik yang ditetapkan berdasarkan rencana frekuensi nasional Perlengkapan DAB/DAB+ harus memenuhi standard nasional Indonesia (SNI) yang akan ditentukan kemudian Rencana sosialisasi akan dibuat Penyelenggaran siaran radio digital secara free-to-air melalui DAB sangat dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan kepadatan penggunaan siaran radio FM. 2.TRANSISI MIGRASI KE DIGITAL DI BAND VHF BAND III Sehubungan dengan rencana penghentian siaran analog di seluruh dunia. menetapkan bahwa DAB dan derivatifnya (DMB. Pada 15 April 2009. dsb) menjadi standar resmi siaran radio digital di Indonesia pada band III. 3. sehingga sulit diharapkan untuk dapat mengatasi permasalahan kepadatan Siaran radio FM di Indonesia. maka lebih baik konsentrasi perencanaan difokuskan pada transisi penyiaran analog ke penyiaran digital pada band VHF Band III ini. Bila penyelenggaraan multipleks TV digital (di Band UHF) diimplementasikan segera. Dari potensi teknologi penyiaran digital yang potensial di band III (lihat Tabel 16). terutama di kota-kota besar. maka perlu dirancang distribusi kanal frekuensi yang bisa mengimplementasikan DAB (Digital Audio Broadcasting) dan DMB (Digital Multimedia Broadcasting) secara proporsional. Sambil tentunya dalam implementasi migrasi tersebut. 70 . Ketiga poin tersebut adalah: 1. Keputusan Menteri Kominfo dikeluarkan. dapat berupa free-to-air ataupun berbayar. Gambar 4 dan Tabel 18 berikut ini menjelaskan mengenai efisiensi penggunaan frekuensi penyiaran digital di Band III VHF. dan terbatas dengan menyediakan empat s/d enam konten digital mobile multimedia. memperhatikan kondisi layanan Siaran TV analog VHF di seluruh wilayah Indonesia. Sampai tulisan ini dibuat (Juli 2009). Sedangkan model bisnis DMB terkait dengan penyelenggaraan telekomunikasi selular. DMB belum menyediakan aplikasi untuk siaran radio digital secara massal.

25 MHz dari 5A s/d 7D untuk penyelenggaraan multipleks free-to-air DAB secara nasional. Diusulkan untuk digunakan sebanyak 12 kanal DAB @1. Gambar 4 menjelaskan mengenai usulan konsep distribusi kanal Band III VHF untuk DAB free-to-air. sehingga dapat menampung sekitar 84 s/d 112 konten audio digital free-to-air di seluruh wilayah Indonesia. 71 .GAMBAR 4. yang implementasinya menggunakan infrastruktur dan distribusi wilayah siaran yang sama dengan penyelenggaraan multipeks DVB-T. PERBANDINGAN EFISIENSI DIGITAL DI VHF BAND III FREKUENSI PENYIARAN Untuk kualitas audio sedang (minimum acceptable). PENGKANALAN FREKUENSI DAB/DMB TABEL 18. maka diusulkan untuk disediakan 3 s/d 4 kanal RF 7 MHz. dengan wilayah layanan yang akan didefinisikan tersendiri. Untuk konten / program komunitas di suatu wilayah. direncanakan penggunaan 2 kanal yaitu 13E dan 13F. 160 kbps dibutuhkan menggunakan MP2 dan 48 kbps bila menggunakan HE AAC (High efficiency Audio Coding ). PERENCANAAN FREKUENSI DIGITAL AUDIO BROADCASTING (DAB) Berdasarkan perbandingan tersebut di atas.

yang menetapkan pengaturan teknis dan distribusi kanal negara-negara Eropa. Apalagi dengan semakin tingginya teknik kompresi audio digital. maka jumlah konten akan semakin banyak lagi dari waktu ke waktu. KONSEP DISTRIBUSI KANAL FREKUNESI BAND III VHF UNTUK DIGITAL AUDIO BROADCASTING (DAB) FREETO-AIR Untuk DABKomunitas Untuk DAB Multipleks Nantinya penyelenggara siaran radio AM dan FM eksisting hanya perlu menyediakan “konten” audio tanpa membangun infrastruktur sendiri. Sehingga akan sangat efisien.GAMBAR 5. Yang menjadi kunci adalah ketersediaan pesawat penerima dengan harga terjangkau. Secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut:        Minimum Field Strength (MFS) Protection Ratio DAB/DAB: Co-channel Protection Ratio DAB/DAB: Adjacent channel Protection Ratio TV/DAB: Co-channel Protection Ratio TV/DAB: Lower Adjacent Protection Ratio DAB/TV: Co-channel Protection Ratio DAB/TV: Lower Adjacent = = = = = = = 58 dBV/m 8 dB -40 dB 45 dB 24 dB -2 dB -29 dB 72 . Parameter teknis DAB yang digunakan dalam perencanaan kanal DAB diadopsi dari Final Act Maastricth 2002. dan jumlah program siaran audio yang cukup berlimpah.

perencanaan kanal TV Analog UHF memerlukan pembatasan-pembatasan sebagai berikut:   Tidak bisa digunakan kanal yang bersebelahan. langkah-langkah dalam perencanaan frekuensi DAB adalah sebagai berikut:    Menentukan alokasi kanal frekuensi DAB untuk kondisi semua stasiun TV analog dianggap sudah tidak ada (kondisi ideal).3. Untuk mempercepat migrasi penyiaran analog dan digital di Band III VHF ini. backhaul. Direncanakan penyelenggara mulipleks DAB dan DVB-T menggunakan infrastruktur yang sama dari mulai backbone. maka diusulkan tidak ada lagi perizinan baru TV analog di pita frekuensi ini. Pada tahap transisi. dan terdapat sejumlah kanal frekuensi yang kosong. Sehingga diharapkan dapat memudahkan implementasi penyelenggaraan multipleks DAB dan DVB. lokasi menara. maka seluruh TV analog dihentikan operasinya.secara efektif dan efisien dan sekaligus mempercepat implementasi penyiaran digital terrestrial di Indonesia.Untuk memudahkan implementasi.4 KONDISI EKSISTING UHF BAND IV DAN V DAN SOLUSI PERMASALAHAN Untuk suatu wilayah layanan. maka wilayah siaran digital pita VHF Band III ini mengikuti wilayah siaran penyiaran UHF Band IV dan V. Tidak bisa digunakan kanal yang berselisih 9. Menghitung semua kemungkinan interferensi saat pendudukan kanal DAB di suatu wilayah layanan tertentu. 73 . Sehubungan dengan masih adanya sejumlah transmisi TV analog di band VHF di seluruh wilayah Indonesia. Mengidentifikasi dan menetapkan prioritas stasiun TV analog yang ingin dilindungi pada saat transisi. dsb. PENYIARAN DIGITAL TERRESTRIAL LAINNYA IMPLEMENTASI PENUH MIGRASI ANALOG KE DIGITAL SETELAH Pada saat implementasi penuh penyiaran digital terrestrial di pita VHF Band III. maka implementasi multipleks DAB akan dilakukan dua tahap yaitu tahap transisi dan tahap implementasi penuh. Kanal frekuensi kosong itulah yang bisa didistribusikan untuk teknologi penyiaran digital terrestrial lain seperti Digital Multimedia Broadcasting (DMB) baik secara free-to-air maupun berbayar. 3.

DISTRIBUSI KANAL SIARAN TV UHF BERDASARKAN KEPMENHUB NO. Maka solusi kekacauan frekuensi ini adalah secepatnya mengimplementasikan penyiaran digital di Indonesia. 5 lembaga penyiaran nasional terbatas. Kenyataannya dalam era otonomi daerah. Saat ini berdasarkan Kepmenhub No. TABEL 19. yang pertama adalah penyelesaian kasus TV analog eksisting dan yang kedua migrasi penyiaran analog ke digital. Tabel 19 berikut ini menjelaskan distribusi kanal Siaran TV di pita frekuensi UHF di Indonesia. pada pita frekuensi UHF terdapat 42 kanal dari kanal 22 s/d kanal 61. maka diusukan kebijakan dan regulasi sebagai berikut:  Bilamana dalam suatu wilayah siaran.76/2003.MENGENAI RENCANA DASAR TEKNIS SIARAN TV ANALOG Jumlah kanal frek maksimum 14 7 Kanal untuk TV swasta 11 5 Kanal untuk TV Publik 1 1 Kanal Transisi TV Digital 2 1 Wilayah Layanan Jabotabek dan Ibu Kota propinsi Kota lainnya Permasalahan dengan kondisi saat ini adalah bahwa jumlah TV nasional terlalu banyak: 5 lembaga penyiaran nasional. Teknologi Digital memberikan peningkatan efisiensi berlipat-lipat (kasus TV s/d 18 kali lipat) daripada penggunaaan frekuensi oleh TV/siaran radio analog.32 tahun 2002 tentang Penyiaran. Sedangkan sesuai dengan semangat UU No. TAHAP PERTAMA : PENYELESAIAN KASUS TV ANALOG EKSISTING Berdasarkan identifikasi kemungkinan kasus yang terjadi dan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 1 TVRI daerah. Tidak bisa digunakan semua. jumlah pemohon izin TV analog sesuai dengan ketersediaan kanal dalam Rencana Induk 74 . maka diusulkan pemecahan secara bertahap yang perlu disiapkan sekaligus. diperlukan sejumlah saluran untuk program / konten lokal.76 tahun 2003 tentang Rencana Induk Frekuensi TV siaran UHF (Analog). sejumlah Pemerintah Daerah telah memberikan izin kepada TV lokal yang keberadaannya tidak dapat diabaikan dan sejumlah program dan tayangannya sudah diterima masyarakat setempat. karena harus dididistribusikan kepada daerah-daerah layanan yang bersebelahan. 1 TVRI pusat. Berdasarkan hal-hal tersebut.

frekuensi 518 s. tidak boleh mengganggu dan mengklaim proteksi dari penggunaan frekuensi lainnya. o Pada masa transisi sebelum tersedianya penyelenggara multipleks digital di wilayah layanan dimaksud. TAHAP KEDUA: TRANSISI MIGRASI KE DIGITAL DI BAND UHF Pada perencanaan kanal televisi digital akan disediakan 6 kanal untuk setiap wilayah layanan. maka alternatif pemecahan permasalahan adalah sebagai berikut: o Para pemohon membentuk konsorsium penyelenggaraan multipleks TV digital pada kanal yang disediakan untuk TV digital (2 kanal). di mana kanal yang direncanakan untuk transisi digital di dalam master plan KM. penyelenggara bersangkutan harus bersedia mematikan operasinya. dan menyerahkan frekuensinya kembali kepada Ditjen Postel. maka dilakukan proses seleksi untuk menetapkan penyelenggara sesuai dengan jumlah kanal yang tersedia. lembaga penyiaran bersangkutan masih dapat beroperasi dengan catatan. Konsep awal penggunaan kanal frekuensi penyiaran Digital pada band UHF sebagai berikut:  pada band IV dan V bawah. Depkominfo dengan KPI. maka diusulkan kebijakan sebagai berikut: o Secara prinsip pengoperasian lembaga penyiaran bersangkutan di frekuensi dimaksud harus dihentikan. Bilamana dalam suatu wilayah siaran. o Bila para pemohon hanya menginginkan untuk menjadi TV analog.  (“Master Plan”) TV UHF .d 624 MHz terdiri 16 kanal (kanal 27 s. untuk digunakan nantinya bagi penyelenggaraan multipleks TV digital. serta bersedia menghentikan operasinya pada masa waktu tertentu (saat penyelenggara multipleks TV digital beroperasi di wilayah tersebut). Dalam hal kondisi tertentu.d 43) akan direncanakan untuk DVB-T 75 . o Setelah penyelenggaraan multipleks TV digital tersedia di wilayah layanan dimaksud. jumlah pemohon izin TV analog sesuai dengan ketersediaan kanal dalam Rencana Induk (“Master Plan”) TV UHF. sehingga dapat menampung 8 s/d 12 program / konten lembaga penyiaran di wilayah bersangkutan. Lembaga penyiaran bersangkutan dapat menjadi penyedia konten bagi penyelenggaraan multipleks TV Digital di wilayah dimaksud.76/2002 sudah diduduki melalui izin Pemerintah Daerah. maka izin dapat diberikan melalui forum rapat bersama Pemerintah c.q.

 free-to-air dengan bandwidth masing-masing kanal sebesar 8 MHz. agar lebih efisien dalam pengembangan jaringannya. maka kasus di Inggris dapat dijadikan contoh paling sukses dalam hal penetrasi Siaran TV digital di dunia. PENYELENGGARAAN MULTIPLEKS TV DIGITAL UHF Diperlukan suatu model bisnis penyelenggara multipleks TV Digital ”free-to-air” yang tepat dan berkelanjutan. melainkan hanya di dalam satu wilayah layanan. dengan maksud memungkinkan dilaksanakannya SFN seoptimal mungkin. Program / konten unggulan yang perlu dibawa antara lain meliputi:   Program siaran TV swasta nasional Program siaran TV publik nasional (TVRI) 76 . agar masyarakat dirangsang untuk segera dan merasa perlu untuk membeli set-top-box Digital TV UHF. Bilamana migrasi TV analog ke digital telah diselesaikan semuanya. Karena distribusi kanal-kanal TV bervariasi di wilayah layanan. Dari contoh kasus seluruh mplemntasi migrasi penyiaran analog ke digital di negaranegara lain. maka Pemerintah dapat mengatur kembali kanal frekuensi yang telah diberikan untuk TV digital. Penyelenggara jaringan TV digital (multipleks) dapat membawa 4 sampai dengan 6 program sekaligus dalam 1 kanal TV standar DVB-T 8 MHz. Perlu dirancang sedemikian rupa sehingga penyediaan layanan / konten pada multipleks TV digital UHF memiliki konten unggulan. pada band V atas frekuensi 606 s/d 806 MHz terdiri dari 20 kanal (kanal 42 s. Perlu dipisahkan penyelenggara jaringan TV digital dari lembaga penyiaran Analog saat ini. Konsep SFN di dalam suatu wilayah layanan dilaksanakan dengan satu pemancar induk dengan pemancar berdaya pancar besar dengan antenna pemancar tinggi. maka tidak bisa diberikan lisensi untuk frekuensi tunggal untuk SFN (Single Frequency Network) secara nasional. Lembaga penyiaran TV analog agar lebih berkonsentrasi sebagai ”content aggregator”.d 62) akan dipersiapkan untuk mobile multimedia dengan bandwidth masing-masing kanal sebesar 8 MHz. serta sejumlah pemancar pendukung (gap filler) yang memberikan penguatan sinyal di daerah-daerah yang kualitas penerimaannya dari pemancar utama belum baik.

Maka satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan izin kepada penyelenggara multipleks yang terpisah dari lembaga penyiaran eksisting. Apalagi di era kompetisi bebas antara lembaga penyiaran swasta. Penyelenggara multipleks TV digital diharapkan dapat membangun pemancar di menara-menara TV analog eksisting atau menara lainnya yang berdekatan yang lokasinya selama ini menjadi referensi bagi masyarakat untuk mengarahkan antenna TV-nya. maka simulcast untuk masing-masing lembaga penyiaran TV analog adalah hal yang tidak mungkin dilakukan. dan memberikan jaminan akses terbuka dan non diskriminasi terhadap seluruh lembaga penyiaran eksisting maupun yang akan mengisi program / konten pada multipleks penyiaran digital dimaksud. di mana terjadi hak ekslusivitas terhadap program-program suatu kelompok usaha tertentu. satelit dan microwave link). jaringan transmisi (fiber optic. maka dikhawatirkan bila izin penyelenggara jaringan multipleks diberikan kepada salah satu lembaga penyiaran eksisting. dsb Program siaran radio Dengan kondisi eksisting di mana terlalu banyak izin frekuensi diberikan kepada penyelenggara Siaran TV analog. pada kasus lembaga penyiaran berbayar melalui satelit. Qchannel. maka yang bersangkutan dapat menghalangi kompetitornya menyalurkan program / konten melalui multipleks TV digital dimaksud.   Program siaran TV swasta lokal Program siaran TV pendidikan: TV edukasi Depdiknas. Sehingga diharapkan masyarakat akan terjamin mendapatkan akses terhadap program eksisting menggunakan pesawat penerima TV dan antena penerima TV terrestrial eksisting dengan tanpa merubah arah antena. Masyarakat tinggal membeli ”set-top-box” / dekoder TV digital untuk mendapatkan layanan ”free-to-air” TV digital terrestrial dengan jumlah program yang jauh lebih banyak dan kualitas siaran yang jauh lebih baik dibandingkan TV analog. 3.4 PENYELENGGARAAN JARINGAN MULTIPLEKS TERRESTRIAL BROADCASTING (DVB-T DAN DAB) DIGITAL Salah satu kunci sukses dari implementasi Digital Terrestrial Broadcasting (Migrasi Penyiaran Analog ke Digital) adalah penggunaan / pemanfaatan infrastruktur eksisting seperti tower. 77 . maupun terhadap konten-konten unggulan lainnya. Kecenderungan “penjegalan” akses program/konten tersebut sudah terbukti.

PGN. Hal ini penting untuk memberikan waktu bagi masyarakat untuk dapat menyiapkan diri beralih 78 . Indosat. satelit dan microwave link paling luas se-Indonesia adalah dioperasikan oleh Telkom. Sehingga diharapkan lembaga penyiaran dapat lebih fokus pada peningkatan kualitas program siaran. pada infrastruktur jaringan yang sama dapat dibangun sistem akses DVB-T dan DAB sekaligus dengan. Sehingga dalam masa transisi ini akan terjadi “simulcast” (simultan broadcast) antara penyiaran analog dan digital. Identifikasi kondisi infrastruktur telekomunikasi eksisting paling potensial di Indonesia adalah sebagai berikut: • Distribusi dan lokasi menara TVRI dan/atau RRI dapat mencakup 80% wilayah cakupan di Indonesia. Tentunya dalam masa transisi migrasi penyiaran analog ke digital. memberikan komitmen untuk membuka akses kapasitas infrastruktur kepada penyelenggara konten/lembaga penyiaran secara non diskriminasi dan akses terbuka. yaitu jaringan infrastruktur serat optik Excelcomindo Pratama. Bali dan juga seluruh kota/kabupaten di Indonesia Jaringan infrastruktur fiber optik. Diharapkan dengan konsep seperti di atas. sehingga biaya operasional lembaga penyiaran dari sisi penggunaan infrastruktur akan jauh lebih efisien dan hemat. bukit. lembaga penyiaran Siaran TV analog eksisting masih dapat mengoperasikan infrastrukturnya sampai dengan masa izinnya selesai. maka seluruh lembaga penyiaran akan migrasi menjadi hanya penyedia “konten” saja. Sehingga. dsb) Distribusi dan menara Telkom dan Telkomsel mencakup hampir /d seluruh kecamatan di Jawa. Dengan variasi infrastruktur di Indonesia Barat. serta hampir kebanyakan lokasi menara sangat baik dengan memperhatikan profil geografis paling optimal (letak menara pemancar di gunung.DVB-T dan DAB akan menggunakan asumsi service area yang sama berdasarkan master plan frekuensi TV UHF. sehingga masyarakat dapat menerima siaran analog dan digital sekaligus. ICON+. • • Penetapan Penyelenggara Multipleks Digital diusulkan untuk dilakukan melalui mekanisme seleksi dengan kriteria sebagai berikut: • • • • memiliki infrastruktur dasar sebagai penyelenggara multipleks memanfaatkan seoptimal mungkin infrastruktur telekomunikasi memberikan komitmen penggelaran jaringan infrastruktur dan pemasangan pemancar DVB-T dan DAB di seluruh wilayah Indonesia dalam jangka waktu secepat-cepatnya. dsb. Sehingga penetrasi jaringan dan servis DVB-T dan DAB akan sangat cepat dan efisien.

Padahal pemanfaatan bersama menara dan infrastruktur lainnya seperti antenna. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dan juga pengalaman pengembangan layanan IMT-2000 (3G). exciter (pemancar) dan antenna. 79 . Bila dibandingkan dengan Negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. lokasi menara mutlak harus berada di lokasi yang sama. distribusi kanal dan program akan menjadi jauh lebih mudah sehingga setiap Negara mendapatkan jatah yang sama secara “fair”. sangat dianjurkan penggunaan infrastruktur yang sama. 3. Johor. Bagi beberapa lembaga penyiaran siaran TV analog dengan spasi lebih dari 2 kanal. catu daya sangat memberikan efisiensi dalam hal pengeluaran operasional (OPEX). Untuk siaran TV analog. Bahkan sebenarnya untuk radiosiaran FM dari 2 stasiun dengan spasi frekuensi lebih dari 400 kHz. Hal ini telah dilakukan di banyak negara di dunia dan mulai diterapkan juga di Indonesia. Singapura berharap pada tahun 2012 sudah bisa meninggalkan penyiaran analog. diperkirakan Implementasi penyiaran digital nantinya akan dimulai di daerah-daerah sebagai berikut: Jakarta dan daerah sekitarnya (Jabotabek).dari penyiaran analog ke penyiaran digital tanpa harus kehilangan layanan / program yang diminatinya. pemancar. demikian pula Malaysia sekitar tahun 2015-an. Bandung. maka Indonesia relatif jauh ketinggalan. Hubungan antara studio dan pemancar (STL) bisa menggunakan IP based melalui jaringan infrastruktur penyelenggara telekomunikasi eksisting. Daerah-daerah lain akan menyusul dalam jangka waktu tidak terlalu lama. Sedangkan untuk penyelenggara multipleks DVB-T dan DAB. di mana bila dalam lingkungan penyiaran digital. Masa transisi penyiaran analog ke digital sampai dengan implementasi penuh penyiaran digital / “digital switchover) belum ditentukan secara resmi oleh pemerintah. Di daerah Batam. sinkronisasi masa transisi akan menjadi sangat penting. bisa sharing menara.5 PENGGUNAAN BERSAMA MENARA DAN INFRASTRUKTUR PENYIARAN TERRESTRIAL (INFRASTRUCTURE SHARING) Salah satu kesulitan terbesar dalam penerapan master plan frekuensi TV Siaran dan Radio Siaran FM adalah distribusi lokasi tower yang sangat tersebar bahkan di wilayah layanan yang sama. Bali. Diharapkan di kota-kota besar dapat dilakukan jauh lebih cepat lagi. sebetulnya bisa menggunakan menara dan antena yang sama ditambah penggunaan “combiner” dan “filter” yang tepat dengan biaya tidak terlalu mahal. Medan dan Makassar. Singapura. Diperkirakan paling tidak “digital switchover” di Indonesia terjadi sekitar tahun 2020. Surabaya. Batam.

dsb.15/2003 dan Kepmenhub No. bukit. Sedangkan. spesifikasi teknis alat dan perangkat penyiaran digital terrestrial sedang disusun.6 REGULASI TEKNIS SISTEM PENYIARAN Terdapat sejumlah regulasi teknis standar dan spesifikasi perangkat pemancar sistem telekomunikasi bergerak selular yang telah ditetapkan oleh Ditjen Postel.Untuk tiap wilayah layanan.36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi. Menara Eiffel. Sebagai catatan bahwa pada saat tulisan ini dibuat. gunung. akan ditentukan dalam regulasi teknis yang saat ini (Juli 2009) sedang disusun. Pembangunan menara bersama bila direncanakan dengan baik. Penyempurnaan batasan teknis tersebut diperlukan untuk memberikan rincian khususnya terkait masalah topografi wilayah serta pemetaaan wilayah cakupan yang perlu. setiap penggunaan frekuensi radio harus mendapatkan izin dari menteri yang membidangi sektor telekomunikasi. dsb. Penerapan hal tersebut dapat disiapkan dan direncanakan dengan berkoordinasi dengan pemda setempat (disesuaikan dengan rencana pengembangan daerah setempat). 3. Hal ini berlaku pula untuk proses perizinan siaran radio dan 80 . Kuala Lumpur Tower. tinggi antenna. tinggi antenna. lokasi nominal pemancar.76/2003. misalnya: Sydney Tower. Tokyo Tower. dapat dijadikan objek pariwisata. wilayah cakupan siaran untuk siaran radio FM dan siaran TV UHF analog telah ditetapkan dalam Kepmenhub No. batasan teknis daya pancar. antara lain sebagai berikut:    KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 85/DIRJEN/1999 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT SIARAN RADIO KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 169 /DIRJEN/2002 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEVISI SIARAN SISTEM ANALOG PERATURAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 268 / DIRJEN / 2005 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT SET TOP BOX SATELIT DIGITAL Semua ketentuan teknis tersebut dapat di ‘download” di website Ditjen Postel pada bagian Regulasi Standardisasi. Peraturan teknis mengenai batasan daya pancar. perlu dicari lokasi-lokasi menara paling optimal seperti gedung pencakar langit. wilayah cakupan siaran dan distribusi alokasi kanal frekuensi dalam penyiaran digital terrestrial. yang dalam hal ini proses pemberian izin dilakukan oleh Ditjen Postel. seperti halnya dilakukan di banyak Negara. PERIZINAN DAN APLIKASI IZIN Berdasarkan UU No. 4.

akhirnya pada sekitar bulan Juli 2007. dengan diselenggarakannya sejumlah forum rapat bersama yang memberikan hasil yang kondusif bagi industri penyiaran. Hal ini diperumit dengan konflik panjang antara Pemerintah Pusat (c. Dengan perjuangan tak kenal lelah dan putus asa. di mana izin frekuensi radio untuk siaran radio dan siaran TV diberikan oleh Ditjen Postel-Dephub. Proses perizinan bagi izin penyelenggaraan penyiaran maupun izin penggunaan frekuensi bagi layanan penyiaran nirkabel dapat dibagi dua kelompok.25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah daerah dan kewenangan propinsi sebagai daerah otonomi disahkan. yang memberikan kepastian hukum bagi industri dengan memberikan kembali kewenangan pengelolaan spektrum kepada instansi yang kompeten yaitu Ditjen PostelDepkominfo.32 tahun 2002 mengenai Penyiaran. sangat sulit dan tidak efektif dilakukan. hubungan antara Depkominfo dengan KPI mulai menunjukkan hubungan membaik. Pay-TV Satelit.siaran TV. BWA. karena definisi siaran radio Lokal dan siaran TV Lokal sendiri tidak jelas dan tidak diatur dalam UU Penyiaran No. terjadi tumpang tindih kewenangan pemberian izin antara ditjen postel dengan Pemerintah Daerah baik Pemda Tingkat I dan Pemda Tingkat II. yaitu: • Perizinan Lembaga Penyiaran Analog (siaran radio AM. Selama hampir 7 tahun. dsb) 81 . Akibatnya muncul beragam bentuk rekomendasi bahkan izin yang dikeluarkan sejumlah Pemerintah Daerah Tingkat I bahkan Pemerintah Daerah Tingkat II di berbagai daerah di Indonesia. setelah Peraturan Pemerintah No. Di sisi lain.q.38/2007 sebagai pengganti PP.25/2000 tentang Kewenangan pemerintah pusat dan pemda. Secara teknis. sebetulnya secara teknis jatah kanal frekuensi untuk siaran radio ataupun siaran TV untuk suatu daerah layanan adalah sama. Selain itu. Padahal. disahkan PP No. perlahan-lahan situasi tumpang tindih ini mulai dibenahi.24 tahun 1997 maupun UU No. Syukur alhamdulillah. Depkominfo) dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) di mana selama hampir 5 tahun dari tahun 2002 s/d awal 2007. yang dalam pengeluaran izin tersebut belum dikoordinasikan dengan Ditjen Postel. pembatasan daerah cakupan siaran radio dan siaran TV eksisting berdasarkan batas administratif. tidak terjadi situasi kondusif antara kedua lembaga tersebut.36 tahun 1999 tentang telekomunikasi. semenjak berlakunya UU No. Jadi sulit dibedakan kanal frekuensi mana untuk lokal dan non-lokal. FM serta siaran TV Analog) • Perizinan penyelenggara jaringan telekomunikasi tertutup / penyelenggara multipleks (TV Digital. maka izin penyelenggaraan siaran dikeluarkan melalui forum bersama antara Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Pemerintah.

bilamana memenuhi syarat.1 PERIZINAN PENYIARAN ANALOG Dalam hal perizinan lembaga penyiaran analog. Penyelenggara yang bersangkutan diwajibkan mengisi aplikasi formulir Izin Stasiun Radio (ISR) untuk mengisi data-data administratif dan teknis. jumlah pemohon yang lolos persyaratan kurang atau sama dengan jumlah kanal frekuensi yang disediakan. Hal ini dimaksudkan agar migrasi penyiaran TV analog ke TV digital dapat berjalan dengan baik. 4. sesuai peraturan perundang-undangan penyiaran. SDM. maka izin penyelenggaraan penyiaran (IPP) dapat langsung diberikan. maka lembaga penyiaran bersangkutan dapat segera membangun infrastrukturnya termasuk menyiapkan pemancar. dari sisi teknis. serta rencana pembangunan infrastruktur. Dengan akan dimulainya penyelenggaraan TV Digital. maka ISR diberikan setelah yang bersangkutan membayar BHP Frekuensi sesuai ketentuan yang berlaku. Sesuai ketentuan yang berlaku.q Ditjen SKDI dan Ditjen Postel) serta KPI. lembaga penyiaran yang bersangkutan dikenakan kewajiban uji coba selama satu tahun. studio. 82 .2 PERIZINAN PENYELENGGARA JARINGAN TELEKOMUNIKASI UNTUK PENYELENGGARA MULTIPLEKS TV DIGITAL DVB-T DAN DAB Tim Nasional Migrasi Penyiaran Analog ke Digital (Timnas) telah menghasilkan Buku Putih. KPI melaksanakan evaluasi dengar pendapat. Setelah permohonan dan data teknis dievaluasi. dsb. menentukan DVB-T sebagai standar nasional Fixed Digital Terrestrial Broadcasting Free-to-Air.4. Bila dalam forum rapat bersama. pemohon mengajukan izin melalui KPI atau KPI Daerah. maka permohonan ditolak. maka perlu dilakukan proses seleksi. Setelah melakukan evaluasi. Bilamana hasil evaluasi teknis menunjukkan bahwa prediksi wilayah layanan lembaga penyiaran bersangkutan dengan menggunakan parameter teknis yang diajukan melebihi batasan wilayah layanan sesuai izin. sebelum mendapatkan Izin Tetap. Dalam masa uji coba. Setelah IPP diberikan. maka diajukan rekomendasi pada forum rapat bersama antara pemerintah (Depkominfo c. akan diukur kualitas penerimaan siaran pada wilayah siaran yang ditentukan agar sesuai dengan batasan izin yang ditentukan. IPP diberikan termasuk dengan kanal frekuensi dan wilayah siaran yang ditentukan. maka izin baru untuk TV analog dibatasi dan bahkan dihentikan. dan yang bersangkutan harus memperbaiki parameter dan konfigurasi teknis lagi. Salah satu butir penting dari Rekomendasi Buku Putih adalah memisahkan antara penyelenggaraan infrastruktur penyiaran digital (multiplex) dengan lembaga penyiaran eksisting (penyelenggara konten). Bila tidak.

2002 terdapat sejumlah ketentuan yang membatasi dan praktis ketentuan tersebut hanya dapat diterapkan untuk Penyiaran Analog. implementasi TV digital untuk izin penyelenggaraan multipleks. 20. 1 lembaga penyiaran. Indonusa Telemedia. Solusinya adalah izin yang digunakan bagi penyelenggara infrastruktur (satelit / kabel) adalah penyelenggaraan jaringan tetap tertutup seperti Media Citra Indostar. maka diberikan izin sebagai penyelenggara jaringan tetap tertutup. Pada Pasal 16. serta Direct Vision. Di antaranya pada pasal 20. Bagi penyelenggara multipleks TV Digital (DVB-T) maupun DAB. Pendekatan tersebut di atas dapat dianalogikan seperti penyelesaian permasalahan izin lembaga penyiaran berlangganan melalui satelit pada bulan Mei 2007. Hal ini sesuai dengan rekomendasi tim nasional yang jelas dan tegas meminta pemisahan antara penyelenggara infrastruktur (penyelenggara multipleks) dengan lembaga penyiaran eksisting (konten). lembaga penyiaran disyaratkan bidang usahanya hanya menyelenggarakan jasa penyiaran. satu wilayah layanan.32 Penyiaran Th. Lembaga penyiaran swasta dibatasi 1 frekuensi. menggunakan UU Telekomunikasi. Penyiaran Digital memberikan kualitas siaran yang lebih bagus. Padahal pada penyiaran digital untuk satu frekuensi. serta efisiensi infrastruktur termasuk frekuensi yang sangat signifikan. Solusinya dari permasalahan ini adalah pemisahan antara penyelenggara jaringan telekomunikasi (multipleks) dengan penyelenggara konten (lembaga penyiaran). Kesulitan implementasi UU Penyiaran sudah dirasakan pada saat penerapan perizinan lembaga penyiaran berlangganan yang menggunakan satelit yang dilakukan pada semester pertama tahun 2007.Dalam UU No. Telkom ataupun Broadband Multimedia. jumlah program / konten lebih banyak. 25. Sebelum revisi UU konvergensi terjadi. Penetapan Penyelenggara Jaringan Multipleks Penyiaran Digital Terrestrial (free-to-air) DVB-T dan DAB. diusulkan untuk dilakukan melalui mekanisme seleksi beauty contest kepada penyelenggara jaringan tetap tertutup dengan kriteria sebagai berikut: • • memiliki infrastruktur dasar sebagai penyelenggara multipleks memanfaatkan seoptimal mungkin infrastruktur telekomunikasi 83 . bisa menyediakan banyak program / konten. 1 wilayah. Sedangkan izin lembaga penyiaran berlangganan diberikan kepada entitas yang berbeda yang dalam kasus di atas adalah Matahari Lintas Cakrawala.

memberikan komitmen untuk membuka akses kapasitas infrastruktur kepada penyelenggara konten / lembaga penyiaran secara non diskriminasi dan akses terbuka. berpotensi dapat dimanfaatkan untuk layanan mobile broadband.• • memberikan komitmen penggelaran jaringan infrastruktur dan pemasangan pemancar DVB-T dan DAB di seluruh wilayah Indonesia dalam jangka waktu secepat-cepatnya. antara lain:    Kepadatan frekuensi siaran TV dapat ditanggulangi dengan implementasi TV Digital DVB-T. Pita frekuensi yang akan tersedia setelah proses migrasi TV siaran analog ke TV siaran digital yang selama ini tidak bisa digunakan (digital divident). Kepadatan frekuensi siaran radio FM dapat diatasi dengan implementasi Digital Audio Broadcasting (DAB).             84 . Diharapkan agar penggelaran jaringan multipleks DVB-T dan DAB “freeto-air” dapat dilaksanakan secepatnya. sehingga sejumlah permasalahan dapat diselesaikan.

BAB – 5 KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM UNTUK SERVIS KOMUNIKASI RADIO BERGERAK DARAT 1. melainkan hanya digunakan terbatas untuk kepentingan sendiri. Wilayah cakupan dari land mobile services dapat dibatasi pada wilayah tertentu. Pada land mobile services yang menggunakan dua frekuensi. tidak diperlukan base station dan wilayah cakupan terbatas dalam beberapa kilometer. Paragraf berikut ini menyediakan informasi mengenai kebijakan penetapan land mobile services dengan satu atau dua frekuensi di pita VHF dan UHF menggunakan channel spacing 12.5 kHz dan 25 kHz. Sebagai contoh adalah komunikasi radio untuk taxi. Frekuensi pada base stasion ditransmisikan pada daya pancar yang lebih tinggi untuk menyediakan wilayah jangkauan yang lebih luas. jarak coverage maksimum base station ke unit mobile/portable maupun sebaliknya. Biasanya. penggunaan frekuensi radio untuk komunikasi radio bergerak darat dapat digunakan oleh dua macam penyelenggaraan telekomunikasi. Penyelenggara jaringan bergerak terrestrial yang dimaksud adalah penyelenggara jasa radio paging dan jasa radio trunking yang pelayanannya dapat dijual kepada masyarakat. yaitu penyelenggara jaringan telekomunikasi bergerak terrestrial dan penyelenggara telekomunikasi khusus untuk keperluan sendiri. base station melakukan transmisi dan penerimaan pada frekuensi yang berbeda. Pada land mobile services yang menggunakan satu frekuensi. perminyakan. Penetapan frekuensi dilakukan dengan memperhatikan kondisi penggunaan frekuensi eksisting yaitu parameter spasi kanal dan jarak antara base station. pertambangan dan sebagainya. stasiun radio portable melakukan transmisi dan penerimaan pada frekuensi yang sama. pengamanan. Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ada. PENDAHULUAN Penggunaan spektrum frekuensi radio untuk penyelenggaraan komunikasi radio bergerak darat (land mobile services) menyediakan komunikasi dua arah antara titik tetap tertentu (misalkan base station) dan sejumlah unit transceiver bergerak (misalkan stasiun radio pada kendaraan atau stasiun hand-held portable). 85 . transportasi. Sedangkan penyelenggara telekomunikasi khusus untuk keperluan sendiri yang menggunakan komunikasi radio bergerak darat pelayanannya tidak dapat dijual untuk umum.

dsb. yaitu sistem trunking dan sistem two way radio. Frekuensi dimaksud bukanlah frekuensi standard mass market untuk BWA multimedia.9 MHz Frekuensi 406. tiap Administrasi memberi prioritas untuk servis bergerak maritim (Lihat Footnote RR 5. Keterangan rinci dapat dilihat pada Bab . 467.5 kHz.226). ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA Alokasi spektrum frekuensi radio dan perencanaan pita komunikasi radio bergerak darat (land mobile services) di pita frekuensi VHF/UHF dapat dilihat pada tabel berikut ini :      Pita Pita Pita Pita Pita Frekuensi 137 – 144 MHz Frekuensi 148 – 174 MHz Frekuensi 230 – 328. 457.4 – 399.575 MHz (2 meteran) diperuntukkan untuk Komunikasi Radio Antar Penduduk / Citizen Band.475-162. Keterangan rinci dapat dilihat pada Bab . Pita frekuensi 450 – 457. Keterangan rinci dapat dilihat pada Bab .8375-157. Walaupun pada pita frekuensi tersebut juga terdapat sejumlah aplikasi lain seperti radio paging.0375 – 143. tracking. SCADA.7625 MHz.1 – 470 MHz Catatan:    Pita Frekuensi 142.05 MHz.    Standar pengkanalan untuk sistem bergerak darat analog biasanya menggunakan pengkanalan 25 kHz.5-470 MHz dialokasikan untuk kepentingan pertahanan. 160.6 MHz Frekuensi 335. Keterangan rinci dapat dilihat pada bab .324 MHz di wilayah Jakarta dan sekitarnya telah dialokasikan untuk layanan Broadband Wireless Access (BWA) Multimedia.7 dokumen ini Pada pita-pita frekuensi 156-156.5 – 460 MHz. 86 .975 MHz dan 161.7 dokumen ini Pita Frekuensi 144 – 148 MHz diperuntukkan untuk Amatir Radio. penggunaan frekuensi untuk servis bergerak darat. Keterangan rinci bisa dilihat di Bab – 3 dokumen ini.294 MHz dan 310 . sehingga jauh lebih efisien. dsb. komunikasi data.9 dokumen ini Pita frekuensi 430 – 438 MHz digunakan bersama sekunder untuk amatir radio dan 435-438 MHz untuk amatir satelit. TV digital.5 dan 460 – 467. Akan tetapi sistem analog terbaru dan/atau sistem digital menggunakan pengkanalan 12.8 dokumen ini Pita Frekuensi 287 . Terdapat dua kelompok besar.6160.2. remote sensing. Pita frekuensi 438 – 450 MHz. sehingga penyelenggara terkait harus mengembangkan produknya sendiri. 156.45 MHz.5 MHz dialokasikan untuk penyelenggara bergerak selular.

Sejumlah penyelenggara jaringan telekomunikasi bergerak trunking baik publik maupun non publik (closed user group) diberikan izin dengan alokasi frekuensi sebagai berikut : 380 – 399. perusahaan minyak. Sistem trunking dimaksudkan untuk memberikan efisiensi penggunaan frekuensi yang jauh lebih efisien dibandingkan sistem two way radio. gas bumi. yaitu:  KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 84/DIRJEN/1999 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT RADIO KOMUNIKASI SSB-HF/VHF/UHF Ketentuan teknis tersebut dapat di “download” di website Ditjen Postel pada bagian regulasi standardisasi. taxi) maupun repeater (base station) untuk memperluas daya jangkauan. Sebagai referensi dapat diambil pengaturan IDA Singapura mengenai kondisi operasi land mobile services sebagai berikut:   Tinggi antenna base station harus tidak melebihi 10 m untuk cakupan terbatas. Dalam hal terjadi interferensi radio. teknologi trunking analog mulai berkembang. dsb. HT. spesifikasi teknis alat dan perangkat servis bergerak darat sedang disusun. 806 – 825. maka tidaklah mengherankan industri trunking berada dalam keadaan kritis dalam tahun-tahun terakhir ini. Pengguna stasiun radio mobile pada frekuensi yang digunakan bersama harus menjamin bahwa tidak terjadi interferensi pada penyedia jasa komunikasi radio yang telah ada. 406 – 430. Sebagai catatan bahwa pada saat tulisan ini dibuat (Juli 2009). Di sisi lain tidak ada kebijakan Ditjen Postel untuk menghentikan atau memberikan kriteria dalam pemberian izin radio konsesi (two way radio) ataupun penyelenggara telekomunikasi khusus terutama badan hukum. serta 851 – 870 MHz. bilamana terdapat kebutuhan tertentu seperti bandara. Terlebih kebanyakan model bisnis dari penyelenggara trunking ini baru akan mulai dikembangkan infrastrukturnya. 87 .9 MHz. pengguna harus dapat memecahkan masalah interferensi secara baik. karena harga terminal dan layanan relatif lebih mahal. Kebanyakan diberikan untuk sistem two way radio baik untuk telekomunikasi antar terminal bergerak (portable. 3. pemberian izin frekuensi untuk servis bergerak darat ini lebih banyak diberikan kepada penyelenggara telekomunikasi khusus. serta jangkauan layanan yang terbatas. Dengan kondisi tersebut. REGULASI TEKNIS DAN KONDISI OPERASI Terdapat satu regulasi teknis standar dan spesifikasi perangkat pemancar sistem telekomunikasi servis bergerak data yang telah ditetapkan oleh Ditjen Postel. Akan tetapi pada perkembangannya di Indonesia sistem trunking tidak berkembang. Sekitar 10 tahun lalu.Dari sisi penyelenggaraan telekomunikasi.

penyelenggara telekomunikasi khusus badan hukum.: 4.1 SISTEM KOMUNIKASI RADIO INSTANSI PEMERINTAH Salah satu pengguna signifikan servis bergerak darat adalah sistem komuniksi radio instansi pemerintah. Izin diberikan atas dasar administratif teknis. Kondisi saat ini dalam pita frekuensi VHF/UHF untuk servis bergerak darat. Biasanya penggunaan frekuensi ini dilakukan secara eksklusif. yaitu dengan menyewa jasa / layanan penyelenggara publik atau mengoperasikan sendiri. Mode operasi repeater dimungkinkan dalam kasus ini. belum ada upaya untuk mengevaluasi perpanjangan izinnya.1. tanpa pertimbangan kebijakan yang jelas. 4.1 SISTEM TELEKOMUNIKASI INSTANSI PEMERINTAH MENGGUNAKAN JARINGAN TELEKOMUNIKASI PUBLIK Sistem telekomunikasi instansi pemerintah dapat menggunakan jaringan publik memiliki kelebihan dan kekurangan yang dapat diuraikan sebagai berikut: 88 . Izin-izin lama seperti sistem two way radio dalam pita frekuensi trunking 806 – 821 MHz dan 851 – 869 MHz. ataupun bagi kepentingan instansi pemerintah sipil. Kanal frekuensi ganda (dua kanal) juga dapat ditetapkan bagi jaringan komunikasi radio taxi dengan minimum 1 base station dan 150 mobile station KONDISI SAAT INI DAN USULAN PEMECAHAN 4.18/2005). Akhir-akhir ini Dirjen Postel memerintahkan untuk membuat suatu panduan dalam pemberian izin yang membatasi pemberian izin stasiun radio terutama bagi radio konsesi. Biasanya penggunaan frekuensi ini dilakukan secara bersama-sama (shared use). sesuai dengan ketentuan yang berlaku (PM. Selain itu belum ada rencana pengkanalan frekuensi yang terdefinisikan dengan baik.   Kanal frekuensi tunggal (single) diberikan untuk land mobile services yang berdaya pancar rendah (contoh: daya pancar 5 Watt ERP atau kurang) untuk komunikasi portable handheld ke handheld di dalam wilayah tertentu. baik untuk kepentingan pertahanan keamanan. izin frekuensi diberikan tanpa suatu kebijakan perizinan yang jelas dan terdokumentasi dengan baik. Kanal frekuensi ganda (dua kanal) biasanya ditetapkan pada daya pancar transmisi tinggi (misalnya maximum 25 Watt ERP) untuk land mobile services untuk wilayah jangkauan yang diinginkan relatif luas. Hal ini cukup menyulitkan dalam hal perencanaan frekuensi kembali (spectrum reforming) pita frekuensi servis bergerak darat terrestrial ini agar lebih digunakan dengan optimal. Secara umum pengadaan sistem komunikasi (ICT) di instansi pemerintahan dapat dipenuhi dengan dua cara yg mempunyai kelebihan dan kekurangan.

sistem komunikasi publik putus. Institusi pemerintah yang relevan. Layanan dapat tercakup di seluruh wilayah Indonesia. lambat dalam implementasi. tarifnya bisa membebani anggaran. 4. Tidak tergantung infrastruktur penyelenggara jaringan publik Tidak perlu menyediakan sewa layanan KELEMAHAN: • Relatif lebih mahal. • KELEMAHAN: • • • Pada saat trafik tinggi dalam keadaan darurat. Alternatif ini memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai berikut: KELEBIHAN: • • • QoS tidak terganggu kepadatan trafik pengguna jaringan telekomunikasi publik. komunikasi bisa putus Bila infrastruktur rusak karena bencana. cepat dan efisien. Tanpa suatu pengaturan yang tepat. Aplikasi teknologi berkembang pesat: QoS serta sekuritas bisa ditentukan.KELEBIHAN: • • • • Relatif lebih murah. mudah. cukup pengadaan sewa jasa saja. maka penyelenggara telekomunikasi akan mengenakan tarif telekomunikasi normal dan bila tidak dikendalikan. teknologi GPRS. HSDPA. dan dapat saling terhubung (interkoneksi) Memanfaatkan infrastruktur telekomunikasi yang ada. VPN (Virtual Private Network). Hal ini seringkali dikeluhkan oleh sejumlah instansi pemerintah. terutama yang menggunakan solusi satelit. tidak perlu memikirkan biaya pengadaan dan pemeliharaan.1. Push to Talk Over Cellular (PoC) bisa digunakan. “Redundancy” Multioperator. inefisien 89 . MPLS. dan multi jaringan infrastruktur.2 SISTEM TELEKOMUNIKASI PEMERINTAHAN MENGGUNAKAN JARINGAN TELEKOMUNIKASI NON PUBLIK (CLOSED USER GROUP) Sistem telekomunikasi instansi pemerintah dapat menggunakan jaringan tersendiri (closed user group) di luar jaringan publik.

pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi yang komprehensif. sejumlah instansi pemerintah (pusat dan daerah). Seringkali sejumlah instansi pemerintah hanya “membeli barang/pengadaan barang” akan tetapi operasional dan maintenance tidak diperhatikan. MPLS. 90 . Push to talk Over Cellular. yang dapat dijamin penyelenggara telekomunikasi publik dimaksud. VSAT. Perlu dipikirkan suatu bentuk kebijakan dan regulasi “public private partnership” antara penyelenggara jaringan publik dengan instansi pemerintah. dan juga menyiapkan sumber daya manusia. Ini sudah terjadi di sejumlah instansi pemerintah bertahuntahun sampai saat ini. pada kenyataannya. cakupan layanan diperkirakan terbatas. membuat/ membangun jaringan sendiri. dan bisa minta QoS (kualitas layanan) tertentu termasuk sekuritas. tanpa pemahaman konsep pengoperasional.• • • • • Seringkali pengadaan barang masing-masing instansi berbeda. organisasi. tanpa mengurangi aspek-aspek keamanan maupun kerahasiaan. Selain tidak direpotkan kegiatan operasional serta pemeliharaan. dsb. menggunakan jaringan publik. dengan pengadaan jasa. Akan tetapi. Teknologi sudah tersedia mulai dari VPN. tidak terhubung satu sama lain Harus membangun infrastruktur telekomunikasi yang baru lagi. biaya operasional dan pemeliharaan yang memadai tiap tahun. bukan “barang”. dibebani biaya pengadaan dan pemeliharaan Inventarisasi aset akan sangat merepotkan. dapat terjaga. maka instansi pemerintah tersebut akan mendapatkan dukungan keahlian serta kompetensi para penyelenggara telekomunikasi publik akan sangat memudahkan instansi terkait untuk fokus di fungsi/konten/program dari sistem informasi dimaksud. dengan berbagai alasan dan secara tidak langsung akibat peraturan pengadaan barang dan jasa di KEPPRES 80/2003. Institusi pemerintah yang terkait. bukan pengadaan barang. seringkali memilih pilihan kedua. Sebenarnya solusi yang paling efektif dan cepat adalah solusi pertama. dsb. apalagi bila terdistribusi di banyak tempat. Public Trunking. Dengan dana terbatas. Sehingga instansi pemerintah hanya mengadakan “jasa”. Akibatnya pemborosan uang negara. sehingga kelangsungan layanan sistem informasi instansi pemerintah (termasuk pertahanan keamanan). kerahasiaan. Proses tender yang dilakukan jadinya adalah pengadaan jasa penyediaan sistem komunikasi teknologi informasi.

4. penerapannya konsep GRN/PPDR di Indonesia harus hati-hati karena di pita-pita frekuensi tersebut masih ada pengguna eksisting.1. saling terhubung. dan 5 850-5 925 MHz. dan menjadi jaringan komunikasi pemerintahan secara nasional dan terpadu. MPLS.3 JARINGAN KOMUNIKASI RADIO PEMERINTAH TERPADU Konsep yang diusulkan adalah konsep Government Radio Network yang terintegrasi. terbuka bagi sejumlah fungsi instansi pemerintah. 4 940-4 990 MHz. 440470 MHz. backbone. dsb. sehingga efektif dan efisien dalam penggunaan frekuensi dan pembangunan infrastruktur (backhaul. 440 – 470 MHz: untuk alokasi frekuensi eksklusif pertahanan dan selular CDMA. Kriteria jaringan radio pemerintah ini harus terpadu. 806 – 824 / 851 – 869 MHz: Public Radio Trunking: dan Private Radio Trunking ada beberapa two way radio. 806-824/851-869 MHz. yang perencanaan pelaksanaan dan pembiayaannya dilakukan bersama di bawah koordinasi Depkominfo. antara lain:  406. Virtual Private Network (VPN). dilengkapi dengan SOP.1-430 MHz. karena menyediakan teknologi yang memberikan QoS dan sekuritas memadai sesuai permintaan. seperti Tentara.1 – 430 MHz: saat ini masih banyak digunakan untuk two way radio dan radio trunking. dan sebagai frekuensi migrasi dari ribuan stasiun radio di 438 – 470 MHz yang tergusur oleh alokasi frekuensi eksklusif pertahanan dan selular CDMA. di mana secara   91 . Termasuk fungsi-fungsi pertahanan. Walaupun demikian. Diprioritaskan hanya untuk fungsi-fungsi komunikasi yang bersifat mobile (bergerak) di operasional lapangan. dsb). Untuk alokasi frekuensi system telekomunikasi khusus bergerak instansi pemerintah GOVERNMENT RADIO NETWORK / PPDR bisa merujuk ketentuan Resolusi 646 WRC-03 sbb: • Public Protection and Disaster Relief (PPDR) – Resolution 646 (WRC-03): Region 3 : 406. dsb). sebaiknya menggunakan jaringan komunikasi publik yang disediakan baik secara leased line. dan Keamanan yang meliputi perlindungan publik (polisi) dan penanganan bencana (Public Protection and Disaster Relief) Sedangkan fungsi-fungsi aplikasi komunikasi point-to-point atau point-to-multipoint dari suatu jaringan instansi pemerintah yg bersifat tetap (seperti kantor pusat ke cabang.

Status saat ini di Indonesia sebagai berikut:  Sistem komunikasi radio pertahanan (frekuensi khusus 438 – 450 MHz.  bertahap dan selektif khususnya untuk telekomunikasi badan hukum tidak diperpanjang izin lagi sepanjang substitusi fungsi telah tersedia. adanya microwave link di beberapa lokasi menyebabkan implementasi harus terintegrasi (tidak kasus per kasus) 5850 – 5925 MHz. Two way radio diganti dengan VPN Push to talk over Cellular atau jaringan telekomunikasi trunking publik menggantikan penggunaan radio konsesi two way radio. perlu diidentifikasi infrastruktur yang telah terpasang dan diharapkan dapat diintegrasi satu sama lain. sharing uplink VSAT C-band dan juga sharing dengan microwave link 6 GHz lower band. dimungkinkan untuk didapatkan frekuensi-frekuensi baru yang bersih dan siap digunakan untuk berbagai aplikasi baru yang lebih efisien termasuk aplikasi PPDR. jangkauan terbatas. VHF. tidak ada repeater. 457.KOMINFO/10/2005 tentang pengaturan realokasi pita frekuensi untuk kepentingan komunikasi departemen pertahanan dan TNI. non proteksi. 92 .5-470 MHz) sesuai SKB MENHAN NO:81/KEP/M. power dibatasi. UHF 400 MHz. termasuk interoperabilitas aplikasi dan standar prosedur pengoperasiannya. Sebagai pelengkap jaringan komunikasi radio pemerintah tersebut.   Usulan kebijakan jangka menengah-panjang:  Akan dikurangi sedikit demi sedikit microwave link di bawah 6 GHz terutama untuk penyelenggaraan telekomunikasi khusus (Telsus) badan hukum dan radio konsesi two way di frekuensi HF. bandwidth.6 – 460 MHz. Sistem komunikasi radio pertahanan dan keamanan. non interferensi) yang akan diterapkan izin kelasnya. Untuk instansi-instansi pemerintah lainnya.  Sehingga secara bertahap dan konsisten. 467. 4940 – 4990 MHz: potensi broadband PPDR. maka perlu disediakan sejumlah kanal frekuensi untuk digunakan bersama oleh semua masyarakat sepanjang standar operasionalnya dipatuhi (kanal. 800 MHz. tidak diperpanjang lagi izinnya setelah masa ISR nya selesai dan diberi surat pemberitahuan 2 tahun sebelum izinnya berakhir.

keamanan. tidak mungkin diberikan izin alokasi pita frekuensi. serta organisasi-organisasi yang mengatasnamakan pertahanan/keamanan. 3) 4) 4. mitra komunikasi. bergantung kepada perkembangan trafik pelanggan penyelenggara dimaksud.2 SISTEM KOMUNIKASI RADIO TRUNKING KONDISI EKSISTING: Alokasi trunking 800 MHz sesuai dengan tabel alokasi frekuensi adalah 806 – 824 MHz dan 852 – 870 MHz. Dibuat gugus tugas (task force) untuk mengimplementasikan konsep Government Radio Network secara terpadu dari unsur pertahanan. standar dalam pemilihan pengadaan jasa layanan telekomunikasi. seperti Bankom (Bantuan Komunikasi. maupun seluruh instansi pemerintah yg memiliki sistem jaringan komunikasi radio tersendiri saat ini. Identifikasi dan monitor pendudukan frekuensi pertahanan keamanan. khususnya dalam penanganan keamanan publik dan penanganan bencana (PPDR). tidak lagi berbentuk blok pita frekuensi. yang telah beroperasi secara ilegal. melainkan kanal frekuensi. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN Berikut ini diuraikan identifikasi permasalahan regulasi teknis dalam servis bergerak darat terrestrial di Indonesia. untuk selanjutnya dilakukan monitoring dan penertiban. karena tidak dapat digunakan kanal frekuensi yang bersebelahan di lokasi wilayah layanan yang sama. dimana Depkominfo dapat memberikan panduan. antara lain meliputi hal-hal sebagai berikut: 93 . Melakukan koordinasi dengan Bappenas untuk meninjau ulang Keppres 80/2003 tentang pengadaan barang/jasa khususnya layanan telekomunikasi. agar dapat dibuat suatu perencanaan bersama. Sehingga pada tahun 2006 dan 2007 ini diputuskan untuk dilakukan penyesuaian “modern licensing” bagi penyelenggara jaringan trunking terutama dalam alokasi frekuensi yang digunakan. Padahal dalam sistem trunking analog. Kebijakan penetapan alokasi frekuensi bagi penyelenggara trunking sebelum tahun 2005 adalah berdasarkan blok-blok alokasi frekuensi (misal 2 MHz). Jumlah kanal frekuensi yang bisa diberikan. norma.Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut: 1) 2) Identifikasi semua Izin Frekuensi/Izin Stasiun Radio (ISR) telekomunikasi khusus instansi pemerintah.

dengan jangkauan layanan terbatas di kota-kota besar saja ataupun tergantung dari proses tender dari perusahaan-perusahaan tambang/minyak di pedalaman.18 tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi Khusus Instansi Pemerintah dan Badan Hukum. PERIZINAN DAN PERSYARATAN Sebelum tahun 1999 pada saat UU No. Handy Talky atau untuk keperluan taxi yang hanya memperhatikan izin stasiun radio saja. Kecenderungan bisnis penyelenggara trunking kurang berkembang. sebenarnya izin frekuensi dapat dikurangi secara bertahap khususnya untuk pengguna telekomunikasi khusus dan secara bertahap diarahkan untuk menyewa kepada penyelenggara telekomunikasi publik seperti penyelenggara trunking. 16 KHz dan 12. Terdapat keluhan dari beberapa penyelenggara jaringan radio trunking yang masih beroperasi agar Ditjen Postel tidak lagi mengeluarkan Izin Telsus (radio konsesi). 36 tahun 1999 tentang telekomunikasi. Banyak pemegang izin eksisting dan pemohon izin frekuensi land mobile services tersebut untuk keperluan kalangan bisnis terhadap sistem komunikasi radio yang menggunakan unit portable. pemohon izin harus terlebih dahulu memiliki izin penyelenggaraan telekomunikasi khusus untuk keperluan sendiri dan kemudian dilengkapi dengan izin stasiun radio. jaringan selular ataupun penyelenggara lainnya dan diharapkan akan mengembangkan jaringannya. penggunaan frekuensi radio untuk jaringan bergerak terrestrial bagi kepentingan sendiri hanya memiliki izin stasiun radio berdasarkan ketentuan radio konsesi.     Pada pita alokasi trunking tersebut tidak ada batasan tentang pola pengkanalan frekuensi antara 25 kHz. karena seharusnya pengguna Telsus dapat menyewa kepada penyelenggara trunking. Berdasarkan UU No. 5. 36 tentang Telekomunikasi diberlakukan. Akan dilakukan pengelompokkan blok frekuensi tertentu misalnya blok khusus untuk Penyelenggara Jarintan Bergerak Trunking. serta blok frekuensi tertentu untuk keperluan instansi pemerintah. Terdapat sejumlah penyelenggara trunking yang tidak lagi menggunakan frekuensinya dan ada pula yang sudah habis masa berlaku ISR-nya. Adanya laporan dari penyelenggara trunking bahwa pengguna Telsus (Radio konvensional) ada yang menyewakan frekuensinya kepada pihak lain. Sesuai PM No.5 kHz sehingga tercampur. blok Telsus radio konvensional. Hal ini melanggar ketentuan bahwa Telsus hanya digunakan untuk keperluan sendiri. 94 .

pemohon diminta untuk menyatakan perubahan dari aplikasi awal yang diserahkan ke Ditjen Postel dan menyediakan informasi terkait yang membantu pembenaran alasan kebutuan penambahan kanal frekuensi. dioperasikan tanpa proteksi dan tidak boleh menimbulkan interferensi. akan diberlakukan izin kelas. saat ini sedang dikaji penerapan izin kelas pada penggunaan pita frekuensi 470 s/d 478 MHz untuk aplikasi seperti family radio dengan jarak jangkau terbatas. Deskripsi jaringan. di masa yang akan datang permohonan izin harus dilengkapi pula dengan izin penyelenggaran jaringan telekomunikasi bergerak terestrial ataupun penyelenggaraan telekomunikasi khusus keperluan sendiri. Untuk aplikasi-aplikasi sistem komunikasi radio two way radio jarak pendek. misalkan tujuan dari jaringan dan informasi lain yang mendukung kebutuhan jaringan yang diusulkan. jika frekuensi yang diinginkan tidak tersedia. Setiap perubahan informasi dalam formulir izin harus segera diberitahukan kepada Ditjen Postel. Frekuensi alternatif atau range frekuensi.Untuk menghindari kesalahan prosedur. Rencana implementasi untuk jaringan yang diusulkan khususnya perkiraan tanggal untuk mulai dan penyelesaian konstruksi. Informasi berikut ini dibutuhkan dan dilampirkan pada formulir permohonan izin:      Alasan kebutuhan frekuensi radio untuk sistem land mobile services. termasuk rincian teknis dan operasional. Sedangkan khusus untuk terminal pelanggan yang terhubung dengan jaringan telekomunkasi trunking publik. Untuk land mobile services yang memerlukan kanal frekuensi tambahan. Pemohon harus berusaha sebaik mungkin agar informasi yang diserahkan dalam permohonan izin akurat dalam segala aspek. 95 . Jumlah unit mobile atau portable yang dilayani sejak awal pengoperasian jaringan. non eksklusif. Semua izin pemancar base station ataupun repeater akan diberikan dalam bentuk izin stasiun radio.

1 SISTEM KOMUNIKASI RADIO HF Pita frekuensi yang digunakan adalah pita frekuensi yang dalam tabel Radio Regulation terdapat alokasi primer Fixed Services. 96 .5 kHz. Diperlukan sejumlah frekuensi yang berbeda untuk sistem komunikasi radio HF yang baik. Sehingga sebetulnya perlu diatur protection ratio untuk kanal yang bersebelahan dalam suatu wilayah layanan yang sama ataupun yang berdekatan. 2. Untuk HF alokasi frekuensi berada di pita frekuensi 3 MHz s/d 30 MHz. waktu ke waktu serta posisi pemancar dan penerima.BAB . Sehingga penetapan frekuensinya harus dilakukan secara hati-hati dan mempertimbangkan tidak hanya penggunaan frekuensi eksisting di dalam negeri tetapi juga pengguna frekuensi HF negara-negara lain yang sudah ternotifikasi di ITU. ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA 2. Komunikasi radio HF menggunakan gelombang langit (skywave) yang bergantung pada kondisi ionosfir yang bervariasi dari siang dan malam. video dan informasi data. yaitu:    Sistem komunikasi radio HF Sistem komunikasi radio VHF/UHF Sistem komunikasi radio microwave link Paragraf berikut ini akan menyediakan informasi mengenai prosedur aplikasi.6 KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM UNTUK SERVIS KOMUNIKASI RADIO TETAP TERRESTRIAL 1. PENDAHULUAN Fixed services didefinisikan di dalam Radio Regulation ITU sebagai servis komunikasi radio antara titik-titik tertentu yang tetap yang juga meliputi sistem radio point-to-point serta point-to-multipoint digunakan untuk transmisi suara. Di mana pada pita frekuensi ini memiliki propagasi skywave yang dapat merambat jarak ribuan kilometer. Di Indonesia penggunaan sistem radio fixed services point-to-point atau pointto-multipoint dapat dibagi menjadi 3 kelompok besar. kriteria penetapan frekuensi dan kondisi pengoperasian sistem radio fixed services point-to-point atau point-to-multipoint. Pengkanalan frekuensi HF yang digunakan di Indonesia agak sedikit unik dan sempit yaitu 2.

Karena itu Ditjen Postel secara umum tidak akan menetapkan izin baru bagi microwave link di pita 1-3 GHz tersebut. karena kebanyakan alokasi servis tetap dan bergerak adalah sama. 2. terutama di kota-kota besar. Sebagai tambahan. Satelit Broadcasting Cakrawarta-1). sebelum masa izinnya berakhir tidak dapat dihentikan operasinya. Sejumlah pengguna microwave link yang telah beroperasi sejak awal tahun 1990-an pita 1-3 GHz. bahwa pada pita frekuensi 1-3 GHz juga digunakan juga untuk sistem-sistem komunikasi tetap. Penggunaan pita 1-3 GHz untuk microwave link lama yang terkena oleh alokasi sistem-sistem komunikasi radio yang baru seperti GSM-1800. Rincian rencana pengkanalan microwave link (channeling plan) untuk beberapa rekomendasi ITU-R seri F dapat dilihat pada lampiran 4. WLL CDMA-1900. 97 . seperti terlihat pada tabel 20 berikut ini. Di masa yang akan datang.2 SISTEM KOMUNIKASI RADIO VHF/UHF Pita frekuensi yang digunakan mirip dengan pita frekuensi servis bergerak darat (Lihat Bab 5). IMT-2000. Pita frekuensi di bawah 12 GHz umumnya digunakan untuk aplikasi radio-relay jarak jauh karena karakteristik propagasi yang mendukung. untuk pita frekuensi yang belum digunakan hal tersebut diusahakan untuk dihindari.2. Ditjen Postel akan menyediakan kanal frekuensi baru untuk migrasi sistem lama tersebut ke pita frekuensi lain selama memungkinkan. Bila penyelenggara telekomunikasi sistem baru tersebut ingin segera mengoperasikan dan bersedia mengganti perangkat microwave link tersebut. akan sedikit demi sedikit dikurangi dan tidak diperpanjang izinnya lagi. pita frekuensi ini sangat padat digunakan.3 MICROWAVE LINK Sistem komunikasi radio microwave link beroperasi pada pita frekuensi radio sekitar 1 s/d 60 GHz. seringkali Ditjen Postel menggunakan beberapa alternatif Annex untuk Rekomendasi ITU-R seri F tertentu. bergerak maupun satelit (misalnya GSM-1800. Ditjen Postel menggunakan rujukan ITU-R Recommendation seri F sebagai referensi pengkanalan microwave link. Pada beberapa kasus. Sebagai konsekuensinya. Dalam penetapan frekuensi microwave link. IMT-2000 maupun Satelit Broadcasting Cakrawarta-1.

5. 60.54-4.25.7-2.662 29.7-11.3 1.75. 1.2 3. 80.5. 20 29.5 35 25.5 98 .725-8. Annex 1 385. 5.425-7. § 1 Channel separation (MHz) 0. 2.7-11. Annex 1 1099.5 12.4 2 Frequency range (GHz) 1.275-8. Annex 2 385.9-2.925-6.7 10. 30 28 10 (pattern) 40.85-6.5 (patterns) 14 10 1.9 5. Annex 1 385 385. 2.6-4.2-8.3 1.425-7.35-1.9-8.TABEL 20. Annex 2 386.7 12. Annex 1 747.7 3. 14.5 (patterns) 5.3 1.5 0. 7 28 20. 4.435-7.5. 2.9-2.75 7.725 7. Annex 3 386.5-2. 20 80 7 28 5 28 11.7 10.0 4.29-2. Annex 3 746.5.0 4. 1.67 Recommendations ITU-R F Series 1242 701 382 283 1098 1098.11-7.5 7.7 11.8-4. Annex 3 747. 3.5 2.7 10.25 (patterns) 40 67 60 80 19. 28 0.9-2. 40. 12.75-13. Annexes 1. Annex 3 386 386.0 4.25 12. 60 40.11 7.11 6.5 (pattern) 14 29 10 (pattern) 90.5-10.2-12.74 14.425 6. Annex 1 386. Annex 1 384 384.25.4-5.3-2. 1.7-12.2 4. PENGKANALAN MICROWAVE REKOMENDASI ITU-R Band (GHz) 1.69 1. Annex 1 746.3 2.5.9-2. 3.68 10.55-10.427-2. Annexes 4 et 6 387. Annex 5 746.275 7.6-4.65 90. Annexe 3 387. 60. 2. Annex 2 387.65 40.7-13.5 7. § 3 746. Annex 4 746. 7. 2 1098. 14. 3.7-2.425 5.275 8.2 3.53 1. 2. 7. Annexe 4. Annexe 1 746.18 20 (pattern) 28.425-7. § 2 497 497.425-7.4-5. Annexes 1 et 2 387. 1.725-8. 1.75 8.1.7-11. 3.25 12. Annexe 4.725 7. 0. Annex 2 383 383. 0.3-10.4 10.7-11. Annexe 4.25 283 382 635 635. 2 7.5 (pattern) 29 14 3.68 10.75-13. 80 40.4-5.68 10. Annex 2 1099 1099. Annex 1 1243 LINK BERDASARKAN 4 5 L6 U6 7 8 10 11 12 13 2. 2.3 1.

40.2 54.25-57. 7.5 27.25 7.5 50 112 to 3. 6 3.7 21. 56. 14. Annex 1 749.2 57. Annex 3 637.5-15. Annex 4 637. 20. Annex 5 637.7-19. 2.5. Annexe 1 636.0 37.7 17.35 14.5-15.5 112 to 3.5 (pattern) 2. Annex 1 1100. 55.5 27.5 50 112 to 3. Annex 3 595.5. Annexe 5 746. 110.6-40.5 (patterns) 112 to 3.5 160 220.2-58.Band (GHz) 14 15 18 23 27 31 38 55 Frequency range (GHz) 14. 13.6 21. 2.2-23.2-23.2-23. 99 . Annex 1 748 748 748. Annexe 2 595 595.5 38. Annex 2 746. Annex 1 595. 7.6 21. yaitu:   KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 84/DIRJEN/1999 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT RADIO KOMUNIKASI SSB-HF/VHF/UHF KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 193 /DIRJEN/2005 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT KOMUNIKASI RADIO MICROWAVE LINK Ketentuan teknis tersebut dapat di-download di website Ditjen Postel pada bagian regulasi standardisasi.2-23.0 39. Annex 4 595.0-39.7-19.5 (patterns) 3.6 21. 2. 2.0-37.5 54.5 24.5 (patterns) 112 to 3. 28.0-23. 3.7 17.0-31.75. Annex 3 749.25-14. 3. 14.5 31.5 3. 7. Annex 3 1100 1100.5 14. 28.7 17. Sebagai catatan bahwa pada saat tulisan ini dibuat. 2.5 (patterns) 112 to 3.5-29.25-14. Annex 1 637.7-21.2 17. 1.5. 10.2-23.5 28.5-29.0-40. 50 3. Annex 2 Channel separation (MHz) 28.6 22.5 112 to 3.7-19.5 140.5.5.2-23.75 3.5.5-26.3 36.25-25.35 14.5 3.5 36. Annex 2 595.35 17. 5. 14. 1.6 24.7 17. 3.5.5.5 (patterns) 140. 80.5 14. 56. 2. Annex 2 749.7-19. 14 100 3.5 20 28.6 21. 2.6 21.25 25. 27.2 Recommendations ITU-R F Series 746. Annex 1 748 748.5.5 (patterns) 112 to 3.5 2. spesifikasi teknis alat dan perangkat servis bergerak darat sedang disusun. 3. Annex 5 637 637. 3. Annex 2 637.25-58. REGULASI TEKNIS DAN KONDISI OPERASI Terdapat satu regulasi teknis standar dan spesifikasi perangkat pemancar sistem telekomunikasi servis bergerak data yang telah ditetapkan oleh Ditjen Postel.25-27.5 25.5-40.7-19. 7.5.5 3.5 220.5 27. Annex 7 749 749. Annexe 6 636 636.4-15.

istilah yang sering digunakan adalah radio konsesi. Untuk hubungan komunikasi radio dengan negara lain.4. khususnya penggunaan microwave link antara wilayah di Indonesia dengan negara tetangga seperti Malaysia.36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi ditetapkan. Hal ini perlu dilakukan mengingat penggunaan frekuensi HF yang dapat menjangkau ribuan kilometer.53 tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit pasal 22. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. Oleh karena itu alokasi frekuensi yang 100 .1 SISTEM KOMUNIKASI RADIO HF Untuk komunikasi radio HF. Singapura. Selain itu penggunaan perangkat adaptif HF akan sangat berguna untuk memindahkan frekuensi kerja secara otomatis berdasarkan jadwal propagasi sehingga kualitas hubungan dapat ditingkatkan.2 SISTEM KOMUNIKASI RADIO VHF/UHF Pemanfaatan sistem komunikasi radio VHF/UHF banyak digunakan untuk penyelenggara telekomunikasi khusus untuk keperluan sendiri oleh badan hukum baik BUMN maupun perusahaan swasta. 4. Ketersediaan penetapan frekuensi tergantung dari hasil koordinasi tersebut. harus dilakukan terlebih dahulu koordinasi frekuensi dengan negara lain. permohonan izin stasiun radio untuk komunikasi point-to-point dengan lingkup terbatas tidak perlu menyertakan izin penyelenggaraan telekomunikasi. Penggunaan data hasil riset propagasi ionosfir yang disediakan LAPAN. sebaiknya pengguna izin harus memiliki operator radio yang berpengalaman dan memenuhi kecakapan tertentu. Sehingga penetapan frekuensinya harus dilakukan secara hati-hati dan mempertimbangkan tidak hanya penggunaan frekuensi eksisting di dalam negeri tetapi juga pengguna frekuensi HF negara-negara lain yang sudah ternotifikasi di ITU. Sebelum UU No. adalah referensi yang berguna untuk pemanfaatan optimal penggunaan frekunsi HF yang berubah dari waktu ke waktu. Untuk hubungan komunikasi radio yang dapat melintasi batas wilayah negara. Pada alokasi frekuensi Fixed Services di VHF/UHF ini juga dialokasikan sharing dengan Mobile Services. 4. perlu terlebih dahulu diadakan koordinasi frekuensi perbatasan dengan negara tetangga. sehingga dapat menjangkau negara lain. PERIZINAN DAN PERSYARATAN Pemohon jaringan sistem radio fixed services point-to-point atau point-tomultipoint harus merupakan penyelenggara telekomunikasi yang telah memiliki izin di Indonesia dari Ditjen Postel-Depkominfo.

yang sebenarnya bisa dipecahkan dengan pengembangan fiber optic dalam kota dan selektif dalam pemberian izin microwave link. b (BW) = 27000 kHz. lembaga penyiaran. bila tidak ada kebijakan selektif bagi pemberian izin microwave link.364.1 PERMASALAHAN Berikut ini merupakan identifikasi permasalahan microwave link yang perlu diselesaikan. Ip = 0.5 x ((Ib x HDLP x b) + (Ib x HDDP x p)) = Rp.748.digunakan dapat merujuk ke bab 3 dan bab 5 yang membahas komunikasi bergerak. Tidak akan ada kebutuhan fiber optic signfikan untuk mendukung konsep PALAPA RING maupun penggunaan sarana transmisi eksisting bersama. Pada beberapa kasus pita frekuensi ini digunakan pula untuk penyelenggaraan telekomunikasi bergerak terrestrial seperti radio trunking dan radio paging yang memiliki wilayah layanan dan alokasi pita frekuensi eksklusif. PSTN. Ditjen Postel tidak akan memberikan izin baru untuk izin stasiun radio untuk radio konsesi/ telekomunikasi khusus untuk keperluan sendiri tersebut. 8. antara lain: • perizinan • •  • Saat ini belum ada kriteria pembatasan permohonan izin microwave link yang terdokumentasi dengan baik. dsb. menyebabkan “pemborosan” investasi. bahkan untuk aplikasi pemohon telekomunikasi khusus atauyang tidak punya izin prinsip atau untuk kepentingan pemerintah. jika pita frekuensi tersebut sudah diberikan izin bagi penyelenggaraan telekomunikasi radio trunking dan paging. 4. 101 . jaringan ataupun telsus. HDLP = 9.655 Akibat pengembangan jaringan yang terpisah dari antar operator selular.08. menyebabkan sangat padatnya penggunaan microwave link.3 SISTEM KOMUNIKASI RADIO MICROWAVE LINK 4. p (EIRP) = 70 dBm.24. BHP Frekuensi = 0. Contoh BHP frekuensi Microwave link: Microwave Link 7 GHz (SHF) – Ib = 0.681. dapat mengajukan izin Seluruh penyelenggara jaringan (terutama selular) menggunakan microwave link untuk hubungan antara unit jaringannya (sentral-BSC-BTS). HDDP = 89. bahkan di kota-kota besar dan trend semakin meningkat. Tarif BHP frekuensi untuk microwave link relatif sangat murah (<10 juta per tahun untuk STM 1).3. karena terlalu banyak menara yang didirikan.

Kondisi eksisting microwave link untuk penetapan izin lama banyak yang tidak sesuai dengan rencana pengkanalan (channeling plan) yg saat ini diadopsi. Kereta Api. hanya untuk penyelenggara jaringan terutama yang bersedia memberikan kapasitasnya bagi pengguna lain.3. padahal terdapat perubahan teknologi dan alokasi frekuensi terutama di bawah 6 GHz. HAPS. ISR diberikan sementara (bukan 5 tahun atau lebih). Umur ISR microwave link jarang dievaluasi. untuk mendukung efisiensi pembangunan jaringan. antara lain: • Pemberian prioritas bagi penyelenggara yang dapat diberikan izin microwave link. 4. Untuk kondisi selain itu. sampai dengan jaringan fiber optic ataupun jaringan transmisi penyelenggara jaringan terdapat di daerah dimaksud. Diusulkan kenaikan tarif BHP Frekuensi signifikan untuk microwave link sebagai faktor disinsentif bagi pengguna microwave link yang tidak sesuai dengan kebijakan perizinan seperti penggunaan frekuensi microwave link di pita frekuensi yang terkena alokasi frekuensi BWA < 6 GHz. dan tidak ada kompensasi.2 USULAN KEBIJAKAN Berikut ini disampaikan beberapa usulan kebijakan perizinan microwave link agar penggunaan frekuensi microwave link lebih efisien. mendukung kebijakan pembangunan fiber optic sebagai “redundancy”. Selalu terjadi permasalahan migrasi/realokasi microwave link yang terkena realokasi frekuensi untuk teknologi baru seperti selular dan BWA yang sangat menyulitkan seperti kasus dengan PT. menyulitkan alokasi servis lain yang potensial seperti BWA. Selain itu terdapat sejumlah data teknis (misal lokasi) yang tidak tepat antara database dan kondisi lapangan. Terdapat sejumlah laporan informal terjadinya interferensi microwave link di frekuensi yang ditetapkan.• • • • • Hampir semua alokasi fixed services di pita di atas 1 GHz digunakan microwave link. dsb. dan potensi terjadi pada kasus-kasus lainnya di masa depan. Pembatasan izin baru maupun perpanjangan izin microwave link atau sarana transmisi untuk mendukung kebijakan “infrastructure sharing” ataupun sebagai “redundancy” bagi pembangunan fiber optic pada waktu tertentu. • • • 102 . untuk BWA. sebagai persyaratan izin. tidak sesuai dengan standar pengkanalan frekuensi ataupun tidak mendukung sharing infrastruktur / pembangunan fiber optic. sehingga terus menerus diperpanjang.

setelah masa ISR nya selesai secara bertahap.25 GHz 14. 637 Channel Width (MHz) 29. Pembuatan suatu kebijakan minimum distance bagi microwave link agar mendorong penggunaan frekuensi yang efisien.75-13. RENCANA PENGKANALAN FREKUENSI LINK.4-15. Bagi ISR lama. ISR dicabut.• • • Perlu adanya mekanisme quality control dari Balai Monitoring ataupun pihak lainnya untuk memastikan penggunaan microwave link sesuai dengan frekuensi yang ditetapkan. Kebijakan ini berlaku untuk ISR baru dan tidak diberlakukan “retroactive” terhadap ISR lama.35GHz 17.6 GHz   Channelling Plan ITU-R F.5/55 3. 385 ITU-R F. Pada tabel berikut ini disampaikan usulan rencana pengkanalan frekuensi microwave link TABEL 21.2-12.7 GHz 10. 595 ITU-R F. 497 ITU-R F. 636 ITU-R F.7-19. 746 ITU-R F. 384 ITU-R F.2-23.65 20 7 29. Usulan rencana pengkanalan frekuensi dan jarak minimum minimum distance terdapat pada Tabel 1 (diambil dari Referensi IDA Singapura).5/7/14/28 MICROWAVE Min.7-11.7 GHz 12. Misalnya bila ISR lama yang tidak sesuai dengan perencanaan baru ingin ngotot terus beroperasi. yang tidak sesuai dengan rencana kebijakan akan diberi masa transisi untuk pindah ke frekuensi lain yg sesuai atau tidak diperpanjang izin dengan menggunakan sarana transmisi alternatif. LEBAR PITA DAN JARAK MINIMUM Frequency Range 5925-6425 MHz 6430-7110 MHz 7125-7725 MHz 7725-8500 MHz 10. 386 ITU-R F. 383 ITU-R F.7 GHz 21. 387 ITU-R F.7 GHz 12. Bila hasil verifikasi tidak sesuai dengan database.65 7/14 20 20 28 7/14/28 27.5-10. Path Length 20km 20km 20km 20km 15km 15km 15km 15km 10km 5km 2km 103 . 747 ITU-R F. dengan status sekunder dan membayar BHP frekuensi jauh lebih mahal (misal 100 x lipat).

7 AMATIR RADIO DAN KOMUNIKASI RADIO ANTAR PENDUDUK (CITIZEN BAND / CB) 1. Komunikasi Radio Antar Penduduk (KRAP) adalah Komunikasi Radio yang menggunakan pita frekuensi radio yang telah ditentukan secara khusus untuk penyelenggaraan KRAP dalam wilayah Republik lndonesia. Organisasi yang merupakan wadah resmi bagi anggota Amatir Radio di Indonesia adalah Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI). maka seluruh proses perizinan kembali dilaksanakan oleh Ditjen Postel.KOMINFO/08/2009 Tentang Penyelenggaraan Amatir Radio dan Peraturan Menkominfo Nomor: 34/PER/M. Sebelum bulan Juli 2007.77/2003 tentang Komunikasi Radio Antar Penduduk. Peraturan Menkominfo tersebut dapat di unduh di website Ditjen Postel. di www.go. 104 . karena izin bagi amatir radio dan Komunikasi Radio Antar Penduduk (KRAP) dilakukan oleh Dinas Perhubungan Pemerintah Daerah (Pemda). KRAP termasuk jenis penyelenggaraan telekomunikasi khusus untuk keperluan sendiri yang dimaksudkan untuk menampung potensi aspirasi masyarakat yang ingin menggunakan komunikasi radio antar penduduk.BAB . maka pada bulan Agustus 2009 telah ditetapkan Peraturan Menkominfo Nomor: 33/PER/M.postel. Organisasi yang merupakan wadah resmi bagi pemiliki izin komunikasi radio antar penduduk adalah Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI). Akan tetapi sejak disahkannya PP No.KOMINFO/8/2009 Tentang Penyelenggaraan Radio Antar Penduduk sebagai pengganti Kepmenhub tersebut. PENDAHULUAN Dalam istilah perundang-undangan telekomunikasi di Indonesia komunikasi radio amatir dan komunikasi radio antar penduduk (KRAP) dikelompokkan ke dalam penyelenggaraan telekomunikasi khusus untuk keperluan perorangan. Kegiatan radio amatir adalah kegiatan latih diri saling berkomunikasi dan penyelidikan-penyelidikan teknik yang diselenggarakan oleh para amatir radio.49/2002 tentang Amatir Radio dan Kepmenhub No. Perkecualian diberikan pada perizinan amatir warga negara asing yang masih dikeluarkan oleh pemerintah pusat (c. Pelaksanaannya akan dilakukan secara bertahap. Ditjen Postel). sebagai perwujudan asas dekonsentrasi.id di bagian Regulasi Frekuensi.38 tahun 2007 tentang pembagian kewenangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.q. Setelah melakukan pembahasan antara Ditjen Postel bersama-sama ORARI dan RAPI tentang perubahan Kepmenhub No. penyelenggaraan telekomunikasi khusus perseorangan tersebut memiliki pengaturan yang unik.

maka kegiatan amatir radio dapat menjadi landasan kuat bangkitnya industri dalam negeri dengan riset / ujicoba yang dilaksanakan oleh Amatir Radio Indonesia. ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN 2.92 tahun 1994 juga dialokasikan KRAP untuk UHF (476.2 ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA KRAP / CB Pita frekuensi yang digunakan mengambil alokasi untuk Fixed Services.410 MHz yang dibagi menjadi 40 kanal. UHF bahkan SHF. Rincian alokasi spektrum komunikasi radio untuk amatir dapat dilihat pada lampiran 5.600 MHz dengan spasi alur 20 KHz.960 MHz sampai dengan 27.415 MHz). Berdasarkan keputusan tersebut pada tahun 1998 alokasi frekuensi UHF tersebut dicabut.000 MHz sampai dengan 143.1 AMATIR RADIO Pita frekuensi yang digunakan adalah pita frekuensi yang dalam tabel Radio Regulation terdapat alokasi Amateur Services. 105 .KOMINFO/08/2009 Tentang Penyelenggaraan Amatir Radio. Terdapat usulan RAPI sebagai organisasi induk KRAP untuk menambah alokasi frekuensi HF 11 MHz dan frekuensi 430 MHz. mengingat telah terdapat pengguna eksisting. dan yang diizinkan pada pita VHF (Very High Frequency) untuk pelaksanaan penyelenggaraan KRAP adalah frekuensi radio 142. Pengaturan lebih rinci dapat dilihat pada Peraturan Menkominfo Nomor: 34/PER/M. Alokasi frekuensi untuk Amatir sangat luas meliputi frekuensi VLF.KOMINFO/8/2009 Tentang Penyelenggaraan Radio Antar Penduduk. Di Indonesia. VHF. Usulan ini sulit dikabulkan. Pada Kepdirjen Postel No. Rincian alokasi spektrum serta pengkanalan untuk Komunikasi Radio antar Penduduk (KRAP) dapat dilihat pada lampiran 6. Dengan karakateristik amatir radio sebagai kegiatan riset. Saat ini alokasi UHF tersebut digunakan untuk kanal frekuensi selular NMT-470 di beberapa lokasi dan juga untuk kanal TV-UHF. 2.41 – 477. LF. Pengaturan lebih rinci dapat dilihat pada Peraturan Menkominfo Nomor: 33/PER/M. HF. dan lagi penggunaan frekuensi HF untuk penggunaan banyak orang secara non eksklusif dikhawatirkan dapat menimbulkan gangguan serius ke pengguna negara lain. alokasi pita frekuensi yang diizinkan pada pita HF (High Frequency) untuk pelaksanaan penyelenggaraan KRAP adalah frekuensi radio 26.2.

PERIZINAN DAN PERSYARATAN Berdasarkan Peraturan yang lama (Permenhub No.q. Izin Komunikasi Radio Antar Penduduk (KRAP) saat ini terdiri dari IKRAP (Izin Komunikasi Radio Antar Penduduk) dan IPPKRAP (Izin Penguasaan Perangkat Komunikasi Radio Antar Penduduk).KOMINFO/8/2009 Tentang Penyelenggaraan Radio Antar Penduduk Keputusan Dirjen Postel Nomor: 80/DIRJEN/1999 Tentang Persyaratan Teknis Perangkat Amatir Radio Ketentuan teknis tersebut dapat di download di website Ditjen Postel pada bagian regulasi standardisasi. Ditjen Postel-Depkominfo.49/2002 dan Permenhub No.38/2007 dan Permen No. distribusi call sign semuanya terdapat dalam peraturan-peraturan tersebut di atas.38 tahun 2007 sebagai pengganti PP No.KOMINFO/08/2009 Tentang Penyelenggaraan Amatir Radio Peraturan Menkominfo Nomor: 34/PER/M. alokasi frekuensi yang disediakan. 106 . standar dan spesifikasi perangkat pemancar sistem telekomunikasi amatir radio dan KRAP yang telah ditetapkan oleh Ditjen Postel. spesifikasi teknis alat dan perangkat servis bergerak darat sedang disusun.25 tahun 2000. yaitu: • • • Peraturan Menkominfo Nomor: 33/PER/M. maka semua pelaksanaan perizinan stasiun radio termasuk amatir radio dan Komunikasi Radio Antar Penduduk dilakukan oleh pemerintah pusat. REGULASI TEKNIS DAN KONDISI OPERASI Terdapat sejumlah regulasi teknis. Sedangkan. Batasan-batasan operasional. Pernyataan penguasaan perangkat komunikasi radio untuk Amatir Radio ditentukan melalui sertifikat kecakapan amatir radio (SKAR). Izin Amatir Radio terdiri dari IAR (Izin Amatir Radio) dan IPPRA (Izin Penguasaan Perangkat Radio Amatir).33/2009 dan Permen Kominfo No. Sebagai catatan bahwa pada saat tulisan ini dibuat (Agustus 2009).33/2009 dan Permen No.34/2009. Dinas Perhubungan. Sebelum Juli 2007. maka proses perizinan dilakukan oleh Ditjen Postel dan UPT Balai/Loka Monitoring di setiap wilayah di Indonesia. Dengan diberlakukannya PP No. semua proses perizinan dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah c. Dengan diberlakukannya PP No. diatur melalui regulasi sertifikasi dan standardisasi alat dan perangkat telekomunikasi yang berlaku.34/2009. maka Izin disederhanakan menjadi hanya Izin Amatir Radio (IAR) dan Izin Komunikasi Radio Antar Penduduk (IKRAP).77/2003). c.q. 4. Dengan berlakunya Peraturan baru. Permen Kominfo No. Sedangkan mengenai kesesuaian dengan regulasi teknis.3.

Sebelum izin stasiun radio untuk komunikasi radio maritim diberikan oleh Ditjen Postel. Radionavigation Services. IMO (International Maritime Organization) maupun INMARSAT (Intenational Maritime Satellite). alokasi frekuensi untuk kepentingan komunikasi radio maritim dan penerbangan meliputi Aeronautical Mobile Services. Dalam Radio Regulation (RR) ITU-R. Ditjen Hubla. Sebelum izin stasiun radio untuk komunikasi radio maritim diberikan oleh Ditjen Postel. Penggunaan komunikasi radio maritim dan penerbangan untuk kepentingan pertahanan dan keamanan negara dikoordinasikan bersama antara Ditjen Postel. PENDAHULUAN Komunikasi radio untuk kepentingan maritim dan penerbangan merupakan komunikasi radio yang berhubungan dengan keselamatan transportasi melalui laut dan udara. Untuk hubungan komunikasi radio maritim internasional dikoordinasikan melalui ITU (International Telecommunication Union). Demikian pula mengenai pengaturan serta penentuan kanal frekuensi untuk komunikasi radio penerbangan dilakukan bersama antara Ditjen Postel dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud).8 KOMUNIKASI RADIO MARITIM DAN PENERBANGAN 1. komunikasi GMDSS (Global Maritime Distress and Safety Services).BAB . maupun frekuensi komunikasi radio penerbangan. terlebih dahulu dibutuhkan rekomendasi dari Ditjen Perhubungan Udara-Dephub. ITU telah memberikan dan menentukan penjatahan (allotment) kanal frekuensi untuk setiap negara. Departemen Perhubungan. Sedangkan untuk hubungan komunikasi radio penerbangan internasional dikoordinasikan melalui ITU dan ICAO (International Civil Aviation Organization). 107 . terlebih dahulu dibutuhkan rekomendasi dari Ditjen Perhubungan Laut-Dephub. Untuk frekuensi radio stasiun pantai. Di Indonesia pengaturan serta penentuan kanal frekuensi dilakukan bersama antara Ditjen Postel dan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Ditjen Hubla). Departemen Perhubungan. Ditjen Hubud-Departemen Perhubungan dan TNI. terutama yang bekerja di HF yang dapat menembus batas negara. Maritime Mobile Services. Radiodetermination Services. Radiolocation Service baik servis terrestrial maupun satelit.

setiap kapal laut yang memiliki bobot melebihi ketentuan tertentu (1600 grt). Maritime Mobile Satellite Services. Pengaturan perencanaan maupun penjatahan kanal frekuensi (allotment) diatur dalam Radio Regulation ITU sebagai berikut:         Article 5 . Mobile Services.Special rules relating to the use of frequencies in Maritime Services Appendix 13 – Distress and safety communication Non-GMDSS Appendix 15 .Frequencies for distress and safety communications for the Global Maritime Distress and Safety System (GMDSS) Appendix 17 . ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA KOMUNIKASI RADIO MARITIM Pita frekuensi radio yang digunakan adalah pita frekuensi yang dalam tabel alokasi Radio Regulation terdapat alokasi Maritime Mobile Services. masih dapat menggunakan perangkat yang memenuhi ketentuan SOLAS 74. 108 . Sistem komunikasi radio non GMDSS yang digunakan adalah:   Telegrafi kode Morse pada 500 kHz MF Radio-telephony pada frekuensi 2182 kHz atau 156. Kelemahan sistem SOLAS ini adalah ketergantungan dan kebutuhan operator radio yang ahli dan menguasai kode morse.8 MHz (Channel 16) VHF.Frequency allocations Article 51 .Conditions to be observed in the maritime services Article 52 . yang membatasi jangkauan dan kemampuan sistem SOLAS tersebut.Provisions and associated frequency allotment Plan for coast radiotelephone stations operating in the exclusive maritime mobile bands between 4 000 kHz and 27 500 kHz Berdasarkan International Convention for Safety of Life at Sea (SOLAS 74 dan amandemennya). Dengan diberlakukannya persyaratan GMDSS (Global Maritime Distress and Safety System) sejak tahun 1999. Selain itu terbatasnya propagasi komunikasi MF atau VHF.2. harus dilengkapi pesawat komunikasi radio untuk distress and safety (keselamatan dan marabahaya). untuk kapal laut melayani jalur domestik / dalam negeri diberi kesempatan sampai tahun 2009 sebagai masa transisi untuk melengkapi perangkat GMDSS. Sehingga sampai waktu tersebut.Frequencies and channel arrangement in the high frequency bands for maritime mobile services Appendix 18 – Table of transmitting frequencies in the VHF maritime mobile band Appendix 25 . Radionavigation Services. maka setiap kapal laut yang akan berlayar ke luar negeri diharuskan dilengkapi dengan persyaratan GMDSS. Berdasarkan kebijakan Ditjen Perhubungan Laut-Dephub.

faksimili dan data baik untuk mode simpleks maupun dupleks untuk jangkauan jarak jauh melalui propagasi skywave. o Frekuensi yang digunakan untuk GMDSS adalah sebagai berikut:  2174. 16 MHz.5 kHz. 4125 kHz dan 5850 kHz untuk komunikasi SAR antara unit maritim dan penerbangan. telex.4 kHz untuk Digital Selective Calling (DSC)  4210 kHz.5 kHz. 12 MHz.5 kHz) o Digunakan untuk komunikasi kode Morse 500 kHz untuk panggilan dan marabahaya (distress and safety) non-GMDSS o Frekuensi 518 kHz digunakan untuk Narrow Band Direct Printing (NBDP) broadcast ke kapal laut (NAVTEX).Sistem GMDSS merupakan suatu sistem komunikasi yang dikembangkan untuk menyediakan pelaut suatu komunikasi global dan jaringan penentu lokasi. 19680. Hanya sebagian kecil dari pitapita tersebut yang digunakan untuk komunikasi maritim bergerak. untuk operasi telepon radio (radio-telephony) dan telex baik untuk mode simpleks maupun dupleks untuk jangkauan menengah melalui propagasi groundwave.577 kHz.5 kHz untuk Digital Selective Calling (DSC) HF band (3155 kHz s/d 27. Penomoran kanal dapat dilihat pada tabel berikut ini. MF band (1606.    109 . VHF band (156 s/d 174 MHz) o Kanal frekuensi dialokasikan dengan interval 12. 8 MHz. 6312 kHz. 6314 kHz.5 kHz untuk broadcast dari stasiun pantai dengan Narrow Band Direct Printing (NBDP)  3023 kHz.5 kHz. o Frekuensi yang digunakan GMDSS adalah sebagai berikut:  4207. search and rescue (SAR) sehingga dapat dikoordinasikan untuk menjamin keselamatan pelayaran. 12579 kHz. 16804. 22376 kHz dan 26100.5 kHz.5 MHz) o Pita frekuensi ini dibagi menjadi pita-pita 4 MHz. 8416. 22 MHz dan 25 MHz. Berikut ini adalah alokasi frekuensi yang digunakan untuk komunikasi maritim terrestrial:  MF band (435 kHz s/d 526. 8414. 12.5 kHz. 16806. tetapi dapat memberikan informasi tanda bahaya. perangkat yang dapat dioperasikan oleh seseorang dengan pengetahuan komunikasi minimum.5 kHz s/d 3.8 MHz) o Kanal frekuensi dialokasikan dengan bandwidth 3 kHz. 6 MHz.5 kHz. Kanal frekuensi dialokasikan dengan bandwidth 3 kHz untuk komunikasi telepon radio.5 kHz untuk Narrow Band Direct Printing (NBDP)  2182 kHz untuk radio-telephony  2187.

225 156.675 161.125 156.75 161.675 156.80 156.925 156.425 Rx (MHz) 160.675 160.55 156.85 161.725 161.3 MHz (kanal 06) digunakan untuk komunikasi antara kapal laut dan pesawat terbang yang terlibat dalam operasi SAR.75 160.90 156.825 160.00 157.075 157.30 157.575 156.35 157.25 156.85 156.525 156.50 161.65 156.925 156.40 156.  156.70 161.875 160.575 161.30 160.025 157.525 (kanal 70) digunakan untuk panggilan dan marabahaya (distress and safety) menggunakan Digital Selective Calling (DSC) 110 .525 161.80 MHz (kanal 16) digunakan untuk panggilan dan marabahaya (distress and safety) internasional non-GMDSS  156.70 156.80 156.375 156.975 162.60 161.95 162.65 156.825 161.225 157.325 156.25 157.275 156.65 161.775 160.75 156.375 156.075 156.95 157.725 160.05 156.16 Frekuensi yang digunakan untuk GMDSS adalah sebagai berikut:  156.65 MHz (kanal 16) digunakan untuk komunikasi antar kapal laut yang terkait masalah keselamatan navigasi pelayaran.55 156.275 157.775 161.825 156.70 156.025 o Catatan:  Ch.80 161.70 secara eksklusif digunakan untuk DSC  Ch.20 157.  156.125 157.70 160.05 160.625 160.425 156.575 156.00 Ch 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 Tx (MHz) 156.675 156.20 156.875 161.45 156.76 secara eksklusif digunakan untuk NBDP  Ch.35 156.60 156.725 156.475 156.85 161.55 161.175 157.875 156.75 156.40 Rx (MHz) 160.375 157.40 156.825 156.75 adalah guardband untuk Ch.975 157.15 157.95 156.90 161.10 156.50 156.625 161.30 156.325 157.10 157.Ch 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Tx (MHz) 156.45 156.425 156.60 156.05 157.525 156.025 156.50 156.725 156.625 156.75 160.15 156.625 156.875 161.475 156.80 156.175 156.925 161.

radar maritim termasuk pengoperasian SAR dan transponder SART.Special rules relating to the use of frequencies Appendix 26 . Mobile Satellite Services. uplink komunikasi satelit  9200 – 9500 MHz. 111 .  1530 – 1544 MHz.Provisions and associated Frequency Allotment Plan for the aeronautical mobile (OR) service Appendix 27 . Pengaturan perencanaan maupun penjatahan kanal frekuensi (allotment) diatur dalam Radio Regulation ITU sebagai berikut:     Article 5 .5 – 1645. 3.o Pita frekuensi radio GMDSS lainnya  406 – 406.5 MHz. Rincian alokasi spektrum dan perencanaan pita komunikasi radio untuk keperluan maritim dapat dilihat pada lampiran 7. Aeronautical Mobile (route) services. ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA KOMUNIKASI RADIO PENERBANGAN Pita frekuensi radio yang digunakan adalah pita frekuensi yang dalam tabel alokasi Radio Regulation terdapat alokasi Aeronautical Mobile Services. Radiolocation Services. Radiodetermination Services.Frequency allotment Plan for the aeronautical mobile (R) service and related information Rincian alokasi spektrum dan band plan Komunikasi Radio untuk keperluan Penerbangan dapat dilihat pada tabel 22 berikut ini.Frequency allocations Article 43 . uplink akses satelit EPIRB (Emergency Position Indicating Radiobeacon)s.1 MHz. Radionavigation Satellite Services. downlink komunikasi satelit  1626.

RDARA:Regional and Domestic Air Route Area . 10 11 12 13 SAR Penerbangan SAR Penerbangan Marker Beacon Pendaratan di bandara VOR (VHF Omni Directional Ring) . sudah banyak tidak digunakan lagi Loran-C: Perangkat lama. MWARA:Major World Air Route Area.975 MHz SERVIS RNS RNS ARNS RNS ARNS ARNS ARNS RNS AMS AMS ( R ) AMS (OR) AMS AMS AMS ( R ) AMS (OR) AMS ( R ) AMS (OR) AMS ( R ) AMS (OR) AMS ( R ) AMS (OR) AMS ( R ) AMS (OR) AMS ( R ) AMS (OR) AMS ( R ) AMS ( R ) AMS (OR) AMS ( R ) AMS ( R ) AMS ( R ) ARNS ARNS CATATAN Omega: perangkat lama. Komunikasi jarak jauh antara tower dan pilot (voice) . Contoh: Pilot Internasional harus melapor meskipun hanya melintas Indonesia . sudah banyak tidak digunakan lagi ***********Untuk Maritim*********** Alat di pasaran sudah tidak ada NDB Loran A      Komunikasi udara/darat .TABEL 22. Digunakan secara eksklusif .2 MHz 108-117.8-75. Komunikasi antara bandara ke bandara seluruh Indonesia . Komunikasi data dari ground ke ground . ILS (Instrument Landing System) 112 . RINCIAN ALOKASI SPEKTRUM DAN BAND PLAN KOMUNIKASI RADIO PENERBANGAN NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 FREKUENSI 9-14 KHz 90-110 KHz 130-535 KHz 130-160 KHz 160-190 KHz 190-535 KHz 190-415 KHz 1800-2000 KHz 2850 – 22000KHz 2850-3025 kHz 3025-3155 kHz 3400 -3500 kHz 3900-3950 kHz 4650-4700 kHz 4700-4750 kHz 5480-5680 kHz 5680-5730 kHz 6525-6685 kHz 6685-6765 kHz 8815-8965 kHz 8965-9040 kHz 10005-10100 kHz 11175-11275 kHz 11275-11400 kHz 13200-13260 kHz 13260-13360 kHz 17900-17970 kHz 17970-18030 kHz 21924-22000 kHz 3023 KHz 5680 KHz 74. sudah banyak tidak digunakan lagi NDB (Radio Non-Directional Beacon) Perangkat lama. HF suara dan data .

ELT:Emergency Location Transmiter .5 MHz 1559-1626.1 MHz 243 MHz 328.975-137 MHz SERVIS AMS ( R ) AMS ( R ) /mobile AMS ( R ) /mobile AMS ( R ) /mobile ARNS MSS ARNS ARNS 15 16 17 18 19 20 21 121. ACAS:Airborne Collision Avoidance System GNSS:Global Navigation Satellite system. Jika ada pelanggaran penggunaan frekuensi radio yang mengganggu frekuensi radio untuk keselamatan penerbangan dan maritim. maka akan dilakukan tindakan monitoring dan penertiban secara cepat dan tegas sesuai peraturan nasional dan internasional. Voice Frekuensi emergensi .6-335. ACC Frekuensi emergensi . ELT:Emergency Location Transmiter . ADC:Air Drome Control (Landing Position) . ACAS:Airborne Collision Avoidance System SSR:Secondary Surveilence Radar. ELT:Emergency Location Transmiter .5-1660.4 MHz 406-406. APP:Air Approach Control .NO 14 FREKUENSI 117. Primer Surveilance Radar Satellite Communication Satellite Communication GNSS (Global Navigation Satellite System) GLONASS Surveilance Radar Radio Altimeter Catatan : AMS ( R ) AMS ( OR ) ARNS MSS RLS RNSS RDS : : : : : : : AERONAUTICAL MOBILE SERVICES (Route) AERONAUTICAL MOBILE SERVICES (Off Route) AERONAUTICAL RADIONAVIGATION SERVICES MOBILE SATELLITE SERVICE RADIOLOCATION SERVICES RADIONAVIGATION SATELLITE SERVICES RADIODETERMINATION SATELLITE SERVICES Penggunaan pita frekuensi untuk kepentingan maritim dan penerbangan terutama yang bersangkutan dengan keselamatan jiwa manusia.5 MHz 123.   113 .5 MHz 2700-3300 MHz 4200-4400 MHz ARNS RLS/RNSS ARNS/RLS MSS MSS ARNS/RNSS/ MSS ARNS/RDS/M SS ARNS/RLS ARNS CATATAN Komunikasi Pilot ke Pilot .1 MHz 960-1215 MHz 1030 MHz 22 23 24 25 26 27 28 29 30 1090 MHz 1215-1260 MHz 1260-1400 MHz 1525-1559 MHz 1626. Voice Frekuensi emergensi . Beacon ILS Glide path SAR satellite DME:Distance Measuring Equipment SSR:Secondary Surveilence Radar .5 MHz 1610-1626. harus bebas dari interferensi yang merugikan. Komunikasi Pilot ke Tower .

layanan publik dari pemerintah. kapasitas tinggi menggunakan DSL. internet bagi perusahaan. implementasi broadband dapat menggunakan infrastruktur eksisting. Modem Kabel. Ethernet. Mengacu pada Peraturan Menkominfo Nomor: 07/PER/M. penyiaran (video dan audio) serta mobile. dengan rincian sebagai berikut:  Infrastruktur Eksisting o DSL melalui jaringan akses tembaga (DSL over Copper loop) o Modem kabel melalui jaringan TV Kabel (Cable Modem over Cable TV network) o Akses Broadband Jalur Listrik (Power Line Broadband Access) Infrastruktur Baru o Fiber To The Home (FTTH) o Hybrid Fiber Coaxial (HFC) Infrastruktur Nirkabel o Wireless Access (FWA) / High speed WLL 114   . Layanan Komersial di antaranya adalah e-commerce. infrastruktur baru ataupun infrastruktur nirkabel. dsb.BAB . Layanan yang dapat disediakan broadband meliputi layanan personal. Sedangkan layanan video dan hiburan meliputi tv siaran. serta online radio. Broadband Wireless Access (BWA) / Wireless Broadband dideskripsikan sebagai komunikasi data yang memiliki kecepatan tinggi. video on demand. Broadband merupakan faktor teknologi fundamental yang memungkinkan transformasi ekonomi dan sosial serta merupakan faktor kunci (kritikal) bagi tingkat kompetitif suatu bangsa. Layanan personal meliputi akses internet berkecepatan tinggi (256 kbps dan lebih) dan akses multimedia. Seringkali broadband dikatakan memiliki kemampuan “triple play” bahkan “four play” yaitu mampu menyediakan layanan internet kecepatan tinggi. PENDAHULUAN Secara umum. layanan komersial. serta corporate internet. W-LAN. Definisi rentang kecepatan layanan broadband bervariasi dari 200 Kbps s/d 100 Mbps. e-education serta tele-medicine. Wireless Access. V-SAT. Fiber Optik. serta layanan video dan hiburan. teleponi. interactive gaming.9 BROADBAND WIRELESS ACCESS (BWA) 1. Secara teknologi.KOMINFO/01/2009 tentang Penataan Pita Frekuensi Radio Untuk Keperluan Layanan Pita Lebar Nirkabel (Wireless Broadband). music on demand. layanan publik dari pemerintah terdiri dari antara lain e-governance. layanan pita lebar nirkabel (wireless broadband) adalah layanan telekomunikasi nirkabel yang kecepatan transmisi datanya sekurangkurangnya 256 kbps.

secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua bagian. Pita IMT-2000Advanced: 450 MHz.4 – 4. dsb V-SAT IMT-2000 (3G Mobile): HSDPA/ CDMA-EVDO Menginggat frekuensi wireless broadband merupakan frekuensi yang strategis dan fundamental.8 GHz.7 GHz.3-2. Mendorong pertumbuhan industry telekomunikasi dan informatika nasional.11). ditetapkan dalam sidang WRC-2000. ditetapkan oleh Wimax Forum. Pada sidang Radiocommunication Assembly (RA) ITU-R telah berhasil memasukkan standar Wimax supaya diakui menjadi standar IMT. I-Burst (802. 2.o o o Wireless LAN (Wi-Fi) (802. 2. suatu forum industry penentuan standar Wimax. ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA 2 Alokasi spektrum untuk Broadband Wireless Access (BWA). yang ditetapkan dalam sidang WRC-2007. 115 . Memberikan pedoman dalam penggunaan frekuensi radio untuk keperluan layanan pita lebar nirkabel (wireless broadband)..4 – 3. Perencanaan pita frekuensi yang ditetapkan melalui standar IEEE maupun pita frekuensi yang non standar (propritary).9 GHz. WiMax (802. ditetapkan dalam sidang WRC-1992. Beberapa pita frekuensi seperti 2. 1710 – 1920 MHz. 3. 2110 -2170 MHz). Pita IMT extended band ((WRC-2003) : 806 -960 MHz. yang belum ditetapkan sebagai standar ITU. 2500 -2700 MHz.20). dan Mempercepat peningkatan teledensitas akses telekomunikasi dan informasi serta penyebaran layanan pita lebar nirkabel (wireless broadband) secara merata ke seluruh wilayah Indonesia.5 – 2. yaitu:   Perencanaan pita frekuensi yang ditentukan berdasarkan peraturan radio internasional oleh sidang ITU sebagai seperti IMT (International Mobile Telecommunication). b. Memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.4 GHz. Contoh dari Perencanaan pita fekuensi yang didefinisikan secara internasional melalui ITU antara lain :    Pita IMTcore-band (1920 -1980 MHz. 3. 470 – 860 MHz.KOMINFO/01/2009 tentang Penataan Pita Frekuensi Radio Untuk Keperluan Layanan Pita Lebar Nirkabel (Wireless Broadband) yang bertujuan untuk : a.3-2.7 GHz serta 5. c.16). d.4 GHz. maka diperlukan penataan dalam hal penggunaannya yang diatur dalam Peraturan Menkominfo Nomor: 07/PER/M.

tanpa ada suatu landasan kebijakan.8 GHz.postel. artinya sistem BWA tidak boleh mengganggu dan tidak mendapatkan proteksi dari sistem satelit. sesuai dengan regulasi yang berlaku.3 GHz. izin BWA diberikan dengan status sekunder terhadap sistem satelit.3 GHz dan 10. NAP.5 GHz. 9 Tahun 2009. Dengan diterbitkannya Permenkominfo No. sesuai dengan semangat memajukan industri dalam negeri. Sedangkan untuk pita frekuensi 2.4 – 3.4 GHz dan 5.q Ditjen Postel telah mendorong penyelenggara BWA untuk memenuhi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) sesuai dengan Permenkominfo No. 2. 1.5 GHz. karena perkembangan teknologi BWA yang belum matang. maka standar perangkat BWA lama yang digunakan sejumlah penyelenggara belum menggunakan standar terbuka. Izin penggunaan alokasi frekuensi BWA diberikan melalui mekanisme evaluasi kepada sejumlah penyelenggara telekomunikasi seperti kepada ISP. 3. Dalam pekembangaannya. KONDISI EKSISTING Beberapa permasalahan penggunaan frekuensi BWA di Indonesia yang ditemukan antara lain diakibatkan regulasi dan kebijakan serta pemberian izin sebelum tahun 2005 yang kurang tepat. Akan tetapi pada prakteknya.7 GHz diwajibkan untuk melakukan migrasi ke pita frekuensi 3.go. pemberian izin alokasi frekuensi BWA yang eksklusif akan diberikan melalui proses seleksi. penyelenggara eksisting BWA di pita frekuensi 3. 3.4 – 3. Sejumlah penyelenggara yang telah mendapatkan alokasi frekuensi BWA tidak memanfaatkan spektrum frekuensi yang diberikan secara optimal. 2 GHz.3 GHz dengan syarat dan ketentuan yang berlaku sesuai dengan Permenkominfo tersebut yang pengaturannya dapat diunduh di www.KOMINFO/01/2009 tentang Penataan Pita Frekuensi Radio Untuk Keperluan Layanan Pita Lebar Nirkabel (Wireless Broadband) telah ditetapkan pita frekuensi 300 MHz.7 GHz (ext-C band). 7 Tahun 2009. kriteria serta komitmen pembangunan yang jelas.Dalam Peraturan Menkominfo Nomor: 07/PER/M. izin penggunaan frekuensinya berdasarkan izin kelas. penyelenggara jaringan tetap lokal berbasis packet switched & penyelenggara multimedia. Selain itu. 116 . Dengan telah ditetapkannya kebijakan regulasi dan perizinan. permohonan izin baru BWA dengan menimbang pada ketersediaan spektrum frekuensi untuk layanan BWA sangat terbatas. Izin penggunaan frekuensi tersebut berdasarkan izin pita frekuensi radio. Yang lebih menyulitkan lagi bahwa beberapa izin alokasi penggunaan frekuensi diberikan tanpa ada batasan yang jelas baik dari sisi wilayah cakupan izin maupun pita frekuensi yang digunakan. Pada pita 3.id di bagian Regulasi Frekuensi. sehingga menyulitkan dalam implementasi pengembangannya. Pemerintah c. penggunaan bersama/sharing antara operasional BWA eksisting dengan stasiun bumi sistem satelit (V-SAT) tidak dapat berjalan dengan baik.

mengenai BWA yang dapat memberikan landasan bagi industri telekomunikasi di tanah air. Zona 12. yaitu wilayah Papua. Pada bulan Mei 2006 dan November 2006 dilakukan konsultasi publik dengan berbagai pihak terkait. yaitu wilayah Sulawesi Bagian Utara. calon pemohon. Zona 11. penyelenggara eksising. Zona 13. 15 zone wilayah layanan tersebut yaitu:                Zona 1. Pada bulan November 2006 disusun suatu draft white paper Penataan Frekuensi BWA dan juga dilakukan konsultasi publik. Zona 2. Zona 7. Zona 6. yaitu wilayah Sumatera Bagian Selatan. yaitu wilayah Kalimantan Bagian Timur. yaitu wilayah Jawa Bagian Tengah. manufaktur. bulan Januari 2009 telah ditetapkan Peraturan Menkominfo yang dapat dilihat melalui website Ditjen Postel. vendor. dsb.id. yaitu wilayah Sumatera Bagian Utara. www. Ditjen Postel berusaha menyusun kerangka kebijakan dan regulasi BWA secara komprehensif.go. Zona 10. yaitu wilayah Kepulauan Riau. pengoptimalan pemanfaatan spektrum frekuensi melalui pemberian izin pita dan pendistribusian wilayah layanan BWA menjadi 15 zone wilayah layanan BWA sehingga dapat mendorong penyebaran jaringan BWA. yaitu wilayah Sulawesi Bagian Selatan. 117 . yaitu wilayah Jawa Bagian Timur. yaitu wilayah Kalimantan Bagian Barat. Dari masukan konsultasi publik tersebut. Jakarta. Ditjen Postel kemudian juga telah melakukan konsultasi publik dengan menerbitkan white paper ke dua tentang penataan pita frekuensi BWA pada medio Oktober 2008. Bogor. Zona 8. yaitu wilayah Jawa Bagian Barat kecuali Bogor. yaitu wilayah Sumatera Bagian Tengah. Zona 4. Depok dan Bekasi. Tanggerang dan Bekasi.Sejak awal tahun 2006. Zona 3.postel. mendorong penggunaan standar BWA yang terbuka sehingga dapat memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat. yaitu wilayah Maluku dan Maluku Utara. yaitu wilayah Banten. Zona 5. Depok. Tujuan dari penataan frekuensi BWA sendiri secara ringkas dapat digambarkan sebagai berikut :     mempercepat peningkatan teledensitas akses telekomunikasi dan informasi serta penyebaran jasa internet kecepatan tinggi secara merata ke seluruh wilayah Indonesia membangkitkan pertumbuhan industri manufaktur dan riset telekomunikasi dan informatika dalam negeri. yaitu wilayah Bali dan Nusa Tenggara. Zona 9. Zona 14. Zona 15.

3 GHz 10.8 GHz akan diprioritaskan bagi penggunaan backbone / backhaul point-to-point dengan kriteria bahwa permohonan penggunaan frekuensi yang dimaksud akan 118 .5 GHz dan 10. Sedangkan bagi pemegang izin alokasi frekuensi eksisting di 5.5 GHz 5. Penataan frekuensi BWA dan masa transisinya terdapat pada gambar 6 dan gambar 7.3 GHz Pita Penetapan Baru Standard Skema Perizinan Wilayah Layanan Frekuensi Izin 15 ZONE 15ZON E Per lokasi Proprietary: 7/8 MHz Bandwidth Netral : BW 5 MHz TDD.0 GHz.5 GHz. akan diberikan hak pengelolaan frekuensi secara ekslusif di pita frekuensi dan wilayah layanan sesuai dengan Izin Stasiun Radio yang dimilikinya. PENATAAN FREKUENSI BWA Secara garis besar bahwa dalam penataan frekuensi BWA dibagi menjadi dua bagian besar. Selain itu juga akan disesuaikan alokasi pita frekuensi dan wilayah layanan yang diizinkan sesuai dengan standar yang ditetapkan. PERIZINAN DAN PERSYARATAN Pemegang izin alokasi frekuensi eksisting di pita 300 MHz. 3. PENATAAN FREKUENSI BWA Pita Penetapan Eksisting 300 MHz 1 5 GHz 2 GHz 3.8 GHz 2. 2x7 MHz FDD utk Netral :Maks TDD 20 MHz BW Netral : TDD Netral : TDD 5 MHz BW Izin Pita Izin per stasiun Izin Kelas Izin Pita 15ZON E Diperlukan Transisi Penyelenggara Eksisting 5. 3. Hal ini disebabkan karena pita frekuensi 5. 2.8 GHz untuk layanan akses point-to-multipoint akan diberi waktu sampai dengan masa izinnya selesai. GAMBAR 6.4 GHz 2. 1.5 GHz.3 GHz. yaitu :   Penyesuaian perizinan bagi pemegang izin alokasi frekuensi eksisting yang dberikan sebelum Mei 2005. Persiapan pemberian izin pita frekuensi BWA di pita frekuensi dan wilayah layanan yang belum diduduki.4.5 GHz. 2.

maupun akses frekuensi itu sendiri. kesanggupan memberikan akses (open access) kepada penyelenggara lain secara non diskriminasi.3 Penyesuaian Blok Frek/Teknis Penyelenggar a BWA Migrasi Frek Masa Transisi Skema BHP Izin Frek Untuk Izin Pita akan diberlakukan BHP Pita yang besarannya akan ditentukan kemudian (sedang dilakukan studi BHP ISR ke BHP Pita ATAU menyesuaikan dengan hasil lelang/price taker pita terkait di daerah lain dengan prosentase. tahap hasil lelang dan tahap pasca lelang. backbone. terhadap fasilitas infrastruktur esensial termasuk di antaranya menara. Dalam proses pelaksanaan kegiatan tersebut terdiri dari 4 (empat) tahap yaitu tahap persiapan.3 GHz pada tanggal 14 16 Juli 2009 menggunakan metode seleksi lelang elektronik (E-Auction).5 GHz 2 tahun 1 tahun Masa laku ISR Pengguna frekuensi non BWA 2 tahun Untuk Izin ISR tetap diberlakukan BHP ISR sesuai dengan Untuk pita frekuensi dan wilayah layanan lain yang belum diduduki. 6 bulan Pengguna frekuensi non BWA 2 tahun 1 tahun 2.3 GHz Penyelenggar a BWA eksisting 3. Calon pemohon seleksi akan diminta untuk menandatangani dokumen prakualifikasi standar yang berisi kewajiban-kewajiban tertentu.dihubungkan dengan jaringan komunikasi publik pada titik tertentu dengan kapasitas lebih dari 40 Mbps. Hasil dari kegiatan seleksi adalah sebagai berikut: 119 . MASA TRANSISI PENATAAN FREKUENSI BWA Pita BWA 300 MHz 1. serta kesanggupan menggunakan perangkat produk industri nasional yang memiliki tingkat komponen dalam negeri sesuai ketentuan. GAMBAR 7.5 GHz 3.3 GHz Pengguna frek eksisting Penyelenggar a BWA Penyelenggar a BWA eksisting 3. Proses seleksi telah dilaksanakan secara fair. maka distribusi izinnya akan dilakukan melalui proses seleksi lelang dengan prakualifikasi. tahap proses pelaksanaan.8 GHz 2. Ditjen Postel telah melaksanakan Seleksi Penyelenggaraan Telekomunikasi Broadband Wireless Access (BWA) di Pita Frekuensi 2.5 GHz 2 GHz 2.4 GHz 5. rencana pengembangan layanan standar ( roll-out plan ). Persyaratan prakualifikasi standar tersebut meliputi antara lain. transparan dan mendapatkan hasil yang memuaskan bagi negara dan masyarakat. backhaul.

414. Biaya Izin Awal (Up Front Fee) yang diperoleh dari masing-masing hasil lelang peringkat pertama dan kedua di masing-masing zona yang dibayarkan hanya pada tahun pertama.    Ditetapkan pemenang dari 2 blok yang dilelang pada 15 zona di seluruh Indonesia yaitu pemenang peringkat 1 dan 2. diwajibkan menggunakan perangkat yang memiliki tingkat kandungan lokal memenuhi ketentuan Peraturan Menteri Perindustrian yang berlaku. dan Biaya Izin Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio Tahunan yang besarannya diambil dari hasil lelang peringkat kedua pada masingmasing zona. Wilayah zona BWA ditentukan berdasarkan suatu unit wilayah standar dengan luas sekitar 11 x 11 km2. pengembangan dan manufaktur telekomunikasi nasional.3 GHz.3 GHz.3 GHz dimaksud di atas. Total Biaya Izin Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio Tahunan adalah sebesar Rp 434. (1 derajat x 1 derajat dalam longitude/lattitude) Koordinasi antar penyelenggara BWA diperlukan untuk mencegah interferensi. maka:  perbatasan zona wilayah layanan BWA didasarkan bukan pada wilayah administrasi saja melainkan wilayah unit standar di perbatasan 120 . 3. Total Up Front Fee yang diperoleh adalah sebesar Rp 458. melalui beberapa metode sebagai berikut: o Dalam hal penyelenggara telekomunikasi yang mendapatkan izin alokasi BWA TDD di 2.000.5 GHz adalah sebagai berikut:    izin penggunaan frekuensi akan ditentukan pada 15 wilayah zona BWA standar yang ditentukan. dan dibayarkan selama 10 (sepuluh) tahun masa laku izin.3 GHz. Khusus untuk BWA 2.00 (empat ratus lima puluh delapan milyar empat ratus empat belas juta rupiah). Beberapa ketentuan tambahan yang perlu diperhatikan untuk penyelenggara BWA di pita 2 GHz. dengan frekuensi yang sama.3 GHz.000.054.00 (empat ratus tiga puluh empat milyar lima puluh empat juta rupiah) per tahun. 3.000.3 GHz terkait diwajibkan melakukan sinkronisasi waktu (TDD) dengan penyelenggara yang memiliki alokasi frekuensi bersebelahan o Dalam hal penyelenggara telekomunikasi yang memiliki stasiun radio (BTS) di daerah yang berbatasan dengan wilayan penyelenggara layanan BWA lainnya.000. Hai ini dimaksudkan untuk mendorong bangkitnya industri riset. Pemenang seleksi USO tersebut bila ingin menggunakan BWA 2. terdapat suatu kebijakan pemberian insentif bagi pemenang seleksi penyelenggara kewajiban layanan universal (USO) yang akan diberikan alokasi frekuensi 7 MHz di rentang 2380 – 2390 MHz di wilayah layanan telepon untuk pedesaan (WTUP) sampai dengan daerah kecamatan yang meliputinya. 10. 2.

8 GHz eksisting tetap dapat menggunakan investasi perangkat eksisting dan mengembangkan di wilayah layanan sesuai dengan ketentuan surat persetujuan alokasi frekuensi yang dimilikinya.4 GHz untuk akses internet yang diberlakukan untuk izin kelas (bebas dipakai untuk teknologi tertentu dengan syarat.8 GHz yang seringkali menjadi polemik. maka Ditjen Postel akan segera melengkapi regulasi ketentuan teknis dengan mengkaji referensi 121 .  Mengenai penggunaan frekuensi 2. termasuk manufaktur. setelah diskusi cukup banjang dengan berbagai pihak terkait.8 GHz eksisting yang telah mendapatkan surat persetujuan alokasi frekuensi. meliputi antara lain :  Penggunaan frekuensi 5. perlengkapan sudah terspesifikasi seperti pada KM No.2/2005 ttg penggunaan 2. tanpa proteksi dan tidak boleh menimbulkan interferensi. polarisasi. paling lambat bulan Januari 2011. Setelah waktu tersebut penggunaan frekuensi 5. Penerapan izin kelas di 5. vendor.8 GHz tersebut tidak berlaku untuk wilayah yang telah ada pemegang surat alokasi frekuensi yang ditetapkan Ditjen Postel sebelumnya. pengaturan antena. serta beroperasi sesuai dengan batasan teknis yang ditetapkan.8 GHz akan ditetapkan menjadi izin kelas secara bertahap.8 GHz. narasumber / expert maupun berbagai asosiasi industri. Pemasangan BTS ditentukan sedemikian rupa sehingga besar kuat medan / level sinyal penerimaan di wilayah yang bersebelahan tidak boleh melewati batas maksimum emisi tertentu Penyelenggara telekomunikasi dimaksud dianjurkan untuk melakukan sedapat mungkin teknik pencegahan interferensi meliputi diskriminasi antena. melainkan cukup menggunakan perangkat yang sudah disertifikasi / type approved oleh Ditjen Postel. shielding/blocking. Pengguna frekuensi 5. Untuk pita-pita frekuensi lain yang belum diatur.8 GHz digunakan secara bersama-sama.8 GHz eksisting mendapatkan prioritas sampai dengan Januari 2011.   Sedangkan batasan teknis penggunaan frekuensi 2. 2/2005). pemilihan lokasi pemancar atau pengendalian daya pancar.4 GHz dimaksudkan untuk menyesuaikan persyaratan seperti pada Kepmenhub No.4 GHz dan 5. maka diusulkan kebijakan perizinan dan ketentuan teknis untuk kedua penggunaan frekuensi dimaksud. Kebijakan Perizinan dan Ketentuan Teknis Wireless Data 5. Artinya bahwa pemohon baru di wilayah-wilayah dimaksud harus membuktikan bahwa aplikasi izinnya tidak menimbulkan potensi gangguan terhadap pengguna frekuensi 5. Izin kelas berarti bahwa pengguna frekuensi radio 5. Pemohon baru tidak perlu lagi mengajukan izin stasiun radio secara prosedur aplikasi ISR biasa.

maka untuk kasus BWA yang memiliki izin pita frekuensi radio secara eksklusif di suatu wilayah layanan tertentu. 6. BHP FREKUENSI RADIO ITU serta APT (Asia Pacific Penetapan tarif BHP untuk layanan BWA berbasis per Izin Stasiun Radio (ISR) yang besarannya berbeda-beda antara teknologi yang satu dengan teknologi lainnya cukup menyulitkan untuki dimplementasikan dan juga tidak mendorong penyelenggara untuk mengembangkan jaringannya sesegera mungkin.3 GHz untuk keperluan layanan pita lebar nirkabel (wireless broadband) sebagai berikut : TAHUN PEMBAYARAN Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5 Tahun 6 Tahun 7 Tahun 8 Tahun 9 Tahun 10 PEMBAYARAN IPSFR TAHUNAN TOTAL PEMBAYARAN UP-FRONT FEE 1 X HP 0 X HP 0 X HP 0 X HP 0 X HP 0 X HP 0 X HP 0 X HP 0 X HP 0 X HP 1XHL 1X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1XHP + 1XHL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 122 .8 GHz akan dikenakan BHP Frekuensi ISR sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Untuk sementara. penggunaan frekuensi point-to-point dengan menggunakan frekuensi 5. maka akan dikenakan BHP pita frekuensi radio secara bertahap. proses migrasi dan pengenaan BHP Frekuensi Radio untuk penyelenggara layanan BWA dapat dilihat pada Gambar 5 dan 6 di atas. Khusus untuk BHP Pita penyelenggara 2.sejumlah negara. Secara garis besar.3 GHz telah ditentukan mekanisme pembayaran BHP spektrum frekuensi radio untuk biaya izin awal (up front fee) dan untuk biaya izin pita spektrum frekuensi radio (IPSFR) tahunan pemenang seleksi penyelenggaraan jaringan tetap lokal berbasis packet switched yang menggunakan pita frekuensi radio 2. maupun rekomendasi Telecommunity) yang terkait. Konsisten dengan kebijakan penerapan BHP frekuensi radio di penyelenggara selular.

www.4 – 3.postel.KOMINFO/1/2009 TENTANG PENATAAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 167/DIRJEN/2002 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT BROADBAND WIRELESS ACCESS PADA FREKUENSI 10 GHZ PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 94/DIRJEN/2008 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI SUBSCRIBER STATION BROADBAND WIRELESS ACCESS (BWA) NOMADIC PADA PITA FREKUENSI 2.Ditjen Postel.KOMINFO/1/2009 TENTANG PENETAPAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) PADA PITA FREKUENSI RADIO 3.3 GHz PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 95/DIRJEN/2008 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI BASE STATION BROADBAND WIRELESS ACCESS (BWA) NOMADIC PADA PITA FREKUENSI 2.go.3 GHz         Semua regulasi tersebut dapat diakses melalui website Ditjen Postel.Keterangan: HP = Harga Penawaran Peserta Pemenang Lelang per blok 1 X 15 MHz HL = Hasil Lelang per blok 1 X 15 MHz (diambil dari harga penawaran pemenang lelang kedua pada setiap Zona Wilayah Layanan) 7.3 GHz PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 96/DIRJEN/2008 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI ANTENA BROADBAND WIRELESS ACCESS (BWA) NOMADIC PADA PITA FREKUENSI 2.8 GHZ PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 8/KEP/M. REGULASI TERKAIT PENATAAN FREKUENSI BWA Terdapat sejumlah regulasi terkait penataan frekuensi BWA yang telah ditetapkan oleh Depkominfo .3 GHz PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 7/KEP/M. antara lain sebagai berikut:    PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 26/PER/M. 123 .3 GHz DAN MIGRASI PENGGUNA FREKUENSI RADIO EKSISTING UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) DARI PITA FREKUENSI RADIO 3.KOMINFO/1/2009 TENTANG PENETAPAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) PADA PITA FREKUENSI RADIO 2.6 GHz KE PITA FREKUENSI RADIO 3.id di bagian Regulasi Telekomunikasi dan/atau Frekuensi.3 GHZ PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 9/KEP/M.KOMINFO/6/2009 TENTANG PENETAPAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL PADA PITA FREKUENSI RADIO 5.KOMINFO/6/2009 TENTANG PENETAPAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL PADA PITA FREKUENSI RADIO 2 GHZ PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 27/PER/M.

satelit Indonesia pertama yaitu Palapa A diluncurkan sebagai sistem komunikasi satelit domestik (SKSD) yang memberi layanan telekomunikasi serta relay TVRI. PLDT-Philipina dan Jasmine-Thailand. Satelit ini dioperasikan oleh PT. Satelit BSS (Broadcasting Satellite Services) Indostar-1 (107. Satelit ini merupakan kerjasama dari PSN Indonesia dengan Mabuhay-Philipina. Satelit MSS (Mobile Satellite Services) Garuda-1 (123E) yang memiliki daerah cakupan Asia Pasifik menyediakan layanan sistem telekomunikasi bergerak berbasis GSM melalui satelit (ACeS) lewat layanan BYRU serta aplikasi fixed melalui PASTI. Garuda. Indonesia meluncurkan beberapa seri satelit seperti satelit Palapa seri B. Satelit ini memberikan layanan DTH (Direct-to-Home) menggunakan 5 transponder S-band. 6 transponder ext-C band dan 4 transponder Ku-band. satelit Cakrawarta. Satelit FSS (Fixed Satellite Services) Palapa Pacific-C/Ku 146E (146E) yang lebih dikenal dengan Mabuhay. Telkom memberikan layanan telekomunikasi.      124 . PSN. seri C.7E) yang lebih dikenal dengan Cakrawarta. yaitu:  Satelit FSS (Fixed Satellite Services) Palapa Telkom-1 (108E) yang memiliki daerah cakupan Asia Tenggara menyediakan 24 transponder C band dan 14 transponder ext-C band. Satelit FSS (Fixed Satellite Services) Palapa C-2 (113E) yang memiliki daerah cakupan Asia Tenggara menyediakan 24 transponder C band. Satelit ini dioperasikan oleh PT.BAB . Satelindo kecuali 6 transponder ext-C band dioperasikan oleh PT. Pada tahun 1976. Sistem ACeS tersebut dipelopori oleh joint venture dari 3 perusahaan. Satelit ini beroperasi di L-band. dan sebagainya. yaitu PSN Indonesia. internet. ketika Indonesia pertama kali terhubung dengan satelit Intelsat.10 PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI SATELIT 1. Satelit ini dioperasikan oleh PT. Sejak itu. Telkom memberikan layanan telekomunikasi serta relay TV. PSN memiliki saham minoritas kepemilikan transponder di satelit tersebut. Satelit FSS (Fixed Satellite Services) Palapa Telkom-2 (118E) yang memiliki daerah cakupan Asia Tenggara menyediakan 24 transponder C band. relay TV serta penyiaran DTH (Direct-to-Home). Saat ini Indonesia memiliki 5 satelit telekomunikasi operasional yang didaftarkan melalui Administrasi Telekomunikasi Indonesia. Satelit ini memberikan layanan telekomunikasi internet serta relay TV. PENDAHULUAN Sistem komunikasi satelit telah digunakan di Indonesia untuk menyambungkan lebih dari 17 000 pulau di Indonesia sejak September 1969.

dan lain sebagainya. penyelenggaraan telekomunikasi satelit dapat dibagi menjadi beberapa kelompok. pemetaan. juga dapat mencakup Indonesia dan memberi layanan untuk penyelenggaraan internet maupun DTH. 2. Penyelenggara jaringan bergerak satelit (Mobile Satellite Services) Penyelenggara jasa Network Access Provider (NAP). GLONASS. meterologi dan geofisika. Saat ini bisa dipastikan jumlah tersebut telah bertambah. Asiasat. Selain satelit-satelit telekomunikasi. GALILEO banyak digunakan unuk kepentingan-kepentingan tersebut. kebijakan pemerintah saat ini adalah bahwa setiap penggunaan satelit telekomunikasi asing di Indonesia harus mendapatkan landing right (hak labuh) dari Ditjen Postel. sebenarnya Indonesia pun memanfaatkan satelit-satelit lain untuk kepentingan navigasi. Landing right sebaiknya diberikan dengan memperhatikan aspek kesamaan perlakukan terhadap satelit Indonesia di negara asal satelit asing tersebut. penyelesaian koordinasi frekuensi dan koordinasi satelit dengan Indonesia. yaitu:   Planned Band Unplanned Band Planned Band yaitu pita frekuensi untuk satelit yang telah diatur sedemikian rupa oleh ITU agar setiap negara mendapatkan jatah slot orbit. inderaja (penginderaan jauh). Untuk kebutuhan siaran langsung (live) bagi kebutuhan penyiaran yang menggunakan SNG (Satellite News Gathering). Satelit-satelit global seperti NOAA. yaitu:    Penyelenggara jaringan tetap tertutup (leased line) baik bagi penyelenggara satelit maupun penyelenggara VSAT atau Stasiun Bumi. disyaratkan hanya boleh menggunakan akses ke satelit Indonesia atau satelit asing yang telah memiliki landing right di Indonesia. Mabuhay. Pada tahun 2006. Panamsat. Dilihat dari aspek regulasi. ST-1. seperti satelit Intelsat yang dioperasikan oleh Indosat. Chinasat. ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA Berdasarkan Radio Regulation ITU. Measat. Walaupun demikian. serta adanya perusahaan di Indonesia yang mengajukan izin prinsip sebagai penyelenggara telekomunikasi yang memanfaatkan akses satelit tersebut. kanal frekuensi transponder satelit dengan cakupan dibatasi pada wilayah teritorial 125 . Indonesia menyewa sekitar 40 transponder dari satelit asing karena persediaan dalam negeri sudah hampir penuh. terdapat dua kelompok pita frekuensi untuk satelit. Thaicom. GPS.Sejumlah satelit asing seperti New Skies Satellites.

40 Adm Beam Name Jenis Polarisasi INS INSA100 CR INS INSA100 CL Channel 1.1 GHz.34 12264.7 – 12. Pada BSS plan. 22.7 – 12. 19. Sedangkan pengaturan kanal frekuensi feeder link ditetapkan melalui Appendix 30A Radio Regulation. 10.70 12302. 17. PENGKANALAN FREKUENSI SERVICE LINK BSS PLANNED BAND Channel No.16 12245.52 12283. 31.98 12226. 15. 15.82 Channel No.62 12187.08 12130.2 GHz.46 11957.02 11804. 23 29.42 126 .2 GHz dapat dilihat pada Tabel 24 berikut ini. 3. 6. 36. sedangkan alokasi pita frekuensi feeder link adalah 17. serta slot orbit 104E untuk beam Indonesia Timur mencakup pulau Bali. 14.30 dan App. 4. 38. 39 30. 17. 13. 13.3 – 18. 34.84 11785. 37. 11.30A) serta FSS Plan (App. Sulawesi.2E untuk beam Indonesia Barat mencakup pulau Jawa.30 DAN APP.30A APP30 Posisi Orbit 80. 32. pengkanalan frekuensi untuk service link BSS Planned Band Appendix 30 Radio Regulation Region-3 di pita frekuensi 11. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Assigned frequency (MHz) 11727. Sumatera dan Kalimantan. 19. 5. Sedangkan. 5. 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 Assigned frequency (MHz) 12111. 16. 20. 7.38 11842. 23 2.26 12149.66 11765. 11.64 11976. Pengaturan kanal frekuensi BSS Planned untuk service link (Earth-to-space) ditetapkan oleh appendiks 30 Radio Regulation-ITU sebagaimana dijelaskan pada tabel 23 berikut ini. 12. Indonesia mendapatkan jatah slot orbit 80. 7. 9.28 11938.24 12360.20 11823.92 11900.80 12206.44 12168.48 11746.56 11861.negara tersebut.2 104 Adm INS INS INS Beam Name Jenis Polarisasi INSA02800 CR INSA03501 CL INSA03502 CR Channel 1.2 104 104 APP30A Posisi Orbit 80. Maluku dan Irian Jaya.88 12322. PENJATAHAN KANAL FREKUENSI DAN SLOT ORBIT BSS PLAN INDONESIA BERDASARKAN RR APP.06 12341. 3. Terdapat dua macam Planned Band yaitu BSS Plan (App.10 11919.74 11880. 35. 21. 9. Nusa Tenggara. 8. 33. Untuk region 3 alokasi pita frekuensi yang digunakan untuk service link adalah 11. 18. TABEL 23.30B). 24 TABEL 24. 21.

42 17 979.38 17 442.84 17 385.45 GHz (downlink). 35 36 37 38 39 40 Assigned frequency (MHz) 12379. TABEL 25.74 17 480. 10.06 17 941. 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Assigned frequency (MHz) 17 711.14 12456.24 17 960. PENGKANALAN FREKUENSI FEEDER LINK BSS PLANNED BAND Channel No.32 12475. orbit satelit.p density satelit maupun stasiun bumi Planned Band Appendix 30B dapat dilihat pada lampiran 8.18 12034. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Assigned frequency (MHz) 17 327.92 17 500.26 17 749.34 17 864. Berikut ini adalah alokasi pita frekuensi planned band Appendix 30B:    4 500 .72 12091.78 Untuk FSS planned band. Ku-band relatif jarang digunakan karena redaman hujan propagasi terlalu tinggi di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara subtropis.10.75 .20 17 423.52 17 883.96 12437.18 Channel No.60 12398.48 17 346.02 17 404.62 17 787.56 17 461.00 17 615. Indonesia mendapatkan satu jatah slot orbit yaitu di 115.08 17 730.r.25 GHz (uplink).70 17 902.50 Pengkanalan frekuensi untuk feeder link BSS Planned Appendix 30A Radio Regulation untuk Region-3 dapat dilihat pada Tabel 25 berikut ini.20 .11.00 12015.4 800 MHz (downlink) dan 6 725 and 7 025 MHz (uplink).90 Channel No. pita frekuensi yang sering digunakan di Indonesia adalah C-band. 127 .80 17 806. 11.82 17 596. 12.64 17 576.16 17 845.13.Channel No.95 GHz.60 17 998.88 17 922.4E dengan cakupan dibatasi wilayah teritori Indonesia.66 17 365.10 17 519.54 12072. 15 16 17 18 19 20 Assigned frequency (MHz) 11996.98 17 826. Appendix 30B. Untuk unplanned band. e.70 .46 17 557.36 12053.44 17 768.78 12417.i. Pengaturan rinci mengenai beam.28 17 538.

Penyelenggara satelit Indonesia saat ini meliputi antara lain:       PT.r. Penyelenggara satelit Indonesia adalah Penyelenggara telekomunikasi yang memiliki dan atau menguasai satelit yang didaftarkan ke ITU atas nama Administrasi Telekomunikasi Indonesia.5 – 1660. Tabel berikut ini menjelaskan alokasi pita frekuensi unplanned band untuk satelit telekomunikasi maupun satelit broadcasting di Indonesia. PERIZINAN SATELIT Satelit Indonesia adalah satelit yang didaftarkan ke ITU atas nama administrasi telekomunikasi Indonesia.11562 11650 . Pasifik Satelit Nusantara PT. 3. Terdapat dua jenis ISR untuk penggunaan frekuensi satelit yaitu Izin stasiun angkasa dan Izin stasiun bumi.14362 14450 – 14522 Rincian pengkanalan transponder untuk sejumlah satelit Indonesia unplanned band dapat dilihat pada lampiran 9. ALOKASI FREKUENSI UNPLANNED BAND SATELIT INDONESIA Pita Frekuensi L-band S-band X-band Ext-C band C-band Ku-band Downlink (MHz) 1525 – 1559 2520 – 2670 3400 – 3700 MHz 3700 – 4200 MHz 10990 . ACeS) LAPAN (Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional) Setiap penyelenggara telekomunikasi yang menggunakan satelit wajib memiliki Izin Stasiun Radio (ISR) dari Ditjen Postel. karena relatif lebih fleksibel parameter teknisnya. Indosat PT. ukuran antena.p. satelit asing adalah satelit yang didaftarkan ke ITU atas nama administrasi telekomunikasi negara lain. TABEL 26. 128 . maupun parameter lainnya.11222 11490 . pita frekuensi.11722 Uplink (MHz) 1626.5 8120 – 8270 6425 – 6725 MHz 5925 – 6425 MHz 13790 – 13862 13950 – 14022 14290 . Media Citra Indostar PT. Telkom PT.Seluruh satelit Indonesia yang operasional dan hampir seluruh satelit telekomunikasi komersial lainnya di dunia cenderung menggunakan unplanned band. Asia Cellular Satelit (PT.10662 11150 .i. baik batasan e. Sedangkan.

21 tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Jasa Telekomunikasi Permen Kominfo No. Sedangkan satelit asing adalah satelit yang didaftarkan ke ITU bukan atas nama Administrasi Telekomunikasi Indonesia. diatur secara rinci melalui sejumlah peraturan antara lain:        UU No. Setiap stasiun bumi wajib didaftarkan ke Ditjen Postel. 35 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Komunikasi Dan Informatika Nomor 13 tahun 2005 Tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi Yang Menggunakan Satelit.52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi PP No. PSN. PT.36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi PP No.1 KETENTUAN PERIZINAN PENGGUNAAN SATELIT DI INDONESIA Ketentuan perizinan penyelenggara telekomunikasi yang menggunakan satelit. PT. Sedangkan. pengguna satelit Indonesia tidak perlu mengurus izin stasiun radio dan tidak membayar BHP Frekuensi. Permen Kominfo No.17 Tahun 2005 tentang Tata Cara Perizinan Frekuensi Permen Kominfo No. Indosat. PT.357 Tahun 2006 tentang Penyelenggaraan Telekomuniikasi Menggunakan Satelit Perdirjen No.53 Tahun 2000 tentang Penggunaan Frekuensi dan Orbit Satelit PP No. 268 Tahun 2005 tentang Persyaratan Teknis Alat Dan Perangkat Set Top Box Satelit Digital     Penyelenggaraan telekomunikasi menggunakan satelit dibagi menjadi dua kelompok yaitu penyelenggara satelit nasional dan penyelenggara satelit asing. Proses pendaftaran tersebut dapat melalui operator satelit nasional atau langsung dilakukan pengguna stasiun bumi yang mengarah ke satelit nasional tersebut. 129 . Penyelenggara satelit nasional diwajibkan memiliki ISR izin stasiun angkasa.19 Tahun 2005 tentang PNBP BHP Frekuensi Radio Perdirjen Postel No.3.20 tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Jaringan Telekomunikasi Kepmenhub No. 28 Tahun 2005 mengenai PNBP di lingkungan Depkominfo Kepmenhub No. MCI dan LAPAN). Satelit nasional adalah satelit yang didaftarkan ke ITU atas nama Administrasi Telekomunikasi Indonesia. Tabel 27 berikut ini menjelaskan mengenai daftar satelit Indonesia yang dioperasikan. ISR stasiun angkasa diurus oleh penyelenggara satelit Indonesia (PT. Telkom.

DAFTAR SATELIT INDONESIA YANG BEROPERASI Slot Orbit 107. China  Pacific.  Indonesia.  sd   New  PNG  New  PNG  Zealand  Zealand  Satelit Asing yang dapat digunakan di Indonesia adalah satelit yang telah memiliki hak labuh. Indonesia .  Hongkong. C band  Ku‐band  ext‐C Band ext‐C band Ku‐band  Coverage  Indonesia  Indonesia.   Hongkong.‐C  ext‐C  channeling  4 txpd Ku  plan  36 MHz  36 MHz C‐ 36 MHz  200 kHz/  36 MHz  Bandwidth  24 MHz  RF channel  36 MHz  per  ext‐C  Transponders 72 MHz  Ku‐band  L‐band  C band  Frekuensi  S‐band  C‐band.  Indonesia. Australia.  Australia)  China.  Australia.  Macau. Indonesia. 130 .  Australia sd  to  sd China.  Asia. Tabel 28 dan 29 berikut ini menjelaskan Daftar Satelit Asing yang memenuhi kriteria bebas interferensi sampai dengan bulan September 2007.  C‐band  Ext.  Southeast  Asia  (India sd  Asia  Asia  Pacific. Persyaratan Hak labuh meliputi kriteria teknis dan resiprokal sebagai berikut:   Kriteria teknis : Satelit yang digunakan tidak menimbulkan interferensi yang merugikan bagi satelit Indonesia maupun stasiun radio yang berizin Kriteria resiprokal : Terbukanya kesempatan yang sama bagi penyelenggara satelit Indonesia untuk berkompetisi dan beroperasi di negara asal satelit asing tersebut.7E 108E 113E 118E 123E 146E Operator MCI TELKOM INDOSAT TELKOM PSN/ACES PSN Satelit Nama Satelit  INDOSTAR‐2  TELKOM‐1 PALAPA‐ TELKOM‐2 GARUDA‐1  PALAPA  (PROTOSTAR)  C2  PACIFIC‐  146E  (Mabuhay) Kapasitas  10 txpd S‐ 24 txpd C  24 txpd C  24 txpd C‐ Cellular‐ 48  band  12 txpd  6  txpd  band  like  ext.  Pakistan  North  North  Pakistan sd  australia.  Macau. PNG.  C band.TABEL 27.  Southeast  Asia Pasific  Philipinnes.

DAFTAR SATELIT ASING YANG MEMENUHI KRITERIA BEBAS INTERFERENSI DENGAN BATASAN TEKNIS RINCI NO. negara asal satelit asing yang memenuhi kriteria interferensi adalah China.5E MEASAT-1 NewSkies (NSS-5 – Inggris) 177E INTELSAT7 177E NSS 6 95E INTELSAT 95E NSS 703 57E INTELSAT 57E PANAMSAT 10 68. USA .5E Nama Satelit ITU Filing ASIASAT-1/CK ASIASAT . Jepang.5E DFH-3-OC INTELSAT 902 62E INTELSAT IS 906 64E JCSAT-3 128E JCSAT-3A JCSAT-4A 124E JCSAT-4 MEASAT-1 91. DAFTAR SATELIT ASING YANG MEMENUHI KRITERIA BEBAS INTERFERENSI NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Slot Nama Satelit ITU Filing Orbit APSTAR 2R / TELSTAR 10 76.5E APSTAR-4 APSTAR V / TELSTAR18 / TONGASAT AP-3/ 138E (Hongkong) TONGASAT-C/KU-3 TONGASAT AP-2/ APSTAR VI (Hongkong) 134E TONGASAT-C/KU-2 ASIASAT 2 100. 1 2 3 4 SATELIT ASIASAT 3S ASIASAT-4 MEASAT-2 SINOSAT 1 Slot Orbit 105.AKX/ASIASAT-A MEASAT-2 CHINASAT-6 Negara HONGKONG HONGKONG MALAYSIA CHINA Sampai dengan bulan September 2007. Hongkong. 131 .TABEL 28.5E PANAMSAT 2 169E PAS-2 PANAMSAT 4 72E PANAMSAT 8 166E USASAT-14H PAS 12 45E EUROPE*STAR-1 SES AMERICOM AMC 23 172E USASAT-14K/60A ST-1 88E ST-1A INTELSAT 702 55 INTELSAT 709 85 INTELSAT 904 60 JCSAT 4 127 SATELIT Negara CHINA TONGA TONGA HONGKONG CHINA USA USA JEPANG JEPANG MALAYSIA USA NETHERLAND NETHERLAND USA USA USA USA GERMANY USA SINGAPURA USA USA USA JEPANG TABEL 29. Belanda. Jerman.5E ASIASAT-EKX/ ASIASAT-E CHINASTAR-1 87. Singapura. Tonga. Inggris. Malaysia.5E 122E 148E 110.

Izin stasiun angkasa dapat diberikan kepada :    Penyelenggara jaringan telekomunikasi Penyelenggara telekomunikasi khusus untuk keperluan pertahanan dan keamanan negara. maka setiap stasiun radio di bumi yang berhubungan dengan satelit tersebut tidak dikenai izin stasiun radio lagi tapi cukup mendaftarkan keberadaan stasiun radio tsb. Izin stasiun bumi tidak diberlakukan bagi stasiun radio:   yang berhubungan dengan satelit yang telah memiliki izin stasiun angkasa atau yang melakukan penerimaan bebas (tidak berbayar/ free to air) dari satelit untuk keperluan sendiri dan tidak didistribusikan kembali untuk kepentingan komersil.3.2 IZIN STASIUN ANGKASA Izin stasiun angkasa adalah izin penggunaan frekuensi oleh suatu stasiun angkasa (satelit) untuk melakukan pemancaran gelombang radio ke dan atau penerimaan gelombang radio dari wilayah Indonesia. Persyaratan mendapatkan izin stasiun bumi adalah sebagai berikut:   Satelit yang digunakan telah memiliki hak labuh Mengajukan surat permohanan izin stasiun bumi 132 . Izin stasiun bumi diberlakukan untuk setiap lokasi stasiun radio. Dengan adanya izin stasiun angkasa. atau Penyelenggara telekomunikasi khusus untuk keperluan instansi pemerintah Persyaratan Izin Stasiun Angkasa adalah sebagai berikut:     Satelit yang digunakan telah memiliki hak labuh Mengajukan surat permohanan izin satsiun angkasa Mengisi formulir permohonan Izin Stasiun Angkasa Membayar BHP ISR Izin Stasiun Angkasa 3.3 IZIN STASIUN BUMI Izin stasiun bumi adalah izin penggunaan frekuensi untuk stasiun radio di bumi yang melakukan pemancaran gelombang radio ke dan atau penerimaan gelombang radio dari suatu satelit. Pengguna satelit yang menjadi pelanggan dari pelanggan satelit nasional ataupun menggunakan satelit asing yang telah ada izin angkasa tidak perlu mengurus izin stasiun bumi.

dan terbukanya kesempatan yang sama bagi penyelenggara satelit Indonesia untuk berkompetisi dan beroperasi di negara asal penyelenggara satelit asing tersebut. Untuk permohonan ISR berupa izin stasiun angkasa. hak labuh (landing right) diberikan dengan syarat:  satelit asing tersebut telah menyelesaikan koordinasi satelit dan atau tidak menimbulkan interferensi yang merugikan (harmful interference) dengan satelit Indonesia maupun stasiun radio yang telah berizin. hak labuh (landing right) diberikan dengan syarat:  satelit asing tersebut tidak menimbulkan interferensi yang merugikan (harmful interference) terhadap satelit Indonesia maupun satelit lain yang telah memiliki izin stasiun angkasa serta terhadap stasiun radio yang telah berizin. dan terbukanya kesempatan yang sama bagi penyelenggara satelit Indonesia untuk berkompetisi dan beroperasi di negara asal penyelenggara satelit asing tersebut. Permohonan hak labuh (landing right) wajib disertakan bukti tertulis bahwa satelit asing yang akan digunakan: o telah menyelesaikan koordinasi satelit.  Untuk permohonan ISR berupa izin stasiun bumi. Permohonan hak labuh (landing right) untuk penggunaan satelit asing diajukan oleh penyelenggara telekomunikasi kepada Direktur Jenderal. dan atau   133 .  Mekanisme Perizinan Hak Labuh untuk Izin Stasiun Angkasa adalah sebagai berikut:  Hak labuh (landing right) untuk izin stasiun angkasa hanya dapat diberikan kepada: o penyelenggara jaringan telekomunikasi.4 HAK LABUH Hak labuh (landing right) adalah hak yang diberikan oleh Direktur Jenderal atas nama menteri kepada penyelenggara telekomunikasi atau lembaga penyiaran berlangganan dalam rangka bekerja sama dengan penyelenggara telekomunikasi asing.  Mengisi formulir permohoan Izin Stasiun bumi Membayar BHP ISR Izin Stasiun bumi 3. o penyelenggara jasa interkoneksi internet (Network Access Point/NAP).

penyelenggara telekomunikasi dapat mengajukan permohonan untuk mendapatkan ISR izin stasiun angkasa. dan o Dokumen hasil koordinasi satelit (summary record) antara Administrasi Telekomunikasi Indonesia dengan Administrasi Telekomunikasi negara asal satelit asing tersebut. Direktur Jenderal menerbitkan hak labuh (landing right) setelah semua persyaratan dipenuhi oleh penyelenggara telekomunikasi. Setelah hak labuh (landing right) diterbitkan. o penyelenggara jasa jual kembali warung internet. yang ditujukan kepada Administrasi Telekomunikasi Indonesia. kecuali: o penyelenggara telekomunikasi khusus untuk keperluan badan hukum. Mekanisme permohonan untuk mendapatkan ISR izin stasiun angkasa dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal tersendiri dan menggunakan formulir permohonan sebagaimana ditentukan. o penyelenggara jasa akses internet (internet service provider). Pengajuan hak labuh (landing right) juga wajib disertakan bukti tertulis bahwa di negara asal penyelenggara satelit asing tersebut terbuka kesempatan yang sama bagi penyelenggara satelit Indonesia untuk berkompetisi dan beroperasi (reciprocity). 134 . Direktur Jenderal menerbitkan ISR izin stasiun angkasa setelah pemohon membayar Biaya Hak Penggunaan (BHP) spektrum frekuensi radio yang besarnya sesuai ketentuan perundangundangan yang berlaku. Bukti tertulis tersebut berupa: o Surat Pernyataan dari penyelenggara satelit asing tersebut. Mekanisme Perizinan Hak Labuh untuk Izin Stasiun Bumi adalah sebagai berikut:  Hak labuh (landing right) untuk izin stasiun bumi dapat diberikan kepada semua penyelenggara telekomunikasi.o       tidak menimbulkan interferensi yang merugikan (harmful interference) dengan satelit Indonesia maupun stasiun radio yang telah berizin. o Negara asal penyelenggara satelit asing adalah negara yang mendaftarkan filing satelit dimaksud ke ITU. Bukti tertulis dapat berupa: o Surat Keterangan dari Administrasi Telekomunikasi satelit asing yang akan digunakan. atau o Kesepakatan Bersama antara administrasi telekomunikasi Indonesia dengan administrasi telekomunikasi satelit asing yang akan digunakan.

meliputi BHP Frekuensi Izin Stasiun Angkasa dan/atau Izin Stasiun Bumi. atau o Kesepakatan bersama antara administrasi telekomunikasi Indonesia dengan administrasi telekomunikasi satelit asing yang akan digunakan. Bukti tertulis dapat berupa: o Surat Keterangan dari administrasi telekomunikasi satelit asing yang akan digunakan. Direktur Jenderal menerbitkan hak labuh (landing right) setelah semua persyaratan dipenuhi oleh penyelengara telekomunikasi. yang ditujukan kepada administrasi telekomunikasi Indonesia. o Dokumen hasil koordinasi satelit (summary record) antara Administrasi Telekomunikasi Indonesia dengan Administrasi Telekomunikasi negara asal satelit asing tersebut. Mekanisme permohonan untuk mendapatkan ISR izin stasiun bumi dilaksanakan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal tersendiri dan menggunakan formulir permohonan yang ditentukan. serta terhadap stasiun radio yang telah berizin. 3. 135 . Negara asal penyelenggara satelit asing adalah negara yang mendaftarkan filing satelit dimaksud ke ITU. bersedia menghentikan operasinya tanpa syarat. Bukti tertulis dapat berupa: Surat pernyataan dari penyelenggara satelit asing tersebut. penyelenggara telekomunikasi dapat mengajukan permohonan untuk mendapatkan ISR izin stasiun bumi. Permohonan hak labuh (landing right) wajib disertakan bukti tertulis bahwa satelit asing yang akan digunakan tidak menimbulkan interferensi yang merugikan (harmful interference) terhadap satelit Indonesia maupun satelit lain yang telah memiliki izin stasiun angkasa.5 BHP FREKUENSI RADIO SISTEM SATELIT BHP Frekuensi Radio untuk Izin Stasiun Radio yang menggunakan satelit.        Permohonan hak labuh (landing right) untuk penggunaan satelit asing diajukan oleh penyelenggara telekomunikasi kepada Direktur Jenderal. dan o Jaminan tertulis dari pemohon ISR izin stasiun bumi bahwa setiap saat (24 jam per hari) menyiapkan sistem dan sumber daya manusia yang dapat mengatasi setiap gangguan terhadap sistem satelit dan terrestrial Indonesia. dan bilamana gangguan terus menerus terjadi. Pengajuan hak labuh (landing right) juga wajib disertakan bukti tertulis bahwa di negara asal penyelenggara satelit asing tersebut terbuka kesempatan yang sama bagi penyelenggara satelit Indonesia untuk berkompetisi dan beroperasi (reciprocity). Setelah hak labuh (landing right) diterbitkan.

4. HDDP = 53 618 BHP = 0.04. Ib = 0. 15 Juta per tahun (downlink) 4 GHz Total = Rp. Ip =0 HDLP = 5809. Ip = 0.12 juta BHP uplilnk / downlik = Rp.143.5 x ((0.24 juta per tahun. 15 Juta per tahun (uplink) 6 GHz Rp.18 HDLP = 5809.18 x 53 618 x 47)) = 2. Berikut ini contoh pengenaan biaya BHP Frekuensi Izin Stasiun Bumi:       Stasiun bumi. 30 juta per tahun.04 x 5809 x 9000) + (0.Berikut ini contoh pengenaan biaya BHP Frekuensi Izin Stasiun Angkasa:        Transponder C-band 36 MHz. HDDP = 53 618 Rp. C-band ¼ transponder = 9 MHz Power = 47 dBW (ERP) Zone 1. Zone III Ib = 0. 136 .

11 PERANGKAT BERDAYA PANCAR RENDAH / JANGKAUAN PENDEK (SHORT RANGE DEVICES) DAN ISM-BAND 1.5 MHz.1 IZIN KELAS PADA PERMEN KOMINFO NO.BAB . remote control. berikut ini adalah jenis perangkat komunikasi radio yang termasuk izin kelas. 2. penggunaan pita frekuensi radio 2400 – 2483. Penggunaan perangkat tersebut. keperluan industri. maka sebelum perangkat tersebut dijual bebas di Indonesia terlebih dahulu harus mendapatkan sertifikasi perangkat dari Ditjen PostelDepkominfo. secara ringkas. Scientific and Medical/ISM Band). b. telepon cordless. diizinkan untuk beroperasi dengan prinsip tidak menimbulkan interferensi dan tidak mendapatkan proteksi (noninterference and non-protection basis).17 tahun 2005 tentang tata cara perizinan spektrum frekuensi radio. Ditjen Postel sedang menyusun suatu draft peraturan Dirjen Postel mengenai penggunaan perangkat komunikasi radio yang termasuk izin kelas. Untuk menjamin bahwa perangkat komunikasi radio tersebut memenuhi kategori berdaya pancar rendah dan memiliki jangkauan pendek yang ditentukan. 137 . penggunaan izin kelas meliputi antara lain: a. Perangkat berdaya pancar rendah dengan jangkauan pendek ini dapat digunakan hampir di semua tempat dan dapat beroperasi di sejumlah banyak frekuensi. c. pengguna perangkat tersebut harus menggunakan frekuensinya bersama-sama dengan aplikasi komunikasi radio lain dan tidak boleh menyebabkan interferensi kepada jaringan komunikasi radio yang telah diberi izin oleh Ditjen Postel. Perangkat tersebut termasuk perangkat komunikasi radio seperti wireless microphone. penggunaan frekuensi radio untuk alat dan perangkat telekomunikasi dengan daya pancar dibawah 10 mW. Sehingga. PENDAHULUAN Istilah “Short Range Devices” dimaksudkan untuk mencakup pemancar radio yang memiliki wilayah operasi sangat terbatas akibat daya pancar yang rendah (pada umumnya 100 mW atau kurang). 2.17 TAHUN 2005 Berdasarkan Peraturan Menteri Kominfo No. ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA Pada saat tulisan ini dibuat. ilmu pengetahuan dan kesehatan (Industrial. dsb.

138 .1 TERMINAL PELANGGAN UNTUK PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI BERGERAK SELULAR DAN PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL DENGAN MOBILITAS TERBATAS (FIXED WIRELESS ACCESS) DEFINISI Terminal pelanggan penyelenggaraan telekomunikasi bergerak selular dan penyelenggaraan jaringan tetap lokal dengan mobilitas terbatas (fixed wireless access /FWA) adalah suatu perangkat yang melakukan komunikasi dengan suatu Base Station (BTS) yang dibangun oleh penyelenggara jaringan telekomunikasi bergerak selular dan penyelenggara jaringan tetap lokal dengan mobilitas terbatas (fixed wireless access /FWA) pada pita-pita frekuensi yang ditetapkan. perangkat terminal pelanggan untuk penyelenggaraan telekomunikasi bergerak selular dan penyelenggaraan jaringan tetap lokal dengan mobilitas terbatas (fixed wireless access) perangkat komunikasi jarak pendek (short range device) perangkat terminal pelanggan untuk penyelenggaraan bergerak radio trunking perangkat telepon nirkabel (cordless phone) perangkat infra red 2. PITA FREKUENSI Terminal pelanggan penyelenggaraan telekomunikasi bergerak selular dan penyelenggaraan jaringan tetap lokal dengan mobilitas terbatas (Fixed Wireless Access /FWA) hanya dapat menggunakan pita frekuensi yang sama dengan yang ditetapkan kepada penyelenggara jaringan telekomunikasi bergerak selular dan penyelenggara jaringan FWA.2 KONSEP USULAN PERLUASAN IZIN KELAS Dalam draft Peraturan Dirjen Postel. c. diusulkan penggunaan perangkat komunikasi radio yang dikategorikan sebagai penggunaan izin kelas sebagai tambahan dari ketentuan peraturan terdahulu. b. maka izin kelas ditetapkan sebagai berikut : a.2. d. IZIN KELAS Izin kelas ini meliputi hak setiap orang untuk beroperasi menggunakan terminal pelanggan untuk berkomunikasi dengan suatu BTS penyelenggara selular/FWA dengan syarat bahwa pengoperasian BTS dimaksud telah memperoleh izin stasiun radio (ISR). e.2.

139 .2. PITA FREKUENSI Perangkat komunikasi radio jarak pendek (short range communications device) hanya dapat menggunakan pita frekuensi yang ditentukan dalam kolom kedua pada Tabel A yang ditetapkan untuk izin kelas dan digunakan bersama-sama secara non-ekslusif. PERSYARATAN OPERASIONAL Effective Isotropic Radiated Power (EIRP) Kuat medan maksimum atau EIRP maksimum tidak boleh melewati nilai-nilai sebagaimana ditentukan dalam kolom ketiga Tabel 30.2.2 PERANGKAT KOMUNIKASI JARAK PENDEK (SHORT RANGE DEVICE) DEFINISI Perangkat komunikasi radio jarak pendek (short range communications device) adalah perangkat komunikasi berdaya pancar rendah yang menyediakan komunikasi jarak pendek untuk aplikasi bergerak dan tetap pada pita-pita frekuensi tertentu. IZIN KELAS Izin kelas ini meliputi hak setiap orang untuk beroperasi menggunakan perangkat komunikasi radio dengan syarat beroperasi sesuai dengan ketentuan batasan daya pancar sebagaimana ditentukan dalam kolom ketiga Tabel A dan menggunakan pita frekuensi pada kolom kedua Tabel A.

553 MHz .35 – 146.00 MHz 487 – 507 MHz KUAT MEDAN/ERP MAKSIMUM ≤ 100 dBµV/m pada jarak 3 m ≤ 100 mW ERP ≤ 100 mW ERP.00 MHz 180. boat and car models.28 MHz 15 26. PITA FREKUENSI DAN BATASAN TEKNIS UNTUK APLIKASI-APLIKASI SHORT RANGE DEVICES (SRD) NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 PITA FREKUENSI 16 – 150 kHz 6765 kHz .28 MHz ≤ 500 mW ERP 16 29. alarm system Radio detection.00 – 200.33 MHz 312.30 MHz 300.60 MHz 40.6600 MHz 40. telemetry and alarm systems Remote control of cranes and loading arms 14 26.13.glider. telemetry and alarm systems Remote control.50 MHz 240.7000 MHz 88.of aircraft and glider models and machine. alarm system Radio detection.275 MHz ≤ 1000 mW ERP 140 .of aircraft and glider models and machine.567 MHz 146.96 – 27.00 MHz 444. alarm system Radio detection. alarm system Radio detection. alarm system Radio detection. Radio detection.00 – 108.40 – 444. camera and toys Remote control.7 – 30 MHz ≤ 500 mW ERP 17   170.00 – 315.00 – 300. garage door.6795 kHz 13. ≤ 94 dBµV/m pada jarak 3m ≤ 100 mW ERP ≤ 100 mW ERP ≤ 100 mW ERP ≤ 100 mW ERP ≤ 100 mW ERP ≤ 57 dBµV/m pada jarak 3 m ≤ 65 dBµV/m pada jarak 10 m ≤ 60 dBµV/m pada jarak 10 m ≤ 112 dBµV/m pada jarak 10 m ≤ 112 dBµV/m pada jarak 10 m ≤ 65 dBµV/m pada jarak 10 m CONTOH APLIKASI SRD Induction loop system ISM ISM.51 – 1. alarm system Wireless microphone Wireless microphone Wireless microphone Wireless microphone Wireless microphone Remote control of aircraft.15 – 240.TABEL 30.96 – 27.80 MHz 0.

080 MHz KUAT MEDAN/ERP MAKSIMUM ≤ 1000 mW ERP ≤ 1000 mW ERP ≤ 1000 mW ERP ≤ 3000 mW ERP ≤ 3000 mW ERP ≤ 3000 mW ERP ≤ 3000 mW ERP ≤ 0. RFID system Wireless video transmitter dan aplikasi SRD lain 141 .150 MHz 40.875 MHz 158.96 – 27. data communication system Wireless modem.01 mW ERP ≤ 1000 mW ERP 27 72.925 MHz 923 – 925 MHz 10.55 GHz ≤ 1000 mW ERP 31 ≤ 1000 mW ERP ≤ 500 mW ≤ 117 dBµV/ m pada jarak 10 m 32 34 CONTOH APLIKASI SRD Remote control of cranes and loading arms Remote control of cranes and loading arms Remote control of cranes and loading arms On site radio paging system On site radio paging system On site radio paging system On site radio paging system Medical and biological telemetry Wireless modem.675 MHz 26. data communication system Radio telemetry.600 MHz ≤ 1000 mW ERP 30 158.325/162. data communication system Wireless modem.200 MHz ≤ 1000 mW ERP 28 72.28 MHz 40.66 – 40.000 MHz 72. telecommand.400 MHz ≤ 1000 mW ERP 29 72. data communication system Wireless modem. data communication system Wireless modem.275/162.575 MHz 173.575 MHz 173.70 MHz 151.125 MHz 151.50 – 10.NO 18 19 20 21 22 23 24 25 26 PITA FREKUENSI 170.500 – 41. data communication system Wireless modem.

PERSYARATAN OPERASIONAL Effective Isotropic Radiated Power (EIRP)maksimum perangkat terminal pelanggan radio komunikasi trunking tidak diperbolehkan melebihi 25 Watt dan beroperasi pada pita-pita frekuensi sebagaimana ditentukan dalam kolom 2 (kedua) dan kolom 3 142 .5 dBm EIRP saat kendaraan berhenti CONTOH APLIKASI SRD Bluetooth Wireless video transmitter dan aplikasi SRD lain Short range radar system such as automatic cruise control and collision warning systems for vehicle 37 76-77 GHz 2.2.4000 – 2.00 – 24.3 PERANGKAT TERMINAL PELANGGAN PENYELENGGARAAN BERGERAK RADIO TRUNKING UNTUK DEFINISI Perangkat terminal radio trunking adalah perangkat terminal untuk berkomunikasi stasiun BTS penyelenggara radio trunking dimana pengoperasian BTS dimaksud telah diberi ISR.  NO 35 36 PITA FREKUENSI 2.25 GHz KUAT MEDAN/ERP MAKSIMUM ≤ 100 mW ERP ≤ 100 mW ERP ≤ 37 dBm EIRP saat kendaraan bergerak dan ≤ 23. terminal radio trunking dapat secara otomatis mengakses kanal-kanal frekuensi dalam suatu sistem radio trunking sesuai dengan kanal yang ditetapkan pada sistem tersebut. IZIN KELAS Izin kelas ini meliputi hak setiap orang untuk beroperasi menggunakan terminal pelanggan trunking untuk berkomunikasi dengan suatu BTS penyelenggara jaringan komunikasi radio trunking dengan syarat bahwa pengoperasian BTS dimaksud telah memperoleh izin stasiun radio (ISR).4835 GHz 24. PITA FREKUENSI Terminal pelanggan komunikasi radio trunking hanya dapat menggunakan pita frekuensi yang sama dengan yang ditetapkan kepada penyelenggara jaringan bergerak komunikasi radio trunking.

5 kHz 12. PERSYARATAN SPASI KOMUNIKASI TRUNKING Tipe 1 Trunking 400 MHz Trunking 800 MHz Transmitter 2 380 – 389 MHz 407 – 409 MHz 419 – 422. PERSYARATAN OPERASIONAL Effective Isotropic Radiated Power (EIRP) EIRP maksimum untuk perangkat telepon cordless tidak boleh melebihi batas nilai-nilai sebagaimana ditentukan dalam Tabel 30.4 PERANGKAT TELEPON NIRKABEL (CORDLESS PHONE) DEFINISI Perangkat telepon nirkabel (cordless phone) adalah perangkat portable atau bergerak berdaya pancar rendah (low power) untuk komunikasi dua arah dengan suatu base lokal yang telah ditetapkan penggunaan frekuensinya sebagaimana ditentukan dalam Tabel 32.5 – 414 MHz 806 – 821 MHz KANAL UNTUK RADIO Channel Spacing 4 12.2.(ketiga) dengan ketentuan memenuhi persyaratan spasi kanal sebagaimana tercantum pada TABEL dibawah ini : TABEL 31. IZIN KELAS Izin kelas ini meliputi hak setiap orang untuk beroperasi menggunakan perangkat komunikasi radio dengan syarat beroperasi sesuai dengan ketentuan batasan daya pancar dan pita frekuensi sebagaimana ditentukan dalam Tabel 32.5 kHz 25 kHz Receiver 3 390 – 399 MHz 417 – 419 MHz 426.5 – 424 MHz 851 – 866 MHz 2.75 MHz 422.5 – 429.5 kHz 12. 143 . PITA FREKUENSI Perangkat telepon cordless hanya dapat menggunakan pita frekuensi sebagaimana dalam tabel 32 dan digunakan secara bersama-sama secara non ekslusif.5 kHz 12.5 MHz 412.

9700 MHz MHz to 49.0000 2400. PERSYARATAN OPERASIONAL Effective Isotropic Radiated Power (EIRP) EIRP maksimum untuk perangkat gelombang infra merah tidak diperbolehkan melebihi 125 mW. PITA FREKUENSI Perangkat radio menggunakan gelombang infra merah hanya dapat menggunakan pita frekuensi yang ditetapkan untuk izin kelas dan digunakan bersama-sama secara non-ekslusif yaitu pada rentang pita frekuensi 187.9700 MHz MHz to 1900. 4.5 THz – 420 THz.2. 2. PITA FREKUENSI 46. KETENTUAN OPERASIONAL Setiap pengoperasian perangkat komunikasi radio yang dikategorikan ke dalam izin kelas.0000 MHz to 46.5 THz sampai dengan 420 THz. 144 . Pengguna frekuensi dalam pengoperasian perangkat dilarang menimbulkan gangguan interferensi yang merugikan. IZIN KELAS Izin kelas ini meliputi hak setiap orang untuk beroperasi menggunakan perangkat gelombang infra merah dengan syarat beroperasi sesuai dengan ketentuan batasan daya pancar.5 PERANGKAT RADIO YANG MENGGUNAKAN GELOMBANG RADIO INFRA MERAH (INFRA RED DEVICES) DEFINISI Perangkat radio menggunakan gelombang radio infra merah adalah perangkat radio yang beroperasi menggunakan gelombang radio pada rentang pita dari 187.0000 MHz MHz to 2483. 3.6100 1880. PITA FREKUENSI DAN EIRP PERANGKAT CORDLESS PHONE NO 1.TABEL 30.5000 MHz MAKSIMUM UNTUK EIRP MAKSIMUM 50 milliWatt 50 milliWatt 100 milliWatt 100 milliWatt 2. wajib mengikuti ketentuan sebagai berikut: a.6100 49.

Berdasarkan definisi tersebut jelas bahwa penggunaan ISM bukan untuk bidang telekomunikasi. DAN MEDIS (INDUSTRIAL.79 MHz (centre frequency 433. SCIENCE AND MEDICAL BAND) Pengertian ISM band banyak disalahartikan terutama dalam kasus penggunaan low power spread spectrum untuk penggunaan internet. pengguna frekuensi harus mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengatasi gangguan tersebut. spesifikasi dan standar teknis. excluding applications in the field of telecommunications. o 433. Setiap perangkat radio yang dioperasikan untuk penggunaan izin kelas wajib mendapatkan sertifikasi perangkat dari Direktur Jenderal. Dalam hal terjadi gangguan interferensi yang merugikan. d. Pengguna frekuensi dalam penggunaan perangkat dilarang melebihi daya pancar. e. 3.b. medical. domestic or similar purposes. ITU adalah sebagai berikut:  Artikel 5. perangkat industri. medikal. c. scientific and medical (ISM) applications (of radio frequency energy): Operation of equipment or appliances designed to generate and use locally radio frequency energy for industrial.05-434.92 MHz) di Region 1 kecuali negara yang disebut dalam No. segera dihentikan pengoperasiannya sampai gangguan tersebut dapat diatasi. dan prosedur yang telah ditentukan. sains dan medikal/kedokteran dari energi frekuensi radio (ISM) adalah pengoperasian dari suatu perangkat yang dirancang untuk menimbulkan dan menggunakan energi frekuensi radio secara lokal untuk kegunaan industri. scientific. Contoh-contoh penggunaan ISM adalah perangkat kedokteran.280 Radio Regulation. 5. Pengguna frekuensi harus menjamin bahwa perangkat penyebab interferensi yang merugikan. parameter emisi ataupun daerah jangkauan seperti yang telah ditentukan. perangkat rumah tangga seperti pemanas / microwave oven. PITA FREKUENSI INDUSTRI. kecuali aplikasi di bidang telekomunikasi. Pita-pita frekuensi ISM yang diatur dalam Radio Regulation. Penggunaan perangkat wajib sesuai dengan persyaratan. Berdasarkan definisi Radio Regulation ITU dinyatakan sebagai berikut: Industrial. 145 . Artinya bahwa aplikasi industri.138 Radio Regulation-ITU: o 6 765-6 795 kHz (centre frequency 6 780 kHz). atau kegunaan yang sejenis. SAINS. perangkat sains dan lain sebagainya. sains.

15  Pemanas induksi industrial (pengelasan dan peleburan logam) Pembersihan secara ultrasonik (15-30 kHz) Aplikasi kedokteran (ultrasonic diagnostic imaging) 0.125 GHz) Tabel 31 Berikut ini contoh aplikasi utama ISM band TABEL 31.68 MHz). lem dan pengeringan) – makanan (pasca pembakaran kue.25 GHz).5 MHz) Valve induction generators produksi materi semi-konduktor Pengelasan listrik (1-10 MHz dampened wave oscillator) Pemanasan dielektris (kebanyakan beroperasi pada frekuensi ISM band pada 13.5 GHz).68 MHz.56. o 40. o 902-928 MHz di Region 2 (centre frequency 915 MHz).15-1 Pemanasan induksi industri(heat treating. and 244-246 GHz (centre frequency 245 GHz) Artikel 5.o o o  61-61. o 2 400-2 500 MHz (centre frequency 2 450 MHz). welding dan melting metal) Diagnostik medis ultrasonik Surgical diathermy (1-10 MHz dampened wave oscillator) Pemrosesan kayu (3.5 GHz (centre frequency 61. tetapi banyak yang beroperasi pada frekuensi di luar ISM band) – keramik – pengeringan foundry core – pengeringan tekstil – produk bisnis (buku.70 MHz (centre frequency 40. pengolahan daging dan ikan) – pengeringan solvent – pengeringan dan pengeleman kayu – pengeringan dielektrik umum – pemanasan plastik Aplikasi kedokteran  – medical diathermy (27 MHz) – magnetic resonance imaging (10-100 MHz di ruangan tertutup) 100-1 000  Pemrosesan makanan (915 MHz) Aplikasi kedokteran (433 MHz) RF plasma generators Vulkanisir karet (915 MHz)  RF plasma generators Microwave oven (2 450 MHz)  Microwave oven komersial (2 450 MHz) Vulkanisir karet (2 450 MHz)  Pengobatan ultraviolet 1-10 100-1 000 W > 100 000 10 kW-1. kertas. o 5 725-5 875 MHz (centre frequency 5 800 MHz). o 26 957-27 283 kHz (centre frequency 27 120 kHz).5 MW  1-200 kW  2-10 kW  > 1 000 > 10 000 10-100  15-300 kW  15-300 kW  15-200 kW  5-25 kW  10-100 kW  5-400 kW  5-1 000 kW  1-50 kW  (kebanyakan 100-1kW)  W < 5 000 < 200 kW  < 1 000 < 1 000 > 1 000 > 1 000 < 1 000 > 10 000 > 100 000 > 10 000 > 1 000 < 1 000 < 1 000 Di atas 1 000 600-1 500 W 1.150 Radio Regulation-ITU o 13 553-13 567 kHz (centre frequency 13 560 kHz).66-40. 27.12 dan 40.25 GHz (centre frequency 24. CONTOH APLIKASI UTAMA PERANGKAT YANG BEROPERASI PADA ISM BAND Frekuensii  (MHz) Aplikasi Utama RF power  (umum)  10 kW-10 MW 20-1 000 W  100-1 000 W 1 kW-1 MW 100-1 000 W Perkiraan Jml pengguna > 100 000 > 100 000 > 10 000 > 100 000 > 100 000 Di bawah 0. package sealing.2 and 6. and o 24-24. 122-123 GHz (centre frequency 122.5-200 kW  6-100 kW  > 200 juta < 1 000 146 .

Berdasarkan artikel 15. setiap Administrasi dari suatu negara harus menyusun pengaturan dan langkah-langkah praktis yang diperlukan untuk menjamin bahwa radiasi dari perangkat yang digunakan untuk aplikasi industri. 147 . sains dan medikal adalah seminimal mungkin dan pada pita frekuensi di luar ISM band tidak menimbulkan interferensi yang membahayakan kepada radiocommunication service.1056.13 § 9 dari Radio Regulation ITU. Pengaturan tersebut dipandu oleh rekomendasi ITU-R SM. servis komunikasi radio yang berhubungan dengan keselamatan jiwa manusia. dan khususnya.

37/2006 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi yang Menggunakan Satelit Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No. 7 Tahun 2009.53 Tahun 2000 tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit.28 tahun 2000. Seluruh penerimaan BHP frekuensi radio tersebut disetor ke kas negara sebagai Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). UU No. Ditjen Postel) terhadap penggunaan spektrum frekuensi radio oleh pengguna didasarkan kepada perundang-undangan yang berlaku.q. Terdapat dua kelompok BHP Frekuensi radio berdasar PP No. yaitu sebagai berikut:         UU No.12 BIAYA HAK PENGGUNAAN (BHP) FREKUENSI RADIO 1. PENDAHULUAN Pengenaan biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi radio oleh pemerintah pusat (c.20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).BAB .13 Tahun 2005 jo Permen Kominfo No. BHP Frekuensi Radio untuk Izin Stasiun Radio BHP Frekuensi Radio untuk Izin Pita Frekuensi Radio BHP FREKUENSI DALAM BENTUK IZIN STASIUN RADIO Untuk BHP Frekuensi Radio dalam bentuk Izin Stasiun Radio. PP No. 7 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Departemen Komunikasi dan Informatika Setiap pengguna spektrum frekuensi radio wajib membayar BHP spektrum frekuensi radio yang dibayar di muka untuk masa penggunaan satu tahun. yaitu: BHP Frekuensi Radio (Rupiah) = ((Ib x HDLP x b) + (Ip x HDDP x p))/ 2 148 . perhitungan besaran BHP frekuensi radio digunakan berdasarkan formula yang ditetapkan pada PP No. yaitu: 1.17 Tahun 2005 tentang Tata Cara Perizinan Frekuensi Radio Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No.28 Tahun 2005 tentang PNBP yang berlaku di Departemen Komunikasi dan Informatika Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No. PP No. 2.36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi PP No. 2.19 Tahun 2005 tentang petunjuk pelaksanaan tarif PNBP dari BHP spektrum frekuensi radio.

BESARAN HDDP (HARGA DASAR DAYA PANCAR) No 1 2 3 4 5 6 7 8 Pita Frekuensi VLF LF MF HF VHF UHF SHF EHF Zone I Zone 2 Zone 3 Zone 4 Zone 5 191.141 27.03 0.838 149 .000 .161 28.000 FREKUENSI RADIO BERDASARKAN RADIO 300 - 3. TABEL 35.403 112.481 87.688 43.30 3.071 119.873 54.009 0.844 85.799 47.675 10.275.350 32.652 38.629 153.732 71.707 57.792 21.303 114.585 65.14 tahun 2000 tersebut.844 114.081 135.dengan :       HDDP adalah Harga Dasar Daya Pancar (HDDP) HDLP adalah Harga Dasar Lebar Pita frekuensi radio (HDLP) p adalah daya pancar keluaran antenna EIRP (dalam dBmWatt) b adalah lebar pita frekuensi yang diduduki (bandwidth occupied) dalam kHz Ib adalah indeks biaya pendudukan lebar pita Ip adalah indeks biaya daya pancar Besarnya HDDP dan HDLP ditentukan berdasarkan pengelompokkan pita frekuensi dan zone lokasi pemancar yang ditetapkan pada PP No.513 21.188 43.977 76.364 71.49 53. PEMBAGIAN PITA REGULATION ITU No.000 .326 142.30.000 Tabel 35 menjelaskan besaran HDDP (Harga Dasar Daya Pancar).353 108.212 54.659 140.896 89.030 0.0 30 300 3.866 23.665 95.138 28.745 17.000 30.933 109. Tabel 34 berikut menjelaskan pembagian pita frekuensi dilakukan berdasarkan Radio Regulation-ITU.618 135. Band Frekuensi 1 2 3 4 5 6 7 8 VLF LF MF HF VHF UHF SHF EHF MHz 0.282 81. TABEL 34. Besaran HDDP dan HDLP ditentukan oleh jenis pita frekuensi dan lokasi wilayah di mana pemancar stasiun radio itu berada.242 56.322 84. Sedangkan Tabel 36 menggambarkan besaran HDLP (Harga Dasar Lebar Pita).3 3 30 0.

TABEL 37.961 16.745 5.200 11.665 8.180 0.19 Tahun 2005.809 3.290 0. indeks biaya daya pancar (Ip) ditentukan berdasarkan jenis servis komunikasi radio dan zone lokasi berdasarkan wilayah Kabupaten/Kotamadya.155 2.040 8. Secara berkala setiap 2 (dua tahun) sekali. Besarnya Ib.572 9.681 7.099 3.664 2.220 Penentuan besaran indeks biaya pendudukan lebar pita (Ib). perkembangan wilayah Kabupaten/Kotamadya serta pertumbuhan ekonomi.440 1.063 4.916 12. nilai Ib dan Ip akan ditinjau dengan memperhatikan komponen-komponen pelayanan komunikasi radio yang baru.888 10. Besaran Ib dan Ip untuk setiap kelompok servis dapat dilihat pada Tabel 37 berikut ini.715 12.199 9. NMT) Jasa Selular TDMA (GSM.230 Ip 0.TABEL 36.101 4.360 0.354 9. BESARAN HDLP (HARGA DASAR LEBAR PITA) No 1 2 3 4 5 6 7 8 Pita Frekuensi VLF LF MF HF VHF UHF SHF EHF Zone I Zone 2 Zone 3 Zone 4 Zone 5 20.733 5.050 14.400 1. BESARAN INDEKS IB DAN IP BERDASARKAN JENIS LAYANAN JENIS PENGGUNAAN FREKUENSI Jaringan Terrestrial (backbone) Jaringan Satelit Jasa Selular FDMA (AMPS.180 0. untuk penetapan parameter Ib dan Ip mengambil asumsi jenis pelayanan yang sejenis.790 3.192 15.769 12.149 6.936 6.143 15.581 11.873 1.749 5. Ip dan pengelompokkan zone ditentukan dalam Lampiran I Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatikan No.249 12.384 4.DCS & PCS) Jasa Wireless Local Loop FDMA Jasa Wireless Local Loop TDMA Base/Repeater stasiun Satelit (Space Segment) Stasiun Bumi Tetap Stasiun Bumi Portable Base + out stasiun Base + out stasiun Ib 0.060 0.310 7.630 4.040 0. Untuk servis komunikasi radio yang tidak tercantum dalam Keputusan tersebut.576 8.110 0.710 0.418 7.709 2.143 0.881 3.429 6.000 0.772 9.490 Jasa Selular DS-CDMA (IS95) Base + out stasiun Base + remote/out stasiun Base + remote/out stasiun 150 .210 8.578 11.832 2.286 3.

640 32.840 0.430 0.240 2.020 0.330 0.650 0.001 14.000 0.050 0.020 0.490 8.143 Portable / Mobile Unit / Handy talky 0.000 10.110 0.130 0.930 0.280 0.000 0.720 Ip 0.910 0.580 0.020 0.000 0.390 Talky Telsus Keperluan Sendiri ( Base/Repeater stasiun >= 1 GHz) Telsus Radio Trunking Telsus Radio Paging Telsus Radio Taxi Telsus Riset dan Eksperimen Base + out stasiun Base + out stasiun Base + out stasiun Satelit (space segment) Stasiun Bumi Base/Repeater stasiun Stasiun ground to air Telsus Penerbangan (auronautical band) Stasiun pesawat udara (Portable Unit) Stasiun pesawar udara ( Handy Talky) Stasiun radio pantai Stasiun kapal (Portable Unit) Stasiun kapal (Handy Talky) Radio siaran AM Radio siaran FM Televisi siaran tak berbayar Televisi siaran berlangganan 0.410 0.150 1.000 0.000 0.000 0.240 0.  JENIS PENGGUNAAN FREKUENSI Jasa Wireless Local Loop DS-CDMA Jasa Wireless Data (primer) Jasa Wireless Data (secunder) Jasa Telepoint (CT2 & CT2+) Jasa Radio Trunking Jasa Radio Paging Base + remote/out stasiun Base + remote/out stasiun Base + remote/out stasiun Base + out stasiun Base + out stasiun Base/Repeater + out stasiun Base stasiun Ib 0.030 0.060 33.930 0.000 0.020 0.070 0.000 0.018 0.000 0.890 1 GHz) Portable Unit / Mobile Unit / Handy 0.000 0.640 0.980 3.060 0.230 Telsus Maritim (maritime band) Telsus Penyiaran Terresterial Telsus Penyiaran Satelit 151 .000 0.000 0.290 1.000 Telsus Keperluan Sendiri (< Repeater stasiun 11.490 0.110 0.870 24.790 0.

Untuk BHP frekuensi radio bagi sistem komunikasi yang pada tabel di atas disebutkan dengan outstationnya.  JENIS PENGGUNAAN FREKUENSI Stasiun Amatir Telekomunikasi khusus untuk keperluan dinas khusus Stasiun Citizen Band Stasiun Radio Navigasi Stasiun Radio Astronomi Stasiun Radio Meteorologi Telekomunikasi khusus untuk keperluan Hankamneg dan perwakilan negara asing (asas timbal balik) Ib 0. GMDSS maupun non-GMDSS. Penggunaan pita frekuensi penerbangan untuk keperluan komunikasi radio navigasi dan keselamatan penerbangan.000 0.000 Ip 0. seperti stasiun radio pantai dan stasiun kapal laut. Pengelompokan zone ditentukan berdasarkan lokasi wilayah Kabupaten/Kota ditentukan berdasarkan Lampiran II Peraturan No. pendapatan asli daerah. karena cakupannya dapat menjangkau seluruh Indonesia. astronomi dan meteorologi. Citizen Band Telekomunikasi khusus untuk dinas khusus. Penggunaan pita frekuensi maritim untuk keperluan komunikasi radio keselamatan pelayaran. seperti untuk keperluan navigasi. maupun stasiun radio di pesawat udara. seperti base station dan out station. diketahui bahwa untuk beberapa servis komunikasi radio tidak dikenakan BHP frekuensi radio. Untuk Kabupaten/Kota yang dibentuk setelah Kepmenhub ditentukan. yaitu:       Keperluan pertahanan dan keamanan Keperluan perwakilan diplomatik negara asing dengan memperhatikan asas resiprokal (timbal balik) Telekomunikasi khusus untuk keperluan perseorangan seperti Radio Amatir. Untuk BHP frekuensi radio jaringan satelit ruas angkasa (space segment).000 0. seperti stasiun ground to air. 40 Tahun 2002.000 0. repeater atau hub station-nya saja tanpa 152 .000 0. base station/repeater + out station. radar.000 0.000 Dari tabel Ib dan Ip di atas.000 0.000 0. maka zone yang digunakan adalah zone-3 (zone rata-rata). Pengelompokan ini didasarkan pada potensi ekonomi. penentuan zona diasumsikan mengikuti wilayah administratif Kabupaten/Kota yang lama.000 0. mengandung arti bahwa yang dihitung hanya base.000 0.000 0. serta jumlah penduduk. hub + out station.

KAB. Pengelompokan ini disusun berdasarkan pada potensi ekonomi. serta jumlah penduduk. KARO. KAB. NATUNA. KAB. DAIRI.4 ZONE . TABEL 38. KAB. DELI SERDANG. SAW AH LUNTO/SIJUNJUNG. ACEH TENGGARA.4 JAMBI ZONE . KAB.mempertimbangkan jumlah remote station/ out station yang terhubung pada base. Untuk Kabupaten/Kota yang dibentuk setelah Kepmenhub tersebut ditentukan. KOTA PEMATANG SIANTAR. ACEH UTARA.19 Tahun 2005. KAB. BUNGO.3 ZONE . KAB. INDRAGIRI HILIR. & KOTA PAYAKUMBUH KOTA PEKAN BARU & KOTA BATAM KAB. MANDAILING NATAL. & KOTA DUMAI KOTA JAMBI KAB. TAPANULI UTARA. INDRAGIRI HULU. KAB. ACEH BESAR. KAB. ROKAN HULU. KUANTAN SINGINGI. AGAM. BIREUEN. KAB. KAB.4 SUMATERA BARAT RIAU ZONE . LABUHAN BATU. KAB. KAB.3 ZONE . & KOTA SIBOLGA KAB. Tabel 38 menjelaskan pengelompokan zone wilayah pemancar untuk menghitung HDDP dan HDLP. TOBA SAMOSIR. KAB.3 ZONE . KAB. KEPULAUAN MENTAW AI. KEPULAUAN RIAU. TEBO ZONE ZONE . BENGKALIS. ACEH TENGAH. TANJUNG JABUNG TIMUR. KAB. KAB. TANAH DATAR. MERANGIN. KAB. KOTA SOLOK. SORALANGUN.4 ZONE – 5 153 . & KAB. TANJUNG JABUNG BARAT. MUARO JAMBI. KAB. KAB. KAB. KAB. ACEH SINGKIL. KAB. & KAB. KAB. LANGKAT. KAB. KAB. SIMALUNGUN. KAB. SIMEULUE. KAB. KAB. KAB. KAB. PASAMAN. KAB. & KOTA SABANG KOTA MEDAN KAB. PALALAW AN. TAPANULI SELATAN. PESISIR SELATAN. PENGELOMPOKKAN ZONE WILAYAH PERHITUNGAN HDDP DAN HDLP PROPINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM PEMANCAR UNTUK KOTA / KABUPATEN KOTA BANDA ACEH KAB. SIAK. KOTA PADANG PANJANG. NIAS.5 SUMATERA UTARA ZONE . penentuan zona diasumsikan mengikuti wilayah administratif Kabupaten/Kota yang sebelumnya.4 ZONE . PIDIE. KAMPAR KAB. KAB. KARIMUN. KAB. SOLOK. ACEH SELATAN. KAB. ACEH TIMUR. KOTA BINJAI. KAB. KOTA BUKITTINGGI. PADANG PARIAMAN. KAB. KAB. pendapatan asli daerah. repeater atau hub station tersebut. KAB. KERINCI. KAB. KAB. BATANGHARI.2 ZONE . ROKAN HILIR. KOTA TANJUNGBALAI. KOTA TEBING TINGGI. TAPANULI TENGAH KOTA PADANG KAB. KAB. ASAHAN. Pengelompokan zone ditentukan berdasarkan lokasi wilayah Kabupaten/Kota ditentukan berdasarkan Lampiran II Permen Kominfo No. ACEH BARAT. KAB. LIMAPULUH KOTA. KAB. KOTA SAW AH LUNTO. KAB.

BO YO LALI. BANDUNG . KAB. LAM O NG AN. KAB. O G AN KO M ER ING ILIR. KO TA JAKARTA TIM UR KO TA JAKARTA PUSAT . PURW O REJO . M UARA ENIM . CIANJUR. KARAW ANG . KAB. KAB.3 154 . M ADIUN . M ALANG . REJANG LEBO NG KO TA BANDAR LAM PUNG KAB. PRO BO LING G O . TR ENG G ALEK.1 ZO NE . KAB. KAB. KAB. PEKALO N G AN. KAB. BATANG . KAB. PACITAN. KAB. TASIKM ALAYA. KO TA BEKASI. M AG ELANG . KAB. KAB. KO TA SALATIG A. LAM PUNG SELATAN. W O NO G IRI. CILACAP. KAB. KAB. SUM EDANG . KAB. BANTUL. T ULANG BAW ANG . & KO TA TEG AL KAB. KULO N PRO G O . KO TA SEM AR ANG . LU M AJANG . YO G YAKARTA JAW A TIMUR ZO NE . CIAM IS. PEM ALANG KO TA YO G YAKARTA KAB. KO TA PASURUAN. KAB. & KAB. BO N DO W O SO . KO T A M O JO KERTO .1 ZO NE . KAB. KAB. KAB. SIDO AR JO . KAB. KAB. M AJALENG KA. KAB. PO NO RO G O . TEG AL. SLEM AN KO TA SURABAYA KAB. KAB. M O JO KER TO . NG AW I. INDRAM AYU. KAB. KAB. G RESIK. BANJARNEG AR A. & KO TA JAKARTA UTAR A KAB. KAB. & KAB. KAB. W AY KANAN. KAB. KAB. BENG KULU UTARA. KO TA SURAKARTA. O G AN KO M ER ING ULU. KO TA SUKABUM I. KUDU S. G U NUNG KIDU L. & KO TA M ADIUN KAB. KAB.1 ZO NE .2 ZO NE . LAM PUNG UTARA. PASURUAN. KO TA BLITAR. JEM BER. JEPARA. BANG KALAN. KO TA M ALANG . & KAB. KAB. KAB.5 ZO NE . KAB. BLO RA. BEKASI.2 ZO NE . KLATEN. KAB. SUBANG .2 JAW A TENG AH ZO NE . KO TA BO G O R. KAB. KAB. KAB.4 DKI JAKARTA JAW A BARAT ZO NE . PURW AKARTA. SUKABUM I. BANYUM AS. BO G O R. KAB. & KO TA CIREBO N KAB.2 D. KO TA PRO BO LING G O .4 ZO NE . KO T A BANDUNG . SUM ENEP. KO TA KEDIRI. & KAB. SEM ARANG . KO TA JAKARTA BARAT.PRO PINSI SUMATERA SELATAN KO TA / KABUPATEN KO TA PALEM BANG KAB. W O NO SO BO . KAB. KAB. NG ANJUK. LAM PUNG TANG AH. KAB. KAB. KAB. KAB. KAB. KAB.3 BENG KULU ZO NE . TULUN G AG UNG . KAB. KUNIN G AN. BENG KULU SELATAN. SAM PANG . KAB. KAB. TANG G AM US. LAM PUNG BARAT. KAB. KAB. KAB. KAB. KAB. KAB. KAB. SITUBO NDO . M USI BANYU ASIN KO TA BENG KULU KAB. KED IRI.5 LAMPUNG ZO NE . KO TA M AG ELANG . CIREBO N. SUKO HARJO . KAB. M AG ETAN. KEBUM EN. G ARUT. KAB. DEM AK. KAB. PURBALING G A. KAB. KAB. SRAG EN. KAB. I. KAB. KAB. BO JO NEG O RO . LAHAT. G RO BO G AN. KENDAL. KAB. KAB. TEM ANG G UNG . BREBES.3 ZO NE . BANYUW ANG I. & KO TA M ETRO KO TA JAKARTA SELATAN. KAB. KAB. KAB. KAB. KAB. PAM EKASAN ZO NE ZO NE . KAB. KAB. KAB. KAB. KAB. KO TA PEKALO NG AN. KAB.3 ZO NE . KAB.4 ZO NE . M USI RAW AS. LAM PUNG TIM UR . JO M BANG . PATI. KARANG ANYAR. KAB. REM BANG . BLITAR . TUBAN. KAB. & KAB. & KO TA DEPO K KAB.

KAB. MAJENE. BULUNGAN. KAB. KUTAI TIMUR. POLEW ALI MAMASA KAB.4 ZONE . BADUNG.5 ZONE . KAB. W AJO. KAB. KAB. KAB. KAB. KUTAI. TANA TORAJA. ALOR. PINRANG. KOTAW ARINGIN TIMUR. DOMPU. BANGGAI. KAB. & KAB. BELU. MALINAU.3 ZONE . FLORES TIMUR. GOW A. TIMOR TENGAH SELATAN. SUMBA TIMUR. KAB. & KOTA BITUNG KAB. KAB. KAB. & KAB. KAB. KAB. KAB. KAB. SUMBAW A.4 ZONE .4 ZONE . SAMBAS. KAB. & KOTA BONTANG KAB. KAB. PONTIANAK. KAB.5 ZONE . KAB. KUPANG. KAB. LOMBOK TENGAH. KAB.4 ZONE . & KOTA PARE-PARE KOTA PALU SULAW ESI TENGAH KAB. KAB.5 ZONE . KENDARI. SELAYAR. KAB. KAB.3 ZONE . KAB. TAPIN. BARITO KUALA. KAB. LOMBOK TIMUR. KAB. KAB. GIANYAR. BANGLI. BARRU. LANDAK. BARITO UTARA KOTA BALIKPAPAN. KAB. BONE. TOLI-TOLI. KLUNGKUNG. & KAB. KETAPANG. KAB. HULU SUNGAI SELATAN.4 ZONE . & KOTA SAMARINDA KALIMANTAN TIMUR KAB. TANAH LAUT. KAB. KAB. KAB. KAB. KAPUAS HULU KOTA PALANGKARAYA KALIMANTAN TENGAH KAB. LUW U. KAB. HULU SUNGAI UTARA. KAB. TAKALAR. KAB. KAB.5 ZONE . KUTAI BARAT.2 ZONE . KOTAW ARINGIN BARAT. SUMBA BARAT. KAB. & KOTA BANJARBARU KOTA DENPASAR BALI KAB. BIMA NUSA TENGGARA TIMUR KOTA KUPANG KAB. KAB. KAB. MAMUJU. PANGKAJENE KEPULAUAN. ENDE. BANGGAI KEPULAUAN. KAB.4 ZONE .4 ZONE .5 ZONE . KAB. KAB. MINAHASA. MOROW ALI.5 ZONE . SIDENRENG RAPPANG. KARANGASEM. KAPUAS. TIMOR TENGAH UTARA. DONGGALA.4 ZONE . ENREKANG. KAB. BANJAR.4 KOTA PONTIANAK KAB. KAB. KAB. HULU SUNGAI TENGAH. KAB. MAROS. KOLAKA ZONE . KAB.5 155 . SINJAI.3 ZONE . NGADA.PROPINSI KALIMANTAN BARAT KOTA / KABUPATEN ZONE ZONE . & KOTA TARAKAN KOTA BANJARMASIN KALIMANTAN SELATAN KAB. BANTAENG. KAB. & KAB. NUNUKAN. KAB. LOMBOK BARAT. & KAB. BERAU.5 ZONE . & KAB. KAB.5 ZONE . JEMBRANA. JENEPONTO. BULUKUMBA.3 ZONE . KAB. BUOL KOTA MANADO SULAW ESI UTARA KAB. BULELENG NUSA TENGGARA BARAT KOTA MATARAM KAB. KAB. KOTABARU. & KAB. KAB. KAB. KAB. KAB. SINTANG. POSO. BARITO SELATAN. BUTON. KAB. SOPPENG. SIKKA. BOLAANG MANGONDOW . KAB. KAB.4 ZONE . MUNA. KAB. KAB. PASIR. KAB. & KOTA KENDARI SULAW ESI TENGGARA KAB. KAB. & KAB. LUW U UTARA. TABALONG. SANGIHE TALAUD. BENGKAYANG KAB. SANGGAU. MANGGARAI KOTA MAKASSAR SULAW ESI SELATAN KAB. KAB.4 ZONE . KAB. & KAB. TABANAN. KAB. LEMBATA. KAB.

PROPINSI
MALUKU

KOTA / KABUPATEN
KOTA AMBON KAB. MALUKU TENGGARA, KAB. MALUKU TENGAH, KAB. MALUKU TENGGARA BARAT, & KAB. BURU KAB. MALUKU UTARA, KAB. HALMAHERA TENGAH, & KOTA TERNATE KOTA JAYAPURA KAB. JAYAPURA, KAB. JAYAW IJAYA, KAB. PUNCAK JAYA, KAB. MERAUKE KAB. BIAK NUMFOR, KAB. YAPEN W AROPEN, KAB. NABIRE, KAB. PANIAI, KAB. MIMIKA KAB. SORONG, KAB. MANUKW ARI, KAB. FAK-FAK, & KOTA SORONG KAB. TANGERANG, & KOTA TANGERANG KAB. SERANG, KAB. PANDEGLANG, KAB. LEBAK, & KOTA CILEGON KAB. BANGKA, & KOTA PANGKAL PINANG KAB. BELITUNG KAB. GORONTALO, KAB. BOALEMO, & KOTA GORONTALO

ZONE
ZONE - 4 ZONE - 5

MALUKU UTARA IRIAN JAYA / PAPUA

ZONE - 5 ZONE - 4 ZONE - 5

BANTEN

ZONE - 1 ZONE - 2 ZONE - 3 ZONE - 4 ZONE - 5

KEP. BANGKA BELITUNG GORONTALO

3.

BHP FREKUENSI DALAM BENTUK IZIN PITA FREKUENSI RADIO

Berdasarkan ketentuan PP No.7/2009, terdapat suatu kemungkinan untuk pengenaan BHP Frekuensi dalam bentuk izin pita frekuensi radio. Di mana berbeda dengan pengenaan BHP Frekuensi dalam bentuk ISR, penyelenggara telekomunikasi yang dikenakan izin pita frekuensi radio tidak dikenakan lagi BHP ISR per kanal per stasiun radio. Hal ini sangat memudahkan dan menyederhanakan perhitungan dan verifikasi, serta mendorong penyelenggara untuk membangun jaringannya secepat mungkin. Bentuk BHP Frekuensi Radio ini baru dikenakan untuk penyelenggara selular yang menggunakan pita frekuensi 1920 – 1980 MHz / 2110 – 2170 MHz (UMTS/3G). Besaran BHP Pita frekuensi radio dikenakan berdasarkan lebar pita frekuensi yang diduduki, di mana besarnya biaya per MHz tergantung dari hasil seleksi (lelang). Untuk besaran BHP pita frekuensi penyelenggara selular yang menggunakan pita frekuensi 1920 – 1980 MHz / 2110 – 2170 MHz (UMTS/3G), besarannya ditetapkan berdasarkan hasil pelelangan yang diadakan pada bulan Februari 2006. 3.1 KETENTUAN PEMBAYARAN BHP PITA FREKUENSI OPERATOR IMT2000 3.1.1 UP FRONT FEE

Berdasarkan Permen Kominfo No. 7 Tahun 2006 tentang Ketentuan Penggunaan Pita Frekuensi Radio 2.1 GHz untuk Penyelenggaraan Jaringan Bergerak Seluler adalah sebagai berikut: 1. Telkomsel : a. Rp 218 Milyar X 2 unit hasil lelang = Rp 436 Milyar b. dibayarkan sekaligus Tahun I : Tahun 2006

156

2. 3.

Excelcomindo Pratama : a. Rp 188 Milyar X 2 unit hasil lelang = Rp 376 Milyar b. dibayarkan sekaligus Tahun I : Tahun 2006 Indosat : a. Rp 160 Milyar X 2 unit hasil lelang = Rp 320 Milyar b. dibayarkan sekaligus Tahun I : Tahun 2006

Sesuai Kepmen No. 29 Tahun 2006 tentang kewajiban pembayaran Up Front Fee bagi Hutchison CP Telecom dan Natrindo Telepon Seluler (sebagai operator yang sebelumnya eksisting di frekuensi 2,1 GHz) dengan besaran sebagai berikut : 1. Hutchison CP Telecom : a. Rp 160 Milyar X 2 unit hasil lelang = Rp 320 Milyar b. Paling lambat 31 Januari 2008 yang dibayarkan dengan bunga Natrindo Telepon Seluler : a. Rp 160 Milyar X 2 unit hasil lelang = Rp 320 Milyar b. Paling lambat 31 Januari 2008 yang dibayarkan dengan bunga BHP PITA TAHUNAN

2.

3.1.2

Dasar dari pengenaan BHP Pita Frekuensi Radio tahunan untuk penyelenggara IMT-2000 pada pita 2.1 GHz adalah Permen Kominfo No. 7 Tahun 2006 tentang Ketentuan Penggunaan Pita Frekuensi Radio 2.1 GHz untuk Penyelenggaraan Jaringan Bergerak Seluler. BHP pita tahunan diterapkan sama kepada kelima operator 3G yaitu Telkomsel, Excelcomindo Pratama, Indosat, Hutchison CP Telecom, Natrindo Telepon Seluler untuk 1 blok @ 5 MHz FDD sebagai berikut:   Tahun 1 (2006) : 20% X Rp 160 Milyar = Rp 32 Milyar Tahun 2 (2007) : 40% X (1 + BI rate 2006) X Rp 160 Milyar

Sesuai Kepmen Kominfo No. 58/KEP/M.KOMINFO/02/2007 tentang Penetapan Bank Indonesia Rate untuk Perhitungan Biaya Hak Penggunaan Pita Spektrum Frekuensi Radio 2.1 GHz untuk Penyelenggaraan Jaringan Bergerak Seluler : Nilai BI Rate = 11,83% 40% X (1 + 11,83%) X Rp 160 Milyar = Rp 71,57 Milyar    Tahun 3 (2008) : 60% X (1 + BI rate 2007) X Rp 160 Milyar Tahun 4 (2009) : 100% X (1 + BI rate 2008) X Rp 160 Milyar Tahun 5 (2010) : 130% X (1 + BI rate 2009) X Rp 160 Milyar

157

    

Tahun 6 (2011) : Tahun 7 (2012) : Tahun 8 (2013) : Tahun 9 (2014) : Tahun 10 (2015)

130% X (1 + BI rate 2010) X Rp 160 Milyar 130% X (1 + BI rate 2011) X Rp 160 Milyar 130% X (1 + BI rate 2012) X Rp 160 Milyar 130% X (1 + BI rate 2013) X Rp 160 Milyar :130% X (1 + BI rate 2014) X Rp 160 Milyar

Sesuai Permen No.1 Tahun 2006 tentang Penataan Frekuensi IMT2000, terhitung sejak 1 Januari 2008, Primasel (sekarang menjadi SMART Telecom) dikenakan BHP pita yang sama dengan operator IMT-2000 tersebut yang besarnya disesuaikan dengan Peraturan Menteri tentang Biaya Hak Penggunaan (BHP) Frekuensi pada pita frekuensi 2.1GHz. Sebelumnya, seperti yang diatur pada Permen No.1 Tahun 2006 juga, perusahaan yang bersangkutan membayar BHP untuk izin stasiun radio (ISR). Berdasarkan ketentuan Permen 7/2006, skema pembayaran BHP frekuensi SMART Telecom adalah sebagai berikut: Up Front Fee sebesar: 2 x Rp 160 M x 6,875 MHz/5MHz = Rp 440 M BHP Tahunan untuk tahun pertama: 20% x Rp 160 M x 6,875MHz/5MHz = Rp 44 M 4. WHITE PAPER PENERAPAN BIAYA HAK PENGGUNAAN BERDASARKAN LEBAR PITA (BHP PITA) PADA PENYELENGGARA TELEKOMUNIKASI SELULER DAN FIXED WIRELESS ACCESS (FWA)

Bulan Oktober 2009, Ditjen Postel telah melakukan konsultasi publik dalam bentuk publikasi melalui website Ditjen Postel maupun dengan melakukan Workshop dengan stakeholder telekomunikasi terhadap white paper penerapan biaya hak penggunaan berdasarkan lebar pita pada penyelenggara telekomunikasi seluler dan fixed wireless access. Dokumen white paper tersebut merupakan draft kebijakan pemerintah yang disusun dalam rangka perubahan tarif BHP dari yang sebelumnya berdasarkan ISR menjadi berdasarkan lebar pita frekuensi. BHP Frekuensi merupakan hal terpenting dalam suatu pengelolaan spektrum frekuensi. Tidak ada konsep yang baku dalam penetapannya dan sangat tergantung pada situasi dan kondisi perkembangan ekonomi di setiap negara, meskipun teknologi yang dihadapi sama. Bagi Indonesia, yang bentuk geografi dan jumlah penduduknya menuntut penggunaan komunikasi radio secara optimal dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, BHP frekuesi bisa merupakan ujung tombak yang bermata ganda, sehingga penentuannya harus dilakukan dengan adil dan bisa dimaklumi oleh semua pihak.

158

Perubahan pentarifan BHP frekuensi dari basis ISR ke BHP frekuensi berbasis lebar pita menuntut kesiapan baik dari sisi regulator maupun penyelenggara selama masa transisi perubahan pentarifan BHP frekuensi tersebut. Dengan melihat dinamika industri telekomunikasi yang terjadi saat ini, skema tarif BHP frekuensi yang diharapkan : 1. 2. 3. 4. 5. Mencerminkan biaya pengelolaan spektrum frekuensi yang sebanding dengan manfaat ekonomi bagi penyelenggara. Menerapkan penggunaan spektrum frekuensi secara efektif dan efisien. Memiliki formula tarif BHP yang sederhana, mendorong penyelenggara untuk meningkatkan kualitas layanan melalui optimalisasi jaringannya, netral terhadap teknologi dan mudah dalam pengawasannya. Mendorong pemerataan pertumbuhan usaha sektor telekomunikasi. Memiliki proses transisi skema tarif BHP berbasis ISR ke basis lebar pita yang bertahap dan smooth agar tidak menimbulkan gangguan pada pola bisnis penyelenggara.

White paper penerapan biaya hak penggunaan berdasarkan lebar pita pada penyelenggara telekomunikasi seluler dan fixed wireless access secara lengkap beserta formula perhitungannya dapat di unduh pada website Ditjen Postel di www.postel.go.id.

 

 

159

Jakarta: Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. ”Alokasi Spektrum Frekuensi dan Satelit di Indonesia”. 160 . Kajian Usulan Revisi Master Plan Frekuensi Radio Siaran FM.DAFTAR PUSTAKA 1. “Himpunan Peraturan Perundang-undangan Bidang Penerimaan Negara Bukan Pajak”. Switzerland. Sistem Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum. ”Radio Regulation. “Undang-undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi”. Bagian Hukum dan Organisasi. TV Siaran VHF Band III. Ditjen Postel. 2003 Presentasi Tim Teknis Ditfrek Ditjen Postel. Infocomm Development Authority (IDA) Singapore. 3. Ditspekfrek & Orsat. Jakarta: Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. September 2007. Jakarta. Jakarta. 11. 10. Denny “Tabel Alokasi Frekuensi Radio Indonesia. 2001. Subdit Penataan Frekuensi Radio. TV Siaran UHF. 2003. 2. 2004. November 2001. “Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2000 tentang Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit”. 2000. Bagian Hukum dan Organisasi. Presentasi Tim Teknis Ditfrek Ditjen Postel. “Presentasi Draft RPM Penataan Frekuensi BWA”. Sistem Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum. Singapore. Migrasi Analog ke Digital”. Sistem Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum. 2002. Geneva. 8. 5. Jakarta: Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. “Data Pengguna Frekuensi Broadband Wireless Access”. Agustus 2007. ”Radio Spectrum Master Plan”. Jakarta. Bagian Hukum dan Organisasi. Sistem Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum. 2000. 2000. Edisi ke-3” Jakarta: Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. 9. Koperasi Ditjen Postel. Edition”. AM. International Telecommunication Union. Bagian Hukum dan Organisasi. 7. 2000. Jakarta: Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. Jakarta: Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. Ditjen Postel. Setiawan. 4. 6. “Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi”. “Penataan Frekuensi untuk Keperluan Penyiaran”.

“Data Penyelenggara Sistem Telekomunikasi Bergerak Selular di Indonesia”. 1994. Subdit Penataan Frekuensi Radio. Tetley.postel. Calcutt.go. Website Ditjen Postel: www.12. the Global Maritime Distress and Safety System”. London. ”Understanding GMDSS.id 161 . L. 2002. 14. D. 13. Jakarta: Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. Ditspekfrek & Orsat. Edward Arnold.

244 Pekan Baru. T.go. Willem Iskandar No. Raya Tangkil No.id   162 .P.id 2 BALMON KELAS II MEDAN Jl. Koto Tangah Padang 25172 jl Khatib Sulaiman No.LAMPIRAN I DAFTAR UNIT PELAKSANA TEKNIS (UPT) BALAI / LOKA MONITORING PENGELOLAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO.id 5 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD JAMBI Jl. DI SELURUH INDONESIA NO WILAYAH UPT NOMOR TELEPON/FAX 1 BALMON KELAS II NANGROE ACEH DARUSSALAM Jl.33 (Samping Kantor BPKP) Banda Aceh 23117 T: (0651) 34433 F: (0651) 638538 (0651) 45755 e-mail : upt_bandaaceh@postel.go.go.go.id 3 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD PADANG Jl Pulai Kel. Nyak Makam No. 03 RT-1 Jambi – 36373 T: (0741) 570083 F: (0741) 570083 e-mail : upt_jambi@postel.go. Batang Kabung Ganting Kec. Riau – 28294 T: (0751) 483722 F: (0751) 483744 (0751) 57021 e-mail : upt_padang@postel.id hercules@postel.22 Padang 25137 (kantor lama) BALMON KELAS II PEKANBARU Jl.go. Soekarno Hatta (Arengka Atas) No.10 Medan Sumatra Utara 20221 T: (061) 6630992 (061) 6630985 F: (061) 6621717 e-mail : upt_medan@postel.id 4 T: (0761) 65735 F: (0761) 61540 e-mail : upt_pekanbaru@postel. DITJEN POSTEL-DEPKOMINFO.

89.id balmon.id balmon_palembang@telkom.id 9 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD LAMPUNG Jl. Kab. Bengkulu – 38225 T: (0736) 20963 F: (0736) 20963 : (0736) 52837 e-mail: upt_bengkulu@postel. Desa Cangkudu Kec.go. DR. 164 Arcamanik Bandung Jawa Barat – 40293 T: (022) 7278484 F: (022) 7278382 e-mail: upt_bandung@postel.id 163 . 41 F: (021) 5950940 e-mail : upt_banten@postel. Kramat Jaya KM-14 No. Raya Cisoka. Macan Kumbang No. Bhakti Husada No.bdg@centrin.id 11 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD TANGERANG Jl. Batam – 29422 T: (0778) 327927 (0778) 327928 :(0778) 310008 F : (0778) 327928 e-mail : upt_batam@postel.go.go. F:(0721) 774372 (0721) 781212 e-mail : upt_bandarlampung@postel. Skip Ujung No.id 7 BALMON KELAS II PALEMBANG Jl. Tangerang 12 BALMON KELAS II BANDUNG Jl.9 Hajimena Bandar Lampung – 35362 T:(0721) 781212 (0721) 774372.go.go. Balaraja.50 Palembang Sumatera Selatan – 30137 T: (0711) 444423 F: (0711) 444424 e-mail: upt_palembang@postel.id T: (021) 5950940.net.6 BALMON KELAS II BATAM Jl.1 Utan Kayu Jakarta Timur – 13120 T: (021) 8505624 (021) 8584315 : (021) 8514879 F: (021) 8505635 e-mail : upt_jakarta@postel. Pacuan Kuda No. Cipto Mangunkusumo.go.com 8 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD BENGKULU Jl.id 10 BALMON KELAS I DKI JAKARTA Jl. Sekupang.go.

go. 4 Mataram Tenggara Barat – 83127 T: (0370) 646411 F: (0370) 648740 – 42 e-mail : upt_mataram@postel. Desa Den Kayu Kec.id 15 BALMON KELAS II SURABAYA Jl Ahmad Yani No.go. Veteran No. Kec.co.id 18 BALMON KELAS II KUPANG Jl.id 14 BALMON KELAS II SEMARANG Komplek Semarang Indah Blok-CIII/1-3 Semarang Jawa Tengah – 50144 T:(024) 7617454 (024) 7618617 F:(024) 7617455 e-mail: suatmaji_mas@yahoo. Kalasan.go. Mengui Kabupaten Badung – 80351 T: (0361) 880835 – 37 F: (0361) 880837 e-mail : upt_denpasar@postel. Desa Kuanheun.id     164 .go.id 16 BALMON KELAS II DENPASAR Jl. Kamboja.id balmon_denpasar@yahoo.242-244 Surabaya Jawa Timur – 60235 T: (031) 8288394 F: (031) 8292365 e-mail: balmonsb@postel.com upt_semarang@postel.id upt_surabaya@postel.13 BALMON KELAS II YOGYAKARTA Jl. Batakte .go.go. Cangkringan-Prambanan Dusun Kledokan. Kupang Barat – 85352 PO.id 17 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD MATARAM Jl.Bolok. Selomartani. Yogyakarta 55571 T: (0274) 450150 (0274) 491171 F: (0274) 450151 (0274) 491171 e-mail : upt_jogjakarta@postel.go.BOX 1137 T: (0380) 828311 (0380) 838206 F: (0380) 828311 : (0380) 428082 e-mail : upt_kupang@postel. Singosari No. 3 A Yogyakarta Atau Jl.

go.go. Mekino I/83 Balikpapan Kalimantan Timur -76121 T: (0542) 423569 F: (0542) 423569 e-mail : upt_balikpapan@postel. Raya Manado .id 23 T: (0511) 3258346 (0511) 416024 (0511) 258346 (0511) 251944 F: (0511) 3251944 e-mail : upt_banjarmasin@postel. Kec.go.Temohon Km. Tjilik Riwut KM-7.13 Pontianak Kalimantan Barat T: (0561) 7078679. 527561 F: (0561) 575979 : (0561) 778160 e-mail : upt_pontianak@postel. Yani II Km.go.8 Pineleng Satu.19 BALMON KELAS II SAMARINDA Desa Pulau Atas. A.go. 25961 e-mail : upt_palangkaraya@postel. 575979 (0561) 778160.8 Palangkaraya Kalimantan Tengah – 73112 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD BANJARMASIN Jl. 25961 F: (0536) 3232592.id 22 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD PALANGKARAYA Jl.22A Banjarmasin Kalimantan Selatan – 70111 T: (0536) 25370.id 21 BALMON KELAS II PONTIANAK Jl. 25670. Samarinda Kalimantan Timur -75124 Kotak Pos 1241 Samarinda T: (0541) 241900 (0541) 748696 F: (0541) 241900 : (0541) 748696 e-mail : upt_samarinda@postel. Pramuka No.id     165 .go.id 20 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD BALIKPAPAN Jl. Pineleng Sulawesi Utara – 95361 T: (0431) 826870 (0431) 827538 F: (0431) 827538 (0431) 826870 e-mail : upt_manado@postel. 25370.id 24 BALMON KELAS II MANADO Jl.

id 30 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD KENDARI Jl.id upt_makasar@postel. Agus Salim no. Gowa.wasantara.net.I. 326726. Marawola.id 29 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD TERNATE Jl.net. Kec.44 Koloncucu Ternate 97726 T: (0921) 3111137.id loka@ambon. 22511 F: (0921) 3111138.go.94362 T: (0451) 487761 F: (0451) 487761 (0451) 421623 (0451) 421226 e-mail : upt_palu@postel.go.go.net.go. Raya Malino KM-18 Borongloe Kab.id upt_ternate@postel.Sulawesi Tenggara 93117 T: (0401) 393737 F: (0401) 393737 e-mail : upt_kendari@postel.002/05 Kopertis . Ambon 97121 T: (0911) 314385 F: (0911) 314385 (0911) 341033 e-mail : upt_ambon@postel. 8210001 e-mail: balmon_mks@telkom. A.Panjaitan Komplek BTN Kehutanan Kendari .M.id 26 BALMON KELAS II UJUNG PANDANG Jl. Gonsalo Veloso RT. Kamaruddin No.id 166 .id 28 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD GORONTALO jl. Tadulako Desa Binangga. D. 22502 e-mail : loka@ternate. 326726.25 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD PALU Jl. 280 B Kel.go.id 27 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD AMBON Jl.Karang Panjang.id bakhtiar@postel. Tabae Jou.go. Sulawesi Selatan – 92172 T: (0411) 8210001 (0411) 861712 (0411) 5040511 (0411) 5058684 F: (0411) 8210088. Palu. Sulawesi Tengah . H.go. Dulahlowo – Gorontalo T: (0435) 829780 (0435) 834144 F: (0435) 834144 (0435) 829780 e-mail : upt_gorontalo@postel.wasantara.

31

LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD BANGKA BELITUNG Jl. Yos Sudarso No.233 Pangkal Pinang 33115 Propinsi Kepulauan Bangka Belitung

T: (0717) 424790 F: (0717) 424790 e-mail : upt_pangkalpinang@postel.go.id

32

BALMON KELAS II JAYAPURA Jl. Raya Sentani no. 21 Padang Bulan, Abepura Jayapura

T: (0967) 571963 F: (0967) 571945 e-mail : upt_jayapura@postel.go.id

33

LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD MERAUKE Jl. Trans Irian KM-15 Kec.Wasur, Merauke Papua   STASIUN MONITORING SORONG Jl. Sungai Maruni Km.10 Masuk Klawuyuk, Sorong Utara, Sorong 98400 Papua Barat

T: (0971) 321701 (0971) 323475 F: (0971) 321701 e-mail : upt_merauke@postel.go.id

34

T: (0951) 325950 F: (0951) 325950 Email : pos_monitor_sorong@yahoo.com

167

LAMPIRAN 2
PERENCANAAN KANAL FREKUENSI, BATAS DAYA PANCAR, TINGGI ANTENNA RADIO SIARAN FM
FREKUENSI (MHz) 87.6 87.7 87.8 87.9 88.0 88.1 88.2 88.3 88.4 88.5 88.6 88.7 88.8 88.9 89.0 89.1 89.2 89.3 89.4 89.5 89.6 89.7 89.8 89.9 90.0 90.1 90.2 90.3 90.4 90.5 90.6 90.7 90.8 NO. KANAL 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 FREKUENSI (MHz) 94.4 94.5 94.6 94.7 94.8 94.9 95.0 95.1 95.2 95.3 95.4 95.5 95.6 95.7 95.8 95.9 96.0 96.1 96.2 96.3 96.4 96.5 96.6 96.7 96.8 96.9 97.0 97.1 97.2 97.3 97.4 97.5 97.6 NO. KANAL 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 FREKUENSI (MHz) 101.2 101.3 101.4 101.5 101.6 101.7 101.8 101.9 102.0 102.1 102.2 102.3 102.4 102.5 102.6 102.7 102.8 102.9 103.0 103.1 103.2 103.3 103.4 103.5 103.6 103.7 103.8 103.9 104.0 104.1 104.2 104.3 104.4 NO. KANAL 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169

168

FREKUENSI (MHz) 90.9 91.0 91.1 91.2 91.3 91.4 91.5 91.6 91.7 91.8 91.9 92.0 92.1 92.2 92.3 92.4 92.5 92.6 92.7 92.8 92.9 93.0 93.1 93.2 93.3 93.4 93.5 93.6 93.7 93.8 93.9 94.0 94.1 94.2 94.3    

NO. KANAL 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68

FREKUENSI (MHz) 97.7 97.8 97.9 98.0 98.1 98.2 98.3 98.4 98.5 98.6 98.7 98.8 98.9 99.0 99.1 99.2 99.3 99.4 99.5 99.6 99.7 99.8 99.9 100.0 100.1 100.2 100.3 100.4 100.5 100.6 100.7 100.8 100.9 101.0 101.1

NO. KANAL 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136

FREKUENSI (MHz) 104.5 104.6 104.7 104.8 104.9 105.0 105.1 105.2 105.3 105.4 105.5 105.6 105.7 105.8 105.9 106.0 106.1 106.2 106.3 106.4 106.5 106.6 106.7 106.8 106.9 107.0 107.1 107.2 107.3 107.4 107.5 107.6 107.7 107.8 107.9

NO. KANAL 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204

169

BATAS DAYA PANCAR RADIO SIARAN FM

KELAS A
 

 

 

KELAS B
 

ERP (kW)

15

KURVA MAKSIMUM ERP vs EHAAT

10

5

50

60

70

80

90

100 EHAAT (m)

     

 

170

KELAS C       KELAS D ERP (Watt) 50 40 30 20 10 5 10 15 20 KURVA MAKSIMUM ERP vs EHAAT EHAAT (m)   171 .

00000 [kHz] 891.00000 [kHz] 711. 2°37'00'' S 124°49'00'' E .00000 [kHz] 693.00000 [kHz] 693. 7°14'00'' S 119°28'00'' E . 8°36'00'' S 108°34'00'' E . 3°35'00'' N 140°39'00'' E .00000 [kHz] 819. 9°12'00'' S 128°10'00'' E .00000 [kHz] 720. 7°14'00'' S 101°30'00'' E . 6°57'00'' S 112°45'00'' E . 3°41'00'' S 113°45'00'' E . 5°09'00'' S 111°31'00'' E . 2°55'00'' S 105°18'00'' E .00000 [kHz] 693.00000 [kHz] 585.00000 [kHz] 738.00000 [kHz] 837.00000 [kHz] 783. 7°36'00'' S 131°17'00'' E . 6°58'00'' S 140°22'00'' E .00000 [kHz] 756.00000 [kHz] 774. 0°48'00'' N 106°45'00'' E . 0°30'00'' S 131°17'00'' E . 0°50'00'' S 104°45'00'' E . 8°30'00'' S 140°22'00'' E .00000 [kHz] 918. 6°23'00'' S 117°09'00'' E .00000 [kHz] 900. 5°22'00'' S 110°29'00'' E . 3°35'00'' N 116°08'00'' E .00000 [kHz] 855.00000 [kHz] 909. 0°50'00'' S 112°45'00'' E . 2°59'00'' S 124°49'00'' E . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Fragment GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 AssgnFreq 540. 3°46'00'' S 109°12'00'' E .00000 [kHz] 801. 6°57'00'' S 132°17'00'' E . 0°33'00'' N SiteName BANDUNG SURABAJA UJUNGPANDANG MADIUN SORONG PALEMBANG ATAMBUA AMBON DJEMBER BENGKULU PURWOKERTO BANDJARMASIN BANDUNG FAKFAK TANDJUNGKARANG SEMARANG MERAUKE MERAUKE MEDAN DJAJAPURA ATAMBUA MEDAN MATARAM TJIREBON FAKFAK SURAKARTA MALANG TERNATE DJAKARTA SAMARINDA SORONG SURABAJA PAKANBARU EmiClass A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-- 172 .00000 [kHz] 630.LAMPIRAN 3 DAFTAR KOTA YANG SUDAH DINOTIFIKASI DI ITU BERDASARKAN PROSEDUR GE-75 UNTUK STASIUN RADIO SIARAN AM DI INDONESIA No. 6°45'00'' S 132°17'00'' E .00000 [kHz] 819.00000 [kHz] 873. 8°07'00'' S 102°20'00'' E .00000 [kHz] 828.00000 [kHz] 891.00000 [kHz] 747. 7°59'00'' S 127°23'00'' E .00000 [kHz] 873. 2°55'00'' S 110°50'00'' E .00000 [kHz] 900.00000 [kHz] 765.00000 [kHz] 810.00000 [kHz] 927.00000 [kHz] 774.00000 [kHz] 855.00000 [kHz] GeoCoord 107°34'00'' E .00000 [kHz] 864. 3°22'00'' S 107°34'00'' E . 8°30'00'' S 98°39'00'' E . 7°26'00'' S 114°33'00'' E . 9°12'00'' S 98°39'00'' E . 7°32'00'' S 112°45'00'' E .

00000 [kHz] 963. 6°58'00'' S 127°23'00'' E . 5°30’00’’ N 116°08’00’’ E .00000 [kHz] GeoCoord 122°36'00'' E .00000 [kHz] 1251.00000 [kHz] 1053.00000 [kHz] 1035.00000 [kHz] 1125. 8°40’00’’ S 106°45’00’’ E . 3°57'00'' S 110°29'00'' E .00000 [kHz] 1188.00000 [kHz] 981. 6°14'00'' S 111°31'00'' E .No. 2°59’00’’ S SiteName KENDARI BIAK DJEMBER JOGJAKARTA ENDEH DJAKARTA MADIUN KUPANG PALU TANDJUNGKARANG AMBON SIBOLGA DJAJAPURA SINGARADJA ENDEH TJIREBON SUMENEP DJAMBI JOGJAKARTA KUPANG BIAK PAKANBARU PALU BANDJARMASIN KENDARI SEMARANG TERNATE PADANG MENADO PALENGKARAJA DENPASAR DJAKARTA PONTIANAK BOGOR SEMPLAK BANDA ATJEH MATARAM PONTIANAK PALEMBANG EmiClass A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-- 173 .00000 [kHz] 1116.00000 [kHz] 1107. 1°11'00'' S 113°45'00'' E . 1°11'00'' S 101°30'00'' E .00000 [kHz] 1035. 0°54'00'' S 105°18'00'' E . 10°13'00'' S 136°04'00'' E . 2°02’00’’ S 115°14’00’’ E .00000 [kHz] 1251.00000 [kHz] 1269.00000 [kHz] 1044.00000 [kHz] 1233.00000 [kHz] 1215.00000 [kHz] 1179. 0°48'00'' N 100°25'00'' E . 1°42'00'' N 140°39'00'' E . 8°36’00’’ S 109°16’00’’ E .00000 [kHz] 1287. 0°54'00'' S 114°33'00'' E . 0°33'00'' N 119°53'00'' E . 5°22'00'' S 128°10'00'' E .00000 [kHz] 999.00000 [kHz] 1098.00000 [kHz] 1170.00000 [kHz] 1017.00000 [kHz] 1089. 0°05’00’’ S 104°45’00’’ E . 1°00'00'' S 124°55'00'' E . 1°32'00'' N 113°11’00’’ E . 8°51'00'' S 108°34'00'' E . 3°57'00'' S 136°04'00'' E .00000 [kHz] 1206.00000 [kHz] 1089. 8°51'00'' S 106°53'00'' E .00000 [kHz] 1197. 6°36’00’’ S 95°20’00’’ E .00000 [kHz] 1080. 7°01'00'' S 103°39'00'' E .00000 [kHz] 972. 2°37'00'' S 115°04'00'' E . 7°48'00'' S 121°40'00'' E . 3°41'00'' S 98°48'00'' E .00000 [kHz] 1116.00000 [kHz] 1044. 0°05’00’’ S 106°47’00’’ E .00000 [kHz] 1170. 3°22'00'' S 122°36'00'' E .00000 [kHz] 1242. 7°48'00'' S 123°38'00'' E . 10°13'00'' S 119°52'00'' E . 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 Fragment GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 AssgnFreq 954.00000 [kHz] 1008.00000 [kHz] 1134. 6°23’00’’ S 109°16’00’’ E .00000 [kHz] 1098. 8°06'00'' S 121°40'00'' E . 1°36'00'' S 110°24'00'' E . 8°07'00'' S 110°24'00'' E . 7°36'00'' S 123°38'00'' E .00000 [kHz] 963. 6°45'00'' S 113°51'00'' E .00000 [kHz] 1107.00000 [kHz] 1161.

00000 [kHz] 1323. 3°00'00'' S 113°13'00'' E . 1°32'00'' N 105°22'00'' E . 7°01’00’’ S 95°20’00’’ E . 6°55’00’’ S 111°03’00’’ E . 6°55'00'' S 110°36'00'' E .00000 [kHz] 1485. 0°55’00’’ N 110°50’00’’ E . 0°18'00'' S 107°53'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1359. 7°30'00'' S 124°55'00'' E . 2°05’00’’ S 115°04’00’’ E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 5°30’00’’ N 106°53’00’’ E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1449.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 7°37'00'' S 110°12'00'' E . 5°33'00'' S 109°40'00'' E . 6°34'00'' S 113°51'00'' E . 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 Fragment GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 AssgnFreq 1305. 7°32’00’’ S 107°36’00’’ E . 7°59’00’’ S 106°45’00’’ E .00000 [kHz] 1485. 8°06’00’’ S 117°09’00’’ E .00000 [kHz] 1332.00000 [kHz] 1422.00000 [kHz] 1485. 7°00'00'' S 105°15'00'' E .00000 [kHz] 1341.00000 [kHz] 1485. 2°02’00’’ S 112°45’00’’ E . 7°45'00'' S 106°15'00'' E . 1°32’00’’ N 113°11’00’’ E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1449.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 7°09'00'' S 110°12'00'' E .00000 [kHz] 1485. 6°07'00'' S 113°42'00'' E .00000 [kHz] 1377. 6°53'00'' S 104°49'00'' E .00000 [kHz] 1485. 6°23’00’’ S 104°28’00’’ E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1413. 5°24'00'' S 108°34'00'' E . 8°10'00'' S 107°45'00'' E .00000 [kHz] 1485. 6°42'00'' S 124°50'00'' E . 7°09’00’’ S 100°32'00'' E .00000 [kHz] 1476.00000 [kHz] 1305.00000 [kHz] GeoCoord 124°55’00’’ E .00000 [kHz] 1404. 0°55’00’’ N 119°28’00’’ E . 6°42'00'' S 112°39'00'' E .No. 3°46’00’’ S 104°28’00’’ E . 0°30’00’’ S 102°20’00’’ E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1467. 8°32'00'' S 111°31'00'' E .00000 [kHz] 1395. 7°42'00'' S 115°24'00'' E . 6°22'00'' S 106°09'00'' E .00000 [kHz] 1485. 6°14’00’’ S 106°09’00’’ E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 1°19'00'' N SiteName MENADO PALENGKARAJA MALANG DJAKARTA TANDJUNGPINANG UJUNGPANDANG SUMENEP BANDA ATJEH DJAKARTA PANGKALPINANG SINGARADJA SAMARINDA BENGKULU TANDJUNGPINANG SURAKARTA BANDUNG BOJONEGORO BUKITTINGGI GARUT GRESIK KENDAL KLATEN KLUNGKUNG MADIUN MAGELANG MENADO PANDJANG PEKALONGAN PLADJU PROBOLINGGO RANGKASBITUNG SERANG DJEMBER SUBANG SUMENEP TANDJUNGKARANG TJIREBON TOMOHON EmiClass A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-- 174 . 5°09’00’’ S 113°51’00’’ E .

00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 3°22'00'' S 112°46'00'' E .00000 [kHz] 1485. 6°45'00'' S 100°38'00'' E .00000 [kHz] 1485. 6°10'00'' S 115°13'00'' E . 7°59'00'' S 98°40'00'' E .00000 [kHz] 1485. 0°13'00'' S 111°28'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] GeoCoord 109°59'00'' E . 6°18'00'' S 108°13'00'' E . 7°36'00'' S 114°23'00'' E . 1°42'00'' N 112°43'00'' E . 0°57'00'' S 113°11'00'' E . 7°28'00'' S 115°05'00'' E . 6°58'00'' S 119°39'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 7°21'00'' S 128°10'00'' E .00000 [kHz] 1485. 8°39'00'' S 132°17'00'' E . 0°30'00'' S 110°25'00'' E .00000 [kHz] 1485. 7°54'00'' S 107°18'00'' E .00000 [kHz] 1485. 0°50'00'' S SiteName WONOSOBO AMBON BANDJARMASIN BANGIL BANJUWANGI BENGKULU BIAK BOGOR SEMPLAK BONDOWOSO CIANJUR CIKAMPEK DJAKARTA DENPASAR FAKFAK KALIUNGU KEDIRI KRAWANG MAJALENGKA MALANG MEDAN PADANG PALENGKARAJA PALU PASURUAN PATI PAYAHKUMBUH PONOROGO PONTIANAK PURWOKERTO PURWOREJO SAMARINDA SEMARANG SENKANG SIBOLGA SIDOARJO SINGARADJA SOLOK SUMATRA SORONG EmiClass A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-- 175 .00000 [kHz] 1485. 3°30'00'' N 100°23'00'' E . 6°57'00'' S 112°02'00'' E . 7°53'00'' S 107°17'00'' E . 3°46'00'' S 136°04'00'' E .00000 [kHz] 1485. 6°49'00'' S 107°28'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 2°02'00'' S 119°53'00'' E . 6°25'00'' S 106°50'00'' E . 8°06'00'' S 100°39'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 8°13'00'' S 102°20'00'' E . 0°05'00'' S 109°15'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 1°11'00'' S 106°47'00'' E . 5°02'00'' S 98°48'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 Fragment GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 AssgnFreq 1485. 3°41'00'' S 114°33'00'' E .No. 0°54'00'' S 112°54'00'' E .00000 [kHz] 1485. 7°38'00'' S 111°02'00'' E . 6°35'00'' S 113°49'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 7°43'00'' S 117°09'00'' E . 7°26'00'' S 110°30'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 0°48'00'' S 131°17'00'' E . 7°52'00'' S 109°20'00'' E . 6°50'00'' S 112°37'00'' E .00000 [kHz] 1485. 2°55'00'' S 110°14'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.

7°19'00'' S 108°20'00'' E .00000 [kHz] 1485. 6°52'00'' S 110°10'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1485. 7°34'00'' S 108°13'00'' E . 7°59'00'' S 98°40'00'' E .00000 [kHz] 1485. 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 Fragment GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 AssgnFreq 1485. 1°22'00'' N 119°25'00'' E . 0°13'00'' S 109°20'00'' E . 7°15'00'' S 109°08'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 6°52'00'' S 105°16'00'' E . 7°36'00'' S 113°49'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1503.00000 [kHz] 1584. 0°00'00'' N 109°15'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1512.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1485. 5°09'00'' S 122°36'00'' E . 0°48'00'' N 108°20'00'' E .00000 [kHz] 1584. 3°41'00'' S SiteName SURABAJA SUKABUMI SURAKARTA TASIKMALAJA TEGAL TEMANGGUNG TERNATE TJIAMIS TONDANO UJUNGPANDANG KENDARI DJAMBI BUKITTINGGI PADANG BANGIL BONDOWOSO CIANJUR DJAKARTA SIDOARJO KALIWUNGU MAJALENGKA MALANG MEDAN PATI PAYAHKUMBUH PONTIANAK PURWOKERTO SENKANG SINGARADJA SUKABUMI SURABAJA TEGAL TELUKBETUNG TEMANGGUNG TJIAMIS TONDANO UJUNGPANDANG AMBON EmiClass A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-- 176 .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 6°45'00'' S 100°38'00'' E . 0°17'00'' S 100°25'00'' E . 5°27'00'' S 110°10'00'' E . 7°19'00'' S 127°23'00'' E .00000 [kHz] 1584. 7°15'00'' S 106°55'00'' E . 6°50'00'' S 112°37'00'' E . 6°49'00'' S 106°50'00'' E .00000 [kHz] 1584. 5°02'00'' S 115°05'00'' E . 6°50'00'' S 110°49'00'' E .00000 [kHz] 1584. 7°28'00'' S 110°14'00'' E .No. 5°09'00'' S 128°10'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1485. 1°22'00'' N 119°25'00'' E . 3°30'00'' N 111°02'00'' E . 6°50'00'' S 112°45'00'' E . 6°57'00'' S 108°13'00'' E . 7°54'00'' S 107°18'00'' E . 7°26'00'' S 119°39'00'' E . 7°19'00'' S 109°08'00'' E . 8°06'00'' S 106°55'00'' E .00000 [kHz] 1584. 3°57'00'' S 103°39'00'' E . 7°19'00'' S 124°45'00'' E . 1°36'00'' S 100°20'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] GeoCoord 112°45'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1584. 1°00'00'' S 112°46'00'' E .00000 [kHz] 1530. 7°19'00'' S 124°45'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 6°10'00'' S 112°43'00'' E .

6°18'00'' S 111°31'00'' E . 3°00'00'' S 105°22'00'' E .00000 [kHz] 1584. 6°53'00'' S 111°28'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 6°22'00'' S 117°09'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 8°13'00'' S 102°20'00'' E . 1°32'00'' N 104°46'00'' E . 7°38'00'' S 109°40'00'' E . 7°30'00'' S 124°55'00'' E . 6°34'00'' S SiteName BANDJARMASIN BANDUNG BANJUWANGI BENGKULU BIAK BOGOR SEMPLAK BOJONEGORO BUKITTINGGI CIKAMPEK DENPASAR DJEMBER FAKFAK GARUT GRESIK KEDIRI KENDAL KENDARI KLATEN KLUNGKUNG KRAWANG MADIUN MAGELANG MENADO PALEMBANG PANDJANG PASURUAN PEKALONGAN PONOROGO PROBOLINGGO PURWOREJO RANGKASBITUNG SAMARINDA SEMARANG SERANG SIBOLGA SOLOK SUMATRA SORONG SUBANG EmiClass A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-- 177 . 6°42'00'' S 112°39'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 2°55'00'' S 107°53'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 0°48'00'' S 131°17'00'' E .00000 [kHz] 1584. 7°45'00'' S 110°30'00'' E . 1°42'00'' N 100°39'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 6°35'00'' S 111°03'00'' E .No.00000 [kHz] 1584. 7°52'00'' S 113°13'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 6°07'00'' S 98°48'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 6°25'00'' S 115°13'00'' E .00000 [kHz] 1584. 3°57'00'' S 110°36'00'' E . 7°37'00'' S 110°12'00'' E .00000 [kHz] 1584. 8°39'00'' S 113°42'00'' E . 0°50'00'' S 107°45'00'' E . 7°09'00'' S 100°32'00'' E . 3°22'00'' S 107°36'00'' E . 7°42'00'' S 115°24'00'' E . 7°53'00'' S 110°12'00'' E . 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 Fragment GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 AssgnFreq 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] GeoCoord 114°33'00'' E . 1°11'00'' S 106°47'00'' E . 7°43'00'' S 106°15'00'' E .00000 [kHz] 1584. 6°58'00'' S 106°09'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 7°09'00'' S 112°02'00'' E .00000 [kHz] 1584. 0°30'00'' S 110°25'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 5°33'00'' S 112°02'00'' E . 6°55'00'' S 122°36'00'' E . 8°10'00'' S 132°17'00'' E .00000 [kHz] 1584. 6°55'00'' S 114°23'00'' E . 3°46'00'' S 136°04'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 8°32'00'' S 107°17'00'' E . 0°18'00'' S 107°28'00'' E .

1°11'00'' S 111°03'00'' E . 7°36'00'' S 102°20'00'' E .00000 [kHz] 1602. 6°35'00'' S 107°28'00'' E .00000 [kHz] 1584. 7°09'00'' S 113°49'00'' E .00000 [kHz] 1602. 0°48'00'' S 110°49'00'' E .00000 [kHz] 1602. 0°18'00'' S 107°18'00'' E .00000 [kHz] 1602. 6°49'00'' S SiteName SUMENEP SURAKARTA TASIKMALAJA TJIREBON TOMOHON WONOSOBO BANDA ATJEH PALENGKARAJA PALU TERNATE BANJUWANGI BOGOR SEMPLAK CIKAMPEK DENPASAR KEDIRI KRAWANG PADANG PAKANBARU PALEMBANG PASURUAN PONOROGO PURWOREJO SEMARANG SOLOK SUMATRA SURAKARTA TANJUNGMORAWA TASIKMALAJA DJAMBI AMBON BANDJARMASIN BANDUNG BANGIL BENGKULU BIAK BOJONEGORO BONDOWOSO BUKITTINGGI CIANJUR EmiClass A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-- 178 .00000 [kHz] 1602. 1°36'00'' S 128°10'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 0°48'00'' N 114°23'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] GeoCoord 113°51'00'' E . 7°34'00'' S 98°50'00'' E . 6°18'00'' S 100°23'00'' E . 6°42'00'' S 124°50'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 3°22'00'' S 107°36'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1602. 7°53'00'' S 107°17'00'' E .00000 [kHz] 1602.No.00000 [kHz] 1602. 7°54'00'' S 100°32'00'' E .00000 [kHz] 1602. 2°02'00'' S 119°53'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 0°54'00'' S 127°23'00'' E .00000 [kHz] 1602. 7°34'00'' S 108°13'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 7°19'00'' S 103°39'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1602. 0°57'00'' S 101°26'00'' E . 7°38'00'' S 111°28'00'' E .00000 [kHz] 1584. 7°52'00'' S 110°30'00'' E . 7°21'00'' S 95°20'00'' E . 8°39'00'' S 112°02'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1584. 7°00'00'' S 110°49'00'' E . 5°30'00'' N 113°11'00'' E . 8°13'00'' S 106°47'00'' E . 6°55'00'' S 112°46'00'' E .00000 [kHz] 1602. 3°41'00'' S 114°33'00'' E . 6°25'00'' S 115°13'00'' E .00000 [kHz] 1602. 3°46'00'' S 136°04'00'' E . 1°19'00'' N 109°59'00'' E . 6°58'00'' S 100°39'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1584. 7°19'00'' S 108°34'00'' E . 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 Fragment GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 AssgnFreq 1584.00000 [kHz] 1584. 7°43'00'' S 110°25'00'' E .00000 [kHz] 1584. 0°32'00'' N 104°46'00'' E . 3°30'00'' N 108°13'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1602. 3°00'00'' S 112°54'00'' E .

00000 [kHz] 1602. 6°57'00'' S 110°12'00'' E .00000 [kHz] 1602. 5°24'00'' S 109°08'00'' E . 7°26'00'' S 106°15'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 6°45'00'' S 100°38'00'' E . 6°50'00'' S 112°37'00'' E . 7°37'00'' S 110°12'00'' E . 7°15'00'' S 105°15'00'' E .00000 [kHz] GeoCoord 106°50'00'' E . 8°10'00'' S 132°17'00'' E . 7°30'00'' S 108°13'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 5°02'00'' S 106°09'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 6°07'00'' S 98°48'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 6°42'00'' S SiteName DJAKARTA DJEMBER FAKFAK GARUT GRESIK KALIUNGU KENDAL KLATEN KLUNGKUNG MADIUN MAGELANG MAJALENGKA MALANG MENADO PANDJANG PATI PAYAHKUMBUH PEKALONGAN PONTIANAK PROBOLINGGO PURWOKERTO RANGKASBITUNG SAMARINDA SENKANG SERANG SIBOLGA SIDOARJO SINGARADJA SORONG SUBANG SUKABUMI SUMENEP SURABAJA TANDJUNGKARANG TEGAL TEMANGGUNG TJIAMIS TJIREBON EmiClass A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-- 179 . 7°00'00'' S 112°45'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 0°50'00'' S 107°45'00'' E . 0°13'00'' S 109°40'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 7°45'00'' S 109°15'00'' E .00000 [kHz] 1602. 6°10'00'' S 113°42'00'' E .00000 [kHz] 1602. 7°19'00'' S 108°34'00'' E .00000 [kHz] 1602. 6°50'00'' S 113°51'00'' E . 0°30'00'' S 119°39'00'' E . 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 Fragment GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 AssgnFreq 1602.00000 [kHz] 1602. 6°34'00'' S 106°55'00'' E .No.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 6°42'00'' S 112°39'00'' E . 8°32'00'' S 111°31'00'' E . 6°52'00'' S 110°10'00'' E . 5°33'00'' S 111°02'00'' E .00000 [kHz] 1602. 6°22'00'' S 117°09'00'' E . 8°06'00'' S 131°17'00'' E .00000 [kHz] 1602. 6°53'00'' S 109°20'00'' E .00000 [kHz] 1602. 1°32'00'' N 105°22'00'' E .00000 [kHz] 1602. 7°28'00'' S 115°05'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 7°42'00'' S 115°24'00'' E . 7°09'00'' S 110°14'00'' E . 7°59'00'' S 124°55'00'' E . 1°42'00'' N 112°43'00'' E .00000 [kHz] 1602. 2°55'00'' S 107°53'00'' E .00000 [kHz] 1602. 0°05'00'' S 113°13'00'' E .00000 [kHz] 1602. 6°55'00'' S 110°36'00'' E .00000 [kHz] 1602. 7°19'00'' S 108°20'00'' E .

00000 [kHz] 1602. 0°48'00'' N SiteName TOMOHON UJUNGPANDANG WONOSOBO BANDA ATJEH KENDARI PALENGKARAJA PALU TERNATE EmiClass A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E--   180 .00000 [kHz] GeoCoord 124°50'00'' E .No.00000 [kHz] 1602. 5°30'00'' N 122°36'00'' E . 7°21'00'' S 95°20'00'' E .00000 [kHz] 1602. 5°09'00'' S 109°59'00'' E . 2°02'00'' S 119°53'00'' E .00000 [kHz] 1602. 3°57'00'' S 113°11'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 0°54'00'' S 127°23'00'' E . 1°19'00'' N 119°25'00'' E . 300 301 302 303 304 305 306 307 Fragment GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 AssgnFreq 1602.

385 Kanal Spasi = 7 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Fn (MHz) 7128 7135 7142 7149 7156 7163 7170 7177 7184 7191 7198 7205 7212 7219 7226 7233 7240 7247 7254 7261 F'n (MHz) 7289 7296 7303 7310 7317 7324 7331 7338 7345 7352 7359 7366 7373 7380 7387 7394 7401 7408 7415 7422 Fn (MHz) 6460 6500 6540 6580 6620 6660 6700 6740 F'n (MHz) 6800 6840 6880 6920 6960 7000 7040 7080 Kanal Spasi = 14 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Fn (MHz) 7135 7142 7149 7156 7163 7170 7177 7184 7191 7198 7205 7212 7219 7226 7233 7240 7247 7254 F'n (MHz) 7296 7303 7310 7317 7324 7331 7338 7345 7352 7359 7366 7373 7380 7387 7394 7401 7408 7415 Kanal Spasi = 28 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Fn (MHz) 7135 7142 7149 7156 7163 7170 7177 7184 7191 7198 7205 7212 7219 7226 7233 7240 7247 F'n (MHz) 7296 7303 7310 7317 7324 7331 7338 7345 7352 7359 7366 7373 7380 7387 7394 7401 7408 181 . 1099 Annex-1 Kanal Spasi = 40 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 Fn (MHz) 4430 4470 4510 4550 4590 4630 4670 F'n (MHz) 4730 4770 4810 4850 4890 4930 4970 Frekuensi 6400 – 7100 MHz Rec. ITU-R F.LAMPIRAN 4 PENGKANALAN MICROWAVE LINK BERDASARKAN REKOMENDASI ITU-R Frekuensi 4400 – 5000 MHz Rec. ITU-R F. 384 Kanal Spasi = 40 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 Frekuensi 7125 – 7425 MHz Rec. ITU-R F.

62 8207.6 7955.67 8118. ITU-R 386 Annex-1 Kanal Spasi = 29.7 GHz Rec. ITU-R 386 Annex-3 Kanal Spasi = 28 MHz No 1 2 3 4 5 6 Fn (MHz) 8293 8307 8321 8335 8349 8363 F'n (MHz) 8412 8426 8440 8454 8468 8482 Frekuensi 10.32 8147.3 7895. ITU-R F.95 7925. ITU-R F.7 7777. 387 Kanal Spasi = 40 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Fn (MHz) 10715 10755 10795 10835 10875 10915 10955 10995 11035 11075 11115 11155 F'n (MHz) 11245 11285 11325 11365 11405 11445 11485 11525 11565 11605 11645 11685 182 .65 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 Fn (MHz) 7747.Frekuensi 7425 – 7725 MHz Rec.8500 MHz Rec.02 8088.27 8236.92 8266. 385 Kanal Spasi = 7 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Fn (MHz) 7428 7435 7442 7449 7456 7463 7470 7477 7484 7491 7498 7505 7512 7519 7526 7533 7540 7547 7554 7561 F'n (MHz) 7589 7596 7603 7610 7617 7624 7631 7638 7645 7652 7659 7666 7673 7680 7687 7694 7701 7708 7715 7722 Kanal Spasi = 14 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Fn (MHz) 7435 7442 7449 7456 7463 7470 7477 7484 7491 7498 7505 7512 7519 7526 7533 7540 7547 7554 F'n (MHz) 7596 7603 7610 7617 7624 7631 7638 7645 7652 7659 7666 7673 7680 7687 7694 7701 7708 7715 Kanal Spasi = 28 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Fn (MHz) 7442 7449 7456 7463 7470 7477 7484 7491 7498 7505 7512 7519 7526 7533 7540 7547 7554 F'n (MHz) 7603 7610 7617 7624 7631 7638 7645 7652 7659 7666 7673 7680 7687 7694 7701 7708 7715 Frekuensi 7725 – 8275 MHz Rec.65 7866.7 – 11.25 F'n (MHz) 8059.57 Frekuensi 8275 .97 8177.35 7807 7836.

25 12801.75 12784.25 13060.75 13211.75 12826.25 12892.75 13197.25 12850.25 13137.75 13113.25 12920.75 12882.75 13092.25 13039.75 12777.75 13183.25 13193.75 13204.25 13151.75 12896.75 13043.25 12843.25 12906.25 12962.75 12819.75 12868.25 12934.75 12833.75 12945.25 13158.75 13190.25 12941.25 13179.25 13130.25 12927.75 12812.75 12805.25 12857.75 12903.25 13221.75 13169.75 13162.25 13074.75 13071.25 13116.25 12815.25 12808.75 12798.25 13032.75 12973.25 12948.25 F'n (MHz) 13155.25 183 .75 F'n (MHz) 13018.25 13067.75 13029.75 13232.75 12924.75 13225.75 No 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 Fn (MHz) 12889.25 13228.75 12917.25 13165.25 12766.75 13218.75 13057.75 13099.25 12969.25 12780.25 13123.75 12840.75 12910.25 12871.25 13207.75 12966.5 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 Fn (MHz) 12752.75 13064.25 12836.25 13025.75 12931.25 12885.75 12938.75 13127.75 13141.25 13172.75 12861.25 12773.Frekuensi 12750 – 13250 MHz Rec.75 13120.75 13078.75 12770.25 13109.75 12756.75 12854.75 13036.25 13144.75 12847.25 13088.75 13085.75 13176.25 12913. 497 Kanal Spasi = 3.25 12759.25 12794.25 13102.75 12959.25 13081.25 12787.75 12875.25 13200.25 12899.75 13022.25 13046.75 13106.75 13148.75 13134.25 12822.75 13239.25 13095.25 12955.25 13186.ITU-R F.75 13050.25 13214.75 12763.25 12878.25 12829.75 12791.25 12864.25 13235.75 12952.25 13053.

5 13167.5 12887.5 13090.5 12887.5 13160.5 12922.5 13097.5 12810.5 12915.5 13083.5 13118.5 12866.5 13223.5 13132.5 13174.5 13097.5 12873.5 13055.5 13230.5 13048.5 12971.5 12901.5 12768.5 12810.5 13062.5 12782.5 13230.5 12852.5 12845.5 12775.5 12894.5 12873.5 13181.5 13034.5 13237.5 12789. 497 Kanal Spasi = 7 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 Fn (MHz) 12754.5 12845.5 12789.5 13139.5 13174.5 12803.5 13104.5 13125.5 13027.5 Kanal Spasi = 14 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Fn (MHz) 12761.5 12761.5 12796.5 12957.5 13111.5 12922.5 13111.5 12936.5 12859.5 F'n (MHz) 13020.5 13209.5 12943.5 12929.5 13216.5 12866.5 13160.5 13090.5 13062.5 12824.5 12803.5 13034.5 12943.5 13041.5 13153.5 12880.5 13146.5 13118.5 13125.5 13076.5 12950.5 13048.5 13104.5 F'n (MHz) 13027.5 12929.5 12957.5 13216.5 12782.5 12817.Frekuensi 12750 – 13250 MHz Rec.5 12859.5 13069.5 12817.5 13195.5 13055.5 13181.5 12838.5 13167.5 Kanal Spasi = 28 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 Fn (MHz) 12765 12793 12821 12849 12877 12905 12933 12961 F'n (MHz) 13031 13059 13087 13115 13143 13171 13199 13227 184 .5 13188.5 12768.5 12908.5 13083.5 13223.5 13202.5 12915.5 12950.ITU-R F.5 13209.5 12901.5 12775.5 12824.5 13146.5 12964.5 13153.5 13069.5 13139.5 12838.5 12852.5 13076.5 12964.5 13188.5 12908.5 12831.5 12796.5 13041.5 13202.5 13195.5 13132.5 12831.5 12936.5 12894.5 12880.

25 14719.75 14905.25 15013.25 14495.75 14499.75 15010.25 15146.25 14971.25 15174.75 14646.25 15055.25 15132.75 14954.25 14488.25 15209.75 14569.25 14418.75 14702.25 14523.75 15164.25 14803.75 15262.75 15185.75 15213.25 14957.25 15006.75 14597.75 14982.75 14779.25 15048.75 14681.75 15206.75 15094.25 14607.25 15083.25 14999.75 15038.75 15220.25 14411.25 14600.75 14555.25 14530.75 15003.25 15153.75 15059.75 15276.25 14712.75 14793.75 14709.75 15087.75 14520.75 14443.25 15195.25 14929.75 14611.75 14695.25 14943.25 14789.25 14649.25 14467.25 15076.75 15080.75 15234.75 14506.25 15272.25 14684.75 15290.75 14408.75 14422.25 14915.25 15139.75 14751.25 14908.25 14782.75 14660.75 14758.25 15237.75 14436.25 15202.75 15045.75 14744.25 14516.25 14670.75 15227.25 14698.75 15143.75 14618.75 F'n (MHz) 14894.25 15118.25 14460.75 F'n (MHz) 15167.75 15178.75 14415.25 14740.75 14786.25 14509.25 15125.75 14492.25 15111.25 14705.75 15157.25 14481.75 15129.75 No 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 Fn (MHz) 14541.75 185 .25 14432.75 14576.25 14656.75 15073.25 14754.75 15283.25 14425.75 14737.75 15052.75 14772.75 14933.75 14800.25 14747.25 14964.75 14590.75 15115.75 14989.75 14926.25 No 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 Fn (MHz) 14677.75 15101.25 14446.25 14796.75 14604.75 15192.75 15241.25 14978.75 15017.75 15122.75 14898.75 15150.25 15300.75 15066.75 14716.75 14625.25 15244.25 15258.25 14621.25 14537.25 15104.25 14642.25 14572.25 14474.75 14562.25 14901.25 14936.25 14691.75 14653.75 14968.75 14961.75 14730.75 14429.35 GHz Rec ITU-R F.25 14579.75 14464.25 15223.75 14940.25 14663.75 14485.75 14996.75 14548.75 14912.25 14593.75 14457.75 14688.75 14478.25 14614.25 14733.75 15297.75 15269.25 14992.25 15251.25 14551.25 15216.25 14544.25 15265.25 14439.25 F'n (MHz) 15031.75 14513.25 15020.75 15255.25 15160.75 14667.25 15293.75 15199.25 15069.75 14723.75 14527.75 14765.25 14635.75 14583.25 14726.25 15181.25 14985.75 15171.75 15248.5 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 Fn (MHz) 14404.25 15188.25 14558.25 14761.25 14775.25 14453.25 15062.75 14471.25 14768.75 14534.25 15097.25 15286.75 14919.25 14565.25 15230.75 14639.75 14450.25 14922.75 15136.25 14586.75 14632.75 14975.25 14950.4 – 15.25 15041.75 14807.Frekuensi 14.75 15108.25 14502.25 14810.75 14674. 636 Kanal Spasi = 3.75 14947.25 15090.25 14628.25 15279.25 15034.25 15027.75 15024.

5 15162.5 15204.5 15302.5 14672.5 14924.5 15050.5 14791.5 14539.5 14693.5 14987.75 15318.25 14831. 636 Kanal Spasi = 7 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Fn (MHz) 14406.5 14756.5 14679.25 14824.5 15295.5 15134.5 14966.5 15281.5 15309.5 14777.75 15332.5 15232.5 14805.5 15267.75 14835.5 15106.5 14721.5 14595.5 15043.5 14574.5 15211.5 15113.5 14609.5 14714.5 14630.5 14560.5 14518.5 15036.5 14847.75 15339.5 15092.5 F'n (MHz) 15218.5 14770.5 15253.5 14903.75 14821.5 15099.5 15155.5 14553.5 14623.35 GHz Rec ITU-R F.5 15260.5 14511.5 15008.5 14910.5 14504.5 14651.5 14469.25 15314.5 14819.5 14931.5 14945.5 15197.5 15246.5 14707.5 14763.5 14959.5 14812.5 15141.5 14448.5 No 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 Fn (MHz) 14567.5 15337.5 No 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 Fn (MHz) 14728.5 14420.5 MHz  No 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 Fn (MHz) 14814.25 15307.5 15323.5 15127.5 14973.5 14658.25 14817.5 15120.5 14441.25 15335.5 14833.5 14826.5 15225.5 14616.5 F'n (MHz) 14896.4 – 15.5 14483.5 15001.5 14994.5 14798.25 15321.75 15311.5 186 .5 14532.5 14413.5 14637.5 14700.75 15325.5 15022.25 14845.5 14938.5 14546.5 14525.25 15328.5 14749.5 15239.5 14455.5 15029.5 14840.Kanal Spasi = 3.5 15064.5 14427.5 15190.5 15274.5 15071.25 14838.5 14917.75 14828.5 15183.5 15085.5 14497.5 14476.5 14952.5 15288.5 14784.5 14602.25 F'n (MHz) 15304.5 14742.5 14644.5 14735.5 15078.5 14462.5 15316.5 14588.5 14581.5 15148.5 14665.5 14490.5 14434.5 15330.5 14980.25 Frekuensi 14.5 15169.5 15176.75 14842.5 14686.5 15015.75 14849.5 F'n (MHz) 15057.

5 15057.5 15239.4 – 15.5 15029.5 14609.5 Kanal Spasi = 28 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Fn (MHz) 14417 14445 14473 14501 14529 14557 14585 14613 14641 14669 14697 14725 14753 14781 14809 14837 F'n (MHz) 14907 14935 14963 14991 15019 15047 15075 15103 15131 15159 15187 15215 15243 15271 15299 15327 187 .5 15218.19.5 14819.5 14616.5 15155.5 14812.5 14581.5 14952.5 14546.5 F'n (MHz) 14903.5 15232.5 15043.5 14518.5 14476.5 14672.5 15225.5 15092.5 14826.5 14784.5 14532.5 15064.5 15190.5 15204.5 14525.5 14980.5 15127. ITU-R F.5 15302.5 15267.5 14798.5 14742.5 14910.5 14595.5 14490.5 15281. 595 Annex 5 Kanal Spasi = 7 MHz No 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 Fn (MHz) 14686.5 14735.5 15246.5 14644.5 15288.7 .5 14749.5 15113.5 14637.5 15309.5 14469.5 15330.5 14658.5 14630.5 14938.5 15323.5 14504.5 15050.5 14700.5 14420.5 15274.5 14714.5 14497.5 14707.5 15316.5 15085.Frekuensi 14.5 14945.5 15008.5 15071.5 14574.5 15162.5 14511.5 14805.5 14721.5 14924.5 14602.35 GHz Rec ITU-R F.5 14693.5 15099.5 14777.5 14917.5 15120.5 15295.5 14539.5 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Fn (MHz) 17710 17717 17724 17731 17738 17745 17752 17759 17766 F'n (MHz) 18720 18727 18734 18741 18748 18755 18762 18769 18776 Frekuensi 17.5 14791.5 14651. 636 Kanal Spasi = 14 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 Fn (MHz) 14413.5 15260.5 14763.5 15001.5 14833.5 14448.5 15015.5 14434.5 F'n (MHz) 15176.5 14973.5 14931.5 14623.5 14756.5 14441.5 15253.5 14994.5 15078.5 15197.5 14427.5 15183.5 14462.5 15148.5 14959.5 14567.5 14455.5 15106.5 14588.5 15211.5 14966.5 15134.5 14665.7 GHz Rec.5 14987.5 15141.5 15036.5 14770.5 15169.5 14553.5 14483.5 14679.5 14560.5 14728.5 15022.5 14840.

5 23044 23047.5 23037 23040.5 22085 22088.5 F'n (MHz) 23012.5 22302 22305.5 23184 23187.5 23261 23264.5 22036 22039.5 22169 22172.5 22316 22319.5 23226 23229.5 23219 23222.5 23107 23110.5 22078 22081.5 23191 23194.5 22400 22403.5 22064 22067.5 23170 23173.5 22022 22025.5 23051 23054.5 No 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 Fn (MHz) 22141 22144.5 22281 22284.5 23254 23257.5 22120 22123.5 23023 23026.5 22323 22326.5 22092 22095.5 22267 22270.5 22358 22361.5 22008 22011.5 22099 22102.5 22134 22137.5 23408 23411.5 23317 23320.5 23289 23292.5 23310 23313.5 23100 23103.5 23030 23033.5 23177 23180.5 23065 23068.5 23401 23404.5 22393 22396.5 22288 22291.5 23093 23096.5 22015 22018.5 22190 22193.2 – 23.5 23373 23376.5 22043 22046.5 23275 23278.5 22274 F'n (MHz) 23149 23152.Frekuensi 21.5 22057 22060.5 22106 22109.5 22232 22235.5 F'n (MHz) 23285.5 22218 22221.6 GHz Rec.5 22344 22347.5 23352 23355.5 23233 23236.5 23338 23341.5 23303 23306.5 22148 22151.5 23016 23019.5 22211 22214.5 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 Fn (MHz) 22004.5 22113 22116.5 23296 23299.5 22162 22165.5 23380 23383.5 22029 22032.5 22379 22382.5 23156 23159.5 23247 23250.5 188 .5 22183 22186.5 23324 23327.5 23114 23117.5 22197 22200.5 23205 23208.5 23079 23082.5 22204 22207.5 23366 23369.5 22295 22298.5 22351 22354.5 22407 22410.5 23394 23397.5 23142 23145. 637 Kanal Spasi = 3.5 22253 22256.5 22365 22368.5 22239 22242.5 22386 22389.5 23282 No 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 Fn (MHz) 22277.5 23359 23362.5 22225 22228.5 22330 22333.5 23163 23166.5 22127 22130.5 23128 23131.5 23135 23138.5 23387 23390.5 23345 23348.5 22309 22312.5 23240 23243.5 22337 22340.5 22246 22249.5 23415 23418.5 23268 23271.5 23086 23089.5 23121 23124.5 23331 23334. ITU-R F.5 23198 23201.5 22260 22263.5 22071 22074.5 23058 23061.5 22372 22375.5 22176 22179.5 23072 23075.5 22050 22053.5 22155 22158.5 23212 23215.

5 22442 22445.5 22568 22571.5 22477 22480.5 22428 22431.5 23075.5 23124.5 23159.5 23471 23474.5 23478 23481.5 23583 23586.5 23257.5 22144.5 23201.5 22554 F'n (MHz) 23422 23425.5 23520 23523.5 22193.5 23548 23551.5 22228.5 Kanal Spasi = 7 MHz  No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 Fn (MHz) 22011.5 22046.5 22074.5 22582 22585.5 22221.5 23436 23439.5 23194.5 22123.5 23180.5 22018.5 23068.5 22186.5 23215.5 23292.5 23243.5 22491 22494.5 22039.5 F'n (MHz) 23019.5 23138.5 22561 22564.5 23583 23586.5 23576 23579.5 22547 22550.5 23250.5 22284.5 22214.5 23061.5 22270.5 22109.5 23569 23572.5 22421 22424.5 22130.5 23443 23446.5 22067.5 23103.5 22207.5 22263.5 22172.5 22088.5 22435 22438.5 23278.5 22568 22571.5 23429 23432.5 23040.5 22242.5 23222.5 23464 23467.5 23096.5 22484 22487.5 23299.5 22554 22557.5 23457 23460.5 22165.5 22582 22585.5 23208.5 23033.5 22102.5 22575 22578.5 22550.5 23562 No 159 160 161 162 163 164 165 166 167 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 Fn (MHz) 22557.5 23558.5 23534 23537.5 23285.5 22277.5 22505 22508.5 23271.5 23450 23453.5 22151.5 23555 23558.5 22249.5 23173.5 23506 23509.5 22526 22529.5 23047.5 MHz No 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 Fn (MHz) 22414 22417.5 22116.5 23590 23593.5 23110.5 22561 22564.5 23499 23502.5 23229.5 22081.5 22540 22543.5 23569 23572.5 23264.5 22256.5 22137.5 23082.5 23089.5 22200.5 23562 23565.5 22060.5 22463 22466.5 22032.5 23145.5 23117.5 23590 23593.5 22158.5 22025.Kanal Spasi = 3.5 F'n (MHz) 23565.5 22512 22515.5 23026.5 23541 23544.5 22519 22522.5 23152.5 22456 22459.5 22470 22473.5 22291.5 22235.5 23513 23516.5 22179.5 22095.5 22498 22501.5 23576 23579.5 23236.5 23492 23495.5 23485 23488.5 22575 22578.5 22449 22452.5 22533 22536.5 23527 23530.5 23054.5 23166.5 23187.5 22053.5 189 .5 23131.

5 22557.5 23439.5 23425.5 22522.5 23579.5 23362.5 22466.5 22578.5 23558.5 23565.5 23355.5 22333.5 22403.5 23348.5 23488.5 22424.5 23320.5 23551.5 23502.5 22487.5 22347.5 22459.5 22480.5 23404.5 22389.5 22438.5 22529.5 23446.5 Kanal Spasi = 14 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 Fn (MHz) 22015 22029 22043 22057 22071 22085 22099 22113 22127 22141 22155 22169 22183 22197 22211 22225 22239 22253 22267 22281 22295 22309 22323 22337 22351 22365 22379 22393 22407 22421 22435 22449 22463 22477 22491 22505 22519 22533 22547 22561 22575 F'n (MHz) 23023 23037 23051 23065 23079 23093 23107 23121 23135 23149 23163 23177 23191 23205 23219 23233 23247 23261 23275 23289 23303 23317 23331 23345 23359 23373 23387 23401 23415 23429 23443 23457 23471 23485 23499 23513 23527 23541 23555 23569 23583 Kanal Spasi = 28 MHz  No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Fn (MHz) 22022 22050 22078 22106 22134 22162 22190 22218 22246 22274 22302 22330 22358 22386 22414 22442 22470 22498 22526 22554 F'n (MHz) 23030 23058 23086 23114 23142 23170 23198 23226 23254 23282 23310 23338 23366 23394 23422 23450 23478 23506 23534 23562 Kanal Spasi = 1128 MHz No 1 2 3 4 5 Fn (MHz) 22078 22190 22302 22414 22526 F'n (MHz) 23086 23198 23310 23422 23534 190 .5 22585.5 22375.5 23432.5 23376.5 22417.5 23313.5 23474.5 22494.5 22326.5 22319.5 23516.5 22564.5 23495.5 23460.5 23369.5 22571.5 22501.5 23537.5 23530.5 22361.5 23467.5 22515.5 22382.5 23572.5 22543.5 22452.5 23586.5 22550.5 22445.5 23411.5 23383.5 22473.5 23509.5 22536.5 23327.5 23334.5 F'n (MHz) 23306.5 23397.5 22340.5 23341.5 22312.5 22431.5 23418.5 23523.5 22354.5 23390.Kanal Spasi = 7 MHz No 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 Fn (MHz) 22298.5 22410.5 22305.5 23453.5 22508.5 22368.5 22396.5 23544.5 23593.5 23481.

8 146.0 UHF (MHz) 430 – 438 2300 – 2450 2. Data Kode Morse. NB Data NB Data NB Data Primer Primer Primer Primer Primer Primer Sekunder Sekunder Sekunder Sekunder Kode Morse. Suara. Suara. Suara. Data Kode Morse. Data Data Data Data NB (Narrow Band) Data tidak melebihi lebar band 3 KHz 191 . Tingkat Pemula : Band Frekuensi VHF (MHz) 144. Data Kode Morse. Suara Suara. Kode Morse.0 – 148.KOMINFO/8/2009 1. Tingkat Siaga : Band Frekuensi HF (kHz) 3500 – 3900 7000 – 7200 21000 – 21200 28000 – 28500 VHF (MHz) 144. Suara.8 146.0 – 145. Data Kode Morse. Suara. Kode Morse. Kode Morse.0 UHF (MHz) 430 – 438 1240 – 1298 2300 – 2450 SHF (MHz) 5650 – 5850 Catatan : Moda Pancaran Kategori Moda Pancaran Kategori Kode Morse. Data Data Primer Primer Sekunder Sekunder Kode Morse.0 – 148. Suara.0 – 145.LAMPIRAN 5 BAND FREKUENSI DAN MODA PANCARAN YANG DIIZINKAN SESUAI DENGAN PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR : 33 /PER/M.

Morse.25 – 123.0 – 77.0 122. Morse. Suara.0 – 136. NB Suara. Kode Morse. Data Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Morse. NB Data Kode Morse. Suara. Data Suara. Data Suara. Suara.0 – 81. Morse. Morse. Morse. Data Suara.0 – 141. Data Suara. Suara.0 – 250.0 248. Suara. Kode Morse.0 – 248. Data Suara.0 – 47. Data Suara. Data Suara. Data Kode Morse. Morse. Morse. Kode Morse. Morse.5 77. Data Sekunder Sekunder Sekunder Sekunder Sekunder Sekunder Primer Sekunder Primer Sekunder Primer Sekunder Sekunder Primer Sekunder Sekunder Primer NB (Narrow Band) Data tidak melebihi lebar band 3 KHz 192 .0 Catatan : Moda Pancaran Kategori Kode Morse. Morse.0 241. Data Suara.2 76. Data Suara. Suara Suara. Morse. Data Suara.0 136. Kode Morse. NB Primer Primer Primer Primer Primer Primer Primer Primer Data Data Data Data Kode Morse. Data Suara. Morse. Morse. Data Band Frekuensi UHF (MHz) 430 – 438 1240 – 1298 2300 – 2450 SHF (MHz) 3300 – 3500 5650 – 5850 10000 – 10500 24000 – 24050 24050 – 24250 EHF (GHz) 47. Suara. Data Kode Morse.0 h 134. Data Suara. Tingkat Penggalang : Band Frekuensi MF (kHz) 1800 – 2000 HF (kHz) 3500 – 3900 7000 – 7200 14000 – 14150 21000 – 21450 28000 – 29700 VHF (MHz) 50 – 54 144 – 148 Moda Pancaran Kategori Kode Morse. NB Suara. Morse. NB Suara.5 – 78. Data Kode Morse.3.0 78. Suara. Data Suara.

NB Suara. Data Kode Morse. Morse.0 – 77. Morse. Data Suara. NB Suara.0 136. Data Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Morse.0 78. Kode Morse. NB Suara. Data NB (Narrow Band) Data tidak melebihi lebar band 3 KHz 193 . Data Suara. Data Suara. Kode Morse. Data Suara. Morse.0 – 136. Suara. Data Kode Morse.0 248. Morse. Morse. Data Suara. Data Kode Morse. Morse. Kode Morse. NB Suara.5 77. Suara Suara. Kode Morse. Data Kode Morse. Kode Morse.0 – 250.5 – 78. Suara. Morse.0 Catatan : Moda Pancaran Kategori Kode Morse. Data Suara. Morse.25 – 123.0a 122. NB Primer Primer Primer Sekunder Primer Primer Primer Primer Primer Primer Primer Sekunder Sekunder Sekunder Sekunder Sekunder Sekunder Primer Sekunder Primer Sekunder Primer Sekunder Sekunder Primer Sekunder Sekunder Primer Data Data Data Data Data Data Kode Morse.0 – 81.0 – 47. Morse. NB Data Kode Morse. Morse. Data Suara. Kode Morse. Morse.02 41.4.0 – 248. Tingkat Penegak : Band Frekuensi MF (kHz) 1800 – 2000 HF (kHz) 3500 – 3900 7000 – 7200 10100 – 10150 14000 – 14350 18068 – 18168 21000 – 21450 24890 – 24990 28000 – 29700 VHF (MHz) 50 – 54 144 – 148 UHF (MHz) 430 – 438 1240 – 1298 2300 – 2450 SHF (MHz) 3300 – 3500 5650 – 5850 10000 – 10500 24000 – 24050 24050 – 24250 EHF (GHz) 47. Morse. Data Suara. Morse. Suara.2 76. Suara. Kode Morse. Data Suara.0 – 41. Data Suara. Suara. Data Suara. Suara. Data Suara.0 134. Suara. NB NB Data Suara. Data Suara.

YH 1 4 JAWA TENGAH YB.YC.TZZZ UA – YZ UAA – YZZ UAAA – YZZZ AA .YZ RAA .YC.QZ AAA .YH 1 3 BANTEN YB.I.YG.YF. Sekunder berarti bahwa penggunaan Stasiun Radio Amatir pada band frekuensi yang bersangkutan : a.YE.PZZ RAA – TZZ AAAA .TZ AAA .YE.YD.YD.YF. Tidak boleh menyebabkan gangguan terhadap Stasiun Radio lain dengan kategori Primer yang frekuensinya telah ditetapkan atau frekuensi tersebut akan ditetapkan di kemudian hari.YE.YZZ RAAA . Namun pada band tertentu adalah penggunaan utama disamping dinas radio primer lain.PZZ RAA .YF.YE.YH 3   194 .PZZZ RA .YG. SUSUNAN PEMBAGIAN PREFFIX.YC.YF.YC.YZZZ AA . b.YF.YZZ AAAA .YC.YG.YZZZ AA .YZ AAA . Primer berarti bahwa penggunaan Stasiun Radio Amatir pada band yang bersangkutan adalah penggunaan utama.YD.YG.YE. Tidak mendapat proteksi dari gangguan yang disebabkan oleh Stasiun Radio lain dengan kategori Primer yang frekuensinya telah ditetapkan atau akan ditetapkan di kemudian hari.YH 2 6 JAWA TIMUR YB.YZ AAA .YH 2 5 D.YC.YH Ø 2 JAWA BARAT YB.YD.YG.Penjelasan Kategori Penggunaan : 1. YOGYAKARTA YB.PZZ AAAA .YF.YG. DAN SUFFIX TANDA PANGGILAN (CALLSIGN) AMATIR RADIO UNTUK TIAP PROVINSI No PROVINSI PREFIKS HURUF ANGKA SUFFIKS IAR IAR KHUSUS AA .YE.PZZ RAA .YZZ AAAA .YD.YZZZ A–Z ZA – ZZ ZAA – ZZZ ZAAA – ZZZZ A–Q ZA – ZQ ZAA – ZQZ ZAAA – ZQZZ R–Y ZR – ZZ ZRA – ZZZ ZRAA – ZZZZ A–T ZA – ZT ZAA – ZTZ ZAAA – ZTZZ U–Y ZU – ZZ ZUA – ZZZ ZUAA – ZZZZ A–Y ZA – ZZ ZAA – ZZZ ZAAA – ZZZZ 1 DKI JAKARTA YB. 2.YD.

YH 4 11 LAMPUNG YB.RZZZ YB.No PROVINSI PREFIKS HURUF ANGKA IAR SUFFIKS IAR KHUSUS A–E ZA – ZE ZAA – ZEZ ZAAA – ZEZZ 7 JAMBI YB.YC.IZZZ 9 BANGKA BELITUNG YE.YH 4 12 SUMATERA BARAT YB.YE.YF.YF.YG.IZZZ JA – LZ JAA – LZZ JAAA .YF.RZZ NAAA .YF.YE.YD 4 YE.YF.LZZZ 8 SUMATERA SELATAN YB.YH 4 JA – LZ JAA – LZZ JAAA .YH YB.YD.YE.YG.YC.YC.YF.RZ NAA .YD.YC.YC.YD 5 SA – YZ SAA – YZZ SAAA .YD.YD.YD.YZZZ F–L ZF – ZL ZFA – ZLZ ZFAA – ZLZZ F–L ZF – ZL ZFA – ZLZ ZFAA – ZLZZ 10 BENGKULU YB.YE.LZZZ MA – RZ MAA – RZZ MAAA – RZZZ SA – YZ SAA – YZZ SAAA – YZZZ AA – MZ AAA – MZZ AAAA – MZZZ NA .YG FA – IZ FAA – IZZ FAA .PZZ RAA .YH 5 M-R ZM – ZR ZMA – ZRZ ZMAZ – ZRZZ S-Y ZS – ZZ ZSA – ZZZ ZSAZ – ZZZZ A-M ZA – ZM ZAA – ZMZ ZAAA – ZMZZ 13 RIAU N–Y ZN – ZY ZNA – ZYZ ZNAA – ZYZZ   195 .YD.YH YB.YG.YG.YC.YC.YC.YH 4 AA – EZ AAA – EZZ AAAA – EZZZ FA – IZ FAA – IZZ FAA .YG.

DZ AAA .YF.YF.YZZZ 15 NANGROE ACEH DARUSSALAM YB.YC.YC.YF.YD.RZZ NAAA .YF.YC.YF.YH 5 SA – YZ SAA – YZZ SAAA .YD.YD.YH 7 19 KALIMANTAN TENGAH YB.YC.YG.DZZZ YB.YG.YE.YF.YG ANGKA SUFFIKS NA .RZZZ N–Y ZN – ZY ZNA – ZYZ ZNAA – ZYZZ 14 KEPULAUAN RIAU YE.YE.YC.YE.HZZZ A–H ZA – ZH ZAA – ZHZ ZAAA – ZHZZ   196 .YD.YE.YF.YF.YD.YC.YH YB.YC.YH 7 18 KALIMANTAN SELATAN YB.YE.RZ NAA .YH 7 A–G ZA – ZG ZAA – ZGZ ZAAA – ZGZZ H-Y ZH – ZY ZHA – ZYZ ZHAA – ZYZZ A–G ZA – ZG ZAA – ZGZ ZAAA – ZGZZ H-N ZH – ZN ZHA – ZNZ ZHAA – ZNZZ O–T ZO – ZT ZOA – ZTZ ZOAA – ZTZZ U –Y ZU – ZZ ZUA – ZZZ ZUAA – ZZZZ 21 SULAWESI SELATAN AAAA .DZZ 16 SUMATERA UTARA YB.YH 6 17 KALIMANTAN BARAT YB.YC.PREFIKS No PROVINSI HURUF YE.YG.YD.YD.YG.YG.YH 7 20 KALIMANTAN TIMUR YB.YE.YD 8 EA – HZ EAA – HZZ EAAA .YH 6 AA – GZ AAA – GZZ AAAA – GZZZ HA – YZ HAA – YZZ HAAA – YZZZ AA – GZ AAA – GZZ AAAA – GZZZ HA – NZ HAA – NZZ HAAA – NZZZ OA – TZ OAA – TZZ OAAA – TZZZ UA – YZ UAA – YZZ UAAA – YZZZ AA .PZZ RAA .YG.YG.

YC.No PROVINSI PREFIKS HURUF YE.YG QA .UZZZ YE.YG ANGKA IAR SUFFIKS IAR KHUSUS A-H ZA – ZH ZAA – ZHZ ZAAA – ZHZZ AA .WZ VAA .WZZ 27 MALUKU VAAA .YH 8 TA – UZ TAA – UZZ TAAA .YH 8 24 SULAWESI TENGAH YB.YC.SZ RAA .YC.DZZZ 22 SULAWESI BARAT YE.SZZ 25 SULAWESI UTARA QAAA .HZZZ SULAWESI TENGGARA IA – LZ IAA – LZZ IAAA – LZZZ MA – PZ MAA – PZZ MAAA – PZZZ QA .YC.YF.YD.YD 8 XA – YZ XAA – YZZ XAAA .DZZ AAAA .YG.YC.YG.YF.YZZZ 23 YB.YD.ZPZZ Q-U ZQ – ZU ZQA – ZUZ ZQAA – ZUZZ Q-U ZQ – ZU ZQA – ZUZ ZQAA – ZUZZ V-Y ZV – ZY ZVA – ZYZ ZVAA – ZYZZ 197 .SZZ QAAA .YF.YE.YF.YG.WZZZ YB.DZ AAA .YH YB.YH 8 EA – HZ EAA – HZZ EAAA .UZZZ YB.YF.SZ RAA .YD 8 TA – UZ TAA – UZZ TAAA .SZZZ YB.YE.YC.YD.ZLZZ M-P ZM – ZP ZMA – ZPZ ZMAA .SZZZ 26 GORONTALO YE.YD.YF.YH 8 I-L ZI – ZL ZIA – ZLZ ZIAA .YG.YH VA .

YF.YH 9 A-F ZA – ZF ZAA – ZFZ ZAAA .YG ANGKA IAR SUFFIKS IAR KHUSUS V-Y ZV – ZY ZVA – ZYZ ZVAA – ZYZZ VA .YE.ZKZZ L-P ZL – ZP ZLA – ZPZ ZLAA .YZZZ AA – FZ AAA – FZZ AAAA – FZZZ GA – KZ GAA – KZZ GAAA – KZZZ LA – PZ LAA – PZZ LAAA – PZZZ UA .YC.YE.WZZZ 28 MALUKU UTARA YE.YE.WZZ VAAA .YD.ZZZZ 198 .YF.YC.ZZZZ Q-T ZQ – ZT ZQA – ZTZ ZQAA .YE.YF.YC.YE.YH 8 XA – YZ XAA – YZZ XAAA .YG.YZ UAA – YZZ UAAA – YZZZ 29 BALI YB.YF.YG.YG.YD.YD.YF.YG.YG.YH 9 32 PAPUA BARAT YB.ZFZZ G-K ZG – ZK ZGA – ZKZ ZGAA .WZ VAA .ZPZZ ZU – ZZ ZUA – ZZZ ZUAA .ZTZZ U-Y ZU – ZZ ZUA – ZZZ ZUAA .YG.YH 9 31 NUSA TENGGARA TIMUR YB.YD.YZ UAA – YZZ UAAA – YZZZ QA .YC.YC.No PROVINSI PREFIKS HURUF YE.YH 9 30 NUSA TENGGARA BARAT YB.TZ RAA – TZZ QAAA – TZZZ UA .YF.YF.YD.YH 9 33 PAPUA YB.

115 27.405 Ketentuan penggunaan pita HF untuk pelaksanaan penyelenggaraan KRAP adalah sebagai berikut : a.265 27.410 MHz yang dibagi menjadi 40 kanal.185 27.215 27.085 27. setiap kanal frekuensi radio KRAP dapat digunakan untuk penyampaian berita gawat darurat.275 27.205 Kanal 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 MHz 27.975 26. pita frekuensi radio 26.225 27.395 27.960 MHz sampai dengan 27.015 27.375 27.295 27.325 27. 345 27. yaitu : Kanal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14.960 MHz sampai dengan 27.305 27.025 27.285 27.245 27. b.410 MHz merupakan pita frekuensi radio yang digunakan bersama dan tidak khusus diperuntukkan bagi 1 (satu) orang pemegang IKRAP dan tidak pula dilindungi dari gangguan elektromagnetik yang merugikan.LAMPIRAN 6 RINCIAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PITA FREKUENSI UNTUK KOMUNIKASI RADIO ANTAR PENDUDUK (KRAP) Referensi : Peraturan Menteri Komunikasi Dan Informatika Nomor : 34/PER/M.315 27.965 26.365 27.065 27. 335 27.385 27.155 27.KOMINFO/8/2009 Tentang Penyelenggaraan Komunikasi Radio Antar Penduduk HF Kanal frekuensi radio yang diizinkan pada pita HF (High Frequency) untuk pelaksanaan penyelenggaraan KRAP adalah frekuensi radio 26. 165 27. 355 27. 135 27.035 27.105 27.175 27.235 27. 199 .255 27.075 27.055 27.005 27. 15 16 17 18 19 20 MHz 26.985 27. 125 27.

toleransi frekuensi radio maksimum untuk Stasiun Tetap Pita Sisi Tunggal (SSB) adalah sebesar 50 Hz.065 MHz (kanal 9) hanya digunakan untuk penyampaian berita gawat darurat. (1) Kanal frekuensi radio yang diizinkan pada pita VHF untuk penyelenggaraan KRAP menggunakan pemancar ulang (Repeater) pada frekuensi radio : a.000 MHz dan 142. PEP dalam hal ini ialah daya rata-rata yang dicatukan pada saluran transmisi antena oleh suatu pemancar selama satu periode dari frekuensi radio.025 MHz. d. frekuensi radio sebagaimana dimaksud pada huruf a merupakan frekuensi radio dengan pita sisi tunggal atas (USB = Upper Side Band) dengan gelombang pembawa di tekan (SSB SC = Single Side Band Suppressed Carrier). Penggunaan pemancar ulang (repeater) digunakan untuk keperluan Organisasi. pita frekuensi dengan kanal sebagaimana dimaksud pada huruf a merupakan pita frekuensi yang digunakan bersama dan tidak khusus (2) (3) 200 . j.575 MHz. b. i. Kanal frekuensi radio yang diizinkan pada pita VHF (Very High Frequency) untuk pelaksanaan penyelenggaraan KRAP adalah frekuensi radio 142. h. RX : 142. 2.550 MHz dan 143. Ketentuan penggunaan pita VHF untuk pelaksanaan penyelenggaraan KRAP adalah frekuensi radio 142. f. g.600 MHz dengan spasi alur 20 KHz adalah sebagai berikut : a.000 MHz sampai dengan 143. kelas emisi yang diizinkan pada pita HF adalah J3E untuk komunikasi telepon radio.000 MHz sampai dengan 143. frekuensi radio sebagaimana dimaksud pada point (2) merupakan frekuensi radio dengan gelombang pembawa modulasi frekuensi radio untuk komunikasi teleponi radio. b. pada puncak selubung modulasi yang terjadi pada kondisi operasi yang normal. TX : 143. VHF khusus frekuensi radio 27. pancaran tersebar (Spurious emission) dan gelombang harmonis maksimum sebesar 50 decibel di bawah daya pancar.8 KHz (2K80J3E).600 MHz dengan spasi alur 20 KHz. lebar pita untuk setiap kanal adalah 2. daya pancar maksimum sebesar : 1. 12 Watt Peak Envelope Power (PEP). daya pancar sebagaimana dimaksud pada huruf g tidak boleh dilampaui dalam semua keadaan operasi dan semua keadaan modulasi karena daya pancar yang berlebihan akan mengakibatkan gangguan pada sistem hubungan lainnya. sedangkan Stasiun Bergerak adalah sebesar 40 Hz.c. e.

g. untuk perangkat induk dan perangkat genggam : 40 decibel (25 microwatt). f. kelas emisi yang diizinkan pada pita VHF adalah F3E untuk komunikasi telepon radio. 2. 2. pancaran tersebar maksimum : 1. h. Perangkat Genggam : 5 Watt. e. lebar pita maksimum 16 kHz. daya pancar maksimum : 1. sebesar 15 bagian dari 106. 201 . sebesar 20 bagian dari 106. 3. Stasiun Tetap dan Stasiun Bergerak dengan daya pancar maksimum 25 Watt. toleransi frekuensi maksimum : 1. Perangkat Induk : 25 Watt. Perangkat pancar ulang (repeater) : 50 Watt.c. 2.   diperuntukkan bagi satu orang pemegang izin dan tidak pula dilindungi dari gangguan elektromagnetik yang merugikan. untuk perangkat pancar ulang (repeater) : 60 dicibel (1 milli Watt). setiap kanal frekuensi dapat pula digunakan untuk penyampaian berita gawat darurat. Stasiun Tetap pancar ulang (repeater) dengan daya pancar maksimum 50 Watt. d.

NAVTEX MSI by NBDP.4 (4116) kHz 4125 kHz 4129.323 kHz 405 – 415 kHz 415 – 535 kHz 455.5 kHz 16063. 414 for ship stations Ch.4 (4128) kHz SERVIS RNS RNS RNS RNS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS APLIKASI Omega Loran-C Radiobeacon Stations Radio Direction Finding Services Distress Call RTG. ITU-R M.541-8 Annex 5 See Rec. 422 for ship stations Referensi RR Article 52 See Rec. 408 for ship stations Ch.5 – 1625 kHz 1635 – 1800 kHz 1850 – 1950 kHz 1950 – 2045 kHz 2045 – 2141.5 kHz 458. 401 for ship stations Ch. ITU-R M.8 kHz 4066.LAMPIRAN 7 RINCIAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA FREKUENSI UNTUK KEPERLUAN MARITIM NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 FREKUENSI 9 .5 kHz 2262.5 kHz 2189.4 (4095) kHz 4105.5 kHz 2177 kHz 2182 kHz 2187. 416 for ship stations Ch.3 – 4064.4 (4110) kHz 4117.541-8 Annex 5 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Appendix 15 See Rec.5 – 2160 kHz 2174.4 (4065) kHz 4087.5 – 2498 kHz 2502 – 2578 kHz 2578 – 2850 kHz 3155 – 3200 kHz 3200 – 3340 kHz 3340 – 3400 kHz 3500 – 3600 kHz 3600 – 3800 kHz 4063. ITU-R M.4 kHz 4066. 418 for ship stations For supplement distress call Ch.4 (4104) kHz 4111.541-8 Annex 5 Referensi RR Appendix 15 Referensi RR Appendix 15 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 15 Referensi RR Appendix 17 CATATAN 202 .14 kHz 90 – 110 kHz 285 .5 kHz 2141. RTG-COM for general call coast stations by DSC for general call ship stations by DSC for coast stations by NBDP and DSC for coast stations SSB radiotelephony for coast stations SSB radiotelephony for ship stations SSB radiotelephony for ship stations SSB radiotelephony for ship stations by NBDP and DSC for NBDP Distress Traffic Message for intership DSC for distress call radiotelephony for distress call by DSC for general call ship stations by DSC for ship stations SSB radiotelephony for intership SSB radiotelephony for ship stations by NBDP for coast stations by NBDP and DSC for ship stations by NBDP for ship stations SSB radiotelephony for intership SSB radiotelephony for intership SSB radiotelephony for coast stations SSB radiotelephony for ship stations (oceanographic data transmission) For ship stations radio telephony duplex Ch.4 – 4144. 411 for ship stations Ch.5 kHz 2194 – 2262.4 (4086 kHz 4096.

4 4379.4 kHz 4358.75 – 4186.5 kHz 6285 – 6300 kHz 6300. 423 for coast stations for ship stations radio telephony duplex Ch.5 kHz 4181. 414 for coast stations Ch.5 kHz 6314 – 6330.4 4388.4 – 6231. 602 for ship stations Ch.75-6280.5 – 4207 kHz 4207.4 4409. 418 for coast stations Ch.5 kHz 6263 – 6275. 401 for coast stations Ch.4 – 4150.5-6501 kHz (6200) (6203) (6206) (6209) kHz kHz kHz kHz Referensi RR Appendix 17 Referensi Referensi Referensi Referensi RR RR RR RR Appendix Appendix Appendix Appendix 17 17 17 17 6213. 605 for ship stations For supplement distress call for ship and coast stations radio telephony simplex For ship stations radio telegraphy for ship stations (oceanographic data transmission) For ship stations NBDP for ship stations radio telegraphy(calling) For ship stations NBDP for ship stations radio telegraphy(working) For ship stations NBDP For ship stations DSC For coast stations NBDP For coast stations DSC For coast stations radio telegraphy CATATAN Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi Referensi Referensi Referensi Referensi Referensi Referensi Referensi RR RR RR RR RR RR RR RR Appendix Appendix Appendix Appendix Appendix Appendix Appendix Appendix 17 17 17 17 17 17 17 17 6201.4 – 6222.NO 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 FREKUENSI 4132.4 6210.5 – 4219 kHz 4219.5 – 4209 kHz 4209.4 6215 kHz 6225.3-6262.4 4424. 422 for coast stations Ch.4 (4131) kHz 4147.75 kHz 4187 – 4202 kHz 4202.4 (6212) kHz Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 15 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17   203 . 423 for ship stations for ship and coast stations radio telephony simplex For ship stations radio telegraphy For ship stations NBDP for ship stations radio telegraphy(calling) for ship stations radio telegraphy(working) For ship stations NBDP For ship stations DSC For coast stations NBDP For coast stations DSC For coast stations radio telegraphy for coast stations radio telephony duplex Ch.5 – 4181.75 kHz 6281 – 6284.4 4397. 408 for coast stations Ch. 603 for ship stations Ch.5 kHz 4221 – 4351 kHz 4352.5 kHz 6331 – 6332 kHz 6332.5 4403.4 kHz 4154 – 4170 kHz 4172.4 6204.5 kHz 6275.4 4421.4 kHz 6201.4 – 4436.4 6207.5 kHz 6312 – 6313.5 – 4220. 604 for ship stations Ch.4 kHz 6235 – 6259 kHz 6261. 411 for coast stations Ch.4 (4357) kHz (4378) kHz (4387) kHz (4396 ) kHz (4402) kHz (4408) kHz (4420) kHz (4423) kHz SERVIS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS APLIKASI Ch.5-6311. 601 for ship stations Ch. 416 for coast stations Ch.

4 (8240) 8250.4 (8276) 8283.4 (8270) 8277. 1201 for ship stations Ch.4 (12254) kHz 12258. 1209 for ship stations Ch.4 8807.4 (8222) 8229.4-12351.4-8813. 602 for coast stations Ch.4 kHz 8747.4 6508.5 kHz 8342-8365.4 6505.75-8370.4 (6501) (6504) (6507) (6510) (6513) kHz kHz kHz kHz kHz SERVIS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS APLIKASI for coast stations radio telephony duplex Ch. 1210 for ship stations CATATAN Referensi RR Appendix 17 Referensi Referensi Referensi Referensi Referensi RR RR RR RR RR Appendix Appendix Appendix Appendix Appendix 17 17 17 17 17 8196. 812 for ship stations Ch. 828 for coast stations Ch.4 (8228) 8235.5-8436 kHz 8436.4 (12230) kHz 12255. 604 for coast stations Ch.4-8292. 816 for coast stations Ch.4 (8282) 8291 kHz kHz kHz kHz kHz kHz kHz kHz kHz Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 15 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi Referensi Referensi Referensi Referensi Referensi Referensi Referensi RR RR RR RR RR RR RR RR Appendix Appendix Appendix Appendix Appendix Appendix Appendix Appendix 17 17 17 17 17 17 17 17 8295.4 6514.5-8416 kHz 8416.5 kHz 8438-8707 kHz 8708. 826 for coast stations Ch. 603 for coast stations Ch. 819 for coast stations Ch.4kHz 12231.4 8753.4-6523.4 (8234) 8241.4 8759.3-8341. 814 for coast stations Ch.4 kHz 8223.75kHz 8371-8376 kHz 8376.4 (8746) (8752) (8758) (8764) (8773) (8794) (8800) (8806) kHz kHz kHz kHz kHz kHz kHz kHz 12231. 814 for ship stations Ch.5-8396 kHz 8396.5-8414 kHz 8414. 816 for ship stations Ch.4 (8249) 8271.4 8774.4 8765. 830 for coast stations for ship stations radio telephony duplex Ch. 605 for coast stations for ship stations radio telephony duplex Ch. 812 for coast stations Ch. 819 for ship stations Ch.4 8795.5-8437. 810 for ship stations Ch.4-8298. 828 for ship stations Ch. 826 for ship stations Ch.4 8801. 601 for coast stations Ch.4 (12257) kHz Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 204 .4 kHz 6502. 810 for coast stations Ch. 830 for ship stations For distress call radiotelephony for ship and coast stations radio telephony simplex For ship stations radio telegraphy for ship stations (oceanographic data transmission) for ship stations radio telegraphy(working) for ship stations radio telegraphy(calling) for ship stations radio telegraphy(calling) For ship stations NBDP For ship stations NBDP For ship stations DSC For coast stations NBDP For coast stations DSC For coast stations radio telegraphy for coast stations radio telephony duplex Ch.4 6511.4 kHz 8302-8338 kHz 8340.5 kHz 8365.NO 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 FREKUENSI 6502.

5kHz 12549. 1210 for coast stations for ship stations radio telephony duplex Ch.75kHz 16739-16784.4 (13101) kHz 13105.4-18844.5-16806kHz 16806.4 (17269) kHz 18781.5kHz SERVIS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS APLIKASI For distress call radiotelephony for ship and coast stations radio telephony simplex For ship stations radio telegraphy for ship stations (oceanographic data transmission) for ship stations radio telegraphy(working) For ship stations NBDP for ship stations radio telegraphy(calling) For ship stations NBDP For ship stations NBDP For ship stations DSC For coast stations NBDP For coast stations DSC For coast stations radio telegraphy for coast stations radio telephony duplex Ch.4 (13077) kHz 13102.5kHz 12579-12656.5kHz 16619-16683kHz 16683.4kHz 16388.4-12366.75kHz 12555-12559.5kHz 12657-12658kHz 12658.4 (13104) kHz 16361. 1209 for coast stations Ch.5-16733.5kHz 12577-12578.5-16902.4-17408.4kHz 13078.4-16526.3-16618.4kHz 18826.NO 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 FREKUENSI 12290 kHz 12354.5-18892.5kHz 16785-16804kHz 16804. 1610 for ship stations For distress call radiotelephony for ship and coast stations radio telephony simplex For ship stations radio telegraphy for ship stations (oceanographic data transmission) for ship stations radio telegraphy(working) For ship stations NBDP for ship stations radio telegraphy(calling) For ship stations NBDP For ship stations NBDP For ship stations DSC For coast stations NBDP For coast stations DSC For coast stations radio telegraphy for coast stations radio telephony duplex Ch.5-17242kHz 17243.4 (16387) kHz 16420 kHz 16529.3-12421.4kHz 18848-18868kHz 18870.4kHz 17270.4-13198.5kHz 16733.5-13077kHz 13078.4-16547. 1201 for coast stations Ch.75-16738.4kHz 12370-12418kHz 12420.4kHz 16551-16615kHz 16617.75-12544.5kHz 16903-16904kHz 16904.5kHz 12477-12549.5kHz 12560-12576.5kHz 12422-12476. 1610 for coast stations For ship stations radio telephony duplex for ship and coast stations radio telephony simplex For ship stations radio telegraphy For ship stations NBDP CATATAN Referensi RR Appendix 15 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 15 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 205 .4-18823.

4kHz 25123-25159kHz 25161.NO 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 FREKUENSI 18893-18898kHz 18898.5kHz 26100.3-22241.000MHz 161.950MHz 156.4 (22099) kHz 22160.500-161.5kHz 19680.5-25171kHz 25173-25192.4-22178.975-137 MHz 156.5-19703kHz 19703.5-18899.5-22375.4-22853.4 (22795) kHz 25071.5kHz 22242-22279kHz 22279.4-26173.850MHz 161.425MHz 160.5kHz 22352-22374kHz 22374.950MHz 162.5-19704.5-22696kHz 22697.5kHz 26121-26122kHz 26122.375-156.5-25209.25kHz 22284.4-25098.4-19798.5kHz 22376-22443.4kHz 117.5kHz 19705-19755kHz 19756. 2234 for ship stations for ship and coast stations radio telephony simplex For ship stations radio telegraphy for ship stations (oceanographic data transmission) for ship stations radio telegraphy(working) for ship stations radio telegraphy(calling) for ship stations NBDP for ship stations NBDP For ship stations DSC for coast stations NBDP for coast stations DSC for coast stations radio telegraphy for coast stations radio telephony duplex Ch.4kHz 25101.5-26120.5kHz 22444-22445kHz 22445.5kHz 25193-25208kHz 25208.25-22284.625-160.4kHz 22001.4-25119.4-22157.5-22351.4kHz 22100.4kHz 22796.5-26145kHz 26146.975MHz SERVIS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS APLIKASI For ship stations NBDP For ship stations DSC For coast stations NBDP For coast stations DSC For coast stations radio telegraphy for coast stations radio telephony duplex for ship stations radio telephony duplex Ch.1 MHz for AMS and MMS Transmitting Ship stations Transmitting Coast stations Transmitting Coast stations Transmitting Coast stations Transmitting Coast stations AIS(Automatic Identification System) CATATAN Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 15 Referensi RR Appendix 18 Referensi RR Appendix 18 Referensi RR Appendix 18 Referensi RR Appendix 18 Referensi RR Appendix 18 Referensi RR Appendix 18 206 .025-157.4kHz 22182-22238kHz 22240.5 MHz for AMS and MMS Coordination of SAR Operation RTPCOM on 123. 2234 for coast stations for ship stations radio telephony duplex for ship and coast stations radio telephony simplex for ship stations radio telegraphy for ship stations radio telegraphy(working) for ship stations NBDP for ship stations NBDP for ship stations DSC for coast stations NBDP for coast stations DSC for coast stations radio telegraphy for coast stations radio telephony duplex Distress and Urgency RTP-COM on 121.

025MHz 235 – 328.025MHz for earth to space (COSPAS SARSAT) SAT-COM INMARSAT(space to earth) Distress relay emission EPIRBs from COSPAS SARSAT to LUT (space to earth) For down link Radionavigation Satellite Service (GPS – GNSS) SAT-COM INMARSAT(earth to space) EPIRBs INMARSAT(earth to space) Radar Beacon (RACON) Stations .5 MHz 1645.6 MHz 406 – 406.5 MHz 2700 – 2900 MHz SERVIS MMS MMS MMS MSS MSS MSS MSS MSS RNS APLIKASI AIS(Automatic Identification System) Emergency Frequency on 243 MHz for MMS and AMS EPIRBs 406.Radiolink for Distress Traffic from Receiving Station to Transmitting Station Used for the ShipboRNSe Interrogrator Transponder System(SIT) Allocated for Radionavigation Services Allocated for Maritime Radionavigation Services Allocated for radionavigation services Radar Beacon (RACON) Stations.5-1646.5-1645.1 MHz 1530 – 1544 MHz 1544 – 1545 MHz 1559 – 1610 MHz 1626.25GHz RNS RNS RNS RNS RNS RNS RNS Perhatikan RR Article 5 Perhatikan RR Article 5 Perhatikan RR Article 5 Perhatikan RR Article 5 Referensi RR Appendix 15 Perhatikan RR Article 5 Perhatikan RR Article 5 Catatan : MMS : MARITIME MOBILE SERVICES MSS : MOBILE SATELLITE SERVICES MS : MOBILE SERVICES RNS : RADIONAVIGATION SERVICES 207 .9800MHz 14 – 14.NO 195 196 197 198 199 200 201 202 203 FREKUENSI 162.9500MHz 9500 . VTS in planning Allocated for radionavigation services Allocated for radionavigation services CATATAN Referensi RR Appendix 18 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Perhatikan RR Article 5 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Perhatikan RR Article 5 204 205 206 207 208 209 210 2900 – 3100 MHz 5460 – 5470 MHz 5470 – 5650 MHz 8850 – 900 MHz 9200 . SART on vessel.

84 17 385. 7.56 17 461.28 17 538. 8. 4. 6. 5.08 17 730. 35. 17.10 17 519.74 17 480. 21.60 17 998.34 17 864. 38.06 17 941. 19. 20. 15.66 17 365. 31. 40 Assigned feeder-link Frequency (MHz ) 17 327. 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Assigned feeder-link Frequency (MHz ) 17 711. 3.70 17 902.2 104   Adm INS INS Beam Name INSA100 INSA100 Jenis Channel Polarisasi CR 1. 11.2 104 104 APP30A Posisi Orbit 80. 13.46 17 557.98 17 826. 18.LAMPIRAN 8 RINCIAN PENGATURAN TEKNIS SATELIT BSS PLANNED BAND RADIO REGULATION APPENDIX 30 DAN 30A Channel No.42 17 979. 37.02 17 404. 32.48 17 346. 5. 17.92 17 500. 15.00 17 615.38 17 442. 22.64 17 576.18 Channel No. 9. 14.80 17 806.78 208 .24 17 960.44 17 768. 33.52 17 883.20 17 423. 39 CR 30. 11.16 17 845.88 17 922. 12. 34. 23 CL 2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 APP30 Posisi Orbit 80. 24 Adm INS INS INS Beam Name INSA02800 INSA03501 INSA03502 Jenis Channel Polarisasi CR 1. 21.62 17 787. 13.82 17 596.26 17 749. 10. 9. 7. 3. 16. 36. 19. 23 CL 29.

LAMPIRAN 9 RINCIAN PENGKANALAN TRANSPONDER SATELIT INDONESIA FREQUENCY PLAN TELKOM-1 (108E) DOWNLINK 4199.750 2H 3760 T2 3H 3800 T3 4H 3840 T4 5H 3880 T5 6H 3920 T6 7H 3960 T7 8H 4000 T8 9H 4040 T9 10H 4080 T10 11H 4120 T11 12H 4160 T12 12V 4180 T24 13V 3440 T31 14V 3480 T32 15V 3520 T33 16V 3560 T34 17V 3600 T35 18V 3640 3717 1V 3740 T13 2V 3780 T14 3V 3820 T15 4V 3860 T16 5V 3900 T17 6V 3940 T18 7V 3980 T19 8V 4020 T20 9V 4060 T21 10V 4100 T22 11V 4140 T23 T36 UPLINK 6424 1V 5945 T1 5926 2V 5985 T2 3V 6025 T3 4V 6065 T4 5V 6105 T5 6V 6145 T6 7V 6185 T7 8V 6225 T8 9V 6265 T9 10V 6305 T10 11V 6345 T11 12V 6385 T12 12H 6405 T24 13V 6465 T25 14V 6505 T26 15V 6545 T27 16V 6585 T28 17V 6625 T29 18V 6665 T30 18H 6685 T36 5942 IH 5965 T13 2H 6005 T14 3H 6045 T15 4H 6085 T16 5H 6125 T17 6H 6165 T18 7H 6205 T19 8H 6245 T20 9H 6285 T21 10H 6325 T22 11H 6365 T23 13H 6485 T31 14H 6525 T32 15H 6565 T33 16H 6605 T34 17H 6645 T35   FREQUENCY PLAN CAKRAWARTA-1 (107.875 13H 3420 T25 14H 3460 T26 15H 3500 T27 16H 3540 T28 17H 3580 T29 18H 3620 T30 IH 3720 T1 3701.7E)       209 .

MHz 13.490 3K 11. 5985 6025 6065 6105 6145 6185 6225 6265 6305 6345 6385 1H 1V 2H 2V 5965 3H 3V 6005 4H 4V 6045 5H 5V 6085 6H 6V 6125 7H 7V 6165 8H 8V 6205 9H 9V 6245 10H 6285 11H 12H 12V 6405 10V 6325 11V 6365 Transfer Orbit CMD Downlink Center Frequency.PALAPA C2 (113E) Ext-C FREQUENCY PLAN DOWNLINK 36 MHz 3402 3400 1EH(3420) 3438 3442 2EH(3460) 3478 4MHz 3482 3EH(3500) 3518 3522 4EH(3540) 3558 3562 5EH(3580) 3598 3602 6EH(3620) 3638 HORIZONTAL UPLINK 36 MHz 6427 6425 1EH(6445) 6463 6467 2EH(6485) 6503 4MHz 6507 3EH(6525) 6543 6547 4EH(6565) 6583 6587 5EH(6605) 6623 6627 6EH(6645) 6667 VERTIKAL Uplink Center Frequency. 3760 3800 3840 3880 3920 3960 4000 4040 4080 4120 4160 1H 1V 2H 2V 3740 3H 3V 3780 4H 4V 3820 5H 5V 3860 6H 6V 3900 7H 7V 3940 8H 8V 3980 9H 9V 4020 10H 4060 11H 12H 12V 4180 10V 4100 11V 4140   Uplink Center Frequency.790 1K 13.450 4K 72 MHz 88 MHz 268 MHz Downlink Center Frequency.150 2K 11.290 3K 14.950 2K 14. HORIZONTAL POL.990 1K 11. MHz STANDARD C-BAND 4MHz 36MHz EXTENDED C-BAND On Station CMD 5945 VERTICAL POL.650 4K 72 MHz 88 MHz 268 MHz   210 . MHz EXTENDED C-BAND STANDARD C-BAND On Station Beacon 3720 HORIZONTAL POL. MHz 10. VERTICAL POL.

5 – 1660. RHCP Return Link (Handset to Gateway): Uplink: 1626.5 MHz. Horizontal Downlink: 1525 – 1559 MHz.6725MHz. RHCP Downlink: 3400 – 3700 MHz.PALAPA PAC-C 146E satellite @ 146E C band frequency plan Beam: C 36 MHz transponders (except #24 with 30 MHz bw) 5927 fc Vertical uplink Horizontal uplink fc 5945 5985 6025 6065 6105 6145 6185 6225 6265 6305 6345 6385 1 2 5965 3 4 6005 5 6 6045 7 8 6085 9 10 6125 11 12 6165 13 14 6205 15 16 6245 17 18 6285 19 20 6325 21 22 6365 23 6403 Cmd1 Cmd2 6587 6422 6424 6605 6645 6685 25 27 29 24 26 28 30 6402 6625 6665 6705 [MHz] 6417 6607 6723 [MHz] 3562 fc Horizontal downlink Vertical downlink fc 3580 3620 3678 3660 3702 3720 3760 3800 3840 3880 3920 3960 4000 4040 4080 4120 4178 4160 Tlm1 Tlm2 [MHz] 4196 4198 25 26 3600 27 28 3640 29 30 3680 1 2 3740 3 4 3780 5 6 3820 7 8 3860 9 10 3900 11 12 3940 13 14 3980 15 16 4020 17 18 4060 19 20 4100 21 22 4140 23 24 4177 3698 3722 4192 [MHz] Ku band frequency plan 36 MHz transponders 14021 14039 Beam: Ku fc Vertical uplink Horizontal uplink fc 14079 14119 14159 14199 14239 14279 14319 14359 14399 14439 14497 14479 [MHz] 13 1 14039 14 2 14079 15 3 14119 16 4 14159 17 5 14199 18 6 14239 19 7 14279 20 8 14319 21 9 14359 22 10 14399 23 11 14439 24 12 14479 fc Horizontal downlink Vertical downlink fc 12203 12221 12261 12301 12341 12381 12421 12461 12501 12541 12581 12621 12679 12661 [MHz] 13 1 12221 14 2 12261 15 3 12301 16 4 12341 17 5 12381 18 6 12421 19 7 12461 20 8 12501 21 9 12541 22 10 12581 23 11 12621 24 12 12661 ACeS satellite Filing name: GARUDA-2 (123o E) Channel plan          Forward link (Gateway to Handset) Uplink: 6425 . Vertical Channelization: 200 kHz /RF channel (1 RF channel contains 32 circuit) 211 .

Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. Teknik Telekomunikasi Magister Teknik – Universitas Indonesia. Bandung SMP Negeri 5. Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. Jurusan Teknik Elektro PENDIDIKAN PENJENJANGAN 1995 Pra Jabatan 1999 Adum (PIM IV) 2002 Spama (PIM III) PENGALAMAN KERJA 1995 – 2002 2002 .2003 2003 . S. Ciamis. Jawa Barat 8 November 1971 Islam Pegawai Negeri Sipil Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi.T. Jurusan Teknik Elektro. Departemen Perhubungan Plt. Kasubdit Penataan Frekuensi merangkap Kepala Seksi Alokasi Frekuensi.CURRICULUM VITAE Nama Tempat Lahir Tanggal Lahir Agama Pekerjaan Kantor Jabatan Pangkat Golongan ruang PENDIDIKAN 1978 – 1984 1984 – 1987 1987 – 1990 1990 – 1994 1997 – 1999 : : : : : : : : : Denny Setiawan.2006 2006 .T. “Telecommunications Management”. tahun 2001 Piagam Adikarya Pralabda dari Menteri Komunikasi dan Informatika 212 . Departemen Perhubungan Kepala Seksi Kerjasama Teknik Frekuensi.2005 2005 . Bandung SMA Negeri 3. Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi Kasubdit Penataan Frekuensi Piagam Penghargaan Pegawai Teladan Sub Unit Ditjen Postel dari pengurus unit KORPRI Departemen Perhubungan Piagam Adikarya Palapa Prawara dari Menteri Perhubungan Salah satu penerima beasiswa the United States Government’s International Visitor Program. Direktorat Kelembagaan Internasional. M.2008 PENGHARGAAN 1999 2000 2001 2006 Staf Direktorat Bina Frekuensi. Bandung Sarjana Teknik – Institut Teknologi Bandung. Departemen Perhubungan Kepala Seksi Frekuensi Radio dan Standarisasi Bilateral. Direktorat Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit. Departemen Komunikasi dan Informatika Kasubdit Penataan Frekuensi Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi Pembina IV/a SD Santo Agustinus. Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi.

Direktorat Frekuensi. penyiaran. 213 . pembuatan buku dan peta tabel alokasi frekuensi radio Indonesia. koordinasi frekuensi bilateral. dan sebagainya. Bergabung dengan Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi sejak tahun 1995. Di samping itu penulis juga terlibat dalam pendaftaran frekuensi radio ke ITU. Departemen Komunikasi dan Informatika. pengembangan master plan frekuensi radio siaran FM/TV.DENNY SETIAWAN yang lahir di Ciamis pada tahun 1971 saat ini bekerja sebagai Kasubdit Penataan Frekuensi. koordinasi satelit. penulis berpengalaman mengikuti sejumlah konferensi komunikasi radio dunia. broadband wireless access. Saat ini penulis bertugas untuk menangani serta merumuskan kebijakan dan regulasi frekuensi di Indonesia secara keseluruhan termasuk sistem komunikasi satelit. serta sistem komunikasi bergerak selular. maupun sejumlah pertemuan bidang telekomunikasi di tingkat regional maupun internasional lainnya. Latar belakang pendidikannya adalah Sarjana Teknik Elektro Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung lulus tahun 1994 dan Magister Teknik Telekomunikasi Universitas Indonesia lulus tahun 1999.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->