Anda di halaman 1dari 4

Scribd Upload a Document Search Documents Explore Cicilia Puji Aprilia / 99 Download this Document for Free 67walaupun

memegang kartu sehat karena obat yang ada dalam reseptidak termasuk d alam daftar obat kerja sama pemerintah dengan PTAskes. ''Ada dalam daftar atau t idak, pemegang kartu sehat harusmendapat pelayanan gratis,'' kata Menteri Keseha tan.Bukti bahwa program penggratisan biaya tersebut belumberjalan dengan baik ju ga terdapat dalam berita yang dimuat di Gatrapada 2 Januari 2006. Dalam berita i tu dikatakan bahwa MenteriKesehatan Siti Fadilah Supari, saat mengunjungi RSUD M . YunusBengkulu mengungkapkan kekecewaannya, karena mengetahuibanyak pasien misk in di kelas III masih dibebani biaya obat-obatan."Ini sudah tidak benar, protapn ya kan sudah jelas bahwa pasienmiskin di kelas III harus gratis. Mana petugas As kes tolong dijelaskankenapa pasien masih membayar," kata Menteri Kesehatan kepad adokter-dokter dari RSUD, anggota Komisi IX DPR-RI serta pejabatDepartemen Keseh atan RI.Dari empat orang pasien miskin di kelas III RS itu, seluruhnyamengaku su dah mengeluarkan biaya untuk menebus obat-obatan. Ny.Febi, orang tua dari Gozi ( 2,5) yang menderita demam typoid,mengaku sudah membayar sampai Rp600 ribu untuk obat-obatan,begitu juga dengan Ny. Fatimah (65) penderita muntaber sudahmembayar Rp500 ribu. Menkes yang ketika itu didampingi Dirut PTASKES Dr Ori Sundari, den gan suara keras meminta agar semuabiaya yang dikeluarkan pasien miskin dikembali kan saat itu juga.Kepada Direktur RSUD M. Yunus Dr Syarifuddin, ia minta agar ja nganada lagi pembayaran seperserpun yang dibebankan kepada pasien 68miskin. Syarifuddin menegaskan, kalaupun pasien miskin membayar,nantinya dibeb ankan ke APBD. Namun Menkes dengan suara kerasmenyatakan, tidak dibenarkan pasie n miskin membayar meskiakhirnya diganti, karena setiap biaya pengobatan pasien m iskin sudahdibayar negara dan ditagih melalui ASKESAnak Ny. Fatimah pasien munta ber yang dirawat, Suplinmenyatakan dalam membayar obat-obatan kepada pihak rumah sakit,ia tidak diberi tanda bukti ataupun kwitansi. Menteri Kesehatan bahkanmen gkhawatirkan obat-obatan untuk pasien miskin harus ditebussendiri tapi oleh piha k rumah sakit dimintakan ke ASKES seolah-olahobat sudah diberikan secara gratis. Menkes menegaskan, RS harusmemberikan perawatan optimal kepada pasien miskin, s ama halnyadengan pasien di kelas maupun VIP. Pasien miskin sudah dibayaroleh neg ara dan pihak Rumah Sakit menagih ke ASKES, bahkanmenurut Menkes, ada satu rumah sakit yang tagihan DI ASKESsampai Rp100 miliar. Pihak rumah sakit jangan memand ang pasienmikin sebagai beban, bahkan seharusnya mereka berlomba-lombamerawat pa sien miskin, karena segala perawatan dan obat-obatandiganti negara, bahkan jasa dokter juga dibayar. "Sangat keterlaluankalau pihak rumah sakit masih membeda-be dakan pasien darikeluarga miskin. Pasien miskin harus gratis dan dirawat dengan baikdan saya tidak bisa terima dengan dalih apapun kalau ada pasienyang diabaika n," ujarnya. Dalam kunjungan ke RSUD M. Yunus,Menteri Kesehatan menemui sekitar 10 pasien miskin danmenanyakan perawatan yang diterima serta biaya perawatan. 69Sebagian penjelasan dari dokter ditanyakan lagi ke pasien dan adapernyataan do kter yang faktanya tidak sama dengan yang dialamipasien. 5. Kasus-Kasus Malpraktek a. Kasus Agian Permohonan Euthanasia Pertama di Indonesia Pemberitaan mengenai kasus ini diawali pada tanggal 29Agustus 2004. Saat itu, de tik.com dalam judul beritanyamenyebutkan, Ny. Agian, Korban Malpraktik Masih Tergel etakLemas. Berdasarkan keterangan dari suami Ny. Agian yangbernama Panca Satriya Ha san Kusumo yang dimuat detik.com pada3 September 2004, awal mula kasus ini adala h sebagai berikut. Awalnya tak ada tanda-tanda yang mencurigakan darikehamilan istr i saya ini. Setiap bulan istri saya memeriksakankehamilan ke dokter Gunawan Muha

mad, ahli kandungan. Selamasekian bulan rutin diperiksa dokter Gunawan, ia diber ikan beberapamacam obat untuk kesehatan ibu dan anak. Tidak pernah ada gejalaata u tanda-tanda keracunan. Setelah kehamilan memasuki bulan ke-34, ia (Ny. Again) kembali diperiksa. Hasil USG muncul kecurigaandan keraguan dalam diagnosa terhad ap kondisi janin dengan alasanmonitor terlalu kecil. Oleh dokter, istri saya dis arankan melakukanpemeriksaan di Jakarta yang lebih lengkap. Terus kami bawa ke R SHarapan Kita, hasilnya tidak ada kelainan pada janin, kecuali tampakacitest pad a ibu dan letak bayi sungsang. Rekomendasinya agarsegera dilakukan operasi caesa r. Kemudian tanggal 20 Juli dilakukan 70operasi caesar di Rumah Sakit Islam Bogor. Operasi berjalanselamat, karena kon disi kesehatan bayi kurang, maka oleh pihakRumah Sakit Islam bayi dirujuk di Rum ah Sakit PMI Bogor untukperawatan inkubator. Sedangkan istri saya normal, tak ad a masalahbahkan komunikasi berjalan dengan baik dan malam itu dibawa keRumah Ber salin Yuliana untuk rawat inap. Keesokan harinya, sayadiberitahu oleh pihak Ruma h Bersalin Yuliana, bahwa istri sayatekanan darah naik, dan langsung dibawa ke R umah Sakit IslamBogor tanpa persetujuan saya. Saya diminta langsung ke RumahSaki t Islam. Sampai di sana istri saya sudah ditangani tim dokter,beberapa saat kemu dian pihak Rumah Sakit memberikan satu resepuntuk ditebus, untuk menurunkan teka nan darah. Dan hasilnyasetelah resep saya tebus, beberapa saat dari situ saya ta nyaperkembangan lagi. Darahnya ternyata terlalu drop, 120/80. Wahterlalu rendah, pihak rumah sakit meminta saya menebus resep lagi.Saya tebus resep di rumah sak it itu. Saya tunggu beberapa saat. Pasditensi, saya masuk, ternyata jadi 190/140 . Dokter bilang pak ini ketinggian, bapak harus beli lagi namanya dupamin cair. Dua ampul plus p engantar untuk membeli darah dua kantong. Malam itu juga jam 12.00 saya berikan, tanggal 21 Juli itu, saya berikan 2 ampul dupamin dan dua ampul kantong darah. Saya menunggu lagi di luar,karena tak boleh di dala m. Sekitar jam 12.30 (setengah satu) sayadipanggil masuk ruangan dengan buru-bur u, Pak-pak cepet-cepet .Pas saya masuk kedapatan istri saya nampak seperti sudah mati.Saya shock , mereka panik. Saya lihat mereka panik, dengan napas 71bantuan. Saya lihat kantong darah sudah kosong satu dan infusdupamin itu. Sete lah itu, saya lihat kira-kira 10 menit tanpa nadi dannapas. Tensi nol. Setelah k antong darah kedua dan dupamin diperas,kira-kira sepuluh menit muncul nadi dan n apas. Pas ditensi, tensinya60/40. Dari situlah dilanjutkan sampai kantong darah dan dupaminhabis. Sampai kira-kira tinggal seperempat, ditensi, tensinya tidakte rkendali. 60, 90, 150., 180 terus sampai 250/210. Ya setelahselesai, di situlah akhir dari tindakan itu. Kemudian istri saya diamkandari jam 2 siang, katanya ma u dirujuk ke ICU. Baru pada jam 8malam, baru dapat ruang ICU di rumah sakit PMI Bogor. Setelahmasuk PMI, kemudian di ICU 8 hari dan dirawat inap sampai 38 hari. Baru dapat kepastian tanggal 11 Agustus kalau perlu tindakanlanjutan. Kemudian s aya membawa istri saya ke Rumah SakitPertamina untuk MRI, karena beberapa hari i tu kondisinya spatik.Ternyata PMI membiarkan saja. Hanya melakukan pijat-pijat s aja.Setelah saya bawa ke RS Pertamina, baru pasti ada kerusakan otak,kanan kiri, otak kecil kanan dan kiri, serta kerusakan pusat saraf otakyang permanen. Pada 7 Se ptember 2004, diberitakan bahwa Ny. Agian Isnaulitidak hanya melaporkan dr Gunaw an dari Rumah Sakit Islam BudiAgung ke Polda Jawa Barat dengan tuduhan telah mel akukanmalpraktik saja. Tetapi, ia rencananya akan mengajukan gugatanperdata ke P engadilan Negeri (PN) Bogor.Pada 17 September 2004, Hasan beraudiensi dengan ang gotaDPRD Kota Bogor. Saat itu ia menyampaikan bahwa ia sudah 72mengeluarkan uang Rp. 60 Juta untuk membiayai pengobatanistrinya dan masih ber hutang Rp. 17 Juta lagi ke RS PMI Bogor. Iamengatakan bahwa tidak memiliki uang lagi untuk membiayaipengobatan istrinya, karena itu ia memohon agar istrinya dis untikmati saja (

euthanasia ).Pada 27 September 2004, Menteri Kesehatan Suyudimengatakan bahwa euthanasia dilarang di Indonesia. Diwawancaraipada hari yang sama, Hasan mengatakan bahwa a pabila pemerintahmelarang euthanasia , maka dia minta pemerintah ikut menanggungbiaya pengobatan istrinya, karena Ia merasa tidak mampu lagimenyediakan dana untuk pengobatan istrinya. Polemik seput arpermohonan euthanasia ini mengundang komentar dari dr MariusWidjajarta dari Yayasan Konsumen Kesehatan Indonesia.Menurutnya, apa yang dilakukan RS terhadap Ny Agian sudah masukkatego ri euthanasia pasif. Lebih lanjut Ia mengatakan, " Kalau orangyang tidak punya u ang dan membuat suatu pernyataan tidak maudirawat, itu sudah merupakan euthanasi a pasif meskipun euthanasiadapat diancam hingga 12 tahun penjara."Ternyata, pada 22 Oktober 2004 Hasan secara formalmengajukan permohonan euthanasia terhadap istrinya ke PengadilanNegeri Jakarta Pusat. Pada hari itu juga Hasan me minta penetapan euthanasia kepada Menteri Kesehatan. Namun untuk berjaga-jagasekiranya Menteri Kesehatan me nolak permohonan tersebut, Hasan juga menyerahkan surat kepada Menteri Kesehatan yang berisipermohonan keringanan biaya perawatan untuk istrinya. 16kompilasiPELAYANAN KESEHATAN Download this Document for FreePrintMobileCollectionsReport Document Info and Rating Dian Noviati Sections show all prev next BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang 2. Maksud dan Tujuan 3. Ruang Lingkup D. Metodologi Kompilasi 5. Jadual Kegiatan 6. Susunan Persoanlia BAB II Share & Embed Related Documents PreviousNext p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p.

p. p. p. p. p. p. More from this user PreviousNext 99 p. Recent Readcasters Add a Comment Upload a Document Search Documents Follow Us! scribd.com/scribd twitter.com/scribd facebook.com/scribd About Press Blog Partners Scribd 101 Web Stuff Support FAQ Developers / API Jobs Terms Copyright Privacy Copyright 2011 Scribd Inc. Language: English