Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN

PERFORASI GASTRIK

DI SUSUN OLEH :

NAMA : ANASTASIA VIYANI TOMO LAWA
KELAS : 2A
NIM : 1002004


STIKES BETHESDA YAKKUM
YOGYAKARTA


PENGERTIAN
PerIorasi gastrointestinal adalah penyebab umum dari akut abdomen. Penyebab perIorasi
gastrointestinal adalah : ulkus peptik, inIlamasi divertikulum kolon sigmoid, kerusakan akibat
trauma, perubahan pada kasus penyakit Crohn, kolitis ulserasi, dan tumor ganas di sistem
gastrointestinal. PerIorasi paling sering adalah akibat ulkus peptik lambung dan duodenum.
PerIorasi dapat terjadi di rongga abdomen (perIoratio libera) atau adesi kantung buatan
(perIoratiotecta).

Pada tahun 1799 gejala klinik ulkus perIorasi dikenali untuk pertama kali, meskipun baru
pada tahun 1892, Ludwig Hensner, seorang Jerman, pertama kali melakukan tindaka bedah
pada ulkus peptik lambung. Pada tahun 1894, Henry Percy Dean melakukan tindakan bedah
pada ulkus perIorasi usus kecil duodenum. Gastrektomi parsial, meskipun sudah dilaksanakan
untuk ulkus gaster perIorasi dari awal 1892, tidak menjadi terapi populer sampai tahun 1940.
Hal ini karena dirasakan adanya rekurensi yang tinggi dari gejala-gejala setelah perbaikan
sederhana. EIek Iisiologis vagotomi trunkal pada sekresi asam telah diketahui sejak awal
abad 19, dan pendekatan ini diperkenalkan sebagai terapi ulkus duodenum pada tahun 1940.
Perkembangan selanjutnya terapi ulkus peptik adalah diperkenalkannya vagotomi selektiI
tinggi pada akhir 1960. Namun, tidak ada satupun pencapaian ini yang terbukti berhasil, dan
beberapa komplikasi postoperatiI, termasuk angka rekurensi ulkus yang tinggi, telah
membatasi penggunaan teknik-teknik ini. Akhir-akhir ini, pada pasien dengan perIorasi
gaster, penutupan sederhana lebih umum dikerjakan daripada reseksi gaster.
PERFORASI GASTER

Pada orang dewasa, perIorasi ulkus peptik adalah penyebab umum dari morbiditas dan
mortalitas akut abdomen sampai sekitar 30 tahun lalu. Angka kejadian menurun secara
paralel dengan penurunan umum dari prevalensi ulkus peptik. Ulkus duodenum 2-3 kali lebih
sering dari perIorasi ulkus gaster. Sekitar satu pertiga perIorasi gaster berkaitan dengan
karsinoma gaster.
ANATOMI LAMBUNG

Lambung merupakan bagian sistem gastrointestinal yang terletak di antara esoIagus dan
duodenum. Dari hubungan anatomi topograIik lambung-duodenum dengan hati, pankreas,
dan limpa, dapat diperkirakan bahwa tukak peptik akan mengalami perIorasi ke rongga
sekitarnya secara bebas atau penetrasi ke dalam organ di dekatnya, bergantung pada letak
tukak.
Berdasarkan Iaalnya, lambung dibagi dalam dua bagian. Tiga perempat proksimal yang
terdiri dari Iundus dan korpus, berIungsi sebagai penampung makanan yang ditelan serta
tempat produksi asam lambung dan pepsin, sedangkan dinding korpus, apalagi antrum, tebal,
dan kuat lapisan ototnya.
Ciri yang cukup menonjol pada anatomi lambung adalah peredaran darahnya yang sangat
kaya dan berasal dari empat jurusan dengan pembuluh nadi besar di pinggir kurvatura mayor
dan minor serta dalam dinding lambung. Di belakang dan tepi madial duodenum, juga
ditemukan arteri besar (a.gastroduodenalis). Perdarahan hebat bisa terjadi karena erosi
dinding arteri itu pada tukak peptik lambung atau duodenum.

Vena dari lambung duodenum bermuara ke vena porta. Peredaran vena ini kaya sekali dengan
hubungan kolateral ke organ yang ada hubungan embrional dengan lambung dan duodenum.
Saluran limI dari lambung juga cukup rumit. Semuanya akan berakhir di kelenjar paraaorta
dan preaorta di pangkal mesenterium embrional. Antara lambung dan pangkal embrional itu
terdapat kelenjar limI yang letaknya tersebar di mana-mana akibat putaran embrional.
PersaraIan simpatis lambung seperti biasa melalui serabut saraI yang menyertai arteri. Impuls
nyeri dihantarkan melalui serabut eIeren saraI simpatis. Serabut parasimpatis berasal dari
n.vagus dan mengurus sel parietal di Iundus dan korpus lambung. Nervus vagus anterior
(sinister) memberikan cabang ke kandung empedu, hati dan antrum sebagai saraI Laterjet
anterior, sedangkan n.vagus posterior (dekstra) memberikan cabang ke ganglion seliakus
untuk visera lain di perut kan ke antrum sebagai saraI Laterjet posterior.
FISIOLOGI LAMBUNG

Fungsi utama lambung adalah penerima makanan dan minuman, dikerjakan oleh Iundus dan
korpus, dan penghancur dikerjakan oleh antrum, selain turut bekerja dalam pencernaan awal
berkat kerja kimiawi asam lambung dan pepsin.

Motilitas

Fungsi lambung yang berkaitan dengan gerakan adalah penyimpanan dan pencampuran
makanan serta pengosongan lambung. Kemampuan lambung menampung makanan mencapai
1500 ml karena mampu menyesuaikan ukurannya dengan kenaikan tekanan intraluminal
tanpa peregangan dinding (relaksasi reseptiI). Fungsi ini diatur oleh n.vagus dan hilang
setelah vagotomi. Ini antara lain yang mendasari turunnya kapasitas penampungan pada
penderita tumor lambung lanjut sehingga cepat kenyang.

Peristalsis terjadi bila lambung mengambang akibat adanya makanan dan minuman.
Kontraksi yang kuat pada antrum (dindingnya paling tebal) akan mencampur makanan
dengan enzim lambung, kemudian mengosongkannya ke duodenum secara bertahap. Daging
tidak berlemak, nasi, dan sayuran meninggalkan lambung dalam tiga jam, sedangkan
makanan yang tinggi lemak dapat bertahan di lambung 6-12 jam.
Cairan lambung

Cairan lambung yang jumlahnya bervariasi antara 500-1500 ml/hari mengandung lendir,
pepsinogen, Iaktor intrinsik dan elektrolit, terutama larutan HCl. Sekresi basal cairan ini
selalu ada dalam jumlah sedikit. Produksi asam merupakan hal yang kompleks, namun secara
sederhana dibagi atas tiga Iase perangsangan. Ketiga Iase, yaitu Iase seIalik, Iase gastrik, dan
Iase intestinal ini saling mempengaruhi dan berhubungan.

Fase seIalik

Rangsang yang timbul akibat melihat, menghirup, merasakan, bahkan berpikir tentang
makanan akan meningkatkan produksi asam melalui aktivitas n.vagus.
Fase gastrik

Distensi lambung akibat adanya makanan atau zat kimia, seperti kalsium, asam amino, dan
peptida dalam makanan akan merangsang produksi gastrin, reIleks vagus, dan reIlek
kolinergik intramural. Semua itu akan merangsang sel parietal untuk memproduksi asam
lambung.
Fase intestinal

Hormon enterooksintin merangsang produksi asam lambung setelah makanan sampai di usus
halus. Seperti halnya proses sekresi dalam tubuh, cairan lambung bertindak sebagai
penghambat sekresinya sendiri berdasarkan prinsip umpan balik. Keasaman yang tinggi di
daerah antrum akan menghambat produksi gastrin oleh sel G sehingga sekresi Iase gastrik
akan berkurang. Pada pH dibawah 2.5 produksi gastrin mulai dihambat.
ETIOLOGI
W PerIorasi non-trauma, misalnya :
akibat volvulus gaster karena overdistensi dan iskemia
spontan pasa bayi baru lahir yang terimplikasi syok dan stress ulcer.
Ingesti aspirin, anti inIlamasi non steroid, dan steroid : terutama pada pasien usia
lanjut.
Adanya Iaktor predisposisi : termasuk ulkus peptik
PerIorasi oleh malignansi intraabdomen atau limIoma
Benda asing (misalnya jarum pentul) dapat menyebabkan perIorasi esoIagus, gaster,
atau usus dengan inIeksi intraabdomen, peritonitis, dan sepsis.
W PerIorasi trauma (tajam atau tumpul), misalnya :
Trauma iatrogenik setelah pemasangan pipa nasogastrik saat endoskopi.
Luka penetrasi ke dada bagian bawah atau abdomen (misalnya tusukan pisau)
Trauma tumpul pada gaster : trauma seperti ini lebih umum pada anak daripada
dewasa dan termasuk trauma yang berhubungan dengan pemasangan alat, cedera
gagang kemudi sepeda, dan sindrom sabuk pengaman.
Dari hasil penelitian di RS Hasan Sadikin Bandung sejak akhir tahun 2006 terhadap 38 kasus
perIorasi gaster, 32 orang di antaranya adalah pengonsumsi jamu (84,2 persen) dan dari
jumlah itu, sebanyak 18 orang mengonsumsi jamu lebih dari 1 tahun (56,25 persen). Pasien
yang paling lama mengonsumsi jamu adalah sekitar 5 tahun. Frekuensi tersering
mengonsumsi jamu adalah seminggu tiga kali. Namun jamu yang mereka konsumsi adalah
jamu plus obat kimia atau yang sering dikenal dengan jamu oplosan.

Dari uji laboratorium, ternyata jamu tersebut mengandung bahan kimia. Sebagian besar zat
kimia tersebut merupakan golongan obat yang bersiIat antiperadangan dan antinyeri (anti-
inIlamasi) nonsteroid (NSAID) di antaranya Ienilbutazon, antalgin, dan natrium dicloIenac,
serta golongan obat anti-inIlamasi steroid di antaranya deksametosan dan prednisone
Ruptur lambung akan melepaskan udara dan kandungan lambung ke dalam peritoneum.
Pasien akan menunjukkan rasa nyeri hebat, akut, disertai peritonitis. Dari radiologis,
sejumlah besar udara bebas akan tampak di peritoneum dan ligamentum Ialsiparum tampak
dikelilingi udara.
PATHOFISIOLOGI
Dalam keadaan normal, lambung relatiI bersih dari bakteri dan mikroorganisme lain karena
kadar asam intraluminalnya yang tinggi. Kebanyakan orang yang mengalami trauma
abdominal memiliki Iungsi gaster normal dan tidak berada dalam resiko kontaminasi bakteri
setelah perIorasi gaster. Namun, mereka yang sebelumnya sudah memiliki masalah gaster
beresiko terhadap kontaminasi peritoneal dengan perIorasi gaster. Kebocoran cairan asam
lambung ke rongga peritoneal sering berakibat peritonitis kimia yang dalam. Jika kebocoran
tidak ditutup dan partikel makanan mencapai rongga peritoneal, peritonitis kimia bertahap
menjadi peritonitis bakterial. Pasien mungkin bebas gejala untuk beberapa jam antara
peritonitis kimia awal sampai peritonitis bakterial kemudian.

Adanya bakteri di rongga peritoneal merangsang inIluks sel-sel inIlamasi akut. Omentum dan
organ dalam cenderung untuk melokalisasi tempat inIlamasi, membentuk Ilegmon (ini
biasanya terjadi pada perIorasi usus besar). Hipoksia yang diakibatkan di area memIasilitasi
pertumbuhan bakteri anaerob dan menyebabkan pelemahan aktivitas bakterisid dari
granulosit, yang mengarah pada peningkatan aktivitas Iagosit granulosit, degradasi sel,
hipertonisitas cairan membentuk abses, eIek osmotik, mengalirnya lebih banyak cairan ke
area abses, dan pembesaran abses abdomen. Jika tidak diterapi, bakteremia, sepsis general,
kegagalan multi organ, dan syok dapat terjadi.
TANDA DAN GE1ALA

PerIorasi gaster akan menyebabkan peritonitis akut. Penderita yang mengalami perIorasi akan
tampak kesakitan hebat, seperti ditikam di perut. Nyeri ini timbul mendadak, terutama
dirasakan di daerah epigastrium karena rangsang peritoneum oleh asam lambung, empedu
dan/atau enzim pankreas. Cairan lambung akan mengalir ke kelok parakolika kanan,
menimbulkan nyeri perut kanan bawah, kemudian menyebar ke seluruh perut menimbulkan
nyeri seluruh perut. Pada awal perIorasi, belum ada inIeksi bakteria, Iase ini disebut Iase
peritonitis kimia. Adanya nyeri di bahu menunjukkan adanya rangsangan peritoneum di
permukaan bawah diaIragma. Reaksi peritoneum berupa pengenceran zat asam yang
merangsang itu akan mengurangi keluhan untuk sementara sampai kemudian terjadi
peritonitis bakteria.


Rangsangan peritoneum menimbulkan nyeri tekan dan deIans muskuler. Pekak hati bisa
hilang karena adanya udara bebas di bawah diaIragma. Peristaltis usus menurun sampai
menghilang akibat kelumpuhan sementara usus. Bila telah terjadi peritonitis bakteria, suhu
badan penderita akan naik dan terjadi takikardia, hipotensi, dan penderita tampak letargik
karena syok toksik.

Rangsangan peritoneum menimbulkan nyeri pada setiap gerakan yang menyebabkan
pergeseran peritoneum dengan peritoneum. Nyeri subjektiI dirasakan waktu penderita
bergerak, seperti berjalan, bernapas, menggerakkan badan, batuk, dan mengejan. Nyeri
objektiI berupa nyeri ketika digerakkan seperti pada saat palpasi, tekanan dilepaskan, colok
dubur, tes psoas, dan tes obturator.
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Sejalan dengan penemuan klinis, metode tambahan yang dapat dilakukan adalah : Ioto polos
abdomen pada posisi berdiri, ultrasonograIi dengan vesika urinaria penuh, CT-scan murni
dan CT-scan dengan kontras. Jika temuan Ioto Rontgen dan ultrasonograIi tidak jelas,
sebaiknya jangan ragu untuk menggunakan CT-scan, dengan pertimbangan metode ini dapat
mendeteksi cairan dan jumlah udara yang sangat sedikit sekali pun yang tidak terdeteksi oleh
metode yang disebutkan sebelumnya.
O Radiologi

PerIorasi gastrointestinal adalah penyebab umum dari akut abdomen. Isi yang keluar
dari perIorasi dapat mengandung udara, cairan lambung dan duodenum, empedu,
makanan, dan bakteri. Udara bebas atau pneumoperitoneum terbentuk jika udara
keluar dari sistem gastrointestinal. Hal ini terjadi setelah perIorasi lambung, bagian
oral duodenum, dan usus besar. Pada kasus perIorasi usus kecil, yang dalam keadaan
normal tidak mengandung udara, jumlah udara yang sangat kecil dilepaskan. Udara
bebas terjadi di rongga peritoneum 20 menit setelah perIorasi.
ManIaat penemuan dini dan pasti dari perIorasi gaster sangat penting, karena keadaan
ini biasanya memerlukan intervensi bedah. Radiologis memiliki peran nyata dalam
menolong ahli bedah dalam memilih prosedur diagnostik dan untuk memutuskan
apakah pasien perlu dioperasi. Deteksi pneumoperitoneum minimal pada pasien
dengan nyeri akut abdomen karena perIorasi gaster adalah tugas diagnostik yang
paling penting dalam status kegawatdaruratan abdomen. Seorang dokter yang
berpengalaman, dengan menggunakan teknik radiologi, dapat mendeteksi jumlah
udara sebanyak 1 ml. dalam melakukannya, ia menggunakan teknik Ioto abdomen
klasik dalam posisi berdiri dan posisi lateral decubitus kiri.
Untuk melihat udara bebas dan membuat interpretasi radiologi dapat dipercaya,
kualitas Iilm pajanan dan posisi yang benar sangat penting. Setiap pasien harus
mengambil posisi adekuat 10 menit sebelum pengambilan Ioto, maka, pada saat
pengambilan udara bebas dapat mencapai titik tertinggi di abdomen. Banyak peneliti
menunjukkan kehadiran udara bebas dapat terlihat pada 75-80 kasus. Udara bebas
tampak pada posisi berdiri atau posisi decubitus lateral kiri.

Pada kasus perIorasi karena trauma, perIorasi dapat tersembunyi dan tertutup oleh
kondisi bedah patologis lain. Posisi supine menunjukkan pneumoperitoneum pada
hanya 56 kasus. Sekitar 50 pasien menunjukkan kumpulan udara di abdomen atas
kanan, lainnya adalah subhepatika atau di ruang hepatorenal. Di sini dapat terlihat
gambaran oval kecil atau linear. Gambaran udara bentuk segitiga kecil juga dapat
tampak di antara lekukan usus. Meskipun, paling sering terlihat dalam bentuk seperti
kubah atau bentuk bulan setengah di bawah diaIragma pada posisi berdiri. Football
sign menggambarkan adanya udara bebas di atas kumpulan cairan di bagian tengah
abdomen.
O Ultrasonografi

UltrasonograIi adalah metode awal untuk kebanyakan kondisi akut abdomen.
Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi cairan bebas dengan berbagai densitas,
yang pada kasus ini adalah sangat tidak homogen karena terdapat kandungan
lambung. Pemeriksaan ini khususnya berharga untuk mendeteksi cairan bebas di
pelvik kecil menggunakan teknik kandung kemih penuh. Kebanyakan, ultrasonograIi
tidak dapat mendeteksi udara bebas.
O CT scan

CT scan abdomen adalah metode yang jauh lebih sensitiI untuk mendeteksi udara
setelah perIorasi, bahkan jika udara tampak seperti gelembung dan saat pada Ioto
rontgen murni dinyatakan negatiI. Oleh karena itu, CT scan sangat eIisien untuk
deteksi dini perIorasi gaster. Ketika melakukan pemeriksaan, kita perlu menyetel
jendelanya agar dapat membedakan antara lemak dengan udara, karena keduanya
tampak sebagai area hipodens dengan densitas negatiI. Jendela untuk parenkim paru
adalah yang terbaik untuk mengatasi masalah ini. Saat CT scan dilakukan dalam
posisi supine, gelembung udara pada CT scan terutama berlokasi di depan bagian
abdomen. Kita dapat melihat gelembung udara bergerak jika pasien setelah itu
mengambil posisi decubitus kiri. CT scan juga jauh lebih baik dalam mendeteksi
kumpulan cairan di bursa omentalis dan retroperitoneal. Walaupun sensitivitasnya
tinggi, CT scan tidak selalu diperlukan berkaitan dengan biaya yang tinggi dan eIek
radiasinya.
Jika kita menduga seseorang mengalami perIorasi, dan udara bebas tidak terlihat pada
scan murni klasik, kita dapat menggunakan substansi kontras nonionik untuk
membuktikan keraguan kita. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan udara
melalui pipa nasogastrik 10 menit sebelum scanning. Cara kedua adalah dengan
memberikan kontras yang dapat larut secara oral minimal 250 ml 5 menit sebelum
scanning, yang membantu untuk menunjukkan kontras tapi bukan udara. Komponen
barium tidak dapat diberikan pada keadaan ini karena mereka dapat menyebabkan
pembentukkan granuloma dan adesi peritoneum. Beberapa penulis menyatakan bahwa
CT scan dapat memberi ketepatan sampai 95.


KOMPLIKASI
W InIeksi Luka, angka kejadian inIeksi berkaitan dengan muatan bakteri pada gaster
W Kegagalan luka operasi
Kegagalan luka operasi (kerusakan parsial atau total pada setiap lapisan luka operasi) dapat
terjadi segera atau lambat

Faktor-Iaktor berikut ini dihubungkan dengan kegagalan luka operasi :

E Malnutrisi
E Sepsis
E Uremia
E Diabetes mellitus
E Terapi kortikosteroid
E Obesitas
E Batuk yang berat
E Hematoma (dengan atau tanpa inIeksi)
W Abses abdominal terlokalisasi
W Kegagalan multiorgan dan syok septikemia

Septikemia adalah proliIerasi bakteri dalam darah yang menimbulkan maniIestasi sistemik,
seperti kekakuan, demam, hipotermi (pada septikemia gram negatiI dengan endotoksemia),
leukositosis atau leukopenia (pada septikemia berat), takikardi, dan kolaps sirkuler.

Syok septik dihubungkan dengan kombinasi hal-hal berikut :

E Hilangnya tonus vasomotor
E Peningkatan permeabilitas kapiler
E Depresi myokardial
E Pemakaian leukosit dan trombosit
E Penyebaran substansi vasoaktiI kuat, seperti histamin, serotonin, dan prostaglandin,
menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler
E Aktivasi komplemen dan kerusakan endotel kapiler




O InIeksi gram-negatiI dihubungkan dengan prognosis yang lebih buruk dari gram-
positiI, mungkin karena hubungan dengan endotoksemia.
O Gagal ginjal dan ketidakseimbangan cairan, elektrolit, dan Ph
O Perdarahan mukosa gaster. Komplikasi ini biasanya dihubungkan dengan kegagalan
sistem multipel organ dan mungkin berhubungan dengan deIek proteksi oleh mukosa
gaster
O Obstruksi mekanik, sering disebabkan karena adesi postoperatiI
O Delirium post-operatiI. Faktor berikut dapat menyebabkan predisposisi delirium
postoperatiI:
o Usia lanjut
o Ketergantungan obat
o Demensia
o Abnormalitan metabolik
o InIeksi
o Riwayat delirium sebelumnya
o Hipoksia
o Hipotensi IntraoperatiI/postoperatiI
PENATALAKSANAAN

Penderita yang lambungnya mengalami perIorasi harus diperbaiki keadaan umumnya
sebelum operasi. Pemberian cairan dan koreksi elektrolit, pemasangan pipa nasogastrik, dan
pemberian antibiotik mutlak diberikan. Jika gejala dan tanda-tanda peritonitis umum tidak
ada, kebijakan nonoperatiI mungkin digunakan dengan terapi antibiotik langsung terhadap
bakteri gram-negatiI dan anaerob.
Tujuan dari terapi bedah adalah :
O Koreksi masalah anatomi yang mendasari
O Koreksi penyebab peritonitis
O Membuang setiap material asing di rongga peritoneum yang dapat menghambat
Iungsi leukosit dan mendorong pertumbuhan bakteri (seperti darah, makanan, sekresi
lambung).
Laparotomi dilakukan segera setelah upaya suportiI dikerjakan. Jahitan saja setelah eksisi
tukak yang perIorasi belum mengatasi penyakit primernya, tetapi tindakan ini dianjurkan bila
keadaan umum kurang baik, penderita usia lanjut, dan terdapat peritonitis purulenta. Bila
keadaan memungkinkan, tambahan tindakan vagotomi dan antrektomi dianjurkan untuk
mencegah kekambuhan.

PerIorasi gaster pada periode neonatal

Meskipun perIorasi gaster jarang terjadi, penyakit ini lebih sering terjadi pada anak daripada
dewasa, dan biasanya terjadi di ICU neonatal.

Tiga mekanisme telah diajukan untuk perIorasi gaster pada neonatal : traumatik, iskemik, dan
spontan. Etiologi spesiIik dapat sulit ditentukan karena bayi biasanya sakit dan patologi
aktual menyediakan hanya sedikit petunjuk. Kebanyakan perIorasi gaster adalah akibat
trauma iatrogenik.


Cedera paling umum adalah akibat pemasangan pipa orogastrik atau nasogastrik yang terlalu
bertenaga. PerIorasi biasanya di sepanjang kurvatura mayor dan tampak sebagai luka tusuk
atau laserasi pendek. PerIorasi gaster traumatik dapat muncul sebagai akibat distensi gaster
yang hebat selama ventilasi tekanan positiI selama resusitasi bag-mask atau ventilasi mekanik
untuk gagal napas.
Mekanisme perIorasi iskemik sulit diterangkan karena kasus ini dihubungkan dengan kondisi
stress Iisiologis berat seperti prematuritas hebat, sepsis, dan asIiksia neonatal. PerIorasi
gastrik iskemik telah dilaporkan dalam hubungan dengan enterokolitis nekrotikans. Karena
stress ulcer gaster telah dilaporkan pada berbagai bayi yang sakit kritis, telah diajukan bahwa
perIorasi gaster sebagai akibat dari nekrosis transmural.

PerIorasi gaster spontan pernah dilaporkan terjadi pada bayi yang sehat, biasanya dalam
minggu pertama kehidupan terutama antara hari ke 2 sampai ke 7. Istilah spontan menyatakan
penyebab yang bukan akibat enterokolitis nekrotikan atau iskemia, trauma dari intubasi
gastrik, obstruksi intestinal atau insuIlasi aksidental selama bantuan ventilasi. Meskipun
stress perinatal dan prematuritas tidak umum dihubungkan, tidak ada Iaktor predisposisi yang
dapat diidentiIikasi pada setidaknya 20 kasus.

Satu hipotesis adalah bahwa perIorasi spontan berkaitan dengan deIek kongenital dinding
muskuler gaster. Namun penemuan patologis yang sama belum pernah dilaporkan.
PerIorasi gastroduodenal telah dihubungkan dengan terapi steroid postnatal untuk mencegah
atau terapi BPD. Kebanyakan bayi diberi makan secara normal sampai saat terjadi perIorasi.
Gambaran patologis dan klinis konsisten dengan overdistensi mekanik daripada iskemia
sebagai penyebab perIorasi. Tanda dan gejala perIorasi gaster biasanya mereka dengan gejala
akut abdomen disertai sepsis dan gagal napas. Pemeriksaan abdominal adanya distensi
abdominal yang signiIikan. Vomitus adalah gejala yang tidak konsisten. KonIirmasi
radiograIi akan pneumoperitoneum masiI adalah sugestiI dan studi kontras untuk
mengkonIirmasi diagnosis tidak diindikasikan. Tanda-tanda syok hipovolemik dan sepsis
melengkapi gambaran klinik. PerIorasi pada bayi baru lahir merupakan kegawatdaruratan
bedah. Karena ukuran yang besar dan tempat perIorasi yang proksimal, bayi-bayi ini dapat
mendapat pneumoperitoneum dengan progresiIitas cepat yang dihubungkan dengan bahaya
kardiopulmoner.

Sebelum intervensi bedah, selama evaluasi dan resusitasi bayi, dekompresi jarum abdomen
dengan kateter intravena besar mungkin diperlukan. Pipa nasogastrik sebaiknya dipasang
ketika resusitasi cepat dikerjakan. Pada bayi dengan berat lahir yang sangat rendah yang
mengalami perIorasi terisolasi, drainse peritonel saja dapat encukupi. Udara bebas persisten
atau asidosis berkelanjutan dan bukti peritonitis mengamanatkan eksplorasi bedah. Perbaikan
bedah kebanyakan perIorasi terdiri dari debrideman dan penutupan dua lapis gaster. Suatu
gastrostomi mungkin menjamin. Reseksi lambung signiIikan sebaiknya dihindari. kerusakan
sering melibatkan dinding posterior lambung sepanjang kurvatura mayor membuat
pembagian omentum gastrokolik dan eksplorasi dinding lambung posterior diperlukan
bahkan jika gangguan ditemukan juga di dinding anterior. Area multipel dari cedera harus
dikecualikan. Terapi suportiI yang giat post operatiI bersama dengan penggunaan antibiotik
spektrum luas secara intravena diperlukan.

Faktor yang paling penting yang mempengaruhi angka ketahanan hidup tampaknya adalah
interval antara onset gejala dan dimulainya terapi deIinitiI, luas kontaminasi peritonel, derajat
prematuritas dan keparahan konsekuensi asIiksia. Berkaitan dengan masalah-masalah yang
berhubungan dengan sepsis dan gagal napas sering ditemukan pada bayi prematur, angka
mortalitas perIorasi gaster menjadi tinggi, berkisar antara 45 sampai 58.