Anda di halaman 1dari 3

Teknik Pengambilan Sampel

Dalam bukunya Riduwan (Skala pengukuran variabel-variabel penelitian, Bandung, CV


AlIabeta, cetakan ke-2) mengatakan bahwa populasi adalah keseluruhan dari karakteristik
atau hasil unit pengukuran yang menjadi obyek penelitian. Nawawi menyebutkan bahwa
populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin baik yang diperoleh dari hasil
menghitung maupun mengukur. Nazir menambahkan bahwa populasi adalah data, bukan
orang tau bendanya.



Berkaitan dengan jumlah populasi, maka populasi dibagi menjadi dua bagian yaitu pertama
:populasi terbatas dimana batasnya secara kuantitatiI dapat dihitung. Misalnya jumlah siswa
SMA Negeri 8 Jakarta, jumlah penduduk desa tambakmekar dan jumlah guru SMAN 8
Jakarta. Kedua: populasi tak terbatas dimana banyak populasinya tidak bisa dinyatakan
dengan jumlah misalnya kandungan emas di sungai X, berapa liter pasang surut air laut pada
bulan purnama.
Berdasarkan siIatnya maka populasi dibagi menjadi dua bagian yaitu
1. populasi homogen, sumber data memiliki siIat yang sama
2. populasi heterogen, sumber datanya memiliki siIat yang berbeda.

Apabila kita telah menetapkan masalah penelitian dan kita sudah membatasi populasi,maka
masalah berikutnya yang muncul adalah kita memiliki keterbatasan dalam mengakses seluruh
populasi, sehingga dikembangkanlah teknik untuk dapat mengambil keseimpulan berkaitan
dengan populasi tetapi dengan data yang lebih terbatas. Data terbatas tetapi masih memiliki
siIat atau karakteristik populasi tersebut dinamakan sampel.
Keuntungan menggunakan sampel adalah
1. memudahkan peneliti
2. Penelitian lebih eIisien (penghematan uang, waktu dan tenaga)
3. Lebih teliti dan cermat dalam pengumpulan data.
4. penelitian lebih eIektiI, sehingga menghemat penggunaan specimen, mengurangi atau
melokalisir eIek destruktiId dari perlakuan.
Teknik pengambilan sampel adalah suatu cara mengambil sampel yang representatiI dari
populasi. Ada dua macam teknik pengambilan sampel yaitu:
Untuk menentukan jumlah sampel (n) digunakan ketentuan sebagai berikut :
Jumlah sampel menggunakan rumus dari Taro Yamate :
N
n ------------
N*d`2 1
dimana N adalah jumlah populasi dan d adalah tingkat presisi yang ditetapkan.
Misalnya jika diketahui jumlah populasi guru SD sebesar 138 orang dan akan dilakukan
penelitian dengan tingkat presisi 10 maka jumlah sampel yang harus diambil adalah 58
orang.
Surakhmad berpendapat bahwa apabila ukuran populasi kurang lebih 100, maka jumlah
sampel sekurang-kurangnya 50 dari ukuran populasi. Apabila ukuran populasi lebih dari
1000, maka jumlah sampel sekurang-kurangnya 15.


1. probability sampling
probability sampling adalah cara pengambilan sampel dengan memberikan kesempatan yang
sama bagi anggota populasi untuk terambil sebagai sampel, yang tergolong teknik ini adalah
1.a simple random sampling
Teknik pengambilan sampel secara acak tanpa memperhatikan strata/tingkatan anggota
populasi tersebut.

1.b Proportionate stratiIied random samplng
Pengambilan sampel dari anggota populasi secara acak dan berstrata secara proporsional,
teknik ini digunakan apabila anggota populasi tidak homogen berkaitan dengan karakteristik
yang diteliti. Contohnya guru DKI jakarta yang mengikuti ujian sertiIikasi :
guru bahasa Indonesia : 100 orang
guru bahasa Inggris : 70 orang
guru Matematika : 120 orang
guru Biologi : 30 oang
guru Fisika : 50 orang
Jumlah : 370 orang
Jumlah sampel yang diambil harus sama porsinya dengan jumlah guru sesuai dengan bidang
studi. Contohnya jumlah sampel guru bahasa Indonesia menjadi
pertama : tentukan dahulu jumlah sampel dengan presisi 10 menjadi

370
-------------- 77.24 77 orang
370*0.1`2 1

kedua : tentukan jumlah sampel untuk masing-masing strata
100
--- x 77 20,8 21 orang
370

1.c Disproportionate random sampling
Pengambilan sampel dari anggota populasi secara acak dan berstrata tetapi sebagian ada
yangn kurang proporional, contohnya

guru BP : 1 orang
guru bahasa Indonesia : 100 orang
guru bahasa Inggris : 70 orang
guru Matematika : 120 orang
guru Biologi : 30 oang
guru Fisika : 50 orang
Jumlah : 371 orang

jumlah sampel untuk guru BP satu orang.

1.d Area sampling (sampel kluster )
Teknik pengambilan sampel yang dilakukan dengan cara mengambil wakil dari tiap wilayah
gewograIis yang ada. Misalnya penelitian tentang tingkat pendidikan warga di desa
tambakmekar RW 04. RW 04 terdiri dari 5 RT misalnya, maka sampel harus memuat warga
dari tiap RT.

2. non propability sampling
Teknik pengambilan sampel yang tidak memberikan kesempatan yang sama pada setiap
anggota populasi untuk terambil sebagai sampel.

2.a Sampling sistematis
Pengambilan sampel yang didasarkan pada urutan anggota dalam populasi secara
seragam. Misalnya Diketahui daItar pelanggan PT Telkom yang telah diberi nomor dari 1
sampai 1000. Pelanggan yang diambil sebagai sampel adalah mereka yang memilki no urut
kelipatan 1, 10, 20, 30, dan seterusnya.

2.b Sampling kuota
Teknik pengambilan sampel dengan menetapkan jumlah (jatah ) sesaui dengan pertimbanga
peneliti. Selanjnya jatah itulah yang dijadikan dasar untuk mengambil sampel. Contohnya
untuk menentukan kuota haji penduduk indonesia yang berjumlah 250 jt orang maka diambil
jatah 250.000 orang.

2.c sampling aksidental
Teknik pengambilan sampel berdasarkan Iaktor spontanitas, artinya siapa saja yangsecara
tidak sengaja bertemu dengan peneliti dijadikan sampel. Misalnya untuk meneliti produk
sabun yang diminati konsumen pada supermarket X, maka diambil sampel pelanggan yang
datang dan ditemui peneliti di hari tersebut.

2.d Purposive sampling
Pengambilan sampel dengan menggunakan pertimbangan-pertimbangan tertentu dari peneliti.
Misalnya peneliti ingin mengetahui tentang jenis penyakit warga desa tambakmekar maka
yang dipilih menjadi sampel adalah para dokter, bidan atau mantri di puskesmas desa.

2.e sampling jenuh
Yaitu pengambilan sampel dengan cara menjadikan seluruh anggota populasi menjadi
sampel.

2.I Snowball sampling (getuk tular)
Teknik pengambilan sampel dengan cara mengambil jumlah sampel sedikit terlebih dahulu,
lalu dari jumlah yang sedikit tersebut berkembang menjadi banyak. Misalnya peneliti ingin
mengetahui latar belakang keluarga para pecandu narkoba di suatu tempat, maka peneliti
dapat memulai dari satu atau dua orang responden dahulu, selanjutnya dari inIormasi
responden tersebut peneliti dapat menambah jumlah respondennya.


(Ahmad Yani, M.SI)
Sumber :
Riduwan, Drs, MBA (2006), Belajar mudah penelitian untuk guru-karyawan dan peneliti
pemula, Bandung, AlIabeta
Diposkan oleh tesis2009 di 16:39