Anda di halaman 1dari 135

NASKAH AKADEMIK

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR TENTANG RETRIBUSI TERMINAL

PEMERINTAH KOTA DENPASAR BEKERJASAMA DENGAN FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2010

NASKAH AKADEMIK
RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR TENTANG RETRIBUSI TERMINAL

NASKAH AKADEMIK
RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR TENTANG RETRIBUSI TERMINAL

TIM PENELITI
GD MARHAENDRA WIJA ATMAJA, SH. MHum. I KETUT SUDIARTA, SH. MH. MADE MAHARTA YASA, SH., MH. NI LUH GEDE ASTARIYANI, SH., MH. A.A. SRI UTARI, SH., MH. A.A. ISTRI ARI ATU DEWI, SH., MH. NYOMAN MAS ARYANI, SH. , SE., MH.

TIM PENGARAH
PROF. DR. I.G.N WAIROCANA, SH., M.H. I NYOMAN SUYATNA, SH., MH. DR. IGST KT ARIAWAN, SH MH. DR. IB WYASA PUTRA, SH. M.Hum. KETUT WIRAWAN, SH. M.Hum. I NENGAH SUANTRA, SH.MH.

PEMERINTAH KOTA DENPASAR


KERJASAMA DENGAN

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2010

PUSAT PERANCANGAN HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS UDAYANA Jalan Bali Nomor 1 Denpasar Tlp. (0361)222666

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

NARASI PENGANTAR
Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, penyelenggaraan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi terdiri atas daerah-daerah kabupaten dan kota. Setiap daerah tersebut mempunyai hak dan kewajiban mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat. Penyelenggaran Pemerintahan Daerah selanjutnya diatur dalam UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan atas UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Dalam Pasal 158 undang-undang ini ditentukan bahwa Retribusi Daerah pelaksanaannya di daerah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menegaskan bahwa pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang. Dengan demikian, pemungutan Retribusi Daerah harus didasarkan pada undang-undang. Selama ini pungutan daerah yang berupa Retribusi diatur dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000, yang kemudian diganti dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Dalam Undang-Undang ini diatur tentang Golongan Retribusi yaitu: (1) Retribusi Jasa Umum, (2) Retribusi Jasa Usaha, dan (3) Retribusi Perizinan Tertentu. Retribusi Jasa Umum terdiri dari: (a) Retribusi Pelayanan Kesehatan; (b) Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan; (c) Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akta Catatan Sipil; (d) Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat; (e) Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum; (f) Retribusi Pelayanan Pasar; (g) Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor; (h) Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran; (i) Retribusi Penggantian Biaya
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

ii

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Cetak Peta; (j) Retribusi Penyediaan dan/atau Penyedotan Kakus; (k) Retribusi Pengolahan Limbah Cair; (l) Retribusi Pelayanan Tera/Tera Ulang; (m) Retribusi Pelayanan Pendidikan; dan (n) Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi. Retribusi Jasa Usaha terdiri dari : (a) Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah; (b) Retribusi Pasar Grosir dan/atau Pertokoan; (c) Retribusi Tempat Pelelangan; (d) Retribusi Terminal; (e) Retribusi Tempat Khusus Parkir; (f) Retribusi Tempat Penginapan/Pesanggrahan/Villa; (g) Retribusi Rumah Potong Hewan; (h) Retribusi Pelayanan Kepelabuhanan; (i) Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga; (j)Retribusi Penyeberangan di Air; dan (k) Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah. Retribusi Perizinan Tertentu terdiri dari : (a) Retribusi Izin Mendirikan Bangunan; (b) Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol; (c) Retribusi Izin Gangguan; (d) Retribusi Izin Trayek; dan (e) Retribusi Izin Usaha Perikanan. Retribusi Terminal di Wilayah Kota Denpasar, berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000, diatur dalam Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 7 Tahun 2001 tentang Retribusi Fasilitas Terminal di Kota Denpasar (Lembaran Daerah Kota Denpasar Tahun 2001 Nomor 7). Namun dengan diundangkannya Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 yang merupakan pengganti undang-undang sebelumnya, maka Pemerintah Kota Denpasar merasa perlu untuk menyesuaikan Perda Retribusi Fasilitas Terminal tersebut dengan perda yang baru. Pemungutan Retribusi Terminal harus efisien dan efektif berdasarkan dan prinsip demokrasi, pemerataan dan keadilan, peranserta masyarakat,

akuntabilitas. Tujuan pemungutan Retribusi Terminal merupakan salah satu sumber pendapatan Daerah Kota yang penting guna membiayai pelaksanaan pembagunan Pemerintahan Kota Denpasar.

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

iii

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

DAFTAR ISI

Narasi Pengantar Daftar Isi Daftar Ragaan Daftar Matriks BAB I. PENDAHULUAN A. B. C. D. Latar Belakang Identifikasi Masalah Tujuan dan Kegunaan Landasan Konseptual 1. 2. 3. 4. 5. E. 1. 2. 3. 4. BAB II KONDISI A. B. Menempatkan Sudut Pandang Perbedaan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Konsep Retribusi Daerah Konsep Terminal Konsep Peraturan Daerah Konsep Naskah Akademik Pendekatan Sumber Bahan Hukum Metode Pengumpulan Bahan Hukum Metode Analisis EKSISTING PENGATURAN RETRIBUSI Retribusi Terminal dan Fasilitas

>> ii >> v >> viii >> ix >>> 1 >>> 1 >>> 1 >>> 2 >>> 3 >>> 3 >>> 5 >>> 8 >>> 9 >>> 10 >>> 11 >>> 11 >>> 12 >>> 13 >>> 13 >>> 17 >>> 17 >>> 18

Metode Penelitian

TERMINAL KOTA DENPASAR Kondisi Eksisting Pengaturan Retribusi Terminal Kota Denpasar Identitas dan Kapasitas Perda Kota Denpasar Tentang Retribusi Terminal

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD
>>> 33

C. BAB III

Usulan Raperda Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal KEWENANGAN PENGATURAN RETRIBUSI >>> 51 >>> 57 >>>59 >>> 59 >>> 61 >>> 61 >>> 74 Pembentukan MATERI MUATAN Peraturan RAPERDA >>> 81 >>> 81 >>> 84 >>> 86 >>> 84 >>> 84 >>> 84 >>> 85 >>> 86 >>> 87 >>> 87 Golongan >>> 88 >>> 88 >>> 88 dan Konsiderans Dasar Hukum Ketentuan Umum Materi Pokok Yang Diatur a. b. c. Objek, Retribusi Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa Prinsip Dalam Penetapan Struktur dan Besaran Tarif Retribusi Subjek

BATAS A. B.

TERMINAL KOTA DENPASAR Kewenangan Provinsi dan Kabupaten/Kota Dalam Pengaturan Retribusi Daerah Batas Kewenangan Pengaturan Retribusi Daerah 1. 2. Batas Negatif Batas Positif a. b. BAB IV RUANG Landasan Keabsahan Norma Hukum Asas Perundangan-undangan Yang Baik LINGKUP RETRIBUSI TERMINAL DAN KETERKAITANNYA DENGAN HUKUM POSITIF A. B. C. Ruang Lingkup Materi Muatan Kerangka Raperda Tentang Retribusi Terminal Materi Muatan Raperda Retribusi Terminal 1. 2. Judul Pembukaan a. b. 3. 3.1. 3.2.

Batang Tubuh

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

vi

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD
>>> 89 >>> 89

d. e. f.

Struktur dan Besaran Tarif Retribusi Wilayah Pemungutan Penentuan Pembayaran, Pembayaran, Angsuran Tempat dan

Penundaan Pembayaran g. h. i. 3.3. 3.4. 3.5. 3.6. BAB VI PENUTUP A. B. C. Rangkuman Konklusi Rekomendasi Sanksi Administratif Penagihan Penghapusan Piutang Retribusi yang Kedaluwarsa Ketentuan Penyidikan Ketentuan Pidana Ketentuan Peralihan Ketentuan Penutup

>>> 89 >>> 89 >>> 90 >>> 90 >>> 91 >>> 91 >>> 95 >>> 95 >>> 97 >>> 97 >>> 103 >>> 104

DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PERATURAN DAN DOKUMEN LAINNYA LAMPIRAN 1. 2. Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

vii

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

DAFTAR RAGAAN
Ragaan 1: Unsur sosiologis dalam konteks pembentukan dan pelaksanaan UU atau Perda

>>> 65

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

viii

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

DAFTAR MATRIKS
Matriks 1: Matriks 2: Matriks 3: Matriks 4: Perbedaan Definisi Retribusi Daerah dan Pajak Daerah >>> 6 Analisis Perda Kota Denpasar No. 7 Tahun 2001 tentang Retribusi Fasilitas Terminal di Kota Denpasar Analisis Raperda Usulan SKPD Kewenangan Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota Atas Retribusi Jasa Umum, Retribusi Jasa Usaha dan Retribusi Perizinan Tertentu Ketentuan di Luar Materi Muatan Perda tentang Retribusi Daerah Berdasarkan Pasal 156 ayat (3) dan ayat (4) UU PDRD 2009 Perbedaan Kategori Ketentuan Pidana Sebagai Materi Muatan Perda dan Ketentuan Pidana Sebagai Dasar Penegakan UU >>> 18 >>> 33

>>> 57 >>> 82

Matriks 5:

Matriks 6:

>>> 93

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

ix

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

BAB
A. Latar Belakang

I PENDAHULUAN

Retribusi Terminal di Wilayah Kota Denpasar, berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000, sudah diatur dalam Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 7 Tahun 2001 tentang Retribusi Fasilitas Terminal di Kota Denpasar (Lembaran Daerah Kota Denpasar Tahun 2001 Nomor 7). Namun dengan diundangkannya Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 yang merupakan pengganti undang-undang sebelumnya, maka Pemerintah Kota Denpasar merasa perlu untuk menyesuaikan Perda Retribusi Fasilitas Terminal tersebut dengan perda yang baru. Dengan adanya kenyataan itu, maka perlu diadakan kajian yang dituangkan dalam sebuah Kajian Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal. B. Identifikasi Masalah Kajian hukum perundang-undangan atau kajian terhadap suatu pengaturan menyangkut dua isu pokok, yaitu penormaan materi muatan dan prosedur pembentukan, kajian ini fokus pada upaya penyusunan naskah akademik rancangan peraturan daerah, oleh karena itu berada pada isu penormaan materi muatan atau perumusan materi muatan sebagai suatu aturan yang mengandung norma hukum. Isu perumusan aturan melingkupi beberapa sub isu yaitu: (a) landasan; (b) asas-asas dalam pengaturan; (c) batas-batas kewenangan pengaturan; (d) ruang lingkup materi muatan pengaturan.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Dikaitkan dengan pengaturan Retribusi Terminal pada Kota Denpasar, maka kajian ini dituntut oleh pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: 1. Apakah yang menjadi landasan pengaturan Retribusi Terminal? 2. Apakah yang menjadi asas-asas dalam pengaturan Retribusi Terminal? 3. Bagaimanakah batas-batas kewenangan Kota Denpasar dalam pengaturan Retribusi Terminal? 4. Bagaimanakah ruang lingkup materi muatan pengaturan Retribusi Terminal? C. Tujuan dan Kegunaan A. Tujuan, yaitu: 1. Merumuskan landasan ilmiah penyusunan rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal. 2. Merumuskan arah dan cakupan ruang lingkup materi bagi penyusunan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal. B. Kegunaan, yaitu: 1. Hasil kajian hukum ini diharapkan berguna sebagai masukan bagi pembuat rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal. 2. Hasil kajian hukum ini diharapkan berguna bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam penyusunan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal. D. Landasan Konseptual Konsep-konsep pokok yang digunakan dalam kajian ini adalah konsep Retribusi Terminal dan rancangan peraturan daerah, yang akan diurai dalam urutan sebagai berikut: 1. Menempatkan sudut pandang perbedaan pajak daerah dan retribusi daerah. 2. Konsep Retribusi Daerah.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

3. Konsep Retribusi Terminal dan Terminal. 4. Konsep peraturan daerah. 5. Konsep naskah akademik 1. Menempatkan Sudut Pandang Perbedaan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Secara umum, pendapatan daerah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) Retribusi yang dipungut dengan kompensasi layanan tertentu dan (2) Pajak yang dipungut tanpa kompensasi layanan.1 Pada retribusi daerah terdapat suatu

tegenprestatie atau pengembalian jasa yang langsung dari pihak pemerintah.2


Secara argumentum a contrario, pada pajak daerah tidak terdapat pengembalian jasa yang langsung dari pihak pemerintah. Unsur pengembalian jasa yang lansung dan yang tidak lansung merupakan pembeda retribusi daerah dan pajak daerah, sebagaimana tampak pada pendapat berikut. Pajak Daerah, di dalamnya halnya harus retribusi pula terdapat Faktor unsur yang imbalan/kontraprestasi sebagaimana daerah.

membedakan, pada pajak daerah kontraprestasi tersebut untuk masyarakat yang lebih luas, atau setidak-tidaknya untuk sektor pajak yang bersangkutan, sedangkan pada retribusi daerah kontraprestasinya langsung kepada pembayar retribusi.3 Artinya, setiap pembayaran pajak memberi kontribusi atas jasa-jasa pelayanan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, tetapi pembayarannya tidak menerima konstraprestasi langsung yang dapat dinikmati, dan setiap pembayaran retribusi menerima kontraprestasi langsung berupa jasa-jasa pembayaran yang telah disediakan atau dibuat untuk itu.4

Wahyudi Kumorotomo, 2006, Desentralisasi Fiskal: Politik PerubahanKebijakan 1974-2004, Kencana, Jakarta, hlm. 125. 2 R. Soedargo, 1964, Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, N.V. Eresco, Bandung, hlm. 29. 3 Tjip Ismail, 2007, Pengaturan Pajak Daerah di Indonesia, Yellow Printing, Jakarta, hlm. 56. 4 Kesit Bambang Prakosa, 2003, Pajak dan Retribusi Daerah, UII Press, Yogyakarta, hlm. 3
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Jenis pelayanan yang membedakan dalam pengenaan pajak dan retribusi adalah tergantung pada tipe pelayanan. Pelayanan suatu barang publik, yaitu barang/jasa yang memberi keuntungan kepada orang secara kolektif, maka pembebanan pungutannya adalah pajak. Pelayanan suatu barang privat, yaitu barang/jasa yang memberi keuntungan pada diri sendiri, maka pembebanan pungutannya adalah retribusi.5 Dengan demikian, secara konseptual dalam konsep pajak daerah terdapat ciri-ciri, yang membedakannya dengan retribusi daerah, yaitu: a. pengembalian barang/jasa yang tidak langsung dari pihak pemerintah daerah; b. berupa barang/jasa yang memberi keuntungan kepada orang secara kolektif; dan c. untuk masyarakat yang lebih luas, atau setidak-tidaknya untuk sektor pajak yang bersangkutan. 2. Konsep Retribusi Daerah Ketentuan konstitusional pengenaan pajak dan pungutan oleh Negara diatur dalam Pasal 23A UUD 1945, yang menentukan: Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang. Artinya, ada 2 (dua) macam pungutan yang bersifat memaksa untuk keperluan negara, yakni pajak dan pungutan lain (selain pajak). Frase diatur dengan undang-undang menunjukan politik hukum6 pembatasan kekuasaan pemerintah dalam mengenakan pungutan yang bersifat memaksa untuk keperluan Negara, baik pajak maupun pungutan lain (selain pajak). Sebab, diatur dengan undang-undang bermakna adanya keterlibatan rakyat baik melalui mekanisme perwakilan melalui Dewan

5. 5 Kesit Bambang Prakosa, Ibid., 36. 6 Politik hukum adalah arah resmi yang dijadikan dasar untuk membuat dan melaksanakan hukum dalam rangka mencapai tujuan bernegara. Lihat Moh. Mahfud MD, Membangun Politik Hukum, Menegakkan Konstitusi, (LP3ES, Jakarta, 2006), hlm. 6 dan 15.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Perwakilan Rakyat maupun mekanisme partisipasi publik, sehingga pemerintah mengenakan pungutan tersebut berdasarkan kehendaknya sendiri. Pungutan yang bersifat memaksa untuk keperluan negara, dari segi kewenangan pengenaannya, dibedakan menjadi dua, yakni (1) yang dikenakan oleh Pemerintah Pusat; dan (2) yang dikenakan oleh Pemerintah Daerah. Untuk jenis pungutan yang kedua ini telah diundangkan UU PDRD. Undang-undang ini menentukan jenis pungutan yang bersifat memaksa menjadi: pajak daerah dan retribusi daerah, sebagai bentuk dari pungutan lain yang bersifat memaksa. Undang-undang PDRD mendefinisikan Retribusi Daerah sebagai pungutan Daerah dan mendefinisikan Pajak Daerah sebagai kontribusi wajib kepada Daerah, dan sejumlkah perbedaan lain. Matrik berikut dapat memperjelas. Matrik 1 : Perbedaan Definisi Retribusi Daerah dan Pajak Daerah.
RETRIBUSI DAERAH [Pasal 1 angka 64 UU PDRD] Retribusi Daerah, yang selanjutnya disebut Retribusi, adalah pungutan Daerah PAJAK DAERAH [Pasal 1 angka 10 UU PDRD] Pajak Daerah, yang selanjutnya disebut Pajak, adalah kontribusi wajib kepada Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Derah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyak.

sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau Badan

Penggunaan istilah atau tanda yang berbeda untuk menandai pajak daerah dan retribusi daerah menunjukan: (1) retibusi daerah adalah pungutan, sedangkan pajak daerah bukanlah pungutan; dan (2) retribusi daerah tidak bersifat memaksa, sedangkan pajak daerah bersifat memaksa. Pembedaan ini tidak koheren dengan karakter pungutan yang bersifat memaksa dalam Pasal 23A UUD 1945. Berdasarkan karakter konstitusional ini, maka pemahamannya adalah: 1. Pajak Daerah (sebagai spesies pajak) adalah pungutan yang bersifat memaksa. Pemahaman ini diperoleh dengan menafsirkan teks Pajak dan
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

pungutan lain yang bersifat memaksa, yang maknanya pungutan yang bersifat memaksa terdiri dari pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa. Jadi, pajak daerah adalah pungutan yang bersifat memaksa. 2. Retribusi Daerah adalah pungutan yang bersifat memaksa, yang dalam konteks Pasal 23A UUD 1945 termasuk dalam pungutan lain yang bersifat memaksa. Pembedaan pajak daerah dan retribusi daerah yang merupakan pungutan yang bersifat memaksa dan dipungut oleh Daerah adalah pada imbalan. Pada pajak daerah, imbalannya tidak langsung, sedangkan pada retribusi daerah, imbalannya langsung berupa jasa atau izin tertentu. Sekali pun ditemukan pengertian retribusi daerah tidak ada koherensi dengan karakter yang terdapat dalam Pasal 23A UUD 1945, namun dalam rangka pembentukan peraturan daerah pengertian tersebut tetap digunakan. Oleh karena, pembentukan peraturan daerah pada prinsipnya adalah pelaksanaan undangundang. Hal itu dapat dipahami dalam kerangka implementasi kebijakan publik, yang salah satu aktivitasnya adalah interpretasi (interpretation), aktivitas yakni aktivitas dalam atau menjabarkan substansi kebijakan agar menjadi rencana dan pengarahan yang diterima dan dilaksanakan.7 Dapat dipahami, interpretasi implementasi kebijakan publik adalah menjabarkan sebuah kebijakan publik yang masih bersifat umum ke dalam kebijakan publik yang lebih operasional, pembuatan kebijakan pelaksanaan. Pembuatan kebijakan publik, termasuk

kebijakan pelaksanaan, dalam bentuknya yang positif hakekatnya merupakan perumusan norma hukum ke dalam aturan hukum.8 Dalam konteks ini, kebijakan pelaksanaan dari kebijakan retribusi daerah yang dituangkan dalam UU PDRD 2009
Charles O. Jones, Pengantar Kebijakan Publik (Public Policy), terjemahan, (Rajawali Pers, Jakarta, 1991),hlm. 296. Menurutnya ada 3 (tiga) aktivitas dalam implemetansi kebijakan publik, yakni pengorganisasian, interpretasi, dan penerapan. 8 Marhaendra Wija Atmaja, Pembuatan Kebijakan Penanggulangan HAIV/AIDS dalam Perda Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2006, Makalah, Lokakarya Legal Drafting Perda Penanggulangan HIV/AIDS bagi Anggota DPRD 10 Provinsi Di Indonesia, (diselenggarakan oleh Komisi Penanggulangan Aids Nasional (KPAN), di Bandung pada Minggu-Rabu 11-14 Juni 2006), hlm. 2-4.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal
7

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

tersebut adalah Peraturan Daerah, yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum. Satu hal yang jelas adalah Retribusi Daerah mendapatkan konstitusionalitasnya dalam Pasal Pasal 23A UUD 1945 dan legalitasnya dalam UU PDRD. Legalitas berikutnya dalah legalitas dalam pemungutan retribusi daerah oleh Daerah yang mensyaratkan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. 3. Pengertian Terminal, Konsep Retribusi Terminal dan Fasiltas Terminal Dalam UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angutan Jalan, terminal adalah pangkalan Kendaraan Bermotor Umum yang digunakan untuk mengatur kedatangan dan keberangkatan, menaikkan dan menurunkan orang dan/atau barang, serta perpindahan moda angkutan. Berdasarkan pengertian ini maka dapat dilihat bahwa terminal yang dimaksud adalah terminal penumpang dan terminal barang. Namun dalam Pasal 131 ayat (1) disebutkan bahwa objek Retribusi Terminal adalah pelayanan penyediaan tempat parkir untuk kendaraan penumpang dan bis umum, tempat kegiatan usaha, dan fasilitas lainnya di lingkungan terminal, yang disediakan, dimiliki, dan/atau dikelola oleh Pemerintah Daerah, dari pasal ini dapat disimpulkan bahwa terminal yang dimaksud oleh UU PDRD 2009 adalah Terminal Penumpang. Pasal 1 angka 64 UU PDRD 2009 menentukan Retribusi Daerah adalah pungutan Daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau Badan. Selanjutnya UU PDRD 2009 tidak memberikan isi konsep atau pengertian retribusi terminal maupun terminal, namun berdasarkan hal-hal apa saja yang dapat digolongkan sebagai objek retribusi, maka dapat disimpulkan bahwa retribusi terminal adalah pembayaran atas pelayanan penyediaan tempat parkir untuk kendaraan penumpang dan bis umum, tempat kegiatan usaha, dan fasilitas lainnya di lingkungan terminal, yang disediakan, dimiliki, dan/atau dikelola oleh Pemerintah Kota.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

4. Konsep Peraturan Daerah Menurut Pasal 1 angka 7 UU P3, Peraturan Daerah adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh dewan perwakilan rakyat daerah dengan persetujuan bersama kepala daerah. Peraturan Daerah merupakan salah satu jenis dalam hierarki Peraturan Perundang-undangan, yang berada pada posisi paling bawah (Pasal 7 ayat (1) huruf e UU P3).9 Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e meliputi: a. Peraturan Daerah provinsi dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah provinsi bersama dengan gubernur; b. Peraturan Daerah kabupaten/kota dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah kabupaten/kota bersama bupati/walikota; dan c. Peraturan Desa/peraturan yang setingkat, dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya. Peraturan Daerah yang dimaksud dalam kajian ini adalah Peraturan Daerah Kabupaten, yaitu peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh DPRD kabupaten dengan persetujuan bersama bupati. Pasal 1 Angka 2 UU P3 menentukan Peraturan Perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum. Dengan demikian dalam pengertian Peraturan Daerah Kabupaten terdapat unsur-unsur: 1. bentuknya berupa peraturan tertulis; 2. pembentuknya adalah DPRD kabupaten dengan persetujuan bersama bupati; dan 3. kekuatan mengikat adalah mengikat secara umum.

) Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan menurut Pasal 7 ayat (1) UU P3 adalah sebagai berikut: a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang; c. Peraturan Pemerintah; d. Peraturan Presiden; e. Peraturan Daerah.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Mengikat secara umum merupakan konsekuensi logis dari karakter norma hukum yang termuat dalam peraturan tertulis tersebut, yaitu norma hukum yang umum-abstrak, atau sekurang-kurangnya norma hukum yang umum-konkret.10 Norma umum-abstrak adalah norma yang ditujukan kepada orang tidak tertentu dan objek yang diatur berupa fakta tidak tertentu. Norma umum-konkret adalah norma yang ditujukan kepada orang tidak tertentu dan objek yang diatur berupa fakta tertentu. Berdasarkan pemahaman tersebut, penyusunan konsep awal Raperda tentang Retribusi Terminal sebagai salah satu keluaran dari kajian akademik ini diarahkan pada karakter norma hukum tersebut di atas. 5. Konsep Naskah Akademik Pasal 1 angka 7 Perpres nomor 68 Tahun 200511 menentukan Naskah Akademik adalah naskah yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah mengenai konsepsi yang berisi latar belakang, tujuan penyusunan, sasaran yang ingin diwujudkan dan lingkup, jangkauan, objek, atau arah pengaturan Rancangan Undang-Undang. Pasal 1 angka 2 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor M.Hh-01.PP.01.01 Tahun 200812 menentukan Penyusunan Naskah Akademik adalah pembuatan Naskah Akademik yang dilakukan melalui suatu proses penelitian hukum dan penelitian lainnya secara cermat, komprehensif, dan sistematis. Isi Naskah Akademik ditentukan dalam Pasal 3 ayat (1) Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia tersebut memuat dasar filosofis, yuridis, sosiologis, pokok dan lingkup materi yang akan diatur, serta konsep awal Rancangan Peraturan

A. Hamid S. Attamimi, 1990, Peranan Keputusan Presiden Republik Indonesia dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara: Suatu Studi Analisis mengenai Keputusan Presiden yang Berfungsi Pengaturan dalam Kurun Waktu Pelita I Pelita IV, Disertasi Doktor, Fakultas Pascasarjana Universitas Indonesia, Jakarta, hlm 317. 11 Tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang Undang, Rancangan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang, Rancangan Peraturan Pemerintah, dan Rancangan Peraturan Presiden. 12 Tentang Pedoman Penyusunan Naskah Akademik Rancangan Peraturan Perundang-undangan.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

10

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Perundang-undangan. Selanjutnya pada ayat (2) ditentukan, Naskah Akademik disusun berdasarkan Pedoman Penyusunan Naskah Akademik sebagaimana tercantum dalam lampiran. E. Metode Penelitian Menggunakan metode penelitian hukum (legal research), dalam artian menggunakan bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder serta didukung bahan hukum informatif. Bahan-bahan hukum ini dianalisis secara hermeneutika hukum. a. Pendekatan. Pendekatan yang digunakan untuk menjawab isu hukum dalam kajian ini adalah pendekatan perundang-undangan

(statutory

approach),

pendekatan

konseptual (conceptual approach), pendekatan historis (historical approach), pendekatan filsafat (philosophical approach). 13 Pendekatan perundang-undangan (statutory approach) beranjak pada peraturan perundang-undangan yang bersangkut paut dengan Retribusi Terminal, antara lain Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, sebagaimana diubah kedua kalinya dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008. Pendekatan konseptual (conceptual approach) dilakukan dengan beranjak pada pandangan dan doktrin yang berkembang dalam ilmu hukum berkenaan dengan pajak daerah. Pendekatan historis (historical approach) beranjak pada sejarah perkembangan pengaturan pajak daerah, khususnya Retribusi Terminal. Pendekatan filsafat (philosophical approach) beranjak dari dasar ontologis dan landasan filosofis UU PDRD serta ratio legis dari ketentuan-ketentuan tertentu dalam UU PDRD, khususnya tentang Retribusi Terminal.

Tentang pendekatan tersebut berdasarkan Peter Mahmud Marzuki; 2005, Penelitian Hukum, Jakarta Interpratama Offset, hal. 93-137.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

13

10

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

b. Sumber Bahan Hukum Sumber Bahan hukum yang digunakan adalah bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.14 Bahan hukum primer adalah segala dokumen resmi yang memuat ketentuan hukum, dalam hal ini adalah Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, sebagaimana diubah kedua kalinya dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008, serta peraturan perundangundangan yang lain yang terkait dengan Retribusi Terminal. Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer seperti hasil penelitian atau karya tulis para ahli hukum berkenaan dengan pengaturan Retribusi Terminal, yang memiliki relevansi dengan penelitian ini. Bahan hukum informatif berupa informasi dari lembaga atau pejabat, baik dari lingkungan Pemerintah Daerah Kota Denpasar maupun para pihak yang membidangi Retribusi Terminal. Bahan ini digunakan sebagai penunjang dan untuk mengkonfirmasi data primer dan sekunder. c. Metode Pengumpulan Bahan Hukum. Untuk bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder dilakukan studi dokumenter dan kepustakaan. Untuk bahan hukum informatif dilakukan studi lapangan bersaranakan FGD (Focus Group Discussion), wawancara, mendengan pendapat narasumber atau para ahli. d. Metode Analisis. Terhadap bahan-bahan hukum yang terkumpul dilakukan interpretasi secara hermeneutikal, yaitu memahami aturan hukum: a. berdasarkan pemahaman tata bahasa (gramatikal), yaitu berdasarkan makna kata dalam konteks kalimatnya;

C.F.G.Sunaryati Hartono, 1994, Penelitian Hukum Di Indonesia Pada Akhir Abad ke 2 , Alumni, Bandung, hal. 134.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

14

11

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

b.

dipahami dalam konteks latar belakang sejarah pembentukannya (historikal) dan dalam kaitan dengan tujuan yang mau diwujudkannya (teleologikal) yang menentukan isi aturan hukum positif itu (untuk menentukan ratio legis-nya); serta dipahami dalam konsteks hubungannya dengan aturan hukum yang lainnya (sistematikal) dan secara kontekstual merujuk pada faktorfaktor kenyataan kemasyarakatan dan kenyataan ekonomi (sosiologikal) dengan mengacu pandangan hidup, nilai-nilai kultural dan kemanusiaan yang fundamendal (filosofikal) dalam proyeksi ke masa depan (futurological).15

c.

Interpretasi secara hermeneutikal tiada lain adalah hermeneutika hukum, sebagaimana dikemukakan Gregory Leyh, bahwa tugas hermeneutika hukum adalah menempatkan perdebatan kontemporer mengenai interpretasi hukum lebih luas adalah hermeneutika, sebagaimana diungkapkan, dalam upaya kerangka interpretasi yang lebih luas.16 Makna dalam kerangka interpretasi yang mengkontekstualisasikan teori hukum dengan cara seperti ini mengisyaratakan bahwa hermeneutika mengandung manfaat tertentu bagi yurisprudensi (ilmu hukum).17 Jadi, tugas hermeneutika hukum adalah menempatkan perdebatan kontemporer mengenai interpretasi hukum dalam kerangka hermeneutika. Untuk mendapatkan pemahaman secara utuh diperlukan proses pemahaman yang berlangsung dalam suatu gerakan bolak-balik antara bagian dan keseluruhan. Proses pemahaman ini disebut lingkaran hermeneutis, yaitu bagian hanya dapat dipahami dalam konsteks pemahaman terhadap keseluruhan, yang mengandaikan pemahaman terhadap bagian-bagian. Demikianlah, untuk dapat memahami dengan baik sebuah teks, maka:

Bernard Arief Sidharta, Penelitian Hukum Normatif: Analisis Penelitian Filosofikal dan Dogmatikal, dalam Soelistyowati Irianto dan Shidarta, eds.,2009, Metode Penelitian Hukum: Konstelasi dan Refeksi, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, hal. 145-146. 16 Gregory Leyh, Pendahuluan, dalam Gregory Leyh, ed., 2008, Hermeneutika Hukum: Sejarah, Teori, dan Praktik, (judul asli: Legal Hermeneitics, University of California Press, 1992), terjemahan M. Khozim, Penerbit Nusa Media, Bandung, hlm. 1. 17 Ibid.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

15

12

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

a. terlebih dahulu harus memahami keseluruhan teks teks tersebut; dan

untuk dapat

menginterpretasi dengan baik tiap kalimat yang mewujudkan keseluruhan b. untuk dapat memahami keseluruhan teks maka terlebih dahulu tiap kalimat harus diinterpretasi dengan baik.18 Interpretasi hukum secara hermeneutika dalam kajian ini beranjak dari lingkaran hermeneutis tersebut, yaitu memahami suatu peraturan perundangundangan secara keseluruhan untuk dapat menginterpretasi dengan baik tiap norma hukum yang mewujudkan peraturan perundang-undangan tersebut, dan untuk dapat memahami suatu peraturan perundang-unangan secara keseluruhan maka terlebih dahulu tiap norma hukum harus diinterpretasi dengan baik. Pentingnya pendekatan hermeneutika dalam ilmu hukum, karena interpretasi terhadap hukum selalu berhubungan dengan isinya. Setiap aturan hukum mempunyai dua segi yaitu yang tersurat yang merupakan bunyi teks hukum dan yang tersirat yang merupakan gagasan yang ada di belakang aturan hukum.19 Karenanya, diperlukan ketepatan pemahaman (subtilitas intellegendi), ketepatan penafsiran (subtilitas explicandi), dan ketepatan penerapan (subtilitas applicandi).
20

Penafsiran bukan tindakan tambahan yang secara berkala dilakukan sebelum pemahaman, tetapi pemahaman selalu sebuah penafsiran, dan karena itu penafsiran adalah bentuk eksplisit dari pemahaman. Berikutnya adalah penerapan, yaitu penerapan terhadap teks untuk dipahami oleh situasi penafsir sekarang, yang

Bernard Arief Sidharta, 2000, Refleksi Tentang Struktur Ilmu Hukum: Sebuah Penelitian Tentang Fundasi Kefilsafatan dan Sifat Keilmuan Ilmu HUkum sebagai Landasan Pengmbangan Ilmu Hukum Nasional Indonesia, Mandar Maju, Bandung, hlm. 98-99. 19 E. Sumaryono, 1999, Hermeneutik: Sebuah Metode Filsafat, Edisi Revisi, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, hlm. 29. Lihat juga Peter Mahmud Marzuki, 2005, Arti Penting Hermeneutik dalam Penerapan Hukum, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam bidang Ilmu Hukum, Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Surabaya, hlm.17, yang mengutip dari E. Sumaryono. 20 E. Sumaryono, 1999, hanya menyebut subtilitas intellegendi (ketepatan pemahaman) dan subtilitas explicandi (ketepatan penafsiran, yang disebutnya ketepatan penjabaran). Tiga tindakan hermeneutika tersebut dikutip dari Hans-Georg Gadamer, 2004, Kebenaran dan Metode: Pengantar Filsafat Hermeneutika, terjemahan Ahmad Sahidah (judul asli: Truth and Method, The Seabury Press, New York, 1975), Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hlm. 370.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

18

13

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

merupakan bagian integral dari tindakan hermeneutika sebagaimana pemahaman dan penafsiran.21 Dalam kajian ini tindakan yang dilakukan adalah memahami teks atau aturan hukum berkenaan dengan pajak daerah, khususnya Retribusi Terminal, melalui menafsirkan, dan menerapkannya dalam bentuk Konsep Awal Rancangan Peraturan Daerah tentang Retribusi Terminal.

21

Hans-Georg Gadamer, 2004, Ibid, hlm. 370-371.


Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

14

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

BAB

II
KONDISI EKSISTING PENGATURAN RETRIBUSI TERMINAL KOTA DENPASAR

A. KONDISI EKSISTING PENGATURAN RETRIBUSI TERMINAL KOTA DENPASAR Retribusi Terminal di Wilayah Kota Denpasar, berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000, sudah diatur dalam Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 7 Tahun 2001 tentang Retribusi Fasilitas Terminal di Kota Denpasar (Lembaran Daerah Kota Denpasar Tahun 2001 Nomor 7). Mengenai objek retribusi, di Kota Denpasar terdapat lima terminal besar22, yaitu: a. Terminal Ubung b. Terminal Kreneng c. Terminal Tegal d. Terminal Wangaya e. Terminal Gunung Agung Pada terminal-terminal tersebut disediakan fasilitas-fasilitas yang merupakan objek retribusi terminal, seperti: penyediaan layanan parker, tempat usaha, ruang tunggu dan toilet.

B. IDENTITAS DAN KAPASITAS PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR TENTANG RETRIBUSI TERMINAL Untuk memudahkan mengetahui identitas dan kapasitas Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal dapat dilihat dalam matriks di bawah ini:
22

http://www.denpasarkota.go.id/
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

15

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Matriks 2

: Analisis Perda Kota Denpasar Nomor 7 Tahun 2001 tentang Retribusi Fasilitas Terminal di Kota Denpasar:
Analisis

Peraturan Derah Kota Denpasar No. 7 Tahun 2001 tentang Retribusi Fasilitas Terminal di Kota Denpasar PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR

NOMOR 7 TAHUN 2001 TENTANG RETRIBUSI FASILITAS TERMINAL DI KOTA DENPASAR Menimbang: a. Bahwa penyelenggaraan terminal Dalam Butir bahwa konsideran terakhir tidak tampak berbunyi: transportasi jalan sebagai bagian sistem transportasi nasional dalam menunjang kegiatan mendapatkan baiknya; b. Bahwa untuk dapat mewujudkan penyelenggaraan terminal transportasi jalan sebagaimana dimaksudkan pada huruf a perlu ditata dan didukung oleh tersedianya biaya yang memadai dimana antara lain bersumber dari retribusi fasilitas terminal; c. Bahwa untuk memungut retribusi fasilitas terminal perlu ditetapkan dalam peraturan daerah. Mengingat: 1. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3209); Dasar hukum memuat dasar kewenangan pembuatan peraturan perundangyang peraturan undangan dan peraturan perundang-undangan memerintahkan pembuatan perundang-undangan tersebut.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

landasan filosofis pembentukan perda. seharusnya berdasarkan pertimbangan

perekonomian penanganan

dan sebaik-

pembangunan di Kota Denpasar perlu

sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b perlu membentuk Peraturan Daerah tentang

16

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

2.

Undang-undang Nomor 1 Tahun 1992 tentang Pembentukan Kota Denpasar (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 9, Tambahan 3465); Lembaran Negara Nomor

3.

Undang-undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3480);

4.

Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3685);

5.

Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839);

6.

Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1990 Urusan tentang Penyerahan Dalam Sebagian Bidang Pemerintahan

Lalau Lintas dan Angkutan Jalan Kepada Daerah Tingkat I dan Daerah Tingkat II (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 26, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3410); 7. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1993 tentang Angkutan Jalan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor Negara 26, Tambahan Lembaran Nomor

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

17

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

3527); 8. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 1993 tentang Pemeriksaan Kendaraan Bermotor di Jalan (Lembaran Negara Tahun 9. 1993 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3528); Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 63, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3529); 10. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3530); 11. Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1999 Bentuk tentang Teknik Penyusunan dan Peraturan Perundang-undangan Rancangan

Undang-undang,

Rancangan peraturan Pemerintah dan Rancangan Keputusan Presiden; 12. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM.31 Tahun 1995 tentang Terminal Transportasi Jalan; 13. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 1999 tentang Pedoman Angkutan Pengelolaan Penumpang; 14. Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 4 Tahun 2000 tentang Nomenklatur Kelembagaan dan Tata Naskah Dinas di Lingkungan Pemerintah Kota Denpasar
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

Terminal

18

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

(Lembaran Daerah Kota Denpasar Tahun 2000 Nomor 5). Memperhatikan Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat daerah Kota Denpasar Tanggal 19 Februari 2001 Nomor 03 Tahun 2001 tentang Persetujuan Penetapan 17 (tujuh belas) Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar menjadi 17 (tujuh belas) Peraturan daerah Kota Denpasar. Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN DAERAH KOTA DENPASAR MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR TENTANG RETRIBUSI FASILITAS TERMINAL DI KOTA DENPASAR BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan: a. Kota Denpasar adalah Daerah Kota adalah Denpasar; b. Pemerintah c. Kota Denpasar Pemerintah Daerah Kota Denpasar; Walikota adalah Kepala Daerah Kota Denpasar; d. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Denpasar selanjutnya disebut DPRD Kota Denpasar adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Denpasar; e. Wilayah Kota Denpasar adalah Wilayah Daerah Kota Denpasar;
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

Tidak sesuai dengan UU No. 10/2004.

Seharusnya : Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA DENPASAR dan WALIKOTA DENPASAR MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RETRIBUSI TERMINAL Ketentuan umum seharusnya berisi: a. batasan pengertian atau definisi; b. singkatan atau akronim yang digunakan dalam peraturan; c. hal-hal lain yang bersifat umum yang berlaku bagi pasal (-pasal) berikutnya antara lain ketentuan yang mencerminkan asas, maksud, dan tujuan. Ketentuan umum perda ini tampak belum memberikan definsi dengan jelas dan singkat.

19

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

f.

Terminal adalah prasarana transportasi jalan serta untuk keperluan orang memuat dan dan menurunkan dan/atau kedatangan barang

mengatur

pemberangkatan kendaraan umum, yang merupakan salah satu wujud simpul jaringan transportasi; g. Kendaraan Bermotor adalah kendaraan yang digerakkan peralatan teknik yang berada pada kendaraan itu; h. Retribusi daerah Daerah sebagai yang selanjutnya atas disebut Retribusi adalah pemungutan pembayaran pelayanan penyediaan tempat parker untuk kendaraan penumpang umum dan kendaraan barang, tempat kegiatan usaha serta pemakaian fasilitas lainnya di lingkungan terminal yang dimiliki atau dikelola Pemerintah Daerah; i. Jumlah Berat yang Diperbolehkan yang selanjutnya disingkat JBB adalah berat maksimum kendaraan bermotor berikut muatannya yang diperbolehkan menurut rancangannya; j. Retribusi Jasa Usaha adalah Retribusi yang disediakan dengan karena dikenakan oleh Pemerintah prinsip atas Daerah komersial pula Nama Retribusi Daerah tidak merupakan judul bab, melainkan nama Retribusi pelayanan/pemberian jasa usaha yang menganut pada

dasarnya BAB II

dapat

disediakan oleh swasta. NAMA, OBYEK DAN SUBYEK RETRIBUSI

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

20

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Pasal 2 Dengan nama Retribusi Fasilitas Terminal, dipungut retribusi kepada setiap orang atau badan hukum yang menggunakan fasilitas terminal. Pasal 3 Obyek Retribusi adalah Pasal 4 Subyek Retribusi Fasilitas Terminal adalah orang pribadi dan atau badan hukum yang menggunakan fasilitas terminal. Pasal 5 Wajib Retribusi adalah orang dan atau badan hukum yang menurut peraturan perundangundangan Retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran Retribusi. pemberian jasa/pelayanan fasilitas terminal.

Daerah tercantum dalam judul Perda dan dalam diktum Perda.

Tidak sesuai dengan UU PDRD 2009.

Secara substansi tidak berbeda dengan UU PDRD 2009

Pasal 139 (2) UU PDRD memberikan pengertian yang lebih luas, yaitu orang pribadi atau Badan yang menurut ketentuan peraturan perundangundangan Retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran Retribusi, termasuk pemungut atau pemotong Retribusi.

BAB III GOLONGAN RETRIBUSI Pasal 6 Retribusi Fasilitas Terminal termasuk golongan Retribusi Jasa Usaha. BAB IV CARA MENGUKUR TINGKAT PENGGUNAAN JASA Pasal 7 Tingkat penggunaan jasa Retribusi Fasilitas Terminal diukur berdasarkan jenis kendaraan, fasilitas yang tersedia, jumlah dan waktu pemakaian. BAB V

Sesuai dengan UU PDRD 2009

Secara normatif hal ini disebutkan dalam Pasal 151 UU PDRD 2009, dan cara penghitungan seperti itu logis dan wajar. Hal ini juga diminta oleh SKPD yang membidangi rettribusi terminal.

Dalam UU PDRD 2009 diatur dalam Pasal


Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

21

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

PRINSIP DAN SASARAN DALAM PENETAPAN STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI Pasal 8 Prinsip dan sasaran dalam penetapan struktur dan besarnya tarif Retribusi Fasilitas Terminal adalah untuk mengganti biaya administrasi, pembangunan, perawatan, penyusutan, kebersihan, kerusakan, kemanan, ketertiban dan biaya pembinaan. BAB VI STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI Pasal 9 A. Pelayanan Terminal Untuk Kendaraan Penumpang Umum dan Bis Umum: 1) Mobil Bus Angkutan Antar Kota Antar Propinsi Rp. 1.500,- (seribu limaratus rupiah)/sekali masuk; 2) Mobil Bus Angkutan Antar Kota Dalam Propinsi Rp. 500,(limaratus rupiah)/sekali masuk; 3) Mobil Mikro Bus Angkutan Antar Kota Dalam Propinsi Rp. 300,- (tiga ratus rupiah)/sekali masuk; 4) Mobil Penumpang Antar Kota Dalam Propinsi 5) Mobil Rp. Mikro 200,Bus (dua ratus rupiah)/sekali masuk; Angkutan Kota/Perkotaan Rp. 200,- (dua ratus rupiah)/sekali masuk; 6) Mobil Penumpang Angkutan Kota/Perkotaan Rp. 150,- (seratus limapuluh rupiah)/sekali masuk; 7) Taksi Rp. 500,(limaratus

152. Narasi pasal ini kurang memerhatikan kemampuan masyarakat, aspek keadilan, dan efektivitas pengendalian atas pelayanan.

Berdasarkan FGD tanggal 22 Desember 2010, SKPD yang membidangi Retribusi Terminal (Dinas Perhubungan Kota Denpasar) klasifikasi dan tarif ini perlu diubah sesuai dengan tingkat inflasi dan faktor ekonomi laiinya.

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

22

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

rupiah)/sekali masuk. B. Pelayanan Terminal Untuk Kendaraan Barang : 1) Sampai dengan JBB 2.750 Kg Rp. 1.500,(seribu limaratus rupiah)/sekali masuk 2) JBB 2.751 s/d 5.000 Kg Rp. 2.000,(dua ribu rupiah)/sekali masuk 3) JBB 5.001 s/d 9.000 Kg Rp. 3.500,(tiga ribu lima ratus rupiah)/sekali masuk 4) JBB 9.000 kg ke atas Rp. 5.000,- (lima ribu rupiah)/sekali masuk C. Pemakaian Tempat Usaha 1) Los 2) Kios Rp.
2

600,3.000,-

(enam (tiga

ratus ribu

rupiah)/m /bulan; Rp.


2

rupiah)/m /bulan; D. Jasa Ruang Tunggu Rp. 200,- (dua ratus rupiah)/sekali masuk. E. Jasa Toilet/WC 1) Buang air kecil Rp. 500,2) Buang air besar Rp. 1.000,3) Mandi Rp. 1.500,BAB VII SAAT RETRIBUSI TERUTANG Pasal 10 Retribusi terutang terjadi pada saat diterbitkan Surat Ketetapan Retribusi BAB VIII TATA CARA PEMUNGUTAN DAN SANKSI RETRIBUSI Daerah atau Secara substasi tidak berbeda jauh dari UU PDRD 2009 Sanksi administratif diatur dalam bab dokumen lain yang dipersamakan. Bukan merupakan materi pokok perda retribusi dalam Pasal 156 (3) UU PDRD 2009.

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

23

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Pasal 11 Pemungutan retribusi tidak dapat dialihkan kepada pihak ketiga/diborongkan. Pasal 12

tersendiri.

(1) Retribusi
Ketetapan

dipungut Retribusi

dengan Daerah

Surat atau

dokumen lain yang dipersamakan.

(2) Dalam hal wajib retribusi tertentu tidak


membayar tepat pada waktunya atau kurang bayar, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan dari retribusi terutang, yang tidak atau kurang dibayar dan ditagih dengan menggunakan Surat Tagihan Retribusi Daerah. BAB IX TATA CARA PEMBAYARAN RETRIBUSI Pasal 13 Bab ini secara substatif hal yang sama diatur juga dalam UU PDRD 2009

(1) Pembayaran Retribusi dilakukan di Kas


Daerah atau di tempat lain yang ditunjuk sesuai waktu yang ditentukan dengan menggunakan Surat Ketetapan Retribusi Daerah, Daerah Surat secara Ketetapan jabatan Retribusi dan Surat

Ketetapan Retribusi Daerah Tambahan.

(2) Dalam hal pembayaran dilakukan di


tempat lain yang ditunjuk, maka hasil penerimaan Retribusi harus disetor ke Kas Daerah selambat-lambatnya 1 X 24 jam atau dalam waktu yang ditetapkan oleh Walikota.

(3) Apabila pembayaran Retribusi dilakukan


Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

24

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

setelah lewat waktu yang ditentukan sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini, maka dikenakan sanksi administrasi berupa bunga 2% (dua persen) per bulan maksimal 24 (duapuluh empat) bulan dengan menerbitkan Pasal 14 Surat Tagihan Retribusi Daerah.

(1) Pembayaran Retribusi harus dilakukan


secara tunai.

(2) Walikota atau Pejabat yang ditunjuk


dapat memberikan ijin kepada Wajib Retribusi untuk membayar Retribusi yang terutang dalam kurun waktu tertentu dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

(3) Tata

cara

pembayaran

retribusi

sebagaimana dimaksud ayat 2 Pasal ini ditetapkan oleh walikota. Pasal 15

(1) Pembayaran

Retribusi

sebagaimana

dimaksud Pasal 14 ayat (1) diberikan tanda bukti pembayaran.

(2) Setiap pembayaran dicatat dalam buku


penerimaan.

(3) Bentuk, isi, kualitas ukuran buku tanda


bukti pembayaran dan buku penerimaan sebagaimana dimaksud ayat (1) dan (2) Pasal ini ditetapkan oleh Walikota. BAB X TATA CARA PENAGIHAN RETRIBUSI Pasal 16
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

Secara substansi hal yang sama diatur juga dalam UU PDRD 2009

25

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

(1) Pengeluaran surat teguran / peringatan atau surat lain yang sejenis sebagai awal tindakan pelaksanaan penagihan Retribusi dikeluarkan segera setelah 7 (tujuh) hari sejak saat jatuh tempo pembayaran. (2) Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal surat teguran/peringatan atau surat lain yang sejenis diterima, Wajib Retribusi harus melunasi Retribusi yang terutang. (3) Surat teguran sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini dikeluarkan oleh Pejabat yang ditunjuk. Pasal 17 Bentuk-bentuk formulir yang dupergunakan untuk pelaksanaan penagihan Retribusi sebagaimana dimaksud Pasal 16 ayat (1) ditetapkan oleh Walikota. BAB XI TATA CARA PENGURANGAN, KERINGANAN DAN PEMBEBASAN RETRIBUSI Pasal 18 Dengan narasi yang berbeda diatur juga dalam UU PDRD 2009.

(1) Walikota
pengurangan,

dapat

memberikan dan

keringanan

pembebasan besarnya Retribusi.

(2) Tata

cara

pemberian

pengurangan,

keringanan dan pembebasan Retribusi sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini ditetapkan oleh Walikota. BAB XII KADALUWARSA PENAGIHAN Pasal 19
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

Dalam

UU

PDRD

2009

kedaluwarsa

penagihan retribusi juga 3 tahun.

26

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

(1) Penagihan Retribusi, kedaluwarsa setelah


melampaui jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak terutangnya Retribusi, kecuali melakukan retribusi. apabila tindak Wajib pidana di Retribusi bidang

(2) Kadaluwarsa sebagaimana dimaksud ayat


(1) tertangguh apabila: a. Diterbitkan Surat Teguran; b. Ada pengakuan utang Retribusi dari Wajib Retribusi baik langsung maupun tidak langsung. BAB XIII PEMBINAAN/PENGAWASAN Pasal 20 Pembinaan/pengawasan untuk pelaksanaan Peraturan Daerah ini dilakukan oleh Walikota atau Pejabat yang ditunjuk. BAB XIV KETENTUAN PIDANA Pasal 21 Narasinya sesuai deng UU No.10/2004. Secara substansi diatur juga dalam UU PDRD 2009. Bukan materi muatan pokok perda retribusi daerah.

(1) Barangsiapa melanggar ketentuan dalam


Peraturan Daerah ini diancam pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp. 5.000.000,(lima juta rupiah).

(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud


ayat (1) Pasal ini adalah pelanggaran. BAB XV KETENTUAN PENYIDIKAN Pasal 22 Secara substansi diatur juga dalam UU PDRD 2009.

(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di


Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

27

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

lingkungan wewenang untuk

Pemerintah khusus

Daerah diberi penyidik tindak

sebagai penyidikan

melakukan

pidana di bidang retribusi daerah.

(2) Wewenang

Penyidik

sebagaimana mencari dan meneliti laporan

dimaksud pada ayat (1) Pasal ini adalah: a. menerima, mengumpulkan keterangan atau

berkenaan dengan tindak pidana dibidang perpajakan daerah agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lengkap dan jelas; b. meneliti, mengumpulkan mencari dan keterangan atau

mengenai orang pribadi

badan sehubungan dengan tindak pidana dibidang perpajakan daerah tersebut; c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan dengan tindak pidana dibidang perpajakan daerah; d. memeriksa catatan pidana daerah; e. melakukan penggeledahan untuk mendapatkan pembukuan, melakukan bahan pencatatan, lain penyitaan bukti dan serta buku-buku, catatandan dokumen-dokumen perpajakan

lain yang berkenaan dengan tindak dibidang

dokumen-dokumen

terhadap

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

28

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

bahan bukti tersebut; f. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana dibidang perpajakan daerah; g. menyuruh atau berhenti, melarang saat seseorang meninggalkan ruangan tempat pada pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang dan atau e; h. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana di bidang perpajakan daerah; i. memanggil orang untuk didengar keterangannya j. k. dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi; menghentikan penyidikan; melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana dibidang perpajakan daerah menurut hukum yang dapat dipertanggung jawabkan. dokumen yang dibawa sebagaimana dimaksud pada huruf

(3) Penyidik sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) Pasal ini hasil memberitahukan dan penyidikannya dimulainya menyampaikan penyidikan

kepada penuntut umum, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undangundang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

29

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Pidana. BAB XVI KETENTUAN PENUTUP Pasal 23 Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka dinyatakan tidak berlaku lagi: 1. Peraturan Daerah Nomor 22 Tahun 1994 tentang Retribusi Terminal Kendaraan Bermotor; 2. Peraturan Daerah Nomor 31 Tahun 1997 tentang Perubahan Pertama Peraturan Daerah Nomor 22 Tahun 1994 tentang Retribusi Terminal Kendaraan Bermotor. Pasal 24 Hal-hal lain yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang menyangkut teknis pelaksanaan diatur lebih lanjut oleh Walikota. Pasal 25 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang dapat mengetahuinya, Peraturan memerintahkan pengundangan

Daerah ini dengan menempatkannya dalam Lembaran Daerah Kota Denpasar.

C. USULAN RAPERDA KOTA DENPASAR TENTANG RETRIBUSI TERMINAL Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang tugas dan wewenangnya di bidang Retribusi Terminal telah membuat usulan Raperda Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal. Naskah usulan ini perlu dianalisis berkenaan dengan kerangka

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

30

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

dan materi muatan, untuk mengetahui derajat kesesuaiannya dengan peraturan perundang-undangan. Matriks 3 : Analisis Raperda Usulan SKPD tentang Retribusi Terminal
Analisis Pencantuman Denpasar ketentuan tidak angka kata sesuai 2 Walikota dengan Teknik

Rancangan Peraturan Derah Kota Denpasar No. Tahun ..tentang Retribusi Terminal WALIKOTA DENPASAR PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR ..TAHUN TENTANG RETRIBUSI TERMINAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA DENPASAR, Menimbang: a. Bahwa lalu lintas dan angkutan jalan mempunyai peran yang strategis dalam mendukung seiring kebutuhan Denpasar; pembangunan semakin jasa akan terintegrasi meningkatnya angkutan bagi dengan

Penyusunan Peraturan Perundangundangan (TP3).

mobilitas orang dan barang dari dan ke Kota

Belum menunjukan latar belakang dan alasan pembuatan Perda, yang memuat unsur filosofis, yuridis, dan sosiologis. Perlu penekanan pada fungsi retribusi disamping fungsi anggaran juga fungsi pengaturan/pengendalian. Penyebutan terminal barang tidak sesuai dengan UU PDRD 2009 yang hanya mengatur mengenai terminal penumpang. Perlu penyesuaian agar memenuhi ketentuan angka 17 dan 18 TP3 (vide Pasal 44 ayat (2) UU Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan/UU P3).

b.

Bahwa terminal penumpang dan terminal barang sebagai prasarana transportasi jalan untuk keperluan dan menurunkan dan menaikkan kedatangan penumpang, mengatur

pemberangkatan

kendaraan umum atau untuk keperluan


Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

31

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

membongkar atau memuat barang serta perpindahan intra dan atau antar moda transportasi; c. Bahwa dalam berdasarkan upaya optimalisasi pertimbangan pengaturan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b Terminal Penumpang dan Terminal Barang agar lebih berdaya guna dan berhasil guna perlu membentuk Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal. Mengingat 1. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1991 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Denpasar (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 9, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3465); Terdapat pencantuman peraturan perundang-undangan yang tidak merupakan dasar kewenangan pembuatan Perda Retribusi dan tidak memerintahkan pembuatan Perda Retribusi. Perlu penyesuaian agar memenuhi ketentuan angka 26 TP3 (vide Pasal 44 ayat (2) UU P3). Jika jumlah Peraturan Perundang-undangan yang dijadikan dasar hukum lebih dari satu, urutan pencantuman perlu memperhatikan tata urutan Peraturan Perundangundangan dan jika tingkatannya sama disusun secara kronologis berdasarkan saat pengundangan atau penetapannya.

2.

Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Tahun Lembaran Negara Negara Republik 96, Republik Indonesia Tambahan Indonesia 2009 Nomor

Nomor 5025);

3.

Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Tahun Lembaran Negara Negara Republik 130, Republik Indonesia Tambahan Indonesia 2009 Nomor

Nomor 5049);
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

32

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

4.

Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Negara Republik Perundang-undangan Tambahan Lembaran (Lembaran Negara

Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Indonesia Nomor 4389); 5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2008, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 6. Undang-undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tambahan 7. Tahun 2004 Nomor 132, Lembaran Negara Republik

Indonesia Nomor 4441); Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1993 tentang Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1993 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2527) 8. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasaranma dan lalu Lintas Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1993 Nomor 63, Tambahan

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

33

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Lembaran 9.

Negara

Republik

Indonesia

Nomor 3529); Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4139). Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN DAERAH KOTA DPS dan WALIKOTA DENPASAR MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RETRIBUSI TERMINAL BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan: 1. Kota adalah Kota Denpasar; 2. Pemerintah Denpasar; 3. Walikota adalah Walikota Denpasar; 4. Dinas Perhubungan adalah Dinas Pehubungan Kota Denpasar; 5. Terminal bermotor mengatur adalah umum pangkalan yang dan kendaraan untuk digunakan Kota adalah Pemerintah Kota Secara dengan namun kesalahan teknis sudah sesuai 72 ketentuan masih yaitu angka ada Sesuai dengan ketentuan angka 38 TP3.

sampai dengan angka 82 TP3, sedikit penggunaan

tanda baca titik koma pada akhir setiap definisi, seharusnya tanda baca titik. Terdapat pengertian atau definisi yang tidak termasuk cakupan pengaturan retribusi terminal yang diamanatkan oleh UU PDRD 2009 (lihat angka: 6, 7, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 18, 19, 20 dan 22).

kedatangan

keberangkatan,

menaikkan dan menurunkan orang dan/atau barang serta perpindahan moda angkutan; 6. Terminal untuk Penumpang mengatur adalah pangkalan dan kendaraan bermotor umum yang digunakan kedatangan keberangkatan, menaikkan dan menurunkan orang serta perpindahan moda angkutan;

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

34

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

7. Terminal Barang adalah pangkalan kendaraan bermotor mengatur umum yang digunakan untuk kedatangan dan keberangkatan,

menaikkan dan menurunkan barang serta perpindahan moda angkutan; 8. Fasilitas Terminal adalah fasilitas utama dan fasilitas penunjang terminal; 9. Fasilitas Utama Terminal adalah fasiliytas yang wajib dimiliki pada setiap Terminal Penumpang dan Terminal Barang; 10. Fasilitas Penunjang Terminal adalah fasilitas yang bersifat menunjang kegiatan operasional terminal; 11. Daerah Lingkungan Kerja adalah daerah yang diperuntukkan bagi fasilitas terminal; 12. Pengguna Jasa adalah setiap orang dan/atau badan yang menggunakan fasilitas terminal baik untuk angkutan orang maupun barang; 13. Kendaraan Bermotor adalah setiap kendaraan yang digerakkan peralatan mekanik berupa mesin selain kendaraan yang berjalan di atas rel; 14. Kendaraan Bermotor Umum adalah setiap kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan barang dipungut biaya; 15. Mobil Penumpang adalah kendaraan bermotor angkutan maksimal yang 8 memiliki tempat termasuk duduk untuk (delapan) dan/atau orang dengan

pengemudi atau yang beratnya tidak lebih dari 3.500 (tigaribu limaratus) kg; 16. Mobil Bus adalah kendaraan bermotor angkutan orang yang memiliki tempat duduk
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

35

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

lebih dari 8 (delapan) orang, termasuk untuk pengemudi atau yang beratnya lebih dari 3.500 (tigaribu limaratus) kg. 17. Taksi adalah angkutan dengan menggunakan mobil penumpang umum diberi tanda khusus dan dilengkapi dengan argometer yang melayani angkutan dari pintu ke pintu dalam wilayah operasi terbatas. 18. Mobil barang adalah kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan barang. 19. Gudang atau lapangan penumpukan barang adalah bangunan dan atau pelataran di dalam terminal sementara. 20. Trayek adalah lintasan kendaraan umum untuk pelayanan jasa angkutan orang yang mempunyai asal dan tujuan perjalanan. 21. Retribusi Daerah, yang selanjutnya disebut Retribusi, adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau penyediaan tempat parker untuk kendaraan penumpang umum atau bus umum tempat kegiatan dan usaha kendaraan barang, serta pemakaian barang yang barang dediakan yang untuk bersifat menempatkan

fasilitas lainnya di lingkungan terminal yang dimiliki dan dikelola Pemerintah Daerah. 22. Retribusi Jasa Usaha adalah retribusi yang dikenakan atas pelayanan atau pemberian jasa usaha yang disediakan oleh Pemerintah Daerah dengan menganut prinsip komersial karena pada dasarnya dapat pula disediakan oleh swasta. 23. Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

36

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Badan yang menurut peraturan perundangundangan retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi, termasuk pemungut atau pemotong retribusi tertentu. 24. Masa Retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu bagi Wajib Retribusi untuk memanfaatkan jasa dan perizinan tertentu dari Pemerintah Daerah yang bersangkutan. 25. Surat oleh Setoran Wajib Retribusi Retribusi pembayaran lain yang Retribusi SKRD, Daerah, yang untuk selanjutnya disingkat SSRD, adalah surat yang digunakan atau melakukan pembayaran Walikota. 26. Surat Ketetapan Daerah, adalah yang surat selanjutnya disingkat penyetoran oleh

retribusi terhutang ke kas daerah atau tempat ditetapkan

ketetapan retribusi yang menentukan besarnya jumlah pokok retribusi. 27. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Lebih Bayar, yang selanjutnya disingkat SKRDLB, adalah surat ketetapan retribusi yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran retribusi karena jumlah kredit retribusi lebih besar daripada retribusi yang terutang atau seharusnya tidak terutang. 28. Surat Tagihan Retribusi Daerah, yang selanjutnya disingkat STRD, adalah surat untuk melakukan tagihan retribusi dan atau sanksi administratif berupa bunga atau denda. 29. Pemeriksaan untuk adalah serangkaian kegiatan mengolah mencari, mengumpulkan,

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

37

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

data dan atau keterangan lainnya untuk menguji retribusi kepatuhan daerah pemenuhan berdasarkan kewajiban peraturan

perundang-undangan retribusi daerah. 30. Penyidikan tindak pidana di bidang retribusi daerah adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil, yang selanjutnya dapat disebut penyidik, untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang dan retribusi daerah yang terjadi serta menemukan tersangka. Pasal 2 Penyelenggaraan 1. Mewujudkan dan/atau mampu lainnya; 2. Menunjang 3. Memberikan kelancaran keamanan, mobilitas angkutan dan orang dan/atau barang; kenyamanan ketertiban dalam rangka pelayanan kepada pengguna jasa terminal; dan 4. Peningkatan pendapatan asli daerah. BAB II KENDARAAN UMUM DAN MOBIL BARANG Pasal 3 Bukan materi muatan retribusi daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 156 ayat (3) UU PDRD 2009. Retribusi diamanatkan adalah Terminal UU untuk PDRD yang 2009 terminal terminal lalu lintas dengan dilakukan angkutan selamat, dan orang aman, dilaksanakan dengan tujuan untuk: barang Bukan daerah 2009. materi muatan retribusi dimaksud sebagaimana

dalam Pasal 156 ayat (3) UU PDRD

cepat, lancar, tertib, nyaman, efisien dan memadukan moda transportasi

(1) Setiap kendaraan umum dalam trayek dan


mobil barang yang melintas di wilayah Kota Denpasar wajib memasuki terminal.

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

38

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD
mobil

(2) Kendaraan
dikecualikan

umum dari

tidak ketentuan

dalam

trayek

penumpang, jadi tidak boleh ada pengaturan barang. Bukan materi muatan retribusi daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 156 ayat (3) UU PDRD 2009. Pengaturan tersendiri, penyelenggaraan karena substansi terminal seharusnya dalam perda pengaturannya sangat berbeda. mengenai

sebagaimana

dimaksud pada ayat (1). BAB III PENYELENGGARAAN TERMINAL Pasal 4

(1) Kegiatan
dilaksanakan Perhubungan.

penyelenggaran oleh Walikota

terminal melalui Dinas

(2) Penyelenggaraan terminal meliputi:


a. Pengoperasian; b. Pengelolaan.

(3) Pengoperasian terminal yang sebagaimana


dimaksud pada Pasal 4 ayat (2) huruf a kegiatannya meliputi: a. Perencanaan; b. Pelaksanaan; c. Pengawasan oprasional terminal.

(4) Pengelolaan terminal kegiatannya meliputi


kegiatan pengelolaan fasilitas-fasilitas terminal yang diusahakan.

(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara


Penyelenggaraan dimaksud pada Peraturan Walikota. BAB IV FASILITAS TERMINAL Pasal 5 Bukan materi muatan retribusi daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 156 ayat (3) UU PDRD 2009. Fasilitas terminal diatur dalam pasal mengenai objek retribusi. Terminal ayat (2) sebagaimana diatur dengan

(1) Penyelenggara terminal bertanggung jawab


terhadap pengadaan fasilitas utama dan fasilitas penunjang terminal.

(2) Pengoperasian dan pengelolaan fasilitas utama


Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

39

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

dan fasilitas penunjang terminal sepenuhnya untuk kegiatan operasional terminal. BAB V LINGKUNGAN KERJA TERMINAL Pasal 6 Bukan daerah materi muatan retribusi dimaksud sebagaimana

dalam Pasal 156 ayat (3) UU PDRD

(1) Lingkungan Kerja Terminal merupakan daerah 2009.


yang diperuntukkan bagi fasilitas terminal yang diatur dengan Peraturan Walikota.

(2) Lingkungan
Pelaksana

kerja Teknis

terminal untuk

sebagaimana melakukan Bukan daerah 2009. materi muatan retribusi dimaksud

dimaksud pada ayat (1) dikelola oleh Unit pelaksanaan pengoperasian fasilitas terminal. BAB VI TERTIB PENYELENGGARAAN TERMINAL Pasal 7 Dalam rangka tertib terminal pengoperasian atau petugas terminal terminal penyelenggara sebagaimana

dalam Pasal 156 ayat (3) UU PDRD

mempunyai kewenangan sebagai berikut:

(1) Melakukan pengawasan, pengendalian dan


penertiban di Lingkungan Kerja Terminal;

(2) Melaporkan
Terminal;

kegiatan

operasional

dan

pelanggaran yang terjadi di Lingkungan Kerja

(3) Melakukan monitoring dan evaluasi secara


berkala pelaksanaan operasional terminal dan

(4) Melakukan
keberangkatan.

pemeriksaan

persyaratan

administrasi dan teknis kendaraan sebelum Pasal 8 Setiap wajib pengguna menjaga jasa yang mempergunakan kenyamanan dan fasilitas utama dan/atau fasilitas penunjang terminal ketertiban,

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

40

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

kebersihan terminal. Pasal 9

(1) Setiap pengguna jasa dapat berperan serta


dalam mewujudkan tertib penyelenggaraan terminal;

(2) Peran serta sebagaimana dimaksud pada ayat


(1) meliputi: a. Melaporkan adanya kerusakan fasilitas terminal; b. Melaporkan kualitas pelayanan terminal; c. Memberikan masukan dalam rangka peningkatan pelayanan terminal.

(3) Peran serta sebagaimana dimaksud pada ayat


(2) disampaikan kepada penyelenggara atau petugas terminal. Pasal 10 Setiap pengguna jasa yang melakukan kegiatan di daerah lingkungan kerja terminal dilarang:

(1) Melakukan perubahan fisik fasilitas utama


terminal dan fasilitas penunjang terminal tanpa izin dari Kepala Dinas Perhubungan.

(2) Menjual tiket di luar tempat yang telah


ditentukan.

(3) Melakukan kegiatan atau usaha di daerah


lingkungan kerja terminal tanpa kepala Dinas Perhubungan.

(4) Menaikkan dan menurunkan penunpang atau


barang di luar tempat yang telah ditentukan. Pasal 11

(1) Karyawan dan awak kendaraan umum wajib


membawa surat tugas dan berpakaian pakaian seragam.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

41

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

(2) Karyawan dan awak sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) diberikan tanda pengenal oleh Pejabat atau petugas terminal. Pasal 12

(1) Karyawan ekspedisi dan petugas bongkar muat


wajib membawa surat tugas dan pakaian seragam.

(2) Karyawan ekspedisi dan petugas bongkar muat


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan tanda pengenal oleh Pejabat atau petugas terminal.

(3) Setiap angkutan barang kendaraan bermotor


umum Barang. BAB VII PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 13 Bukan daerah 2009. materi muatan retribusi dimaksud sebagaimana wajib menunjukkan Surat Muatan Barang dan Surat Perjanjian Pengangkutan

dalam Pasal 156 ayat (3) UU PDRD terminal Dinas

(1) Pembinaan
dilaksanakan Perhubungan.

penyelenggaraan oleh Walikota

melalui

(2) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) meliputi kegiatan perencanaan, pengelolaan dan pemeliharaan terminal. Pasal 14

(1) Setiap kegiatan dan/atau usaha di daerah


lingkungan kerja wajib mendapatkan izin Kepala Dinas Perhubungan.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara izin


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Walikota.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

42

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

BAB VIII NAMA, OBYEK DAN SUBYEK RETRIBUSI Pasal 15 Dengan nama retribusi terminal, dipungut retribusi kepada setiap orang atau badan hukum yang menggunakan fasilitas terminal.

Pasal 16 Obyek retribusi adalah pelayanan penyediaan tempat parker untuk kendaraan penumpang dan bus umum, tempat kegiatan usaha dan fasilitas lainnya di lingkungan terminal yang disediakan, dimiliki dan/atau dikelola oleh Pemerintah Daerah. Pasal 17 Subyek Retribusi Terminal adalah orang pribadi dan atau Badan Hukum yang menggunakan fasilitas terminal. BAB IX GOLONGAN RETRIBUSI Pasal 18 Retribusi terminal termasuk golongan Retribusi Jasa Usaha. BAB X PRINSIP DALAM PENETAPAN STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI Pasal 19

Nama Retribusi Daerah tidak merupakan judul bab, melainkan nama Retribusi Daerah tercantum dalam judul Perda dan dalam diktum Perda Judul Peraturan Perundangundangan memuat keterangan mengenai jenis, nomor, tahun pengundangan atau penetapan, dan nama Peraturan Perundangundangan. Diktum terdiri atas: kata Memutuskan; b. kata Menetapkan; nama Peraturan Perundang-undangan. Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan, angka 2 dan angka 35(vide Pasal Pasal 44 ayat (2) UU P3). Tidak sesuai dengan Pasal 131 UU PDRD 2009.

Tidak sesuai dengan Pasal 139 ayat (1) UU PDRD 2009.

Sudah sesuai dengan UU PDRD 2009.

Tidak sesuai dengan Pasal 153 UU PDRD 2009.

(1) Prinsip dalam penetapan struktur dan besarnya


Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

43

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

tariff retribusi terminal didasarkan pada tujuan untuk menutup sebagian biaya penyelenggaraan operasional terminal.

(2) Biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


meliputi komponen biaya survey lapangan dan biaya transportasi dalam rangka pembinaan, pengawasan, pengendalian dan penertiban. BAB XI STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI Pasal 20 FGD (Dinas digolongkan Denpasar), sebagaimana dalam ajukan. dengan SKPD yang Kota tariff membidangi Retribusi Terminal Perhubungan menghendaki yang yang

(1) Struktur

tarif

Retribusi

berdasarkan jenis fasilitas, jenis kendaraan dan jangka waktu pemakaian.

disebutkan mereka

Raperda Namun

(2) Struktur dan besarnya tarif sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) ditetapkan sebagai berikut : a. Retribusi Terminal kendaraan umum meliputi: 1. Mobil Bus : a) Mobil Bus antar kota antar propinsi: Rp. 2.000,00 (dua ribu rupiah)/sekali masuk; b) Mobil Bus antar kota dalam propinsi: Rp. 1.000,00 (seribu rupiah)/sekali masuk; 2. Taksi: Rp. 1.000,00 (seribu rupiah)/sekali masuk. b. Retribusi Pemakaian Tempat Usaha meliputi: 1. Los: Rp. 10.000,00 (sepuluh ribu rupiah)/m2/bulan; 2. Kios: Rp. 15.000,00 (limabelas ribu rupiah)/m2/bulan c. Retribusi Pemakaian Toilet meliputi: 1. Buang air kecil : Rp. 1.000,00 (seribu rupiah)/sekali

pencantuman

retribusi terhadap mobil barang tidak sesuai dengan UU PDRD 2009. Retribusi Terminal Barang tidak diatur dalam UU PDRD 2009.

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

44

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

pakai 2. Buang air besar: Rp. 2.000,00 (dua ribu rupiah)/sekali pakai 3. Mandi: Rp. 2.000,00 (dua ribu rupiah)/sekali pakai d. Retribusi Terminal Barang meliputi: 1. Retribusi Mobil Barang a) JBB 0 kilogram sampai dengan 2.750 kilogram adalah Rp. 3.000,00 (tiga ribu rupiah)/setiap masuk; b) JBB 2.751 kilogram sampai dengan 5.000 kilogram adalah Rp. 5.000,00 (lima ribu rupiah)/setiap masuk; c) JBB 5.001 kilogram sampai dengan 9.000 kilogram adalah Rp.6.000,00 (enam ribu rupiah)/setiap masuk; d) JBB 9.001 kilogram sampai dengan 15.000 kilogram adalah Rp.8.000,00 (delapan ribu rupiah)/setiap masuk; e) JBB 15.001 kilogram sampai dengan 20.000 kilogram adalah Rp.12.000,00 (duabelas ribu rupiah)/setiap masuk; f) JBB 20.001 kilogram ke atas adalah Rp.18.000,00 (delapanbelas ribu rupiah)/setiap masuk. 2. Retribusi Bongkar Angkutan Barang a) JBB 0 kilogram sampai dengan 2.750 kilogram adalah Rp. 2.000,00 (dua ribu rupiah)/setiap bongkar; b) JBB 2.751 kilogram sampai dengan 5.000 kilogram adalah Rp. 3.000,00 (tiga ribu rupiah)/setiap bongkar; c) JBB 5.001 kilogram sampai dengan 9.000 kilogram adalah Rp.4.000,00 (empat ribu rupiah)/setiap bongkar; d) JBB 9.001 kilogram sampai dengan 15.000 kilogram adalah Rp.5.000,00 (lima ribu rupiah)/setiap bongkar; e) JBB 15.001 kilogram sampai dengan 20.000 kilogram adalah
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

45

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

f)

3. a)

b)

c)

d)

e)

f)

4. a) b) 5. a)

b)

c)

d)

Rp.6.000,00 (enam ribu rupiah)/setiap bongkar; JBB 20.001 kilogram ke atas adalah Rp.8.000,00 (delapan ribu rupiah)/setiap bongkar. Retribusi Muat Angkutan Barang JBB 0 kilogram sampai dengan 2.750 kilogram adalah Rp. 3.000,00 (tiga ribu rupiah)/sekali muat; JBB 2.751 kilogram sampai dengan 5.000 kilogram adalah Rp. 4.000,00 (empat ribu rupiah)/sekali muat; JBB 5.001 kilogram sampai dengan 9.000 kilogram adalah Rp.5.000,00 (lima ribu rupiah)/sekali muat; JBB 9.001 kilogram sampai dengan 15.000 kilogram adalah Rp.6.000,00 (enam ribu rupiah)/sekali muat; JBB 15.001 kilogram sampai dengan 20.000 kilogram adalah Rp.7.000,00 (tujuh ribu rupiah)/sekali muat; JBB 20.001 kilogram ke atas adalah Rp.8.000,00 (delapan ribu rupiah)/sekali muat. Retribusi Pemakaian Gudang meliputi: Bulanan sebesar Rp. 15.000,00 (lima belas ribu rupiah)/m2/bulan; Harian sebesar Rp. 1.000,00 (seribu rupiah)/m2/hari. Retribusi Jasa Tunggu meliputi: JBB 0 kilogram sampai dengan 2.750 kilogram adalah Rp. 3.000,00 (tiga ribu rupiah)/hari; JBB 2.751 kilogram sampai dengan 5.000 kilogram adalah Rp. 4.000,00 (empat ribu rupiah)/ hari; JBB 5.001 kilogram sampai dengan 9.000 kilogram adalah Rp.5.000,00 (lima ribu rupiah)/ hari; JBB 9.001 kilogram sampai dengan
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

46

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

15.000 kilogram adalah Rp.6.000,00 (enam ribu rupiah)/ hari; e) JBB 15.001 kilogram sampai dengan 20.000 kilogram adalah Rp.7.000,00 (tujuh ribu rupiah)/ hari; f) JBB 20.001 kilogram ke atas adalah Rp.8.000,00 (delapan ribu rupiah)/ hari. BAB XII WILAYAH DAN TATA CARA PEMUNGUTAN Pasal 21 Retribusi yang terutang dipungut di tempat pelayanan terminal.

Narasi sebaiknya: Retribusi yang terutang daerah diberikan. Tata cara pemungutan sebaiknya ditempatkan dalam bab tersendiri dengan judul bab: Penentuan pembayaran, pembayaran, angsuran, tempat dan dipungut tempat di wilayah pelayanan

penundaan pembayaran, sesuai dengan UU PDRD 2009. Pasal 22 (1) Pemungutan retribusi tidak dapat diborongkan. (2) Retribusi dipungut dengan menggunakan Saat retribusi terutrang sebaiknya ditempatkan dalam bab: Penentuan pembayaran, tempat pembayaran, adalah pada saat angsuran, pembayaran, PDRD 2009. BAB IV TATA CARA PEMBAYARAN DAN PENAGIHAN RETRIBUSI Pasal 24
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan. BAB XIII SAAT RETRIBUSI TERUTANG Pasal 23 Saat retribusi terutang diterbitkannya SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.

dan sesuai

penundaan dengan UU

Tata cara penagihan ditempatkan dalam bab tersendiri.

47

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

(1) Pembayaran retribusi yang terutang harus dilunasi sekaligus. (2) Retribusi yang terutang dilunassi paling lama 15 (limabelas) hari sejak diterbitkan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan. (3) Tata cara pembayaran, penyetoran, tempat pembayaran retribusi diatur dengan Peraturan Walikota. Pasal 25 (1) Pengeluaran Surat Teguran atau peringatan atau surat lain yang sejenis sebagai awal tindakan pelaksanaan penagihan retribusi dikeluarkan segera setelah 7 (tujuh) hari kerja sejak jatuh tempo pembayaran. (2) Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja setelah tanggal surat teguran atau peringatan atau surat lain yang sejenis, Wajib Retribusi harus melunasi retribusinya yang terutang. (3) Dalam jangka waktu 30 (tigapuluh) hari kerja setelah tanggal surat teguran atau peringatan atau surat lain yang sejenis disampaikan, Wajib Retribusi belum membayar retribusi terutang, maka izin tidak dapat diberikan. BAB XV PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN RETRIBUSI Pasal 26 (1) Atas kelebihan pembayaran retribusi, Wajib Retribusi dapat mengajukan permohonan pengembalian kepada Walikota. (2) Walikota dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak diterimanya permohonan kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

Bukan Retribusi 2009.

materi

muatan

Perda

sebagaimana

dimaksud

dalam Pasal 156 ayat (3) UU PDRD

48

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

dimaksud pada ayat (1) harus memberikan keputusan. (3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) telah dilampaui dan Walikota tidak memberikan suatu keputusan, kelebihan permohonan pemngembalian

retribusi dianggap dikabulkan dan SKRDLB harus diterbitkan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan. (4) Apabila Wajinb Retribusi mempunyai utang retribusi langsung lainnya, kelebihan pembayaran melunasi retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperhitungkan untuk terlebih dahulu utang retribusi tersebut. (5) Pengembalian kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan sejak diterbitkannya SKRDLB. (6) Apabila pengembalian kelebihan pembayaran retribusi dilakukan setelah lewat jangka waktu 2 (dua) bulan, Walikota memberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan atas keterlambatan pembayaran kelebihan retribusi. Pasal 27 (1) Permohonan pengembalian kelebihan pembayaran retribusi diajukan secara tertulis kepada Walikota dengan menyebutkan : a. Nama dan alamat Wajib Retribusi; b. Besarnya kelebihan pembayaran; dan c. Alasan yang singkat dan jelas. pengembalian pembayaran (2) Permohonan

retribusi disampaikan secara langsung atau melalui pos tercatat.


Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

49

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

(3) Bukti penerimaan oleh Pejabat Daerah atau bukti pengiriman pos tercatat merupakan bukti saat permohonan diterima oleh Walikota. Pasal 28

(1) Pengembalian kelebihan retribusi dilakukan


dengan menerbitkan Surat Perintah Membayar Kelebihan Retribusi.

(2) Apabila

kelebihan

pembayaran

retribusi

diperhitungkan dengan utang retribusi lainnya, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (4), pembayaran dilakukan dengan cara pemindahbukuan dan bukti pemindahbukuan sebagai bukti pembayaran. BAB XVI PENGURANGAN, KERINGANAN DAN PEMBEBASAN RETRIBUSI Pasal 29 (1) Walikota retribusi. (2) Pemberian pengurangan atau keringanan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan memperhatikan kemampuan Wajib Retribusi, antara lain, untuk mengangsur. (3) Ketentuan mengenai tata cara pengurangan keringanan dan pembebasan retribusi diatur lebih lanjut dengan Peraturan Walikota. BAB XVII KADALUWARSA PENAGIHAN Pasal 30 (1) Hak untuk melakukan penagihan retribusi kadaluwarsa setelah melampaui jangka waktu Bukan retribusi materi daerah muatan perda sebagaimana dapat dan memberikan pengurangan, besarnya keringanan pembebasan Merupakan materi tambahan dalam perda 2009. retribusi yang disebutkan dalam Pasal 156 ayat (4) UU PDRD

dimaksud dalam Pasal 156 ayat (3) UU PDRD 2009. Kedaluwarsa penagihan retribusi

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

50

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

(lima)

tahun

terhitung

sejak

saat

daerah diatur dalam Pasal 167 UU PDRD 2009.

terutangnya retribusi, kecuali apabila Wajib Retribusi melakukan tindak pidana di bidang retribusi. (2) Kadaluwarsa penagihan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tertangguh apabila: a. Diterbitkan Surat Teguran atau Surat Paksa; b. Ada pengakuan utang retribusi dari Wajib Retribusi baik langsung maupun tidak langsung. BAB XVIII SANKSI ADMINISTRASI Pasal 31 (1) Pelanggaran terhadap pasal peraturan Daerah ini dapat dikenakan sanksi administratif oleh Walikota mulai dari teguran sampai dengan penghentian kegiatan dan/atau pencabutan izin. (2) Teguran tertulis sebagaimana yang dimaksud ayat (1) diberikan paling banyak 3 (tiga) kali dengan selang waktu masing-masing paling lama 1 (satu) bulan. (3) Apabila terakhir sampai yang dengan teguran tetap tertulis tidak bersangkutan

Ketentuan mengenai teguran tidak diatur dalam UU PDRD 2009. Sebaiknya hal ini diatur dengan peraturan walikota.

memenuhi ketentuan peraturan yang berlaku, dicabut dan atau dinyatakan tidak berlaku. Pasal 32 Dalam hal Wajib Retribusi tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang membayar, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan dari retribusi yang terutang atau kurang dibayar dan ditagih dengan Pasal ini sesuai dengan UU PDRD 2009.

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

51

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

menggunakan STRD. BAB XIX KETENTUAN PENYIDIKAN Pasal 33 (1) Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) di lingkungan Pemerintah Kota diberi wewenang khusus sebagai Penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang retribusi daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (2) Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: a. menerima, mencari mengumpulkan dan meneliti retribusi b. meneliti, keterangan daerah agar mencari dan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana di bidang keterangan atau mengumpulkan atau laporan tersebut menjadi lengkap dan jelas; keterangan mengenai orang pribadi bidang retribusi daerah tersebut; c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang retribusi daerah; d. memeriksa buku-buku, catatan-catatan dan dokumen-dokumen lain yang berkenaan dengan tindak pidana di bidang retribusi daerah; e. melakukan mendapatkan penggeledahan bahan bukti untuk pembukuan, Sesuai dengan Pasal 173 UU PDRD 2009.

badan sehubungan dengan tindak pidana di

pencatatan, dan dokumen-dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut; f. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

52

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

pidana di bidang retribusi daerah; g. menyuruh berhenti, melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa dokumen h. memotret daerah; i. memanggil keterangannya j. k. orang dan untuk diperiksa didengar sebagai identitas yang orang dan atau dibawa sebagaimana berkaitan

dimaksud pada huruf e; seseorang yang dengan tindak pidana di bidang retribusi

tersangka atau saksi; menghentikan penyidikan; melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana di bidang retribusi daerah menurut hukum yang dapat dipertanggung jawabkan. BAB XX KETENTUAN PIDANA Pasal 34 (1) Setiap orang atau Badan yang melanggar sebagaimana dimaksud ketentuan dalam Pasal 3, Pasal 10, Pasal 11, Pasal 12 dan Pasal 22 Peraturan Daerah ini diancam dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga bulan) atau denda paling banyak tiga kali jumlah retribusi terutang. (2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran. BAB XXI KETENTUAN PENUTUP Pasal 35 Pada saat Peraturan Daerah ini berlaku, Peraturan Selain seharusnya ketentuan ketentuan diberikan peralihan, penutup, juga sebagai Oleh karena Pasal 3, Pasal 10, Pasal 11, dan Pasal 12 (raperda) bukan retribusi PDRD materi daerah 2009, pokok perda sebagaimana maka pasal

dimaksud Pasal 156 ayat (3) UU (raperda) ini juga tidak sesuai dengan UU PDRD 2009.

antisipasi terhadap retribusi yang

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

53

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Daerah Kota Denpasar Nomor.Tahun..tentang Retribusi Fasilitas Terminal (Lembaran Daerah Kota Denpasar TahunNomor) Pasal 36 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang dapat mengetahuinya dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

terutang berdasarkan perda yang lama.

memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Denpasar.

Sumber

: Diolah dari Raperda Kota Denpasar usulan SKPD tentang Retribusi Terminal, UU PDRD 2009, dan UU P3.

Hasil analisis menunjukan usulan rancangan tersebut lemah dari segi landasan yuridisnya, oleh karena tidak berdasarkan dan bersumberkan pada UU PDRD 2009 dan UU Pemda 2004, serta perumusannya tidak sesuai dengan teknik penyusunan peraturan perundang-undangan sebagaimana diamanatkan Pasal 44 ayat (2) UU P3.

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

54

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

BAB

III
BATAS KEWENANGAN PENGATURAN RETRIBUSI TERMINAL KOTA DENPASAR

A. KEWENANGAN PROVINSI DAN PENGATURAN RETRIBUSI DAERAH

KABUPATEN/KOTA

DALAM

Berbeda dengan pengaturan kewenangan pajak daerah, yang telah ditentukan jenis pajak daerah yang menjadi kewenangan provinsi (Pasal 2 ayat (1) UU PDRD) dan jenis pajak daerah yang menjadi kewenangan kabupaten/kota (Pasal 2 ayat (2) UU PDRD), kewenangan provinsi dan kabupaten/kota atas retribusi daerah tidaklah berasarkan jenis retribusi daerah. Matrik berikut dapat menperjelas. Matrik 4: Kewenangan Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota atas Retribusi Jasa Umum, Retribusi Jasa Usaha, dan Retribusi Perizinan Tertentu.
RETRIBUSI JASA UMUM disesuaikan dengan kewenangan Daerah masing-masing sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan (Pasal 149 (1) UU PDRD) DAERAH KABUPATEN /KOTA disesuaikan dengan kewenangan Daerah masing-masing sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan (Pasal 149 (1) UU PDRD) RETRIBUSI JASA USAHA disesuaikan dengan jasa/pelayanan yang diberikan oleh Daerah masing-masing (Pasal 149 (2) UU PDRD). disesuaikan dengan jasa/pelayanan yang diberikan oleh Daerah masing-masing (Pasal 149 (2) UU PDRD). RETRIBUSI PERIZINAN TERTENTU disesuaikan dengan kewenangan Daerah masing-masing sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan (Pasal 149 (1) UU PDRD) disesuaikan dengan kewenangan Daerah masing-masing sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan (Pasal 149 (1) UU PDRD)

URAIAN DAERAH PROVINSI

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

55

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Kewenangan Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota atas retribusi daerah tidaklah bedasarkan jenis retribusi daerah, melainkan pada kewenangan Daerah masing-masing dan pelayanan atau jasa yang diberikan masing-masing Daerah. Untuk mengetahui kewenangan Daerah masing-masing, sehingga dapat menentukan Jenis Retribusi Jasa Umum dan Retribusi Perizinan Tertentu yang menjadi kewenangan Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota, dengan menelusuri Peraturan Daerah tentang urusan pemerintahan daerah. Contoh: 1. Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 4 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan Daerah Kota Denpasar (Lembaran Daerah Kota Denpasar Tahun 2008 Nomor 4, Tambahan Lembaran Daerah Kota Denpasar Nomor 4). 2. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 1 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan Daerah Provinsi Bali (Lembaran Daerah Provinsi Bali Tahun 2008 Nomor 1, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Bali Nomor 1). 3. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737). Berbeda pula dengan pengaturan pajak daerah yang menganut sistem daftar tertutup, yakni dilarang memungut pajak daerah selain yang telah ditentukan dalam Pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) UU PDRD. Larangan ini tercantum dalam Pasal 2 ayat (3) UU PDRD. Untuk retribusi daerah, UU PDRD menganut sistem daftar tutup-buka, artinya Daerah dapat memungut retribusi selain yang ditetapkan dalam Pasal 110 ayat (1), Pasal 127, dan Pasal 140 UU PDRD apabila telah ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah (Pasal 150 UU PDRD).

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

56

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

B. BATAS KEWENANGAN PENGATURAN RETRIBUSI DAERAH 1. Batas Negatif Batas negatif adalah pengaturan retribusi daerah tidak boleh bertentangan sejumlah larangan tertentu. Untuk memahami batas negatif ini akan ditelusuri UU Pemda dan UU Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah. Pasal 136 ayat (4) UU Pemda menentukan, Perda dilarang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Yang dimaksud dengan "bertentangan dengan kepentingan umum" dalam ketentuan ini adalah kebijakan yang berakibat terganggunya kerukunan antar warga masyarakat, terganggunya umum Pelayanan serta umum, yang dan bersifat terganggunya diskriminatif ketenteraman/ketertiban kebijakan

(Penjelasan Pasal 136 ayat (4) UU Pemda). Pasal 7 huruf a dan b UU Nomor 33 Tahun 2004 menentukan, dalam upaya meningkatkan PAD, daerah dilarang: a. menetapkan peraturan daerah tentang pendapatan yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi; dan b. menetapkan peraturan daerah tentang pendapatan yang menghambat mobilitas penduduk, lalu lintas barang dan jasa antar daerah, dan kegiatan impor/ekspor. Peraturan daerah tentang pendapatan yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi adalah peraturan daerah yang mengatur pengenaan pajak dan tertribusi oleh Daerah terhadap objek-objek yang telah dikenakan pajak oleh Pusat dan provinsi, sehingga menyebabkan menurunnya daya saing daerah. Contoh pungutan yang dapat menghambat kelancaran mobilitas penduduk, lalu lintas barang dan jasa antar daerah, dan kegiatan impor/ekspor antara lain adalah retribusi izin masuk kota dan pajak/retribusi atas pengeluaran/pengiriman barang dari suatu daerah ke daerah lain (Penjelasan Pasal 7 huruf a dan huruf b UU Nomor 33 Tahun 2004). Batas-batas tersebut yang menjadi dasar dalam menyusun konsep awal Raperda tentang retribusi, yakni: 1. Larangan bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

57

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

2. Larangan menyebabkan ekonomi biaya tinggi dan menghambat mobilitas penduduk, lalu lintas barang dan jasa antar daerah, dan kegiatan impor/ekspor. Untuk pemahaman yang lebih memadai tentang batasa negatif materi muatan, perlu dikemukakan berikut ini beberapa praktek pembatalan Perda mengenai pungutan daerah, yakni: 1. Kepmendagri Nomor 61Tahun 2007 tentang Pembatalan Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 1 Tahun 2003 tentang Retribusi Pemasukan/Pengeluaran Ternak, Produk Hewan Pangan dan Non-Pangan. Dalam Menimbang Kepmendagri dikemukakan, bahwa Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 1 Tahun 2003 tentang Retribusi Pemasukan/Pengeluaran Ternak, Produk Hewan Pangan dan Non Pangan, bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Adapun alasan pembatalan lebih rinci terdapat dalam diktum: Membatalkan Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 1 Tahun 2003 tentang Retribusi Pemasukan/Pengeluaran Ternak, Produk Hewan Pangan dan Non Pangan, dengan alasan bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 dan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah, karena : 1. Penetapan struktur dan besarnya tarif Retribusi dengan Surat Keputusan Gubernur bertentangan dengan Pasal 24 ayat (3) huruf e UndangUndang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah; 2. Pasal 7 Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, yang menyatakan bahwa pemerintah daerah dilarang menetapkan Peraturan Daerah tentang pendapatan yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi, menghambat mobilitas penduduk, lalu lintas barang dan jasa antar daerah dan kegiatan ekspor/impor; 3. Pengenaan retribusi Pemasukan/pengeluaran ternak, produk hewan pangan dan non pangan dapat mengakibatkan ekonomi biaya tinggi dan menghambat lalu lintas barang antar daerah. 2. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor Tentang Pengusahaan Pertambangan 217 Tahun 2009 tentang Dalam Menimbang

Pembatalan Peraturan Daerah Kota Palangkaraya Nomor 11 Tahun 2001 Umum.


Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

58

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Kepmendagri disebutkan,

bahwa Peraturan Daerah Kota Palangkaraya

Nomor 11 Tahun 2001 tentang Pengusahaan Pertambangan Umum, bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Alasan pembatalan lebih rinci terdapat dalam diktum: 1. Pemerintah Daerah dilarang melakukan pungutan atau dengan sebutan lain di luar pajak dan retribusi sesuai dengan Pasal 158 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. 2. Kegiatan usaha pertambangan bahan galian golongan A dan B telah dikenakan pungutan Pusat (PNBP) berupa iuran tetap/landrent dan iuran eksplorasi dan eksploitasi/royalty sesuai Pasal 2 ayat (1) huruf b UndangUndang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak dan Lampiran II A angka 8 Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1997 jo. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2003 tentang Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. 3. Pengenaan iuran eksplorasi dan iuran eksploitasi terhadap produksi bahan galian golongan C duplikasi dengan Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C sesuai dengan Pasal 63 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah. 2. Batas Positif Batas positif adalah pengaturan retribusi daerah harus memenuhi sejumlah perintah tertentu, yakni berupa (a) landasan keabsahan norma hukum (validitas norma hukum) dan (b) asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik. a. Landasan Keabsahan Norma Hukum Landasan keabsahan norma hukum, dalam teknik penyusunan peraturan perundang-undangan dituangkan dalam konsiderans Peraturan Perundangundangan. Konsiderans diawali dengan kata Menimbang, yang memuat uraian singkat mengenai pokok-pokok pikiran yang menjadi latar belakang dan alasan pembuatan Peraturan Perundang-undangan. Pokok-pokok pikiran pada konsiderans undang-undang atau peraturan daerah memuat unsur filosofis, yuridis, dan sosiologis yang menjadi latar belakang pembuatannya (Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan, angka 16, angka 17, dan angka 18 (vide Pasal 44
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

59

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

ayat (2) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan). Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, khususnya dalam Lampiran yang memuat Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan, tidak memberikan penjelasan tentang makna unsur filosofis, yuridis, dan sosiologis yang menjadi latar belakang pembuatan undang-undang atau peraturan daerah. Penjelasan tentang unsur filosofis, yuridis, dan sosiologis dapat ditemukan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.HH01.PP.01.01 Tahun 2008 Tentang Pedoman Penyusunan Naskah Akademik Rancangan Peraturan Perundang-undangan, namun dalam kaitannya dengan penyusunan Naskah Akademik Rancangan Peraturan Perundang-undangan, yakni: Latar Belakang Pemikiran mengenai alasan atau landasan filosofis, sosiologis, yuridis, yang mendasari pentingnya materi hukum yang bersangkutan segera diatur dalam peraturan perundang-undangan. 1. Landasan Filosofis. Memuat pandangan hidup, kesadaran dan cita-cita hukum serta cita-cita moral yang luhur yang meliputi suasana kebatinan serta watak dari bangsa Indonesia yang termaktub dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945. 2. Landasan Yuridis. Memuat suatu tinjauan terhadap peraturan perundangundangan yang ada kaitannya dengan judul Naskah Akademik Peraturan Perundang-Undangan yang telah ada dan masih berlaku (hukum positif). Yang termasuk dalam peraturan perundang-undangan pada landasan yuridis adalah sebagaimana yang diatur dalam Pasal 7 UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. 3. Landasan Sosiologis. Memuat suatu tinjauan terhadap gejala-gejala sosial-ekonomi-politik yang berkembang di masyarakat yang mendorong perlu dibuatnya Naskah Akademik. Landasan/alasan sosiologis sebaiknya juga memuat analisis kecenderungan sosiologis-futuristik tentang sejauh mana tingkah laku sosial itu sejalan dengan arah dan tujuan pembangunan hukum nasional yang ingin dicapai. Pemaknaan landasan yuridis tersebut belum memberikan pemaknaan yang signifikan sebagai unsur yang menjadi latar belakang dan alasan pembuatan Peraturan Perundang-undangan. Muatan landasan yuridis sebagai unsur yang menjadi latar belakang dan alasan pembuatan Peraturan Perundang-undangan
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

60

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

bukanlah tentang suatu tinjauan terhadap peraturan perundang-undangan yang ada kaitannya. Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan, angka 26 (vide Pasal 44 ayat (2) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan), menentukan dasar hukum (landasan yuridis istilah yang digunakan dalam Pedoman Penyusunan Naskah Akademik Rancangan Peraturan Perundang-undangan) memuat dasar kewenangan pembuatan Peraturan Perundang-undangan dan Peraturan Perundang-undangan yang memerintahkan pembuatan Peraturan Perundang-undangan landasan yuridis memuat: 1. dasar hukum formal, yakni Peraturan Perundang-undangan yang menjadi dasar kewenangan pembentukan suatu Peraturan Perundang-undangan. 2. dasar hukum substansial, yakni Peraturan Perundang-undangan Perundang-undangan. Mengaitkan substansi penjelasan ketiga landasan tersebut dengan unsur filosofis, yuridis, dan sosiologis yang mesti terdapat dalam konsiderans peraturan perundang-undangan, maka diperoleh pemaknaan sebagai berikut: 1. unsur filosofis adalah pandangan hidup, kesadaran dan cita-cita hukum serta cita-cita moral yang luhur yang meliputi suasana kebatinan serta watak dari bangsa Indonesia yang termaktub dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 yang menjadi latar belakang dan alasan pembuatan Peraturan Perundang-undangan. 2. unsur yuridis adalah peraturan perundang-undangan yang merupakan: a. dasar hukum formal, yakni Peraturan Perundang-undangan undangan. b. dasar hukum substansial, yakni Peraturan Perundang-undangan yang memerintahkan materi muatan tetentu diatur dalam suatu Peraturan Perundang-undangan.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

tersebut. Jadi, dasar hukum atau

yang

memerintahkan materi muatan tetentu diatur dalam suatu Peraturan

yang

menjadi dasar kewenangan pembentukan suatu Peraturan Perundang-

61

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD
yang

3. unsur

sosiologis

adalah

gejala-gejala

sosial-ekonomi-politik

berkembang di masyarakat yang menjadi latar belakang dan alasan pembuatan Peraturan Perundang-undangan. Pemaknaan unsur filosofis, yuridis, dan sosiologis yang diperoleh dengan memanfaatkan interpretasi sistematis, perlu dilengkapi dengan menggali pemaknaan secara teoritis melalui penelusuran pendapat para sarjana. Jimly Asshiddiqie mengemukakan, bahwa konsideran yang terdapat dalam setiap undang-undang, pada pokoknya berkaitan dengan 5 (lima) landasan pokok bagi berlakunya norma-norma yang terkandung di dalam undang-undang tersebut bagi subjek-subjek hukum yang diatur oleh undang-undang itu. Kelima landasan tersebut adalah landasan yang bersifat filosofis, sosiologis, politis, dan juridis, serta landasan yang bersifat administratif. Keempat landasan yang pertama adalah landasan keberlakuan yang bersifat mutlak, sedangkan satu landasan yang terakhir bersifat fakultatif.23 Berikut dikemukakan pengertian masing-masing landasan keberlakuan tersebut.

Pertama, landasan filosofis. Undang-Undang dapat digambarkan sebagai


cermin dari cita-cita kolektif suatu masyarakat tentang nilai-nilai luhur dan filosofis yang hendak diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui pelaksanaan undangundang dalam kenyataan. Dengan demikian, cita-cita filosofis yang terkandung dalam undang-undang itu hendaklah mencerminkan cita-cita filosofis yang dianut masyarakat bangsa yang bersangkutan itu sendiri. Bagi Indonesia, Pancasila merupakan landasan filosofis semua produk undang-undang Republik Indonesia berdasarkan UUD 1945.

Kedua, landasan sosiologis adalah bahwa setiap norma hukum yang


dituangkan dalam undang-undang haruslah mencerminkan tuntutan kebutuhan masyarakat sendiri akan norma hukum yang sesuai dengan realitas kesadaran hukum masyarakat. Oleh karena itu, dalam konsideran, harus dirumuskan dengan baik pertimbangan-pertimbangan yang bersifat empiris sehingga suatu gagasan
Jimly Asshiddiqie, Perihal Undang-Undang, (Konstitusi Press, Jakarta, 2006), hlm. 169-174.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal
23

62

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD
pada

normatif yang dituangkan dalam undang-undang benar-benar didasarkan

kenyataan yang hidup dalam kesadaran hukum masyarakat. Dengan demikian, norma hukum yang tertuang dalam undang-undang itu kelak dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya di tengah-tengah masyarakat hukum yang diaturnya.

Ketiga, landasan politis ialah bahwa dalam konsideran harus pula tergambar
adanya cita-cita dan norma dasar yang terkandung dalam UUD 1945 sebagai sumber kebijakan pokok atau sumber politik hukum yang melandasi pembentukan undang-undang yang bersangkutan.

Keempat, landasan juridis. Dimaksud dengan landasan ini oleh Jimly


Asshiddiqie adalah yang disebutnya sebagai bagian konsideran Mengingat dari undang-undang (dan peraturan perundang-undangan pada umumnya).

Kelima, landasan administratif adalah yang dituangkan dalam konsideran


Memperhatikan. Selanjutnya, Jimly Asshiddiqie kembali membicarakan keberlakuan norma hukum atas keberlakuan secara filosofis, politis, juridis, sosiologis, maupun secara administratif. Namun, yang diuraikan hanya empat keberlakuan yang pertama. Pada dasarnya uraiannya sama dengan uraian sebelumnya, hanya yang berbeda pada uraian tentang keberlakuan politis dan keberlakuan sosiologis. Untuk jelasnya adalah sebagai berikut.24

Pertama, keberlakuan filosofis. Suatu norma hukum dikatakan berlaku


secara filosofis apabila norma hukum itu memang bersesuaian dengan nilai-nilai filosofis yang dianut oleh suatu Negara. Untuk hal ini, nilai-nilai filosofis Negara Republik Indonesia terkandung dalam Pancasila sebagai staatsfundamentalnorm

Kedua, keberlakuan yuridis adalah keberlakuan suatu norma hukum dengan


daya ikatnya untuk umum sebagai suatu dogma yang dilihat dari pertimbangan yang bersifat teknis juridis. Secara juridis, suatu norma hukum dikatakan berlaku apabila norma hukum itu sendiri memang:

24

Jimly Asshiddiqie, Ibid., hlm. 240-244.


Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

63

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

1. ditetapkan sebagai norma hukum berdasarkan norma hukum yang lebih superior atau lebih tinggi, seperti dalam pandangan Hans Kelsen dengan Stuffenbau Theorie des Recht. 2. ditetapkan mengikat atau berlaku karena menunjukkan hubungan keharusan antara suatu kondisi dengan akibatnya, seperti dalam pandangan J.H.A. Logemann. 3. ditetapkan sebagai norma hukum menurut prosedur pembentukan hukum yang berlaku, seperti dalam pandangan W. Zevenbergen. 4. ditetapkan sebagai norma hukum oleh lembaga yang memang berwenang untuk itu. Pandangan Jimly Asshiddiqie tentang keberlakuan yuridis lebih luas dari yang disebutnya sebagai bagian konsideran Mengingat dari undang-undang, yang tiada lain adalah dasar hukum.

Ketiga, keberlakuan politis. Suatu norma hukum dikatakan berlaku secara


politis apabila pemberlakuannya itu memang didukung oleh faktor-faktor kekuatan politik yang nyata dan yang mencukupi di parlemen.

Keempat,

keberlakuan

sosiologis.

Pandangan

sosiologis

mengenai

keberlakuan ini cendrung lebih mengutamakan pendekatan yang empiris dengan mengutamakan beberapa pilihan: 1. Kriteria pengakuan (recognition theory), menyangkut sejauh mana subjek hukum yang diatur dapat mengakui keberadaan dan daya ikat serta kewajibannya untuk menundukkan diri terhadap norma hukum yang bersangkutan. 2. Kriteria penerimaan (reception theory), pada pokoknya berkenaan dengan kesadaran masyarakat yang bersangkutan untuk menerima daya atur, daya ikat, dan daya paksa norma hukum baginya. 3. Kriteria faktisitas hukum, menekankan pada kenyataan faktual, yaitu sejauh mana norma hukum itu sendiri memang sungguh-sungguh berlaku efektif dalam kehidupan nyata masyarakat.

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

64

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Kriteria faktisitas hukum menempatkan keberlakuan sosiologis dalam konteks pelaksanaan undang-undang atau peraturan daerah, sedangkan dalam konteks pembentukan undang-undang atau peraturan daerah tidak menekankan pada kenyataan faktual, yaitu tidak menekankan sejauh mana norma hukum itu sendiri memang sungguh-sungguh berlaku efektif dalam kehidupan nyata masyarakat. Dalam konteks pembentukan undang-undang atau peraturan daerah yang ditekankan adalah perihal undang-undang atau peraturan daerah yang harus mencerminkan tuntutan kebutuhan masyarakat sendiri akan norma hukum yang sesuai dengan realitas kesadaran hukum masyarakat. Untuk itu mesti diartikulasi dan diagregasi tuntutan kebutuhan masyarakat sendiri akan norma hukum sehingga undang-undang atau peraturan daerah mempunyai validitas dan upaya itu tergambarkan dalam konsiderans undang-undang atau peraturan daerah. jelasnya dapat digambarkan dalam ragaan berikut. Ragaan 1 : Unsur sosiologis dalam konteks pembentukan dan pelaksanaan UU atau Perda. Untuk

PEMBENTUKAN

UU/PERDA

PELAKSANAAN

unsur sosiologis
upaya mewujudkan validitas

unsur sosiologis
validitas

unsur sosiologis
Efektivitas

secara teknik penyusunan peraturan perundangundangan dituangkan dalam konsiderans.

harus mencerminkan tuntutan kebutuhan masyarakat akan norma hukum yang sesuai dengan realitas kesadaran hukum masyarakat.

kenyataan faktual norma hukum berlaku efektif dalam kehidupan nyata masyarakat.

M. Solly Lubis mengemukakan, ada tiga dasar atau landasan dalam rangka pembuatan segala peraturan, yaitu:
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

65

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

a. Landasan filosofis. b. Landasan yuridis. c. Landasan politis.25 Perbedaannya dengan pandangan Jimly Asshiddiqie adalah tidak dimasukkannya landasan atau unsur sosiologis dan administratif, sebagai salah satu landasan keberlakuan pembuatan peraturan perundang-undangan. Berikut ini pandangan Solly Lubis tentang masing-masing landasan tersebut.

Pertama, landasan filosofis yaitu dasar filsafat atau pandangan, atau ide
yang menjadi dasar cita-cita sewaktu menuangkan hasrat dan kebijaksanaan (pemerintahan) ke dalam suatu rencana atau draft peraturan Negara. Misalnya, di Negara Republik Indonesia, Pancasila menjadi dasar filsafat perundang-undangan. Pada prinsipnya tidak dibuat suatu peraturan yang bertentangan dengan dasar filsafat itu.26

Kedua, landasan yuridis ialah ketentuan hukum yang menjadi dasar hukum
bagi pembuatan suatu peraturan. Landasan yuridis dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu: 1. Landasan yuridis dari segi formal, yakni landasan yuridis yang memberi kewenangan (bevoegdheid) bagi instansi tertentu untuk membuat peraturan tertentu, misalnya Pasal 5 ayat (1) UUD 1945 menjadi landasan yuridis dari segi formil bagi Presiden untuk membuat RUU. 2. Landasan yuridis dari segi materiil, yaitu landasan yuridis untuk mengatur hal-hal tertentu, misalnya Pasal 18 UUD 1945 menjadi landasan yuridis dari segi materiil untuk membuat UU organik mengenai pemerintahan daerah.27

25

M. Solly Lubis, Landasan dan Teknik Perundang-undangan, (Penerbit CV Mandar Maju, Bandung, 1989), hlm. 6-9. 26 Bandingkan Soerjono Soekanto dan Purnadi Purbacaraka, bahwa kelakuan filosofis atau hal berlakunya secara filosofis adalah kaidah hukum bersangkutan sesuai dengan cita-cita hukum sebagai nilai positif yang tertinggi, misalnya Pancasila, masyarakat adil dan makmur, dan seterusnya. Lihat Soerjono Soekanto dan Purnadi Purbacaraka, Perihal Kaedah Hukum, (Penerbit PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 1989), hlml. 92. 27 Pendapat tersebut dikemukakan ketika UUD 1945 belum diubah. Meski demikian pendapat tersebut masih relevan ketika UUD 1945 sudah mengalami perubahan keempat kalinya.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

66

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Ketiga, landasan politis ialah garis kebijaksanaan politik yang menjadi dasar
selanjutnya bagi kebijaksanaan-kebijaksanaan dan pengarahan ketatalaksanaan pemerintahan Negara. Misalnya, garis politik otonomi yang tercantum dalam Tap MPR No. IV Tahun 1973 tentang GBHN menjadi landasan politik pembuatan UU Nomor 5 Tahuh 1974 yang mengatur pokok-pokok Pemerintahan di Daerah. Tegasnya, garis politik otonomi dalam GBHN itu memberi pengarahan dalam pembuatan UU tersebut. Pendapat M. Solly Lubis tentang landasan yuridis sama dengan muatan dasar hukum menurut Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan, angka 26 (vide Pasal 44 ayat (2) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan), yang pada intinya mencakup dasar hukum formal dan dasar hukum materiil. Sedangkan yang dimaksud dengan landasan politis oleh M. Solly Lubis adalah politik hukum, yang pada dasarnya adalah kebijakan hukum (legal policy). Makna landasan politis yang demikian sama dengan pandangan Jimly Asshiddiqie, bahwa landasan politis ialah bahwa dalam konsideran harus pula tergambar adanya cita-cita dan norma dasar yang terkandung dalam UUD 1945 sebagai sumber kebijakan pokok atau sumber politik hukum yang melandasi pembentukan undang-undang yang bersangkutan.28 Namun, dalam halaman yang lain, Jimly Asshiddiqie memaknai keberlakuan politik itu sebagai suatu konstelasi politik di parlemen.29 Bagir Manan mengemukakan tiga dasar agar hukum mempunyai kekuatan berlaku secara baik, yaitu mempunyai dasar yuridis, sosiologis, dan filosofis. Oleh karena peraturan perundang-undangan adalah hukum, maka peraturan perundangundangan yang baik haruslah mempunyai tiga dasar keberlakuan tersebut.30 Berikut ini pendapat Bagir Manan tentang hal tersebut.

Pertama, dasar berlaku secara yuridis (juridische gelding) mengandung


makna: 1) keharusan adanya kewenangan dari pembuat peraturan perundang28 29

Jimly Asshiddiqie, Ibid., hlm. 172. Jimly Asshiddiqie, Ibid., hlm. 242-243. 30 Bagir Manan, Dasar-Dasar Perundang-undangan Indonesia, (Penerbit Ind-Hill.Co, Jakarta, 1992), hlm. 14-17.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

67

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

undangan, dengan perkataan lain, setiap peraturan perundang-undangan harus dibuat oleh badan atau pejabat yang berwenang; 2) keharusan adanya kesesuaian bentuk atau jenis peraturan perundang-undangan dengan materi yang diatur, terutama yang diperintahkan oleh peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi atau sederajat; 3) keharusan tidak bertentangan dengan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi tingkatannya; dan 4) keharusan mengikuti tata cara tertentu dalam pembentukannya. Pandangan Bagir Manan tentang dasar berlaku secara yuridis (juridische

gelding) cakupannya lebih luas dari pandangan M. Solly Lubis, di dalamnya tidak
saja terdapat dasar hukum formal dan dasar hukum materiil, juga terdapat keharusan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatannya dan keharusan mengikuti tata cara tertentu dalam pembentukannya.

Kedua, dasar berlaku secara sosiologis

(sociologische gelding) berarti

mencerminkan kenyataan yang hidup dalam masyarakat. Kenyataan itu dapat berupa kebutuhan atau tuntutan atau masalah-masalah yang dihadapi yang memerlukan penyelesaian. Dengan dasar sosiologis ini diharapkan peraturan perundang-undangan akan diterima oleh masyarakat, sehingga tidak banyak memerlukan pengerahan institusional untuk melaksanakannya.

Ketiga, dasar berlaku secara filosofis (filosofiische gelding) berarti


mencerminkan nilai yang terdapat dalam cita hukum (rechtsidee), baik sebagai sarana yang melindungi nilai-nilai maupun sarana mewujudkannya dalam tingkah laku masyarakat. Pandangan Bagir Manan tersebut, dari segi rinciannya terdapat perbedaan dengan M. Solly Lubis, yakni tidak memasukkan dasar berlaku politis, juga berbeda dengan Jimly Asshiddiqie, yakni tidak memasukan dasar berlaku politis dan administratif. Substansi pandangan Bagir Manan tidak berbeda dengan M. Solly Lubis menyangkut dasar filosofis dan yuridis, dan juga tidak berbeda dengan Jimly Asshiddiqie menyangkut konsiderans filosofis, yuridis, dan sosiologis.

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

68

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Berdasarkan pemahaman normatif dan teoritis tersebut, maka unsur filosofis, yuridis, dan sosiologis yang menjadi latar belakang pembuatan undangundang atau peraturan daerah, dapat dimaknai sebagai berikut: 1. unsur filosofis adalah nilai-nilai filosofis yang dianut oleh suatu Negara (bagi Indonesia yang termaktub dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945) yang menjadi latar belakang dan alasan pembuatan undang-undang atau peraturan daerah. 2. unsur yuridis adalah peraturan perundang-undangan yang menjadi latar belakang dan alasan pembuatan undang-undang atau peraturan daerah, yang meliputi: a. dasar hukum formal, yakni Peraturan Perundang-undangan undangan. Termasuk keharusan mengikuti prosedur tertentu. b. dasar hukum substansial, yakni Peraturan Perundang-undangan yang memerintahkan materi muatan tertentu diatur dalam suatu Peraturan Perundang-undangan. Termasuk kesesuaian jenis dan materi muatan. 3. unsur sosiologis adalah gejala dan masalah sosial-ekonomi-politik yang berkembang di masyarakat yang menjadi latar belakang dan alasan pembuatan undang-undang atau peraturan daerah. Relevansi landasan keabsahan tersebut dengan pengaturan retribusi adalah pengaturan retribusi mendasarkan pada tiga landasan keabsahan, yakni filofofis, yuridis, dan sosiologis, sebagaimana diamanatkan UU P3. yang menjadi dasar kewenangan pembentukan suatu Peraturan Perundang-

Pertama,

Landasan

Filosofis.

Negara

Kesatuan

Republik

Indonesia

merupakan negara hukum berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, bertujuan untuk memberikan pengayoman dan memajukan kesejahteraan masyarakat dalam rangka mewujudkan tata kehidupan bangsa yang aman, tertib, sejahtera, dan berkeadilan. Sejalan dengan itu, dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerahdaerah provinsi dan daerah provinsi terdiri atas daerah-daerah kabupaten dan kota,
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

69

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD
sendiri

yang tiap-tiap provinsi, kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah. Masing-masing pemerintahan daerah itu mengatur dan mengurus pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. Otonomi dimaksud adalah otonomi seluas-luasnya. Ketentuan konstitusional tersebut dilaksanakan dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir denganUndang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Dengan berlakunya Undang-Undang ini, maka penyelenggaraan pemerintahan daerah dilakukan dengan memberikan kewenangan yang seluas-luasnya, disertai dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah dalam kesatuan sistem penyelenggaraan pemerintahan Negara. Retribusi daerah merupakan salah satu sumber pendapatan daerah yang penting guna membiayai pelaksanaan pemerintahan daerah. Dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan kemandirian daerah, perlu dilakukan perluasan objek retribusi daerah dan pemberian diskresi dalam penetapan tarif. Kebijakan retribusi daerah dan retribusi daerah dilaksanakan berdasarkan prinsip demokrasi, pemerataan dan keadilan, peran serta masyarakat, dan akuntabilitas dengan memperhatikan potensi daerah.31 Berdasarkan uraian tersebut dapat ditegaskan, landasan filosofis pengaturan retribusi adalah bahwa retribusi merupakan sumber pendapatan daerah yang penting guna membiayai pelaksanaan pemerintahan daerah dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, sehingga perlu pengaturan retribusi berdasarkan prinsip demokrasi, pemerataan dan keadilan, peran serta masyarakat, dan akuntabilitas dengan memperhatikan potensi daerah.

Didasarkan pada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Konsideran Menimbang Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

31

70

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Jadi, Pemerintahan Daerah membuat Peraturan Daerah tentang retribusi, berdasarkan prinsip demokrasi, pemerataan dan keadilan, peranserta masyarakat, dan akuntabilitas. Adapun tujuan pembentukan Peraturan Daerah ini adalah sebagai landasan hukum pemungutan retribusi, yang merupakan salah satu sumber pendapatan pemerintahan Kota Denpasar yang daerah penting dan guna membiayai pelaksanaan kepada pemerintahan meningkatkan pelayanan

masyarakat di Kota Denpasar.

Kedua, Landasan Yuridis. Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara


Republik Indonesia Tahun 1945, yakni Pasal 18 ayat (1), ayat (2), dan ayat (5), penyelenggaraan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi terdiri atas daerah-daerah kabupaten dan kota. Tiap-tiap daerah tersebut mempunyai hak dan kewajiban mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat. Penyelenggaran Pemerintahan Daerah selanjutnya diatur dalam UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Dalam Undang-Undang ini, yakni di daerah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah. Pengaturan pungutan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 terdapat dalam Pasal 23A, yang menegaskan Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang. Ketentuan-ketentuan konstitusional tersebut menegaskan, bahwa pemungutan Pajak Daerah harus didasarkan pada Undang-Undang. Selama ini pungutan daerah yang berupa retribusi diatur dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000, yang kemudian diganti dengan
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

Pasal 158 ayat (1),

ditentukan Pajak Daerah ditetapkan dengan Undang-Undang yang pelaksanaannya

71

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Undang-Undang ini antara lain mengatur jenis retribusi daerah yang menjadi kewenangan Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota serta retribusi ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Pasal 149 dan Pasal 156 UU PDRD). b. Asas Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan yang Baik Asas Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang Baik, yang secara teoritik meliputi Asas Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang Baik yang bersifat formal dan Asas Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang Baik yang bersifat materiil.32 Asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik yang bersifat formal dituangkan dalam Pasal 5 UU Nomor 10 Tanun 2004 (khususnya dalam pembentukan Peraturan Daerah, asas-asas tersebut diatur dalam Pasal 137 UU Pemda), dengan sebutan asas pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang baik, yang meliputi: a. kejelasan tujuan; b. kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat; c. kesesuaian antara jenis dan materi muatan; d. dapat dilaksanakan; e. kedayagunaan dan kehasilgunaan; f. kejelasan rumusan; dan g. keterbukaan. Asas-asas materiil pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik diatur dalam Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2) UU P3 (khususnya berkenaan dengan

A. Hamid S. Attamimi; Peranan Keputusan Presiden Republik Indonesia dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara, Disertasi, (Fakultas Pascasarjana Universitas Indonesia, Jakarta, 1990), hlm. 345-346. I.C. Van Der Vlies, Buku Pegangan Perancang Peraturan Perundang-undangan, terjemahan, (Direktorat Jenderal Peraturan Perundanganundangan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, Jakarta, 2005), hlm. 238-309.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

32

72

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Perda diatur dalam Pasal 138 ayat (1) dan ayat (2) UU Pemda), yakni: materi muatan Peraturan Perundang-undangan mengandung asas: a. pengayoman; b. kemanusiaan; c. kebangsaan; d. kekeluargaan; e. kenusantaraan; f. bhineka tunggal ika; g. keadilan; h. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan; i. j. ketertiban dan kepastian hukum; dan/atau keseimbangan, keserasian, dan keselarasan. Selain asas tersebut, Peraturan Perundang-undangan tertentu dapat berisi asas lain sesuai dengan bidang hukum Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan. Mengenai asas-asas materiil yang lain sesuai dengan bidang hukum Peraturan Perundang-undangan tertentu dijelaskan dalam Penjelasan Pasal 6 ayat (2) UU Nomor 10 Tahun 2004, yang dimaksud dengan asas sesuai dengan bidang hukum masing-masing antara lain: a. dalam Hukum Pidana misalnya asas legalitas, asas tiada hukuman tanpa kesalahan, asas pembinaan narapidana, dan asas praduga tak bersalah; b. dalam Hukum Perdata misalnya dalam hukum perjanjian antara lain asas kesepakatan, kebebasan berkontrak, dan itikad baik. Relevansi asas-asas formal pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik dengan pengaturan retribusi dapat diuraikan sebagai berikut:

Pertama, kejelasan tujuan. Pengaturan retribusi bertujuan: (1) memberikan


kepastian bagi masyarakat mengenai siapa dan apa yang dikenakan retribusi, dan berapa besaran yang harus dibayar dan bagaimana cara membayarnya; dan (2) memperkuat dasar hukum bagi Pemerintah Daerah melakukan pungutan retribusi, sehingga retribusi dapat menjadi sumber pendapatan asli daerah dalam rangka

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

73

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD
kepada

membiayai masyarakat.

penyelenggaraan

pemerintahan

daerah

dan

pelayanan

Tujuan pemungutan retribusi sebagai sumber pedapatan asli daerah atau menambah kas daerah secara teoritik dapat dibenarkan, dengan analogi pada teori tentang fungsi pajak (baca: fungsi pungutan), yang dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua), yakni fungsi penerimaan (budgetair) dan fungsi pengaturan (regulerend). Fungsi Penerimaan adalah pungutan sebagai instrumen untuk mengisi kas Negara yang digunakan untuk membiayai kegiatan pemerintahan dan pembangunan. Fungsi Pengaturan adalah retribusi digunakan sebagai instrumen untuk mencapai tujuan tertentu.33 Misalnya retribusi izin mendirikan bangunan (IMB) dimaksudkan untuk menjamin keselamatan penghuni bangunan dan lingkungannya.

Kedua, kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat. Contoh: Pengaturan


retribusi dengan Peraturan Daerah dilakukan oleh Walikota Denpasar dengan persetujuan bersama DPRD Kota Denpasar. Rancangan dapat berasal dari Walikota atau dari DPRD.

Ketiga, kesesuaian antara jenis dan materi muatan. Pungutan retribusi harus
dengan Peraturan Daerah. Adapun materi pokok yang diatur dengan Peraturan Daerah mengacu pada Pasal 156 ayat (3) dan ayat (4) UU PDRD.

Keempat, dapat dilaksanakan. Agar asas ini dapat diwujudkan dengan


dibentuknya Peraturan Daerah tentang retribusi adalah harus memperhatikan beberapa aspek: (1) filosofis, yakni ada jaminan keadilan dalam pengenaan retribusi; (2) yuridis, adanya jaminan kepastian dalam pengenaan retribusi, termasuk subsansinya tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi; dan (3) sosiologis, pengaturan retribusi memang dapat memberikan manfaat, baik bagi pemerintah daerah maupun bagi masyarakat, termasuk substansinya tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum.
Anggito Abimanyu, et.al., Evaluasi Pelaksanaan UU Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, (Pusat Pengkajian Ekonomi dan Keuangan Badan Pengkajian Ekonomi, Keuangan, dan Kerjasama Internasional Departemen Keuangan RI, Jakarta, 2005), hlm. 34. Tim Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Pedoman Nasional Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, (Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Departemen Keuangan RI, Jakarta, t.t.), hlm. 15-16.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal
33

74

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Kelima, kedayagunaan dan kehasilgunaan. Asas ini dapat diwujudkan


sepanjang pengaturan retribusi memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan benegara. Salah satu indikasi pengaturan retribusi memang benar-benar dibutuhkan adalah adanya wajib retribusi, sebagaimana telah dikemukakan dalam kondisi eksisting di atas.

Keenam, kejelasan rumusan. Asas ini dapat terwujud dengan pembentukan


Peraturan Daerah tentang retribusi sesuai persyaratan teknik penyusunan peraturan perundang-undangan, sistematika dan pilihan kata atau terminologi, serta bahasa hukum yang jelas dan mudah dimengerti, sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya. Singkatnya, rumusan aturan hukum dalam Peraturan Daerah tentang retribusi yang menjamin kepastian.

Ketujuh, keterbukaan. Proses pembentukan Peraturan Daerah ini harus


menjamin partisipasi masyarakat, dalam artian masyarakat dijamin haknya untuk memberikan masukan, baik tertulis maupun lisan, serta kewajiban Pemerintah Daerah untuk menjamin masukan tersebut telah dipertimbangkan relevansinya. Untuk terselenggaranya partisipasi masyarakat itu, maka terlebih dahulu Pemerintah Daerah memberikan informasi tentang proses pembentukan Peraturan Daerah bersangkutan. Secara khusus UU PDRD mengatur kewajiban untuk melakukan sosialisasi Peraturan Daerah untuk jenis Retribusi yang tergolong dalam Retribusi Perizinan Tertentu kepada masyarakat sebelum ditetapkan (Pasal 156 ayat (7) UU PDRD). Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan mekanisme pelaksanaan penyebarluasan Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (7) diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. Relevansi asas-asas materiil pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik dengan pengaturan retribusi dapat diuraikan sebagai berikut:

Pertama, keadilan. Peraturan Daerah tentang retribusi harus mencerminkan


keadilan secara proporsional bagi setiap warga masyarakat tanpa kecuali. Tuntutan keadilan mempunyai dua arti. Dalam arti formal keadilan menuntut bahwa hukum berlaku umum. Dalam arti materiil dituntut agar hukum sesuai dengan cita-cita
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

75

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

keadilan dalam masyarakat.34 Demikian pula dalam penyusunan norma hukum retribusi adalah dimaksudkan untuk berlaku umum (untuk setiap wajib retribusi dan dikenakan untuk setiap objek retribusi). Agar mendapatkan rumusan norma hukum retribusi yang sesuai dengan aspirasi keadilan yang berkembang dalam masyarakat, maka harus diadakan konsultasi publik.

Kedua, kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan. Berdasarkan


asas ini materi muatan Peraturan Daerah tentang retribusi tidak berisi ketentuanketentuan yang bersifat membedakan berdasarkan latar belakang antara lain agama, suku, ras, golongan, gender, atau status sosial. Inti dari kesamaan adalah keadilan, yang menjamin perlakuan yang sama, sesuai hak dan kewajibannya.35

Ketiga, ketertiban dan kepastian hukum. Agar Peraturan Daerah tentang


retribusi dapat menimbulkan ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan adanya kepastian hukum. Jaminan kepastian hukum mempunyai dua arti. Pertama, kepastian hukum dalam arti kepastian pelaksanaannya, yakni bahwa hukum yang diundangkan dilaksanakan dengan pasti oleh negara. Kedua, kepastian hukum dalam arti kepastian orientasi, yakni hukum harus sedemikian jelas sehingga masyarakat dan pemerintah serta hakim dapat berpedoman padanya. Masingmasing pihak dapat mengetahui tentang hak dan kewajibannya.36 Dalam konteks ini, yang dimaksud dengan kepastian hukum adalah kepastian hukum dalam arti kepastian orientasi. Ini berarti yakni norma hukum retribusi harus sedemikian jelas sehingga masyarakat dan pemerintah serta hakim dapat berpedoman padanya. Terutama masyarakat dapat dengan jelas mengetahui hak dan kewajiban dalam kaitannya dengan retribusi. Termasuk di sini, adalah norma hukum retribusi dan sanksinya atas pelanggarannya tidak boleh berlaku surut.

Keempat, keseimbangan, keserasian, dan keselarasan. Dalam konteks


penyusunan norma hukum retribusi harus ada keseimbangan beban dan manfaat,
Franz Magnis-Suseno, Etika Politik: Prinsip-prinsip Moral Dasar Kenegaraan Moden, (Gramedia, Jakarta, 1987),hlm. 81. 35 Tentang inti dari kesamaan tersebut diadaptasi dari Franz Magnis-Suseno, Ibid., hlm. 116. 36 Tentang dua arti kepastian hukum berdasarkan Franz Magnis-Suseno, Ibid., hlm. 7980.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal
34

76

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

atau, kewajiban membayar retribusi dengan hak yang didapatkannya dengan membayar retribusi. Juga harus ada keseimbangan antara sanksi antara aparatur dan wajib retribusi ketika melakukan kelalaian atau pelanggaran.37 Mengenai asas-asas materiil yang lain, sebagaimana dimaksud Pasal 6 ayat (2) UU P3, dalam pengaturan tentang retribusi berkaitan dengan kriteria umum tentang pungutan daerah, yakni: 1. prinsip memberikan pendapatan yang cukup dan elastik, artinya dapat mudah naik turun mengikuti naik/turunnya tingkat pendapatan masyarakat. 2. adil dan merata secara vertikal artinya sesuai dengan tingkatan kelompok masyarakat dan horizontal artinya berlaku sama bagi setiap anggota kelompok masyarakat. 3. administrasi yang fleksibel artinya sederhana, mudah dihitung, pelayanan memuaskan bagi masyarakat terkena pungutan daerah. 4. secara politis dapat diterima oleh masyarakat, sehingga timbul motivasi dan kesadaran pribadi untuk membayar pungutan. 5. non-distorsi terhadap perekonomian, implikasi pungutan yang hanya menimbulkan pengaruh minimal terhadap perekonomian; jangan sampai suatu pungutan menimbulkan beban tambahan yang berlebihan, sehingga akan menimbulkan kerugian pada masyarakat.38 Selain itu, berkaitan dengan prinsip yang diperkenalkan oleh Adam Smith sebagai The Four Maxims untuk dipertimbangkan dalam merumuskan suatu kebijakan retribusi, antara lain:

Berdasarkan H. Lauddin Marsuni, Hukum dan Kebijakan Perpajakan Di Indonesia , (UII Press, Yogyakarta, 2006), hlm. 113. 38 Anggito Abimanyu, et.al., Op. Cit., hlm 32. Tjip Ismail, Optimalisasi Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dalam Rangka Pelaksanaan Otonomi Daerah, dalam Orpha Jane, et.al., eds., Prosiding Workshop Internasional Implementasi Desentralisasi Fiskal sebagai Upaya Memberdayakan Daerah dalam Membiayai Pembangunan Daerah , (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, 2002), hlm. 115-143. Tjip Ismail, Pengaturan Pajak Daerah Di Indonesia, Edisi Kedua, (Yellow Printing, Jakarta, 2007) ,hlm. 197-202.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

37

77

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

1. prinsip

keadilan

(Equty).

Dalam

prinsip

ini

ditekankan

pentingnya

keseimbangan berdasarkan kemampuan masing-masing subjek retribusi, yakni dalam pemungutan retribusi tidak ada diskriminasi di antara sesama wajib retribusi yang memiliki kemampuan yang sama. 2. prinsip kepastian (Certainty). Dalam prinsip ini ditekankan pentingnya kepastian, baik bagi petugas retribusi maupun semua wajib retribusi dan seluruh masyarakat, antara lain mencakup dasar hukum yang mengaturnya, kepastian mengenai subjek retribusi, kepastian mengenai objek retribusi, dan kepastian mengenai tata cara pemungutannya. 3. prinsip efisiensi (Efficiency). Dalam prinsip ini ditekankan pentingnya efisiensi pemungutan retribusi, artinya biaya yang dikeluarkan dalam melaksanakan pemungutan tidak boleh lebih besar dari jumlah retribusi yang dipungut.39

39

Tim Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, t.t.,hlm. 13-14.


Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

78

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

BAB

IV
RUANG LINGKUP MATERI MUATAN RAPERDA RETRIBUSI TERMINAL DAN KETERKAITANNYA DENGAN HUKUM POSITIF

A. RUANG LINGKUP MATERI MUATAN Ruang lingkup materi muatan raperda retribusi adalah jangkauan materi pengaturan yang khas yang dimuat dalam raperda retribusi, yang meliputi materi yang boleh dan materi yang tidak boleh dimuat dalam raperda retribusi.40 Jadi, yang dimaksud dengan materi muatan baik mengenai batas materi muatan maupun lingkup materi muatan. Materi yang tidak boleh dimuat telah dikemukakan dalam uraian batas negatif di atas, juga tidak boleh memuat materi yang tidak sesuai dengan keharusan mendasarkan landasan keabsahan dan asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik, yang telah dikemukakan dalam uraian batas positif tersebut di atas. Lingkup materi yang boleh dimuat ditentukan oleh asas otonomi daerah dan tugas pembantuan maupun yang ditentukan secara objektif-normatif dalam peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi sebagai materi muatan Perda tentang retribusi. Mengenai materi muatan yang boleh dimuat dalam Perda tentang retribusi telah ditentukan dalam Pasal 156 ayat (3) dan ayat (4) UU PDRD. Pasal 156 ayat (3) PDRD mengatur materi muatan imperatif Peraturan Daerah tentang Retribusi Daerah. Rumusan selengkapnya ketentuan tersebut adalah: Peraturan Daerah tentang Retribusi paling sedikit mengenai: a. nama, objek, dan Subjek Retribusi;
Pengertian ruang lingkup materi muatan diadaptasi dari Gede Marhaendra Wija Atmaja, Ruang Lingkup Materi Muatan Peraturan Daerah Tingkat II (Kasus Kabupaten Daerah Tingkat II Badung dan Kotamadya Daerah Tingkat II Denpasar), Tesis Magister, (Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran, Bandung, 1995),hlm. 14.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal
40

mengatur ketentuan

79

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

b. c. d. e. f. g.

golongan Retribusi; cara mengukur tingkat penggunaan jasa yang bersangkutan; prinsip yang dianut dalam penetapan struktur dan besarnya tarif Retribusi; struktur dan besarnya tarif Retribusi; wilayah pemungutan; penentuan pembayaran, tempat pembayaran, angsuran, dan penundaan pembayaran; h. sanksi administratif; i. penagihan; j. penghapusan piutang Retribusi yang kedaluwarsa; dan k. tanggal mulai berlakunya. Pasal 156 ayat (4) PDRD mengatur materi muatan fakultatif Peraturan Daerah tentang Retribusi Daerah. Rumusan selengkapnya ketentuan tersebut adalah: Peraturan Daerah tentang Retribusi dapat juga mengatur ketentuan mengenai: a. Masa Retribusi; b. pemberian keringanan, pengurangan, dan c. pembebasan dalam hal-hal tertentu atas pokok Retribusi dan/atau sanksinya; dan/atau tata cara penghapusan piutang Retribusi yang kedaluwarsa. Pengurangan dan keringanan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf b diberikan dengan melihat kemampuan Wajib Retribusi (Pasal 156 ayat (5) UU PDRD). Pembebasan Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf b diberikan dengan melihat fungsi objek Retribusi (Pasal 156 ayat (6) UU PDRD). Ketentuan dalam Pasal 156 ayat (3) dan ayat (4) UU PDRD menunjukan tidak semua ketentuan tentang retribusi daerah merupakan materi muatan Peraturan Daerah tentang Retribusi Daerah.41 Matrik berikut dapat memperjelas.

Demikian juga di bidang pajak daerah, berdasarkan Pasal 95 ayat (3) dan ayat (4) UU PDRD, ketentuan-ketentuan berkenaan dengan pajak daerah tidak seluruhnya merupakan materi muatan Peraturan Daerah tentang Pajak Daerah. Marhaendra Wija Atmaja, Pembentukan Peraturan Daerah: Contoh Kasus Pengaturan Pajak Daerah, Makalah, Workshop Nasional Penyusunan APBD Tahun Anggaran 2011 dan Penyusunan Peraturan Daerah, (diselenggarakan Pusat Pengembangan Ekonomi Regional dengan DPRD Kabupaten/Kota Se-Indonesia, Denpasar-Bali, 28 Juni-1 Juli 2010), hlm. 9-10.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

41

80

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Matrik 5: Ketentuan di Luar Materi Muatan Perda tentang Retribusi Daerah Berdasarkan Pasal 156 ayat (3) dan ayat (4) UU PDRD
NO. 1 KETENTUAN Pasal 161 Pemanfaatan dari penerimaan Retribusi. PENDELEGASIAN Pasal 161 ayat (2) Ketentuan mengenai alokasi pemanfaatan penerimaan Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Daerah. KETERANGAN Dibuat Perda tentang Alokasi Pemanfaatan Penerimaan Retribusi.

Pasal 162-164 Keberatan atas SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.

Pelaksanaannya berdasarkan UU PDRD.

Pasal 165 Pengembalian kelebihan pembayaran.

Pasal 165 ayat (8) Tata cara pengembalian kelebihan pembayaran Pajak dan Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. -

Dibuat Peraturan Kepala Daerah tentang Tata cara pengembalian kelebihan pembayaran Pajak dan Retribusi.

4.

Pasal 167 Kedaluwarsa penagihan Retribusi.

Yang diatur dalam Perda sesuai Pasal 156 adalah materi yang terdapat dalam Pasal 168 UU PDRD tentang penghapusan piutang retribusi yang kedaluwarsa dan tata cara penghapusannya.

5.

Pasal 170 Pembukuan dan pemeriksaan.

Pasal 170 ayat (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemeriksaan Pajak dan Retribusi diatur dengan Peraturan Kepala Daerah.

Dibuat Peraturan Kepala Daerah tentang tata cara pemeriksaan Pajak dan Retribusi.

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

81

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

6.

Pasal 171 Insentif pemungutan .

Pasal 171 ayat (2) Pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

PP Nomor 69 Ttahun 2010 tentang Tata Cara Pemberian dan Pemanfaatan Insentif Pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Pasal 6 ayat (2) Besaran Insentif ditetapkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah tahun anggaran berkenaan. Pasal 8 Penerima pembayaran Insentif dan besarnya pembayaran Insentif ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah.

B. KERANGKA RAPERDA TENTANG RETRIBUSI TERMINAL Materi muatan Peraturan Daerah tentang Retribusi Terminal, sebagaimana diamanatkan Pasal 156 ayat (3) dan ayat (4) UU PDRD, tidaklah menunjukkan pengelompokan materi ke dalam bab-bab Materi Pokok yang Diatur atau ke dalam Kerangka Peraturan Daerah. Pengelompokan tersebut mesti mengacu pada Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan, angka 1 dan angka 43 (vide Pasal Pasal 44 ayat (2) UU P3), mengenai kerangka Peraturan Perundang-undangan dan pengelompokkan batang tubuh Peraturan Perundang-undangan, yakni: a. Judul. b. Pembukaan. c. Batang Tubuh: 1) Ketentuan Umum. 2) Materi Pokok yang Diatur. 3) Ketentuan Pidana (jika diperlukan). 4) Ketentuan Peralihan (jika diperlukan).
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

82

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

5) Ketentuan Penutup. d. Penutup. e. Penjelasan (jika diperlukan). f. Lampiran (jika diperlukan). Beberapa catatan dapat dikemukakan berkaitan materi muatan Perda tentang Retribusi Daerah berdasarkan Pasal 156 ayat (3) dan ayat (4) UU PDRD dan kerangka Peraturan Perundang-undangan dan pengelompokkan batang tubuh Peraturan Perundang-undangan: 1 2 Nama Retribusi Daerah tidak merupakan judul bab, melainkan nama Retribusi Daerah tercantum dalam judul Perda dan dalam diktum Perda.42 Tanggal mulai berlakunya tidak merupakan judul bab, yang memuat tanggal mulai berlakunya Perda tentang Retribusi Daerah, melainkan tercantum dalam Bab Ketentuan Penutup.43 3 Ketentuan Pidana tidak merupakan materi muatan Peraturan Daerah tentang Retribusi Daerah berdasarkan Pasal 156 ayat (3) dan ayat (4) UU PDRD. Namun, apabila dalam Peraturan Daerah tentang Retribusi Daerah dimuat larangan atau perintah, maka mesti ada sarana penegakan atas larangan atau perintah yang dilanggar. Sarana ini, selain sanksi administratif, dapat juga sanksi pidana.44 Lebih lanjut tentang sanksi pidana dalam Peraturan Daerah tentang Retribusi Daerah dikemukakan dalam uraian berikut.

Judul Peraturan Perundang-undangan memuat keterangan mengenai jenis, nomor, tahun pengundangan atau penetapab, dan nama Peraturan Perundang-undangan. Diktum terdiri atas: kata Memutuskan; b. kata Menetapkan; nama Peraturan Perundang-undangan. Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan, angka 2 dan angka 35(vide Pasal Pasal 44 ayat (2) UU P3). 43 Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan, angka 111 (vide Pasal Pasal 44 ayat (2) UU P3): Pada umumnya Ketentuan Penutup memuat ketentuan mengenai: ; dan saat mulai berlakunya Peraturan Perundang-undangan. 44 Ketentuan pidana hanya dapat dimuat bdalam Undang-undang dan Peraturan Daerah. Rumusan ketentuan pidana harus menyebutkan secara tegas norma larangan atau perintah yang dilanggar. Pasal 14 UU P3 dan Teknik Penyusunan Peraturan Perundangundangan, angka 90 dan angka 91 (vide Pasal Pasal 44 ayat (2) UU P3).
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

42

83

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

C. MATERI MUATAN RAPERDA RETRIBUSI TERMINAL Berdasarkan ketentuan-ketentuan tentang materi muatan Peraturan Daerah tentang Retribusi Daerah berdasarkan Pasal 156 ayat (3) dan ayat (4) UU PDRD dan Kerangka Peraturan Perundang-undangan dan pengelompokkan batang tubuh sesuai Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan, angka 1 dan angka 43 (vide Pasal Pasal 44 ayat (2) UU P3), serta Bentuk Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota, maka materi muatan Raperda Retribusi Terminal dapat dirumuskan dalam anatomi batang tubuh sebagai berikut: 1. Judul Pedoman angka 2, 3, dan 4 TP3 mengatur bahwa Judul Peraturan Perundang-undangan memuat keterangan mengenai jenis, nomor, tahun pengundangan atau penetapan, dan nama Peraturan Perundang-undangan. Selanjutnya, Nama Peraturan Perundang-undangan dibuat secara singkat dan mencerminkan isi Peraturan Perundang-undangan, dan Judul ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin tanpa diakhiri tanda baca. 2. Pembukaan Pada pembukaan tiap jenis Peraturan Perundang-undangan sebelum nama jabatan pembentuk Peraturan Perundang-undangan dicantumkan frase DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin. a. Konsiderans Ketentuan angka 16, 17, dan 18 TP3 disebutkan bahwa Konsiderans diawali dengan kata Menimbang. Konsiderans memuat uraian singkat mengenai pokokpokok pikiran yang menjadi latar belakang dan alasan pembuatan Peraturan Perundang-undangan. Pokok-pokok pikiran pada konsiderans Undang-Undang atau peraturan daerah memuat unsur filosofis, yuridis, dan sosiologis yang menjadi latar belakang pembuatannya.

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

84

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Daerah memuat Konsiderans: a. bahwa dalam rangka pemungutan Retribusi Terminal yang efisien dan efektif berdasarkan prinsip demokrasi pemerataan dan keadilan, peran serta masyarakat dan akuntabilitas, perlu dilakukan pengaturan Retribusi Terminal; b. bahwa Retribusi Terminal merupakan salah satu sumber pendapatan daerah yang penting guna membiayai pelaksanaan pemerintahan daerah; c. bahwa Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak dan Retribusi Daerah mengamanatkan pengaturan Retribusi Terminal; d. berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Retribusi Terminal; b. Dasar Hukum Ketentuan angka 25, 26, dan 27 disebutkan bahwa dasar hukum diawali dengan kata Mengingat. Dasar hukum memuat dasar kewenangan pembuatan Peraturan Perundang-undangan dan Peraturan Perundang-undangan yang memerintahkan pembuatan Peraturan Perundang-undangan tersebut. Peraturan Perundang-undangan yang digunakan sebagai dasar hukum hanya Peraturan Perundangundangan yang tingkatannya sama atau lebih tinggi. Dasar hukum Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Daerah: 1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1992 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Denpasar (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 9, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3465); 2. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4339;
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

85

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004

tentang Pemerintahan

Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 44 37) sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan UndangUndang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2008, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 4. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5049); 5. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); 6. Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 4 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintah Kota Denpasar (Lembaran Daerah Kota Denpasar Tahun 2008 Nomor 4, Tambahan Lembaran Daerah Kota Denpasar Nomor 4); 3. Batang Tubuh 3.1. berisi: a. batasan pengertian atau definisi; b. singkatan atau akronim yang digunakan dalam peraturan; c. hal-hal lain yang bersifat umum yang berlaku bagi pasal (-pasal) berikutnya antara lain ketentuan yang mencerminkan asas, maksud,
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

Ketentuan Umum Pedoman angka 74 TP3 (vide Pasal 44 ayat (2) UU P3) Ketentuan umum

86

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

dan tujuan. Pedoman angka 80 TP3 (vide Pasal 44 ayat (2) UU P3) menentukan jika suatu batasan pengertian atau definisi perlu dikutip kembali di dalam ketentuan umum suatu peraturan pelaksanaan, maka rumusan batasan pengertian atau definisi di dalam peraturan pelaksanaan harus sama dengan rumusan batasan pengertian atau definisi yang terdapat di dalam peraturan lebih tinggi yang dilaksanakan tersebut. Mengacu pada pedoman tersebut, ketentuan umum dalam konsep awal Raperda tentang Retribusi Terminal berisi antara lain: 1. 2. 3. 4. Kota adalah Kota Denpasar. Pemerintah Kota adalah Pemerintah Kota Denpasar. Walikota adalah Walikota Denpasar. Retribusi Terminal, yang selanjutnya disebut retribusi, adalah pembayaran atas pelayanan penyediaan tempat parkir untuk kendaraan penumpang dan bis umum, tempat kegiatan usaha, dan fasilitas lainnya di lingkungan terminal, yang disediakan, dimiliki, dan/atau dikelola oleh Pemerintah Kota.

3.2. Materi Pokok Yang Diatur Materi Pokok yang diatur merupakan substansi sebenarnya dari Peraturan Daerah yang dirumuskan secara normatif, yang mengharuskan (keharusan untuk melakukan atau tidak melakukan) atau yang membolehkan (kebolehan untuk melakukan atau tidak melakukan).45 Pengelompokan Materi Pokok yang Diatur, yaitu Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, mengacu pada Pasal 156 ayat (3) dan ayat (4) UU PDRD 2009, dan diberikan isi yang mengacu pada ketentuanketentuan lainnya dalam UU PDRD 2009. Materi pokok yang diatur ini dirumuskan dalam kerangka atau anatomi Peraturan Perundang-undangan. a. Objek, Subjek, dan Golongan Retribusi Objek Retribusi Terminal adalah pelayanan penyediaan tempat parkir untuk
Marhaendra Wija Atmaja, 2006, Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah Berdasarkan Asas dan Teknik Penyusunan serta Perumusan Peraturan Perundangundangan, Makalah, Pertemuan Konsultasi Legal Drafting Perda Penanggulangan HIV/AIDS, diselenggarakan oleh Komisi Penanggulangan Aids Nasional (KPAN), pada 3-6 September di Jayapura, hlm. 11.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal
45

87

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

kendaraan penumpang dan bis umum, tempat kegiatan usaha, dan fasilitas lainnya di lingkungan terminal, yang disediakan, dimiliki, dan/atau dikelola oleh Pemerintah Kota. Selanjutnya dikecualikan dari objek Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah terminal yang disediakan, dimiliki, dan/atau dikelola oleh Pemerintah, BUMN, BUMD, dan pihak swasta. Subjek Retribusi Terminal adalah orang pribadi atau Badan yang menggunakan/menikmati pelayanan penyediaan tempat parkir untuk kendaraan penumpang dan bis umum, tempat kegiatan usaha, dan fasilitas lainnya di lingkungan terminal, yang disediakan, dimiliki, dan/atau dikelola oleh Pemerintah Kota. Wajib Retribusi Terminal adalah orang pribadi atau Badan yang menurut ketentuan peraturan perundangundangan Retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran Retribusi, termasuk pemungut atau pemotong Retribusi Terminal. Retribusi Terminal merupakan golongan Retribusi Jasa Usaha (Pasal 127 UU PDRD 2009). b. Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa Tingkat penggunaan jasa diukur berdasarkan frekuensi dan jangka waktu penggunaan fasilitas terminal. c. Prinsip Dalam Penetapan Struktur dan Besaran Tarif Retribusi Prinsip dalam penetapan struktur dan besarnya tarif retribusi didasarkan atas tujuan untuk memperoleh keuntungan yang layak sebagaimana keuntungan yang pantas diterima oleh pengusaha sejenis yang beroperasi secara efisien dan berorientasi pada harga pasar. d. Struktur dan Besaran Tarif Retribusi Berdasarkan usulan yang disampaikan Dinas Perhubungan Kota Denpasar, sebagai SKPD yang berkaitan dengan Retribusi Terminal, maka struktur dan besaran tarif Retribusi Terminal adalah sebagai berikut: a. Retribusi Terminal kendaraan umum meliputi: 1. Mobil Bus :
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

88

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

a) Mobil Bus antar kota antar propinsi: Rp. 2.000,00 (dua ribu rupiah)/sekali masuk; b) Mobil Bus antar kota dalam propinsi: Rp. 1.000,00 (seribu rupiah)/sekali masuk; 2. Taksi: Rp. 1.000,00 (seribu rupiah)/sekali masuk. b. Retribusi Pemakaian Tempat Usaha meliputi: 1. Los : Rp. 10.000,00 (sepuluh ribu rupiah)/m2/bulan; 2. Kios : Rp. 15.000,00 (limabelas ribu rupiah)/m2/bulan c. Retribusi Pemakaian Toilet meliputi: 1. Buang air kecil : Rp. 1.000,00 (seribu rupiah)/sekali pakai 2. Buang air besar : Rp. 2.000,00 (dua ribu rupiah)/sekali pakai 3. Mandi : Rp. 2.000,00 (dua ribu rupiah)/sekali pakai Tarif Retribusi tersebut di atas ditinjau kembali paling lama 3 (tiga) tahun sekali dengan Peraturan Walikota. Peninjauan ini penting dilakukan dengan pertimbangan bahwa dalam tiga tahun perkembangan ekonomi dan indeks harga akan berubah dengan pesat. e. Wilayah Pemungutan Retribusi yang terutang dipungut di wilayah daerah tempat pelayanan diberikan. f. Penentuan Pembayaran, Tempat Pembayaran, Angsuran dan Penundaan Pembayaran Dalam membayar retribusi Wajib Retribusi menggunakan Surat Ketetapan Retribusi Daerah atau dokumen lain yang dipersamakan, berupa karcis. Pembayaran Retribusi dapat dilakukan di Kas Daerah. Walikota dapat mengabulkan permohonan Wajib Retribusi untuk mengangsur atau menunda pembayaran Retribusi. g. Sanksi Administratif Dalam hal wajib retribusi tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang membayar, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2 % (dua persen) setiap bulan dari retribusi yang terhutang yang tidak atau kurang dibayar dan ditagih dengan menggunakan Surat Tagihan Retribusi Daerah. h. Penagihan
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

89

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Penagihan Retribusi terutang didahului dengan Surat Teguran. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penagihan pemungutan retribusi sebaiknya diatur dengan Peraturan Walikota. i. Penghapusan Piutang Retribusi yang Kedaluwarsa Apabila hak untuk melakukan penagihan sudah kedaluwarsa, piutang Retribusi dapat dihapuskan. Penghapusan Piutang Retribusi yang sudah kedaluwarsa tersebut, ditetapkan dengan Keputusan Walikota. Ketentuan lebih lanjut tentang tata cara penghapusan piutang Retribusi yang sudah kedaluwarsa diatur dengan Peraturan Walikota. 3.3. Ketentuan Penyidikan Penyidik Pegawai Negeri Sipil di Wewenang Penyidik tersebut meliputi: a. menerima, mencari, mengumpulkan, dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana di bidang Retribusi agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas; b. meneliti, mencari, dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau Badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana Retribusi; c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau Badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang Retribusi; d. memeriksa buku, catatan, dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang Retribusi; e. melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan, dan dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut; f. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang Retribusi; g. menyuruh berhenti dan/atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

lingkungan Pemerintah Kota diberi

wewenang khusus melakukan penyidikan tindak pidana di bidang Retribusi Daerah.

90

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

memeriksa identitas orang, benda, dan/atau dokumen yang dibawa; h. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana Retribusi; i. j. memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi; menghentikan penyidikan; dan/atau pidana di bidang Retribusi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.. Penyidik memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum melalui Penyidik pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana. 3.4. Ketentuan Pidana Pasal 14 UU P3 dan Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan, angka 85, angka 90, dan angka 91 (vide Pasal menentukan: 1. Materi muatan mengenai ketentuan pidana hanya dapat dimuat dalam Undang-undang dan Peraturan Daerah. 2. Ketentuan pidana memuat rumusan yang menyatakan penjatuhan pidana atas pelanggaran terhadap ketentuan yang berisi norma larangan atau perintah. 3. Rumusan ketentuan pidana harus menyebutkan secara tegas norma larangan atau perintah yang dilanggar dan menyebutkan pasal (-pasal) yang memuat norma tersebut. Dengan demikian, perlu dihindari pengacuan kepada ketentuan pidana Peraturan Perundang-undangan lain. Ketentuan tersebut memberikan pemahaman, bahwa ketentuan pidana dapat dimuat dalam Peraturan Daerah manakala dalam Peraturan Daerah telah dirumuskan norma primer berupa norma larangan atau perintah. Ketentuan pidana diperlukan norma primer tatkala dilanggar. Isu hukumnya adalah mengenai ketentuan pidana yang dapat dimuat dalam
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

k. melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak

Pasal 44 ayat (2) UU P3)

91

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Peraturan Daerah atau materi muatan ketentuan pidana dalam Peraturan Daerah, bukan tentang ketentuan pidana yang menjadi dasar hukum penegakan Peraturan Daerah. Ketika materi muatan ketentuan pidana telah dirumuskan dalam Peraturan Daerah, maka isu hukumnya adalah ketentuan pidana sebagai hukum penegakan Peraturan Daerah. Naskah ini membedakan dua kategori ketentuan pidana, yakni: [1] ketentuan pidana sebagai materi muatan Undang-Undang dan Peraturan Daerah, dan [2] ketentuan pidana sebagai dasar hukum penegakan Undang-Undang dan Peraturan Daerah. Ketentuan pidana sebagai materi muatan Undang-Undang merupakan kewenangan badan legislatif, dalam hal ini Dewan Perwakilan Rakyat, yang menurut Pasal 20 ayat (1) UUD 1945 memegang kekuasaan membentuk Undang-Undang. Berbeda dengan Undang-Undang, untuk Peraturan Daerah, ketentuan pidana yang dapat dimuat di dalamnya, pembentuk Peraturan Daerah tidak mempunyai kewenangan penuh untuk menentukan ketentuan pidana yang dapat dimuat dalam Peratruran Daerah. Melainkan harus mendasarkan pada UU Pemda. Pasal 143 ayat (2) UU Pemda menentukan, Perda dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah). Selanjutnya dalam ayat (3) ditentukan, Perda dapat memuat ancaman pidana kurungan atau denda selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2), sesuai dengan yang diatur dalam peraturan perundangundangan lainnya. Ketentuan-ketentuan tersebut mengatur tentang ancaman pidana yang dapat dimuat dalam Perda (bukan ancaman pidana sebagai dasar penegakan hukum Undang-Undang), yang memuat unsur-unsur: 1. Ancaman pidana yang dapat dimuat dalam Perda berupa pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah). Kewenangan pembentuk Peraturan Daerah menetapkan meteri muatan ketentuan pidana berkisar pada angka-angka tersebut. Frase paling lama,
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

92

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

membolehkan pembentuk Peraturan Daerah menetapkan materi muatan ketentuan pidana berupa pidana kurungan paling 3 (tiga) bulan, misalnya. Frase paling banyak, membolehkan pembentuk Peraturan Daerah menetapkan materi muatan ketentuan pidana berupa denda paling banyak Rp 25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah), misalnya. 2. Ancaman pidana yang dapat dimuat dalam Perda sesuai dengan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan lainnya. Apabila terdapat Undang-Undang sektoral atau Peraturan Pemerintah yang mengatur, bahwa Peraturan Daerah dapat memuat ancaman pidana kurungan atau denda lebih dari yang ditentukan dalam Pasal 143 ayat (2) tersebut, maka pembentuk Peraturan Daerah dapat mencantumkannya dalam Peraturan Daerah. Dikaitkan dengan UU PDRD 2009, tidak terdapat ketentuan tentang ancaman pidana yang dapat dimuat dalam Perda. Ketentuan Pidana dalam UU PDRD 2009 memuat ancaman pidana bagi pelaku yang melanggar UU PDRD 2009. Artinya, UU PDRD 2009 memuat Ketentuan Pidana sebagai dasar hukum bagi penegakan UU bersangkutan: ancaman pidana itu ditujukan kepada Wajib Pajak dan Wajib Retribusi yang melanggar ketentuan dalam UU PDRD. Matrik berikut yang memuat ketentuan Pasal 143 ayat (2), Pasal 174 ayat (1), dan Pasal 176 UU PDRD dapat memperjelas perbedaan kategori ketentuan pidana sebagai materi muatan Peraturan Daerah dan ketentuan pidana sebagai dasar hukum penegakkan UU PDRD. Matrik 6: Perbedaan kategori ketentuan pidana sebagai materi muatan Perda dan ketentuan pidana sebagai dasar hukum penegakkan UU.
No. PASAL 143 AYAT (2) dan (3) UU PEMDA Perda dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp PASAL 174 AYAT (1) dan (2) UU PDRD Wajib Pajak yang karena kealpaannya tidak menyampaikan SPTPD atau ... dapat dipidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun Pasal 176 UU PDRD

Wajib Retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya ... diancam pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

93

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

atau pidana denda paling banyak 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar.

pidana denda paling banyak 3 (tiga) kali jumlah Retribusi terutang yang tidak atau kurang dibayar.

Perda dapat memuat ancaman pidana atau denda selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), sesuai dengan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.

Wajib Pajak yang dengan sengaja tidak menyampaikan SPTPD ... dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau pidana denda paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar.

Oleh karena isu hukum dalam pembentukan Peraturan Daerah adalah materi muatan ketentuan pidana dalam Peraturan Daerah, maka ketentuan pidana yang dirumuskan dalam Peraturan Daerah tentang Retribusi Daerah adalah berdasarkan pada Pasal 143 ayat (2) UU Pemda, yaitu berupa berupa pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah). Menetapkan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan dalam Peraturan Daerah tentang Retribusi Daerah, yang tampak sesuai dengan Pasal 176 UU PDRD, adalah masih dalam kerangka pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan berdasarkan Pasal 143 ayat (2) UU Pemda.46 Namun, menetapkan pidana denda
Berbeda dengan menetapkan kurungan paling lama 1 (satu) tahun karena suatu kealpaan atau pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun karena suatu kesengajaan adalah di luar kerangka pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan berdasarkan Pasal 143 ayat (2) UU Pemda. Bandingkan dengan Jimly Asshiddiqie, Profesor hukum tata negara dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, bahwa pengaturan mengenai ketentuan sanksi pidana hanya dapat dimuat dalam bentuk undang-undang atau peraturan daerah. Selanjutnya dikemukakan, sanksi pidana yang dimuat dalam Peraturan Daerah tentunya yang bersifat ringan dan berkaitan dengan tindak pidana yang juga ringan. Berikutnya dikemukakan, ketentuan pidana yang lebih berat tentu harus dimuat dalam Undang-Undang, bukan dalam Peraturan Daerah. Jimly Asshiddiqie, Ibid, hlm. 233. Pandangan Jimly Asshiddiqie tersebut dapat dijadikan sandaran teoritis untuk menggunakan sanksi pidana yang dapat dimuat dalam Peraturan Daerah sebagaimana diamanatkan dalam UU Pemda.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal
46

94

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

paling banyak 3 (tiga) kali jumlah Retribusi terutang yang tidak atau kurang dibayar mengandung problem hukum ketidaksesuaian dengan Pasal 143 ayat (2) UU Pemda, karena dapat melebihi denda paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah). 3.5. Ketentuan Peralihan Ketentuan peralihan memuat penyesuaian terhadap Peraturan Perundangundangan yang sudah ada pada saat Peraturan Perundang-undangan baru mulai berlaku, agar Peraturan Perundang-undangan tersebut dapat berjalan lancar dan tidak menimbulkan permasalahan hukum. Pada saat Peraturan Daerah Retribusi Terminal berlaku, Retribusi yang masih terutang berdasarkan peraturan daerah yang sebelumnya masih dapat ditagih selama jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak saat terutang. 3.6. Ketentuan Penutup Jika materi dalam Peraturan Perundang-undangan baru menyebabkan perlunya penggantian seluruh atau sebagian materi dalam Peraturan Perundangundangan lama, di dalam Peraturan Perundangundangan baru harus secara tegas diatur mengenai pencabutan seluruh atau sebagian Peraturan Perundang-undangan lama. Rumusan pencabutan diawali dengan frase Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, kecuali untuk pencabutan yang dilakukan dengan Peraturan Perundang-undangan pencabutan tersendiri. Demi kepastian hukum, pencabutan Peraturan Perundang-undangan hendaknya dirumuskan dengan tegas Peraturan Perundang-undangan mana yang dicabut, dengan menggunakan frase dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Oleh karena itu rumusannya menjadi : Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 7 Tahun 2001 tentang Retribusi

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

95

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Fasilitas Terminal di Kota Denpasar (Lembaran Daerah Kota Denpasar Tahun 2001 Nomor 7) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

96

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

BAB
A. Rangkuman

V PENUTUP

Berdasarkan UU PDRD 2009, Kota Denpasar perlu membentuk Perda tentang Retribusi Terminal sebagai dasar hukum pemungutan Retribusi Terminal. Dalam rangka pembentukan Perda dimaksud perlu didukung dengan kajian akademik yang hasilnya dituangkan dalam Naskah Akademik Raperda Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal. Empat isu hukum yang perlu dikaji untuk mendapatkan bahan hukum dalam rangka pembentukan Perda tentang Retribusi Terminal adalah: i. ii. iii. iv. Aspek-aspek yang digunakan sebagai landasan keabsahan pengaturan tentang Retribusi Terminal dalam Peraturan Daerah. Asas-asas yang digunakan sebagai dasar perumusan norma hukum tentang Retribusi Terminal dalam Peraturan Daerah. Ruang lingkup materi muatan pengaturan tentang Retribusi Terminal dalam Peraturan Daerah. Keterkaitan materi muatan pengaturan Retribusi Terminal dengan hukum positif lainnya. Empat isu hukum tersebut dikaji dalam perspektif penelitian hukum (legal

research), dalam artian menggunakan bahan hukum dan dianalisis secara


hermeneutika hukum, yaitu memahami, menginterpretasi, dan menerapkan suatu norma hukum secara bolak-balik antara keseluruhan dan bagian. Landasan filosofis pengaturan Retribusi Terminal adalah bahwa Retribusi Terminal merupakan sumber pendapatan daerah yang penting guna membiayai pelaksanaan pemerintahan daerah dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, sehingga perlu pengaturan Retribusi Terminal berdasarkan prinsip demokrasi, pemerataan dan keadilan, peran serta masyarakat, dan akuntabilitas dengan memerhatikan potensi daerah.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

97

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Landasan yuridis pengaturan Retribusi Terminal adalah

Undang-Undang

Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Salah satu jenis retribusi daerah adalah Retribusi Terminal. Undang-Undang ini menegaskan di dalam Pasal 156 ayat (1), retribusi daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Selanjutnya dalam Pasal 156 ayat (3) ditentukan Peraturan Daerah tentang Retribusi paling sedikit mengatur ketentuan mengenai: a. nama, objek, dan Subjek Retribusi; b. Golongan retribusi; c. cara mengukur tingkat penggunaan jasa yang bersangkutan; d. prinsip yang dianut dalam penetapan struktur dan besarnya tarif Retribusi; e. struktur dan besarnya tarif Retribusi; f. wilayah pemungutan; g. penentuan pembayaran, tempat pembayaran, angsuran, dan penundaan pembayaran; h. sanksi administratif; i. penagihan; j. penghapusan piutang Retribusi yang kedaluwarsa; dan k. tanggal mulai berlakunya. Berikutnya dalam 156 ayat (4) ditentukan Peraturan Daerah tentang Retribusi dapat juga mengatur ketentuan mengenai: a. Masa Retribusi; b. pemberian keringanan, pengurangan, dan pembebasan dalam hal-hal tertentu atas pokok Retribusi dan/atau sanksinya; dan/atau c. Retribusi yang kedaluwarsa. Landasan sosiologis, Perda Kota Denpasar Nomor 7 Tahun 2001 tentang Retribusi Fasilitas Terminal di Kota Denpasar tidak sesuai dengan UU PDRD 2009 oleh karena itu Peraturan Daerah yang bersangkutan perlu ditinjau ulang dan dibentuk yang baru. Asas-asas yang menjadi dasar perumusan norma hukum tentang Retribusi Terminal dalam Peraturan Daerah adalah Asas Pembentukan Peraturan Perundangundangan yang Baik, yang formal dan yang materiil. Asas formal Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang Baik, yang menjadi dasar perumusan norma hukum tentang Retribusi Terminal adalah: 1 Asas kejelasan tujuan. Pengaturan Retribusi Terminal bertujuan: (1) memberikan kepastian bagi masyarakat mengenai siapa dan apa yang dikenakan retribusi, dan bagaimana struktur dan besaran tarif yang harus dibayar dan bagaimana cara membayarnya; dan (2) memperkuat
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

tata cara penghapusan piutang

98

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

dasar hukum bagi Pemerintah Kota melakukan pungutan Retribusi Terminal, sehingga Retribusi Terminal dapat menjadi sumber pendapatan asli daerah dalam rangka membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah dan pelayanan kepada masyarakat. 2 Asas kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat. Pengaturan Retribusi Terminal dengan Peraturan Daerah dilakukan oleh Walikota Denpasar dengan persetujuan bersama DPRD Kota Denpasar. 3 Asas kesesuaian antara jenis dan materi muatan. Pungutan Retribusi Terminal harus dengan Peraturan Daerah. Adapun materi pokok yang diatur dengan Peraturan Retribusi Terminal mengacu pada Pasal 156 ayat (3) dan ayat (4) UU PDRD. 4 Asas dapat dilaksanakan. Pembentukan Peraturan Daerah tentang Retribusi Terminal harus memerhatikan beberapa aspek: (1) filosofis, yaitu ada jaminan keadilan dalam pengenaan Retribusi Terminal; (2) yuridis, adanya jaminan kepastian dalam pengenaan Retribusi Terminal, termasuk substansinya tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi; dan (3) sosiologis, pengaturan Retribusi Terminal memang dapat memberikan manfaat, baik bagi pemerintah kota maupun bagi masyarakat, termasuk substansinya tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum. 5 Asas kedayagunaan dan kehasilgunaan. Pembentukan Peraturan Daerah tentang Retribusi Terminal memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur pemungutan Retribusi Terminal dan membiayai pelaksanaan pembangunan di Kota Denpasar. 6 Asas kejelasan rumusan. Pembentukan Peraturan Daerah tentang Retribusi Terminal sesuai persyaratan teknik penyusunan peraturan perundang-undangan, sistematika dan pilihan kata atau terminologi, serta bahasa hukum yang jelas dan mudah dimengerti, sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya.

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

99

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Artinya, rumusan aturan hukum dalam Peraturan Daerah tentang Retribusi Terminal menjamin kepastian. 7 Asas keterbukaan. Pembentukan Peraturan Daerah tentang Retribusi Terminal harus menjamin partisipasi masyarakat, dalam artian masyarakat dijamin haknya untuk memberikan masukan, baik tertulis maupun lisan, serta kewajiban Pemerintah Kota untuk menjamin masukan tersebut telah dipertimbangkan relevansinya. Untuk terselenggaranya partisipasi masyarakat itu, maka terlebih dahulu Pemerintah Kota memberikan informasi tentang proses pembentukan Peraturan Daerah bersangkutan. Asas materiil Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang Baik, yang menjadi dasar perumusan norma hukum tentang Retribusi Terminal adalah: 1. Asas keadilan. Peraturan Daerah tentang Retribusi Terminal harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga masyarakat tanpa kecuali. Tuntutan keadilan mempunyai dua arti. Dalam arti formal keadilan menuntut norma hukum dalam Peraturan Daerah tentang Retribusi Terminal berlaku umum. Dalam arti materiil dituntut agar norma hukum dalam Peraturan Daerah tentang Retribusi Terminal sesuai dengan cita-cita keadilan dalam masyarakat. 2. Asas kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan. Materi muatan Peraturan Daerah tentang Retribusi Terminal tidak berisi ketentuan-ketentuan yang bersifat membedakan berdasarkan latar belakang antara lain agama, suku, ras, golongan, gender, atau status sosial. Inti dari kesamaan adalah keadilan, yang menjamin perlakuan yang sama, sesuai hak dan kewajibannya. 3. Asas ketertiban dan kepastian hukum. Materi muatan Peraturan Daerah tentang Retribusi Terminal dituntut dapat menimbulkan ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan adanya kepastian hukum. Jaminan kepastian hukum mempunyai dua arti. Dalam artian, norma hukum Retribusi Terminal harus sedemikian jelas sehingga masyarakat dan pemerintah
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

100

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

serta hakim dapat berpedoman padanya. Terutama masyarakat dapat dengan jelas mengetahui hak dan kewajiban dalam kaitannya dengan Retribusi Terminal, termasuk norma hukum pajak dan sanksinya atas pelanggarannya tidak boleh berlaku surut. 4. Asas keseimbangan, keserasian, dan keselarasan. Norma hukum dalam Peraturan Daerah tentang Retribusi Terminal harus mengandung keseimbangan beban dan manfaat, atau, kewajiban membayar retribusi dengan hak yang didapatkannya dengan membayar retribusi. Mengenai asas-asas materiil yang lain, sebagaimana dimaksud Pasal 6 ayat (2) UU P3, dalam pengaturan tentang Retribusi Terminal berkaitan dengan kriteria umum tentang retribusi daerah, yaitu: 1. Kecukupan dan elastik, artinya dapat mudah naik turun mengikuti naik/turunnya tingkat pendapatan masyarakat. 2. Adil dan merata secara vertikal artinya sesuai dengan tingkatan kelompok masyarakat dan horizontal artinya berlaku sama bagi setiap anggota kelompok masyarakat. 3. Fleksibelitas administrasi artinya sederhana, mudah dihitung, pelayanan memuaskan bagi wajib retribusi. 4. Keterimaan secara politik, secara politik dapat diterima oleh masyarakat, sehingga timbul motivasi dan kesadaran pribadi untuk membayar retribusi. 5. Non-distorsi, jangan sampai suatu pajak atau pungutan menimbulkan beban tambahan yang berlebihan, sehingga akan menimbulkan kerugian pada masyarakat. 6. Kemudahan (convenience). Dalam prinsip ini ditekankan pentingnya saat dan waktu yang tepat bagi wajib retribusi dalam memenuhi kewajiban retribusinya. 7. Efisiensi (Efficiency). Dalam prinsip ini ditekankan pentingnya efisiensi pemungutan retribusi, artinya biaya yang dikeluarkan dalam

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

101

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

melaksanakan pemungutan retribusi tidak boleh lebih besar dari jumlah retribusi yang dipungut. Kriteria PDRD: 1. Materi muatan imperatif: a. b. c. d. nama, objek, dan Subjek Retribusi; golongan Retribusi; cara mengukur tingkat penggunaan jasa yang bersangkutan; prinsip yang dianut dalam penetapan struktur dan besarnya tarif Retribusi; e. struktur dan besarnya tarif Retribusi; f. wilayah pemungutan; g. penentuan pembayaran, tempat pembayaran, angsuran, dan penundaan pembayaran; h. sanksi administratif; i. penagihan; j. penghapusan piutang Retribusi yang kedaluwarsa; dan k. tanggal mulai berlakunya.Materi muatan fakultatif: 2. Materi muatan fakultatif: a. Masa Retribusi; b. pemberian keringanan, pengurangan, dan pembebasan dalam hal-hal tertentu atas pokok Retribusi dan/atau sanksinya; dan/atau c. tata cara penghapusan piutang Retribusi yang kedaluwarsa. Batas materi muatan pengaturan tentang Retribusi Terminal berdasarkan pada ketentuan dalam UU Pemda dan UU Nomor 33 Tahun 2004 adalah: 1. Larangan bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. 2. Larangan menyebabkan ekonomi biaya tinggi dan menghambat mobilitas penduduk, lalu lintas barang dan jasa antar daerah, dan kegiatan impor/ekspor. Keterkaitan dengan hukum positif lainnya tidak saja dengan UU PDRD 2009, UU P3, UU Pemda, dan UU PKP3D, melainkan juga dengan peraturan perundangNaskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

menetapkan materi muatan Peraturan Daerah tentang Retribusi

Terminal adalah berdasarkan ketentuan dalam Pasal 156 ayat (3) dan ayat (4) UU

102

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

undangan pelaksanaan dari UU Pemda, seperti Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota, dan Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 4 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan Daerah Kota Denpasar . B. Konklusi Konklusi yang dikemukakan berikut tidaklah secara eksplisit berkenaan isu hukum yang dikemukakan dalam Bab Pendahuluan. Konklusi semacam ini telah diungkapkan dalam bagian Rangkuman di atas. Isu hukum tersebut hanyalah sebagai panduan melakukan penelitian dalam rangka penyusunan Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah tentang Retribusi Terminal, yang bermuara pada Konsep Awal Rancangan Peraturan Daerah tentang Retribusi Terminal. Adapun konklusinya adalah: 1. Kota Denpasar perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Retribusi Terminal yang baru sebagai dasar hukum pengenaan Retribusi Terminal sebagaimana dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, dengan terlebih dahulu dipersiapkan konsep awal rancangannya. 2. Materi muatan konsep awal Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal berdasarkan pada ketentuan Pasal 156 ayat (3) dan ayat (4) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, dalam batas-batas yang ditentukan dalam Pasal 136 ayat (4) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 dan Pasal 7 Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, dengan mendasarkan pada Landasan keabsahan filosofis, yuridis, dan sosiologis, dan Asas Pembentukan Peraturan

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

103

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Perundang-undangan yang Baik yang bersifat formal dan bersifat materiil. 3. Materi muatan Retribusi Terminal sebagaimana diamanatkan Pasal 156 ayat (3) dan ayat (4) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, yang dituangkan dalam konsep awal Peraturan Daerah Kota Denpasar, dirumuskan dalam Kerangka Peraturan Perundang-undangan sesuai amanat Pasal 44 ayat (2) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. Dengan demikian ada beberapa materi yang tidak perlu dirumuskan secara eksplisit dengan judul bab materi bersangkutan, seperti: a. Nama Retribusi Terminal, tidak perlu dirumuskan: Dengan nama Retribusi Terminal dipungut pajak atas ... di bawah Bab yang berjudul Nama, Objek, dan Subjek Pajak, melainkan dimasukkan dalam Judul dan Diktum pada Pembukaan Peraturan Daerah, lebihlebih telah dirumuskan dalam Bab Ketentuan Umum. b. Saat mulai berlakunya, tidak memerlukan Bab yang berjudul Saat Mulai Berlakunya (atau Saat Mulai Berlaku Peraturan Daerah ini), melainkan telah masuk dalam Bab yang berjudul Ketentuan Penutup. C. Rekomendasi Rekomendasi yang dapat diajukan dalam rangka pembentukan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal, yang diawali dengan penyusunan konsep awal rancangannya, adalah: 1. Agar diselenggarakan proses konsultasi publik sehingga masyarakat dapat memberikan masukan dalam penyusunan Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal, sesuai dengan asas keterbukaan dan ketentuan tentang partisipasi masyarakat dalam Pasal 53 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dan Pasal 139 ayat (1) Undang-Undang

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

104

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008. 2. Agar segera dipersiapkan Rancangan Peraturan Walikota mengenai: a. tata cara penerbitan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan, dan STRD; b. ketentuan STRD; c. ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembayaran, penyetoran, tempat retribusi; d. ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengurangan atau penghapusan sanksi administratif dan pengurangan atau pembatalan ketetapan retribusi; dan e. tata cara penghapusan piutang retribusi yang sudah kedaluwarsa; sehingga saat Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal telah ditetapkan dan diundangkan menjadi Peraturan Daerah dapat dilaksanakan secara efektif. 3. Perlu dicermati ketentuan-ketentuan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah berikut: a. tata cara pengembalian kelebihan pembayaran Retribusi (Pasal 165 ayat (8)); b. ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemeriksaan kewajiban retribusi (Pasal 170 ayat (3)); apabila berkenaan dengan pengaturan Retribusi Terminal, agar segera dipersiapkan Peraturan Walikota, oleh karena materi-materi tersebut pengaturannya didelegasikan langsung dengan Peraturan Walikota, tanpa harus terlebih dahulu diatur dalam Peraturan Daerah. pembayaran, angsuran, dan penundaan pembayaran lebih lanjut mengenai tata cara pengisian dan penyampaian SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan, dan

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

105

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

DAFTAR PUSTAKA
Abimanyu, Anggito, et.al., 2005, Evaluasi Pelaksanaan UU Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Pusat Pengkajian Ekonomi dan Keuangan Badan Pengkajian Ekonomi, Keuangan, dan Kerjasama Internasional Departemen Keuangan RI, Jakarta. Asshiddiqie, Jimly 2006, Perihal Undang-Undang, Konstitusi Press, Jakarta. Attamimi, A. Hamid S., 1990, Peranan Keputusan Presiden Republik Indonesia dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara: Suatu Studi Analisis mengenai Keputusan Presiden yang Berfungsi Pengaturan dalam Kurun Waktu Pelita I Pelita IV, Disertasi Doktor, Fakultas Pascasarjana Universitas Indonesia, Jakarta. Atmaja, Gede Marhaendra Wija, 2006, Pembuatan Kebijakan Penanggulangan HAIV/AIDS dalam Perda Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2006, Makalah, Lokakarya Legal Drafting Perda Penanggulangan HIV/AIDS bagi Anggota DPRD 10 Provinsi Di Indonesia, diselenggarakan oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), pada Minggu-Rabu 11-14 Juni di Bandung. .., 2006, Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah Berdasarkan Asas dan Teknik Penyusunan serta Perumusan Peraturan Perundang-undangan, Makalah, Pertemuan Konsultasi Legal Drafting Perda Penanggulangan HIV/AIDS, diselenggarakan oleh Komisi Penanggulangan Aids Nasional (KPAN), pada 3-6 September di Jayapura. Gadamer, Hans-Georg., 2004, Kebenaran dan Metode: Pengantar Filsafat Hermeneutika, terjemahan Ahmad Sahidah (judul asli: Truth and Method, The Seabury Press, New York, 1975), Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Hartono, C.F.G. Sunaryati, 1994, Penelitian Hukum Di Indonesia Pada Akhir Abad ke 21 , Alumni, Bandung. Ismail, Tjip, 2007, Pengaturan Pajak Daerah Di Indonesia, Edisi Kedua, Yellow Printing, Jakarta. Jones, Charles O., 1991, Pengantar Kebijakan Publik (Public Policy), terjemahan, Rajawali Pers, Jakarta. Kumorotomo, Wahyudi, 2006, Desentralisasi Fiskal: Politik Perubahan Kebijakan 1974-2004, Kencana, Jakarta. Leyh, Gregory, Pendahuluan, dalam Gregory Leyh, ed., 2008, Hermeneutika Hukum: Sejarah, Teori, dan Praktik, terjemahan M. Khozim, (judul asli: Legal Hermeneitics, University of California Press, 1992), Penerbit Nusa Media, Bandung. Lubis, M. Solly., 1989, Landasan dan Teknik Perundang-undangan, Penerbit CV Mandar Maju, Bandung.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

123

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Magnis-Suseno, Franz, 1987, Etika Politik: Prinsip-prinsip Moral Dasar Kenegaraan Moden, Gramedia, Jakarta. Mahfud MD, Moh., 2006, Membangun Politik Hukum, Menegakkan Konstitusi, LP3ES, Jakarta. Manan, Bagir, 1992, Dasar-Dasar Perundang-undangan Indonesia, Penerbit IndHill.Co, Jakarta. Marsuni, H. Lauddin, 2006, Hukum dan Kebijakan Perpajakan Di Indonesia, UII Press, Yogyakarta. Marzuki, Peter Mahmud, 2005, Penelitian Hukum, Interpratama Offset, Jakarta. ., 2005, Arti Penting Hermeneutik dalam Penerapan Hukum, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam bidang Ilmu Hukum, Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Surabaya. Mustaqiem, H., 2008, Pajak Daerah dalam Transisi Otonomi Daerah, UII Press, Yogyakarta. Prakosa, Kesit Bambang, 2003, Pajak dan Retribusi Daerah, UII Press, Yogyakarta. Sidharta, Bernard Arief, 2000, Refleksi Tentang Struktur Ilmu Hukum: Sebuah Maju, Bandung. .,

Penelitian Tentang Fundasi Kefilsafatan dan Sifat Keilmuan Ilmu HUkum sebagai Landasan Pengmbangan Ilmu Hukum Nasional Indonesia, Mandar
Penelitian Hukum Normatif: Analisis Penelitian Filosofikal dan Dogmatikal, dalam Soelistyowati Irianto dan Shidarta, eds.,2009, Metode Penelitian Hukum: Konstelasi dan Refeksi, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

Soedargo, R., 1964, Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, N.V. Eresco, Bandung. Sumaryono, E., 1999, Hermeneutik: Sebuah Metode Filsafat, Edisi Revisi, Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Tim Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, t.t., Pedoman Nasional Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Departemen Keuangan RI, Jakarta. Vlies, I.C. Van Der, 2005, Buku Pegangan Perancang Peraturan Perundangundangan, terjemahan, Direktorat Jenderal Peraturan Perundanganundangan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, Jakarta.

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

124

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Lampiran 1.

Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR........TAHUN........ TENTANG RETRIBUSI TERMINAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA DENPASAR, Menimbang: a. bahwa dalam rangka pemungutan Retribusi Terminal yang efisien dan efektif berdasarkan prinsip demokrasi pemerataan dan keadilan, peran serta masyarakat dan akuntabilitas, perlu dilakukan pengaturan Retribusi Terminal; bahwa Retribusi Terminal merupakan salah satu sumber pendapatan daerah yang penting guna membiayai pelaksanaan pemerintahan daerah; bahwa Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak dan Retribusi Daerah mengamanatkan pengaturan Retribusi Terminal; berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Retribusi Terminal; Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1992 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Denpasar (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 9, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3465);
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

b.

c.

d.

Mengingat:

1.

125

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

2.

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4339; Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 44 37) sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2008, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5049); Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 4 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintah Kota Denpasar (Lembaran Daerah Kota Denpasar Tahun 2008 Nomor 4, Tambahan Lembaran Daerah Kota Denpasar Nomor 4); Dengan Persetujuan Bersama

3.

4.

5.

6.

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA DENPASAR dan WALIKOTA DENPASAR


Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

126

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

M E M U T U S K A N: Menetapkan: PERATURAN DAERAH TENTANG RETRIBUSI TERMINAL BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan: a. b. c. d. Kota adalah Kota Denpasar. Pemerintah Kota adalah Pemerintah Kota Denpasar. Walikota adalah Walikota Denpasar. Retribusi Terminal, yang selanjutnya disebut Retribusi, adalah pembayaran atas pelayanan penyediaan tempat parkir untuk kendaraan penumpang dan bis umum, tempat kegiatan usaha, dan fasilitas lainnya di lingkungan terminal, yang disediakan, dimiliki, dan/atau dikelola oleh Pemerintah Kota. e. Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau Badan yang menurut peraturan perundang-undangan retribusi, diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi, termasuk pemungut atau pemotong retribusi tertentu. BAB II OBJEK, SUBJEK, DAN GOLONGAN RETRIBUSI Pasal 2

(1) Objek Retribusi adalah pelayanan penyediaan tempat parkir untuk


kendaraan penumpang dan bis umum, tempat kegiatan usaha, dan fasilitas lainnya di lingkungan terminal, yang disediakan, dimiliki, dan/atau dikelola oleh Pemerintah Kota. (2) Dikecualikan dari objek Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah terminal yang disediakan, dimiliki, dan/atau dikelola oleh Pemerintah, BUMN, BUMD, dan pihak swasta. Pasal 3

(1) Subjek

Retribusi adalah orang pribadi atau Badan yang menggunakan/menikmati pelayanan penyediaan tempat parkir untuk kendaraan penumpang dan bis umum, tempat kegiatan usaha, dan fasilitas lainnya di lingkungan terminal, yang disediakan, dimiliki, dan/atau
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

127

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

dikelola oleh Pemerintah Kota. (2) Wajib Retribusi adalah Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau Badan yang menurut peraturan perundang-undangan Retribusi, diwajibkan untuk melakukan pembayaran Retribusi, termasuk pemungut atau pemotong Retribusi. Pasal 4 Retribusi Terminal merupakan golongan Retribusi Jasa Usaha BAB III CARA MENGUKUR TINGKAT PENGGUNAAN JASA Pasal 5 Tingkat penggunaan jasa diukur berdasarkan frekuensi dan jangka waktu penggunaan fasilitas terminal BAB IV PRINSIP DALAM PENETAPAN STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI Pasal 6

(1) Prinsip dan sasaran dalam penetapan besarnya tarif Retribusi didasarkan
pada tujuan untuk memperoleh keuntungan yang layak. (2) Keuntungan yang layak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah keuntungan yang diperoleh apabila pelayanan jasa usaha tersebut dilakukan secara efisien dan berorientasi pada harga pasar. BAB V STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI Pasal 7 Besarnya tarif Retribusi ditetapkan sebagai berikut: a. Retribusi Terminal kendaraan umum meliputi: 1. Mobil Bus : a) Mobil Bus antar kota antar propinsi: Rp. 2.000,00 (dua ribu rupiah)/sekali masuk; b) Mobil Bus antar kota dalam propinsi: Rp. 1.000,00 (seribu rupiah)/sekali masuk; 2. Taksi: Rp. 1.000,00 (seribu rupiah)/sekali masuk.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

128

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

b. Retribusi Pemakaian Tempat Usaha meliputi: 1. Los : Rp. 10.000,00 (sepuluh ribu rupiah)/m2/bulan; 2. Kios : Rp. 15.000,00 (limabelas ribu rupiah)/m2/bulan c. Retribusi Pemakaian Toilet meliputi: 1. Buang air kecil : Rp. 1.000,00 (seribu rupiah)/sekali pakai 2. Buang air besar : Rp. 2.000,00 (dua ribu rupiah)/sekali pakai 3. Mandi : Rp. 2.000,00 (dua ribu rupiah)/sekali pakai d. Retribusi Terminal Barang meliputi: 1. Retribusi Mobil Barang a) JBB 0 kilogram sampai dengan 2.750 kilogram adalah Rp. 3.000,00 (tiga ribu rupiah)/setiap masuk; b) JBB 2.751 kilogram sampai dengan 5.000 kilogram adalah Rp. 5.000,00 (lima ribu rupiah)/setiap masuk; c) JBB 5.001 kilogram sampai dengan 9.000 kilogram adalah Rp.6.000,00 (enam ribu rupiah)/setiap masuk; d) JBB 9.001 kilogram sampai dengan 15.000 kilogram adalah Rp.8.000,00 (delapan ribu rupiah)/setiap masuk; e) JBB 15.001 kilogram sampai dengan 20.000 kilogram adalah Rp.12.000,00 (duabelas ribu rupiah)/setiap masuk; f) JBB 20.001 kilogram ke atas adalah Rp.18.000,00 (delapanbelas ribu rupiah)/setiap masuk. 2. Retribusi Bongkar Angkutan Barang a) JBB 0 kilogram sampai dengan 2.750 kilogram adalah Rp. 2.000,00 (dua ribu rupiah)/setiap bongkar; b) JBB 2.751 kilogram sampai dengan 5.000 kilogram adalah Rp. 3.000,00 (tiga ribu rupiah)/setiap bongkar; c) JBB 5.001 kilogram sampai dengan 9.000 kilogram adalah Rp.4.000,00 (empat ribu rupiah)/setiap bongkar; d) JBB 9.001 kilogram sampai dengan 15.000 kilogram adalah Rp.5.000,00 (lima ribu rupiah)/setiap bongkar; e) JBB 15.001 kilogram sampai dengan 20.000 kilogram adalah Rp.6.000,00 (enam ribu rupiah)/setiap bongkar; f) JBB 20.001 kilogram ke atas adalah Rp.8.000,00 (delapan ribu rupiah)/setiap bongkar. 3. Retribusi Muat Angkutan Barang a) JBB 0 kilogram sampai dengan 2.750 kilogram adalah Rp. 3.000,00 (tiga ribu rupiah)/sekali muat;
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

129

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

b) JBB 2.751 kilogram sampai dengan 5.000 kilogram adalah Rp. 4.000,00 (empat ribu rupiah)/sekali muat; c) JBB 5.001 kilogram sampai dengan 9.000 kilogram adalah Rp.5.000,00 (lima ribu rupiah)/sekali muat; d) JBB 9.001 kilogram sampai dengan 15.000 kilogram adalah Rp.6.000,00 (enam ribu rupiah)/sekali muat; e) JBB 15.001 kilogram sampai dengan 20.000 kilogram adalah Rp.7.000,00 (tujuh ribu rupiah)/sekali muat; f) JBB 20.001 kilogram ke atas adalah Rp.8.000,00 (delapan ribu rupiah)/sekali muat. 4. Retribusi Pemakaian Gudang meliputi: a) Bulanan sebesar Rp. 15.000,00 (lima belas ribu rupiah)/m2/bulan; b) Harian sebesar Rp. 1.000,00 (seribu rupiah)/m2/hari. 5. Retribusi Jasa Tunggu meliputi: a) JBB 0 kilogram sampai dengan 2.750 kilogram adalah Rp. 3.000,00 (tiga ribu rupiah)/hari; b) JBB 2.751 kilogram sampai dengan 5.000 kilogram adalah Rp. 4.000,00 (empat ribu rupiah)/ hari; c) JBB 5.001 kilogram sampai dengan 9.000 kilogram adalah Rp.5.000,00 (lima ribu rupiah)/ hari; d) JBB 9.001 kilogram sampai dengan 15.000 kilogram adalah Rp.6.000,00 (enam ribu rupiah)/ hari; e) JBB 15.001 kilogram sampai dengan 20.000 kilogram adalah Rp.7.000,00 (tujuh ribu rupiah)/ hari; f) JBB 20.001 kilogram ke atas adalah Rp.8.000,00 (delapan ribu rupiah)/ hari. Pasal 8 Tarif Retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ditinjau kembali paling lama 3 (tiga) tahun sekali dengan Peraturan Walikota. BAB VI WILAYAH PEMUNGUTAN Pasal 9 Retribusi yang terutang dipungut di wilayah daerah tempat pelayanan diberikan.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

130

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

BAB VII PENENTUAN PEMBAYARAN, TEMPAT PEMBAYARAN, ANGSURAN, DAN PENUNDAAN PEMBAYARAN Pasal 10 (1) Wajib Retribusi sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) wajib membayar Retribusi. (2) Retribusi dipungut dengan menggunakan Surat Ketetapan Retribusi Daerah atau dokumen lain yang dipersamakan. (3) Dokumen lain yang dipersamakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa karcis. Pasal 11 Retribusi dibayar di Kas Daerah Pasal 12 Walikota dapat mengabulkan permohonan Wajib mengangsur atau menunda pembayaran Retribusi. Pasal 13 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembayaran diatur dengan Peraturan Walikota BAB VIII SANKSI ADMINISTRATIF Pasal 14 Dalam hal wajib retribusi tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang membayar, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2 % (dua persen) setiap bulan dari retribusi yang terhutang yang tidak atau kurang dibayar dan ditagih dengan menggunakan Surat Tagihan Retribusi Daerah. BAB IX PENAGIHAN Pasal 15 (1) Penagihan Retribusi terutang didahului dengan Surat Teguran.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

Retribusi

untuk

131

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penagihan pemungutan retribusi diatur dengan Peraturan Walikota. BAB X PENGHAPUSAN PIUTANG RETRIBUSI YANG KEDALUWARSA Pasal 16 (1) Apabila hak untuk melakukan penagihan sudah kedaluwarsa, piutang Retribusi dapat dihapuskan (2) Penghapusan Piutang Retribusi yang sudah kedaluwarsa sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1), ditetapkan dengan Keputusan Walikota. Pasal 17 Ketentuan lebih lanjut tentang tata cara penghapusan piutang Retribusi yang sudah kedaluwarsa diatur dengan Peraturan Walikota. BAB XI KETENTUAN PENYIDIKAN Pasal 18 (1) Penyidik Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Kota diberi wewenang khusus melakukan penyidikan tindak pidana di bidang Retribusi Daerah. (2) Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. menerima, mencari, mengumpulkan, dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana di bidang Retribusi agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas; b. meneliti, mencari, dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau Badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana Retribusi; c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau Badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang Retribusi; d. memeriksa buku, catatan, dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang Retribusi; e. melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan, dan dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

132

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang Retribusi; g. menyuruh berhenti dan/atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang, benda, dan/atau dokumen yang dibawa; h. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana Retribusi; i. memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi; j. menghentikan penyidikan; dan/atau k. melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana di bidang Retribusi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.. (3) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum melalui Penyidik pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana. BAB XII KETENTUAN PIDANA Pasal 19

f.

(1) Setiap wajib Retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) dincam dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah). (2) Tiindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan Pelanggaran BAB XIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 20 Pada saat Peraturan Daerah ini berlaku, Retribusi yang masih terutang berdasarkan peraturan daerah yang sebelumnya masih dapat ditagih selama jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak saat terutang.

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

133

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

BAB XIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 21 Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 7 Tahun 2001 tentang Retribusi Fasilitas Terminal di Kota Denpasar (Lembaran Daerah Kota Denpasar Tahun 2001 Nomor 7) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pasal 22 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan

pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Denpasar.

Ditetapkan di Denpasar pada tanggal............................. WALIKOTA DENPASAR

RAI DHARMA WIJAYA MANTRA Diundangkan di Denpasar Pada tanggal SEKRETARIS DAERAH KOTA DENPASAR

A.A. NGR RAI ISWARA


Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

134

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

LEMBARAN DAERAH KOTA DENPASAR TAHUN.................NOMOR.......................

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

135

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR TAHUN 2010 TENTANG RETRIBUSI TERMINAL

I. UMUM Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, penyelenggaraan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi terdiri atas daerah-daerah kabupaten dan kota. Setiap daerah tersebut mempunyai hak dan kewajiban mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat.

Penyelenggaran Pemerintahan Daerah selanjutnya diatur dalam UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. Dalam Undang-Undang ini ditentukan Pajak Daerah yang pelaksanaannya di daerah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah. Mengenai perpajakan, UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menegaskan bahwa pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang.

Dengan demikian, pemungutan Retribusi Daerah harus didasarkan pada Undang-Undang. Selama ini pungutan daerah yang berupa Retribusi diatur dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000, yang kemudian diganti dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Dalam Undang-Undang ini diatur tentang golongan retribusi: Retribusi Jasa Umum, Retribusi Jasa Usaha Dan Retribusi Perizinan Tertentu. Retribusi Terminal digolongkan ke dalam Retribusi Jasa Usaha.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

136

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Retribusi Daerah hanya dapat dipungut dengan menetapkan Peraturan Daerah. Dalam Peraturan Daerah tentang Retribusi Daerah ini ditentukan penetapan dan muatan yang diatur dalam Peraturan Daerah ini paling sedikit mengatur ketentuan mengenai: a) nama, objek, dan Subjek Retribusi, b) golongan Retribusi, c) cara mengukur tingkat penggunaan jasa yang bersangkutan, d) prinsip yang dianut dalam penetapan struktur dan besarnya tarif Retribusi, e) struktur dan besarnya tarif Retribusi, f) wilayah pemungutan, g) penentuan pembayaran, tempat pembayaran, angsuran, dan penundaan pembayaran, h)sanksi administratif, i) penagihan, j) penghapusan piutang Retribusi yang kedaluwarsa, dan k) tanggal mulai berlakunya. Disamping itu juga mengatur ketentuan mengenai: a) masa retribusi, b) pemberian keringanan, pengurangan, dan pembebasan dalam hal-hal tertentu atas pokok Retribusi dan/atau sanksinya, dan/atau c) tata cara penghapusan piutang Retribusi yang kedaluwarsa.

Retribusi Terminal di Wilayah Kota Denpasar, berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000, sudah diatur dalam Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 7 Tahun 2001 tentang Retribusi Fasilitas Terminal di Kota Denpasar (Lembaran Daerah Kota Denpasar Tahun 2001 Nomor 7). Namun dengan diundangkannya Undangundang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang merupakan pengganti undang-undang sebelumnya, maka Pemerintah Kota Denpasar perlu menyesuaikan peraturan daerah tentang retribusi terminal tersebut dengan perda yang baru.

Pemungutan Retribusi Terminal harus efisien dan efektif berdasarkan prinsip demokrasi, pemerataan dan keadilan, peranserta masyarakat, dan akuntabilitas. Tujuan pemungutan Retribusi Terminal merupakan salah satu sumber pendapatan Daerah Kota yang penting guna membiayai pelaksanaan pembagunan Pemerintahan Kota Denpasar.

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

137

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1 Cukup jelas Pasal 2 Cukup jelas Pasal 3 Cukup jelas Pasal 4 Cukup jelas Pasal 5 Cukup jelas Pasal 6 Cukup jelas Pasal 7 Cukup jelas Pasal 8 Yang dimaksud dengan ditinjau kembali yaitu dalam hal besarnya tarif retribusi yang telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah perlu disesuaikan karena biaya penyediaan layanan cukup besar dan/atau besarnya tarif tidak efektif lagi untuk mengendalikan permintaan layanan tersebut, Walikota dapat menyesuaikan tarif retribusi melalui Peraturan Walikota.

Pasal 9 Cukup jelas Pasal 10 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud Surat Ketetapan Retribusi Daerah adalah surat ketetapan retribusi yang menentukan besarnya jumlah pokok retribusi yang terutang.
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

138

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Ayat (3) Cukup jelas Pasal 11 Cukup jelas Pasal 12 Cukup jelas Pasal 13 Cukup jelas Pasal 14 Cukup jelas Pasal 15 Cukup jelas Pasal 16 Cukup jelas Pasal 17 Cukup jelas Pasal 18 Ayat (1) Yang dimaksud penyidikan tindak pidana di bidang retribusi adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan buktiu itu membuat terang tindak pidana di bidang retribusi yang terjadi serta menemukan tersangkanya. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 19 Cukup jelas Pasal 20 Cukup jelas Pasal 21 Cukup jelas
Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

139

Tim Peneliti Pusat Perancangan Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana

CLD

Pasal 22 Cukup jelas TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KOTA DENPASAR..NOMOR..

Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar tentang Retribusi Terminal

140