Anda di halaman 1dari 18

Pengacara Kasus Narkoba Mengamuk di

PN Medan
Selasa, 22 November 2011 08:54 WB
REPUBLKA.CO.D, MEDAN - Seorang pengacara di Medan, Hasbi Sitorus mengamuk di Pengadilan Negeri di
daerah itu, Senin, karena majelis hakim Asban Panjaitan melarang mendampingi kliennya, Pusan Kusuma, terdakwa
kasus narkoba.

Kemarahan Hasbi Sitorus itu, dipicu karena majelis hakim Asban Panjaitan tidak memberikan kesempatan sedikit
pun kepada Hasbi Sitorus untuk berbicara mengenai kliennya tersebut.

Sidang yang digelar di PN Medan tersebut merupakan sidang lanjutan.

Bahkan, majelis hakim Asban Panjaitan dalam persidangan tersebut menanyakan secara langsung kepada
terdakwa, dan tidak melalui pengacara lagi. Sehingga Hasbi Sitorus yang berada persis di samping terakwa Pusan,
merasa tidak dihargai dan spontan mengamuk dan emosi kepada majelis hakim tersebut.

"Ada apa ini majelis hakim, saya sebagai pengacara terdakwa tidak diberikan kesempatan untuk ngomong sedikit
pun.Ada apa dibalik ini semua, saya benar-benar keberatan dengan sikap majelis hakim seperti ini," kata Hasbi
dengan nada tinggi.

Hasbi yang terpancing emosi pada persidangan tersebut, menuding majelis hakim dan Jaksa Penuntut Umum (JPU)
ada yang sengaja mengatur agar dirinya tidak diperkenankan mendampingi terdakwa.

"Saya juga berhak memberikan bantuan hukum terhadap terdakwa.Saya juga pengacara yang resmi dan memiliki
kartu pengacara dan bergabung dengan Kongres Advokat ndonesia (KA).Kenapa saya dilarang," tegas Hasbi.

Sementara itu, Majelis Hakim PN Medan Asban Panjaitan dalam persidangan tersebut tetap tidak membenarkan
Hasbi Sitorus untuk mendampingi atau menjadi kuasa hukum terdakwa Pusan.
"Saya tetap tidak menerima Hasbi Sitorus mendampingi terdakwa Pusan," kata Asban Panjaitan.

Sementara itu, pelarangan Hasbi Sitorus untuk mendampingi terdakwa Pusan dalam persidangan di PN Medan,
Senin, (21/11) adalah yang kedua kalinya. Sebelumnya pada persidangan pertama atau pembacaan
dakwaan.Majelis hakim juga melarang Hasbi Sitorus untuk mendampingi terdakwa Pusan.
Redaktur: Siwi Tri Puji B
Sumber: Antara

STMK AMKOM
hLLp//wwwrepubllkacold/berlLa/naslonal/hukum/11/11/22/lv1hbgpengacarakasusnarkoba
mengamukdlpnmedan





Terlibut kusos nurkobu, unggotu polisi dipecut
Senin, 21 November 2011 15:37 WB | 445 Views
Pasuruan (ANTARA News) - Seorang anggota Polres Pasuruan, Jawa Timur, Senin, dipecat secara tidak hormat
karena melanggar kode etik kepolisian, dan terlibat kasus narkoba, kata Kasubag Humas Polres Pasuruan, AKP
Bambang HS.

AKP Bambang HS menyebutkan, seorang polisi yang dipecat secara tidak terhormat tersebut adalah Briptu Anton
Purnomo NRP 82050662 anggota Satuan Sabhara Polres Pasuruan.

Anton Purnomo diberhentikan secara tidak hormat dalam apel pagi di Mapolres Pasuruan. Namun yang
bersangkutan tidak datang, sehingga pemecatan dilakukan secara "in absentia".

Disebutkan, yang bersangkutan dipecat berdasar Surat Keputusan Kapolda Jatim No.: KEP/779/X/2011 tanggal 6
Oktober 2011 tentang pemberhentian dengan tidak hormat.

Dijelaskan, pemberhentian dilaksanakan karena terbukti yang bersangkutan menyalahgunakan narkotika.

Anton dalam sidang kode etik kepolisian juga dinyatakan telah melanggar kode etik kepolisian. Sedangkan di
peradilan umum yang bersangkutan telah dijatuhi hukuman 1 tahun penjara.

(KR-MSW/Y008)
Editor: Desy Saputra
COPYRGHT 2011
hLLp//wwwanLaranewscom/berlLa/283783/LerllbaLkasusnarkobaanggoLapollsldlpecaL













Senin, 21/11/2011 15:36 WB

TerjeruL Kusus Nurkobu, AnggoLu PoIres Pusuruun


DIpecuL
Muhajir Arifin - detikSurabaya

Pasuruan - Anggota Satuan Sabhara Polres Pasuruan, Anton Pramono (29) harus menanggung akibat
perbuatannya melanggar hukum dan kode etik Polri. Polisi berpangkat Briptu ini dipecat dari kesatuannya karena
terbukti melakukan penyalahgunaan narkoba.

"Pemecatan berdasarkan Surat Keputusan Kapolda Jawa Timur No Kep/775/X/2011 tentang Pemberhentian Tidak
Dengan Hormat (PDTH) sebagai anggota Polri," kata Kapolres Pasuruan AKBP Agung Yudha Wibowo
kepadadetiksurabaya.com di mapolres Pasuruan, Senin (21/11/2011).

Menurut Agung Yudha, Anton telah melanggar Pasal 14 ayat 1 huruf a PPR Nomor 1/2003 Junto Pasal 12 PPR
Nomor 1/2003 Junto Pasal 15 Perkap Nomor 7/2006, tentang penyalahgunaan narkoba dan melanggar kode etik.

"Dalam perkara ini yang bersangkutan selaian disidang kode etik di kesatuannya juga telah menjalani persidangan di
peradilan umum dan sudah dijatuhi hukuman satu tahun penjara," imbuh Agung.

Diakui mantan Kapolres Pasuruan Kota, selain Anton Pramono masih ada tiga anak buanhya yang juga terlibat
penyalagunaan narkoba dan masih dalam pengawasan. Pihaknya mengimbau mereka bertiga berhenti dari
kebiasaan jelek mengkonsumsi narkoba jika tidak ingin nasibnya seperti Briptu Anton.

"Mereka masih dalam pengawasaan. Jika tidak mau menghentikan kebiasaannya, saya tidak bisa melindungi ereka
karena paradigma polisi sudah berubah," tandas Agung.
hLLp//surabayadeLlkcom/read/2011/11/21/133613/1772121/473/Ler[eraLkasusnarkobaanggoLa
polrespasuruandlpecaL









KapoIdasu: Tidak Ada Kampus Bebas
Narkoba
Tribun Medan - Rabu, 23 November 2011 20:19 WB

Tribun Medan / Armand
Kapoldasu, rjen Pol Wisjnu Amat Sastro mengisi kuliah umum di Universitas HKBP Nomensen
Laporan Wartawan Tribun Medan / Armand

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Kepala Kepolisian Sumatera Utara (Kapolda Sumut), rjen Polisi Wisjnu
Amat Sastro menegaskan bahwa di Sumut tidak ada kampus yang bebas dari narkoba. Mahasiswa
menjadi target utama pengrusakan generasi muda ndonesia.

Demikian diucapkan Wisjnu saat mengisi kuliah umum di Universitas HKBP Nomensen, Rabu (23/11).
Tercatat hingga November 2011 setidaknya lebih 2000 berkas kasus narkoba dan yang terakhir di
Tanjung Balai berhasil diungkap pihak kepolisian Sumut.

Oleh karenanya mahasiswa mesti memiliki daya tahan yang kuat untuk melindungi diri sendiri dari
bahayanya dampak narkoba. Karenanya generasi muda memegang tongkat estafet yang membawa
bangsa ndonesia kedepannya.

"Saya mengharapkan para mahasiswa semakin cerdas dan kreatif mampu menghindari diri dari narkoba
dan sejenisnya, karena jika sekali mencoba akan sulit keluar dari jeratannya,"kata Wisjnu ketika
menyampaikan kuliah umum didepan ribuan mahasiswa UHN.(rdn/tribun-medan.com)

Penulis : Raden Armand Firdaus


Editor : Sofyan Akbar
Sumber : Tribun Medan
hLLp//medanLrlbunnewscom/2011/11/23/kapoldasuLldakadakampusbebasnarkoba


Terungkup dI PN JukurLu ULuru
usos Nurkobu Berlutur Belukung Sungketu Hotung
Rabu, 16 November 2011 - 20:31 WB

SUNTER (Pos Kota) Terdakwa Silvia, perancang busana pengantin, membantah semua keterangan yang
dijelaskan Kasat Narkoba Polres Jakarta Utara Kompol Suparmo di dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta
Utara.
Terdakwa menganggap penangkapannyanya adalah rekayasa semata. Termasuk merekayasa keterangan dan
penangkapan dirinya sebagai perancang busa pengantin. Hal itu diungkapkan dalam sidang di Pengadilan Negeri
Jakarta Utara.
"Semua keterangan saksi (Kasat Narkoba) banyak tidak benarnya pak, ucap terdakwa Silvia, 43, yang disidangkan
dalam kasus kepemilikan 10 butir ekstasi yang diperoleh petugas dari dalam tas wanita perancang busana ini.
"Apa saja yang ibu maksud tidak benarnya? tanya Ketua Majelis Hakim, Ajidin Nor, kepada terdakwa dalam sidang
lanjutan pemeriksaan saksi.
Silvia menjawab, yang membuka tas dia dan barang bukti bukannya dia sendiri, melainkan Polwan Friska.
Selanjutnya posisi saksi (Kasat Narkoba) tidak berada di belakang Polwan yang lagi berhadapan dengan terdakwa.
"Tapi justru di belakang saya, persisnya di pintu mobil saya yang dalam keadaan terbuka, kata Silvia.
KASAT DAN WAKASAT OPERASE BARENG
Dalam keterangan sebelumnya, saksi Kasat Narkoba Kompol Suparmo menjelaskan, 30 menit sebelum menangkap
terdakwa, dia menerima telepon dari warga yang menyatakan, terdakwa yang menggunakan mobil X-trail B1903JR
yang melintas di Jl. Agung Perkasa 4 Blok J6 Kelurahan Sunter membawa ektasi.
Kemudian, Suparmo meminta Wakasat Narkoba Kompol Zamaludin dan para Kanitnya untuk ikut dirinya untuk
menyetop mobil tersebut. "Saat itu saya suruh buka kaca dan pemilik mobil saya suruh turun untuk diperiksa Polwan
di depan pintu pas roda depan, kata Suparmo.
"Karena tidak ditemukan bukti di badan, saya melihat ada bungkusan tisu di dalam tas di dalam mobil dan saya suruh
pemiliknya untuk mengambil dan membukanya sendiri.
Hakim sempat menanyakan apakah setiap menangkap orang harus Kasat, Wakasat dan Kanit turun langsung.
Padahal terdakwa bukanlah DPO dan di jawab Suparmo terkadang saja.
JANGGAL
Sementara itu, Ryder Sitorus dan Christian Tambunan, penasehat hokum Silvia menemukan banyak kejanggalan
dalam keterangan saksi dan terkesan terdakwa dijadikan target khusus atau dipaksakan.
Kejanggalan antara lain, penangkapan dilakukan oleh Kasat langsung dan Wakasat. Biasanya kalau sudah Wakasat,
Kasatnya tidak turun. Selain itu, Kasat sudah menyiapkan kamera dan langsung meminta terdakwa mememang
barang bukti dan langsung memfotonya. "Jarang terjadi ini langsung difoto, kata Penasehat hokum usai sidang.
Dalam sidang juga dipertanyakan kenapa setelah didapati 10 butir ekstasi, rumah terdakwa tidak digeledah atau
dikembangkan dari mana barang itu diperoleh dan lainnya, tapi hanya dibiarkan begitu saja dan tidak dilakukan tes
urine oleh polisi. "Tes urine dilakukan atas permintaan terdakwa sendiri dan hasilnya negative, kata Ryder.
Keluarga terdakwa khawatir kasus tersebut buntut dari kasus hutang keluarga Silvi kepada salah satu bandar judi
yang mengajak kerjasama membuat butik tapi usahanya tidak jalan.
Sebab sebelum ditangkap, rumah terdakwa didatangi rombongan penagih hutang dan merusak mobil maupun
beberapa barang di dalam rumah. Tapi ketika dilaporkan ke Polres Jakarta Utara, tidak ada respon hingga kini. Yang
kemudian terjadijustru berlanjut dengan penangkapan terdakwa dan suaminya. (dwi/dms)
hLLp//wwwposkoLacold/berlLaLerklnl/2011/11/16/kasusnarkobaberlaLarbelakangsangkeLahuLang


Kasus Narkoba di Lapas Binjai
Dikembangkan PoIda Sumut
Tribun Medan - Rabu, 16 November 2011 23:42 WB

Laporan Wartawan Tribun Medan / Ahmadi

TRIBUN-MEDAN.com, BINJAI - Direktorat Polda Sumut melakukan penyidikan kasus narkoba di lapas
klas A Binjai, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Kota Binjai, Rabu (16/11).

Namun penyidikan yang dilakukan Direktorat Narkoba Polda Sumut tidak bisa diliput secara langsung
oleh wartawan cetak dan tv. Wartawan hanya bisa menanti hasil dari penyidikan direktorat Polda Sumut
di luar pintu masuk gedung LP.

Kasubit direktorat narkoba Polda Sumut AKBP Suhadi mengatakan kedatangan kami di lembaga
permasyarakat klas A Binjai bertujuan untuk melakukan penyidikan pengembangan kasus narkoba.
Terkait laporan pengadilan yang menyatakan ada tersangak yang mengaku kalau narkoba didapat dari
Lapas klas A Binjai.

"Atas laporan pengadilan tersebut kami datang kesini untuk melakukan pengembangan didalam lapas.
Ternyata setelah dilakukan pemeriksaan dan memeriksa semua tahanan LP. Aparat kepolisian Polda
Sumut tidak menemukan orang dan barang yang dicari," Ujarnya.

Sebenarnya kasus narkoba ini sudah berjalan satu bulan dengan dua orang tersangka. Mereka ditangkap
polisi di Jalan Medan-Binjai Km 17 dangan barang bukti narkoba 7,9 gram.

Kini Polda Sumut masih terus melakukan pengembangan kasus narkoba Surya dan Budi warga Binjai.
Hasil pengembangan sementara Polda Sumut tidak menemukan Syahrial orang yang dinyatakan
pengedar narkoba di lapas klas A Binjai. Jadi semua keterangan tersangka kasus narkoba tidak
terbukti. Karena polisi Polda Sumut tidak menemukan orang yang dicari.

Ka.Lapas klas A Binjai, Surung Pasaribu membenarkan kalau ada Polda Sumut yang datang ke LP.
Terkait kasus narkoba yang kini dalam pengembangan Polda Sumut.

"Tim dari Polda Sumut telah melakukan pengecekan secara langsung kedalam sel dan penghuni lapas.
Dari hasil pengecekan tin tidak menemukan orang yang dituduh dan barang buktinya," Ujarnya.

Setelah dilakukan pengembangan kasus narkoba di lapas klas A Binjai. AKBP Suhedi beserta
anggotanya langsung kembali ke Polda Sumut dan terus melakukan pengembangan kasus
narkoba.(ahm/tribun-medan.com)

Penulis : Ahmadi
Editor : Sofyan Akbar
Sumber : Tribun Medan
hLLp//medanLrlbunnewscom/2011/11/16/kasusnarkobadllapasbln[aldlkembangkanpoldasumuL
Kasus Pelecehan Seksual di BPN
Dihentikan
Sabrina Asril | Glori K. Wadrianto | Senin, 21 November 2011 | 14:13 WB
JAKARTA, KOMPAS.com Penyelidikan kasus pelecehan seksual terhadap tiga pegawai Badan
Pertanahan Nasional (BPN) akhirnya dihentikan aparat Renakta Polda Metro Jaya. Proses
penyelidikan ini dihentikan melalui surat PMJ No.B/7136/X/2011/Ditreskrimum tanggal 17
November 2011.
"Perkembangan kasus pelecehan seksual pejabat BPN, penyidik menyatakan dihentikan proses
penyidikannya di polisi," ujar kuasa hukum korban, Ahmad Jazuli, dalam pesan singkat kepada para
wartawan, Senin (21/11/2011).
Penghentian itu, lanjut Jazuli, dilakukan penyidik lantaran tidak memperoleh cukup bukti dalam
laporan yang diajukan tiga karyawan, yakni AF (22), NPS (29), dan AN (25), terhadap Direktur
Pengaturan dan Penetapan Hak Tanah BPN, G (44).
Penghentian perkara akhirnya menjadi kesepakatan penyidik usai melakukan gelar perkara kasus
ini beberapa waktu lalu. "Padahal, kami tidak pernah mendengar adanya gelar perkara dan gelar
perkara baru besok dilaksanakan," kata Jazuli.
Terhadap keputusan ini, tiga korban sepakat untuk mempertanyakan bukti apa yang harus dipenuhi
untuk melanjutkan kasus tersebut. Sebelumnya, pihak korban sudah mengajukan barang bukti
berupa rekaman video yang berisikan permohonan maaf G di hadapan pegawai BPN bahwa dirinya
telah melecehkan stafnya itu. "Kami akan mempertanyakan bukti apa lagi yang harus dipenuhi," kata
Jazuli.
Seperti diberitakan, tiga staf BPN, yakni AF, NPS, dan AN, diduga mendapatkan perlakuan tidak
senonoh dari Direktur Pengaturan dan Penetapan Hak Tanah BPN, G, pada 2010-Juli 2011. Bentuk
pelecehan seksual yang dilakukan G dengan meraba-raba tubuh korban dan menunjukkan alat
vitalnya.
Korban melaporkan kasus ini ke Polda Metro Jaya, Komnas HAM, dan Komnas Perempuan. G
dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada Senin, 13 September, dengan tuduhan Pasal 294 Ayat 2
KUHP tentang Pencabulan.
hLLp//megapollLankompascom/read/2011/11/21/14133477/kasuselecehanSeksualdl8nulhenLlk
an


Hari !ni Anand Khrisna Hadapi vonis
Kasus Pelecehan Seksual
Tribun Timur Selasa, 22 November 2011 07:43 W!TA

TR!BUNT!NUR.CON, ]AKARTA Terdakwa pelecehan seksual Anand Khrisna menghadapi vonis hari ini,
Selasa (22/11/2011). Sidang akan digelar di Pengadilan Negeri (PN) ]akarta Selatan.
vonis akan dibacakan oleh ketua majelis hakim Albertina Ho setelah proses persidangan lebih dari satu
tahun.
Astro P Cirsang, Penasehat hukum Anand Khrisna menyatakan spritualis itu siap menghadap vonis
tersebut. Nereka berharap majelis hakim akan membebaskan kliennya itu.
"Ya kalau kita berharapnya dibebaskan ya Pak Anand ini. Semoga majelis hakim memberikan putusan
yang adil," kata Astro P Cirsang ketika dihubungi wartawan.
Astro mengatakan vonis bebas cukup relevan mengingat tidak adanya buktibukti kuat di persidangan.
Apalagi, selama persidangan jaksa hanya melihat keterangan Tara Pradibta Laksmi. Sementara saksi
lainnya Naya Nuchtar membantah adanya kejadian tersebut.
"Karena satu keterangan tidak didukung oleh saksi lain dan tidak mempunyai kekuatan hukum,"
tukasnya.
Anand Khrisna dituntut dua tahun enam bulan oleh ]aksa Penuntut Umum (]PU) di Pengadilan Negeri
(PN) ]akarta Selatan, Rabu (26/10/2011). Anand dinilai melanggar pasal 234 KUH Pidana tentang
perbuatan cabul.(*)

Editor : Ridwan Putra
Sumber : Tribunnews.com
hLLp//makassarLrlbunnewscom/2011/11/22/harllnlanandkhrlsnahadaplvonlskasuspelecehan
seksual










Rabu, 23/11/2011 19:35 WB

$IswI $K JudI Korbun PeIeceIun $eksuuI dI Truns


JukurLu
Andri Haryanto - detikNews


foto: detikcomJakarta - Pelecehan seksual kembali terjadi di Bus Trans Jakarta (TransJ). Perlakuan tidak
senonoh tersebut menimpa seorang siswi sebuah SMK di Jakarta Pusat, F (15), yang tengah
menumpang bus rute Harmony-PGC.

Seorang saksi, Damaris Marlisa (43), menuturkan, saat dirinya menumpang bus dari Kramat Sentiong,
Jakarta Pusat, dia melihat gelagat mencurigakan pelaku yang diketahui bernama Ahmad Afriansyah (40).

"Saya lihat tangan dia memegang bokong korban," kata Damaris kepada wartawan di Polsek Jatinegara,
Rabu (23/11/2011).

Saat melintas di kawasan Matraman, Jakarta Timur, Damaris merasa tidak percaya perbuatan yang
dilakukan pelaku. Guna mengetahui lebih pasti dia berupaya mendekati posisi korban dan pelaku dari
belakang.

"Waktu saya dekati ternyata betul pelaku pegang bokong korban. Saya langsung pegang tangan pelaku,"
tutur perempuan berambut pendek ini.

Melihat kegaduhan, petugas keamanan Bus TransJ langsung menghampiri Damaris. Saksi langsung
melaporkan adanya dugaan pelecehan seksual yang dilakukan pelaku terhadap siswi SMK tersebut.

"Petugas akhirnya menurunkan seluruh penumpang di PGC agar pelaku tidak kabur," katanya.

Di tempat sama, korban mengaku sudah merasakan adanya perlakuan tidak senonoh yang menimpa
dirinya. Namun dia tidak kuasa melawan atau berteriak.

"Saya takut, badannya besar," kata F dengan muka ditutup kerudung.

Pelaku sendiri mengaku tidak melakukan pelecehan seksual seperti yang dituduhkan korban. Dia
mengaku memegang paha tepat bagian bawah bokong korban.

"Saya menghindari bersentuhan karena dia (korban) terus mundur," sanggah pelaku yang mengaku
tinggal di kawasan Kampung Rambutan.

Dia berharap korban dan saksi mau memaafkan dirinya. "Saya siap cium kaki adik itu buat minta maaf,
asal kekeluargaan saja," katanya.
hLLp//wwwdeLlknewscom/read/2011/11/23/193324/1774143/10/slswlsmk[adlkorbanpelecehan
seksualdlLrans[akarLa



















Seks Bebas Kini Dominasi Penularan


HV/ADS
Didit Putra Erlangga Rahardjo | Nasru Alam Aziz | Senin, 21 November 2011 | 15:52 WB
Suasana Simposium nternasional mengenai pemberantasan
penyakit HV/ADS di Padalarang, Jawa Barat, Senin (21/11/2011).
BANDUNG, KOMPAS.com Perilaku heteroseksual atau seks bebas kini menjadi penyebab
dominan dalam penyebaran HV/ADS di ndonesia. Kondisi berbeda terlihat dalam lima tahun silam
yang masih kebanyakan oleh pertukaran jarum suntik.
Hal tersebut terungkap dalam laporan yang dikeluarkan Komisi Nasional Penanggulangan ADS
Nasional dalam simposium internasional mengenai ADS yang diikuti peserta dari negara anggota
ASEAN di Hotel Mason Pine, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin
(21/11/2011). Simposium tersebut dibuka oleh Wakil Menteri Kesehatan Ali Ghufron Mukti.
Dalam laporan tersebut terdapat data persentase kasus HV/ADS di ndonesia dalam dua periode,
yakni tahun 2006 dan 2011 dari metode transmisi penyakit, yaitu berganti jarum suntik, hubungan
seks bebas, seks sesama jenis, diturunkan dari orangtua, transfusi darah, dan penyebab yang tidak
diketahui.
Hasilnya, pada tahun 2006, kecenderungan transmisi HV/ADS ternyata didominasi oleh jarum
suntik dengan 54,42 persen penyumbang kasus HV/ADS yang terlaporkan, sementara seks bebas
38,5 persen. Kondisi tersebut berbalik 180 derajat pada lima tahun kemudian dengan persentase
jarum suntik menurun jadi 16,3 persen, sementara seks bebas mencapai 76,3 persen. Artinya,
mayoritas penularan HV/ADS di ndonesia dilakukan melalui hubungan seks.
Kondisi serupa ternyata diperlihatkan Laos. Dalam rilis yang mereka keluarkan, seks bebas
menempati 88 persen dari metode transmisi HV/ADS, diikuti penyebab yang tidak diketahui yaitu
5,5 persen, sementara penularan dari ibu ke anak menempati peringkat ketiga yaitu 4,7 persen.
Jarum suntik hanya menyumbang 1,7 persen.
Ali Ghufron menegaskan, ndonesia harus mengembangkan pendekatan evident based dalam
menekan angka penyebaran HV/ADS mengingat gejala penularannya terus berubah dalam
perjalanan waktu.
hLLp//naslonalkompascom/read/2011/11/21/13320126/Seks8ebasklnluomlnaslenularanPlv/AluS




















Tahun 2011, Seks Bebas Dominasi
Penyebaran HIV
Lusia Kus Anna | Selasa, 22 November 2011 | 06:41 WB

BANDUNG, KOMPAS - Data Komisi Nasional Penanggulangan ADS menunjukkan, penyebaran
HV/ADS berubah dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan penelitian tahun 2011, penyebab
transmisi tertinggi adalah seks bebas (76,3 persen), diikuti jarum suntik (16,3 persen).
Penelitian tahun 2006 menunjukkan, pertukaran jarum suntik penyebab utama transmisi HV/ ADS
(54,42 persen) dan seks bebas peringkat kedua (38,5 persen). Data itu muncul pada simposium
internasional bertajuk menihilkan penularan HV baru, menghilangkan diskriminasi, serta kematian
terkait ADS di negara ASEAN, Senin (21/11), di Kabupaten Bandung Barat.
Simposium itu, salah satunya membahas fenomena gunung es penderita HV/ADS yang tak
terpantau dan berpotensi menularkan tanpa disadari. Jangan sampai seperti gunung es, kita tenang
karena jumlah sedikit, tetapi tiba-tiba meledak karena penyebab yang belum diantisipasi, kata Wakil
Menteri Kesehatan (Kemkes) Ali Ghufron Mukti, seusai membuka simposium.
Simposium dihadiri perwakilan dari negara ASEAN, dan dibuka Wakil Menteri Kesehatan R Ali
Ghufron dan Sekjen ASEAN Surin Pitsuwan.
Negara ASEAN bertekad bahu-membahu menekan angka penularan penyakit HV/ADS dengan
bertukar pengalaman dan pengetahuan dari keberhasilan masing-masing negara.
PopuIasi di ASEAN
Pada kata sambutan dalam rekaman video, Surin mengungkapkan, 1,5 juta orang hidup dengan HV
di ASEAN. Syarat sebuah negara sukses menekan penularan HV adalah kuatnya kepemimpinan,
SDM, serta intervensi yang fokus terhadap satu aspek dari HV/ ADS. Selain itu, dibutuhkan
kemitraan kuat antarnegara untuk bersama memerangi penularan HV/ADS.
Thailand, Kamboja, dan Myanmar menunjukkan perkembangan positif menekan laju penularan
HV/ADS. Sementara, negara lain menghadapi kendala sama, ujar Surin.
Beberapa hal dilakukan Pemerintah ndonesia, di antaranya persiapan tenaga kesehatan yang terus
meningkat dari 15 juta (2006) menjadi 27,5 juta (2010).
Kemarin, juga digelar peluncuran program penyadaran yang menyasar kelompok rentan yang
berusia 15-24 tahun dengan slogan Aku Bangga Aku Tahu yang dilakukan di 10 provinsi di
ndonesia. Program ini untuk sosialisasi bahaya perilaku seks bebas ataupun cara transmisi.
Berdasarkan data Kemkes, kelompok usia muda 45,5 persen dari populasi kasus HV di ndonesia.
Secara kumulatif, kasus ADS hingga Juni 2011 mencapai 26.483 kasus. (ELD)
hLLp//healLhkompascom/read/2011/11/22/06413832/1ahun2011Seks8ebasuomlnaslenyebaran
Plv





Kamis, 03/11/2011 10:48 WB

TungunI Kusus Rokok, $Ikup K enduu


Andi Saputra - detikNews

Jakarta - Sikap Mahkamah Konstitusi (MK) mendua dalam melindungi masyarakat dari bahaya merokok.
Pada satu keputusan, MK mendukung iklan rokok. Tetapi pada keputusan lain, MK memerintahkan
bungkus rokok harus mencantumkan peringatan bergambar.

Sebagaimana diketahui, beberapa waktu yang lalu MK menolak permohonan Komnas Anak terhadap uji
materiil UU Penyiaran tentang larangan iklan rokok.

MK berpendapat bahwa rokok merupakan produk legal sebagaimana produk lainnya, sehingga iklan
produk rokok juga merupakan kegiatan yang legal. MK juga berpendapat pelarangan iklan rokok justru
melanggar HAM.

"Kami menolak permohonan pemohon untuk seluruhnya, kata Ketua MK, Mahfud MD pada Jumat, 11
September 2009 lalu.

Hakim MK juga menyatakan, iklan rokok yang dianggap melanggar ketentuan hukum bisa dilaporkan
sebagai bagian dari penegakan hukum. Misalnya, dengan melaporkan sebagai tindakan pidana
sebagaimana diatur dalam UU Perlindungan Konsumen.

Namun, sikap MK tidak bulat. Sebab, 4 dari 9 hakim konstitusi berseberangan pendapat. Mereka yaitu
Maruarar Siahaan, M. Alim, Ahmad Sodiki, dan Harjono. Keempat hakim itu menyatakan bahwa larangan
iklan rokok itu bisa dikabulkan karena rokok bisa merusak masa depan anak.

Ternyata, sikap pro rokok tidak selamanya dilakukan oleh MK. Sebab MK kemarin berubah menjadi
kontra rokok. Yaitu dengan menghilangkan kata "dapat dalam penjelasan Pasal 114 UU 36/ 2009
tentang Kesehatan yang dianggap membingungkan. Karena peringatan kesehatan dalam produk rokok
bisa diberikan dalam dua alternatif yaitu tulisan atau gambar.

"Kata 'dapat' dalam penjelasan Pasal 114 UU Nomor 36/2009 bertentangan dengan UUD 1945.
Sehingga peringatan kesehatan harus dimaknai dengan tulisan yang jelas, mudah terbaca dan disertai
gambar atau bentuk lainnya, kata Ketua MK, Mahfud MD di gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat,
Jakarta, kemarin.

Alhasil, kemasan rokok beberapa hari lagi akan berubah. Jika selama ini hanya mencantumkan bahaya
dalam bentuk tulisan, kini bungkus harus memuat peringatan dalam bentuk gambar. Tidak hanya itu,
kemasan rokok juga harus mencantumkan peringatan dalam huruf braile.

Sikap kontra rokok MK juga nampak dalam pengaturan tembakau pada UU Kesehatan yang tidak
dihapus. MK menilai tembakau merupakan zat adiktif yang dapat menyebabkan kecanduan.

"Menolak permohonan pemohon untuk seluruhnya," kata Ketua MK, Mahfud MD dalam sidang terbuka
untuk umum di gedung MK, Selasa, (1/1/2011).

Menurut MK, UU ini tidak diskriminatif sebab tembakau adalah benda. Sedangkan yang dilindungi dari
perilaku diskriminatif adalah subjek orang.

"Tembakau bukan subjek hukum dan bukan pemangku hak. Tembakau adalah objek hukum," terang MK.

Namun, sikap MK lagi- lagi terbelah, sebab 2 hakim konstitusi berpendapat sebaliknya yaitu Akil Mochtar
dan Hamdan Zulfa. Keduanya berpendapat bahwa pasal tersebut harus dihapuskan. Mereka menilai
pasal tersebut mendiskriminatifkan petani tembakau.

"Pengaturan rokok bukan tidak mudah karena usaha tembakau/ rokok melibatkan tenaga kerja yang
banyak. Di ndonesia, rokok menjadi warisan tradisi masyarakat, sehingga kebijakan pemerintah harus
bisa menjamin hak konstitusi antara hak warga negara lain dan warisan budaya," terang Akil.
hLLp//wwwdeLlknewscom/read/2011/11/03/104842/1739062/10/Langanlkasusrokokslkapmk
mendua?n991102603

















Selasa, 01/11/2011 19:16 WB

PuLus Kusus Rokok, HukIm K 'TerbeIuI'


Andi Saputra - detikNews

Jakarta - Mahkamah Konstitusi (MK) menolak pasal tembakau dalam UU Kesehatan dihapus. Namun,
putusan MK terbelah, sebab 2 hakim konstitusi berpendapat sebaliknya.

"Menolak permohonan pemohon untuk seluruhnya," kata Ketua MK, Mahfud MD dalam sidang terbuka
untuk umum di gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa, (1/1/2011).

Uji materi ini diajukan Bambang Sukarno dan para petani tembakau yang tergabung dalam Asosiasi
Petani Tembakau ndonesia. Bambang menilai pasal 113 UU Kesehatan diskriminatif sebab hanya
tembakau saja yang disebut sebagai bahan adiktif. Padahal, banyak zat adiktif lain yang tidak hanya
tembakau saja.

Namun, alasan ini dibantah MK. Menurut MK, UU ini tidak diskriminatif sebab tembakau adalah benda.
Sedangkan yang dilindungi dari perilaku diskriminatif adalah subjek orang.

"Tembakau bukan subjek hukum dan bukan pemangku hak. Tembakau adalah objek hukum," terang MK.

Pengaturan terhadap tembakau juga bukan perilaku diskriminatif sebab merupakan kebijakan. Kebijakan
ini seperti dalam pengaturan jalan, yaitu kendaraan pribadi boleh lewat sedangkan kendaraan umum
tidak boleh lewat jalan tersebut.

"Alasan pemohon tidak beralasan hukum," terangnya.

Namun, pandangan ini terbelah. Sebab, dua hakim MK, Akil Mochtar dan Hamdan Zulfa berbeda
pendapat bahwa pasal tersebut harus dihapuskan. Mereka menilai pasal tersebut mendiskriminatifkan
petani tembakau.

"Pengaturan rokok bukan tidak mudah karena usaha tembakau/ rokok melibatkan tenaga kerja yang
banyak. Di ndonesia, rokok menjadi warisan tradisi masyarakat, sehingga kebijakan pemerintah harus
bisa menjamin hak konstitusi antara hak warga negara lain dan warisan budaya," ungkap Akil.
hLLp//wwwdeLlknewscom/read/2011/11/01/191600/1737831/10/puLuskasusrokokhaklmmk
Lerbelah








11 Noveroer 2011 j 20:19 W|o
8ea Cu|a| 0aga||ar Perye|urdupar V|ras Korea
Jakarta, 6yberNews. 0|re|loral Jerdera| 8ea dar Cu|a| rerggaga||ar perye|urdupar r|rurar |eras alau V|rurar Vergardurg El||
A||oro| (VVEA) seoarya| 12.Z92 oolo|. V|ras asa| Korea lerseoul rerpurya| polers| |erug|ar regara seoesar Rp 2,5 r|||ar.
Vodus da|ar |asus |r| ada|ar reroer|laru|ar oararg secara l|da| oerar da|ar peroer|laruar paoear, |ala Kepa|a Karlor Pe|ayarar
ulara 8ea dar Cu|a| T|pe A Tarjurg Pr|o| lyar Ruo|yarlo da|ar jurpa pers d| |arlorrya, Tarjurg Pr|o|, Ja|arla, 3er|r (11/11).
Verurulrya, r|ras |r| oerrer| J|rro yarg rer||||| |adar a||oro| 19,5. 0|a rerje|as|ar, d| da|ar |orla|rer, oeoerapa oolo| r|rurar
d|ourg|us da|ar dus pr|rler urlu| rerge|aou| pelugas. V|ras |ras Korea lerseoul lerrual da|ar 3 |orla|rer. Adapur |rporl|r oolo| r|rurar
|lu ada|ar PT A8N, PT 8KN, dar PT lP.
lyar reraroar|ar, da|ar do|urer Peroer|laruar lrpor 8ararg (Pl8), oolo| r|ras |lu d|seoul seoaga| soll dr|r|, |erlas, dar ouar. Narur,
sele|ar ada |rlorras| |rle||jer dar perer||saar l|s||, lerurg|ap|ar oararg yarg ada d| da|ar |orla|rer ada|ar r|ras.
V|ras dar| reger| 0|rserg |lu secara l|s|| rer||||| larp||ar oeroeda dergar oolo| r|ras |o|a| yarg ururrya oeru|urar l|rgg| alau perde|
p|p|r. V|ras dar| Korea |r| oeroerlu| s|||rder rurg|| r|r|p oolo| a|r r|rera| oeru|urar pa||rg |ec||. 3edarg|ar Warrarya r|r|p oolo| r|rurar
oerererg| yarg d|jua| d| pasarar. Peroedaarrya rarya ler|ela| pada pada lu||sar d| |aoe| r|rurar yarg oerrurul Korea.
lyar reryeoul|ar, arcarar ru|urar oag| pe|a|u ada|ar uu No 10/1995 lerlarg Kepaoearar dergar p|dara perjara pa||rg |ara de|apar
larur dar derda pa||rg oarya| ||ra r|||ar rup|ar. Tersarg|a da|ar |asus |r| ada|ar LlT, Warga Korea.
8ararg ou|l| ||r| d|arar|ar dar d|lelap|ar seoagau 8ararg 0||uas| Negara (80N) rerurggu pe||rparar |e |eja|saar. Polers| |erug|ar
regara seoarya| Rp 2,5 r|||ar, ujarrya.
0|rjer 8ea dar Cu|a| Kererler|ar Keuargar Agurg KusWardoro reryala|ar, r|rurar yarg d|s|la rerupa|ar r|rurar |ras asa| Korea
oerrara 3oju. 3eperl| r|rurar 3a|e |a|au d| Jeparg, celusrya.
Verurulrya, r|rurar |eras |r| seoerarrya o|sa saja rasu| |e lrdores|a asa| prosedurrya oerar dar sesua| dergar do|urer |epaoearar.
lr| |ar oararg yarg d|oalas|, seoerarrya oo|er rasu|, asa| d|urus| cu|a|rya dar dapal |z|r dar| Kererler|ar Perdagargar, laroar Agurg.
( Kart|ka Run|asar| | 6N27 | J8H )

hLLp//suaramerdekacom/v1/lndexphp/read/news/2011/11/14/101793/8eaCukalCagalkan
enyelundupanMlraskorea

Rabu, 16/11/2011 12:49 WB

eIujur Kusus RuuII, PoIIsI PerIksu zIn Irus dI


TempuL HIburun
E Mei AmeIia R - detikNews

Jakarta - Kasus penusukan Raafi Aga Winasya Benyamin (17) ternyata menjadi pelajaran bagi polisi.
Untuk mengantisipasi kasus serupa terjadi, polisi akan mengecek izin pemakaian minuman beralkohol di
tempat-tempat hiburan.

"Tempat-tempat hiburan akan kita tertibkan. Kita akan berkoordinasi dengan pihak terkait. Alkohol yang
diizinkan itu berapa sih," kata Kapolres Jakarta Selatan Kombes Pol mam Sugianto di Polda Metro Jaya,
Jl Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (16/11/2011).

Sebelumnya mam mengatakan, pemicu keributan antara kelompok Raafi dengan kelompok pelaku
karena gara-gara rokok. Salah seorang dari kelompok Raafi diduga menyentil puntung rokok ke
kelompok pelaku. Siswa Pangudi Luhur tersebut berbuat itu karena dalam pengaruh alkohol.

Namun mam menjelaskan, sebenarnya masih simpang siur, belum jelas siapa yang menyentil rokok dan
siapa yang terkena. Polisi masih terus mendalaminya.

Seperti diketahui, Raafi tewas setelah tertusuk di perutnya saat menghadiri pesta ulang tahun salah satu
temannya di Shy Rooftop, Kemang, Jaksel pada Sabtu (5/11) lalu. Sebelum ditusuk, Raafi sempat terlibat
keributan dengan para pelaku.

Dalam kejadian itu, ternyata bukan hanya Raafi yang terluka. Teman Raafi, G yang juga siswa SMA
Pangudi Luhur turut terluka akibat terkena pisau pelaku.

(gus/ndr)
hLLp//wwwdeLlknewscom/read/2011/11/16/124943/1768476/10/bela[arkasusraaflpollslperlksa
lzlnmlrasdlLempaLhlburan