Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN DISKUSI KELOMPOK 2 OSTEOMIELITIS

TUTOR : dr. Setiawati DI SUSUN OLEH : KELOMPOK 1 G1A009015 G1A009032 G1A009043 G1A009046 G1A009072 G1A009073 G1A009092 G1A009100 G1A009107 G1A009114 G1A009135 Sarah Maulina Oktavia Yulita Swandani Aziz Rahajeng P. Afif Iman Hidayat Rahmat Husein Rahmi Laksita Rukmi Indah Permata Sari Handiana Samanta Aras Nurbarich A. Nugroho Rizki P. Belindra Putra H.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KEDOKTERAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO

2010 BAB 1 PENDAHULUAN

Osteomielitis merupakan suatu proses peradangan pada tulang yang disebabkan oleh invasi mokroorganisme. Bakteri yang biasanya menyebabkan osteomielitis adalah Staphylococcus, organisme inilah yang bertanggung jawab pada osteomyelitis akut. Organisme lainnya termasuk Haemophilus influenzae dan salmonella. Pada anak-anak penyebab osteomyelitis yang sering terjadi ialah Streptococcus, sedangkan pada orang dewasa ialah Staphylococcus. Kuman penyebab yang paling banyak adalah Staphylococcus aureus disusul oleh Streptococcus pneumoniae, dan Streptococcus pyogenes. Diagnosis perlu ditegakkan sedini mungkin, terutama pada anak-anak sehingga pengobatan dapat segera dimulai dan perawatan pembedahan yang sesuai dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran infeksi dan kerusakan yang lebih lanjut pada tulang. Melalui diskusi kelompok kedua inilah kami akan menggali lebih dalam mengenai osteomielitis, dari definisi, penyebab, gejala, dan penatalaksanaannya.

BAB II PEMBAHASAN DISKUSI KASUS 2 OSTEOMIELITIS Identitas Nama Umur Alamat : An. M : 12 tahun : Purwokerto Timur

Keluhan Utama Nyeri dan bengkak di lutut kiri Riwayat Penyakit An. M, perempuan, 12 tahun dibawa ke Rumah sakit karena nyeri dan bengkak pada lutut kiri yang disertai demam. Dua hari yang lalu, lutut tersebut terkena trauma minor akibat terbentur penyangga sepedanya. Pemeriksaan fisik menunjukkan lutut kirinya hangat, agak kemerahan, bengkak dan nyeri serta sedikit pengurangan pada Range of motion. Setelah dilakukan kultur darah, anak tersebut mulai diberikan antibiotik untuk dugaan osteomyelitis akut. Keadaan klinisnya tidak membaik dengan pengobatan tersebut dan kemudian dilakukan debridemen bedah pada tulang tibia. Pada waktu pembedahan, tampak edem jaringan lunak dan akumulasi pus di sekitar periosteum dan di dalam ruang meduler. Dari jaringan debridemen, kultur menunjukkan adanya S. Aureus. Selama 6 bulan, anak tersebut dipasang gips dan diberikan terapi antibiotik jangka panjang. Setelah dilakukan X foto dengan hasil berikut ini, pada anak tersebut dilakukan sequestrectomi dan bone grafting pada tungkai bawah kirinya

1. Jelaskan penemuan radiologis dan identifikasi sequestrum serta involucrum Sequestrum adalah tulang yang sudah mati dan terlihat makroskopis. Biasanya tulang mati ini sudah terpisah atau dalam proses memisahkan diri dari tulang lainnya. Involucrum adalah tulang baru yang terbentuk sekitar osteomyelitis akibat stimulasi periosteum.

Figure 1 : Anteroposterior radiograph of the left distal femur shows diffuse bony sclerosis with mature periosteal new bone formation. A faint, central, irregularly shaped lucency can be appreciated projecting within the intramedullary space (black arrow).

Figure 2 : A sagittal STIR image from an MRI examination through the left femur shows diffusely increased bone marrow signal and an abnormal signal within the surrounding soft tissues. A focal, oblong fluid collection (arrow) is identified within the distal diaphysis among the abnormal bone marrow signals.

Figure 3 : Sagittal, T1-weighted, fat-suppressed image from an MRI study through the distal femur after the administration of intravenous gadolinium shows diffuse abnormal bone marrow and soft tissue enhancement. The focal collection within the distal diaphysis does not enhance (arrow), consistent with an abscess. 2. Hubungan penemuan radiologis dengan karakteristik patologi anatomi pada osteomielitis kronik

Figure4 Chronic osteomyelitis. (A) The cellular players responding to the infection change over time. This photomicrograph shows a predominance of plasma cells (dark cytoplasm, perinuclear clear zone corresponding to the Golgi apparatus, and eccentric round nucleus) and lymphocytes (almost no cytoplasm, central nucleus). (B) Slide showing mostly plasma cells with a few scattered lymphocytes. (C) Plasma cells and histiocytes are present as part of the chronic inflammatory response regardless of cause. A histiocyte is a large cell with abundant cytoplasm (whose nucleus is vesicular; pale, dispersed chromatin pattern) and a large nucleolus. (D) A team of osteoclasts is seen lined up on and removing bone. The phenomenon of increased arterial blood flow brought to a region with associated osteoclastic activity is termed active hyperemia and was described by Dr. Lent Johnson.

Figure5 Chronic osteomyelitis. (A) High-power view of lamellar bone showing empty and enlarged lacunae, hallmarks of the enzymatic effect driven by the agonal osteocyte, termed oncosis. (B) A walling off of the infected area occurs, marked by fibrosis and periosteal woven bone formation. (C) Dead bone is either removed by clasts or cloaked by bone. Early on the appositional bone is woven, as shown here, or lamellar as the process slows down. Fibrous encapsulation is shown below. (D) Lamellar bone showing haphazard cement lines (mosaic bone) and woven bone apposition. This increased bone formation accounts for the mottled regions of sclerosis seen on radiographs.

Figure6 Chronic osteomyelitis. (A) Gross specimen of Civil War case from the Armed Forced Institute of Pathology museum. The sequestrated initial cortex (sequestrum) is cloaked by mature woven bone (involucrum); the openings in the involucrum are sites of purulent drainage to the exterior (cloacae). (B) Cross-section of a tibia with chronic osteomyelitis showing involucrum (layers of woven bone) surrounding an inflammatory exudate encompassing the necrotic intitial cortex (sequestrum). 3. Tipe sel apa saja yang predominan pada eksudat inflamasi dalam rongga medulla Tipe sel yang predominan adalah PMN yang sering mencapai 75%-80%, neutrofil segmen, sel natural killer, limfosit T dan B. 4. Jelaskan organisme penyebab osteomielitis Osteomielitis merupakan suatu bentuk proses inflamasi pada tulang dan struktur-struktur disekitarnya akibat infeksi dari kuman-kuman piogenik. Staphylococcus adalah organisme yang bertanggung jawab untuk 90% kasus

osteomyelitis akut. Organisme lainnya termasuk Haemophilus influenzae dan salmonella. Pada masa anak-anak penyebab osteomyelitis yang sering terjadi ialah Streptococcus, sedangkan pada orang dewasa ialah Staphylococcus. Kuman penyebab yang paling banyak adalah Staphylococcus aureus disusul oleh Streptococcus pneumoniae, Streptococcus pyogenes merupakan kuman yang sering ditemukan dan sering pada penderita penyakit autoimun, infeksi kulit sistemik, dan trauma. Pasien dengan riwayat intra venous drug abuse (IVDA), usia ekstrim, imunokompromis sering terinfeksi oleh basil gram negatif yang sering adalah Pseudomonas aeruginosa dan Escherichia coli. Kuman anaerob dapat juga sebagai penyebab hanya dalam jumlah kecil yang biasanya didapatkan pada pasien DM dan pemakaian prostesis sendi. 5. Jelaskan cara masuk mikroorganisme tersebut 1. Osteomielitis primer (hematogenik) yang disebabkan oleh penyebaran kuman secara hematogen (melalui aliran darah) dari fokus lain. Osteomielitis hematogen merupakan ostemielitis primer pada anak-anak dan dapat dibagi menjadi akut dan kronik. a. Osteomielitis hematogen akut Merupakan suatu infeksi pada tulang yang sedang tumbuh. Tulang yang sering terkena adalah tulang panjang seperti femur, tibia, humerus, radius, ulna dan fibula. Bagian tulang yang diserang adalah bagian metafisis. b. Osteomielitis hematogen kronik Merupakan lanjutan dari osteomielitis hematogen akut. Dapat terjadi oleh karena terapi yang tidak adekuat, adanya strain kuman yang resisten terhadap , menggunakan obat-obat imunosupresif serta kurang baiknya status gizi. 2. Osteomielitis sekunder (perkontinuitatum) yang disebabkan oleh penyebaran kuman dari sekitarnya, seperti bisul dan luka. 6. Jelaskan hubungan osteomielitis dengan trauma Trauma, iskemia, dan benda asing meningkatkan kerentanan tulang akan terjadinya invasi mikroba pada lokasi yang terbuka (terekspos) yang dapat mengikat bakteri dan menghambat pertahanan host. Fagosit mencoba untuk

menangani infeksi dan, dalam prosesnya, enzim dilepaskan sehingga melisiskan tulang. Bakteri melarikan diri dari pertahanan host dengan menempel kuat pada tulang yang rusak, dengan memasuki dan bertahan dalam osteoblast, dan dengan melapisi tubuh dan lapisan yang mendasari tubuh mereka sendiri dengan pelindung biofilm yang kaya polisakarida. Nanah menyebar ke dalam saluran pembuluh darah, meningkatkan tekanan intraosseous dan mempengaruhi aliran darah. Disebabkan infeksi yang tidak diobati sehingga menjadi kronis, nekrosis iskemik tulang menghasilkan pemisahan fragmen devaskularisasi yang besar (sequester). Ketika nanah menembus korteks, subperiosteal atau membentuk abses pada jaringan lunak, dan peningkatan periosteum akan menumpuk tulang baru (involucrum) sekitar sequester. 7. Gejala klinis a. Panas tinggi dan tampak sakit keras b. Nyeri tulang dekat sendi
c. Tidak dapat menggerakkan anggota badan yang terkena

d. Pembengkakan lokal dan nyeri tekan 8. Penatalaksanaan Pada osteomielitis akut, ekstrimitas yang terkena diistirahatkan dan segera diberi antibiotik yang efektif terhadap bakteri gram negatif dan positif tanpa menunggu hasil biakan darah. Pada osteomielitis kronis, dilakukan sekuetrektomi dan debrideman serta pemberian antibiotic yang sesuai dengan hasil kultur dantes resistensi. Osteomielitis tidak dapat sembuh sempurna sebelum semua jaringan mati disingkirkan.

KESIMPULAN
1. Osteomielitis merupakan suatu bentuk proses inflamasi pada tulang dan

struktur-struktur disekitarnya akibat infeksi dari kuman-kuman piogenik.


2. Pada anak-anak penyebab osteomyelitis yang sering terjadi ialah

Streptococcus.
3. Sedangkan pada orang dewasa ialah Staphylococcus. 4. Kuman penyebab yang paling banyak adalah Staphylococcus aureus

disusul oleh Streptococcus pneumoniae, dan Streptococcus pyogenes. 5. Cara masuk kuman pyogenik tersebut: a)hematogenik dan b)perkontinuitatum. 6. Pada osteomielitis didapatkan adanya sequestrum dan involucrum.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Available from URL: http://imaging.consult.com/imageSearch? query=femora&groupByNode=ae. Diakses pada tanggal 28 November 2010 Apley, A Graham. 1995. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley. Jakarta: Widya Medika Fritz, Jan. Et Al. 2009. Chronic Recurrent Multifocal Osteomyelitis: Comparison of Whole-Body MR Imaging with Radiography and Correlation with Clinical and Laboratory Data. Radiology. Vol. 252:842-851 Sabiston, David C. 2001. Buku Ajar Bedah. Jakarta: EGC Sugeng, Bambang. 2010. Osteomyelitis. Available from diakses URL: pada http://www.scribd.com/doc/34843510/OSTEOMYELITIS. tanggal 28 November 2010 Williams, Lippincott dan Wilkins. 2008. Oncology and Basic Science. Available from 787.html. diakses pada tanggal 27 November 2010 URL: http://www.msdlatinamerica.com/ebooks/OncologyandBasicSciencel/sid355