"Buku ini merupakan penyempurnaan buku “Alokasi Frekuensi dan Satelit di Indonesia” yang diterbitkan tahun 2004 lalu

, dan merupakan dokumen yang sulit ditemui di Indonesia. Buku ini secara komprehensif memberikan gambaran mengenai perencanaan maupun penggunaan alokasi frekuensi radio di Indonesia..."

Ir. Tulus Rahardjo, MSc.

Direktur Pengelolaan Spektrum Frekuensi Radio, Ditjen Postel - Depkominfo

DENNY SETIAWAN yang lahir di Ciamis pada tahun 1971 saat ini bekerja sebagai Kasubdit Penataan Frekuensi, Direktorat Frekuensi, Departemen Komunikasi dan Informatika. Latar belakang pendidikannya adalah Sarjana Teknik Elektro Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung lulus tahun 1994 dan Magister Teknik Telekomunikasi Universitas Indonesia lulus tahun 1999. Bergabung dengan Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi sejak tahun 1995, penulis berpengalaman mengikuti sejumlah konferensi komunikasi radio dunia, koordinasi satelit, koordinasi frekuensi bilateral, maupun sejumlah pertemuan bidang telekomunikasi di tingkat regional maupun internasional lainnya. Di samping itu penulis juga terlibat dalam pendaftaran frekuensi radio ke ITU, pembuatan buku dan peta tabel alokasi frekuensi radio Indonesia, pengembangan master plan frekuensi radio siaran FM/TV. Saat ini penulis bertugas untuk menangani serta merumuskan kebijakan dan regulasi frekuensi di Indonesia secara keseluruhan termasuk sistem komunikasi satelit, broadband wireless access, serta sistem komunikasi bergerak selular, penyiaran, dan sebagainya.

Alokasi Frekuensi

KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM INDONESIA

Diterbitkan oleh: Departemen Komunikasi dan Informatika, Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. Gedung Sapta Pesona, Lt.7, Jl. Medan Merdeka Barat No. 17, Jakarta 10110, INDONESIA

DePARTeMeN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
DIREKTORAT JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI

KATA SAMBUTAN
Perkembangan teknologi yang sangat cepat telah memungkinkan berbagai macam aplikasi berbagai frekuensi radio. Kemampuan dari setiap negara untuk memanfaatkan sepenuhnya sumber daya alam spektrum frekuensi radio sangat tergantung kepada tanggung jawab dan pengaturan sesuai ketentuan dari pengelola spektrum frekuensi radio yang berperan sebagai regulator yang merupakan factor kunci dalam pelaksanaan kebijakan yang berpihak pada masyarakat luas. Kebijakan alokasi frekuensi radio terkait dengan pengembangan regulasi telekomunikasi, karena regulasi secara umum mengikuti kebijakan. Oleh karena itu, perencanaan sering menjadi fungsi utama dari kebijakan untuk menentukan kebutuhan alokasi frekuensi radio saat ini dan masa yang akan datang dari setiap negara. Kami mengucapkan selamat dan penghargaan kepada penulis, Denny Setiawan, yang merupakan salah satu staf Ditjen Postel-Depkominfo, atas ketekunannya dalam menyelesaikan buku kebijakan alokasi frekuensi radio di Indonesia ini. Buku ini merupakan penyempurnaan buku “Alokasi Frekuensi dan Satelit di Indonesia” yang diterbitkan tahun 2004 lalu, dan merupakan dokumen yang sulit ditemui di Indonesia. Buku ini secara komprehensif memberikan gambaran mengenai perencanaan maupun penggunaan alokasi frekuensi radio di Indonesia. Diharapkan dengan buku kebijakan alokasi frekuensi radio di Indonesia, akan memudahkan masyarakat di dalam memahami penggunaan spektrum frekuensi radio secara tertib, efektif dan efisien. Jakarta, Januari 2010

Direktur Pengelolaan Spektrum Frekuensi Radio Ditjen Postel - Depkominfo

Ir. TULUS RAHARDJO, MSEE.

i

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, setelah disibukkan dengan kegiatan rutin, akhirnya rampung juga penulisan buku ini yang merupakan perbaikan dan penyempurnaan edisi pertama buku “Alokasi Spektrum Frekuensi dan Satelit di Indonesia” kompilasi kebijakan alokasi spektrum frekuensi radio di Indonesia ini. Saya mendapat banyak sekali masukan dan permintaan kapan buku tersebut dicetak ulang. Selama empat tahun terakhir, tahun 2005 s.d. 2009, kita melihat berbagai perkembangan dalam hal regulasi serta kebijakan sektor telekomunikasi wireless di Indonesia. Dimulai dengan penyusunan regulasi-regulasi perizinan frekuensi, satelit, serta lelang frekuensi 3G, lelang BWA 2.3 GHz yang merupakan milestone reformasi pengelolaan frekuensi di Indonesia. Berdasarkan hal tersebut, maka penulis membutuhkan waktu untuk melakukan kompilasi berdasarkan proses yang telah, sedang dan akan berjalan. Edisi kedua buku kebijakan alokasi spektrum frekuensi radio Indonesia dibuat berdasarkan kerangka yang ada dalam edisi pertama, dengan penyempurnaan di sana sini. Tujuannya adalah memberikan penjelasan kompehensif mengenai perencanaan maupun penggunaan alokasi frekuensi radio di Indonesia. Penulis menyadari bahwa dalam tulisan ini masih banyak kekurangan, untuk itu saran dan pendapat serta masukan lain yang bermanfaat sangatlah bermanfaat. Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Tulus Rahardjo, Direktur Pengelolaan Spektrum Frekuensi Radio, Ditjen PostelDepkominfo, atas bimbingan, arahan serta kata sambutan pada buku ini. Demikian juga seluruh rekan pejabat dan staf Direktorat Pengelolaan Spektrum Frekuensi Radio, khususnya Subdit Penataan Frekuensi Radio. Ucapan terima kasih dan apresiasi penulis sampaikan kepada Danar Dono yang telah dengan teliti dan tekun melakukan penyempurnaan editorial penulisan buku ini. Demikian pula kepada Ir. Arifin Lubis, MT, Ketua Koperasi Ditjen Postel, atas saran dan prakarsanya untuk penyusunan serta pencetakan revisi Buku Alokasi Spektrum Frekuensi Radio ini sehingga akhirnya bisa hadir di hadapan pembaca. Akhir kata, semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat pada umumnya, serta khususnya bagi penulis sendiri. Jakarta, Januari 2010 Penulis,

DENNY SETIAWAN, ST. MT.

ii

DAFTAR ISI
KATA SAMBUTAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB 1 BAB 2 1 2 2.1 2.2 2.3 2.3.1 2.3.2 3 3.1 3.2 4 BAB 3 1 2 2.1 2.2 2.2.1 2.2.2 2.2.3 2.3 2.3.1 2.3.2 2.4 2.4.1 2.4.2 3 4 PENDAHULUAN MANAJEMEN SPEKTRUM FKEKUENSI RADIO PENDAHULUAN PENGATURAN PENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO WORLD RADIOCOMMUNICATION CONFERENCE RADIO REGULATION KOORDINASI FREKUENSI RADIO DENGAN NEGARA LAIN KOORDINASI FREKUENSI PERBATASAN KOORDINASI SATELIT KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO TABEL ALOKASI SPEKTRUM FREKUENSI RADIO INDONESIA (TASFRI) PENGATURAN TEKNIK SPEKTRUM FREKUENSI RADIO PENGENDALIAN SPEKTRUM DAN MANAJEMEN INTERFERENSI KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM UNTUK JARINGAN TELEKOMUNIKASI SELULAR PENDAHULUAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA PITA FREKUENSI SELULAR 450 MHz PITA FREKUENSI SELULAR CDMA 800 MHz / 1900 MHz LATAR BELAKANG KONDISI AWAL (SEBELUM JULI 2005) MIGRASI PITA FREKUENSI PCS 1900 MHz KE PITA SELULAR 800 MHz PITA FREKUENSI SELULAR GSM-900/1800 MHz DAN UMTS 2.1 GHz LATAR BELAKANG PENYELENGGARA SELULAR GSM/UMTS JARINGAN AKSES LAINNYA LATAR BELAKANG PERENCANAAN DAN KEBIJAKAN PENGGUNAAN FREKUENSI REGULASI TEKNIS SISTEM SELULAR KEBIJAKAN PERIZINAN PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI SELULAR HALAMAN i ii iii 1 3 3 4 5 6 7 8 9 10 13 15 18 19 19 21 28 29 29 30 31 34 34 36 37 37 37 38 39
iii

2.1 3.2 3.2 3.6 4 4.1 3.1.3 2 3 3.3 3.1 3.2 KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM PENYIARAN PENDAHULUAN PENYIARAN RADIO PENYIARAN TELEVISI PENYIARAN SATELIT ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA PENGKANALAN FREKUENSI PENYIARAN TERRESTRIAL LATAR BELAKANG DAN KONDISI SAAT INI MASTER PLAN FREKUENSI TV SIARAN UHF ANALOG MASTER PLAN FREKUENSI RADIO SIARAN FM PENGKANALAN FREKUENSI RADIO SIARAN AM PADA PITA FREKUENSI LF/MF PENGKANALAN FREKUENSI RADIO SIARAN AM PADA PITA FREKUENSI HF (HF BROADCASTING) PERENCANAAN FREKUENSI PENYIARAN DIGITAL LATAR BELAKANG PRINSIP-PRINSIP PERENCANAAN FREKUNSI PENYIARAN DIGITAL PERENCANAAN FREKUENSI PENYIARAN DIGITAL KONDISI EKSISTING DAN USULAN PEMECAHAN PERMASALAHAN KONDISI EKSISTING RADIO SIARAN FM DAN SOLUSI PERMASALAHAN KONDISI EKSISTING RADIO SIARAN AM DAN SOLUSI PERMASALAHAN KONDISI EKSISTING VHF BAND III DAN SOLUSI PERMASALAHAN KONDISI EKSISTING UHF BAND IV DAN V DAN SOLUSI PERMASALAHAN PENYELENGGARAAN JARINGAN MULTIPLEKS DIGITAL TERRESTRIAL BROADCASTING (DVB-T DAN DAB) PENGGUNAAN BERSAMA MENARA DAN INFRASTRUKTUR PENYIARAN TERRESTRIAL (INFRASTRUCTURE SHARING) REGULASI TEKNIS SISTEM PENYIARAN PERIZINAN DAN APLIKASI IZIN PERIZINAN PENYIARAN ANALOG PERIZINAN PENYELENGGARA JARINGAN TELEKOMUNIKASI UNTUK PENYELENGGARAAN MULTIPLEKS TV DIGITAL DVB-T DAN DAB HALAMAN 41 41 41 43 44 44 45 45 45 51 56 57 58 58 58 60 65 65 67 69 73 77 79 80 80 82 82 iv .2 3.4 3.3.1 4.4 3.3.1.4 3.1 1.3.5 3.1.3.2.3 3.2 3.2 1.BAB 4 1 1.1.3 3.3 3.1 3.2.

3.1 4.1 2.3 4.1 4.1.1.2 2.1.2 5 BAB 6 1 2 2.2 3 4 KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM UNTUK SERVIS KOMUNIKASI RADIO BERGERAK DARAT PENDAHULUAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA REGULASI TEKNIS DAN KONDISI OPERASI KONDISI SAAT INI DAN USULAN PEMECAHAN SISTEM KOMUNIKASI RADIO INSTANSI PEMERINTAH SISTEM TELEKOMUNIKASI INSTANSI PEMERINTAH MENGGUNAKAN JARINGAN TELEKOMUNIKASI PUBLIK SISTEM TELEKOMUNIKASI INSTANSI PEMERINTAH MENGGUNAKAN JARINGAN TELEKOMUNIKASI NON PUBLIK (CLOSED USER GROUP) JARINGAN KOMUNIKASI RADIO PEMERINTAH TERPADU SISTEM KOMUNIKASI RADIO TRUNKING PERIZINAN DAN PERSYARATAN KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM UNTUK SERVIS KOMUNIKASI RADIO TETAP TERRESTRIAL PENDAHULUAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA SISTEM KOMUNIKASI RADIO HF SISTEM KOMUNIKASI RADIO VHF/UHF MICROWAVE LINK REGULASI EKSISTING DAN KONDISI OPERASI PERIZINAN DAN PERSYARATAN SISTEM KOMUNIKASI RADIO HF SISTEM KOMUNIKASI RADIO VHF/UHF SISTEM KOMUNIKASI RADIO MICROWAVE LINK PERMASALAHAN USULAN KEBIJAKAN AMATIR RADIO DAN KOMUNIKASI RADIO ANTAR PENDUDUK (CITIZEN BAND / CB) PENDAHULUAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN AMATIR RADIO ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCAANAN PITA KRAP/CB REGULASI TEKNIS DAN KONDISI OPERASI PERIZINAN DAN PERSYARATAN 85 85 86 87 88 88 88 89 91 93 94 96 96 96 96 97 97 99 100 100 100 101 101 102 104 104 105 105 105 106 106 v .1 4.2 BAB 7 1 2 2.2 4.2 4.1 4.3 4.3.1 2.3 3 4 4.HALAMAN BAB 5 1 2 3 4 4.

2 137 137 137 138 vi .1 2.4 3.2 3.BAB 8 1 2 3 BAB 9 1 2 3 4 5 6 7 BAB 10 1 2 3 3.3 3.1 3.5 BAB 11 KOMUNIKASI RADIO MARITIM DAN PENERBANGAN PENDAHULUAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA KOMUNIKASI RADIO MARITIM ALOKASI SPEKRUM DAN PERENCANAAN PITA KOMUNIKASI RADIO PENERBANGAN BROADBAND WIRELESS ACCESS (BWA) PENDAHULUAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA KONDISI EKSISTING PENATAAN FREKUENSI BWA PERIZINAN DAN PERSYARATAN BHP FREKUENSI RADIO REGULASI TERKAIT PENATAAN FREKUENSI BWA PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI SATELIT PENDAHULUAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA PERIZINAN SATELIT KETENTUAN PERIZINAN PENGGUNAAN SATELIT DI INDONESIA IZIN STASIUN ANGKASA IZIN STASIUN BUMI HAK LABUH BHP FREKUENSI RADIO SISTEM SATELIT PERANGKAT BERDAYA PANCAR RENDAH / JANGKAUAN PENDEK (SHORT RANGE DEVICES) DAN ISM-BAND PENDAHULUAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA IZIN KELAS PADA PERMEN KOMINFO NO.17 TAHUN 2005 KONSEP USULAN PERLUASAN IZIN KELAS HALAMAN 107 107 108 111 114 114 115 116 118 118 122 123 124 124 125 128 129 132 132 133 135 137 1 2 2.

1.1. SCIENCE AND MEDICAL BAND) BIAYA HAK PENGGUNAAN (BHP) FREKUENSI RADIO PENDAHULUAN BHP FREKUENSI DALAM BENTUK IZIN STAISUN RADIO BHP FREKUENSI DALAM BENTUK IZIN PITA FREKUENSI RADIO KETENTUAN PEMBAYARAN BHP PITA FREKUENSI OPERATOR IMT-2000 (3G) UP FRONT FEE BHP PITA TAHUNAN WHITE PAPER PENERAPAN BHP PITA PADA PENYELENGGARA TELEKOMUNIKASI SELULER DAN FWA HALAMAN 138 139 142 143 144 145 148 148 148 156 156 156 157 158 160 204 DAFTAR PUSTAKA CURRICULUM VITAE vii .1 3.2.2.3 2.2.2.1 3.2 4 TERMINAL PELANGGAN UNTUK PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI BERGERAK SELULAR DAN PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL DENGAN MOBILITAS TERBATAS (FIXED WIRELESS ACCESS) PERANGKAT KOMUNIKASI JARAK PENDEK (SHORT RANGE DEVICE) PERANGKAT TERMINAL PELANGGAN UNTUK PENYELENGGARAAN BERGERAK RADIO TRUNKING PERANGKAT TELEPON NIRKABEL (CORDLESS PHONE) PERANGKAT RADIO YANG MENGGUNAKAN GELOMBANG RADIO INFRA MERAH (INFRA RED DEVICES) PITA FREKUENSI INDUSTRI.1 2.2.2 2.4 2.2. SAINS DAN MEDIS (INDUSRIAL.5 3 BAB 12 1 2 3 3.

76/2003. FIXED WIRELESS ACCESS DAN SELULAR DAN PERENCANAAN ALOKASI FREKUENSI DAFTAR PERATURAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI BERBASIS NIRKABEL ALOKASI FREKUENSI SELULAR INDONESIA SEBELUM TAHUN 2005 ALOKASI FREKUENSI SELULAR SAAT INI ALOKASI KANAL FREKUENSI STANDAR CDMA DI INDONESIA ALOKASI FREKUENSI PENYIARAN TERRESTRIAL ANALOG ALOKASI FREKUENSI PENYIARAN SATELIT RENCANA PENGKANALAN TV VHF BAND I DAN III STANDAR PAL-B RENCANA PENGKANALAN TV UHF BAND IV STANDAR PAL-G RENCANA PENGKANALAN TV UHF BAND V STANDAR PAL-G CHANNEL GROUPING TV UHF DI INDONESIA DISTRIBUSI KANAL TV UHF ANALOG DI INDONESIA PENGATURAN TEKNIS RADIO SIARAN FM PENGELOMPOKKAN KELAS RADIO SIARAN FM BERDASARKAN EIRP DAN WILAYAH LAYANAN MAKSIMUM PROTECTION RADIO SIARAN FM RINGKASAN PERENCANAAN FREKUENSI PENYIARAN DIGITAL PARAMETER TEKNIS RADIO SIARAN AM YANG DIGUNAKAN DALAM PERENCANAAN FREKUENSI PERBANDINGAN EFISIENSI FREKUENSI PENYIARAN DIGITAL DI VHF BAND III DISTRIBUSI KANAL TV SIARAN UHF BERDASARKAN KEPMENHUB NO. LEBAR PITA DAN JARAK MINIMUM HALAMAN 10 TABEL 2 TABEL 3 TABEL 4 TABEL 5 TABEL 6 TABEL 7 TABEL 8 TABEL 9 TABEL 10 TABEL 11 TABEL 12 TABEL 13 TABEL 14 TABEL 15 TABEL 16 TABEL 17 TABEL 18 TABEL 19 TABEL 20 TABEL 21 15 22 24 33 44 45 47 47 48 49 50 54 55 56 62 68 71 74 98 103 viii .DAFTAR TABEL TABEL 1 PERATURAN YANG TERKAIT DENGAN PENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO.MENGENAI RENCANA DASAR TEKNIS TV SIARAN ANALOG PENGKANALAN MICROWAVE LINK BERDASARKA REKOMENDASI ITU-R RENCANA PENGKANALAN FREKUENSI MICROWAVE LINK.

30 DAN APP.30A PENGKANALAN FREKUENSI SERVICE LINK BSS PLANNED BAND PENGKANALAN FREKUENSI FEEDER LINK BSS PLANNED BAND ALOKASI FREKUENSI UNPLANNED BAND SATELIT INDONESIA DAFTAR SATELIT INDONESIA YANG BEROPERASI DAFTAR SATELIT ASINGYANG MEMENUHI KRITERIA BEBAS INTERFERENSI DAFTAR SATELIT ASING YANG MEMENUHI KRITERIA BEBAS INTEFERENSI DENGAN BATASAN TEKNIS RINCI PITA FREKUENSI DAN BATASAN TEKNIS UNTUK APLIKASI-APLIKASI SHORT RANGE DEVICES (SRD) PERSYARATAN SPASI KANAL UNTUK RADIO KOMUNIKASI TRUNKING PITA FREKUENSI DAN EIRP MAKSIMUM UNTUK PERANGKAT CORDLESS PHONE CONTOH APLIKASI UTAMA PERANGKAT ISM BAND PEMBAGIAN PITA FREKUENSI RADIO BERDASARKAN RADIO REGULATION ITU BESARAN HDDP (HARGA DASAR DAYA PANCAR) BESARAN HDLP (HARGA DASAR LEBAR PITA) BESARAN INDEKS IB DAN IP BERDASARKAN JENIS LAYANAN PENGELOMPOKKAN ZONE WILAYAH PEMANCAR UNTUK PERHITUNGAN HDDP DAN HDLP HALAMAN 112 126 126 127 128 130 131 131 140 143 144 146 149 149 150 150 153 ix .TABEL 22 TABEL 23 TABEL 24 TABEL 25 TABEL 26 TABEL 27 TABEL 28 TABEL 29 TABEL 30 TABEL 31 TABEL 32 TABEL 33 TABEL 34 TABEL 35 TABEL 36 TABEL 37 TABEL 38 RINCIAN ALOKASI SPEKTRUM DAN BAND PLAN KOMUNIKASI RADIO PENERBANGAN PENJATAHAN KANAL FREKUENSI DAN SLOT ORBIT BSS PLAN INDONESIA BERDASARKAN RR APP.

9 DAN 2.DAFTAR GAMBAR GAMBAR 1 GAMBAR 2 GAMBAR 3 GAMBAR 4 GAMBAR 5 GAMBAR 6 GAMBAR 7 PEMBAGIAN WILAYAH ITU DIAGRAM ALOKASI FREKUENSI NASIONAL PERENCANAAN PITA FREKUENSI JARINGAN TELEKOMUNIKASI SELULAR 1.1 GHz PENGKANALAN FREKUENSI DAB/DMB KONSEP DISTRIBUSI KANAL FRKEUENSI BAND III VHF UNTUK DAB FREE-TO-AIR PENATAAN FREKUENSI BWA MASA TRANSISI PENATAAN FREKUENSI BWA HALAMAN 5 15 26 71 72 118 119 x .

33 TAHUN 2009 RINCIAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA FREKUENSI UNTUK KOMUNIKASI RADIO ANTAR PENDUDUK (KRAP) RINCIAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN MARITIM RINCIAN PENGATURAN TEKNIS SATELIT BSS PLANNED BAND APP. BATAS DAYA PANCAR. 30 DAN 30A RINCIAN PENGKANALAN TRANSPONDER SATELIT INDONESIA HALAMAN 162 168 172 181 191 199 202 208 209                     xi . TINGGI ANTENNA RADIO SIARAN FM DAFTAR KOTA YANG SUDAH DI NOTIFIKASI DI ITU BERDASARKAN PROSEDUR GE-75 UNTUK STASIUN RADIO SIARAN AM DI INDONESIA PENGKANALAN MICROWAVE LINK BERDASARKAN REKOMENDASI ITU-R BAND FREKUENSI DAN MODA PANCARAN YANG DIIZINKAN SESUAI DENGAN PERATURAN MENKOMINFO NO.DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN 1 LAMPIRAN 2 LAMPIRAN 3 LAMPIRAN 4 LAMPIRAN 5 LAMPIRAN 6 LAMPIRAN 7 LAMPIRAN 8 LAMPIRAN 9 DAFTAR UPT BALAI / LOKA MONITORING DITJEN POSTEL DI SELURUH WILAYAH INDONESIA PERENCANAAN KANAL FREKUENSI.

regional dan sub-regional. radio lokasi dan radio amatir. komunikasi radio penerbangan dan maritim. Dalam hal penggunaannya. Alokasi dan Penggunaan spektrum frekuensi radio. navigasi radio. Dan seiring dengan semakin luas dan bervariasinya aplikasi wireless (nir-kabel) yang menggunakan spektrum frekuensi. Dewasa ini.harus didayagunakan dan pemanfaatannya harus dilakukanan secara benar. spektrum frekuensi radio digunakan untuk bermacam-macam jasa komunikasi radio termasuk diantaranya komunikasi perorangan dan perusahaan.BAB – 1 PENDAHULUAN Spektrum frekuensi radio merupakan sumber daya alam terbatas yang saat ini peminatnya semakin meningkat sementara jumlah ketersediaan spektrum tidak bertambah. Dua perangkat komunikasi radio yang bekerja pada frekuensi yang sama. Nilai strategis dari sumber daya alam terbatas ini bagi kepentingan nasional adalah untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas serta dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat suatu bangsa karena spektrum frekuensi radio bernilai ekonomis tinggi. penyiaran. Manajemen. dan Monitoring dan pemecahan permasalahan interferensi frekuensi radio. Direktorat Pengelolaan Spektrum Frekuensi Radio merupakan salah satu Direktorat di lingkungan Ditjen Postel yang bertugas dan berwenang dalam melakukan kegiatan-kegiatan pokok yang diperlukan untuk menjamin pengalokasian dan penggunaan spektrum untuk jasa komunikasi radio secara efektif dan efisien. keselamatan dan marabahaya. Departemen Komunikasi dan Informatika (Ditjen Postel-Depkominfo) merupakan Instansi Pemerintah yang bertanggung jawab terhadap Regulasi. Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi:    Perencanaan dan koordinasi penggunaan frekuensi pada tingkat internasional. Penetapan dan pengelolaan spektrum dalam lingkup nasional. Oleh karena itu. adalah hal yang sangat penting bahwa spektrum frekuensi radio dikelola secara efisien dan efektif untuk secara optimal memberikan manfaat kepada masyarakat dan juga manfaat ekonomi bagi Negara. pada waktu yang sama dan pada lokasi yang sama akan menimbulkan interferensi pada pesawat penerima. sehingga tidak terbuang percuma jika tidak digunakan dengan baik. spektrum frekuensi radio perlu dilakukan koordinasi untuk mencegah terjadinya masalah interferensi (gangguan). Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. 1 . penggunaan spektrum frekuensi radio yang merupakan sumber daya alam terbatas -sebagaimana halnya tanah dan air.

Kondisi untuk penggunaan perangkat pemancar radio jarak dekat (short range devices). Manajemen. 17. Lt. telekomunikasi point-to-point atau point-tomultipoint.go. Dalam hal Regulasi. amatir radio dan komunikasi radio antar penduduk. Untuk masukan.id 2 . penyiaran. Pada Bab 3 sampai dengan Bab 10 buku ini. Direktorat Pengelolaan Spektrum Frekuensi Radio. Jl. diberikan gambaran singkat mengenai bermacam kegiatan manajemen spektrum yang dilakukan oleh Ditjen Postel untuk menuju tercapainya visi dan tujuan yaitu alokasi dan penggunaan spektrum frekuensi radio yang efektif dan efisien. Jakarta 10110.7. dapat menghubungi unit kerja berikut ini: Subdit Penataan Frekuensi Radio. komunikasi radio maritim dan penerbangan.Dalam Bab 2 pada buku ini. broadband wireless access (BWA) dan telekomunikasi satelit. INDONESIA Fax: +62 21 3529915 E-mail: denny@postel. ISM band dan informasi mengenai Biaya Hak Penggunaan spektrum frekuensi radio dapat dilihat pada Bab 11 dan 12. Medan Merdeka Barat No. khususnya dari stakeholder telekomunikasi dan para pengguna spektrum frekuensi pada umumnya. Penulis menyediakan rincian alokasi spektrum frekuensi radio. kriteria penetapan dan prosedur aplikasi untuk jasa-jasa tertentu termasuk jaringan telekomunikasi selular. permintaan penjelasan ataupun klarifikasi terhadap isi dari buku ini. Alokasi dan Penggunaan spektrum frekuensi radio. Ditjen Postel akan terus meninjau kebijakan penetapan frekuensi radio dan prosedur aplikasi secara berkala dan mengundang masukan dari berbagai pihak. komunikasi radio bergerak darat. Bagi calon pengguna spektrum frekuensi yang berminat atau tertarik untuk mengajukan penggunaan frekuensi dapat mengacu babbab tersebut sebagai panduan dalam mengajukan aplikasi maupun dalam hal pemanfaatan spektrum frekuensi yang diminati. Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. Departemen Komunikasi dan Informatika Gedung Sapta Pesona.

melalui: a.BAB – 2 MANAJEMEN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO 1. akan memberikan dampak sangat positif bagi pembangunan setiap negara. Pada kehidupan modern saat ini Spektrum Frekuensi Radio digunakan di hampir semua aspek kehidupan meliputi telekomunikasi. industri. e. kemajuan suatu negara terutama di bidang telekomunikasi (ICT) saat ini akan sangat ditentukan oleh pengelolaan spektrum frekuensi radio yang efektif dan efisien. perbankan. c. Penerapan secara nasional mengacu kepada peraturan internasional ITU Radio Regulation (RR). kesehatan. efisien dan tertib penggunaannya. Berorientasi pada kesejahtaraan masyarakat yang didasarkan pada kebutuhan nasional dan mengikuti perkembangan teknologi (yang selalu berkembang dan berkelanjutan). sistemik dan terpadu. Pengelolaan spektrum frekuensi radio yang efektif. d. Dengan kata lain. transportasi. pariwisata. Prinsip Pengelolaan Spektrum Frekuensi Radio meliputi antara lain: a. Oleh karena itu. Mampu mengakomodasikan kebutuhan masa depan. pertanian. Perencanaan penggunaan spektrum frekuensi radio yang bersifat dinamis dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat dan perkembangan teknologi. termasuk juga Indonesia. pemerintahan. memberikan kontribusi sebesar 3% pada pertumbuhan GNP (Gross National Product). Pemanfaatan spektrum frekuensi radio tersebut dalam mendukung pertumbuhan Sektor Telekomunikasi memberikan dampak berganda (“multiplier effect”) yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi bangsa. Spektrum Frekuensi Radio sebagai Sumber Daya Alam terbatas harus dikelola secara efektif dan efisien. dalam hal pengelolaannya memberikan dampak strategis dan ekonomis bagi kesejahteraan masyarakat Negara tersebut. b. 3 . Pengelolaan Spektrum Frekuensi Radio bersifat komprehensif. Dikembangkan dalam aturan yang bersifat supra-nasional. penyiaran. pemanfaatan spektrum frekuensi radio yang “tidak efisien” akan menimbulkan efek berganda pula. Studi yang dilakukan International Telecommunication Union (ITU) pada tahun 1990-an menyebutkan bahwa 1% kenaikan teledensity. dan sebagainya. PENDAHULUAN Spektrum Frekuensi Radio sebagai Sumber Daya Alam terbatas (limited natural resources) yang tersedia sama di setiap Negara. pertahanan keamanan. internet. yang mengakibatkan “inefisiensi” pembangunan secara keseluruhan.

mewakili negara dalam konferensi internasional dan regional di bidang pengelolaan spektrum frekuensi radio. 53 Tahun 2000 tentang Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit serta Peraturan Teknis lainnya). baik terhadap individu maupun institusi/korporasi. penggunaan alokasi frekuensi radio untuk teknologi komunikasi radio baru memerlukan suatu koordinasi yang erat antar dua negara tersebut untuk mencegah adanya saling gangguan (harmful interference). Menetapkan frekuensi kepada pengguna spektrum frekuensi radio. 4 . Menyiapkan materi yang komprehensif untuk bahan kebijakan pengelolaan spektrum frekuensi radio. yang merupakan bagian tak terpisahkan dari konstitusi dan konvensi ITU. Di setiap daerah perbatasan antar dua negara. Ditjen Postel merupakan Lembaga Pengelola Spektrum Frekuensi Radio yang diakui ITU sebagai Administrasi Telekomunikasi. Kelembagaan pengelolaan spektrum frekuensi radio yang kuat. Radio Regulations ITU membentuk suatu kerangka kerja dasar internasional di mana setiap negara anggota mengalokasikan dan melakukan penataan spektrum pada tingkat yang lebih rinci. Secara internasional penggunaan spektrum frekuensi radio diatur oleh suatu hukum internasional yang bersifat mengikat (treaty) dalam bentuk Radio Regulations ITU. melalui mekanisme lisensi sesuai ketentuan yang berlaku. 2. Ditjen Postel bertanggung jawab secara kesisteman terhadap penggunaan spektrum frekuensi radio di wilayah Republik Indonesia. d.b. e. Gelombang radio merambat di ruang angkasa tanpa mengenal batas wilayah teritorial negara. PENGATURAN PENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO b. c. c. 36 Tahn 1999 tentang telekomunikasi. Mengawal pelaksanaan peraturan nasional dalam pengelolaan spektrum frekuensi radio (UU No. didukung oleh Sumber Daya Manusia yang profesional serta prosedur dan sarana pengelolaan spektrum frekuensi radio yang memadai. 52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi dan PP No. Pengawasan dan pengendalian penggunaan spektrum frekuensi radio yang konsisten dan efektif. PP No. Regulasi yang bersifat antisipatif dan memberikan kepastian hukum. Oleh karena itu. Pengelolaan spektrum frekuensi radio secara sistematis dan didukung sistem informasi spektrum frekuensi radio yang akurat dan terkini. Pengelolaan spektrum frekuensi radio dimaksud dilaksanakan meliputi kegiatan-kegiatan antara lain : a.

Koordinasi Bilateral antar negara.1 WORLD RADIOCOMMUNICATION CONFERENCE Secara umum. c. Internasional a. 1) World Radiocommunication Conference (WRC).Kerangka umum pengaturan spektrum Frekuensi radio adalah sebagai berikut: i. Radio Regulation ITU dan Tabel Alokasi Frekuensi diperbaharui pada sidang komunikasi radio sedunia/World Radiocommunication Conference (WRC) yang diadakan satu kali setiap kurang lebih 3 sampai 4 tahun. Di dalam persiapan WRC. Peraturan sektor lain yang terkait. Indonesia memiliki kewajiban untuk menjamin bahwa kegiatan pengelolaan spektrum frekuensi radio sesuai dengan Radio Regulations ITU. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informasi. b. Indonesia telah menjadi anggota ITU sejak tahun 1950. Peraturan Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. 2. Nasional a. 5 . d. ASEAN Telecommunication Regulatory Council (ATRC). yaitu International Telecommunication Union (ITU). Perundang-undangan tingkat Nasional. 2) Radio Regulation (RR). Sebagai penandatangan Konstitusi dan Konvensi ITU. Asia Pacific Telecommunity (APT). setiap Administrasi yang berada dalam region yang sama berusaha untuk mengharmonisasikan posisinya di dalam region tersebut. International Telecommunication Union (ITU). penggunaan spektrum frekuensi radio diatur oleh badan khusus Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) di bidang telekomunikasi. c. ITU telah membagi tiga region berbeda seperti terlihat pada gambar berikut ini: GAMBAR 1. d. b. PEMBAGIAN WILAYAH ITU ii.

Appendiks.Di dalam wilayah Asia Pasifik (Region-3). dan sebagainya. tata cara dan prosedur koordinasi. maupun notifikasi. “Maritime Services” (Dinas Maritim). “Distress and Safety Communications” (Komunikasi Marabahaya dan Keselamatan). 3. 6 . dsb. Terminologi dan karakteristik teknis. 6. Koordinasi. LAPAN. pengembangan maupun penerapan teknologi “wireless” (nirkabel) di seluruh dunia. 4. 2. 8. meliputi perubahan alokasi frekuensi. Hasil pembahasan dan keputusan dari sidang WRC adalah perubahan dari Radio Regulation. Volume I Radio Regulation. notifikasi dan pencatatan penetapan Frekuensi dan modiifikasi Rencana (Plan). Anggota tim kelompok kerja tersebut dapat berpartisipasi dalam sidang WRC sebagai Delegasi Indonesia yang dikoordinasikan oleh Ditjen Postel. operator satelit. memiliki 9 “chapter” (bab). Rekomendasi dan Resolusi dan Pencantuman berdasarkan Referensi. Interferensi. ORARI. 9. instansi pemerintah terkait (Ditjen Perhubungan Laut. yang nantinya memberikan suatu ketentuan hukum internasional serta panduan dan arah bagi industri telekomunikasi di seluruh dunia dalam melakukan investasi dan perencanaan riset.2 RADIO REGULATION “ITU Radio Regulation” memiliki 4 “volume” (jilid). Institusi pertahanan keamanan. Ditjen Postel mendiskusikan masalah-masalah yang dibahas di dalam WRC dengan stakeholder dan pihak terkait dalam pertemuan kelompok kerja persiapan WRC. Asia Pacific Telecommunity (APT) mengorganisasikan pertemuan-pertemuan kelompok persiapan (APG/APT Preparatory Group) untuk menyusun posisi bersama di antara negara-negara anggota sebagai masukan bagi sidang WRC. yang terdiri dari Artikel. baik untuk sistem komunikasi radio satelit maupun terrestrial. Ketentuan Administrasi. yaitu Artikel. BMG. pakar. 5. meliputi: 1.). Ketentuan untuk “Services” (dinas/layanan) dan “Stations” (stasiun radio). manufaktur/vendor. 7. Frekuensi (alokasi frekuensi). Pada tingkat nasional. serta ketentuan-ketentuan teknis lainnya. “Aeronautical Services” (Dinas Penerbangan). seperti penyelenggara jaringan telekomunikasi. 2. Ditjen Perhubungan Udara.

Penerbangan dan Satelit. Papua berbatasan dengan Papua Nugini. Koordinasi frekuensi terrestrial meliputi koordinasi frekuensi ”service” (dinas) penyiaran (broadcast). 2. Batam. Appendiks juga memuat hasil perencanaan pada Konferensi Dunia untuk Servis Maritim. Sangihe-Talaud berbatasan dengan Mindanao-Filipina.Kepulauan Riau. Beberapa wilayah Indonesia yang berbatasan dengan negara lain dan perlu dilakukan koordinasi penggunaan spektrum frekuensi. satelit. terdiri dari Resolusi dan Rekomendasi. terdapat 38 Referensi. NTT dan Maluku berbatasan dengan Timor Leste. Appendiks. Hampir semua koordinasi frekuensi terrestrial menyangkut pada wilayah perbatasan antara suatu negara dengan negara lain. Pencantuman berdasarkan Referensi. Bintan dan Tanjung Balai . berbatasan dengan Sabah dan Sarawak. meliputi sejumlah banyak prosedur dalam Radio Regulations yang merujuk kepada Rekomendasi Study Group ITU-R untuk rincian proses. Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Hal ini berdasarkan 7 . Suatu rekomendasi tidak memiliki status regulasi. berbatasan dengan Malaysia dan Singapura. microwave link (point-to-point). dsb. HF Broadcast maupun HF Fixed dan Mobile. Proses ini memungkinkan Radio Regulations menggunakan data dan proses terakhir dengan perubahan pada regulasi yang sesungguhnya. Dimana Resolusi adalah kesepakatan dalam konferensi untuk melakukan suatu tindakan dalam cara tertentu. bergerak darat (sellular).Volume 2. Volume 4. Malaysia. Pada Radio Regulation edisi terakhir tahun 2008. Pada Radio Regulation edisi terakhir tahun 2008. sekitar bulan Agustus setiap tahun. Volume 3.3 KOORDINASI FREKUENSI RADIO DENGAN NEGARA LAIN Koordinasi dalam penggunaan spektrum frekuensi radio dengan negara lain dapat dibagi menjadi dua macam yaitu koordinasi frekuensi terrestrial dan koordinasi satelit. antara lain:       Pantai Sumatera Bagian Timur Utara berbatasan dengan Malaysia. meliputi hampir seluruh tugas rinci di dalam Radio Regulations terdapat pada 42 Appendiks. Sedangkan. Resolusi tidak memiliki kekuatan kecuali terkait dengan Volume 1. Rekomendasi adalah masukan atau saran dari suatu konferensi kepada pengguna atau administrasi. terdapat 142 Resolusi dan 23 Rekomendasi. Koordinasi frekuensi terrestrial lainnya seperti koordinasi frekuensi HF Broadcast (HFBC) dilakukan melalui forum koordinasi frekuensi yang dikoordinasikan oleh Asia Pacific Broadcasting Union (ABU) di Kuala Lumpur.

termasuk Indonesia.ketentuan Artikel 12 Radio Regulation ITU. Untuk penggunaan frekuensi HF lainnya. Modifikasi dan penambahan kanal di luar ”allotment plan” (rencana penjatahan) setiap negara. Johor dan Singapura.1 KOORDINASI FREKUENSI PERBATASAN Koordinasi frekuensi perbatasan antara Indonesia dengan Singapura dilakukan dalam bentuk forum BCCM (Border Communication Coordination Meeting) antara Ditjen Postel dan IDA (Infocomm Development Authority) yang efektif dimulai tahun 2002. Koordinasi frekuensi perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia secara efektif baru dimulai sejak tahun 2002 dalam bentuk Joint Committee on Communications (JCC) antara Ditjen Postel dan MCMC (Malaysian Communication and Multimedia Commission). maka perlu dilakukan koordinasi frekuensi dengan negara lain dan dilakukan proses notifikasi ke ITU. Khusus penggunaan frekuensi LF/MW untuk Radio Siaran AM diatur melalui perjanjian internasional GE-75. JCC terdiri dari dua sub-komite. yaitu sub-komite penyiaran dan subkomite non penyiaran dan selular. Pertemuan BCCM ini dilakukan sekitar dua kali per tahun secara ditentukan bergiliran. JCC merupakan forum untuk melakukan koordinasi dan diskusi hal-hal teknik menyangkut masalah frekuensi radio di daerah perbatasan maupun pertukaran kebijakan telekomunikasi dan frekuensi radio antara Indonesia maupun Malaysia. 2. BCCM merupakan forum untuk koordinasi dan diskusi hal-hal teknik menyangkut masalah frekuensi radio di daerah perbatasan maupun pertukaran kebijakan telekomunikasi dan frekuensi radio antara Indonesia maupun Singapura. yang diberlakukan untuk negaranegara Region 1 dan 3. Singapura dan Malaysia yang membahas masalah koordinasi frekuensi perbatasan di daerah Batam. Ditjen Postel. Pertemuan JCC ini dilakukan minimal sekali tiap tahun secara ditentukan bergiliran.3. hendaknya dilakukan koordinasi frekuensi bilateral dengan negara lain yang kemungkinan terganggu sebelum dinotifikasi ke ITU. Pada bulan April 2005. terutama koordinasi frekuensi penyiaran dan selular. IDA Singapura dan MCMC Malaysia sepakat untuk menjadikan pertemuan ini sebagai agenda rutin di samping forum bilateral yang telah dimiliki masingmasing negara. disepakati dibentuk forum pertemuan tiga negara (trilateral meeting) antara Indonesia. 8 .

misalnya sebagai berikut: Malaysia. khususnya masalah frekuensi HF sudah pernah dilakukan. Inggris. Thailand. telah dirintis melalui berbagai forum. Hongkong. Jepang. antara lain koordinasi frekuensi TV Siaran. Koordinasi untuk perencanaan servis komunikasi radio di masa yang akan datang. 2. Korea. regional di tingkat ASEAN seperti ATRC (ASEAN Telecommunicatoin Regulatory Council) maupun forum internasional lainnya. Rusia.2 KOORDINASI SATELIT Koordinasi satelit dilakukan sebagai salah satu prosedur peraturan radio internasional pada saat pendaftaran filing satelit suatu negara ke ITU. Koordinasi satelit tersebut seringkali harus dilakukan berulang kali. Notifikasi baru dapat dilakukan setelah filing satelit tersebut dikoordinasikan dengan seluruh filing satelit negara-negara lain yang memiliki potensi mendapatkan gangguan yang merugikan dari filing satelit tersebut. microwave link. Koordinasi frekuensi perbatasan antara Indonesia dengan negara lain yang memiliki perbatasan langsung seperti Filipina. Pemecahan masalah gangguan interferensi di kedua Negara. Tonga. 9 .Hal-hal yang didiskusikan di dalam koordinasi perbatasan antara lain adalah:      Harmonisasi perencanaan dan penggunaan frekuensi di daerah perbatasan. berdasarkan Artikel 9 dan 11 Radio Regulation ITU untuk unplanned band dan Appendiks 30. TimorTimur dan Papua Nugini. Australia. Untuk mendapatkan suatu proteksi internasional. Sedangkan dengan Filipina. Koordinasi frekuensi dengan Papua Nugini. melalui forum Joint Border Coordination yang dikoordinasikan oleh Departemen Dalam Negeri. artinya bergiliran yang menjadi tuan rumah. Saat ini negara-negara yang perlu dikoordinasikan dengan satelit Indonesia. Radio Siaran FM. Korea Selatan. selular GSM.3. bersama-sama dengan sektor-sektor lainnya. Koordinasi frekuensi radio di daerah perbatasan. China. Registrasi frekuensi bersama. Vietnam. India. Demikian pula Koordinasi frekuensi dengan Timor Leste. Singapura. Amerika Serikat. Ditjen Postel melakukan komunikasi melalui forum bilateral. mengingat pengembangan filing satelit serta perubahan-perubahan filing satelit yang dilakukan negara-negara anggota ITU. 30A dan 30B untuk planned band. maka filing satelit tersebut perlu dinotifikasi. Biasanya koordinasi dilakukan secara ”home and away”. dsb.

Tabel berikut ini menjelaskan beberapa peraturan yang terkait dengan Pengaturan Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio.1 GHZ KEPUTUSAN MENKOMINFO NOMOR: 181/KEP/M.KOMINFO/12/2006 TENTANG PENGALOKASIAN KANAL PADA PITA FREKUENSI RADIO 800 MHZ UNTUK PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL 5 6 7 8       10 . KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO Manajemen spektrum yang baik memerlukan banyak sekali perencanaan pita frekuensi untuk mencegah situasi interferensi dan untuk mendorong penggunaan spectrum frekuensi radio yang efektif dan efisien. “Fixed Services” (Dinas Tetap) dan “Mobile Service” (Dinas Bergerak) memerlukan perencanaan yang baik. DAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN/KOTA PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 7 TAHUN 2009 TENTANG JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK YANG BERLAKU PADA DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA KEPUTUSAN MENKOMINFO NOMOR : 03/KEP/M. Pengaturan Spektrum Frekuensi Radio Fixed Wireless Access Dan Selular dan Perencanaan Alokasi Frekuensi.KOMINFO/01/2006 TENTANG PELUANG USAHA UNTUK PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULAR GENERASI KETIGA DENGAN CAKUPAN NASIONAL KEPUTUSAN MENKOMINFO NOMOR : 29 /KEP/M. PENGATURAN FIXED WIRELESS ACCESS DAN SELULAR DAN PERENCANAAN ALOKASI FREKUENSI REGULASI UU NO. PEMERINTAH DAERAH PROVINSI. PERATURAN YANG TERKAIT DENGAN PENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO.KOMINFO/03/2006 TENTANG KETENTUAN PENGALOKASIAN PITA FREKUENSI RADIO DAN PEMBAYARAN TARIF IZIN PENGGUNAAN PITA FREKUENSI RADIO BAGI PENYELENGGARA JARINGAN BERGERAK SELULER IMT-2000 PADA FREKUENSI RADIO 2. TABEL 1. Secara khusus.3. 36 TAHUN 1999 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 1999 TENTANG TELEKOMUNIKASI PERATURAN PEMERINTAH NOMOR PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI 52 TAHUN 2000 TENTANG NO 1 2 3 4 PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 53 TAHUN 2000 TENTANG PENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO DAN ORBIT SATELIT PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 38 TAHUN 2007 TENTANG PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN ANTARA PEMERINTAH.

3 GHZ UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) KEPUTUSAN MENKOMINFO NOMOR: 4/KEP/M.KOMINFO/10/2005 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TARIF ATAS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK DARI BIAYA HAK PENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 01/PER/M.KOMINFO/9/2005 TENTANG TATA CARA PERIZINAN DAN KETENTUAN OPERASIONAL PENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO PERATURAN MENKOMINFO NOMOR :19/PER.KOMINFO/1/2006 TENTANG PENATAAN PITA FREKUENSI RADIO 2.1 GHZ UNTUK PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULER IMT-2000 PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 04 /PER/M.KOMINFO/1/2009 TENTANG PELUANG USAHA PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL BERBASIS PACKET SWITCHED YANG MENGGUNAKAN PITA FREKUENSI RADIO 2.KOMINFO/5/2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR: 181/KEP/M. 40 TAHUN 2002 PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 13/P/M.1 GHZ UNTUK PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULER 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20   11 .KOMINFO/I/2006 TENTANG PENYELENGGARAAN WARUNG TELEKOMUNIKASI PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 07/PER/M.3 GHZ UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 03/P/M.KOMINFO/4/2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI KOMINFO NO.KOMINFO/4/2009 TENTANG PELUANG USAHA PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL BERBASIS PACKET SWITCHED YANG MENGGUNAKAN PITA FREKUENSI RADIO 2.KOMINFO/12/ 2006 TENTANG PENGALOKASIAN KANAL PADA PITA FREKUENSI RADIO 800 MHZ UNTUK PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL TANPA KABEL DENGAN MOBILITAS TERBATAS DAN PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULER KEPUTUSAN MENKOMINFO NOMOR: 114/KEP/M.KOMINFO/5/2005 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.KOMINFO/5/2005 TENTANG PENYESUAIAN KATA SEBUTAN PADA BEBERAPA KEPUTUSAN/PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN YANG MENGATUR MATERI MUATAN KHUSUS DI BIDANG POS DAN TELEKOMUNIKASI PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 05/P/M.KOMINFO/2/2006 TENTANG KETENTUAN PENGGUNAAN PITA FREKUENSI RADIO 2.NO 9 REGULASI KEPUTUSAN MENKOMINFO NOMOR: 162/KEP/M.KOMINFO/01/2006 TENTANG TATACARA LELANG PITA SPEKTRUM FREKUENSI RADIO 2.1 GHZ UNTUK PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULAR IMT-2000 PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 05/PER/M.KOMINFO/8/2005 TENTANG PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI YANG MENGGUNAKAN SATELIT PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 17 /PER/M. 4/KEP/M.

KOMINFO/9/2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 19/PER.KOMINFO/3/2007 TENTANG TATA CARA PERIZINAN DAN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 02/PER/M.KOMINFO/1/2009 TENTANG PENETAPAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) PADA PITA FREKUENSI RADIO 3.KOMINFO/8/2006 TENTANG PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI YANG MENGGUNAKAN SATELIT PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 8/P/M.KOMINFO/12/2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR: 13/P/M.NO 21 REGULASI PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 26/PER.3 GHz PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 12/PER/M.KOMINFO/2/2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR: KM 76 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA INDUK (MASTER PLAN) FREKUENSI RADIO PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI KHUSUS UNTUK KEPERLUAN TELEVISI SIARAN ANALOG PADA PITA ULTRA HIGH FREQUENCY (UHF) PERATURAN MENKOMINFO NOMOR: 15/PER/M.3 GHz DAN MIGRASI PENGGUNA FREKUENSI RADIO EKSISTING UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) DARI PITA FREKUENSI RADIO 3.KOMINFO/12/2008 DAERAH EKONOMI MAJU DAN DAERAH EKONOMI KURANG MAJU DALAM PENYELENGGARAAN PENYIARAN PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 7/KEP/M.6 GHz KE PITA FREKUENSI RADIO 3.KOMINFO/02/2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS MONITOR SPEKTRUM FREKUENSI RADIO 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32     12 .KOMINFO/10/2005 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TARIF ATAS PNBP DARI BHP SPEKTRUM FREKUENSI RADIO PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 37/P/M.3 GHZ PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 9/KEP/M.KOMINFO/1/2009 TENTANG PENETAPAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) PADA PITA FREKUENSI RADIO 2.4 – 3.KOMINFO/8/2008 TENTANG UJI COBA LAPANGAN PENYELENGGARAAN SIARAN TELEVISI DIGITAL PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 28/P/M.KOMINFO/3/2008 TENTANG PEDOMAN PEMBANGUNAN DAN PENGGUNAAN MENARA BERSAMA TELEKOMUNIKASI PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 27/P/M.KOMINFO/1/2009 TENTANG PENATAAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 8/KEP/M.KOMINFO/9/2008 TENTANG TATA CARA DAN PERSYARATAN PERIZINAN PENYELENGGARAAN PENYIARAN PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 39/P/M.

3.KOMINFO/6/2009 TENTANG PENETAPAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL PADA PITA FREKUENSI RADIO 5.KOMINFO/6/2009 TENTANG PENETAPAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL PADA PITA FREKUENSI RADIO 2 GHZ PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 27/PER/M.KOMINFO/6/2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 19/PER.KOMINFO/07/2009 TENTANG TABEL ALOKASI SPEKTRUM FREKUENSI RADIO INDONESIA PERATURAN MENTERI KOMINFO NO.KOMINFO/08/2009 34 35 36 37 38 39 PERATURAN MENKOMINFO NOMOR: 34/PER/M.8 GHZ PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 29/PER/M. 5 tahun 2001.KOMINFO/07/2009 Tentang Tabel Alokasi Spektrum Frekuensi Radio Indonesia (TASFRI).id di bagian Regulasi Telekomunikasi. www.KOMINFO/10/2009 TENTANG KERANGKA DASAR PENYELENGGARAAN PENYIARAN TELEVISI DIGITAL TERESTRIAL PENERIMAAN TETAP TIDAK BERBAYAR (FREE TO AIR) PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR: 29/PER/M. Dapat dilihat pada Gambar 2.go. rinci dan bersifat operasional. 43/PER/M. TASFRI berisi tentang pengalokasian spektrum frekuensi radio di Indonesia dan menjadi acuan dalam pengelolaan pita frekuensi yang lebih khusus.KOMINFO/7/2009 TENTANG TABEL ALOKASI SPEKTRUM FREKUENSI RADIO INDONESIA PERATURAN MENKOMINFO NOMOR: TENTANG PENYELENGGARAAN AMATIR RADIO 33/PER/M.KOMINFO/10/2005 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TARIF ATAS PNBP DARI BHP SPEKTRUM FREKUENSI RADIO PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 26/PER/M. Pengguna eksisting dan calon 13 . mendeskripsikan diagram alokasi frekuensi nasional. Pada tahun 2009 ini. 39/PER/M.NO 33 REGULASI PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 25/PER.postel. Frekuensi atau Standardisasi. telah ditetapkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor: 29/PER/M.KOMINFO/10/2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PENYIARAN MELALUI SISTEM STASIUN JARINGAN OLEH LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN TELEVISI 40 41 Semua regulasi tersebut dapat diakses melalui website Ditjen Postel.1 TABEL ALOKASI SPEKTRUM FREKUENSI RADIO INDONESIA (TASFRI) Ditjen Postel telah melakukan pemetaan penggunaan spektrum frekuensi radio saat ini dan perencanaan di masa yang akan datang dalam bentuk tabel alokasi spektrum frekuensi radio Indonesia.KOMINFO/8/2009 TENTANG PENYELENGGARAAN RADIO ANTAR PENDUDUK PERATURAN MENKOMINFO NO. sebagai penyempurnaan dari Keputusan Menteri Perhubungan No.

hanya berlaku untuk dinas tersebut.pengguna spektrum frekuensi. perencanaan pita dibagi lebih lanjut menjadi beberapa kanal untuk menentukan rencana pengkanalan (channeling plan). antara lain: lebar pita (bandwidth). Referensi catatan kaki yang muncul di sebelah kanan nama dinas. berlaku untuk seluruh alokasi yang ditetapkan. Terhadap catatan kaki khusus untuk Indonesia pada kolom empat ditandai dengan kode INS.postel. di bawah dinas-dinas yang dialokasikan.go.KOMINFO/07/2009 Tentang Tabel Alokasi Spektrum Frekuensi Radio Indonesia (TASFRI) dengan lampiran yang berisi tentang TASFRI. Untuk referensi catatan kaki (footnote) yang muncul pada Tabel. di mana setiap kolom tersebut merupakan pembagian alokasi frekuensi dunia yang dinyatakan sebagai alokasi Wilayah ITU. Tabel alokasi spektrum frekuensi ITU terdiri dari tiga kolom. dapat diunduh pada www.id di bagian Regulasi Frekuensi. Pertimbangan penting lainnya dalam penentuan perencanaan pita dalam TASFRI tersebut adalah perkembangan teknologi dan ketersediaan perangkat komunikasi radio. alokasi dan pengkanalan yang terkait di dalamnya. 14 . Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor: 29/PER/M. dsb. Untuk TASFRI terdiri dari empat kolom di mana pada kolom ke empat merupakan alokasi spektrum frekuensi untuk Indonesia yang mengacu pada Wilayah 3 dari Tabel alokasi spektrum frekuensi ITU. Alokasi spektrum frekuensi radio di Indonesia yang terdapat di dalam TASFRI mengacu pada alokasi tabel alokasi spektrum frekuensi yang dikeluarkan secara resmi oleh ITU pada Radio Regulations edisi tahun 2008 yang juga menjadi acuan bagi negara-negara lain di dunia. Ditjen Postel dalam menentukan perencanaan pita (band plan) untuk diterapkan pada setiap servis dalam TASFRI berdasarkan pertimbangan teknis. selisih frekuensi antara frekuensi pemancar dan frekuensi penerima (duplex separation). dianjurkan untuk mengenali pengalokasian yang telah dilakukan di bidang spektrum frekuensi yang tertuang dalam dokumen TASFRI tersebut terhadap jenis layanan. dimana pengalokasian tersebut merupakan uraian perencanaan dan penggunaan pita frekuensi dimaksud berdasarkan kebutuhan dan prioritas nasional. Pita frekuensi yang dirujuk pada setiap tabel alokasi spektrum frekuensi radio ITU tersebut berada di sudut atas kiri atas dari setiap bagian kotak pada tabel yang bersangkutan. Untuk keperluan penetapan frekuensi.

8 1 4 .0 5 3 7 .4 3 .0 0 5 1 1 .1 1 0 .2 5 1 3 .9 4 3 .7 5 5 .5 3 8 .7 1 0 .7 1 6 .2 8 7 1 0 0 1 0 8 1 1 7 .5 1 4 .0 4 9 .1 5 1 0 .0 6 5 .A .4 3 2 8 .4 1 1 7 .1 7 5 9 9 .3 0 0 k H z ) 3 0 k H z 7 0 7 2 8 4 8 6 9 0 1 1 0 1 1 2 1 1 7 .4 3 .8 7 5 .0 1 1 5 . standar dan spesifikasi dsb.1 B E R G E R A K T E T A P -S A T E L IT N A V IG A S I R A D IO R IS E T S .0 1 5 5 0 5 4 6 8 7 4 .4 1 1 .5 1 0 .5 7 1 4 1 3 .3 9 .7 2 5 5 .6 1 2 .4 1 5 .4 3 8 4 .5 1 5 5 5 1 6 1 3 .GAMBAR 2.2 5 7 .0 7 5 7 .0 0 3 1 0 .2 PENGATURAN TEKNIK SPEKTRUM FREKUENSI RADIO Ditjen Postel akan memformulasikan kriteria penetapan frekuensi radio untuk setiap servis.6 5 5 .1 5 5 3 .3 0 M H z ) 3 M H z 3 .2 9 .8 3 7 5 1 5 6 .5 1 2 .4 7 1 5 .2 1 3 .1 8 .9 1 8 .8 1 5 4 5 1 6 1 0 .6 8 1 0 .2 3 1 3 .8 5 5 .2 5 4 0 .1 5 4 0 6 4 3 0 4 7 0 4 6 0 4 5 0 4 4 0 5 8 5 6 1 0 8 9 0 9 4 2 9 6 0 1 2 1 5 1 2 4 0 1 2 6 0 1 3 0 0 1 3 5 0 1 4 0 0 1 4 2 7 1 4 2 9 1 4 5 2 1 4 9 2 1 5 2 5 1 5 3 0 1 5 3 3 1 5 3 5 1 5 5 9 1 6 2 6 . Khusus untuk ketentuan teknis alat dan perangkat terminal maupun jaringan akses nirkabel sebagai acuan dalam sertifikasi perangkat.4 8 6 .2 5 1 4 .9 3 1 2 4 0 0 .3 5 1 5 . telah ditetapkan sejumlah peraturan baik berupa Keputusan maupun Peraturan Dirjen Postel.3 5 8 .0 5 4 0 3 4 2 0 4 0 2 4 1 0 4 0 1 4 0 6 .2 3 . batasan daya pancar (power).5 5 .4 1 1 3 .3 6 1 3 .0 0 3 5 .4 9 .3 3 .2 5 5 .8 9 .7 6 5 7 .9 7 5 1 3 6 1 3 7 1 3 8 1 4 4 1 4 6 1 4 8 1 4 9 .1 7 5 1 1 .9 8 4 7 4 1 .2 3 .5 3 ..7 1 2 .0 5 1 5 6 .3 5 1 4 .4 8 1 7 .7 5 1 2 . Ditjen Postel menetapkan regulasi teknis yang harus ditaati seperti kriteria penggunaan bersama (sharing).7 5 1 4 1 4 .2 1 5 8 .3 6 1 7 .3 1 4 .4 5 1 0 .2 1 3 .8 7 1 4 . sebagai bagian dari persyaratan izin.1 3 .0 3 1 8 .0 0 5 4 .8 1 5 8 .1 4 0 0 .8 5 5 .6 1 1 .9 2 5 7 .5 1 0 1 0 .1 1 5 .0 6 3 4 .7 6 2 5 1 7 4 U H F (3 0 0 M H z -3 G H z ) 3 0 0 M H z 3 3 5 .5 4 .6 1 7 . TABEL 2.9 9 .4 5 4 .8 1 6 .9 5 4 .0 0 5 1 5 .6 1 6 1 5 4 4 1 6 1 0 1 6 3 1 S H F (3 G H z -3 0 G H z ) 3 G H z 3 .1 7 6 .0 5 2 V H F (3 0 M H z -3 0 0 M H z ) 3 0 M H z 3 0 .1 5 5 . yang ringkasannya dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini.1 1 2 .0 1 3 0 .4 1 3 .9 9 1 5 .6 M F (3 0 0 k H z -3 M H z ) 3 0 0 k H z 3 2 5 4 1 5 4 9 5 5 0 5 5 2 6 .8 5 4 .9 6 .5 1 6 0 6 H F (3 M H z .7 4 .5 2 5 7 .7 3 5 . DAFTAR PERATURAN TEKNIS ALAT TELEKOMUNIKASI BERBASIS NIRKABEL NO 1 2 3 REGULASI KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 233/DIRJEN/2002 TENTANG PENGELOMPOKAN ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 007/DIRJEN/1999 TENTANG PEDOMAN ITEM UJI ALAT/PERANGKAT KOMUNIKASI RADIO KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 47/DIRJEN/1998 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS SISTEM TELEKOMUNIKASI BERGERAK SELULAR BERBASIS CODE DEVISION MULTIPLE ACCESS (CDMA) DAN PERANGKAT 15 .1 9 5 9 .9 9 5 4 .6 3 8 7 3 2 2 3 9 0 3 1 5 3 9 9 .4 5 8 .2 5 .9 1 5 0 .9 9 5 1 0 . DIAGRAM ALOKASI FREKUENSI RADIO NASIONAL V L F (3 k H z -3 0 k H z ) T I D A K 3 k H z D I A L O K A S I K A N 9 L F (3 0 k H z .6 5 5 . L E G E N D A S IA R A N A M A T IR T E T A P R L B S B S B A O E A E A E D IO P K A S I R G E R T E L IT R G E R T E L IT R G E R E N E N T U A K A K A K / / D A R A T B E R G E R A K P E N E R B A N G A N A N T A R -S A T E L IT B E R G E R A K -S A T E L IT D A L A M P E R E N C A N A A N A S T R O N O M I R A D IO M E T E O R O L O G I E K S P L O R A S I B U M IS A T E L IT K H U S U S B E R G E R A K P E N E R B A N G A N -S A T E L IT F R E K U E N S I D A N T A N D A W A K T U S T A N D A R M A R IT IM M A R IT IM 3.4 4 .R .

  NO 4 REGULASI KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 180/DIRJEN/1998 TENTANG PENETAPAN PERSYARATAN TEKNIS ALAT/PERANGKAT TELEKOMUNIKASI UNTUK PESAWAT TELEPON SELULER NMT-450 KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 181/DIRJEN/1998 TENTANG PENETAPAN PERSYARATAN TEKNIS ALAT/PERANGKAT TELEKOMUNIKASI UNTUK PESAWAT TELEPON SELULER GSM KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 182/DIRJEN/1998 TENTANG PENETAPAN PERSYARATAN TEKNIS ALAT/PERANGKAT TELEKOMUNIKASI UNTUK PESAWAT TELEPON SELULER AMPS KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 80/DIRJEN/1999 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT AMATIR RADIO KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 60/DIRJEN/1999 TENTANG PENETAPAN PERSYARATAN TEKNIS ALAT/PERANGKAT TELEKOMUNIKASI UNTUK PERANGKAT JARLOKAR CDMA IS-95 KEPDIRJEN POSTEL PERSYARATAN TEKNIS HF/VHF/UHF NOMOR : PERANGKAT 84/DIRJEN/1999 TENTANG RADIO KOMUNIKASI SSB- 5 6 7 8 9 10 11 12 KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 85/DIRJEN/1999 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT RADIO SIARAN KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 86/DIRJEN/1999 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT TELEPON TANPA KABEL UMUM KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 207/DIRJEN/2001 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS BASE STATION RADIO DIGITAL ENHANCED CORDLESS TELECOMMUNICATIONS (DECT) KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 167/DIRJEN/2002 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT BROADBAND WIRELESS ACCESS PADA FREKUENSI 10 GHZ KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 169/DIRJEN/2002 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEVISI SIARAN SISTEM ANALOG KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 288/DIRJEN/2004 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS SENTRAL PERANGKAT JARINGAN WIDEBAND CODE DIVISION MULTIPLE ACCESS (WCDMA)-CORE NETWORK KEPDIRJEN POSTEL NOMOR PERSYARATAN TEKNIS BLUETOOTH : 09/DIRJEN/2004 TENTANG 13 14 15 16 17 KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 297/DIRJEN/2004 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS TERMINAL CODE DIVISION MULTIPLE ACCESS (CDMA) 16 .

TIME DIVISION DUPLEXING (UMTS TDD) PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 80/DIRJEN/2006 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI MULTIPLEX SDH (SYNCHRONOUS DIGITAL HIERARCHY) PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 81/DIRJEN/2/2008 TENTANG PENCABUTAN BEBERAPA KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI YANG TERKAIT PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 94/DIRJEN/2008 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI SUBSCRIBER STATION BROADBAND WIRELESS ACCESS (BWA) NOMADIC PADA PITA FREKUENSI 2.NO 18 REGULASI KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 23/DIRJEN/2004 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT JARINGAN GLOBAL SYSTEM FOR MOBILE (GSM) 900 MHz / DIGITAL COMMUNICATION SYSTEM (DCS) 1800 MHz KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 193/DIRJEN/2005 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT KOMUNIKASI RADIO MICROWAVE LINK PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 214/DIRJEN/2005 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT DENGAN DAYA PANCAR DI BAWAH 10 mW PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 264/DIRJEN/2005 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT CUSTOMER PREMISES EQUIPMENT (CPE) UNIVERSAL MOBILE TELECOMMUNICATION SYSTEM .3 GHz 19 20 21 22 23 24 25 26 27 17 .TDD) PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 265/DIRJEN/2005 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT DIGITAL TERRESTRIAL L-BAND TRASMITTER UNTUK MULTICHANNEL MULTIPOINT DISTRIBUTION SYSTEM (MMDS) PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 266/DIRJEN/2005 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT RADIO MARITIM PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 267/DIRJEN/2005 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT JARINGAN RADIO (RADIO NETWORK) BERBASIS UNIVERSAL MOBILE TELECOMMUNICATION SYSTEM .TIME DIVISION DUPLEXING (UMTS .

Daftar lengkap alamat. nomor telepon dan fax kantor UPT Balai Monitor dan Loka Monitor di seluruh Indonesia tersebut dapat dilihat pada lampiran 1. jika suatu stasiun radio telah diberikan izin. Ditjen Postel-Depkominfo memiliki Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Monitor dan Loka Monitor Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit di seluruh wilayah Indonesia.  NO 28 REGULASI PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 95/DIRJEN/2008 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI BASE STATION BROADBAND WIRELESS ACCESS (BWA) NOMADIC PADA PITA FREKUENSI 2.3 GHz PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 96/DIRJEN/2008 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI ANTENA BROADBAND WIRELESS ACCESS (BWA) NOMADIC PADA PITA FREKUENSI 2.3 GHz SPEKTRUM DAN MANAJEMEN PENANGANAN 29 4. akurasi frekuensi radio dan persyaratan instalasi serta digunakan sesuai peruntukannya. Ditjen Postel melakukan inspeksi kepada stasiun tersebut untuk menjamin bahwa pemegang izin menaati kondisi operasi izin seperti daya output RF. PENGENDALIAN INTERFERENSI Manajemen spektrum dalam melakukan fungsinya memberikan perlindungan kepada pengguna frekuensi radio (licensed users) bertanggung jawab untuk melakukan investigasi serta menyelesaikan masalah keluhan dari pengguna radio yang mengalami interferensi dalam pengoperasian sistem komunikasi radionya.  18 . modulasi. Ditjen Postel secara rutin melakukan monitoring frekuensi dan mendeteksi pemancaran yang tidak berizin. Begitu juga.

konvergensi antara teknologi fixed dan mobile. PENDAHULUAN Penggunaan spektrum frekuensi radio pada penyelenggaraan jaringan telekomunikasi selular perlu dibahas tersendiri. pada pita frekuensi 450 MHz. dan kemudahan implementasi jaringan nirkabel (wireless) dibandingkan dengan jaringan kabel. regulasi telekomunikasi di Inodnesia masih membedakan antara penyelenggaraan telekomunikasi tetap (fixed) dan penyelenggaraan telekomunikasi bergerak (mobile). dsb. besaran BHP (Biaya Hak Penggunaan) Frekuensi Radio. o Penyelenggara selular dengan standar teknologi GSM / UMTS.1 GHz. maka pemisahan antara FWA dan selular sudah sulit untuk dibedakan. Telah terdapat sejumlah upaya untuk mengkaji penyempurnaan ketentuan regulasi serta teknis. meliputi permasalahan perizinan. 1800 MHz dan 2. Sistem telekomunikasi selular di Indonesia saat ini digunakan oleh :   Penyelenggara Jaringan Tetap Nirkabel (Fixed Wireless Access / FWA) Penyelenggara Jaringan Bergerak Selular. Dengan berkembangnya teknologi. Sampai saat ini. interkoneksi. penomoran.BAB . mengingat penggunaan alokasi pita frekuensi jaringan akses ke pelanggan bersifat eksklusif dalam penguasaan pita frekuensi pada suatu wilayah layanan tertentu. antara lain:  Terdapat 11 izin penyelenggara selular / FWA nasional di Indonesia. terutama di daerah-daerah yang relatif dianggap kurang menguntungkan secara ekonomis.3 KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM UNTUK JARINGAN TELEKOMUNIKASI SELULAR 1. 19 . perkembangan telekomunikasi selular berkembang sangat cepat. 850 MHz dan 1900 MHz. yang terdiri dari: o Penyelenggara selular/ FWA dengan standar teknologi CDMA. yang menjangkau hampir semua wilayah Indonesia dengan jumlah pengguna di atas 100 juta. Selain itu. Penyelenggaraan jaringan tetap nirkabel (FWA) pada mulanya diperlukan di banyak tempat di Indonesia mengingat tingkat kepadatan ketersediaan telepon (teledensity) yang relatif masih rendah (kurang dari 3%). Status Kondisi Eksisting dalam Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio untuk Penyelenggara Jaringan FWA dan Jaringan Bergerak Selular di Indonesia. di pita 900 MHz.

Primasel.1 GHz melalui metoda lelang yang pertama kali dilakukan di Indonesia. Sejumlah perubahan regulasi dilakukan yaitu penyusunan kebijakan dan regulasi penataan frekuensi selular 3G. serta perencanaan frekuensi yang belum harmonis antara perencanaan frekuensi selular Amerika Serikat yang digunakan untuk CDMA. antara dua sistem selular yang berdekatan. Jawa Barat dan Banten dengan standar PCS-1900 MHz dimigrasikan ke pita frekuensi 800 MHz. antara lain:  Penambahan alokasi frekuensi IMT-2000 / 3G untuk penyelenggara selular GSM-900/1800 paling cepat pada awal tahun 2008 dari 5 MHz FDD menjadi 10 MHz FDD.9 dan 2.1 GHz dengan melalui:  Migrasi frekuensi PCS/CDMA-1900 MHz bagi sejumlah penyelenggara FWA/Selular yang beroperasi di pita 1950 – 1990 MHz serta penataan ulang penyelenggara FWA/selular CDMA di pita 850 MHz. Masih terdapat sejumlah kebijakan lanjutan yang telah dan akan diselesaikan.  Penataan pita frekuensi 1. ke pita frekuensi di luar pita IMT core-band (1920 – 1980 MHz).  Migrasi frekuensi PCS/CDMA-1900 MHz dan 850 MHz tersebut dapat diselesaikan pada akhir tahun 2007.  Akibat penerapan dua standar teknologi yang berbeda antara CDMA dan GSM. Besaran Tarif Dan Skema Pembayaran Biaya Hak 20 . seleksi / lelang penyelenggara 3G/IMT-2000 di pita 2. dilakukan seleksi penyelenggara IMT/3G di pita 1. FWA Telkom dan FWA Indosat di wilayah Jabotabek. Potensi interferensi antara Tx BTS CDMA terhadap Rx BTS GSM. Potensi interferensi antara Tx BTS CDMA terhadap Rx BTS GSM.KOMINFO/9/2009 tentang Penetapan Alokasi Tam Bahan Blok Pita Frekuensi Radio. serta perencanaan frekuensi selular Eropa untuk GSM.1 GHz tersebut juga sekaligus untuk memberikan kesempatan tambahan alokasi frekuensi bagi layanan selular multimedia global (IMT / 3G) pita frekuensi 1940 – 1955 MHz berpasangan dengan 2130 2145 MHz. serta pemindahan alokasi frekuensi PCS-1900 yang diberikan izin sebelumnya. Pada Februari 2006. pengenaan tarif BHP pita frekuensi untuk penyelenggara 3G.Downlink PCS/CDMA-1900 MHz (BTS ke mobile) dengan Uplink UMTS 2. Melalui Kepmen Kominfo Nomor: 268/KEP/M. maka terdapat permasalahan potensi interferensi yang membutuhkan “guard band” yang memadai. yaitu: o Downlink CDMA-850 MHz (BTS ke mobile) dengan Uplink GSM-900 MHz (mobile ke BTS) di pita frekuensi 885 – 890 MHz. WIN dan PT. dilakukan penataan frekuensi IMT/3G di pita 1.1 GHz (mobile ke BTS) di pita frekuensi 1950 – 1990 MHz.9 dan 2.9 dan 2.1 GHz.  Penyesuaian Izin Penyelenggaraan maupun Izin Frekuensi FWA/selular CDMA untuk Mobile-8 dan Bakrie Telekom. Pada tahun 2005.  Konsolidasi antara PT.

Revisi Peraturan Pemerintah mengenai BHP Frekuensi. ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA 2. Road Map Industri Selular menuju 3G dapat digambarkan sebagai berikut: • • GSM (2G)  GPRS (2.9 dan 2. Sistem selular Indonesia berbasis teknologi generasi ke-2 (digital selular) yaitu GSM dan CDMA.1 GHz (IMT-2000)) CDMA (450/800/1900 MHz) Pola perencanaan frekuensi campuran antara PCS-1900 (CDMA-1900 MHz) dan IMT-2000 (UMTS) menyebabkan terjadinya potensi interferensi dan inefisiensi frekuensi. Ditjen Postel menetapkan untuk menata ulang kembali pita utama IMT-2000 sejak tahun 2005 lalu.  Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio Bagi Penyelenggara Jaringan Bergerak Seluler IMT-2000 Pada Pita Frekuensi Radio 2.1 GHz.1 GHz.go.postel.5G+) CDMA2000-1xEV-DO/DV (3G LTE Alokasi frekuensi dan standar penyelenggaraan selular di Indonesia dapat digambarkan secara ringkas sebagai berikut: • • GSM/GPRS/EDGE (900/1800 MHz) WCDMA (1. Draf white paper tersebut dapat di unduh pada website Ditjen Postel. Penyesuaian regulasi-regulasi pendukung: Peraturan mengenai Unified Access License (konvergensi Fixed/Mobile). Tabel 3 menjelaskan alokasi frekuensi selular di Indonesia sebelum tahun 2005. dengan migrasi penyelenggara PCS-1900 ke luar pita utama IMT-2000. Tabel 4 menjelaskan alokasi frekuensi selular di Indonesia berdasarkan peraturan yang terbaru. Sedangkan Gambar 3 menjelaskan mengenai perencanaan frekuensi selular di pita 1.5G.5G)  EDGE (2. 21 .id pada bagian regulasi frekuensi.5G+) (migrasi)  WCDMA (overlay)  HSPA  LTE cdmaOne (2G)  CDMA2000-1X (2. Sosialisasi konversi BHP ISR menjadi BHP Pita bagi penyelenggara selular telah dilakukan dengan Ditjen Postel menerbitkan white paper penerapan biaya hak penggunaan berdasarkan lebar pita (BHP PITA) pada penyelenggara telekomunikasi seluler dan fixed wireless access (FWA) pada bulan Oktober 2009. Berikut ini adalah diagram alokasi pita frekuensi selular pada sejumlah pita frekuensi. Pengenaan BHP pita frekuensi untuk penyelenggara IMT-2000 / 3G maupun konversi BHP ISR menjadi BHP pita bagi penyelenggara selular lainnya secara bertahap. tambahan pita 3G sebesar 5 MHz telah diberikan kepada Telkomsel dan Indosat setelah dilakukan penawaran penambahan Pita 3G kepada kelima penyelenggara tersebut di atas. Kedua sistem tersebut memiliki kemampuan untuk menyediakan layanan 2. dsb. www.9/2.

5 BANDWIDTH (MHZ) 15 10 20 CAKUPAN LISENSI Nasional Nasional Bali.880 1960 .830 1885 .835 825 . Lampung dan Kalimantan DI Yogyakarta.835 1880 . Jabar.1970 875 .890 22 . Jabar. Metrosel STBS (Mobile) CDMA AMPS Komselindo 3 4 Bakrie Telecom Telkom (Flexi) STBS (Mobile) FWA FWA FWA 5 Indosat (Starone) FWA FWA 6 7   WIN Primasel Wireless Data STBS (Mobile) CDMA CDMA CDMA CDMA CDMA CDMA CDMA CDMA 835 .875 1965 .890 870 . Irian Jaya NAD. Bengkulu.880 870 .1885 1895 .Banten DKI.1900 1900 . Sulawesi Nasional DKI.845 880 . Jabar.890 20 FREKUENSI UPLINK (MHZ)) 450 .1990 20 20 10 10 10 10 10 20 835 . Jabar.457.467. Banten Selain DKI. Jambi.1965 1975 .Banten Nasional Nasional Telesera 835 . NTB. ALOKASI FREKUENSI SELULAR INDONESIA SEBELUM TAHUN 2005 NO 1 PERUSAHAAN Mandara (Mobisel) JENIS LISENSI STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STANDAR CDMA NMT-470 AMPS CDMA AMPS 2. NTT. Jabar.845 825 . Banten Selain DKI. Banten. Sumatera Barat.TABEL 3.5 FREKUENSI DOWNLINK (MHZ) 460 . Maluku Utara. Sumatera Utara.1910 880 . Riau.1890 830 . Sumsel.1980 1980 . Maluku. Jateng. DKI Jakarta.845 880 .

1880 2110 .945 1812.960 1805 .1717.952.1750 1765 .5 .1812.1935 2015 .907.1845 1860 .1722.2135 1870 .5 1825 .1785 1920 .1765 900 .900 1717.5 1845 .1825 1840 .1870 952.2020 9 Telkomsel 10 11 Excelkomindo Pratama Natrindo Telepon Selular / Lippo Telecom Cyber Access Communications (CAC) FREKUENSI DOWNLINK (MHZ) 935 .1817.5 .5 1817.5 .1745 1935 .5 .915 1710 .5 1722.5 .2015 1775 .1775 907.1945 2010 .1730 1745 .5 1750 .5 .2125 BANDWIDTH (MHZ) 20 10 30 15 15 10 20 15 15 30 10 5 20 20 5 CAKUPAN LISENSI Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional 12 23 .1860 945 .1840 2125 .5 1730 .NO 8 PERUSAHAAN Indosat JENIS LISENSI STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) STBS (Mobile) TEKNOLOGI GSM GSM GSM GSM GSM GSM GSM GSM GSM GSM UMTS TDD GSM WCDMA TDD FREKUENSI UPLINK (MHZ)) 890 .

1910 FREKUENSI DOWNLINK (MHZ) 460 .WIN FWA STBS (Mobile) CDMA CDMA 15 24 . 507 870 – 875 Kanal 37. DKI. FWA TEKNOLOGI CDMA CDMA FREKUENSI UPLINK (MHZ)) 450 . 78. 119 dan 1019 875 – 880 Kanal 201. 242. DKI.1990 BANDWIDTH (MHZ) 15 7 13 10 10 13 3 CAKUPAN LISENSI Nasional Nasional Jawa Barat. 78. 119 dan 1019 880 – 890 Kanal 589. ALOKASI FREKUENSI SELULAR SAAT INI  NO 1 2 PERUSAHAAN Sampoerna Telekomunikasi Indonesia Mobile-8 JENIS LISENSI STBS (Mobile) STBS (Mobile). 242. DKI Jakarta dan Banten Daerah selain Jawa Barat. Banten Jawa Barat.TABEL 4. 242. 425. 119 dan 1019 835 . 283 875 – 880 Kanal 201. 283 830 – 835 Kanal 201.845 Kanal 384.5 .467. DKI Jakarta dan Banten Daerah selain Jawa Barat. 507 825 – 830 Kanal 37. 242.457. 425. 466. Banten Nasional Nasional 3 Bakrie Telecom FWA) CDMA 4 Telkom (Flexi) FWA CDMA 5 6         Indosat (Starone) Sinar Mas Telecom (SMART) d/h Primasel .845 Kanal 589. 78. 119 dan 1019 830 – 835 Kanal 201. 466. 78.5 880 – 890 Kanal 384. 630 1903. 283 870 – 875 Kanal 37. 630 1983.75 . 283 825 – 830 Kanal 37.5 835 .

NO 7

PERUSAHAAN Indosat

JENIS LISENSI STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS STBS (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile) (Mobile)

TEKNOLOGI GSM GSM GSM UMTS UMTS GSM GSM GSM GSM UMTS UMTS GSM GSM UMTS GSM UMTS GSM UMTS

FREKUENSI UPLINK (MHZ)) 890 - 900 1717.5 - 1722.5 1750 - 1765 1950 - 1955 1955 - 1960 900 - 907.5 1722.5 - 1730 1745 - 1750 1765 - 1775 1940 - 1945 1935 - 1940 907.5 - 915 1710 - 1717.5 1945 - 1950 1730 - 1745 1930 - 1935 1775 - 1785 1920 - 1925

8

Telkomsel

9

Excelkomindo Pratama

10 11

NTS Axis Hutchison CPC

FREKUENSI DOWNLINK (MHZ) 935 – 945 1812.5 - 1817.5 1845 - 1860 2140 – 2145 2145 - 2150 945 - 952.5 1817.5 – 1825 1840 – 1845 1860 – 1870 2130 – 2135 2125 - 2130 952.5 – 960 1805 - 1812.5 2135 – 2140 1825 – 1840 2120 – 2125 1870 – 1880 2110 – 2115

BANDWIDTH (MHZ) 20 10 30 10 10 15 15 10 20 10 10 15 15 10 30 10 20 20

CAKUPAN LISENSI Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional

25

Referensi Regulasi: 1. 2. 3. 4. 5. Permen Kominfo No.1 Tahun 2006 tentang Penataan Frekuensi IMT-2000 di pita 1.9 dan 2.1 GHz. Permen Kominfo No.7 Tahun 2006 tentang Penggunaan Frekuensi Pita 1.9 dan 2.1 GHz Permen Kominfo No.181 Tahun 2006 tentang Pengalokasikan Kanal Pita Frekuensi 800 MHz untuk FWA dan Selular Permen Kominfo No.162 Tahun 2007 tentang Revisi Permen No.181 Tahun 2006 Pengalokasikan Kanal Pita Frekuensi 800 MHz untuk FWA dan Selular Kepmen Kominfo No.363/KEP/M.KOMINFO/1O/2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Keputusan Menteri Komunikasi Dan Informatika Nomor: 181/KEP/M.KOMINFO/12/2006 Tentang Pengalokasian Kanal Pada Pita Frekuensi Radio 800 MHz Untuk Penyelenggaraan Jaringan Tetap Lokal Tanpa Kabel Dengan Mobilitas Terbatas Dan Penyelenggaraan Jaringan Bergerak Seluler (tambahan kanal untuk Telkom dan Bakrie Telecom) Kepmen Kominfo No. 268/KEP/M.KOMINFO/9/2009 Tentang Penetapan Alokasi Tam Bahan Blok Pita Frekuensi Radio, Besaran Tarif Dan Skema Pembayaran Biaya Hak Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio Bagi Penyelenggara Jaringan Bergerak Seluler IMT-2000 Pada Pita Frekuensi Radio 2.1 GHz (tambahan 5 MHz pita 3G untuk Indosat dan Telkomsel)

6.

GAMBAR 3. PERENCANAAN PITA FREKUENSI JARINGAN TELEKOMUNIKASI FWA / SELULAR

 

 

26

 

   

 

27

 

2.1 PITA FREKUENSI SELULAR 450 MHz Pada akhir tahun 1980-an, sistem telepon bergerak selular pertama kali dikenalkan adalah sistem NMT di pita frekuensi 470 MHz yang diselenggarakan oleh PT. Mobisel. Sebenarnya standar sistem NMT adalah di pita 450 MHz, yang saat itu tidak bisa diberikan karena dinilai relatif padat pengguna saat itu. Di pita 450 MHz banyak digunakan untuk two way radio, HT, taxi, trunking oleh banyak penyelenggara instansi pemerintah, pertahanan keamanan, maupun radio konsesi (penyelenggara telekomunikasi khusus) untuk memudahkan kepentingan komunikasinya. Pada tahun 2002, Ditjen Postel memberikan izin bagi penyelenggara selular CDMA di pita 450 MHz untuk Mobisel yang akan memigrasikan sistem analog NMT di 470 MHz menjadi sistem digital selular CDMA di 450 MHz. Akan tetapi langkah pemberian izin tersebut tidak dibarengi dengan kebijakan apapun terhadap penyelenggara eksisting pita 450 MHz untuk two way radio, trunking, dan servis land mobile lainnya, sehingga sulit bagi PT. Mobisel untuk mengembangkan infrastruktur CDMA-450. Pada tahun 2005, setelah koordinasi antara Ditjen Postel, Ditjen Kuathan Dephan, dan PT. Mobisel, telah disusun suatu rencana migrasi secara
28

Metrosel dan Telesera di pita 800 MHz sub band A (835-845 MHz dan 880 – 890 MHz): Pada pertengahan 1990-an.5 MHz dan 460 – 467. 2.5 MHz (FDD 7.2.  Rencana penggunaan pita frekuesi eksklusif untuk kepentingan pertahanan pada pita 438 – 450 MHz.5 MHz) untuk kepentigan selular tersebut di atas memerlukan migrasi sejumlah pengguna signifikan eksisting di pita 438 . Pada bulan September 2005. 457. 467.5 -470 MHz (17 MHz) akan dialokasikan kepada kepentingan pertahanan (TNI) Pita 450 – 457.470 MHz.5 – 460 MHz. Mobisel.5 -470 MHz (17 MHz) dan pita 450 – 457. Sampurna Telekomunikasi Indonesia (STI) nasional untuk menyelenggarakan jaringan selular CDMA.2 PITA FREKUENSI SELULAR CDMA 850 MHZ/1900 MHZ 2.2006 diganti nama menjadi PT. ditandatangani SKB antara Depkominfo dan Dephan mengenai penggunaan frekuensi 450 MHz. Mobisel (th. 29 .1 LATAR BELAKANG Pada awal tahun 1990-an.keseluruhan agar pita frekuensi untuk kepentingan pertahanan dan kepentingan selular CDMA 450 secara eksklusif. dengan rincian sebagai berikut:   Pita 438 – 450 MHz. telah diberikan lisensi penyelenggara telekomunikasi bergerak selular AMPS regional kepada Ratelindo (Bakrie) di pita 800 MHz sub band B (825-835 MHz dan 870 – 880 MHz) di daerah Jabotabek. 457. dapat dilakukan secara bertahap dengan kompensasi tanggung jawab pemindahan dilaksanakan oleh PT.5 – 460 MHz. Pita 438-470 MHz ini digunakan banyak oleh sistem komunikasi dua arah (two way radio) maupun radio trunking.5 MHz (FDD 7. karena munculnya layanan teknologi yang lebih handal. 467. telah diberikan lisensi penyelenggara telekomunikasi bergerak selular AMPS regional kepada Komselindo. Perkembangan layanan selular AMPS mengalami penurunan s/d akhir tahun 1990-an. baik untuk kepentingan pemerintah maupun swasta.5 MHz) akan digunakan untuk PT.5 MHz dan 460 – 467.

Telkom. Bahkan dengan perkembangan teknologi selular. Alokasi frekuensi (di luar DKI. Bergerak Selular : Mobile-8. Demikian pula Indosat diberikan izin yang sama. Metrosel (Group Mobile-8) Pita 1. Banten. Penyelenggara FWA CDMA-1900 cakupan DKI. FWA: Bakrie Telekom. semua penyelenggara selular AMPS beralih ke teknologi CDMA secara bertahap. Jabar. Indosat. FWA) dan bergerak selular.2. Banten 1) Indosat (1880 – 1885 MHz dan 1960 – 1965 MHz) 2) Telkom (1885 – 1890 MHz dan 1965 – 1970 MHz) b. dengan alasan perlunya menaikkan teledensitas atas persetujuan kenaikan tarif. Penyelenggara selular dan wireless data CDMA-1900 (izin nasional. Banten) 1) 825-830 MHz dan 870-875 MHz: Telkom Flexi 2) 830-835 MHz dan 875-880 MHz: Indosat 3) 835-845 MHz dan 880 – 890 MHz: Komselindo. Pada sekitar tahun 2002. Alokasi frekuensi (DKI. DKI. Banten. Jabar. sulit dibedakan lagi antara layanan tetap (WLL. Telesera. b. Primasel c. untuk persiapan duopoli penyelenggara PSTN lokal. Banten) 1) 825-835 MHz dan 870 – 880 MHz: Komselindo (Group Mobile-8) 2) 835-845 MHz dan 880 – 890 MHz: Bakrie Telekom b.9 GHz (PCS-1900) a. belum beroperasi) 1) WIN (1895-1900 MHz dan 1975-1980 MHz) 2) Primasel (1900-1910 MHz dan 1980-1990 MHz) Jenis Lisensi a.Pada perkembangannya sejak awal tahun 2000-an. Dalam perkembangannya penyelenggara WLL CDMA tersebut mengembangkan diri menjadi layanan terbatas dalam kota / satu kode area (Fixed Wireless Access). Wireless Data: WIN (2) (3) 30 . DKI) dan WLL CDMA 1900 di Jabar. 2. Telkom memperoleh izin WLL CDMA di 800 (di luar Jawa Barat.2 KONDISI AWAL (SEBELUM JULI 2005) Kondisi awal izin penyelenggaran dan alokasi frekuensi FWA/selular CDMA 800 MHz / 1900 MHz di Indonesia sebelum tahun 2005 adalah sebagai berikut: (1) Pita 800 MHz a. Jabar.

Sehingga diputuskan untuk dilakukan migrasi penyelenggaaan PCS-1900 ke luar pita coreband IMT-2000 (UMTS). Telkom Flexi dan Indosat Starone di Jakarta. 31 .1 GHz untuk menghindari interferensi antara sistem PCS-1900 dan IMT-2000 (UMTS) serta inefisiensi penggunaan frekuensi. Sampai dengan tanggal 31 Desember 2007. 242.2. tetapi akhirnya kesepakatan bisnis tidak berjalan mulus. Jawa Barat dan Banten. 78. Selain itu dilakukan fasilitasi agar WIN dan Primasel dapat bergabung dan pindah ke PCS-1900 di luar core band IMT-2000. 2) kanal 37. Jawa Barat dan Banten Kanal 160 CDMA 800 MHz akan diperebutkan antara Bakrie Telecom dan Telkom Flexi berdasarkan evaluasi kinerja pembangunan. Jawa Barat dan Banten Telkom Flexi diberikan alokasi frekuensi FWA CDMA nasional dengan pengaturan sebagai berikut: 1) kanal 37. Banten dan Jawa Barat harus migrasi dari PCS1900 ke selular 800 yang telah diduduki oleh Mobile-8 dan Bakrie Telecom. 283 CDMA 800 MHz di luar DKI. Jawa Barat dan Banten. c. Pemerintah memutuskan untuk melakukan penataan ulang pita frekuensi selular di pita 1.2. untuk memudahkan migrasi layanan CDMA 1900 ke 800 MHz. Bakrie Telecom (Esia) diberikan alokasi frekuensi FWA CDMA nasional dengan pengaturan sebagai berikut: 1) kanal 201. Pemerintah juga menetapkan bahwa akan dilakukan migrasi penyelenggara PCS-1900 ke selular 800 MHz. Sedangkan Primasel dan WIN harus ke luar dari pita coreband IMT-2000 (UMTS) Mula-mula Pemerintah memfasilitasi kerjasama bisnis antara Telkom dan Mobile-8 dan Bakrie dengan Indosat dalam rangka memudahkan migrasi PCS-1900 ke selular 800 MHz. kanal 160 ”dipinjamkan” kepada Bakrie Telecom. 78. Setelah selama kurang lebih 1 tahun dilakukan diskusi intensif dengan penyelenggara PCS-1900 dan selular 800 MHz.3 MIGRASI PITA FREKUENSI PCS 1900 MHz KE PITA SELULAR 800 MHz Pada bulan Juli 2005. 119 CDMA 800 MHz di DKI. 242. 283 CDMA 800 MHz di DKI.9 dan 2. 119 CDMA 800 MHz di luar DKI. 2) kanal 201. untuk keperluan migrasi. b. maka Pemerintah memutuskan kebijakan sebagai berikut: a.

32 . Proses migrasi selular 800 MHz diberi batas waktu sampai dengan 31 Desember 2007 WIN dan Primasel bergabung pada tahun 2006. untuk keperluan migrasi. Kedua perusahaan tersebut membentuk perusahaan baru yaitu PT. dan diberikan 5 kanal CDMA-1900 di luar IMT-2000 core band. Jawa Barat dan Banten dan Bakrie Telecom di luar DKI.363/KEP/M.KOMINFO/12/2006 Tentang Pengalokasian Kanal Pada Pita Frekuensi Radio 800 MHz Untuk Penyelenggaraan Jaringan Tetap Lokal Tanpa Kabel Dengan Mobilitas Terbatas Dan Penyelenggaraan Jaringan Bergerak Seluler. Melalui Kepmen Kominfo No. 466 dan 507 Indosat diberikan alokasi frekuensi selular CDMA nasional dengan kanal frekuensi 589 dan 630.75 – 1910 dan 1983. e. Telkom Flexi mendapatkan alokasi kanal tambahan 1019 di luar DKI. Tabel 5 berikut ini menjelaskan alokasi frekuensi dan kanal standar CDMA untuk seluruh penyelenggara terkait. 425. kanal 548 ”dipinjamkan” kepada Indosat Starone. f. Sampai dengan tanggal 31 Desember 2007.KOMINFO/1O/2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Keputusan Menteri Komunikasi Dan Informatika Nomor: 181/KEP/M. Kanal 548 CDMA 800 MHz akan diperebutkan antara Mobile—8 dan Indosat Starone berdasarkan evaluasi kinerja pembangunan. tepatnya pada pita 1903. i. h.75 – 1990 MHz.d. Mobile-8 diberikan alokasi frekuensi selular CDMA nasional dengan kanal Frekuensi 384. Sinar Mas Telekomunikasi (SMART). Jawa Barat dan Banten. Kanal ini bersebelahan dengan GSM-nya di 890 – 900 MHz sehingga memudahkan koordinasi dan perencanaan serta operasional jaringan dalam satu perusahaan untuk mengurangi dampak interferensi antara CDMA dan GSM di pita frekuensi yang berdekatan. g.

karena operator memiliki perencanaan penggelaran jaringan serta penggunaan menara yang tidak sama. 119. PM No. 242. KM No. 119. 181/KEP/M. 630 548 5 kanal 6 kanal Standar CDMA CDMA CDMA CDMA CDMA CDMA CDMA CDMA MHz CDMA CDMA Wilayah Layanan Jawa Barat.1 GHz b. 242. 283 37. 4.162/2007 tentang Penataan Frekuensi 800 MHz d. Telkom Flexi 3.181/2006 tentang Penataan Frekuensi 800 MHz c.363/KEP/M. Banten Daerah selain Jawa Barat. Referensi aturan hukum pengaturan frekuensi FWA/selular tersebut di atas adalah sebagai berikut: a. 5. DKI. 78.TABEL 5. Sehingga kanal cadangan yang diperebutkan praktis tidak bisa digunakan. DKI. 7. guard band antar operator CDMA memerlukan lebih dari 1.1/2006 tentang Penataan Frekuensi di pita 1.23 MHz. DKI. ALOKASI KANAL INDONESIA FREKUENSI STANDAR CDMA DI No 1. DKI. Banten Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional Nasional 2. 1019 201. Nama Penyelenggara Bakrie Telecom Kanal Frekuensi CDMA 37. Banten Daerah selain Jawa Barat.KOMINFO/12/2006 Tentang Pengalokasian Kanal Pada Pita Frekuensi Radio 800 MHz Untuk Penyelenggaraan Jaringan Tetap Lokal Tanpa Kabel Dengan Mobilitas Terbatas Dan Penyelenggaraan Jaringan Bergerak Seluler 33 . 425. PM No. 283 160 384. Kanal Cadangan (guard band) Mobile-8 Indosat Starone Kanal Cadangan (guard band) Sinar Mas Telecom d/h Primasel/WIN Sampoerna Telekomunikasi (STI) Catatan: Berdasarkan kajian teknis. 6. 8. 78. 466 dan 507 589.9 dan 2. Banten Jawa Barat. 1019 201. PM No.KOMINFO/1O/2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Keputusan Menteri Komunikasi Dan Informatika No.

Izin nasional diberikan kepada Telkomsel. Sehingga perlu dicari solusi teknis pencegahan interferensi terhadap sistem MSS yang belum ada penyelenggara yang beroperasi. sehingga menjadi penyelenggara nasional. NTS kemudian mengakuisisi pemegang lisensi lainnya di wilayah lain. 2. yang bisa bertahan hanyalah NTS (Natrindo) di Jawa Timur. Dari sejumlah operator yang menang lisensi tersebut. bahwa pada izin prinsip PT.3 PITA FREKUENSI SELULAR GSM-900/1800 MHz DAN UMTS 2. Sinar Mas Telekomunikasi (SMART) ini.1 LATAR BELAKANG Penyelenggaraan telepon bergerak selular (STBS) GSM mulai beroperasi sekitar pertengahan tahun 1990-an. Pada sekitar tahun 1996 dilakuakan tender (beauty contest) izin penyelenggaraan DCS/GSM-1800 MHz sebesar 15 MHz FDD(pasangan kanal downlink dan uplink) untuk sejumlah daerah sesuai pembagian wilayah KSO (7 wilayah). ketiga operator GSM utama (Telkomsel.1 GHz Sebagai catatan. Akhir era 1990-an. Selain itu.1 GHz 2. Dan penyelenggara selular PCS-1900 bersangkutan harus menyiapkan proteksi terhadap sistem satelit MSS tersebut. Besaran Tarif Dan Skema Pembayaran Biaya Hak Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio Bagi Penyelenggara Jaringan Bergerak Seluler IMT-2000 Pada Pita Frekuensi Radio 2.e. Sinar Mas Telekomunikasi (d/h Primasel/WIN) terdapat persyaratan tidak boleh menimbulkan gangguan terhadap penyelenggara MSS (Mobile Satellite Service) yang akan memberikan layanan ke Indonesia. sehingga seluruh jumlah bandwidth GSM-900/1800 menjadi sama FDD 15 MHz. KM No. Indosat dan Excelcomindo) diberi tambahan alokasi frekuensi di GSM-1800 MHz.268/KEP/M. maupun di Indonesia. Ditjen Postel hendaknya berhati-hati dalam pemberian izin MSS terutama yang bekerja di pita frekuensi 1980 – 2010 MHz. 34 . dengan cara secepatnya mendaftarkan setiap BTS nya ke ITU untuk dinotifikasi. Untuk kasus ini perlu diidentifikasi sistem-sistem satelit MSS (Mobile Satellite Services) yang akan beroperasi di dunia.KOMINFO/9/2009 Tentang Penetapan Alokasi Tambahan Blok Pita Frekuensi Radio.3. Satelindo dan Excelkomindo di GSM900 MHz. dengan memperhatikan investasi dan kelangsungan operasional penyelenggara selular PT.

NTS dibeli oleh Maxis. atas dasar kompensasi terhadap terminasi dini hak eksklusifitas. ketiga operator utama GSM-900/1800 (Indosat. Pada tahun 2004. pemerintah memberikan lisensi GSM-1800 terhadap Indosat dan Telkom. Seleksi tersebut akhirnya dimenangkan oleh PT. Pada saat pendaftaran terdapat 7 penyelenggara yang mengikuti yaitu Telkom. Objek seleksi adalah 1 atau 2 blok FDD 5 MHz IMT-2000 core band dengan wilayah cakupan nasional. diikuti hampir seluruh operator selular dan FWA. Sehingga total alokasi GSM-900/1800 antara Indosat dan Telkomsel menjadi sama yaitu 2 x 30 MHz FDD. yang merupakan sejarah pertama kali dilakukan di Indonesia. Pada pertengahan tahun 2005. Telkomsel. Pemerintah melakukan tender (beauty contest) untuk penyelenggara GSM-1800 sebesar 2 x 15 MHz FDD dan UMTS (IMT-2000 core band) sebesar 2 x 10 MHz FDD dan 5 MHz TDD secara nasional. Indosat mengembangkan sendiri layanan IM3. Sehingga diputuskan untuk dilakukan migrasi penyelenggaaan PCS-1900 ke luar pita coreband IMT-2000 (UMTS). Telkomsel) meminta izin kepada Pemerintah terhadap akses frekuensi kepada UMTS yang merupakan layanan masa depan untuk sistem GSM. Excelcomindo. Indosat membeli Satelindo termasuk layanan selularnya. Excelcomindo. Sampoerna Telekomunikasi Indonesia / STI (setelah mengakuisisi Mobisel) dan Kelompok Mobile-8. Bakrie Telecom. Pada bulan Juli 2005. Kemudian STI dan Mobile-8 mundur. Telkomsel. CAC dibeli oleh Hutchison dan menjadi HCPC (Huchisson CPC). pemenangnya adalah CAC (Cyber Access Communications) Pada tahun 2004. PT. Sekitar tahun 2002-2003. dan seleksi diikuti oleh lima penyelenggara lainnya. Pada tahun 2005. Permasalahannya adalah bahwa pita frekuensi tambahan untuk UMTS/IMT-2000 memiliki potensi interferensi dengan sistem PCS-1900. Seleksi dilakukan melalui metoda lelang sampul tertutup dua putaran (2nd round sealed bid auction). Pada bulan Februari 2006 dilakukan lelang pita UMTS 5 MHz FDD. Pemerintah memberi lisensi UMTS (IMT-2000 core band) sebesar 2 x 10 MHz FDD dan 5 MHz TDD secara nasional kepada NTS.9 dan 2. Telkom kemudian mengalihkannya kepada Telkomsel. Indosat. sehingga diperlukan guard band maupun pita frekuensi yang terbuang percuma. Excelcomindo Pratama dan 35 .1 GHz untuk menghindari interferensi antara sistem PCS-1900 dan IMT-2000 (UMTS) serta inefisiensi penggunaan frekuensi.Sekitar tahun 2002. Pemerintah memutuskan untuk melakukan penataan ulang pita frekuensi selular di pita 1.

Telkomsel. Indosat (890 – 900 dan 935 . NTS dan HCPC mengembalikan lagi pita alokasi 5 MHz FDD dan 5 MHz TDD untuk mengurangi beban biaya BHP frekuensi yang disamakan dengan hasil lelang.960 MHz) Penyelenggara jaringan bergerak selular GSM-1800 MHz nasional a. Excelkomindo Pratama (907. maka akan dialokasikan tambahan 5 MHz FDD tanpa seleksi lagi.1 GHz (IMT-2000) Penyelenggara jaringan bergerak selular GSM-2100 nasional 1) Hutchison CPT (1920 – 1925 dan 2110 . Indosat (1717. Setelah seleksi IMT-2000 tersebut di atas yang dilaksanakan pada bulan Februari 2006. Hutchison CPT (1775-1785 dan 1870 – 1880 MHz) Pita 2. sesuai dengan ketentuan.5 – 915 dan 952.5 MHz).1 GHz di Indonesia.5 dan 1812. Harga blok terendah tersebut dijadikan referensi bagi pengenaan BHP up-front fee dan BHP Pita tahunan. (1750 – 1765 dan 1845 . Indosat.2 PENYELENGGARA SELULAR GSM/UMTS Berikut ini adalah penjelasan rinci mengenai penyelenggara jaringan bergerak selular GSM-900/1800 MHz dan UMTS 2. NTS.945 MHz) b. 160 Milyar. Kepada seluruh penyelenggara selular IMT-2000 yaitu HCPC.5 dan 945 – 952.PT.5 MHz) c.5–1722.1860 MHz) c. 2. dengan harga blok terendah Rp.5 MHz) b.5 dan 1805 – 1812. dengan mendapatkan penundaan pembayaran BHP up front-fee s/d awal tahun 2008.2135 MHz) 36 (2) (3) . Excelcomindo. dengan metoda pembayaran BHP pita tahunan sesuai dengan standar.5 – 1730 dan 1817. (1) Penyelenggara jaringan bergerak selular GSM-900 MHz nasional a. Natrindo Telepon Seluler (1730 – 1745 dan 1825 – 1840 MHz) e.5 .5 – 1825 MHz).2115 MHz) 2) Natrindo TS (1930 – 1935 dan 2120 – 2125 MHz) 3) Telkomsel (1940 – 1945 dan 2130 . Indosat masing-masing 1 blok FDD 5 MHz.5 – 1817. Telkomsel (900 – 907. (1745 – 1750 dan 1840 – 1845 MHz) d. Telkomsel (1722. Excelkomindo Pratama (1710 – 1717.3. apabila migrasi PCS-1900 ke pita selular 800 MHz selesai dilaksanakan. Kepada peyelenggara selular yang telah mendapatkan izin alokasi frekuensi selular UMTS di core-band IMT-2000 sebelumnya (NTS dan HCPC) dikenakan perlakuan yang sama yaitu membayar BHP up front-fee dan BHP pita tahunan.

postel. Selain itu terdapat beberapa jaringan akses lain yang pernah diberikan antara lain ”long range cordless” di pita 380 MHz dengan pasangannya di pita 250 MHz-an. Besaran Tarif Dan Skema Pembayaran Biaya Hak Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio Bagi Penyelenggara Jaringan Bergerak Seluler IMT-2000 Pada Pita Frekuensi Radio 2.2 PERENCANAAN DAN KEBIJAKAN PENGGUNAAN FREKUENSI Seluruh ISR untuk sistem tersebut WLL DECT dan PHS tersebut di atas tidak akan diperpanjang izinnya lagi.1 MHz. Draft white paper tersebut dapat di unduh pada website Ditjen Postel.4.1 MHz berpasangan dengan 357.1 – 359.go. 2.4) 5) Excelcomindo (1945-1950 dan 2140 – 2145 MHz) Indosat (1950-1955 dan 2145-2150 MHz) Perkembangan terakhir dan permasalahan yang perlu diselesaikan antara lain meliputi sebagai berikut:  Melalui Kepmen Kominfo Nomor: 268/KEP/M. Pita frekuensi 350 MHz tersebut juga saat ini diperuntukkan untuk alternatif wartel jaringan akses radio sebanyak 2 MHz FDD di pita frekuensi 343. Rencana penyesuaian BHP Frekuensi tahunan berbasis ISR menjadi BHP berbasis pita. Sosialisasi konversi BHP ISR menjadi BHP Pita bagi penyelenggara selular telah dilakukan dengan Ditjen Postel menerbitkan white paper penerapan biaya hak penggunaan berdasarkan lebar pita (BHP PITA) pada penyelenggara telekomunikasi seluler dan fixed wireless access (FWA) pada bulan Oktober 2009.1 – 345.1 GHz. tambahan pita 3G sebesar 5 MHz telah diberikan kepada Telkomsel dan Indosat setelah dilakukan penawaran penambahan Pita 3G kepada kelima penyelenggara eksisiting.4. karena Pemerintah telah 37 .id pada bagian regulasi Frekuensi  2.4 JARINGAN AKSES LAINNYA 2. Ditjen Postel telah memberikan izin WLL kepada Telkom untuk sejumlah teknologi antara lain:     WLL DECT dengan alokasi frekuensi 1880-1900 MHz WLL PHS dengan alokasi frekuens 1895 – 1910 MHz STLR di pita frekuensi 450 MHz-an dan 350 MHz-an. www.KOMINFO/9/2009 tentang Penetapan Alokasi Tambahan Blok Pita Frekuensi Radio.1 LATAR BELAKANG Sebelum tahun 2000.

mengalokasikan frekuensi 1903.75-1910 MHz dan 1983.75-1990 MHz telah diberikan lisensi untuk penyelenggara selular Primasel.-WIN (Sinar Mas Telecom) dan Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (450457.5 dan 460-467.5 MHz) Untuk Wartel Akses Radio hanya diberi alokasi frekuensi sebagai berikut (Ref: PM.5/2006 tentang Penyelenggaraan Wartel):   343,1 – 345,1 MHz berpasangan dengan 357,1 – 359,1 MHz atau; 259 – 260 MHz berpasangan dengan 389 – 390 MHz.

Pita frekuensi 1880 – 1900 MHz, 1910 – 1920 MHz, dan 2010-2025 MHz, akan menjadi dapat digunakan untuk sistem TDD IMT-2000 di masa yang akan datang, setelah proses migrasi frekuensi PCS-1900 telah selesai dilakukan. Untuk sistem Fixed Services dan Land Mobile yang masih berada di pita frekuensi selular CDMA 450 dan sistem microwave link yang masih berada di pita frekuensi selular CDMA 800 dan 1900 MHz serta GSM/UMTS 900/1800/2.1 GHz, maka akan diarahkan sebagai berikut: Untuk penggunaan microwave link point-to-point pada pita frekuensi yang dialokasikan untuk penyelenggara selular terutama di pita 1800 MHz dan 2.1 GHz, maka Ditjen Postel tidak akan memperpanjang izin lagi paling lambat tahun 2008. Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, Ditjen Postel telah mengirimkan surat pemberitahuan rencana penghentiann izin selambat-lambatnya 2 tahun sebelum diberlakukan penghentian izin. 3. REGULASI TEKNIS SISTEM SELULAR

Terdapat sejumlah regulasi teknis standar dan spesifikasi perangkat pemancar sistem telekomunikasi bergerak selular yang telah ditetapkan oleh Ditjen Postel, antara lain sebagai berikut:  KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 23/DIRJEN/2004 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT JARINGAN GLOBAL SYSTEM FOR MOBILE (GSM) 900 MHz/DIGITAL COMMUNICATION SYSTEM (DCS) 1800 MHz KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 181/DIRJEN/1998 TENTANG PENETAPAN PERSYARATAN TEKNIS ALAT/PERANGKAT TELEKOMUNIKASI UNTUK PESAWAT TELEPON SELULER GSM KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 47/DIRJEN/1998 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS SISTEM

38

 

TELEKOMUNIKASI BERGERAK SELULAR BERBASIS CODE DEVISION MULTIPLE ACCESS (CDMA) KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 60/DIRJEN/1999 TENTANG PENETAPAN PERSYARATAN TEKNIS ALAT/ PERANGKAT TELEKOMUNIKASI UNTUK PERANGKAT JARLOKAR CDMA IS-95 PERATURAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 264/DIRJEN/2005 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT CUSTOMER PREMISES EQUIPMENT (CPE) UNIVERSAL MOBILE TELECOMMUNICATION SYSTEM – TIME DIVISION DUPLEXING (UMTS – TDD) PERATURAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 267/DIRJEN/2005 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT JARINGAN RADIO (RADIO NETWORK) BERBASIS UNIVERSAL MOBILE TELECOMMUNICATION SYSTEM – TIME DIVISION DUPLEXING (UMTS – TDD)

Semua ketentuan teknis tersebut dapat di ‘download” di website Ditjen Postel dengan URL : http://www.postel.go.id. 4. KEBIJAKAN PERIZINAN PENYELENGGARAN TELEKOMUNIKASI SELULAR

Sebelum tahun 2005, seluruh perizinan pemancar penyelenggaran telekomunikasi selular, menggunakan Izin Stasiun Radio (ISR) yang dikenakan per BTS per kanal. Hal ini seringkali menyulitkan verifikasi di lapangan, karena perubahan pengembangan BTS yang bisa dalam hitungan hari, atau perubahan kanal sangat dinamis berdasarkan trafik, sedangkan perhitungan BHP Frekuensi ISR dikenakan per tahun. Sesudah diberlakukannya Peraturan Menteri No.17 tahun 2005 mengenai Tata Cara Perizinan dan Ketentuan Operasional Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio, maka terdapat alternatif perizinan yaitu Izin Pita Frekuensi Radio dan Izin Kelas. Izin Pita Frekuensi Radio diberlakukan bagi penyelenggara yang mendapatkan alokasi pita frekuensi eksklusif di suatu wilayah layanan yang ditentukan dalam izin. Pemberian izin pita frekuensi radio dilakukan berdasarkan metoda seleksi. Sedangkan BHP Frekuensi Pita Frekuensi Radio akan ditentukan berdasarkan hasil seleksi (lelang). Bagi penyelenggara selular yang mendapatkan alokasi izin frekuensi sebelum tahun 2005, maka masih diberlakukan ISR dengan BHP Frekuensi Radio sesuai ketentuan yang berlaku (PM.19/2005) maksimal sampai dengan tahun 2010. Pada tahun 2010 diharapkan semua penyelenggara akses wireless eksklusif seperti sistem selular ini dikenakan BHP pita frekuensi radio. Konversi BHP ISR menjadi BHP Pita frekuensi radio sedang dikaji Ditjen Postel dan akan diberlakukan secara bertahap. Sosialisasi konversi BHP ISR menjadi BHP Pita bagi penyelenggara selular telah dilakukan dengan Ditjen Postel menerbitkan white paper penerapan biaya hak penggunaan berdasarkan lebar pita (BHP PITA) pada penyelenggara telekomunikasi seluler dan fixed wireless access
39

(FWA) pada bulan Oktober 2009. Draf white paper tersebut dapat di unduh pada website Ditjen Postel, www.postel.go.id pada bagian regulasi Frekuensi. Dalam hal di kemudian hari diidentifikasi terdapat suatu pita frekuensi yang dapat diberikan kepada penyelenggara jaringan bergerak selular, seperti halnya Mobile Broadband Wireless Access dan/atau IMT-Advanced, maka sesuai ketentuan yang berlaku hak penggunaan izin pita frekuensi secara eksklusif pada wilayah cakupan tertentu akan didistribusikan melalui mekanisme seleksi. Untuk terminal / handset dari sistem penyelenggara telekomunikasi selular akan dikenakan izin kelas. Selain itu direncanakan untuk jaringan akses dalam gedung (indoor) diberlakukan izin kelas. Pada saat tulisan ini dibuat, Rancangan Peraturan Direktur Jenderal mengenai Izin Kelas ini telah dilakukan konsultasi publik pada pertengahan tahun 2009, dan tahap ini sedang dalam tahap penyelesaian untuk ditetapkan.
 

40

BAB - 4 KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM UNTUK PENYIARAN
1. PENDAHULUAN

Penggunaan spektrum frekuensi radio untuk keperluan penyiaran mengacu pada definisi Broadcasting Services di Peraturan Radio (Radio Regulation) ITU. Broadcasting services menurut ITU-R, didefinisikan sebagai “a radiocommunication service in which the transmissions are intended for direct reception by the general public. This service may include sound transmissions, television transmissions or other type of transmissions”. Definisi itu bila diterjemahkan menjadi: suatu servis komunikasi radio di mana transmisinya ditujukan untuk penerimaan langsung oleh masyarakat umum. Servis ini dapat mencakup transmisi suara, transmisi televisi atau jenis transmisi lainnya. Penyiaran adalah servis komunikasi satu arah dan memiliki sejarah panjang terhadap penggunaan spektrum frekuensi radio. Penyiaran digunakan untuk penyebaran program kebudayaan dan pendidikan, hiburan, informasi serta berita melalui gelombang udara. Penyiaran dalam banyak aspek mempengaruhi kehidupan masyarakat. Secara singkat, sistem penyiaran yang saat ini diadopsi dikelompokkan berdasarkan jenis pita frekuensi terdiri dari : 1. Penyiaran Terrestrial Nirkabel a. Pita Frekuensi LF/MF/HF 1) Siaran radio AM, Analog b. Pita Frekuensi VHF 1) VHF Band II : Siaran radio FM, Analog 2) VHF Band III : Siaran TV VHF, Analog c. Pita Frekuensi UHF 1) UHF Band IV dan V: Siaran TV UHF, Analog Penyiaran Terrestrial Kabel Penyiaran Satelit a. S-band b. C-band c. Ku-band 1.1 PENYIARAN RADIO Penyiaran radio di Indonesia diawali oleh berdirinya Radio Republik Indonesia (RRI) pada awal kemerdekaan pada tahun 1945. Pada saat itu radio berfungsi sebagai alat perjuangan untuk menyiarkan berita
41

Indonesia

2. 3.

Surabaya. lama-kelamaan siaran radio dengan sistem AM mulai ditinggalkan dan hampir semua siaran radio swasta sekarang ini beralih ke sistem FM. Persyaratan penggunaan jarak minimal antar kanal yang dapat dipakai oleh stasiun radio. Frekuensi penyiaran radio terestrial dialokasikan pada pita frekuensi MF. serta menggelorakan semangat perjuangan untuk mengusir penjajah dari wilayah Republik Indonesia. Peningkatan pertumbuhan ekonomi dan sosial masyarakat dan munculnya teknologi penyiaran FM stereo telah mempengaruhi keinginan untuk memperoleh informasi dan hiburan melalui radio dengan kualitas yang lebih baik.5-108 MHz mempunyai spasi antar kanal sebesar 100 kHz. Akibatnya. yang meliputi wilayah administrasi pemerintah ibu kota provinsi.kemerdekaan Indonesia ke seluruh wilayah Indonesia dan dunia. Siaran itu berlangsung sampai sekitar tahun 1975 ketika sistem pemancaran radio dengan teknologi FM yang mempunyai kualitas lebih baik dibandingkan dengan sistem AM mulai digunakan oleh beberapa radio swasta. yang belum tercantum dalam Keputusan Menteri Nomor 15 Tahun 2003. Master Plan itu memetakan kanal frekuensi radio FM pada wilayah layanan. Perencanaan frekuensi siaran radio AM di Indonesia mengacu pada ketentuan yang telah ditetapkan oleh ITU yang tertuang di dalam konvensi GE-75 Plan karena siaran radio AM pemancarannya dapat melintasi batas wilayah negara dan memerlukan koordinasi dengan negara lain. Semarang. 42 . Pada masa itu siaran radio masih menggunakan sistem pemancaran dengan teknologi AM yang bekerja pada pita frekuensi HF. Sampai dengan tahun 1965 penyiaran di Indonesia masih tetap dilaksanakan oleh RRI. setiap perencanaan kanal frekuensi siaran radio AM dan penggunaannya harus mengikuti prosedur yang telah ditetapkan secara internasional tersebut. Oleh karena itu. dalam satu area pelayanan (yang umumnya sekota atau sekabupaten) adalah 800 kHz. baik berupa pemekaran wilayah kabupaten maupun pemekaran wilayah kecamatan. ibukota kabupaten dan kecamatan. kecuali pada kota-kota besar seperti Jakarta. Penggunaan frekuensi siaran radio FM eksisting pada saat ini bekerja pada pita frekuensi 87. Perencanaan frekuensi siaran radio FM di Indonesia yang tertuang dalam Master Plan Frekuensi Radio ditetapkan dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 15 Tahun 2003. kota. HF. Alokasi pita frekuensi HF hanya diperuntukkan bagi penyelenggaraan penyiaran radio publik. sebagai satu-satunya penyelenggara siaran radio milik pemerintah. Pada saat ini pemerintah juga telah mengantisipasi pemekaran wilayah administrasi pemerintah. Bandung. dan VHF. dan Medan yang hanya memiliki jarak 400 kHz.

Perencanaan frekuensi penyiaran televisi digital terestrial dialokasikan pada pita frekuensi UHF Band IV dan sebagian UHF Band V. Pada saat itu frekuensi UHF untuk siaran TV di setiap lokasi direncanakan sebanyak 7 kanal untuk program nasional untuk mengakomodasi kebutuhan TV swasta dan TVRI. Dalam rangka persiapan menghadapi implementasi TV digital yang akan datang.2 PENYIARAN TELEVISI Penggunaan frekuensi siaran TV di Indonesia dimulai dengan penggunaan saluran VHF oleh TVRI pada tahun 1962. UHF Band IV dan UHF Band V. Pemerintah telah menyediakan kanal frekuensi untuk keperluan transisi TV digital. 43 . Proteksi rasio co-channel dan kanal bertetangga harus diperhatikan untuk menjaga agar tidak terjadi interferensi.1. 2 kanal frekuensi untuk transisi TV analog ke TV digital. Sejak saat itu sampai dengan tahun 1990-an TVRI adalah satu-satunya penyelenggara siaran TV di Indonesia yang dapat menjangkau sekitar 80% penduduk Indonesia. Asumsi perencanaan 7 kanal frekuensi di wilayah lain tetap digunakan. Rencana induk frekuensi untuk siaran TV analog UHF yang telah dituangkan ke dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 76 Tahun 2003 dan Peraturan Menteri Kominfo Nomor 14 tahun 2007. Pada tahun 1990 pemerintah memberikan izin penyelenggaraan siaran TV kepada lima penyelenggara TV swasta. Mayoritas pemancar TVRI menggunakan saluran VHF sehingga penggunaan kanal VHF menjadi padat. Pada tahun 1998 pemerintah kembali memberikan izin kepada lima penyelenggara TV swasta baru sehingga perencanaan frekuensi TV harus dimodifikasi secara berhati-hati untuk mengakomodasi 10 penyelenggara TV swasta dan TVRI di Jabotabek dan ibu kota provinsi. yaitu VHF Band I. Frekuensi siaran televisi dapat dibagi menjadi empat kelompok.d. Peraturan yang dikeluarkan tersebut berisi perencanaan frekuensi Siaran TV analog di seluruh ibu kota provinsi serta kota/kabupaten di Indonesia yang menampung kebutuhan TV analog dan menyiapkan 1 s. VHF Band III. baik pada sinyal TV analog maupun pada sinyal TV digital. Sistem televisi yang digunakan untuk VHF adalah CCIR PAL B dengan lebar band 7 MHz dan UHF menggunakan CCIR PAL G dengan lebar band 8 MHz. Alokasi frekuensi untuk siaran TV Band I dan TV Band III saat ini sebagian besar digunakan oleh TVRI. yaitu 2 kanal frekuensi untuk wilayah layanan yang mencakup ibu kota provinsi dan 1 kanal frekuensi untuk kota-kota lain.

6065 5.20 7.6 .65 – 12. maka penggunaan satelit untuk relay TV terrestrial maupun untuk penerimaan siaran TV melalui satelit (TVRO) merupakan hal yang cukup penting. Sejak diluncurkannya satelit Cakrawarta-1 tahun 1997. Penyiaran biasanya memiliki pemancar berdaya pancar tinggi dan cakupan yang relatif luas. Dengan memperhatikan luasnya wilayah Indonesia dan masih banyaknya wilayah yang tidak terjangkau layanan siaran TV terrestrial. 44 .108 174 . 2.3 9.9 11. TABEL 6.806 Bandwidth (kHz) 9 9 9 9 9 9 300 7000 8000 Siaran radio FM TV VHF TV UHF Pita frekuensi yang digunakan untuk keperluan penyiaran melalui satelit dapat dilihat pada tabel 7 berikut ini. regional (Asia-Pacific Broadcasting Union.5625 .9.7.6.1.230 470 . ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA Alokasi spektrum frekuensi radio dan perencanaan pita untuk penyiaran (broadcasting services) di Indonesia dilakukan pada tingkat internasional (ITU). Pita frekuensi radio yang digunakan untuk keperluan penyiaran terrestrial dapat dilihat pada tabel 6 berikut ini. ALOKASI FREKUENSI PENYIARAN TERRESTRIAL ANALOG Servis Siaran radio AM (MW) Siaran radio AM (SW) HF Broadcasting Band (MHz) 0. ABU) dan bilateral. Demikian pula servis televisi berlangganan via satelit yang ditawarkan oleh satelit Palapa-Telkom maupun Palapa-C1 yang sudah menggunakan standar TV digital DVB-S dengan teknik kompresi MPEG-2. Pada awalnya teknologi yang digunakan masih teknologi TV analog.8 87.1 .1 .5 . sebetulnya teknologi yang digunakan adalah TV digital via satelit (Digital Video Broadcasting).15.0 15.3 PENYIARAN SATELIT Penggunaan penerimaan TV melalui satelit berkembang sejak diluncurkannya sistem komunikasi satelit domestik (SKSD) Palapa di pertengahan tahun 1970-an.1.95 . Oleh karena itu penggunaan spektrum memerlukan perencanaan pemetaan distribusi kanal frekuensi radio (master plan) serta koordinasi erat dengan negara tetangga di daerah perbatasan.

Pemerintah memberi izin bagi 5 penyelenggara TV swasta nasional (RCTI. secara perlahan Pemerintah c.S Band TVRO ext-C Band (DVB) TVRO C-band (DVB) Direct Broadcasting Satellite BSS Plan App. Departemen Penerangan memberikan izin penyelenggaraan kepada penyelenggara TV Swasta. Asumsi yang digunakan TVRI saat itu adalah dibutuhkan satu sampai dengan dua saluran UHF untuk menyediakan layanan sejumlah programa nasional di seluruh wilayah Indonesia tersebut. melalui SK Menpen no. PENGKANALAN FREKUENSI PENYIARAN TERRESTRIAL 3. maka kebutuhan penetapan frekuensi bagi TVRI dan TV Swasta telah terakomodasi.q. 45 .12200 3. TVRI mulai berencana untuk beralih ke saluran UHF. Dimulai tahun 1990-an.TABEL 7. TV dan Film-Departemen Penerangan (Ditjen RTF-Deppen) bekerjasama dengan JICA (Japan Indonesia Cooperation Agency) membuat Master Plan Frekuensi TV UHF untuk 7 programa nasional (5 programa TV swasta nasional dan 2 programa TVRI).1 MASTER PLAN FREKUENSI SIARAN TV UHF ANALOG Sejarah penggunaan frekuensi Siaran TV di Indonesia dimulai dengan penggunaan saluran VHF oleh TVRI pada tahun 1962.30 Band (MHz) 1467 2520 3440 3700 1492 2670 3640 4200 Bandwidth (kHz) N/A 24000 36000 36000 27000 11700 . ANTV). Dengan Master Plan Frekuensi TV UHF yang dibuat saat itu. Terdapat sekitar 400 pemancar TVRI di seluruh wilayah Indonesia yang menggunakan frekuensi VHF Sehingga penggunaan kanal VHF relatif cukup padat di Indonesia.L Band DVB Satellite . Sejak tahun 1987.TPI. 04A/KEP/MENPEN/1993. SCTV. Pada saat itu Direktorat Jenderal Radio.1. Sejak saat itu sampai sekitar tahun 1990-an. Artinya untuk setiap lokasi di wilayah Indonesia harus disediakan sejumlah 7 kanal frekuensi UHF untuk kelima penyelenggara TV swasta nasional dan 2 (dua) programa TVRI. Pada tahun 1993. ALOKASI FREKUENSI PENYIARAN SATELIT Servis DAB Satellite . INDOSIAR. TVRI menjadi sebagai satusatunya penyelenggara Siaran TV di Indonesia dengan jangkauan wilayah siaran hampir mencapai 80% wilayah Indonesia.1 LATAR BELAKANG DAN KONDISI SAAT INI 3.

q. Desakan beberapa Pemerintah Daerah untuk mengeluarkan izin frekuensi Siaran TV Lokal sesuai PP No. Master Plan frekuensi TV UHF harus dimodifikasi secara hati-hati.74 tahun 2003. Sedangkan standar untuk UHF adalah PAL-G. memperburuk permasalahan. Kecenderungan bertambahnya minat sejumlah penyelenggara Siaran TV lokal. Sedangkan asumsi 7 programa siaran UHF untuk wilayah lainnya tetap dianut. sampai saat ini masih digunakan TV analog. Di Indonesia. Pada tahun 1998. 46 . Bandwidth VHF (PAL-B) adalah 7 MHz. Saat itu sebenarnya secara teknis. dan METROTV) sesuai SK Menpen No. Sedangkan Tabel 9 menjelaskan mengenai tabel frekuensi TV UHF Band IV dan V untuk Standar PALG. memperumit masalah. Ditjen Postel telah menyelesaikan Master Plan Frekuensi TV untuk pita frekuensi UHF untuk hampir semua provinsi dan kota-kota besar di Indonesia yang telah dituangkan dalam Keputusan Menteri Perhubungan No. LATEVE. Tabel 8 berikut ini merupakan tabel frekuensi TV VHF band I dan III band I dan III untuk standar PAL-B. sudah tidak mungkin lagi untuk menampung sejumlah banyak penyelenggara TV nasional.Dalam perkembangan selanjutnya. Pemerintah c. memerlukan penyempurnaan kembali master plan frekuensi TV. sedangkan Bandwidth UHF (PAL-G) adalah 8 MHz. terdapat desakan kuat permintaan izin sejumlah peminat penyelenggara TV baru di sekitar tahun 1997/1998. Departemen Penerangan memberikan ijin kepada 5 penyelenggara TV swasta nasional baru dengan wilayah layanan nasional terbatas. DVN.25 tahun 2000. Akibatnya. Perkembangan otonomi daerah. serta antisipasi perkembangan sistem TV digital. yaitu (TRANS. bahwa secara teknis. 384/SK/MENPEN/1998. GLOBAL-TV. untuk mengakomodasi sebanyak 10 penyelenggara TV swasta dan 2 frekuensi UHF untuk TVRI di Jabotabek dan ibu kota propinsi. Standar TV analog yang digunakan untuk VHF adalah PAL-B.

209 209 .25 527.25 FREQ SOUND (MHz) 476.188 188 .502 502 .75 Sebagai catatan bahwa di beberapa lokasi. 22 s/d Ch.216 216 .566 566 .230 FREQ VISION (MHz) 48.195 195 .558 558 . RANGE (MHz) 47 54 54 61 61 68 174 .75 60.25 196.75 222.25 543.75 556.5 182.75 67.25 511.25 583.223 223 .25 FREQ SOUND (MHz) 53.25 559. untuk menyelaraskan dengan sistem digital CDMA-450.518 518 .75 548.494 494 .202 202 .542 542 .48 MHz dan 489 – 493.75 208.25 503. Tabel berikut ini merupakan tabel frekuensi TV UHF band V untuk standar PAL-G.75 532.550 550 .75 194.75 588.25 487. pita frekuensi 479 – 488.534 534 .25 224.75 524.75 500.574 574 582 582 590 590 .181 181 .75 508. Saat ini operator tersebut sedang dalam proses migrasi frekuensi secara bertahap ke frekuensi 450 MHz-an.75 215.25 535.75 540.25 203. 24 tidak bisa digunakan.25 495.25 210.25 551. RENCANA PENGKANALAN TV UHF BAND V STANDAR PAL-G BAND UHF IV CHANNEL 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 FREQ.75 229.75 III TABEL 9.25 575. RANGE (MHz) 470 478 478 .75 687 187.25 55.510 510 .486 486 .75 492.526 526 .598 FREQ VISION (MHz) 471.25 591.75 580. 47 .25 681.25 479.75 484.25 519.TABEL 8.25 217.75 572.75 516.25 62.25 567.48 MHz masih digunakan operator selular MOBISEL yang menggunakan sistem selular analog NMT-470.75 596.25 189.75 201. RENCANA PENGKANALAN TV VHF BAND I DAN III STANDAR PAL B BAND VHF I CHANNEL 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 FREQ.75 564. Jadi artinya di beberapa lokasi Ch.

25 727.678 678 .75 716.790 790 .638 638 .654 654 .25 743.694 694 . RANGE (MHz) 598 .75 676.25 663.25 719.75 708.75 644. Pengelompokan kanal frekuensi Siaran TV sangat penting.25 783.646 646 .25 655.25 759.25 FREQ SOUND (MHz) 604.75 Pengelompokan kanal (channel grouping) sering dilakukan dalam pengaturan frekuensi UHF yang memiliki lebih banyak kemungkinan kombinasi kanal dibandingkan frekuensi VHF.614 614 .25 751.25 711.75 788.75 652.25 647.75 732.75 724.75 628.25 623.25 607.25 679.710 710 .25 639.75 636. seluruh masyarakat mendapat keuntungan karena hanya perlu memasang 1 antena dengan arah tertentu untuk menerima seluruh program siaran TV.75 692.75 684.25 703.75 804.758 758 .75 796. Bagi para broadcaster pun akan menguntungkan dari pangsa pasar karena dapat menjangkau lebih banyak lagi pemirsa.726 726 .606 606 . Pada frekuensi VHF sendiri tidak dapat dilakukan channel grouping tersebut.750 750 .75 780.75 620.686 686 .782 782 .TABEL 10.622 622 .734 734 .662 662 .25 735. terutama bila akan diatur pemanfaatan tower dan sistem antenna bersama yang sangat menguntungkan bagi broadcaster maupun bagi masyarakat.630 630 .75 612.75 700.25 695.25 687.25 671.742 742 .702 702 .75 764.75 772.718 718 .75 660.25 631.25 615.25 799.25 775.25 767.75 756.25 791. RENCANA PENGKANALAN TV UHF BAND V STANDAR PAL-G BAND UHF V CHANNEL 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 FREQ.75 740.806 FREQ VISION (MHz) 599. Selain itu karena antena berada di satu lokasi untuk suatu wilayah layanan tertentu.766 766 .798 798 .75 668. Bagi para broadcaster.75 748.774 774 . 48 .670 670 . dapat menghemat dana untuk membangun tower dan sistem antenna masing-masing.

UHF 28 29 42 43 56 57 Ch. Tetapi pemancar berdaya 10 kW s/d 20 kW mungkin untuk digabung dalam satu sistem tower dan antenna. grouping selisih 5 kanal menimbulkan efek interferensi akibat local oscillator IF.1123.Menggabungkan dua pemancar berdaya tinggi yang berbeda frekuensinya relatif sulit dilakukan. UHF 24 25 38 39 52 53 Ch. Untuk kasus di Indonesia.1123 tersebut adalah 4 kanal. UHF 26 27 40 41 54 55 Ch. CHANNEL GROUPING TV UHF DI INDONESIA Channel Group A D B E C F Ch. UHF 30 31 44 45 58 59 Ch. UHF 32 33 46 47 60 61 Ch. TABEL 11. Sedangkan. dan diperlukan sistem antenna dan “combiner” serta “filter” khusus. Berdasarkan rekomendasi ITU-R BT. channel grouping tersebut tidak konsisten dilakukan di dalam wilayah layanan yang sama. Hal ini disebabkan wilayah layanan dan lokasi pemancar dari TVRI dan TV swasta seringkali berbeda. 49 . Maka selisih kanal minimum yang paling baik untuk channel grouping berdasarkan rekomendasi ITU-R BT. Grouping dengan selisih 3 kanal tersebut jarang dilakukan mengingat dapat terjadi kelipatan 9 (image channel interference). UHF 22 23 36 37 50 51 Ch. UHF 34 35 48 39 62 - Dalam implementasinya di Indonesia. Untuk kanal VHF maksimum 4 kanal genap atau ganjil di suatu wilayah layanan dengan mengabaikan daerah layanan yang bersebelahan. Tabel 11 menggambarkan Channel Grouping TV UHF yang diterapkan di Indonesia. Masalah yang sering ditanyakan oleh masyarakat adalah mengenai jumlah kanal maksimum di suatu wilayah layanan. Dengan mempertimbangkan jatah distribusi dan kemungkinan kombinasi kanal untuk daerah layanan yang bersebelahan maka maksimum di suatu wilayah layanan adalah 3 kanal. channel grouping dibuat pada saat perencanaan frekuensi untuk 7 program nasional di pita UHF (2 kanal TVRI dan 5 kanal TV swasta) pada awal tahun 1990-an. Penggabungan dua atau lebih pemancar dalam satu sistem antenna dapat dilakukan. dalam menentukan channel grouping tidak boleh kurang dari selisih 3 kanal. Dua kanal TVRI yaitu untuk Program Nasional dan Program Daerah.

Itu pun dengan asumsi tidak ada jatah untuk kanal frekuensi gap filler. Menyediakan sejumlah kanal frekuensi bagi daerah-daerah yang selama ini kurang mendapat kualitas sinyal yang baik (daerah blank spot) dengan daya pancar kecil (gap filler). Secara teoritis suatu lokasi wilayah layanan dapat diberikan maksimum 21 kanal genap atau ganjil. TABEL 12. Asumsi lokasi pemancar untuk kanal bebas (yang belum digunakan) dipasang di dekat lokasi pemancar eksisting. maka secara garis besar dapat dibagi 2 kelompok. 23 s/d Ch. yaitu kelompok genap dan kelompok ganjil. Sehingga maksimum di kota besar (ibu kota provinsi). Channel Grouping dijadikan referensi dengan memberikan fleksibilitas jika diperlukan. Resikonya bahwa wilayah layanan di sekitarnya tidak akan mendapat jatah satu kanal pun. Dalam pelaksanaan perencanaan frekuensi TV UHF. maksimum kanal tersedia adalah 21-7 = 14 kanal. Terdapat sekitar 21 kanal untuk kelompok genap dan 21 kanal untuk kelompok ganjil. paling tidak sudah dijatahkan 7 kanal di setiap wilayah layanan siaran untuk 7 program TV nasional (5 program TV swasta lama dan 2 program TVRI). Akan lebih baik bila dimungkinkan sharing tower dan sistem antenna. Permasalahannya adalah bahwa berdasarkan kondisi eksisting. Sepanjang memungkinkan. DISTRIBUSI KANAL TV UHF ANALOG DI INDONESIA WILAYAH LAYANAN Jabotabek dan Ibu Kota Propinsi Daerah lainnya Jumlah kanal TV swasta 10 5 Jumlah kanal TVRI 1 0 Jumlah kanal TV digital 2 1 Jumlah kanal TV lokal 1 1 50 . berusaha menyediakan sejumlah kanal untuk low power transmitter untuk gap filler ataupun TV komunitas     Asumsi distribusi kanal frekuensi UHF yang diterapkan di Indonesia dapat dijelaskan pada Tabel 12 berikut ini. Sehingga pendekatan ini tidak dilakukan. Planning berusaha mengidentifikasi kanal yang tersedia dengan memperhatikan kondisi eksisting.62). prinsip-prinsip yang diambil adalah sebagai berikut:   Berusaha sebisanya untuk tidak mengubah atau mengganti kondisi eksisting.Pada pita frekuensi UHF dari sekitar 42 kanal tersedia di pita UHF (Ch. Menyiapkan 1 s/d 2 kanal tersisa untuk TV digital.

1. Oleh karena itu sangat disarankan agar dalam penyediaan infrastruktur bagi lembaga penyiaran TV komunitas digunakan akses kabel ataupun satelit. Untuk menampung kebutuhan distribusi konten yang lebih banyak bagi penyedia program / konten. maka sangat dianjurkan untuk segera menerapkan teknologi penyiaran digital seperti DVB-T dan DAB di daerah perbatasan. yaitu: 51 . Johor dan Singapura. seperti Singapura dan Malaysia. jumlah kanal TV UHF yang tersedia akan tergantung dari hasil koordinasi frekuensi perbatasan dengan negara tetangga. distribusi kanal optimal di daerah perbatasan untuk Siaran radio FM dan TV pada pita frekuensi VHF dan UHF. Karena walaupun diberikan dengan daya pancar kecil dan wilayah jangkauan kecil. akan tetapi dari sisi teknis akan kehilangan potensi penggunaan frekuensi sebanyak 18 MHz dalam radius kurang lebih 400 kilometer persegi. saat ini telah ada kesepakatan tiga Negara mengenai “protection ratio” antar wilayah siaran di daerah perbatasan. 3. terutama antara Batam. Maka tugas lainnya yang harus segera diselesaikan adalah melakukan persiapan migrasi TV analog ke digital di daerah perbatasan.Untuk kanal frekuensi TV komunitas analog maupun gap filler memang dapat digunakan low power transmitter (10 Watt) dengan memperhatikan juga kondisi eksisting di dalam wilayah layanan daerah bersebelahan. Setelah menjalani sejumlah putaran perundingan. Singkawang. akan sangat memboroskan frekuensi yang sangat berharga di pita frekuensi UHF untuk keperluan lainnya seperti TV digital dan layanan masa depan lain. Dengan dibolehkannya Siaran radio Non Pemerintah / Radio Swasta untuk berdiri sejak tahun 1970 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 1970 tentang Siaran radio Non Pemerintah. seperti Batam dan daerah sekitarnya. Penyiaran melalui akses kabel dan akses satelit akan menjadi jauh lebih efisien dan memiliki jumlah program / konten lebih banyak dibandingkan menggunakan 1 kanal TV analog yang hanya bisa menyediakan 1 program saja. Untuk daerah perbatasan dengan negara lain seperti di Batam. dan sebagainya. Ditjen Postel telah melaksanakan koordinasi frekuensi perbatasan dengan Singapura dan Malaysia secara intensif sejak tahun 2002 lalu. Akan tetapi bilamana diterapkan. Nunukan. maka terdapat dua instansi pemerintah yang mengatur frekuensi Siaran radio.2 MASTER PLAN FREKUENSI SIARAN RADIO FM Sejarah penggunaan frekuensi Siaran radio FM di Indonesia dimulai sekitar akhir tahun 1960-an sampai dengan awal tahun 1970-an.

indeks modulasi. frequency reuse.8 sebanyak 22 kanal. Sedangkan pengaturan teknis untuk RRI tidak pernah dibuat. Dengan diberlakukannya UU No. seakan-akan frekuensi ini masih banyak tersedia. Dalam perencanaan frekuensi siaran radio. 2.KM. pendekatan yang diambil selama ini kurang optimal. Pada tahun 1982 diatur mengenai penggunaan FM Stereo dengan bandwidth 250 kHz dengan daya pancar maksimum 100 Watt berdasarkan Kep. Hal ini akan menimbulkan banyak kesulitan dalam perkembangan selanjutnya. Keputusan Menhub tahun 1982 itu pun menetapkan penggunaan spasi kanal 350 kHz dari 100. Menara dan antenna pemancar pun seringkali dipasang sendiri-sendiri di lokasi yang berlainan. Ditjen Postel-Dephub/Depparpostel. dst. mengatur Siaran radio Non Pemerintah. Padahal frekuensi yang digunakan adalah sama.22 Tahun 1999 dan PP No. Menhub No.102/MPPT/94. Menhub No.25/T/1971. Pada tahun 1971 berdasarkan S. alokasi frekuensi yang diperkenankan adalah 100 – 108 MHz.1. Pemberian izin frekuensi siaran radio non pemerintah dilakukan “first come first served”.2 – 107.25 Tahun 2000 mengenai kewenangan pemberian izin frekuensi Siaran radio Lokal dan Siaran TV Lokal oleh Pemerintah Daerah sangat 52 . pengkanalan yang baik. Koordinasi antara kedua institusi Ditjen Postel dan Ditjen RTFDeppen kurang optimal.307/Phb-82. sehingga tidak dapat diterima dengan baik di tiap lokasi dalam wilayah layanannya. Pos dan Telekomunikasi No.262/PT. Tidak ada suatu perencanaan matang yang memperhitungkan daerah cakupan. Akibatnya di beberapa kota besar frekuensi FM untuk Siaran radio sudah habis. Ditjen RTF-Deppen. penggunaan alokasi frekuensi diperluas menjadi 87 – 108 MHz. untuk memperluas jangkauan siarannya.KM. Selain itu para penyelenggara Siaran radio FM sering melebihi batas maksimum daya pancar 100 Watt yang ditetapkan sejak tahun 1982. mengatur frekuensi RRI frekuensi Pengaturan teknis untuk siaran radio yang dibuat Ditjen PostelDephub hanya ditujukan kepada Siaran radio Non Pemerintah. Hal ini untuk menampung semakin banyaknya permintaan Siaran radio FM. Saat itu teknologi yang masih ada adalah FM Mono dengan bandwidth 180 kHz dengan daya pancar maksimum 25 Watt.73/PT.K. Pada tahun 1994 berdasarkan Kepmen Pariwisata. Hal ini dengan sendirinya menurunkan kualitas penerimaan siaran Radio FM secara keseluruhan.

Ditjen Postel bekerjasama dengan expert ITU. Surabaya. Hal ini menimbulkan kesulitan dan dampak yang cukup besar. Pembenahan signifikan adalah perubahan spasi kanal yang dulunya menggunakan spasi 350 kHz. kebijakan yang diambil adalah sebagai berikut:    Berusaha sedapat mungkin tidak mengurangi pengguna eksisting Penetapan berdasarkan wilayah kota (seluruh kota. Ditemukan pula bahwa di kota-kota besar di pulau Jawa dan Sumatera. Jakarta. seluruh ibukota kabupaten. Bandung. bekerjasama dengan ITU Regional Office Area. Pengaturan frekuensi tidak dapat dibagi-bagi berdasar jumlah Pemerintah Daerah. Desakan RUU Penyiaran yang diprakarsai DPR untuk mengakomodasi radio komunitas. tekanan dari Pemerintah Daerah yang menuntut kewenangan pemberian izin frekuensi terhadap Siaran radio Lokal. Dalam pembuatan master plan siaran radio FM. mengingat rambatan gelombang radio tidak dapat dibatasi batas administratif. Master plan frekuensi FM ini memberikan perencanaan frekuensi FM berdasarkan standard dan rekomendasi ITU-R untuk mengatasi permasalahan FM di Indonesia. menyebabkan Ditjen Postel harus bekerja keras untuk melakukan revisi terhadap ketentuan teknis. serta keinginan untuk memperbaiki kualitas layanan siaran radio FM.menyulitkan penataan frekuensi secara optimal. seperti Jabotabek. Pada bulan Mei s/d Juni 2002. Yogyakarta dan Medan. beberapa kota kecamatan pada beberapa kabupaten) Kota-kota besar (ibukota propinsi) akan mendapatkan kanal frekuensi yang lebih banyak 53 . pemberian izin frekuensi Siaran radio FM sudah melebihi kapasitas. sehingga perlu untuk dikurangi.15 tahun 2003 yang akan direvisi kembali. Keputusan regulasi rencana dasar frekuensi siaran radio FM telah dituangkan dalam Keputusan Menteri Perhubungan No. serta Keputusan Dirjen Postel mengenai implementasi rincinya. Penggunaan spasi 350 kHz tersebut tidak sesuai dengan rekomendasi ITU-R dan menyulitkan masyarakat pendengar. Selain itu kualitas penerimaan akan sulit memenuhi standar rekomendasi ITU-R.05 MHz). sehingga dalam implementasinya memerlukan langkah transisi yang hati-hati. melakukan penelitian dan pembenahan kembali perencanaan frekuensi FM. karena tidak semua pesawat penerima memiliki kemampuan menagkap frekuensi sampai orde 50 kHz (0. Semarang.

54 . Kelipatan 100 kHz ± 75 kHz 2 kHz 60 dB di bawah level mean power 372 kHz Maksimum +/. tinggi efektif antenna dan radius cakupan.200 Hz Dari referensi yang didapat dari beberapa Negara. dan kondisi pengukuran lapangan.     Service area ditentukan berdasarkan wilayah pemerintahan kota / kabupaten Untuk wilayah kabupeten diutamakan pada ibukotanya Kecamatan pada suatu kabupaten yang telah memiliki eksisting juga dijadikan service area Kecamatan yang berada cukup jauh dari ibukota kabupaten juga dijadikan service area Luas service area hanya mencakup kota dimana stasiun pemancar berada dengan fieldstrength minimum sesuai rekomendasi ITU-R BS. TABEL 13. tinggi efektif antenna dan daya pancarnya. Secara garis besar pengaturan teknis dijelaskan pada tabel 13. diusulkan agar lebar pita “bandwidth” untuk Siaran radio FM dikurangi menjadi 300 MHz.   Pengelompokan kelas Siaran radio FM berdasarkan daya pancar / emitted radiated power (ERP) dan jarak layanan maksimum siaran radio dijelaskan pada Tabel 14 berikut ini. Untuk siaran radio komunitas selain diberikan kanal frekuensi yang tertentu. PENGATURAN TEKNIS SIARAN RADIO FM Pita frekuensi Spasi antar kanal Deviasi frekuensi maksimum pada modulasi 100% Toleransi frekuensi pemancar Level spurious emission Bandwidth untuk deviasi maksimum + 75 kHz dan 100% modulasi maksimum Stabilitas frekuensi tengah oscillator 87. juga dibatasi radius cakupan.5 – 108 MHz.412 (asumsi urban 66 dBV/m) Pengaturan siaran radio FM dilakukan berdasarkan pengelompokkan kelas-kelas berdasarkan daya pancar. sesuai dengan standar ITU-R yang berlaku yang juga diterapkan di negara-negara lainnya. Pengelompokkan disesuaikan pula dengan wilayah administratif pemerintahan untuk siaran radio komersial dan siaran radio publik.

Effective height above average terrain (EHAAT) adalah ketinggian efektif suatu antena pemancar yang dihitung dari rata-rata permukaan tanah yang berada diantara 3 s/d 15 km dari lokasi pemancar. Penomoran kanal. 55 . ibu kota provinsi Siaran radio swasta / publik di kota selain ibukota provinsi Siaran radio komunitas. sepanjang memungkinkan 15 kW – 63 kW 2 kW – 15 kW Maksimum 4 kW Maksimum 50 Watt Asumsi yang digunakan untuk menghitung jarak layanan maksimum bahwa kuat medan (level fieldstrength) pada daerah terluar dari wilayah layanan di atas dibatasi maksimum 66 dBµV/m Sebenarnya dalam pengaturan teknis siaran radio yang menyangkut pembatasan daya pancar juga akan sangat terkait dengan pembatasan tinggi efektif antena (EHAAT). PENGELOMPOKKAN KELAS BERDASARKAN EIRP DAN MAKSIMUM ERP Wilayah layanan maksimum 30 km dari pusat kota 20 km dari pusat kota 12 km dari pusat kota 2.412-9 sebagaimana tercantum dalam tabel 15 berikut ini. perencanaan kanal (channeling plan). pembatasan daya pancar (ERP) dan tinggi efektif antena (EHAAT) untuk kelas-kelas siaran radio FM tersebut dapat dilihat pada lampiran 2. Rasio proteksi (protection ratio) penyelenggaraan siaran radio FM yang digunakan harus sesuai dengan Rekomendasi ITU-R BS.TABEL 14.5 km dari lokasi pemancar SIARAN RADIO FM WILAYAH LAYANAN Kelas A B C D   Peruntukan Siaran radio swasta / publik di DKI Jakarta Siaran radio swasta / publik di DKI Jakarta.

ITU telah membuat suatu plan untuk seluruh dunia yang dinamakan GE 75 (Geneva 1975). Artinya jika ada stasiun radio negara lain mengganggu penerimaan stasiun radio 56 . maka kanal frekuensinya mendapatkan proteksi internasional. pada malam hari adalah propagasi ground wave dan skywave.1.K. 3. sebetulnya pada tahun 1975. yaitu:   pada siang hari adalah propagasi ground wave. Sehingga jika suatu stasiun radio menggunakan kanal frekuensi Plan GE75. Kota Bogor. Karena rambatan dan jangkauan siaran radio AM (MW) yang dapat menembus batas wilayah negara. Indonesia mendapatkan jatah sekitar 307 kanal untuk 50 kota (Daftar lengkap dapat dilihat di lampiran 3).3 PENGKANALAN FREKUENSI SIARAN RADIO AM PADA PITA FREKUENSI LF/MF Propagasi siaran radio AM pada pita frekuensi LF/MF terdiri dari dua macam. Pada dasarnya GE 75 menjatahkan (“allotment”) kanal frekuensi AM untuk sejumlah kota di setiap negara di dunia. PROTECTION RATIO SIARAN RADIO FM MONOPHONIC (dB) STEADY 36 12 6 -7 -15 -20 TROPOSPHERIC 28 12 6 -7 -15 -20 STEREOPHONIC (dB) STEADY 45 33 7 -7 -15 -20 TROPOSPHERIC 37 25 7 -7 -15 -20 SPASI FREKUENSI (kHz) 0 (co-channel) 100 200 300 350 400 Secara umum bahwa pemetaan kanal frekuensi dalam satu wilayah layanan harus dengan jarak antar kanal minimum 800 kHz. Kota Semarang. Kota Bandung. maka untuk masa transisi dapat diberikan jarak spasi antar kanal minimum 400 kHz.TABEL 15. Yang dominan pada malam hari adalah gelombang skywave yang dapat merambat sampai ribuan kilometer. Mengingat jumlah siaran radio eksisting dalam wilayah layanan D.I Jakarta. Kota Surabaya dan Kota Medan melebihi kapasitas maksimum.

Radio Swasta) yang sangat padat dan melebihi kapasitas dan hanya terkonsentrasi di beberapa daerah tertentu (Medan. dengan pengaruh propagasi gelombang skywave yang lebih dominan. Pelaksanaan koordinasi secara praktis dilakukan melalui tingkat regional. maka penggunaan frekuensi tersebut belum mendapatkan proteksi internasional. 3. Surabaya. Untuk mendapatkan proteksi internasional harus dilakukan proses koordinasi dengan negara lain dan pendaftaran frekuensi ke ITU. sehingga dapat merambat sampai ribuan km. Peraturan pengalokasian kanal AM telah ditetapkan dalam regulasi teknis dan master plan frekuensi siaran radio AM. Selama ini metoda pemberian izin frekuensi berdasarkan antrian (first come first served).yang terdapat pada plan. Saat ini Ditjen Postel telah membenahi sekitar 500-an Siaran radio AM eksisting. Bandung. ITU menetapkan prosedur koordinasi internasional pada Artikel 12 Radio Regulation. dan beberapa daerah). Setiap tahun setiap negara melakukan koordinasi regional untuk mengatur dan mendistribusikan penggunaan kanal HF Broadcasting (HFBC). serupa dengan AM (MW). 57 . Semarang. Karena rambatan dan jangkauan siaran radio AM (SW) yang dapat menembus batas wilayah negara. tetapi juga harus memperhatikan kondisi penggunaan frekuensi eksisting maupun yang direncanakan oleh Negara-negara lain yang berdekatan dengan Indonesia yang terdapat pada Master Register frekuensi ITU (sudah dinotifikasi ke ITU). maka stasiun negara lain tersebut harus segera mematikan operasinya. Bila suatu kanal frekuensi ditetapkan di luar Plan GE75. Perencanaan frekuensi untuk Siaran radio AM pada pita frekuensi LF/MF (MW) ini sebenarnya cukup rumit dan harus memperhatikan tidak hanya kondisi penggunaan frekuensi eksisting di Indonesia.1. Hal ini untuk mencegah kemungkinan terkena interferensi dari atau ke pemancar siaran radio AM negara lain akibat penetapan frekuensi di luar Plan GE75 tersebut. Jabotabek. Yogyakarta. seperti Asia Pacific Broadcasting Union (ABU) yang berpusat di Kuala Lumpur Malaysia. Kanal-kanal frekuensi radio AM tersebut sudah terdaftar di ITU dan digunakan oleh RRI. Kondisi eksisting pengguna Siaran radio (RRI.4 PENGKANALAN FREKUENSI SIARAN RADIO AM PADA PITA FREKUENSI HF (HF BROADCASTING) Propagasi siaran radio AM (SW) / HF Broadcasting terdiri dari dua macam.

3. Hal ini ditambah lagi dengan telah beroperasinya sejumlah Siaran TV analog dan radio siaran AM/FM yang tidak mengikuti master plan frekuensi semisal yang memiliki izin Pemda.2 PERENCANAAN FREKUENSI PENYIARAN DIGITAL 3. selama ini dilakukan oleh RRI sebagai salah satu anggota aktif ABU Dengan dikembangkannya teknologi penyiaran digital pada pita frekuensi HF ini. seperti dilakukan melalui konsorsium Digital Radio Mondiale (DRM). dan bisa meningkat lagi dengan kemajuan teknologi kompresi. salah satu solusi kekacauan frekuensi ini adalah secepatnya mengimplementasikan penyiaran digital di Indonesia. 3. yang telah mulai proses digitalisasi lebih cepat. atau bahkan tidak memiliki izin sama sekali. Menuntut Indonesia segera memulai proses migrasi analog ke digital secepatnya (terutama daerah Batam dan sekitarnya).25/2000 tentang kewenangan pemerintah pusat dan pemda memberikan kepastian hukum bagi industri dengan diberikannya kembali kewenangan pengelolaan spectrum frekuensi kepada instansi yang kompeten yaitu Ditjen Postel-Depkominfo. KPI/KPI-D dan Pemerintah Daerah (Dinas Perhubungan).2. Koordinasi frekuensi perbatasan dengan negara tetangga Singapura dan Malaysia. Ditjen Postel bekerjasama dengan Radio Republik Indonesia (RRI) melaksanakan pendaftaran tersebut. Dengan disahkannya PP No. rekomendasi KPI/KPI-D. 58 .1 LATAR BELAKANG Kekacauan pemberian izin frekuensi penyiaran akibat eforia otonomi daerah dan tumpang tindih kewenangan Pemerintah Pusat (Depkominfo). maka sebaiknya Indonesia juga ikut berperan dalam berkoordinasi dalam penggunaan pita frekuensi HF untuk Penyiaran ini di forum ITU.2 PRINSIP-PRINSIP DIGITAL PERENCANAAN FREKUENSI PENYIARAN Teknologi Digital memberikan peningkatan efisiensi berlipat-lipat (pada TV s/d 18 kali lipat) daripada penggunaaan frekuensi oleh TV/Siaran radio Analog. Karenanya.38/2007 sebagai pengganti PP.2. Sedangkan dalam proses koordinasi.Artikel 12 Radio Regulation-ITU mengharuskan setiap negara untuk melakukan pendaftaran frekuensi stasiun radio HFBC ke ITU secara berkala 2 kali setahun.

Pemanfaatan infrastruktur eksisting seperti tower. Hal ini hanya dapat diterapkan pada dunia penyiaran analog seperti Siaran radio AM/FM dan Siaran TV Analog. diharapkan bisa menurunkan harga pesawat penerima TV Digital dan juga set-top-box DVB-T b. 3.000.32 tahun 2002.Tim Nasional merekomendasikan pemisahan yang jelas dan tegas antara penyelenggara infrastruktur (penyelenggara multipleks) dengan lembaga penyiaran eksisting (konten). Receiver DAB diharapkan bisa mencapai harga Rp. Oleh karena itu dalam implementasi penyelenggaraan jaringan multipleks Siaran TV digital. Di Singapura dan Malaysia sudah mencapai harga US$ 30. Dengan potensi pasar Indonesia sangat besar. TV digital ini merupakan salah satu contoh nyata konvergensi ICT. Panasonic Gobel.000. 200. 200. dsb. 2. Akan tetapi ketentuan UU Penyiaran No. jaringan transmisi (fiber optic. dan program tambahan lain dengan kualitas lebih bagus dan kuantitas lebih banyak. dan menggunakan potensi industri manufaktur dalam negeri seperti Polytron. Tersedianya “killer content / killer application” yang meliputi layanan program TV siaran nasional. sebagai penyelenggara jaringan tetap tertutup. Idealnya memang perlu dilakukan revisi UU Penyiaran dan Telekomunikasi agar tidak terjadi kesulitan pemahaman regulasi di kemudian hari. 59 . sendiri sebenarnya melarang lembaga penyiaran radio swasta dan jasa penyiaran televisi masing-masing menyelenggarakan lebih dari 1 (satu) siaran dengan 1 (satu) saluran siaran pada 1 (satu) cakupan wilayah siaran.36 tahun 1999. Tersedianya “receiver” (pesawat penerima) murah a. lokal. satelit dan microwave link) sangat penting untuk cepatnya penerapan migrasi penyiaran analog ke digital. pendidikan. Sedangkan lembaga penyiaran akan menjadi penyelenggara konten. Set-Top-Box DVB-T diharapkan dapat mencapai sekitar US$20 = Rp. harus menggunakan UU Telekomunikasi No. Kunci suksesnya migrasi penyiaran analog ke digital antara lain ditentukan oleh faktor-faktor sebagai berikut: 1.

3. Digital Multimedia Broadcast (DMB). WiMax. AM IBOC Pita Frekuensi VHF Band II (87.230 MHz) o Penggunaan teknologi / standar saat ini : TV siaran VHF (analog).5 kHz) o Penggunaan teknologi / standar saat ini : Siaran radio AM (Analog) o Saat ini digunakan untuk kanal frekuensi Siaran radio AM Analog bagi Lembaga Penyiaran Publik (RRI) dan Lembaga Penyiaran Swasta o Potensi Teknologi / Standar Digital : Digital Radio Mondiale (DRM). o Saat ini sebagian besar digunakan untuk kanal frekuensi TV siaran VHF analog oleh lembaga penyiaran publik (TVRI) dan lembaga penyiaran swasta di beberapa tempat. DVB-H Digital Video Broadcasting – Handheld). karena Indonesia menggunakan standar PAL untuk TV Analog.5 – 1606. Hal ini telah ditetapkan oleh Depkominfo berdasarkan 60 . Lembaga Penyiaran Swasta dan Lembaga Penyiaran Komunitas o Potensi Teknologi / Standar Digital : FM RDS. dsb.5 – 108 MHz) o Penggunaan teknologi / standar saat ini : Siaran radio FM (Analog) o Saat ini digunakan untuk kanal frekuensi Siaran radio FM Analog bagi Lembaga Penyiaran Publik (RRI). maka lebih menguntungkan dipilih DVB-T sebagai standar TV Digital. faktor “sejarah”. o Potensi teknologi / standar digital : DVB-T (Digital Video Broadcasting-Terrestrial). DVB-H. Dalam kasus TV Digital. FM IBOC Pita Frekuensi VHF Band III (174 .    Dalam pemilihan standar penyiaran digital. o Potensi teknologi / standar digital : Digital Audio Broadcast (DAB). volume produksi massal. dsb. Media-Flo (Qualcomm). serta Negara-negara tetangga yang berdekatan menggunakan standar DVB-T. serta kondisi adopsi Negara-negara lain yang berdekatan menjadi sangat penting. Pita Frekuensi UHF Band IV/V (470 – 806 MHZ) o Penggunaan teknologi / standar saat ini : Siaran TV UHF (Analog) o Saat ini digunakan untuk kanal frekuensi Siaran TV UHF Analog oleh lembaga penyiaran publik (TVRI) dan lembaga penyiaran swasta di beberapa tempat.2. IMT-Advanced.3 PERENCANAAN FREKUENSI PENYIARAN DIGITAL Perencanaan frekuensi penyiaran dapat dijelaskan sebagai berikut:  Pita Frekuensi MF (526.

Permen No. Ringkasan perencanaan frekuensi penyiaran digital dapat dilihat pada tabel 16 berikut ini. Sehingga untuk standar-standar pada pita frekuensi lainnya sebaiknya dipilih standar yang kompatibel dengan DVB-T seperti DAB pada pita VHF dan DRM pada pita frekuensi LF/MF/HF. 61 . 7 Tahun 2007.

notebook. notebook. DVB-H. NO 1 KETERANGAN Free-to-air DAB Receiver audio digital tersendiri atau terintegrasi dengan tape mobil. RINGKASAN PERENCANAAN FREKUENSI PENYIARAN DIGITAL PITA FREKUENSI VHF Band III PITA FREKUENSI (MHz) 170 – 230 MHz POTENSI STANDAR TEKNOLOGI PENYIARAN DIGITAL DAB (Digital Audio Broadcasting). PC. dsb Potensi 80 s/d 100 program audio digital Multimedia Broadcasting DMB.TABEL 16. PC. jumlah program lebih banyak Free-to-air atau layanan berbayar. dsb TBD 62 . dsb DAB+ teknologi kompresi lebih baik. Receiver tersendiri atau terintegrasi dengan telepon genggam. dan DAB+ POTENSI JUMLAH PROGRAM / KONTEN DLM SATU WILAYAH LAYANAN 28 konten audio digital per 7 MHz Disiapkan 3 kanal RF 7 MHz per wilayah.

s/d Ch.  PITA FREKUENSI UHF (Pita Bawah. notebook. set-top-box (dekoder) atau terintegrasi dengan PC.62) 470 . notebook. Layanan berbayar Free-to-air atau layanan berbayar. Free-to-air atau layanan berbayar.806 POTENSI STANDAR TEKNOLOGI PENYIARAN DIGITAL DVB-T POTENSI JUMLAH PROGRAM / KONTEN DLM SATU WILAYAH LAYANAN 4-6 konten per 8 MHz RF Standar Digital TV dengan MPEG-2 NO 2 KETERANGAN Free-to-air Receiver TV digital tersendiri.1492 Terrestrial DMB Terrestrial DAB TBD TBD TBD TBD   63 . dsb UHF (Pita Atas.48) PITA FREKUENSI (MHz) 470 . PC. dsb Free-to-air atau layanan berbayar. Ch.806 DVB-T TBD Media-Flo Mobile Broadband 3 L-band 1452 .49 . Receiver tersendiri atau terintegrasi dengan telepon genggam.

2670 MHz POTENSI STANDAR TEKNOLOGI PENYIARAN DIGITAL Satellite DVB-S (Indovision) BWA (interactive) 5 Ext-C band 3500 .  NO 4 PITA FREKUENSI S-band PITA FREKUENSI (MHz) 2520 . notebook.3700 MHz Satellite DVB-S (Telkomvision) BWA (interactive) 6 7 Ku-band LF/MF 11/13 GHz 520 .30 MHz (HF Broadcast Band) Digital Radio Mondiale TBD (lebih efisien dari Analog) *TBD : to be determined (akan ditetapkan kemudian) 64 .1605 kHz Satellite DVB-S (Directvision) Digital Radio Mondiale POTENSI JUMLAH PROGRAM / KONTEN DLM SATU WILAYAH LAYANAN 5 transponder @ 24 MHz + 100 program SDTV MPEG-2 TBD 3 transponder @ 36 MHz + 100 program SDTV MPEG-2 TBD 2 transponder @ 72 MHz + 100 program SDTV MPEG-2 TBD (lebih efisien dari Analog) Set-top-box (dekoder) Layanan berbayar Receiver tersendiri atau terintegrasi dengan PC. dsb Receiver tersendiri atau terintegrasi dengan PC. notebook. dsb Set-top-box (dekoder) Layanan berbayar KETERANGAN Set-top-box (dekoder) Layanan berbayar 8 HF 3 .

Pemberian Izin Frekuensi Siaran radio FM diberikan tanpa kerangka aturan teknis yang jelas dan benar. Migrasi frekuensi siaran radio FM eksisting tersebut dilaksanakan dengan baik pada bulan Agustus 2004. Hal tersebut dilakukan dalam rangka penataan frekuensi Siaran radio FM se-Indonesia. terjadi perselisihan cukup panjang antara Departemen Kominfo dan KPI mengenai kewenangan perizinan penyiaran.1 KONDISI EKSISTING PERMASALAHAN PERMASALAHAN DAN SIARAN ALTERNATIF RADIO FM PEMECAHAN DAN SOLUSI Sebelum Tahun 2002. Sejak tahun 2002. Ditjen Postel tidak mengeluarkan izin baru untuk siaran radio FM. di mana sejumlah Pemerintah Daerah memberikan izin siaran radio dan Siaran TV lokal berdasarkan 65 . Selain itu dengan berlakunya UU No. Ditjen Postel mendapat bantuan expert ITU untuk pembuatan master plan frekuensi siaran TV dan siaran radio FM. Pengkanalan frekuensi masih dilakukan tidak sesuai dengan standar ITU yaitu 350 kHz.32 tahun 2002 tentang Penyiaran. Hal tersebut diperparah dengan tuntutan dan eforia otonomi daerah.15A/2004 tentang Peralihan Kanal Frekuensi Siaran radio FM. mengharuskan Ditjen Postel untuk bersama-sama dengan instansi terkait seperti Komisi Penyiaran Indonesia sebelum memberikan izin. diatur dalam Keputusan Dirjen Postel No.3.15 tahun 2003 tentang Rencana Induk (Master Plan) frekuensi radio penyelenggaraan telekomunikasi khusus untuk keperluan siaran radio FM. sehingga menghambat proses perizinan dan tidak memberikan kepastian hukum.3.3 KONDISI EKSISTING PERMASALAHAN 3. Akibatnya. Serta distribusi izin diberikan berdasarkan “first come first served” tanpa perencanaan dan kebijakan perizinan yang jelas. distribusi kanal siaran radio FM tidak optimal. menumpuk di kota-kota besar saja. Dalam waktu satu tahun. regulasi teknis telah selesai disusun yaitu Kepmenhub No. Pada peraturan tersebut telah ditentukan rincian distribusi kanal frekuensi siaran radio FM yang disusun dengan mengakomodasi jumlah dan distribusi siaran radio FM eksisting dan kondisi geografis / profil lokasi wilayah siaran di seluruh Indonesia. Akan tetapi selama hampir 5 tahun dari 2002 sampai dengan awal tahun 2007. Untuk keperluan migrasi frekuensi saat itu dari pengkanalan lama yang berbasis 350 kHz ke pengkanalan baru. Pada tahun 2002.

sehingga menimbulkan multi tafsir. Penentuan distribusi kanal siaran radio FM di daerah perbatasan. Akibatnya. 66 . 2.ketentuan salah satu ketentuan dalam PP No. serta banyaknya izin siaran radio FM analog dikeluarkan oleh pemerintah daerah tanpa dikoordinasikan dengan Ditjen Postel. Dengan semakin baiknya koordinasi antara Depkominfo dan KPI sejak awal tahun ini (2009). dengan sebisa mungkin tidak mengubah distribusi kanal pada wilayah-wilayah siaran yang telah ditentukan dalam KM. Revisi tersebut bukan dimaksudkan untuk menggantikan distribusi siaran radio FM secara ekstrim. Penambahan wilayah layanan baru yang belum tercakup dalam KM. Bandung. 3. Distribusi kanal siaran radio FM ini didapat dari sejumlah hasil koordinasi frekuensi perbatasan antara Ditjen Postel-Indonesia dengan MCMC-Malaysia. Pada KM. seperti Batam. Tanjung Pinang yang berbatasan dengan Singapura dan Malaysia serta beberapa wilayah di provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur yang berbatasan dengan Malaysia. Bahkan beberapa kanal frekuensi ditetapkan tanpa mengikuti ketentuan Master Plan frekuensi. SOLUSI PERMASALAHAN Saat ini Ditjen Postel sedang melakukan penyusunan revisi rencana dasar teknis frekuensi siaran radio FM (KM. maka dalam waktu tidak terlalu lama akan diadakan sejumlah Forum Rapat Bersama di berbagai daerah. 4. Di antara penyempurnaan ketentuan yang direncanakan antara lain: 1. sehingga perlu kajian teknis dan alternatif pemecahan sebelum pertemuan.15/2003.15/2003. mengalami gangguan di beberapa lokasi.15/2003). ketidakpastian hukum. IDASingapura yang dimulai tahun 2002 dan dilakukan pertemuan secara berkala.25 tahun 2000 yang membolehkan Pemda memberikan izin frekuensi siaran radio dan Siaran TV lokal. Penyempurnaan ketentuan teknis radio komunitas yang lebih ketat dan rinci. terjadi kekacauan tumpang tindih kewenangan. akan tetapi revisi tersebut bersifat melengkapi dan menyempurnakan. Penentuan batas wilayah cakupan siaran (“service area”) yang lebih rinci dan tegas melalui pemetaan (mapping) wilayah cakupan siaran.15/2003 batas wilayah cakupan siaran hanya ditetapkan pada jarak dari pusat kota. menyebabkan kualitas penerimaan siaran radio FM di beberapa lokasi seperti Jakarta.

Selain itu juga harus memperhatikan prosedur notifikasi dan koordinasi yang ditetapkan dalam perjanjian regional Geneva 1975 (GE-75) yang mengatur penggunaan frekuensi siaran radio LF/MF di Region 1 dan 3. Akibatnya. distribusi kanal siaran radio AM tidak optimal. menumpuk di kotakota besar saja. sebelum tahun 2002 izin siaran radio AM diberikan berdasarkan “first come first served” tanpa perencanaan dan kebijakan perizinan yang jelas.2 KONDISI EKSISTING PERMASALAHAN PERMASALAHAN Seperti halnya siaran radio FM. tetapi juga harus memperhatikan kondisi penggunaan frekuensi eksisting maupun yang direncanakan oleh negara-negara lain yang berdekatan dengan Indonesia yang terdapat pada Master Register frekuensi ITU (sudah dinotifikasi ke ITU). ternyata di lapangan telah diduduki oleh penyelenggara siaran Analog Analisa dan Evaluasi (bila perlu diulang (iterasi) lagi untuk mendapatkan hasil paling optimal) SIARAN RADIO AM DAN SOLUSI 3. Perencanaan frekuensi untuk siaran radio AM pada pita frekuensi LF/MF (MW) ini sebenarnya cukup rumit dan harus memperhatikan tidak hanya kondisi penggunaan frekuensi eksisting di Indonesia. parameter teknis siaran radio AM dapat dijelaskan pada tabel 17 berikut ini: 67 . Langkah Kelima: menyusun strategi pemecahan masalah bilamana kanal frekuensi yang diusulkan.PRINSIP-PRINSIP DISTRIBUSI ALOKASI FREKUENSI SIARAN RADIO FM Berikut ini langkah-langkah yang dilakukan dalam hal distibusi alokasi frekuensi siaran radio FM: • • • • • • Langkah Pertama: Menentukan Matriks Protection Ratio antar Wilayah Layanan Langkah Kedua: menginventarisasi potensi program siaran di wilayah layanan dimaksud dari data pengukuran dan data pendudukan kanal siaran Langkah Ketiga: membandingkan dengan distribusi kanal frekuensi pada regulasi teknis eksisting (KM.76/2003) Langkah Keempat: menyusun distribusi kanal frekuensi yang paling optimal memperhatikan hasil-hasil analisa sebelumnya.3. KM.15/2003. Secara ringkas.

Papua Nugini. Melakukan analisis interferensi baik terhadap kondisi siang hari maupun malam hari. Mengidentifikasi data pemancar-pemancar siaran radio AM yang telah dinotifikasi di ITU sesuai ketentuan GE-75 baik yang berlokasi di Indonesia maupun yang berlokasi di negara-negara sekitar Indonesia seperti Australia. (High Power) Konduktivitas (Conductivity) 3 dan 15 mS/m Protection Ratio : : 30 dB  Co–Channel : 9 dB  First Adjacent nd : -24 dB  2 Adjacent Kuat medan minimum (“Minimum : 70 dBuV/m Field Strength”) YANG 10 kW LANGKAH-LANGKAH PERENCANAAN FREKUENSI Dalam membuat perencanaan distribusi frekuensi Siaran radio AM di Indonesia. Malaysia. Menyusun matriks protection ratio antara setiap wilayah siaran di Indonesia. 1st adjacent (selisih 9 kHz). Kamboja. 2nd adjacent (selisih 18 kHz) Melakukan analisis interferensi untuk setiap pemancar terhadap lingkungan pemancar lain di sekitarnya untuk memastikan protection ratio di service area mencukupi. Thailand.TABEL 17. Timor Leste. Vietnam. langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:    Menginventarisasi daftar pemancar siaran radio AM yang terdaftar di dalam database Ditjen Postel (yang telah memiliki izin stasiun radio) Menginventarisasi daftar pemancar Siaran radio AM yang beroperasi di lapangan berdasarkan hasil monitoring pendudukan frekuensi di setiap wilayah di Indonesia. Singapura.      68 . PARAMETER TEKNIS SIARAN RADIO AM DIGUNAKAN DALAM PERENCANAAN FREKUENSI Pita Frekuensi : 531 – 1602 kHz Spasi antar kanal : 9 kHz Lebar Pita (Bandwidth) 9 kHz Spasi kanal dalam suatu wilayah : 18 kHz layanan yang sama Daya Pancar (Power) 500 watt (Low Power). Menghitung jarak minimum untuk kondisi co-channel. China. dsb. Philipina. Memetakan lokasi pemancar-pemancar tersebut di atas pada peta digital. India.

Metode yang digunakan dalam membuat perencanaan frekuensi saluran TV VHF yang dilaksanakan TVRI pada masa tahun 1970-an s/d 1990-an. Belum tersedianya master plan frekuensi VHF ini tentunya akan menyulitkan Direktorat Jenderal Postel untuk menetapkan penggunaan saluran televisi VHF di Indonesia bagi para penyelenggara penyiaran televisi lainnya di suatu wilayah siaran. tidak sama dengan metode perencanaan frekuensi saluran TV UHF karena beberapa kondisi yang berbeda. Melakukan koordinasi dan notifikasi ke ITU. dengan melakukan terlebih dahulu koordinasi dengan negara-negara yang berdekatan yang berpotensi interferensi terhadap stasiun radio yang akan dinotifikasi tersebut. mengoptimalkan penggunaan saluran VHF serta menghindari adanya perubahan yang terlalu banyak pada saluran VHF yang telah digunakan oleh TVRI. dalam penentukan saluran VHF yang akan digunakan di suatu wilayah siaran masih didasarkan pada hasil survey lapangan dan map survey. VHF BAND III DAN SOLUSI 3.3. dengan sedapat mungkin tidak mengubah kondisi eksisting. sebagian besar menggunakan saluran VHF. tidak berpedoman kepada suatu pola perencanaan saluran karena belum tersedianya rencana induk atau master plan frekuensi secara nasional. Namun demikian.3 KONDISI EKSISTING PERMASALAHAN Pita frekuensi VHF sejak tahun 1962 telah banyak dipergunakan oleh TVRI untuk memancarkan siaran ke seluruh Indonesia dari tingkat provinsi. kabupaten sampai kecamatan dengan berbagai jenis kekuatan pemancar dari low power hingga high power.  Menyusun suatu distribusi alokasi frekuensi optimal berdasarkan protection ratio yang didapat. Untuk memenuhi persyaratan teknis agar tidak terjadi interferensi antar stasiun pemancar. 69 . Saat ini jumlah lokasi pemancar TVRI di seluruh Indonesia sudah mencapai lebih kurang 385 buah. maka metode yang paling tepat atau memungkinkan dipakai adalah melalui pengkajian wilayah cakupan siaran terhadap peta daerah jangkauan siaran TVRI dan saluran frekuensi VHF yang sudah digunakan serta memperhatikan kondisi topografi di wilayah siaran yang direncanakan.

memperhatikan kondisi layanan Siaran TV analog VHF di seluruh wilayah Indonesia. Ketiga poin tersebut adalah: 1. Sambil tentunya dalam implementasi migrasi tersebut. Sedangkan model bisnis DMB terkait dengan penyelenggaraan telekomunikasi selular. 2. Gambar 4 dan Tabel 18 berikut ini menjelaskan mengenai efisiensi penggunaan frekuensi penyiaran digital di Band III VHF. Sampai tulisan ini dibuat (Juli 2009). dapat berupa free-to-air ataupun berbayar. dan terbatas dengan menyediakan empat s/d enam konten digital mobile multimedia. Keputusan Menteri Kominfo dikeluarkan. Pada 15 April 2009. maka lebih baik konsentrasi perencanaan difokuskan pada transisi penyiaran analog ke penyiaran digital pada band VHF Band III ini. maka perlu dirancang distribusi kanal frekuensi yang bisa mengimplementasikan DAB (Digital Audio Broadcasting) dan DMB (Digital Multimedia Broadcasting) secara proporsional. dsb) menjadi standar resmi siaran radio digital di Indonesia pada band III. Pemerintah menetapkan 3 poin utama terkait regulasi dan kondisi teknis yang harus dipenuhi untuk keperluan migrasi ke radio digital. siaran digital akan diatur melalui regulasi yang lebih spesifik yang ditetapkan berdasarkan rencana frekuensi nasional Perlengkapan DAB/DAB+ harus memenuhi standard nasional Indonesia (SNI) yang akan ditentukan kemudian Rencana sosialisasi akan dibuat Penyelenggaran siaran radio digital secara free-to-air melalui DAB sangat dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan kepadatan penggunaan siaran radio FM. Dari potensi teknologi penyiaran digital yang potensial di band III (lihat Tabel 16). 3. maka sebenarnya pengoperasian Siaran TV VHF Band III dapat dihentikan segera. 70 . sehingga sulit diharapkan untuk dapat mengatasi permasalahan kepadatan Siaran radio FM di Indonesia. terutama di kota-kota besar. menetapkan bahwa DAB dan derivatifnya (DMB.TRANSISI MIGRASI KE DIGITAL DI BAND VHF BAND III Sehubungan dengan rencana penghentian siaran analog di seluruh dunia. DMB belum menyediakan aplikasi untuk siaran radio digital secara massal. Bila penyelenggaraan multipleks TV digital (di Band UHF) diimplementasikan segera.

GAMBAR 4. direncanakan penggunaan 2 kanal yaitu 13E dan 13F. sehingga dapat menampung sekitar 84 s/d 112 konten audio digital free-to-air di seluruh wilayah Indonesia. yang implementasinya menggunakan infrastruktur dan distribusi wilayah siaran yang sama dengan penyelenggaraan multipeks DVB-T. 71 . PERENCANAAN FREKUENSI DIGITAL AUDIO BROADCASTING (DAB) Berdasarkan perbandingan tersebut di atas. Untuk konten / program komunitas di suatu wilayah. maka diusulkan untuk disediakan 3 s/d 4 kanal RF 7 MHz. PERBANDINGAN EFISIENSI DIGITAL DI VHF BAND III FREKUENSI PENYIARAN Untuk kualitas audio sedang (minimum acceptable).25 MHz dari 5A s/d 7D untuk penyelenggaraan multipleks free-to-air DAB secara nasional. Gambar 4 menjelaskan mengenai usulan konsep distribusi kanal Band III VHF untuk DAB free-to-air. PENGKANALAN FREKUENSI DAB/DMB TABEL 18. Diusulkan untuk digunakan sebanyak 12 kanal DAB @1. dengan wilayah layanan yang akan didefinisikan tersendiri. 160 kbps dibutuhkan menggunakan MP2 dan 48 kbps bila menggunakan HE AAC (High efficiency Audio Coding ).

dan jumlah program siaran audio yang cukup berlimpah. maka jumlah konten akan semakin banyak lagi dari waktu ke waktu. yang menetapkan pengaturan teknis dan distribusi kanal negara-negara Eropa.GAMBAR 5. KONSEP DISTRIBUSI KANAL FREKUNESI BAND III VHF UNTUK DIGITAL AUDIO BROADCASTING (DAB) FREETO-AIR Untuk DABKomunitas Untuk DAB Multipleks Nantinya penyelenggara siaran radio AM dan FM eksisting hanya perlu menyediakan “konten” audio tanpa membangun infrastruktur sendiri. Secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut:        Minimum Field Strength (MFS) Protection Ratio DAB/DAB: Co-channel Protection Ratio DAB/DAB: Adjacent channel Protection Ratio TV/DAB: Co-channel Protection Ratio TV/DAB: Lower Adjacent Protection Ratio DAB/TV: Co-channel Protection Ratio DAB/TV: Lower Adjacent = = = = = = = 58 dBV/m 8 dB -40 dB 45 dB 24 dB -2 dB -29 dB 72 . Yang menjadi kunci adalah ketersediaan pesawat penerima dengan harga terjangkau. Sehingga akan sangat efisien. Apalagi dengan semakin tingginya teknik kompresi audio digital. Parameter teknis DAB yang digunakan dalam perencanaan kanal DAB diadopsi dari Final Act Maastricth 2002.

73 . backhaul. Kanal frekuensi kosong itulah yang bisa didistribusikan untuk teknologi penyiaran digital terrestrial lain seperti Digital Multimedia Broadcasting (DMB) baik secara free-to-air maupun berbayar. lokasi menara. maka seluruh TV analog dihentikan operasinya. dsb. 3. perencanaan kanal TV Analog UHF memerlukan pembatasan-pembatasan sebagai berikut:   Tidak bisa digunakan kanal yang bersebelahan. Menghitung semua kemungkinan interferensi saat pendudukan kanal DAB di suatu wilayah layanan tertentu. dan terdapat sejumlah kanal frekuensi yang kosong. PENYIARAN DIGITAL TERRESTRIAL LAINNYA IMPLEMENTASI PENUH MIGRASI ANALOG KE DIGITAL SETELAH Pada saat implementasi penuh penyiaran digital terrestrial di pita VHF Band III. Direncanakan penyelenggara mulipleks DAB dan DVB-T menggunakan infrastruktur yang sama dari mulai backbone.3. maka wilayah siaran digital pita VHF Band III ini mengikuti wilayah siaran penyiaran UHF Band IV dan V. Sehubungan dengan masih adanya sejumlah transmisi TV analog di band VHF di seluruh wilayah Indonesia.Untuk memudahkan implementasi. maka implementasi multipleks DAB akan dilakukan dua tahap yaitu tahap transisi dan tahap implementasi penuh. Untuk mempercepat migrasi penyiaran analog dan digital di Band III VHF ini. maka diusulkan tidak ada lagi perizinan baru TV analog di pita frekuensi ini.secara efektif dan efisien dan sekaligus mempercepat implementasi penyiaran digital terrestrial di Indonesia.4 KONDISI EKSISTING UHF BAND IV DAN V DAN SOLUSI PERMASALAHAN Untuk suatu wilayah layanan. Mengidentifikasi dan menetapkan prioritas stasiun TV analog yang ingin dilindungi pada saat transisi. Pada tahap transisi. langkah-langkah dalam perencanaan frekuensi DAB adalah sebagai berikut:    Menentukan alokasi kanal frekuensi DAB untuk kondisi semua stasiun TV analog dianggap sudah tidak ada (kondisi ideal). Sehingga diharapkan dapat memudahkan implementasi penyelenggaraan multipleks DAB dan DVB. Tidak bisa digunakan kanal yang berselisih 9.

TABEL 19. Saat ini berdasarkan Kepmenhub No. Berdasarkan hal-hal tersebut. TAHAP PERTAMA : PENYELESAIAN KASUS TV ANALOG EKSISTING Berdasarkan identifikasi kemungkinan kasus yang terjadi dan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. maka diusukan kebijakan dan regulasi sebagai berikut:  Bilamana dalam suatu wilayah siaran. Maka solusi kekacauan frekuensi ini adalah secepatnya mengimplementasikan penyiaran digital di Indonesia. Tidak bisa digunakan semua. sejumlah Pemerintah Daerah telah memberikan izin kepada TV lokal yang keberadaannya tidak dapat diabaikan dan sejumlah program dan tayangannya sudah diterima masyarakat setempat. Kenyataannya dalam era otonomi daerah.76 tahun 2003 tentang Rencana Induk Frekuensi TV siaran UHF (Analog). maka diusulkan pemecahan secara bertahap yang perlu disiapkan sekaligus. Teknologi Digital memberikan peningkatan efisiensi berlipat-lipat (kasus TV s/d 18 kali lipat) daripada penggunaaan frekuensi oleh TV/siaran radio analog. Sedangkan sesuai dengan semangat UU No.MENGENAI RENCANA DASAR TEKNIS SIARAN TV ANALOG Jumlah kanal frek maksimum 14 7 Kanal untuk TV swasta 11 5 Kanal untuk TV Publik 1 1 Kanal Transisi TV Digital 2 1 Wilayah Layanan Jabotabek dan Ibu Kota propinsi Kota lainnya Permasalahan dengan kondisi saat ini adalah bahwa jumlah TV nasional terlalu banyak: 5 lembaga penyiaran nasional. pada pita frekuensi UHF terdapat 42 kanal dari kanal 22 s/d kanal 61. karena harus dididistribusikan kepada daerah-daerah layanan yang bersebelahan.32 tahun 2002 tentang Penyiaran. 5 lembaga penyiaran nasional terbatas. yang pertama adalah penyelesaian kasus TV analog eksisting dan yang kedua migrasi penyiaran analog ke digital. 1 TVRI daerah.76/2003. 1 TVRI pusat. Tabel 19 berikut ini menjelaskan distribusi kanal Siaran TV di pita frekuensi UHF di Indonesia. diperlukan sejumlah saluran untuk program / konten lokal. DISTRIBUSI KANAL SIARAN TV UHF BERDASARKAN KEPMENHUB NO. jumlah pemohon izin TV analog sesuai dengan ketersediaan kanal dalam Rencana Induk 74 .

dan menyerahkan frekuensinya kembali kepada Ditjen Postel. maka izin dapat diberikan melalui forum rapat bersama Pemerintah c. untuk digunakan nantinya bagi penyelenggaraan multipleks TV digital. Lembaga penyiaran bersangkutan dapat menjadi penyedia konten bagi penyelenggaraan multipleks TV Digital di wilayah dimaksud. frekuensi 518 s. Konsep awal penggunaan kanal frekuensi penyiaran Digital pada band UHF sebagai berikut:  pada band IV dan V bawah. penyelenggara bersangkutan harus bersedia mematikan operasinya. tidak boleh mengganggu dan mengklaim proteksi dari penggunaan frekuensi lainnya.d 624 MHz terdiri 16 kanal (kanal 27 s.d 43) akan direncanakan untuk DVB-T 75 .q. di mana kanal yang direncanakan untuk transisi digital di dalam master plan KM. o Setelah penyelenggaraan multipleks TV digital tersedia di wilayah layanan dimaksud. maka diusulkan kebijakan sebagai berikut: o Secara prinsip pengoperasian lembaga penyiaran bersangkutan di frekuensi dimaksud harus dihentikan. o Pada masa transisi sebelum tersedianya penyelenggara multipleks digital di wilayah layanan dimaksud. TAHAP KEDUA: TRANSISI MIGRASI KE DIGITAL DI BAND UHF Pada perencanaan kanal televisi digital akan disediakan 6 kanal untuk setiap wilayah layanan. lembaga penyiaran bersangkutan masih dapat beroperasi dengan catatan. maka alternatif pemecahan permasalahan adalah sebagai berikut: o Para pemohon membentuk konsorsium penyelenggaraan multipleks TV digital pada kanal yang disediakan untuk TV digital (2 kanal). Bilamana dalam suatu wilayah siaran. jumlah pemohon izin TV analog sesuai dengan ketersediaan kanal dalam Rencana Induk (“Master Plan”) TV UHF.76/2002 sudah diduduki melalui izin Pemerintah Daerah. o Bila para pemohon hanya menginginkan untuk menjadi TV analog. Depkominfo dengan KPI. serta bersedia menghentikan operasinya pada masa waktu tertentu (saat penyelenggara multipleks TV digital beroperasi di wilayah tersebut). maka dilakukan proses seleksi untuk menetapkan penyelenggara sesuai dengan jumlah kanal yang tersedia.  (“Master Plan”) TV UHF . sehingga dapat menampung 8 s/d 12 program / konten lembaga penyiaran di wilayah bersangkutan. Dalam hal kondisi tertentu.

dengan maksud memungkinkan dilaksanakannya SFN seoptimal mungkin. PENYELENGGARAAN MULTIPLEKS TV DIGITAL UHF Diperlukan suatu model bisnis penyelenggara multipleks TV Digital ”free-to-air” yang tepat dan berkelanjutan.d 62) akan dipersiapkan untuk mobile multimedia dengan bandwidth masing-masing kanal sebesar 8 MHz. serta sejumlah pemancar pendukung (gap filler) yang memberikan penguatan sinyal di daerah-daerah yang kualitas penerimaannya dari pemancar utama belum baik. agar masyarakat dirangsang untuk segera dan merasa perlu untuk membeli set-top-box Digital TV UHF. agar lebih efisien dalam pengembangan jaringannya. Perlu dirancang sedemikian rupa sehingga penyediaan layanan / konten pada multipleks TV digital UHF memiliki konten unggulan. maka tidak bisa diberikan lisensi untuk frekuensi tunggal untuk SFN (Single Frequency Network) secara nasional. Perlu dipisahkan penyelenggara jaringan TV digital dari lembaga penyiaran Analog saat ini. Lembaga penyiaran TV analog agar lebih berkonsentrasi sebagai ”content aggregator”. maka kasus di Inggris dapat dijadikan contoh paling sukses dalam hal penetrasi Siaran TV digital di dunia. Bilamana migrasi TV analog ke digital telah diselesaikan semuanya. Dari contoh kasus seluruh mplemntasi migrasi penyiaran analog ke digital di negaranegara lain. Penyelenggara jaringan TV digital (multipleks) dapat membawa 4 sampai dengan 6 program sekaligus dalam 1 kanal TV standar DVB-T 8 MHz. pada band V atas frekuensi 606 s/d 806 MHz terdiri dari 20 kanal (kanal 42 s. Konsep SFN di dalam suatu wilayah layanan dilaksanakan dengan satu pemancar induk dengan pemancar berdaya pancar besar dengan antenna pemancar tinggi. maka Pemerintah dapat mengatur kembali kanal frekuensi yang telah diberikan untuk TV digital. Karena distribusi kanal-kanal TV bervariasi di wilayah layanan. free-to-air dengan bandwidth masing-masing kanal sebesar 8 MHz. melainkan hanya di dalam satu wilayah layanan. Program / konten unggulan yang perlu dibawa antara lain meliputi:   Program siaran TV swasta nasional Program siaran TV publik nasional (TVRI) 76 .

Maka satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan izin kepada penyelenggara multipleks yang terpisah dari lembaga penyiaran eksisting. Qchannel. dan memberikan jaminan akses terbuka dan non diskriminasi terhadap seluruh lembaga penyiaran eksisting maupun yang akan mengisi program / konten pada multipleks penyiaran digital dimaksud. 3. maka dikhawatirkan bila izin penyelenggara jaringan multipleks diberikan kepada salah satu lembaga penyiaran eksisting.4 PENYELENGGARAAN JARINGAN MULTIPLEKS TERRESTRIAL BROADCASTING (DVB-T DAN DAB) DIGITAL Salah satu kunci sukses dari implementasi Digital Terrestrial Broadcasting (Migrasi Penyiaran Analog ke Digital) adalah penggunaan / pemanfaatan infrastruktur eksisting seperti tower. jaringan transmisi (fiber optic.   Program siaran TV swasta lokal Program siaran TV pendidikan: TV edukasi Depdiknas. pada kasus lembaga penyiaran berbayar melalui satelit. maupun terhadap konten-konten unggulan lainnya. maka yang bersangkutan dapat menghalangi kompetitornya menyalurkan program / konten melalui multipleks TV digital dimaksud. Kecenderungan “penjegalan” akses program/konten tersebut sudah terbukti. maka simulcast untuk masing-masing lembaga penyiaran TV analog adalah hal yang tidak mungkin dilakukan. 77 . Apalagi di era kompetisi bebas antara lembaga penyiaran swasta. Sehingga diharapkan masyarakat akan terjamin mendapatkan akses terhadap program eksisting menggunakan pesawat penerima TV dan antena penerima TV terrestrial eksisting dengan tanpa merubah arah antena. satelit dan microwave link). di mana terjadi hak ekslusivitas terhadap program-program suatu kelompok usaha tertentu. Masyarakat tinggal membeli ”set-top-box” / dekoder TV digital untuk mendapatkan layanan ”free-to-air” TV digital terrestrial dengan jumlah program yang jauh lebih banyak dan kualitas siaran yang jauh lebih baik dibandingkan TV analog. dsb Program siaran radio Dengan kondisi eksisting di mana terlalu banyak izin frekuensi diberikan kepada penyelenggara Siaran TV analog. Penyelenggara multipleks TV digital diharapkan dapat membangun pemancar di menara-menara TV analog eksisting atau menara lainnya yang berdekatan yang lokasinya selama ini menjadi referensi bagi masyarakat untuk mengarahkan antenna TV-nya.

Hal ini penting untuk memberikan waktu bagi masyarakat untuk dapat menyiapkan diri beralih 78 . sehingga masyarakat dapat menerima siaran analog dan digital sekaligus. bukit. dsb) Distribusi dan menara Telkom dan Telkomsel mencakup hampir /d seluruh kecamatan di Jawa. PGN. Dengan variasi infrastruktur di Indonesia Barat.DVB-T dan DAB akan menggunakan asumsi service area yang sama berdasarkan master plan frekuensi TV UHF. Identifikasi kondisi infrastruktur telekomunikasi eksisting paling potensial di Indonesia adalah sebagai berikut: • Distribusi dan lokasi menara TVRI dan/atau RRI dapat mencakup 80% wilayah cakupan di Indonesia. Sehingga dalam masa transisi ini akan terjadi “simulcast” (simultan broadcast) antara penyiaran analog dan digital. pada infrastruktur jaringan yang sama dapat dibangun sistem akses DVB-T dan DAB sekaligus dengan. • • Penetapan Penyelenggara Multipleks Digital diusulkan untuk dilakukan melalui mekanisme seleksi dengan kriteria sebagai berikut: • • • • memiliki infrastruktur dasar sebagai penyelenggara multipleks memanfaatkan seoptimal mungkin infrastruktur telekomunikasi memberikan komitmen penggelaran jaringan infrastruktur dan pemasangan pemancar DVB-T dan DAB di seluruh wilayah Indonesia dalam jangka waktu secepat-cepatnya. maka seluruh lembaga penyiaran akan migrasi menjadi hanya penyedia “konten” saja. Bali dan juga seluruh kota/kabupaten di Indonesia Jaringan infrastruktur fiber optik. ICON+. Diharapkan dengan konsep seperti di atas. Sehingga penetrasi jaringan dan servis DVB-T dan DAB akan sangat cepat dan efisien. memberikan komitmen untuk membuka akses kapasitas infrastruktur kepada penyelenggara konten/lembaga penyiaran secara non diskriminasi dan akses terbuka. Sehingga diharapkan lembaga penyiaran dapat lebih fokus pada peningkatan kualitas program siaran. dsb. lembaga penyiaran Siaran TV analog eksisting masih dapat mengoperasikan infrastrukturnya sampai dengan masa izinnya selesai. satelit dan microwave link paling luas se-Indonesia adalah dioperasikan oleh Telkom. yaitu jaringan infrastruktur serat optik Excelcomindo Pratama. sehingga biaya operasional lembaga penyiaran dari sisi penggunaan infrastruktur akan jauh lebih efisien dan hemat. serta hampir kebanyakan lokasi menara sangat baik dengan memperhatikan profil geografis paling optimal (letak menara pemancar di gunung. Indosat. Sehingga. Tentunya dalam masa transisi migrasi penyiaran analog ke digital.

diperkirakan Implementasi penyiaran digital nantinya akan dimulai di daerah-daerah sebagai berikut: Jakarta dan daerah sekitarnya (Jabotabek). Diperkirakan paling tidak “digital switchover” di Indonesia terjadi sekitar tahun 2020. Bagi beberapa lembaga penyiaran siaran TV analog dengan spasi lebih dari 2 kanal. di mana bila dalam lingkungan penyiaran digital. Diharapkan di kota-kota besar dapat dilakukan jauh lebih cepat lagi. lokasi menara mutlak harus berada di lokasi yang sama. sebetulnya bisa menggunakan menara dan antena yang sama ditambah penggunaan “combiner” dan “filter” yang tepat dengan biaya tidak terlalu mahal. Batam. Bali. catu daya sangat memberikan efisiensi dalam hal pengeluaran operasional (OPEX). Bandung. Johor. sangat dianjurkan penggunaan infrastruktur yang sama. 79 . bisa sharing menara.dari penyiaran analog ke penyiaran digital tanpa harus kehilangan layanan / program yang diminatinya. Masa transisi penyiaran analog ke digital sampai dengan implementasi penuh penyiaran digital / “digital switchover) belum ditentukan secara resmi oleh pemerintah. Hubungan antara studio dan pemancar (STL) bisa menggunakan IP based melalui jaringan infrastruktur penyelenggara telekomunikasi eksisting. exciter (pemancar) dan antenna. Surabaya. Singapura. distribusi kanal dan program akan menjadi jauh lebih mudah sehingga setiap Negara mendapatkan jatah yang sama secara “fair”. Padahal pemanfaatan bersama menara dan infrastruktur lainnya seperti antenna.5 PENGGUNAAN BERSAMA MENARA DAN INFRASTRUKTUR PENYIARAN TERRESTRIAL (INFRASTRUCTURE SHARING) Salah satu kesulitan terbesar dalam penerapan master plan frekuensi TV Siaran dan Radio Siaran FM adalah distribusi lokasi tower yang sangat tersebar bahkan di wilayah layanan yang sama. Medan dan Makassar. Singapura berharap pada tahun 2012 sudah bisa meninggalkan penyiaran analog. Bila dibandingkan dengan Negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dan juga pengalaman pengembangan layanan IMT-2000 (3G). Untuk siaran TV analog. Bahkan sebenarnya untuk radiosiaran FM dari 2 stasiun dengan spasi frekuensi lebih dari 400 kHz. Di daerah Batam. sinkronisasi masa transisi akan menjadi sangat penting. demikian pula Malaysia sekitar tahun 2015-an. Daerah-daerah lain akan menyusul dalam jangka waktu tidak terlalu lama. Sedangkan untuk penyelenggara multipleks DVB-T dan DAB. 3. maka Indonesia relatif jauh ketinggalan. Hal ini telah dilakukan di banyak negara di dunia dan mulai diterapkan juga di Indonesia. pemancar.

Peraturan teknis mengenai batasan daya pancar. Penyempurnaan batasan teknis tersebut diperlukan untuk memberikan rincian khususnya terkait masalah topografi wilayah serta pemetaaan wilayah cakupan yang perlu. Sebagai catatan bahwa pada saat tulisan ini dibuat. akan ditentukan dalam regulasi teknis yang saat ini (Juli 2009) sedang disusun. lokasi nominal pemancar. Sedangkan. tinggi antenna. Pembangunan menara bersama bila direncanakan dengan baik. wilayah cakupan siaran untuk siaran radio FM dan siaran TV UHF analog telah ditetapkan dalam Kepmenhub No.Untuk tiap wilayah layanan. yang dalam hal ini proses pemberian izin dilakukan oleh Ditjen Postel. 3. dsb. batasan teknis daya pancar. 4. Menara Eiffel. Tokyo Tower. Hal ini berlaku pula untuk proses perizinan siaran radio dan 80 . setiap penggunaan frekuensi radio harus mendapatkan izin dari menteri yang membidangi sektor telekomunikasi. wilayah cakupan siaran dan distribusi alokasi kanal frekuensi dalam penyiaran digital terrestrial.76/2003. gunung. perlu dicari lokasi-lokasi menara paling optimal seperti gedung pencakar langit. PERIZINAN DAN APLIKASI IZIN Berdasarkan UU No. dapat dijadikan objek pariwisata. bukit.36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi. tinggi antenna. seperti halnya dilakukan di banyak Negara. Penerapan hal tersebut dapat disiapkan dan direncanakan dengan berkoordinasi dengan pemda setempat (disesuaikan dengan rencana pengembangan daerah setempat). misalnya: Sydney Tower.15/2003 dan Kepmenhub No. antara lain sebagai berikut:    KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 85/DIRJEN/1999 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT SIARAN RADIO KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 169 /DIRJEN/2002 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEVISI SIARAN SISTEM ANALOG PERATURAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 268 / DIRJEN / 2005 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT SET TOP BOX SATELIT DIGITAL Semua ketentuan teknis tersebut dapat di ‘download” di website Ditjen Postel pada bagian Regulasi Standardisasi. spesifikasi teknis alat dan perangkat penyiaran digital terrestrial sedang disusun. Kuala Lumpur Tower. dsb.6 REGULASI TEKNIS SISTEM PENYIARAN Terdapat sejumlah regulasi teknis standar dan spesifikasi perangkat pemancar sistem telekomunikasi bergerak selular yang telah ditetapkan oleh Ditjen Postel.

akhirnya pada sekitar bulan Juli 2007. Di sisi lain. perlahan-lahan situasi tumpang tindih ini mulai dibenahi. Selain itu. yang dalam pengeluaran izin tersebut belum dikoordinasikan dengan Ditjen Postel. Syukur alhamdulillah. tidak terjadi situasi kondusif antara kedua lembaga tersebut. Secara teknis.q. Jadi sulit dibedakan kanal frekuensi mana untuk lokal dan non-lokal. Pay-TV Satelit. Akibatnya muncul beragam bentuk rekomendasi bahkan izin yang dikeluarkan sejumlah Pemerintah Daerah Tingkat I bahkan Pemerintah Daerah Tingkat II di berbagai daerah di Indonesia. terjadi tumpang tindih kewenangan pemberian izin antara ditjen postel dengan Pemerintah Daerah baik Pemda Tingkat I dan Pemda Tingkat II. sangat sulit dan tidak efektif dilakukan.36 tahun 1999 tentang telekomunikasi. sebetulnya secara teknis jatah kanal frekuensi untuk siaran radio ataupun siaran TV untuk suatu daerah layanan adalah sama. Dengan perjuangan tak kenal lelah dan putus asa. setelah Peraturan Pemerintah No. pembatasan daerah cakupan siaran radio dan siaran TV eksisting berdasarkan batas administratif.38/2007 sebagai pengganti PP.24 tahun 1997 maupun UU No. karena definisi siaran radio Lokal dan siaran TV Lokal sendiri tidak jelas dan tidak diatur dalam UU Penyiaran No. maka izin penyelenggaraan siaran dikeluarkan melalui forum bersama antara Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Pemerintah. Selama hampir 7 tahun.25/2000 tentang Kewenangan pemerintah pusat dan pemda. disahkan PP No. Hal ini diperumit dengan konflik panjang antara Pemerintah Pusat (c.25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah daerah dan kewenangan propinsi sebagai daerah otonomi disahkan. semenjak berlakunya UU No. FM serta siaran TV Analog) • Perizinan penyelenggara jaringan telekomunikasi tertutup / penyelenggara multipleks (TV Digital.siaran TV. yang memberikan kepastian hukum bagi industri dengan memberikan kembali kewenangan pengelolaan spektrum kepada instansi yang kompeten yaitu Ditjen PostelDepkominfo. di mana izin frekuensi radio untuk siaran radio dan siaran TV diberikan oleh Ditjen Postel-Dephub. Padahal. dsb) 81 .32 tahun 2002 mengenai Penyiaran. Depkominfo) dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) di mana selama hampir 5 tahun dari tahun 2002 s/d awal 2007. hubungan antara Depkominfo dengan KPI mulai menunjukkan hubungan membaik. BWA. Proses perizinan bagi izin penyelenggaraan penyiaran maupun izin penggunaan frekuensi bagi layanan penyiaran nirkabel dapat dibagi dua kelompok. yaitu: • Perizinan Lembaga Penyiaran Analog (siaran radio AM. dengan diselenggarakannya sejumlah forum rapat bersama yang memberikan hasil yang kondusif bagi industri penyiaran.

Penyelenggara yang bersangkutan diwajibkan mengisi aplikasi formulir Izin Stasiun Radio (ISR) untuk mengisi data-data administratif dan teknis. Dengan akan dimulainya penyelenggaraan TV Digital. Hal ini dimaksudkan agar migrasi penyiaran TV analog ke TV digital dapat berjalan dengan baik. Bilamana hasil evaluasi teknis menunjukkan bahwa prediksi wilayah layanan lembaga penyiaran bersangkutan dengan menggunakan parameter teknis yang diajukan melebihi batasan wilayah layanan sesuai izin. SDM. Setelah permohonan dan data teknis dievaluasi. pemohon mengajukan izin melalui KPI atau KPI Daerah. dan yang bersangkutan harus memperbaiki parameter dan konfigurasi teknis lagi. Dalam masa uji coba. lembaga penyiaran yang bersangkutan dikenakan kewajiban uji coba selama satu tahun. jumlah pemohon yang lolos persyaratan kurang atau sama dengan jumlah kanal frekuensi yang disediakan. Sesuai ketentuan yang berlaku. KPI melaksanakan evaluasi dengar pendapat. menentukan DVB-T sebagai standar nasional Fixed Digital Terrestrial Broadcasting Free-to-Air. dsb. Salah satu butir penting dari Rekomendasi Buku Putih adalah memisahkan antara penyelenggaraan infrastruktur penyiaran digital (multiplex) dengan lembaga penyiaran eksisting (penyelenggara konten). maka lembaga penyiaran bersangkutan dapat segera membangun infrastrukturnya termasuk menyiapkan pemancar.2 PERIZINAN PENYELENGGARA JARINGAN TELEKOMUNIKASI UNTUK PENYELENGGARA MULTIPLEKS TV DIGITAL DVB-T DAN DAB Tim Nasional Migrasi Penyiaran Analog ke Digital (Timnas) telah menghasilkan Buku Putih.q Ditjen SKDI dan Ditjen Postel) serta KPI.1 PERIZINAN PENYIARAN ANALOG Dalam hal perizinan lembaga penyiaran analog. maka diajukan rekomendasi pada forum rapat bersama antara pemerintah (Depkominfo c. 4. studio. maka izin penyelenggaraan penyiaran (IPP) dapat langsung diberikan. sesuai peraturan perundang-undangan penyiaran. bilamana memenuhi syarat. dari sisi teknis. serta rencana pembangunan infrastruktur. maka perlu dilakukan proses seleksi. IPP diberikan termasuk dengan kanal frekuensi dan wilayah siaran yang ditentukan.4. maka izin baru untuk TV analog dibatasi dan bahkan dihentikan. sebelum mendapatkan Izin Tetap. Setelah melakukan evaluasi. Setelah IPP diberikan. maka permohonan ditolak. maka ISR diberikan setelah yang bersangkutan membayar BHP Frekuensi sesuai ketentuan yang berlaku. Bila tidak. akan diukur kualitas penerimaan siaran pada wilayah siaran yang ditentukan agar sesuai dengan batasan izin yang ditentukan. 82 . Bila dalam forum rapat bersama.

Solusinya dari permasalahan ini adalah pemisahan antara penyelenggara jaringan telekomunikasi (multipleks) dengan penyelenggara konten (lembaga penyiaran). Solusinya adalah izin yang digunakan bagi penyelenggara infrastruktur (satelit / kabel) adalah penyelenggaraan jaringan tetap tertutup seperti Media Citra Indostar. 25. Bagi penyelenggara multipleks TV Digital (DVB-T) maupun DAB. Di antaranya pada pasal 20. diusulkan untuk dilakukan melalui mekanisme seleksi beauty contest kepada penyelenggara jaringan tetap tertutup dengan kriteria sebagai berikut: • • memiliki infrastruktur dasar sebagai penyelenggara multipleks memanfaatkan seoptimal mungkin infrastruktur telekomunikasi 83 . satu wilayah layanan. Kesulitan implementasi UU Penyiaran sudah dirasakan pada saat penerapan perizinan lembaga penyiaran berlangganan yang menggunakan satelit yang dilakukan pada semester pertama tahun 2007. Sedangkan izin lembaga penyiaran berlangganan diberikan kepada entitas yang berbeda yang dalam kasus di atas adalah Matahari Lintas Cakrawala. Lembaga penyiaran swasta dibatasi 1 frekuensi. Indonusa Telemedia. bisa menyediakan banyak program / konten. Penyiaran Digital memberikan kualitas siaran yang lebih bagus. Penetapan Penyelenggara Jaringan Multipleks Penyiaran Digital Terrestrial (free-to-air) DVB-T dan DAB. jumlah program / konten lebih banyak. serta Direct Vision.2002 terdapat sejumlah ketentuan yang membatasi dan praktis ketentuan tersebut hanya dapat diterapkan untuk Penyiaran Analog. 20. implementasi TV digital untuk izin penyelenggaraan multipleks.Dalam UU No. Pendekatan tersebut di atas dapat dianalogikan seperti penyelesaian permasalahan izin lembaga penyiaran berlangganan melalui satelit pada bulan Mei 2007.32 Penyiaran Th. maka diberikan izin sebagai penyelenggara jaringan tetap tertutup. menggunakan UU Telekomunikasi. lembaga penyiaran disyaratkan bidang usahanya hanya menyelenggarakan jasa penyiaran. 1 wilayah. Telkom ataupun Broadband Multimedia. Pada Pasal 16. 1 lembaga penyiaran. Sebelum revisi UU konvergensi terjadi. Hal ini sesuai dengan rekomendasi tim nasional yang jelas dan tegas meminta pemisahan antara penyelenggara infrastruktur (penyelenggara multipleks) dengan lembaga penyiaran eksisting (konten). Padahal pada penyiaran digital untuk satu frekuensi. serta efisiensi infrastruktur termasuk frekuensi yang sangat signifikan.

Diharapkan agar penggelaran jaringan multipleks DVB-T dan DAB “freeto-air” dapat dilaksanakan secepatnya. sehingga sejumlah permasalahan dapat diselesaikan. memberikan komitmen untuk membuka akses kapasitas infrastruktur kepada penyelenggara konten / lembaga penyiaran secara non diskriminasi dan akses terbuka. Kepadatan frekuensi siaran radio FM dapat diatasi dengan implementasi Digital Audio Broadcasting (DAB). berpotensi dapat dimanfaatkan untuk layanan mobile broadband. Pita frekuensi yang akan tersedia setelah proses migrasi TV siaran analog ke TV siaran digital yang selama ini tidak bisa digunakan (digital divident).             84 . antara lain:    Kepadatan frekuensi siaran TV dapat ditanggulangi dengan implementasi TV Digital DVB-T.• • memberikan komitmen penggelaran jaringan infrastruktur dan pemasangan pemancar DVB-T dan DAB di seluruh wilayah Indonesia dalam jangka waktu secepat-cepatnya.

Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ada. Biasanya. melainkan hanya digunakan terbatas untuk kepentingan sendiri. pertambangan dan sebagainya. perminyakan.BAB – 5 KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM UNTUK SERVIS KOMUNIKASI RADIO BERGERAK DARAT 1. jarak coverage maksimum base station ke unit mobile/portable maupun sebaliknya. Frekuensi pada base stasion ditransmisikan pada daya pancar yang lebih tinggi untuk menyediakan wilayah jangkauan yang lebih luas. Penyelenggara jaringan bergerak terrestrial yang dimaksud adalah penyelenggara jasa radio paging dan jasa radio trunking yang pelayanannya dapat dijual kepada masyarakat.5 kHz dan 25 kHz. Pada land mobile services yang menggunakan dua frekuensi. penggunaan frekuensi radio untuk komunikasi radio bergerak darat dapat digunakan oleh dua macam penyelenggaraan telekomunikasi. stasiun radio portable melakukan transmisi dan penerimaan pada frekuensi yang sama. pengamanan. Wilayah cakupan dari land mobile services dapat dibatasi pada wilayah tertentu. Pada land mobile services yang menggunakan satu frekuensi. PENDAHULUAN Penggunaan spektrum frekuensi radio untuk penyelenggaraan komunikasi radio bergerak darat (land mobile services) menyediakan komunikasi dua arah antara titik tetap tertentu (misalkan base station) dan sejumlah unit transceiver bergerak (misalkan stasiun radio pada kendaraan atau stasiun hand-held portable). Sebagai contoh adalah komunikasi radio untuk taxi. Penetapan frekuensi dilakukan dengan memperhatikan kondisi penggunaan frekuensi eksisting yaitu parameter spasi kanal dan jarak antara base station. base station melakukan transmisi dan penerimaan pada frekuensi yang berbeda. Paragraf berikut ini menyediakan informasi mengenai kebijakan penetapan land mobile services dengan satu atau dua frekuensi di pita VHF dan UHF menggunakan channel spacing 12. tidak diperlukan base station dan wilayah cakupan terbatas dalam beberapa kilometer. 85 . Sedangkan penyelenggara telekomunikasi khusus untuk keperluan sendiri yang menggunakan komunikasi radio bergerak darat pelayanannya tidak dapat dijual untuk umum. yaitu penyelenggara jaringan telekomunikasi bergerak terrestrial dan penyelenggara telekomunikasi khusus untuk keperluan sendiri. transportasi.

86 . tracking.7625 MHz.8375-157.5 dan 460 – 467. sehingga jauh lebih efisien. Keterangan rinci bisa dilihat di Bab – 3 dokumen ini. ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA Alokasi spektrum frekuensi radio dan perencanaan pita komunikasi radio bergerak darat (land mobile services) di pita frekuensi VHF/UHF dapat dilihat pada tabel berikut ini :      Pita Pita Pita Pita Pita Frekuensi 137 – 144 MHz Frekuensi 148 – 174 MHz Frekuensi 230 – 328. 457.5 – 460 MHz.5 MHz dialokasikan untuk penyelenggara bergerak selular.6 MHz Frekuensi 335.5-470 MHz dialokasikan untuk kepentingan pertahanan.8 dokumen ini Pita Frekuensi 287 . dsb.7 dokumen ini Pada pita-pita frekuensi 156-156.7 dokumen ini Pita Frekuensi 144 – 148 MHz diperuntukkan untuk Amatir Radio.575 MHz (2 meteran) diperuntukkan untuk Komunikasi Radio Antar Penduduk / Citizen Band. yaitu sistem trunking dan sistem two way radio. 156. 467.475-162.0375 – 143.05 MHz.4 – 399. penggunaan frekuensi untuk servis bergerak darat. Pita frekuensi 450 – 457. Keterangan rinci dapat dilihat pada Bab . komunikasi data.1 – 470 MHz Catatan:    Pita Frekuensi 142.9 dokumen ini Pita frekuensi 430 – 438 MHz digunakan bersama sekunder untuk amatir radio dan 435-438 MHz untuk amatir satelit. Pita frekuensi 438 – 450 MHz. sehingga penyelenggara terkait harus mengembangkan produknya sendiri.975 MHz dan 161. 160. Frekuensi dimaksud bukanlah frekuensi standard mass market untuk BWA multimedia.9 MHz Frekuensi 406. Terdapat dua kelompok besar. Walaupun pada pita frekuensi tersebut juga terdapat sejumlah aplikasi lain seperti radio paging. remote sensing. Akan tetapi sistem analog terbaru dan/atau sistem digital menggunakan pengkanalan 12. dsb.226).324 MHz di wilayah Jakarta dan sekitarnya telah dialokasikan untuk layanan Broadband Wireless Access (BWA) Multimedia.294 MHz dan 310 .6160. TV digital. Keterangan rinci dapat dilihat pada Bab . SCADA.45 MHz. Keterangan rinci dapat dilihat pada bab .    Standar pengkanalan untuk sistem bergerak darat analog biasanya menggunakan pengkanalan 25 kHz. tiap Administrasi memberi prioritas untuk servis bergerak maritim (Lihat Footnote RR 5. Keterangan rinci dapat dilihat pada Bab .5 kHz.2.

Sebagai catatan bahwa pada saat tulisan ini dibuat (Juli 2009). taxi) maupun repeater (base station) untuk memperluas daya jangkauan. yaitu:  KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 84/DIRJEN/1999 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT RADIO KOMUNIKASI SSB-HF/VHF/UHF Ketentuan teknis tersebut dapat di “download” di website Ditjen Postel pada bagian regulasi standardisasi. pemberian izin frekuensi untuk servis bergerak darat ini lebih banyak diberikan kepada penyelenggara telekomunikasi khusus. serta jangkauan layanan yang terbatas. teknologi trunking analog mulai berkembang. serta 851 – 870 MHz. REGULASI TEKNIS DAN KONDISI OPERASI Terdapat satu regulasi teknis standar dan spesifikasi perangkat pemancar sistem telekomunikasi servis bergerak data yang telah ditetapkan oleh Ditjen Postel. spesifikasi teknis alat dan perangkat servis bergerak darat sedang disusun. pengguna harus dapat memecahkan masalah interferensi secara baik. Terlebih kebanyakan model bisnis dari penyelenggara trunking ini baru akan mulai dikembangkan infrastrukturnya. Sistem trunking dimaksudkan untuk memberikan efisiensi penggunaan frekuensi yang jauh lebih efisien dibandingkan sistem two way radio. Pengguna stasiun radio mobile pada frekuensi yang digunakan bersama harus menjamin bahwa tidak terjadi interferensi pada penyedia jasa komunikasi radio yang telah ada. maka tidaklah mengherankan industri trunking berada dalam keadaan kritis dalam tahun-tahun terakhir ini. Kebanyakan diberikan untuk sistem two way radio baik untuk telekomunikasi antar terminal bergerak (portable. HT. gas bumi. karena harga terminal dan layanan relatif lebih mahal. perusahaan minyak. Akan tetapi pada perkembangannya di Indonesia sistem trunking tidak berkembang. Dalam hal terjadi interferensi radio. dsb. 806 – 825. 87 . Dengan kondisi tersebut. 406 – 430. Sekitar 10 tahun lalu. bilamana terdapat kebutuhan tertentu seperti bandara.9 MHz. Di sisi lain tidak ada kebijakan Ditjen Postel untuk menghentikan atau memberikan kriteria dalam pemberian izin radio konsesi (two way radio) ataupun penyelenggara telekomunikasi khusus terutama badan hukum. Sebagai referensi dapat diambil pengaturan IDA Singapura mengenai kondisi operasi land mobile services sebagai berikut:   Tinggi antenna base station harus tidak melebihi 10 m untuk cakupan terbatas. 3.Dari sisi penyelenggaraan telekomunikasi. Sejumlah penyelenggara jaringan telekomunikasi bergerak trunking baik publik maupun non publik (closed user group) diberikan izin dengan alokasi frekuensi sebagai berikut : 380 – 399.

izin frekuensi diberikan tanpa suatu kebijakan perizinan yang jelas dan terdokumentasi dengan baik.: 4. baik untuk kepentingan pertahanan keamanan. Hal ini cukup menyulitkan dalam hal perencanaan frekuensi kembali (spectrum reforming) pita frekuensi servis bergerak darat terrestrial ini agar lebih digunakan dengan optimal. belum ada upaya untuk mengevaluasi perpanjangan izinnya. 4. Kanal frekuensi ganda (dua kanal) juga dapat ditetapkan bagi jaringan komunikasi radio taxi dengan minimum 1 base station dan 150 mobile station KONDISI SAAT INI DAN USULAN PEMECAHAN 4. Kanal frekuensi ganda (dua kanal) biasanya ditetapkan pada daya pancar transmisi tinggi (misalnya maximum 25 Watt ERP) untuk land mobile services untuk wilayah jangkauan yang diinginkan relatif luas. tanpa pertimbangan kebijakan yang jelas. Mode operasi repeater dimungkinkan dalam kasus ini.18/2005).1. Biasanya penggunaan frekuensi ini dilakukan secara bersama-sama (shared use). Biasanya penggunaan frekuensi ini dilakukan secara eksklusif. yaitu dengan menyewa jasa / layanan penyelenggara publik atau mengoperasikan sendiri.1 SISTEM TELEKOMUNIKASI INSTANSI PEMERINTAH MENGGUNAKAN JARINGAN TELEKOMUNIKASI PUBLIK Sistem telekomunikasi instansi pemerintah dapat menggunakan jaringan publik memiliki kelebihan dan kekurangan yang dapat diuraikan sebagai berikut: 88 . Akhir-akhir ini Dirjen Postel memerintahkan untuk membuat suatu panduan dalam pemberian izin yang membatasi pemberian izin stasiun radio terutama bagi radio konsesi. Izin-izin lama seperti sistem two way radio dalam pita frekuensi trunking 806 – 821 MHz dan 851 – 869 MHz. penyelenggara telekomunikasi khusus badan hukum. sesuai dengan ketentuan yang berlaku (PM. Secara umum pengadaan sistem komunikasi (ICT) di instansi pemerintahan dapat dipenuhi dengan dua cara yg mempunyai kelebihan dan kekurangan.1 SISTEM KOMUNIKASI RADIO INSTANSI PEMERINTAH Salah satu pengguna signifikan servis bergerak darat adalah sistem komuniksi radio instansi pemerintah.   Kanal frekuensi tunggal (single) diberikan untuk land mobile services yang berdaya pancar rendah (contoh: daya pancar 5 Watt ERP atau kurang) untuk komunikasi portable handheld ke handheld di dalam wilayah tertentu. Selain itu belum ada rencana pengkanalan frekuensi yang terdefinisikan dengan baik. ataupun bagi kepentingan instansi pemerintah sipil. Kondisi saat ini dalam pita frekuensi VHF/UHF untuk servis bergerak darat. Izin diberikan atas dasar administratif teknis.

“Redundancy” Multioperator. cukup pengadaan sewa jasa saja. lambat dalam implementasi. dan multi jaringan infrastruktur. sistem komunikasi publik putus. komunikasi bisa putus Bila infrastruktur rusak karena bencana. Layanan dapat tercakup di seluruh wilayah Indonesia. 4. Aplikasi teknologi berkembang pesat: QoS serta sekuritas bisa ditentukan. HSDPA. MPLS. Tidak tergantung infrastruktur penyelenggara jaringan publik Tidak perlu menyediakan sewa layanan KELEMAHAN: • Relatif lebih mahal. Hal ini seringkali dikeluhkan oleh sejumlah instansi pemerintah. maka penyelenggara telekomunikasi akan mengenakan tarif telekomunikasi normal dan bila tidak dikendalikan. VPN (Virtual Private Network). inefisien 89 . Institusi pemerintah yang relevan.1. Push to Talk Over Cellular (PoC) bisa digunakan.2 SISTEM TELEKOMUNIKASI PEMERINTAHAN MENGGUNAKAN JARINGAN TELEKOMUNIKASI NON PUBLIK (CLOSED USER GROUP) Sistem telekomunikasi instansi pemerintah dapat menggunakan jaringan tersendiri (closed user group) di luar jaringan publik. cepat dan efisien. teknologi GPRS. tarifnya bisa membebani anggaran. dan dapat saling terhubung (interkoneksi) Memanfaatkan infrastruktur telekomunikasi yang ada. terutama yang menggunakan solusi satelit. tidak perlu memikirkan biaya pengadaan dan pemeliharaan. • KELEMAHAN: • • • Pada saat trafik tinggi dalam keadaan darurat. Alternatif ini memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai berikut: KELEBIHAN: • • • QoS tidak terganggu kepadatan trafik pengguna jaringan telekomunikasi publik.KELEBIHAN: • • • • Relatif lebih murah. mudah. Tanpa suatu pengaturan yang tepat.

bukan “barang”. tanpa pemahaman konsep pengoperasional. Sebenarnya solusi yang paling efektif dan cepat adalah solusi pertama. MPLS. sejumlah instansi pemerintah (pusat dan daerah). Akibatnya pemborosan uang negara. Push to talk Over Cellular. dibebani biaya pengadaan dan pemeliharaan Inventarisasi aset akan sangat merepotkan. yang dapat dijamin penyelenggara telekomunikasi publik dimaksud. apalagi bila terdistribusi di banyak tempat. Public Trunking. Selain tidak direpotkan kegiatan operasional serta pemeliharaan. dsb. dan bisa minta QoS (kualitas layanan) tertentu termasuk sekuritas. Institusi pemerintah yang terkait. seringkali memilih pilihan kedua. pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi yang komprehensif. biaya operasional dan pemeliharaan yang memadai tiap tahun. Seringkali sejumlah instansi pemerintah hanya “membeli barang/pengadaan barang” akan tetapi operasional dan maintenance tidak diperhatikan. dengan berbagai alasan dan secara tidak langsung akibat peraturan pengadaan barang dan jasa di KEPPRES 80/2003. Perlu dipikirkan suatu bentuk kebijakan dan regulasi “public private partnership” antara penyelenggara jaringan publik dengan instansi pemerintah. maka instansi pemerintah tersebut akan mendapatkan dukungan keahlian serta kompetensi para penyelenggara telekomunikasi publik akan sangat memudahkan instansi terkait untuk fokus di fungsi/konten/program dari sistem informasi dimaksud.• • • • • Seringkali pengadaan barang masing-masing instansi berbeda. Teknologi sudah tersedia mulai dari VPN. dengan pengadaan jasa. Dengan dana terbatas. Sehingga instansi pemerintah hanya mengadakan “jasa”. Akan tetapi. dan juga menyiapkan sumber daya manusia. tanpa mengurangi aspek-aspek keamanan maupun kerahasiaan. 90 . membuat/ membangun jaringan sendiri. kerahasiaan. tidak terhubung satu sama lain Harus membangun infrastruktur telekomunikasi yang baru lagi. menggunakan jaringan publik. sehingga kelangsungan layanan sistem informasi instansi pemerintah (termasuk pertahanan keamanan). cakupan layanan diperkirakan terbatas. Proses tender yang dilakukan jadinya adalah pengadaan jasa penyediaan sistem komunikasi teknologi informasi. Ini sudah terjadi di sejumlah instansi pemerintah bertahuntahun sampai saat ini. dsb. bukan pengadaan barang. organisasi. dapat terjaga. VSAT. pada kenyataannya.

440 – 470 MHz: untuk alokasi frekuensi eksklusif pertahanan dan selular CDMA. dsb). Termasuk fungsi-fungsi pertahanan. sebaiknya menggunakan jaringan komunikasi publik yang disediakan baik secara leased line.3 JARINGAN KOMUNIKASI RADIO PEMERINTAH TERPADU Konsep yang diusulkan adalah konsep Government Radio Network yang terintegrasi. dan menjadi jaringan komunikasi pemerintahan secara nasional dan terpadu. 806-824/851-869 MHz.1 – 430 MHz: saat ini masih banyak digunakan untuk two way radio dan radio trunking. saling terhubung. seperti Tentara.4. dsb. dilengkapi dengan SOP. MPLS. penerapannya konsep GRN/PPDR di Indonesia harus hati-hati karena di pita-pita frekuensi tersebut masih ada pengguna eksisting.1.1-430 MHz. yang perencanaan pelaksanaan dan pembiayaannya dilakukan bersama di bawah koordinasi Depkominfo. dsb). 806 – 824 / 851 – 869 MHz: Public Radio Trunking: dan Private Radio Trunking ada beberapa two way radio. backbone. Walaupun demikian. dan Keamanan yang meliputi perlindungan publik (polisi) dan penanganan bencana (Public Protection and Disaster Relief) Sedangkan fungsi-fungsi aplikasi komunikasi point-to-point atau point-to-multipoint dari suatu jaringan instansi pemerintah yg bersifat tetap (seperti kantor pusat ke cabang. sehingga efektif dan efisien dalam penggunaan frekuensi dan pembangunan infrastruktur (backhaul. antara lain:  406. karena menyediakan teknologi yang memberikan QoS dan sekuritas memadai sesuai permintaan. di mana secara   91 . dan sebagai frekuensi migrasi dari ribuan stasiun radio di 438 – 470 MHz yang tergusur oleh alokasi frekuensi eksklusif pertahanan dan selular CDMA. dan 5 850-5 925 MHz. 4 940-4 990 MHz. Virtual Private Network (VPN). terbuka bagi sejumlah fungsi instansi pemerintah. Kriteria jaringan radio pemerintah ini harus terpadu. Untuk alokasi frekuensi system telekomunikasi khusus bergerak instansi pemerintah GOVERNMENT RADIO NETWORK / PPDR bisa merujuk ketentuan Resolusi 646 WRC-03 sbb: • Public Protection and Disaster Relief (PPDR) – Resolution 646 (WRC-03): Region 3 : 406. 440470 MHz. Diprioritaskan hanya untuk fungsi-fungsi komunikasi yang bersifat mobile (bergerak) di operasional lapangan.

  bertahap dan selektif khususnya untuk telekomunikasi badan hukum tidak diperpanjang izin lagi sepanjang substitusi fungsi telah tersedia. tidak ada repeater. maka perlu disediakan sejumlah kanal frekuensi untuk digunakan bersama oleh semua masyarakat sepanjang standar operasionalnya dipatuhi (kanal. non interferensi) yang akan diterapkan izin kelasnya. Two way radio diganti dengan VPN Push to talk over Cellular atau jaringan telekomunikasi trunking publik menggantikan penggunaan radio konsesi two way radio. VHF.6 – 460 MHz. perlu diidentifikasi infrastruktur yang telah terpasang dan diharapkan dapat diintegrasi satu sama lain. 4940 – 4990 MHz: potensi broadband PPDR. Sebagai pelengkap jaringan komunikasi radio pemerintah tersebut. UHF 400 MHz.KOMINFO/10/2005 tentang pengaturan realokasi pita frekuensi untuk kepentingan komunikasi departemen pertahanan dan TNI. 800 MHz. non proteksi. power dibatasi. bandwidth. dimungkinkan untuk didapatkan frekuensi-frekuensi baru yang bersih dan siap digunakan untuk berbagai aplikasi baru yang lebih efisien termasuk aplikasi PPDR. Untuk instansi-instansi pemerintah lainnya. jangkauan terbatas. Status saat ini di Indonesia sebagai berikut:  Sistem komunikasi radio pertahanan (frekuensi khusus 438 – 450 MHz.5-470 MHz) sesuai SKB MENHAN NO:81/KEP/M. Sistem komunikasi radio pertahanan dan keamanan.   Usulan kebijakan jangka menengah-panjang:  Akan dikurangi sedikit demi sedikit microwave link di bawah 6 GHz terutama untuk penyelenggaraan telekomunikasi khusus (Telsus) badan hukum dan radio konsesi two way di frekuensi HF. tidak diperpanjang lagi izinnya setelah masa ISR nya selesai dan diberi surat pemberitahuan 2 tahun sebelum izinnya berakhir. 467. sharing uplink VSAT C-band dan juga sharing dengan microwave link 6 GHz lower band. 92 . termasuk interoperabilitas aplikasi dan standar prosedur pengoperasiannya. 457.  Sehingga secara bertahap dan konsisten. adanya microwave link di beberapa lokasi menyebabkan implementasi harus terintegrasi (tidak kasus per kasus) 5850 – 5925 MHz.

melainkan kanal frekuensi. agar dapat dibuat suatu perencanaan bersama. seperti Bankom (Bantuan Komunikasi. khususnya dalam penanganan keamanan publik dan penanganan bencana (PPDR). tidak lagi berbentuk blok pita frekuensi. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN Berikut ini diuraikan identifikasi permasalahan regulasi teknis dalam servis bergerak darat terrestrial di Indonesia.Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut: 1) 2) Identifikasi semua Izin Frekuensi/Izin Stasiun Radio (ISR) telekomunikasi khusus instansi pemerintah. Padahal dalam sistem trunking analog. serta organisasi-organisasi yang mengatasnamakan pertahanan/keamanan. dimana Depkominfo dapat memberikan panduan. yang telah beroperasi secara ilegal. karena tidak dapat digunakan kanal frekuensi yang bersebelahan di lokasi wilayah layanan yang sama. Identifikasi dan monitor pendudukan frekuensi pertahanan keamanan. Kebijakan penetapan alokasi frekuensi bagi penyelenggara trunking sebelum tahun 2005 adalah berdasarkan blok-blok alokasi frekuensi (misal 2 MHz). Sehingga pada tahun 2006 dan 2007 ini diputuskan untuk dilakukan penyesuaian “modern licensing” bagi penyelenggara jaringan trunking terutama dalam alokasi frekuensi yang digunakan. Jumlah kanal frekuensi yang bisa diberikan. standar dalam pemilihan pengadaan jasa layanan telekomunikasi. bergantung kepada perkembangan trafik pelanggan penyelenggara dimaksud. antara lain meliputi hal-hal sebagai berikut: 93 . maupun seluruh instansi pemerintah yg memiliki sistem jaringan komunikasi radio tersendiri saat ini.2 SISTEM KOMUNIKASI RADIO TRUNKING KONDISI EKSISTING: Alokasi trunking 800 MHz sesuai dengan tabel alokasi frekuensi adalah 806 – 824 MHz dan 852 – 870 MHz. Melakukan koordinasi dengan Bappenas untuk meninjau ulang Keppres 80/2003 tentang pengadaan barang/jasa khususnya layanan telekomunikasi. norma. keamanan. Dibuat gugus tugas (task force) untuk mengimplementasikan konsep Government Radio Network secara terpadu dari unsur pertahanan. mitra komunikasi. tidak mungkin diberikan izin alokasi pita frekuensi. untuk selanjutnya dilakukan monitoring dan penertiban. 3) 4) 4.

Banyak pemegang izin eksisting dan pemohon izin frekuensi land mobile services tersebut untuk keperluan kalangan bisnis terhadap sistem komunikasi radio yang menggunakan unit portable. Adanya laporan dari penyelenggara trunking bahwa pengguna Telsus (Radio konvensional) ada yang menyewakan frekuensinya kepada pihak lain. sebenarnya izin frekuensi dapat dikurangi secara bertahap khususnya untuk pengguna telekomunikasi khusus dan secara bertahap diarahkan untuk menyewa kepada penyelenggara telekomunikasi publik seperti penyelenggara trunking. Terdapat keluhan dari beberapa penyelenggara jaringan radio trunking yang masih beroperasi agar Ditjen Postel tidak lagi mengeluarkan Izin Telsus (radio konsesi).5 kHz sehingga tercampur. Terdapat sejumlah penyelenggara trunking yang tidak lagi menggunakan frekuensinya dan ada pula yang sudah habis masa berlaku ISR-nya. penggunaan frekuensi radio untuk jaringan bergerak terrestrial bagi kepentingan sendiri hanya memiliki izin stasiun radio berdasarkan ketentuan radio konsesi. Handy Talky atau untuk keperluan taxi yang hanya memperhatikan izin stasiun radio saja. 94 . Akan dilakukan pengelompokkan blok frekuensi tertentu misalnya blok khusus untuk Penyelenggara Jarintan Bergerak Trunking. 36 tahun 1999 tentang telekomunikasi. 16 KHz dan 12. blok Telsus radio konvensional. dengan jangkauan layanan terbatas di kota-kota besar saja ataupun tergantung dari proses tender dari perusahaan-perusahaan tambang/minyak di pedalaman.     Pada pita alokasi trunking tersebut tidak ada batasan tentang pola pengkanalan frekuensi antara 25 kHz. PERIZINAN DAN PERSYARATAN Sebelum tahun 1999 pada saat UU No. Hal ini melanggar ketentuan bahwa Telsus hanya digunakan untuk keperluan sendiri. serta blok frekuensi tertentu untuk keperluan instansi pemerintah. 36 tentang Telekomunikasi diberlakukan. Sesuai PM No. jaringan selular ataupun penyelenggara lainnya dan diharapkan akan mengembangkan jaringannya. Kecenderungan bisnis penyelenggara trunking kurang berkembang. Berdasarkan UU No.18 tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi Khusus Instansi Pemerintah dan Badan Hukum. pemohon izin harus terlebih dahulu memiliki izin penyelenggaraan telekomunikasi khusus untuk keperluan sendiri dan kemudian dilengkapi dengan izin stasiun radio. karena seharusnya pengguna Telsus dapat menyewa kepada penyelenggara trunking. 5.

jika frekuensi yang diinginkan tidak tersedia. Semua izin pemancar base station ataupun repeater akan diberikan dalam bentuk izin stasiun radio. saat ini sedang dikaji penerapan izin kelas pada penggunaan pita frekuensi 470 s/d 478 MHz untuk aplikasi seperti family radio dengan jarak jangkau terbatas. 95 . di masa yang akan datang permohonan izin harus dilengkapi pula dengan izin penyelenggaran jaringan telekomunikasi bergerak terestrial ataupun penyelenggaraan telekomunikasi khusus keperluan sendiri. non eksklusif. Pemohon harus berusaha sebaik mungkin agar informasi yang diserahkan dalam permohonan izin akurat dalam segala aspek. Frekuensi alternatif atau range frekuensi. Untuk aplikasi-aplikasi sistem komunikasi radio two way radio jarak pendek. pemohon diminta untuk menyatakan perubahan dari aplikasi awal yang diserahkan ke Ditjen Postel dan menyediakan informasi terkait yang membantu pembenaran alasan kebutuan penambahan kanal frekuensi. dioperasikan tanpa proteksi dan tidak boleh menimbulkan interferensi. Jumlah unit mobile atau portable yang dilayani sejak awal pengoperasian jaringan. Untuk land mobile services yang memerlukan kanal frekuensi tambahan. Sedangkan khusus untuk terminal pelanggan yang terhubung dengan jaringan telekomunkasi trunking publik. Setiap perubahan informasi dalam formulir izin harus segera diberitahukan kepada Ditjen Postel. akan diberlakukan izin kelas. Deskripsi jaringan.Untuk menghindari kesalahan prosedur. termasuk rincian teknis dan operasional. Informasi berikut ini dibutuhkan dan dilampirkan pada formulir permohonan izin:      Alasan kebutuhan frekuensi radio untuk sistem land mobile services. misalkan tujuan dari jaringan dan informasi lain yang mendukung kebutuhan jaringan yang diusulkan. Rencana implementasi untuk jaringan yang diusulkan khususnya perkiraan tanggal untuk mulai dan penyelesaian konstruksi.

kriteria penetapan frekuensi dan kondisi pengoperasian sistem radio fixed services point-to-point atau point-to-multipoint. ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA 2. Pengkanalan frekuensi HF yang digunakan di Indonesia agak sedikit unik dan sempit yaitu 2.6 KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN SPEKTRUM UNTUK SERVIS KOMUNIKASI RADIO TETAP TERRESTRIAL 1. PENDAHULUAN Fixed services didefinisikan di dalam Radio Regulation ITU sebagai servis komunikasi radio antara titik-titik tertentu yang tetap yang juga meliputi sistem radio point-to-point serta point-to-multipoint digunakan untuk transmisi suara. 96 . yaitu:    Sistem komunikasi radio HF Sistem komunikasi radio VHF/UHF Sistem komunikasi radio microwave link Paragraf berikut ini akan menyediakan informasi mengenai prosedur aplikasi. waktu ke waktu serta posisi pemancar dan penerima.BAB . Komunikasi radio HF menggunakan gelombang langit (skywave) yang bergantung pada kondisi ionosfir yang bervariasi dari siang dan malam. Di Indonesia penggunaan sistem radio fixed services point-to-point atau pointto-multipoint dapat dibagi menjadi 3 kelompok besar. Diperlukan sejumlah frekuensi yang berbeda untuk sistem komunikasi radio HF yang baik. Sehingga sebetulnya perlu diatur protection ratio untuk kanal yang bersebelahan dalam suatu wilayah layanan yang sama ataupun yang berdekatan. Sehingga penetapan frekuensinya harus dilakukan secara hati-hati dan mempertimbangkan tidak hanya penggunaan frekuensi eksisting di dalam negeri tetapi juga pengguna frekuensi HF negara-negara lain yang sudah ternotifikasi di ITU. Untuk HF alokasi frekuensi berada di pita frekuensi 3 MHz s/d 30 MHz.5 kHz. video dan informasi data. 2.1 SISTEM KOMUNIKASI RADIO HF Pita frekuensi yang digunakan adalah pita frekuensi yang dalam tabel Radio Regulation terdapat alokasi primer Fixed Services. Di mana pada pita frekuensi ini memiliki propagasi skywave yang dapat merambat jarak ribuan kilometer.

WLL CDMA-1900. IMT-2000 maupun Satelit Broadcasting Cakrawarta-1. karena kebanyakan alokasi servis tetap dan bergerak adalah sama. Satelit Broadcasting Cakrawarta-1). seperti terlihat pada tabel 20 berikut ini. Penggunaan pita 1-3 GHz untuk microwave link lama yang terkena oleh alokasi sistem-sistem komunikasi radio yang baru seperti GSM-1800. Bila penyelenggara telekomunikasi sistem baru tersebut ingin segera mengoperasikan dan bersedia mengganti perangkat microwave link tersebut. Sebagai konsekuensinya. IMT-2000. Di masa yang akan datang. bergerak maupun satelit (misalnya GSM-1800. seringkali Ditjen Postel menggunakan beberapa alternatif Annex untuk Rekomendasi ITU-R seri F tertentu. bahwa pada pita frekuensi 1-3 GHz juga digunakan juga untuk sistem-sistem komunikasi tetap. Ditjen Postel menggunakan rujukan ITU-R Recommendation seri F sebagai referensi pengkanalan microwave link. Pita frekuensi di bawah 12 GHz umumnya digunakan untuk aplikasi radio-relay jarak jauh karena karakteristik propagasi yang mendukung. untuk pita frekuensi yang belum digunakan hal tersebut diusahakan untuk dihindari. terutama di kota-kota besar. akan sedikit demi sedikit dikurangi dan tidak diperpanjang izinnya lagi. 2.3 MICROWAVE LINK Sistem komunikasi radio microwave link beroperasi pada pita frekuensi radio sekitar 1 s/d 60 GHz. Sejumlah pengguna microwave link yang telah beroperasi sejak awal tahun 1990-an pita 1-3 GHz. Pada beberapa kasus. Sebagai tambahan. pita frekuensi ini sangat padat digunakan. 97 .2 SISTEM KOMUNIKASI RADIO VHF/UHF Pita frekuensi yang digunakan mirip dengan pita frekuensi servis bergerak darat (Lihat Bab 5).2. Dalam penetapan frekuensi microwave link. Karena itu Ditjen Postel secara umum tidak akan menetapkan izin baru bagi microwave link di pita 1-3 GHz tersebut. Ditjen Postel akan menyediakan kanal frekuensi baru untuk migrasi sistem lama tersebut ke pita frekuensi lain selama memungkinkan. Rincian rencana pengkanalan microwave link (channeling plan) untuk beberapa rekomendasi ITU-R seri F dapat dilihat pada lampiran 4. sebelum masa izinnya berakhir tidak dapat dihentikan operasinya.

Annex 1 385 385.68 10. 2.75-13. 1.35-1.25 12. 40.7-11. 1.5 (pattern) 29 14 3. Annexe 1 746. Annexe 3 387. 12.29-2. 20 80 7 28 5 28 11.3 1. Annexes 4 et 6 387. Annex 5 746.2-12.725-8.53 1. Annex 1 1243 LINK BERDASARKAN 4 5 L6 U6 7 8 10 11 12 13 2. 1.68 10.5 7.4 10.25 283 382 635 635.9-2.725 7.3 2.7 11. Annex 2 1099 1099. Annex 2 386. 80 40. 3.75-13. 2.425-7.2 3.5 2.67 Recommendations ITU-R F Series 1242 701 382 283 1098 1098. Annex 2 383 383.25 12.4-5.2 4.2 3. 20 29. Annexe 4. 3. Annex 4 746.0 4. 14. 0. § 2 497 497.4 2 Frequency range (GHz) 1.54-4. 2. 2 7.7 10.74 14.275 7. 0.5-2. 2. § 3 746.1.8-4.69 1.5 (patterns) 5.3 1. Annex 1 747.9-2.5 7.75 8.85-6.7 12.4-5. 2 1098.5 98 . Annex 2 387.435-7.7-11. 30 28 10 (pattern) 40. 60.6-4.65 90. 7.3-2. 4.0 4.9-8. § 1 Channel separation (MHz) 0. Annex 3 386 386.275-8. 14.662 29.7 10. Annexes 1 et 2 387.4-5.7 10.75 7.7-11.425 6. Annex 2 385.425-7.425 5.2-8. 7 28 20. 3.7-2. Annexes 1.TABEL 20.11 6.5. 28 0.5-10. Annexe 4.25.275 8. Annex 1 385.5 35 25.425-7. Annex 3 747.7 3. 7.5 0.55-10.5.11 7.11-7.9-2. Annex 1 746. 60 40. 60. 2. Annex 1 1099.7-13.3-10.25. Annex 3 386.18 20 (pattern) 28.9 5.75.5. Annex 1 384 384. PENGKANALAN MICROWAVE REKOMENDASI ITU-R Band (GHz) 1.725-8. 5.9-2. Annexe 4.7-12.3 1.5 12.68 10.7-11.65 40. 80.3 1.925-6.5.6-4. 2.427-2. 1. Annex 1 386.0 4.425-7.25 (patterns) 40 67 60 80 19.5 (patterns) 14 10 1.5.725 7.5 (pattern) 14 29 10 (pattern) 90.7-2. 3. Annex 3 746. 1.

6 3.5-40.5 3.0 39. 2.Band (GHz) 14 15 18 23 27 31 38 55 Frequency range (GHz) 14.5 (patterns) 112 to 3.4-15.5 36.5. 80.2-23.25-57.6 21.6 24. Annexe 5 746. 7.7-19.5 160 220. Annex 1 749.5 20 28. 110.7 21.5.5 112 to 3. Annex 2 637. 99 .0-40. 7. 2.3 36.7-21. 2.5.7 17.5.5 38.7 17.2-58. Annex 4 637. Annex 2 749. 28. 20. 50 3.5.5. Annex 1 1100. 1.5. Annexe 6 636 636. Annex 4 595. 3. 2.25-58.5.7 17.7 17.5-26.0-39.5 3. 10. Annex 3 749. yaitu:   KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 84/DIRJEN/1999 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT RADIO KOMUNIKASI SSB-HF/VHF/UHF KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 193 /DIRJEN/2005 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT KOMUNIKASI RADIO MICROWAVE LINK Ketentuan teknis tersebut dapat di-download di website Ditjen Postel pada bagian regulasi standardisasi. Annex 3 595. Annexe 1 636. 13.5 27.6 21. 56. Annexe 2 595 595.5 3.2-23.7-19.5 (patterns) 3.5 (patterns) 112 to 3.0-23.5 (patterns) 112 to 3.2 17. Annex 5 637. 7.25 7.5 24. Annex 7 749 749. Annex 1 748 748. Annex 1 595.25-14.5.35 14. Sebagai catatan bahwa pada saat tulisan ini dibuat.5-15.75.5 54. 3. 7.6 21. 28. 3.2 57. 3.5 50 112 to 3.75 3.6 22.2 Recommendations ITU-R F Series 746.5-15.5.2-23.6-40. 14 100 3.2-23.5 27.35 17. REGULASI TEKNIS DAN KONDISI OPERASI Terdapat satu regulasi teknis standar dan spesifikasi perangkat pemancar sistem telekomunikasi servis bergerak data yang telah ditetapkan oleh Ditjen Postel. 2. 14.7-19.5 220.0 37.5 140.5 (patterns) 140.5 14. 2. spesifikasi teknis alat dan perangkat servis bergerak darat sedang disusun.6 21. Annex 1 748 748 748.0-37. Annex 3 1100 1100. Annex 5 637 637.5 14. 2. 27.5 28.2-23.5 (pattern) 2.5 112 to 3.25-27. 3. 55.6 21. 56.0-31. Annex 2 746. 14.7-19.25-25.25-14.7-19. 14.35 14.2 54.5 50 112 to 3.5-29. Annex 1 637. Annex 2 595.5 31.25 25. 5. Annex 2 Channel separation (MHz) 28. Annex 3 637. 1.5-29.5 2. 40.5 (patterns) 112 to 3.5 25.2-23.5 27.

Penggunaan data hasil riset propagasi ionosfir yang disediakan LAPAN. Untuk hubungan komunikasi radio yang dapat melintasi batas wilayah negara. Sebelum UU No.2 SISTEM KOMUNIKASI RADIO VHF/UHF Pemanfaatan sistem komunikasi radio VHF/UHF banyak digunakan untuk penyelenggara telekomunikasi khusus untuk keperluan sendiri oleh badan hukum baik BUMN maupun perusahaan swasta. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 4.53 tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit pasal 22. istilah yang sering digunakan adalah radio konsesi. Oleh karena itu alokasi frekuensi yang 100 . Sehingga penetapan frekuensinya harus dilakukan secara hati-hati dan mempertimbangkan tidak hanya penggunaan frekuensi eksisting di dalam negeri tetapi juga pengguna frekuensi HF negara-negara lain yang sudah ternotifikasi di ITU. permohonan izin stasiun radio untuk komunikasi point-to-point dengan lingkup terbatas tidak perlu menyertakan izin penyelenggaraan telekomunikasi. PERIZINAN DAN PERSYARATAN Pemohon jaringan sistem radio fixed services point-to-point atau point-tomultipoint harus merupakan penyelenggara telekomunikasi yang telah memiliki izin di Indonesia dari Ditjen Postel-Depkominfo. Ketersediaan penetapan frekuensi tergantung dari hasil koordinasi tersebut. adalah referensi yang berguna untuk pemanfaatan optimal penggunaan frekunsi HF yang berubah dari waktu ke waktu. perlu terlebih dahulu diadakan koordinasi frekuensi perbatasan dengan negara tetangga.1 SISTEM KOMUNIKASI RADIO HF Untuk komunikasi radio HF. harus dilakukan terlebih dahulu koordinasi frekuensi dengan negara lain. sehingga dapat menjangkau negara lain. 4. Singapura. Untuk hubungan komunikasi radio dengan negara lain. Pada alokasi frekuensi Fixed Services di VHF/UHF ini juga dialokasikan sharing dengan Mobile Services. Selain itu penggunaan perangkat adaptif HF akan sangat berguna untuk memindahkan frekuensi kerja secara otomatis berdasarkan jadwal propagasi sehingga kualitas hubungan dapat ditingkatkan. khususnya penggunaan microwave link antara wilayah di Indonesia dengan negara tetangga seperti Malaysia.4. sebaiknya pengguna izin harus memiliki operator radio yang berpengalaman dan memenuhi kecakapan tertentu. Hal ini perlu dilakukan mengingat penggunaan frekuensi HF yang dapat menjangkau ribuan kilometer.36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi ditetapkan.

menyebabkan “pemborosan” investasi.5 x ((Ib x HDLP x b) + (Ib x HDDP x p)) = Rp.364.3. menyebabkan sangat padatnya penggunaan microwave link. b (BW) = 27000 kHz. lembaga penyiaran.655 Akibat pengembangan jaringan yang terpisah dari antar operator selular. dapat mengajukan izin Seluruh penyelenggara jaringan (terutama selular) menggunakan microwave link untuk hubungan antara unit jaringannya (sentral-BSC-BTS). Ip = 0. Tidak akan ada kebutuhan fiber optic signfikan untuk mendukung konsep PALAPA RING maupun penggunaan sarana transmisi eksisting bersama.1 PERMASALAHAN Berikut ini merupakan identifikasi permasalahan microwave link yang perlu diselesaikan.24. jika pita frekuensi tersebut sudah diberikan izin bagi penyelenggaraan telekomunikasi radio trunking dan paging. bahkan untuk aplikasi pemohon telekomunikasi khusus atauyang tidak punya izin prinsip atau untuk kepentingan pemerintah. Pada beberapa kasus pita frekuensi ini digunakan pula untuk penyelenggaraan telekomunikasi bergerak terrestrial seperti radio trunking dan radio paging yang memiliki wilayah layanan dan alokasi pita frekuensi eksklusif. yang sebenarnya bisa dipecahkan dengan pengembangan fiber optic dalam kota dan selektif dalam pemberian izin microwave link. bila tidak ada kebijakan selektif bagi pemberian izin microwave link. PSTN. antara lain: • perizinan • •  • Saat ini belum ada kriteria pembatasan permohonan izin microwave link yang terdokumentasi dengan baik.digunakan dapat merujuk ke bab 3 dan bab 5 yang membahas komunikasi bergerak.681. Contoh BHP frekuensi Microwave link: Microwave Link 7 GHz (SHF) – Ib = 0. HDDP = 89. dsb. karena terlalu banyak menara yang didirikan. 4.3 SISTEM KOMUNIKASI RADIO MICROWAVE LINK 4.748. Tarif BHP frekuensi untuk microwave link relatif sangat murah (<10 juta per tahun untuk STM 1). 101 . bahkan di kota-kota besar dan trend semakin meningkat. p (EIRP) = 70 dBm. Ditjen Postel tidak akan memberikan izin baru untuk izin stasiun radio untuk radio konsesi/ telekomunikasi khusus untuk keperluan sendiri tersebut. HDLP = 9. jaringan ataupun telsus.08. 8. BHP Frekuensi = 0.

sehingga terus menerus diperpanjang. tidak sesuai dengan standar pengkanalan frekuensi ataupun tidak mendukung sharing infrastruktur / pembangunan fiber optic. dsb. Selalu terjadi permasalahan migrasi/realokasi microwave link yang terkena realokasi frekuensi untuk teknologi baru seperti selular dan BWA yang sangat menyulitkan seperti kasus dengan PT. sebagai persyaratan izin. ISR diberikan sementara (bukan 5 tahun atau lebih). Untuk kondisi selain itu. HAPS. Umur ISR microwave link jarang dievaluasi. sampai dengan jaringan fiber optic ataupun jaringan transmisi penyelenggara jaringan terdapat di daerah dimaksud. Kereta Api. Pembatasan izin baru maupun perpanjangan izin microwave link atau sarana transmisi untuk mendukung kebijakan “infrastructure sharing” ataupun sebagai “redundancy” bagi pembangunan fiber optic pada waktu tertentu. untuk mendukung efisiensi pembangunan jaringan. Diusulkan kenaikan tarif BHP Frekuensi signifikan untuk microwave link sebagai faktor disinsentif bagi pengguna microwave link yang tidak sesuai dengan kebijakan perizinan seperti penggunaan frekuensi microwave link di pita frekuensi yang terkena alokasi frekuensi BWA < 6 GHz. padahal terdapat perubahan teknologi dan alokasi frekuensi terutama di bawah 6 GHz. dan potensi terjadi pada kasus-kasus lainnya di masa depan. menyulitkan alokasi servis lain yang potensial seperti BWA. antara lain: • Pemberian prioritas bagi penyelenggara yang dapat diberikan izin microwave link. • • • 102 . dan tidak ada kompensasi. untuk BWA.2 USULAN KEBIJAKAN Berikut ini disampaikan beberapa usulan kebijakan perizinan microwave link agar penggunaan frekuensi microwave link lebih efisien. Selain itu terdapat sejumlah data teknis (misal lokasi) yang tidak tepat antara database dan kondisi lapangan.• • • • • Hampir semua alokasi fixed services di pita di atas 1 GHz digunakan microwave link. hanya untuk penyelenggara jaringan terutama yang bersedia memberikan kapasitasnya bagi pengguna lain. Kondisi eksisting microwave link untuk penetapan izin lama banyak yang tidak sesuai dengan rencana pengkanalan (channeling plan) yg saat ini diadopsi. Terdapat sejumlah laporan informal terjadinya interferensi microwave link di frekuensi yang ditetapkan. mendukung kebijakan pembangunan fiber optic sebagai “redundancy”. 4.3.

2-12.7-11. 636 ITU-R F. Pembuatan suatu kebijakan minimum distance bagi microwave link agar mendorong penggunaan frekuensi yang efisien. ISR dicabut. 386 ITU-R F. dengan status sekunder dan membayar BHP frekuensi jauh lebih mahal (misal 100 x lipat). 595 ITU-R F. LEBAR PITA DAN JARAK MINIMUM Frequency Range 5925-6425 MHz 6430-7110 MHz 7125-7725 MHz 7725-8500 MHz 10.2-23. Kebijakan ini berlaku untuk ISR baru dan tidak diberlakukan “retroactive” terhadap ISR lama. Path Length 20km 20km 20km 20km 15km 15km 15km 15km 10km 5km 2km 103 .5/7/14/28 MICROWAVE Min. 387 ITU-R F. 385 ITU-R F. RENCANA PENGKANALAN FREKUENSI LINK.7 GHz 12.65 7/14 20 20 28 7/14/28 27.7 GHz 10. 497 ITU-R F.7 GHz 21.75-13.35GHz 17.65 20 7 29.25 GHz 14. 746 ITU-R F. Bagi ISR lama.7 GHz 12. Usulan rencana pengkanalan frekuensi dan jarak minimum minimum distance terdapat pada Tabel 1 (diambil dari Referensi IDA Singapura).4-15.7-19.• • • Perlu adanya mekanisme quality control dari Balai Monitoring ataupun pihak lainnya untuk memastikan penggunaan microwave link sesuai dengan frekuensi yang ditetapkan.5/55 3. 383 ITU-R F. 747 ITU-R F. Pada tabel berikut ini disampaikan usulan rencana pengkanalan frekuensi microwave link TABEL 21.6 GHz   Channelling Plan ITU-R F. 384 ITU-R F. 637 Channel Width (MHz) 29. setelah masa ISR nya selesai secara bertahap. Misalnya bila ISR lama yang tidak sesuai dengan perencanaan baru ingin ngotot terus beroperasi. Bila hasil verifikasi tidak sesuai dengan database. yang tidak sesuai dengan rencana kebijakan akan diberi masa transisi untuk pindah ke frekuensi lain yg sesuai atau tidak diperpanjang izin dengan menggunakan sarana transmisi alternatif.5-10.

Pelaksanaannya akan dilakukan secara bertahap. di www. KRAP termasuk jenis penyelenggaraan telekomunikasi khusus untuk keperluan sendiri yang dimaksudkan untuk menampung potensi aspirasi masyarakat yang ingin menggunakan komunikasi radio antar penduduk. Ditjen Postel).go. Perkecualian diberikan pada perizinan amatir warga negara asing yang masih dikeluarkan oleh pemerintah pusat (c.77/2003 tentang Komunikasi Radio Antar Penduduk. Akan tetapi sejak disahkannya PP No. Peraturan Menkominfo tersebut dapat di unduh di website Ditjen Postel.BAB . Organisasi yang merupakan wadah resmi bagi anggota Amatir Radio di Indonesia adalah Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI).7 AMATIR RADIO DAN KOMUNIKASI RADIO ANTAR PENDUDUK (CITIZEN BAND / CB) 1.KOMINFO/8/2009 Tentang Penyelenggaraan Radio Antar Penduduk sebagai pengganti Kepmenhub tersebut. penyelenggaraan telekomunikasi khusus perseorangan tersebut memiliki pengaturan yang unik. sebagai perwujudan asas dekonsentrasi.id di bagian Regulasi Frekuensi. karena izin bagi amatir radio dan Komunikasi Radio Antar Penduduk (KRAP) dilakukan oleh Dinas Perhubungan Pemerintah Daerah (Pemda).38 tahun 2007 tentang pembagian kewenangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.KOMINFO/08/2009 Tentang Penyelenggaraan Amatir Radio dan Peraturan Menkominfo Nomor: 34/PER/M.q. maka pada bulan Agustus 2009 telah ditetapkan Peraturan Menkominfo Nomor: 33/PER/M. Organisasi yang merupakan wadah resmi bagi pemiliki izin komunikasi radio antar penduduk adalah Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI). Sebelum bulan Juli 2007. Setelah melakukan pembahasan antara Ditjen Postel bersama-sama ORARI dan RAPI tentang perubahan Kepmenhub No. maka seluruh proses perizinan kembali dilaksanakan oleh Ditjen Postel. Kegiatan radio amatir adalah kegiatan latih diri saling berkomunikasi dan penyelidikan-penyelidikan teknik yang diselenggarakan oleh para amatir radio. Komunikasi Radio Antar Penduduk (KRAP) adalah Komunikasi Radio yang menggunakan pita frekuensi radio yang telah ditentukan secara khusus untuk penyelenggaraan KRAP dalam wilayah Republik lndonesia. PENDAHULUAN Dalam istilah perundang-undangan telekomunikasi di Indonesia komunikasi radio amatir dan komunikasi radio antar penduduk (KRAP) dikelompokkan ke dalam penyelenggaraan telekomunikasi khusus untuk keperluan perorangan.postel.49/2002 tentang Amatir Radio dan Kepmenhub No. 104 .

Pada Kepdirjen Postel No. dan lagi penggunaan frekuensi HF untuk penggunaan banyak orang secara non eksklusif dikhawatirkan dapat menimbulkan gangguan serius ke pengguna negara lain.KOMINFO/08/2009 Tentang Penyelenggaraan Amatir Radio. Dengan karakateristik amatir radio sebagai kegiatan riset. VHF. HF. maka kegiatan amatir radio dapat menjadi landasan kuat bangkitnya industri dalam negeri dengan riset / ujicoba yang dilaksanakan oleh Amatir Radio Indonesia.1 AMATIR RADIO Pita frekuensi yang digunakan adalah pita frekuensi yang dalam tabel Radio Regulation terdapat alokasi Amateur Services. Rincian alokasi spektrum komunikasi radio untuk amatir dapat dilihat pada lampiran 5.960 MHz sampai dengan 27. Pengaturan lebih rinci dapat dilihat pada Peraturan Menkominfo Nomor: 34/PER/M. Saat ini alokasi UHF tersebut digunakan untuk kanal frekuensi selular NMT-470 di beberapa lokasi dan juga untuk kanal TV-UHF. Pengaturan lebih rinci dapat dilihat pada Peraturan Menkominfo Nomor: 33/PER/M.410 MHz yang dibagi menjadi 40 kanal.415 MHz). 105 . ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN 2. Usulan ini sulit dikabulkan. Rincian alokasi spektrum serta pengkanalan untuk Komunikasi Radio antar Penduduk (KRAP) dapat dilihat pada lampiran 6.92 tahun 1994 juga dialokasikan KRAP untuk UHF (476. mengingat telah terdapat pengguna eksisting.41 – 477. Di Indonesia. dan yang diizinkan pada pita VHF (Very High Frequency) untuk pelaksanaan penyelenggaraan KRAP adalah frekuensi radio 142.600 MHz dengan spasi alur 20 KHz. alokasi pita frekuensi yang diizinkan pada pita HF (High Frequency) untuk pelaksanaan penyelenggaraan KRAP adalah frekuensi radio 26. UHF bahkan SHF. 2. Terdapat usulan RAPI sebagai organisasi induk KRAP untuk menambah alokasi frekuensi HF 11 MHz dan frekuensi 430 MHz.KOMINFO/8/2009 Tentang Penyelenggaraan Radio Antar Penduduk.2 ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA KRAP / CB Pita frekuensi yang digunakan mengambil alokasi untuk Fixed Services.000 MHz sampai dengan 143. Alokasi frekuensi untuk Amatir sangat luas meliputi frekuensi VLF. Berdasarkan keputusan tersebut pada tahun 1998 alokasi frekuensi UHF tersebut dicabut. LF.2.

Dengan diberlakukannya PP No.33/2009 dan Permen Kominfo No. yaitu: • • • Peraturan Menkominfo Nomor: 33/PER/M. REGULASI TEKNIS DAN KONDISI OPERASI Terdapat sejumlah regulasi teknis. alokasi frekuensi yang disediakan. Dinas Perhubungan. maka proses perizinan dilakukan oleh Ditjen Postel dan UPT Balai/Loka Monitoring di setiap wilayah di Indonesia. 106 .77/2003). Izin Amatir Radio terdiri dari IAR (Izin Amatir Radio) dan IPPRA (Izin Penguasaan Perangkat Radio Amatir). Dengan berlakunya Peraturan baru. Batasan-batasan operasional. Ditjen Postel-Depkominfo. c. maka Izin disederhanakan menjadi hanya Izin Amatir Radio (IAR) dan Izin Komunikasi Radio Antar Penduduk (IKRAP).3. maka semua pelaksanaan perizinan stasiun radio termasuk amatir radio dan Komunikasi Radio Antar Penduduk dilakukan oleh pemerintah pusat. Sedangkan mengenai kesesuaian dengan regulasi teknis.49/2002 dan Permenhub No. Dengan diberlakukannya PP No. Permen Kominfo No.q.25 tahun 2000. Izin Komunikasi Radio Antar Penduduk (KRAP) saat ini terdiri dari IKRAP (Izin Komunikasi Radio Antar Penduduk) dan IPPKRAP (Izin Penguasaan Perangkat Komunikasi Radio Antar Penduduk).38 tahun 2007 sebagai pengganti PP No. Sedangkan.q.38/2007 dan Permen No. Sebelum Juli 2007.34/2009.KOMINFO/08/2009 Tentang Penyelenggaraan Amatir Radio Peraturan Menkominfo Nomor: 34/PER/M.KOMINFO/8/2009 Tentang Penyelenggaraan Radio Antar Penduduk Keputusan Dirjen Postel Nomor: 80/DIRJEN/1999 Tentang Persyaratan Teknis Perangkat Amatir Radio Ketentuan teknis tersebut dapat di download di website Ditjen Postel pada bagian regulasi standardisasi.33/2009 dan Permen No. Pernyataan penguasaan perangkat komunikasi radio untuk Amatir Radio ditentukan melalui sertifikat kecakapan amatir radio (SKAR).34/2009. Sebagai catatan bahwa pada saat tulisan ini dibuat (Agustus 2009). diatur melalui regulasi sertifikasi dan standardisasi alat dan perangkat telekomunikasi yang berlaku. 4. distribusi call sign semuanya terdapat dalam peraturan-peraturan tersebut di atas. semua proses perizinan dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah c. standar dan spesifikasi perangkat pemancar sistem telekomunikasi amatir radio dan KRAP yang telah ditetapkan oleh Ditjen Postel. PERIZINAN DAN PERSYARATAN Berdasarkan Peraturan yang lama (Permenhub No. spesifikasi teknis alat dan perangkat servis bergerak darat sedang disusun.

PENDAHULUAN Komunikasi radio untuk kepentingan maritim dan penerbangan merupakan komunikasi radio yang berhubungan dengan keselamatan transportasi melalui laut dan udara. Radiodetermination Services. Untuk hubungan komunikasi radio maritim internasional dikoordinasikan melalui ITU (International Telecommunication Union). terlebih dahulu dibutuhkan rekomendasi dari Ditjen Perhubungan Udara-Dephub. Maritime Mobile Services. Departemen Perhubungan. Demikian pula mengenai pengaturan serta penentuan kanal frekuensi untuk komunikasi radio penerbangan dilakukan bersama antara Ditjen Postel dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud). Sebelum izin stasiun radio untuk komunikasi radio maritim diberikan oleh Ditjen Postel. Dalam Radio Regulation (RR) ITU-R. Ditjen Hubla. Di Indonesia pengaturan serta penentuan kanal frekuensi dilakukan bersama antara Ditjen Postel dan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Ditjen Hubla). terutama yang bekerja di HF yang dapat menembus batas negara. Ditjen Hubud-Departemen Perhubungan dan TNI.8 KOMUNIKASI RADIO MARITIM DAN PENERBANGAN 1. Penggunaan komunikasi radio maritim dan penerbangan untuk kepentingan pertahanan dan keamanan negara dikoordinasikan bersama antara Ditjen Postel. Sedangkan untuk hubungan komunikasi radio penerbangan internasional dikoordinasikan melalui ITU dan ICAO (International Civil Aviation Organization). alokasi frekuensi untuk kepentingan komunikasi radio maritim dan penerbangan meliputi Aeronautical Mobile Services. Sebelum izin stasiun radio untuk komunikasi radio maritim diberikan oleh Ditjen Postel. terlebih dahulu dibutuhkan rekomendasi dari Ditjen Perhubungan Laut-Dephub. IMO (International Maritime Organization) maupun INMARSAT (Intenational Maritime Satellite). 107 . komunikasi GMDSS (Global Maritime Distress and Safety Services). ITU telah memberikan dan menentukan penjatahan (allotment) kanal frekuensi untuk setiap negara. maupun frekuensi komunikasi radio penerbangan. Departemen Perhubungan.BAB . Radiolocation Service baik servis terrestrial maupun satelit. Radionavigation Services. Untuk frekuensi radio stasiun pantai.

ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA KOMUNIKASI RADIO MARITIM Pita frekuensi radio yang digunakan adalah pita frekuensi yang dalam tabel alokasi Radio Regulation terdapat alokasi Maritime Mobile Services.Frequencies and channel arrangement in the high frequency bands for maritime mobile services Appendix 18 – Table of transmitting frequencies in the VHF maritime mobile band Appendix 25 . setiap kapal laut yang memiliki bobot melebihi ketentuan tertentu (1600 grt). Selain itu terbatasnya propagasi komunikasi MF atau VHF. Dengan diberlakukannya persyaratan GMDSS (Global Maritime Distress and Safety System) sejak tahun 1999.Frequencies for distress and safety communications for the Global Maritime Distress and Safety System (GMDSS) Appendix 17 . masih dapat menggunakan perangkat yang memenuhi ketentuan SOLAS 74. untuk kapal laut melayani jalur domestik / dalam negeri diberi kesempatan sampai tahun 2009 sebagai masa transisi untuk melengkapi perangkat GMDSS. Pengaturan perencanaan maupun penjatahan kanal frekuensi (allotment) diatur dalam Radio Regulation ITU sebagai berikut:         Article 5 .Frequency allocations Article 51 . yang membatasi jangkauan dan kemampuan sistem SOLAS tersebut.8 MHz (Channel 16) VHF. Maritime Mobile Satellite Services. 108 .2. Sistem komunikasi radio non GMDSS yang digunakan adalah:   Telegrafi kode Morse pada 500 kHz MF Radio-telephony pada frekuensi 2182 kHz atau 156.Provisions and associated frequency allotment Plan for coast radiotelephone stations operating in the exclusive maritime mobile bands between 4 000 kHz and 27 500 kHz Berdasarkan International Convention for Safety of Life at Sea (SOLAS 74 dan amandemennya).Conditions to be observed in the maritime services Article 52 . Radionavigation Services. Mobile Services. Sehingga sampai waktu tersebut. Kelemahan sistem SOLAS ini adalah ketergantungan dan kebutuhan operator radio yang ahli dan menguasai kode morse. harus dilengkapi pesawat komunikasi radio untuk distress and safety (keselamatan dan marabahaya). Berdasarkan kebijakan Ditjen Perhubungan Laut-Dephub. maka setiap kapal laut yang akan berlayar ke luar negeri diharuskan dilengkapi dengan persyaratan GMDSS.Special rules relating to the use of frequencies in Maritime Services Appendix 13 – Distress and safety communication Non-GMDSS Appendix 15 .

16806. search and rescue (SAR) sehingga dapat dikoordinasikan untuk menjamin keselamatan pelayaran. Hanya sebagian kecil dari pitapita tersebut yang digunakan untuk komunikasi maritim bergerak.577 kHz.5 kHz.5 kHz.5 kHz. 12579 kHz. 16 MHz. Kanal frekuensi dialokasikan dengan bandwidth 3 kHz untuk komunikasi telepon radio. Berikut ini adalah alokasi frekuensi yang digunakan untuk komunikasi maritim terrestrial:  MF band (435 kHz s/d 526. 6 MHz. 8416.5 kHz. 6314 kHz.Sistem GMDSS merupakan suatu sistem komunikasi yang dikembangkan untuk menyediakan pelaut suatu komunikasi global dan jaringan penentu lokasi.5 kHz s/d 3.5 kHz untuk Narrow Band Direct Printing (NBDP)  2182 kHz untuk radio-telephony  2187. 8414.    109 . 8 MHz. o Frekuensi yang digunakan untuk GMDSS adalah sebagai berikut:  2174. telex. 4125 kHz dan 5850 kHz untuk komunikasi SAR antara unit maritim dan penerbangan.5 kHz untuk broadcast dari stasiun pantai dengan Narrow Band Direct Printing (NBDP)  3023 kHz.5 MHz) o Pita frekuensi ini dibagi menjadi pita-pita 4 MHz. 16804. 6312 kHz.5 kHz) o Digunakan untuk komunikasi kode Morse 500 kHz untuk panggilan dan marabahaya (distress and safety) non-GMDSS o Frekuensi 518 kHz digunakan untuk Narrow Band Direct Printing (NBDP) broadcast ke kapal laut (NAVTEX). MF band (1606. 22376 kHz dan 26100. untuk operasi telepon radio (radio-telephony) dan telex baik untuk mode simpleks maupun dupleks untuk jangkauan menengah melalui propagasi groundwave. perangkat yang dapat dioperasikan oleh seseorang dengan pengetahuan komunikasi minimum. faksimili dan data baik untuk mode simpleks maupun dupleks untuk jangkauan jarak jauh melalui propagasi skywave. tetapi dapat memberikan informasi tanda bahaya.5 kHz. VHF band (156 s/d 174 MHz) o Kanal frekuensi dialokasikan dengan interval 12. Penomoran kanal dapat dilihat pada tabel berikut ini.5 kHz untuk Digital Selective Calling (DSC) HF band (3155 kHz s/d 27.4 kHz untuk Digital Selective Calling (DSC)  4210 kHz.5 kHz. 12 MHz. o Frekuensi yang digunakan GMDSS adalah sebagai berikut:  4207. 19680.8 MHz) o Kanal frekuensi dialokasikan dengan bandwidth 3 kHz. 12. 22 MHz dan 25 MHz.

425 156.70 160.525 (kanal 70) digunakan untuk panggilan dan marabahaya (distress and safety) menggunakan Digital Selective Calling (DSC) 110 .75 161.80 161.675 161.40 Rx (MHz) 160.60 161.76 secara eksklusif digunakan untuk NBDP  Ch.80 156.35 157.70 156.75 156.85 156.875 161.75 156.625 160.675 156.60 156.575 156.55 161.125 157.175 157.625 156.875 161.50 156.375 157.40 156.10 157.75 160.45 156.85 161.025 156.15 157.90 156.925 156.05 160.00 157.60 156.25 156.85 161.875 160.65 156.225 156.35 156.725 160.80 156.525 156.325 157.75 adalah guardband untuk Ch.875 156.40 156.05 156.10 156.825 161.65 161.075 157.16 Frekuensi yang digunakan untuk GMDSS adalah sebagai berikut:  156.65 MHz (kanal 16) digunakan untuk komunikasi antar kapal laut yang terkait masalah keselamatan navigasi pelayaran.20 157.975 157.50 156.925 161.725 161.975 162.05 157.725 156.525 161.70 161.625 156.30 156.45 156.575 161.55 156.95 162.325 156.80 156.825 156.375 156.00 Ch 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 Tx (MHz) 156.275 156.775 161.225 157.70 secara eksklusif digunakan untuk DSC  Ch.675 156.825 160.475 156.20 156.625 161.525 156.30 160.925 156.725 156.475 156.375 156.075 156.175 156.70 156.90 161.Ch 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Tx (MHz) 156.65 156.50 161.75 160.  156.125 156.95 156.825 156.575 156.775 160.30 157.55 156.95 157.025 157.275 157.25 157.425 Rx (MHz) 160.425 156.80 MHz (kanal 16) digunakan untuk panggilan dan marabahaya (distress and safety) internasional non-GMDSS  156.3 MHz (kanal 06) digunakan untuk komunikasi antara kapal laut dan pesawat terbang yang terlibat dalam operasi SAR.  156.025 o Catatan:  Ch.675 160.15 156.

uplink komunikasi satelit  9200 – 9500 MHz. Pengaturan perencanaan maupun penjatahan kanal frekuensi (allotment) diatur dalam Radio Regulation ITU sebagai berikut:     Article 5 . Aeronautical Mobile (route) services.o Pita frekuensi radio GMDSS lainnya  406 – 406.5 MHz. Radionavigation Satellite Services. ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA KOMUNIKASI RADIO PENERBANGAN Pita frekuensi radio yang digunakan adalah pita frekuensi yang dalam tabel alokasi Radio Regulation terdapat alokasi Aeronautical Mobile Services. Radiodetermination Services.Frequency allotment Plan for the aeronautical mobile (R) service and related information Rincian alokasi spektrum dan band plan Komunikasi Radio untuk keperluan Penerbangan dapat dilihat pada tabel 22 berikut ini. 3.Special rules relating to the use of frequencies Appendix 26 . Rincian alokasi spektrum dan perencanaan pita komunikasi radio untuk keperluan maritim dapat dilihat pada lampiran 7. uplink akses satelit EPIRB (Emergency Position Indicating Radiobeacon)s.  1530 – 1544 MHz.5 – 1645. downlink komunikasi satelit  1626.Provisions and associated Frequency Allotment Plan for the aeronautical mobile (OR) service Appendix 27 . radar maritim termasuk pengoperasian SAR dan transponder SART. Mobile Satellite Services. 111 .Frequency allocations Article 43 . Radiolocation Services.1 MHz.

975 MHz SERVIS RNS RNS ARNS RNS ARNS ARNS ARNS RNS AMS AMS ( R ) AMS (OR) AMS AMS AMS ( R ) AMS (OR) AMS ( R ) AMS (OR) AMS ( R ) AMS (OR) AMS ( R ) AMS (OR) AMS ( R ) AMS (OR) AMS ( R ) AMS (OR) AMS ( R ) AMS ( R ) AMS (OR) AMS ( R ) AMS ( R ) AMS ( R ) ARNS ARNS CATATAN Omega: perangkat lama. MWARA:Major World Air Route Area. RDARA:Regional and Domestic Air Route Area . sudah banyak tidak digunakan lagi Loran-C: Perangkat lama. sudah banyak tidak digunakan lagi NDB (Radio Non-Directional Beacon) Perangkat lama.TABEL 22.8-75. ILS (Instrument Landing System) 112 . sudah banyak tidak digunakan lagi ***********Untuk Maritim*********** Alat di pasaran sudah tidak ada NDB Loran A      Komunikasi udara/darat . Contoh: Pilot Internasional harus melapor meskipun hanya melintas Indonesia . Komunikasi antara bandara ke bandara seluruh Indonesia . Komunikasi data dari ground ke ground . 10 11 12 13 SAR Penerbangan SAR Penerbangan Marker Beacon Pendaratan di bandara VOR (VHF Omni Directional Ring) . HF suara dan data . Komunikasi jarak jauh antara tower dan pilot (voice) .2 MHz 108-117. RINCIAN ALOKASI SPEKTRUM DAN BAND PLAN KOMUNIKASI RADIO PENERBANGAN NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 FREKUENSI 9-14 KHz 90-110 KHz 130-535 KHz 130-160 KHz 160-190 KHz 190-535 KHz 190-415 KHz 1800-2000 KHz 2850 – 22000KHz 2850-3025 kHz 3025-3155 kHz 3400 -3500 kHz 3900-3950 kHz 4650-4700 kHz 4700-4750 kHz 5480-5680 kHz 5680-5730 kHz 6525-6685 kHz 6685-6765 kHz 8815-8965 kHz 8965-9040 kHz 10005-10100 kHz 11175-11275 kHz 11275-11400 kHz 13200-13260 kHz 13260-13360 kHz 17900-17970 kHz 17970-18030 kHz 21924-22000 kHz 3023 KHz 5680 KHz 74. Digunakan secara eksklusif .

ACAS:Airborne Collision Avoidance System SSR:Secondary Surveilence Radar. ELT:Emergency Location Transmiter . ELT:Emergency Location Transmiter .4 MHz 406-406. Jika ada pelanggaran penggunaan frekuensi radio yang mengganggu frekuensi radio untuk keselamatan penerbangan dan maritim. maka akan dilakukan tindakan monitoring dan penertiban secara cepat dan tegas sesuai peraturan nasional dan internasional.   113 . ACAS:Airborne Collision Avoidance System GNSS:Global Navigation Satellite system.5 MHz 2700-3300 MHz 4200-4400 MHz ARNS RLS/RNSS ARNS/RLS MSS MSS ARNS/RNSS/ MSS ARNS/RDS/M SS ARNS/RLS ARNS CATATAN Komunikasi Pilot ke Pilot . ACC Frekuensi emergensi .5 MHz 123. Beacon ILS Glide path SAR satellite DME:Distance Measuring Equipment SSR:Secondary Surveilence Radar . ELT:Emergency Location Transmiter .NO 14 FREKUENSI 117.5-1660. Voice Frekuensi emergensi .5 MHz 1559-1626.1 MHz 243 MHz 328.975-137 MHz SERVIS AMS ( R ) AMS ( R ) /mobile AMS ( R ) /mobile AMS ( R ) /mobile ARNS MSS ARNS ARNS 15 16 17 18 19 20 21 121.6-335. harus bebas dari interferensi yang merugikan. Voice Frekuensi emergensi .5 MHz 1610-1626. ADC:Air Drome Control (Landing Position) .1 MHz 960-1215 MHz 1030 MHz 22 23 24 25 26 27 28 29 30 1090 MHz 1215-1260 MHz 1260-1400 MHz 1525-1559 MHz 1626. Primer Surveilance Radar Satellite Communication Satellite Communication GNSS (Global Navigation Satellite System) GLONASS Surveilance Radar Radio Altimeter Catatan : AMS ( R ) AMS ( OR ) ARNS MSS RLS RNSS RDS : : : : : : : AERONAUTICAL MOBILE SERVICES (Route) AERONAUTICAL MOBILE SERVICES (Off Route) AERONAUTICAL RADIONAVIGATION SERVICES MOBILE SATELLITE SERVICE RADIOLOCATION SERVICES RADIONAVIGATION SATELLITE SERVICES RADIODETERMINATION SATELLITE SERVICES Penggunaan pita frekuensi untuk kepentingan maritim dan penerbangan terutama yang bersangkutan dengan keselamatan jiwa manusia. Komunikasi Pilot ke Tower . APP:Air Approach Control .

Broadband merupakan faktor teknologi fundamental yang memungkinkan transformasi ekonomi dan sosial serta merupakan faktor kunci (kritikal) bagi tingkat kompetitif suatu bangsa. Sedangkan layanan video dan hiburan meliputi tv siaran. W-LAN. Seringkali broadband dikatakan memiliki kemampuan “triple play” bahkan “four play” yaitu mampu menyediakan layanan internet kecepatan tinggi. Layanan personal meliputi akses internet berkecepatan tinggi (256 kbps dan lebih) dan akses multimedia. Layanan Komersial di antaranya adalah e-commerce. serta corporate internet. layanan publik dari pemerintah terdiri dari antara lain e-governance. Layanan yang dapat disediakan broadband meliputi layanan personal.BAB . penyiaran (video dan audio) serta mobile. layanan pita lebar nirkabel (wireless broadband) adalah layanan telekomunikasi nirkabel yang kecepatan transmisi datanya sekurangkurangnya 256 kbps. layanan komersial. Wireless Access. implementasi broadband dapat menggunakan infrastruktur eksisting. kapasitas tinggi menggunakan DSL. PENDAHULUAN Secara umum. interactive gaming. video on demand. Mengacu pada Peraturan Menkominfo Nomor: 07/PER/M. serta online radio. internet bagi perusahaan. Definisi rentang kecepatan layanan broadband bervariasi dari 200 Kbps s/d 100 Mbps. V-SAT. music on demand. Ethernet. dsb.KOMINFO/01/2009 tentang Penataan Pita Frekuensi Radio Untuk Keperluan Layanan Pita Lebar Nirkabel (Wireless Broadband). e-education serta tele-medicine. Fiber Optik. Secara teknologi. Modem Kabel. dengan rincian sebagai berikut:  Infrastruktur Eksisting o DSL melalui jaringan akses tembaga (DSL over Copper loop) o Modem kabel melalui jaringan TV Kabel (Cable Modem over Cable TV network) o Akses Broadband Jalur Listrik (Power Line Broadband Access) Infrastruktur Baru o Fiber To The Home (FTTH) o Hybrid Fiber Coaxial (HFC) Infrastruktur Nirkabel o Wireless Access (FWA) / High speed WLL 114   . serta layanan video dan hiburan. layanan publik dari pemerintah. Broadband Wireless Access (BWA) / Wireless Broadband dideskripsikan sebagai komunikasi data yang memiliki kecepatan tinggi. teleponi.9 BROADBAND WIRELESS ACCESS (BWA) 1. infrastruktur baru ataupun infrastruktur nirkabel.

KOMINFO/01/2009 tentang Penataan Pita Frekuensi Radio Untuk Keperluan Layanan Pita Lebar Nirkabel (Wireless Broadband) yang bertujuan untuk : a. Perencanaan pita frekuensi yang ditetapkan melalui standar IEEE maupun pita frekuensi yang non standar (propritary). Pita IMT-2000Advanced: 450 MHz.5 – 2. ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA 2 Alokasi spektrum untuk Broadband Wireless Access (BWA).. yaitu:   Perencanaan pita frekuensi yang ditentukan berdasarkan peraturan radio internasional oleh sidang ITU sebagai seperti IMT (International Mobile Telecommunication). dsb V-SAT IMT-2000 (3G Mobile): HSDPA/ CDMA-EVDO Menginggat frekuensi wireless broadband merupakan frekuensi yang strategis dan fundamental. 3. Contoh dari Perencanaan pita fekuensi yang didefinisikan secara internasional melalui ITU antara lain :    Pita IMTcore-band (1920 -1980 MHz. Memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.20). WiMax (802. 2. c. ditetapkan dalam sidang WRC-2000. Pada sidang Radiocommunication Assembly (RA) ITU-R telah berhasil memasukkan standar Wimax supaya diakui menjadi standar IMT. maka diperlukan penataan dalam hal penggunaannya yang diatur dalam Peraturan Menkominfo Nomor: 07/PER/M.7 GHz serta 5. 1710 – 1920 MHz.7 GHz. 470 – 860 MHz. d.4 GHz.9 GHz.3-2. b. I-Burst (802.3-2.o o o Wireless LAN (Wi-Fi) (802.16). 2500 -2700 MHz.8 GHz. yang belum ditetapkan sebagai standar ITU. 2110 -2170 MHz). 2.4 GHz. 3. ditetapkan dalam sidang WRC-1992. dan Mempercepat peningkatan teledensitas akses telekomunikasi dan informasi serta penyebaran layanan pita lebar nirkabel (wireless broadband) secara merata ke seluruh wilayah Indonesia. secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua bagian. Pita IMT extended band ((WRC-2003) : 806 -960 MHz.4 – 3. Beberapa pita frekuensi seperti 2.4 – 4.11). 115 . Memberikan pedoman dalam penggunaan frekuensi radio untuk keperluan layanan pita lebar nirkabel (wireless broadband). yang ditetapkan dalam sidang WRC-2007. Mendorong pertumbuhan industry telekomunikasi dan informatika nasional. suatu forum industry penentuan standar Wimax. ditetapkan oleh Wimax Forum.

q Ditjen Postel telah mendorong penyelenggara BWA untuk memenuhi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) sesuai dengan Permenkominfo No. Izin penggunaan frekuensi tersebut berdasarkan izin pita frekuensi radio. sehingga menyulitkan dalam implementasi pengembangannya.3 GHz. permohonan izin baru BWA dengan menimbang pada ketersediaan spektrum frekuensi untuk layanan BWA sangat terbatas.8 GHz. Dengan diterbitkannya Permenkominfo No. 7 Tahun 2009. Pada pita 3. 3. Selain itu.5 GHz. Izin penggunaan alokasi frekuensi BWA diberikan melalui mekanisme evaluasi kepada sejumlah penyelenggara telekomunikasi seperti kepada ISP. 2 GHz.7 GHz (ext-C band). karena perkembangan teknologi BWA yang belum matang. Dengan telah ditetapkannya kebijakan regulasi dan perizinan.7 GHz diwajibkan untuk melakukan migrasi ke pita frekuensi 3.4 GHz dan 5.4 – 3. Pemerintah c. Sejumlah penyelenggara yang telah mendapatkan alokasi frekuensi BWA tidak memanfaatkan spektrum frekuensi yang diberikan secara optimal. sesuai dengan regulasi yang berlaku. Akan tetapi pada prakteknya. NAP. maka standar perangkat BWA lama yang digunakan sejumlah penyelenggara belum menggunakan standar terbuka.Dalam Peraturan Menkominfo Nomor: 07/PER/M.postel.4 – 3. sesuai dengan semangat memajukan industri dalam negeri. penggunaan bersama/sharing antara operasional BWA eksisting dengan stasiun bumi sistem satelit (V-SAT) tidak dapat berjalan dengan baik. Sedangkan untuk pita frekuensi 2.KOMINFO/01/2009 tentang Penataan Pita Frekuensi Radio Untuk Keperluan Layanan Pita Lebar Nirkabel (Wireless Broadband) telah ditetapkan pita frekuensi 300 MHz. tanpa ada suatu landasan kebijakan.5 GHz. 2. Dalam pekembangaannya.id di bagian Regulasi Frekuensi. pemberian izin alokasi frekuensi BWA yang eksklusif akan diberikan melalui proses seleksi. 3.3 GHz dan 10. 116 . KONDISI EKSISTING Beberapa permasalahan penggunaan frekuensi BWA di Indonesia yang ditemukan antara lain diakibatkan regulasi dan kebijakan serta pemberian izin sebelum tahun 2005 yang kurang tepat. penyelenggara jaringan tetap lokal berbasis packet switched & penyelenggara multimedia.go. kriteria serta komitmen pembangunan yang jelas. 1. penyelenggara eksisting BWA di pita frekuensi 3. 9 Tahun 2009. Yang lebih menyulitkan lagi bahwa beberapa izin alokasi penggunaan frekuensi diberikan tanpa ada batasan yang jelas baik dari sisi wilayah cakupan izin maupun pita frekuensi yang digunakan. izin penggunaan frekuensinya berdasarkan izin kelas.3 GHz dengan syarat dan ketentuan yang berlaku sesuai dengan Permenkominfo tersebut yang pengaturannya dapat diunduh di www. izin BWA diberikan dengan status sekunder terhadap sistem satelit. artinya sistem BWA tidak boleh mengganggu dan tidak mendapatkan proteksi dari sistem satelit.

yaitu wilayah Jawa Bagian Timur. Zona 12. yaitu wilayah Papua. yaitu wilayah Sulawesi Bagian Utara. Pada bulan November 2006 disusun suatu draft white paper Penataan Frekuensi BWA dan juga dilakukan konsultasi publik. Zona 15.id. Zona 8. mengenai BWA yang dapat memberikan landasan bagi industri telekomunikasi di tanah air. mendorong penggunaan standar BWA yang terbuka sehingga dapat memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat. yaitu wilayah Sulawesi Bagian Selatan. Ditjen Postel berusaha menyusun kerangka kebijakan dan regulasi BWA secara komprehensif. 117 . Zona 11. manufaktur. Depok. Pada bulan Mei 2006 dan November 2006 dilakukan konsultasi publik dengan berbagai pihak terkait. Zona 9. dsb. Zona 13. yaitu wilayah Sumatera Bagian Tengah. Zona 5. bulan Januari 2009 telah ditetapkan Peraturan Menkominfo yang dapat dilihat melalui website Ditjen Postel. Zona 7. Tanggerang dan Bekasi. Jakarta. Zona 3. Depok dan Bekasi.postel. yaitu wilayah Sumatera Bagian Utara. Zona 10. Ditjen Postel kemudian juga telah melakukan konsultasi publik dengan menerbitkan white paper ke dua tentang penataan pita frekuensi BWA pada medio Oktober 2008. vendor. calon pemohon. yaitu wilayah Jawa Bagian Barat kecuali Bogor. yaitu wilayah Banten. Zona 4. Zona 14. yaitu wilayah Maluku dan Maluku Utara.Sejak awal tahun 2006.go. yaitu wilayah Kalimantan Bagian Barat. Zona 6. yaitu wilayah Bali dan Nusa Tenggara. yaitu wilayah Kepulauan Riau. yaitu wilayah Sumatera Bagian Selatan. yaitu wilayah Kalimantan Bagian Timur. pengoptimalan pemanfaatan spektrum frekuensi melalui pemberian izin pita dan pendistribusian wilayah layanan BWA menjadi 15 zone wilayah layanan BWA sehingga dapat mendorong penyebaran jaringan BWA. 15 zone wilayah layanan tersebut yaitu:                Zona 1. Tujuan dari penataan frekuensi BWA sendiri secara ringkas dapat digambarkan sebagai berikut :     mempercepat peningkatan teledensitas akses telekomunikasi dan informasi serta penyebaran jasa internet kecepatan tinggi secara merata ke seluruh wilayah Indonesia membangkitkan pertumbuhan industri manufaktur dan riset telekomunikasi dan informatika dalam negeri. www. yaitu wilayah Jawa Bagian Tengah. Bogor. Dari masukan konsultasi publik tersebut. Zona 2. penyelenggara eksising.

Penataan frekuensi BWA dan masa transisinya terdapat pada gambar 6 dan gambar 7. Sedangkan bagi pemegang izin alokasi frekuensi eksisting di 5.8 GHz 2. 3. Persiapan pemberian izin pita frekuensi BWA di pita frekuensi dan wilayah layanan yang belum diduduki.0 GHz. 1. akan diberikan hak pengelolaan frekuensi secara ekslusif di pita frekuensi dan wilayah layanan sesuai dengan Izin Stasiun Radio yang dimilikinya.3 GHz 10.4 GHz 2. PENATAAN FREKUENSI BWA Secara garis besar bahwa dalam penataan frekuensi BWA dibagi menjadi dua bagian besar. 2.5 GHz 5.5 GHz. Selain itu juga akan disesuaikan alokasi pita frekuensi dan wilayah layanan yang diizinkan sesuai dengan standar yang ditetapkan. yaitu :   Penyesuaian perizinan bagi pemegang izin alokasi frekuensi eksisting yang dberikan sebelum Mei 2005.8 GHz akan diprioritaskan bagi penggunaan backbone / backhaul point-to-point dengan kriteria bahwa permohonan penggunaan frekuensi yang dimaksud akan 118 .5 GHz.5 GHz.3 GHz. PENATAAN FREKUENSI BWA Pita Penetapan Eksisting 300 MHz 1 5 GHz 2 GHz 3.4.3 GHz Pita Penetapan Baru Standard Skema Perizinan Wilayah Layanan Frekuensi Izin 15 ZONE 15ZON E Per lokasi Proprietary: 7/8 MHz Bandwidth Netral : BW 5 MHz TDD. 3. 2x7 MHz FDD utk Netral :Maks TDD 20 MHz BW Netral : TDD Netral : TDD 5 MHz BW Izin Pita Izin per stasiun Izin Kelas Izin Pita 15ZON E Diperlukan Transisi Penyelenggara Eksisting 5. Hal ini disebabkan karena pita frekuensi 5. 2.8 GHz untuk layanan akses point-to-multipoint akan diberi waktu sampai dengan masa izinnya selesai.5 GHz dan 10. GAMBAR 6. PERIZINAN DAN PERSYARATAN Pemegang izin alokasi frekuensi eksisting di pita 300 MHz.

tahap hasil lelang dan tahap pasca lelang. terhadap fasilitas infrastruktur esensial termasuk di antaranya menara.5 GHz 2 GHz 2. backhaul. transparan dan mendapatkan hasil yang memuaskan bagi negara dan masyarakat. Persyaratan prakualifikasi standar tersebut meliputi antara lain.4 GHz 5. tahap proses pelaksanaan. kesanggupan memberikan akses (open access) kepada penyelenggara lain secara non diskriminasi. maupun akses frekuensi itu sendiri.dihubungkan dengan jaringan komunikasi publik pada titik tertentu dengan kapasitas lebih dari 40 Mbps. MASA TRANSISI PENATAAN FREKUENSI BWA Pita BWA 300 MHz 1.3 GHz pada tanggal 14 16 Juli 2009 menggunakan metode seleksi lelang elektronik (E-Auction). 6 bulan Pengguna frekuensi non BWA 2 tahun 1 tahun 2. Ditjen Postel telah melaksanakan Seleksi Penyelenggaraan Telekomunikasi Broadband Wireless Access (BWA) di Pita Frekuensi 2.5 GHz 3.8 GHz 2.3 Penyesuaian Blok Frek/Teknis Penyelenggar a BWA Migrasi Frek Masa Transisi Skema BHP Izin Frek Untuk Izin Pita akan diberlakukan BHP Pita yang besarannya akan ditentukan kemudian (sedang dilakukan studi BHP ISR ke BHP Pita ATAU menyesuaikan dengan hasil lelang/price taker pita terkait di daerah lain dengan prosentase. backbone. Dalam proses pelaksanaan kegiatan tersebut terdiri dari 4 (empat) tahap yaitu tahap persiapan. Proses seleksi telah dilaksanakan secara fair. rencana pengembangan layanan standar ( roll-out plan ). maka distribusi izinnya akan dilakukan melalui proses seleksi lelang dengan prakualifikasi.3 GHz Pengguna frek eksisting Penyelenggar a BWA Penyelenggar a BWA eksisting 3. GAMBAR 7. Calon pemohon seleksi akan diminta untuk menandatangani dokumen prakualifikasi standar yang berisi kewajiban-kewajiban tertentu.5 GHz 2 tahun 1 tahun Masa laku ISR Pengguna frekuensi non BWA 2 tahun Untuk Izin ISR tetap diberlakukan BHP ISR sesuai dengan Untuk pita frekuensi dan wilayah layanan lain yang belum diduduki. serta kesanggupan menggunakan perangkat produk industri nasional yang memiliki tingkat komponen dalam negeri sesuai ketentuan.3 GHz Penyelenggar a BWA eksisting 3. Hasil dari kegiatan seleksi adalah sebagai berikut: 119 .

000. Khusus untuk BWA 2. maka:  perbatasan zona wilayah layanan BWA didasarkan bukan pada wilayah administrasi saja melainkan wilayah unit standar di perbatasan 120 . melalui beberapa metode sebagai berikut: o Dalam hal penyelenggara telekomunikasi yang mendapatkan izin alokasi BWA TDD di 2. Pemenang seleksi USO tersebut bila ingin menggunakan BWA 2. (1 derajat x 1 derajat dalam longitude/lattitude) Koordinasi antar penyelenggara BWA diperlukan untuk mencegah interferensi. terdapat suatu kebijakan pemberian insentif bagi pemenang seleksi penyelenggara kewajiban layanan universal (USO) yang akan diberikan alokasi frekuensi 7 MHz di rentang 2380 – 2390 MHz di wilayah layanan telepon untuk pedesaan (WTUP) sampai dengan daerah kecamatan yang meliputinya. diwajibkan menggunakan perangkat yang memiliki tingkat kandungan lokal memenuhi ketentuan Peraturan Menteri Perindustrian yang berlaku. Biaya Izin Awal (Up Front Fee) yang diperoleh dari masing-masing hasil lelang peringkat pertama dan kedua di masing-masing zona yang dibayarkan hanya pada tahun pertama. Hai ini dimaksudkan untuk mendorong bangkitnya industri riset.3 GHz. Wilayah zona BWA ditentukan berdasarkan suatu unit wilayah standar dengan luas sekitar 11 x 11 km2.00 (empat ratus tiga puluh empat milyar lima puluh empat juta rupiah) per tahun.    Ditetapkan pemenang dari 2 blok yang dilelang pada 15 zona di seluruh Indonesia yaitu pemenang peringkat 1 dan 2.000.3 GHz.5 GHz adalah sebagai berikut:    izin penggunaan frekuensi akan ditentukan pada 15 wilayah zona BWA standar yang ditentukan. Beberapa ketentuan tambahan yang perlu diperhatikan untuk penyelenggara BWA di pita 2 GHz. 2. dengan frekuensi yang sama.000.00 (empat ratus lima puluh delapan milyar empat ratus empat belas juta rupiah).3 GHz terkait diwajibkan melakukan sinkronisasi waktu (TDD) dengan penyelenggara yang memiliki alokasi frekuensi bersebelahan o Dalam hal penyelenggara telekomunikasi yang memiliki stasiun radio (BTS) di daerah yang berbatasan dengan wilayan penyelenggara layanan BWA lainnya.3 GHz dimaksud di atas.414.000. Total Biaya Izin Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio Tahunan adalah sebesar Rp 434. 3. Total Up Front Fee yang diperoleh adalah sebesar Rp 458. dan dibayarkan selama 10 (sepuluh) tahun masa laku izin.3 GHz. 3.3 GHz.054. dan Biaya Izin Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio Tahunan yang besarannya diambil dari hasil lelang peringkat kedua pada masingmasing zona. pengembangan dan manufaktur telekomunikasi nasional. 10.

polarisasi. melainkan cukup menggunakan perangkat yang sudah disertifikasi / type approved oleh Ditjen Postel. tanpa proteksi dan tidak boleh menimbulkan interferensi. pemilihan lokasi pemancar atau pengendalian daya pancar.  Mengenai penggunaan frekuensi 2. maka diusulkan kebijakan perizinan dan ketentuan teknis untuk kedua penggunaan frekuensi dimaksud.4 GHz dan 5. Pemasangan BTS ditentukan sedemikian rupa sehingga besar kuat medan / level sinyal penerimaan di wilayah yang bersebelahan tidak boleh melewati batas maksimum emisi tertentu Penyelenggara telekomunikasi dimaksud dianjurkan untuk melakukan sedapat mungkin teknik pencegahan interferensi meliputi diskriminasi antena.2/2005 ttg penggunaan 2.8 GHz tersebut tidak berlaku untuk wilayah yang telah ada pemegang surat alokasi frekuensi yang ditetapkan Ditjen Postel sebelumnya.8 GHz akan ditetapkan menjadi izin kelas secara bertahap. pengaturan antena. setelah diskusi cukup banjang dengan berbagai pihak terkait. meliputi antara lain :  Penggunaan frekuensi 5.8 GHz digunakan secara bersama-sama. Setelah waktu tersebut penggunaan frekuensi 5.8 GHz yang seringkali menjadi polemik.8 GHz. vendor.8 GHz eksisting tetap dapat menggunakan investasi perangkat eksisting dan mengembangkan di wilayah layanan sesuai dengan ketentuan surat persetujuan alokasi frekuensi yang dimilikinya. Izin kelas berarti bahwa pengguna frekuensi radio 5.4 GHz dimaksudkan untuk menyesuaikan persyaratan seperti pada Kepmenhub No. serta beroperasi sesuai dengan batasan teknis yang ditetapkan. Pemohon baru tidak perlu lagi mengajukan izin stasiun radio secara prosedur aplikasi ISR biasa. narasumber / expert maupun berbagai asosiasi industri.8 GHz eksisting mendapatkan prioritas sampai dengan Januari 2011. Kebijakan Perizinan dan Ketentuan Teknis Wireless Data 5. shielding/blocking. 2/2005). Pengguna frekuensi 5. paling lambat bulan Januari 2011.8 GHz eksisting yang telah mendapatkan surat persetujuan alokasi frekuensi.   Sedangkan batasan teknis penggunaan frekuensi 2. perlengkapan sudah terspesifikasi seperti pada KM No. Untuk pita-pita frekuensi lain yang belum diatur.4 GHz untuk akses internet yang diberlakukan untuk izin kelas (bebas dipakai untuk teknologi tertentu dengan syarat. Artinya bahwa pemohon baru di wilayah-wilayah dimaksud harus membuktikan bahwa aplikasi izinnya tidak menimbulkan potensi gangguan terhadap pengguna frekuensi 5. maka Ditjen Postel akan segera melengkapi regulasi ketentuan teknis dengan mengkaji referensi 121 . Penerapan izin kelas di 5. termasuk manufaktur.

Untuk sementara.3 GHz telah ditentukan mekanisme pembayaran BHP spektrum frekuensi radio untuk biaya izin awal (up front fee) dan untuk biaya izin pita spektrum frekuensi radio (IPSFR) tahunan pemenang seleksi penyelenggaraan jaringan tetap lokal berbasis packet switched yang menggunakan pita frekuensi radio 2. proses migrasi dan pengenaan BHP Frekuensi Radio untuk penyelenggara layanan BWA dapat dilihat pada Gambar 5 dan 6 di atas. maka untuk kasus BWA yang memiliki izin pita frekuensi radio secara eksklusif di suatu wilayah layanan tertentu. Khusus untuk BHP Pita penyelenggara 2. Konsisten dengan kebijakan penerapan BHP frekuensi radio di penyelenggara selular. maka akan dikenakan BHP pita frekuensi radio secara bertahap. Secara garis besar.sejumlah negara. BHP FREKUENSI RADIO ITU serta APT (Asia Pacific Penetapan tarif BHP untuk layanan BWA berbasis per Izin Stasiun Radio (ISR) yang besarannya berbeda-beda antara teknologi yang satu dengan teknologi lainnya cukup menyulitkan untuki dimplementasikan dan juga tidak mendorong penyelenggara untuk mengembangkan jaringannya sesegera mungkin.3 GHz untuk keperluan layanan pita lebar nirkabel (wireless broadband) sebagai berikut : TAHUN PEMBAYARAN Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5 Tahun 6 Tahun 7 Tahun 8 Tahun 9 Tahun 10 PEMBAYARAN IPSFR TAHUNAN TOTAL PEMBAYARAN UP-FRONT FEE 1 X HP 0 X HP 0 X HP 0 X HP 0 X HP 0 X HP 0 X HP 0 X HP 0 X HP 0 X HP 1XHL 1X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1XHP + 1XHL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 1 X HL 122 . 6.8 GHz akan dikenakan BHP Frekuensi ISR sesuai dengan ketentuan yang berlaku. maupun rekomendasi Telecommunity) yang terkait. penggunaan frekuensi point-to-point dengan menggunakan frekuensi 5.

6 GHz KE PITA FREKUENSI RADIO 3.Ditjen Postel.KOMINFO/1/2009 TENTANG PENETAPAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) PADA PITA FREKUENSI RADIO 3.id di bagian Regulasi Telekomunikasi dan/atau Frekuensi. www.go.3 GHz PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 96/DIRJEN/2008 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI ANTENA BROADBAND WIRELESS ACCESS (BWA) NOMADIC PADA PITA FREKUENSI 2. 123 .KOMINFO/6/2009 TENTANG PENETAPAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL PADA PITA FREKUENSI RADIO 2 GHZ PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 27/PER/M.postel.3 GHz DAN MIGRASI PENGGUNA FREKUENSI RADIO EKSISTING UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) DARI PITA FREKUENSI RADIO 3.3 GHZ PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 9/KEP/M.Keterangan: HP = Harga Penawaran Peserta Pemenang Lelang per blok 1 X 15 MHz HL = Hasil Lelang per blok 1 X 15 MHz (diambil dari harga penawaran pemenang lelang kedua pada setiap Zona Wilayah Layanan) 7.4 – 3.KOMINFO/6/2009 TENTANG PENETAPAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL PADA PITA FREKUENSI RADIO 5.3 GHz         Semua regulasi tersebut dapat diakses melalui website Ditjen Postel.KOMINFO/1/2009 TENTANG PENETAPAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) PADA PITA FREKUENSI RADIO 2.KOMINFO/1/2009 TENTANG PENATAAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) KEPDIRJEN POSTEL NOMOR : 167/DIRJEN/2002 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT BROADBAND WIRELESS ACCESS PADA FREKUENSI 10 GHZ PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 94/DIRJEN/2008 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI SUBSCRIBER STATION BROADBAND WIRELESS ACCESS (BWA) NOMADIC PADA PITA FREKUENSI 2. REGULASI TERKAIT PENATAAN FREKUENSI BWA Terdapat sejumlah regulasi terkait penataan frekuensi BWA yang telah ditetapkan oleh Depkominfo .3 GHz PERDIRJEN POSTEL NOMOR: 95/DIRJEN/2008 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI BASE STATION BROADBAND WIRELESS ACCESS (BWA) NOMADIC PADA PITA FREKUENSI 2. antara lain sebagai berikut:    PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 26/PER/M.8 GHZ PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 8/KEP/M.3 GHz PERATURAN MENKOMINFO NOMOR : 7/KEP/M.

Telkom memberikan layanan telekomunikasi. 6 transponder ext-C band dan 4 transponder Ku-band. ketika Indonesia pertama kali terhubung dengan satelit Intelsat. Satelit ini dioperasikan oleh PT.7E) yang lebih dikenal dengan Cakrawarta. Sejak itu. satelit Cakrawarta. Satelit FSS (Fixed Satellite Services) Palapa C-2 (113E) yang memiliki daerah cakupan Asia Tenggara menyediakan 24 transponder C band.10 PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI SATELIT 1.      124 . Satelit ini merupakan kerjasama dari PSN Indonesia dengan Mabuhay-Philipina. Indonesia meluncurkan beberapa seri satelit seperti satelit Palapa seri B. seri C. yaitu:  Satelit FSS (Fixed Satellite Services) Palapa Telkom-1 (108E) yang memiliki daerah cakupan Asia Tenggara menyediakan 24 transponder C band dan 14 transponder ext-C band. Satelit ini beroperasi di L-band. Satelit MSS (Mobile Satellite Services) Garuda-1 (123E) yang memiliki daerah cakupan Asia Pasifik menyediakan layanan sistem telekomunikasi bergerak berbasis GSM melalui satelit (ACeS) lewat layanan BYRU serta aplikasi fixed melalui PASTI. Saat ini Indonesia memiliki 5 satelit telekomunikasi operasional yang didaftarkan melalui Administrasi Telekomunikasi Indonesia. PSN. internet. PLDT-Philipina dan Jasmine-Thailand. Telkom memberikan layanan telekomunikasi serta relay TV. Satelit ini dioperasikan oleh PT.BAB . Satelit ini memberikan layanan DTH (Direct-to-Home) menggunakan 5 transponder S-band. PENDAHULUAN Sistem komunikasi satelit telah digunakan di Indonesia untuk menyambungkan lebih dari 17 000 pulau di Indonesia sejak September 1969. Garuda. Satelindo kecuali 6 transponder ext-C band dioperasikan oleh PT. relay TV serta penyiaran DTH (Direct-to-Home). Satelit ini dioperasikan oleh PT. Sistem ACeS tersebut dipelopori oleh joint venture dari 3 perusahaan. Satelit BSS (Broadcasting Satellite Services) Indostar-1 (107. satelit Indonesia pertama yaitu Palapa A diluncurkan sebagai sistem komunikasi satelit domestik (SKSD) yang memberi layanan telekomunikasi serta relay TVRI. dan sebagainya. PSN memiliki saham minoritas kepemilikan transponder di satelit tersebut. Pada tahun 1976. Satelit ini memberikan layanan telekomunikasi internet serta relay TV. Satelit FSS (Fixed Satellite Services) Palapa Telkom-2 (118E) yang memiliki daerah cakupan Asia Tenggara menyediakan 24 transponder C band. yaitu PSN Indonesia. Satelit FSS (Fixed Satellite Services) Palapa Pacific-C/Ku 146E (146E) yang lebih dikenal dengan Mabuhay.

Selain satelit-satelit telekomunikasi. GPS. 2. seperti satelit Intelsat yang dioperasikan oleh Indosat. Mabuhay. Dilihat dari aspek regulasi. juga dapat mencakup Indonesia dan memberi layanan untuk penyelenggaraan internet maupun DTH. Thaicom. Chinasat. Saat ini bisa dipastikan jumlah tersebut telah bertambah. Walaupun demikian. yaitu:   Planned Band Unplanned Band Planned Band yaitu pita frekuensi untuk satelit yang telah diatur sedemikian rupa oleh ITU agar setiap negara mendapatkan jatah slot orbit. kanal frekuensi transponder satelit dengan cakupan dibatasi pada wilayah teritorial 125 . Panamsat. GLONASS. inderaja (penginderaan jauh). Measat. sebenarnya Indonesia pun memanfaatkan satelit-satelit lain untuk kepentingan navigasi. pemetaan. meterologi dan geofisika. yaitu:    Penyelenggara jaringan tetap tertutup (leased line) baik bagi penyelenggara satelit maupun penyelenggara VSAT atau Stasiun Bumi. Penyelenggara jaringan bergerak satelit (Mobile Satellite Services) Penyelenggara jasa Network Access Provider (NAP). Satelit-satelit global seperti NOAA. terdapat dua kelompok pita frekuensi untuk satelit. Indonesia menyewa sekitar 40 transponder dari satelit asing karena persediaan dalam negeri sudah hampir penuh. serta adanya perusahaan di Indonesia yang mengajukan izin prinsip sebagai penyelenggara telekomunikasi yang memanfaatkan akses satelit tersebut. ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA Berdasarkan Radio Regulation ITU. ST-1. GALILEO banyak digunakan unuk kepentingan-kepentingan tersebut. kebijakan pemerintah saat ini adalah bahwa setiap penggunaan satelit telekomunikasi asing di Indonesia harus mendapatkan landing right (hak labuh) dari Ditjen Postel. disyaratkan hanya boleh menggunakan akses ke satelit Indonesia atau satelit asing yang telah memiliki landing right di Indonesia. penyelenggaraan telekomunikasi satelit dapat dibagi menjadi beberapa kelompok. Untuk kebutuhan siaran langsung (live) bagi kebutuhan penyiaran yang menggunakan SNG (Satellite News Gathering). Pada tahun 2006. dan lain sebagainya.Sejumlah satelit asing seperti New Skies Satellites. penyelesaian koordinasi frekuensi dan koordinasi satelit dengan Indonesia. Asiasat. Landing right sebaiknya diberikan dengan memperhatikan aspek kesamaan perlakukan terhadap satelit Indonesia di negara asal satelit asing tersebut.

30 DAN APP. 16.84 11785.10 11919. 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 Assigned frequency (MHz) 12111.1 GHz.30A) serta FSS Plan (App. 13. 19. 32.80 12206. sedangkan alokasi pita frekuensi feeder link adalah 17.44 12168. Terdapat dua macam Planned Band yaitu BSS Plan (App.30B). Untuk region 3 alokasi pita frekuensi yang digunakan untuk service link adalah 11. 21. 19. 37.56 11861.62 12187. 31. Sumatera dan Kalimantan. 6.06 12341. 18. 5.28 11938. PENJATAHAN KANAL FREKUENSI DAN SLOT ORBIT BSS PLAN INDONESIA BERDASARKAN RR APP.3 – 18.34 12264. 3. Maluku dan Irian Jaya. 3.26 12149.42 126 .30A APP30 Posisi Orbit 80. 10. Sedangkan. 21.64 11976. Sedangkan pengaturan kanal frekuensi feeder link ditetapkan melalui Appendix 30A Radio Regulation. Pada BSS plan. 40 Adm Beam Name Jenis Polarisasi INS INSA100 CR INS INSA100 CL Channel 1. TABEL 23.88 12322.92 11900. 17. 9. 23 2.98 12226. Indonesia mendapatkan jatah slot orbit 80. 24 TABEL 24. pengkanalan frekuensi untuk service link BSS Planned Band Appendix 30 Radio Regulation Region-3 di pita frekuensi 11.02 11804. 9.66 11765. 20.70 12302. 17.30 dan App.46 11957.negara tersebut.2 104 104 APP30A Posisi Orbit 80. serta slot orbit 104E untuk beam Indonesia Timur mencakup pulau Bali. 5. Nusa Tenggara. 14. 11.08 12130. 7.7 – 12. 15. 12. Sulawesi.2 GHz dapat dilihat pada Tabel 24 berikut ini.7 – 12.48 11746.2 GHz.16 12245. 22. 13.52 12283. 33. Pengaturan kanal frekuensi BSS Planned untuk service link (Earth-to-space) ditetapkan oleh appendiks 30 Radio Regulation-ITU sebagaimana dijelaskan pada tabel 23 berikut ini. 34. PENGKANALAN FREKUENSI SERVICE LINK BSS PLANNED BAND Channel No. 35. 15. 39 30.38 11842.82 Channel No.2E untuk beam Indonesia Barat mencakup pulau Jawa. 11. 4. 8.74 11880.20 11823. 36.24 12360. 23 29. 38.2 104 Adm INS INS INS Beam Name Jenis Polarisasi INSA02800 CR INSA03501 CL INSA03502 CR Channel 1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Assigned frequency (MHz) 11727. 7.

60 17 998. Untuk unplanned band. e.98 17 826. 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Assigned frequency (MHz) 17 711.78 12417.36 12053. orbit satelit. 15 16 17 18 19 20 Assigned frequency (MHz) 11996.00 12015.50 Pengkanalan frekuensi untuk feeder link BSS Planned Appendix 30A Radio Regulation untuk Region-3 dapat dilihat pada Tabel 25 berikut ini. 10.Channel No.34 17 864.44 17 768.64 17 576.84 17 385.28 17 538.4E dengan cakupan dibatasi wilayah teritori Indonesia.14 12456. TABEL 25.06 17 941.96 12437.25 GHz (uplink).72 12091.95 GHz.18 12034.13.p density satelit maupun stasiun bumi Planned Band Appendix 30B dapat dilihat pada lampiran 8.r. Appendix 30B.46 17 557.56 17 461. 127 .20 .74 17 480.70 .90 Channel No.20 17 423.4 800 MHz (downlink) dan 6 725 and 7 025 MHz (uplink).45 GHz (downlink). 12.42 17 979.80 17 806. Ku-band relatif jarang digunakan karena redaman hujan propagasi terlalu tinggi di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara subtropis. Pengaturan rinci mengenai beam.16 17 845.48 17 346.08 17 730.02 17 404.70 17 902.24 17 960.60 12398. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Assigned frequency (MHz) 17 327.38 17 442.78 Untuk FSS planned band. Berikut ini adalah alokasi pita frekuensi planned band Appendix 30B:    4 500 .18 Channel No.82 17 596.66 17 365.75 .10.88 17 922.00 17 615. 11.92 17 500.i.32 12475. pita frekuensi yang sering digunakan di Indonesia adalah C-band.11. PENGKANALAN FREKUENSI FEEDER LINK BSS PLANNED BAND Channel No. 35 36 37 38 39 40 Assigned frequency (MHz) 12379. Indonesia mendapatkan satu jatah slot orbit yaitu di 115.26 17 749.62 17 787.54 12072.10 17 519.52 17 883.

ukuran antena. Penyelenggara satelit Indonesia saat ini meliputi antara lain:       PT. maupun parameter lainnya.p. Indosat PT. Asia Cellular Satelit (PT. Media Citra Indostar PT.14362 14450 – 14522 Rincian pengkanalan transponder untuk sejumlah satelit Indonesia unplanned band dapat dilihat pada lampiran 9. Telkom PT. pita frekuensi. Penyelenggara satelit Indonesia adalah Penyelenggara telekomunikasi yang memiliki dan atau menguasai satelit yang didaftarkan ke ITU atas nama Administrasi Telekomunikasi Indonesia.11722 Uplink (MHz) 1626. PERIZINAN SATELIT Satelit Indonesia adalah satelit yang didaftarkan ke ITU atas nama administrasi telekomunikasi Indonesia. 3. Terdapat dua jenis ISR untuk penggunaan frekuensi satelit yaitu Izin stasiun angkasa dan Izin stasiun bumi.i. satelit asing adalah satelit yang didaftarkan ke ITU atas nama administrasi telekomunikasi negara lain. ALOKASI FREKUENSI UNPLANNED BAND SATELIT INDONESIA Pita Frekuensi L-band S-band X-band Ext-C band C-band Ku-band Downlink (MHz) 1525 – 1559 2520 – 2670 3400 – 3700 MHz 3700 – 4200 MHz 10990 . ACeS) LAPAN (Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional) Setiap penyelenggara telekomunikasi yang menggunakan satelit wajib memiliki Izin Stasiun Radio (ISR) dari Ditjen Postel.Seluruh satelit Indonesia yang operasional dan hampir seluruh satelit telekomunikasi komersial lainnya di dunia cenderung menggunakan unplanned band.5 8120 – 8270 6425 – 6725 MHz 5925 – 6425 MHz 13790 – 13862 13950 – 14022 14290 . baik batasan e. TABEL 26. Sedangkan.11222 11490 . Pasifik Satelit Nusantara PT. karena relatif lebih fleksibel parameter teknisnya. 128 .10662 11150 .5 – 1660. Tabel berikut ini menjelaskan alokasi pita frekuensi unplanned band untuk satelit telekomunikasi maupun satelit broadcasting di Indonesia.11562 11650 .r.

PSN.3. Telkom.53 Tahun 2000 tentang Penggunaan Frekuensi dan Orbit Satelit PP No.21 tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Jasa Telekomunikasi Permen Kominfo No. pengguna satelit Indonesia tidak perlu mengurus izin stasiun radio dan tidak membayar BHP Frekuensi. Sedangkan satelit asing adalah satelit yang didaftarkan ke ITU bukan atas nama Administrasi Telekomunikasi Indonesia. MCI dan LAPAN). PT. Tabel 27 berikut ini menjelaskan mengenai daftar satelit Indonesia yang dioperasikan.1 KETENTUAN PERIZINAN PENGGUNAAN SATELIT DI INDONESIA Ketentuan perizinan penyelenggara telekomunikasi yang menggunakan satelit. Sedangkan.36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi PP No. ISR stasiun angkasa diurus oleh penyelenggara satelit Indonesia (PT. Penyelenggara satelit nasional diwajibkan memiliki ISR izin stasiun angkasa. PT. PT. 35 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Komunikasi Dan Informatika Nomor 13 tahun 2005 Tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi Yang Menggunakan Satelit. diatur secara rinci melalui sejumlah peraturan antara lain:        UU No. Proses pendaftaran tersebut dapat melalui operator satelit nasional atau langsung dilakukan pengguna stasiun bumi yang mengarah ke satelit nasional tersebut.20 tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Jaringan Telekomunikasi Kepmenhub No. 268 Tahun 2005 tentang Persyaratan Teknis Alat Dan Perangkat Set Top Box Satelit Digital     Penyelenggaraan telekomunikasi menggunakan satelit dibagi menjadi dua kelompok yaitu penyelenggara satelit nasional dan penyelenggara satelit asing. 129 . Permen Kominfo No. Setiap stasiun bumi wajib didaftarkan ke Ditjen Postel.19 Tahun 2005 tentang PNBP BHP Frekuensi Radio Perdirjen Postel No.52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi PP No. Indosat.17 Tahun 2005 tentang Tata Cara Perizinan Frekuensi Permen Kominfo No. 28 Tahun 2005 mengenai PNBP di lingkungan Depkominfo Kepmenhub No.357 Tahun 2006 tentang Penyelenggaraan Telekomuniikasi Menggunakan Satelit Perdirjen No. Satelit nasional adalah satelit yang didaftarkan ke ITU atas nama Administrasi Telekomunikasi Indonesia.

  Indonesia.   Hongkong.  Southeast  Asia Pasific  Philipinnes.TABEL 27.  Macau.  C band. Tabel 28 dan 29 berikut ini menjelaskan Daftar Satelit Asing yang memenuhi kriteria bebas interferensi sampai dengan bulan September 2007. DAFTAR SATELIT INDONESIA YANG BEROPERASI Slot Orbit 107. C band  Ku‐band  ext‐C Band ext‐C band Ku‐band  Coverage  Indonesia  Indonesia.‐C  ext‐C  channeling  4 txpd Ku  plan  36 MHz  36 MHz C‐ 36 MHz  200 kHz/  36 MHz  Bandwidth  24 MHz  RF channel  36 MHz  per  ext‐C  Transponders 72 MHz  Ku‐band  L‐band  C band  Frekuensi  S‐band  C‐band. China  Pacific.  Australia sd  to  sd China.  C‐band  Ext.7E 108E 113E 118E 123E 146E Operator MCI TELKOM INDOSAT TELKOM PSN/ACES PSN Satelit Nama Satelit  INDOSTAR‐2  TELKOM‐1 PALAPA‐ TELKOM‐2 GARUDA‐1  PALAPA  (PROTOSTAR)  C2  PACIFIC‐  146E  (Mabuhay) Kapasitas  10 txpd S‐ 24 txpd C  24 txpd C  24 txpd C‐ Cellular‐ 48  band  12 txpd  6  txpd  band  like  ext.  Asia. Australia. 130 .  Indonesia. Indonesia.  Southeast  Asia  (India sd  Asia  Asia  Pacific.  Australia.  sd   New  PNG  New  PNG  Zealand  Zealand  Satelit Asing yang dapat digunakan di Indonesia adalah satelit yang telah memiliki hak labuh.  Macau. Indonesia .  Pakistan  North  North  Pakistan sd  australia.  Hongkong.  Australia)  China. Persyaratan Hak labuh meliputi kriteria teknis dan resiprokal sebagai berikut:   Kriteria teknis : Satelit yang digunakan tidak menimbulkan interferensi yang merugikan bagi satelit Indonesia maupun stasiun radio yang berizin Kriteria resiprokal : Terbukanya kesempatan yang sama bagi penyelenggara satelit Indonesia untuk berkompetisi dan beroperasi di negara asal satelit asing tersebut. PNG.

Jerman. Belanda.5E APSTAR-4 APSTAR V / TELSTAR18 / TONGASAT AP-3/ 138E (Hongkong) TONGASAT-C/KU-3 TONGASAT AP-2/ APSTAR VI (Hongkong) 134E TONGASAT-C/KU-2 ASIASAT 2 100. Hongkong. DAFTAR SATELIT ASING YANG MEMENUHI KRITERIA BEBAS INTERFERENSI DENGAN BATASAN TEKNIS RINCI NO.TABEL 28.5E MEASAT-1 NewSkies (NSS-5 – Inggris) 177E INTELSAT7 177E NSS 6 95E INTELSAT 95E NSS 703 57E INTELSAT 57E PANAMSAT 10 68. Jepang.5E 122E 148E 110. Singapura. Malaysia.5E PANAMSAT 2 169E PAS-2 PANAMSAT 4 72E PANAMSAT 8 166E USASAT-14H PAS 12 45E EUROPE*STAR-1 SES AMERICOM AMC 23 172E USASAT-14K/60A ST-1 88E ST-1A INTELSAT 702 55 INTELSAT 709 85 INTELSAT 904 60 JCSAT 4 127 SATELIT Negara CHINA TONGA TONGA HONGKONG CHINA USA USA JEPANG JEPANG MALAYSIA USA NETHERLAND NETHERLAND USA USA USA USA GERMANY USA SINGAPURA USA USA USA JEPANG TABEL 29.5E ASIASAT-EKX/ ASIASAT-E CHINASTAR-1 87. negara asal satelit asing yang memenuhi kriteria interferensi adalah China.5E DFH-3-OC INTELSAT 902 62E INTELSAT IS 906 64E JCSAT-3 128E JCSAT-3A JCSAT-4A 124E JCSAT-4 MEASAT-1 91. USA . Tonga. Inggris. DAFTAR SATELIT ASING YANG MEMENUHI KRITERIA BEBAS INTERFERENSI NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Slot Nama Satelit ITU Filing Orbit APSTAR 2R / TELSTAR 10 76. 1 2 3 4 SATELIT ASIASAT 3S ASIASAT-4 MEASAT-2 SINOSAT 1 Slot Orbit 105.AKX/ASIASAT-A MEASAT-2 CHINASAT-6 Negara HONGKONG HONGKONG MALAYSIA CHINA Sampai dengan bulan September 2007. 131 .5E Nama Satelit ITU Filing ASIASAT-1/CK ASIASAT .

Izin stasiun angkasa dapat diberikan kepada :    Penyelenggara jaringan telekomunikasi Penyelenggara telekomunikasi khusus untuk keperluan pertahanan dan keamanan negara. atau Penyelenggara telekomunikasi khusus untuk keperluan instansi pemerintah Persyaratan Izin Stasiun Angkasa adalah sebagai berikut:     Satelit yang digunakan telah memiliki hak labuh Mengajukan surat permohanan izin satsiun angkasa Mengisi formulir permohonan Izin Stasiun Angkasa Membayar BHP ISR Izin Stasiun Angkasa 3. Izin stasiun bumi diberlakukan untuk setiap lokasi stasiun radio. Persyaratan mendapatkan izin stasiun bumi adalah sebagai berikut:   Satelit yang digunakan telah memiliki hak labuh Mengajukan surat permohanan izin stasiun bumi 132 . maka setiap stasiun radio di bumi yang berhubungan dengan satelit tersebut tidak dikenai izin stasiun radio lagi tapi cukup mendaftarkan keberadaan stasiun radio tsb.3 IZIN STASIUN BUMI Izin stasiun bumi adalah izin penggunaan frekuensi untuk stasiun radio di bumi yang melakukan pemancaran gelombang radio ke dan atau penerimaan gelombang radio dari suatu satelit. Izin stasiun bumi tidak diberlakukan bagi stasiun radio:   yang berhubungan dengan satelit yang telah memiliki izin stasiun angkasa atau yang melakukan penerimaan bebas (tidak berbayar/ free to air) dari satelit untuk keperluan sendiri dan tidak didistribusikan kembali untuk kepentingan komersil.3.2 IZIN STASIUN ANGKASA Izin stasiun angkasa adalah izin penggunaan frekuensi oleh suatu stasiun angkasa (satelit) untuk melakukan pemancaran gelombang radio ke dan atau penerimaan gelombang radio dari wilayah Indonesia. Pengguna satelit yang menjadi pelanggan dari pelanggan satelit nasional ataupun menggunakan satelit asing yang telah ada izin angkasa tidak perlu mengurus izin stasiun bumi. Dengan adanya izin stasiun angkasa.

dan atau   133 .  Mekanisme Perizinan Hak Labuh untuk Izin Stasiun Angkasa adalah sebagai berikut:  Hak labuh (landing right) untuk izin stasiun angkasa hanya dapat diberikan kepada: o penyelenggara jaringan telekomunikasi.4 HAK LABUH Hak labuh (landing right) adalah hak yang diberikan oleh Direktur Jenderal atas nama menteri kepada penyelenggara telekomunikasi atau lembaga penyiaran berlangganan dalam rangka bekerja sama dengan penyelenggara telekomunikasi asing. Untuk permohonan ISR berupa izin stasiun angkasa. dan terbukanya kesempatan yang sama bagi penyelenggara satelit Indonesia untuk berkompetisi dan beroperasi di negara asal penyelenggara satelit asing tersebut.  Mengisi formulir permohoan Izin Stasiun bumi Membayar BHP ISR Izin Stasiun bumi 3. hak labuh (landing right) diberikan dengan syarat:  satelit asing tersebut telah menyelesaikan koordinasi satelit dan atau tidak menimbulkan interferensi yang merugikan (harmful interference) dengan satelit Indonesia maupun stasiun radio yang telah berizin. dan terbukanya kesempatan yang sama bagi penyelenggara satelit Indonesia untuk berkompetisi dan beroperasi di negara asal penyelenggara satelit asing tersebut. o penyelenggara jasa interkoneksi internet (Network Access Point/NAP). Permohonan hak labuh (landing right) wajib disertakan bukti tertulis bahwa satelit asing yang akan digunakan: o telah menyelesaikan koordinasi satelit. hak labuh (landing right) diberikan dengan syarat:  satelit asing tersebut tidak menimbulkan interferensi yang merugikan (harmful interference) terhadap satelit Indonesia maupun satelit lain yang telah memiliki izin stasiun angkasa serta terhadap stasiun radio yang telah berizin.  Untuk permohonan ISR berupa izin stasiun bumi. Permohonan hak labuh (landing right) untuk penggunaan satelit asing diajukan oleh penyelenggara telekomunikasi kepada Direktur Jenderal.

atau o Kesepakatan Bersama antara administrasi telekomunikasi Indonesia dengan administrasi telekomunikasi satelit asing yang akan digunakan. penyelenggara telekomunikasi dapat mengajukan permohonan untuk mendapatkan ISR izin stasiun angkasa. Mekanisme permohonan untuk mendapatkan ISR izin stasiun angkasa dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal tersendiri dan menggunakan formulir permohonan sebagaimana ditentukan. Direktur Jenderal menerbitkan hak labuh (landing right) setelah semua persyaratan dipenuhi oleh penyelenggara telekomunikasi. yang ditujukan kepada Administrasi Telekomunikasi Indonesia. o Negara asal penyelenggara satelit asing adalah negara yang mendaftarkan filing satelit dimaksud ke ITU. Bukti tertulis tersebut berupa: o Surat Pernyataan dari penyelenggara satelit asing tersebut. 134 . Bukti tertulis dapat berupa: o Surat Keterangan dari Administrasi Telekomunikasi satelit asing yang akan digunakan. kecuali: o penyelenggara telekomunikasi khusus untuk keperluan badan hukum. Direktur Jenderal menerbitkan ISR izin stasiun angkasa setelah pemohon membayar Biaya Hak Penggunaan (BHP) spektrum frekuensi radio yang besarnya sesuai ketentuan perundangundangan yang berlaku.o       tidak menimbulkan interferensi yang merugikan (harmful interference) dengan satelit Indonesia maupun stasiun radio yang telah berizin. o penyelenggara jasa jual kembali warung internet. Mekanisme Perizinan Hak Labuh untuk Izin Stasiun Bumi adalah sebagai berikut:  Hak labuh (landing right) untuk izin stasiun bumi dapat diberikan kepada semua penyelenggara telekomunikasi. o penyelenggara jasa akses internet (internet service provider). Setelah hak labuh (landing right) diterbitkan. Pengajuan hak labuh (landing right) juga wajib disertakan bukti tertulis bahwa di negara asal penyelenggara satelit asing tersebut terbuka kesempatan yang sama bagi penyelenggara satelit Indonesia untuk berkompetisi dan beroperasi (reciprocity). dan o Dokumen hasil koordinasi satelit (summary record) antara Administrasi Telekomunikasi Indonesia dengan Administrasi Telekomunikasi negara asal satelit asing tersebut.

Mekanisme permohonan untuk mendapatkan ISR izin stasiun bumi dilaksanakan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal tersendiri dan menggunakan formulir permohonan yang ditentukan. serta terhadap stasiun radio yang telah berizin. penyelenggara telekomunikasi dapat mengajukan permohonan untuk mendapatkan ISR izin stasiun bumi. 3. Pengajuan hak labuh (landing right) juga wajib disertakan bukti tertulis bahwa di negara asal penyelenggara satelit asing tersebut terbuka kesempatan yang sama bagi penyelenggara satelit Indonesia untuk berkompetisi dan beroperasi (reciprocity). o Dokumen hasil koordinasi satelit (summary record) antara Administrasi Telekomunikasi Indonesia dengan Administrasi Telekomunikasi negara asal satelit asing tersebut. dan bilamana gangguan terus menerus terjadi. dan o Jaminan tertulis dari pemohon ISR izin stasiun bumi bahwa setiap saat (24 jam per hari) menyiapkan sistem dan sumber daya manusia yang dapat mengatasi setiap gangguan terhadap sistem satelit dan terrestrial Indonesia.        Permohonan hak labuh (landing right) untuk penggunaan satelit asing diajukan oleh penyelenggara telekomunikasi kepada Direktur Jenderal. Bukti tertulis dapat berupa: Surat pernyataan dari penyelenggara satelit asing tersebut. meliputi BHP Frekuensi Izin Stasiun Angkasa dan/atau Izin Stasiun Bumi. Setelah hak labuh (landing right) diterbitkan. yang ditujukan kepada administrasi telekomunikasi Indonesia. Bukti tertulis dapat berupa: o Surat Keterangan dari administrasi telekomunikasi satelit asing yang akan digunakan. Direktur Jenderal menerbitkan hak labuh (landing right) setelah semua persyaratan dipenuhi oleh penyelengara telekomunikasi. 135 . bersedia menghentikan operasinya tanpa syarat. Negara asal penyelenggara satelit asing adalah negara yang mendaftarkan filing satelit dimaksud ke ITU. atau o Kesepakatan bersama antara administrasi telekomunikasi Indonesia dengan administrasi telekomunikasi satelit asing yang akan digunakan. Permohonan hak labuh (landing right) wajib disertakan bukti tertulis bahwa satelit asing yang akan digunakan tidak menimbulkan interferensi yang merugikan (harmful interference) terhadap satelit Indonesia maupun satelit lain yang telah memiliki izin stasiun angkasa.5 BHP FREKUENSI RADIO SISTEM SATELIT BHP Frekuensi Radio untuk Izin Stasiun Radio yang menggunakan satelit.

4.24 juta per tahun. Ip = 0.04 x 5809 x 9000) + (0. Ib = 0. 136 . HDDP = 53 618 Rp.Berikut ini contoh pengenaan biaya BHP Frekuensi Izin Stasiun Angkasa:        Transponder C-band 36 MHz. 15 Juta per tahun (downlink) 4 GHz Total = Rp.18 x 53 618 x 47)) = 2.143. 15 Juta per tahun (uplink) 6 GHz Rp. Zone III Ib = 0. C-band ¼ transponder = 9 MHz Power = 47 dBW (ERP) Zone 1.18 HDLP = 5809.5 x ((0. 30 juta per tahun. Ip =0 HDLP = 5809. HDDP = 53 618 BHP = 0.04. Berikut ini contoh pengenaan biaya BHP Frekuensi Izin Stasiun Bumi:       Stasiun bumi.12 juta BHP uplilnk / downlik = Rp.

1 IZIN KELAS PADA PERMEN KOMINFO NO.11 PERANGKAT BERDAYA PANCAR RENDAH / JANGKAUAN PENDEK (SHORT RANGE DEVICES) DAN ISM-BAND 1.5 MHz. remote control. keperluan industri. ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA Pada saat tulisan ini dibuat. secara ringkas. penggunaan izin kelas meliputi antara lain: a.BAB . PENDAHULUAN Istilah “Short Range Devices” dimaksudkan untuk mencakup pemancar radio yang memiliki wilayah operasi sangat terbatas akibat daya pancar yang rendah (pada umumnya 100 mW atau kurang). 137 . pengguna perangkat tersebut harus menggunakan frekuensinya bersama-sama dengan aplikasi komunikasi radio lain dan tidak boleh menyebabkan interferensi kepada jaringan komunikasi radio yang telah diberi izin oleh Ditjen Postel. dsb. Perangkat tersebut termasuk perangkat komunikasi radio seperti wireless microphone. maka sebelum perangkat tersebut dijual bebas di Indonesia terlebih dahulu harus mendapatkan sertifikasi perangkat dari Ditjen PostelDepkominfo. 2. b. diizinkan untuk beroperasi dengan prinsip tidak menimbulkan interferensi dan tidak mendapatkan proteksi (noninterference and non-protection basis). berikut ini adalah jenis perangkat komunikasi radio yang termasuk izin kelas. penggunaan frekuensi radio untuk alat dan perangkat telekomunikasi dengan daya pancar dibawah 10 mW. Perangkat berdaya pancar rendah dengan jangkauan pendek ini dapat digunakan hampir di semua tempat dan dapat beroperasi di sejumlah banyak frekuensi. c. penggunaan pita frekuensi radio 2400 – 2483. 2. Untuk menjamin bahwa perangkat komunikasi radio tersebut memenuhi kategori berdaya pancar rendah dan memiliki jangkauan pendek yang ditentukan. Sehingga. Scientific and Medical/ISM Band). Penggunaan perangkat tersebut. Ditjen Postel sedang menyusun suatu draft peraturan Dirjen Postel mengenai penggunaan perangkat komunikasi radio yang termasuk izin kelas. telepon cordless.17 TAHUN 2005 Berdasarkan Peraturan Menteri Kominfo No. ilmu pengetahuan dan kesehatan (Industrial.17 tahun 2005 tentang tata cara perizinan spektrum frekuensi radio.

1 TERMINAL PELANGGAN UNTUK PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI BERGERAK SELULAR DAN PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL DENGAN MOBILITAS TERBATAS (FIXED WIRELESS ACCESS) DEFINISI Terminal pelanggan penyelenggaraan telekomunikasi bergerak selular dan penyelenggaraan jaringan tetap lokal dengan mobilitas terbatas (fixed wireless access /FWA) adalah suatu perangkat yang melakukan komunikasi dengan suatu Base Station (BTS) yang dibangun oleh penyelenggara jaringan telekomunikasi bergerak selular dan penyelenggara jaringan tetap lokal dengan mobilitas terbatas (fixed wireless access /FWA) pada pita-pita frekuensi yang ditetapkan. 138 . c. b. perangkat terminal pelanggan untuk penyelenggaraan telekomunikasi bergerak selular dan penyelenggaraan jaringan tetap lokal dengan mobilitas terbatas (fixed wireless access) perangkat komunikasi jarak pendek (short range device) perangkat terminal pelanggan untuk penyelenggaraan bergerak radio trunking perangkat telepon nirkabel (cordless phone) perangkat infra red 2. d. e.2. diusulkan penggunaan perangkat komunikasi radio yang dikategorikan sebagai penggunaan izin kelas sebagai tambahan dari ketentuan peraturan terdahulu. IZIN KELAS Izin kelas ini meliputi hak setiap orang untuk beroperasi menggunakan terminal pelanggan untuk berkomunikasi dengan suatu BTS penyelenggara selular/FWA dengan syarat bahwa pengoperasian BTS dimaksud telah memperoleh izin stasiun radio (ISR). maka izin kelas ditetapkan sebagai berikut : a.2. PITA FREKUENSI Terminal pelanggan penyelenggaraan telekomunikasi bergerak selular dan penyelenggaraan jaringan tetap lokal dengan mobilitas terbatas (Fixed Wireless Access /FWA) hanya dapat menggunakan pita frekuensi yang sama dengan yang ditetapkan kepada penyelenggara jaringan telekomunikasi bergerak selular dan penyelenggara jaringan FWA.2 KONSEP USULAN PERLUASAN IZIN KELAS Dalam draft Peraturan Dirjen Postel.

IZIN KELAS Izin kelas ini meliputi hak setiap orang untuk beroperasi menggunakan perangkat komunikasi radio dengan syarat beroperasi sesuai dengan ketentuan batasan daya pancar sebagaimana ditentukan dalam kolom ketiga Tabel A dan menggunakan pita frekuensi pada kolom kedua Tabel A.2.2 PERANGKAT KOMUNIKASI JARAK PENDEK (SHORT RANGE DEVICE) DEFINISI Perangkat komunikasi radio jarak pendek (short range communications device) adalah perangkat komunikasi berdaya pancar rendah yang menyediakan komunikasi jarak pendek untuk aplikasi bergerak dan tetap pada pita-pita frekuensi tertentu. PERSYARATAN OPERASIONAL Effective Isotropic Radiated Power (EIRP) Kuat medan maksimum atau EIRP maksimum tidak boleh melewati nilai-nilai sebagaimana ditentukan dalam kolom ketiga Tabel 30. 139 .2. PITA FREKUENSI Perangkat komunikasi radio jarak pendek (short range communications device) hanya dapat menggunakan pita frekuensi yang ditentukan dalam kolom kedua pada Tabel A yang ditetapkan untuk izin kelas dan digunakan bersama-sama secara non-ekslusif.

glider. alarm system Radio detection.00 MHz 444. telemetry and alarm systems Remote control.35 – 146.00 – 315.00 MHz 180. alarm system Radio detection.00 – 108.60 MHz 40.of aircraft and glider models and machine. PITA FREKUENSI DAN BATASAN TEKNIS UNTUK APLIKASI-APLIKASI SHORT RANGE DEVICES (SRD) NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 PITA FREKUENSI 16 – 150 kHz 6765 kHz .6795 kHz 13.80 MHz 0. alarm system Wireless microphone Wireless microphone Wireless microphone Wireless microphone Wireless microphone Remote control of aircraft. ≤ 94 dBµV/m pada jarak 3m ≤ 100 mW ERP ≤ 100 mW ERP ≤ 100 mW ERP ≤ 100 mW ERP ≤ 100 mW ERP ≤ 57 dBµV/m pada jarak 3 m ≤ 65 dBµV/m pada jarak 10 m ≤ 60 dBµV/m pada jarak 10 m ≤ 112 dBµV/m pada jarak 10 m ≤ 112 dBµV/m pada jarak 10 m ≤ 65 dBµV/m pada jarak 10 m CONTOH APLIKASI SRD Induction loop system ISM ISM.00 – 200.7000 MHz 88.553 MHz .275 MHz ≤ 1000 mW ERP 140 .13.96 – 27.7 – 30 MHz ≤ 500 mW ERP 17   170.15 – 240.30 MHz 300.96 – 27.28 MHz 15 26.TABEL 30.33 MHz 312.00 – 300. alarm system Radio detection. camera and toys Remote control.567 MHz 146.28 MHz ≤ 500 mW ERP 16 29.50 MHz 240. telemetry and alarm systems Remote control of cranes and loading arms 14 26. alarm system Radio detection. alarm system Radio detection. Radio detection.51 – 1.of aircraft and glider models and machine. boat and car models.00 MHz 487 – 507 MHz KUAT MEDAN/ERP MAKSIMUM ≤ 100 dBµV/m pada jarak 3 m ≤ 100 mW ERP ≤ 100 mW ERP.40 – 444. garage door.6600 MHz 40.

RFID system Wireless video transmitter dan aplikasi SRD lain 141 .925 MHz 923 – 925 MHz 10. data communication system Wireless modem. data communication system Wireless modem.66 – 40.70 MHz 151. telecommand.875 MHz 158.200 MHz ≤ 1000 mW ERP 28 72.275/162.000 MHz 72. data communication system Wireless modem.500 – 41.675 MHz 26. data communication system Wireless modem. data communication system Wireless modem.NO 18 19 20 21 22 23 24 25 26 PITA FREKUENSI 170.575 MHz 173.150 MHz 40.575 MHz 173.28 MHz 40.400 MHz ≤ 1000 mW ERP 29 72.600 MHz ≤ 1000 mW ERP 30 158.125 MHz 151.325/162.50 – 10. data communication system Radio telemetry.01 mW ERP ≤ 1000 mW ERP 27 72.080 MHz KUAT MEDAN/ERP MAKSIMUM ≤ 1000 mW ERP ≤ 1000 mW ERP ≤ 1000 mW ERP ≤ 3000 mW ERP ≤ 3000 mW ERP ≤ 3000 mW ERP ≤ 3000 mW ERP ≤ 0.96 – 27.55 GHz ≤ 1000 mW ERP 31 ≤ 1000 mW ERP ≤ 500 mW ≤ 117 dBµV/ m pada jarak 10 m 32 34 CONTOH APLIKASI SRD Remote control of cranes and loading arms Remote control of cranes and loading arms Remote control of cranes and loading arms On site radio paging system On site radio paging system On site radio paging system On site radio paging system Medical and biological telemetry Wireless modem.

2. PERSYARATAN OPERASIONAL Effective Isotropic Radiated Power (EIRP)maksimum perangkat terminal pelanggan radio komunikasi trunking tidak diperbolehkan melebihi 25 Watt dan beroperasi pada pita-pita frekuensi sebagaimana ditentukan dalam kolom 2 (kedua) dan kolom 3 142 .  NO 35 36 PITA FREKUENSI 2.4835 GHz 24. PITA FREKUENSI Terminal pelanggan komunikasi radio trunking hanya dapat menggunakan pita frekuensi yang sama dengan yang ditetapkan kepada penyelenggara jaringan bergerak komunikasi radio trunking. IZIN KELAS Izin kelas ini meliputi hak setiap orang untuk beroperasi menggunakan terminal pelanggan trunking untuk berkomunikasi dengan suatu BTS penyelenggara jaringan komunikasi radio trunking dengan syarat bahwa pengoperasian BTS dimaksud telah memperoleh izin stasiun radio (ISR).25 GHz KUAT MEDAN/ERP MAKSIMUM ≤ 100 mW ERP ≤ 100 mW ERP ≤ 37 dBm EIRP saat kendaraan bergerak dan ≤ 23.00 – 24. terminal radio trunking dapat secara otomatis mengakses kanal-kanal frekuensi dalam suatu sistem radio trunking sesuai dengan kanal yang ditetapkan pada sistem tersebut.4000 – 2.5 dBm EIRP saat kendaraan berhenti CONTOH APLIKASI SRD Bluetooth Wireless video transmitter dan aplikasi SRD lain Short range radar system such as automatic cruise control and collision warning systems for vehicle 37 76-77 GHz 2.3 PERANGKAT TERMINAL PELANGGAN PENYELENGGARAAN BERGERAK RADIO TRUNKING UNTUK DEFINISI Perangkat terminal radio trunking adalah perangkat terminal untuk berkomunikasi stasiun BTS penyelenggara radio trunking dimana pengoperasian BTS dimaksud telah diberi ISR.

PERSYARATAN SPASI KOMUNIKASI TRUNKING Tipe 1 Trunking 400 MHz Trunking 800 MHz Transmitter 2 380 – 389 MHz 407 – 409 MHz 419 – 422.2. IZIN KELAS Izin kelas ini meliputi hak setiap orang untuk beroperasi menggunakan perangkat komunikasi radio dengan syarat beroperasi sesuai dengan ketentuan batasan daya pancar dan pita frekuensi sebagaimana ditentukan dalam Tabel 32. PITA FREKUENSI Perangkat telepon cordless hanya dapat menggunakan pita frekuensi sebagaimana dalam tabel 32 dan digunakan secara bersama-sama secara non ekslusif.5 – 429.5 kHz 12. 143 .4 PERANGKAT TELEPON NIRKABEL (CORDLESS PHONE) DEFINISI Perangkat telepon nirkabel (cordless phone) adalah perangkat portable atau bergerak berdaya pancar rendah (low power) untuk komunikasi dua arah dengan suatu base lokal yang telah ditetapkan penggunaan frekuensinya sebagaimana ditentukan dalam Tabel 32. PERSYARATAN OPERASIONAL Effective Isotropic Radiated Power (EIRP) EIRP maksimum untuk perangkat telepon cordless tidak boleh melebihi batas nilai-nilai sebagaimana ditentukan dalam Tabel 30.75 MHz 422.5 MHz 412.(ketiga) dengan ketentuan memenuhi persyaratan spasi kanal sebagaimana tercantum pada TABEL dibawah ini : TABEL 31.5 – 424 MHz 851 – 866 MHz 2.5 kHz 25 kHz Receiver 3 390 – 399 MHz 417 – 419 MHz 426.5 kHz 12.5 – 414 MHz 806 – 821 MHz KANAL UNTUK RADIO Channel Spacing 4 12.5 kHz 12.

9700 MHz MHz to 49.5 THz – 420 THz. 2. PITA FREKUENSI DAN EIRP PERANGKAT CORDLESS PHONE NO 1. KETENTUAN OPERASIONAL Setiap pengoperasian perangkat komunikasi radio yang dikategorikan ke dalam izin kelas.5 THz sampai dengan 420 THz.5 PERANGKAT RADIO YANG MENGGUNAKAN GELOMBANG RADIO INFRA MERAH (INFRA RED DEVICES) DEFINISI Perangkat radio menggunakan gelombang radio infra merah adalah perangkat radio yang beroperasi menggunakan gelombang radio pada rentang pita dari 187.6100 49. 3.TABEL 30. PITA FREKUENSI 46. wajib mengikuti ketentuan sebagai berikut: a.5000 MHz MAKSIMUM UNTUK EIRP MAKSIMUM 50 milliWatt 50 milliWatt 100 milliWatt 100 milliWatt 2. Pengguna frekuensi dalam pengoperasian perangkat dilarang menimbulkan gangguan interferensi yang merugikan.9700 MHz MHz to 1900.6100 1880. PITA FREKUENSI Perangkat radio menggunakan gelombang infra merah hanya dapat menggunakan pita frekuensi yang ditetapkan untuk izin kelas dan digunakan bersama-sama secara non-ekslusif yaitu pada rentang pita frekuensi 187. 4. IZIN KELAS Izin kelas ini meliputi hak setiap orang untuk beroperasi menggunakan perangkat gelombang infra merah dengan syarat beroperasi sesuai dengan ketentuan batasan daya pancar.0000 MHz MHz to 2483.2. 144 .0000 2400.0000 MHz to 46. PERSYARATAN OPERASIONAL Effective Isotropic Radiated Power (EIRP) EIRP maksimum untuk perangkat gelombang infra merah tidak diperbolehkan melebihi 125 mW.

e. medical. scientific and medical (ISM) applications (of radio frequency energy): Operation of equipment or appliances designed to generate and use locally radio frequency energy for industrial. excluding applications in the field of telecommunications. 5. perangkat industri. Pengguna frekuensi dalam penggunaan perangkat dilarang melebihi daya pancar.79 MHz (centre frequency 433. Berdasarkan definisi Radio Regulation ITU dinyatakan sebagai berikut: Industrial. pengguna frekuensi harus mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengatasi gangguan tersebut. scientific. DAN MEDIS (INDUSTRIAL. kecuali aplikasi di bidang telekomunikasi. parameter emisi ataupun daerah jangkauan seperti yang telah ditentukan. SCIENCE AND MEDICAL BAND) Pengertian ISM band banyak disalahartikan terutama dalam kasus penggunaan low power spread spectrum untuk penggunaan internet. sains. d. atau kegunaan yang sejenis. segera dihentikan pengoperasiannya sampai gangguan tersebut dapat diatasi. o 433.280 Radio Regulation. perangkat sains dan lain sebagainya. SAINS. Setiap perangkat radio yang dioperasikan untuk penggunaan izin kelas wajib mendapatkan sertifikasi perangkat dari Direktur Jenderal.05-434. Penggunaan perangkat wajib sesuai dengan persyaratan. Pengguna frekuensi harus menjamin bahwa perangkat penyebab interferensi yang merugikan. dan prosedur yang telah ditentukan. Berdasarkan definisi tersebut jelas bahwa penggunaan ISM bukan untuk bidang telekomunikasi. 145 . medikal. Artinya bahwa aplikasi industri. Contoh-contoh penggunaan ISM adalah perangkat kedokteran. Pita-pita frekuensi ISM yang diatur dalam Radio Regulation. PITA FREKUENSI INDUSTRI. 3. ITU adalah sebagai berikut:  Artikel 5.92 MHz) di Region 1 kecuali negara yang disebut dalam No.b. sains dan medikal/kedokteran dari energi frekuensi radio (ISM) adalah pengoperasian dari suatu perangkat yang dirancang untuk menimbulkan dan menggunakan energi frekuensi radio secara lokal untuk kegunaan industri. perangkat rumah tangga seperti pemanas / microwave oven.138 Radio Regulation-ITU: o 6 765-6 795 kHz (centre frequency 6 780 kHz). c. domestic or similar purposes. Dalam hal terjadi gangguan interferensi yang merugikan. spesifikasi dan standar teknis.

o 5 725-5 875 MHz (centre frequency 5 800 MHz). package sealing. o 902-928 MHz di Region 2 (centre frequency 915 MHz).25 GHz). CONTOH APLIKASI UTAMA PERANGKAT YANG BEROPERASI PADA ISM BAND Frekuensii  (MHz) Aplikasi Utama RF power  (umum)  10 kW-10 MW 20-1 000 W  100-1 000 W 1 kW-1 MW 100-1 000 W Perkiraan Jml pengguna > 100 000 > 100 000 > 10 000 > 100 000 > 100 000 Di bawah 0.2 and 6.25 GHz (centre frequency 24.56.12 dan 40.125 GHz) Tabel 31 Berikut ini contoh aplikasi utama ISM band TABEL 31. kertas.70 MHz (centre frequency 40.5 MW  1-200 kW  2-10 kW  > 1 000 > 10 000 10-100  15-300 kW  15-300 kW  15-200 kW  5-25 kW  10-100 kW  5-400 kW  5-1 000 kW  1-50 kW  (kebanyakan 100-1kW)  W < 5 000 < 200 kW  < 1 000 < 1 000 > 1 000 > 1 000 < 1 000 > 10 000 > 100 000 > 10 000 > 1 000 < 1 000 < 1 000 Di atas 1 000 600-1 500 W 1.5 GHz (centre frequency 61. o 26 957-27 283 kHz (centre frequency 27 120 kHz).o o o  61-61. tetapi banyak yang beroperasi pada frekuensi di luar ISM band) – keramik – pengeringan foundry core – pengeringan tekstil – produk bisnis (buku. 122-123 GHz (centre frequency 122. o 40.150 Radio Regulation-ITU o 13 553-13 567 kHz (centre frequency 13 560 kHz). pengolahan daging dan ikan) – pengeringan solvent – pengeringan dan pengeleman kayu – pengeringan dielektrik umum – pemanasan plastik Aplikasi kedokteran  – medical diathermy (27 MHz) – magnetic resonance imaging (10-100 MHz di ruangan tertutup) 100-1 000  Pemrosesan makanan (915 MHz) Aplikasi kedokteran (433 MHz) RF plasma generators Vulkanisir karet (915 MHz)  RF plasma generators Microwave oven (2 450 MHz)  Microwave oven komersial (2 450 MHz) Vulkanisir karet (2 450 MHz)  Pengobatan ultraviolet 1-10 100-1 000 W > 100 000 10 kW-1. lem dan pengeringan) – makanan (pasca pembakaran kue.5-200 kW  6-100 kW  > 200 juta < 1 000 146 .15-1 Pemanasan induksi industri(heat treating.5 MHz) Valve induction generators produksi materi semi-konduktor Pengelasan listrik (1-10 MHz dampened wave oscillator) Pemanasan dielektris (kebanyakan beroperasi pada frekuensi ISM band pada 13.68 MHz. and 244-246 GHz (centre frequency 245 GHz) Artikel 5.15  Pemanas induksi industrial (pengelasan dan peleburan logam) Pembersihan secara ultrasonik (15-30 kHz) Aplikasi kedokteran (ultrasonic diagnostic imaging) 0.5 GHz). 27.68 MHz). welding dan melting metal) Diagnostik medis ultrasonik Surgical diathermy (1-10 MHz dampened wave oscillator) Pemrosesan kayu (3.66-40. and o 24-24. o 2 400-2 500 MHz (centre frequency 2 450 MHz).

13 § 9 dari Radio Regulation ITU. servis komunikasi radio yang berhubungan dengan keselamatan jiwa manusia. Pengaturan tersebut dipandu oleh rekomendasi ITU-R SM. sains dan medikal adalah seminimal mungkin dan pada pita frekuensi di luar ISM band tidak menimbulkan interferensi yang membahayakan kepada radiocommunication service. setiap Administrasi dari suatu negara harus menyusun pengaturan dan langkah-langkah praktis yang diperlukan untuk menjamin bahwa radiasi dari perangkat yang digunakan untuk aplikasi industri. dan khususnya.1056. 147 .Berdasarkan artikel 15.

Terdapat dua kelompok BHP Frekuensi radio berdasar PP No. yaitu: BHP Frekuensi Radio (Rupiah) = ((Ib x HDLP x b) + (Ip x HDDP x p))/ 2 148 . 2. 7 Tahun 2009.28 Tahun 2005 tentang PNBP yang berlaku di Departemen Komunikasi dan Informatika Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No. yaitu sebagai berikut:         UU No. PENDAHULUAN Pengenaan biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi radio oleh pemerintah pusat (c. PP No. PP No. perhitungan besaran BHP frekuensi radio digunakan berdasarkan formula yang ditetapkan pada PP No.36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi PP No.28 tahun 2000. 7 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Departemen Komunikasi dan Informatika Setiap pengguna spektrum frekuensi radio wajib membayar BHP spektrum frekuensi radio yang dibayar di muka untuk masa penggunaan satu tahun.BAB .19 Tahun 2005 tentang petunjuk pelaksanaan tarif PNBP dari BHP spektrum frekuensi radio. BHP Frekuensi Radio untuk Izin Stasiun Radio BHP Frekuensi Radio untuk Izin Pita Frekuensi Radio BHP FREKUENSI DALAM BENTUK IZIN STASIUN RADIO Untuk BHP Frekuensi Radio dalam bentuk Izin Stasiun Radio.20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).17 Tahun 2005 tentang Tata Cara Perizinan Frekuensi Radio Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No. Seluruh penerimaan BHP frekuensi radio tersebut disetor ke kas negara sebagai Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). Ditjen Postel) terhadap penggunaan spektrum frekuensi radio oleh pengguna didasarkan kepada perundang-undangan yang berlaku.37/2006 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi yang Menggunakan Satelit Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No.53 Tahun 2000 tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit. UU No. 2.12 BIAYA HAK PENGGUNAAN (BHP) FREKUENSI RADIO 1.13 Tahun 2005 jo Permen Kominfo No. yaitu: 1.q.

49 53.364 71.688 43.30 3.675 10.844 85.dengan :       HDDP adalah Harga Dasar Daya Pancar (HDDP) HDLP adalah Harga Dasar Lebar Pita frekuensi radio (HDLP) p adalah daya pancar keluaran antenna EIRP (dalam dBmWatt) b adalah lebar pita frekuensi yang diduduki (bandwidth occupied) dalam kHz Ib adalah indeks biaya pendudukan lebar pita Ip adalah indeks biaya daya pancar Besarnya HDDP dan HDLP ditentukan berdasarkan pengelompokkan pita frekuensi dan zone lokasi pemancar yang ditetapkan pada PP No.212 54.03 0.275.896 89.866 23.000 . BESARAN HDDP (HARGA DASAR DAYA PANCAR) No 1 2 3 4 5 6 7 8 Pita Frekuensi VLF LF MF HF VHF UHF SHF EHF Zone I Zone 2 Zone 3 Zone 4 Zone 5 191.652 38. Sedangkan Tabel 36 menggambarkan besaran HDLP (Harga Dasar Lebar Pita).659 140.618 135.629 153.0 30 300 3.844 114.282 81. Band Frekuensi 1 2 3 4 5 6 7 8 VLF LF MF HF VHF UHF SHF EHF MHz 0.000 FREKUENSI RADIO BERDASARKAN RADIO 300 - 3.403 112.933 109. Besaran HDDP dan HDLP ditentukan oleh jenis pita frekuensi dan lokasi wilayah di mana pemancar stasiun radio itu berada.000 30.745 17.732 71.799 47.009 0.322 84.000 Tabel 35 menjelaskan besaran HDDP (Harga Dasar Daya Pancar). PEMBAGIAN PITA REGULATION ITU No.326 142.081 135.665 95.071 119.350 32.792 21.30.353 108.873 54.030 0.585 65.242 56. Tabel 34 berikut menjelaskan pembagian pita frekuensi dilakukan berdasarkan Radio Regulation-ITU.188 43. TABEL 34.481 87.000 .141 27.707 57.838 149 .138 28.303 114.977 76.513 21.3 3 30 0.14 tahun 2000 tersebut.161 28. TABEL 35.

untuk penetapan parameter Ib dan Ip mengambil asumsi jenis pelayanan yang sejenis. Untuk servis komunikasi radio yang tidak tercantum dalam Keputusan tersebut.110 0.664 2. NMT) Jasa Selular TDMA (GSM.143 0.180 0.809 3.418 7.063 4.000 0.040 8.936 6.630 4.384 4.916 12.790 3.101 4. BESARAN HDLP (HARGA DASAR LEBAR PITA) No 1 2 3 4 5 6 7 8 Pita Frekuensi VLF LF MF HF VHF UHF SHF EHF Zone I Zone 2 Zone 3 Zone 4 Zone 5 20. BESARAN INDEKS IB DAN IP BERDASARKAN JENIS LAYANAN JENIS PENGGUNAAN FREKUENSI Jaringan Terrestrial (backbone) Jaringan Satelit Jasa Selular FDMA (AMPS.210 8.DCS & PCS) Jasa Wireless Local Loop FDMA Jasa Wireless Local Loop TDMA Base/Repeater stasiun Satelit (Space Segment) Stasiun Bumi Tetap Stasiun Bumi Portable Base + out stasiun Base + out stasiun Ib 0.180 0.199 9.040 0. Besarnya Ib.050 14.143 15. indeks biaya daya pancar (Ip) ditentukan berdasarkan jenis servis komunikasi radio dan zone lokasi berdasarkan wilayah Kabupaten/Kotamadya.360 0.220 Penentuan besaran indeks biaya pendudukan lebar pita (Ib).749 5.19 Tahun 2005.TABEL 36.581 11.681 7.576 8.286 3.715 12.490 Jasa Selular DS-CDMA (IS95) Base + out stasiun Base + remote/out stasiun Base + remote/out stasiun 150 .769 12.192 15.832 2. Secara berkala setiap 2 (dua tahun) sekali.961 16. nilai Ib dan Ip akan ditinjau dengan memperhatikan komponen-komponen pelayanan komunikasi radio yang baru.149 6.710 0.099 3. Besaran Ib dan Ip untuk setiap kelompok servis dapat dilihat pada Tabel 37 berikut ini.354 9.440 1.881 3.200 11.429 6. TABEL 37.400 1.888 10.578 11.733 5. Ip dan pengelompokkan zone ditentukan dalam Lampiran I Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatikan No.772 9.572 9. perkembangan wilayah Kabupaten/Kotamadya serta pertumbuhan ekonomi.249 12.310 7.060 0.873 1.709 2.155 2.230 Ip 0.745 5.290 0.665 8.

020 0.  JENIS PENGGUNAAN FREKUENSI Jasa Wireless Local Loop DS-CDMA Jasa Wireless Data (primer) Jasa Wireless Data (secunder) Jasa Telepoint (CT2 & CT2+) Jasa Radio Trunking Jasa Radio Paging Base + remote/out stasiun Base + remote/out stasiun Base + remote/out stasiun Base + out stasiun Base + out stasiun Base/Repeater + out stasiun Base stasiun Ib 0.018 0.240 2.060 33.060 0.490 8.980 3.640 0.000 0.020 0.020 0.720 Ip 0.000 0.000 0.930 0.240 0.230 Telsus Maritim (maritime band) Telsus Penyiaran Terresterial Telsus Penyiaran Satelit 151 .110 0.000 0.890 1 GHz) Portable Unit / Mobile Unit / Handy 0.000 0.490 0.030 0.840 0.790 0.000 10.650 0.020 0.410 0.000 0.000 0.390 Talky Telsus Keperluan Sendiri ( Base/Repeater stasiun >= 1 GHz) Telsus Radio Trunking Telsus Radio Paging Telsus Radio Taxi Telsus Riset dan Eksperimen Base + out stasiun Base + out stasiun Base + out stasiun Satelit (space segment) Stasiun Bumi Base/Repeater stasiun Stasiun ground to air Telsus Penerbangan (auronautical band) Stasiun pesawat udara (Portable Unit) Stasiun pesawar udara ( Handy Talky) Stasiun radio pantai Stasiun kapal (Portable Unit) Stasiun kapal (Handy Talky) Radio siaran AM Radio siaran FM Televisi siaran tak berbayar Televisi siaran berlangganan 0.050 0.000 Telsus Keperluan Sendiri (< Repeater stasiun 11.280 0.000 0.430 0.870 24.000 0.290 1.930 0.640 32.000 0.070 0.150 1.330 0.000 0.580 0.110 0.143 Portable / Mobile Unit / Handy talky 0.910 0.130 0.000 0.001 14.

karena cakupannya dapat menjangkau seluruh Indonesia.000 0. Pengelompokan zone ditentukan berdasarkan lokasi wilayah Kabupaten/Kota ditentukan berdasarkan Lampiran II Peraturan No.000 0. Pengelompokan ini didasarkan pada potensi ekonomi. astronomi dan meteorologi. seperti base station dan out station. pendapatan asli daerah. penentuan zona diasumsikan mengikuti wilayah administratif Kabupaten/Kota yang lama. serta jumlah penduduk. Untuk BHP frekuensi radio jaringan satelit ruas angkasa (space segment). Untuk Kabupaten/Kota yang dibentuk setelah Kepmenhub ditentukan.000 Ip 0.000 Dari tabel Ib dan Ip di atas. diketahui bahwa untuk beberapa servis komunikasi radio tidak dikenakan BHP frekuensi radio.000 0. seperti stasiun ground to air. hub + out station. Penggunaan pita frekuensi maritim untuk keperluan komunikasi radio keselamatan pelayaran. base station/repeater + out station.000 0. maka zone yang digunakan adalah zone-3 (zone rata-rata).  JENIS PENGGUNAAN FREKUENSI Stasiun Amatir Telekomunikasi khusus untuk keperluan dinas khusus Stasiun Citizen Band Stasiun Radio Navigasi Stasiun Radio Astronomi Stasiun Radio Meteorologi Telekomunikasi khusus untuk keperluan Hankamneg dan perwakilan negara asing (asas timbal balik) Ib 0.000 0.000 0. seperti stasiun radio pantai dan stasiun kapal laut. yaitu:       Keperluan pertahanan dan keamanan Keperluan perwakilan diplomatik negara asing dengan memperhatikan asas resiprokal (timbal balik) Telekomunikasi khusus untuk keperluan perseorangan seperti Radio Amatir.000 0. 40 Tahun 2002. seperti untuk keperluan navigasi. Penggunaan pita frekuensi penerbangan untuk keperluan komunikasi radio navigasi dan keselamatan penerbangan.000 0. Untuk BHP frekuensi radio bagi sistem komunikasi yang pada tabel di atas disebutkan dengan outstationnya. radar. repeater atau hub station-nya saja tanpa 152 .000 0. mengandung arti bahwa yang dihitung hanya base. GMDSS maupun non-GMDSS.000 0. Citizen Band Telekomunikasi khusus untuk dinas khusus. maupun stasiun radio di pesawat udara.

KAB. INDRAGIRI HULU. KAB. KAB. PESISIR SELATAN. TEBO ZONE ZONE . KAB.4 JAMBI ZONE . KAB. INDRAGIRI HILIR. MANDAILING NATAL. KAB. LIMAPULUH KOTA. Tabel 38 menjelaskan pengelompokan zone wilayah pemancar untuk menghitung HDDP dan HDLP.4 SUMATERA BARAT RIAU ZONE . TAPANULI UTARA. KAB. KAB. serta jumlah penduduk. KAB. NATUNA. KAB. KAB. LANGKAT. KAMPAR KAB. LABUHAN BATU. KAB. KAB. KAB. KAB. KAB. ASAHAN. Pengelompokan zone ditentukan berdasarkan lokasi wilayah Kabupaten/Kota ditentukan berdasarkan Lampiran II Permen Kominfo No. BENGKALIS. KAB. KOTA SOLOK. pendapatan asli daerah. SAW AH LUNTO/SIJUNJUNG. ACEH TIMUR. TANJUNG JABUNG BARAT. PENGELOMPOKKAN ZONE WILAYAH PERHITUNGAN HDDP DAN HDLP PROPINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM PEMANCAR UNTUK KOTA / KABUPATEN KOTA BANDA ACEH KAB. & KOTA DUMAI KOTA JAMBI KAB. KAB. & KAB. KUANTAN SINGINGI. & KOTA PAYAKUMBUH KOTA PEKAN BARU & KOTA BATAM KAB. KOTA TEBING TINGGI. KAB. AGAM. DELI SERDANG. KAB. PIDIE. TAPANULI TENGAH KOTA PADANG KAB. TANAH DATAR. ACEH SINGKIL. KAB. KAB. & KOTA SIBOLGA KAB. KAB. KAB. ROKAN HULU. KAB. SIAK. KAB. KAB. KAB. KERINCI. ACEH BARAT. NIAS. DAIRI. PASAMAN. MERANGIN.mempertimbangkan jumlah remote station/ out station yang terhubung pada base. repeater atau hub station tersebut. KOTA PADANG PANJANG. Pengelompokan ini disusun berdasarkan pada potensi ekonomi.3 ZONE . ACEH TENGGARA. KAB. KAB. KAB. KOTA TANJUNGBALAI. ACEH BESAR. KAB. PADANG PARIAMAN. KAB. KAB. MUARO JAMBI.3 ZONE . TOBA SAMOSIR. KOTA BINJAI. TAPANULI SELATAN.5 SUMATERA UTARA ZONE . ACEH SELATAN.4 ZONE – 5 153 . KAB. KAB. SIMALUNGUN. KAB. BUNGO. Untuk Kabupaten/Kota yang dibentuk setelah Kepmenhub tersebut ditentukan.4 ZONE . KARIMUN. SIMEULUE. PALALAW AN.2 ZONE . KAB. ROKAN HILIR. KAB. KAB.3 ZONE . KAB. KEPULAUAN RIAU. KAB. TABEL 38. TANJUNG JABUNG TIMUR. penentuan zona diasumsikan mengikuti wilayah administratif Kabupaten/Kota yang sebelumnya. KARO. KOTA SAW AH LUNTO. KAB. ACEH UTARA. SOLOK. KAB. KOTA PEMATANG SIANTAR. & KAB. BIREUEN. SORALANGUN. BATANGHARI.4 ZONE . ACEH TENGAH. KAB. KEPULAUAN MENTAW AI.19 Tahun 2005. KOTA BUKITTINGGI. & KOTA SABANG KOTA MEDAN KAB.

& KAB. KAB. KAB. KAB. KO TA SURAKARTA. PURW AKARTA. M AG ETAN. KAB. KAB. LAM PUNG TIM UR .1 ZO NE . BO G O R. M USI BANYU ASIN KO TA BENG KULU KAB. TEM ANG G UNG . W O NO G IRI. KO TA M AG ELANG . & KO TA M ETRO KO TA JAKARTA SELATAN. SUKABUM I. M UARA ENIM . KAB. KO T A BANDUNG . CIAM IS. REM BANG . LAM PUNG SELATAN. PAM EKASAN ZO NE ZO NE . INDRAM AYU.2 ZO NE . KAB. KARANG ANYAR. KAB. KAB. KAB. KAB. KAB. KUNIN G AN. KARAW ANG .1 ZO NE . KAB. TR ENG G ALEK. KAB. KAB. SUM EDANG . BENG KULU SELATAN. KAB. NG AW I. KAB. G U NUNG KIDU L. BANYUM AS. KENDAL. KAB. W O NO SO BO . & KO TA TEG AL KAB. CIANJUR. KAB. BLO RA. O G AN KO M ER ING ILIR. SIDO AR JO . BATANG . SUM ENEP. CIREBO N. KAB. KAB. KO TA PRO BO LING G O . KAB. G RESIK. & KO TA DEPO K KAB. M AG ELANG . KLATEN. NG ANJUK. BO JO NEG O RO . KAB. KAB. & KAB.2 D. BANDUNG . KO TA PEKALO NG AN. KAB. KAB. LAM O NG AN. KAB. KAB. & KO TA M ADIUN KAB. KAB. KAB. T ULANG BAW ANG . I. BENG KULU UTARA. KAB. KAB. KAB. KAB. KAB. DEM AK. BANTUL. KAB. SRAG EN. KO TA BEKASI. SITUBO NDO . BANG KALAN. TANG G AM US. KAB. SUKO HARJO . BO YO LALI. LAHAT. KAB. KAB. G ARUT. & KO TA JAKARTA UTAR A KAB. KAB. KAB. BANJARNEG AR A. TEG AL. BEKASI. LAM PUNG BARAT.3 ZO NE . JEM BER. KAB. SLEM AN KO TA SURABAYA KAB. BREBES. KAB. KAB. REJANG LEBO NG KO TA BANDAR LAM PUNG KAB. KAB. W AY KANAN. TUBAN. KAB. KAB. KO TA JAKARTA TIM UR KO TA JAKARTA PUSAT . M O JO KER TO .2 JAW A TENG AH ZO NE . KAB. KAB. KAB. YO G YAKARTA JAW A TIMUR ZO NE . KAB. KAB. KAB. KAB. KUDU S.3 154 .3 ZO NE . KULO N PRO G O . KAB. KO TA M ALANG .5 ZO NE . KAB. KAB. & KAB. M AJALENG KA. KO TA SUKABUM I. LU M AJANG . M USI RAW AS. PEM ALANG KO TA YO G YAKARTA KAB. KO TA SALATIG A.4 ZO NE . KEBUM EN. KAB. KAB. KAB. PASURUAN. KO TA PASURUAN.4 ZO NE . KAB.4 DKI JAKARTA JAW A BARAT ZO NE . JO M BANG . CILACAP. LAM PUNG TANG AH. SEM ARANG . SAM PANG . TASIKM ALAYA. KAB. KO TA BO G O R. & KAB. KO TA BLITAR. PACITAN. M ALANG . KAB.PRO PINSI SUMATERA SELATAN KO TA / KABUPATEN KO TA PALEM BANG KAB. KAB. & KAB. KAB. BO N DO W O SO . PURBALING G A. KAB. KAB. PURW O REJO . KED IRI. KAB. PRO BO LING G O . O G AN KO M ER ING ULU. KAB. TULUN G AG UNG . KAB. BANYUW ANG I. KAB. KAB. M ADIUN . LAM PUNG UTARA. PATI.1 ZO NE . KAB. KO T A M O JO KERTO . KO TA KEDIRI. KO TA JAKARTA BARAT. KAB. KO TA SEM AR ANG . KAB. SUBANG . & KO TA CIREBO N KAB. PEKALO N G AN. KAB. JEPARA. BLITAR . G RO BO G AN. KAB. KAB. PO NO RO G O . KAB.5 LAMPUNG ZO NE .3 BENG KULU ZO NE .2 ZO NE . KAB.

& KOTA SAMARINDA KALIMANTAN TIMUR KAB. KAB. KAB. KAB. KAB.5 ZONE . BOLAANG MANGONDOW . BUOL KOTA MANADO SULAW ESI UTARA KAB. & KOTA BONTANG KAB.5 ZONE . BELU. KAB.5 ZONE . MOROW ALI.3 ZONE . KAB. GIANYAR.4 ZONE . KAB. KAB. NGADA.4 ZONE .4 ZONE . KAB. & KOTA PARE-PARE KOTA PALU SULAW ESI TENGAH KAB. KAB. BANGLI. & KAB. LUW U UTARA. BANGGAI. KUPANG. KAB. & KAB. KAB.3 ZONE . & KAB. PONTIANAK. BUTON. LOMBOK TENGAH. HULU SUNGAI SELATAN. KAB. KAB. SUMBA TIMUR. JENEPONTO. KAB.PROPINSI KALIMANTAN BARAT KOTA / KABUPATEN ZONE ZONE . PANGKAJENE KEPULAUAN. KAB. LOMBOK BARAT. KAB. KAB.4 KOTA PONTIANAK KAB. MUNA. SAMBAS. KAB. SUMBAW A. KAB. KAB. BULUNGAN. KAB. KAPUAS HULU KOTA PALANGKARAYA KALIMANTAN TENGAH KAB. KAB. KARANGASEM.4 ZONE . KAB. KOTABARU.5 ZONE . HULU SUNGAI TENGAH. SIKKA. KAB. PINRANG. KAB. BARITO UTARA KOTA BALIKPAPAN. KAB. KLUNGKUNG. & KAB. KAB.5 ZONE .5 155 . KUTAI TIMUR. BONE. KAB. DONGGALA. HULU SUNGAI UTARA.3 ZONE . W AJO. KAB. KAB. KAB. MANGGARAI KOTA MAKASSAR SULAW ESI SELATAN KAB. & KAB. TIMOR TENGAH SELATAN.5 ZONE . KAB. KAB. KETAPANG. KAB. KAB.4 ZONE . LUW U. KAB. POSO. SANGGAU. KAB. NUNUKAN. KUTAI. ENDE. KAB.5 ZONE .2 ZONE . & KOTA TARAKAN KOTA BANJARMASIN KALIMANTAN SELATAN KAB. & KAB. TABANAN. LEMBATA. JEMBRANA. SANGIHE TALAUD. SINJAI. KAB.4 ZONE . BIMA NUSA TENGGARA TIMUR KOTA KUPANG KAB. FLORES TIMUR. KAB. POLEW ALI MAMASA KAB. KAB. MINAHASA. PASIR. MAJENE. & KOTA KENDARI SULAW ESI TENGGARA KAB. KAB. & KAB. KAB. KOLAKA ZONE . SOPPENG. SINTANG. KAB.4 ZONE . TAKALAR. BANJAR. & KAB. KAB. BARITO KUALA. MAMUJU. KAB.4 ZONE . KAB. KOTAW ARINGIN TIMUR. KAB. & KAB. KAB. MALINAU. KAPUAS. KAB. KAB. KAB. KAB. KAB. LOMBOK TIMUR. TANA TORAJA. BARRU. KAB. BARITO SELATAN. KAB. KAB. BULELENG NUSA TENGGARA BARAT KOTA MATARAM KAB. BENGKAYANG KAB. BADUNG.5 ZONE .4 ZONE . KAB. KAB. KAB. BERAU. TIMOR TENGAH UTARA. TABALONG. MAROS. KAB. ENREKANG. & KOTA BANJARBARU KOTA DENPASAR BALI KAB. BULUKUMBA. SUMBA BARAT. KOTAW ARINGIN BARAT. KAB. SELAYAR. KAB. KAB. TOLI-TOLI. KAB. GOW A. TAPIN. ALOR. KUTAI BARAT.3 ZONE . KAB. BANGGAI KEPULAUAN. KENDARI. & KOTA BITUNG KAB. SIDENRENG RAPPANG. TANAH LAUT. KAB. KAB. BANTAENG. DOMPU.4 ZONE . LANDAK.

PROPINSI
MALUKU

KOTA / KABUPATEN
KOTA AMBON KAB. MALUKU TENGGARA, KAB. MALUKU TENGAH, KAB. MALUKU TENGGARA BARAT, & KAB. BURU KAB. MALUKU UTARA, KAB. HALMAHERA TENGAH, & KOTA TERNATE KOTA JAYAPURA KAB. JAYAPURA, KAB. JAYAW IJAYA, KAB. PUNCAK JAYA, KAB. MERAUKE KAB. BIAK NUMFOR, KAB. YAPEN W AROPEN, KAB. NABIRE, KAB. PANIAI, KAB. MIMIKA KAB. SORONG, KAB. MANUKW ARI, KAB. FAK-FAK, & KOTA SORONG KAB. TANGERANG, & KOTA TANGERANG KAB. SERANG, KAB. PANDEGLANG, KAB. LEBAK, & KOTA CILEGON KAB. BANGKA, & KOTA PANGKAL PINANG KAB. BELITUNG KAB. GORONTALO, KAB. BOALEMO, & KOTA GORONTALO

ZONE
ZONE - 4 ZONE - 5

MALUKU UTARA IRIAN JAYA / PAPUA

ZONE - 5 ZONE - 4 ZONE - 5

BANTEN

ZONE - 1 ZONE - 2 ZONE - 3 ZONE - 4 ZONE - 5

KEP. BANGKA BELITUNG GORONTALO

3.

BHP FREKUENSI DALAM BENTUK IZIN PITA FREKUENSI RADIO

Berdasarkan ketentuan PP No.7/2009, terdapat suatu kemungkinan untuk pengenaan BHP Frekuensi dalam bentuk izin pita frekuensi radio. Di mana berbeda dengan pengenaan BHP Frekuensi dalam bentuk ISR, penyelenggara telekomunikasi yang dikenakan izin pita frekuensi radio tidak dikenakan lagi BHP ISR per kanal per stasiun radio. Hal ini sangat memudahkan dan menyederhanakan perhitungan dan verifikasi, serta mendorong penyelenggara untuk membangun jaringannya secepat mungkin. Bentuk BHP Frekuensi Radio ini baru dikenakan untuk penyelenggara selular yang menggunakan pita frekuensi 1920 – 1980 MHz / 2110 – 2170 MHz (UMTS/3G). Besaran BHP Pita frekuensi radio dikenakan berdasarkan lebar pita frekuensi yang diduduki, di mana besarnya biaya per MHz tergantung dari hasil seleksi (lelang). Untuk besaran BHP pita frekuensi penyelenggara selular yang menggunakan pita frekuensi 1920 – 1980 MHz / 2110 – 2170 MHz (UMTS/3G), besarannya ditetapkan berdasarkan hasil pelelangan yang diadakan pada bulan Februari 2006. 3.1 KETENTUAN PEMBAYARAN BHP PITA FREKUENSI OPERATOR IMT2000 3.1.1 UP FRONT FEE

Berdasarkan Permen Kominfo No. 7 Tahun 2006 tentang Ketentuan Penggunaan Pita Frekuensi Radio 2.1 GHz untuk Penyelenggaraan Jaringan Bergerak Seluler adalah sebagai berikut: 1. Telkomsel : a. Rp 218 Milyar X 2 unit hasil lelang = Rp 436 Milyar b. dibayarkan sekaligus Tahun I : Tahun 2006

156

2. 3.

Excelcomindo Pratama : a. Rp 188 Milyar X 2 unit hasil lelang = Rp 376 Milyar b. dibayarkan sekaligus Tahun I : Tahun 2006 Indosat : a. Rp 160 Milyar X 2 unit hasil lelang = Rp 320 Milyar b. dibayarkan sekaligus Tahun I : Tahun 2006

Sesuai Kepmen No. 29 Tahun 2006 tentang kewajiban pembayaran Up Front Fee bagi Hutchison CP Telecom dan Natrindo Telepon Seluler (sebagai operator yang sebelumnya eksisting di frekuensi 2,1 GHz) dengan besaran sebagai berikut : 1. Hutchison CP Telecom : a. Rp 160 Milyar X 2 unit hasil lelang = Rp 320 Milyar b. Paling lambat 31 Januari 2008 yang dibayarkan dengan bunga Natrindo Telepon Seluler : a. Rp 160 Milyar X 2 unit hasil lelang = Rp 320 Milyar b. Paling lambat 31 Januari 2008 yang dibayarkan dengan bunga BHP PITA TAHUNAN

2.

3.1.2

Dasar dari pengenaan BHP Pita Frekuensi Radio tahunan untuk penyelenggara IMT-2000 pada pita 2.1 GHz adalah Permen Kominfo No. 7 Tahun 2006 tentang Ketentuan Penggunaan Pita Frekuensi Radio 2.1 GHz untuk Penyelenggaraan Jaringan Bergerak Seluler. BHP pita tahunan diterapkan sama kepada kelima operator 3G yaitu Telkomsel, Excelcomindo Pratama, Indosat, Hutchison CP Telecom, Natrindo Telepon Seluler untuk 1 blok @ 5 MHz FDD sebagai berikut:   Tahun 1 (2006) : 20% X Rp 160 Milyar = Rp 32 Milyar Tahun 2 (2007) : 40% X (1 + BI rate 2006) X Rp 160 Milyar

Sesuai Kepmen Kominfo No. 58/KEP/M.KOMINFO/02/2007 tentang Penetapan Bank Indonesia Rate untuk Perhitungan Biaya Hak Penggunaan Pita Spektrum Frekuensi Radio 2.1 GHz untuk Penyelenggaraan Jaringan Bergerak Seluler : Nilai BI Rate = 11,83% 40% X (1 + 11,83%) X Rp 160 Milyar = Rp 71,57 Milyar    Tahun 3 (2008) : 60% X (1 + BI rate 2007) X Rp 160 Milyar Tahun 4 (2009) : 100% X (1 + BI rate 2008) X Rp 160 Milyar Tahun 5 (2010) : 130% X (1 + BI rate 2009) X Rp 160 Milyar

157

    

Tahun 6 (2011) : Tahun 7 (2012) : Tahun 8 (2013) : Tahun 9 (2014) : Tahun 10 (2015)

130% X (1 + BI rate 2010) X Rp 160 Milyar 130% X (1 + BI rate 2011) X Rp 160 Milyar 130% X (1 + BI rate 2012) X Rp 160 Milyar 130% X (1 + BI rate 2013) X Rp 160 Milyar :130% X (1 + BI rate 2014) X Rp 160 Milyar

Sesuai Permen No.1 Tahun 2006 tentang Penataan Frekuensi IMT2000, terhitung sejak 1 Januari 2008, Primasel (sekarang menjadi SMART Telecom) dikenakan BHP pita yang sama dengan operator IMT-2000 tersebut yang besarnya disesuaikan dengan Peraturan Menteri tentang Biaya Hak Penggunaan (BHP) Frekuensi pada pita frekuensi 2.1GHz. Sebelumnya, seperti yang diatur pada Permen No.1 Tahun 2006 juga, perusahaan yang bersangkutan membayar BHP untuk izin stasiun radio (ISR). Berdasarkan ketentuan Permen 7/2006, skema pembayaran BHP frekuensi SMART Telecom adalah sebagai berikut: Up Front Fee sebesar: 2 x Rp 160 M x 6,875 MHz/5MHz = Rp 440 M BHP Tahunan untuk tahun pertama: 20% x Rp 160 M x 6,875MHz/5MHz = Rp 44 M 4. WHITE PAPER PENERAPAN BIAYA HAK PENGGUNAAN BERDASARKAN LEBAR PITA (BHP PITA) PADA PENYELENGGARA TELEKOMUNIKASI SELULER DAN FIXED WIRELESS ACCESS (FWA)

Bulan Oktober 2009, Ditjen Postel telah melakukan konsultasi publik dalam bentuk publikasi melalui website Ditjen Postel maupun dengan melakukan Workshop dengan stakeholder telekomunikasi terhadap white paper penerapan biaya hak penggunaan berdasarkan lebar pita pada penyelenggara telekomunikasi seluler dan fixed wireless access. Dokumen white paper tersebut merupakan draft kebijakan pemerintah yang disusun dalam rangka perubahan tarif BHP dari yang sebelumnya berdasarkan ISR menjadi berdasarkan lebar pita frekuensi. BHP Frekuensi merupakan hal terpenting dalam suatu pengelolaan spektrum frekuensi. Tidak ada konsep yang baku dalam penetapannya dan sangat tergantung pada situasi dan kondisi perkembangan ekonomi di setiap negara, meskipun teknologi yang dihadapi sama. Bagi Indonesia, yang bentuk geografi dan jumlah penduduknya menuntut penggunaan komunikasi radio secara optimal dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, BHP frekuesi bisa merupakan ujung tombak yang bermata ganda, sehingga penentuannya harus dilakukan dengan adil dan bisa dimaklumi oleh semua pihak.

158

Perubahan pentarifan BHP frekuensi dari basis ISR ke BHP frekuensi berbasis lebar pita menuntut kesiapan baik dari sisi regulator maupun penyelenggara selama masa transisi perubahan pentarifan BHP frekuensi tersebut. Dengan melihat dinamika industri telekomunikasi yang terjadi saat ini, skema tarif BHP frekuensi yang diharapkan : 1. 2. 3. 4. 5. Mencerminkan biaya pengelolaan spektrum frekuensi yang sebanding dengan manfaat ekonomi bagi penyelenggara. Menerapkan penggunaan spektrum frekuensi secara efektif dan efisien. Memiliki formula tarif BHP yang sederhana, mendorong penyelenggara untuk meningkatkan kualitas layanan melalui optimalisasi jaringannya, netral terhadap teknologi dan mudah dalam pengawasannya. Mendorong pemerataan pertumbuhan usaha sektor telekomunikasi. Memiliki proses transisi skema tarif BHP berbasis ISR ke basis lebar pita yang bertahap dan smooth agar tidak menimbulkan gangguan pada pola bisnis penyelenggara.

White paper penerapan biaya hak penggunaan berdasarkan lebar pita pada penyelenggara telekomunikasi seluler dan fixed wireless access secara lengkap beserta formula perhitungannya dapat di unduh pada website Ditjen Postel di www.postel.go.id.

 

 

159

Subdit Penataan Frekuensi Radio. Jakarta: Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. Infocomm Development Authority (IDA) Singapore. Geneva. 8. ”Radio Spectrum Master Plan”. 9. TV Siaran UHF. Ditjen Postel. Migrasi Analog ke Digital”. Koperasi Ditjen Postel. Denny “Tabel Alokasi Frekuensi Radio Indonesia. Bagian Hukum dan Organisasi. Bagian Hukum dan Organisasi. “Himpunan Peraturan Perundang-undangan Bidang Penerimaan Negara Bukan Pajak”. 2000. Bagian Hukum dan Organisasi. 4. 2000. Jakarta: Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. 2. 7. Jakarta: Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. 11. Sistem Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum. Agustus 2007. Kajian Usulan Revisi Master Plan Frekuensi Radio Siaran FM. Jakarta: Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. September 2007. 6. Jakarta. TV Siaran VHF Band III. Presentasi Tim Teknis Ditfrek Ditjen Postel. Jakarta. 2004. ”Radio Regulation. Ditspekfrek & Orsat. 3. “Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi”. 2000. “Presentasi Draft RPM Penataan Frekuensi BWA”. Jakarta. 2003 Presentasi Tim Teknis Ditfrek Ditjen Postel. 2003. 160 . Sistem Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum. Bagian Hukum dan Organisasi. Singapore. Jakarta: Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. Setiawan. Switzerland. Edisi ke-3” Jakarta: Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. ”Alokasi Spektrum Frekuensi dan Satelit di Indonesia”. Sistem Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum. “Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2000 tentang Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit”. “Undang-undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi”. 5. “Penataan Frekuensi untuk Keperluan Penyiaran”. 2002. “Data Pengguna Frekuensi Broadband Wireless Access”. November 2001.DAFTAR PUSTAKA 1. 2000. International Telecommunication Union. Edition”. 2001. Ditjen Postel. Sistem Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum. 10. AM.

”Understanding GMDSS. 2002. 14. 13. 1994. “Data Penyelenggara Sistem Telekomunikasi Bergerak Selular di Indonesia”.go.12. Subdit Penataan Frekuensi Radio. London.id 161 . L. the Global Maritime Distress and Safety System”. D. Website Ditjen Postel: www. Tetley. Calcutt.postel. Jakarta: Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. Edward Arnold. Ditspekfrek & Orsat.

03 RT-1 Jambi – 36373 T: (0741) 570083 F: (0741) 570083 e-mail : upt_jambi@postel.go.go. DITJEN POSTEL-DEPKOMINFO. T.id 5 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD JAMBI Jl.id 3 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD PADANG Jl Pulai Kel. Raya Tangkil No. Soekarno Hatta (Arengka Atas) No.244 Pekan Baru. Batang Kabung Ganting Kec. DI SELURUH INDONESIA NO WILAYAH UPT NOMOR TELEPON/FAX 1 BALMON KELAS II NANGROE ACEH DARUSSALAM Jl.LAMPIRAN I DAFTAR UNIT PELAKSANA TEKNIS (UPT) BALAI / LOKA MONITORING PENGELOLAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO.go.go.id 4 T: (0761) 65735 F: (0761) 61540 e-mail : upt_pekanbaru@postel. Nyak Makam No.go.id   162 .22 Padang 25137 (kantor lama) BALMON KELAS II PEKANBARU Jl.10 Medan Sumatra Utara 20221 T: (061) 6630992 (061) 6630985 F: (061) 6621717 e-mail : upt_medan@postel. Willem Iskandar No. Riau – 28294 T: (0751) 483722 F: (0751) 483744 (0751) 57021 e-mail : upt_padang@postel. Koto Tangah Padang 25172 jl Khatib Sulaiman No.P.id hercules@postel.33 (Samping Kantor BPKP) Banda Aceh 23117 T: (0651) 34433 F: (0651) 638538 (0651) 45755 e-mail : upt_bandaaceh@postel.id 2 BALMON KELAS II MEDAN Jl.go.

9 Hajimena Bandar Lampung – 35362 T:(0721) 781212 (0721) 774372. Batam – 29422 T: (0778) 327927 (0778) 327928 :(0778) 310008 F : (0778) 327928 e-mail : upt_batam@postel. Kramat Jaya KM-14 No. F:(0721) 774372 (0721) 781212 e-mail : upt_bandarlampung@postel.id 9 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD LAMPUNG Jl.id balmon_palembang@telkom. Pacuan Kuda No. Kab. Macan Kumbang No.go. Cipto Mangunkusumo.id 7 BALMON KELAS II PALEMBANG Jl.89.6 BALMON KELAS II BATAM Jl.go. Balaraja. Bhakti Husada No. Skip Ujung No. Tangerang 12 BALMON KELAS II BANDUNG Jl.go. Bengkulu – 38225 T: (0736) 20963 F: (0736) 20963 : (0736) 52837 e-mail: upt_bengkulu@postel.go. Sekupang.1 Utan Kayu Jakarta Timur – 13120 T: (021) 8505624 (021) 8584315 : (021) 8514879 F: (021) 8505635 e-mail : upt_jakarta@postel.id 11 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD TANGERANG Jl.id balmon.go.id 10 BALMON KELAS I DKI JAKARTA Jl. Desa Cangkudu Kec.bdg@centrin.id T: (021) 5950940. 164 Arcamanik Bandung Jawa Barat – 40293 T: (022) 7278484 F: (022) 7278382 e-mail: upt_bandung@postel. DR.id 163 .net.go.50 Palembang Sumatera Selatan – 30137 T: (0711) 444423 F: (0711) 444424 e-mail: upt_palembang@postel.go. 41 F: (021) 5950940 e-mail : upt_banten@postel. Raya Cisoka.com 8 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD BENGKULU Jl.

13 BALMON KELAS II YOGYAKARTA Jl.go. Kec.go.id 16 BALMON KELAS II DENPASAR Jl. Singosari No. Kalasan. Kupang Barat – 85352 PO.com upt_semarang@postel.id 18 BALMON KELAS II KUPANG Jl.go.id balmon_denpasar@yahoo. Cangkringan-Prambanan Dusun Kledokan.id 14 BALMON KELAS II SEMARANG Komplek Semarang Indah Blok-CIII/1-3 Semarang Jawa Tengah – 50144 T:(024) 7617454 (024) 7618617 F:(024) 7617455 e-mail: suatmaji_mas@yahoo.Bolok. Batakte .BOX 1137 T: (0380) 828311 (0380) 838206 F: (0380) 828311 : (0380) 428082 e-mail : upt_kupang@postel.go. 4 Mataram Tenggara Barat – 83127 T: (0370) 646411 F: (0370) 648740 – 42 e-mail : upt_mataram@postel. Yogyakarta 55571 T: (0274) 450150 (0274) 491171 F: (0274) 450151 (0274) 491171 e-mail : upt_jogjakarta@postel. Veteran No.id 17 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD MATARAM Jl.id 15 BALMON KELAS II SURABAYA Jl Ahmad Yani No.go. Desa Kuanheun. Selomartani.id     164 .id upt_surabaya@postel.co. Mengui Kabupaten Badung – 80351 T: (0361) 880835 – 37 F: (0361) 880837 e-mail : upt_denpasar@postel.go. Desa Den Kayu Kec. 3 A Yogyakarta Atau Jl.242-244 Surabaya Jawa Timur – 60235 T: (031) 8288394 F: (031) 8292365 e-mail: balmonsb@postel. Kamboja.go.

Temohon Km.id     165 . Pineleng Sulawesi Utara – 95361 T: (0431) 826870 (0431) 827538 F: (0431) 827538 (0431) 826870 e-mail : upt_manado@postel. Pramuka No.id 23 T: (0511) 3258346 (0511) 416024 (0511) 258346 (0511) 251944 F: (0511) 3251944 e-mail : upt_banjarmasin@postel.go. 25961 e-mail : upt_palangkaraya@postel.go. Yani II Km.19 BALMON KELAS II SAMARINDA Desa Pulau Atas.id 24 BALMON KELAS II MANADO Jl. Tjilik Riwut KM-7. 527561 F: (0561) 575979 : (0561) 778160 e-mail : upt_pontianak@postel. Mekino I/83 Balikpapan Kalimantan Timur -76121 T: (0542) 423569 F: (0542) 423569 e-mail : upt_balikpapan@postel. A. 25961 F: (0536) 3232592.8 Pineleng Satu.22A Banjarmasin Kalimantan Selatan – 70111 T: (0536) 25370.go. 25370. Samarinda Kalimantan Timur -75124 Kotak Pos 1241 Samarinda T: (0541) 241900 (0541) 748696 F: (0541) 241900 : (0541) 748696 e-mail : upt_samarinda@postel. 25670.id 20 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD BALIKPAPAN Jl.go. Kec.go.13 Pontianak Kalimantan Barat T: (0561) 7078679.id 22 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD PALANGKARAYA Jl.id 21 BALMON KELAS II PONTIANAK Jl.8 Palangkaraya Kalimantan Tengah – 73112 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD BANJARMASIN Jl. 575979 (0561) 778160.go. Raya Manado .

id upt_ternate@postel.id 30 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD KENDARI Jl. Marawola. Kec. 22511 F: (0921) 3111138.Sulawesi Tenggara 93117 T: (0401) 393737 F: (0401) 393737 e-mail : upt_kendari@postel.go. Raya Malino KM-18 Borongloe Kab. Tadulako Desa Binangga. Sulawesi Selatan – 92172 T: (0411) 8210001 (0411) 861712 (0411) 5040511 (0411) 5058684 F: (0411) 8210088.id upt_makasar@postel. H.M.wasantara.94362 T: (0451) 487761 F: (0451) 487761 (0451) 421623 (0451) 421226 e-mail : upt_palu@postel.id 26 BALMON KELAS II UJUNG PANDANG Jl. 326726.go. Agus Salim no. D. Gowa.id 27 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD AMBON Jl. 22502 e-mail : loka@ternate. Sulawesi Tengah . A.id loka@ambon.Panjaitan Komplek BTN Kehutanan Kendari . Ambon 97121 T: (0911) 314385 F: (0911) 314385 (0911) 341033 e-mail : upt_ambon@postel.net. Tabae Jou.44 Koloncucu Ternate 97726 T: (0921) 3111137.25 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD PALU Jl.Karang Panjang.wasantara.go.id 166 . Palu. 280 B Kel.002/05 Kopertis .go.id 28 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD GORONTALO jl. Gonsalo Veloso RT. 8210001 e-mail: balmon_mks@telkom. Kamaruddin No. 326726.net.net.go. Dulahlowo – Gorontalo T: (0435) 829780 (0435) 834144 F: (0435) 834144 (0435) 829780 e-mail : upt_gorontalo@postel.I.go.id bakhtiar@postel.id 29 LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD TERNATE Jl.go.

31

LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD BANGKA BELITUNG Jl. Yos Sudarso No.233 Pangkal Pinang 33115 Propinsi Kepulauan Bangka Belitung

T: (0717) 424790 F: (0717) 424790 e-mail : upt_pangkalpinang@postel.go.id

32

BALMON KELAS II JAYAPURA Jl. Raya Sentani no. 21 Padang Bulan, Abepura Jayapura

T: (0967) 571963 F: (0967) 571945 e-mail : upt_jayapura@postel.go.id

33

LOKA MONITOR LOLASPEKFREKRAD MERAUKE Jl. Trans Irian KM-15 Kec.Wasur, Merauke Papua   STASIUN MONITORING SORONG Jl. Sungai Maruni Km.10 Masuk Klawuyuk, Sorong Utara, Sorong 98400 Papua Barat

T: (0971) 321701 (0971) 323475 F: (0971) 321701 e-mail : upt_merauke@postel.go.id

34

T: (0951) 325950 F: (0951) 325950 Email : pos_monitor_sorong@yahoo.com

167

LAMPIRAN 2
PERENCANAAN KANAL FREKUENSI, BATAS DAYA PANCAR, TINGGI ANTENNA RADIO SIARAN FM
FREKUENSI (MHz) 87.6 87.7 87.8 87.9 88.0 88.1 88.2 88.3 88.4 88.5 88.6 88.7 88.8 88.9 89.0 89.1 89.2 89.3 89.4 89.5 89.6 89.7 89.8 89.9 90.0 90.1 90.2 90.3 90.4 90.5 90.6 90.7 90.8 NO. KANAL 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 FREKUENSI (MHz) 94.4 94.5 94.6 94.7 94.8 94.9 95.0 95.1 95.2 95.3 95.4 95.5 95.6 95.7 95.8 95.9 96.0 96.1 96.2 96.3 96.4 96.5 96.6 96.7 96.8 96.9 97.0 97.1 97.2 97.3 97.4 97.5 97.6 NO. KANAL 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 FREKUENSI (MHz) 101.2 101.3 101.4 101.5 101.6 101.7 101.8 101.9 102.0 102.1 102.2 102.3 102.4 102.5 102.6 102.7 102.8 102.9 103.0 103.1 103.2 103.3 103.4 103.5 103.6 103.7 103.8 103.9 104.0 104.1 104.2 104.3 104.4 NO. KANAL 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169

168

FREKUENSI (MHz) 90.9 91.0 91.1 91.2 91.3 91.4 91.5 91.6 91.7 91.8 91.9 92.0 92.1 92.2 92.3 92.4 92.5 92.6 92.7 92.8 92.9 93.0 93.1 93.2 93.3 93.4 93.5 93.6 93.7 93.8 93.9 94.0 94.1 94.2 94.3    

NO. KANAL 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68

FREKUENSI (MHz) 97.7 97.8 97.9 98.0 98.1 98.2 98.3 98.4 98.5 98.6 98.7 98.8 98.9 99.0 99.1 99.2 99.3 99.4 99.5 99.6 99.7 99.8 99.9 100.0 100.1 100.2 100.3 100.4 100.5 100.6 100.7 100.8 100.9 101.0 101.1

NO. KANAL 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136

FREKUENSI (MHz) 104.5 104.6 104.7 104.8 104.9 105.0 105.1 105.2 105.3 105.4 105.5 105.6 105.7 105.8 105.9 106.0 106.1 106.2 106.3 106.4 106.5 106.6 106.7 106.8 106.9 107.0 107.1 107.2 107.3 107.4 107.5 107.6 107.7 107.8 107.9

NO. KANAL 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204

169

BATAS DAYA PANCAR RADIO SIARAN FM

KELAS A
 

 

 

KELAS B
 

ERP (kW)

15

KURVA MAKSIMUM ERP vs EHAAT

10

5

50

60

70

80

90

100 EHAAT (m)

     

 

170

KELAS C       KELAS D ERP (Watt) 50 40 30 20 10 5 10 15 20 KURVA MAKSIMUM ERP vs EHAAT EHAAT (m)   171 .

00000 [kHz] 828. 7°14'00'' S 101°30'00'' E . 8°30'00'' S 140°22'00'' E .00000 [kHz] 837.00000 [kHz] 900. 5°09'00'' S 111°31'00'' E . 6°57'00'' S 132°17'00'' E .00000 [kHz] 819.00000 [kHz] 756.00000 [kHz] 693.00000 [kHz] 747. 8°07'00'' S 102°20'00'' E . 3°35'00'' N 140°39'00'' E . 0°48'00'' N 106°45'00'' E . 6°45'00'' S 132°17'00'' E . 0°30'00'' S 131°17'00'' E . 0°50'00'' S 104°45'00'' E .00000 [kHz] 810. 3°35'00'' N 116°08'00'' E .00000 [kHz] 720. 8°36'00'' S 108°34'00'' E . 3°46'00'' S 109°12'00'' E . 3°41'00'' S 113°45'00'' E . 6°23'00'' S 117°09'00'' E . 5°22'00'' S 110°29'00'' E . 8°30'00'' S 98°39'00'' E .00000 [kHz] 855.00000 [kHz] 864.00000 [kHz] 819. 7°59'00'' S 127°23'00'' E . 6°57'00'' S 112°45'00'' E .00000 [kHz] 711. 9°12'00'' S 98°39'00'' E . 2°55'00'' S 110°50'00'' E .00000 [kHz] 765. 2°59'00'' S 124°49'00'' E . 3°22'00'' S 107°34'00'' E . 2°37'00'' S 124°49'00'' E .00000 [kHz] 585. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Fragment GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 AssgnFreq 540.LAMPIRAN 3 DAFTAR KOTA YANG SUDAH DINOTIFIKASI DI ITU BERDASARKAN PROSEDUR GE-75 UNTUK STASIUN RADIO SIARAN AM DI INDONESIA No.00000 [kHz] 774. 2°55'00'' S 105°18'00'' E .00000 [kHz] 693. 7°36'00'' S 131°17'00'' E .00000 [kHz] 891.00000 [kHz] 801.00000 [kHz] 774. 9°12'00'' S 128°10'00'' E .00000 [kHz] 693.00000 [kHz] 909.00000 [kHz] 855. 7°14'00'' S 119°28'00'' E .00000 [kHz] 783. 0°50'00'' S 112°45'00'' E .00000 [kHz] 891.00000 [kHz] 918.00000 [kHz] 900. 6°58'00'' S 140°22'00'' E .00000 [kHz] 873.00000 [kHz] 738.00000 [kHz] 873.00000 [kHz] 630.00000 [kHz] GeoCoord 107°34'00'' E . 7°32'00'' S 112°45'00'' E . 7°26'00'' S 114°33'00'' E . 0°33'00'' N SiteName BANDUNG SURABAJA UJUNGPANDANG MADIUN SORONG PALEMBANG ATAMBUA AMBON DJEMBER BENGKULU PURWOKERTO BANDJARMASIN BANDUNG FAKFAK TANDJUNGKARANG SEMARANG MERAUKE MERAUKE MEDAN DJAJAPURA ATAMBUA MEDAN MATARAM TJIREBON FAKFAK SURAKARTA MALANG TERNATE DJAKARTA SAMARINDA SORONG SURABAJA PAKANBARU EmiClass A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-- 172 .00000 [kHz] 927.

00000 [kHz] 1107.00000 [kHz] 1242.00000 [kHz] 1215. 0°54'00'' S 105°18'00'' E .00000 [kHz] 1035. 1°36'00'' S 110°24'00'' E .00000 [kHz] 1116.00000 [kHz] 1098. 8°51'00'' S 108°34'00'' E . 2°37'00'' S 115°04'00'' E .00000 [kHz] 1134. 1°11'00'' S 113°45'00'' E . 2°59’00’’ S SiteName KENDARI BIAK DJEMBER JOGJAKARTA ENDEH DJAKARTA MADIUN KUPANG PALU TANDJUNGKARANG AMBON SIBOLGA DJAJAPURA SINGARADJA ENDEH TJIREBON SUMENEP DJAMBI JOGJAKARTA KUPANG BIAK PAKANBARU PALU BANDJARMASIN KENDARI SEMARANG TERNATE PADANG MENADO PALENGKARAJA DENPASAR DJAKARTA PONTIANAK BOGOR SEMPLAK BANDA ATJEH MATARAM PONTIANAK PALEMBANG EmiClass A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-- 173 .00000 [kHz] 1206. 7°48'00'' S 123°38'00'' E .00000 [kHz] 1080. 5°30’00’’ N 116°08’00’’ E .00000 [kHz] 1161.00000 [kHz] 1269.00000 [kHz] 963.00000 [kHz] 1287.00000 [kHz] 1044. 0°05’00’’ S 104°45’00’’ E .00000 [kHz] 1125.00000 [kHz] 1017. 6°58'00'' S 127°23'00'' E .00000 [kHz] 999. 10°13'00'' S 136°04'00'' E . 3°57'00'' S 110°29'00'' E .00000 [kHz] 963. 3°41'00'' S 98°48'00'' E .00000 [kHz] GeoCoord 122°36'00'' E .00000 [kHz] 1188. 1°11'00'' S 101°30'00'' E . 8°07'00'' S 110°24'00'' E .00000 [kHz] 1197. 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 Fragment GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 AssgnFreq 954. 6°45'00'' S 113°51'00'' E . 0°05’00’’ S 106°47’00’’ E .00000 [kHz] 1008. 0°48'00'' N 100°25'00'' E .00000 [kHz] 1107.No. 2°02’00’’ S 115°14’00’’ E . 6°36’00’’ S 95°20’00’’ E .00000 [kHz] 1170. 0°54'00'' S 114°33'00'' E . 0°33'00'' N 119°53'00'' E . 7°01'00'' S 103°39'00'' E .00000 [kHz] 1035. 7°48'00'' S 121°40'00'' E .00000 [kHz] 1233. 1°42'00'' N 140°39'00'' E . 6°23’00’’ S 109°16’00’’ E . 6°14'00'' S 111°31'00'' E . 3°57'00'' S 136°04'00'' E .00000 [kHz] 1179.00000 [kHz] 1116. 8°36’00’’ S 109°16’00’’ E . 8°40’00’’ S 106°45’00’’ E .00000 [kHz] 1053. 1°00'00'' S 124°55'00'' E . 8°51'00'' S 106°53'00'' E .00000 [kHz] 1251. 8°06'00'' S 121°40'00'' E . 3°22'00'' S 122°36'00'' E .00000 [kHz] 1089.00000 [kHz] 972.00000 [kHz] 1098.00000 [kHz] 981. 7°36'00'' S 123°38'00'' E .00000 [kHz] 1170. 10°13'00'' S 119°52'00'' E . 1°32'00'' N 113°11’00’’ E . 5°22'00'' S 128°10'00'' E .00000 [kHz] 1251.00000 [kHz] 1044.00000 [kHz] 1089.

8°10'00'' S 107°45'00'' E .00000 [kHz] 1404.00000 [kHz] 1476.00000 [kHz] 1323.00000 [kHz] 1467.00000 [kHz] 1413. 3°46’00’’ S 104°28’00’’ E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] GeoCoord 124°55’00’’ E . 5°30’00’’ N 106°53’00’’ E . 6°14’00’’ S 106°09’00’’ E .00000 [kHz] 1485. 0°55’00’’ N 119°28’00’’ E . 1°19'00'' N SiteName MENADO PALENGKARAJA MALANG DJAKARTA TANDJUNGPINANG UJUNGPANDANG SUMENEP BANDA ATJEH DJAKARTA PANGKALPINANG SINGARADJA SAMARINDA BENGKULU TANDJUNGPINANG SURAKARTA BANDUNG BOJONEGORO BUKITTINGGI GARUT GRESIK KENDAL KLATEN KLUNGKUNG MADIUN MAGELANG MENADO PANDJANG PEKALONGAN PLADJU PROBOLINGGO RANGKASBITUNG SERANG DJEMBER SUBANG SUMENEP TANDJUNGKARANG TJIREBON TOMOHON EmiClass A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-- 174 . 7°42'00'' S 115°24'00'' E . 7°01’00’’ S 95°20’00’’ E .00000 [kHz] 1485. 7°32’00’’ S 107°36’00’’ E . 6°53'00'' S 104°49'00'' E . 1°32'00'' N 105°22'00'' E . 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 Fragment GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 AssgnFreq 1305. 7°09’00’’ S 100°32'00'' E .00000 [kHz] 1485.No.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 5°09’00’’ S 113°51’00’’ E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 0°30’00’’ S 102°20’00’’ E . 6°22'00'' S 106°09'00'' E . 7°45'00'' S 106°15'00'' E . 5°33'00'' S 109°40'00'' E .00000 [kHz] 1485. 0°55’00’’ N 110°50’00’’ E .00000 [kHz] 1422.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1395.00000 [kHz] 1449.00000 [kHz] 1485. 7°09'00'' S 110°12'00'' E . 8°32'00'' S 111°31'00'' E .00000 [kHz] 1449. 5°24'00'' S 108°34'00'' E .00000 [kHz] 1485. 0°18'00'' S 107°53'00'' E . 2°05’00’’ S 115°04’00’’ E . 6°55’00’’ S 111°03’00’’ E . 7°59’00’’ S 106°45’00’’ E . 7°00'00'' S 105°15'00'' E .00000 [kHz] 1485. 6°34'00'' S 113°51'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 3°00'00'' S 113°13'00'' E . 7°30'00'' S 124°55'00'' E .00000 [kHz] 1485. 8°06’00’’ S 117°09’00’’ E .00000 [kHz] 1341. 1°32’00’’ N 113°11’00’’ E .00000 [kHz] 1485. 6°42'00'' S 112°39'00'' E . 6°07'00'' S 113°42'00'' E .00000 [kHz] 1377.00000 [kHz] 1305.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1359.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 6°42'00'' S 124°50'00'' E . 6°55'00'' S 110°36'00'' E . 2°02’00’’ S 112°45’00’’ E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1332. 7°37'00'' S 110°12'00'' E . 6°23’00’’ S 104°28’00’’ E .

00000 [kHz] 1485. 1°42'00'' N 112°43'00'' E .00000 [kHz] 1485. 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 Fragment GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 AssgnFreq 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 0°05'00'' S 109°15'00'' E .00000 [kHz] 1485. 7°21'00'' S 128°10'00'' E . 7°52'00'' S 109°20'00'' E . 3°22'00'' S 112°46'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 7°36'00'' S 114°23'00'' E .00000 [kHz] 1485. 7°38'00'' S 111°02'00'' E .00000 [kHz] 1485. 0°50'00'' S SiteName WONOSOBO AMBON BANDJARMASIN BANGIL BANJUWANGI BENGKULU BIAK BOGOR SEMPLAK BONDOWOSO CIANJUR CIKAMPEK DJAKARTA DENPASAR FAKFAK KALIUNGU KEDIRI KRAWANG MAJALENGKA MALANG MEDAN PADANG PALENGKARAJA PALU PASURUAN PATI PAYAHKUMBUH PONOROGO PONTIANAK PURWOKERTO PURWOREJO SAMARINDA SEMARANG SENKANG SIBOLGA SIDOARJO SINGARADJA SOLOK SUMATRA SORONG EmiClass A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-- 175 . 7°59'00'' S 98°40'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 6°57'00'' S 112°02'00'' E . 3°30'00'' N 100°23'00'' E . 7°43'00'' S 117°09'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 5°02'00'' S 98°48'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 7°54'00'' S 107°18'00'' E . 6°18'00'' S 108°13'00'' E . 8°13'00'' S 102°20'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 6°49'00'' S 107°28'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 0°48'00'' S 131°17'00'' E . 6°35'00'' S 113°49'00'' E . 7°53'00'' S 107°17'00'' E . 8°39'00'' S 132°17'00'' E . 8°06'00'' S 100°39'00'' E . 3°41'00'' S 114°33'00'' E .No. 0°54'00'' S 112°54'00'' E . 6°45'00'' S 100°38'00'' E .00000 [kHz] 1485. 6°25'00'' S 106°50'00'' E . 0°13'00'' S 111°28'00'' E . 7°26'00'' S 110°30'00'' E . 7°28'00'' S 115°05'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 6°58'00'' S 119°39'00'' E . 1°11'00'' S 106°47'00'' E . 0°30'00'' S 110°25'00'' E .00000 [kHz] 1485. 2°02'00'' S 119°53'00'' E . 2°55'00'' S 110°14'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] GeoCoord 109°59'00'' E .00000 [kHz] 1485. 6°50'00'' S 112°37'00'' E . 0°57'00'' S 113°11'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1485. 6°10'00'' S 115°13'00'' E . 3°46'00'' S 136°04'00'' E .

1°22'00'' N 119°25'00'' E . 1°22'00'' N 119°25'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 7°19'00'' S 108°20'00'' E .00000 [kHz] 1584. 5°09'00'' S 122°36'00'' E . 3°30'00'' N 111°02'00'' E .00000 [kHz] 1584. 0°00'00'' N 109°15'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 3°41'00'' S SiteName SURABAJA SUKABUMI SURAKARTA TASIKMALAJA TEGAL TEMANGGUNG TERNATE TJIAMIS TONDANO UJUNGPANDANG KENDARI DJAMBI BUKITTINGGI PADANG BANGIL BONDOWOSO CIANJUR DJAKARTA SIDOARJO KALIWUNGU MAJALENGKA MALANG MEDAN PATI PAYAHKUMBUH PONTIANAK PURWOKERTO SENKANG SINGARADJA SUKABUMI SURABAJA TEGAL TELUKBETUNG TEMANGGUNG TJIAMIS TONDANO UJUNGPANDANG AMBON EmiClass A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-- 176 . 6°49'00'' S 106°50'00'' E .00000 [kHz] 1485. 7°54'00'' S 107°18'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1530.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] GeoCoord 112°45'00'' E . 5°27'00'' S 110°10'00'' E .00000 [kHz] 1503. 7°36'00'' S 113°49'00'' E . 6°50'00'' S 110°49'00'' E . 1°36'00'' S 100°20'00'' E .00000 [kHz] 1485. 0°13'00'' S 109°20'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 7°19'00'' S 124°45'00'' E . 7°19'00'' S 124°45'00'' E . 6°52'00'' S 110°10'00'' E .00000 [kHz] 1584. 6°10'00'' S 112°43'00'' E . 7°19'00'' S 127°23'00'' E . 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 Fragment GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 AssgnFreq 1485.00000 [kHz] 1584. 6°50'00'' S 112°37'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1584. 6°50'00'' S 112°45'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 3°57'00'' S 103°39'00'' E .00000 [kHz] 1584. 7°34'00'' S 108°13'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1584. 7°59'00'' S 98°40'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1584.No.00000 [kHz] 1584. 5°02'00'' S 115°05'00'' E . 0°17'00'' S 100°25'00'' E .00000 [kHz] 1512.00000 [kHz] 1485. 7°15'00'' S 109°08'00'' E .00000 [kHz] 1485.00000 [kHz] 1584. 8°06'00'' S 106°55'00'' E . 6°45'00'' S 100°38'00'' E . 6°52'00'' S 105°16'00'' E . 7°28'00'' S 110°14'00'' E . 6°57'00'' S 108°13'00'' E . 0°48'00'' N 108°20'00'' E . 1°00'00'' S 112°46'00'' E . 7°26'00'' S 119°39'00'' E . 5°09'00'' S 128°10'00'' E . 7°19'00'' S 109°08'00'' E .00000 [kHz] 1485. 7°15'00'' S 106°55'00'' E .00000 [kHz] 1584.

6°55'00'' S 114°23'00'' E . 8°32'00'' S 107°17'00'' E .00000 [kHz] 1584. 1°42'00'' N 100°39'00'' E .00000 [kHz] 1584. 6°18'00'' S 111°31'00'' E . 7°53'00'' S 110°12'00'' E . 8°10'00'' S 132°17'00'' E .00000 [kHz] 1584. 6°07'00'' S 98°48'00'' E .00000 [kHz] 1584. 0°18'00'' S 107°28'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 7°38'00'' S 109°40'00'' E . 1°11'00'' S 106°47'00'' E . 3°57'00'' S 110°36'00'' E . 0°50'00'' S 107°45'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.No.00000 [kHz] 1584. 7°45'00'' S 110°30'00'' E . 6°25'00'' S 115°13'00'' E .00000 [kHz] 1584. 0°48'00'' S 131°17'00'' E .00000 [kHz] 1584. 3°46'00'' S 136°04'00'' E .00000 [kHz] 1584. 6°42'00'' S 112°39'00'' E . 3°00'00'' S 105°22'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 Fragment GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 AssgnFreq 1584.00000 [kHz] 1584. 8°13'00'' S 102°20'00'' E . 6°55'00'' S 122°36'00'' E . 6°22'00'' S 117°09'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 6°58'00'' S 106°09'00'' E .00000 [kHz] 1584. 6°53'00'' S 111°28'00'' E .00000 [kHz] 1584. 7°37'00'' S 110°12'00'' E . 0°30'00'' S 110°25'00'' E . 7°43'00'' S 106°15'00'' E . 7°09'00'' S 100°32'00'' E .00000 [kHz] 1584. 2°55'00'' S 107°53'00'' E . 5°33'00'' S 112°02'00'' E . 1°32'00'' N 104°46'00'' E .00000 [kHz] 1584. 3°22'00'' S 107°36'00'' E .00000 [kHz] GeoCoord 114°33'00'' E .00000 [kHz] 1584. 8°39'00'' S 113°42'00'' E .00000 [kHz] 1584. 7°30'00'' S 124°55'00'' E . 6°34'00'' S SiteName BANDJARMASIN BANDUNG BANJUWANGI BENGKULU BIAK BOGOR SEMPLAK BOJONEGORO BUKITTINGGI CIKAMPEK DENPASAR DJEMBER FAKFAK GARUT GRESIK KEDIRI KENDAL KENDARI KLATEN KLUNGKUNG KRAWANG MADIUN MAGELANG MENADO PALEMBANG PANDJANG PASURUAN PEKALONGAN PONOROGO PROBOLINGGO PURWOREJO RANGKASBITUNG SAMARINDA SEMARANG SERANG SIBOLGA SOLOK SUMATRA SORONG SUBANG EmiClass A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-- 177 .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 7°42'00'' S 115°24'00'' E .00000 [kHz] 1584. 7°52'00'' S 113°13'00'' E . 6°35'00'' S 111°03'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 7°09'00'' S 112°02'00'' E .00000 [kHz] 1584.

2°02'00'' S 119°53'00'' E .00000 [kHz] 1602. 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 Fragment GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 AssgnFreq 1584. 7°09'00'' S 113°49'00'' E .00000 [kHz] 1602.No.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1602. 6°58'00'' S 100°39'00'' E . 1°36'00'' S 128°10'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 3°41'00'' S 114°33'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584. 0°18'00'' S 107°18'00'' E . 0°48'00'' N 114°23'00'' E .00000 [kHz] 1602. 7°36'00'' S 102°20'00'' E .00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1602. 7°21'00'' S 95°20'00'' E .00000 [kHz] 1602. 6°25'00'' S 115°13'00'' E . 7°43'00'' S 110°25'00'' E .00000 [kHz] 1602. 1°19'00'' N 109°59'00'' E . 6°42'00'' S 124°50'00'' E . 7°54'00'' S 100°32'00'' E .00000 [kHz] 1584. 7°19'00'' S 103°39'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1584. 6°55'00'' S 112°46'00'' E .00000 [kHz] 1602. 7°53'00'' S 107°17'00'' E .00000 [kHz] 1602. 3°22'00'' S 107°36'00'' E . 6°18'00'' S 100°23'00'' E .00000 [kHz] 1602. 8°39'00'' S 112°02'00'' E . 3°46'00'' S 136°04'00'' E . 1°11'00'' S 111°03'00'' E . 0°54'00'' S 127°23'00'' E . 6°49'00'' S SiteName SUMENEP SURAKARTA TASIKMALAJA TJIREBON TOMOHON WONOSOBO BANDA ATJEH PALENGKARAJA PALU TERNATE BANJUWANGI BOGOR SEMPLAK CIKAMPEK DENPASAR KEDIRI KRAWANG PADANG PAKANBARU PALEMBANG PASURUAN PONOROGO PURWOREJO SEMARANG SOLOK SUMATRA SURAKARTA TANJUNGMORAWA TASIKMALAJA DJAMBI AMBON BANDJARMASIN BANDUNG BANGIL BENGKULU BIAK BOJONEGORO BONDOWOSO BUKITTINGGI CIANJUR EmiClass A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-- 178 .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 0°57'00'' S 101°26'00'' E .00000 [kHz] 1602. 6°35'00'' S 107°28'00'' E .00000 [kHz] 1602. 7°34'00'' S 108°13'00'' E .00000 [kHz] GeoCoord 113°51'00'' E . 7°52'00'' S 110°30'00'' E . 0°32'00'' N 104°46'00'' E . 0°48'00'' S 110°49'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1584. 5°30'00'' N 113°11'00'' E . 7°19'00'' S 108°34'00'' E . 7°00'00'' S 110°49'00'' E .00000 [kHz] 1602. 3°30'00'' N 108°13'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 7°38'00'' S 111°28'00'' E .00000 [kHz] 1602. 7°34'00'' S 98°50'00'' E . 3°00'00'' S 112°54'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1584.00000 [kHz] 1602. 8°13'00'' S 106°47'00'' E .

00000 [kHz] 1602. 7°09'00'' S 110°14'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 8°32'00'' S 111°31'00'' E . 7°00'00'' S 112°45'00'' E . 6°55'00'' S 110°36'00'' E . 5°24'00'' S 109°08'00'' E .00000 [kHz] 1602.No. 7°30'00'' S 108°13'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 6°52'00'' S 110°10'00'' E . 7°59'00'' S 124°55'00'' E . 0°50'00'' S 107°45'00'' E . 6°50'00'' S 112°37'00'' E . 6°45'00'' S 100°38'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 6°57'00'' S 110°12'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 6°10'00'' S 113°42'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 6°50'00'' S 113°51'00'' E .00000 [kHz] 1602. 1°32'00'' N 105°22'00'' E . 5°02'00'' S 106°09'00'' E .00000 [kHz] 1602. 6°34'00'' S 106°55'00'' E . 7°19'00'' S 108°34'00'' E . 7°45'00'' S 109°15'00'' E .00000 [kHz] 1602. 8°06'00'' S 131°17'00'' E . 7°19'00'' S 108°20'00'' E .00000 [kHz] 1602. 7°26'00'' S 106°15'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 0°30'00'' S 119°39'00'' E . 7°15'00'' S 105°15'00'' E . 7°28'00'' S 115°05'00'' E . 8°10'00'' S 132°17'00'' E .00000 [kHz] 1602. 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 Fragment GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 AssgnFreq 1602. 6°42'00'' S SiteName DJAKARTA DJEMBER FAKFAK GARUT GRESIK KALIUNGU KENDAL KLATEN KLUNGKUNG MADIUN MAGELANG MAJALENGKA MALANG MENADO PANDJANG PATI PAYAHKUMBUH PEKALONGAN PONTIANAK PROBOLINGGO PURWOKERTO RANGKASBITUNG SAMARINDA SENKANG SERANG SIBOLGA SIDOARJO SINGARADJA SORONG SUBANG SUKABUMI SUMENEP SURABAJA TANDJUNGKARANG TEGAL TEMANGGUNG TJIAMIS TJIREBON EmiClass A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-- 179 .00000 [kHz] 1602. 2°55'00'' S 107°53'00'' E . 6°22'00'' S 117°09'00'' E . 0°05'00'' S 113°13'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 7°42'00'' S 115°24'00'' E . 0°13'00'' S 109°40'00'' E . 6°53'00'' S 109°20'00'' E . 6°07'00'' S 98°48'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 7°37'00'' S 110°12'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 6°42'00'' S 112°39'00'' E . 1°42'00'' N 112°43'00'' E .00000 [kHz] GeoCoord 106°50'00'' E .00000 [kHz] 1602. 5°33'00'' S 111°02'00'' E .

2°02'00'' S 119°53'00'' E . 0°54'00'' S 127°23'00'' E . 1°19'00'' N 119°25'00'' E . 3°57'00'' S 113°11'00'' E .00000 [kHz] GeoCoord 124°50'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602. 300 301 302 303 304 305 306 307 Fragment GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 GE75 AssgnFreq 1602. 5°30'00'' N 122°36'00'' E . 0°48'00'' N SiteName TOMOHON UJUNGPANDANG WONOSOBO BANDA ATJEH KENDARI PALENGKARAJA PALU TERNATE EmiClass A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E-A3E--   180 . 5°09'00'' S 109°59'00'' E . 7°21'00'' S 95°20'00'' E .00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.00000 [kHz] 1602.No.

1099 Annex-1 Kanal Spasi = 40 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 Fn (MHz) 4430 4470 4510 4550 4590 4630 4670 F'n (MHz) 4730 4770 4810 4850 4890 4930 4970 Frekuensi 6400 – 7100 MHz Rec. 385 Kanal Spasi = 7 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Fn (MHz) 7128 7135 7142 7149 7156 7163 7170 7177 7184 7191 7198 7205 7212 7219 7226 7233 7240 7247 7254 7261 F'n (MHz) 7289 7296 7303 7310 7317 7324 7331 7338 7345 7352 7359 7366 7373 7380 7387 7394 7401 7408 7415 7422 Fn (MHz) 6460 6500 6540 6580 6620 6660 6700 6740 F'n (MHz) 6800 6840 6880 6920 6960 7000 7040 7080 Kanal Spasi = 14 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Fn (MHz) 7135 7142 7149 7156 7163 7170 7177 7184 7191 7198 7205 7212 7219 7226 7233 7240 7247 7254 F'n (MHz) 7296 7303 7310 7317 7324 7331 7338 7345 7352 7359 7366 7373 7380 7387 7394 7401 7408 7415 Kanal Spasi = 28 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Fn (MHz) 7135 7142 7149 7156 7163 7170 7177 7184 7191 7198 7205 7212 7219 7226 7233 7240 7247 F'n (MHz) 7296 7303 7310 7317 7324 7331 7338 7345 7352 7359 7366 7373 7380 7387 7394 7401 7408 181 . ITU-R F. ITU-R F.LAMPIRAN 4 PENGKANALAN MICROWAVE LINK BERDASARKAN REKOMENDASI ITU-R Frekuensi 4400 – 5000 MHz Rec. 384 Kanal Spasi = 40 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 Frekuensi 7125 – 7425 MHz Rec. ITU-R F.

7 – 11.97 8177.95 7925.7 7777.92 8266.27 8236. ITU-R F.57 Frekuensi 8275 . ITU-R F.7 GHz Rec.25 F'n (MHz) 8059.65 7866.02 8088.35 7807 7836. ITU-R 386 Annex-1 Kanal Spasi = 29.65 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 Fn (MHz) 7747.67 8118.62 8207.6 7955.32 8147.3 7895. 385 Kanal Spasi = 7 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Fn (MHz) 7428 7435 7442 7449 7456 7463 7470 7477 7484 7491 7498 7505 7512 7519 7526 7533 7540 7547 7554 7561 F'n (MHz) 7589 7596 7603 7610 7617 7624 7631 7638 7645 7652 7659 7666 7673 7680 7687 7694 7701 7708 7715 7722 Kanal Spasi = 14 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Fn (MHz) 7435 7442 7449 7456 7463 7470 7477 7484 7491 7498 7505 7512 7519 7526 7533 7540 7547 7554 F'n (MHz) 7596 7603 7610 7617 7624 7631 7638 7645 7652 7659 7666 7673 7680 7687 7694 7701 7708 7715 Kanal Spasi = 28 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Fn (MHz) 7442 7449 7456 7463 7470 7477 7484 7491 7498 7505 7512 7519 7526 7533 7540 7547 7554 F'n (MHz) 7603 7610 7617 7624 7631 7638 7645 7652 7659 7666 7673 7680 7687 7694 7701 7708 7715 Frekuensi 7725 – 8275 MHz Rec. 387 Kanal Spasi = 40 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Fn (MHz) 10715 10755 10795 10835 10875 10915 10955 10995 11035 11075 11115 11155 F'n (MHz) 11245 11285 11325 11365 11405 11445 11485 11525 11565 11605 11645 11685 182 . ITU-R 386 Annex-3 Kanal Spasi = 28 MHz No 1 2 3 4 5 6 Fn (MHz) 8293 8307 8321 8335 8349 8363 F'n (MHz) 8412 8426 8440 8454 8468 8482 Frekuensi 10.Frekuensi 7425 – 7725 MHz Rec.8500 MHz Rec.

25 13235.25 13095.25 12969.75 13232.25 12955.25 12906.75 13225.75 12875.25 13109.25 12934.25 13228.75 13113.75 13204.75 13050.5 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 Fn (MHz) 12752.25 12941.75 12840.25 183 .25 12815.25 13144.25 12885.75 12826.75 12917.75 12763.75 12952.75 13085.75 12812.ITU-R F.25 13074.75 13043.75 12770. 497 Kanal Spasi = 3.75 12819.75 12966.75 12959.25 13207.25 13158.75 13183.25 13221.75 12868.25 12927.25 13025.75 12805.75 12938.25 13081.Frekuensi 12750 – 13250 MHz Rec.75 12756.75 12910.25 12759.25 12766.75 No 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 Fn (MHz) 12889.75 13127.25 12871.25 12794.25 13102.75 13239.75 13092.25 12773.75 12854.25 12899.75 13211.25 13032.25 12801.25 12962.75 12896.75 12945.75 13022.25 12843.75 12931.25 12913.75 13078.75 13218.25 13046.75 12903.25 13179.25 13130.25 13053.75 12882.25 13214.75 12973.25 12857.75 12924.25 13172.25 13088.25 13067.25 13116.75 13162.25 12948.75 13036.25 13186.75 F'n (MHz) 13018.75 12777.25 12808.75 13057.75 13169.75 12784.75 13106.75 13134.25 12822.25 13039.25 13151.75 13197.25 12920.25 13193.75 12847.75 13120.25 13200.25 12780.75 13064.25 12850.25 12836.75 12791.25 12864.75 13176.25 13137.75 13141.25 12829.25 12787.25 13123.75 13190.75 12861.25 12892.25 13165.75 12798.75 12833.75 13099.75 13071.25 13060.75 13029.25 F'n (MHz) 13155.25 12878.75 13148.

5 13062.5 13167.5 12964.5 12789.5 12831.5 12901.5 13048.5 13209.5 12915.5 13055.5 12971.5 13125.5 Kanal Spasi = 28 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 Fn (MHz) 12765 12793 12821 12849 12877 12905 12933 12961 F'n (MHz) 13031 13059 13087 13115 13143 13171 13199 13227 184 .5 F'n (MHz) 13027.5 12943.5 13062.5 12803.5 13076.5 13027.5 13097.5 13160.5 13104.5 12852.5 13167.5 13195.5 12908.5 13076.5 13153.5 12768.5 13069.5 12936.5 13188.5 12957.5 12824.5 13125.5 13041.5 12852.5 12789.5 12929.5 13139.5 12894.5 12761.5 12880.5 13118.5 12838.5 13181.5 12880.5 12964.5 12894.5 12873.5 13069.5 12775.5 13132.5 12901.5 13146.5 12831.5 12936.5 13090.5 12782.5 12943.5 12887.5 12866.5 13055.5 13083.5 13041.5 12803.5 13034.5 12817.5 13195.5 12775.5 12782.5 13104.5 13139.5 12929.5 12824.5 13153.5 13216.5 13097.5 Kanal Spasi = 14 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Fn (MHz) 12761.5 12922.5 13132.5 13090.5 12838. 497 Kanal Spasi = 7 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 Fn (MHz) 12754.5 12950.5 13209.5 12908.5 13181.5 13111.5 F'n (MHz) 13020.5 12768.5 13174.5 12796.5 13202.5 13216.Frekuensi 12750 – 13250 MHz Rec.5 12915.5 12817.5 13223.5 12859.5 13230.5 13146.5 12810.5 12810.5 13118.5 13237.5 13048.5 13160.5 12957.5 13202.ITU-R F.5 13188.5 12922.5 13034.5 12887.5 13174.5 12950.5 13223.5 12796.5 12859.5 13230.5 13111.5 12866.5 12845.5 12873.5 12845.5 13083.

25 15230.25 15272.75 14786.75 15143.75 14996.75 14520.75 14422.25 15174.75 14429.75 15297.25 14418.75 14436.25 F'n (MHz) 15031.25 15111.75 15262.75 14954.75 14590.25 15118.25 14593.75 14730.25 14446.75 14793.25 15069.75 14471.75 14569.75 14548.75 15171.25 14971.25 14782.25 14810.75 14583.75 14408.75 14443.75 14688.25 14642.75 14478.25 15006.75 14947.25 14558.75 14457.75 15017. 636 Kanal Spasi = 3.25 14628.25 14957.25 14579.75 15073.75 15255.25 15132.25 15293.75 14597.25 15237.25 14656.25 15181.75 15024.75 15136.25 15258.75 14485.25 14481.75 14618.75 14611.75 15199.25 14754.25 15195.75 15010.75 15115.25 14516.75 14639.75 14674.25 14712.25 15209.25 14950.75 14905.25 14614.75 14765.25 14978.25 14411.25 14460.75 14527.75 14961.25 No 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 Fn (MHz) 14677.25 14985.25 15202.25 14600.25 14495.75 15220.75 14723.75 15101.75 14926.25 14425.25 14901.75 14464.25 14544.25 14992.75 14744.75 14499.75 14919.75 15276.75 15150.25 15076.25 15125.75 14492.25 14586.25 14488.75 14751.25 15188.25 15034.75 14660.25 14929.75 14681.25 14537.35 GHz Rec ITU-R F.25 14691.75 15185.25 14502.75 15248.25 14936.75 14758.25 15146.25 14453.75 No 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 Fn (MHz) 14541.25 14747.25 14663.75 F'n (MHz) 15167.75 15129.25 15104.25 14684.4 – 15.25 15244.25 15027.25 15251.75 14989.25 14726.25 14607.75 15192.75 185 .25 15062.25 15265.75 15164.25 15223.25 14999.75 15178.75 15227.25 15153.25 15083.25 15160.75 15269.75 14653.25 14943.25 15020.75 14772.25 14761.75 14940.25 15279.25 14530.75 15108.25 14432.75 15080.25 14733.75 14912.25 14915.25 15300.25 14803.25 15041.75 14667.25 14719.75 15290.75 14975.75 14695.25 14649.25 15139.75 14450.75 15087.75 15094.75 15241.75 15052.75 14513.25 14551.25 14439.75 15059.25 14775.75 14807.25 15090.75 14898.5 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 Fn (MHz) 14404.75 14555.75 15213.75 14646.25 14670.25 14768.75 14604.75 14632.25 14565.75 15038.75 F'n (MHz) 14894.75 14562.Frekuensi 14.75 14506.25 14467.75 14702.25 14789.75 14737.75 15206.25 14740.25 14964.25 15055.75 14709.25 15097.75 14576.25 14796.75 15045.25 15216.25 14474.25 14705.75 14933.75 15122.25 14908.25 15048.75 14534.25 14621.25 15286.75 15234.25 14509.75 14625.25 14523.25 14698.75 15066.75 14779.25 14635.75 14716.25 14572.25 15013.75 14968.75 15003.75 14800.75 14982.25 14922.75 15157.75 15283.75 14415.

25 15321.5 14833.5 14924.5 14665.5 14700.Kanal Spasi = 3.5 15001.5 15253.5 15029.5 14805. 636 Kanal Spasi = 7 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Fn (MHz) 14406.5 15295.25 15307.5 14910.5 14847.5 15155.5 14714.5 15309.5 15050.5 15092.5 14637.5 14679.5 14840.5 15085.5 14623.5 14588.5 15274.5 15330.5 14539.5 No 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 Fn (MHz) 14728.5 14770.5 14434.5 14476.5 14441.25 15314.5 14581.5 15211.75 14849.5 14819.5 15106.5 14798.5 F'n (MHz) 15218.5 14826.5 14651.5 14994.5 15267.5 14448.5 15302.5 15190.5 15281.75 15325.5 15134.5 15232.5 14553.5 15043.5 15120.75 15311.75 15318.5 14987.75 14821.5 14973.5 14504.5 14777.5 14595.5 14469.5 15316.5 14602.5 14952.5 14917.5 15148.25 14831.5 14938.5 14616.5 14756.5 15323.5 MHz  No 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 Fn (MHz) 14814.5 14518.5 14560.25 F'n (MHz) 15304.5 15197.5 14763.5 14420.5 15036.5 F'n (MHz) 14896.5 15288.5 14462.5 15022.5 14490.5 14546.5 14721.25 14817.25 14845.35 GHz Rec ITU-R F.5 14686.5 14497.5 15239.5 14455.5 15141.5 14742.5 14609.5 15183.5 F'n (MHz) 15057.5 14644.5 14672.5 15260.5 14532.25 Frekuensi 14.25 15335.5 15008.5 15204.5 No 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 Fn (MHz) 14567.5 14511.5 14931.5 15071.75 14828.5 15113.5 15064.5 15337.5 14707.5 15099.5 14812.5 15162.5 14791.5 14483.5 14525.5 15015.5 14658.75 14835.5 14630.4 – 15.5 14735.5 15176.5 14980.75 15332.5 14749.5 15169.75 15339.5 15246.75 14842.5 14966.5 14693.5 14784.5 15225.5 14413.5 14945.25 14838.5 14959.5 14903.25 14824.5 15127.5 14427.25 15328.5 14574.5 186 .5 15078.

5 14553.5 14546.5 14581.5 14434.5 14658.5 15029.5 14469. 595 Annex 5 Kanal Spasi = 7 MHz No 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 Fn (MHz) 14686.5 15309.5 14770.5 14665.5 15302.5 14623.4 – 15.5 14602.5 15008.5 15169.5 14742.5 14721.5 14707.5 14504.5 14595.5 14700.5 14630.5 14462.5 14798.5 14840.5 15316.5 14476.5 15253.5 15267.5 15106.5 15274.5 14609.5 14805.5 15099.5 14819.5 15260.5 14420.5 15281.5 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Fn (MHz) 17710 17717 17724 17731 17738 17745 17752 17759 17766 F'n (MHz) 18720 18727 18734 18741 18748 18755 18762 18769 18776 Frekuensi 17.5 14784.5 15204.5 14749.5 14735.5 15001.5 14791.5 15190.5 15043.5 14455.5 15162.5 14427. ITU-R F.5 15218.5 14763.5 15183.5 15232.5 14672.5 14490.5 14560.5 14518.5 Kanal Spasi = 28 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Fn (MHz) 14417 14445 14473 14501 14529 14557 14585 14613 14641 14669 14697 14725 14753 14781 14809 14837 F'n (MHz) 14907 14935 14963 14991 15019 15047 15075 15103 15131 15159 15187 15215 15243 15271 15299 15327 187 .5 15239.5 14567.5 15246.5 14728.5 15015.5 14756.5 14651.5 14714.5 14588.5 14945.5 14931.5 14644.5 14693.5 15064.5 14532.5 15323.5 15148.5 14497.5 14616.5 14910.5 14959.5 15071.5 14938.5 15330.5 15288.5 15295.5 F'n (MHz) 14903.5 15078.5 15127.5 14448.5 15197.5 15036.5 14994.5 15085.5 15113.5 F'n (MHz) 15176.5 14973.5 15225.5 14483.19.7 .5 14539.5 14812.Frekuensi 14.5 15141.5 14441.5 14826.5 14525.5 14924.5 15057.5 15211.5 14637.5 14952.5 14679. 636 Kanal Spasi = 14 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 Fn (MHz) 14413.5 14917.5 15092.5 14966.5 15120.5 14833.5 14987.35 GHz Rec ITU-R F.5 14777.5 15050.5 14980.5 15155.5 14574.7 GHz Rec.5 15134.5 14511.5 15022.

5 23121 23124.5 22400 22403.5 22169 22172.5 23317 23320.5 23100 23103.5 23268 23271.5 22197 22200.5 22316 22319.5 22246 22249.5 23191 23194.5 23170 23173.5 23345 23348.5 23030 23033.5 22274 F'n (MHz) 23149 23152.5 22386 22389.5 23338 23341.5 23128 23131.5 22358 22361.5 22309 22312.5 23156 23159.5 23366 23369.5 22176 22179.5 188 .5 22337 22340.5 23107 23110.5 23037 23040.5 23016 23019.5 22043 22046.5 23198 23201.5 22008 22011.5 22351 22354.5 F'n (MHz) 23012.5 23177 23180.5 22113 22116.5 23135 23138.5 22036 22039.5 23163 23166.5 22288 22291.2 – 23.5 23408 23411.5 22190 22193.5 22232 22235.5 22225 22228.5 No 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 Fn (MHz) 22141 22144.5 23219 23222.5 22365 22368.5 23387 23390.5 23086 23089.5 23310 23313.5 22085 22088.5 23401 23404.5 22393 22396.5 23247 23250.5 22106 22109.5 22071 22074.5 22064 22067.5 23240 23243.5 23226 23229.5 23275 23278.5 23058 23061. ITU-R F.5 23205 23208.5 22057 22060.5 22323 22326.5 23093 23096.5 22183 22186.5 22155 22158.5 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 Fn (MHz) 22004.5 22295 22298.5 23394 23397.Frekuensi 21.5 23282 No 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 Fn (MHz) 22277.5 23079 23082.5 23044 23047.5 22078 22081.5 22239 22242.5 23380 23383.5 22253 22256.5 22092 22095.5 23296 23299.5 23331 23334.5 23373 23376.5 22022 22025.5 23303 23306. 637 Kanal Spasi = 3.5 22372 22375.5 22302 22305.5 22127 22130.5 23254 23257.5 22281 22284.5 23023 23026.5 22344 22347.5 23415 23418.5 22029 22032.5 23065 23068.5 23051 23054.5 22379 22382.5 23184 23187.5 22134 22137.5 22267 22270.5 22099 22102.5 23072 23075.5 23352 23355.5 23212 23215.5 22204 22207.5 23233 23236.5 23142 23145.5 22120 22123.5 23324 23327.5 23261 23264.5 22330 22333.5 22015 22018.5 22148 22151.5 23289 23292.5 F'n (MHz) 23285.5 22162 22165.5 22407 22410.5 22260 22263.5 22050 22053.6 GHz Rec.5 23114 23117.5 23359 23362.5 22218 22221.5 22211 22214.

5 23166.5 23590 23593.5 22291.5 22165.5 22123.5 23548 23551.5 23569 23572.5 22249.5 23562 No 159 160 161 162 163 164 165 166 167 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 Fn (MHz) 22557.5 22456 22459.5 22568 22571.5 22575 22578.5 23471 23474.5 23285.5 22277.5 23541 23544.5 22228.5 22575 22578.5 23576 23579.5 22270.5 23110.5 22221.5 23061.5 F'n (MHz) 23019.5 22032.5 23173.5 23068.5 23583 23586.5 23299.5 23208.5 23534 23537.5 23558.5 22463 22466.5 23576 23579.5 23436 23439.5 23047.5 23054.5 MHz No 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 Fn (MHz) 22414 22417.5 22081.5 22235.5 23527 23530.5 23450 23453.5 23292.5 23026.5 23075.5 22053.5 23264.5 22582 22585.5 22284.5 23243.5 22179.5 23555 23558.5 23229.5 23492 23495.5 22039.5 22505 22508.5 189 .5 22554 22557.5 22512 22515.5 23457 23460.5 23222.5 23215.5 23082.5 23040.5 22088.5 23506 23509.5 22095.5 22018.5 22428 22431.5 22130.5 23590 23593.5 22158.5 23520 23523.5 22242.5 23562 23565.5 22137.5 22470 22473.5 22435 22438.5 22477 22480.5 22193.5 23485 23488.5 Kanal Spasi = 7 MHz  No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 Fn (MHz) 22011.5 22449 22452.5 22498 22501.5 23152.5 23569 23572.5 23194.5 22025.5 23089.5 22067.5 22116.5 23271.5 22046.5 23464 23467.5 22561 22564.5 22519 22522.Kanal Spasi = 3.5 22540 22543.5 F'n (MHz) 23565.5 23096.5 23159.5 23138.5 23103.5 22172.5 22074.5 23278.5 22256.5 22207.5 22421 22424.5 22561 22564.5 23250.5 23257.5 22214.5 23478 23481.5 22568 22571.5 23201.5 22491 22494.5 22442 22445.5 23429 23432.5 23117.5 22547 22550.5 22144.5 22533 22536.5 22484 22487.5 23145.5 22060.5 22151.5 23513 23516.5 23187.5 23499 23502.5 23124.5 23443 23446.5 22109.5 22102.5 22200.5 22550.5 22582 22585.5 22554 F'n (MHz) 23422 23425.5 23180.5 22263.5 23236.5 23033.5 23131.5 23583 23586.5 22186.5 22526 22529.

5 23446.5 23579.5 22354.5 23537.5 23586.5 22312.5 22564.5 23593.5 22571.5 22480.5 22445.5 23558.5 22459.5 23404.5 23530.5 23341.5 22410.5 22424.5 23397.5 23390.5 22375.5 22550.5 23327.5 22368.5 22466.5 22326.5 22487.5 23418.5 22585.5 23320.5 22578.5 23411.5 22403.5 23313.5 22501.5 22382.5 23516.5 23376.5 23425.5 23551.5 22508.5 22494.5 23481.5 22536.5 23334.5 23432.5 22515.5 22431.5 22361.5 22543.5 23383.5 23439.5 23565.5 23348.5 23509.5 22473.5 23355.5 23495.5 22389.5 F'n (MHz) 23306.5 23369.5 23460.5 23467.5 23544.5 23362.5 22557.5 Kanal Spasi = 14 MHz No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 Fn (MHz) 22015 22029 22043 22057 22071 22085 22099 22113 22127 22141 22155 22169 22183 22197 22211 22225 22239 22253 22267 22281 22295 22309 22323 22337 22351 22365 22379 22393 22407 22421 22435 22449 22463 22477 22491 22505 22519 22533 22547 22561 22575 F'n (MHz) 23023 23037 23051 23065 23079 23093 23107 23121 23135 23149 23163 23177 23191 23205 23219 23233 23247 23261 23275 23289 23303 23317 23331 23345 23359 23373 23387 23401 23415 23429 23443 23457 23471 23485 23499 23513 23527 23541 23555 23569 23583 Kanal Spasi = 28 MHz  No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Fn (MHz) 22022 22050 22078 22106 22134 22162 22190 22218 22246 22274 22302 22330 22358 22386 22414 22442 22470 22498 22526 22554 F'n (MHz) 23030 23058 23086 23114 23142 23170 23198 23226 23254 23282 23310 23338 23366 23394 23422 23450 23478 23506 23534 23562 Kanal Spasi = 1128 MHz No 1 2 3 4 5 Fn (MHz) 22078 22190 22302 22414 22526 F'n (MHz) 23086 23198 23310 23422 23534 190 .5 22347.5 22340.5 23488.Kanal Spasi = 7 MHz No 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 Fn (MHz) 22298.5 22438.5 22452.5 23502.5 23572.5 22529.5 23523.5 22305.5 22333.5 23474.5 22396.5 22319.5 23453.5 22522.5 22417.

Suara. Suara Suara. Kode Morse.LAMPIRAN 5 BAND FREKUENSI DAN MODA PANCARAN YANG DIIZINKAN SESUAI DENGAN PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR : 33 /PER/M.0 – 145.KOMINFO/8/2009 1. Suara. Data Kode Morse.0 – 148. Data Kode Morse. Kode Morse. Suara. Suara.8 146. Data Kode Morse. Data Kode Morse.0 – 145.0 – 148. NB Data NB Data NB Data Primer Primer Primer Primer Primer Primer Sekunder Sekunder Sekunder Sekunder Kode Morse.0 UHF (MHz) 430 – 438 1240 – 1298 2300 – 2450 SHF (MHz) 5650 – 5850 Catatan : Moda Pancaran Kategori Moda Pancaran Kategori Kode Morse. Data Data Data Data NB (Narrow Band) Data tidak melebihi lebar band 3 KHz 191 . Suara. Data Data Primer Primer Sekunder Sekunder Kode Morse.0 UHF (MHz) 430 – 438 2300 – 2450 2. Suara. Tingkat Siaga : Band Frekuensi HF (kHz) 3500 – 3900 7000 – 7200 21000 – 21200 28000 – 28500 VHF (MHz) 144.8 146. Kode Morse. Tingkat Pemula : Band Frekuensi VHF (MHz) 144.

Morse. Suara Suara. Data Suara. Data Suara. Morse. Data Kode Morse. Suara.0 248.0 – 81. Suara. Data Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Morse. Morse. Data Sekunder Sekunder Sekunder Sekunder Sekunder Sekunder Primer Sekunder Primer Sekunder Primer Sekunder Sekunder Primer Sekunder Sekunder Primer NB (Narrow Band) Data tidak melebihi lebar band 3 KHz 192 .0 – 136. Kode Morse. Tingkat Penggalang : Band Frekuensi MF (kHz) 1800 – 2000 HF (kHz) 3500 – 3900 7000 – 7200 14000 – 14150 21000 – 21450 28000 – 29700 VHF (MHz) 50 – 54 144 – 148 Moda Pancaran Kategori Kode Morse. Morse. Data Suara. Suara. Morse. Suara. Data Suara. NB Suara. Data Suara. NB Data Kode Morse. Suara. Suara. Data Suara.25 – 123.0 122. Data Suara.0 Catatan : Moda Pancaran Kategori Kode Morse. Data Kode Morse.3.0 – 250. Morse.0 h 134.0 – 248. NB Primer Primer Primer Primer Primer Primer Primer Primer Data Data Data Data Kode Morse. Morse. Data Suara. Morse. Data Suara. Data Suara. Kode Morse.0 – 77.5 77. Morse. Morse. Data Band Frekuensi UHF (MHz) 430 – 438 1240 – 1298 2300 – 2450 SHF (MHz) 3300 – 3500 5650 – 5850 10000 – 10500 24000 – 24050 24050 – 24250 EHF (GHz) 47.5 – 78. Data Suara. Data Suara. NB Suara.2 76. Suara.0 241. Data Suara. Morse. Kode Morse.0 – 47. Morse. Data Kode Morse.0 78. NB Suara. Kode Morse. Morse.0 – 141.0 136.

Data Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Kode Morse. Suara. Data Suara. Morse. Data Kode Morse.0 – 248. Data Kode Morse. Morse. Morse. Morse.0 248.4. Tingkat Penegak : Band Frekuensi MF (kHz) 1800 – 2000 HF (kHz) 3500 – 3900 7000 – 7200 10100 – 10150 14000 – 14350 18068 – 18168 21000 – 21450 24890 – 24990 28000 – 29700 VHF (MHz) 50 – 54 144 – 148 UHF (MHz) 430 – 438 1240 – 1298 2300 – 2450 SHF (MHz) 3300 – 3500 5650 – 5850 10000 – 10500 24000 – 24050 24050 – 24250 EHF (GHz) 47.0 – 250. Kode Morse. NB Suara. Data Suara. Suara Suara. Data Suara. Data NB (Narrow Band) Data tidak melebihi lebar band 3 KHz 193 . NB Primer Primer Primer Sekunder Primer Primer Primer Primer Primer Primer Primer Sekunder Sekunder Sekunder Sekunder Sekunder Sekunder Primer Sekunder Primer Sekunder Primer Sekunder Sekunder Primer Sekunder Sekunder Primer Data Data Data Data Data Data Kode Morse. Data Suara. Kode Morse. Morse.0 – 136. Suara. Kode Morse. Morse. Morse. Suara. Data Suara. Data Suara.0 136.0 78. NB Suara.0 – 81. NB Suara. Kode Morse. Suara.02 41. Data Kode Morse.0 Catatan : Moda Pancaran Kategori Kode Morse. NB NB Data Suara. Data Suara.0 – 47. Morse. Data Suara.5 – 78.2 76.5 77. Kode Morse. NB Suara. NB Data Kode Morse. Data Suara.0 – 77. Data Kode Morse. Kode Morse. Kode Morse.0 134. Data Suara. Data Suara. Suara. Suara. Data Suara. Morse.0a 122. Morse.0 – 41. Suara.25 – 123. Morse. Morse. Data Suara. Morse.

PZZ RAA .YC.YC.YG.YE.YZZ AAAA .YE. SUSUNAN PEMBAGIAN PREFFIX.YZZ RAAA .YF.YH 3   194 .YD.YE.PZZ RAA – TZZ AAAA .YZ AAA .PZZ AAAA .YH 2 6 JAWA TIMUR YB. Namun pada band tertentu adalah penggunaan utama disamping dinas radio primer lain.YG.YG.YH Ø 2 JAWA BARAT YB.YD.YD.YZ AAA .YH 2 5 D.YD. Sekunder berarti bahwa penggunaan Stasiun Radio Amatir pada band frekuensi yang bersangkutan : a.YE. b.YZZZ AA .I. Tidak boleh menyebabkan gangguan terhadap Stasiun Radio lain dengan kategori Primer yang frekuensinya telah ditetapkan atau frekuensi tersebut akan ditetapkan di kemudian hari.YF.YD.TZZZ UA – YZ UAA – YZZ UAAA – YZZZ AA . Primer berarti bahwa penggunaan Stasiun Radio Amatir pada band yang bersangkutan adalah penggunaan utama.YF.Penjelasan Kategori Penggunaan : 1.YG.YE.QZ AAA . 2.PZZZ RA .YZZZ A–Z ZA – ZZ ZAA – ZZZ ZAAA – ZZZZ A–Q ZA – ZQ ZAA – ZQZ ZAAA – ZQZZ R–Y ZR – ZZ ZRA – ZZZ ZRAA – ZZZZ A–T ZA – ZT ZAA – ZTZ ZAAA – ZTZZ U–Y ZU – ZZ ZUA – ZZZ ZUAA – ZZZZ A–Y ZA – ZZ ZAA – ZZZ ZAAA – ZZZZ 1 DKI JAKARTA YB. DAN SUFFIX TANDA PANGGILAN (CALLSIGN) AMATIR RADIO UNTUK TIAP PROVINSI No PROVINSI PREFIKS HURUF ANGKA SUFFIKS IAR IAR KHUSUS AA .YC.YH 1 3 BANTEN YB.YC.YG.YE.PZZ RAA . Tidak mendapat proteksi dari gangguan yang disebabkan oleh Stasiun Radio lain dengan kategori Primer yang frekuensinya telah ditetapkan atau akan ditetapkan di kemudian hari.YF. YOGYAKARTA YB.TZ AAA .YC.YZ RAA .YG.YD.YH 1 4 JAWA TENGAH YB.YZZ AAAA .YF.YC.YF.YZZZ AA .

IZZZ 9 BANGKA BELITUNG YE.YG FA – IZ FAA – IZZ FAA .YC.YH 4 12 SUMATERA BARAT YB.YH YB.YD 4 YE.YD.RZ NAA .YF.YD.YD 5 SA – YZ SAA – YZZ SAAA .YC.YC.YF.YF.YE.YD.YH 4 11 LAMPUNG YB.LZZZ 8 SUMATERA SELATAN YB.YF.YG.No PROVINSI PREFIKS HURUF ANGKA IAR SUFFIKS IAR KHUSUS A–E ZA – ZE ZAA – ZEZ ZAAA – ZEZZ 7 JAMBI YB.YC.YF.YZZZ F–L ZF – ZL ZFA – ZLZ ZFAA – ZLZZ F–L ZF – ZL ZFA – ZLZ ZFAA – ZLZZ 10 BENGKULU YB.IZZZ JA – LZ JAA – LZZ JAAA .YD.YG.YH YB.YE.RZZ NAAA .YH 4 JA – LZ JAA – LZZ JAAA .YD.YH 4 AA – EZ AAA – EZZ AAAA – EZZZ FA – IZ FAA – IZZ FAA .YC.YG.YF.PZZ RAA .YC.YE.YG.LZZZ MA – RZ MAA – RZZ MAAA – RZZZ SA – YZ SAA – YZZ SAAA – YZZZ AA – MZ AAA – MZZ AAAA – MZZZ NA .YD.YE.YG.YC.YH 5 M-R ZM – ZR ZMA – ZRZ ZMAZ – ZRZZ S-Y ZS – ZZ ZSA – ZZZ ZSAZ – ZZZZ A-M ZA – ZM ZAA – ZMZ ZAAA – ZMZZ 13 RIAU N–Y ZN – ZY ZNA – ZYZ ZNAA – ZYZZ   195 .RZZZ YB.YC.

YC.YC.YG.YH 7 A–G ZA – ZG ZAA – ZGZ ZAAA – ZGZZ H-Y ZH – ZY ZHA – ZYZ ZHAA – ZYZZ A–G ZA – ZG ZAA – ZGZ ZAAA – ZGZZ H-N ZH – ZN ZHA – ZNZ ZHAA – ZNZZ O–T ZO – ZT ZOA – ZTZ ZOAA – ZTZZ U –Y ZU – ZZ ZUA – ZZZ ZUAA – ZZZZ 21 SULAWESI SELATAN AAAA .YE.YD.YE.YE.YF.HZZZ A–H ZA – ZH ZAA – ZHZ ZAAA – ZHZZ   196 .YD.YD.YD.YF.YF.YZZZ 15 NANGROE ACEH DARUSSALAM YB.YD.YE.YG.YC.RZZZ N–Y ZN – ZY ZNA – ZYZ ZNAA – ZYZZ 14 KEPULAUAN RIAU YE.YG.YF.DZ AAA .YH 6 AA – GZ AAA – GZZ AAAA – GZZZ HA – YZ HAA – YZZ HAAA – YZZZ AA – GZ AAA – GZZ AAAA – GZZZ HA – NZ HAA – NZZ HAAA – NZZZ OA – TZ OAA – TZZ OAAA – TZZZ UA – YZ UAA – YZZ UAAA – YZZZ AA .YH 7 20 KALIMANTAN TIMUR YB.PREFIKS No PROVINSI HURUF YE.YE.DZZZ YB.YC.YG.RZZ NAAA .YD.PZZ RAA .YC.YH 5 SA – YZ SAA – YZZ SAAA .YH 7 19 KALIMANTAN TENGAH YB.YF.YC.YG.YD 8 EA – HZ EAA – HZZ EAAA .YH 7 18 KALIMANTAN SELATAN YB.YG.YG.YF.YH YB.YF.YH 6 17 KALIMANTAN BARAT YB.YC.YD.YC.YF.YG ANGKA SUFFIKS NA .DZZ 16 SUMATERA UTARA YB.YE.RZ NAA .

YC.UZZZ YE.WZZ 27 MALUKU VAAA .YC.YH 8 24 SULAWESI TENGAH YB.YG.YF.DZZ AAAA .YF.WZZZ YB.YF.YC.YD.YF.SZZZ YB.YC.YG.YH 8 EA – HZ EAA – HZZ EAAA .UZZZ YB.ZLZZ M-P ZM – ZP ZMA – ZPZ ZMAA .YH YB.YF.YG.YE.SZZ 25 SULAWESI UTARA QAAA .SZZZ 26 GORONTALO YE.No PROVINSI PREFIKS HURUF YE.YC.SZZ QAAA .YG ANGKA IAR SUFFIKS IAR KHUSUS A-H ZA – ZH ZAA – ZHZ ZAAA – ZHZZ AA .ZPZZ Q-U ZQ – ZU ZQA – ZUZ ZQAA – ZUZZ Q-U ZQ – ZU ZQA – ZUZ ZQAA – ZUZZ V-Y ZV – ZY ZVA – ZYZ ZVAA – ZYZZ 197 .YE.DZ AAA .YD.YG QA .SZ RAA .YZZZ 23 YB.YD 8 XA – YZ XAA – YZZ XAAA .YD.YD 8 TA – UZ TAA – UZZ TAAA .SZ RAA .YH 8 TA – UZ TAA – UZZ TAAA .YF.HZZZ SULAWESI TENGGARA IA – LZ IAA – LZZ IAAA – LZZZ MA – PZ MAA – PZZ MAAA – PZZZ QA .YD.WZ VAA .YH 8 I-L ZI – ZL ZIA – ZLZ ZIAA .YC.YH VA .DZZZ 22 SULAWESI BARAT YE.YG.

YD.YF.YH 8 XA – YZ XAA – YZZ XAAA .WZZZ 28 MALUKU UTARA YE.YF.YZZZ AA – FZ AAA – FZZ AAAA – FZZZ GA – KZ GAA – KZZ GAAA – KZZZ LA – PZ LAA – PZZ LAAA – PZZZ UA .WZZ VAAA .ZPZZ ZU – ZZ ZUA – ZZZ ZUAA .YG ANGKA IAR SUFFIKS IAR KHUSUS V-Y ZV – ZY ZVA – ZYZ ZVAA – ZYZZ VA .No PROVINSI PREFIKS HURUF YE.YC.YH 9 33 PAPUA YB.YC.YF.YD.YH 9 A-F ZA – ZF ZAA – ZFZ ZAAA .YF.YF.YG.TZ RAA – TZZ QAAA – TZZZ UA .YG.YG.YH 9 31 NUSA TENGGARA TIMUR YB.YG.ZFZZ G-K ZG – ZK ZGA – ZKZ ZGAA .ZZZZ Q-T ZQ – ZT ZQA – ZTZ ZQAA .YE.YE.YG.YC.YD.YZ UAA – YZZ UAAA – YZZZ 29 BALI YB.ZKZZ L-P ZL – ZP ZLA – ZPZ ZLAA .YZ UAA – YZZ UAAA – YZZZ QA .YD.ZTZZ U-Y ZU – ZZ ZUA – ZZZ ZUAA .WZ VAA .YE.YF.YC.ZZZZ 198 .YE.YH 9 32 PAPUA BARAT YB.YG.YF.YD.YH 9 30 NUSA TENGGARA BARAT YB.YC.YE.

315 27.085 27.985 27.960 MHz sampai dengan 27.015 27. 345 27.025 27.960 MHz sampai dengan 27.965 26.375 27. 15 16 17 18 19 20 MHz 26.075 27. b.115 27.295 27.385 27. 355 27.410 MHz yang dibagi menjadi 40 kanal. yaitu : Kanal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14.LAMPIRAN 6 RINCIAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PITA FREKUENSI UNTUK KOMUNIKASI RADIO ANTAR PENDUDUK (KRAP) Referensi : Peraturan Menteri Komunikasi Dan Informatika Nomor : 34/PER/M. 335 27.405 Ketentuan penggunaan pita HF untuk pelaksanaan penyelenggaraan KRAP adalah sebagai berikut : a.105 27.255 27. setiap kanal frekuensi radio KRAP dapat digunakan untuk penyampaian berita gawat darurat.245 27. 135 27.325 27.065 27.KOMINFO/8/2009 Tentang Penyelenggaraan Komunikasi Radio Antar Penduduk HF Kanal frekuensi radio yang diizinkan pada pita HF (High Frequency) untuk pelaksanaan penyelenggaraan KRAP adalah frekuensi radio 26.265 27. pita frekuensi radio 26. 125 27.155 27.305 27.225 27. 165 27.395 27.365 27.175 27.185 27.035 27.235 27.285 27.055 27.005 27.410 MHz merupakan pita frekuensi radio yang digunakan bersama dan tidak khusus diperuntukkan bagi 1 (satu) orang pemegang IKRAP dan tidak pula dilindungi dari gangguan elektromagnetik yang merugikan.205 Kanal 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 MHz 27. 199 .215 27.275 27.975 26.

600 MHz dengan spasi alur 20 KHz adalah sebagai berikut : a. Kanal frekuensi radio yang diizinkan pada pita VHF (Very High Frequency) untuk pelaksanaan penyelenggaraan KRAP adalah frekuensi radio 142. (1) Kanal frekuensi radio yang diizinkan pada pita VHF untuk penyelenggaraan KRAP menggunakan pemancar ulang (Repeater) pada frekuensi radio : a. f. pita frekuensi dengan kanal sebagaimana dimaksud pada huruf a merupakan pita frekuensi yang digunakan bersama dan tidak khusus (2) (3) 200 . kelas emisi yang diizinkan pada pita HF adalah J3E untuk komunikasi telepon radio. d. j.575 MHz. e. toleransi frekuensi radio maksimum untuk Stasiun Tetap Pita Sisi Tunggal (SSB) adalah sebesar 50 Hz.065 MHz (kanal 9) hanya digunakan untuk penyampaian berita gawat darurat.000 MHz sampai dengan 143.025 MHz. RX : 142. lebar pita untuk setiap kanal adalah 2. g.000 MHz dan 142. Penggunaan pemancar ulang (repeater) digunakan untuk keperluan Organisasi. b. frekuensi radio sebagaimana dimaksud pada point (2) merupakan frekuensi radio dengan gelombang pembawa modulasi frekuensi radio untuk komunikasi teleponi radio. TX : 143. i.550 MHz dan 143. daya pancar sebagaimana dimaksud pada huruf g tidak boleh dilampaui dalam semua keadaan operasi dan semua keadaan modulasi karena daya pancar yang berlebihan akan mengakibatkan gangguan pada sistem hubungan lainnya.600 MHz dengan spasi alur 20 KHz. b. frekuensi radio sebagaimana dimaksud pada huruf a merupakan frekuensi radio dengan pita sisi tunggal atas (USB = Upper Side Band) dengan gelombang pembawa di tekan (SSB SC = Single Side Band Suppressed Carrier).8 KHz (2K80J3E). pancaran tersebar (Spurious emission) dan gelombang harmonis maksimum sebesar 50 decibel di bawah daya pancar. daya pancar maksimum sebesar : 1. pada puncak selubung modulasi yang terjadi pada kondisi operasi yang normal. h. 12 Watt Peak Envelope Power (PEP). Ketentuan penggunaan pita VHF untuk pelaksanaan penyelenggaraan KRAP adalah frekuensi radio 142.000 MHz sampai dengan 143. PEP dalam hal ini ialah daya rata-rata yang dicatukan pada saluran transmisi antena oleh suatu pemancar selama satu periode dari frekuensi radio. VHF khusus frekuensi radio 27. 2.c. sedangkan Stasiun Bergerak adalah sebesar 40 Hz.

untuk perangkat induk dan perangkat genggam : 40 decibel (25 microwatt). d. 2. Stasiun Tetap dan Stasiun Bergerak dengan daya pancar maksimum 25 Watt. sebesar 20 bagian dari 106. toleransi frekuensi maksimum : 1. setiap kanal frekuensi dapat pula digunakan untuk penyampaian berita gawat darurat. g. h. Stasiun Tetap pancar ulang (repeater) dengan daya pancar maksimum 50 Watt. 201 . Perangkat Induk : 25 Watt. 2. Perangkat pancar ulang (repeater) : 50 Watt. 2. sebesar 15 bagian dari 106. untuk perangkat pancar ulang (repeater) : 60 dicibel (1 milli Watt).   diperuntukkan bagi satu orang pemegang izin dan tidak pula dilindungi dari gangguan elektromagnetik yang merugikan. daya pancar maksimum : 1. 3. lebar pita maksimum 16 kHz. kelas emisi yang diizinkan pada pita VHF adalah F3E untuk komunikasi telepon radio. Perangkat Genggam : 5 Watt.c. e. f. pancaran tersebar maksimum : 1.

ITU-R M.541-8 Annex 5 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Appendix 15 See Rec.5 – 1625 kHz 1635 – 1800 kHz 1850 – 1950 kHz 1950 – 2045 kHz 2045 – 2141.8 kHz 4066.4 (4065) kHz 4087.5 kHz 16063.3 – 4064.4 (4095) kHz 4105. 418 for ship stations For supplement distress call Ch. 401 for ship stations Ch. 416 for ship stations Ch. 422 for ship stations Referensi RR Article 52 See Rec.4 (4116) kHz 4125 kHz 4129.541-8 Annex 5 Referensi RR Appendix 15 Referensi RR Appendix 15 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Article 52 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 15 Referensi RR Appendix 17 CATATAN 202 . 414 for ship stations Ch.5 kHz 458.4 kHz 4066.5 kHz 2177 kHz 2182 kHz 2187. 408 for ship stations Ch.541-8 Annex 5 See Rec.4 (4086 kHz 4096.5 kHz 2141.14 kHz 90 – 110 kHz 285 . ITU-R M.5 kHz 2189. RTG-COM for general call coast stations by DSC for general call ship stations by DSC for coast stations by NBDP and DSC for coast stations SSB radiotelephony for coast stations SSB radiotelephony for ship stations SSB radiotelephony for ship stations SSB radiotelephony for ship stations by NBDP and DSC for NBDP Distress Traffic Message for intership DSC for distress call radiotelephony for distress call by DSC for general call ship stations by DSC for ship stations SSB radiotelephony for intership SSB radiotelephony for ship stations by NBDP for coast stations by NBDP and DSC for ship stations by NBDP for ship stations SSB radiotelephony for intership SSB radiotelephony for intership SSB radiotelephony for coast stations SSB radiotelephony for ship stations (oceanographic data transmission) For ship stations radio telephony duplex Ch.4 (4128) kHz SERVIS RNS RNS RNS RNS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS APLIKASI Omega Loran-C Radiobeacon Stations Radio Direction Finding Services Distress Call RTG.4 (4104) kHz 4111. ITU-R M.5 kHz 2262.5 kHz 2194 – 2262.5 – 2498 kHz 2502 – 2578 kHz 2578 – 2850 kHz 3155 – 3200 kHz 3200 – 3340 kHz 3340 – 3400 kHz 3500 – 3600 kHz 3600 – 3800 kHz 4063. 411 for ship stations Ch.323 kHz 405 – 415 kHz 415 – 535 kHz 455.LAMPIRAN 7 RINCIAN ALOKASI SPEKTRUM DAN PERENCANAAN PITA FREKUENSI UNTUK KEPERLUAN MARITIM NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 FREKUENSI 9 .4 (4110) kHz 4117.4 – 4144.5 – 2160 kHz 2174. NAVTEX MSI by NBDP.

4 6204. 602 for ship stations Ch. 604 for ship stations Ch. 408 for coast stations Ch. 416 for coast stations Ch. 422 for coast stations Ch.4 (6212) kHz Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 15 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17   203 .5 kHz 6275.4 4388.4 – 6231. 418 for coast stations Ch. 401 for coast stations Ch.4 (4131) kHz 4147.5 – 4209 kHz 4209.5 kHz 6314 – 6330.5 kHz 6331 – 6332 kHz 6332.4 4379.5 – 4207 kHz 4207.4 (4357) kHz (4378) kHz (4387) kHz (4396 ) kHz (4402) kHz (4408) kHz (4420) kHz (4423) kHz SERVIS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS APLIKASI Ch.4 kHz 6201.4 6210.5 kHz 6263 – 6275.5 4403.75 kHz 4187 – 4202 kHz 4202. 603 for ship stations Ch. 423 for ship stations for ship and coast stations radio telephony simplex For ship stations radio telegraphy For ship stations NBDP for ship stations radio telegraphy(calling) for ship stations radio telegraphy(working) For ship stations NBDP For ship stations DSC For coast stations NBDP For coast stations DSC For coast stations radio telegraphy for coast stations radio telephony duplex Ch.5-6501 kHz (6200) (6203) (6206) (6209) kHz kHz kHz kHz Referensi RR Appendix 17 Referensi Referensi Referensi Referensi RR RR RR RR Appendix Appendix Appendix Appendix 17 17 17 17 6213. 423 for coast stations for ship stations radio telephony duplex Ch.4 – 4150.4 4421.4 – 6222.4 kHz 6235 – 6259 kHz 6261.5 – 4181.75 kHz 6281 – 6284.4 – 4436.4 6207. 601 for ship stations Ch.5-6311.75 – 4186.4 kHz 4358.5 kHz 4181.5 – 4219 kHz 4219. 411 for coast stations Ch. 414 for coast stations Ch.3-6262.5 – 4220.NO 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 FREKUENSI 4132.5 kHz 6285 – 6300 kHz 6300.5 kHz 4221 – 4351 kHz 4352.4 6215 kHz 6225.4 4397.4 4424.4 kHz 4154 – 4170 kHz 4172.5 kHz 6312 – 6313.4 4409.75-6280. 605 for ship stations For supplement distress call for ship and coast stations radio telephony simplex For ship stations radio telegraphy for ship stations (oceanographic data transmission) For ship stations NBDP for ship stations radio telegraphy(calling) For ship stations NBDP for ship stations radio telegraphy(working) For ship stations NBDP For ship stations DSC For coast stations NBDP For coast stations DSC For coast stations radio telegraphy CATATAN Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi Referensi Referensi Referensi Referensi Referensi Referensi Referensi RR RR RR RR RR RR RR RR Appendix Appendix Appendix Appendix Appendix Appendix Appendix Appendix 17 17 17 17 17 17 17 17 6201.

1201 for ship stations Ch.4 kHz 8302-8338 kHz 8340.4 (8282) 8291 kHz kHz kHz kHz kHz kHz kHz kHz kHz Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 15 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi Referensi Referensi Referensi Referensi Referensi Referensi Referensi RR RR RR RR RR RR RR RR Appendix Appendix Appendix Appendix Appendix Appendix Appendix Appendix 17 17 17 17 17 17 17 17 8295. 1210 for ship stations CATATAN Referensi RR Appendix 17 Referensi Referensi Referensi Referensi Referensi RR RR RR RR RR Appendix Appendix Appendix Appendix Appendix 17 17 17 17 17 8196.4 (8228) 8235.5-8396 kHz 8396.4-6523. 604 for coast stations Ch. 814 for coast stations Ch.4 8759.4-8813. 1209 for ship stations Ch. 819 for ship stations Ch. 810 for ship stations Ch. 605 for coast stations for ship stations radio telephony duplex Ch.4 6514. 812 for coast stations Ch.4-12351.4 kHz 6502.4-8292.NO 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 FREKUENSI 6502.4 (12230) kHz 12255.5-8416 kHz 8416.4 (8240) 8250.4 8753.4 (12254) kHz 12258. 828 for ship stations Ch.4 8795. 812 for ship stations Ch.5-8436 kHz 8436.5 kHz 8365. 830 for coast stations for ship stations radio telephony duplex Ch.3-8341. 826 for ship stations Ch. 602 for coast stations Ch.4 8774.4 (8276) 8283. 603 for coast stations Ch.4 kHz 8223.5 kHz 8438-8707 kHz 8708. 819 for coast stations Ch.4 8765.4 (8746) (8752) (8758) (8764) (8773) (8794) (8800) (8806) kHz kHz kHz kHz kHz kHz kHz kHz 12231.4 8801.4 (8270) 8277. 601 for coast stations Ch.4 (8234) 8241. 826 for coast stations Ch.4 (8249) 8271.4 (12257) kHz Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 204 .5-8437.4 kHz 8747. 816 for coast stations Ch. 814 for ship stations Ch.5 kHz 8342-8365. 810 for coast stations Ch.75kHz 8371-8376 kHz 8376.4kHz 12231. 830 for ship stations For distress call radiotelephony for ship and coast stations radio telephony simplex For ship stations radio telegraphy for ship stations (oceanographic data transmission) for ship stations radio telegraphy(working) for ship stations radio telegraphy(calling) for ship stations radio telegraphy(calling) For ship stations NBDP For ship stations NBDP For ship stations DSC For coast stations NBDP For coast stations DSC For coast stations radio telegraphy for coast stations radio telephony duplex Ch.4 6508.4 (6501) (6504) (6507) (6510) (6513) kHz kHz kHz kHz kHz SERVIS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS APLIKASI for coast stations radio telephony duplex Ch.4 6505. 816 for ship stations Ch. 828 for coast stations Ch.4 8807.4 6511.5-8414 kHz 8414.4-8298.75-8370.4 (8222) 8229.

4kHz 13078.4kHz 16388.4kHz 12370-12418kHz 12420. 1210 for coast stations for ship stations radio telephony duplex Ch.4-18844.4 (13104) kHz 16361.5kHz 12549.3-16618.5kHz 12657-12658kHz 12658.4-18823.5-16902.NO 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 FREKUENSI 12290 kHz 12354.4 (13077) kHz 13102.4kHz 18848-18868kHz 18870. 1201 for coast stations Ch.4kHz 17270.5kHz 16619-16683kHz 16683.5kHz 16785-16804kHz 16804.5-18892. 1610 for coast stations For ship stations radio telephony duplex for ship and coast stations radio telephony simplex For ship stations radio telegraphy For ship stations NBDP CATATAN Referensi RR Appendix 15 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 15 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 205 .75kHz 12555-12559.5-16806kHz 16806.75-12544.5kHz 16733.4-16526.3-12421.4-13198.5kHz SERVIS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS APLIKASI For distress call radiotelephony for ship and coast stations radio telephony simplex For ship stations radio telegraphy for ship stations (oceanographic data transmission) for ship stations radio telegraphy(working) For ship stations NBDP for ship stations radio telegraphy(calling) For ship stations NBDP For ship stations NBDP For ship stations DSC For coast stations NBDP For coast stations DSC For coast stations radio telegraphy for coast stations radio telephony duplex Ch.4-12366.75kHz 16739-16784.75-16738.5-17242kHz 17243. 1610 for ship stations For distress call radiotelephony for ship and coast stations radio telephony simplex For ship stations radio telegraphy for ship stations (oceanographic data transmission) for ship stations radio telegraphy(working) For ship stations NBDP for ship stations radio telegraphy(calling) For ship stations NBDP For ship stations NBDP For ship stations DSC For coast stations NBDP For coast stations DSC For coast stations radio telegraphy for coast stations radio telephony duplex Ch.4-16547.5kHz 12579-12656.4kHz 16551-16615kHz 16617.5kHz 12422-12476. 1209 for coast stations Ch.4 (13101) kHz 13105.4 (16387) kHz 16420 kHz 16529.5kHz 12560-12576.4-17408.5kHz 12577-12578.5-16733.5-13077kHz 13078.5kHz 16903-16904kHz 16904.4 (17269) kHz 18781.5kHz 12477-12549.4kHz 18826.

4-26173.4 (22099) kHz 22160.375-156. 2234 for coast stations for ship stations radio telephony duplex for ship and coast stations radio telephony simplex for ship stations radio telegraphy for ship stations radio telegraphy(working) for ship stations NBDP for ship stations NBDP for ship stations DSC for coast stations NBDP for coast stations DSC for coast stations radio telegraphy for coast stations radio telephony duplex Distress and Urgency RTP-COM on 121.975-137 MHz 156.425MHz 160.625-160.500-161.950MHz 162.4 (22795) kHz 25071.5-19704.5-25171kHz 25173-25192.975MHz SERVIS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS MMS APLIKASI For ship stations NBDP For ship stations DSC For coast stations NBDP For coast stations DSC For coast stations radio telegraphy for coast stations radio telephony duplex for ship stations radio telephony duplex Ch.5kHz 22352-22374kHz 22374.950MHz 156.5-22375.4kHz 117.4kHz 22796.5-22696kHz 22697.5-18899.000MHz 161.4kHz 25101.5-26120.5kHz 22376-22443.5kHz 22242-22279kHz 22279.4-22157.5kHz 19680.4-22853.1 MHz for AMS and MMS Transmitting Ship stations Transmitting Coast stations Transmitting Coast stations Transmitting Coast stations Transmitting Coast stations AIS(Automatic Identification System) CATATAN Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 15 Referensi RR Appendix 18 Referensi RR Appendix 18 Referensi RR Appendix 18 Referensi RR Appendix 18 Referensi RR Appendix 18 Referensi RR Appendix 18 206 .5-26145kHz 26146.NO 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 FREKUENSI 18893-18898kHz 18898.5-25209.5kHz 26100.25-22284.4kHz 22100.4kHz 25123-25159kHz 25161.3-22241.4-19798.5 MHz for AMS and MMS Coordination of SAR Operation RTPCOM on 123.5kHz 26121-26122kHz 26122.850MHz 161.5kHz 22444-22445kHz 22445.5-22351.5kHz 19705-19755kHz 19756.4-22178.4kHz 22182-22238kHz 22240.4kHz 22001.25kHz 22284.5-19703kHz 19703.4-25098. 2234 for ship stations for ship and coast stations radio telephony simplex For ship stations radio telegraphy for ship stations (oceanographic data transmission) for ship stations radio telegraphy(working) for ship stations radio telegraphy(calling) for ship stations NBDP for ship stations NBDP For ship stations DSC for coast stations NBDP for coast stations DSC for coast stations radio telegraphy for coast stations radio telephony duplex Ch.025-157.4-25119.5kHz 25193-25208kHz 25208.

5 MHz 2700 – 2900 MHz SERVIS MMS MMS MMS MSS MSS MSS MSS MSS RNS APLIKASI AIS(Automatic Identification System) Emergency Frequency on 243 MHz for MMS and AMS EPIRBs 406. VTS in planning Allocated for radionavigation services Allocated for radionavigation services CATATAN Referensi RR Appendix 18 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Perhatikan RR Article 5 Referensi RR Appendix 17 Referensi RR Appendix 17 Perhatikan RR Article 5 204 205 206 207 208 209 210 2900 – 3100 MHz 5460 – 5470 MHz 5470 – 5650 MHz 8850 – 900 MHz 9200 .5 MHz 1645.6 MHz 406 – 406.025MHz 235 – 328.NO 195 196 197 198 199 200 201 202 203 FREKUENSI 162. SART on vessel.25GHz RNS RNS RNS RNS RNS RNS RNS Perhatikan RR Article 5 Perhatikan RR Article 5 Perhatikan RR Article 5 Perhatikan RR Article 5 Referensi RR Appendix 15 Perhatikan RR Article 5 Perhatikan RR Article 5 Catatan : MMS : MARITIME MOBILE SERVICES MSS : MOBILE SATELLITE SERVICES MS : MOBILE SERVICES RNS : RADIONAVIGATION SERVICES 207 .9500MHz 9500 .025MHz for earth to space (COSPAS SARSAT) SAT-COM INMARSAT(space to earth) Distress relay emission EPIRBs from COSPAS SARSAT to LUT (space to earth) For down link Radionavigation Satellite Service (GPS – GNSS) SAT-COM INMARSAT(earth to space) EPIRBs INMARSAT(earth to space) Radar Beacon (RACON) Stations .1 MHz 1530 – 1544 MHz 1544 – 1545 MHz 1559 – 1610 MHz 1626.5-1646.9800MHz 14 – 14.5-1645.Radiolink for Distress Traffic from Receiving Station to Transmitting Station Used for the ShipboRNSe Interrogrator Transponder System(SIT) Allocated for Radionavigation Services Allocated for Maritime Radionavigation Services Allocated for radionavigation services Radar Beacon (RACON) Stations.

02 17 404. 24 Adm INS INS INS Beam Name INSA02800 INSA03501 INSA03502 Jenis Channel Polarisasi CR 1.74 17 480. 39 CR 30. 3.70 17 902.66 17 365.18 Channel No. 21.42 17 979. 34. 13. 7. 11. 14. 15.64 17 576. 33.88 17 922.38 17 442.00 17 615.34 17 864.20 17 423. 8.28 17 538.10 17 519. 32.82 17 596. 13. 21.LAMPIRAN 8 RINCIAN PENGATURAN TEKNIS SATELIT BSS PLANNED BAND RADIO REGULATION APPENDIX 30 DAN 30A Channel No. 36.26 17 749. 31. 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Assigned feeder-link Frequency (MHz ) 17 711.98 17 826. 18.62 17 787.92 17 500.60 17 998.52 17 883.24 17 960. 40 Assigned feeder-link Frequency (MHz ) 17 327.46 17 557. 9.06 17 941. 10.84 17 385.78 208 . 35. 23 CL 2. 9.44 17 768. 15.56 17 461.48 17 346. 3.08 17 730. 16.2 104 104 APP30A Posisi Orbit 80. 20.80 17 806. 37. 23 CL 29. 6.16 17 845. 22. 7. 38. 19.2 104   Adm INS INS Beam Name INSA100 INSA100 Jenis Channel Polarisasi CR 1. 17. 12. 5. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 APP30 Posisi Orbit 80. 11. 4. 17. 19. 5.

LAMPIRAN 9 RINCIAN PENGKANALAN TRANSPONDER SATELIT INDONESIA FREQUENCY PLAN TELKOM-1 (108E) DOWNLINK 4199.750 2H 3760 T2 3H 3800 T3 4H 3840 T4 5H 3880 T5 6H 3920 T6 7H 3960 T7 8H 4000 T8 9H 4040 T9 10H 4080 T10 11H 4120 T11 12H 4160 T12 12V 4180 T24 13V 3440 T31 14V 3480 T32 15V 3520 T33 16V 3560 T34 17V 3600 T35 18V 3640 3717 1V 3740 T13 2V 3780 T14 3V 3820 T15 4V 3860 T16 5V 3900 T17 6V 3940 T18 7V 3980 T19 8V 4020 T20 9V 4060 T21 10V 4100 T22 11V 4140 T23 T36 UPLINK 6424 1V 5945 T1 5926 2V 5985 T2 3V 6025 T3 4V 6065 T4 5V 6105 T5 6V 6145 T6 7V 6185 T7 8V 6225 T8 9V 6265 T9 10V 6305 T10 11V 6345 T11 12V 6385 T12 12H 6405 T24 13V 6465 T25 14V 6505 T26 15V 6545 T27 16V 6585 T28 17V 6625 T29 18V 6665 T30 18H 6685 T36 5942 IH 5965 T13 2H 6005 T14 3H 6045 T15 4H 6085 T16 5H 6125 T17 6H 6165 T18 7H 6205 T19 8H 6245 T20 9H 6285 T21 10H 6325 T22 11H 6365 T23 13H 6485 T31 14H 6525 T32 15H 6565 T33 16H 6605 T34 17H 6645 T35   FREQUENCY PLAN CAKRAWARTA-1 (107.875 13H 3420 T25 14H 3460 T26 15H 3500 T27 16H 3540 T28 17H 3580 T29 18H 3620 T30 IH 3720 T1 3701.7E)       209 .

MHz 10.450 4K 72 MHz 88 MHz 268 MHz Downlink Center Frequency. MHz 13.990 1K 11.490 3K 11. MHz STANDARD C-BAND 4MHz 36MHz EXTENDED C-BAND On Station CMD 5945 VERTICAL POL. 5985 6025 6065 6105 6145 6185 6225 6265 6305 6345 6385 1H 1V 2H 2V 5965 3H 3V 6005 4H 4V 6045 5H 5V 6085 6H 6V 6125 7H 7V 6165 8H 8V 6205 9H 9V 6245 10H 6285 11H 12H 12V 6405 10V 6325 11V 6365 Transfer Orbit CMD Downlink Center Frequency.290 3K 14. 3760 3800 3840 3880 3920 3960 4000 4040 4080 4120 4160 1H 1V 2H 2V 3740 3H 3V 3780 4H 4V 3820 5H 5V 3860 6H 6V 3900 7H 7V 3940 8H 8V 3980 9H 9V 4020 10H 4060 11H 12H 12V 4180 10V 4100 11V 4140   Uplink Center Frequency.950 2K 14. HORIZONTAL POL.790 1K 13.PALAPA C2 (113E) Ext-C FREQUENCY PLAN DOWNLINK 36 MHz 3402 3400 1EH(3420) 3438 3442 2EH(3460) 3478 4MHz 3482 3EH(3500) 3518 3522 4EH(3540) 3558 3562 5EH(3580) 3598 3602 6EH(3620) 3638 HORIZONTAL UPLINK 36 MHz 6427 6425 1EH(6445) 6463 6467 2EH(6485) 6503 4MHz 6507 3EH(6525) 6543 6547 4EH(6565) 6583 6587 5EH(6605) 6623 6627 6EH(6645) 6667 VERTIKAL Uplink Center Frequency. VERTICAL POL.150 2K 11. MHz EXTENDED C-BAND STANDARD C-BAND On Station Beacon 3720 HORIZONTAL POL.650 4K 72 MHz 88 MHz 268 MHz   210 .

5 MHz. Vertical Channelization: 200 kHz /RF channel (1 RF channel contains 32 circuit) 211 . RHCP Return Link (Handset to Gateway): Uplink: 1626.6725MHz. RHCP Downlink: 3400 – 3700 MHz. Horizontal Downlink: 1525 – 1559 MHz.5 – 1660.PALAPA PAC-C 146E satellite @ 146E C band frequency plan Beam: C 36 MHz transponders (except #24 with 30 MHz bw) 5927 fc Vertical uplink Horizontal uplink fc 5945 5985 6025 6065 6105 6145 6185 6225 6265 6305 6345 6385 1 2 5965 3 4 6005 5 6 6045 7 8 6085 9 10 6125 11 12 6165 13 14 6205 15 16 6245 17 18 6285 19 20 6325 21 22 6365 23 6403 Cmd1 Cmd2 6587 6422 6424 6605 6645 6685 25 27 29 24 26 28 30 6402 6625 6665 6705 [MHz] 6417 6607 6723 [MHz] 3562 fc Horizontal downlink Vertical downlink fc 3580 3620 3678 3660 3702 3720 3760 3800 3840 3880 3920 3960 4000 4040 4080 4120 4178 4160 Tlm1 Tlm2 [MHz] 4196 4198 25 26 3600 27 28 3640 29 30 3680 1 2 3740 3 4 3780 5 6 3820 7 8 3860 9 10 3900 11 12 3940 13 14 3980 15 16 4020 17 18 4060 19 20 4100 21 22 4140 23 24 4177 3698 3722 4192 [MHz] Ku band frequency plan 36 MHz transponders 14021 14039 Beam: Ku fc Vertical uplink Horizontal uplink fc 14079 14119 14159 14199 14239 14279 14319 14359 14399 14439 14497 14479 [MHz] 13 1 14039 14 2 14079 15 3 14119 16 4 14159 17 5 14199 18 6 14239 19 7 14279 20 8 14319 21 9 14359 22 10 14399 23 11 14439 24 12 14479 fc Horizontal downlink Vertical downlink fc 12203 12221 12261 12301 12341 12381 12421 12461 12501 12541 12581 12621 12679 12661 [MHz] 13 1 12221 14 2 12261 15 3 12301 16 4 12341 17 5 12381 18 6 12421 19 7 12461 20 8 12501 21 9 12541 22 10 12581 23 11 12621 24 12 12661 ACeS satellite Filing name: GARUDA-2 (123o E) Channel plan          Forward link (Gateway to Handset) Uplink: 6425 .

Departemen Komunikasi dan Informatika Kasubdit Penataan Frekuensi Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi Pembina IV/a SD Santo Agustinus.2006 2006 . Departemen Perhubungan Kepala Seksi Kerjasama Teknik Frekuensi. Departemen Perhubungan Plt. Direktorat Kelembagaan Internasional. Teknik Telekomunikasi Magister Teknik – Universitas Indonesia. “Telecommunications Management”. Jurusan Teknik Elektro. Direktorat Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit.2008 PENGHARGAAN 1999 2000 2001 2006 Staf Direktorat Bina Frekuensi.T. Ciamis. Jawa Barat 8 November 1971 Islam Pegawai Negeri Sipil Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi.2003 2003 .T. Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi Kasubdit Penataan Frekuensi Piagam Penghargaan Pegawai Teladan Sub Unit Ditjen Postel dari pengurus unit KORPRI Departemen Perhubungan Piagam Adikarya Palapa Prawara dari Menteri Perhubungan Salah satu penerima beasiswa the United States Government’s International Visitor Program.2005 2005 . Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi.CURRICULUM VITAE Nama Tempat Lahir Tanggal Lahir Agama Pekerjaan Kantor Jabatan Pangkat Golongan ruang PENDIDIKAN 1978 – 1984 1984 – 1987 1987 – 1990 1990 – 1994 1997 – 1999 : : : : : : : : : Denny Setiawan. Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. Bandung SMA Negeri 3. Departemen Perhubungan Kepala Seksi Frekuensi Radio dan Standarisasi Bilateral. Kasubdit Penataan Frekuensi merangkap Kepala Seksi Alokasi Frekuensi. tahun 2001 Piagam Adikarya Pralabda dari Menteri Komunikasi dan Informatika 212 . Bandung SMP Negeri 5. S. Jurusan Teknik Elektro PENDIDIKAN PENJENJANGAN 1995 Pra Jabatan 1999 Adum (PIM IV) 2002 Spama (PIM III) PENGALAMAN KERJA 1995 – 2002 2002 . Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. Bandung Sarjana Teknik – Institut Teknologi Bandung. M.

maupun sejumlah pertemuan bidang telekomunikasi di tingkat regional maupun internasional lainnya.DENNY SETIAWAN yang lahir di Ciamis pada tahun 1971 saat ini bekerja sebagai Kasubdit Penataan Frekuensi. broadband wireless access. dan sebagainya. koordinasi frekuensi bilateral. Departemen Komunikasi dan Informatika. serta sistem komunikasi bergerak selular. Latar belakang pendidikannya adalah Sarjana Teknik Elektro Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung lulus tahun 1994 dan Magister Teknik Telekomunikasi Universitas Indonesia lulus tahun 1999. Bergabung dengan Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi sejak tahun 1995. Direktorat Frekuensi. koordinasi satelit. pembuatan buku dan peta tabel alokasi frekuensi radio Indonesia. Di samping itu penulis juga terlibat dalam pendaftaran frekuensi radio ke ITU. penulis berpengalaman mengikuti sejumlah konferensi komunikasi radio dunia. Saat ini penulis bertugas untuk menangani serta merumuskan kebijakan dan regulasi frekuensi di Indonesia secara keseluruhan termasuk sistem komunikasi satelit. penyiaran. pengembangan master plan frekuensi radio siaran FM/TV. 213 .