Anda di halaman 1dari 10

1. Apa perbedaan dokter keluarga, dokter UKM, dokter umum ? a.

Definisi Dokter Keluarga (DK) DPU yang telah memperoleh pendidikan tambahan dan menjalankan praktik dengan menerapkan pendekatan keluarga serta kompetensinya diakui oleh Kolegium Dokter dan Dokter Keluarga Indonesia (KDDKI), setelah setara dengan kompetensi dokter keluarga selanjutnya mendapat gelar profesi sebagai Dokter Keluarga (DK). Para DPU yang ingin diakui kompetensinya atau mendapat gelar professional DK dapat mengikuti program konversi PDKI (secara sukarela). Para DK ini dalam system pelayanan kedokteran terpadu atau terstruktur menjalankan praktiknya di strata pertama. Spesialis Famili Medisin (SpFM) Dokter Keluarga yang meningkatkan profesionalismenya lebih tinggi dengan mengikuti pendidikan spesialisasi kedokteran keluarga, dan memperoleh gelar akademik sebagai Spesialis Family Medicine (SpFM). Para SpFM ini dalam system pelayanan kedokteran terpadu atau terstruktur tetap menjalankan praktiknya di strata pertama. Dokter Praktik Umum Menurut terminology WFME (Federasi Pendidikan Kedokteran Sedunia) dokter yang telah menyelesaikan pendidikan kedokteran dasar disebut sebagai Basic Medical Doctor. Di Indonesia, dikenal sebagai Dokter Umum atau Dokter (yang untuk masa mendatang, adalah yang telah menyelesaikan program internship). Dalam system pelayanan kedokteran terpadu atau terstruktur para Dokter ini (untuk memudahkan pengertian, selanjutnya disebut sebagai Dokter Praktik Umum/DPU) menjalankan praktiknya di strata pertama.

Perbedaan

Dokter keluarga

Dokter Umum

Definisi

Dokter pengetahuan keluarga tersebut, memiliki

yang dan

memiliki Dokter

praktik

umum,

adalah

keterampilan setiap dokter yang melakukan dari medis yang dilakukan dalam sendiri bentuk tingkat

khusus dalam bidang kedokteran pelayanan kesehatan dan asuhan yang diperoleh pendidikan khusus dalam bidang atau sehingga kompetensi bersama serta

kemudian organisasi dan kegiatan setempat.

menjalankan

pelayanan

kewenangan untuk bekerja dalam primer sesuai dengan peraturan profesi dokter keluarga Hak Sistem kerja Promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative Pembiayaan di awal dari Mandiri dari perorangan Masyarakat Umum, perorangan Bersifat kuratif

yaan

pemerintah Keluarga sebagai satu unit Tempat Praktik Pelayanan (klinik dokter keluarga), di rumah dan di rumah sakit. pelayanan kedokteran yang Kuratif paripurna (komprehensif)
Prinsip dasar Layanan kontak pertama Layanan sinambung dan jangka panjang Layanan bersifat personal Layanan komprehensif Mengutamakan pencegahan Koordinasi Kolaborasi Berorientasi pada keluarga Berorientasi pada komunitas Dokter keluarga Ya Ya Ya Ya,>> promotif, preventif Ya Ya Ya Ya Ya Dokter umum di Klinik 24 jam puskesmas Ya Ya, emergency Episodik Episodik Tidak Ya, >> kuratif Terbatas Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak

Melayani pasien ditempat praktek Tempat Praktik Pribadi

Syarat-syarat Dokter Keluarga

Program konversi adalah program sertifikasi I (awal) dokter layanan primer yang berminat menjadi dokter keluarga. Program konversi dimaksudkan agar dokter yang memiliki komitmen menjadi dokter layanan primer mengimplementasikan komitmen tersebut dengan meningkatkan dan menjaga kompetensi dan kinerja profesionalnya sehingga benar-benar mampu dan mau menjadi dokter layanan primer yang mumpuni dan berkedudukan di lini terdepan pelayanan kesehatan di Indonesia. Program konversi adalah salah satu bentuk uji kompetensi melalui alat tilik diri (self assesment) yang berisi kuesioner tentang rekam jejak praktik dan kegiatan profesional dokter tersebut. Jadi program konversi tidak dapat diikuti oleh dokter yang tidak praktik atau praktik kurang dari 5 tahun. Landasan Hukum Dokter Keluarga Tugas-tugas Dokter Keluarga 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) Menyelenggarakan pelayanan primer secara paripurna menyuruh, dan bermutu guna penapisan untuk pelayanan spesialistik yang diperlukan, Mendiagnosis secara cepat dan memberikan terapi secara cepat dan tepat Memberikan pelayanan kedokteran secara aktif kepada pasien pada saat sehat dan sakit Memberikan pelayanan kedokteran kepada individu dan keluarganya Membina keluarga pasien untuk berpartisipasi dalam upaya peningkatan taraf kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan dan rehabilitasi Menangani penyakit akut dan kronik, Melakukan tindakan tahap awal kasus berat agar siap dikirim ke RS, Tetap bertanggung-jawab atas pasien yang dirujukan ke Dokter Spesialis atau dirawat di RS Memantau pasien yang telah dirujuk atau di konsultasikan Bertindak sebagai mitra, penasihat dan konsultan bagi pasiennya, Mengkordinasikan pelayanan yang diperlukan untuk kepentingan pasien, Menyelenggarakan rekam Medis yang memenuhi standar,

13)

Melakukan penelitian untuk mengembang ilmu kedokteran secara umum dan ilmu kedokteran keluarga secara khusus.

1.

Apakah setiap dokter umum yang ingin memperpanjang SIP harus beralihfungsi menjadi DK? Surat edaran IDI nomor 2342/PB/A3/11/2008 tentang dokter keluarga menjelaskan bahwa:
DPU yang telah memperoleh pendidikan tambahan dan menjalankan praktik dengan menerapkan pendekatan keluarga serta kompetensinya diakui oleh Kolegium Dokter dan Dokter Keluarga Indonesia (KDDKI), setelah setara dengan kompetensi dokter keluarga selanjutnya mendapat gelar profesi sebagai dokter keluarga (DK). Para DPU yang ingin diakui kompetensinya atau mendapat gelar profesional DK dapat mengikuti program konversi PDKI (secara sukarela). Para DK ini dalam sistem pelayanan kedokteran terpadu atau terstruktur menjalankan praktiknya di starta pertama.

Sementara itu, keputusan Menteri Kesehatan RI No: 916/Menkes RI/Per/VII/1997 juga mengatur peraturan praktek dokter umum dan dokter gigi yang diarahkan ke konsep dokter keluarga. Dari dua peraturan tersebut dapat disimpulkan bahwa peralihan fungsi DPU menjadi DK merupakan suatu pilihan, bukan suatu kewajiban. Namun, jika dilihat dari isi Peraturan Menteri Kesehatan No 131/MENKES/SK/II/2004 mengenai Sistem Kesehatan Nasional (SKN) pada Bab IV tentang subsistem upaya kesehatan bagian E poin 2A:
untuk masa mendatang, apabila sistem jaminan kesehatan naisonal telah berkembang, pemerintah tidak lagi menyelenggarakan unit kesehatan perorangan (UKP) strata pertama melalui Puskesmas. Penyelenggaraan UKP strata pertama akan diserahkan kepada masyarakat dan swasta dengan menerapkan konsep dokter keluarga, kecuali di daerah yang sangat terpencil masih dipadukan dengan pelayanan Puskesmas.

Terkesan bahwa dokter keluarga cenderung merupakan sebuah anjuran daripada pilihan. Kesimpulannya, setiap dokter umum yang ingin memperpanjang SIP tidak harus beralih fungsi menjadi DK. Alih fungsi menjadi DK cenderung merupakan suatu anjuran.

5. Uji kompetensi a. Tujuan

Tujuan Uji Kompetensi Dokter Indonesia adalah untuk memberikan informasi berkenaan kompetensi pengetahuan, ketrampilan, dan sikap dari para lulusan dokter umum secara komprehensif kepada pemegang kewenangan dalam pemberian sertifikat kompetensi sebagai bagian dari persyaratan registrasi, untuk kemudian seorang dokter dapat mengurus pengajuan surat ijin praktek dokter atau medical license. Sebagaimana diamanatkan oleh UU No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, setiap dokter harus melampirkan sertifikat kompetensi sebagai salah satu syarat untuk mengurus registrasi di Konsil Kedokteran Indonesia (KKI). Kewajiban itu juga harus dipenuhi oleh dokter yang baru lulus dari FK/PSPD yang juga harus melakukan registrasi di KKI. Sertifikat kompetensi diperoleh melalui uji kompetensi yang diatur oleh Kolegium Ilmu masing-masing b. Standar Kelulusan

Mengingat Uji kompetensi ini sangat menentukan bagi karier seorang dokter dan akan dijadikan acuan kompetensi secara nasional, maka proses penentuan standar kelulusan harus dilakukan dengan melibatkan komponen yang dapat mewakili pemegang kebijakan seperti para pendidik dari fakultas kedokteran, dokter yang melakukan praktik, organisasi profesi, depkes atau unsur pemerintah dan masyarakat. Metode yang dipakai adalah PAP atau criterion reference dengan menggunakan panel expert judge. Seseorang dapat mendaftarkan dirinya untuk menjadi panel expert judge , namun kemudian dipilih oleh badan pelaksana dengan kriteria merupakan ahli di bidang kedokteran dan menguasai teknik standard setting dengan memperhatikan keterwakilan stakeholder. Untuk memberikan keseimbangan antara standar kompetensi yang bersifat mutlak dan pertimbangan proporsi kelulusan uji kompetensi maka metode yang akan digunakan adalah Hofstee Method

c.

Landasan hukum

Diberlakukan beberapa peraturan mulai dari undang undang no 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran, permenkes no 1419 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Praktik Dokter & Dokter Gigi dan peraturan Konsil Kedokteran Indonesia no 1 tahun 2005

tentang registrasi dokter dan dokter gigi, di mana dinyatakan bahwa izin praktik dapat diberikan kepada seorang dokter setelah mendapatkan sertifikat lulus uji kompetensi. d. Syarat-syaratnya Pendidikan Dokter (PSPD) Sudah menjalani angkat sumpah dokter yang dibuktikan dengan sertifikat angka sumpah e. Pelaksana Uji kompetensi diadakan oleh IDI melalui KDDKI / KIKK KIKK

Memiliki ijazah dokter/tanda lulus dari fakultas kedokteran atau Program Studi

Kepanjangannya adalah: Kolegium Ilmu Kedokteran Keluarga, dipilih dalam Kogres Nasional VII di Makassar 30 Agustus 2 September 2006, dan telah dilaporkan ke PB IDI Pusat dan MKKI.

Kolegium memang harus ada dalam sebuah organisasi profesi. Jadi PDKI harus mempunyai kolegium yang akan memberikan pengakuan kompetensi keprofesian kepada setiap anggotanya

Dalam PDKI lembaga ini yang diangkat oleh kongres dan bertugas:
o

Melaksanakan isi anggaran dasar dan anggaran rumah tangga serta semua keputusan yang ditetapkan kongre Mempunyai kewenangan menetapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan sistem pendidikan profesi bidang kedokteran keluarga Mengkoordinasikan kegiatan kolegium kedokteran. Mewakili PDKI dalam pendidikan profesi bidang kedokteran keluarga Menetapkan program studi pendidikan profesi bidang kedokteran keluarga beserta kurikulumnya

o o o

Menetapkan kebijakan dan pengendalian uji kompetensi nasional pendidikan profesi kedokteran keluarga Menetapkan pengakuan keahlian (sertfikasi dan resertifikasi) Menetapkan kebijakan akreditasi pusat pendidikan dan rumah sakit pendidikan untuk pendidikan dokter keluarga Mengembangkan sistem informasi pendidikan profesi bidang kedokteran keluarga

o o

Angota KIKK terdiri atas anggota PDKI yang dinilai mempunyai tingkat integritas dan kepakaran yang tinggi untuk menilai kompetensi keprofesian anggotanya Atas anjuran dan himbauan IDI sebaiknya KIKK digabung dengan KDI karena keduanya menerbitan sertifikat kompetensi untuk Dokter Pelayanan Primer (DPP). Setelah melalui diskusi yang berkepanjangan akhirnya deuanya digabung dengan nama Kolegium Dokter dan Dokter Keluarga (KDDKI) yang untuk sementara melanjutkan tugas masing-masing, unsur KDI memberikan sertifikat kepada dokter yang baru lulus sedangkan unsur KIKK memberikan sertifikat kompetensi (resertifikasi) kepada DPP yang akan mendaftar kembali ke KKI.

Syarat: Dokter praktek umum dan dokter spesialis harus mengikuti pelatihan dokter keluarga. Pelatihan dan dokter keluarga sesuai adalah standar upaya mendapatkan dokter kompetensi (pengetahuan saat ini ketrampilan) kompetensi keluarga. Sampai

pelatihan dimaksud terdiri atas 4 paket yaitu Paket A,B,C dan D seluruh DPU sebaiknya dikonversikan ke DK guna mengoptimalkan fungsi dokter di layanan primer. Salah satu cara untuk merealisasikan alih fungsi tersebut adalah melalui pelatihan DK yang terdiri dari 4 paket, yaitu: Paket A : Konsep Dokter Keluarga 1. Konsep dan wawasan 2. prinsip pelayanan dokter keluarga 3. pengaruh keluarga komunitas dan lingkungan 4. tugas dan fungsi dokter keluarga dalam layanan primer

Paket B : Manajemen Klinik Dokter Keluarga 1. management sumber daya manusia 2. management fasilitas 3. management informasi 4. management data Paket C: Keterampilan Klinis 1. Keterampilan klinis non bedah 2. Keterampilan mengatasi keadaan klinis umum 3. Keterampilan meangani masalah klinis khusus 4. Keterampilan menggunakan sarana penunjang 5. Keterampilan medis teknis bedah Paket D : Keluasan Ilmu Dan Penerapannya 1. Masalah kesehatan kelompok usia 2. Masalah kesehatan kelompok khusus 6. Pelatihan dokter keluarga a. b. c. d. Paket A Paket B Paket C Paket D Kurikulum yang telah disepakati dari hasil rumusan kerjasama tripartid pengembangan dokter keluarga (IDI / KDKI-FK-Depkes) meliputi empat paket, yaitu : Paket A: pengenalan konsep kedokteran keluarga, Paket B: manajemen pelayanan kedokteran keluarga, Paket C: ketrampilan klinik praktis, Paket D: pengetahuan klinik mutakhir yang disusun berdasarkan golongan usia.

PAKET A A1-KONSEP DAN WAWASAN DK A2-PRINSIP PELAYANAN DK A3-PENGARUH KELUARGA,KOMUNITAS DAN LINKUNGAN A4-TUGAS DAN FUNGSI DK DALAM LAYANAN PRIMER PAKET B B1-MANAGEMEN SDM B2-MANAGEMENT FASILITAS B3-MANAGEMENT INFORMASI B4-MANAGEMENT DANA PAKET C C1-KETRAMPILAN KLINIS NON-BEDAH C2-KETRAMPILAN MENGATASI KEADAAN KLINIS UMUM C3-KETRAMPILAN MENANGANI MASALAH KLINIS KHUSUS C4-KETRAMPILAN MENGGUNAKAN SARANA PENUNJANG C5-KETRAMPILAN MEDIS TEKNIS BEDAH PAKET D D1-MASALAH KESEHATAN KELOMPOK USIA D2-MASALAH KESEHATAN KELOMPOK KHUSUS