P. 1
masterplan transportasi kepri

masterplan transportasi kepri

|Views: 1,320|Likes:
Dipublikasikan oleh Tiar Pandapotan Purba
[Master Plan Transportasi Laut] | 1

kepri, laut, masterplan, ekonomi, tatrawil kepri, terkini, drafting
[Master Plan Transportasi Laut] | 1

kepri, laut, masterplan, ekonomi, tatrawil kepri, terkini, drafting

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: Tiar Pandapotan Purba on Nov 25, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/08/2013

pdf

text

original

[Master Plan Transportasi Laut] | 1

Kata Pengantar
Laporan ini merupakan Laporan Draft Akhir (Draft Final Report) yang berisi mengenai profil daerah, visi dan misi pembangunan Kota Blangpidie, serta rencana program pembangunan dalam rangka Pekerjaan Penyusunan Rencana Program Jangka Menengah (RPJM) Bidang Cipta Karya Kota Blang Pidie.

Sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja, yang menjadi acuan bagi pemberi pekerjaan dan konsultan selaku pemberi jasa, laporan ini akan dijadikan sebagai bahan untuk penyusunan RPJM-CK (Ke-Cipta Karya-an) Kota Blangpidie. Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya terutama Bappeda, Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas yang telah turut membantu kami dalam memperoleh data dan informasi di lapangan. Akhir kata kepada pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaian Laporan Draft Akhir ini kami ucapkan terima kasih.

Banda Aceh, November 2007 Tim Penyusun

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 2

DAFTAR ISI
BAB I Pendahuluan ......................................................................................... 4 1.1 Latar Belakang ................................................................................. 4 1.2 Landasan Hukum .............................................................................. 4 1.3 Tujuan ........................................................................................... 4 1.4 Sasaran .......................................................................................... 4 BAB II METODOLOGI DAN PENDEKATAN ................................................................ 4 2.1 Latar Belakang ................................................................................. 5 2.2 Landasan Hukum .............................................................................. 5 2.3 Tujuan ........................................................................................... 5 2.4 Sasaran .......................................................................................... 5 BAB III Kondisi Fisik dan Sosial Ekonomi Provinsi Kepulauan Riau ................................. 6 3.1 Kondisi Fisik dan Lingkungan ................................................................ 6 3.1.1 Geografi dan wilayah administrasi .................................................. 6 3.1.2 Topografi ................................................................................ 9 3.1.3 Geologi dan jenis tanah .............................................................. 9 3.1.4 Iklim .................................................................................... 11 3.1.5 Penggunaan lahan ................................................................... 11 3.2 Kondisi social ekonomi wilayah ........................................................... 14 3.2.1 Kependudukan ........................................................................ 14 3.2.2 Ketenagakerjaan ..................................................................... 16 3.2.3 Pemilikan kendaraan ................................................................ 16 3.2.4 Perekonomian ........................................................................ 17 3.3 Tinjauan kebijakan dan rencana ......................................................... 27 3.3.1 Rencana tata ruang wilayah provinsi kepulauan riau.......................... 27 3.3.2 Rencana strategis (RENSTRA) provinsi kepulauan riau .Error! Bookmark not defined. 3.3.3 Rencana program jangka panjang dan program jangka menengah provinsi kepulauan riau ..................................................................................... 39 3.3.4 Rencana dan program pengembangan transportasi provinsi kepulauan riau . ....................................................... Error! Bookmark not defined. 3.3.5 Tinjauan studi terkait SISTRAMINDO ........... Error! Bookmark not defined. BAB IV Kondisi dan Permasalahan Sistem Transportasi Provinsi Kepulauan Riau Saat ini ... 64 4.1 Kondisi umum transportasi darat dan udara ............................................ 64 4.1.1 Sistem transportasi darat........................ Error! Bookmark not defined. 4.2 Kondisi dan permasalahan system transportasi laut .................................. 76 4.2.1 Pelabuhan laut eksisting ............................................................ 76 4.2.2 Pelabuhan laut rencana ......................... Error! Bookmark not defined. 4.2.3 Kondisi dan permasalahan sarana armada kapal laut dan rute pelayaran Error! Bookmark not defined. 4.2.4 Permintaan perjalanan transportasi laut. .... Error! Bookmark not defined.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 3

DAFTAR TABEL

DAFTAR GAMBAR
No table of figures entries found.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 4

BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang

1.2 Landasan Hukum

1.3 Tujuan 1.4 Sasaran

BAB II METODOLOGI DAN

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 5

PENDEKATAN
2.1 Latar Belakang

2.2 Landasan Hukum

2.3 Tujuan 2.4 Sasaran

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 6

BAB III Kondisi Fisik dan Sosial Ekonomi Provinsi Kepulauan Riau
3.1 Kondisi Fisik dan Lingkungan
3.1.1 Geografi dan wilayah administrasi
Provinsi Kepulauan Riau terletak pada lokasi yang sangat strategis mengingat berada di wilayah perbatasan antar negara, bertetangga dengan salah satu pusat bisnis dunia (Singapura) serta didukung oleh adanya jaringan transportasi laut internasional dengan lalu lintas yang ramai. Secara geografis, Provinsi Kepulauan Riau terletak antara 0˚40’ Lintang Selatan dan 07˚19’ Lintang Utara serta antara 103˚3’ sampai dengan 110˚00’ Bujur Timur, dengan batas wilayah sebagai berikut. Sebelah Utara : Negara Vietnam dan Negara Kamboja Sebelah Selatan : Provinsi Bangka Belitung dan Provinsi Jambi Sebelah Barat : Negara Singapura, Negara Malaysia dan Provinsi Riau Sebelah Timur : Negara Malaysia dan Provinsi Kalimantan Barat Wilayah Provinsi Kepulauan Riau terdiri dari gugusan pulau-pulau besar dan kecil yang letak satu dengan yang lainnya dihubungkan dengan perairan. Beberapa pulau yang relative besar diantaranya adalah Pulau Bintan dimana lokasi kedudukan Ibukota Provinsi (Tanjungpinang), Pulau Batam yang merupakan Pusat Pengembangan Industri dan Perdagangan, Pulau Rempang dan Galang yang merupakan kawasan perluasan wilayah industri Batam, Pulau Karimun, Pulau Kundur, Pulau Lingga, Pulau Bunguran di Natuna, serta Gugusan Pulau Anambas. Selain itu Provinsi Kepulauan Riau memiliki pulaupulau kecil yang hamper tersebar di seluruh kabupaten/kota yang ada, termasuk diantaranya pulau-pulau kecil yang terletak di wilayah perbatasan Negara Indonesia. Keberadaan pulau-pulau terluar ini perlu mendapat perhatian khusus mengingat memiliki kerentanan terhadap masalah keamanan, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian lingkungan hidup. Pulau-pulau yang tersebar di wilayah Provinsi Kepulauan Riau pada umumnya merupakan sisa-sisa erosi atau pencetusan dari daratan pratersier yang membentang dari Semenanjung Malaysia sampai Pulau Bangka dan Belitung. Pada gugusan beberapa pulau kondisi daratannya berbukit-bukit dan landai di bagian pantainya, dengan ketinggian rata-rata 2 sampai 5 meter dari

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 7

permukaan laut. Kondisi hidrologi di Provinsi Kepulauan Riau dapat dilihat dari 2 (dua) jenis, yaitu air permukaan dan air bawah tanah (hidrogeologi). Untuk memenuhi kebutuhan akan air bersih, dapat diperoleh dari air permukaan berupa air sungai, mata air/air terjun, waduk, dan kolong, sedangkan air bawah tanah (hidrogeologi) didapat dengan menggali sumur dangkal. Kolong merupakan kolam bekas tambang bauksit, timah, dan pasir yang terbentuk akibat eksploitasi yang digunakan sebagai sumber air bersih. Keberadaan kolong dan mata air/air terjun tidak hanya berfungsi sebagai sumber air bersih, tetapi juga dimanfaatkan sebagai kawasan pariwisata. Sedangkan untuk kondisi geomorfologinya terdiri dari batuan ubahan seperti mika, genesis, dan batuan gunung api yang tersebar di bagian timur Kepulauan Riau, batuan terobosan seperti granit muskovic dapat dijumpai di Pulau Kundur Bagian Timur, batuan sedimen seperti serpih batu pasir, metagabro, yang tersebar di Pulau Batam, Bintan, dan Pulau Buru. Selain itu juga terdapat batuan alluvium tua terdiri dari lempung, pasir kerikil, dan batuan aluvium muda seperti lumpur, lanau, serta kerakal.
Tabel III-1 Wilayah administrasi provinsi kepulauan riau No 1 2 3 4 5 6 7 Kabupaten/Kota Tanjung Pinang Batam Bintan Karimun Lingga Natuna Kepulauan Anambas Luas Daratan (Km2) 131 1.037 1.319 1.524 2.117 2.111 590 Kecamatan 4 12 10 9 12 12 7 Kelurahan 18 64 15 22 6 6 2 Desa 0 0 36 32 67 69 32

Sumber : RTRWP Kepulauan Riau 2008-2028.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 8

PETA WILAYAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 9

3.1.2

Topografi
Wilayah provinsi KEPRI terbentang seluas 251.810,71 kilometer persegi & memiliki sekitar 2.408 pulau. Sebagian besar wilayahnya terdiri dari lautan sekitar 95% & sisanya daratan hanya sebesar 5%. Menurut data yang terhimpun dalam situs resmi KEPRI, provinsi ribuan pulau ini memiliki topografi dengan kemiringan lahan datar antara 0 – 2%, kemiringan lahan curam antara 10 – 30%, & kemiringan sangat curam sekitar 20%, dengan ketinggian kira-kira 10 meter diatas permukaan laut. Secara umum, topografi pada beberapa bagian KEPRI merupakan daerah dataran rendah & agak bergelombang dengan ketinggian antara 2 – 91 meter diatas permukaan laut. Menurut penelitian Zwieryeki pada tahun 1919 – 1929, wilayah daratan KEPRI yang hanya 5% itu dapat dikatakan tanah tua. Sedangkan selebihnya yang membentang ke utara sampai ke daerah pantai, merupakan konstruksi dari formasi jenis tanah endapan (Alluvium) yang berasal dari jaman Quarter s/d jaman Recen. Dari susunan tanah tersebut, menjadi jelas bahwa provinsi KEPRI jauh lebih tua daripada provinsi Riau-nya sendiri. Dengan keadaan topografi seperti itu, KEPRI memiliki sumber daya alam yang melimpah. Dari sumber daya alam yang berasal dari isi perut bumi maupun hasil peternakan & pertanian yang melimpah. Namun sumber daya alam yang diprioritaskan memang berasal dari isi perut bumi. Contohnya, potensi minyak bumi yang tersedia jumlahnya relatif besar. Berdasarkan data dari hasil survey (BP Migas) bahwa jumlah cadangan minyak bumi di Provinsi Kepulauan Riau sebesar 298,b1 MMBO. Potensi terdapat di wilayah Kab. Natuna. Contoh lainnya di Kabupaten Karimun diperkirakan terdapat deposit biji timah sebesar 11.360.500 mł. Deposit biji timah ini tidak hanya dijumpai di daratan, tetapi juga terpendam di perairan, pantai dan laut yang tersebar di wilayah Kab. Karimun dan Kab. Lingga. Hasil pertambangan lainnya seperti bauksit yang terdapat di pulau Bintan yang diperkirakan sebesar 15.000.000 ton. Bahan galian ini telah lama diekploitasi sejak zaman penjajah Belanda seperti perusahaan NV. Nibem, & sekarang dikelola oleh PT. Aneka Tambang, Tbk.

3.1.3

Geologi dan jenis tanah
Berdasarkan kondisi geomorfologinya, Provinsi Kepulauan Riau merupakan bagian kontinental yang terkenal dengan nama ”paparan sunda” atau bagian dari kerak Benua Asia. Batuan yang terdapat di Kepulauan Riau

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 10

diantaranya adalah batuan ubahan seperti mika geneis, meta batu lanau, batuan gunung api seperti tuf, tuf litik, batu pasir tufan yang tersebar di bagian timur Kepulauan Riau, batuan terobosan seperti granit muskovit dapat dijumpai di Pulau Kundur bagian timur, batuan sedimen seperti serpih batu pasir, metagabro, yang tersebar di Pulau Batam, Bintan dan Buru. Juga terdapat batuan aluvium tua terdiri dari lempung, pasir kerikil, dan batuan aluvium muda seperti lumpur, lanau, dan kerakal. Geomorfologi Pulau Kundur dan Pulau Karimun Besar terdiri dari perbukitan dan dataran, dengan pola aliran sungai radial hingga dendritik yang dikontrol oleh morfologi bukit granit yang homogen. Struktur geologi berupa sesar normal dengan arah barat-timur atau barat daya-timur laut. Geomorfologi Pulau Batam, Pulau Rempang dan Pulau Galang berupa perbukitan memanjang dengan arah barat laut-tenggara, dan sebagian kecil dataran terletak di bagian kakinya. Geomorfologi Pulau Bintan berupa perbukitan granit yang terletak di bagian selatan pulau dan dataran di bagian kaki. Struktur geologi sesar Pulau Bintan dominan berarah barat laut-tenggara dan barat daya-timur laut, beberapa ada yang berarah utara-selatan atau barat-timur. Pulau-pulau kecil di sebelah timur dan tenggara Pulau Bintan juga disusun oleh granit berumur Trias (Trg) sebagai penghasil bauksit. Geomorfologi Pulau Lingga berupa perbukitan dengan puncak Gunung Lingga, membentang dengan arah barat laut-tenggara dan dataran di bagian kaki, dengan pola aliran sungai trellis hingga sejajar. Juga geomorfologi Pulau Selayar dan Pulau Sebangka berupa perbukitan yang membentang dengan arah barat laut-tenggara dan dataran di bagian kakinya, pola aliran sungai adalah trellis yang dikontrol oleh struktur geologi berupa perlipatan dengan sumbu memanjang barat laut-tenggara dan arah patahan utara-selatan. Stratigrafi keempat pulau ini tersusun oleh Formasi Pancur (Ksp) yang terdiri dari serpih kemerahan dan urat kwarsa, sisipan batupasir kwarsa, dan konglomerat polemik. Geologi Pulau Singkep selain terdiri dari Formasi Pancur dan Formasi Semarung juga terdapat granit (Trg) yang mendasari kedua formasi di atas dan menjadi penghasil timah atau bauksit. Geomorfologi Pulau Bunguran berupa perbukitan yang membujur dari tenggara-barat laut dengan puncak Gunung Ranai dan dataran di bagian barat dari Pulau Bunguran. Pola aliran sungai adalah radial hingga dendritik di sekitar Gunung Ranai, sedangkan ke arah barat laut berubah menjadi pola aliran trellis.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 11

Kabupaten Kepulauan Anambas mempunyai tiga pulau relatif besar yaitu Pulau Matak, Siantan, dan Jemaja. Ketiga pulau disusun oleh granit Anambas (Kag) yang tersusun oleh granit, granodiorit dan syenit. Batuan granit Anambas (Kag) ini menerobos batuan mafik dan ultramafik (Jmu) yang terdiri dari diorit, andesit, gabro, gabro porfir, diabas dan basalt, bersisipan rijang-radiolaria. Pola struktur sesar dominan berarah barat laut-tenggara dan sedikit berarah utara-selatan hingga barat daya-timur laut seperti di Pulau Jemaja. Sehingga mempunyai potensi tambang granit yang merupakan cekungan tersier yang kaya minyak dan gas bumi yaitu Cekungan Natuna Barat yang masuk wilayah Kabupaten Kepulauan Anambas dan Cekungan Natuna Timur yang masuk wilayah Kabupaten Natuna

3.1.4

Iklim
Wilayah Provinsi Kepulauan Riau secara umum beriklim laut tropis basah, yang dipengaruhi oleh angin musim. Terdapat musim kemarau dan musim hujan yang diselingi oleh musim pancaroba, dengan suhu terendah yang tercatat di Stasiun Batam sebesar 20,60C pada bulan Juli dan suhu tertinggi tercatat di Stasiun Karimun sebesar 35,20C pada bulan Mei. Suhu rata rata yang tercatat di empat stasiun yang berbeda berkisar antara 27,10C di Stasiun Natuna dan sekitarnya sampai dengan 27,50C di Stasiun Batam dan sekitarnya dengan kelembaban antara 43% sampai dengan 100%. Ciri-ciri dari daerah kepulauan adalah beragamnya kisaran curah hujan, seperti yang terjadi di Provinsi Kepulauan Riau. Kisaran tertinggi tercatat pada Stasiun Natuna dimana curah hujan berada pada kisaran 1,0 mm sampai dengan 436,6 mm, dengan rata-rata curah hujan yang tercatat di empat stasiun yang berbeda antara 137,6 mm sampai dengan 264,91 mm Umumnya bagian barat Kepulauan Riau memiliki rata-rata kecepatan angin yang lebih rendah dibandingkan bagian Timur. Hal ini ditunjukkan dengan rata-rata kecepatan angin yang terjadi di Stasiun Karimun dan Batam yang berada antara 3,67 sampai dengan 5,0 knot. Sementara rata rata kecepatan angin yang tercatat di Stasiun Natuna dan Tanjungpinang lebih besar yaitu antara 7,17 sampai dengan 7,46 knot.

3.1.5

Penggunaan lahan
Penggunaan lahan di provinsi kepulauan riau dibagi dalam dua kawasan, yakni kawasan lindung dan kawasan budidaya. Berikut ini table penggunaan lahan hingga tahun 2028.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 12

Tabel III-2 Pola penggunaan lahan provinsi kepulauan riau No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Pola Penggunaan Lahan Hutan Rakyat Pertanian Perkebunan Perikanan Pariwisata Industri Permukiman Lainnya Hutan Lindung Kawasan Suaka Alam Hutan Produksi terbatas Hutan Kota Kawasan Lindung Luas (Ha) 93.709 110.023 111.252 18.045 48.745 40.575 75.470 107.213 81.065 3.403 47.730 10.273 90.146

Sumber : RTRWP Kepulauan Riau 2008-2028.

PETA POLA RUANG WILAYAH KEPRI

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 13

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 14

3.2 Kondisi sosial ekonomi wilayah
3.2.1 Kependudukan
Jumlah penduduk Provinsi Kepulauan Riau setiap tahunnya semakin bertambah. Pada tahun 2007 diketahui bahwa jumlah penduduk Provinsi Kepulauan Riau sebesar 1.392.918 jiwa dengan kepadatan penduduk sebesar 131 jiwa/km2. Jumlah penduduk tersebut dominan berada di Kota Batam yaitu sebesar 695.739 jiwa sementara itu Kabupaten Lingga merupakan kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau yang paling sedikit penduduknya yakni hanya sebesar 86.894 jiwa. Kondisi ini memperlihatkan bahwa kurang lebih 50% jumlah penduduk Provinsi Kepulauan Riau berdomisili di kota. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel III-3 Jumlah dan kepadatan penduduk provinsi kepulauan riau No Kabupaten/Kota Luas Daratan (Km ) 1 2 3 4 5 6 Tanjung Pinang Batam Bintan Karimun Lingga Natuna & KKA 131 1.037 1.319 1.524 2.117 2.701
2

Jumlah Penduduk (Jiwa) 177.963 695.739 122.677 216.221 86.894 93.424

Kepadatan Penduduk (Jiwa/ Km2) 1.358 671 93 142 41 35

Sumber : RTRWP Kepulauan Riau 2008-2028.

Penyebaran jumlah penduduk di Provinsi Kepulauan Riau tidak merata. Hal ini dapat dilihat dari persebaran penduduk Kepulauan Riau. Kota Batam merupakan kota yang jumlah penduduk dan kepadatan tertinggi di Kepulauan Riau yaitu 695.739 jiwa dengan kepadatan 671 jiwa/km2. Umumnya penduduk yang berdomisili di Kota Batam merupakan pendatang. Usaha untuk menekan laju pertumbuhan penduduk Kota Batam juga telah dilakukan melalui pengendalian arus pendatang yang masuk Kota Batam dalam suatu Peraturan Daerah Kependudukan atau lebih dikenal dengan PERDADUK. Selain itu, Kota Tanjungpinang adalah kota dengan wilayah terpadat kedua di Provinsi Kepulauan Riau mencapai 591 orang per km2, hal ini dikarenakan masih terkonsentrasinya kegiatan perekonomian dan pemerintahan di wilayah Kota Tanjungpinang. Untuk

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 15

lebih jelasnya mengenai perkembangan jumlah penduduk di Kabupaten Kepulauan Riau dapat dilihat pada tabel dan gambar berikut.
Tabel III-4 Jumlah penduduk menurut kabupaten/kota provinsi kepulauan riau No Kabupaten/Kota 2003 1 2 3 4 5 6 Tanjung Pinang Batam Bintan Karimun Lingga Natuna & KKA TOTAL 160.705 583.335 95.152 187.457 79.276 87.163 1,193,088 Jumlah Penduduk (Jiwa) 2004 160.918 621.854 116.964 200.305 71.779 89.945 1,261,765 2005 167.958 616.088 116.876 200.645 82.941 88.503 1,273,011 2006 172.616 656.001 121.303 209.875 86.150 91.918 1,337,863 2007 177.963 695.739 122.677 216.221 86.894 93.424 1,392,918

Sumber : RTRWP Kepulauan Riau 2008-2028.

Menurut data penduduk Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2003 hingga 2007 diketahui bahwa jumlah penduduk Provinsi Kepulauan Riau selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan jumlah penduduk provinsi dimana pada tahun 2003 hanya sebesar 1.193.088 jiwa, semantara itu pada tahun 2007 meningkat menjadi 1.392.918 jiwa. Kondisi ini menunjukkan penduduk provinsi ini mengalami pertumbuhan dan pertambahan baik itu dari tingkat kelahiran maupun dari migrasi penduduk yang bekerja di provinsi ini. Dengan menggunakan data tersebut maka dapat di hitung pertumbuhan penduduk di provinsi kepulauan riau mengalami kenaikan setiap tahunnya antara 0,9% s.d 1,2%.

Tabel III-5 Laju Pertumbuhan Penduduk Dan Kepadatan Pendudut Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2007-2009 No Kabupaten/Kota Laju pertumbuhan penduduk Kepadatan Penduduk (per (%) km2) 2007 2008 2009 2010 2007 2008 2009 2010 1 Kota Tanjung Pinang 5.48 11.75 5.39 743 763 911 2 Kota Batam 7.74 12.16 9.13 903 957 1237 3 Kabupaten Bintan 3.84 9.39 7.05 63 64 84 4 Kabupaten Karimun 1.94 3.48 5.65 75 78 92 5 Kabupaten Natuna 4.02 10.41 0.75 35 36 45 6 Kabupaten Lingga 1.03 3.12 3.17 41 42 46 7 Kabupaten Kepulauan Anambas Kepulauan Riau 5.51 9.86 7.04 131 137 175 Sumber : Buku Profil KEPRI, 2010.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 16

3.2.2

Ketenagakerjaan
Seperti yang terlihat pada table 3.6 di bawah, gambaran ketenagakerjaan di provinsi kepulauan riau terbagi atas 5 pekerjaan utama (sector). Yakni pekerjaan di bidang pertanian perikanan, industry pengolahan, perdagangan, jasa kemasyarakatan dan lainnya. Terlihat bahwa pada daerah perkotaan industry pengolahan merupakan industry yang paling besar (35%) sedangkan di bidang perikanan dan pertanian menempati urutan kecil (5%). Untuk di daerah perdesaan, sector/bidang pekerjaan di pertanian dan perikanan merupakan pekerjaan (14%). paling utama yakni sebesar 55%, sedangkan sector jasa kemasyarakatan merupakan pekerjaan utama dengan urutan kedua terbesar

Tabel III-6 Penduduk (usia kerja >15tahun), menurut lapangan kerja, daerah tempat bekerja di Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2008 No 1 2 3 4 5 Lapangan Usaha Pertanian dan Perikanan Industri pengolahan Perdagangan Jasa kemasyarakatan Lainnya Jumlah Sumber : BPS KEPRI, 2008. Perkotaan 26933 178526 112405 77371 119422 514657 Perdesaan 54206 7098 12415 13949 10342 98010 % Perkotaan 5 35 22 15 23 100 % Perdesaan 55 7 13 14 11 100

3.2.3

Pemilikan kendaraan
Kepemilikan kendaraan di provinsi kepulauan riau, terdiri atas berbagai jenis kendaraan. Berikut ini adalah berbagai jenis kendaraan yang dimiliki oleh masyarakat provinsi kepulauan riau menurut kabupaten kota pada tahun 2008;

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 17

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Tabel III-7 PDRB Perkapita Tanpa MIGAS di Provinsi Kepulauan Riau Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2007-2009 Jenis Kendaraan Karimun Bintan Lingga Natuna Batam sedan Jeep Station Wagon Bis Micro Bus Ambulans Truck Pick up Sepeda Motor Pemadam Kebakaran 170 222 1066 110 45 262 310 18546 20731 220 43 63 12 10 260 249 3871 4728 7 16 65 54 27 4324 4493 2 4 36 14 894 950 22233 4366 11210 711 9216 146330 194066

Tanjung Pinang 1122 1187 4114 605 90 2629 57748 67495

Total Sumber : BPS KEPRI, 2008.

3.2.4

Perekonomian

3.2.4.1 Produk Domestik Regional Bruto
Secara konsepsi, PDRB menggambarkan seberapa besar proses kegiatan ekonomi (tingkat produktivitas ekonomi di suatu wilayah) yang dihitung sebagai akumulasi dari pencapaian nilai transaksi dari berbagai sektor ekonomi dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, PDRB merupakan gambaran nyata hasil aktivitas pelaku ekonomi dalam memproduksi barang dan jasa. Indikator ini dapat digunakan sebagai bahan evaluasi perkembangan ekonomi dan sebagai landasan penyusunan perencanaan pembangunan ekonomi. Dapat dilihat pada table 3-8.

1 2 3 4 5 6 7 8 9

Tabel III-8 Nilai PDRB Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2007-2009 Lapangan Usaha Atas dasar harga Atas dasar harga konstan berlaku 2000 (Triliun Rupiah) (T riliun Rupiah) 2007 2008 2009 2007 2008 2009 Pertanian 2.61 2.87 1.64 1.70 1.73 Pertambangan dan Penggalian 5.06 5.44 2.12 2.06 2.08 Industri Pengolahan 24.20 26.62 18.22 19.06 19.51 Listrik, Gas dan Air Bersih 0.28 0.33 0.18 0.20 0.20 Bangunan 2.65 3.73 1.14 1.53 1.71 Perdagangan, Hotel dan Restoran 10.63 12.06 7.71 8.31 8.63 Pengangkutan dan Komunikasi 2.21 2.69 1.41 1.61 1.72 Keuangan, persewaan dan jasa 2.86 3.24 1.58 1.73 1.83 perusahaan Jasa-jasa 1.31 1.61 0.71 0.82 0.89 PDRB 51.83 58.59 34.71 37.02 38.32 PDRB Tanpa MIGAS 47.42 53.85 32.94 35.31 36.60 Sumber : Buku Profil KEPRI, 2010.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 18

Berdasarkan data yang ada diatas dasar harga berlaku, dalam kurun waktu 2006-2009 sektor ekonomi industri pengolahan menjadi sektor yang sangat menunjang perekonomian di Provinsi Kepulauan Riau. Setiap tahun, sektor ekonomi industri pengolahan selalu menjadi yang tertinggi jika dibandingkan dengan sektor ekonomi yang lain. Dan setiap tahunnya juga sektor ekonomi industri ini berkembang. Hal ini disebabkan karena Kota Batam yang menjadi salah Kota Industri yang berkembang bukan hanya di Provinsi Kepulauan Riau namun juga di Indonesia

Tabel III-9 Laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau Menurut Lapangan Usaha Tahun 2006-2009 No Lapangan Usaha TAHUN 2006 2007 2008 1 Pertanian 5.41 6.29 3.80 2 Pertambangan dan Penggalian dengan MIGAS 1.73 (0.92) (2.71) Pertambangan dan Penggalian tanpa MIGAS 15.05 6.15 3.38 3 Industri Pengolahan 6.83 5.84 4.56 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 5.61 5.76 7.94 5 Bangunan 11.14 29.15 34.26 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 5.50 7.77 7.77 7 Pengangkutan dan Komunikasi 12.13 11.24 14.44 8 Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan 8.12 9.48 9.71 9 Jasa-jasa 5.89 14.24 15.59 PDRB 6.78 7.01 6.65 PDRB Tanpa MIGAS 7.23 7.55 7.22 Sumber : Buku Profil KEPRI, 2010.

2009 1.50 1.10 3.31 2.38 2.08 13.36 3.84 6.67 5.50 8.44 3.51 3.65

Tabel III-10 PDRB Perkapita Tanpa MIGAS di Provinsi Kepulauan Riau No A 1 2 3 4 5 6 7 Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2007-2009 Kabupaten/Kota 2006 2007 Atas dasar harga berlaku Kota Tanjung Pinang 17.36 19.53 Kota Batam 44.56 47.46 Kabupaten Bintan 26.77 28.56 Kabupaten Karimun 13.12 14.10 Kabupaten Natuna 14.90 15.90 Kabupaten Lingga 7.94 8.53 Kabupaten Kepulauan Anambas Kepulauan Riau 31.36 34.04 Kepulauan Riau (Tanpa batam) 16.20 17.56 Atas dasar harga konstan Kota Tanjung Pinang Kota Batam Kabupaten Bintan Kabupaten Karimun 2008 22.17 51.88 30.33 15.40 14.44 9.49 16.53 37.06 19.34 2009 24.32 52.34 31.79 16.49 15.71 10.10 16.89 38.98 24.76

B 1 2 3 4

11.14 32.90 21.03 7.69

11.69 33.35 21.71 7.86

12.09 33.72 22.42 8.05

12.60 33.31 23.04 8.27

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 19

5 6 7

Kabupaten Natuna Kabupaten Lingga Kabupaten Kepulauan Anambas Kepulauan Riau Kepulauan Riau (Tanpa batam) Sumber : Buku Profil KEPRI, 2010.

6.74 5.44 22.89 10.52

6.99 5.71 23.65 10.87

6.16 5.99 7.04 24.30 11.23

6.55 6.28 7.10 24.16 14.41

Berdasarkan data Tabel III-11 diatas, maka Kota Batam menjadi daerah yang memiliki PDRB per kapita tanpa migas yang terbesar baik dilihat atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan. Berdasarkan harga yang berlaku, Kota Batam menunjukkan peningkatan yang bertambah tiap tahunnya dari tahun 20062009. Sedangkan PDRB yang terkecil terdapat di Kabupaten Kepulauan Anambas. Hal ini terjadi karena kabupaten ini merupakan kabupaten yang baru dimekarkan.
Tabel III-12 Distribusi PDRB di Provinsi Kepulauan Riau No Menurut Lapangan Usaha Tahun 2007-2009 Lapangan Usaha Atas dasar harga berlaku Atas dasar harga konstan 2000 PERTANIAN Tanaman bahan pangan Tanaman Perkebunan Peternakan Kehutanan Perikanan PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN Minyak dan gas bumi Pertambangan tanpa MIGAS Penggalian INDUSTRI PENGOLAHAN Industri MIGAS Pengilangan Minyak Bumi Gas Alam Cair Industri Tanpa GAS Makanan, Minuman dan tembakau Tekstil, barang kulit dan alas kaki Barang kayu dan hasil hutan lainnya Kertas dan barang cetakan lainnya Pupuk, kimia dan barang karet lainnya Semen, barang galian bukan logam Logam dasar besi dan baja Alat angkutan, mesin dan peralatan Barang lainnya LISTRIK, GAS dan AIR BERSIH Listrik Gas Air Bersih BANGUNAN PERDAGANGAN, HOTEL dan RESTORANT 2007 5.05 0.26 0.31 0.78 0.06 3.64 9.76 8.50 0.81 0.45 46.60 46.60 0.55 0.25 0.24 0.06 5.12 20.52 2008 4.90 0.25 0.29 0.76 0.06 3.54 9.30 8.08 0.78 0.44 45.44 45.44 0.55 0.25 0.24 0.06 6.36 20.58 2009 4.99 0.25 0.28 0.78 0.06 3.62 8.77 7.56 0.76 0.45 46.20 46.20 0.56 0.26 0.24 0.06 7.11 19.55 2007 4.72 0.24 0.25 0.73 0.06 3.44 6.11 5.12 0.58 0.41 52.50 52.50 0.53 0.19 0.30 0.04 3.28 22.21 2008 4.61 0.24 0.24 0.71 0.06 3.36 5.57 4.61 0.57 0.39 51.48 51.48 0.53 0.20 0.29 0.04 4.12 22.45 2009 4.50 0.24 0.23 0.73 0.05 3.25 5.44 4.48 0.57 0.39 50.91 50.91 0.53 0.21 0.28 0.04 4.52 22.52

1

2

3

4

5 6

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 20

7

8

9

Perdagangan besar dan eceran Hotel Restorant PENGANGKUTAN dan KOMUNIKASI PENGANGKUTAN Angkutan REL Angkutan jalan raya Angkutan Laut Angkutan sungai, danau dan penyeberangan Angkutan udara Jasa penunjang angkutan KOMUNIKASI Pos dan Telekomunikasi Jasa Penunjang Komunikasi KEUANGAN, PERSEWAAN, DAN JASA PERSEWAAN Bank Lembaga keuangan tanpa bank Jasa penunjang keuangan Sewa bangunan Jasa perusahaan JASA-JASA PEMERINTAHAN UMUM DAN PERTAHANAN Administrasi, Pemerintahan dan Pertahanan Jasa Pemerintahan lainnya SWASTA Sosial kemasyarakatan Hiburan dan Rekreasi Perorangan dan Rumah Tangga PDRB dengan MIGAS Sumber : Buku Profil KEPRI, 2010.

17.46 1.91 1.15 4.27 3.76 1.99 0.98 0.51 0.28 0.51 5.50 3.74 0.18 1.54 0.04 2.54 1.22 1.32 0.28 0.28 0.76 100

17.14 2.13 1.31 4.60 4.07 2.13 1.04 0.59 0.31 0.53 5.54 3.77 0.19 1.53 0.05 2.75 1.39 1.36 0.27 0.32 0.77 100

16.17 19.55 2.10 4.66 4.17 2.17 1.06 0.64 0.30 0.49 5.40 3.64 0.19 1.52 0.05 2.77 1.45 1.32 0.25 0.32 0.75 100

18.78 2.28 1.15 4.06 3.56 1.86 0.95 0.52 0.23 0.50 4.55 3.05 0.16 1.31 0.03 2.05 0.91 1.14 0.17 0.24 0.73 100

18.62 2.54 1.29 4.35 3.82 2.00 1.00 0.57 0.25 0.53 -

18.66 2.58 1.28 4.48 3.92 2.01 1.05 0.60 0.26 0.56 4.77 3.24 0.17 1.33 0.03 2.23 1.04 1.19 0.17 0.26 0.76 100

3.17 0.17 1.31 0.03 2.23 1.04 1.19 0.17 0.27 0.75 100

3.2.4.2 Potensi hasil pertanian
Dari tujuh kabupaten kota yang ada di provinsi kepulauan riau, 6 kabupaten dan kota memiliki potensi padi sawah. Dilihat dari luas tanam, luas panen, produktivitas dan produksinya memang masih kecil dibandingkan dengan kebutuhan yang ada di masyarakat. Namun potensi ini diharapkan terus ditingkatkan untuk menjaga ketahanan pangan local. Kecuali kota batam yang memang tidak memiliki potensi dari padi dan sawah. Kabupaten Natuna dan Lingga diharapkan dapat menjaga ketahanan pangan padi sawah.

Tabel III-13 Luas tanam, luas panen, produktifitas dan produksi padi sawah

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 21

No

Kabupaten /Kota

di Provinsi Kepulauan Riau Menurut Kabupaten Kota, tahun 2008-2009 Tahun 2008 Tahun 2009 Luas Luas Produktivitas Produksi Luas Luas Produktivitas tanam Panen (KU/Ha) (Ton) tanam Panen (KU/Ha) (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) 2,95 3,03 3,00 3,04 3,00 3,04 2,95 57,64 12,00 316,21 12,00 400,80 1,00 20,00 14,00 99,00 9,00 40,00 183,00 1,00 12,00 11,00 88,00 5,00 19,00 136,00 29,95 31,01 30,76 31,03 30,74 31,00 214,44

Produksi (Ton) 2,99 37,21 33,84 332,02 15,37 58,90 480,33

1 2 3 4 5 6 7

Kota Tanjung 1,00 1,00 Pinang Kota Batam Kabupaten 19,50 19,00 Bintan Kabupaten 9,00 4,00 Karimun Kabupaten 138,00 104,00 Natuna Kabupaten 9,00 4,00 Lingga Kabupaten Anambas Jumlah 176,50 132,00 Sumber : Buku Profil KEPRI, 2010

Potensi buah-buahan di provinsi kepulauan riau, dilihat dari perkembangannya pada tahun 2006 hingga tahun 2009 beberapa komoditas yang mengalami pertumbuhan produksi adalah nangka, rambutan durian dan pisang. Diharapkan komoditas-komoditas yang dihasilkan ini dapat saling bersubtitusi antar wilayah kabupaten/kota. Peningkatan jumlah komoditas di masing-masing wilayah kabupaten kota tidak sejalan dengan akumulasi yang diharapkan pada tahun 2009 dengan pertumbuhan yang linear, dapat dilihat pada table 3.14.

Tabel III-14 Produksi buah-buahan di Provinsi Kepulauan Riau Menurut Kabupaten Kota, tahun 2006-2007
N o 1 Kabup aten /Kota Kota Tanjun g Pinang Kota Batam Kabup aten Bintan Kabup aten Karimu n Kabup aten Natun a Kabup aten Lingga Kabup aten 2006 Nang ka 64,6 5 196, 72 239, 50 538, 90 48,8 9 286, 00 Nanas 503,1 0 1,585 .28 17,42 5.03 30,85 0.56 270,1 4 432,0 9 Duria n 68,1 0 83,7 5 216, 00 216, 00 705, 25 299, 00 Jer uk 63, 26 73, 50 351 ,70 57, 83 17, 70 Pisan g 100, 00 429, 45 923, 00 2,37 2.20 57,8 3 17,7 0 Ramb utan 35,00 455,7 7 552,7 5 937,6 5 228,1 7 48,00 Nang ka 105, 70 318, 32 277, 48 110, 40 120, 40 443, 70 Nanas 472,0 0 1,664 .95 25,69 0.50 15,53 5,00 210,4 0 190,0 0 2007 Duria n 77,0 0 118, 58 451, 00 130, 80 539, 00 246, 15 Jer uk 45, 00 44, 00 47, 00 45, 40 24, 00 Pisan g 53,3 8 275, 79 454, 40 1,40 1.75 439, 24 15,9 0 Ramb utan 30,50 720,0 0 688,8 0 1,584. 00 355,5 0 79,30 -

2 3 4

5

6 7

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 22

Anamb as Jumla h

1,37 4.66

51,06 6.20

1,58 8.00

563 ,99

3,90 0.18

2,257. 34

1,37 6.00

43,76 3.05

1,56 2.53

205 .40

2,64 0.46

3,458. 10

Sumber : Buku Profil KEPRI, 2010 Tabel III-15 Produksi buah-buahan di Provinsi Kepulauan Riau Menurut Kabupaten Kota, tahun 2008-2009
No 1 2 3 4 5 6 7 Kabupaten /Kota Kota Tanjung Pinang Kota Batam Kabupaten Bintan Kabupaten Karimun Kabupaten Natuna Kabupaten Lingga Kabupaten Anambas Jumlah 2008 Nangka 925,00 316,00 278,00 744,00 11,00 408,00 2,709.00 Nanas 6,00 1,665.00 25,691,00 1,781.00 7,00 278,00 29,428.00 Durian 159,00 120,00 470,00 2,306.00 91,00 1556,00 4,702.00 Jeruk 1,00 96,00 15,00 35,00 147,00 Pisang 26 274,00 460,00 182,00 54,00 430,00 1,426.00 Rambutan 445,00 710,00 690,00 510,00 22,00 468,00 2,845.00 Nangka 197,80 553,84 514,35 261,13 296,04 648,87 79,12 2,551.15 Nanas 59,97 154,86 3,861.99 2,519.66 26,24 29,99 14,99 6,667.70 2009 Durian 111,80 155,25 1,445.24 757.86 646,05 1,341.58 130,41 4,588.19 Jeruk 38,50 144,50 29,00 58,00 270.00 Pisang 43,96 210,01 351,79 1,076.92 315,15 36,62 34,16 2,428.61 Rambutan 24,68 496,88 641,73 930,86 225,60 102,23 35,25 2,457.23

Sumber : Buku Profil KEPRI, 2010

3.2.4.3 Potensi hasil peternakan
Potensi peternakan di wilayah kepulauan riau, sangat mungkin untuk dikembangkan dalam skala yang lebih luas. Potensi ini terlihat dari adanya peternakan-peternakan dalam skala besar maupun skala yang lebih kecil. Kecuali Kabupaten Anambas yang memang luas daratannya sangat kecil, karena kondisi geographis nya yang terdiri atas pulau-pulau kecil. Potensi ini dapat terus dikembangkan hingga terjadi subtitusi antar wilayah, sehingga terbentuk ketahanan pangan didalam skala local, regional maupun skala internasional.
Tabel III-16 Populasi ternak di Provinsi Kepulauan Riau Menurut Kabupaten Kota, tahun 2007-2009
No 1 2 3 4 5 6 7 Kabupaten /Kota Kota Tanjung Pinang Kota Batam Kabupaten Bintan Kabupaten Karimun Kabupaten Natuna Kabupaten Lingga Kabupaten Anambas Jumlah Sapi Potong (Ekor) 2007 106 112 525 1.284 4.579 1.021 7.627 2008 98 211 1.035 1.175 4.337 1.125 302 8.283 2009 101 217 1.066 1.210 4.467 1.158 311 8.863 Kambing (Ekor) 2007 980 641 1.146 16.722 1.917 325 21.731 2008 1001 708 1.389 16.446 1.066 658 945 22.213 2009 1041 728 1.445 17.103 1.108 684 983 23.092 2007 356 179.339 1.937 1.363 0 684 183.679 Babi (ekor) 2008 310 178.979 2.098 1.351 0 325 0 183.063 2009 319 179.337 2.160 1.392 0 344 0 183.552 Kerbau (Ekor) 2007 0 0 0 0 43 0 43 2008 0 0 0 0 24 0 0 24 2009 0 0 0 0 25 0 0 25

Sumber : Buku Profil KEPRI, 2010

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 23

Tabel III-17 Populasi ternak di Provinsi Kepulauan Riau Menurut Kabupaten Kota, tahun 2007-2009
No 1 2 3 4 5 6 7 Kabupaten /Kota Kota Tanjung Pinang Kota Batam Kabupaten Bintan Kabupaten Karimun Kabupaten Natuna Kabupaten Lingga Kabupaten Anambas Jumlah Ayam Ras Petelur (Ekor) 2007 39.320 48.647 247.008 93.700 338 4.452 433.465 2008 27.490 48.005 259.870 163.400 350 5.500 0 504.615 2009 27.572 48.149 260.650 163.890 351 5.517 0 506.129 Ayam Ras Pedaging (Ekor) 2007 15.7431 5.001.100 878.200 76.448 62.183 31.500 6.206.862 2008 156.850 5.098.897 1.000.594 80.100 7.825 29.500 250 6.374.016 2009 158.418 5.149.886 1.010.599 80.901 7.903 29.795 253 6.437.755 2007 719 2.905 1.203 87.220 21.994 2.958 116.949 Itik (Ekor) 2008 745 2.955 1.120 91.026 2.382 1.897 120 100.245 2009 751 2.982 1.130 91.845 2.596 1.914 125 101.343 Ayam Buras (Ekor) 2007 118.253 68.402 188.346 260.818 100.030 3.956 739.805 2008 118.253 68.402 188.346 260.818 100.030 3.956 739.805 2009 116.774 65.001 206.431 302.783 134.716 73.784 1.762 901.251

Sumber : Buku Profil KEPRI, 2010

3.2.4.4 Potensi hasil perikanan
Potensi perikanan di wilayah kepulauan riau, sangat besar. Ini terlihat dari data dari hasil survey dinas perikanan dan kelautan provinsi kepulauan riau pada tahun 2009. Dimana perikanan laut memiliki potensi besar baik itu yang dilakukan secara penangkapan maupun budidaya. Terlihat bahwa Kabupaten Karimun memiliki potensi besar dengan jumlah 72.921 Ton Ikan, disusul oleh Bintan senilai 47.650 Ton Ikan dan Batam (40.953 Ton Ikan).

Tabel III-18 Jumlah produksi Ikan menurut jenis kegiatan di Provinsi Kepulauan Riau, tahun 2009 (Dalam Ton)
No Kabupaten/ Kota Penangkapan Jumlah (Ton) 7.452 40.953 47.650 72.921 36.502 26.029 231.507 Laut 7.185 40.502 47.306 70.411 34.164 25.871 225.439 Perairan Umum Sub Jumlah 7.185 40.502 47.306 70.411 34.164 25.871 225.439 Laut 47.40 451 192 1.477 2.338 148 4.653 Tambak 59 944 4 1.007 Kolam 219.73 93 89 613 407.86 Budidaya Keramba Sawah Kolam Air Deras Jaring Apung Sub Jumlah 267.12 451 344 2.510 2.338 158 6.068

1 2 3 4 5 6 7

Kota Tanjung Pinang Kota Batam Kabupaten Bintan Kabupaten Karimun Kabupaten Natuna Kabupaten Lingga Kabupaten Anambas Jumlah

Sumber : Buku Profil KEPRI, 2010

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 24

3.2.4.5 Perdagangan luar (export) dan dalam negeri (import)
Berdasarkan data BPS yang ada, potensi eksport provinsi kepulauan riau sangat besar. Ini terlihat dari nilai dan volume komoditas yang dikirim keluar wilayah kepulauan riau. Komoditas yang paling besar volume dan nilai ekspornya yaitu bahan bakar mineral yang memiliki pangsa (segment) hingga mencapai 26,56% dari total ekspor yang ada. Potensi ekspor terbesar kedua yaitu mesin/peralatan listrik (22.72%), mesin/pesawat mekanik (16.27%) serta kapal laut dan sejenisnya (7.40%).

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Tabel III-19 Volume dan Nilai ekspor Provinsi Kepulauan Riau menurut kelompok komoditas, tahun 2009 Kelompok Komoditas Volume Nilai Pangsa Bahan Bakar Mineral 5.473.744.109 2.212.681.680 26.56 Mesin/Peralatan Listrik 63.900.090 1.892.709.810 22.72 Mesin/Pesawat Mekanik 90.937.564 1.355.415.533 16.27 Kapal Laut dan Sejenisnya 213.713.299 616.644.251 7.40 Benda-benda dari besi/baja 327.834.610 597.106.052 7.17 Perangkat Optik 9.026.451 312.005.602 3.75 Minyak, Lemak Hewan 467.444.051 305.836.876 3.67 Bijih, Kerak, Abu Logam 8.749.575.454 121.897.201 1.46 Barang Rajutan 8.986.437 121.171.570 1.45 Berbagai produk kimia 117.947.982 111.550.336 1.34 Lainnya 3.588.270.419 683.523.136 8.21 Jumlah 2009 19.111.380.466 8.330.542.047 100 Jumlah 2008 24.678.331.804 7.470.594.247 100 Jumlah 2007 19.085.929.180 6.920.920.181 100 Jumlah 2006 23.557.879.722 6.073.097.295 100 Sumber : BPS Provinsi KEPRI, 2009

Untuk negara tujuan ekspor, singapura merupakan negara tujuan ekspor yang paling mendominasi dimana 57.30% barang masuk ke Negara tersebut. Sedangkan sebaran Negara lainnya adalah Cina, Australia, Jepang, Malaysia hingga India.
Tabel III-20 Volume dan Nilai ekspor Provinsi Kepulauan Riau menurut Negara tujuan, tahun 2009 No 1 Negara tujuan Singapura Volume (kg) 6.741.449.867 Nilai (USS$) 4.773.238.084 Pangsa (%) 57.30

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 25

No 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Negara tujuan

Volume (kg) 8.811.503.021 638.194.178 371.236.587 1.015.623.413 62.561.408 415.034.958 277.576.096 6.198.442 156.344.507 615.657.989 19.111.380.466 24.678.331.804 19.085.929.180 23.557.879.722

Nilai (USS$) 554.485.499 387.545.360 385.239.730 358.495.535 321.886.201 215.388.427 152.792.947 141.571.278 115.059.957 924.839.029 8.330.542.047 7.470.594.247 6.920.920.181 6.073.097.295

Cina Australia Jepang Malaysia Amerika Serikat Korea Selatan Thailand Perancis India Lainnya Jumlah 2009 Jumlah 2008 Jumlah 2007 Jumlah 2006 Sumber : BPS Provinsi KEPRI, 2009

Pangsa (%) 6.66 4.65 4.62 4.30 3.86 2.59 1.83 1.70 1.38 11.10 100 100 100 100

Berdasarkan pelabuhan muat yang melakukan kegiatan pengiriman barang ke luar wilayah dari kepulauan riau, terlihat pada tahun 2008 Pulau Batam dengan 6 (enam) pelabuhannya memiliki aktivitas ekspor yang tinggi mencapai 1Miliar kilograms. Kemudian pada tahun 2009, Natuna menduduki posisi pengekspor terbesar dengan volume ekspor yang mencapai 5 Miliar kilograms. Demikian juga halnya dengan Karimun. Potensi ini menunjukkan peranan besar dari komoditas dan aktivitas masyarakat yang perlu dijaga dengan baik.

No 1

2

3

4

5

Tabel III-21 Volume Dan Nilai Ekspor Provinsi Kepulauan Riau Menurut Pelabuhan Muat, Tahun 2008-2009 2008 2009 Pelabuhan Volume Ekspor Nilai FOB Volume Ekspor Nilai FOB (Kg) (USS $) (Kg) (USS $) KARIMUN; 10.593.590.515 157.124.255 3.788.218.046 111.293.451 Tj. Balai 10.386.823.377 154.660.537 3.780.407.514 108.439.573 Karimun Moro Sulit 12.600 5.600 Tanjung 206.754.538 2.458.118 7.810.532 2.853.878 Batu Pasir Panjang BINTAN; 12.525.727 358.020.982 1.600.674 77.022.981 Tanjung 12.525.727 358.020.982 1.600.674 77.022.981 Uban NATUNA; 398.870.190 303.687.957 5.442.005.194 2.209.018.654 Tarempa 11.190 35.770 210.173 436.603 Udang 398.859.000 303.652.187 5.441.795.021 2.208.582.051 Natuna LINGGA; 430.408.475 7.394.378 972.447.417 12.883.943 Singkep 312.947.681 5.401.978 972.340.841 12.815.090 Dabo Penuba 117.460.794 1.992.400 106.576 68.853 BATAM; 1.487.237.421 6.361.711.318 1.622.417.585 5.350.246.658 Batu Ampar 594.058.358 3.451.791.715 498.608.526 2.548.450.756 Nongsa 3.957.775 14.679.274 Hang Nadim 1.809.460 253.769.349 1.412.215 199.840.973 Pulau Buluh Pulau 5.748.685 12.073.778 6.104.559 12.756.127 Sambu

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 26

No

6

Pelabuhan 2008 Sekupang 334.307.764 1.297.098.957 Kabil/Panau 547.355.379 1.332.298.245 TANJUNG 5.373.742.718 72.888.289 PINANG; Tanjung 5.373.742.718 72.888.289 Pinang Jumlah 24.678.331.804 7.470.594.247 Sumber : BPS Provinsi KEPRI, 2009

2009 302.163.968 814.128.317 4.696.174.486 4.696.174.486 19.111.380.466 1.297.098.957 1.292.099.845 90.697.187 90.697.187 8.330.542.047

Selain melakukan kegiatan ekspor, kemampuan perekonomian kepulauan riau juga melakukan kegiatan impor atau pemasukan kebutuhan barang ke dalam wilayah kepulauan riau. Berdasarkan data statistik dari badan pemerintah provinsi, Negara singapura paling banyak mengirimkan barang/komoditas kedalam wilayah kepulauan riau yakni sebesar 56,09% dengan nilai mencapai 5 Miliar Dollar Amerika. Yang diikuti oleh berbagai Negara lainnya seperti Malaysia, Jepang, Cina, Amerika Serikat, Jerman, Taiwan, Korea Selatan, Panama dan Australia.
Tabel III-22 Volume dan Nilai Impor Provinsi Kepulauan Riau Menurut Negara Asal, Tahun 2009 Nilai CIF Pangsa Negara Asal Volume (kg) (USS$) (%) 1.439.685.821 690.486.685 169.474.387 368.332.639 21.106.841 18.901.275 203.982.635 95.179.958 1.853.038 38.790.209 317.394.992 3.365.188.480 5.817.191.395 3.356.548.396 2.581.706.436 5.137.432.056 722.788.246 681.554.157 657.756.076 367.383.095 188.949.712 183.124.711 129.624.050 124.158.412 101.719.855 864.352.266 9.158.852.636 12.172.669.469 2.350.182.195 1.609.422.816 56.09 7.89 7.44 7.18 4.01 2.06 2.00 1.42 1.36 1.11 9.44 100 100 100 100

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Singapura Malaysia Jepang Cina Amerika Serikat Jerman Taiwan Korea Selatan Panama Australia Lainnya Jumlah 2009 Jumlah 2008 Jumlah 2007 Jumlah 2006 Sumber : BPS Provinsi KEPRI, 2009

Dilihat dari volume bongkar di pelabuhan yang ada di wilayah kepulauan riau, pada tahun 2008, maka Batam dan Bintan merupakan pelabuhan yang memiliki volume bongkar impor barang yang tinggi. 7 (tujuh) pelabuhan yang melakukan bongkar barang impor mencapai 4 Miliar kilograms dengan nilai setara 11 Miliar dollar Amerika Serikat.diikuti oleh kabupaten Karimun (28 juta kilograms) setara 98 juta Dollar Amerika Serikat dan Bintan mencapai 1 Miliar kilogram dan setara dengan 900jutaan dollar amerika serikat.
Tabel III-23 Volume Dan Nilai Impor Provinsi Kepulauan Riau Menurut Pelabuhan Bongkar, Tahun 2008-2009 Pelabuhan 2008 2009

No

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 27

1

KARIMUN; Tj. Balai 7.070.693 Karimun Moro Sulit Tanjung 57.810 Batu Pasir 21.512.968 Panjang 2 BINTAN; 1.017.306.432 Tanjung 1.017.187.574 Uban Kijang 118.858 3 NATUNA; 208.710 Tarempa 50.269 Udang 158.327 Natuna Serasan Ranai 114 4 LINGGA; 275.993 Singkep 275.993 Dabo Penuba 5 BATAM; 4.718.169.657 Batu Ampar 1.648.495.666 Belakang Padang Hang Nadim 1.124.932 Pulau Buluh 425.000 Pulau 2.247.124.860 Sambu Sekupang 401.841.640 Kabil/Panau 419.157.559 Nongsa 24.968.310 TANJUNG 6 27.620.722 PINANG; Tanjung 27.620.722 Pinang Jumlah 5.817.191.395 Sumber : BPS Provinsi KEPRI, 2009

Volume Ekspor (Kg) 28.641.471

Nilai CIF (USS $) 98.391.634 21.735.716 171.417 76.484.501 974.581.152 973.210.669 1.370.483 8.155.556 86.749 8.063.917 4.890 467.666 467.666 11.059.324.994 5.212.245.703 397.934.570 358.047 2.008.326.820 2.309.879.519 1.130.580.335 1.270.509 30.477.958 30.477.958 12.172.669.469

Volume Ekspor (Kg) 17.609.561 17.571.561 38.000 591.590.735 591.550.469 40.266 111.198.411 92.055.765 19.142.646 18.623 18.623 2.641.551.707 1.410.770.521 1.044.478 408.397.131 212.208.339 609.131.238 3.219.443 3.219.443 3.365.188.480

Nilai CIF (USS $) 21.294.801 21.257.227 37.574 370.573.786 363.631.931 6.941.855 1.064.804.137 576.396.883 488.407.254 6.228 6.228 7.688.828.705 4.370.085.707 347.606.976 191.185.522 1.804.208.918 975.741.582 13.344.979 13.344.979s 9.158.852.636

3.3 Tinjauan kebijakan dan rencana
3.3.1 Rencana tata ruang wilayah provinsi kepulauan riau

Guna menunjang pengembangan dan pembangunan Provinsi Kepulauan RIau, ketersediaan sarana dan prasarana transportasi mempunyai peranan penting. Karakteristik daratan dan kepulauan di Provinsi Kepulauan Riau menyebabkan aksesibilitas antar pulau harus menggunakan sistem perhubungan dengan tiga moda transportasi yaitu transportasi darat, laut dan udara.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 28

3.3.1.1 Kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah Untuk mewujudkan tujuan penataan ruang sebagaimana dimaksud, ditetapkan kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah provinsi yang meliputi : 1. Pengembangan Keterpaduan Sistem Perkotaan a) Memantapkan dan meningkatkan fungsi pusat-pusat kegiatan PKN dan PKW; b) Mengembangkan pusat-pusat kegiatan lokal (PKL) dan sentra-sentra produksi; c) Mendorong pengembangan kawasan perkotaan di wilayah perbatasan; d) Membina keterkaitan antara pusat kegiatan dengan wilayah hinterlandnya. 2. Mendorong Terbentuknya Aksesibilitas Jaringan Transportasi Kepulauan a) Pengembangan jaringan jalan secara hirarkis yang menghubungkan antar pusatpusat kegiatan pelayanan perkotaan dan antara pusat-pusat kegiatan dengan masing-masing wilayah pelayanan; b) Integrasi sistem intermoda dan perpindahan antar moda dan di seluruh wilayah kepulauan; c) Pengembangan rute-rute pelayanan moda transportasi publik menjangkau seluruh wilayah kepulauan sesuai dengan intensitas aktivitas; d) Pengembangan dan peningkatan kualitas layanan terminal umum, bandara, pelabuhan, dan pelabuhan penyeberangan sebagai simpul transportasi; e) Pembangunan jembatan penghubung antar pulau dengan pertimbangan kondisi fisik dan jarak perairan. 3. Pengembangan Sistem Jaringan Prasarana Wilayah a) Pengembangan sumber daya air bagi penyediaan air bersih; b) Pengembangan sistem jaringan drainase dan pengolahan limbah; c) Pengembangan sistem jaringan telekomunikasi dan jaringan listrik serta energy alternatif. 4. Pemanfaatan Potensi Sumberdaya Alam Guna Mendorong Pengembangan Ekonomi Wilayah a) Pengembangan potensi sektor kelautan dan perikanan; b) Pengembangan potensi sektor pertambangan mineral dan migas dengan memperhatikan daya dukung lingkungan; c) Mengembangkan kegiatan sektor unggulan di wilayah sentra produksi; d) Mengembangkan pusat-pusat tujuan wisata dan kawasan pariwisata berbasis keunikan budaya, alam dan MICE. 5. Mengembangkan Zona dan Kawasan Industri Berdaya Saing Global a) Mengembangkan klaster industri berbasis keunikan wilayah; b) Menyiapkan sarana penunjang kegiatan industri; c) Mendorong kegiatan industri pengolahan komoditi unggulan di sentra-sentra produksi.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 29

6. Mendorong Pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Bintan, dan Karimun a) a. Membina, mengawasi, dan mengkoordinasikan pengelolaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas; b) b. Mempersiapkan daerah-daerah di luar Kawasan Batam, Bintan, dan Karimun dalam menunjang kegiatan-kegiatan di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas; c) Pengembangan sarana dan prasarana pendukung kegiatan-kegiatan di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. 7. Memelihara Kelestarian Wilayah Kepulauan a) Menetapkan kawasan lindung seluas minimal 30% dari luas pulau sesuai dengan karakteristik pulau; b) Mengembalikan fungsi kawasan lindung dalam rangka memelihara keseimbangan ekosistem; c) Mempertahankan dan melestarikan kawasan hutan mangrove; d) Menetapkan dan mempertahankan kelestarian sumberdaya dan keanekaragaman ekosistem kelautan; e) Meningkatkan pengawasan dan pengendalian wilayah konservasi.

3.3.1.2 Sistem Perkotaan Provinsi Kepulauan Riau Sistem Perkotaan Provinsi Kepulauan Riau terbagi atas beberapa pusat kegiatan, yang diantaranya ditetapkan melalui Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. Pusat pusat kegiatan sebagaimana yang dimaksud terdiri dari Pusat Kegiatan Nasional, Pusat Kegiatan Wilayah, Pusat Kegiatan Lokal, dan Pusat Kegiatan Strategis Nasional yang berguna untuk memberikan gambaran mengenai fungsi serta peran kota di Provinsi Kepulauan Riau. Provinsi Kepulauan Riau merupakan provinsi yang terdiri atas gugusan-gugusan pulau yang letaknya saling berjauhan, sehingga perlu adanya keterkaitan antar pulau untuk menjadikan provinsi ini menjadi satu kesatuan yang utuh. Dalam membentuk keterkaitan tersebut perlu adanya sistem perkotaan yang hirarkis dan saling berkesinambungan antara pusat kegiatan dengan wilayah hinterlandnya, sehingga terwujud pemerataan pembangunan di Provinsi Kepulauan Riau. Perwujudan dari pengembangan keterpaduan sistem perkotaan tersebut antara lain melalui pemantapan Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dan Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) serta pengembangan Pusat Kegiatan Lokal (PKL). Selain itu kawasan-kawasan perkotaan di pulau-pulau kecil didorong pengembangannya sebagai kota pesisir dengan menjadikan sektor kelautan dan perikanan sebagai leading sector dalam pengembangan ekonomi wilayahnya, serta menjadikan laut sebagai halaman depan dan orientasi pembangunan.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 30

Sistem Kota PKN/PKSN

Tabel III-24 Sistem Perkotaan di Provinsi Kepulauan Riau Kota Arahan Batam Sebagai Pusat Pemerintahan Kota Sebagai kawasan investasi internasional Sebagai “pusat keunggulan” (center of excellent) Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Bintan dan Karimun Sebagai pusat industri dan jasa di wilayah Provinsi Kepulauan Riau Sebagai pusat pariwisata Sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang mendorong perkembangan wilayah perbatasan Sebagai salah satu pintu gerbang Indonesia ke wilayah Internasional Sebagai kawasan untuk kepentingan pertahanan keamanan nasional serta integrasi nasional Sebagai kawasan alih muat kapal (transhipment point) Sebagai simpul-simpul utama (main outlet) transportasi laut dan udara baik skala nasional dan internasional Sebagai salah satu pusat pertumbuhan kawasan perbatasan negara di Provinsi Kepulauan Riau Sebagai pintu gerbang Indonesia ke wilayah internasional Sebagai kawasan untuk kepentingan pertahanan keamanan nasional serta integrasi nasional terutama pada kawasan perairan Indonesia Sebagai pusat pelayanan dan pusat ekspor serta akses ke pasar global Sebagai pusat koleksi dan distribusi skala regional dan nasional Sebagai kawasan pengembangan industri pendukung perikanan dan kelautan Sebagai pusat perdagangan dan jasa skala regional Sebagai simpul transportasi laut nasional dan internasional Sebagai simpul transportasi udara nasional Pusat pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau yang terletak di Pulau Dompak Pusat Pemerintahan Kota Pusat koleksi dan distribusi barang skala provinsi Sebagai pusat kegiatan industri pendukung PKN Batam Sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Bintan dan Karimun Sebagai pusat perdagangan dan jasa skala provinsi Sebagai pendukung kegiatan pariwisata Sebagai kawasan pendidikan Sebagai simpul transportasi laut nasional dan simpul transportasi udara nasional Pusat pemerintahan Kabupaten Lingga Pusat perdagangan dan jasa skala regional Pusat koleksi dan distribusi skala regional Pusat pengembangan industri hasil-hasil pertanian Pengembangan kegiatan pertanian/perkebunan, perikanan, kehutanan, pertambangan dan pariwisata Pusat pelayanan transportasi laut skala regional dan lokal Pusat pelayanan di Pulau Singkep dan sekitarnya Pusat pertumbuhan perdagangan dan jasa skala regional Pusat koleksi dan distribusi skala regional kegiatan pertanian/perkebunan, perikanan, kehutanan,

PKSN

Ranai

PKW

Tanjung Pinang

Daik

Dabo

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 31

Sistem Kota

Kota

Arahan pertambangan dan pariwisata Pusat pelayanan transportasi udara skala regional Simpul transportasi laut skala nasional Pusat pemerintahan Kabupaten Kepulauan Anambas Sebagai pusat koleksi dan distribusi skala regional Sebagai pusat kegiatan perdagangan dengan lingkup pelayanan lokal dan regional Sebagai sentra produksi perikanan dan kelautan Pengembangan industri pendukung dan pengolahan perikanan Sebagai kawasan pariwisata Simpul transportasi laut skala nasional Sebagai kota transit lalu lintas pelayaran Pusat pemerintahan Kabupaten Karimun Sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Bintan dan Karimun Sebagai kawasan perdagangan dan pelayanan jasa serta pariwisata Sebagai pusat koleksi dan distribusi tingkat regional Sebagai simpul transportasi laut nasional dan transportasi udara regional Pengembangan industri pengolahan hasil pertambangan, perikanan dan kelautan Sebagai simpul transit skala regional dan antar pulau Pusat perdagangan dan jasa skala lokal Sebagai kawasan kegiatan pariwisata, permukiman, pertanian, perkebunan dan perikanan Sebagai koleksi dan distribusi lokal Sebagai kawasan pendukung pengembangan industri Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Bintan dan Karimun Sebagai pusat koleksi dan distribusi lokal Sebagai kawasan kegiatan perikanan Sebagai pengembangan kawasan pertambangan Simpul transportasi laut nasional Sebagai kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Bintan dan Karimun Sebagai kawasan industri maritim Sebagai kawasan perdagangan dan jasa Sebagai pengembangan kawasan pertambangan Pusat pemerintahan Kabupaten Bintan Pusat kegiatan utama dengan skala pelayanan kabupaten Sebagai kawasan pariwisata Sebagai pusat perdagangan dan jasa skala lokal Sebagai kawasan industri pendukung Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Bintan dan Karimun Sebagai pusat koleksi dan distribusi Sebagai simpul pelayanan transportasi laut lokal Sebagai simpul penghubung PKN Batam dengan wilayah Kabupaten Bintan Sebagai kawasan perdagangan dan jasa lokal Sebagai kawasan industri maritime Sebagai kawasan pertanian dan perikanan Sebagai pusat koleksi dan distribusi lokal

Tarempa

Tanjung Balai Karimun

PKL

Tanjung Batu

Moro

Meral

Bandar Seri Bintan

Tanjung Uban

Kijang

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 32

Sistem Kota

Kota Letung

Arahan Sebagai simpul pelayanan transportasi skala rnasional Pusat koleksi dan distribusi hasil perikanan dan kelautan Sebagai kawasan perdagangan dengan lingkup pelayanan lokal sebagai daerah pusat kegiatan lokal untuk pengembangan pertanian Sebagai kawasan industri perikanan dan kelautan Sebagai kawasan pariwisata Simpul pelayanan transportasi laut regional Sebagai pusat koleksi dan distribusi hasil perikanan dan kelautan Sebagai pusat industri pengolahan perikanan dan kelautan Sebagai kawasan perdagangan lokal Sebagai kawasan pariwisata Sebagai pusat kegiatan pertambangan minyak dan gas Simpul pelayanan transportasi laut lokal Simpul transportasi udara skala regional Sebagai pusat koleksi dan distribusi hasil pertanian, perkebunan dan perikanan Pusat perdagangan skala lokal Sebagai simpul pelayanan transportasi skala regional Sebagai pusat koleksi dan distribusi hasil pertanian dan kelautan Sebagai simpul pelayanan transportasi laut skala regional Sebagai pusat koleksi dan distribusi hasil perikanan serta kelautan Sebagai kawasan pertanian, perkebunan dan perikanan Sebagai simpul pelayanan transportasi laut local Sebagai pengembangan kegiatan pertanian Sebagai kawasan perikanan dan kelautan Sebagai pusat koleksi dan distribusi hasil pertanian Simpul pelayanan transportasi laut lokal

Tebangladan

Sedanau

Serasan

Senayang

Pancur

Sumber:RTRWP KePri, 2008-2028

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 33

PETA SISTEM KOTA-KOTA DI WILAYAH KEPRI

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 34

3.3.1.3 Kawasan Strategis Wilayah Kepulauan Riau Kawasan strategis merupakan kawasan yang di dalamnya berlangsung kegiatan yang mempunyai pengaruh besar terhadap: a) tata ruang di wilayah sekitarnya; b) kegiatan lain di bidang yang sejenis dan kegiatan di bidang lainnya; dan/atau c) peningkatan kesejahteraan masyarakat. A. KAWASAN STRATEGIS NASIONAL Kawasan strategis nasional adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan, termasuk wilayah yang telah ditetapkan sebagai warisan dunia. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, di Provinsi Kepulauan Riau ditetapkan 2 (dua) Kawasan Strategis Nasional, yakni: 1) Kawasan Perbatasan Laut RI termasuk 19 pulau kecil terluar yang terletak di Provinsi Kepulauan Riau (Pulau Sentut, Tokong Malang Biru, Damar, Mangkai, Tokong Nanas, Tokong Belayar, Tokong Boro, Semiun, Sebetul, Sekatung, Senua, Subi Kecil, Kepala, Iyu Kecil/Tokong Hiu Kecil, Karimun Kecil/Karimun Anak, Nipa, Pelampong, Batu Berhanti/Batu Berantai, dan Nongsa/Putri) dengan Negara Malaysia/Vietnam/Singapura. Kawasan Strategis Nasional ini ditetapkan sebagai tahap pengembangan pertama, dengan bentuk pengembangan/peningkatan kualitas kawasan dengan sudut kepentingan Pendayagunaan Sumber Daya Alam dan Teknologi Tinggi. 2) Kawasan Batam, Bintan, dan Karimun, sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. Kawasan Strategis Nasional ini ditetapkan sebagai tahap pengembangan pertama, dengan bentuk pengembangan/peningkatan kualitas kawasan dengan sudut kepentingan ekonomi. B. KAWASAN STRATEGIS NASIONAL

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 35

Kawasan Strategi Provinsi adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup provinsi terhadap ekonomi, sosial, budaya dan atau lingkungan. Dalam Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, weweneng Pemerintah Provinsi dalam penataan ruang kawasan strategis provinsi adalah melaksanakan: a. penetapan kawasan strategis provinsi; b. perencanaan tata ruang kawasan strategis provinsi; c. pemanfaatan ruang kawasan strategis provinsi; d. pengendalian pemanfaatan ruang kawasan strategis provinsi; e. pengaturan, pembinaan, dan pengawasan pelaksanaan pemanfaan ruang kawasan strategis provinsi dan Kabupaten/Kota;
f.

pelaksanaan penataan ruang kawasan strategis provinsi.

Kewenangan Pemerintah Daerah Provinsi dalam pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan strategis provinsi mencakup aspek yang terkait dengan nilai strategis yang menjadi dasar penetapan kawasan strategis. Pemerintah daerah kabupaten/kota tetap memiliki kewenangan dalam penyelenggaraan aspek yang tidak terkait dengan nilai strategis yang menjadi dasar penetapan kawasan strategis. Selain itu, Pemerintah Daerah Provinsi juga memiliki kewenangan dalam penyusunan Rencana Detail terhadap Kawasan Strategis Provinsi. Berdasarkan pertimbangan hal-hal tersebut di atas, ditetapkan Kawasan Strategis di Provinsi Kepulauan Riau yang terdiri dari: 1) Kawasan strategis Pulau Dompak di Kota Tanjung Pinang; a) Pusat Pemerintahan, Pusat Pelayanan dan Pusat Pertumbuhan baru di Provinsi Kepulauan Riau; b) Berpotensi terhadap perkembangan pusat perekonomian yang mendukung esistensi perkembangan Kota Tanjungpinang; c) Pulau Dompak berada di Kota Tanjungpinang yang merupakan pusat sejarah dan identitas Riau Kepulauan; d) Memiliki potensi geografis yang berorientasi dan memiliki akses keluar untuk membentuk citra pusat pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau yang berwibawa, monumental dan berwawasan masa depan. 2) Kawasan strategis Kepulauan Anambas; Adapun alasan pemilihan Kawasan Strategis Kabupaten Kepulauan Anambas dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi dan dari sudut kepentingan pendayagunaan sumber daya alam : a) Sebagai Kabupaten termuda di Provinsi Kepulauan Riau yang memiliki berbagai macam potensi perlu penanganan lebih serius. b) Memiliki potensi perikanan dan kelautan. Potensi perikanan Kabupaten Kepulauan Anambas sangat besar dengan daerah tangkapan yang luas, dimana 98,65% dari luasan Kabupaten Kepulauan Anambas berupa lautan. Di samping

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 36

itu, sumber daya perikanan merupakan sumber daya yang bersifat pulih, sehingga ketersediaan potensi perikanan selalu ada di Kabupaten Kepulauan Anambas. Selain perikanan tangkap, kabupaten ini juga memiliki potensi Budidaya Perikanan. c) Memiliki potensi wisata bahari yang merupakan salah satu potensi kelautan yang dimiliki oleh Kabupaten Kepulauan Anambas. Kabupaten Kepulauan Anambas kaya dengan keindahan pantai dan terumbu karang. Kawasan objek wisata tersebut dapatdijumpai di sejumlah 19 Kawasan Objek Wisata. Objek wisata laut/pantai seperti Terumbu Karang di Kecamatan Jemaja. Objek wisata air terjun seperti Air Terjun Ulu Maras dan Air Terjun Temurun. Potensi objek wisata air terjun air bunyi di Kecamatan Siantan Selatan dan Pulau Bawah termasuk dalam wilayah Kecamatan Siantan Selatan. Wisata Bahari seperti Pulau Kelong dan Pulau Batu Alam di Palmatak, Pulau Penjali dan Pulau Punjong di Tarempa, dan Pulau Bawah di Jemaja. d) Memiliki potensi konservasi laut di perairan Kepulauan Anambas yaitu di Penjalin sebelah utara Pulau Jemaja dan Pulau Durai Kecamatan Palmatak. 3) Kawasan strategis Kabupaten Lingga; Adapun beberapa pertimbangan ditetapkannya Kabupaten Lingga sebagai kawasan Strategis Provinsi Kepulauan Riau dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi adalah : a) Potensi Komoditi Potensi pertanian dan perkebunan yang dimiliki oleh Kabupaten Lingga sangat beragam yang terdiri dari pertanian tanaman pangan, holtikultura dan perkebunan. Potensi tersebut belum dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal. b) Potensi Areal Tanam Kabupaten Lingga memiliki potensi areal tanam atau potensi lahan yang sangat besar untuk dikembangkan. Namun pada kenyataannya potensi lahan yang digunakan masih sangat minim dan kurang optimal sehingga produksi yang dihasilkanpun masih rendah. Dengan melihat pada potensi areal tanam atau potensi lahan yang sangat besar dimiliki oleh Kabupaten Lingga, dapat diketahui bahwa pada kabupaten ini sangat memungkinkan serta sangat potensial untuk dikembangkan pertanian dan perkebunan. Selain potensi lahan, potensi Sumber Air yang dimiliki kabupaten Lingga juga sangat mendukung untuk pengairan pertanian dan perkebunan. c) Potensi Tenaga Kerja Selain memiliki potensi produksi dan potensi lahan, Kabupaten Lingga juga memiliki potensi tenaga kerja yang dapat diserap sebagai tenaga kerja di sektor pertanian dan perkebunan. Jumlah penduduk di Kabupaten Lingga setiap tahunnya semakin bertambah. Dari 91.600 jumlah penduduk Kabupaten

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 37

Lingga pada tahun 2008 tersebut, potensi tenaga kerja yang berpeluang untuk diserap sebagai tenaga kerja di sector pertanian dan perkebunan sebanyak 18.786 jiwa yang terdiri dari penduduk yang bekerja sebagai petani dan buruh. d) Potensi Kawasan Free Trade Zone sebagai Pasar Komoditi Pertanian Kawasan Batam, Bintan dan Karimun yang merupakan kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas dapat menjadi potensi pasar bagi berkembangnya Kabupaten Lingga sebagai Kawasan Sentra Produksi Pertanian. Meningkatnya aktifitas di Kawasan Batam, Bintan dan Karimun secara tidak langsung akan menarik berbagai aktifitas, tenaga kerja, dan penduduk, sehingga kebutuhan akan produk pangan juga akan meningkat. Potensi besar pertanian dan perkebunan yang nantinya akan dihasilkan oleh Kawasan Sentra Produksi Pertanian Kabupaten Lingga, dapat menyuplai (menyediakan) kebutuhan pangan masyarakat baik skala lokal yaitu di Kabupaten Lingga, dan seluruh kabupaten/kota di Provinsi Kepulauan Riau khususnya ke kawasan Free Trade Zone Batam, Bintan dan Karimun, serta jika memungkinkan hasil pertanian dan perkebunan tersebut dapat dieksport ke luar negeri melalui kawasan FTZ BBK tersebut. 4) Kawasan strategis Kabupaten Natuna; Untuk menangkap dan menjawab permasalahan di jalur internasional tersibuk Selat Malaka-Singapura-Phillip yang sempit, dangkal, berbelok-belok, ramai, dan terbatas, maka jalur pelayaran ALKI I-A di Laut Cina Selatan menjadi alternatif karena merupakan lautan lepas dengan kondisi perairan yang cukup lebar dan dalam, dari gugus Pulau KarimunBarelang-Bintan hingga gugus Pulau Bunguran yang dilewati kapal-kapal internasional. Di gugus Pulau Bunguran, di dekat ALKI I-A, yaitu di Pulau Bunguran bagian barat daya terdapat Selat Lampa yang “teduh” karena terdapat pemecah gelombang alami berupa Pulau Sedanau. Dengan di tetapkannya Ranai sebagai Pengembangan Pemantapan Pelabuhan Nasional di dalam RTRWN serta Selat Lampa yang memiliki kedalaman yang cukup untuk pelayaran internasional saat ini, Provinsi Kepulauan Riau menetapkan Natuna menjadi Kawasan Strategis Provinsi yang diarahkan pemanfaatannya sebagai: a) Bandar transit Pelayaran internasional dan pusat pelayanan akses pasar global ( Ranai/Selat Lampa ) b) Penyediaan dan Pengembangan sarana prasarana kepelabuhanan c) Membina dalam Pengembangan Wisata Alam dan Wisata Bahari. d) Pengawasan dan pengendalian terhadap penggunaan Kawasan Strategis Kabupaten Natuna merupakan wewenang Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau. e) Alur pelayaran internasional yang melewati Kabupaten Natuna dapat dijadikan tempat Bunkering BBM dan STS Oil.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 38

PETA KAWASAN STRATEGIS WILAYAH KEPULAUAN RIAU

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 39

3.3.2

Rencana Program Jangka Panjang Dan Program Jangka Menengah Provinsi Kepulauan Riau
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) menjadi landasan dalam penyusunan RPJMD. Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) harus sinergis dan searah dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) yang tertuang dalam visi, misi dan arah kebijakan RPJPD diukur dalam masa 20 tahunan. Pencapaian dan ukuran keberhasilan pembangunan dibagi menjadi periode lima tahunan. RPJMD merupakan empat tahapan dalam dari tahapan penjabaran

pembangunan periode lima tahunan dari rencana yang tertuang dalam RPJPD, oleh karena itu dokumen RPJMD memuat arahan kebijakan dalam pencapaian visi misi jangka panjang serta sasaran pokok dan prioritas-prioritas program pada masing-masing tahapan. Kondisi saat ini, dokumen RPJMD Provinsi Kepulauan Riau 2010-2015 telah memasuki tahapan kedua dari RPJPD Provinsi Kepulauan Riau 2005-2025. a) Visi Sebagai arahan pembangunan jangka Panjang 2005-2025, Provinsi

Kepulauan Riau memiliki visi “ Kepulauan Riau Berbudaya, Maju, Sejahtera”. b) Misi dan Sasaran Pokok Dalam rangka mewujudkan visi dari Provinsi Kepulauan Riau, maka ditetapkanlah sasaran-sasaran lima misi pembangunan daerah dan arahan pencapaian pokok sebagai ukuran bagi pencapaian Rencana

Pembangunan Jangka Panjang Provinsi Kepulauan Riau. Misi dan sasaransasaran pokok RPJP Provinsi Kepulauan Riau adalah sebagai berikut: i. Misi 1. Mewujudkan Masyarakat Kepulauan Riau yang Memiliki Kepribadian dan Berakhlak Mulia.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 40

Sasaran-sasaran pokok dari misi 1 adalah sebagai berikut: 1. Terwujudnya karakter dan kepribadian masyarakat yang

bermoral, beretika, berorientasi kinerja, kemajuan iptek serta berdisiplin sebagai perwujudan pengamalan nilai agama, norma hukum dan budaya yang luhur. 2. Terbangunnya sistem pembelajaran dalam penanaman nilai-nilai agama, norma hukum dan budaya serta mengembangkan kemampuan lembaga pendidikan dan lembaga adat melalui pengenalan dan penanaman nilai-nilai agama, norma hukum dan budaya Melayu dan budaya disiplin baik pendidikan sekolah, luar sekolah dan keluarga mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. 3. Meningkatnya peran lembaga pendidikan, lembaga keagamaan dan lembaga adat bersama dengan pemerintah untuk memperkenalkan dan menerapkan nilai-nilai agama, norma hukum dan budaya dalam rangka meningkatkan kualitas dan akhlak dalam kehidupan masyarakat dan penyelenggaraan pemerintahan. 4. Berkembang dan lestarinya budaya daerah terutama dengan memberdayakan nilai-nilai budaya Melayu untuk meningkatkan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai tersebut melalui peningkatan pemakaian simbol dan atribut budaya Melayu dalam kehidupan masyarakat dan lembaga pemerintahan secara terus menerus termasuk pengembangan kesenian dan budaya daerah melalui peningkatan event kesenian dan budaya yang mendukung kegiatan pariwisata dan sebaliknya pariwisata yang mendorong berkembangnya nilai dan budaya Melayu. 5. Terlaksananya revitalisasi nilai-nilai kebudayaan Melayu serta terwujudnya pengembangan dan pelestarian nilai-nilai Budaya Melayu, baik melalui pendidikan sekolah, luar sekolah dan dalam keluarga serta dalam kehidupan bermasyarakat. 6. Terwujudnya menjunjung masyarakat hukum, yang dan memiliki etika kesadaran dalam dan

moral

kehidupan

bermasyarakat, bernegara dan berbangsa. Kesadaran ini akan membentuk karakter dan budaya disiplin dalam segala aspek kehidupan seperti taat pajak, taat dalam pemanfaatan rencana

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 41

penataan ruang, tertib berlalu lintas dan berdisiplin sebagai sebuah ciri bagi masyarakat yang maju dan modern. 7. Meningkatnya pemahaman dan pengamalan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari sehingga mampu mengurangi penyakit sosial masyarakat baik prostitusi, perdagangan orang maupun penyalahgunaan obat terlarang dan berbahaya serta kegiatan negatif lainnya yang bertentangan dengan agama, hukum dan moral. 8. Meningkatnya penghayatan dan pengamalan Ideologi Pancasila sehingga kerawanan sosial dan politik dapat dihindari dan disintegrasi bangsa tidak terjadi, serta terbinanya kultur politik demokratis yang santun dan menghargai perbedaan pandangan dalam membangun bangsa. ii. Misi 2. Menciptakan Sumber Daya Manusia Kepulauan Riau yang Berkualitas Pendidikan, Memiliki Etos Kerja dan Produktivitas yang Tinggi. Sasaran-sasaran pokok dari misi 2 adalah sebagai berikut: 1. Meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat agar mampu mengisi dan melaksanakan pembangunan 2. Meningkatnya kualitas hidup sumberdaya manusia termasuk perempuan yang dapat dilihat dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Indeks Pembangunan Gender (IPG) sehingga mampu memberikan peranan dan kontribusi dalam pembangunan daerah dan tidak menjadi beban pembangunan. 3. Meningkatnya kualitas pendidikan yang didukung oleh penataan sistem dan manajemen pendidikan serta pemerataan pelayanan pendidikan. Peningkatan kualitas pendidikan dilihat dari jumlah dan persentase lulusan, persentase lulusan yang melanjutkan pendidikan tinggi dan persentase lulusan yang mampu masuk ke pasar kerja dan menciptakan lapangan kerja. 4. Terwujudnya peningkatan kesempatan kerja dan berusaha khusus bagi lulusan sekolah menengah kejuruan dan pendidikan tinggi dengan masyarakat yang berkualitas pendidikan dan didukung fasilitas pendidikan dan tenaga pendukung pendidikan yang baik, maju dan berkualitas.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 42

5. Meningkatnya

kemampuan

sumberdaya

manusia

dalam

mengelola, memanfaatkan dan mengembangkan potensi dan sumberdaya alam untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran masyarakat, perekonomian daerah dan pembangunan nasional. 6. Meningkatnya kuantitas dan kualitas lulusan melalui program peningkatan mutu dan manajemen pengelolaan pendidikan serta meningkatnya rata-rata waktu masyarakat mengikuti pendidikan sekaligus meningkatnya relevansi pendidikan terhadap pasar kerja. 7. Terwujudnya peningkatan kesadaran masyarakat dan aparatur pemerintah terhadap hukum dan perundang-undangan sehingga membentuk budaya disiplin sebagai indikator peningkatan kualitas sumber daya manusia yang maju. 8. Dilaksanakannya penerapan reward and punishment di

lingkungan pemerintah dan masyarakat yang dititikberatkan pada disiplin terhadap perundang-undangan seperti tertib lalu lintas, ketaatan dalam pemanfaatan ruang/lahan, budaya bersih, budaya antri dan taat pajak serta peraturan perundangundangan. 9. Berkembangnya sikap profesional bagi aparatur dan masyarakat untuk meningkatkan etos kerja. Penempatan pegawai sesuai dengan kualifikasi dan kompetensinya dan didukung dengan sistem penggajian yang berbasis kinerja. Terwujudnya sistem dan berkembangnya penerapan standar pelayanan minimal (SPM) dan standar operasional dan prosedur (SOP) dalam rangka pelayanan prima kepada masyarakat. Terwujudnya penerapan standardisasi terhadap produk barang dan jasa yang dihasilkan pemerintah, masyarakat dan dunia usaha. 10. Terwujudnya Merit System dalam peningkatan kualitas SDM melalui pengembangan karir berbasis kinerja dan sistem recruitment by expertise. Terwujudnya tenaga kerja yang bermutu dan berdaya saing melalui peningkatan mutu tenaga kerja lokal melalui Balai Latihan Kerja (BLK) dan lembaga pelatihan profesional lainnya baik di dalam maupun luar negeri dan peningkatan wawasan kewirausahaan pada pelaku usaha kecil dan menengah.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 43

11. Tersusunnya rencana dan program pendidikan yang berfokus, mantap, terpadu dan berkelanjutan; Meningkatnya APK dan APS untuk tingkat TK/PAUD, untuk tingkat SMP/MTS, dan untuk tingkat SMA/SMK. 12. Tertatanya kelembagaan, perangkat dan kewenangan antara pihak keamanan dengan pihak terkait sehingga keamanan masyarakat dapat terjamin, dan terwujudnya rasa aman dilingkungan masyarakat dan kemitraan antara pihak keamanan dan masyarakat 13. Tersedianya Kepulauan pendidikan yang berbasis unggulan tingkat dan provinsi dan

kabupaten/kota yang sesuai dengan kondisi daerah khususnya kemaritiman tersedianya pendidikan dasar dan menengah yang murah tapi berkualitas dan mudah diakses serta pendidikan gratis bagi masyarakat miskin atau rawan sosial.

iii.

Misi

3.

Meningkatkan

Daya

Saing

Daerah

Agar

Mampu

Melaksanakan Pembangunan Dalam Perekonomian Nasional dan Global Khususnya Dalam Bidang Industri Pengolahan, Perikanan dan Kelautan serta Pariwisata. Sasaran-sasaran pokok dari misi 3 adalah sebagai berikut: 1. Terbangunnya sistem perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan kompetitif di seluruh daerah. Terwujudnya sektor pertanian dalam arti luas khususnya sub sektor perikanan, kelautan, pertambangan dan pariwisata serta industri sebagai sektor unggulan daerah dan menjadi basis aktivitas ekonomi. Terwujudnya pengelolaan yang efisien dan profesional dari potensi sektor unggulan sehingga menghasilkan produk unggulan daerah yang berkualitas dan dapat diandalkan. 2. Terwujudnya Indonesia, Kepulauan Riau sebagai bidang salah industri, satu pusat

pertumbuhan ekonomi nasional khususnya di bagian Barat dengan keunggulan perikanan, kelautan dan pariwisata. Tumbuh dan berkembangnya pusat ekonomi baru di wilayah Kepulauan Riau dengan sektor unggulan yang sesuai dengan potensi dan mampu mendorong sektor lain dalam memberikan pelayanan lebih baik dan berdaya saing.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 44

3. Meningkatnya

kemampuan

dan

profesionalitas

aparatur

pemerintah daerah untuk mewujudkan tata pemerintahan yang baik, bersih, berwibawa, bertanggungjawab serta profesional yang mampu mendukung pembangunan daerah. 4. Terkelolanya potensi wilayah terutama aspek kemaritiman sebagai modal dasar pembangunan daerah dan mendukung pembangunan nasional. Termanfaatkannya sumber daya alam baik kelautan, perikanan, pariwisata dan pertambangan maupun sumber daya lainnya bagi pendorong ekonomi masyarakat dan ekonomi daerah dan nasional. Tersedianya infrastruktur dasar utama bagi pengembangan maritim baik industri pengolahan, kelautan, perikanan, pertambangan maupun pariwisata. Meningkatnya peran sektor unggulan dalam perekonomian daerah dan menjadi lokomotif utama dalam menggerakkan ekonomi daerah. 5. Terwujudnya kerjasama antar daerah, regional dan internasional di bidang ekonomi, sosial dan budaya dalam rangka membentuk sinergitas ekonomi dan jaringan pertumbuhan ekonomi yang handal dan terintegrasi. 6. Terpenuhinya pasokan listrik (elektrifikasi) yang memadai, handal dan efesien sesuai dengan kebutuhan masyarakat baik kebutuhan rumah tangga, bisnis, sosial dan pebutuhan publik lainnya termasuk industri. Terselenggaranya pelayanan air bersih bagi masyarakat perkotaan dan daerah cepat tumbuh serta pengadaan dan pengembangan sarana sumber air bersih bagi kebutuhan masyarakat pedesaan. 7. Tersedianya produk hukum di bidang investasi dan penanaman modal serta perlindungan usaha ekonomi kerakyatan dengan koordinasi bersama semua pihak baik pemerintah, dunia usaha dan masyarakat. Meningkatnya investasi domestik dan investasi asing serta tersedianya peraturan yang lebih menjamin kepastian hukum bagi pekerja dan pelaku usaha serta didukung dengan penegakan hukum yang beroriantasi kepada kepentingan nasional dan daerah. 8. Meningkatnya kualitas dan etos kerja sumber daya manusia dalam semua bidang terutama disektor unggulan agar mampu mengikuti perkembangan dan sejajar dengan negara tetangga dengan

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 45

dukungan pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memiliki kepribadian yang sesuai dengan karakter dan budaya. 9. Meningkatnya efesiensi pelaksanaan pembangunan yang dilandasi oleh sistem penyelenggaraan administrasi pemerintahan, perencanaan dan pelaksanaan pembangunan yang akuntabel, responsif dan berorientasi kinerja. 10. Meningkatnya kompetensi tenaga kerja lokal dan tersedianya tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja dan meningkatnya sistem informasi pasar kerja. Seluruh perusahaan yang melakukan invetasi di wilayah Kepulauan Riau menerapkan sistem perlindungan dan jaminan sosial bagi tenaga kerja sebagaimana diatur oleh Undang-Undang dan Organisasi Tenaga Kerja Internasional (ILO). 11. Tersedianya sarana dan prasarana lembaga diklat

ketenagakerjaan (BLK) yang memadai baik melalui kerjasama pelatihan, pengembangan lembaga pelatihan dan lainnya. Tersedianya pegawai teknis ketenagakerjaan seperti mediator, instruktur, pengawas tenaga kerja, dan lainnya.

iv.

Misi 4. Mewujudkan Masyarakat Kepulauan Riau yang Dapat Memenuhi Seluruh Kebutuhan Dasar Hidupnya Secara Layak

Sasaran-sasaran pokok dari misi 4 adalah sebagai berikut: 1. Berkembangnya pembangunan dan pemerataan hasilnya

keseluruh wilayah yang diarahkan bagi peningkatan kesejahteraan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Berkurangnya kesenjangan antar wilayah dalam pembangunan yang berbasis keadilan dan proporsionalitas dalam kerangka persatuan daerah dan ketahanan nasional. 2. Tersedianya pelayanan pendidikan dan kesehatan yang merata dan berkualitas melalui peningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan pendidikan dan pelayanan kesehatan dasar dan pelayanan medis lainnya. Terlayaninya seluruh lapisan dan kelompok masyarakat baik di perkotaan maupun di pedesaan dan

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 46

pulau terpencil dan tersedianya pusat pelayanan kesehatan skala provinsi yang mampu menjadi rujukan bagi daerah lainnya. 3. Tersedianya kebutuhan dasar masyarakat seperti listrik, air bersih, pengolahan sampah perkotaan, angkutan, perumahan dan sanitasi lingkungan dalam rangka meningkatkan kemampuan usaha dan kualitas kehidupan masyarakat. 4. Meningkatnya ketersediaan lapangan kerja bagi seluruh penduduk usia kerja dan kesempatan untuk membuka lapangan kerja baru guna memenuhi kebutuhan dasar masyarakat dengan tujuan mendukung tumbuhnya kegiatan ekonomi dan berkurangnya tingkat pengangguran dari tahun ke tahun. Meningkatnya kualitas sumber daya manusia pencari kerja serta menerapkan kebijakan affirmative pada unit-unit yang melakukan usaha skala besar di daerah terhadap pekerja lokal. 5. Terwujudnya kelestarian sumber daya hayati dan lingkungan bagi upaya menjaga kelangsungan hidup dan kehidupan penduduk. Berkurangnya kerusakan lingkungan akibat menurunnya kualitas lingkungan dengan melibatkan semua pihak terkait baik pemerintah, dunia usaha dan masyarakat. 6. Tersedianya kebutuhan dasar masyarakat dengan jumlah dan harga terjangkau melalui upaya pengendalian harga dan menjamin lancarnya distribusi barang kebutuhan pokok sepanjang tahun, dan pengembangan potensi daerah seperti perikanan dan pertanian sehingga menjadi kegiatan ekonomi produktif. 7. Terwujudnya pelayanan publik yang prima, cepat, murah dan mudah melalui pelayanan yang modern dan dengan dukungan sarana dan prasarana dan sistem yang berkualitas, maju dan modern. 8. Terkelolanya kawasan potensial pertanian dan perikanan bagi pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat dan menjamin katahanan pangan serta mendorong kegiatan ekspor dari hasil olahan perikanan, kelautan dan pertanian. 9. Terkendalinya perkembangan dan distribusi penduduk serta distribusi penduduk pada kawasan potensial untuk pengembangan pemukiman dengan tetap memperhatikan daya dukung dan daya tampung lahan.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 47

10. Meningkatnya kualitas pelayanan medis baik di rumah sakit maupun di puskesmas dengan dukungan ketersediaan tenaga medis dan paramedis yang profesional, memadai dan berkualitas dengan sarana dan prasarana yang maju dan modern. Tersedianya akses pelayanan kesehatan masyarakat dengan harga terjangkau termasuk harga obat dan perbekalan kesehatan. 11. Meningkatnya angka harapan hidup dan status gizi dan didukung dengan upaya pencegahan dan penggulangan berbagai penyakit menular secara berkesinambungan seperti malaria, demam berdarah, HIV/AIDS dan penyakit menular berbahaya lainnya. 12. Meningkatnya kesadaran untuk hidup dalam lingkungan yang sehat, terwujudnya sistem informasi kesehatan yang optimal, cepat, akurat dan valid sehingga dapat mempercepat penentuan kebijakan dan intervensi yang perlu dilakukan. v. Misi 5. Mewujudkan Provinsi Kepulauan Riau Sebagai Salah Satu Pusat Pertumbuhan Ekonomi Nasional Dalam Bidang Industri Pengolahan, Perikanan dan Kelautan Serta Pariwisata. Sasaran-sasaran pokok dari misi 5 adalah sebagai berikut: 1. Ditetapkannya wilayah Kepulauan Riau sebagai salah satu kawasan perkembangan ekonomi nasional dalam bentuk kebijakan pemerintah dalam menetapkan kawasan strategis nasional baik dari aspek ekonomi maupun aspek ketahanan nasional. 2. Tumbuhnya pusat pertumbuhan ekonomi baru diseluruh wilayah yang merata terutama industri dan pariwisata yang berbasis kelautan serta sesuai dengan potensi dan keunggulannya. Meningkatnya peran sektor kelautan dan perikanan dalam pertumbuhan ekonomi daerah dan terbangunnya industri-industri yang berbasis kelautan. Meningkatnya orientasi pengembangan maritim bagi masyarakat yang selama ini beroriantasi darat menjadi beroriantasi laut. Terwujudnya kawasan ekonomi terpadu sebagai bagian dari kawasan strategis nasional khususnya Bagian Barat Indonesia. 3. Tersedianya sarana prasarana pariwisata dengan didukung oleh pengembangan sarana dan prasarana kebudayaan dan kesenian serta infrastruktur perekonomian lainnya yang berkualitas

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 48

sekaligus

mengadakan

pendidikan

dan

pelatihan

bidang

pariwisata dan meningkatkan aksesibilitas dari dan ke objek dan daya tarik wisata dalam rangka mendukung perkembangan ekonomi daerah. 4. Terwujudnya pembangunan infrastruktur pelabuhan, dermaga dan sarana perhubungan antar pulau dan antar daerah yang memadai. Terciptanya sinkronisasi pembangunan infrastruktur darat dengan pengembangan potensi maritim dan pemberdayaan potensi kelautan dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi. 5. Terciptanya lingkungan yang aman dan kondusif untuk investasi dan kegiatan ekonomi di Kepulauan Riau dengan dukungan peningkatan keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat dan kesadaran akan hukum dan kelestarian lingkungan. 6. Terwujudnya rasa aman di tengah-tengah masyarakat dan terjaminnya keamanan dan kenyamanan pelaku usaha dalam berinvestasi baik aman dari gangguan, bencana alam, kerusakan dan kerusuhan sosial. 7. Terwujudnya pembangunan berkelanjutan guna menjamin dan meningkatnya daya dukung dan daya tampung lingkungan dengan didukung adanya peningkatan kualitas lingkungan secara terus menerus dan berkelanjutan dengan pengelolaan sumberdaya alam secara bijaksana dan memperhatikan prinsip kelestarian dan berkelanjutan. 8. Meningkatnya pertumbuhan ekonomi di seluruh daerah dan mengurangi ekonomi berbiaya tinggi dan terwujudnya pemanfaatan dan hasil guna sumber daya alam yang optimal baik sumber daya yang dapat diperbaharui maupun sumber daya yang tidak dapat diperbaharui dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. 9. Terwujudnya pembangunan yang berwawasan lingkungan, dan

peningkatan pemahaman dan kesadaran terhadap lingkungan bagi seluruh pelaku pembangunan termasuk mengurangi jumlah lahan kritis yang dilakukan secara terus menerus dan dengan arahan pembangunan yang terintegrasi serta diikuti dengan penegakan hukum.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 49

10. Terwujudnya sinergi antara sektor publik dan privat untuk mengakselerasi perekonomian di seluruh wilayah Kepri melalui upaya menjaga dan meningkatkan koordinasi, sinkronisasi dan harmonisasi pembangunan antar daerah dan antar sektor (publik dan privat). 11. Terwujudnya pemerataan pembangunan di seluruh wilayah melalui upaya meningkatkan pemerataan dan penyebaran pembangunan serta sarana dan prasarana antar pulau dan antar daerah di seluruh wilayah dengan menjadikannya sebagai pusatpusat pertumbuhan ekonomi baru. 12. Tumbuhnya ekonomi daerah berdasarkan pengembangan potensi daerah melalui upaya menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi, memperhatikan potensi dan keunggulan daerah serta didukung oleh peningkatan efisiensi pelaksanaan pembangunan; 13. Meningkatnya kelancaran arus barang dan orang dari dan ke seluruh wilayah dan antar daerah agar terciptanya pemerataan pembangunan dan munculnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah melalui upaya penyediaan dan peningkatan sarana dan prasarana transportasi darat, laut dan udara

Berlandaskan

dari

rumusan

Sasaran

Pokok

dalam

Rencana

Pembangunan Jangka Panjang Provinsi Kepulauan Riau 2005-2025, prioritasprioritas program dan sasaran RPJMD pada tahap dua yakni pada periode 2010-2015 telah dijabarkan dan ditujukan sebagai keberlanjutan RPJM ke-1. Prioritas-prioritas program dan sasaran pada tahap dua ini menjadi landasan utama bagi acuan penyusunan RPJM. Prioritas-prioritas program dan sasaran yang harus dicapai pada tahap dua dikelompokkan sebagai berikut: i. Bidang Pemerintahan dan Layanan Publik Prioritas pada RPJM tahun ke dua ini ditujukan untuk memantapkan penataan kembali penyelenggaraan pemerintahan dengan menekankan kepada peningkatan sumberdaya manusia yang mampu mengelola sumberdaya alam dengan menyiapkan pemanfaatan ilmu dan teknologi guna meningkatkan daya saing daerah dalam skala regional, nasional dan global, dengan prioritas program antara lain:

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 50

1. Melanjutkan pemerintahan masyarakat.

penataan agar lebih

organisasi mampu

pemerintahan menjalankan

daerah, tugas-tugas

memantapkan sistem, membina dan meningkatkan kualitas aparatur pemerintahan dan memberikan pelayanan yang lebih baik kepada

2. Terus meningkatkan dan menyediakan sarana pendukung di pusat pemerintahan yang representatif 3. Meningkatkan kualitas dan jumlah fasilitas kantor untuk mendukung pelayanan publik dan akselerasi perekonomian daerah 4. Terus dilakukan reward and punishment di lingkungan aparatur sehingga pelayanan publik dapat meningkat dan sudah melaksanakan SPM dan SOP untuk setiap jenis pelayanan 5. Kinerja sudah mulai diterapkan dengan disertai penilaian terhadap kinerja seluruh aparatur pemda yang didahului dengan penetapan standar kinerja utama 6. Menciptakan lingkungan usaha yang kondusif dan kompetitif dengan membangun infrastruktur wilayah yang lengkap dan modern dan mewujudkan peraturan kebijakan yang menjamin keamanan untuk kepentingan investasi. 7. Terus membangun dan menyediakan infrastruktur dasar dengan cara menyediakan dan meningkatkan sarana parasarana pemerintahan dan aparatur pemerintah agar pelayanan publik, penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan dapat berjalan dengan baik berdasarkan prinsip manajemen modern Sasaran Program Pemerintahan yang termaktub dalam dokumen RPJPD adalah: 1. Semakin efektifnya lembaga pemerintahan dalam menjalankan pemerintahan umum, pembangunan dan pelayanan publik 2. Tersedinya perangkat pemerintahan yang didukung dengan jumlah pegawai yang memadai serta tenaga guru dan paramedis dan pelayanan lainnya yang seimbang 3. Semakin meningkatnya pelaksanaan peraturan perundang-undangan bidang politik dan hukum dalam rangka terciptanya tata pemerintahan yang baik dan dasar hukum untuk memperkuat kelembagaan demokrasi yang semakin berkembang.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 51

4. Pelayanan publik diberikan dengan lebih baik sesuai dengan perubahan paradigma penyelenggaraan pemerintahan sebagai pengayom dan pelayan dengan dukungan peningkatan kesejahteraan yang proporsional dan adil

Prioritas

program

Informatika

dan

Telekomunikasi

adalah

Implementasi telekomunikasi dan pelayanan pos lainnya terus diperluas baik jaringan telekomunikasi dan pelayanan pos antar kabupaten/kota terjalin dengan baik. Sasaran dari Program Informatika dan Telekomunikasi ini adalah: Penguasaan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi sudah mampu memberikan manfaat bagi penerapan e-government. Melanjutkan implementasi atas sistem aplikasi dan telematika lainnya. Penguasaan telekomunikasi melalui layanan internet, web, hp dan sebagainya terus meningkat terutama bagi kegiatan yang berhubungan dengan peningkatan akses informasi dari dan ke luar daerah. Prioritas Program Perhubungan yang tercantum dalam dokumen RPJP Provinsi Kepulauan Riau adalah: 1. Peningkatan kualitas dan kapasitas bandara Bandara Kijang (Raja Haji Fisabilillah) di Tanjungpinang, Bandara Hang Nadim di Batam, Bandara Sei Bati di Karimun terus dilakukan. 2. Peningkatan pembangunan pelabuhan penyebrangan (Ro-Ro) di Karimun, Batam dan Bintan terus ditingkatkan, serta memulai pembangunan Jembatan BatamBintan agar mampu mendorong peningkatan ekonomi regional yang lebih cepat. 3. Mempertahankan dan terus meningkatkan status Bandara Internasional Hang Nadim Batam sebagai pusat penyebaran regional sekaligus meningkatkan pengembangan dan fungsi bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang, Bandara Dabo Singkep, Bandara Ranai dan Matak secara maksimal sebagai pusat pelayanan lokal 4. Dalam waktu yang bersamaan mulai melakukan pembangunan bandara/airstrip di Letung Kepulauan Anambas dan Tambelan Bintan dan pengembangan Bandara Sei Bati Karimun untuk dapat didarati pesawat udara berbadan sedang (semi wide body) 5. Dalam bidang angkutan antar pulau terus membangun dan memfungsikan dermaga penyeberangan terutama penyeberangan yang sudah terbangun sambil menyiapkan dermaga penyeberangan di daerah lain sekaligus menyediakan sarana

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 52

kapal penyeberangan, dan menyediakan fasilitas embarkasi dan debarkasi penumpang dan barang yang refresentatif. 6. Dalam bidang keselamatan pelayaran tetap menyediakan sarana bantu navigasi pelayaran (SBNP). 7. Menyediakan dokumen tatanan transportasi wilayah Provinsi Kepulauan Riau yang didahului dengan kebijakan pemberian Subsidi transportasi darat/laut/udara. 8. Menyediakan fasilitas sarana lalu lintas angkutan jalan dan membangun terminal AKDP serta menyediakan angkutan darat yang murah dan efisien terutama bagi pekerja dan anak sekolah.

ii.

Bidang Sosial dan Kesejahteraan Masyarakat Bidang Pendidikan difokuskankan pada peningkatan kuaitas

tenaga guru, program-program dalam bidang pendidikan adalah sebagai berikut: 1. Pendidikan dan latihan bagi guru yang terprogram dan kontinu sesuai dengan standar. 2. Pelaksanaan pendidikan dasar sembilan tahun tetap dijalankan sambil menyiapkan program wajib belajar 12 tahun. 3. Pembangunan pendidikan tetap memprioritaskan pada peningkatan APM SMP dan MTs, APK SMA/SMK/MA, APK pendidikan tinggi dan mutu pendidikan serta sertifikasi guru. 4. Fasilitas pendidikan terus ditingkatkan baik jumlah dan kualitasnya secara merata di seluruh wilayah bagi semua jenjang pendidikan termasuk melanjutkan pemberian beasiswa bagi keluarga yang tidak mampu. 5. Menerapkan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) di seluruh jenis dan jenjang sekolah terus ditingkatkan, sejalan dengan terus meningkatkan jumlah guru yang memenuhi standar nasional dan bersertifikasi. 6. Sasaran Program Budaya dan Kesadaran Masyarakat yang tercantum dalam dokumen RPJP Provinsi Kepulauan Riau adalah Pelaksanaan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun sudah memanfaatkan perpustakaan sebagai bagian pendidikan yang terintegrasi.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 53

Pada Bidang Kesehatan dititikberatkan pada peningkatan kualitas tenaga medis. Program-progam dalam bidang kesehatan yang menjadi prioritas RPJM tahun ke II adalah sebagai berikut: 1. Pendidikan dan latihan bagi tenaga medis yang terprogram dan kontinu sesuai dengan standar 2. Terus dilakukan pengendalian penyakit bersumber binatang dan menular langsung serta meningkatkan terus meningkatkan upaya pencegahannya yang disejalankan dengan membangun sarana dan prasarana kesehatan yang berkualitas. 3. Menjalankan Sistem informasi kesehatan secara bertahap di

Puskesmas, Rumah Sakit Kabupaten/Kota, RS Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/kota dan Provinsi secara berjenjang

Prioritas Program Sosial yang tercantum dalam dokumen RPJP Provinsi Kepulauan Riau adalah: 1. Penanganan penyakit sosial seperti prostitusi dan perdagangan orang menjadi perhatian, dengan mengharapkan partisipasi masyarakat melalui lembaga agama, organisasi masyarakat, keluarga serta lingkungan pendidikan. 2. Terus meningkatkan pelayanan perumahan dan penataan lingkungan pemukiman khususnya di perkotaan dan perdesaan yang tertinggal dan masuk kategori tertinggal dan slum dengan program percepatan pembangunan desa dan program pengembangan kecamatan. Prioritas Program Kesejahteraan Masyarakat yang

tercantum dalam dokumen RPJP Provinsi Kepulauan Riau adalah: 1. Terus menjamin tersedianya kebutuhan bahan pokok dengan harga yang terjangkau untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dengan cara pengadaan dan pendistribusian bahan kebutuhan pokok yang terencana. 2. Terus meningkatkan perhatian terhadap pembangunan fasilitas pendidikan dan kesehatan yang berkualitas untuk melayani kebutuhan masyarakat diseluruh wilayah. 3. Terus membangun sarana dan prasarana kesehatan dan mulai melaksanakan kebijakan pelayanan kesehatan masyarakat miskin secara murah, mudah dan gratis yang pelaksanaannya dibebankan dan ditanggung pembiayaannya secara bersama antara pemerintah, Provinsi Kepulauan Riau dan kabupaten/kota serta pihak lainnya.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 54

4. Terus menyediakan tenaga guru dan medis yang merata di semua jenjang pendidikan dan pusat pelayanan kesehatan. 5. Terus meningkatkan kualitas dan jumlah sarana dan prasarana kesehatan dan membuat suatu sistem pelayanan kesehatan masyarakat yang murah, mudah dan gratis bagi keluarga miskin dan rawan sosial dan pelaksanaannya dibebankan dan ditanggung pembiayaannya bersama pemerintah pusat, Provinsi Kepulauan Riau dan kabupaten/kota serta pihak lainnya. 6. Terus meningkatkan umur harapan hidup seluruh penduduk Kepulauan Riau menjadi 70 tahun termasuk menurunkan angka kematian bayi (AKB) berkurang menjadi 24/1.000 kelahiran hidup, angka kematian Ibu (AKI) berkurang menjadi 100/100.000 kelahiran hidup dan menurunkan status gizi kurang menjadi 10%. 7. Meningkatkan penurunan persentase dan jumlah keluarga miskin dan sangat miskin dengan perencanaan dan pelaksanaan program yang lebih terkordinasi dan terintegrasi. 8. Pengembangan perbatasan mulai dilakukan pembangunan infrastruktur dasar di pulau-pulau terdepan dan perbatasan dan terus melakukan kerjasama dengan instansi terkait baik daerah maupun pusat dalam pengembangan pulau terdepan dan perbatasan. Sasaran bidang Kesejahteraan Masyarakat yang tercantum dalam dokumen RPJP Provinsi Kepulauan Riau adalah: 1. Meningkatnya indikator pembangunan manusia. 2. Semakin seperti meningkatnya pendapatan dan daya beli, menurunnya angka

kemiskinan dan jumlah penduduk miskin. 3. Menurunnya jumlah dan tingkat pengangguran dengan semakin berkembangnya lapangan kerja dan meningkatnya peluang usaha masyarakat. 4. Tingkat pendidikan masyarakat terus meningkat sejalan dengan semakin baiknya penyelenggaraan pendidikan dan manajemen pengelolaan sekolah dan kurikulum yang sesuai dengan potensi lokal. 5. Meningkatnya kesejahteraan sejalan dengan semakin terkendalinya pertumbuhan penduduk yang memberikan peluang lebih baik bagi peningkatan pelayanan dasar masyarakat. 6. Menurunnya kesenjangan antar kelompok masyarakat dan antar kawasan dan daerah. 7. semakin meningkatnya hasil pembangunan dari perkembangan Kepulauan Riau sebagai pusat pertumbuhan ekonomi nasional.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 55

8. Meningkatnya kesejahteraan ditandai dengan semakin tingginya usia harapan hidup yang didukung dengan semakin meningkatnya pelayanan kesehatan dan peningkatan gizi anak dan ibu hamil. 9. Tersedianya jaminan kesejahteraan sosial yang ditandai dengan semakin meningkatnya pemanfataan asuransi kesehatan bagi penduduk. Prioritas Program dalam bidang Budaya dan kesadaran Masyarakat yang tercantum dalam dokumen RPJP Provinsi Kepulauan Riau adalah sebagai berikut: 1. Pendidikan dan pembinaan nilai agama dan budaya terus ditingkatkan baik bentuk dan metodenya pada semua jenjang pendidikan dan lembaga kemasyarakatan dan pemerintahan. 2. Pendidikan akhlak, budi pekerti dan budaya daerah (Melayu) tidak saja dimasukan dalam kurikulum pendidikan yang bersifat muatan lokal pada pendidikan dasar (SD dan SMP) tapi juga pendidikan menengah (SMA/SMK) 3. Terus memberdayakan peran dan fungsi lembaga keagamaan dan lembaga adat dan kesenian agar kesadaran masyarakat terhadap pengembangan kesenian tradisional dan aset kebudayaan tetap terjaga. 4. Lembaga agama dan organisasi masyarakat termasuk sanggar seni dan budaya terus ditingkatkan pembinaannya, sehingga masyarakat semakin memiliki kesadaran akan akar budayanya. 5. Terus melakukan pendataan terhadap berbagai peninggalan budaya melayu baik berupa peninggalan sejarah maupun dalam bentuk naskah tulisan yang terdapat di daerah Kepulauan Riau maupun di tempat lain. 6. Mencegah agar peninggalan budaya melayu tidak punah dan hilang ditelan masa dan dapat melakukan revitalisasi peninggalan budaya Melayu yang mengalami kerusakan dan kepunahan. 7. Museum sejarah di Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Lingga terus dibenahi dan diikuti dengan inventarisasi dan penyelamatan Benda-benda bersejarah lainnya. 8. Jiwa keteladanan di masyarakat terus ditingkatkan khususnya pemberian penghargaan kepada tokoh dan masyarakat yang berprestasi. 9. Peningkatan kualitas pemuda sebagai sumber daya manusia yang produktif, berdaya saing dan berwawasan kebangsaan terus dilakukan baik melalui pendidikan dan pelatihan maupun dengan menyediakan fasilitas olahraga serta pemberian beasiswa bagi yang berprestasi dan atau dari keluarga yang tidak mampu.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 56

10. Pelatihan relawan inti penanggulangan bencana dan kesadaran bela negara terus ditingkatkan. 11. Menjalin komunikasi dan koordinasi yang baik antar intelejen dengan pimpinan daerah terutama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kerukunan beragama, persatuan dan kesatuan bangsa. Sasaran Program Budaya dan kesadaran Masyarakat yang tercantum dalam dokumen RPJP Provinsi Kepulauan Riau adalah: 1. Meningkatnya karakter dan budaya masyarakat di Kepulauan Riau ditandai dengan semakin meningkatnya pemahaman dan pengamalan nilai agama di seluruh lapisan masyarakat. 2. Semakin meningkatnya kesadaran dan disiplin masyarakat di bidang hukum dan perundang-undangan. 3. Meningkatnya etos kerja dan kinerja dalam melaksanakan pembangunan oleh masyarakat dan pemerintah. 4. Semakin meningkatnya pelaksanaan demokrasi yang beretika dan santun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk penyelenggaraan otonomi daerah yang semakin efektif menuju masyarakat sipil yang madani. 5. Berkembangnya kesadaran dan disiplin masyarakat dalam memanfaatkan rencana tata ruang yang sudah dibuat yang ditandai dengan semakin tertatanya pembangunan perkotaan dan pedesaan dengan prinsip saling melengkapi dan mendukung sebagai suatu sistem wilayah pembangunan.

iii.

Bidang Ekonomi dan Lingkungan Hidup Prioritas Program Investasi dan Perekonomian masyarakat yang

tercantum dalam dokumen RPJP Provinsi Kepulauan Riau adalah: 1. Dalam bidang investasi dan perekonomian terus melakukan pembenahan pelayanan dengan menyempurnakan proses keimigrasian, pabean, perijinan, pajak dan tenaga kerja. 2. Kepastian hukum terus ditingkatkan terutama bagi para investor dan terus memberikan insentif kepada investor yang mau berinvestasi di Kepulauan Riau. 3. Melaksanakan peraturan kebijakan investasi yang menarik dalam upaya mewujudkan Kepulauan Riau sebagai pusat pertumbuhan ekonomi nasional.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 57

4. Meningkatkan infrastruktur pendukung investasi dan mengoptimalkan pusat pelayanan satu atap bidang pelayanan perizinan investasi disertai dengan dukungan perda tentang investasi. 5. Dalam bidang ekonomi makro, berupaya mencapai laju pertumbuhan ekonomi rata-rata 7,60% dengan migas dan 7,90 % tanpa migas. 6. Dapat menumbuhkan akses perekonomian daerah serta tumbuhnya sentra-sentra ekonomi baru didaerah sesuai dengan potensi keunggulan daerah. 7. Terus memperhatikan pembangunan berwawasan lingkungan dan menumbuhkan kawasan ekonomi khusus serta melakukan pengawasan secara intensif terhadap pengelolaan lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam 8. Membangun perekonomian kawasan perbatasan dalam kerangka koneksitas antar wilayah dan pengembangan potensi maritim Kepulauan Riau. Sasaran yang ingin dicapai dalam bidang Budaya dan kesadaran Masyarakat pada RPJM tahap II adalah : 1. Pembangunan di Kepulauan Riau terus berkembang dan maju yang ditandai dengan semakin meningkatnya PDRB baik provinsi maupun kabupaten/kota serta semakin meningkatnya peranan sumberdaya manusia dalam mengelola sumberdaya bagi kepentingan pembangunan. 2. Berkembangnya pusat-pusat pengembangan kawasan sebagaimana yang tertuang dalam Rencana Umum Tata Ruang Wilayah sebagai bagian penting bagi kepastian pengembangan potensi wilayah. 3. Semakin berkembangnya pembangunan infastruktur ekonomi baik transportasi, perhubungan, kelistrikan, air bersih, telematika dan pemukiman perumahan 4. Daya saing Kepulauan Riau semakin meningkat yang dilihat semakin berperannya tenaga kerja daerah, dunia usaha dan pemerintah daerah pergaulan ekonomi regional, nasional dan internasional.

Prioritas

Bidang

Kelautan

dan

Perikanan

difokuskan

mewujudkan kelautan dan perikanan sebagai salah satu sektor unggulan pertumbuhan ekonomi, dan peran koperasi terus ditingkatkan dengan pelaku UKM yang berkualitas dan sentra-sentra UKMK yang mandiri, tangguh dan berorientasi pada pasar global Prioritas program dari Bidang Kelautan dan Perikanan adalah sebagai berikut:

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 58

1. Menjaga daerah penangkapan ikan bagi nelayan kecil/tradisional dan memberikan peningkatan fokus perhatian pemerintah terhadap sektor perikanan dan kelautan dengan penyediaan berbagai fasilitas yang dapat dan mudah diakses oleh nelayan kecil/tradisional. Pembangunan berbagai fasilitas penunjang dan penyederhanaan peraturan/perizinan sebagai daya tarik bagi investor dibidang perikanan dan kelautan. 2. Terus menjalin kerjasama perikanan secara efektif antar daerah dan dengan instansi terkait terutama dalam pengawasan perikanan dan hasil laut termasuk perdagangan antar negara dan antar daerah. 3. Mengembangkan kawasan yang memiliki potensi seperti kelautan dan perikanan dan terus melakukan pembinaan masyarakat nelayan agar semakin berdaya dalam mengembangkan kemampuannya. 4. Mulai memanfaatkan potensi kelautan dan perikanan dan disejalankan pembinaan nelayan tradisional (tangkap dan budidaya) baik dari peralatan, teknologi dan permodalan dan pemasaran hasil. 5. Mengoptimalkan pelabuhan perikanan yang terpadu, dengan terus melakukan pengembangan potensi dan pengawasan yang berkelanjtan dan terkoordinasi dan disejalankan dengan pembangunan infrastruktur perekonomian. Sasaran yang ingin dicapai dari bidang perikanan dan kelautan pada RPJM Tahap II adalah sebagai berikut: 1. Peranan sektor perikanan dan kelautan terhadap PDRB meningkat 5 % yang dilakukan sejalan dengan dilaksanakannya dengan efektif kerjasama perikanan 2. Semakin berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru yang

menumbuhkembangkan kegiatan industri, perikanan, kelautan dan pariwisata berbasis kelautan

Prioritas Program Pertanian dan Perkebunan yang tercantum dalam dokumen RPJP Provinsi Kepulauan Riau adalah: 1. Menerapkan strategi pembangunan sektor pertanian secara komprehensif dan berkelanjutan berdasarkan analisis produktivitas dan kebutuhan produksi pertanian-perkebunan. 2. Menyediakan sarana dan prasarana fisik antara lain jaringan pengairan, ketersediaan sarana produksi pertanian. 3. Sarana dan prasarana fisik yang harus disediakan antara lain jaringan pengairan, ketersediaan sarana produksi pertanian.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 59

Sasaran Bidang Pertanian dan Perkebunan adalah: 1. Harus sudah teridentifikasi tingkat potensi fisik lahan dan ketersediaan sarana, prasarana dan sumberdaya manusia yang memadai. 2. Arah pembangunan dan arah kebijakan untuk periode ini dan periode berikutnya lebih konkrit.

Prioritas pengembangan wisata adalah untuk mewujudkan pariwisata yang mendukung ekonomi daerah serta didukung oleh pembangunan, infrastruktur. Prioritas Program Pariwisata yang tercantum dalam dokumen RPJP Provinsi Kepulauan Riau adalah: 1. Terus meningkatkan sarana dan prasarana dan jenis ODTW yang ada di kabupaten/kota dan membina serta memberdayakan tenaga pariwisata yang profesional dan memiliki nilai kompetensi yang tinggi dan pro pembangunan daerah dengan pendidikan dan pelatihan secara terus menerus. 2. Terus dilakukan promosi wisata Kepulauan Riau ke negara sumber wisatawan potensial luar negeri maupun dalam negeri dengan metode yang efesien dan efektif sesuai kebutuhan. 3. Meningkatkan kerja sama promosi dan pembinaan kepada pelaku jasa pariwisata baik dalam dan luar negeri. peningkatan, rehabilitasi dan pemeliharaan

Prioritas Program Industri dan UKM yang tercantum dalam dokumen RPJP Provinsi Kepulauan Riau adalah: 1. Dalam bidang industri terus ditingkatkan kualitas dan kuantitas industri kecil agar mandiri dan kesejahteraan pelaku usaha ekonomi kecil dan masyarakat mulai berkembang. 2. Pengembangan sistem usaha dan kemitraan antara penduduk lokal dengan perusahaan terus ditingkatkan. 3. Dalam bidang usaha mikro dan kecil terus dilakukan penataan, pembinaan dan pemberdayaan UMKM Industri kecil secara konsisten dan berkelanjutan. 4. Data potensi Sumber Daya Alam Industri tersedia dengan baik dan dapat diakses dengan mudah sehingga mampu meningkatkan ekonomi kerakyatan melalui semua sektor

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 60

Prioritas Program Perdagangan yang tercantum dalam dokumen RPJP Provinsi Kepulauan Riau adalah: 1. Terus dilakukan upaya peningkatan daya saing produk dan pelaku usaha, disertai peningkatan pengawasan barang dan jasa dan peningkatan standar dan kualitas produksi dalam negeri dengan pemanfaatan teknologi dan pembinaan pengembangan ekonomi kreatif. 2. Terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pelaku usaha dan penguatan daya saing ekspor.

Prioritas Program Tenaga Kerja yang tercantum dalam dokumen RPJP Provinsi Kepulauan Riau adalah: 1. Terus menata organisasi dan kelembagaan balai latihan kerja dimulai dari penetapan status BLK untuk dikelola oleh Pemerintah Daerah. 2. Peraturan yang komprehensif dibidang ketenagakerjaan menjadi dasar dalam sistem rekruitment tenaga kerja. 3. Mengembangkan instruktur sistem informasi yang dan konsultasi dan ketenagakerjaan merencanakan serta untuk

memprogramkan peningkatan mutu tenaga kerja melalui penyediaan tenaga kewirausahaan profesional memfungsikan Balai Latihan Kerja (BLK) sebagai pusat pembinanaan dan pelatihan tenaga kerja. 4. Terus melakukan up grade sarana dan prasarana sejalan dengan terus melakukan pemetaan dan pengembangan potensi unggulan daerah. 5. Melaksanakan peningkatan mutu tenaga kerja serta mulainya upaya untuk menetapkan status BLK menjadi milik provinsi dan memfungsikan BLK yang ada. 6. Tersedianya Pegawai Teknis Ketenenagakerjaan (Pengantar Kerja, Mediator, Instruktur, Pengawas Tenaga Kerja) pada setiap Kabupaten/Kota dan mulainya disiapkan perencanaan tenaga instruktur kewirausahaan yang profesional. 7. Mulai diupayakan meningkatkan jumlah investor dan ekonomi tumbuh minimal 7 % serta tingkat pengangguran 8%. 8. Dalam bidang usaha ekonomi kecil dan koperasi mulai ada upaya melakukan pelatihan kewirausahaan terutama disektor ekonomi kerakyatan. Prioritas Program Lingkungan Hidup yang tercantum dalam dokumen RPJP Provinsi Kepulauan Riau adalah:

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 61

1. Peningkatan kemajuan pembangunan didukung oleh pelaksanaan pembangunan berkelanjutan dengan pengelolaan sumber daya alam yang bijaksana dan pelestarian lingkungan dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap konservasi dan rehabilitasi lingkungan 2. Sumberdaya hayati tidak diekploitasi dengan sembarangan dan dimanfaatkan untuk meningkatkan daya saing daerah. 3. Melaksanakan pembangunan dengan berdasarkan perencanaan daerah, baik jangka panjang maupun rencana tata ruang. 4. Meningkatkan kualitas lingkungan hidup di Provinsi Kepulauan Riau dengan melaksanakan Standar Baku Mutu Lingkungan Hidup dan pengendaliannya serta didukung dengan semakin meningkat dan berkembangnnya infrastruktur lingkungan hidup. 5. Terus meningkatkan peran serta stakeholders (Pemerintah, Swasta, dan Masyarakat) dalam pengendalian dampak lingkungan dan meningkatnya kualitas dan kuantitas aparatur pengelola lingkungan dalam pengendalian dampak lingkungan. 6. Sasaran program lingkungan hidup yang tercantum dalam dokumen RPJP Provinsi Kepulauan Riau adalah rencana tata ruang sudah menjadi landasan bagi pelaksanaan pembangunan periode berikutnya.

3.3.3

Kebijakan Sistem Transportasi Tataran Transportasi Wilayah Kepulauan Riau 2006.

3.3.3.1 Kebijakan Sistem Transportasi Darat
Sesuai dengan Tatrawil Provinsi Kepulauan Riau tahun 2006, kebijakan system transporasi bertujuan untuk menciptakan kelancaran, ketertiban, keamanan dan kenyamanan melalui peningkatan dan pengembangan saraa dan prasarana perhubungan dasar serta memadukan moda-moda yang terpadu termasuk perlengkapan jalan sehingga dapat memberikan pelayanan yang optimal. Berikut ini merupakan arahan rencana transportasi darat sesuai dengan tataran transporasi wilayah provinsi kepulauan riau tahun 2006 antara lain sebagai berikut; 1. Meningkatkan kondisi jalan 2. Manajemen lalu lintas di daerah perkotaan

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 62

3. Membangun jaringan jalan baru yang dapat mencapai pelosok pulau 4. Menghubungkan Ibukota kabupaten dengan simpul-simpul transportasi utama (Pelabuhan, bandara, daerah pariwisata, dll) 5. Tercipta sinergi dengan moda transporasi lainnya 6. Meningkatkan pelayanan angkutan umum antar kota dalam propinsi (AKDP) 7. Pengembangan terminal dan sub terminal yang terintegrasi.

3.3.3.2 Kebijakan Sistem Transportasi Laut
Perencanaan system transporasi laut bertujuan untuk menciptakan kelancaran, ketertiban, keamanan dan kenyamanan melalui peningkatan dan pengembangan moda-moda transportasi lainnya sehingga membentuk jaringan transportasi antar moda yang terpadu dan memberikan tingkat pelayanan. Kebijakan system transporasi laut menurut tataran transportasi wilayah provinsi kepulauan riau tahun 2006 dapat dikelompokkan menjadi dua yakni kebijakan angkutan dan pelabuhan. Kedua kebijakan tersebut dijabarkan sebagai berikut; 1. Kebijakan angkutan laut a. Penetapan peraturan perundang-undangan dalam rangka globalisasi dan otonomi daerah. b. Penataan jaringan trayek angkutan laut dalam negeri c. Peningkatan kualitas SDM dan manajemen usaha angkutan laut d. Pengembagan armada niaga nasional e. Peningkatan efektifitas dan kualitas penyelenggaraan angkutan laut perintis untuk menunjang daerah yang terisolir. f. Penataan standar dan sispro pelayanan kapal dan B/M barang serta turun naiknya penupang untuk peningkatan kelancaran dipelabuhan (PPSA/One Stop Service) g. Antisipasi dan sosialisasi liberalisasi jasa di bidang angkutan laut. 2. Kebijakan di bidang kepelabuhan a. Menetapkan tatanan kepelabuhanan berdasarkan hirarki dan skala pelayanannya yang terdiri dari pelabuhan internasional, pelabuhan nasional, pelabuhan pengumpan regional dan pelabuhan pengumpan lokal.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 63

b. Menyiapkan dan menetapkan rencana induk (master plan) pengembangan pelabuhan untuk menjamin kepastian usaha dan investasi. c. Melakukan penataan DLKR/DLKP untuk menjamin kepastian usaha di pelabuhan d. Menetapkan standar design dan rancang bangun pelabuhan e. Pengembangan fasilitas pelabuhan termasuk di daerah terisolir untuk membuka keterisoliran wilayah (melayani angkutan laut perintis) f. Menyediakan fasilitas pelabuhan yang memadai untuk pelayanan kapal penumpang g. Menetapkan dan mengevaluasi standar kinerja operasional pelabuhan untuk meningkatkan kemampuan usaha dan daya saing pelabuhan. 3. Kebijakan sistem transportasi udara Perencanaan dalam transportasi udara bertujuan untuk mendukung sarana dan prasarana perhubungan udara serta mampu menunjang distribusi barang dan penumpang antar pulau yang terintegrasi dengan moda transportasi lainya dan memberikan tingkat pelayanan yang optimal. Berikut ini merupakan kebijakan sistem transportasi udara sesuai dengan tataran transportasi wilayah provinsi kepulauan riau tahun 2006 antara lain sebagai berikut; a. Mengoptimalkan pemanfaatan bandar udara yang telah ada (tidak hanya melayani militer atau perusahaan, tetapi juga untuk komersial) b. Pengembangan airstrip di pulau-pulau kecil (Pulau Tambelan, Letung dan Serasan) c. Kebijakan untuk peningkatan pelayanan dan penggunaan kapasitas prasarana dan sarana secara efisien d. Kebijakan yang perlu dilaksanakan dalam bidang keselamatan

penerbangan e. Kebijakan dibidang keselamatan baik untuk prasarana maupun sarana adalah mempersiapkan penerapan SND/ATM sesuai dengan ketetapan ICAO artinya selain harus mengikuti perkembangan internasional juga menyesuaikan program desentralisasi pengelolaan transportasi udara.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 64

BAB IV Kondisi dan Permasalahan Sistem Transportasi Provinsi Kepulauan Riau Saat ini
4.1 Kondisi umum transportasi darat dan udara
4.1.1 Sistem Transportasi Darat

4.1.1.1 Jaringan jalan
Prasarana jalan merupakan urat nadi kelancaran lalu-lintas di darat, setiap kelancarannya akan sangat menunjang perkembangan perekonomian suatu daerah. Guna menunjang kelancaran perhubungan darat di daerah Kepulauan Riau pada tahun 2007 tercatat panjang jalan yang ada mencapai 1203,47 km. Secara keseluruhan kondisi sarana transportasi darat di wilayah Provinsi Kepulauan Riau dapat dilihat tabel berikut.
Tabel IV-1 Panjang jalan menurut kabupaten/kota di Provinsi Kepulauan Riau tahun 2007 Kabupaten/Kota Panjang Jalan (Km) Persentase (%) Bintan Batam Karimun Natuna dan KKA Tanjung Pinang Lingga 288, 12

No 1 2 3 4 5 6

224,95 173,20 235,50 86,90 194,80

23,94 18,69 14,39 19,57 7,22 16,19

Sumber : RTRWP Kepulauan Riau 2008-2028.

a) Jembatan Jembatan yang terdapat di Provinsi Kepulauan Riau pada umumnya merupakan jembatan beton, composite, kayu, rangka. Jembatan beton paling dominan terdapat di Kota Tanjung Pinang. Jumlah jembatan pada jalan negara dan provinsi yang terdapat di Provinsi Kepulauan Riau tahun 2007 dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 65

PETA JARINGAN JALAN KEPULAUAN RIAU

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 66

No 1 2 3 4 5 6

Kabupaten/Kota

Tabel IV-2 Jenis dan jumlah jembatan menurut kabupaten/kota di provinsi kepulauan riau tahun 2007 Besi Beton Composite Kayu Belly Rangka Fxx 0 3 0 0 0 0 0 0 0 21 0 0 : RTRWP Kepulauan 2 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 Riau 2008-2028. 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0

Jumlah 6 0 0 0 23 0

Bintan Batam Karimun Natuna dan KKA Tanjung Pinang Lingga Sumber

4.1.1.2 Angkutan umum penumpang 4.1.1.3 Angkutan barang 4.1.1.4 ASDP

4.1.2

Sistem transportasi udara

4.1.2.1 Transpotasi udara di Kota Batam
Bandar Udara Hang Nadim (IATA: BTH, ICAO: WIDD) atau dikenal juga dengan

nama Bandar Udara Internasional Hang Nadim adalah sebuah bandar udara yang terletak di Batam, Kepulauan Riau. Bandar udara ini mendapatkan nama dari Laksamana Hang Nadim yang termahsyur dari Kesultanan Malaka. Bandara ini memiliki landas pacu sepanjang 4.025 meter yang menjadikan bandara ini sebagai pemilik landas pacu terpanjang di Indonesia. Dengan kondisinya saat ini, Bandara Hang Nadim dapat menampung delapan belas pesawat berbadan lebar dengan jenis Boeing 767. Bandara Hang Nadim mulai beroperasi pada tanggal 9 Agustus 1965 dengan melayani penerbangan domestik. Sejak tanggal 1 Januari1994, bandara ini mulai melayani penerbangan internasional dengan jumlah penerbangan mencapai 250 kali per minggu.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 67

Penyebrangan feri telah menjadi metode transportasi utama untuk bepergian ke pulaupulau seberang, termasuk Singapura. Namun, lama kelamaan, penyebrangan menggunakan feri mulai tidak efektif, sehingga dibangunlah Bandara Hang Nadim. Bandara ini terbukti cukup efektif dan awalnya dikembangkan sebagai alternatif Bandara Internasional Changi karena bandara ini memiliki landas pacu yang cukup panjang untuk menampung pesawat-pesawat jenis Boeing 747. Namun, bandara ini juga mendapatkan persaingan yang cukup ketat dari bandara-bandara lain di Wilayah Pertumbuhan Segitiga Sijori, seperti Bandar Udara Internasional Senai, Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah, dan Bandar Udara Seletar.
No 1 2 3 4 5 Profil Tabel IV-3 Profil Bandara Hang Nadim Keterangan 4.025 m Aspal Pusat Penyebaran Primer (PP Primer) IATA: BTH – ICAO: WIDD Sipil

Panjang Landasan Permukaan Fungsi Kode Jenis

Sumber : RTRWP KEPRI 2028, Wikipedia, BPS KEPRI, 2009.

Beberapa maskapai dan rute yang melayani Bandar udara hang nadim terdiri atas Garuda Indonesia (GIA), Sriwijaya Air, dan lain sebagainya. Dapat dilihat pada table dibawah ini;
No 1 Maskapai Penerbangan Batavia Air Tabel IV-4 Maskapai penerbangan dan rute penerbangan Rute Penerbangan Domestik/Internasional Bandar Lampung, Jakarta Soekarno Hatta, Medan, Padang, Palembang, Pekanbaru, Pontianak, Surabaya, Yogyakarta Kuala Lumpur – Subang Jakarta – Soekarno Hatta Jakarta – Soekarno Hatta Jakarta – Soekarno Hatta, Jambi, Medan, Padang, Palembang, Pangkal Pinang Jakarta – Soekarno Hatta, Medan, Padang, Pekanbaru, Surabaya, Natuna Bandung Jakarta – Soekarno Hatta, Jambi, Medan, Surabaya, Padang, Natuna (Charter) Penang Natuna, Surabaya Domestik

2 3 4 5 6 7 8 9 10

Firefly Garuda Indonesia Citilink Kartika Airlines Lion Air Merpati Nusantara Airline Sriwijaya Air Sriwijaya Air Trigana Service

Internasional Domestik Domestik Domestik Domestik Domestik Domestik Internasional Domestik

Air

Sumber : Wikipedia 2011, BPS KEPRI 2009.

Berdasarkan data Biro pusat statistic KEPRI pada tahun 2009, dilaporkan bahwa terjadi penurunan jumlah penerbangan baik yang dating maupun pergi yakni >1000 penerbangan. Lihat grafik dan table no 4.5
Grafik Jumlah pesawat yang datang, berangkat dan transit

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 68

di Bandar Udara Hang Nadim-Batam, tahun 2009

15000

14500 14000
13500

Berangkat

Datang

13000 12500 T-2009 T-2008 T-2007 T-2006

Sedangkan pada tahun 2009, jumlah pesawat yang datang dan berangkat mengalami peningkatan pada bulan-bulan Oktober hingga Desember hingga awal tahun bulan Januari. Terlihat jumlah kenaikan pesawat yang datang dan pergi mencapai >100 kedatangan dan keberangkatan.Lihat table 4.16.

Tabel IV-5 Jumlah pesawat yang datang, berangkat dan transit di Bandar Udara Hang Nadim-Batam, tahun 2009 Banyaknya pesawat terbang No Bulan Berangkat Datang LCL 1 Januari 1225 1226 10 2 Februari 1087 1087 15 3 Maret 1166 1166 11 4 April 1025 1025 19 5 Mei 1051 1051 13 6 Juni 1045 1045 13 7 Juli 1142 1142 25 8 Agustus 1053 1054 18 9 September 1014 1014 9 10 Oktober 1179 1179 14 11 November 1113 1111 13 12 Desember 1243 1245 7 Jumlah 2009 13343 13345 162 Jumlah 2008 14715 14715 224 Jumlah 2007 14525 14525 Jumlah 2006 14281 14288 Sumber : BPS KEPRI, 2009.

Sedangkan jumlah penumpang yang berangkat dan datang dalam negeri (domestic) menurut bulan dapat dilihat pada table dibawah ini. Berdasarkan hasil perbandingan antara tahun 2006 hingga tahun 2009, jumlah penumpang yang datang dan berangkat ratarata mencapai 1,2juta hingga 1,3juta penumpang.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 69

Tabel IV-6 Jumlah Jumlah penumpang dalam negeri, berangkat, datang dan transit di Bandar Udara Hang Nadim-Batam, tahun 2009 Banyaknya Penumpang No Bulan Berangkat Datang LCL 1 Januari 112.511 112.672 1.142 2 Februari 98.987 99.892 1.467 3 Maret 119.476 113.921 4.170 4 April 109.033 103.164 4.909 5 Mei 115.262 112.303 3.708 6 Juni 115.262 112.640 7.559 7 Juli 124.338 122.022 6.360 8 Agustus 114.777 98.535 6.257 9 September 119.469 104.521 4.762 10 Oktober 110.537 134.021 4.726 11 November 114.850 116.351 4.753 12 Desember 127.965 126.119 4.260 Jumlah 2009 1.382.544 1.356.161 54.073 Jumlah 2008 1.257.157 1.280.492 9.870 Jumlah 2007 1.311.611 1.360.294 15.251 Jumlah 2006 1.215.262 1.281.320 26.236 Sumber : BPS KEPRI, 2009.

Gambar grafik Jumlah penumpang dalam negeri, berangkat, datang dan transit
di Bandar Udara Hang Nadim-Batam, tahun 2009 1,400,000.00 1,200,000.00 1,000,000.00 800,000.00 600,000.00 400,000.00 200,000.00 T-2009 T-2008 T-2007 T-2006 Berangkat Datang Transit

Sedangkan untuk asal dan tujuan penumpang yang melalui Bandar udara Hang Nadim Batam, pada tahun 2009 asal/tujuan dalam negeri yang berangkat mencapai 1,382.544 penumpang dan yang datang mencapai 1.356.161 penumpang. Berikut table asal tujuan penumpang dari Bandar Udara Hang Nadim Batam.
Tabel IV-7 Jumlah penumpang yang berangkat, datang dan transit Menurut asal tujuan di Bandar Udara Hang Nadim-Batam, tahun 2009 Banyaknya Penumpang No Asal Tujuan Berangkat Datang LCL 1 Dalam Negeri 1.382.544 1.356.161 54.073 2 Luar Negeri 16.409 16.845 95.672 Jumlah 2009 1.398.953 1.373.006 149.745

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 70

No

Asal Tujuan Jumlah 2008 Jumlah 2007 Jumlah 2006

Banyaknya Penumpang Berangkat 1.267.743 1.332.370 1.227.762 Datang 1.406.012 1.389.968 1.293.379 LCL 117.743 62.044 96.797

Sumber : BPS KEPRI, 2009.

Banyaknya bongkar muat barang di bandar udara hang nadim Batam dari tahun 2006 hingga tahun 2008 mengalami kenaikan hingga 4juta barang namun pada tahun 2009, lihat table berikut ini.
Tabel IV-8 Banyaknya bongkar muat Menurut Jenis Muatan di Bandar Udara Hang Nadim-Batam, Dalam Negeri Luar Negeri Jenis Muatan Bongkar Muat Bongkar Muat Bagasi 11.759.751 13.457.484 360.146 60.831 Barang 17.456.248 4.522.452 1.5519.021 1.180.972 Pos 298.152 105.542 Jumlah 2009 29.614.151 18.085.478 1.879.167 1.241.803 Jumlah 2008 30.021.115 19.332.871 2.068.562 2.269.309 Jumlah 2007 29.789.940 19.690.636 2.335.732 3.055.276 Jumlah 2006 25.807.669 18.759.848 1.749.040 2.571.365

No 1 2 3

tahun 2009 Jumlah Bongkar 12.119.897 18.975.269 398.152 31.493.318 32.089.677 32.122.672 27.556.709 Muat 13.581.315 5.703.424 105.542 19.327.281 21.602.180 22.745.912 21.331.213

Sumber : BPS KEPRI, 2009.

Gambar grafik Jumlah bongkar dan muat barang
di Bandar Udara Hang Nadim-Batam, tahun 2009

35,000,000.00 30,000,000.00 25,000,000.00 20,000,000.00 15,000,000.00 10,000,000.00 5,000,000.00 DN Bongkar DN Muat LN Bongkar LN Muat T-2009 T-2008 T-2007 T-2006

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 71

PETA LOKASI/SEBARAN BANDAR UDARA di WILAYAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 72

4.1.2.2 Transpotasi udara di Kota Tanjung Pinang
Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah (sebelumnya bernama Bandar Udara Kijang) adalah bandar udara yang terletak diKota Tanjung Pinang, provinsi Kepulauan Riau. Bandara ini dikelola PT. Angkasa Pura II. Statusnya dari dulu adalah internasional, namun dikarenakan Kepulauan Riau belum pisah dari Riau Daratan maka bandara ini jarang dipergunakan. Setelah tahun 2001 Kepulauan Riau resmi menjadi provinsi baru di Indonesia, maka terjadilah pembangunan yang pesat di kota Tanjung Pinang dan bandara ini diramaikan lagi oleh beberapa maskapai penerbangan yaitu Merpati pada tanggal 19 Desember 2007, Sriwijaya Air pada awal bulan Februari 2008 dan Riau Airlines pada pertengahan tahun 2005. Pada bulan Mei 2007 pemerintah mengucurkan dana untuk pengembangan Bandara ini. Proyek mulai berjalan pada bulan Juni. Pengembangan bandara meliputi penambahan fasilitas seperti radar dan landasan pacu ditambah sekitar 400 meter dari awalnya yang hanya 1.856 meter menjadi 2.256 meter. Selain itu, gedung terminal bandara juga diperluas dari 1.250 meter persegi menjadi 1.400 meter persegi. Dengan perluasan itu diharapkan dalam satu tahun mampu melayani 600 ribu orang. Pada April 2008 bandara ini resmi berganti nama dari Bandar Udara Kijang menjadi Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah. Nama bandara diambil dari nama Raja Haji Fisabilillah, pahlawan nasional yang juga memperoleh Bintang Maha Putra Adi Pradana.

Tabel IV-9 Profil Bandara Raja Haji Fisabillilah, Tanjung Pinang No Profil Keterangan 1 2 3 4 5 Panjang Landasan Permukaan Fungsi Kode Jenis 2.200 m Aspal Pusat Penyebaran Tersier (PP Tersier) IATA: TNJ – ICAO: WIPN Sipil

Sumber : RTRWP KEPRI 2028, Wikipedia, BPS KEPRI 2009.

Beberapa maskapai dan rute yang melayani Bandar udara Raja Haji Fisabillilah terdiri atas Batavia Air, Sriwijaya Air, dan lain sebagainya. Dapat dilihat pada table dibawah ini;
No 1 2 3 4 Tabel IV-10 Maskapai penerbangan dan rute penerbangan Maskapai Penerbangan Rute Penerbangan Domestik/Internasional Batavia Air Sriwijaya Air Lion Air Sky Aviation Jakarta – Soekarno Hatta Jakarta – Soekarno Hatta Jakarta – Soekarno Hatta Pekanbaru, Natuna, Matak Domestik Domestik Domestik Domestik

Sumber : Wikipedia 2011, BPS KEPRI 2009

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 73

Tabel IV-11 Jumlah pesawat yang datang, berangkat dan transit di Bandar Udara Raja Fisabillilah Tanjung Pinang, tahun 2009 Banyaknya pesawat terbang No Bulan Berangkat Datang 1 Januari 185 185 2 Februari 150 151 3 Maret 138 136 4 April 152 148 5 Mei 136 142 6 Juni 110 110 7 Juli 150 151 8 Agustus 156 161 9 September 149 147 10 Oktober 141 139 11 November 139 138 12 Desember 137 133 Jumlah 2009 1743 1741 Jumlah 2008 1672 1660 Jumlah 2007 1266 1275 Jumlah 2006 1078 1083 Jumlah 2005 802 808 Sumber : BPS KEPRI, 2009

Berdasarkan data biro pusat statistic provinsi kepulauan riau, perkembangan jumlah pesawat yang datang dan berangkat melalui Bandar udara Raja Haji Fisabillilah mengalami peningkatan dari tahun 2005 hingga tahun 2009 mencapai 1000 penerbangan. Lihat table 4.11 dan gambar grafik dibawah ini.
Gambar grafik Jumlah pesawat yang datang dan berangkat di Bandar Udara Raja Fisabillilah, Tanjung Pinang, tahun 2009

1800 1600 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 T-2009 T-2008 T-2007 T-2006 T-2005

Berangkat Datang

Banyaknya bongkar muat barang di bandar udara Raja Haji Fisabillilah, Tanjung Pinang dari tahun 2008 hingga tahun 2009 mengalami kenaikan hingga 1juta barang. lihat table berikut ini.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 74

Tabel IV-12 Banyaknya bongkar muat Menurut Jenis Muatan di Bandar Udara Raja Haji Fisabillilah-Tanjung Pinang, tahun 2009 Dalam Negeri Luar Negeri Jumlah No Jenis Muatan Bongkar Muat Bongkar Muat Bongkar Muat 1 Bagasi 643208 580621 643208 580621 2 Barang 647679 292643 647769 292643 3 Pos Jumlah 2009 1290887 873264 1290887 873264 Jumlah 2008 293172 287303 293172 287303 Jumlah 2007 73647 130055 73647 130055 Jumlah 2006 60141 104893 60141 104893 Sumber : BPS KEPRI, 2009. Gambar grafik banyaknya bongkar dan muat barang di Bandar Udara Raja Fisabillilah, Tanjung Pinang, tahun 2009

1400000 1200000 1000000 800000 600000 400000 200000 0 T-2009 T-2008

Bongkar Muat

T-2007

T-2006

4.1.2.3 Transportasi udara di Kabupaten Anambas
Bandar udara di Kabupaten Anambas saat ini dikelola oleh PT Conoco Phillips. Landasan pacu (runway) dengan panjang 1.190 meter, lebar 30 meter, dan konstruksi dengan aspal murni. Adapun apronnya memiliki panjang 145 meter, lebar 45 meter dengan jarak antara pinggir runway dengan apron adalah 60 meter. Fasilitas komunikasi yang digunakan adalah radio VHF, HF, ATS Service.
Tabel IV-13 Profil Bandara Conoco Philips, Anambas Profil Keterangan Panjang Landasan Permukaan Fungsi Kode Jenis 1.190 m Aspal Swasta Sipil/Swasta Conoco Phillips

No 1 2 3 4 5

Sumber : Dinas Perhubungan Kab. Anambas, 2011

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 75

Beberapa maskapai dan rute yang melayani Bandar udara Conoco Phillips terdiri atas Sky Aviation. Dapat dilihat pada table dibawah ini;
No Tabel IV-14 Maskapai penerbangan dan rute penerbangan Maskapai Penerbangan Rute Penerbangan Domestik/Internasional Domestik

1 Sky Aviation Batam, Tanjung Pinang Sumber : Dinas Perhubungan Kab. Anmbas, 2011

Maskapai yang melayani di Bandar udara tersebut adalah Sky Aviation dengan jenis pesawat FK-50 Pk-ECF. Adapun rute yang dilayani adalah sebagai berikut; 1. Matak (Anambas) – Batam 2. Batam – Matak (Anambas) 3. Matak (Anambas) – Tanjung Pinang – Batam Adapun perkembangan jumlah penumpang dan barang dari dan ke Bandar Udara Matak (Anambas) tahun 2011 adalah sebagai berikut :
Tabel IV-15 Perkembangan jumlah penumpang di Bandar Udara Matak, Kabupaten Anambas, 2011 Jumlah No Bulan Penumpang Datang 1 2 Januari Februari 105 180 Berangkat 123 175 Datang 677 1148 Berangkat 465 832 1297 Jumlah Barang

Jumlah 285 298 1825 Sumber : Dinas Perhubungan KAB Anambas, 2011

4.1.2.4 Transportasi udara di Kabupaten lainnya
Selain bandara umum, juga terdapat beberapa bandara khusus, antara lain untuk kepentingan militer dan untuk operasi khusus suatu perusahaan. Untuk kepentingan militer ada Bandara Ranai di Natuna. Sedangkan untuk operasi khusus suatu perusahaan tersedia Bandara Matak milik perusahaan minyak CONOCO di Palmatak Kabupaten Kepulauan Anambas, dan Bandar Udara Sei Bati di Pulau Karimun milik PT. Timah. Pada Kabupaten Ranai juga terdapat rencana pengadaan bandara pada Tambelan, Letung, Midai dan Serasan. Prasarana perhubungan udara juga tersedia di Dabo Singkep Kabupaten Lingga. Bandara milik PT. Timah ini beroperasi sejak tahun 1997 yang digunakan untuk melayani pergerakan orang dan barang, namun pada tahun 2000 tidak lagi digunakan seiring dengan ditutupnya kegiatan PT. Timah di pulau ini.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 76

No 1 2

Tabel IV-16 Nama bandara beserta jenjang fungsinya di provinsi kepulauan riau tahun 2007 Kabupaten/Kota Nama Bandar Udara Jenjang Fungsi Batam Natuna Hang Nadim Ranai Tambelan Midai Serasan Matak Letung Sei Bati Kijang (Raja Haji Fisabillilah) Dabo-Singkep PP Primer PP Tersier Bukan PP Bukan PP Bukan PP Bukan PP Bukan PP Bukan PP PP Tersier Bukan PP

3 4 5

Kep. Anambas

Karimun Kota Tanjung Pinang 6 Kab. Lingga Sumber : RTRWN 2008

4.2 Kondisi dan permasalahan system transportasi laut
4.2.1 Pelabuhan laut eksisting

4.2.1.1 Pelabuhan laut kabupaten Anambas Kabupaten kepulauan anambas merupakan kabupaten yang terdiri atas pulau-pulau kecil, dimana system transportasi antar wilayahnya sangat mengandalkan transportasi laut. Maka dari itu pelabuhan menjadi sarana penting sebagai tempat untuk berlabuhnya kapal-kapal penumpang dan barang. Berikut ini adalah beberapa pelabuhan yang ada di kabupaten Anambas;

Tabel IV-17 Pelabuhan, fungsi, sarana dan prasarana yang ada di Kabupaten Anambas No 1 Nama pelabuhan Pelabuhan DIRJEN HUBLA Tarempa Fungsi pelabuhan Perintis Prasarana (i) Dermaga beton & dengan trestle Sarana (i) Kantor permanen, (ii) terminal penumpang

ukuran

60x6m

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 77

40x5m. (ii) Draft air antara 1013 meter. (iii) Gudang dengan ukuran 4x15m

kapasitas 400orang dengan luas 6x20m, (iii) lebar jalan 6m, (iv) FW Bunker 20 tons.

2

Pelabuhan PEMDA Tarempa

Antar pulau

(i)

Dermaga

beton &

dengan trestle

(i) Kantor permanen, (ii) lebar jalan 3m.

ukuran 12 meter.

30x3m

20x3m. (ii) Draft air antara 9-

3

Pelabuhan Antang

DKP

Perikanan

Tidak ada data

(i) Kantor permanen, (ii) lebar jalan 2m.

4

Pelabuhan Ladan

Tambatan perahu

(i)

Dermaga

beton

dengan

(i)

terminal

penumpang

ukuran

11x5m,

Coastway.

luas 5x3m, kapasitas 20 orang. (ii) lebar jalan 6m

55.5x3m (ii) Draft air antara 13.2 meter. 5 Pelabuhan payaklaman Bongkar muat dab tambatan perahu (i) Dermaga beton dengan

(i)

terminal

penumpang

ukuran meter.

10.5x7m,

Coastway.

luas 8x4m, kapasitas 40 orang. (ii) lebar jalan 4m

51x5m (ii) Draft air antara 3-5

6

Pelabuhan Conoco Phillip

PT.

Khusus

(i)

Dermaga

beton

dengan

(i) Kantor permanen, (ii) terminal (iii) penumpang parker 6x4m, kapasitas 30orang, lapangan 20x4m, (iv) lebar jalan 4 m, (v) Genset 2 unit, (vi) FW Bunker 1600T, (vii) BBM Bunker 1400T

ukuran 180x6m (ii) Draft air antara 5-9 meter. (iv) Gudang 30x60m, (v) forklift 2.5T, 3T, 6T, (vi) Crane 150T, 50T, 25T)

7

Pelabuhan PAN

PT.

Khusus

(i) (ii)

Dermaga Draft air

beton

dengan 5-10

(i) Kantor permanen, (ii) terminal (iii) penumpang parker 4x4m, kapasitas 30orang, lapangan 15x6m, (iv) lebar jalan 4 m, (v) Genset 2 unit, (vi) FW Bunker 50T, (vii) BBM Bunker 20T

ukuran 30x4m trestle 50x4m antara meter. (iv) Gudang 30x20m, (v) forklift 2.5T(vi) Crane 25T

8

Pelabuhan DIRJEN HUBLA Letung

Perintis

Belum ada data

Belum ada data

9

Pelabuhan DIRJEN HUBLA Maras Kuala

Perintis

Belum ada data

Belum ada data

10

Pelabuhan PEMDA Letung

Antar Pulau

(i)

Dermaga

beton

dengan

(i) luas

terminal 4x6m,

penumpang kapasitas

ukuran 15x4m

20org, (ii) lebar jalan 4m

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 78

Sumber : Dinas Perhubungan KAB Anambas, 2011

Selain itu beberapa sarana yang melayani kabupaten Anambas dalam system transportasinya adalah sebagai berikut;
Tabel IV-18 Pelabuhan, fungsi, sarana dan prasarana yang ada di Kabupaten Anambas No Nama Armada Ukuran Kapasitas Penumpang (org) 1 KM Raya Bukit GT. 6022 1000 Kapal Penumpang PT. PELNI Tj. Priok – Belinyuk – Kijang midai – – Letung Serasan – – Tarempa – SI Lampa – Pontianak – Surabaya (PP) 2 KM Gunung Bintan GT. 750 350 Kapal Kargo/Perintis PT Pelayaran Tg. Pinang – Tambelan – Sintete – Serasan – Subi – Ranai – PI Laut – Sedanau – Midai – Tarempa – Letung – Tg. Pinang 3 KM Terigas GT. 482 250 Kapal Kargo/Perintis PT. Raya Mitra Tg. Pinang – Letung – Tarempa – Midai – Sedanau – PI Laut – Ranai – Subi – Serasan – Sintete – Tambelan – Tg. Pinang 4 MV VOC 150 Kapal Cepat Feri PT. Rempang Tg. Pinang (PP) – Tarempa Jenis Pemilik Rute

Musamus

Nusantara

Batavia Sumber : Dinas Perhubungan KAB Anambas, 2011

Sarana Bahari

A. Pelabuhan Tarempa Pelabuhan Tarempa adalah pelabuhan salah satu pelabuhan utama dari 5 pelabuhan utama di Kab, Kepulauan Riau. Pelabuhan Tarempa sendiri dibagi Menjadi dua yaitu, Pelabuhan Dirjen Hubla Tarempa dan Pelabuhan Pemda Tarempa. 1. Pelabuhan Dirjen Hubla Tarempa Pelabuhan Dirjen Hubla Tarempa merupakan pelabuhan tempat keluar masuknya kapal perintis/kargo dan kapal KM Bukit Raya, yang menjadi alat transportasi masyarakat dan barang/ kebutuhan pokok masyarakat daerah sekitar.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 79

Berikut gambaran umum tentang situasi dan kondisi pelabuhan Dirjen Hubla Tarempa secara lebih jauh dapat dilihat dari datadata berikut ini :

foto pelabuhan tarempa Kab. Kepulauan Anambas

Nama Pelabuhan : Pelabuhan Dirjen Hubla Tarempa Fungsi Pelabuhan : Pelabuhan Perintis Dermaga Beton Draf Air Gudang Kantor Luas Terminal Kapasitas Lebar Jalan FW Bunker : Ukuran 60X60m & Trestel 40X5m, Konstruksi : 10 – 13m : 4X15m : Permanen : 6X20m : 400 Orang : 6 meter : 20 tons

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 80

Pelabuhan ini masih banyak kekurangan seperti jarangnya toilet umum, kurangnya fasilitas seperti ruang tunggu, para penumpang tidak akan kehujanan disaat turun hujan dan tidak akan pula kepanasan pada waktu siang hari. Disamipng itu masyarakat disini banyak yang mengeluhkan minimnya jalur transportasi menuju kota besar, seperti ke daerah kota Tanjungpinang. Sebagai contoh KM. Bukit Raya, KM. Gunung Bintan dan KM. Terigas yang hanya satu sampai dua minggu sekali singgah di pelabuhan ini.

Dermaga Pelabuhan Dirjen Hubla Tarempa

KM. Bukit Raya ketika sedang berlabuh di Pelabuhan Tarempa Kab. Kepulauan Anambas

2. Pelabuhan Pemda Tarempa

Pelabuhan Pemda Tarempa ini merupakan pelabuhan tempat keluar masuknya kapal-kapal kecil/pompong yang digunakan untuk transportasi antar pulau yang sering digunakan untuk masyarakat sekitar ataupun orang pemerintahan yang akan pergi atau datang dari pulaupulau sekitar tarempa. Berikut gambaran umum tentang situasi dan kondisi tentang pelabuhan Pemda Tarempa: Nama Pelabuhan : Pelabuhan Pemda Tarempa

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 81

Fungsi Pelabuhan Dermaga Konstruksi Beton Draft Air Kantor Lebar Jalan

: Pelabuhan Antar Pulau : Ukuran 30X3m & Trestel 20X3m, : 9-12m : Permanen : 3 meter

Kekurangan pelabuhan ini hampir sama dikarenakan posisinya yang dekat juga dengan pelabuhan Dirjen Hubla Tarempa yang minim dengan transportasi menuju ke luar daerah Kab. Kepulauan Anambas. Adapun Kapal Ferry cepat MV. VOC Batavia yang keberangkatannya tergantung pada kondisi cuaca laut yang menyebabkan sering terjadi keterlambatan ataupun pembatalan keberangkatan menuju kota TanjungPinang yang tentu saja merugikan masyarakat setempat yang benar-benar mempunyai kepentingan di luar kota.

Kondisi Pelabuhan Tarempa Kab. Kepulauan Anambas

B. Pelabuhan DKP Antang Pelabuhan DKP Antang adalah pelabuhan yang ditetapkan khusus sebagai pelabuhan perikanan yang berada di daerah Tarempa Kab. Kepulauan Anambas dan termasuk dalam kategori pelabuhan perikanan pantai. Pelabuhan ini berfungsi untuk kegiatan penangkapan ikan di daerah pantai. Pelabuhan perikanan Antang yang terletak di Tarempa, Kabupaten Kepulauan Anambas telah lama menjadi pelabuhan ikan bagi nelayan yang melaut di Laut Cina Selatan. pelabuhan paling strategis di Laut Cina Selatan yang kaya dengan sumber daya perikanan, namun sayangnya daerah laut ini sering dijarah kekayaan alamnya oleh nelayan asing. Di pelabuhan perikanan Antang, tampak ada puluhan kapal yang sudah mulai rusak. Kapalkapal kayu berukuran besar itu ditambat hampir memenuhi pelabuhan. Suatu pemandangan mencolok, karena para nelayan

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 82

tempatan sendiri hanya memiliki perahu kecil untuk menangkap ikan. Di pelabuhan ini banyak kapal asing yang bersandar karena mencuri ikan di perairan ini.

Kondisi pelabuhan antang C. Pelabuhan PT. Pal Matak/ Conoco Philip Pelabuhan Conoco Philip atau yang disebut masyarakat sekitar dengan pelabuhan Pal Matak merupakan pelabuhan yang berada di kecamatan Pal Matak Kab. Kepulauan Anambas. Pelabuhan palmatak digunakan sebagai pelabuhan ekspor impor atau pelabuhan khusus milik Conoco Philips, selain itu juga bisa digunakan sebagai pelabuhan domestik. Berikut data umum pelabuhan PT. Conoco Philips : Nama Fungsi Pelabuhan Dermaga Draft Air Luas Gudang Luas Terminal Luas parkir Lebar jalan FW bunker BBM bunker : Pelabuhan PT. Conoco Philip : Pelabuhan Khusus : Ukuran 180X60m, konstruksi beton : 5-9m : 30X50m : 6x4 meter dengan kapasitas 30 Orang : 20X4 meter : 4 meter : 1600 T : 1400 T

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 83

Pelabuhan Conoco Philips Sayangnya transportasi dengan di pelabuhan ini masih terbatas. Menurut warga setempat tidak ada jalur transportasi laut dari palmatak yang langsung ke Tanjungpinang (Provinsi Kep. Riau). Mereka terlebih dahulu harus menyeberang dulu ke pelabuhan tarempa dengan menggunakan pompong sebelum mereka hendak naik KM. Bukit Raya ataupun dengan KM Perintis. ”Memang di Palmatak ada bandar udara yang menghubungkan Palmatak dengan Tanjungpinang dan Palmatak dengan Jakarta, tapi di sisi lain banyak juga masyarakat Palmatak yang tidak bisa menggunakan fasilitas itu, dikarenakan beban biaya transportasinya yang kehitung mahal ”. D. Pelabuhan Dirjen Hubla Letung Pelabuhan Dirjen Hubla Letung terletak di kecamatan Jemaja Kab. Kep Anambas. sama halnya dengan pelabuhan tarempa, merupakan pelabuhan tempat keluar masuknya kapal perintis, Kondisi pelabuhan ini sangat mengkhawatirkan. Pasalnya, dari seluruh tiang penyangga yang ada, kondisinya sudah hampir putus semua dimakan usia. Kondisi dermaga yang selalu bergoyang jika ada terjangan ombak yang seakan-akan mau ambruk. Salah seorang warga letung mengatakan kondisi yang sangat dikhawatrikan lagi jika ada kapal baik Perintis dan kapal lainnya yang merapat di pelabuhan tersebut. Sebab, selain dipenuhi calon penumpang dan keluarga yang menjemput, areal pelabuhan itu juga dijadikan sejumlah warga sebagai tempat berjualan bagi masyarakat sekitar. Minimnya transportasi laut di pelabuhan letung. Contohnya masyarakat sekitar harus terlebih dahulu memakai pompong sebelum mereka naik Kapal Pelni/ yang disebut juga dengan KM Bukit Raya yang menjadi salah satu angkutan masal dikarenakan

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 84

kapal tersebut tidak bisa bersandar ke pelabuhan letung yang tidak memungkinkan dikarenakan dangkalnya pelabuhan tersebut.

Foto penumpang sedang turun dari KM Bukit Raya, mereka harus naik pompong dulu sebelum sampai di pelabuhan letung

E. Pelabuhan Kuala Maras Pelabuhan Kuala Maras terletak di kecamatan Jemaja Timur Kab. Kep. Anambas Pelabuhan ini adalah pelabuhan baru, rencananya selain pelabuhan ini akan di lalui oleh kapal perintis, rencananya KM Bukit Raya pun akan bisa bersandar di pelabuhan ini. Namun sampai saat ini pelabuhan tersebut belum dipakai sama sekali. Salah seorang warga Jemaja menyatakan, sangat menginginkan kalau kapal Pelni KM Bukit Raya dapat bersandar di pelabuhan,

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 85

karena masyarakat tidak lagi turun dan naik kapal ditengah laut seperti yang terjadi pada saat ini. Selain itu dapat membuka akses keluar dan masuk Anambas khususnya ke Kecamatan Jemaja dan Jemaja Timur.

Dermaga pelabuhan kuala maras

Pelabuhan kuala maras

Dermaga pelabuhan kuala maras yang akan di gunakan untuk bersandarnya KM. Bukit Raya

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 86

F. Pelabuhan Pemda Letung Pelabuhan ini berada di Kecamatan Jemaja Kab. Kep Anambas, pelabuhan ini sering digunakan untuk keluar masuknya kapal- kapal kecil ataupun pompong sebagai transportasi antar pulau terdekat. Pelabuhan ini memiliki dermaga dengan ukuran 15X4 meter dengan menggunakan konstruksi beton. G. Pelabuhan Payaklaman Pelabuhan ini terletak di desa payaklaman Kab. Kepulauan Anambas. Pelabuhan ini dikhususkan untuk pelabuhan bongkar muat dan tambatan perahu. Berikut data pelabuhan Payaklaman Nama Pelabuhan Funsi Pelabuhan perahu Dermaga 51X5m Konstruksi Luas Terminal Lebar Jalan : Pelabuhan Payaklaman : Pelabuhan bongkar muat dan tambatan : ukuran dermaga 10.5X7.5m & coastway : Beton : 8X4 meter dengan kapasitas 40 orang : 4 meter

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 87

PETA LOKASI PELABUHAN ANAMBAS

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 88

4.2.1.2 Pelabuhan laut Kota Tanjung Pinang

Tabel IV-19 Nama Pelabuhan hirarki, sarana dan prasarana yang ada di Kota Tanjung Pinang
No Nama Pelabuhan Lokasi Hirarki Ukuran Dermaga dan Trestle 1 Sri Bintan Tj. Pinang Pelabuhan Pengumpul 31 x 20 x 5 7, Beton, Ponton Apung, Ponton Apung Sri Pura (Dalam Negeri) Bintan Tj. Pinang Pelabuhan Pengumpul 90 x 10, 15 x 15 x 6 5, Beton, Ponton Apung, Ponton Apung 2 Sri Payung Batu 6 Tj. Pinang Pelabuhan Pengumpul 211 x 170 Betom 5300 PT Pelindo I, Cabang Sumber : Dinas Perhubungan Kota Tanjung Pinang, 2011 572,5 PT Pelindo I, Cabang 1116 PT Pelindo I, Cabang Konstruksi Luas Ruang Tunggu Luas Gudang Operator

Pura (Luar Negeri)

20 x 10,

A. Pelabuhan Sri Bintan Pura
Pelabuhan Sri Bintan Pura adalah pelabuhan nasional dan internasional yang berada di kota Tanjung Pinang yaitu di pantai barat pulau Bintan, provinsi Kepulauan Riau. Pelabuhan Sri

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 89

Bintan Pura terletak di Desa / Kelurahan Tanjung Pinang, Kota Kecamatan Tanjung Pinang Barat Kabupaten Tk.II Kepulauan Riau dipergunakan untuk turun dan naik penumpang. Pelabuhan Sri Bintan Pura yang terletak di Kota Tanjung Pinang pada posisi 00' 55' 55” LU / 104' 26' 12” BT menghubungkan kota Tanjung Pinang dengan pelabuhan-pelabuhan di sebelah utara (pelabuhan Lobam dan pelabuhan Bulang Linggi), dengan kepulauan di sebelah barat, seperti pelabuhan Tanjung Balai (pulau Karimun), pelabuhan Telaga Punggur di pulau Batam, serta kepulauan di sebelah selatan seperti pulau Lingga dan Singkep. Untuk pelayaran ke luar negeri, pelabuhan Sri Bintan Pura juga mempunyai jalur perhubungan ke Singapura (Harbour Front dan Tanah Merah) serta Malaysia (Stulang Laut). Beberapa jenis kapal yang mempunyai jalur pelayaran dari dan ke pelabuhan Sri Bintan Pura antara lain adalah: pompong kapal ferry Sentosa, dipakai kapal untuk Merbau, dan lain-lain. Perahu motor juga menghubungkan kota ini dengan pulau Penyengat yang jaraknya cukup dekat (10 sampai 15 menit). Untuk Hidrografi, di depan Sri Bintan Pura terdapat pulau Penyengat dan Pantai Senggarang. Sepanjang pantai terdapat rumah penduduk, dasar lautnya pasir. Memasuki alur kolam Bandar Pelabuhan Tanjung Piang melewati di depan dermaga pangkalan TNI AL Yos Sudario. Draft pelabuhan Sri Bintan Pura 3,5 MLWS dengan kecepatan arus 0,5 Mil dan air tertinggi terdapat pada bulan Desember dan Januari. Alur Pelayaran Pelabuhan SRI BINTAN PURA Panjang Lebar Kedalaman : 3,90 Mil : 50 M : 3,5 4 MLWS

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 90

Dokumetasi Kondisi Pelabuhan

Kondisi Pintu/ Gerbang Masuk dan Keluar Pelabuhan, jalan menuju pelabuhan masih berlubang; sehingga kalau hujan banyak genangan air. Di sepanjang pintu/ jalan keluar pelabuhan banyak pedagang yang berjualan, itu membuat jalan menjadi sempit.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 91

Kondisi kebersihan di lingkungan pelabuhan kurang terjaga dengan baik. Sampah-sampah dibiarkan begitu saja tanpa ada yang membersihkan.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 92

Foto : Sarana dan Prasarana yang ada di Kawasan Pelabuhan Sri Bintan

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 93

PETA LOKASI PELABUHAN DI KOTA TANJUNG PINANG

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 94

4.2.1.3 Pelabuhan laut Kabupaten Karimun

Tabel IV-20 Nama Pelabuhan, fungsi, sarana dan prasarana yang ada di Kabupaten Karimun No Nama Pelabuhan Lokasi Hirarki Ukuran Dermaga dan Trestle 1 Parit Rampak 2 Pelabuhan Penumpang Tj. Balai Karimun Internasional Karimun Pelabuhan Pengumpul 20 x 8 Ponton 752 5300 PT Pelindo I, Cabang 3 Tanjung Batu 4 Moro Moro Tj. Batu Pelabuhan Pengumpul Pengumpan regional 5 Tanjung Berlian 6 Sekumbang Tj. Berlian Kndur Pengumpan regional Pengumpan Kayu PEMKAB 24 x 5 Kayu PEMKAB 24 x 5 Kayu DEPHUB 70 x 10 Beton 120 DEPHUB Kec. Meral Karimun Pelabuhan Pengumpul Pelabuhan Pengumpul 20 x 8 Ponton 676 80 x 8,25 Beton PEMKAB Karimun PT Pelindo I, Cabang Konstruksi Luas Ruang Tunggu Luas Gudang Operator

regional Sumber : Dinas Perhubungan KAB Karimun, 2011

A. Pelabuhan Tanjung Balai Karimun

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 95

Pelabuhan Karimun Cabang dikelola

Tanjung adalah salah Pelabuhan

Balai satu yang yang

oleh

PT

Pelabuhan

Indonesia I (Persero) berpusat di Medan. Pelabuhan Karimun Tanjung terletak di

Balai Pulau

Karimun pada posisi 000- 59′ -17″ LU dan 1030 – 26′ -14″ BT. Sebelah Utara berbatasan dengan Singapura. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Tebing Tinggi dan sebelah Timur dengan Batam. Pelabuhan Tanjung Balai Karimun sudah ada sejak 1958. Sebagai salah satu Cabang, ditinjau dari segi geografis lokasi pelabuhan yang terletak di Pulau Karimun dengan luas wilayah daratnya 275 km2 dan berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia dan Singapore yang terkenal dengan selat Malaka dan selat Singapore yang terbentang dari One Fathom Bank di sebelah Utara sampai suar Horsburg di sebelah tenggara adalah area pelayaran yang terpadat dan tersibuk diseluruh dunia. Kedua selat ini adalah merupakan “Straits Used for International Navigation” dalam pengertian Hukum Laut International (UNCLOS). Dengan kondisi tersebut, pelabuhan Tanjung Balai Karimun mempunyai peran yang cukup berarti ditinjau dari aktivitas ekonomi melalui lalu lintas angkutan laut baik untuk kunjungan kapal dan alih muat barang maupun orang. i. Hidrografi Selat yang menuju Tanjung Balai Karimun kedalamannya mencapai 10 m LWS dan digunakan untuk alur pelayaran antar pulau, sedangkan Selat Malaka yang merupakan alur pelayaran internasional kedalamannya mencapai 30 m LWS. Namun demikian kelandaian dasar laut di depan pantai ketiga lokasi pelabuhan berbeda, yaitu:

Dasar perairan lokasi Tanjung Balai Karimun relatif landai dengan kedalaman 5,0 m LWS pada jarak sekitar 150 m dari tepi pantai.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 96

Dasar perairan lokasi Tanjung Salamah relatif landai, dimana kedalaman laut 5,0 m LWS berada pada jarak 300 m dari garis pantai.

Pada Lokasi Tanjung Potot, datar perairan lebih curam dimana kedalaman 5,0 m LWS berada pada sekitar 50 m dari garis pantai.

Pasang Surut Perairan Tanjung Balai Karimun mempunyai pasang surut condong ke harian ganda dengan tinggi pasang surut dapat mencapai 3,0 m pada saat pasang purnama. Arus Arus yang terjadi di perairan Pelabuhan Tanjung Balai Karimun merupakan interaksi yang saling mempengaruhi dari arus permanen Laut Cina Selatan, arus pasang surut dan arus angin. Kecepatan arus berkisar antara 0,05 – 0,18 m/detik. Cuaca Iklim yang berlangsung di Pelabuhan Tanjung Balai Karimun adalah sama dengan bagian kawasan lain di Pulau Karimun. Secara umum beriklim tropis basah yang dipengaruhi oleh sifat – sifat iklim laut. Musim hujan berlangsung pada bulan Oktober/ Nopember sampai Bulan April, dimana matahari berada di belahan bumi Selatan dan angin bertiup dari Barat Laut. Musim kemarau berlangsung pada Bulan Juni – Oktober, dimana matahari berada di bagian belahan Utara dan angin bertiup dari arah Tenggara. Curah hujan berkisar antara 2.000 mm sampai 3.500 mm pada tiap tahunnya dengan hari hujan ± 110 hari. Antara bulan Agustus – Oktober suhu udara rata-rata berkisar antara 26,2oC – 27,4oC dan suhu udara rata – rata tahunan adalah 26,9oC. Gelombang Gelombang laut dalam di perairan Pelabuhan Tanjung Balai Karimun dibangkitkan terutama oleh tiupan angin terhadap permukaan air laut. Pada musim Selatan, angin bertiup relatif tenang.

ii. Hinterland

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 97

Hinterland Pelabuhan Tanjung Balai Karimun sebagaimana hasil Studi Potensi Hinterland meliputi Kabupaten Karimun, Kabupaten Bintan, Kabupaten Lingga, Kota Batam dan Kota Tanjung pinang dengan komoditi utamanya pasir, batu granit dan ikan laut. iii. Kegiatan Utama Kegiatan Usaha yang dilaksanakan dalam menyelenggarakan pelayanan jasa kepelabuhanan dan usaha lainnya yang menunjang pencapaian tujuan perusahaan, meliputi :

Kolam-kolam pelabuhan dan perairan untuk lalu lintas dan tempat-tempat berlabuhnya kapal.

Jasa-jasa yang berhubungan dengan pemanduan (pilotage) dan penundaan kapal.

Dermaga dan fasilitas lain untuk bertambat, bongkar muat barang termasuk hewan dan fasilitas naik turunnya penumpang.

Gudang-gudang dan tempat penimbunan barang-barang, angkutan bandar, alat bongkar muat serta peralatan pelabuhan.

Tanah dan berbagai bangunan dan lapangan, industri dan gedung-gedung / bangunan yang berhubungan dengan kepentingan kelancaran angkutan laut.

Penyediaan listrik, bahan bakar minyak, air minum dan instalasi limbah pembuangan.

 

Jasa terminal, kegiatan konsolidasi dan distribusi barang termasuk hewan. Usaha-usaha yang dapat menunjang tercapainya tujuan perusahaan

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 98

iv. Fasilitas Pelabuhan Tanjung Balai Karimun 1) Fasilitas dermaga
Tabel IV-21 Nama asset fasilitas dermaga Tanjung Balai Karimun

sumber : Kanpel Tanjung Balai Karimun, 2011

2) Terminal penumpang

Tabel IV-22 Nama asset terminal penumpang Tanjung Balai Karimun

sumber : Kanpel Tanjung Balai Karimun, 2011

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 99

3) Tarif

Tabel IV-23 Tarif barang di pelabuhan Tanjung Balai Karimun

sumber : Dinas Perhubungan Tanjung Balai Karimun, 2011

4) Tarif Pemanduan

Tabel IV-24 Jenis jasa di pelabuhan Tanjung Balai Karimun

sumber : Kanpel Tanjung Balai Karimun, 2011

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 100

5) Tarif Penumpukan

Tabel IV-25 Tarif penumpukan di pelabuhan Tanjung Balai Karimun

sumber : Kanpel Tanjung Balai Karimun, 2011

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 101

6) Tarif Tunda Domestik

sumber : Kanpel Tanjung Balai Karimun, 2011

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 102

7) Tarif Tunda Internasional

sumber : Kanpel Tanjung Balai Karimun, 2011

8) Tarif Labuh Lambat Rupiah

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 103

9) Tarif Labuh Lambat Dollar

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 104

B. Permasalahan
Kondisi pelabuhan yang kurang bersih.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 105

Toilet Umum Pelabuhan kurang terawat, biaya pemakaian toilet Rp. 1000 tapi kondisi toiletnya kurang bersih, masih bau air kencing, tidak adanya pemisah / tanda antara toilet pria dan toilet wanita.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 106

Ruang tunggu pelabuhan yg kurang luas juga kebersihannya kurang terjaga, berbeda dengan kantin pelabuhan yg lebih luas dari pada ruang tunggu; kemudian tidak ada kipas angin, penumpang yg sedang menunggu kapal sering merasa gerah/kepanasan bila jumlah penumpang melonjak seperti hari-hari libur.

Parkir kendaraan yg sempit; juga jalan yg kurang lebar dimana mobil/ angkot yg mengantar penumpang kepelabuhan atau sedang menunggu jemputan dan angkot yg menunggu penumpang, ditambah juga dengan adanya becak-becak yg juga menunggu penumpang menambah kemacetan yg terjadi.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 107

Kebersihan yang kurang terjaga

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 108

Akses masuk menuju ruang tunggu penumpang dan keluar.

Coast Guard Pelabuhan yang sedang bersandar di dermaga, kondisi air lautnya kotor banyak sampah.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 109

Beberapa Kapal yang sedang bersandar di Pelabuhan.

Beberapa kapal yang sedang menunggu penumpang dan sedang menurunkan penumpang.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 110

PETA LOKASI PELABUHAN KABUPATEN KARIMUN

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 111

4.2.1.4 Pelabuhan laut Kabupaten Lingga
Tabel IV-26 Nama Pelabuhan hirarki, sarana dan prasarana yang ada di Kabupaten Lingga
No Nama Pelabuhan Lokasi Hirarki Ukuran Dermaga dan Trestle 1 Dabo Dabosingkep Pengumpan regional 2 Senayang Senayang Pengumpan regional 3 Senuba Penuba Pengumpan regional 4 Pancur Pancur Pengumpan regional 5 Lingga Lingga 70 x8 Beton 3,5 x8 10 x 5 Kayu Konstruksi Luas Ruang Tunggu Luas Gudang Operator

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 112

A. Pelabuhan Daik Buton Pelabuhan tanjung Buton Daik Ini masih terlhat cukup sepi dari kapal – kapal barang maupun penumpang. Dalam perharinya pelabuhan ini hanya ada dua kapal penumpang menuju ke tanjung pinang. Jadwal keberangkatan penumpang jam 7.30 wib dan 8.00 Dilihat dari waktu perjalanan kapal dari tanjung Pinang ke pelabuhan daik ini berkisar antara empat sampai lima jam. Pelabuhan Tanjung Buton Daik Merupakan salah satu Pelabuhan Utama yang ada di Dikabupaten Lingga selain Pelabuhan Jagoh dan Dabo singkep. Di lihat posisi dan letak pelabuhan ini cukup aman dari gelombang air laut dan badai.

Perahu motor kecil (pompong), banyak digunakan oleh

masyarakat di kawasan pesisir (hinterland). Kapal ferry (MV), merupakan transportasi utama antar kota (Tanjungpinang - Batam - Karimun - Lingga).

Tukang ojek yang berdesak - desakan mencari penumpang terasa tidak nyaman bagi para penumpang kapal yabg baru

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 113

turun

Tidak memiliki bangunan kusus untuk ruang tunggu, toilet dan penjualan tiket penumpang ( Bangunan yang ada dipelabuhan terlihat tidak berfungsi )

`

Boat kecil merupakan sarana transportasi antar desa atau pulau Terdekat tidak memiliki dermaga khusus penumpang.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 114

Untuk areal parkir kendaraan tidak ada, hanya memamfaatkan Lahan kosong atau depan rumah warga untuk tempat parkir.

Untuk menuju ke pelabuhan Tanjung buton Daik hanya Menggunakan Ojek, karena sarana angkutan umum Atau angkot belum ada.

B. Pelabuhan Dabo Singkep

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 115

Dabo singkep yang merupakan jantung kota dari Kabupaten Lingga dengan keramaian dan jumlah penduduk yang lebih banyak dibandingkan dengan ibukota Kabupaten Lingga yaitu di Daik Lingga. Secara keseluruhan Pelabuhan Dabo Singkep Tidak memiliki bangunan sarana pelayanan untuk para penumpang dan pengelola pelabuhan. Hampir sama halnya dengan pelabuhan di Daik pelabuhan ini juga memeliki bayak kekurangan seperti yang dijelaskan pada masing – masing gambar tersebut dibawah ini:

i. Kondisi Fisik Pelabuhan,

Dilihat dari sestem kapal yang berlabuh sangat semrawut, seper ti yang terlihat pada gambar kapal barang dan kapal nelayan penempatannya hanya di satu titik dan ini bisa mengganggu setiap aktifitas kapal barang yang masuk.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 116

Kurangnya sestem keamanan kapal yang berlabuh seperti ban bekas yang di pasang didinding dermaga guna menghindari benturan pada body kapal.

Jalan masuk ke Dermaga tidak memiliki keamanan pada bahu Jalan.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 117

Tidak memiliki bangunan kusus untuk ruang tunggu, toilet dan penjualan tiket penumpang.

ii. Kondisi Umum Pelabuhan

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 118

Gambar 11. Pelabuhan Dabo Singkep yang terletak di pusat kota merupakan pelabuhan yang sudah beroperasi semenjak puluhan tahun, dulunya pelabuhan ini melayani jasa penumpang dan bongkar muat barang kapal yang berasal dari kota provinsi maupun kabupaten kota yang berbatasan dengan kepulauan Riau. Namun dengan kondisi alam di sekitar pelabuhan seperti badai dan gelombang laut pelabuhan ini cukup beresiko untuk menerima jasa penumpang, karna pelabuhan ini berhadapan langsung dengan laut lepas. Untuk lebih amannya jasa penumpang ini dialihkan oleh pemerintah setempat ke pelabuhan Jagoh yang letaknya lebih kurang 30 Km dari kota Dabo. Pelabuhan ini sekarang hanya melayani kapal bongkar muat barang dan Kapal ikan, Kapal kapal tersebut merupakan kapal lokal yang berjenis kayu spert terlihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 12.

C.

Pelabuhan Jagoh

i. Kondisi Umum Pelabuhan Pelabuhan Jagoh merupakan salah satu pelabuhan utama yang ada di Kabupaten Lingga yang berlokasi dipinggiran kota Dabo Singkep.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 119

Pelabuhan ini merupakan pelabuhan yang melayani jasa penumpang dan ASDP antar provinsi dan kota yang yang berbatasan dengan kepulaun riau. , dan kalau dilihat dari kondisi alam pelabuhan ini cukup aman dari badai dan besarnya gelom bang air laut karena di kelilingi oleh beberapa pulau. Dari segi pelayanan umum pelabuhan ini juga tidak ada memiliki bangunan penunjang, sama seperti halnya dengan pelabuhan di Tanjung Buton Daik dan Pelabuhan Dabo Singkep. ii. Kondisi Fisik Pelabuhan Untuk menuju dermaga masyarakat harus melewati pelantarpapan yang kondisinya mulai memprihatinkan dan hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua. Tidak memiliki bangunan penunjang untuk melayani penumpang, seperti tempat penjualan tiket, toilet , ruang tunggu dan pos keamanan

Kondisi jembatan menuju dermaga

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 120

Kondisi dermaga cukup kuat untuk bersandarnya kapal – kapal besar yang melakukan aktifitas bongkar muat barang dan penumpang. Untuk tujuan Tanjung pinang pelabuhan ini hanya melayani dua kapal penumpang.

Pelantar dan dermaga pelabuhan tidak memiliki atap untuk beteduhnya para penumpang dari hujan dan panas.

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 121

Untuk Pelabuhan ASDP juga tidak memiliki sarana pelayanan untuk para pengguna jasa.

Dari kejauhan pelabuhan jagoh ini terlihat cukup indah dan asri, cuma dari kota dabo singkep pelabuhan penumpang ini cukup jauh dan harus menghabiskan waktu kurang lebih satu jam di perjalanan dengan menggunakan angkot maupun ojek. Dan ongkos ojek maupun angkot rata2 – rata Rp 30.000 s/d Rp 35.000

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 122

PETA LOKASI PELABUHAN DI KABUPATEN KARIMUN

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 123

4.2.1.5 Pelabuhan laut Kota Batam
Tabel IV-27 Nama Pelabuhan hirarki, sarana dan prasarana yang ada di Kota Batam
No Nama Pelabuhan Lokasi Hirarki Ukuran Dermaga dan Trestle 1 Batu Ampar Batu Ampar Pelabuhan Utama 1250 Beton Konstruksi Dermaga Ukuran Terminal Penumpang (m2) 21000 Ukuran Gudang (m2) Ukuran Lapangan Penumpukan (m2) 214000 Kapasitas Sandar (Max DWT) 35000

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 124

No

Nama Pelabuhan

Lokasi

Hirarki

Ukuran Dermaga dan Trestle

Konstruksi Dermaga

Ukuran Terminal Penumpang (m2)

Ukuran Gudang (m2)

Ukuran Lapangan Penumpukan (m2)

Kapasitas Sandar (Max DWT) 10000

2

Beton Sekupang

Sekupang

Pelabuhan pengumpul

117

Beton

-

42240

80000

3

Domestik Telaga Punggur

Telaga punggur

Pengumpan regional

72

Beton dan Ponton

1935

-

-

500

4

Domestik Sekupang

Sekupang

Pelabuhan pengumpul

200

Beton dan pontoon

4050

-

-

500

5

Roro Telaga punggur

Telaga Punggur Sekupang

Pelabuhan pengumpul Pelabuhan pengumpul

972

Beton

-

-

676

5000

6

Ferry Internasional Sekupang

450

Beton dan Ponton

1200

-

-

500

7

Ferry Internasional Batam center

Batam Center

Pelabuhan pengumpul

72

Beton dan pontoon

22464

-

-

500

8

Nongsa Terminal Bahari

Nongsa

Pelabuhan pengumpul

162

Ponton

1200

-

-

500

9

Ferry Internasional Teluk Senimba

Teluk Senimba

Pelabuhan pengumpul

132

Beton dan Ponton

4250

-

-

500

10

Nongsa Point Marina

Nongsa

Pelabuhan pengumpul

-

Yacht

-

-

-

500

11

Ferry Internasional Harbour Bay

Sei Jodoh

Pelabuhan pengumpul

280

Ponton

-

-

-

500

12

Pelabuhan pulau sambu

Pulau Sambu

Pelabuhan pengumpul

219

Beton dan pontoon

-

-

-

500

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 125

4.2.1.6 Pelabuhan laut Kabupaten Bintan

Tabel IV-28 Nama Pelabuhan hirarki, sarana dan prasarana yang ada di Kabupaten Bintan
Ukuran No Nama Pelabuhan Lokasi Hirarki Dermaga dan Trestle Sei Kolak Kijang Pelabuhan pengumpul Konstruksi Dermaga Ukuran Terminal Penumpang (m2) Ukuran Lapangan Penumpukan (m2) PT 150 x 12 Beton 61 x 18 Pelindo Cabang Operator

Ukuran Gudang (m2)

1

Sri Bayintan

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 126

Ukuran No Nama Pelabuhan Lokasi Hirarki Dermaga dan Trestle Sei Kolak Kijang Pelabuhan pengumpul Pelabuhan Pengumpul Pelabuhan pengumpul Pelabuhan pengumpul Pelabuhan pengumpul Pelabuhan pengumpul Pelabuhan pengumpul Pelabuhan pengumpul Pelabuhan pengumpul Pelabuhan pengumpul Pelabuhan pengumpul Pengumpan regional Pengumpan regional Pengumpan local Konstruksi Dermaga

Ukuran Terminal Penumpang (m2)

Ukuran Gudang (m2)

Ukuran Lapangan Penumpukan (m2) PT. Operator

2

Sri Bayintan

100 x 20

Beton

-

60 x 25

25 x 60

Pelindo Cabang

3

Bandar Seri Udana Terminal Khusus 1 Terminal Khusus 2 Terminal Khusus 3 Terminal Khusus 4 Terminal Khusus 5 Terminal Khusus 6

Lobam Tanjung Uban Tanjung Uban Tanjung Uban Tanjung Uban Tanjung Uban Tanjung Uban Tanjung Uban

15 x 10

Ponton Baja Beton

1935

-

500

PT BIIE PT. Pertamina PT. Pertamina PT. Pertamina PT. Pertamina PT. Pertamina PT. Pertamina PEMKAB

4

-

-

-

-

-

Beton

-

-

-

-

Beton

-

-

-

-

Beton

-

-

-

-

Beton

-

-

-

-

Beton

-

-

-

5

Bulang Linggi Bandar

50 x 6

Beton

-

-

-

6

Bentan Telani

Lagoi

2 buah 15 x 6

Ponton baja

1500

-

-

PT BRC

7

Roro (ASDP)

Tanjung Uban Tambelan

-

Beton

-

-

-

PT ASDP

8

Tambelan Tg Berakit

67,7 x 8 Ponton 2 buah @ 10 x 5 170 x 10

Beton Baja

-

-

-

PEMKAB

9

Teluk Sebong

Berakit

Beton

-

-

-

PEMKAB

10

Sei Carik Bintan Buyu

Teluk Bintan

Beton

-

-

-

PEMKAB

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 127

4.2.1.7 Pelabuhan laut Kabupaten Natuna
Tabel IV-29 Nama Pelabuhan hirarki, sarana dan prasarana yang ada di Kabupaten Natuna
Ukuran No Nama Pelabuhan Lokasi Hirarki Dermaga dan Trestle 1 Ranai Selat Lampa Sedanau Ranai Pengumpan regional Pengumpan regional Pengumpan regional Pengumpan regional Pengumpan regional 30 x 8 Beton Konstruksi Dermaga Ukuran Terminal Penumpang (m2) Ukuran Lapangan Penumpukan (m2) 200 PEMKAB Operator

Ukuran Gudang (m2)

-

2

Ranai

125 x 10

Beton

-

-

20 x 8

PEMKAB

3

Sedanau

70 x 8

Beton Beton

-

-

-

PEMKAB

4

Serasan

Serasan

70 x 8

-

-

-

PEMKAB

5

Midai

Midai

70 x 8

Beton

-

-

-

PEMKAB

Laporan Antara

[Master Plan Transportasi Laut] | 128

Ukuran No Nama Pelabuhan Lokasi Hirarki Dermaga dan Trestle 6 Ranai Baru Udang Natuna Ranai Pengumpan regional Pengumpan regional 70 x 8 Beton Proses pekerjaan Konstruksi Dermaga

Ukuran Terminal Penumpang (m2) -

Ukuran Gudang (m2)

Ukuran Lapangan Penumpukan (m2) 1900 PEMKAB Operator

20x 30

7

Ranai

-

-

-

-

-

Laporan Antara

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->