Anda di halaman 1dari 62

TATA CARA PEMBUATAN KOLAM RETENSI DAN POLDER (NSPM)

DAFTAR ISI
Halaman Daftar Isi ................................................................................................................................... i

BAB I

DESKRIPSI 1.1. Maksud dan Tujuan .................................................................................. 1 1.1.1 1.1.2 1.2. 1.3. 1.4. Maksud .........................................................................................1 Tujuan ...........................................................................................1

Ruang Lingkup ..........................................................................................1 Pengertian .................................................................................................1 Fungsi Drainase Perkotaan .......................................................................3 1.4.1 1.4.2 1.4.3 Secara Umum...............................................................................3 Berdasarkan Fungsi Layan ..........................................................3 Berdasarkan Fisiknya ...................................................................4

BAB II

KETENTUAN-KETENTUAN 2.1. 2.2. Umum ........................................................................................................5 Teknis ........................................................................................................5 2.2.1 2.2.2 2.2.3 2.2.4 2.2.5 2.2.6 Data dan Informasi .......................................................................5 Kala Ulang ....................................................................................6 Kriteria Perencanaan Hidrologi ....................................................6 Kriteria Hidrolika ...........................................................................7 Kriteria Konstruksi ........................................................................7 Parameter Penentuan Prioritas Penanganan ..............................8

BAB III

SURVEI DAN PENYELIDIKAN 3.1. 3.2. Survey .......................................................................................................9 Penyelidikan. .............................................................................................9

BAB IV

PERENCANAAN TEKNIK PERHITUNGAN KOLAM RETENSI DAN POLDER 4.1. 4.2. 4.3. 4.4. Tahap Perencanaan Daerah Kolam Retensi dan Polder........................10 Tahap Perencanaan Hidrologi ................................................................17 Tahap Perencanaan Hidrolika .................................................................18 Tahap Perencanaan Kapasitas Kolam Retensi dan Pompa...................18

BAB V

PELAKSANAAN KONSTRUKSI 5.1 5.2 5.3 5.4 5.5 5.6 5.7 Pekerjaan Persiapan ...............................................................................22 Pekerjaan Kolam Retensi........................................................................22 Pekerjaan Tanggul Keliling .....................................................................23 Pekerjaan Bangunan Station Pompa ......................................................24 Pekerjaan Bangunan Genset ..................................................................24 Pekerjaan Saluran Inlet/Outlet ................................................................25 Pekerjaan Bangunan Pintu Air Inlet/Outlet .............................................25

BAB VI

OPERASI DAN PEMELIHARAAN 6.1. 6.2. 6.3. 6.4. 6.5. Pengoperasian Station Pompa ...............................................................26 Pemeliharaan Station Pompa .................................................................26 Pengoperasian Pintu Air Inlet, Outlet dan Pembagi ...............................27 Pemeliharaan Pintu Air Inlet, Outlet dan Pembagi .................................28 Pemeliharaan Kolam Retensi ..................................................................29

BAB VII

LAIN-LAIN 7.1 7.2 Laporan ...................................................................................................30 Koordinasi dan Tanggung Jawab Perencanaan .....................................30

Lampiran A Contoh Perhitungan Hidrologi dan Hidrolika Kapasitas Kolam Retensi dan Pompa ...........................................................................................................

ii

BAB I DESKRIPSI

1.1

Maksud dan Tujuan Tata cara pembuatan kolam retensi dan polder ini dimaksudkan sebagai pegangan untuk bahan acuan kepada para penyelenggara PLP dalam perencanaan dan pembangunan kolam retensi dan polder sebagai bagian dari penyelenggaraan sistem drainase di daerah.

1.1.1 Maksud

1.1.2 Tujuan Tujuan tata cara pembuatan kolam retensi dan polder ini adalah tersedianya Tata Cara Pembuatan Kolam Retensi dan Polder yang dapat digunakan sebagai acuan dalam perencanaan dan penyelenggaraan prasarana sarana drainase perkotaan di daerah.

1.2

Ruang Lingkup Tata cara umum pembuatan ini mencakup : 1) Ketentuan ketentuan 2) Survei dan Penyelidikan 3) Perencanaan Teknik Perhitungan Kolam Retensi dan Polder. 4) Pelaksanaan Kontruksi 5) Operasi dan Pemeliharaan

1.3

Pengertian Pengertian tentang drainase kota pada dasarnya telah diatur dalam SK menteri PU 239 tahun 1987. Menurut SK tersebut, yang dimaksud drainase kota adalah: Jaringan pembuangan air yang berfungsi mengeringkan bagian-bagian wilayah administrasi kota dan daerah urban dari genangan air, baik dari hujan lokal maupun luapan sungai yang melintas di dalam kota. Untuk memahami drainase secara menyeluruh, berikut ini diperlihatkan beberapa pengertian pokok tentang drainase : 1

1) Drainase adalah prasarana yang berfungsi mengalirkan air permukaan ke badan air atau ke bangunan resapan buatan. 2) Drainase perkotaan adalah sistem drainase dalam wilayah administrasi kota dan daerah perkotaan (urban) yang berfungsi untuk mengendalikan atau mengeringkan kelebihan air permukaan di daerah permukiman yang berasal dari hujan lokal, sehingga tidak mengganggu masyarakat dan dapat memberikan manfaat bagi kehidupan hidup manusia. 3) Drainase berwawasan lingkungan adalah pengelolaan drainase yang tidak menimbulkan dampak yang merugikan bagi lingkungan. Terdapat 2 pola yang dipakai : a. Pola detensi (menampung air sementara), misalnya dengan membuat kolam penampung. b. Pola retensi (meresapkan ), antara lain dengan membuat sumur resapan, bidang resapan atau kolam resapan 4) Pengendali banjir adalah bangunan untuk mengendalikan tinggi muka air agar tidak terjadi limpasan atau genangan yang menimbulkan kerugian. 5) Badan penerima air adalah sungai, danau, atau laut yang menerima aliran dari sistem drainase perkotaan. 6) Bangunan pelengkap adalah bangunan yang ikut mengatur dan mengendalikan sistem aliran air hujan agar aman dan mudah melewati jalan, belokan daerah curam, bangunan tersebut seperti gorong-gorong, pertemuan saluran, bangunan terjunan, jembatan, street inlet, pompa, pintu air. 7) Daerah genangan adalah kawasan yang tergenang air akibat tidak ada ataupun tidak berfungsinya sistem drainase. 8) Daerah pengaliran adalah daerah tangkapan air yang mengalirkan air ke dalam saluran. 9) Kala ulang adalah selang waktu pengulangan kejadian hujan atau debit banjir rencana yang mungkin terjadi. 10) Tinggi jagaan adalah ketinggian yang diukur dari permukaan air maksimum sampai permukaan tanggul saluran.

11) Waktu pengaliran permukaan adalah waktu yang diperlukan oleh titik air hujan yang jatuh ke permukaan tanah dan mengalir ke titik saluran drainase yang diamati. 12) Waktu drainase adalah waktu yang diperlukan oleh titik air hujan yang mengalir dari satu titik ke titik lain dalam saluran drainase yang diamati. 13) Waktu konsentrasi adalah waktu yang diperlukan oleh titik air hujan yang jatuh pada permukaan tanah mengalir sampai di suatu titik di saluran drainase yang terpanjang. 14) Zona adalah sub sistem pelayanan satu aliran saluran drainase. 15) Kolam Retensi adalah kolam/waduk penampungan air hujan dalam jangka waktu tertentu. Fungsinya untuk memotong puncak banjir yang terjadi dalam badan air/sungai. 16) Sistem Polder adalah sistem penanganan drainase perkotaan dengan cara mengisolasi daerah yang dilayani dari pengaruh limpasan air hujan / air laut dengan penanggulangan / prasarana lain (jalan, jalan kereta api), dan sistem drainasenya dengan pemompaan. 17) SOP adalah Standar Operasi Prosedur

1.4

Fungsi Drainase Perkotaan Mengeringkan bagian wilayah kota dari genangan sehingga tidak menimbulkan dampak negatif. Mengalirkan air permukaan ke badan air penerima terdekat secepatnya. Mengendalikan kelebihan air permukaan yang dapat dimanfaatkan untuk persediaan air dan kehidupan akuatik. Meresapkan air pemukaan untuk menjaga kelestarian air tanah (konservasi air). Melindungi prasarana dan sarana yang sudah terbangun.

1.4.1 Secara Umum :

1.4.2 Berdasarkan fungsi layanan : a) Sistem drainase lokal : Yang termasuk sistem drainase lokal adalah saluran awal yang melayani suatu kawasan kota tertentu seperti komplek, areal pasar, perkantoran, 3

areal industri dan komersial. Sistem ini melayani areal kurang dari 10 ha. Pengelolaan sistem drainase lokal menjadi tanggung jawab masyarakat, pengembang atau instansi lainnya. b) Sistem drainase utama : Yang termasuk dalam sistem drainase utama adalah saluran drainase primer, sekunder, tersier beserta bangunan kelengkapannya yang melayani kepentingan sebagian besar warga masyarakat. Pengelolaan sistem drainase utama merupakan tanggung jawab pemerintah kota. c) Pengendalian banjir (Flood Control) : Adalah sungai yang melintasi wilayah kota yang berfungsi mengendalikan air sungai, sehingga tidak mengganggu masyarakat dan dapat memberikan manfaat bagi kegiatan kehidupan manusia. Pengelolaan/pengendalian banjir merupakan tugas dan tanggung jawab dinas pengairan (Sumber Daya Air).

1.4.3 Berdasarkan fisiknya : a) Sistem saluran primer : Adalah saluran utama yang menerima masukan aliran dari saluran sekunder. Dimensi saluran ini relatif besar. Akhir saluran primer adalah badan penerima air. b) Sistem saluran sekunder : Adalah saluran terbuka atau tertutup yang berfungsi menerima aliran air dari saluran tersier dan limpasan air dari permukaan sekitarnya, dan meneruskan air ke saluran primer. Dimensi saluran tergantung pada debit yang dialirkan. c) Sistem saluran tersier : Adalah saluran drainase yang menerima air dari saluran drainase lokal.

BAB II KETENTUAN - KETENTUAN

2.1

Umum Ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut : Pembuatan Kolam Retensi dan Sistem Polder disusun dengan memperhatikan faktor sosial ekonomi antara lain perkembangan kota dan rencana prasarana dan sarana kota. Kelayakan pelaksanaan Kolam Retensi dan Sistem Polder harus berdasarkan tiga faktor antara lain : biaya konstruksi, biaya operasi dan biaya pemeliharaan. Ketersediaan dan tata guna lahan Kolam Retensi dan Kolam Polder dilaksanakan berdasarkan prioritas zona yang telah ditentukan dalam Rencana Induk Sistem Drainase.

2.2

Teknis Data dan informasi yang diperlukan adalah sebagai berikut : a. Data klimatologi yang terdiri dari data hujan, angin, temperatur dari BMG terdekat. b. Data hidrologi terdiri dari data tinggi muka air sungai, debit, laju sedimen, peil banjir, pengaruh back water, karakteristik daerah aliran, data pasang surut sungai / laut. c. Data sistem drainase yang ada yaitu daerah genangan/banjir, permasalahannya dari hasil studi rencana induk sistem. d. Data peta yang terdiri dari peta dasar, peta sistem drainase, sistem jaringan jalan, peta tata guna lahan, peta tofograpi dengan skala antara 1 : 5000 sampai dengan 1 : 50.000 disesuaikan dengan tipologi kota. e. Data kependudukan yang terdiri dari jumlah, kepadatan, laju pertumbuhan dan penyebarannya serta data kepadatan bangunan.

2.2.1 Data dan Informasi

2.2.2 Kala ulang Kala ulang untuk desain kolam retensi & polder harus memenuhi kriteria sebagai berikut : a. Kala ulang yang dipakai berdasarkan luas daerah pengaliran (catchment area), tipologi kota yang akan direncanakan kolam retensi / polder.
Tabel 1 Kala ulang berdasarkan tipologi kota & luas daerah pengaliran Catcment Area ( Ha ) Tipologi Kota < 10 Kota Metropolitan Kota Besar Kota Sedang / Kecil 2 thn 2 thn 2 thn 10 - 100 2 - 5 thn 2 - 5 thn 2 - 5 thn 100 - 500 5 - 10 thn 2 - 5 thn 2 - 5 thn > 500 10 - 25 thn 5 - 20 thn 5 - 10 thn

b. Perhitungan curah hujan berdasarkan data hujan paling sedikit 10 tahun yang berurutan. c. Bangunan pelengkap dipakai kala ulang dimana bangunan pelengkap itu berada. yang sama dengan saluran

2.2.3 Kriteria Perencanaan Hidrologi Kriteria perencanaan hidrologi adalah sebagai berikut : 1) Hujan a. Perkiraan hujan rencana dilakukan dengan analisis frekuensi terhadap data curah hujan harian maksimum tahunan, dengan lama pengamatan paling sedikit 10 tahun yang berurutan. b. Analisis frekuensi terhadap curah hujan, menggunakan metode Log Pearson tipe III, atau metode Gumbel sesuai dengan kala ulang 1, 2, 5, 10 dan 25 tahun (mengacu pada tata cara perhitungan debit desain saluran). c. Untuk pengecekan data hujan, lazimnya digunakan metode lengkung masa ganda atau yang sesuai. d. Perhitungan intensitas hujan ditinjau dengan menggunakan metode Mononobe.

2) Debit banjir a. Debit banjir rencana dihitung dengan metode Rasional yang telah dimodifikasi (lihat pada lampiran A.6) b. Koefisien limpasan (run off) ditentukan berdasarkan tata guna lahan daerah tangkapan. c. Waktu konsentrasi adalah jumlah waktu pengaliran di permukaan dan waktu drainase. d. Koefisien penyimpangan dihitung dari perbandingan waktu konsentrasi dan waktu drainase.

2.2.4 Kriteria Hidrolika Kriteria perencanaan hidrolika ditentukan sebagai berikut : a. Kapasitas saluran dihitung dengan rumus Manning atau yang sesuai. b. Saluran drainase yang terpengaruh oleh pengempangan (back water effect) perlu diperhitungkan pasang surutnya dengan metode Standard Step Method. c. Kecepatan maksimum (V) ditentukan oleh kekasaran dinding dan dasar saluran. Untuk saluran tanah V = 0,7 m/dt, pasangan batu kali V = 2 m/dt dan pasangan beton V = 3 m/dt. d. Kecepatan minimum untuk saluran drainase ditentukan V = 0,4 m/det, kecuali untuk saluran storage memanjang kecepatan minimumnya bisa mencapai 0,1 m/det dengan konsekuensi terjadi endapan di saluran tersebut.

2.2.5 Kriteria Konstruksi Kriteria perencanaan konstruksi ditentukan sebagai berikut : a. Pembebanan yang digunakan sesuai standar teknik praktis yang berlaku, b. Kombinasi muatan atas konstruksi ditentukan secara individual sesuai fungsi, cara, dan tempat penggunaannya.

c. Stabilitas konstruksi bangunan penahan tanah dikontrol keamanannya terhadap kekuatan penahan tanah (amblas), geser dan guling. Faktor-faktor keamanan minimumnya sebagai berikut : Fkekuatan penahan tanah Fgeser (kondisi biasa) Fgeser (kondisi gempa) Fguling praktis yang berlaku. 1,5 1,5 1,2 1,5

d. Bahan konstruksi yang digunakan harus sesuai dengan standar teknik

2.2.6 Parameter Penentuan Prioritas Penanganan Parameter penentuan prioritas penanganan meliputi hal sebagi berikut : a. Parameter genangan, meliputi tinggi genangan, luas genangan, dan lamanya genangan terjadi. b. Parameter frekuensi terjadinya genangan setiap tahunnya. c. Parameter ekonomi, dihitung perkiraan kerugian atas fasilitas ekonomi yang ada, seperti : kawasan industri, fasum, fasos, perkantoran, perumahan, daerah pertanian dan pertamanan. d. Parameter gangguan sosial, seperti : kesehatan masyarakat, keresahan sosial dan kerusakan lingkungan.

BAB III SURVEI DAN PENYELIDIKAN TANAH

3.1

Survey 1) Gunakan peta Topografi skala 1 : 5000 s/d 1 : 50.000 untuk mengidentifikasikan Daerah Aliran Polder / Kolam retensi. 2) Hitung luas masing-masing DAS / daerah tangkapan air. 3) Petakan rencana sistem retensi/polder dengan pengukuran geodetik. Dibuat garis kontur ketinggian lahan dengan interval setiap ketinggian 0.25 s/d 0.50 m.

3.2

Penyelidikan Tanah 1) Rencanakan dimana instalasi pompa akan ditempatkan beserta konstruksi outlet dan konstruksi bangunan yang terkait dengan instalasi pompa yaitu pada lokasi yang paling dekat dengan badan air. 2) Lakukan investigasi Geologi terutama Soil Mekanik untuk Perencanaan pondasi Bangunan Air. 3) Paramater soil mekanik yang digunakan mengikuti standar teknik PU Bina Marga.

BAB IV PERENCANAAN TEKNIK PERHITUNGAN KOLAM RETENSI & POLDER

Gambar 1 Bagan alir perencanaan sistem kolam retensi dan polder

4.1

Tahap Perencanaan Daerah Kolam Retensi dan Polder 1) 2) 3) Pastikan daerah genangan dan parameter genangan yang meliputi luas genangan, tinggi genangan, lamanya genangan dan frekuensi genangan; Pastikan bahwa elevasi muka air di muara saluran lebih tinggi dari elevasi muka tanah di daerah genangan; Tentukan lokasi Kolam Retensi yang akan dijadikan tempat penampungan kelebihan air permukaan dan perkirakan batas luas Kolam Retensi tersebut; 4) 5) Tentukan daerah pengaliran saluran primer (DPSAL) yang mengalir ke Kolam Retensi melalui peta topografi. Tentukan sistem aliran inlet, outlet dan station pompa 10

6)

Muka air di kolam retensi / kolam polder direncanakan dari dasar muka tanah terendah di daerah perencanaan dan ditarik dengan lamanya tertentu sesuai dengan kemiringan lahan.

7)

Alternatif tipe kolam retensi, antara lain : a) Kolam retensi tipe di samping badan sungai

Gambar 2 Kolam retensi tipe di samping badan sungai

Kelengkapan Sistem: - Kolam retensi - Pintu inlet - Bangunan pelimpah samping - Pintu outlet - Jalan akses menuju kolam retensi - Ambang rendah di depan pintu outlet - Saringan sampah - Kolam Penangkap Sedimen Kesesuaian tipe: - Dipakai apabila tersedia lahan kolam retensi - Kapasitas bisa optimal apabila lahan tersedia - Tidak mengganggu sistem aliran yang ada

11

- Pemeliharaan lebih mudah - Pelaksanaan lebih mudah b) Kolam retensi tipe di dalam badan sungai

Gambar 3 kolam retensi tipe di dalam badan sungai

Kelengkapan Sistem: - Kolam retensi - Tanggul keliling - Pintu outlet - Bendung - Saringan sampah - Kolam penangkap sedimen Kesesuaian tipe: - Dipakai apabila lahan sulit didapat - Kapasitas kolam retensi terbatas - Mengganggu aliran yang ada dihulu - Pelaksanaan lebih sulit - Pemeliharaan lebih mahal

12

c) Kolam retensi tipe storage memanjang

Gambar 4 Kolam retensi tipe storage memanjang

Kelengkapan Sistem: - Saluran Yang Lebar dan Dalam - Cek Dam/ Bendung Setempat Kesesuaian tipe: - Mengoptimalkan saluran drainase yang ada karena lahan tidak tersedia - Kapasitasnya terbatas - Mengganggu aliran yang ada - Pelaksanaan lebih sulit

13

8)

Alternatif tipe polder, antara lain : a) Sistem polder dengan pompa dan kolam di samping badan saluran/sungai

Gambar 5 Sistem polder dengan pompa dan kolam di samping badan saluran/sungai

Kelengkapan Sistem: - Kolam Retensi - Stasion Pompa - Pintu Inlet - Saluran Inlet - Pintu Pembagi - Pintu Outlet - Saluran Outlet - Tangggul Keliling - Saringan sampah - Kolam penangkap sedimen Kesesuaian tipe: - Dipakai apabila tersedia lahan kolam retensi - Kapasitas bisa optimal apabila lahan tersedia 14

- Tidak mengganggu sistem aliran yang ada - Pemeliharaan lebih mudah - Pelaksanaan lebih mudah b) Sistem polder dengan pompa dan kolam di dalam badan saluran/sungai

Gambar 6 Sistem polder dengan pompa dan kolam di dalam badan saluran/sungai

Kelengkapan Sistem: - Kolam retensi - Stasion Pompa - Saluran Inlet - Pintu Outlet - Saluran Outlet - Tangggul Keliling - Saringan sampah - Kolam penangkap sedimen Kesesuaian tipe: - Dipakai apabila lahan sulit didapat - Kapasitas kolam retensi terbatas - Mengganggu aliran yang ada dihulu 15

- Pelaksanaan lebih sulit - Pemeliharaan lebih mahal c) Sistem polder dengan pompa dan kolam tipe storage memanjang

Gambar 7 Sistem polder dengan pompa dan kolam tipe storage memanjang

Kelengkapan Sistem: - Storage Memanjang - Stasion Pompa - Pintu Outlet - Tangggul Keliling - Saringan sampah - Kolam penangkap sedimen Kesesuaian tipe: - Mengoptimalkan saluran drainase yang ada karena lahan tidak tersedia - Kapasitasnya terbatas - Mengganggu aliran yang ada - Pelaksanaan lebih sulit

16

4.2

Tahap Perencanaan Hidrologi 1) Kumpulkan data curah hujan harian maksimum tahunan untuk periode minimum terakhir selama 10 tahun yang berurutan, dari beberapa stasion curah hujan di daerah pengaliran saluran (DPSAL); 2) Hitung tinggi curah hujan harian rata-rata dari butir 1) diatas dengan metode Aritmatik atau Thiesen atau Isohyt, apabila tidak ada peta stasion curah hujan dianjurkan menggunakan metode Aritmatik; 3) Hitung hujan rencana beberapa kala ulang dengan menggunakan persamaan Log Pearson Tipe III atau persamaan Gumbel, dengan menggunakan data curah hujan harian rata-rata dari butir 2); 4) 5) 6) 7) 8) Tentukan koefisien pengaliran (C) berdasarkan literatur dan penelitian di lapangan sesuai dengan tata guna lahan (lihat lampiran A.6.2) Tentukan koefisien pengaliran ekivalen (Ceq), apabila daerah pengaliran saluran (DPSAL) terdiri dari beberapa sub-DPSAL; Hitung waktu konsentrasi (tc) dengan menggunakan rumus Kirpich; Kolam Retensi dipakai apabila diinginkan memotong puncak banjir yang terjadi, juga untuk mengurangi dimensi saluran; Sistem Polder dipilih apabila daerah yang akan dikeringkan, relatif lebih rendah dari muka air tinggi sungai / badan air penerima atau muka air laut pasang 9) Hitung intensitas curah hujan dengan menggunakan rumus Mononobe dari nilai hujan rencana dari butir 3), dan waktu konsentrasi dari butir 6); 10) Hitung debit banjir rencana dengan metode rasional praktis dengan koefisien pengaliran dari butir 4) atau dari butir 5), dan intensitas curah hujan dari butir 7); 11) Hitung debit banjir rencana dengan menggunakan unit hidrograph untuk daerah perkotaan; 12) Hitung debit banjir rencana dengan metode Rasional Modifikasi.

17

4.3

Tahap Perencanaan Hidrolika 1) 2) 3) 4) 5) Hitung profil basah saluran eksisting sesuai bentuknya (lingkaran, trapesium, atau segiempat); Hitung keliling basah saluran eksisting sesuai bentuknya (lingkaran, trapesium, atau segiempat); Hitung jari-jari hidraulis saluran dari perbandingan butir 1 dan butir 2; Hitung kemiringan dasar saluran rata-rata dari penelitian hasil lapangan; Hitung kecepatan aliran rata-rata maksimum menggunakan rumus Manning. Apabila kekasaran dinding bervariasi maka harus dihitung kekasaran dinding ekivalen; 6) 7) 8) Hitung kapasitas maksimum saluran eksisting; Bandingkan kapasitas maksimum saluran eksisting dari butir 6) dengan debit banjir rencana dari butir 10), 11) dan 12) di sub-bab 4.2. Dari ketiga perhitungan debit banjir rencana tersebut pilih yang terbesar. Apabila kapasitas eksisting lebih besar dari debit banjir rencana yang terbesar, maka saluran eksisting tidak perlu direhabilitasi.

4.4

Tahap Perencanaan Kapasitas Kolam Retensi dan Pompa 1) Buat unit hidrograph daerah perkotaan, kemudian jumlahkan masingmasing ordinatnya. Sehingga diperoleh debit rencana maksimum dengan gambar hidrographnya; 2) 3) Hitung volume komulatif air yang masuk ke dalam kolam retensi dari hidrograph; Gambarkan hasil perhitungan volume komulatif dari butir 2) di atas dalam koordinat orthogonal dengan ordinat besarnya volume komulatif dan absis besarnya waktu; 4) 5) Hitung volume komulatif pompa untuk berbagai kapasitas pompa dan terapkan pada komulatif air yang masuk kolam retensi dari butir 3) di atas; Ukur ordinat yang terletak antara garis volume komulatif pompa dengan garis singgung volume komulatif air yang masuk ke dalam kolam retensi seperti pada butir 4) di atas, menunjukkan volume air yang tertinggal di dalam kolam retensi;

18

6)

Hitung luas kolam retensi yang diperlukan dengan membagi volume komulatif yang tertinggal di dalam kolam retensi seperti butir 5) di atas dengan rencana dalamnya air efektif di kolam retensi;

7)

Lakukan langkah butir 4), butir 5) dan butir 6) di atas berulang-ulang, sehingga diperoleh biaya yang efisien dan efektif dalam menentukan luas kolam retensi dan kapasitas pompa yang dibutuhkan. Contoh perhitungan kapasitas kolam retensi dan pompa dapat dilihat di lampiran A.

8)

Hitung kebutuhan head pompa dari elevasi muka air minimum di kolam retensi ke muka air maksimum banjir di sungai atau muka air pasang tertinggi di laut.

9)

Pilih tipe pompa sesuai dengan kebutuhan yang ada. Tipe-tipe pompa yang dimaksud adalah sebagai berikut : a) Pompa Archemedian Screw. Pompa archemedian screw digunakan untuk kondisi elevasi muka air yang dipompa relatif aman tidak sesuai untuk elevasi muka air yang perubahannya relatif besar.

ELEVASI. MAKS PENGELUARAN

MOTOR

ELEV. PEMASUKAN

Gambar 8 Pompa archemedian screw

Pompa ini tidak terganggu dengan adanya tumbuhan air dan sampah, oleh sebab itu pompa ini mampu beroperasi tanpa dijaga dalam jangka waktu yang lama. b) Pompa Rotodynamic. Pompa rotodynamic dipilih sesuai dengan keperluan perencanaan. Pompa ini terdiri atas : 19

(1) Pompa Centrifugal (aliran radial) Dipergunakan untuk memompa air dengan ketingian yang besar dan aliran sedang.

Gambar 9 Pompa centrifugal

(2) Pompa Axial (baling-baling) Dipergunakan untuk memompa air dengan ketinggian yang rendah sampai aliran yang besar.

Gambar 10 Pompa axial

20

c) Pompa Aliran campuran Digunakan dengan karakteristik tengah-tengah antara Pompa Centrifugal dengan Pompa Axial.

Gambar 11 Pompa aliran campuran

21

BAB V PELAKSANAAN KONSTRUKSI

5.1

PEKERJAAN PERSIAPAN 1) Buat rencana kerja dan jadwal pelaksanaan. 2) Persiapkan bahan material dan tenaga kerja. 3) Sediakan atau buat direksi keet, gudang dan bengkel kontraktor. 4) Gunakan titik benchmark yang ada di lapangan sebagai titik referensi untuk ketinggian dan koordinat. 5) Lakukan pengukuran outzet untuk mendapatkan tata letak bangunan sistem polder. 6) Lakukan penyelidikan tanah di tempat yang akan memikul konstruksi dan bangunan pelengkap. 7) Buat akses sementara berupa jalan kerja untuk memudahkan mobilisasi pengangkutan bahan, alat dan pekerja ke lokasi pekerjaan. 8) Buatkan pagar pengaman dari kayu atau bahan lainnya.

5.2

PEKERJAAN KOLAM RETENSI 1) Bersihkan permukaan lokasi kolam retensi dari pohon, kayu-kayu, pecahan benda, semak-semak, sampah dan semua bahan-bahan lainnya yang tidak dikehendaki. 2) Kerjakan penggalian tanah sampai kedalaman dasar kolam retensi yang telah direncanakan dengan menggunakan alat-alat berat. 3) Periksa elevasi dasar kolam retensi apakah telah sesuai dengan elevasi yang direncanakan dengan menggunakan alat ukur waterpass. 4) Buang sisa tanah hasil galian yang tidak terpakai ke lokasi yang telah ditentukan. 5) Buatkan tanggul kolam retensi dari timbunan tanah atau bahan lainnya. 6) Periksa elevasi puncak tanggul dengan menggunakan alat ukur waterpass apakah telah sesuai dengan elevasi yang direncanakan. 7) Buatkan talud kolam di sekeliling kolam retensi dari bahan yang telah direncanakan. 22

8) Rapikan semua pekerjaan sampai selesai.

5.3

PEKERJAAN TANGGUL KELILING 1) Tanggul keliling biasanya memakai kontruksi dari tanah atau pasangan 2) Jika kontruksi tanggul memakai bahan dari tanah maka cara pekerjaan pelaksanaan kontruksi sebagai berikut : Bersihkan permukaan lokasi tanggul dari rumput-rumput dan pohonpohon serta akar-akarnya. Kupas atau gali permukaan pondasi hingga mencapai lapisan tanah asli yang baik. Hamparkan tanah timbunan layer per layer ke lokasi tanggul keliling yang direncanakan setinggi 40 cm setiap layernya. Padatkan setiap layer timbunan secara menyeluruh dengan alat pemadat setiap layer harus benar-benar padat. Pemadatan dilakukan sampai pada elevasi tanggul yang direncanakan. Parameter untuk Layer menggunakan factor CBR yang berlaku di Bina Marga. 3) Jika konstruksi tanggul memakai bahan pasangan maka cara pekerjaan pelaksanaan kontruksi sebagai berikut : Gali tanah sampai elevasi dasar pondasi tanggul yang direncanakan jika keadaan konstruksi tanah untuk dudukan pondasi kurang baik maka dilakukan dulu perbaikan tanah dengan membuat cerucuk bambu, dolken atau pancang dari beton bertulangan. Buat lantai kerja untuk tanggul yang dibuat dari beton bertulang jika memakai pasangan batu kali hamparkan urugan pasir kemudian dipadatkan. Buat kontruksi tanggul seperti bentuk rencana baik memakai pasangan beton bertulang atau pasangan batu kali dari mulai bawah sampai atas pada elevasi tanggul yang direncanakan. 4) Urug kembali dengan tanah yang baik lobang galian yang tidak terpakai oleh kontruksi pasangan dan dipadatkan. 5) Rapikan kontruksi tanggul sampai selesai semuanya.

23

5.4

PEKERJAAN BANGUNAN STATION POMPA 1) Bersihkan permukaan lokasi bangunan station pompa. 2) Gali tanah sampai kedalaman dasar bangunan yang telah direncanakan dengan menggunakan alat berat. 3) Buang sisa tanah hasil galian yang tidak terpakai ke lokasi yang telah ditentukan. 4) Perkuat daya dukung tanah dengan menggunakan cerucuk atau bahan lainnya. 5) Buat lantai kerja dari pasangan beton. 6) Pasang lantai dasar dengan konstruksi yang direncanakan. 7) Pasang pondasi 8) Urug tanah sampai ketinggian lantai dasar. 9) Pasang sloof, balok, kolom dan dinding penahan tanah sesuai yang direncanakan. 10) Buatkan pelat atas dengan konstruksi beton bertulang. 11) Sediakan angker-angker untuk penempatan pompa. 12) Pasang pipa hisap, pipa outlet dan aksesoris lainnya. 13) Sambungkan pompa dengan pipa hisap dan pipa outlet. 14) Pasang panel listrik dan lakukan instalasi elektrik. 15) Pasang pintu-pintu air. 16) Pasang pintu-pintu saringan sampah. 17) Lakukan uji coba terhadap pompa air, sebelumnya periksa aliran listrik baik dari PLN maupun dari Genset terlebih dahulu.

5.5

PEKERJAAN BANGUNAN RUMAH GENSET 1) Bersihkan lokasi permukaan. 2) Gali tanah sampai kedalaman dasar bangunan yang telah direncanakan. 3) Buang sisa tanah hasil galian yang tidak terpakai ke lokasi yang telah ditentukan. 4) Perkuat daya dukung tanah dengan menggunakan cerucuk atau bahan lainnya. 5) Pasang lantai kerja dari pasangan beton. 6) Pasang pondasi 24

7) Urug tanah sampai ketinggian lantai dasar. 8) Pasang sloof, balok, kolom dan dinding penahan tanah sesuai yang direncanakan. 9) Buatkan pelat atap dengan konstruksi beton bertulang. 10) Sediakan angker-angker untuk penempatan genset. 11) Lakukan instalasi mesin genset dan panel-panel listrik. 12) Lakukan uji coba genset

5.6

PEKERJAAN SALURAN INLET/OUTLET 1) Bersihkan permukaan lokasi untuk saluran inlet/outlet. 2) Gali tanah untuk kedalaman saluran inlet/outlet sesuai dengan elevasi dasar saluran yang direncanakan. 3) Periksa elevasi dasar saluran hasil galian dengan menggunakan alat waterpass. 4) Buang sisa tanah hasil galian yang tidak terpakai ke lokasi yang telah ditentukan. 5) Buat konstruksi saluran dengan pasangan sesuai dengan yang telah direncanakan. 6) Kerjakan perapihan pekerjaan saluran inlet/outlet.

5.7

PEKERJAAN BANGUNAN PINTU AIR INLET/OUTLET 1) Bersihkan permukaan lokasi untuk bangunan pintu air inlet/outlet. 2) Gali tanah sesuai dengan kedalaman dan lebar bangunan pintu air yang telah direncanakan. 3) Periksa elevasi dasar bangunan pintu air dengan alat waterpass. 4) Buang sisa tanah hasil galian yang tidak terpakai ke lokasi yang telah ditentukan. 5) Pasang kontruksi bangunan pintu air dari mulai lantai, dinding sampai ke atas. 6) Pasang pintu air. 7) Lakukan uji coba pintu air apakah berfungsi dengan baik.

25

BAB VI OPERASI DAN PEMELIHARAAN

6.1

PENGOPERASIAN POMPA 1) Hidupkan mesin diesel sesuai SOP atau petunjuk kerja yang berlaku atau kontakkan handle sakelar utama apabila menggunakan PLN. 2) Pastikan tegangan, frekuensi, arus listrik sesuaikan dengan ketentuan atau SOP. 3) Geser sakelar utama pada posisi ON. 4) Hidupkan pompa apabila elevasi muka air di dalam kolam retensi melebihi elevasi normal sesuai dengan ketentuan di dalam SOP. 5) Lakukan kegiatan seperti butir 3), sesuai dengan kecepatan naiknya elevasi muka air di dalam kolam retensi dengan kapasitas pompa menurut ketentuan di dalam SOP. 6) Atur aliran air dari saluran yang masuk ke dalam kolam retensi dengan pintu air terutama pada musim kering. Apabila pengaturan air masuk ke dalam kolam retensi dengan pintu air, supaya air limbah dari saluran tidak masuk ke dalam kolam retensi. 7) Matikan pompa apabila elevasi muka air di dalam kolam retensi sudah mencapai elevasi normal sesuai dengan ketentuan di dalam SOP.

6.2

PEMELIHARAAN STATION POMPA 1) Station pompa sekalipun dibangun dengan konstruksi beton bertulang tetap harus dipelihara agar jangan terkesan angker dan kumuh. Untuk itu secara rutin petugas harus menjaga kebersihan lingkungan instalasi. 2) Secara berkala station pompa harus dicat agar dari segi estetika indah dan nyaman untuk dijadikan sarana rekreasi bila perlu. 3) Sewaktu pompa tidak dioperasikan periksa kelengkapan saringan sampah di bagian depan pompa. Terutama dari sampah-sampah plastik yang dapat merusak poros dan propeller pompa. 4) Periksa secara rutin panel operasi jangan sampai ada kabel yang putus karena termakan usia atau oleh binatang pengerat seperti tikus dll. 26

5) Perhatikan engsel-engsel pintu instalasi agar jangan sampai kering. Sebab semua petugas operasional pompa harus tetap siaga menjaga kemungkinan terjadi banjir dadakan.

6.3

PENGOPERASIAN PINTU AIR INLET, OUTLET DAN PEMBAGI 1. Untuk kolam retensi tipe di samping badan sungai a. Pada saat banjir datang pintu inlet dibuka, air dari sungai akan masuk dan mengisi kolam retensi. b. Jika muka air di kolam retensi telah mencapai level maksimum maka pintu air outlet dibuka secukupnya sehingga air di kolam retensi bisa keluar kembali ke sungai, tetapi muka air dalam kolam retensi harus dijaga agar tetap pada level maksimum. c. Pada saat banjir telah surut maka air di kolam retensi dikeluarkan melalui pintu outlet sampai mencapai muka air minimum, hal ini dimaksudkan untuk menerima banjir berikutnya/yang akan datang. d. Di musim kemarau pintu inlet ditutup, sesekali dibuka hanya untuk memasukkan air ke kolam retensi, agar muka air di kolam retensi tetap terjaga dalam keadaan normal. 2. Untuk kolam retensi tipe di dalam badan sungai a. Pada saat banjir datang pintu outlet ditutup, air dari sungai akan masuk dan mengisi kolam retensi. b. Meskipun muka air di kolam retensi telah mencapai elevasi maksimum, pintu air outlet tetap ditutup, sehingga air dari kolam retensi mengalir ke sungai melalui pelimpah bendung c. Pada saat banjir di sungai telah surut, maka air di kolam retensi dikeluarkan melalui pintu outlet sampai mencapai muka air minimum, keadaan ini untuk menerima banjir berikutnya/yang akan datang. d. Di musim kemarau pintu outlet ditutup, sehingga di kolam retensi tetap ada air. 3. Untuk sistem polder dengan pompa dan kolam di samping badan saluran/sungai a. Pada saat banjir datang pintu pembagi ditutup. Sebaliknya pintu inlet dibuka, sehingga air dari saluran drainase akan masuk dan mengisi 27

kolam retensi. Hal ini dilakukan bersamaan dengan pengoperasian pompa. b. Pada saat banjir di sungai telah surut, maka pintu pembagi dibuka agar air di saluran drainase bisa mengalir ke sungai secara gravitasi. Selain itu pintu air inlet harus ditutup, agar air tidak masuk ke kolam retensi. c. Di musim kemarau pintu air inlet ditutup, sesekali dibuka hanya untuk memasukkan air ke kolam retensi, agar muka air di kolam retensi dalam keadaan normal. 4. Untuk sistem polder dengan pompa dan kolam di dalam badan saluran/sungai a. Pada saat banjir datang pintu outlet ditutup, air dari saluran drainase akan masuk dan mengisi kolam retensi. Hal ini dilakukan bersamaan dengan pengoperasian pompa. b. Pada saat banjir di sungai telah surut, maka pintu outlet dibuka agar air di kolam retensi bisa mengalir ke sungai secara gravitasi. c. Di musim kemarau pintu outlet dibuka secukupnya, sehingga di kolam retensi tetap ada air. 5. Untuk sistem polder dengan pompa dan kolam tipe memanjang a. Pada saat banjir datang pintu outlet ditutup, air dari saluran drainase akan masuk dan mengisi kolam retensi. Hal ini dilakukan bersamaan dengan pengoperasian pompa. b. Pada saat banjir di sungai telah surut, maka pintu outlet dibuka agar air di kolam retensi bisa mengalir ke sungai secara gravitasi. c. Di musim kemarau pintu outlet dibuka secukupnya, sehingga di kolam retensi tetap ada air.

6.4

PEMELIHARAAN PINTU AIR INLET, OUTLET DAN PEMBAGI 1. Melumasi pintu-pintu air. 2. Pengecatan pintu-pintu air. 3. Membersihkan sampah atau endapan di pintu-pintu air. 4. Lakukan perbaikan secara berkala untuk pintu-pintu air yang mengalami kerusakan.

28

6.5

PEMELIHARAAN KOLAM RETENSI 1. Pembersihan sampah-sampah yang menyangkut di saringan sampah secara rutin. 2. Cegah sedini mungkin penyerobotan terhadap lahan dan bantaran kolam retensi dari bangunan-bangunan pemukiman liar. 3. Secara berkala keruk sedimen yang terlanjur masuk ke kolam retensi agar fungsi daya tampung kolam retensi tidak menyusut. 4. Angkat saringan sampah secara berkala bersihkan dan cat kembali. 5. Bersihkan saluran inlet/outlet secara rutin. 6. Lakukan perbaikan secara berkala untuk bangunan air yang mengalami kerusakan. 7. Tembok pasangan batu yang rusak segera diperbaiki, untuk ini harus secara rutin dilakukan inspeksi terutama pada stalling basin pintu inlet. Atau kolam retensi dilengkapi dengan saluran gendong biasanya saluran tersebut tepi kanan dan kirinya dilapisi dengan pasangan batu kali. 8. Bersihkan kolam retensi yang ditumbuhi gulma seperti eceng gondok. Bila perlu ajak pihak swasta untuk memanfaatkan eceng gondok menjadi komoditi yang berguna seperti pembuatan tas, serta mungkin dapat diolah menjadi gas bio.

29

BAB VII LAIN-LAIN

7.1

Laporan Laporan mengenai pembuatan kolam retensi dan polder dijelaskan sebagai berikut : 1) Setiap aspek perencanaan baik yang menyangkut bangunan baru maupun bangunan lama agar dilaporkan dan dikonsultasikan kepada instansi yang berwenang dan bertanggung jawab atas pembuatan kolam retensi dan polder; 2) Laporan perlu dibuat secara berkala oleh perencana, dan dilaporkan kepada instansi yang berwenang dan bertanggung jawab atas pembuatan kolam retensi dan polder.

7.2

Koordinasi dan Tanggung Jawab Perencanaan Koordinasi dan tanggung jawab pembuatan kolam retensi dan polder dijelaskan sebagai berikut : 1) Seluruh penyelenggaraan teknis pekerjaan pembuatan kolam retensi dan polder agar dilaksanakan di bawah koordinasi dan tanggung jawab seorang ahli yang kompeten, dibantu tim terpadu yang karena pelatihan dan pengalamannya berpengetahuan luas dan ahli dalam pekerjaan yang berkaitan dengan pembuatan kolam retensi dan polder; 2) Apabila dalam tahapan pembuatan kolam retensi dan polder timbul masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh instansi yang berwenang, maka masalah tersebut harus diajukan kepada pihak berwenang yang lebih tinggi.

30

LAMPIRAN A CONTOH PERHITUNGAN HIDROLOGI DAN HIDROLIKA KAPASITAS KOLAM RETENSI DAN POMPA

A.1

KONDISI PERENCANAAN Wilayah perencanaan berada di daerah perumahan di Jakarta. Wilayah ini

mengalami banjir dan genangan setiap tahunnya. Penyebabnya adalah elevasi muka air banjir di sungai lebih tinggi dari elevasi tanah di daerah perumahan. Permasalahan ini diselesaikan dengan merencanakan sistem polder. Data perencanaan yang digunakan sebagai berikut : Luas catchment area (A) Panjang saluran (L) = 500 Ha = 5400 m

Data curah hujan harian maksimum selama 20 tahun (1986 s/d 2005)

Gambar 1 Skema sistem polder

Untuk memenuhi perhitungan hidrologi dan hidrolika perlu adanya asumsi batasan-batasan, bilamana asumsi ini terpenuhi maka analisa bisa dilaksanakan,

sehingga dapat dicapai sasaran penanggulangan banjir dan genangan. Asumsi perhitungan yang digunakan sebagai berikut : Total Inflow Total out flow = Storage penampungan pada waktu (t) Bentuk hidrograf aliran masuk (inflow) yang digunakan sesuai bagi penggunaan rumus modifikasi Rational. Rate dari flow dianggap konstan Dalam lampiran ini akan diuraikan metode perhitungan hidrologi dan hidrolika untuk kolam retensi dan polder beserta contoh perhitungannya yang disesuaikan dengan kondisi perencanaan.

A.2

MELENGKAPI DATA CURAH HUJAN Maksudnya adalah data curah hujan harian maksimum dalam setahun yang

dinyatakan dalam mm/ hari, untuk stasion curah hujan yang terdekat dengan lokasi sistem drainase, jumlah data curah hujan paling sedikit dalam jangka waktu 10 tahun berturut-berturut. Stasion hujan kadang tidak mempunyai data yang lengkap, jika ditemui data yang kurang, perlu dilengkapi dengan melakukan pengisian data terhadap stasion yang tidak lengkap atau kosong, dengan beberapa metode antara lain : Bila perbedaan hujan tahunan normal di stasion yang mau dilengkapi tidak lebih dari 10 %, untuk mengisi kekurangan data dapat mengisinya dengan harga rata-rata hujan dari stasion=stasion disekitarnya. Bila perbedaan hujan tahunan lebih dari 10 %, melengkapi data dengan metode Rasio Normal, yakni dengan membandingkan data hujan tahunan stasion yang kurang datanya terhadap stasion disekitarnya dengan cara sebagai berikut :

r=

1 R rA R rB R rC + + n RA RB RC
= = = = = r R rA, rB, rC RA, RB, RC

Dimana : n

jumlah stasion hujan curah hujan yang dicari (mm) curah hujan rata-rata setahun di tempat pengamatan R yang datanya akan dilengkapi curah hujan di tempat-tempat pengamatan A, B, dan C curah hujan rata-rata setahun di stasion A, B, dan C

Berikut adalah tabel data curah hujan harian maksimum selama 20 tahun (1986 s/d 2005) yang diperoleh di Stasion A (St. A). Diasumsikan Stasion A sebagai stasion curah hujan yang terdekat dengan lokasi perencanaan sistem drainase.
Tabel 1 Data curah hujan harian maksimum (CHHmax) St. A Tahun 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 CHHmax) (mm/hari) 152 80 92 130 70 26 92 79 79 23 71 112 150 129 67 92 58 90 74 87

A.3

MENENTUKAN KALA ULANG Karakteristik hujan menunjukkan bahwa hujan yang besar tertentu mempunyai

kala ulang tertentu, kala ulang rencana untuk saluran mengikuti standar yang berlaku seperti tabel berikut :
Tabel 2 Kala ulang berdasarkan tipologi kota & luas daerah pengaliran Tipologi Kota Kota Metropolitan Kota Besar Kota Sedang / Kecil < 10 2 thn 2 thn 2 thn Catcment Area ( Ha ) 10 - 100 100 - 500 2 - 5 thn 5 - 10 thn 2 - 5 thn 2 - 5 thn 2 - 5 thn 2 - 5 thn > 500 10 - 25 thn 5 - 20 thn 5 - 10 thn

Contoh Perhitungan 1 :
Tentukan kala ulang rencana untuk saluran di daerah Jakarta dengan luas catchment area seluas 500 Ha.

Penyelesaian :
Dari tabel 2 di atas untuk daerah Jakarta dengan luas catchment area seluas 500 Ha didapatkan kala ulang rencana 10 tahunan.

A.4

MENGANALISA HUJAN RENCANA Parameter - parameter statistik yang diperlukan oleh distribusi harga ekstrim

A.4.1 Metode Gumbel gumbel adalah : 1. Menentukan harga tengahnya (R) :

R=

R
n

2. Menentukan harga penyimpangan standard (Sx) :

Sx

( R R) =
i

n 1

3. Menentukan faktor frekuensi (K) :

K=
dimana :

Yt Yn Sn
K = faktor frekuensi Reduced Variable (lihat tabel 3 hubungan antara waktu ulang T dengan Yt) Yn = Sn = Ri = n = Reduced Mean (lihat tabel 4 hubungan antara lamanya pengamatan n dengan Yn) Reduced Standard Deviation (lihat tabel 4 hubungan antara n dengan Sn) Curah hujan Jumlah data Yt =

4. Menentukan curah hujan rencana dengan waktu ulang yang dipilih, dengan rumus :

Rt = R + K .S x
4

5. Menentukan data variasi fungsi kala ulang (Yt)


Tabel 3 Data Variasi Fungsi Kala ulang (Yt) T (tahun) 2 5 10 25 50 100 Yt 0.3665 1.4999 2.2502 3.1985 3.9019 4.6001

6. Menentukan data nilai Yn dan Sn yang tergantung pada n


Tabel 4 Data Nilai Yn dan Sn Yang Tergantung Pada n n 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 Yn 0.4592 0.4996 0.5053 0.5070 0.5100 0.5128 0.5157 0.5181 0.5202 0.5220 0.5236 0.5252 0.5268 0.5283 0.5296 0.5309 0.5320 0.5332 0.5343 0.5353 0.5362 0.5371 0.5380 0.5388 0.5396 0.5402 0.5410 0.5418 0.5424 0.5430 Sn 0.9496 0.9676 0.9933 0.9971 1.0095 1.0206 1.0316 1.0411 1.0493 1.0565 1.0628 1.0696 1.0754 1.0811 1.0864 1.0915 1.1961 1.1004 1.1047 1.1086 1.1124 1.1159 1.1193 1.1226 1.1255 1.1285 1.1313 1.1339 1.1363 1.1388

n 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55

Yn 0.5436 0.5442 0.5448 0.5453 0.5458 0.5463 0.5468 0.5473 0.5477 0.5481 0.5485 0.5489 0.5493 0.5497 0.5501 0.5504

Sn 1.1413 1.1436 1.1458 1.1480 1.1499 1.1519 1.1538 1.1557 1.1574 1.1590 1.1607 1.1623 1.1638 1.1658 1.1667 1.1681

Contoh Perhitungan 2 :
Dengan menggunakan data curah hujan maksimum selama 20 tahun yang terdapat pada tabel 1, analisa frekuensi hujan dengan menggunakan metode Gumbel.

Penyelesaian :
1) Merangking data curah hujan harian maksimum yang didapat dari tabel 1 Tabel 5 Merangking data curah hujan harian maksimum No Urut 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 CHHMax (Ri) 152 150 130 129 112 92 92 92 90 87 80 79 74 73 71 70

No Urut 17 18 19 20

CHHMax (Ri) 67 58 26 23

2) Menghitung nilai prosentase (%) : P =

X 1 100 1100 = = 4,8% X total + 1 20 + 1


X total 20

3) Menentukan nilai hujan rata-rata : Rr = Rtotal 1747 = 87,4 4) Menentukan selisih curah hujan maksimum terhadap hujan rata-rata:

(R1 Rr )2 = (152 87,4)2 = 4179,6


5) Sehingga secara tabelaris dengan mengikuti langkah nomor 2), 3) dan 4) untuk urutan berikutnya didapatkan hasilnya sebagai berikut: Tabel 6 Perhitungan metode Gumbel No Urut 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Total CHHMax (Ri) 152 150 130 129 112 92 92 92 90 87 80 79 74 73 71 70 67 58 26 23 1,747 P (%) 4.8 9.5 14.3 19.0 23.8 28.6 33.3 38.1 42.9 47.6 52.4 57.1 61.9 66.7 71.4 76.2 81.0 85.7 90.5 95.2 1,000.0 Ri - Rrata 64.7 62.7 42.7 41.7 24.7 4.7 4.7 4.7 2.7 -0.3 -7.3 -8.3 -13.4 -14.4 -16.4 -17.4 -20.4 -29.4 -61.4 -64.4 0.000 (Ri-Rrata)2 4,179.6 3,925.0 1,819.0 1,734.7 607.6 21.6 21.6 21.6 7.0 0.1 54.0 69.7 178.2 205.9 267.3 301.0 414.1 861.4 3,763.8 4,140.9 22,595

6) Menentukan standar deviasi :

Sr =

(R R )
i r

n 1

22,595 = 34,48 20 1

7) Menentukan nilai Yn dan Sn yang tergantung pada n (lihat tabel 3) N = 20, N = 20 , Yn = 0,524 Sn = 1,063 Yt = 0,367

8) Menentukan variasi fungsi kala ulang Yt (lihat tabel 2) Variasi fungsi kala ulang 2 Thn 9) Menentukan hujan rencana kala ulang

Kt = Rt

Yt Yn 0,367 0,524 = = 0,148 1,063 Sn = Rr + (K t S x )

R2thn = 87,4 + ( 0,148 34,48) = 82mm

10) Sehingga secara tabelaris dengan mengikuti langkah nomor 8) dan 9) untuk data berikutnya didapatkan hasilnya sebagai berikut: Tabel 7 Menentukan Hujan Rencana Kala Ulang Metode Gumbel Kala ulang (Tahun) 2 5 10 25 50 100 Yt 0.367 1.500 2.250 3.199 3.902 4.600 Kt 0,148 0,919 1,625 2,517 3,179 3,836 Rt (mm) 82 119 143 174 197 220

A.4.2 Metode Log Pearson Type III Pada garis besarnya, langkah penyelesaian distribusi log Pearson Type III adalah sebagai berikut : 1. Mentransformasikan data curah hujan harian maksimum kedalam harga logaritmanya : R1, R2, ...., Rn menjadi log R1, log R2, ...., log Rn 2. Menghitung harga tengahnya ( log R ) :
log R =

LogR
n

3. Menghitung harga penyimpangan standar (Sx):


Sx =

(LogR

LogR

n 1

4. Menghitung koefisien asimetri (Cs) :

Cs =

n. LogRi log R

(n 1)(n 2)S x 3

5. Menghitung besarnya logaritma hujan rencana dengan waktu ulang yang dipilih, dengan rumus :

LogRt = LogR + K .S x
Dimana : R n = tinggi hujan rata-rata daerah = jumlah tahun pengamatan data

Cs = Koefisien penyimpangan Sx = standar deviasi K = faktor kekerapan Log Pearson Tipe III

6. Menentukan nilai K untuk metode Log Pearson Tipe III


Tabel 8 Nilai-nilai K untuk metode Log Pearson Tipe III Interval Ulang,tahun Faktor Kekerapan (K) 1.001 99 1.2500 80 2 50 5 20 10 10 25 4 50 2 100 1 Persen Peluang

3.0 2.8 2.6 2.4 2.2 2.0 1.8 1.6 1.4 1.2 1.0 0.8 0.6 0.4 0.2 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1.0 1.2

0.667 0.714 0.769 0.832 0.905 0.990 1.087 1.197 1.318 1.449 1.588 1.733 1.880 2.029 2.178 2.326 2.472 2.615 2.755 2.891 3.022 3.149

0.636 0.666 0.696 0.725 0.752 0.777 0.799 0.817 0.832 0.844 0.852 0.856 0.857 0.855 0.850 0.842 0.830 0.816 0.800 0.780 0.758 0.732

0.396 0.384 0.368 0.351 0.330 0.307 0.282 0.254 0.225 0.195 0.164 0.132 0.099 0.066 0.033 0 0.033 0.066 0.099 0.132 0.164 0.195 9

0.420 0.460 0.499 0.537 0.574 0.609 0.643 0.675 0.705 0.732 0.758 0.780 0.800 0.816 0.830 0.842 0.850 0.855 0.857 0.856 0.852 0.844

1.180 1.210 1.238 1.262 1.284 1.302 1.318 1.329 1.337 1.340 1.340 1.336 1.328 1.317 1.301 1.282 1.258 1.231 1.200 1.166 1.128 1.086

2.278 2.275 2.267 2.256 2.240 2.219 2.193 2.163 2.128 2.087 2.043 1.993 1.939 1.880 1.818 1.751 1.680 1.606 1.528 1.448 1.366 1.282

3.152 3.114 3.071 3.023 2.970 2.912 2.848 2.780 2.706 2.626 2.542 2.453 2.359 2.261 2.159 2.054 1.945 1.834 1.720 1.606 1.492 1.379

4.051 3.973 3.889 3.800 3.705 3.605 3.499 3.388 3.271 3.149 3.022 2.891 2.755 2.615 2.472 2.326 2.178 2.029 1.880 1.733 1.588 1.449

Interval Ulang,tahun Faktor Kekerapan (K) 1.001 99 1.2500 80 2 50 5 20 10 10 25 4 50 2 100 1 Persen Peluang

1.4 1.6 1.8 2.0 2.2 2.4 2.6 2.8 3.0

3.271 3.388 3.499 3.605 3.705 3.800 3.889 3.973 4.051

0.705 0.675 0.643 0.609 0.574 0.537 0.499 0.460 0.420

0.225 0.254 0.282 0.307 0.330 0.351 0.368 0.384 0.396

0.832 0.817 0.799 0.777 0.752 0.725 0.696 0.666 0.636

1.041 0.994 0.945 0.895 0.844 0.795 0.747 0.702 0.660

1.198 1.116 1.035 0.959 0.888 0.823 0.764 0.712 0.666

1.270 1.166 1.069 0.980 0.900 0.830 0.768 0.714 0.666

1.318 1.197 1.087 0.990 0.905 0.832 0.769 0.714 0.667

Contoh Perhitungan 3 :
Dengan menggunakan data curah hujan harian maksimum selama 20 tahun yang diperoleh di tabel 1, analisa frekuensi hujan dengan menggunakan metode Log Pearson Type III.

Penyelesaian :
1) Merangking data curah hujan harian maksimum yang didapat dari tabel 1. Tabel 9 Merangking data curah hujan harian maksimum No Urut 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Total CHHMax (Ri) 152 150 130 129 112 92 92 92 90 87 80 79 74 73 71 70 67 58 26 23 1,747

10

2) Menghitung logaritma curah hujan maksimum (log Ri) :

log R1 = log(152) = 2,182


3) Menghitung harga tengahnya ( log R ) :

log R =
4) 5) 6)

LogR = 38 = 1,90
n 20
2 2

LogR1 log R = 2.182 1,90 = 0,281

(LogR (LogR

) = (0,281) log R ) = (0,281)


log R
3

= 0,079 = 0,022

7) Sehingga secara tabelaris dengan mengikuti langkah nomor 2) s/d 6) untuk data berikutnya didapatkan hasilnya sebagai berikut: Tabel 10 Perhitungan metode Log Pearson III No Urut CHHMax (Ri) Log Ri LogRi log R LogR i log R 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Total 152 150 130 129 112 92 92 92 90 87 80 79 74 73 71 70 67 58 26 23 1,747 2.182 2.176 2.114 2.111 2.049 1.964 1.964 1.964 1.954 1.940 1.903 1.898 1.869 1.863 1.851 1.845 1.826 1.763 1.415 1.362 38.0 0.281 0.275 0.213 0.210 0.149 0.063 0.063 0.063 0.054 0.039 0.002 (0.003) (0.031) (0.037) (0.049) (0.056) (0.075) (0.137) (0.486) (0.539) 0.000000 0.079 0.076 0.046 0.044 0.022 0.004 0.004 0.004 0.003 0.002 0.000 0.000 0.001 0.001 0.002 0.003 0.006 0.019 0.236 0.290 0.841552

) (LogR
2

log R

0.022 0.021 0.010 0.009 0.003 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 -0.003 -0.115 -0.157 -0.208079

8) Menentukan standar deviasi (Sx) :

Sx =

(LogR LogR )
i

n 1

0,84155 = 0,211 20 1
11

9) Menghitung koefisien asimetri (Cs) :

Cs =

n. LogRi log R

(n 1)(n 2)S x

19 18 (0,21)

20 ( 0,208)
3

= 1,305

10) Menentukan faktor kekerapan Kf (lihat tabel 6) Dengan data K = -1,305 dan kala ulang 2 tahun Secara interpolasi didapatkan harga K:

0,195 +

(1,305) (1,2) (0,225 0,195) = 0,211 (1,4) (1,2)

Maka untuk kala ulang 2 tahun didapatkan K sebesar 0,211 11) Menentukan hujan rencana kala ulang (Rt) :

LogR 2 = 1,90 + (0,211 0,211) = 1,945 R2 = 101,945 = 88mm


12) Sehingga secara tabelaris dengan mengikuti langkah nomor 3) s/d 11) didapatkan hasilnya sebagai berikut: Tabel 11 Menentukan Hujan Rencana Kala Ulang Metode Log Pearson III Kala ulang (Tahun) 2 5 10 25 50 100

LogR t = LogR + K .S x

log R
1.90 1.90 1.90 1.90 1.90 1.90

K 0.211 0.838 1.062 1.238 1.322 1.380

Log Rt 1,945 2,077 2,124 2,161 2,179 2,191

Rt (mm) 88 119 133 145 151 155

A.4.3 Resume Hujan Rata-rata Metode Log Pearson III dan Metode Gumbel Dengan cara yang sama dihitung pula data dari beberapa stasion lainnya, diupayakan yang berdekatan dengan daerah studi, setidaknya mempunyai sifat hujan yang sama. Hasil hitungan rata-rata dari beberapa stasion lainnya seperti tabel berikut. Menghitung hujan rata-rata, dilakukan dengan rata-rata arimatik.
Tabel 12 Resume Hujan Rata-rata Metode Log Pearson III dan Metode Gumbel Stasion Metode Analisa Hujan Log Pearson III St. A Gumbel 82 119 143 174 197 220 Hujan Rencana (mm/hari) dengan kala ulang 2 Thn 88 5 Thn 119 10 Thn 133 25 Thn 145 50 Thn 151 100 Thn 155

12

Stasion Metode Analisa Hujan Log Pearson III St. B Gumbel Log Pearson III St. C Gumbel Rata-rata (mm/hari)

Hujan Rencana (mm/hari) dengan kala ulang 2 Thn 97 104 99 110 97 5 Thn 150 179 158 180 151 10 Thn 194 228 205 235 190 25 Thn 259 291 260 300 238 50 Thn 316 337 320 345 278 100 Thn 381 383 395 418 325

A.5

MENGANALISA INTENSITAS HUJAN Rumus menghitung intensitas curah hujan (I) menggunakan hasil analisa rumus Mononobe

distribusi frekuensi yang sudah dirata-rata, menggunakan sebagai berikut :

R 24 It = t 24 t
t It

dimana : Rt = hujan rencana untuk berbagai kala ulang (mm) = waktu konsentrasi (jam), untuk satuan dalam menit, t dikalikan 60. = intensitas hujan untuk berbagai kala ulang (mm/jam)

Contoh Perhitungan 4 :
Dengan menggunakan hasil rata-rata dari metode Log Pearson III dan metode Gumbel (lihat tabel 12), analisa intensitas hujan dengan berbagai kala ulang.

Penyelesaian :
1) Dengan interval 2 tahun diperoleh hujan rencana untuk berbagai kala ulang sebesar 97 mm/hari (lihat tabel 12). Maka untuk waktu t = 10 menit didapatkan intensitas hujan sebesar :

R 24 It = t 24 t

97 24 It = 24 10 60 = 111mm / jam

13

2) Sehingga secara tabelaris dengan mengikuti langkah nomor 1) untuk waktu berikutnya didapatkan hasilnya sebagai berikut: Tabel 13 Analisa Intensitas Hujan (mm/jam) t (Menit) 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 130 150 170 190 210 230 250 97 It 2 Thn 111 70 53 44 38 34 30 28 26 24 22 20 18 17 16 15 14 13 151 It 5 Thn 173 109 83 69 59 52 47 43 40 37 35 31 28 26 24 23 21 20 190 It 10 Thn 217 137 105 86 74 66 59 54 50 47 44 39 36 33 31 29 27 25 238 It 25 Thn 272 172 131 108 93 83 74 68 63 59 55 49 45 41 38 36 34 32 278 It 50 Thn 318 200 153 126 109 96 87 80 74 69 64 58 52 48 45 42 39 37 325 It 100 Thn 372 234 179 148 127 113 102 93 86 80 75 67 61 56 52 49 46 44

3) Dari tabel diatas didapatkan grafik intensitas hujan sebagai berikut :

Gambar 2 Grafik Intensitas Hujan

14

A.6

ANALISA DEBIT BANJIR Rumus umum Metode Rasional

A.6.1 Metode Rasional.

Qt = 0,278C.I . A
dimana : Qt = Debit banjir (m3/det) C I A = Koefisien pengaliran = Intensitas hujan (mm/jam)\ = Luas Daerah Aliran (km ) Tabel 14 Koefisien pengaliran (C) Tipe daerah aliran Perumputan Busines Perumahan Keterangan Tanah gemuk 2 7 % Daerah kota lama Daerah pinggran Single family Terpisah penuh Tertutup/rapat Apartemen Ringan Berat Koefisien C 0,18 0,22 0,75 0,95 0,50 0,70 0,3 0,5 0,4 0,6 0,6 0,7 0,5 0,7 0,5 0,8 0,6 0,9
2

Industri

Ada beberapa kekurangan dari metode ini adalah : Daya tampung daerah penangkapan hujan tidak diperhitungkan Hujan diperkirakan merata pada seluruh daerah tangkap hujan Hidrograph dari aliran tidak bisa digambarkan Untuk mengurangi kelemahan tersebut diatas maka metode ini kemudian dimodifikasi, yang disebut Modifikasi Rasional.

A.6.2 Metode Modifikasi Rasional. Saluran drainase primer akan dihitung dengan rumus Rasional yang dimodifikasi. Debit saluran yang akan diperiksa kapasitasnya, dihitung sebagai berikut :

Qt = 0,278C.Cs .I .A
Cs = 2t c 2t c + t d

tc = to + td
15

td =

L V
Q C Cs I A tc to td = = = = = = = = Debit banjir rencana (m3/det) Koefisien Pengaliran yang tergantung dari permukaan tanah daerah perencanaan. Koefisien Penyimpangan Intensitas hujan (mm/jam) Luas daerah aliran (catchment area) (Km2) Waktu konsentrasi, untuk daerah saluran drainase perkotaan terdiri dari to dan td Waktu yang diperlukan air untuk mengalir melalui permukaan tanah ke saluran terdekat (menit). Waktu yang diperlukan air untuk mengalir didalam saluran ke tempat yang direncanakan (menit) Tabel 15 Koefisien pengaliran

dimana :

Kemiringan Permukaan Tanah Hutan kemiringan Padang rumput/ semak-semak kemiringan Tanah pertanian kemiringan 05% 5 10 % 10 30 % 05% 5 10 % 10 30 % 05% 5 10 % 10 30 %

Loam berpasir 0,10 0,25 0,30 0,10 0,15 0,20 0,30 0,40 0,50

Lempung siltloam 0,30 0,35 0,50 0,30 0,35 0,40 0,50 0,60 0,70

Lempung padat 0,40 0,50 0,60 0,40 0,55 0,60 0,60 0,70 0,80

Tabel 16 Koefisien pengaliran Tipe Daerah Aliran Keterangan Tanah pasir, datar 2% Tanah pasir, rata-rata 2 7% Tanah pasir, curam 7% Tanah gemuk, datar 2% Tanah gemuk, rata-rata 2 7% Tanah gemuk, curam 7% Daerah kota lama Daerah pinggiran Daerah single family multi units, terpisah-pisah multi units, tertutup suburban, daerah perumahan apartemen Daerah ringan Daerah berat Harga C 0,05 0,10 0,10 0,15 0,15 0,20 0,13 0,17 0,18 0,22 0,25 0,35 0,75 0,95 0,50 0,70 0,30 0,50 0,40 0,60 0,60 0,75 0,25 0,40 0,10 0,25 0,20 0,35 0,20 0,40 0,10 0,30

Perumputan

Business Perumahan Industri Pertamanan, kuburan Tempat bermain Halaman kereta api Daerah yang tidak dikerjakan

16

Tipe Daerah Aliran Jalan Untuk berjalan dan naik kuda Atap

Keterangan Beraspal Beton Batu

Harga C 0,70 0,95 0,80 0,95 0,70 0,85 0,75 0,85 0,75 0,95

Secara matematis harga Q pada modifikasi ini akan lebih kecil dari pada Q sebelum dimodifikasi. Dari gambar berikut dapat dilihat :

Qp

Waktu (menit)

Gambar 3 Skematik Unit Hidrograph

Bahwa

Q p = 0,278C..I . A

Setelah dimodifikasi maka bentuk curve diatas akan menjadi sebagai berikut:

Gambar 4 Skematik Unit Hidrograph yang sudah di modifikasi

17

A.6.3 Waktu Konsentrasi Waktu konsentrasi adalah waktu yang diperlukan oleh air untuk mengalir dari titik yang terjauh ke titik yang akan dihitung debitnya. Metode Kirpich merupakan metode yang biasa digunakan untuk menghitung waktu.

L t = 0,0195 S
dimana : t L s = = =

0 , 77

waktu konsentrasi (menit) panjang sungai/saluran dari hulu sampai titik yang diambil debitnya (m) kemiringan daerah saluran/sungai = H / L

Contoh Perhitungan 5 :
Analisa debit banjir saluran drainase hujan periode ulang 10 tahunan pada Contoh = 500 Ha = 5 km = 0,73 = 10 menit = 70 menit = 5400 m = 1,5 m/det = 190 mm/hari (lihat tabel12)
2

Perhitungan 4 dengan data perencanaan sebagai berikut : Luas catchment area (A) Koefisien pengaliran (C) Waktu awal (t0) Waktu konsentrasi (tc) Panjang saluran (L) Kecepatan rata-rata/velocity (V) Hujan rencana kala ulang 10 tahunan (Rt)

Penyelesaian :
1) Waktu pengaliran sepanjang saluran :

td =

L 5400 = = 60menit 60V 60 1,5

2) Waktu konsentrasi :

t c = t o + t d = 10 + 60 = 70menit
3) Koefisien penyimpangan :

Cs =

2 tc 2 70 = = 0,7 2 t c + t d (2 70 ) + 60

18

4) Intensitas hujan:

R 24 It = t 24 t

190 24 It = 24 70 60 = 59mm / jam


5) Debit air yang masuk :

Qin = 0,278C C s I A = 0,278 0,73 0,70 59 5 = 42 m 3 / det

Contoh Perhitungan 6 :
Gunakan data yang diperoleh dari Contoh Perhitungan 5 untuk menghitung volume kolam retensi dan kapasitas pompa.

PENYELESAIAN :
1) Data yang digunakan : Waktu pengaliran sepanjang saluran (td) Waktu konsentrasi (tc) Hujan rencana kala ulang 10 tahunan (Rt) Intensitas hujan (I) Debit air yang masuk (Qin) = 60 menit = 70 menit = 190 mm/hari = 59 mm/jam = 42 m3/det

2) Dari data diatas diperoleh hidrograf aliran masuk seperti terlihat pada gambar dibawah ini.

50

3 Qin = 42m /det


40

Q (m3/det)

30

20

10

100

120

140

160

180

200

220

to

t (menit) td tc tc + td

Gambar 5 Grafik hidrograph aliran masuk

19

240

20

40

60

80

3) Hitung kumulatif volume aliran masuknya dari grafik hidrograph diatas, hasilnya seperti terlihat pada tabel berikut : Tabel 17 Kumulatif aliran masuk Qin dimensi tc Kumulatif Waktu (menit) 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160 170 180 190 200 210 220 230 240 250 260 Aliran Masuk (m3/det) 0.00 6.00 12.00 18.00 24.00 30.00 36.00 42.00 38.77 35.54 32.31 29.08 25.85 22.62 19.38 16.15 12.92 9.69 6.46 3.23 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 Rata-rata Aliran Masuk (m3/det) 3.00 9.00 15.00 21.00 27.00 33.00 39.00 40.38 37.15 33.92 30.69 27.46 24.23 21.00 17.77 14.54 11.31 8.08 4.85 1.62 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 At 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 Volume (m3) Kumulatif Volume 1 (m3) 3600 14400 32400 57600 90000 129600 176400 224862 269446 310154 346985 379938 409015 434215 455538 472985 486554 496246 502062 504000 504000 504000 504000 504000 504000 504000

3600 10800 18000 25200 32400 39600 46800 48462 44585 40708 36831 32954 29077 25200 21323 17446 13569 9692 5815 1938 0 0 0 0 0 0

4) Perhitungan Kapasitas Inflow, kritis dengan mencoba (trial & error) model hidrograf kondisi kolam retensi kritis tc > t Dicoba : kala ulang 10 tahunan dengan tc = 100 menit i = 47 mm/jam (lihat tabel intensitas hujan)

Cs =
Qin '

2t c 2 100 = = 0.76 2t c + t d (2 100 ) + 60


= 0.278C.C s .i. A = 0.278 0.73 0.76 47 5 = 36 m 3 / det
20

5) Untuk hidrograf aliran masuknya dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 6 Grafik hidrograph bila terjadi waktu kri 6) Hitung kumulatif volume aliran masuknya dari grafik hidrograph diatas, hasilnya seperti terlihat pada tabel berikut : Tabel 18 Kumulatif volume aliran masuk Qin durasi tc Kumulatif Waktu (menit) 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160 170 180 190 200 210 220 Aliran Masuk (m3/det) 0.00 6.00 12.00 18.00 24.00 30.00 36.00 36.00 36.00 36.00 36.00 33.75 31.50 29.25 27.00 24.75 22.50 20.25 18.00 15.75 13.50 11.25 9.00 Rata-rata Aliran Masuk (m3/det) 3.00 9.00 15.00 21.00 27.00 33.00 36.00 36.00 36.00 36.00 34.88 32.63 30.38 28.13 25.88 23.63 21.38 19.13 16.88 14.63 12.38 10.13 At 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 Volume (m3) 3600 10800 18000 25200 32400 39600 43200 43200 43200 43200 41850 39150 36450 33750 31050 28350 25650 22950 20250 17550 14850 12150 Kumulatif Volume 2 (m3) 3600 14400 32400 57600 90000 129600 172800 216000 259200 302400 344250 383400 419850 453600 484650 513000 538650 561600 581850 599400 614250 626400

21

Kumulatif Waktu (menit) 230 240 250 260

Aliran Masuk (m3/det) 6.75 4.50 2.25 0.00

Rata-rata Aliran Masuk (m3/det) 7.88 5.63 3.38 1.13

At 1200 1200 1200 1200

Volume 3 (m ) 9450 6750 4050 1350

Kumulatif Volume 2 (m3) 635850 642600 646650 648000

7) Tentukan volume kolam retensi dan kapasitas pompanya : Dicoba dengan menggunakan kapasitas pompa 5 m3/det dan 10 m3/det. Tabel 19 Analisa volume kolam retensi dan keperluan pompa Kumulatif Waktu (menit) 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160 170 180 190 200 210 220 230 240 250 260 Kumulatif Volume 2 (m3) 0 3600 14400 32400 57600 90000 129600 172800 216000 259200 302400 344250 383400 419850 453600 484650 513000 538650 561600 581850 599400 614250 626400 635850 642600 646650 648000 Volume Kumulatif Pompa 5 m3/det 0 3000 6000 9000 12000 15000 18000 21000 24000 27000 30000 33000 36000 39000 42000 45000 48000 51000 54000 57000 60000 63000 66000 69000 72000 75000 78000 10 m3/det 0 6000 12000 18000 24000 30000 36000 42000 48000 54000 60000 66000 72000 78000 84000 90000 96000 102000 108000 114000 120000 126000 132000 138000 144000 150000 156000 Volume Kolam Retensi 5 m3/det 0 600 8400 23400 45600 75000 111600 151800 192000 232200 272400 311250 347400 380850 411600 439650 465000 487650 507600 524850 539400 551250 560400 566850 570600 571650 570000 10 m3/det 0 -2400 2400 14400 33600 60000 93600 130800 168000 205200 242400 278250 311400 341850 369600 394650 417000 436650 453600 467850 479400 488250 494400 497850 498600 496650 492000

22

8) Hasil Kumulatif dari tabel 16, 17 dan 18 kemudian di plot. Dari gambar tersebut terlihat tidak terjadi aliran kritis pada daerah studi, aliran tersebut lebih besar dari perencanaan berdasarkan waktu konsentrasi.

Gambar 7 Grafik kumulatif aliran 9) Dari grafik kumulatif aliran di atas dihasilkan volume kolam retensi sebagai berikut : Kapasitas pompa 5 m3/detik, maka volume kolam retensinya didapat 571650 m3 Kapasitas pompa 10 m3/detik, maka volume kolam retensinya didapat 498600 m3

23

A.7

ANALISA DIMENSI SALURAN

A.7.1 Penampang basah yang paling ekonomis untuk menampung debit maksimum (Ae). 1. Saluran Bentuk Trapesium

h m b

Gambar 8 Saluran bentuk trapesium

Rumus yang digunakan :

Ae = (b + m.h)h

P = b + 2h 1 + m 2
R=
Dimana : B h m R P Ae = lebar saluran (m) = dalamnya air (m)

Ae P

= perbandingan kemiringan talud = jari jari hidrolis (m) = Keliling basah saluran (m) = Luas Penampang basah (m2)

2. Saluran Bentuk Segi Empat Rumus yang digunakan :

Ae = b.h
R= Ae P

P = b + 2h

24

Gambar 9 Saluran bentuk segiempat Dimana : B h R P Ae = lebar saluran (m) = dalamnya air ( m ) = jari jari hidrolis ( m ) = Keliling basah saluran (m) = Luas Penampang basah (m2)

A.7.2 Penampang basah berdasarkan debit air (Q) dan kecepatan (V) Dimensi saluran diperhitungkan dengan rumus Manning sebagai berikut :
Q = V .A

V =
Dimana :

1 (R )2 / 3 (i )1 / 2 n
Q V n R i A : : : : : : Debit air di saluran (m3/det) Kecepatan air dalam saluran (m/det) Koefisien kekasaran dinding. Jari-jari hidraulik (meter) Kemiringan dasar saluran Luas penampang basah (m2)

Tabel 20 Koefisien kekasaran dinding (n) Tipe saluran Lapisan beton Pasangan batukali diplester Saluran dari alam n 0,017 0,029 0,020 0,025 0,025 0,045

25

A.7.3 Kemiringan Talud. 1. Kemiringan Talud Saluran Tanah. Kemiringan talud disesuaikan dengan karakteristik tanah setempat yang pada umumnya berkisar antara 1 : 1,5 s/d 1 : 4.
Tabel 21 Kemiringan Talud Bahan dari Tanah Bahan Tanah Batu Lempung kenyal, geluh Lempung pasir, tanah kohesi f Pasir lanauan Gambut kenyal Gambut lunak Tanah dipadatkan dengan baik Kemiringan Talud (m = H/V) 0,25 1 - 2 1,5 - 2,5 2 - 5 1 - 2 3 - 4 1 - 1,5

2. Kemiringan Talud Saluran Pasangan.


Tabel 22 Kemiringan Talud Bahan dari Pasangan Tinggi Air h < 0,40 m 0,75 > h > 0,40 m H > 0,75 m m 0 (dinding tegak vertikal) 0,25 - 0,5 0,50 - 1,0

A.7.4 Tinggi Jagaan (F). Tinggi jagaan minimum untuk saluran dengan pasangan direncanakan = 0,50m. Untuk saluran tanpa pasangan dengan debit tinggi jagaan sebagai berikut :
Tabel 23 Tinggi jagaan Q Q < 5 m /det 10 m3/det > Q > 5 m3/det Q > 10 m3/det
3

F (m) 0,20 0,30 0,30 0,50 0,70 1,00

Polder (m) 0,75 1,00 1,00 1,25 1,25 1,50

26

A.7.5 Kemiringan Tanah Kemiringan tanah di tempat dibuatnya fasilitas saluran drainase ditentukan dari hasil pengukuran di lapangan, dihitung dengan rumus :

i=
Keterangan :

t1 t 2 x 100 % L
t1 t2 = tinggi tanah di bagian tertinggi ( m ) = tinggi tanah di bagian terendah ( m )

Gambar 10 Kemiringan tanah

Tabel 24 Harga n untuk rumus Manning No Tipe Saluran SALURAN BUATAN 1 2 3 4 5 6 7 saluran tanah, lurus teratur saluran tanah yang dibuat dengan excavator saluran pada dinding batuan, lurus, teratur saluran pada dinding batuan, tidak lurus, tidak teratur saluran batuan yang diledakkan, ada tumbuhtumbuhan dasar saluran dari tanah, sisi saluran berbatu saluran lengkung, dengan kecepatan aliran rendah SALURAN ALAM 8 9 10 Bersih, lurus tidak berpasir, tidak berlubang seperti no.8, tetapi tidak ada timbunan atau kerikil Melengkung bersih, berlubang dan berdinding pasir 0.025 0.03 0.033 0.028 0.033 0.035 0.03 0.035 0.04 0.033 0.04 0.045 0.017 0.023 0.02 0.035 0.025 0.028 0.02 0.02 0.028 0.03 0.04 0.03 0.03 0.025 0.023 0.03 0.033 0.045 0.035 0.033 0.028 0.025 0.04 0.035 0.045 0.04 0.035 0.03 Baik sekali Baik Sedang Jelek

27

No 11 12 13 14 15

Tipe Saluran seperti no.10, dangkal tidak teratur seperti no.10, berbatu dan ada tumbuh-tumbuhan seperti no.10, sebagian berbatu aliran pelan, banyak tumbuh-tumbuhan dan berlubang banyak tumbuh-tumbuhan SALURAN BUATAN,BETON, ATAU BATU KALI

Baik sekali 0.04 0.035 0.045 0.05 0.075

Baik 0.045 0.04 0.05 0.06 0.1

Sedang 0.05 0.045 0.055 0.07 0.125

Jelek 0.055 0.05 0.06 0.08 0.15

16 17 18 19 20 21

saluran pasangan batu, tanpa penyelesaian seperti no 16, tapi dengan penyelesaian saluran beton saluran beton halus dan rata saluran beton pracetak dengan acuan baja saluran beton pracetak dengan acuan kayu

0.025 0.017 0.014 0.01 0.013 0.015

0.03 0.02 0.016 0.011 0.014 0.016

0.033 0.025 0.019 0.012 0.014 0.016

0.035 0.03 0.021 0.013 0.015 0.018

Contoh Perhitungan 7 :
Analisa dimensi saluran trapesium dengan menggunakan data perencanaan sebagai berikut : Debit air yang masuk (Qin) Lebar saluran (b) Dalamnya air (h) Perbandingan kemiringan talud (m) Kemiringan saluran yang diijinkan (i) Koefisien kekasaran Manning (n) = 42 m3/det (diambil dari contoh perhitungan 5) =5m = 1,9 m = 1,5 = 0,0025 = 0,020

Gambar 11 Kemiringan tanah

Penyelesaian :
1) Luas penampang basah saluran :

Ae = (b + m.h)h = 14,92m 2

= (5,0 + (1,5 x1,9 ))x1,9


28

2) Keliling basah saluran :

P = b + 2h 1 + m 2

= 5 + 2(1,9) 1 + (1,5) = 11,9m


3) Jari-jari hidrolis :

)
2

R=

Ae P 14,92 = 11,9 = 1,26m

4) Kecepatan aliran :

V =

1 (R )2 / 3 (i )1 / 2 n 1 (1, 26 )2 / 3 (0 , 0025 = 0 , 020 = 2 , 91 m / det

)1 / 2

5) Debit air yang keluar :

Qout = V . A = 2,91 14,92 = 43,47 m 3 / det


6) Check :

Rem = =

Qin Qout

42 43,47 = 0,97

(OK )

29