Anda di halaman 1dari 47

LAPORAN KUNJUNGAN KEBUDAYAAN DAERAH KAMPUNG NAGA

Diajukan sebagai salah satu syarat kelulusan mata kuliah Kebudayaan Daerah semester genap tahun akademik 2007-2008

Disusun oleh : Muhammad Iqbal Lina Siti Aisah Intan Ramadani Florentina Andini Dewi Agustiyani Kelas Dosen : 073020063 : 073020084 : 073020058 : 073020069 : 073020055 : 073020078 : TP/A : Tata Abdullah Drs.,M.Si.

JURUSAN TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS PASUNDAN BANDUNG 2008

KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim Assalamualaikum Wr. Wb.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kunjungan Budaya Di zaman yang semakin berkembang seperti sekarang, kegiatan berwisata merupakan salah satu kebutuhan bagi orang per seorangan ataupun kelompok yang tidak hanya dilakukan di Indonesia tapi juga dilakukan hampir di seluruh belahan dunia. Kegiatan berwisata dilakukan apabila seseorang merasa jenuh akan aktivitas rutin yang dilakukan setiap hari, ingin memenuhi rasa ingin tahu, mengisi kekosongan waktu, memenuhi daya fantasi, ingin melihat kebudayaan yang berbeda, dan ingin menghibur diri. Dari beberapa faktor di atas, individu yang akan melakukan wisata ini pastinya akan memilih daerah tujuan wisata yang memiliki kualitas yang baik tidak hanya dari segi sarana-prasarana saja karena kenyamanan para pengunjung suatu obyek dan daya tarik wisata ditentukan oleh layak atau tidaknya sarana-prasarana yang tersedia tapi juga dari segi manfaatnya dan tentunya yang sesuai dengan minat berwisata mereka. Seperti halnya dengan orang yang senang akan petualangan pasti akan memilih tempat wisata ke pegunungan atau sungai

berarus deras untuk bermain arung jeram dan lain sebagainya. Pada kesempatan kali ini kami akan mengangkat sebuah laporan tentang kebudayaan Sunda yang berada di dataran tanah Pasundan. Banyak sekai nilai-nilai kebudayaan yang terdapat di daerah Sunda, sebagai salah satu contoh kita lihat saja kebudayaan yang terdapat di daerah atau wilayah kampung Naa yang terletak di desa Neglasari, Saluwu, kab.Dati II Tasikmalaya-Jawa barat, yang terkena masih konsen sekali memegang adat-adat budaya sunda. Adapun kami melakukan kunjungan tersebut ialah keingin tahuan kami akan perkembangan kebudayaan yang terdapat di Kampung Naga tersebut yang sebagian besar penduduk disana masih memegang adat istiadat dan kepercayaan nenek moyangnya dan masih sangat jauh dari pengaruh budaya dari luar. Adapun yang menjadi latar belakang kunjungan budaya kami ke kampung Naga yaitu untuk meneliti serta mengamati secara langsung unsur-unsur kebudayaan yang terdapat di daerah tersebut sehingga kami bisa mempelajari, serta menghayati serta meyakini nilai-nilai

positif dari budaya sunda itu, agar bisa kami aplikasikan kedalam kehidupan sehari-hari. 1.2 Maksud dan Tujuan Tujuan dilaksanakannya kunjungan tersebut dimaksudkan untuk memenuhi salah satu tugas kami yang diberikan oleh dosen mata kuliah Ilmu Budaya Sunda sebagai bagian dari persyaratan dalam kelulusan akhir mata kuliah ini di lingkungan Fakultas Teknik khususnya jurusan Teknologi Pangan Universitas Pasundan Bandung. Adapun maksud dilaksanakannya kunjungan budaya ke kampung Naga, Tasikmalaya ini diantaranya adalah : 1. Agar mahasiswa/i mengenal dan mencintai budaya-budaya daerah yang ada di indonesia, khususnya budaya sunda. 2. Mengetahui bagaimana gambaran secara umum dan spesifikasinya dari kondisi dan keanekaragaman budaya di kampung naga. 3. Mengetahui bagaimana masyarakat kampung naga dalam mempertahankan adat istiadat dari nenek moyang mereka.

4. Mengetahui bagaimana pola pikir masyarakat

kampung naga dalam menghadapi kemajuan lobalisasi yang semakin maju. 5. Menciptakan mahasiswa/i yang mampu menyerap nilai-nilai budaya sunda dan merealisasikan dalam kehidupan sehari-hari. 6. Menciptakan mahasiswa/i yang mampu mentransformasikan nilai-nilai budaya sunda ke tingkat nasional maupun tingkat Internasional. 7. Memperkenalkan budaya sunda yang masih asli kepada orang lain khususnya mahasiswa/i yang bukan dari daerah sunda. 1.3 Kegunaan Kunjungan Budaya kegunaan kunjungan ini adalah untuk lebih mengenal dan mengetahui akan keanekaragaman budaya masyarakat sunda khususnya kampung naga dan budaya indonesia pada umumnya, sehingga timbul rasa kasih sayang dan cita terhadap budaya sendiri dari setiap mahasiswa/i sehingga dari tiap mahasiswa dapat melestarikan kebudayaannya dan memberdayakan nilainilai budaya tersebut untuk di realisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

1.4 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Pelaksaaan kunjungan budaya yang kami laksanakan dengan kelompok lain yang terbagi dalam kelas TP-A dan TP-B dibawah koordinasi saudara Tresna dan kepanitiannya serta di bimbing oleh bapak Tata Abdulah, Drs.,MSi selaku dosen mata kuliah kebudayaan daerah. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari minggu tanggal 18 Mei 2008 ke daerah Kampung Naga Desa Neglasari kec.Salahu Kab. Tasikmalaya. 1.5 Ruang Lingkup Masalah Ruang lingkup permasalahan dalam penyusunan laporan ini adalah sebagai berikut: 1. Gambaran umum lokasi kampung Naga yang terdiri dari letak dan keadaan alam, asal usul berdiri atau munculnya kampung Naga, kepercayaan agama, keadaan penduduk, mata pencaharian dan tingkat/jenjang pendidikan pendudukannya serta kondisi tempat tinggal dan sosial masyarakatnya juga bagaimana jenis rumah dan kondisi fisik bangunan di kampung naga. 2. Gambaran umum mengenai kampung naga bila dilihat dari 7 unsur kebudayaan diantaranya adalah Sistem Religi dan kepercayaan, sistem Sosia dan

organisasi

Kemasyarakatan,

sistem

Ilmu

Pengetahuan, Sistem Bahasa, Sistem kesenian, sistem Pola Mta Pencaharian, dan jga sistem Teknologi peralatan yang dipergunakan oleh masyarakat di kawasan kampun Naga.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Letak dan Keadaan Geografis Kampung Naga Kampung Naga secara administratif berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, provinsi Jawa Barat, Indonesia. Di tempat tersebut, Singaparana oleh masyarakat Kampung Naga disebut Sembah Dalem Singaparana. Suatu hari ia mendapat ilapat atau petunjuk harus bersemedi. Dalam persemediannya Singaparana mendapat petunjuk, bahwa ia harus mendiami satu tempat yang sekarang disebut Kampung Naga. Nenek moyang Kampung Naga yang paling berpengaruh dan berperan bagi masyarakat Kampung Naga "Sa Naga" yaitu Eyang Singaparana atau Sembah Dalem Singaparana yang disebut lagi dengan Eyang Galunggung, dimakamkan di sebelah Barat Kampung Naga. Makam ini dianggap oleh masyarakat Kampung Naga sebagai makam keramat yang selalu diziarahi pada saat diadakan upacara adat bagi semua keturunannya. Namun kapan Eyang Singaparana meninggal, tidak diperoleh data yang pasti bahkan tidak seorang pun warga Kampung Naga yang mengetahuinya. Menurut

kepercayaan yang mereka warisi secara turun temurun, nenek moyang masyarakat Kampung Naga tidak meninggal dunia melainkan raib tanpa meninggalkan jasad. Dan di tempat itulah masyarakat Kampung Naga menganggapnya sebagai makam, dengan memberikan tanda atau petunjuk kepada keturunan Masyarakat Kampung Naga. Ada sejumlah nama para leluhur masyarakat Kampung Naga yang dihormati seperti: Pangeran Kudratullah, dimakamkan di Gadog Kabupaten Garut, seorang yang dipandang sangat menguasai pengetahuan Agama Islam. Raden Kagok Katalayah Nu Lencing Sang Seda Sakti, dimakamkan yang di Taraju, ilmu Kabupaten kekebalan di Tasikmalaya Eyang ilmu Mudik kekuatan mengusai Karang,

"kewedukan". Ratu Ineng Kudratullah atau disebut Batara fisik dimakamkan Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya, menguasai "kabedasan". Pangeran Mangkubawang, dimakamkan di Mataram Yogyakarta menguasai ilmu kepandaian yang bersifat kedunawian atau kekayaan. Sunan Gunungjati Kalijaga, dimakamkan di Cirebon menguasai ilmu pengetahuan mengenai bidang pertanian.

Kampung Naga merupakan suatu perkampungan yang dihuni oleh sekolompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan leluhurnya. Hal ini akan terlihat jelas perbedaannya bila dibandingkan dengan masyarakat lain di luar Kampung Naga. Masyarakat Kampung Naga hidup pada suatu tatanan yang dikondisikan dalam suasana kesahajaan dan lingkungan kearifan tradisional yang lekat. Lokasi Kampung Naga tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya. Kampung ini berada di lembah yang subur, dengan batas wilayah, di sebelah Barat Kampung Naga dibatasi oleh hutan keramat karena di dalam hutan tersebut terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk, dan disebelah utara dan timur dibatasi oleh sungai Ciwulan yang sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut. Jarak tempuh dari kota Tasikmalaya ke Kampung Naga kurang lebih 30 kilometer, sedangkan dari kota Garut jaraknya 26 kilometer. Untuk menuju Kampung Naga dari arah jalan raya Garut-Tasikmalaya harus menuruni tangga yang sudah di tembok (Sunda : sengked) sampai ketepi sungai

Ciwulan dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan jarak kira-kira 500 meter. Kemudian melaluai jalan setapak menyusuri sungai Ciwulan sampai kedalam Kampung Naga. Daya tarik obyek wisata Kampung Naga terletak pada kehidupan yang unik dari komunitas yang terletak di Kampung Naga tersebut. Kehidupan mereka dapat berbaur dengan masyrakat modern, beragama Islam, tetapi masih kuat memlihara Adat Istiadat leluhurnya. Seperti berbagai upacara adat, upacara hari-hari besr Islam misalnya Upacara bulan Mulud atau Alif dengan melaksanakan Pedaran (pembacaan Sejarah Nenek Moyang) Proses ini dimulai dengan mandi di Sungai Ciwulan dan Wisatawan boleh mengikuti acara tersebut dengan syarat harus patuh pada aturan disana. Bentuk bangunan di Kampung Naga sama baik rumah, mesjid, patemon (balai pertemuan) dan lumbung padi. Atapnya terbuat dari daun rumbia, daun kelapa, atau injuk sebagi penutup bumbungan. Dinding rumah dan bangunan lainnya, terbuat dari anyaman bambu (bilik). Sementara itu pintu bangunan terbuat dari serat rotan dan semua bangunan menghadap Utara atau Selatan. Selain itu tumpukan batu yang tersusun rapi

dengan tata letak dan bahan alami merupakan ciri khas gara arsitektur dan ornamen Perkampungan Naga. Menurut data dari Desa Neglasari, bentuk permukaan tanah di Kampung Naga berupa perbukitan dengan produktivitas tanah bisa dikatakan subur. Luas tanah Kampung Naga yang ada seluas satu hektar setengah, sebagian besar digunakan untuk perumahan, pekarangan, kolam, dan selebihnya digunakan untuk pertanian sawah yang dipanen satu tahun dua kali. Areal pemukiman kampung naga seluas 1,5 hektar, terdapat 111 bangunan, 108 rumah, dan sisanya merupakan sarana ibadah, balai pertemuan, lumbung padi. Bersuku sunda asli, bahasa pengantar sehariharinya bahasa sunda. Penduduknya berjumlah 311 orang, beragama islam, bermata pencaharian pokok bertani, serta mempunyai mata pencaharian sampingan yaitu kerajinan tangan, beternak, dan berdagang.

2.2 Lembaga-lembaga Kampung Naga Di Kampung Naga ada 2 lembaga :

2.2.1. Lembaga adat


Kuncen dijabat oleh Bapak Ade. S, bertugas

sebagai kepala adat.


Punduh dijabat Bapak Makmun, bertugas sebagai

pengurus laku gaweh masyarakat (mengayomi pekerjaan & perilaku).


Lebe dijabat oleh Bapak Ateng, bertugas mengurus

jenazah dari awal sampai akhir. 2.2.2. Lembaga Pemerintahan


Kepala RT dijabat oleh Bapak Risman. Kepala Dusun dijabat oleh Bapak Dedi. Kepala Desa dijabat oleh Bapak Kurnia, yang

bertugas mengikuti aturan/program pemerintah pusat. 2.3 Tempat Larangan Kampung Naga Ada beberapa tempat yang dianggap tabu oleh masyarakat kampung naga, yaitu:
o Gua Hutan

Hutan yang di sebelah timur tidak boleh dimasuki siapapun. Hutan di sebelah barat tidak boleh dimasuki sembarang orang dan waktu, hanya dibolehkan masuk ketika berziarah kubur, karena di hutan ini merupakan tempat nenek moyang Kampung Naga dikuburkan.

o Bumi Ageung

Bumi Ageung yaitu tempat penyimpanan bendabenda pusaka dan buku-buku sejarah Kampung Naga. Terdapat larangan pada bangunan ini, salah satunya yaitu tidak boleh masuk ke area tersebut, tidak diperbolehkan mengambil gambar secara langsung, kecuali radius 100 meter atau lebih.
o Hari yang ditabukan

Hari yang diangggap tabu oleh masyarakat Kampung Naga yaitu Selasa, Rabu, dan Sabtu, tidak boleh menceritakan sejarah Kampung Naga dan tidak boleh melaksanakan upacara adat. 2.4 Kesenian dan Upacara Adat Kampung Naga 2.4.1 Kesenian Kesenian yang ada di kampung naga yaitu Terebang Gembrung (yang kecil pakai kulit kambing, yang besar pakai kulit kerbau), dimainkan saat Idul Adha (takbiran) oleh 2 orang pemain. Disamping itu ada juga Terebang Sejak, bentuknya sama seperti gembrung, sebagai alat musik hiburan yang dimainkan oleh 6 orang. Angklung juga termasuk salah satu kesenian kampung Naga. Alat music ini terbuat dari bambu agak tinggi & besar, mempunyai nada & irama tersendiri.

2.4.2 Upacara Adat Upacara-upacara yang senantiasa dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga ialah Upacara Perkawinan, Upacara Hajat Sasih, dan Upacara Menyepi. Upacara Perkawinan Upacara perkawinan bagi masyarakat Kampung Naga adalah upacara yang dilakukan setelah selesainya akad nikah. adapun tahap-tahap upacara tersebut adalah sebagai berikut: upacara sawer, nincak endog, buka pintu, ngariung, ngampar, dan diakhiri dengan munjungan. Upacara sawer dilakukan selesai akad nikah, pasangan pengantin dibawa ketempat panyaweran, tepat di muka pintu. mereka dipayungi dan tukang sawer berdiri di hadapan ijab kedua kabul, pengantin. dilanjutkan panyawer dengan mengucapkan

melantunkan syair sawer. ketika melantunkan syair sawer, penyawer menyelinginya dengan menaburkan beras, irisan kunir, dan uang logam ke arah pengantin. Anak-anak yang bergerombol di belakang pengantin saling berebut memungut uang sawer. isi syair sawer berupa nasihat kepada pasangan pengantin baru. Usai upacara sawer dilanjutkan dengan upacara nincak endog. endog (telur) disimpan di atas golodog dan

mempelai laki-laki menginjaknya. Kemudian mempelai perempuan mencuci kaki mempelai laki-laki dengan air kendi. Setelah itu mempelai perempuan masuk ke dalam rumah, sedangkan mempelai laki-laki berdiri di muka pintu untuk melaksanakan upacara buka pintu. Dalam upacara buka pintu terjadi tanya jawab antara kedua mempelai pembuka yang mempelai diwakili dengan cara laki-laki oleh masing-masing Sebagai salam pendampingnya dilagukan. mengucapkan

'Assalammu'alaikum Wr. Wb.' yang kemudian dijawab oleh mempelai perempuan 'Wassalamu'alaikum Wr. Wb.' setelah tanya jawab selesai pintu pun dibuka dan selesailah upacara buka pintu. Setelah upacara buka pintu dilaksanakan, dilanjutkan dengan upacara ngampar, dan munjungan. Ketiga upacara terakhir ini hanya ada di masyarakat Kampung Naga. Upacara riungan adalah upacara yang hanya dihadiri oleh orang tua kedua mempelai, kerabat dekat, sesepuh, dan kuncen. Adapun kedua mempelai duduk berhadapan, setelah semua peserta hadir, kasur yang akan dipakai pengantin diletakan di depan kuncen. Kuncen mengucapakan kata-kata pembukaan dilanjutkan dengan pembacaan doa sambilmembakar kemenyan.

Kasur kemudian di angkatoleh beberapa orang tepat diatas asap kemenyan. Usai acara tersebut dilanjutkan dengan acara munjungan. kedua mempelai bersujud sungkem kepada kedua orang tua mereka, sesepuh, kerabat dekat, dan kuncen. Akhirnya selesailah rangkaian upacara perkawinan di atas. Sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada para undangan, tuan rumah membagikan makanan kepada mereka. Masing-masing mendapatkan boboko (bakul) yang berisi nasi dengan lauk pauknya dan rigen yang berisi opak, wajit, ranginang, dan pisang. Beberapa hari setelah perkawinan, kedua mempelai wajib berkunjung kepada saudara-saudaranya, baik dari pihak laki-laki maupun dari pihak perempuan. Maksudnya untuk menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuan mereka selama acara perkawinan yang telah lalu. Biasanya sambil berkunjung kedua mempelai membawa nasi dengan lauk pauknya. Usai beramah tamah, ketika kedua mempelai berpamitan akan pulang, maka pihak keluarga yang dikunjungi memberikan hadiah seperti peralatan untuk keperluan rumah tangga mereka. Upacara Hajat Sasih

Upacara Hajat Sasih dilaksanakan oleh seluruh warga adat Sa-Naga, baik yang bertempat tinggal di Kampung Naga maupun di luar Kampung Naga. Maksud dan tujuan dari upacara ini adalah untuk memohon berkah dan keselamatan kepada leluhur Kampung Naga, Eyang Singaparna serta menyatakan rasa syukur kepada Tuhan yang mahaesa atas segala nikmat yang telah diberikannya kepada warga sebagai umat-Nya. Upacara Hajat Sasih diselenggarakan pada bulanbulan Bulan Bulan Bulan Bulan dengan Maulud Rewah Syawal tanggal-tanggal pada pada pada pada tanggal tanggal tanggal tanggal sebagai 26, 12, 16, 14, berikut: 27, 13, 17, 15, 28 14 18 16 Muharam

Bulan Rayagung pada tanggal 10, 11, 12. Pemilihan tanggal dan bulan untuk pelaksanaan upacara Hajat Sasih sengaja dilakukan bertepatan dengan hari-hari besar agama Islam. Penyesuaian waktu tersebut bertujuan agar keduanya dapat dilaksanakan sekaligus, sehingga ketentuan adat dan akidah agama islam dapat dijalankan secara harmonis. Upacara Hajat Sasih merupakan upacara ziarah dan membersihkan makam. Sebelumnya para peserta upacara

harus melaksanakan beberapa tahap upacara. Mereka harus mandi dan membersihkan diri dari segala kotoran di sungai Ciwulan. Upacara ini disebut beberesih atau susuci. Selesai mandi mereka berwudlu di tempat itu juga kemudian mengenakan pakaian khusus. Secara teratur mereka berjalan menuju mesjid. Sebelum masuk mereka mencuci kaki terlabih dahulu dan masuk kedalam sembari menganggukan kepala dan mengangkat kedua belah tangan. Hal itu dilakukan sebagai tanda penghormatan dan merendahkan diri, karena mesjid merupakantempat beribadah dan suci. Kemudian masingmasing mengambil sapu lidi yang telah tersedia di sana dan duduk sambil memegang sapu lidi tersebut. Adapun kuncen, lebe, dan punduh / Tua kampung selesai mandi kemudian berwudlu dan mengenakan pakaian upacara mereka tidak menuju ke mesjid, melainkan ke Bumi Ageung. Di Bumi Ageung ini mereka menyiapkan lamareun dan parukuyan untuk nanti di bawa ke makam. Setelah siap kemudian mereka keluar. Lebe membawa lamareun dan punduh membawa parukuyan menuju makam. Para peserta yang berada di dalam mesjid keluar dan mengikuti kuncen, lebe, dan punduh satu persatu. Mereka berjalan beriringan sambil

masing-masing membawa sapu lidi. Ketika melewati pintu gerbang makam yang di tandai oleh batu besar, masing-masing peserta menundukan kepala sebagai penghormatan kepada makam Eyang Singaparna. Setibanya di makam selain kuncen tidak ada yang masuk ke dalamnya. Adapun Lebe dan Punduh setelah menyerahkan lamareun dan parakuyan kepada kuncen kemudian keluar lagi tinggal bersama para peserta upacara yang lain. Kuncen membakar kemenyan untuk unjuk-unjuk (meminta izin ) kepada Eyang Singaparna. Ia melakukan unjuk-unjuk sambil menghadap kesebelah barat, kearah makam. Arah barat artinya menunjuk ke arah kiblat. Setelah kuncen melakukan unjuk-unjuk, kemudian ia mempersilahkan para peserta memulai membersihkan makam keramat bersama-sama. Setelah membersihkan makam, kuncen dan para peserta duduk bersila mengelilingi makam. Masing-masing berdoa dalam hati untukmemohon keselamatan, kesejahteraan, dan kehendak masing-masing peserta. Setelah itu kuncen mempersilakan Lebe untuk memimpin pembacaan ayatayat Suci Al-Quran dan diakhri dengan doa bersama. Selesai berdoa, para peserta secara bergiliran bersalaman dengan kuncen. Mereka menghampiri kuncen

dengan cara berjalan ngengsod. Setelah bersalaman para peerta keluar dari makam, diikuti oleh punduh, lebe dan kuncen. Parukuyan dan sapu lidi disimpan di "para" mesjid. Sebelum disimpan sapu lidi tersebut dicuci oleh masing-masing peserta upacara di sungai Ciwulan, sedangkan lemareun disimpan diBumi Ageung. Acara selanjutnya diadakan di mesjid. Setelah para peserta upacara masuk dan duduk di dalam mesjid, kemudian datanglah seorang wanita yang disebut patunggon sambil membawa air di dalam kendi, kemudian memberikannya kepada kuncen. Wanita lain datang membawa nasi tumpeng dan meletakannya ditengah-tengah. Setelah wanita tersebut keluar, barulah kuncen berkumur-kumur dengan air kendi dan membakar dengan kemenyan. Ia mengucapkan Ijab kabul sebagai pembukaan. Selanjutnya lebe membacakan doanya setelah ia berkumur-kumur terlebih dahulu dengan air yang sama dari kendi. Pembacaan doa diakhiri dengan ucapan amin dan pembacaan Al-fatihah. Maka berakhirlah pesta upacara Hajat Sasih tersebut. Usai upacara dilanjutkan dengan makan nasi tumpeng bersama-sama. Nasi tumpeng ini ada yang langsung

dimakan di mesjid, ada pula yang dibawa pulang kerumah untuk dimakan bersama keluarga mereka. Upacara Menyepi Upacara menyepi dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga pada hari selasa, rabu, dan hari sabtu. Upacara ini menurut pandangan masyarakat Kampung Naga sangat penting dan wajib dilaksanakan, tanpa kecuali baik laki-laki maupun perempuan. Oleh sebab itu jika ada upacara tersebut di undurkan atau dipercepat waktu pelaksanaannya. Pelaksanaan upacara menyepi diserahkan pada masing-masing orang, karena pada dasarnya merupakan usaha menghindari pembicaraan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan adat istiadat. Melihat kepatuhan warga Naga terhadap aturan adat, selain karena penghormatan kepada leluhurnya juga untuk menjaga amanat dan wasiat yang bila dilanggar dikuatirkan akan menimbulkan malapetaka.

2.5 Religi dan Sistem Kepercayaan Kampung Naga Penduduk Kampung Naga sumuanya mengaku beragama Islam, akan tetapi sebagaimana masyarakat

adat lainnya mereka juga sangat taat memegang adat istiadat dan kepercayaan nenek moyangnya. Artinya walaupun mereka menyatakan memeluk agama Islam, namun syariat Islam yang mereka jalankan agak berbeda dengan pemeluk agama Islam lainnya. Bagi masyarakat Kampung Naga dalam menjalankan agamanya sangat patuh pada warisan nenek moyang. Umpanya sembahyang lima waktu; Subuh, Duhur, Asyar, Mahrib, dan solat Isa, hanya dilakukan pada hari jumat. Sedangkan pada hari-hari lain mereka tidak melaksanakan sembahyang lima waktu. Pengajaran mengaji bagi anak-anak dikampung Naga dilaksanakan pada malam senin dan malam kamis, sedangkan pengajian bagi orang tua dilaksanakan pada malam jumat. Dalam menunaikan rukun Islam yang kelima atau ibadah Haji, menurut anggapan mereka tidak perlu jauhjauh pergi keTanah Suci Mekah, cukup dengan menjalankan upacara Hajat Sasih yang waktunya bertepatan dengan hari raya haji yaitu setiap tanggal 10 Rayagung. Upacara Hajat Sasih ini menurut kepercayaan masyarakat Kampung Naga sama dengan Hari Raya Idul Adha dan Hari Raya Idul Fitri.

Menurut kepercayaan masyarakat Kampung Naga, dengan menjalankan adat-istiadat warisan nenek moyang berarti menghormati para leluhur atau karuhun. Segala sesuatu yang datangnya bukan dari ajaran karuhun Kampung Naga, dan sesuatu yang tidak dilakukan karuhunnya dianggap sesuatu yang tabu. Apabila hal-hal tersebut dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga berarti melanggar adat, tidak menghormati karuhun, hal ini pasti akan menimbulkan malapetaka. Kepercayaan masyarakat Kampung Naga kepada mahluk halus masih dipegang kuat. Percaya adanya jurig cai, yaitu mahluk halus yang menempati air atau sungai terutama bagian sungai yang dalam "leuwi". Kemudian "ririwa" yaitu mahluk halus yang senang menganggu atau menakut-nakuti manusia pada malam hari, ada pula yang disebut "kunti anak" yaitu mahluk halus yang berasal dari perempuan hamil yang meninggal dunia, ia suka mengganggu wanita yang sedang atau akan melahirkan. Sedangkan tempat-tempat yang dijadikan tempat tinggal mahluk halus tersebut oleh masyarakat Kampung Naga disebut sebagai tempat yang angker atau sanget. Demikian juga tempat-tempat seperti makam Sembah Eyang Singaparna, Bumi agueng dan mesjid

merupakan tempat yang dipandang suci bagi masyarakat Kampung Naga. Tabu, pantangan atau pamali bagi masyarakat Kampung Naga masih dilaksanakan dengan patuh khususnya dalam kehidupan sehari-hari, terutama yang berkenaan dengan aktivitas kehidupannya.pantangan atau pamali merupakan ketentuan hukum yang tidak tertulis yang mereka junjung tinggi dan dipatuhi oleh setiap orang. Misalnya tata cara membangun dan bentuk rumah, letak, arah rumah,pakaian upacara, kesenian, dan sebagainya. Bentuk rumah masyarakat Kampung Naga harus panggung, bahan rumah dari bambu dan kayu. Atap rumah harus dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang, lantai rumah harus terbuat dari bambu atau papan kayu. Rumah harus menghadap kesebelah utara atau ke sebelah selatan dengan memanjang kearah Barat-Timur. Dinding rumah dari bilik atau anyaman bambu dengan anyaman sasag. Rumah tidak boleh dicat, kecuali dikapur atau dimeni. Bahan rumah tidak boleh menggunakan tembok, walaupun mampu membuat rumah tembok atau gedong. Rumah tidak boleh dilengkapi dengan perabotan, misalnya kursi, meja, dan tempat tidur. Rumah tidak

boleh mempunyai daun pintu di dua arah berlawanan. Karena menurut anggapan masyarakat Kampung Naga, rizki yang masuk kedalam rumah melaui pintu depan tidak akan keluar melalui pintu belakang. Untuk itu dalam memasang daun pintu, mereka selalu menghindari memasang daun pintu yang sejajar dalam satu garis lurus. Di bidang kesenian masyarakat Kampung Naga mempunyai pantangan atau tabu mengadakan pertunjukan jenis kesenian dari luar Kampung Naga seperti wayang golek, dangdut, pencak silat, dan kesenian yang lain yang mempergunakan waditra goong. Sedangkan kesenian yang merupakan warisan leluhur masyarakat Kampung Naga adalah terbangan, angklung, beluk, dan rengkong. Kesenian beluk kini sudah jarang dilakukan, sedangkan kesenian rengkong sudah tidak dikenal lagi terutama oleh kalangan generasi muda. Namun bagi masyarakat Kampung Naga yang hendak menonton kesenian wayang, pencak silat, dan sebagainya diperbolehkan kesenian tersebut dipertunjukan di luar wilayah Kampung Naga. Adapun pantangan atau tabu yang lainnya yaitu pada hari selasa, rabu, dan sabtu. Masyarakat kampung Naga dilarang membicarakan soal adat-istiadat dan asal-

usul kampung Naga. Masyarakat Kampung Naga sangat menghormati Eyang Sembah Singaparna yang merupakan cikal bakal masyarakat Kampung Naga. Sementara itu, di tasikmalaya ada sebuah tempat yang bernama Singaparna, Masyarakat Kampung Naga menyebutnya nama tersebut Galunggung, karena kata Singaparna berdekatan dengan Singaparna nama leluhur masyarakat Kampung Naga. Sistem kepercayaan masyarakat Kampung Naga terhadap ruang terwujud pada kepercayaan bahwa ruang atau tempat-tempat yang memiliki batas-batas tertentu dikuasai oleh kekuatan-kekuatan tertentu pula. Tempat atau daerah yang mempunyai batas dengan kategori yang berbeda seperti batas sungai, batas antara pekarangan rumah bagian depan dengan jalan, tempat antara pesawahan dengan selokan, tempat air mulai masuk atau disebut dengan huluwotan, tempat-tempat lereng bukit, tempat antara perkampungan dengan hutan, dan sebagainya, merupakan tempat-tempat yang didiami oleh kekuatan-kekuatan tertentu. Daerah yang memiliki batasbatas tertentu tersebut didiami mahluk-mahluk halus dan dianggap angker atau sanget. Itulah sebabnya di daerah

itu masyarakat Kampung Naga suka menyimpan "sasajen" (sesaji). Kepercayaan masyarakat Kampung Naga terhadap waktu terwujud pada kepercayaan mereka akan apa yang disebut palintangan. Pada saat-saat tertentu ada bulan atau waktu yang dianggap buruk, pantangan atau tabu untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang amat penting seperti membangun rumah, perkawinan, hitanan, dan upacara adat. Waktu yang dianggap tabu tersebut disebut larangan bulan. Larangan bulan jatuhnya pada bulan sapar dan bulan Rhamadhan. Pada bulan-bulan tersebut dilarang atau tabu mengadakan upacara karena hal itu bertepatan dengan upacara menyepi. Selain itu perhitungan menentukan hari baik didasarkan kepada hari-hari naas yang ada dalam setiap bulannya, seperti yang tercantum dibawah ini:

BULAN

HARI

TANGGAL

Muharam Sapar Mulud Silih Mulud Jumadil Awal Jumadil Akhir Rajab Rewah Puasa/Ramadhan Syawal Hapit Rayagung

Sabtu-Minggu Sabtu-Minggu Sabtu-Minggu Senin-Selasa Senin-Selasa Senin-Selasa Rabu-Kamis Rabu-Kamis Rabu-Kamis Jumat Jumat Jumat

11,14 1,20 1,15 10,14 10,20 10,14 12,13 12,13 19,20 10,11 2,12 6,20

Pada hari-hari dan tanggal-tanggal tersebut tabu menyelenggarakan dilaksanakan pesta bertepatan atau upacara-upacara hari-hari perkawinan, atau khitanan. Upacara perkawinan boleh dengan dilaksanakannya upacara menyepi. Selain perhitungan untuk menentukan hari baik untuk memulai suatu

pekerjaan

seperti

upacara

perkawinan,

khitanan,

mendirikan rumah, dan lain-lain, didasarkan kepada harihari naas yang terdapat pada setiap bulannya. 2.6 Sistem Pendidikan Kampung Naga Soal pendidikan, saat ini yang paling tinggi hanya mengenyam sekolah dasar. Memang ada beberapa sampai sekolah menengah dan perguruan tinggi. Tetapi mereka kemudian meninggalkan kampung halaman untuk merantau. Bagi keturunan yang tinggal di luar disebut penduduk, Sanaga. Mengapa enggan bersekolah tinggi, mereka berpedoman pendidikan bisa dicapai dengan luang, galuang dan uang. Luang maksudnya bisa belajar sendiri, galuang belajar dari membaca atau bertanya kepada orang lain, sedang dengan uang bisa belajar di sekolah pendidikan formal. Kebanyakan yang bersekolah tinggi bertempat tinggal di sekitar Kampung Naga, seperti di wilayah Kecamatan Cigaluntung atau Salawu. Ada juga yang berada di kota lainnya. Namun setiap ada upacara adat mereka akan bersama-sama datang. Kebersamaan itu bisa dilihat ketika mereka melaksanakan semacam upacara bersih desa dengan

mengganti pagar keliling kampung atau membersihkan makam leluhur. Saling membantu, ada yang menyediakan bambu, membelah dan memasangnya. Mereka sepertinya sudah tahu tugas masing-masing. Dan hasilnya pagar keliling kampung selesai sehari, selanjutnya mereka kembali ke tempat tinggalnya di luar Kampung Naga. 2.7 Cara Melestarikan Hutan Kampung Naga Suku naga yang tinggal di Kampung Naga hanya masyarakat kecil dalam satu rukun kampung, terdiri dari dua rukun tetangga (RT). Tetapi suku ini menarik perhatian orang luar karena masih kukuh menganut kehidupan menurut adat istiadat yang diturunkan nenek moyang mereka. Sejak kecil, mereka sudah dididik agar hidup bergotong-royong dengan sesama warga serukun kampung. Sebab, mereka semua "masih saudara", baik saudara dekat maupun keponakan jauh. Ini bukan jargon politik pemersatu, tetapi memang begitu adanya. Mereka dari satu kakek moyang Sembah Dalem Eyang Singaparana, yang dimakamkan di lereng Gunung Kracak yang lebat hutannya. Menurut legenda, Eyang ini bersama enam saudaranya (lima laki-laki dan satu perempuan)

membangun permukiman Kampung Naga itu. Bersamasama, mereka mengusahakan pertanian di lembah Sungai Ciwulan. Dipercaya pula bahwa mereka itu para pembelot dari tentara Kerajaan Mataram yang malu kembali ke ibu kota, karena gagal menjalankan mission impossible merebut benteng Batavia dari kompeni Belanda. Sebagai petani, kehidupan mereka bergantung penuh pada alam. Letak kampung yang merupakan bagian dari Desa Neglasari, Kecamatan Salawe, Kabupaten Tasikmalaya, itu memang di lembah sungai yang subur, kira-kira 500 m ke arah pedalaman dari poros jalan besar Garut - Tasikmalaya. Walaupun jalan besar ini ramai oleh lalu lintas kesibukan masyarakat modern, Kampung Naga itu sendiri tenang dan damai, tidak banyak hiruk-pikuk masyarakat dibocorkan. Mereka mengerjakan sawah milik masing-masing atau menjadi buruh tani dari saudara sekampung yang lebih makmur. Sawah ini berair terus sepanjang tahun ramai. Tidak ada radio dibunyikan menggelegar. Tidak ada sepeda motor yang knalpotnya

karena pasokan yang melimpah dari hutan Gunung Kracak diusahakan benar agar mengalir terus. Hutan yang menjadi "sumber" air dipertahankan agar tetap lestari menyimpan air hujan di musim hujan (supaya tidak timbul banjir bah di lembah), lalu tetap memberikan air simpanannya secara berangsur kepada Kampung Naga sepanjang musim kemarau. Untuk itu, semua warga kampung dilarang menebang pohon dalam hutan. Bahkan mengumpulkan ranting kering untuk kayu bakar pun tidak boleh. Kayu bakar harus diambil dari kebun pekarangan masingmasing; sering berupa bambu yang dipanen secara berkala dari rumpun bambu peliharaan. Atau meminjam dari "saudara" sekampung yang kebunnya melimpah ranting kering dan bambunya. Kelak dikembalikan berupa ranting kering atau bambu dari kebun sendiri. Menjalani gaya hidup seperti ini tidak ada yang mengeluh karena semua "masih saudara" dan hidup seperti dalam satu keluarga besar. Tidak ada yang merasa dikucilkan dari masyarakat. Anak cucu yang tidak puas dengan cara hidup ini boleh merantau mencari nafkah di luar kampung.

Mereka yang tetap tinggal di kampung, hidup kecukupan karena panen padi selalu melimpah, walaupun panennya hanya dua kali setahun. Untuk menambah penghasilan, ada yang beternak ikan di kolam dan berkebun cengkih di kebun pekarangan. Atau beternak ayam dan kambing, serta menjual hasil kerajinan anyammenganyam di rumah. Kolam, sawah, dan kebun tidak pernah kering, walau di musim kemarau yang kering sekalipun. Karena hutan di atas kampung dijaga benar kelestariannya.

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN 3.1 Kesimpulan Kesimpulan dari penulisan laporan hasil observasi ini adalah bahwa Kampung Naga merupakan bentuk perkampungan yang sangat mempertahankan kebudayaan

nenek moyangnya turun temurun. Dikarenakan penduduk Kampung Naga terbilang sedikit, maka kehidupan masyarakatnya begitu teratur. Terlihat dari bentuk gotong royongnya, saling menghormati satu sama lain, sehingga tidak pernah ada perselisihan ditengah mereka. Hal tersebut jelas beda pada kehidupan perkotaan. Ada beberapa peraturan yang harus ditaati oleh masyarakat Kampung Naga, salah satunya yaitu dalam mendirikan bangunan tidak boleh memakai material semen, atau sering disebut dengan rumah bertembok, rumahnya begitu sederhana tapi kukuh (sunda: weweg). Ada beberapa tempat yang dianggap tabu oleh masyarakat kampung naga, yaitu Bumi Ageung dan Hutan Larangan. Penduduknya tidak boleh sama sekali mengunjungi tempat tersebut. Di bidang kesenian masyarakat Kampung Naga mempunyai pantangan atau tabu mengadakan pertunjukan jenis kesenian dari luar Kampung Naga seperti wayang golek, dangdut, pencak silat, dan kesenian yang lain yang mempergunakan waditra goong. Sedangkan kesenian yang merupakan warisan leluhur masyarakat Kampung Naga adalah terbangan, angklung, beluk, dan rengkong.

Upacara-upacara yang senantiasa dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga ialah Upacara Perkawinan, Upacara Hajat Sasih, dan Upacara Menyepi. 3.2 Saran Saran yang akan disampaikan adalah sebagai masyarakat Indonesia yang mempunyai beraneka ragam kebudayaan patutlah kita jaga kelestariannya, karena kebudayaan merupakan harta yang dimiliki Indonesia sebagai jati diri Indonesia. Seperti halnya masyarakat Kampung Naga yang teguh akan adat istiadatnya. Disamping melestarikan kebudayaan Indonesia, sistem religi pun jangan dianggap tidak penting. Kedua hal tersebut harus berdampingan satu sama lain.

DAFTAR PUSTAKA http://Google.Kampung Naga.com/ htm http://Wikipedia.Upacara Adat Kampung Naga .com/ htm http://Google.Sistem Keagamaan Kampung Naga.com/ htm dan Pengetahuan

http://www.pikiranrakyat.com/cetak/0103/30/khazanah/lainnya05.htm http://www.Kabarindonesia.com/ htm


http://www.sinarharapan.co.id/feature/wisata/2004/0401/wis01 .html

Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Barat 2002 Komentar Pembaca (5877) Hasil wawancara observasi Kampung Naga tanggal 18 Mei 2008.

LAMPIRAN

Ini adalah gambar tangga yang menuju Kampung Kaga yang jumlahnya mencapai lebih dari 300 anak tangga Sebelum memasuki area pemukiman Kampung Naga, kita harus menelusuri anak tangga tersebut. Anak tangga ini merupakan pemisah antara Naga dengan Sanaga. Ini adalah gambar pemukiman Kampu

Ini adalah gambar pemukiman Kampung Naga yang dilihat dari kejauhan. Suasananya begitu asri dan merepleksikan mata.

Ini adalah gambar para penduduk Kampung Naga yang sedang menumbuk padi.

Ini adalah gambar salah satu penduduk Kampung Naga yang sedang membuat kerajinan tangan dari bambu tali, yang akan dijual ke pemborong dengan harga Rp 500 per anyaman.

Ini adalah gambar padi yang baru dipanen dan sedang dijemur agar air yang terkandung didalamnya menguap. Jenis padi ini adalah jenis padi yang berumur 3 bulan. Setelah padi tersebut kering, kemudian padi tersebut ditumbuk di lumbung padi.

Ini adalah gambar penduduk Kampung Naga, khususnya para ibu yang sedang membersihkan sisa-sisa gabah padi.

Ini adalah gambar alat tenunan

Ini adalah gambar sungai menuju pemukiman Kampung Naga. Airnya sedang surut, sehingga batu-batunya dapat terlihat oleh kita.

Ini adalah gambar kelompok