Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH AKUNTANSI SYARIAH

AKUNTANSI ISTISHNA

Oleh Kelompok 1: Aisha Homy Nahomy Muhammad Sadam Siska Desiyanti Wisnu Nugroho 1081002122 1081002060 1081002077 1081002147

UNIVERSITAS BAKRIE PROGRAM STUDI AKUNTANSI JAKARTA NOVEMBER 2011

A. PENGERTIAN AKAD ISTISHNA Istishna mempunyai karakteristik yang hampir sama dengan salam. Istishna adalah akad jual beli antara pembeli (al-mustashni) dan as shani (produsen yang juga sebagai penjual). Berdasarkan akad tersebut, pembeli menugasi produsen untuk menyediakan barang pesanan (al-mashnu) sesuai spesifikasi yang disyaratkan pembeli dan penjualnya dengan harga yang disepakati. Cara pembayaran dapat berupa pembayaran dimuka, cicilan, atau ditangguhkan sampai jangka waktu tertentu. Ketentuan harga barang pesanan tidak dapat berubah selama jangka waktu akad. Dalam PSAK 104 Par 8 dijelaskan juga mengenai barang pesanan dalam akad Istishna yakni harus memenuhi criteria: 1. Memerlukan proses pembuatan setelah akad disepakati 2. Sesuai dengan spesisifkasi pemesan, bukan produk missal 3. Harus diketahui karakteristiknya secara umum yang meliputi jenis, spesisifikasi teknis, kualitas, dan kuantitasnya. Bank dapat bertindak sebagai pembeli atau penjual dalam suatu transaksi istishna. Jika bank bertindak sebagai penjual kemudian memesan kepada pihak lain (sub kontraktor) untuk menyediakan barang pesanan dengan cara istishna maka hal ini disebut istishna pararel. Istishna paralel dapat dilakukan dengan syarat sebagai berikut. a) Akad kedua antara entitas syariah / pembeli (misal,bank syariah) dan sub kontraktor terpisah dari akad pertama antara penjual (bank syariah) dan pembeli akhir. b) Akad kedua dilakukan setelah akad pertama sah. Pembeli mempunyai hak untuk memperoleh jaminan dari produsen/ penjual atas a) jumlah yang telah dibayarkan, dan b) penyerahan barang pesanan sesuai dengan spesifikasi dan tepat waktu. Produsen/penjual mempunyai hak untuk mendapatkan jaminan bahwa harga yang disepakati akan dibayar tepat waktu. Perpindahan kepemilikan barang pesanan dari produsen/penjual ke pembeli dilakukan pada saat penyerahan sebesar jumlah yang disepakati.

B. DASAR SYARIAH Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram (HR.Tirmidzi) Istishna disepakati sebagai praktik muamalah yang halal berdasarkan ijma atau consensus para Ulama sepanjang kontrak atau perjanjian akad istishna tersebut secara substansial maupun material dan segala hal lain yang terkait dengannya tidak bertentangan dengan syariah dan memberi kemaslahatan bagi pihak-pihak yang melakukannya. C. RUKUN DAN KETENTUAN AKAD ISTISHNA Rukun Istishna: 1. Pelaku, yang terdiri dari Pembeli (Mustashni) dan Penjual/pembuat (Shani) semuanya harus paham hukum dan baligh (dewasa). 2. Objek, yang akan diserahkan berupa barang dan Modal Istishna yang berupa ketentuan harga. a. Ketentuan pembayaran: - Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa uang maupun barang - Harga yang ditetapkan dalam akad tidak boleh berubah, apabila setelah akad ditandatangani dan pembeli ingin melakukan perubahan spesifikasi dan ada penambahan biaya maka itu menjadi tanggungan pembeli. - Pembayaran dilakukan sesuai kesepakatan - Pembayaran tidak boleh dilakukan melalui pembebasan utang b. Ketentuan Barang: - Barang harus jelas spesisifikasinya (ukuran, jenis, kualitas), Barang diserahkan di kemudian hari paska akad dilakukan, Waktu dan penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan, Barang pesanan yang belum diterima tidak boleh dijual, tidak boleh menukar barang kecuali dengan yang sejenis sesuai kesepakatan, Dalam hal ada kecacatan barang

maka Pembeli mempunyai Hak Khiyar atau hak untuk memilih meneruskan atau tidak melanjutkan akad istsihna dan dalam hal pesanan barang sudah dikerjakan, maka Hukum yang berlaku sudah mengikat dan tidak boleh dibatalkan. 3. Ijab Kabul, yakni adanya pernyataan yang menjadi ekspresi yang menunjukkan bahwa secara resmi akad istishna tersebut disepakati untuk dilaksanakan, dan ijab Kabul ini bisa dilakukan secara lisan, tertulis, atau melalui media komunikasi moderen lainnya. D. BERAKHIRNYA AKAD ISTISHNA Kontrak istishna akan berakhir dalam kondisi-kondisi berikut: 1. Dipenuhinya kewajiban secara normal oleh kedua belah pihak 2. Persetujuan bersama oleh kedua belah pihak untuk menghentikan kontrak 3. Pembatalan hukum kontrak. Hal ini terjadi jika ada alasan-alasan yang masuk akal yang mencegah pelaksanaan atau penyelesaian kontrak dan masing-masing pihak bisa menuntut pembatalannya.

E. PENGAKUAN DAN PENGUKURAN ISTISHNA 1. Akuntansi untuk Penjual a. Penyatuan dan Segmentasi Akad (PSAK 104 (2007) paragraf 14-16 Pengaturan segementasi akad dijelaskan pada paragraf 14 berikut. Bila suatu akad istishna mencakup sejumlah aset, pengakuan dari setiap aset diperlakukan sebagai suatu akad yang terpisah jika: a) proposal terpisah telah diajukan untuk setiap aset; b) setiap aset telah dinegosiasikan secara terpisah, dimana penjual dan pembeli dapat menerima atau menolak bagian akad yang berhubungan dengan masingmasing aset tersebut; dan c) biaya dan pendapatan masing-masing aset dapat diidentifikasikan.(par.14). Penyatuan akad, paragraf 15 mengaturnya seperti berikut. Suatu kelompok akad istishna, dengan satu atau beberapa pembeli, harus diperlakukan sebagai satu akad istishna jika:

a) b) c)

kelompok akad tersebut dinegosiasikan sebagai satu paket; akad tersebut berhubungan erat sekali, sebetulnya akad tersebut akad tersebut dilakukan secara serentak atau secara berkesinambungan.

merupakan bagian dari akad tunggal dengan suatu margin keuntungan; dan (par.15) Jika ada pemesanan aset tambahan dengan akad istishna terpisah, maka tambahan aset tersebut diperlakukan sebagai akad terpisah jika: a) b) aset tambahan berbeda secara signifikan dengan aset dalam akad harga aset tambahan dinegosiasikan tanpa terkait harga akad istishna istishna awal dalam desain, teknologi atau fungsi; atau awal.(par.16). b. Biaya Perrolehan Isthisna (PSAK 104 (2007) paragraf 25-30) Biaya perolehan istishna sebagai berikut: a) biaya langsung yaitu bahan baku dan tenaga kerja langsung untuk membuat barang pesanan; dan b) biaya tidak langsung adalah biaya overhead, termasuk biaya akad dan praakad c) khusus untuk istishna parallel: seluruh biaya akibat produsen/kontraktor tidak dapat memenuhi kewajiban yang ada (PSAK 104 (2007) par 29-30) Biaya praakad diakui sebagai beban tangguhan dan diperhitungkan sebagai biaya istishna jika akad disepakati. Namun jika akad tidak disepakati, maka biaya tersebut dibebankan pada periode berjalan. Jurnal yang dibuat entitas syariah untuk biaya praakad adalah: Tgl Biaya praakad tangguhan Rp. xxx Kas

Rp. xxx

Jika akad istishna disepakati, maka entitas syariah akan membuat jurnal seperti berikut: Tgl Aset istishna dalam penyelesaian Rp. xxx Beban praakad tangguhan Rp. xxx Jika akad istishna tidak disepakati, maka jurnal untuk biaya praakad akan dijurnal sebagai berikut:

Tgl

Beban lain-lain Beban praakad tangguhan

Rp. xxx Rp. xxx

Biaya perolehan istishna yang terjadi selama periode laporan keuangan, diakui sebagai aset isitishna dalam penyelesaian pada saat terjadinya. Sedangkan, beban umum dan administrasi, beban penjualan, serta biaya riset dan pengembangan tidak termasuk dalam biaya istishna.(par.25-28). Jurnal yang dibuat oleh entitas produsen untuk mencatat biaya perolehan istishna adalah seperti berikut: Tgl Aset istishna dalam penyelesaian Kas/rekening supplier/bahan, dsb c. Biaya Perolehan Istishna Paralel Biaya perolehan istishna paralel diakui sebagai aset istishna dalam penyelesaian pada saat diterimanya tagihan dari produsen atau kontraktor sebesar jumlah tagihan. Jurnal yang dibuat oleh entitas syariah adalah: Tgl Aset istishna dalam penyelesaian Rekening kontraktor/kas d. Pendapatan Istishna dan Istishna Paralel Pendapatan istishna diakui dengan menggunakan metode prosentase penyelesaian atau metode akad selesai. Akad adalah selesai jika proses pembuatan barang pesanan selesai dan diserahkan kepada pembeli.(par.17). Jika metode prosentase penyelesaian digunakan, maka: a) bagian nilai akad yang sebanding dengan pekerjaan yang telah diselesaikan dalam periode tersebut diakui sebagai pendapatan istishna pada periode yang bersangkutan. Penjelasannya seperti berikut: misal, bila pekerjaan yang telah diselesaikan pada tahun 1 adalah 60%, nilai akad = Rp 500 juta,-, maka pendapatan istishna yang diakui adalah 60% X Rp 500 juta,-=Rp 300 juta,-. b) bagian margin keuntungan istishna yang diakui selama periode pelaporan ditambahkan kepada aset istishna dalam penyelesaian; dan c) pada akhir periode harga pokok istishna diakui sebesar biaya istishna yang telah dikeluarkan sampai dengan periode tersebut.(par.18). Penjelasan: misal, pada Rp. xxx Rp. xxx Rp. xxx Rp. xxx

tahun 1 biaya istisha yang telah dikeluarkan adalah Rp 200 juta,- maka keuntungan yang diakui = Rp 300 juta,- - Rp 200 juta,- = Rp 100 juta,--, yang akan ditambahkan ke rekening aset istishna dalam penyelesaian. Jurnal untuk mengakui pendapatan (berdasarkan contoh di atas) Tgl Harga pokok istishna Rp. 200 juta Aset istishna dalam penyelesaian Pendapatan istishna Rp. 100 juta Rp. 300 juta

Jika estimasi persentase penyelesaian akad dan biaya untuk penyelesaiannya tidak dapat ditentukan secara rasional pada akhir periode laporan keuangan, maka digunakan metode akad selesai dengan ketentuan sebagai berikut: a) tidak ada pendapatan istishna yang diakui sampai dengan pekerjaan tersebut selesai; b) tidak ada harga pokok istishna yang diakui sampai dengan pekerjaan tersebut selesai; c) tidak ada bagian keuntungan yang diakui dalam istishna dalam penyelesaian sampai dengan pekerjaan tersebut selesai; dan d) pengakuan pendapatan istishna, harga pokok istishna, dan keuntungan dilakukan hanya pada saat penyelesaian pekerjaan.(par.19). Misal, nilai akad istishna = Rp 500 juta,-, harga pokok istishna Rp 400 juta,- maka pada saat pekerjaan selesai akan diakui, pendapatan istishna sebesar Rp 500 juta.- - Rp 400 juta,- = Rp 100 juta,--. Jurnal yang dibuat entitas syariah adalah sebagai berikut. Pada saat entitas syariah menerima aset istishna dari kontraktor, maka jurnal yang dibuat adalah: Tgl Aset istishna Aset istishna dalam penyelesaian Pada saat entitas syariah menyerahkan aset istishna maka akan dibuat jurnal (bila pembeli akhir membayar aset istishna secara bertermin selama masa produksi): Pada saat entitas syariah menagih pertama ke pembeli akhir maka jurnalnya: misal, Rp. 400 juta Rp. 400 juta

Tgl

Piutang Istishna Termin Istishna

Rp. 300 juta Rp. 300 juta

Pada saat entitas syariah menagih ke dua ke pembeli akhir maka jurnalnya: misal, Tgl Piutang Istishna Rp. 200 juta Termin Istishna Rp. 200 juta

Pada saat entitas syariah menerima kas pertama dari pembeli akhir maka dibuat jurnal: Tgl Kas Piutang istishna Rp. 300 juta Rp. 300 juta

Pada saat entitas syariah menerima kas kedua dari pembeli akhir maka dibuat jurnal: Tgl Kas Rp. 200 juta Piutang istishna Rp. 200 juta Pada saat entitas syariah menyerahkan aset istishna kepada pembeli akhir akan dibuat jurnal sebagai berikut: Tgl Termin istishna Aset istishna Pendapatan istishna Rp. 500 juta Rp. 400 juta Rp 100 juta

Ilustrasi dalam transaksi / akad istishna paralel PT. MAJU mengikat akad istishna dengan bank syariah Sejahtera pada 1 Mei 2007 untuk memperoleh sebuah rumah kantor dengan nilai akad Rp 500 juta,-. Kemudian, pada 2 Mei 2007 bank syariah Sejahtera mengikat akad istishna paralel dengan kontraktor untuk membangun rukan yang dibutuhkan oleh PT MAJU tersebut. Biaya pembuatan rukan yang disepakati dengan kontraktor adalah Rp 400 juta,--. Biaya praakad ditanggung bank syariah sebesar Rp 1.000.000,--. Rukan diselesaikan selama 1,5 tahun yaitu tahun 2007 dan 2008. Berikut data selengkapnya terkait dengan akad istishna paralel tersebut. No 1 2 Keterangan Kontraktor menagih kepada bank syariah Bank syariah membayar tagihan kepada kontraktor 2007 (Rp) 100 juta 90 juta 2008 (Rp) 300 juta 310 juta

3 4 5 6

Bank syariah menagih kepada pembeli akhir PT MAJU PT MAJU membayar tagihan kepada bank syariah Kontraktor menyerahkan aset istishna kepada bank syariah Bank syariah menyerahkan aset istishna kepada pembeli akhir PT MAJU

200 juta 150 juta

300 juta 350 juta 400 juta 500 juta (nilai kontrak)

Penyelesaiaan
Jurnal yang dibuat oleh bank syariah Sejahtera a. Menggunakan metode prosentase penyelesaian (dalam jutaan rupiah) mencatat biaya prakaad 200 7 Biaya praakad tangguhan 1 Kas 1 mengakui biaya praakad sebagai biaya aset istishna, karena akad disepakati oleh PT MAJU dan bank syariah 200 Aset istishna dalam 7 penyelesaiaan 1 Biaya praakad mencatat penagihan dari kontraktor 200 Aset isthisna dalam 7 penyelesaiaan Utang istishna kontraktor mencatat pembayaran kepada kontraktor 200 7 Utang istishna - kontraktor Kas mencatat tagihan kepada PT MAJU 200 7 Piutang isthisna - PT MAJU

100 100

Aset isthisna dalam 2008 penyelesaiaan Utang istishna kontraktor

300 300

90 90

2008 Utang istishna - kontraktor Kas

310 310

150

2008 Piutang isthisna - PT MAJU

350

Termin istishna mencatat penerimaan kas atas tagihan termin kepada PT MAJU 200 Ka 7 s 150 Piutang isthisna

150

Termin istishna

350

Ka 2008 s 150 Piutang isthisna

350 350

mencatat pengakuan pendapatan sesuai dengan % penyelesaian 200 7 Harga pokok istishna 101 Aset istishna dalam penyelesaiaan 24 Pendapatan istishna 125 *perhitungan % penyelesaian 200 (Rp 100jt / Rp 400jt) x Rp 500jt = Rp 7 125jt 200 (Rp 300jt / Rp 400jt) x Rp 500jt = Rp 8 375jt mencatat penerimaan aset istishna rukan dari kontraktor

2008 Harga pokok istishna Aset istishna dalam penyelesaiaan Pendapatan istishna

300 75 375

2008 Aset istishna 401 Aset istishna dalam penyelesaian mencatat penyerahan aset istishna kepada PT MAJU 2008 Termin istishna 500 Aset istishna Aset istishna dalam penyelesaian Jurnal yang dibuat oleh bank syariah

401

401 99

Sejahtera b. Menggunakan metode akad/kontrak selesai (dalam jutaan rupiah) mencatat biaya prakaad 2007 Biaya praakad tangguhan Kas mengakui biaya praakad sebagai biaya aset istishna, karena akad disepakati oleh PT MAJU dan bank syariah Aset istishna dalam 2007 penyelesaiaan Biaya praakad 1 1

1 1

mencatat penagihan dari kontraktor Aset isthisna dalam 2007 penyelesaiaan Utang istishna - kontraktor mencatat pembayaran kepada kontraktor

10 0 100

200 8

Aset isthisna dalam penyelesaiaan Utang istishna kontraktor 300 300

200 2007 Utang istishna - kontraktor Kas 90 90 8 Utang istishna - kontraktor Kas 310 310

mencatat tagihan kepada PT MAJU 15 2007 Piutang isthisna - PT MAJU Termin istishna 0 150 200 8 Piutang isthisna - PT MAJU Termin istishna 350 350

mencatat penerimaan kas atas tagihan termin kepada PT MAJU Ka 2007 s Piutang isthisna mencatat penerimaan aset istishna rukan dari kontraktor 200 8 Aset istishna Aset istishna dalam penyelesaian mencatat penyerahan aset istishna kepada PT MAJU 200 8 Termin istishna Aset istishna Pendapatan istishna 500 401 99 401 401 15 0 150 200 8 Ka s Piutang isthisna 350 350

e. Istishna dengan Pembayaran Tangguh


Istishna dengan dengan pembayaran tangguh diatur dalam PSAK 104, par. 20-24 (2007), Jika menggunakan metode prosentase penyelesaian dan proses pelunasan dilakukan dalam lebih dari satu tahun setelah penyerahan barang pesanan, maka pengakuan pendapatan dibagi menjadi dua bagian, yaitu:

a) b)

margin keuntungan pembuatan barang pesanan yang dihitung apabila istishna selisih antara nilai akad dan nilai tunai pada saat penyerahan diakui selama periode

dilakukan secara tunai, diakui sesuai prosentase penyelesaian; dan pelunasan secara proposional sesuai dengan jumlah pembayaran. Proposional yang dimaksud sesuai dengan paragraf 24-25 PSAK 102: Akuntansi Murabahah. Tagihan setiap termin kepada pembeli diakui sebagai piutang istishna dan termin istishna (istishna billing) pada pos lawannya. f. Penyelesaian Awal Dalam hal pembeli akhir melakukan pembayaran sebelum tanggal jatuh tempo, PSAK 104, par.3132 (2007) telah mengaturnya sebagai berikut: Jika pembeli akhir melakukan pembayaran sebelum tanggal jatuh tempo dan penjual memberikan potongan maka potongan tersebut sebagai pengurang pendapatan istishna. Pengurangan pendapatan istishna akibat penyelesaian awal piutang istishna dapat diperlakukan sebagai:

a) potongan secara langsung dan dikurangkan dari piutang istishna pada saat pembayaran;
Jurnal yang akan dibuat adalah: Tgl Kas Rp. xxx Pendapatan margin istishna Rp. xxx Piutang istishna Rp. xxx b) penggantian (reimburshed) kepada pembeli sebesar jumlah keuntungan yang dihapuskan tersebut setelah menerima pembayaran piutang istishna secara keseluruhan. Jurnal saat penerimaan kas Tgl Kas Piutang istishna Jurnal saat penyerahan kembali kepada pembeli akhir Tgl Pendapatan margin istishna Piutang istishna Rp. xxx Rp. xxx Rp. xxx Rp. xxx

g. Perubahan Pesanan dan Klaim Tambahan


PSAK No. 104 (2007) mengatur tentang pengukuran perubahan pesanan dan klaim tambahan sebagai berikut.

a) Nilai dan biaya akibat perubahan pesanan yang disepakati oleh penjual dan pembeli
ditambahkan kepada pendapatan istishna dan biaya istishna.

b) Jika kondisi pengenaan setiap tambahan yang dipersyaratkan dipenuhi maka jumlah biaya
setiap tagihan tambahan akan menambah biaya istishna, sehingga pendapatan istishna akan berkurang sebesar jumlah penambahan biaya akibat klaim tambahan.

c) Perlakuan akuntansi: a) dan b) juga berlaku pada istishna pararel, akan tetapi biaya
perubahan pesanan dan tagihan tambahan ditentukan oleh produsen atau kontraktor dan disetujui penjual berdasarkan akad istishna pararel. h. Pengakuan Taksiran Rugi Paragraf 34 dan 35 (PSAK 104,2007) mengatur tentang kemungkinan terjadinya kerugian istishna bila diperkirakan biaya istishna melebihi pendapatan istishna. Hal tersebut dapat dijelaskan di bawah ini.

a) b) 1)
2) 3)

Jika besar kemungkinan terjadi bahwa total biaya perolehan istishna akan melebihi Jumlah kerugian semacam itu ditentukan tanpa memperhatikan: apakah pekerjaan istishna telah dilakukan atau belum; tahap penyelesaian pembuatan barang pesanan; atau jumlah laba yang diharapkan dari akad lain yang tidak diperlakukan sebagai suatu akad tunggal sesuai paragraf 14 PSAK 104 (2007).

pendapatan istishna, taksiran kerugian harus segera diakui.

2. Akuntansi untuk Pembeli


(Bank) sebagai pembeli PSAK No. 104 (2007) telah mengatur pengakuan dan pengukurannya sebagai berikut. a) Pembeli mengakui aktiva istishna dalam penyelesaian sebesar jumlah termin yang ditagih pembeli dan sekaligus mengakhiri utang istishna kepada penjual. Dalam hal ini, jurnal yang dibuat bank adalah sebagai berikut: Tgl Aktiva Istishna dalam Rp. xxx penyeleseian

Hutang Istishna

Rp. xxx

b) Aset istishna yang diperoleh melalui transaksi istishna dengan pembayaran tangguh lebih dari satu tahun diakui sebesar biaya perolehan tunai. Selisih antara harga beli yang disepakati dalam akad istishna tangguh dan biaya perolehan tunai diakui sebagai beban istishna tangguhan. Untuk itu, pembeli akan mengakui dengan jurnal sebagai berikut: Tgl Aktiva Istishna Rp. xxx Beban Istisha tangguhan Hutang Istishna Rp. xxx Rp. xxx

c) Beban istishna tangguhan diamortisasi secara proposional sesuai dengan porsi pelunasan hutang istishna. Jurnal yang akan dibuat oleh pembeli untuk mengamortisasi beban istishna tangguhan adalah: Tgl Beban Istisha Rp. xxx Beban Istisha tangguhan Rp. xxx d) Apabila barang pesanan terlambat diserahkan karena kelalaian atau kesalahan penjual dan mengakibatkan kerugian pembeli, maka kerugian itu dikurangkan dari garansi penyelesaian proyek yang telah diserahkan penjual. Jika kerugian tersebut melebihi garansi penyelesaian proyek, maka selisihnya akan diakui sebagai piutang jatuh tempo kepada penjual dan jika diperlukan dibentuk penyisihan kerugian piutang. Untuk masalah ini entitas syariah akan mencatat dengan jurnal sebagai berikut. 1. Apabila kerugian lebih kecil dari garansi penyelesaian proyek a) pada saat penjual menyerahkan uang garansi kepada pembeli (bank): Tgl Kas Rp. xxx Uang garansi penyelesaian Rp. xxx proyek b) pada saat pembebanan kerugian pembeli (bank): Tgl Uang garansi penyelesaian proyek Rp. xxx Rekening lain-lain 2. Apabila kerugian lebih besar dari garansi penyelesaian proyek a) pada saat penjual menyerahkan uang garansi kepada pembeli (bank):

Rp. xxx

Tgl

Kas Uang garansi penyelesaian proyek

Rp. xxx Rp. xxx

b) pada saat pembebanan kerugian pembeli (bank): Tgl Uang garansi penyelesaian proyek Rp. xxx Piutang jatuh tempo Rekening lain-lain e) Rp. xxx Rp. xxx

Jika pembeli menolak menerima barang pesanan karena tidak sesuai dengan spesifikasi dan tidak dapat memperoleh kembali seluruh jumlah uang yang telah dibayarkan kepada penjual, maka jumlah yang belum diperoleh kembali diakui sebagai piutang jatuh tempo kepada penjual dan jika diperlukan dibentuk penyisihan kerugian piutang. Dalam hal ini pembeli (bank) akan mencatat sebagai berikut. (a)Pembeli ditagih oleh penjual: Tgl Aktiva Istishna Beban Istishna tangguhan Hutang Istishna (b) Tgl pada saat membayar kepada penjual: Utang Istishna Kas Rp. xxx Rp. xxx Rp. xxx

Rp. xxx Rp. xxx

(c)pada saat mengakui penarikan kembali atas pembayaran kepada penjual: Tgl Kas Rp. xxx Piutang jatuh tempo Aset istishna penyelesaian
f)

Rp. xxx dalam Rp. xxx

Jika pembeli (bank) menerima barang pesanan yang tidak sesuai dengan spesifikasi, maka barang pesanan tersebut diukur dengan nilai yang lebih rendah antara nilai wajar dan biaya perolehan. Selisih yang terjadi diakui sebagai kerugian pada periode berjalan. Dalam hal ini bank akan mencatat sebagai berikut: Tgl Aset Istishna Kerugian penurunan nilai aktiva istishna Rp. xxx Rp. xxx

Aset

istishna

dalam

Rp. xxx

penyelesaian Kerugian penurunan nilai aktiva istishna dilaporkan di laporan laba rugi sebagai beban lain-lain. g) Dalam istishna paralel, jika pembeli akhir menolak menerima barang pesanan karena tidak sesuai dengan spesifikasi yang disepakati, maka barang pesanan diukur dengan nilai yang lebih rendah antara nilai wajar dan harga pokok istishna. Selisih yang terjadi diakui sebagai kerugian pada periode berjalan. Dalam hal ini bank akan mencatat sebagai berikut: Tgl Aset Istishna Kerugian Istishna Aset penurunan istishna aktiva dalam Rp. xxx Rp. xxx Rp. xxx

penyelesaian 3. Penyajian PSAK 104 (2007) mengatur penyajian istishna dalam laporan keuangan sebagai berikut. (1) Penjual menyajikan dalam laporan keuangan hal-hal berikut ini: a) Piutang istishna yang berasal dari transaksi istishna sebesar jumlah yang belum dilunasi oleh pembeli akhir. b) Termin istishna yang berasal dari transaksi istishna sebesar jumlah tagihan termin penjual kepada pembeli akhir. (2) Pembeli menyajikan dalam laporan keuangan hal-hal berikut ini: a) Hutang istishna sebesar tagihan dari produsen atau kontraktor yang belum dilunasi. b) Aset istishna dalam penyelesaian sebesar: (a) (b) 4. Pengungkapan persentasi penyelesaian dari nilai kontrak penjualan kepada kapitalisasi biaya perolehan, jika istishna. pembeli akhir, jika istishna paralel; atau

Penjual mengungkapkan transaksi istishna dalam laporan keuangan, tetapi tidak terbatas, pada: a) metode akuntansi yang digunakan dalam pengukuran pendapatan kontrak istishna; b) metode yang digunakan dalam penentuan persentase penyelesaian kontrak yang sedang berjalan; c) rincian piutang istishna berdasarkan jumlah, jangka waktu, dan kualitas piutang; d) pengungkapan yang diperlukan sesuai dengan PSAK 101: Penyajian Laporan Keuangan Syariah. Pembeli mengungkapkan transaksi istishna dalam laporan keuangan, tetapi tidak terbatas, pada: a) rincian hutang istishna berdasarkan jumlah dan jangka waktu; b) pengungkapan yang diperlukan sesuai dengan PSAK 101: Penyajian Laporan Keuangan Syariah. Contoh Soal: PT. Maju Makmur membutuhkan rumah tipe 70/150 dengan spesifikasi khusus untuk kantor. Harga rumah Rp. 200 juta, dana yang dibayarkan PT. Maju Makmur untuk uang muka Rp. 50 juta. Perusahaan mengajukan pembiayaan kepada Bank Syariah. Setelah akad ditandatangani antara PT Maju Makmur dan Bank Syariah dengan nilai akad Rp 200 juta,-, bank syariah memesan kepada pengembang dan pengembang akan menyelesaikan pesanannya selama 9 bulan. Bank membayar biaya pra akad sebesar Rp 1.000.000,-- dan akad ditandatangani antara bank dan PT Maju Makmur pada 1 Juli 2007. PT Maju Makmur menyerahkan uang muka sebesar Rp 50.000.000,--. Disamping itu, bank juga menandatangani akad pembelian / pesanan kepada pengembang pada 1 Juli 2007, dengan harga beli Rp 170.000.000. Berikut ini data dan tagihan yang dilakukan oleh pengembang sampai dengan selesai per 1 Maret 2008: 2 Juli 2007 1 Agustus 2007 1 Februari 2008 1 Maret 2008 : bank menerima uang muka dari pembeli Rp 50.000.000,-: pengembang menagih untuk pembangunan aktiva istishna Rp 30.000.000,: pengembang menagih untuk pembangunan aktiva istishna Rp 90.000.000,: pengembang menyerahkan aktiva istishna kepada bank syariah.

1 November 2007: pengembang menagih untuk pembangunan aktiva istishna Rp 50.000.000,-

Diketahui: Harga Rumah Uang Muka Biaya Pra akad Nilai akad Harga Beli rumah : Rp 200.000.000 : Rp 50.000.000 (2 Juli 2007) : Rp 1.000.000 (dibayar oleh Bank) : Rp 200.000.000 (ditandatangani 1 Juli 2007) : Rp 170.000.000 (dari pengembang ke Bank)

Tagihan oleh pengembang: 1 Agustus 2007 1 November 2007 1 Februari 2008 1 Maret 2008 : Rp 30.000.000 : Rp 50.000.000 : Rp 90.000.000 : Aktiva diserahkan kepada bank syariah.

Perhitungan: Pemesan akan melunasi rumah pesanannya pada saat rumah selesai dibangun dan diserahkan bank syariah kepada PT Usman, dengan harga kontrak Rp 200 juta. Nilai Akad Harga pokok rumah Biaya akad Laba bank syariah : Rp 200.000.000 : Rp 170.000.000 : Rp 1.000.000 : Rp 29.000.000 : Rp 200.000.000 + 10% (Rp 200.000.000) : Rp 220.000.000 Angsuran per bulan Margin per bulan : Rp 220.000.000 / 24 : Rp 9.166.667 : Rp 20.000.000 juta / 24 : Rp 833.333,Berikut ini jurnal yang dibuat oleh Bank Syariah:

Harga jual bila diangsur 2 tahun

P dasa t ba s ria m a a nk ya h enerim ua m ada P Us a 1Juli 2 0 a ng uk ri T m n: 07 Dr Kas 50 Cr Uangmuka istishna 50 P dasa t ba s ria m a a nk ya h enca t bia pra k dR 1 0 .0 0 ta ya -a a p .0 0 0 ,-: Dr Beban pra-akad tangguhan 1 Cr kas P dasa t a kepa na a istishadeng nna ba P Us a a a da stia k d a sa h T m n: Dr Aset istishna dalampenyelesaian 1 Beban pra-akad tangguhan

P dasa t ba m a a nk enerim ta iha da peng ba da m ba rnya a g n ri em ng n em ya : Tanggal 1Agustus 2007 sebesar Rp 30.000.000 Dr Aset istishna dalampenyelesaian 30 Cr Hutang istishna 30 Pada saat bank syariah membayar Hutangistishna: Dr Hutangistishna Cr Kas

30 30

P das a ba m a a t nk enerim ta iha da peng ba da m ba rnya a g n ri em ng n em ya : Tanggal 1Agustus 2007sebesar Rp 30.000.000 Dr Aset istishna dalampenyelesaian 30 Cr Hutang istishna 30 Pada saat bank syariah membayar Hutangistishna: Dr Hutangistishna Cr Kas Tanggal 1November 2007sebesar Rp 50.000.000,-Dr Aset istishna dalampenyelesaian Cr Hutang istishna Pada saat bank syariah membayar Hutangistishna: Dr Hutangistishna Cr Kas Tanggal 1Februari 2008sebesar Rp 70.000.000 Dr Aset istishna dalampenyelesaian Cr Hutang istishna Pada saat bank syariah membayar Hutangistishna: Dr Hutangistishna Cr Kas

30 30

50 50

50 50

70 70

70 70

P dasa t ba m a a nk enerim ba ngpes na da peng ba ya a ra a n ri em ng ng suda selesa 1 0 , ba s ria a a m bua jurna s g i berik h i 0 % nk ya h k n em t l eba a ut: Dr Aset Al-istishna 171 Cr Aset istishna dalampenyelesaian 171 P dasa t B nkS ria m a a a ya h enyera a rum hk daP Ma Ma m hk n a epa T ju k ur. Dr Piutangistishna 220 Cr Persediaan barangistishna 171 Cr Pendapatan margin istishna 29 Cr Margin Istishna tangguhan 20

Dr UangMuka Istishna Cr PiutangIstishna

50 50

P das a B nkS a hm a a t a y ria enerim a sura per bula (tida da mjuta n) a ng n n k la a Dr Kas 9,166,667 Cr Piutang Istishna 9,166,667 Dr Margin Istishna tangguhan Cr Pendapatan margin istishna Adjustm a hirta ent k hun, 3 D 1 esem 2 1 ber 0 1 Dr Margin Istishna tangguhan Cr Piutang Istishna 833,333 833,333

833,333 833,333