P. 1
hidrolika

hidrolika

|Views: 64|Likes:
Dipublikasikan oleh Azwar Arafat

More info:

Published by: Azwar Arafat on Nov 24, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/24/2011

pdf

text

original

Sections

  • 1.1. SASARAN
  • 1.2. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN
  • 1.3. GAYA-GAYA DALAM FLUIDA
  • 1.4 SIFAT-SIFAT ZAT CAIR
  • 2.1. TEKANAN HIDROSTATIK
  • 2.2. RUMUS DASAR HIDROSTATIKA
  • 2.3. PRESSURE HEAD; VACUUM; MENGUKUR TEKANAN
  • 2.4. TEKANAN FLUIDA PADA BIDANG–DATAR
  • 2.5. TEKANAN FLUIDA TERHADAP PERMUKAAN MELENGKUNG,
  • 3.1. KONSEP DASAR
  • 3.2. ZAT CAIR DALAM BEJANA YANG BERGERAK
  • 3.3. ZAT CAIR DALAM BEJANA YANG BERPUTAR
  • 4.1. DEFINISI & RUMUS
  • 4.2. DEBIT & RUMUS KONTINUITAS
  • 4.3. RUMUS BERNOULLI
  • 4.4. RUMUS BERNOULLI UNTUK FLUIDA RIIL
  • 4.5. KERUGIAN HEAD
  • 4.6. APLIKASI RUMUS BERNOULLI
  • 5). ALAT TEKAN TANGKI

1

Bab I

I N T R O D U K S I


1.1. SASARAN
Mekanika fluida merupakan cabang ilmu teknik mesin yang mempelajari
keseimbangan dan gerakan gas maupun zat cair serta gaya tarik dengan
benda-benda disekitarnya atau yang dilalui saat mengalir. Istilah lain adalah
HYDROMECHANIC ; sedangkan HIDROLIKA merupakan penerapan dari
ilmu tersebut yang menyangkut kasus-kasus teknik dengan batas-tertentu,
dan semua cara penyelesaiannya.
Jadi, hidrolika membahas hukum keseimbangan dan gerakan fluida serta
aplikasinya untuk hal-hal yang praktis.
Sasaran pokok dari hidrolika adalah aliran fluida yang dikelilingi oleh
selubung; seperti misalnya aliran didalam saluran-terbuka & tertutup. Sebagai
contoh : aliran pada sungai, terusan, cerobong dan juga pipa saluran; nozzle
dan komponen-komponen mesin hidrolik.
Jadi sasaran utama hidrolika adalah aliran-dalam dari fluida dengan
istilah INTERNAL PROBLEMS yang berbeda dengan EXTERNAL
PROBLEMS yang membahas aliran media disekeliling benda yang
dicelupkan didalamnya ; seperti misalnya benda padat yang bergerak dalam
air atau diudara. Khusus tentang aliran luar, teorinya banyak dibahas dalam
HYDRODYNAMICS dan AERODYNAMICS yang menyangkut perencanaan
kapal terbang dan kapal laut.
Perlu diingat, istilah FLUIDA didalam MEKANIKA FLUIDA mempunyai
pengertian yang lebih luas dibanding yang kita lihat dalam kehidupan sehari-
hari. Fluida adalah semua bahan yang cenderung berubah bentuknya
walaupun mengalami gaya-luar yang sangat kecil.
Ada perbedaan antara zat-cair dan gas.
2
Zat cair cenderung untuk mengumpul dan membentuk tetesan ( apabila
jumlahnya sedikit ) ; untuk volume yang banyak ia akan membentuk muka-
bekas ( FREE SURFACE ). Sifat penting lainnya dari zat-cair, perubahan
tekanan dan temperatur hampir atau sama sekali tak berpengaruh terhadap
volume; sehingga dalam praktek zat cair dianggap bersifat
INCOMPRESSIBLE. Sedangkan gas akan mengkerut bila mengalami
tekanan dan memuai tak-terhingga besarnya bila tekanan hilang. Jadi,
sifatnya betul-betul kompresibel.
Selain perbedaan tersebut, pada kondisi tertentu hukum gerakan untuk zat
cair dan gas secara praktis adalah sama. Salah satu keadaan yang
dimaksudkan adalah, gas mengalir dengan kecepatan yang rendah dibanding
kecepatan suara didalamnya.
Bidang hidrolika khusus mempelajari gerakan zat cair. INTERNAL
FLOW dari gas hanya disinggung jika kecepatan alirnya jauh lebih rendah
dibanding kecepatan suara, sehingga sifat kompresibelnya dapat kita
abaikan. Kasus demikian banyak kita jumpai dalam bidang teknik; misalnya :
aliran udara dalam sistem ventilasi dan saluran-saluran gas ( AIR DUCTS ).
Mempelajari kasus aliran zat cair dan juga gas-gas jauh lebih sukar
dan rumit dibanding benda-padat, karena mekanika benda-padat hanya untuk
partikel-partikel yang saling terikat kuat ( RIGID BODIES ) ; sedangkan
mekanika fluida, yang dijadikan objek adalah media yang memiliki sangat
banyak partikel-partikel dengan berbagai ragam gerakan relatifnya.
GALILEO telah membuat hukum : BAHWA JAUH LEBIH MUDAH
MEMPELAJARI GERAKAN BENDA-BENDA DI-LANGIT YANG LETAKNYA
JAUH DARI BUMI DIBANDING MEMPELAJARI ALIRAN YANG
PANJANGNYA HANYA 1 FOOT.
Akibat kesulitan inilah maka teori mekanika fluida menimbulkan 2 pendapat
yang berbeda.
Pendapat pertama adalah analisa matematika yang betul-betul teoritis
dan bertolak dari rumus-rumus mekanika yang menyebabkan timbulnya ilmu
hidromekanika-teoritis yang pernah disingkirkan untuk selang waktu yang
cukup lama. Metode yang diutarakan merupakan cara-cara yang efektif dan
pula menarik untuk bidang penelitian.
3
Namun cara teoritis ini banyak menemukan hambatan & kesukaran sehingga
tak mampu menjawab pertanyaan dari kasus-kasus praktis.
Namun tuntutan yang selalu membuntuti bidang teknik praktis akhirnya
menelorkan ilmu-baru tentang aliran fluida, yakni HIDROLIKA
(HYDRAULICS) karena para ahli harus mengalihkan perhatiannya kepada
experimen yang extensif dan pengumpulan data fakta agar bisa diterapkan
kepada kasus-kasus teknik.
Memang semula hidrolika hanya merupakan ilmu yang sifatnya empiris murni;
namun sekarang, kita dapat pula memberikan pembuktian secara
hidromekanik teoritis untuk memecahkan berbagai kasus; sebaliknya didalam
hidromekanika teoritis kita banyak menerapkan experimen guna
menyesuaikan dan memudahkan membuat kesimpulan. Oleh sebab itu, garis
batas yang membedakan ke–2 metode tersebut dapat dihapuskan secara
berangsur-angsur.
Cara-cara penyelidikan mekanika fluida, terutama aliran fluida menurut
hidrolika adalah sebagai berikut :
Kasus yang kita selidiki kita buat sesederhana mungkin dan
diusahakan IDEAL, kemudian kita menerapkan hukum-hukum
dari mekanika teori.
Hasil yang didapat kita bandingkan dengan data-data hasil
pengujian; perbedaannya kita hitung; kemudian rumus-rumus
teoritis serta jawabannya kita atur sedemikian rupa sehingga
dapat diterapkan untuk hal-hal yang praktis.
Banyak kasus yang bisa timbul, yang secara praktis menentang analisa-
teoritis, ini kita selidiki dengan cara-cara pengukuran dan pengujian; hasil
yang didapat kita pakai sebagai rumus-empiris. Oleh sebab itulah, hidrolika
kita kelompokkan sebagai ilmu yang sifatnya SEMI-EMPIRIS.
Hidrolika juga merupakan ilmu-terapan selain ilmu teknik
(ENGINEERING SCIENCE) karena ia muncul akibat tuntutan & kebutuhan
hidup manusia dan sangat luas penggunaannya dalam bidang teknik; seperti
misalnya metode perhitungan & perencanaan bangunan-air :
–. Dam –. Parit & terusan (CANALS); –. Pintu air (WEIRS)
–. Jaring-jaring pipa saluran.

4
Dalam bidang permesinan :
–. Pompa; –. Turbin; –. Fluid couplings;
–. Berbagai peralatan lain dalam berbagai cabang ilmu teknik.
–. Perencanaan MACHINE TOOLS.
–. Bidang penuangan dan tempa logam.
–. Pembuatan barang-barang plastik, dsb.
Contoh lain yang menggunakan prinsip hidrolika :
–. Perencanaan canggih pesawat udara dengan fluid drives.
–. Sistem bahan bakar dan pelumassan.
–. SHOCK ABSORBER hidrolik.


1.2. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN
Munculnya ilmu hidrolika karena mengikuti penemuan berbagai hukum dan
lahirnya sejumlah kasus yang punya hubungan dengan keseimbangan &
gerakan fluida.
Yang pertama mempelajari hidrolika adalah LEONARDO DA VINCI
(pertengahan abad XV) dengan karya tulisnya : ON THE FLOW OF WATER
AND RIVER STRUCTURES.
Setelah itu ia melakukan observasi dan memperoleh pengalaman
membangun instalasi hidrolika di MILAN ( ITALIA ) dan juga di FLORENCE
dsb.
Berikutnya muncul GALILEO dengan studi sistematik mengenai dasar-
dasar hidrostatika.
Pada 1643 seorang murid GALILEO bernama TORRICELLI
memperkenalkan hukum tentang aliran-bebas zat cair melewati lobang
(celah).
Pada 1650 diperkenalkan hukum distribusi tekanan dalam zat cair
yang dikenal dengan hukum PASCAL.
Hukum tentang gesekan dalam fluida yang mengalir; yang sangat
terkenal sampai saat ini dirumuskan oleh ISAAC NEWTON. Selain itu ia juga
dikenal sebagai penemu teori viskositas, dan pula dasar teori mengenai
similaritas hidrodinamik.
5
Akan tetapi hukum-hukum tersebut sampai dengan pertengahan abad
XVIII statusnya masih ngambang karena tak ada ilmu yang betul-betul
mendalam tentang sifat fluida. Dasar teori mekanika fluida dan hidrolika
kemudian menjadi baku setelah DANIEL BERNOULLI dan LEONHARD
EULER memperkenalkan ilmunya dalam abad XVIII.
DANIEL BERNOULLI seorang pakar kelahiran SWISS (1700 – 1780)
telah mendidik 11 orang pakar ilmu; hampir semuanya ahli matematik dan
orang teknik. Selanjutnya ia menjadi staff akademi ilmu pengetahuan RUSIA
yang kemudian menetap di St. PETERSBURG. Antara 1728 s/d 1778 ia telah
menerbitkan 47 judul buku tentang matematika, mekanika dll. Tahun 1738
dengan tulisannya tentang hidrodinamika membuat rumusan yang merupakan
hukum-dasar aliran fluida yang menyatakan hubungan antara tekanan ( p );
kecepatan ( v ) dan HEAD ( H ) dari fluida. Persamaan BERNOULLI
merupakan prinsip dari teori mekanika fluida secara umum, dan khususnya
hidrolika.
Pakar lain yang juga perlu diketahui adalah seorang ahli matematika,
fisika dan astronomi LEONHARD EULER (1707 – 1783) dari negeri
SWITZERLAND tinggal di St. PETERSBURG.
Tahun 1755 ia menemukan persamaan diferensial-umum aliran fluida-ideal
( NON VISCOUS ) bila di-integral merupakan persamaan BERNOULLI. Ini
merupakan tonggak awal metode analisa teoritis dalam bidang mekanika
fluida. Selain itu EULER juga sebagai pakar yang menurunkan
persamaan-usaha ( WORK ) semua mesin-mesin hidrolik jenis
ROTODINAMIK ; seperti turbin; pompa sentrifugal dan juga FANS; dan juga
teori gaya -apung.
Pakar lainnya dalam bidang hidrolika adalah LOMONOSOV (menurut
cerita orang RUSIA).
Jadi session I yang merupakan awal perkembangan ilmu hidrolika adalah
hasil karya dari BERNOULLI ; EULER ; LOMONOSOV.
Dalam session II yang lahir dalam tengah-abad-dua dari abad XVIII
dan juga abad XIX hanya merupakan penemuan data-data experimen dari
aliran pada saluran terbuka & saluran tertutup dan juga faktor koreksi
persamaan BERNOULLI ( ∝ ). Kemampuan analisa sebelumnya hanya
6
didasarkan teori semata-mata yang menyangkut fluida-ideal sehingga tidak
dapat memenuhi selera bidang praktis, seperti misalnya yang menyangkut
pengaruh viskositet.
Orang-orang yang terkenal dalam periode ini adalah :
ANTOINE CHEZY – experimentalist.
HENRY DARCY – Francis.
JEAN POISEUILLE – Francis.
JULIUS WEISBACH – German.
G. HAGEN – German.
LAGRANGE
HELMHOLTZ
SAINT–VENANT
Hasil yang paling menarik dan lengkap adalah dari WEISBACH ( 1806 –
1871 ) yang masih dianut orang sampai saat ini.
Dalam session berikutnya ditemukan massalah yang memulai abad
mekanika fluida, seperti : pengaruh viskositet fluida; teori similaritas dan
berbagai teori serta hal-hal praktis.
Perkembangan seperti itu tercetus akibat tuntutan massalah produksi dan
perkembangan teknologi; sehingga muncullah beberapa pakar :
GEORGE STOKES ( 1819 – 1903 ).
OSBORNE REYNOLDS ( 1842 – 1912 ).
NIKOLAI JOUKOWSKI ( 1847 – 1921 ).
N. PETROV ( 1836 – 1920 ). dll.
STOKES telah menurunkan teori dasar dari aliran fluida yang
memperhitungkan viskositet dan berbagai massalah lainnya.
REYNOLDS menetapkan teori SIMILARITAS yang sangat memudahkan kita
dalam menarik kesimpulan dan sistematik dari data-data experimen yang
sebelumnya telah dikumpulkan.
REYNODLS juga sebagai pemula dari teori aliran TURBULENTT yang amat
sangat rumit itu.
N.P. PETROV menyelidiki aplikasi teori NEWTON tentang gesekan dalam
fluida; sehingga dianggap sebagai penemu teori PELUMAS MESIN
(LUBRICATION).
7
NIKOLAI JOUKOWSKI yang interest dalam hidrolika berhasil
menggabungkan hasil-hasil experimen dengan teori-teori yang telah ada
sehingga bermanfaat untuk keperluan penelitian dan aplikasi.
Bidang lain yang telah dibakukan adalah dasar teori tentang
AERODYNAMICS.
Yang paling menarik dari penemuan JOUKOWSKI adalah teori tentang
WATER HAMMER yang menyebabkan saluran-saluran pecah karena alat-
alat ditutup mendadak (VALVE ; TURBINE GATES ; FAUCET) dan berbagai
kasus dalam bangunan-air; seperti teori aliran air-tanah ( GROUND WATER
= PERCOLATION THEORY ). Ia juga menyelidiki keadaan aliran melalui
lobang ( ORIFICE ); teori pelumassan ( LUBRICATION ); distribusi
kecepatan dalam saluran; reaksi dari semprotan fluida dan getaran akibat
fluida; analogi antara terjadinya gelombang ( WAVE FORMATION ) pada
permukaan zat cair dan perubahan tekanan yang drastis dalam aliran udara
supersonik atau teori SHOCKWAVES.
Untuk bidang hidrolika nama-nama pakar yang juga harus
dicantumkan adalah : LUDWIG PRANDTL ; THEODOR VON KARMAN ;
JOHANN NIKURADSE. PRANDTL & KARMAN terkenal dalam bidang
mekanika fluida & aerodinamika terutama dalam kasus turbulensi, sedangkan
temannya NIKURADSE menurunkan teori aliran dalam pipa.
Sebenarnya mereka-mereka itu mempelajari kasus-kasus tersebut
karena keadaan yang memaksa, akibat tantangan untuk membangun stasion-
stasion PLTA ; jaring-jaring pipa dan terusan ( CANALS ) berukuran raksasa
agar kebutuhan hidup manusia selalu terpenuhi.
Menurut orang-orang RUSIA, orang mereka yang berjasa dalam
bidang mekanika fluida adalah :

–. N.N. PAVLOVSKY : aliran pada saluran terbuka, teori
energi air-laut.
–. L.S. LEIBENZON : Cairan kental; hidrolika minyak
bumi ( PETROLEUM ) dan air-
tanah.


8
1.3. GAYA-GAYA DALAM FLUIDA.
TEKANAN
Menurut teori hidrolika, fluida adalah suatu kontinyum ( CONTINUUM) yakni
suatu bahan yang bersifat kontinyu, berusaha menempati seluruh ruangan,
tanpa ada yang kosong.
Oleh karena itu, struktur molekuler dapat diabaikan, sehingga, fluida
dengan partikel yang sangat kecil sekalipun mesti terbentuk dari molekul-
molekul yang sangat banyak jumlahnya.
Karena fluida selalu berusaha molor ( YIELDS ) walaupun
tegangannya sangat kecil maka ia tak bisa menimbulkan gaya yang terpusat.
Semua gaya-gaya yang diberikan padanya akan didistribusikan merata dalam
seluruh volume ( massa ) atau searah dengan permukaannya. Jadi gaya luar
yang bisa bekerja pada setiap-volume fluida hanyalah gaya inersia ( BODY
FORCE ) atau gaya permukaan ( SURFACE FORCE ).
Gaya inersia sebanding massa fluida, untuk bahan yang homogen
sebanding dengan volume fluida. Ini timbul terutama akibat pengaruh
gravitasi, dan juga gaya yang dialami fluida dalam bejana yang bergerak
dengan akselerasi, atau fluida yang mengalir dengan akselerasi dalam
saluran yang stasioner. Besaran ini didapat dari teori D’ALEMBERT.
Gaya permukaan terbagi kontinyu pada seluruh permukaan fluida; jika
distribusinya merata maka sebanding dengan luas permukaan. Ini timbul
akibat pengaruh lingkungan dari fluida yang kita tinjau atau akibat pengaruh
benda lain yang bersinggungan dengan volume tersebut ( benda padat; cair;
gas ).
Jika gaya permukaan besarnya ( ∆ R ) bekerja pada luasan ( ∆ S ) secara
tegak-lurus ataupun menyudut, maka gaya tersebut bisa diuraikan menjadi :
–. Komponen normal ( tegak lurus ) = ∆ P.
–. Komponen tangensial = ∆ T ; seperti Gb.1.
Komponen pertama juga disebut GAYA–TEKAN ( TEKANAN ).
KOMPONEN KEDUA juga dinamakan GAYA–GESEK atau GAYA
GESER.
9
Istilah tersebut juga berlaku untuk 1 satuan gaya; maksudnya yang dialami
oleh 1 satuan. Untuk gaya inersia dihitung per-satuan massa, sedangkan
untuk gaya permukaan per-satuan luas.
Karena gaya inersia = massa x percepatan; maka gaya inersia spesifik
( YANG DIALAMI 1 SATUAN MASSA ) akan = percepatan yang dialami
massa fluida.
Tekanan hidrostatik atau hanya disebut TEKANAN adalah besarnya
gaya-tekan yang dialami 1 satuan luas. Untuk yang bersifat merata ( atau
perhitungan harga rata-rata ), maka tekanan :

1
]
1

¸



·
2
m
Kg
S
P
p ...................(1.1)
Jadi secara umum, definisi dari tekanan hidrostatik pada suatu titik adalah
harga-batas P ∆ / ∆ S jika ( ∆ S ) mendekati → 0.

S
P
lim p


· ...................(1.2)
Bila tekanan diukur diatas titik
( 0 ) absolut; dinamakan
tekanan absolut.
Bila diukur diatas atau dibawah
tekanan atmosfer ( sebagai
patokan ) dinamakan GAUGE
PRESSURE.
Jadi,

atm gauge b a
p p p + ·
Satuan untuk tekanan dalam bidang teknik adalah atmosfer standard :

1
]
1

¸

·
1
]
1

¸

·
1
]
1

¸

·
2 2 2
in
b l
22 , 14
m
Kg
000 . 10
Cm
Kg
1 atm 1
Untuk tegangan geser atau gaya geser dalam fluida, secara definitif sama
dengan tekanan :

S
T
lim


· τ ...................(1.3)


0 S → ∆
0 S → ∆
Gb.1
S ∆
T ∆
R ∆
P ∆
10
1.4 SIFAT-SIFAT ZAT CAIR
Karena hidrolika hanya membahas zat cair; maka kita harus tahu sifat-sifat
fisiknya terlebih dahulu; yang dinyatakan dengan simbol berikut :
–. Berat jenis adalah beratnya per-satuan volume :

W
G
· γ [ Kg/m
3
] ...................(1.4)
dimana : G = berat zat cair.
W = volumenya.
Besarnya ( γ ) tergantung satuan yang kita pakai ( metrik;
British ).
Untuk air pada 4
0
C → γ = 1000 [Kg/m
3
] = 0,001 [Kg/Cm
3
]
–. Kerapatan ( DENSITY ) adalah massa per-satuan volume.

1
]
1

¸

·
4
m
detik Kg
W
M
2
.
ρ ...................(1.5)
dimana : M = massa dari zat cair bervolume = W.
Karena G = g . M maka anatara γ dan ρ ada hubungan :

g W g
G
.
γ
ρ · · ...................(1.6)
Untuk zat cair yang tak homogen rumus ( 1.4 ) dan juga ( 1.5 )
menyatakan harga rata-rata. Agar dapat menghitung harga
absolut dari ( γ ) dan ( ρ ) pada suatu titik, volumenya kita
anggap cenderung berharga = 0; harga-batas masing-
masing perbandingan tersebut bisa kita hitung.
–. Specific gravity ( δ ) suatu zat cair adalah perbandingan
berat-jenisnya terhadap air 4
0
C :

air
n
γ
γ
δ · ...................(1.7)
Sifat-sifat fisik zat cair yang kita harus ketahui adalah : KOMPRESIBILITAS;
KOEFISIEN MUAI TERMIS; TEGANGAN TARIK; VISKOSITET;
PENGUAPAN ( EVAPORABILITY ).
1. KOMPRESIBILITAS : adalah perubahan volume zat cair akibat
perubahan tekanan yang dialami.
11
Perubahan volume relatif per-satuan tekanan disebut angka-
kompresibilitas; (
p
β ) yang dinyatakan dengan rumus :

p d
W d
W
1
p
− · β [Cm
2
/Kg] ...................(1.8)
Tanda ( – ) karena kenaikan tekanan mengakibatkan kerutnya
volume. Kebalikan dari angka kompresibilitas dinamakan
MODULUS ELASTISITAS VOLUME ( VOLUME OR BULK
MODULUS OF ELASTICITY ) :

ρ
ρ
β d
p d 1
K
p
· · [Kg/Cm
2
]
Harga ( K ) sedikit terpengaruh oleh ( T ) dan ( p ).
Contoh : Air .... t = 0
0
C ; p = 5 Kg/Cm
2
→ K = 18900 Kg/Cm
2

t = 20
0
C ; p = 5 Kg/Cm
2
→ K = 22170 Kg/Cm
2
Diambil harga rata-rata K = 20000 Kg/Cm
2
.
Jadi bila tekanan dinaikkan 1 Kg/Cm
2
; volume-
berkurang hanya
20000
1
volume mula.
Modulus ( K ) zat cair yang lain, keadaannya juga seperti yang
dimiliki air. Secara umum semua zat cair dianggap
INKOMPRESIBEL ; sehingga berat-jenis ( γ ) tak dipengaruhi
oleh ( p ).
2. KOEFISIEN MUAI TERMIS : Perubahan relatif volume untuk
kenaikan suhu sebesar 1
0
C.

t d
W d
W
1
t
· β ...................(1.9)
Contoh : Air 0
0
C dan 1 Kg/Cm
2

t
β = 14 . 10
-6
.
100
0
C dan 100 Kg/Cm
2

t
β = 700 . 10
-6
.
Untuk bahan-bahan produk minyak-bumi
t
β =

,
_

¸
¸
÷ 2
2
1
x AIR.
3. TEGANGAN TARIK : Untuk zat cair diabaikan.
Air putus dengan tegangan hanya 0,00036 (Kg/Cm
2
); semakin
berkurang untuk temperatur yang bertambah.
12
Jika selang waktu kerja beban-tarik sangat pendek, hambatan
( tahanan = RESISTANCE ) berharga lebih besar. Dalam praktek,
air dianggap tak mampu menahan tegangan tarik.
Permukaan zat cair mempunyai tegangan permukaan yang
cenderung menggulung zat cair sehingga membentuk tetesan
( bola ) sehingga timbul tambahan tegangan didalam zat cair itu.
Tapi tegangan itu hanya terlihat untuk volume yang berukuran
sangat kecil.
Pada pipa kapiler gejala tersebut menyebabkan zat cair naik lebih
tinggi; atau turun lebih rendah dari bidang datar (permukaan);
gejala tersebut dinamakan KAPILERITAS atau MENISKUS. Untuk
pipa-gelas dengan diameter = ( d ) ; kenaikan atau penurunannya
dinyatakan dengan :

d
k
h · [ mm ] ...................(1.10)
dimana : k = ( mm
2
) untuk air = +30; H
g
= –14; alkohol
sebesar = +12.
Untuk fluida riil 3 sifat-sifat diatas pengaruhnya sangat kecil dan
tak begitu penting; yang lebih berperan adalah sifat ke–4 yakni
VISKOSITET.
4. VISKOSITET : Kemampuan menahan geseran atau tergeser
terhadap lapisan-lapisannya. Gejala ini tidak
terlalu sulit kita pahami, pada hal -hal khusus
dinyatakan dengan besarnya tegangan geser.
Viskositet merupakan kebalikan dari FLUIDITAS.
Zat cair yang kental ( GLYCERINE & LUBRICANTS ) fluiditasnya
rendah. Apabila cairan-kental mengalir terhadap bidang padat
maka terjadi perubahan kecepatan (dalam arah tegak lurus)
terhadap arah aliran; hal mana disebabkan oleh viskositet. Lihat
Gb.2.
Makin dekat lapisan terhadap bidang padat, kecepatan lapisan ( v )
semakin kecil; pada y = 0 → v = 0.
13
Jadi tiap lapisan bergeser terhadap yang lainnya, sehingga timbul
gaya gesek atau gaya geseran.









Menurut hipotesa ISAAC NEWTON (1686) yang kemudian
dibuktikan oleh N.P. PETROV (1883); regangan geser (SHEAR
STRAIN) tergantung pada jenis fluida dan juga jenis aliran.
Untuk LAMINER regangan tersebut sebanding dengan VELOCITY
GRADIENT dalam arah ⊥ aliran fluida :

1
1
]
1

¸

·
2
m
Kg
y d
v d
µ τ ...................(1.11)
dimana : µ = viskositet absolut (viskositet dinamik).
dv = tambahan kecepatan yang sesuai dengan
tambahan jarak ( dy ).
Gradien kecepatan ( dv / dy ) menggambarkan perubahan
kecepatan per-satuan panjang dalam arah ( y ), sehingga juga
menyatakan tegangan geser zat cair pada suatu titik.
Bila tegangan geser merata pada luas penampang ( S )
maka regangan geser total ( =gaya gesek ) yang bekerja pada
luasan tersebut adalah :
T =
y d
v d
µ . S ...................(1.12)

Dari rumus ( 1.11 ) kita dapat menentukan dimensi viskositet
absolut ( µ ) yakni :
y

d

y

V + d V
V
Gb.2
14

1
]
1

¸

·
2
m
t d Kg
y d / v d
. τ
µ
Untuk sistem CGS satuan untuk viskositet = POISE.
1 POISE =
1
]
1

¸

2
Cm
sec dyne
1
.

Karena 1 Kg-gaya = 981000 DYNE; dan 1 m
2
= 10
4
Cm
2
maka
:
1 POISE =
1
]
1

¸

2
m
t d kg
1 , 98
1 .

Ciri lain dari viskositet adalah VISKOSITET KINEMATIK ( ν )

1
]
1

¸

·
t d
m
2
ρ
µ
ν ...................(1.13)
Istilah kinematik disini berarti bahwa tak ada pengaruh dimensi
gaya ( Kg ). Satuan dari viskositet kinematik adalah STOKE :
1 STOKE =
1
]
1

¸

t d
Cm
1
2

Viskositet zat cair sangat dipengaruhi oleh temperatur; berkurang
bila temperatur semakin tinggi; seperti pada Gb.3.
Untuk gas-gas sifatnya adalah terbalik. Viskositet semakin
bertambah mengikuti temperatur. Hal demikian terjadi karena
keadaan viskositet untuk gas berbeda terhadap zat cair.
Pada zat cair molekul-molekul lebih rapat susunannya dibanding
gas dan viskositet adalah akibat dari gaya tarik antar molekul
( KOHESI ). Gaya ini berkurang, sehingga viskositet juga menurun
bila temperatur meningkat; sedangkan pada gas-gas, viskositet itu
terjadi karena pertukaran-kalor yang SEMRAWUT antar molekul-
molekulnya, sehingga bertambah dengan naiknya temperatur.
Viskositet dinamik ( µ ) baik cairan maupun gas -gas akibat
tekanan, perubahannya amat-sangat kecil, sehingga dapat
diabaikan. Sifat ini ikut diperhitungkan hanya untuk tekanan yang
ber-skala sangat tinggi. Ini berarti tegangan-geser fluida dianggap
tak terpengaruh oleh tekanan absolut.

15















Menurut pers. ( 1.11 ) tegangan geser hanya timbul pada
fluida yang bergerak; jadi, viskositet timbul hanya jika fluida
sedang mengalir. Maksudnya, istilah viskositet hanya timbul
apabila fluida sudah mengalir. Didalam fluida yang dalam keadaan
diam tidak ada tegangan geser yang terjadi.
Dapat kita simpulkan, hukum tentang gesekan dalam fluida
( akibat viskositet ) keadaannya memang sangat berbeda dengan
gesekan benda-padat.
5. PENGUAPAN ( EVAPORABILITY ).
Sifat ini dimiliki oleh semua jenis cairan. Intensitasnya berbeda-
beda untuk setiap jenis cairan, dan tergantung kondisinya.
Salah satu istilah yang menjadi pertanda sifat ini adalah
TITIK–DIDIH zat cair pada tekanan atmosfer normal. Makin tinggi
titik-didih, makin berkurang intensitas penguapan ( sedikit yang
menguap ). Pada sistem hidrolik pesawat udara seringkali kita
harus berfokus pada masalah penguapan dan bahkan titik-didih zat
cair dalam saluran tertutup pada berbagai tekanan dan temperatur.
Oleh sebab itu istilah yang lebih mengena untuk sifat penguapan
L
U
B

O
I
L

0,8
1,2
1,6
2,0
2,4
2,8
3,2
50
0
C 100 150

,
_

¸
¸
t d
Cm
2
ν
( t
0
C )
A
I
R

0.005
0.010
0.015

,
_

¸
¸
t d
Cm
2
ν
U

D

A

R

A

01
02
03
Gb.3
16
ini adalah : TEKANAN UAP JENUH ( p
t
) yang dipengaruhi
besarnya temperatur. Makin tinggi tekanan jenuh untuk suatu
temperatur, berarti, makin besar laju-penguapannya ( RATE OF
EVAPORATION ).
Tekanan jenuh dari berbagai zat cair bertambah besar
mengikuti temperatur, tapi pertambahannya tidak merata.
Untuk cairan murni p
t
= f ( t ).
Untuk campuran, seperti bensin misalnya, tekanan jenuh
( p
t ) dipengaruhi tidak hanya oleh sifat-sifat fisika-kimia dan
temperatur, tapi juga faktor lain, seperti volume relatif FASE CAIR
dan FASE UAP yang sedang terbentuk.













Tekanan uap semakin bertambah bila porsi yang ditempati fase
cair semakin banyak; seperti Gb.4. yang menyatakan hubungan
tersebut untuk zat cair bensin. Disini terlihat pengaruh tekanan-uap
terhadap RATIO

,
_

¸
¸
uap
cairan
untuk 3 daerah temperatur. Sifat-sifat
fisika berbagai jenis cairan yang digunakan pada sistem ROCKET
dan PESAWAT UDARA, lihat Tabel. 1.
100
200
300
400
500
600
700
800
10 20 30 40 50 60 70 80 90 0
(mm H
g
)
[ ] %
.
.
TOTAL vol
CAIR vol
50
0
C
20
0
C
0
0
C

Gb.4

17




































2
0
0

0
C

0
.
1
1

V
o
l
u
m
e

m
o
d
u
l
u
s

K
,


k
g
/
c
m
2

1
3
,
3
0
0

1
3
,
0
0
0

1
3
,
0
0
0


1
3
,
3
0
0




1
9
0

0
C

0
.
4
5

+

2
0

0
C

9
0

1
1
.
5

-
-
-
-


6
0

4
4

4
6
.
4



1
6
0

0
C

7

+

4
0

0
C

1
9
5

2
7

1
0
0


1
5
6

1
3
5

5
6
.
7



1
4
0

0
C

2
1

V
a
p
o
u
r

p
r
e
s
s
u
r
e

p
t

,



m
m


H
g

+

6
0

0
C

-
-
-
-

5
9

-
-
-
-


3
5
5

3
5
2

6
1
.
4

T

P
t


a
t
m



5
0

0
C

2
.
6
0

2
5

5
.
5


-
-
-
-

1
.
2
5
0

1
.
7
2

6
.
5

-
-
-
-



2
0
4

0
C

0
.
2
9
7



2
0

0
C

1
.
2
6

8
.
0

-
-
-
-

c
o
n
g
c
a
l
s

4
9
8

1
3
0

0
.
8
3

-
-
-
-

-
-
-
-



2
0
0

0
C

0
.
2
5
7

0

0
C

0
.
9
3

4
.
0

2
.
0

1
0
,
1
0
0

-
-
-
-

4
2

0
.
7
0

-
-
-
-

1
.
4
2



1
9
0

0
C

0
.
1
9
3

+

2
0

0
C

0
.
7
3

2
.
5

1
.
0
5

1
,
1
0
0

3
0

1
6

0
.
5
8

1
.
5
2

0
.
9
5



1
8
4

0
C

0
.
1
7
0

+

5
0

0
C

0
.
5
4

1
.
5

-
-
-
-

1
5
5

8
.
3

1
0

0
.
3
8

-
-
-
-

-
-
-
-



1
7
5

0
C

0
.
1
2
5

K
i
n
e
m
a
t
i
k

v
i
s
c
o
s
i
t
y


ν

a
t

t
e
m
p
e
r
a
t
u
r
e

t

,

c
e
n
t
i
s
t
o
k
e
s

+

7
0

0
C

-
-
-
-

1
.
2

-
-
-
-

6
5

-
-
-
-

7
.
5

0
.
3
0

-
-
-
-

-
-
-
-

t

ν


c
s
t

S
p
e
c
i
f
i
c

G
r
a
v
i
t
y


δ

0
.
7
5
0

0
.
8
0
0



0
.
8
5
0

0
.
7
7
5

0
.
8
9
5

0
.
8
8
5

0
.
8
5
0

1
.
5
1
0

0
.
7
9
0

1
.
3
4

1
.
1
5



1
.
2
5

L
i
q
u
i
d

A
v
i
a
t
i
o
n


g
a
s
o
l
i
n
e

?
9
5

/

1
3
0

K
e
r
o
s
e
n
e


T



1


K
e
r
o
s
e
n
e


T



2

L
u
b
r
i
c
a
t
i
n
g


O
i
l

M
C



2
0


L
u
b
r
i
c
a
t
i
n
g


O
i
l

M
K



8

H
y
d
r
a
u
l
i
c


f
l
u
i
d

A
M
Γ



1
0

N
i
t
r
i
c


a
c
i
d


(

9
8
%

)

E
t
h
y
l


a
l
c
o
h
o
l

H
y
d
r
o
g
e
n


p
e
r
o
x
i
d
e



(

8
0
%

)



L
i
q
u
i
d


o
x
y
g
e
n

T
a
b
e
l
.

1
.

B
a
s
i
c


P
h
y
s
i
c
a
l


P
r
o
p
e
r
t
i
e
s


o
f


S
o
m
e


L
i
q
u
i
d
s


E
m
p
l
o
y
e
d


i
n


A
i
r
c
r
a
f
t


a
n
d


R
o
c
k
e
t


S
y
s
t
e
m
s

18
Bab II

H I D R O S T A T I K A


2.1. TEKANAN HIDROSTATIK
Dalam Bab I telah dikatakan bahwa tekanan yang paling mungkin terjadi
didalam fluida dalam keadaan-diam adalah akibat kompresi yang dinamakan
tekanan hidrostatik. 2 sifatnya yang terpenting adalah :
1. Tekanan hidrostatik pada bidang batas dari fluida arahnya selalu
kedalam serta tegak-lurus terhadap bidang tersebut.
Keadaan ini merupakan akibat dari kenyataan bahwa dalam fluida-
diam tidak mungkin terjadi tegangan tarik (TENSILE) maupun
tegangan geser (SHEAR). Tekanan hidrostatik arahnya NORMAL
PERMUKAAN BATAS; karena jika tidak maka akan timbul
komponen tarik maupun geser. Istilah BOUNDARY (bidang batas)
maksudnya bidang (riil / fiktif) dari suatu massa elementer dalam
fluida yang volumenya tertentu.
2. Tekanan hidrostatik pada setiap titik dalam massa fluida sama
besarnya kesegala-arah. Jadi, tekanan dalam fluida tidak
terpengaruh oleh kemiringan dari bidang pada titik yang kita tinjau
(selidiki). Hal ini dibuktikan
sebagai berikut.
Misalkan massa fluida yang diam
mempunyai bentuk prisma-sisi-
tegak (RIGHT ANGLED
TETRAHEDRON) dengan 3
rusuk (dx; dy; dz) yang masing-
masing sejajar sumbu-sumbu
koordinat seperti Gb.5.
Misalkan disebelah volume yang
p
x

y
x
z
p
y

p
n

p
z

dy
dx
dz
Gb.5
0
19
kita tinjau itu bekerja gaya-berat (BODY FORCE) yang
mempunyai komponen X ; Y ; Z; dan tekanan-tekanan p
x
; p
y
; p
z

merupakan tekanan-tekanan hidrostatik yang dialami oleh bidang-
bidang datar yang posisinya tegak-lurus sumbu-sumbu ( x; y; z )
dan p
n
= tekanan hidrostatik pada bidang miring yang luasnya =
dS. Semua tekanan-tekanan tersebut berarah tegak-lurus terhadap
masing-masing bidang tempatnya bekerja. Sekarang kita turunkan
RUMUS KESEIMBANGAN GAYA dari volume elementer tersebut
dalam arah sumbu ( x ).
Jumlah dari semua proyeksi gaya-gaya tekanan terhadap sumbu
( 0x ) adalah :
P
x
= p
x
.
2
1
dy dz – p
n
ds Cos ( x ; p
n
).
Massa dari prisma = volume x kerapatan = 1/6 dx dy dz ρ .
Sehingga gaya beratnya dalam arah (sejajar) sumbu ( x ) adalah :
F
x
= 1/6 dx dy dz ρ X
Jadi rumus keseimbangan untuk prisma tersebut berupa :

2
1
dy dz p
x
– p
n
dS Cos ( x ; p
n
) + 1/6 dx dy dz ρ X = 0
Jika seluruhnya dibagi (
2
1
dy dz ) yang merupakan proyeksi dari
luas bidang miring ( dS ) terhadap ( y 0 z ) dan besarnya = dS
Cos ( x ; p
n
) sehingga didapat :
p
x
– p
n
+ 1/3 dx ρ X = 0
Seandainya prisma tersebut dibuat mengkerut volumenya sehingga
suku-terakhir persamaan yang berisi ( dx ) menjadi → 0 dan
harga dari p
x
dan p
n
tertentu besarnya, maka dalam keadan
limit :


p
x
– p
n
= 0 atau p
x
= p
n

Kita dapat membuktikan bentuk persamaan-persamaan
keseimbangan yang persis sama dalam arah paralel sumbu-sumbu
( Z ) dan juga ( y ) seperti yang telah kita turunkan untuk sumbu

20
( x ) diatas sehingga didapat :
p
y
= p
n
dan juga p
z
= p
n

atau untuk keseluruhannya :
p
x
= p
y
= p
z
= p
n
...................(2.1)
Karena dalam menentukan potongan-potongan dx; dy; dz dari
prisma tadi adalah sembarangan, berarti kemiringan luasan ( dS )
juga sembarangan; sehingga kita bisa menarik kesimpulan sbb :
Jika prisma kita kerutkan menjadi sebuah titik, tekanan pada
titik tersebut sama besarnya kesegala arah.
Fenomena demikian dapat pula dibuktikan secara gampang
menggunakan rumus -rumus kekuatan bahan yang menyangkut
tegangan desak ( COMPRESSION STRESS ) yang bekerja pada
2 atau 3 arah yang saling tegak-lurus; yang rumus-rumusnya :
ϕ σ ϕ σ σ
2 2
Sin Cos
y x n
+ · *trans.by 738M.

,
_

¸
¸
− ·
y x
2
1
σ σ τ Sin 2ϕ
Untuk ini kita hanya harus menganggap tegangan-geser = 0;
sehingga didapat :
− · · ·
z y x
σ σ σ p.
Kedua sifat-sifat tekanan hidrostatik, yang tadi telah kita buktikan
kebenarannya terhadap fluida tidak-bergerak, juga berlaku untuk
fluida ideal yang bergerak. Akan tetapi dalam fluida riil yang
bergerak akan timbul tegangan geser, yang dalam pembuktian tadi
kita abaikan ( dianggap tidak ada ); sehingga kita bisa membuat
kesimpulan : DUA SIFAT-SIFAT TEKANAN HIDROSTATIK
TADI TIDAK BERLAKU UNTUK FLUIDA RIIL.


2.2. RUMUS DASAR HIDROSTATIKA
Kita bahas yang pertama adalah kasus utama dari keseimbangan fluida
apabila BODY FORCE yang bekerja hanyalah gaya-berat; kemudian
menurunkan persamaan yang dapat menentukan TEKANAN HIDROSTATIK
21
pada sembarang titik dalam fluida yang volumenya tertentu. Jelas untuk
kasus seperti ini permukaan-bebas fluida berupa bidang yang horisontal.
Menurut Gb.6 gaya-gaya yang bekerja
pada permukaan-bebas zat cair yang ada
dalam bejana adalah tekana ( p
0
). Sekarang
akan kita hitung tekanan hidrostatik ( p )
yang terjadi pada sembarang titik ( M ) pada
kedalaman ( h ) terhadap permukaan-bebas
( FREE SURFACE OF FLUIDS ). Bila luas
elementer = dS dengan pusatnya titik ( M );
dengan dS sebagai alas kita lukiskan
silinder elementer keatas ( tegak ) setinggi
(h); kemudian mengacu pada rumus
keseimbangan.
Tekanan zat cair pada alas silinder adalah dari luar dan ⊥ alas; arahnya
keatas.
Dengan menjumlahkan semua gaya vertikal yang dialami silinder maka
didapat :
p dS – p0 dS – γ h dS = 0
Suku yang terakhir dalam persamaan menyatakan berat zat cair sebesar
silinder. Gaya-gaya akibat tekanan pada keliling silinder tidak ikut serta
membentuk persamaan karena ber-arah NORMAL TERHADAP BIDANG
SAMPING. Setelah ( dS ) dihilangkan dan diatur bentuknya, maka :
p = p
0
+ h γ . ...................(2.2)
Inilah yang dinamakan PERSAMAAN HIDROSTATIKA yang bisa dipakai
menentukan tekanan pada sembarang titik dalam zat cair yang tidak
bergerak. Terlihat, tekanan hidrostatik terdiri dari tekanan-luar ( p
0
) yang
bekerja pada bidang-batas zat cair dan tekanan akibat beratnya zat cair yang
terlentang ( OVERLAYING ) diatas luasan yang kita tinjau.
Tekanan ( p
0
) sama-besarnya untuk semua titik didalam volume zat
cair dimanapun letaknya. Jadi menurut sifat ke–2 dari tekanan hidrostatik,
kita juga dapat mengatakannya sebagai ZAT CAIR MEMPUNYAI SIFAT,
z
0

z
h
M
dS
p
0
p
0

Gb.6
22
DAPAT MEMINDAHKAN TEKANAN KESEGALA ARAH DAN SAMA
BESARNYA. Inilah yang dinamakan sebagai HUKUM PASCAL.
Dari pers. ( 2.2 ) terlihat pula tekanan dalam zat cair bertambah
sebanding dengan kedalamannya secara linier; sama-besarnya untuk semua
titik pada kedalaman yang sama.
Suatu bidang dengan tekanan yang sama pada semua titik-titiknya
dinamakan bidang bertekanan-sama atau EQUIPOTENTIAL SURFACE.
Untuk peristiwa yang terjadi pada Gb.6 bidang yang dimaksud letaknya
horizontal; permukaan-bebasnya merupakan salah-satu contoh.
Jika kita mengambil datum sembarang berupa bidang horizontal, maka
kita dapat menentukan koordinat ( z ) untuk suatu elevasi. Untuk titik ( M )
koordinatnya = z; untuk permukaan bebas zat cair = z0. Apabila z0 – z
= h kita masukkan dalam pers. ( 2.2 ) maka :
z +
γ
p
= z
0
+
γ
0
p

Kita tahu bahwa ( M ) adalah sembarang titik, sehingga untuk fluida
stasioner-elementer berlaku hubungan :
z +
γ
p
= konstan ...................(2.3)
Koordinat z = elevasi.
p / γ = PRESSURE HEAD yang harganya linier.
z + p / γ = PIEZOMETRIC HEAD.
Untuk fluida stasioner, PIEZOMETRIC HEAD harganya konstan didalam
seluruh volumenya. Bentuk pers. ( 2.3 ) juga bisa kita buktikan kebenarannya
dengan integral persamaan diferensial dari keseimbangan fluida; seperti
pada Bab. BASIC EQUATIONS OF FLUIDS.


2.3. PRESSURE HEAD; VACUUM; MENGUKUR TEKANAN
Pressure head ( p / γ ) menyatakan tingginya kolom zat cair tertentu
dibandingkan terhadap tekanan absolut ataupun terhadap tekanan lebih
( gauge pressure = p ). Pressure head dari pada tekanan lebih dapat kita
23
ukur memakai PIEZOMETER ; alat yang paling mudah dibuat untuk
mengukur tekanan.
Piezometer dibuat dari pipa gelas ujung-
atas terbuka, berhubungan dengan
atmosfer, ujung-bawah kita hubungkan
dengan lobang pada bejana dimana kita
mengukur tekanannya, seperti Gb.7.
Bila pers. ( 2.2 ) diterapkan untuk
piezometer, maka :
p
ab
= p
atm
+ γ . h
p

dimana : p
ab
= tekanan absolut dari zat
cair pada tempat
pemasangan.
p
atm
= Tekanan atmosfer atau udara lingkungan.


Dengan demikian kita dapat menghitung tinggi zat cair dalam piezometer :
hp =
γ
atm ab
p p −
=
γ
g
p
...................(2.4)
atau hubungan → p
ab
= p
g
+ p
atm
.
disini p
g
= tekanan lebih ( gauge pressure ) pada elevasi yang sama.

Untuk membedakan istilah PRESSURE HEAD dan PRESSURE GAUGE :
Apabila permukaan bebas suatu fluida-diam bersinggungan dengan
udara atmosfer, PRESSURE HEAD pada setiap titik = kedalaman
titik tersebut.
Tekanan dalam fluida sering kali dinyatakan secara numerik, yakni
dengan HEAD, seperti pers. ( 2.4 ). Sebagai contoh, tekanan
sebesar 1 atmosfer.
h
1
=
air
p
γ
=
1000
000 . 10
= 10 ( m. Kolom air ).
h
2
=
Hg
p
γ
=
600 . 13
000 . 10
= 0,735 ( m. Kolom H
g
).
Apabila tekanan absolut yang terjadi didalam zat cair lebih kecil dari tekanan
atmosfer maka terjadi VACUUM ; vacuum parsial atau mungkin total.
p
0

p
p
atm

h
p =
γ
p

Gb.7
24
Besarnya vacuum adalah selisih antara tekanan atmosfer dan tekanan
absolut :
p
vac
= p
atm
– p
ab
atau h
vac
=
γ
ab atm
p p −

Sebagai contoh kita lihat sebuah tabung
dengan torak didalamnya.
Lobang bawah tabung dicelup dalam
bejana berisi zat cair, torak kemudian
ditarik keatas, seperti Gb.8.
Karena zat cair mengikuti gerak torak
maka akan naik dengan ketinggian ( h )
diatas permukaan bebasnya yang
mengalami tekanan atmosfer. Untuk
partikel zat cair yang terletak tepat
dibawah torak, kedalamannya terhadap permukaan-bebas harus
diperhitungkan negatif ( – ) ; sehingga dari pers. ( 2.2 ) tekanan absolut
zat cair dibawah torak adalah :
p = p
atm
– γ h ... ................(2.5)
Besarnya vacuum yang terjadi adalah :
p
vac
= p
atm
– p = γ h
atau h
vac
=
γ
p p
atm

= h
Bila torak posisinya tambah jauh keatas tekanan absolut dalam zat-cair
semakin rendah. Harga ter-rendah untuk tekanan absolut adalah p = 0.
Sehingga VACUUM yang maximum adalah = p
atm
; dan elevasi maximum
zat cair untuk contoh diatas, atau yang dinamakan dengan istilah TINGGI
HISAP MAXIMUM dapat kita hitung dengan pers. ( 2.5 ) dengan
menganggap p = 0 ( atau untuk lebih teliti p = p
t
) dimana → p
t
=
tekanan uap.
Apabila tekanan uap ( p
t
) kita abaikan maka :
h
max
=
γ
atm
p


h
p
p
atm

Gb.8
25

Pada tekanan atmosfer yang normal, yakni p
atm
= 1,033 kg/Cm
2
besarnya
h
max
adalah : +). untuk air = 10,33 m.
+). untuk bensin = 13,8 m (γ = 750 kg/m
3
).
+). untuk air raksa = 0,76 m.
Alat paling sederhana untuk mengukur VACUUM ( atau tekanan negatif )
adalah dengan pipa-gelas berbentuk U ; biasa disebut ( PIPA – U ) dengan
jenis : –. Salah satu ujung terbuka seperti pipa – U sebelah kanan Gb.9 ;
–. Atau jenis terbalik dimana ujung bebasnya dicelupkan dalam zat
cair seperti sebelah kiri dalam Gb.9.













Dalam laboratorium, untuk mengukur tekanan selain PIEZOMETER
digunakan berbagai jenis MANOMETER dan alat-alat ukur MEKANIS untuk
mengetahui tekanan zat cair atau gas.
Manometer pipa – U seperti Gb.10a bagian lengkungnya berupa
transparan dan terisi air-raksa ( H
g
). Untuk tekanan yang kecil, zat cair
pengisi dipakai alkohol, air atau TETRABROMO ETHANE ( specific gravity
= δ = 2,95 ).
Jika kita mengukur tekanan pada ( M ) dan pipa penghubung antara
bejana dan manometer terisi zat-cair yang kita ukur tekanannya, maka posisi
A
p
atm

h
vac

h
vac

p
atm

UDARA. p
ab
< p
atm

Gb.9
26
manometer terhadap ( M ) harus juga ikut diperhitungkan. Jadi, tekanan
lebih ( gauge pressure ) pada titik ( M ) adalah :
p
M
= γ 1
h
1
+ γ 2
h
2















Modifikasi manometer pipa – U yang lain adalah salah-satu kaki pipa
dibuat sangat lebar ukurannya seperti Gb.10b ; jenis ini umum dipergunakan
karena kita hanya perlu membaca tinggi zat-cair pada satu-kakinya saja. Jika
diameter kaki -lebar jauh lebih-besar dibanding diameter pipa-gelas, tinggi zat
cair dalam kaki-lebar dapat dianggap = konstan.
Untuk gas bertekanan sangat kecil, ketelitian pembacaan skala-tekanan bisa
dicapai dengan membuat 1 kakinya miring terhadap horizontal ( INCLINED
TUBE MANOMETERS ). Panjang kolom zat-cair yang mengisi pipa
berbanding-terbalik dengan SINUS–SUDUT–MIRING ; sehingga ketelitian
pembacaan meningkat karenanya.
Beda tekanan antara 2 titik (lokasi aliran) diukur dengan
MANOMETER DIFERENSIAL ; jenis yang paling sederhana adalah model
pipa – U seperti Gb.10c. Jika manometer jenis itu ( terisi H
g
) dipakai
mengukur beda tekanan antara ( p
1
) dan ( p
2
) dalam zat cair yang
mempunyai berat jenis (γ ) yang mengisi penuh ke-dua kaki
penghubungnya, maka :
M
h2
h1
1
γ

2
γ

h
p
1
p
2

γ
h
Hg
γ
H H
0

0
d
1

d
2

p
atm

H
g

∆ h.
p
h
0

kerosene
a b c d e
Gb.10
p1 p2
h
2
γ
1
γ
X
27
p1 – p2 = h ( γ γ −
Hg
)
Untuk beda tekanan air, dipakai pipa – U terbalik yang bagian
melengkungnya ( terletak dibagian atas ) terisi minyak ( OIL ) atau minyak
tanah ( KEROSENE ) seperti Gb.10d ; sehingga terjadi hubungan :
p
1
– p
2
= h (
1 2
γ γ − )

+). MANOMETER JAMBAN ( WELL TYPE MANOMETER )
Bentuknya seperti Gb.10e ; dipakai untuk mengukur tekanan udara atau
juga VACUUM antara ( 0,1 ÷ 0,5 ) atm.
Kalau dipakai alkohol atau air, kolom yang dibutuhkan menjadi sangat
tinggi sehingga tidak praktis; sedangkan manometer terisi H
g

pembacaannya sangat tidak teliti karena kolomnya sangat pendek.
Manometer jamban ini biasa digunakan pada instalasi-test WIND
TUNNEL.
Jamban diisi air-raksa; tabung diisi alkohol, atau minyak-tanah
atau fluida jenis lain. Kerosene ( minyak tanah ) dipakai karena sifatnya
yang spesifik, yakni TIDAK MUDAH MENGUAP.
Dengan kebijaksanaan kita bisa memilih ukuran atau diameter-diameter
tabung bagian atas / bawah ( d
1
dan d
2
) sehingga dapat dihitung
berat-jenis efektif (
ef
γ ).
p = H .
ef
γ
dimana : p = tekanan / VACUUM yang kita ukur.
H = pembacaan manometer.
Harga (
ef
γ ) dicari dari persamaan : → menurut Gb.10e.
H0
k
γ = h0 .
Hg
γ
yang menyatakan keseimbangan kolom air-raksa dan minyak tanah pada
tekanan p = p
atm
.
p + ( H
0
– H + ∆ h )
k
γ = ( h
0
+ ∆ h )
Hg
γ
yang merupakan persamaan keseimbangan pada p > p
atm
.
Selain itu : H . d
1
2
= ∆ h . d
2
2

28
Yang merupakan persamaan volume ( volume minyak tanah yang
bergeser dari pipa-atas d
1
menuju pipa-bawah d
2
= volume dari air-
raksa yang tersedot ). Dengan substitusi ke-3 persamaan-persamaan
tersebut dan hasilnya diatur, didapat hubungan :


k Hg
2
2
d
1
2
d
1
2
2
d
1
2
d
ef
γ γ γ

,
_

¸
¸
− + ·

Sebagai contoh, bila d
2
= 2 d
1

ef
γ = 0,25 x 13600 + 0,75 x 800
= 4000 kg/m
3
.

+). Tekanan diatas ( 2 ÷ 3 ) atm harus kita ukur dengan MANOMETER
MEKANIS jenis BOURDON TUBE atau jenis DIAPHRAGMA.
Prinsip kerjanya, adalah akibat defleksi yang terjadi apabila tabung
melengkung diberi tekanan, demikian pula diaphragma dan type
BELLOWS ; perubahan kelengkungannya ditransmisikan secara mekanik
pada jarum petunjuk, sehingga peralatannya berupa plat skala, seperti
jam.
Pada mesin pesawat terbang, manometer dipakai mengukur :
–. Tekanan bahan-bakar masuk INJECTORS dari turbin gas.
–. Tekanan bahan-bakar masuk karburator untuk yang
menggunakan mesin-torak. *trans.by 738M.
–. Tekanan minyak pelumas.

+). Untuk pesawat udara, jenis manometer yang paling lumrah digunakan
adalah jenis manometer sistem-listrik dan juga jenis-jenis mekanik.
Prinsip kerja MANOMETER LISTRIK, menggunakan diaphragma
sebagai sensor element, akibat tekanan fluida mengalami defleksi yang
menggerakkan bagian dari SLIDE POTENTIOMETER.



29
2.4. TEKANAN FLUIDA PADA BIDANG–DATAR
Tekanan total pada bidang datar yang miring dengan sudut ( ∝) terhadap
bidang horisontal, seperti Gb.11 ; dapat dihitung menggunakan persamaan
hidrostatik, pers. ( 2.2 ).
Kita akan menghitung teka-
nan ( p ) pada suatu luasan
( S ).
Perpotongan antara bidang,
terhadap bidang horisontal
dipakai sebagai sumbu ( x ) ;
sumbu ( y ) searah dengan
bidang dan tegak-lurus ( x ).
Gaya pada suatu elemen luasan ( dS ) adalah :
dP = p dS = ( p
0
+ γ h ) dS = p
0
dS + h γ dS
dimana : p
0
= tekanan pada bidang bebas,
h = kedalaman dari luasan ( dS ).
Gaya total ( P ) didapat dengan integrasi pers. tersebut untuk seluruh
luasan ( S ) :
P = p
0


S
dS +

S
h γ dS = p
0
S + γ Sin


S
y dS
dimana : y = jarak antara pusat luasan ( dS ) terhadap sumbu ( x ).
Harga

S
y dS menurut teori mekanika, disebut momen dari ( S )
terhadap sumbu ( 0x ) ; harganya = perkalian antara luasan dan jarak
antara titik-berat luasan s/d garis sumbu ( y
c
).
Jadi,


S
y dS = y
c
. S
sehingga → P = p
0
. S + γ Sin ∝ y
c
. S = p
0
S + γ h
c
. S
dimana : h
c
= kedalaman titik berat luasan ; dan akhirnya didapat :
P = ( p
0
+ γ h
c
) S = p
c
. S ...................(2.6)
Berarti, TEKANAN TOTAL SUATU FLUIDA PADA SUATU BIDANG
DATAR ADALAH PERKALIAN ANTARA LUASAN DAN
p
0


0
x
y
p
h
c
h
D
c
dS
S
y
y
c

yD
Gb.11
30
TEKANAN STATIKNYA PADA TITIK-BERAT LUASAN
TERSEBUT.
Jika tekanan ( p
0
) = tekanan atmosfer, GAUGE PRESSURE pada
bidang-datar besarnya adalah :
P
g
= h
c
γ S = p
cg
. S ...................(2.6)*
Note : Sesuai ketentuan dari fisika, istilah TEKANAN selalu dimaksudkan
tekanan-absolut, kecuali ada pernyataan lain.–
BAGAIMANA MENENTUKAN LETAK TITIK PUSAT TEKANAN YANG
MERUPAKAN TEMPAT BEKERJANYA GAYA RESULTAN PADA
SUATU LUASAN ?
Karena tekanan ( p
0
) ditransmisikan secara merata pada seluruh luasan
( S ) maka resultante-nya jelas terletak pada titik berat dari luasan. Lokasi
titik kerja GAUGE PRESSURE resultan ( titik D ) dapat dihitung
berdasarkan rumus dasar mekanika yang sudah banyak dikenal. Momen
resultan terhadap sumbu ( 0x ) merupakan jumlah momen dari gaya-gaya
komponen terhadap sumbu tersebut :
P
g
. y
D
=

S
y . dP
g

dimana : y
D
= jarak antara titik bekerjanya gaya P
g
terhadap sumbu ( x ).
Apabila P
g
dan dP
g
dinyatakan dengan ( y
c
) dan ( y ) ; maka y
D
:
y
D
=
S y Sin
dS y Sin
. .
c
S
2
γ
γ

=
S y
I
.
c
x

dimana : I
x
=

S
2
y dS = momen inersia luasan ( S ) terhadap ( 0x )
Jika I
x
= I
x0
+ y
c
2
S dimana I
x0
= momen inersia luasan ( S )
terhadap garis sumbunya sendiri yang sejajar
terhadap ( 0x ).
Maka : y
D
= yC +
S y
I
.
c
x0
...................(2.7)

Jadi, tempat bekerjanya gaya P
g
terletak dibawah titik-berat-luasan,
selisihnya :


31
∆ y =
S y
I
.
c
x0

Apabila ( p
0
) = tekanan atmosfer dan bekerja pada kedua sisi dari bidang
maka titik D = titik pusat tekanan.
Jika p0 > p
atm
maka titik pusat tekanan dicari berdasarkan teori mekanika,
sebagai titik bekerjanya resultante antara gaya ( P
g
) dan ( p
0
. S ).
Apabila ( p
0
. S ) > ( P
g
) maka titik pusat tekanan lebih dekat ketitik berat
luasan ( S ).
Singkatan dari istilah : Titik pusat tekanan = TPT
Titik berat luasan = TBL
Agar koordinat ( x
D
) dari TPT dapat ditentukan maka persamaan momen
kita terapkan terhadap sumbu ( y ).
Untuk kasus spesifik, dimana bidangnya berbentuk empat-persegi-
panjang yang salah satu sisinya terletak pada permukaan zat-cair maka
posisi TPT dapat dicari dengan mudah. Kita tahu bahwa diagram tekanan
dari gaya yang bekerja pada bidang tersebut ( tenggelam ) adalah berbentuk
segi–3 seperti Gb.12 dengan titik-berat terletak = 1/3 x ( tingginya )
dihitung dari dasar maka lokasi TPT juga terletak 1/3 ( b ) dari dasar.
Dalam teknik
mesin kasus yang umum
kita jumpai adalah,
menghitung tekanan
fluida pada dinding datar,
seperti misalnya pada
torak dari mesin-mesin
hidrolik beserta berbagai
peralatannya ( lihat con-
toh soal ).
Disini tekanan ( p
0
)
demikian besarnya, se-
hingga dapat dianggap, bahwa tempat bekerjanya TPT berimpit dengan
posisi dari TBL.
b
x
a
D
c
3
b
2
b
P
p
y
Gb.12
32
B
A
D C
p
0

E
P
h

.
P
G
B
A
D C
p
0

E
p
h

h
c

P
.
G
P
v

2.5. TEKANAN FLUIDA TERHADAP PERMUKAAN MELENGKUNG,
GAYA–APUNG & FLOATASI
Kasus-kasus yang menyangkut tekanan fluida terhadap bidang dengan
bentuk sembarang memang agak sulit dianalisa karena harus dihitung 3
komponen dari pada gaya-total dan juga 3 momen.
Syukurlah kita tidak terlalu sering bertemu dengan kasus model itu. Biasanya,
model permukaannya adalah bentuk silindris atau bentuk-bulat yang
mempunyai bidang simetri tegak.
Untuk kasus seperti ini analisa tekanan dapat disederhanakan dengan
mencari resultante-nya terhadap bidang-tegak tersebut.
Salah satu contohnya adalah seperti Gb.13.












Misalkan bidang melengkung ( AB ) dengan rusuk atau garis-lukis
(GENERATOR OF THE BODY) tegak-lurus bidang gambar. Maka akan
ada 2 kemungkinan : a). Zat cair terletak diatas bidang.
b). Zat cair terletak dibawah bidang.
Kasus a).
Volume zat cair ABCD dengan AB merupakan permukaan yang
melengkung. BC dan AD adalah bidang-bidang yang tegak; CD adalah
permukaan bebas. Kita harus meninjau persamaan-persamaan
keseimbangan dalam arah datar dan arah tegak.
Jika besarnya gaya dorong yang diberikan zat cair pada AB adalah sebesar
P ; berarti pula bidang AB memberikan gaya sebesar P kepada zat cair.
P
v

a b
Gb.13
33
Pada Gb.13 terlihat gaya tersebut beserta komponen-komponen tegak dan
datar yakni P
h
dan P
v
.
Persyaratan untuk arah-tegak :
P
v
= p
0
. S
h
+ G ...................(2.8)
dimana : p
0
= tekanan pada permukaan bebas.
S
h
= proyeksi luasan ( AB ) terhadap bidang datar.
G = berat zat cair dalam volume yang kita tinjau.
Persyaratan keseimbangan dalam arah datar.
Gaya dorong zat cair dalam volume yang ditinjau terhadap luasan EC dan
AD adalah imbang karena sama-besar, hanya berlawanan arah; maka yang
perlu dibahas hanyalah tekanan yang bekerja pada luasan BE yang
merupakan proyeksi-tegak ( S
v
) dari luasan AB :
P
h
= S
v
. γ . h
c
+ p
0
. S
v
...................(2.9)
Pers. ( 2.8 ) dan ( 2.9 ) memberikan komponen-komponen vertikal dan
datar dari gaya-total P yakni :
P =
h
2
P
v
2
P + ...................(2.10).
Kasus b).
Besarnya tekanan hidrostatik pada semua-titik diatas bidang ( AB ) sama-
besar dengan kasus a) hanya tandanya yang berlawanan.
Gaya-gaya P
v
dan P
h
dihitung dengan persamaan pers. ( 2.8 ) dan ( 2.9 )
; tapi tandanya yang dibalik. Seperti halnya pada kasus a), G disini adalah
berat zat cair dengan volume ABCD (walaupun sebenarnya untuk kasus-b).
volume tersebut kosong.
Titik pusat tekanan TPT untuk bidang melengkung dapat ditentukan
dengan gampang jika besar dan arah gaya-gaya P
v
& P
h
telah diketahui,
atau jika letak TPT untuk proyeksi tegak dari luasan telah diketahui,
demikian pula titik-berat dari volume ABCD.
Kasusnya akan menjadi lebih sederhana lagi apabila bidang lengkung itu
berbentuk lingkaran, karena arah gaya resultante berpotongan dengan garis
sumbu permukaan ( AB ) yang telah kita ketahui dari sifatnya bahwa setiap
tekanan elementer ( dP ) selalu berarah tegak-lurus terhadap bidang, jadi,
searah dengan radiusnya.
34
Cara tadi ( bidang silindris ) juga berlaku untuk bidang berbentuk
bola. Gaya resultante akan melalui titik berat luasan TBL yang terletak pada
bidang simetri yang tegak.
Metode tadi, mencari komponen vertikal gaya-tekanan dari bidang
melengkung dapat pula kita terapkan untuk membuktikan keampuhan dari
HUKUM ARCHIMEDES.
Misalkan suatu benda dengan volume ( W ) dicelupkan dalam zat-
cair, seperti Gb.14. Garis lukisnya ( GENERATOR ) yang terbentang
disekeliling bendanya dan ber-arah vertikal akan membagi benda tersebut
menjadi 2 bagian, yakni ACB dan ABD.
Komponen vertikal P
v1
dari tekanan
(GAUGE PRESSURE) yang dialami
oleh permukaan atas benda (yakni
diatas AB) arahnya ke -bawah,
besarnya sama dengan berat zat cair
dengan volume AA ’ B ’ BCA.
Komponen vertikal P
v2
dari tekanan
yang dialami oleh bagian bawah
benda, ber-arah ke -atas, besarnya
sama dengan berat zat cair yang
mengisi volume AA ‘ B ‘ BDA.
Tekanan resultante yang dialami benda akan berarah vertikal yang
besarnya sama dengan berat zat cair yang mengisi selisih kedua bentuk itu,
yakni berat dari zat cair yang volumenya sama dengan volume benda
tersebut; jadi :
P
b
= P
v2
– P
v1
= G
ABCD
= W . γ
Pernyataan tersebut dinamakan HUKUM ARCHIMEDES yang bunyinya :
SUATU BENDA YANG TERCELUP DALAM SUATU
FLUIDA AKAN KEHILANGAN BERATNYA SEBANYAK
BERAT FLUIDA YANG DIPINDAHKAN OLEHNYA.
*trans.by 738M.
Hukum tersebut juga berlaku untuk benda yang hanya tercelup sebagian
( mengapung ). Gaya P
b
disebut GAYA APUNG yang titik kerjanya
W C
P
v1

D
P
v2

B
A
A
1
B
1

Gb.14
35
berimpit dengan titik berat fluida yang dipindahkan; titik tersebut diberi istilah
titik apung ( CENTRE OF BOUYANCY ).
Berdasarkan perbandingan berat benda ( G ) terhadap gaya-apung
P
b
maka ada 3 kemungkinan :
+). Bila G > P
b
maka benda akan tenggelam.
+). Bila G < P
b
maka benda naik dan terangkat (melayang).
+). Bila G = P
b
maka benda mengapung ( FLOAT ).
Persyaratan lainnya agar benda yang mengapung bisa stabil; selain G = P
b

adalah TOTAL DARI MO MEN = 0 yang akan tercapai apabila titik berat
benda dan titik-apung keduanya terletak pada sebuah bidang vertikal. Untuk
penggunaannya kita lihat beberapa contoh.

CONTOH 1 :
Diantara sistem hidrolik pesawat udara terdapat GAS LOADED
ACCUMULATOR untuk menyimpan energi. Salah satu modelnya
berupa silinder dengan torak; pada satu-sisi berisi udara bertekanan
( p ), sisi lain terisi fluida ( cairan hidrolik ) yang dimasukkan
kedalamnya oleh pompa, seperti Gb.15.
Model yang lain berupa reservoir
bola, terisi DIAPHRAGMA
ELASTIS yang memisahkan
antara fluida dan gas bertekanan
seperti Gb.18.
Energi tersimpan karena zat cair
mendesak torak kesebelah-kiri
sehingga memampatkan udara
yang beratnya ( W ). Energi
tersebut akan dilepaskan jika
udara memuai.
Tentukan jumlah energi yang tersimpan jika tekanan besarnya :
p
2
= 150 kg/Cm
2
= LOAD PRESSURE apabila bisa
dikurangi s/d
p
1
= 75 kg/Cm
2
dengan volume udara W
1
= 3 liter.
W ; p
x
2

x
x
1

d
x

Gb.15
36
Jawab :
Kita pakai asumsi-asumsi :
1. Proses expansi & kompresi gas berlangsung isothermal.
2. Volume udara sebanding dengan langkah torak ( x ).
3. Torak tidak mengalami gesekan.
Usaha elementer yang dihasilkan ACCUMULATOR : dE = p.S.dx ;
dimana S = luas permukaan torak.
Maka sesuai dengan asumsi :
p = p
1

W
W
1
dan W = W
1

1
x
x

Sehingga → dE = p1 x1 S
x
dx
= p1 W1
x
dx

Jika di-integralkan kita dapat menghitung energi yang tersimpan :
E = p
1
W
1


1
2
x
x
x
dx
= p
1
W
1
ln

,
_

¸
¸
2
1
x
x
= p1 W1 ln

,
_

¸
¸
1
2
p
p

Bila besaran-besaran tersebut dimaksukkan maka :
E = 75 x 10
4
x 3 x 10
–3
x 2,3 x 0,3 = 1550 ( kg.m)

CONTOH 2 :
Instalasi seperti Gb.16 adalah mesin hidrolik yang dapat berfungsi
sebagai MESIN PRES maupun dongkrak ( JACK ).
Bila berfungsi sebagai dongkrak; ( 1 ) adalah beban yang harus
diangkat; untuk mesin-pres ( 1 ) merupakan meja-tekan yang diikat
pada fondasi dengan batang atau tiang pengikat ( 8 ) yang terlihat
sebagai garis strip; dan benda ( 2 ) adalah benda yang dipres atau
dimampatkan.







7
1
6
8
8
2
P
D
3
d
5 4
a b
R
Gb.16
37
( 3 ) = pompa tangan yang dipakai memberi tekanan pada silinder
tekan ( 6 ) sehingga menimbulkan gaya-tekan keatas ( P ) pada
selongsong kempa ( Lifting ram ) ( 7 ).
( 5 ) = katup isap dan ( 4 ) = katup tekan.
Tentukan gaya P apabila R = 20 Kg ; a/b = 1/9 dan D/d = 10.

Jawab : P = R
2
d
D
a
b a

,
_

¸
¸ +
= 20 x 10 x 100 = 20.000 Kg.

CONTOH 3 :
HYDRAULIC PRESSURE INTENSIFIER seperti Gb.17 dipakai
untuk meningkatkan tekanan ( p
1
) yang dihasilkan oleh pompa atau
dari ACCUMULATOR. Tekanan ( p1 ) masuk dalam silinder ( 1 ) dan
menggerakkan selongsong berongga ( 2 ) yang beratnya = G dan
diameternya = d yang ditengahnya dilobangi untuk mengeluarkan
fluida yang tekanannya telah berlipat-ganda = p
2
.
Jika G = 300 Kg ; D = 125 mm ; p
1
= 100 Kg/Cm
2
; d =
50 mm serta gesekannya diabaikan, tentukan besarnya tekanan
( p
2
).














1
2
D
d
3
p2
p1
Gb.17
38
Jawab :
Dari persamaan keseimbangan untuk selongsong berlobang ( 2 )
maka :


4
D
2
π
p
1
=
4
d
2
π
p
2
+ G → p
2
= p
1

,
_

¸
¸
2
d
D

2
d
G 4
π


p
2
= 100
2
2
5
300 x 4
50
125
π

,
_

¸
¸
= 610 Kg/Cm
2
.

CONTOH 4 :
Sebuah komponen penting yang harus ada dalam sistem hidrolik
pesawat udara adalah AUTOMATIC RELIEF VALVE seperti Gb.18 ;
yang kerjanya sebagai berikut :
Jika fluida didalam sistem mengalami MACET ( tidak bekerja =
IDLING ) maka pompa akan mengisi ACCUMULATOR ( 4 ) sampai
mencapai tekanan maximum ( p
max
) sehingga torak ( d ) tertekan
kebawah dan mengalirkan fluida ke ( A ) melalui saluran ( a ).
Tekanan ( p
max
) ini menekan torak ( D ) kebawah sehingga batang-
toraknya membuka KATUP – BOLA sehingga saluran-tekan pompa
berhubungan dengan tangki pengumpul. Pompa akan terus
mengalirkan fluidanya kembali ke-tangki pengumpul selama tekanan
dalam sistem masih diatas ( p
min
) ; kemudian torak ( d ) berangsur-
angsur bergeser keatas akibat gaya pegas, membuka saluran ( a )
dan fluida di ( A ) mengalir-balik ketangki pengumpul. Jika ini telah
tercapai maka pegas ( 2 ) menekan torak ( D ) keatas, KATUP
BOLA menutup, sehingga pompa mengalihkan tekanannya kepada
konsumen ( RECEIVER ).
Tentukan karakteristik pegas-pegas ( 1 ) dan ( 2 ) jika :

p
max
= 140 atm; p
min
= 80 atm; d = 8 mm; l = 16 mm;
D = 10 mm; a = 2 mm dan d
1
= 6 mm.

39



















Jawab :
Tentukan beban maximum dan beban minimum untuk pegas ( 1 ).
P
max
= p
max

4
π
( d )
2
= 140
4
π
( 0.8 )
2
= 70,4 Kg.
P
mi n
= p
mi n

4
π
( d )
2
= 80
4
π
( 0.8 )
2
= 40,2 Kg.
Lendutan dari pegas : h l = l – a = 16 – 2 = 14 mm.
Kemudian kita hitung kekakuan dari pegas ( l ) : *trans by 738M.

l
h
P P
min
max

=
14
2 , 40 4 , 70 −
= 2,16 Kg/mm.
Agar katup bola dapat terbuka, maka gaya pada torak harus mampu
mengatasi kekuatan pegas ( 2 ), gesekan torak + packing, tekanan
yang bekerja pada katup-bola dan gaya dari pegas ( 3 ).
Bila dianggap : –. Gaya gesek = 0,1 x gaya akibat tekanan ;
–. Gaya dari pegas ≅ 3 Q = 30 Kg ;
2
6
1
3
4
d1
A
D
a
dari pompa
Ke Receiver
ke tangki

l
d
Gb.18

40
Maka kita dapatkan persamaan untuk menentukan tegangan maximum
dari pegas ( 2 ) ; F
max
; yakni :
p
max

4
D
2
π
0,9 = F
max
+ p
max

4
1
2
D π
+ Q
sehingga : F
max
= 140 x 0,25 π ( 1
2
x 0,9 – 0,6
2
) – 30 = 30 Kg.
Disamping itu gaya dari pegas ( 2 ) harus mampu untuk membalikkan
gerak torak ( D ) melawan gesekan packing dari torak saat tanpa-
beban.
Bila dianggap gaya gesek tersebut sebesar 10 Kg maka :
F
mi n
= 10 Kg.
Kekakuan pegas ( 2 ) yang dibutuhkan untuk menggeser torak keatas
sejauh h
2
= 10 mm adalah :

2
h
F F
min
max

=
10
10 30 −
= 2 Kg/mm.



















41
Bab III

KEDUDUKAN RELATIF ZAT CAIR


3.1. KONSEP DASAR
Bab. sebelumnya hanya membahas tentang imbangnya zat cair yang
mengalami hanya satu gaya, yakni gaya berat. Peristiwa demikian, contohnya
seperti zat cair yang diam didalam bejana yang juga tidak bergerak, atau
sedang mengalir secara UNIFORM mengikuti garis lurus, relatif terhadap
bumi.
Apabila bejana bergerak tidak-lurus dan tidak UNIFORM maka semua
partikel zat cair dalam bejana, selain mengalami gaya gravitasi juga gaya
tambahan akibat dari akselerasinya.
Gaya tambahan tersebut berusaha menggeser zat cair yang ada dalam
bejana, sedemikian, apabila geraknya UNIFORM terhadap waktu maka zat
cair akan menempati posisinya yang baru yang seimbang terhadap dinding
bejana. Keadaan seperti itulah yang dimaksud sebagai KEDUDUKAN
RELATIF ( RELATIVE REST ).
Permukaan-bebas, seperti halnya bidang-batas lainnya yang
mempunyai tekanan sama, maka zat cair yang berada dalam KEDUDUKAN–
RELATIF konturnya sangat berbeda dibanding bidang bertekanan-sama
didalam bejana diam, yang mestinya horizontal.
Agar bisa menentukan bagaimana bentuk sebenarnya dari permukaan-bebas
zat cair yang mengalami KEDUDUKAN RELATIF maka sifat-sifat dasar dari
semua bidang bertekanan-sama harus ikut pula dipertimbangkan lagi;
sebagai contohnya : Gaya resultante ( RESULTANT BODY FORCE )
selalu tegak-lurus terhadap bidang bertekanan-sama.
Seandainya gaya resultante ini arahnya menyudut terhadap bidang
bertekanan-sama, maka komponen tangensialnya akan berusaha menggeser
partikel-partikel zat cair searah bidang tersebut. Akan tetapi untuk yang
42
mengalami KEDUDUKAN RELATIF partikel-partikel zat cairnya hanya diam-
diam saja, baik terhadap dinding bejana dan pula terhadap partikel lainnya.
Berarti, yang paling mungkin adalah :
“ARAH GAYA RESULTANTE JUGA TEGAK–LURUS TERHADAP
MUKA–BEBAS DAN BIDANG–BIDANG LAIN YANG MEMPUNYAI
TEKANAN–SAMA”.
Selain itu, tidak mungkin terjadi 2 bidang yang bertekanan-sama akan
saling berpotongan, karena zat cair pada titik-potong tersebut akan
mengalami 2 tekanan.
Ada 2 sifat penting yang akan kita bahas karena merupakan ciri khas
dari cairan dengan kedudukan relatif :
1). Bejana bergerak lurus dengan akselerasi yang merata.
2). Bejana berputar UNIFORM terhadap sumbu tegak.


3.2. ZAT CAIR DALAM BEJANA YANG BERGERAK
LURUS DENGAN AKSELERASI MERATA
Kita amati zat cair menempati sebuah bejana, misalnya bahan-bakar dalam
tangki pesawat udara, bergerak mengikuti garis-lurus dengan akselerasi
merata = ( a ).
Gaya ( BODY FORCE ) resultante pada zat cair merupakan jumlah vektor
dari gaya akibat akselerasi yang arahnya berlawanan dengan ( a ) dan gaya
berat; seperti Gb.19.
Untuk tiap satuan massa kita pakai simbol ( j ) untuk gaya-resultante;
maka :
_
g
_
a j
_
+ ·
Jadi resultante gaya -gaya yang dialami partikel-partikel zat cair mempunyai
arah yang paralel; bidang-bidang yang bertekanan-sama posisinya tegak-
lurus kepada gaya tersebut. Semua bidang bertekanan sama ( termasuk
muka-bebasnya ) merupakan bidang-bidang yang paralel. Sudut kemiringan
terhadap bidang horisontal tergantung pada arah gaya ( j ).
43
r
h
H
h
0

0


P
0

A B
Z
r
2
ω
Gb.20
Untuk menentukan posisi muka-bebas zat cair dalam bejana yang
bergerak dengan akselerasi merata dalam arah garis-lurus, persyaratan
lainnya yang masih diperlukan adalah VOLUME.
Volume zat cair dalam bejana harus diketahui dari ukuran bejana : B ; H ;
dan tinggi permukaan awal zat cair ( h ).
Untuk menentukan tekanan pada sembarang titik dalam zat cair, telah
dibahas dalam Bab. HIDROSTATIKA.
Kita tinjau titik sembarang dalam fluida ( M ) dengan luasan ( dS ) yang
paralel terhadap muka-bebas dan kita buat tabung silindris zat cair yang
tegak-lurus terhadap FREE SURFACE dengan alas = dS.













Rumus keseimbangan volume zat cair tersebut adalah :
p dS = p
0
dS + j l ρ dS
Suku terakhir dalam rumus tersebut adalah BODY FORCE TOTAL ; l =
jarak antara ( M ) dan muka-bebas.
Setelah ( dS ) dihilangkan :
p = p
0
+ j l ρ ...................( x )
Hal-hal khusus : Bila a = 0 ; j = g maka ( x ) menjadi rumus
hidrostatika.
Untuk menyelidiki pengaruh gaya akselerasi dalam teknik penerbangan, kita
harus tahu istilah : g – LOADING.
B
h
a
H
p
0

M
a
j
g
l
dS
Gb.19
44
Beban g – LOAD bisa berarah tangensial ( n
x
) atau tegak-lurus ( n
y
).
Untuk terbang lurus maka g – LOAD adalah sebesar :
n
x
=
g
a

Pembebanan normal ( NORMAL g – LOADING ) terjadi apabila
pesawat udara terbang dengan lintasan melengkung ( DIVING ; NOSING
UP ; BANKING ) dan rumusnya :
n
y
=
g
g a +
=
g R
v
2
+ 1
dimana : v = Kecepatan terbang.
R = Radius kelengkungan dari lintasan.
Kasus dalam contoh diatas adalah dengan beban g – LOAD TANGENSIAL
tapi untuk memperkecil dimensi tangki bahan-bakar pesawat udara
dibandingkan terhadap radius ( R ) maka diambil pertimbangan, yakni
dengan memanfaatkan NORMAL g – LOADING ; besarnya akselerasi ( a )
dihitung dari rumus :
a =
R
v
2

Perlu dicatat bahwa untuk pesawat yang sedang terbang beban g –
LOAD NORMAL jauh lebih besar dibanding g – LOAD TANGENSIAL ;
perbandingannya adalah ( 8 ÷ 10 ).
Jika g – LOAD yang berharga besar dan jumlah bahan bakar dalam
tangki hanya sedikit; maka pergeseran dari permukaan bahan-bakar malah
menjauhi MULUT PIPA HISAP sehingga aliran bahan bakar terputus
karenanya. Untuk mencegah kasus seperti itulah maka disekitar MULUT
PIPA HISAP dipasang alat-pengaman khusus.


3.3. ZAT CAIR DALAM BEJANA YANG BERPUTAR
UNIFORM
Kita lihat bejana silindris terbuka terisi cairan yang berputar terhadap sumbu
vertikal; kecepatan sudut = ω . Berangsur-angsur zat cair akan memperoleh
45
kecepatan sama-dengan bejananya sehingga muka-bebas-nya berbentuk
CEKUNG akibat perputaran; seperti Gb.20.
Yang dialami fluida ( untuk tiap satuan massa ) adalah gaya berat
( g ) dan gaya sentrifugal (
2
ω r ).
Akibat komponen yang kedua, BODY FORCE RESULTANTE ( j )
bertambah sebanding radius, sedangkan inklinasi terhadap horisontal
berkurang ( arahnya semakin tegak ).
Body force resultante tersebut selalu tegak lurus terhadap muka-bebas,
sehingga inklinasi muka-bebas tersebut bertambah, sesuai radiusnya.
Sekarang kita menurunkan persamaan dari kurve ( A0B ) dalam
koordinat ( z – r ) yang berpusat pada titik center alas bejana.
Karena gaya ( j ) selalu tegak-lurus ( A0B ) maka dari analisa gambar kita
dapatkan :
tg ∝ =
r d
z d
=
g
r
2
ω

atau : dz =
g
r
2
ω
dr
Setelah di-integral didapatkan :
z =
g 2
r
2 2
ω
+ C
Berdasarkan batasan-batasan yang telah disebutkan diatas, bahwa pada
perpotongan kurve ( A0B ) dengan sumbu-putar → C = h maka :
z = h +
g 2
r
2 2
ω
...................( y )
Jadi, kurve ( A0B ) adalah parabolis dan muka-bebas-nya berupa bidang
paraboloid.
Aplikasi persamaan ( y ) :
–. Menentukan posisi muka-bebas dalam bejana; sebagai
contoh tinggi kenaikan maximum zat cair ( H ) dan,
–. Elevasi dari titik puncak paraboloid pada kecepatan putar
tertentu ( ω ).
Harus diingat bahwa volume zat cair saat diam sama dengan
saat berputar.
46
–. Kasus yang umum adalah jika bejana terisi zat cair berputar
terhadap sumbu horisontal atau sumbu sembarang dengan
kecepatan ( ω ) yang demikian besarnya, sehingga
pengaruh gaya-berat dapat diabaikan dibandingkan gaya
sentrifugal.
Gradient tekanan dalam zat cair dicari dari rumus-keseimbangan untuk
volume elementer yang luas alasnya = dS dan tinggi = dr dalam arah
radiusnya ( r ) seperti Gb.21.
Volume tersebut mengalami gaya-gaya akibat tekanan dan sentrifugal.
Misalkan ( p ) adalah tekanan pada pusat luasan ( dS ) ; r = jarak antara
( dS ) dan sumbu perputaran; ( p + dp ) = tekanan pada permukaan yang
satunya yang letaknya sejauh ( r + dr ) dari sumbu.
Persamaan keseimbangan dalam arah radiusnya untuk volume
tersebut adalah :
p dS – ( p + dp ) dS + ρ
2
ω r dr dS = 0
atau dp = ρ
2
ω r dr.
Setelah di-integralkan :
p = ρ
2
ω
2
r
2
+ C
Konstante ( C ) dicari dari persyaratan batas integral, pada r = r
0
→ p =
p
0
sehingga :
C = p
0
– ρ
2
ω
2
0
2
r










2 r
0
p
0

p

p
0

p + dp
dr
dS
p
r
p
0

r
0

Gb.21
47
r
1

p
1

p
2

W
1

W
2

r
2

A

B
C
D
E
2

r
s
h


Gb.22
Akhirnya didapat hubungan antara ( p ) dan ( r ) :
p = p
0
+
2
2
ω
ρ ( r
2

0
2
r ) ............ .......( z )
Jadi, bentuk-bentuk bidang bertekanan-sama adalah berupa tabung-tabung
silindris dengan garis sumbunya berimpit dengan sumbu perputaran zat cair.
Apabila bejana tak terisi penuh, bentuk muka-bebas-nya ( yang juga
merupakan salah satu bidang bertekanan-sama ) berbentuk silindris dengan
radius ( r
0
) dan tekanan = ( p
0
).
Kasus yang sering kita jumpai adalah menghitung gaya-dorong
( THRUST ) yang ditimbulkan zat cair yang berputar bersama bejananya
terhadap bidang yang tegak-lurus terhadap sumbu perputaran; atau mungkin
luasan yang ditinjau hanya berupa ring, seperti pada celah antara IMPELLER
& CASING pompa sentrifugal.
*trans.by 738M.














Gaya dorong terhadap ring elementer yang radiusnya ( r ) dan lebar ( dr ) ;
menurut persamaan ( z ) adalah :
dP = p dS =
1
]
1

¸

,
_

¸
¸
− +
0
2
r r
2
p
2
2
0
ω
ρ 2 π r dr
Bila di-integralkan maka didapat P ( THRUST ).
48
Jika perputarannya sangat tinggi maka gaya dorong yang dialami
dinding juga menjadi sangat besar. Prinsip ini diterapkan untuk operasi
KOPLING GESEK ( jenis khusus ) yang membutuhkan tekanan NORMAL
YANG SANGAT BESAR agar torsi bisa ditransmisikan dari satu poros
kepada poros lainnya.
Prinsip ini juga dipakai untuk menghitung tekanan AXIAL yang ditimbulkan
zat c air terhadap IMPELLER POMPA SENTRIFUGAL.
Rumus -rumus diatas dapat diturunkan dengan integral dari persamaan
diferensial keseimbangan fluida. Lihat Bab. Persamaan diferensial.
Contoh :
Hitung gaya AXIAL pada IMPELLER POMPA SENTRIFUGAL apabila
ruang ( W1 ) dan ( W2 ) antara IMPELLER dan CASING kecepatan-
sudut zat cairnya hanya ( 1/ 2 x ) kecepatan IMPELLER dan kebocoran
didaerah ( A ) sangat kecil sehingga dapat diabaikan. LAY OUT seperti
Gb.22.
Tekanan buang p
2
= 38 atm; tekanan hisap = p
1
= 0 ; n = 16500 RPM.
Dimensi IMPELLER : r
2
= 50 mm ; r
1
= 25 mm ; r
sh
= 12 mm ; berat-
jenis zat cair γ = 918 ( Kg/m
3
)
Jawab : Pada daerah ( AB ) = daerah ( CD ).
Yang berbeda hanyalah tekanan AXIAL pada bidang ( DE )
yang berupa cincin yang dibatasi ( r
1
) dan ( r
sh
).
Gaya yang timbul akan berarah kekiri ( ke-sisi-hisap ) ;
yang besarnya :
P = 2

1
r
r
p
sh
π r dr
Dengan menerapkan rumus ( z ) dan substitusi :
p
2
untuk p
0
; dan r
2
untuk r
0

maka :
p = p
2

g 2
f
2
ω
γ

,
_

¸
¸
− r
2
2
r
dimana :
f
ω = kecepatan sudut zat cair yang berputar.
49
Jadi : P =
1
1
1
1
]
1

¸

,
_

¸
¸
− −

2
2
1
r
2
2
r
g 2
f
2
p
r
r
2
sh
ω
γ π r dr
=
1
1
1
1
]
1

¸

,
_

¸
¸
+
− −

,
_

¸
¸

2
sh
2
r
1
2
r
2
2
r
g 2
f
2
p
sh
2
r
1
2
r
2
ω
γ π
P = ( )
1
1
]
1

¸

,
_

¸
¸
− −
2
2 2
30 x 2
16500 x
000918 , 0 38 2 , 1 5 , 2
π
π

1
]
1

,
_

¸
¸
+

2
2 , 1 5 , 2
5 x
981 x 2
1
x
2 2
2
= 460 Kg.





















50
Bab IV

RUMUS – RUMUS DASAR


4.1. DEFINISI & RUMUS
Untuk fluida yang bergerak kita mulai dengan teori aliran Fluida-ideal. Untuk
itu kita perkenalkan beberapa istilah-istilah :
Fluida Ideal : Fluida dengan µ = 0. Sifatnya seperti fluida riil
yang tidak bergerak ( REAL MOTIONLESS )
karena parameter yang ada hanya tekanan
(COMPRESSIVE STRAIN).
Jadi, dalam fluida ideal yang sedang mengalir,
tekanan tegak-lurus terhadap permukaan ( bidang-
batas dan mengarah kedalam ) ; pada setiap titik
dalam fluida, tekanan mengarah kesegala arah dan
sama-besar.
Steady Flow : Termasuk jenis aliran dimana parameternya pada
suatu titik tidak berubah terhadap waktu.
Tekanan ( p ) dan kecepatan alir ( v ) hanya
berubah karena posisi partikel fluida.
p = f
1
( x ; y ; z ) dan v = f
2
( x ; y ; z ).

t
p


= 0 ;
t
v
x


= 0 ;
t
v
y


= 0 ;
t
v
z


= 0
Partikel fluida mengalir sepanjang garis arus dan tak
berubah terhadap waktu ( t ).
Unsteady Flow : Aliran dimana tekanan & kecepatan berubah
terhadap posisi & waktu; sehingga :
p = F
1
( x ; y ; z ; t ). v = F
2
( x ; y ; z ; t ).
Partikel yang lewat suatu titik membentuk lintasan
yang selalu berubah.
51
Contoh : Steady Flow : –. Fluida keluar dari bejana dengan permukaan
fluida = konstan.
–. Saluran yang dilayani pompa sentrifugal
dengan n = konstan & uniform.
Unsteady Flow : +. Fluida yang keluar lewat lobang pada dasar
bejana.
+. Aliran pada pipa masuk & buang pompa
dari jenis RECIPROCATING.
Cara analisa yang banyak diterapkan adalah dengan menganggap aliran
bersifat STEADY karena jauh lebih gampang & sederhana.
Stream line : Garis dalam fluida yang mengalir; garis singgung
padanya pada sembarang titik menyatakan arah dari
vektor kecepatan pada titik tersebut. Gb.23.
Pada steady flow garis arus ( stream line ) maupun
lintasan ( path lines ) selalu berimpit dan tak berubah
terhadap waktu.
Stream tube : Ruang tubular yang dibatasi oleh permukaan yang
terdiri dari garis arus; seperti Gb.24.
Bila stream tube dikontraksi menjadi → 0 maka
terjadi stream lines.








Pada setiap titik dipermukaan stream tube, vektor
kecepatan ( v ) menyinggung terhadap permukaan.
Tak ada komponen ⊥ dari v ; tak ada zat cair yang
menembus stream tube kecuali pada penampang-
penampang ujungnya.
v
v
v
v
v
v
Gb.23
v
2

dS
2

v
1

dS
1

Gb.24
52
Stream tube ini terbungkus oleh selubung yang tak
tembus cairan sehingga ia dianggap sebagai arus-
elementer.
Selain itu stream tube dianggap terbentuk dari
sekelompok stream tubes elementer; karena
kecepatan masing-masing TUBES tidak sama, maka
stream tubes SLIP antara satu dengan lainnya tetapi
tak sampai tercampur ( semrawut ).
Penampang arus : Penampang dalam aliran yang ⊥ garis arus.
Stream lines kita anggap paralel ( walaupun slip )
sehingga penampang-arus berupa bidang-datar.


4.2. DEBIT & RUMUS KONTINUITAS
Debit ( RATE OF DISCHARGE ) : Jumlah fluida yang mengalir tiap
satuan waktu melalui suatu
penampang.
Dibedakan : Q = Volume Rate ( m
3
/ detik )
G = Weight Rate ( Kg / detik )
M = Massa Rate ( Kg.detik / m )
Asumsi : Penampang lintang dari suatu stream tubes elementer dianggap
sangat kecil → kecepatan ( v ) dianggap uniform maka :
dQ = v dS ; dimana dS = luas penampang aliran.
dG = γ dQ.
dM = ρ dQ = ρ v dS.
Kenyataan : Kecepatan ( v ) tidak uniform pada penampang aliran; untuk
mudahnya debit dihitung dengan kecepatan rata-rata pada
suatu penampang.
Jadi,
Q =

S
v . dS dan v
m
=
S
Q
sehingga :
→ Q = v
m
. S *trans.by 738M.

53
Asumsi : Fluida tak ada yang menembus dinding stream tube.

Hukum Kekekalan Massa bila diterapkan untuk :
–. Fluida incompressible
–. Steady Flow adalah sbb :
dQ = v
1
. dS
1
= v
2
. dS
2
= konstan sepanjang stream
tubes .
Hubungan ini dinamakan RUMUS KONTINUITAS.
Untuk stream tube dengan penampang tertentu dan kecepatan dianggap
merata, maka :
Q = v
m1
. S
1
= v
m2
. S
2
= Konstan sepanjang stream
tubes.
Jadi, terdapat hubungan antara kecepatan alir dan luas penampang

1
2
m2
m1
S
S
v
v
·
Catatan : RUMUS KONTINUITAS merupakan bentuk khas dari hukum
kekekalan massa yang diterapkan untuk aliran fluida.


4.3. RUMUS BERNOULLI
Asumsi : –. ideal liquid.
–. aliran berupa STREAM TUBE.
–. aliran STEADY FLOW.
–. gaya yang bekerja hanya gaya -berat ( GRAVITY ).
Rumus ini menyatakan hubungan antara tekanan ( p ) terhadap kecepatan
alir ( v ).
Obyek : STREAM TUBE antara penampang 1 & 2 ; seperti Gb.25.
Pada 1 → dS
1
; v
1
; p
1
; z
1
.
Pada 2 → dS
2
; v
2
; p
2
; z
2
.
Untuk selang waktu ( dt ) gaya luar akan menggeser volume zat cair dari
batas ( 1 – 2 ) ke ( 1’ – 2’ ). Teori mekanika bila diterapkan untuk fluida
tersebut, menyatakan :
USAHA DARI GAYA LUAR DIPAKAI UNTUK MERUBAH ENERGI
KINETIK BENDA.
54
Yang termasuk gaya luar adalah :
–. Gaya normal akibat tekanan.
–. Gaya berat.
Selama waktu ( dt ) ;
+. Usaha akibat tekanan pada ( 1 ) bertanda ( + ) karena searah
dengan DISPLACEMENT = p
1
. dS
1
x v
1
. dt = p
1
. dS
1
. v
1
. dt.
+. Pada penampang ( 2 ) bertanda ( – ) karena berlawanan
terhadap DISPLACEMENT = – p2 . dS2 . v2 . dt.
+. Pada selubung STREAM TUBE, usaha = 0 ; karena gaya ⊥
DISPLACEMENT atau perpindahan.
Jadi, usaha akibat gaya tekanan : p
1
. v
1
. dS
1
. dt – p
2
. v
2
. dS
2
. dt.
+. Usaha akibat gaya berat dihitung dari selisih energi -potensial atau
POSITION ENERGY.
Dari rumus Kontinuitas untuk volume ( 1 – 2 ) s/d ( 1’ – 2’ ) :
dG = γ . v1 . dS1 . dt = γ . v2 . dS2 . dt.
Jadi, usaha akibat gaya berat : ( z 1 – z2 ) dG.
+. Untuk mencari perubahan energi-kinetik selama selang-waktu ( dt )
maka massa ( 1 – 2 ) mempunyai energi kinetik ( E
k
) harus
dikurangi dari yang dimiliki massa ( 1’ – 2’ ) sehingga terdapat
massa-massa ( 2 – 2’ ) dan ( 1 – 1’ ) yang beratnya = dG ;
sehingga :

g 2
G d
1
2
v
2
2
v

,
_

¸
¸
− = ∆ E
k
.











z
1

z
2

dG
1
1
1’
1’
2’
2’
2
2
p
1

p
2

v
2

v
1

dG
Gb.25

55
Maka sesuai teori mekanika untuk massa fluida ( dG ) berlaku :
p
1
. dS
1
. v
1
. dt – p
2
. dS
2
. v
2
. dt + ( z
1
– z
2
) dG =
g 2
G d
1
2
v
2
2
v

,
_

¸
¸

sehingga :

g 2
1
2
v
g 2
2
2
v
z z
p p
2 1
2 1
− · − + −
γ γ


atau :
2
2
1
1
z
g 2
2
2
v
p
z
g 2
1
2
v
p
+ + · + +
γ γ


yang merupakan RUMUS BERNOULLI untuk fluida ideal ( 1738 ) ;
dimana : z = elevasi, GEODATIC, POTENTIAL HEAD.
p / γ = pressure Head atau STATIC HEAD.

g 2
2
v
= VELOCITY HEAD.
Jadi TOTAL HEAD ( H ) konstan sepanjang STREAM TUBE ; sehingga :
H = z
g 2
v p
2
+ +
γ
= konstan.













Gb.26
HYDRAULIC GRADE LINE ( PIEZOMETRIC LINE )
HYDRAULIC GRADIENT
z
1

z
2

z
γ
p

γ
2
p

γ
1
p

g 2
v
2

g 2
2
2
v
g 2
1
2
v

piezometer
1
2
H
56
Interpretasi.
a). HYDRAULIC GRADIENT ( PIEZOMETRIC LINE ) : garis yang
menghubungkan p / γ ; merupakan tempat kedudukan
permukaan fluida didalam semua piezometer sepanjang STREAM
TUBE.
b). Dari RUMUS BERNOULLI dan KONTINUITAS maka :
–. Penampang mengecil S << → v >> dan p <<
–. Sebaiknya S >> → v << dan p >>
c). Secara fisika dan energi; kita telah mengenal istilah ENERGI
SPESIFIK e =
G
E
. Berarti fluida memiliki 3 energi spesifik
yang berlainan, yakni :
z = energi potensial spesifik akibat posisi & gravitasi,
karena energi spesifik
G
z G .


= z.

γ
p
= energi tekanan spesifik dalam fluida yang mengalir
karena, bila diberi tekanan = p akan naik setinggi
γ
p
; energinya
γ
p
G ∆ ; sehingga harga
spesifiknya =
G
/ p G

∆ γ
=
γ
p
.
z + p / γ = Spesifik dari energi potensial total.

g 2
v
2
= Energi spesifik kinetik karena didapat dari
hubungan :
2
2
v
g
G ∆
: G ∆ =
g 2
2
v
.
H = z +
γ
p
+
g 2
v
2
= TOTAL HEAD dari fluida yang
mengalir ; energi spesifik total fluida.
Jadi : HUKUM BERNOULLI = HUKUM KEKEKALAN ENERGI
MEKANIS DIDALAM FLUIDA
IDEAL.
57
d). Dalam zat cair ideal, energi dapat dikonversikan ke-bentuk lain
tapi jumlah totalnya tetap.

CONTOH : RUMUS BERNOULLI
Energi dikonversikan menjadi
usaha mekanik dengan tabung
hidrolik.
USAHA / SATUAN BERAT
LIKUIDA ∆ PRESSURE
HEAD.
Pertanyaan : Bagaimana
pembuktiannya ?

Bukti : Bila luas penampang = S ; Langkah torak = L ;
Tekanan sebelah kiri = p ( gauge ) ;
Tekanan sebelah kanan = 0 ( gauge )
Maka gaya total akibat tekanan = P dipakai
mengatasi beban pada piston-rod.
Gaya : P = p . S ; Usaha : E = p . S . L
Jumlah fluida yang masuk : G = S . L . γ
Usaha / satuan berat : l =
G
E
=
L S
L S p
. .
. .
γ
=
γ
p

RUMUS BERNOULLI juga sering dituliskan dalam bentuk yang lain; yakni
mengalikan dengan (γ ) maka :
p1 + z 1 γ +
g 2
1
2
v
γ = p2 + z 2 γ +
g 2
2
2
v
γ
1
]
1

¸

2
m
Kg


Karena tiap suku berdimensi tekanan, maka dinamakan :
z γ = Weight Pressure.
p = Tekanan statik ( atau hanya tekanan ).

g 2
v
2
γ =
2
v
2
ρ = Tekanan dinamik.

p
S
L
P
Gb.27
58
Dari Bab. FLUIDA IDEAL ; PERSAMAAN DIFERENSIAL DAN
INTEGRASINYA ; kita juga bisa mendapatkan persamaan atau RUMUS
BERNOULLI dengan mengintegralkan persamaan diferensial gerakan fluida
ideal :
g . dz +
ρ
1
dp + d
2
v
2
= 0.
atau dz +
γ
1
dp + d
g 2
v
2
= 0.
Karena γ = Konstan → d ( z +
γ
p
+
g 2
v
2
) = 0 → Stream lines.
Sehingga untuk STREAM TUBE → z +
γ
p
+
g 2
v
2
= Konstan
Asumsi : 1). Fluida ideal.
2). Koordinat 1–dimensi.
3). Saluran & CHANNEL stasioner.


4.4. RUMUS BERNOULLI UNTUK FLUIDA RIIL
Untuk beralih dari STREAM TUBE fluida ideal kepada fluida riil ( arus fluida
yang mempunyai viskositet ) dengan dimensi tertentu dan dibatasi oleh
TUBE ( WALL ) maka harus kita perhitungkan pengaruh kekentalan atau
viskositet.
I. Pada suatu penampang, distribusi kecepatan tidak merata.
II. Adanya kerugian energi atau kerugian HEAD.
PENGARUH I
Apabila zat cair kental
mengalir terhadap bidang
padat (misalnya pipa saluran )
aliran terhambat karena
viskositet dan juga gaya-tarik
adhesi molekuler antara zat
cair & permukaan; sehingga
kecepatan yang maximum adalah pada garis sumbu dari arus. Makin dekat
Gb.28
2
2
1
1
v
59
ke-permukaan, kecepatan makin berkurang, akhirnya v = 0 pada
permukaan bidang / saluran.
Akibat peristiwa demikian itu, profil kecepatan pada suatu penampang
saluran berupa parabola.
Adanya variasi kecepatan berarti, lapisan zat cair mengalami SLIP
antara satu dengan lainnya sehingga timbul :
–. Regangan geser tangensial. *trans.by 738M.
–. Tegangan akibat gesekan.
–. Dalam zat cair kental, partikel-partikel bergerak ngawur ( meluntir
& berpusar ) sehingga terjadi kehilangan energi. Akibatnya, energi-
total ( TOTAL HEAD ) sepanjang arus fluida kental tidak konstan
jumlahnya, seperti halnya untuk fluida ideal. Energinya berangsur-
angsur ter-makan ( DISSIPATED ) untuk mengatasi tahanan dan
kerugian sepanjang alirannya.
Karena distribusi kecepatan yang bentuknya tidak merata inilah, maka untuk
memudahkan cerita kita perkenalkan istilah-istilah :
+. Kecepatan alir rata-rata pada suatu penampang lintang = v
m
.
+. Energi spesifik rata-rata.
Sebelum menurunkan RUMUS BERNOULLI kita ambil beberapa asumsi :
Hukum hidrostatik berlaku juga untuk penampang lintang, bahwa
PIEZOMETRIC HEAD = konstan untuk suatu penampang
γ
p
+ z = konstan ( untuk seluruh bagian & titik pada suatu
penampang ).
Oleh sebab itu setiap STREAM TUBE dalam zat cair yang
mengalir akan memberikan tekanannya satu terhadap lainnya,
fenomenanya seperti yang berlaku untuk zat cair yang dalam
keadaan diam.
Keadaannya memang demikian; dapat kita buktikan secara teoritis
terutama untuk garis-arus yang paralel melintasi suatu penampang.
Penampang aliran seperti itulah yang kita jadikan dasar analisa.
Istilah lainnya yang juga perlu kita ketahui adalah DAYA DARI SUATU
ALIRAN ; yang merupakan energi-total aliran yang terbawa lewat suatu
60
penampang, per-satuan waktu.
Karena antara penampang satu terhadap lainnya energi partikel fluida
bervariasi maka yang kita tinjau pertama kali adalah DAYA–ELEMENTER ;
yakni daya daripada suatu STREAM TUBE yang sangat kecil dimensinya.
Daya tersebut kita nyatakan sebagai energi spesifik total fluida pada suatu
titik dengan debit diferensial.
dN = H . γ . dQ = ( z +
γ
p
+
g 2
v
2
) γ . v . dS
Untuk seluruh arus, daya, dapat dihitung dengan integral persamaan tersebut
untuk seluruh luasan penampang ( S ) :
N =

S
γ ( z +
γ
p
+
g 2
v
2
) v . dS
Berdasarkan asumsi-asumsi tadi maka :
N = γ ( z +
γ
p
)

S
v . dS +
g 2
γ


S
v
3
. dS
Harga rata-rata energi spesifik total pada suatu penampang, dihitung dengan
membagi DAYA–TOTAL–ARUS dengan debitnya.
Jadi :
H
m
=
γ . Q
N
= z +
γ
p
+
Q g 2
1
.


S
v
3
. dS
Apabila suku terakhir kita modifikasi dengan

,
_

¸
¸
m
2
v
m
2
v
maka :
→ H
m
= z +
γ
p
+
S
m
3
v
dS v
.
.
S
3


g 2
m
2
v
= z +
γ
p
+ ∝
g 2
m
2
v
...................( x )
DISINI : ∝ = Koefisien tanpa satuan untuk memperhitungkan distribusi
kecepatan yang NON UNIFORM ; besarnya adalah :
∝ =
S
m
3
v
dS v
.
.
S
3


61
Interpretasi : Apabila pembilang dan penyebut kita kalikan dengan
( ρ / 2 ) ; maka ( ∝ ) dapat kita interpretasikan sebagai
perbandingan antara energi-kinetik sebenarnya dalam
arus fluida pada suatu penampang terhadap energi
kinetiknya apabila distribusi kecepatan dianggap
berlangsung uniform ( merata ).
Karena profil distribusi kecepatan umumnya berupa
parabola seperti pada Gb.28 ; maka ∝ ≥ 1.
∝ = 1 apabila profil tersebut berupa garis lurus.
∝ > 1 terlihat dari rumus :
∝ =
S
m
3
v
dS v
.
.
S
3

=
( )
S
m
3
v
dS v v
.
S
3
m

∆ +

yang bila diselesaikan untuk pembilangnya terdapat 4
suku yang selalu lebih besar dari harga

,
_

¸
¸
S
m
3
v . .

PENGARUH II.
Untuk 2 penampang lintang dimana masing-masing mempunyai HEAD–
TOTAL–RATA–RATA H
m1
dan H
m2
maka :
H
m1
= H
m2
+ ∑h
Dimana : ∑h = Seluruh kerugian energi ( HEAD LOSSES )
sepanjang arus antara penampang-penampang
tersebut.
Dengan menerapkan rumus ( x ) maka kita bisa menyatakan RUMUS
BERNOULLI UNTUK FLUIDA RIIL sebagai berikut :

z
1
+
γ
1
p
+ ∝
1

g 2
1 m
2
v
= z
2
+
γ
2
p
+ ∝
2

g 2
2 m
2
v
+ ∑ h

Perbedaannya dengan BERNOULLI FLUIDA IDEAL adalah :
62
z
z
2

z
1

γ
p

γ
1
p

γ
2
p

Σh
g 2
2 m
2
v
2

g 2
m
2
v

g 2
1 m
2
v
1

Gb.29
–. Adanya suku yang menyatakan kerugian energi (HEAD LOSSES).
–. Koefisien yang memperhitungkan distribusi kecepatan NON
UNIFORM ( ∝).
–. Pada setiap penampang yang kita tuliskan adalah kecepatan rata-
rata ( v
m
).
Bentuk grafik dari persamaan diatas sebenarnya sama seperti persamaan
energi fluida ideal, hanya-saja, kerugian HEAD harus juga disertakan.
Kerugian tersebut semakin bertambah besar sepanjang salurannya. Jadi,
kelainannya terlihat seperti pada Gb.29.












+. Persamaan BERNOULLI fluida ideal menggambarkan HUKUM
KEKEKALAN ENERGI MEKANIS.
+. Sedangkan untuk fluida riil menyatakan PERSAMAAN
KESEIMBANGAN ENERGI karena kerugian energi juga ikut
dipertimbangkan.
Energi yang tersisih tersebut sebenarnya tidak hilang; ia berubah
menjadi bentuk energi lainnya, yakni energi-panas yang
menyebabkan temperatur zat cair meningkat.
Masih ada istilah lainnya :
1). ENERGY GRADIENT : perbandingan antara penurunan
ENERGI–TOTAL–RATA–RATA terhadap panjang saluran atau
jarak antara penampang.
63
2). HYDRAULIC GRADIENT : perubahan ENERGI–POTENSIAL
per–SATUAN PANJANG SALURAN.
Untuk sebuah pipa dengan diameter-tetap, demikian pula profil
kecepatannya-tetap, maka kedua GRADIENT tersebut akan sama-
bentuknya; maksudnya, kedua GRADIENT tersebut akan selalu sejajar.


4.5. KERUGIAN HEAD
Tinjauan Umum.
Kerugian energi atau istilah umumnya dalam mekanika fluida KERUGIAN
HEAD ( HEAD LOSSES ) tergantung pada :
–. Bentuk, ukuran dan kekasaran saluran.
–. Kecepatan fluida.
–. Kekentalan atau viskositet.
–. Tapi sama sekali tak dipengaruhi oleh tekanan absolut ( p
ab
) dari
fluida.
Faktor viskositet sendiri merupakan penyebab-utama dari semua kerugian-
head, sehingga hampir selalu diikut-sertakan dalam perhitungan-perhitungan
kerugian energi. Khusus tentang kasus ini akan dibahas tersendiri dalam
akhir Bab. ini.
Pengalaman menyatakan bahwa dalam banyak kasus-kasus, kerugian
HEAD hampir sebanding dengan KWADRAT KECEPATAN ALIR.
Sejak dulu pernyataan tersebut telah dituliskan dengan rumus :
h =
g 2
m
2
v
ξ → kerugian HEAD.

l
p = γ h =
g 2
m
2
v
ξ γ → kerugian tekanan.

Yang perlu kita ingat, bahwa kedua rumus itu selalu mengandung ( berisi )
koefisien pembanding ( koefisien kerugian = ζ ) dan juga VELOCITY
HEAD seperti pada RUMUS BERNOULLI.
64
Terlihat, koefisien kerugian merupakan perbandingan antara HEAD–
LOSSES terhadap VELOCITY HEAD.
Head losses umumnya digolongkan sebagai :
–. LOCAL LOSSES atau ( FORM LOSSES atau MINOR LOSSES ).
–. FRICTION LOSSES atau ( MAJOR LOSSES ).
LOCAL LOSSES disebabkan oleh alat-alat pelengkap-lokal atau yang diberi
istilah TAHANAN HIDROLIS seperti misalnya, perubahan-bentuk saluran
atau perubahan-ukurannya. Apabila fluida mengalir melalui saluran dengan
alat-alat tersebut, kecepatannya akan berubah sehingga bisa terbentuk
pusaran ( EDDIES ).
Contoh dari beberapa alat-alat pelengkap-lokal adalah : Gb.30.
a). GATE. b). ORIFICE. c). ELBOW. d). VALVE.
Besarnya kerugian-loka l kita tentukan dari rumus umum :
WEISBACH :
g 2
v
h
2
l l
ζ · atau
g 2
v
p
2
l l
ζ · γ

dimana : v = Kecepatan rata-rata pada penampang pipa yang
kita hitung kerugian lokal-nya. Index ( m ) hanya
digunakan terhadap kecepatan apabila timbul
pengertian yang kabur.
*trans.by 738M.










Apabila diameter saluran bervariasi, jadi juga kecepatan alir fluida berubah
sepanjang pipa, maka untuk dasar perhitungan kita gunakan kecepatan yang

Gb.30
a b c d
v
v
hl
65
tertinggi ( kecepatan melalui penampang yang tersempit ). Setiap alat
pelengkap lokal mempunyai koefisien tersendiri =
l
ζ yang harganya
dianggap konstan.
Jenis kerugian yang kedua ( FRICTION & MAJOR LOSSES )
adalah kerugian energi yang terjadi pada pipa-lurus dengan luas penampang
yang tetap sehingga aliran dianggap uniform. Harganya bertambah sesuai
dengan panjang salurannya.
Kerugian seperti ini disebabkan oleh
gesekan-dalam daripada fluida, oleh
sebab itu bisa timbul baik pada pipa-
kasar maupun pipa-halus.
Besarnya kerugian gesek dihitung dari
rumus-umum :

f
h =
g 2
v
2
f
ζ
Biasanya harga (
f
h ) diperhitungkan
berdasarkan panjang relatif pipa ( l / d ) ; sehingga
f
ζ sudah
menyatakan harga spesifik.
Caranya : kita tinjau pipa dengan panjang = diameternya dan koefisien
kerugian sebesar ( λ ). Maka untuk seluruh panjang pipa yang = l dan
diameter = d koefisien kerugian akan meningkat ( l / d ) lebih besar, atau :

f
ζ = λ
d
l

Bila disubstitusikan dalam rumus umum didapat :
DARCY :
f
h = λ
d
l

g 2
v
2
atau p
f
= λ
d
l

g 2
v
2
γ
dimana : λ = Koefisien tanpa satuan yang disebut sebagai FAKTOR
GESEKAN merupakan koefisien pembanding antara
kerugian gesek terhadap perkalian antara panjang relatif
pipa dan VELOCITY HEAD.
Dari bidang ilmu fisika ( λ ) dapat kita interpretasikan dan penurunannya
seperti langkah-langkah berikut, dengan menganggap kondisi aliran
UNIFORM melalui suatu pipa bulat dengan panjang = l dan diameter = d

Gb.31
l
d
h
f

d
66
sedemikian sehingga jumlah ke-dua gaya yang dialami volume fluida
didalamnya menjadi = 0 ; jadi gaya akibat tekanan + gaya akibat gesekan
= 0 ; atau :

4
π
d
2
p
f
– π d l
0
τ = 0
dimana :
0
τ = tegangan geser pada dinding pipa.
Dengan memasukkan besaran-besaran tersebut kedalam rumus DARCY
maka didapatkan :

g 2
v
4
2
0
γ
λ
τ
·
Berarti faktor gesekan ( λ ) selalu proporsional terhadap perbandingan antara
tegangan-geser pada dinding pipa dan tekanan-dinamik yang diperhitungkan
berdasarkan kecepatan alir rata-rata.
Kerugian HEAD pada saluran tertutup ( pipa ) dimana tidak ada
permukaan bebas sebenarnya disebabkan karena energi-potensial-spesifik
atau ( z + p /γ ) yang harganya semakin menurun sepanjang aliran.
Apabila energi-kinetik-spesifiknya atau ( v
2
/ 2g ) juga berubah untuk suatu
debit tertentu, maka kasus seperti ini tidak disebabkan oleh kerugian energi
tetapi oleh berubahnya luas penampang saluran karena energi kinetik hanya
merupakan fungsi dari kecepatan aliran; atau hanya dipengaruhi oleh debit
dan luas-penampang saluran :
v =
S
Q

Akibatnya, untuk pipa dengan penampang konstan maka kecepatan aliran
dan juga energi-kinetik spesifik zat cair juga berharga konstan, tak
dipengaruhi oleh gangguan-gangguan lokal maupun besarnya kerugian
HEAD. Untuk kasus seperti ini, kerugian HEAD yang terjadi dapat diukur dari
selisih permukaan zat-cair dalam 2 buah tabung PIEZOMETER TERBUKA
; seperti Gb.30 dan Gb.31.
Mengitung HEAD LOSSES punya peran dominan dalam pelajaran
hidrolika ( dan juga mekanika fluida ) ; maka cara-cara perhitungannya akan
diterapkan untuk berbagai alat-alat khusus.

67
∆ H
∆ h
1
2
4.6. APLIKASI RUMUS BERNOULLI
Contoh : Rumus ini adalah pernyataan dari pada hukum-dasar dari
STEADY FLOW.
1). VENTURI METER.
Digunakan untuk mengukur debit dalam pipa.
Terdiri dari saluran dengan :
–. Lubang masuk konis.
–. Tekak ( NOZZLE ).
–. Saluran memancar ( DIFFUSER ).
Pada lubang konis kecepatan alir naik sehingga tekanan turun.
Perbedaan tekanan diukur
dengan 2 buah tabung
piezometer atau menggunakan
U – TUBE DIFFERENTIAL
GAUGE. Cara menghitung
debit adalah sebagai berikut :
Misalkan pada daerah ( 1 )
yang terletak didepan NOZZLE
parameter aliran :
Kecepatan = v1 ; Tekanan = p1 ;
Luas penampang = S
1
.
Dan pada daerah ( 2 ) yakni pada NOZZLE parameternya adalah :
Kecepatan = v
2
; Tekanan = p
2
; Luas penampang = S
2
.
Selisih permukaan antara piezometer ( 1 ) dan ( 2 ) adalah = H ∆ .
Dengan asumsi : Distribusi kecepatan pada kedua daerah tersebut
uniform, maka dari persamaan-persamaan :
1). BERNOULLI :

l
h
g 2
2
2
v
p
g 2
1
2
v
p
2 1
+ + · +
γ γ


2). Kontinuitas : v
1
S
1
= v
2
S
2


Gb.32
68
dimana :
l
h = kerugian HEAD antara daerah ( 1 ) dan ( 2 ).
=
g 2
2
2
v
ζ dan H
p p
2 1
∆ ·

γ
.
Selanjutnya kita dapat menghitung salah satu kecepatan alir,
misalnya ( v2 ) ; yakni :
v
2
=
ζ +

,
_

¸
¸


2
1
2
S
S
1
H g 2

dan debitnya : Q = v
2
S
2
= S
2

ζ +

,
_

¸
¸


2
1
2
S
S
1
H g 2

atau disederhanakan : Q = C H ∆ ...................( y )
dimana harga konstante C adalah :
C = S
2

ζ +

,
_

¸
¸

2
1
2
S
S
1
g 2
...................( z )
= Konstante untuk suatu instalasi alat ukur.
Apabila harga C telah diketahui, dengan mengamati pembacaan
piezometer kita dapat menghitung debit Q sesaat.
Konstante C dapat dihitung secara teoritis; akan lebih teliti lagi bila
dihitung secara experimen sekaligus membuat kalibrasi pada meter alat
ukur.
Terlihat hubungan antara H ∆ dan Q adalah parabolik.
Apabila harga-harga ( Q
2
) kita pasang pada sumbu absis maka grafik
dari pada ( H ∆ ) akan berbentuk garis lurus.
Sebagai pengganti tabung–piezometer kita sering pula
menggunakan DIFFERENTIAL MERCURY GAUGE seperti Gb.32.
Apabila fluida diatas air-raksa dalam gelas-ukur pada kedua kaki sama
jenisnya dan mempunyai berat jenis = γ maka beda tinggi air-raksa
dicari dengan persamaan :
69
H ∆ = h ∆
γ
γ γ −
Hg

Kadang-kadang untuk pengukuran kita tak menggunakan DIFFUSER.
Kita cukup melakukannya dengan memassang NOZZLE didalam
saluran seperti Gb.33.a atau menjepitnya antara flens Gb.33.b.
Konvergensi memang bisa berlangsung secara teratur seperti yang
terjadi pada VENTURI METER, tetapi divergensi aliran setelah
NOZZLE jika berlangsung mendadak akan menimbulkan aliran-pusar
( EDDY FLOWS ).
Tahanan dari sebuah FLOW NOZZLE lebih besar dibanding sebuah
VENTURI METER seperti Gb.33.c. Karena adanya kompresi yang
dialami fluida maka penampang-terkecil-arus terletak sedikit didaerah-
hilir ORIFICE.
Kedua rumus standard ( y ) dan ( z ) tetap dapat diterapkan untuk
semua jenis FLOW METER ; hanya perlu faktor koreksi kita sertakan.
Faktor koreksi tersebut bisa didapat dari brosur-brosur yang telah ditera
berdasarkan FLOW METER STANDARD.









2). KARBURATOR
Merupakan komponen dari motor bakar torak ( Motor bensin ) yang
berfungsi :
–. Menera jumlah bahan bakar & udara.
–. Meng-atomisir bahan bakar.
–. Mencampur bahan bakar dan udara.

Gb.33
70
Arus udara mengalir melalui saluran venturi dimana jet bahan bakar
ditempatkan; kecepatan udara naik ketika melalui venturi sehingga
tekanannya turun sesuai RUMUS BERNOULLI.
Akibat dari pada efek ini bahan bakar tertarik ( tersedot ) melalui jet dan
tercampur dengan arus udara.
Kita akan mencari hubungan antara debit bahan bakar ( bensin ) = G
g

dan udara = G
a
apabila ukuran saluran-saluran ( D ) dan ( d ) serta
koefisien kerugian (
a
ζ ) untuk venturi dan (
f
ζ ) dari jet telah
diketahui; dan mengabaikan tahanan hidrolik pipa saluran bensin.
Apabila RUMUS BERNOULLI
kita terapkan untuk aliran udara
antara ( 0 – 0 ) dan ( 2 – 2 )
dan juga untuk arus bensin
antara ( 1 – 1 ) dan ( 2 – 2 )
serta menganggap z
1
= z
2
dan
∝ = 1 maka didapat :
g 2
2 a
2
v
g 2
2 a
2
v
p p
a
a a
atm 2
ζ
γ γ
+ + ·
g 2
2 g
2
v
g 2
2 g
2
v
p p
f
g g
atm 2
ζ
γ γ
+ + ·
Sehingga : ( )
a a
1
g 2
2 a
2
v
ζ γ + = ( )
f
g
1
g 2
2 g
2
v
ζ γ +
Karena debit adalah sebesar : G
a
= π / 4 D
2
v
a2

a
γ dan
G
g
= π / 4 d
2
v
g2

g
γ
Maka :
2
D
d
G
G
a
g

,
_

¸
¸
·
( )
( )
f
a
a g
1
1
ζ γ
ζ γ
+
+

3). AIR EJECTOR
Komponen utama adalah NOZZLE ( A ) dimana arus mengecil;
DIFFUSER ( C ) yang membesar secara perlahan dan ditempatkan

Gb.34
71
didekat mulut–NOZZLE dalam ruang-isap ( B ).
Karena kecepatan arus yang
meninggalkan mulut–
NOZZLE bertambah besar
maka tekanan dalam arus
akan turun, demikian pula
didalam ruang isap. Pada
DIFFUSER kecepatan
berkurang sehingga tekanan
naik kira-kira mendekati
tekanan atmosfer ( apabila
fluida yang dibuang menuju atmosfer). Akibat kejadian tersebut maka
tekanan dalam ruang isap juga menurun dibawah tekanan atmosfer;
istilahnya : TERBENTUK SEDIKIT VAKUM ( PARTIAL VACUUM )
yang menyebabkan zat cair dari bejana-bawah tersedot naik kedalam
ruang-isap lewat pipa ( D ) dan terjebak oleh arus fluida yang
menyemprot dari mulut NOZZLE.
Ejector banyak diterapkan dalam instalasi mesin-mesin penggerak,
terutama sekali digunakan untuk LIQUID PROPELLANT ROCKET
MOTORS.
*trans.by 738M.
4). PITOT TUBE
Dipakai mengukur kecepatan alir fluida.
Apabila suatu zat cair mengalir dalam suatu saluran-terbuka atau selokan
mempunyai kecepatan = v.
Sebuah pipa-bengkok dicelupkan dalam zat cair dengan lobangnya
menantang arah-arus, menyebabkan zat cair didalam pipa vertikal akan
naik terangkat diatas permukaan-bebas zat cair yang mengalir tersebut.
Beda tingginya = VELOCITY HEAD
g 2
v
2
; seperti Gb.36 ; karena
kecepatan partikel-partikel zat cair yang masuk PITOT TUBE pada titik
( A ) yang merupakan STAGNATION POINT adalah v = 0 ; sehingga
tekanan naik sebanyak VELOCITY HEAD. Dengan mengukur tinggi zat

A
B
C
D
Q
1

Q
2

Q
1
+ Q
2

Gb.35
72
v
A v = 0
g 2
2
v

cair dalam tabung-tegak maka kecepatan alir bisa dihitung.









Untuk mengukur kecepatan pesawat udara yang sedang terbang
juga menggunakan prinsip yang sama; gambar kasarnya seperti Gb.37.
untuk mengetahui kecepatan pesawat relatif terhadap KECEPATAN
SUARA. Jika PERSAMAAN BERNOULLI untuk suatu arus elementer
pada sumbu PITOT TUBE yang sedang mengenai mulut-pipa dan
fluida disekitar PITOT TUBE kita terapkan; yakni penampang ( 1 – 1 )
dimana v = 0 dan ( 0 – 0 ) dimana aliran belum terganggu maka
didapat :
p
0
+
2
0
2
v
ρ ~ p
1
Karena tekanan dalam lubang-pinggir hampir sama dengan arus yang
belum terganggu ( p
2
~ p
0
) maka persamaannya menjadi :
v0 = ( )
2 1
p p
2

ρ

5). ALAT TEKAN TANGKI
Perlengkapan ini banyak dipasang
pada pesawat udara untuk memper-
besar tekanan didalam tangki bahan-
bakar dan juga tangki-tangki lain.
Apabila kecepatan terbang pesawat
berharga kecil ( LOW SPEED )
maka tekanan-lebih atau GAUGE


p
0
; v
0

2
v
p p
0
2
0 1
ρ + ≅
Gb.38
0
0 1
1
p
1

p2
p
0

v
0

p
2 ≅
p
0

p
1 ≅
p
0
+
2
v
0
2
ρ ; v
1
= 0
Gb.36
Gb.37
73
PRESSURE = p
g
dalam tangki hampir sama dengan tekanan dinamik-
nya, yang bisa kita hitung dari kecepatan terbang dan kerapatan suara :
( p
1
– p
0
) ~ ρ

,
_

¸
¸
2
0
2
v

















Zat cair cenderung untuk mengumpul dan membentuk tetesan ( apabila jumlahnya sedikit ) ; untuk volume yang banyak ia akan membentuk muka bekas ( FREE SURFACE ). Sifat penting lainnya dari zat-cair, perubahan tekanan dan temperatur hampir atau sama sekali tak berpengaruh terhadap volume; sehingga dalam praktek zat cair dianggap bersifat

INCOMPRESSIBLE. Sedangkan gas akan mengkerut bila mengalami tekanan dan memuai tak-terhingga besarnya bila tekanan hilang. Jadi, sifatnya betul-betul kompresibel. Selain perbedaan tersebut, pada kondisi tertentu hukum gerakan untuk zat cair dan gas secara praktis adalah sama. Salah satu keadaan yang dimaksudkan adalah, gas mengalir dengan kecepatan yang rendah dibanding kecepatan suara didalamnya. Bidang hidrolika khusus mempelajari gerakan zat cair. INTERNAL FLOW dari gas hanya disinggung jika kecepatan alirnya jauh lebih rendah dibanding kecepatan suara, sehingga sifat kompresibelnya dapat kita abaikan. Kasus demikian banyak kita jumpai dalam bidang teknik; misalnya : aliran udara dalam sistem ventilasi dan saluran-saluran gas ( AIR DUCTS ). Mempelajari kasus aliran zat cair dan juga gas-gas jauh lebih sukar dan rumit dibanding benda-padat, karena mekanika benda-padat hanya untuk partikel-partikel yang saling terikat kuat ( RIGID BODIES ) ; sedangkan mekanika fluida, yang dijadikan objek adalah media yang memiliki sangat banyak partikel-partikel dengan berbagai ragam gerakan relatifnya. GALILEO telah membuat hukum : BAHWA JAUH LEBIH MUDAH MEMPELAJARI GERAKAN BENDA-BENDA DI-LANGIT YANG LETAKNYA JAUH DARI BUMI DIBANDING MEMPELAJARI ALIRAN YANG PANJANGNYA HANYA 1 FOOT. Akibat kesulitan inilah maka teori mekanika fluida menimbulkan 2 pendapat yang berbeda. Pendapat pertama adalah analisa matematika yang betul-betul teoritis dan bertolak dari rumus-rumus mekanika yang menyebabkan timbulnya ilmu hidromekanika -teoritis yang pernah disingkirkan untuk selang waktu yang cukup lama. Metode yang diutarakan merupakan cara-cara yang efektif dan pula menarik untuk bidang penelitian.

2

Namun cara teoritis ini banyak menemukan hambatan & kesukaran sehingga tak mampu menjawab pertanyaan dari kasus-kasus praktis. Namun tuntutan yang selalu membuntuti bidang teknik praktis akhirnya menelorkan ilmu-baru tentang aliran fluida, yakni HIDROLIKA

(HYDRAULICS) karena para ahli harus mengalihkan perhatiannya kepada experimen yang extensif dan pengumpulan data fakta agar bisa diterapkan kepada kasus -kasus teknik. Memang semula hidrolika hanya merupakan ilmu yang sifatnya empiris murni; namun sekarang, kita dapat kita pula banyak memberikan menerapkan pembuktian experimen secara guna hidromekanik teoritis untuk memecahkan berbagai kasus; sebaliknya didalam hidromekanika teoritis

menyesuaikan dan memudahkan membuat kesimpulan. Oleh sebab itu, garis batas yang membedakan ke –2 metode tersebut dapat dihapuskan secara berangsur-angsur. Cara -cara penyelidikan mekanika fluida, terutama aliran fluida menurut hidrolika adalah sebagai berikut : Kasus yang kita selidiki kita buat sesederhana mungkin dan diusahakan IDEAL, kemudian kita menerapkan hukum-hukum

dari mekanika teori. Hasil yang didapat kita bandingkan dengan data-data hasil pengujian; perbedaannya kita hitung; kemudian rumus-rumus teoritis serta jawabannya kita atur sedemikian rupa sehingga dapat diterapkan untuk hal-hal yang praktis. Banyak kasus yang bisa timbul, yang secara praktis menentang analisateoritis, ini kita selidiki dengan cara-cara pengukuran dan pengujian; hasil yang didapat kita pakai sebagai rumus-empiris. Oleh sebab itulah, hidrolika kita kelompokkan sebagai ilmu yang sifatnya SEMI-EMPIRIS. Hidrolika juga merupakan ilmu-terapan selain ilmu teknik (ENGINEERING SCIENCE) karena ia muncul akibat tuntutan & kebutuhan hidup manusia dan sangat luas penggunaannya dalam bidang teknik; seperti misalnya metode perhitungan & perencanaan bangunan-air : –. Dam – . Parit & terusan (CANALS); –. Pintu air (WEIRS) –. Jaring-jaring pipa saluran.

3

Bidang penuangan dan tempa logam. Sistem bahan bakar dan pelumassan.2. Fluid couplings. dsb. Pada (celah). yang sangat terkenal sampai saat ini dirumuskan oleh ISAAC NEWTON. –.Dalam bidang permesinan : –. Pembuatan barang-barang plastik. Hukum tentang gesekan dalam fluida yang mengalir. –. –. Pompa. –. dan pula dasar teori mengenai similaritas hidrodinamik. Perencanaan canggih pesawat udara dengan fluid drives. Selain itu ia juga dikenal sebagai penemu teori viskositas. Turbin. Perencanaan MACHINE TOOLS. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN Munculnya ilmu hidrolika karena mengikuti penemuan berbagai hukum dan lahirnya sejumlah kasus yang punya hubungan dengan keseimbangan & gerakan fluida. Pada 1650 diperkenalkan hukum distribusi tekanan dalam zat cair yang dikenal dengan hukum PASCAL. SHOCK ABSORBER hidrolik. –. Berikutnya muncul GALILEO dengan studi sistematik mengenai dasardasar hidrostatika. 1. Yang pertama mempelajari hidrolika adalah LEONARDO DA VINCI (pertengahan abad XV) dengan karya tulisnya : ON THE FLOW OF WATER AND RIVER STRUCTURES. Berbagai peralatan lain dalam berbagai cabang ilmu teknik. 1643 seorang murid GALILEO bernama TORRICELLI itu ia melakukan observasi dan memperoleh pengalaman membangun instalasi hidrolika di MILAN ( ITALIA ) dan juga di FLORENCE memperkenalkan hukum tentang aliran-bebas zat cair melewati lobang 4 . Contoh lain yang menggunakan prinsip hidrolika : –. –. Setelah dsb. –. –.

Persamaan BERNOULLI merupakan prinsip dari teori mekanika fluida secara umum. DANIEL BERNOULLI seorang pakar kelahiran SWISS (1700 – 1780) telah mendidik 11 orang pakar ilmu. fisika dan astronomi LEONHARD EULER (1707 – 1783) dari negeri SWITZERLAND tinggal di St. Jadi session I yang merupakan awal perkembangan ilmu hidrolika adalah hasil karya dari BERNOULLI .Akan tetapi hukum -hukum tersebut sampai dengan pertengahan abad XVIII statusnya masih ngambang karena tak ada ilmu yang betul-betul mendalam tentang sifat fluida. LOMONOSOV. Dasar teori mekanika fluida dan hidrolika kemudian menjadi baku setelah DANIEL BERNOULLI dan LEONHARD EULER memperkenalkan ilmunya dalam abad XVIII. PETERSBURG. kecepatan ( v ) dan HEAD ( H ) dari fluida. pompa sentrifugal dan juga FANS. dan khususnya hidrolika. Tahun 1738 dengan tulisannya tentang hidrodinamika membuat rumusan yang merupakan hukum-dasar aliran fluida yang menyatakan hubungan antara tekanan ( p ). hampir semuanya ahli matematik dan orang teknik. dan juga 5 . Pakar lainnya dalam bidang hidrolika adalah LOMONOSOV (menurut cerita orang RUSIA). Kemampuan analisa sebelumnya hanya ( juga sebagai ) semua pakar yang menurunkan hidrolik jenis WORK mesin-mesin ROTODINAMIK . seperti turbin. Pakar lain yang juga perlu diketahui adalah seorang ahli matematika. Dalam session II yang lahir dalam tengah-abad-dua dari abad XVIII dan juga abad XIX hanya merupakan penemuan data -data experimen dari aliran pada saluran terbuka & saluran tertutup dan juga faktor koreksi persamaan BERNOULLI ( ∝ ). Tahun 1755 ia menemukan persamaan diferensial-umum aliran fluida-ideal ( NON VISCOUS ) bila di-integral merupakan persamaan BERNOULLI. Ini merupakan tonggak awal metode analisa teoritis dalam bidang mekanika fluida. PETERSBURG. Antara 1728 s/d 1778 ia telah menerbitkan 47 judul buku tentang matematika. Selanjutnya ia menjadi staff akademi ilmu pengetahuan RUSIA yang kemudian menetap di St. mekanika dll. Selain itu EULER persamaan-usaha teori gaya -apung. EULER .

P. memperhitungkan viskositet dan berbagai massalah lainnya. Perkembangan seperti itu tercetus akibat tuntutan massalah produksi dan perkembangan teknologi. Orang-orang yang terkenal dalam periode ini adalah : ANTOINE CHEZY HENRY DARCY JEAN POISEUILLE JULIUS WEISBACH G. PETROV STOKES telah menurunkan teori ( 1819 – 1903 ). HAGEN LAGRANGE HELMHOLTZ SAINT– VENANT Hasil yang paling menarik dan lengkap adalah dari 1871 ) yang masih dianut orang sampai saat ini. sehingga dianggap sebagai penemu teori PELUMAS MESIN (LUBRICATION). seperti misalnya yang menyangkut pengaruh viskositet. dasar dari aliran fluida yang WEISBACH ( 1806 – – experimentalist. REYNODLS juga sebagai pemula dari teori aliran TURBULENTT yang amat sangat rumit itu. 6 . – German. PETROV menyelidiki aplikasi teori NEWTON tentang gesekan dalam fluida. Dalam session berikutnya ditemukan massalah yang memulai abad mekanika fluida. ( 1842 – 1912 ). seperti : pengaruh viskositet fluida. – German. sehingga muncullah beberapa pakar : GEORGE STOKES OSBORNE REYNOLDS NIKOLAI JOUKOWSKI N. ( 1836 – 1920 ). – Francis.didasarkan teori semata -mata yang menyangkut fluida-ideal sehingga tidak dapat memenuhi selera bidang praktis. – Francis. teori similaritas dan berbagai teori serta hal-hal praktis. REYNOLDS menetapkan teori SIMILARITAS yang sangat memudahkan kita dalam menarik kesimpulan dan sistematik dari data-data experimen yang sebelumnya tela h dikumpulkan. N. dll. ( 1847 – 1921 ).

THEODOR VON KARMAN . distribusi kecepatan dalam saluran. reaksi dari semprotan fluida dan getaran akibat fluida. L. hidrolika minyak bumi ( PETROLEUM ) dan airtanah. Ia juga menyelidiki keadaan aliran melalui lobang ( ORIFICE ). Sebenarnya mereka -mereka itu mempelajari kasus -kasus tersebut karena keadaan yang memaksa. teori energi air-laut. Bidang lain yang telah dibakukan adalah dasar teori tentang AERODYNAMICS. analogi antara terjadinya gelombang ( WAVE FORMATION ) pada permukaan zat cair dan perubahan tekanan yang drastis dalam aliran udara supersonik atau teori SHOCKWAVES. Menurut orang-orang RUSIA. PAVLOVSKY : aliran pada saluran terbuka.NIKOLAI JOUKOWSKI yang interest dalam hidrolika berhasil menggabungkan hasil-hasil experimen dengan teori-teori yang telah ada sehingga bermanfaat untuk keperluan penelitian dan aplikasi. N.S.N. –. TURBINE GATES . PRANDTL & KARMAN terkenal dalam bidang mekanika fluida & aerodinamika terutama dalam kasus turbulensi. sedangkan temannya NIKURADSE menurunkan teori aliran dalam pipa. Untuk bidang hidrolika nama-nama pakar yang juga harus dicantumkan adalah : LUDWIG PRANDTL . JOHANN NIKURADSE. FAUCET) dan berbagai kasus dalam bangunan -air. akibat tantangan untuk membangun stasionstasion PLTA . Yang paling menarik dari penemuan JOUKOWSKI adalah teori tentang WATER HAMMER yang menyebabkan saluran-saluran pecah karena alatalat ditutup mendadak (VALVE . 7 . orang mereka yang berjasa dalam bidang mekanika fluida adalah : –. jaring-jaring pipa dan terusan ( CANALS ) berukuran raksasa agar kebutuhan hidup manusia selalu terpenuhi. seperti teori aliran air-tanah ( GROUND WATER = PERCOLATION THEORY ). LEIBENZON : Cairan kental. teori pelumassan ( LUBRICATION ).

atau fluida yang mengalir dengan akselerasi dalam saluran yang stasioner. Oleh karena itu. gas ). Gaya inersia sebanding massa fluida. cair. Jadi gaya luar yang bisa bekerja pada setiap-volume fluida hanyalah gaya inersia ( BODY FORCE ) atau gaya permukaan ( SURFACE FORCE ). Gaya permukaan terbagi kontinyu pada seluruh permukaan fluida. KOMPONEN GESER. berusaha menempati seluruh ruangan. fluida adalah suatu kontinyum ( CONTINUUM ) yakni suatu bahan yang bersifat kontinyu. –. Ini timbul akibat pengaruh lingkungan dari fluida yang kita tinjau atau akibat pengaruh benda lain yang bersinggungan dengan volume tersebut ( benda padat. Besaran ini didapat dari teori D’ALEMBERT. Karena fluida selalu berusaha molor ( YIELDS ) walaupun tegangannya sangat kecil maka ia tak bisa menimbulkan gaya yang terpusat. struktur molekuler dapat diabaikan.1. maka gaya tersebut bisa diuraikan menjadi : –. sehingga. KEDUA juga dinamakan GAYA–GESEK atau GAYA 8 . untuk bahan yang homogen sebanding dengan volume fluida. TEKANAN Menurut teori hidrolika. Ini timbul terutama akibat pengaruh gravitasi. Komponen pertama juga disebut GAYA–TEKAN ( TEKANAN ). fluida dengan partikel yang sangat kecil sekalipun mesti terbentuk dari molekulmolekul yang sangat banyak jumlahnya. Komponen tangensial = ∆ T . GAYA-GAYA DALAM FLUIDA. seperti Gb. tanpa ada yang kosong. Jika gaya permukaan besarnya ( ∆ R ) bekerja pada luasan ( ∆ S ) secara tegak-lurus ataupun menyudut.3. Komponen normal ( tegak lurus ) = ∆ P . dan juga gaya yang dialami fluida dalam bejana yang bergerak dengan akselerasi.1. jika distribusinya merata maka sebanding dengan luas permukaan. Semua gaya-gaya yang diberikan padanya akan didistribusikan merata dalam seluruh volume ( massa ) atau searah dengan permukaannya.

Istilah tersebut juga berlaku untuk 1 satuan gaya.. maka tekanan : p= ∆P ∆S  Kg   m2    ..3) 9 . sedangkan untuk gaya permukaan per-satuan luas.1 ∆T patokan ) dinamakan GAUGE p ab = pgauge + patm Satuan untuk tekanan dalam bidang teknik adalah atmosfer standard :  Kg  1 atm = 1    Cm2   Kg  = 10 . Jadi.. maka gaya inersia spesifik ( YANG DIALAMI 1 SATUAN MASSA ) akan = percepatan yang dialami massa fluida... sebagai Gb.......2) Bila tekanan diukur diatas titik ( 0 ) absolut... dinamakan ∆S ∆P ∆R tekanan absolut...(1........ Bila diukur diatas atau dibawah tekanan atmosfer ( PRESSURE.(1. Untuk yang bersifat merata ( atau perhitungan harga rata-rata )......... Tekanan hidrostatik atau hanya disebut TEKANAN adalah besarnya gaya-tekan yang dialami 1 satuan luas........ Untuk gaya inersia dihitung per-satuan massa..1) Jadi secara umum..22    in 2  Untuk tegangan geser atau gaya geser dalam fluida. ∆P p = lim ∆ S → 0 ∆S .... Karena gaya inersia = massa x percepatan.. maksudnya yang dialami oleh 1 satuan.. definisi dari tekanan hidrostatik pada suatu titik adalah harga-batas ∆ P / ∆ S jika ( ∆ S ) mendekati → 0.(1..000   m2   lb  = 14.......... secara definitif sama dengan tekanan : ∆T lim ∆ S → 0 ∆S τ = .

.4 SIFAT-SIFAT ZAT CAIR Karena hidrolika hanya membahas zat cair... Karena G = g .(1.4 ) dan juga ( 1.7) air TEGANGAN T ARIK...(1. KOMPRESIBILITAS : adalah perubahan volume zat cair akibat perubahan tekanan yang dialami. volumenya kita anggap cenderung berharga = 0.........5 ) menyatakan harga rata-rata. Untuk air pada 4 0C → γ = 1000 [Kg/m 3] = 0....detik 2    4  m  ....... M maka anatara γ dan ρ ada hubungan : ρ = G g.. maka kita harus tahu sifat-sifat fisiknya terlebih dahulu..... yang dinyatakan dengan simbol berikut : –. harga-batas masing- masing perbandingan tersebut bisa kita hitung.....5) dimana : M = massa dari zat cair bervolume = W....1.(1...6) Untuk zat cair yang tak homogen rumus ( 1.4) dimana : G = berat zat cair. Kerapatan ( DENSITY ) adalah massa per-satuan volume. –.. Berat jenis adalah bera tnya per-satuan volume : γ = G W [ Kg/m 3 ] .. W = γ g ...... PENGUAPAN ( EVAPORABILITY )..... W = volumenya...(1.. Sifat-sifat fisik zat cair yang kita harus ketahui adalah : KOMPRESIBILITAS.... VISKOSITET... 1.. British )... ρ = M W  Kg... Besarnya ( γ ) tergantung satuan yang kita pakai ( metrik. Specific gravity ( δ ) suatu zat cair adalah perbandingan berat-jenisnya terhadap air 4 0C : δ = γn γ .. KOEFISIEN MUAI TERMIS.001 [Kg/Cm3] –...... Agar d apat menghitung harga absolut dari ( γ ) dan ( ρ ) pada suatu titik.. 10 ......

. TEGANGAN TARIK : Untuk zat cair diabaikan.   3.9) Contoh : Air 0 0C dan 1 Kg/Cm2 → β t = 14 . 20000 Modulus ( K ) zat cair yang lain. Secara umum semua zat cair dianggap INKOMPRESIBEL .. p = 5 Kg/Cm2 → K = 22170 Kg/Cm2 Diambil harga rata -rata K = 20000 Kg/Cm2.Perubahan volume relatif per-satuan tekanan disebut angka kompresibilitas ..(1.. KOEFISIEN MUAI TERMIS : Perubahan relatif volume untuk kenaikan suhu sebesar 1 0C. Air putus dengan tegangan hanya 0... Jadi bila tekanan dinaikkan 1 Kg/Cm 2 . 2.... semakin berkurang untuk temperatur yang bertambah... 10 -6 . βt = 1 dW W dt .. keadaannya juga seperti yang dimiliki air. 11 .... 10 -6 .... Untuk bahan-bahan produk minyak-bumi 1 βt =  2 ÷ 2  x AIR......(1. ( βp ) yang dinya takan dengan rumus : βp = − 1 W dW [Cm2/Kg] dp ... 100 0C dan 100 Kg/Cm2 → β t = 700 .... Contoh : Air .. Kebalikan dari angka kompresibilitas dinamakan MODULUS ELASTISITAS VOLUME ( MODULUS OF ELASTICITY ) : K = 1 βp = ρ VOLUME OR BULK dp [Kg/Cm2] dρ Harga ( K ) sedikit terpengaruh oleh ( T ) dan ( p ).. volumeberkurang hanya 1 volume mula... p = 5 Kg/Cm2 → K = 18900 Kg/Cm2 t = 20 0C ...00036 (Kg/Cm2)... sehingga berat-jenis ( γ ) tak dipengaruhi oleh ( p )..8) Tanda ( – ) karena kenaikan tekanan mengakibatkan kerutnya volume... t = 0 0C .

. gejala tersebut dinamakan KAPILERITAS atau MENISKUS. Gejala ini tidak terlalu sulit kita pahami.. Dalam praktek.... atau turun lebih rendah dari bidang datar (permukaan)... Pada pipa kapiler gejala tersebut menyebabkan zat cair naik lebih tinggi. kenaikan atau penurunannya dinyatakan dengan : h = k d [ mm ] .. Zat cair yang kental ( GLYCERINE & LUBRICANTS ) fluiditasnya rendah... Lihat Gb. Viskositet merupakan kebalikan dari FLUIDITAS. Apabila cairan-kental mengalir terhadap bidang padat maka terjadi perubahan kecepatan (dalam arah tegak lurus) terhadap arah aliran. Untuk pipa-gelas dengan diameter = ( d ) .10) Hg = –14. kecepatan lapisan ( v ) semakin kecil.. hal mana disebabkan oleh viskositet. hambatan ( tahanan = RESISTANCE ) berharga lebih besar.. pada y = 0 → v = 0. Tapi tegangan itu hanya terlihat untuk volume yang berukuran sangat kecil. yang lebih berperan adalah sifat ke–4 yakni VISKOSITET. 12 ..(1.. alkohol dimana : k = ( mm 2 ) untuk air = +30.. pada hal-hal khusus dinyatakan dengan besarnya tegangan geser. Permukaan zat cair mempunyai tegangan permukaan yang cenderung menggulung zat cair sehingga membentuk tetesan ( bola ) sehingga timbul tambahan tegangan didalam zat cair itu. Makin dekat lapisan terhadap bidang padat. VISKOSITET : Kemampuan menahan geseran atau tergeser terhadap lapisan-lapisannya...2. air dianggap tak mampu menahan tegangan tarik.. 4.Jika selang waktu kerja beban-tarik sangat pendek. sebesar = +12. Untuk fluida riil 3 sifat-sifat diatas pengaruhnya sangat kecil dan tak begitu penting.

..2 Menurut hipotesa ISAAC NEWTON (1686) yang kemudian dibuktikan oleh N.....11 ) kita dapat menentukan dimensi viskositet absolut ( µ ) yakni : 13 .. regangan geser (SHEAR STRAIN) tergantung pada jenis fluida dan juga jenis aliran. sehingga juga menyatakan tegangan geser zat cair pada suatu titik..P. dy V+dV V y Gb.. Bila tegangan geser merata pada luas penampang ( S ) maka regangan geser total ( =gaya gesek ) yang bekerja pada luasan tersebut adalah : T = µ dv .12) Dari rumus ( 1......... Untuk LAMINER regangan tersebut sebanding dengan VELOCITY GRADIENT dalam arah ⊥ aliran fluida :  Kg     m2    τ = µ dimana : µ dv dy .... kecepatan yang sesuai dengan dv = tambahan tambahan jarak ( dy ). Gradien kecepatan ( dv / dy ) menggambarkan perubahan kecepatan per-satuan panjang dalam arah ( y )..Jadi tiap lapisan bergeser terhadap yang lainnya..(1..... PETROV (1883)......11) = viskositet absolut (viskositet dinamik)... S dy . sehingga timbul gaya gesek atau gaya geseran....(1.

3. sehingga dapat tekanan.. sehingga bertambah dengan naiknya temperatur. Sifat ini ikut diperhitungkan hanya untuk tekanan yang ber-skala sangat tinggi. seperti pada Gb. dan 1 m 2 = 104 Cm2 maka : 1 POISE = 1 98 . d t   m2    Ciri lain dari viskositet adalah VISKOSITET KINEMATIK ( ν ) ν = µ ρ  m2     dt  ..µ = τ d v / dy  Kg . sehingga viskositet juga menurun bila temperatur meningkat.1  kg . sedangkan pada gas-gas.. d t   m2    Untuk sistem CGS satuan untuk viskositet = POISE. Untuk gas-gas sifatnya adalah terbalik..  dyne . Ini berarti tegangan-geser fluida dianggap tak terpengaruh oleh tekanan absolut....13) Istilah kinematik disini berarti bahwa tak ada pengaruh dimensi gaya ( Kg ).. perubahannya diabaikan.. Gaya ini berkurang.. Viskositet semakin bertambah mengikuti temperatur. Satuan dari viskositet kinematik adalah STOKE :  Cm2  1 STOKE = 1    dt  Viskositet zat cair sangat dipengaruhi oleh temperatur... berkurang bila temperatur semakin tinggi. viskositet itu terjadi karena pertukaran-kalor yang SEMRAWUT antar molekulmolekulnya... sec  1 POISE = 1   Cm2   Karena 1 Kg-gaya = 981000 DYNE.(1.. Hal demikian terjadi karena keadaan viskositet untuk gas berbeda terhadap zat cair.. 14 .. Pada zat cair molekul-molekul lebih rapat susunannya dibanding gas dan viskosite t adalah akibat dari gaya tarik antar molekul ( KOHESI ). Viskositet dinamik ( µ ) baik cairan maupun gas -gas akibat amat-sangat kecil..

Salah satu istilah yang menjadi pertanda sifat ini adalah TITIK–D IDIH zat cair pada tekanan atmosfer normal. Didalam fluida yang dalam keadaan diam tidak ada tegangan geser yang terjadi. PENGUAPAN ( EVAPORABILITY ). Dapat kita simpulkan.11 ) tegangan geser hanya timbul pada fluida yang bergerak. ( 1.3 100 150 Menurut pers. dan tergantung kondisinya.2 0. jadi.010 02 2.005 01 UDARA AIR 1.0 1. viskositet timbul hanya jika fluida sedang mengalir.2 ν  Cm d t      2 ν  Cm d t      3.015 03 2. Oleh sebab itu istilah yang lebih mengena untuk sifat penguapan 15 . Intensitasnya berbedabeda untuk setiap jenis cairan. hukum tentang gesekan dalam fluida ( akibat viskositet ) keadaannya memang sangat berbeda dengan gesekan benda-padat.8 2. Sifat ini dimiliki oleh semua jenis cairan.6 0.8 LUB OIL ( t 0C ) 50 0C Gb.2 0. Makin tinggi titik-didih.4 0. makin berkurang intensitas penguapan ( sedikit yang menguap ). Maksudnya. 5. istilah viskositet hanya timbul apabila fluida sudah mengalir. Pada sistem hidrolik pesawat udara seringkali kita harus berfokus pada mas alah penguapan dan bahkan titik-didih zat cair dalam saluran tertutup pada berbagai tekanan dan temperatur.

tekanan jenuh ( pt ) dipengaruhi tidak hanya oleh sifat-sifat fisika-kimia dan temperatur. seperti bensin misalnya. seperti volume relatif FASE CAIR dan FASE UAP yang sedang terbentuk. Untuk cairan murni pt = f ( t ). Disini terlihat pengaruh tekanan-uap  cairan  terhadap RATIO   uap  untuk 3 daerah temperatur. (mm H g) 800 700 600 500 400 300 200 100 0 50 0C 0 20 C 0 0C 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Gb. seperti Gb. Makin tinggi tekanan jenuh untuk suatu temperatur.ini adalah : TEKANAN UAP JENUH ( pt ) yang dipengaruhi besarnya temperatur. Untuk campuran. 16 . berarti. lihat Tabel. tapi pertambahannya tidak merata. TOTAL [% ] Tekanan uap semakin bertambah bila porsi yang ditempati fase cair semakin banyak. Sifat-sifat    fisika berbagai jenis cairan yang digunakan pada sistem ROCKET dan PESAWAT UDARA. CAIR vol . 1.4 vol .4. tapi juga faktor lain. Tekanan jenuh dari berbagai zat cair bertambah besar mengikuti temperatur. makin besar laju-penguapannya ( RATE OF EVAPORATION ). yang menyatakan hubungan tersebut untuk zat cair bensin.

58 1.Tabel.30 ------- Kerosene T – 2 0.850 1.300 Hydraulic fluid AMΓ – 10 Nitric acid ( 98% ) Ethyl alcohol ------– 200 0 C 6.7 – 140 0 C 44 46.297 Pt atm 135 56.54 1.510 0.100 30 16 0.885 0.34 Lubricating Oil MC – 20 Lubricating Oil MK – 8 ---1.193 0.775 0.52 0.95 0.38 ------– 175 0 C 0.15 – 1.5 congcal s 498 130 0.100 2. Kinematik viscosity ν at temperature t .70 42 ---10.5 ---– 204 0 C 352 61.05 1.850 ---0.42 – 190 0 C Specific Gravity δ – 50 0C 2.170 17 21 7 0.5 0.4 – 160 0 C – 190 0 C – 200 0 C Hydrogen peroxide ( 80% ) Liquid oxygen 1.000 13.750 0.257 0.0 155 8.250 1.300 13.72 355 156 60 13.25 t ν cst 0.0 ---5. 1.800 – 0.45 0.895 0.4 T 0.000 Kerosene T – 1 1. kg/cm Aviation gasoline ?95 / 130 0.73 2.125 – 184 0 C 0. centistokes + 70 0C + 50 0C + 20 0C 0 0C Vapour pressure pt . mm H g + 60 0C + 40 0C + 20 0C Basic Physical Properties of Some Liquids Employed in Aircraft and Rocket Systems Liquid – 20 0C 1.11 .2 ---65 ---7.26 8.3 10 0.5 ---1.790 1.5 ---- 13.93 90 11.83 ---1.60 25 ---59 ---195 27 100 Volume modulus 2 K.0 0.5 4.

Misalkan massa fluida yang diam mempunyai tegak bentuk prisma-sisiANGLED dengan 3 px z dz pn dx pz 0 y Gb.Bab II H IDRO S T A T I K A 2. Hal ini Jadi. Tekanan hid rostatik pada bidang batas dari fluida arahnya selalu kedalam serta tegak-lurus terhadap bidang tersebut. Misalkan disebelah volume yang 18 .1. Tekanan hidrostatik pada setiap titik dalam massa fluida sama besarnya (selidiki). kesegala-arah. tekanan dalam fluida tidak terpengaruh oleh kemiringan dari bidang pada titik yang kita tinjau dibuktikan sebagai berikut. Keadaan ini merupakan akibat dari kenyataan bahwa dalam fluidadiam tidak mungkin terjadi tegangan tarik PERMUKAAN (TENSILE) maupun tegangan geser (SHEAR). Tekanan hidrostatik arahnya NORMAL BATAS. Istilah BOUNDARY (bidang batas) maksudnya bidang (riil / fiktif) dari suatu massa elementer dalam fluida yang volumenya tertentu. dy. 2 sifatnya yang terpenting adalah : 1. dz) yang masingsumbu-sumbu x koordinat seperti Gb.5. 2. karena jika tidak maka akan timbul komponen tarik maupun geser.5 py (RIGHT TETRAHEDRON) masing sejajar dy rusuk (dx. TEKANAN HIDROSTATIK Dalam Bab I telah dikatakan bahwa tekanan yang paling mungkin terjadi didalam fluida dalam keadaan-diam adalah akibat kompresi yang dinamakan tekanan hidrostatik.

Semua tekanan-tekanan tersebut berarah tegak-lurus terhadap masing-masing bidang tempatnya bekerja. p y . 2 Massa dari prisma = volume x kerapatan = 1/6 dx dy dz ρ . Y . x ). Z. 1 dy dz – pn ds Cos ( p n . Jumlah dari semua proyeksi gaya -gaya tekanan terhadap sumbu ( 0x ) adalah : Px = p x . x ) sehingga didapat : px – pn + 1/3 dx ρ X = 0 Seandainya prisma tersebut dibuat mengkerut volumenya sehingga suku-terakhir persamaan yang berisi ( dx ) menjadi → 0 dan harga dari px dan pn tertentu besarnya. y. Sehingga gaya beratnya dalam arah (sejajar) sumbu ( x ) adalah : Fx = 1/6 dx dy dz ρ X Jadi rumus keseimbangan untuk prisma tersebut berupa : 1 dy dz p x – pn dS Cos ( pn . dan tekanan-tekanan p x . p z merupakan tekanan-tekanan hidrostatik yang dialami oleh bidangbidang datar yang posisinya tegak-lurus sumbu-sumbu ( x.kita tinjau itu bekerja gaya-berat (BODY FORCE) yang mempunyai komponen X . z ) dan p n = tekanan hidrostatik pada bidang miring yang luasnya = dS. Sekarang kita turunkan RUMUS KESEIMBANGAN GAYA dari volume elementer tersebut dalam arah sumbu ( x ). maka dalam keadan limit : px – pn = 0 Kita dapat membuktikan atau bentuk px = p n persamaan-persamaan keseimbangan yang persis sama dalam arah paralel sumbu-sumbu ( Z ) dan juga ( y ) seperti yang telah kita turunkan untuk sumbu 19 . x ) + 1/6 dx dy dz ρ X = 0 2 Jika seluruhnya dibagi ( 1 dy dz ) yang merupakan proyeksi dari 2 luas bidang miring ( dS ) terhadap ( y 0 z ) dan besarnya = dS Cos ( p n .

..by 738M.1) dan juga pz = p n Karena dalam menentukan potongan-potongan dx. Fenomena demikian dapat pula dibuktikan secara gampang menggunakan rumus -rumus kekuatan bahan yang menyangkut tegangan desak ( COMPRESSION STRESS ) yang bekerja pada 2 atau 3 arah yang saling tegak-lurus...( x ) diatas sehingga didapat : py = p n atau untuk keseluruhannya : px = p y = p z = p n .. dy. Untuk ini kita hanya harus menganggap tegangan-geser sehingga didapat : σx = σy = σz = − p.. 2. sehingga kita bisa menarik kesimpulan sbb : Jika prisma kita kerutkan menjadi sebuah titik. Akan tetapi dalam fluida riil yang bergerak akan timbul tegangan geser.(2. Kedua sifat-sifat tekanan hidrostatik. dz dari prisma tadi adalah sembarangan..... juga berlaku untuk fluida ideal yang bergerak.... τ = 1  σ − σ  Sin 2 ϕ y  x 2 = 0. tekanan pada titik tersebut sama besarnya kesegala arah.. sehingga kita bisa membuat kesimpulan : DUA SIFAT-SIFAT TEKANAN HIDROSTATIK TADI TIDAK BERLAKU UNTUK FLUIDA RIIL. yang dalam pembuktian tadi kita abaikan ( dianggap tidak ada ).. berarti kemiringan luasan ( dS ) juga sembarangan.2. yang rumus-rumusnya : σn = σ x Cos 2 ϕ + σ y Sin 2 ϕ *trans. kemudian Kita bahas yang pertama adalah kasus utama dari keseimbangan fluida menurunkan persamaan yang dapat menentukan TEKANAN HIDROSTATIK 20 .. yang tadi telah kita buktikan kebenarannya terhadap fluida tidak-bergerak... apabila RUMUS DASAR HIDROSTATIKA BODY FORCE yang bekerja hanyalah gaya -berat.

. Jelas untuk kasus seperti ini permukaan-bebas fluida berupa bidang yang horisontal.. Menurut Gb... 21 ... Setelah ( dS ) dihilangkan dan diatur bentuknya..pada sembarang titik dalam fluida yang volumenya tertentu. Terlihat... Gaya -gaya akibat tekanan pada keliling silinder tidak ikut serta membentuk persamaan karena ber-arah NORMAL TERHADAP BIDANG SAMPING.. kemudian mengacu pada rumus Gb. maka : p = p0 + h γ . Bila luas elementer = dS dengan pusatnya titik ( M ).2) Inilah yang dinamakan PERSAMAAN HIDROSTATIKA yang bisa dipakai menentukan tekanan pada sembarang titik dalam zat cair yang tidak bergerak.... Dengan menjumlahkan semua gaya vertikal yang dialami silinder maka didapat : p dS – p 0 dS – γ h dS = 0 Suku yang terakhir dalam persamaan menyatakan berat zat cair sebesar silinder. arahnya keatas. Jadi menurut sifat ke–2 dari tekanan hidrostatik.6 keseimbangan. dengan dS sebagai alas kita lukiskan p0 p0 h z0 z dS M silinder elementer keatas ( tegak ) setinggi (h)..6 gaya-gaya yang bekerja pada permukaan-bebas zat cair yang ada dalam bejana adalah tekana ( p 0 ). Tekanan ( p0 ) sama-besarnya untuk semua titik didalam volume zat cair dimanapun letaknya. . Tekanan zat cair pada alas silinder adalah dari luar dan ⊥ alas.. kita juga dapat mengatakannya sebagai ZAT CAIR MEMPUNYAI SIFAT... Sekarang akan kita hitung tekanan hidrostatik ( p ) yang terjadi pada sembarang titik ( M ) pada kedalaman ( h ) terhadap permukaan-bebas ( FREE SURFACE OF FLUIDS ). tekanan hidrostatik terdiri dari tekanan-luar ( p0 ) yang bekerja pada bidang-batas zat cair dan tekanan akibat beratnya zat cair yang terlentang ( OVERLAYING ) diatas luasan yang kita tinjau..(2.

sama-besarnya untuk semua titik pada kedalaman yang sama.. PRESSURE HEAD.3) = elevasi... Jika kita mengambil datum sembarang berupa bidang horizontal.... permukaan-bebasnya merupakan salah-satu contoh. untuk permukaan bebas zat cair = z 0. ( 2. Untuk fluida stasioner. VACUUM. Pressure head dari pada tekanan lebih dapat kita 22 .. ( 2. Suatu bidang dengan tekanan yang sama pada semua titik-titiknya dinamakan bidang bertekanan-sama atau EQUIPOTENTIAL SURFACE.... Untuk peristiwa yang terjadi pada Gb. Apabila z0 – z = h kita masukkan dalam pers. 2. seperti l pada Bab. BASIC EQUATIONS OF FLUIDS. = PRESSURE HEAD yang harganya linier. ( 2.2 ) maka : z + p γ = z0 + p0 γ Kita tahu bahwa ( M ) adalah sembarang titik... Dari pers.6 bidang yang dimaksud letaknya horizontal. = PIEZOMETRIC HEAD..3 ) juga bisa kita buktikan kebenarannya dengan integral persamaan diferensial dari keseimbangan fuida. MENGUKUR TEKANAN ( p / γ) menyatakan tingginya kolom zat cair tertentu Pressure head dibandingkan terhadap tekanan absolut ataupun terhadap tekanan lebih ( gauge pressure = p ). Bentuk pers..3.2 ) terlihat pula tekanan dalam zat cair bertambah sebanding dengan kedalamannya secara linier.. Inilah yang dinamakan sebagai HUKUM PASCAL. sehingga untuk fluida stasioner-elementer berlaku hubungan : z + Koordinat z p/γ z + p /γ p γ = konstan . PIEZOMETRIC HEAD harganya konstan didalam seluruh volumenya. Untuk titik ( M ) koordinatnya = z... maka kita dapat menentukan koordinat ( z ) untuk suatu elevasi.DAPAT MEMINDAHKAN TEKANAN KESEGALA ARAH DAN SAMA BESARNYA..(2.

.. tekanan sebesar 1 atmosfer... ujung-bawah kita hubungkan dengan lobang pada bejana dimana kita mengukur tekanannya.. Untuk membedakan istilah PRESSURE HEAD dan PRESSURE GAUGE : Apabila permukaan bebas suatu fluida-diam bersinggungan dengan udara atmosfer. yakni dengan HEAD. maka : pab = p atm + γ .. disini p g = tekanan lebih ( gauge pressure ) pada elevasi yang sama.4) atau hubungan → pab = p g + p atm . ( 2. patm = Tekanan atmosfer atau udara lingkungan. 23 .000 = 0.000 1000 = 10 ( m.. vacuum parsial atau mungkin total. Kolom air ). h2 = p γ Hg = 10. seperti Gb. PRESSURE HEAD pada setiap titik = kedalaman titik tersebut.. Bila pers.(2... Piezometer dibuat dari pipa gelas ujungatas terbuka.7.2 ) diterapkan untuk piezometer.. seperti pers. ( 2...ukur memakai PIEZOMETER . berhubungan dengan patm atmosfer.4 ). Sebagai contoh.. 13.735 ( m.. h1 = p γ air = 10 . Tekanan dalam fluida sering kali dinyatakan secara numerik. h p dimana : pab = tekanan absolut dari zat cair pada tempat Gb. Dengan demikian kita dapat menghitung tinggi zat cair dalam piezometer : hp = pab − p atm = γ p0 hp = p γ p pg γ ..600 Apabila tekanan absolut yang terjadi didalam zat cair lebih kecil dari tekanan atmosfer maka terjadi VACUUM .7 pemasangan.. alat yang paling mudah dibuat untuk mengukur tekanan.. Kolom Hg ).

. Harga ter-rendah untuk tekanan absolut adalah p = 0. atau yang dinamakan dengan istilah TINGGI HISAP MAXIMUM dapat kita hitung dengan pers.5) patm − p = h γ Bila torak posisinya tambah jauh keatas tekanan absolut dalam zat-cair semakin rendah. torak kemudian ditarik keatas. bebasnya yang Gb.8 permukaan-bebas harus p p atm h mengalami dibawah atmosfer. Lobang bawah tabung dicelup dalam bejana berisi zat cair.......Besarnya vacuum adalah selisih antara tekanan absolut : pvac = patm – p ab atau h vac = atmosfer dan tekanan patm − pab γ Sebagai contoh kita lihat sebuah tabung dengan torak didalamnya.2 ) tekanan absolut zat cair dibawah torak adalah : p = patm – γ h Besarnya vacuum yang terjadi adalah : pvac = patm – p = γ h atau hvac = .... sehingga dari pers....... seperti Gb. Untuk terhadap partikel zat cair yang terletak tepat kedalamannya diperhitungkan negatif ( – ) .5 ) dengan menganggap p = 0 ( atau untuk lebih teliti p = pt ) dimana → pt = tekanan uap. Apabila tekanan uap ( pt ) kita abaikan maka : hmax = patm γ 24 . Karena zat cair mengikuti gerak torak maka akan naik dengan ketinggian ( h ) diatas permukaan tekanan torak. ( 2. dan elevasi maximum zat cair untuk contoh diatas..(2. Sehingga VACUUM yang maximum adalah = p atm .8.. ( 2.

9.33 m. zat cair pengisi dipakai alkohol.8 m ( γ = 750 kg/m 3 ). Alat paling sederhana untuk mengukur VACUUM ( atau tekanan negatif ) adalah dengan pipa-gelas berbentuk U . pab < p atm p atm A h vac p atm hvac Gb. yakni p atm = 1. untuk bensin = 13.95 ).033 kg/Cm 2 besarnya hmax adalah : +). Jika kita mengukur tekanan pada ( M ) dan pipa penghubung antara bejana dan manometer terisi zat-cair yang kita ukur tekanannya.9 .Pada tekanan atmosfer yang normal. Atau jenis terbalik dimana ujung bebasnya dicelupkan dalam zat cair seperti sebelah kiri dalam Gb. +). Untuk tekanan yang kecil. Manometer pipa – U seperti Gb. maka posisi PIEZOMETER digunakan berbagai jenis MANOMETER dan alat-alat ukur MEKANIS untuk 25 . air atau TETRABROMO ETHANE ( specific gravity = δ = 2.9 Dalam laboratorium. untuk mengukur tekanan selain mengetahui tekanan zat cair atau gas. +). UDARA. untuk air = 10. Salah satu ujung terbuka seperti pipa – U sebelah kanan Gb.76 m.10a bagian lengkungnya berupa transparan dan terisi air-raksa ( Hg ). –. untuk air raksa = 0. biasa disebut ( PIPA – U ) dengan jenis : –.

manometer terhadap ( M ) harus juga ikut diperhitungkan. Jadi, tekanan lebih ( gauge pressure ) pada titik ( M ) adalah : pM = γ p1
γ
1

h1 + γ

2

h2

γ2

p2

X

γ1
d1

p 0 H H0
kerosene

h1

h

h

γ2
h2 M
γ1

h

h0

d2 patm

γ Hg
p1 p2
∆ h.

Hg

a

b

c
Gb.10

d

e

Modifikasi manometer pipa – U yang lain adalah salah-satu kaki pipa dibuat sangat lebar ukurannya seperti Gb.10b ; jenis ini umum dipergunakan karena kita hanya perlu membaca tinggi zat-cair pada satu-kakinya saja. Jika diameter kaki -lebar jauh lebih -besar dibanding diameter pipa-gelas, tinggi zat cair dalam kaki- lebar dapat dianggap = konstan. Untuk gas bertekanan sangat kecil, ketelitian pembacaan skala-tekanan bisa dicapai dengan membuat 1 kakinya miring terhadap horizontal ( INCLINED TUBE MANOMETERS ). Panjang kolom zat-cair yang mengisi pipa SINUS –SUDUT –MIRING ; sehingga ketelitian berbanding-terbalik dengan

pembacaan meningkat karenanya. Beda tekanan antara 2 titik (lokasi aliran) diukur dengan

MANOMETER DIFERENSIAL ; jenis yang paling sederhana adalah model pipa – U seperti Gb.10c. Jika manometer jenis itu ( terisi Hg ) dipakai

mengukur beda tekanan antara ( p 1 ) dan ( p2 ) dalam zat cair yang mempunyai berat jenis (γ ) yang mengisi penuh ke-dua kaki

penghubungnya, maka :

26

p1 – p2 = h ( γ Hg − γ ) Untuk beda tekanan air, dipakai pipa – U terbalik yang bagian

melengkungnya ( terletak dibagian atas ) terisi minyak ( OIL ) atau minyak tanah ( KEROSENE ) seperti Gb.10d ; sehingga terjadi hubungan : p1 – p2 = h ( γ − γ )
2 1

+). MANOMETER JAMBAN ( WELL TYPE MANOMETER ) Bentuknya seperti Gb.10e ; dipakai untuk mengukur tekanan udara atau juga VACUUM antara ( 0,1

÷

0,5 ) atm. sedangkan manometer terisi

Kalau dipakai alkohol atau air, kolom yang dibutuhkan menjadi sangat tinggi sehingga tidak praktis; Hg

pembacaannya sangat tidak teliti karena kolomnya sangat pendek. Manometer jamban ini biasa digunakan pada instalasi-test TUNNEL. Jamban diisi air-raksa; tabung diisi alkohol, atau minyak-tanah atau fluida jenis lain. Kerosene ( minyak tanah ) dipakai karena sifatnya yang spesifik, yakni TIDAK MUDAH MENGUAP. Dengan kebijaksanaan kita bisa memilih ukuran atau diameter-diameter tabung bagian atas / bawah ( d1 dan d2 ) sehingga dapat dihitung berat-jenis efektif ( γ ef ). p = H . γ ef dimana : p H = tekanan / VACUUM yang kita ukur. = pembacaan manometer. menurut Gb.10e. WIND

Harga ( γ ef ) dicari dari persamaan : → H0 γ k = h 0 . γ Hg

yang menyatakan keseimbangan kolom air-raksa dan minyak tanah pada tekanan p = patm. p + ( H0 – H + ∆ h ) γ k = ( h0 + ∆ h ) γ Hg yang merupakan p ersamaan keseimbangan pada p > patm . Selain itu : H. d

2 1

=

∆h. d

2 2

27

Yang merupakan persamaan volume

( volume minyak tanah yang persamaan-persamaan

bergeser dari pipa-atas d1 menuju pipa-bawah d2 = volume dari airraksa yang tersedot ). Dengan substitusi ke -3 tersebut dan hasilnya diatur, didapat hubungan :
2 2   d  1 1 γ Hg + 1 − γ  2 2 k d d   2 2  d =

γ ef

Sebagai contoh, bila d 2 = 2 d 1 → γ ef

= 0,25 x 13600 + 0,75 x 800 = 4000 kg/m 3.

+). Tekanan diatas ( 2

÷

3 ) atm harus kita ukur dengan MANOMETER

MEKANIS jenis BOURDON TUBE atau jenis DIAPHRAGMA. Prinsip kerjanya, adalah akibat defleksi yang terjadi apabila tabung melengkung diberi tekanan, demikian pula diaphragma dan type BELLOWS ; perubahan kelengkungannya ditransmisikan secara mekanik pada jarum petunjuk, sehingga peralatannya berupa plat skala, seperti jam. Pada mesin pesawat terbang, manometer dipakai mengukur : –. –. –. Tekanan bahan-bakar masuk INJECTORS dari turbin gas. Tekanan bahan-bakar masuk karburator untuk yang

menggunakan mesin-torak. Tekanan minyak pelumas.

*trans.by 738M.

+). Untuk pesawat udara, jenis manometer yang paling lumrah digunakan adalah jenis manometer sistem-listrik dan juga jenis-jenis mekanik. Prinsip kerja MANOMETER LISTRIK, menggunakan diaphragma

sebagai sensor element, akibat tekanan fluida mengalami defleksi yang menggerakkan bagian dari SLIDE POTENTIOMETER.

28

Perpotongan terhadap antara bidang.. ∫y S dimana : hc dS = yc . TEKANAN TOTAL SUATU FLUIDA PADA SUATU BIDANG DATAR ADALAH PERKALIAN ANTARA LUASAN DAN 29 . dapat dihitung menggunakan persamaan hidrostatik.. Harga ∫y S dS menurut teori mekanika.. Jadi. seperti Gb. pers. TEKANAN FLUIDA PADA BIDANG–DATAR Tekanan total pada bidang datar yang miring dengan sudut ( ∝ ) terhadap bidang horisontal. S + γ Sin ∝ yc . S . harganya = perkalian antara luasan dan jarak antara titik-berat luasan s/d garis sumbu ( yc )....2. dan akhirnya didapat : P = ( p 0 + γ hc ) S = p c ...11 .6) Berarti. ( P ) didapat dengan integrasi pers.. S sehingga → P = p 0 . Kita akan menghitung tekanan ( p ) pada suatu ( S ). Gaya pada suatu elemen luasan ( dS ) adalah : dP = p dS = ( p 0 + γ h ) dS = p 0 dS + h γ dS dimana : p0 h Gaya total luasan ( S ) : P = p0 dimana : y S = tekanan pada bidang bebas... disebut momen dari ( S ) terhadap sumbu ( 0x ) .2 ).4. sumbu ( y ) searah dengan bidang dan tegak-lurus ( x )... = kedalaman dari luasan ( dS )..(2... ( 2. t rsebut untuk seluruh e ∫ dS + γ ∫ h dS = p 0 S + γ Sin ∝ ∫ y dS S S = jarak antara pusat luasan ( dS ) terhadap sumbu ( x ). horisontal Gb. S = p 0 S + γ hc ...11 y c D dS S p luasan hc bidang h yD p0 ∝ 0 yc y x dipakai sebagai sumbu ( x ) . S = kedalaman titik berat luasan .

30 .. tempat bekerjanya gaya selisihnya : Pg terletak dibawah titik-berat-luasan..... Momen resultan terhadap sumbu ( 0x ) merupakan jumlah momen dari gaya-gaya komponen terhadap sumbu tersebut : Pg .. S .. Lokasi titik kerja GAUGE PRESSURE resultan ( titik D ) dapat dihitung berdasarkan rumus dasar mekanika yang sudah banyak dikenal.(2...TEKANAN TERSEBUT.. P g = h c γ S = p cg ... Maka : yD = yC + I x0 yc . S dP g dimana : y D = jarak antara titik bekerjanya gaya P g terhadap sumbu ( x )..– BAGAIMANA MENENTUKAN LETAK TITIK PUSAT TEKANAN YANG MERUPAKAN TEMPAT BEKERJANYA GAYA RESULTAN PADA SUATU LUASAN ? Karena tekanan ( p 0 ) ditransmisikan secara merata pada seluruh luasan ( S ) maka resultante-nya jelas terletak pada titik berat dari luasan... S 2 = yc . kecuali ada pernyataan lain. Jika tekanan STATIKNYA PADA TITIK-BERAT LUASAN ( p0 ) = tekanan atmosfer.. istilah TEKANAN selalu dimaksudkan tekanan-absolut. S GAUGE PRESSURE pada bidang-datar besarnya adalah : ..... maka y D : γ Sin ∝ yD = dimana : Ix = γ Sin ∫ y dS S ∝ ..... yD = ∫y . S Ix S ∫y 2 dS = momen inersia luasan ( S ) terhadap ( 0x ) Jika Ix = Ix 0 + y 2 S c dimana Ix 0 = momen inersia luasan ( S ) terhadap garis sumbunya sendiri yang sejajar terhadap ( 0x )...... Apabila P g dan dPg dinyatakan dengan ( yc ) dan ( y ) .6)* Note : Sesuai ketentuan dari fisika.(2.. yc .7) Jadi.......

Apabila ( p 0 . sehingga dapat dianggap. sebagai titik bekerjanya resultante antara gaya ( P g ) dan ( p 0 . Jika p0 > patm maka titik pusat tekanan dicari berdasarkan teori mekanika.∆y = I x0 yc . Disini tekanan ( p0 ) b 3 Gb. S Apabila ( p0 ) = tekanan atmosfer dan bekerja pada kedua sisi dari bidang maka titik D = titik pusat tekanan. S ) > ( P g ) maka titik pusat tekanan lebih dekat ketitik berat luasan ( S ). Dalam kita jumpai teknik P a adalah.12 dengan titik-berat terletak = 1/3 x ( tingginya ) dihitung dari dasar maka lokasi TPT juga terletak 1/3 ( b ) dari dasar. d imana bidangnya berbentuk empat-persegipanjang yang salah satu sisinya terletak pada permukaan zat-cair maka posisi TPT dapat dicari dengan mudah.12 demikian besarnya. Kita tahu bahwa diagram tekanan dari gaya yang bekerja pada bidang tersebut ( tenggelam ) adalah berbentuk segi–3 seperti Gb. 31 . S ). seperti torak misalnya dari pada b 2 x mesin-mesin hidrolik beserta berbagai peralatannya ( lihat contoh soal ). Untuk kasus spesifik. Singkatan dari istilah : Titik pusat tekanan Titik berat luasan = TPT = TBL Agar koordinat ( xD ) dari TPT dapat ditentukan maka persamaan momen kita terapkan terhadap sumbu ( y ). tekanan p D y c b mesin kasus yang umum menghitung fluida pada dinding datar. bahwa tempat bekerjanya TPT berimpit dengan posisi dari TBL.

13. Volume zat cair ABCD dengan AB merupakan permukaan yang melengkung.5. Maka akan ada 2 kemungkinan : a). BC dan AD adalah bidang-bidang yang tegak. p0 C hc P ph E B D C D p0 .2. Zat cair terletak dibawah bidang. Salah satu contohnya adalah seperti Gb. Zat cair terletak diatas bidang. TEKANAN FLUIDA TERHADAP PERMUKAAN MELENGKUNG. model permukaannya adalah bentuk silindris atau bentuk-bulat yang mempunyai bidang simetri tegak. Biasanya. berarti pula bidang AB memberikan gaya sebesar P kepada zat cair.G A Ph Pv P a Gb. Kita harus meninjau persamaan-persamaan keseimbangan dalam arah datar dan arah tegak. 32 . b). Untuk kasus seperti ini analisa tekanan dapat disederhanakan dengan mencari resultante -nya terhadap bidang-tegak tersebut. Syukurlah kita tidak terlalu sering bertemu dengan kasus model itu. GAYA–APUNG & FLOATASI Kasus-kasus yang menyangkut tekanan fluida terhadap bidang dengan bentuk sembarang memang agak sulit dianalisa karena harus dihitung 3 komponen dari pada gaya -total dan juga 3 momen.13 Misalkan bidang melengkung ( AB ) dengan b rusuk a tau garis -lukis (GENERATOR OF THE BODY) tegak-lurus bidang gambar. Kasus a). CD adalah permukaan bebas.G Pv A E B . Jika besarnya gaya dorong yang diberikan zat cair pada AB adalah sebesar P .

. Besarnya teka nan hidrostatik pada semua-titik diatas bidang ( AB ) samabesar dengan kasus a) hanya tandanya yang berlawanan....8) Sh = proyeksi luasan ( AB ) terhadap bidang datar. Persyaratan untuk arah-tegak : Pv = p 0 .8 ) dan ( 2.. atau jika letak TPT untuk proyeksi tegak dari luasan telah diketahui.8 ) dan ( 2............9 ) memberikan komponen-komponen vertikal dan datar dari gaya-total P yakni : P = Kasus b)..(2 ..... maka yang perlu dibahas hanyalah tekanan yang bekerja pada luasan merupakan proyeksi-tegak ( S v ) dari luasan AB : Ph = S v .. h c + p0 ....Pada Gb..13 terlihat gaya tersebut beserta komponen-komponen tegak dan datar yakni Ph dan Pv..........(2.. karena arah gaya resultante berpotongan dengan garis sumbu permukaan ( AB ) yang telah kita ketahui dari sifatnya bahwa setiap tekanan elementer ( dP ) selalu berarah tegak-lurus terhadap bidang...9) BE yang Pers. Gaya -gaya Pv dan Ph dihitung dengan persamaan pers.. demikian pula titik-berat dari volume ABCD. Persyaratan keseimbangan dalam arah datar.. S v . jadi. G disini adalah berat zat cair dengan volume ABCD (walaupun sebenarnya untuk kasus -b).. .(2. Gaya dorong zat cair dalam volume yang ditinjau terhadap luasan EC dan AD adalah imbang karena sama-besar... hanya berlawanan arah. Seperti halnya pada kasus a). Kasusnya akan menjadi lebih sederhana lagi apabila bidang lengkung itu berbentuk lingkaran... tapi tandanya yang dibalik. ( 2.. γ .. 33 .. ( 2. Titik pusat tekanan TPT untuk bidang melengkung dapat ditentukan dengan gampang jika besar dan arah gaya-gaya Pv & Ph telah diketahui.... volume tersebut kosong..10).. P 2 v + P 2 h . searah dengan radiusnya.9 ) .. G = berat zat cair dalam volume yang kita tinjau. Sh + G dimana : p0 = tekanan pada permukaan bebas.

ber-arah ke -atas.by 738M. besarnya sama dengan berat zat cair yang mengisi volume AA ‘ B ‘ BDA. seperti Gb. Pv1 A1 B1 besarnya sama dengan berat zat cair dengan volume AA ’ B ’ BCA. mencari komponen vertikal gaya-tekanan dari bidang melengkung dapat pula kita terapkan untuk membuktikan keampuhan dari HUKUM ARCHIMEDES. Hukum tersebut juga berlaku untuk benda yang hanya tercelup sebagian ( mengapung ). yakni ACB dan ABD. Garis lukisnya ( GENERATOR ) yang terbentang disekeliling bendanya dan ber-arah vertikal akan membagi benda tersebut menjadi 2 bagian. Tekanan resultante yang dialami benda akan berarah vertikal yang besarnya sama dengan berat zat cair yang mengisi selisih kedua bentuk itu. *trans.14. Gaya resultante akan melalui titik berat luasan TBL yang terletak pada bidang simetri yang tegak.Cara tadi ( bidang silindris ) juga berlaku untuk bidang berbentuk bola. yakni berat dari zat cair yang volumenya sama dengan volume benda tersebut.14 A D C W B KEHILANGAN BERATNYA SEBANYAK BERAT FLUIDA YANG DIPINDAHKAN OLEHNYA. Gaya P b disebut GAYA APUNG yang titik kerjanya 34 . jadi : Pb = P v 2 – P v1 = G ABCD = W . Misalkan suatu benda dengan volume ( W ) dicelupkan dalam zatcair. Komponen vertikal Pv1 dari tekanan (GAUGE PRESSURE) yang dialami oleh permukaan atas benda (yakni diatas AB) arahnya ke -bawah. γ Pernyataan tersebut dinamakan HUKUM ARCHIMEDES yang bunyinya : SUATU FLUIDA BENDA AKAN YANG TERCELUP DALAM SUATU P v2 Gb. Metode tadi. Komponen vertikal Pv2 dari tekanan yang dialami oleh bagian bawah benda.

Model yang lain berupa reservoir bola. Persyaratan lainnya agar benda yang mengapung bisa stabil. Energi tersimpan karena zat cair mendesak torak kesebelah-kiri x2 x x1 Gb. sisi lain terisi fluida kedalamnya oleh pompa.p ELASTIS antara fluida dan gas bertekanan seperti Gb. Bila +).15. Berdasarkan perbandingan berat benda ( G ) terhadap gaya -apung Pb maka ada 3 kemungkinan : +). seperti Gb.18. Salah satu modelnya ( cairan hidrolik ) yang dimasukkan berupa silinder dengan torak. Untuk penggunaannya kita lihat beberapa contoh. 35 . G = Pb maka benda mengapung ( FLOAT ). Bila +). Tentukan jumlah energi yang tersimpan jika tekanan besarnya : p2 = 150 kg/Cm2 = LOAD PRESSURE apabila bisa dikurangi s/d p1 = 75 kg/Cm2 dengan volume udara W 1 = 3 liter. Bila G > Pb maka benda akan tenggelam. selain G = P b adalah TOTAL DARI MO MEN = 0 yang akan tercapai apabila titik berat benda dan titik-apung keduanya terletak pada sebuah bidang vertikal. Energi tersebut akan dilepaskan jika udara memuai.15 dx sehingga memampatkan udara yang beratnya ( W ). titik tersebut diberi istilah titik apung ( CENTRE OF BOUYANCY ). CONTOH 1 : Diantara sistem hidrolik pesawat udara terdapat ACCUMULATOR GAS LOADED untuk menyimpan energi. terisi yang DIAPHRAGMA memisahkan W .berimpit dengan titik berat fluida yang dipindahkan. pada satu-sisi berisi udara bertekanan ( p ). G < Pb maka benda naik dan terangkat (melayang).

Torak tidak mengalami gesekan.3 x 0. dan benda ( 2 ) adalah benda yang dipres atau dimampatkan.Jawab : Kita pakai asumsi-asumsi : 1. ( 1 ) adalah beban yang harus diangkat. 2 1 a 7 Gb.S.m) CONTOH 2 : Instalasi seperti Gb. untuk mesin-pres ( 1 ) merupakan meja-tekan yang diikat pada fondasi dengan batang atau tiang pengikat ( 8 ) yang terlihat sebagai garis strip. 2. dimana S = luas permukaan torak.16 8 6 D 4 P 8 3 d 5 b R 36 . Proses expansi & kompresi gas berlangsung isothermal.dx . Bila berfungsi sebagai dongkrak. 3. Maka sesuai dengan asumsi : p = p1 W1 W dan W = W1 x x1 Sehingga → dE = p 1 x1 S dx dx = p 1 W1 x x Jika di-integralkan kita dapat menghitung energi yang tersimpan : x1 x  p  dx E = p 1 W1 ∫ = p 1 W 1 ln  1  = p1 W1 ln  2  x  p  x2 x  2  1 Bila besaran-besaran tersebut dimaksukkan maka : E = 75 x 104 x 3 x 10–3 x 2.16 adalah mesin hidrolik yang dapat berfungsi sebagai MESIN PRES maupun dongkrak ( JACK ). Volume udara sebanding dengan langkah torak ( x ).3 = 1550 ( kg. Usaha elementer yang dihasilkan ACCUMULATOR : dE = p.

000 Kg. CONTOH 3 : HYDRAULIC PRESSURE INTENSIFIER seperti Gb. Jika G = 300 Kg . p2 3 d 2 1 D p1 Gb. D = 125 mm . Tekanan ( p1 ) masuk dalam silinder ( 1 ) dan menggerakkan selongsong berongga ( 2 ) yang beratnya = G dan diameternya = d yang ditengahnya dilobangi untuk mengeluarkan fluida yang tekanannya telah berlipat-ganda = p2. Tentukan gaya P apabila R = 20 Kg . tentukan besarnya tekanan ( p 2 ). a/b = 1/9 dan D/d = 10.17 37 . d = 50 mm serta gesekannya diabaikan. 2 Jawab : P = R a + b  D   a d = 20 x 10 x 100 = 20.( 3 ) = pompa tangan yang dipakai memberi tekanan pada silinder tekan ( 6 ) sehingga menimbulkan gaya -tekan keatas ( P ) pada selongsong kempa ( Lifting ram ) ( 7 ).17 dipakai untuk meningkatkan tekanan ( p1 ) yang dihasilkan oleh pompa atau dari ACCUMULATOR. p1 = 100 Kg/Cm 2 . ( 5 ) = katup isap dan ( 4 ) = katup tekan.

yang kerjanya sebagai berikut : Jika fluida didalam sistem mengalami MACET ( tidak bekerja = IDLING ) maka pompa akan mengisi ACCUMULATOR ( 4 ) sampai mencapai tekanan maximum ( pmax ) sehingga torak ( d ) tertekan kebawah dan mengalirkan fluida ke ( A ) melalui saluran ( a ).Jawab : Dari persamaan keseimbangan untuk selongsong berlobang maka : ( 2 ) π D2 4 p1 π d2 = p2 + G 4 → p 2 = p1 D    − d 2 4G π d2  125  p2 = 100    50  2 − 4 x 300 π 52 = 610 Kg/Cm2. kemudian torak ( d ) berangsurangsur bergeser keatas akibat gaya pegas. a = 2 mm 38 . l = 16 mm. Tekanan ( pmax ) ini menekan torak ( D ) kebawah sehingga batangtoraknya membuka KATUP – BOLA berhubungan dengan tangki sehingga saluran-tekan pompa Pompa akan terus pengumpul. dan d1 = 6 mm. D = 10 mm. KATUP BOLA menutup.18 . mengalirkan fluidanya kembali ke -tangki pengumpul selama tekanan dalam sistem masih diatas ( pmin ) . membuka saluran ( a ) dan fluida di ( A ) mengalir-balik ketangki pengumpul. p min = 80 atm. Tentukan karakteristik pegas-pegas ( 1 ) dan ( 2 ) jika : pmax = 140 atm. sehingga pompa mengalihkan tekanannya kepada konsumen ( RECEIVER ). d = 8 mm. CONTOH 4 : Sebuah komponen penting yang harus ada dalam sistem hidrolik pesawat udara adalah AUTOMATIC RELIEF VALVE seperti Gb. Jika ini telah tercapai maka pegas ( 2 ) menekan torak ( D ) keatas.

tekanan yang bekerja pada katup-bola dan gaya dari pegas ( 3 ).2 Kg. Gaya gesek = 0. –. l – a = 16 – 2 = 14 mm.1 x gaya akibat tekanan . maka gaya pada torak harus mampu mengatasi kekuatan pegas ( 2 ). Pmax = p max π Pmin = p min π Lendutan dari pegas : Pmax − Pmin hl 4 4 ( d )2 = 140 π ( d )2 hl = = 80 π 4 4 ( 0.a A d D 2 l ke tangki 4 d1 1 3 6 dari pompa Gb.18 Jawab : Ke Receiver Tentukan beban maximum dan beban minimum untuk pegas ( 1 ).4 − 40.8 )2 = 70. Agar katup bola dapat terbuka.2 14 = 2.4 Kg. Gaya dari pegas ≅ 3 Q = 30 Kg .8 ) 2 = 40.16 Kg/mm. Bila dianggap : –. ( 0. gesekan torak + packing. Kemudian kita hitung kekakuan dari pegas ( l ) : = 70. 39 . *trans by 738M.

Bila dianggap gaya gesek tersebut sebesar 10 Kg maka : Fmin = 10 Kg.62 ) – 30 = 30 Kg. Fmax . 40 . Disamping itu gaya dari pegas ( 2 ) harus mampu untuk membalikkan gerak torak ( D ) melawan gesekan packing dari torak saat tanpabeban.9 – 0. Kekakuan pegas ( 2 ) yang dibutuhkan untuk menggeser torak keatas sejauh h2 = 10 mm adalah : Fmax − Fmin h2 30 − 10 10 = = 2 Kg/mm. yakni : π D 4 2 π D pmax 0.25 π ( 12 x 0.9 = F max + p max 2 1 4 + Q sehingga : Fmax = 140 x 0.Maka kita dapatkan persamaan untuk menentukan tegangan maximum dari pegas ( 2 ) .

Permukaan-bebas. Keadaan seperti itulah yang dimaksud sebagai RELATIF ( RELATIVE REST ).1. maka komponen tangensialnya akan berusaha menggeser partikel-partikel zat cair searah bidang tersebut. KONSEP DASAR sebelumnya hanya membahas tentang imbangnya zat cair yang mengalami hanya satu gaya. Apabila bejana bergerak tidak-lurus dan tidak UNIFORM maka semua partikel zat cair dalam bejana. sebagai contohnya : Gaya resultante ( RESULTANT BODY FORCE ) selalu tegak-lurus terhadap bidang bertekanan-sama. apabila geraknya UNIFORM terhadap waktu maka zat cair akan menempati posisinya yang baru yang seimbang terhadap dinding bejana. atau sedang mengalir secara UNIFORM mengikuti garis lurus. Peristiwa demikian. maka zat cair yang berada dalam KEDUDUKAN– RELATIF konturnya sangat berbeda dibanding bidang bertekanan-sama didalam bejana diam. yakni gaya berat. Akan tetapi untuk yang KEDUDUKAN 41 . sedemikian. relatif terhadap bumi. Seandainya gaya resultante ini arahnya menyudut terhadap bidang bertekanan-sama.Bab III KEDUDUKAN RELATIF ZAT CAIR 3. contohnya seperti zat cair yang diam didalam bejana yang juga tidak bergerak. Bab. seperti halnya bidang-batas lainnya yang mempunyai tekanan sama. selain mengalami gaya gravitasi juga gaya tambahan akibat dari akselerasinya. yang mestinya horizontal. Gaya tambahan tersebut berusaha menggeser zat cair yang ada dalam bejana. Agar bisa menentukan bagaimana bentuk sebenarnya dari permukaan-bebas zat cair yang mengalami KEDUDUKAN RELATIF maka sifat-sifat dasar dari semua bidang bertekanan-sama harus ikut pula dipertimbangkan lagi.

misalnya bahan-bakar dalam tangki pesawat udara. 2). Untuk tiap satuan massa kita pakai simbol ( j ) untuk gaya-resultante. Sudut kemiringan terhadap bidang horisontal tergantung pada arah gaya ( j ). tidak mungkin terjadi 2 bidang yang bertekanan-sama akan saling berpotongan. Berarti. 3. Ada 2 sifat penting yang akan kita bahas karena merupakan ciri khas dari cairan dengan kedudukan relatif : 1). seperti Gb. 42 . bidang-bidang yang bertekanan-sama posisinya tegaklurus kepada gaya tersebut. baik terhadap dinding bejana dan pula terhadap partikel lainnya. ZAT CAIR DALAM BEJANA YANG BERGERAK LURUS DENGAN AKSELERASI MERATA Kita amati zat cair menempati sebuah bejana.2. karena zat cair pada titik-potong tersebut akan mengalami 2 tekanan. bergerak mengikuti garis-lurus dengan akselerasi merata = ( a ). Bejana bergerak lurus dengan akselerasi yang merata. yang paling mungkin adalah : “ARAH GAYA RESULTANTE JUGA TEGAK–LURUS TERHADAP MUKA–BEBAS DAN BIDANG–BIDANG LAIN YANG MEMPUNYAI TEKANAN–SAMA”.19. Selain itu. Bejana berputar UNIFORM terhadap sumbu tegak. Gaya ( BODY FORCE ) resultante pada zat cair merupakan jumlah vektor dari gaya akibat akselerasi yang arahnya berlawanan dengan ( a ) dan gaya berat. maka : _ _ _ j = a+g Jadi resultante gaya -gaya yang dialami partikel-partikel zat cair mempunyai arah yang paralel.mengalami KEDUDUKAN RELATIF partikel-partikel zat cairnya hanya diamdiam saja. Semua bidang bertekanan sama ( termasuk muka -bebasnya ) merupakan bidang-bidang yang paralel.

Volume zat cair dalam bejana harus diketahui dari ukuran bejana : B . Untuk menentukan tekanan pada sembarang titik dalam zat cair.. persyaratan lainnya yang masih diperlukan adalah VOLUME.... Untuk menyelidiki pengaruh gaya akselerasi dalam teknik penerbangan.( x ) maka ( x ) menjadi rumus hidrostatika..... kita harus tahu istilah : g – LOADING. 43 .. l = jarak antara ( M ) dan muka-bebas..19 r Gb. HIDROSTATIKA.20 Rumus keseimbangan volume zat cair tersebut adalah : p dS = p0 dS + j ρ l dS Suku terakhir dalam rumus tersebut adalah BODY FORCE TOTAL ... Setelah ( dS ) dihilangkan : p = p0 + j ρ l Hal-hal khusus : Bila a = 0 .. l dS Z A P0 B M p0 g H h B a j H h0 ∝ h 0 ∝ ω 2r a Gb.. j = g . dan tinggi permukaan awal zat cair ( h ). H ..Untuk menentukan posisi muka-bebas zat cair dalam bejana yang bergerak dengan akselerasi merata dalam arah garis-lurus.. Kita tinjau titik sembarang dalam fluida ( M ) dengan luasan ( dS ) yang paralel terhadap muka -bebas dan kita buat tabung silindris zat cair yang tegak-lurus terhadap FREE SURFACE dengan alas = dS. telah dibahas dalam Bab...

Jika g – LOAD yang berharga besar dan jumlah bahan bakar dalam tangki hanya sedikit. NOSING UP . 3.3. ZAT CAIR DALAM BEJANA YANG BERPUTAR UNIFORM Kita lihat bejana silindris terbuka terisi cairan yang berputar terhadap sumbu vertikal. kecepatan sudut = ω . perbandingannya adalah ( 8 ÷ 10 ). Untuk mencegah kasus seperti itulah maka disekitar PIPA HISAP dipasang alat-pengaman khusus. Untuk terbang lurus maka g – LOAD adalah sebesar : nx = Pembebanan normal a g ( NORMAL g – LOADING ) terjadi apabila pesawat udara terbang dengan lintasan melengkung ( DIVING . Kasus dalam contoh diatas adalah dengan beban g – LOAD TANGENSIAL tapi untuk memperkecil dimensi tangki bahan-bakar pesawat udara dibandingkan terhadap radius ( R ) maka diambil pertimbangan.Beban g – LOAD bisa berarah tangensial ( nx ) atau tegak-lurus ( ny ). besarnya akselerasi ( a ) dihitung dari rumus : a = v2 R Perlu dicatat bahwa untuk pesawat yang sedang terbang beban g – LOAD NORMAL jauh lebih besar dibanding g – LOAD TANGENSIAL . maka pergeseran dari permukaan bahan-bakar malah menjauhi MULUT PIPA HISAP sehingga aliran bahan bakar terputus MULUT karenanya. Berangsur-angsur zat cair akan memperoleh 44 . BANKING ) dan rumusnya : ny = dimana : v R a +g g = v2 + 1 R g = Kecepatan terbang. = Radius kelengkungan dari lintasan. yakni dengan memanfaatkan NORMAL g – LOADING .

sebagai 45 . bahwa pada perpotongan kurve ( A0B ) dengan sumbu-putar → C = h maka : z = h + ω2 r2 2 g . Sekarang kita menurunkan persamaan dari kurve ( A0B ) dalam koordinat ( z – r ) yang berpusat pada titik center alas bejana...... –. Aplikasi persamaan ( y ) : –. Akibat komponen yang kedua. Harus diingat bahwa volume zat cair saat diam sama dengan saat berputar. sesuai radiusnya. Yang dialami fluida ( untuk tiap satuan massa ) adalah gaya berat ( g ) dan gaya sentrifugal ( ω 2 r ).( y ) Jadi.. sedangkan inklinasi terhadap horisontal berkurang ( arahnya semakin tegak ). Menentukan posisi muka -bebas dalam bejana... seperti Gb. kurve ( A0B ) adalah parabolis dan muka-bebas-nya berupa bidang paraboloid... Karena gaya ( j ) selalu tegak-lurus ( A0B ) maka dari analis a gambar kita dapatkan : tg ∝ = dz dr = ω2 r g atau : Setelah di-integral didapatkan : dz = ω2 r dr g z = ω2 r 2 + C 2 g Berdasarkan batasan-batasan yang telah disebutkan diatas.... sehingga inklinasi muka-bebas tersebut bertambah..20. contoh tinggi kenaikan maximum zat cair ( H ) dan.kecepatan sama-dengan bejananya sehingga muka -bebas-nya berbentuk CEKUNG akibat perputaran.. Elevasi dari titik puncak paraboloid pada kecepatan putar tertentu ( ω )... Body force resultante tersebut selalu tegak lurus terhadap muka -bebas.. BODY FORCE RESULTANTE ( j ) bertambah sebanding radius.

Volume tersebut mengalami gaya-gaya akibat tekanan dan sentrifugal. Kasus yang umum adalah jika bejana terisi zat cair berputar terhadap sumbu horisontal atau sumbu sembarang dengan kecepatan ( ω ) yang demikian besarnya. sehingga pengaruh gaya -berat dapat diabaikan dibandingkan gaya sentrifugal. r = jarak antara ( dS ) dan sumbu perputaran. Setelah di-integralkan : p = ρ ω2 r2 + C 2 Konstante ( C ) dicari dari persyaratan batas integral. ( p + dp ) = tekanan pada permukaan yang satunya yang letaknya sejauh ( r + dr ) dari sumbu.21. Gradient tekanan dalam zat cair dicari dari rumus-keseimbangan untuk volume elementer yang luas alasnya = dS dan tinggi = dr dalam arah radiusnya ( r ) seperti Gb.–. Persamaan keseimbangan dalam arah radiusnya untuk volume tersebut adalah : p dS – ( p + dp ) dS + ρ ω 2 r dr dS = 0 atau dp = ρ ω 2 r dr. Misalkan ( p ) adalah tekanan pada pusat luasan ( dS ) . pada r = r0 → p = p0 sehingga : r 2 0 2 C = p0 – ρ ω 2 p – p0 dS r0 p 2 r0 p0 p0 p + dp dr r Gb.21 46 .

( z ) Jadi....... bentuk muka -bebas-nya radius ( r0 ) dan tekanan = ( p0 ). seperti pada celah antara IMPELLER & CASING pompa sentrifugal. 47 ... ( yang juga merupakan salah satu bidang bertekanan-sama ) berbentuk silindris dengan B W1 A p1 r1 p2 C W2 D E 2 r sh r2 Gb. Kasus yang sering kita jumpai adalah menghitung gaya -dorong ( THRUST ) yang ditimbulkan zat cair yang berputar bersama bejananya terhadap bidang yang tegak-lurus terhadap sumbu perputaran.. *trans... Apabila bejana tak terisi penuh.by 738M. menurut persamaan ( z ) adalah : dP = p dS =  ω2 p 0 + ρ 2  2   2  r − r   0    2 π r dr Bila di-integralkan maka didapat P ( THRUST )... bentuk-bentuk bidang bertekanan-sama adalah berupa tabung-tabung silindris dengan garis sumbunya berimpit dengan sumbu perputaran zat cair.. . atau mungkin luasan yang ditinjau hanya berupa ring.22 Gaya dorong terhadap ring elementer yang radiusnya ( r ) dan lebar ( dr ) ..Akhirnya didapat hubungan antara ( p ) dan ( r ) : p = p0 + ρ 2 ω2 ( r2 – r ) 2 0 ...

Prinsip ini juga dipakai untuk menghitung tekanan AXIAL yang ditimbulkan zat c air terhadap IMPELLER POMPA S ENTRIFUGAL. Prinsip ini diterapkan untuk operasi KOPLING GESEK ( jenis khusus ) yang membutuhkan tekanan NORMAL YANG SANGAT BESAR agar torsi bisa ditransmisikan dari satu poros kepada poros lainnya. yang besarnya : P = 2π r1 ∫ p r dr rsh r2 untuk r0 Dengan menerapkan rumus ( z ) dan substitusi : p2 untuk p0 . Lihat Bab. Yang berbeda hanyalah tekanan AXIAL pada bidang ( DE ) yang berupa cincin yang dibatasi ( r1 ) dan ( r sh ). Contoh : Hitung gaya AXIAL pada IMPELLER POMPA SENTRIFUGAL apabila ruang ( W1 ) dan ( W2 ) antara IMPELLER dan CASING kecepatansudut zat cairnya hanya ( 1/2 x ) kecepatan IMPELLER dan kebocoran didaerah ( A ) sangat kecil sehingga dapat diabaikan.22. Persamaan diferensial. maka : f 2 g ω 2 dan p = p2 – γ  2 r −  2   r   dimana : ωf = kecepatan sudut zat cair yang berputar. n = 16500 RPM. tekanan hisap = p1 = 0 . r1 = 25 mm . Dimensi IMPELLER : r2 = 50 mm . LAY OUT seperti Gb. Gaya yang timbul akan berarah kekiri ( ke -sisi-hisap ) . beratjenis zat cair γ = 918 ( Kg/m 3 ) Jawab : Pada daerah ( AB ) = daerah ( CD ). Rumus -rumus diatas dapat diturunkan dengan integral dari persamaan diferensial keseimbangan fluida. Tekanan buang p2 = 38 atm. r sh = 12 mm . 48 .Jika perputarannya sangat tinggi maka gaya dorong yang dialami dinding juga menjadi sangat besar.

5 − 1.Jadi : 2   r1  ω  f  2 P = 2 π ∫  p2 − γ  r − r 2  r dr  2 g  2   rsh      2  2 = π r − r   1 sh     2 ω  f p − γ 2  2 g   2 2    r + r  sh  r 2 − 1  2  2     P = π 2.2 2     = 460 Kg.000918    π x 16500    2 x 30     2    x  1 2.5 2 + 1. x  52 −   2 x 981 2    49 .2 2 ( 2 )  38 − 0.

yang selalu berubah. ∂t dan v = f 2 ( x .1. p = f1 ( x . z . z ) ∂p = 0. t ). y . Sifatnya seperti fluida riil ( REAL yang ada MOTIONLESS ) hanya tekanan yang tidak bergerak karena parameter (COMPRESSIVE STRAIN). y . ∂ vz = 0 ∂t ∂ vx = 0. tekanan mengarah kesegala arah dan sama-besar. Unsteady Flow : Aliran dimana tekanan & kecepatan berubah terhadap posisi & waktu. tekanan tegak-lurus terhadap permukaan ( bidangbatas dan mengarah kedalam ) . v = F2 ( x . y . DEFINISI & RUMUS Untuk fluida yang bergerak kita mulai dengan teori aliran Fluida-ideal. Jadi. y . Untuk itu kita perkenalkan beberapa istilah-istilah : Fluida Ideal : Fluida dengan µ = 0. pada setiap titik dalam fluida. Steady Flow : Termasuk jenis aliran dimana parameternya pada suatu titik tidak berubah terhadap waktu. dalam fluida ideal yang sedang mengalir. ∂ vy ∂t = 0. sehingga : p = F1 ( x . ∂t Partikel fluida mengalir sepanjang garis arus dan tak berubah terhadap waktu ( t ). z ). t ). Partikel yang lewat suatu titik membentuk lintasan 50 . Tekanan ( p ) dan kecepatan alir ( v ) hanya berubah karena posisi partikel fluida. z .Bab IV RUMUS – RUMUS DASAR 4.

→ 0 maka v2 v v v v v Gb.23 v v1 dS1 Gb. Tak ada komponen ⊥ dari v . seperti Gb.24 dS 2 Pada setiap titik dipermukaan stream tube.23. vektor kecepatan ( v ) menyinggung terhadap permukaan. Gb. Unsteady Flow : +.24. 51 . garis singgung padanya pada sembarang titik menyatakan arah dari vektor kecepatan pada titik tersebut. –. Fluida keluar dari bejana dengan permukaan fluida = konstan. Saluran yang dilayani pompa sentrifugal dengan n = konstan & uniform. Pada steady flow garis arus ( stream line ) maupun lintasan ( path lines ) selalu berimpit dan tak berubah terhadap waktu. Stream tube : Ruang tubular yang dibatasi oleh permukaan yang terdiri dari garis arus. Stream line : Garis dalam fluida yang mengalir. +.Contoh : Steady Flow : –. Fluida yang keluar lewat lobang pada dasar bejana. Bila stream tube dikontraksi menjadi terjadi stream lines. tak ada zat cair yang menembus stream tube kecuali pada penampangpenampang ujungnya. Cara analisa yang banyak diterapkan adalah dengan menganggap aliran bersifat STEADY karena jauh lebih gampang & sederhana. Aliran pada pipa masuk & buang pompa dari jenis RECIPROCATING.

Kenyataan : Kecepatan ( v ) tidak uniform pada penampang aliran.by 738M. karena kecepatan masing-masing TUBES tidak sama. 4.2. dM = ρ dQ = ρ v dS.Stream tube ini terbungkus oleh selubung yang tak tembus cairan sehingga ia dianggap sebagai arus elementer. Stream lines kita anggap paralel ( walaupun slip ) sehingga penampang-arus berupa bidang-datar. Dibedakan : Q G M Asumsi = Volume Rate ( m 3 / detik ) = Weight Rate ( Kg / detik ) = Massa Rate ( Kg. Penampang arus : Penampang dalam aliran yang ⊥ garis arus. maka stream tubes SLIP antara satu dengan lainnya tetapi tak sampai tercampur ( semrawut ). 52 . S *trans. Q = ∫ S v . dS dan vm = Q sehingga : S → Q = vm . Selain itu stream sekelompok stream tube dianggap terbentuk dari tubes elementer.detik / m ) : Penampang lintang dari suatu stream tubes elementer dianggap sangat kecil → kecepatan ( v ) dianggap uniform maka : dQ = v dS . dimana dS = luas penampang aliran. DEBIT & RUMUS KONTINUITAS fluida waktu yang mengalir tiap suatu satuan melalui Debit ( RATE OF DISCHARGE ) : Jumlah penampang. dG = γ dQ. Jadi. untuk mudahnya debit dihitung dengan kecepatan rata-rata pada suatu penampang.

Jadi. Pada 1 → dS1 . –. p2 . z 1. gaya yang bekerja hanya gaya -berat ( GRAVITY ). Rumus ini menyatakan hubungan antara tekanan ( p ) terhadap kecepatan alir ( v ).25. aliran STEADY FLOW. seperti Gb. v2 . S1 = vm2 . Steady Flow adalah sbb : = konstan sepanjang stream tubes. aliran berupa STREAM TUBE. dS2 : RUMUS KONTINUITAS merupakan bentuk khas dari hukum kekekalan massa yang diterapkan untuk aliran fluida. 4. Untuk stream tube dengan penampang tertentu dan kecepatan dianggap merata. terdapat hubungan antara kecepatan alir dan luas penampang v m1 v m2 Catatan = S2 S1 dQ = v1 . –. z 2. Asumsi RUMUS BERNOULLI : –.3. Untuk selang waktu ( dt ) gaya luar akan menggeser volume zat cair dari batas ( 1 – 2 ) ke ( 1’ – 2’ ). menyatakan : USAHA DARI GAYA LUAR DIPAKAI UNTUK MERUBAH ENERGI KINETIK BENDA. maka : Q = vm1 .Asumsi : Fluida tak ada yang menembus dinding stream tube. p1 . –. Obyek : STREAM TUBE antara penampang 1 & 2 . Teori mekanika bila diterapkan untuk fluida tersebut. S2 = Konstan sepanjang stream tubes. Hukum Kekekalan Massa bila diterapkan untuk : –. v1 . Hubungan ini dinamakan RUMUS KONTINUITAS. Pada 2 → dS2 . ideal liquid. 53 . dS1 = v2 . Fluida incompressible –.

Gaya berat. dt. v1 . Jadi. Selama waktu ( dt ) . ( z 1 – z 2 ) dG. v2 . dS1 . usaha akibat gaya berat : = γ . v2 . dt. dt = p1 . +. v1 . dS 1 . dt. dt – p 2 . usaha = 0 . Pada penampang ( 2 ) bertanda ( – ) karena berlawanan terhadap DISPLACEMENT = – p2 . +. dS 2 . dt. v1 . Usaha akibat tekanan pada ( 1 ) bertanda ( + ) karena searah dengan DISPLACEMENT = p 1 .Yang termasuk gaya luar adalah : –. karena gaya ⊥ DISPLACEMENT atau perpindahan. Usaha akibat gaya berat dihitung dari selisih energi-potensial atau POSIT ION ENERGY. dS2 . dS1 x v1 . dS2 . dS1 . Pada selubung STREAM TUBE. +. Dari rumus Kontinuitas untuk volume ( 1 – 2 ) s/d ( 1’ – 2’ ) : dG = γ . Untuk mencari perubahan energi-kinetik selama selang-waktu ( dt ) maka massa ( 1 – 2 ) mempunyai energi kinetik ( Ek ) harus dikurangi dari yang dimiliki massa ( 1’ – 2’ ) sehingga terdapat massa-massa ( 2 – 2’ ) dan ( 1 – 1’ ) yang beratnya = dG . usaha akibat gaya tekanan : p1 . v2 . 1 1’ v1 1 1’ z1 dG 2 z2 dG 2’ 2 p2 2’ v2 Gb. sehingga : 2  2 v − v   2 1   p1 dG 2g = ∆ Ek. +. –. dt Jadi. +. Gaya normal akibat tekanan.25 54 .

dt – p 2 . = pressure Head atau STATIC HEAD. dimana : z p/ γ = elevasi.Maka sesuai teori mekanika untuk massa fluida ( dG ) berlaku : 2  dG  2 p1 . dS1 . dS2 . sehingga : H = p v2 + + z = konstan. v2 2g Jadi TOTAL HEAD ( H ) konstan sepanjang STREAM TUBE . dt + ( z 1 – z 2 ) dG =  v − v   2 1 2 g   sehingga : p1 p − 2 + z1 − z2 γ γ 2 2 v 2 1 − 2g 2g v = atau : p1 1 + + z1 γ 2g v 2 = p2 2 + + z2 γ 2g v 2 yang merupakan RUMUS BERNOULLI untuk fluida ideal ( 1738 ) . POTENTIAL HEAD. = VELOCITY HEAD. v1 .26 55 . v2 . γ 2g v 2 1 v HYDRAULIC GRADE LINE ( PIEZOMETRIC LINE ) HYDRAULIC GRADIENT 2 g 2 2 p1 γ piezometer p γ v2 2g p2 γ 2g 2 H 1 z1 z z2 Gb. GEODATIC.

Sebaiknya S << → v >> S >> → v << dan p << dan p >> c). HYDRAULIC GRADIENT ( PIEZOMETRIC LINE ) : garis yang menghubungkan p / γ . Berarti fluida memiliki 3 energi spesifik G yang berlainan. energinya p γ ∆G . g 2 2g HEAD dari flu ida yang = TOTAL mengalir . ∆G γ = Spesifik dari energi potensial total. Dari RUMUS BERNOULLI dan KONTINUITAS maka : –.Interpretasi. a). karena energi spesifik p γ ∆G . merupakan tempat kedudukan permukaan fluida didalam semua piezometer sepanjang STREAM TUBE. ∆G = energi tekanan spesifik dalam fluida yang mengalir karena. yakni : z = energi potensial spesifik akibat posisi & gravitasi. Secara fisika dan energi. b). bila diberi tekanan = p akan naik setinggi p γ . Jadi : HUKUM BERNOULLI = HUKUM MEKANIS IDEAL. energi spesifik total fluida. Penampang mengecil –. kita telah mengenal istilah ENERGI SPESIFIK e = E . sehingga harga spesifiknya = z +p/ γ v2 2g ∆G p / γ p = . = Energi spesifik kinetik karena didapat dari hubungan : p v2 H = z + + γ 2g ∆G v 2 v2 : ∆G = . KEKEKALAN DIDALAM ENERGI FLUIDA 56 . z = z.

L γ RUMUS BERNOULLI juga sering dituliskan dalam bentuk yang lain. Dalam zat cair ideal. L p = = G γ . USAHA / SATUAN LIKUIDA HEAD.27 ∆ BERAT p S L P PRESSURE pembuktiannya ? Bukti : Bila luas penampang = S . = Tekanan statik ( atau hanya tekanan ). Tekanan sebelah kanan = 0 ( gauge ) Maka gaya total akibat tekanan mengatasi beban pada piston-rod. yakni mengalikan dengan ( γ ) maka : v 2 v 2 p1 + z 1 γ + γ 1 2g = p2 + z 2 γ + γ 2 2g  Kg   m2    Karena tiap suku berdimensi tekanan. maka dinamakan : zγ p γ v2 v2 = ρ 2g 2 = Weight Pressure.d). γ Usaha / satuan berat : = P dipakai l = E p . Gaya : P = p . CONTOH : RUMUS BERNOULLI Energi dikonversikan menjadi usaha mekanik dengan tabung hidrolik. L . Pertanyaan : Bagaimana Gb. Tekanan sebelah kiri = p ( gauge ) . L Jumlah fluida yang masuk : G = S . Usaha : E = p . S . = Tekanan dinamik. energi dapat dikonversikan ke -bentuk lain tapi jumlah totalnya tetap. Langkah torak = L . S . S. 57 .S .

Pada suatu penampang. → Stream lines. Saluran & CHANNEL stasioner.28 TUBE ( WALL ) maka harus kita perhitungkan pengaruh kekentalan atau terhadap terhambat padat (misalnya pipa saluran ) viskositet dan juga gaya -tarik adhesi molekuler antara zat cair & permukaan. 3). kita juga bisa mendapatkan persamaan atau RUMUS BERNOULLI dengan mengintegralkan persamaan diferensial gerakan fluida ideal : g . Adanya kerugian energ i atau kerugian HEAD. 4. z + p v2 + γ 2g = Konstan 2).Dari Bab. PENGARUH I Apabila mengalir aliran zat cair kental bidang 2 v karena 1 Gb. sehingga kecepatan yang maximum adalah pada garis sumbu dari arus. II. atau dz + 1 v2 dp + d = 0. distribusi kecepatan tidak merata. FLUIDA IDEAL . I. γ 2g p v2 + ) = 0 γ 2g Karena γ = Konstan → d ( z + Sehingga untuk STREAM TUBE → Asumsi : 1). RUMUS BERNOULLI UNTUK FLUIDA RIIL dengan dimensi tertentu dan dibatasi oleh Untuk beralih dari STREAM TUBE fluida ideal kepada flu ida riil ( arus fluida yang mempunyai viskositet ) viskositet. dz + 1 v2 dp + d ρ 2 = 0. Makin dekat 1 2 58 . PERSAMAAN DIFERENS IAL DAN INTEGRASINYA . Koordinat 1–dimensi.4. Fluida ideal.

fenomenanya seperti yang berlaku untuk zat cair yang dalam keadaan diam. Sebelum menurunkan RUMUS BERNOULLI kita ambil beberapa asumsi : Hukum hidrostatik berlaku juga untuk penampang lintang. Tegangan akibat gesekan.ke-permukaan. –. yang merupakan energi-total aliran yang terbawa lewat suatu 59 . Adanya variasi kecepatan berarti.by 738M. energitotal ( TOTAL HEAD ) sepanjang arus fluida kental tidak konstan jumlahnya. Energinya berangsurangsur ter-makan ( DISSIPATED ) untuk mengatasi tahanan dan kerugian sepanjang alirannya. dapat kita buktikan secara teoritis terutama untuk garis-arus yang paralel melintasi suatu penampang. profil kecepatan pada suatu penampang saluran berupa parabola. Penampang aliran seperti itulah yang kita jadikan dasar analisa. Regangan geser tangensial. +. v = 0 pada Akibat peristiwa demikian itu. Keadaannya memang demikian. kecepatan makin berkurang. Kecepatan alir rata-rata pada suatu penampang lintang = vm. Energi spesifik rata-rata. Dalam zat cair kental. Akibatnya. –. Istilah lainnya yang juga perlu kita ketahui adalah DAYA DARI SUATU ALIRAN . seperti halnya untuk fluida ideal. bahwa PIEZOMETRIC HEAD = konstan p γ *trans . Oleh sebab itu setiap STREAM TUBE dalam zat cair yang mengalir akan memberikan tekanannya satu terhadap lainnya. akhirnya permukaan bidang / saluran. maka untuk memudahkan cerita kita perkenalkan istilah-istilah : +. partikel-partikel bergerak ngawur ( meluntir & berpusar ) sehingga terjadi kehilangan energi. Karena distribusi kecepatan yang bentuknya tidak merata inilah. untuk suatu penampang + z = konstan ( untuk seluruh bagian & titik pada suatu penampang ). lapisan zat cair mengalami SLIP antara satu dengan lainnya sehingga timbul : –.

. dS Harga rata-rata energi spesifik total pada s uatu penampang. dN = H .. dS γ 2g S ∫ (z+ Berdasarkan asumsi-asumsi tadi maka : N = γ (z+ p ) γ ∫ S v .γ = z + 1 p + γ 2g .. yakni daya daripada suatu STREAM TUBE yang sangat kecil dimensinya... Q ∫ S v3 ...S m 2 m 2g 2 p m = z + + ∝ . Karena antara penampang satu terhadap lainnya energi partikel fluida bervariasi maka yang kita tinjau pertama kali adalah DAYA–ELEMENTER .penampang. daya..... besarnya adalah : ∝ = 3 ∫ v . v . dapat dihitung dengan integral persamaan tersebut untuk seluruh luasan penampang ( S ) : N = γ p v2 + ) v . γ . dihitung dengan membagi DAYA–TOTAL –ARUS dengan debitnya.. dS S v v 3 .( x ) γ 2g v DISINI : ∝ = Koefisien tanpa satuan untuk memperhitungkan distribusi kecepatan yang NON UNIFORM . dS + γ 2g ∫ S v3 . per-satuan waktu.. dS γ 2g Untuk seluruh arus..S m 60 . Daya tersebut kita nyatakan sebagai energi spesifik total fluida pada suatu titik dengan debit diferensial. dS  2 v  m Apabila suku terakhir kita modifikasi dengan  maka :  2 v   m → Hm = z + p + γ 3 ∫ v . dS S v 3 ..... dQ = ( z + p v2 + ) γ . Jadi : Hm = N Q .

Karena profil distribusi kecepatan umumnya berupa parabola seperti pada Gb. dS S v 3 . Untuk 2 penampang lintang dimana masing-masing mempunyai HEAD– TOTAL –RATA–RATA Hm1 dan H m2 maka : Hm 1 = Hm 2 + ∑ h Dimana : ∑h = Seluruh kerugian energi sepanjang tersebut.28 . ∝ > 1 terlihat dari rumus : ∝ = 3 ∫ v . S  .  m    PENGARUH II. arus antara ( HEAD LOSSES ) penampang-penampang Dengan menerapkan rumus ( x ) maka kita bisa menyatakan RUMUS BERNOULLI UNTUK FLUIDA RIIL sebagai berikut : z1 + p1 + ∝1 γ v 2 2 v p m1 m2 = z 2 + 2 + ∝2 + ∑h 2g γ 2g Perbedaannya dengan BERNOULLI FLUIDA IDEAL adalah : 61 . maka ∝ ≥ 1.S m 3 dS yang bila diselesaikan untuk pembilangnya terdapat 4  3  suku yang selalu lebih besar dari harga  v . ∝ = 1 apabila profil tersebut berupa garis lurus. maka ( ∝ ) dapat kita interpretasikan sebagai perbandingan antara energi-kinetik sebenarnya dalam arus fluida pada suatu penampang terhadap energi kinetiknya apabila distribusi kecepatan dianggap berlangsung uniform ( merata ).Interpretasi : Apabila pembilang dan penyebut kita kalikan dengan ( ρ / 2 ) .S m = ∫ (v m + ∆ v ) S v 3 .

kerugian kelainannya terlihat seperti pada Gb. –.29.–. +.29 +. Sedangkan untuk fluida ENERGI riil menyatakan PERSAMAAN KESEIMBANGAN dipertimbangkan. karena kerugian energi juga ikut Energi yang tersisih tersebut sebenarnya tidak hilang. yakni energi-panas yang menyebabkan temperatur zat cair meningkat. 62 . Bentuk grafik dari persamaan diatas sebenarnya sama seperti persamaan energi fluida ideal. Kerugian tersebut semakin bertambah besar sepanjang salurannya. –. Masih ada istilah lainnya : 1). v p1 γ ∝1 2g 2 g p γ ∝2 2g p2 γ z2 z z1 Gb. ENERGY GRADIENT : perbandingan antara penurunan terhadap panjang saluran atau ENERGI–TOTAL–RATA–RATA jarak antara penampang. Koefisien yang memperhitungkan distribusi kecepatan UNIFORM ( ∝ ). Adanya suku yang menyatakan kerugian energi (HEAD LOSSES). Persamaan BERNOULLI fluida ideal menggambarkan HUKUM KEKEKALAN ENERGI MEKANIS. Jadi. Pada setiap penampang yang kita tuliskan adalah kecepatan rata rata ( vm ). Σh 2 m1 ∝ v v 2 m 2 m2 NON HEAD harus juga disertakan. ia berubah menjadi bentuk energi lainnya. hanya-saja.

pl = γ h → kerugian tekanan. Kekentalan atau viskositet. bahwa kedua rumus itu selalu mengandung ( berisi ) koefisien pembanding ( koefisien kerugian = HEAD seperti pada RUMUS BERNOULLI. GRADIENT demikian pula profil kecepatannya -tetap. HYDRAULIC GRADIENT : perubahan ENERGI–POTENSIAL per–SATUAN PANJANG SALURAN. –. Yang perlu kita ingat. ukuran dan kekasaran saluran. 4. –. ini. maksudnya. sehingga hampir selalu diikut-sertakan dalam perhitungan-perhitungan kerugian energi. kerugian HEAD hampir sebanding dengan KWADRAT KECEPATAN ALIR. Bentuk. Sejak dulu pernyataan tersebut telah dituliskan dengan rumus : 2 m = ξ 2g v 2 m = ξ γ 2g v h → kerugian HEAD.5.2). Untuk sebuah pipa dengan diameter-tetap. ζ ) dan juga VELOCITY 63 . Kecepatan fluida. Khusus tentang kasus ini akan dibahas tersendiri dalam akhir Bab. KERUGIAN HEAD Tinjauan Umum. Kerugian energi atau istilah umumnya dalam mekanika fluida KERUGIAN HEAD ( HEAD LOSSES ) tergantung pada : –. maka kedua tersebut akan sama- bentuknya. Pengalaman menyatakan bahwa dalam banyak kasus -kasus. –. Tapi sama sekali tak dipengaruhi oleh tekanan absolut ( pab ) dari fluida. Faktor viskositet sendiri merupakan penyebab-utama dari semua kerugianhead. kedua GRADIENT tersebut akan selalu sejajar.

30 c d Apabila diameter saluran bervariasi. LOCAL LOSSES atau ( FORM LOSSES atau MINOR LOSSES ). Contoh dari beberapa alat-alat pelengkap-lokal adalah : a). ELBOW.Terlihat. Index ( m ) hanya digunakan terhadap kecepatan apabila timbul pengertian yang kabur. perubahan-bentuk saluran atau perubahan-ukurannya.30. maka untuk dasar perhitungan kita gunakan kecepatan yang 64 . Head losses umumnya digolongkan sebagai : HEAD– –. koefisien kerugian merupakan perbandin gan antara LOSSES terhadap VELOCITY HEAD. hl v v a b Gb. LOCAL LOSSES disebabkan oleh alat-alat pelengkap-lokal atau yang diberi istilah TAHANAN HIDROLIS seperti misalnya. Besarnya kerugian-loka l kita tentukan dari rumus umum : WEISBACH : hl v2 = ζl 2g atau pl v2 = ζl γ 2g dimana : v = Kecepatan rata-rata pada penampang pipa yang kita hitung kerugian lokal-nya. jadi juga kecepatan alir fluida berubah sepanjang pipa. FRICTION LOSSES atau ( MAJOR LOSSES ).by 738M. kecepatannya akan berubah sehingga bisa terbentuk pusaran ( EDDIES ). d). c). VALVE. b). GATE. –. *trans. Gb. Apabila fluida mengalir melalui saluran dengan alat-alat tersebut. ORIFICE.

31 Biasanya harga ( h f ) diperhitungkan berdasarkan panjang relatif pipa ( l / d ) . Harganya bertambah sesuai dengan panjang salurannya. oleh sebab itu bisa timbul baik pada pipakasar maupun pipa-halus. Kerugian seperti ini disebabkan oleh gesekan-dalam daripada fluida. Maka untuk seluruh panjang pipa yang = l dan diameter = d koefisien kerugian akan meningkat ( l / d ) lebih besar. Dari bidang ilmu fisika ( λ ) dapat kita interpretasikan dan penurunannya seperti langkah-langkah berikut. atau : ζf = λ l d Bila disubstitusikan dalam rumus umum didapat : DARCY : dimana : hf = λ l d v2 2g atau pf = λ l d v2 γ 2g λ = Koefisien tanpa satuan yang disebut sebagai FAKTOR GESEKAN merupakan koefisien pembanding antara kerugian gesek terhadap perkalian antara panjang relatif pipa dan VELOCITY HEAD.tertinggi ( kecepatan melalui penampang yang tersempit ). Caranya : kita tinjau pipa dengan panjang = diameternya dan koefisien kerugian sebesar ( λ ). sehingga ζ f sudah menyatakan harga spesifik. = ζl Setiap alat pelengkap lokal mempunyai koefisien tersendiri dianggap konstan. Besarnya kerugian gesek dihitung dari rumus-umum : hf hf d d l v2 = ζf 2g Gb. Jenis kerugian yang kedua ( FRICTION yang harganya & MAJOR LOSSES ) adalah kerugian energi yang terjadi pada pipa-lurus dengan luas penampang yang tetap sehingga aliran dianggap uniform. dengan menganggap kondisi aliran UNIFORM melalui suatu pipa bulat dengan panjang = l dan diameter = d 65 .

maka kasus seperti ini tidak disebabkan oleh kerugian energi tetapi oleh berubahnya luas penampang saluran karena energi kinetik hanya merupakan fungsi dari kecepatan aliran.31. seperti Gb. tak dipengaruhi oleh gangguan-gangguan lokal maupun besarnya kerugian HEAD. Mengitung HEAD LOSSES punya peran dominan dalam pelajaran hidrolika ( dan juga mekanika fluida ) . atau hanya dipengaruhi oleh debit dan luas-penampang saluran : v = Q S Akibatnya.sedemikian sehingga jumlah ke -dua gaya yang dialami volume fluida didalamnya menjadi = 0 . maka cara-cara perhitungannya akan diterapkan untuk berbagai alat-alat khusus. kerugian HEAD yang terjadi dapat diukur dari selisih permukaan zat-cair dalam 2 buah tabung PIEZOMETER TERBUKA . Untuk kasus seperti ini. 66 .30 dan Gb. atau : π 2 d pf – π d l τ 0 = 0 4 dimana : τ 0 = tegangan geser pada dinding pipa. Dengan memasukkan besaran-besaran tersebut kedalam rumus maka didapatkan : λ = 4 τ0 γ v2 2g DARCY Berarti faktor gesekan ( λ ) selalu proporsional terhadap perbandingan antara tegangan-geser pada dinding pipa dan tekanan-dinamik yang diperhitungkan berdasarkan kecepatan alir rata-rata. untuk pipa dengan penampang konstan maka kecepatan aliran dan juga energi-kinetik spesifik zat cair juga berharga konstan. Kerugian HEAD pada saluran tertutup ( pipa ) dimana tidak ada permukaan bebas sebenarnya disebabkan karena energi-potensial-spesifik atau ( z + p /γ ) yang harganya semakin menurun sepanjang aliran. Apabila energi-kinetik-spesifiknya atau ( v2 / 2g ) juga berubah untuk suatu debit tertentu. jadi gaya akibat tekanan + gaya akibat gesekan = 0 .

–. Selisih permukaan antara piezometer ( 1 ) dan ( 2 ) adalah = ∆ H . Digunakan untuk mengukur debit dalam pipa. Dengan asumsi : Distribusi kecepatan pada kedua daerah tersebut uniform. Tekanan = p2 . Kontinuitas : v1 S1 = v2 S2 67 . –. Lubang masuk konis. Luas penampang = S2. maka dari persamaan-persamaan : 1). Luas penampang = S 1. Terdiri dari saluran dengan : –.4. BERNOULLI : p1 γ 2 1 + 2g v p2 γ 2 2 + + hl 2g v = 2). Contoh : 1).32 Dan pada daerah ( 2 ) yakni pada NOZZLE parameternya adalah : Kecepatan = v2 . Tekanan = p1 . DIFFERENTIAL menghitung ∆h Cara debit adalah sebagai berikut : Misalkan pada daerah parameter aliran : Kecepatan = v1 . Pada lubang konis kecepatan alir naik sehingga tekanan turun. Tekak ( NOZZLE ). ( 1 ) yang terletak didepan NOZZLE Gb. APLIKASI RUMUS BERNOULLI Rumus ini adalah pernyataan dari pada hukum-dasar dari STEADY FLOW. Perbedaan dengan 2 tekanan buah diukur tabung 1 2 ∆H piezometer atau menggunakan U – TUBE GAUGE. Saluran memanc ar ( DIFFUSER ). VENTURI METER.6.

32.. akan lebih teliti lagi bila dihitung secara experimen sekaligus membuat kalibrasi pada meter alat ukur.........dimana : h l = kerugian HEAD antara daerah ( 1 ) dan ( 2 ). Konstante C dapat dihitung secara teoritis. Selanjutnya kita dapat satu kecepatan alir.... 2 2 = ζ 2g v p1 − p 2 γ dan menghitung salah = ∆H . Terlihat hubungan antara ∆ H dan Q adalah parabolik. Apabila harga -harga ( Q2 ) kita pasang pada sumbu absis maka grafik dari pada ( ∆ H ) akan berbentuk garis lurus.. yakni : v2 = 2 g ∆H S  1−  2  + ζ S   1 2 g ∆H S  1−  2  +ζ S   1 ............ Apabila fluida diatas air-raksa dalam gelas -ukur pada kedua kaki sama jenisnya dan mempunyai berat jenis = γ dicari dengan persamaan : maka beda tinggi air-raksa 68 .( z ) = Konstante untuk suatu instalasi alat ukur. Sebagai pengganti tabung–piezometer kita sering pula menggunakan DIFFERENTIAL MERCURY GAUGE seperti Gb. misalnya ( v2 ) .... Apabila harga C telah diketahui.........( y ) 2 2 dan debitnya : Q = v2 S2 = S 2 atau disederhanakan : Q = C ∆H dimana harga konstante C adalah : C = S2 2g S  1−  2  +ζ S   1 2 .. dengan mengamati pembacaan piezometer kita dapat menghitung debit Q sesaat.

Tahanan dari sebuah FLOW NOZZLE lebih besar dibanding sebuah VENTURI METER seperti Gb.33. –. Faktor koreksi tersebut bisa didapat dari brosur-brosur yang telah ditera berdasarkan FLOW METER STANDARD. hanya perlu faktor koreksi kita sertakan.33 2). Kita cukup melakukannya dengan memassang NOZZLE didalam saluran seperti Gb. Menera jumlah bahan bakar & udara. Meng-atomisir bahan bakar.33. tetapi divergens i aliran setelah NOZZLE jika berlangsung mendadak akan menimbulkan aliran-pusar ( EDDY FLOWS ). Mencampur bahan bakar dan udara. 69 . Kedua rumus standard ( y ) dan ( z ) tetap dapat diterapkan untuk semua jenis FLOW METER .c. Karena adanya kompresi yang dialami fluida maka penampang-terkecil-arus terletak sedikit didaerahhilir ORIFICE.33.a atau menjepitnya antara flens Gb. –. Konvergensi memang bisa berlangsung secara teratur seperti yang terjadi pada VENTURI METER.b. Gb. KARBURATOR Merupakan komponen dari motor bakar torak ( Motor bensin ) yang berfungsi : –.∆H = ∆h γ Hg − γ γ Kadang-kadang untuk pengukuran kita tak menggunakan DIFFUSER.

AIR EJECTOR Gg Ga d =   D 2 γ g (1 + ζ a ) γ a (1 + ζ f ) Komponen utama adalah NOZZLE ( A ) dimana arus mengecil.34 2 g2 = γg 2g v Sehingga : 2 a2 γa 2g v (1 + ζ a ) (1 + ζ f ) dan Karena debit adalah sebesar : Ga = π / 4 D2 va2 γ a Gg = π / 4 d2 v g2 γ g Maka : 3). Apabila RUMUS BERNOULLI kita terapkan untuk aliran udara antara ( 0 – 0 ) dan ( 2 – 2 ) dan juga untuk arus bensin antara ( 1 – 1 ) dan ( 2 – 2 ) serta menganggap z 1 = z 2 dan ∝ = 1 maka didapat : p atm γa 2 2 v p2 a2 a2 + +ζa γa 2g 2g v = p atm γg 2 2 v p2 g2 g2 = + +ζf γg 2g 2g v Gb.Arus udara mengalir melalui saluran venturi dimana jet bahan bakar ditempatkan. Kita akan mencari hubungan antara debit bahan bakar ( bensin ) = Gg dan udara = Ga apabila ukuran saluran-saluran ( D ) dan ( d ) serta koefisien kerugian ( ζa ) untuk venturi dan ( ζf ) dari jet telah diketahui. Akibat dari pada efek ini bahan bakar tertarik ( tersedot ) melalui jet dan tercampur dengan arus udara. DIFFUSER ( C ) yang membesar secara perlahan dan ditempatkan 70 . kecepatan udara naik ketika melalui venturi sehingga tekanannya turun sesuai RUMUS BERNOULLI. dan mengabaikan tahanan hidrolik pipa saluran bensin.

4). Apabila suatu zat cair mengalir dalam suatu saluran-terbuka atau selokan mempunyai kecepatan = v. seperti Gb. Ejector banyak diterapkan dalam instalasi mesin-mesin penggerak.didekat mulut– NOZZLE dalam ruang-isap ( B ). Sebuah pipa-bengkok dicelupkan dalam zat cair dengan lobangnya menantang arah-arus.36 . menyebabkan zat cair didalam pipa vertikal akan naik terangkat diatas permukaan-bebas zat cair yang mengalir tersebut. sehingga tekanan naik sebanyak VELOCITY HEAD. istilahnya : TERBENTUK SEDIKIT VAKUM ( PARTIAL VACUUM ) yang menyebabkan zat cair dari bejana-bawah tersedot naik kedalam ruang-isap lewat pipa ( D ) dan terjebak oleh arus fluida yang menyemprot dari mulut NOZZLE. Pada DIFFUSER naik kira-kira kecepatan mendekati ( apabila Gb. Beda tingginya = VELOCITY HEAD v2 . Karena kecepatan arus yang meninggalkan NOZZLE mulut– Q1 Q1 + Q 2 A D Q2 B bertambah besar C maka tekanan dalam arus akan turun. PITOT TUBE Dipakai mengukur kecepatan alir fluida.35 berkurang sehingga tekanan tekanan atmosfer fluida yang dibuang menuju atmosfer). Akibat kejadian tersebut maka tekanan dalam ruang isap juga menurun dibawah tekanan atmosfer. demikian pula didalam ruang isap. karena 2g LIQUID PROPELLANT ROCKET kecepatan partikel-partikel zat cair yang masuk PITOT TUBE pada titik ( A ) yang merupakan STAGNATION POINT adalah v = 0 .by 738M. terutama sekali digunakan untuk MOTORS. *trans. Dengan mengukur tinggi zat 71 .

37 Untuk mengukur kecepatan pesawat udara yang sedang terbang juga menggunakan prinsip yang sama. ALAT TEKAN TANGKI Perlengkapan ini banyak dipasang pada pesawat udara untuk memperbesar tekanan didalam tangki bahanbakar dan juga tangki-tangki lain.36 0 1 p1 ≅ p0 + ρ 0 2 g 2 .38 p0 . yakni penampang ( 1 – 1 ) dimana v = 0 dan ( 0 – 0 ) dimana aliran belum terganggu maka didapat : 2 0 ρ ~ p1 2 v p0 + Karena tekanan dalam lubang-pinggir hampir sama dengan arus yang belum terganggu ( p 2 ~ p 0 ) maka persamaannya menjadi : v0 = 5). Apabila kecepatan terbang pesawat berharga kecil ( LOW SPEED ) GAUGE Gb.cair dalam tabung-tegak maka kecepatan alir bisa dihitung. v0 p1 ≅ p 0 + ρ v2 0 2 ( p − p2 ) ρ 1 2 maka tekanan-lebih a tau 72 . v2 v 2 0 p0 v0 v=0 Gb. Jika PERSAMAAN BERNOULLI untuk suatu arus elementer TUBE yang sedang mengenai mulut-pipa dan fluida disekitar PITOT TUBE kita terapkan. untuk mengetahui kecepatan pesawat relatif terhadap pada sumbu PITOT KECEPATAN SUARA. v1 = 0 p2 ≅ p0 v A 1 p1 p2 Gb.37. gambar kasarnya seperti Gb.

yang bisa kita hitung dari kecepatan terbang dan kerapatan suara :  2 v  0 ( p 1 – p0 ) ~   ρ  2      73 .PRESSURE = pg dalam tangki hampir sama dengan tekanan dinamiknya.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->