Anda di halaman 1dari 5

8usdlyanLo (29)

1k LkAIAkAN
1
1uCAS h C1u1
RANGKUMAN
PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 154/PMK.03/2010
PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-57/PJ/2010
SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR : SE - 92/PJ/2010

PPh pasal 22 merupakan pajak sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang, impor atau
kegiatan di bidang usaha lain, dan pajak kepada pembeli atas penjualan barang yang sangat mewah
yang dipungut oleh pemungut.
Pemungut tersebut antara lain :
a. Bank Devisa dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, atas impor barang;
b. bendahara pemerintah dan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) sebagai pemungut pajak pada
Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Instansi atau lembaga Pemerintah dan lembaga-
lembaga negara lainnya berkenaan dengan pembayaran atas pembelian barang;
c. bendahara pengeluaran untuk pembayaran yang dilakukan dengan mekanisme uang
persediaan (UP);
d. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) atau pejabat penerbit Surat Perintah Membayar yang diberi
delegasi oleh KPA, untuk pembayaran kepada pihak ketiga yang dilakukan dengan
mekanisme pembayaran langsung (LS);
e. Badan usaha yang bergerak dalam bidang usaha industri semen, industri kertas, industri baja,
dan industri otomotiI, yang ditunjuk oleh Kepala KPP, atas penjualan hasil produksinya di
dalam negeri. Badan usaha yang bergerak di bidang usaha industri baja sebagaimana
dimaksud adalah industri baja yang merupakan industri hulu, namun apabila bidang usaha
industri baja sebagaimana dimaksud mengolah atau memproses lebih lanjut sebagian atau
seluruh hasil produksinya menjadi produk antara dan/atau produk hilir sehingga badan
usaha tersebut melakukan kegiatan produksi secara terintegrasi, maka Pajak
Penghasilan Pasal 22 dipungut atas penjualan produk hulu, produk antara, dan produk
hilir. Badan usaha yang bergerak di bidang usaha industri otomotiI sebagaimana dimaksud
adalah badan usaha yang bergerak dalam bidang industri otomotiI, termasuk ATPM (Agen
Tunggal Pemegang Merek), APM (Agen Pemegang Merek), dan importir umum kendaraan
bermotor. Sedangkan mengenai Penunjukan Pemungut PPh pasal 22 dilakukan oleh Kepala
KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat kedudukan badan usaha yang melakukan
penjualan hasil produksinya di dalam negeri. Apabila badan usaha tidak ditunjuk lagi sebagai
Pemungut, maka KPP akan menerbitkan surat pencabutan penunjukan wp sebagai pemungut
pph pasal 22. Dalam hal terjadi pengembalian barang hasil produksi yang dibeli dari badan
usaha sebagai Pemungut Pajak Penghasilan Pasal 22 sebagaimana dimaksud setelah Masa
Pajak terjadinya penjualan, pembeli harus membuat dan menyampaikan nota retur kepada
Pemungut PPh 22 yang harus dibuat dalam masa pajak terjadinya pengembalian barang hasil
produksi
I. Produsen atau importir bahan bakar minyak, gas, dan pelumas atas penjualan bahan bakar
minyak, gas, dan pelumas;
8usdlyanLo (29)
1k LkAIAkAN
2
1uCAS h C1u1
g. Industri dan eksportir yang bergerak dalam sektor kehutanan, perkebunan, pertanian, dan
perikanan yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak atas pembelian bahan-
bahan untuk keperluan industri atau ekspor mereka dari pedagang pengumpul.
Pedagang pengumpul sebagaimana dimaksud adalah badan atau orang pribadi yang kegiatan
usahanya:
a. mengumpulkan hasil kehutanan, perkebunan, pertanian, dan perikanan; dan
b. menjual hasil tersebut kepada badan usaha industri dan eksportir yang bergerak dalam
sektor kehutanan, perkebunan, pertanian, dan perikanan.
Penunjukan Pemungut PPh pasal 22 dilakukan oleh Kepala KPP yang wilayah kerjanya
meliputi tempat kedudukan industri dan eksportir yang melakukan pembelian bahan-bahan
untuk keperluan industri atau ekspor mereka dari pedagang pengumpul, dengan surat
keputusan sebagaimana yang ditetapkan. Apabila badan usaha tidak lagi ditunjuk sebagai
pemungut pph pasal 22 maka KPP akan menerbitkan surat keputusan pencabutan wp sebagai
pemungut pph pasal 22.

Besarnya pengenaan PPh pasal 22 : apabila tidak ber-NPWP maka 100 lebih tinggi dari tariI yang
ditetapkan
a. Atas impor
No IMPORTIR TARIF Keterangan
1 Menggunakan API 2,5 x nilai impor terutang dan dilunasi bersamaan
dengan saat pembayaran Bea
Masuk. apabila ditunda atau
dibebaskan, dilunasi pada saat
penyelesaian dokumen
Pemberitahuan Impor Barang
(PIB)
2 Kedelai, gandum, tepung terigu 0,5 x nilai impor
3 Tanpa API 7,5 x nilai impor
4 Pemenang hasil Lelang Impor yang
tidak dikuasainya
7,5 x nilai lelang
Nilai Impor Harga Patokan Impor (CIF) Bea Masuk Pungutan Pabean Lainnya.

b. Atas pembelian barang yang dilakukan pemungut huruI b,c,d
1,5 x harga pembelian, terutang dan dipungut pada saat pembayaran

c. Atas penjualan bahan bakar minyak, gas, dan pelumas oleh produsen atau importir bahan
bakar minyak, gas dan pelumas
Penjualan Pengenaan Pajak Keterangan
Bahan Bakar
Minyak
-0,25 x Penjualan, tidak termasuk PPN
(SPBU Pertamina)
-0,3 x Penjualan, tidak termasuk PPN
(SPBU bukan Pertamina, non SPBU)
terutang dan dipungut pada
saat penerbitan Surat Perintah
Pengeluaran Barang (delivery
order).

Bahan Bakar Gas 0,3 x Penjualan, tidak termasuk PPN
Pelumas sebesar 0,3 x Penjualan, tidak termasuk PPN


8usdlyanLo (29)
1k LkAIAkAN
3
1uCAS h C1u1
d. Atas penjualan hasil produksi di dalam negeri oleh badan usaha yang bergerak dalam bidang
usaha industri semen, industri kertas, industri baja, dan industri otomotiI
Hal Pengenaan Pajak Keterangan
Penjualan Kertas dalam negeri 0.1 x dasar pengenaan Pajak PPN
terutang dan dipungut
pada saat penjualan
penjualan semua jenis semen di
dalam negeri
0,25 x dasar pengenaan Pajak PPN
penjualan semua jenis kendaraan
bermotor beroda dua atau lebih di
dalam negeri
0,45 x dasar pengenaan Pajak PPN
penjualan baja di dalam negeri 0,3 x dasar pengenaan Pajak PPN

e. Atas pembelian bahan-bahan untuk keperluan industri atau ekspor oleh badan usaha industri
atau eksportir yang bergerak dalam sektor kehutanan, perkebunan, pertanian, dan perikanan
yang ditunjuk sebagai pemungut Pajak Penghasilan Pasal 22 dari pedagang pengumpul
sebesar 0,25 x harga pembelian tidak termasuk Pajak PPN, terutang dan dipungut pada saat
pembelian.


Dikecualikan dari pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22:
a. Impor barang dan atau penyerahan barang yang berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan tidak terutang Pajak Penghasilan (dinyatakan dengan SKB)
b. Impor barang yang dibebaskan dari pungutan Bea Masuk dan atau PPN:
1. barang perwakilan negara asing beserta para pejabatnya yang bertugas di Indonesia
berdasarkan asas timbal balik;
2. barang untuk keperluan badan internasional beserta pejabatnya yang bertugas di
Indonesia dan tidak memegang paspor Indonesia yang diakui dan terdaItar dalam
peraturan menteri keuangan yang mengatur tentang tata cara pemberian pembebasan
bea masuk dan cukai atas impor barang untuk keperluan badan internasional beserta
para pejabatanya yang bertugas di Indonesia;
3. barang kiriman hadiah untuk keperluan ibadah umum, amal, sosial, kebudayaan atau
untuk kepentingan penanggulangan bencana;
4. barang untuk keperluan museum, kebun binatang, konservasi alam dan tempat lain
semacam itu yang terbuka untuk umum;
5. barang untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan;
6. barang untuk keperluan khusus kaum tunanetra dan penyandang cacat lainnya;
7. peti atau kemasan lain yang berisi jenazah atau abu jenazah;
8. barang pindahan;
9. barang pribadi penumpang, awak sarana pengangkut, pelintas batas, dan barang
kiriman sampai batas jumlah tertentu sesuai dengan ketentuan perundang-undangan
kepabeanan;
10.barang yang diimpor oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah yang ditujukan
untuk kepentingan umum;
11.persenjataan, amunisi, dan perlengkapan militer, termasuk suku cadang yang
diperuntukkan bagi keperluan pertahanan dan keamanan negara;
8usdlyanLo (29)
1k LkAIAkAN
4
1uCAS h C1u1
12.barang dan bahan yang dipergunakan untuk menghasilkan barang bagi keperluan
pertahanan dan keamanan negara;
13.vaksin Polio dalam rangka pelaksanaan program Pekan Imunisasi Nasional (PIN);
14.buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama;
15.kapal laut, kapal angkutan sungai, kapal angkutan danau, kapal angkutan
penyeberangan, kapal pandu, kapal tunda, kapal penangkap ikan, kapal tongkang, dan
suku cadang serta alat keselamatan pelayaran atau alat keselamatan manusia yang
diimpor dan digunakan oleh Perusahaan Pelayaran Niaga Nasional atau perusahaan
penangkapan ikan nasional;
16.pesawat udara dan suku cadang serta alat keselamatan penerbangan atau alat
keselamatan manusia, peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan yang diimpor dan
digunakan oleh Perusahaan Angkutan Udara Niaga Nasional;
17.kereta api dan suku cadang serta peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan serta
prasarana yang diimpor dan digunakan oleh PT Kereta Api Indonesia;
18.peralatan yang digunakan untuk penyediaan data batas dan Ioto udara wilayah Negara
Republik Indonesia yang dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia; dan/atau
19.barang untuk kegiatan hulu Minyak dan Gas Bumi yang importasinya dilakukan oleh
Kontraktor Kontrak Kerja Sama.
c. Impor sementara, jika pada waktu impornya nyata-nyata dimaksudkan untuk diekspor
kembali;
d. Impor kembali (re-impor), yang meliputi barang-barang yang telah diekspor kemudian
diimpor kembali dalam kualitas yang sama atau barang-barang yang telah diekspor untuk
keperluan perbaikan, pengerjaan dan pengujian, yang telah memenuhi syarat yang
ditentukan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (tanpa SKB)
e. Pembayaran yang dilakukan oleh pemungut pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1
huruI b, huruI c dan, huruI d , berkenaan dengan (tanpa SKB)
1. Pembayaran yang jumlahnya paling banyak Rp 2.000.000,00 (dua juta rupiah)
dan tidak merupakan pembayaran yang terpecah-pecah
2. Pembayaran untuk pembelian bahan bakar minyak, listrik, gas, pelumas, air
minum/PDAM dan benda-benda pos
I. Pembayaran untuk pembelian gabah dan/atau beras oleh Perusahaan Umum Badan Urusan
Logistik (BULOG) (tanpa SKB)
g. Emas batangan yang akan diproses untuk menghasilkan barang perhiasan dari emas untuk
tujuan ekspor (dinyatakan dengan SKB)
h. Pembayaran untuk pembelian barang sehubungan dengan penggunaan dana Bantuan
Operasional Sekolah (BOS) (tanpa SKB)






8usdlyanLo (29)
1k LkAIAkAN
3
1uCAS h C1u1
Bagan Pelaporan PPh pasal 22 yang telah dipungut.




Disetor oleh pemungut
menggunakan SSP








O PPh pasal 22 atas impor barang disetor oleh importir yang bersangkutan, atau Direktorat
Jenderal Bea dan Cukai

O Untuk Pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 atas pembelian barang oleh pemungut pajak
disetor dengan Surat Setoran Pajak yang telah diisi atas nama rekanan serta ditandatangani
oleh pemungut pajak.


h pasal 22 yang dlpunguL
kanLor os/8ank uevlsa/8ank laln
yang dlLun[uk menLerl keuangan
kas negara
k
Melaporkan h yang
dlpunguL menggunakan
S1 massa