Anda di halaman 1dari 34

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan

keanekaragaman tanaman terutama hasil pertanian dan rempah-rempah. Hal ini didukung oleh keadaan geografis Indonesia yang beriklim tropis dengan curah hujan sering terjadi sepanjang tahun. Salah satu keanekaragaman hayati yang terdapat di Indonesia adalah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.). Belimbing wuluh tumbuh hampir di seluruh daerah, namun belum dibudidayakan secara khusus. Tanaman belimbing wuluh dapat dimanfaatkan dalam kehidupan seharihari. Bagian yang dapat digunakan diantaranya bunga, buah, daun dan batangnya. Bunga belimbing wuluh digunakan sebagai obat batuk dan sariawan. Buah belimbing wuluh selain digunakan sebagai bumbu masak juga dapat digunakan sebagai obat menurunkan tekanan darah tinggi, gusi berdarah, jerawat dan batuk. Daun belimbing wuluh selain digunakan sebagai penyedap rasa juga dapat digunakan sebagai obat batuk, obat kompres pada sakit gondokan dan obat rematik, antidiare, sedangkan batang belimbing wuluh dapat digunakan sebagai obat sakit perut. Penelitian tentang kimia bahan alam akhir-akhir ini semakin banyak mengeksploitasi sebagai bahan obat-obatan baik untuk farmasi maupun untuk kepentingan pertanian, karena disamping keanekaragaman struktur kimia yang dihasilkan juga rendahnya efek samping yang ditinggalkan dan mudah didapatkan. Buah belimbing wuluh mengandung banyak vitamin C alami yang berguna sebagai penambah daya tahan tubuh dan perlindungan terhadap berbagai penyakit. (1)

I.2 Maksud dan Tujuan I.2.1 Maksud Percobaan Mengetahui dan memahami cara-cara mengekstraksi dan

mengidentifikasi komponen kimia yang terdapat dalam tumbuhan dengan metode yang sesuai. I.2.2 Tujuan Percobaan Mengetahui dan memahami cara mengekstraksi Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi) dengan metode maserasi serta mengidentifikasi komponen kimia yang terdapat dalam tumbuhan tersebut dengan kromatografi lapis tipis.

I.3 Prinsip Percobaan I.3.1 Prinsip Ekstraksi (Maserasi) Penyaringan sederhana dengan merendam simplisia dalam cairan penyari sehingga cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif dan melarutkan zat aktif yang ada didalamnya. Kerena adanya perbedaan konsentrasi di dalam dan diluar sel, maka terjadi proses difusi dimana zat aktif keluar bersama dengan cairan penyari. Demikian seterusnya hingga terjadi penyarian sempurna. I.3.2 Prinsip Rotavapor Berdasarkan pada proses penguapan dengan tekanan yang diturunkan karena adanya pompa vakum yang menyebabkan cairan penyari menguap pada suhu 510C dibawah titik didih yang sebenarnya. Uap akan keluar menuju kondensor dan mengalami kondensasi lalu turun ke labu penampung cairan penyari. Penguapan dilakukan sampai diperoleh ekstrak yang pekat atau agak kental. I.3.3 Prinsip Ekstraksi Cair-cair Pemisahan komponen kimia berdasarkan proses partisi dan distribusi dengan menggunakan dua macam pelarut yang tidak saling bercampur, dimana tiap-tiap komponen kimia akan terdistribusi menuju ke

fase cairan sesuai dengan derajat kelarutannya masing-masing dalam fase, yaitu fase atas dan fase bawah yang terpisah karena perbedaan berat jenisnya. I.3.4 Prinsip Kromatografi Lapis Tipis Pemisahan komponen kimia berdasarkan prinsip absorsi dan partisi, dimana komponen kimia bergerak mengikuti cairan pengembang karena daya serap absorben terhadap komponen kimia tidak sama, sehingga komponen kimia bergerak dengan kecepatan berbeda dan hal ini menyebabkan pemisahan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Teori Umum Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan. (2) Bahan alamiah : 1. Bahan nabati, flora, tumbuhan Berupa tanaman utuh, bagian tanaman atau eksudat ( isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya, atau zat-zat nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tanaman) 2. Bahan hewani, fauna Berupa hewan utuh, bagian hewan atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni. 3. Bahan pelikan, mineral Berupa pelikan atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni (2) Sumber Simplisia: 1. Tumbuhan Liar - Kerugian: a. umur dan bagian tanaman b. jenis (species) c. lingkungan tempat tumbuh - Keuntungan : ekonomis

2. Tanaman Budidaya (tumpangsari, TOGA, perkebunan) - Keuntungan : a. bibit unggul b. pengolahan pascapanen c. tempat tumbuh - Kerugian : a. tanaman manja b. residu pestisida Penyiapan sampel Tahapan Penyiapan Simplisia : 1. Pengumpulan bahan baku (panen) 2. Sortasi basah 3. Pencucian 4. Perajangan 5. Pengeringan 6. Sortasi kering 7. Pengepakan dan penyimpanan 8. Pemeriksaan mutu Ekstraksi Ekstraksi adalah proses penyarian zat-zat berkhasiat atau zat-zat aktif dari bagian tanaman obat, hewan atau biota laut. Zat-zat aktif tersebut terdapat di dalam sel, namun sel tanaman dan hewan berbeda demikian pula ketebalannya, sehingga diperlukan metode ekstraksi dan pemilihan pelarut tertentu dalam mengekstraksinya. (2)

Ekstraksi didasarkan pada pemindahan massa komponen zat padat kedalam cairan penyari dan perpindahan tersebut mulai terjadi pada lapisan antar-muka, kemudian masuk kedalam cairan penyari. (3) Jenis Jenis Ekstraksi 1. Ekstraksi Secara Dingin Proses ekstraksi secara dingin pada prinsipnya tidak memerlukan pemanasan. Hal ini diperuntukkan untuk bahan bahan alam yang mengandung komponen kimia yang tidak tahan pemanasan dan bahan alam yang mempunyai tekstur yang lunak, yang termasuk ekstraksi secara dingin adalah metode maserasi, metode perkolasi dan metode soxhletasi (metode soxhlet ada yang menggolongkan ekstraksi secara panas). Metode ekstraksi secara dingin dapat dibagi menjadi beberapa metode (3) a. Metode Maserasi Metode maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana, yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari selama beberapa hari pada temperatur kamar telindung dari cahaya.(3) Metode maserasi digunakan untuk menyari simplisia yang mengandung komponen kimia yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung benzoin, tiraks dan lilin.(3) Keuntungan; cara pengerjaan dan perakatan yang digunakan sederhana dan mudah digunakan Kerugian; pengerajaan lama dan penyarian kurang sempurna Ada beberapa modifikasi maserasi antara lain : i. Modifikasi Digesti, yaitu maserasi yang dilakukan denagan menggunakan pemanasan lemah. Pada suhu antara 40 50o C

terutama untuk sampel yang mengandung komponen kimia yang tahan pemanasan. ii. Modifikasi dengan menggunakan mesin pengaduk yang

diperuntukkan untuk mempercepat proses penyarian. iii. Remaserasi adalah penyarian yang dilakukan setelah penyarian pertama selesai diperas dan ditambahkan lagi larutan penyari. iv. Maserasi melingkar adalah penyarian yang dilakukan dengan cairan penayari yang selalu bergerak dan menyebar sehingga kejenuhan cairan penyari dapat merata (3) b. Metode Perkolasi Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. Prinsip ekstraksi dengan metode perkolasi adalah; serbuk simplisia ditempatkan dalam suatu bejana silinder, yang bagian bawahnya diberi sekat berpori, cairan penyari dialirkan dari atas kebawah melalui serbuk tersebut, cairan penyari akan melarutkan zat aktif dalam selsel simplisia yang dilalui sampel mencapai keadaan jenuh. Gerakan kebawah disebabkan oleh kekuatan gaya beratnya sendiri dan tekanan penyari dari cairan diatasnya, dikurangi dengan daya kapiler yang cenderung untuk menahan gerakan kebawah.(3) Alat yang digunakan untuk perkolasi disebut perkolator terbuat dari bahan gelas atau logam tahan karat atau bahan lainnya yang tidak mempengaruhi zat aktif atau cairan penyari. Dikenal ada beberapa bentuk perkolator, yaitu : i. ii. iii. Perkolator bentuk tabung. Perkolator bentuk paruh. Perkolator bentuk corong. Pemilihan bentuk perkolator tergantung pada jenis simplisia yang akan disari, misalnya serbuk kina yang mengandung sejumlah

besar zat aktif yang larut dan pekat, tidak baik bila diperkolasi dengan perkolator yang sempit sebab perkolat akan menjadi pekat dan berhenti mengalir. Pada pembuatan tingtur dan ekstrak cair, jumlah cairan penyari yang tersedia lebih banyak dibanding deengan jumlah cairan penyari yang diperlukan untuk melarutkan zaat aktif. Dalam simplisia untuk itu digunakan perkolator lebar untuk mempercepat proses perkolasi. Jumlah bahan yang akan disari dimasukkan ke dalam perkolator tidak lebih dari dua per tiga dari tinggi perkolator.(3) Simplisia atau bahan yang diekstraksi secara perkolasi diserbuk dengan derajat halus yang sesuai dan ditimbang kemudian dimaserasi selama 3 jam, kemudian massa dipindahkan ke dalam perkolator dan cairan penyari ditambahkan hingga selapis diatas permukaan bahan, didiamkan selama 24 jam. Setelah itu kran perkolator dibiarkan menetes dengan kecepatan 1 ml per menit.(3) Keuntungan: aliran cairan penyari menyebabkan adanya pergantian laruan yang terjadi dengan larutan yang konsentrasinya lebih rendah, sehingga meningkatkan derajat perbedaan konsentrasi. Tuangan diantara butir-butir serbuk simplisia membentuk saluran tempat mengalir cairan penyari. Karena kecilnya saluran kapiler tersebut, maka kecepatan pelarut cukup untuk mengurangi lapisan batas sehingga dapat meningkatkan perbedaan

konsentrasi. Kerugian: Waktu kontak antara cairan penyari dengan simplisia hanya sebentar.

c. Metode Soxhletasi Soxhletasi adalah merupakan penyarian simplisia secara berkesinambungan, cairan penyari dipanaskan sehingga menguap, uap cairan penyari terkondensasi menjadi molekul molekul cairan oleh pendingin balik dan turun menyari simplisia di dalam klonsong dan selanjutnya masuk kembali ke dalam labu alas bulat setelah melewati pipa siphon, proses ini berlangsung hingga penyarian zat aktif sempurna yang ditandai dengan beningnya cairan penyari yang melalui pipa siphon tersebut atau jika diidentifikasi dengan kromatografi lapis tipis tidak memberikan noda lagi.(3) Metode Soxhletasi bila dilihat secara keseluruhan termasuk cara panas namun proses ekstraksinya secara dingin, sehingga metode soxhlet digolongkan dalam cara dingin. Sampel atau bahan yang akan diekstraksi terlebih dahulu diserbukkan dan ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam

klonsong yang telah dilapisi kertas saring sedemikian rupa (tinggi sampel dan klonsong tidak boleh lebih dari pipa siphon). Selanjutnya labu alas bulat diisi dengan cairan penyari yang sesuai kemudian ditempatkan diatas waterbath atau heathing mantel dan diklem dengan kuat kemudian klonsong yang telah diisi sampel dipasang pada labu alas bulat yang dikuatkan dengan klem dan cairan penyari ditambahkan untuk membasahakan sampel yang ada dalam klonsong (diusahakan tidak terjadi sirkulasi). Setelah itu kondensor dipasang tegak lurus dan diklem pada statif dengan kuat. Aliran air dan pemanas dijalankan hingga terjadi proses ekstraksi zat aktif sampai sempurna (biasanya 20 25 kali sirkulasi). Ekstrak yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan pada alat rotavapor. Ekstrak yang diperoleh selanjutnya dipersiapkan untuk pengerjaan lebih lanjut.

Keuntungan; uap panas tidak melalui serbuk simplisia, tetapi melalui pipa samping. Kerugian; tidak bisa mengggunakan campuran pelarut 2. Ekstraksi Secara Panas Ekstraksi secara panas dilakukan untuk mengekstraksi komponen kimia yang tahan terhadap pemanasan seperti glikosida, saponin dan minyak minyak menguap yang mempunyai titik didih yang tinggi, selain itu pemanasan juga diperuntukkan untuk membuka pori pori sel simplisia sehingga pelarut organik mudah masuk ke dalam sel untuk melarutkan zat aktif.(3) a. Metode Refluks Metode refluks adalah metode yang berkesinambungan dimana cairan secara kontinu menyari zat aktif dalam simplisia. Cairan penyari dipanaskan sehingga menguap dan uap tersebut

dikondensasikan oleh pendinginan balik, sehingga mengalami kondensasi menjadi molekul molekul cairan dan jatuh kembali ke dalam labu alas bulat sambil menyari simplisia, proses ini berlangsung secara berkesinambungan dan biasanya dilakukan 3 kali dalam waktu 4 jam. (3) Simplisia yang biasa diekstraksi dengan cara ini adalah simplisia yang mempunyai komponen kimia yang tahan terhadap pemanasan dan mempunyai tekstur yang keras seperti akar, batang, buah / biji dan herba.(1) Serbuk simplisia atau bahan yang akan diekstraksi secara refluks ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam labu alas bulat dan ditambahkan pelarut organik misalnya metanol sampai serbuk simplisia terendam kurang lebih 2 cm diatas permukaan simplisia, atau 2/3 dari volume labu kemudian labu alas bulat dipasang kuat

pada statif pada waterbath atau heating mantel lalu kondensor dipasang pada labu alas bulat yang dikuatkan dengan klem dan statif. Aliran air dan pemanas (waterbath) dijalankan sesuai dengan suhu pelarut yang digunakan. Setelah 4 jam dilakukan penyaringan filtratnya ditampung dalam wadah penampang dan ampasnya ditambah lagi pelarut dan dikerjakan seperti semula, ekstraksi dilakukan sebanyak 3-4 jam. Filtrat yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan dengan alat rotavapor, kemudian dilakukan pengujian selanjutnya.(3) Keuntungan; dilakukan dengan pemanasan sihingga dapat

meningkatkan kelarutan dari zat yang akan disari. Kerugian; tidak dapat dilakukan pada zat-zat yang tahan pemanasan b. Metode Infus dan dekock Campur simplisia dengan derajat halus yang cocok dalam panci dengan air secukupnya. Panaskan di atas tangas air selama 15 menit (infusa) dan 30 menit (dekock) terhitung mulai suhu 90C sambil sekali-sekali diaduk. (4) Keuntungan; sangat sederhana dan sering digunakan oleh

perusahaan obat tradisional Kerugian; hasil sari yang diperoleh tidak stabil, dan mudah tercampur oleh kuman dan kapang. Rotavapor Rotary Evaporator atau Rotary Vacuum Evaporator merupakan alat yang menggunakan prinsip vakum distilasi. Prinsip utama alat ini terletak pada penurunan tekanan sehingga pelarut dapat menguap pada suhu di bawah titik didihnya. Rotary Evaporator lebih disukai karena mampu menguapkan pelarut dibawah titik didih sehingga zat yang terkandung di dalam pelarut tidak rusak oleh suhu yang tinggi.

Penguapan dapat terjadi karena adanya pemanasan yang dipercepat oleh putaran dari labu alas bulat dibantu dengan penurunan tekanan. Dengan bantuan pompa vakum, uap larutan penyari akan naik ke kondensor dan mengalami kondensasi menjadi molekul-molekul cairan pelarut murni yang ditampung dalam labu alas bulat penampung. Sampel atau ekstrak cair yang akan diuapkan dimasukkan ke dalam labu alas bulat dengan volume 2/3 bagian dari volume labu alas bulat yang digunakan, kemudian waterbath dipanaskan sesuai dengan suhu pelarut yang digunakan. Setelah suhu tercapai, labu alas bulat yang telah berisi sampel atau ekstrak cair dipasang dengan kuat pada ujung rotor yang menghubungkan kondensor. Aliran air pendingin dan pompa vakum dijalankan, kemudian tombol rotor diputar dengan kecepatan tertentu (5-8 putaran). Proses penguapan ini dilakukan hingga diperoleh ekstrak kental yang ditandai dengan terbentuknya gelembung-gelembung udara yang pecah-pecah pada permukaan ekstrak atau jika sudah tidak ada lagi pelarut yang menetes pada labu alas bulat penampung. Setelah proses penguapan selesai, Rotary Evaporator dihentikan dengan cara terlebih dahulu dilakukan pemutaran tombol rotor kearah nol (menghentikan putaran rotor) dan temperatur pada waterbath di-nol-kan. Pompa vakum dihentikan, kemudian labu alas bulat dikeluarkan setelah sebelumnya kran pengatur tekanan pada ujung kondensor dibuka. (3) Ekstraksi Cair Cair Penyarian merupakan suatu proses pemisahan dimana suatu zat terbagi dalam dua pelarut yang tidak bercampur ; KD =

KD adalah koefisien distribusi atau koefisien partisi yang merupakan tetapan keseimbangan yang merupakan kelarutan relatif dari suatu senyawa terlarut dalam 2 pelarut yang tidak bercampur. C1 , C2 adalah kadar senyawa terlarut dalam pelarut 1 dan pelarut 2. (4) Kerap kali sebagai pelarut pertama adalah air sedangkan sebagai pelarut kedua adalah pelarut organik yang tidak bercampur dengan air. Dengan demikian ion anorganik atau senyawa organik polar sebagian besar terdapat dalam fase air, sedangkan senyawa organik non polar sebagian besar akan terdapat dalam fase organik. Hal ini yang dikatakan like dissolves like, yang berarti bahwa senyawa polar akan mudah larut dalam pelarut polar, dan sebaliknya. Jika koefisien distribusinya sangat besar ( lebih dari 1000 ), penyarian sekali dengan corong pisah telah memungkinkan hampir semua senayawa terlarut telah tersari. Walaupun demikian penyarian akan lebih efektif jika larutan penyari dibagi dalam beberapa bagian kecil dari penyarian sekali dan semua penyari yang tersedia. Setelah n kali penyarian maka yang tinggal dalam lapisan air adalah Wn gram. KD. V Wn = Wo ( KD.V + S Tujuan penyarian berulang kali untuk mendapatkan harga Wn sekecil mungkin untuk berat tertentu penyari. Untuk itu n harus besar dan s kecil, dengan kata lain hasil terbaik didapatkan dengan membagi pelarut penyari dalam beberapa bagian dari satu kali penyarian dengan semua jumlah penyari yang tersedia.(4) Kromatografi Lapis Tipis (KLT) KLT merupakan bentuk kromatografi planar. Pada KLT, fase diamnya berupa lapisan yang seragam (uniform). Pada permukaan bidang )n

datar yang didukung oleh lempeng kaca, pelat aluminium, atau pelat plastik. Prinsip KLT adalh pemisahan secara fisikokimia. Pemisahan komponen kimia berdasarkan prinsip absorbsi dan partisi, dimana komponen kimia bergerak mengikutin caiaran pengembang karena daya seran absorben terhadap komponen kimia tidak sama, sehingga komponen kimia bergerak dengan kecepatan berbeda dan hala ini menyebabkan pemisahan. Fase gerak yang dikenal sebagai pelarut pengembang akan bergerak secara menaik (ascending) atau karena pengaruh gravitasi pada pengembangan secara menurun (descending) Fase diam yang digunakan dalam KLT merupakan penjerap yang berukuran kecil dengan diameter partikel antara 10-30 nm. Semakin kecil ukuran rata-rata partikel fase diam dan semaki semakin sempit kisaran ukuran fase diam, maka semakin baik kinerja KLT dalam hal efisiensi dan resolusinya. Tipet-tipe penjerap pada KLT adalah Silika Gel, Silika yang dimodifikasi dengan hidrokarbon, serbuk selulosa, alumina, Kieselguhr (tanah Diatomase), selulosa penukar ion, Gel Sephadex, dan siklodekstrin (5) Prinsip penampakan noda pada; - UV 254 nm; adanya indikator fluoresensi pada lempeng yang bertemu dengan sinar UV menyebabkan lempeng berpendar - UV 366 nm; adanya senyawa ausokrom pada ekstrak yang menyebabkan nodanya berpendar - H2SO4 10%; akibat pemutusan gugus kromofor pada ekstrak oleh H2SO4 yang bersifat reduktor sehingga menyebabkan terjadi pergeseran panjang gelombang dari UV-Vis.

Uji Pendahuluan Tinjauan umum komponen farmaka bahan alam Alkaloid Alkaloid adalah sebuah golongan senyawa basa bernitrogen yang kebanyakan heterosiklik dan terdapat di tetumbuhan (tetapi ini tidak mengecualikan senyawa yang berasal dari hewan). Asam amino, peptida, protein, nukleotid, asam nukleik, gula amino dan antibiotik biasanya tidak digolongkan sebagai alkaloid. Dan dengan prinsip yang sama, senyawa netral yang secara biogenetik berhubungan dengan alkaloid termasuk digolongan ini. Alkaloid dihasilkan oleh banyak organisme, mulai dari bakteria, fungi (jamur), tumbuhan, dan hewan. Ekstraksi secara kasar biasanya dengan mudah dapat dilakukan melalui teknik ekstraksi asam-basa. Rasa pahit atau getir yang dirasakan lidah dapat disebabkan oleh alkaloid. Istilah "alkaloid" (berarti "mirip alkali", karena dianggap bersifat basa) pertama kali dipakai oleh Carl Friedrich Wilhelm Meissner (1819), seorang apoteker dari Halle (Jerman) untuk menyebut berbagai senyawa yang diperoleh dari ekstraksi tumbuhan yang bersifat basa (pada waktu itu sudah dikenal, misalnya, morfina, striknina, serta solanina). Hingga sekarang dikenal sekitar 10.000 senyawa yang tergolong alkaloid dengan struktur sangat beragam, sehingga hingga sekarang tidak ada batasan yang jelas untuknya. Alkaloid bersifat basa yang tergantung pada pasangan electron pada nitrogen. Kebasaan alkaloid menyebabkan sentawa tersebut sangat mudah mengalami dekomposisi terutama oleh panas dan sinar dengan adanya oksigen. Dekomposisi alkaloid selama atau setelah isolasi dapat menimbulkan berbagai persoalan jika penyimpanan dalam waktu lama. Pembentukan garam dengan senyawa organic atau anorganik sering mencegah dekomposisi.

Flavonoid Flavonoid merupakan anti oksidan yang menetralisir radikal bebas yang menyerang sel-sel tubuh kita. Radikal bebas dapat menyebabkan kanker, penyakit jantung dan penuaan dini. Flavonoid dapat ditemukan pada jeruk, kiwi, apel, anggur merah, brokoli dan the hijau. Flavonoid adalah bagian dari senyawa fenolik yang terdapat pada pigmen tumbuh-tumbuhan. Kesehatan manusia sangat

mengandalkan flavonoid sebagai antioksidan untuk mencegah kanker. Manfaat utama flavonoid adalah untuk melindungi struktur sel, membantu memaksimalkan manfaat vitamin C, mencegah keropos tulang, sebagai antibiotik dan antiinflamasi. Pada banyak mikro

organisme seperti virus dan bakteri, kehidupan dan fungsi selnya terancam karena keberadaan flavonoid yang bertindak langsung sebagai antibiotik. Kasus ini sering terjadi. Bahkan keefektivan flavonoid juga dapat melemahkan keperkasaan virus HIV penyebab penyakit mematikan AIDS. Virus herpes pun bisa lumpuh dengan flavonoid. Bahkan lebih jauh, flavonoid juga dapat berperan dalam pencegahan dan pengobatan penyakit umum lainnya seperti

periodontitis, wasir (ambeien), migrain, encok, rematik, diabetes mellitus, katarak dan asma. Istilah flavanoida diberikan untuk senyawasenyawa fenol yang berasal dari kata flavon yaitu nama dari salah satu flavonoida yang terbesar jumlahnya dalam tumbuhan. Kuinon Terjadinya reaksi pencoklatan menurut Winarno (1984)

diperkirakan melibatkan perubahan senyawa dalam jaringan dari bentuk kuinol menjadi kuinon melalui oksidasi. Asam kuinon adalah merupakan racun jaringan yang dapat mematikan jaringan eksplan sehingga mengakibatkan tujuan suatu kultur tidak tercapai .

Tanin dan Polifenol Tanin adalah polifenol tanaman yang berfungsi mengikat dan mengendapkan protein. Tanin juga dipakai untuk menyamak kulit. Dalam dunia pengobatan, tanin berfungsi untuk mengobati diare, menghentikan pendarahan, dan mengobati ambeien. Polifenol alami merupakan metabolit sekunder tanaman tertentu, termasuk dalam atau menyusun golongan tanin. Tanin adalah senyawa fenolik kompleks yang memiliki berat molekul 500-3000. Tanin dibagi menjadi duakelompok atas dasar tipe struktur dan aktivitasnya terhadap senyawa hidrolitik terutama asam, tanin terkondensasi (condensed tannin) dan tanin yang dapat dihidrolisis (hyrolyzable tannin).Polifenol memiliki spektrum luas dengan sifat kelarutan pada suatu pelarut yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh gugus hidroksil pada senyawa tersebut yang dimiliki berbeda jumlah dan posisinya. Dengan demikian, ekstraksi menggunakan berbagai pelarut akan menghasilkan

komponen polifenol yang berbeda pula. Sifat antibakteri yang dimiliki oleh setiap senyawa yang diperoleh dari ekstraksi tersebut juga berbeda. Fitokimia polifenol banyak terdapat pada buahbuahan dan sayursayuran hijau, penelitian pada hewan dan manusia menunjukan bahwa polifenol dapat mengatur kadar gula darah seperti anti kanker, anti oksidan dan anti mikroba. Saponin Saponin adalah suatu glikosida yang mungkin ada pada banyak macam tanaman. Saponin ada pada seluruh tanaman dengan konsentrasi tinggi pada bagian-bagian tertentu, dan dipengaruhi oleh varietas tanaman dan tahap pertumbuhan. Fungsi dalam tumbuhtumbuhan tidak diketahui, mungkin sebagai bentuk penyimpanan karbohidrat, atau merupakan waste product dari metabolisme tumbuhtumbuhan. Ke-mungkinan lain adalah sebagai pelindung terhadap serangan serangga.

Sifat-sifat Saponin adalah : 1. Mempunyai rasa pahit 2. Dalam larutan air membentuk busa yang stabil 3. Menghemolisa eritrosit 4. Merupakan racun kuat untuk ikan dan amfibi 5. Membentuk persenyawaan dengan kolesterol dan hidroksisteroid lainnya 6. Sulit untuk dimurnikan dan diidentifikasi 7. Berat molekul relatif tinggi, dan analisis hanya menghasilkan formula empiris yang mendekati Berdasarkan atas sifat kimiawinya, saponin dapat dibagi dalam dua kelompok : 1. Steroids dengan 27 C atom. 2. Triterpenoids, dengan 30 C atom. Macam-macam saponin berbeda sekali komposisi kimiawinya, yaitu berbeda pada aglikon (sapogenin) dan juga karbohidratnya, sehingga tumbuh-tumbuhan tertentu dapat mempunyai macam-macam saponin yang berlainan, seperti: 1. Quillage saponin : campuran dari 3 atau 4 saponin 2. Alfalfa saponin : campuran dari paling sedikit 5 saponin 3. Soy bean saponin : terdiri dari 5 fraksi yang berbeda dalam sapogenin, atau karbohidratnya, atau dalam kedua-duanya Steroid dan Triterpenoid Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan isoprena dan secara biosintesis dirumuskan dari hidrokarbon C30 asiklin, yaitu skualena. Senyawa ini berstruktur siklin dan nisbi rumit, kebanyakan berupa alcohol, aldehida atau asam karbohidrat. Senyawa ini tidak berwarna, berbentuk kristal, sering bertitik leleh tinggi dan aktif optik pada umumnya sukar dicirikan karena tak ada kereaktifan kimianya. Uji yang banyak digunakan adalah reaksi Lieberman-Burchard yang dengan kebanyakan

triterpena dan sterol memberikan warna hijau-biru. Triterpena dapat dipilih menjadi sekurang-kurangnya empat golongan senyawa:

triterpena sebenarnya, steroid, saiconon dan glikosida jantung. Kedua golongan terakhir sebenarnya triterpena atau seteroid yang terdapat sebagai glikosida. Teknik Pengujian Komponen farmaka Bahan Alam Teknik yang digunakan dalam percobaan pengujian komponen farmaka bahan alam yaitu dengan cara mencampurkan sampel dengan larutan bahan bahan kimia yang terdapat pada senyawa fitokimia yang akan kita lakukan, yaitu jika alkaloid, sampel kita campurkan dengan larutan ammonia 10 %, CHCL3, HCL 1N, dan di tambahkan preaksi dragendrof, preaksi meyer, dan preaksi bouchardat, lalu jika flavanoid, sampel kita campurkan dengan larutan campuran logam magnesium dan asam klorida 2 %, lalu jika kuinin, sampel kita campurkan dengan larutan NaOH 1%, lalu jika tannin dan polifenol, sampel kita campurkan dengan larutan FeCL3 1% dan gelantion 10 %, jika saponin, sampel hanya kita tambahkan air panas dan didihkan selama 5 menit, lalu fitratnya diambil dan dikocok 10 menit, jika steroid dan triterpenoid, sampel kita campurkan dengan larutan pereaksi Lieberman burchard. (6)

II.2 Uraian Bahan 1. Aquades (7) Nama resmi Nama lain RM/BM Pemerian : Aqua destilata : Aquades : H2O / 18 : Cairan jenuh, tidak berwarna, tidak berbau, dan idak tidak berasa

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik. Kegunaan 2. NaCl (7) Nama resmi Nama lain RM/BM Pemerian : Natrii Chloridum : Natrium Klorida : NaCl/58,44 : Hablur heksahedral tidak berwarna atau serbuk hablur putih; tidak bebau: rasa asin. Kelarutan : Larut dalam 2,8 bagian air, dalam 2,7 bagian air mendidih dan dalam kurang lebih 10 bagian gliserol P: sukar larut dalam etanol (95%) P. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik Kegunaan 3. FeCl3 (8) Nama resmi Nama lain RM/BM Pemerian : Ferric Chloride : Ferri Chloridum Hexahydricum : FeCl/270,3 : Sangat higroskopis, kristal berwarna orange : sebagai zat tambahan : Sebagai pelarut.

kekuningan hingga coklat kekuningan. Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air dan alkohol, mudah larut dalam gliserol. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya Kegunaan : sebagai zat tambahan

II.3 Uraian Sampel II.3.1Klasifikasi Tumbuhan Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi) Kingdom Divisio Subdivisio Class Ordo Family Genus Spesies : : : : : : : : Plantae Mlyophyta Angiospermae Magnoliopsida Oxalidales Oxalidaceae Averrhoa Averrhoa bilimbi

II.3.2 Deskripsi Tumbuhan Pohon kecil, tinggi mencapai 10 m dengan batang yang tidak begitu besar dan mempunyai garis tengah hanya sekitar 30 cm. Ditanam sebagai pohon buah, kadang tumbuh liar dan ditemukan dari dataran rendah sampai 500 m dpi. Pohon yang berasal dari Amerika tropis ini menghendaki tempat tumbuh tidak ternaungi dan cukup lembab. Belimbing wuluh mempunyai batang kasar berbenjol-benjol, percabangan sedikit, arahnya condong ke atas. Cabang muda berambut halus seperti beludru, warnanya coklat muda. Daun berupa daun majemuk menyirip ganjil dengan 21-45 pasang anak daun. Anak daun bertangkai pendek, bentuknya bulat telur sampai

jorong, ujung runcing, pangkal membundar, tepi rata, panjang 2-10 cm, lebar 1-3 cm, warnanya hijau, permukaan bawah hijau muda.(9) II.3.3 Kandungan Kimia Daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) mengandung tannin, sulfur, asam format, peroksidase, kalsium oksalat, kalium sitrat, flavonoid.(9) II.3.4 Kegunaan Bunga belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) berguna untuk pengobatan batuk dan sariawan (sotamatitis). Sedangkan daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) memiliki kegunaan untuk menyembuhkan sakit perut, gondongan (parotitis), dan rematik. Untuk buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) dapat berguna sebagai obat untuk menyembuhkan batuk rejan, gusi berdarah, sariawan, sakit gigi berlubang, jerawat, panu, tekanan darah tinggi, kelumpuhan, memperbaiki fungsi pencernaan, dan radang rektum. Sedangkan untuk batangnya, belum ditemukan penggunaannya dalam masyarakat dikarenakan sifatnya yang keras.(10)

BAB III METODE KERJA

III.1 Alat dan Bahan III.1.1 Alat Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah Batang pengaduk, Botol sirup 1 liter, Chamber, Corong pisah, Chamber , Gunting, Gelas ukur 50 ml, Gegep kayu, Kantong plastic, Kamera, Kardus , Lakban, Lempeng kromatografi, Mistar, Oven, Parang , Pisau, Pemanas, Pipet tetes, Seperangkat alat refluks, Seperangkat alat rotavapor, Timbangan Analitik, Toples, Vial III.1.2 Bahan Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah Aluminium foil, Air suling, Asam sulfat 10%, Ekstrak Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi), Etil asetat, Etanol, Heksan, Kapas, Kertas kalkir, Kertas saring, Kertas label, Metanol, N-butanol, Silika gel III.2 Cara Kerja 1. Pengambilan Sampel Sampel diambil di sekitar Jalan Tidung 3, Kec. Rappocini, Kel. Bonto Makkio, Kota Makassar, Propinsi Sulawesi Selatan dengan cara dipetik dan dikumpulkan dalam kresek. 2. Pembuatan Herbarium Kering a. Tanaman yang diambil dicuci bersih. Lalu diangin-anginkan hingga kering. b. Kemudian bagian-bagian tanaman dilap bersih menggunakan kapas dan alkohol.

c. Kemudian diangin-anginkan lagi hingga kering, lalu diletakkan dan ditempelkan di atas kertas koran dengan menggunakan selotip yang dilapisi dengan guntingan kertas agar selotip yang digunakan tidak langsung melekat pada bagian tanaman. d. Setelah itu, di press dengan menggunakan sasak. Kemudian sasak diikat dengan menggunakan isolasi atau bisa dengan tali. 3. Ekstraksi (Maserasi) a. Alat dan bahan disiapkan b. Daun senggani sebanyak 100 g yang telah diiris halus dimasukkan ke dalam toples ditambahkan dengan etanol hingga semua daun terendam. c. Toples ditutup rapat-rapat dan dibiarkan dalam tempat yang gelap selama 3-4 hari. d. Kemudian disaring

4. Rotavapor Sampel atau ekstrak cair yang akan diuapkan dimasukkan ke dalam labu alas bulat dengan volume 2/3 bagian dari volume labu alas bulat yang digunakan, kemudian waterbath dipanaskan sesuai dengan suhu pelarut yang digunakan. Setelah suhu tercapai, labu alas bulat yang telah berisi sampel atau ekstrak cair dipasang dengan kuat pada ujung rotor yang menghubungkan kondensor. Aliran air pendingin dan pompa vakum dijalankan, kemudian tombol rotor diputar dengan kecepatan tertentu (5-8putaran). Setelah proses penguapan selesai, Rotary Evaporator dihentikan dengan cara terlebih dahulu dilakukan pemutaran tombol rotor kearah nol (menghentikan putaran rotor) dan temperatur pada waterbath di-nolkan. Pompa vakum dihentikan, kemudian labu alas bulat dikeluarkan setelah sebelumnya kran pengatur tekanan pada ujung kondensor dibuka. 5. Ekstraksi cair-cair a. Disiapkan alat dan bahan

b. Ditimbang ekstrak 2 g c. Dimasukkan dalam tabung reaksi dan tambahkan 6 ml heksan dan 2 ml air suling homogenkan, terbentuk 2 lapisan; lapisan atas heksan dan lapisan bawah air d. Dipipet lapisan heksan dan masukkan dalam vial e. Ditambahkan heksan pada air yang sudah terpisah dengan heksan sebanyak 6 ml homogenkan, lakukan pengerjaan seperti bagian d sampai 3 kali f. Ditambahkan butanol jenuh air pada yang sebelumnya dipisahkan dari larutan heksan g. Dihomogenkan; sampai terbentuk 2 lapisan; lapisan atas butanol dan lapisan bawah air h. Dipipet lapisan butanol dan masukkan dalam vial i. Ditambahkan butanol pada air yang sudah terpisah dengan butanol sebanyak 6 ml homogenkan, lakukan pengerjaan seperti bagian h sekali lagi j. Diuapkan ekstrak heksan dan butanol yang sudah terpisah dengan air. 6. Identifikasi KLT 6.1 Penyiapan Lempeng Kromatograf Lempeng diaktifkan dengan cara dipanaskan dalam oven pada suhu 105C - 110C selama 1 jam dan kemudian lempeng tersebut siap untuk digunakan. 6.2 Identifikasi dengan KLT a. Sebelum penotolan dilakukan, lempeng yang telah diaktifkan diberi garis batas bawah 1 cm dari tepi bawah lempeng dan garis batas atas 0,5 cm dari tepi atas lempeng. b. Chamber dijenuhkan dengan cara memasukkan eluen dan kertas saring ke dalam chamber kemudian ditutup dengan rapat sampai

cairan eluen membasahi kertas saring hingga batas tepi atas chamber yang menandakan jenuhnya chamber. c. Ekstrak metanol dan isolat ditotolkan pada bagian bawah lempeng (1 cm dari bagian bawah lempeng) hingga diperoleh penotolan yang sempurna. d. Lempeng yang telah ditotol dimasukkan ke dalam chamber yang telah jenuh oleh eluen hexan : etil asetat (7:3) dengan posisi berdiri dengan kemiringan 5 (diusahakan penotolan sampel tidak terendam dalam eluen) lalu chamber ditutup dan dibiarkan ekstrak terelusi sampai sampai lebih kurang 0,5 cm dari bagian lempeng. e. Lempeng dikeluarkan dari chamber dan dibiarkan kering. f. Noda kromatogram pada lempeng diamati di bawah sinar UV (Ultraviolet) pada panjang 366 nm, dan noda yang memberikan fluoresensi digambar pada kertas kalkir. g. Untuk noda yang tidak tampak dengan sinar UV maka lempeng disemprot dengan H2SO4 10% kemudian dipanaskan di atas kompor listrik hingga diperoleh warna noda yang stabil, noda yang nampak digambar di atas kertas kalkir dan diberi warna sesuai dengan warna yang tampak pada sinar UV. h. Noda kromatogram yang telah digambar selanjutnya dihitung Rf untuk setiap noda. 7. Uji Pendahuluan (Tannin) a. Disiapkan alat dan bahan b. Diambil ekstrak metanol dan tambahkan 10 ml air suling c. Dikocok dan saring d. Ditambahkan NaCl 10% 5 tetes e. Ditambahkan filtrat FeCl3 f. Terbentuk endapan hijau biru

III. 2 Reaksi III.2.1 Reaksi Uji Mayer

1.

III.2.2 Reaksi Uji Dragendorf

2.

III.2.3 Reaksi Uji Wagner

3.

4. III.2.4 Reaksi Hidrolisis Saponin

III.2.5 Reaksi Uji Steroid

III.2.6 Reaksi Uji Flavanoid

III.2.7 Reaksi Uji Tanin dan Polifenol

BAB IV HASIL PENGAMATAN

1. Profil KLT UV 254 Keterangan: I = eluen Polar Metanol : Etil Asetat 1 : 1 II = Eluen Non Polar Heksan : Etil Asetat 3 : 1 A = Ekstrak Metanol B = Ekstrak Butanol C = Ekstrak Heksan

2. Profil KLT UV 366 Keterangan: I = eluen Polar Metanol : Etil Asetat 1 : 1 II = Eluen Non Polar Heksan : Etil Asetat A C B 3 : 1 A = Ekstrak Metanol B = Ekstrak Butanol C = Ekstrak Heksan

3. Profil KLT H2SO4

Keterangan: I = eluen Polar Metanol : Etil Asetat 1 : 1 II = Eluen Non Polar Heksan : Etil Asetat 3 : 1 A = Ekstrak Metanol B = Ekstrak Butanol C = Ekstrak Heksa

BAB V PEMBAHASAN Sampel daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi) sebelum

diekstraksi terlebih dahulu dicuci

bersih dan dikeringkan

tapi bukan

dibawa matahari langsung. Tujuan pengeringan ini adalah untuk menghilangkan kandungan airnya, yang dapat menimbulkan terjadinya reaksi enzimatis dan juga untuk menghindari tumbuhnya mikroba pada sampel. Disamping itu pengeringan ini bertujuan untuk memudahkan dalam pengolahan sampel sebelum dieksteraksi. Selanjutnya sampel dipotong-potong kecil untuk memperluas permukaan sampel sehingga kontak dengan cairan penyari dan permukaan sel dari sampel semakin besar sehingga penyarian menjadi lebih cepat dan sempurna serta dapat menyari komponen kimia yang lebih banyak. Dalam penyarian komponen kimia dari sampel digunakan cairan penyari metanol karena metanol bersifat semipolar yang dapat menarik komponen kimia yang bersifat polar dan kurang polar, disamping itu metanol merupakan senyawa semi polar yang mudah didapat dan harganya relatif murah. Penyarian daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi) ini dilakukan dengan metode maserasi. Pada dasarnya ekstrak yang diperoleh dengan metode maserasi ini jauh lebih pekat dibanding dengan metode lainnya ,karena cairan penyari terendam cukup lama dengan sampel. Maserasi dilakukan selama lima hari. Keuntungan dari metode ini yaitu

pengerjaanya yang sederhana dan sedikit menggunakan cairan penyari. Tetapi kerugiannya adalah memerelukan waktu yang lama pada proses tersebut. Ekstrak yang diperoleh kemudian dipekatkan pada rotavapor dan dengan penguapan untuk memperoleh ekstrak yang lebih kental.

Oleh karena komponen kimia yang tersari berupa senyawa polar dan nonpolar maka ekstrak pekat tersebut diekstraksi kembali dengan corong pisah untuk memisahkan kedua macam senyawa tersebut. Ekstrak dengan tabung reaksi ini menggunakan dua jenis pelarut yaitu hexan yang bersifat nonpolar untuk menarik senyawa bersifat nonpolar dan air yang bersifat polar untuk menarik senyawa yang bersifat polar. Penyari ini berdasarkan pada adsorpsi dan distribusi komponen kimia diantara dua pelarut yang tidak bercampur berdasarkan kelarutan zat kimia pada kedua fase. Selanjutnya lapisan air yang diperoleh diekstraksi kembali dengan nbutanol jenuh air untuk menarik dan melarutkan komponen kimia yang polar. Adapun maksud digunakannya n-butanol jenuh air adalah agar n butanol tidak menyerap air dan hasil ekstrak tersebut, sehingga hasil

yang diperoleh dapat lebih murni karena tidak mengandung zat pengotor yang kemungkinan terdapat dalam air, sebab disini bukan hanya menyerap zat kimia yang polar tetapi juga pengotor lainnya. Hasil ekstraksi dari lapisan hexan, n-butanol dan metanol

diidentifikasi dengan KLT dari hasil penampakan noda yang dilihat pada UV 254 nm dan pada UV 366 nm diperoleh noda dengan warna kuning dan ungu. Sedangkan pada penyemprotan dengan H 2SO4 10% diperoleh warna biru, kuning dan cokelat kehitaman. Ada beberapa noda yang tidak tampak pada lampu UV tetapi justru tampak dengan H2SO4 10% hal ini disebabkan karena sifat reduktor kuat dari H2SO4 yang akan menyerang gugus fungsi suatu senyawa dan akan memperpanjang ikatan antar gugus elektron yang akan men yebabkan meningkatkan panjang gelombang senyawa UV ke daerah sinar tampak (visible).

BAB V PENUTUP

V.1. Kesimpulan

Dari semua hasil percobaan yang dilakukan, dapat ditarik kesimpulan: 1. Metode ekstraksi yang digunakan untuk simplisia daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) adalah metode dengan berat simplisia 25 gram dan volume menstrum metanol 1 liter. 2. Metode kromatografi lapis tipis dengan menggunakan eluen heksan : etil 3 ; 1 sebanyak 5 ml dan diperoleh profil KLT.

V.2 Saran Sebaiknya dilakukan uji pendahuluan untuk mengatahui ada tidaknya senyawa tanin pada sampel

DAFTAR PUSTAKA

1.

Ditjen POM. 1986. Sediaan Galenik. Departemen Kesehatan RI: Jakarta.

2. 3. 4.

http://lib.uin-malang.ac.id/files/thesis/fullchapter/05530003.pdf http://blogkita.info/rotary-evaporator/ Ditjen POM. 1979. Materia Medika Indonesia. Departemen

Kesehatan RI: Jakarta. 5. Gandjar, Ibnu Gholib dan Rohman, Abdul. 2009. Kimia Farmasi Analisis. 6. 7. http://www.scribd.com/doc/16766643/Uji-fitokimia Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia, Edisi Ke-III. Departemen Kesehatan RI: Jakarta 8. 9. Martindale Thirty-sixth Edition Http://www.tubuhsehat.com/tanaman-obat-dilingkungan sendiri/averrhoa-bilimbi// 10. Http://www.tanamanObat.org/BelimbingWuluh//