Anda di halaman 1dari 47

B A B I

KEIMANAN
1. A. HUBUNGAN IMAN, ISLAM, IHSAN, DAN HARI KIAMAT
(LM. 5)
-, , , - -- -' ,' - = ; ' - , = - ' , , J- -' -~ ' - - - = J' - - - ~ - ' - - - = J' - ,- , , - :
J- , = -' - ,' -- - ' -; - ' , ,' -~ ; ^- - - ^ --' _ - ~ --' ,' - J' - -: , - , ,' -- (' J' - ,' -- (' ' -
J' - ~ -' , - ; ^ - ~ , ; ^ -' - - ; ^ - ; ^ - -> - ; ^ --' : J' - >~ (' ' -: V ; ^ --' - , >~ ('
; > ~-' - - ; ' -- ~ ^ 4 ,~ J' - ,' ~ - , ; ~ ; ~; ,- --' ' - ,-' -: J' - ,' ~= (' ' -: - ,
J' - 4' , - ^ - - -' , , - - , - -' , 4 - - ^ --': J' - -' ~-' _ -: J -' ~-' , - -- ' |- - J; -~ --' ' -
' | =' ,~ , - 4 , = ~ ;: V , ,- = - ,' -- -' - | -' J (' ' - , J ;' = ' - ; ' | , - V' - - ; ' -
- - -- - ^ --' , - ~ ; ^- - - ^ --' _- ~ --' > - ^ --' V , | - - - - - -; - , J' - - , - - -7' -' ~-' -
| -- - ,' --' - - -' = J- , = ' - J' - - ' -- ~ '; , -(37 : ,'-- (' ~' - : _- ,'=- ' ^=,= .
; ' . 57 : ,' -- (' ,- : - ~- . ( >~('; ,' -- (' , - . . -- ' J- , = J'~~'
;'- 1, 27, 51 :J -= , -- =' . 9 .--- - :^ =' - ,' . 4 , ,'-- (' :---, . 16 ,- ~: -;,
19,29.
1. 1. Artinya
Musaddad telah menceritakan kepada kami, ia berkata bahwa Isma`il ibn Ibrahim telah menceritakan kepada kami, Abu
Hayyan al-Taimiy dari Abi Zur`ah telah menyampaikan kepada kami dari Abu Hurairah r.a berkata: Pada suatu hari ketika
Nabi saw. sedang duduk bersama sahabat, tiba-tiba datang seorang laki-laki dan bertanya, 'apakah iman itu?. Jawab Nabi
saw.: 'iman adalah percaya Allah swt., para malaikat-Nya, dan pertemuannya dengan Allah, para Rasul-Nya dan percaya
pada hari berbangkit dari kubur. Lalu laki-laki itu bertanya lagi, 'apakah Islam itu? Jawab Nabi saw., 'Islam ialah
menyembah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun, mendirikan shalat, menunaikan zakat yang
diIardhukan dan berpuasa di bulan Ramadhan. Lalu laki-laki itu bertanya lagi: 'apakah Ihsan itu? Jawab Nabi saw., 'Ihsan
ialah bahwa engkau menyembah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, kalau engkau tidak mampu melihat-Nya,
ketahuilah bahwa Allah melihatmu. 'Lalu laki-laki itu bertanya lagi: 'apakah hari kiamat itu? 'Nabi saw. menjawab: 'orang
yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada yang bertanya, tetapi saya memberitahukan kepadamu beberapa syarat (tanda-
tanda) akan tibanya hari kiamat, yaitu jika budak sahaya telah melahirkan majikannya, dan jika penggembala onta dan ternak
lainnya telah berlomba-lomba membangun gedung-gedung megah. Termasuk lima perkara yang tidak dapat diketahui
kecuali oleh Allah, selanjutnya Nabi saw. membaca ayat: 'Sesungguhnya Allah hanya pada sisi-Nya sajalah yang
mengetahui hari kiamat. (ayat).|1| Kemudian orang itu pergi. Lalu Nabi saw. bersabda kepada para sahabat: 'antarkanlah
orang itu. Akan tetapi para sahabat tidak melihat sedikitpun bekas orang itu. Lalu Nabi saw.bersabda: 'Itu adalah Malaikat
Jibril a.s. yang datang untuk mengajarkan agama kepada manusia. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Turmudzi, Ibnu
Majah dan Ahmad bin Hambal).
1. 2. Biografi periwayat (lihat pada halaman lampiran)
2. 3. Penjelasan Singkat
Hadis di atas mengetengahkan 4 (empat) masalah pokok yang saling berkaitan satu sama lain, yaitu iman, Islam, ihsan, dan
hari kiamat. Pernyataan Nabi saw. di penghujung hadis di atas bahwa 'itu adalah Malaikat Jibril datang mengafarkan
agama kepada manusia mengisyaratkan bahwa keempat masalah yang disampaikan oleh malaikat Jibril dalam hadis di atas
terangkum dalam istilah ad-din (baca: agama Islam). Hal ini menunjukkan bahwa keberagamaan seseorang baru dikatakan
benar jika dibangun di atas pondasi Islam dengan segala kriterianya, disemangati oleh iman, segala aktiIitas dijalankan atas
dasar ihsan, dan orientasi akhir segala aktiIitas adalah ukhrawi.
Atas dasar tersebut di atas, maka seseorang yang hanya menganut Islam sebagai agama belumlah cukup tanpa dibarengi
dengan iman.Sebaliknya, iman tidaklah berarti apa-apa jika tidak didasari dengan Islam. Selanjutnya, kebermaknaan Islam
dan iman akan mencapai kesempurnaan jika dibarengi dengan ihsan, sebab ihsan mengandung konsep keikhlasan tanpa
pamrih dalam ibadah. Keterkaitan antara ketiga konsep di atas (Islam, iman, dan ihsan) dengan hari kiamat karena karena
hari kiamat (baca: akhirat) merupakan terminal tujuan dari segala perjalanan manusia tempat menerima ganjaran dari segala
aktiIitas manusia yang kepastaian kedatangannya menjadi rahasia Allah swt.
Berikut ini akan dibahas lebih rinci tentang iman, Islam, ihsan, dan hari kiamat.
1. a. Iman
Pengertian dasar dari istilah 'iman ialah 'memberi ketenangan hati; pembenaran hati.|2| Jadi makna iman secara umum
mengandung pengertian pembenaran hati yang dapat menggerakkan anggota badan memenuhi segala konsekuensi dari apa
yang dibenarkan oleh hati.|3|
Iman sering juga dikenal dengan istilah aqidah, yang berarti ikatan, yaitu ikatan hati. Bahwa seseorang yang beriman
mengikatkan hati dan perasaannya dengan sesuatu kepercayaan yang tidak lagi ditukarnya dengan kepercayaan lain. Aqidah
tersebut akan menjadi pegangan dan pedoman hidup, mendarah daging dalam diri yang tidak dapat dipisahkan lagi dari diri
seorang mukmin. Bahkan seorang mukmin sanggup berkorban segalanya, harta dan bahkan jiwa demi mempertahankan
aqidahnya.
Adapun pengertian iman secara khusus sebagaimana yang tertera dalam hadis di atas ialah: keyakinan tentang adanya Allah
swt., malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab yang diturunkan-Nya, Rasul-rasul utusan-Nya, dan yakin tentang kebenaran adanya
hari kebangkitan dari alam kubur.
Dalam hadis lain, yang senada dengan hadis di atas yang diriwayatkan oleh Kahmas dan Sulaiman al-Tamimi, selain
menyebutkan kelima hal di atas sebagai kriteria iman, terdapat tambahan satu kriteria yaitu: beriman kepada qadha dan
qadar Allah, yang baik maupun yang buruk.|4|
Berdasarkan kedua redaksi hadis tersebut selanjutnya oleh sebagian besar ulama dirumuskan bahwa jumlah rukun iman
adalah enam, yang meliputi:
1) Keyakinan tentang adanya Allah swt.
2) Keyakinan terhadap malaikat-malaikat Allah swt.
3) Keyakinan tentang kebenaran kitab-kitab yang diturunkan-Nya.
4) Keyakinan tentang kebenaran rasul-rasul utusan-Nya.
5) Keyakinan tentang kebenaran adanya hari kebangkitan dari alam kubur.
6) Keyakinan kepada qadha dan qadar Allah, yang baik maupun yang buruk.
Dalam Alqur`an ditemukan sejumlah ayat yang senada dengan hadis di atas yang mendeskripsikan tentang konsep
keimanan, antara lain Iirman Allah swt. dalam QS. Al-Baqarah (2): 285:
Terjemahnya:
Rasul Telah beriman kepada al-Qur`an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang
beriman, semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka
mengatakan): 'Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya, dan mereka
mengatakan: 'Kami dengar dan kami taat. (mereka berdoa): 'Ampunilah kami Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah
tempat kembali.
Dengan demikian, keimanan dalam pengertian al-Qur`an adalah pembenaran tentang keesaan Allah, kebenaran para rasul-
Nya, kebenaran akan datangnya hari kemudian, serta kebenaran segala yang disampaikan oleh para rasul-Nya disertai
dengan ketaatan penuh tanpa ada tawar menawar terhadap apa yang diyakini kebenarannya.
Adapun keimanan kepada qadha dan qadar secara tekstual tidak tercatat dalam ayat di atas, tapi tersebar dalam berbagai
ayat dalam surah yang berbeda, dan bahkan dengan arti yang bermacam-macam. Tetapi adapula yang menaIsirkan
perkataan'wa ilaika al-mashir` dalam ayat di atas menunjukkan pula arti mengembalikan segala perkara kepada Allah,
termasuk masalah takdir.
Keenam pokok keimanan itu yakni: iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari
akhirat dan qadla-gadar-Nya dikenal sebagai arkanul iman (rukun iman) yang menapakan pokok-pokok keimanan. Karna
keenam hal tersebut sebagaimana dijelaskan di atas mempunyai korelasi yang demikian besar, maka bila menaIikan salah
satu unsur dari keenam itu akan menyebabkan kepincangan dalam iman, dan bahkan pula akan menyebabkan keingkaran
kepada Tuhan. Keingkaran kepada hari kiamat umpamanya berarti pula keingkaran kepada Allah yang sekaligus ingkar
kepada rasul yang menyampaikan berita tersebut, termasuk kepada malaikat yang menyampaikan wahyu kepada para rasul,
dan peccaya kepada kitab-kitab yang merupakan risalah para rasul itu.
Ketaatan dalam hubungannya dengan keyakinan mengandung pengertian melaksanakan segala konsekuensi yang lahir dari
keyakinan tersebut dalam bentuk nyata (amal shaleh).Oleh sebab itu, konsep keimanan dalam aThaba`thaba`i menjelaskan
bahwa setiap al-Qur`an menyebutkan kaum mukminin dengan siIat yang indah, al-Qur`an dalam banyak ayat selalu
dihubungkan dengan karya nyata (amal shaleh).Sebagai contoh, Allah berIirman dalam QS. An-Nahl (16): 97:
`tB YJt $|s,' `iB Y2su rr& 4Os\Re& uqedur `BsB /mZtIosZnsu Zo4quym Zpt6IhSs (
oOgYt]I'IuZs9ur Nedtr& `,mr'/ $tB (#qR$Y2 tbqeyJet] ODE
Terjemahnya:
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya
akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan
pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
".S. al-Nahl. 97)
Keimanan dipandang sempurna apabila ada pengakuan dengan lidah, pembenaran dengan hati secara yakin dan tidak
bercampur keraguan, dan dilaksanakan dalam bentuk perbuatan sehari-hari, serta keimanan tersebut berpengaruh terhadap
pandangan hidup dan cita-cita seseorang.
Meskipun keimanan merupakan perbuatan hati, tetapi pantulan dari keimanan tersebut melahirkan perbuatan-perbuatan
nyata yang menjadi tuntutan keimanan tersebut.Oleh sebab itu, al-Quran menjelaskan kewajiban-kewajiban, sikap-sikap, dan
tingkah laku seorang yang harus terwujud dalam diri setiap orang beriman dalam kehidupannya.Konsep seperti itu misalnya
ditemukan dalam Iirman Allah dalam QS.al-Mu`minun (23): 1-6 sebagai berikut:
s yxnour& tbqZBsJo9$# E t!$# Ned ` NIkIEYx,' tbqeyz E t!$#ur Ned `t
Eqoo9$# scqaIeB IE t!$#ur Ned Io4qx.'9 tbqeesu IE t!$#ur Ned NgAra9
tbqYaym E w) #`n?t NgAuror& rr& $tB Ms3ntB Nk|yJ]r& NkX*su x suBqetB
E
Terjemahnya:
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam sembahyangnya, dan
orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan
zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki
maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.
Dalam QS.al-AnIal (8): 2-3 Allah berIirman:
$yJR) scqZBsJo9$# t!$# #su) t.eu !$# MnAur Nk5qee #su)ur Mue? NIknt
/mGt]#u NkoEyS#y $YZyJ]) 4`n?tur oOgn/u tbqe.uqtGt] E su!$# scqJE)] no4qnA9$#
$JBur NguZoyu tbqa)Z] IE
Terjemahnya:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila
dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu)
orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menaIkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka.
Dengan demikian, iman saja tidaklah cukup, tetapi harus disertai berbagai amal saleh sebagai perwujudan dari keyakinan
tersebut.Sekedar kepercayaan menyangkut sesuatu, belum dapat dinamai iman, karena iman menghasilkan
ketenangan.Karena itu pula iman berbeda dengan ilmu, karena ilmu tidak jarang menghasilkan keresahan dalam hati
pemiliknya, berbeda dengan iman. Meskipun ilmu diibaratkan dengan air telaga, tetapi tidak jarang ia keruh. Tetapi iman
ketika diibaratkan dengan air bah dengan gemuruhnya, tetapi ia selalu jernih sehingga menghasilkan ketenangan.
Disamping itu, iman dapat diibaratkan sebagai makanan rohani. Jiwa yang kosong dari iman akan lemah dan hampa
sebagaimana jasad yang tidak diberi makan. Dengan demikian, iman merupakan inti kehidupan batin dan sekaligus menjadi
penyelamat dari siksa abadi di akhirat kelak.
-. Islam
Islam berasal dari akar kata kerja aslama secara harIiyah berarti kepatuhan atau tindakan penyerahan diri seseorang
sepenuhnya kepada kehendak orang lain.|5| Islam adalah kepatuhan menjalankan perintah Allah dengan segala keikhlasan
dan kesungguhan hati. Hal itu sesuai dengan arti kata Islam, yakni penyerahan. Seorang muslim harus menyerahkan dirinya
kepada Allah secara total karena memang manusia diciptakan Allah untuk mengabdi kepada-Nya.
Islam menurut istilah adalah agama yang dibawa oleh para utusan Allah dan disempurnakan oleh Rasulullah saw. yang
memiliki sumber pokok al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah saw. sebagai petunjuk kepada umat manusia sepanjang masa.
(Q.S. 48: 28, dan 5: 3).
Intisari Islam sebagai agama adalah keterikatan dan ketundukan pada Allah swt.yang mempunyai kekuatan-kekuatan yang
lebih tinggi dari manusia dan bersiIat gaib yang dapat ditangkap oleh indera tetapi bisa dirasakan dan diyakini akan
adanya. Tauhid (pengesaan Allah) merupakan seruan pertama dan terakhir dari Islam.Ia adalah suatu kepercayaan kepada
Tuhan yang Maha Esa (faith in the unity of God). Suatu kepercayaan yang menegaskan bahwa hanya Allah-lah yang
mencipta, memberi hukum, mengatur alam semesta ini.Sebagai konsekuensinya maka hanya Allah pulalah yang satu-
satunya yang wajib disembah.
Atas dasar itulah sehingga Rasulullah saw. dalam hadis di atas menjadikan tauhid (penyembahan hanya kepada Allah
semata) sebagai pilar utama dalam keislaman seorang, selanjutnya disusul dengan kewajiban-kewajiban yang lain, yaitu
mendirikan shalat, menunaikan zakat yang diIardhukan, berpuasa di bulan Ramadhan. Dalam hadis lain ditambahkan satu
kewajiban lagi, yakni menunaikan ibadah haji bagi yang mampu, sebagaimana dinyatakan dalam hadis berikut:
= ' - = .' _ ~ ~ ' ~- = '- ` ~ = ' - ~ = ' = , ~ ' = ~ = = ' -- ~ =-
` ~' + ~ , ~ = _ = `~ `' - ~ - = ' _ - ' . ~ .' .' ' ~ +- =' ~ ~ = ~ ' `
' - ~ - _ =' ' ' -' - ` -' ' ' . ~ .('=' - ').
Artinya:
Abdullah ibn Musa telah menceritakan kepada kami, ia berkata bahwa Hanzhalah ibn Abi SuIyan telah memberitakan
kepada kami, dari Ikrimah ibn Khalid, dari ibn Umar r.a berkata: Rasulullah saw. telah bersabda: 'Islam didirikan atas lima
perkara, yakni bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah swt, dan Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat,
menunaikan zakat, melaksanakan ibadah haji (ke Baitullah), dan berpuasa dibulan Ramadhan. (H.R. Al-Bukhari)
Berdasarkan hadis di atas, ditemukan rumusan yang selanjutnya dikenal dengan rukun Islam, yaitu:
1) Syahadat (persaksaan keesaan Allah dan kerasulan Muhammad)
2) Mendirikan salat
3) Menunakan zakat
4) Puasa pada bulan Ramadhan
5) Menunaikan ibadah haji
Sebagai agama, hanya Islam-lah yang mendapat pengakuan dan diterima di sisi Allah swt.Sehubungan dengan hal ini Allah
berIirman dalam QS. Ali Imran (3): 19:
b) sue$!$# yY !$# OnoM}$#E ...( `: ' ~=.' )
Terjemahnya:
'Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.
Dan Allah berIirman dalam QS. Ali Imran (3): 85:
`tBur tG;t ux NnoM}$# $YY `nsu t6o) mYB uqedur ` IotAzFy$# z`B
z`]IAy,o9$# E
Terjemahnya:
'Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia
di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.
".S. Ali Imran. 85)
Pernyataan al-Qur`an di atas mengisyaratkan bahwa diutusnya Nabi Muhammad saw. bukan untuk merombak seluruh ajaran
yang dibawa oleh para nabi yang datang sebelumnya. Kedatangan beliau hanya melanjutkan missi yang dibawa oleh Nabi-
nabi sebelumnya dan menyempurnakannya.Oleh sebab itu, inti ajaran, isi dan tujuan agama-agama samawi sebelum Nabi
Muhammad bersiIat tidak berubah-ubah, namun teknis dan pelaksanaannya dapat berubah dengan memperhatikan situasi
dan kondisi yang berkembang.Sehubungan dengan hal ini Allah berIirman dalam QS.asy-Syura (42): 13:
tiuY N3s9 z`iB Ee$!$# $tB 4Oour /m/ |nqR '!$#ur !$uZoSymrr& y7os9) $tBur $uZoS'ur /m/
tLidt/) 4OyqBur #O,Sur ( br& (#qKSr& te$!$# Ywur (#qextGs? mSu 4 u9x. `n?t
t.Jo9$# $tB Nedqs? moSs9) 4 !$# OEtFogsf mos9) `tB !$to, 'kuur mos9) `tB
`] IE
Terjemahnya:
Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami
wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan
janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka
kepadanya.Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang
yang kembali (kepada-Nya).
Berdasarkan ayat di atas, syariat Islam pada prinsipnya merupakan ajaran yang dibawa oleh seluruh Rasul Allah, dan
Rasulullah saw. diutuslah meletakkan batu terakhir kesempurnaannya, yang diproklamirkan pada tanggal 9 Zulhijjah, saat
Nabi saw. melaksanakan haji wada` tiga bulan sebelum waIat dengan turunnya Iirman Allah dalam QS. al-Maidah (5): 3:
4 tPquo9$# aMuyJo.r& N3s9 N3oY]S aMJooCr&ur N3ont OELyJeR aMSAuur N3s9
zNnoM}$# $YY]S 4 `yJsu $# ` ~p,AuKo]xC ux 7#R$yItGB 5OoO\b} b*su !$# qax
OOm IE
Terjemahannya :
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai
Islam itu jadi agama bagimu.Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Seseorang yang menyandang predikat muslim, harus patuh kepada peraturan-peraturan yang ditetapkan Allah, hidupnya
serasi dengan alam dengan seluruh mahluk, bahkan hidup serasi dengan diri sendiri (dengan Iitrah kesucian).
Islam sebagai agama mengatur tata cara mengabdi kepada Allah swt. menurut cara yang diridhai-Nya. Ibadah dalam Islam
antara lain bertujuan untuk merekatkan dan mendekatkan hubungan antara makhluk dengan al-Khalik, supaya manusia
senantiasa mendapat karunia dan ridha-Nya.
Dalam hubungan dengan sesama manusia, Islam pun mengatur sikap hidup dan tingkah laku yang baik, dalam lingkungan
yang kecil maupun dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas. Dalam Islam, telah diatur pula hubungan dengan anggota
masyarakat yang berbeda agama, bahkan yang tidak beragama sekalipun. Semuanya bertujuan agar tercipta hubungan yang
baik dan harmonis antar sesama manusia.
Islam juga mengatur hubungan manusia dengan alam dan hewan.Manusia haruslah memperlakukan hewan secara wajar.
Begitu pula dalam pengeksploitasi alam ia harus mengaturnya sedemikian rupa sehingga tidak merusak lingkungan dan
tercipta lingkungan yang asri dan memberikan kebahagiaan serta kesejahteraan bagi manusia.
Secara singkat, dapat dijelaskan bahwa Islam mengatur segala aspek kehidupan, baik yang berkenaan dengan aqidah
(kepercayaan), syariah (ibadah dan muamalah), akhlak (baik kepada al-Khalik maupun kepada makhluk).
Secara garis besarnya kerangka dasar Ajaran Islam dapat dilihat pada bagan berikut:
.. Ihsan
Ihsan secara bahasa berasal dari akar kata kerja ahsana-yuhsinu, yang artinya adalah berbuat baik, sedangkan bentuk
mashdarnya adalah ihsan yang artinya kebaikan.Mengenai hal ini, Allah swt.berIirman dalam QS. an-Nahl (16): 90:
b) !$# Bu't] EAyeo9$$/ `,mM}$#ur ....OEE ( : .=- ' )
Terjemahnya:
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan ..........
Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target seluruh hamba Allah swt. Sebab, ihsan menjadikan
kita sosok yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya. Sebaliknya, seorang hamba yang tidak mampu mencapai target ini akan
kehilangan kesempatan yang sangat mahal untuk menduduki posisi terhormat dimata Allah swt. Rasulullah saw. pun sangat
menaruh perhatian akan hal ini, sehingga seluruh ajaran-ajarannya mengarah kepada satu hal, yaitu mencapai ibadah yang
sempurna dan akhlak yang mulia.
Oleh karenanya, seorang muslim hendaknya tidak memandang ihsan itu hanya sebatas akhlak yang utama saja, melainkan
harus dipandang sebagai bagian dari aqidah dan bagian terbesar dari keislamannya. Karena, Islam dibangun di atas tiga
landasan utama, yaitu iman, Islam, dan ihsan, seperti yang telah diterangkan oleh Rasulullah saw. yang disebutkan di atas.
Rasulullah saw. menyebut ketiga hal di atas sebagai agama, dan bahkan Allah swt. memerintahkan untuk berbuat ihsan pada
banyak tempat dalam al-Qur`an.
Adapun pengertian ihsan secara khusus yang disebutkan dalam hadis di atas, yaitu "menyembah kepada Allah seakan-akan
engkau melihat-Nya, fika engkau tidak mampu melihatnya, ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat.i"
Pernyataan menyembah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya", mengandung arti bahwa dalam menyembah
kepada-Nya, kita harus bersungguh-sungguh, serius dan penuh keikhlasan serta melebihi sikap seorang rakyat jelata ketika
menghadap Raja.Dalam hati harus ditumbuhkan keyakinan bahwa Allah seakan-akan berada di hadapannya, dan Dia melihat
dirinya.Sedangkan pernyataan "fika engkau tidak mampu melihat-Nya, ketahuilah bahwa Allah melihatmu," maksudnya kita
harus merasa bahwa Allah selamanya hadir dan menyaksikan segala perbuatannya.
Menurut Ibnu Hajar, ihsan berarti berusaha menjaga tata krama dan sopan santun dalam beramal, seakan-akan kamu
melihat-Nya seperti Dia melihat kamu. Hal itu harus dilakukan bukan karena kamu melihat-Nya, tetapi karena Dia
selamanya melihat kamu.Maka beribadahlah dengan baik meskipun kamu tidak dapat melihat-Nya.|6|
Ihsan merupakan salah satu Iaktor utama dalam menentukan diterima atau tidaknya suatu amal oleh Allah swt.karena orang
yang berlaku ihsan dapat dipastikanj akan ikhlas dalam beramal, sedangkan ikhlas merupakan inti diterimanya suatu amal
ibadah.
Ihsan meliputi tiga aspek Iundamental, yaitu ibadah, muamalah, dan akhlak.
1) Ibadah
Kita berkewajiban ihsan dalam beribadah, yaitu dengan menunaikan semua jenis ibadah, seperti shalat, puasa, haji, dan
sebagainya dengan cara yang benar, yaitu menyempurnakan syarat, rukun, sunnah, dan adab-adabnya. Hal ini tidak akan
mungkin dapat ditunaikan oleh seorang hamba, kecuali jika saat pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut ia dipenuhi dengan cita
rasa yang sangat kuat (menikmatinya), juga dengan kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa memantaunya hingga ia merasa
bahwa ia sedang dilihat dan diperhatikan oleh-Nya. Minimal seorang hamba merasakan bahwa Allah senantiasa
memantaunya, karena dengan ini lah ia dapat menunaikan ibadah-ibadah tersebut dengan baik dan sempurna, sehingga hasil
dari ibadah tersebut akan seperti yang diharapkan. Inilah maksud dari perkataan Rasulullah saw yang berbunyi, 'Hendaklah
kamu menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan fika engkau tak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia
melihatmu.`
Kini jelaslah bagi kita bahwa sesungguhnya arti dari ibadah itu sendiri sangatlah luas. Maka, selain jenis ibadah yang kita
sebutkan tadi, yang tidak kalah pentingnya adalah juga jenis ibadah lainnya seperti jihad, hormat terhadap mukmin,
mendidik anak, menyenangkan isteri, meniatkan setiap yang mubah untuk mendapat ridha Allah, dan masih banyak lagi.
Oleh karena itulah, Rasulullah saw. menghendaki umatnya senantiasa dalam keadaan seperti itu, yaitu senantiasa sadar jika
ia ingin mewujudkan ihsan dalam ibadahnya.
2) Muamalah
Ihsan sebagaimana dijelaskan sebelumnya adalah beribadah kepada Allah dengan sikap seakan-akan melihat-Nya, dan jika
tidak dapat melihat-Nya, maka Allah melihat kita. Sedangkan ihsan dari segi muamalah, yang termasuk di dalamnya adalah:
Pertama, Ihsan kepada kedua orang tua
Allah swt.menjelaskan hal ini dalam QS. al-Isra (): 23-24:
4O,Osur y7/u wr& (#r7es? Hw) n$]) Eot$!uqo9$$/ur $Z,m) 4 $B) `toe7t] x8yY
uy9A6o9$# !$yJedtnr& rr& $yJedYx. Yxsu a)s? !$yJl; 7e$e& Ywur $yJedpk|s? eur $yJg9 Zwqs
$VJ]IY2 IE Uz$#ur $yJgs9 yy$uZy EeA!$# z`B pyJm9$# eur Eb~ $yJgHxq$# $yJx.
`T$u/u #ZEo,' IE
Terjemahnya:
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu
bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam
pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan 'ah dan janganlah kamu
membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua
dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: 'Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah
mendidik aku waktu kecil.
Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa ihsan kepada ibu-bapak adalah sejajar dengan ibadah kepada Allah. Dalam
sebuah hadist riwayat Turmuzdi, dari Ibnu Amru bin Ash, Rasulullah saw. bersabda:|7|
- - , - J' - -~; ^--- =' _-~ --' , - ' - |- - =' ~, ' -' , ;,- - , =': =' _ ~ , -
,- - -' ;-' == ~ - =' == ~ ; ,- - -' ;-' _ ~ ,
Artinya:
Dari Abdullah bin Amru bin al-Ash r.a dari Nabi saw. bersabda: Keridhaan Allah berada pada keridhaan orang tua, dan
kemurkaan Allah berada pada kemurkaan orang tua. (H.R. at-Turmudzi)
Dalil di atas menjelaskan bahwa ibadah kita kepada Allah tidak akan diterima jika tidak disertai dengan berbuat baik kepada
kedua orang tua. Apabila kita tidak memiliki kebaikan ini, maka bersamaan dengannya akan hilang ketakwaan, keimanan,
dan keislaman.
edua, Ihsan kepada kerabat karib
Ihsan kepada kerabat adalah dengan jalan membangun hubungan yang baik dengan mereka, bahkan Allah swt.menyamakan
seseorang yang memutuskan hubungan silatuhrahmi dengan perusak dimuka bumi. Allah berIirman dalam QS. Muhammad
(47): 22:
ygsu oOFoS,t b) LoS9uqs?br& (#rAoe? ` UF$# (#qees)e?ur N3tB$ymr& E
Terjemahnya: Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi dan memutuskan
hubungan kekeluargaan.?
Silaturahmi adalah kunci untuk mendapatkan keridhaan Allah.Hal ini dikarenakan sebab paling utama terputusnya hubungan
seorang hamba dengan Tuhannya adalah karena terputusnya hubungan silaturahmi.
etiga, Ihsan kepada anak yatim dan Iakir miskin
Diriwayatkan oleh Bukhari, Turmudzi, dan Ibnu Hibban bahwa Rasulullah saw bersabda:
=' J;~, J'- J| ~ ,- ^- ,- ,'= , ,-,-' -- '-,= '|-- , ;,-- '---= ^--- =' _-~
-~;: J -' - ; ' - - =-' - - --' '-- ~ ' - | -- , - ; _ =~ ;-' ; ' ~-' ,' ~ ; ' - - 8]
Artinya:
Dari Sahl, Rasulullah saw. bersabda: aku dan orang yang memelihara anak yatim di surga kelak akan seperti ini.(seraya
menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya dan merenggangkan keduanya).
eempat, Ihsan kepada tetangga dekat, tetangga jauh, serta teman sejawat.
Ihsan kepada tetangga dekat meliputi tetangga dekat dari kerabat atau tetangga yang berada di dekat rumah, serta tetangga
jauh, baik jauh karena nasab maupun yang berada jauh dari rumah.
Adapun yang dimaksud teman sejawat adalah yang berkumpul dengan kita atas dasar pekerjaan, pertemanan, teman sekolah
atau kampus, perjalanan, ma`had, dan sebagainya. Mereka semua masuk ke dalam katagori tetangga. Seorang tetangga kaIir
mempunyai hak sebagai tetangga saja, tetapi tetangga muslim mempunyai dua hak, yaitu sebagai tetangga dan sebagai
muslim, sedang tetangga muslim dan kerabat mempunyai tiga hak, yaitu sebagai tetangga, sebagai muslim dan sebagai
kerabat. Rasulullah saw. menjelaskan hal ini dalam sabdanya: |9|
-~; ^--- =' _-~ --' , _- , ~ , - --~ ,- -- , '---= -- , ~'- '---= J'-:
J;~, ' - , - ; J- - , - - V =' ; , - - V ='; , - - V =' ; ^ - -' ; - ,' = , - - V --' J'- ='(-' ;,
- ~- ; ,' = - ' )
Artinya:
Dari Abu Syuraih bahwa Nabi saw. bersabda: demi Allah, tidak beriman, demi Allah, tidak beriman. Para sahabat bertanya,
'siapakah yang tidak beriman, ya Rasulullah?Beliau menjawab, 'seseorang yang tidak aman tetangganya dari
gangguannya. (HR. Bukhari dan Muslim)
elima, Ihsan kepada ibnu sabil dan pelayan
Rasulullah saw. bersabda mengenai hal ini:|10|
,- , , - _-'~ ,- ,-~= ,- ,'--~ '---= -|- , '---= --=- , =' -- '---=
-~; ^--- =' _-~ --' , - J'-: =' , -- ,' - , - ; - ,' = - - > - ,=7' ; --'; =' , - - ,' - , -
-~ - - ; ' ,- = J - -- - ,=7' ;--'; =' , - - ,' - , - ; ^ -- ~ ,- -- - ,=7' ; --';
Artinya:
Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. bersabda: Barangsiapa beriman kepada dan hari akhiratnya maka janganlah menyakiti
tetangganya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah memuliakan tamunya, dan barangsiapa
beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah berkata benar atau diam. (HR. Jama`ah, kecuali Nasa`i)
Selain itu, ihsan terhadap ibnu sabil adalah dengan cara memenuhi kebutuhannya, menjaga hartanya, memelihara
kehormatannya, menunjukinya jalan jika ia meminta, dan memberinya pelayanan.
Adapun muamalah terhadap pembantu atau karyawan dilakukan dengan membayar gajinya sebelum keringatnya kering,
tidak membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak sanggup melakukannya, menjaga kehormatannya, dan menghargai
pridainya. Jika ia pembantu rumah tangga, maka hendaklah ia diberi makan dari apa yang kita makan, dan diberi pakaian
dari apa yang kita pakai.
eenam, Ihsan dengan perlakuan dan ucapan yang baik kepada manusia.
Rasulullah saw. bersabda, sebagaimana disebutkan di atas bahwa: Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari iamat,
hendaklah ia berkata yang baik atau diam.
Bagi manusia secara umum, hendaklah kita melembutkan ucapan, saling menghargai dalam pergaulan, menyuruh kepada
yang makruI dan mencegahnya dari kemungkaran, menunjukinya jalan jika ia tersesat, mengajari mereka yang bodoh,
mengakui hak-hak mereka, dan tidak mengganggu mereka dengan tidak melakukan hal-hal dapat mengusik serta melukai
mereka.
etufuh, Ihsan dengan berlaku baik kepada binatang
Berbuat ihsan terhadap binatang adalah dengan memberinya makan jika ia lapar, mengobatinya jika ia sakit, tidak
membebaninya diluar kemampuannya, tidak menyiksanya jika ia bekerja, dan mengistirahatkannya jika ia lelah. Bahkan,
pada saat menyembelih, hendaklah dengan menyembelihnya dengan cara yang baik, tidak menyiksanya, serta menggunakan
pisau yang tajam.
3) Akhlak.
Ihsan dalam akhlak sesungguhnya merupakan buah dari ibadah dan muamalah. Seseorang akan mencapai tingkat ihsan
dalam akhlaknya apabila ia telah melakukan ibadah seperti yang menjadi harapan Rasulullah dalam hadits yang telah
dikemukakan di awal tulisan ini, yaitu 'menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, dan fika kita tidak dapat melihat-Nya,
maka sesungguhnya Allah senantiasa melihat kita`.Jika hal ini telah dicapai oleh seorang hamba, maka sesungguhnya itulah
puncak ihsan dalam ibadah. Pada akhirnya, ia akan berbuah menjadi akhlak atau perilaku, sehingga mereka yang sampai
pada tahap ihsan dalam ibadahnya akan terlihat jelas dalam perilaku dan karakternya.
Jika kita ingin melihat nilai ihsan pada diri seseorangyang diperoleh dari hasil maksimal ibadahnya, maka kita akan
menemukannya dalam muamalah kehidupannya. Bagaimana ia bermuamalah dengan sesama manusia, lingkungannya,
pekerjaannya, keluarganya, dan bahkan terhadap dirinya sendiri.
/. Hari Kiamat
Percaya akan datangnya hari kiamat termasuk salah satu rukun iman yang harus diyakini oleh semua orang yang beriman
meskipun tidak ada yang tahu kapan saatnya tiba. Bagi mereka yang beriman, misteri terjadinya hari kiamat tidak akan
mengurangi kadar keimanannya. Mereka justru lebih waspada dan senantiasa meningkatkan amal kebaikan untuk bekal
menghadapi-Nya.
Namun demikian, Rasulullah saw. memberikan dua tanda terjadinya kiamat, yakni jika hamba sahaya telah melahirkan
majikannya, dan jika penggembala onta dan ternak lainnya berlomba-lomba membangun gedung-gedung yang megah dan
tinggi.
Menurut sebagian ahli hadis, tanda-tanda kiamat itu lebih dari dua sebagaimana terdapat dalam hadis lain. Dengan kata lain,
kedua tanda kiamat tersebut merupakan tanda jangka panjang. Adapun tanda-tanda seperti terbitnya matahari dari arah barat
merupakan tanda jangka pendek.
Akan tetapi, hanya Allah saja yang tahu mengenai datangnya hari kiamat, sebagaimana tidak ada yang tahu, kecuali Allah
saja tentang turunnya hujan; apa yang ada dalam rahim seorang ibu; apa yang akan terjadi esok hari; dan di manakah
seseorang akan mati, sebagaimana dinyatakan dalam QS. Luqman (31): 34:
b) !$# /nyY Nu pt$9$# U`Iit\]ur y|otoo9$# Onet]ur $tB ` QtnF$# ( $tBur 'Is?
OotR #su$B Ao6s? #Yx ( $tBur 'Is? 6otR d'r`/ Ur& NqJs? 4 b) !$# iOSt 76yz IIE
Terjemahnya:
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan,
dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan
diusahakannya besok dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha
mengetahui lagi Maha Mengenal.
4. Fiqh al-Ha/is
1. Iman ialah percaya kepada Allah swt, para malaikat-Nya, pertemuan dengan Allah, para Rasul-Nya, percaya
kepada hari berbangkit dari kubur, dan percaya kepada qadha dan qadar.Islam ialah menyembah kepada Allah dan
tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun, mendirikan shalat, menunaikan zakat yang diIardhukan, berhaji,
dan berpuasa di bulan Ramadhan; dan Ihsan ialah menyembah kepada Allah seakan-akan kita melihat-Nya, kalau
tidak mampu melihat-Nya, harus diyakini bahwa Allah melihat kita.
2. Ketiga hal di atas, ditambah mempercayai terjadinya hari kiamat, yang tidak seorangpun mengetahuinya kecuali
Allah swt. merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam membentuk jiwa untuk mengabdi kepada
Allah sehingga mendapat keridhaan-Nya.
3. B. BERKURANGNYA IMAN DAN DAN ISLAM KARENA MAKSIAT (LM.36)
- ~ ' - ~ J' - , ~' | ~ ,' , - , -; - - , = J' - , ; ,' ' - - - = , _ -' ~ , - -= ' - - - = - - , -
J' - , V; - - - ~ --' ,' ; , -= ,-' -, - V J' - - ~ ; ^- - - ^ --' _ - ~ --' , ^- - ^ --' ~ , ,- , ;
_ ,' ~-' _ ,~ - V ; , - - ; ; ' | ,~- ,- = ,- =-' ~ ,~ - V ; , - - ; ; -, - ,- = -' ,-' _ ,~ - ,- =
- ; ;-';, _- -',; , -: ' | | - - ,- = ' |- - ,' ~ ^- - ,' --' -, - , ~, ~ ' - | - | - - V ;
, - - ; ; ,' ~ ' |- - ^- - ,' --' -, - | - | - - V ; , - - ; ; (74) _- , ' = - ' ^ =,= ):
,=, V,V' ; ~'~- V' ; ,~-- - ' ;,-=- ' ' - - :_-' =' J;- ~' (1) ,~V' ~' -
,' =- ~- ' J- - ,- ...)
Artinya
Ahmad ibn Shalih telah menceritakan kepada kami, Ibn Wahbi telah menceritakan kepada kami, ia berkata bahwa Yunus
telah menceritakan kepadaku dari Abi Syihab, ia berkata bahwa aku telah mendengar Abu Salamah ibn Abd al-Rahman dan
ibn al-Musayyab berkata bahwa Abu Hurairah r.a berkata bahwa Nabi saw.telah bersabda, 'tidak akan berzina seseorang jika
ia sedang beriman, dan tidak akan meminum khamar seseorang jika ia sedang beriman, dan tidak akan mencuri sesseorang
jika ia sedang beriman. Pada riwayat lain ditambahkan, 'Dan tidak akan merampas rampasan yang berharga sehingga
orang-orang membelalakkan mata kepadanya ketika merampas jika ia sedang beriman.
2. Biografi Perawi (lihat halaman lampiran).
3. Penjelasan Singkat
Orang yang beriman akan merasa bahwa segala tingkah lakunya senantiasa diawasi oleh Allah swt. Tidak ada suatu
perbuatan yang ia lakukan luput dari pengawasan Allah swt. Di samping itu, ia selalu sadar bahwa segala perbuatan yang
dilakukannya harus dipertanggung jawabkan dihadapan-Nya, dan ia sendiri yang akan menerima akibat dari perbuatannya,
baik ataupun buruk, sekecil apapun perbuatan itu. Hal ini disinyalir Allah dalam QS.az-Zalzalah (99): 7-8:
`yJsu yJet] tA$s)WB ~osu #\oyz /ntt] DE `tBur yJet] tA$s)WB ;osu #vx /ntt] E
Terjemahnya:
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang
mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.
Atas dasar kesadaran tersebut, maka orang yang benar-benar beriman senantiasa berusaha mengerjakan perbuatan yang baik
dan menghindari perbuatan yang dilarang oleh Allah swt. Seorang yang beriman tidak mungkin dengan sengaja melakukan
maksiat kepada Allah, karena ia merasa malu dan takut menghadapi azab-Nya serta takut tidak mendapatkan ridha-Nya.
Sebaliknya, orang yang tidak beriman kepada Allah swt.akan merasa bahwa hidupnya di dunia tidak memiliki beban apa-
apa. Ia hidup semaunya, dan yang penting baginya adalah ia merasa senang dan bahagia. Ia tidak memikirkan kehidupan
setelah mati kelak karena ia tidak mempercayainya. Dengan demikian, perbuatannya pun tidak terlalu dipusingkan oleh
masalah baik ataupun buruk. Kalaupun ia melakukan suatu perbuatan baik, maka perbuatannya tersebut bukan karena
mengharapkan ridha Allah swt. karena ia tidak percaya kepada-Nya.
Adapun bagi mereka yang menyatakan dirinya beriman, tetapi sering melakukan perbuatan dosa/maksiat, mereka merasa dan
mengetahui bahwa perbuatan yang dilakukannya adalah perbuatan dosa, tetapi mereka tidak berusaha untuk mencegah
dirinya dari perbuatan tersebut. Hal itu antara lain karena kuatnya godaan setan dan besarnya dorongan hawa naIsu untuk
melakukan perbuatan maksiat. Dalam keadaan seperti ini, ia tetap beriman, hanya saja keimanannya lemah (berkurang).
Semakin sering melakukan perbuatan dosa, semakin lemah pula imannya.
Keimanan seseorang adakalanya bertambah dan adakalanya berkurang ( -- - ~' ~ - ' ~- `').Oleh sebab itu, seyogyanya setiap
orang beriman berusaha untuk senantiasa memperbaharui keimanan dan ke-Islamannya. Hal ini bisa dilakukan antara lain
dengan selalu mengingat Allah dan mengerjakan perbuatan baik yang dan diridhai-Nya. Dengan demikian, keimanannya
relatiI akan stabil.
Selain itu, ia pun harus selalu ingat bahwa sekecil apapun perbuatan maksiat itu, maka ia akan mendapatkan balasan-Nya.
Meskipun di dunia dapat selamat dari akibat kemaksiatan yang dilakukannya, tapi ia tidak dapat mengelak dari balasan di
akhirat kelak. Allah berIirman dalam QS.an-Nisa` (4): 14:
tBur Eet] !$# /&s!quur yetGt]ur /nySrn &u#Az] #$tR #V$#yz $ygu /&s!ur U#xt
ugB IE
Terjemahnya:
Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah
memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.
Namun demikian, jika seorang hamba mau bertobat, selain ia kan mendapat ampunan Allah, juga dipastikan imannya akan
kembali utuh. Allah berIirman dalam QS.al-A`raI (7): 153:
t!$#ur (#qeHx N$tIh9$# OeO (#q/$s? .`B $ydet/ (#qZtB#uur b) y7/u .`B $ydet/ qatos9
OOm IE
Artinya:
Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, Kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; Sesungguhnya Tuhan kamu
sesudah Taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Tobat yang akan mendapat ampunan Allah swt. tentu saja tobat yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, yang dalam istilah
al-Qur`an disebut tobat nasuha. (Q.S. 66: 8).
4. Fiqh al-Ha/is
Hadis di atas mengisyaratkan bahwa keimanan seseorang akan terpantul dalam bentuk amal shaleh. Oleh sebab itu,
meningkat atau menurunnya amal shaleh yang diperbuat merupakan indikator menurun dan berkurangnya iman.
Orang yang betul-betul beriman tidak mungkin secara sengaja mengerjakan maksiat.Dengan demikian, seorang mukmin
yang melakukan perbuatan dosa seperti zina, mencuri, membunuh dan kemaksiatan-kemaksiatan lainnya, berarti dia sedang
tidak beriman atau imannya berada dalam titik terendah.Oleh karena itu, seyogianya setiap orang yang beriman selalu
memperbaharui keimanannya dengan selalu mengingat Allah dan melakukan berbagai perintah-Nya.
C. RASA MALU SEBAGIAN DARI IMAN (LM.22)
--' - - , -' ~ , - , ~' | ~ ,' , - , , - , 4 -' - ' - , = J' - ~ ~; - , ^ --' - - ' - - - = , ^- , - ^
- ~ ; ^- - - ^ --' _ - ~ ^ --' J; ~ , ^ --' J; ~ , J' - - -' - =-' - -' = = - ; ; ,' ~- V' , - , J = , _ - - , -
,' -- (' , - -' - =-' , - ^- - - ~ ; ^- - - ^ --' _ - ~. (' : _- , ' = - ' ^ =,= - `' ,'-- (' ~' -:
,'- -(' ,-- ' - =-' ~' ) .
1. Artinya
Abdullah ibn YusuI telah menceritakan kepada kami, ia berkata bahwa Malik ibn Anas telah mengabarkan kepada kami dari
ibn Syihab dari Salim ibn Abdillah dari ayahnya bahwa Nabi SAW melewati (melihat) seorang lelaki kaum Anshar yang
sedang menasehati saudaranya karena malu, maka Nabi SAW telah bersabda: 'Biarkanlah ia karena sesungguhnya malu itu
sebagian dari iman.
1. 2. Biografi periwayat (lihat halaman lampiran)
3. Penjelasan Singkat
Tujuan utama dari Risalah Islamiyah adalah untuk membentuk Insan Kamil, yaitu manusia yang seluruh aspek hidup dan
kehidupannya telah dijiwai oleh iman, Islam dan ihsan.Missi yang diemban Rasulullah berorientasi pada prinsipnya merujuk
kepada tujuan global, yaitu untuk menyempurnakan akhlak yang mulia dalam pengertian yang sangat luas.
Rasa malu merupakan salah satu siIat yang dianugerahkan Allah kepada manusia dan sekaligus merupakan salah satu siIat
yang membedakan manusia dengan binatang.Kadar rasa malu pada tiap-tiap orang berbeda-beda, dan motiI yang
menyebabkan orang malu juga sangat variatiI.Dengan demikian, malu kadang yang dapat dikategorikan sebagai siIat yang
baik, dan adapula kalanya dapat dikategorikan sebagai siIat tercela.Oleh sebab itu, siIat ini harus ditempatkan secara
proporsional.
Malu bukan hanya merupakan siIat dasar manusia, kan tetapi lebih dari itu termasuk dalam salah satu ciri orang yang
beriman dan simbol keberimanan seseorang. Oleh sebab itulah sehingga Rasulullah dalam hadis di atas menjadikan rasa
malu sebagai bagian dari iman.
Namun demikian, malu yang dimaksud dalam hadis di atas bukan dalam arti bahasa, tetapi arti malu di sini adalah malu
dalam mengerjakan hal-hal yang jelek dan bertentangan dengan syariat maupun norma-norma etika Islam. Hal itu dipertegas
oleh hadis lain:
, ,- ~ = , ,' ,- - - ~ J' - ; - -' ,' ; ~-' , - -' - , - ~ ' - -- = - ' - - - = --' J' - J' -
, - , ,- ~ J' - - , ,- = V - V -' - =-' - ~ ; ^- - - ^ --' _ - ~ ' ,'- ; -' - =-' , - , -- =-' - ~; - -
; - ~ ; ^- - - ^ --' _ - ~ ^ --' J; ~ , , - 4 - - = ,' ,- - ^ - J' - - -- - ~ -'- =-' , - , ; , - - - - =
4 -- = ~. (^- - - _- -).
Artinya :
Adam telah menceritakan kepada kami, Syu`bah telah menceritakan kepada kami, dari Qatadah dari Abi al-Sawwar al-
Adawiy ia berkata bahwa ia telah mendengar Imran bin Husain r.a berkata bahwa Rasulullah SAW telah telah bersabda:
'Malu itu tidak aka menimbulkan sesuatu kecuali kebaikan semata. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Sehubungan dengan makna malu sebagaimana yang disebutkan di atas, ulama merumuskan deIinisi malu sebagai berikut:
- ,- ~- -' , - -- - ; _- --' 4 , _ - -~ - _ - = -' - =- ' -- - = _ =-' - _ = _.
Artinya:
'Hakikat malu adalah siIat atau perasaan yang mendorong untuk meninggalkan perbuatan jelek dan menghalangi
mengurangi hak orang lain
Menurut Abu al-Qasim (Junaid), perasaan malu akan timbul bila memandang budi kebaikan dan melihat kekurangan diri.
Hampir senada dengan itu, al-Hulaimy berpendapat bahwa hakikat malu adalah rasa takut untuk melaksanakan kejelekan. Di
antara ulama, ada pula yang berpendapat, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibnu Hajar dalam kitab athu al-Bary bahwa
merasa malu dalam mengerjakan perbuatan haram adalah wajib; dalam mengerjakan pekerjaan makruh adalah sunnah; dan
dalam mengerjakan perbuatan yang mubah adalah kebiasaan/adat. Perasaan malu seperti itulah yang merupakan salah satu
cabang iman.|11|
Berdasarkan pengertian-pengertian yang dikemukakan ulama sebagaimana disebutkan di atas, dapat dipahami bahwa malu
dalam melakukan perbuatan baik tidak termasuk dalam kategori malu pada hadis ini. Demikian pula, tidak termasuk dalam
kategori ini jika malu untuk melarang orang lain berbuat kejelekan, karena Allah swt. sendiri tidak malu menerangkan
kebenaran. Sehubungan dengan hal ini Allah swt.berIirman dalam QS. al-Ahzab (33): 53:
(. !$#ur Yw /OtFoo, z`B Ed,yso9$# 4 .
Terjemahnya:
Dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar.
Al-Faqih Abu Laits al-Samarqandi mengklasiIikasin malu dalam syari`at Islam menjadi dua, yaitu:|12|
1. Malu kepada Allah swt., maksudnya ialah malu melakukan maksiat kepada Allah karena menyadari besarnya
nikmat Allah swt. yang dianugerahkan kepadanya.
2. Malu kepada sesama manusia, maksudnya menutup mata dari hal-hal yang tidak berguna.
Malu merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi manusia. Oleh sebab itu, jika manusia telah kehilangan rasa malunya,
maka ia tidak ada lagi bedanya dengan binatang. Kehilangan rasa malu akan menyebabkan orang menjadi permissiI,
sehingga membenarkan segala cara demi untuk kepuasan naluri kemanusiaannya dan bahkan naluri dankebinatangan yang
ada pada dirinya.
Berbagai penyimpangan yang terjadi terhadap hak-hak Allah dan hak-hak sesama manusia banyak dipengaruhi oleh
hilangnya rasa malu pada manusia.Ketiadaan rasa malu kepada Allah menyebabkan seseorang melakukan kemaksiatan
kepada Allah, dan ketiadaan rasa malu kepada Allah dan sesama manusia menyebabkan orang memperkosa hak-hak sesama
manusia.
4. Fiqh al-Ha/is
Malu dalam arti sebenarnya (menurut pandangan Islam) adalah malu dalam melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah
swt.dan yang dipandang jelek oleh manusia. Adapun orang yang merasa malu untuk melakukan perbuatan baik atau malu
menegur orang yang melakukan kejelekan tidak termasuk malu dalam kategori ini, tetapi justru termasuk perbuatan tercela.

|1|Ayat yang dibaca Nabi saw. tersebut terdapat dalam QS. Luqman (31): 34. Arti selengkapnya ayat tersebut: '
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan,
dan mengetahui apa yang ada dalam rahim, dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan
diusahakannya besok, dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha
mengetahui lagi Maha Mengenal.
|2|Abu al-Husain Ahmad bin Faris bin Zakariya al-Raziy, Mufam Maqayis al-Lugah, juz I, (Cet. I; Beirut: Dar al-Kutub al-
Ilmiyah, 1999), h. 72.
|3|Ahmad bin Ali bin Hajar Abu al-Fadhl al-Asqalaniy al-SyaIi`i, ath al-Bariy, juz I, ditahqiq oleh Muhammad Fuad Abd
al-Baqiy dan Muhib al-Din al-Khathib, (Beirut: Dar al-Ma`riIat, 1379 H.), h. 48.
|4| Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab al-Iman, Abu Dawud dalam kitab awwal kitab al-sunnah,
dan Imam dalam Musnad Umar bin al-Khattab.
|5|Toshihiko Izitsu, Ethico Religiuous Concepts in the "uran, diterjemahkan oleh Agus Fahri Husaindkk., dengan judul
onsep-konsep Etika Religius dalam "uran, (Cet. I; Yogyakarta: Tiara Wacana, 1993), h. 226.
|6|Ibid., h 120.
|7|Muhammad bin Ismailm al-Shan`aniy, Subul al-Salam, Juz IV, (Cet. IV; Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabiy, 1379 H.),
h. 164.
|8|Muhammad bin Ismail Abu Abdullah al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz V, (Cet. III; Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1987), h.
2032; Muhammad bin Isa Abu Isa at-Turmudzi, Sunan at-Turmud:i, juz IV, (Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabiy, t.th.), h.
321; Muhammad bin Hibban bin Ahmad Abu Hatim at-Tamimi al-Busti, Shahih Ibnu Hibban, juz II, (Cet. II; Beirut:
Muassasah al-Risalah, 1993), h. 207.
|9|Muhammad bin Ismail Abu Abdullah al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, op.cit., h. 2240; Muslim bin al-Hajjaj Abu al-Husain
al-Qusyairiy an-Naisaburi, Shahih Muslim, juz I, (Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabiy, t.th.), h. 68.
|10|Muhammad bin Ismail Abu Abdullah al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, op.cit., h. 2273.
|11| Ibn Hajar al-Asqalany, op.cit., h. 75.
|12|Al-Faqih Abu Laits Samarqandi, Tanhibul Ghafilin Pembangun Jiwa Moral Umat) penerjemah Abu Imam Taqiyuddin
(Malang: Dar al-Ihya, 1986) h.. 474.
BAB II
REALISASI IMAN DALAM
KEHIDUPAN SOSIAL
A. CINTA SESAMA MUSLIM SEBAGIAN DARI IMAN (LM. 4)
-' - , - ~ , - _ -= - ' - - - = J'- - - ~ - ' - - - = ^- - - ^ --' _ - ~ --' , - ^- - ^ --' ~ , , , - , -
- ~ ; ^- - - ^ --' _ - ~ --' , - , , - , - -' - ' - - - = J' - - --' , ,- ~ = , - ; - ~ ; - - = , - - V J' -
- = V = - _ = ^ ~- - - = - ' - ^.(,' --V: , '= -' . ( _-' ~- - ' ; --= ; - ~-; , '= - ' -' ;, .
7. ~- ' : _- '~--' .~- ' : -- =' . 67 : ,' -- V : -~-.
1. Artinya
Musaddad telah menceritakan kepada kami, ia berkata bahwa Yahya telah menceritakan kepada kami dari Syu`bah dari
Qatadah dari Anas r.a berkata bahwa Nabi saw. telah bersabda 'tidaklah termasuk beriman seseorang di antara kamu
sehingga mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.
H.R. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Nasai)
2. Biografi periwayat (lihat halaman lampiran)
3. Penjelasan Singkat
Iman dan amal shaleh ibarat dua sisi dari sekeping mata uang.Meskipun konsep iman itu siIatnya abstrak, tapi amal shaleh
yang lahir dari seseorang merupakan pantulan dari keimanan tersebut.Itulah sebabnya sehingga sejumlah ayat dalam al-
Qura`n selalu menyandingkan iman dengan amal shaleh. Tingkat keberimanan seseorang akan melahirkan prilaku-prilaku
kongkrit dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam hubungan itu, sehingga Rasulullah saw. dalam sejumlah hadis selalu mengaitkan tingkat kesempurnaan iman
seseorang dengan prilaku sehari-hari. Di antara prilaku yang dijadikan Rasulullah saw. sebagai parameter keberimanan
seseorang adalah sejauhmana tingkat kepeduliaan seseorang terhadap sesamanya manusia.
Hadis di atas menegaskan bahwa di antara ciri kesempurnaan iman seseorang adalah bahwa ia mencintai sesamanya seperti
mencintai dirinya sendiri. Kecintaan yang dimaksudkan di sini termasuk di dalam rasa bahagia jika melihat sesamanya
muslim mendapatkan kebaikan yang ia senangi, dan tidak senang jika sesamanya muslim mendapat kesulitan dan musibah
yang ia sendiri membencinya. Ketiadaan siIat seperti itu menurut hadis di atas menunjukkan kurang atau lemahnya tingkat
keimanan seseorang.
SiIat seperti yang disebutkan Rasullah dalam hadis tersebut hanya dapat terwujud jika seseorang terhindar dari siIat dengki
dan iri hati. Oleh sebab itu, hadis tersebut dapat dipahami secara terbalik bahwa orang yang menyimpan sikap dendam,
dengki dan iri terhadap sesamanya muslim termasuk orang yang tidak sempurna tingkat keimanannya. Hal tersebut
mengingat bahwa siIat dengki yang dimiliki seseorang terhadap sesamanya mengandung kebencian terhadap orang yang
mengunggulinya dalam hal-hal tertentu.
Seorang mukmin yang baik ialah apabila melihat kebaikan pada saudaranya, ia berharap mendapatkan kebaikan yang sama
tanpa mengharapkan nikmat itu hilang dari saudaranya. Jika melihat kekurangan pada saudaranya, maka ia berusaha
memperbaikinya, sebab orang mukmin dengan orang mukmin ibarat satu anggota tubuh yang saling melengkapi satu sama
lain.
Hadis di atas tidaklah berarti bahwa seorang mu`min yang tidak mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya berarti tidak
beriman sama sekali. Pernyataan ~ = ~ - `pada hadis di atas mengandung makna 'tidak sempurna keimanan seseorang`
jika tidak mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.Jadi, harf nafi V pada hadis tersebut bermakna
ketidaksempurnaan.
Di sisi lain, hadis di atas memberikan isyarat betapa besar penghargaan Islam terhadap persaudaaraan. Demikian besarnya
arti persaudaraan, maka Islam menjadikannya sebagai salah satu indikator keberimanan seseorang.Saudara yang
dimaksudkan dalam hadis di atas bukan hanya saudara yang diikat hubungan nasab, tetapi lebih dari itu, persaudaran yang
diikat oleh hubungan agama dan keimanan. Persaudaraan semacam ini adalah persaudaraan suci yang datang dari hati
nurani, yang dasarnya keimanan bukan motiI-motiI lain. Persaudaraan atas dasar keimanan dan keislaman merupakan
persaudaraan yang abadi dan tidak akan luntur selama keimanan dan keislaman tetap bersemayam di dalam hati dan diri
seseorang.
Dalam berbagai riwayat, Rasulullah saw. menjelaskan keutamaan dan keistimewaan yang dimiliki oleh orang yang saling
mencintai dan menyayangi atas dasar kecintaan kepada Allah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,
Rasulullah saw. bersabda sebagai berikut:
, -= ,-' - - , ^ --' - - , - ^- - - , - ' -- - , , - , 4 -' - , - , -- ~ , - - ' - - - =, , - - , , -
--' , - ~ ; ^- - - ^ --' _ - ~ ^ --' J; ~ , J' - J' - ,- , , - , ,' ~ - , -- ~ ~' =-' ; - J; - - ^
J = V ; - - = - | - = ; --' - > = ,; ' = --' ,- -' - --' - = V.(- ~- -' ;,)
Artinya:
Qutaibah bin Sa`id telah menceritakan kepada kami dari Malik bin Anas sebagaimana dibacakan kepadanya dari Abdillah
bin Abd al-Rahman bin Ma`mar dari Abi al-Hubab Sa`id bin Yasar dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw. telah
bersabda, 'pada hari kiamat Allah swt. akan berIirman: dimanakah orang yang saling berkasih sayang karena kebesaran-Ku,
kini Aku naungi di bawah naungan-Ku, pada saat tiada naungan kecuali naungan-Ku. H.R. Muslim)
Hadis di atas mengisyaratkan bahwa cinta yang mendatangkan kebahagiaan abadi adalah cinta yang dibangun atas dasar
keridhaan Allah swt.Orang yang membangun kecintaannya kepada sesamanya manusia karena Allah swt.akan mendapatkan
penghormatan istimewa di hari akhirat. Orang seperti ini senantiasa memandang bahwa kehidupan yang bermakna adalah
kehidupan yang memberi makna kepada orang lain. Dengan demikian, ia selalu memposisikan dirinya sebagai bagian dari
masyarakat, yang harus membangun suatu tatanan hidup untuk kebahagiaan bersama. Prinsip tersebut mengantarnya untuk
ikut merasakan apa yang dirasakan oleh saudaranya, baik kebahagiaan maupun kesengsaraan. Sikap seperti ini
menyebabkan terjadinya keharmonisan hubungan antar individu yang akan memperkokoh persatuan dan kesatuan.
Sehubungan dengan hal ini, Rasulullah saw. bersabda:
, - -, , ^ --' - - , -, , - ,' -- ~ ' - - - = J' - _ -= - , - > = ' - - - = _ ~; - , - - - =
-- -' - , - -- - , - --' , J' - - ~ ; ^- - - ^ --' _ - ~ --' , - ^ ' ~ 4 ~ ; ' ~ ^ ~ - ~ - ,'.(-' ;,
- ~- ; ,' = - ' ).
Artinya:
Khalad bin Yahya telah menceritakan kepada kami, ia berkata bahwa SoIyan telah menceritakan kepada kami dari Abi
Burdah ibn Abdillah ibn Abi Burdah dari kakeknya dari Abi Musa dari Nabi saw. telah bersabda: 'sesungguhnya antara
seorang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan bangunan yang saling melengkapi (memperkokoh) satu sama lain. H.R.
Bukhari dan Muslim.)
Tatanan masyarakat yang penuh cinta kasih tidak hanya sebatas konsep dan motivasi dari Rasulullah saw., tapi beliau sudah
terlebih dahulu mempraktekkannya dalam masyarakat Madinah pada peristiwa hijrah. Rasulullah mempersaudarakan mereka
atas dasar persaudaraan agama, sehingga jiwa mereka terpaut satu sama lain melebihi hubungan persaudaraan sedarah.
Kaum Anshar dengan tulus ikhlas menolong dan merasakan penderitaan yang dialami oleh kaum Muhafirin sebagai
penderitaannya.Perasaan seperti itu bukan didasarkan keterkaitan darah atau keluarga, tetapi didasarkan pada keimanan yang
teguh. Tak heran kalau mereka memberikan apa saja yang dimilikinya untuk menolong saudaranya dari kaum Muhafirin,
bahkan ada yang menawarkan salah satu istrinya untuk dinikahkan kepada saudaranya dari kaum Muhajirin.
Persaudaraan seperti itu mencerminkan betapa kokoh dan kuatnya keimanan seseorang.Ia selalu siap menolong saudaranya
seiman meskipun tanpa diminta, bahkan tidak jarang mengorbankan kepentingannya sendiri demi menolong saudaranya.
Perbuatan baik seperti itulah yang akan mendapat pahala besar di sisi Allah swt
Terjemahnya:
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menaIkahkan sehahagian harta yang kamu
cintai.dan apa saja yang kamu naIkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya.
Sebaliknya, orang-orang mukmin yang hanya mementingkan dirinya sendiri, dan tidak memiliki semangat ihsan terhadap
sesamanya, orang seperti itulah yang masuk dalam kategori tidak sempurna keimanannya, meskipun mereka taat dalam
menjalankan kewajiban-kewajibannya kepada Allah.Kesalehan seseorang tidak hanya diukur dengan parameter ketaatan
melaksanakan kewajiban individual terhadap al-Khaliq, tetapi juga harus dibarengi dengan hablum minan nas yang baik.
Perlu diingat kembali bahwa perintah untuk mencintai sesama muslim haruslah senantiasa berada dalam semanga ketaatan
kepada Allah. Tidaklah benar jika atas alasan menolong sesama manusia sehingga mengabaikan rambu-rambu Tuhan, sebab
tidak ada ketaatan terhadap makhluk dalam mendurhakai Allah.Oleh sebab itu, tidaklah dikategorikan berbuat baik kepada
sesamanya jika pertolongan yang diberikannya membantu orang tersebut dalam melakukan kemaksiatan kepada Allah, sebab
dalam kondisi seperti itu berarti memposisikan makhluk pada posisi Tuhan.
4. Fiqh al-Ha/is
Salah satu tanda kesempurnaan iman seorang mukmin adalah mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya
sendiri. Hal itu direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan berusaha untuk menolong dan merasakan kesusahan
maupun kebahagiaan saudaranya seiman yang didasarkan atas keimanan yang teguh kepada Allah SWT.
Dia tidak berpikir panjang untuk menolong saudaranya sekalipun sesuatu yang diperlukan saudaranya adalah benda yang
paling ia cintai. Sikap ini timbul karena ia merasakan adanya persamaan antara dirinya dan saudaranya seiman.
B. CIRI SEORANG MUSLIM TIDAK MENGGANGGU ORANG LAIN (AN: 3)
, J- -' -~ ; , - ~-' , ^ --' - - , - ~ ' - - - = J' - , ,' - , - ' - - - = ~-' , - , - -' =
-~ --' J' - - ~ ; ^- - - ^ --' _ - ~ --' , - ' - |- - ^ --' ~ , ;, ,- - , ^ --' - - , - ,; - -~ --' - ~ , -
^- - ^ --' _ | - ' - , = , - , =' | --' ; - - - ; ^ -' ~ - , - ; - ;' - ' - - - = - ;' - ; J' - ; ^ --' - - ; J' -
; ^- - - ^ --' _ - ~ --' , - ;, ,- - ,' - - ^ --' - - - ~ J' - , , -' - , - , -- ,' - - J' - ; - ~
- , - - ;' - , - _ -- -' - ~ ; ^- - - ^ --' _ - ~ --' , - ^ --' - - , - , , -'. (,'= -' - ';,
_- ' ~-- ' ;-;' - ; ; ).
1. Artinya
Adam bin Abi Isa telah mengabarkan kepada kami, ia berkata bahwa Syu`bah telah mengabarkan kepada kami dari
Abdullah bin Abi al-SaIIar dan Isma`il bin Abi Khalid dari al-Sya`biy dari Abdullah bin Umar r.a. berkata bahwa Nabi
SAW. telah bersabda: 'orang muslim adalah orang yang orang-orang Islam (yang lain) selamat dari lisan dan tangannya dan
orang yang hijrah adalah orang yang hijrah dari apa yang telah dilarang Allah swt. H.R. Bukhari, Abu Dawud, dan Nasai)
1. 2. Biografi Perawi (lihat lampiran)
2. 3. Penjelasan Singkat
Hadis di atas tampak sangat singkat tetapi berisi pesan moral yang sangat sarat dengan makna. Inti pesan dalam hadis
tersebut ada dua, yaitu: membangun hubungan antar manusia (hablum minan nas) yang harmonis, dan membina aktivitas
dalam bingkai ketaatan kepada Allah (hamblum minallah).
!08,3 5079,2, yang tekandung dalam hadis di atas adalah memberi motivasi agar umat Islam senantiasa berlaku baik
terhadap sesamanya muslim dan tidak menyakitinya, baik secara Iisik maupun hati. Mengingat pentingnya hubungan baik
dengan sesama muslim, maka Rasulullah saw. menjadikannya sebagai ciri tingkat keislaman seseorang. Orang yang tidak
memberikan rasa tenang dan nyaman terhadap sesamanya muslim dikategorikan orang muslim sejati.
Hadis di atas tidaklah bertolak belakang dengan hadis tentang rukun Islam, yang nota benenya jika telah terpenuhi maka
seseorang sudah dianggap muslim. Hadis di atas lebih berorientasi moral (moral oriented) bahwa muslim yang sejati tidak
hanya memenuhi rukun Islam secara Iormal, tetapi keislaman yang benar ialah di samping terpenuhinya rukun Islam, juga
harus senantiasa tercermin dalam segala tingkah lakunya nilai-nilai moral yang islami.
Keislaman seseorang belumlah dianggap sempurna dan sejati jika hanya terpaku pada ibadah ritual sebagai kewajibannya
terhadap Allah swt., lalu meremehkan hubungannya dengan sesama manusia. Ajaran Islam tidak sepenuhnya berdimensi
Ilahiyah, tetapi juga berdimensi insaniyah, meskipun semuanya bermuara kepada ketaatan kepada Allah swt.Oleh sebab itu,
berlaku baik kepada sesama manusia juga merupakan bagian dari ajaran Islam yang tidak dapat diabaikan.
Menyakiti sesama manusia mempunyai bentuk yang bermacam-macam.Namun dalam hadis di atas hanya menyebutkan dua
anggota tubuh secara simbolik.Penggunaan tangan untuk gangguan Iisik kepada secara metaIora karena tanganlah yang
paling banyak menyakiti manusia.Selain itu, lidah merupakan bagian dari anggota tubuh yang paling banyak menyakiti hati
sesama manusia.
Oleh sebab itu, seorang muslim yang sejati harus mampu menjaga dirinya sehingga orang lain selamat dari kezaliman atau
perbuatan jelek tangan dan mulutnya. Dengan kata lain, ia harus berusaha agar saudaranya sesama muslim tidak merasa
disakiti oleh tangannya, baik Iisik seperti dengan memukulnya, merusak harta bendanya, dan lain-lain ataupun dengan
lisannya.
Adapun menyakiti orang lain dengan lisan, misalnya dengan memIitnah, mencaci, mengumpat, menghina, dan lain-lain.
Perasaan sakit yang disebabkan oleh lidah lebih sulit dihilangkan daripada sakit akibat pukulan Iisik.Tidak jarang terjanya
perpecahan, perkelahian, bahkan peperangan di berbagai daerah akibat tidak dapat mengontrol lidah. Salah satu pepatah
Arab menyatakan:
,' ~ --' =- = - ,' ~- (' - > ~
Artinya: 'Keselamatan seseorang terletak sejauhaman ia menjaga lisannya.
Dengan demikian, seseorang harus berusaha untuk tidak menyakiti saudaranya dengan cara apapun dan kapan pun.
Sebaliknya, ia selalu berusaha menolong dan menyayangi saudaranya seiman sesuai dengasn kemampuan yang dimilikinya.
Hal itu karena menjaga orang lain, baik Iisik maupun perasaan sangat penting dalam Islam.
Mengingat bahaya yang ditimbulkan oleh lisan, maka Allah swt.mengancam akan menggugurkan nilai pahala sedekah
seseorang yang senantiasa menyakiti hati sesamanya dengan berbagai bentuknya. Sehubungan dengan hal ini.Allah
swt.berIirman dalam QS. al-Baqarah (2): 264:
$yg]r`t] t!$# (#qZtB#u Yw (#qe7e? N3Gsy,' d`yJo9$$/ 3'suF$#ur .
Terjemahnya:
'Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan
menyakiti (perasaan si penerima) . . .
Setiap muslim hendaknya berhati-hati dalam bertingkah laku. terhadap sesamanya manusia. Allah sangat mencela segala
bentuk perbuatan yang tidak proporsional. Segala tindakan dan perbuatan akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di
akhirat. Allah berIirman dalam QS.al-Isra (17): 36:
wur #o)s? $tB }os9 y7s9 /m/ iOu 4 b) yiJ9$# u,t7o9$#ur y#xsao9$#ur . y7Is9re& tbx.
mYt ZwqotB IE ( -' ~`' : )
Terjemahnya:
'Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran,
penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.
Sayyid Quthub dalam mengomentari ayat di atas mengatakan bahwa meskipun ayat tersebut redaksinya sangat singkat,
namun mengandung metode ilmiah yang lebih unggul dari metode ilmiah yang dikenal manusia saat ini. Keunggulan metode
yang terkandung dalam ayat tersebut karena dalam proses penelitian tidak hanya melibatkan indera dengan dan indera
penglihatan, tetapi lebih dari itu, melibatkan hati manusia dan kontrol Tuhan dalam segala aktivitas penelitian.
Al-Qur`an menganjurkan agar dalam proses pengambilan kesimpulan terhadap semua berita dan Ienomena, agar senantiasa
berhati-hati dan teliti. Ketergesa-gesaan dalam mengambil kesimpulan tidak jarang mengakibatkan seseorang menyesal
seumur hidup dan bahkan bisa menjadi pintu kebinasaan. Jika segala langkah dalam proses pengambilan kesimpulan didasari
dengan kehati-hatian, maka kemungkinan untuk terjerumus dalam kesalahan sangat kecil, kalaupun terjadi kekeliruan maka
akibatnya tidak terlalu besar.
Oleh sebab itu, dalam berbicara harus senantiasa penuh pertimbangan, sebab sejumlah hadis Rasulullah saw. mensinyalir
bahwa lidah merupakan anggota tubuh yang sangat potensial memasukkan orang ke dalam neraka. Dalam sebuah riwayat,
Nabi saw. bersabda:
.' - = ~' = -`~= -~ %' ~= '-`~= -`' ~~=~ - '-`~: %' .~ .& ~ = ~ -= %' _- . =~ - ' ~ ' ' -'
' - -' = .& ~ =' = %' - . . =~ - ' ~ ' ' -' -'. '- ' -' ' -'(~ ' -' )
Artinya:
Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah saw. dintanya tentang hal yang banyak mengakibatkan orang masuk surga, lalu Nabi
menjawab: ketakwaan kepada Allah dan akhlak yang baik. Selanjutnya beliau ditanya tentang hal yang banyak
mengakibatkan masuk neraka, beliau menjawab: lidah dan kemaluan. (HR. Turmudzi)
Pesan edua yang terkandung dalam hadis di atas adalah melakukan aktivitas dalam bingkai ketaatan kepada Allah
swt.Hadis tersebut menyebutkan hijrah secara simbolik tetapi mengandung pengertian yang sangat luas. Secara tekstual
hadis di atas menyebutkan bahwa hijrah yang sesungguhnya adalah meninggalkan apa yang dimurkai Allah swt. Pengertian
itu pulalah yang terkandung dalam hijrah Rasulullah saw., yaitu meninggalkan tanah tumpah darahnya karena mencari
daerah aman yang dapat menjamin terlaksananya ketaatan kepada Allah swt. Oleh sebab itu, orang yang meninggalkan
kampung halaman dan berpindah ke daerah yang tidak ada jaminan bagi terlaksananya ketaatan kepada Allah tidak termasuk
dalam pengertian hijrah dalam pengertian syariat, meskipun secara bahasa mengandung pengertian tersebut.
Hijrah juga dapat diartikan sebagai perjalanan panjang untuk meraih masa depan yang lebih cerah. Dapat juga diartikan
sebagai perjalanan panjang untuk mendapatkan ridha-Nya.Untuk menempuh suatu perjalanan diperlukan bekal yang
cukup.Bekal tersebut dalam Islam adalah akidah yang kuat. Orang yang kuat imannya tidak akan mudah tergelincir pada
perbuatan yang menyimpang perintah-Nya. Jika tergelincir kepada perbuatan yang salah, ia segera berhijrah dari perbuatan
jelek tersebut kepada perbuatan-perbuatan baik, sesuai perintah-Nya.
1. 4. Fiqh al-Ha/is
Di antara ciri kesempurnaan keislaman seseorang adalah tidak menyakiti saudaranya seiman dalam berbagai bentuknya, baik
dengan kekerasan Iisik maupun lisan.Selain itu, orang Islam sejati ialah orang yang berusaha keras untuk berhijrah (pindah)
dari perbuatan-perbuatan yang dimurkai Allah kepada perbuatan-perbuatan yang diridhai-Nya.
C. REALISASI IMAN DALAM MENGHADAPI TAMU (AN: 47)
- = , ' - = , - - = = = ' ' - ` ~ = , ~- ~ - ' - ` ~ = ` =' -' ' ~ - ' ~ ~ - = ' _ - ' . ~ .' .'
' ' ~ - ' ~ -- - - =' -' ' ~ - ' ~ - '' - =' - ~- - ' - = . - -. ('=' - ').
Artinya
Qutaibah bin Sa`id telah menceritakan kepada kami, Abu al-Ahwash telah menceritakan kepada kami, dari Abu Hashin, dari
Abu Shalih, dari Abu Hurairah r.a, ia berkata: Rasulullah saw. telah bersabda: 'Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan
hari akhir, hendaklah memuliakan tamunya; barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berbuat baik
kepada tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diamH.R.
Syaikhani dan Ibnu Mafah)
2. Biografi Perawi
BiograIi Abu Hurairah telah dibahas pada Bab 1
3. Penjelasan Singkat
Hadis di atas menyebutkan tiga di antara sekian banyak ciri dan sekaligus konsekuensi dari pengakuan keimanan seseorang
kepada Allah swt.dan hari akhirat. Ketiga ciri yang dimaksudkan adalah: memuliakan tamu, menghormati tetangga, dan
berbicara yang baik atau diam. Meskipun keimanan kepada Allah dan hari akhirat merupakan perbuatan yang bersiIat
abstrak, namun keimanan tidak berhenti sebatas pengakuan, tetapi harus diaplikasikan dalam bentuk-bentuk nyata. Hadis di
atas hanya menyebutkan tiga indikator yang menggambarkan sikap seorang yang beriman, dan tidak berarti bahwa segala
indikator keberimanan seseorang sudah tercakup dalam hadis tersebut.
Demikian pula, ciri-ciri orang beriman yang disebutkan dalam hadis di atas tidaklah berarti bahwa orang yang tidak
memenuhi hal itu diklaim sebagai orang yang keluar dari keimanan, sehingga orang yang tidak memuliakan tamu dan
tetangga, serta tidak berkata yang baik dianggap tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Maksud hadis di atas bahwa
ketiga siIat yang disebutkan dalam hadis termasuk aspek pelengkap keimanan kepada Allah dan hari akhir-Nya.Ketiga siIat
tersebut di atas jika diwujudkan dengan baik, mempunyai arti sangat besar dalam kehidupan sosial.
Ciri orang beriman yang disebutkan dalam hadis di atas, adakalanya terkait dengan hak-hak Allah swt., yaitu melaksanakan
kewajiban-kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan, seperti diam atau berkata baik, dan adakalanya terkait dengan
hak-hak hamba-Nya, seperti tidak menyakiti tetangga dan memuliakan tamu.
a. Memuliakan Tamu
Yang dimaksud dengan memuliakan tamu adalah memperbaiki pelayanan terhadap mereka sebaik mungkin.Pelayanan yang
baik tentu saja dilakukan berdasarkan kemampuan dan tidak memaksakan di luar dari kemapuan.Dalam sejumlah hadis
dijelaskan bahwa batas kewajiban memuliakan tamu adalah tiga hari tiga malam.Pelayanan lebih dari tiga hari tersebut
termasuk sedekah. Hal itu didasarkan pada sabda Rasulullah saw.:
- ~' , - ~ = , ~- ~ ~- ~ = '- ' - ` ~ = , ~- ~ - ' - ` ~ = ~ - = ' -- = - ' - ~ ~ .' .' - ~ - = ' _ - ' .
' . ~ ' - &'' ' ~ ' ' &'' -- - - =' -' ' ~ - ' ~ ' ' ~ , ' - ` ` ` ' - -' - ~ - .' - = ~ - + -' .
(- = - ~)
Artinya:
Qutaibah bin Sa`id telah menceritakan kepada kami, Laits telah menceritakan kepada kami, dari Sa`id bin Abi Sa`id, dari
Abi Syuraih al-`Adawiy, berkata, Saya telah mendengar Rasulullah saw. bersabda: 'siapa yang beriman kepada Allah dan
hari kemudian, ia harus menghormati tamunya dalam batas kewajibannya. Sahabat bertanya, 'yang manakah yang masuk
batas kewajiban itu ya Rasulullah?Nabi menjawab, batas kewajiban memuliakan tamu itu tiga hari tiga malam, sedangkan
selebihnya adalah shadaqah.Mutafaq Alaih)
Dalam batas kewajiban tersebut, tuan rumah wajib memberikan pelayanan berupa makanan sesuai dengan kemampuannya
tanpa ada unsur memaksakan diri. Pelayanan tamu termasuk kategori naIkah wajib, dan tidak wajib kecuali bagi orang yang
mempunyai kelebihan naIkah keluarga.Selain itu, termasuk kategori memuliakan tamu ialah memberikan sambutan yang
hangat dan senantiasa menampakkan kerelaan dan rasa senang atas pelayanan yang diberikannya.Sikap yang ramah terhadap
tamu jauh lebih berkesan di hati mereka dari pada dijamu dengan makanan dan minuman yang mahal-mahal tetapi disertai
dengan muka masam. Memuliakan tamu di samping merupakan kewajiban, ia juga mengandung aspek kemuliaan akhlak.
Sebaliknya, seorang yang bertamu juga harus senantiasa memperlihatkan sikap koperatiI dan akhlak yang baik, sehingga
orang yang menerimanya merasa senang melayaninya. Adapun etika bertamu yang harus diperhatikan antara lain:
1) Masuk ke rumah orang lain atau tempat perjamuan, harus memberi salam, dan atau memberi hormat menurut adat dan
tata cara masing-masing masyarakat.
2) Masuk ke dalam rumah melalui pintu depan, dan diperjamuan melalui pintu gerbang yang sengaja disediakan untuk
jalan masuk bagi tamu.
3) Ikut berpartisipasi dalam acara yang diadakan dalam suatu perjamuan, selama kegiatan itu tidak bertentangan dengan
ajaran Islam.
4) Duduk setelah dipersilahkan, kecuali di rumah sahabat karib atau keluarga sendiri.
5) Duduk dengan sopan.
Jika tamu yang datang bermaksud meminta bantuan atas suatu masalah yang dihadapinya, maka kita harus memberinya
bantuan sesuai kemampuan.Bahkan meskipun tamu bersangkutan tidak mengadukan kesulitannya jika hal itu kita ketahui,
maka kita berkewajiban memberikan bantuan dalam batas kemampuan yang kita miliki.
Jika ketentuan-ketentuan seperti disebutkan di atas dilaksanakan oleh segenap umat Islam, maka dengan sendirinya terjalin
keharmonisan di kalangan umat Islam.Keharmonisan di antara umat Islam merupakan modal utama dalam menciptakan
masyarakat yang aman dan damai.
-. Memuliakan Tetangga
Istilah tetangga mempunyai pengertian yang luas, mencakup tetangga yang dekat maupun jauh.Tetangga merupakan orang-
orang yang terdekat yang umumnya merekalah orang pertama yang mengetahui jika kita ditimpa musibah dan paling dekat
untuk dimintai pertolongan di kala kita kesulitan.Oleh karena itu, hubungan dengan tetangga harus senantiasa diperbaiki.
Saling kunjung mengunjungi antara tetangga merupakan perbuatan terpuji, karena hal itu akan melahirkan kasih sayang
antara satu dengan yang lainnya.
Berbuat baik kepada tetangga dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan memberikan pertolongan,
memberikan pinjaman jika ia membuthkan, menengok jika ia sakit, melayat jika ada yang meninggal, dan lain-lain. Selain
itu, sebagai tetangga kita juga harus senantiasa melindungi mereka dari gangguan dan bahaya, memberinya rasa tenang.
Dalam hadis sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi saw. menggambarkan pentingnya memuliakan
tetangga sebagai berikut:
- = .' , ~- ~ _ -= - = ' ~ - ` ~ = .' , - .- =' ~~ ' - ` ~ = - = ' _ - -' = ' +- = ' - &' = = ~ = = , ~ ~ = ~
` - ~ - - - _ = '' .- ' -- - - .' ' ~ .' ~ .
Artinya:
Isma`il bin Abi Uways telah menceritakan kepada kami, ia berkata bahwa Malik telah menceritakan kepadaku, dari Yahya
bin Sa`id, ia berkata Abu Bakr bin Muhammad telah mengabarkan kepadaku dari Amrah, dari A`isyah r.a. bahwa Nabi
saw. bersabda: 'Malaikat Jibril senantiasa berwasiat kepadaku (untuk memuliakan) tetangga sehingga aku menyangka
bahwa Jibril akan memberi keada tetangga hak waris.
Perintah berbuat baik kepada tetangga juga disinyalir dalam berbagai ayat Alqur`an, antara lain Iirman Allah dalam QS. An-
Nisa (4): 36:
. ot$!uqo9$$/ur $YZ,m) 'E/ur 4`n1a)o9$# 4`yJtGuSo9$#ur EA3,yJo9$#ur I$pgo:$#ur 'u
4`n1a)o9$# I$pgo:$#ur EYaIo9$# Em$A9$#ur E/ZyIo9$$/ Eoo$#ur E69$# $tBur Ms3ntB
N3ZyJ]r& 3 b) !$# Yw tf `tB tbY2 Zw$tFo]eC #q,su IE
Terjemahnya:
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-
bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat,
ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-
banggakan diri.
Di antara akhlak yang terpenting kepada tetangga adalah:|1|
1) Menyampaikan ucapan selamat ketika tetangga sedang bergembira
2) Menjenguknya tatkala sakit
3) Berta`ziyah ketika ada keluarganya yang meninggal
4) Menolongnya ketika memohon pertolongan
5) Memberikan nasehat dalam berbagai urusan dengan cara yang ma`ruI, dan lain-lain.
Kenyataan historis menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang sangat menghormati hak-hak tetangga dalam
perspektiI Hak Asasi Manusia.Dalam hubungan ini, kehadiran Muhammad sebagai pembawa ajaran Islam merupakan
pembebasan manusia dari berbagai bentuk penindasan manusia atas manusia. Dalam Piagam Madinah dinyatakan sebagai
berikut:
'(40) Segala tetangga yang berdampingan rumah harus diperlakukan sebagai diri sendiri, tidak boleh diganggu
ketentramannya, dan tidak diperlakukan salah.(41) Tidak seorangpun tetangga wanita boleh diganggu ketentraman atau
kehormatannya, melainkan setiap kunjungan harus dengan izin suaminya.|2|
.. Ber-i.ara Baik atau Diam
Berbicara merupakan perbuatan yang paling mudah dilakukan tetapi mempunyai kesan yang sangat besar, baik ataupun
buruk.Ucapan dapat membuat seseorang bahagia, dan dapat juga menyebabkan orang sengsara, bahkan binasa. Orang yang
selalui menggunkan lidahnya untuk mengucapkan yang baik, menganjurkan kebaikan dan melarang perbuatan-perbuatan
jelek, membaca al-Qur`an dan buku-buku yang bermanIaat dan sebagainya, akan mendapatkan kebaikan atas apa yang
dilakukannya. Sebaliknya, orang yang menggunakan lidahnya untuk berkata-kata jelek atau menyakiti orang lain, ia akan
mendapat dosa, dan bahkan tidak mustahil akan membawa bahaya dan kebinasaan bagi dirinya. Oleh sebab itulah sehingga
Rasulullah memerintahkan untuk berkata baik, dan jika tidak mampu mengucapkan yang baik maka diam merupakan pilihan
terbaik.
Mengingat besarnya bahaya banyak bicara, Rasulullah saw. mengemukakan nilai sikap diam. Sehubungan dengan hal ini
Rasulullah saw. bersabda:
.' , - =: .' : %' . ~ .' .: =' .- ~ = ~"- '. (- -- ~ - _- +- ' '= - ='~- . ~ ~ - - )
Artinya:
Dari Anas, ia berkata, telah bersabda Rasulullah saw., 'diam itu suatu sikpa bijaksana, tetapi sedikit orang yang
melakukannya. H.R. oleh al-Baihaqi, dengan sanad dhaif, dan memang betul bahwa hadis tersebut mauquf sebagai
ucapan Luqman Hakim).
Orang yang menahan banyak berbicara kecuali dalam hal-hal baik, lebih banyak terhindar dari dosa dan kejelekan, daripada
orang yang banyak berbicara tanpa membedakan hal yang pantas dibicarakan dan yang tidak pantas dibicarakan. Bahkan,
dinyatakan oleh Rasulullah saw. yang dikutip oleh Imam al-Ghazali:
" ' _ ~ - - - - ~ _ ~. (- -~ - - = _~ - ~ ' --~ - ' )
Artinya:
'Barangsiapa yang menjaga perut, Iarji, dan lisannya, maka dia telah menjaga seluruh kejelekan.H.R. Abu Manshur al-
Dailamy dari Anas dengan sanad dhaif).
Ketiga hal yang disebutkan di atas merupakan perbuatan paling banyak mengkibatkan orang celaka yang salah satu di
antaranya adalah banyak bicara.Namun demikian, tidaklah berarti bahwa sikap diam itu selamanya baik, sebab hadis di atas
bukanlah memerintahkan untuk diam, tetapi hanya menyarankan untuk memilih diam jika ucapan yang benar sudah tidak
mampu diwujudkan.Yang paling bijaksana adalah menempatkan kedua kondisi tersebut sesuai dengan porsinya dan
sejauhmana memberikan kemanIaatan. Dalam sebuah pepatah Arab dikatakan:
' - ~ , .' - ~ . .' ' ~ , ' - ~ .
Artinya:
'Tiap-tiap kondisi ada perkataan yang tepat, dan tiap-tiap ucapan ada tempatnya.
Demikian pentingnya ucapan yang baik sehingga Allah swt.mensinyalir bahwa ucapan yang baik jauh lebih berharga
daripada perbuatan yang tidak didasari oleh keikhlasan. Dalam QS. Al-Baqarah (2): 163 Allah swt. berIirman:
Aqs $reB otootBur yz `iB 7psy,' !$yget7Kt] '|ur& 3 !$#ur ;OIx OOSym IE
Terjemahnya:
Perkataan yang baik dan pemberian maaI lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan
si penerima).Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.
Ayat tersebut memberikan motivasi untuk senantiasa berkata yang baik kepada orang lain, meskipun tidak mampu
memberikan sesuatu yang bersiIat materil kepada mereka. Ayat itu pula menuntun agar tidak menghardik orang yang
meminta bantuan dan pertolongan kepada kita, sebab tidak memenuhi permintaan mereka tetapi dengan kata-kata yang baik,
akan lebih menyenangkan hati mereka dari pada permintaannya dipenuhi tetap disertai dengan caci maki.
5. Fiqh al-Ha/is
Untuk kesempurnaan iman dan sebagai salah satu tanda keimanan kepada Allah swt.dan hari akhir, seorang mukmin harus
memuliakan tetangga, tamu, dan berkata yang baik atau memilih diam jika tidak mampu mengucapkan yang baik.

|1| Haya Binti Mubarak Al-Barik, Mausuah Al-Maratul Muslimah (penerjemah Amir Hamzah Fachruddin (Jakarta: Darul
Falah, t.t), h. 129.
|2|H. Zainal Abidin Ahmad, Piagam Nabi Muhammad Saw, onstitusi Negara Tertulis Yang Pertama di Dunia, (Cet. I;
Jakarta: Bulan Bintang, 1973), h. 28.




















Ha/its Tentang Memelihara Persau/araan
Apr 10
Posted by chekie
Semangat persaudaraan di antara sesama Muslim hendaknya didasari karena Allah semata, karena ia akan menjadi barometer
yang baik untuk mengukur baik-buruknya suatu hubungan. Rasulullah bersabda, 'Pada hari kiamat Allah berIirman:
Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari yang tiada naungan selain naungan-Ku ini,
aku menaungi mereka dengan naungan-Ku. (RiwayatMuslim)
Dalam hadits lain Rasulullah bersabda, 'Barangsiapa yang bersaudara dengan seseorang karena Allah, niscaya Allah akan
mengangkatnya ke suatu derajat di surga yang tidak bisa diperolehnya dengan sesuatu dariamalnya. (Riwayat Muslim)
Dalam keterangan yang lain Nabi Muhammad menjelaskan, 'Di sekeliling Arsy terdapat mimbar-mimbar dari cahaya yang
ditempati oleh suatu kaum yang berpakaian dan berwajah (cemerlang) pula. Mereka bukanlah para nabi atau syuhada, tetapi
nabi dan syuhada merasa iri terhadap mereka.Para sahabat berkata, 'Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami tentang
mereka.Beliau menjawab, 'Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai, bersahabat, dan saling mengunjungi karena
Allah. (Riwayat Nasa`i dari Abu Hurairah Radhiallahu anhu)
BAB II
PEMBAHASAN
% ' _- - ' ~ - ' = ~ - = %' _ - %' . ~ . ' : . ' ' ~ +- :
_=' ~ -= _ ~' ' ' ~ ' .' ~ +- ' ~ ' +~ = ' _ - - ~ ~ '
&~' &' : ' = ' '=' ) . _~ = ' + ' -~ ' & '~ : &' + ' ' - ' ~= &' )
Artinya : 'An-Nu`man bin Basyir berkata, Nabi SAW. Bersabda, Anda akan melihat kaum mukminin dalam kasih saying
dan cinta-mencintai, pergaulan metreka bagaikan satu badan, jika satu anggotanya sakit, maka menjalarlah kepada lain-lain
anggota lainnya sehingga badannya terasa panas dan tidak dapat tidur. Dikeluarkan oleh Bukhori : (78) kitab
'Tatakrama,(27) bab: 'Kasih sayang kepada Manusia dan Binatang)
Hadits di atas menggambarkan hakikat antara hubungan sesama kaum muslimin yang begitu eratnya menurut Islam.
Hubungan antara mereka dalam hal kasih saying, cinta, dan pergaulan diibaratkan hubungan antara anggota badan, yang satu
sama lain saling membutuhkan, merasakan, dan tidak dapat dipisahkan. Jika salah satu anggota badan tersebut sakit, anggota
badan lainnya ikut merasakan sakit.
Dalam hadits lain dinyatakan bahwa hubungan antara seorang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan
yang saling melengkapi. Bangunan tidak akan berdiri kalau salah satu komponennya tidak ada ataupun rusak. Hal itu
menggambarkan betapa kokohnya hubungan antara sesame umat Islam.
Itulah salah satu kelebihan yang seharusnya dimiliki oleh kaum mukmin dalam berhubungan anatara sesame kaum
mukminin.SiIat egois atau mementingkan diri sendiri sangat ditentang dalam Islam.Sebaliknya umat Islam memerintahkan
umatnya untuk bersatu dan saling membantu karena persaudaraan seiman lebih erat daripada persaudaraan sedarah. Itulah
yang menjadi pangkal kekuatan kaum muslimin, setiap muslim merasakan penderitaan saudaranya dan mengulirkan
tangannya untuk membantu sebelum diminta yang bukan didasrakan atas 'take and give tetapi berdasarkan Illahi.
Salah satu lanadsan utama yang mampu menjadikan umat bersatu atau bersaudara ialah persamaan kepercayaan atau akidah.
Ini telah dibuktikan oleh bangsa Arab yang sebelum Islam selalu berperang dan bercerai-berai tetapi setelah mereka
menganut agama Islam dan memiliki pandangan yang sama baik lahir maupun batin, merka dapat bersatu.
Menurut M Quraisy Shihab, berdasarkan ayat-ayat yang ada dalam Al-Qur`an, ada empat macam bentuk persaudaraan :
1. Ukhuwah ubudiyyah atau saudara kesemakhlukan dan ketundukan kepada Allah.
2. Ukhuwah Insaniyyah (basyariyyah) dalam arti seluruh umat manusia adalah bersaudara karena berasal dari seorang ayah
dan ibu. Rasulullah SAW juga menekankan hal ini melalui sebuah hadits :
- - _ =' = ' -' ) '- '= ' %' ~ ' = ' - )
3. Ukhuwah Wathaniyah wa an-nasab, yaitu persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaan.
4. Ukhuwah Ii ad-din al-Islam, persaudaraan muslim. Rasulullah SAW bersabda :
.' ' - -' =' _ ' =- - ~ - -
Artinya :
'Kalian adalah saudara-saudaraku, saudara-saudara kita adalah yang dating sesudah (waIat)ku.
Persaudaraan dalam Islam mengandung arti cukup luas tetapi persaudaraan antar sesama muslim adalah pertama dan sangat
utama. Sebagiamana disebutkan dalam ayat :
' = ' ) =' - ~ ~' ' ~-' : )
Artinya :
'Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. (Q.S. Al-Hujurat : 10)
Dalam syari`at Islam banyak ajaran yang mengandung muatan untuk lebih mempererat tali persaudaraan dan solidaritas
sesama umat Islam.
Betapa penting silaturahmi dalam kehidupan umat islam terutama dalam pendidikan. Hal ini karena menyambung
silaturahmi berpengaruh terhadap pendidikan karena bekal hidup di dunia dan akhirat, orang yang selalu menyambung
silaturhami akan dipanjangkan usianya dalam arti akan dikenang selalu.
Orang yang selalu bersilaturahmi tentunya akan memiliki banyak teman dan relasi, sedangkan relasi merupakan salah satu
Iactor yang akan menunjang kesuksesan seseorang dalam berusaha. Selain dengan banyaknya teman akan memperbanyak
saudara dan berarti pula ialah meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Hal ini karena telah melaksanakan perintah-Nya,
yakni menghubungkan silaturahmi. Bagi mereka yang bertakwa Allah akan memberikan kemudahan dalam setiap
urusannya. Allah SWT berIirman :
..` ' ) . . =- ` '-= ~ - . '' =~ . - %' - ~ : )
Artinya :
Barang siapa yang bertakwa pada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari
arah yang tiada disangka-sangka.
(Q.S. Ath-Thalaq: 2-3)
Bagi mereka yang suka silaturahmi akan dipanjangkan usianya adalah sangat logis meskipun memerlukan pemahaman dan
persepsi yang berbeda. Memang benar umur manusia itu sudah dibatasi dan tidak ada seorang pun yang mampu mengubah
kehendak Allah. Akan tetapi dengan banyaknya silaturahmi, akan banyak berbuat kebaikan dengan sesama manusia yang
berarti pula akan semakin banyak mendapatkan pahala.
Banyak silaturahmi pun akan menumbuhkan rasa kasih sayang anatra sesama dan menimbulkan ghairah hidup tersendiri
karena ia banyak saudara yang akan bahu membahu dalam memecahkan berbagai problematika hidup yang selalu mengikuti
manusia.
Sudah menjadi sunnatullah bahwa hubungan sesame manusia tidaklah selamanya baik, ada problem dan pertentangan.Hidup
adalah perjuangan, tantangan, pengorbanan, dan sekaligus perlombaan anatar sesama manusia.Tidak heran kalau terjadi
gesekan antar sesama dan tidak mungkin dapat dihindarkan.
Namun demikian, gesekan atau permusuhan tersebut jangan sampai diperpanjang hingga melebihi tiga hari yanag ditandai
dengan tidak saling menegur sapa dan saling manjauhi.Hal ini tidak dibenarkan dalam ajaran Islam.
Memang benar setiap manusia memiliki ego dan gengsi sehingga hal ini sering mengalahkan akal sehat akan tetapi untuk
apa mempertahankan gengsi bila hanya menyebabkan pelanggaran aturan agama dalam berhubungan dengan sesama.
Di antara cara eIektiI untuk membuka kembali hubungan yang telah terputus adalah dengan mengucapkan salam sebagai
tanda dibukanya kembali hubungan kekerabata. Ini bukan bahwa orang yang memulai salam berarti telah kalah tetapi ia telah
melakukan perbuatan sangat mulia dan terpuji di sisi Allah SWT.
BAB III
KESIMPULAN
Salah satu lanadsan utama yang mampu menjadikan umat bersatu atau bersaudara ialah persamaan kepercayaan atau akidah.
Ini telah dibuktikan oleh bangsa Arab yang sebelum Islam selalu berperang dan bercerai-berai tetapi setelah mereka
menganut agama Islam dan memiliki pandangan yang sama baik lahir maupun batin, merka dapat bersatu.
Betapa penting silaturahmi dalam kehidupan umat islam terutama dalam pendidikan. Hal ini karena menyambung
silaturahmi berpengaruh terhadap pendidikan karena bekal hidup di dunia dan akhirat, orang yang selalu menyambung
silaturhami akan dipanjangkan usianya dalam arti akan dikenang selalu.















BAB III
IKHLAS BERAMAL
A. NIAT/MOTIVASI BERAMAL (RS: 1)
' , ~- ~ _ -= - ' - ` ~ = .' ' -- ~ ' - ` ~ = .' - "' ' ~ = " ~- ~ =' ' - ` ~ = - = .' " ' -- . - - '- ' ,' ~ - = ~ ~ - " ~- ' -' ~ ~ = ~
- = ' _ - ' . ~ ~ ~ .' - ~' _ = - = ' - &' =' ~ = ~ ~' ~ - . - - ~ -' ~ - ' ~ , ~' . ' ~ - ' - -' .' ~='
' + - - - ' -- ~ -' ~ ~ ' _ + ~ ' _ ' ~ _ + ' +' - , ~' - ''. ( = -_ = - ~)
1. Artinya
Al-Humaidiy Abdullah bin al-Zubair telah menceritakan kepada kami, ia berkata, SuIyan telah menceritakan kepada kami,
ia berkata, Yahya bin Sa`id al-Anshariy telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Muhammad bin Ibrahim al-Taimiy telah
mengabarkan kepadaku bahwa ia telah mendengar Alqamah bin Waqqash al-Laytsiy berkata, aku telah mendengar Umar
bin Khattab r.a. berkata di atas mimbar, ia berkata bahwa dia mendengar Rasulullah SAW telah telah bersabda:
'Sesungguhnya amal dinilai berdasarkan niat, dan setiap orang mendapatkan sesuatu sesuai dengan niatnya. Maka
barangsiapa berhijrah semata-mata karena taat kepada Allah dan Rasulullah-Nya, maka hijrah itu dinilai sebagai hijrah
karena ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrah karena mengharapkan keuntungan dunia, atau
karena perempuan yang akan dikawininya, maka hijrahnya dinilai berdasarkan apa yang ia niatkan dalam berhijrah. H.R.
Bukhari dan Muslim)
2. Biografi Perawi (lihat halaman lampiran)
4. Penjelasan Ha/is
Hadis di atas diucapkan oleh Rasulullah saw. sebagai jawaban atas pertanyaan seorang sahabat yang terkait dengan motiI
keikutsertaannya dalam hijrah. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa sabab wurud hadis ini terkait dengan hijrahnya
Rasulullah saw. dari Mekah ke Madinah. Dalam peristiwa tersebut, sejumlah besar sahabat ikut serta dengan Nabi saw.
untuk berpindah (hijrah) ke Madinah. Di antara para sahabat yang ikut bersama Nabi saw., ada salah seorang di antara
mereka yang ikut serta, tapi niat keikutsertaannya bukan motiI menyelamatkan aqidah dan memperjuangkan dakwah Islam,
tapi karena ia mengikuti seorang wanita pujaan yang akan dikawinianya yang kebetulan hijrah bersama Rasulullah saw. ke
Madinah. Menurut riwayat, wanita tersebut bernama Ummu Qais. Pada awalnya, laki-laki tersebut tidak berniat hijrah
bersama Rasulullah saw., tapi karena wanita pujaannya bertekat hijrah dan memutuskan siap dikawini di Madina. Atas dasar
tersebut maka laki-laki itu ikut serta bersama rombongan muhajirin ke Madinah, meskipun motiInya lain, yaitu menikahi
wanita pujaannya. Setelah sampai di Madinah, kasus tersebut ditanyakan kepada Nabi saw. apakah orang tersebut
mendapatkan pahala hijrah sebagaimana pahala yang diperoleh oleh sahabat-sahabat lain. Maka Rasulullah saw. bersabda
bahwa: amal seseorang dipahalai berdasarkan niat, sebagaimana yang tercantum dalam hadis yang disebutkan di atas.
Dalam perspektiI syariat, niat adalah komitmen tulus yang terlepas dari segala interest (kepentingan) materi dan
duniawi.Sejalan dengan konsep tersebut, para ulama mengemukakan pengertian niat dengan redaksi yang berbeda-beda. Di
antara mereka ada yang mendeIinisikan niat sebagai berikut:
- ' - - ~ , - ~ . ~- - -'
Artinya:
'Niat adalah keinginan melakukan sesuatu yang diberbarengi dengan mewujudkannya
DeIinisi lain:
~ = .''~' %' ' - -' ` . -' = - +' ~' ~' ` '.
Artinya:
'Keinginan yang ditujukan untuk mengerjakan suatu perbuatan dengan mengharapkan ridha Allah swt.dan menjalankan
hukum-Nya.
Berdasarkan hadis di atas dan memperhatikan kedua deIinisi yang dikemukakan, tampak bahwa niat dalam ajaran Islam
mempunyai arti yang sangat penting, sebab ia merupakan kunci kebermaknaan amal di sisi Allah. swt. Semua bentuk
perbuatan yang orientasinya adalah mengharap pahala dari Allah swt.hanya dapat dinilai jika didasari dengan niat. Niat
itulah yang menentukan nilai dan kualitas sebuah perbuatan.Pahala yang diperolehnya pun sesuai dengan yang menjadi
motivasi dalam melakukan perbuatan tertentu.Dengan demikian, niat menurut syariat ialah 'pengharapan semata-mata hanya
kepada Allah swt.dan melepaskan segala motiI duniawi dalam melakukan suatu perbuatan.
Sesuai penjelasan di atas, maka perbuatan yang mendapatkan pahala hanyalah perbuatan yang sejalan dengan perintah Allah
saw. Dengan demikian, meskipun sesuatu itu dilakukan dengan niat yang ikhlas, tetapi perbuatan tersebut bertentangan
dengan perintah Allah saw. atau melanggar aturan Allah swt., maka perbuatan tersebut sudah tentu tidak termasuk dalam
kategori niat yang dikehendaki dalam hadis di atas. Jadi, inti niat yang benar adalah harus sesuai dengan perintah Allah swt.
Berdasarkan deIinisi niat sebagaimana disebutkan di atas, maka kasus hijrah karena motiI meraup keuntungan dunia atau
hanya termotivasi mengawini seorang wanita dalam hijrahnya, maka ia tidak akan mendapatkan pahala dari hijrah yang
dilakukan, sebab tidak didasari keikhlasan karena Allah swt. Sebaliknya, hijrah yang didasari motiI mendapat keridhaan
Allah swt, akan mendapatkan nilai hijrah tersebut, di samping mendapatkan keuntungan duniawi yang tidak menjadi tujuan
utamanya.
Berdasarkan kronologis wurudnya hadis ini, hijrah yang dimaksud dalam hadis di atas adalah hijrah Nabi saw. secara khusus
bersama kaum muslimin meninggalkan kota Mekah menuju kota Madinah. Peristiwa tersebut terjadi karena Nabi saw. dan
para sahabat yang ikut bersama beliau berkeinginan untuk menyelamatkan missi dan dakwah Islam yang setiap saat
mendapat ronrongan dari kaum kuffar dan bahkan berkeinginan untuk menghalanginya gerak perkembangannya. Lebih dari
itu, dalam berbagai kasus, orang-orang kaIir Mekah sudah sampai ke tingkat keinginan untuk membinasakan Nabi saw.
Menyadari ancaman tersebut dan tekat untuk tetap menjalankan missi yang diembannya, maka Nabi saw. beserta sehijrah
secara tekstual yang terkandung dalam hadis di atas, yaitu hijrah Iisik dari dar al-kuffar (daerah kaIir) ke dar al-islam
(daerah Islam).
Namun demikian, setelah kasus hijrah Nabi saw. dan para sahabatnya sebagai mana disebutkan di atas, bukanlah berarti
bahwa peluang untuk meraih pahala hijrah sudah berakhir. Tapi kasus yang sama dalam pengertian hijrah untuk
menyelamatkan aqidah yang terancam oleh lingkungan yang bobrok biasa dikategorikan sebagai hijrah dalam pengertian
pertama tadi. Bahkan, hijrah dalam pengertian yang luas dapat di diartikan berpindah dari perbuatan mungkar (kemaksiatan)
kepada ketaatan. Namun yang jelas, dalam bentuk apa pun perwujudan hijrah itu, niat akan tetap menjadi ukuran persyaratan
utama dalam melakukan hijrah tersebut. Apapun yang mendasari dilakukannya sesuatu, maka itu pulalah yang akan
didapatkan orang bersangkutan.
Dengan demikian, jelaslah bahwa niat mempunyai arti sangat penting dan menjadi syarat sah atau tidaknya suatu ibadah.
Semua bentuk aktiIitas dalam Islam yang berorientasi mencari keridhaan Allah swt., baik siIatnya ibadah khusus (ibadah
mahdhah) seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan lain-lain, maupun bentuk-bentuk kegiatan yang diniatkan ibadah (ibadah
ghair mahdhah) menjadikan niat sebagai rukun pertama dalam segala rangkaiannya. Apapun yang mendasari dilakukannya
sebuah aktiIitas, maka itu pula yang menjadi penilaian di sisi Allah swt.
Ditinjau dari sisi teologi, niat mengandung arti mengesakan Allah swt. (tauhid)dalam arti menghindari segala sesuatu yang
bernuansa syirik, baik yang siIatnya syirik besar (al-syirk al-akbar) mapun syirik kecil (al-syirk al-ashgar). Kedua bentuk
syirik tersebut merupakan lawan dari keikhlasan.Oleh sebab itu, ulama menggolongkan perbuatan yang dilakukan dengan
riya sebagai salah satu bentuk syirik kecil terhadap Allah Allah swt. Shalat misalnya jika dilakukan disamping menjalankan
kewajiban sebagai seorang muslim, juga mengharapkan dari pelaksanaanya itu penghargaan dan penilaian manusia, maka
hal itu termasuk merusak kemurnian niat dan termasuk syirik kecil.
Mengingat bahaya syirik dalam bentuk apapun, maka Allah swt.menegaskan dalam Iirman-Nya dalam QS. Al-Bayyinah
(98): 5:
!$tBur (#rEDe& w) (#r6eu9 !$# tAAo]eC &s! te$!$# u!$xuZm (#qJE)]ur no4qnA9$#
(#qe?s]ur no4qx.'9$# 4 y79sur ` pyJIhs)o9$# E ( : --' )
Terjemahnya :
'Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam
(menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah
agama yang lurus.
Dalam kitab Islamuna Sayid Sabiq mendeIinisikan istilah ikhlas sebagai berikut:
`=` ': ~ _ ' , = - - ~ ' - ~ -' ' %' ' - ~' +' ~ = - '- -`' ~ -- - , "' ' , "~ - ' , += ~ ' , - ' , -'' - = - ~' - -
%' ~' ~ . - - `= ' . &' .' ~=' &' - -.
Artinya:
'Ikhlas adalah bahwa manusia semata-mata mengharapkan ridha Allah swt.dari perkataan, perbuatan, dan jihadnya, tanpa
mengharapkan materi, popularitas, julukan, perhatian, superioritas, atau pamrih, agar manusia terhindar dari
ketidaksempurnaan amal dan akhlak tercela, sehingga langsung berhubungan dengan Allah swt.
Niat pada prinsipnya adalah sesuatu yang bersiIat abstrak.Niat bersemayam di dalam hati masing-masing orang. Tidak ada
yang mampu mengetahui apa yang menjadi niat seseorang melakukan sesuatu kecuali Allah sendiri, sebab ia Maha
Mengetahui yang tampak maupun yang tersembunyi. atau motivasi itu bertempat di dalam hati. Jika sesuatu dilakukan
dengan niat yang baik, Allah pasti mengetahuinya, dan demikian pula sebaliknya.Sehubungan dengan hal ini Allah
swt.beIirman dalam QS. Ali Imran (3): 29:
e b) (#qa,e?$tB ` Na2Ir' rr& nr6e?mJnet] !$# . 3 ~OE
Terjemahnya:
'Katakanlah: 'Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah
Mengetahui.
Meskipun niat merupakan sesuatu yang abstrak, namun Allah swt.menjadikannya sebagai prioritas penilaian. Aspek
lahiriyah bisa saja direkayasa oleh manusia untuk mendapatkan penghargaan sesama manusia, tetapi aspek niat tidak bisa
direkayasa. Meskipun tidak tampak bagi manusia, tapi ia tampak bagi Allah swt. Berkaitan dengan pentingnya aspek niat,
Nabi saw,.bersabda dalam sebuah riwayat Imam Muslim sebagai berikut:
-' ~- - = ' -' ' - ` ~ = , ' -' ' - ` ~ = ~ ' -' ~ = ' - ` ~ = =- - ` ' ~ - = ' _ - ' . ~ .' .' - = _
' ~= _ =- - ' ~ -.( ~ -' )
Artinya.
Amru al-Naqid telah menceritakan kepada kami, Katsir bin Hisyam telah menceritakan kepada kami, Ja`Iar bin Burqan
telah menceritakan kepada kami, dari Yazid bin al-Asham, dari Abu Hurairah r.a ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:
'Sesungguhnya Allah swt. tidak melihat bentuk badan dan rupamu, tetapi menilai niat dan keikhlasan dalam hatimu. H.R.
Muslim)
Hal-hal yang bersiIat materi sering menipu pandangan orang.Adakalanya kepentingan dunia menodai hasil akhir dari segala
amal ibadah manusia. Seeorang yang melakukan amal shaleh tetapi diselubungi dengan kepentingan duniawi, maka orang
tersebut bisa saja mendapatkan apa yang menjadi kepentingannya di dunia, tetapi pahala akhirat tidak diperolehnya karena
tidak disertai dengan ikhlas dalam perbuatannya. Fenomena seperti ini disinyalir oleh Allah swt.dalam QS. Hud (11): 15-16:
`tB tbx. ]I] no4quSyso9$# $uR9$# $uhtFt`]ur Ae$uqR NIks9) NgnyJr& $pk u oOedur
$pk u Yw tbqYy,7] E y7Is9re& t!$# }o s9 Nlm; Iot AzFy$# w) $Y9$# ( xY7ymur $tB (#qeuZ,'
$pk u t/ur $B (#qR$ 2 tbqeyJet E ( ~ : ` `)
Terjemahnya:
Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan
mereka di dunia dengan Sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh
di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang Telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah
mereka kerjakan.
Berdasarkan ayat di atas, tampak dengan sangat jelas bahwa seseorang yang melakukan kebajikan karena memburu
kepentingan duniawi belaka, maka amalan yang diperbuatnya tidak lebih dari Iatamorgana yang secara sepintas menjanjikan
kebahagiaan, tapi pada hakikatnya hanya baying-bayang semua yang akan mengakibatkan kekecewaan. Oleh sebab itu,
bukanlah suatu yang mustahil jika seseorang dalam hidupnya di dunia banyak melakukan kebaikan tapi tidak secara ikhlas,
namun di akhirat tidak menemukan yang menjadi dambaannya.Kenyataan sepeti ini juga dipertegas Allah swt.dalam QS. Al-
Furqan (25): 23:
!$uZoBsur 4`n) $tB (#qeJt `B 9yJt moYuyeyIsu |!$t6yd #qeWYB IE ( : ' - ' )
Terjemahnya:
Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.
Sebaliknya, perbuatan yang dilakukan dengan ikhlas di sisi Allah tidak pernah rugi.Bahkan amal yang dilakukannya
mendapat ganjaran berlipat ganda dan kebahagiaan abadi.Janji seperti ini ditegaskan Allah swt.dalam bentuk tasybih
(perumpamaan) dalam QS. Al-Baqarah (2): 265-266:
sWtBur t!$# scqa)Y] Ngs9uqoBr& u!$toG/$# AV$,tB !$# $\G7o|s?ur `iB NgAaRr&
EsVyJx. `pYy ~ouq/t/ $ygt/$,'r& /#ur Ms?$tsu $ygna2e& EuxeA b*su N9 $pk:AA] /#ur
ssu 3 !$#ur $yJ/ tbqeyJes? AAt/ E Suqt]r& Na2tnr& br& scq3s? /ms9 pYy `iB 9S,R
5~$oYr&ur 'IIs? `B $ygFoss? ygRF$# /ms9 $ygu `B Eea2 NtyJW9$# mt/$,'r&ur y9A3o9$#
/&s!ur p]Iheu !$xyea !$ygt/$,'r'su $,A) mu $tR MsutIm$$su 3 s9xx. Uuit7] !$# Na6s9
Mt]Fy$# N3yes9 scr3xtGs? E
Terjemahnya:
Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya Karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa
mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran Tinggi yang disiram oleh hujan lebat, Maka kebun itu menghasilkan
buahnya dua kali lipat. jika hujan lebat tidak menyiraminya, Maka hujan gerimis (pun memadai). dan Allah Maha melihat
apa yang kamu perbuat. Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, Kemudian datanglah
masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang
mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu
memikirkannya.
Mengakhiri pembahasan ini, ada baiknya merenungkan kata bijak ulama salaI dalam hal niat, seperti dikutip M. Yunan
Nasution dalam buku Pandangan Hidup 2, sebagai berikut:
- -' ~ = , - - ., ~ = &
., ~ = & - -' - - , - .
arena niat kerapkaliamal yang kecil bernilai besar
arena niat pulaseringkali amal yang besar bernilai kecil
5. Fiqih Al-Ha/is
Segala bentuk amal yang diperbuat dinilai oleh Allah swt.berdasarkan niat yang mendasari perbuatan tersebut. Dua orang
yang melakukan satu perbuatan yang sama, bisa saja mendapat pahala yang berbeda sesuai tingkat keihklasan masing-
masing dari kedua orang tersebut.
Hijrah sebagai salah satu bentuk amal yang mempunyai nilai perjuangan yang sangat istimewa, pelakunya bisa saja tidak
mendapatkan nilai hijrah jika hal itu dilakukan dengan motiI duniawi semata dan hanya ingin mendapat popularitas dan
penghargaan dari manusia.Oleh sebab itu, dalam Islam, niat dan motiI yang melatar belakangi dilakukannya suatu perbuatan
sangat menentukan diterima atau tidaknya nya suatu perbuatan (ibadah).Allah swt.hanya menerima amal ibadah yang
didasari keikhlasan dan semata-mata mengharap ridha-Nya.
B. MEN1AUHI PERBUATAN YANG RIYA/SYIRIK KECIL (BM: 1512)
' ~ = .' ~= ' ~ = ' - ` ~ = _- = ' =~ ' - ` ~ = = &' '- ~ =' ' ~ ' ~' ~ = -' = = , ~ = ~ = = ~' - '
.' , ~- ~ ~= ~ =: ~ .' ~ - = ' _ - ' .: ' ' - ' ' - = ' = ' ~ = : .' - ' ' ' ~ ' . ~ ' -: -' - '.
~' ' ' - . - - _ ' ' ' ~- = ~ . ' =-' ' --"~' ' ~= -' - - ' _ ' ' + ' ~= -' ' .(~- ~ ~~ = ' =
=)
Artinya:
'Abdullah berkata, aku menemukan hadis ini dalam kitab ayahku yang ia tulis dengan tangannya sendiri, Ishaq bin 'Iysa telah
menceritakan kepada kami, 'Abd al-Rahman bin Abi al-Zanadi telah menceritakan kepada kami, dari 'Amri bin Abi 'Amri,
dari 'Ashim bin 'Umar bin Qatadah, dari Mahmud Bin Lubaid bahwa Rasulullah saw. telah bersabda: Sesuatu yang paling
aku khawatirkan di antara kamu adalah syirik kecil. Para sahabat bertanya, apa itu syirik kecil wahai Rasulullah? Rasulullah
saw. menjawab: yaitu riya'. Allah swt.berIirman pada hari amal hamba-hamba dibalas: pergilah kepada orang yang kalian
pernah riya melakukan amal di dunia karena orang tersebut, lalu lihatlah apakah mereka memberi balasan? H.R. Ahmad
dengan sanad hasan)
2. Biografi periwayat (lihat halaman lampiran)
3. Penjelasan Singkat
Riya berasal dari kata yang arti dasarnya adalah (melihat). Riya dalam bentuk mashdarnya berarti' tindakan
memperlihatkan atau memamerkan sesuatu. Riya dalam pengertian istilah syariat adalah melakukan ibadah bukan dengan
niat menjalankan kewajiban dan menunaikan perintah Allah swt., melainkan bertujuan untuk mendapat perhatian orang, baik
untuk tujuan popularitas, mendapat pujian, atau motiI-motiI selain karena Allah swt.
Riya merupakan suatu kondisi yang bertolak belakang dengan ikhlas, dalam pengertian bahwa jika unsur riya ada dalam
suatu perbuatan maka otomastis keikhlasan akan berkurang nilainya, dan bahkan bisa hilang sama sekali. Orang yang
beribadah didasari oleh unsur riya tidak akan mendapat pahala dari Allah swt., karena motiI ibadahnya tidak lagi murni
karena Allah melainkan karena makhluk-Nya. Mengingat bahaya dari riya, maka Rasulullah saw. dalam hadis yang
disebutkan di atas menggolongkannya dalam kelompok syirik kecil. Hal tersebut karena dia melaksanakan pengabdian
kepada Allah swt.dalam ibadah yang dilakukannya, tetapi di balik pengabdian tersebut dia melibatkan makhluk Allah swt.
sebagai mitivasi dalam perwujudan ibadahnya kepada Allah, sehingga pengabdiannya tidak lagi ikhlas karena Allah swt.
Sehubungan dengan pentingnya keikhlasan dalam melaksanakan ibadah, Imam Mujahid berkata bahwa: '
Amal tanpa niat adalah sia-sia
Niat tanpa didasari keikhlasan adalah riya`
Keikhlasan tanpa dibarengi dengan ilmu bagaikan debu beterbangan tanpa arah
Amalan yang dilakukan atas dasar riya tak ubahnya dengan perbuatan orang-orang munaIik, yang aspek luarnya
menampakkan ketaatan tapi aspek bathinnya penuh dengan penipuan dan kepalsuan. Dengan kata lain, hakikat amal mereka
adalah penipuan belaka, karena ibadah yang mereka lakukan bukan karena menjalankan perintah dan mengharapkan ridha-
Nya, melainkan untuk mendapatkan penilaian manusia. SiIat orang munaIik seperti ini disinyalir oleh Allah swt.dalam
Iirman-Nya:
b) tE)uZJo9$# tbqs]f !$# uqedur Ngyz #su)ur (#qB$s `n) Io4qnA9$# (#qB$s
4`n$,. tbr!#t] }$Z9$# Ywur scr.t] !$# w) WxSs IE
Terjemahnya:
Sesungguhnya orang-orang munaIik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka, dan apabila mereka berdiri
untuk shalat mereka berdiri dengan malas, mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka
menyebut Allah kecuali sedikit sekali.
Riya merupakan perbuatan yang sangat berbahaya terhadap ibadah seseorang. Bahkan dalam statusnya sebagai salah satu
bentuk kemusyrikan kecil, pelakunya bukan hanya tidak dipahalai, tapi lebih dari itu akan mendapat siksa yang sangat pedih
di akhirat. Hal ini disinyalir dalam sebuah hadis panjang yang riwayatkan oleh imam Muslim sebagai berikut:
' ' - ` ~ = ' =' ~ ' = ' - ` ~ = " ` ' =' ,- = _ -= - ' - ` ~ = - - = ' -' - .' , ' - ' ~- ~ = ~ - - - - ` ~ = , _- ' .' - .'
~ - = ' _ - ' . ~ ~ ~ ~ ''- ~ = ' -` ~ = - ' ' +"- '' . ' - _ -- - ' -' . . - - ~ - = ' _ - ' . ~ ~ ~ - .' ~' - -
' .' ' +- ~ = ' ~ .' ' + ~ - ~ + ~' .' - = = ~ ` .- ~ - - ' .' - - ' - .' ~ + ~' _ = -
-' ~ = ' .' ' -' - _ = +' _ =' -' - ~ = ' ~ .' ' +- ~ = ' ~ .' ' + ~ - .
` .- ~ - ' .' - - -' ' = .' - - ' ~ - ~ ~ -'= - = ' ~ .' ' -' - _ = +' _ = =
~ ' ~ .' ' +- ~ = ' ~ .' ' + ~ - .' ~' ' -- " = , .- ~ ~' ' .' - - - .' ' +- - -- ` ' +- -- -
= , = " = -' - ` ~ = ' -' - ` +' _ = = ~ ` .- ~ - - '' =' ' - ' ~- ~ = ~ - - - - ` ~ = , _- ' ' = , ~ ~ = ~ ' -
'- ~ = .' ~ '- ~ =' ' "_ ~'' .' - .' - - = ' -' ' - .' , ' - ' =' ~ ' = .( ~ -' )
Artinya:
Yahya bin Hubaib al-Haritsiy telah menceritakan kepada kami, Khalid bin al-Harits telah menceritakan kepada kami, Ibn
Juraij telah menceritakan kepada kami, Yunus bin YusuI telah menceritakan kepadaku, dari Sulaiman bin Yasar berkata,
setelah meninggalkan majelis Abu Hurairah, seorang penduduk Syam berkata: wahai tuan, sampaikan kepada kami sebuah
hadis yang tuan dengar dari dari Rasulullah saw. Abu Hurairah r.a berkata bahwa Rasulullah saw. telah bersabda,
Sesungguhnya manusia yang pertama kali diadili di hari kiamat adalah seseorang yang mati syahid di jalan Allah, maka ia
didatangkan dan diperlihatkan nikmat-nikmat (sebagai pahalanya), kemudian ia melihatnya seraya dikatakan (kepadanya),
amalan apakah yang engkau telah lakukan sehingga memperoleh nikmat-nikmat itu? Ia menjawab, 'aku berperang karena-
Mu (Ya Allah), sehingga aku mati syahid. Allah menjawab, engkau dusta, tapi kamu berbuat (yang demikian itu) supaya
kamu dikatakan sebagai pahlawan.Kemudian Allah memerintahkan malaikat lalu menyeret mukanya dan mencampakkannya
ke dalam neraka; Seseorang yang diberi oleh Allah swt.harta benda yang bermacam-macam, kemudian ia di datangkan dan
diperlihatkan nikmat itu (sebagai pahalanya) lalu ia melihatnya seraya dikatakan (kepadanya), amal apakah yang engkau
lakukan sehingga memperoleh nikmat itu? Ia menjawab, aku tidak pernah meninggalkan inIak di jalan yang Engkau ridhai
(Ya Allah), melainkan aku berinIak hanya karena-Mu. Lalu Allah swt. menjawab: engkau dusta, tapi kamu berbuat (yang
demikian itu) supaya kamu dikatakan dermawan, kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeret mukanya dan
mencampakkannya ke dalam neraka; dan seorang lagi menuntut ilmu dan mengajarkannya atau membaca al-Qur'an, maka ia
didatangkan dan diperlihatkan nikmat-nikmat itu (sebagai pahalanya) lalu ia melihatnya seraya dikatakan (kepadanya),
amal apakah yang engkau lakukan sehingga memperoleh nikmat itu? Ia menjawab: aku menuntut ilmu dan
mengajarkannya, dan membaca Al-Qur'an (hanya) untuk-Mu (Ya Allah). Kemudian Allah swt.menjawab: engkau dusta,
tapi engkau menuntut ilmu supaya dikatakan pintar dan engkau membaca (al-Qur'an) itu supaya dikatakan sebagai qari,
kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeret mukanya dan mencampakkannya ke dalam neraka. H.R. Muslim)
Selain bahaya riya sebagaimana disinyalir dalam hadis d atas, ditemukan sejumlah ayat al-Qur'an yang menerangkan
ancaman bagi orang yang melakukan sesuatu atas dasar riya.Dalam QS. Al-Maun (107): 4-7 misalnya, Allah berIirman:
uqsu u,Ij#,AJuj9 IE t!$# Ned `t NIkIEx,' tbqed$y E t!$# Ned cr!#t E
tbqeuZJtur tbq$yJo9$# DE (: =' ~ ' - )
Terjemahnya:
Kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya,
dan enggan (menolong dengan) barang berguna.
Ayat di atas dengan tegas menyatakan bahwa melaksanakan salat belumlah menjad jaminan keselamatan
seseorang.Tergantung sejauhmana salat yang dilakukan berdasarkan niat keikhlasan semata-mata karena Allah swt.atau ada
motiI-motiI lain melatar belakanginya. Bahkan dalam ayat lain disinyalir bahwa riya dapat menggugurkan pahala dari
sebuah kebajikan yang dilakukan. Sehubungan dengan hal ini, Allah swt.berIirman dalam QS. Al-Baqarah (2): 264:
$ygr't t!$# (#qZtB#u w (#qe7e? N3Gsy,' d`yJo9$$/ 3sF$#ur E9$x. ,Y
/&s!$tB u!$sI $Z9$# wur `Bs !$$/ Qquo9$#ur IAzFy$# ( /&e#sVyJsu EsVyJx. Ab#uqo,'
mont O~#te? /mt/$,'r'su /#ur /m2utIsu #V$u#,' ( w cro)t 4n?t &oOx $JiB (#q7,2 3
!$#ur w gt tPqs)o9$# tIs3o9$# IE ( -' : )
Terjemahnya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan
menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menaIkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak
beriman kepada Allah dan hari kemudian.Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah,
kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah).mereka tidak menguasai sesuatupun dari
apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kaIir
Dalam kitab Tanbih al-Ghafilin, al-Samarqandi|1| berpendapat bahwa seseorang yang melakukan amal ibadah karena riya
semata disebut munaIik asli (tulen). Dengan demikian, jika pelaku riya digolongkan munaIiq asli maka konsekuensinya
adalah akan mendapatkan balasan seperti yang akan didapatkan oleh orang munaIik. Sehubungan dengan balasan bagi
orang-orang munaIik, Allah swt.berIirman dalam QS. An-Nisa (4): 145:
b) tE)oYRuQ$# 8$!$# ExoF$# z`B I$Z9$# `s9ur yAgrB Ngs9 #AAtR IE
Terjemahnya:
'Sesungguhnya orang-orang munaIik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka.dan kamu sekali-kali
tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.
Sebagaimana dosa-dosa yang lain, riya juga mempunyai tingkatan-tingkatan sesuai dengan kadar besarnya motiI luar yang
mempengaruhi seseorang dalam melakukan sesuatu. Imam al-Ghazali, dalam Ihya Ulum al-Din, membagi riya menjadi
beberapa tingkatan, yaitu:
1. Tingkatan paling berat, yaitu orang yang tujuan setiap ibadahnya hanyalah untuk riya dan tidak mengharapkan
pahala. Misalnya, seseorang yang hanya melakukan shalat jika berada di hadapan orang banyak, sedangkan jika
sendirian ia tidak melaksanakannya, bahkan kadang-kadang shalat tanpa berwudhu terlebih dahulu.
2. Tingkatan kedua ialah orang yang beramal dengan mengharapkan pahala, tetapi unsur riya lebih dominan. Jika
dilihat orang maka ia banyak melakukan amal kebajikan, tetapi jika sendirian amalnya sangat sedikit. Misalnya,
seseorang yang memberikan banyak sedekah di hadapan orang, tapi jika tidak ada yang melihat, maka sedekahnya
sedikit.
3. Tingkatan ketiga, yaitu seimbang antara niat memperoleh pahala dari Allah dan riya. Sikap seperti ini menodai
perbuatan baik uang dilakukannya, dalam pengertian mencampur adukkan antara pahala dan dosa.
4. Tingkatan keempat ialah menjadikan riya (dilihat orang) hanya sebagai pendorong untuk melakukan ibadah,
sehingga jika tidak dilihat orang pun, dia tetap melakukan ibadah. Hanya saja ia merasa lebih semangat kalau
dilihat orang.
Imam Ali r.a mengemukakan tiga cirri-ciri orang riya sebagai berikut:|2|
1. Malas beramal kalau sendirian
2. Semangat beramal kalau dilihat orang banyak
3. Amalnya bertambah banyak kalau di puji oleh orang lain, dan berkurang kalau dicela orang lain.
Ciri-ciri orang riya sebagaimana disebutkan Imam Ali di atas, hendaknya dijadikan sebagai rambu-rambu untuk berusaha
maksimal membentengi segala amalan kita dari segala bentuk riya. Syaqiq bin Ibrahim sebagaimana dikutip Abu Laits
Samarqandi mengemukakan tiga perkara yang dapat dijadikan benteng amal, sebaga berikut:|3|
1. Hendaknya mengakui bahwa amal ibadahnya merupakan pertolongan Allah swt. agar penyakit ufub dalam hatinya
hilang;
2. Semata-mata hanya mencari ridha Allah swt. agar hawa naIsunya teratur
3. Senantiasa hanya mengharap ridha Allah swt. agar tidak timbul rasa tamak atau riya
Meskipun ayat-ayat ataupun hadis-hadis di yang dikemukakan di atas mendeskripsikan bahaya perbuatan yang bercampur
dengan riya, namun hal itu tidak boleh dijadikan alasan menyurutkan niat kita untuk memperbanyak amal kebajikan. Orang
yang tidak melakukan suatu kebajikan karena takut melakukan kesalahan pada prinsipnya ia telah melakukan kesalahan yang
baru. Demikian pula, orang yang yang tidak mau melakukan kebajikan dan beribadah karena takut dikatakan riya, maka
sesungguhnya sikapnya tersebut sudah termasuk kategori riya.
Oleh sebab itu, besarnya ancaman dan bahaya bagi orang yang melakukan amalan karena riya, tidak boleh menjadi alasan
dan membuat kita enggan melakukan amal ibadah.Justru hendaknya ancaman-ancaman seperti itu dijadikan sebagai motivasi
untuk semakin berusaha membersihkan segala amalan kita dari segala bentuk riya, sekecil apapun bentuknya.
Sehubungan dengan hal ini, Abu Bakar al-Wasith|4|, berpendapat bahwa menghilangkan riya dalam beramal sangat penting.
Namun, jika belum dapat membersihkan diri dari unsur-unsur riya dalam amalan, kita tidak boleh berputus asa dan tidk
boleh menjadi penghalang bagi kita untuk melakukan amal tersebut karena takut riya.Oleh sebab itu, tetaplah beramal seraya
memohon ampun kepada Allah swt.atas kemungkinan riya yang ada dalam amalan yang kita lakukan, dengan harapan Allah
swt. memberi tauIik dalam melakukan amal-amal dengan ikhlas.
4. Fiqh al-Ha/is
Riya adalah melakukan suatu ibadah atau bentk-bentuk kebajikan bukan atas dasar keikhlasan karena Allah swt.semata,
tetapi ada motiI-motiI lain. Riya akan sangat merugikan bagi pelakunya, karena segala amal ibadahnya akan sia-sia. Itulah
sebabnya riya sangat berbahaya, bahkan dikategorikan sebagai syirik kecil.Namun demikian, seseorang tidak boleh enggan
untuk beramal karena takut riya.Tetapi yang bijaksana adalah tetap berpacu dalam memperbanyak ibadah dan amal
kebajikan seraya memohon tauIiq dari Allah swt.agar dikaruniai keikhlasan dalam segala amalannya.

|1|Al-Faqih Abu Laits Samarqandi, Tanhibul Ghafilin Pembangun Jiwa Moral Umat) penerjemah Abu Imam Taqiyuddin
(Malang: Dar al-Ihya, 1986) h. 19.
|2| Syamsudin al-Dzahaby, al-abair (Jakarta: Dinamika Berkat Utama, t.t), h. 123.
|3| Al-Faqih Abu Laits Samarqandi, Tanhib al-Ghafilin,Pembangun Jiwa Moral, penerjemah: Abu Imam Taqiyuddin, BA.m
(Malang: Dar al-Ihya, 1986), h. 15.
|4|Ibid., h. 18-19.





















LARANGAN MENIMBUN DAN MONOPOLI

PENDAHULUAN
Islam mempunyai dua dasar atau sumber hukum, untuk mengatur umatnya kepada kehidupan yang baik, dan
teratur tampa merugikan satu sama lain. Sumber hukum tersebut adalah Al-Qur`an dan Hadits. Begitu juga dengan
pemerolehan harta atau uang.
Aktivitas yang berkaitan dengan harta merupakan hal yang penting kita perhatikan, karena pada hari kiamat, ada
dua pertanyaan yang berkaitan dengan harta, yaitu darimana kita memperoleh harta dan untuk apa kita pergunakan harta itu?
Salah satu bentuk memutar harta/uang di dalam Islam adalah aktivitas jual beli di pasar. Di dalam ekonomi Islam
pembahasan mengenai ketidakadilan dalam pasar sudah diatur dengan jelas. Diantaranya keharaman ihtikaar (menimbun
barang langka sehingga harga naik) yang biasanya terjadi akibat adanya monopoli oleh seseorang atau suatu perusahaan.
Untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana hukum atau aturan dalam islam maka dalam makalah ini akan
membahas Hadits tentang larangan monopoli dan menimbun.







PEMBAHASAN
LARANGAN MENIMBUN DAN MONOPOLI
A. LARANGAN TERHADAP TENGKULAK
~ -= %' _- %' .~ .' .' '~+-= %' '- '= ' = ' = : '= ` ~'-'= - ` '' '- ` : '~ : '= - `
''~~ - ` .' ~' - ) '= -' -= -~ (
Artinya: 'Dari Thawus, dari Ibnu Abas r.a. ia berkata. Rasulullah SAW bersabda. Janganlah kamu menfemput mencegat)
para pedagang yang membawa barang-barang dagangan mereka sebelum diketahui harga pasaran, dan fanganlah orang
kota menfual barang buat orang desa. Aku bertanya kepada Ibnu Abas. apa yang dimaksut dari sabda rasul bahwa orang
kota tidak boleh menfual dagangannya dengan orang desa itu ? fawab ibnu abas. maksudnya fanganlah orang kota menfadi
makelar atau perantara penghubung yang memufi-mufi dagangannya bagi orang desa.` (Hadits disepakati Imam Bukhari
dan Muslim).
Tinjauan bahasa:
'- : menfegat, maksutnya pergi menfumpai kafilah sebelum mereka sampai dikota dan sebelum mereka mengetahui
harga pasar.
'' : para padagang yang biasanya menunggang unta dan sering disebut kafilah.
''~~ : makelar
- '= : penduduk setempat
Dari hadits diatas dapat diketahui bahwa penduduk kota tidak boleh menjual kepada penduduk desa, baik desa itu jauh
meupun dekat dengan kota, baik diwaktu harga mahal ataupun murah (turun), baik di waktu penduduk kota memerlukan
barang maupun tidak, baik menjual secara bertahap ataupun sekaligus.|1|
Perantara menurut penaIsiran Ibnu Abas dari kata Hadiru libad, yakni penduduk kota menjadi pelantara bagi penduduk
desa, dengan kata lain mengambil keuntungan atau bayaran. Jika perantara tidak mengambil keuntungan atau bayaran itu
diperbolehkan secara mutlak, bahkan orang tersebut dianggap telah melakukan kebaikan bagi para penduduk.
Namun demikian, tujuan para tengkulak dari kota menjadi perantara tiada kata lain mengambil keuntungan sebanyak-
banyaknya, mereka membodohi penduduk desa dengan menjual barang dengan sangat tinggi sesuai dengan keinginan
mereka perbuatan tersebut tentu saja dilarang oleh islam kerena sangat memudaratkan.
Penduduk desa sebenarnya dapat langsung pergi kekota untuk membeli barang tersebut, tidak melalui pelantara, akan
tetapi karna kebodohan mereka atau sebab sebab lain, mereka tidak dapat pergi ke kota. Keadaan tersebut dimanIaatkan oleh
para perantara hingga penduduk desa membeli barang dengan harga sangat tinggi. Mereka membeli barang tersebut karena
sangat membutuhkan dan kebodohan mereka tentang harga sebenarnya.
Tentu saja berbeda hukumnya, bila perantara betul-betul berusaha menolong penduduk yang tidak dapat membeli
langsung dari pasar atau dari para kaIilah, sebagai mana telah disebutkan diatas barang-barang tersebut tidak akan sampai
ketangan penduduk jika tidak melalui tengkulak (perantara). Perantara seperti itu dibolehkan bahkan ia telah menjadi
penolong bagi orang-orang yang tidak mampu kekota untuk membeli barang, akan tetapi harga jangan sampai mencekik
penduduk, lebih baik tidak mengambil keuntungan. Ia hanya mengambil keuntungan sedikit atau sekedarnya saja. Perantara
seperti itu di kategorikan sebagai pedagang yang diperbolehkan dalam islam, bahkan kalau jujur dan bersih, mereka telah
melakukan pekerjaan yang paling baik.|2|
Kita ketahui dalam sejarah, bahwa masyarakat arab banyak mata pencariannya sebagai pedagang. Mereka
berdagang dari negeri yang satu kenegeri yang lain. Ketika mereka kembali, mereka membawa barang-barang yang sangat
dibutuhkan oleh penduduk ma`kah. Mereka datang bersama rombongan besar yang disebut kaIilah. Penduduk arabberebut
untuk mendapatkan barang tersebut karena harganya murah.
Oleh karena itu banyak tengkulak atau makelar mencegat rombongan tersebut di tengah jalan atau memborong
barang yang dibawa oleh mereka.Para tengkulak tersebut menjualnya kembali dengan harga yang sangat mahal. Membeli
barang dagangan sebelum sampai dipasar atau mencegatnya di tengah jalan merupakan jual beli yang terlarang didalam
agama islam.
Rasulullah saw bersabda:

' ~ +- ~, ~ =' ". ` ' ' - ' ' = `' ' ~ ~ = - = - '- ~ ' ' -' - -~ ' ~ - = , = `'' ~ ~ =' - = , & ~ - - _ = ' - ' = `' = `'' ~ ' ~ ~ = ' - =-
' - ' - ~ - - ' ~ =' -~ ` - '' ' ~ - - '' ~ +- ~ .
artinya:
'Apabila dua orang saling fual beli, maka keduanya memiliki hak memilih selama mereka berdua belum berpisah, dimana
mereka berdua sebelumnya masih bersama atau selama salah satu dari keduanya memberikan pilihan kepada yang lainnya,
maka apabila salah seorang telah memberikan pilihan kepada keduanya, lalu mereka berdua sepakat pada pilihan yang
diambil, maka wafiblah fual beli itu dan apabila mereka berdua berpisah setelah selesai bertransaksi, dan salah satu pihak
diantara keduanya tidak meninggalkan transaksi tersebut, maka telah wafiblah fual beli tersebut.` (diriwayatkan oleh Al-
Bukhori dan Muslim, sedangkan laIaznya milik muslim).
Dalam hadits tersebut jelaslah bahwa islam mensyari`atkan bahwa penjual dan pembeli agar tidak tergesa-gesa dalam
bertransaksi, sebab akan menimbulkan penyesalan atau kekecewaan. Islam menyari`atkan tidak hanya ada ijab Kabul dalam
jual beli, tapi juga kesempatan untuk berpikir pada pihak kedua selama mereka masih dalam satu majlis.|3|

B. LARANGAN MENIMBUN BARANG POKOK
Sabda Rasulullah SAW:

~ +- = %' - %' ~ = ~ ~ = .' ~ - = %' _ - %' : -_' =` = - ` . ) ~ -' (
Artinya:
'Dari Mamar bin Abdullah r.a. dari Rasulullah SAW beliau bersabda. Tidaklah yang menimbun itu, agar barang naik,
kecuali orang yang bersalah.`HR Muslim).
= - : Menimbun
-_' = : rang yang melakukan kesalahan dosa)

~ -= %' _- %' .~ .' .' - _ = : & '= -~~' _= ' _- '~-- = =' ~ ) ~~= -' .(
Artinya: ' Dari Abu Hurairah r.a ia berkata, Rasulullah SAW bersabda. siapa yang menimbun serta timbun barang)
dengan maksud menaikkan harga bagi kaum muslim, maka orang itu adalah barsalah berdosa). (H.R. Ahmad).
~ -= %' _- %' .~ .' .' '- .-~ = : ' _= '-= ' +-= --- -~~' '~' ~ _~ _ .=~ ~ '--' - '-' ~ = -~-- %
~ ) ~~= -' .(

Artinya: ' Dari maqil bin yasar, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda. Barang siapa yang mencampuri urusan harga bagi
kaum muslimin untuk tufuan menaikkan harga, maka Allah akan menempatkan dia didalam neraka pada kiamat nanti.`
(H.R. Ahmad).
Perkataan menimbun maksudnya adalah memakan barang untuk tidak dijual.Secara lahiriah hadis diatas menunjukkan
bahwa menimbun barang itu hukumnya adalah haram tanpa dibedakan antara makanan pokok manusia dengan binatang.
Ibnu ruslan berkata, tidak ada perbedaan pendapat bahwa yang disimpan manusia baik itu berupa bahan pokok maupun
apa yang mereka perlukan seperti samin, madu dan lain-lain adalah boleh mereka simpan, sedangkan Rosul sendiri perna
menyimpan untuk keluarganya, makanan pokok untuk selama satu tahun berupa tamar.
Ibnu Abdul Bar berkata, bahwa sesungguhnya Sa`id dam Ma`mar hanya menimbun minyak, sedangkan mereka
menaIsirkan hadis diatas kepada arti penyimpanan bahan pokok pada waktu dibutuhkan, demikian juga Imam SyaIi`i, Abu
HaniIah dan lain-lain. Hadis diatas menunjukkan bahwa penimbunan yang dilarang itu adalah ketika dalam keadaan barang-
barang yang ditimbun itu dibutuhkan dan sengaja untuk tujuan menaikkan harga.
Dalam hadis barang siapa yang mencampuri harga (barang) kaum muslimin untuk menaikkan (harganya) itu. Abu
Daud berkata: Aku perna bertanya kepada Imam Ahmad tentang bagaimana yang dikatakan menimbun itu. Ia menjawab:
Yaitu bahan yang menjadi penghidupan manusia (bahan pokok).|4|
Kata Al-Ihtikar yaitu orang yang membeli makanan dan kebutuhan pokok masyarakat untuk dijula kembali, namun ia
menimbun (menyimpan) untuk menunggu kenaikan harga. Ini merupakan pengertian secara terminologi.Kata al-Khaati`; Ar-
Raqhib berkata 'Al-khata` adalah merubah arah. Monopoli adalah membeli barang perniagaan untuk didagangkan kembali
dan menimbunnya agar keberadaaannya sedikit dipasar lalu harganya naik dan tinggi bagi si Pembeli.
Sehubungan dengan celaan melakukan penimbunan ini, telah disebutkan sejumlah hadis diantaranya:|5|
Sabda Rasulullah SAW:
Dari ibnu Umar, dari Nabi SAW
- ~ - %' ~ - ~ - - - ' ~ =' ~
Artinya:
'Siapa yang menimbun makanan selama empat puluh malam sungguh ia telah terlepas dari Allah dan Allah berlepas dari
padanya`
Al-Hakim meriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi SAW

& = + - ~ ~ ' _ =' + ' - ~- - = =' ~

Artinya:
'Barang siapa yang menimbun barang terhadap kaum muslimin agar harganya menfadi mahal, maka ia telah melakukan
dosa.`

Para Ahli Iiqih (dikutip Drs. Sudirman, M.MA) berpendapat menimbun barang diharamkan dengan syarat:
1. Barang yang ditimbun melebihi kebutuhan atau dapat dijadikan persedian untuk satu tahun
2. Barang yang ditimbun dalam usaha menunggu saat harga naik
3. Menimbun itu dilakuakn saat manusia sangat membutuhkan
KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat saya simpulkan bahwa, perantara yang betul-betul berusaha menolong penduduk
yang tidak dapat membeli langsung dari pasar atau dari para kaIilah, sebagai mana telah disebutkan diatas barang-barang
tersebut tidak akan sampai ketangan penduduk jika tidak melalui tengkulak (perantara), Perantara seperti itu dibolehkan
bahkan ia telah menjadi penolong bagi orang-orang yang tidak mampu kekota untuk membeli barang, akan tetapi harga
jangan sampai mencekik penduduk, lebih baik tidak mengambil keuntungan. Ia hanya mengambil keuntungan sedikit atau
sekedarnya saja. Perantara seperti itu di kategorikan sebagai pedagang yang diperbolehkan dalam islam, bahkan kalau jujur
dan bersih, mereka telah melakukan pekerjaan yang paling baik. Membeli barang dagangan sebelum sampai dipasar atau
mencegatnya di tengah jalan merupakan jual beli yang terlarang didalam agama islam.
Monopoli adalah membeli barang perniagaan untuk didagangkan kembali dan menimbunnya agar keberadaaannya
sedikit dipasar lalu harganya naik dan tinggi bagi si Pembeli. Dijelaskan pada hadits: 'Barang siapa yang menimbun barang
terhadap kaum muslimin agar harganya menfadi mahal, maka ia telah melakukan dosa.`











DAFTAR PUSTAKA

Haryanto, Toto.Dkk. Hadits.2002. Palembang: IAIN Raden Fatah Press.
http://zulIikarnasution.wordpressS.com, senin 25 april 2011.
http://abuutsmanmuhammad.wordpress.com/monopoli-dan-penentuan-harga, 20 mei
2011.
Rahmat SyaIe`i,Al-Hadits, Aqidah, Akhlaq, Soaial, 2000, Bandung: Pustaka Setia.



|1|Toto haryanto, dkk, Hadits,IAIN Raden Fatah Press Palembang: 2002, hal. 81
|2| Rahmat SyaIe`i,Al-Hadits, Aqidah, Akhlaq, Soaial, 2000, Pustaka Setia Bandung, hal. 172.
|3|http://zulIikarnasution.wordpressS.com, di akses 3 April 2011.
|4|Toto Haryanto,p.cit , hal 81
|5|http://zulIikarnasution.wordpressS.com, senin 25 april 2011

Beri Nilai