Anda di halaman 1dari 17

ANALISIS URIN

I. %U1UAN PERCOBAAN
Setelah melakukan percobaan ini diharapkan mahasiswa dapat:
1. Melakukan evaluasi skrining terhadap Iungsi ginjal dengan cara urinalisis.
2. Menginterpretasikan hasil pemeriksaan yang diperoleh.

II. PRINSIP
1. ravitas spesiIik
Uji untuk mendeteksi konsentrasi ion dalam urin, adanya kation, proton,
dilepas oleh gugus kompleks menghasilkan perubahan warna pada
bromtimol biru, dari biru menjadi biru kehijauan dan berubah lagi menjadi
kuning .
2. PH
Mengandung indikator metal merah, IenoItalein, bromtimol biru. Reaksi
spesiIik dengan ion H
+
pH urin pada subjek yang sehat berada pada
rentang 4-5.
3. eukosit
Uji ini memunculkan adanya granulesit esterase. Proses esterase ini
memecah ester indoksil, indoksil bereaksi dengan garam diazonium untuk
menghasilkan warna ungu.
4. Nitrit
Uji ini berdasarkan prinsip uji griess, reaksi ini menandakan adanya nitrit
dan secara tidak langsung menunjukkan bakteri, bakteri yang mengandung
nitrit, warna pink-kemerahan.
5. Protein
Uji ini berdasarkan perubahan protein di pH indikator, uji sangat sensitiI
untuk albumin, quinine, quinidine, chloroquine, tolbutanit, dan pH yang
ditingkatkan jadi 9 tidak mempunyai eIek dalam pengujian.

. lukosa
Penentuan glukosa ini berdasarkan dari glukosa yang spesiIik dari reaksi
oksidasi/peroksidasi (cara /P. Tes ini untuk menguji gravitas
spesiIik dari urin dan tidak bereIekdengan adanya gugus ketone.
7. ugus keton
Tes ini berdasarkan dari prinsip tes egai dan ini lebih sensitiI pada asam
asetoasetik daripada aseton.
8. Urubilinogen
Sebuah keadaan tetap garam diazonium,yang bereaksi cepat dengan
urubilinogen untuk menghasilkan warna merah. Tes ini khusus untuk
urubilinogen dan tidak dicurigai sebagai Iaktor penganggu untuk tes
enrlich.
9. Bilirubin
Tes ini didasari dengan memasangkan bilirubin dengan garam diazonium.
Meski memberikan warna ungu sebagai tanda positiI.
10.arah
Peroksidasi seperti aksi dari hemoglobin dan myoglobin katalis spesiIik
oksidasi dari indikator menandakan bahwa hidroperoksida organik
terdapat di kertas tes yang memberikan warna biru kehijauan.
11.Area kompensasi
Ini adalah area putih, dimana tidak ada reaksi dengan reagen,termasuk
kompensasi instrumen untuk warna intrinsik dari urin ketika dilakukan tes
leukosit, protein, glukosa, gugus keton, urubilinogen, dan bilirubin.







III.%EORI
injal berperan dalam proses pembentukan urin yang terjadi melalui
serangkaian proses, yaitu:
1. Penyaringan (Iiltrasi
Proses pembentukan urin diawali dengan penyaringan darah yang terjadi
di kapiler glomerulus. Sel-sel kapiler glomerulus yang berpori (podosit, tekanan
dan permeabilitas yang tinggi pada glomerulus mempermudah proses
penyaringan. Selain penyaringan, di glomelurus juga terjadi penyerapan kembali
sel-sel darah, keping darah, dan sebagian besar protein plasma. Bahan-bahan kecil
yang terlarut di dalam plasma darah, seperti glukosa, asam amino, natrium,
kalium, klorida, bikarbonat dan urea dapat melewati saringan dan menjadi bagian
dari endapan. Hasil penyaringan di glomerulus disebut Iiltrat glomerolus atau urin
primer, mengandung asam amino, glukosa, natrium, kalium, dan garam-garam
lainnya (Tim e-dukasi, 2010.
2. Penyerapan kembali (reabsorbsi
Bahan-bahan yang masih diperlukan di dalam urin pimer akan diserap
kembali di tubulus kontortus proksimal, sedangkan di tubulus kontortus distal
terjadi penambahan zat-zat sisa dan urea. Meresapnya zat pada tubulus ini melalui
dua cara. ula dan asam amino meresap melalui peristiwa diIusi, sedangkan air
melalui peristiwa osmosis. Penyerapan air terjadi pada tubulus proksimal dan
tubulus distal. Substansi yang masih diperlukan seperti glukosa dan asam amino
dikembalikan ke darah. Zat amonia, obat-obatan seperti penisilin, kelebihan
garam dan bahan lain pada Iiltrat dikeluarkan bersama urin. Setelah terjadi
reabsorbsi maka tubulus akan menghasilkan urin sekunder, konsentrasi zat-zat
sisa metabolisme yang bersiIat racun bertambah, misalnya urea (Tim e-dukasi,
2010.
3. Augmentasi
Augmentasi adalah proses penambahan zat sisa dan urea yang mulai
terjadi di tubulus kontortus distal. ari tubulus-tububulus ginjal, urin akan menuju
rongga ginjal, selanjutnya menuju kantong kemih melalui saluran ginjal. Jika
kantong kemih telah penuh terisi urin, dinding kantong kemih akan tertekan

sehingga timbul rasa ingin buang air kecil. Urin akan keluar melalui uretra.
Komposisi urin yang dikeluarkan melalui uretra adalah air, garam, urea dan sisa
substansi lain, misalnya pigmen empedu yang berIungsi memberi warna dan bau
pada urin (Tim e-dukasi, 2010.
Pada umumnya terdapat 3 kelas konsentrasi zat-zat yang berbeda dalam
urin. Pertama, zat gizi yang penting, glukosa, protein, dan asam amino
direabsorpsi jauh lebih cepat daripada air sehingga konsentrasi mereka turun
sangat cepat dalam tubulus proksimalis, tetap nol di seluruh sisa sistem tubulus
tersebut juga dalam urin. Kedua, konsentrasi produk-produk akhir metabolism
menjadi semakin besar di seluruh sistem tubulus tersebut, karena semua zat ini
direabsorpsi jauh lebih sedikit daripada air. Ketiga, banyak ion lain biasanya
diekskresikan ke dalam urin dalam konsentrasi yang tidak jauh berbeda daripada
konsentrasinya dalam Iiltrat glomerulus dan cairan ekstrasel (uyton, 1990.
Analisis urin adalah bentuk lain dari tes urin, dimana urin dari pasien
dikumpulkan dalam cangkir spesimen. Sebuah analisis urin tes akan mencakup
temuan-temuan mengenai warna urin, kejernihan, bau dan kandungan kimia urin.
alam hal ada beberapa jenis penyakit, hal itu akan membuat urin tampak keruh
dan juga mengubah bau. Salah satu dari sekian banyak hal lain yang analisis urin
akan mengungkapkan adalah bobot jenis urin yang secara tidak langsung akan
menunjukkan apakah pasien kurang minum air atau air yang cukup. Selain ini, ada
hal-hal lain seperti konten pH, tingkat protein, jumlah glukosa yang juga diperiksa
selama tes analisis urin (Tim Scumdoctor, 2010.
Urinalisis adalah suatu analisa urin. Hal ini dilakukan dengan
mengumpulkan sampel urin dari pasien dalam cangkir spesimen. Biasanya hanya
sejumlah kecil (30-0 ml yang diperlukan untuk pengujian urinalisis. Urin dapat
dievaluasi dengan penampilan Iisik (warna, kejernihan, bau, kejelasan atau
analisis makroskopik. Hal ini dapat juga dianalisis berdasarkan kimia dan molekul
properti atau penilaian mikroskopis (Nabili, 2010.
Urinalisis adalah tes yang dilakukan pada sampel urin pasien untuk tujuan
diagnosis inIeksi saluran kemih, batu ginjal, skrining dan evaluasi berbagai jenis
penyakit ginjal, memantau perkembangan penyakit seperti diabetes melitus dan

tekanan darah tinggi (hipertensi, dan skrining terhadap status kesehatan umum.
(Riswanto, 2010.

Analisis Dipstick
ipstick adalah strip reagen berupa strip plastik tipis yang ditempeli kertas
seluloid yang mengandung bahan kimia tertentu sesuai jenis parameter yang akan
diperiksa. Urin ip merupakan analisis kimia cepat untuk mendiagnosa berbagai
penyakit. Uji kimia yang tersedia pada reagen strip umumnya adalah: glukosa,
protein, bilirubin, urobilinogen, pH, berat jenis, darah, keton, nitrit, dan leukosit
esterase (Riswanto, 2010.

br.1 ipstick (Riswanto, 2010

Prosedur Tes

br.2 ipstick yang dicelupkan pada urin (Riswanto, 2010

Ambil strip yang diperlukan dari wadah dan segera tutup wadah. Celupkan
strip reagen sepenuhnya ke dalam urin selama dua detik. Hilangkan kelebihan urin
dengan menyentuhkan strip di tepi wadah spesimen atau dengan meletakkan strip
di atas secarik kertas tisu. Perubahan warna diinterpretasikan dengan
membandingkannya dengan skala warna rujukan, yang biasanya ditempel pada
botol/wadah reagen strip. Perhatikan waktu reaksi untuk setiap item. Hasil
pembacaan mungkin tidak akurat jika membaca terlalu cepat atau terlalu lambat,

atau jika pencahayaan kurang. Pembacaan dipstick dengan instrumen otomatis


lebih dianjurkan untuk memperkecil kesalahan dalam pembacaan secara visual
(Riswanto, 2010.
Tiap-tiap Kotak pada dipstick mewakili komponen-komponen berikut
dalam urin:
1. lukosa
Kurang dari 0,1 dari glukosa normal disaring oleh glomerulus muncul dalam
urin (kurang dari 130 mg/24 jam. lukosuria (kelebihan gula dalam urin terjadi
karena nilai ambang ginjal terlampaui atau daya reabsorbsi tubulus yang menurun.
lukosuria umumnya berarti diabetes mellitus. Untuk pengukuran glukosa urin,
reagen strip diberi enzim glukosa oksidase (, peroksidase (P dan zat
warna (Riswanto, 2010.
2. Protein
Normal ekskresi protein urin biasanya tidak melebihi 150 mg/24 jam atau 10
mg/dl dalam setiap satu spesimen. ebih dari 10 mg/ml dideIinisikan sebagai
proteinuria(Nabili, 2010.
3. Bilirubin
ipsticks mendeteksi protein dengan indikator warna bromphenol biru, yang
sensitiI terhadap albumin tetapi kurang sensitiI terhadap globulin, protein Bence-
Jones, dan mukoprotein (Riswanto, 2010
4. Urobilinogen
Bilirubin yang dapat dijumpai dalam urin adalah bilirubin terkonjugasi, karena
tidak terkait dengan albumin, sehingga mudah diIiltrasi oleh glomerulus dan
diekskresikan ke dalam urin bila kadar dalam darah meningkat(Riswanto, 2010
5. pH
Filtrat glomerular plasma darah biasanya diasamkan oleh tubulus ginjal dan
saluran pengumpul dari pH 7,4 menjadi sekitar di Iinal urin. Namun, tergantung
pada status asam-basa, pH kemih dapat berkisar dari 4,5 8,0. Urin yang
diperiksa haruslah segar, sebab bila disimpan terlalu lama, maka pH akan berubah
menjadi basa. pH urin yang basa sepanjang hari kemungkinan oleh adanya inIeksi.

Urin dengan pH yang selalu asam dapat menyebabkan terjadinya batu asam urat
(Nabili, 2010.
. SpesiIik graviti
Berat jenis (yang berbanding lurus dengan osmolalitas urin yang mengukur
konsentrasi zat terlarut mengukur kepadatan air seni serta dipakai untuk menilai
kemampuan ginjal untuk memekatkan dan mengencerkan urin. SpesiIik gravitasi
antara 1,005 dan 1,035 pada sampel acak harus dianggap wajar jika Iungsi ginjal
normal. Nilai rujukan untuk urin pagi adalah 1,015 1,025, sedangkan dengan
pembatasan minum selama 12 jam nilai normal ~ 1,022, dan selama 24 jam bisa
mencapai _1,02. eIek Iungsi dini yang tampak pada kerusakan tubulus adalah
kehilangan kemampuan untuk memekatkan urin (Nabili, 2010.

elainan pada Ginfal
Kelainan-kelainan pada ginjal diantaranya adalah gagal ginjal dan batu
ginjal. agal ginjal merupakan kelainan pada ginjal dimana ginjal sudah tidak
dapat berIungsi sebagaimana mestinya yaitu menyaring dan membersihkan darah
dari zat-zat sisa metabolisme. Penyebab terjadinya gagal ginjal antara lain
disebabkan oleh makan makanan berlemak, kolesterol dalam darah yang tinggi,
kurang berolahraga, merokok, dan minum minuman beralkohol (Harrison, 1994.
Urin banyak mengandung mineral dan berbagai bahan kimiawi. Urin
belum tentu dapat melarutkan semua itu. Apabila kita kurang minum atau sering
menahan kencing, mineral-mineral tersebut dapat mengendap dan membentuk
batu ginjal. Batu ginjal merupakan kristal yang terlihat seperti batu yang terbentuk
di ginjal. Kristal-kristal tersebut akan berkumpul dan saling berlekatan untuk
membentuk Iormasi 'batu. Apabila batu tersebut menyumbat saluran kemih
antara ginjal dan kandung kemih, saluran kemih manusia yang mirip selang akan
teregang kuat karena menahan air seni yang tidak bisa keluar. Hal itu tentu
menimbulkan rasa sakit yang hebat (Harrison, 1994.


IV. ALA% DAN BAHAN


Alat : elas minuman kemasan bekas
Urin strip tes
Pembanding warna urin strip tes
Bahan : Urin segar

V. PROSEDUR
1. Sediakan urin segar di dalam tabung
2. Celupkan carik uji maksimal satu detik ke dalam tabung
3. Angkat carik uji sambil menyapukannya pada pinggiran tabung untuk
membuang urin yang berlebih dari carik uji
4. Ikuti petunjuk pembacaan waktu untuk setiap reaksi. Amati setiap
perubahan warna pada carik uji dibandingkan dengan skala warna.

VI. DA%A PENGAMA%AN
Parameter Perempuan aki-laki
SpesiIik ravity 1.015 1.020
pH 5
eukosit - 1 (euko/
Nitrit - -
Protein - -
Keton normal Normal
Urobilinogen 1 (mg/d -
Bilirubin - -
Eritrosit - -
Hemoglobin - -
lukosa normal normal



VII. PEMBAHASAN
Praktikum kali ini bertujuan untuk melakukan evaluasi skrining terhadap
Iungsi ginjal dengan cara urinalisis, yang kemudian dapat diinterpretasikan hasil
pemeriksaan yang diperoleh. Tes urin yang dilakukan meliputi tes pH, protein,
keton, bilirubin, urobilinogen, nitrit, leukosit, eritrosit, Hb, glukosa, dan S.
Pemeriksaan dilakukan langsung pada urin segar. Penundaan pemeriksaan
terhadap spesimen urin harus dihindari karena dapat mengurangi validitas hasil.
Analisis harus dilakukan selambat-lambatnya 4 jam setelah pengambilan
spesimen. ampak dari penundaan pemeriksan antara lain: unsur-unsur berbentuk
dalam sedimen mulai mengalami kerusakan dalam 2 jam, urat dan IosIat yang
semula larut dapat mengendap sehingga mengaburkan pemeriksaan mikroskopik
elemen lain, bilirubin dan urobilinogen dapat mengalami oksidasi bila terpajan
sinar matahari, bakteri berkembangbiak dan dapat mempengaruhi hasil
pemeriksaan mikrobiologik dan pH, glukosa mungkin turun, dan badan keton, jika
ada, akan menguap.
Percobaan diawali dengan menyiapkan urin segar di dalam tabung. Urin
segar diperoleh dari dua praktikan, yakni satu dari wanita dan satu lagi dari pria.
iambil sampel dari dua praktikan agar datanya dapat dilihat perbedaannya
dengan cara dibandingkan hasil yang diperoleh antara satu sama lain.
Urin yang diperoleh kemudian ke dalam rabung dicelupkan carik uji
maksimal satu detik. Carik uji adalah dry kit, yang mana di dalamnya sudah
terisikan oleh reagen-reagen yang diperlukan untuk pemeriksaan. Reagen ini
disajikan dalam bentuk kering supaya mudah digunakan dan mudah dibawa
kemana-mana. Reagen ini akan bekerja dengan terjadinya perubahan warna
apabila terbasahi oleh cairan urin. Setelah dicelupkan, carik uji diangkat sambil
disapukan pada pinggiran tabung untuk membuang urin yang berlebih dari carik
uji. Maksud dari penyapuan ini adalah agar tidak ada urin yang terbawa dan
kontak terus-menerus dengan carik uji, artinya sama saja dengan carik uji tercelup
dalam urin lebih dari satu detik. engan demikian, intensitas warna yang
diberikan tentunya akan berbeda dan berpengaruh dalam intrepretasi hasil.

Kemudian petunjuk pembacaan waktu untuk setiap reaksi diikut.


Perubahan warna diinterpretasikan dengan membandingkannya dengan skala
warna rujukan, yang biasanya ditempel pada botol/ wadah carik uji. Perhatikan
waktu reaksi untuk setiap item. Hasil pembacaan mungkin tidak akurat jika
membaca terlalu cepat atau terlalu lambat, atau jika pencahayaan kurang.
Pengujian pH didasarkan pada prinsip adanya interaksi/reaksi antara
indicator metil merah, IenoItlein, dan bromtimol biru terhadap ion H

yang ada di
dalam urin. Ion H

mempengaruhi perubahan warna indicator. ari hasil


pengujian, diperoleh hasil urin praktikan wanita menunjukkan pH , sedangkan
urin praktikan pria menunjukkan pH 5. Keduanya masih berada pada rentang pH
normal, yakni 4,8-7,4. Artinya, keseimbangan asam-basa di dalam tubuh dalam
keadaan normal. Urin akan bersiIat lebih asam bila intake makanan berprotein
tinggi karena tubuh menjadi lebih banyak memproduksi IosIat dan sulIat. Urin
basa dapat dikurangi dengen makanan tinggi sayuran dan buah-buahan.
Pengujian protein didasarkan pada prinsip adanya protein dalam urin
menyebabkan terjadinya perubahan pH indikator. Pengujian ini sensitive untuk
mendeteksi keberadaan albumin di dalam urin. Indikator yang digunakan adalah
tetrabromIenol biru yang didapar dengan asam sampai pH 3 atau tetrakloroIenol
tetrabromosulIoItalein. aerah ini berwarna kuning jika protein negatiI dan akan
berubah menjadi hijau tergantung pada konsentrasi yang ada, apabila protein
positiI. ari hasil pengujian, diperoleh hasil urin praktikan wanita dan pria
menunjukkan hasil negatiI. Artinya, praktikan tidak mengalami proteinuria yang
secara langsung menunjukkan adanya kerusakan glomerulus.
Pengujian keton didasarkan pada prinsip tes egal dan lebih sensitive
terhadap asam asetoasetat daripada aseton. Prinsip tes egal adalah terjadinya
reaksi antara natrium nitroIerisianida (nitroprusid dan glisin dengan asam
asetoasetat dan aseton dalam media basa menghasilkan warna violet. Keton tidak
normal ditemukan dalam urin. Keton merupakan hasil dari metabolism lemak
yang tidak sempurna. Keton dibentuk ketika seseorang tidak cukup
mengkonsumsi karbohidrat atau ketika karbohidrat dalam tubuh tidak dapat
digunakan. leh karena itu, lemak dimetabolisme untuk memperoleh energi.

Keton di dalam urin menunjukkan kekurangan insulin, yang mana artinya


seseorang terjangkit diabetes. lahraga berat, pilek, berat badan turun, muntah
berIrekuensi, dapat menyebabkan peningkatan metabolism lemak dan
menghasilkan ketonuria. Selain itu, keberadaan keton menunjukkan keadaan
asidosis. ari hasil pengujian, diperoleh hasil urin praktikan wanita dan pria
menunjukkan normal. Artinya, praktikan tidak mengalami asidosis, tidak
mengalami proteinuria, dan lebih jauh lagi tidak mengalami diabetes.
Pengujian bilirubin didasarkan pada prinsip pengkopelan antara bilirubin
dengan garam diazonium dalam media asam menghasilkan warna pink muda
apabila hasil positiI. Bilirubin tidak terdapat dalam urin orang sehat/normal
Bilirubin merupakan produk buangan yang diproduksi hati dari hemoglobin RBC
yang dibuang dari sirkulasi. Ini menjadi komponen empedu, suatu cairan yang
disekresi ke usus untuk membantu proses pencernaan. Ketika penyakit hati,
seperti obstruksi empedu atau hepatitis, bilirubin bocor dan kembali ke aliran
darah, lalu dieksresi urin. Keberadaan bilirubin dalam urin merupakan indicator
awal adanya kerusakan hati dan dapat terjadi sebelum gejala klinik seperti
penyakit kuning. ari hasil pengujian, diperoleh hasil urin praktikan wanita dan
pria menunjukkan hasil negatiI. Artinya, praktikan tidak berindikasi mengalami
penyakit hati.
Pengujian urobilinogen didasarkan pada reaksi Ehrlich, dimana garam
diazonium stabil bereaksi dengan urobilinogen, yang akan memberikan warna
merah azo seketika. Urobilinogen secara normal terdapat di urin dalam
konsentrasi rendah. Urobilinogen dibentuk dalam usus dari bilirubin dan sebagian
diabsorpsi kembali ke aliran darah. Hasil positiI menunjukkan adanya penyakit
hati, seperti hepatitis dan sirosis, kondisi ini berhubungan dengan kenaikan
destruksi RBC (anemia hemolitik. Ketika urobilinogen urin rendah atau tidak
ditemukan dalam pasien dengan bilirubin urin dengan atau disIungsi hati,
mengindikasi adanya obstruksi hepar/empedu. ari hasil pengujian, diperoleh
hasil urin praktikan wanita menunjukkan 1, sedangkan urin praktikan pria
menunjukkan hasil normal. Artinya, ada kemungkinan terjadinya gangguan hati
pada praktikan wanita

Pengujian nitrit didasarkan pada reaksi riess, yaitu nitrit bereaksi dengan
benzokinolon pada pH asam dan menghasilkan warna merah azo. Tes ini
mendeteksi nitrit dan didasarkan Iakta bahwa banyak bakteri yang dapat
mengkonversi nitrat menjadi nitrit dalam urin. Secara normal saluran urin dan urin
bebas dari bakteri. Ketika bakteri ditemukan pada saluran urin, bakteri tersebut
dapat menyebabkan inIeksi saluran urin (UTI. Hasil yang positiI
mengindikasikan adanya UTI. ari hasil pengujian, diperoleh hasil urin praktikan
wanita dan pria menunjukkan negatiI. Artinya, dalam saluran urin dan urin
praktikum tidak terinIeksi oleh bakteri.
Pengujian glukosa didasarkan pada reaksi oksidasi dari dua enzim, yaitu
glukosa oksidase ( dan peroksidase (P, serta zat warna (kromogen
seperti orto-toluidin yang akan berubah menjadi warna biru jika teroksidasi. Zat
warna lain yang digunakan adalah iodide yang akan berubah warna coklat jika
teroksidasi. Kurang dari 0,1 dari glukosa normal disaring oleh glomerulus
muncul dalam urin (kurang dari 130 mg/24 jam. lukosuria (kelebihan gula
dalam urin terjadi karena nilai ambang ginjal terlampaui atau daya reabsorbsi
tubulus yang menurun. lukosuria umumnya berarti diabetes mellitus. Namun,
glukosuria dapat terjadi tidak sejalan dengan peningkatan kadar glukosa dalam
darah, oleh karena itu glukosuria tidak selalu dapat dipakai untuk menunjang
diagnosis diabetes mellitus. ari hasil pengujian, diperoleh hasil urin praktikan
wanita dan pria menunjukkan hasil negatiI. Artinya, praktikan tidak mengalami
glukosuria yang secara langsung menunjukkan adanya penurunan daya reabsorpsi
tubulus.
Beberapa Iaktor yang dapat mempengaruhi hasil carik uji glukosa adalah:
O Hasil uji positiI palsu dapat disebabkan oleh : bahan pengoksidasi
(hidrogen peroksida, hipoklorit, atau klorin dalam wadah sampel urin,
atau urin yang sangat asam (pH di bawah 4.
O Hasil negatiI palsu dapat disebabkan oleh : pengaruh obat (vitamin C,
asam hogentisat, salisilat dalam jumlah besar, asam hidroksiindolasetat,
berat jenis urin ~ 1,020 dan terutama bila disertai dengan pH urin yang

tinggi, adanya badan keton dapat mengurangi sensitivitas pemeriksaan,


inIeksi bakteri.
Pengujian berat jenis (speciIik graIity didasarkan pada perbandingan
jumlah solut (zat terlarut dalam urin dengan air murni yang digunakan untuk
menilai kemampuan ginjal untuk memekatkan dan mengencerkan urin. SpesiIik
gravitasi antara 1,005 dan 1,035 pada sampel acak harus dianggap wajar jika
Iungsi ginjal normal. Nilai rujukan untuk urin pagi adalah 1,015 1,025,
sedangkan dengan pembatasan minum selama 12 jam nilai normal ~1,022, dan
selama 24 jam bisa mencapai _1,02. eIek Iungsi dini yang tampak pada
kerusakan tubulus adalah kehilangan kemampuan untuk memekatkan urin. ari
hasil pengujian, diperoleh hasil urin praktikan wanita menunjukkan S 1,015,
sedangkan urin praktikan pria menunjukkan S 1,020. Artinya, kandungan zat
terlarut di dalam urin dalam keadaan normal.
Pengujian hemoglobin (Hb didasarkan pada prinsip tes carik celup ialah
mendeteksi hemoglobin dengan pemakaian substrat peroksidase serta aseptor
oksigen. Eritrosit yang utuh dipecah menjadi hemoglobin dengan adanya aktivitas
peroksidase. Pemeriksaan dengan carik celup akan memberi hasil positiI baik
untuk hematuria, hemoglobinuria, maupun mioglobinuria. Hemoglobinuria sejati
terjadi bila hemoglobin bebas dalam urin yang disebabkan karena danya hemolisis
intravaskuler. Hemolisis dalam urin juga dapat terjadi karena urin encer, pH
alkalis, urin didiamkan lama dalam suhu kamar. Mioglobinuria terjadi bila
mioglobin dilepaskan ke dalam pembuluh darah akibat kerusakan otot, seperti otot
jantung, otot skeletal, juga sebagai akibat dari olah raga berlebihan, konvulsi.
Mioglobin memiliki berat molekul kecil sehingga mudah diIiltrasi oleh
glomerulus dan diekskresi ke dalam urin. ari hasil pengujian, diperoleh hasil
urin praktikan wanita dan pria menunjukkan hasil negatiI. Artinya, praktikan tidak
mengalami hematuria, hemoglobinuria, maupun mioglobinuria.
Faktor-Iaktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium pada uji Hb:
O Hasil positiI palsu dapat terjadi bila urin tercemar deterjen yang mengandung
hipoklorid atau peroksida, bila terdapat bakteriuria yang mengandung
peroksidase.

O Hasil negatiI palsu dapat terjadi bila urin mengandung vitamin C dosis tinggi,
pengawet Iormaldehid, nitrit konsentrasi tinggi, protein konsentrasi tinggi,
atau berat jenis sangat tinggi.
Urin dari wanita yang sedang menstruasi dapat memberikan hasil positiI.
Pengujian eritrosit hampir sama dengan pengujian hemoglobin (Hb.
Eritrosit dalam air seni dapat berasal dari bagian manapun dari saluran kemih.
Secara teoritis, harusnya tidak dapat ditemukan adanya eritrosit, namun dalam
urine normal dapat ditemukan 0 3 sel/PK. Hematuria adalah adanya
peningkatan jumlah eritrosit dalam urin karena: kerusakan glomerular, tumor yang
mengikis saluran kemih, trauma ginjal, batu saluran kemih, inIeksi, inIlamasi,
inIark ginjal, nekrosis tubular akut, inIeksi saluran kemih atas dan bawah, dan
neIrotoksin. ari hasil pengujian, diperoleh hasil urin praktikan wanita dan pria
menunjukkan hasil negatiI. Artinya, praktikan tidak mengalami hematuria.
Pengujian lekosit netroIil didasarkan pada reaksi esterase yang
disekresikan yang dideteksi secara kimiawi. Hasil tes lekosit esterase positiI
mengindikasikan kehadiran sel-sel lekosit (granulosit, baik secara utuh atau
sebagai sel yang lisis. imIosit tidak memiliki memiliki aktivitas esterase
sehingga tidak akan memberikan hasil positiI. Biasanya bila leukosit dalam urin
sedikit, hasil tes ini adalah negatiI. Bila jumlah leukosit dalam urin meningkat
secara signiIikan, tes ini akan menjadi positiI. Jika jumlah WBC dalam urin
tinggi, itu berarti ada peradangan di saluran kemih atau ginjal. ari hasil
pengujian, diperoleh hasil urin praktikan wanita dan pria menunjukkan hasil
negatiI. Artinya, praktikan tidak mengalami leukocyturia yang secara langsung
menunjukkan adanya inIeksi bakteri saluran kemih (UTI, seperti kandung kemih
atau inIeksi ginjal.
Temuan laboratorium negatiI palsu dapat terjadi bila kadar glukosa urin
tinggi (~500mg/dl, protein urin tinggi (~300mg/dl, berat jenis urin tinggi, kadar
asam oksalat tinggi, dan urin mengandung cephaloxin, cephalothin, tetrasiklin.
Temuan positiI palsu pada penggunaan pengawet Iormaldehid. Urin basi dapat
mempengaruhi hasil pemeriksaan.

VIII. ESIMPULAN
ari percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. Telah dilakukan evaluasi skrining terhadap Iungsi ginjal dengan cara
urinalisis pada dua orang praktikan (pria dan wanita.
2. ari hasil pemeriksaan yang diperoleh, praktikan pria menghasilkan urin
normal sedangkan praktikan wanita menghasilkan urin dengan dua
parameter yang bernilai diluar expected value yaitu specific gravity (S
sebesar 1,015 dan urobilinogen (UB sebesar 1 mg/dl, selain dari itu
normal.





















DAF%AR PUS%AA

uyton, A.C. 1990. isiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. EC. Jakarta.

Harrison. 1994. Harrisons Principles of Internal Medicine. Vol 13/E. Mcraw-
Hill. Singapore. P: 51

Nabili, S. 2010. Urinalysis. Tersedia online di:
http://www.medicinenet.com/urinalysis/page3.htm |iakses tgl 30
ktober 2010|.

Riswanto. 2010. Urinalisis 1. Tersedia online di:
http://labkesehatan.blogspot.com/2010/03/urobilinogen-urin.html |iakses
tgl 30 ktober 2010|.

Tim e-dukasi. 2010. Proses Pembentukan Urine. Tersedia online.di:
http://www.e-dukasi.net/mapok/mpIull.php?id199&Inamemateri5.htm
|iakses tgl 30.10.2010|.

Tim scumdoctor. 2010. Tes Urine. Tersedia online.di:
http://www.scumdoctor.com/Indonesian/senior-care/checkup/urine-
test/What-oes-Urine-Analysis-Test-For.html |iakses tgl 30 ktober
2010|.














APRAN PRAKTIKUM KIMIA KINIK



ANALISIS URIN
Tanggal Praktikum : 28 ktober 2010
Kelompok : Kamis Siang



isusun leh :
1. amora Tamba 20110070123 (Editor
2. Yoga Yudhistira 20110070124 (Tujuan, Prinsip
3. wi Meida Fitri 2011007012 (Alat Bahan, Prosedur, ata
Pengamatan
4. Melinda usiana 20110070127 (Pembahasan
5. Ayuputri K. W. 20110070128 (Teori
. eni Sudarno 20110070129 (Teori
7. Nining 20110070130 (Pembahasan
8. Septia Virgianti 20110070131 (Teori
9. Meiliana Thamrin 20110070132 (Pembahasan


LABORA%ORIUM IMIA LINI
FAUL%AS FARMASI
UNIVERSI%AS PAD1AD1ARAN
2010