Anda di halaman 1dari 30

ASUHAN KEBIDANAN PADA KEHAMILAN DENGAN SOLUSIO PLASENTA

Oleh : CHASANAH NIM. 010810092

Program Studi Pendidikan Bidan Jalur A Angkatan 2008 Fakultas Kedokteran Universitas Kedokteran

LANDASAN TEORI A. Pengertian Istilah lain dari solusio plasenta adalah ablatio plasentae, abruptio plasentae, accidental haemorrhage dan premature separation of the normally implanted placenta. Solusio plasenta ialah pelepasan placenta sebelum waktunya dari tempat implantasinya yang normal pada uterus, sebelum janin dilahirkan pada kehamilan lebih dari 28 minggu. Proses solusito plasenta dimulai dengan terjadinya perdarahan dalam desidua basalis yang menyebabkan hematoma retroplsenter. Hematoma dapat semakin membesar kearah pinggir plasenta sehingga jika amniokhorion sampai terlepas, perdarahan akan keluar melalui ostium uteri (perdarahan keluar), sebaliknya apabila amniokhorion tidak terlepas maka perdarahan tertampung dalam uterus (perdarahan tersembunyi). Perdarahan keluar 1. Keadaan umum relatif lebih baik 2. Plasenta terlepas atau inkomplit penderita sebagian Perdarahan tersembunyi 1. Keadaan penderita lebih jelek 2. Plasenta terlepas luas, uterus keras/kejang. Pelepasan biasanya komplit 3. Sering hipertensi berkaitan dengan

3. Jarang berhubungan dengan hipertensi 4. Merupakan 80% dari solusio placenta 5. Jarang disertai Toxemia 5.

4. Hanya merupakan 20% dari solusio plasenta Sering disertai toxemia

(Manuaba, 1999) Klasifikasi solusio plasenta :

1.Solutio placenta ringan a. Bila plasenta lepas kurang bagian luasnya b. Ibu dan janin keadaan masih baik c. Perdarahan pervaginam, warna kehitaman d. Perut sakit dan agak tegang 2.Solutio placenta sedang a. Plasenta terlepas lebih , belum mencapai 2/3 bagian b. Perdarahan dengan rasa sakit c. Perut terasa tegang d. Gerak janin berkurang (gawat janin) e. Palpasi janin sulit diraba f. Auskultasi jantung janin (asfiksia ringan dan sedang) g. Dapat terjadi gangguan pembekuan darah 3. Solutio placenta berat a. Plasenta lepas > 2/3 bagian b. Terjadi sangat tiba-tiba c. Ibu syock d. Janin mati (uterus sangat tegang dan nyeri) B. Etiologi Sebab primer solusio plasenta belum jelas tapi diduga bahwa penyebabnya adalah : 1. 2. 3. Hipertensi essentialis atau pre eklamsi, dekompresi uterus mendadak (vasokonstriksi pembuluh darah) Tali pusat yang pendek, anomali atau tumor uterus dan defisiensi gizi (misal kalium dan asam folat) Trauma, merokok, konsumsi alkohol, penyalahgunaan kokain

4. 5.

Tekanan oleh rahim yang membesar pada vena cava inferior Uterus yang sangat mengecil (hydromnion gemeli) obstruksi vena kava inferior dan vena ovarika

Disamping itu juga ada pengaruh terhadap : 1. Umur lanjut ( >35 tahun karena dengan meningkatnya usia akan terjadi perubahan pada pembuluh darah dan menurunnya fungsi hormonal pengatur siklus endometrium dan meningkat pula risiko penyakit kronis yang akan menjadi faktor predisposisi terjadinya solusio plasenta.) 2. Multiparitas (terutama anak yang lebih dari 7) 3. Defisiensi asam folat (Pada ibu yang mengalami kondisi defisiensi asam folat disertai dengan defisiensi vitamin B6, B12, penyakit ginjal, hati, serta minum obat-obatan akan terjadi hiperhomosisteinemia yaitu faktor resiko yang menyebabkan stroke pada penyakit vaskuler) C. Patofisiologi Solusio plasenta diawali dengan turunnya tekanan darah secara tiba-tiba oleh spasme dari arteri yang menuju ruangan interviler, maka terjadilah iskemia dan hipoksia jaringan setempat yang mengakibatkan kematian sejumlah sel, dan terjadi perdarahan kedalam desidua basalis. Desidua terkelupas dan tersisa sebuah lapisan tipis yang melekat pada myometrium sehingga terjadilah hematoma retroplasenta (putusnya arteri spiralis desisua) yaitu perdarahan yg terletak dibelakang plasenta. Perdarahan berlangsung terus menerus karena otot uterus yang telah meregang oleh kehamilan tidak mampu lebih berkontraksi untuk menghentikan perdarahan. Akibatnya, hematoma retroplasenter akan bertambah besar, sehingga sebagian dan akhirnya seluruh plasenta terlepas dari dinding uterus. Sebagian darah akan menyelundup di bawah selaput ketuban keluar dari vagina, atau menembus selaput ketuban masuk ke dalam kantong ketuban, atau ekstravasasi di antara serabutserabut otot uterus. Apabila ekstravasasinya berlangsung hebat, seluruh permukaan uterus akan berbercak biru atau ungu dan terasa sangat tegang serta nyeri. Hal ini

disebut uterus couvelaire. Darah yang keluar merembes antara cairan ketuban dan miometrium lalu keluar melalui servix maka terjadilah perdarahan yang keluar ( revealed hemorrhage). (Mansjoer, 2001). Akibat kerusakan jaringan miometrium dan pembekuan retroplasenter, banyak tromboplastin akan masuk ke dalam peredaran darah ibu, sehingga terjadi pembekuan intravaskuler dimana-mana, menyebabkan sebagian besar persediaan fibrinogen habis. Akibatnya, terjadi hipofibrinogenemi yang menyebabkan gangguan pembekuan darah pada uterus maupun alat-alat tubuh lainnya. D. Diagnosis dan Gejala Klinis Solusio plasenta yang ringan, pada umumnya tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas, perdarahan antepartum hanya sedikit, dalam hal ini diagnosis baru kita tegakkan setelah anak lahir. Pada plasenta kita dapati koagulum-koagulum darah dan krater (daerah cekungan yang dikelilingi oleh tepian yang meninggi). Pada keadaan yang agak berat kita dapat membuat diagnosis berdasarkan : 1. Anamnesis Perasaan sakit yang tiba-tiba di perut, kadang-kadang pasien bisa melokalisir tempat mana yang paling sakit, dimana plasenta terlepas. Perdarahan pervaginam yang sifatnya bisa hebat, yang terdiri dari darah segar dan bekuan darah. Pergerakan anak mulai hebat kemudian terasa pelan dan akhirnya berhenti atau tidak bergerak lagi. Kepala terasa pusing, lemas, muntah, pucat, pandangan berkunangkunang, ibu keliatan anemis tidak sesuai dengan banyaknya darah yang keluar. 2. Inspeksi

Pasien gelisah, sering mengerang karena kesakitan. Pucat, sianosis, keringat dingin. Kelihat darah keluar pervaginam. 3. Palpasi Fundus uteri tambah naik karena terbentuknya hematoma retroplasenta, uterus tidak sesuai dengan tuanya kehamilan. Uterus teraba tegang dan keras seperti papan yang disebut uterus in bois baik waktu his maupun diluar his. Nyeri tekan terutama ditempat plasenta tadi terlepas. Bagian-bagian janin susah dikenali, karena perut (uterus) tegang. 4. Auskultasi Sulit, karena uterus tegang. Bila denyut jantung janin terdengar biasanya diatas 140 dpm, kemudian turun dibawah 100 dpm dan akhirnya hilang bila plasenta yang terlepas lebih dari sepertiga. 5. Pemeriksaan Dalam Serviks bisa telah terbuka atau masih tertutup. Kalau sudah terbuka maka ketuban dapat teraba menonjol dan tegang, baik sewaktu his maupun diluar his. Kalau ketuban sudah pecah dan plasenta sudah terlepas seluruhnya, plasenta ini akan turun kebawah dan teraba pada pemeriksaan, disebut prolapsus plasenta, ini sering dikacaukan dengan plasenta previa. 6. Pemeriksaan Umum Tensi semula mungkin tinggi karena pasien sebelumnya menderita penyakit vaskuler, tetapi lambat laun turun dan pasien jatuh syok. Nadi, cepat, kecil. 7. Pemeriksaan Laboratorium Urin: albumin (+) pada pemeriksaan sedimen terdapat silinder dan leukosit.

Darah: Hb menurun, periksa golongan darah kalau bisa cross match test. Karena pada solusio plasenta sering terjadi kelainan pembekuan darah yaitu hipofibrinogenemia, maka diperiksakan pula COT (Clot Observation Test) tiap 1jam, tes kualitatif fibrinogen (fiberindex), dan tes kuantitatif fibrinogen (kadar normalnya 150mg%). 8. Pemeriksaan Plasenta Sesudah bayi dan plasenta lahir, kita periksakan plasentanya. Biasanya tampak tipis dan cekung dibagian plasenta yang terlepas (krater) dan terdapat koagulum atau darah beku dibelakang plasenta, yang disebut hematoma retroplasenter. E. Komplikasi Awal : - Perdarahan, syok hipovolemik - Anemia Lanjut : - Kelainan pembekuan darah - Keainan fungsi ginjal - Perdarahan post partum 2. Terapi ( Kolaborasi dengan Dokter Obgyn ) - Terapi Konservatif (ekspektatif) 1. Resusitasi cairan memperbaiki hipovolemi atau mengatasi syok dan anemia a. Darah (harus diberikan darah secepatnya untuk menghindari syok dan anemia, mencegah terjadinya nekrosis korteks renalis karena penyempitan pembuluh darah ginjal akibat perdarahan atau tekanan intrauterin yang tinggi sehingga berakibat anuria/oligouria dan uremia) Mengganti darah yang hilang 1000-2000 ml (2-4 g fibrinogen)

Liat reaksi transfusi pada 50 ml pertama pada setiap kantong

darah dan beri Ca glukonas 10ml 10% IV setiap 3 kantong darah untuk mencegah terjadinya efek anti koagulasi akibat pemberian transfusi. b. Cairan Beri NaCl, RL, Dekstrose, atau Aminofusin Jangan beri plasma ekspander karena akan terjadi reaksi

dengan fibrinogen c. Obat obatan blocker (obat antihipertensi yg membantu pembuluh darah tetap terbuka) DBP (dehydrobenzperidol) = Droperidol 2,5mg (1ml)/500ml Hydergin: 0,3-0,6 mg/500ml cairan infus cairan infus d. Obat obatan kortikosteroid (untuk antiinflamasi, mencegah retensi Na dan mempertahankan ketahanan kapiler) Dexamethasone : 20mg/ampul dengan dosis 3-5 mg/kgBB IV lambat 3-5 menit, ulangi tiap 2-6 jam 2. Mengatasi kelainan pembekuan darah Periksa COT (Clot observation test) tiap 1 s/d 4 jam pasca persalinan a. b. Dextrose 5% c. untuk 4 jam d. 3. Transamin 10-15 ml IV/infus Mengatasi kelainan ginjal Trasylol 500.000 U selanjutnya 200.000 Darah segar Fibrinogen 4g (6-10g) dilarutkan dalan

a. b. 500ml 20% = 100g)

Darah segar/RL untuk mempertahankan Hct Manitol: dosis maksimal 200g/menit (1 botol= 12,5 g (57ml) infus 5 menit, jika diuresis >60ml/jam 20g (100ml) infus 5-10 menit, sampai diuresis 100ml/jam Diuresis dipertahankan dengan pemberian Lasix 80-120 mg IV

>30% dan diuresis >1ml/menit

teruskan sampai 100ml/jam - Terapi Aktif Prinsipnya melakukan tindakan agar anak segera dilahirkan dan perdarahan berhenti, misalnya dengan operatif obstetrik. Langkah-langkahnya : a) Amniotomi dan pemberian oksitosin kemudian diawasi serta pimpin partus spontan. b) Bila pembukaan sudah lengkap atau hampir lengkap dan kepala sudah turun sampai Hodge III IV , maka bila janin hidup, lakukan ekstraksi vakum atau forsep, tetapi bila janin meninggal, lakukanlah embriotomi. c) Seksio sesarea biasanya dilakukan pada: Solusio plasenta dengan anak hidup, pembukaan kecil Solusio plasenta dengan toksemia berat, perdarahan agak banyak, tetapi pembukaan masih kecil Solusio plasenta dengan panggul sempit atau letak lintang d) Histerektomi dapat dipertimbangkan bila terjadi afibrinogemia dan kalau persediaan darah atau fibrinogen tidak ada atau tidak cukup. G. KONSEP ASUHAN KEBIDANAN PADA SOLUSIO PLASENTA 1. DATA SUBJECTIVE

Data subjective diperoleh dari anamnesa terhadap ibu sendiri atau dari keluarganya Anamnesa Tanggal : untuk mengetahui kapan anamnesa dilakukan. Pukul Oleh : untuk mengetahui waktu anamnesa dilakukan. : untuk mengetahui siapa yang melakukan anmnesa.

1. Biodata / Identitas Nama klien dan suami : untuk dapat mengenal atau memanggil ibu sehingga terbina hubungan komunikasi yang baik serta mencegah kekeliruan bila ada nama yang sama. Umur klien dan suami : untuk mengetahui resiko tinggi atau rendahnya kehamilan pada ibu. Menurut pendapat para ahli, kehamilan pertama yang baik antara usia 19 sampai 35 tahun. Karena otot masih berfungsi sangat elastic dan mudah renggang. Frekuensi solusio plasenta tertinggi pada usia >35 th terutama 40th Suku /bangsa : untuk mengetahui rhesus klien. Agama : mengetahui keyakinan klien dan menghargai setiap aktivitas klien yang menyangkut keyakinan agamanya. Pendidikan : tingkat pendidikan mempengaruhi perilaku kesehatan seseorang dan sebagai dasar dalam memberikan KIE. Pekerjaan : untuk mengetahui taraf ekonomi sosial klien dan untuk mengetahui apakah pekerjaan klien mengganggu kehamilannya. Taraf ekonomi rendah berdampak terjadi gizi buruk pada ibu. Kekurangan gizi atau gizi buruk merupakan salah satu faktor predisposisi solusio plasenta. Alamat : mengetahui tempat tinggal, menjaga kemungkinan jika ada nama Ibu yang sama, dan memudahkan untuk pemantauan dan berkomunikasi.

No. Telp : memudahkan berkomunikasi.

2. Keluhan utama : untuk mengetahui kondisi kesehatan ibu apakah ada masalah pada kehamilan ini. Pada solusio plasenta ringan umumnya ibu tidak merasakan gejala klinis yang jelas, hanya mengatakan terdapat perdarahan sedikit, tetapi pada solusio plasenta sedang sampai berat ibu sering mengatakan bahwa merasa sakit yang tibatiba di perut, kadang-kadang bisa melokalisir tempat mana yang paling sakit, dimana plasenta terlepas. Ibu juga mengatakan bahwa terjadi perdarahan yaitu darah segar dan bekuan darah (jika perdarahan keluar). Ibu mengatakan bahwa pergerakan anak mulai hebat kemudian terasa pelan dan akhirnya berhenti atau tidak bergerak lagi dan kepala terasa pusing, lemas, muntah, pucat, pandangan berkunang-kunang. 3. Alasan Kunjungan : untuk mengetahui alasan klien datang ke pelayanan ANC dan mengetahui apakah ini kunjungan awal, ulang atau kunjungan akhir. Pada solusio plasenta ibu mengatakan alasan kunjungan karena ingin mendapat pelayanan kesehatan setelah terdapat gejalagejala yang membuat ibu takut atau khawatir akan keadaan janinnya. 4. Riwayat Menstruasi Menarche Siklus Banyaknya Lamanya Sifat Darah : normalnya 10-16 tahun (+ 12,5 thun) : normalnya 25-32 hari (+ 28 hari ) : normalnya 2 3 pembalut/hari : normalnya 5 7 hari. (+ 7 hari ) : normalnya bau anyir dan warna merah

Teratur/Tidak : normalnya teratur Dismenorhea : normalnya sebelum/ saat/ setelah haid

Fluor albus HPHT

: normalnya tidak berbau, tidak berwarna dan tidak gatal. : menurut Sarwono, 2008, dapat dijabarkan untuk memperhitungkan tanggal tafsiran persalinan bila siklus haid + 28 hari, rumus yang dipakai adalah rumus Neagle yaitu hari + 7, bulan 3, dan tahun + 1.

5.

Riwayat Obstetri Lalu Menguraikan tentang Kehamilan yang lalu (dari suami ke berapa, anak ke berapa, umur kehamilannya, adakah penyulit atau tidak). Pada multiparietas dengan anak > 7 itu merupakan faktor predisposisi solusio plasenta. Persalinan yang lalu (penolong, jenis persalinan, tempat, dan penyulitnya). Pada solusio plasenta, trauma kelahiran juga merupakan faktor predisposisi. Bayi/Anak hidup/mati) Nifas yang lalu (apa penyulitnya dan berapa lama pemberian ASI) KB yang digunakan. (jenis kelamin, berat badan, panjang badan,

6.

Riwayat Kehamilan ini 6.1 Klien mengatakan bahwa kehamilan ini adalah kehamilan yang ke .. dan UK .. minggu. Kehamilan dengan solusio plasenta terjadi pada usia kehamilan lebih dari 28 minggu 6.2 Keluhan pada trimester I :

Pada kehamilan normal terjadi chloasma gravidarum, mual, muntah (hilang pada kehamilan 12-14 minggu), sering kencing, pusing, ngidam, obstipasi. Komplikasi yang mungkin terjadi trimester ini adalah mual muntah yang berlebihan (hiperemesis gravidarum), perdarahan (abortus/ molahidatidosa), nyeri perut yang berlebihan (KET), oedema pada tungkai (penyakit jantung).

Keluhan pada trimester II :

Komplikasi yang sering muncul pada kehamilan normal TM 2 adalah nyeri ulu hati, konstipasi, kejang kaki, nyeri pangkal paha, ngidam, nafsu makan bertambah, oedem, perdarahan hidung dan gusi dan kongesti hidung. o Keluhan pada trimeseter III :

Pada kehamilan normal terjadi sakit punggung, konstipasi, kram kaki, sering kencing, varises, sesak dada, nyeri ulu hati, keputihan, dihantui kecemasan, oedem, gangguan psikis, anemia, dan sulit tidur. Pada solusio plasenta biasanya keluhannya perut tegang, terdapat perdarahan, pusing, lemas, muntah, pandangan berkunang-kunang. sedikit. 6.3 Pergerakan anak pertama kali (Quickening) : Jika sudah terasa, tanyakan kapan terakhir bergerak dan tanyakan berapa kali bergerak dalam 24 jam terakhir. Pada Primigravida Tapi pada solusio plasenta ringan biasanya ibu hanya mengeluh perut sakit dan ada perdarahan

pergerakan anak pertama kali pada minggu ke 18-20 sedangkan pada multigravida pada minggu ke 16-18. Pada solusio plasenta ibu akan mengatakan bahwa pergerakan anak mulai hebat kemudian terasa pelan dan akhirnya tidak bergerak. Tapi pada solusio plasenta ringan pergerakan anak masih bagus. 6.4 Imunisasi TT yang sudah pernah dilakukan Imunisasi yang dianjurkan adalah imunisasi TT, imunisasi ini diberikan untuk mencegah tetanus pada bayi baru lahir dan pada ibu bersalin. Antigen TT 1 TT 2 TT 3 TT 4 TT 5 Interval Kunjungan ANC 4 minggu setelah TT 1 6 bulan setelah TT 2 1 tahun setelah TT 3 1 tahun setelah TT 3 Lama perlindungan 3 tahun * 5 tahun 10 tahun 25 tahun / seumur % perlindungan 80 95 99 99

hidup *Apabila dalam waktu 3 tahun WUS tersebut melahirkan, maka bayi yang dilahirkan akan terlindung dari TN (Tetanus Neonatorum) 6.5 Penyuluhan yang sudah (bila sudah dicek kembali) didapatkan: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Persiapan persalinan. Enam Tanda bahaya / kegawatdaruratan obstetri dan cara Persiapan komplikasi. Kebersihan. Istirahat. Aktivitas. Gerakan Janin. Obat dalam kehamilan.

mengatasinya

9. 10. 11. 12. 13. 7

Pentingnya Imunisasi TT Pemenuhan kebutuhan cairan. Nutrisi Pemberian tablet Fe. Jadwal kunjungan berikutnya

Riwayat Kesehatan Klien yang sedang diderita dan yang pernah diderita. Menguraikan tentang penyakit sistemik yang sedang diderita ibu dan yang pernah diderita ibu antara lain : Jantung :

Bila ditandai dengan mudah lelah, Jantung berdebar, sesak napas, angina pektoris, pembesaran vena jugularis, oedema, tangan berkeringat, hepatomegali, takhikardi, kardiomegali waspada penyakit jantung. Pertambahan denyut jantung dapat menguras cadangan kekuatan jantung sehingga terjadi payah jantung. Jika sebelumnya ibu telah mempunyai penyakit jantung, ini merupakan faktor yang sangat berpengaruh terjadinya solusio plasenta. Hipertensi : Hipertensi dapat dibagi dua yaitu hipertensi essential dan hipertensi ganas, pada hipertensi essential ( sejak sebelum hamil) tekanan darah mencapai lebih dari 140/90 sampai 160/100 mmHg, sedangkan hipertensi ganas tekanan darah sistole dapat lebih dari 200 mmHg. Jika ibu mempunyai penyakit hipertensi, ini merupakan kejadian ini. faktor yang sangat berpengaruh sebagai penyebab dalam kejadian solusio plasenta dan memperparah

Asma

Bila ditandai dengan napas pendek, berbunyi (wheezing), batukbatuk (tersering pada malam hari), napas atau dada seperti tertekan. Penyakit ini kadang-kadang bertambah berat atau malah berkurang. Dalam batas wajar penyakit asma tidak banyak berpengaruh terhadap kehamilan namun asma yang berat dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin karena pada rahim terdapat gangguan pertukaran O2 dan CO2. Diabetes Melitus :

Bila ada tiga tanda utama yang biasanya terdapat pada penderita diabetes melitus yaitu poliuri (sering kencing), polidipsi (sering haus) dan poliphagi (sering lapar). Jika Ibu hamil menderita DM maka dapat terjadi gangguan pertumbuhan janin dalam rahim dan menimbulkan preeclampsia. Sedangkan pada bayi dapat terjadi dismaturitas, cacat bawaan, keguguran, dan IUFD. Diabetes melitus juga merupakan faktor predisposisi solusio plasenta. Ginjal :

Bila ditandai dengan fatigue, malaise, gagal tumbuh, pucat, lidah kering, poliguria, hipertensi, proteinuria, nokturia. waspada penyakit. Jika ibu mempunyai penyakit ginjal, hal ini akan memperparah penyakit tersebut, mengingat efek solusio plasenta pada ginjal. Hepatitis :

Bila terdapat anoreksia, mual, muntah, febris, hepatomegali, ikterus.

TBC

Bila pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda-tanda infiltrat (redup, bronkial, ronki basah), tanda-tanda penarikan paru, diafragma, dan mediastinum, batuk yang lama terutama pada malam hari, pembesaran kelenjar limfe. Thypoid : Menyebabkan BBLR 8. Riwayat Kesehatan dan Penyakit Keluarga Mengkaji tentang riwayat kesehatan keluarga antara lain : Jantung :

Bila ditandai dengan mudah lelah, Jantung berdebar, sesak napas, angina pektoris, pembesaran vena jugularis, oedema, tangan berkeringat, hepatomegali, takhikardi, kardiomegali waspada penyakit jantung. Penyakit jantung merupakan penyakit yang dapat menurun, jd kl ibu mempunyai riwayat penyakit ini kemungkinan ibu juga menderita penyakit ini jadi perlu diwaspadai karena penyakit jantung ini merupakan faktor yang sangat berpengaruh terjadinya solusio plasenta. Hipertensi : Hipertensi dapat dibagi dua yaitu hipertensi essential dan hipertensi ganas, pada hipertensi essential ( sejak sebelum hamil) tekanan darah mencapai lebih dari 140/90-160/100 mmHg,

sedangkan hipertensi ganas tekanan darah sistole dapat lebih dari 200 mmHg. Hipertensi merupakan penyakit yang dapat menurun, jd kl ibu mempunyai riwayat penyakit ini kemungkinan ibu juga menderita penyakit ini jadi perlu diwaspadai karena hipertensi merupakan faktor yang sangat berpengaruh terjadinya solusio plasenta dan memperparah terjadinya solusio plasenta. Asma : Bila ditandai dengan napas pendek, berbunyi (wheezing), batukbatuk (tersering pada malam hari), napas atau dada seperti tertekan. Asma merupakan penyakit keturunan. DM :

Bila ada tiga tanda utama yang biasanya terdapat pada penderita diabetes mellitus yaitu poliuri(sering kencing), polidipsi (sering haus) dan poli phagi (sering lapar). Penyakit DM merupakan penyakit yang dapat menurun, jd kl ibu mempunyai riwayat penyakit ini kemungkinan ibu juga menderita penyakit ini jadi perlu diwaspadai karena penyakit DM ini merupakan faktor predisposisi terjadinya solusio plasenta. Ginjal :

Bila ditandai dengan fatigue, malaise, gagal tumbuh, pucat, lidah kering, poliguria, hipertensi, proteinuria, nokturia. waspada penyakit. Hepatitis : Bila terdapat anoreksia, mual, muntah, febris, hepatomegali, ikterus. Hepatitis merupakan penyakit yang dapat menular.

TBC

Bila pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda-tanda infiltrat (redup, bronkial, ronki basah), tanda-tanda penarikan paru, diafragma, dan mediastinum, batuk yang lama terutama pada malam hari, pembesaran kelenjar limfe. Penderita TBC pada keluarga penlu dihindari karena bisa menular pada ibu hamil. Gemelli : Bila anggota keluarga ada yg memiliki anak gemelli baik dari pihak isteri dan atau suami. Gemeli bisa menurun pada saudara lainnya. 9. Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari (Sebelum dan selama hamil) 1. Pola Nutrisi : Normalnya makan 3x sehari dengan men seimbang (nasi, lauk, sayur, buah, dan susu). Jumlah tambahan kalori yang dibutuhkan pada ibu hamil adalah 300 kalori per hari, dengan komposisi menu seimbang (cukup mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, air). Minum : normalnya 8 gelas/hari ( susu/air/teh ) Faktor predisposisi solusio plasenta adalah gizi buruk atau kekurangan gizi. 2. Pola Eliminasi : Menguraikan miksi dan defekasi setiap hari dan keluhan serta masalah yang terjadi. Normalnya BAK : 6-8 kali per hari, jernih dan bau khas. Sedangkan BAB normalnya kurang lebih 1x hari dengan konsistensi lembek dan warna kuning. 3. Pola Istirahat :

Menguraikan tentang berapa lama ibu beristirahat dalam istirahat siang 1-2 jam dan istirahat malam 6-8 jam.

sehari

dibagi menjadi istirahat siang dan istirahat malam. Normalnya,

4.

Pola Aktivitas : Menguraikan aktivitas yang dilakukan sehari-hari (berat ringannya aktivitas) dan macam-macam aktivitas yang dilakukan.

5.

Aktivitas Seksual : Hubungan seksual masih tetap diperbolehkan kecuali pada ibu yang pernah mengalami keguguran, namun beberapa wanita kehilangan gairah seksualnya ketika hamil. (Wendy Rose-Neil, 1995:49). Normalnya boleh dilakukan pada kehamilan trimester II dan awal trimester III. Sebaiknya hubungan seksual diperbolehkan setelah kehamilan 16 minggu, karena pada saat itu plasenta sudah terbentuk. Pada akhir kehamilan hubungan seksual sebaiknya dihindarkan jika ketuban pecah. Pada trimester 1 hasrat untuk melakukan hubungan seksual berbeda-beda, pada trimester II terjadi peningkatan libido. Pada pasien solusio plasenta apabila timbul perdarahan segera bawa ke rumah sakit dan tidak boleh melakukan senggama.

6.

Pola Kebiasaan

Menguraikan tentang kebiasaan kebiasaan ibu selama dan sebelum hamil antara lain : merokok, minum-minuman keras beralkohol, obatobatan dan sejenisnya, jamu-jamuan serta binatang peliharaannya Merokok Alkohol Narkoba Obat-obatan : tidak pernah : tidak pernah : tidak pernah : tidak pernah

Jamu-jamuan

: tidak pernah

Binatang peliharaan : tidak ada merokok, alkohol dan penyalahgunaan obat

Kebiasaan 10. Riwayat Sosial

merupakan faktor predisposisi terjadinya solusio plasenta.

Menguraikan tentang status perkawinan (usia Ibu saat menikah dan lama menikah), reaksi keluarga dan orang tua terhadap kehamilannya (apakah kehamilan ini direncanakan atau tidak), serta mengetahui tradisi yang menguntungkan atau merugikan saat hamil. 11. Status Emosional Pola status emosional ditanyakan perasaan ibu pada kehamilan ini.

2.DATA OBJECTIVE Data ini diperoleh melalui pemeriksaan fisik secara inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi, pemeriksaan darah dalam dan pemeriksaan laboratorium. 1. Pemeriksaan Umum Keadaan umum : baik, kurang, jelek. Pada solusio plasenta keadaan umum kurang sampai jelek Kesadaran TTV : TD : normalnya 110/70 120/80 mmHg. Pada solusio plasenta tensi semula semakin tinggi tapi lambat laun turun dan pasien syok. Suhu infeksi. : normalnya 36,5 37,50C untuk mengetahui adanya tanda -tanda infeksi. 380C dianggap tidak normal dan ada tanda : composmentis, apatis, somnolent, sopor, koma.

Nadi

: normalnya 60 100 kali/menit. (reguler/ ireguler)

Jika nadi Ibu > 100kali/menit mungkin ibu mengalami salah satu atau lebih keluhan seperti tegang, takut, cemas, perdarahan, gangguan Thyroid, anemia, demam, gangguan jantung. Pada solusio plasenta banyak ditemukan nadi cepat, kecil atau melemah, dan filiformis. Respiration Rate (pernafasan) gangguan pada mukosa hidung Berat Badan : Dilakukan setiap kali kunjungan untuk mengetahui pertambahan berat badan ibu. Normalnya kenaikan BB pada TM 1 adalah 1-2 kg, pada TM II adalah 5 kg, sedangkan pada TM III tidak boleh naik 0.5 kg tiap minggu. Normalnya BB selama kehamilan meningkat 10-12 kg. Kekurangan nutrisi dapat menyebabkan anemia, abortus, partus prematurus, insersia uteri. Faktor predisposisi solusio plasenta adalah gizi buruk atau kekurangan gizi. Tinggi Badan : dilakukan sekali pada kunjungan pertama. Normalnya > 145 cm. Jika diketahui Bumil dengan TB < 145cm kemungkinan punya panggul sempit. Lila : normalnya > 23,5 cm. Jika < 23,5 cm merupakan indikator Ibu kurang gizi sehingga beresiko terjadinya plasenta previa. Cara pengukuran LILA Tentukan posisi pangkal bahu Tentukan posisi ujung siku dengan cara siku dilipat dengan telapak tangan ke arah perut. : normalnya 16 24 kali/menit. Pernafasan bisa terganggu bila hidung tersumbat dan adanya

Tentukan titik tengah antara pangkal bahu dan ujung siku dengan menggunakan pita LILA atau meteran. Beri tanda dengan spidol. Lingkarkan pita LILA sesuai tanda pulpen di sekeliling lengan Ibu sesuai tanda (pertengahan antara pangkal bahu dan siku). Masukkan ujung pita di lubang yang ada pada pita LILA. Tarik pita perlahan, jangan terlalu ketat atau longgar. Baca angka yang ditunjukkan oleh tanda panah pada pita LILA. (Depkes RI, 2007) 2. Pemeriksaan fisik 2.1. Inspeksi Batasan inspeksi adalah memeriksa klien dengan melihat atau memandang. Sedangkan tujuan umum adalah untuk melihat gejalagejala kehamilan dan untuk melihat adanya kelainan-kelainan pada : 1. Kepala : rambut bersih / tidak, warna, ada ketombe dan benjolan, jika ada rambut yang mudah dicabut maka pertanda kurang gizi. Wajah : pucat/tidak, adakah cloasma gravidarum (merupakan deposit pigmen yang berlebihan), oedem/ tidak. Pada solusio plasenta wajah terlihat pucat. Mata : bentuk simetris, konjungtiva normal warna merah muda, bila pucat manandakn anemia. Sklera normal berwarna putih, bila kuning menandakan ibu mungkin terinfeksi hepatitis, bila merah ada conjungtifitis, kelopak mata bengkak kemungkinan ada preeklamsi. 2. Mulut 3. Leher : bibir pucat/tidak, lidah pucat/tidak : adakah bendungan vena jugularis, pembesaran

kelenjar limfe dan pembesaran kelenjar thyroid.

4. Dada

:-

5. Abdomen : pembesaran sesuai usia kehamilan, ibu hamil pembesarannya membujur sebagai tanda letak bayi, adakah bekas jahitan SC, striae alba sebagai tanda pernah hamil yang lalu, striae lividae tanda primigravida, linea nigrae (garis antara sympisispusat yang tampak biru atau lebih hitam) dan linea alba (garis antara sympisis-pusat yang tampak putih), gerakan anak. Hiperpigmentasi terjadi akibat pengaruh hormon kortikosteroid plasenta yang merangsang Melanophore Stimulating Hormon (MSH) untuk memproduksi pigmen. Pada solusio plasenta sedang sampai berat, pembesaran uterus tidak sesuai umur kehamilan karena fundus uteri tambah naik yang disebabkan adanya hematoma retroplasenta. 6. Genetalia : vulva bersih atau adakah pengeluaran pervaginam (lendir, darah), adakah varises, adakah benjolan abnormal yang menentukan kelancaran jalan lahir, adakah kondiloma lata, adakah kondiloma akuminata, kebersihan, adakah infeksi kelenjar bartholini, adakah infeksi kelenjar skene, juga adanya luka perineum menandakan sudah pernah melahirkan. Pada solusio plasenta terlihat darah keluar pervaginam jika termasuk perdarahan keluar. 7. Anus : adakah hemoroid/tidak. 8. Ekstrimitas: adakah oedema pada ekstrimitas atas dan bawah (curiga preeklamsia), varises : ada atau tidak. 9. Punggung : mengetahui bentuk tulang belakang ibu saat hamil. Skoliosis : tulang belakang berbentuk seperti huruf S, Lordosis : tulang belakang bagian lumbal melengkung ke depan dan Kifosis : tulang belakang bagian lumbal melengkung ke belakang. Namun

kebanyakan ibu hamil cenderung mempunyai tulang belakang yang bersifat Lordosis karena mengimbangi perbesaran perut. 2.2. Palpasi 1. Leher 2. Dada 3. Abdomen 1. Leopold I : menetukan tinggi fundus uteri (TFU) dan bagian yang terdapat di fundus Normal : pada fundus teraba bokong, bagian yang tidak keras dan tidak melenting. Pada solusio plasenta fundus uteri tambah naik karena terbentuknya hematoma retroplasenta sehingga uterus tidak sesuai dengan umur kehamilan. Uterus teraba tegang dan keras seperti papan baik waktu his maupun diluar his. Bagian-bagian janin susah dikenali karena perut tegang. Nyeri tekan terutama di tempat plasenta lepas. 2. Leopold II : menentukan batas samping kanan/kiri perut ibu, keras seperti papan dan teraba bagian-bagian kecil. Normal : teraba punggung di sebelah kiri/kanan. Budine : pada letak membujur untuk lebih menentukan dimana punggung janin berada. Teknik : FU didorong ke bawah, badan janin akan melengkung sehingga punggung mudah ditetapkan. (Manuaba, 2008) Ahfeld Teknik : pinggir tangan kiri tegak di tengah perut, kira-kir di daerah pusat menekan ke bawah (arah punggung ibu), anak akan terdorong ke samping punggung hingga punggung lebih ::-

jelas. Bedakan rasa tahanan bila keras dan memanjang itu adalh punggung anak. (Christina S. 1993:134). Pada solusio plasenta uterus teraba tegang dan keras seperti papan baik waktu his maupun diluar his sehingga bagian-bagian janin susah dikenali karena perut tegang. 3. Leopold III : menentukan bagian terbawah janin, apakah sudah masuk PAP/ belum. Normalnya teraba keras, bundar dan melenting. Knebel : Menentukan letak kepala atau bokong dengan satu tangan di fundus dan tangan lain di atas simpisis. Pada solusio plasenta uterus teraba tegang dan keras seperti papan baik waktu his maupun diluar his sehingga bagianbagian janin susah dikenali karena perut tegang. 4. Leopold IV : menetukan seberapa jauh bagian terendah janin belum masuk PAP (convergen), sejajar (separuh turun), divergen (bagian besar janin turun). (Ida Bagus Manuaba, 2007) Osborn : Menentukan adanya indikasi kesempitan panggul TBJ :Bila bagian terendah janin sebagian besar sudah masuk PAP maka TBJ = (TFU-11) x 155 Bila bagian terendah janin sebagian kecil masuk PAP maka TBJ = (TFU-12) x 155 Bila bagian terendah janin belum masuk PAP maka TBJ = (TFU-13) x 155

Pada solusio plasenta uterus teraba tegang dan keras seperti papan baik waktu his maupun diluar his sehingga bagianbagian janin susah dikenali karena perut tegang. 2.3. Auskultasi Abdomen : DJJ terdengar jelas dan teratur di punctum maximum bagian kanan/kiri perut ibu bawah pusat. DJJ baru terdengar pada primigravidarum umur kehamilan 18 20 minggu. Sedangkan pada multi pada umur kehamilan 16 minggu. Normal DJJ 120 160x/ menit, jika 120 atau 160 merupakan tanda fetal distress. Pada solusio plasenta auskultasi sulit karena uterus tegang. Bila denyut jantung janin terdengar biasanya diatas 140 dpm, kemudian turun dibawah 100 dpm dan akhirnya hilang bila plasenta yang terlepas lebih dari sepertiga. 2.4. Perkusi Pemeriksaan refleks patella normalnya (+)/(+). Tangkai bawah akan bergerak sedikit ketika tendon diketuk. Bila gerakannya berlebihan dan cepat maka hal ini mungkin pertanda adanya preeklampsia.

3. Pemeriksaan Penunjang 3.1. Pemeriksaan laboratorium : Darah 1. Hb : batas terendah untuk kadar Hb dalam kehamilan adalah 10 gr/100 ml. Jika Hb < 10gr% maka Ibu disebut anemia. Hb 10 12 gr/% pada Bumil bukan anemia patologis tetapi masih fisiologis karena terjadi

hemodelusi (kadar hb tetap namun ada peningkatan jumlah plasma pada darah). Pada solusio plasenta Hb menurun, periksa golongan darah kalau bisa cross match test. Karena pada solusio plasenta sering terjadi kelainan pembekuan darah yaitu hipofibrinogenemia, maka diperiksakan pula COT (Clot Observation Test) tiap 1jam, tes kualitatif fibrinogen 2. Golongan darah (fiberindex), dan tes kuantitatif fibrinogen (kadar normalnya 150mg%). : A / B / AB / O Mengetahui lebih awal golongan darah pada ibu hamil Urin 1. Reduksi urin 2. Albumin 3. Hbs Ag : normalnya negatif : normalnya negatif : normalnya negative

Pada solusio plasenta albumin positif dan pada pemeriksaan sedimen terdapat silinder dan leukosit. 3.2 Pemeriksaan Lain (atas advise dokter ahli) 1. USG plasenta. 2. Foto lain : oleh DSOG ( jika diperlukan ) 3. NST : oleh DSOG ( jika diperlukan ) 3.3 Pemeriksaan Panggul Luar Distansia Spinarum : Jarak antara spina iliaca superior kanan dan kiri, normalnya 23-26 cm Distansia Cristarum : Jarak yang terpanjang antara krista iliaca kanan dan kiri, normalnya 26-29 cm. Jika < 2-3cm dari ukuran normmal maka ada kemungkinan panggul pathologis : oleh DSOG untuk mengetahui letak implantasi

Conjugata Externa (Boudeloque) : Jarak antara bagian atas simpisis dengan lumbal 5, normalnya 18-20 cm Lingkar Panggul : Dari pinggir atas symphisis ke pertengahan antara spina iliaca anterior superior dan trokantor mayor dan kembali melalui tempat-tempat yang sama di bagian lain, normalnya 80-90 cm 3.ASSESMENT 1. Identifikasi Diagnosa dan Masalah (Interpretasi Data Dasar) Langkah ini diambil berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan kepada pasien. Diagnosa : G: ..... P: .... UK: ... minggu, tunggal/ ganda, hidup/ mati, intrauterin / ekstrauterin, letak kepala / bokong / kaki, kesan jalan lahir normal / tidak, keadaan umum ibu baik / tidak, dengan solusio plasenta...... 2. Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial Langkah ini diambil berdasarkan diagnosa atau masalah yang telah ditemukan berdasarkan data yang ada kemungkinan menimbulkan keadaan yang gawat. Pada solusio plasenta diagnosa potensial terjadi syok hipovolemik (jika perdarahan), anemia (jika perdarahan), syok neurogenik (jika nyeri) tergantung pengkajian data obyektif dan subyektif). 3. Identifikasi Kebutuhan Tindakan Segera Mencakup tentang tindakan segera untuk menangani diagnosa/masalah potensial yang dapat berupa konsultasi, kolaborasi dan rujukan. Pada solusio plasenta harus dirujuk dengan BAKSOKU.

4.

PLANNING

a. Beritahu hasil pemeriksaan kepada ibu R/ Bila mengetahui hasil pemeriksaan selain ibu dapat mengetahui perkembangan kehamilannya juga dapat melegakan perasaan ibu c. Beri dukungan kepada ibu R/ ibu menjadi lebih bersemangat lagi dalam menghadapi masalah yang di derita sekarang d. Informed concern

R/ Sebagai perlindungan hukum untuk memudahkan dalam setiap tindakan yang akan dilakukan karena telah mendapat persetujuan dari ibu atau pihak keluarga. e. Menyiapkan rujukan dengan BAKSOKU

R/ sebagai prosedur tetap dalam merujuk