Anda di halaman 1dari 3

ARTIKEL KONFLIK TARAKAN

Tarakan menangis, dua etnis bertetangga dekat bahkan sebenarnya bertalian darah itu terkoyak untuk tiba-tiba saling membenci dan saling membunuh. Puncak pertikaian dua etnis Suku Tidung di Tarakan, sebuah pulau kecil di utara Kalimantan Timur dengan saudaranya Suku Bugis-Makkasar mencapai puncaknya pada Selasa malam (28/9/10) sampai Rabu paginya, karena dua kelompok baku serang yang menyebabkan dua korban lagi meninggal. Awal kejadian hanya masalah sepele lima orang pemuda Suku Bugis di Perumahan Juwata Permai Minggu malam (26/9/10) sekitar pukul 22.00 Wita yang dianggap mengganggu ketertiban dan kenyamanan masyarakat karena pesta Miras (minuman keras) tersinggung ketika ditegur oleh pemuda, warga lokal serta menyerang pemuda tersebut. Entah bagaimana mulanya, solidaritas serta sintimen kedaerahan tiba-tiba mengkristal saat proses pemakaman korban karena sebagaian pelayat sudah membawa senjata tajam sehingga terjadilah pertikaian berdarah. Begitulah yang terjadi di Tarakan,kerusuhan meletup tak lama setelah muncul perkelahian antara pemuda Bugis dan suku Tidung penduduk asli tarakan.Para sesepuh tidung kemudian melancarkan perang terhadap orang-orang Bugis.Huru hara yang berlangsung selama beberapa hari itu nenyebabkan korban tewas dan terluka berjatuhan.Kota Tarakan senpat lumpuh.Pasar,toko-toko,dan sekolah tutup.Sekitar 4000 warga mengungsi kekantor polisi,markas tentra dan rumah sakit karena ketakutan. Kerusuhan itu baru bisa diredakan setelah para tokoh dari 2 kelompok yang bertikai sepakat menyetop permusuhan.Akhirnya, perdamaian tercapai yang disaksikan oleh Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak beserta sejumlah pejabat pemerintahan Kota Tarakan dan sejumlah tokoh masyarakat Rabu (29/9) malam di ruang VIP Bandara Juawata Tarakan. Kesepakatan damai tersebut terjadi setelah Fokum Komunikasi Rumpun Tidung (FKRT) dan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) menyepakati sepuluh butir perdamaian. Nota Kesepakatan ditandatangani Yancong mewakili KKSS dan Sabirin Sanyong mewakili FKRT. Dalam kesepakatan itu, kedua belah pihak harus mengakhiri segala bentuk pertikaian dan membangun kerja sama harmonis demi kelanjutan pembangunan Kota Tarakan. Kedua belah pihak memahami bahwa apa yang terjadi merupakan murni tindak pidana dan merupakan persoalan individu. Selanjutnya, disepakati pembubaran konsentrasi massa di semua tempat sekaligus melarang dan atau mencegah penggunaan senjata tajam dan senjata lainnya di tempattempat umum. Kesepakatan lain, masyarakat yang berasal dari luar Kota Tarakan yang berniat membantu penyelesaian perselisihan agar segera kembali ke daerah masing-masing selambat-lambatnya 1 kali 24 jam. Sedangkan para pengungsi di semua lokasi akan dipulangkan ke rumah masingmasing, difasilitasi Pemkot Tarakan dan aparat keamanan. Apabila kesepakatan damai dilanggar, aparat akan mengambil tindakan tegas sesuai perundang-undangan.

Kapolda Kalimantan Timur Irjen Mathius Salempangan mengeluarkan maklumat akan menyita senjata api, senjata tajam dan sejenisnya dan menangkap pelaku yang menggunakannya tersebut untuk diproses secara hukum. "Polda Kaltim mengeluarkan maklumat, warga yang menggunakan senpi,sajam dan sejenisnya agar disita dan dapat ditangkap untuk diproses secara hukum," ujar Kapolda. Kesepakatan damai itu kemudian diikuti oleh berbagai organisasi mengatasnamakan warga lokal dengan warga Sulawesi Selatan, antara lain di Kutai Timur, Samarinda dan Balikpapan. Kini jumlah suku Tidung hanya sekitar 10 persen dari seluruh warga tarakan.Sejak zaman penjajahan Belanda mereka terdesakoleh para pendatang yang umumnya berasal dari Jawa dan Bugis.Proses margi-nalisasi ini berlangsung hingga sekarang .Fenomena ini juga menunjukan tak adanya kemauan sungguh pemerintah,terutama pemda membabtu mereka agar tidak terlalu tertinggal dari masyarak pendatang

ANALISIS ARTIKEL

Kami menyalahkan lemahnya penegakkan hukum sebagai penyebab konflik Tarakan. Dan kami menilai bahwa lemahnya penegakkan hukum di Tarakan menjadi penyebab khusus timbulnya konflik antar etnis di Tarakan, Kalimantan Timur . Kawasan atau daerah yang masih menjadi zona rawan terjadinya konflik antar etnis adalah gambaran yang jelas sebagai kawasan yang belum memiliki pejabat dan aparat yang mampu menegakkan supremasi hukum. Kami berpendapat bahwa pemerintah harus memberikan kesempatan yang lebih luas bagi mereka orang orang tidung untuk mendapatkan pendidikan,dan kehidupan yang lebih baik.Hak mereka mendapat persamaan di depan hukum dan pemerintahan pun wajib diperhatikan .Dengan cara inilah menurut kami kesenjangan sosial bisa dikurangi dan konflik sosial bisa di cegah.

Anda mungkin juga menyukai