Anda di halaman 1dari 3

Artikel Eksistensi Hukum Adat dalam Hukum Nasional oleh : Fazlur Rahman / B1A008202

Hukum

sebagai

salah

satu

masalah

manusiawi

merupakan

suatu

permasalahan yang senantiasa dihadapi oleh umat manusia kapanpun dan dimanapun. Hukum dalam proses kehidupan manusia menampakkan diri dalam berbagai bentuk, baik dalam bentuk peraturan yang tertulis, tidak tertulis lembaga lembaga hukum maupun sebagai proses yang tumbuh dalam kehidupan bermasyarakat sehingga oleh karenanya hukum adat sebagai salah satu bagian daripada hukum umumnya juga akan merupakan sebuah permasalahan dan senantiasa sebagai suatu masalah yang selalu dihadapi oleh Bangsa dan Negara kita khususnya dalam rangka pelaksanaan pembangunan nasional.1 Menurut M.M. Djojodigoeno, hukum adat adalah suatu karya masyarakat tertentu yang bertujuan penataan yang adil dalam tingkah laku dan perbuatan di dalam masyarakat sendiri. Menurut Soepomo, hukum adat adalah hukum yang tidak tertulis yang meliputi peraturan hidup yang tidak ditetapkan oleh pihak yang berwajib tetapi ditaati masyarakat berdasarkan keyakinan bahwa peraturan tersebut mempunyai kekuatan hukum. Sedangkan menurut Van Vollenhoven, hukum adat adalah keseluruhan aturan tingkah laku positif dimana disatu pohak mempunyai sanksi sedangkan di pohak lain tidak dikodifikasi. Dari beberapa definisi para ahli diatas dapat ditarik kesimpulan bahwasanya sebagian besar hukum adat tidak tertulis, tidak dikodifikasikan namun ia ditaati. Padahal negara kita menganut asas legalitas, yang berarti bahwa tidak ada hukum kecuali yang telah dituliskan. Asas legalitas ada untuk menjamin
1

Abdurrahman SH, Kedudukan Hukum Adat dalam Rangka Pembangunan Nasional, (Bandung, Alumni, 1978), hlm. 11-12

kepastian hukum. Namun disisi lainnya, jika seorang hakim tidak dapat menemukan hukumnya dalam hukum tertulis, maka hakim tersebut harus bisa mendapatkan hukumnya dalam aturan hidup di masyarakat. Artinya selama ini hukum adat berlaku secara sosiologis (sosiologis gelding). Dan secara yuridis formal dalam konteks sistem hukum ketatanegaraan di Indonesia, eksistensi hukum adat diakomodir dalam beberapa ketentuan, diantaranya pada pasal 18B UUD 1945 yang secara tersurat menyatakan pengakuan terhadap berlakunya hukum tata negara adat sesuai dengan struktur masyarakat setempat. Contoh lain, pasal 25 ayat 1 UU No.4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman juga menyatakan pengakuan terhadap hukum tidak tertulis, termasuk hukum adat sebagai sumber rujukan para hakim dalam memutus perkara tertentu. Masih banyak yang lainnya, seperti diatur juga dalam UU Pokok Agraria No. 5 tahun 1960. Setidaknya ada beberapa pendapat para ahli yang saling bertentangan menyikapi eksistensi hukum adat. Pihak yang pro terhadap hukum adat menyatakan hukum adat ini merupakan hukum yang paling sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia, sebab hukum adat inilah yang hidup dalam masyarakat secara langsung. Sedangkan di pihak lainnya berpendapat bahwa hukum adat sudah out of date dan harus segera ditinggalkan karena kalau kita berpegang teguh pada hukum tersebut berarti kita mundur beberapa langkah dari gerak modernisasi, karena hukum adata akan banyak menghambat lajunya gerak pembangunan nasional di negara kita, sehingga hukum adat menurut pandangan mereka hanyalah penting sebagai bahan sejarah saja.2 Golongan tersebut menilai bahawa pendapat para sarjana yang terlalu mengangung-agungkan kedudukan dan peran hukum adat di negara kita adalah terlalu berlebihan dan tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya dimana ruang lingkup hukum adat itu sendiri kian hari kian dibatasi dan sudah tidak dapat menjangkau peranannya dalam pelaksanaan pembangunan.3
2 3

Ibid, hlm. 14 Ibid, hlm.15

Diantara berbagai pendapat yang bermunculan, sebaiknya diambil jalan tengah dalam menyikapi eksistensi hukum adat ini. Pertama mau tidak mau kita harus mengakui bahwa hukum adat itu hadir dan hidup ditengah tengah masyarakat. Kedua, hukum adat sudah diakomodir dalam beberapa ketentuan perundang-undangan di Indonesia. Ketiga, hukum adat sedikit-tidaknya telah menjiwai beberapa peraturan hukum positif di Indonesia. Keempat, hukum adat menjadi suatu sumber dalam menemukan hukum di Indonesia. Terlepas dari segala kekurangan hukum adat, ia merupakan warisan leluhur yang perlu dilestarikan dan diaplikasikan, sekali lagi dengan memperhatikan norma yang berlaku.

***fras***