Anda di halaman 1dari 4

Isu kanibalisme modern yang terjadi di dunia seperti dalam dunia kriminalitas rasanya

sudah bukan menjadi sesuatu yang menghebohkan lagi. Banyak berita di tanah air yang
memberitakan tentang hal ini.

Beberapa tahun terakhir, berbagai isu kanibalisme menjadi berita di berbagai media, baik di
Indonesia maupun di negara-negara lain seperti di AIrika atau Rusia. Untuk Indonesia, yang
paling menghebohkan adalah kisah Soemanto satu dekade lalu. Kasus ini berhasil mencuri
perhatian berbagai media. Yang masih fresh berita seorang lelaki di Sumatra. Demi ilmu hitam
yang sedang dipelajarinya, ia tega membunuh kawan sendiri dan memakan jantung korban
mentah-mentah.

Kanibalisme memang bukan barang baru. Sebelumnya, aku pernah menulis tentang kanibalisme
yang masih dipraktekkan di India. (Baca: Kisah Si Pemakan Mayat)
Di masyarakat primitiI, praktek kanibalisme sudah menjadi bagian dari budaya. Pada jaman
modern ini, praktek kanibalisme masih ada tetapi dilakukan secara diam-diam. Umumnya, hal ini
berkaitan dengan praktek satanisme, sebagai syarat dalam menuntut ilmu hitam. Namun, ada
juga praktek kanibalisme yang dilakukan sebagai upaya untuk bertahan hidup. Misalnya seperti
yang terjadi pada tujuh pendaki yang hilang di awal tahun 1970-an atau di Korea Utara saat
terjadi bencana kekurangan pangan yang ekstrim.

anibalisme Sebagai Penghormatan


Ada satu kebiasaan yang aneh sekaligus menyeram yang berkaitan dengan kanibalisme.
Kanibalisme tidak dilatarbelakangi tindak kejahatan tetapi dilakukan demi menghormati jasad
yang baru meninggal. Dengan kata lain, kanibalisme sebagai pengganti penguburan.
Praktek memakan mayat anggota keluarga menjadi simbol penghormatan terhadap mendiang.
Dengan memakannya, almarhum diharapkan akan terus berada di dalam kehidupan keluarga
yang ditinggalkan dan menjadi pelindung keluarga. Salah satu suku terpencil di Papua New
Guinea melakukan praktek kanibalisme seperti ini. Dampak mengerikan dari kehidupan kanibal
mereka pernah ditayangkan salah satu stasiun televisi milik pemerintah Australia.

Ilustrasi 1
Dua orang wanita berusaha mengangkat seorang anak laki-laki yang tubuhnya hanya tinggal
kulit yang membungkus tulang. Wajahnya nyaris seperti tengkorak hidup. Mereka memegang
tangan anak itu. Dengan perlahan, mereka mengangkat tubuh yang tebaring di atas sebuh tikar
lusuh di halaman rumahnya. Namun, anak yang berusia sekitar 12 tahun itu kembali melorot,
lunglai. Matanya sayu, nyaris tiada tanda kehidupan. Tatapannya kosong. Yang mengerikan,
tiba-tiba dari mulutnya keluar suara tertawa. Tawa seram yang seolah keluar dari alam lain.
Mulutnya menyeringai.
Ilustrasi 2
Seorang perempuan mencoba berdiri tegak. Namun, kakinya nampak terseok-seok dan tubuhnya
menggigil hebat. Dia mencoba berjalan. Tubuhnya yang sangat rapuh membuat badannya
bergetar hebat ketika ia melangkahkan kaki. Mengetahui keadaannya, wajah wanita tersebut
tidak menampakkan kesakitan. Jusrtu, dari mulutnya yang tebal, perlahan-lahan terbuka dan
mulai tertawa. Lagi-lagi, tawa tersebut terdengar kosong dan menyeramkan.
Seorang bule nampak mendokumentasikan beberapa peristiwa tersebut. Ia juga mewawancarai
seorang kakek tua. Dengan gamblang, si kakek menggambarkan keadaan desa serta
masyarakatnya. Pak Tua tersebut merupakan kepala suku. Menurut penuturannya, telah terjadi
wabah penyakit mengerikan yang telah menelan beberapa korban, kebanyakan perempuan dan
anak-anak. Konon, ia menambahkan, wabah ini diakibatkan oleh ulah dukun santet yang
membalas dendam dengan melakukan praktek satanisme dan melakukan serangan santet kepada
warganya.

Benarkah demikian...??

Dear KoKiers,
Suatu penyakit aneh muncul di Papua New Guinea pada awal tahun 1900 sampai akhir tahun
1950-an. Banyak antropologis dan pemerintah setempat melaporkan wabah penyakit aneh nan
mengerikan yang sudah merenggut puluhan korban jiwa.

Penyakit yang mewabah itu adalah penyakit yang berkaitan dengan kelainan otak yang berujung
pada kematian. Penyakit aneh ini dikenal sebagai Kuru. Wabah ini telah menjalar di Suku Fore
Selatan. Penyakit Kuru menyerang sel otak dan sangat berbahaya. Rupanya, Kuru berhubungan
dengan kebiasaan makan mayat yang dipraktekkan oleh suku tersebut.

Kuru pertama kali ditemukan di sukuFore yang terletak di daerah pegunungan sebelah tenggara
Papua New Guinea saat seorang administrator asal Australia menjelajah daerah tersebut pada
tahun 1953-1959. Kuru atau Keru dilaporkan oleh W. T. Brown yang termuat di Kainantu Patrol
Report No 8 oI 1953/54 (13 January 1954 - 20 February 1954). Ia menuliskan tanda-tanda
penyakit kuru berupa rasa lemah yang luar biasa sehingga sang penderita tidak bisa berbuat apa-
apa selain hanya berbaring.

Brown pernah menyaksikan langsung salah seorang penderita kuru. Ia pun menggambarkan
penderitaan sang korban. Salah seorang penderita yang berjenis perempuan tidak mampu berdiri
karena kondisinya sangat lemah. Tubuhnya bergetar hebat. Ketika diberi obat, penderita masih
bisa menelan walaupun hanya sedikit. Tetapi begitu diberi makanan, ia tidak mampu menelan
sama sekali dan hanya berbaring. Tubuhnya semakin lemah dan menggigil semakin hebat
sebelum akhirnya ia meninggal dunia.

Sesuai adat setempat, masyarakat Fore Selatan memang melakukan praktek kanibalisme pada
saat itu. Praktek ini sebagai bentuk dari ritual pemakaman mayat anggota keluarga. Inilah yang
disinyalir menjadi penyebab penyakit kuru.
Setelah melakukan berbagai penelitian, akhirnya para ilmuwan berkesimpulan penyakit kuru
sebagai penyakit prion, penyakit yang berhubungan dengan syaraI. Penyakit ini sudah banyak
diteliti oleh para ilmuwan, seperti Lindenbaum, Zigas, dan Gadjusek. Mereka melakukan
penelitian di New Guinea pada tahun 1957 untuk mempelajari secara intens tentang penyakit ini.
Epidemi Kuru mencapai puncaknya pada awal tahun 1960 dengan merenggut korban lebih dari
1.100 orang.

Penderita kuru biasanya kehilangan koordinasi sehingga membuatnya goyah saat berjalan.
Kondisi ini diikuti gejala lain seperti munculnya tremor, sakit kepala, nyeri sendi, kehilangan
naIsu makan serta perubahan suasana hati yang parah. Perubahan suasana hati yang parah ini
seperti rasa marah yang secara seketika berubah menjadi serangan tawa yang menakutkan. Tawa
yang tidak normal sehingga lebih sering terdengar menyeramkan. Itulah sebabnya, penyakit juru
juga disebut penyakit laughing death. Setelah melakukan banyak penelitian ditemukan orang
yang menderita penyakit ini mirip dengan penyakit sapi gila atau bovine spongiform
encephalopathy.

Penyakit sapi gila ditularkan akibat mengonsumsi otak dan jaringan tulang belakang sapi yang
sudah terinIeksi. Sedangkan penyakit kuru disebabkan oleh konsumsi jaringan otak manusia
yang sudah terinIeksi prion (protein atau partikel yang menyerang). Kondisi ini disebabkan oleh
kebiasaan suku Fore yang kanibal atau mengonsumsi daging manusia. Jenasah penderita kuru
dianggap sebagai sumber makanan. Konon, lapisan lemak korban yang masih segar atau baru
meninggal mirip dengan daging babi.
Penyakit mengerikan ini lebih banyak diderita oleh kaum wanita dan anak-anak. Hal ini
disebabkan kaum wanita yang bertugas menjagal jenasah dan mengolahnya menjadi santapan
lezat jika ada kerabat dekat yang meninggal. Otak yang dianggap makanan lebih lezat diberikan
kepada wanita yang menyiapkan makanan. Sedangkan kaum laki-laki biasanya mengambil
daging pilihan. Selain otak, wakita dan anak-anak juga mengonsumsi jerohan jenasah.

Proses dari mempersiapkan ubo rampe untuk mengolah jenasa memerlukan waktu lama. Konon,
kontak dalam waktu lama dengan daging manusia yang terkontaminasi akan sangat berisiko
tinggi untuk tertular.

Ciri khas penyakit kuru adalah adanya gumpalan molekul protein di dalam otak. Masa inkubasi
dari penyakit ini panjang, bahkan sampai puluhan tahun. Sehingga, dibutuhkan waktu beberapa
tahun setelah inIeksi awal hingga gejalanya muncul. Lamanya masa inkubasi membuat mereka
tidak menyadari bahwa penyakit kuru muncul akibat kebiasaan mereka menyantap mayat. Tidak
ada pengobatan untuk penyakit ini. Satu-satunya cara untuk mencegahnya dengan menghentikan
praktik kanibalisme.

Masyarakat yang mulai mengetahui kebiasaan kanibal mereka sebagai biang keladi penyakit
kuru, mereka mulai enggan makan jenasah. Mereka takut terjangkit penyakit kuru. Kemudian,
berhembus isu penyakit kuru disebabkan oleh santet atau tenung, bukan akibat makan daging
manusia. Penduduk pun mulai menyalahkan orang-orang yang dianggap sebagai dukun.

Jika ada anggota keluarga yang meninggal, mereka akan sibuk mencari orang yang dianggap
telah menyantet keluarganya hingga terjangkit penyakit kuru. Pengalihan isu penyebab penyakit
kuru membuat masyarakat Fore melanjutkan kebiasaannya mengkonsumsi mayat anggota
keluarga yang meninggal. Little did they know bahwa praktek kanibalismelah penyebab utama
penyakit mengerikan ini.

Papua New Guinea memiliki sekitar 700 suku yang kebanyakan masih hidup primitiI seperti di
jaman batu. Mereka tinggal di hutan-hutan lebat di pondok-pondok kayu sederhana.
Pemerintah kolonial Australia pada saat itu berusaha keras meneliti penyakit kuru. Setelah
diketahui penyebab utama penyakit aneh nan mengerikan ini memang ada hubungannya dengan
kanibalisme, mereka melakukan berbagai upaya kampanye untuk mencegah penyebaran penyakit
ini, memberikan pendidikan dan ujung-ujungnya untuk menghentikan praktek kanibalisme.

Masyarakat Fore harus menghentikan praktek kanibalisme segera jika tidak ingin wabah kuru
memusnahkan semua penduduk. Hal ini terbukti benar. Ketika praktek kanibalisme sudah tidak
dipraktekkan lagi, penyakit kuru pun ikut musnah. Dewasa ini sudah tidak pernah ditemukan lagi
penyakit kuru.