Anda di halaman 1dari 15

Analisa Distribusi Intensitas pada Kaca dalam Menentukan Panjang

Gelombang dengan Metode Interferometer Michelson


Radhiyullah Armi
1109100703


Jurusan Fisika - Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam - Institut Teknologi Sepuluh
Nopember Surabaya
email : razyodhieyahoo.com


ABSTRAK

Telah dilakukan percobaan menggunakan kaca yang bertujuan mencari panjang
gelombang dan mengetahui distribusi intensitas dari kaca dengan menggunakan metode
InterIerometer Michelson. Pada percobaan ini menggunakan laser lalu menggunakan kaca
dan dua cermin. Salah satu cermin posisinya ada yang tetao dan ada yang sengaja diubah
posisinya. Pada percobaan ini, didapat panjang gelombang dari sinar yang ditembakkan yaitu
2.10
-6
. Dengan mandapatkan indeks bias pada kaca 1, kaca 2, kaca 3, berturut-turut
1.0000040, 1.0000040, 1.0000222. Pada percobaan ini didapatkan kesimpulan bahwa pola
interIerensi yang terbentuk untuk laser yang panjang gelombangnya besar memiliki jumlah
Irinji yang lebih sedikit dan jarak antar Irinjinya lebih besar dibandingkan dengan panjang
gelombangnya lebih kecil.

Kata Kunci : Interferometer Michelson, distribusi intensitas, indeks bias

PENDAHULUAN
Dalam penelitian ini yang diamati
adalah perubahan pola dan jumlah Irinji
interIerensi pada InterIerometer Michelson,
sehingga dari perubahan pola Irinji tersebut
dapat dihitung nilai panjang gelombang
laser dioda merah dan laser dioda hijau.
ManIaat dari penelitian ini dapat
menambah wawasan mengenai Ienomena
Iisis dari interIerensi dan prinsip kerja
interIerometer Michelson, sebagai kalibrasi
alat optis dan sebagai dasar dalam
pembuatan spektrometer. Untuk aplikasi
lebih lanjut dapat diterapkan pada teknologi
Iilm tipis.
TIN1AUAN PUSTAKA
1. Pengertian Interferensi
InterIerensi yaitu pengggabungan dua
gelombang atau lebih secara superposisi,
yang bertemu dalam satu titik di ruang.
DiIraksi adalah pembelokan gelombang di
sekitar sudut yang terjadi apabila sebagian
muka gelombang dipotong oleh halangan
atau rintangan . InterIerensi dan diIraksi
merupakan Ienomena penting yang
membedakan gelombang dari partikel.
(Tipler, 1991)
Bila dua gelombang yang
berIrekuensi dan bepanjang gelombang
sama tapi berbeda Iase begabung, maka
gelombang yang dihasilkan merupakan
gelombang yang amplitudonya tergantung
pada perbedaan Iasenya.
InterIerensi konstruktiI yaitu
gelombang seIase yang saling menguatkan
dengan perbedaan Iasenya 0
0
atau bilangan
bulat kelipatan 360
0
. Sedangkan
amlitudonya sama dengan penjumlahan
amplitudo masing-masing gelombang.
InterIerensi destruktiI adalah
gelombang yang berinterIerensi secara
saling melemahkan ketika perbedaan
Iasenya 180
0
atau bilangan ganjil kali 180
0
.
Amplitudo yang dihasilkan merupakan
perbedaan masing-masing gelombang
(Tipler, 1991)
InterIerensi gelombang dari dua sumber
tidak teramati kecuali sumbernya koheren,
atau perbedaan Iase di antara gelombang
konstan terhadap waktu. Karena berkas
cahaya pada umumnya adalah hasil dari
jutaan atom yang memancar secara bebas,
dua sumber cahaya biasanya tidak koheren
(Laud, 1988). Koherensi dalam optika sering
dicapai dengan membagi cahaya dari
sumber tunggal menjadi dua berkas atau
lebih, yang kemudian dapat digabungkan
untuk menghasilkan polainterIerensi.
Pembagian ini dapat dicapai dengan
memantulkan cahaya dari dua permukaan
yang terpisah (Tipler, 1991).

. Interferometer Michelson
InterIerometer Michelson merupakan
seperangkat peralatan yang memanIaatkan
gejala interIerensi. Prinsip interIerensi
adalah kenyataan bahwa beda lintasan optik
(d) akan membentuk suatu Irinji (Resnick,
1993). Gambar dibawah merupakan diagram
skematik interIerometer Michelson. Oleh
permukaan beam splitter (pembagi berkas)
cahaya laser, sebagian dipantulkan ke kanan
dan sisanya ditransmisikan ke atas. Bagian
yang dipantulkan ke kanan oleh suatu
cermin datar (cermin 1) akan dipantulkan
kembali ke beam splitter yang kemudian
menuju ke screen (layar). Adapun bagian
yang ditransmisikan ke atas oleh cermin
datar (cermin 2) juga akan dipantulkan
kembali ke beam splitter, kemudian bersatu
dengan cahaya dari cermin 1 menuju layar,
sehingga kedua sinar akan berinterIerensi
yang ditunjukkan dengan adanya pola-pola
cincin gelap-terang (Irinji) (Soedojo, 1992).

Gambar 1. Skema InterIerometer Michelson
denangan 1. Laser, 2. Cermin, 3. Cermin2, 4.
Layar
Pengukuran jarak yang tepat dapat
diperoleh dengan menggerakan cermin pada
InterIerometer Michelson dan menghitung
Irinji interIerensi yang bergerak atau
berpindah, dengan acuan suatu titik pusat.
Sehingga diperoleh jarak pergeseran yang
berhubungan dengan perubahan Irinji,
sebesar:

dengan d adalah perubahan lintasan optis,
2adalah nilai panjang gelombang sumber
cahaya dan adalah perubahan jumlah
Irinji (Phywe,2006).

METODELOGI PERCOBAAN
Langkah awal yang harus dilakukan
dalam percobaan ini yaitu mengkalibrasi
interIerometer Michelson dengan cara
mengatur posisi laser, beam splitter, kedua
cermin dan lensa agar sinar laser yang
melewati semua peralatan tersebut tepat
segaris. Kemudian mencari pola interIerensi
dengan cara menggeser-geser salah satu
cermin sampai dihasilkan pola gelap terang
(Irinji) pada layar. Kalibrasi dilakukan
dengan menggeser cermin tiap 1 m. Akibat
pergeseran skala mikrometer makan pada
layar akan nampak perubahan jumlah Irinji.
Terjadinya panjang gelombang yang
berbeda-beda itu disebabkan dari terjadinya
perbedaan Irekuensi sumber, maka dengan
prinsip interIerometer Michelson ini,
panjang gelombang laser dioda dapat diukur.
Untuk menentukan nilai panjang gelombang
(z) laser dioda, dapat dihitung dengan
persamaan z =
2Ad
AN
.
Yaitu dengan cara, menggeser cermin
sehingga panjang lintasan optis ikut bergeser
sejauh A. Akibat pergeseran tersebut maka
pada layar akan tampak perubahan jumlah
Irinji (Irinji masuk ke pusat interIerensi)
sebesar A dan akhirnya dapat diperoleh z.
Pergeseran dilakukan tiap 1 skala
mikrometer. Variabel yang digunakan dalam
percobaan ini adalah A (perubahan lintasan
optis), d (beda lintasan optis),
A(perubahan Irinji), (jumlah perubahan
Irinji), z
0
(panjang gelombang laser)
Diagram alat InterIerometer
Michelson yang digunakan dalam percobaan
ditunjukkan pada gambar di bawah ini










Gambar 2. Diagram alat percobaan
InterIerometer Michelson dengan
keterangan gambar (1)Laser (2)lensa
cembung (3) cermin tetap (4) cermin yang
digerakkan (5) eam splitter (6)Layar (7)
kamera digital (8) komputer


HASIL DAN PEMBAHASAN
Data Percobaan

Tabel 3 Standart Deviasi dan rata-rata
Tabel 1. Data Jarak Antar Frinji
No Kaca 1ar
ak
(cm)
A, selisih jarak
frinji dengan
kaca dan tanpa
kaca (cm)
1 Tidak ada 0,8
2 I 1 0,2
3 II 1 0,2
4 III 0,9 0,1


Tabel 2. Data Jumlah Frinji
Uraian Standar
Deviasi
Rata-rata
Kaca I 18.081 14.570
Kaca II 18.130 17.754
Kaca III 15.980 19.716
Tanpa Kaca
dengan 1
mikron
15.296 23.413
Tanpa Kaca
dengan 10
mikron
14.534 21.119




No A Skala
(mikro)
An 1umlah
fringe
1 1
10 5




Perhitungan Data
Perhitungan Panjang Celombang, 2
Rumus yang digunakan untuk
menghitung panjang gelombang pada
percobaan interIerometer ini yaitu ;
A =
Anz


A Jumlah Iringe (rata-rata)
An Skala (rata-rata)
Sehingga;
An ( + ) / =
A ( +) / = .
-6

Maka besarnya nilai
2 A An / = . .
6
= / .
-6


Perhitungan Indeks Bias Kaca
Rumus yang digunakan untuk
menghitung indeks bias kaca pada
percobaan interIerometer ini yaitu ;

n oco =
A

+ n oro
A selisih antara jarak Irinji dengan kaca
dan jarak Irinji tanpa kaca
= bo oco
Diketahui :
A = c
= c
= c
n oro =
n oco =
A

+ n oro
n oco =

,

+
n oco =
Untuk nilai indeks bias lainnya dapat dilihat
pada tabel di bawah ini.

Tabel. 4. Hasil perhitungan Indeks bias pada kaca
Kaca
jarak
(cm)
A selisih jarak frinji
dengan kaca dan tanpa
kaca
n
udara
d (tebal
kaca)
n kaca
1 1 0,2
1
0,05 1,0000040
1 0,2 0,05 1,0000040
3 0,9 0,1 0,05 1,0000222
lrl erlerograr , l||e: | ac a 1-c ar| |rde| s o|as . jpg
200 100 00800 1000 1200
500
1000
1500
2000
200 100 00 800 1000 1200 1100 100 1800 2000
0
0. 2
0. 1
0.
0. 8
1
0|s l r|ous | lrl ers |l as
0|s l r|ous | K0L0V | e 00
Perhitungan Ailai Kontras
Untuk menghitung nilai kontras pada
percobaan interIerometer, maka rumus yang
diguanakan yaitu ;

Nilai Kontras
Stundu cus
Rutu-utu

Misal :
Standa Deviasi 14,570
Rata-rata 18,081
Nilai Kontras
Stundu cus
Rutu-utu

Nilai Kontras
140
18081

Nilai Kontras 0,806

Tabel 5. Hasil perhitungan Nilai Kontras
pada kaca
Hal
Standar
Deviasi
Rata -
Rata
Nilai
Kontras
Kaca 1 18.081 14.570 1.241
Kaca 2 18.130 17.754 1.021
Kaca 15.980 19.716 0.811
Tanpa kaca
1 mikron
15.296 23.413 0.653
Tanpa kaca
10 mikron
14.534 21.119 0.688


Hasil Percobaan
Gambar 3. GraIik distribusi Intensitas dengan
kaca-1 kolom 550

















Gambar 4. GraIik distribusi Intensitas dengan
kaca-1 kolom 600







lrl erlerograr , l||e: |aca 1-car| |rde|s o|as . jpg
200 100 00800 1000 1200
500
1000
1500
2000
200 100 00 800 1000 1200 1100 100 1800 2000
0
0. 2
0. 1
0.
0. 8
1
0|sl r| ous| lrl ers|l as
0|sl r| ous| K0L0V |e 550
lrl erlerograr, l| |e: | ac a 1-c ar| |rde| s o|as . jpg
200 100 00800 1000 1200
500
1000
1500
2000
200 100 00 800 1000 1200 1100 100 1800 2000
0
0. 2
0. 1
0.
0. 8
1
0|s l r|ous | lrl ers |l as
0|s l r|ous | K0L0V | e 50

















Gambar 5. GraIik distribusi Intensitas dengan
kaca-1 kolom 650

lrl erlerograr, l|| e: |aca 2-car| |rde|s o|as. jpg
200 100 00800 1000
500
1000
1500
2000
200 100 00 800 1000 1200 1100 100 1800 2000
0
0.2
0.1
0.
0.8
1
0|s lr|ous| lrlers |las
0|s lr|ous| K0L0V | e 500
lrl erlerograr, l||e: | ac a 2-c ar| |rde| s o|as . jpg
200 100 00800 1000
500
1000
1500
2000
200 100 00 800 1000 1200 1100 100 1800 2000
0
0. 2
0. 1
0.
0. 8
1
0|s l r|ous | lrl ers |l as
0|s l r|ous | K0L0V | e 550
lrlerlerograr, l| |e: | aca 2-c ar| |rde| s o|as .jpg
200 100 00800 1000
500
1000
1500
2000
200 100 00 800 1000 1200 1100 100 1800 2000
0
0.2
0.1
0.
0.8
1
0| s lr|ous | lrl ers |l as
0| s lr|ous | K0L0V | e 150














Gambar 6. GraIik distribusi Intensitas dengan
kaca-2 kolom 450

























Gambar 7. GraIik distribusi Intensitas dengan
kaca-2 kolom 500





















Gambar 8. GraIik distribusi Intensitas dengan
kaca-2 kolom 450








Gambar 9. GraIik distribusi Intensitas dengan
kaca-3 kolom 550




Gambar 10. GraIik distribusi Intensitas dengan
kaca-3 kolom 600



Gambar 11. GraIik distribusi Intensitas dengan
kaca-3 kolom 650


Gambar 12. GraIik distribusi Intensitas dengan
tanpa kaca 10mikron kolom 350




Gambar 13. GraIik distribusi Intensitas dengan
tanpa kaca 10mikron kolom 400



Gambar 14. GraIik distribusi Intensitas dengan
tanpa kaca 10mikron kolom 450

lrlerlerograr, l| | e: |aca 3-car| | rde| s o|as.j pg
20010000800 1000 1200
500
1000
1500
200 100 00 800 1000 1200 1100 100 1800
0
0. 2
0. 1
0.
0. 8
1
0| s lr| ous| lrl ers| l as
0| s lr| ous| K 0L0V |e 550
lrlerlerograr, l| | e: |aca 3-car| | rde| s o|as.j pg
20010000800 1000 1200
500
1000
1500
200 100 00 800 1000 1200 1100 100 1800
0
0. 2
0. 1
0.
0. 8
1
0| s lr| ous| lrl ers| l as
0| s lr| ous| K 0L0V |e 00
lrlerlerograr, l| | e: |aca 3-car| | rde| s o|as.j pg
20010000800 1000 1200
500
1000
1500
200 100 00 800 1000 1200 1100 100 1800
0
0. 2
0. 1
0.
0. 8
1
0| s lr| ous| lrl ers| l as
0| s lr| ous| K 0L0V |e 50
lrlerlerograr, l| | e: larpa |aca 10 r| | ror. j pg
20010000800
500
1000
1500
200 100 00 800 1000 1200 1100
0
0. 2
0. 1
0.
0. 8
1
0| s lr| ous| lrl ers| l as
0| s lr| ous| K 0L0V |e 350
lrlerlerograr, l| | e: larpa |aca 10 r| | ror. j pg
20010000800
500
1000
1500
200 100 00 800 1000 1200 1100
0
0. 2
0. 1
0.
0. 8
1
0| s lr| ous| lrl ers| l as
0| s lr| ous| K 0L0V |e 100
lrlerlerograr, l| | e: larpa |aca 10 r| | ror. j pg
20010000800
500
1000
1500
200 100 00 800 1000 1200 1100
0
0. 2
0. 1
0.
0. 8
1
0| s lr| ous| lrl ers| l as
0| s lr| ous| K 0L0V |e 150


Gambar 15. GraIik distribusi Intensitas dengan
tanpa kaca 1 mikron kolom 450




Gambar 16. GraIik distribusi Intensitas dengan
tanpa kaca 1 mikron kolom 500



Gambar 17. GraIik distribusi Intensitas dengan
tanpa kaca 1 mikron kolom 550



Gambar 18. Bentuk 3 dimensi dan sudut deviasi
dari image kaca 1









Gambar 19. Bentuk 3 dimensi dan sudut deviasi
dari image kaca 2

lrlerlerograr, l| | e: larpa |aca 1 r| |ror. jpg
200 100 00 800
500
1000
1500
2000
200 100 00 800 1000 1200 1100 100 1800 2000 2200
0
0. 2
0. 1
0.
0. 8
1
0| s lr| ous| lrl ers| l as
0| s lr| ous| K 0L0V |e 150
lrlerlerograr, l| | e: larpa |aca 1 r| |ror. jpg
200 100 00 800
500
1000
1500
2000
200 100 00 800 1000 1200 1100 100 1800 2000 2200
0
0. 2
0. 1
0.
0. 8
1
0| s lr| ous| lrl ers| l as
0| s lr| ous| K 0L0V |e 500
lrlerlerograr, l| | e: larpa |aca 1 r| |ror. jpg
200 100 00 800
500
1000
1500
2000
200 100 00 800 1000 1200 1100 100 1800 2000 2200
0
0. 2
0. 1
0.
0. 8
1
0| s lr| ous| lrl ers| l as
0| s lr| ous| K 0L0V |e 550






Gambar 20. Bentuk 3 dimensi dan sudut deviasi
dari image kaca 3












Cambar 21 8enLuk 3 dlmensl dan suduL devlasl
darl lmage Lanpa kaca 1 mlkron



















Cambar 22 8enLuk 3 dlmensl dan suduL devlasl
darl lmage Lanpa kaca 1 mlkron























1. Nilai Panjang Gelombang Laser
Dioda
Prinsip kerja percobaan interIerometer
Michelson yang telah dilakukan, yaitu
seberkas cahaya monokromatik yang
dipisahkan di suatu titik tertentu sehingga
masing-masing berkas dibuat melewati dua
panjang lintasan yang berbeda, dan
kemudian disatukan kembali melalui
pantulan dari dua cermin yang letaknya
saling tegak lurus dengan titik pembagi
berkas tersebut. Setelah berkas cahaya
monokromatik tersebut disatukan maka akan
didapatkan pola interIerensi akibat
penggabungan dua cahaya tersebut.
Dari gambar 1,2,3 mewakilkan dari suatu
kaca yang sama, namun dengan pembacaan
graIik distribusi intensitas di tiga bagian
yaitu kolom 550,600,650. Pada gambar ini
menjelaskan distribusi intensitas dari cahaya
cenderung ke kolom 650 yang paling besar,
hal ini dapat dikarenakan dalam pergeseran
kaca dan ketika pertemuan interIerensi
sehingga memberikan suatu nilai interIerensi
yang berbeda di setiap kolomnya.
Pada percobaan ini, laser yang digunakan
adalah laser dioda merah dengan panjang
gelombang yang tidak diketahui.
Dari graIik diatas menunjukkan bahwa
perubahan jumlah Irinji terhadap pergeseran
lintasan optis yang dilalui oleh berkas
cahaya laser dioda.
Dari graIik pengukuran nilai panjang
gelombang secara keseluruhan dapat
disimpulkan, bila salah satu lintasan optis
dari kedua berkas lintasan mengalami
pergeseran, walaupun hanya dalam beberapa
orde, maka akan terjadi pergeseran
gelombang cahaya monokromatik sumber
tersebut.

. Analisa Pola Interferensi
Dari berbagai sumber, penulis telah
mendapatkan reIerensi bahwa interIerometer
Michelson mengahsilkan pola interIerensi
yang tajam, jelas, dan jarak antar pola
Irinjinya lebih sempit.
Pada gambar hasil percobaan, gambar
yang didapatkan menghasilkan bentuk garis.
Ketika sumber laser dioda merah, pola
interIeresi gelap dan terangnya terpisah
dengan jelas dan bisa diamati dengan baik
sehingga jarak antar Irinji gelap maupun
terannya dapat diukur.
Hal ini sesuai dengan ynag dinyatakan
oleh Soedojo (1992), ' semakin pendek
panjang gelombang suatu sumber cahaya,
maka semakin pendek pula jarak pemisahan
antara pola-pola terang yang terjadi.


3. Pengamatan Indeks Bias
Pada hasil perhitungan indeks bias kaca,
didapatkan hasil indeks bias pada kaca 1,
kaca 2, kaca 3; yaitu 1.0000040 , 1.0000040,
1.0000222. Pda kasus ini didapatkan hasil
bahwa kaca 1 dan kaca 2 mempunyai indeks
bias yang sama. Pada kasus ini, saya dapat
menjelaskan bahwa kaca 1 dan kaca 2
adalah sama bahannya. Sehingga ketika
diberikan berkas cahaya, menunjukkan jarak
pola Irinji yang sama. Pada kaca 3, berbeda.
Mengindikasikan bahwa bentuk permukaan
pada kaca menentukan jarak Irinji dan
selanjutnya mempengaruhi hasil indeks bias
masing-masing kaca.
. Pengamatan Distribusi Intensitas
Pada distribusi intensitas setiap kolom,
saya mencoba menjelaskan pada kaca 1.
Pada kaca 1, praktikan mengamati pada
kolom 550, 600, 650. Pada gambar distribusi
intensitas dari tiga kolom yang diamati
bahwa distribusi intensitas tersebar di antara
distribusi 800-1400. Hal ini memastikan
bahaw terjadinya interIerensi maksimal
terletak pada kisaran kolo 800-1400.
Pada nilai kontrasnya, saya dapat
menjelaskan bahwa tingkat kontras suatu
bahan akan berbeda menurut bentuk
permukaan dari bahan.


KESIMPULAN
O Pola interIerensi yang terbentuk untuk
laser yang panjang gelombangnya besar
memiliki jumlah Irinji yang lebih
sedikit dan jarak antar Irinjinya lebih
besar dibandingkan dengan panjang
gelombangnya lebih kecil.
O Panjang gelombang yang didapat yaitu
2.10
-6
.

DAFTAR PUSTAKA
Phywe, 2006. abry-Perot Interferometer.
Phywe Handbook. Phywe Series oI
Publication.

Soedojo, P. 1992. Asas-Asas Ilmu isika
Jilid 4 isika Modern.Gadjah Mada
University Press : Yogyakarta

Tipler, P. A. 1991.isika Untuk Sains
dan Tehnik Jilid 2 (alih bahasa
Dr.Bambang Soegijono). Penerbit
Erlangga: Jakarta

Anda mungkin juga menyukai